Menurut Robbins & Judge (dalam Kaswan, 2017: 225-226), tingkat
komitmen organisasi rata-rata berdasarkan aspek, adalah :
a. Komitmen afektif, menunjukkan kuatnya keinginan emosional karyawan
untuk beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada agar tujuan dan keinginannya
untuk tetap di organisasi dapat terwujud. Komitmen afektif dapat timbul pada
diri seseorang karyawan dikarenakan adanya : karakteristik individu,
karakteristik struktur organisasi, signifikansi tugas, berbagai keahlian, umpan
balik dari pemimpin, dan keterlibatan dalam menejemen. Umur dan lama
masa kerja di organisasi sangat berhubungan positif dengan komitmen afektif.
Karyawan yang memiliki komitmen afektif akan cenderung untuk tetap dalam
suatu organisasi karena mempercayai sepenuhnya misi yang dijalankan oleh
organisasi.
b. Komitmen kelanjutan, merupakan komitmen yang didasari atas ke khawatiran
seseorang terhadap kehilangan sesuatu yang telah diperoleh selama ini dalam
organisasi, seperti : gaji, fasilitas, dan yang lainnya. Hal-hal yang
menyebabkan adanya komitmen kelanjutan, antara lain adalah umur, jabatan,
dan berbagai fasilitas serta berbagai tunjangan yang diperoleh. Komitmen ini
akan menurun jika terjadi pengurangan terhadap berbagai fasilitas dan
kesejahteraan yang diperoleh karyawan.
c. Komitmen normatif, menunjukkan tanggung jawab moral karyawan untuk
tetap tinggal dalam organisasi. Penyebab timbulnya komitmen ini adalah
tuntutan sosial yang merupakan hasil pengalaman seseorang dalam
berinteraksi terhadap seseorang panutan atau pemilik organisasi dikarenakan
balas jasa, respek sosial, budaya, atau agama.
Sopiah (2008: 157) aspek-aspek komitmen organisasi, adalah:
a. Kepercayaan dan penerima yang kuat atas tujuan dan nilai-nilai organisasi.
b. Kemauan untuk mengusahakan tercapainya kepentingan organisasi, dan
c. Keinginan yang kuat untuk mempertahankan kedudukan sebagai anggota
organisasi.
Menurut J.P Meyer & J.J Allen (dalam Anwar, 2013: 714) mengemukakan
yang terdiri dari tiga aspek-aspek yang terkait dengan keadaan psikologi :
a. Komitmen afektif, yaitu keterkaitan emosional positif pegawai terhadap
organisasi tempat mereka bekerja. Komitmen afektif merupakan komponen
hasrat atau keinginan (desire). Para pegawai yang secara afektif mengaitkan
kuat dirinya dengan tujuan organisasi mengidentifikasikan dirinya dengan
tujuan-tujuan organisasi dan berhasrat untuk terus menjadi anggota
organisasi. Mereka mengingatkan diri dengan organisasi karena mereka ingin
(want to) mengikatkan diri dengan organisasi.
b. Komitmen berkelanjutan, yaitu komponen kebutuhan (need) atau
memperoleh (gains) versus kehilangan (loses) bekerja dalam organisasi.
Sudut bertaruh atau invesmen adalah memperoleh kehilangan keanggotaan
organisasi.
c. Komitmen normatif, yaitu seorang individu tetap bekerja dan menjadi
organisasi karena perasaan kewajiban moral. Perasaan ini berasal dari suatu
gangguan terhadap individual sebelum dan sesudah menjadi anggota
organisasi.
d. Komitmen antara, kalau komitmen organisasi afektif, berkelanjutan, normatif
relatif bersifat tetap dalam komitmen antara atau dapat disebut sebagai
komitmen batu loncatan orang menjadi anggota atau bekerja untuk suatu
organisasi semenjak hari pertama menjadi anggota suatu organisasi niatnya
bersifat sementara Menurut Mayer dan Allen (dalam Sutrisno, 2010: 292-293) aspek-aspek
yang mungkin menentukan komitmen organisasi adalah:
a. Affective commitment, komitmen keterikatan secara psikologis dengan
organisasi berdasarkan seberapa baik perasaan mengenai organisasi.
Komitmen dalam jenis ini muncul dan berkembang oleh dorongan adanya
kenyamanan, keamanan, dan manfaat lain yang dirasakan dalam suatu
organisasi yang tidak diperolehnya dari tempat atau organisasi lain. Semakin
nyaman dan tinggi manfaatnya yang dirasakan oleh anggota, semakin tinggi
16
komitmen seseorang pada organisasi yang dipilihnya. Sebagai biaya yang
harus ditanggung jika meninggalkan atau keluar organisasi (continuance
commitment), dan komitmen sebagai kewajiban untuk tetap dalam organisasi
(normative commitment).
b. Continuance commitment, sebagai keterikatan anggota secara psikologis pada
organisasi karena biaya yang di tanggung sebagai konsekuensi keluar
organisasi. Dalam kaitannya dengan ini anggota akan mengalkulasi manfaat
dan pengorbanan atas keterlibatan dalam atau menjadi anggota suatu
organisasi. Anggota akan cenderung memiliki daya tahan atau komitmen
yang tinggi dalam keanggotaan jika pengorbanan akibat keluar organisasi
semakin tinggi.
c. Normative commitment, keterikatan anggota secara psikologis dengan
organisasi karena kewajiban moral untuk memelihara hubungan dengan
organisasi. Dalam kaitan ini suatu yang mendorong anggota untuk tetap
berada dan memberikan sumbangan pada keberadaan suatu organisasi, baik
materi maupun non materi, adalah adanya kewajiban moral, yang mana
seseorang akan merasa tidak nyaman dan bersalah jika tidak melakukan
sesuatu
