Organisasi sektor publik menghadapi turbulensi yang sangat
kompleks menyangkut bidang sosial, ekonomi, dan politik sehingga
menuntut manajernya selalu mengembangkan berbagai pendekatan
yang paling efektif dan efisien untuk memperbaiki organisasi secara
terus-menerus (continuous improvement) (Mahsun, 2006:1.28).
Berbagai bentuk adaptasi organisasi sektor publik dalam menghadapi
pesatnya perubahan lingkungan antara lain: struktur yang terlalu
birokratik dan bertingkat mengalami pemangkasan; sistem sentralisasi
mulai banyak diubah menjadi desentralisasi; melakukan perbaikan
kinerja berbasis informasi pengukuran kinerja dan pemicu (driver)
terjadinya tingkat kinerja tertentu; pengambilan keputusan dilakukan
secara cepat sehingga didesain sistem informasi manajemen yang
handal; adanya pemberdayaan yang sistematis terhadap individu-
individu dalam organisasi; dan munculnya kesadaran yang tinggi atas
pentingnya ukuran kinerja non-finansial (Mahsun, 2006:1.28-29).
Lebih lanjut tentang perubahan organisasi, Robbins (2006:217)
dalam Rahardian (2013:18) menyatakan, bahwa perubahan organisasi
adalah tindakan beralihnya sesuatu organisasi dari kondisi yang
berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang
di inginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Robbin dan Conter
(2012:4) mengemukakan bahwa perubahan organisasional yakni setiap
perubahan yang terkait dengan orang, struktur atau teknologi.
Perubahan organisasi akan mengarah pada opsi maju apabila ada
kesinambungan yang harmonis antara sistem dan pelaksananya.
Suasana yang berlangsung pada sisterm tersebut tertata dan
dilaksanakan sesuai dengan prosedur atau membuat inovasi yang
kooperatif satu sama lain.
Katz dan Kahn (1978) mengungkapkan bahwa organisasi dapat
dipandang sebagai sistem yang terbuka. Menurut perspektif ini,
organisasi akan menciptakan dinamika melalui respons atau proses
penyesuaian diri terhadap perubahan atau tantangan baru, yang pada
gilirannya akan menciptakan keseimbangan hubungan antar komponen
dalam organisasi dan komponen lingkungan eksternalnya. Karena
lingkungan eksternal terus berubah, organisasi harus terus diperbarui.
Selanjutnya dalam merespon perubahan atau tantangan baru tersebut,
Bennis (1969) dalam Aslinda, Guntur, & Nur (2018:13) mengemukakan:
‘… pengembangan organisasi adalah suatu jawaban terhadap
perubahan, suatu strategi yang kompleks yang diharapkan untuk
merubah kepercayaan, sikap, nilai, dan susunan organisasi,
sehingga organisasi dapat lebih baik dalam menyesuaikan
dengan teknologi, pasar, dan tantangan yang baru, serta
perputaran yang cepat dari perubahan tersebut
Organisasi Sektor Publik
Organisasi adalah sekelompok orang yang berkumpul dan bekerja
sama dengan cara yang terstruktur untuk mencapai tujuan atau
sejumlah sasaran tertentu yang telah ditetapkan bersama. Unsur utama
organisasi terdiri dari tiga pilar yaitu The Man (Orang-orang), The
Cooperation (Kerjasama), dan The Goals (Tujuan) yang ketiganya
saling terkait satu dengan lainnya Mahsun (2006:1.3-4). Ketiga unsur
utama tersebut menurut Mahsun (2006:1.3-4) dapat dipahami sebagai
berikut:
a. The Man (Orang-orang)
The Man adalah orang-orang yang terlibat dalam organisasi
dengan perannya masing-masing, misalnya komisaris, direksi,
manajer, supervisor, pegawai dan semua sumber daya manusia yang
terlibat dalam pengelolaan organisasi.
b. The Cooperation (Kerjasama)
The Cooperation adalah kerjasama di antara orang-orang dalam
suatu organisasi dengan berbagai peran dan fungsi yang berbeda-beda
untuk mencapai tujuan tertentu. Sebuah tim kerja (team work)
merupakan contoh nyata kerjasama yang baik di antara orang-orang
dalam mencapai tujuan.
c. The Goals (Tujuan)
The Goals adalah sasaran yang hendak dicapai di masa yang
akan datang. Serangkaian tujuan tersebut biasanya akan
dikelompokkan dalam tujuan jangka panjang, jangka menengah, dan
jangka pendek. Tujuan jangka panjang tertuang dalam rencana jangka
panjang (RJP), tujuan jangka menengah tertuang dalam rencana
jangka menengah (RJM), dan tujuan jangka pendek tertuang dalam
rencana kerja dan anggaran (RKA).
Dalam pencapaian tujuannya, sebuah organisasi harus
menyediakan kerangka kerja arahan sebagai panduan kegiatan atau
proyek dan dasar pengambilan keputusan organisasi. Dengan direction
framework tersebut, organisasi bisa menilai apakah kegiatan-kegiatan
organisasi telah dilaksanakan dengan tidak menyimpang dari tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan. Kerangka dimaksud meliputi: visi,
misi, strategi, prinsip, klien/pengguna/pelanggan, stakeholder, tujuan,
sasaran, produk atau jasa, serta roles, responsibilities, and skills
Mahsun (2006:1.4). Kerangka tersebut masing-masing dijelaskan
sebagai berikut:
1) Visi
Visi adalah pernyataan cita-cita yang menggambarkan suatu
keadaan tertentu dan harus diperjuangkan organisasi untuk dicapai di
masa depan. Keadaan yang dideskripsikan dalam visi ini bersifat
umum, namun dapat memberikan pemahaman logis mengenai apa
yang akan dilakukan organisasi dan bagaimana melakukannya untuk
mencapai suatu kondisi yang sempurna dan ideal.
2) Misi
Misi adalah pernyataan yang sangat umum dari organisasi untuk
mendeskripsikan apa yang akan dilakukan organisasi, bagaimana
melakukannya dan untuk siapa dilakukan. Pernyataan umum ini
dimaksudkan untuk mengarahkan organisasi dalam pencapaian nilai
tertentu yang diharapkan dapat dicapai organisasi. Misi merupakan
pernyataan terhadap bidang atau kegiatan terbaik yang mampu
dilakukan organisasi. Misi ini membawa suatu organisasi dapat
memusatkan diri dan fokus terhadap kegiatan-kegiatan organisasi.
3) Strategi
Strategi adalah teknik atau cara-cara yang digunakan organisasi
untuk mencapai visi yang telah dirumuskan. Suatu strategi memuat
serangkaian petunjuk yang menjelaskan bagaimana organisasi akan
mencapai misi dan mengarahkannya pada visi. Dengan
mendeskripsikan sebuah strategi maka dapat membantu organisasi
meluruskan dan memfokuskan arah pencapaian visi dengan panduan
dan petunjuk yang jelas dan dipahami bersama.
4) Prinsip
Prinsip adalah kaidah-kaidah dan nilai-nilai tentang perilaku,
moral, dan etika yang ditetapkan organisasi sehingga diharapkan dapat
membentuk budaya organisasi yang mendukung pencapaian visi.
Prinsip-prinsip ini mengatur bagaimana orang-orang di dalam
organisasi harus berperilaku, bertindak, dan berinteraksi satu sama lain
baik dengan satu kelompok maupun dengan kelompok lain di luar.
5) Klien/Pelanggan/Pengguna
Klien/pelanggan/pengguna adalah individu atau kelompok
individu yang meminta dan menggunakan produk dan jasa yang
disediakan organisasi.
6) Pihak-pihak yang Berkepentingan
Pihak-pihak yang Berkepentingan adalah individu atau kelompok
individu tertentu yang mempunyai kepentingan terhadap organisasi.
Stakeholder ini terdiri dari stakeholder internal dan eksternal.
Stakeholder internal antara lain manajemen dan pegawai organisasi,
sedangkan stakeholder eksternal antara lain pemasok, rekanan,
masyarakat, investor, kreditor, konsultan, dan sebagainya.
7) Tujuan
Tujuan adalah suatu kondisi tertentu yang direncanakan
organisasi dapat dicapai dalam kurun waktu satu sampai tiga tahun.
Pencapaian tujuan ini membantu organisasi mencapai misi dan
menggerakkannya pada visi yang telah ditetapkan. Tujuan organisasi
harus ditulis dengan menyatakan sejumlah manfaat yang harus
dipenuhi dalam hal biaya, waktu maupun kualitas tertentu.
8) Sasaran
Sasaran adalah pernyataan spesifik yang mendeskripsikan
tentang apa yang ingin dicapai organisasi dalam kurun waktu satu
tahun. Sasaran harus dinyatakan secara operasional, jelas, dan
terperinci mengenai segala apa yang ditargetkan untuk dapat dicapai
dalam kurun waktu satu tahun. Syarat-syarat sebuah sasaran antara
lain specific, measurable, attainable/achievable, realistic, and
timebound (SMART).
9) Produk dan/atau Jasa
Produk merupakan sejumlah output yang berwujud (tangible)
yang dihasilkan organisasi. Jasa merupakan sejumlah output yang tidak
berwujud (intangible) yang dihasilkan organisasi. Organisasi mencapai
sasaran melalui penciptaan produk dan/atau jasa. Produk dan/atau jasa
ini digunakan untuk melayani para pelanggan/pengguna/klien sehingga
diharapkan dapat mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
10) Roles, Responsibilities dan Skills
Roles merupakan posisi-posisi tertentu dalam organisasi yang
diberikan kepada seseorang atau kelompok orang sehingga mereka
mempunyai wewenang yang melekat dalam posisi tersebut.
Responsibility merupakan hasil dan kewajiban yang harus dicapai oleh
orang atau kelompok orang dalam organisasi. Skills adalah sifat atau
pengetahuan internal yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok orang
dalam menjalankan roles dan memenuhi responsibilities sebagaimana
ditetapkan. Ketiga variabel tersebut sangat dibutuhkan organisasi untuk
mengembangkan produk dan menyediakan jasa yang diperlukan dalam
rangka mencapai sasaran yang ditetapkan. Struktur organisasi harus
didesain dengan mempertimbangkan ketiga variabel tersebut.
Lebih lanjut Mahsun (2006:1.24) kemudian mendefinisikan
organisasi sektor publik sebagai organisasi yang berhubungan dengan
kepentingan umum dan penyediaan barang atau jasa kepada publik
yang dibayar melalui pajak atau pendapatan negara lain yang diatur
dengan hukum. Kemudian Jones (1993) dalam Mahsun (2006:1.17)
menyebutkan peran utama sektor publik mencakup tiga hal, yaitu
regulatory role, enabling role, dan direct provision of goods and
services. Regulatory role dapat dipahami sebagai peran organisasi
sektor publik dalam menetapkan segala aturan yang berkaitan dengan
kepentingan umum agar barang publik dapat secara bersama-sama
dinikmati oleh masyarakat; Enabling role dipahami sebagai peran
organisasi sektor publik dalam memungkinkan aktivitas masyarakat
dapat berlangsung secara aman, tertib, dan lancar berkenaan dengan
regulasi yang telah ditetapkan; dan Direct provision of goods and
services dipahami sebagai peran organisasi publik dalam ikut serta
mengendalikan dan mengawasi barang publik dengan sejumlah
regulasi yang tidak merugikan publik. Organisasi sektor publik tidak bisa
lepas dari peran pemerintah dan bahkan umumnya organisasi yang
menghasilkan pure public goods adalah pemerintah maka organisasi
sektor publik sangat identik dengan pemerintah (Mahsun, 2006: 1.25)
Manajemen Tempat Kerja Dengan 5S/5R
5S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara
intensif yang berasal dari Jepang. Metode ini digunakan oleh manajemen dalam
usaha memelihara ketertiban, eflsiensi, dan disiplin di lokasi kerja, sekaligus
meningkatan kinerja perusahaan secara menyeluruh. Penerapan 5S diberlakukan
bersamaan dengan penerapan kaizen agar dapat mendorong efektivitas pelaksanaan
5S. Istilah Kaizen berasal dari dua kata, yaitu kai bisa diartikan perubahan dan zen
adalah menjadi baik. Dengan demikian, kalau digabungkan, kaizen bermakna
perubahan menjadi baik secara berkesinambungan. Budaya kaizen yang dipelopori
oleh Masaaki Imai merupakan suatu sistem manajemen tata graha atau management
good housekeeping, yang dilakukan dalam rangka mengelola tempat kerja. Tempat
yang dimaksud adalah tempat atau lingkungan kita bekerja, baik itu di area kerja
perkantoran, gudang, bengkel, laboratorium, industri, rumah tangga, maupun area
pendukung lainnya seperti fasilitas publik.
Konsep Kaizen memiliki unsur 5S atau 5R, sebagai berikut :
- Ringkas (seiri)
Singkirkan barang yang tidak perlu. - Rapi (seiton)
Penyimpanan barang sesuai dengan tempatnya. - Resik (seiso)
Membersihkan berarti memeriksa. - Rawat (aeiketsu)
Menghindari ketidakpastian atau ketidaksesuaian. - Rajin (shitsuke)
Norma kerja produktif selalu dipatuhi.
Dalam praktiknya, kelima unsur ini harus dilaksanakan berurutan dan
berkesinambungan.
Masing-masing S dalam SS beserta penjelasannya dijelaskan di bawah ini : - Seiri atau ringkas
Seiri mempakan langkah awal implementasi 5S, yaitu pemilahan barang
yang berguna dan tidak berguna. Barang berguna > disimpan atau Barang tidak
berguna > dibuang.
Dalam-langkah awal ini, dikenal istilah red tag strategy, yaitu menandai barang-
barang yang sudah tidak berguna dengan label merah (red tag) agar mudah
dibedakan dengan barang-barang yang masih berguna. Barang-barang dengan label
merah kemudian disingkirkan dari tempat kerja. Semakin ramping tempat kerja dari
barang-barang yang tidak dibutuhkan, akan semakin efisien tempat kerja tersebut. - Seiton atau rapi
Seiton adalah langkah kedua setelah pemilahan, yaitu penataan barang yang
berguna agar mudah dicari dan aman. Kemudian, barang-barang tersebut diberi
indikasi. Dalam langkah kedua ini dikenal istilah signboard strategy, yaitu
menempatkan barang-barang berguna secara rapi dan teratur, kemudian diberikan
indikasi atau penjelasan tentang tempat, nama barang, dan berapa banyak barang
tersebut agar pada saat akan digunakan barang tersebut mudah dan cepat diakses.
Signboard strategy mengurangi pemborosan dalam bemuk gerakan mondar-mandir
mencari barang. - Seiso atau resik
Seiso adalah langkah ketiga setelah penataan, yaitu pembersihan barang yang
telah ditata dengan rapi agar tidak kotor, termasuk tempat kerja dan lingkungan
serta mesin, baik mesin yang breakdown maupun dalam rangka program preventive
maintenance (PM). Sebisa mungkin tempat kerja dibuat bersih dan bersinar, seperti
ruang pameran agar lingkungan kerja sehat dan nyaman, sehingga mencegah
motivasi kerja yang turun akibat tempat kerja yang kotor dan berantakan. - Seiketsu atau rawat
Seiketsu adalah langkah selanjutnya setelah seiri, seiton, dan seiso, yaitu
penjagaan lingkungan kerja yang sudah rapi dan bersih menjadi suatu standar kerja.
Keadaan yang telah dicapai dalam proses seiri, seiton, dan seiso harus
distandardisasi. Standar-standar ini harus mudah dipahami, diimplementasikan ke
seluruh anggota organisasi, dan diperiksa secara teratur dan berkala. - Shitsuke atau rajin
Shitsuke adalah langkah terakhir, yaitu penyadaran diri akan etika kerja,
sebagai berikut :
A. Disiplin terhadap standar.
B. Saling menghormati.
C. Malu melakukan pelanggaran.
D. Senang melakukan perbaikan.
Departemen GA sangat menentukan suksesnya 5S. Sejauh mana GA dapait
menggerakan seluruh karyawan melakukan 5S sebagai suatu kebiasaan bukan
paksaan, sehingga inisiatif perbaikan akan muncul dengan sendirinya.
Hal yang harus diperhatikan guna kesuksesan penerapan 5S di perusahaan,sebagai
berikut :
A. Membutuhkan keterlibatan/partisipasi semua orang dalam organisasi dari
level atas sampai level bawah.
B. Membutuhkan komitmen manajemen untuk memastikan kegiatan 5S
dilakukan setiap hari dan dianggap sebagai prioritas.
C. Mengubah perspektif semua orang dalam organisasi bahwa 5S lebih dari
sekadar program kebersihan maupun housekeeping management.
D. Menerapkan 5S secara konsisten untuk perubahan budaya.
E. Melakukan audit 5S secara teratur (mingguan, bulanan, dan surprise audit)
untuk menilai performance.
F. Membutuhkan edukasi tentang konsep dan keuntungan aktivitas 5S
Ergonomi
Pada dasarnya, ergonomi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang
Psistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan,
dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja. Dengan demikian,
orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik, yaitu untuk
mencapai tujuan yang diinginkan melalm pekerjaan itu dengan efektif, efisien,
aman, dan nyaman,
Penerapan ergonomi di tempat kerja merupakan sebuah cara agar pekerja
dapat selalu beraktivitas dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif, dan
sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemarnpuan, dan
kerjasama yang baik dari semua pihak. Pelatihan bidang ergonomi di perusahaan
sangatlah panting. Dengan adanya tuntunan dalam pelatihan yang terus-menerus,
akan menjadi pembiasaan dalam waktu bekerja.
Tujuan utama dari ergonomi, sebagai berikut :
- Memperbaiki performansi kerja manusia, seperti menambah ketepatan .
- kerja dan mengurangi energi yang berlebihan serta mengurangi kelelahan.
- Mengurangi waktu pelatihan dan biaya.
- Memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan.
- keterampilan yang diperlukan. Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan
meminimalkan kerusakan . - peralatan yang disebabkan human error.
- Memperbaiki kenyamanan manusia dalam bekerja.
Dengan demikian, tujuan ergonomi adalah menimbulkan efektivitas fungsional dan
kenyamanan pemakaian dari lingkungan kerja yang dirancang. Pendekatan khusus
yang dilakukan dalam disiplin ilmu ergonomi adalah apiikasi yang sistematis dari
segala informasi yang relevan dan berkaitan dengan karakteristik perilaku manusia
di dalam perancangan peralatan, fasilitas, dan lingkungan kerja yang dipakai.
Untuk itu, analisis penelitian ergonomi berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut : - Anatomi (struktur), fisiologi (cara bekerja), dan antropometri (ukuran)
dimensi tubuh manusia. - Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem saraf yang
berperan dalam tingkah laku manusia. - Kondisi-kondisi kerja yang dapat mencederai, baik dalam waktu pendek
maupun panjang. Begitu juga sebaliknya, kondisi-kondisi kerja yang dapat
membuat nyaman kerja manusia.
Hal perlu dilakukan oleh GA terkait ergonomi di lingkungan kerja, sebagai berikut: - Lakukan audit terhadap seluruh aktivitas kerja dengan mempertimbangkan
tingkat ergonomi. Desain aktivitas dan alat kerja sesuai konsep ergonomi. - Lakukan pelatihan kepada karyawan mengenai penerapan ergonomi dalam
pekerjaannya. - Gunakan tanda atau simbol cara kerja ergonomis di alat kerja yang
membutuhkan - Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama karyawan yang
berisiko dan memiliki tingkat kerja yang berat.
Instruksi Kerja ( IK )
Menurut Teguh Hambudi (2015:49) Intruksi Kerja merupakan suatu perintah yang
disediakan untuk membantu seseorang dalam melakukan pekerjaan dengan benar
mengikuti prosedur. Namun, tidak semua prosedur harus dibuatkan instruksi
kerjanya. Hal ini mempertimbangkan kerumitan dan kompleksitas aktivitas,
kualiflkasi personel pelaksana, dan sifat aktivitas .
Instruksi kerja wajib untuk sertifikasi ISO. ISO bersertifikat bisnis adalah faktor
yang meyakinkan untuk menjadi baik dan untuk memberikan produk yang
berkualitas tinggi atau layanan kepada pelanggan, Tidak ada standar baku dalam
pembuatan IK.
Dalam perencanaan Team GA, Instruksi kerja yang baik, lengkap, dan benar
dapat membantu para pemimpin departemen GA dalam menentukan berapa jumlah
sumber daya manusia yang dibutuhkan.Dalam proses rekrutmen dan seleksi,
Instruksi kerja dapat dimanfaatkan sebagai senjata atau tools dalam proses
pembuatan iklan lowongan kerja, proses wawancara, dan proses seleksi. Dalam
proses training dan development, peranan instruksi kerja juga dibutuhkan.
Lalu, rencanakanlah training-training apa saja yang dapat diprogramkan. Instruksi
kerja tentu menjadi dasar bagi program penilaian kinerja karyawan. Oleh karena
itu, sebagai GA harus benar-benar membuat dan melaksanakan instruksi kerja
dengan sebaik-baiknya dan dengan data yang akurat. Melakukan analisis pekerjaan
(job analysis) adalah proses dalam membuat Instruksi kerja. Instruksi kerja
mengatur hal-hal, sebagai berikut :
- Hasil kerja (output).
- Tolak ukur keberhasilan (key performance indicator atau KPI).
- Kompetensi masing-masing pekerjaan.
- Wewenang dan tanggung jawab karyawan.
- Rekap kompetens
Standard Operating Procedure
Salah satu kesuksesan Perusahaan adalah terlaksananya standard operating
procedure dengan baik dan benar oleh karyawan yang terlibat di dalamnya.Maka
dari itu standard operating procedure sangat diperlukan oleh setiap perusahaan.
Implementasi SOP yang baik akan menunjukkan konsistensi hasil kerja, hasil
produk, dan proses pelayanan yang menghasilkan kemudahan, pelayanan, dan
pengaturan yang seimbang panduan hasil kerja yang diinginkan.
Tujuan dan manfaat SOP itu sendiri, sebagai berikut :
- Memudahkan proses tugas dan tanggung jawab.
- Memudahkan proses pemahaman staf secara sistematis dan general.
- Menghindari kesalahan dalam proses kerja.
- Mempermudah dalam mengetahui terjadinya kegagalan proses dalam
prosedur kerja. - Memudahkan monitoring fungsi kontrol dari setiap proses kerja.
- Menghemat waktu dalam program training.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tahap pembuatan SOP yang baik, sebagai
berikut : - Gali informasi sebanyak-banyaknya mengenai proses kerja, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. - Wawancara dapat dilakukan untuk memahami secara lebih detail tentang
proses kerja. Gunakan perbandingan lebih dari satu proses kerja. - Gunakan instrumen pada setiap proses kerja (tools, hardware, dan software).
- Catat efisiensi waktu, biaya, dan energi untuk kemungkinan sistem yang akan
digunakan. - Untuk memilih sistem, dapat dilakukan brain storming dan menerima
pertimbangan dari atasan, staf, customer, serta pihak lain yang terlibat. - Buatlah draft secara baku dan lakukan pembahasan dengan tim, terkait sistem
yang terpilih. - Lakukan uji coba instrument yang ada.
- Mintalah persetujuan pemimpin atau manajemen terkait sistem yang terpilih.
- Sosialisasikanlah secara resmi sistem yang terpilih kepada tim terkait.
- Lakukan evaluasi dan audit secara berkala untuk memastikan pelaksanaan
SOP. - Reward dan punishment juga dapat dilakukan untuk mendukung keberhasilan
pelaksanaan SOP
Key Performance Indicator (KPI)
Hampir di setiap perusahaan saat ini sudah menggunakan KPI sebagai alat ukur
atau indikiator dalam mencapai performa. KPI adalah ukuran atau indikator yang
akan memberikan informasi sejauh mana kita telah berhasil mewujudkah sasaran
strategi yang telah kita tetapkan.
Kegunaan KPI dalam Aktivitas Organisasi :
- KPI berfungsi sebagai indikator yang lebih objektif untuk mengukur
penampilan seseorang. - KPI dapat memberikan kejelasan dan transparansi atas penampilan kerja
secara individu, grup, dan departemen. - KPI sangat dapat dihubungkan dengan program insentif atau bonus.
- Dengan KPI, akan memberikan semangat kepada karyawan untuk mencapai
target performa kinerja. - Dalam KPI memungkinkan untuk mengambil tindakan korektif, untuk yang
berpenampilan kurang baik. - Di dalam KPI, prestasi individu dan kelompok atau departemen dapat
dilihat (visible) dan dipertanggungjawabkan (accountable)
Definisi General Affair
Menurut Teguh Hambudi (2015:49) General Affair atau diartikan bagian umum
adalah salah satu bagian departemen yang ada di dalam sebuah perusahaan . Setiap
perusahaan umumnya memiliki departemen General Affair (GA) dan menjadi
pendukug atas aktivitas operasional perusahaan . Beberapa unit bidang pekerjaan
di bawah general affair umumya adalah keamanan (security), kebersihan ( cleaning
service) , pengemudi (driver) , kurir (messenger) , administrasi umum , office boy,
recepsionist , pengadaan barang (purchasing) , K3 (kesehatan dan keselamatan
kerja) atau sering disebut safety healthy environtment (SHE). Masing – masing
memiliki kebutuhan dan lingkup struktur sesuai dengan besarnya organisasi dan
kebutuhan organisasi .
Membangun nilai (value) adalah pondasi terpenting dalam membangun tim
GA yang solid. Hal tersebut akan menentukan seberapa cepat tim dapat optimal
dalam mencapai tujuan.
Value atau nilai menjadi bagian penting dalam pengelolaan sebuah
organisasi. Ada baiknya kita juga harus memerhatikan nilai apa yang akan dibangun
kepada tim GA. Jika nilai-nilai ini dibangun dengan baik, pencapaian tujuan akan
lebih optimal . Tim akan lebih solid dan memiliki sebuah nilai tambah. Tugas GA
profesional adalah secara terus-menerus membangun nilai dalam tim. Hal ini
menjadi penting karena merupakan kunci utama sebuah keberhasilan dalam
membangun tim. Nilai-nilai individu akan mewakili nilai tim secara keseluruhan.
Dengan kompleksitas dan varian kerja yang banyak, GA memiliki customer Datau
pelanggan yang sangat banyak dan bervariasi. Siapa customer GA? Di sisi internal
sudah pasti seluruh karyawan dan di sisi eksternal dari luar perusahaan . Melihat
luasnya hal tersebut, tentunnyaa kompetensi GA bukan orang sembarangan,
melainkan diperlukannya orang yang memiliki profil terbaik dalam memenuhi dan
melayani customer dengan hasil terbaik.
GA Internal Customer :
a. Atasan
b. Rekan kerja
c. Bawahan
d. Seluruh orang yang bekerja di perusahaan
GA Eksternal Customer :
a. Pemerintahan
b. Penyedia jasa/barang, suplier, distributor, dan lain-lain.
c. Masyarakat sekitar, LSM, dan organisasi masyarakat.
d. Tamu Perusahaan.
GENERAL AFFAIR STRATEGI :
A. GA SWOT Analis
General Affair menggunakan Strategi SWOT analis sebagai acuan dalam
melakukan aktifitas dalam bekerja sebagai berikut :
S (Strength) adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisalsi
atau program pada saat ini.
W (Weakness) adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari
organisasi atau program pada saat ini.
O (Opportunity) adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar
organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi pada masa depan.
T (Threat) adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang
dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi pada masa depan.
Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah
berbagai hal yang memengaruhi keempat faktornya. Kemudian, menerapkannya,
yaitu mengaplikasikan bagaimana kekuatan (strengths) , mampu mengambil
keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara
mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari
peluang (opportunities) yang ada. Selanjutnya, bagaimana kekuatan (strengths)
mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, serta bagaimana cara mengatasi
kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata
atau menciptakan sebuah ancaman.
Jika perusahaan memiliki visi dan misi sebagai tujuannya, tentu GA pun harus
memiliki visi dan misi. Sebagai sebuah departemen, GA tentunya harus memiliki
perencanaan ke depan serta memiliki visi dan misi yang jelas dalam pencapaian
tujuan. Visi dan misi bukan hanya pernyataan dan deklarasi. Visi dan misi adalah
kerangka tujuan yang harus direalisasikan dengan tindakannyata. Visi dan misi
menggambarkan perencanaan tujuan yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh
seluruh tim demi tercapainya performa kerja yang optimal. Visi dan misi GA
hendaknya sejalan dengan visi dan misi perusahaan, serta menjadi bagian tak
terpisahkan. Adapun, values menggambarkan nilai dan budaya apa yang ingin
ditanamkan sebagai bagian pendukung dari tercapainya visi dan misi.
Merumuskan Visi dan misi dalam tim GA tentunya harus sejalan dengan visi
dan misi perusahaan. Hal ini penting agar pencapaiannya bersinergi dengan tujuan
perusahaan.
VISI General Affair : Membantu setiap karyawan dalam mencapai tujuannya di
perusahaan.
Misi General Affair :
Kami senantiasa memberikan layanan terbaik dalam hal pembangunan dan
pengembangan bidang sarana dan prasarana yang mendukung aktivitas karyawan.
Pengaruh Kualitas Kehidupan Terhadap Komitmen
Kualitas kehidupan kerja merupakan suatu bentuk falsafah yang
diterapkan oleh manajemen dalam mengelola organisasi pada umumnya dan
sumber daya manusia pada khususnya. Sebagai filsafat, kualitas kehidupan kerja
merupakan cara pandang manajemen tentang manusia, pekerja dan organisasi.
Menurut Luthans (2006), kualitas kehidupan difokuskan pada pentingnya
penghargaan pada sumber daya manusia dilingkungan kerja. Konsep kualitas
kehidupan kerja adalah adanya bentuk penghargaan terhadap manusia sebagai
pekerja dengan menyediakan sarana penunjang dilingkungan pekerjaan.Hal ini
senada dengan pendapat Siagian (2005), bahwa filosofi kualitas kehidupan kerja
adalah mempekerjakan karyawan bukan semata-mata digunakan tenaganya saja
melainkan kemampuan intelektualnya, harkat dan martabat manusia perlu diakui
dan managerial yang diinginkan adalah demokratik.Kualitas kehidupan kerja
merupakan masalah utama yang patut mendapat perhatian organisasi. Menurut
Husnawati (2006), hal ini merujuk pada pemikiran bahwa kualitas kehidupan kerja
dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangan para anggota
atau karyawan terhadap organisasi.
Komitmen pada karyawan pada sebuah organisasi memanglah sangat
penting untuk dimiliki karyawan guna sebagai penunjang performance karyawan
dan juga demi kemajuan dan keberlangsungan keberadaan organisasi.Tercapai
tidaknya tujuan sebuah perusahaan tergantung pada individu ataupun sumber daya
yang ada dalam organisasi. Organisasi perlu menanamkan banyak hal yang
menyangkut dengan karyawan agar karyawan berkontribusi secara maksimal pada
tujuan-tujuan perusahaan, salah satunya adalah komitmen yang tinggi maka
karyawan akan loyal pada organisasi. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan
oleh organisasi adalah kualitas kehidupan kerja karyawan.
Kunci utama dalam komitmen karyawan adalah bagaimana perusahaan
fokus terhadap nilai-nilai dasar dalam proses kualitas kehidupan kerja. Kualitas
kehidupan kerja tersebut sangat berpengaruh meskipun belum banyak perusahaan
yang mengadopsi komitmen organisasional sebagai budaya.Menurut Zin (2004)
bahwa untuk meningkatkan komitmen organisasi karyawan pada perusahaan harus
mengembangkan kualitas kehidupan kerja dengan memberikan kesempatan bagi
karyawan untuk mengembangkan diri melalui program pelatihan dan partisipasi
dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Menurut Cascio & Boudrea (2011), kualitas kehidupan kerja merupakan
investasi terbesar perusahaan untuk meningkatkan produktivitas kerja dan
mengurangi turnover serta absenteisme karyawan, hal ini berarti bahwa dengan
adanya kualitas kehidupan kerja maka akan menaikan komitmen karyawan.
Seperti yang dikutip oleh Sopiah (2008) komitmen karyawan yang tinggi
membuat karyawan akan lebih puas dengan pekerjaan dan tingkat absensi akan
menurun, sebaliknya karyawan yang kurang berkomitmen akan berdampak pada
absenteisme atau kemangkiran kerja. Dari pendapat tersebut mengidentifikasikan
bahwasanya penerapan kualitas kehidupan kerja terkait dengan komitmen
organisasi karyawan mengingat komitmen organisasi juga terkait dengan
absenteisme dan juga turnover karyawan.
Beberapa aspek dari kualitas kehidupan kerja yang memiliki hubungan
positif dengan komitmen karyawan adalah kesehatan dan kesejahteraan.Menurut
Mayer dkk (2004) menegaskan jika adanya pengaruh antara kesehatan dan
kesejahteraan karyawan dengan dimensi dari komitmen. Artinya semakin
karyawan merasakan kesehatan dan kesejahteraan yang baik maka komitmen
afektifnya akan semakin baik atau tinggi pula.
Menurut Masoud Birjandi dan Hamid Birjandi (2013) dalam penelitiannya
yang berjudul The Relationship Between The Quality of Work life and
Organizational Commitment of the Employees of Darab Coment Company,
bahwasanya adanya hubungan yang positif dan signifikan antara komponen
kualitas kehidupan kerja dan komitmen organisasi karyawan. Selanjutnya menurut
Normala Daud (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tujuh variabel
QWL atau kualitas kehidupan kerja diperikasa yaitu pertumbuhan dan
perkembangan, partisipasi, fisik lingkungan, pengawasan, pembayaran dan
tunjangan dan relevansi sosial diperiksa untuk menentukan hubungannya dengan
komitmen organisasi, maka hasilnya menunjukkan bahwa adanya hubungan QWL
dan komitmen dan layanan organisasional.
Begitu pula menurut Sajjad dan Abbasi (2014) yang menyatakan bahwa
dimensi kualitas kehidupan kerja berdampak positif terhadap komitmen
karyawan.Selanjutnya menurut Selda (2014) bahwa kualitas kehidupan kerja
memiliki pengaruh positif pada affective commitment dan normatif dari akademisi
yang bekerja untuk perguruan tinggi baik negeri dan yayasan sedangkan untuk
continuance commitmenttidak berpengaruh.
Sajjad&Abbasi (2014) mengungkapkan bahwa kualitas kehidupan kerja
akan mempengaruhi keterlibatan individu dalam melaksanakan tugas-tugas yang
diberikan padanya dan hal ini tentunya merujuk dan menekankan pada komitmen
organisasi
Aspek Kualitas Kehidupan Kerja
Menurut Sajjad dan Abbasi (2014), bahwa terdapat delapan aspek yang
bisa digunakan mengungkap kualitas kehidupan kerja:
a. Kompensasi yang memadai dan adil. Mencakup unsur-unsur seperti upah,
kompensasi, bonus, tunjangan, dan fasilitas yang diberikan oleh organisasi
sebagai hasil balas jasa atas kinerja yang dihasilkan pegawai, dimana hal
tersebut diharapkan sesuai dan adil.
b. Lingkungan kerja yang aman dan sehat. Berhubungan dengan hal-hal yang
mencakup kondisi fisik dari tempat kerja, seperti kebersihan, keamanan
serta memiliki resiko kecelakaan yang rendah.
c. Kesempatan untuk terus berkembang dan keamanan kerja. Berkaitan
dengan bagaimana organisasi menyediakan fasilitas yang berkaitandengan
kebutuhan fisik dan emosional dari karyawan.
d. Pengembangan kemampuan kerja. Berkaitan dengan bagaimana organisasi
memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk mengembangkan skill
yang dimiliki dalam menyelesaikan pekerjaan.
e. Integrasi sosial. Berkaitan dengan hubungan yang terjalin antara karyawan
dengan rekan kerja maupun perusahaan.
f. Hak-hak karyawan dalam perusahaan. Berkaitan dengan hak-hak
karyawan sebagai pekerja didalam organisasi, ketersediaan lingkungan
yang demokrasi bagi karyawan.
g. Keseimbangan pekerjaan dan kehidupan. Hal ini mencakup hal-hal
mengenai pengaruh pekerjaan terhadap peran-peran pribadi karyawan.
Dimana pekerjaan, keluarga dan kehidupan pribadi dapat tetap seimbang.
h. Tanggung jawab sosial perusahaan. Mencakup hal-hal mengenai tanggung
jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, serta
karyawan yang bekerja didalam perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari
penilaian karyawan terhadap hal-hal seperti: penyediaan produk dengan
kualitas tinggi, hubungan dengan masyarakat sekitar dll, yang sudah
dilakukan perusahaan, serta rasa bangga karyawan terhadap perusahaan.
Menurut Reddy (2010), dimensi ataupun aspek dari kualitas kehidupan
kerja dapat diukur dari perspektif pekerja dengan menggunakan aspek berikut:
a. Kesehatan dan kesejahteraan
b. Kemanan kerja
c. Kepuasan kerja
d. Pengembangan kompetensi
e. Keseimbangan antara waktu bekerja dan hidup
Definisi Kualitas Kehidupan Kerja
Menurut Nawawi (2012) kualitas kehidupan kerja merupakan iklim kerja
yang digunakan dan dikembangkan secara sengaja dan berencana dan sistematik
untuk menimbulkan kepuasan kerja, perasaan senang, terjamin dan mendapatkan
perlindungan dalam bekrja.
Kemudian menurut Dassler (2009) kualitas kehidupan kerja sebagai suatu
keadaan dimana para pegawai dapat memenuhi kebutuhan mereka yang penting
dengan bekerja dalam organisasi dan kemampuan untuk melakukan hal itu
bergantung pada apakah terdapat perlakuan yang adil dan suportif serta
kesempatan bagi setiap pegawai untuk mengapresiasi dirinya
Pemberdayaan Komitmen Organisasi
Menurut Sopiah, pemberdayaan yang dapat dilakukan untukmemperkuat
komitmen organisasi adalah:
a. Lama bekerja, merupakan waktu yang dijalani seseorang dalam melakukan
pekerjaan dalam perusahaan. Semakin lama seseorang bertahan dalam
perusahaan,semakin terlihat bahwa dia berkomitmen terhadap perusahaan.
b. Kepercayaan, adanya rasa saling percaya akan menciptakan kondisi yang
baik untuk pertukaran informasi dan saran tanpa adanya rasa takut. Salah
satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menghargai perbedaan
pandangan dan perbedaan kesuksesan yang diraih oleh karyawan.
c. Rasa percaya diri akan menimbulkan rasa menghargai kemampuan yang
dimiliki karyawan, sehingga komitmen terhadap perusahaan akan semakin
tinggi. Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri
karyawan adalah mendelegasikan tugas penting kepada karyawan dan
menggali saran ide dari mereka.
d. Kredibilitas, menjaga kredibilitas dengan penghargaan dan
mengembangkan lingkungan kerja dengan kompetisi yang sehat sehingga
akan menciptakan organisasi yang memiliki kinerja dan komitmen tinggi.
e. Pertanggung jawaban, dapat dilakukan dengan menetapkan secara
konsisten dan jelas tentang peran, standar, dan tujuan tentang penilaian
terhadap kinerja karyawan
Pembentukan Komitmen Organisasi
Ada beberapa proses pembentukan komitmen organisasi menurut Allen
Mayeryaitu:
a. Pembentukan Affective Commitment berdasarkan tiga (3) hal.
Pertama,karakterisitik organisasi seperti adanya kebijakan organisasi yang
adil dan cara menyampaikan kebijakan organisasi pada individu. Kedua
adalah karakteristik individu, seperti usia, tingkat pendidikan, dan etos
kerja. Ketiga adalah pengalaman kerja yang mencakup tantangan
pekerjaan dan tingkat otonomi individu.
b. Pembentukan Continuance Commitment karena adanya berbagai tindakan
atau kejadian yang dapat meningkatkan kerugian jika meninggalkan
organisasi, seperti kerugian waktu dan usaha.
c. Pembentukan Normative Commitment tumbuh karena organisasi me
memberikan sesuatu yang berharga bagi individu yang tidak dapat dibalas
kembali
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi
Menurut Sopiah (2008) menemukan empat faktor yang mempengaruhi
komitmen karyawan pada organisasi yaitu :
a. Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pengalaman kerja, dan kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan, konflik,
peran, tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
c. Karakteristik struktur, misalnya besar atau kecilnya organisasi, bentuk
organisasi (sentralisasi atau desentralisasi), kehadiran serikat pekerja.
d. Pengalaman kerja, pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh
terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi
Ciri-Ciri Komitmen Organisasi
Menurut Ivancevich (1998), Ciri-ciri orang yang memiliki komitmen dapat
diidentifikasikan dari terdapatnya unsur-unsur komitmen dalam diri seseorang,
yaitu adanya kesetiaan, kerelaan untuk berusaha dan berkorban demi kemajuan
perusahaan, serta adanya rasa kepemilikan dan keterkaitan antara orang tersebut
dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Dapat disimpulkan bahwa solidaritas organisasi memiliki tiga ciri, yaitu:
a. Masing-masing komponen didalamnya bisa menguatkan satu dengan yang
lain.
b. Bersinergi dalam bekerja serta memiliki program yang jelas.
c. Pembagian potensi dan pemanfaatan kemampuan.
Selain itu Allen dan Mayer (1991), membagi komitmen menjadi tiga yaitu:
a. Komitmen afektif, berkaitan dengan emosional karyawan, identifikasi dan
keterlibatan pegawai didalam suatu organisasi.
b. Komitmen kelanjutan, berkaitan dengan persepsi pegawai tentang
kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi.
c. Komitmen normatif, merupakan perasaan-perasaan pegawai tentang
kewajiban yang harus dia berikan kepada organisasi.
Pendapat Meyer tersebut mengatakan bahwa setiap komponen memiliki
dasar yang berbeda.Pegawai dengan komitmen afektif tinggi bergabung dengan
organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi.Sementara itu
pegawai dengan komitmen kelanjutan tinggi tetap bergabung dengan organisasi
tersebut karena mereka membutuhkan organisasi.Pegawai yang memiliki
komitmen normatif yang tinggi tetap menjadi anggota organisasi karena mereka
harus melakukannya.Setiap organisasi memiliki dasar dan tingkah laku yang
berbeda berdasarkan komitmen yang dimilikinya.Pegawai yang memiliki
komitmen organisasi dengan dasar afektif memiliki tingkah laku yang berbeda
dengan pegawai dengan komitmen kelanjutan. Pegawai yang ingin menjadi
anggota akan memiliki keinginan untuk menggunakan usaha yang sesuai dengan
tujuan organisasi. Sebaliknya, mereka yang terpaksa menjadi anggota akan
menghindari kerugian finansial dan kerugian lain, sehingga mungkin hanya
melakukan usaha yang tidak maksimal
Pengertian Komitmen Organisasi
Menurut Robbin (2006), komitmen sebagai suatu keadaaan dimana
seorang karyawan memihak pada suatu perusahaan atau organisasi tertentu dan
pada tujuan organisasi tersebut serta berniat untuk memelihara keanggotannya
dalam organisasi.
Menurut Diana Angelica (2008), komitmen organisasi sebagai suatu
keadaan dimana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan
keinginannya untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi.
Sedangkan Mathis & Jackson (Terjemahan Jimmy Sadeli dan Bayu Prawira Hie:
2006), mendefinisikan komitmen organisasi sebagai tingkat sampai di mana
karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk
tetap tinggal bersama organisasi.
Menurut Griffin (Terjemahan Gina Gania: 2004), komitmen organisasi
adalah sikap yang mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan
terikat pada organisasinya. Seorang individu yang memiliki komitmen tinggi
kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota sejati organisasi.
Luthans (Terjemahan Vibin Andika Yuwono dkk: 2005). Dengan kata
lain, komitmen organisasi ini merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas
karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di mana anggota organisasi
mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan serta
kemajuan yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, komitmen organisasi ini merupakan sikap yang
merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di
mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan
keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen
organisasi merupakan sifat hubungan antara individu dengan organisasi, dimana
individu mempunyai keyakinan diri terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi,
adanya kerelaan untuk menggunakan usahanya secara sungguh-sungguh demi
kepentingan organisasi, serta mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap
menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Hubungan Antara Perceived Organizational Support denganKomitmen Organisasi
Setiap individu memiliki prinsip dan tujuan masing-masing, tidak banyak
karyawan yang memiliki komitmen dalam pekerjaan yang sudah dijalaninya, bila
komitmen rendah tentunya karyawan tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak
akan memenuhi target atau tanggung jawab dalam pekerjaannya tersebut.
Hasilnya pun tidak sesuai dengan apa yang sudah diharapkan oleh atasan.
Menurut Meyer & Allen (dalam Ayu, 2012: 107) menyatakan bahwa karyawan
yang memiliki komitmen organisasi akan merasa identik dengan organisasinya.
Hal ini dapat mendukung hasil penelitian bahwa jika organisasi membutuhkan
perubahan untuk mencapai kesuksesan dalam persaingan, maka karyawan yang
memiliki komitmen organisasi akan merasakan kebutuhan yang sama bagi dirinya
yaitu perubahan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih efektif
dan efisien, sehingga kesiapan untuk berubah yang dimiliki karyawan juga akan
muncul seiring dengan rasa kebutuhan tersebut.
Menurut Melina (2012: 173) komitmen organisasi adalah anggota
organisasi yang berkomitmen terhadap organisasinya mungkin saja
mengembangkan pola pandang yang lebih positif terhadap organisasi dan dengan
senang hati tanpa paksaan mengeluarkan energi ekstra demi kepentingan
organisasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa komitmen organisasional memiliki
arti yang lebih dari sekedar loyalitas yang pasif, tetapi melibatkan hubungan aktif
dan keinginan karyawan untuk memberikan kontribusi yang berarti pada
organisasinya.
Adanya dukungan organisasi maka akan tercipta komitmen organisasi
pada karyawan yang bekerja pada perusahaan, karena dukungan organisasi
merupakan konsep yang penting dalam menjalankan tanggung jawab dan
manajemen pada suatu perusahaan. Dimana dukungan organisasi memberikan
penjelasan mengenai hubungan antara perlakuan organisasi, sikap dan perilaku
karyawan terhadap pekerjaan di perusahaan tersebut. Karyawan akan menganggap
dukungan organisasi yang tinggi, maka karyawan akan menyatukan keanggotaan
sebagai anggota kedalam identitas diri mereka dan kemudian mengembangkan
hubungan yang lebih positif pada organisasi tersebut.
Dukungan organisasi dapat berarti menghargai kontribusi pada karyawan,
mendengar keluhan, adanya rasa kepedulian, memberikan fasilitas memadai serta
keamanan dalam bekerja. Menurut Kusmarjanti dan Soetjipto ( dalam Gita 2017:
203) mengungkapkan bahwa pentingnya dukungan organisasi dan komitmen
organisasi akan berdampak bagi meningkatnya kinerja karyawan, maupun
pengambilan kebijakan dari organisasi yang memperhatikan kepentingan
karyawan. Karyawan yang merasakan adanya sistem di dalam perusahaan yang
mendukung keberadaan karyawan sebagai anggota organisasi dengan adanya
bentuk kepedulian akan masa depan, kebutuhan karyawan di dalam organisasi,
karier, dan peningkatan sistem sumber daya manusia akan meningkatkan
komitmen karyawan.
Menurut Yuli (2017 : 37) dukungan organisasi adalah tingkatan dimana
para pekerja mempercayai bahwa organisasi menghargai kontribusi pegawai dan
peduli terhadap kesejahteraan mereka sehingga menghasilkan hubungan timbal
balik diantara keduanya. Menurut Mujiasih (2015: 49) mengemukakan bahwa
POS juga mengarahkan karyawan untuk memiliki sikap komitmen terhadap
organisasi, kepuasan kerja, kebanggaan terhadap perusahaan yang pada akhirnya
mengurangi tingkat pergantian keluar masuk (turn over) karyawan pada
perusahaan. Hal sebaliknya dapat berakibat negatif bila tidak ada perceived
organizational support (POS) dalam suatu organisasi yang dirasakan oleh
karyawan, seperti merasa tidak nyaman melaksanakan tugas yang diberikan oleh
organisasi atau atasannya, ketidakpuasan kerja, tidak ada komitmen terhadap
organisasi yang pada akhirnya berakibat pada tingkat keluar masuk karyawan
yang tinggi dalam organisasi tersebut. Perceived organizational support (POS)
positif dari karyawan akan membuat karyawan bekerja lebih dari kata “cukup
baik”, yaitu karyawan bekerja dengan berkomitmen pada tujuan, menggunakan
intelegensi untuk membuat pilihan bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan
suatu tugas, memonitor tingkah laku mereka untuk memastikan apa yang mereka
lakukan benar dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan akan mengambil
keputusan untuk mengoreksi jika diperlukan merupakan indikasi karyawan yang
memiliki engangement tinggi.
Perceived organizational support (POS) merupakan konsep yang penting
dalam literature manajemen karena dukungan organisasi memberikan penjelasan
mengenai hubungan antara perilaku organisasi, sikap dan karyawan terhadap
pekerjaan serta organisasi mereka. Perceived organizational support (POS)
memiliki hubungan yang positif dengan komitmen organisasi, dan dalam hal ini
komitmen organisasi diartikan sebagai tanggung jawab yang baik yang dihasilkan
dari Perceived organizational support (POS), sehingga tanggung jawab tersebut
akan memungkinkan untuk terpenuhinya kebutuhan karyawan dan nilai-nilai yang
penting dalam pekerjaannya. Adanya Perceived organizational support (POS)
terhadap yang sudah dilakukan karyawan akan menjadi jaminan baha bantuan
akan tersedia dari organisasi pada saat dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan
secara efektif dan pada saat menghadapi sesuatu keadaan yang menyulitkan.
Dukungan organisasi memiliki keterkaitan dengan komitmen organisasi, dimana
tanggung jawab terahadap organisasi dalam memenuhi kebutuhannya
Aspek-aspek Perceived Organizational Support (POS)
Rhoades & Eisenberger (2002 : 699) berpendapat bahwa ada tiga aspek-
aspek dari perceived organizational support (POS), aspek-aspek tersebeut
sebagai berikut:
a. Keadilan (Fairness)
Keadilan prosedural menyangkut keadilan dan cara yang digunakan untuk
menentukan distribusi sumber daya diantara karyawan.
b. Dukungan atasan (Supervisor support)
Sejauh mana supervisor menghargai kontribusi bawahannya dan peduli
tentang kesejahteraan mereka.
c. Imbalan dan kondisi kerja (Organizational Reward dan Job Condition)
Sumber daya manusia yang mendapatkan pengakuan atas kontribusinya yang
positif, imbalan dan kondisi kerja ini berupa pengakuan, gaji, promosi,
keamanan kerja, stress peran, dan pelatihan.
Kaswan (2015: 230) mengemukakan aspek-aspek dari perceived
organizational support (POS), sbb:
a. Penghargaan
Penghargaan finansial, baik yang berwujud gaji, upah, insentif, atau
tunjangan sudah amat populer. Namun penghargaan non finansial, seperti
pujian, penerimaan, pengakuan, atau yang lainnya tidak kalah pentingnya.
Pujian dan penghargaan yang tulus dapat sangat berpengaruh pada seseorang.
b. Kepedulian
Kepedulian pemimpin tim terhadap anggota tim adalah mutlak agar terjadi
kepemimpinan yang efektif. Kepedulian ialah bentuk perhatian pemimpin
terhadap oranglain, khususnya anggota tim dengan memberikan sumbangan
dalam bentuk materi, gagasan/pemikiran, waktu, dan keahlian atau
keterampilan. Kepedulian menyiratkan banyak hal, diantaranya empati,
alturisme, dan sikap berkelimpahan.
c. Kesejahteraan
Kehidupan yang menyenangkan meliputi perasaan emosi positif (misalnya,
kegembiraan, rasa syukur, ketenangan, ketertarikan, harapan, kebanggaan,
hiburan, inspirasi, terpesona/rasa kagum, cinta), yang merupakan komponen
terpadu dari kesuksesan dan kesejahteraan.
Ismaniar (2015: 133) berpendapat bahwa perceived organizational support
(POS) memiliki tiga aspek, tiga aspek tersebut adalah:
a. Keadilan
Adanya keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk
menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya diantara karyawan.
b. Dukungan atasan
Pandangan umum karyawan tentang sejauh mana atasan menilai konstribusi
mereka dan peduli terhadap kesejahteraan
c. Penghargaan organisasi dan kondisi pekerjaan
Bentuk penghargaan organisasi yang berbentuk gaji, pengakuan, promosi,dan
keamanan dalam bekerja (adanya jaminan bahwa organisasi ingin
mempertahankan keanggotaan dimasa depan).
Pengertian Perceived Organizational Support
Kaswan (2017: 189) mengatakan bahwa dukungan organisasi adalah
sejauh mana pegawai percaya bahwa organisasi menghargai kontribusi karyawan
dan peduli terhadap kesejahteraan karyawan. Robbins & Judge (2007 : 103)
mengatakan bahwa perceived organizational support (POS) adalah tingkat sampai
mana karyawan yakin organisasi menghargai konstribusi karyawan dan peduli
dengan kesejahteraan karyawan. Individu merasa organisasi yang bersikap
suportif ketika penghargaan dipertimbangkan dengan adil, karyawan mempunyai
suara dalam pengambilan keputusan, dan pengawasan karyawan dianggap
supportif.
Kurtessis (2011: 2) berpendapat bahwa perceived organizational support
(POS) adalah dukungan organisasi karyawan berkembang persepsi umum
mengenai sejauh mana organisasi menilai kontribusi karyawan dan peduli tentang
kesejahteraan karyawan. Karyawan atribusi tentang organisasi niat nasional di
balik penerimaan mereka atas perlakuan yang menguntungkan atau tidak
menguntungkan itu adalah proses pertukaran sosial di mana karyawan merasa
berkewajiban untuk membantu organisasi mencapai sasaran dan mengharapkan
peningkatan upaya pada organisasi yang akan menghasilkan jauh lebih besar.
Perceived organizational support (POS) juga memenuhi kebutuhan sosisal
emosional, menghasilkan identifikasi dan komitmen kepada organisasi, keinginan
yang meningkat untuk membantu organisasi sukses, dan kesejahteraan psikologis
yang lebih besar.
Rhoades & Eisenberger (2002: 698) berpendapat bahwa perceived
organizational support (POS) adalah dukungan organisasi yang dipersepsikan
dengan keyakinan global mengenai sejauh mana organisasi menilai konstribusi,
memperhatikan kesejahteraan, mendengar keluhan, memperhatikan kehidupan
dan mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai serta dapat dipercaya untuk
memperlakukan karyawan dengan adil. Menurut Ismaniar (2015 : 131)
menyatakah bahwa perceived organizational support (POS) adalah persepsi
karyawan sejauh mana organisasi menilai kontribusi, memberikan dukungan, dan
peduli pada kesejahteraan karyawan
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Komitmen Organisasi
Terdapat empat faktor yang memengaruhi komitmen organisasi menurut
Sopiah (2008: 163), adalah:
a. Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pengalaman kerja, kepribadian, dll.
b. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam
pekerjaan, konflik peran dalam pekerjaan, tingkat kesulitan dalam pekerjaan,
dll.
c. Karakteristik struktur, misalnya besar atau kecilnya organisasi, bentuk
organisasi seperti sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja
dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan.
Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat
komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja
dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu memiliki
tingkat komitmen yang berlainan.
Wibowo (2016 : 433) mengemukakan ada lima faktor yang memengaruhi
komitmen organisasi, yaitu:
a. Justice and support (keadilan dan dukungan). Affective commitment lebih
tinggi pada organisasi yang memenuhi kewajibannya pada pekerja dan tinggal
dengan nilai-nilai humanitarian seperti kejujuran, kehormatan, kemauan
memaafkan dan integritas moral. Organisasi yang mendukung kesejahteraan
pekerja cenderung menuai tingkat loyalitas lebih tinggi.
b. Shared values (nilai bersama). Affective commitment menunjukkan identitas
orang pada organisasi, dan identifikasi mencapai tingkat tertinggi ketika
pekerja yakin nilai-nilai mereka sesuai dengan nilai-nilai dominan organisasi.
Pengalaman pekerja lebih nyaman dan dapat diduga ketika mereka sepakat
dengan nilai-nilai mendasari keputusan korporasi.
c. Trust (kepercayaan). Kepercayaan menunjukkan harapan positif satu orang
terhadap orang lainn dalam situasi yang melibatkan risiko. Kepercayaan
berarti menempatkan nasib pada orang lain atau menunjukkan kepercayaan.
Pekerja memperkenalkan dan merasa berkewajiban bekerja untuk organisasi
hanya apabila mereka mempercayai pemimpin mereka.
d. Organizational comprehension (pemahaman organisasional). Pemahaman
organisasional menunjukkan seberapa baik pekerja memahami organisasi,
termasuk arah strategis, dinamika sosial, dan tata ruang fisik. Kepedulian ini
merupakan syarat penting bagi affective commitment karena sulit untuk
mengidentifikasi dengan sesuatu yang tidak kita ketahui dengan baik.
e. Employee involvement (pelibatan pekerja). Pelibatan pekerja meningkatkan
affective commitment dengan memperkuat identitas sosial pekerja dengan
organisasi. Pekerja merasa bahwa mereka menjadi bagian dari organisasi
apabila mereka berpartisipasi dalam keputusan yang mengarahkan masa
depan organisasi. Pelibatan pekerja juga membangun loyalitas karena
memberikan kekuasaan ini menunjukkan kepercayaan organisasi pada
pekerjanya.
Luthans (2006 : 249) mengemukakan ada 5 faktor yang memengaruhi
komitmen organisasi, yaitu:
a. Berkomitmen pada nilai utama manusia. Membuat aturan tertulis,
mempekerjakan manajer yang baik dan tepat, dan mempertahankan
komunikasi yang baik.
b. Memperjelas dan mengomunikasikan misi. Memperjelas misi dan ideologi;
berkarisma; menggunakan praktik perekrutan berdasarkan nilai; menekankan
orientasi berdasarkan nilai dan pelatihan membentuk tradisi.
c. Menjamin keadilan organisasi. Memiliki prosedur penyampaian keluhan yang
komprehensif; menyediakan komunikasi dua-arah yang ekstensif.
d. Menciptakan rasa komunitas. Membangun homogenitas berdasarkan nilai;
keadilan; menekankan kerja sama, saling mendukung, dan kerja tim;
berkumpul bersama.
e. Mendukung karyawan. Melakukan aktualisasi; memberikan pekerjaan
menantang pada tahun pertama; memajukan dan memberdayakan;
mempromosikan dari dalam; menyediakan aktivitas perkembangan;
menyediakan keamanan kepada karyawan tanpa jaminan.
Kaswan (2017 : 232) mengemukakan ada lima faktor yang memengaruhi
komitmen organisasi, yaitu:
a. Keadilan dan dukungan. Komitmen afektif akan lebih tinggi terhadap
organisasi yang memenuhi kewajibannya terhadap pegawai dan mematuhi
nilai-nilai kemanusiaan, seperti fairness, kesatuan, pemaaf, dan inegritas
moral. Nilai-nilai ini terkait dengan konsep keadilan organisasi. Begitu juga
dengan organisasi yang mendukung kesejahteraan pegawai cenderung
mengembangkan tingkat loyalitas pegawai.
b. Nilai-nilai yang sama. Komitmen afektif mengacu kepada identifikasi
pegawai kepada organisasi dan identifikasi itu sangat tinggi jika pegawai
percaya bahwa nilai-nilai membuat pegawai merasa lebih nyaman dengan
keputusan organisasi.
c. Kepercayaan. Pegawai mengidentifikasi dirinya dengan merasa berkewajiban
bekerja untuk organisasi hanya ketika mereka percaya kepada pemimpinnya.
Kepercayaan di definisikan sebagai keadaan psikologis yang berisi niat untuk
menerima risiko yang didasarkan pada harapan positif dari niat atau perilaku
orang lain. Kepercayaan berarti menaruh pada orang lain, merupakan
tindakan timbal-balik. Agar mendapat kepercayaan, anda harus menunjukkan
kepercayaan. Pegawai memiliki identifikasi dengan merasa dan wajib bekerja
untuk organisasi jika mereka perecaya kepada pemimpinnya. Oleh karena itu,
„merumahkan‟ merupakan salah satu pukulan terbesar bagi kesetiaan pegawai
dengan mengurangi keamanan kerja, perusahaan mengurangi kepercayaan
pegawai terhadap organisasi.
d. Pemahaman organisasi. Pemahaman organisasi berarti seberapa baik pegawai
memahami organisasi, meliputi arah strategis, dinamika sosial, layout fisik.
Kesadaran ini merupakan persyaratan yang diperlukan untuk komitmen
afektif karena teramat sulit melakukan identifikasi dengan sesuatu yang tidak
anda ketahui dengan baik. lebih dari itu, komitmen organisasi adalah
memiliki identifikasi dengan perusahaan/organisasi, maka masuk akal jika
sikap diperkuat apabila pegawai memahami perusahaan/organisasi, yang
meliputi ; masa lalu, masa sekarang, dan masa depannya. Dengan demikian,
loyalitas cenderung meningkat dengan komunikasi yang terbuka dari
pemimpin organisasi, juga kesempatan berinteraksi dengan teman sejawat di
seluruh organisasi.
e. Keterlibatan pegawai. Keterlibatan pegawai meningkatkan komitmen afektif
dengan memperkuat identitas sosial pegawai. Pegawai merasa mereka
merupakan bagian dari organisasi ketika mereka turut serta dalam keputusan
yang memandu masa depan organisasi
Aspek – Aspek Komitmen Organisasi
Menurut Robbins & Judge (dalam Kaswan, 2017: 225-226), tingkat
komitmen organisasi rata-rata berdasarkan aspek, adalah :
a. Komitmen afektif, menunjukkan kuatnya keinginan emosional karyawan
untuk beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada agar tujuan dan keinginannya
untuk tetap di organisasi dapat terwujud. Komitmen afektif dapat timbul pada
diri seseorang karyawan dikarenakan adanya : karakteristik individu,
karakteristik struktur organisasi, signifikansi tugas, berbagai keahlian, umpan
balik dari pemimpin, dan keterlibatan dalam menejemen. Umur dan lama
masa kerja di organisasi sangat berhubungan positif dengan komitmen afektif.
Karyawan yang memiliki komitmen afektif akan cenderung untuk tetap dalam
suatu organisasi karena mempercayai sepenuhnya misi yang dijalankan oleh
organisasi.
b. Komitmen kelanjutan, merupakan komitmen yang didasari atas ke khawatiran
seseorang terhadap kehilangan sesuatu yang telah diperoleh selama ini dalam
organisasi, seperti : gaji, fasilitas, dan yang lainnya. Hal-hal yang
menyebabkan adanya komitmen kelanjutan, antara lain adalah umur, jabatan,
dan berbagai fasilitas serta berbagai tunjangan yang diperoleh. Komitmen ini
akan menurun jika terjadi pengurangan terhadap berbagai fasilitas dan
kesejahteraan yang diperoleh karyawan.
c. Komitmen normatif, menunjukkan tanggung jawab moral karyawan untuk
tetap tinggal dalam organisasi. Penyebab timbulnya komitmen ini adalah
tuntutan sosial yang merupakan hasil pengalaman seseorang dalam
berinteraksi terhadap seseorang panutan atau pemilik organisasi dikarenakan
balas jasa, respek sosial, budaya, atau agama.
Sopiah (2008: 157) aspek-aspek komitmen organisasi, adalah:
a. Kepercayaan dan penerima yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi.
b. Kemauan untuk mengusahakan tercapainya kepentingan organisasi, dan
c. Keinginan yang kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota
organisasi.
Menurut J.P Meyer & J.J Allen (dalam Anwar, 2013: 714) mengemukakan
yang terdiri dari tiga aspek-aspek yang terkait dengan keadaan psikologi :
a. Komitmen afektif, yaitu keterkaitan emosional positif pegawai terhadap
organisasi tempat mereka bekerja. Komitmen afektif merupakan komponen
hasrat atau keinginan (desire). Para pegawai yang secara afektif mengaitkan
kuat dirinya dengan tujuan organisasi mengidentifikasikan dirinya dengan
tujuan-tujuan organisasi dan berhasrat untuk terus menjadi anggota
organisasi. Mereka mengingatkan diri dengan organisasi karena mereka ingin
(want to) mengikatkan diri dengan organisasi.
b. Komitmen berkelanjutan, yaitu komponen kebutuhan (need) atau
memperoleh (gains) versus kehilangan (loses) bekerja dalam organisasi.
Sudut bertaruh atau invesmen adalah memperoleh kehilangan keanggotaan
organisasi.
c. Komitmen normatif, yaitu seorang individu tetap bekerja dan menjadi
organisasi karena perasaan kewajiban moral. Perasaan ini berasal dari suatu
gangguan terhadap individual sebelum dan sesudah menjadi anggota
organisasi.
d. Komitmen antara, kalau komitmen organisasi afektif, berkelanjutan, normatif
relatif bersifat tetap dalam komitmen antara atau dapat disebut sebagai
komitmen batu loncatan orang menjadi anggota atau bekerja untuk suatu
organisasi semenjak hari pertama menjadi anggota suatu organisasi niatnya
bersifat sementara Menurut Mayer dan Allen (dalam Sutrisno, 2010: 292-293) aspek-aspek
yang mungkin menentukan komitmen organisasi adalah:
a. Affective commitment, komitmen keterikatan secara psikologis dengan
organisasi berdasarkan seberapa baik perasaan mengenai organisasi.
Komitmen dalam jenis ini muncul dan berkembang oleh dorongan adanya
kenyamanan, keamanan, dan manfaat lain yang dirasakan dalam suatu
organisasi yang tidak diperolehnya dari tempat atau organisasi lain. Semakin
nyaman dan tinggi manfaatnya yang dirasakan oleh anggota, semakin tinggi
16
komitmen seseorang pada organisasi yang dipilihnya. Sebagai biaya yang
harus ditanggung jika meninggalkan atau keluar organisasi (continuance
commitment), dan komitmen sebagai kewajiban untuk tetap dalam organisasi
(normative commitment).
b. Continuance commitment, sebagai keterikatan anggota secara psikologis pada
organisasi karena biaya yang di tanggung sebagai konsekuensi keluar
organisasi. Dalam kaitannya dengan ini anggota akan mengalkulasi manfaat
dan pengorbanan atas keterlibatan dalam atau menjadi anggota suatu
organisasi. Anggota akan cenderung memiliki daya tahan atau komitmen
yang tinggi dalam keanggotaan jika pengorbanan akibat keluar organisasi
semakin tinggi.
c. Normative commitment, keterikatan anggota secara psikologis dengan
organisasi karena kewajiban moral untuk memelihara hubungan dengan
organisasi. Dalam kaitan ini suatu yang mendorong anggota untuk tetap
berada dan memberikan sumbangan pada keberadaan suatu organisasi, baik
materi maupun non materi, adalah adanya kewajiban moral, yang mana
seseorang akan merasa tidak nyaman dan bersalah jika tidak melakukan
sesuatu
Pengertian Komitmen Organisasi
Menurut Mowday, Steers, dan Porter yang dikutip Sutrisno (2010: 295)
komitmen organisasi didefinisikan sebagai upaya mencapai tujuan organisasi
dengan kemauan mengarahkan segala daya untuk kepentingan organisasi dan
ketertarikan untuk tetap menjadi bagian organisasi. Dalam organisasi, manusia
selalu termotivasi untuk berinteraksi dengan manusia yang lainnya. orang
memasuki organisasi karena ingin mendapatkan reward. Menurut Ringgio (dalam
Kaswan, 2017: 188) mengemukakan bahwa komitmen organisasi adalah semua
perasaan dan sikap karyawan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan
organisasi dimana mereka bekerja termasuk pada pekerjaan mereka. Sebagian
sikap, komitmen organisasi sering didefinisikan sebagai: keinginan kuat untuk
tetap sebagai anggota organisasi tertentu, keinginan untuk berusaha keras sesuai
keinginan organisasi, keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan
organisasi.
Menurut Newstroom yang dikutip Wibowo (2016: 430) menjelaskan
komitmen organisasi adalah tingkatan dimana pekerja mengidentifikasi dengan
organisasi dan ingin melanjutkan secara aktif berpartisipasi didalamnya yang
merupakan ukuran tentang keinginan pekerja untuk tetap dalam perusahaan di
masa depan.
Komitmen berhubungan dengan kuat dan terikat dengan organisasi di
tingkat emosional. Sering mencerminkan keyakinan pekerja dalam misi dan
tujuan perusahaan, keinginan mengembangkan usaha dalam penyelesaian, dan
intensi melanjutkan bekerja disana. Komitmen biasanya lebih kuat diantara
pekerja berjangka panjang, mereka yang mempunyai pengalaman keberhasilan
personal dalam organisasi dan mereka yang bekerja dengan kelompok kerja yang
mempunyai komitmen. Menurut Robbins (2015: 30) mendefinisikan komitmen
sebagai orientasi karyawan terhadap organisasi sebagai bentuk identifikasi
loyalitas mereka dan keterlibatan mereka di dalam organisasi. Selain itu komitmen
organisasi dapat dijabarkan menjadi tiga karakteristik individu antara lain yaitu
kepercayaan yang kuat dan penerimaan terhadap nilai-nilai serta tujuan-tujuan
organisasi, berkeinginan untuk memberikan hasil yang terbaik demi kepentingan
organisasi, dan berusaha memelihara kenaggotaan dalam organisasi tersebut.
Komitmen organisasi sangat luas, sebagai sikap organisasi paling sering
didefinisikan sebagai (1) keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi
tertentu; (2) keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi; dan (3)
keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain,
merupakan sikap yang merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan
proses berkelanjutan di mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya
terhadap organisasi dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan (dalam
Luthans, 2006: 249)
Yuwono, dkk (2005: 134) berpendapat bahwa komitmen organisasi
ditandai dengan bentuk loyalitas dan identifikasi terhadap organisasi. Komitmen
pada organisasi tidak hanya menyangkut pada kesetiaan karyawan pada organisasi
yang bersifat positif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan
organisasi, dimana karyawan bersedia atas kemauan sendiri untuk memberikan
segala sesuatu yang ada pada dirinya guna membantu merealisasikan tujuan dan
kelangsungan organisasi. Adapun menurut Kaswan (2017: 216) komitmen
organisasi adalah sikap kerja dalam wujud keinginan, kemauan, dedikasi,
loyalitas, dan kepercayaan yang kuat untuk menunjukkan keinginan tetap menjadi
bagian anggota organisasi dengan mau menerima nilai dan tujuan organisasi, dan
bekerja atas nama/untuk kepentingan organisasi.
Menurut Mowday, Strees, Porter (dalam Sopiah, 2008: 156) berpendapat
bahwa komitmen organisasional sebagai daya relatif dari keberpihakan dan
keterlibatan seseorang terhadap suatu organisasi secara konseptual, komitmen
organisasi ditandai tiga hal : (1) Adanya rasa percaya yang kuat dan penerimaan
seseorang terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi (2) Adanya keinginan
seseorang untuk melakukan usaha secara sungguh-sungguh demi organisasi, (3)
Adanya hasrat yang kuat untuk mempertahankan keanggotaan dalam suatu
organisasi. Komitmen organisasi paling sering didefinisikan sebagai (1) keinginan
kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu; (2) keinginan untuk berusaha
keras sesuai keinginan organisasi, dan (3) keinginan tertentu, dan penerimaan nilai
dan tujuan organisasi yang merupakan sikap merefleksikan loyalitas karyawan
pada organisasi dan proses berkelanjutan kemajuan yang berkelanjutan (dalam
Luthans, 2006: 249)
Pengaruh Kepuasan Karyawan Terhadap Komitmen Organisasi
Kepuasan seorang karyawan dapat berpengaruh secara positif
terhadap tingkat komitmen organisasi. Kepuasan karyawan dan komitmen
organisasi adalah dua konsep yang saling terkait, dan ketika karyawan
merasa puas dengan pekerjaan dan lingkungan kerja mereka, mereka
cenderung lebih terikat dan berkomitmen pada organisasi tempat mereka
bekerja. Dugaan sementara peneliti yaitu Kepuasan Karyawan memiliki
pengaruh positif signifikan terhadap Komitmen Organisasi. Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurtika dan Sariyathi (2018)
menyatakan kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
komitmen organisasi. Penelitian serupa juga dilakukan Widjaya et al. (2018)
menemukan hasil bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan
terhadap komitmen organisasi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Hidayat dan Syarif (2022) menemukan hasil penelitian menunjukkan bahwa
kepuasan berpengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi
Pengaruh Kompensasi Terhadap Kepuasan Karyawan
Kompensasi memiliki peran yang signifikan dalam memengaruhi
kepuasan seorang karyawan. Kepuasan karyawan adalah evaluasi
keseluruhan terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja mereka, dan unsur
kompensasi memiliki dampak langsung pada tingkat kepuasan. Dugaan
sementara peneliti yaitu Kompensasi memiliki pengaruh positif signifikan
terhadap Kepuasan Karyawan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Handoko dan Rambe (2018) Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kompensasi berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan karyawan.
Penelitian serupa juga dilakukan Widjaya et al. (2018) menemukan hasil
bahwa kompensasi berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan
karyawan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Andriany (2019)
menemukan hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan karyawan
Pengaruh kompensasi terhadap komitmen organisasi
Hubungan antara kompensasi dan komitmen organisasi merupakan hal
yang penting dan kompleks. Kompensasi yang memadai dan adil dapat
memiliki dampak positif pada komitmen seorang karyawan terhadap
organisasi. Dugaan sementara peneliti yaitu Kompensasi memiliki pengaruh
positif signifikan terhadap Komitmen Organisasi. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Martini dan Susanto (2023) Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh positif signifikan terhadap
komitmen organisasi. Penelitian serupa juga dilakukan Handoko dan Rambe
(2018) menemukan hasil kompensasi menunjukan pengaruh positif
signifikan dengan komitmen organisasi. Sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Nurtika dan Sariyathi (2018) menemukan hasil yang sama yaitu
kompensasi berpengaruh positif terhadap komitmen organisas
Indikator Kepuasan Karyawan
Indikator yang dapat mengukur kepuasan kerja menurut Trinovela dan
Saragi (2021) yaitu:
(a) Upah
Karyawan yang mampu menyelsaikan tugas dan tanggung
jawabnya dengan baik akan mendapatkan imbalan dengan upah
yang diterima dan adanya kenaikan gaji yang sesuai dengan
kinerjanya.
(b) Promosi
Aspek ini mengukur sejauh mana kepuasan karyawan sehubungan
dengan kebijaksanaan promosi, kesempatan untuk mendapatkan
promosi. Kebijaksanaan promosi harus dilakukan secara adil,
yaitu setiap karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik
mempunyai kesempatan yang sama untuk promosi.
(c) Pekerjaan
Aspek yang mengukur kepuasan kerja terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri.
(d) Benefit
Aspek ini mengukur sejauh mana individu merasa puas terhadaap
tunjangan tambahan yang diterima dari perusahaan. Tunjangan
tambahan diberikan kepada karyawan secara adil dan sebanding.
(e) Rekan Kerja
Aspek ini mengukur kepuasan berkaitan dengan hubungan
dengan rekan kerja. Misalnya, rekan kerja yang menyenangkan
hubungan dengan rekan kerja yang rukun dan saling melengkapi.
(f) Penghargaan
Aspek ini mengukur sejauh mana individu merasa puas terhadap
penghargaan yang diberikan berdasarkan hasil kerja.
(g) Komunikasi
Berhubungan dengan komunikasi yang berlangsung dalam
perusahaan. Dengan komunikasi yang terjalin lancar dalam suatu
perusahaan, karyawan menjadi lebih paham terhadap tugas-tugas,
kewajiban-kewajiban dan segala sesuatu yang terjadi dalam
perusahaan
Definisi Kepuasan Karyawan
Menurut Handoko dan Rambe (2018) kepuasan karyawan adalah
Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari
tempat bekerja. Kepuasan karyawan menurut Widjaya, et.al (2021)
kepuasan kerja sebagai perasaan dan emosi sebagai pandangan karyawan
mengenai pekerjaan mereka baik itu menyenangkan ataupun tidak
menyenangkan. Kepuasan kerja merupakan sikap afektif dari suatu
perasaan tentang suka atau tidaknya terhadap suatu pekerjaan. Kepuasan
kerja juga memiliki peran penting bagi karyawan untuk aktualisasi diri.
Karyawan yang tidak merasakan kepuasan kerja tidak dapat mencapai
tingkat psikologis yang matang.
Menurut Supiyanto (2015), kepuasan kerja didefinisikan sebagai
sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan perbedaan
antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang
mereka yakini seharusnya mereka terima. Menurut Ustadus Sholihin
(2021), kepuasan kerja adalah suatu sikap umum terhadap pekerjaan
seseorang, selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang
pegawai dan banyaknya yang mereka yakini apa yang seharusnya mereka
terima. Menurut Hasibuan (2004) kepuasan kerja adalah sikap emosional
yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan
oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja
dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar.
Berdasarkan definisi dari para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan
atau tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang pekerjaan
mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya. Ini tampak dalam sikap positif karyawan terhadap
pekerjaan dan segala sesuatu dihadapi dilingkungan kerjanya
Indikator yang dapat mengukur kompensasi
Indikator yang dapat mengukur kompensasi yaitu:
(a) Gaji
Upah adalah bayaran yang sering kali digunakan bagi para
pekerja produksi dan pemeliharaan. Upah pada umumnya
berhubungan dengan tarif gaji per jam dan gaji biasanya berlaku
untuk tarif bayaran tahunan, bulanan atau mingguan.
(b) Insentif
Insentif adalah tambahan kompensasi diatas atau diluar gaji atau
upah yang diberikan perusahaan.
(c) Tunjangan
Tunjangan adalah asuransi kesehatan dan jiwa, program pension,
liburan yang ditanggung perusahaan dan tunjangan lainnya yang
berkaitan dengan kepegawaian.
(d) Fasilitas
Fasilitas adalah pada umumnya berhubungan dengan kenikmatan
seperti mobil perusahaan atau akses ke pesawat perusahaan yang
diperoleh karyawan.
Definisi Kompensasi
Menurut Farla, et.al (2019) kompensasi merupakan bayaran kepada
karyawan yang timbul akibat dari hubungan kerja antara karyawan dan
perusahan. Menurut Hasibuan (2011) tujuan dari diberikannya kompensasi
kepada karyawan adalah: sebagai bentuk penghargaan perusahan yang
berupa ikatan kerja sama, meningkatkan kepuasan kerja karyawan, untuk
pengadaan efektif tenaga kerja, memotivasi. Menurut Nurtika dan Sariyathi
(2018) Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh karyawan
sebagai balas jasa atas kontribusinya kepada perusahaan atau organisasi.
Menurut (Simamora, 2006) pada umumnya komponen kompensasi
dapat dibagi menjadi kompensasi langsung (direct compensation) dan
kompensasi tidak langsung (indirect compensation). Kompensasi finansial
langsung (direct financial compensation) terdiri dari bayaran (pay) yang
diperoleh seseorang dalam bentuk gaji, upah, bonus. Kompensasi finansial
tidak langsung (indirect financial compensation) yang disebut dengan
tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam
kompensasi langsung.
Menurut Widjaya, et.al (2021) kompensasi merupakan fungsi
personalia yang meliputi bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan kepada
seorang karyawan sebagai bentuk timbal balik dari hasil pekerjaan di
perusahaan. Menurut Jufrizen (2015) mendefinisikan kompensasi sebagai
semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak
langsung yang diterima pegawai sebagai imbalan atas jasa yang diberikan
kepada perusahaan. Kompensasi merupakan istilah luas yang berkaitan
dengan imbalan-imbalan finansial (financial reward) yang diterima oleh
orang-orang melalui hubungan kepegawaian mereka dengan sebuah
organisasi
Indikator Komitmen Organisasi
Menurut Allen dan Meyer (2008) ada tiga indikator dalam komitmen
organisasi , yaitu:
(a) Komitmen afektif merupakan pelekatan emosi pada pegawai,
identifikasi pegawai, dan keterlibatan pegawai dalam perusahaan.
Pegawai yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus
bekerja untuk perusahaan karena mereka menginginkannya.
(b) Komitmen berkelanjutan adalah kesadaran akan kerugian karena
meninggalkan perusahaan. Ini merupakan nilai ekonomi dan
risiko lain yang dirasakan karyawan dari bertahan dalam suatu
perusahaan bila dibandingkan dengan meninggalkan perusahaan
tersebut. Karyawan yang memiliki komitmen berkelanjutan akan
tetap bekerja karena mereka harus bekerja.
(c) Komitmen normatif mencerminkan rasa tanggung jawab untuk
terus bekerja. Karyawan memiliki kewajiban untuk bertahan
dalam organisasi karena alasan-alasan moral atau etis. Karyawan
bertahan menjadi anggota organisasi karena ada kesadaran bahwa
berkomitmen terhadap organisasi merupakan hal yang memang
seharusnya dilakukan
Definisi Komitmen Organisasi
Menurut Handoko dan Rambe (2018) Komitmen merupakan suatu
keadaan dimana seorang pegawai memihak organisasi tertentu serta tujuan-
tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi
tersebut. Jadi, keterlibatan pekerjaan yang tinggi berarti memihak pada
pekerjaan tertentu seorang individu, sementara komitmen organisasional yang
tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Menurut
Sopiah (2008) mengungkapkan bahwa: Komitmen organisasional merupakan
dimensi prilaku yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan pegawai,
Komitmen organisasi adalah identifikasi dan keterlibatan seseorang yang relatif
kuat terhadap organisasi, Komitmen organisasional adalah keinginan anggota
organisasi untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan
bersedia berusaha keras bagi pencapaian tujuan organisasi.
Menurut Supiyanto (2015) Komitmen organisasional tidak hanya
berhubungan dengan tingkat keluar masuknya karyawan, melainkan juga
berkaitan dengan tingkat kerelaan karyawan untuk berkorban bagi perusahaan.
Menurut Susanto dan Martini (2021) Komitmen organisasional didefinisikan
sebagai kekuatan yang bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan
keterlibatan dirinya kedalam bagian organisasi, yang dicirikan oleh penerimaan
nilai dan tujuan organisasi, kesediaan berusaha demi organisasi dan keinginan
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi.
Menurut Farla, et.al (2019) menyatakan komitmen karyawan adalah
suatu kondisi seorang karyawan yang mempunyai kemauan yang besar untuk
memelihara keanggotaan dalam organisasi tersebut. Komitmen pada organisasi
menyangkut kebanggaan seorang karyawan terhadap pekerjaannya dan ingin
menjadi bagian dari organisasi tempat ia bekerja sehingga dalam menjalankan
tugasnya, karyawan memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi terbaik
bagi organisasi
Aspek-aspek Perceived Organizational Support (POS)
Aspek-aspek POS menurut Rhoades dan Eisenberger (2002) terbagi dalam tiga
bagian, yaitu:
a. Rasa keadilan
Rasa keadilan merupakan suatu aturan prosedural yang berfokus pada keadilan
dan ketidakadilan distribusi sumber daya pekerjaan, terjadinya keadilan yang
berulang-ulang dalam membuat keputusan mengenai distribusi sumber daya
akan memiliki pengaruh yang dirasakan karyawan yang ditunjukkan dengan
adanya perhatian pada kesejahteraan karyawan. Hal tersebut meliputi gaji,
promosi, maupun peraturan-peraturan perusahaan yang sesuai harapan
karyawan.
b. Penghargaan organisasi dan kondisi kerja
Penghargaan organisasi dan kondisi kerja merupakan pengakuan atas hasil kerja
yang diberikan karyawan seperti pemberian fasilitas, bonus, jabatan, jaminan
kerja, job security, dan pelatihan.
c. Dukungan atasan
Dukungan atasan merupakan karyawan akan mengembangkan penilaian umum
melalui derajat dukungan atasan yang peduli terhadap kesejahteraannya. Kepala
bagian merupakan bagian dari organisasi yang memiliki peran untuk
mengarahkan dan mengkoordinasikan arah dari kinerja tiap divisi. Hal ini
memiliki kontribusi yang signifikan bagi pengembangan penilaian umum
karyawan terhadap organisasinya itu sendiri.
Aspek-aspek POS selanjutnya dikemukakan oleh Eisenberger, dkk. (dalam
Kunianigrum, 2015), yaitu :
a. Penghargaan
Penghargaan ini mengenai perusahaan yang memberikan penghargaan atau
reward atas pencapaian kerja karyawan yang ditunjukan karyawan
b. Pengembangan
Pengembanagn ini mengenai perusahaan memperhatikan kemampuan dan
memberikan kesempatan promosi untuk karyawan.
c. Kondisi kerja
Kondisi kerja yaitu menunjukan perihal lingkungan tempat bekerja secara fisik
maupun non-fisik.
d. Kesejahteraan karyawan
Kesehatan karyawan yaitu perusahaan peduli dengan kesejahteraan hidup
karyawan
Berdasarkan uraian yang sudah dipaparkan sebelumnya, tedapat tiga aspek POS
menurut Rhoades dan Eisenberger (2002) yaitu rasa keadilan, penghargaan
organisasi serta kondisi kerja, dan dukungan atasan, selain itu POS juga
mencangkup aspek lainnya menurut Eisenberger, dkk. (dalam Kunianigrum, 2015),
yaitu penghargaan, pengembangan, kondisi kerja, dan kesejahteraan karyawan
Pengertian Perceived Organizational Support (POS)
Menurut Rhoades dan Eisenberger (2002) Perceived Organizational Support
(POS) adalah persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi menilai
kontribusi, memberi dukungan, dan peduli pada kesejahteraannya. Lebih lanjut,
ketika karyawan berada dalam situasi yang sulit untuk menyelesaikan permasalahan
pekerjaannya, maka organisasi dinilai sebagai jaminan dalam menyediakan bantuan
untuk menenangkan dan memperhatikan karyawannya dengan memberikan solusi
yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Rhoades, dkk. (2001)
berpendapat bahwa POS adalah gambaran karyawan mengenai perusahaan
tempatnya bekerja, karyawan akan melihat dan berpandangan tentang sejauhmana
perusahaan memberikan dukungan dan timbal balik yang sesuai dengan kinerja dan
usaha yang telah karyawan lakukan.
Eisenberger, dkk. (2002) menyatakan bahwa POS merupakan proses
atributional yang digunakan untuk menunjukkan komitmen yang dilakukan oleh
orang lain dalam suatu hubungan sosial. Dukungan organisasional dipengaruhi oleh
interaksi seseorang dengan organisasi dimana organisasi tersebut memberikan
pujian, dukungan dan persetujuan. Mujiasih (2015) mendefinisikan POS sebagai
persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi memberi dukungan kepada
karyawan dan sejauh mana kesiapan organisasi dalam memberikan bantuan saat
dibutuhkan. Kaswan (2017) juga mendefinisikan POS sebagai sejauhman karyawan
percaya bahwa organisasi menghargai kontribusi dan peduli terhadap
kesejahteraannya. Menurut O’Driscoll dan Randall (Setiawan, 2012) POS adalah
penilaian karyawan bahwa organisasi merasa bangga terhadap pekerjaan yang telah
dilakukannya, kemudian memberikan kompensasi secara adil dan mengikuti
kebutuhannya. Hal inilah yang menyebabkan POS menjadi sebuah hubungan
timbal balik antara karyawan dengan organisasi, di mana karyawan memberi
kontribusi dan organisasi bersikap adil kepada karyawan. POS juga mengacu pada
hubungan interpersonal yang mendukung dan saling percaya serta manajemen yang
mendukung akan meningkatkan keamanan secara psikologis. Karyawan akan
merasa aman di lingkungan kerja yang ditandai dengan keterbukaan dan dukungan
organisasi (Saks, 2006)
Faktor-faktor Komitmen Organisasi
Dyne dan Graham (dalam Priansa, 2014) menyatakan bahwa terdapat factor-
faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi, yaitu:
a. Personal
Faktor personal meliputi ciri kepribadian, usia, tingkat pendidikan, jenis
kelamin, dan status perkawinan, penjelasan lebih lanjut yaitu :
1) Ciri kepribadian yaitu individu ekstrovert berpandangan cenderung lebih
optimis dalam menjalankan tugas-tugasnya. Selain itu, individu ekstrovert
lebih berorientasi kepada tim dan menempatkan tujuan kelompok diatas
tujuan sendiri serta individu yang altruistik (senang membantu) sehingga
akan cenderung lebih berkomitmen dalam organisasinya.
2) Usia yaitu karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih mempunyai rasa
keterikatan atau komitmen pada organisasi dibandingkan dengan yang
berusia muda sehingga meningkatkan loyalitasnys pada organisasi. Hal ini
bukan saja disebabkan karena lebih lama tinggal di organisasi, tetapi dengan
usia tuanya tersebut, makin sedikit kesempatan karyawan untuk menemukan
organisasi.
3) Tingkat pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka
semakin banyak harapan yang mungkin tidak akomodir (), sehingga
komitmennya semakin rendah.
4) Jenis kelamin yaitu wanita memiliki komitmen yang lebih rendah dari pada
pria yang disebabkan adanya diskriminasi ditempat kerja yang menganggap
kemampuan wanita tidak sama dengan pria sehingga kebanyakan wanita
memperoleh kedudukan atau posisi yang relaitf rendah dan kurang terlibat
dalam masalah-masalah organisasi.
5) Status perkawinan yaitu seorang yang telah menikah cenderung memiliki
prestasi kerja yang baik karena akan menerima berbagai bentuk imbalan,
baik finansial maupun non finansial yang semuanya menunjukan adanya
tanggung jawab yang lebih besar pada keluarganya. Karyawan yang sudah
menikah lebih dekat dengan organisasi, sehingga dapat membentuk suatu
komitmen yang kuat terhadap organisasi tempatnya bekerja.
b. Situasional
Factor situasional meliputi nilai tempat kerja nilai tempat kerja, keadilan
organisai, karakteristik pekerjaan, dan dukungan organisasi penjelasan lebih
lanjut yaitu :
1) Nilai tempat kerja yaitu nilai-nilai yang dibagikan adalah suatu komponen
krisis dari hubungan saling keterikatan. Nilai-nilai kualitas, inovasi,
kooperasi, partisipasi, dan trust akan mempermudah setiap karyawan untuk
saling berbagi dan membangun hubungan erat. Jika para karyawan percaya
bahwa nilai organisasinya adalah kualitas produk jasa, para karyawan akan
terlibat dalam perilaku yang memberikan kontribusi untuk mewujudkan hal
itu.
2) Keadilan organisasi yaitu keadilan yang berkaitan dengan kewajaran alokasi
sumber daya, kadilan dalam proses pengambilan keputusan, serta keadilan
dalam persepsi kewajaran atas pemeliharaan hubungan antar pribadi.
3) Karakteristik pekerjaan yaitu pekerjaan yang penuh makna, otonom dan
umpan balik dapat merupakan motivasi kerja yang internal. Jaringan, Beggs
menyatakan kepuasan atas otonomi, status dan kebijakan merupakan
predictor penting dari komitmen. Karakteristik spesifikasi dari pekerjan
dapat meningkatkan rasa tanggung jawab, serta rasa keterikatan terhadap
organisasi.
4) Dukungan organisasi yaitu dukungan yang diberikan organisasi,
penghargaan kontribusi dan pemberian apresiasi bagi karyawan dalam
pekerjaannya, hal ini merupakan sesuatu yang dipersepsikan oleh karyawan
yang biasa disebut Perceived Organizational Support (POS). Menurut
Wexley dan Yukl (2003) setiap orang dapat mempersepsikan apasaja melalui
panca indranya. Salah satunya adalah mempersepsikan dukungan organisasi
yang biasa disebut POS. Persepsi karyawan terhadap dukungan organisasi
yang dapat mensejahterakannya maka menjadikan karyawan lebih
berkomitmen karena harena harapannya terpenuhi, sehingga bersedia untuk
berkomitmen dengan terlibat lebih jauh dengan organisasinya demi
mencapai tujuan organisasi (Dyne & Graham dalam Priansa, 2014)
c. Posisional
Faktor posisional meliputi masa kerja dan tingkat pekerjaan, penjelasan lebih
lanjut yaitu :
1) Masa kerja
Masa kerja yang lama akan semakin membuat karyawan komit, hal ini
disebabkan oleh karena semakin memberi peluang karyawan untuk memberi
tugas menantang, otonomi semakin besar, serta peluang promosi yang lebih
tinggi, juga peluang investasi pribadi berupa pikiran, tenaga dan waktu yang
semakin besar, hubungan sosial lebih bermakna, serta akses untuk mendapat
informasi pekerjaan baru makin berkurang.
2) Tingkat Pekerjaan
Berbagai penelitian menyebutkan status sosio ekonomi sebagai predictor
komitmen yang paling kuat. Status yang tinggi cenderung meningkatkan
motivasi maupun kemampuan aktif terlibat.
Factor-faktor komitmen organisasi selanjutnya dikemukakan oleh Allen dan
Meyer (1990), yaitu:
a. Karakteristik pribadi individu
Karakteristik pribadi individu terbagi kedalam dua variabel demografis dan
variable disposisional. Variable demografis mencakup gender, usia, status
pernikahan, tingkat pendidikan, dan lamanya seseorang bekerja pada susatu
organisasi. Variable disposisional mencakup kepribadian dan nilai yang
dimiliki anggota organisasi, termasuk kebutuhan untuk berprestasi, etos kerja
yang baik, kebutuhan untuk berafiliasi, dan persepsi individu mengenai
kompetensinya sendiri.
b. Karakteristik organisasi
Hal-hal yang termasuk dalam karateristik organisasi adalah struktur organisasi,
desain kebijakan dalam organiasi, dan cara mensosialisaikan kebijakan
organisasi tersebut.
c. Pengalaman selama berorganiasi
Pengalaman berorganisasi tercakup dalam kepuasan dan motivasi anggota
organiasi selama berada dalam organisasi.
Berdasarkan faktor-faktor yang sudah dipaparkan sebelumnya, terdapat tiga
faktor menurut Dyne dan Graham (dalam Priansa, 2014) yaitu pertama personal
yang meliputi ciri kepribadian, usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, serta status
perkawinan, kedua situasional yang meliputi nilai tempat kerja nilai tempat kerja,
keadilan organisai, karakteristik pekerjaan, serta dukungan organisasi, dan ketiga
posisional yang meliputi masa kerja serta tingkat pekerjaan, selain itu terdapat
factor lainnya menurut Allen dan Meyer (1990) yaitu karakteristik pribadi individu,
karakteristik organisasi, dan engalaman selama berorganiasi
Aspek-aspek Komitmen Organisasi
Steers dan Porter (2011) mengemukakan bahwa komitmen organisasi terbagi
dalam tiga aspek yaitu :
a. Identifikasi
Identifikasi adalah penerimaan tujuan organisasi yang dipercai karyawan
karena telah disusun demi memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi
karyawan. Identifikasi karyawan tampak melalui sikap menyetujui
kebijaksanaan organisasi, kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi, serta
adanya kebanggaan menjadi bagian dari organisasi.
b. Keterlibatan
Keterlibatan adalah sejauh mana usaha karyawan untuk menerima dan
melaksanakan setiap tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Karyawan bukan hanya sekedar melaksanakan tugas-tugasnya melainkan selalu
berusaha melebihi standar minimal yang ditentukan oleh organisasi. Karyawan
akan terdorong pula untuk melakukan pekerjaan diluar tugas dan peran yang
dimilikinya apabila dibutuhkan oleh organisasi, bekerjasama baik dengan
pimpinan ataupun dengan sesama
rekan kerja.
c. Loyalitas
Loyalitas adalah evaluasi terhadap komitmen dengan adanya ikatan emosional
keterikatan antara organisasi dengan karyawan serta keinginan yang kuat untuk
tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan.
Aspek-aspek komitmen organisasi selanjutnya dikemukakan oleh Luhans
(2006) :
a. Komitmen efektif
Komitmen efektif adalah keterikatan emosional karyawan, identifikasi dan
keterlibatan dalam organisasi.
b. Komitmen kelanjutan
Komitmen kelanjutan adalah komitmen berdasarkan kerugian yang
berhubungan dengan keluar nya karyawan dari organisasi. Hal ini mungkin
karena kehilangan senioritas atas promosi atau benefit.
c. Komitmen normatif
Komitmen normatif adalah perasaan wajib untuk berada dalam organisasi
karena memang harus begitu, tindakan tersebut merupakan hal yang benar
yang harus dilakukan
Berdasarkan uraian yang sudah dipaparkan sebelumnya, tedapat tiga aspek
komitmen organisasi menurut Steers dan Porter (2011) yaitu identifikasi,
keterlibatan dan loyalitas, selain itu komitmen organisasi juga mencangkup tiga
aspek lainnya menurut Luhans (2006) yaitu komitmen efektif, komitmen
kelanjutan, dan komitmen normative
Pengertian Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi adalah kondisi dimana karyawan sangat tertarik
terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran organisasinya. Lebih lanjut, komitmen
organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena meliputi sikap
menyukai organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi
bagi kepentingan organisasi demi pencapaian tujuan (Steers & Porter, 2011).
Menurut Kaswan (2017) komitmen organisasi merupakan ukuran kesediaan
karyawan untuk bertahan dengan sebuah perusahaan di waktu yang akan datang.
Komitmen kerap kali mencerminkan kepercayaan karyawan terhadap misi dan
tujuan organisasi, kesediaan melakukan usaha dalam menyelesaikan pekerjaan dan
hasrat untuk terus bekerja disana. Kreitner dan Kinicki (dalam Kaswan 2017)
menyatakan bahwa komitmen organisasi mencerminkan bagaimana individu
mengindentifikasikan dirinya dengan organisasi dan terikat dengan tujuan-
tujuannya.
Mowday (2001) berpendapat bahwa komitmen organisasional merupakan
identifikasi dari keterlibatan seseorang yang relatif kuat terhadap organisasi dan
bersedia berusaha keras bagi pencapaian tujuan organisasi. Luthans (2006)
mendefinisikan komitmen organisasi sebagai suatu keinginan yang kuat untuk
menjadi anggota dari organisasi tertentu. Komitmen organisasi juga merupakan
keinginan menuju level keahlian tinggi atas nama organisasi, suatu kepercayaan
tertententu, dan penerimaan terhadap nilai-nilai serta tujuan organisasi. Menurut
Sianipar (2014) komitmen organisasi adalah keputusan karyawan untuk
melanjutkan keanggotaanya dalam berorganisasi dengan sepenuh hati menerima
tujuan organisasi dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi kemajuan
organisasinya. Kreitner (2004) menyatakan bahwa komitmen organisasi merupakan
derajat tingkat yang mana suatu karyawan mengindentifikasikan dengan organisasi
dan ingin melanjutkan dengan aktif mengambil bagian didalamnya. Mathis dan
Jackson (dalam Sopiah, 2008) juga menyatakan bahwa komitmen organisasional
sebagai derajad dimana karyawan percaya dan mau menerima tujuan-tujuan
organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasinya.
Berdasarkan berbagai pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli, maka
dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi adalah kesediaan karyawan untuk
mengutamakan organisasi dari pada kepentingan pribadi dan memberikan
kontribusi yang besar untuk mencapai terwujudnya tujuan organisasi
Komitmen Normatif terhadap Kinerja
Komitmen normatif merupakan perasaan karyawan tentang
kewajiban yang harus diberikan kepada organisasional. Seseorang yang
sudah memiliki rasa kewajiban ini tentu akan terus meningkatkan
kinerjanya agar mereka dapat memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Parinding dan Roberto
(2017). Hasil penelitiannya menunjukkan hasil positif signifikan antara
komitmen normatif dengan kinerja. Artinya bahwa semakin tinggi nilai
komitmen normatif dari seseorang akan meningkatkan kinerjanya
Pengaruh Komitmen Berkelanjutan terhadap Kinerja
Komitmen berkelanjutan merupakan komitmen yang dimiliki SDM
karena mereka merasa membutuhkan perusahaan tersebut sehingga
mengharuskan mereka untuk tetap tinggal. SDM yang memiliki komitmen
berkelanjutan akan berpengaruh pada semakin baiknya kinerja yang
dimiliki. Hal ini dikarenakan mereka merasa tidak memiliki keterampilan
lain sehingga mereka akan terus meningkatkan keterampilannya pada
perusahaan tersebut agar terus mendapatkan keuntungan dari perusahaan
tersebut. Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Suswati dkk (2013). Hasil penelitiannya menunjukkan hasil positif
signifikan antara komitmen berkelanjutan dengan kinerja. Artinya bahwa
semakin tinggi komitmen berkelanjutan yang dimiliki oleh seseorang
maka akan meningkatkan kinerjanya
Pengaruh Komitmen Afektif terhadap Kinerja
Komitmen afektif harus dimiliki oleh SDM dalam sebuah
perusahaan. SDM yang memiliki komitmen afektif dapat meningkatkan
kinerja. SDM yang memiliki komitmen afektif akan cenderung memiliki
loyalitas terhadap perusahaan dan akan merekomendasikan kepada
oranglain bahwa tempat ia bekerja adalah perusahaan yang baik, sehingga
mereka akan terus meningkatkan kinerjanya karena memiliki rasa ingin
membuat perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Pernyataan ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sulianti dkk (2010). Hasil
penelitiannya menunjukkan adanya pengaruh positif signifikan antara
komitmen afektif dengan kinerja. Artinya, semakin tinggi komitmen
afektif pada seseorang maka akan meningkatkan kinerja dari orang
tersebut
Komitmen Normatif (Normative Commitment)
Komitmen normatif merupakan perasaan karyawan
tentang kewajiban yang harus diberikan kepada
organisasional. Menurut Suswati dkk (2013), komponen
normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman
sosialisasi, tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban
yang dimiliki karyawan. Menurut Novelia dkk (2016)
komitmen normatif adalah sebuah dimensi moral yang
didasarkan pada perasaan wajib dan tanggungjawab pada
organisasi yang mempekerjakannya
Loyalitas seseorang dapat dikatakan sebagai bentuk dari
komitmen normatif. Menurut Judge (2008), komitmen
normatif dimana karyawan merasa seharusnya tetap tinggal
dan merasa mempunyai kewajiban yang seharusnya
dilakukan. Menurut Alifiatulahtin (2014), yang keinginan
untuk memberikan tenaga dan tanggungjawab yang lebih
untuk menyokong kesejahteraan dan keberhasilan organisasi
tempatnya bekerja. Sehingga komitmen normatif adalah
individu dalam organisasi merasa memiliki tanggungjawab
yang besar dalam organisasi tersebut yang mengharuskannya
untuk tetap berada dalam organisasi.
Komitmen afektif dari seseorang dapat dilihat melalui
beberapa indikator. Menurut Sopiah (2008), indikator
komitmen normatif adalah:
b. Ada perasaan bersalah meninggalkan perusahaan
c. Memikirkan pendapat orang lain jika keluar dari
perusahaan
d. Tetap bertahan merupakan kewajiban
e. Memiliki rasa tanggungjawab terhadap perusahaan
Komitmen Berkelanjutan (Continuence Commitment)
Komitmen berkelanjutan adalah dimana karyawan
merasa membutuhkan untuk tetap tinggal (bekerja di
perusahaan). Karyawan macam ini merasa terjerat dengan
perusahaan karena kurang mempunyai keterampilan (skills),
atau tidak ada kesempatan untuk pindah ke perusahaan lain,
atau menerima gaji yang sangat tinggi, dan lain sebagainya.
Mereka berfikir bahwa meninggalkan perusahaan akan sangan
merugikan Menurut Alifiatulahtin (2014), komitmen
berkelanjutan berarti komitmen yang berdasarkan persepsi
karyawan tentang kerugian yang akan dihadapinya jika
meninggalkan organisasi. Karyawan dengan dasar
organisasional tersebut disebabkan karena karyawan tersebut
membutuhkan organisasi.
Karyawan yang memiliki komitmen berkelanjutan salah
satunya berorientasi pada uang. Menurut Utaminingsih (2014),
individu dengan komitmen berkelanjutan akan merefleksikan
biaya untuk meninggalkan organisasi atau keuntungan bila
tetap berada pada organisasi tersebut. Menurut Sulianti (2009),
komitmen berkelanjutan adalah keinginan yang kuat dari
individu untuk tetap berada dalam organisasi karena merasa
butuh. Menurut Novelia dkk (2016) komitmen berkelanjutan
adalah persepsi seseorang atas biaya dan resiko dengan
meninggalkan organisasi saat ini. Sehingga komitmen
berkelanjutan merupakan keinginan individu untuk tetap
berada dalam organisasi karena merasa benar-benar
membutuhkan untuk tetap tinggal di organisasi tersebut.
Komitmen berkelajutan dari seseorang dapat dilihat
melalui beberapa indikator. Menurut Sopiah (2008), indikator
komitmen berkelanjutan yaitu:
a. Berharap mendapatkan keuntungan apabila bertahan
b. Bertahan dalam perusahaan merupakan kebutuhan
c. Pertimbangan keluar dari perusahaan
d. Berat meninggalkan organisasi
Komitmen Afektif (Affective Commitment)
Komitmen afektif merupakan salah satu komitmen yang
dibutuhkan bagi karyawan. Menurut Robbins dan Judge
(2008), komitmen afektif adalah dimana karyawan merasa
ingin tetap tinggal (bekerja di perusahaan). Ini merupakan
keterkaitan emosional (emotional attachment) atau psikologis
kepada organisasi. Individu yang memiliki komitmen akan
bekerja penuh dedikasi. Komitmen afektif berkaitan dengan
emosional, identifikasi, dan keterlibatan karyawan di dalam
suatu organisasional. Menurut Alifiatulahtin (2014), karyawan
dengan afektif tinggi masih bergabung dengan organisasi
karena keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi.
Komitmen afektif dapat dihubungkan dengan tingkat
emosional seseorang. Menurut Novelia dkk (2016) komitmen
afektif adalah keterlibatan emosional seseorang pada
organisasinya berupa perasaan cinta pada organisasi. Menurut
Utaminingsih (2014), merupakan keterikatan emosional,
identifikasi dan keterlibatan dalam suatu organisasi. Menurut
Utaminingsih (2014), komitmen afektif merupakan
identifikasi psikologi yang merupakan kebanggaan masuk
dalam organisasi. Menurut Sulianti dkk (2014), individu
dengan komitmen afektif yayng kuat akan tetap berada dalam
organisasi karena menginginkannya. Sehingga komitmen
afektif dapat didefinisikan sebagai keterikatan psikologis
individu untuk tetap berada dalam organisasi.
Komitmen afektif dari seseorang dapat dilihat melalui
beberapa indikator. Menurut Sopiah (2008), indikator
komitmen afektif yaitu:
a. Keinginan untuk menjadi anggota organisasi
b. Merasa memiliki keterlibatan dalam mencapai tujuan
perusahaan
c. Keterkaitan secara emosional
d. Membanggakan perusahaan kepada orang lain
Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja
Komitmen organisasi memiliki pengaruh bagi sebuah kinerja
baik kinerja karyawan ataupun kinerja perusahaan. Menurut
Utaminingsih (2014), karyawan mempunyai komitmen pada
organisasi dalam bentuk sebuah keinginan untuk selaras dalam
pencapaian tujuan organisasi. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Raja dan Srivasta (1994) dan Mowday (1998) dalam
Utaminingsih (2014), menyatakan bahwa komitmen karyawan pada
suatu organisasi dapat berpengaruh pada kinerja. Pengaruhnya ialah
semakin tinggi tingkat komitmen yang dimiliki oleh karyawan maka
akan meningkatkan kinerja dan efektifitas pencapaian tujuan
organisasi.
Komitmen sangat berhubungan dengan pekerjaan salah
satunya adalah organisasional. Menurut Samsuddin (2018),
komitmen organisasi merupakan identifikasi psikologis atau
kelekatan dengan organisasi dimana tempat karyawan bekerja.
Penelitian yang dilakukan oleh Samsuddin ini menunjukkan bahwa
komitmen organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja
pegawai. Hasilnya menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,307 dan
nilai t hitung 3, 018 dengan nilai t tabel 1,96, maka t hitung lebih
besar daripada t tabel (3,018 > 1,96), dan nilai koefisien yang
bernilai positif. Hasil ini berarti bahwa komitmen berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja. Semakin tinggi komitmen maka
akan semakin baik pula kinerjanya
Aspek-aspek dalam Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi memiliki aspek-aspek di dalamnya.
Menurut Hervi (2012), aspek-aspek dalam komitmen organisasi
meliputi:
a. Kepercayaan yang kuat dan penerimaan dari tujuan dan nilai-
nilai organisasi.
b. Kesediaan untuk menggunakan usaha yang sungguh-sungguh
atas nama organisasi.
c. Keinginan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaan
dalam organisasi
Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi
Komitmen pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi
melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen pada
organisasi juga ditentukan oleh sejumlah faktor. Menurut Sopiah
(2008) menyatakan tiga faktor yang mempengaruhi komitmen
seorang karyawan antara lain :
- Ciri pribadi pekerja termasuk masa jabatannya dalam
organisasi, dan variasi kebutuhan dan keinginan yang berbeda
dari tiap karyawan. - Ciri pekerjaan, seperti identitas tugas dan kesempatan
berinteraksi dengan rekan sekerja. - Pengalaman kerja, seperti keterandalan organisasi di masa
lampau dan cara pekerja-pekerja lain mengutarakan dan
membicarakan perasaannya tentang organisasi.
Menurut Sopiah (2008) mengatakan bahwa terdapat faktor
yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi, yaitu : - Faktor personal: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pengalaman kerja, kepribadian. - Karakteristik pekerjaan: lingkup jabatan, tantangan dalam
pekerjaan, konflik peran dalam pekerjaan, tingkat kesulitan
dalam pekerjaan. - Karakteristik struktur: besar atau kecilnya organisasi, bentuk
organisasi, kehadiran serikat pekerja, tingkat pengendalian
yang dilakukan organisasi. - Pengalaman kerja: karyawan yang memiliki pengalaman kerja
lebih lama dibandingkan dengan pengalaman kerja yang
belum lama mempunyai tingkat komitmen yang berbeda
Pengertian Komitmen Organisasi
Setiap organisasi pasti menginginkan setiap individu yang ada
di dalamnya memiliki komitmen. Biasanya, organisasi akan terus
berusaha untuk membentuk komitmen pada setiap individu yang ada
di dalamnya. Hal ini dikarenakan, organisasi pasti ingin individunya
memiliki kinerja yang baik, apabila kinerja individunya baik maka
organisasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Menurut
Robbins dan Judge (2008), komitmen organisasional adalah suatu
keadaan dimana seorang karyawan memihak organisasi tertentu
serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan
keanggotaan dalam organisasi tersebut. Jadi keterlibatan pekerjaan
yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seorang
individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti
memihak organisasi yang merekrut individu tersebut.
Komitmen sangat dibutuhkan bagi setiap individu. Menurut
Wibowo (2017) komitmen organisasi sering didefinisikan sebagai
sebuah keinginan kuat untuk tetap menjadi anggota atau bagian dari
organisasi tertentu, keinginan untuk mendesak usaha pada tingkat
tinggi atas nama organisasi, dan keyakinan yang pasti dimiliki
individu yang pasti dalam dan penerimaan atas nilai-nilai dan tujuan
organisasi.
Perusahaan selalu menginginkan adanya komitmen pada
setiap karyawannya. Menurut Sopiah (2008), karyawan memiliki
komitmen organisasional yang tinggi bila memiliki kepercayaan dan
menerima tujuan organisasi, berkeinginan untuk berusaha ke arah
pencapaian tujuan organisasi, memiliki keinginan yang kuat untuk
bertahan sebagai anggota organisasi. Menurut Hervi (2012),
komitmen organisasi adalah keinginan yang muncul dari dalam diri
yang memahami keadaan dirinya dalam organisasi tepatnya dalam
bekerja dan selalu bersedia untuk aktif terlibat dalam usaha guna
untuk mencapai tujuan perusahaan, memberikan kontribusi positif
bagi organisasi, serta memiliki rasa ingin tetap berada dalam
tempatnya bekerja. Menurut Utaminingsih (2014), komitmen
organisasi terdiri dari 2 yaitu komitmen sebagai sikap dan komitmen
sebagai perilaku. Komitmen sikap adalah cara orang dalam
merasakan dan berfikir tentang bagaimana organisasi mereka,
sedangkan komitmen perilaku adalah cara individu memasuki
organisasi
Indikator Kinerja
Kinerja karyawan dalam sebuah perusahan dapat diukur.
Menurut Hasibuan (2007), indikator kinerja adalah sebagai berikut :
- Kesetiaan
Kesetiaan merupakan suatu kesanggupan untuk menaati,
melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang telah ditaati
dengan sabar dan bertanggungjawab. - Kualitas dan Kuantitas Kerja
Kualitas kerja merupakan proses atau hasil yang telah
diselesaikan, sedangkan kuantitas kerja merupakan produksi
yang telah dihasilkan yang dapat ditunjukkan dalam satuan
mata uang, jumlah unit, dan lain sebagainya. - Kejujuran
Kejujuran merupakan ketulusan hati dalam
melaksanakan dan kemampuan untuk tidak menyalahgunakan
wewenang yang diemban. - Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan kesesuaian dalam penyelesaian
kerja. - Kreativitas
Kreativitas merupakan kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan inisiatif dari diri sendiri. - Kerja Sama
Kerja sama merupakan sebagaimana seorang individu
dapat bekerja dengan orang lain dalam menyelesaikan
pekerjaannya
Manfaat Kinerja
Baiknya sebuah kinerja akan memberikan manfaat tersendiri
baik individunya itu sendiri maupun perusahaan. Menurut Bangun
(2012), manfaatnya kinerja bagi individu antara lain evaluasi antara
individu dalam organisasi, pengembangan dalam diri setiap
individu, pemeliharaan sistem, dan dokumentasi, sedangkan manfaat
kinerja bagi perusahaan di antaranya adalah dapat tercapainya tujuan
perusahaan
Tujuan Kinerja
Kinerja yang baik selalu diharapkan bagi setiap perusahaan.
Menurut Bangun (2012), suatu perusahaan/organisasi selalu
mengharapkan kinerja yang baik. Tujuan dari kinerja yang baik ini
adalah untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan
perusahaan. Tujuan yang ditetapkan perusahaan itu sendiri
diantaranya adalah memperoleh laba, mengembangkan perusahaan,
dan lain sebagainya
Pengertian Kinerja
Setiap organisasi pasti menginginkan kinerja dari individunya
selalu mengalami peningkatan, sehingga organisasi akan selalu
berusaha agar dapat meningkatkan kinerja sehingga dapat
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Bangun (2012),
kinerja (performance) adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang
berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan (job requirement).
Menurut Mangkunegara (2011), kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya. Menurut Sulianti dkk (2010), kinerja
karyawan merupakan tingkat yang ada pada tahap mana para
karyawan mencapai persyaratan-persyaratan dalam pekerjaannya.
Kesuksesan yang dicapai oleh perusahaan dapat dilihat dari
kinerja yang dicapai oleh karyawan dalam perusahaan tersebut.
Menurut Samsuddin (2018), kinerja karyawan adalah tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh karyawan dalam menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya dalam suatu perusahaan. Kinerja karyawan
akan mempengaruhi seberapa besar konstribusi karyawan kepada
sebuah organisasi/perusahaan. Menurut Mathis Jackson dalam
Samsuddin (2018), pada dasarnya kinerja merupakan apa yang telah
dikerjakan dan yang tidak dikerjakan karyawan dalam perusahaan.
Menurut Sukmalana dalam Samsuddin (2018), kinerja merupakan
sesuatu yang dikerjakan dan dihasilkan baik dalam bentuk barang
atau jasa dalam suatu periode dan ukuran tertentu.
Pengertian Perilaku Organisasi
Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan
bantuan orang lain. Hal ini menjadikan manusia membentuk sebuah
kelompok untuk mencapai tujuan-tujuannya yang disebut organisasi.
Menurut Utaminingsih (2014), organisasi adalah unit sosial yang
dikoordinasikan secara sengaja yang terdiri dari dua orang atau lebih
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukannya. Terdapat 3 dimensi
pendukung dalam organisasi, yaitu manusia, konsep, dan teknis.
Manusia adalah dimensi yang paling kompleks dalam organisasi
yang disebut sebagai perilaku organisasi. Menurut Utaminingsih
(2014), perilaku organisasi merupakan studi yang menyangkut
tentang aspek dari tingkah laku manusia dalam kelompok tertentu.
Menurut Sopiah (2008), perilaku organisasi dapat diartikan sebagai
suatu studi yang mencangkup aspek dari tingkal laku manusia dalam
suatu kelompok tertentu
Komitmen Organisasional dan Organizational Citizenship Behavior(OCB)
Menurut Nursyamsi (2013) yang menyatakan bahwa jika organisasi
memiliki komitmen baik untuk anggota organisasi, maka dampaknya pegawai
akan memiliki loyalitas kepada organisasi di mana pegawai bekerja. Demikian
pula pegawai akan menunjukkan perilaku yang baik untuk organisasi, dan
karena Organizational Citizenship Behavior (OCB) pegawai tinggi, maka
organisasi akan memberikan perlakuan yang baik pada anggota organisasi
Hasil penelitian dari Ardi & Sudarma (2015) ; Azhar et.al., (2019); Claudia
(2018); dan Wulandari & Andriani (2019) menunjukan bahwa Komitmen
Organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap Organizational
Citizenship Behavio
perceived Organizational Support (POS) dan Organizational CitizenshipBehavior (OCB)
Peran perusahaan tempat bekerja tidak terlepas dalam memunculkan
Organizational Citizenship Behavior tersebut, organisasi harus mengupayakan
agar pegawainya dapat bekerja dengan baik guna mewujudkan efektifitas
organisasi. sehingga dukungan dari organisasi merupakan salah satu faktor
penting untuk menghasilkan kinerja pegawai yang maksimal. Namun, jika
pegawai berpikir bahwa organisasi tempat mereka bekerja tidak memberikan
dukungan dalam bentuk bonus kontribusi atau tidak peduli dengan
kesejahteraan mereka, maka pegawai juga akan kurang peduli pada organisasi.
Hasil penelitian dari Partina et al., (2019); Wahyuni & Sulastri (2020); dan
Wulandari & Andriani (2019) menunjukan bahwa perceived organizational
support (POS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap organizational
citizenship behavior (OCB)
Komponen Komitmen Organisasional
Menurut (Allen & Meyer, 1990) komponen Komitmen Organisasional
dibagi menjadi tiga yaitu affective commitment, continuance commitment, dan
normative commitment.
a. Affective commitment yaitu sikap pegawai bertahan pada organisasi
karena mereka menginginkan atau dengan kata kunci “want to”,
pegawai merasakan kesesuaian antara nilai pribadi dengan nilainilai
organisasi.
b. Continuance commitment yaitu sikap pegawai bertahan karena
mereka membutuhkan atau kata kuncinya adalah “need to” terhadap
organisasi, pegawai akan berfikir secara rasional mengenai
keuntungan dan kerugian dalam pengorbanannya terhadap
organisasi.
c. Normative commitment yaitu sikap pegawai bertahan karena mereka
harus melakukannya atau kata kuncinya adalah “ought to” terhadap
organisasi, hal ini terjadi karena pegawai akan bertanggung jawab
dan memiliki nilai-nilai moral terhadap kewajibannya sebagai
bagian dari organisasi
Aspek -aspek Komitmen Organisasional
Menurut Steers (1985.h.53) komitmen organisasi memiliki tiga aspek
utama yaitu : identifikasi, keterlibatan dan loyalitas pegawai terhadap organisasi
atau perusahaan.
- Aspek Identifikasi
Organisasi dapat melakukan dengan memasukkan kebutuhan dan
keinginan pegawai dalam tujuan organisasi. Sehingga diharapkan
pegawai dengan rela memberikan sumbangsih agar tujuan organisasi
tercapai. Karena pegawai dapat berpikir tujuan organisasi yang ada akan
membawa mereka pada pemenuhan akan kebutuhan. - Aspek Keterlibatan
Misalnya melibatkan pegawai dalam pembuatan keputusan sehingga
pegawai dapat merasakan bahwa hasil akhir merupakan keputusan
bersama. pegawai akan merasa diterima sebagai bagian dari perusahaan.
Hal ini dapat membuat pegawai mau bekerja dengan senang hati baik
dengan pimpinan maupun rekan sekerjanya. - Aspek Loyalitas
Pegawai Memiliki makna kesedian seorang untuk melanggengkan
hubungannya dengan organisasi, jika dirasa perlu bahkan
mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun
Definisi Komitmen Organisasional
Komitmen Organisasi adalah cerminan sikap sejauh mana seseorang
pegawai memiliki koneksi secara fisik dan non fisik serta terikat pada
organisasinya, Meyer dan Allen (1990), teori tersebut di perbarui oleh Colquitt
(2011) yakni komitmen organisasional adalah sebagai keinginan pada sebagian
pekerja untuk tetap menjadi angota organisasi. Menurut Mathis et al, (2006)
Komitmen organisasional atau organizational commitment dapat dikatakan
sebagai tingkat sampai dimana pegawai yakin dan menerima tujuan
organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama organisasi tersebut.
Menurut Luthans (2006), dalam Fitriastuti (2013) mengartikan komitmen
organisasional merupakan sikap yang menunjukkan loyalitas pegawai dan
merupakan proses berkelanjutan seseorang dalam mengekspresikan
perhatiannya untuk kesuksesan organisasi. Menurut Azhar et al., (2019)
Komitmen organisasi ialah keterkaitan antara pekerja dan organisasi yang
dicerminkan melalui kemauan yang kuat dalam menjaga keanggotaannya dan
mengikutsertakan dirinya pada sebuah organisasi. Menurut Putri et al. (2020),
komitmen organisasi ialah peran individu yang cukup kuat pada organisasi serta
memahami kemauan anggotanya agar terus bertahan menjadi bagian dari
anggota organisasi, dan mau berupaya secara maksimal untuk tercapainya
tujuan organisasi dan bersedia menerima norma yang terdapat pada perusahaan.
Dari definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komitmen
organisasi adalah keinginan dan kemauan dari pegawai dalam memberikan
kontribusi serta loyalitasnya terhadap Perusahaan
Indikator Perceived Organizational Support
Eisenberger dan Rhoades (2002), mengidentifikasikan 3 indikator
perceived organizational support, yaitu :
a. Keadilan (Fairness)
Keadilan prosedural menyangkut keadilan cara yang digunakan untuk
menentukan distribusi sumber daya di antara pegawai (Greenberg, dalam
Eisenberger dan Rhoades, 2002). Shore dan Shore (dalam Eisenberger dan
Rhoades, 2002) menyarankan bahwa keadilan yang berulang kali terjadi
dalam keputusan mengenai distribusi sumber daya harus memiliki efek
kumulatif yang kuat pada POS dengan menunjukkan kepedulian terhadap
kesejahteraan pegawai. Cropanzano dan Greenberg (dalam Eisenberger dan
Rhoades, 2002) membedakan antara aspek struktural dan sosial dari
keadilan prosedural. Penentu struktural melibatkan aturan dan kebijakan
formal mengenai keputusan yang mempengaruhi pegawai, termasuk
pemberitahuan yang memadai sebelum keputusan dilaksanakan,
penerimaan informasi yang akurat, dan suara (yaitu, masukan pegawai
dalam proses pengambilan keputusan), sedangkan aspek sosial adalah
keadilan yang ditinjau dari cara organisasi menghormati dan
memperlakukan pegawainya.
b. Dukungan Supervisor (Supervisor Support)
Sama seperti pegawai membentuk persepsi global mengenai penilaian
mereka oleh organisasi, mereka mengembangkan pandangan umum
mengenai sejauh mana supervisor menghargai kontribusi mereka dan peduli
terhadap kesejahteraan mereka (Kottke & Sharafinski, dalam Eisenberger
dan Rhoades, 2002). Karena supervisor berfungsi sebagai agen organisasi
dan bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja
bawahan mereka, pegawai menganggap orientasi atasan mereka yang
menguntungkan atau tidak menguntungkan terhadap mereka sebagai
indikasi dukungan organisasi (Levinson dkk., dalam Eisenberger dan
Rhoades, 2002).
c. Penghargaan Organisasional dan Kondisi Kerja (Organizational Rewards
and Job Conditions)
Bentuk dari penghargaan organisasi dan kondisi kerja adalah
sebagai berikut :
- Pay, recognition, and promotion
Peluang yang menguntungkan untuk mendapatkan
penghargaan berfungsi untuk mengomunikasikan penilaian
positif atas kontribusi pegawai dan dengan demikian akan
berkontribusi pada meningkatnya perceived organizational
support (POS), ( Eisenberger dan Rhoades, 2002). - Job security
Jaminan bahwa organisasi ingin mempertahankan
keanggotaan pegawainya di masa depan diharapkan memberikan
indikasi kuat mengenai perceived organizational support (POS),
khususnya dalam beberapa tahun terakhir, ketika perampingan
telah menjadi hal yang lazim (D. Allen, Shore, & Griffeth, dalam
Eisenberger dan Rhoades, 2002). - Autonomy
Dengan pegawai memiliki otonomi, pegawai merasa memiliki
kontrol atas pekerjaan mereka. Dengan memberikan kepercayaan
pada organisasi untuk memutuskan bagaimana mereka akan
melakukan pekerjaan mereka, organisasi akan menunjukkan
dukungan pada pegawai (Cameron dkk., dalam Rhoades &
Eisenberger, 2002). - Role stressor
Stressor atau stress mengacu pada tuntutan lingkungan dimana
individu merasa tidak mampu mengatasinya (Lazarus &
Folkman, dalam Eisenberger dan Rhoades, 2002). Sejauh
pegawai mengaitkan pemicu stres yang berhubungan dengan
pekerjaan dengan kondisi yang dapat dikendalikan oleh
organisasi, dibandingkan dengan kondisi yang melekat dalam
pekerjaan atau akibat tekanan dari luar terhadap organisasi, maka
pemicu stres harus mengurangi perceived organizational support
(POS), Karena beberapa penyebab stres berasal dari lingkungan
yang dikontrol oleh organisasi, ada tiga aspek peran pegawai
yang berkorelasi negatif dengan persepsi dukungan organisasi:
tuntutan yang melebihi kemampuan pegawai bekerja dalam
waktu tertentu (work- overload), kurangnya informasi yang jelas
tentang tanggung jawab pekerjaan (role ambiguity), dan adanya
tanggung jawab yang saling bertentangan (role-conflict)
(Rhoades &Eisenberger, 2002). - Training
Pelatihan dalam kerja adalah praktik diskresi yang
mengkomunikasikan investasi pada pegawai, sehingga mengarah
pada peningkatan perceived organizational support (POS),
(Wayne dkk, dalam Eisenberger dan Rhoades, 2002). - Organization size
Dalam organisasi besar, individu merasa kurang dihargai
karena kebijakan dan prosedur yang sangat formal dapat
mengurangi fleksibilitas dalam menangani kebutuhan pegawai
sehingga dapat mengurangi perceived organizational support
(POS), (Dekker dan Barling, 1995 ; dalam Eisenberger dan
Rhoades, 2002)
Pengertian Perceived Organizational Support
Perceived Organizational Support (POS) merupakan sebuah konsep yang
penting dalam literatur perilaku sebuah organisasi dimana dukungan organisasi
dapat memberikan penjelasan mengenai hubungan antara perlakuan organisasi,
sikap dan perilaku pegawai terhadap pekerjaan dan organisasi mereka.
Treatment yang dilakukan organisasi dijadikan sebagai stimulus yang ditangkap
oleh pegawai yang diintrepretasikan menjadi persepsi atas dukungan organisasi
tersebut (Eisenberger dkk, 1986). Berdasarkan Eisenberger et al (1986) didalam
Liu (2004), perceived organizational support (POS) didefinisikan sebagai
persepsi pegawai mengenai tingkat kepedulian organisasi terhadap
kesejahteraan dan bagaimana organisasi menghargai kontribusi mereka.
perceived organizational support (POS) merepresentasikan bagian yang
penting dari hubungan pertukaran sosial antara pegawai dengan atasan karena
perceived organizational support (POS) mengimplikasikan apa yang organisasi
telah berikan kepada pegawai menurut apa yang pegawai percayai.
Menurut Robbins (2008: 103), menyatakan bahwa perceived organizational
support (POS) didefinisikan sebagai persepsi anggota mengenai sejauh mana
organisasi memberi dukungan pada pegawai dan sejauh mana kesiapan
organisasi dalam memberikan bantuan pada saat dibutuhkan. Waileruny (2014)
mengatakan bahwa perceived organizational support (POS) adalah tingkat
sampai mana pegawai yakin organisasi menghargai kontribusi dan peduli
dengan kesejahteraan mereka. Rhoades dan Eisenberger (2002) juga
menjelaskan perceived organizational support (POS) merupakan dukungan
organisasi yang menilai sejauh mana kontribusi, memperhatikan kesejahteraan,
mendengar keluhan, memperhatikan kehidupan dan memperlakukan pegawai
dengan adil yang dilakukan oleh organisasi tersebut.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi dukungan
organisasi menunjukkan sejauh mana organisasi menghargai kerja mereka,
memberikan dukungan, dan peduli dengan kesejahteraan mereka. Dengan
demikian, pegawai dapat memberikan timbal balik yang positif kepada
organisasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior
Sejak Organ dan rekan-rekannya memperkenalkan Organizational
Citizenship Behavior (OCB), banyak penelitian dilakukan untuk
mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi Organizational Citizenship
Behavior (OCB). Berikut ini Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
Organizational Citizenship Behavior (OCB) yaitu:
a. Budaya dan iklim organisasi
Menurut Podsakoff, Organ, MacKenzie (2006) terdapat bukti-bukti
kuat yang mengemukakan bahwa budaya organisasi merupakan
suatukondisi yang dapat memunculkan organizational citizenship
behavior dikalangan pegawai. Iklim organisasi diartikan sebagai
pendapat pegawai terhadap keseluruhan lingkungan sosial dalam
perusahaannya yang dianggap mampu memberikan suasana mendukung
bagi pegawai dalam melakukan pegawaiannya. Istilah ini juga digunakan
untuk menggambarkan sejauh mana jumlah subsistem dalam organisasi
berinteraksi dengan anggota organisasi serta lingkungan eksternalnya.
b. Suasana hati (mood)
Menurut George dan Brief (1992) bahwa kemauan seseorang untuk
membantu orang lain tergantung pada suasana hati orang tersebut.
Suasana hati (mood) juga dipengaruhi oleh situasi. Misalnya seperti
hubungan interpersonal yang baik di tempat kerja, budaya ataupun iklim
organisasi yang menyenangkan, ataupun perlakuan adil yang diterima
oleh pegawai dari atasannya. Hal tersebut akan dapat memunculkan
suasana hati yang positif sehingga mereka secara sukarela memberikan
bantuan kepada orang lain.
c. Jenis kelamin
Hasil studi menunjukkan bahwa jenis kelamin mempengaruhi
terjadinya Organizational citizenship behavior (OCB). Ada perbedaan
yang signifikan antara pria dan wanita dalam tingkatan Organizational
citizenship behavior (OCB) mereka, dimana perilaku menolong wanita
lebih besar daripada pria (Lovell, Kahn, Anton, Davidson, Dowling,
dkk,1999).
d. Persepsi terhadap kualitas interaksi atasan-bawahan
Kualitas interaksi atasan-bawahan merupakan prediktor
Organizational citizenship behavior (OCB). Riggio (1990) menyatakan
bahwa apabila interaksi atasan-bawahan berkualitas tinggi, maka
seorang atasan akan berpandangan positif terhadap bawahannya
sehingga bawahannya akan merasakan bahwa atasannya banyak
memberikan dukungan dan motivasi. Hal ini meningkatkan rasa percaya
dan hormat pada atasannya sehingga mereka termotivasi untuk
melakukan lebih dari yang diharapkan oleh atasan mereka.
e. komitmen organisasional
Komitmen organisasional juga memiliki hubungan positif dengan
Organizational Citizenship Behavior (OCB). pegawai yang
berkomitmen terhadap organisasi akan memberikan kontribusi terbaik
bagi organisasi dan berperilaku Organizational Citizenship Behavior
(OCB).
f. Perceived Organizational Support
Pelle III (2007) menyatakan penelitian mengenai Perceived
Organizational Support (POS) dengan Organizational citizenship
behavior (OCB) Hasilnya menunjukkan bahwa Perceived
Organizational Support (POS) dan Organizational citizenship
behavior (OCB) berkolerasi positif, dimana organisasi yang
menyediakan dukungan organisasi kepada pegawai, hal ini menjadi
sinyal baik bagi pegawai untuk memberikan timbal baik kepada
organisasi melalui peningkatan perilaku kerja atau Organizational
citizenship behavior (OCB)
Manfaat Organizational Citizenship Behavior
Menurut Organ, Podsakoff, dan MacKenzie (2006) menyatakan bahwa
manfaat Organizational Citizenship Behavior (OCB) bagi organisasi, adalah:
- Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat meningkatkan
produktivitas rekan kerja. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat meningkatkan
produktivitas manajer. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat menghemat sumber
daya yang dimiliki manajemen dan organisasi secara keseluruhan. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat membantu
menghemat energi sumber daya yang langka untuk memelihara fungsi
kelompok. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat menjadi sarana
efektif untuk mengoordinasi kegiatan-kegiatan kelompok kerja. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat meningkatkan
kemampuan organisasi untuk menarik dan mempertahankan pegawai
terbaik. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat meningkatkan
stabilitas kinerja organisasi. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat meningkatkan
kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan
lingkungan. - Organizational Citizenship Behavior (OCB) dapat membuat organisasi
lebih efektif dengan membuat modal sosial.
Dari beberapa manfaat diatas, dapat di simpulkan bahwa manfaat dari
Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah untuk menjaga dan
meningkatkan produktivitas rekan kerja, meningkatkan produktivitas manajer
atau pemimpin, menambah kemampuan organisasi dalam mempertahankan
pegawai terbaik serta menambah kemampuan dan efektivitas pada
suatu organisas
Pengertian Organizational Citizenship Behavior
Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah perlakuan indiviidu
yang bersifat diskresi atau sukarela tidakdiakui langsung atau eksplisit oleh
system penghargaan formal, dan secara keseluruhan mendorong berfungsinya
organisasi secara efektif. (Organ, 1998). Menurut Robbins, (2009:40)
Organizational Citizenship Behavior (OCB) merupakan perilaku ekstra yang
tidak menjadi bagian dari kewajiban kerja formal seorang pegawai, namun
berfungsi mendukung organisasi secara efektif. Menurut Khan dan Rashid
(2012) bahwa Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah extra-role
performance, atau perilaku lebih yang dilakukan oleh pegawai melebihi
tuntutan atau keinginan perusahaan dan datang dari kemauan pribadi masing
masing pegawai dengan tujuan membantu dan ingin ikut berperan dalam
mencapai tujuan perusahaan dimana pegawai bekerja.
Menurut Dwi et al. (2019), Organizational Citizenship Behavior (OCB)
ialah tingkah laku seseorang yang terbebas dari nilai dan dilaksanakan dengan
ikhlas dikarenakan tidak berkaitan dengan sistem imbalan maupun penghargaan
pada pekerjaan tetapi bisa mengoptimalkan efektivitas perusahaan. Menurut
Azhar et al., (2019) Organizational Citizenship Behavior OCB ialah perilaku
yang memberikan efek positif dan bermanfaat bagi perusahaan dengan
memberikan kontribusi ekstra di luar tugas yang dilakukan dengan sukarela dan
tanpa mengharapkan imbalan. Menurut Saputri & Helmy (2021)
Organizational Citizenship Behavior (OCB) ialah perbuatan seseorang yang
mau bekerja secara sukarela demi efektivitas dan efisiensi perusahaan dan
menunjukkan bahwa pegawai ikhlas melaksanakan tugas di luar kewajibannya.
Dari pengertian mengenai Organizational Citizenship Behavior (OCB)
dapat disimpulkan bahwa Organizational Citizenship Behavior adalah suatu
tindakan perilaku dari seorang pegawai yang dilakukan secara sukarela dan
tidak termasuk dalam job description nya tetapi memiliki manfaat bagi
perusahaan
Green HRM terhadap Green OCB
Green HRM juga memiliki pengaruh positif terhadap Green
Organizational Citizenship Behavior (Green OCB), yaitu perilaku sukarela
karyawan yang mendukung keberlanjutan lingkungan di luar tanggung jawab
pekerjaan mereka. Menurut penelitian Freire Carla et al. (2022), ketika GHRM
diimplementasikan secara efektif, karyawan cenderung mengidentifikasi diri lebih
kuat dengan nilai-nilai lingkungan organisasi. Hal ini memotivasi mereka untuk
melakukan tindakan pro-lingkungan, seperti menghemat energi, mendaur ulang,
atau mempromosikan praktik ramah lingkungan kepada rekan kerja. Job
Satisfaction sering kali menjadi mediator dalam hubungan ini, karena karyawan
yang puas dengan kebijakan lingkungan organisasi lebih cenderung menunjukkan
Green OCB. Dengan demikian, GHRM tidak hanya membentuk budaya
organisasi yang ramah lingkungan tetapi juga memperkuat komitmen karyawan
terhadap tujuan keberlanjutan
Job Satisfaction terhadap OCB
Penelitian yang telah dilakukan oleh (Ocampo et al., 2018) menunjukkan
adanya hubungan positif antara kepuasan kerja dan Organizational citizenship
behavior (OCB). Hal ini menunjukkan bahwa karyawan yang mengalami tingkat
kepuasan kerja yang tinggi cenderung menunjukkan perilaku yang akan
menguntungkan perusahaan. Teori pertukaran sosial umumnya digunakan untuk
memahami perilaku kewarganegaraan organisasional (OCB) karyawan dan
hubungannya dengan kepuasan kerja. Menurut teori ini, karyawan yang puas
dengan pekerjaannya cenderung menunjukkan perilaku timbal balik yang positif
(yaitu, OCB), dengan tujuan untuk mendukung organisasi. Dalam hal ini, dalam
hubungan pertukaran dengan organisasi, karyawan yang lebih puas dengan aspek
pekerjaan seperti pekerjaan itu sendiri, penghargaan, dan hubungan dengan rekan
kerja dan atasan, cenderung lebih bersedia memberikan penghargaan kepada
organisasi dengan perilaku yang menguntungkan, seperti perilaku
kewarganegaraan organisasional.
Green HRM terhadap Job Satisfaction
Penelitian yang telah dilakukan oleh (Chaudhary et al., 2020)
menjelaskan bahwa keselarasan antara nilai-nilai organisasi dan individu
menyebabkan sikap positif, seperti kepuasan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa
ketika terjadi penyesuaian antara individu dan nilai-nilai organisasi, hasilnya
positif yang berkontribusi pada peningkatan kepuasan kerja. Ketika organisasi
menerapkan kebijakan lingkungan yang efektif melalui GHRM, seperti
memberikan pelatihan terkait keberlanjutan atau menciptakan lingkungan kerja
yang ramah lingkungan, karyawan cenderung merasa lebih puas dalam pekerjaan
mereka. Ini karena karyawan melihat bahwa organisasi menghargai aspek-aspek
lingkungan yang mereka anggap penting, yang selanjutnya meningkatkan rasa
kesejahteraan dan kebanggaan dalam bekerja
indikator yangmempengaruhi job satisfaction
Menurut Javanmardnerjad et al. (2021) terdapat beberapa indikator yang
mempengaruhi job satisfaction adalah:
e. Satisfaction with Information
Mengukur tingkat kepuasan karyawan terhadap informasi yang diberikan oleh
atasan mengenai tanggung jawab, perkembangan pekerjaan, serta praktik yang
berhubungan dengan keberlanjutan lingkungan. Karyawan merasa puas jika
mereka mendapatkan informasi yang jelas dan relevan, yang memungkinkan
mereka untuk memahami bagaimana mereka dapat berkontribusi secara efektif
terhadap tujuan ramah lingkungan organisasi.
f. Satisfaction with Variety
Mengevaluasi sejauh mana pekerjaan yang dilakukan memiliki variasi yang
mendukung penerapan prinsip Green HRM. Karyawan merasa puas jika
mereka dapat berinteraksi dengan beragam tugas yang memungkinkan mereka
untuk mengintegrasikan praktik ramah lingkungan seperti pengelolaan limbah,
pengurangan konsumsi energi, dan penggunaan bahan yang lebih
berkelanjutan.
g. Satisfaction with Closure
Indikator ini mengukur sejauh mana karyawan merasa puas dengan
kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas secara mandiri dari awal
hingga akhir sesuai dengan prinsip-prinsip Green HRM. Karyawan yang
merasa dapat menyelesaikan tugas dengan efektif, dengan mempertimbangkan
dampak lingkungan, cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka.
39
h. Satisfaction with Pay
Menilai tingkat kepuasan karyawan terhadap kompensasi yang diberikan
berdasarkan kontribusi mereka dalam mendukung praktik Green HRM.
Kompensasi yang mencakup penghargaan atas inisiatif ramah lingkungan
menciptakan rasa keadilan dalam pengakuan terhadap usaha mereka untuk
meningkatkan kelestarian lingkungan, yang pada akhirnya meningkatkan
kepuasan kerja
faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja antara lain (Miah &
Hasan, 2022):
- Penghargaan Finansial
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah
penghargaan finansial seperti gaji, bonus, dan insentif. Penghargaan yang
memadai memberikan rasa pengakuan dan meningkatkan motivasi karyawan
untuk bekerja lebih keras. Gaji yang kompetitif dan sejalan dengan kinerja
karyawan akan meningkatkan tingkat kepuasan mereka. - Keseimbangan Kehidupan Kerja
Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional merupakan faktor
penting dalam menentukan kepuasan kerja. Karyawan yang mampu menjaga
keseimbangan antara kedua aspek ini akan memiliki tingkat stres yang lebih
rendah dan merasa lebih puas dengan pekerjaan mereka. Program-program
fleksibilitas kerja, seperti work-from-home dan jam kerja fleksibel, dapat
meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja. - Hubungan dengan Rekan Kerja dan Atasan
Kualitas hubungan dengan rekan kerja dan atasan juga mempengaruhi
kepuasan kerja. Interaksi sosial yang positif di tempat kerja memberikan rasa
keterikatan dan kenyamanan bagi karyawan. Hubungan yang baik dengan
atasan juga memungkinkan adanya dukungan yang lebih besar dalam
pengembangan karir dan pencapaian tujuan profesional. - Pengembangan Karir
Peluang pengembangan karir, seperti pelatihan dan promosi, sangat penting
dalam meningkatkan kepuasan kerja. Karyawan yang merasa memiliki
kesempatan untuk berkembang dalam perusahaan cenderung lebih puas
dengan pekerjaan mereka karena mereka melihat masa depan yang cerah
dalam karir mereka
Job Satisfaction
Job Satisfaction atau kepuasan kerja mengacu pada perasaan positif atau
negatif yang dialami individu terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja mencakup
berbagai aspek, termasuk kepuasan terhadap tanggung jawab pekerjaan,
lingkungan kerja, hubungan dengan rekan kerja dan atasan, serta imbalan yang
diterima. Kepuasan kerja merupakan salah satu variabel kunci dalam penelitian
organisasi karena terkait erat dengan kinerja, produktivitas, dan kesejahteraan
karyawan.
Teori-teori mengenai kepuasan kerja mencakup berbagai pendekatan,
salah satunya adalah teori dua faktor Herzberg dalam (Miah & Hasan, 2022), yang
membedakan antara faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan (motivators) dan
faktor-faktor yang mencegah ketidakpuasan (hygiene factors). Motivators
meliputi aspek-aspek pekerjaan yang terkait dengan pertumbuhan pribadi,
pencapaian, dan pengakuan, sementara hygiene factors melibatkan kondisi kerja,
keamanan pekerjaan, serta hubungan interpersonal. Kepuasan kerja juga memiliki
dampak penting pada berbagai hasil organisasi, termasuk retensi karyawan,
komitmen organisasi, dan tingkat absensi. Kepuasan kerja adalah hasil dari
perbandingan antara harapan individu terhadap pekerjaan dan realitas yang
dialami. Jika harapan individu terpenuhi atau terlampaui, maka mereka akan
merasa puas. Namun, jika harapan tidak tercapai, ketidakpuasan kerja bisa
muncul.
Penelitian mengenai kepuasan kerja menunjukkan bahwa karyawan yang
merasa puas dengan pekerjaan mereka cenderung menunjukkan kinerja yang lebih
baik, memiliki komitmen yang lebih tinggi terhadap organisasi, dan lebih
mungkin untuk tetap bekerja di perusahaan. Sebaliknya, ketidakpuasan kerja dapat
menyebabkan peningkatan turnover, absensi, dan penurunan produktivitas
faktor yang mempengaruhi organizational citizenship behavior (OCB)
Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi organizational citizenship behavior (OCB)
adalah:
- Kepuasan Kerja
Podsakoff et al. dalam (Nurrohmat & Lestari, 2021) menemukan bahwa
kepuasan kerja adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi OCB.
Karyawan yang merasa puas dengan pekerjaannya cenderung memiliki
hubungan emosional yang lebih kuat dengan organisasi dan akan lebih
mungkin untuk menunjukkan perilaku yang mendukung rekan kerja dan
organisasi. Kepuasan kerja dapat mencakup berbagai aspek seperti gaji,
peluang pengembangan, dan lingkungan kerja yang kondusif. - Komitmen Organisasi
Menurut Meyer & Allen dalam (Fernandez & Garcia, 2023), karyawan dengan
komitmen organisasi yang tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk
menunjukkan OCB. Komitmen organisasi mengacu pada sejauh mana
karyawan merasa terikat secara emosional dengan perusahaan. Karyawan yang
merasa organisasi memberikan nilai penting pada kesejahteraan mereka
cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar dan berinisiatif
melakukan hal-hal yang melebihi tugas formal mereka. - Iklim Organisasi
Schneider et al. dalam (So et al., 2022) menyatakan bahwa iklim organisasi
yang positif, di mana karyawan merasa dihargai dan didukung, meningkatkan
kemungkinan karyawan untuk terlibat dalam OCB. Iklim organisasi yang
menghargai kolaborasi, komunikasi yang terbuka, dan kepercayaan antar
karyawan akan memfasilitasi munculnya perilaku-perilaku sukarela yang
mendukung tujuan bersama. - Hubungan Interpersonal
Kualitas hubungan interpersonal di tempat kerja juga memainkan peran
penting dalam memengaruhi OCB.Karyawan yang memiliki hubungan baik
dengan rekan kerja mereka cenderung lebih bersedia untuk membantu rekan
dalam menyelesaikan pekerjaan, bahkan jika itu tidak termasuk dalam
deskripsi pekerjaan mereka. Hubungan interpersonal yang kuat menciptakan
lingkungan yang mendukung perilaku proaktif dan kerja sama. - Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional, yang menginspirasi dan memotivasi
karyawan untuk mencapai lebih dari ekspektasi mereka, sangat memengaruhi
OCB. Pemimpin yang mampu memberikan visi yang jelas dan menciptakan
motivasi intrinsik pada karyawan akan mendorong mereka untuk memberikan
kontribusi tambahan yang tidak hanya bermanfaat bagi mereka sendiri tetapi
juga bagi organisasi
Green Organizational Citizenship Behavior
Green Organizational Citizenship Behavior (Green OCB) adalah perilaku
sukarela yang dilakukan oleh karyawan di luar deskripsi pekerjaan formal mereka
untuk mendukung tujuan keberlanjutan lingkungan organisasi. Konsep ini
berdasarkan pada teori Organizational Citizenship Behavior (OCB), namun
berfokus pada kontribusi individu terhadap pengelolaan dan perlindungan
lingkungan di tempat kerja. Green OCB mencakup tindakan-tindakan yang tidak
diatur secara eksplisit oleh kebijakan organisasi, seperti menghemat penggunaan
energi, mendaur ulang limbah, memberikan saran yang relevan untuk praktik
ramah lingkungan, dan mendorong rekan kerja untuk terlibat dalam inisiatif
keberlanjutan. Perilaku ini bertujuan untuk menciptakan dampak positif bagi
lingkungan kerja dan keberlanjutan operasional perusahaan.
Menurut Khan et al. (2023), Green OCB terdiri dari beberapa dimensi, di
antaranya eco-initiative, eco-civic engagement, eco-helping, dan eco-stewardship.
Dimensi ini mencerminkan berbagai cara individu dapat berkontribusi secara
proaktif untuk mendukung keberlanjutan lingkungan. Green OCB juga
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kepemimpinan transformasional hijau,
dukungan organisasi terhadap lingkungan, kesadaran lingkungan, dan motivasi
intrinsik karyawan. Green OCB tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan
tetapi juga berkontribusi pada efisiensi operasional organisasi, peningkatan
reputasi perusahaan, dan kesejahteraan psikologis karyawan, sehingga menjadi
elemen penting dalam strategi keberlanjutan organisasi modern
indikator yangmempengaruhi green HRM
Menurut Jinafeng et al. (2022) terdapat beberapa indikator yang
mempengaruhi green HRM adalah:
a. Green Recruitment
Proses perekrutan yang bertujuan untuk menarik calon karyawan yang tidak
hanya memiliki keterampilan teknis atau profesional yang sesuai tetapi juga
memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai lingkungan dan komitmen untuk
melaksanakan praktik ramah lingkungan. Dalam indikator ini, karyawan
dievaluasi berdasarkan pemahaman mereka terhadap kebijakan keberlanjutan
dan bagaimana mereka mampu mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam
pekerjaan mereka sehari-hari. Karyawan yang memahami pentingnya
pengurangan limbah, efisiensi penggunaan sumber daya, serta upaya untuk
menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan menjadi kandidat yang
ideal untuk Green Recruitment.
b. Green Learning and Development
Inisiatif pengembangan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran
karyawan terhadap isu lingkungan dan meningkatkan keterampilan yang
diperlukan untuk mengelola dampak lingkungan di tempat kerja. Indikator ini
mencakup pelatihan yang bertujuan untuk memberikan wawasan kepada
karyawan mengenai praktik-praktik ramah lingkungan seperti pengelolaan
limbah, penggunaan energi yang efisien, serta pengurangan jejak karbon
organisasi. Melalui program ini, karyawan dapat meningkatkan pengetahuan
mereka mengenai bagaimana tanggung jawab lingkungan dapat diterapkan
dalam tugas sehari-hari, sehingga meningkatkan kepuasan mereka terhadap
pekerjaan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
c. Green Compensation
Kompensasi yang diberikan tidak hanya didasarkan pada kinerja umum, tetapi
juga mencakup kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan. Karyawan
dievaluasi berdasarkan pengurangan limbah, efisiensi penggunaan sumber
daya, atau inovasi yang mendukung kelestarian lingkungan. Indikator ini
mencakup penghargaan kepada karyawan yang menunjukkan kemampuan
untuk mengelola dampak lingkungan secara efektif, yang berdampak pada
peningkatan kualitas hidup kerja yang berkelanjutan. Green Compensation
bertujuan untuk mendorong karyawan untuk lebih terlibat dalam aktivitas
yang mendukung lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
d. Green Empowerment
Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan praktik ramah lingkungan.
Dalam hal ini, karyawan tidak hanya sebagai pelaksana tetapi juga sebagai
inisiator yang aktif dalam mengajukan solusi ramah lingkungan atau
mengimplementasikan inisiatif yang berkontribusi pada keberlanjutan
organisasi. Karyawan yang diberikan kekuasaan untuk berpartisipasi dalam
proses tersebut merasa lebih dihargai dan memiliki rasa tanggung jawab yang
lebih besar terhadap dampak lingkungan, yang pada akhirnya meningkatkan
keseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab sosial
faktor yang mempengaruhi penerapan GHRM
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penerapan GHRM meliputi:
- Kepemimpinan Pro-Lingkungan
Kepemimpinan yang memiliki komitmen kuat terhadap isu-isu lingkungan
sangat berpengaruh terhadap penerapan GHRM. Menurut Daily et al. (2019),
manajer puncak yang menunjukkan kesadaran lingkungan tinggi dan
menyadari pentingnya keberlanjutan akan mendorong kebijakan-kebijakan HR
yang mendukung inisiatif ramah lingkungan. GHRM sering kali lebih berhasil
diimplementasikan dalam organisasi di mana pemimpin perusahaan
menunjukkan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian lingkungan. - Budaya Perusahaan yang Ramah Lingkungan
Budaya organisasi yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan berperan
besar dalam kesuksesan penerapan GHRM. Jabbour et al. (2019) menjelaskan
bahwa perusahaan dengan budaya yang kuat dalam hal tanggung jawab sosial
dan lingkungan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengadopsi
praktik GHRM. Budaya yang positif terhadap keberlanjutan akan menciptakan
lingkungan kerja yang mendukung perilaku pro-lingkungan karyawan, seperti
penghematan energi, penggunaan ulang sumber daya, dan manajemen limbah
yang efektif. - Tekanan dari Pemangku Kepentingan
Tekanan dari pihak eksternal seperti konsumen, regulator, investor, dan
kelompok advokasi lingkungan dapat memaksa organisasi untuk mengadopsi
praktik ramah lingkungan, termasuk dalam manajemen sumber daya manusia.
Konsumen yang semakin sadar akan isu-isu keberlanjutan cenderung lebih
memilih perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap lingkungan, dan
hal ini memberi insentif kepada perusahaan untuk menerapkan GHRM sebagai
bagian dari strategi keberlanjutan mereka.
Kompetisi dan Diferensiasi Pasar
Penerapan GHRM juga dipengaruhi oleh faktor kompetisi di pasar. Jabbour et
al. (2019) mengemukakan bahwa dalam industri yang kompetitif, perusahaan
sering kali menggunakan inisiatif ramah lingkungan sebagai pembeda untuk
mendapatkan keunggulan kompetitif. Dengan menerapkan GHRM,
perusahaan dapat menarik talenta yang lebih baik dan meningkatkan citra
perusahaan sebagai organisasi yang peduli terhadap isu-isu global seperti
perubahan iklim dan keberlanjutan. - Ketersediaan Sumber Daya dan Infrastruktur
Faktor lainnya yang mempengaruhi GHRM adalah ketersediaan sumber daya
dan infrastruktur yang mendukung implementasi kebijakan ramah lingkungan.
Jabbour et al. (2019) menyoroti pentingnya sumber daya seperti pelatihan,
teknologi, dan dana yang memadai untuk menjalankan program GHRM.
Tanpa infrastruktur yang tepat, sulit bagi perusahaan untuk mengadopsi
praktik-praktik ramah lingkungan secara menyeluru
Indikator Identifikasi Organisasi
Menurut Peng et al. (2020) terdapat beberapa indikator yang
mempengaruhi organizational identification adalah:
a. Perceptual-Cognitive Identification
Merujuk pada sejauh mana individu merasa bahwa identitas mereka terkait
dengan organisasi, yang mempengaruhi persepsi terhadap kritik atau apresiasi
yang diterima dari organisasi tersebut. Karyawan yang memiliki keterikatan
yang tinggi cenderung merasakan kritik sebagai refleksi dari diri mereka
sendiri, sedangkan apresiasi memperkuat rasa bangga terhadap keberhasilan
organisasi.
b. Relational and Comparative Identification
Menunjukkan sejauh mana individu merasa terhubung secara emosional
dengan organisasi melalui hubungan kolaboratif dan perbandingan terhadap
keberhasilan atau tantangan yang dihadapi oleh organisasi. Karyawan yang
memiliki identifikasi ini lebih cenderung mengaitkan keberhasilan organisasi
dengan pencapaian pribadi mereka sendiri.
c. Positive Valuation and Self-Esteem
Mengacu pada sejauh mana individu menilai organisasi secara positif, yang
berdampak pada peningkatan rasa harga diri mereka. Perasaan puas atau malu
terhadap pencapaian atau kritik terhadap organisasi mencerminkan bagaimana
nilai-nilai yang dianut organisasi mempengaruhi identifikasi dan rasa harga
diri karyawan.
Dalam penelitian ini indikator yang digunakan adalaha indikator menurut
Peng et al. (2020)
Fakto Identifikasi Organisasi
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi identifikasi organisasi
(Organizational Identification), seperti yang diungkapkan oleh O’Neill &
Schuman (2024). Faktor-faktor ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu
faktor organisasi dan faktor individu.
- Faktor Organisasi
a. Kekhasan atau Keunikan Organisasi
Keunikan atau kekhasan organisasi memainkan peran penting dalam
membedakan organisasi tersebut dari yang lain, memberikan identitas
yang lebih jelas dan menonjol bagi para anggotanya. O’Neill & Schuman
(2024) menyatakan bahwa organisasi sering kali berupaya untuk
mendefinisikan identitas mereka dengan mencari ceruk yang unik dan
berbeda. Keunikan ini dapat memperkuat identifikasi anggota organisasi
dengan organisasi, karena mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu
yang istimewa dan berbeda dari yang lain.
b. Gengsi atau Reputasi Organisasi
Faktor gengsi organisasi juga memengaruhi tingkat identifikasi organisasi.
Semakin bergengsi atau bereputasi tinggi sebuah organisasi, semakin besar
potensi karyawan untuk meningkatkan harga diri mereka melalui
identifikasi dengan organisasi tersebut. O’Neill & Schuman (2024)
menyatakan bahwa karyawan sering mengidentifikasi diri dengan
organisasi sebagai cara untuk meningkatkan citra diri mereka, karena
keberhasilan dan reputasi organisasi tercermin pada mereka.
c. Persaingan Intraorganisasi
Persaingan internal dalam organisasi dapat memengaruhi identifikasi
organisasi secara negatif. Ketika persaingan antara individu atau unit
dalam organisasi meningkat, fokus karyawan cenderung beralih dari
kepentingan organisasi secara keseluruhan ke subunit atau diri mereka
sendiri. Hal ini dapat mengurangi rasa keterikatan dan identifikasi
karyawan terhadap organisasi karena hubungan antaranggota terganggu
oleh persaingan yang intens. - Faktor Individu
a. Kepuasan Kerja
Tingkat kepuasan kerja seorang karyawan juga berkontribusi terhadap
identifikasi mereka dengan organisasi. O’Neill & Schuman (2024)
menyatakan bahwa kepuasan ini bergantung pada sejauh mana organisasi
dapat membantu karyawan mencapai tujuan pribadi mereka. Ketika
karyawan merasa bahwa organisasi memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap perkembangan pribadi mereka, maka kecenderungan
mereka untuk mengidentifikasi diri dengan organisasi akan meningkat.
b. Sentimentalitas
Sentimentalitas mengacu pada kecenderungan individu untuk
mempertahankan ikatan emosional dengan masa lalu mereka, termasuk
pengalaman kerja di organisasi. O’Neill & Schuman (2024) menjelaskan
bahwa individu yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan
organisasi tempat mereka bekerja cenderung mengalami nostalgia dan
kepuasan saat mengingat masa-masa tersebut. Kenangan positif tentang
pengalaman kerja sebelumnya dapat memperkuat identifikasi individu
terhadap organisasi, karena mereka merasakan keterhubungan emosional
yang mendalam dengan masa lalu di tempat kerja tersebut
Organizational Identification
Organizational Identification (OI) adalah konsep penting dalam psikologi
organisasi yang menggambarkan keterkaitan psikologis antara karyawan dan
organisasi. Konsep ini merujuk pada seberapa besar karyawan mengintegrasikan
nilai, tujuan, dan identitas organisasi ke dalam identitas diri mereka. Menurut
Ashforth dan Mael dalam (O’Neill & Schuman, 2024), OI mencerminkan
identifikasi seseorang sebagai anggota dari organisasi yang lebih besar, di mana
individu tidak hanya melihat diri mereka sebagai pekerja atau karyawan, tetapi
sebagai bagian integral dari organisasi itu sendiri. Dengan demikian, mereka
merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan organisasi dan berbagi
nilai-nilai yang diusungnya.
Organizational Identification sangat erat kaitannya dengan Social Identity
Theory, di mana individu cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompok sosial
tertentu—dalam hal ini, organisasi—sebagai bagian dari cara mereka memahami
diri dan lingkungan sosial mereka. Menurut Clercq et al. (2021), OI merupakan
salah satu bentuk dari identifikasi sosial yang sangat menonjol di lingkungan
kerja, karena komponen identitas organisasi dapat meliputi berbagai aspek dari
konsep diri dan identitas individu. Artinya, semakin kuat karyawan
mengidentifikasi diri mereka dengan organisasi, semakin mereka merasa bahwa
keberhasilan organisasi adalah keberhasilan pribadi mereka. Mereka juga akan
lebih cenderung memprioritaskan kepentingan organisasi di atas kepentingan
pribadi.
22
Organizational Identification memiliki beberapa konsekuensi positif bagi
organisasi. Salah satu dampaknya adalah peningkatan organizational commitment
(komitmen organisasi), di mana karyawan yang merasa teridentifikasi dengan
organisasi akan lebih berkomitmen untuk bekerja demi kesuksesan organisasi.
Karyawan cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi, loyalitas yang lebih
kuat, dan lebih bersedia untuk terlibat dalam organizational citizenship behavior
(OCB), yakni perilaku kerja sukarela yang melampaui tuntutan formal pekerjaan.
Selain itu, identifikasi yang kuat dengan organisasi juga dapat mengurangi niat
untuk berpindah kerja (turnover intention) karena karyawan merasa terhubung
secara emosional dan psikologis dengan organisasi, sebagaimana dijelaskan oleh
Ibrahim et al (2024) dalam meta-analisisnya tentang pengaruh OI terhadap hasil
kerja
Pengaruh Daya tarik organisasi terhadap identifikasi organisasi
Identifikasi organisasi dan daya tarik organisasi memiliki anteseden penting yaitu
person-organization fit yang dimana dari hal tersebut sangat mungkin terjadi adanya suatu
hubungan antara identifikasi organisasi dengan daya tarik organisasi. Menurut (Blader dan
Tyler, 2009), identifikasi organisasi merupakan kondisi keterikatan kerja antara karyawan
dengan organisasi. Semakin karyawan bisa mengidentifikasi dirinya sendiri maka karyawan
semakin bisa memposisikan dirinya untuk tetap bertahan di dalam organisasi melalui daya tarik
karyawan terhadap perusahaan.
Pengaruh Person-organization fit terhadap daya tarikorganisasi.
Daya tarik organisasi berhubungan dengan pikiran afektif dan sikap individu mengenai
kemungkinan posisi kerja organisasi (Highhouse, dkk. 2003 dalam Cinar, 2019). Faktor
terpenting yang membuat organisasi menarik bagi kandidat yang berpotensi adalah prestise
organisasi yang merupakan salah satu premis daya tarik paling berpengaruh. Menurut Cable
dan Graham (2000) dalam Cinar (2019), kriteria pemikiran pencari kerja mengenai prestise
organisasi terkait dengan karakteristik organisasi dan identitas individu, dengan kata lain dalam
pemilihan pekerjaan dan penilaian prestise beberapa individu mempertimbangkan kesesuaian
antara identitas individu dengan karakteristik organisasi. Penekanan pada prestise organisasi
yang berupa suatu imbalan yang diberikan oleh karyawan terhadap organisasi dan daya tarik
organisasi sebenarnya adalah upaya untuk menciptakan identitas sosial yang positif. Menurut
Umphress, dkk. (2007) dalam Cinar (2019), tumpang tindih antara nilai, kepribadian individu,
dan atribut organisasi akan membuat organisasi lebih menarik bagi para kandidat. Kesesuaian
karyawan dengan organisasi kemungkinan akan mempengaruhi sikap dan perilaku individu.
Jika person-organization fit diterapkan dengan baik maka karyawan semakin ingin untuk
bertahan di perusahaan.
Pengaruh Person-organization fit terhadap identifikasi organisasi.
Person-organization fit dipandang sebagai kunci dalam mempertahankan karyawan
dengan komitmen organisasi dan fleksibilitas yang tinggi dimana hal tersebut diperlukan untuk
memenuhi tantangan kompetitif. Person-organization fit yang tinggi mengarah pada hasil
organisasi yang baik, jika tingkat kesesuaian karyawan di dalam organisasi rendah maka
menghasilkan hasil yang tidak maksimal, salah satunya adalah keinginan karyawan untuk
berhenti. Menurut Astakhova (2016) organisasi merekrut individu yang memiliki kemampuan
beradaptasi yang tinggi terhadap organisasi. Dalam studi lain, ditemukan bahwa person-
organization fit antara nilai-nilai individu dengan nilai-nilai organisasi akan menyebabkan
peningkatan identifikasi (Ozcan, 2012 dalam Cinar, 2019). Jika person-organization fit
memiliki nilai yang tinggi maka karyawan dapat mengidentifikasi diri karyawan itu sendiri
untuk organisasi.
Daya Tarik Organisasi
Daya tarik organisasi adalah suatu yang akan melekat pada organisasi seperti reputasi
organisasi, keyakinan terhadap organisasi, skill serta pengalaman, lokasi yang strategis, dan
fasilitas pendukung yang dapat di berikan organisasi. Daya tarik organisasi membantu
membangun pengalaman kerja dan komunikasi yang lebih konsisten (EB Insights, 2011). Daya tarik organisasi sebagai pemberi kerja menunjukkan manfaat yang diharapkan yang dilihat oleh
calon karyawan dalam bekerja untuk organisasi tertentu (Berthon dkk., 2005 dalam Cinar,
2019). Menurut Ehrhart dan Ziegert (2005) dalam Cinar (2019), telah mendefinisikan daya
tarik organisasi sebagai “mendapatkan kandidat” untuk melihat organisasi sebagai tempat yang
positif untuk bekerja dan memeriksanya dari perspektif karyawan. Daya tarik organisasi
sebagai pemikiran afektif dan sikap karyawan secara individu tentang perusahaan sebagai
tempat kerja yang potensial.
Organisasi berusaha untuk merekrut karyawan berbakat dan mempertahankan mereka
dalam organisasi (Joseph dkk. 2014 dalam Cinar, 2019). Dalam hal ini pemimpin dalam
perusahaan berusaha membuat organisasi menarik bagi karyawan yang berbakat sehingga
individu menjadi anggota organisasi yang baik. Tumpang tindih antara nilai dan kepribadian
individu dan atribut organisasi akan membuat organisasi lebih menarik bagi para kandidat
(Umphress dkk. 2007 dalam Cinar, 2019). Daya tarik organisasi adalah konsep yang sangat
penting bagi organisasi yang bertujuan untuk menarik karyawan yang memiliki potensi tinggi
atau berkualitas. Menurut (Syaebani dkk., 2015) positif persepsi daya tarik organisasi sangat
terkait dengan niat mengejar pekerjaan. Terdapat dimensi dalam daya tarik organisasi menurut
Darsono, dalam Wawan (2016), yaitu: (1) Reputasi organisasi di masyarakat atau pemerintah
(brand image), (2) Layanan yang telah di berikan seperti informasi dsb (believability), (3)
keahlian yang terampil di bidangnya masing-masing (creadibility), (4) Lokasi kantor yang
strategis dan terjangkau (location), (5) Fasilitas-fasilitas kantor yang dapat membantu dalam
meningkatkan kualitas bekerja (facility).
Person-organization Fit
Gagasan mengenai “kesesuaian” atau “fit” dalam perekrutan dan pemilihan pelamar
kerja telah lama menjadi landasan psikologi organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
Kesesuaian dalam hal nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma organisasi disebut person-
organization fit atau (P-O Fit). Person-organization fit (P-O Fit) secara umum didefinisikan
sebagai kesesuaian antara nilai-nilai organisasi dengan nilai-nilai individu (Kristof, 1996 dalam
Cinar, 2019). Kesesuaian kerja yang baik mengarah pada hasil kerja yang positif, sedangkan
kesesuaian kerja yang buruk mengarah pada hasil kerja yang negatif. Hal tersebut merupakan
asumsi dasar teori fit. Donald dan Pandey (2007) dalam (Astuti, 2010), mendefinisikan person-
organization fit adalah adanya kesesuaian/kecocokan antara individu dengan organisasi,
ketika: a) setidak-tidaknya ada kesungguhan untuk memenuhi kebutuhan pihak lain, atau b)
memiliki karakterisitik dasar yang serupa. Manfaat fit di tempat kerja menjadikan fit sebagai
pengejaran yang menarik baik bagi individu maupun organisasi. Organisasi dan anggotanya
memiliki kepentingan mendasar dalam kecocokan antara organisasi dengan karakteristik yang
dimiliki oleh karyawan secara individu. Organisasi melakukan upaya dalam merekrut serta
mempertahankan karyawan dengan tingkat kesesuaian yang tinggi. Hal tersebut juga berlaku
bagi karyawan, dimana karyawan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
organisasi.
Kesesuaian di tempat kerja sangat penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan
untuk memahami hubungan antara kesesuaian dengan hasil kinerja. Menurut Lam, Huo, &
Chen (2018) menyesuaikan karyawan dengan lingkungan organisasi sehingga mereka menjadi
‘best-fitting’ atau paling pas merupakan kunci keberhasilan organisasi. Tidak ada organisasi
yang menginginkan karyawannya menjadi lebih buruk. Oleh karena itu, organisasi selalu
berusaha untuk menciptakan kompatibilitas yang tinggi antara karyawan dengan organisasi
yang dimana hal ini juga menguntungkan bagi organisasi itu sendiri untuk tidak mengeluarkan
biaya yang besar untuk mencari kandidat pengganti.
Menurut Kristof (1996) dalam Mahardika (2006), person-organization fit (P-O Fit)
dapat diartikan dalam empat konsep yaitu:
- Kesesuaian nilai (value congruence) yaitu kesesuaian antara nilai intrinsik individu
dengan organisasi. - Kesesuaian tujuan (goal congruence) yaitu kesesuaian antara tujuan individu dengan
organisasi dalam hal ini adalah pemimpin dan rekan sekerja. - Pemenuhan kebutuhan karyawan (employee need fulfillment) yaitu kesesuaian antara
kebutuhan-kebutuhan karyawan dan kekuatan yang terdapat dalam lingkungan kerja
dengan sistem dan struktur organisasi. - Kesesuaian karakteristik kultur-kepribadian (culture personality congruence) yaitu
kesesuaian antara kepribadian (non nilai) dari setiap individu dan kultur organisasi.
Vianen (2000), menjelaskan konsep person-organization fit dari perspektif
supplementary fit dan complementary fit. Supplementary fit terjadi apabila individu memiliki
karakteristik (preferences dan attitudes) yang serupa dengan karakteristik yang dimiliki oleh
individu-individu lain dalam orgnaisasi yang bersangkutan. Sedangkan complementary fit
terjadi apabila karakteristik yang dimiliki oleh individu dapat ditambahkan untuk melengkapi
karakteristik yang tidak dimiliki oleh organisasi itu sendiri. Hal ini dapat terjadi apabila
individu tersebut memiliki skills khusus yang berguna untuk meningkatan kesuksesan sebuah
kerja tim.
Perspektif person-organization fit juga dibedakan menurut French dkk. (1982) dalam
Vianen (2000), menjadi dua yaitu supplies-values fit dan demands-abilities fit. Perspektif
supplies-values fit, person-organization fit tercapai apabila organisasi mampu memuaskan
nilai-nilai yang dimiliki oleh individu atas jasa dan kontribusi mereka pada suatu pekerjaan
(misalnya, gaji, tunjangan, dan pelatihan). Hal ini dianggap penting sebagai bagian dari
motivasi dasar bagio individu untuk mendapatkan reward yang ditawarkan organisasi sebagai
imbal-balik. Jika seorang karyawan memiliki preferensi yang tinggi terhadap pertumbuhan
(growth), maka fit bisa terjadi jika organisasi memberikan kesempatan pada individu tersebut
untuk terus berkembang. Sedangkan perspektif demand-abilities fit memandang person-
organization fit bisa tercapai jika individu memiliki skills dan abilities untuk memenuhi
tuntutan atau permintaan organisasi. Person-organization fit yang tinggi memberikan
pemahaman yang lebih baik tentang harapan organisasi dan realisasi individu tugas mereka
(Gregory dkk., 2010).
Menurut Bowen dkk. (1991) dalam El-Sakka (2016), terdapat manfaat potensial jika
menerapkan person-organizational fit dalam organisasi, yaitu: - Pekerja memiliki sikap yang baik (contoh: kepuasan kerja yang tinggi, komitmen
organisasi dan semangat kelompok). - Perilaku individu yang lebih baik (contoh: kinerja sangat baik dan rendahnya turnover).
- Memperkuat desain organisasi (contoh: dukungan rancangan kerja dan budaya
organisasi).
Identifikasi Organisasi
Identifikasi organisasi merupakan persepsi tentang keutuhan dan kesertaan pada
organisasi, sebagai contoh ketika seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan organisasi,
konsep dirinya tidak hanya terlibat pada identitas diri melainkan juga pada identitas organisasi
(Li dkk., 2015). Identifikasi organisasi terjadi ketika karyawan merasakan kesatuan dengan
organisasi dan merasa bahwa karyawan secara individu mampu dan memenuhi keinginan
organisasi. Identifikasi organisasi didefinisikan sebagai hubungan psikologis antara individu
dan organisasi di mana individu merasakan definisi diri yang mendalam ikatan afektif dan
kognitif dengan organisasi sebagai entitas sosial (Edwards dan Peccei, 2007 dalam Cinar,
2019). Menurut Jones dan Volpe (2011) dalam Ismail dkk. (2016), identifikasi organisasi
adalah ketika karyawan merasa mereka adalah bagian penting dari organisasi, dan mengalami
“kesatuan” dengan perusahaan mereka.
Identifikasi organisasi merupakan kondisi penting untuk efisiensi organisasi, hal ini
mengacu pada identifikasi karyawan sebagai bagian dari organisasi untuk mengidentifikasi
dengan organisasi itu sendiri (Kaifi dkk., 2013) . Studi telah menunjukkan bahwa identifikasi
organisasi memainkan peran positif dalam meningkatkan kinerja (Ang et al., 2013; Bobbio &
Manganelli, 2015; Tummers, Groeneveld, & Lankhar, 2013). Menurut Galvin dkk. (2015),
mendefinisikan identifikasi organisasi di tingkat eksekutif sebagai “sejauh mana identitas para
eksekutif itu sendiri dan persepsinya” apakah organisasi tersebut terikat bersama atau tumpang
tindih. Identifikasi organisasi mengarah pada keselarasan tujuan untuk menjadi organisasi yang
lebih efektif
Dimensi Promosi Penjualan
Menurut Laksana (2019 : 144 – 146) dalam mempergunakan alat – alat
promosi penjualan, harus memperhitungkan jenis pasar, tujuan pasar, keadaan pesaing
dan efektivitas biaya untuk setiap alat. Berikut ini merupakan alat alat promosi
penjualan yaitu:
1) Contoh (sample)
Merupakan tawaran produk gratis atau percobaan gratis kepada konsumen dan
diharapkan mereka menyukai produk tersebut sehingga melakukan pembelian
ulang.
2) Kupon (coupon)
Semacam sertifikat yang memberikan hak kepada pemegannya, sehingga bisa
menghemat pembelian produk tertentu.
3) Kemasan harga khusus/ paket harga
Potongan harga lebih rendah daripada harga biasa kepada konsumen yang
diterapkan pada label atau bungkus.
4) Premi
Barang dagangan yang ditawarkan dengan harga sangat rendah atau bahkan gratis
sebagai suatu insentif bila orang membeli produk tertentu. 5) Trading Stamp and stiker dagang
Merupakan jenis premi khusus yang diterima konsumen yang membeli produk,
kemudian merek bisa menebus barang produk tersebut di pusat penebusan stiker
dagang.
6) Demonstrasi
Pertunjukan yang dilakukan untuk membutikan kekuatan atau cara penggunaan
produk.
7) Tawaran uang kembali (money- refund offers)
Pengembalian uang kepada konsumen apabila terjadi ketidaksesuaian anatara
produk dengan harga atau terjadi kerusakan produk yang dibeli, berdasarkan
perjanjian.
8) Promosi Dagang
Menawarkan tunjangan pembelian, yakni penawaran potongan harga pada setiap
pembelian selama jangka tertentu.
9) Pemajangan di tempat pembelian
Pemajangan pproduk di tempat pembelian untuk menarik pembeli.
10) Pameran Dagang
Mengikuti event pameran untuk memperkenalkan barang dagangan sekaligus
menarik calon pembeli agar melakukan pembelian.
11) Kontes
Mengundang konsumen untuk mengumpulkan sesuatu.
12) Undian
Mengajak para konsumen untuk mengumpulkan nama mereka untuk diundi.
13) Permainan
Memberikan sesuatu kepada konsumen setiap kali mereka membeli nomor bingo,
huruf yang hilang yang mungkin bisa membantu konsumen untuk memenangkan
hadiah.Penawaran peluang untuk memenangkan uang tunai, perjalanan, atau
barang sebagai hasil pembelian sesuatu.
Konsep dan pengertian Promosi Penjualan
Menurut Laksana (2019 : 129) promosi adalah suatu komunikasi dari penjual
dan pembeli yang berasal dari informasi yang , serta bertujuan untuk merubah sikap
dan tingkah laku pembeli yang tadinya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga
menjadi pembeli dan tetap mengingat produk tersebut. Menurut Kotler & Keller (2014
: 510) menyatakan bahwa promosi adalah berbagai cara untuk menginformasikan,
membujuk, dan meningkatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung
tentang suatu produk atau brand yang dijual. Dan yang dimaksud komunikasi
pemasaran adalah aktivitas pemasaran yangberusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi dan mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar
bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk atau jasa yang ditawarkan
perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012 : 448) setiap alat promosi memiliki
karakteristik yang unik, sehingga pemasar harus memahami terlebih dahulu
karakteristik bauran promosi yang tediri dari advertising, personal selling, sales
promotion, public relation. Berikut ini adalah penjelasan mengenai bauran pemasaran
(promotional mix) :
1) Periklanan (Advertising) adalah segala bentuk penyajian non personal dan
promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu. Berdasarkan pengertian
ini maka iklan tidak hanya mencakup perusahaan bisnis tetapi juga organisasi amal,
dan lembaga pemerintah yang beriklan ke berbagai target pasar. Dengan kata lain
iklan yang efektif harus dapat menjangkau pembeli yang tersebar secara geografis.
2) Penjualan Pribadi (Personal Selling) merupakan suatu bentuk interaksi langsung
dengan satu calon pembeli atau lebih untuk melakukanpersentasi, menjawab
pertanyaan, dan menerima pesan dari pembelimaupun calon pembeli. Penjualan
personal mempunyai peranan yangpenting dalam pemasaran jasa, karena memiliki
kekuatan unik yaituwiraniaga dapat mengumpulkan pengetahuan tantang
konsumen danmendapatkan umpan balik dari konsumen.
3) Promosi Penjualan (Sales Promotion) adalah berbagai jenis intensif jangka
pendek untuk mendorong orang mencoba dan melakukan pembelian produk atau
jasa yang kita tawarkan. Jadi promosi penjualan bertujuan untuk mempercepat
calon konsumen untuk mencoba dan melakukan pembelian atas produk atau jasa
yang ditawarkan.
4) Publisitas / Hubungan Masyarakat (Public Relations) merupakan ruang editorial
yang terdapat di semua media yang dibaca, dilihat atau didengar untuk membantu
mencapai tujuan – tujuan penjualan. merupakan stimulasi nonpersonal terhadap
permintaan barang, jasa, ide, dan sebagainya dengan berita komersial yang berarti
dalam media masa dan tidak dibayar untuk mempromosikan dan melindungi citra
perusahaan atau masing – masing produknya.
Menurut Gitosudarmo dalam Sunyoto (2014:160) promosi penjualan adalah
kegiatan perusahaan untuk menjajakan produk yang dipasarkan sedemikian rupa
sehingga konsumen akan mudah melihatnya dan bahkan dengan cara penempatan dan
pengaturan tertentu maka produk tersebut akan menarik perhatian konsumen. Menurut
Kotler dan Keller dalam Priansa (2017: 122) menyatakan bahwa promosi penjualan
adalah kumpulan kiat intensif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, yang
dirancang untuk mendorong pembelian produk dan jasa tertentu secara lebih cepat
dan atu lebih besar oleh pedagang ataupun pelanggan
Metode Pengukran Kualitas Layanan
Menurut Brady dan Cronin dalam Laksana (2019 : 88) kualitas layanan dapat
dipahami melalui tiga pedekatan “Our model suggest that each of the primary
dimensions of service quality (interaction quality, physical environment quality) has
three sub dimesions”. Ditemukannya tiga dimensi yang dapat digunakan untuk
mengukur kualitas layanan yaitu :
1) Kemampuan pegawai (interaction quality)
Kualitas layanan yang melibatkan hubungan pelayanan diantara pekerja yang
memberikan pelayanan. Pelayanan sangat tergantung dari dari kemampuan
pegawai dalam memberikan pelayanan, hal ini membrikan gambaran bahwa
kualitas layanan meliputi kemampuan pegawai yang memberikan pelayanan
kepada konsumen. Huungan internal antara pegawai dengan konsumen akan
memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap persepsi kualitas pelayanan,
pendapat ini sangat jelas sekali menunjukan kepada kita bahwa imensi dari
kemampuan pegawai sangat mempengaruhi terhadap persepsi konsumen dalam
menilai kualitas layanan.
2) Kualitas lingkungan fisik (physical environment quality)
Lingkungan fisik dari tempat pekerjaan yang harus selalu diperhatikan, karena akan
sangat berpengaruh terhadap kualitas layanan secara keseluruhan. Setiap pekerjaan
akan selau mempertimbangkan lingkungan fisik yang menjadi tempat
pekerjaannya, dan menjadi penilaian konsumen terhadap pelayanan. Oleh karena
itu kualitas pelayanan lingkungan menjadi pertimbangan dalam menilai kualitas
layanan secara keseluruhan.
3) Kualitas hasil pelayanan (outcome quality)
Hasil dari suatu pelayanan merupakan suatu faktor penentu dalam menilai kualitas
layanan. Kualitas dari hasil pelayanan berpengaruh langsug terhadap persepsi
konsumen dalam menilai kualitas layanan. Kualitas layanan selalu terfokus pada
pelanggan. Produk dibuat atau dihasilkan untuk memenuhi keinginan pelanggan
sehigga suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila sesuai dengan keinginan
pelanggan.
Manfaat Kualitas Layanan
Menurut Tjiptono dan Chandra (2016 : 121 ) secara ringkas manfaat kualitas
superior meliputi:
1) Loyalitas pelanggan lebih besar.
2) Pangsa pasar lebih besar.
3) Harga saham lebih tinggi.
4) Harga jual produk/ jasa lebih tinggi.
5) Produktivitas lebih besar
Karakteristik Kualitas Layanan
Karakteristik Kualitas Layanan Menurut Tjiptono (2012:28) layanan
memiliki empat karakteristik utama yaitu:
1) Tidak Berwujud (Intangibility)
Layanan berbeda secara signifikan dengan barang fisik. Bila barang merupakan
suatu objek, alat, material atau benda yang bisa dilihat, disentuh dan dirasa dengan
panca indera, maka jasa/ layanan justru merupakan perbuatan, tindakan,
pengalaman, proses, kinerja (performance), atau usaha yang sifatnya abstrak. Bila
barang dapat dimiliki, maka jasa/ layanan cenderung hanya dapat dikonsumsi tetapi
tidak dapat dimiliki (non-ownership). Seorang konsumen layanan tidak dapat
menilai hasil dari sebuah layanan sebelum ia mengalami atau mengkonsumsinya
sendiri.
2) Bervariasi (Heterogeneity)
Layanan bersifat varibel atau heterogen karena merupakan monstandardized ouput,
artinya bentuk, kualitas dan jenisnya sangat beraneka ragam, tergantung pada siapa,
kapan, dan di mana layanan tersebut dihasilkan. Terdapat tiga faktor yang
menyebabkan varibilitas kualitas layanan yaitu:
a) Kerja sama atau partisipasi pelanggan selama penyampaian layanan.
b) Moral/ motivasi karyawan dalam melayani pelanggan.
c) Beban kerja perusahaan.
3) Tidak Terpisahkan (Inseprability)
Barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, baru dikonsumsi.
Sedangkan layanan umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan
dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. Interaksi antara penyedia layanan
dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran layanan bersangkutan.
Keduanya mempengaruhi hasil (outcome) dari layanan bersangkutan. Dalam
hubungan antara penyedia layanan dan pelanggan ini, efektivitas staff layanan
merupakan unsur kritis. Implikasinya, sukses tidaknya layanan bersangkutan
ditunjang oleh kemampuan organisasi dalam melakukan proses rekrutmen dan
seleksi, penilaian kinerja, sistem kompensasi, pelatihan, dan pengembangan
karyawanya secara efektif.
4) Tidak tahan lama (Perishability)
Perishability berarti bahwa layanan adalah komoditas yang tidak tahan lama, tidak
dapat disimpan untuk pemakaian ulang di waktu yang akan datang, dijual kembali,
atau dikembalikan. Permintaan layanan juga bersifat fluktuasi dan berubah,
dampaknya perusahaan jasa/ layanan seringkali mengalami masalah sulit. Oleh
karena itu perusahaan jasa/layanan merancang strategi agar lebih baik dalam
menjalankan usahanya dengan menyesuaikan pemintaan dan penawaran
Dimensi Kualitas Layanan
Menurut Kotler & Keller (2016:442), menentukan bahwa ada 5 penentu mutu
jasa. Kelimanya disajikan secara berurut berdasarkan tingkat kepentingannya,
diantaranya :
1) Reliability (keandalan) adalah konsistensi dari penampilan dan kehandalan
pelayanan yaitu kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan.
2) Responsiveness (daya tanggap) yaitu kesigapan dan kecepatan penyedia jasa
dalam menyelesaikan masalah dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
3) Assurance (jaminan) yaitu kemampuan dan keterampilan petugas, keramahan
petugas, kepercayaan dan keamanan.
4) Empahty (empati) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi
yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan.
5) Tangibles (bukti fisik), berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan,
dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.
Loyalitas Pelanggan
Loyalitas pelanggan merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai
perusahaan. Pelanggan yang loyal tentunya sangat memberikan keuntungan bagi
perusahaan. Loyalitas pelanggan menunjukkan kepuasan pelanggan terhadap suatu
produk. Loyalitas pelanggan sangat berarti untuk menjaga keberlangsungan
kegiatan usaha yang dijalankan. Loyalitas pelanggan atau kesetiaan berbicara
mengenai kepuasan pelanggan pada suatu produk atau jasa, sehingga membuat
pelanggan menjadi antusias atau memiliki keinginan untuk mengenalkan produk
atau jasa tersebut kepada orang lain. Loyalitas pelanggan merupakan respon yang
diberikan oleh pelanggan untuk tetap melakukan pembelian secara terus menerus
atau berulang pada suatu produk/jasa yang sama (Fleming, 2016). Loyalitas ini
dihasilkan dari kepuasan yang didasarkan pada aspek-aspek yang bisa dirasakan
oleh pelanggan.
Shaw dan Hamilton (2015) juga menjelaskan mengenai loyalitas pelanggan
yang merupakan respon positif yang diberikan pelanggan terhadap perusahaan
dengan konsisten. Menurut Griffin (2016) adalah”A loyal customer is one who
makes regular repeat purchases, purchase across product lines, refers others and
demonstrates on immunity to the pull of the competition”. Loyalitas pelanggan
digambarkan dengan ciri-ciri seperti melakukan pembelian pada suatu produk atau
jasa secara terus menerus pada badan usaha yang sama
Kepuasan Pelanggan
Menurut Fandy (2022) mendefinisikan kualitas pelayanan atau kualitas jasa
sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai
dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman dalam Arni
Purwani (2021) menyebutkan bahwa kualitas pelayanan adalah perbandingan
antara layanan yang dirasakan (persepsi) pelanggan dengan Kualitas pelayanan
yang diharapkan pelanggan.
Kepuasan pelanggan juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan
oleh perusahaan karena kepuasan pelanggan akan menentukan perkembangan
perusahaan selanjutnya. Secara umum kepuasan pelanggan merupakan perasaaan
yang dirasakan baik itu rasa puas ataupun kecewa dari membandingkan kinerja
produk atau jasa tersebut dengan ekspektasi pelanggan sebelum menggunakan
suatu produk atau jasa.
Jika produk atau jasa yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan
pelanggan maka pelanggan tersebut akan kecewa namun, jika performa barang atau
jasa tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan maka pelanggan akan merasa puas.
Kepuasan pelanggan menjadi konsep dasar pada praktik pemasaran masa kini.
Kepuasan pelanggan merupakan hal yang sangat penting untuk menentukan
keberhasilan suatu perusahaan atau organisasi pemasaran, baik itu nirlaba maupun
organisasi bisnis (Tjiptono et al., 2015).
Kepuasan pelanggan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang
yang timbul karena adanya perbandingan kinerja yang diorientasikan pada produk
(atau hasil) terhadap ekspektasi pelanggan (Kotler et al., 2016). Hal tersebut
merupakan indikator bahwa pelanggan merasa puas terhadap produk atau jasa yang
sudah digunakan. Kepuasan pelanggan muncul dari penilaian yang diberikan
pelanggan terhadap manfaat yang diperoleh setelah menggunakan suatu produk
atau jasa. Tjiptono et al., (2015) juga menjelaskan mengenai kepuasan atau
ketidakpuasan yang menunjukkan tanggapan yang pelanggan berikan setelah
membandingkan ekspetasi sebelum melakukan pembelian dengan kinerja aktual
yang diterima pelanggan setelah menggunakan suatu produk/jasa.
Kepuasan pelanggan merupakan salah satu faktor yang membuat pelanggan
memutuskan untuk berbelanja pada suatu tempat. Dari pendapat para ahli di atas
dapat disimpulkan kepuasan pelanggan merupakan hasil yang diperoleh pelanggan
atau tingkat kepuasan pelanggan setelah membandingkan kinerja dengan harapan
yang diharapkan pelanggan. Jika hasil kinerja sesuai dengan harapan yang
diinginkan pelanggan maka pelanggan akan merasa puas, sedangkan hasil kinerja
dibawah harapan yang diinginkan pelanggan maka pelanggan akan merasa kecewa.
Kepuasan pelanggan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, dan tingkat
kepuasan pelanggan yang makin tinggi akan menghasilkan loyalitas pelanggan
yang lebih besar.
Kualitas Pelayanan
Manengal (2021) menyatakan bahwa kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia,
serta proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat
melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan. Dzikra (2020) juga menyatakan
bahwa kualitas pelayanan adalah suatu sistem yang strategis melibatkan seluruh
satuan kerja atau satuan organisasi dari mulai pimpinan sampai pegawai sehingga
memenuhi kebutuhan yang diharapkan oleh konsumen, kemudian Putri (2020)
menyatakan bahwa kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diberikan kepada
pelanggan sesuai dengan standar pelayanan yang telah dibakukan sebagai pedoman
dalam memberikan layanan.
Kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan akan mempengaruhi
kepuasaan konsumen dan akan berdampak juga pada loyalitas pelanggan. Goetsch
dan David (2017) berpendapat kualitas pelayanan merupakan suatu keadaan yang
dinamis yang berhubungan dengan produk atau jasa, manusia dan proses
lingkungan yang memenuhi ataupun melebihi harapan pelanggan. Suryani (2017)
juga berpendapat mengenai Kualitas pelayanan merupakan suatu kemampuan yang
dimiliki suatu perusahaan dalam membuat atau memberikan manfaat dalam produk
atau jasa yang sesuai dengan keinginan atau harapan pelanggan.
Kualitas pelayanan menggambarkan suatu tingkatan keunggulan yang
diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi
keinginan pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan tindakan yang dilakukan oleh
suatu perusahaan yang tidak berwujud namun pelanggan dapat merasakannya.
Salah satu penentu keberhasilan perusahaan bisa dilihat dari kualitas pelayanan
yang ditawarkan kepada setiap pelanggan. Jika perusahaan mampu memberikan
kualitas pelayanan sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan, pelanggan
tersebut akan merasa puas. Kualitas pelayanan menjadi salah satu hal yang
dipertimbangkan pelanggan jika ingin melakukan pembelian pada suatu
produk/jasa.
Menurut Putri dan Utomo (2017) kualitas pelayanan merupakan salah satu
alat untuk mengetahui suatu barang/jasa sudah memiliki nilai fungsi seperti yang
diinginkan atau dalam artian lain barang atau jasa berfungsi sesuai dengan harapan
pelanggan. Kualitas pelayanan juga dapat menjadi pengukur untuk menilai kualitas
dari suatu barang atau jasa. Secara umum kualitas pelayanan dilakukan dengan
memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin oleh penyedia layanan yang
bertujuan untuk memenuhi segala kebutuhan atau keinginan pelanggan.
Untuk mengetahui peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan maka
perusahaan harus selalu melakukan penelitian atau perhitungan dan analisis
terhadap kepuasan pelanggan akan pelayanan yang diberikan secara berkala atau
setiap periode waktu tertentu (Aria dan Amalia, 2017). Kualitas pelayanan
menunjukkan seberapa besar perbedaan apa yang diharapkan dengan pelayanan
sebenarnya yang didapatkan pelanggan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh
12
perusahaan yaitu kualitas pelayanan karena dengan memaksimalkan kualitas
pelayanan dapat membuat pelanggan tetap bertahan. Servqual adalah model yang
dikemukakan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) dalam Sinollah &
Masruro (2019). Penelitian tersebut menyatakan ada 5 dimensi yang dapat
digunakan untuk menilai kualitas layanan,yaitu:
a. Reliability (keandalan) menggambarkan suatu instansi/perusahaan yang bisa
diandalkan untuk memberikan layanan sesuai dengan yang sudah dijanjikan
dari masa ke masa.
b. Tangible (berwujud) berhubungan dengan apa yang diberikan oleh
perusahaan/ penyedia layanan seperti situs web, fasilitas fisik, penyampaian
komunikasi serta peralatan kerja.
c. Responsiveness (ketanggapan) merupakan keterampilan yang ada di dalam
diri karyawan dalam suatu perusahaan/instansi yang bertujuan untuk
membantu setiap pelanggan yang membutuhkan dengan cepat.
d. Assurance (jaminan dan kepastian) berhubungan dengan karyawan yang
mempunyai kemampuan dan pengetahuan (knowledge) untuk menyediakan
pelayanan, kompeten,sopan dan yang pasti dapat dipercaya oleh setiap
pelanggan.
e. Empathy (empati) merupakan kemampuan yang dimiliki karyawan pada suatu
perusahaan untuk memberikan layanan yang baik serta penuh dengan
perhatian kepada seriap pelanggan
Kepuasaan Pasien
Menurut Tjiptono (2012), kepuasan pelanggan merupakan respon
pelanggan terhadap evaluasi persepsi atas perbedaan antara harapan awal sebelum
pembelian (atau standar kinerja lainnya) dan kinerja actual produk sebagaimana
dipersepsikan setelah memakai atau mengkonsumsi produk bersangkutan.
Hartono (2010) menyatakan bahwa kepuasan merupakan perpaduan
(fungsi) antara harapan dan persepsi terhadap tindakan atau hasil tindakan.
Di bidang pelayanan medis, Kim et al. (2008) mengadopsi konsep kepuasan
pelanggan dan mendefinisikan kepuasan pasien sebagai anggapan atas nilai yang
dirasakan dan respon terhadap layanan terkait stimulus sebelumnya, selama atau
setelah konsumsi pelayanan medis oleh pasien.
Kepuasan pasien berkaitan dengan sejauh mana harapan pasien dipenuhi
oleh layanan medis dan merupakan indikator penting bagi industri jasa medis. Pada
rumah sakit atau penyedia jasa kesehatan, pasien yang puas merupakan hal yang
penting karena mereka lebih mungkin untuk tetap menggunakan layanan medis,
mengikuti rencana pengobatan yang diresepkan, memelihara hubungan dengan
penyedia layanan kesehatan tertentu, dan merekomendasikan rumah sakit untuk
orang lain. Dengan kata lain, kepuasan pasien meruapakan faktor dalam pengaturan
rumah sakit atau penyedia jasa kesehatan. (Dewi, 2013)
Loyalitas Pasien
Menurut Lovelock (2011), loyalitas adalah kesediaan pelanggan untuk terus
berlangganan pada sebuah perusahaan dalam jangka panjang, dengan membeli dan
menggunakan barang dan jasanya secara berulang-ulang dan lebih baik lagi secara
eksklusif, dan dengan sukarela merekomendasikan kepada pihak lain.
Loyalitas pasien sangat menentukan apakah seorang pasien akan kembali
atau tidak dan apakah mereka akan merekomendasikan rumah sakit kepada orang
lain untuk memakainya atau tidak.
Loyalitas pasien mungkin lebih tepat dilihat sebagai niat perilaku. Oleh
karena itu, loyalitas pasien dipandang sebagai asset kompetitif untuk rumah sakit.
(Dewi, 2013)
Loyalitas pasien dapat ditimbulkan dari pelayanan kesehatan yang
berkualitas. Keuntungan loyalitas bersifat jangka panjang dan kumulatif, yaitu
meningkatnya loyalitas pasien dapat menyebabkan sumber pendapatan atau
keuntungan yang lebih meningkat. Hal tersebut terjadi karena pasien yang loyal
bersedia untuk menyarankan produk atau jasa tersebut kepada orang lain, misalnya
teman, saudara, anggota keluarga, dan kolega mereka.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Baik atau buruk suatu kualitas pelayanan ada pada dimensi yang menjadi
tolak ukur suatu kualitas pelayanan.
Berdasarkan hasil penelitian Gunawan (2011) mengenai kualitas pelayanan
dan loyalitas pasien di rumah sakit menyimpulkan kualitas pelayanan yang terdiri
dari Tangibles (bukti fisik), Reliability (kehandalan), Responsiveness (daya
tanggap), Assurance (jaminan), dan Emphaty (empati) berpengaruh secara parsial
terhadap loyalitas pasien.
Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1990) dalam Muninjaya
(2011), terdapat lima dimensi untuk mengukur kualitas pelayanan yang dikenal
dengan nama SERVQUAL. Kelima dimensi tersebut meliputi :
a. Bukti Fisik (tangible)
Mutu kualitas pelayanan kesehatan juga dapat dirasakan secara langsung
oleh para penggunanya dengan menyediakan fasilitas fisik dan
perlengkapan yang memadai. Misalnya ruang penerimaan pasien yang
bersih dan nyaman dilengkapi dengan kursi, lantai yang bekeramik, dan TV.
Selain itu adanya peralatan pelayanan kesehatan yang memadai, serta
seragam staf/petugas kesehatan yang rapi dan bersih.
b. Kehandalan (reliability)
Kemampuan untuk memberikan pelayanan jasa sesuai dengan yang
dijanjikan secara akurat dna tepat waktu. Contoh jika suatu pelayanan jasa
menyatakan bahwa jam buka layanan, antara jam 08.00-16.00. Pelayanan
akan dinilai reliable oleh pelanggan jika secara konsisten pelayanan jasa
tersebut tetap memberikan pelayanan sesuai dengan jam dan hari kerja yang
telah ditentukan.
c. Ketanggapan (responsiveness)
Dimensi ini dimasukkan ke dalam kemampuan petugas kesehatan dalam
menolong pasien dan mmenyediakan pelayanan yang cepat dan tepat.
d. Jaminan (assurance)
Kriteria ini berhubungan dengan pengetahuan, kesopanan, dan sifat petugas
yang dapat dipercaya oleh pelanggan. Pemenuhan terhadap kriteria
pelayanan ini akan mengakibatkan pengguna jasa merasa terbebas dari
risiko. Berdasarkan riset, dimensi ini meliputi faktor :
1) Keramahan (coutesy) meliputi kesopanan, perhatian, dan sikap
petugas pelayanan kesehatan.
2) Kompetensi (competence) meliputi keterampilan dan pengetahuan
yang dimiliki oleh petugas pelayanan kesehatan dalam melakukan
pelayanan.
3) Kredibilitas (credibility) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
kepercayaan kepada perusahaan, seperti reputasi dan prestasi.
4) Keamanan (security) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
kemampuan petugas untuk memberikan rasa aman kepada pasien.
e. Empati (emphaty)
Kesediaan penyedia pelayanan jasa untuk lebih peduli memberikan
perhatian secara pribadi kepada pelanggan. Dimensi ini merupakan
penggabungan dari aspek :
1) Akses (acces) yaitu kemudahan dalam memanfaatkan jasa yang
ditawarkan.
2) Komunikasi (communication) yaitu kemampuan melakukan
komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada konsumen atau
menerima masukan dari konsumen.
3) Pemahaman pada konsumen (understanding the customer) yaitu
usaha penyedia jasa untuk mengetahui dan memahami kebutuhan dan
keinginan konsumen
Kualitas Pelayanan Kesehatan
Kualitas pelayanan adalah kegiatan pelayanan yang diberikan oleh
penyelenggara pelayanan publik yang mampu memenuhi harapan, keinginan, dan
kebutuhan serta mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat luas.
(Retnowati, 2008)
Menurut Sampara, kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diberikan
kepada pelanggan sesuai standar pelayanan yang dibakukan sebagai pedoman
dalam memberikan layanan.
Azrul Azwar (1988:40) mendefinisikan pelayanan kesehatan adalah setiap
upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga,
kelompok dan ataupun masyarakat.
Azrul Azwar (1994:21) menyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan
adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan penampilan pelayanan kesehatan
yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan
tingkat kepuasan rata-rata penduduk, tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan
standard an kode etik profesi yang telah ditetapkan.
Tipe loyalitas
Alfian (2016:7) terdapat empat kelompok pelanggan berdasarkan kesetiaan
yaitu:
- No loyality (tidak ada kesetiaan), merupakan kelompok pelanggan yang
mempunyai frekuensi pembelian ulang dan sikap yang rendah. Sikap ini
menunjukkan bahwa perusahaan kurang berhasil dalam mengkombinasikan
produk - Sprurious loyality (kesetiaan palsu), merupakan kelompok pelanggan yang
berulang kali melakukan pembelian tetapi sikap terhadap produk relative
rendah. Hal ini terjadi karena faktor situasional pasar yang memaksa konsumen
untuk melakukan pembelian ulang. - Latent loyality (kesetiaan laten), merupakan kelompok pelanggan yang
memiliki laten. Kelompok ini lebih banyak terjadi karena pengaruh dari
lingkungan pasar dimana norma-norma dan situasi sosial bekurang mendukung
pelanggan untuk melakukan pembelian ulang - Loyality (setia), merupakan pelanggan setia yaitu kelompok pelanggan yang
mempunyai sikap puas terhadap produk dan pembelian ulang
Tahapan loyalitas
Sugiyono (2016:152-155) menyatakan loyalitas pelanggan terbentuk hanya
dalam satu atau dua hari. Dalam menumbuhkan rasa loyalitas para pelanggan akan
melewati beberapa tahap yang tiap tahapnya memerlukan kebutuhan khusus. Pada
tahap-tahap inilah perusahaan memiliki peluang besar untuk mengubah pembeli
menjadi pelanggan yang loyal
- Suspect adalah orang yang mungkin membeli produk atau jasa perusahaan,
disebut suspect karena yakin mereka akan membeli tetapi belum mengetahui
tentang perusahaan dan produk yang ditawarkan perusahaan. - Prospect adalah orang yang membutuhkan produk dan memiliki kemampuan
membeli mereka mungkin telah mengetahui informasi tentang perusahaan dan
produk namun masih beum memutuskan untuk membeli. - First time customer adalah orang yang membeli produk untuk pertama kalinya
dan masih dapat berpaling dari produk perusahaan. - Repeat customer adalah orang yang telah membeli dari perusahaan sebanyak
dua kali atau lebih. Mereka mungkin telah menggunakan dua enis produk
berbeda apa dua waktu yang berbeda. - Client adalah orang yang telah membeli produk secara teratur. Merka alkan
membeli apapun yang perusahaan jual yang dapat dia gunakan. Client biasanya
sudah memiliki tingkat loyalitas yang tinggi sehingga mereka tidak akan
terpengaruh oleh daya tarik pesaing. - Advocate sama seperti client, mereka membeli secara teratur apa yang
perusahaan ual yang dapt mereka gunakan tapi mereka juga mendorong orang
lain untuk membeli dari perusahaan. advocate membantu promosi dan
membawa pelanggan baru ke dalam perusahaan
Dimensi loyalitas
Kotler & Keller (2012:57) menyatakan karateristik dari loyalitas pelangan
adalah:
- Repeat purchase yaitu melakukan pembelian ulang secara teratur, dan terus
menerus - Purchase a cross product line yaitu melakukan pembelian diluar produk atau
jasa yang biasa ditawarkan perusahaan - Reveralls yaitu mereferensikan kepada orang lain mengenai produk atau jasa
dari perusahaan - Retention yaitu ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai
perusahaan
Pengertian loyalitas
Kotler dan Keller (2016:422) mengemukakan bahwa : “A service is any act
or performance one party can offer to another that is essentially itangiblen and
does not result in the ownership of anything”. Pelayanan bukan hanya sekedar
untuk melayani, tetapi merupakan upaya untuk membangun suatu kerja sama
jangka panjang dengan prinsip saling mengutungkan. Tahap pelayanan merupakan
tahapan yang berinteraksi secara langsung antara perusahaan dengan konsumen
sehingga dapat menciptakan suatu pengalaman yang berkesan bagi konsumen.
Kualitas pelayanan merupakan salah satu elemen penting yang menjadi
pertimbangan bagi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk.
Manfaat kepuasan
Manfaat spesifik kepuasan pelanggan bagi perusahaan dijelaskan oleh
Zulkarnain, (2012:123) yakni:
- berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan yang berasal dari
pembelian ulang. - Menekan biaya transaksi pelanggan terutama dari efisiensi biaya komunikasi,
penjualan dan layanan pelanggan. - Meningkatkan imunitas pelanggan terhadap godaan merek lain.
- Membuka peluang perusahaan untuk menetapkan harga premium kepada
pelanggan. - Pelanggan akan menjadi lebih terbuka dengan tawaran perusahaan lini produk
atau lini merek lain
Faktor yang mempengaruhi kepuasan
Amir (2012:18-20) menyatakan beberapa faktor-faktor yang memengaruhi
kepuasan konsumen menurut beberapa ahli yaitu:
- Pelayanan
Pelayanan adalah kunci keberhasilan dalam berbagai usaha pada kegiatan
yang sifatnya jasa. Tingkat pelayanan merupakan suatu tingkat yang
ditunjukkan oleh perusahaan atau instansi dalam menangangi orang-orang yang
memerlukan pelayanan tersebut. Konsep orientasi pelayanan lebih menekankan
pada aspek praktik, kebijakan dan prosedur layanan pada sebuah organisasi,
sehingga berdampak pada kepuasan konsumen. - Kualitas Produk
Kualitas produk menjadi salah satu yang penting, dikarenakan kualitas
produk sebagai representasi terhadap kualitas perusahaan penghasil produk
tersebut. Kualitas produk yang dirasakan konsumen akan menentukan persepsi
konsumen terhadap kinerja, yang pada gilirannya akan berdampak pada
kepuasan pelanggan. Adanya perhatian pada kualitas akan memberikan dampak
positif kepada perusahaan melalui peningkatan penjualan atas produk
berkualitas yang berharga kompetitif. - Harga
Harga menjadi suatu hal yang penting, dikarenakan harga yang ditawarkan
suatu perusahaan pada konsumen sebagai sebuah tolak ukur pada kualitas
produk yang dibeli. Bila harga tidak sesuai dengan kualitas produk maka
konsumen tidak akan membeli dan mempergunakan produk tersebut. Harga
mempunyai pengaruh langsung terhadap permintaan produk di pasar. Hal itu
disebabkan karena pada dasarnya harga merupakan sesuatu yang ditawarkan
perusahaan kepada konsumen atau pembeli institusional. - Promosi
Daryanto (2011:94) menyatakan promosi adalah arus informasi atau persuasi
satu arah yang dapat mengarahkan organisasi atau seseorang untuk
menciptakan transaksi antara pembeli dan penjual
Elemen kepuasan
Priansa (2017:210) menyatakan lima elemen yang menyangkut kepuasan
konsumen adalah sebagai berikut :
- Harapan (expectations) merupakan sebelum membeli barang atau jasa,
konsumen dengan sendirinya muncul harapan terhadap barang atau jasa
tersebut, disaat proses pembelian dilakukan konsumen berharap apa yang
diterima sesuai atau melebihi harapannya, dengan demikian konsumen akan
puas. - Kinerja (performance) Pengalaman konsumen tehadap kinerja nyata barang
atau jasa saat digunakan tidak dipengaruhi oleh harapan mereka. Ketika kinerja
nyata berhasil maka konsumen akan puas. - Perbandingan (camparison) Hal ini dilakukan dengan mebandingkan harapan
kinerja barang atau jasa sebelum mebeli dengan persepsi kinerja nyata barang
atau jasa tercsebut. - Pengalaman (experience) yaitu pengalaman mereka terhadap penggunaan
merek barang atau jasa yang berbeda dari orang lain mempengaruhi harapan
konsumen. - Konfirmasi (comfirmation) dan tidak dikonfirmasi (disconfirmation)
confirmation atau terkonfirmasi akan terjadi apabila harapan sesuai kinera
nyata, sebaliknya disconfirmation atau tidak terkonfirmasi terjadi ketika
harapan lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja nyata
