Meyer dan Allen (1991) mengemukakan bahwa komitmen organisasional
merupakan suatu keadaan psikologis yang menggambarkan hubungan antara
individu dan organisasi, yang berimplikasi pada keputusan untuk melanjutkan
keanggotaan dalam organisasi tersebut. Mereka mengembangkan model yang
dikenal sebagai Three-Component Model of Commitment, yang terdiri dari tiga
dimensi utama.
- Affective Commitment (Komitmen Afektif)
Merupakan bentuk komitmen yang bersumber dari keterikatan emosional,
identifikasi diri, dan keterlibatan karyawan terhadap organisasi. Karyawan dengan
komitmen afektif tinggi memilih untuk tetap bekerja karena adanya rasa memiliki
dan keterhubungan secara emosional terhadap organisasi. - Continuance Commitment (Komitmen Berkelanjutan)
Dimensi ini mencerminkan kesadaran individu akan biaya atau kerugian yang
mungkin timbul apabila meninggalkan organisasi. Komitmen ini bersifat kalkulatif,
di mana karyawan tetap bertahan karena telah mempertimbangkan manfaat dan
risiko secara rasional. - Normative Commitment (Komitmen Normatif)
Komitmen normatif berlandaskan pada rasa kewajiban moral untuk tetap berada
dalam organisasi. Karyawan merasa memiliki tanggung jawab atau beban moral,
seringkali sebagai bentuk balas budi terhadap organisasi yang telah memberikan
dukungan, pelatihan, atau peluang.
Komitmen organisasi merupakan situasi dimana karyawan merasakan
ikatan dengan organisasi dan ingin mempertahankan hubungan serta
keanggotaannya dengan organisasi (Hisam & Sanyal, 2021). Komitmen organisasi
merupakan salah satu faktor kunci yang digunakan untuk mengukur perasaan yang
dimiliki karyawan terhadap organisasinya dan dicirikan sebagai kemauan karyawan
untuk tetap bertahan dalam organisasi di masa mendatang. Komitmen organisasi
menunjukkan keyakinan dan penerimaan terhadap tujuan dan nilai organisasi, serta
kemauan untuk mengerahkan upaya signifikan atas nama organisasi (Merdiaty et
al., 2023). Komitmen organisasi merupakan daya tarik yang menarik karyawan
terhadap organisasi. Jika dibandingkan dengan jenis komitmen lainnya, komitmen
organisasi afektif, yang mengacu pada keterikatan emosional karyawan terhadap
perusahaan, identifikasi dengannya, dan keterlibatan di dalamnya, merupakan
elemen terpenting dalam retensi karyawan (Vrcelj et al., 2022)
