- Efektifitas dan Efisiensi
Prawirosentono (1999:27) berpendapat bahwa efektifitas dan efisiensi
yaitu apabila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak
penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien. - Otoritas (wewenang)
Menurut Prawirosentono (1999:27), otoritas merupakan sifat dari suatu
komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki
seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan
suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya. Perintah tersebut
mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam
organisasi tersebut. - Disiplin
Disiplin adalah taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku. Jadi
menurut Prawirosentono (1999:27) disiplin karyawan merupakan
kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian
kerja dengan organisasi dimana dia bekerja. - Inisiatif
Inisiatif berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk
ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan
perusahaan
Karatketistik Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2002:68), karakteristik orang yang memiliki
kinerja tinggi adalah sebagai berikut:
a. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi.
b. Berani mengambil dan menanggung resiko yang dihadapi.
c. Memiliki tujuan yang realistis.
d. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
merealisasi tujuannya.
e. Memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkrit dalam seluruh
kegiatan kerja yang dilakukannya.
f. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah
diprogramkan.
Indikator Kinerja Karyawan
Pengukuran kinerja karyawan dapat bervariasi berdasarkan sifat pekerjaan,
jenis perusahaan dan sektor organisasi atau perusahaan. Bagus Surya Kurniawan
dan Medi Prakoso (2015) mengemukakan bahwa untuk mengukur apakah
karyawan memiliki kinerja yang baik pada pekerjaan mereka maka dapat diukur
dari:
- Ketepatan Waktu
Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran karyawan dalam
mengerjakannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. - Deskripsi Pekerjaan
Pernyataan tertulis yang menjelaskan tentang tanggung jawab yang harus
dilaksanakan dari suatu pekerjaan tertentu. - Kuantitas
Seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam periode waktu yang
telah ditentukan. - Kualitas
Setiap karyawan dalam mampu mengenal dan manyelesaikan masalah
yang relevan serta memiliki sikap kerja yang positif di tempat kerja
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2000:67), istilah kinerja berasal dari kata job
performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja (output) secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja karyawan pada dasarnya
adalah hasil kerja karyawan selama periode tertentu. Kinerja bisa mempengaruhi
berlangsungnya kegiatan suatu perusahaan, semakin baik kinerja yang ditunjukan
oleh para karyawan maka semakin baik pula perkembangan perusahaan tersebut.
Menurut Simamora (2004:53) kinerja karyawan merupakan tingkat hasil
kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja
karyawan yang baik sangat penting bagi kemajuan perusahaan. Pengertian kinerja
lainnya dikemukakan oleh Hasibuan (2002:160), kinerja merupakan suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya atas kecakapan, usaha dan kesempatan. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (2006:378)
kinerja yaitu apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan
Indikator Employee Well-Being
Berikut adalah beberapa indikator kesejahteraan karyawan (Employee
Well-Being) :
- Kesejahteraan subjektif
Kesejahteraan ini mencakup pengalaman emosional yang
menyenangkan, suasana hati positif, dan tingkat kepuasan hidup tinggi. - Kesejahteraan tempat kerja
Kesejahteraan ini merujuk pada kondisi sekitar karyawan yang
mempengaruhi pelaksaan tugas yang telah diberikan - Kesejahteraan psikologis
Kesejahteraan ini melibatkan keterikatan karyawan untuk
berhubungan secara positif dengan rekan kerja, pemahaman diri pribadi,
otonomi, serta pemahaman terhadap tujuan dan makna dalam kehidupan
Faktor yang mempengaruhi Employee Well-Being
Terdapat dua faktor Employee Well-Being, antara lain:
- Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan sesama
karyawan.
a. Gaji dan upah yang cukup dapat digunakan untuk kebutuhan
psikologis dan sosial
b. Rekan kerja yang kompak merupakan keinginan kebutuhan sosial.
c. Kondisi kerja yang aman, nyaman, dan menarik - Faktor yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dan pimpinan
a. Pimpinan yang adil dan bijaksana
b. Melengkapi karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk
menjalankan tugasnya.
c. Mengkomunikasikan tentang apa yang diharapkan dari karyawan
d. Memberikan penghargaan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Employee Well-Being
Employee Well-Being merupakan kompensasi pelengkap/benefit dan
manfaat yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan dengan
tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi fisik dan mental
karyawan, sehingga kinerja dan produktivitas kerjanya meningkat.
Employee Well-Being juga dikenal sebagai reward dari perusahaan meliputi
semua jenis penghargaan berupa uang maupun bentuk produk atau barang
yang dibayarkan langsung sebagai penghargaan kepada karyawan atas hasil
kerja yang di capai. Adapun dalam penelitian menyatakan
kesejahteraan karyawan adalah kompensasi tidak langsung yang di berikan
kepada karyawan, baik dinilai dengan uang maupun tidak. Disebut
kompesasi tidak langsung karena tidak berkesinambungan langsung dengan
uang, biasanya dibuat sebagai Upaya penciptaan kondisi dan lingkungan
kerja yang menyenangkan . Employee benefit biasa juga di sebut dengan
kompensasi pelengkap, gaji tersembunyi (fringe benefit), pelayanan
karyawan atau jaminan sosial
Kesejateraan karyawan adalah balas jasa pelengkap dalam bentuk
material maupun non material yang di berikan perusahaan sesuai dengan
kebijaksaan perusahaan dengan tujuan mempertahankan kondisi fisik dan
mental supaya produktivitas kerja karyawan meningkat . Kesejahteraan
karyawan juga diartikan sebagai jaminan sosial yang berbentuk pemberian
penghasilan baik dalam materi atau non materi, yang diberikan kepada
karyawan dari perusahaan selama masa pengabdiannya atau setelah berhenti
di karenakan pensiun dan lanjut usia, dengan tujuan memberikan dorongan
serta semangat kepada karyawan . Dalam penelitian mengungkapkan
bahwa kesejahteraan karyawan merupakan suatu kepuasan yang diperoleh
oleh seorang karyawan dalam melakukan pekerjaan di dalam perusahaan.
Indikator Work-Life Balance
Adapun indikator Work-Life Balance yaitu :
- Time Balance (Keseimbangan Waktu)
Keseimbangan waktu ini merujuk pada keseimbangan antara
waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan waktu yang dihabiskan
untuk kehidupan pribadi dan keluarga. Hal ini berarti seseorang atau
karyawan mampu mengalokasikan waktu yang memadai untuk
kehidupannya. - Involment Balance (Keseimbangan Keterlibatan)
Keseimbangan keterlibatan mengacu pada tingkat keterlibatan
psikologis atau komitmen seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Ini mencakup bagaimana seseorang dapat mengelola stress
dan keterlibatan emosional dalam kedua aspek tersebut. Keseimbangan
ini penting supaya seseorang atau karyawan tidak terlalu terlibat dalam
pekerjaan sehingga keluarganya dan kehidupan pribadinya diabaikan
ataupun sebaliknya. - Satisfaction Balance (Keseimbangan Kepuasan)
Keseimbangan kepuasan merujuk pada tingkat kepuasan yang
dirasakan sesorang atau karyawan dalam pekerjaan dan kehidupan
pribadinya. Keseimbangan ini membantu memastikan bahwa seseorang
merasa terpenuhi dalam keterlibatannya di tempat kerja dan kehidupan
pribadinya
Faktor yang mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Ada tiga faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan di antaranya
adalah :
- Faktor Rasional
Faktor ini berupa hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti:
gaji, bonus, jenjang karir, dan fasilitas yang diberikan perusahaan
kepada karyawannya. - Faktor Emosional
Faktor emosional ini menyangkut perasaan atau ekspresi diri
seperti: menantangnya pekerjaan, adanya dukungan di lingkungan kerja,
perasaan aman karena perusahaan menyediakan tempat kerja yang stabil
untuk jangka panjang, pemimpin yang berwibawa, pekerjaan yang
memberikan rasa bangga, penghargaan yang di berikan oleh perusahaan
dan budaya kerja. - Faktor Kepribadian
Faktor ini menyangkut sifat, karakter, dan tempramen yang
dimiki oleh karyawan
Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan adalah keadaan dimana individu atau karyawan
memiliki empati kuat terhadap organisasi yang tercermin dalam perilaku,
seperti berpartisipasi untuk mencapai tujuan organisasi dengan
bersungguh-sungguh menjalankan tugas di dalam organisasi, mendukung
kebijakan organisasi dengan cara menataati peraturan dalam organisasi,
dan ingin tetap berada dalam organisasi dalam jangka panjang serta
berkontribusi kepada perusahaan . Adapun pendapat yang sama yaitu
loyalitas karyawan adalah bentuk tekad dan kesanggupan karyawan untuk
menaati dan mengamalkan dengan kesadaran dan tanggung jawab pada
pekerjaan . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan terhadap
pekerjaannya, loyalitas karyawan mencerminkan rasa kesetiaan dan
tanggung jawab yang tinggi dari karyawan terhadap perusahaan mereka.
Ini merupakan bentuk apresiasi atas penghargaan yang diberikan
perusahaan kepada karyawan .
Loyalitas adalah kepercayaan atau penerimaan dari setiap tujuan
organisasi atau profesi, kemauan untuk melakukan usaha dengan sungguh-
sungguh, serta keinginan untuk menjaga keanggotaan dalam instansi dan
profesi . Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan yang di
tunjukkan ke perusahaan melalui kesediaan untuk menjalankan tugas dan
tanggung jawab yang telah di sepakati sejak awal bekerja . Sama halnya
dengan pendapat yangmana loyalitas karyawan ialah sikap kesetiaan
terhadap perusahaannya, dengan demikian yang menjadi tolak ukur
loyalitas adalah lamanya mereka bertahan dengan dampak produktivitas
yang semakin baik bagi perusahaan
Keterkaitan Loyalitas Kerja dan Kepribadian Terhadap Kinerja Karyawan
Hasil penelitian Reiza Adelia Maulida (2022) menyatakan bahwa tingkat loyalitas
sangat mempengaruhi kinerja karyawan, perusahaan dapat berjalan dengan baik bila
loyalitas dapat dikelola dengan semaksimal mungkin, karena loyalitas kerja sangat
berpengaruh untuk membangun kenyamanan pada kinerja karyawan yang bekerja pada
suatu perusahaan
Hasil penelitian SriIndrastuti (2021) Kepribadian tidak membawa pengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan tetapi kepribadian karyawan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja melalui kompetensi karyawan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa kompetensi karyawan dapat memediasi pengaruh kepribadian karyawan terhadap
kinerja karyawan
Indikator Kinerja Keryawan
Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti
prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2017).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Kopelman (dalam Annisa, Setyawan, dan Susila, 2017),faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja adalah: individual characteristics(karakteristik individual),
organizational charasteristic (karakteristikorganisasi), dan work characteristics
(karakteristik kerja). Lebihlanjut oleh Kopelman dijelaskan bahwa kinerja selain
dipengaruhi olehfaktor 9lingkungan juga sangat tergantung dari karakteristik
individusepertikemampuan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, norma dan nilai.
Dalamkaitannya dengan konsep kinerja, terlihat bahwa karakteristik
individusepertikepribadian, umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan
sukubangsa,keadaan sosial ekonomi, pengalaman terhadap keadaan yanglalu,
akanmenentukan perilaku kerja dan produktivitas kerja, baik individu maupun organisasi
sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepuasan bagi pelangganatau pasien.
Definisi Kinerja Karyawan
Menurut Cole, dkk, (dalam Alfatamma, 2020) kinerjaa adalah menggambarkan
kinerja sebagai proses berkelanjutan untuk meningkatkankinerja individu dengan
menyelaraskan dengan yang di inginkan (dandengantujuan strategis organisasi) secara
informal, sehari-hari, dansecarainformasi/sistematis melalui wawancara penilaian dan
penetapantujuan.Pekerjaan yang dilakukan dalam kapasitas manajemen tenaga kerja.
Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kinerja karyawanmerupakan suatu bentuk
kesuksesan seseorang untuk mencapai peranatauterget tertentu yang berasal dari
perbuatannya sendiri. Kinerja seseorangdikatakan baik apabila hasil kerja individu
tersebut dapat melampaui peranatau target yang ditentukan sebelumnya.
kinerja karyawan dapat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan
dengan melihat tinggi rendahnya kinerja yang diberikan oleh karyawan perusahaan
(Hidayat dan Wulantika, 2021)
Menurut Cash and Fischer (Dalam Isniar, 2013) Kinerja yang sering disebut dengan
performance juga disebut result yang berarti apa yang telah dihasilkan oleh individu
karyawan.
Lita Wulantika (2021) mencirikan bahwa skill pegawai adalah konsekuensi dari
kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam melakukan pekerjaan dan kewajiban
yang diberikan dalam jangka waktu tertentu
Indikator Kepribadian Kerja
Menurut Robbins, (2014:131) Ada Lima indikator dari kepribadian
- Ekstroversi , Kepribadian yang menggambarkan seseorng yang supel , riang dan
percaya diri . - b. Kemampuan bersepakat , kepribadian yang menggambarkan seseorang yang
bersifat baik , kooperatif , dan mempercayai - c. Kemampuan mendengarkan suara hati ,kepribadian yang menggambarkan
seseorang yang bertanggung jawab , dapat diandalkan ,Satabil dan tertata - d. Stabilitas emosi , kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang , percaya
diri , tentram
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Kerja
Kepribadian seseorang di hasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan situasi
Stephen dan Timothy (2008;127).
- Keturunan
Keturunan merujuk ke faktor-faktor yang di tentukan pada saat pembuahan, sosok
fisik, daya tarik wajah, kelamin, tempramen, komposisi otot dan refleks, tingkat
energy, dan ritme hayati merupakan karateristik yang umumnya dianggap sebagai
yang paling oleh siapa kedua orang tua. karateristik itu pasti ada pada saat
kelahiran dan tidak ada pengalaman seberapapun yang dapat mengubahnya.Tetapi
karateristik kepribadian tidaklah sepenuhnya ditentukan oleh keturunan. - Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekan pada pembentukan kepribadian kita adalah
budaya dimana kita di besarkan, normanorma di antara keluarga, teman-teman dan
kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. - Situasi
Kepribadian seseorang, walaupun pada umumnya mantap dan konsisten, dapat
berubah dalam situasi yang berbeda tuntutan yang berbeda dari situasi yang
berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang
Definisi Kepribadian kerja
Allport (Suryabrata, 1995: 248) kepribadian adalah organisasi dinamis dan sistem
psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
Kepribadian juga merupakan sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang
membimbing dan memberi arahan pada tingkah laku individu.
Sullivan (Suryabrata, 1995: 260) menyatakan kepribadian merupakan pola yang
relatif dari situasi hubungan antara pesan yang ditandai kehidupan manusia, kepribadian
ini tidak dapat dipisahkan dari situasi hubungan individu dengan orang lain. Menurutnya
tingkah laku yang bersifat sosial juga dapat dianggap sebagai kepribadian.
Kepribadian (personality) didefinisikan oleh Salvator Maddi sebagai karakteristik
dan kecenderungan seseorang yang bersifat konsisten yang menentukan perilaku
psikologis sesorang seperti cara berpikir, berperasaan dan bertindak. Tipe kepribadian
mempengaruhi orientasi umum ke arah penciptaan tujuan, pemilihan alternatif, tindakan
terhadap risiko dan reaksi di bawah tekanan (Kristanti, 2012).
Indikator Loyalitas Kerja
Loyalitas karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam perusahaan, tetapi ada
beberapa indikator yang mewujudkan loyalitas tersebut. Indikator loyalitas yang terdapat
pada individu dikemukakan oleh Siswanto, dalam Trianasari (2005) antara lain :
- Taat pada peraturan Karyawan mempunyai tekat untuk melakukan setiap perintah
dari perusahaan atau mentaati dan mematuhi segala peraturan yang berlaku, baik
secara tertulis maupun tidak tertulis. - Tanggung jawab pada perusahaan Kesanggupan karyawan dalam melaksanakan
tugas sebaikbaiknya dan kesadaran tanggung jawab terhadap resiko atas apa yang
telah dilaksanakan - Kemauan untuk bekerja sama Karyawan dapat bekerja sama dengan orang-orang
yang ada dalam suatu perusahaan karena tanpa adanya kerja sama, maka sulit
perusahaan mencapai tujuan. Sebaliknya, dengan bekerja sama memungkinkan
perusahaan dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. - Rasa memiliki terhadap perusahaan Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk menjaga dan
bertanggung jawab terhadap perusahaan, sehingga akan menimbulkan loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan. - Hubungan antar pribadi Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan
mempunyai sikap fleksibel ke arah hubungan pribadi. Hubungan antara pribadi
ini meliputi, hubungan sosial antara para karyawan, serta hubungan antara atasan
dan karyawan. - Kesukaan terhadap pekerjaan Karyawan melakukan pekerjaannya dengan senang
hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari keunggulan karyawan dalam bekerja
dan karyawan tidak banyak menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Mas’ud
(2004):Kepuasan dengan promosi Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh
yang berbeda pada kepuasan kerja. Hasil ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
bentuk yang berbeda dan memiliki berbagai penghargaan. Kepuasan dengan Rekan kerja
Sifat alami dari kelompok atau tim kerja kan mempengaruhi kepuasan kerja. Pada
umumnya rekan kerja atau anggota tim yang kooperatif merupakan sumber kepuasan
kerja yang paling sederhana pada karyawan secara individu. Kepuasan dengan Gaji Upah
dan gaji merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
membantu orang memperoleh kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan
kebutuhan kepuasan pada tingkat uang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai
refleksi dari bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap perusahaan
Definisi Loyalitas Kerja
Riyanti (2017:6), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah tekad dan
kemampuan untuk mengikuti dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, tekad dan
kemampuan yang harus ditunjukkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, dan dalam
pelaksanaan tugas. Pendapat ini dimaknai bahwa loyalitas karyawan terhadap pekerjaan
timbul secara internal serta loyalitas terhadap perusahaan tempatnya bekerja karena
tanggung jawab dan kemampuannya.
Hasibuan (2021:210), menyatakan bahwa loyalitas kerja karyawan adalah
keragamaan peran dan anggota dalam menggunakan pikiran dan waktunya untuk
mencapai tujuan organisasi.
Suhendi (2017:260), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan ditunjukkan
dengan adanya komitmen karyawan terhadap perusahaan, komitmen organisasi dapat
dibentuk oleh beberapa faktor baik dari organisasi maupun individu.
Kadarwati (2017:108), mengatakan bahwa loyalitas kerja karyawan terhadap
pekerjaan adalah aktivitas fisik, psikologis, dan sosial yang menyababkan individu
memilih sikap untuk mengikuti aturan tekad untuk melakukan dan mempraktikkan
sesuatu yang dipahami sebagai sesuatu yang bermakna, penuh pengetahuan dan tanggung
jawab serta persepsi pribadi terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi pemerintahan
berdasarkan keahliannya untuk meningkatkan efektivitas organisasi pemerintahan dan
disertai dengan dedikasi yang konsisten dan kuat
Pengaruh kepuasan kerja terhadap Loyalitas Karyawan
Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa salah satu factor yang
menyebabkan timbulnya loyalitas kerja antara lain adalah Pengalaman dalam
dalam bekerja. Hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap perusahaan, rasa
percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaaan puas terhadap perusahaan.
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi atau perasaan positif yang muncul dari
persepsi seorang karyawan mengenai pekerjaan yang mereka lakukan untuk
perusahaan. Sehinga semakin tinggi rasa puas karyawan maka semakin mencintai
pekerjaan dan loyal dalam bekerja begitu sebaliknya, jika semakin rendah rasa puas
karyawan maka semakin tidak loyal dan malas dalam bekerja.
Indikator Kepuasan Kerja
Afandi (2020) Adapun indikator-indikator kepuasan kerja meliputi antara lain :
1) Pekerjaan Isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen
yang memuaskan
2) Upah Jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari
pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan adil.
3) Promosi Kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
jabatan.
4) Pengawas Seseorang yang senantiasa memberikan perintah atau petunjuk
dalam pelaksanaan kerja
5) Rekan Kerja Rekan kerja yang saling membantu dalam menyelesaikan
pekerjaan
Faktor-faktor yang Mempengaruhi kepuasan Kerja.
Afandi (2020) ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja,
yaitu sebagai berikut:
1) Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment) Kepuasan ditentukan oleh
tingkatan karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu
untuk memenuhi kebutuhannya.
2) Perbedaan (Discrepancies) Kepuasan merupakan suatu hail memenuhi
harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang
diharapkan dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila
harapan lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas.
Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat diatas harapan.
3) Pencapaian nilai (Value attainment) Kepuasan merupakan hail dari
persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang
penting.
4) Keadilan (Equity) Kepuasan merupakan fungi dari seberapa adil individu
diperlakukan di tempat kerja
5) Budaya Organisasi (Organization Culture). Dalam sebuah organisasi
yang terjalin budaya kerja yang baik dan harmonis maka pegawai akan
merasa puas bekerja dan berupaya bekerja dengan baik
Pengertian Kepuasan Kerja
Menurut Robbins dan Judge (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja
adalah perasaan positif seseorang terhadap pekerjaan yang merupakan hasil dari
evaluasi dari karakteristik pekerjaan tersebut. Pendapat lain mendefinisikan
mengenai kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan tentang seberapa baik
pekerjaan menyediakan hal yang dinilai sebagai sesuatu yang penting
Menurut Robbins (2019) mendefinisikan kepuasan kerja adalah suatu sikap
umum seorang individu terhadap pekerjaannya, selisih antara banyaknya ganjaran
yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini dibandingkan
yang seharusnya mereka terima.
Kepuasan kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis
(Sutrisno 2019)
Menurut Rivai (2022) kepuasan kerja adalah bagaimana orang merasakan
pekerjaan dan aspek-aspeknya. Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi
yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang,
puas atau tidak puas dalam bekerja
Indikator Loyalitas Karyawan
Menurut indicator Loyalitas menurut Syadam (2019) adalah sebagai berikut
:
- Ketaatan dan kepatuhan Seorang karyawan yang loyal akan selalu taat
pada peraturan. Sesuai dengan pengertian loyalitas, ketaatan ini timbul
dari kesadaran karyawan jika peraturan yang dibuat oleh perusahaan
semata-mata disusun untuk memperlancar jalannya pelaksaan kerja
perusahaan. Kesadaran ini membuat karyawan akan bersikap taat
tanpa merasa terpaksa atau takut terhadap sanksi yang akan
diterimanya apabila melanggar peraturan tersebut. - Tanggung jawab Ketika seorang karyawan memiliki sikap sesuai
dengan pengertian loyalitas, maka otomatis ia akan merasa memiliki
tanggung jawab yang besar terhadap perusahaannya. Karyawan akan
berhati-hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya, namun sekaligus
berani untuk mengembangkan berbagai inovasi demi kepentingan
perusahaan.. - Rasa Memiliki Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut
menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada
akhirnya akan menimbulkan sikap sesuai dengan pengertian loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan.. - Kesukaan Dengan Pekerjaan Sebagai manusia, karyawan pasti akan
mengalami masa-masa jenuh terhadap pekerjaan yang dilakukannya
setiap hari. Seorang karyawan yang memiliki sikap sesuai dengan
pengertian loyalitas akan mampu menghadapi permasalahan ini
dengan bijaksana. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila seorang
karyawan mencintai pekerjaannya
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Steers dan Porter (2009) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas kerja
dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu::
- Karakteristik pribadi. Hal ini meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat
kepribadian - Karakteristik pekerjaan. Hal ini Hal ini berupa tantangan kerja, job
stress, kesempatan berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi
tugas, umpan balik tugas dan kecocokan tugas - Karakteristik desain perusahaan. Hal ini berupa kondisi Hal ini berupa
kondisi intern perusahaan tersebut yang dilihat dari desentralisasi,
tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan dalam pengambilan
keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai tingkat asosiasi
dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan fungsional maupun
fungsi kontrol perusahaan. - Pengalaman dalam hal ini berupa meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya pada perusahaan, rasa aman, serta perasaan
puas terhadap perusahaan.
Pengertian Loyalitas Karyawan
Syadam (2019) Loyalitas merupakan kesetiaan karyawan terhadap
perusahaan yang akan menimbulkan rasa tanggung jawab. Menurut Hasibuan
(2022) mengemukakan bahwa loyalitas atau kesetiaan merupakan salah satu unsur
yang digunakan dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap
pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan
karyawan menjaga dan membela organisasi didalam maupun diluar pekerjaan dari
rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab.
Dari pembahasan diatas disimpulkan bahwa loyalitas karyawan merupakan
kesetiaan karyawan pada suatu perusahaan dengan bersedia melakukan segala
tanggung jawab yang telah diberikan dengan sikap dan tindakan yang positif karena
mereka akan memberikan sikap timbal balik jika perusahaan tempat mereka bekerja
memperhatikan segala aspek pendukung dalam pengembangan karir
Hubungan Budaya Organisasi dengan Perilaku Kerja inovatif
Kreativitas dan inovasi merupakan hal yang memiliki kaitan dengan
pengelolaan sumber daya manusia pada organisasi. Secara eksplisit
berfokus pada interaksi dinamis antara pengembangan individu dalam
keterampilan berfikir kreatif dan budaya organisasi yang mendukung,
melalui peningkatan praktek dalam manajemen sumber daya manusia
dalam organisasi yang mendasarkan pada nilai objektifitas didalam
lingkungan organisasi (Prayudhayanti, 2014) . Hal ini menunjukkan
adanya keterkaitan antara perilaku kerja inovatif pada guru dengan budaya
organisasi yang terjadi pada instansi
Hubungan Psychological Capital dengan Perilaku Kerja Inovatif
Pada faktor individu, secaara psikologis individu yang bersedia
untuk menerima resiko akan kegagalan dalam berinovasi. Hal ini berkaitan
dengan karakteristik psikologis mereka. Maka dari itu, individu yang
memiliki psychological capital yang tinggi akan memiliki perilaku yang
lebih inovatif (Ratnaningsih et al., 2016)
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins et al., (2013), mengemukakan lima fungsi
utama dari budaya dalam organisasi sebagai berikut:
1) Budaya organisasi berfungsi sebagai pembeda, hal itu berarti
bahwa budaya yang ada dalam organisasi menciptakan perbedaan
dengan organisasi lainnya.
2) Budaya memberikan akan rasa identitas ke anggota-anggota
organisasi
3) Budaya mempermudah timbulnya sebuah komitmen pada sesuatu
yang lebih luas daripada kepentingan akan diri sendiri.
4) Budaya meningkatkan kemantapan akan sistem sosial. Budaya
merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi dengan memberikan standar-standar yang tepat
mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para
karyawan
5) Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan
mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta
perilaku karyawan
Definisi Budaya Organisasi
Pengertian budaya dan organisasi secara parsial mempunyai
pengertian yang berbeda dan budaya organisasi sendiri mempunyai
pengertian yang berbeda pula. Budaya merupakan sebuah konsep
penting dalam memahamo sebuah masyarakat dan kelompok manusia
untuk jangka waktu yang lama. Budaya sendiri merupakan
kompleksitas atau asumsi akan tingkah lau, cerita, metafora, dan
bermacam-macam ide lainnya yang menjadi satu kolektif dalam
menentukan arti menjadi anggota masyarakat tertentu(Stoner, 1995).
Hofstede dalam Wilson Bangun (2012), mengartikan budaya
sebagai pemrogaman kolektif atas pemikiran yang membedakan
anggota-anggota suatu kategori orang dari kategori lainnya. Maka
budaya dapat diartikan sebagai pola pikir dan perilaku efektif dan
efisien yang dilakukan secara berulang terus menerus untuk mencapai
tujuan. Karena efektif dan efisien juga diulang secara terus menerus
sehingga membentuk karakter (watak). Pola pikir yang diulang terus
menerus karena diyakini sebagai bentuk kebenaran maka akan
menjadikannya sebuah nilai (value) dan ideologi untuk diperjuangkan,
sedangkan pola perilaku yang berulang secara terus menerus maka
membentuk norma untuk mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan
perilaku individu. Adapun konsep organisasi sendiri menurut Kast dan
James E. Rosenzweig (2002),bahwa organisasi diartikan sebagai
berikut:
1) Suatu subsistem dari lingkungan yang lebih luas
2) Segala pengaturan yang berorientasi pada sasaran orang dan tujuan
yang meliputi
3) Suatu subsistem teknik, dimana orang akan memakai pengetahuan,
teknik, peralatan, dan fasilitas
4) Suatu subsistem struktur, dimana orang akan bekerja sama dalam
aktivitas yang terpadu
5) Suatu subsistem psikososial, dimana adanya hubungan sosial
antara individu dengan individu lainnya
6) Subsistem manajerial perencanaan, pelaksanaan, pengawasan
dalam setiap segala usaha yang dilakukan
Organisasi yang dimaksud disini berkaitan dengan segi sosial,
karena subjeknya sendiri merupakan manusia yang disatukan oleh nilai-
nilai tertentu. Nilai tersebut merupakan esensi akan moralitas kehendak
untuk memenuhi tanggung jawab manusia, baik yang dilakukan dalam
lingkup organisasi formal maupun organisasi non formal.
Budaya organisasi adalah sebuah persepsi umum yang dipegang
oleh anggota organisasi, dan suatu sistem tentang kebeartian bersama
(Robbins, 2010). Sedangkan Mangkunegara (2009) budaya organisasi
merupakan seperangkat asumsi atau sistem akan keyakinan, nilai-nilai,
dan norma yang dikembangkan dalam organisasi lalu dijadikan sebagai
pedoman tingkah laku bagi anggota-anggota untuk mengatasi masalah
adaptasi internal dan eksternal.
Dalam pengertian lainnya budaya organisasi adalah sebagai
aturan main yang menjadi pegangan atau pedoman dari masyarakat
organisasi dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk
berperilaku didalam organisasi. Budaya organisasi dibentuk untuk
dijadikan sebagai nilai-nilai, yang menjadi pedoman dalam berprilaku
dalam lingkup organisasi.
Dari beberapa definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa budaya organisasi sesungguhnya tumbuh karena diciptakan dan
dikembangkan oleh individu yang ada dalam organisasi, dan diterima
sebagai nilai (value) yang harus dipertahankan dan diturunkan kepada
setiap anggota organisasi baru. Nilai (value) tersebut digunakan sebagai
pedoman bagi setiap anggota dan dapat dianggap sebagai ciri khas yang
membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya
Aspek-aspek Psychological Capital
Luthans et al, (2007) menyatakan bahwa Psychological Capital
memiliki beberapa karakteristik dalam diri individu yaitu:
1) Self-efficacy (Efikasi diri)
Self-efficacy merupakan kepemilikan akan rasa yakin dalam
mengambil setiap kesempatan sebagai bentuk usaha untuk
mencapai sebuah kesuksesan didalam tugas yang menantang.
Seorang individu yang memiliki sifat seperti ini akan membuat
individu lebih merasa percaya diri, contohnya ketika guru merasa
percaya diri terlibat dalam diskusi mengenai strategi pembelajaran
yang efektif sehingga membuat individu berkontribusi dalam
lingkungan kerja.
2) Hope (Harapan)
Hope yaitu memiliki ketekunan untuk mencapai tujuan,
mampu melihat sebuah peluang yang dapat dicapai, dan
memunculkan harapan dalam mencapai keberhasilan. Contohnya,
individu memandang adanya banyak jalan keluar setiap adanya
masalah. Sehingga individu dengan tenang mengatasi
permasalahan yang dihadapi.
3) Resiliency (Ketahanan)
Resiliency yaitu kemampuan individu dalam mengatasi
tantangan hidup dan mempertahankannya. Ketika individu
mengalami masalah maka individu dapat mengatasinya, dan
memecahkan masalah tersebut untuk melakukan perubahan ke arah
yang lebih baik dan mencapai kesuksesan. Contohnya, ketika
individu dihadapkan pada keadaan masa-masa sulit dalam
pekerjaannya maka individu tersebut mampu mengatasinya.
4) Optimism (Optimisme)
Optimisme yaitu kemampuan menciptakan sebuah atribut
yang positif dalam diri individu tentang kesuksesan dalam tugas
yang menantangnya. Contohnya, individu beranggapan jika terjadi
hal-hal yang tidak pasti dalam pekerjaannya maka individu
mengharapkan hal tersebut merupakan yang terbaik untuk dirinya,
dan individu akan mengambil hikmah dari setiap masalah dan
menjadikannya sebuah pembelajaran untuk perubahan yang lebih
baik
Definisi Psychological Capital
Psychological capital atau lebih dikenal dengan sebutan PsyCap,
merupakan konsep dalam level individu yang bertujuan untuk
mendorong pertumbuhan dan kinerja pada individu. Sedangkan dalam
level organisasi mendorong organisasi memperoleh keuntungan
kompetitif melalui kinerja karyawan (Luthans & Avolio, 2003).
Psychological capital merupakan keadaan psikologis yang positif yang
dicirikan adanya keyakinan diri bahwa individu tersebut dapat
mencapai tujuannya melalui kemampuan kognitif yang ada dalam diri
individu untuk melakukan sebuah aksi yang tepat, belajar dari orang
lain, belajar dari pengalaman yang dimiliki dan menetapkan pada tujuan
yang dimiliki (Adiwibawa, 2014).
Luthans et al., (2007) mendefinisikan modal psikologi sebagai
berikut:
“PsyCap is an individual’s positive psychological state of development
and is characterized by: (1) Having confidence (self-efficacy) to take
on and pit in the necessary effort to succeed at challenging task; (2)
Making a positive attribution (optimism) about succeeding now and in
the future; (3) Persevering toward goals and, when necessary,
redirecting paths to goals (hope) in order to succeed, and (4) When
beset by problems and aversity, sustaining and bouncing back and even
beyond (resiliency) to attain success”.
Berdasarkan kutipan diatas maka dapat diartikan bahwa modal
psikologis sebagai suatu perkembangan keadaan psikologis yang positif
pada individu yang ditandai dengan memiliki keyakinan (self efficacy)
untuk memilih dan upaya yang dibutuhkan agar berhasil dalam tugas
yang menantang. Selanjutnya, membuat atribut positif (optimism)
tentang keberhasilan pada masa kini dan masa yang akan datang.
Memiliki ketekunan dalam mencapai tujuan dan, perlu mengalihkan
cara untuk mencapai tujuan (hope) dalam mencapai keberhasilan.
Kemudian, ketika terjadi sebuah masalah dan kesulitan, diharapkan
mampu bertahan dan “memantul kembali” bahkan melampui ketahanan
(resiliency) untuk mencapai keberhasilan.
Berdasarkan dari beberapa definisi maka dapat disimpulkan
bahwa modal psikologis adalah kondisi perkembangan psikologis
seseorang yang positf dan memiliki beberapa karakteristik. Selain itu
sifat dari modal psikologis adalah terbuka terhadap perubahan dan akan
terus berkembang
Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Kerja Inovatif
`Tercapainya sebuah perilaku inovatif dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik dari dalam individu maupun dari lingkungan organisasi. Li
dan Zheng (2014) menyatakan terdapat dua faktor yang dapat
memunculkan perilaku inovatif pada diri seseorang, yaitu:
1) Faktor Internal
Faktor internal yang dapat menimbulkan perilaku inovatif
berasal dari sifat yang dimiliki oleh individu untuk ikut serta dalam
memunculkan perilaku inovatif. Kemampuan individu dalam
berinovasi dapat dilihat dari sifat yang ada dalam individu, seperti
psychologi capital (modal psikologi) merupakan modal positif bagi
individu, seperti sifat optimisme, efikasi diri, resiliensi dan
harapan. Sifat positif tersebut mendorong individu untuk
berperilaku inovatif.
2) Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mampu menimbulkan perilaku
inovatif pada individu merupakan faktor yang mengacu pada
kondisi lingkungan tempat individu bekerja, kondisi lingkungan,
serta budaya yang ada pada organisasi individu bekerja. Budaya
yang ada di organisasi sangat besar pengaruhnya terhadap
pembentukan pribadi seseorang, karena budaya organisasi ikut
merangsang tumbuhnya kreativitas sehingga menumbuhkan
perilaku kerja inovatif dari anggota organisasi.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua faktor yang dapat memunculkan perilaku inovatif, yaitu
faktor internal yang berasal dari dalam diri individu dan faktor eksternal
yang berasal dari lingkungan. Penelitian ini berfokus pada faktor yang
disampaikan Li & Zheng (2014) Kedudukan budaya organisasi terletak
pada faktor eksternal, sedangkan kedudukan modal psikologis terletak
pada faktor internal dari dalam diri individu
Aspek-Aspek Perilaku Kerja Inovatif
Menurut De Jong dan Hartog (2008), terdapat empat indikator
perilaku kerja inovatif yaitu:
1) Idea Exploration (Pengekplorasian Ide)
Perilaku untuk mempelajari akan adanya peluang baru
dengan mengidentifikasi peristiwa yang telah terjadi,
mengidentifikasi teka-teki yang perlu untuk dipecahkan, dan
mengindentifikasi pemicu terjadinya masalah yang membutuhkan
penyelesaian.
2) Idea Generation (Pemunculan Ide)
Perilaku dalam pemunculan ide dan mampu
mengembangkan ide inovasi dengan menciptakan dan
menyarankan ide untuk menemukan proses baru.
3) Ide Championing (Mewujudkan Ide)
Upaya untuk mewujudkan sebuah ide-ide kreatif dan
merealisasikan dalam bentuk pekerjaan. Dalam hal ini individu
diharapkan terdorong untuk mencari dukungan dalam mewujudkan
ide dengan inovasi baru yang telah dihasilkan.
4) Ide Implementation (Pengaplikasian Ide)
Perilaku untuk menerapkan ide baru tersebut kedalam
proses kerja yang biasa dilakukan, serta tindakan untuk
mengembangkan, menguji coba, dan mengkomersialisasikan ide-
ide inovatif.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku
inovatif adalah serangkaian tindakan yang menghasilkan ide atau
gagasan baru yang muncul dari individu yang terarah dan tertuju dalam
mencapai tujuan dari organisasi atau perusahaan. Sehingga seseorang
yang memiliki perilaku inovatif akan berusaha untuk berupaya
memecahkan masalah dengan menggunakan segenap cara yang
berbeda dari orang lain sehingga menghasilkan cara yang efektif dan
efisien
Pelatihan Efikasi Diri untuk Meningkatkan Perilaku Kerja Inovatif
Ormrod ( 2008: 21 ) menyatakan bahwa efikasi diri adalah penilaian seseorang
tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai
tujuan tertentu. Individu dengan efikasi diri tinggi mampu mencapai keberhasilan
yang tinggi disbanding individu dengan efikasi diri rendah. Hal ini terjadi karena
individu dengan efikasi diri tinggi memiliki aspirasi yang lebih tinggi dan memiliki
kegigihan yang lebih kuat dalam bekerja untuk mencapai sutau tujuan tertentu
( Bandura dalam Feldman, 2012: 187 ).Menurut Mathis ( 2002) Pelatihan adalah suatu
proses dimana orang – orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu
mencapai tujuan organisasi. Pelatihan terkait dengan ketrampilan dan kemampuan
yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pelatihan dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis sesuai dengan profesi pada
bidangnya.
Self efficacy merupakan konsep penting dalam manajemen dan organisasi. Asal
self efficacy adalah penelitian dan teori sosial kognitif (Bandura, 1997). Tidak seperti
mengukur persepsi individu dari seluruh kelompok atau organisasi, self efficacy
mengevaluasi persepsi orang dari situasi kerja. Self efficacy mencerminkan keyakinan
seseorang dalam kemampuan untuk melakukan tugas khusus pada proses inovasi
(Luthans et al., 2007). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa self efficacy
yang lebih tinggi memungkinkan untuk melihat tantangan sebagai sesuatu yang dapat
diatasi dengan kompetensi yang cukup dan usaha sehingga mereka cenderung
memilih untuk mengeksplorasi peluang dan menggenerasikan ide – ide baru untuk
mengatasi hal tersebut. Individu yang memiliki optimism tinggi cenderung akan
bersikap positif untuk berusaha melakukan sebuah perubahan kearah yang lebih baik,
melihat kesempatan – kesempatan di masa depan, dan fokus dalam memgambil
kesempatan – kesempatan tersebut.
Dimensi Efikasi Diri
Bandura ( 1997: 42-43 ) menyebutkan bahwa Efikasi Diri terdiri dari tiga
dimensi yaitu :
a. Tingkat Kesulitan ( Level )
Aspek tingkat kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan dalam mengerjakan
tugas. Ada perbedaan tingkat diri antara satu individu dengan individu lainnya.
Salah satu yang membedakan Efikasi Diri adalah tingkat kesulitan, Tugas dengan
tingkat kesulitan tertentu dapat menentukan Efikasi Diri seseorang. Saat seseorang
menghadapi tugas yang mudah, tidak menghadapiu kesulitan atau mendapat
rintangan dan masalah, maka sangat mudah bagi seseorang untuk mencapai
Efikasi Diri tinggi. Individu yang mengerjakan tugas dengan kesulitan tinggi
dituntut untuk memiliki Efikasi Diri tinggi, akibatnya individu dengan Efikasi Diri
rendah cebderung menghindari tugas dengan tingkat kesulitan tinggi.
b. Tingkat Kekuatan ( Strenght )
Tingkat kekuatan merupakan aspek efikasi diri yang berkaitan dengan
kekuatan dari keyakinan atau pengharapan individu terhadap kemampuannya.
Keyakinan yang kuat akan mendorong individu untuk terus berupaya mencapai
tujuannya meskipun mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Sebaliknya jika keyakinan yang dimiliki individu lemah akan membuat individu
tersebut mudah goyah oleh pengalaman – pengalaman yang tidak menyenangkan.
c. Generalisasi ( Generality )
Generalisasi merupakan cakupan bidang tugas dimana individu merasa
mampu untuk melakukan tugas. Generalisasi berkaitan dengan apakah seseorang
hanya merasa yakin terhadap kemampuannya pada suatu tugas atau situasi
tertentu pada tugas yang lebih bervariasi. Generalisasi dapat bervariasi pada
beberapa dimensi termasuk didalamnya derajat kesamaan aktifitas, modalitas
dimana kemampuan diekspresikan seperti perilaku, kognisi dan afeksi, fitur
kualitatif dari suatu situasi dan karakteristik orang yang menjadi sasaran perilaku
tersebut.
Pendapat lain tentang dimensi efikasi diri juga disampaikan oleh Adisasmito ( dalam
Raeni dan Purnami, 2013: 40 ) yaitu :
a. Dimensi Tingkat
Dimensi tingkat mengacu pada tingkat kesulitan tugas yang diyakini
seseorang dapat dicapai. Tingkat keyakinan akan memengaruhi dalam pemilihan
aktifitas, jumlah usaha, serta ketahanan dalam menghadapi dan meyelesaikan
tugas yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan bahwa seseorang yang mempunyai
tingkat keyakinan tinggi akan mampu menghadapi situasi kompetitif dengan
antusias dan percaya diri.
b. Dimensi Kekuatan
Dimensi kekuatan mengacu pada tingkat keyakinan individu dalam meraih
kesuksesan setiap tugas. Individu dengan dimesi kekuatan yang baik tetap
memiliki keyakinan bahwa individu tersebut mampu untuk memyelesaikan
tugasnya dnegan baik meskipun tugas yang dihadapi sagat berat dan sulit.
c. Dimensi Generalisasi
Dimensi generalisasi mengacu pada keyakinan individu terhadap beberapa
kemampuan tertentu yang dapat diraih dengan sukses dalam berbagai situasi.
Generalisasi pada keyakinan diri menunjukkan tingkat kesempurnaan keyakinan
diri yang tidak dibatasi oleh situasi tertentu
Pengertian Pelatihan Efikasi Diri
Dalam Robbins dan Judge (2017: 142-143 ) pelatihan adalah pengalaman
belajar terstruktur yang dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan
menjadi ketrampilan khusus, pengetahuan atau sikap. Kemampuan tersebut adalah
potensi fisik, mental, atau potensi psikologis. Pelatihan dalam hal ini bertujuan
untuk mengubah kemampuan, pengetahuan dan pengalaman kedalam pekerjaan
khusus yang berhubunban dengan ketrampilan. Pengertian pelatihan menurut
Yukl (1977: 10) adalah semua usaha merencanakan, melaksanakan, evaluasi guna
mempermudah dalam memperoleh kemampuan – kemampuan, pengetahuan,
sikap yang relevan dengan tujuan organisasi. Kegiatan pelatihan mempunyai
tujuan tertentu yaitu untuk meningkatkan kemampuan kerja sehingga
menimbulkan perubahan perilaku aspek – aspek kognitif, ketrampilan dan sikap
( Hamalik, 2005: 12 ). Kemampuan tersebut adalah :
a. Kemampuan membenuk dan membina hubungan antar perorangan
( intra personal )
b. Kemampuan menyesuaikan diri dengan keseluruhan lingkungan kerja
c. Pengetahuan dan kecakapan untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu
d. Kebiasaan, pikiran, dan tindakan serta sikap dalam pekerjaan
Perubahan aspek kognitif yang bertujuan menimbulkan suatu perubahan sangat
dibutuhkan bagi pekerja batik untuk dapat bersaing sehingga perilaku kerja kreatif
dan inovatif dapat terwujud. Self Efficacy yang tinggi diharapkan dapat membentuk
pola berpikir kreatif dan inovatif .
Bandura dalam ( Feist and Feist 2017 : 157 ) mendefinisikan Efikasi Diri sebagai
keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk control
terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan. Selanjutnya
menurut Baron dan Byrne (dalam Nurlaila 2011: 21-23 ) menyatakan bahwa efikasi
diri adalah suatu penilaian individu terhadap kemampuan dan kompetensinya dalam
melaksanakan suatu tugas dan dalam mencapai suatu tujuan, atau ketika mengatasi
suatu masalah. Efikasi diri yang selanjutnya mengarahkan sesorang dalam merasa,
berpikir, memotivasi dirinya sendiri dan perilaku yang akan dimunculkan. Dalam
kehidupan sehari-hari efikasi diri mengarahkan seseorang untuk menghadapi
tantangan tersebut. Individu dapat memiliki efikasi diri yang tinggi atau rendah.
Individu dengan efikasi diri tinggi akan lebih tekun, sedikit merasa cemas dan tidak
mengalami depresi sedangkan individu yang memilki efikasi rendah memiliki
keterampilan sosial yang kurang, tanggapan terhadap lingkungan disertai kecemasan,
adanya keinginan menghindari interaksi interpersonal serta cenderung lebih depresi.
Seperti yang diungkapkan Bandura ( dalam Ardiyanti & Alsa, 2015: 3-4 )
bahwa bagaimana individu berperilaku tergantung pada resiprokal antara
lingkungan dengan faktor personal individu, khususnya faktor kognitif yang
berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak mampu
melakukan suatu tindakan untuk mencapai hasil tertentu dengan berhasil (efikasi
diri). Dari sini tampak bahwa perspektif sosial kognitif menempatkan efikasi diri
sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perilaku.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang Efikasi Diri disimpulkan bahwa
Efikasi Diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan diri sendiri
dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas tertentu.
Dalam penelitian ini, variabel Efikasi Diri sebagai bentuk intervensi
psikologis yang di desain dalam bentuk pelatihan sebagai upaya untuk
meningkatkan perilaku kerja individu lebih inovatif. Pelatihan Efikasi Diri
mengacu pada dimensi Efikasi Diri yang diungkapkan oleh Bandura meliputi :
Dimensi tingkat kesulitan tugas ( Level ), dimensi kekuatan ( strength), dan
dimensi generalisasi ( Generality ). Dengan demikian individu pembatik akan
merasa yakin dengan kemampuan dan usaha – usaha yang dilakukannya sehingga
mampu mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan
Faktor – Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kerja Inovatif
Terdapat faktor-faktor yang diperkirakan dapat meningkatkan munculnya
perilaku inovatif karyawan. Nijenhuis (2015) mengemukakan beberapa faktor
eksternal maupun faktor internal yaitu:
a. Faktor Eksternal.
1) Competitive pressures.
Semakin tingginya tekanan untuk berkompetisi mampu mendorong
karyawan untuk bekerja lebih baik dan memiliki efek positif untuk
munculnya perilaku inovatif.
2) Social – Political pressures.
Organisasi yang memiliki dukungan dari pemerintah harus terus memberi
hasil kerja yang memuaskan jika tetap ingin mendapat dukungan. Sehingga
pemimpin dan karyawan harus memuncul perilaku inovasi agar tetap
memberi hasil kerja yang terus berkembang dan lebih baik.
b. Faktor Internal
1) Interaksi dengan atasan (Kepemimpinan)
Karyawan yang memiliki hubungan yang positif dengan atasan mereka
lebih mungkin untuk menunjukkan perilaku inovatif kerja dan mampu
memberi keyakinan bahwa perilaku inovatif mereka akan menghasilkan
keuntungan kinerja. Hubungan yang berkualitas sering ditandai dengan
saling percaya dan menghormati.
2) Interaksi dengan grup rekan kerja
Karyawan yang memiliki hubungan baik dengan rekan kerja lebih mungkin
memudahkan mereka mengimplementasikan ide baru mereka juga
meningkatkan idea generation di dalam sebuah grup rekan kerja mereka.
Dan hal ini memudahkan perilaku inovatif kerja untuk berkembang
Dimensi Perilaku inovatif
Menurut Jong dan Hartog (2003:26-27) dalam proses perilaku inovatif dapat
diukur dengan 4 dimensi yaitu melihat peluang, mengeluarkan ide, memperjuangkan
ide, dan aplikasi ide yang dibagi menjadi 2 tahapan yang dilewati individu. Melihat
peluang dan mengeluarkan ide termasuk dalam tahap inisiasi kemudian untuk
memperjuangkan ide dan aplikasi ide termasuk dalam tahap implementasi. Berikut
penjelasan mengenai dimensi dalam perilaku inovatif yaitu:
- Tahap Inisiasi
a. Melihat Peluang
Untuk para karyawan melihat peluang merupakan proses awal yang dilakukan
dengan cara mengidentifikasi permasalahan yang ada yang tidak sesuai dengan
yang diharapkan, permasalahan metode kerja yang diterapkan, kebutuhan
pelanggan yang tidak terpenuhi, dan adanya indikasi perubahan pola tren yang
terjadi di lingkungan. Dari beberapa permasalahan tersebut maka karyawan
dapat melihat adanya peluang kesempatan untuk memberikan solusi yang
bermanfaat.
b. Mengeluarkan ide
Pada tahap ini karyawan mengeluarkan konsep mengenai pemikiran baru
dengan tujuan untuk perbaikan atau perubahan agar lebih baik. Hal ini
mencakup menghasilkan ide baru atau layanan baru, pertemuan dengan klien
atau teknologi pendukung dan menghasilkan solusi untuk masalah dengan
tujuan untuk meningkatkan proses pelayaan sehingga lebih efisien. Kunci
dalam mengeluarkan ide yaitu mengkombinasikan dan memperbaharui
informasi dan konsep yang ada untuk memecahkan masalah dan
meningkatkan kinerja. - Tahap Implementasi
a. Memperjuangkan Ide
Dalam tahapan ini adalah mengembangkan dan mengimplementasikan ide yang
telah diungkapkan. Tanggung jawab dalam impelentasi ide untuk inovasi maka
karyawan dituntut untuk memiliki komitmen yang kuat dan mampu mengajak
orang lain agar paham mengenai ide yang dicetuskan. Untuk kesuksesan suatu
organisasi memang diperlukan peran karyawan untuk memunculkan ide-ide
kreatif dan kemudian memperjuangkan ide tersebut. Memperjuangkan dalam
hal ini termasuk membujuk dan memengaruhi rekan kerja agar mendukung
dengan melakukan negosiasi. Keberhasilan ide bergantung pada kemampuan
individu dalam membujuk dan mempengaruhi serta pada kemampuannya untuk
memanfaatkan jaringan pribadi yang dimiliki.
b. Aplikasi Ide
Tahap aplikasi ide berkaitan dengan perilaku yang dilakukan karyawan yang
bertujuan untuk mengembangkan, menguji dan memasarkan hal baru. Hal ini
kaitannya dengan membuat inovasi dalam proses kerja yang biasa dilakukan
Pengertian Perilaku Kerja Inovatif
Perilaku inovatif adalah faktor kunci yang mendukung inovasi di dalam setiap
organisasi sehingga pengukurannya dapat dilihat keterkaitannya dengan praktik dan
teori yang diungkapkan (Amir, 2015: 67). Kreativitas dan inovasi sering digunakan
dalam penelitian saat ini yang masih dipertukarkan dalam penggunaannya yang belum
diperhatikan dengan jelas (West dan Farr, 1990:5). Kreativitas mengacu pada
pengeluaran ide sedangkan inovasi penerapannya hingga pada aplikasi ide yang
dimiliki (Jong dan Hartog, 2003:28).
Menurut Rank et al. (2004: 522) perilaku inovatif mengacu pada inisiatif
karyawan terkait dengan adanya inovasi di dalam organisasi termasuk generasi ide
baru dan penggunaan ide, mengkomunikasikan ide dan menyampaikannya terhadap
yang lain mengenai ide tersebut serta mengimplementasikan dalam pekerjaan di
organisasi. West dan Farr (1990:9) mengungkapkan bahwa perilaku inovatif
didefinisikan sebagai intensitas menggenerasikan, mempromosikan dan
merealisasikan ide baru pada rekan kerja mereka, tim kerja atau organisasi dalam
rangka untuk meningkatkan kinerja individu, kelompok atau organisasi. Selama
mempromosikan ide, individu tidak hanya membagikan informasi dan data mengenai
tujuan inovasi tetapi seharusnya
juga mewujudkannya ke dalam bentuk yang mudah dipahami dan sesuai untuk yang
lain dan tim (Jaberi, 2016: 42).
Berbeda dengan Jong dan Hartog (2003:25) yang mendefinisikan bahwa perilaku
inovatif merupakan semua tindakan individu yang diarahkan pada generasi,
pengenalan dan penerapan hal baru yang menguntungkan di tingkat organisasi
manapun mencakup perubahan dalam konsep layanan antarmuka klien, sistem
pengiriman dan pilihan teknologi. Untuk berperan dalam proses inovasi karyawan
dapat menghasilkan ide yang muncul karena adanya peluang yang dilihat dari adanya
ketidaksesuaian dengan yang diharapkan, mengidentifikasi kesenjangan kinerja atau
menghasilkan solusi untuk permasalahan (Jong dan Hartog, 2007: 43).
Menurut Purba (2009: 155) mengungkapkan bahwa perilaku inovatif merupakan
perilaku yang menekankan adanya sikap kreatif agar terjadi proses perubahan sikap
dari tradisional ke modern, atau dari sikap yang belum maju ke sikap yang sudah maju.
Seorang individu yang memiliki perilaku inovatif dalam keseharaiannya akan lebih
berpikir kritis, berusaha agar selalu terjadi perubahan untuk pembaruan di
lingkungannya, dan mengupayakan perubahan yang memiliki nilai tambah, serta
berupaya untuk memecahkan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.
Sedangkan Scott dan Bruce (2013:581-582) mengungkapkan bahwa perilaku
inovatif merupakan proses multistage dengan berbagai kegiatan dan perilaku individu
yang diperlukan dalam setiap tahapnya yaitu pencetusan ide yang muncul akibat
beberapa faktor sosial, tahap selanjutnya mencari dukungan untuk ide dan berupaya
untuk memberikan pemahaman mengenai idenya terhadap yang lain, dan tahap yang
terakhir adalah merealisasikan ide dalam bentuk produk ataupun pelayanan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan maka dapat disimpulkan bahwa
perilaku inovatif adalah perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam suatu
organisasi yang berupaya untuk memberikan ide sebagai solusi atas permasalahan
yang terjadi, dan menyampaikannya pada rekan kerja atau tim untuk selanjutnya
direalisasikan agar mendapatkan hasil yang diharapkan
Pengertian Leadership atau Kepemimpinan
Yamin dan Maaisah (2010; 74) Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi yang
dilakukan oleh seseorang dalam mengolah anggota untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan menurut Wukir (2013; 134) kepemimpinan merupakan seni memotivasi dan
mempengaruhi sekelompok orang untuk bertindak mencapai tujuan
Indikator Motivasi Kerja
Menurut Wibowo (2013; 110), adapun indikator-indikator motivasi kerja adalah sebagai
berikut:
- Engagement
Merupakan janji pekerja untuk menunjukkan tingkat antusiasme, inisiatif, dan usaha untuk
meneruskan. - Commitment
Merupakan suatu tingkatan dimana pekerja mengikat dengan organisasi dengan
menunjukkan tindakan Organizational Citizenship. - Satisfaction (kepuasan)
Merupakan refleksi pemenuhan kontrak psikologis dan memenuhi harapan ditempat
bekerja. - Insentif
Merupakan pemimpin perlu membuat perencanaan pemberian insentif dalam bentuk baik
berupa gaji, bonus, tunjangan dan jaminan. Berdasarkan penjelasan diatas, karyawan akan
termotivasi dalam berkerja dipengaruhi oleh hubungan baik antar sesame karyawan dengan
apa yang dikerjakannya. Point-point yang telah disebutkan tersebut sebagai pendorong atau
perangsang untuk karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan
Prinsip-Prinsip Motivasi Kerja
Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja karyawan menurut Syaiful dan Aswan
(2012:27), diantaranya yaitu:
- Prinsip Partisipasi
Dalam upaya memotivasi kerja, karyawan perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi
dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin. - Prinsip Komunikasi
Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha
pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai akan lebih
mudah dimotivasi kerjanya. - Prinsip mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan (karyawan) mempunyai andil didalam usaha
pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, karyawan akan lebih mudah di motivasi
kerjanya. - Prinsip pendelegasian
Wewenang Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada karyawan
bawahan untuk sewaktu waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang
dilakukannya, akan membuat karyawan yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk
mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. - Prinsip pemberi perhatian
Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan karyawan bawahannya,
akan memotivasi karyawan bekerja apa yang diharapkan oleh pemimpin.
Pengertian Motivasi Kerja
Menurut Rivai (2011:839), motivasi adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan,
mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
Sedangkan menurut Samsudin (2006:81), motivasi merupakan kondisi atau energi yang
menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi
perusahaan.
Jenis-Jenis Motivasi
Ada dua jenis motivasi kerja, yaitu motivasi positif dan motivasi negatif (Hasibuan, 2017; 89):
- Motivasi positif (insentif positif)
Motivasi positif maksudnya pemimpin memotivasi (merangsang) bawahan dengan
memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar. Dengan
motivasi positif, semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia
senang menerima yang baik-baik saja. - Motivasi negatif (insentif negatif)
Motivasi negatif maksudnya pemimpin memotivasi bawahan dengan standar mereka akan
mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini semangat bekerja bawahan dalam jangka
waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu
panjang dapat berakibat kurang baik
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Tugas manjemen sumber daya manusia untuk mengelola manusia seefektif mungkin, agar
dapat meperoleh suatu kesatuan sumber daya manusia yang merasa puas dan memuaskan.
Dalam mengerjakan pekerjaan seharusnya organisasi memperhatikan fungsi-fungsi
manajemen dan fungsi operasional seperti yang dikemukakan oleh Malayu (2015: 21-23),
berikut ini :
- Fungsi Manajerial :
a. Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah merencanakan tenaga kerja agar
sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan efektif serta efisien dalam membantu
terwujudnya tujuan. Perencanaan ini untuk menetapkan program kepegawaian.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian (organizing) adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan
dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi,
dan koordinasinya dalam bagan organisasi (organization chart). Organisasi yang baik
akan membantu tercapainya tujuan secara efektif.
c. Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau
bekerjasama dan bekerja efektif secara efisien dalam terwujudnya tujuan perusahaan,
karyawan dan masyarakat. Pengarahan dilakukan oleh pemimpin dengan
kepemimpinannya, memerintah bawahan agar mau mengerjakan semua tugasnya
dengean baik.
d. Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mau
mentaati peraturan-peraturan perusahan dan mau bekerja sesuai rencana. Pengendalian
karyawan ini meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerjasama dan pelaksanaan
pekerjaan. - Fungsi Operasional
a. Pengadaan
Pengadaan (procrument) adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan
induksi untuk mendapatkan karyaan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Pengadaan yang baik akan membantu terwujudnya tujuan.
b. Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses peningkatan penerampilan teknis,
teoristik, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan dan pelatihan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun
masa depan.
c. Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak
langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang
diberikannya kepada perusahaan. Prinsip kompensasi adalah adil dan layak. Adil
diartikan sesuai dengan prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi kebutuhan
primernya serta berpedoman pada batas upah minimum pemerintah dan berdasarkan
internal dan eksternal konsistensi.
d. Pengintegrasian
Pengintegrasian (intregation) adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling
menguntungkan. Pengintegrasian merupakan hal penting dalam manajemen sumber
daya manusia.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau mengingatkan
kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka bekerja sama sampai pensiun.
Pemeliharaan yang baik dilakukan dengan program kesejahteraan yang berdasarkan
kebutuhan sebagian besar karyawan serta berpedoman kepada internal dan eksternal
konsistensi.
f. Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi manajemen sumber daya manusia yang terpenting demi
terwujudnya tujuan yang maksimal. Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran
untuk mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma sosial.
g. Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu
perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan
perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya. Berdasarkan
pengertian menurut para ahli diatas penulis sampai pada pemahaman bahwa fungsi-
fungsi sumber daya manusia merupakan suatu ilmu untuk pengarahkan, pengadaan,
pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan,
pemberhentian agar dapat memperoleh suatu kesatuan sumber daya manusia yang
merasa puas dan memuaskan dan untuk tujuan perusahaan dapat tercapai.
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Pengertian manajemen sumber daya manusia menurut Marwansyah (2015:3), sebagai
pendayagunaan sumber daya manusia di dalam organisasi yang dilakukan melalui fungsi-
fungsi perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan seleksi, pengembangan sumber daya
manusia, perencanaan dan pengembangan karir, pemberian kompensasi dan kesejahteraan,
keselamatan dan kesehatan kerja dan hubungan industrial. Pendapat lain yang dikemukakan
oleh Malayu (2015:10), menyatakan bahwa ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan
tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat. Sedangkan yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2016:2), menyatakan bahwa
suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan dan pengawasan
terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan
pemisahaan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi
Pengertian Manajemen
Winardi (2016:11) mengemukakan bahwa manajemen merupakan sebuah proses yang khas
yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan dan
pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melalui pemanfaatan sumber-sumber daya manusia serta sumber-sumber lain,
Sedangkan (T. Hani Handoko 2016: 4) mengemukakan pengertian manajemen sebagai bekerja
dengan orang-orang untuk menentukan, menginterprestasikan dan mencapai tujuan-tujuan
organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan
personalia atau kepegawaian, pengarahan, kepemimpinan dan pengawasan
Pengaruh Loyalitas Karyawan terhadap Kinerja Karyawan
Loyalitas karyawan sangatlah penting bagi setiap organisasi dan juga
terhadap karyawan. Loyalitas karyawan mempunyai dasar hubungan pada
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan keinginan yang tetap pada
organisasi. Loyalitas karyawan mempunyai dampak positif terhadap
kepercayaan diri pada setiap karyawan dalam meningkat produktivitas dan
kinerja pada organisasi (Surujlal, 2003 dalam Alhawamdeh dan Al-edenat,
2018).
Menurut Preko dan Adjetey (2013), setiap karyawan pada organisasi
ingin merasa adanya kepuasaan saat melakukan pekerjaan yang di kerjakan
seperti tempat kerja yang nyaman, komunikasi saling timbal balik, dan
pengaturan manajamen dalam organisasi yang efisien dapat mendorong
peningkatan loyalitas karyawan. Sehingga kepercayaan karyawan pada
organisasi akan merasa nyaman, loyal, dan bertanggungjawab dalam
bekerja, dan juga dapat meningkatkan kienrja dalam tugas yang diberikan.
Hasil penelitian Al-edenat dan Alhawamedeh (2018) memberikan bukti
empirik bahwa kinerja dari 252 orang karyawan industri kecil dan
menengah di Jordania meningkat secara signifikan karena loyalitas
karyawan yang tinggi pada organisasi
Pengaruh Pemberdayaan Karyawan terhadap Loyalitas Karyawan
Organisasi memandang kinerja adalah indikator penting hingga
dibutuhkan cara untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan. Kinerja
karyawan dapat ditentukan saat karyawan memutuskan untuk tetap diposisi
kerja di organisasi sekarang atau pindah keorganisasi lain. Menurut Radzi
(2009), karyawan yang memiliki pencapaian pemberdayaan yang tinggi
mempunyai rasa loyalitas yang tinggi terhadap organisasi dan bersedia
menerima sebuah tugas tambahan jika ditugaskan oleh atasan. Bowen dan
Lawler (1992, dalam Radzi (2009), manfaat pemberdayaan ialah bahwa
karyawan akan merasa nyaman untuk diri sendiri dan loyal terhadap
pekerjaan mereka pada organisasi yang mereka tempati.
Pemberdayaan menunjukkan suatu keuntungan penting bagi
organisasi dan karyawaan. Pemberdayaan karyawan mempunyai manfaat
misalnya menumbuhkan rasa kepatuhan dan rasa pembentukkan
membangun pada organisasi dan juga mampu memenuhi kebutuhan dasar
dari karyawan seperti penerimaan dan kepemilikan pada setiap karyawan.
Pemberdayaan pada karyawan dapat menghasilkan dan mengembangkan
kepercayaan, komunikasi timbal balik antara sesama karyawan dan juga
organisasi. Loyalitas karyawan secara positif dipengaruhi oleh
pemberdayaan yang dianggap sebagai aktivitas mendasar kepada
kepercayaan yang mana dapat mempengaruhi loyalitas seorang karyawan
secara emosional dan sosial (Ignore, 2009 dalam Alhawamdeh dan Al-
edenat, 2018).
Pengaruh Pemberdayaan Karyawan terhadap Kinerja Karyawan
Pada lingkungan kerja dalam organisasi, karyawan memiliki wewenang
dalam memberikan pendapat dalam organisasi agar menjadi hubungan saling timbal
balik. Maka dari itu, organisasi mengambil kebijakan dalam pemberdayaan
karyawan sebagai dalam meningkatkan kinerja karyawan dalam organisasi. Dengan
mengembangkan pemberdayaan dalam organisasi dapat meningkatkan solusi
kreatif pada setiap kesalahan karyawan yang bisa terjadi pada aktivitas kerja
karyawan. Pemberdayaan karyawan di lingkungan perusahaan atau organisasi akan
memberikan peningkatan dalam segi organisasi yaitu dengan memberikan pelatihan
dan pengembangan pada pengetahuan dan keterampilan karyawan. Saling menjalin
komunikasi timbal balik karyawan dan organsasi, memberikan kepercayaan dan
tanggung jawab kepada karyawan dalam menyelesaikan tugas yang mana
organisasi akan mendapatkan karyawan yang memiliki hasil kinerja yang
berkualitas dan sesuai yang diharapkan oleh organisasi.
Menurut Patterson (2004, dalam Al-edenat dan Alhawamedeh, 2018), bahwa
pemberdayaan bagi karyawan merupakan suatu pintu untuk bekerja terkait pada
pengetahuan, kemampuan dan ruang kebebasan dalam memikirkan suatu
penyelasaian dalam pekerjaan, dan meningkatkan dorongan pada kinerja karyawan.
Kinerja karyawan dapat diberdayakan melalui akuntabilitas yang lebih besar
dengan melalui pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Oleh karena itu,
kemampuan pada karyawan perlu ditingkatkan dan dimanfaatkan kinerja setiap
karyawan pada organisasi (Al-edenat dan Alhawamedeh, 2018).
Dampak Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan yang tinggi memberikan dampak positif bagi
organisasi. Steers dan Porter (1987) dalam Rivai (2014) menyatakan bahwa dampak
loyalitas karyawan yang tinggi bagi organisasi adalah sikap kerja yang positif.
Sikap kerja yang positif tersebut meliputi:
- Kemauan untuk bekerja sama.
Karyawan dengan tingkat loyalitas kerj ayang tinggi memiliki kesediaan
untuk bekerj sama dengan orang lain. Kerja sama dengan orang lain dalam
organisasi akan mendukung organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang
telah ditetapkan dengan lebih mudah. - Rasa memiliki.
Karyawan yang loyal pada organisasi ditunjukkan melalui rasa memiliki
organisasi yang besar. Karyawan dengan tingkat rasa memiliki yang tinggi
membuat karyawan mempunyai sikap untuk turut serta menjaga dan
bertanggungjawab pada organisasi guna mencapai tujuan. - Hubungan antar pribadi.
Karyawan dengan tingkat loyalitas yang tinggi memiliki sikap fleksibel
yang menuju pada arah hubungan antara pribadi yang baik. - Suka terhadap pekerjaan.
Wujud lain dari loyalitas karyawan adalah rasa suka karyawan pada
pekerjannya. Karyawan yang menyukai pekerjannnya akan memiliki
perilaku positif dalam bentuk datang tiap hari untuk bekerja dan bekerja
dengan senang hati untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan merupakan hal yang penting bagi sebuah organisasi
yang perlu untuk terus diusahakan peningkatannya. Runtu (2016) mengungkapkan
faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan yaitu:
- Karakteristik pribadi.
Karakteristik pribadi berkaitan dengan faktor-faktor diri karyawan.
Karakteristik pribadi meliputi jenis kelamin, usia, lama kerja, pendidikan,
prestasi, minat, bakat, serta sifat kepribadian seorang individu. - Karakteristik pekerjaan.
Karakteristik pekerjaan mengungkapkan atau menjabarkan hal apa saja
yang ada pada sebuah pekerjaan, seperti tantangan dalam pekerjaan, stress
berkaitan dengan pekerjaan, hubungan sosial pekerjaan, identifikasi
pekerjaan, umpan balik, dan tingkat kesesuaian pekerjaan dengan
karakteristik karyawan. - Karakteristik desain perusahaan.
Karakteristik desain perusahaan berhubungan dengan tingkat formal,
partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan, tingkat keterlibatan
karyawan, dan tanggung jawab perusahaan. - Pengalaman yang didapat dari perusahaan.
Loyalitas karyawan pada sebuah organisasi ditentukan atau dipengaruhi
oleh seberapa baik pengalaman karyawan saat bekerja dalam sebuah
organisasi. Pengalaman karyawan yang baik dalam sebuah organisasi akan
membuat karyawan akan tetap bekerja dalam perusahaan dalam jangka
waktu yang lama atau sampai akhir kariernya (pensiun)
Definisi Loyalitas Karyawan
Dalam sebuah organisasi pemberdayaan dan kinerja merupakan suatu hal
yang penting. Loyalitas karyawan mempunyai hubungan yang saling keterkaitan
terhadap organisasi. Dalam hal ini organisasi sangat membutuhkan karyawan yang
sangat loyal kepada pekerjaan yang akan diberikan organisasi. Namun, hal ini
merupakan hal yang menjadi tantangan pada organisasi pada saatini. Kesetian
karyawan dapat dilihat dari segi terbentuknya sistem komunikasi, sistem
manajemen, dan lingkungan kerja dalam organisasi tersebut. Karyawan yang loyal
memiliki peran penting dalam kontribusi dan pengembangan organisasi manapun.
Kontribusi karyawan terhadap bisnis perusahaan dapat meningkat dengan waktu
yang berjalan pada organisasi. Maka dari itu, kebijakan organisasi sangat penting
diterapkan untuk menumbuhkan loyalitas karyawan dalam memfasilitasi jangka
waktu kerja yang panjang pada perusahaan.
Pada ekonomi yang berjalan sekarang, kesetiaan seorang karyawan
dipandang sebagai isu penting, yang mana keberhasilan suatu negara maupun
perusahaan bergantung pada keterampilan karyawan. Oleh karena itu, dalam
loyalitas karyawan perusahaan perlu mempertahankan karyawan yang memiliki
kualifikasi dan tingkat kinerja yang tinggi dalam memajukkan tujuan perusahaan
dalam melakukan persaingan dengan perusahaan lain. Banyak perusahaan merujuk
pada situasi sulit dan kerugian dalam kepergian karyawan yang mana perusahaan
maupun orgnisasi memiliki dampak pada efektivitas dan semangat karyawan pada
perusahaan. Niehoff et al. (2001) mendefinikan loyalitas sebagai perilaku aktif
yang menunjukkan kebanggaan dan dukungan bagi organisasi, membela organisasi
dari kritik, menekankan aspek positif dari organisasi, dan menahan diri dari
mengeluh tentang organisasi. Menurut Mowday et.al (1979 dalam pada Phuong dan
Vinh, 2020) loyalitas berarti presentasi komitmen karyawan dalam organisasi yang
ditandai dengan keuntungan relatif pada karyawan dengan keikutsertaan terlibat
aktif dalam aktivitas dalam perusahaan. Ketika karyawaan loyal dan percaya
kepada organisasi tempat melakukan aktivitasnya seperti menjalankan nilai-nilai,
misi, tujuan organisasi maka, perusahaan dapat mewujudkan harapan yang kuat
dalam bersaing dengan kompetitor lainnya.
Menurut Phuong dan Vinh (2020) loyalitas karyawan merupakan sebuah
bidang dimana karyawan yang loyal mempunyai peran penting untuk berkontribusi
pada pengembangan perusahaan. Maka, dari itu kebijakan-kebijakan perusahaan
maupun organisasi tersebut perlu memperjelas kepada karyawan agar dapat
menumbuhkan loyalitas karyawan pada pekerjaannya dan kepada organisasi.
Loyalitas karyawan memiliki keterkaitan karyawan pada organisasi, tujuan,
sasaran, dan nilai organisasi itu sendiri. Menurut Sazkaya (2018), konsep loyalitas
karyawan dapat digambarkan juga bahwa karyawan berusaha dalam mementingan
kepentingan pribadi, memperlihatkan perilaku implikasi dan kepemilikan
intelektual untuk mendukung tujuan organisasi. Yang mana saling mendukung satu
sama lain, tetap bersama dengan organisasi, saling berkomunikasi dalam
menyelesaikan masalah yang sulit, sehingga masalah-masalah yang terjadi pada
organisasi dapat terselesaikan dan mencapai tujuan organisasi tersebut.
Indikator Environmental Performance
Dalam mengukur environmental performance suatu organisasi, terdapat dua
indikator (Carroll, 2016), yaitu:
Pengukuran environmental performance secara non-objektif
Praktik dan aktivitas lingkungan kerap dipertimbangkan saat mengukur
environmental performance, karena environmental performance terkait
dengan sistem manajemen lingkungan yang perusahaan terapkan. Oleh
karena itu, indikator non-objektif digunakan dalam perhitungan
environmental performance untuk mengungkapkan usaha yang
dilakukan perusahaan guna mengurangi dampak aktivitas terhadap
lingkungan. Ukuran environmental performance meliputi implementasi
sistem manajemen lingkungan, integrasi tujuan lingkungan dalam
perencanaan perusahaan, desain ramah lingkungan dari hasil ataupun
proses manufaktur, pengembangan produk hijau, dll.
Langkah-langkah pengukuran non-objektif ini kerap didasari pada
kuesioner yang diajukan ke perusahaan dan mengungkapkan kepatuhan perusahaan
pada peraturan, kendala laporan lingkungan, metode dan alat pengelolaan
lingkungan, persepsi strategi lingkungan tentang pencegahan pencemaran, strategi
lingkungan dengan penghematan biaya, program pelatihan karyawan, dll
Pengukuran environmental performance secara objektif
environmental performance atau kinerja lingkungan kerap diukur
dengan variabel yang dapat diamati dan diukur yang menggambarkan
berbagai cara aktivitas tertentu dalam perusahaan dapat menyebabkan
dampak pada lingkungan. Indikator-indikator ini mengukur polusi yang
disebabkan oleh aktivitas perusahaan, kepatuhan terhadap peraturan
lingkungan, memodifikasi proses produksi, penciptaan produk hijau dan
perusahaan andil secara sukarela dalam inisiatif lingkungan. Indikator
ini sering kali dihitung berdasarkan data yang dilaporkan perusahaan
secara wajib maupun sukarela.
Dampak Pemberdayaan Karyawan
Bagi perusahaan, pemberdayaan karyawaan memiliki banyak manfaat
seperti, dalam meningkatkan kualitas kerja tim dan kolaborasi, setiap manajer
memiliki waktu dalam menginvestasi menciptakan misi dan visi organisasi,
membentuk strategi dalam mengambil keputusan yang dapat membuat perusaahan
menjadi kompettitif dipasar. Dengan pemberdayaan karyawan yang merata pada
perusahaan maupun organisasi memiliki dampak pada penghematan biaya,
peningkatan daya saing perusahaan lain, peningkatan dalam pelayanan pelanggan,
peningkatan keterampilan dan kemampuan karyawan inilah yang menjadi manfaat
penting pemberdayaan bagi karyawan di perusahaan dalam memajukkan
perusahaan (Sazkaya, 2018).
Baird et.al (2017) menyatakan pemberdayaan merupakan proses
meningkatkan pandangan pada kemampuan karyawan dan anggota organisasi dapat
dilihat melalui mengindentifikasi kondisi yang mendorong ketidakberdayaan,
melakukan penghapusan praktik organisasi formal maupun informal dalam
memberika informasi yang efektif. Dalam organisasi karyawan memiliki banyak
informasi mengenai organisasi yang berdasarkan pada kinerja karyawan, keahlian
karyawan untuk memahami dan berkontribusi pada kinerja yang mana akan
memberi karyawan kekuatan dalam membuat keputusan yang dapat mempengaruhi
kinerja organisasi. Dalam mengambil definisi self-efficacy pada pemberdayaan
karyawan dapat melakukan peningkatan pada karyawan sehingga karyawan
mempunyai hak untuk menguasai dan menggunakan sumber daya dalam
menggapai tujuan organisasi yang diinginkan bersama (Bowen dan Lawler, 2006
dalam Baird et.al, 2017)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberdayaan Karyawan
Menurut Bolat (2003) pemberdayaan karyawan mempunyai tiga faktor
dalam perspektif perilaku pemberdayaan karyawan yaitu:
- Kekuasaan, yaitu memberdayakan karyawan melalui pemberian kebijakan
yang diperlukan dalam menjalankan tugas. - Sumber daya yakni memberikan akses– akses sumber daya yang diperlukan
kepada karyawan dalam pemuasan tugas. Ketiga, - Informasi adalah menginformasikan kepada semua karyawan tentang
perubahan lingkungan baik internal maupun lingkungan eksternal
organisasi.
Robbins (2013) menyatakan bahwa untuk meningkatkan efektivitas
keberhasilan pemberdayaan karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor. Berikut ini
adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pemberdayaan karyawan: - Kemampuan (Competency).
Kemampuan karyawan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pemberdayaan karyawan. Kemampuan karyawan meliputi:
pengetahuan (knowledge) yang dimiliki, keterampilan (skill) yang dimiliki,
dan sikap (attitude) atau perilaku (behaviour) dari masing-masing
karyawan. - Penempatan (Placement)
Pemberdayaan karyawan akan menjadi optimal saat karyawan ditempatkan
pada suatu posisi atau jabatan sesuai dengan kemampuan (pendidikan,
pengetahuan, keterampilan) yang dimiliki. Selaian itu, penempatan juga
harus disesuaikan dengan kebutuhan jabatan dalam organisasi. - Kewenangan (Authority)
Pemberdayaan yang baik dilakukan saat organisasi memberikan
kewenangan yang jelas kepada karyawan. Kewenangan yang diberikan
berhubungan dengan posisi atau jawaban yang diemban atau dimiliki
karyawan. Melalui kewenangan yang dimilikinya, karyawan dapat
mengambil keputusan strategis yang akan dapat membantu dalam
melaksanakan tugas-tugasnya guna peningkatan kinerja. - Tanggungjawab (Responsibility)
Pemberdayaan akan menjadi efektif dan efisien saat karyawan memiliki
tanggung jawab yang jelas. Artinya, karyawan harus melaksanakan
pekerjaannya yang merupakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab yang
tinggi. - Kepercayaan (Loyalty)
Pemberdayaan akan berdaya guna saat adanya kepercayaan yang tinggi dari
organisasi kepada karyawan. Artinya, karyawan yang diberi kepercayaan
harus dapat dipercaya bahwa karyawan akan menjalankan tugas atau
pekerjaanya sesuai dengan wewenang dari jabatannya. - Dukungan (Support)
Pemberdayaan karyawan dilakukan dengan memberikan dukungan kepada
karyawan. Untuk dapat menjalankan tugasnya, karyawan membutuhkan
dukungan yang optimal dari organisasi maupun rekan kerja. Dukungan yang
British Standard Institution menyediakan panduan untuk mengembangkan
seri ISO 14000 pada tahun 1996. Pada tahun 1999, sertifikasi ISO 14031
mengusulkan indikator environmental performance yang dibagi menjadi tiga
kategori, yakni:
- Indikator kinerja manajemen
Indikator kinerja manajemen memberikan informasi dan secara tidak
langsung mengukur upaya yang dilakukan oleh perusahaan guna
meningkatkan environmental performance mereka. - Indikator operasional
Indikator operasional lingkungan memberikan informasi tentang hasil
praktik pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan. Hal ini sebagai dasar
evaluasi aspek lingkungan. - Indikator kondisi lingkungan
Indikator kondisi lingkungan secara langsung mengukur kualitas
lingkungan dengan memberikan informasi terkait konteks lingkungan lokal,
regional, dan nasional. Biasanya indikator ini digunakan untuk menilai
dampak dari emisi udara atau kualitas air. Indikator lingkungan eksternal
ini, berhubungan dengan tujuan kebijakan lingkungan, membantu
penentuan prioritas dan objektivitas organisasi.
Definisi Pemberdayaan Karyawan
Pada lingkungan bisnis yang bersaing pada saat ini, pemberdayaan
karyawaan menjadi konsep penting dalam sumber daya manusia. Proses
pemberdayaan karyawan memungkinkan karyawan untuk berperan aktif dalam
pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kesesuaian
tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Dengan pengambilan keputusan organisasi
keseluruhan secara cepat maka dapat meningkatkan daya tanggap organisasi
terhadap perubahan situasi lingkungan makro dan membuat organisasi lebih siap
untuk mengatasi ketidakpastian yang melibatkan lingkungan. Menurut Conger dan
Kanungo (1988) pemberdayaan didefinisikan sebagai di mana semua karyawan
mempunyai tingkat hierarki organisasi diberi wewenang untuk membuat keputusan
penting dan diberi tanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan dan tindakan
mereka. Dede dan Sazkaya (2018) mendefinisikan pemberdayaan karyawan
sebagai pemberian kepada seseorang (karyawan) untuk memliki lebih banyak
kendali atas kehidupan atau situasi mereka sendiri berkaitan dengan pekerjaannya.
Karyawan tidak dapat membentuk peraturan dalam bekerja yang mana mempunyai
rasa mandiri untuk bebas bertindak dalam melaksanakan tanggung jawab, maka
dari itu pemberdayaan karyawan sangat diperlukan untuk memberikan pengaturan
terhadap manajer dan karyawan agar dapat bekerja satu sama lain dalam
pengambilan keputusan sebagai suatu organisasi (TuÄź, 2010). Pemberdayaan
karyawan merupakan alat motivasi bagi karyawan untuk meningkatkan kinerjanya,
mendorong karyawan untuk bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan dan
menjadi alat untuk membangun kepercayaan antara manajer dan karyawan untuk
mengatasi hambatan (Jones dan Hamed, 2010 dalam Fernandez dan Moldogaziev,
2015).
Proses pemberdayaan karyawan membutuhkan struktur yang fleksibel dan
datar daripada yang bersifat hierarki tradisional, dan proses pemberdayaan ini
memerlukan sistem terbuka di mana komunikasi dan informasi mengalir kesegala
arah (Potterfield, 1999).
Dampak Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan yang tinggi merupakan salah satu ukuran kemampuan
sebuah organisasi dalam melakukan pengelolaan SDM yang dimilikinya dengan
baik. Kinerja karyawan yang tinggi akan memberikan kontribusi (dampak) positif
bagi karyawan maupun organisasi secara keseluruhan. Robbins (2013) menyatakan
bahwa dampak atau manfaat dari kinerja karyawan yang tinggi adalah:
- Organisasi dapat berkembang dengan lebih pesat.
- Organisasi dapat dengan mundah untuk mencapai target yang telah
direncanakan atau ditentukan dan tepat sasaran. - Dapat meminimalisir atau mengurangi risiko-risiko negatif yang terjadi
dalam organisasi. - Meningkatkan soliditas serta kekompakan kerja antar karyawan dalam
organisasi karena masing-masing karyawan bekerja secara sungguh-
sungguh dan dapat saling bekerjasama guna mencapai tujuan atau target
yang telah ditentukan organisasi. - Organisasi atau perusahaan memiliki citra yang semakin baik dimata
masyarakat dan akan disegani oleh para pesaing dalam bisnis yang sama
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan. Berikut ini
dipaparkan beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan:
- Motivasi (Motivation)
Menurut Shadare dan Hammed (2009 dalam Putri dan Ardana, 2016)
menyatakan bahwa motivasi karyawan merupakan salah satu strategi untuk
meningkatkan kinerja karyawan. Bagi perusahaan ini merupakan faktor
penting untuk dapat memastikan karyawan melakukan kemampuan terbaik
(Bose, 2018). Motivasi adalah suatu kondisi atau tindakan yang membantu
seseorang untuk melaksanakan sebuah pekerjaan atau kegiatan semaksimal
untuk berbuat dan berproduksi (Murty dan Hudiwinarsih, 2012 dalam Putri
dan Ardana, 2016). Dalam memberikan motivasi ini memberikan suatu
bentuk proses dari kebutuhan menibulkan keinginan, kebutuhan
menimbulkan tindakan, dan kebutuhan menghasilkan keputusan sehingga
dapat mencapai hasil bagi perusahaan (Putri dan Ardana, 2016). - Kepuasaan Kerja (Job Satisfaction)
Kepuasaan kerja merupakan dorongan individu atau karyawan mengenai
keseluruhan pekerjaan dalam memfokuskan pada tingkat dalam menyukai
atau tidak dalam pekerjaan mereka (Spector, 1997 dalan Inuwa, 2016).
Menurut George dan Jones (2008) dalan Inuwa, (2016) kepuasaan kerja
memiliki suatu keyakinan dan perasaan yang dirasakan setiap karyawan
tentang pekerjaan mereka masing-masing. Jika kepuasaan kerja yang
dimiliki oleh setiap karyawan tinggi maka tentu akan menghasilkan kinerja
yang baik. - Gaya Kepimpinan (Leadership Style)
Gaya kepimpinan menggambarkan suatu sikap yang ditetapkan oleh
seseorang untuk dapat memimpin sehingga tujuan oragnisasi atau
perusahaan dapat tercapai. Suatu pemimpin dapat dikatakan berhasil ketika
pemimpin dapat mendorong karyawan dalam menggapai tujuan, visi dan
misi perusahaan. Karyawan dapat mengetahui seorang pemimpin yang baik
dapat menerapkan gaya kepimpinan seperti apa yang akan bisa mendorong,
memotivasi, dan mendisiplinkan karyawan di dalam organisasi tersebut. - Keterikatan (Engagement)
Kinerja setiap karyawan tidak hanya terdorong dengan baik hanya dengan
bekerja pada pekerjaannya, melainkan dimotivasi oleh serangkaian faktor
pendukung. Keterikatan karyawan merupakan salah satu faktor pendukung
yang mendorong dalam peningkatan kinerja karyawan. Menurut Hobel
(2006 dalam Preko dan Adjetey, 2016) Keterikatan karyawan merupakan
suatu alat penting dalam manajemen kinerja. Ketika karyawan direkrut dan
tidak diberikan tugas, fasilitas, dan lingkungan kerja yang diperlukan maka
karyawan tidak sepenuhnya terlibat. Keterikatan karyawan ini adalah istilah
baru yang digunakan dalam pekerjaan sosial, yang telah akrab bagi
komunitas manajemen selama dua dekade. - Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)
Karyawan perlu diberdayakan dengan maksimal agar karyawan bisa
mengembangkan kemampuan dirinya untuk dapat menyelesaikan pekerjaan
dan tugas serta tanggap terhadap perkembangan lingkungan. Ahmad (2017)
menyatakan bahwa pemberdayaan karyawan adalah usaha yang dilakukan
organisasi dengan memberikan tanggungjawab dan wewenang kepada
karyawan untuk lebih terlibat dalam organisasi guna mencapai tujuan yang
telah organisasi tetapkan. Melalui pemberdayaan, karyawan diharapkan
dapat memberikan sumbangan positif bagi organisasi yang terwujud dalam
bentuk meningkatnya kinerja karyawan (Onsoardi, 2018)
Definisi Kinerja Karyawan
Dalam lingkungan bisnis yang bersaing saat ini, kinerja karyawan sangatlah
penting bagi organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Organisasi perlu
menyadari bahwa dalam mengembangkan karakteristik seseorang yang unik dan
dinamis, yang mana dapat mempengaruhi pemberdayaan yang memiliki
keunggulan kompetitif dimiliki oleh karyawan untuk bertahan pada kondisi pasar
yang terus berubah. Pengertian kinerja berasal dari sebuah kata dalam KBBI yang
dasar kata nya “Kerja” yang memiliki arti suatu prestasi yang akan diperlihatkan
karyawan kepada organisasi. Kinerja karyawan merupakan prestasi yang diperoleh
karyawan yang terlihat dari bentu knilai dan kualitas dalam melakukan tugas yang
telah menjadi tanggung jawab. Kinerja karyawan memiliki keterkaitan dalam
menyelesaikan tugas dan tujuan organisasi berdasarkan standar kerja yang telah
ditetapkan (Chen, 2011). Menurut Darden dan Babin (1994) dalam Ahmad (2017)
kinerja karyawan merupakan sistem penilaian yang digunakan organisasi untuk
mengevaluasi kemampuan dan efisiensi karyawan dalam bekerja. Organisasi akan
dapat sangat berpengaruh ketika karyawan memiliki pencapaian kinerja dan
produktivitas tinggi sehingga dapat membuat organisasi mencapai keunggulan
bersaing (Pfeffer, 1994).
Menurut Borman dan Motowidlo (1993) dalam Pradhan et al., (2017)
kinerja dapat diartikan sebagai konsep tingkat dasar dimana seseorang dapat
membedakan aspek proses kinerja, yaitu seorang karyawan ikut terlibat dalam hasil
yang diharpakan oleh organisasi. Shields (2016) mendefinisikan kinerja sebagai
sejauh mana seorang karyawan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Dalam acuan utama dari kinerja adalah kemampuan untuk bertanggungjawab dan
dapat memahami kesepakatan antara manajer dan karyawan untuk menyelesai tugas
yang diberikan. Menurut Borman dan Motowidlo (1997) kinerja mempunyai
konteks sebagai efektivitas karyawan dalam melaksanakan pekerjaan yang
diberikan, mewujudkan pemenuhan visi dan misi organisasi sekaligus memberikan
reward kepada karyawan yang memenuhi tujuan organisasi, dan dapat membentuk
individu karyawan secara proporsional.
Menurut Rivai (2014) kinerja adalah keseluruhan hasil seseorang selama
diberikan pertanggungjawab tugas yang dibandingkan dengan standar pekerjaan,
sasaran atau kriteria yang telah ditentukan dan disepakati. Kinerja karyawan tidak
dapat dijalankan sendiri tetapi berkaitan dengan kepuasaan kerja dan reward yang
diberikan kepada karyawan dimana kompensasi tersebut akan dipengaruhi oleh
kterampilan, kemampuan dan sifat individu setiap karyawan dalam organisasi.
Selain itu, kinerja karyawan dapat dipengaruhi oleh berbagai karakteristik setiap
individu. Seperti pada perkembangan perusahaan di era yang telah memiliki
persaingan dan mengglobal dan tentunya perusahaan maupun organisasi
membuthkan karyawan yang kinerja yang tinggi dan dapat bertanggungjawab
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Dalam mencapai suatu tujuan organisasi maka kinerja karyawan perlu
diukur dari segi kualitas, kuantitas, dan target waktu dalam menyelesaikan tugas.
Suatu standar kerja pada organisasi dapat menjadi tolak ukur dalam memandingkan
antara apa yang telah dilakukan dan diharapkan seorang karyawan terhadap
pekerjaan atau jabatannya. Organisasi sekarang menyediakan penilaianbagi para
pemimpin dalam menjelaskan tujuan dan standar kinerja dalam memotivasi kinerja
karyawan. Menurut Mangkunegara (2012) kinerja adalah suatu penilaian hasil
kualitas dan kuantitas kerja karyawan dalam melaksanakan tugas yang sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan tersebut. Ada pun
menurut Rivai (2014) kinerja merupakan kemauan seseorang dalam melakukan
suatu kegiatan dan bertanggungjawab dengan hasil yang sesuai dari pekerjaan yang
telah ditentukan. Namun, kinerja bisa menjadi proses seorang karyawan yang dapat
melakukan suatu hasil yang diukur pada jangka waktu yang ditentukan berdasarkan
kesepakatan yang telah ditentukan.
Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan
Penelitian mengenai budaya organisasi telah banyak dilakukan
sebelumnya. Seperti penilitian yang dilakukan oleh (Patulak et al., 2014)
mengatakan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap
kinerja karyawan. (Putriana et al., 2015) menyatakan bahwa budaya
organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. (Khalifah &
Palupiningdyah, 2015) berpendapat bahwa budaya organisasi
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. (Kusworo et al., 2015)
juga berpendapat bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap
kinerja karyawan. Penelitian (Shahzad, 2013) dan (Hakim, 2015)
berpendapat serupa bahwa budaya organisasi berpengaruh terhadap
kinerja karyawan. Namun terdapat pula penelitian yang menyatakan
bahwa budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan
seperti penelitian yang dilakukan oleh (Syauta, 2012).
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut (Mangkunegara, 2017) Indikator kinerja karyawan adalah:
- Kuantitas.
- Kualitas.
- Ketepatan waktu.
- Kehadiran.
- Kemampuan bekerjasama
Kinerja Karyawan
Kinerja merupakan bentuk perilaku yang secara nyata
ditampilkan oleh setiap karyawan dalam bentuk hasil kerja sesuai
perannya dalam perusahaan (Zainal et al., 2014). Payaman Simanjuntak
dalam (Rivai et al., 2015) kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas
pelaksanaan tugas tertentu. Sedangkan (Rivai et al., 2015) mengemukakan
kinerja adalah suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk
menyelesaikan tugas dan pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.
Kinerja karyawan tidak dapat berdiri sendiri melainkan
dipengaruhi banyak hal. Beberapa hal yang dapat mendorong kinerja
seperti kompetensi, budaya organisasi, kepuasan (Agustinah et al., 2020),
kemimpinan, orientasi kerja dan budaya organisasi (Maabuat, 2016).
Peneliti lain juga mengemukakan beberapa hal yang dapat mempengaruhi
kinerja yaitu budaya organisai dan komunikasi internal (Pranita & Dewi,
2019), self motivation dan budaya organisasi (Subagyo et al., 2020)
Jenis jenis Budaya Organisasi
Menurut (Kreitner & Kinicki, 2003) bahwa secara umum terdapat
tiga (3) jenis budaya organisasi yaitu:
1) Budaya konstruktif Budaya konstruktif adalah budaya dimana para
pegawai didorong untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengerjakan
tugas dan proyeknya dengan cara yang akan membantu mereka dalam
memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang. Tipe budaya
ini mendukung keyakinan normatif yang berhubungan dengan pencapaian
tujuan aktualisasi diri, penghargaan yang manusiawi dan persatuan.
2) Budaya pasif – defensif Budaya pasif – defensif bercirikan keyakinan
yang memungkinkan bahwa pegawai berinteraksi dengan pegawai lain
dengan cara yang tidak mengancam keamanan kerja sendiri. Budaya ini
mendorong keyakinan normatif yang berhubungan dengan persetujuan,
konvensional, ketergantungan, dan penghidupan.
3) Budaya agresif defensive Budaya agresif – defensif mendorong
pegawainya untuk mengerjakan tugasnya dengan kerja keras untuk
melindungi keamanan kerja dan status mereka. Tipe budaya ini lebih
bercirikan keyakinan normatif yang mencerminkan oposisi, kekuasaan,
kompetitif dan perfeksionis. Meskipun sebuah organisasi dapat
menampilkan satu tipe budaya organisasi secara menonjol, ia tetap dapat
menunjukkan keyakinan normative dan karakteristik yang lain. Riset
menunjukkan bahwa organisasi dapat memiliki sub budaya fungsional, sub
budaya hierarkis berdasarkan posisi seseorang dalam organisasi, sub
budaya geografis, sub budaya pekerjaan berdasar pada gelar atau posisi
seseorang, sub budaya sosial yang diambil dari aktivitas sosial.
Indikator Budaya Organisasi
Menurut (Muis et al., 2018) indikator budaya organisasi adalah:
- Ketanggapan, diperlukan untuk tanggap dalam menjalankan
perintah organisasi atau tanggap dalam menentukan sikap dan
berfikir. - Dorongan, dalam organisasi perlu adanya dorongan atau dukungan
dari pimpinan agar karyawan dapat menjalankan tugas dengan baik. - Kepemimpinan, hal ini berlaku dalam menentukan nilai nilai serta
sikap yang akan diterapkan dalam organisasi oleh pimpinan
perusahaan. - Keramahan, pemimpin perlu untuk meningkatan keramahan kepada
karyawan agar dapat menjadikan tauladan bagi karyawan. - Kemampuan, sangat penting dalam kaitannya mencapai tujuan dari
organisasi karena kemampuan 18 yang baik dari seorang pemimpin
akan mendapatkan hasil yang baik sementara
Budaya Organisasi
(Robbins & Coulter, 2010) Budaya organisasi merupakan
sehimpunan nilai, prinsip, tradisi dan cara bekerja yang dianut bersama dan
mempengaruhi perilaku serta tindakan para anggota organisasi. Menurut
(Fajar, 2018) Randolph dan Blackbum dalam (Tampubolon, 2012)
menyatakan bahwa :“Budaya perusahaan (corporate culture) merupakan
seperangkat nilai-nilai kunci, kepercayaan, dan pemahaman-
pemahaman yang dibentuk oleh dan untuk anggota organisasi”. Budaya
Organisasi bisa diartikan sebagai sebuah pembeda antar satu organisasi
dengan yang lainnya karena meliputi tradisi adat istiadat, kebiasaan,
prosedur, dan ide yang beragam disetiap organisasi.
Budaya organisasi menjadi hal peting yang dapat mendorong
kinerja karyawan (Agustinah et al., 2020). Budaya organisasi merupakan
sistem nilai yang dimiliki perusahaan untuk di para karyawan (Dewi et al.,
2021). Budaya organisasi mempengaruhi perilaku karyawan sehingga
tindakan karyawan mencerminkan nilai organisasi. Budaya organisasi
yang diterima dan diikut karyawan dengan baik akan mendorong kinerja
karyawan (Pratama, 2020); (Amanda et al., 2017)
Faktor-Faktor Lingkungan Kerja
Faktor lingkungan merupakan salah satu yang harus dipertimbangkan dalam
sebuah perusahaan yang sedang beroperasi. Menurut (Sunyoto, 2012)
menjelaskan faktor-faktor lingkungan kerja yang meliputi:
- Hubungan karyawan Dalam hubungan karyawan ini terdapat dua
hubungan yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai
kelompok. - Tingkat kebisingan lingkungan kerja Lingkungan kerja yang tidak
tenang atau bising akan dapat menimbulkan pengaruh yang kurang
baik yaitu adanya ketidaktenangan dalam bekerja. - Peraturan kerja Peraturan kerja yang baik dan jelas dapat
memberikan pengaruh yang baik terhadap kepuasan dan kinerja para
karyawan untuk pengembangan karier di perusahaan tersebut. - Penerangan Dalam hal ini, penerangan bukanlah terbatas pada
penerangan listrik, tetapi termasuk juga penerangan matahari. - Sirkulasi udara Sirkulasi atau pertukaran udara yang cukup maka
pertama yang harus dilakukan pengadaan ventilasi. - Keamanan Lingkungan kerja dengan rasa aman akan menimbulkan
ketenangan dan kenyamanan, di mana hal ini akan dapat
memberikan dorongan semangat untuk bekerja
Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Loyalitas Karyawan
Bagi organisasi, pengembangan karir dapat menciptakan tenaga kerja yang
begitu terampil serta berpengetahuan, yang pada hasilnya dapat menjurus pada
peningkatan produktivitas, kualitas, dan inovasi. Memberikan peluang untuk
pengembangan karir juga dapat mendukung dalm menarik dan menjaga talenta terbaik,
dikarenakan karyawan lebih cenderung bertahan dengan organisasi yang mendukung
pertumbuhan dan perkembangan mereka. Selain itu, berinvestasi dalam pengembangan
karir karyawan dapat berkontribusi pada budaya organisasi yang positif dan dapat
membantu menciptakan budaya pembelajaran dalam organisasi, yang dapat mengarah
pada peningkatan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pendapat ini searah dengan
hasil penelitian Mawadah et al. (2022) bahwa pengembangan karir signifikan terhadap
loyalitas karyawan
Indikator-Indikator Loyalitas Karyawan
Gozaly dan Wibawa (2018:31) menyebutkan indikator dari loyalitas, yaitu:
a. Kemauan untuk terus menjadi bagian organisasi
Keinginan seorang karyawan untuk bersikeras berada dalam organisasi
dapat menunjukkan loyalitas mereka terhadap perusahaan.
b. Kemauan & menerima pada niali-nilai dan tujuan organisasi
Ketika karyawan terinspirasi untuk menjalankan nilai dan tujuan
organisasi, mereka cenderung lebih terlibat, produktif, dan setia. Hal ini dapat
menyebabkan peningkatan moral karyawan, tingkat turnover yang lebih rendah,
dan peningkatan kesuksesan perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi atasan
untuk menetapkan nilai dan tujuan yang jelas, serta menetapkan dengan
sesungguh hati bahwa hal tersebut didiskusikan secara benar kepada karyawan.
c. Menerima untuk menjalankan aktifitas yang konsisten kesetiaan terhadap
kriteria dengan memprioritaskan kepentingan organisasi di atas kepentingan
pribadi mungkin tepat dalam situasi tertentu di mana tujuan organisasi sangat
penting atau mendesak, tetapi hal itu tidak boleh diharapkan setiap saat.
Pengusaha harus menyadari pentingnya keseimbangan kehidupan kerja dan
memastikan bahwa karyawan dapat menyeimbangkan kewajiban pribadi
mereka dengan tanggung jawab pekerjaan mereka
Menurut Chaerudin (2020) terdapat faktor yang mempengaruhi loyalitas,
diantaranya:
a) Faktor Keamanan, termasuk masa jabatan seorang karyawan, kesesuaian gaji,
keselamatan dalam kerja, serta jaminan kesehatan dan sosial.
b) Faktor Kenyamanan, termasuk kondisi lingkungan kerja yang baik, hubungan
pertemanan, fasilitas yang memadai, sistem kerja, dan bentuk kepemimpinan
yang memotivasi.
c) Faktor Tantangan, termasuk adanya promosi karir yang dapat dirasakan oleh
seluruh karyawan.
Pengertian Loyalitas Karyawan
Jika seseorang bekerja pada perusahaan, perlu memiliki sikap loyalitas pada
perusahaan. Tumbuhnya rasa loyal yang besar terhadap perusahaan, hendak membantu
perusahaan untuk terus tumbuh dan berkembang. Rasa loyal yang besar dapat dilihat
dari karyawan yang selalu siap untuk bergerak dan merampungkan tugasnya dengan
sebaik-baiknya yang terbukti dari hasil kinerja karyawan, juga memberi masukan atau
saran yang mampu membangun perusahaan menjadi lebih baik. Leuwol (2020:81)
mengatakan jika loyalitas merupakan bentuk kesetiaan karyawan pada organisasi.
Ketika karyawan setia, mereka menjurus untuk membuktikan kepatuhan yang lebih atas
kebijakan dan prosedur perusahaan.
Pengertian loyalitas menurut Suksmatatyarani (2019) menyebut bila loyalitas
ialah tekad dan kemampuan untuk patuh, menjalankan, dan menerapkan segala sesuatu
yang pegawai patuhi secara sadar dan bertanggung jawab, serta kemampuan yang dapat
mereka buktikan melalui bersikap atau berperilaku saat bertugas. Sedangkan Iskandar
dan Yuhansyah (2018) mengatakan bahwa loyalitas mencerminkan kesetiaan seseorang
pegawai terhadap organisasi tempat ia bertugas. Bentuk kesetiaan yang dimaksud ialah
kesetiaan terhadap jabatan, pekerjaan serta organisasi.
Lain halnya dengan Chaerudin (2020:92) menyuarakan bahwa loyalnya
karyawan yaitu bukan semata-mata mengenai kesetiaan fisik yang tergambarkan pada
lamanya karyawan mengabdi pada perusahaan, tetapi juga keadaan psikologis yang
menghubungkan pekerja dengan bisnis mereka, seperti ide dan seluruh dedikasi mereka
kepada perusahaan. Sementara Poerwopoespito (2000) menerangkan bahwa karyawan
yang menempatkan keterampilan dan keahliannya dalam pekerjaannya, menyelesaikan
tugas dengan penuh tanggung jawab, jujur dengan rekan kerja dan atasannya, disiplin,
menjunjung tinggi reputasi perusahaan, dan setia pada pekerjaannya untuk waktu yang
lama mencerminkan komitmen mereka terhadap pekerjaannya
Indikator-Indikator Pengembangan Karir
Menurut Yan Liu (2021) indikator-indikator pengembangan karir, berupa:
- Promosi yang jelas
- Peluang untuk menempati tertentu
- Peluang untuk ikut semua pendidikkan dan pelatihan
- Kenaikkan dalam mendisiplinkan diri
- Menaikkan motivasi karyawan
Sedangkan Siagian (2019) indikator dari pengembangan karir yaitu:
1) Keadilan yang berlaku dalam bekerja
Promosi yang obyektif dan rasional dengan mencakup faktor-faktor
seperti kinerja pekerjaan, keterampilan dan kompetensi, pengalaman, dan
potensi untuk tumbuh dan berkembang, akan menciptakan organisasi yang
transparan dan adil untuk mengevaluasi karyawan serta memudahkan
memilih kandidat yang paling memenuhi syarat untuk dipromosikan.
2) Perhatian dari petinggi
Melibatkan atasan dalam perencanaan karir individu dapat membantu
karyawan mengidentifikasi jalur karir potensial dalam organisasi dan
keterampilan serta pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Atasan dapat memberikan nasihat, dukungan, dan bimbingan untuk
membantu karyawan dalam berkembang dan maju mengenai karir mereka,
serta mengidentifikasi peluang pelatihan dan pengembangan potensial yang
dapat meningkatkan keterampilan.
3) Informasi mengenai beragam peluang promosi
Akses ke informasi mengenai peluang promosi sangat penting bagi
karyawan yang ingin memajukan karir mereka dalam suatu organisasi.
Proses seleksi menunjukkan komitmen terhadap praktik yang transparan
dan adil dapat membantu membangun kepercayaan dan keterlibatan di
antara karyawan, karena mereka merasa dihargai dan didukung dalam
tujuan karir mereka.
4) Keinginan untuk dinaikkan
Strategi yang fleksibel dan proaktif perlu digunakan untuk mendorong
minat karyawan dalam pengembangan karir. Penting bagi pengusaha untuk
memberi dukungan dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya.
Melakukan diskusi rutin dengan karyawan untuk memahami aspirasi karir
mereka dan mengidentifikasi jalur pengembangan karir dalam organisasi
yang sejalan dengan tujuan karyawan.
5) Prestasi kerja memuaskan
Prestasi kerja seorang karyawan merupakan faktor penting dalam
kemampuan mereka sebagai bahan pertimbangan promosi ke posisi atau
tanggung jawab yang lebih di masa mendatang. Atasan biasanya mencari
karyawan yang telah menunjukkan rekam jejak kesuksesan, pencapaian, dan
kontribusi yang kuat bagi organisasi (loyal)
Pengertian Pengembangan Karir
Pengembangan karir ialah suatu peningkatan terhadap sebuah pekerjaan
menjadi lebih tinggi pada tanggung jawab, wewenang, tugas, kompetensi dan lain
sebagainya. Sutrisno (2019:165) menyatakan pengembangan karir ialah proses
peningkatan keterampilan, kemampuan, pengetahuan, dan pengembangan profesional
seseorang secara keseluruhan untuk mencapai tujuan karir tertentu. Dengan artian,
organisasi atau pimpinan perusahaan telah membuat strategi sebelumnya mengenai hal-
hal yang perlu dilaksanakan untuk memajukan karir karyawan selagi mereka bekerja.
Lain halnya dengan yang dikemukakan oleh Arismunandar & Khair (2020) yang
menyatakan bahwa pengembangan karir adalah kemitraan antara karyawan dan
perusahaan untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan karir karyawan melalui
berbagai kegiatan dan inisiatif. Dengan berinvestasi dalam pengembangan karir,
perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif yang mendukung
keterlibatan dan retensi karyawan, serta mendorong kesuksesan bisnis secara
keseluruhan.
Pendapat lain juga dikatakan oleh Priansa (2018:161) yang berpendapat bahwa
pengembangan karir adalah proses berkelanjutan dan berkesinambungan yang
melibatkan berbagai kegiatan dan inisiatif untuk mendukung pertumbuhan dan
kemajuan karyawan. Pengembangan karir merupakan upaya yang dapat dilakukan baik
oleh karyawan maupun organisasi guna mencapai kinerja dan pertumbuhan yang
optimal dengan melibatkan berbagai kegiatan dan inisiatif yang memungkinkan
karyawan untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan
pengalaman mereka, serta memberikan kesempatan untuk memajukan karir karyawan
(Busro, 2018)
Indikator-Indikator Beban Kerja
Terdapat beberapa indikator-indikator oleh Koesomowidjojo (2017:33),
diantaranya:
- Keadaan Pekerjaan
Keadaan kerja konsentrasikan yaitu tentang bagaimana seseorang
mengerti dan menguasai tugas dengan baik. Misalnya, terdapat seorang
karyawan yang bekerja dibagian produksi yang berkaitan dengan
pengoperasian mesin produksi. Maka dapat dilihat seberapa jauh karyawan
dalam memahami dan mengerti pengoperasian mesin produksi. Maka dari
itu, perusahaan perlu menerapkan serta melakukan sosialisasi tentang SOP
(Standard Operational Procedure) kepada seluruh karyawan sehingga
dapat bekerja dengan:
a. Dapat menjalankan pekerjaan sesuai dengan standar
b. Memperkecil terjadinya kesalahan dan kecelakaan kerja dalam pelaksanaan
kerja
c. Menekan besaran beban kerja karyawan dan menumbuhkan comparability,
credibility serta defensibility
d. Memiliki sistem yang memungkinkan evaluasi proses kerja yang dapat
membantu perusahaan mengidentifikasi area untuk perbaikan dan
meningkatkan efisiensi secara keseluruhan
e. Memberi kebijakan agar karyawan mudah menentukan keputusan
f. Memudahkan karyawan dalam berkomunikasi dengan rekan kerja maupun
atasan - Pemakaian Jam Kerja
Beban karyawan dapat dikurangi dengan menjadwalkan jam kerja sesuai
dengan SOP. Namun, banyak perusahaan kekurangan SOP atau
menjalankan SOP secara tidak konsisten, menyebabkan penggunaan jam
kerja yang diberikan kepada pekerja menjadi melampaui atau benar-benar
terbatas. - Sasaran Yang wajib berhasil
Beban kerja yang akan diselesaikan oleh pegawai secara alami akan
dipengaruhi secara langsung oleh tujuan kerja yang telah ditetapkan oleh
organisasi. Semakin banyak beban yang diterima dan dialami oleh pegawai,
maka semakin tidak seimbang antara jam penyelesaian dengan banyaknya
pekerjaan yang diberikan.
Jenis Beban Kerja
Koesoemowidjojo (2017:22) berpendapat bahwa terdapat dua macam dari
beban kerja, antara lain:
1) Beban kerja kuantitatif, ditunjukkan ketika terdapat banyak pekerjaan yang
harus dilakukan, itu dapat menunjukkan beberapa faktor seperti jam kerja,
tekanan kerja yang tinggi, atau tanggung jawab yang signifikan pada
pekerjaan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap
kesejahteraan karyawan, termasuk masalah kesehatan fisik dan mental,
kelelahan, dan penurunan kepuasan kerja.
2) Beban kerja kualitatif, terkait dengan kemampuan atau ketidakmampuan
karyawan untuk melakukan tugas secara efektif dapat berdampak signifikan
pada kinerja, kepuasan kerja, dan kesejahteraan karyawan secara
keseluruhan. Ketika karyawan terampil dan kompeten, mereka dapat
melaksanakan pekerjaan mereka dengan mudah, yang mengarah ke rasa
pencapaian dan pengalaman kerja yang positif. Namun, ketika karyawan
kekurangan keterampilan yang diperlukan atau menghadapi kesulitan dalam
melaksanakan pekerjaannya, hal itu dapat menyebabkan stres, frustrasi, dan
penurunan produktivitas
Upaya Membangun Kepercayaan Organisasi
Fernando Bartolomáş» (dalam Kreitner dan Kinicki, 2005) yang merupakan
seorang professor/konsultan manajemen, memberikan enam pedoman untuk
membangun dan menjaga kepercayaan, diantaranya sebagai berikut :
a. Komunikasi
Menjaga agar anggota tim dan para karyawan mendapatkan informasi
dengan menjelaskan kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan serta
memberikan umpan balik yang akurat.
b. Dukungan
Selalu bersedia dan mau didekati. Memberikan bantuan, saran, nasihat,
dan dukungan ide-ide anggota tim.
c. Rasa hormat
Delegasi, dalam bentuk kewenangan pembuatan keputusan yang
sebenarnya, merupakan ekspresi terpenting dari penghormatan
manajerial. Secara aktif mendengarkan ide-ide orang lain adalah ekspresi
terpenting kedua.
d. Keadilan
Cepat dalam memberikan pujian dan pengakuan kepada mereka yang
berhak mendapatkannya.
e. Dapat diprediksi
Semua orang menginginkan sesuatu yang bisa diprediksi. Ketidakjujuran
terjadi karena tidak mampu memprediksi sikap orang tersebut.
Pikirkanlah tentang nilai dan kepercayaan yang dimiliki, kemudian
biarkan nilai dan kepercayaan tersebut menjadi panduan dalam
mengambil keputusan. Apabila telah diperoleh suatu tujuan yang jelas,
maka sikap yang dimiliki juga bisa diprediksi. Serta penuhi janji-janji baik
yang terucap maupun tersirat.
f. Kompetensi
Tingkatkan kredibilitas dengan memperlihatkan pemahaman bisnis yang
baik, kemampuan teknis, dan profesionalisme.
Aspek-Aspek Kepercayaan Organisasi
Menurut Johnson & Johnson (1997), tingkat trust dalam kelompok dapat
berubah sesuai dengan kemampuan dan kemauan setiap anggota untuk
dapat percaya (trust) dan dapat dipercaya (trustworthy)
Aspek-aspek trust:
a. Keterbukaan
Membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan dan reaksi terhadap isu-
isu yang terjadi dalam kelompok.
b. Berbagi
Menawarkan bantuan material dan sumber daya kepada orang lain
dalam kelompok dengan tujuan untuk membantu mereka memajukan
kelompok menuju penyelesaian masalah.
Aspek-aspek trustworthy:
a. Penerimaan
Komunikasi penuh penghargaan terhadap orang lain dan kontribusinya
kepada pekerjaan kelompok
b. Dukungan
Komunikasi dengan orang lain yang diketahui kemampuannya dan
percaya bahwa ia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkannya untuk
mengatur situasi yang dihadapinya secara produktif
c. Tujuan kerjasama
Pengharapan bahwa seseorang dapat bekerjasama dan bahwa setiap
anggota lain dalam kelompok juga dapat bekerjasama untuk mencapai
tujuan kerja
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Organisasi
Menurut Busch dan Hantusch (dalam Purnomo, 2007) terdapat beberapa
hambatan dalam trust-building process yang bisa ditemukan dalam
organisasi:
a. Interaksi masa lalu. Pengalaman interaksi yang buruk pada masa lalu
akan menyebabkan kedua belah pihak saling berprasangka dan
berpikir bahwa pihak lain tersebut tidak bisa dipercaya sepenuhnya.
b. Kategorisasi Sosial (Social Categorization). Individu akan cenderung
untuk mengkategorikan orang lain apabila dia tidak memiliki informasi
yang cukup tentang orang tersebut. Kategorisasi tersebut bisa
berdasarkan jenis kelamin, ras, profesi, jabatan, dan sebagainya.
Kategorisasi ini dibuat untuk menyederhanakan proses membuat
keputusan. Dalam kehidupan berorganisasi, seseorang cenderung
untuk mengkategorikan orang lain berdasarkan pada kategori tertentu,
seperti kategori ini merupakan anggota dari buruh, staf, manager,
kontraktor, dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya, mereka akan
menilai anggota outgroup sebagai orang yang kurang bisa dipercaya,
tidak terbuka, dan tidak jujur.
c. Generalisasi dan Model Peran. Individu cenderung untuk
menggeneralisasi perbuatan seseorang dengan perbuatan keseluruhan
anggota kelompoknya. Misalnya, apabila seorang karyawan berlaku
tidak jujur terhadap atasannya, maka atasannya akan menilai semua
karyawan tidak jujur. Demikian juga dengan model peran, apabila
kelakuan seorang atasan buruk, maka semua bawahannya akan dinilai
berkelakuan buruk juga, karena meniru perilaku atasannya
Jenis-jenis Kepercayaan Organisasi
Menurut Robbins (2003) terdapat tiga jenis trust dalam hubungan
organizational, diantaranya :
a. Deterrence-Based Trust
Deterrence-based trust merupakan salah satu jenis trust yang paling
mudah hilang. Hanya dengan sekali melakukan kesalahan atau tidak
konsisten, dapat menghilangkan trust yang dimiliki. Trust jenis ini
didasarkan pada rasa takut akan hukuman dan konsekuensi yang akan
timbul apabila trust tersebut tidak dijalankan dengan baik. Setiap
hubungan sosial biasanya akan diawali dengan deterrence-based trust.
b. Knowledge-Based Trust
Kebanyakan trust yang dimiliki dalam hubungan organizational adalah
knowledge-based trust, yaitu salah satu jenis trust yang didasarkan pada
pengalaman interaksi di masa lalu. Knowledge-based trust muncul
dengan didasarkan pada informasi yang cukup dan akurat tentang
seseorang sehingga mampu untuk melakukan prediksi terhadap
seseorang tersebut, dan trust ini akan berkembang seiring dengan
berjalannya waktu. Trust jenis ini tidak akan rusak karena suatu perilaku
yang tidak konsisten. Hal ini bisa terjadi apabila mampu memberikan
argumentasi yang masuk akal terkait kesalahan yang di perbuatnya
tersebut. Sehingga, kedua belah pihak akan memiliki suatu hubungan
yang baik kembali seperti semula.
c. Identification-Based Trust
Trust jenis merupakan trust level tertinggi yang ditandai dengan adanya
ikatan emosional antara kedua belah pihak. Pihak yang satu dapat
mewakili pihak yang lain dalam hubungan transaksi yang bersifat
interpersonal. Trust jenis ini muncul karena kedua belah pihak saling
mengerti, memahami, dan menghargai kebutuhan serta keinginan
masing-masing. Kontrol dalam hubungan seperti ini sangat minimal,
karena kontrol dianggap sebagai keraguan terhadap rasa kesetiaan salah
satu pihak
Tingkatan Kepercayaan Organisasi
Menurut Quinhong Fu (2004) yang merujuk pada beberapa pandangan
sosiolog, pada dasarnya kepercayaan dapat dibagi menjadi 3 tingkatan,
yaitu:
a. Tingkatan individual
Kepercayaan pada tingkatan individual merupakan kekayaan batin,
norma, dan nilai individual yang merupakan variabel personal dan
sekaligus sebagai karakteristik individu. Merujuk Nahapiet dan Ghoshal
(1998), pada tingkatan individual kepercayaan bersumber dari nilai-nilai,
diantaranya dari: agama yang dianut, kompetensi seseorang, dan
keterbukaan, yang telah menjadi norma di masyarakat dan diyakini oleh
seseorang.
b. Tingkatan relasi sosial
Kepercayaan di dalam tingkatan relasi sosial, merupakan atribut kolektif
untuk mencapai tujuan kelompok yang didasari oleh semangat altruism,
social resiprocity, dan manusia sebagai makhluk sosial. Mengikuti
Coleman (1999) pada tingkatan relasi sosial sumber kepercayaan
berasal dari norma sosial yang memang telah melekat pada stuktur sosial
komunitas (masyarakat/bangsa /organisasi) yang diikat dengan nilai-nilai
budaya. Hal ini terutama berkaitan dengan kepatuhan anggota komunitas
terhadap berbagai kewajiban bersama yang telah menjadi kesepakatan
tidak tertulis pada komunitas tersebut.
c. Tingkatan sistem sosial
Kepercayaan pada tingkatan sistem sosial, merupakan nilai publik
komunitas, atau masyarakat, atau bangsa, yang perkembangnya
difasilitasi oleh sistem sosial yang ada, dimana didasari pada nilai-nilai
budaya unggul. Menurut Putnam (1993), di tingkat sistem sosial
kepercayaan bersumber dari karakteristik sistem sosial tersebut yang
memberi nilai tinggi pada tanggung jawab sosial setiap anggota
komunitas (masyarakat/bangsa/organisasi)
Pengertian Kepercayaan Organisasi
Kepercayaan organisasi berhubungan dengan apa yang menurut
organisasi dianggap benar dan dianggap tidak benar. Kepercayaan
melukiskan karakteristik moral organisasi atau kode etik organisasi.
(Wirawan, 2007) Kepercayaan (trust) didefinisikan sebagai keyakinan timbal
balik pada niat dan perilaku orang lain. (Kreitner dan Kinicki, 2005).
Fukuyama (1995) menyatakan kepercayaan sebagai sesuatu yang
amat besar dan sangat bermanfaat bagi penciptaan tatatan ekonomi unggul.
Digambarkannya kepercayaan sebagai harapan-harapan terhadap
keteraturan, kejujuran, dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam
sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut
bersama-sama oleh anggota masyarakat. Norma-norma tersebut dapat berisi
pernyataan-pernyataan yang berkisar pada niai-nilai luhur, seperti hakekat
Tuhan atau keadilan, ataupun norma-norma sekuler seperti standar
profesional dan kode etik perilaku.
Indikasi Turunnya Loyalitas Karyawan
Menurut Nitisemito (1991) Indikasi-indikasi turunnya loyalitas karyawan
antara lain :
a. Rendahnya produktivitas kerja
Turunnya produktivitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan
dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat
terjadi karena kemalasan atau penundaan kerja.
b. Tingkat absensi yang naik
Pada umumnya bila loyalitas dan sikap kerja karyawan turun, maka
karyawan akan malas untuk datang bekerja setiap hari. Bila ada
gejala– gejala absensi naik maka perlu segera dilakukan penelitian.
c. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi
Keluar masuknya karyawan yang meningkat tesebut terutama adalah
karena tidak senangnya para karyawan bekerja pada perusahaan.
Untuk itu mereka berusaha mencari pekerjaan lain yang dianggap
sesuai.
d. Kegelisahan dimana-mana
Loyalitas dan sikap kerja karyawan yang menurun dapat menimbulkan
kegelisahan. Seorang pemimpin harus mengetahui bahwa adanya
kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidaktenangan dalam
bekerja, keluh kesah serta hal–hal yang lain.
e. Tuntutan yang sering terjadi
Tuntutan yang sebetulnya merupakan perwujudan dan ketidakpuasan,
dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk
mengajukan tuntutan.
f. Pemogokan
Tingkat indikasi yang paling kuat tentang turunnya loyalitas dan sikap
kerja karyawan adalah pemogokan. Biasanya suatu perusahaan yang
karyawannya sudah merasa tidak tahan lagi hingga memuncak, maka
hal itu akan menimbulkan suatu tuntutan, dan bilamana tuntutan
tersebut tidak berhasil, maka pada umumnya karyawan melakukan
pemogokan kerja
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas karyawan
Menurut Jusuf (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas
karyawan sebagai berikut :
- Faktor Rasional. Menyangkut hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis,
seperti: gaji, bonus, jenjang karir dan fasilitas-fasilitas yang diberikan
lembaga kepada karyawan. - Faktor Emosional: Menyangkut perasaan atau ekspresi diri seperti:
pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung,
perasaan aman karena perusahaan merupakan tempat bekerja dalam
jangka panjang, pemimpin yang berkharisma, pekerjaan yang
membanggakan, penghargaan-penghargaan yang diberikan
perusahaan dan budaya kerja. - Faktor Kepribadian. Menyangkut sifat, karakter, tempramen yang
dimiliki oleh karyawan
Aspek-aspek Loyalitas Karyawan
Penjelasan mengenai PP. No. 10 Tahun 1979 tentang penilaian kinerja,
loyalitas menurut Saydam (2000) memberikan aspek-aspek tentang loyalitas,
diantaranya :
a) Ketaatan atau kepatuhan, yaitu kesanggupan seorang karyawan untuk
menaati segala peraturan lembaga yang berlaku, dan menaati perintah
lembaga yang diberikan atasan yang berwenang, serta sanggup tidak
melanggar larangan yang ditentukan. Ciri-ciri ketaatan ini adalah :
- Taat peraturan peundang-undangan yang ditentukan
- Menaati perintah lembaga/institusi yang diberikan atasan
- Menaati jam kerja
- Memberikan pelayanan kepada masyarakat
b) Tanggung jawab, yaitu kesanggupan seorang karyawan dalam
menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik,
tepat waktu serta berani mengambil resiko untuk keputusan yang dibuat
atau tindakan yang dilakukan. Ciri-cirinya adalah : - Dapat menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan baik dan
tepat waktu - Selalu memelihara dan menyimpan barang-barang lembaga
dengan sebaik-baiknya - Mengutamakan kepentingan lembaga daripada kepentingan
pribadi atau golongan - Tidak berusaha melemparkan kesalahan kepada oranng lain
c) Pengabdian, yaitu sumbangan pemikiran dan tenaga secara ikhlas
kepada perusahaan
d) Kejujuran,
Dalam penjelasan pasal 4 PP No. 10 Tahun 1979 tentang DP3 (Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan), cirri-ciri pegawai yang jujur antara
lain : - Selalu melaksanakan tugas dengan penuh keikhlasan tanpa
merasa dipaksa - Tidak menyalahgunakan wewenang yang ada padanya
- Melaporkan hasil pekerjaannya kepada atasannya
Ciri-ciri Loyalitas
Penjabaran sikap setia kepada perusahaan menurut Poerwopoespito
(2000) antara lain adalah :
a. Kejujuran
Kejujuran mempunyai banyak dimensi dan bidang. Dalam konteks
sikap setia kepada perusahaan, ketidakjujuran di perusahaan akan
merugikan banyak orang, bukan hanya perusahaan, tetapi pemilik,
direksi, karyawan, keluarga karyawan, masyarakat, supplier, dan yang
lainnya pada akhirnya negarapun dirugikan.
b. Mempunyai rasa memiliki perusahaan
Memberi pengertian agar karyawan mempunyai rasa memiliki
perusahaan adalah dengan memahami bahwa perusahaan adalah
tubuh imajiner, dimana seluruh pribadi yang terlibat di dalamnya
merupakan anggota-anggotanya.
c. Mengerti kesulitan perusahaan
Memahami bahwa yang terbaik untuk perusahaan pada hakikatnya
terbaik untuk karyawan. Dan yang terbaik untuk karyawan belum tentu
terbaik untuk perusahaan. Tindakan yang bijak yang dilakukan oleh
karyawan dalam memahami dan mengerti kesulitan perusahaan adalah
dengan saling bahu-membahu untuk membantu pulihnya perusahaan
bukan dengan meninggalkannya dan segera pindah ke perusahaan
yang lain.
d. Bekerja lebih dari yang diminta perusahaan
Hal ini sepertinya sulit dilakukan sebab mengerjakan dalam job
description saja sulit apalagi mengerjakan yang lainnya. Bekerja lebih
dari yang diminta perusahaan merupakan konsep yang hebat dan
dalam jangka panjang memberikan keuntungan yang besar pada
individu karyawan itu sendiri. Perusahaan bisa saja bangkrut tetapi
manusia yang berkualitas dan kompetitif tidak mungkin bangkrut.
e. Menciptakan suasana yang menyenangkan di perusahaan
Suasana yang tidak kondusif sangat mempengaruhi kinerja karyawan,
yang berakibat terhadap produktifitas. Yang paling menentukan sarana
dalam perusahaan adalah pimpinannya. Semakin tinggi jabatan
pemimpin tersebut semakin berpengaruh dalam menciptakan suasana
di perusahaan karena merekalah yang mempunyai kekuasaan dan
wewenang yang lebih.
f. Menyimpan rahasia perusahaan
Rahasia perusahaan adalah segala data atau informasi dari
perusahaan yang dapat digunakan oleh pihak lain, terutama kompetitor
untuk perusahaan.
g. Menjaga dan meninggikan citra perusahaan
Kewajiban setiap karyawan menjaga citra positif perusahaan.
Logikanya jika citra perusahaan positif maka citra setiap pribadi
karyawan yang ada di dalamnya juga ikut terlihat positif.
h. Hemat
Hemat berarti mengeluarkan uang atau potensi tepat sesuai dengan
kebutuhan.
i. Tidak apriori terhadap perubahan
Perubahan pada hakikatnya adalah sebuah hukum alam. Perubahan
tidak dapat dilawan dan tidak ada pilihan lain kecuali tetap ikut dalam
perubahan. Karena melawan perubahan dengan selalu membuat tolak
ukur pada kejayaan dan keberhasilan masa lampau sama dengan
melawan hukum alam.
Menurut Danim (dalam Prayanto, 2008) mengatakan bahwa ciri-ciri
karyawan yang loyal adalah :
a) Bertanggung jawab, artinya mampu mengemban tugas dengan benar,
berani mengambil resiko apapun yang dilakukan akan
dipertanggungjawabkan walaupun menyakitkan.
b) Mau berkorban untuk kepentingan bersama atau organisasi karena
merasa memiliki organisasi yang harus diperjuangkan bersama.
c) Berani menjadi dirinya sendiri, memiliki sikap percaya diri yang tinggi,
mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.
d) Selalu melibatkan diri di setiap kegiatan yang diselenggarakan
organisasi.
e) Karyawan senantiasa menerima dengan lapang dada setiap kritik
membangun yang disampaikan oleh pemimpinnya maupun para
karyawan yang lain.
f) Karyawan secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama
mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
g) Karyawan selalu bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan
martabat profesinya.
h) Karyawan menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama
karyawan baik dan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan
keseluruhan.
i) Karyawan tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama
baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat karyawan yang
lain baik secara keseluruhan maupun secara pribadi.
j) Karyawan secara bersama-sama memelihara, membina, dan
meningkatkan organisasi karyawan professional sebagai sarana
pengabdiannya.
k) Karyawan melaksanakan segala ketentuan yang merupakan
kebijaksanaan organisasi
Pengertian Loyalitas Karyawan
Loyalitas menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya adalah patuh
atau setia. Menurut Agustian (2001) loyalitas adalah kesetiaan pada prinsip
yang dianut. Menurut Dessler (2000) loyalitas karyawan merupakan sikap
emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kemudian
Hasibuan (2007) mengemukakan bahwa loyalitas karyawan adalah kesetiaan
yang dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan membela
organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang
tidak bertanggungjawab. Selanjutnya Loyalitas menurut Hermawan (dalam
Prayanto, 2008) merupakan manifestasi dari kebutuhan fundamental
manusia untuk memiliki, men-support, mendapatkan rasa aman dan
membangun keterikatan Emotional Attachment.
Loyalitas berdasarkan Encyclopedia Britanica dalam www.wikipedia.org
menyebutkan; “Loyalty is general term, signifies a person, devotion or
sentiment of attachment to particular object, which may be another person,
an ideal, a duty or cause”. (Loyalitas adalah kesetiaan seseorang atau
perasaan kasih sayang pada suatu objek penting yang dapat berupa
seseorang, sekelompok orang, cita-cita, tugas atau alasan tertentu.
Menurut Drever (1988) menyatakan bahwa; “Loyalty is an attitude or
sentiment of devoition a person, group, symbol, duty or cause araising out of,
or as modification, or a love sentiment but also involving a personal
identification with the object in question”. (Loyalitas adalah sikap atau
perasaan kesetiaan kepada seseorang, group, simbol, kewajiban, atau
sebab yang timbul dari perubahan dan perasaan cinta, juga mencakup
identifikasi personal dengan objek yang dibicarakan.
Menurut Sudimin (2003) loyalitas berarti kesediaan karyawan dengan
seluruh kemampuan, keterampilan, pikiran dan waktu untuk ikut serta
mencapai tujuan perusahaan dan menyimpan rahasia perusahaan serta
tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan perusahaan selama
orang itu masih berstatus sebagai karyawan. Kecuali menyimpan rahasia,
hal-hal itu hanya dapat dilakukan ketika karyawan masih terikat hubungan
kerja dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Menurut Poerwopoespito (2000) mengemukakan bahwa loyalitas
kepada pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan
kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan
tanggung jawab, jujur dalam bekerja, hubungan kerja yang baik dengan
atasan, kerja sama yang baik dengan rekan kerja, disiplin, menjaga citra
perusahaan dan adanya kesetiaan untuk bekerja dalam waktu yang lebih
panjang.
Robbin dan Coulter (2007) berpendapat bahwa loyalitas adalah
kesediaan untuk melindungi dan menyelamatkan fisik dan perasaan
seseorang. Hal ini sejalan dengan yang definisi loyalitas yang diberikan oleh
Siswanto (2005) loyalitas adalah tekad dan kesanggupan menaati,
melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh
kesadaran dan tanggung jawab. Tekad dan kesanggupan tersebut harus
dibuktikan dengan sikap dan perilaku karyawan yang bersangkutan dalam
kegiatan sehari-hari serta melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan
kepadanya. Definisi ini juga di sampaikan oleh Saydam (2000).
Selaras dengan pendapat yang diberikan oleh Siswanto tersebut, Jusuf
(2010) berpendapat bahwa loyalitas merupakan suatu sikap yang timbul
sebagai akibat keinginan untuk setia dan berbakti baik itu pada
pekerjaannya, kelompok, atasan, maupun pada tempat kerjanya yang
menyebabkan seseorang rela berkorban demi memuaskan pihak lain atau
masyarakat.
Hal lain disampaikan oleh Steers & Porter (1983) yang berpendapat
bahwa pertama, loyalitas kepada perusahaan sebagai sikap, yaitu sejauh
mana seseorang karyawan mengidentifikasi tempat kerjanya yang ditujukan
dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya dan kedua,
loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku, yaitu proses dimana
seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari
perusahaan apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim
Definisi Environmental Performance
Menurut Paillé et al. (2014), environmental performance mempresentasikan
hasil yang menunjukkan sejauh mana perusahaan berkomitmen untuk melindungi
lingkungan hidup. Penelitian akademik mendefinisikan environmental
performance sebagai suatu hasil yang dapat diukur dari sistem manajemen
lingkungan yang berkaitan dengan kontrol yang dimiliki organisasi atas dampak
lingkungannya berdasarkan kebijakan lingkungan yang berlaku (Carroll, 2016). Hal
ini merupakan inisiatif dari organisasi untuk memenuhi serta melampaui harapan
masyarakat mengenai lingkungan hidup (Chan, 2005). Dalam penelitian
sebelumnya, environmental performance juga didefinisikan sebagai kegiatan
menciptakan lingkungan yang ramah lingkungan dan mengurangi risiko yang
terkait dengan lingkungan dengan menggabungkan manajemen internal dan
eksternal organisasi untuk mencapai kinerja ekonomi secara keseluruhan serta
meningkatkan kinerja mitra strategis perusahaan (Van Hock & Erasmus, 2000).
Oleh karena itu, environmental performance penting dalam mempertahankan
kinerja organisasi dalam mencegah terjadinya efek negatif (seperti, polusi, emisi
lingkungan serta limbah) pada lingkungan hidup. environmental performance
dianggap sebagai susunan multidimensi yang mencakup bukan hanya hasil dan
dampak perusahaan terhadap pemangku kepentingan dan lingkungan, namun juga
prinsip tanggung jawab lingkungan dan proses aktivitas lingkungan perusahaan
yang akan menentukan hasil dan masa depan (Carroll, 2016). Environmental
performance mengacu pada berbagai praktik seperti sertifikasi ISO 14001, praktik
daur ulang, eco-design, eco-conception, implementasi sistem manajemen
lingkungan dan modifikasi proses manufaktur agar lebih efisien (Carroll, 2016).
Membangun Kesetiaan Melalui Sosialisasi
Gibson (1996) Di tahun-tahun terakhir ini, banyak organisasi
yang merasa semakin sulit untuk mendapatkan kesetiaan dan keikatan
dari para manajernya. Untuk berbagai alasan yang jelas, organisasi
menilai kesetiaan dan keikatan para karyawan: karywan semaca itu
bekerja lebih keras dan mencapai sukses lebih besar daripada mereka
yang tidak setia dan tidak punya ikatan. Akan tetapi, organisasi tidak
bergantung semata-mata pada kesetiaan; ia harus mensosialisasikan
karyawan baru sehingga mereka setia. Proses sosialisasi yang
mendukung dan mengghargai kesetiaan dapat terwujud dala banyak
bentuk dan encakup berbagai praktiskus khusus organisasi.
Salah satu bentuk sosialisasi yang sangat efektif melibatkan
empat unsur pokok :
- Organisasi mendorong para karyawan untuk setia dengan
memberikan imbalan. - Organisasi mempengaruhi karyawan agar tetap setia melalui
bujukan, dan bukan paksaan. - Organisasi mengalihkan para karyawan dari nilai dan tujuan
mereka menuju nilai-nilai dan tujuan organisasi. - Organisasi membentuk penampilan bahwa individu boleh
melakukan pilihan bebas pada saat pengangkatan dalamdan tetap
bekerja
Keterlibatan Loyalitas Karyawan Terhadap Organisasi
Loyalitas karyawan yang mempunyai keterlibatan tinggi
dengan pekerjaannya, mempersiapkan kerja sebagai sesuatu yang
penting bagi pengembangan self-esteem-nya. Dengan demikian, diduga
bahwa karyawan yang mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi akan
menunjukkan kinerja (kualitas performance) yang berbeda dengan
mereka yang keterlibatannya rendah.
Patchen (dalam Sutrisno, 2010) memandang bahwa karyawan
yang mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi tersebut menunjukkan:
(a) motivasi kerja yang tinggi, (b) mempunyai solidaritas yang tinggi
terhadap kelompok kerja atau organisasi, dan (c) rasa bangga dengan
pekerjaannya. Maka kualitas kekaryaannya dilihat dan sejauh mana
seorang karyawan memberikan kontribusi yang maksimal terhadap
peningkatan efisiensi, dimana eksistensi kerja tersebut adalah
menyangkut pendapatan perusahaan, penurunan biaya produksi,
perluasan pasar, berkurangnya keluhan konsumen, menurunnya
absensi dan pemutusan kerja.
Pengalaman menunjukkan bahwa baik manajemen maupun
para karyawan sendiri menyadari bahwa pemeliharaan hubungan yang
serasi antara organisasi dengan para anggotanya bukan hanya
merupakan tanggung jawab manajeman. Para karyawan pun
diharapkan turut terlibat secara aktif. Siagian (2005) menyebutkan
berbagai literatur tentang pendorong keterlibatan karyawan yang loyal
terhadap organisasi memberi petunjuk bahwa terdapat enam
pendekatan, yaitu:
- Gugus kendali mutu. Para pakar manajemen memperkenalkan
dalam praktek konsep ini berarti dibentuknya kelompok-
kelompok kecil (gugus) pekerja yang bertemu secara berkala
dibawah pimpinan seseorang untuk mengidentifikasikan dan
memecahkan sendiri masalah-masalah yang dihadapi oleh
gugus tersebut dalam pelaksanaan pekerjaannya. - Pengembangan tim. Dalam kehidupan kekaryaan modern
dewasa ini semakin disadari bahwa terdapat interelasi dan
interdependensi antara satu tugas dengan tufgas lainnya. Berarti
sukar membanyangkan adany tugas yang dapat diselesaikan
secara tuntas hanya oleh seseorang, terutama apabila tugas
tersebut bersifat pemecahan masalah. Konsekuensinya ialah
keharusan bekerja dalam satu tim. Berdasarkan kenyataan
bahwa suatu masalah terpecahkan dengan lebih baik apabila
pemecahannya dipikirkan oleh suatu kelompok dibandingkan
dengan apabila dikerjakan sendiri oleh seseorang, pembinaan
tim dipandang sebagai salah satu kegiatan manajeman yang
penting dalam rangka peningkatan mutu keterlibatan karyawan.
Sasarannya bukan hanya peningkatan kemampuan
memecahkan masalah, akan tetapi juga untuk memupuk rasa
kebersamaan antara para anggota kelompok kerja dan kesetiaan
karyawan pada pekerjaannya. - System sosio-teknikal. Merupakan upaya memadukan struktur
tugas, kelompok kerja, dan teknologi yang dibawa ke
lingkungan pekerjaan. Sasaran perpaduan ini adalah
pemeliharaan hubungan karyawan sekaligus mengurangi
kebosanan yang mudah timbul apabila seseorang melakukan
kegiatan yang sangat rutin dan repetitive. Salah satu teknik
yang sudah dikembangkan adalah ergonomika. - Ergonomika. Yang pertama kali dikembangkan di jerman
(barat) adalah suatu studi yang mempelajari hubungan antara
ciri fisik seorangpekerja dan tuntutan tugasnya. Sasaran studi
itu ialah mengurangi ketegangan fisik dan mental dalam rangka
peningkatan produktivitas dan efektivitas kerja seseorang. - Keputusan bersama. Sesungguhnya konsep ini didasarkan pada
prinsip yang sangat sederhana, yaitu para karyawan perlu
dilibatkan dalam proses pengmbilan keputusan yang
menyangkut nasib dan pekerjaan mereka. Para pekerja atau
wakilnya secara formal diikutsertakan dalam proses
pengambilan keputusan itu,seperti misalnya dalam hal menutup
suatu pabrik, melakukan pemutusan hubungan kerja dan
keputusan-keptusan lain yang menyangkut nasib para pekerja. - Kelompok kerja yang otonom. Yang dimaksud ialah
terbentuknya kelompok-kelompok kerja tanpa pimpinan yang
ditunjuk dan diangkat oleh organisasi. Artinya kelompok-
kelompok kerja sendirilah yang memutuskan antara mereka
sendiri berbagai hal yang secara tradisional ditangani oleh
penyelia. Sebagai contoh penentuan tugas harian, penggunaan
rotasi pekerjaan orientasi pegawai baru, program pelatiahan dan
jadwal produksi. Bahkan ada kalanya kelompok kerja juga
yang menangani rekrutmen dan seleksi pegawai baru. Malahan
ada organisasi yang sudah menyerahkan wewenang pengenaan
sanksi disipliner kepada kelompok kerja yang otonom tersebut.
Loyalitas Karyawan dan Organisasi
Budiman (2009) Loyalitas berasal dari kata dasar “loyal” yang
berarti setia atau patuh, loyalitas berarti mengikuti dengan patuh dan
setia terhadap seseorang atau system/peraturan. Istilah loyalitas ini
sering didefinisikan bahwa seseorang akan disebut loyal atau memiliki
loyalitas yang tinggi jika mau mengikuti apa yang diperintahkan.
Organisasi atau pengusaha mengartikan loyalitas adalah suatu
kesetiaan karyawannya kepada perusahaannya. Dalam
perkembangannya, arti kata loyalitas sering dimanfaatkan oleh
organisasi untuk memanfaatkan karyawan semaksimal mungkin tanpa
memperhatikan kebutuhan karyawannya.
Organisasi atau pelaku organisasi melakukannya karena
meyakini bahwa karyawan tidak memiliki posisi tawar yang seimbang.
Dalam hal ini, organisasi tadi menganggap hubungannya dengan
karyawan tidak sebagai partner, tetapi sebagai majikan dan pegawai,
yang memberi upah dan yang meminta upah. Sebuah paradigma yang
masih tersisa dari era perbudakan.
Organisasi pun akan dengan mudah memberi label “tidak
loyal” kepada karyawannya jika karyawannya tersebut tidak mengikuti
apa yang diperintahkan oleh organisasi, misalnya tidak mau kerja
lembur atau tidak mengikuti suatu kegiatan yang diminta oleh
organisasi meski pekerjaan/kegiatan tersebut diluar jam kerja.
Kadang, arti kata ” organisasi”-pun sering diganti maknanya,
dengan ”pengambil keputusan” organisasi yang sejatinya adalah
seorang karyawan di organisasi tersebut. Karyawan yang kebetulan
menjadi penentu kebijakan perusahaan ini seringkali memanfaatkan
posisinya untuk kepentingan lain (baca:diri sendiri) sehingga
banyaknya kepentingan dalam menentukan kata”loyal atau tidak loyal”
sangat besar pengaruhnya. Dalam pengamatan saya, para pemangku
kebijakan organisasi ini adalah karyawan pada level manajerial,
Supervisor/Manager di bagiannya, atau seorang HRD Manager
misalnya.
Loyalitas menurut karyawan atau para professional adalah
kesetiaan pada pekerjaan atau profesi. Sementara organisasi hanya
dipandang sebagai tempat bekerja, dan kewajiban karyawan hanyalah
bekerja dan mengikuti peraturan yang berlaku di organisasi tersebut,
dan tentu saja harus mendapatkan hak-nya sesuai kesepakatan.
Jika ada kewajiban lain yang harus dilakukan dan diluar
kesepakatan, maka harus ada kompensasi atau benefit tambahan,
misalnya jika harus bekerja lembur maka harus mendapatkan upah
tambahan. Dari sudut pandang ini, karyawan berharap mereka
dianggap sebagai partner oleh organisasi dan bersama dengan stake
holder/pemilik kepentingan lainnya (customer, supplier, pemegang
saham, lingkungan dan masyarakat sekitar) dianggap sama dan
penting.
Faktor-faktor Timbulnya Loyalitas Karyawan
Salah satu survey tentang loyalitas yang dikutip Drizin &
Schneider (dalam Runtu, 2014) menunjukkan bahwa pendorong utama
untuk loyalitas karyawan adalah fairness. Hal itu mencakup: fair dalam
penggajian, fair dalam penilaian kinerja, dan fair dalam perumusan dan
pengimplementasian kebijakan. Sedangkan Mc Quiness (dalam Runtu,
2014) mengemukakan bahwa komunikasi yang efektif dalam suatu
organisasi akan berdampak pada loyalitas karyawan. Peran komunikasi
dalam meningkatkan loyalitas karyawan ini didukung oleh Smith &
Rupp (dalam Runtu, 2014).
Antoncic & Antoncic (dalam Runtu, 2014) Menyatakan bahwa
penurunan loyalitas umumnya disebabkan oleh ketidakpercayaan
terhadap keputusan dan kebijakan organisasi, buruknya komunikasi
dan aliran informasi internal, serta gaya kepemimpinan dalam
organisasi. Oleh karena itu, menurut Cunha (dalam Runtu, 2014)
loyalitas harus dibangun antara lain melalui pengelolaan struktur,
budaya, dan kepemimpinan dalam organisasi. McGuinness (dalam
Runtu, 2014) menyatakan bahwa meningkatkan partisipasi dalam
pengambilan keputusan, komunikasi efektif dan terbuka,
pengembangan saling percaya, pengembangan karir, serta penggajian
berdasarkan produktivitas, dan fleksibilitas tunjangan dapat
menimbulkan loyalitas pada karyawan.
Loyalitas karyawan juga dapat dibangun melalui hubungan
yang baik antara atasan dan bawahan. Membangun hubungan saling
percaya satu sama lain merupakan satu bentuk kompensasi yang sangat
bermakna bagi karyawan. Karyawan harus tahu bahwa atasan mereka
memperlakukan mereka sebagai pribadi tidak sekedar “sumber daya”
sebelum mereka termotivasi untuk memberi yang terbaik bagi
organisasi, Boltax (dalam Runtu, 2014). Loyalitas karyawan itu ada
dalam satu organisasi apabila karyawan percaya bahwa dalam tujuan
organisasi, karyawan dapat mencapai tujuan mereka
Faktor Pro-Environmental Behavior
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berperilaku
negatif atau positif pada lingkungan (Kollmuss & Agyeman, 2002), antara lain:
- Faktor demografi
Faktor ini mencakup jenis kelamin dan jenjang pendidikan. - Faktor eksternal
Faktor eksternal mencakup faktor sosial, ekonomi, budaya dan lembaga
institusional. - Faktor internal
Faktor internal seseorang mencakup motivasi diri, pengetahuan
tentang lingkungan, kesadaran lingkungan, nilai, sikap, emosional,
locus of control, prioritas dan tanggung jawab
Aspek – Aspek Loyalitas
Loyalitas kerja karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam
organisasi, tetapi ada aspek-aspek yang terdapat didalamnya yang
mewujudkan loyalitas kerja karyawan. Masing-masing aspek
merupakan bagian dari manajemen organisasi yang berkaitan dengan
karyawan maupun organisasi. Aspek-aspek loyalitas kerja yang
terdapat pada individu dikemukakan oleh Siswanto (dalam Soegandhi
dkk. 2013), yang menitik beratkan pada pelaksanaan kerja yang
dilakukan karyawan antara lain. :
- Taat pada peraturan. Setiap kebijakan yang diterapkan dalam
organisasi untuk memperlancar dan mengatur jalannya
pelaksanaan tugas oleh manajemen organisasi ditaati dan
dilaksanakan dengan baik. Keadaan ini akan menimbulkan
kedisiplinan yang menguntungkan organisasi baik intern
maupun ekstern. - Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi. Karakteristik
pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi
yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan untuk
melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap
resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan pengertian
tentang keberanian dan kesadaran bertanggungjawab terhadap
resiko atas apa yang telah dilaksanakan. - Kemauan untuk bekerja sama. Bekerja sama dengan orang-
orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan organisasi
dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-
orang secara invidual. - Rasa memiliki, adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap
organisasi akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut
menjaga dan bertanggung jawab terhadap organisasi sehingga
pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya
tujuan organisasi. - Hubungan antar pribadi, karyawan yang mempunyai loyalitas
kerja tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel ke arah
tata hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini
meliputi : hubungan sosial diantara karyawan, hubungan yang
harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti
dari teman kerja. - Kesukaan terhadap pekerjaan, organisasi harus dapat
menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari datang
untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam hal
melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati
sebagai indikatornya bisa dilihat dari : keunggulan karyawan
dalam bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang
diterimanya diluar gaji pokok
Indikator Loyalitas Karyawan
Menurut Runtu (2014) Loyalitas tidak mungkin dianggap
sebagai sesuatu yang terjadi dengan sendirinya ketika seorang
karyawan bergabung dalam organisasi. Apabila organisasi
menginginkan seorang karyawan yang loyal, organisasi harus
mengupayakan agar karyawan menjadi bagian dari organisasi yang
merupakan tingkatan lebih tinggi. Dengan demikian karyawan tersebut
sungguh merasa bahwa “suka-duka” organisasi adalah “suka-duka”-
nya juga. Oleh karena itu loyalitas mencakup kesediaan untuk tetap
bertahan, memiliki produktivitas yang melampaui standard, memiliki
perilaku altruis, serta adanya hubungan timbal balik di mana loyalitas
karyawan harus diimbangi oleh loyalitas organisasi terhadap karyawan.
Ada 16 indikator yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi
loyalitas karyawan sebagaimana dikemukakan Powers (dalam Runtu,
2014), yaitu:
- Tetap bertahan dalam organisasi.
- Bersedia bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan.
- Menjaga rahasia bisnis perusahaan.
- Mempromosikan organisasinya kepada pelanggan dan
masyarakat umum. - Menaati peraturan tanpa perlu pengawasan yang ketat.
- Mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan
organisasi. - Tidak bergosip, berbohong atau mencuri.
- Membeli dan menggunakan produk perusahaan.
- Ikut berkontribusi dalam kegiatan social organisasi.
- Menawarkan saran-saran untuk perbaikan.
- Mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan aksidental
organisasi. - Mau mengikuti arahan atau instruksi.
- Merawat properti organisasi dan atau tidak memboroskannya.
- Bekerja secara aman.
- Tidak mengakali aturan organisasi termasuk ijin sakit.
- Mau bekerja sama dan membantu rekan kerja.
Pambudi (dalam Tommy dkk., 2010) juga menambahkan
bahwa lima 5 faktor yang menjadi tolok ukur sumber daya manusia
yang mempunyai loyalitas atau komitmen, yaitu: - Karyawan tersebut berada di organisasi tertentu;
- Karyawan tersebut mengenal seluk beluk bisnis
perusahaannya maupun para pelanggannya dengan baik. - Karyawan tersebut turut berperan dalam mempertahankan
hubungan dengan pelanggan yang menguntungkan bagi
perusahaannya; - Karyawan tersebut merupakan aset tak berwujud yang tidak
dapat ditiru oleh para pesaing; - Karyawan tersebut mempromosikan organisasinya, baik dari
sudut produk, layanan, sebagai tempat kerja yang ideal
maupun keunggulan kinerja dan masa depan yang lebih baik
Pengertian Loyalitas Karyawan
Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan
terlepas dari loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian
karyawan tersebut akan selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik.
Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap
pekerjaan yang dilakukan.
Utomo (Tommy dkk., 2010) Loyalitas dapat dikatakan sebagai
kesetiaan seseorang terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa
kesetiaan fisik semata, namun lebih pada kesetiaan non fisik seperti
pikiran dan perhatian. Loyalitas para karyawan dalam suatu organisasi
itu mutlak diperlukan demi kesuksesan organisasi itu sendiri. Menurut
Reichheld, semakin tinggi loyalitas para karyawan di suatu organisasi,
maka semakin mudah bagi organisasi itu untuk mencapai tujuan-tujuan
organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemilik organisasi.
Begitu pula sebaliknya, bagi organisasi yang loyalitas para
karyawannya rendah, maka semakin sulit bagi organisasi tersebut
untuk mencapai tujuan-tujuan organisasinya yang telah ditetapkan
sebelumnya oleh para pemilik organisasi.
Dalam jurnal Maharani dkk., Loyalitas berasal dari kata loyal
yang berarti setia. Loyalitas dalam organisasi dapat diartikan sebagai
kesetiaan seorang karyawan terhadap organisasi. Menurut Sudimin
(2003), loyalitas berarti Kesediaan karyawan dengan seluruh
kemampuan, keterampilan, pikiran, dan waktu untuk ikut serta
mencapai tujuan organisasi dan menyimpan rahasia organisasi serta
tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi selama
orang itu masih berstatus sebagai karyawan.
Sedangkan loyal menurut Siagian (2005), Suatu kecenderungan
karyawan untuk tidak pindah ke perusahaan lain.
Menurut Robbins (2003), Loyalitas adalah keinginan untuk
memproteksi dan menyelamatkan wajah bagi orang lain. Fletcher
merumuskan loyalitas sebagai kesetiaan kepada seseorang dengan
tidak meninggalkan, membelot atau tidak menghianati yang lain pada
waktu diperlukan.
Menurut Hasibuan (2011), Kesetiaan dicerminkan oleh
kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi di dalam
maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak
bertanggung jawab. Menurut Meyer dan Herscovits, loyalitas
merupakan kondisi psikologis yang mengikat karyawan dan
perusahaannya
Dimensi Pro-Environmental Behavior
Kedua konsep pro-environmental behavior yang dikemukakan oleh
(Bissing-Olson et al., 2013) mengacu pada tindakan karyawan yang ramah
lingkungan di tempat kerja. Namun, terdapat konteks yang berbeda pada setiap jenis
perilaku yang mencerminkan perbedaan inti antara keduanya (Bissing-Olson et al.,
2013). Task-related pro-environmental behavior terjadi dalam konteks tugas kerja
inti yang harus dikerjakan karyawan, sedangkan proactive pro-environmental
behavior bergerak di luar keharusan karyawan dan melibatkan pendekatan yang
lebih aktif, berorientasi pada perubahan, dan atas inisiatif sendiri terhadap masalah
lingkungan di tempat kerja (Bissing-Olson et al., 2013).
Konsep proactive pro-environmental menjelaskan sejauh mana karyawan
mengambil inisiatif untuk terlibat dalam perilaku ramah lingkungan yang berangsur
melampaui ranah tugas pekerjaan yang diwajibkan (Bissing-Olson et al., 2013).
Konsep ini mirip dengan konsep “ecopreneurship” yang digambarkan sebagai
suatu jenis perilaku luar biasa yang berasal bukan dari deskripsi pekerjaan
karyawan atau persyaratan manajemen, melainkan keputusan pribadi seseorang
(Pichel, 2003).
Proactive pro-environmental behavior atau inisiatif pribadi, melibatkan
pendekatan yang aktif dan dengan pendekatan self-starting untuk pekerjaannya
yang tidak diwajibkan secara formal, tindakan tersebut termasuk membuat saran
dan perubahan yang konstruktif, serta untuk mengatasi hambatan yang ada dengan
menangani kemungkinan terjadinya hambatan dan kemunduran (Frese et al., 1996;
Frese & Fay, 2001)
Peran GHRM
Fenomena lingkungan yang terjadi saat ini sangat memprihatinkan, oleh
karena itu peran penghijauan melalui praktik GHRM dalam perusahaan sangat
penting dan bermanfaat bagi manusia, lingkungan hidup serta organisasi dalam hal
sebagai berikut (Opatha & Arulrajah, 2014):
- Untuk menghindari dan/atau mengurangi terjadinya pemanasan global.
- Untuk menghindari dan/atau mengurangi fenomena bencana alam, seperti
banjir, tsunami, hujan asam, badai, kekeringan, longsor, dll. Yang
disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya alam berlebihan, berbahaya dan
tidak bertanggung jawab demi kegiatan konsumsi dan produksi semata. - Untuk menghindari dan/atau mengurangi masalah kesehatan yang
disebabkan oleh polusi. - Untuk menghindari dan/atau mengurangi kegiatan yang membahayakan
hewan dan makhluk hidup lain. - Untuk menjamin keseimbangan lingkungan antara manusia, hewan,
tanaman dan lingkungan hidup sekitar. - Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia dan organisasi bisnis dalam
waktu yang berkepanjangan
