Iklim organisasi secara objektif eksis, terjadi di setiap organisasi, dan
memengaruhi perilaku anggota organisasi, tetapi hanya dapat diukur secara tidak
langsung melalui persepsi anggota organisasi. Ini berarti bahwa peneliti yang
menginginkan informasi mengenai iklim suatu organisasi perlu menjaringnya,
misal menggunakan kuesioner, wawancara observasi dari anggota organisasi.
Aspek dan indikator iklim organisasi harus dikembangkan untuk
mengembangkan kuesioner guna mengukur iklim organisasi.Aspek iklim
organisasi adalah unsur, faktor, sifat, atau karakteristik variabel iklim
organisasi.Aspek iklim organisasi terdiri atas beragam jenis dan berbeda pada
setiap organisasi. Studi yang dilakukan oleh pakar iklim organisasi menunjukkan
paling tidak 460 jenis lingkungan kerja dengan iklim organisasinya sendiri-
sendiri (Rob Altman, 2000)
Aspek iklim organisasi menurut Wirawan (2007) menyebutkan terdapat tujuh
aspek, yakni:
a. Lingkungan fisik.
Lingkungan fisik adalah lingkungan yang berhubungan dengan tempat,
peralatan danproses kerja. Persepsi karyawan mengenai tempat
kerjanyamenciptakan persepsi karyawan mengenai iklim organisasi.
b. Keadaan lingkungan sosial.
Lingkungan sosial adalah interaksi antara anggota organisasi.Hubungan
tersebut dapat bersifat hubungan formal, informal, kekeluargaan, atau
profesional.Semua bentuk hubungan tersebut menentukan iklim organisasi.
c. Pelaksanaan sistem manajemen.
Sistem manajemen adalah pola proses pelaksanaan manajemen organisasi.
Indikator faktor manajemen yang memengaruhi iklim kerja jumlahnya sangat
banyak, misalnya, karakteristik organisasi (lembaga pendidikan, rumah sakit,
militer, dan sebagainya) yang berbeda menibulkan iklim organisasi yang
berbeda.
d. Produk.
Produk adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi.Produk suatu
organisasi sangat menentukan iklim organisasi.
e. Konsumen yang dilayani.
Konsumen yang dilayani dan untuk siapa produk ditujukan, memengaruhi
iklim organisasi.
f. Kondisi fisik dan kejiwaan anggota organisasi.
Persepsi mengenai kondisi fisik dan kejiwaan anggota organisasi sangat
memengaruhi iklim organisasi.Termasuk dalam kondisi fisik adalah
kesehatan, kebugaran, keenergikan, dan ketangkasan.Kondisi kejiwaan
misalnya adalah komitmen, moral, kebersamaan, dan keseriusan anggota
organisasi.
g. Budaya organisasi.
Baik budaya organisasi maupun iklim organisasi memengaruhi perilaku
anggota organisasi anggota organisasi yang kemudian memengaruhi perilaku
mereka. Misalnya jika kode etik dilaksanakan dengan sistematis, maka akan
memengaruhi persepsi karyawan mengenai lingkungan sosialnya, lalu
terjadilah iklim etis dalam lingkungan organisasi. Demikian juga, dalam
budaya organisasi terdapat norma tertulis, tetapi banyak dilanggar oleh
anggota organisasi dan tanpa sanksi, sehingga menimbulkan iklim organisasi
negatif.
Iklim organisasi merupakan tingkat persepsi atau cara pandang karyawan
terhadap situasi dan kondisi di organisasinya baik secara langsung atau tidak
langsung. Wirawan (2007) mengatakan bahwa iklim organisasi secara objektif
terjadi di setiap organisasi dan mempengaruhi perilaku anggota
organisasi.Perilaku anggota dalam suatu organisasi atau perusahaan dapat
dicerminkan melalui rasa empati dan membantu rekan kerja. Ketika karyawan
merasa senang, aman, dan nyaman, dan penuh makna ketika berada di
lingkungan organisasi tersebut menandakan adanya iklim organisasi yang positif
dalam organisasi tersebut.Bilamana iklim bermanfaat bagi kebutuhan individu,
maka dapat diharapkan tingkat perilaku ke arah tujuan yang tinggi. Sebaliknya,
bilamana iklim yang timbul bertentangan dengan tujuan, kebutuhan, dan motivasi
pribadi, dapat diharapkan bahwa prestasi maupun kepuasan akan berkurang.
Terdapat bukti-bukti kuat yang mengemukakan bahwa organisasi
merupakan suatu kondisi awal yang utama dapat memicu terjadi Organizational
Citizenship Behavior. Sloat (1999) menambahkan bahwa karyawan cenderung
melakukan tindakan yang melampaui tanggung jawab mereka apabila mereka
merasa puas dengan pekerjaannya, menerima perlakuan yang sportif dan penuh
perhatian dari para pengawas percaya bahwa mereka diperlakukan adil oleh
organisasi. Iklim organisasi dan budaya organisasi dapat menjadi penyebab kuat
atas berkembangnya Organizational Citizenship Behavior (OCB) dalam suatu
organisasi. Dalam iklim yang positif, karyawan merasa lebih ingin melakukan
pekerjaannya melebihi apa yang telah di syaratkan dalam uraian pekerjaan, dan
akan selalu mendukung organisasi jika mereka diperlakukan oleh para atasan
dengan sportif dan dengan penuh kesadaran serta percaya bahwa mereka
diperlakukan secara adil oleh organisasinya.Sehingga dari uraian tersebut
menjelaskan bahwa adanya hubungan antara Organizational Citizenship
Behavior (OCB) dengan Iklim Organisasi
