Faktor-faktor yang mempengaruhi work engagement menurut Bakker dan
Demerouti (dalam Hayuningtyas & Helmi, 2015) adalah sebagai berikut :
a. Job demands
Job demands adalah seluruh aspek yang berhubungan dengan kondisi fisik,
kondisi psikologis atau mental pribadi manusia, kondisi sosial atau hubungan
antara pribadi manusia, dan kondisi organisasional atau keadaan pribadi
didalam kelompok yang membutuhkan usaha/output/biaya yang harus
dikeluarkan oleh seseorang.
Job demands terdiri dari aspek fisik (waktu kerja yang terlampau panjang,
kelelahan secara fisik, tata letak lingkungan kerja yang tidak nyaman), aspek
psikologis (tekanan deadline dari pekerjaan, kesulitan dalam menyelesaikan
pekerjaan), aspek sosial (hubungan emosional yang negatif dengan kilen,
hubungan yang tidak baik dengan rekan kerja, hubungan yang tidak baik
dengan atasan), dan aspek organisasional (perasaan tidak aman terkait dengan
masa depan pekerjaan, peran yang ambigu dalam pekerjaan).
b. Job resource
Job resource yaitu aspek-aspek dari pekerjaan yang berfungsi dalam
pencapaian tujuan pekerjaan dan dapat mengurangi efek dari job demands,
dimana kondisi ini akan menstimulasi pertumbuhan, belajar, dan
perkembangan karyawan.
Job resources terdiri dari tiga dimensi, antara lain level organisasi
(kesesuaian gaji yang didapatkan dengan tugas yang dibebankan, adanya
kesempatan pengembangan karir dalam organisasi, ketersediaan informasi
yang ada didalam organisasi), level interpersonal (komunikasi yang baik
diantara sesama rekan kerja, dukungan dari atasan, iklim kelompok yang
positif), level tugas (keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, kejelasan
peran didalam kelompok, dan jenis pekerjaan yang variatif).
c. Personal resources
Personal resource diartikan sebagai evaluasi diri positif yang terkait
dengan ketahanan mental individu terhadap kemampuan dirinya untuk
mengontrol dan mempengaruhi lingkungannya.
Personal resources terdiri dari tiga dimensi, antara lain self efficacy
(keyakinan karyawan pada kemampuannya untuk melakukan perencanaan dan
pengaturan diri dalam menyelesaikan pekerjaan, keyakinan karyawan pada
kemampuannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang memiliki derajat
kesulitan yang bervariasi, keyakinan karyawan pada kemampuannya untuk
menjadikan pengalaman sebelumnya sebagai kekuatan dalam menyelesaikan
pekerjaannya, serta keyakinan karyawan pada kemampuannya terhadap
pekerjaannya merupakan keahlian yang dapat diandalkan untuk sukses), self
esteem (karyawan merasa dihargai menjalankan pekerjaannya, karyawan
merasa puas akan hasil kerjanya, karyawan tidak mencela pekerjaan rekan
sekerja, karyawan berani mengambil resiko demi kemajuan), optimisme
(memandang permasalahan besar atau kecil dapat terselesaikan dengan baik,
merasa yakin dapat mengendalikan masa depan karirnya bahwa dirinya
mampu menguasai keadaan, menghentikan pemikiran negatif dan banyak hal
segi positif dan berpikir logis, serta meningkatkan kekuatan apresiatif seperti
menikmati apa yang terjadi di dunia).
Faktor- faktor yang mempengaruhi work engagement menurut Lockwood
dalam (dalam Putri, 2020), diantaranya sebagai berikut :
a. Faktor internal
Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi tingkat engagement
karyawan, diantaranya adalah latar belakang kehidupan karyawan (biografis),
karakteristik kepribadian, kepercayaan karyawan terhadap perusahaan,
perasaan bangga terhadap perusahaan, dan persepsi karyawan bahwa
pekerjaan yang dilakukan merupakan hal yang penting, memiliki tujuan, serta
memiliki makna bagi dirinya.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi work engagement yaitu budaya
organisasi, gaya kepemimpinan, perhatian senior manajer terhadap keberadaan
karyawan, reputasi perusahaan, kompensasi, kesempatan untuk
mengembangkan karir karyawan, terbukanya kesempatan bagi karyawan
untuk memberikan pendapat, hak karyawan untuk mengambil keputusan,
kualitas komunikasi antar anggota organisasi, tim kerja yang kompak dan
saling mendukung, jelasnya jenis pekerjaan yang dilakukan, adanya sumber
daya yang dibutuhkan karyawan untuk mendukung performansi, dan
penyampaian nilai serta tujuan organisasi kepada karyawan.
Menurut Vazirani (dalam Fahira, 2021) faktor yang membuat karyawan
merasa terikat, yaitu :
a. Career development, organisasi dengan tingkat keterlibatan yang tinggi
memberi karyawan kesempatan untuk mengembangkan kemampua mereka,
mempelajari kemampuan baru, memperoleh pengetahuan baru, dan menyadari
potensi mereka.
b. Leadership, setiap karyawan memerlukan nilai yang jelas dari organisasi
seperti didengarnya pendapat mereka terutama oleh pemimpin.
c. Empowerment, karyawan ingin terlibat dalam pengambilan keputusan yang
mempengaruhi pekerjaan mereka.
d. Image, Ketika organisasi memiliki kualitas produk dan pelayanan yang baik,
tingkat keterikatan karyawan cenderung lebih tinggi.
e. Equal opportunities and fair treatment, tingkat keterikatan karyawan akan
tinggi jika pemimpin memberikan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan
maju kepada seluruh karyawannya.
f. Performane appraisal, penilaian kinerja yang adil merupakan kriteria penting
untuk meningkatkan keterikatan karyawan.
g. Pay and benefits, perusahaan harus memiliki sistem kompensasi yang tepat
agar karyawan termotivasi untuk bekerja di organisasi.
h. Healthy and safety, tingkat keterikatan akan meningkat apabila karyawan
merasa aman Ketika bekerja.
i. Job satisfication, tidak ada karyawan terikat apabila ia tidak merasa puas
dengan pekerjaannya.
j. Communication, komunikasi terbuka dua arah dapat meningkatkan keterikatan
pada karyawan.
k. Family friendliness, kehidupan keluarga seseorang mempengaruhi kehidupan
kerjanya. Ketika seorang karyawan menyadari bahwa organisasi juga
mempertimbangkan keuntungan keluarganya, dia memiliki keterikatan
emosional dengan organisasi.
l. Co-operation, jika seluruh karyawan bekerja sama saling membantu satu sama
lain dengan baik maka karyawan akan terikat