Gligor & Holcomb (2013) dalam Mangundjaya (2018:1)
menyatakan bahwa organisasi-organisasi yang agile (lincah) memiliki
kemampuan untuk secara cepat mengadaptasi taktik dan beroperasi
melalui rantai operasi untuk dapat berespon dan/atau beradaptasi
terhadap perubahan serta tantangan yang dihadapi di lingkungannya.
Organisasi yang agile (lincah) adalah organisasi yang fleksibel dan
menikmati kecepatan dalam menghadapi kondisi perubahan pasar
(Hormozi, 2001; Yusuf, Gunasekaran, Adeleye, & Sivayoganathan,
2004) dalam Mangundjaya (2018:1).
Lebih lanjut, Mangundjaya (2018:2) mengungkapkan beberapa
relevansi organisasi yang agile di Indonesia sebagai berikut:
- Organisasi yang agile diperlukan karena pada saat ini bukan
organisasi yang paling besar dan paling kaya tapi organisasi yang
paling agile dan fleksibel adalah yang menjadi pemenangnya. - Organisasi yang agile antara lain terwakili pada inovasi yang
ditampilkannya. - Dengan menjadi organisasi yang agile dan menggunakan metode
yang terukur, maka manajemen proyek yang sebelumnya tadinya
lamanya dapat dipotong waktunya menjadi lebih singkat. - Organisasi yang agile selalu terfokus kepada pelanggan, sehingga
harus mampu beradaptasi pada perubahan pasar atau pelanggan. - Organisasi yang agile antara lain adalah yang cepat merespon
tuntutan pelanggan.
Aghina, Smet, & Weerda (2015) dalam Brosseau, et.al (2019:2)
mengungkapkan perbedaan antara organisasi tradisional dan
organisasi agile:
“Agile organizations are different. Traditional organizations are
built around a static, siloed, structural hierarchy, whereas agile
organizations are characterized as a network of teams operating
in rapid learning and decision-making cycles. Traditional
organizations place their governance bodies at their apex, and
decision rights flow down the hierarchy; conversely, agile
organizations instill a common purpose and use new data to give
decision rights to the teams closest to the information. An agile
organization can ideally combine velocity and adaptability with
stability and efficiency.”
Dari pernyataan tersebut, diketahui bahwa Organisasi yang agile
idealnya dapat menggabungkan kecepatan dan kemampuan
beradaptasi dengan stabilitas dan efisiensi. Organisasi tradisional
dibangun berdasarkan hierarki struktural yang statis, terisolasi,
sedangkan organisasi agile dicirikan sebagai jaringan tim yang
beroperasi dalam siklus pembelajaran dan pengambilan keputusan
yang cepat. Sebaliknya, organisasi agile menanamkan tujuan bersama
dan menggunakan data baru untuk memberikan hak pengambilan
keputusan kepada tim yang paling dekat dengan informasi tersebut.
Masih berkaitan dengan adaptasi internal dalam proses pembentukan
organisasi agile, Mangundjaya (2018:2) menyebutkan:
“Organisasi yang agile tidak terbentuk begitu saja, banyak aspek
yang mempengaruhi pada pembentukan organisasi menjadi
agile, baik yang berasal dari faktor eksternal maupun internal.
Dalam hal ini, yang dapat dikontrol oleh organisasi adalah
variabel internal. Disamping itu, bila faktor internal dapat
dikontrol dan diperkuat diharapkan faktor eksternal juga dapat
dihadapi dan dikendalikan.”
Lebih lanjut, McKinsey Agile Tribe (2017:3) menekankan
pengertian Organisasi Agile bahwa organisasi agile (yang dirancang
untuk stabilitas dan dinamisme) adalah jaringan tim dalam budaya yang
berpusat pada manusia yang beroperasi dalam pembelajaran cepat
dan siklus pengambilan keputusan cepat yang dimungkinkan oleh
teknologi, dan dipandu oleh tujuan bersama yang kuat untuk berkreasi
bersama nilai bagi seluruh pemangku kepentingan. Model operasi agile
seperti ini memiliki kemampuan untuk dengan cepat dan efisien
mengkonfigurasi ulang strategi, struktur, proses, sumber daya manusia,
dan teknologi menuju peluang penciptaan nilai dan perlindungan nilai.
Dengan demikian, organisasi yang agile menambah kecepatan dan
kemampuan beradaptasi terhadap stabilitas, sehingga menciptakan
sumber keunggulan kompetitif yang penting dalam kondisi Volatility
(bergejolak), Uncertainty (tidak pasti), Complexity (kompleks), dan
Ambiguity (ambigu) (VUCA).
Aghina, et.al. (2015) dalam McKinsey Agile Tribe (2017:5)
mengenai organisasi agile mendeskripsikan bahwa:
‘Paradigma yang mencapai keseimbangan antara stabilitas dan
dinamisme organisasi dan paradoks yang dikuasai oleh
organisasi yang benar-benar agile keduanya stabil dan dinamis
pada saat yang bersamaan dan organisasi yang agile melakukan
mobilisasi dengan cepat, gesit, berdaya untuk bertindak, dan
memudahkan untuk bertindak. Singkatnya, mereka merespons
seperti organisme hidup
