Strategi Bauran Pemasaran

  1. Strategi Produk, menetapkan cara dan penyediaan produk yang tepat bagi
    pasar yang dituju, sehingga dapat memuaskan para konsumenya dan
    sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka
    panjang, melalui peningkatan penjualan dan peningkatan share pasar
    (Sofhan Assauri, 2018)
  2. Strategi Harga, penetapan harga mempengaruhi kemampuan bersaing
    perusahaan dan kemampuan perusahaan mempengaruhi konsumen
    (Sofhan Assauri, 2018)
  3. Strategi Tempat dan Distribusi, distribusi merupakan cara perusahaan
    menyalurkan produknya mulai dari perusahaan sampai ketangan
    konsumen akhir. Strategi distribusi penting dalam upaya perusahaan
    melayani konsumen tepat waktu dan tepat sasaran (Hartini, 2016)
  4. Strategi Promosi, setiap perusahaan berusaha mempromosikan produk dan
    jasa yang dimilikinya baik langsung maupun tidak langsung. Tanpa
    promosi pelanggan tidak dapat mengenal produk atau jasa yang
    ditawarkan. Promosi merupakan sarana yang paling ampuh untuk
    mempertahankan konsumen dan berusaha menarik calon pelanggan baru
    (Hartini, 2016)

Bauran Pemasaran


Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat tetap hidup, berkembang dan
mampu bersaing. Dalam rangka inilah maka perusahaan/ rumah sakit selalu
menetapkan dan menerapkan strategi dan cara pelaksanaan kegiatan pemasaranya.
Kebijakan pemasaran tentunya sejalan dengan konsep pemasaran, yang
menekankan pemberian pelayanan yang memuasakan kepada konsumen, melalui
kegiatan dan strategi pemasaran yang terpadu dan memungkinkan diperolehnya
keuntungan/laba dalam jangka panjang. Salah satu unsur dalam strategi
pemasaran terpadu adalah strategi acuan/ bauran pemasaran, yang merupakan
strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana
perusahaan menyajikan penawaran produk pada segmen pasar tertentu yang
merupakan sasaran pasarnya (Sofhan Assauri, 2018)
Marketing mix merupakan kombinasi variable atau kegiatan yang merupakan
inti dari system pemasaran, variable yang dapat dikendalikan oleh perusahaan
untuk mempengaruhi reaksi para pembeli dan konsumen (Sofhan Assauri, 2018).
Dalam literature review ini marketing mix jasa yang digunakan adalah product,
price, promotion, place, personal traits, process dan physical evidence. Hal ini
disebabkan karena keberhasilan penyelenggaraan kesehatan tidak bisa lepas dari
proses penyelenggaraan kesehatan tersebut dan merupakan bagaimana jasa dan
layanan diberikan. Demikian penjelasan dari beberapa komponen bauran
pemasaran
Bauran Pemasaran (Marketing Mix) terdapat 4 (empat) bauran yaitu product,
price, promotion, dan place (4P) (Malau, 2017)

  1. Product (Produk adalah “segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar
    unutk perhatian, akuisi, penggunaan dan konsumsi yang dapat memuaskan
    keingginan atau kebutuhan”.
  2. Price (Harga) ini mengacu pada jumlah uang yang harus dibayar oleh
    pembeli agar mendapat produk yang kita jual. Hal ini merupakan proses
    menetapkan nilai produk dalam bentuk harga moneter.
  3. Promotion (Promosi) adalah aspek informasi produk kepada konsumen.
    Ini termasuk periklanan, promosi penjualan, publisitas, hubungan
    masyarakat, sponsorship, yang mengacu pada berbagai metode untuk
    mempromosikan produk, merek, atau perusahaan.
  4. Place (Distribusi) mengacu pada penyuluran produk agar sampai ke
    pelanggan. Misalnya, orang yang menjual langasung kepada pembeli atau
    ritel. Penyalur ini kadang-kadang disebut juga tempat jualan, mengacu
    pada saluran dimana suatu produk atau jasa dapat diperoleh oleh
    konsumen.

Fungsi-Fungsi Pemasaran

  1. Fungsi pertukaran , dengan pemasaran, pembeli dapat membeli produk dari
    produsen, baik dengan menukar uang dengan produk maupun menukar produk
    dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali.
  2. Fungsi distribusi fisik, distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan
    mengangkut serta menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen
    mendekati konsumen yang membutuhkan dengan banyak cara, baik melalui
    air, darat, udara dan sebagainya. Penyimpanan produk mengedepankan upaya
    menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan
  3. Fungsi perantara, untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ketangan
    konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang menghubungkan
    aktivitas pertukaran dengan distribusi fisik. Aktivitas fungsi perantara antara
    lain: penguarangan resiko, pembiyaaan, pencarian informasi serta standarisasi
    penggolongan (klasifikasi produk).
    Konsep inti pemasaran mencakup kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi,
    utilitas, nilai dan kepuasan, pertukaran, transaksi. Dan hubungan pasar, pemasaran
    dan pasar. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan merupakan konsep yang
    berbeda. Kebutuhan adalah suatu keadaaan dirasakannya ketiadaan kepuasaan
    tertentu, sedangkan keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuasan yang
    spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sementara
    permintaan adalah keinginan akan produk spesifik yang didukung oleh
    kemampuan dan kesediaan untuk membelinya (Sudaryono, 2016)

Pengertian Pemasaran


Masalah yang masih sering dihadapi rumah sakit adalah rumah sakit masih
belum memberikan pelayanan yang sesuai dengan keinginan pasien, dan pasien
belum maksimal merasa puas atas pelayanan yang didapat. Pemasaran merupakan
strategi yang baik agar kualitas jasa yang ditawarkan dapat dilihat, didengar, dan
dibeli oleh pasien. Pemasaran mengungkapkan secara jelas makna dan
signifikansi pemasaran. Pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan
pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, penentuan proses produk, promosi dan
tempat atau distribusi, sekaligus merupakan proses social dan manajerial untuk
mencapai tujuan (Manap, 2016). Pemasaran (marketing) bersangkut paut dengan
kebutuhan hidup sehari-hari kebanyakan orang. Melalui proses tersebut, produk
atau jasa diciptakan,dikembangkan, dan didistribusikan ke masyarakat.
Kebanyakan orang menganggap bahwa pemasaran sama dengan penjualan dan
promosi, padahal tidak demikian. Pada hakikatkanya pemasaran adalah kegiatan
manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui
pertukaran. Konsep penting dalam studi pemasaran adalah kebutuhan, keinginan,
permintaan, produk, pertukaran, transaksi dan pasar (Sudaryono, 2016).

Pengaruh Prosedur Kredit Terhadap Kepuasan Nasabah


Prosedur Kredit adalah suatu tahapan-tahapan yang harus dipenuhi oleh
nasabah dalam penyaluran kredit. Prosedur mempunyai pengaruh terhadap
Keputusan Pengambilan Kredit, pada umumnya nasabah menilai baik untuk
prosedur pengambilan kredit bila prosedur yang ada cukup sederhana (tidak
berbelit-belit/ tidak rumit), dan penanganan atas pengajuan kredit mudah dan
cepat. Kepuasan nasabah terhadap prosedur yang ada akan mendorong keputusan
nasabah untuk mengambil kembali kredit pada bank tersebut.

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Nasabah


Kualitas layanan dari suatu perusahaan jasa adalah merupakan suatu hal
yang bisa dikatakan komplek, tersusun dari banyak dimensi unik yang didasarkan
pada pengalaman yang berbeda dari nasabah pada saat mengalami penerimaan
proses layanan. Dalam prinsip perbankan Bauman (2006) menyatakan bahwa sifat
multi dimensi layanan dapat diartikan sebagai dimensi kualitas layanan menurut
pemakai jasa bank dan menurut penyandang dana yang membiayai layanan
tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Parasuraman, Ziethmal dan Berry (1988),
mengidentifikasikan bahwa terdapat sepuluh dimensi pokok kualitas layanan,
yaitu bukti fisik, reliabilitas, respon, kompetensi, kesopanan, kredibilitas,
keamanan, akses, komunikasi dan pemahaman terhadap nasabah. Penelitian
lanjutan Parasuraman, Ziethmal dan Berry (1988), mengelompokkan dimensi
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi dan kesopanan disatukan ke
dalam dimensi kepercayaan, sedangkan dimensi akses dan pemahaman nasabah
disatukan ke dalam dimensi kepedulian. Dengan adanya penggabungan ini, maka
untuk selanjutnya terdapat lima dimensi kualitas yang umum digunakan dalam
mengukur kualitas layanan. Kelima dimensi tersebut adalah :
 Tampilan (tangible), yaitu tampilan fisik tempat pemberian layanan,
perlengkapan kerja, sarana komunikasi dan penampilan dari pekerja.
 Kemampuan (reliability), yaitu kemampuan untuk dapat memberikan
layanan sesuai yang dijanjikan dengan cepat dan tepat.
 Kemauan (responsive), yaitu kemauan pekerja untuk selalu tanggap dalam
membantu nasabah dalam pemberian layanan.
 Kepercayaan (assurance), yaitu kepercayaan atau kepastian atas
pengetahuan dan kesopanan pekerja dan kepercayaan diri dari pekerja
tersebut.
 Kepedulian (emphaty), yaitu perhatian pekerja kepada pribadi nasabah
serta berusaha untuk dapat mengerti kebutuhan dari nasabah.
Pemberian layanan yang baik dapat diartikan akan memberikan kepuasan
pada nasabah, seperti diungkapkan oleh LeBlanc dan Nguyen (1988); Gounaris et
al., (2003), bahwa dalam suatu institusi keuangan, persepsi kualitas layanan
merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kepuasan nasabah. Dengan
demikian semakin baik kualitas dari layanan maka akan semakin memberi
kepuasan kepada nasabah Kang (2006); Olorunniwo (2006).

Perhitungan bunga Kredit


Perhitungan bunga kredit yang dibebankan bank terhadap nasabahnya
mengikuti beberapa cara, secara umum ada 2 metode perhitungan bunga yaitu
efektif dan flat. Namun dalam prakter sehari-hari ada modifikasi dari metode
efektif yang disebut dengan metode anuitas. Untuk memudahkan pemahaman
konsep metode perhitungan bunga diatas dapat diilustrasikan sebagai berikut :
a. Metode Flat (Flat rate)
Dalam metode ini perhitungan bunga selalu menghasilkan nilai bunga
yang sama setiap bulannya, karena bunga dihitung dari prosentase bunga
dikalikan pokok pinjaman awal.
b. Metode Efektif
Metode ini menghitung bunga yang harus dibayar setiap bulannya sesuai
dengan prosentase bunga dikalikan saldo pokok pinjaman bulan
sebelumnya.
c. Metode Anuitas
Merupakan modifikasi dari metode efektif dimana perhitungan bunga yang
harus dibayar adalah sebesar prosentase bunga dikalikan saldo pokok
bulan sebelumnya, namun besarnya angsuran setiap bulannya adalah sama

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suku Bunga


Agar keuntungan yang diperoleh dapat maksimal, maka pihak manajemen
bank harus pandai dalam menentukan besar kecilnya komponen suku bunga.
Menurut Kasmir (2008:137-140), faktor-faktor utama yang mempengaruhi besar
kecilnya penetapan suku bunga adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Dana
    Faktor kebutuhan dana dikhususkan untuk dana simpanan, yaitu seberapa
    besar kebutuhan dana yang diinginkan. Apabila bank kekurangan dana,
    sementara permohonan pinjaman meningkat, yang dilakukan oleh bank agar
    dana tersebut cepat terpenuhi adalah dengan meningkatkan suku bunga
    simpanan. Namun, peningkatan suku bunga simpanan akan pula
    meningkatkan suku bunga pinjaman. Sebaliknya, apabila dana yang ada dalam
    simpanan di bank banyak, sementara permohonan pinjaman sedikit, maka
    bunga simpanan akan turun karena hal ini merupakan beban.
  2. Target Laba yang diinginkan
    Faktor ini dikhususkan untuk bunga pinjaman. Hal ini disebabkan target laba
    merupakan salah satu komponen dalam menentukan besar kecilnya suku
    bunga pinjaman.
  3. Kualitas Jaminan
    Kualitas jaminan juga diperuntukkan untuk bunga pinjaman. Semakin likuid
    jaminan (mudah dicairkan) yang diberikan, semakin rendah bunga kredit yang
    dibebankan dan sebaliknya.
  4. Kebijaksanaan Pemerintah
    Dalam menentukan baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman bank
    tidak boleh melebihi batasan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
  5. Jangka Waktu
    Faktor jangka waktu sangat menentukan. Semakin panjang jangka waktu
    pinjaman, akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya
    kemungkinan resiko macet di masa mendatang. Demikian pula sebaliknya,
    jika pinjaman berjangka pendek, bunganya relatif rendah.
  6. Reputasi Perusahaan
    Reputasi perusahaan juga sangat menentukan suku bunga terutama untuk
    bunga pinjaman. Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit
    sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya,
    karena biasanya perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet di
    masa mendatang relatif kecil.
  7. Produk yang Kompetitif
    Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika
    dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan
    produk yang kompetitif tingkat perputaran produknya tinggi sehingga
    pembayarannya diharapkan lancar.
  8. Hubungan Baik
    Biasanya bunga pinjaman dikaitkan dengan faktor kepercayaan kepada
    seseorang atau lembaga. Dalam praktiknya, bank menggolongkan nasabah
    antara nasabah prima dan nasabah biasa. Penggolongan ini didasarkan kepada
    keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan kepada bank. Nasabah
    yang memiliki hubungan baik dengan bank tentu penentuan suku bunganya
    pun berbeda dengan nasabah biasa.
  9. Persaingan
    Dalam kondisi tidak stabil dan bank kekurangan dana, sementara tingkat
    persaingan dalam memperebutkan dana simpanan cukup ketat, maka bank
    harus bersaing keras dengan bank lainnya. Untuk bunga pinjaman, harus
    berada di bawah bunga pesaing agar dana yang menumpuk dapat tersalurkan,
    meskipun margin laba mengecil.
  10. Jaminan Pihak Ketiga
    Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada bank untuk
    menanggung segala risiko yang dibebankan kepada penerima kredit. Biasanya
    apabila pihak yang memberikan jaminan bonafide, baik dari segi kemampuan
    membayar, nama baik, maupun loyalitasnya terhadap bank, bunga yang
    dibebankan pun juga berbeda. Begitu pun sebaliknya

Prosedur Kredit


Pengertian Prosedur Kredit adalah tahapan yang dilakukan bank dalam
rangka melayani permintaan nasabah dalam pengambilan kredit. Sebelum debitur
memperoleh kredit terlebih dahulu harus melalui tahapan-tahapan penilaian mulai
dari pengajuan proposal kredit dan dokumen-dokumen yang diperlukan,
pemeriksaan keaslian dokumen, analisis kredit sampai dengan kredit dikeluarkan
oleh pihak bank. Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2006) Prosedur Kredit adalah
suatu tahapan-tahapan yang harus dipenuhi oleh nasabah dalam penyaluran kredit.
Prosedur Kredit dapat diartikan sebagai upaya bank dalam mengurangi resiko
dalam pemberian kredit, yang dimulai dengan tahapan penyusunan perencanaan
pengkreditan, dilanjutkan dengan proses pemberian keputusan kredit (prakarsa,
analisis dan evaluasi, negosiasi, rekomendasi dan pemberian keputusan kredit),
penyusunan pemberian kredit, dokumentasi dan administrasi kredit, persetujuan
pencairan kredit serta pengawasan dan pembinaan kredit (Mudrajad Kuncoro,
2002 : 245).

Empathy (Empati)


Menurut Cronin dan Taylor (1992) empati atau kepedulian yaitu
memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang
diberikan kepada para nasabah berupa memahami keinginan nasabah, indikator
dari empati meliputi:
1) Memberi perhatian secara pribadi.
2) Karyawan yang memperlakukan semua konsumen secara personal.
3) Selalu memperhatikan kepentingan kliennya.
4) Karyawan yang memahami kebutuhan khusus para konsumen

Assurance (Jaminan)


Jaminan didefenisikan sebagai pengetahuan, kesopansantunan, dan
kemampuan para pegawai bank untuk menumbuhkan rasa percaya para nasabah
kepada bank. Pengetahuan dan adab pekerja serta kemampuan mereka
menghadirkan rasa bisa dipercaya dan percaya diri, yang meliputi :
1) Perilaku karyawan yang menumbuhkan kepercayaan pada konsumen.
2) Perasaan aman dan terjamin dalam melakukan transaksi.
3) Karyawan yang selalu bersikap sopan dan ramah.
4) Karyawan yang mampu menjawab pertanyaan konsumen mengenai
produk yang ditawarkan.

Reliability (Reliabilitas)


Reliabilitas didefenisikan sebagai kemampuan untuk menampilkan
layanan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Hal ini berarti jasa harus
dilaksanakan dengan konsisten dan cermat. Indikator dari reliabilitas meliputi :
1) Menepati janji yang telah disepakati.
2) Menunjukkan perhatian tulus untuk penyelesaian masalah-masalah.
3) Baik dan ramah setiap kita melakukan transaksi.
4) Menampilkan layanan sesuai dengan yang dijanjikan.
5) Berusaha untuk tidak melakukan kesalahan

Tangibles (Tampilan fisik)


Menurut Cronin dan Taylor (1992), Tangibles merupakan hal-hal yang
berwujud pada sebuah jasa harus dengan tepat memproyeksikan kualitas jasa yang
akan diberikan. Atau dapat didefenisikan sebagai fasilitas, perlengkapan dan
penampilan secara fisik yang diantaranya meliputi:
1) Kondisi Gedung,
2) Peralatan modern yang mendukung,
3) Penampilan petugas atau pelayan,
4) Kerapihan dan kebersihan para petugas

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan mencakup berbagai faktor. Menurut Albrecht dan
Zemke (dalam Dwiyanto, 2005 :145) bahwa kualitas pelayanan publik merupakan
hasil interaksi dari berbagai aspek, yaitu sistem pelayanan, sumber daya manusia
pemberian pelayanan, strategi, dan pelanggan (customers). Ivancevich, Lorenzi,
Skinner dan Crosby (dalam Ratminto dan Atik, 2005:2) berpendapat bahwa
pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang
melibatkan usaha-usaha manusia dan menggunakan peralatan. Senada dengan
pendapat itu, Gronroos (dalam Ratminto dan Atik, 2005 :2) berpendapat :
Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak
kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara
konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan
pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan Permasalahan
konsumen/pelanggan. Kotler (1997) mendefinisikan kualitas sebagai keseluruhan
ciri serta sifat dari suatu produk atau pelayanan yang berpengaruh pada
kemampuan memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat.
Tuntutan pelanggan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik
(service excellence) tidak dapat dihindari oleh penyelenggara pelayanan jasa.
Tuntutan para penerima layanan untuk memperoleh pelayanan yang lebih baik
harus disikapi sebagai upaya untuk memberikan kepuasan kepada penerima
layanan. Kepuasan penerima layanan sangat berkaitan dengan kualitas pelayanan
yang diberikan, seperti yang diungkapkan Tjiptono (1996:56), bahwa kualitas
memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan. Kotler (dalam
Tjiptono, 1996:147) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dia rasakan
dibanding dengan harapannya. Setiap pelanggan atau penerima layanan tentu
menghendaki kepuasan dalam menerima suatu layanan. Menurut Ratminto dan
Atik (2005:28) : Ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh
tingkat kepuasan penerima layanan.
Kepuasan penerima layanan dicapai apabila penerima layanan
memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Menurut
Barata (2006 : 23) “Pelayanan adalah daya tarik yang besar bagi para pelanggan,
sehingga korporat bisnis seringkali menggunakannya sebagai alat promosi untuk
menarik minat pelanggan“. Dengan demikian kebutuhan para penerima layanan
harus dipenuhi oleh pihak penyelenggara pelayanan agar para penerima layanan
tersebut memperoleh kepuasan. Untuk itulah diperlukan suatu pemahaman tentang
konsepsi kualitas pelayanan. Menurut Wyckof (dalam Tjiptono, 1996:59) :
Kualitas pelayanan diartikan sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
Kualitas pelayanan bukanlah dilihat dari sudut pandang pihak
penyelenggara atau penyedia layanan, melainkan berdasarkan persepsi masyarakat
(pelanggan) penerima layanan. Pelangganlah yang mengkonsumsi dan merasakan
pelayanan yang diberikan, sehingga merekalah yang seharusnya menilai dan
menentukan kualitas pelayanan. Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan
itu sesuai dengan apa yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan
baik dan memuaskan. Jika pelayanan yang diterima melampaui harapan
pelanggan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal.
Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan, maka
kualitas pelayanan dipersepsikan buruk

Kepuasan Nasabah


Pengertian secara umum mengenai kepuasan atau ketidakpuasan nasabah
/konsumen merupakan hasil dari adanya perbedaan-perbedaan antara harapan
konsumen dengan kinerja yang dirasakan oleh konsumen tersebut. Menurut Philip
Kotter & Kevin Keller Kepuasan Nasabah/Pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk
yang dipikirkan (atau hasil) terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan. Jika
kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi
harapan maka pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan maka
pelanggan akan amat puas atau senang.
Dari beragam definisi kepuasan nasabah yang telah diteliti dan
didefinisikan oleh para ahli pemasaran, dapat disimpulkan bahwa kepuasan
nasabah merupakan suatu tanggapan perilaku konsumen berupa evaluasi purna
beli terhadap suatu barang atau jasa yang dirasakannya (kinerja produk)
dibandingkan dengan harapan konsumen.
Bank sebagai perusahaan jasa sadar betul bahwa untuk menarik nasabah
mungkin saja tidak terlalu susah apalagi untuk nasabah pinjaman (nasabah kredit),
tetapi untuk membuat mereka menjadi pelanggan setia akan lebih sulit bila bank
tidak berusaha mencari tahu apa yang menjadi keinginan dari nasabahnya.
Disamping mempromosikan keunggulan produk, bankir harus bisa memberikan
suasana yang hangat dan menyenangkan bagi nasabahnya, dengan interior ruang
tunggu yang tertata baik dan karyawan yang ramah serta prosedur yang mudah
bagi nasabahnya tanpa mengesampingkan kehati-hatian tentunya. Hal tersebut
diharapkan dapat memberikan rasa puas bagi nasabah dan akan mendorong
nasabah untuk memutuskan mengambil kredit yang ditawarkan oleh suatu bank.
Adapun pengertian keputusan nasabah dalam mengambil kredit yaitu
sebuah proses keputusan mengambil kredit pada suatu bank (Philip Kotler, 2002:
207). Menurut Griffin (2002), keputusan nasabah dalam mengambil kredit adalah
suatu tindakan memilih satu alternatif dari serangkaian alternatif yang ada.
Menurut Schiffman, Kanuk (2004), dalam Kuncoro & Adithya (2010) keputusan
nasabah dalam mengambil kredit adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif
pilihan keputusan pengambilan kredit, artinya bahwa seseorang dapat membuat
keputusan, haruslah tersedia alternatif lainnya. Berdasarkan beberapa pendapat di
atas, keputusan nasabah dalam mengambil kredit adalah suatu proses yang
dilakukan nasabah pada saat mengambil kredit, kemudian nasabah memilih satu
alternatif dari alternatif yang ada

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Konsep marketing mix merupakan salah satu konsep dalam pemasaran
modern pada saat sekarang ini. Dimana konsep tersebut adalah salah satu kegiatan
pemasaran yang sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam mengejar
maksimum profit. Bauran pemasaran atau biasa juga disebut dengan marketing
mix, merupakan strategi dasar manajemen pemasaran yang ditetapkan oleh
perusahaan dalam memasarkan produknya. Bauran pemasaran juga memiliki
peranan penting dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan oleh perusahaan ke pasar.
Definisi bauran pemasaran (marketing mix) menurut Kotler dan
Armstrong (2008:62) adalah kumpulan alat pemasaran taktif terkendali yang
dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar
sasaran. Marketing mix juga merupakan strategi mencampur kegiatan-kegiatan
marketing, untuk mencari kombinasi maksimal yang bertujuan mendatangkan
hasil paling memuaskan.
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran adalah suatu
alat pemasaran taktif terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan
respon yang diinginkannya di pasar sasaran yang juga merupakan strategi
perusahaan dalam mencampur kegiatan-kegiatan marketing, untuk mencari
kombinasi maksimal sehingga mendatangkan hasil paling memuaskan
Dalam Pemasaran terdapat dua macam pemasaran, yaitu pemasaran
produk dan pemasaran jasa. Pemasaran pada mulanya berkembang dari penjualan
produk fisik, sementara itu pertumbuhan jasa yang luar biasa mendorong
timbulnya perhatian pada industri jasa. Beberapa definisi jasa menurut para pakar,
diantaranya menurut Philip Kotler yang dikutip oleh Ratih Hurriyati (2010:27)
menyatakan bahwa : Jasa adalah setiap tindakan atau kinerja yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang secara prinsip tidak berwujud
dan tidak menyebabkan kepemilikan

Pengaruh Promosi terhadap Keputusan Pembelian


Promosi merupakan sarana untuk memberikan informasi kepada konsumen
sekaligus bertujuan untuk mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang
ditawarkan. Betapapun bagusnya produk yang ditawarkan apabila konsumen
belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk tersebut akan
memberikan manfaat bagi konsumen, maka konsumen tidak akan membelinya.
Hal ini sejalan dengan penelitian Rosyida dan Widyawati (2016) yang
menerangkan bahwa promosi berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Pengaruh Tempat terhadap Keputusan Pembelian


Tempat atau saluran distribusi merupakan gambaran mudahnya konsumen
untuk memperoleh produk yang diinginkan. Semakin mudah tempat atau saluran
distribusi yang dimiliki perusahaan, maka konsumen akan lebih mudah untuk
membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan
penelitian Rosyida dan Widyawati (2016) yang menerangkan bahwa tempat
berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian


Harga merupakan faktor yang penting bagi konsumen. Pada umumnya
konsumen membandingkan antara produk satu dengan produk lainnya dengan
harga, karena harga juga dapat membantu konsumen dalam upaya memperoleh
manfaat yang diharapkan melalui harga yang dibayarkan. Yang artinya, harga
dapat memabntu konsumen untuk dapat mengalokasikan uang yang dibayarkan
sesuai manfaat yang didapat dari produk tersebut. Hal ini sejalan dengan
penelitian Rosyida dan Widyawati (2016) yang menerangkan bahwa harga
berpengaruh terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Produk terhadap Keputusan Pembelian


Produk apabila memiliki kualitas produk yang baik serta keberagaman produk
akan menentukan keputusan konsumen dalam melakukan pembelian karena
dengan adanya kualitas produk yang baik maka akan membuat konsumen merasa
puas dan menimbulkan loyalitas dan dengan adanya keberagaman produk maka
konsumen memiliki alternatif pilihan produk mana yang memiliki nilai lebih. Hal
ini sejalan dengan penelitian Rosyida dan Widyawati (2016) yang menerangkan
bahwa produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2019:158) terdapat lima indikator keputusan
pembelian yaitu sebagai berikut :

  1. Pemilihan Produk
    Pemilihan produk yaitu tahap konsumen dalam menyaring produk yang
    nantinya akan dibeli dimana produk tersebut mempunyai manfaat bagi
    konsumen.
  2. Pemilihan Merek
    Pemilihan merek yaitu tahap konsumen dalam menentukan merek mana
    yang akan dibeli karena setiap merek memiliki karakteristik dan ciri khas yang
    berbeda – beda.
  3. Pemilihan Tempat atau Saluran Distribusi
    Pemilihan tempat atau saluran distribusi yaitu tahap konsumen dalam
    menentukan tempat atau saluran distribusi yang harus dikunjungi untuk
    membeli produk. Pemilihan tempat atau saluran distribusi ditentukan oleh
    beberapa faktor yaitu pemilihan saluran, persediaan, dan cakupan pasar.
  4. Waktu Pembelian
    Waktu pembelian yaitu konsumen dalam menentukan keputusan
    pembelian berdasarkan waktu yang dimiliki konsumen, karena setiap
    konsumen waktu pembelian sangat berbeda – beda.
  5. Jumlah Pembelian
    Jumlah pembelian yaitu konsumen memiliki keputusan dalam membeli
    produk yang dibutuhkan. Pembelian yang dilakukan oleh konsumen mungkin
    bisa lebih dari satu jenis produk.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong (2019;179) adalah
sebagai berikut :

  1. Pengenalan Kebutuhan
    Tahap pertama proses keputusan pembeli dimana konsumen menyadari
    suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan
    internal ketika kebutuhan normal seseorang seperti lapar dan haus timbul pada
    tingkat yang cukup tinggi sehingga menjadi dorongan. Kebutuhan juga dapat
    dipicu oleh rangsangan external seperti iklan yang beredar dapat membuat
    konsumen berpikir untuk membeli apa yang diiklankan.
  2. Pencarian Informasi
    Tahap proses keputusan pembeli dimana konsumen ingin mencari
    informasi lebih banyak. Konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian
    atau melakukan pencarian informasi secara aktif. Semakin banyak informasi
    yang diperoleh konsumen, kesadaran konsumen dan pengetahuan akan produk
    yang ditawarkan perusahaan akan meningkat. Konsumen dapat memperoleh
    informasi dari berbagai sumber, termasuk sumber pribadi seperti keluarga,
    teman, tetangga, dan kenalan, sumber komersial seperti iklan, distributor, situs
    web, dan kemasan, sumber publik seperti media massa, organisasi
    pemeringkat konsumen, dan Internet. pencarian, dan sumber pengalaman
    seperti penanganan, pemeriksaan, dan penggunaan produk, menurut Kotler
    dan Armstrong (2019: 180).
  3. Evaluasi Alternatif
    Tahap proses keputusan pembeli dimana konsumen menggunakan
    informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam sekelompok pilihan.
    Bagaimana cara konsumen mengevaluasi alternatif bergantung pada
    konsumen pribadi dan situasi pembelian tertentu. Perusahaan harus
    mempelajari pembeli untuk menentukan bagaimana cara konsumen
    sebenarnya dalam mengevaluasi pilihan merek.
  4. Keputusan Pembelian
    Tahap keputusan pembeli mengenai merek mana yang akan dibeli. Dalam
    tahap evaluasi konsumen menentukan peringkat merek dan membentuk niat
    pembelian. Dalam keputusan pembelian konsumen terdapat dua faktor
    diantara niat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama yaitu sikap
    orang lain, dimana jika seseorang yang mempunyai arti penting bagi
    konsumen berpikir bahwa konsumen seharusnya membeli produk yang paling
    murah, maka peluang konsumen untuk membeli produk yang lebih mahal
    berkurang. Faktor kedua yaitu faktor situasional yang tidak diharapkan,
    dimana konsumen membentuk niat pembelian berdasarkan faktor harga,
    pendapatan, dan manfaat produk, namun kejadian tak terduga bisa mengubah
    niat pembelian seperti ekonomi memburuk.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Tahap proses keputusan pembeli dimana konsumen mengambil tindakan
    selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan
    konsumen. Jika produk memenuhi ekspektasi konsumen, maka konsumen
    merasa puas dan begitu sebaliknya jika produk tidak mampu memenuhi
    ekspektasi konsumen, maka konsumen kecewa. Semakin besar kesenjangan
    antara ekspektasi dan kinerja, semakin besar ketidakpuasan konsumen.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2019:159) faktor – faktor yang
mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian yaitu sebagai
berikut :

  1. Faktor Budaya
    Faktor budaya memiliki pengaruh yang mendalam dan luas pada perilaku
    keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Armstrong (2019:159) “faktor
    budaya terdiri atas budaya, subbudaya, dan kelas sosial. Pertama, budaya
    merupakan kumpulan nilai dasar, keinginan, persepsi, dan perilaku yang
    dipelajari oleh anggota masyarakat dari keluarga dan institusi lainnya. Setiap
    kelompok atau masyarakat memiliki budaya, dan pengaruh budaya pada
    perilaku pembelian bisa sangat bervariasi. Kegagalan menyesuaikan diri
    dengan perbedaan tersebut dapat menghasilkan pemasaran yang tidak efektif.
    Perusahaan harus menemukan perubahan budaya untuk mengetahui produk
    baru yang mungkin diinginkan masyarakat. Kedua, sub budaya merupakan
    kelompok masyarakat yang berbagi sistem nilai berdasarkan pengalaman
    hidup dan situasi yang umum. Subbudaya meliputi agama, kelompok ras, dan
    daerah geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar yang penting,
    dan perusahaan merancang produk serta program pemasaran yang dibuat
    untuk kebutuhan kelompok subbudaya. Ketiga, kelas sosial merupakan
    pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang dimana
    anggotanya berbagi nilai, minat, dan perilaku yang sama. Kelas sosial tidak
    ditentukan hanya oleh satu faktor seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai
    kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, dan kekayaan. Dalam kelas
    sosial memperlihatkan perilaku pembelian yang sama”.
  2. Faktor Sosial
    Perilaku keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh faktor – faktor sosial.
    Menurut Kotler dan Armstrong (2019:163) “faktor – faktor sosial yang
    mempengaruhi keputusan pembelian kelompok, keluarga, peran dan status.
    Pertama, kelompok merupakan dua atau lebih orang yang berinteraksi untuk
    mencapai tujuan pribadi atau tujuan bersama. Perilaku seseorang dalam
    keputusan pembelian seringkali dipengaruhi oleh kelompok referensi.
    Kelompok referensi bertindak sebagai titik perbandingan dalam membentuk
    referensi. Kedua, keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang
    paling penting dalam masyarakat, dan anggota keluarga mempresentasikan
    kelompok referensi utama yang paling berpengaruh. Ketiga, peran dan status
    merupakan bagian dari anggota kelompok dimana peran terdiri dari kegiatan
    yang diharapkan dilakukan seseorang sesuai dengan orang – orang
    disekitarnya, dan masing – masing peran membawa status yang
    mencerminkan nilai umum yang diberikan kepadanya oleh masyarakat”.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Menurut
    Kotler dan Armstrong (2019:169) “karakteristik pribadi yang mempengaruhi
    keputusan pembelian terdiri atas usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan,
    situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian. Pertama, usia dan tahap siklus
    hidup yaitu selera makanan, pakaian, dan perabot seringkali berhubungan
    dengan usia. Pembelian juga dibentuk oleh tahap siklus hidup keluarga,
    dimana tahap – tahap yang dilalui ketika menjadi matang dengan berjalannya
    waktu. Kedua, pekerjaan seseorang mempengaruhi barang yang mereka beli.
    Pekerja kerah biru cenderung membeli pakaian kerja yang kuat, sementara
    eksekutif membeli pakaian bisnis. Perusahaan harus berusaha
    mengidentifikasi kelompok pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata –
    rata pada produk yang ditawarkan. Ketiga, situasi ekonomi seseorang akan
    mempengaruhi pilihan produk. Jika indikator ekonomi menunjukkan resesi,
    perusahaan harus mengambil langkah – langkah untuk merancang ulang,
    mereposisi, dan menetapkan harga kembali untuk produk yang ditawarkan.
    Keempat, gaya hidup merupakan pola hidup seseorang yang diekspresikan
    dalam keadaan psikografisnya. Orang yang berasal dari budaya, kelas sosial,
    dan pekerjaan yang sama mungkin memiliki gaya hidup yang cukup berbeda.
    Kelima, kepribadian dan konsep diri merupakan karakteristik psikologi unik
    seseorang yang menyebabkan respon yang relatif konsisten dan bertahan lama
    terhadap lingkungan orang itu sendiri. Kepribadian dapat digunakan untuk
    menganalisis perilaku konsumen untuk produk atau pilihan merek tertentu”.
  4. Faktor Psikologis
    Menurut Kotler dan Armstrong (2019:172) selanjutnya “keputusan
    pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis yaitu motivasi,
    persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap. Pertama, motivasi
    merupakan kebutuhan dengan tekanan kuat yang mendorong seseorang untuk
    mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut. Teori Freud menyatakan bahwa
    keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh motif bawah sadar yang
    bahkan tidak dipahami sepenuhnya oleh pembeli. Kedua, persepsi merupakan
    proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan
    informasi untuk membentuk gambaran mengenai produk. Ketiga,
    pembelajaran merupakan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul
    dari pengalaman. Keempat, keyakinan merupakan pikiran deskriptif yang
    dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Kelima, sikap merupakan evaluasi,
    tendensi, dan perasaan yang konsisten dari seseorang terhadap sebuah objek”

Indikator Promosi


Indikator promosi menurut Kotler dan Armstrong (2019:62) yaitu :

  1. Periklanan, merupakan bentuk saluran promosi nonpribadi dengan
    menggunakan berbagai media untuk merangsang pembelian.
  2. Promosi penjualan, merupakan salah satu upaya perusahaan untuk mendorong
    pembelian atau penjualan produk salah satunya dengan cara memberi
    potongan harga.
  3. Hubungan masyarakat, merupakan upaya perusahaan untuk mempromosikan
    atau melindungi citra perusahaan atau produk dengan berbagai program yang
    telah dirancang oleh perusahaan

Langkah – Langkah Mengembangkan Promosi Efektif


Menurut Kotler dan Armstrong (2019;123) langkah – langkah
mengembangkan promosi yang efektif terdiri dari empat langkah yaitu sebagai
berikut :

  1. Mengidentifikasi Pelanggan Sasaran
    Prosedur dimulai dengan identifikasi target pelanggan tertentu. Pembeli
    potensial, pengguna saat ini, dan pembeli yang dapat memberikan dampak
    positif bagi perusahaan semuanya adalah pelanggan sasaran yang jelas.
    Keputusan perusahaan tentang apa yang harus disampaikan, bagaimana
    menyampaikannya, di mana menyampaikannya, dan kapan harus
    menyampaikannya akan dipengaruhi oleh pelanggan sasaran.
  2. Menentukan Tujuan Komunikasi
    Perusahaan harus mencari respon pembelian setelah mengidentifikasi
    pelanggan sasaran. Pembelian adalah hasil dari proses pengambilan keputusan
    yang panjang di pihak konsumen. Pelanggan biasanya melalui tahap-tahap
    berikut saat melakukan pembelian: kesadaran, pengetahuan, kesukaan,
    preferensi, kepercayaan, dan pembelian.
    Pelanggan sasaran mungkin tidak sepenuhnya mengetahui produk yang
    ditawarkan, mungkin hanya mengetahui namanya, atau mungkin hanya
    mengetahui beberapa detail tentang produk yang ditawarkan oleh perusahaan.
    Pertama dan terpenting, bisnis harus meningkatkan kesadaran dan
    pengetahuan pelanggan. Setelah pelanggan mengetahui tentang produk,
    perusahaan harus menggunakan kombinasi alat bauran promosi untuk
    mendorong pelanggan agar lebih menyukai produk yang ditawarkan dengan
    menciptakan perasaan positif dan rasa percaya diri terhadap produk yang
    ditawarkan.
    Akhirnya, meskipun pelanggan sasaran mungkin yakin akan produk yang
    ditawarkan, dia mungkin ragu-ragu untuk melakukan pembelian karena
    mereka menginginkan lebih banyak informasi atau sedang menunggu ekonomi
    membaik. Perusahaan harus mengarahkan konsumen untuk melakukan tahap
    akhir yaitu memberikan penawaran harga promosi khusus atau premi.
  3. Merancang Komunikasi
    Merancang komunikasi untuk mencapai respons yang diinginkan
    memerlukan tiga masalah: apa yang harus dikatakan (strategi pesan),
    bagaimana mengatakannya (strategi kreatif), dan siapa yang mengatakannya
    (sumber pesan) (sumber pesan). Berikut adalah tiga masalah Kotler dan
    Armstrong (2019: 125):
    a. Strategi pesan: pihak manajemen harus mencari tahu daya tarik, ide,
    ataupun tema yang terkait dengan positioning merek atau produk dan juga
    menentukan titik perbedaan dari pesaing.”
    b. Strategi kreatif: efektivitas promosi atau komunikasi pemasaran
    bergantung pada bagaimana pesan tersebut disampaikan dan juga
    bagaimana kandungan pesan tersebut. Jika promosi atau komunikasi
    pemasaran tersebut tidak efektif, berarti pesan yang disampaikan beserta
    kandungan pesan tersebut buruk.”
    c. Sumber pesan: banyak promosi atau komunikasi pemasaran tidak
    menggunakan sumber dari luar perusahaan. Promosi atau komunikasi
    pemasaran baiknya menggunakan orang yang sudah dikenal banyak orang
    seperti selebriti, karena pesan yang dihantarkan oleh sumber yang terkenal
    dan terpercaya dapat menarik lebih banyak perhatian.”
  4. Memilih Saluran Komunikasi
    Terdapat dua jenis saluran komunikasi menurut Kotler dan Armstrong
    (2019:128). “Pertama, saluran komunikasi pribadi. Saluran dimana dua orang
    atau lebih berkomunikasi langsung satu sama lain diantaranya berkomunikasi
    tatap muka, melalui telepon, atau e-mail. Beberapa saluran komunikasi pribadi
    dikendalikan langsung oleh perusahaan, tetapi komunikasi pribadi lain
    mengenai produk mungkin menjangkau pembeli dengan saluran yang tidak
    dikendalikan langsung oleh perusahaan.
    Saluran komunikasi pribadi yang tidak dikendalikan langsung oleh
    perusahaan dikenal sebagai pengaruh berita mulut ke mulut. Pengaruh berita
    mulut ke mulut merupakan komunikasi pribadi mengenai sebuah produk
    antara pembeli sasaran dan tetangga, teman – teman, dan anggota keluarga”.
    Kedua, saluran komunikasi non pribadi. “Komunikasi yang diarahkan ke lebih
    dari satu orang dan meliputi media, promosi penjualan, acara dan pengalaman,
    serta hubungan masyarakat. Sebagian besar pertumbuhan saluran komunikasi
    non pribadi terjadi melalui acara dan pengalaman, dimana perusahaan dapat
    membangun citra mereknya dengan menciptakan atau mensponsori acara.
    Semakin banyak penggunaan acara untuk menarik perhatian merupakan
    respon terhadap fragmentasi media (Kotler dan Armstrong, 2019:128)”

Bauran Promosi


Bauran promosi menurut Kotler dan Armstrong (2019;116) adalah “paduan
spesifik periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan penjualan
personal yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai pelanggan
secara persuasif dan membangun hubungan pelanggan”. Menurut Kotler dan
Armstrong (2019;116) bauran promosi secara lebih luas dijabarkan sebagai
berikut:

  1. Periklanan
    Periklanan yaitu suatu pesan secara persuasif yang dilakukan oleh
    perusahaan kepada masyarakat melalui media massa untuk menginformasikan,
    membujuk, dan juga mengingatkan masyarakat mengenai produk yang dijual
    oleh perusahaan.
  2. Promosi Penjualan
    Promosi penjualan yaitu upaya perusahaan menarik perhatian konsumen
    pada produk yang dijual dengan berbagai insentif jangka pendek untuk
    meningkatkan pembelian pada produk.
  3. Hubungan Masyarakat
    Hubungan masyarakat yaitu membangun hubungan baik dengan berbagai
    lapisan masyarakat untuk mendapatkan publisitas yang diinginkan,
    membangun citra perusahaan yang baik, dan menangani atau menghadapi
    rumor, berita, dan kejadian yang tidak menyenangkan.

Promosi (Promotion)


Menurut Kotler dan Armstrong (2019:63) “promosi merupakan kegiatan dalam
upaya menyampaikan manfaat produk dan membujuk pelanggan untuk membeli
produk yang ditawarkan. Promosi merupakan salah satu faktor penentu mengenai
keberhasilan program pemasaran. Jika konsumen belum pernah mendengar atau
mengetahui produk yang ditawarkan perusahaan dan juga manfaat yang akan
diterima oleh konsumen, maka konsumen tidak akan pernah membeli produk yang
ditawarkan”. Promosi menurut Buchari Alma dalam Hurriyati (2018;58) sebagai
berikut : “Suatu bentuk komunikasi pemasaran yang berusaha menyebarkan
informasi, mempengaruhi atau membujuk, mengingatkan pasar sasaran atas
perusahaan dan produknya agar bersedia membeli dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan”.
Tujuan utama dari promosi yakni menginformasikan, membujuk dan
mempengaruhi serta mengingatkan konsumen mengenai perusahaan dan
produknya serta memberikan kepuasan konsumen. Menurut Hurriyati (2018;58)
ketiga tujuan promosi tersebut dapat dijabarkan lebih rinci sebagai berikut :

  1. “Menginformasikan (informing) yaitu menginformasikan kepada pasar
    mengenai keberadaan produk baru, meluruskan kesan yang keliru, mengurangi
    ketakutan serta kekhawatiran pembeli mengenai produk tersebut, dan juga
    membangun citra perusahaan”.
  2. “Membujuk konsumen sasaran (persuading) untuk mengalihkan pilihan
    pembeli ke produk yang ditawarkan perusahaan, mengubah persepsi pembeli
    mengenai atribut produk, mendorong pembeli untuk mempunyai niat untuk
    membeli produk tersebut”.
  3. “Mengingatkan (reminding) terdiri atas mengingatkan pembeli mengenai
    tempat yang menjual produk perusahaan, mengingatkan pembeli bahwa
    produk tersebut dibutuhkan dalam waktu dekat, dan menjaga agar ingatan
    pertama pembeli untuk jatuh pada produk perusahaan”.

Indikator Tempat atau Saluran Distribusi


Indikator tempat atau saluran distribusi menurut Kotler dan Armstrong
(2019:62) yaitu :

  1. Saluran
    Saluran adalah perantara dimana produsen dapat menjual produk kepada
    konsumen.”
  2. Persediaan
    Persediaan adalah jumlah produk yang tersedia untuk dibeli.”
  3. Cakupan Pasar
    Cakupan pasar adalah jangkauan pasar untuk mencukupi kebutuhan
    konsumen oleh perusahaan.

Sistem Pemasaran Saluran Distribusi


Menurut Kotler dan Armstrong (2019:45) sistem pemasaran saluran distribusi
dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem Pemasaran Vertikal (Vertical Marketing System)
    Sistem pemasaran vertikal yaitu produsen dan perantara bertindak sebagai
    sistem terpadu. Satu anggota saluran memiliki saluran lain, mempunyai
    kontrak dengan saluran lain tersebut sehingga mereka semua saling bekerja
    sama. Sistem pemasaran vertikal memiliki dua tipe yaitu :”
    a. Sistem Pemasaran Vertikal Korporasi
    Sistem pemasaran vertikal yang menggabungkan tahapan produksi dan
    distribusi yang berurutan dikenal sebagai sistem pemasaran vertikal
    perusahaan.”
    b. Sistem Pemasaran Vertikal Kontraktual
    Sistem pemasaran vertikal kontraktual yaitu perusahaan independen di
    berbagai tingkat produksi dan distribusi bergabung melalui kontrak untuk
    mencapai hasil yang lebih hemat biaya.”
  2. Sistem Pemasaran Horizontal
    Sistem pemasaran horizontal yaitu dua atau lebih perusahaan dalam satu
    tingkatan bergabung bersama untuk meraih peluang pemasaran yang lebih
    luas.

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2019:62) indikator harga yaitu sebagai
berikut:

  1. Daftar Harga
    Daftar harga yaitu uraian harga yang dicantumkan pada daftar menu atau
    pada produk secara langsung.”
  2. Diskon
    Diskon yaitu pengurangan harga langsung terhadap pembelian dalam
    jumlah yang banyak selama periode waktu tertentu.”
  3. Potongan Harga
    Potongan harga yaitu pengurangan harga yang dikenakan pada suatu
    produk yang diberikan oleh produsen kepada konsumen

Strategi Penyesuaian Harga


“ Perusahaan biasanya menyesuaikan harga dasar yang mereka buat dengan
memperhitungkan berbagai perbedaan pelanggan dan perubahan situasi.”
Menurut Kotler dan Armstrong (2019:9) strategi penyesuaian harga ada enam.
Yang pertama adalah penetapan harga diskon dimana “pengurangan harga
langsung terhadap pembelian selama periode waktu tertentu”. Yang kedua
adalah penetapan potongan harga dimana “pengurangan harga yang dikenakan
pada suatu produk yang diberikan oleh produsen kepada konsumen”. Yang
ketiga adalah penetapan harga tersegmentasi dimana “menjual produk dalam
dua harga atau lebih, dimana perbedaan harga tersebut bukan berdasarkan
perbedaan biaya”. Keempat adalah penetapan harga psikologis dimana
“pendekatan penetapan harga yang mempertimbangkan psikologi harga dan
bukan hanya ekonomi, harga digunakan untuk mengatakan sesuatu tentang
produk”. Kelima adalah penetapan harga promosi dimana “harga produk
dibawah harga resmi, dan terkadang bahkan dibawah biaya untuk
meningkatkan penjualan jangka pendek”. Terakhir adalah penetapan “harga
geografis yaitu menetapkan harga berdasarkan pelanggan yang terletak di
berbagai belahan negeri atau dunia”

Strategi Penetapan Harga Bauran produk


Strategi untuk menetapkan harga produk sering berubah ketika produk itu
menjadi bagian dari bauran produk. Dalam hal ini, perusahaan mencari
sekumpulan harga yang memaksimalkan laba dari total bauran produk.”
Menurut Kotler dan Armstrong (2019:6) penetapan harga bauran produk ada
empat. Pertama adalah penetapan harga lini produk yang mana “strategi ini
menetapkan jenjang harga antara berbagai produk dalam sebuah lini produk
berdasarkan perbedaan biaya antara produk, evaluasi pelanggan terhadap
berbagai fitur berbeda dan harga pesaing”. Kedua adalah penetapan harga
produk terikat dimana “menetapkan harga untuk produk yang harus digunakan
serta produk utama, seperti bilah untuk silet”. Ketiga adalah penetapan harga
produk sampingan dimana “menetapkan harga untuk produk sampingan guna
membuat harga produk utama lebih kompetitif”. Terakhir adalah penetapan
harga paket produk dimana “penetapan harga dengan menggabungkan
beberapa produk lalu menawarkan paket produk kepada konsumen pada harga
yang lebih murah jika dibandingkan kalau harus membeli produk secara
terpisah”

Harga (Price)


Harga menurut Kotler dan Armstrong (2019: 345) adalah “sejumlah uang
yang dibebankan untuk suatu produk, atau sejumlah nilai yang ditukarkan
pelanggan untuk manfaat memiliki atau menggunakannya. Satu-satunya elemen
bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan adalah harga; semua elemen
lainnya adalah biaya. Harga, tidak seperti fitur produk dan komitmen dealer,
adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang paling mudah dibentuk. Pada
saat yang sama, penetapan harga adalah masalah paling umum yang dihadapi
banyak bisnis, sehingga mereka tidak dapat mengelola penetapan harga secara
efektif. Salah satu masalah yang sering muncul adalah bahwa perusahaan
menurunkan harga terlalu cepat untuk melakukan penjualan daripada meyakinkan
pembeli bahwa produk mereka yang bernilai lebih tinggi menjamin harga yang
lebih tinggi”. Strategi penetapan harga dibagi menjadi tiga kategori, menurut
Kotler dan Armstrong (2019:4):
A. Strategi Penetapan Harga Produk Baru
“Saat suatu produk berkembang melalui siklus hidupnya, harganya
kemungkinan akan berubah. Bagian tersulit dari proses ini adalah pengenalan.
Perusahaan yang memperkenalkan produk baru menghadapi tantangan untuk
menetapkan harga untuk pertama kalinya. Perusahaan dapat memilih antara
dua strategi penetapan harga untuk produk baru, menurut Kotler dan
Armstrong (2019:4):”

  1. Penetapan Harga Memerah Pasar
    Hal ini merupakan praktik penetapan harga tinggi untuk memaksimalkan
    pendapatan dari lapisan demi lapisan segmen yang bersedia membayar harga
    tinggi. Perusahaan membuat lebih sedikit penjualan tetapi lebih
    menguntungkan sebagai hasilnya.”
  2. Penetapan Harga dengan Penetrasi Pasar
    Penetapan harga yang rendah untuk produk baru untuk menarik sejumlah
    besar pembeli dan pangsa pasar yang besar dikenal sebagai penetapan harga
    penetrasi pasar.”

Indikator Produk


Indikator produk menurut Kotler dan Armstrong (2019:62) yaitu :

  1. Keberagaman Produk
    Keragaman produk mengacu pada kemampuan perusahaan untuk
    menyediakan berbagai macam produk untuk memenuhi keinginan dan
    kebutuhan pelanggannya.”
  2. Kualitas Produk (Product Quality)
    Kualitas adalah properti produk yang ditentukan oleh kemampuannya
    untuk memenuhi persyaratan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat.
    Kepuasan pelanggan dan nilai terkait erat. Kinerja produk juga dipengaruhi
    oleh kualitas.
  3. Merek (Brand)
    Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi
    dari semuanya yang mengidentifikasi dan membedakan produk penjual atau
    sekelompok penjual dari produk pesaing. Konsumen menganggap merek suatu
    produk sebagai komponen penting, dan merek dapat menambah nilai suatu
    produk. Konsumen dapat menggunakan nama merek untuk mengidentifikasi
    produk yang akan menguntungkan perusahaan.”
  4. Kemasan (Packaging)
    Kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau pembungkus untuk
    suatu produk dikenal sebagai pengemasan (packaging). Tujuan utama
    kemasan adalah untuk menyimpan dan melindungi produk. Perusahaan
    memahami pentingnya kemasan yang baik dalam meningkatkan kesadaran
    konsumen terhadap perusahaan atau merek produknya. Kemasan yang
    dirancang dengan buruk dapat membuat pelanggan pusing dan mengakibatkan
    hilangnya penjualan, sedangkan kemasan yang inovatif dapat membantu
    perusahaan menonjol dari persaingan dan meningkatkan penjualan

Produk (Product)


Produk adalah “segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
diperhatikan, diperoleh, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan suatu
keinginan atau kebutuhan”, menurut Kotler dan Armstrong (2019; 266).
Perusahaan perlu mengetahui tingkat produk untuk membuat keputusan
pembelian untuk produk berintensitas tinggi untuk merencanakan penawaran
pasar. Terdapat tiga tingkat produk menurut Kotler dan Armstrong (2019; 268).
Pertama yaitu manfaat inti (Core Benefit) dimana perusahaan harus
mendefinisikan manfaat inti penyelesaian masalah yang dicari konsumen untuk
merancang sebuah produk. Kedua yaitu produk aktual (Actual Product) dimana
perusahaan harus mengubah manfaat inti menjadi produk aktual.”Perusahaan
harus mengembangkan ragam produk, nama merek,tingkat kualitas, desain, dan
kemasan. Ketiga yaitu produk tambahan (Augmented Product) dimana perusahaan
harus membangun produk tambahan disekitar manfaat inti dan produk aktual
dengan menawarkan pelayanan dan manfaat konsumen tambahan.

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran dapat diartikan sebagai unsur – unsur internal yang sangat
penting untuk membentuk program pemasaran (Hurriyati,2018;42).Lebih lanjut,
bagi perusahaan kunci untuk memperoleh profit yaitu dengan keputusan strategi
pemasaran yang tepat untuk meningkatkan keputusan pembelian konsumen.
Menurut Kotler dan Amstrong (2019;62) bauran pemasaran adalah “serangkaian
alat pemasaran (marketing mix) yang digunakan oleh perusahaan untuk mencapai
tujuan perusahaan dalam pasar sasaran

Pemasaran


Menurut Kotler dan Armstrong (2019: 6), pemasaran adalah “proses dimana
bisnis menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat
dengan mereka untuk menangkap nilai dari mereka. Produk akan mudah dijual
jika pemasar memahami kebutuhan pelanggan, mengembangkan produk yang
memberikan nilai superior kepada pelanggan, menetapkan harga,
mendistribusikan, dan mempromosikan produk tersebut secara efektif”

Kualitas SDM (Sumber Daya Manusia)


Sesuai dengan fungsinya pada dasarnya di dalam perusahaan terdapat
dua macam tenaga kerja, yaitu:

  1. Tenaga Eksekutif, mempunyai tugas pokok yaitu mengambil berbagai
    keputusan dan melaksanakan fungsi organisasi manajemen, yaitu
    perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan
    pengawasan
  2. Tenaga Operatif, merupakan tenaga terampir, yang menguasai bidang
    pekerjaanya, sehingga setiap tugas yang dibebankan kepadanya dapat
    dilaksanakan dengan baik, ditinjau dari kemampuannya melaksanakan
    tugas dibagi menjadi 3 golongan yaitu: tenaga trampil (skilled labor),
    tenaga setengah trampil (semi skilled labor) dan tenaga tidak trampil
    (unskilled labor) (Swasta & Sukotjo, 1998).

Definisi Manajemen


Menurut Profesor Oei Liang Lee, manajemen adalah ilmu dan seni
merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan , mengkoordinasikan serta
mengawasi tenaga manusia dengan bantuan alat-alat untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan (Swasta & Sukotjo, 1998), dari definisi tentang
manajemen tersebut, dapatlah diambil kesimpulan bahwa manajemen
mempunyai lima fungsi yaitu:

  1. Perencanaan
  2. Pengorganisasian
  3. Pengarahan
  4. Pengkoordinasian
  5. Pengawasan
    Kelima fungsi manajemen ini sangat penting di dalam menjalankan
    semua kegiatan, semua ini dimaksudkan agar kegiatan apapun yang dilakukan
    dapat berjalan dengan baik sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat
    tercapai.

Media Sosial dalam Pemasaran


Media sosial adalah teknologi berbasis internet yang memfasilitasi
percakapan. Secara garis besar, media sosial dapat dikelompokkan menjadi
lima macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Egocentric sites (memungkinkan pengguna untuk membuat profil)
  2. Community sites (membangun komunitas di dunia virtual)
  3. Opportunistic sites (memfasilitasi bisnis)
  4. Passion-centric sites (berhubungan dengan sesama peminat tertentu)
  5. Media sharing sites (berbagi konten gambar, audio dan video)
    Media sosial mencerminkan berbagai sumber baru informasi online
    yang diciptakan, diinisiasikan, disirkulasikan dan digunakan oleh konsumen
    dengan tujuan untuk saling mengedukasi tentang produk, merek, jasa,
    kepribadian dan isu relevan, oleh karena itu media sosial kerap disebut pula
    consumer-generated media (Tjiptono, 2015).

Kredibilitas Perusahaan


Kredibilitas perusahaan didefinisikan sebagai seberapa jauh konsumen
percaya bahwa suatu perusahaan bisa merancang dan menghadirkan produk
serta jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan (Keller,
1998).
Menurut Kotler dan Keller (2006) dalam bukunya yang berjudul
Marketing Management kredibilitas perusahaan pada gilirannya bergantung
pada tiga faktor yaitu: keahlian perusahaan (corporate expertise) yaitu sejauh
mana perusahaan terlihat mampu membuat dan menjual produk atau
melakukan layanan, Kepercayaan perusahaan (corporate trustworthiness)
yaitu sejauh mana perusahaan tampak termotivasi untuk mejadi jujur,
bergantung dan peka terhadap kebutuhan pelanggan, daya tarik perusahaan
(corporate attractiveness) yaitu sejauh mana perusahaan terlihat disukai,
menarik, bergengsi, dinamik, dan lain-lain

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan merupakan hal yang sangat penting bagi suatu
organisasi maupun perusahaan, tingginya dunia persaingan bisnis membuat
para pebisnis harus berlomba-lomba untuk mendapatkan kepuasan pelanggan.
Menurut Schnaars pada dasarnya tujuan dari sebuah bisnis adalah untuk
menciptakan para pelanggan yang puas, terciptanya kepuasan pelanggan
dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan
dan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi
pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, serta membentuk
rekomendasi gethok tular positif yang menguntungkan bagi perusahaan,
secara sederhana kepusasan pelanggan dapat diartikan sebagai perbandingan
antara harapan atau ekspektasi sebelum pemelian dan persepsi terhadap
kinerja setelah pembelian (Tjiptono, 2015, p. 76).
Dalam mengevaluasi jasa yang bersifat inteangible, variable,
inseparable dan perishable, konsumen umumnya menggunakan beberapa
atribut atau faktor berikut:

  1. Bukti fisik (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan
    sarana komunikasi
  2. Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang
    dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan
  3. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf dan karyawan
    untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
    tanggap
  4. Jaminan (assurance), mencangkup pengetahuan, kemampuan, kesopanan
    dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya,
    resiko atau keragu-raguan
  5. Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
    yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan

Digital Marketing


Digital Marketing merupakan metode pemasaran yang dilakukan
dengan menerapkan teknologi secara digital atau sering disebut dengan e-
marketing (Nadya, 2016). Perkembangan dunia teknologi ini membuat
strategi pemasaran mulai beralih ke arah media digital, dengan demikian
sangat penting bagi pelaku usaha untuk melakukan pengembangan untuk
menarik konsumen dan mengarahkannya pada perpaduan antara komunikasi
elektronik dan komunikasi tradisional.
Menurut Kotler internet marketing atau digital marketing memiliki
lima keuntungan besar bagi perusahaan yang menggunakannya:

  1. Perusahaan kecil maupun besar dapat melakukannya
  2. Tidak terdapat batas nyata dalam ruang beriklan jika dibandingkan
    dengan media cetak dan media penyiaran
  3. Akses dan pencarian keterangan sangat cepat jika dibandingkan dengan
    surat kilat atau bahkan fax
  4. Situsnya dapat dikunjungi oleh siapapun, dimanapun di dalam dunia ini
    dan kapanpun
  5. Belanja dapat dilakukan secara lebih cepat dan sendirian
    (Pradiani, 2017)
    Digital marketing mempunyai peranan yang cukup penting dalam
    pengembangan pasar di masa sekarang ini, dimana teknologi berkembang
    sangat pesat, dan melihat perilaku konsumen yang beralih ke arah online.
    Dengan adanya digital marketing jangkauan pasar suatu bisnis dapat menjadi
    lebih luas, karena menggunakan media online yang dapat diakses dimana
    saja.
    Phillip kotler menjelaskan sebuah teori pemasaran atau pemasaran
    digital dengan pendekatan pemasaran baru untuk membaantu pemasar dalam
    mengantisipasi dan mengelola dampak teknologi, konsep tersebut
    mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan
    dengan pelanggan karena kenyataannya, justru di saat dunia online
    berkembang, sentuhan offline menjadi titik diferensiasi yang kuat (Devi,
    2018)

Promotion (Promosi)


Memberitahu konsumen tentang keberadaan produk di pasar
dan secara terus menerus meyakinkan mereka bahwa produk tersebut
dapat memberikan kepuasan yang optimal.
Promosi adalah bagian dari bauran pemasaran yang besar
peranannya, promosi merupakan kegiatan-kegiatan yang secara aktif
dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen membeli produk
yang ditawarkan. Kegiatan dalam promosi ini pada umumnya adalah
periklanan, personal selling, promosi penjualan, pemasaran langsung,
serta hubungan masyarakat dan publisitas.
Mc. Daniel (2001) mendefinisikan promosi sebagai kegiatan
menghasilkan informasi, membujuk, atau mengingatkan konsumen
akan manfaat dari suatu produk, tujuan dari melakukan kegiatan
promosi adalah:

  1. Memperkenalkan produk baru kepada masyarakat
  2. Memperpanjang masa kedewasaan produk
  3. Menjaga stabilitas perusahaan dari kemungkinan persaingan
  4. Mendorong penjualan produk
    (Effendy, 2018)

Place (Saluran Distribusi)


Yaitu mengusahakan produk agar tersedia di tempat-tempat
yang memudahkan konsumen membelinya setiap saat
membutuhkannya (Sutojo, 2009).
Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan oleh
produsen untuk menyalurkan produk sampai ke konsumen atau
berbagai aktivitas perusahaan yang mengupayakan agar produk
sampai ke tangan konsumen (Fuad, dkk, 2000)

Price (Harga)


Harga adalah sejumlah kompensasi (uang maupun barang,
kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi barang atau jasa, salah satu prinsip dalam penentuan harga
adalah penitikberatan pada kemauan pembeli terhadap harga yang
telah ditentukan dengan jumlah yang cukup untuk menutup biaya-
biaya yang telah dikeluarkan beserta persentase laba yang diinginkan
(Fuad, dkk, 2000). Menetapkan harga dan syarat pembayaran produk
sesuai dengan kesediaan konsumen untuk membayar (Sutojo, 2009).

Pengertian Manajemen Pemasaran


Pemasaran merupakan ujung tombak perusahaan. Dalam dunia persaingan yang
semakin ketat, perusahaan dituntut agar tetap bertahan hidup dan berkembang. Oleh
karena itu seorang pemasar dituntut untuk memahami permasalahan pokok di bidangnya
dan menyusun strategi agar dapat mencapai tujuan perusahaan. Berikut ini beberapa
pengertian mengenai pemasaran :
Menurut Stanton dalam Sunyoto (2019:18) mengatakan pemasaran adalah suatu
sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetukan harga,
promosi dan memdistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan
mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. Sedangkan menurut Kotler dalam
Sunyoto (2019:18) mengatakan pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dengan
mana seseorang atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan
melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai. Demikian juga menurut Gitosudarmo
dalam Abubakar (2018:2) mengatakan proses pemasaran adalah tentang bagaimana
pengusaha dapat mempengaruhi konsumen agar para konsumen tersebut menjadi tahu,
senang lalu membeli produk yang ditawarkan dan akhirnya konsumen menjadi puas
sehingga mereka akan selalu membeli produk perusahaan itu

Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Keputusan Pembelian


Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan pembelian konsumen
dikemukanan oleh Basu Swasta dan Irawan yang dikutip oleh Laelasari (2014:11)
yaitu sebagai berikut: “Marketing mix merupakan suatu perangkat yang akan
menentukan tingkat keberhasilan bagi perusahaan dan semua ini ditujukan untuk
mendorong konsumen melakukan pembelian sekaligus untuk memberikan
kepuasan kepada segmen pasar atau konsumen yang dipilih”.
Menurut Philip Kotler yang dialihbahasakan oleh Benyamin Molan
(2002:82) secara tegas menyatakan bahwa “Bauran Pemasaran (marketing Mix)
merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan untuk mencapai tujuan
pemasarannya dalam pasar sasaran”. Sasaran terdepan dari setiap aktivitas adalah
kepuasan pelanggan. Namun kepuasan pelanggan bagaimanapun teruji setelah
mereka mencoba atau menggunakan produk perusahaan. Jadi keputusan membeli
(menggunakan jasa) mendahului itu semua. Bila pelanggan merasa puas, mereka
akan mengambil beberapa sikap seperti membeli kembali (repurchase),
menceritakan dan merekomendasikan kepada orang lain dan sikap – sikap positif
lainnya.
Zeithalm, et.al yang dialihbahasakan oleh M. Yazid menyatakan keterkaitan
elemen – elemen bauran pemasaran dengan keputusan pembelian sebagai berikut:
Elemen – elemen dari bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, tempat,
promosi, orang, bukti fisik dan proses merupakan elemen – elemen yang dapat
dikontrol oleh perusahaan, yang ditujukan untuk memuaskan keinginan dan
berkomunikasi dengan pelanggan. Dengan mempengaruhi bagaimana pelanggan
mengambil tindakan untuk memenuhi keinginannya melalui tahapan – tahapan
dalam proses pembuatan keputusan pembelian (2006:29).
Selanjutnya bauran pemasaran jasa yang berkaitan dengan keputusan
konsumen yang akhirnya berpengaruh terhadap penjualan menurut Basu Swasta
dan Ibnu Sukodjo yang dikutip oleh Temy Riyadi adalah sebagai berikut:
Bahwa penjualan merupakan fungsi yang paling penting dalam pemasaran karena
menjadi tulang punggung kegiatan untuk mencapai pasar yang dituju. Fungsi
penjualan juga merupakan sumber pendapatan yang diperlukan untuk menutupi
ongkos – ongkos dengan harapan mendapatkan laba. Jika barang – barang
diproduksi atau dibeli untuk dijual, maka harus diusahakan sejauh mungkin agar
barang tersebut dapat terjual. Oleh karena itu perlu adanya berbagai macam cara
untuk memajukan penjualan, diantaranya dengan mengatur bauran pemasaran
(2012:43).

Konsep Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan suatu kajian salam perilaku konsumen.
Prilaku konsumen (consumer behavior), menurut Engel et al yang dikutip oleh
Ratih Hurriyati (2005:67) menyatakan bahwa “Perilaku konsumen adalah
tindakan langsung untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk
dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan
ini”.
Sedangkan menurut The American Marketing Association yang dikutip
oleh Nugroho J. Setiadi (2010:2) mendefiniskan bahwa “Perilaku konsumen
merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan
lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup
mereka”.
Perilaku konsumen sangat mempengaruhi keputusan pembelian. Adapun
faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Nugroho J.
Setiadi adalah sebagai berikut:
a. Faktor – faktor kebudayaan
 Kebudayaan. Merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan
dan perilaku seseorang. Bila makhluk – makhluk lainnya bertindak
berdasarkan naluri, maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
 Sub budaya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub budaya – sub budaya yang
relatif kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik untuk para anggotanya.
 Kelas sosial. Kelas sosial adalah kelompok yang relatif homogen dan
bertahan lama dalam masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan yang
keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
b. Faktor – faktor sosial
 Kelompok referensi. Kelompok referensi seseorang terdiri dari seluruh
kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung
terhadap sikap atau perilaku seseorang.
 Keluarga. Dapat dibedakan dua keluarga dalam kehidupan pembeli, yang
pertama ialah: keluarga orientasi yang merupakan orang tua seseorang.
Sedangkan yang kedua ialah: keluarga prokreasi, yaitu pasangan hidup
anak – anak seseorang keluarga merupakan organisasi pembeli yang
konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat dan telah diteliti
secara intensif.
 Peran dan status. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok
selama hidupnya keluarga, klub, organisasi.
c. Faktor pribadi
 Umur dan tahapan dalam siklus hidup. Konsumsi sesorang juga dibentuk
oleh tahapan siklus hidup keluarga.
 Pekerjaan. Kelompok – kelompok pekerja memiliki minat di atas rata – rata
terhadap produk dan jasa tertentu.
 Keadaan ekonomi. Keadaan ekonomi seseorang adalah terdiri dari
pendapatan yang di belanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya),
tabungan dan hartanya (termasuk persentase yang mudah dijadikan uang),
kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan
menabung.
 Gaya hidup. Merupakan pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh
kegiatan, minat, dan pendapat sesorang.
 Kepribadian dan konsep diri. Merupakan karakteristik psikologis yang
berbeda dan setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan
yang relatif konsisten.
d. Faktor – faktor Psikologis
 Motivasi. Merupakan beberapa kebutuhan bersifat biogrnik, kebutuhan ini
timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus resah
tidak nyaman. Adapun kebutuhan lain bersifat psikogenik, yaitu kebutuhan
yang timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk
diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
 Persepsi. Didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih,
mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan
suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
 Proses belajar. Proses belajar menjelaskan perubahan dalam perilaku
seseorang yang timbul dari pengalaman.
 Kepercayaan dan sikap. Kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang
dimiliki seseorang terhadap sesuatu (2010:10-14).
Bagi konsumen, pembelian bukanlah merupakan satu tindakan saja, tetapi
terdiri dari berbagai tindakan yang meliputi tentang keputusan jenis produk,
bentuk, jumlah, penjual, waktu serta cara pembayarannya. Hal ini banyak
dipengaruhi oleh kebiasaan membeli dari para konsumennya. Menjadi hal yang
sangat penting bagi pemasar untuk memahami perilaku konsumen, karena akan
memudahkan manajemen dalam merencanakan serta menyusun program
pemasaran yang tepat, guna memanfaatkan peluang pasar yang ada, terutama yang
berkaitan dengan tanggapan konsumen terhadap barang atau jasa yang
ditawarkan.

Promosi (Promotion)


Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa. Kegiatan
promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dan
konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk memengaruhi konsumen dalam
kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan
kebutuhannya. Betapapun berkualitasnya suatu produk/jasa, bila konsumen belum
pernah mendengar dan tidak yakin bahwa produk/jasa tersebut akan berguna bagi
mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya.
Menurut Buchari Alma yang dikutip oleh Ratih Huttiyati (2005:58)
mendefinisikan bahwa “Promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran.
Yang merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebar informasi,
mempengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan
dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan”.
Sedangkan menurut William J. Stanton et. al yang dikutip oleh Laelasari
(2014:34) mendefinisikan bahwa “Promosi adalah salah satu unsur dalam bauran
pemasaran perusahaan yang didaya gunakan untuk memberitahukan, membujuk,
dan mengingatkan tentang produk perusahaan”.
Hal yang perlu diperhatikan dalam promosi adalah pemilihan bauran promosi
(promotional mix). Menurut Rambat Lupiyoadi, bauran promosi (promotional
mix) terdiri atas:
a. Periklanan (advertising), merupakan salah satu bentuk dai komunikasi
impersonal (impersonal communication) yang digunakan oleh perusahaan
dalam mengkomunikasikan produknya, baik barang maupun jasa.
b. Penjualan perseorangan (personal selling) adalah komunikasi langsung (tatap
muka) antar penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk
kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap
produk sehingga mereka kemudian akan mencoba dan membelinya.
c. Promosi penjualan (sales promotion) adalah semua kegiatan yang dimaksudkan
untuk meningkatkan arus barang atau jasa dari produsen sampai pada penjualan
akhirnya. Titik promosi penjulan terdiri atas brosur,lembar informasi, dan lain
– lain.
d. Hubungan masyarakat (humas – public relation) merupakan kiat pemasaran
penting lainnya, di mana perusahaan tidak hanya harus berhubungan dengan
pelangan, pemasok, dan penyalur, tetapi juga harus berhubungan dengan
kumpulan kepentingan publik yang lebih besar.
e. Informasi dari mulut ke mulut (word to mouth) dalam hal ini peranan orang
sangat penting dalam mempromosikan jasa. Pelanggan sangat dekat dengan
penyampaian jasa, pelanggan akan berbicara kepada pelangan lain yang
berpotensial tentang pengalamannya dalam menerima jasa.
f. Pemasaran langsung (direct marketing) adalah sistem pemasaran yang bersifat
interaktif, yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk
menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi disembarang lokasi.
Terdapat enam area dari pemasaran langsung, yaitu surat langsung (direct
mail), pesanan melalui pos (mail order), respons langsung, penjualan langsung,
telemarketing, dan pemasaran digital (digital marketing) (2013:178-182).

Harga (Price)


Salah satu unsur dari bauran pemasaran jasa adalah harga (price). Harga
merupakan titik kritis dalam bauran pemasaran jasa karena harga menentukan
pendapatan suatu bisnis/usaha dan mempengaruhi penawaran atau saluran
pemasaran. Keputusan penentuan harga juga sangat signifikan di dalam penentuan
nilai/manfaat yang dapat diberikan kepada pelanggan dan memainkan peranan
penting dalam gambaran kualitas jasa sehingga dapat membuat konsumen untuk
melakukan keputusan pembelian.
Menurut Rambat Lupiyoadi (2013:95) berpendapat bahwa “Harga
merupakan alat pemberian nilai kepada konsumen dan mempengaruhi citra
produk, dan keputusan konsumen untuk membeli”.
Menurut Payne yang dikutip oleh Laelasari (2014:29) mendefinisikan
bahwa “Harga merupakan alat yang dapat memberikan penghasilan bagi bisnis,
alat pembentuk citra, kualitas dalam mendapatkan nilai pelanggan”.

Unsur – unsur Bauran Pemasaran Jasa


Program pemasaran yang efektif memadukan seluruh elemen bauran
pemasaran kedalam suatu program terpadu yang didesain untuk mencapai tujuan –
tujuan pemasaran perusahaan melalui penyampaian nilai (value delivery) kepada
pelanggan/konsumen. Bauran pemasaran menciptakan seperangkat alat taktis
perusahaan untuk membangun posisi yang kuat didalam pasar sasaran.

Konsep Bauran Pemasaran Jasa


Boone dan Kurtz (2000:18) yang dialihbahasakan oleh Wisnu Chandra
Kristiaji, mengemukakan sebagai berikut : “Bahwa ada dua langkah untuk
mengembangkan strategi pemasaran. Pertama mempelajari dan menganalisis
pasar sasaran yang potensial kemudian memilih diantara pasar tertentu, dan kedua
menciptakan marketing mix (bauran pemasaran) untuk memuaskan pasar yang
dipilih”.
Berdasarkan penjelasan diatas, bahwa setelah perusahaan memutuskan
strategi pemasaran kompetitifnya secara keseluruhan, perusahaan harus mulai
menyiapkan perencanaan bauran pemasaran yang rinci. Konsep bauran ini dikenal
dengan konsep bauran pemasaran (marketing mix).
Kotler dan Armstrong yang dialihbahasakan oleh Damos Sihombing
(2003:71) menjelaskan pengertian bauran pemasaran yaitu bahwa “Bauran
pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran taktis-produk,
harga, promosi, distribusi yang dipadukan untuk menghasilkan respon yang
diinginkan oleh pasar sasaran”.
Menurut Djaslim Saladin yang dikutip oleh Laelasari (2014:21),
mendefinisikan bahwa “Bauran pemasaran (marketing mix) adalah serangkaian
dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan, yang digunakan
untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran”

Klasifikasi Jasa


Industri jasa sangat beragam, sehingga tidak mudah untuk menyamakan
cara pemasarannya. Klasifikasi jasa dapat membantu memahami batasan –
batasan dari industri jasa dan menfaatkan pengalaman industri jasa lainnya yang
mempunyai masalah dan karakteristik yang sama untuk diterapkan pada suatu
bisnis jasa.
Menurut Gronroos yang dikutifp Ratih Hurriyati (2005:33),
mengemukakan bahwa “Jasa dapat diklasifikasikan berdasarkan : (1) jenis biaya
(type of service) (2) jasa profesional (professional services) (3) jasa lainnya (4)
jenis pelanggan (type of customer) (5) individu (individuals) dan (6) organisasi
(organizations)”.
Sedangkan menurut Adrian Payne yang dikutip Ratih Hurriyati, klasifikasi
jasa dapat dikelompokkan berdasarkan pembagian sebagai berikut:
a. Type of service (macam jasa)
b. Type of seller (macam penjual)
c. Type of purchaser (macam pembeli)
d. Demand characteristics (karakteristik permintaan)
e. Degree of intangibility (tingkat ketidaknyataan)
f. Buying motives (alasan pembelian)
g. Equipment based versus people based ( berdasarkan manusia versus
berdasarkan peralatan
h. Amount of customer contact (banyaknya inteaksi dengan pelanggan)
i. Service delivery requirements (syarat – syarat penyerahan jasa)
j. Degree of customization (tingkat fleksibilitas produk)
k. Degree of labour intensity (tingkat intensitas pekerja) (2005:33)

Karakteristik Jasa


Menurut Kotler yang dikutip Ratih Hurriyati, jasa memiliki empat
karakteristik atau ciri utama yang sangat mempengaruhi rancangan program
pemasaran, yaitu:
a. Tidak berwujud. Hal ini menyebabkan konsumen tidak dapat melihat,
mencium, meraba, mendengar dan merasakan hasilnya sebelum mereka
membelinya. Untuk mengurangi keridakpastian, konsumen akan mencari
informasi tentang jasa tersebut, seperti lokasi perusahaan, para penyedia dan
penyalur jasa, peralatan dan alat komunikasi yang digunakan serta harga
produk jasa tersebut.
b. Tidak terpisahkan (inseparability). Jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya,
yaitu perusahaan jasa yang menghasilkannya. Jasa di produksi dan dikonsumsi
pada saat bersamaan.
c. Bervariasi (variability). Jasa yang diberikan sering kali berubah – ubah
tergantung dari siapa yang menyajikannya, kapan dan dimana penyajian jasa
tersebut dilakukan.
d. Mudah musnah (perishability) jasa tidak dapat disimpan atau mudah musnah
sehingga tidak dapat dijual pada masa yang akan datang (2005:28).
Sedangkan menurut Griffin yang dikutip Rambat Lupiyoadi, karakteristik
jasa terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, didengar, atau
dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai terpenting dari hal ini adalah nilai tak
berwujud yang dialami konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, atau
rasa aman.
b. Unstorability (tidak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau
penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga
inseparability (tidak dapat dipisahkan) mengingat pada umumnya jasa
dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
c. Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk kebutuhan
pelanggan, misalnya pada jasa asuransi dan kesehatan (2013:7)

Konsep Jasa


Jasa bukanlah suatu barang, melainkan suatu proses atau aktivitas yang
tidak berwujud. Di dalam jasa selalu ada aspek interaksi antara pihak konsumen
dan pihak pemberi jasa, meskipun pihak – pihak terlibat tidak selalu menyadari
aspek tersebut.
Pengertian jasa menurut Kotler yang dikutip Ratih Hurriyanti (2005:27)
mendefinisikan bahwa “Jasa adalah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan
oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak
menyebabkan perpindahan kepemilikan. Produksi jasa dapat terikat atau tidak
terikat pada suatu produk fisik”.
Sedangkan menurut Valarie A. Zeithaml dan Mary Jo Bitner yang dikutip
Rambat Lupiyoadi mendefinisikan bahwa:
Jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk
dalam bentuk fisik atau kontruksi, yang umumnya dikonsumsi pada saat yang sama
dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (misalnya kenyamanan,
hiburan, kesenangan, atau kesehatan) atau pemecahan masalah yang dihadapi oleh
konsumen (2013:7).

Pengertian Pemasaran


Pemasaran merupakan bagian yang sangat penting dari strategi perusahaan
dalam aktifitas penjualan produk atau jasa yang dihasilkan kepada konsumen.
Keberhasilan suatu produk atau jasa yang diterima oleh konsumen sangat
dipengaruhi oleh sejauh mana perusahaan tersebut menerapkan sistem pemasaran
yang tepat untuk pasar sasaran.
Menurut American Marketing Association (AMA) dalam Philip Kotler
dan Kevin Lane Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2009:5)
pengertian pemasaran adalah sebagai berikut :
“Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk
menciptakan, mengomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan
untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan
organisasi dan pemangku kepentingannya. Manajemen pemasaran sebagai seni
dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan serta
menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan
mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pengertian
pemasaran adalah suatu proses atau kegiatan bisnis yang dirancang untuk
memenuhi, memuaskan kebutuhan, aktivitas pemasaran merupakan suatu proses
merencanakan, melaksanakan konsep harga, promosi dan distribusi barang-
barang, jasa-jasa dan ide-ide untuk menciptakan pertukaran sesuai target.

Pengertian Jasa dan Pemasaran Jasa


Menurut Zeithaml dan Bitner yang dikutip Ratih Hurriyati (2008:28) jasa
adalah seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian
fisik,di konsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah
dan secara prinsip tidak berwujud bagi pembeli pertamanya. Berdasarkan definisi
tersebut, maka jasa pada dasarnya adalah sesuatu yang memiliki ciri sebagai
berikut:

  1. Sesuatu tidak berwujud namun bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
  2. Proses produk jasa dapat menggunakan atau tidak bantuan dari suatu
    produk fisik.
  3. Jasa tidak mengakibatkan peralihan hak atau kepemilikkan.
  4. Terdapat interaksi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.
    Pengertian jasa menurut Tjiptono (2011:17) bahwa jasa adalah merupakan
    aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Contohnya
    bengkel reparasi kendaraan bermotor, salon kecantikan, kursus keterampilan,
    pusat kebugaran, restoran, hotel, rumah sakit, universitas dan lain-lain

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Menurut Zeithaml dan Bitner (2008;75) kepuasan konsumen adalah respon
atau tanggapan konsumen mengenai pemenuhan kebutuhan. Kepuasan merupakan
penilaian mengenai ciri atau keistimewaan produk atau jasa yang menyediakan
tingkat kesenangan konsumen berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi
konsumen. karena kepuasan pelanggan sangat tergantung pada persepsi dan
ekspektasi pelanggan, maka sebagai pemasok produk perlu mengetahui faktor-
faktor yang mempengaruhi persepsi dan ekspektasi pelanggan yaitu sebagai
berikut :

  1. Apa yang didengar pelanggan dari pelanggan lainnya, dimana hal ini
    merupakan faktor potensial yang menentukan ekspektasi pelanggan.
  2. Ekspektasi pelanggan sangat bergantung dari karakteristik individu
    untuk kebutuhan pribadi.
  3. Pengalaman masa lalu dalam menggunakan pelayanan dapat juga
    mempengaruhi tigkat ekspektasi pelanggan.
  4. Komunikasi dengan pihak eksternal dari pemberi layanan memainkan
    peranan kunci dalam membentuk ekspektasi pelanggan. Berdasarkan
    pihak eksternal, perusahaan memberi layanan dapat memberikan pesan-
    pesan secara langsung maupun tidak langsung kepada pelanggan.
    Dengan demikian, kemungkinan antara ekspektasi pelanggan dan kualitas
    pelayanan jasa yang diterimanya yaitu :
  5. Pelanggan menjadi senang jika kualitas pelayanan yang diterima lebih
    baik dari perkiraannya.
  6. Pelanggan menjadi biasa saja jika kualitas pelayanan sama dengan
    pemikirannya.
  7. Pelanggan akan kecewa jika kualitas pelayanan yang di terima lebih
    jelek dari perkiraannya.
    Kepuasan pelanggan adalah seorang yang secara kontinu dan berulang kali
    datang ke suatu tempat yang sama untuk memuaskan keinginannya dengan
    memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu saja dan membayar produk atau
    jasa tersebut ( Lupiyoadi; 2011:192)

Pengertian Physical Evidence


Menurut Zeithaml & Britner (2008:47) physical evidence merupakan suatu
hal yang secara nyata turut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli
dan menggunakan produk jasa yang ditawarkan. Physical evidence adalah
mengkomunikasikan kepada konsumen dimana dan bagaimana organisasi jasa
memainkan peran dalam menciptakan jasa, dalam memuaskan konsumen, dan
dalam meningkatkan persepsi konsumen tentang kualitas jasa. Unsur-unsur yang
termasuk di dalam sarana fisik antara lain lingkungan fisik, dalam hal ini bangun
fisik, peralatan, perlengkapan, logo ,warna dan barang-barang lainnya yang
disatukan dengan service yang diberikan seperti tiket, sampul, label, dan lain
sebagainya.
Physical evidence merupakan bagian dari pemasaran jasa yang
memiliki peranan cukup penting. Karena physical evidence mempunyai
pengaruh erat dengan kepuasan pelanggan, yaitu kepuasan pelanggan akan
terpenuhi apabila fasilitas yang terdapat dalam sebuah hotel kondisinya baik,
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan.
Physical Evidence (Bukti fisik) adalah hal-hal yang terdapat disekitar
tempat pemberian jasa yang berwujud yang dapat memperlihatkan kepada
konsumen kualitas jasa yang diberikan, misalnya brosur, spanduk, papan
pengumuman, dan lain-lain. Kotler (dalam Firah Sri Widari Rahman, 2005:7).
Lovelock (2012:286) mengemukakan bahwa perusahaan melalui tenaga
pemasarnya menggunakan tiga cara dalam mengelola bukti fisik yang strategis,
yaitu sebagai berikut :
a. An attention-Creating Medium. Perusahaan jasa melakukan diferensiasi
dengan pesaing dan membuat sarana fisik semenarik mungkin untuk
menjaring pelanggan dari terget pasarnya.
b. As a message-creating medium, menggunakan simbol atau isyarat untuk
mengkomunikasikan secara insentif kepada audiens mengenai kekhususan
kualitas dari produk jasa.
c. An effect-creating medium, baju seragam yang berwarna, bercorak, suara
dan desain untuk menciptakan sesuatu yang lain dari produk jasa yang
ditawarkan.

Pengertian Process


Menurut Zeithaml dan Bitner yang dikutip oleh Ratih Hurriyanti (
2008:27) Process adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas
yang digunakan untuk menyampaikan jasa. Jadi proses ini mulai dari awal yaitu
registrasi pelanggan atau chek in hingga chek out pelanggan. Elemen proses ini
mempunyai arti suatu upaya perusahaan dalam menjalankan dan melaksanakan
aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumennya. Untuk
perusahaan jasa, kerja sama antara pemasaran dan operasional sangat penting
dalam elemen ini, terutama dalam melayani segala kebutuhan dan keinginan
konsumen, maka kualitas jasa diantaranya dilihat dari bagaimana jasa
menghasilkan fungsinya.
Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam bauran pemasaran jasa
seperti pelanggan jasa akan sering merasakan sistem penyerahan jasa sebagai
bagian dari jasa itu sendiri. Selain itu keputusan dalam manajemen operasi adalah
sangat penting untuk suksesnya pemasaran jasa. Seluruh aktivitas kerja adalah
proses, proses melibatkan prosedur-prosedur, tugas-tugas, mekanisme-
mekanisme, aktivitas-akivitas dan rutinitas dengan apa (produk atau jasa)
disalurkan ke pelanggan. Identitas manajemen proses sebagai aktivitas terpisah
adalah prasyarat bagi kebaikan jasa. Pentingnya elemen proses ini khususnya
dalam bisnis jasa disebabkan oleh persediaan jasa yang tidak dapat disimpan.
Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran
(2009:166) Proses Adalah kecepatan dan ketetapan karyawan perusahaan dalam
memproduksi jasa perusahaan sangatlah penting. Yang dimaksud dengan
ketepatan dan kecepatan yaitu tidak adanya kesalahan dalam memberikan
pelayanan atau proses transaksi untuk mendapatkan, menciptakan jasa yang sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Lovelock (2012:44) mengemukakan bahwa dalam proses organisasinya
perlu menciptakan inovasi penting, yaitu sebagai berikut :

  1. Pemrosesan orang yaitu jasa yang melibatkan tindakan yang berwujud
    terhadap tubuh manusia.
  2. Pemrosesan barang milik yaitu merujuk tindakan yang berwujud terhadap
    barang dan benda fisik lainnya yang merupakan milik pelanggan. Contoh
    pemrosesan barang milik mencangkup pengangkutan barang, dan jasa
    kebersihan.
  3. Pemrosesan perangsang pemikiran yaitu tindakan tidak berwujud yang
    ditujukan pada pikiran manusia. Jasa dalam katagori ini mencangkup
    hiburan, dan olahraga.
  4. Pemrosesan informasi yaitu menggambarkan tindakan tidak berwujud
    yang ditujukan pada aset pelanggan

Pengertian People


Menurut Zaithhaml & Bitner (2013:25) People adalah semua pelaku yang
memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi
pembeli. Elemen-elemen dari people adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan
konsumen lain dalam lingkungan jasa. Semua sikap dan tindakan karyawan,
bahkan cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan mempunyai
pengaruh terhadap persepsi konsumen atau keberhasilan penyampaian jasa
(service acounter. Indicator orang yang termasuk diantaranya adalah : employes,
recruiting, training, motivation, reward, teamwork, costumer, education, and
communication. Dengan kata lain, dalam pengertian yang luas pemasaran
merupakan pekerjaan semua personil organisasi jasa. Oleh karena itu penting
kiranya semua pelaku karyawan jasa harus diorientasikan kepada konsumen. Itu
berarti organisasi jasa harus merekrut dan mempertahankan karyawan yang
memiliki skill, sikap, komitmen, dan kemampuan dalam membina hubungan baik
dengan konsumen.
People dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan, dan merupakan
faktor yang memegang peranan penting bagi semua organisasi. Oleh perusahaan
jasa unsur people ini bukan hanya memegang peranan penting dalam bidang
produksi atau operasional saja, tetapi juga dalam melakukan hubungan kontak
langsung dengan konsumen. Perilaku orang-orang yang terlibat langsung ini
sangat pening dalam mempengaruhi mutu jasa ditawarkan dan image perusahaan
yang bersangkutan. Elemen people memiliki 2 aspek, yaitu :

  1. Service People
    Untuk organisasi jasa service people biasanya memegang jabatan
    ganda, yaitu mengadakan jasa dan menjual jasa tersebut. Melalui
    pelayanan yang baik, cepat, ramah, teliti dan kesetiaan pelanggan
    terhadap perusahaan yang akhirnya akan meningkatkan nama baik
    perusahaan.
  2. Customer
    Faktor lain yang mempengaruhi adalah hubungan yang ada diantara
    para pelanggan. Pelanggan dapat memberikan persepsi kepada
    pelanggan lain tentang kualitas jasa yang pernah didapatnya dari
    perusahaan. Keberhasilan dari perusahaan jasa berkaitan erat dengan
    seleksi, pelatihan, motivasi, dan manajemen sumber daya manusia.
    Pentingnya sumber daya manusia dalam pemasaran jasa telah
    mengarahkan perhatian besar pada pemasaran internal. Pemasaran
    internal semakin diakui perusahaan jasa dalam menentukan suksesnya
    pemasaran kepelanggan eksterna

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Menurut Zeithaml dan Bitner yang dikutip oleh Ratih Hurriyanti (2008:47)
mengemukakan bahwa konsep bauran pemasaran tradisional terdiri atas 4P yaitu
product, price, place, promotion. Sementara itu, untuk pemasaran jasa, perlu
bauran pemasaran yang diperluas (expanded marketing mix for services) dengan
penambahan unsur non-tradisional marketing mix yaitu people (orang), physical
evidence (fasilitas fisik), dan process (proses) sehingga menjadi tujuh unsur (7P).
Masing-masing dari tujuh unsur bauran pemasaran tersebut saling berhubungan
dan mempunyai suatu bauran yang optimal sesuai dengan karakteristik
segmennya. Penambahan unsur bauran pemasaran jasa dilakukan karena jasa
memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk, yaitu tidak berwujud
(intagibility), tidak dapat dipisahkan (inspirability), berubah-ubah (variability),
mudah lenyap (perishabiliti).
Marketing mix merupakan alat-alat yang saling berkaitan satu dengan yang
lainnya untuk mempengaruhi permintaan produk pasar. (Kotler dan Amstrong,
2010:76)

Price (Harga)


Harga adalah sejumlah kompensasi (uang maupun barang,
kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi barang atau jasa, salah satu prinsip dalam penentuan harga
adalah penitikberatan pada kemauan pembeli terhadap harga yang
telah ditentukan dengan jumlah yang cukup untuk menutup biaya-
biaya yang telah dikeluarkan beserta persentase laba yang diinginkan
(Fuad, dkk, 2000). Menetapkan harga dan syarat pembayaran produk
sesuai dengan kesediaan konsumen untuk membayar (Sutojo, 2009).

Product (Produk)


Produk adalah barang atau jasa yang bisa ditawarkan di pasar
untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi
yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan, pembeli akan
membeli produk kalau merasa cocok, oleh karena itu produk harus
disesuaikan dengan keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar
pemasaran produk berhasil (Fuad & dkk, 2000, p. 128) . Menurut
(Sutojo, 2009) yaitu menyajikan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Marketing mix seringkali dikenal dengan sebutan “The Four P s of
the marketing mix” yaitu product strategy, price strategy, place atau
distribution strategy dan promotion strategy (Sutojo, 2009). Konsep
marketing mix dipopulerkan oleh E.J. Mc Carthy, Ph D dalam bukunya Basic
Marketing : A Managerial Approach, kemudian Michael J. Baker dalam
bukunya Marketing Strategy and Management menambah satu komponen
marketing mix yang lain yaitu layanan purna jual (after sales services),
dengan demikian menurut Baker marketing mix terdiri dari lima komponen
yaitu product strategy, price, place, promotion dan after sales services. Di
samping itu ada pula pakar-pakar manajemen pemasaran lain yang
memperpanjang daftar komponen marketing mix tersebut menjadi tujuh P s
dan satu A, yaitu product, price, packaging, personal selling, publicity,
pysical distribuiton, promotion dan advertising.

Penerapan Strategi Usaha dalam Dunia Bisnis


Strategi usaha didefinisikan sebagai rencana penggunaan dan alokasi
sumber daya manusia dan sarana usaha yang mereka miliki untuk mencapai
tujuan usaha tertentu, termasuk tujuan pemasaran (Sutojo, 2009). Tujuan
usaha perusahaan (corporate objectives) yang ingin dicapai oleh suatu
perushahaan dengan strategi manajemen dapat beraneka macam bentuknya,
tergantung masing-masing perusahaan. Dalam bukunya The Practice of
Management pakar ilmu manajemen Peter F. Drucker mengemukakan tujuan
usaha yang erat hubungannya dengan strategi manajemen pemasaran (Sutojo,
2009), yaitu sebagai berikut:

  1. Mendapatkan keuntungan, yang dimaksud dengan keuntungan adalah
    jumlah laba yang berhasil diperoleh perusahaan selama jangka waktu
    tertentu misalnya satu atau lima tahun.
  2. Mempertahankan atau meningkatkan market standing perusahaan,
    market standing adalah posisi perusahaan dalam persaingan di pasar,
    lemah atau kuatnya posisi perusahaan dalam persaingan pasar ditandai
    oleh berbagai macam tolok ukur, antara lain: besarnya pangsa pasar
    (market share), kekuatan menentukan harga jual produk, trend
    perkembangan jumlah hasil penjualan produk dari waktu ke waktu dan
    kesetiaan konsumen terhadap merek dagang produk (customer’s brand
    loyalty)
  3. Meningkatkan produktifitas usaha, peningkatan produktifitas usaha dapat
    ditandai oleh peningkatan rasio perbandingan jumlah masukan (input)
    dan hasil (output) kegiatan usaha perusahaan. Peningkatan produktifitas
    usaha mempunyai dampak positif terhadap efisiensi usaha bisnis, daya
    saing dan profitabilitas usaha.
  4. Meningkatkan tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat, dapat
    diwujudkan dalam bentuk membuka lapangan pekerjaan kepada
    penduduk yang bertempat tinggal di sekitar lokasi tempat usaha

Strategi Pemasaran


Menurut Phillip Kotler dan Gary Amstrong (1999:4) marketing is a
process whereby a company creates value for customers and builds strong
relationships with customers in order to capture value from customers in
order to capture value from customers in return (Ratuwalangon, 2017).
Menurut Tjiptono strategi pemasaran adalah alat fundamental yang
direncanakan untuk mencapai perusahaan dengan mengembangkan
keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki
dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran
tersebut (Effendy, 2018)
Menurut (Tjiptono, 2015) strategi pemasaran dipandang sebagai
pernyataan umum mengenai arah atau pedoman dalam memilih pasar sasaran
dan merancang serta menerapkan bauran pemasaran, tiga aspek utama yang
dicakup adalah sebagai berikut:

  1. Where to compete? (penentuan pasar yang dipilih perusahaan
  2. On What basis to compete? (Pengembangan produk dan jasa)
  3. When to compete? (timing memasuki pasar dan aktivitas pengembangan
    pasar)

Efektivitas dan Efisiensi Strategi Pemasaran


Kata efektif berasal dari bahasa Inggris, yaitu effective yang berarti
berhasil, atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik, efektivitas adalah
suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target telah tercapai, makin
besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya (Indrawati,
dkk, 2017). Menurut Robin efektivitas merupakan tingkat pencapaian
organisasi jangka panjang, efektivitas dapat didefinisikan sebagai tingkat
ketepatan dalam memilih atau menggunakan suatu metode untuk melakukan
sesuatu (efektif = do right things) (Indrawati, dkk, 2017).
Kata efektif dan efisien seringkali didengar dalam kehidupan sehari-
hari terutama dalam pembicaraan yang bersifat bisnis. Efektivitas adalah bila
sasaran atau tujuan telah tercapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya, jika sasaran itu tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
maka pekerjaan itu dikatakan tidak efektif (Soewarno, 1996).
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia efektivitas artinya akibatnya,
pengaruh dan kesan, manjur, dapat membawa hasil, sedangkan efisien artinya
tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak
membuang – buang waktu, biaya dan tenaga), defenisi lain dari efisiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang
optimum (KKBI, 1995).
Efisiensi merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dengan benar. Dalam perusahaan, usaha meningkatkan efisiensi
umumnya dihubungkan dengan biaya yang kecil untuk memperoleh hasil
tertentu atau biaya tertentu untuk hasil yang banyak. Ini berarti pemborosan
di tekan sekecil mungkin dan sesuatu yang memungkinkan untuk mengurangi
biaya ini dilakukan dengan efisien (Handoko, 1991).
Teori mengenai efisiensi dan efektivitas juga diungkapkan oleh Peter
Drucker yaitu terdapat dua konsep dalam manajemen, yaitu efisiensi dan
efektivitas, efisiensi berarti melakukan sesuatu dengan tepat adalah konsep
input (tenaga kerja, material dan waktu) untuk menghasilkan output (hasil
yang diinginkan) dan efektivitas berarti melakukan sesuatu yang tepat,
memilih sasaran yang tepat (Stoner, dkk, 1996)
Jadi yang membedakan antara efektivitas dan efisiensi adalah
efektivitas lebih menekankan pada waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan sesuatu, sedangkan efisiensi lebih menekankan pada biaya
yang dikeluarkan untuk mencapai sesuatu

Perilaku Pembelian Konsumen


Menurut Peter dan Olson dalam buku Consumer Behavior, untuk
memahami perilaku konsumen dan berhubungan dengan pengembangan
strategi pemasaran diperlukan konseptual yang bernama Roda Analisis
Konsumen (Nadya, 2016). Definisi dari perilaku konsumen (consumer
behavior) adalah interaksi dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan
kejadian di sekitar lingkungan dimana manusia melakukan aspek pertukaran
dalam hidup mereka. Hal ini berarti bahwa seorang konsumen, group
konsumen, serta masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang
waktu. Berikut ini adalah empat elemen utama dalam roda analisis konsumen
yang saling berinteraksi sebagai pertimbangan analisis konsumen, yaitu:

  1. Afeksi dan kognisi, yaitu tindakan konsumen yang melibatkan perasaan
    (afeksi) dan pemikiran (kognisi)
  2. Perilaku, dalam hal ini perilaku yang dianalisa adalah perilaku konsumen
    yang meliputi kebutuhan dan keinginan
  3. Lingkungan, merupakan aspek yang datang dari luar konsumen dan
    mempengaruhinya
  4. Strategi pemasaran, yaitu suatu rencana yang didesain untuk
    mempengaruhi pertukaran dalam mencapai tujuan organisasi
    Roda analisis konsumen ini merupakan alat yang dipergunakan untuk
    melakukan analisis terhadap perilaku konsumen, sehingga dapat memahami
    mengenai konsumen serta dapat mengarahkan untuk mengembangkan strategi
    pemasaran (Nadya, 2016)

Proses Pemasaran


Proses pemasaran merupakan kegiatan terakhir setelah kegiatan produksi.
Tujuan dari pemasaran adalah untuk mempengaruhi konsumen untuk membeli
produk atau menggunakan apa yang ditawarkan proses pemasaran.
Menurut kotler 5 tahapan proses pemasaran : pemasaran merupakan garda
depan perusahaan, karena dengan pemasaran maka produk berupa barang dan jasa
dapat dikenal oleh konsumen. Pemasaran memang berhubungan dengan
konsumen atau pelangan, sehingga salah satu tugas pemasar adalah merancang
produk sesuai dengan kebutuhan konsumen kemudian memasarkannya dengan
strategi yang efektif.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemasar perlu melakukan serangkaian
tahapan mulai dari menciptakan pelanggan dan menangkap nilai yang diberikan
palnggan. Rangkaian tahapan ini dikenal sebagai proses pemasaran.
Model proses pemasaran lima tahap menurut Philip Kotler (2012) :

  1. Memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan
    Konsep inti pemasaran adalah mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan
    pelanggan, dan produk yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
    pelanggan lebih mungkin diterima dan disukai oleh konsumen. Kebutuhan secara
    harfiah, adalah sesuatu yang dibutuhkan seseorang dalam hidup dan menampilkan
    dirinya sebagai kekurangan dan membutuhkan termasuk kebutuhan biologis,
    kebutuhan sosial, dan kebutuhan pribadi.
    Pada saat yang sama, keinginan adalah bentuk kebutuhan orang yang dipengaruhi
    oleh budaya dan kepribadian. Keberhasilan seorang pemasar bergantung pada
    keberhasilan mengidentifikasi apa yang diinginkan dan diinginkan konsumen.
  2. Merancang strategi pemasaran yang berorientasi pelanggan
    Setelah perusahaan mampu mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen,
    maka perusahaan harus merancang strategi pemasaran yang berorientasi pada
    konsumen. Untuk dapat melayani pelanggan secara efektif, perusahaan perlu
    mengidentifikasi jenis pelanggan yang ingin mereka layani. Intinya, perusahaan
    harus melakukan STP (Segmenting, Targeting, dan Positioning). Selain itu,
    pelaku bisnis juga perlu menentukan proposisi nilai yang akan diberikan pelaku
    bisnis kepada konsumen.
  3. Merancang rencana pemasaran terpadu (marketing mix)
    Rencana pemasaran adalah serangkaian rencana pemasaran yang dirancang untuk
    melaksanakan strategi pemasaran yang ditentukan oleh pemasar. Sering disebut
    sebagai bauran pemasaran yang terdiri dari 7P (Produk, Harga, Tempat, Promosi,
    Bukti Fisik, Orang Proses). Bauran pemasaran atau bauran pemasaran adalah
    seperangkat alat yang digunakan oleh seorang manajer pemasaran untuk
    menjalankan strategi pemasaran, termasuk menentukan produk, harga, saluran
    distribusi, pemasaran, termasuk menentukan produk, harga, saluran distribusi,
    promosi, suasana, proses jasa dan orang-orang yang berkepentingan.
  4. Membangun hubungan dengan pelanggan dan menciptakan kepuasan pelanggan.
    Konsep inti pemasaran adalah mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan
    pelanggan, dan produk yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
    pelanggan lebih mungkin diterima dan disukai oleh konsumen.
    Kebutuhan, secara harfiah, adalah sesuatu yang dibutuhkan seseorang dalam
    hidup dan menampilkan dirinya sebagai perasaan kekurangan. Kebutuhan
    seseorang dalam hidup dan menampilkan dirinya sebagai perasaan kekurangan.
    Kebutuhan meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan sosial dan kebutuhan
    pribadi.
  5. Menangkap nilai dari pelanggan untuk menciptakan keuntungan dan ekuitas
    pelanggan.
    Tahap kelima dari proses pemasaran adalah menangkap nilai dari pelanggan, yang
    dapat berupa penjualan, dan keuntungan. Keberhasilan perusahaan dalam
    menangkap nilai dari pelanggan merupakan output atau hasil dari strategi
    pemasaran yang berhasil

Pengertian Produk


Inti dari pemasaran produk adalah apa yang ditawarkan. Produk
dirancang untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar sasaran yang dituju.
Produk merupakan elemen yang sangat penting karena mencakup keseluruhan
proses perencanaan produksi. Hanya ketika produk memenuhi permintaan kita
dapat berbicara tentang produk tersebut. Buat strategi terbaik untuk bertahan di
industri yang sama. Siklus hidup pengembangan produk selalu terbatas.
Produk adalah kumpulan atribut fisik, psikologis, layanan, dan simbolik
yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2015) produk adalah pemahaman subjektif tentang
sesuatu oleh produsen, yang dapat berusaha untuk mencapai tujuan organisasi
dengan cara memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai kemampuan
dan kapasilitas organisasi, serta daya beli pasar.
W.J.Stanton dan Alma ( 2016) mengatakan produk adalah sekumpulan
atribut berwujud dan tidak berwujud, termasuk kemasan, warna, harga, produsen,
reputasi pengecer yang dapat diterima pembeli sebagai memberikan kepuasan
yang diinginkan

Promosi


Secara umum, promosi berasal dari kata Latin “Promovere” yang berarti
“memajukan” atau mendorong atau memajukan suatu gagasan. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pengertian promosi pemasaran mengarah pada
perkenalan untuk mempromosikan bisnis, perdagangan, dll.
Menurut fandy Tjiptono, promosi adalah komunikasi pemasaran yang
dilakulakan untuk menyebarluaskan informasi, mempengaruhi, membujuk, atau
meningkatkan pasar sasaran suatu perusahaan dan produknya sehingga masyarakat
dapat menerima, membeli dan dengan murah hati menggunakan apa yang
ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Royal pada produk yang ditawarkan oleh
perusahaan tersebut.
Menurut indiro gitosudarmo, konsep promosi adalah suatu kegiatan yang
dilakukan untuk mempengaruhi calon konsumen agar mereka mengetahui tentang
produk yang ditawarkan oleh suatu perusahaan, sehingga mereka akan senang dan
untuk membelinya.
The American Marketing Association (AMA) mengutip bukunya Sustina
(2010) untuk mengusulkan arti promosi sebagai penerapan media promosi dan
tekanan pemasaran non-media untuk jangka waktu terbatas yang telah ditentukan
sebelumnya untuk merangsang percobaan, meningkat permintaan konsume, atau
meningkatkan kualitas produk. Promosi adalah kegiatan pemasaran media dan non-
media yang dirancang untuk merangsang coba-coba konsumen, meningkatkan
permintaan konsumen, atau meningkatkan kualitas produk.
Menurut hermawan kertajaya dan muhammad Syakir sula, promosi harus
benar-benar menggambarkan apa yang ditawarkan produk perusahaan. Promosi
yang tidak memenuhi kualitas dan kemampuan, seperti yang terlalu banyak
menampilkan imajinasi konsumen sesuai dengan kualitas dan kompetensi,
contohnya promosi yang menampilkan imajinasi yang terlalu tinggi bagi
konsumennya adaalah termasuk dalam penipuan dan kebohongan.

Media Sosial dan E-commerce


Menurut kamus Mcgram hill, media sosial adalah alat yang digunakan orang
untuk berinteraksi satu sama lain dengan membuat, berbagi, dan bertukar informasi
dan ide dalam jaringan dan komunikasi virtual.
Varindel taprial dan priya kanwar (2012) : media sosial adalah media sosial
yang digunakan individu untuk bersolialisasi atau menjadi media sosial online
dengan berbagai konten, berita dll.
Beberapa definisi media sosial telah dikembangkan oleh berbagai pihak
dalam kajian komunikasi kajian lainnya, dan menurut carr dan hayes, definisi atau
makna yang dikembangkan tersebut secara umum mengacu pada tiga aspek utama
media sosial, yaitu:

  1. Mengacu pada Teknologi untuk konten atau interaksi buatan pengguna.
  2. Properti atau karakteristik media.
  3. Jejaring sosial seperti facebook, twiter, instagram, sebagai model interaksi
    Menurut Guay nursani (2019) E-commerce didefinisikan sebagai transaksi
    ekonomi yang dilakukan melalui penggunaan bersama media elektronik oleh
    pembeli dan penjual dengan mengembangkan perjanjian kontrak pada transportasi
    yang berasal dari internet dan harga barang dan menyelesaikan transaksi melalui
    pembayaran, dan pengiriman barang sesuai dengan kontrak yang ditetapkan.
    Menurut E.Turban, et al Rizki (2019), e-commerce adalah proses jual beli
    barang atau jasa, pertukaran produk, menggunakan jaringan komputer untuk
    transfer dana, layanan dan informsi, atau internet.

Strategi Digital Marketing


Saat menjalankan bisnis, anda mutlak membutuhkan strategi untuk
memaksimalkan potensi pemasaran digital anda. Setiap pelaku bisnis memiliki
strategi digital yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhan dan tujuan yang ingin
dicapai, Berikut adalah contoh strategi pemasaran yang dapat digunakan :

  1. Langkah pertama dalam pengembangan asset digital adalah menyiapkan
    identitas digital untuk perusahaan. Kegiatan yang dilakukan antara lain
    membangun website dan menyiapkan akun media sosial (Facebook,
    Instagram, Tiktok, Youtube, dll). Tidak hanya itu, banyak juga aplikasi
    belanja online yang bisa dijadikan tempat jualan online, seperti Shoppe,
    Tokopedia, Bukalapak dll.
  2. Meningkatkan kunjungan website yaitu melalui optimasi SEO (search
    engine optimization) pemasangan iklan CPC melalui Google Adsense dan
    cara lainnya.
  3. Optimalkan akun media social yaitu meningkatkan interaksi dengan
    pengguna media social dengan menyiapkan dan memposting konten yang
    menarik. Selain itu, optimalisasi dengan memasang iklan di media sosial
    juga patut dipertimbangkan.
  4. Broadcast messaging adalah bagian dari digital marketing yang masih bisa
    kita temukan. Kami masih rutin menerima pesan broadcst seperti pesan
    singkat (SMS), WhatsApp dan pesan langsung media social. Meski mudah
    diblokir, tingkat konversi siaran langsung masih bagus

Digital Marketing


Menurut Coviello et al fawaid (2017) pemasaran digital adalah penggunaan
internet dan teknologi interaktif lainnya untuk membuat dan menghubungkan
dialog antara perusahaan dan konsumen yang teridentifikasi. Mereka juga
menganggap pemasaran sebagai bagian dari e-commerce.
Menurut Smith Katherine Taken (2011). Pemasaran digital adalah praktik
mempromosikan produk dan layanan menggunakan saluran distribusi digital.
Pemasaran digital, juga dikenal atau sebagai e-marketing, termasuk iklan digital
atau online yang mengirimkan pesan pemasaran kepada pelanggan.
Menurut Kotler dan keller (2016), digital marketing merupakan aktifitas
promosi yang dilakukan untuk sebuah brand ataupun produk menggunakan media
elekstronik (digital). Dengan perkembangan teknologi digital yang sangat pesat
serta penerimaan yang cukup luas dari hampir semua lapisan masyarakat
menggunakan media digital

Pengertian Pemasaran


Pemasaran memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan
pemasaran dan penjualan suatu perusahaan. Pemasaran ini diharapkan dapat
memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen sehingga tercipta kepuasan
konsumen yang merupakan asset besar bagi perusahaan. Oleh karena itu,
pemasaran harus dikelola secara sistemis agar tujuan pemasaran tercapai sesuai
dengan tujuan perusahaan. Pemasaran adalah proses social dan manajerial dimana
individu atau organisasi mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan
dengan menciptakan dan bertukar nilai dengan orang lain.
Menurut Agustina Shintia M.P (2011), pemasaran adalah pengelolaan dan
proses yang memungkinkan individu atau kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan
produk yang bernilai kepada pihak lain atau segala kegiatan yang berkaitan dengan
penyampaian produk atau jasa dari produsen ke konsumen.
Sasaran dari pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan
nilai superior, menetapkan harga menarik, menditribusikan produk dengan mudah,
mempromosikan secara efektif serta mempertahankan pelanggan yang sudah ada
dengan memegang prinsip kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, pemasaran harus
dikelola dengan sistemik agar tujuan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan target
perusahaan.
Menurut American marketing association (AMA), Pemasaran adalah proses
perencanaan dan pelaksanaan rencana penetapan harga , promosi, dan distribusi ide,
barang, dan jasa untuk menciptakan komunikasi yang memenuhi tujuan individu
dan organisasi.
Menurut kotler dan Amstrong (2013),suatu proses sosial dan manajerial
dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan
orang lain.

Manajemen Pemasaran


Dalam sebuah perusahaan, bagian manajemen pemasaran akan bekerja keras
untuk melakukan pekerjaan pemasaran dengan baik untuk mencapai tujuan yang
diberikan perusahaan. Manajemen pemasaran mengarah pada tujuan atau sasaran
pemasaran, dengan kata lain manajemen pemasaran adalah upaya untuk mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efisien, sehingga manajemen pemasaran sangat
penting bagi suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya, yaitu memperoleh
keuntungan komersial dari pencapaian tersebut dari target pasar.
Menurut Tjiptono (2011), Manajemen pemasaran adalah sistem total dari
kegiatan bisnis yang bertujuan untuk merencanakan, menetapkan harga, dan
mendistribusikan produk, layanan, dan ide yang memenuhi kebutuhan pasar sasaran
untuk mencapai tujuan organisasi.
Ilmu pemasaran atau marketing lebih tinggi dari penjualan atau tranding
(pengetahuan perdagangan atau penjualan). Manajemen pemasaran juga mencakup
rekayasa produk sesuai dengan kebutuhan pasar. Informasi mengenai trend,
kualitas, jumlah produksi, desain atau model barang yang akan diproduksi
diperoleh dari bagian pemasaran. Jadi orang yang benar-benar melakukan kerja
produksi adalah “tenaga kerja” para pemasar ( Tengku Firli Mursfar, 2020).
Menurut Kotler dan Keller (2011), dalam buku Manajemen pemasaran Edisi
13, Manajemen terjadi ketika setidaknya satu pihak dalam transaksi potensial
sedang mempertimbangkan cara untuk mencapai respons yang diinginkan pihak
lain.

Minat Beli

  1. Kotler (2014)
    Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat beli
    adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
    keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk.
    Minat beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah
    berpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk
    dan informasi suatu produk. Untuk menarik atau
    menumbuhkan minat beli konsumen terlebih dahulu
    pemasar harus memahami bagaimana konsumen
    berkeputusan. Menurut kotler dalam buku manjemen
    pemasaran, minat beli adalah tahapan yang dilakukan oleh
    konsumen sebelum memebli, pengenalan masalah,
    pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan
    pemebelian, dan perilaku pasca pembelian.
    Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
    indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
    a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang
    dalam membeli produk.
    b. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
    mereferensikan produk kepada orang lain.
    c. Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku
    seseorang yang memiliki preferensial utama pada
    produk tersebut.
    d. Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku
    seseorang yang selalu mencari informasi mengenai
    produk yang diminati dan mencari produk lain yang
    akan mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
  2. Ferdinand (2016)
    Minat beli dapat diartikan sebagai suatu sikap senang
    terhadap suatu objek yang membuat individu berusaha
    untuk mendapatkan objek tersebut dengan cara
    membayarnya dengan uang atau pengorbanan.
    Adapun indikator minat beli menurut Ferdinand (dalam
    Veronika, 2016:24), yaitu:
    a. Minat transaksional, yaitu kecenderugan seseorang
    untuk membeli produk
    b. Minat referensial, yaitu kecenderugan seseorang untuk
    mereferensikan produk kepada orang lian
    c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
    perilaku seseorang yang memeliki preferensi utama pada
    produk tersebut, preferensi ini hanya dapat digantikan
    jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
    d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku
    seseorang yang selalu mencari informasi mengenai
    produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
    mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
  3. Wibowo (2015)
    Menurut Ashari (2012:246) d alam Wibowo (2015),
    minat beli merupakan rasa ketertarikan yang dialami oleh
    konsumen terhadap suatu produk (barang atau jasa) yang
    dipengaruhi oleh sikap diluar konsumen dan di dalamnya
    konsumen itu sendiri.
    Adapun indikator-indikator minat beli menurut
    (Wibowo, 2015) sebagai berikut:
    1) Ketertarikan merupakan suatu keadaan atau peristiwan
    tertarik pada suatu barang yang ada dalam suatu toko.
    2) Perhatian merupakan pemusatan atau konsetrasi dari
    seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu
    atau sekumpulan objek.
    3) Pencarian informasi merupakan suatu keinginan untuk
    mengetahui lebih banyak tentang suatu barang.
  4. Salfina & Gusri (2018)
    Menurut (Salfina & Gusri, 2018) minat beli adalah
    produk yang berkualitas dengan harga bersaing merupakan
    kunci utama dalam memenangkan persaingan, yang pada
    akhirnya akan dapat memberikan nilai kepuasan yang lebih
    tinggi kepada konsumen. Konsumen kini memiliki tuntutan
    nilai yang jauh lebih besar dan beragam karena dihadapkan
    pada berbagai pilihan berupa produk maupun jasa yang
    dapat mereka beli.
    Menurut (Pousette et al., 2014) yang menjadi indikator
    minat beli seorang calon konsumen adalah sebagai berikut:
    1) Attention, yaitu perhatian calon konsumen terhadap
    produk yang ditawarkan oleh produsen.
    2) Interest, ketertarikan calon konsumen terhadap produk
    yan ditawarkan oleh produsen.
    3) Desire, keinginan calon konsumen untuk memiliki
    produk yng ditawarkan oleh produsen.
    4) Action, yaitu calon konsumen melakukan pembelian
    terhadap produk yang ditawarkan.
  5. Menurut Tjiptono
    Menurut Tjiptono dalam penelitian Aptaguna, minat beli
    adalah tahap keinginan responden untuk bertindak sebelum
    keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Adapun
    indikator-indikator dalam minat beli masyarakat sebagai
    berikut, (Aptaguna, A., & Pitaloka, 2016).
    1) Minat transasional
    2) Minat referensial
    3) Minat preferensial
    4) Minat eksploratif

Teori Harga (Price)


Agar dapat sukses dalam memasarkan suatu barang atau
jasa, setiap perusahaan harus menetapkan harganya secara tepat.
Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang
memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan,
sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, distribusi, dan
promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Harga mempengaruhi keputusan pembelian karena nasabah
biasanya akan membandingkan harga terlebih dahulu dan
mencari yang paling sesuai dengan kondisi finansial, selain itu
nasabah akan menilai terlebih dahulu apakah harga yang
ditawarkan sesuai dengan manfaat yang didapatkan
(Romadhoni, 2019).

  1. Menurut Kotler dalam sunyoto (2019:131)
    Menurut Kotler dalam sunyoto (2019:131), harga adalah
    sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk tertentu,
    perusahaan menetapkan harga dalam berbagai cara. Di
    dalam perusahaan kecil, harga seringkali di tetapkan oleh
    manajemen puncak.
    Harga juga mempunyai beberapa indikator sebagai
    berikut :
    a. Daftar harga produk (list price)
    b. Harga produk sendiri adalah jumlah yang harus
    dibayarkan oleh pelanggan untuk memperoleh suatu
    produk dimana harga suatu produk memberikan
    pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan atas
    penjualan.
    c. Rabat/diskon (discount) Diskon atau potongan harga
    merupakan salah satu strategi pemasaran produk dalam
    bisnis yang terbukti masih efektif hingga saat ini.
    Banyak pelaku bisnis menggunakan strategi ini.
    Konsumen sebenarnya tidak terlalu membutuhkan
    barang tersebut, tetapi kenyataanya karena ada label
    diskon membuat konsumen tersebut menjadi lupa diri.
    Memang dengan strategi memberikan diskon membuat
    konsumen lebih konsumtif.
    d. Potongan harga khusus (allowance) Potongan harga
    khusus merupakan pengurangan dari apa yang tercantum
    dalam daftar harga dan diberikan kepada pelanggan
    yang bersedia melakukan suatu pembelian produk yang
    sudah disepakati oleh penjual. Pemberian potongan
    harga khusus bisa berwujud uang atau tambahan barang
    pada event tertentu.
    e. Periode pembayaran (payment period) Periode
    pembayaran adalah kemudahan pembayaran yang
    diberikan penjual terhadap konsumennya berupa
    kelongaran jangka waktu pembayaran yang dilakukan
    konsumen dalam transaksi pembelian.
    f. Syarat kredit (credit term) Syarat kredit adalah sistem
    pembayaran secara kredit yang diberikan
    produsen/penjual terhadap konsumen dalam jangka
    waktu yang telah ditentukan derngan tambahan
    pembayaran berupa bunga/pajak yang harus dibayarkan.
  2. Harga Menurut Kuncoro (2021)
    Harga Menurut Kuncoro (2021), harga adalah nilai tukar
    suatu barang atau jasa dalam satuan uang pada suatu waktu
    dan tempat tertentu.
    Indikator harga menurut Kuncoro yang dapat dilihat dari
    perubahan nilai tukar atau fluktuasi harga pada pasar, antara
    lain:
    a. Indeks Harga Saham: Indeks yang mengukur kenaikan
    atau penurunan nilai saham di pasar saham. Naiknya
    indeks ini menunjukkan bahwa harga saham-saham di
    pasar sedang naik dan investor optimis terhadap kondisi
    pasar.
    b. Indeks Harga Konsumen: Indeks yang mengukur
    perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang
    dikonsumsi oleh rumah tangga. Naiknya indeks ini
    menunjukkan bahwa harga barang dan jasa konsumsi
    meningkat, yang berdampak pada daya beli masyarakat.
    c. Tingkat Inflasi: Tingkat kenaikan harga-harga umum
    dalam suatu periode tertentu, misalnya setahun. Naiknya
    tingkat inflasi menunjukkan bahwa harga-harga barang
    dan jasa meningkat secara umum.
    d. Tingkat Suku Bunga: Tingkat pengembalian yang harus
    dibayar oleh peminjam atas pinjaman uang dari bank
    atau lembaga keuangan. Naiknya tingkat suku bunga
    dapat berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa
    karena biaya produksi yang meningkat.
    e. Kurs Mata Uang: Harga tukar suatu mata uang dengan
    mata uang lain. Naiknya kurs mata uang dapat impor
    dan ekspor suatu negara.
    Sumbernya dapat ditemukan di buku “Ekonomi
    Mikro: Teori, Konsep, dan Aplikasi” karya Suyanto dan
    Kuncoro.
  3. Harga Menurut Samuelson dan Nordhaus (2021)
    Menurut Samuelson dan Nordhaus (2021), harga adalah
    jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk memperoleh
    suatu barang atau jasa. Indikator harga menurut Samuelson
    dan Nordhaus yang dapat dilihat dari perubahan harga
    barang dan jasa, antara lain:
    a. Indeks Harga Produsen (PPI): Indeks yang mengukur
    perubahan harga barang dan jasa dari sisi produsen.
    Naiknya PPI menunjukkan bahwa biaya produksi barang
    dan jasa meningkat, yang dapat berdampak pada harga
    jual barang dan jasa.
    b. Indeks Harga Konsumen (CPI): Indeks yang mengukur
    perubahan harga barang dan jasa dari sisi konsumen.
    Naiknya CPI menunjukkan bahwa harga barang dan jasa
    konsumsi meningkat, yang berdampak pada daya beli
    masyarakat.
    c. Tingkat Inflasi: Tingkat kenaikan harga-harga umum
    dalam suatu periode tertentu, misalnya setahun. Naiknya
    tingkat inflasi menunjukkan bahwa harga-harga barang
    dan jasa meningkat secara umum.
    d. Tingkat Suku Bunga: Tingkat pengembalian yang harus
    dibayar oleh peminjam atas pinjaman uang dari bank
    atau lembaga keuangan. Naiknya tingkat suku bunga
    dapat berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa
    karena biaya produksi yang meningkat.
    e. Nilai Tukar Mata Uang: Nilai suatu mata uang dalam
    satuan mata uang lain. Naiknya nilai tukar mata uang
    dapat berdampak pada harga impor dan ekspor suatu
    negara

Teori Produk (Product)

  1. Menurut Davis dan Olsen (2020)
    Produk adalah suatu barang atau jasa yang dihasilkan
    melalui proses produksi, dan memiliki nilai guna serta
    memiliki nilai tukar. Menurut Davis dan Olsen (2020),
    terdapat beberapa indikator produk yang dapat digunakan
    untuk menilai produk, antara lain:
    Kualitas produk: Kualitas produk adalah kemampuan
    produk untuk produk adalah segala sesuatu yang dapat
    ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diakui, digunakan,
    atau dikonsumsi dan yang dapat memenuhi keinginan atau
    kebutuhan.
    Menurut Kotler dan Armstrong (2020), terdapat
    beberapa indikator produk yang dapat digunakan untuk
    menilai produk, antara lain:
    a. Performance (kinerja) merujuk pada kemampuan suatu
    produk untuk melakukan tugas atau fungsi yang
    dimaksudkan dengan baik dan efisien. Kinerja dapat
    diukur melalui berbagai faktor, seperti kecepatan,
    ketepatan, dan kapasitas.
    b. Durability (daya tahan) merujuk pada kemampuan suatu
    produk untuk bertahan dalam kondisi penggunaan yang
    normal dan dalam waktu yang lama. Daya tahan dapat
    diukur dengan berbagai faktor, seperti ketahanan
    terhadap keausan, kerusakan, dan korosi.
    c. Conformance to specification (kesesuaian dengan
    spesifikasi) merujuk pada sejauh mana suatu produk
    sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh produsen
    atau pengguna. Kesesuaian dengan spesifikasi dapat
    diukur dengan membandingkan fitur produk dengan
    persyaratan yang dijelaskan dalam spesifikasi.
    d. Features (keistimewaan tambahan) merujuk pada fitur
    tambahan atau fungsi yang dimiliki oleh produk yang
    tidak tersedia pada produk lain yang serupa.
    Keistimewaan tambahan dapat membuat produk menjadi
    lebih menarik atau lebih berguna bagi pengguna.
    e. Reliability (reabilitas) merujuk pada kemampuan suatu
    produk untuk berfungsi secara konsisten dan andal
    dalam waktu yang lama. Reabilitas dapat diukur dengan
    faktor seperti tingkat kegagalan atau keandalan dalam
    situasi yang berbeda.
    f. Estetika merujuk pada penampilan visual suatu produk
    dan bagaimana produk tersebut dirasakan oleh pengguna
    dari sudut pandang estetika. Faktor-faktor seperti warna,
    bentuk, dan bahan yang digunakan dapat mempengaruhi
    bagaimana pengguna merespons produk secara estetika.
    g. Memenuhi kebutuhan konsumen dan memenuhi standar
    kualitas yang ditetapkan oleh produsen atau pemerintah.
    h. Keandalan produk: Keandalan produk mencakup
    kemampuan produk untuk berfungsi sesuai dengan yang
    diharapkan dan tidak mengalami kerusakan atau
    kegagalan dalam penggunaan normal.
    i. Daya tahan produk: Daya tahan produk mencakup
    kemampuan produk untuk bertahan dalam penggunaan
    normal selama jangka waktu tertentu tanpa rusak atau
    cacat.
    j. Ketersediaan produk: Ketersediaan produk mencakup
    kemampuan produsen untuk menyediakan produk dalam
    jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan pasar.
    k. Harga produk: Harga produk adalah harga yang
    ditetapkan untuk produk tersebut dan harus sesuai
    dengan nilai produk bagi konsumen.
    l. Layanan purna jual produk: Layanan purna jual produk
    meliputi dukungan teknis, perbaikan, dan penggantian
    produk yang rusak atau cacat.
  2. Menurut Kotler, Keller, dan Ang (2020)
    Produk adalah sesuatu yang dapat memenuhi keinginan
    atau kebutuhan konsumen, dan dapat terdiri dari barang,
    jasa, atau ide. Menurut Kotler, Keller, dan Ang (2020),
    terdapat beberapa indikator produk yang dapat digunakan
    untuk menilai produk, antara lain:
    a. Kualitas produk: Kualitas produk adalah kemampuan
    produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
    konsumen serta memenuhi standar kualitas yang
    ditetapkan oleh produsen atau pemerintah.
    b. Fitur produk: Fitur produk adalah karakteristik produk
    yang dapat membedakan produk tersebut dari produk
    sejenis lainnya. Fitur produk dapat meningkatkan nilai
    produk dan daya tarik konsumen.
    c. Manfaat produk: Manfaat produk mencakup keuntungan
    atau nilai tambah yang diperoleh oleh konsumen dari
    penggunaan produk tersebut.
    d. Brand produk: Brand produk adalah nama, istilah,
    simbol, atau desain khusus yang digunakan untuk
    mengidentifikasi produk dan membedakannya dari
    produk sejenis lainnya.
    e. Citra produk: Citra produk mencakup persepsi
    konsumen tentang produk, merek, dan perusahaan yang
    memproduksi produk tersebut.
    f. Harga produk: Harga produk adalah harga yang
    ditetapkan untuk produk tersebut dan harus sesuai
    dengan nilai produk bagi konsumen.
  3. Menurut Tjiptono dan Chandra (2020)
    Produk adalah segala sesuatu yang dapat memuaskan
    kebutuhan atau keinginan konsumen, baik dalam bentuk
    barang maupun jasa. Menurut Tjiptono dan Chandra (2020),
    terdapat beberapa indikator produk yang dapat digunakan
    untuk menilai produk, antara lain:
    a. Kualitas produk: Kualitas produk mencakup
    karakteristik fisik dan non-fisik yang menjadikan produk
    tersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan
    memberikan kepuasan kepada konsumen.
    b. Fungsi produk: Fungsi produk mencakup kemampuan
    produk untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan
    konsumen dan memberikan manfaat yang diharapkan.
    c. Bentuk produk: Bentuk produk mencakup desain dan
    estetika produk yang dapat meningkatkan nilai produk
    dan daya tarik konsumen.
    d. Kemasan produk: Kemasan produk meliputi bahan dan
    desain kemasan yang digunakan untuk melindungi,
    mengemas, dan mempromosikan produk.
    e. Label produk: Label produk adalah informasi yang
    tercetak pada kemasan produk yang memberikan
    informasi tentang produk, seperti nama produk, merek,
    komposisi bahan, dan tanggal kadaluwarsa.
    f. Layanan purna jual produk: Layanan purna jual produk
    meliputi dukungan teknis, perbaikan, dan penggantian
    produk yang rusak atau cacat.
  4. Menurut Kotler dan Keller (2020)
    Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke
    pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen,
    termasuk barang, jasa, organisasi, orang, tempat, dan
    gagasan. Menurut Kotler dan Keller (2020), terdapat
    beberapa indikator produk yang dapat digunakan untuk
    menilai produk, antara lain:
    a. Kualitas produk: Kualitas produk adalah kemampuan
    produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
    konsumen serta memenuhi standar kualitas yang
    ditetapkan oleh produsen atau pemerintah.
    b. Fitur produk: Fitur produk adalah karakteristik produk
    yang dapat membedakan produk tersebut dari produk
    sejenis lainnya. Fitur produk dapat meningkatkan nilai
    produk dan daya tarik konsumen.
    c. Kinerja produk: Kinerja produk mencakup kemampuan
    produk untuk memenuhi tuntutan dan harapan
    konsumen dalam hal fungsi dan kegunaannya.
    d. Daya tahan produk: Daya tahan produk mencakup
    kemampuan produk untuk bertahan dalam penggunaan
    normal selama jangka waktu tertentu tanpa rusak atau
    cacat.
    e. Desain produk: Desain produk mencakup desain fisik
    dan estetika produk yang dapat meningkatkan nilai
    produk dan daya tarik konsumen.
    f. Merek produk: Merek produk adalah nama, istilah,
    simbol, atau desain khusus yang digunakan untuk
    mengidentifikasi produk dan membedakannya dari
    produk sejenis lainnya

Teori Marketing Mix

  1. Menurut Kotler dan Armstrong (2018)
    Menurut Kotler dan Armstrong (2018), mendefinisikan
    marketing mix 4p sebagai kombinasi dari empat elemen
    pemasaran yang dapat dikendalikan perusahaan yaitu
    product (produk), price (harga), place (tempat) dan
    promotion (promosi).
    Menurut Kotler dan Armstrong (2018), terdapat empat
    indikator marketing mix 4P, yaitu:
    a. Produk (Product) Indikator ini mencakup karakteristik
    produk yang mencakup kualitas, fitur, desain, merek,
    dan pelayanan purna jual. Produk yang baik harus
    memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen serta
    memberikan nilai tambah.
    b. Harga (Price) Indikator ini mencakup penetapan harga,
    diskon, pengurangan harga, dan cara membayar. Harga
    harus mencerminkan nilai produk serta dapat diterima
    oleh pasar.
    c. Promosi (Promotion) Indikator ini mencakup iklan,
    promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan strategi
    penjualan. Promosi harus mampu menciptakan
    kesadaran dan minat pasar terhadap produk.
    d. Tempat (Place) Indikator ini mencakup saluran
    distribusi, lokasi, dan transportasi. Produk harus mudah
    diakses oleh konsumen dan dapat tersedia di tempat
    yang strategis.
  2. Menurut Kotler (ahmad, 2019:33)
    Menurut Kotler (ahmad, 2019:33) baruan pemasaran
    adalah suatu proses yang melibatkan kombinasi dari
    berbagai elemen pemasaran dalam memenuhi kebutuhan
    dan keinginan konsumen. elemen-elemen tersebut termasuk
    produk, harga, promosi dan distribusi
    Adapun indikatornya yaitu:
    a. Tingkat kepuasan pelanggan
    b. Tingkat penjualan
    c. Efektivitas
  3. Menurut Tjiptono (2014:41)
    Menurut Tjiptono (2014:41) Bauran Pemasaran
    (marketing mix) merupakan seperangkat alat yang dapat
    digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik jasa
    yang ditawarkan pelanggan, Dengan kata lain marketing
    mix adalah kumpulan dari variabel yang dapat digunakan
    oleh perusahaan untuk dapat mempengaruhi tanggapan
    konsumen”.
    Marketing mix merupakan hasil kolaborasi empat unsur,
    yang terdiri atas produk, harga, promosi, dan distribusi.
    Setiap unsurnya mempunyai peran dan fungsi yang berbeda,
    tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
    satu sama lain.
    Indikator marketing mix antara lain:
    a. product (produk)
    b. Price (Harga)
    c. Place (Tempat)
    d. Promotion (Promosi)
  4. Menurut paul Smith (2020)
    Menurut paul Smith(2020), marketing mix 4p adalah
    konsep yang meliputi 4 elemen utama dalam membuat dan
    menjalankan strategi pemasaran, yaitu product (produk),
    price (harga) Place (tempat) dan promotion (promosi).
    Yang memeliki indicator yaitu:
    a. product (produk)
    b. price (harga)
    c. place (tempat)
    d. Promotion (promosi)
  5. Menurut Buchari Alam (2020)
    Menurut Buchari Alam (2020), bauran pemasaran
    adalah kombinasi dari beberpa elemen dalam perencanaan
    dan implementasi strategi pemasaran yang terdiei dari
    produk, harga, promosi, saluran distribusi.
    Indikatornya yaitu:
    a. Produk: desain, kualitas, filtur, merek, packaging
    b. Harga: harga jual, diskon, metode pembayaran, garansi
    c. Promosi: iklan, sales prmotion, public relations, personal
    selling
    d. Saluran distribusi: lokasi, aksesibilitas, tersedua atau
    tidaknya produk

Hubungan antar variabel Jingle dan Tagline Terhadap Brand Awarenes


Jingle adalah pesan musikal disekitar brand. Sebuah jingle yang baik
sangat mempengaruhi tingkat brand awareness, juga dapat menjadi dasar
strategi dasar strategi periklanan yang cukup panjang. Jingle harus terus
diperbarui sesuai perkembangan pasar (Kai & rainer, 2009).
Menurut Ismiati (2000:230) peran tagline dalam sebuah iklan
merupakan hal yang teramat penting untuk dapat membantu menanamkan
sebuah produk yang diiklankan kedalam benak konsumen. Dengan adanya
tagline dalam sebuah iklan, maka akan sangat membantu masyarakat untuk
mengingat merek dari produk yang ditawarkan.

Tagline


Tagline merupakan bagian dari iklan yan bertujuan agar iklan
tersebut agar mudah diingat oleh konsumen. Tagline dalam suatu iklan
memegang peranan penting. Menurut Nuradi (1996:) kalimat singkat
sebagai penutup teks inti yang menyimpulkan secara singkat tujuan
komunikasi suatu iklan.
Tagline merupakan suatu ungkapan pendek berisi pesan pendek dan
mudah diingat. Tagline ini bisa disamakan dengan slogan, atau jargon
dalam iklan. Penggunaan tagline ini adalah untuk memperkuat
kemampuan iklan dalam mengeksekusi (mencapai sasarannya) yaitu
mempengaruhi konsumen untuk menggunakan produk yang diiklankan.
Menurut Ismiati (2000:230) peran tagline dalam sebuah iklan
merupakan hal yang teramat penting untuk dapat membantu menanamkan
sebuah produk yang diiklankan kedalam benak konsumen. Dengan adanya
tagline dalam sebuah iklan, maka akan sangat membantu masyarakat untuk
mengingat merek dari produk yang ditawarkan.
Jadi tagline merupakan sederetan kalimat atau ungkapan kreatif yang
mudah diingat dan mampu mempersentasikan keseluruhan pesan iklan dari
perusahaan kepada konsumen atau masyarakat, yang meliputi merek dan
karakter produknya, dalam rangka proses penanaman konsep terhadap
produk secara positif ke dalam benak masyarakat (Abimoro, 2014:35).
Tagline dapat digunakan untuk membantu mengkomunikasikan titik
pembeda dari pesaing (Susanto dan Wijanarko, 2004;86). Tagline ini
bisa berubah sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi, maupun sebagai
strategi agar konsumen tidak bosan. Pengenalan tagline baru biasanya
dilakukan melalui program above the line (ATL) berupa penayangan iklan
diberbagai media massa cetak dan elektronik.

Jingle


Menurut Well, Moriarty & Burnett (dalam Mahjudie, 2007:20)
“Jingle adalah pesan iklan yang ditampilkan mengunakan musik”.
Menurut Belch (2009:1003), “Musik adalah bagian penting dari
suatu iklan televisi dan dapat diputar dalam berbagai variasi adegan. Musik
memberikan latar belakang yang menyenangkan atau membantu
menciptakan suasana yang nyaman”.
Jingle dari iklan dapat membentuk kesadaran akan musik yang
menjadi latar belakang dapat membentuk perasaan tertentu (Salomon,
2004:56).
Jingle adalah pesan musikal disekitar brand. Sebuah jingle yang
baik sangat mempengaruhi tingkat brand awareness, juga dapat menjadi
dasar strategi dasar strategi periklanan yang cukup panjang. Jingle harus
terus diperbarui sesuai perkembangan pasar (Kai & rainer, 2009).
Jingle merupakan susunan berbagai macam musik, biasannya
membawa deretan slogan atau kampanye. Secara ringkas bahwa jingle
merupakan komposisi dari nada, melodi, harmoni, tempo dan dinamika
(Machlis, 2007:11).
Menurut Wulandari (2010), jingle adalah musik yang mengiringi
sebuah iklan yang diciptakan untuk mengingatkan khalayak akan iklan
tersebut. Jingle digunakan untuk menarik perhatian, menyalurkan pesan
penjualan, menentukan tekanan emosional untuk iklan dan mempengaruhi
suasana hati pendengar.
jingle tersebut dapat digunakan menurut wulandari sebagai berikut :

  1. Menarik perhatian.
  2. Menyalurkan pesan penjualan.
  3. Menentukan tekanan emosional untuk iklan.
  4. Mempengaruhi suasana hati pendengar.
    Menurut (Sanjaya & Kusasih, 2012), Jingle dapat diambil dari
    musik yang temanya mudah diingat oleh audiens.banyak iklan yang secara
    khusus meminta sebuah lagu untuk diubah menjadi jingle yang isinya
    disesuaikan dengan pesan iklan atau karakteristik produk atau jingle bisa
    juga mengambil begitu saja dari lagu –lagu yang sudah dikenal luas oleh
    masyarakat

Iklan


Menurut Kotler (2008: 244) “Iklan adalah segala bentuk penyajian
non personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu
yang memerlukan pembayaran”.
Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang
sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu
khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran,
majalah, direct mail, reklame luar ruang, atau kendaraan umum (Lee &
Johnson, 2007:3).
Iklan merupakan bentuk komunikasi, maka keberhasilannya dalam
mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan
komunikasi perusahaan menggunakan iklan sebagai media komunikasi, tentu
mengupayakan isi iklan tersebut mampu menciptakan keyakinan yang positif
terhadap atribut-atribut produknya karena keyakinan semacam ini akan
mendorong sikap konsumen yang positif juga terhadap merek tersebut.
tujuan periklanan adalah sebagai berikut (Kotler dan Amstrong,
2008:72) :
a. Memberi Informasi
membuat konsumen sadar akan merek – merek baru, mendidik
mereka berbagai fitur dan manfaat merek, serta memfasilitasi penciptaan citra
merek yang positif. Karena merupakan suatu bentuk komunikasi yang efektif,
berkemampuan menjangkau khalayak luas.
b. Membujuk
Iklan yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk
mencoba produk dan jasa yang diiklankan. Terkadang, membujuk berbentuk
mempengaruhi permintaan primer, yakni menciptakan permintaan bagi
keseluruhan kategori produk dan iklan berupaya untuk membangun
permintaan sekunder, permintaan bagi merek perusahaan yang spesifik.
c. Mengingatkan
Iklan menjaga merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para
konsumen. saat kebutuhan muncul, yang berhubungan dengan produk yang
diiklankan, dampak periklanan untuk hadir di benak konsumen sebagai suatu
kandidat merek yang akan dibeli. Periklanan yang efektif juga meningkatkan
minat terhadap merek yang sudah ada dan pembelian sebuah merek yang
mungkin tidak akan dipilihnya

Promosion Mix


Menurut Kotler & Armstrong (2008:116), bauran promosi
(promotion mix) juga disebut bauran komunikasi pemasaran (marketing
communication mix) perusahaan merupakan paduan spesifik iklan, promosi
penjualan, sarana pemasaran langsung, penjualan personal, dan hubungan
masyarakat yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai
pelanggan secara persuasif dan membangun hubungan pelanggan.
Definisi lima sarana promosi utama adalah sebagai berikut :

  1. Periklanan (advertising)
  2. Promosi penjualan (sales promotion)
  3. Pemasaran langsung (direct marketing)
  4. Penjualan personal (personal selling)
  5. Hubungan masyarakat (public relations)
    Penjelasan dari lima sasaran promosi adalah sebagai berikut :
  6. Periklanan (Advertising)
    Kotler & Armstrong (2008:150) mendefiniskan, periklanan
    (advertising) dalam hal ini merupakan semua bentuk presentasi
    nonpribadi dan promosi ide, barang, atau jasa yang dibayar oleh sponsor
    tertentu. Menurut Kotler & Armstrong (2008:157) adapun suatu iklan
    memiliki karakteristik sebagai berikut:
    a. Penemuan informasi tentang produk / perusahaan dari berbagai
    media mudah.
    b. Design media yang digunakan menarik.
    c. Informasi yang disampaikan dalam berbagai media jelas.
    d. Pesan yang terkandung dalam berbagai media dapat dipercaya.
  7. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
    Kotler & Armstrong (2008:204) mendefiniskan promosi
    penjualan (sales promotion) terdiri dari insentif jangka pendek untuk
    mendorong pembelian atau penjualan sebuah produk atau jasa.
    Karakteristik dari sales promotion menurut Kotler & Armstrong
    (2008:204) yaitu:
    a. Besar / ukuran insentif yang ditawarkan menarik.
    b. Insentif yang ditawarkan bervariasi.
    c. Syarat untuk mendapatkan insentif yang ditawarkan jelas.
    d. Waktu pelaksanaan insentif yang dilakukan tepat.
  8. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
    Menurut Kotler & Armstrong (2008:223), pemasaran langsung
    (direct marketing) terdiri dari hubungan langsung dengan konsumen
    individual yang ditargetkan secara seksama untuk meraih respons segera
    dan membangun hubungan pelanggan yang langgeng.
    Karakteristik dari direct marketing menurut Kotler & Armstrong
    (2008:222) yaitu :
    a. Interaksi melalui pemasaran langsung yang interaktif
    b. Interaksi dari perusahaan yang interaktif
  9. Penjualan Personal (Personal Selling)
    Menurut Kotler & Armstrong (2008:182), penjualan personal
    (personal selling) adalah presentasi pribadi oleh wiraniaga perusahaan
    dengan tujuan melakukan penjualan dan membangun hubungan dengan
    pelanggan.
    Kotler & Amstrong (2008:200), mendeskripsikan karakteristik
    dari personal selling adalah :
    a. Penampilan wiraniaga baik
    b. Wiraniaga menguasai informasi perusahaan
    c. Kemampuan wiraniaga dalam menjelaskan produk bagi pelanggan
    memuaskan
    d. Wiraniaga dapat mengidentifikasi konsumen baru atau konsumen
    lama dengan baik
  10. Hubungan Masyarakat (Public Relations)
    Menurut Kotler & Armstrong (2008:168), hubungan masyarakat
    (public relations) membangun hubungan baik dengan berbagai
    masyarakat perusahaan dengan memperoleh publisitas yang diinginkan,
    membangun citra perusahaan yang baik, dan menangani atau menghadapi
    rumor, cerita, dan kejadian tak menyenangkan.
    Adapun kriteria public relations menurut Kotler & Armstrong
    (2008:171) dapat dibedakan menjadi tiga hal yaitu:
    a. Berita yang tersebar mengenai perusahaan
    b. Identitas perusahaan yang unik, berbeda dari yang lainnya
    c. Kegiatan pelayanan masyarakat

Bauran Pemasaran


Dalam pemasaran terdapat strategi pemasaran yang disebut bauran
pemasaran (Marketing mix) yang memiliki peranan penting dalam
mempengaruhi konsumen agar dapat membeli suatu produk atau jasa yang
ditawarkan oleh perusahaan.Elemen-elemen bauran pemasaran terdiri dari
semua variabel yang dapat dikontrol perusahaan untuk dapat memuaskan
para konsumen.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:92)“Marketing mix is good
marketing tool is a set of products, pricing, promotion, distribution,
combined to produce the desired response of the target market”
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran
merupakan alat pemasaran yang baik yang berada dalam suatu perusahaan,
dimana perusahaan mampu mengendalikannya agar dapat mempengaruhi
respon pasar sasaran.
Dalam bauran pemasaran terdapat seperangkat alat pemasaran yang
dikenal dalam istilah 4P, yaitu product (produk), price (harga), place(tempat
atau saluran distribusi), dan promotion (promosi), sedangkan dalam
pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran tambahan seperti people
(orang), physical evidence (fasilitas fisik), dan process (proses), sehingga
dikenal dengan istilah 7P. maka dapat disimpulkan bauran pemasaran jasa
yaitu product, price, place, promotion, people, physical evidence, and
process.
Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Amstrong (2012:62)
adalah sebagai berikut :

  1. Produk
    Produk (product), adalah mengelola unsur produk termasuk
    perencanaan dan pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan
    dengan mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan
    mengambil tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk
    atau jasa.
  2. Price
    Harga (price), adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan
    menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus
    menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos
    angkut dan berbagi variabel yang bersangkutan.
  3. Place
    Distribusi (place),yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan
    yang dipakai untuk menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani
    pasar sasaran, serta mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan
    perniagaan produk secara fisik.
  4. Promosi
    Promosi (promotion), adalah suatu unsur yang digunakan untuk
    memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru
    pada perusahaan melalui iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan,
    maupun publikasi.
  5. Physical Evidence
    Sarana fisik (Physical Evidence), merupakan hal nyata yang turut
    mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan
    produk atau jasa yang ditawarkan. Unsur yang termasuk dalam sarana fisik
    antara lain lingkungan atau bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo,
    warna dan barang-barang lainnya.
  6. People
    Orang (People), adalah semua pelaku yang memainkan peranan
    penting dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi
    pembeli. Elemen dari orang adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan
    konsumen lain. Semua sikap dan tindakan karyawan, cara berpakaian
    karyawan dan penampilan karyawan memiliki pengaruh terhadap
    keberhasilan penyampaian jasa.
  7. Proses
    Proses (Process), adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan
    aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa. Elemen proses
    ini memiliki arti sesuatu untuk menyampaikan jasa. Proses dalam jasa
    merupakan faktor utama dalam bauran pemasaran jasa seperti pelanggan
    jasa akan senang merasakan sistem penyerahan jasa sebagai bagian jasa itu
    sendiri.Berdasarkan penjelasan tersebut mengenai bauran pemasaran, maka
    dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran memiliki elemen-elemen yang
    sangat berpengaruh dalam penjualan karena elemen tersebut dapat
    mempengaruhi minat konsumen dalam melakukan keputusan pembelian

Pemasaran


Menurut (Kotler dan Keller, 2008:5) Pemasaran adalah suatu fungsi
organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan,
dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dengan cara yang menguntungkan
organisasi dan pemilik sahamnya.
Menurut Cannon, Perrcault dan McCarthy (2008 : 8), pemasaran
(marketing) adalah suatu aktifitas yang bertujuan mencapai sasaran
perusahaan, dilakukan dengan cara mengantisipasi kebutuhan pelanggan
atau klien serta mengarahkan aliran barang dan jasa yang memenuhi
kebutuhan pelanggan atau klien dari produsen.
Menurut Daryanto (2011:1), pemasaran adalah suatu proses sosial
yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka
butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Sedangkan pelaksanaan dari pada pemasaran tersebut dibutuhkan
yang namanya konsep manajemen pemasaran. Menurut Wahjono (2009: 2),
pada dasarnya manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan
pelaksanaan dari perwujutan, pemberian harga, promosi, dan distribusi dari
barang-barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan
kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi. Hal ini
berarti dalam manajemen pemasaran atas barang, jasa dan gagasan dengan
tujuan utama kepuasan pihak-pihak terlibat

Evolusi Faktor Marketing Mix


Bauran pemasaran yang terdiri dari product, price, place, dan
promotion (4P) seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang
senantiasa mengalami perkembangan telah mengalami evolusi dan terus
berkembang searah dengan perkembangan perilaku konsumen dan
kecerdasan para ahli pemasaran. Lovelock dan Wright mengembangkan
bauran pemasaran (marketing mix) menjadi integrated service management
dengan menggunakan pendekatan 8Ps, yaitu:
product elements, place, cyberspace, and time, promotion and
education, price and other user outlays, process, productivity and quality,
people, and physical evidence.
a. Product elements adalah semua komponen dari kinerja layanan yang
menciptakan nilai bagi pelanggan.
b. Place, cyberspace, and time adalah keputusan manajemen mengenai
kapan, dimana, dan bagaimana menyajikan layanan yang baik kepada
pelanggan.
c. Promotion and education adalah semua aktivitas komunikasi dan
perancangan insentif untuk membangun persepsi pelanggan yang
dikehendaki perusahaan atas layanan spesifik yang perusahaan berikan.
d. Price and other user outlays adalah pengeluaran uang, waktu, dan
usaha yang pelanggan korbankan dalam membeli dan mengkonsumi
produk dan layanan yang perusahaan tawarkan atau sajikan.
e. Process adalah suatu metode pengoperasian atau serangkaian tindakan
yang diperlukan untuk menyajikan produk dan layanan yang baik
kepada pelanggan
f. Productivity and quality, produktivitas adalah sejauhmana efisiensi
masukan-masukan layanan ditransformasikan ke dalam hasil-hasil
layanan yang dapat menambah nilai bagi pelanggan, sedangkan kualitas
adalah derajat suatu layanan yang dapat memuaskan pelanggan karena
dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan.
g. People adalah pelanggan dan karyawan yang terlibat dalam kegiatan
memproduksi produk dan layanan (service production).
h. Physical evidence adalah perangkat-perangkat yang diperlukan dalam
menyajikan secara nyata kualitas produk dan layanan

Pengertian Marketing Mix


Salah satu unsur dalam strategi pemasaran terpadu adalah Bauran
Pemasaran, yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang
berkaitan dengan penentuan, bagaimana perusahaan menyajikan
penawaran produk pada satu segmen pasar tertentu, yang merupakan
sasaran pasarannya. Marketing mix merupakan kombinasi variabel atau
kegiatan yang merupakan inti dari marketing mix, variabel mana dapat
dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen
dalam pasar sasarannya. Variabel atau kegiatan tersebut perlu
dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan seefektif mungkin,
dalam melakukan kegiatan pemasarannya. Dengan demikian perusahaan
tidak hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, akan
tetapi dapat mengkoordinasikan berbagai variabel marketing mix
tersebut.8
Untuk melaksanakan program pemasaran secara efektif. Menurut
William J.Stanton pengertian marketing mix sccara umum adalah sebagai
berikut marketing mix adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan
kombinasi empat besar pembentuk inti marketing mix sebuah organisasi.
Keempat unsur tersebut adlah penawaran produk/jasa, struktur harga,
kegiatan promosi, dan sistem distribusi.
Keempat unsur atau variabel bauran pemasaran (Marketing mix)
tersebut atau yang disebut four p’s adalah strategi produk, strategi harga,
strategi penyaluran / distribusi, strategi promosi.
Satu diantara berbagai tujuan perusahaan adalah untuk memperoleh
laba yang optimal dari kegiatannya sehari-hari, khususnya kegiatan
pemasaran. Untuk menjalankan kegiatan pemasaran tersebut dengan baik,
dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan, perusahaan harus menerapkan
suatu strategi yang tepat sesuai dengan lingkungan pemasaran
perusahaannya

Pengertian Pemasaran


Pengertian pemasaran selalu berkembang dari waktu ke waktu.
Dimulai dari pengertian pemasaran secara sederhana sampai dengan
pemasaran dalam lingkungan persaingan bisnis yang semakin modern dan
kompetitif. American marketing association (AMA) menyatakan bahwa:
“marketing is an organizational function and a set of pro accesses
for creating, communicating and delivering value to customers and
for managing customer relationship in ways that benefit the
organization and its stake holders” (Alma dan Priansa, 2014:340).1
Kotler and Keller (2006) menyatakan bahwa:
“marketing is an organizational function and a set processes for
creating, communicating and delivering value to customers and for
managing customer relationships in ways that benefit the
organization and it stakeholders”.
Pemasaran ialah fungsi organisasi dan satu set proses untuk
menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai kepada
pelanggan dan untuk membangun hubungan pelanggan yang memberikan
keuntungan bagi organisasi dan pihak – pihak yang berkepentingan
terhadap organisasi

Dampak Strategi Pemasaran Dalam Menarik Minat Beli Konsumen


Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, pengaruh adalah
pengaruh, pengaruh. Beberapa efek yang dapat memiliki konsekuensi positif
atau negatif. Pengaruh adalah kekuatan timbal balik yang dapat
mempengaruhi seseorang dan dengan mana mereka dapat dipengaruhi.
Singkatnya, efek dapat diartikan sebagai hasil atau akibat. Pengaruh adalah
kekuatan yang ada dan muncul dari sesuatu yang mempengaruhi
pembentukan karakter, keyakinan atau tindakan. Singkatnya, pengaruh
dapat diartikan sebagai pengaruh atau akibat. Setiap keputusan yang dibuat
oleh seorang manajer biasanya memiliki efek positif dan negatif.

  1. positif
    Pengaruh adalah keinginan untuk membujuk, membujuk,
    mempengaruhi atau mengesankan orang lain agar dapat mengikuti
    keinginan mereka dan mendukung mereka. Positif adalah keadaan jiwa
    seseorang yang dipertahankan dengan usaha sadar ketika sesuatu terjadi
    padanya, sehingga ia tidak terjerumus ke dalam keadaan pikiran negatif
    orang lain. Jadi, konsep pengaruh positif adalah keinginan untuk
    membujuk, mempengaruhi atau mengesankan orang lain melalui keadaan
    untuk memberikan atau mendukung keinginan yang baik.
  2. Efek negatif
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengaruh negatif adalah
    pengaruh kuat yang membawa akibat negatif. Pengaruh berarti keinginan
    untuk membujuk, membujuk, mempengaruhi atau mengesankan orang
    lain dengan tujuan untuk dapat mengikuti keinginan mereka dan
    mendukung mereka. Meskipun dampak negatif adalah dampak negatif,
    itu lebih besar dari dampak positif .
    Minat adalah kecenderungan responden untuk bertindak sebelum
    benar-benar membuat keputusan pembelian. Ada perbedaan antara
    pembelian aktual dan niat untuk membeli. Pembelian aktual adalah
    pembelian yang benar-benar dilakukan konsumen, sedangkan niat
    pembelian mengacu pada pembelian yang mungkin tidak dilakukan di
    masa depan

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli


Menurut Philip Kotler dan Gery Armstrong ada empat faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian, yaitu:
a. Faktor pribadi adalah dorongan yang berasal dari dalam diri individu,
dengan usia, pekerjaan, lingkungan keuangan, gaya hidup dan tahap
siklus hidup menjadi faktor yang membentuk selera masyarakat
terhadap produk yang berhubungan dengan usia, pekerjaan, lingkungan
keuangan, gaya hidup dan fase siklus hidup siklus yang mempengaruhi
kehidupan. Keinginan ini menciptakan keinginan untuk lahirnya hal-hal
lain.
b. Faktor sosial dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat dalam
melakukan pekerjaan tertentu. Seperti peran kelompok, keluarga dan
status. Misalnya minat membeli pakaian muncul karena ingin menarik
perhatian orang lain dan dipengaruhi oleh lingkungan. 3) Faktor
Budaya Faktor budaya memiliki dua unsur yaitu subkultur dan kelas
sosial. Subkultur adalah budaya yang terdiri dari subkultur yang lebih
kecil yang membentuk segmen pasar penting dan program pemasaran
yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Sementara itu, pembagian
kelas sosial masyarakat relatif homogen dan berkesinambungan, yang
tidak hanya mencerminkan pendapatan, tetapi juga indikator lain
seperti: pekerjaan, pendidikan dan tempat tinggal.
c. Faktor psikologis dalam faktor psikologis adalah persepsi, motivasi dan
pembelajaran. Persepsi adalah proses individu dalam memilih,
mengatur, dan menafsirkan informasi yang menjadi masukan dalam
situasi tertentu. Walaupun motivasi muncul dari kebutuhan, keinginan
yang belum tercapai. Yang terakhir adalah belajar, yaitu. konsumen
mulai mengingat merek yang sering mereka dengar dan segera
menyusun strategi pemasaran yang tepat agar konsumen belajar untuk
mendapatkan produk yang diinginkan dengan lebih cepat.
Menurut Kotler, Bowen dan Makens (dalam Wibisaputra, 2011),
faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen adalah:
a) Sikap orang lain, sejauh mana orang lain mengurangi pilihan yang
disukai seseorang tergantung pada dua hal, yaitu kuatnya sikap negatif
orang lain terhadap pilihan yang disukai konsumen dan motivasi
konsumen untuk memenuhi keinginan orang lain.
b) Faktor situasional yang tidak terduga, faktor tersebut nantinya dapat
mengubah posisi konsumen dalam pembelian

Indikator- Indikator Minat Beli


Menurut Ferdinand (2014:129), menyebutkan bahwa minat beli
dapat di identifikasi melalui faktor- faktor sebagai berikut:
1) Minat transaksional, kecenderungan seseorang akan produk yang telah
di belinya.
2) Minat referensial, kecenderungan seseorang akan pengalaman
konsumsinya dan mereferensikan kepada orang lain.
3) Minat preferensial, minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu memiliki prefensi utama terhadap produk tersebut, produk
ini bisa diganti apabila produk tersebut telah hilang prefensinya
4) Minat eksploratif, minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
terobsesi terhadap produk yang berlebihan sehingga selalu mencari
informasi positif mengenai produk tersebut.

Pengertian Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (dalam Suradi et al., 2012), minat beli
konsumen adalah perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai
keinginan untuk membeli atau memilih suatu produk berdasarkan
pengalaman memilih, menggunakan dan mengonsumsi produk, atau bahkan
keinginan tersebut terhadap suatu produk.
Minat beli konsumen merupakan inisiatif responden dalam
mengambil keputusan untuk membeli produk. Model rinci perilaku
konsumen menjelaskan bahwa rangsangan pemasaran terdiri dari variabel
bauran pemasaran yaitu komponen pemasaran utama produk, harga, tempat
dan promosi, rangsangan lain yang bersifat eksternal, seperti ekonomi,
teknologi, politik, budaya (Oentoro 2012:11).
Minat beli konsumen pada dasarnya merupakan faktor pendorong
dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk. Setiap
konsumen, pelaku bisnis harus mengetahui karakteristik pembeli, yang
memudahkan segmentasi dan penentuan target pasar, kemudian pelaku
bisnis juga harus mengetahui proses keputusan pembelian konsumen

Pengertian Strategi Pemasaran


Strategi pemasaran adalah rencana yang digunakan perusahaan dengan
harapan bisnis yang dijualnya akan mencapai tujuan dan sasarannya yang
memberikan arahan kepada perusahaan dari waktu ke waktu dalam
menghadapi lingkungan yang berubah dan pesaing dari waktu ke waktu.
Secara umum, strategi pemasaran adalah keseluruhan rencana bisnis untuk
menjangkau dan mengubah pelanggan potensial. Menurut Chandra (2002),
strategi pemasaran adalah ekspektasi perusahaan mengenai dampak dari
berbagai aktivitas atau program pemasaran terhadap permintaan suatu
produk atau lini produk di pasar sasaran tertentu. Program pemasaran
mencakup tindakan pemasaran yang dapat mempengaruhi permintaan
produk, seperti mengubah harga, memodifikasi kampanye periklanan,
merancang penawaran khusus, dan menentukan opsi distribusi.
Menurut Private (2018), strategi pemasaran dapat didefinisikan
sebagai desain yang baik yang menggambarkan bagaimana sebuah
perusahaan harus bekerja untuk mencapai tujuannya. Menurut Kotler
(2017), strategi pemasaran adalah konsep yang digunakan oleh perusahaan,
yang dapat berupa strategi spesifik untuk pasar sasarannya, posisinya dalam
bauran pemasaran, dan tingkat pengeluaran pemasarannya.
Menurut Tjipto (2016), strategi pemasaran adalah alat fundamental
yang dirancang atau direncanakan untuk mencapai suatu perusahaan melalui
pengembangan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Menurut
(Tjiptono, 2012) strategi pemasaran terdiri dari lima elemen yang saling
berkaitan, meliputi:
1) Pemilihan Pasar
2) Perencanaan Produk
3) Penetapan Harga
4) Sistem Kontribusi
5) Komunikasi Pemasaran

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)


Salah satu tujuan pemasaran adalah produk atau jasa yang dihasilkan
perusahaan dikenal baik oleh masyarakat sehingga nantinya perusahaan
dapat memperoleh keuntungan dari penjualannya. Jadi wajar jika
perusahaan rela menghabiskan banyak uang untuk menghasilkan strategi
pemasaran. Strategi pemasaran sebenarnya tidak hanya digunakan untuk
perusahaan besar, bahkan usaha kecil harus menggunakan strategi
pemasaran, seperti bauran pemasaran marketing mix. Bauran pemasaran
berperan sebagai perantara untuk mengkomunikasikan produk dari suatu
perusahaan dengan mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang
ditawarkan. Menurut Wardana (2017: 38) mengutip pernyataan Rambat,
bauran pemasaran (marketing mix) adalah bauran pemasaran bagi pemasar
yang terdiri dari berbagai unsur program pemasaran yang harus diperhatikan
keberhasilan pelaksanaan strategi pemasaran dan penentuan posisi (
positioning ) yang telah ditetapkan. Perencanaan taktis ini menggunakan
konsep bauran pemasaran (marketing mix) yang meliputi produk (product),
harga (price), promosi (promotion), dan lokasi (place ), Wangry, Tumbel
dan Karuntu (2018).
Menurut Kotler dan Amstrong (2005) bauran pemasaran (marketing
mix) merupakan serangkaian alat pemasaran taktis yang dipadukan
perusahaan untuk menghasilkan respons yang di inginkan dalam pasar
sasaran. Sunarto (2003) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai
seperangkat alat pemasaran yang terkontrol yang diadukan oleh perusahaan
untuk menghasilkan respons yang dipadukan oleh perusahaan untuk
menghasilkan respons yang diinginkan pasar sasaran.
Sedangkan, menurut Lima Krisna dan Julis (2016:221) bauran
pemasaran merupakan komponen dari unsur- unsur yang membentuk
strategi campuran, yang dirancang dengan maksud untuk menghasilkan
tanggapan yang diinginkan dari pasar sasaran

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Jasa Transportasi Angkutan Umum


Kotler (2005) menyatakan bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi
oleh faktor- faktor berikut :
a. Faktor budaya Faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas
dan paling dalam. Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi
perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang
paling dasar. Sub budaya mencakup kebangsaan, agama, kelompok ras, dan
wilayah geografis. Sedangkan kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang
relatif homogen dan permanen, yang tersusun secara hirarkis dan yang para
anggotanya menganut nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Kelas sosial tidak
hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan,
pendidikan, dan wilayah tempat tinggal.
b. Faktor sosial Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
faktorfaktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status
sosial masyarakat.
1) Kelompok Acuan Kelompok acuan seseorang terdiri atas semua kelompok di
sekitar individu yang mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak
langsung terhadap perilaku individu tersebut (Kotler, 2007). Kelompok acuan
mempengaruhi pendirian dan konsep pribadi seseorang karena individu biasanya
berhasrat untuk berperilaku sama dengan kelompok acuan tersebut (Kotler,
2007)
2) Keluarga Keluarga sendiri biasanya menjadi sumber orientasi dalam perilaku.
Anak akan cenderung berperilaku sama dengan orang tua saat mereka melihat
perilaku orang tua mereka mendatangkan manfaat atau keuntungan (Kotler,
2007).
3) Peran dan status dalam masyarakat Peranan adalah kegiatan yang diharapkan
untuk dilakukan mengacu pada orang-orang di sekellilingnya. Sedang status
adalah pengakuan umum masyarakat sesuai dengan peran yang dijalankan.
Setiap individu dan status yang disandangnya akan mempengaruhi perilakunya
(Kotler, 2007).
c. Faktor pribadi Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan
ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli.
1) Usia dan Tahap Siklus Hidup Individu dalam membeli barang atau jasa
biasanya disesuaikan dengan perubahan usia mereka. Pola konsumsi yang
terbentuk juga berbeda antara individu-individu yang usianya berbeda (Kotler,
2007).
2) Pekerjaan Pekerjaan individu tentunya ikut mempengaruhi perilaku
pembelian individu. Penghasilan yang mereka peroleh dari pekerjaannya itulah
yang menjadi determinan penting dalam perilaku pembelian mereka (Kotler,
2007)

Keputusan Pembelian


Kehidupan manusia tidak lepas dari melakukan jual beli. Sebelum melakukan
pembelian, seseorang biasanya akan melakukan keputusan pembelian terlebih
dahulu terhadap suatu produk. Keputusan pembelian merupakan kegiatan
individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk
melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual.
Pengertian keputusan pembelian, menurut Kotler & Amstrong (2001) adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-
benar membeli. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu
yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang
yang ditawarkan. Definisi lain keputusan pembelian adalah keputusan pembeli
tentang merek mana yang dibeli. Konsumen dapat membentuk niat untuk
membeli merek yang paling disukai. Keputusan pembelian merupakan suatu
proses pengambilan keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa
yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian (Kotler dan Amstrong, 2008).
Menurut Kotler (2005), “Keputusan pembelian adalah Suatu tahap dimana
konsumen telah memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau
pertukaran antara uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau
penggunaan suatu barang atau jasa”. Kotler (2005) juga menjelaskan yang
dimaksud dengan keputusan pembelian adalah suatu proses penyelesaian
masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan keinginan
hingga perilaku setelah pembelian.