Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herzberg (1996). Terdapat dua faktor yang
menyebabkan kepuasan dan ketidakpuasan anggota organisasi, yaitu faktor
pemeliharaan (maintenance factors) dan faktor motivasi (motivational factors)
(Herzberg, dalam Widyastuti, 2014). Nama lain faktor pemeliharaan adalah
dissatisfiers, hygiene factors, job context, dan extrinsic factors, sedangkan factor
motivasi merupakan kelompok satisfiers, motivator, job content, dan instrinsic
factors. Dissatifiers adalah faktor-faktor atau situasi yang dibutuhkan sebagai sumber
ketidakpuasan. Beberapa macam faktor pemeliharaan atau hygiene factors /
dissatifiers sebagai berikut (Herzberg, dalam Widyastuti, 2014):
a. Kebijakan dan administrasi organisasi yang adil
b. Perhatian yang diberikan oleh atasan kepada anggota organisasinya
dalam bentuk bimbingan atau bantuan teknis.
c. Hubungan interpersonal dengan rekan kerja
d. Hubungan interpersonal dengan atasan, sifat atasan juga
mempengaruhi kepuasan kerja anggota organisasinya. Jika atasan
bersifat ramah maka kemngkinan akan menimbulkan rasa
kepuasan kerja pada anggota organisasinya.
e. Gaji / upah adalah imbalan yang sesuai dengan kerja anggota
organisasi.
f. Keamanan kerja (security) adalah rasa aman yang dirasakan
anggota organisasi terhadap lingkungan kerja, suasana kerja yang
aman akan timbul kepuasan kerja.
g. Kondisi kerja (working conditions), lingkungan kerja yang baik
akan memudahkan anggota organisasi untuk mengerjakan tugas
dengan baik.
Jika faktor-faktor ini dirasakan kurang atau tidak diberikan, maka
anggota organisasi akan merasa tidak puas (dissatisfied). Faktor-faktor ini
disebut hygiene karena faktor-faktor tersebut menggambarkan lingkungan
anggota organisasi dan melayani fungsi utama dari pencegahan ketidakpuasan
kerja. Seorang anggota organisasi tidak akan mengalami perasaan tidak puas
dengan pekerjaannya apabila ia tidak memiliki keluhan-keluhan tentang
faktor-faktor hygiene tersebut (Winardi, dalam Widyastuti, 2014).
Faktor-faktor hygiene disebut juga maintenance, karena tidak pernah
memuaskan secara lengkap, beberapa faktor tersebut harus berlanjut dan terus
ada agar anggota organisasi tidak merasa tidak puas. Faktor hygiene tidak
menghasilkan pertumbuhan dalam kapasitas output anggota organisasi. Faktor
tersebut hanya mencegah menurunnya kinerja anggota organisasi sehubungan
dengan beberapa batasan kerja (Hersey, dalam Widyastuti, 2014).
Ketika anggota organisasi merasakan adanya hygiene factor yang
memadai atas pekerjaannya, maka ia tidak akan merasakan ketidakpuasan
kerja. Apabila hygiene factor dirasakan kurang, maka akan menimbulkan
ketidakpuasan kerja, dan derajat ketidakpuasan kerja tersebut bergantung pada
seberapa banyak hygiene factor tersebut dirasakan (Vandeveer & Menefee,
dalam Widyastuti, 2014).
Satisfiers adalah faktor-faktor yang menjadi sumber dari kepuasan
kerja. Macam macam faktor motivasi sebagai berikut:
a. Prestasi (achievement), yaitu keberhasilan menyelesaikan tugas
yang dibebankan kepada seseorang.
b. Penghargaan (recognition), yaitu besar kecilnya pengakuan yang
diberikan kepada keryawan atas hasil kerjanya.
c. Kenaikan pangkat (advancement), yaitu besar kecilnya
kemungkinan anggota organisasi mendapatkan kenaikan
pangkat/kemajuan dalam pekerjaan.
d. Tantangan pekerjaan bias menjadi sumber ketidakpuasan jika
anggota organisasi tidak bisa menelesaikan tantangan tersebut.
e. Tanggung jawab (responsibility) yaitu besar kecilnya tanggung
jawab yang dirasakan seseorang anggota organisasi
