Secara umum Timpe (1999) menyatakan komitmen anggota terhadap
organisasi melibatkan keterikatan individu dengan tanggungjawabnya didalam
organisasi tersebut.
Komitmen anggota Formasi tampak sebagian anggota memiliki komitmen
yang tinggi dan ada beberapa anggota memiliki komitmen yang rendah terlihat
dari komitmen anggota yang terlibat dalam serangkaian kegiatan organisasi.
Komitmen untuk melaksanakan tanggungjawabnya merupakan sebuah
variabel yang mencerminkan derajat hubungan yang dianggap dimiliki oleh
individu terhadap kewajiban tertentu dalam organisasi. Grenberg dan Baron
(1993) mengemukakan bahwa komitmen merefleksikan tingkat identifikasi dan
keterlibatan individu dalam pekerjaannya dan ketidaksediannya untuk
meninggalkan kewajibannya tersebut.
Steers & Porter (dalam Luthans, 2006) mengemukakan komitmen
organisasi sebagai identification (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), job
involvement (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan
organisasi), dan loyalty (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang anggota terhadap organisasinya.
Komitmen organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena
meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan mengusahakan tingkat upaya©
yang tinggi bagi kepentingan organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap
organisasi, keterlibatan dalam bekerja, dan identifikasi terhadap nilai- nilai dan
tujuan organisasi.
Komitmen adalah sikap untuk merefleksikan loyalitas anggota terhadap
organisasi dan suatu proses yang berkelanjutan dari anggota organisasi untuk
mengekspresikan perhatiannya pada organisasi dan keberhasilan untuk kemajuan
yang berkelanjutan (Luthans, 2006). Menurut Mathis dan Jackson (dalam
Luthans, 2006) mengemukakan Komitmen organisasional adalah derajat yang
mana anggota percaya dan menerima tujuan- tujuan organisasi dan akan tetap
tinggal atau tidak akan meninggalkan organisasi. Hal ini sangat penting dimiliki
oleh setiap anggota organisasi.
Ditegaskan juga oleh Kuntjoro (2002) yang mengemukakan bahwa
komitmen anggota bukanlah suatu hal yang terjadi secara sepihak. Dalam hal ini
organisasi dan anggota harus dapat menciptakan suatu kondisi yang kondusif
dalam mencapai komitmen secara bersama-sama. Komitmen organisasi dalam hal
ini dipengaruhi oleh iklim organisasi dimana anggota tersebut beraktivitas setiap
harinya.
Anggota dituntut untuk berinisiatif dan aktif sesuai yang dikemukakan oleh
Porter & Mowday (dalam Saputro, 2002) komitmen organisasi merupakan suatu
kekuatan dalam diri individu untuk mengidentifikasikan keterlibatan dirinya
terhadap suatu organisasi. Komitmen organisasi ditandai dengan tiga hal, yaitu
penerimaan terhadap nilai dan tujuan organisasi, kesiapan dan kesediaan untuk
berusaha dengan sungguh- sungguh atas nama organisasi dan keinginan untuk©
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Tanpa adanya komitmen
organisasi yang kuat dalam diri individu, tidak akan mungkin suatu organisasi
dapat berjalan dengan maksimal. Komitmen anggota dan iklim organisasi
merupakan hal yang saling berhubungan karena komitmen itu sendiri dibangun
dari iklim organisasi yang sehat dan positif yang dapat menstimulus anggotanya
untuk berkomitmen.
Meyer dan Allen (1997) mengemukakan bahwa anggota yang memiliki
komitmen pada organisasi akan bekerja dengan penuh dedikasi karena anggota
yang memiliki komitmen tinggi menganggap bahwa hal yang penting yang harus
dicapai adalah pencapaian tugas dalam organisasi. Anggota yang memiliki
komitmen organisasi yang tinggi juga memiliki pandangan yang positif dan akan
melakukan yang terbaik untuk kepentingan organisasi. Hal ini membuat anggota
memiliki keinginan untuk memberikan tenaga dan tanggung jawab yang lebih
menyokong kesejahteraan dan keberhasilan organisasi yang diikutinya.
Saputro (2002) menyatakan komitmen organisasi adalah semua perasaan
dan sikap anggota terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi
dimana mereka bergabung dan beraktivitas. Level komitmen bisa dimulai dari
sangat tinggi sampai sangat rendah, orang-orang bisa mempunyai sikap tentang
berbagai aspek organisasi mereka seperti saat praktek sosialisasi organisasi,
kualitas kegiatan organisasi dan perbedaan budaya organisasi (Jenifer & Gareth,
dalam Winardi, 2004)
