Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Beli


Minat beli pada dasarnya adalah suatu pembelian secara subyektif dalam
diri setiap individu terhadap suatu hal yang berhubungan langsung dengan
transaksi ekonomi (Priansa, 2017). Menurut Pratama et al. (2021), terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen antara lain:

  1. Faktor kualitas merupakan bagian dari produk yang dipertimbangkan pada segi
    manfaat fisiknya.
  2. Faktor merek merupakan bagian yang memberikan manfaat pada kepuasan
    emosional konsumen.
  3. Faktor kemasan merupakan bagian produk yang dipertimbangkan pada sisi
    pembungkus produknya.
  4. Faktor harga merupakan pengorbanan biaya yang dikeluarkan konsumenuntuk
    mendapatkan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.
  5. Faktor ketersediaan barang merupakan sikap konsumen terhadap ketersediaan
    barang.
  6. Faktor acuan merupakan pengaruh dari luar perusahaan yang dapat
    mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk atau jasa yang
    ditawarkan

Pengertian Minat Beli


Menurut Rahima (2018), minat beli konsumen pada dasarnya merupakan
faktor pendorong dalam pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk.
Murwaningtyas et al. (2020) juga berpendapat bahwa minat beli merupakan sikap
positif yang dimiliki konsumen terhadap suatu produk atau merek, yang akan
menimbulkan pembelian terhadap produk atau merek tersebut.
Proses minat beli konsumen tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Semakin
banyak testimoni positif diduga akan menyebabkan semakin besar minat beli
konsumen. Terbukti dari suatu hasil penelitian bahwa semakin banyak dan
terpercaya testimoni yang ada, semakin tinggi juga minat beli konsumen (Dhaefina
et al., 2021). Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran
yang membentuk suatu persepsi (Iwan dan Nainggolan, 2017). Menurut Dharma
dan Iskandar (2017), minat beli merupakan rasa ketertarikan konsumen yang timbul
pada suatu produk untuk membeli dan memiliki produk tersebut setelah menerima
rangsangan baik dari produk itu sendiri maupun rangsangan yang berasal dari dalam
diri konsumen itu sendiri. Indikator dari minat beli adalah perhatian (attention),
tertarik (interest), hasrat (desire), dan tindakan (action) (Recha dan Sari, 2018)

Bauran Pemasaran


Dalam merencanakan dan melaksanakan strategi pemasaran, maka
diperlukan taktik yang disebut dengan bauran pemasaran (Aji, 2019). Menurut
Swastha (2014), bauran pemasaran adalah kombinasi dari berbagai kegiatan
pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memasarkan produknya selama
periode waktu tertentu dan pasar tertentu. Terdapat empat variable dalam bauran
pemasaran yang dapat digunakan perusahaan untuk menarik minat beli
konsumennya antara lain product, price, place, dan promotion.

  1. Product
    Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen untuk
    memenuhi kebutuhannya (Kurniawan, 2018). Selain itu, produk adalah sesuatu
    yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, dan
    dikonsumsi sehingga memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
    (Firmansyah, 2018).
    Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala sesuatu
    yang ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dipakai, dimiliki, dan dikonsumsi
    sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
  2. Price
    Harga adalah total nilai yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan
    manfaat dari produk atau jasa (Aji, 2019). Pendapat lain mengemukakan, harga
    adalah jumlah nilai yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan manfaat
    dari produk yang dimiliki atau digunakan (Setiyaningrum, 2015).
    Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, produk adalah total atau jumlah nilai
    yang diberikan oleh konsumen untuk mendapatkan manfaat dari produk yang di
    telah digunakan atau dimiliki.
  3. Place
    Menurut Kurniawan (2018) place adalah tempat atau saluran distribusi yang
    digunakan oleh perusahaan untuk menjangkau konsumennya. Sedangkan
    menurut Aji (2019), saluran distribusi adalah rangkaian organisasi independent
    yang saling terkoneksi agar produk dapat dimiliki atau digunakan oleh
    konsumen atau pengguna bisnis.

Langkah-langkah Strategi Pemasaran


Dalam melakukan strategi pemasaran diperlukan langkah-langkah dalam
mendukung kesuksesan strategi pemasaran untuk mencapai tujuan. Adapun
langkah-langkah strategi pemasaran menurut Kotler dan Keller (2018) yaitu:

  1. Segmentasi pasar
    Seorang pemasar tidak dapat memuaskan semua orang dalam satu pasar.
    Karenanya, pemasar memulai membagi-bagi pasar kedalam beberapa kelompok
    lalu mengidentifikasi dan membuat profil dari kelompok-kelompok pembeli
    yang berbeda menurut demografis, psikografis, dan perilaku. Menurut Huda
    (2017) segmentasi pasar dapat dijelaskan sebagai berikut:
    a. Segmentasi geografik, yaitu membagi pasar menjadi beberapa unit secara
    geografik seperti negara, regional, negara bagian, kota atau kompleks
    perumahan.
    b. Segmentasi demografik, yaitu membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan
    pada variabel seperti umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur kehidupan
    keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan.
    c. Segmentasi psikografis, yaitu mengelompokkan konsumen atau pembeli
    menjadi bagian pasar menurut variabel-variabel pola atau gaya hidup (life
    style) dan kepribadian (personality).
    d. Segmentasi tingkah laku, yaitu mengelompokkan pembeli pada pengetahuan,
    sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Setelah di
    identifikasi segmen pasar yang dapat memberikan peluang tinggi maka
    pemasar atau perusahaan menetapkan segmen tersebut sebagai pasar sasaran
    (target pasar).
  2. Penetapan target pasar
    Setelah mengidentifikasi segmen pasar yang memberikan peluang besar maka
    pemasar menentukan segmen tersebut sebagai pasar sasaran.
  3. Positioning
    Langkah yang terakhir yaitu perusahaan atau pemasar harus melakukan
    penawaran terhadap produknya agar mendapat posisi tersendiri di benak
    konsumen dan memudahkan konsumen untuk membedakan dengan produk
    pesaing

Pengertian Strategi Pemasaran


Strategi pemasaran adalah salah satu cara memenangkan keunggulan
bersaing yang berkesinambungan baik itu untuk perusahaan yang memproduksi
barang atau jasa. Strategi pemasaran dapat dipandang sebagai salah satu dasar yang
dipakai dalam menyusun perencanaan perusahaan secara menyeluruh. Alasan lain
yang menunjukkan pentingnya strategi pemasaran adalah semakin kerasnya
persaingan yang dihadapi oleh perusahaan pada umumnya. Dalam situasi yang
demikian, tidak ada lagi pilihan lain bagi perusahaan kecuali berusaha untuk
menghadapinya atau sama sekali keluar dari arena persaingan (Arifien et al., 2019).
Strategi pemasaran adalah kegiatan melalui perencanaan, penentuan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan dan
memenuhi kebutuhan pembeli. Strategi pemasaran dapat dipahami dengan berbagai
cara untuk meyakinkan dan mendapatkan kepercayaan pelanggan pasar. Adapun
strategi tersebut berupa kualitas produk yang ditawarkan, promosi yang memikat,
rasayang tetap terjaga, lokasi yang strategis, dan harga yang bersaing (Ariwibowo,
2019).
Menurut Atmoko (2018), strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan
sasaran, kebijakan serta aturan yang mengarah pada usaha pemasaran perusahaan
dari waktu ke waktu pada masing-masing tingkatan, acuan, serta alokasinya,
terutama sebagai response perusahaan terhadap perubahan lingkungan dan keadaan

Konsep Pemasaran


Konsep pemasaran beranggapan bahwa kunci untuk mencapai tujuan
perusahaan terdiri dari penentuan kebutuhan, keinginan pasar sasaran, serta
memberikan kepuasan kepada konsumen yang diharapkan bisa lebih efektif dan
efisien dibandingkan para pesaing. Tujuan akhir dari konsep pemasaran adalah
membantu tercapainya tujuan dari organisasi. Beberapa konsep pemasaran menurut
Huda (2017), yaitu:

  1. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan.
    Kebutuhan adalah syarat hidup dasar manusia. Kebutuhan akan menjadi
    keinginan ketika diarahkan ke objek tertentu. Permintaan adalah keinginan akan
    produk-produk tertentu yang didukung oleh kemampuan untuk membayar.
  2. Pasar sasaran, positioning, dan segmentasi.
    Target dari barang atau jasa yang akan dihasilkan harus jelas sasarannya.
    Pemilihan kelompok pasar yang sudah dibagi untuk dilayani perusahaan.
  3. Penawaran dan merek
    Penawaran pada hakikatnya memberikan penjelasan terkait dengan produk atau
    jasa yang dijual. Pada hakikatnya merek dapat menjadi dasar konsumen dalam
    memutuskan untuk membeli barang atau jasa.
  4. Nilai dan kepuasan
    Nilai mencerminkan sejumlah manfaat baik yang berwujud maupun tidak
    berwujud, dan biaya yang dipersepsikan oleh pelanggan. Kepuasan
    mencerminkan penilaian seseorang tentang kinerja produk anggapannya (atau
    hasil) dalam kaitannya dengan ekspektasi.
  5. Saluran pemasaran.
    Untuk mencapai pasar sasaran, pemasar menggunakan tiga jenis saluran
    pemasaran, yaitu saluran komunikasi, saluran distribusi, dan saluran layanan.
  6. Rantai pasokan (supply chain).
    Rantai pasokan adalah saluran yang lebih panjang yang membentang dari bahan
    mentah hingga komponen sampai produk akhir dihantarkan ke pembeli akhir.
  7. Persaingan.
    Persaingan mencakup semua penawaran dan produk substitusi yang ditawarkan
    oleh pesaing baik yang aktual maupun yang potensial, yang mungkin
    dipertimbangkan oleh seorang pembeli.
  8. Lingkungan pemasaran.
    Lingkungan pemasaran terdiri dari lingkungan tugas (perusahaan, pemasok,
    distributor, dealer, dan pelanggan sasaran) dan lingkungan demografis
    (lingkungan ekonomi, fisik, teknologi, politik-hukum, dan sosial budaya).

Pengertian Manajemen Pemasaran


Pemasaran memegang peran penting dalam dunia bisnis dan berkontribusi
terhadap strategi produk, karena kesuksesan suatu produk yang ditawarkan akan
dapat diterima oleh target pasar tidak hanya ditentukan oleh harganya yang murah
dan kualitas yang ditawarkan namun juga ditentukan oleh strategi pemasaran yang
dilakukan. Dengan pemasaran, perusahaan dapat menjual atau menawarkan
produknya sesuai pasar sasaran dan memperoleh keuntungan yang maksimal
(Huda, 2017). Kegiatan pemasaran tidak sekedar menciptakan transaksi pendek
tetapi juga harus mampu membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen
(Hasibuan, 2018).
Menurut Kotler dan Keller (2018), definisi secara umum pemasaran
merupakan kegiatan mengindentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan
sosial. Sedangkan definisi secara khusus, pemasaran adalah sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain.
Selain itu, pemasaran adalah suatu keseluruhan sistem dari kegiatan bisnis
yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi, dan
mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan konsumen dan
mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Yulianti et al., 2019). Kotler dan
Keller (2018) mengungkapkan bahwa manajemen pemasaran digambarkan
sebagai seni suatu ilmu memilih pasar sasaran untuk mendapatkan,
mempertahankan, dan menumbuhkan pelanggan dengan penciptaan, disampaikan
dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.

Proses Manajemen Strategi


Proses manajemen strategi menurut Antariksa et al. (2017) ada 3 tahap, yaitu:

  1. Tahap perumusan atau formulasi strategi
    Tahap ini bertujuan untuk beradaptasi menjadi lebih baik dari pesaing dan
    bergerak lebih cepat dari pesaing.
  2. Tahap implementasi strategi
    Tahap ini mensyaratkan perusahaan untuk dapat menetapkan tujuan tahunan,
    membuat kebijakan dalam penganggaran, memotivasi karyawan, dan
    mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang telah dirumuskan dapat
    dilaksanakan.
  3. Tahap evaluasi strategi
    Tahap dimana proses penilaian dan pemantauan terhadap strategi yang sedang
    berjalan. Evaluasi strategi adalah alat utama untuk mengetahui informasi
    tersebut.

Tujuan Manajemen Strategi


Menurut Dawud (2019) manajemen strategi memiliki tujuan yang akan
dirinci, sebagai berikut:

Berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas
Manajer dalam hal ini memiliki tanggung jawab atas kepentingan dan
kemampuan terhadap efisiensi serta memberikan perhatian yang serius.

Memberikan arah pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan
Dalam pemberian arah ini, manajer harus memiliki strategi untuk dapat
menunjukkan kepada seluruh sdm terkait arah dan tujuan yang ingin dicapai
perusahaan.

Memberikan bantuan berupa pemikiran kepada beberapa pihak
Perusahaan sebagai sarana dalam mempertemukan kebutuhan berbagai pihak,
termasuk kepada karyawan, pemasok, pihak perbankan, pemegang saham,
bahkan masyarakat luas.

Mengatasi setiap perubahan kembali secara merata
Manajemen strategi sebaiknya dapat memungkinkan manajemen puncak dalam
mengantisipasi perubahan dengan menyiapkan pedoman dan langkah
pengendalian sehingga dapat memperluas kerangka waktu maupun berpikir
secara perspektif serta dapat pula memahami kontribusi yang baik pada hari ini
ataupun esok.

Karakteristik Manajemen Strategi


Karakteristik manajemen strategi menurut Setiawati (2020) yaitu:

Batas-batas tugas juga dapat memungkinkan untuk mengalami ketidakjelasan
karena dijalankan dengan lintas fungsi yang beragam

Berorientasi pada masa depan

Berhubungan dengan unit bisnis yang relatif kompleks

Terdapat kebutuhan dan kejelasan tugas yang sangat tinggi seiring dengan
adanya perubahan pada dunia industri

Pengertian Manajemen Strategi


Manajemen strategi menjadi grand theory dalam penelitian ini. Manajemen
strategi terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan strategi yang masing-masing
memiliki arti tersendiri. Manajemen adalah suatu rangkaian proses yang meliputi
kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan
pengendalian dalam rangka memberdayakan seluruh sumber daya organisasi
dengan segala aspek untuk mencapai tujuan organisasi (Riyadi, 2019). Sedangkan
strategi adalah seni menggunakan keterampilan dan sumber daya organisasi untuk
mencapai tujuannya di bawah kondisi yang paling menguntungkan melalui
hubungan yang efektif dengan lingkungan (Budio et al., 2019).
Strategi dapat dikatakan sebagai suatu tindakan penyesuaian untuk
mengadakan reaksi terhadap situasi lingkungan tertentu yang dapat dianggap
penting, dimana tindakan penyesuaian tersebut dilakukan secara sadar berdasarkan
pertimbangan yang wajar. Strategi dirumuskan sedemikian rupa sehingga jelas apa
yang sedang dan akan dilaksanakan perusahaan demi mencapai tujuan yang ingin
dicapai (Budio et al., 2019).
Menurut Persari et al. (2018), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan
dan sasaran jangka panjang organisasi, diterapkannya aksi dan alokasi sumber daya
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa strategi itu merupakan suatu proses yang memutuskan strategi
pasar produk yang menyesuaikan kemampuan perusahaan dengan peluang
lingkungan yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan.
Menurut Antariksa et al. (2017), mendefinisikan manajemen strategi sebagai
suatu seni dan ilmu untuk memformulasikan, menerapkan, dan mengevaluasi
keputusan-keputusan lintas fungsi, dengan itu maka organisasi bisa mencapai
tujuan organisasi.
Manfaat penerapan manajemen strategi dikemukakan oleh Antariksa et al.
(2017) yaitu dapat memperkuat kemampuan perusahaan mencegah terjadinya
masalah, dengan melibatkan karyawan dalam perumusan strategi dapat
meningkatkan pemahaman mereka akan adanya hubungan produktivitas imbalan di
setiap rencana strategi serta menambah motivasi karyawan, berkurangnya
kesenjangan dan tumpang tindih antar individu dan kelompok, dan dapat
mengurangi penolakan terhadap perubahan.

Strategi Pemasaran


Strategi Pemasaran terdiri dari dua suku kata yaitu, strategi dan
pemasaran. Dimana pengertian strategi adalah suatu proses penentuan
rencana yang biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin yang berfokus pada
tujuan yang berkepanjangan atau dalam jangka panjang dengan disertai
penyusunan suatu cara atau sebuah upaya agar tujuan yang sudah ditetapkan
dapt tercapai. Strategi diartikan secara lebih khusus adalah sebuah tindakan
yang secara terus-menerus oleh individu atau kelompok guna mencapai sebuah
tujuan yang ditentukan (sunarti,2015:60).
Pemasaran adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh individu atau
kelompok dalam perusahaan yang berguna untuk mempertahankan
kelangsungan hidup dan perkembangan suatu perusahaan dan mendapatkan
laba dari proses yang dilakukan. Berhasil tidaknya suatu perusahaan dalam
mencapai sebuah tujuan yang sudah ditentukan bergantung kepada kemampuan
perusahaan dalam mengoperasikan berbagai bidang dalam perusahaan, salah
satunya adalah pemasaran (Wijaya,2013:09).
Strategi pemasaran merupakan rencana yang menjabarkan ekspektasi
perusahaan akan dampak dari berbagai aktivitas atau program pemasaran
terhadap permintaan produk atau lini produknya di pasar sasaran tertentu.
Program pemasaran meliputi tindakan-tindakan pemasaran yang dapat
mempengaruhi permintaan terhadap produk, diantaranya dalam hal mengubah
harga, memodifikasi kampanye iklan, merancang promosi khusus, menentukan
pilihan saluran distribusi, dan sebagainya

Strategi Bisnis


Strategi Bisnis adalah segala sesuatu yang memungkinkan untuk
sebuah organisasi untuk memperoleh keunggulan yang kompetitif dari tiga
landasan yang berbeda. (Jonathan,2013:02) yaitu :

  1. Cost Leadership (menekan pemproduksian sebuah produk yang di
    standarisasi dengan biaya unit yang sangat rendah untuk para konsumen
    yang peka terhadap harga).
  2. Differentiation (menghasilkan sebuah produk atau jasa yang dianggap
    unik oleh industri yang kemudian diarahkan kepada konsumen yang
    ada pada produk).
  3. Focuz (memproduksi produk dan jasa guna memenuhi kebutuhan
    sekelompok kecil konsumen dengan harga terendah dan ataupun nilai
    terbaik yang ada di dalam pasar).
    Pemahaman yang baik mengenai konsep strategi dan konsep-konsep
    lain yang berkaitan akan menentukan bagaimana kesuksesan sebuah
    strategi itu. Konsep-konsep strategi tersebut sebagai berikut :
  4. Distinctive Competence : tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar
    dapat melakukan kegiatan lebih baik dibandingan dengan pesaingnya.
    identifikasi distinctive competence dalam suatu organisasi meliputi :
    a. keahlian tenaga kerja.
    b. kemampuan sumber daya.
  5. Competitive Advantage. Keunggulan bersaing disebabkan oleh pilihan
    strategi yang dilakukan perusahaan untuk merebut peluang pasar. jika
    perusahaan ingin meningkatkan usahanya dalam persaingan yang
    semakin ketat, perusahaan harus memilih prinsip berbisnis, yaitu produk
    dengan harga tinggi atau produk dengan biaya rendah, bukan keduaduanya. Berdasarkan prinsip ini, terdapat tiga strategi generik, yaitu:
    a. Strategi Diferensiasi. Strategi ini cirinya adalah bahwa
    perusahaan mengambil keputusan untuk membangun persepsi
    pasar potensial terhadap suatu produk/jasa yang unggul agar
    tampak berbeda dengan produk yang lain. Dengan demikian,
    diharapkan calon konsumen mau membeli dengan harga mahal
    karena adanya perbedaan itu.
    b. Strategi Kepemimpinan Biaya Menyeluruh (Overall Cost
    Leadership). Cirinya adalah perusahaan lebih memperhitungkan
    pesaing dari pada pelanggan dengan cara memfokuskan harga
    jual produk yang murah, sehingga biaya produksi, promosi,
    maupun riset dapat ditekan, bila perlu produk yang dihasilkan
    hanya sekedar meniru produk dari perusahaan lain.
    c. Strategi Fokus (Focus). Cirinya adalah perusahaan
    mengkonsentrasikan pada pangsa pasar yang kecil untuk
    menghindar dari pesaing dengan menggunakan strategi

Manajemen Strategi


Menurut pendapat Hitt et al yang dikutip dalam Rangkuti
(2011:197), manajemen strategis adalah proses untuk membantu organisasi
dalam mengidentifikasi apa yang ingin dicapai.
Manajemen mempunyai arti yang sangat luas, dapat berarti proses,
seni, ataupun ilmu. Dikatakan proses karena manajemen terdapat beberapa
tahapan untuk mencapai tujuan, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan. Dikatakan seni karena manajemen
merupakan suatu cara atau alat untuk seorang manajer dalam mencapai
tujuan. Dimana penerapan dan penggunaan tergantung pada masing-masing
manajer yang sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi dan pembawaan
manajer. Udaya, J., Wennadi, L.Y., & Lembana, D.A.A. (2013) mengatakan
manajemen stratejik berkaitan dengan formulasi strategi dan pelaksanaan
strategi menggunakan taktik tertentu, di mana taktik adalah bagian dari
strategi yang digunakan untuk mencapai sasaran khusus yakni posisi unggul
dalam persaingan atau kompetisi.
Sedangkan Menurut Fred R. David (2011:5) manajemen strategis
dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan dalam merumuskan,
mengimplemen-tasikan, serta mengevaluasi keputusan-keputusan lintasfungsional yang memampu-kan sebuah organisasi mencapai tujuannya.

Definisi Strategi


Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan, dalam
pengembangan konsep strategi setiap orang mempunyai pendapat atau
definisi yang berbeda mengenai strategi. Strategi dalam suatu dunia bisnis
atau usaha sangatlah di butuhkan untuk pencapaian visi dan misi yang sudah
di terapkan, maupun untuk pencapaian sasaran atau tujuan, baik tujuan
jangka pendek maupun tujuan jangka panjang.
Menurut Prihartono (2012:13), Strategi disusun untuk mengurangi
kegagalan dan memaksimalkan hasil. Seperti yang diketahui bahwa dalam
pencapaian tujuan organisasi harus dibarengi dengan strategi dalam
pencapaian tujuan. Sedangkan David (2012: 18) mengemukakan bahwa
strategi adalah, Aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen
puncak dan sumber daya perusahaan dalam jumlah yang besar.
Rangkuti (2013:183) berpendapat bahwa strategi adalah
perencanaan induk yang komprehensif, yang menjelaskan bagaimana
perusahaan akan mencapai semua tujuan yang telah di tetapkan berdasarkan
misi yang telah di tetapkan sebelumnya.

Kualitas Pelayanan Publik


Menurut Sinambela, (2006:5) Pelayanan secara umum adalah
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan
landasan faktor materiil melalui sistem, prosedur dan metode tertentu
dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang sesuai dengan haknya.
Sedangkan pelayanan publik diartikan sebagai setiap kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki
setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau
kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat
pada suatu produk secara fisik. Pelayanan publik sebagai upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat adalah sudah menjadi tugas utama
pemerintah. Sebagai suatu kebutuhan yang urgent dan menyangkut
kepentingan masyarakat banyak, maka mutu dan kualitas pelayanan
publik haruslah mendapatkan prioritas utama pemerintah. Mengingat
pemerintah adalah penyelenggara pelayanan di bidang publik, maka
pemerintah berkewajiban untuk memberikan kualitas pelayanan yang
terbaik dalam segala bidang layanan yang nantinya akan diterima oleh
masyarakat sebagai pengguna layanan.
Mengingat keterbatasan pemerintah dalam memberikan pelayanan
yang prima terhadap masyarakat, maka kemudian dalam beberapa aspek
pemerintah juga memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk
turut serta membantu peran pemerintah memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Masyarakat sebagai klien berhak untuk mendapatkan
kualitas pelayanan yang prima dari penyelenggara pelayanan dengan
bebas untuk menentukan pilihannya dalam mendapatkan pelayanan yang
mereka perlukan, namun demikian kualitas pelayanan yang baik tidak
bisa begitu saja dapat diperoleh masyarakat karena berbagai macam
faktor tertentu.
Pelayanan adalah kunci keberhasilan dalam berbagai usaha atau
kegiatan yang bersifat jasa. Peranannya akan lebih besar dan menentukan
manakla dalam kegiatan jasa tersebut terdapat kompetisi dalam usaha
merebut pasaran atau pelanggan. Dengan adanya kompetisi seperti itu
menimbulkan dampak positif dalam organisasi atau perusahaan, yakni
mereka saling bersaing dalam pelaksanaan pelayanan, melalui berbagai
cara, tehnik dan metode yang dapat menarik lebih banyak orang
menggunakan atau memakai jasa atau produk yang dihasilkan oleh
organisasi atau perusahaan. Persaingan yang ada tidak hanya pada segi
mutu dan jumlah tetapi juga dalam hal layanan. Justru dalam hal yang
terakhir inilah persaingan semakin seru dalam pemberikan pelayanan
terhadap pengguna jasa yang cepat dan memuaskan. Kualitas pelayanan
yang baik akan memberi kepuasan kepada pelanggan atau pengguna
jasadan mempengaruhi minat untuk kembali lagi ke pemberi pelayanan
yang sama, dan juga sebaliknya.

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen merupakan salah satu alat manuasia untuk mencapai
tujuan, sedangkan manusia merupakan salah satu dari sekian banyak
sumber daya yang digunakan. Sumber daya manusia merupakan faktor
yang paling penting menuju misi, tujuan, dan pencapaian hasil suatu
organisasi. Tanpa adanya sumber daya manusia, proses yang ada di
dalam organisasi tidak akan dapat dijalankan.
Nawawi (2003:40) mendefinisikan sumber daya manusia dalam 3
pengertian, sebagai berikut:
a) Sumber Daya Manusia (SDM) adalah manusia yang
bekerja di lingkungan suatu organisasi (disebut juga
personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).
b) Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi manusiawi
sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan
eksistensinya.
c) Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang
merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non
material/non finasial) didalam organisasi bisnis, yang
dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik
dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi

Strategi Pelayanan Penumpang


Sebagai moda transportasi alternatif sektor darat, kereta api menjadi
suatu pilihan tepat bagi masyarakat untuk dapat menempuh perjalanan
tanpa hambatan. Padatnya kendaraan bermotor di perkotaaan yang kian
menciptakan kemacatan dimana-mana, menjadikan suatu alasan utama
bagi masyarakat untuk beralih transportasi dengan kereta. Kereta api
memiliki karakteristik dan keunggulan yang lebih dibanding rival nya
yaitu bus dan angkutan umum dimana kereta memiliki karakteristik dan
keunggulan khusus, terutama dalam kemampuannya untuk mengangkut,
baik orang maupun barang secara masal, menghemat energy, menghemat
penggunaan ruang, memiliki tingkat pencemaran yang rendah, dan yang
terpenting adalah kecepatannya yang dapat menghemat waktu perjalanan.
Takheran bilamana kereta api menjadi trasnportasi darat yang sangat
diminati para penumpang untuk dapat dengan cepat sampai tujuan.
Kebutuhan masyarakat akan transportasi ini meningkat intensitasnya
ketika sudah memasuki hari libur, dan juga menjelang hari raya. Namun
intensitas untuk hari kerja para pekerja, tidaklah sebanyak hari libur dan
menjelang hari raya dikarenakan memang lokasi pekerjaan dapat
terjangkau dengan baik bilamana menggunakan motor, mobil, bus atau
angkutan umum.
Namun, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya
minat masyarakat terhadap kereta api khususnya peningkatan intensitas
di hari libur dan saat menjelang hari raya, kualitas pelayanan public
kereta api Indonesia kian dinilai buruk/tidak maksimal dalam melayani,
baik pelayanan secara administrasi, teknis, fasilitas, dan juga keamanan.
Dari segi administrasi penumpang banyak sekali dikecewakan dengan
harga karcis/tiket yang melambung, pendaftaran online yang terkadang
sulit diakses, atau bahkan hingga kehabisan karcis/tiket, dari segi fasilitas
dan keamanan yang diberikan, fasilitas didalam stasiun maupun didalam
kereta pun semakin tidak layak, begitu juga keamanan yang kurang
menjamin. Lebih dari itu, kepastian jadwal keberangkatan pun tidak
pasti.

Penerapan Manajemen Transportasi


Menurut Pearce dan Robinson (1997:20) manajemen strategi
didefinisikan sebagai sekumpulan keputusan dan tindakan yang
menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi)
rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran
perusahaan. Sedangkan menurut Griffin (2004:226) , manajemen strategi
atau strategis (strategic management) adalah cara untuk menanggapi
peluang dan tantangan bisnis. Manajemen strategis merupakan proses
manajemen yang komprehensif dan berkelanjutan yang ditujukan untuk
memformulasikan dan mengimplementasikan strategi yang efektif.
Strategi yang efektif adalah strategi yang mendorong terciptanya
keselarasan yang sempyurna antara organisasi dengan lingkungannya dan
dengan pencapaian tujuan strategisnya.
Jadi manajemen strategi atau manajemen strategis merupakan cara
(strategi) yang ditempuh perusahaan atau organisasi dalam mengambil
keputusan dan tindakan untuk menaggapi peluang dan tantangan, agar
tetap eksis dan memenangkan persaingan. Griffin (2004:226)
menejelaskan bahwa komponen strategi meliputi 3 bidang yaitu
kompetensi unggulan, ruang lingkup, dan alokasi sumber daya.
Kompetensi unggulan (distinctive competence) adalah suatu yang dapat
dilakukan dengan baik oleh suatu organisasi. Ruang lingkup (scope) dari
suatu strategi merinci tentang pasar dimana suatu perusahaan atau
organisasi akan bersaing. Kemudian alokasi sumber daya (resource
deployment) mencakup bagaimana suatu perusahaan akan
mendistribusikan sumber-sumber dayanya di antara bidang-bidang yang
merupakan lahan persaingannya.
Agar strategi perusahaan atau organisasi disusun secara efektif, maka
diperlukan adanya dapat informasi tentang kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman yang berkaitan dengan kondisi dan situasi perusahaan atau
organisasi tersebut. Salah satu metode untuk mengetahui kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan atau organisasi adalah
analisis SWOT. Menurut Graffin (2004:228), analisis SWOT adalah
evaluasi atas kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknes) internal
suatu organisasi yang dilakukan secara berhati-hati, dan juga evaluasi
atas peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dari lingkungan.
Dalam analisis SWOT, stategik terbaik untuk mencapai misi suatu
organisasi adalah dengan (1) mengeksploitasi peluang dan kekuatan
suatu organisasi, dan pada saat yang sama (2) menetralisasikan
ancamannya, dan (3) menghindari atau memperbaiki kelemahannya.
Robinson dan Pearce (1997:29) memberi definisi faktor-faktor
lingkungan sebagai berikut:
a) Strength (kekuatan) adalah suatu keunggulan sumber daya
yang belum tergali dengan optimal sehingga memberikan
kemungkinan organisasi untuk lebih meningkatkan
kinerjanya. Kekuatan merupakan sumber daya, keunggulan
relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang ingin
dilayani oleh organisasi, kekuatan adalah kompetisi khusus
yang memberikan keunggulan komparatif dari pasar.
b) Weakness (kelemahan) adalah keterbatasan dan kekurangan
sumber daya, ketrampilan yang dibutuhkan organisasi
sehingga menghambat kinerja efektif dari organisasi dalam
pengembangan usahanya.
c) Opportunities (peluang) adalah unsur-unsur lingkungan
luar (politik, ekonomi, sosial dan IPTEK) positif yang
memberikan kesempatan dan mendukung keberadaan
organisasi. Peluang merupakan situasi penting yang
menguntungkan. Identifikasi segmen pasar yang terabaikan,
perubahan teknologi serta membaiknya hubungan dengan
investor dapat memberikan peluang untuk pengembangan
usaha.
d) Threats (ancaman) adalah unsur-unsur lingkungan luar
(politik, ekonomi, sosial dan IPTEK) negatif yang
menghambat kegiatan pelayanan transportasi. Ancaman
merupakan situasi yang paling tidak menguntungkan dan
merupakan pengganggu utama dalam pengembangan
pelayanan, masuknya pesaing baru dan lambatnya kegiatan
pelayanan merupakan ancaman bagi peningkatan kualitas
pelayanan

Permintaan dan penawaran jasa transportasi


1) Permintaan jasa transportasi
Menurut Abbas Salim (1993:15), kebutuhan akan jasa transportasi
ditentukan oleh barang dan penumpang yang akan diangkut dari satu
tempat ke tempat yang lain. Untuk mengetahui berapa jumlah permintaan
akan jasa angkutan yang sebenarnya (actual demand) perlu dianalisis
permintaan akan jasa-jasa transportasi sebagai berikut :
a) Pertumbuhan penduduk
b) Pembangunan wilayah dan daerah
c) Industrialisasi
d) Transmigrasi dan penyebaran penduduk
e) Analisis dan proyeksi akan permintaan jasa transportasi.
2) Penawaran jasa transportasi
Penawaran jasa transportasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
ada kaitannya dengan permintaan akan jasa transportasi secara
menyeluruh. Tiap modal transportasi mempunyai sifat karakteristik dan
aspek tehnis yang berlainan, hal mana akan mempengaruhi terhadap jasa
angkutan yang ditawarkan oleh pengangkutan. Dari sisi penawaran jasa
angkutan menurut Abbas (1993:18) dapat bedakan dari beberapa segi
sebagai berikut:
a) Peralatan yang digunakan
b) Kapasitas yang tersedia
c) Kondisi alat tehnis yang dipakai
d) Produksi jasa yang dapat diserahkan oelh perusahaan angkut
e) Sistem pembiayaan dalam pengoperasian alat angkut
Sementara itu segi penyedia jasa memperhatikan benar-benar agar
pengguna jasa angkutan merasa puas terhadap hal-hal yang berhubungan
dengan hal-hal sebagai berikut : keamanan, ketepatan, keteraturan,
kenyamanan, kecepatan, kesenangan dan kepuasan.

Pengertian Manajemen Transportasi


Menurut Siregar (1990:3), “transportasi diartikan sebagai proses
mengangkut atau membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat ke tempat
yang lainnya”. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia
dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa kegiatan transportasi akan terjadi apabila dipenuhi
beberapa persyaratan dengan adanya muatan yang diangkut, tersedianya
alat angkut yang memadai dan terdapata fasilitas jalan yang akan dilalui.
Manajemen transportasi adalah sebagai usaha dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan dengan penghasilan jasa angkutan oleh perusahaan
angkutan sedemikian rupa, sehingga dengan tarif yang berlaku dapat
memenuhi kepentingan umum. Pada umumnya manajemen transportasi
menurut Nasution (1996:30) menghadapi tiga tugas utama :
1) Menyusun rencana dan progam untuk mencapai tujuan dan
misi organisasi secara keseluruhan.
2) Meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan.
3) Dampak sosial dan tanggung jawab sosial dalam
pengoperasikan angkutan kota.

Kriteria Kinerja Organisasi


Kebutuhan akan ukuran dari kinerja organisasi pelayanan publik
sangat diperlukan oleh semua pihak yang berhubungan dengan
organisasi, terutama bagi pimpinan organisasi publik maupun pengguna
jasa. Penilaian terhadap kinerja bagi suatu organisasi merupakan kegiatan
yang sangat penting. Penilaian tersebut dapat digunakan sebagai ukuran
keberhasilan suatu organisasi dalam periode teretntu. Penilaian tersebut
dapat dijadikan input bagi perbaikan atau peningkatan pelayanan suatu
organisasi selanjutnya.
Kinerja organisasi menurut Warsito Utomo (2000:9) dikonsepkan
sebagai tingkat pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan. Tingkat
kinerja organisasi menggambarkan seberapa jauh sebuah organisasi
privat atau bisnis, maka penetuan indikator yang dibangun relatif lebih
mudah daripada organisasi publik, karena organisasi bisnis biasanya
tujuan utamanya adalah meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Oleh
karena itu dimensi yang digunkan untuk mengukur kinerja bisnis adalah
seberapa besar keuntungan yang diperolehnya.
Pengukuran kinerja pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan
instrumen pengukuran kinerja pelayanan yang menurut Zeithml,
parasuraman dan Berry (1990:21-22) terdiri dari sepuluh indikator
pelayanan antara lain:
1) Kenampakan fisik (tangibles); penampilan fasilitas secara fisik,
perlengkapan, pegawai, dan peralatan komunikasi.
2) Realibilitas (reability); kemampuan untuk menyelenggarakan
pelayanan yang dijanjikan secara akurat.
3) Responsivitas (responsivenes): kerelaan untuk menolong
pelanggan dan menyelenggarakan pelayanan secara ikhlas.
4) Keahlian (competence); menekankan kecakapan dan pengetahuan
dalam menyelenggarakan pelayanan.
5) Kesopanan (caurtesy); sopan, hormat, penuh pertimbangan, dan
ramah dalam hubungannya dengan pelanggan.
6) Kredibilitas (credibility); menghargai kepercayaan pelanggan,
dapat dipercaya, kejujuran yang ada pada penyedia pelayanan.
7) Keamanan (security); pelayanan bebas dari bahay,resiko, atau
kesanksian.
8) Komunikasi (communication); memberi informasi kepada
pelanggan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan
mendengar apa yang dibicarakannya.
9) Akses (acces); kedekatana dan kemudahan dalam hubungannya
antara pelanggan dengan penyedia jasa.
10) Pengertian terhadap pelanggan (understanding the customer);
membuat upaya untuk mengetahui apa yang diinginkan
pelanggan.

Klasifikasi strategi


Seperti yang dipaparkan oleh Husein (2002:31) bahwa strategi
perusahaan dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis perusahaan dan
tingkatan tugas. Dilihat dari jenis perusahaan, ada strategi perusahaan
konglomerasi yang memiliki beberapa Strategic Bussiness Unit (SBU),
dan strategi perusahaan kecil dan hanya memiliki satu SBU. Sedangkan
dilihat dari tingkatan tugas, strategi dapat diklasifikasikan menjadi :
strategi generik (generic strategy), strategi utama/induk (grand strategy),
dan strategi fungsional.
1) Strategi generik
Menurut Porter (2002:32) strategi generik adalah suatu
pendekatan strategi perusahaan dalam rangka mengungguli
pesaing dalam industri sejenis. Dalam praktek, setelah
perusahaan mengetahui strategi generiknya, untuk
implementasinya akan ditindaklanjuti dengan langkah
penemuan strategi yang lebih operasional. Kemudian Wheelen
dan Hunger (2002:33) membagi strategi generik ini menjadi 3
macam yaitu :
a) Strategi stabilitas (stability). Pada prinsipnya, strategi
ini menekankan pada tidak bertambahnya produk,
pasar, dan fungsi-fungsi perusahaan lain, karena
perusahaan berusaha untuk meningkatkan efisiensi di
segala bidang dalam rangka meningkatkan kinerja dan
keuntungan. Strategi ini resikonya relatif rendah dan
biasanya dilakukan untuk produk yang tengah berada
pada posisi kedewasaan (mature).
b) Strategi Ekspansi (Expansion). Pada prinsipnya, strategi
ini menekankan pada penambahan atau perluasan
produk, pasar, dan fungsi-fungsi perusahaannya,
sehingga aktivitas perusahaan meningkat. Tetapi, selain
keuntungan yang ingin diraih lebih besar, strategi ini
juga mengandung resiko, kegagalan yang tidak kecil.
c) Strategi Penciutan (Retrenchment). Pada prinsipnya,
strategi ini dimaksudkan untuk melakukan pengurangan
atas produk yang dihasilkan atau pengurangan atas
pasar maupun fungsi-fungsi dalam perusahaan.

Peranan Strategi


Dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, strategi memiliki
peranan yang sangat penting bagi pencapaian tujuan, karena strategi
memberikan arah tindakan, dan cara bagaimana tindakan tersebut harus
dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai. Menurut Grant (1999:21)
strategi memiliki 3 peranan penting dalam mengisi tujuan manajemen,
yaitu :
1) Strategi sebagai pendukung untuk pengambilan keputusan
Strategi sebagai suatu elemen untuk mencapai sukses. Strategi
merupakan suatu bentuk atau tema yang memberikan kesatuan
hubungan antara keputusan-keputusan yang diambil oleh
individu atau organisasi.
2) Strategi sebagai sarana koordinasi dan komunikasi
Salah satu peranan penting strategi sebagai sarana koordinasi
dan komunikasi adalah untuk memberikan kesamaan arah bagi
perusahaan
3) Strategi sebagai target
Konsep strategi akan digabungkan dengan misi dan visi untuk
menentukan di mana perusahaan berada dalam masa yang akan
datang. Penetapan tujuan tidak hanya dilakukan untuk
memberikan arah bagi penyusunan strategi, tetapi juga untuk
membentuk aspirasi bagi perusahaan.

Pengertian Strategi


Pengertian strategi ada beberapa macam sebagaimana dikemukakan
oleh para ahli dalam buku karya mereka masing-masing. Kata strategi
berasal dari kata Strategos dalam bahasa Yunani merupakan gabungan
dari Stratos atau tentara dan ego atau pemimpin. Suatu strategi
mempunyai dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju. Jadi
pada dasarnya strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Menurut Marrus (2002:31) strategi didefinisikan sebagai suatu
proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada
tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau
upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Selanjutnya Quinn
(1999:10) mengartikan strategi adalah suatu bentuk atau rencana yang
mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan
rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang
utuh. Strategi diformulasikan dengan baik akan membantu penyusunan
dan pengalokasian sumber daya yang dimiliki perusahaan menjadi suatu
bentuk yang unik dan dapat bertahan. Strategi yang baik disusun
berdasarkan kemampuan internal dan kelemahan perusahaan, antisipasi
perubahan dalam lingkungan, serta kesatuan pergerakan yang dilakukan
oleh mata-mata musuh.

Tipe-tipe Strategi


Tipe – Tipe Strategi adalah sebagai berikut :

  1. Strategi Integrasi
    Strategi Integrasi ini juga dikelompokan kedalam 3 tipe diantaranya :
     Integrasi ke Depan (Forward Integration)
    Merupakan beberapa upaya memiliki atau juga meningkatkan kendali atas
    distributor atau pengecer. Saat tersebut semakin banyak perusahaan manufaktur
    (pemasok) yang menjalankan strategi integrasi kedepan yakni dengan cara
    mendirikan situs web untuk kemudian menjual produk-produk mereka dengan
    secara langsung kepada konsumen. Strategi itu menyebabkan gejolak di sejumlah
    industri.
     Integrasi ke Belakang (Backward Integration)
    Merupakan segala macam strategi untuk mencoba memiliki atau meningkatkan
    kontrol terhadap perusahaan pemasok. Strategi tersebut sangat tepat digunakan
    pada saat perusahaan pemasok saat ini tidak bisa atau dapat diandalkan, terlalu
    mahal, atau juga tidak dapat atau bisa memenuhi kebutuhan mereka. Persaingan
    global ini juga memacu perusahaan untuk mengurangi jumlah pemasoknya serta
    menuntut pelayanan serta mutu yang lebih baik dari yang terdapat sekarang ini.
     Integrasi Horizontal (Horizontal Integration)
    Strategi pertumbuhan integrasi horizontal ini bisa atau dapat dilakukan dengan
    melalui akuisisi perusahaan pesaing yang memiliki line of business yang sama.
    Yang dapat dilakukan dalam strategi ini ialah dengan meningkatkan ukuran
    perusahaan, meningkatkan penjualan, keuntungan serta juga pasar potensial dari
    perusahaan.
  2. Strategi Intensif
     Penetrasi Pasar (Market Penetration)
    Strategi penetrasi pasar ini berusaha untuk meningkatkan pangsa pasar untuk
    produk serta jasa yang sudah terdapat di pasar dengan melalui usaha pemasaran
    yang gencar. Strategi ini sering di gunakan sendirian atau juga di kombinasikan
    yakni dengan strategi lainnya. Penetrasi pasar bisa atau dapat terdiri dari upaya
    menambah jumlah pramuniaga, melakukan promosi penjualan ekstensif,
    menambah belanja iklan, dan juga meningkatkan upaya publisitas.
     Pengembangan Pasar (Market Development)
    Pengembangan pasar ini terdiri dari upaya memperkenalkan produk atau jasa
    yang ada ke wilayah geografis baru.
     Pengembangan Produk (Product Development)
    Pengembangan produk ini merupakan strategi yang berupaya meningkatkan
    penjualan itu dengan memperbaiki atau juga memodifikasi produk/jasa yang
    sudah ada. Pengembangan produk itu biasanya memerlukan biaya yang besar
    untuk penelitian serta pengembangan.
  3. Strategi Diversifikasi
    Berikut adalah jenis-jenis strategi diversifikasi :
     Diversifikasi Konsentris
    Pada saat organisasi bersaing di dalam industri yang tidak tumbuh atau juga
    pertumbuhannya lambat, menambah produk baru namun masih terkait, kemudian
    akan meningkatkan penjualan produk yang terdapat saat ini secara signifikan.
     Diversifikasi Horisontal (Horizontal Diversification)
    Menambah produk atau pun jasa baru yang tidak terkait untuk pelanggan yang
    sudah ada disebut dengan diversifikasi horizontal (Horizontal diversification).
    Risiko strategi tersebut tidak sebesar diversifikasi konglomerat disebabkan karena
    perusahaan pasti sudah mengenal pelanggan yang sudah ada.
     Diversifikasi Konglomerat (Conglomerate Diversification)
    Perusahaan di dalam industri yang pertumbuhannya itu lambat mengakuisisi
    perusahaan yang berada di dalam industri yang berkembang cepat dengan tujuan
    untuk meningkatkan pertumbuhan total. Perusahaan yang memiliki kelebihan
    uang cash sering kemudian mendapatkan bahwa investasi di dalam industri yang
    berbeda merupakan strategi yang begitu menguntungkan.
  4. Strategi Defensif
    Berikut adalah jenis-jenis Strategi Defensif :
     Rasionalisasi Biaya (Retrenchment)
    Rasionalisasi biaya (retrenchment) ini terjadi disaat sebuah organisasi tersebut
    melakukan restrukturisasi yakni dengan melalui penghematan biaya serta aset
    untuk kemudian meningkatkan penjualan serta juga laba yang sedang menurun.
    Rasionalisasi biaya ini dirancang untuk memperkuat kompetensi pembeda dasar
    organisasi.
     Divestasi (Divestiture)
    Menjual suatu divisi atau juga bagian dari organisasi disebut dengan divestasi
    (Divestiture) digunakan untuk meningkatkan modal yang selanjutnya itu akan
    digunakan untuk akuisisi atau juga investasi strategis lebih lanjut.
     Likuidasi (Liquidation)
    Likuidasi (liquidation) ini merupakan menjual semua aset sebuah perusahaan
    dengan secara bertahap sesuai nilai nyata aset tersebut. Likuidasi ini adalah
    pengakuan kekalahan serta akibatnya bisa merupakan strategi yang dengan secara
    emosional sulit dilakukan.

Tingkatan Strategi


Berikut adalah tingkatan strategi :

Strategi Fungsional (Functional Strategy)
Strategi fungsional ini merupakan suatu strategi yang terjadi di level fungsional
seperti, pemasaran, operasional, sumber daya manusia, keuangan. Riset serta
pengembangan yang mana strategi tersebut akan meningkatkan area fungsional
perusahaan sehingga kemudian mendapat keunggulan bersaing

Strategi Korporasi (Corporate Strategy)
Strategi korporasi ini adalah salah satu strategi yang mencerminkan seluruh arah
perusahaan dengan tujuan menciptakan pertumbuhan bagi perusahaan dengan
secara keseluruhan serta manajemen segala macam bisnis lini produk.
Jenis-jenis Strategi Korporasi
a. Strategi Pertumbuhan (Growth Strategy)
Strategi dengan berdasarkan terhadap tahap pertumbuhan yang sedang dilewati
perusahaan.
b. Strategi Stabilitas (Stability Strategy)
Strategi yang digunakan jika terjadi penurunan penghasilan atau profit.
c. Retrenchment Strategy
Adalah strategi yang diterapkan untuk memperkecil atau juga mengurangi usaha
yang dilakukan perusahaan.

Strategi Bisnis (Business Strategy)
Strategi bisnis ini merupakan sebuah strategi yang terjadi ditingkat produk atau
pun unit bisnis dan merupakan strategi yang menitikberatkan pada perbankan
posisi bersaing produk atau pun jasa pada spesifik industri atau juga segmen pasar
tertentu.

Konsep Strategi


Ada beberapa konsep strategi yaitu :

  1. Perencanaan untuk semakin memperjelas arah yang ditempuh oleh organisasi, yakni
    dengan cara yang rasional di dalam mewujudkan tujuan jangka panjang.
  2. Acuan yang berkenaan itu dengan penilaian konsistensi, atau konsistensi perilaku
    serta tindakan, yang dilakukan oleh sebuah organisasi.
  3. Sudut yang diposisikan oleh organisasi di dalam memunculkan aktivitasnya.
  4. Sebuah perspektif yang menyangkut visi yang terintegrasi diantara organisasi, serta
    lingkungannya yang menjadi batas bagi aktivitasnya.
  5. Rincian langkah taktis organisasi yang isinya ini ialah informasi untuk mengelabui
    para pesaing

Komponen Stretegi Bisnis


Komponen strategi bisnis terdiri dari :

  1. Visi dan tujuan bisnis
    Dengan visi untuk arah bisnis dapat membuat instruksi yang jelas dalam strategi
    bisnis untuk apa yang perlu dilakukan dan siapa yang bertanggung jawab untuk itu.
  2. Nilai inti atau Core Value
    Strategi yang baik memandu eksekutif tingkat atas serta departemen tentang apa
    yang harus dan tidak boleh dilakukan, sesuai dengan nilai-nilai inti organisasi.
  3. Analisis SWOT
    Terdiri dari strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunities (peluang),
    dan threats (ancaman) yang merupakan proses perencanaan yang membantu
    perusahaan mengatasi tantangan dan menentukan apa yang harus dituju secara
    keseluruhan. Analisis ini termasuk dalam setiap strategi yang harus anda lakukan,
    karena memungkinkan perusahaan untuk mengandalkan kekuatannya dan
    menggunakan ini sebagai keuntungan. Ini juga membuat perusahaan sadar akan
    kelemahan atau ancaman.
  4. Taktik
    Banyak strategi dalam usaha mengartikulasikan detail operasional untuk bagaimana
    pekerjaan harus dilakukan untuk memaksimalkan efisiensi. Orang-orang yang
    bertanggung jawab atas taktik memahami apa yang perlu dilakukan, menghemat
    waktu dan usaha.
  5. Rencana alokasi sumber daya
    Strategi yang terstruktur akan menemukan sumber daya yang diperlukan untuk
    menyelesaikan rencana, bagaimana sumber daya akan dialokasikan dan siapa yang
    bertanggung jawab untuk melakukannya.
  6. Pengukuran
    Strategi dalam kelangsungan usaha juga mencakup cara untuk melacak output
    perusahaan, mengevaluasi kinerjanya dalam kaitannya dengan target yang ditetapkan
    sebelum meluncurkan strategi

Fungsi Strategi Bisnis


Ada beberapa alasan mengapa strategi bisnis penting bagi organisasi, yaitu :
a. Perencanaan
Strategi yang baik membantu mengidentifikasi langkah-langkah kunci yang akan
diambil untuk mencapai tujuan usaha.
b. Menilai kekuatan dan kelemahan
Proses menciptakan strategi yang benar yaitu mengidentifikasi dan mengevaluasi
kekuatan dan kelemahan perusahaan, menciptakan strategi yang akan
memanfaatkan kekuatan dan mengatasi atau menghilangkan kelemahan.
c. Efisiensi
Strategi yang terencana dengan baik mengalokasikan sumber daya secara efektif
untuk kegiatan perusahaan yang secara otomatis membuat lebih efisien.
d. Kontrol
Mengontrol aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi, karena kita
perlu memahami jalan yang akan diambil dan dengan mudah menilai apakah
aktivitas ini membuat dekat dengan tujuan.
e. Keunggulan kompetitif
Dengan mengidentifikasi rencana yang jelas tentang bagaimana mencapai tujuan,
fokus pada memanfaatkan kekuatan, menggunakannya sebagai keunggulan
kompetitif yang membuat perusahaan kita unik

Tahapan Manajemen Strategi


Perumusan strategi menurut David (2017), Hitt, Ireland, dan Hoskisson, (2017)
yaitu:
 Perumusan strategi
Adalah proses penyelidikan, analisis, dan pengambilan keputusan yang
menyediakan kriteria bagi perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif.
Tahapan ini termasuk mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan
ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal
menetapkan tujuan jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif, dan memilih
strategi tertentu untuk dicapai. Pada perumusan strategi, manajer puncak memiliki
perspektif terbaik untuk memahami sepenuhnya konsekuensi dari keputusan
perumusan strategi karena mereka memiliki wewenang untuk menempatkan sumber
daya yang diperlukan didalam tahap implementasi.
 Implementasi strategi
Merupakan proses dimana strategi dan kebijakan diterapkan melalui pengembangan
program, anggaran, dan prosedur. Pada tahap ini perusahaan diharuskan untuk
menetapkan tujuan tahunan, menyusun kebijakan, memotivasi karyawan, dan
mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dijalankan.
Karena implementasi strategi sering kali melibatkan keputusan sehari-hari didalam
pengalokasian sumber daya, dilakukan oleh manajer tingkat menengah dan bawah,
dengan tinjauan oleh manajemen puncak, tahapan ini juga disebut sebagai
perencanaan operasional. David (2017) juga mengungkapkan bahwa implementasi
strategi dianggap sebagai tahap paling sulit didalam manajemen strategis karena
membutuhkan disiplin pribadi, komitmen, dan pengorbanan.
 Evaluasi strategi
Menurut Maulida, (2021:10-12). Tahapan evaluasi sekaligus pengendalian ini
bertujuan untuk memperoleh informasi strategi mana yang tidak berjalan dengan
baik dan membandingkan hasil kinerja aktual dengan kinerja yang diinginkan. Tiga
kegiatan evaluasi strategi mendasar yaitu:
a. Meninjau faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi saat ini
b. Mengukur kinerja, dan
c. Mengambil tindakan korektif

Manfaat Manajemen Strategi


Ada beberapa manfaat dari manajemen strategi yaitu :

  1. Proses dari manajemen ini bisa menghasilkan sebuah keputusan yang paling baik
    sebab interaksi kelompok yang mengumpulkan bermacam-macam keputusan
    strategi yang lebih besar ataupun banyak.
  2. Aktivitas dari formulasi strategi bisa mempertinggi kemampuan dari perusahaan
    dalam menghadapi bermacam-macam masalah yang sedang dihadapinya.
  3. Keterlibatan dari pegawai dalam formulasi strategi bisa memperbaiki pengertian
    mereka atas penghargaan produktivitas di dalam setiap perencanaan strategi,
    hasilnya akan membuat motivasi kerja pegawai semakin tinggi.
  4. Penerapan dari manajemen strategi bisa membuat manajemen perusahaan menjadi
    lebih peka terhadap ancaman eksternal. Setidaknya manajemen strategi juga bisa
    mencegah timbulnya bermacam-macam masalah yang berasal dari dalam
    menghadapi masalah.
  5. Membuat perusahaan bisa melakukan seluruh aktivitas operasionalnya dengan cara
    lebih efektif dan efisien.
  6. Bisa membuat perusahaan mudah untuk beradaptasi pada perubahan yang terjadi.
    Perusahaan yang memakai konsep manajemen strategi akan lebih profitable dari
    pada perusahaan yang tidak menerapkannya

Tujuan Dan Manfaat Manajemen Strategi


Menurut Aaker (2017:17) tujuan manajemen strategi :

  1. Mengedepankan pertimbangan dari pilihan strategis.
  2. Membantu sebuah bisnis untuk bisa mengatasi perubahan.
  3. Mendorong sebuah pandangan yang jauh.
  4. Membuat keputusan pengalokasian sumber daya menjadi nyata.
  5. Membantu analisis strategi dan pengambilan keputusan.
  6. Memberikan sebuah manajemen strategi dan sistem kendali.
  7. Memberikan sistem komunikasi dan koordinasi horizontal dan vertikal.

Pengertian Manajemen Strategi


Menurut Michael Porter (2021:7). Dilansir dari Harvard Business Review,
seorang Professor Harvard University bernama Michael Porter menyebutkan bahwa
manajemen strategi adalah pendekatan posisi unik dan berharga yang diperoleh dengan
melakukan serangkaian kegiatan. Porter juga menyebutkan bahwa dalam merumuskan
strategi bersaing harus mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan perusahaan, nilai
pribadi, peluang dan ancaman industri, serta harapan masyarakat.
Menurut Prawirosentono dan Primasari ( 2018:5) manajemen strategi adalah
ilmu dan seni untuk menyinergikan berbagai sumber daya yang dimiliki organisasi secara
proporsional sehingga dapat diambil rangkaian keputusan strategi untuk mencapai tujuan
organisasi secara optimum dengan memperhatikan lingkungan hidup. Oleh karena itu,
perusahaan perlu mengenali siapa pesaingnya, apa sasaran dan strategi mereka, apa
kekuatan dan kelemahan mereka dan bagaimana pola reaksi mereka dalam menghadapi
persaingannya.
Menurut Gluech (2021:7) manajemen strategi adalah keputusan yang mengarah
pada perumusan strategi untuk mencapai tujuan suatu perusahaan ataupun organisasi.
Menurut John A. Pearce II dan Richard B. Robinson dalam buku Strategi Manajemen
(2003) menyebutkan bahwa manajemen strategi adalah perencanaan skala besar dan
jangka panjang agar organisasi dapat berinteraksi secara efektif dalam produksi dan
mengoptimalkan pencapaian baik tujuan strategis maupun operasional

Peran dan Fungsi Pemerintah Daerah


Menurut Adam Smith dalam bukunya wealth of natiotts, dalam Indriana
(2015:28) bahwa pemerintah memiliki tugas melindungi masyarakat dari
pelanggaran dan invasi masyarakat lainnya, dan sejauh mungkin bertugas
melindungi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan atau tekanan dari
anggota masyarakat lainnya, serta bertugas menegakkan administrasi keadilan
secara pasti. Pandangan ini menempatkan peran pemerintah secara terbatas hanya
pada pertahanan, pengadilan dan polisional belaka. Pendapat tersebut relevan
dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 Tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, pasal 65 ayat (1)
Kepala daerah mempunyai tugas:
a. Memimpin pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan dan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD;
b. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat;
c. Menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang RPJPD dan
rancangan Perda tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas
bersama DPRD, serta menyusun dan menetapkan RKPD;
d. Menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD,
rancangan Perda tentang perubahan APBD, dan rancangan Perda
tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD
untuk dibahas bersama;
e. Mewakili derahnya didalam dan di luar pengadilan, dan dapat
menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang – undangan; dan
f. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pengertian Otonomi Daerah


Otonomi Daerah secara etimologis berasal dari kata autos (bahasa latin)
dan nomos (bahasa yunani). Autos memiliki arti sendiri sedangkan nomos
memiliki arti aturan jadi dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah secara
etimologis berarti “memerintah sendiri” atau “pemerintahan sendiri” yang artinya
pemerintah mempunyai kewenangan untuk mengatur sendiri urusan rumah
tangganya. Menuru Hendratno (dalam Indriana 2015:27) inti pelaksanaan otonomi
daerah adalah terdapatnya kebebasan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan
pemerintahan sendiri atas dasar prakarsa, kreativitas dan peran serta aktif
masyarakat dalam rangka mengembangkan dan memajukan daerahnya.
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 pasal 1 ayat (6).
Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemberian
kewenangan pada setiap daerah mempunyai tujuan untuk mempermudah
mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan, pemberdayaan dan
peran serta masyarakat daerah. Pemberian otonomi yang luas kepada daerah
diharapkan mampu memberikan peningkatan daya saing daerah dengan
memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan
kekhususan serta potensi keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia

Pengertian Pemerintah Daerah


Menurut Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah Daerah, menjelaskan bahwa:
“Pemerintah Daerah adalah Kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah otonom. Pemerintah Daerah merupakan
penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan
perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri berdasarkan asas
otonomi dan tugas pembantuan”.
34
Pengertian lain mengenai pemerintah daerah menurut Husein dalam
Indriana (2015 : 26) mengungkapkan bahwa local government merupakan sebuah
konsep yang dapat mengandung tiga arti.
a. Pertama, ia berarti pemerintah lokal yang kerap kali dipertukarkan
dengan local authority yang mengacu pada organ, yakni council dan
mayor dimana rekrutmen penjabatnya didasarkan pemilihan.
b. Kedua, ia mengacu pada pemerintahan lokal yang dilakukan oleh
pemerintah lokal. Arti kedua ini lebih mengacu pada fungsi. Dalam
menentukan fungsi yang menjadi kewenangan pemerintah daerah,
terdapat dua prinsip yang lazim dipergunakan. The ultra vires doctrine
menunjukkan bahwa pemerintah daerah dapat bertindak pada hal-hal
tertentu dan memberikan pelayanan tertentu saja, fungsi atau urusan
pemerintah bagi pemerintah daerah dirinci sedangkan fungsi
pemerintahan yang tersisa menjadi kompetensi pemerintah pusat.
Prinsip general competence atau open arrangement merupakan
kebalikan dari prinsip sebelumnya tersebut. Pemerintah daerah harus
melakukan apa saja yang dipandang perlu dalam memenuhi kebutuhan
daerahnya sebagaimana yang ditentukan oleh para pengambil
keputusan di daerah itu, pemerintah pusat telah mempunyai urusan
atau fungsi yang terinci, sementara sisanya merupakan fungsi atau
urusan yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah ( Hoessei,
2001b; Smith,1985:87).
c. Ketiga, ia bermakna daerah otonom. Hoessein (20001c) menjelaskan
bahwa pembentukan daerah otonom yang secara simultan merupakan
kelahiran status otonomi berdasarkan atas aspirasi dan kondisi objektif
dari masyarakat yang berada di wilayah tertentu sebagai bagian dari
bangsa dan wilayah nasional. Masyarakat yang menuntut otonomi
melalui desentralisasi menerima menjadi daerah otonom sebagai
kesatuan masyarakat hukum yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintah menurut prakara sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat.

Teori Pilihan Rasional


Menurut Wijaya dan Danar (2014:35-37) teori pilihan rasional adalah
prilaku politik yang dalam asumsi sederhana bahwa aktor politik, termasuk
didalamnya birokrasi dan masyarakat adalah instrumental, hanya melayani dan
memaksimalkan perilaku kepentingan dirinya sendiri. James Buchanan (dalam
Wijaya dan Danar : 2014) menyatakan bahwa teori pilihan rasional merupakan
teori ekonomi neoklasik yang di aplikasikan dalam sektor publik. Teori ini
kemudian berkembang dan belakangan populer dengan sebutan teori pilihan
publik.
Karakteristrik inti dari teori pilihan rasional dipisahkan dari pendekatan
politik tradisoional dan teori administrasi publik adalah penekanannya pada
rasionalitas, mengenai aktor yang memiliki kepentingan pribadi. Berdasarkan
teori Smith, masyarakat dan birokrat dalam konteks ini di asumsikan bahwa
mereka masyarakat dan birokrat diikat karena termotivasi oleh keinginan untuk
menguntungkan diri mereka sendiri. Teori pilihan rasional dan pengambilan
keputusan memperkenalkan konsep individualis moralitas baru, yakni, pandangan
pada perilaku manusia yang rasional.
33
Adam Smith (dalam Wijaya dan Danar: 2014:36) menjelaskan fenomena
ekonomi dalam karyanya “the Wealth of Nations” yang menyebutkan bahwa
setiap individu tertarik dan hanya akan mengejar manfaat bagi dirinya sendiri,
meskipun dengan demikian seringkali „diarahkan oleh yang „tak terlihat‟… tanpa
mengetahuinya, tanpa menyadarinya atau bahkan tanpa bermaksud untuk
kepentingan dirinya..‟ dan berdalih melakukannya untuk memajukan kepentingan
masyarakat. Meskipun Adam Smith masih berpendapat bahwa kesejahteraan
masyarakat sangat terkait antara satu dengan yang lain, antara lain, pada hukum
dan lembaga publik, pengikutnya berkonsentrasi sepenuhnya pada bagaimana
mengoptimalkan kegiatan individu, yaitu bagaimana untuk mencapai keuntungan
maksimum pada biaya minimum.

Prinsip-prinsip Pembangunan Ekonomi Lokal


Di dalam pembangunan ekonomi lokal terdapat prinsip-prinsip yang dapat
mendukung tercapainya pembanguan ekonomi lokal. Berikut ini terdapat
beberapa prinsip dari pembangunan ekonomi, lokal menurut Organisasi
Perburuhan Internasional dalam Kurniawati (2016:42) :
a. Partisipasi dan dialog sosial: keterlibatan pihak-pihak lokal yang
terkait dalam proses pembangunan di wilayahnya sendiri merupakan
prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Pengguanaan
mekanisme partisipatif menggurangi risiko konflik dan membangun
kohesi sosial. Mengupayakan pihak-pihak yang berkepentingan
bertemu disatu meja melalui forum lokal akan membantu terbentuknya
kepercayaan. Mendorong inovasi dan meningkatkan penciptaan
jaringan dan kegiatan sosial. Desain dan implementasi strategi dari
baah ke atas selanjutnya menjamin solusi yang paling sesuai untuk
kebutuhan lokal dan merupakan jaminan bagi berkelanjutan proses
pembangunan.
b. Kemitraan publik/swasta: investasi pelengkap yang ditargetkan
seakurat mungkin akan mendatangkan tingkat pengembalian sosial
ekonomi yang tinggi. PEL adalah cara untuk mencapai mobilisasi
sumber daya lokal dengan mendorong pengalokasian yang efisien.
Maka kemitraan antara swasta, publik, dan sektor nirlaba menjadi
krusial dalam proses pembangunan berkelanjutan, yang
memungkinkan konvergensi dalam pemrograman investasi antara lokal
yang berbeda. Kerjasama dan koordinasi kegiatan pembangunan
mencegah pendekatan “masing-masing” yang tidak efektif dan
mendukung legitimasi dan berkelanjutan proses pembangunan.
c. Wlayah: kedekatan geografis dan budaya mendukung seperangkat
kondisi yang ideal untuk pertumbuhan, inovasi dan pembangunan,
pertama pihak terkait dari wilayah yang sama mempunyai pengetahuan
yang lebih baik akan kebutuhan dan sumber dayanya. Kedua, wilayah
lebih memungkinkan adanya kepentingan yang sama dan kedekatan
kultural. Ketiga, wilayah memungkinkan terjadinya interaksi sosial,
ekonomi dan politik yang sering antar aktor daerah, sehingga
menghasilkan kohesi dan kepercayaan sosial. Terakhir adalah platform
yang ideal bagi terciptanya suara daerah yang kuat atas nama semua
pihak yang berkepentingan. Berbeda dengan pendekatan pembangunan
masyarakat yang tradisional, PEL memberikan cara dan struktur yang
mewakili suatu daerah bilamana menghadapi mitranya ditingkat
nasional dan internasional.

Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal


Konsep yang digunakan untuk pengembangan wilayah yang berbasis
ekonomi lokal merupakan konsep pembangunan yang didasarkan pada kondisi
yang sesuai dengan keadaan lingkungan atau daerahnya sesuai dengan kapasitas
lokal yang semakin berkembang. Prinsip utama dalam implentasi pengembangan
ekonomi lokal (PEL) adalah kerjasama pemerintah dengan swasta. Menurut Chura
dan Orozobekov dalam Saragih (2015:59-60) PEL mengutamakan peningkatan
kesempatan kerja dan pendapatan rumah tangga, pengurangan kemiskinan dan
pengangguran kemiskinan dan pengangguran. Berdasarkan pendapat tersebut
maka dapat dikatakan bahwa pembangunan ekonomi perlu dilakukan mulai dari
tingkat lokal dan penduduk lokal sehingga penmbangunan ekonomi lokal dapat
memperoleh manfaat dari pembangunan tersebut. Menurut Saragih (2015:60) :
Peran Pemerintah lokal dalam PEL adalah menciptakan kondisi yang
baik bagi berkembangnya wirausahawan dan meningkatnya
pembangunan lokal. Peran pemerintah lokal bukan membentuk
perusahaan baru, tetapi meningkatkan kualitas pelayanan publik. Peran
pemerintah lokal untuk bertahan bahkan memperluas aktivitas mereka
serta menarik investor dari luar wilayah. Dengan demikian, untuk
menggerakkan PEL perlu dilakukan lima tahapan :

  1. Pengorganisasian.
  2. Evaluasi strategi sebelumnya.
  3. Menyusun rencana strategik untuk pembangunan ekonomi lokal.
  4. Menciptakan sistem PEL dan mengiplementasikan rencana strategik,
    dan
  5. Monitoring dan evaluasi

Pengertian Pengembangan Ekonomi Lokal


Pemeran utama dalam melakukan pembangunan ekonomi yaitu
pemerintah daerah atau pemerintah lokal yang ada didalamnya. Kesejahteraan
masyarakat dapat dicapai melalui strategi pembangunan yaitu pengembangan
ekonomi lokak (PEL). Menurut Blakely (1994) dalam Kurniawati (2016:37)
mengartikan pengembangan ekonomi lokal (PEL) sebagai suatu proses
pembangunan ekonomi dimana pemerintah daerah dan atau kelompok masyarakat
berperan aktif mengelola sumberdaya alam yang dimiliki melalui pola kerjasama
dengan pihak swasta atau lainnya. Menciptakan lapangan pekerjaan, memberikan
stimulasi kegiatan ekonomi pada zona perekonomiannya. Pengembangan ekonomi
lokal merupakan kegiatan pemerintah dan masyarakat (penduduk lokal) yang
bersama-sama melaksanakan suatu kegiatan atau aktivitas dalam meningkatan
ekonomi lokal.
Menurut Saragih (2015:55) tujuan utama pengembangan ekonomi lokal
adalah untuk merangsang kesempatan kerja lokal pada suatu sektor tertentu untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan sember daya
manusia dan sumber daya alam. Selain itu, menurut Munir dalam Susanti (2014:
33) Pengembangan ekonomi lokal (PEL) adalah suatu proses yang mencoba
merumuskan kelembagaan – kelembagaan pembangunan di daerah, peningkatan
kemampuan SDM untuk menciptakan produk-produk yang lebih baik serta
pembinaan industri dan kegiatan usaha pada skala lokal. Jadi, pengembangan
wilayah dilihat sebagai upaya pemerintah daerah bersama masyarakat dalam
membangun kesempatan-kesempatan ekonomi yang cocok dengan SDM, dan
mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan kelembagaan secara lokal.
Dari beberapa definisi Pembangunan Ekonomi Lokal (PEL) dapat disimpulkan
bahwa Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) adalah proses pembangunan
ekonomi dimana pemerintah daerah dan atau kelompok masyarakat bersama-sama
melaksanakan suatu kegiatan atau aktivitas dalam meningkatan ekonomi lokal
dengan mengelola sumberdaya alam guna menciptakan lapangan pekerjaan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan ekonomi lokal dilakukan
untuk peningkatan kemampuan SDM untuk menciptakan produk-produk yang
lebih baik serta pembinaan industri dan kegiatan usaha pada skala lokal.
Pengembangan ekonomi lokal (PEL) mencoba merumuskan kelembagaankelembagaan pembangunan di daerah, peningkatan kemampuan SDM untuk
menciptakan produk-produk yang lebih baik serta pembinaan industri dan
kegiatan usaha pada skala lokal. Pengembangan Ekonomi Lokal untuk mengatasi
masalah kemiskinan. Pendekatan ini pada intinya berfokus pada:
a. Pemasaran dan ekspor pengembangan kegiatan ekonomi lokal perlu
berorientasi kepada pemasaran dan ekspor. Hal ini penting karena
berbagai program selama ini hanya berorientasi pada peningkatan
produksi tanpa mempertimbangkan pemasarannya, sehingga akhirnya
berhenti ditengah jalan. Selain itu prioritas perlu diberikan kepada
kegiatan yang tidak bermuara kepada ekspor, apalagi konsumsi lokal,
tidak akan memperbesar “kue”, sehingga akibatnya hanya bersifat
“zero sum game” (membantu yang satu, mematikan yang lain).
b. Pengembangan klaster (cluster development) untuk mendukung
pemasaran dan ekspor tersebut, perlu dikembangkan mata rantai
kegiatan ekonomi hulu-hilir (supply chain) yang efisien dan efektif,
agar daya saing produk yang dihasilkan meningkatkan. Pengembangan
ekonomi lokal sebaiknya dimulai dari mata rantai produk yang saat ini
terbukti dapat diandalkan untuk ekspor, dan multiplier effectnya luas,
sehingga hasilnya dapat segera dirasakan oleh partisipan dan
stakeholders secara luas. Dengan demikian, konsep yang diharapkan
akan lebih mudah diterima dan direplikasikan kepada mata rantai
kegiatan ekonomi lain.
c. Kemitraan stakeholder. Mata rantai menuju kegiatan ekoonomi dan
kegiatan-kegiatan penunjangnya akan sulit terwujud dan bersinergi
tanpa adanya spirit kemitraan antar pelaku dan para stakeholdersnya.
Untuk mengembangkan kemitraan yang efektif dan berfungsi baik,
perlu memupukkan modal sosial (socia capital) yang dibutuhkan untuk
menumbuhkan rasa saling percaya antara pelaku dan stakeholders.
Kemitraan yang dikembangkan tidak hanya antar pelaku ekonomi,
melainkan juga antara pelaku ekonomi (swasta) dengan pemerintah ,
antar unit/lembaga pemerintah, serta antar daerah.
d. Pemberdayaan forum kemitraan antar pelaku dan stakeholders tersebut
tidak akan efektif tanpa adanya “pemberdayaan”, yaitu kerelaan dari
pemerintah daerah untuk memberi keleluasaan bagi forum kemitraan
atau pelaku ekonmi umumnya untuk mengatur dirinya sendiri,
terutama pemberdayaan masyarakat juga menjadi point penting dalam
pengembangan ekonomi lokal. Disini peran pemerintah ialah sebagai
“steering rather than rowing” Arsyad dalam Kurniawati (2016:38-39)
Pendekatan dan strategi Pengembangan Ekonomi Lokal menurut
Supriyadi (2007: 107) berpendapat bahwa pendekatan dan strategi PEL dapat
dilihat dalam delapan dimensi perencanaan wilayah, yaitu rasionalitas keputusan,
fokus dan perencanaan, dasar pemikiran aliran filsafat, kedudukan negara dan
komunitas, peran negara dan perencanaan, orientasi publik, tingkat kebebasan
berfikir/bertindak, dan arah pengembangan wilayah atau kota.
Menurut Menurut Blakely dalam Supriyadi (2007, h.103-123) dalam
keberhasilan pengembangan ekonomi lokal dapat dilihat dari beberapa indikator,
yaitu:
1) perluasan kesempatan bagi masyarakat kecil dalam kesempatan kerja
dan usaha;
2) perluasan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan;
3) keberdayaan lembaga usaha mikro dan kecil dalam proses produksi dan
pemasaran; dan
4) keberdayaan kelembagaan jaringan kerja kemitraan antara pemerintah,
swasta, dan masyarakat lokal

Perencanaan Strategi dalam Praktik


Perencanaan yang strategik akan membawa dampak positif terhadap
kinerja organisasi/perusahaan. Agar sebuah perencanaan strategik dapat bekerja
dengan baik, setidaknya para pemimpin perusahaan/organisasi tidak hanya
berfokus pada situasi persaingan saat itu, tetapi juga mengantisipasi situasi pada
masa mendatang. Dalam Udaya, dkk (2014:16) menjelaskan bahwa para pakar
telah menyiapkan beberapa teknik untuk mengantisipasi lingkungan bersaing pada
masa mendatang. Beberapa teknik yang terkenal adalah Scenario Planning, yang
dikembangkan oleh General Electric, Decentralized Planning dan Strategic Intent,
yang dikembangkan oleh Gary Hamelndan C.K. Prahalad.
Scenario Planning
Tidak semua rencana sebaik apapun yang dibuat manusia selalu berhasil,
banyak hal menyebabkan kegagalan khususnya perubahan lingkungan memainkan
peranan sangat penting terhadap kegagalan apabila para pimpinan tidak
memperhatikan masalah lingkungan secara serius. Untuk mengantisipasi situasisituasi yang tidak diinginkan pada masa mendatang dan mengantisipasi
perubahan-perubahan yang mungkin timbul di lingkungan. Menganalisis Scenario
Planning menyangkut memformulasikan rencana-rencana berdasarkan skenario
bilamana tidak pada masa datang. Artinya, bilamana lingkungan tidak sesuai
dengan rencana, apa yang harus dilakukan organisasi/perusahaan. Rencana
didasarkan atas perkiraan yang optimistik dan pesimistik sehingga para pimpinan
harus memberikan solusi terhadap situasi yang dianggap mungkin akan terjadi.
Keuntungan Scenario Planning adalah para manajer/pimpinan dipaksa
untuk berpikir di luar lingkaran cara biasa berpikir dan mengetahui bahwa di luar
itu terdapat situasi yang berbeda dengan yang biasa mereka pikirkan. Dengan
demikian mereka harus menerima bahwa lingkungan diluar perusahaan dapat
berbeda-beda dan berubah-ubah sehingga mereka harus dapat bertindak secara
flesibel, bukan menggantungkan diri pada rencana-rencana yang tidak
mengantisipasi terjadi perubahan-perubahan tersebut sehingga tidak fleksibel.
Decentralized Planning
Kesalahan utama seringkali dilakukan adalah perencanaan hanya dibuat
oleh top manager. Para manager atau pemimpin adalah putusan segala
kepentingan perusahaan yanag sering berada jauh diluar perusahaan/organisasi
sehingga mengakibatkan rencana-rencana mereka sangat berbeda dengan keadaan
sesungguhnya yang dihadapi. Akibatnya rencana-rencana tersebut tidak dapat
dilaksanakan dengan baik sehingga dapat mengakibatkan kemunduran kinerja
organisasi/perusahaan.
Untuk mengubah hal tersebut rencana-rencana harus melibatkan semua
lapisan manajer perusahaan, dari lapisan atas sampai lapisan bawah. Ini berarti
bahwa pembuatan rencana harus di desentralisasikan. Para manajer/pemimpin
membuat rencana-rencana strategis yang menyangkut tujuan yang ingin dicapai.
Namun mengikutsertakan para manajer/pemimpin tingkat bawah saja tidak cukup
untuk memastikan kinerja mereka baik, tetapi mereka juga harus mempunyai
pandangan bahwa putusan-putusan yang diambil masuk akal dan jujur.
Strategic Intent
Dasar konsep Strategic Intent adalah penetapan sebuah visi serta tujuantujuan yang ambisius yang menyebar di perusahaan atau organisasi dan
kemungkinan mencari cara-cara untuk membangun sumber daya serta kapabilitas
yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Proses perencanaan stratejik
harus dimulai dari penetapan sebuah visi yang menantang. Dalam proses
selanjutnya pemimpin harus mencari strategi untuk mengembangkan sumber daya
serta kapabilitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut daripada
hanya menggunakan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan
peluang yang ada.

Proses Pembuatan Strategi


Menurut Udaya, dkk (2013:11-13) proses pembuatan strategi terdiri dari
beberapa tahapan meliputi;
a. Merumuskan visi dan misi
Visi adalah keterangan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi
perusahaan. Sedangkan misi adalah jawaban atau keterangan terhadap bagaimana
visi tersebut akan dicapai. Misi menjelaskan keberadaan organisasi yang
dinyatakan melalui pernyataan (statement) mengenai alasan keberadaannya serta
mengemukakan produk, pasar, serta teknologi yang digunakan dalam
melaksanakan misi. Visi dan misi merupakan dasar dari keberadaan sebuah
organisasi/perusahaan, keberadaan visi dan misi akan memberikan arah ke mana
perusahaan/organisasi itu akan dijalankan dengan cara bagaimana.
b. Analisis Lingkungan
Analisis lingkungan terdiri dari analisis secara internal dan eksternal.
Analisis internal adalah kegiatan meninjau peluang dan kelemahan organisasi
dalam melaksanakan tugasnya, khususnya menyangkut sumber daya, keuangan,
fisik dan manusia. Sedangkan analisis eksternal menyangkut analisis kondisikondisi yang terdapat di lingkungan eksternal yang dihadapi sebuah organisasi.
Analisi eksternal menganalisis situasi jarak jauh, situasi industri.
c. Pilihan-pilihan Strategi
Setelah melakukan analisis lingkungan selanjutnya adalah harus memilih
strategi mana yang akan digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Strategistrategi yang dipilih akan membawa kita dalam mencapai keunggulan bersaing
d. Strategi Implementasi
Setelah menyelesaikan dan menetap strategi yang dipilih pimpinan
selanjutnya mengimplementasikan strategi-strategi yang sudah dipilih dengan
melakukan sejumlah tindakan yang menyangkut perubahan-perubahan atau
penyesuaian-penyesuaian dibidang struktur, budaya, dan kontrol. Implementasi
strategi sering disebut sebagai tahapan tindakan dari manajemen strategi. Dalam
implementasi strategi, perusahaan diharapkan menetapkan atau merumuskan
tujuan perusahaan/organisasi tahunan, memikirkan dan merumuskan kebijakan,
memotivasi karyawan serta mengalokasikan sunber daya sehingga strategi yang
telah diformulasikan dapat dilaksanakan.
e. Evaluasi Strategi
Setelah strategi yang terpilih diimplementasikan. Hal yang harus
dilakukan adalah mengevaluasi atas hasil pelaksanaan strategi-strategi tersebut.
Apakah strategi tersebut mencapai tujuan seperti yang diinginkan. Semua hasil
evaluasi menjadi bahan pelaporan kepada pimpinan dengan demikian pimpinan
dapat memutuskan harus melakukan perubahan-perubahan dalam strategi yang
ada untuk melanjutkan strategi-strategi yang sudah diterapkan selama ini. Hasil
dari evaluasi dapat dikatakan sebagai umpan balik yang dianggap sebagai alat
untuk meningkatkan pengambilan putusan yang lebih baik pada masa mendatang.

Klasifikasi strategi


Dilihat dari tingkatan tugas strategi diklasifikasikan menjadi 3 jenis
strategi menurut Grant dalam Panjarwanto (2016: 43) yaitu:
1) Strategi generik adalah suatu pendekatan startegi perusahaan dalam rangka
mengungguli pesaing dalam industri sejenis.
2) Strategi utama merupakan strategi yang lebih operasional dan merupakan
tindak lanjut dari strategi generik.
3) Strategi fungsional merupakan strategi yang bersifat spesifik serta
terperinci tentang pengelolaan bidang-bidang fungsional tertentu, seperti
bidang pemasaran, bidang keuangan, bidang SDM, bidang pelayanan, dan
sebagainya.

Peranan Strategi


Dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, strategi memiliki peranan
yang sangat penting bagi pencapaian tujuan, karena strategi memberikan arah
tindakan, dan cara bagaimana tindakan akan dilakukan guna pencapaian tujuan
yang ingin dicapai. Menurut Grant dalam Panjarwanto (2016:42) strategi memiliki
3 peranan penting dalam mengisi tujuan manajemen yaitu :
a. Strategi sebagai pendukung untuk pengambilan keputusan dan elemen
untuk menuju sukses. Strategi merupakan suatu tema yang memberikan
keputusan yang diambil oleh individu atau organisasi.
b. Strategi sebagai sarana koordinasi dan komunikasi untuk memberikan
kesamaan arah bagi perusahaan.
c. Strategi sebagai target yang menggabungkan misi dan visi untuk
menentukan di mana perusahaan berada dalam masa yang akan datang.
Penetapan tujuan tidak hanya dilakukan untuk memberikan arah bagi
penyusunan strategi tetapi juga untuk membentuk aspirasi bagi perusahaan
sehingga dapat dikatakan strategi sebagai target perusahaan

Manfaat Strategi


Penetapan strategi tentunya akan membawa manfaat bagi suatu organisasi.
Strategi yang tepat akan mampu mencapai sasaran yang diinginkan oleh suatu
organisasi. Siagian (2002:206) menjelaskan manfaat dari penetapan strategi pada
organisasi antara lain :

  1. Memperjelas makna dan hakikat suatu perencanaan dengan
    mengidentifikasi lebih spesifik tentang bagaimana organisasi harus
    mengelola hal-hal yang ada dimasa mendatang.
  2. Strategi merupakan suatu cara efektif untuk merealisasikan kegiatan
    dalam rangka penetapan sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan kegiatan di berbagai
    bidang.
  4. Mengetahui berbagai cara untuk mencapai tujuan dan sasaran serta
    prioritas pembangunan pada suatu bidang sesuai kemampuan yang
    memiliki secara konkret dan jelas.
  5. Sebagai proses penyelesaian permasalahan melalui serangkaian proses
    pengambilan keputusan.
  6. Untuk mempermudah koordinasi bagi semua pihak yang berpartisipasi
    dan mempunyai presepsi yang sama tentang bentuk serta sifat interaksi,
    interdepedensi dan interlasi yang harus tumbuh dan terpelihara dalam
    mengelola jalanya roda organisasi, sehingga akan mengurangi atau
    bahkan menghilangkan kemungkinan timbulnya konflik antara berbagai
    pihak terkait. Dengan demikian strategi dapat berjalan sesuai dengan apa
    yang ditetapkan.
    Intinya manfaat penetapan strategi adalah memperjelas suatu perencanaan
    dengan mengidentifikasi lebih spesifik cara efektif serta merealisasikan kegiatan
    dalam rangka penetapan sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan sehingga dapat
    digunakan sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan kegiatan di berbagai
    bidang untuk mencapai tujuan dan sasaran serta prioritas pembangunan pada suatu
    bidang sesuai kemampuan yang memiliki secara konkret dan jelas. Strategi juga
    sebagai cara penyelesaian masalah dengan pengambilan keputusan dengan cara
    mengkoordinasi dengan semua pihak yang berpartisipasi dan mempunyai presepsi
    yang sama.

Konsep Manajemen Strategi


Menurut Susanto (2014:2) manajemen strategik adalah suatu proses untuk
menentukan arah dan tujuan organisasi dalam jangka panjang beserta pemilihan
metode untuk mencapinya melalui pengembangan formulasi strategi dan
implementasi yang terencana secara sistematis. Istilah manajemen strategik
berasal dari dua kata yaitu “ manajemen” dan “strategi”. Sedangkan kata strategik
adalah kata sifat dari kata strategi. Dalam pengertian perusahaan (korporasi),
manajemen merupakan individu atau sekelompok orang yang bertanggung jawab
menganalisis dan mencapai tujuan organisasi. Sebagai kelompok fungsi,
manajemen mencakup fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing), penerapan (actuating), dan pengawasan (controlling).
Kata strategi diartiakan sebagai keputusan dan tindakan untuk mencapai
tujuan perusahaan pada setiap level organisasi. Kata sifat “startegik” memiliki
asosiasi dengan istilah “tingkat tinggi”, “berdampak besar”, dan “bersifat jangka
panjang”, ditambah lagi dengan suatu semangat untuk tidak mau didekte oleh
keadaan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan manajemen strategik memiliki
peran yang penting yaitu;
a. Manajemen strategik membantu kita menangani ketidakpastian melalui
suatu pendekatan yang sistematis,
b. Manajemen strategik menyelaraskan tujuan antar unit dalam
organisasi,
c. Manajemen strategik membenahi peran setiap anggota organisasi,
d. Manajemen strategik melatih penerapan budaya dan kepemimpinan,
dan
e. Manajemen strategik menjadi sarana komunikasi jangka panjang dan
acuan bagi dewan direksi.
Manajemen strategik terdiri dari dua elemen, yaitu formulasi strategi dan
implementsai strategi. Dalam formulasi strategi, organisasi menentukan visi dan
misi, arah strategi, strategi, dan sasaran. Sedangkan dalam implementasi strategi
ditetapkan struktur, SDM, dan sistem organisasi yang semua elemen ini harus
ditopang oleh kepemimpinan dan budaya yang sesuai.

Pengertian Strategi


Kata “Strategi” berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu strategos yang
dapat diterjemahkan sebagai komandan militer pada zaman demokrasi Athena.
Pengertian strategi menurut Siagian (2012:17) adalah rencana berskala besar yang
berorientasi jangkauan masa depan yang jauh serta ditetapkan sedemikian rupa
sehingga memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif dengan
lingkungannya dalam kondisi persaingan yang kesemuanya di arahkan pada
optimalisasi pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang
bersangkutan. Menurut Webster New World Dictionary ( dalam Udaya dkk, 2013:
6), strategi adalah;

  1. Ilmu merencanakan serta mengarahkan kegiatan-kegiatan militer dalam
    skala besar dan memanuver kekuatan-kekuatan ke dalam posisi yang
    paling menguntungkan sebelum bertempur dengan musuhnya,
  2. Sebuah keterampilan dalam mengelola atau merencanakan suatu
    strategem atau cara yang cerdik untuk mencapai suatu tujuan.
    Definisi berbeda dari pendapat Wit dan Meyer ( dalam Udaya dkk, 2013:6)
    yang mengatakan bahwa strategi harus dilihat dan dipahami berdasarkan tiga
    dimensi, yaitu prosess, content, dan context.
  3. Strategy process
    Cara bagaimana strategi-strategi timbul, dimana letak strategy process
    (atau strategimen proses) , proses strategi menyangkut bagaimana, siapa,
    dan bilamana strategi itu sendiri; bagaimana strategi tersebut, dan
    bagaimana seharusnya strategi itu dibuat, di analisis, dibentuk,
    diformulasi, diimplementasi, diubah, dan dikontrol; siapa yang
    tersangkut; kapankah kegiatan-kegiatan yang diperlukan.
  4. Strategi content
    Hasil/produk proses strategi disebut strategy content. Jika dinyatakan
    sebagai sebuah pertanyaan, strategy content berhubungan dengan apa dari
    strategi, apa itu strategi, dan bagaimana isi yang seharusnya dari strategi
    tersebut bagi perusahaan serta untuk unitnya masing-masing.
  5. Strategy context
    sekumpulan keadaan berbagai proses strategi dan strategy content
    ditentuka disebut strategy context. Bila dinyatakan sebuah pertanyaan,
    strategy content tersebut terkait dengan dimana strategi berada; di
    perusahaan mana dan di lingkungan apa proses strategi dan strategy
    content itu ada

Indikator Keseimbangan Kehidupan Kerja


Indikator-indikator untuk mengukur Work-Life Balance menurut
McDonald dan Bradley (2017) terdiri dari:

  1. Time balance (keseimbangan waktu)
    Time balance merujuk pada jumlah waktu yang dapat diberikan oleh individu,
    baik bagi pekerjaannya maupun hal-hal diluar pekerjaannya.
  2. Involvement balance (keseimbangan keterlibatan)
    Merujuk pada jumlah atau tingkat keterlibatan secara psikologis dan komitmen
    suatu individu dalam pekerjaannya maupun hal-hal diluar pekerjaannya.
  3. Satisfaction balance (keseimbangan kepuasan)
    Merujuk pada jumlah tingkat kepuasan suatu individu terhadap kegiatan
    pekerjaannya maupun hal-hal di luar pekerjaannya

Faktor-faktor Keseimbangan Kehidupan Kerja


Dibawah ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi seorang individu
meraih keseimbangan kehidupan-kerja menurut Paulose dan Sudarsan (2014:5)
sebagai berikut :

  1. Gender
    Peran seorang individu berdasarkan gender adalah hal yang sering diterapkan
    dalam sistem pembagian tugas dilingkungan keluarga secara tradisional.
    Dengan demikian hal tersebut rentan mengalami konflik peran jika mereka
    terjundalam dunia kerja.
  2. Perencanaan kerja
    Perencanaan jam kerja yang fleksibel dan kebijakan – kebijakan kerja juga
    membantu pegawai untuk bisa menyeimbangkan perannya dalam pekerjaan
    dan perannya di luar pekerjaan.
  3. Dukungan
    Organisasi Seperti mendapat dukungan dari atasan atau rekan kerja
    memberikan pengaruh untuk seorang pegawai bisa menyeimbangkan
    kehidupan-kerja nya. Semakin tinggi dukungan yang diberikan dan didapatkan
    di tempat kerja semakin tinggi pula keseimbanga kehidupan-kerja pegawai.
  4. Dukungan Keluarga
    Hal ini begitu penting karena awal mula kehidupan seorang pegawai adalah
    berasal dari kehidupan keluarga terlebih dahulu. Dengan mendapatkan 17
    dukungan dari keluarga memberikan dampak energi positif untuk bekerja
    dengan baik hingga mencai Work-life Balance.
  5. Job Stress
    Ketidaknyamanan atau situasi tegang di lingkungan pekerjaan membuat
    pegawai cenderung tertekan dan mempengaruhi kehidupan baik pada
    pekerjaan maupun diluar pekerjaan

Definisi Keseimbangan Kehidupan Kerja


Menurut Rifadha et al. (2017) Keseimbangan Kehidupan Kerja merupakan
kapabilitas seorang individu dapat memenuhi tugas dari pekerjaannya serta tuntutan
dari luar pekerjaan, dan hal tersebut membuat individu bahagia. Kemudian menurut
Delecta (2017), Keseimbangan Kehidupan Kerja adalah kemampuan individu
untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban mereka di tempat kerja dengan
kebutuhan pribadi diluar pekerjaan.
Lebih lanjut lagi menurut McDonald dan Bradley ((2017) menyatakan
bahwa keseimbangan kehidupan kerja adalah sejauhmana seseorang merasa puas
dengan menjalankan segala peran dalam kehidupan diluar dan didalam
pekerjaannya.
Sedangkan menurut Susilawati & Widyasari (2019) Keseimbangan
Kehidupan Kerja adalah sejauh mana keterlibatan dan kepuasan individu dalam
peran mereka diantara kehidupan pribadi dan kehidupan pekerjaan serta tidak
menimbulkan konflik diantara keduanya
Adapun menurut Larasati et al (2019) .Keseimbangan Kehidupan Kerja
juga merupakan suatu cara untuk karyawan memiliki gaya hidup sehat dan
bermanfaat, sehingga hal tersebut dapat memengaruhi peningkatan kinerja mereka

Indikator Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX)


Terdapat tiga indikator menurut Casimir (2014:369) yaitu sebagai berikut:

  1. Respect (Rasa Hormat)
    Saling menghormati satu sama lain antara atasan dan bawahan dapat
    membentuk hubungan yang baik antara atasan dan bawahan. dalam sebuah
    organisasi, hubungan yang baik tidak akan terjadi tanpa adanya rasa hormat
    baik berasal karyawan terhadap pemimpin maupun sebaliknya. Karyawan akan
    merasa dihargai bila pemimpin mereka mengetahui serta memahami kebutuhan
    mereka. di samping itu rasa hormat juga bisa diperlihatkan pemimpin
    menggunakan menyampaikan pengakuan serta mengapresiasi prestasi
    karyawan tersebut.
  2. Trust (Kepercayaan)
    Rasa saling percaya antara atasan dan bawahan membantu terbentuknya
    hubungan atasan dan bawahan. Trust atau kepercayaan ialah kondisi dimana
    karyawan menunjukkan tindakan yang mendukung keputusan pemimpin serta
    mengetahui tingkat kepuasan pemimpin terhadap pekerjaannya.
  3. Obligation (Kewajiban)
    Suatu kewajiban akan berpengaruh dan berkembang menjadi hubungan kerja
    antara atasan dengan bawahan. Obligation atau kewajiban merupakan kondisi
    dimana pemimpin tidak hanya memberikan instruksi di karyawannya, namun
    juga menolong serta memberikan bantuan tentang bagaimana cara
    menyelesaikan tugas yang diberikan

Faktor-Faktor Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX)


Menurut Gupta (2009), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
Leader-Member Exchange (LMX), antara lain yaitu sebagai berikut:
a. Pelanggaran kontrak
Seorang karyawan tergabung dalam organisasi dengan beberapa harapan
timbal balik dan janji-janji terhadap pelayanannya, ini merupakan kontrak yang
dirasakan dan kontrak tertulis tidak sebenarnya. Ketika karyawan merasa
bahwa organisasi telah tidak hidup sesuai dengan harapan itu, ketika seorang
karyawan tidak hidup sesuai dengan harapan organisasi itu pada saat
perekrutan, juga menghasilkan LMX rendah.
b. Rendahnya kemampuan dan kemauan
Seperti model kepemimpinan situasional, ketika individu memiliki
kemampuan dan kemauan rendah, pemimpin dipaksa untuk mengambil gaya
direktif yang inheren adalah LMX rendah.
c. Kesamaan kognitif
Ketika pemimpin dan anggota memiliki pendekatan yang sama untuk
pemecahan masalah, itu dapat disebut sebagai persamaan kognitif dan
penelitian telah menunjukkan bahwa itu mengarah ke LMX tinggi.
d. Komunikasi organisasi
Terdapat beberapa unsur kepuasan pada karyawan ketika mereka benar
dikomunikasikan tentang berbagai aspek organisasi. Kepuasan komunikasi
telah terbukti meningkatkan LMX tersebut.

  1. Komunikasi pribadi dan inter-personal dengan pemimpin dan rekan kerja
    memiliki hasil dalam LMX yang lebih tinggi. Ini memberikan rasa
    kewarganegaraan organisasi terhadap bawahan, bahwa ia adalah bagian
    integral dari organisasi.
  2. Kekuatan putusan dari pemimpin dalam hierarki organisasi memiliki
    pengaruh langsung terhadap LMX tersebut. Ketika pemimpin memiliki
    pengaruh yang tinggi pada hierarki atas organisasi, bawahan merasa puas
    dan termotivasi. Pengaruh tersebut dapat dibagi sebagai kedua yaitu
    strategis yang berkaitan dengan pengambilan keputusan serta yang
    berhubungan dengan pekerjaan yaitu penilaian kinerja, tugas tugas dll.
  3. Keterbukaan informasi juga memiliki pengaruh positif terhadap LMX,
    ketika transparansi dalam organisasi, lebih percaya diri dan motivasi
    anggota harus melebihi harapan.
    e. Pertukaran sosial
    Interaksi yang tidak bekerja terkait yang juga telah positif mempengaruhi
    LMX, mungkin membantu dalam membangun saling percaya dan kepercayaan
    dan motivasi.
    f. Tugas karakteristik
    Ketika tugas yang tidak terstruktur atau tidak jelas, metode pekerjaan mereka
    tidak dikenal atau baru, maka itu juga berpengaruh terhadap LMX. Ketika
    tugas tidak jelas, sulit untuk mengevaluasi efisiensi dan hasil dari individu dan
    menyediakan kesempatan bagi individu untuk menunjukkan perluasan peran
    semu tanpa ada kontribusi yang signifikan.

Definisi Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX)


Menurut Robbins (2016) Teori pertukaran pemimpin-anggota merupakan
teori yang mendukung terciptanya para pemimpin didalam dan diluar grup.
Pertukaran Pemimpin-Anggota (LMX) merupakan hubungan antara atasan dan
juga bawahan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pertukaran Pemimpin-
Anggota (LMX) tidak hanya melihat perilaku atasan saja tetapi juga menekankan
pada kualitas hubungan antara atasan dan bawahan. Lebih lanjut menurut Septiadi
(2019) Leader-Member Exchange (LMX) adalah kualitas hubungan pertukaran
interpersonal antara pemimpin dan anggotanya. Hubungan LMX yang tinggi
ditandai dengan persahabatan, loyalitas, rasa hormat dan kontribusi profesional,
sedangkan hubungan LMX yang rendah ditandai dengan kurangnya persahabatan,
loyalitas, rasa hormat dan kontribusi profesional.
Sedangkan menurut Setyawan dkk. (2018) Leader-Member Exchange
(LMX) adalah peningkatan kualitas hubungan antara supervisi dan karyawan akan
mampu meningkatkan kerja keduanya. Namun pada kenyataannya, hubungan
antara karyawan dan supervisi dapat dikelompokkan menjadi dua hubungan, yaitu
hubungan yang baik dan hubungan yang buruk. Hubungan yang baik akan
menciptakan kepercayaan karyawan, sikap positif, dan loyalitas, tetapi hubungan
yang buruk memiliki efek sebaliknya. Selanjutnya menurut Oktavianda (2018:182)
pertukaran pimpinan-anggota merupakan suatu hubungan atasan dan bawahan yang
terjalin di dalam perusahaan. Kemudian menurut Casimir (2014:368) Teori
pertukaran pimpinan-anggota didasarkan pada hubungan diadik antara pemimpin
dan pengikut mereka dalam unit kerja organisasi. Pertukaran pimpinan-anggota
merupakan bentuk pertukaran sosial proksimat menghasilkan baik kewajiban untuk
pemimpin untuk melakukan satu baik pekerjaan dan emosi positif terhadap
organisasi karena pemimpin (yaitu atasan langsung) adalah wakil terkemuka dari
organisasi bagi karyawan (Casimir, 2014:378).

Indikator Kinerja


Ukuran secara kualitatif dan kuantitatif yang menunjukkan
tingkatan pencapaian suatu sasaran yang telah ditetapkan adalah
merupakan sesuatu yang dapat dihitung serta digunakan sebagai dasar
untuk menilai atau melihat bahwa kinerja setiap hari dalam perusahaan dan
perseorangan terus mengalami peningkatan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Menurut Mathis dan Jackson (2002) kinerja karyawan
mempengaruhi seberapa banyak kontribusi kepada organisasi antara lain
termasuk (Chairunnisah et al., 2021; Mathis & Jackson, 2006) :

  1. Kuantitas Kerja
    Kuantitas kerja merupakan seberapa banyak pekerjaan yang dapat
    diselesaikan oleh seorang karyawan dalam waktu tertentu. Kuantitas kerja
    dapat diukur dengan cara menghitung jumlah tugas atau proyek yang berhasil
    diselesaikan oleh karyawan dalam periode waktu tertentu.
  2. Kualitas Kerja
    Kualitas kerja yaitu seberapa baik pekerjaan yang dilakukan oleh seorang
    karyawan. Kualitas kerja dapat diukur dengan melihat sejauh mana hasil
    pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Indikator kualitas kerja yang
    baik menunjukkan bahwa karyawan mampu memenuhi standar kualitas yang
    diharapkan dan memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan.
  3. Pemanfaatan Waktu
    Pemanfaatan waktu merupakan seberapa efektif dan efisien karyawan
    dalam mengelola waktu kerjanya. Pemanfaatan waktu dapat diukur dengan
    cara membandingkan waktu yang digunakan karyawan untuk menyelesaikan
    tugas dengan waktu yang seharusnya diperlukan untuk menyelesaikan tugas
    tersebut. Indikator pemanfaatan waktu yang baik menunjukkan bahwa
    karyawan mampu mengelola waktu dengan baik dan mengoptimalkan
    produktivitasnya.
  4. Tingkat Kehadiran
    Tingkat kehadiran adalah seberapa sering karyawan hadir di tempat
    kerja. Tingkat kehadiran dapat diukur dengan cara menghitung persentase
    kehadiran karyawan dalam periode waktu tertentu. Indikator tingkat kehadiran
    yang baik menunjukkan bahwa karyawan konsisten dan dapat diandalkan
    dalam menjalankan tugasnya.
  5. Kerja sama
    Penilaian berdasar keterlibatan seluruh karyawan dalam mencapai
    target yang ditetapkan akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang
    diawasi

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Berdasarkan teori yang dikemukakan Gibson et al (2012), Kinerja
Seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut, yaitu (Chairunnisah et al.,
2021):
a. Faktor Individu
Menurut gibson et al (2012) faktor individu terdiri dari kemampuan dan
keterampilan, latar belakang, serta demografis. kemampuan dan keterampilan
meliputi mental dan fisik. latar belakang meliputi keluarga dan pengalaman.
karakteristik demograsi meliputi umur, etnnis dan jenis kelamin

  1. Kemampuan dan keterampilan
    Kemampuan dan keterampilan memainkan peran dalam kinerja
    individu. Kemampuan adalah sifat alamiah atau yang dipelajari yang
    membolehkan seseorang untuk melakukan sesuatu (mental/fisik). Sedangkan
    keterampilan adalah kompetensi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan.
  2. Latar belakang
    Meliputi keluarga dan pengalaman. Individu yang berasal dari keluarga
    dengan kebiasaan positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan jujur akan
    membawa sikap positif tersebut di tempat kerja. Individu yang memiliki
    pengalaman kerja yang banyak dan sesuai dengan bidang pekerjaannya akan
    mempengaruhi kinerja yang semakin baik pula.
  3. Demografi
    Klasifikasi demografis yang paling penting adalah jenis kelamin dan
    ras. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan kinerja antara laki-laki dan
    perempuan untuk pekerjaan tertentu. Ras berkaitan dengan cultural, values,
    language skills dan educational preparation. Kesamaan suku dapat
    meminimalisasi adanya kendala bahasa daerah yang digunakan dalam
    berkomunikasi dengan customer sehingga kinerja menjadi lebih optimal.
    b. Faktor Psikologi
    Faktor psikologis meliputi lima sub faktor yaitu persepsi, attitude,
    personality, pembelajaran, dan motivasi.
  4. Persepsi
    Persepsi adalah proses kognitif di mana seseorang memahami
    lingkungannya dengan mengorganisasikan dan menafsirkan rangsangan
    sebagai pengalaman psikologis. Dalam proses persepsi, individu menggunakan
    lima hal yaitu penglihatan, sentuhan, pendengaran, perasaan, dan penciuman
    untuk memahami lingkungannya.
  5. Attitude
    Sikap adalah respons yang tidak terlihat langsung dari seseorang
    terhadap suatu objek atau stimulus. Sikap hanya bisa dipahami melalui perilaku
    yang tertutup. Sikap mencerminkan reaksi emosional terhadap stimulus sosial.
  6. Personality
    Kepribadian adalah kumpulan kecenderungan dan karakteristik yang
    mempengaruhi kesamaan dan perbedaan dalam perilaku individu. Beberapa
    orang memperhatikan kualitas dari pekerjaan mereka, sementara yang lain
    tidak. Ada yang pasif dan yang sangat agresif
  7. Pembelajaran
    Pembelajaran merupakan proses perubahan perilaku yang bersifat
    relatif permanen yang terjadi karena adanya pengalaman. Perubahan perilaku
    merupakan bukti bahwa pembelajaran telah terjadi. Individu yang memiliki
    kemampuan belajar yang baik mampu menyesuaikan diri dengan perubahan
    lingkungan dengan lebih cepat dan efektif, sehingga dapat menghasilkan
    kinerja yang lebih baik.
  8. Motivasi
    Motivasi dan kemampuan untuk bekerja saling berinteraksi dalam
    mempengaruhi kinerja. Teori motivasi mencoba untuk menjelaskan dan
    memprediksi bagaimana perilaku individu dibangun (aroused), bertahan
    (sustained) dan berhenti (stopped).
    c. Faktor Organisasi
    Faktor Organisasi meliputi lima sub faktor yaitu sumber daya,kepemimpinan,
    penghargaan, struktur, dan job design.
  9. Kepemimpinan (Leadership)
    Kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
    individu, kinerja kelompok, dan kinerja organisasi. Beberapa orang percaya
    bahwa kepemimpinan yang efektif tergantung pada sikap dan perilaku. Ada
    pendapat yang menyatakan bahwa satu gaya kepemimpinan cocok untuk
    semua situasi, sementara pendapat lain menyatakan bahwa setiap situasi
    memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda. Terlepas dari jenis gaya
    kepemimpinan yang dimiliki, seorang pemimpin harus mampu memahami
    potensi masing-masing individu agar dapat mempengaruhi bawahannya untuk
    mencapai kinerja optimal.
  10. Penghargaan (reward)
    Memberikan penghargaan kepada individu dapat mempengaruhi
    motivasi sehingga individu akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan
    pekerjaan dengan lebih baik. Penghargaan dapat berupa insentif, bonus, atau
    pujian terhadap kinerja individu.
  11. Struktur
    Kualitas kinerja individu dalam sebuah organisasi dipengaruhi oleh
    kualitas pengaturan struktur organisasi yang ada. Jika struktur organisasi dibuat
    dengan baik, maka kinerja individu dalam organisasi akan menjadi lebih baik,
    sedangkan jika struktur organisasi buruk, kinerja individu juga akan buruk.
  12. Job Design
    Job design adalah proses di mana seorang manajer menentukan tugas,
    metode, dan keterkaitan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan
    individu. Job design mencakup penentuan tugas yang harus dilakukan, metode
    yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut, dan bagaimana
    pekerjaan tersebut berhubungan dengan pekerjaan lain dalam organisasi.

Dampak Leader Member Exchange (LMX ) terhadap Organisasi


Kualitas LMX di tempat kerja dapat mempengaruhi keseluruhan
struktur dan keberhasilan organisasi (Mardanov, Heischmidt, & Henson,
2008). LMX yang berkualitas tinggi akan memberikan banyak dampak positif
terhadap organisasi. Menurut (Heriyadi, 2021). Dampak LMX terhadap
organisasi terbagi kedalam 5 bidang utama, yaitu organizational citizenship
behaviour (OCB), job satisfaction, organizational commitment, turnover
intention, dan performanc

Faktor yang mempengaruhi Leader Member Exchange (LMX)


Teori LMX merupakan teori kepemimpinan yang berbasis hubungan
dua unsur (dyadic). Menurut teori ini, kepemimpinan terletak pada
perkembangan kualitas hubungan antara pimpinan dan bawahan Erdoğan dan
Bauer (2015) menjelaskan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas hubungan antara pimpinan dan bawahan, yaitu:

  1. Perceived & actual similarity (kesamaan rasa) Kesamaan ketertarikan
    (similarity– attraction) antara pimpinan dengan bawahan memainkan
    peran penting dalam pengembangan kualitas LMX.
  2. Dyad expectations (harapan masing-masing pihak) Tingkat harapan
    bawahan terhadap pimpinan, dan tingkat harapan pimpinan terhadap
    bawahan menentukan kualitas LMX yang terbangun.
  3. Delegation-performance interactions (interaksi kinerja) Kinerja dan
    kompetensi bawahan menjadi prediktor penting dalam proses
    pengembangan LMX karena ini merupakan perilaku yang membantu
    dalam membangun kepercayaan.
  4. Member personality (kepribadian bawahan) Kepribadian extraversion
    (senang bergaul, mudah bersosialisasi, hidup berkelompok, dan tegas)
    dan agreeableness (kooperatif, penuh kepercayaan, bersifat baik,
    hangat, berhati lembut, dan suka membantu) merupakan prediktor dari
    kualitas LMX.
  5. Perceptions of fairness (Persepsi keadilan) Keadilan interaksional, atau
    perlakuan dengan martabat dan rasa hormat dari pemimpin merupakan
    faktor yang berkaitan dengan kualitas LMX.
  6. Trust development (kepercayaan) Ketika hubungan dimulai,
    kepercayaan akan berkembang (atau tidak berkembang) sebagai hasil
    dari proses pengujian timbal balik. Tanggapan memuaskan dari
    karyawan terhadap upaya pengujian dari atasan akan menghasilkan
    pengembangan kepercayaan dari pimpinan.

Dimensi Leader Member Exchange (LMX)


LMX terdiri dari empat dimensi, yaitu (Liden & Maslyn, 1998):

  1. Affect
    Rasa saling ketertarikan anta r pribadi, dan bukan hanya pada
    pekerjaan saja. Ketertarikan ini diwujudkan dalam bentuk keinginan
    untuk memiliki hubungan yang memiliki manfaat secara pribadi
    (misalnya, persahabatan).
  2. Loyalty
    Yaitu sejauh mana pemimpin dan bawahan saling mendukung
    tindakan dan karakter satu sama lain. Kesetiaan ini merupakan
    kesetiaan terhadap individu yang umumnya konsisten dari situasi ke
    situasi.
  3. Contribution
    Yaitu persepsi mengenai kegiatan berorientasi kerja antara pimpinan
    dan bawahan terhadap tujuan bersama. Hal ini juga mengacu kepada
    sejauh mana bawahan dapat bertanggung jawab dan menyelesaikan
    tugas-tugas mereka, dan sejauh mana pimpinan dapat menyediakan
    sumber daya dan peluang untuk melakukan tugas tersebut.
  4. Professional Respect
    Yaitu persepsi tentang sejauhmana pimpinan dan bawahan telah
    membangun reputasi, baik di dalam maupun di luar organisasi,
    mengenai bidang pekerjaannya. Persepsi ini mungkin didasarkan pada
    data historis, seperti: pengalaman pribadi dengan orang tersebut;
    komentar tentang orang tersebut dari individu di dalam atau di luar
    organisasi; dan penghargaan atau pengakuan profesional lainnya yang
    diraih oleh orang tersebut


Model LMX merupakan pengembangan hubungan diadik (hubungan
dua arah) antara manajer dengan bawahan langsung mereka. Hubungan ini
dikenal dengan istilah vertikal dua (vertical dyad) dan dianggap sebagai proses
yang terjadi secara alami sebagai upaya pimpinan untuk mendelegasikan dan
menetapkan peran kerja bawahannya (Heriyadi, 2021). Proses ini
menghasilkan dua jenis hubungan, yaitu :
a. in-group exchange yang tercermin dengan adanya hubungan timbal
balik saling percaya dan saling menghormati, dan
b. out-group exchange yang dicirikan dengan gagalnya pemimpin
menciptakan rasa saling percaya dan saling hormat.
Bawahan dalam kategori in-group cenderung berfungsi sebagai asisten
atau penasihat, serta memiliki interaksi yang berkualitas tinggi dengan
pimpinan. Sedangkan bawahan dalam kategori out-group cenderung
menekankan persyaratan kerja yang lebih formal dengan tingkat pengaruh
timbal balik yang relatif rendah. Pimpinan biasanya memberikan beberapa
keistimewaan terhadap mereka yang termasuk dalam kategori in-group seperti
memberikan tugas yang menarik, pendelegasian tanggung jawab penting,
sharing informasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan manfaat
khusus lainnya, seperti dukungan pribadi, persetujuan, dan jadwal kerja yang
menguntungkan

Definisi Leader Member Exchange (LMX)


LMX merupakan hubungan pertukaran sosial yang bersifat unik antara
pimpinan dan bawahan (Graen & Uhl-Bien, 1995). Teori LMX menyatakan
bahwa pemimpin menjalankan interaksi yang berbeda-beda dengan seluruh
anggotanya. Teori LMX merupakan teori yang relatif kontemporer dalam studi
kepemimpinan yang fokus utamanya adalah untuk memahami hubungan antara
atasan dan bawahan serta interaksi yang terjadi antara keduanya dari waktu ke
waktu (Monahan, 2013)

Dimensi Kepemimpinan Transformasional


Menurut (Prajogo, 2013) dan (Sima et al., 2023) Pengukuran
Kepemimpinan Transformasional dapat diukur dengan Dimensi
Kepemimpinan Transformasional Teori Multifactoral Leadership Quisioner
(MLQ). Berdasarkan (Bass & Riggio, 2006) secara konseptual,dimensi
kepemimpinan transformasional terdiri dari 4 komponen sebagai berikut :
a. Karisma (idealized influence)
Pemimpin transformasional memiliki perilaku yang memungkinkan
mereka menjadi teladan bagi para pengikutnya. Mereka dikagumi, dihormati,
dan dipercayai oleh para pengikutnya.
b. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation)
Pemimpin transformasional merangsang upaya pengikut mereka untuk
menjadi inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, membingkai
ulang masalah, dan mendekati situasi lama dengan cara baru. Kreativitas
didorong. Tidak ada kritik publik atas kesalahan anggota individu. Ide-ide baru
dan solusi masalah yang kreatif diminta dari pengikut, yang termasuk dalam
proses mengatasi masalah dan menemukan solusi.
c. Motivasi Inspirasi (Inspirational Motivation)
Pemimpin transformasional berperilaku dengan cara yang memotivasi dan
menginspirasi orang-orang di sekitar mereka dengan memberikan makna dan
tantangan bagi pekerjaan pengikut mereka. Semangat tim dibangkitkan.
Antusiasme dan optimisme ditampilkan. Pemimpin melibatkan pengikut dalam
membayangkan keadaan masa depan yang menarik, mereka menciptakan
harapan yang dikomunikasikan dengan jelas yang ingin dipenuhi oleh pengikut
dan juga menunjukkan komitmen terhadap tujuan dan visi bersama.
d. Perhatian Secara Individu (Individual Consideration)
Pemimpin transformasional memberi perhatian khusus pada kebutuhan
masing-masing pengikut individu untuk pencapaian dan pertumbuhan dengan
bertindak sebagai pelatih atau mentor.

Sumber Daya manusia di Rumah Sakit


Menurut peraturan pemerintah republik Indonesia Nomor 47 tahun
2021 tentang penyelenggaraan bidang perumahsakitan, menjelaskan sumber
daya manusia di rumah sakit yaitu :

  1. Sumber daya manusia pada rumah sakit umum dengan klasifikasi kelas A,
    kelas B, kelas C, dan kelas D meliputi : tenaga medis, tenaga psikologis
    klinis, tenaga keperawatan, tenaga kebidanan, tenaga kefarmasian, tenaga
    kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga
    keterapian fisik, tenaga teknisian medis, tenaga tehnik biomedis, tenaga
    kesehatan lain, tenaga manajemen rumah sakit, tenaga non kesehatan.
  2. Sumber daya manusia pada rumah sakit khusus dengan klasifikasi kelas A,
    kelas B, dan kelas C meliputi : tenaga medis, tenaga keperawatan, dan
    tenaga bidan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan lain, tenaga manajemen
    rumah sakit, dan tenaga non kesehatan

Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang rumah sakit pasal 4 menyatakan bahwa tugas rumah sakit adalah
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pada pasal 5
menjelaskan fungsi rumah sakit untuk menjalankan tugas tersebut sebagai
berikut :

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
    dengan standar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
    kesehatan paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya dalam rangka
    peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelenggara penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
    bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
    memperhatikan etika bidang ilmu pengetahuan bidang kesehatan

Tujuan Penyelenggaraan Rumah Sakit


Undang – undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
rumah sakit menyatakan bahwa tujuan diselenggarakanya rumah sakit adalah
sebagai berikut :

  1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
  2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat,
    lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
  3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
  4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya
    manusia rumah sakit dan rumah sakit.

Definisi Rumah Sakit


Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009
tentang rumah sakit, rumah sakit adalah sebuah institusi layanan kesehatan
yang menyelenggarakan perawatan kesehatan individu secara lengkap, yang
meliputi perawatan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sementara itu,
menurut World Health Organization (WHO), rumah sakit adalah bagian
penting dari suatu organisasi sosial kesehatan yang menyediakan pelayanan
kesehatan yang komprehensif, meliputi pengobatan penyakit, pencegahan
penyakit, dan pelayanan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

Pengertian Pertukaran Pemimpin-Anggota


Pe.rtukaran pe.mimpin-anggota (Leader-membe.r e.xchange.) merupakan
hubungan yang saling me.nguntungkan de.ngan me.nggabungkan komunikasi antara
pe.mimpin dan pe.gawai me.lalui ke.akraban, pe.layanan ke.pada orang lain, loyalitas
be.rsama dan rasa hormat di antara orang-orang. Hubungan yang baik antara
pimpinan de.ngan pe.gawai diharapkan dapat me.ningkatkan kine.rja. Hubungan yang
dijalin ole.h masing-masing pe.gawai de.ngan pimpinan be.rbe.da-be.da (Jufrize.n dkk.,
2024). Pe.rtukaran pe.mimpin-anggota me.rupakan konse.p pe.nting dalam lite.ratur,
kare.na me.ngakui pe.ntingnya hubungan dan pe.nye. suaian me.ntal pe.gawai (Mumtaz
& Rowley., 2020). Pe.rtukaran pe.mimpin-anggota me.nghadirkan inte. raksi antara
pe.mimpin dan pe.ngikut me.re.ka dalam suatu unit ope.rasi organisasi (Re.gts dkk.,
2019). Pertukaran pemimpin-anggota merupakan perilaku yang berhubungan
dengan pekerjaan, menghargai keterampilan dan pengetahuan pimpinan, loyal
terhadap satu sama lain, dan menyukai satu sama lain. Pertukaran pemimpin-
anggota merupakan hubungan dua arah antara pimpinan dengan pengikutnya yang
mendorong efektivitas organisasi dengan cara membina hubungan yang positif
antara pimpinan dengan pengikut. (Wyne.ndae.le. dkk., 2021).
Pe.ngukuran pe. rtukaran pe.mimpin-anggota yaitu me.libatkan satu dime.nsi
yang me.nyoroti kualitas ke.se.luruhan hubungan pe.rtukaran di te.mpat ke.rja, dan
yang lainnya be. rsifat multidime.nsi. Se.cara ke. se.luruhan, pe. rtukaran-pe. mimpin
anggota me.rupakan konse.p pe.nting dalam lite.ratur te.oritis kare.na te.lah te.rbukti
be.rdampak pada sikap dan pe.rilaku bawahan, ke. pe.rcayaan, rasa hormat, kontrak
psikologis, kine.rja, pe.rilaku ke.wargane.garaan yang aman, ke.puasan ke. rja, pe.rilaku
inovatif, dan komitme.n organisasi. Dapat disimpulkan pe.rtukaran pe. mimpin-
anggota me.rupakan hubungan antara pe.mimpin de.ngan bawahan. Pe.rlakuan yang

baik te.rhadap pe.gawai akan mampu me.nciptakan pe.rasaan sukare.la pada diri
pe.gawai untuk bisa be.rkorban bagi pe.rusahaan. Se.lain itu, pe.rlakuan khusus yang
positif akan mampu me. ningkatkan kontribusi pe.gawai pada pe.rusahaan te.mpat
me.re.ka be.ke. rja (Jufri dkk., 2023). Kualitas hubungan pe.rtukaran pe. mimpin-
anggota yang tinggi me.nunjukan hubungan pe.rtukaran yang positif antara atasan
dan bawahannya, se.bagaimana dibuktikan ole.h sifat-sifat se.pe. rti ke.pe.rcayaan, rasa
hormat, dan loyalitas. Se. baliknya, kualitas hubungan Pe.rtukaran pe.mimpin anggota
yang re.ndah me.nunjukkan hubungan pe.rtukaran yang ne.gatif, yang te.rce. rmin dari
pe.rilaku se.pe. rti konflik atau ke.tidakpuasan satu sama lain

Pengaruh kepuasan kerja terhadap loyalitas
Kepuasan kerja dan loyalitas memiliki dua aspek berkaitan.
Karyawan yang puas dengan pekerjaannya cederung lebih setia pada
perusahaan. Kepuasan kerja yang tinggi dapat menciptakan pengalaman
positif, membangun komitmen terhadap organisasi, dan mendorong
karyawan untuk tetap bertahan. Sebaliknya, karyawan yang tidak puas
mungkin cenderung mencari peluang di tempat lain, yang dapat mengurangi
tingat loyalitas. Berdasarkan penelitian dari Widnyasari & Surya (2023)
bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas
kerja

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja


Gaya kepemimpinan memiliki korelasi pada kepuasan kerja.
Pemimpin yang mendukung, memotivasi, dan berkomunikasi secara efektif
cenderung menciptakan lingkungan kerja yang positif. Karyawan yang
merasa dihargai akan merasa puas dengan pekerjaanya. Selain itu,
pemberian penghargaan dan umpan balik dari pemimpin juga dapat
meningkatkan dan kepuasan kerja. Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan
yang baik berkontribusi pada pembangunan kepuasan kerja yang kokoh dan
berkelanjutan. Berdasarkan Ningrum & Purnamasari (2022) yang
menyatakan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh positif dan
signifikan pada kepuasan karyawan

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap loyalitas karyawan


Gaya kepemimpinan memiliki peranan penting pada loyalitas
karyawan dalam suatu perusahaan. Pemimpin yang mampu memahami dan
mengadaptasi gaya kepemimpinan secara efektif cenderung membangun
hubungan yang kuat dengan tim. Gaya kepemimpinan yang mendukung,
memotivasi, dan menghargai kontribusi individu dapat meningkatkan rasa
loyalitas karyawan terhadap pemimpin dan organisasi secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian dari Carolina & Halim (2017) yang menyatakan
bahwa gaya kepemimpinan memiliki memiliki pengaruh positif dan
signifikan pada loyalitas kerja

Indikator Kepuasan Kerja


Indikator kepuasan kerja menurut Luthans (2010) adalah
sebagai berikut:
1) Kepuasan pada pekerjaan itu sendiri
2) Kepuasan pada gaji
3) Kepuasan pada promosi
4) Kepuasan pada supervisi
5) Kepuasan pada rekan kerja
6) Kepuasan pada kondisi kerja

Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja adalah perasaan suka atas pekerjaan yang telah
dilakukan oleh seorang karyawan. Kepuasan kerja ini timbul apabila
seorang karyawan telah melakukan pekerjaannya dengan baik atau
sesuai dengan ekspektasinya. Selain itu, kepuasan kerja dapat terpicu
apabila karyawan mendapat feedback positif dari pekerjaan yang telah
dilakukan. Timbal balik yang diterima karyawan dapat berupa kenaikan
jabatan, insentif, dan lain sebagainya.
Kepuasan kerja adalah ungkapan emosional yang positif dari
karyawan buah penilaian dari pekerjaannya (Vokić dan Hernaus, 2015).
Sedangkan Robbins & Judge (2011) berpendapat “Kepuasan kerja
sebagai sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukkan
perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan
jumlah yang diyakini oleh pekerja yang seharusnya diterima”.
Kepuasan kerja juga dapat didefinisikan sebagai ungkapan emosional
menggembirakan dan mencintai pekerjaan (Hasibuan, 2016

Indikator Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan yang diterapkan pada objek penelitian
kami adalah gaya kepemimpinan transaksional. Seperti yang telah
dipaparkan sebelumnya, gaya kepemimpinan ini menekankan unsur
timbal balik berupa imbalan apabila karyawan melakukan kinerja
baik atau pendisiplinan terhadap karyawan yang melakukan
kesalahan. Bass (2006) membagi idikator untuk gaya kepemimpinan
transaksional ada tiga yaitu:
1) Contingent reward (imbalan kontingen)
Pengarahan mengenai prosedur kerja dan imbalan yang akan
diterima karyawan sesuai dengan hasil kerja yang telah
dilakukan.
2) Active management by exception (manajemen eksepsi aktif)
pemimpin memantau keberlangsungan tugas dan kemungkinan
masalah yang muncul dan melakukan perbaikan untuk menjaga
kinerja yang ada.
3) Laissez-faire atau passive avoidant
yaitu pemberian kebebasan penuh oleh pemimpin pada bawahan
untuk melakukan sebuah tindakan serta penyediaan materi yang
dibutuhkan

Kepemimpinan Visioner


Seorang pemimpin visioner memiliki kemampuan untuk
menciptakan dan mengkomunikasikan visi yang realistis, kredibel,
dan memikat mengenai masa depan organisasi yang telah tumbuh
dan lebih baik dibanding dengan masa kini. Visi tersebut menjadi
sebuah lompatan besar dan menciptakan suatu pandangan yang
menginspirasi dengan merangsang keterampilan, bakat, dan sumber
daya yang ada. Visi tersebut memberi gairah untuk mencapai masa
depan yang lebih baik, memberi inspirasi, dan menetapkan
komitmen bagi organisasi untuk menghasilkan kualitas organisasi
yang lebih unggul

Kepemimpinan Transaksional


Seorang pemimpin yang menggerakkan pengikutnya menuju
tujuan yang telah ditetapkan dengan menguraikan persyaratan dan
tugas mereka. Gaya kepemimpinan transaksional memiliki karakter
tersendiri yaitu memberi imbalan kontingen sebagai insentif atas
hasil kerja yang baik. pemimpin transaksional juga mengakui
pencapaian karyawan, lalu mengambil tindakan perbaikan, dan
menghindari suatu keputusan yang akan diambil.
Pemimpin dengan gaya transaksional mengutamakan
orientasi penugasan pada karyawan. Karyawan yang mampu
menyelesaikan tugas atau dapat mecapai suatu prestasi akan diberi
imbalan atas kinerjanya. Imbalan tersebut dapat berupa afeksi verbal
dari pemimpin, hadiah, dan kenaikan jabatan. Sebaliknya, pemimpin
transaksional juga akan mengenakan hukuman pada karyawan
apabila karyawan tersebut melakukan kesalahan atau pelanggaran.
Hukuman tersebut dapat berupa teguran, memberi peringatan,
mencopot hak istimewa, pengurangan imbalan, hingga pemecatan

Kepemimpinan Transformasional


pemimpin yang memotivasi pengikutnya untuk melampaui
kepentingan pribadi demi keberhasilan perusahaan serta mampu
menciptakan dampak signifikan dan luar biasa bagi karyawan. Gaya
kepemimpinan transformasional memiliki potensi untuk mengubah
cara berpikir karyawan, menggeser paradigma penyelesaian
masalah dari metode lama menjadi pendekatan yang inovatif. Selain
itu, pemimpin dengan gaya transformasional memiliki kemampuan
untuk membangkitkan semagat dan gairah kerja karyawan,
medorong karyawan untuk berusaha lebih keras untuk mencapai
tujuan perusahaan.
Kepemimpinan transformasional merupakan pelengkap dari
kepemimpinan transaksional, tidak hanya dapat meningkatkan
kinerja, namun juga menonjolkan sifat lebih dari kharisma,
menyampaikan visi dan misi yang jelas, menanamkan rasa
kebanggaan, berkomunikasi untuk menciptakaan harapan yang
tinggi, fokus pada usaha, dan menjelaskan tujuan penting dengan
cara yang mudah dipahami

Tipe Gaya Kepemimpinan


Robbin (2006) mengklasifikasikan pemimpin pada beberapa
tipe sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan Kharismatik
    Gaya kepemimpinan ini memicu para pengikut saat melihat
    tindakan heroik atau luar biasa yang dilakukan oleh seorang
    pemimpin. Pemimpin kharismatik mempengaruhi pengikutnya
    dengan memaparkan dengan jelas visi yang menarik. Visi terebut
    berhubungan dengan masa kini dan masa depan sehingga pengikut
    merasa termotivasi mengikutinya. Pemimpin kharismatik
    mengutarakan harapan tinggi pada kinerja dan menyatakan jika
    karyawan dapat mencapainya dengan baik. Dengan demikian rasa
    percaya diri dan harga diri karyawan naik. Selain itu, pemimpin
    kharismartik akan memberi contoh tindakan yang baik agar
    karyawan dapat menirunya. Pemimpin kharismatik memiliki
    karakteristik yang membedakannya dengan pemeimpin non-
    kharismatik, yaitu:
    a. Visi dan artikulasi
    Ditunjukkan dengan lugas dan memiliki harapan masa depan
    yang lebih baik serta mampu mengklarifikasi pentingnya visi
    dimana visi tersebut dapat dipahami orang lain
    b. Risiko personal
    Dilakukan dengan kebersediaan pemimpin menanggung
    risiko personal yang tinggi, menanggung biaya besar, serta
    melibatkan diri pada pengorbanan demi mencapai visi.
    c. Peka terhadap lingkungan
    Mampu menilai secara realistis kendala-kendala lingkungan
    dan sumber daya apa yang dibutuhkan untuk membuat
    perubahan
    d. Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut
    Kepekaan pemimpin dalam melihat kemampuan bawahan
    dan responsive terhadap kebutuhannya.
    e. Perilaku tidak konvensional,
    pemimpin terlibat pada perilaku yang dianggap baru serta
    berlawanan dengan norma yang ada
    Karakter tersebut umumnya hanya ditemui pada pemimpin
    kharismatik dan hal tersebutlah yang membedakan pemimpin
    kharismatik dengan gaya kepemimpinan lain. Karyawan yang
    bekerja dengan pemimpin kharismatik akan temotivasi untuk
    melakukan pekerjaan sebaik mungkin dikarenakan hal tersebut
    menjadi kepuasan tersendiri bagi mereka karena karyawan
    menyukai pemimpinnya

Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan adalah suatu perilaku yang digunakan oleh
seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang dia
inginkan (Ratnaningsih, 2009). Pemimpin sendiri adalah seorang yang
ditunjuk untuk mengatur, megawasi, dan memerintah bawahannya
dalam rangka mencapai suatu tujuan yang diinginlan. Seorang
pemimpin memiliki cara tersendiri dalam memimpin bawahannya. cara
yang digunakan tersebut biasa disebut dengan gaya kepemimpinan.
Setiap perusahaan memiliki goals yang dapat dicapai apabila
terjadi kerjasama yang baik antara pemimpin dengan bawahannya.
Solihin (2009) berpendapat “Kepemimpinan (leadership) adalah suatu
proses yang dilakukan manajer perusahaan untuk mengarahkan
(directing) dan mempengaruhi (influencing) para bawahannya dalam
kegiatan yang berhubungan dengan tugas (task-related activities), agar
bawahannya tersebut mau mengerahkan seluruh kemampuannya, baik
pribadi maupun menjadi anggota suatu tim, untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan perusahaan.”
Kerjasama yang baik tersebut akan sulit dicapai apabila terjadi
gap antara karyawan dengan pimpinan karena dalam mecapai tujuan
organisasi dibutuhkan pendelegasian tugas, komunikasi, dan
pengarahan yang baik pula. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan yang
digunakan oleh seorang pemimpin sangat penting dalam upaya
mencapai tujuan-tujuan dari suatu organisasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas


Loyalitas kerja dapat dipengaruhi oleh kompensasi,
pemberdayaan, dan kepuasan kerja (Onsardi, 2018). Kepuasan
kerja berbanding lurus dengan loyalitas karyawan. Semakin tinggi
kepuasan karyawan terhadap hasil kerja yang telah dilakukan akan
memunculkan tingginya loyalitas karyawan tersebut. Selain itu,
loyalitas karyawan juga dipengaruhi oleh:
1) Gaya kepemimpinan
2) Karakteristik pekerjaan
3) Lingkungan kerja
4) Pengembangan karir
Gaya kepemimpinan menjadi salah satu faktor utama dari
loyalitas karyawan. Pemimpinan yang tidak mampu memimpin
dengan baik akan memunculkan perasaan tertekan dan tidak
nyaman pada karyawan. Perasaan tertekan dan ketidaknyamanan
tersebut akan menurunkan loyalitas karyawan tersebut (Tesalonica
et al., 2020)

Teori Leader-Member Exchange


Teori LMX (Leader-Member Exchange) menganggap bahwa
kepemimpinan adalah proses hubungan sosial yang saling
mempengaruhi antara pemimpin dan pengikutnya, yang merupakan
fenomena kompleks. Dalam konteks ini, pengikut yang banyak dan
memiliki karakteristik beragam membuat setiap pertukaran interaksi
antara pemimpin dan pengikutnya menjadi unik dan bervariasi dalam
bentuk, kualitas, serta intensitasnya. Interaksi dan pertukaran yang
saling mempengaruhi antara pemimpin dan pengikut ini melahirkan
Teori Pertukaran Pemimpin-Pengikut (Leader-Member Exchange
Theory), yang dikenal dengan singkatan LMX. Pertukaran timbal balik
antara pemimpin dan masing-masing pengikutnya menggambarkan
hubungan yang dua arah dan unik, yang sering disebut sebagai
hubungan diadik (diadic relationship). (Graen & Uhl-Bien, 2015)

Hubungan antara Iklim Organisasi dengan Komitmen Anggota


Organisasi pada hakikatnya merupakan kumpulan dari berbagai macam
kegiatan yang terkait satu sama lain hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Mekanisme kegiatan tersebut mempengaruhi dan membentuk terciptanya iklim organisasi yang dirasakan oleh organisasi tersebut. Iklim organisasi adalah
bagaimana anggota mendeskripsikan lingkungan internal organisasi mereka.Oleh
karena itu sangat penting untuk mengetahui kewajiban-kewajiban serta apresiasi
yang telah anggota terima dari organisasi. Iklim organisasi akan berpengaruh
terhadap perilaku dan proses interaksi dalam organisasi.
Keterkaitan iklim organisasi dengan komitmen anggota untuk bertahan
didalam suatu organisasi sangatlah erat. Luthans (2006) menyatakan bahwa
Komitmen merupakan sikap untuk merefleksikan loyalitas anggota terhadap
organisasi dan suatu proses yang berkelanjutan dari anggota organisasi untuk
mengekspresikan perhatiannya pada organisasi dan keberhasilan untuk kemajuan
yang berkelanjutan.
Proses dalam berorganisasi sangatlah menitik beratkan pada komitmen
setiap anggota organisasi tersebut, maka dengan menciptakan iklim organisasi
yang kondusif dan progresif serta melibat seluruh anggota akan sangat
berpengaruh dalam membentuk komitmen anggota terhadap organisasi.
Komitmen organisasi yang yang dibina dengan penanaman nilai-nilai dan
pemaparan akan tujuan organisasi serta diterima anggota akan membuat
komitmen organisasi yang dimiliki anggota akan lebih kuat. Menurut Mathis dan
Jackson (dalam Saputro, 2002) mengemukakan Komitmen organisasional adalah
derajat yang mana anggota percaya dan menerima tujuan-tujuan organisasi dan
akan tetap tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi.
West (dalam Saputro, 2002) mengatakan bahwa lingkungan sosial dan
psikologis terdekat dari anggota yang bersangkutan sangat penting dalam
mempertimbangkan bagaimana cara merangsang kinerja anggota. Jika iklim
organisasi tidak mendukung dan anggota tidak memiliki komitmen yang kuat
dalam organisasi, sehingga dapat menyebabkan frustrasi atau meningkatnya
ketidakikutsertaan anggota dalam kegiatan organisasi

Aspek-Aspek Iklim Organisasi


Menurut Kolb & Rubin (dalam Luthans, 2006) terdapa tujuh aspek yang
dapat mengidentifikasikan iklim organisasi dalam suatu perusahaan, yaitu:
a. Konformitas
Konformitas terbentuk karena adanya perasaaan yang sama di antara para
anggota mengenai banyaknya peraturan, prosedur dan hukum dalam
menjalankan tugasnya.
b. Tanggung jawab
Setiap anggota dalam organisasi memiliki tanggung jawab masing-
masing untuk mewujudkan tujuan organisasi.
c. Standar
Tekanan dari organisasi pada kualitas tampilan serta membuat kegiatan
lebih baik, membuat anggota merasa tertantang untuk menjalankan
komitmen.
d. Imbalan
Perasaan dari anggota, bahwa kerja keras anggota pasti akan diketahui
dan mendapatkan proses pembelajaran yang pantas atas usahanya.
e. Kejelasan organisasi
Perasaan para anggota bahwa organisasi, terorganisir dengan baik serta
memiliki tujuan yang jelas.
f. Dukungan dan Kehangatan
Persahabatan diantara seluruh anggota organisasi merupakan nilai yang
penting untuk membentuk hubungan baik dalam lingkungan organisasi
g. Kepemimpinan
Anggota menerima kepemimpinan yang ada dalam organisasi dan segala
keputusannya. Mereka menyadari bahwa terpilihnya seorang pemimpin
pasti berdasarkan keahlian yang dimilikinya.
Litwin dan Stringer (dalam Idrus, 2006), mengemukakan bahwa aspek-
aspek iklim organisasi terdiri dari tiga aspek, yaitu:
a. Struktur
Kondisi dimana anggota dalam melaksanakan tugasnya bertumpu pada
aturan-aturan yang di kenakan terhadap anggota organisasi, sehingga
anggota dapat bekerja sesuai dengan prosedur serta struktur organisasi.
b. Standar
Kondisi yang menggambarkan tanggung jawab anggota agar dapat
memenuhi tujuan akhir organisasi.
c. Kebijaksanaan atas imbalan
Kondisi keberlangsungan imbalan dan pengahargaan yang diberikan oleh
organisasi kepada anggotanya.
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan aspek-aspek iklim organisasi,
yaitu konformitas, tanggungjawab, kejelasan organisasi dukungan dan kehangatan
serta kepemimpinan, struktur, standar, kebijaksanaan atas imbalan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Iklim Organisasi


Stringer (dalam Lhutans, 2006) mengemukakan bahwa terdapat lima
faktor yang mempengaruhi terjadinya iklim suatu organisasi yaitu :
a. Lingkungan Eksternal. Organisasi masyarakat, organisasi mahasiswa,
organisasi pemerintah, sekolah dasar, atau perusahaan industri,
mempunyai iklim umum yang hampir sama. Kesamaan faktor umum
tersebut disebabkan pengaruh lingkungan eksternal organisasi.
b. Strategi Organisasi. Kinerja anggota suatu organisasi bergantung pada
strategi (apa yang diupayakan untuk dilakukan), energi yang dimiliki
oleh anggota untuk melaksanakan pekerjaan yang diperlukan oleh
strategi,dan faktor-faktor lingkungan penentu dari level energi tersebut.
Strategi yang berbeda menimbulkan pola iklim organisasi yang berbeda.
Strategi mempengaruhi iklim organisasi secara tidak langsung.
c. Pengaturan organisasi. Pengaturan organisasi mempunyai pengaruh
paling kuat terhadap iklim organisasi. Banyak sekolah menengah di
Amerika Serikat yang menjadi contoh baik bagaimana pengaturan
organisasi menentukan iklim organisasi.
d. Kekuatan Sejarah. Semakin tua umur suatu organisasi semakin kuat
pengaruh kekuatan sejarahnya. Pengaruh tersebut dalam bentuk tradisi
dan ingatan yang membentuk harapan anggota organisasi dan
mempunyai pengaruh terhadap iklim organisasinya.
e. Kepemimpinan. Perilaku pemimpin mempengaruhi iklim organisasi yang
kemudian mendorong motivasi anggota.
Sedangkan Davis (dalam Faiz, 2006) memaparkan bahwa terdapat 4 faktor
penting, yaitu:
a. Hubungan yang saling menguntungkan
Kunci dari konsep hubungan antar manusia adalah adanya hubungan
yang saling menguntungkan antar sesame manusia, baik itu antara
pimpinan dan anggota, maupun hubungan yang baik antar
sesamaanggota.Anggotamerasa apabila mereka memiliki hubungan yang
baik dengan organisasi, maka mereka akan dapat memenuhi kebutuhan-
kebutuhan mereka.
b. Perbedaan antar individu
Kepengurusan akan menghasilkan kepuasan kerja pada anggota jika
mereka dapat memperlakukan anggotanya secara berbeda-beda, karena
pada dasarnya setiap manusia memiliki karakteristik masing-masing yang
unik.
c. Motivasi
Semua perilaku manusia disebabkan oleh sesuatu hal. Suatu hal tersebut
akan mengarahkan individu dalam berperilaku untuk menghasilkan
kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, dengan
adanya kepuasan, maka baik anggota maupun pimpinan akan terpenuhi
kebutuhannya masing-masing.
d. Martabat manusia
Martabat manusia merupakan etis dasar dalam menjalin hubungan antar
manusia. Martabat manusia yang dirasakan oleh anggota tidak
sepenuhnya diberikan oleh pihak kepengurusan, tetapi dihasilkan juga
dari perasaan dalam diri anggota terhadap lingkungan organisasi yang
sesuai

Dimensi Komitmen


Menurut Allen dan Meyer (dalam Luthans, 2006) komitmen organisasi
merefleksikan tiga dimensi komitmen yaitu:
a. Affective commitment
Affective commitment adalah keterikatan emosional, identifikasi, dan
keterlibatan anggota dalam organisasi.
b. Continuance commitment
Continuance commitment adalah komitmen berdasarkan kerugian yang
berhubungan dengan keluarnya anggota dari organisasi.
c. Normative commitment
Normative commitment adanya perasaaan wajib untuk tetap berada dalam
organisas

Aspek – Aspek Komitmen Anggota

.
Menurut Kuntjoro (dalam Latip, 2007) mengemukakan bahwa untuk
menumbuhkan komitmen anggota terhadap organisasi, terdapat tiga aspek yaitu:
a. Identifikasi
Identifikasi yang berwujud dalam bentuk kepercayaan anggota terhadap
organisasi. Guna menumbuhkan identifikasi dilakukan dengan
memodifikasi tujuan organisasi, sehingga mencakup beberapa tujuan
pribadi para anggota atau dengan kata lain organisasi memasukan pula
kebutuhan dan keinginan anggotanya dalam tujuan organisasi atau
organisasi tersebut. Hal ini akan menumbuhkan suasana saling
mendukung diantara para anggota dengan organisasi. Lebih lanjut
membuat anggota dengan rela menyumbangkan tenaga, waktu, dan
pikiran bagi tercapainya tujuan organisasi.
b. Keterlibatan
Keterlibatan atau partisipasi anggota dalam kegiatan-kegiatan organisasi
penting untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan anggota
menyebabkan mereka bekerja sama, baik dengan pimpinan atau
pengurus organisasi. Cara yang dapat dipakai untuk memancing
keterlibatan anggota adalah dengan memasukan mereka dalam berbagai
kesempatan pembuatan keputusan yang dapat menumbuhkan keyakinan
pada anggota bahwa apa yang telah diputuskan adalah keputusan
bersama.
c. Loyalitas
Loyalitas anggota terhadap organisasi memiliki makna kesediaan
seseorang untuk bisa mengharmoniskan hubungan anggota dengan
organisasi kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadinya
tanpa mengharapkan apa pun. Keinginan anggota untuk mempertahankan
diri dalam organisasi adalah hal yang dapat menunjang komitmen
anggota terhadap organisasi. Hal ini diupayakan bila anggota merasakan
adanya keamanan dan kepuasan dalam organisasi tempatnya beraktivitas.
Luthans (2006) menyatakan aspek-aspek komitmen organisasi yang
menandai tingginya komitmen seseorang terhadap organisasinya, yaitu :
d. Keinginan yang kuat untuk tetap bertahan sebagai anggota organisasi.
e. Kemauan untuk mengarahkan segenap kemampuannya bagi suksesnya
organisasi.
f. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi
Berdasarkan uraian diatas maka disimpulkan aspek-aspek komitmen
organisasi yaitu identifikasi, keterlibatan, loyalitas, keinginan kuat untuk bertahan,
kemauan untuk mengarahkan, penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan
organisasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komitmen Anggota


Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mendukung dan memperkuat komitmen anggota terhadap organisasi dalam
mancapai tujuan organisasi, diantaranya adalah penelitian Mowday (dalam
Greenberg & Baron dalam Luthans, 2006) mengelompokkan empat faktor yang
mempengaruhi komitmen organisasi,yaitu:
a. Karakteristik personal, antara lain usia, lama kerja, tingkat pendidikan,
jenis kelamin, ras, dan beberapa faktor kepribadian lainnya. Secara
umum, usia dan lama bekerja mempunyai hubungan positif dengan
komitmen organisasi. Sementara tingkat pendidikan mempunyai
hubungan negatif dengan komitmen organisasi, meskipun hubungan ini
tidak terlalu konstan. Wanita cenderung memiliki komitmen organisasi
yang lebih tinggi dari pada pria. Beberapa karakteristik kepribadian lain
seperti motivasi berprestasi dan perasaan kompeten ditemukan
berhubungan dengan komitmen organisasi.
b. Karakteristik pekerjaan dan peran, antara lain kesempatan kerja, konflik
peran dan ambiguitas peran. Semakin besar kesempatan yang diperoleh
dalam bekerja semakin banyak pengalaman yang diperolah yang pada© UNIVERSITAS
akhirnya memperbesar komitmen individu terhadap organisasi.
Sedangkan konflik peran mempunyai hubungan yang negative dengan
komitmen terhadap organisasi, demikian halnya dengan ambiguitas
peran.
c. Pengalaman, antara lain ketergantungan pada organisasi, kepentingan
personal pada perusahaan, sikap positif terhadap perusahaan, dan
keterikatan sosial individu dalam perusahaan. Semakin besar semua
faktor tersebut semakin tinggi pula komitmen individu terhadap
organisasi.
d. Iklim organisasi, merupakan keadaan tentang organisasi yang meliputi
lingkungan internal maupun eksternal organisai yaitu sistem
organisasi, struktural organisasi, pimpinan organisai, dan rekan
sesama anggota organisasi yang dapat memberi dorongan, respek,
menghargai kontribusi anggota, dan memberi apresiasi bagi individu
dalam pekerjaannya. Persepsi anggota terhadap iklim organisasi
mempunyai hubungan yang positif terhadap komitmen organisasi.
Latip (2007) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
komitmen organisasi yaitu :
a. Faktor Demografik
Demografik meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, jangka
waktu perkhidmatan terhadap organisasi dan konsekuensi yang diterima
individu dari mengikuti organisasi.
b. Faktor Psikologi
Faktor psikologi yang mempengaruhi komitmen organisasi meliputi
minat organisasi, persepsi terhadap organisasi, motivasi dan tujuan
mengikuti organisasi, hubungan psikososial antara sesama anggota
organisasi.
c. Faktor Organisasi
Faktor organisasi meliputi suasana internal dan eksternal organisasi yang
didalamnya mencakup struktur, dasar, nilai, prosedur, tim kerja dan
tujuan organisasi.
Komitmen organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang
cukup panjang dan bertahap Steers (dalam Faiz, 2006) menyatakan tiga faktor
yang mempengaruhi komitmen anggota, yaitu :
a. Ciri pribadi anggota, termasuk masa jabatannya dalam organisasi,
dan variasi kebutuhan dan keinginan yang berbeda tiap anggota.
b. Ciri tanggungjawab, seperti identitas tugas dan kesempatan
berinteraksi dengan rekan seorganisasi.
c. Pengalaman, seperti keterandalan organisasi di masa lampau dan cara
anggota-anggota lain mengutarakan dan membicarakan perasaannya
tentang organisasi.
Menurut Amstrong (dalam Anastasi, 1999) ada tiga hal yang dipandang
dapat mempengaruhi komitmen organisasi, yaitu :
a. Rasa memiliki terhadap organisasi, rasa senang terhadap aktivitas, dan
kepercayaan pada organisasi.
b. Karakteristik keluarga, harapan pengembangan karir dari keluarga dan
lingkungan organisasi
c. Imbalan, timbal balik yang diperoleh setelah bergabung mengikuti
organisasi.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi komitmen organisasi yaitu, faktor demografik, faktor psikologi,
faktor organisasi, karakteristik personal, karakteristik pekerjaan dan peran,
pengalaman dan iklim organisasi, imbalan, karakteristik keluarga, rasa memiliki
terhadap organisasi, ciri pribadi dan ciri tanggungjawab

Pengertian Komitmen Anggota


Secara umum Timpe (1999) menyatakan komitmen anggota terhadap
organisasi melibatkan keterikatan individu dengan tanggungjawabnya didalam
organisasi tersebut.
Komitmen anggota Formasi tampak sebagian anggota memiliki komitmen
yang tinggi dan ada beberapa anggota memiliki komitmen yang rendah terlihat
dari komitmen anggota yang terlibat dalam serangkaian kegiatan organisasi.
Komitmen untuk melaksanakan tanggungjawabnya merupakan sebuah
variabel yang mencerminkan derajat hubungan yang dianggap dimiliki oleh
individu terhadap kewajiban tertentu dalam organisasi. Grenberg dan Baron
(1993) mengemukakan bahwa komitmen merefleksikan tingkat identifikasi dan
keterlibatan individu dalam pekerjaannya dan ketidaksediannya untuk
meninggalkan kewajibannya tersebut.
Steers & Porter (dalam Luthans, 2006) mengemukakan komitmen
organisasi sebagai identification (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), job
involvement (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan
organisasi), dan loyalty (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang anggota terhadap organisasinya.
Komitmen organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena
meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan mengusahakan tingkat upaya©
yang tinggi bagi kepentingan organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap
organisasi, keterlibatan dalam bekerja, dan identifikasi terhadap nilai- nilai dan
tujuan organisasi.
Komitmen adalah sikap untuk merefleksikan loyalitas anggota terhadap
organisasi dan suatu proses yang berkelanjutan dari anggota organisasi untuk
mengekspresikan perhatiannya pada organisasi dan keberhasilan untuk kemajuan
yang berkelanjutan (Luthans, 2006). Menurut Mathis dan Jackson (dalam
Luthans, 2006) mengemukakan Komitmen organisasional adalah derajat yang
mana anggota percaya dan menerima tujuan- tujuan organisasi dan akan tetap
tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi. Hal ini sangat penting dimiliki
oleh setiap anggota organisasi.
Ditegaskan juga oleh Kuntjoro (2002) yang mengemukakan bahwa
komitmen anggota bukanlah suatu hal yang terjadi secara sepihak. Dalam hal ini
organisasi dan anggota harus dapat menciptakan suatu kondisi yang kondusif
dalam mencapai komitmen secara bersama-sama. Komitmen organisasi dalam hal
ini dipengaruhi oleh iklim organisasi dimana anggota tersebut beraktivitas setiap
harinya.
Anggota dituntut untuk berinisiatif dan aktif sesuai yang dikemukakan oleh
Porter & Mowday (dalam Saputro, 2002) komitmen organisasi merupakan suatu
kekuatan dalam diri individu untuk mengidentifikasikan keterlibatan dirinya
terhadap suatu organisasi. Komitmen organisasi ditandai dengan tiga hal, yaitu
penerimaan terhadap nilai dan tujuan organisasi, kesiapan dan kesediaan untuk
berusaha dengan sungguh- sungguh atas nama organisasi dan keinginan untuk©
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Tanpa adanya komitmen
organisasi yang kuat dalam diri individu, tidak akan mungkin suatu organisasi
dapat berjalan dengan maksimal. Komitmen anggota dan iklim organisasi
merupakan hal yang saling berhubungan karena komitmen itu sendiri dibangun
dari iklim organisasi yang sehat dan positif yang dapat menstimulus anggotanya
untuk berkomitmen.
Meyer dan Allen (1997) mengemukakan bahwa anggota yang memiliki
komitmen pada organisasi akan bekerja dengan penuh dedikasi karena anggota
yang memiliki komitmen tinggi menganggap bahwa hal yang penting yang harus
dicapai adalah pencapaian tugas dalam organisasi. Anggota yang memiliki
komitmen organisasi yang tinggi juga memiliki pandangan yang positif dan akan
melakukan yang terbaik untuk kepentingan organisasi. Hal ini membuat anggota
memiliki keinginan untuk memberikan tenaga dan tanggung jawab yang lebih
menyokong kesejahteraan dan keberhasilan organisasi yang diikutinya.
Saputro (2002) menyatakan komitmen organisasi adalah semua perasaan
dan sikap anggota terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi
dimana mereka bergabung dan beraktivitas. Level komitmen bisa dimulai dari
sangat tinggi sampai sangat rendah, orang-orang bisa mempunyai sikap tentang
berbagai aspek organisasi mereka seperti saat praktek sosialisasi organisasi,
kualitas kegiatan organisasi dan perbedaan budaya organisasi (Jenifer & Gareth,
dalam Winardi, 2004)

Pengaruh

Keselarasan dengan Nilai-Nilai Organisasi terhadap Komitmen
Organisasional.


Keselarasan nilai-nilai pribadi dengan nilai-nilai organisasi merupakan
konstruksi kunci dalam WPS dan membuat karyawan selaras dengan tujuan
organisasi dan mengidentifikasi dengan misi dan nilai-nilainya. Milliman dan
Ferguson (2003) (Hisam & Sanyal, 2021).
Keselarasan dengan nilai-nilai organisasi berarti bahwa karyawan ingin
bekerja di organisasi yang bercita-cita memiliki integritas dan etika tingkat tinggi
serta memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat luas (Ashmos dan Duchon,
2000) (Hisam & Sanyal, 2021). Nilai mendorong perilaku dalam organisasi dan
perubahan cepat dapat terjadi hanya jika ada keselarasan antara nilai karyawan dan
organisasi. Karyawan mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai yang dianut
organisasi mereka dan nilai-nilai ini mendorong rasa komitmen terhadap organisasi
jika individu tersebut memiliki nilai-nilai organisasi yang sama. Nilai mendorong
perilaku dalam organisasi dan perubahan cepat dapat terjadi hanya jika ada
keselarasan antara nilai karyawan dan organisasi. Karyawan mengidentifikasi diri
dengan nilai-nilai yang dianut organisasi mereka dan nilai-nilai ini mendorong rasa
komitmen terhadap organisasi jika individu tersebut memiliki nilai-nilai organisasi
yang sama (Hisam & Sanyal, 2021). Hal ini menandakan bahwa terdapat
kesinambungan antara penerapan keselarasan dengan nilai-nilai organisasi dengan
komitmen organisasional pada suatu organisasi. Semakin karyawan selaras dengan
organisasinya, maka semakin tinggi juga komitmen untuk tetap tinggal

Rasa Kebersamaan terhadap Komitmen Organisasional.


Telah terbukti bahwa sense of community memiliki hubungan yang positif
dengan komitmen organisasi (Lampinen et al., 2017). Mendefinisikan sense of
community (SOC) sebagai perasaan yang dimiliki oleh anggota, perasaan bahwa
anggota penting bagi satu sama lain dan bagi kelompok, keyakinan bersama bahwa
kebutuhan mereka akan terpenuhi melalui komitmen mereka untuk bersama
(McMillan dan Chavis dalam jurnal. Rasa komunitas mengacu pada
“keterhubungan dan saling ketergantungan di antara karyawan dan rasa memiliki
tempat dan rasa memiliki dalam masyarakat” dan dapat dikembangkan melalui visi
bersama, nilai-nilai bersama, pemberdayaan, pembagian tanggung jawab,
pertumbuhan dan persahabatan Menurut Garg (2017) (Hisam & Sanyal, 2021).
Dalam konteks organisasi, rasa komunitas mengarah pada semangat tim,
peningkatan kerja sama, saling membantu dan pengertian, serta keinginan bersama
untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Hisam & Sanyal, 2021). Dari
peneletian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka peneliti mengambil
hipotesis dari penelitian ini. Semakin kuat kebersamaan yang dialami karyawan,
maka semakin tinggi komitmennya

Pengaruh Pekerjaan yang Bermakna terhadap Komitmen Organisasional.


Penelitian dari (Djafri & Noordin, 2017) menyatakan bahwa karyawan yang
memiliki lebih banyak pengalaman dengan pekerjaan yang bermakna akan
menjadi lebih berkomitmen terhadap organisasi. Pekerjaan yang benar-benar
bermakna dan berkontribusi pada kemajuan manusia dan masyarakat merupakan
motivator utama bagi sebagian besar karyawan (Michealson, 2009 dalam Hisam
& Sanyal, 2021). Makna di tempat kerja memenuhi keinginan dasar manusia untuk
menjadi bagian dari suatu kelompok dengan berfokus pada identitas dan harga diri
karyawan sebagai anggota organisasi. (Hisam & Sanyal, 2021). Karyawan juga
harus cocok untuk pekerjaan tersebut dan interaksi sosial dengan rekan kerja dan
pelanggan harus dilayani dengan baik. Kebermaknaan di tempat kerja dapat
dipraktikkan dengan memberikan otonomi yang lebih besar dan tugas- tugas yang
menantang kepada karyawan. Karyawan juga harus cocok untuk pekerjaan
tersebut dan interaksi sosial dengan rekan kerja dan pelanggan harus dihargai
(Menurut Kahn dalam jurnal Hisam & Sanyal, 2021). Seseorang merasa dirinya
bermakna ketika ia berguna dan berharga bagi organisasinya. Sebaliknya,
kurangnya kebermaknaan terhadap pekerjaan membentuk perasaan kurang
dihargai sehingga peran dalam pekerjaan juga kurang berkembang (Diyan
Nurdiyansyah et al., n.d.). Dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya maka
peneliti dalam penelitian ini mengambil sebuah hipotesis. Semakin karyawan
merasa bermakna dalam pekerjaanya, maka semakin tinggi karyawan ingin tetap
tinggal pada organisasi

Keselarasan dengan Nilai-nilai Organisasi


Nilai-nilai organisasi (OV) adalah prinsip-prinsip inti atau etika organisasi
yang merupakan bagian yang mengakar dari budaya dan etos organisasi. (Hisam &
Sanyal, 2021). Nilai-nilai ini mengurangi risiko perilaku tidak etis dan tidak pantas
dan membedakan organisasi dari para pesaingnya. Selama kurun waktu tertentu,
nilai-nilai ini membantu meningkatkan karakter etis organisasi, seperti yang
diungkapkan oleh budaya dan operasinya

Rasa Kebersamaan


Mendefinisikan sense of community (SOC) sebagai “perasaan yang dimiliki
oleh anggota, perasaan bahwa anggota penting bagi satu sama lain dan bagi
kelompok, dan keyakinan bersama bahwa kebutuhan mereka akan terpenuhi
melalui komitmen mereka untuk bersama”. Rasa komunitas sangat penting untuk
menjalin ikatan di antara anggota komunitas. (Hisam & Sanyal, 2021). Kelompok
sosial yang dibentuk oleh suatu strategi bertahan hidup untuk mewujudkan
keinginan manusia dalam mempertahankan kehidupannya saat ini dan mengejar
kehidupan yang lebih baik dari sekarang (Jeong & Jang, 2020)

Pekerjaan yang bermakna


Seiring berjalannya waktu dalam suatu pekerjaan dengan meningkatnya
perhatian terhadap tanggung jawab social. Pekerjaan yang bermakna adalah
pekerjaan yang memiliki nilai positif dan memiliki arti penting bagi pribadi (Lysova
et al., 2019).Karena konsep spiritualitas pekerjaan yang bermakna dipandang
sebagai konsep yang lebih dalam dan lebih personal daripada tantangan pekerjaan,
konsep ini juga diharapkan berdampak positif terhadap sikap karyawan terhadap
organisasinya, termasuk pergantian karyawan. Pekerjaan dapat menjadi sumber
pengembangan dan pengakuan pribadi (Charles-Leija et al., 2023) Karyawan yang
menempatkan nilai dan makna tinggi pada pekerjaan mereka memiliki kemampuan
adaptasi psikologis yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang tidak memberikan
nilai dan makna pada pekerjaan mereka (Jung & Yoon, 2016). Seseorang merasa
dirinya bermakna ketika ia berguna dan berharga bagi organisasinya. Sebaliknya,
kurangnya kebermaknaan terhadap pekerjaan membentuk perasaan kurang dihargai
sehingga peran dalam pekerjaan juga kurang berkembang (Diyan Nurdiyansyah et
al., n.d.)

Spiritualitas di Tempat Kerja


Teori Milliman et al. (2003) tentang Workplace Spirituality menjelaskan
bahwa spiritualitas di tempat kerja bukan berarti keagamaan, melainkan
mencerminkan pengalaman individu dalam menemukan makna, tujuan, dan rasa
keterhubungan dalam pekerjaan mereka. Teori ini terdiri dari tiga dimensi utama.

  1. Meaningful Work (Pekerjaan yang Bermakna)
    Dimensi ini menggambarkan sejauh mana seseorang merasa bahwa pekerjaannya
    memiliki nilai dan tujuan yang melampaui aktivitas rutin sehari-hari. Individu yang
    mengalami pekerjaan yang bermakna akan merasa bahwa tugas yang dijalankannya
    memberikan kontribusi positif, sejalan dengan nilai-nilai pribadi, dan mendukung
    perkembangan diri secara utuh, termasuk secara spiritual.
  2. Sense of Community (Rasa Kebersamaan)
    Dimensi ini mencerminkan perasaan terhubung secara emosional dan sosial dengan
    rekan kerja. Karyawan merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling
    mendukung, saling peduli, dan membangun hubungan kerja yang harmonis.
    Lingkungan kerja yang memiliki sense of community cenderung mendorong
    terciptanya suasana kekeluargaan dan kohesi tim yang kuat.
    3.Alignment with Organizational Values (Keselarasan dengan Nilai Organisasi)
    Dimensi ini mengacu pada kesesuaian antara nilai-nilai pribadi karyawan dengan
    nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Ketika nilai organisasi dipandang positif,
    etis, dan bermakna, karyawan akan merasa lebih terlibat secara emosional dan
    spiritual. Hal ini menciptakan rasa percaya dan loyalitas terhadap organisasi.
    Spiritualitas di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan agama atau
    memaksa orang untuk menerima sistem kepercayaan tertentu. Sebaliknya, WPS
    adalah tentang karyawan yang menganggap diri mereka sebagai makhluk spiritual
    yang jiwanya harus dipelihara di lingkungan kerja (Ertemsir et al., 2024). Ini
    memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja karyawan dan dengan
    demikian merupakan bantuan dalam mencapai keunggulan organisasi. Dengan
    demikian, kita dapat mendefinisikan spiritualitas tempat kerja sebagai rasa
    pemahaman tentang tempat kerja, merasakan rasa memiliki dan komunitas, dan
    menyelaraskan nilai-nilai pribadi seseorang dengan nilai-nilai organisasi. Ada tiga
    elemen spiritualitas yang umum untuk semua definisi dalam literatur yang ada:
    pencarian kebahagiaan, pencarian makna hidup, dan pengalaman kerja yang
    bermakna yang membuat seseorang merasa bahwa ia melakukan sesuatu untuk
    kebaikan bersama dan hubungan dengan transendensi (Hisam & Sanyal, 2021).
    Penelitian telah menemukan bahwa pengalaman spiritualitas karyawan
    mempengaruhi keterikatan organisasi dan rasa kewajiban mereka terhadap
    organisasi(Aboobaker et al., 2020)

Komitmen Afektif


Komitmen afektif mengacu pada keterikatan emosional, identifikasi, dan
keterlibatan karyawan dalam organisasi (Hisam & Sanyal, 2021) Komitmen afektif
Tingkat tinggi terbukti dapat mengurangi pergantian karyawan dan ketidakhadiran
karyawan serta meningkatkan kinerja dan produktivitas. Jika dibandingkan dengan
jenis komitmen lainnya, komitmen organisasi afektif, yang mengacu pada
keterikatan emosional karyawan terhadap perusahaan, identifikasi dengannya, dan
keterlibatan di dalamnya, merupakan elemen terpenting dalam retensi karyawan
(Vrcelj et al., 2022)

Komitmen Organisasional


Meyer dan Allen (1991) mengemukakan bahwa komitmen organisasional
merupakan suatu keadaan psikologis yang menggambarkan hubungan antara
individu dan organisasi, yang berimplikasi pada keputusan untuk melanjutkan
keanggotaan dalam organisasi tersebut. Mereka mengembangkan model yang
dikenal sebagai Three-Component Model of Commitment, yang terdiri dari tiga
dimensi utama.

  1. Affective Commitment (Komitmen Afektif)
    Merupakan bentuk komitmen yang bersumber dari keterikatan emosional,
    identifikasi diri, dan keterlibatan karyawan terhadap organisasi. Karyawan dengan
    komitmen afektif tinggi memilih untuk tetap bekerja karena adanya rasa memiliki
    dan keterhubungan secara emosional terhadap organisasi.
  2. Continuance Commitment (Komitmen Berkelanjutan)
    Dimensi ini mencerminkan kesadaran individu akan biaya atau kerugian yang
    mungkin timbul apabila meninggalkan organisasi. Komitmen ini bersifat kalkulatif,
    di mana karyawan tetap bertahan karena telah mempertimbangkan manfaat dan
    risiko secara rasional.
  3. Normative Commitment (Komitmen Normatif)
    Komitmen normatif berlandaskan pada rasa kewajiban moral untuk tetap berada
    dalam organisasi. Karyawan merasa memiliki tanggung jawab atau beban moral,
    seringkali sebagai bentuk balas budi terhadap organisasi yang telah memberikan
    dukungan, pelatihan, atau peluang.
    Komitmen organisasi merupakan situasi dimana karyawan merasakan
    ikatan dengan organisasi dan ingin mempertahankan hubungan serta
    keanggotaannya dengan organisasi (Hisam & Sanyal, 2021). Komitmen organisasi
    merupakan salah satu faktor kunci yang digunakan untuk mengukur perasaan yang
    dimiliki karyawan terhadap organisasinya dan dicirikan sebagai kemauan karyawan
    untuk tetap bertahan dalam organisasi di masa mendatang. Komitmen organisasi
    menunjukkan keyakinan dan penerimaan terhadap tujuan dan nilai organisasi, serta
    kemauan untuk mengerahkan upaya signifikan atas nama organisasi (Merdiaty et
    al., 2023). Komitmen organisasi merupakan daya tarik yang menarik karyawan
    terhadap organisasi. Jika dibandingkan dengan jenis komitmen lainnya, komitmen
    organisasi afektif, yang mengacu pada keterikatan emosional karyawan terhadap
    perusahaan, identifikasi dengannya, dan keterlibatan di dalamnya, merupakan
    elemen terpenting dalam retensi karyawan (Vrcelj et al., 2022)

Agile Organization


Gligor & Holcomb (2013) dalam Mangundjaya (2018:1)
menyatakan bahwa organisasi-organisasi yang agile (lincah) memiliki
kemampuan untuk secara cepat mengadaptasi taktik dan beroperasi
melalui rantai operasi untuk dapat berespon dan/atau beradaptasi
terhadap perubahan serta tantangan yang dihadapi di lingkungannya.
Organisasi yang agile (lincah) adalah organisasi yang fleksibel dan
menikmati kecepatan dalam menghadapi kondisi perubahan pasar
(Hormozi, 2001; Yusuf, Gunasekaran, Adeleye, & Sivayoganathan,
2004) dalam Mangundjaya (2018:1).
Lebih lanjut, Mangundjaya (2018:2) mengungkapkan beberapa
relevansi organisasi yang agile di Indonesia sebagai berikut:

  1. Organisasi yang agile diperlukan karena pada saat ini bukan
    organisasi yang paling besar dan paling kaya tapi organisasi yang
    paling agile dan fleksibel adalah yang menjadi pemenangnya.
  2. Organisasi yang agile antara lain terwakili pada inovasi yang
    ditampilkannya.
  3. Dengan menjadi organisasi yang agile dan menggunakan metode
    yang terukur, maka manajemen proyek yang sebelumnya tadinya
    lamanya dapat dipotong waktunya menjadi lebih singkat.
  4. Organisasi yang agile selalu terfokus kepada pelanggan, sehingga
    harus mampu beradaptasi pada perubahan pasar atau pelanggan.
  5. Organisasi yang agile antara lain adalah yang cepat merespon
    tuntutan pelanggan.
    Aghina, Smet, & Weerda (2015) dalam Brosseau, et.al (2019:2)
    mengungkapkan perbedaan antara organisasi tradisional dan
    organisasi agile:
    “Agile organizations are different. Traditional organizations are
    built around a static, siloed, structural hierarchy, whereas agile
    organizations are characterized as a network of teams operating
    in rapid learning and decision-making cycles. Traditional
    organizations place their governance bodies at their apex, and
    decision rights flow down the hierarchy; conversely, agile
    organizations instill a common purpose and use new data to give
    decision rights to the teams closest to the information. An agile
    organization can ideally combine velocity and adaptability with
    stability and efficiency.”
    Dari pernyataan tersebut, diketahui bahwa Organisasi yang agile
    idealnya dapat menggabungkan kecepatan dan kemampuan
    beradaptasi dengan stabilitas dan efisiensi. Organisasi tradisional
    dibangun berdasarkan hierarki struktural yang statis, terisolasi,
    sedangkan organisasi agile dicirikan sebagai jaringan tim yang
    beroperasi dalam siklus pembelajaran dan pengambilan keputusan
    yang cepat. Sebaliknya, organisasi agile menanamkan tujuan bersama
    dan menggunakan data baru untuk memberikan hak pengambilan
    keputusan kepada tim yang paling dekat dengan informasi tersebut.
    Masih berkaitan dengan adaptasi internal dalam proses pembentukan
    organisasi agile, Mangundjaya (2018:2) menyebutkan:
    “Organisasi yang agile tidak terbentuk begitu saja, banyak aspek
    yang mempengaruhi pada pembentukan organisasi menjadi
    agile, baik yang berasal dari faktor eksternal maupun internal.
    Dalam hal ini, yang dapat dikontrol oleh organisasi adalah
    variabel internal. Disamping itu, bila faktor internal dapat
    dikontrol dan diperkuat diharapkan faktor eksternal juga dapat
    dihadapi dan dikendalikan.”
    Lebih lanjut, McKinsey Agile Tribe (2017:3) menekankan
    pengertian Organisasi Agile bahwa organisasi agile (yang dirancang
    untuk stabilitas dan dinamisme) adalah jaringan tim dalam budaya yang
    berpusat pada manusia yang beroperasi dalam pembelajaran cepat
    dan siklus pengambilan keputusan cepat yang dimungkinkan oleh
    teknologi, dan dipandu oleh tujuan bersama yang kuat untuk berkreasi
    bersama nilai bagi seluruh pemangku kepentingan. Model operasi agile
    seperti ini memiliki kemampuan untuk dengan cepat dan efisien
    mengkonfigurasi ulang strategi, struktur, proses, sumber daya manusia,
    dan teknologi menuju peluang penciptaan nilai dan perlindungan nilai.
    Dengan demikian, organisasi yang agile menambah kecepatan dan
    kemampuan beradaptasi terhadap stabilitas, sehingga menciptakan
    sumber keunggulan kompetitif yang penting dalam kondisi Volatility
    (bergejolak), Uncertainty (tidak pasti), Complexity (kompleks), dan
    Ambiguity (ambigu) (VUCA).
    Aghina, et.al. (2015) dalam McKinsey Agile Tribe (2017:5)
    mengenai organisasi agile mendeskripsikan bahwa:
    ‘Paradigma yang mencapai keseimbangan antara stabilitas dan
    dinamisme organisasi dan paradoks yang dikuasai oleh
    organisasi yang benar-benar agile keduanya stabil dan dinamis
    pada saat yang bersamaan dan organisasi yang agile melakukan
    mobilisasi dengan cepat, gesit, berdaya untuk bertindak, dan
    memudahkan untuk bertindak. Singkatnya, mereka merespons
    seperti organisme hidup

Shadow Organization/Shadow Organizing


Stevenson and Baker (1992), Bray (1999b), Lee et al. (2009)
dalam Bray & Lykins (2012:1) menyebutkan istilah ‘bayangan’
digunakan sebagai cara untuk menyoroti bagaimana beberapa cara
pengorganisasian meniru arus utama. Pengorganisasian bayangan
(Shadow Organizing) dalam arti luas mengacu pada pengaturan paralel
yang berdampingan dan meniru cara-cara pengorganisasian arus
utama atau konvensional (Hopwood & Jensen, 2019:2). Dalam
penelitiannya, Hopwood & Jensen, (2019:2), mengungkapkan hal
sebagai berikut:
“Shadow organizing can be a way to respond to challenges that
require new ways of working without abandoning what is valuable
about conventional arrangements. Put simply, shadow
organizing is a process, and shadow organization is, potentially,
its result.”
Untuk memahami lebih lanjut mengenai pengorganisasian
bayangan, Borch (2017) memberi argumen bahwa memahami respons
semacam itu memerlukan penggalian pola-pola tiruan yang disatukan
dan melakukan analisis yang menelusuri peran imitasi pada tingkat
yang berfokus pada dinamika mikro yang terungkap dalam praktik. Alat
konseptual untuk ini tersedia dalam bentuk tiga pola tiruan. Hal ini
berakar pada ungkapan asli Tarde (1962) sebagai ‘hukum peniruan’
namun secara koheren dapat diposisikan dengan kerangka performatif
yang lebih kontemporer (Howaldt dan Schwarz, 2017; Moebius, 2004).
Pola pertama, yang berfokus pada peniruan gagasan, tidak hanya
mengacu pada gagasan yang dibayangkan atau dikodekan dalam
kebijakan dan dokumen strategis, namun juga diterapkan dan
diterjemahkan dalam praktik pengorganisasian. Pola kedua
menawarkan cara untuk memahami sifat selektif dari peniruan, dengan
menyoroti alasan pragmatis, simbolis, dan asosiatif mengapa beberapa
hal ditiru (dan yang lainnya tidak). Ini adalah pandangan relasional, di
mana seleksi merupakan sebuah proses yang berlangsung di mana
para aktor membuat pilihan secara interaktif, selalu dalam kondisi lokal,
namun memanfaatkan aturan dan sumber daya yang lebih luas
(Tsoukas dan Chia, 2002). Oleh karena itu, hal ini terkait dengan
pandangan Gherardi et al. (2017) yang memandang pengorganisasian
bayangan sebagai fenomena yang didasarkan pada hubungan antar
elemen yang berinteraksi. Pola ketiga, penyisipan, berfokus pada
bagaimana pengorganisasian bayangan mencerminkan kombinasi
baru dan lama, menyelaraskan konseptualisasi secara langsung
dengan gagasan metaforis tentang antara dan di antara (Gherardi et
al., 2017).

Tujuan Perubahan/Pengembangan Organisasi


Toha (2002:25) berpendapat bahwa tujuan dari
pengembangan organisasi, antara lain:

  1. Untuk memberikan dukungan dan kepercayaan diantara
    anggota. Semua anggota selalu memberikan dukungan
    terhadap anggotanya dalam menjalankan tugasnya, serta
    saling percaya diantara sesama anggota.
  2. Untuk memberikan kesadaran bersama terkait adanya
    permasalahan dalam organisasi. Hal ini dimaksudkan agar
    setiap permasalahan segera dapat diatasi secara bersama-
    sama, tidak untuk dibiarkan.
  3. Untuk memberikan kewenangan tugas kepada para anggota.
    Dalam menjalankan kewenangan tugas yang telah dibebankan
    kepada para anggota ini didasarkan pada pengetahuan dan
    keterampilan kerja yang dimilikinya dan sesuai dengan
    tupoksinya.
  4. Untuk memberikan keterbukaan dalam berkomunikasi. Dalam
    hal ini setiap anggota dapat memberikan keterbukaan baik
    secara vertikal, horizontal, maupun secara diagonal. Dengan
    adanya keterbukaan dalam berkomunikasi, tidak akan terjadi
    saling curiga dan buruk sangka serta tidak ada rahasia diantara
    anggota.
  5. Untuk memberikan semangat dan kepuasan kerja. Adanya
    semangat dan kepuasan kerja dapat membangkitkan
    semangat dan gairah dalam bekerja.
  6. Untuk pemecahan masalah yang sinergitik. Biasanya dalam
    suatu organisasi ada yang mempunyai masalah dalam
    frekuensi yang sangat besar. Dengan pemecahan semacam
    ini, masalah dapat segera diselesaikan dan dikendalikan.
  7. Untuk memberikan pertanggungjawaban.
    Pertanggungjawabanini dibebankan kepada dirinya sendiri dan
    kepada kelompoknya, baik di dalam organisasi maupun di luar
    organisasi

Faktor Pendorong Perubahan/Pengembangan Organisasi


Robbins (2006) dalam Aslinda, Guntur, & Nur (2018:18-20)
mengungkapkan beberapa faktor dan alasan mengapa suatu
organisasi melakukan perubahan yaitu:
1) Persaingan, dalam hal ini pesaing-pesaing organisasi dapat
datang dari arah mana saja dan dalam bentuk apapun. Tingkat
persaingan yang tinggi memaksa suatu organisasi harus bisa
bertahan. Adapun organisasi yang dapat bertahan dalam
persaingan ini adalah organisasi yang dapat berubah dan
menanggapi berbagai tantangan-tantangan yang dihadapinya
baik secara intemal maupun secara eksternal. Dengan
kesiapan organisasi untuk berubah maka dengan cepat dapat
melakukan inovasi secara kreatif, fleksibel. adaptif, dan sensitif
terhadap lingkungannya.
2) Perubahan dalam bidang ekonomi merupakan kondisi
perekonomian yang berubah-ubah dan perubahan dapat terjadi
baik secara nasional maupun perubahan secara internasional,
dan perubahan dalam bidang ekonomi tidak dapat
diprediksikan seperti yang terjadi sekarang ini, sehingga
perubahan yang terjadi sewaktu-waktu akan dapat
mengejutkan dunia usaha. Kejutan ekonomi ini wujudnya
seperti anjloknya harga minyak dunia, kenaikan BBM,
kelangkaan bahan pokok, dan jatuhnya nilai mata uang.
Pemangkasan jumlah tenaga kerja, penjadwalan-ulang
pembayaran utang, dan restrukturisasi organisasi. Kejadian
seperti ini akan memaksa suatu organisasi untuk berubah
secara adaptif agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungan.
3) Perubahan Teknologi merupakan merupakan salah satu
pendukung utama dalam meningkatkan produktivitas
organisasi, dengan perubahan tehnologi organisasi harus
selalu paham dan mengikuti perubahan tersebut dalam rangka
mengatasi persaingan. Perubahan teknologi harus dapat
dijawab oleh organisasi untuk dapat terus mensejajarkan diri
dalam persaingan. Jika tidak, maka akan dapat menghambat
kinerja organisasi.
4) Perubahan Sosial merupakan perubahan keadaan sosial
disuatu tempat atau perubahan ini disebut dengan tren sosial,
perubahan sosial dalam masyarakat akan dengan cepat dapat
berimbas pada budaya masyarakat dan mempengaruhi
kebijakan-kebijakan menyangkut ekonomi dan
ketenagakerjaan yang merupakan bagian krusial dalam
pengelolaan organisasi.
5) Perubahan Politik merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan perubahan dalam organisasi dan organisasi
tersebut harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
keadaan politik dimana organisasi itu berada. Dengan
dernikian, perubahan politik akan memaksa organisasi untuk
berubah.
Anderson (2001:16) mengemukakan bahwa terdapat faktor
penggerak (the drivers change model), yang dapat mempengaruhi
berlangsungnya perubahan organisasi yaitu faktor eksternal dan
faktor internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi perubahan
organisasi adalah seperti faktor lingkungan atau pasar. Pergeseran
dalam lingkungan atau pasar mernerlukan respons atau perubahan
dalam ranah yang lebih spesifik, seperti strategi bisnis dan desain
organisasi, yang pada gilirannya memerlukan perubahan ranah
pada manusia dalam budaya, perilaku orang dan cara berpikir.
Sedangkan ranah internal, seperti budaya, perilaku. dan pola pikir
pernimpin dan karyawan dalam organisasi