Prinsip Dasar Kepuasan Pelanggan


Menurut Handi Irawan (2002), salah satu pencetus
Indonesia Customer Satisfaction Award (ISCA) dan
penggagas ide Hari Pelanggan Nasional 2003, ada lima
driver utama (faktor-faktor pendorong) yang membuat
pelanggan merasa puas, yaitu:

  1. Kualitas produk
  2. Harga
  3. Kualitas layanan (Service quality)
  4. Faktor emosional (Emotional factor)
  5. Berhubungan dengan biaya dan kemudahan untuk
    mendapatkan produk dan jasa.
    Secara terperinci dijelaskan bahwa kualitas
    produk terdiri dari enam elemen antara lain performance,
    durability, feature, realibility, consistency, dan design.
    Kualitas layanan juga terdiri dari lima dimensi yakni
    reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan
    tangible. Selain itu, faktor emosional adalah suatu
    keadaan ketika pelanggan puas terhadap produk tertentu
    karena produk tersebut memberikan emotional value
    yang terpancar dari citra merek yang baik

Klasifikasi Jasa


Industri jasa adalah suatu organisasi yang
mengutamakan pada pelayanan secara individu untuk
suatu yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan
kepemilikan sesuatu yang berwujud. Menurut Tjiptono
(2002), jasa memiliki empat karakteristik utama yang
membedakan dari baranag, yaitu :

  1. Intangibility
    Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
    merupakan suatu objek, alat atau benda maka jasa
    adalah suatu perbuatan kinerja atau usaha. Jasa
    bersifat intangibile maksudnya tidak dapat dilihat,
    dirasa, dicium, didengar atau diraba sebelum dibeli
    dan dikonsumsi.
  2. Inseparability
    Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu
    dikonsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual
    terlebih dahulu baru kemudian diproduksi dan
    dikonsumsi secara bersamaan.
  3. Variability
    Jasa bersifat variabel karena banyak variasi bentuk,
    kualitas dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dan
    dimana jasa tersebut dihasilkan.
  4. Perishability
    Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan
    tidak dapat disimpan untuk dipergunakan diwaktu
    yang lain.
    Menurut Parasuraman, Zeithmal, Berry (1990),
    Pada hakikatnya pengukuran kualitas jasa atau produk
    hampir sama dengan pengukuran kepuasan pelanggan
    yaitu ditentukan oleh variabel harapan dan kinerja yang
    dirasakan. Merumuskan model kualitas jasa, model ini
    mengidentifikasi 5 gap yang menyababkan kegagalan
    delievery jasa. 5 gap tersebut adalah :
  5. Gap antara harapan konsumen dan persepsi
    manajemen. Dimana manajemen tidak selalu dapat
    merasakan apa yang diinginkan para pelanggan
    secara tepat.
  6. Gap antara persepsi manajemen dan spesifikasi
    kualitas jasa. Dimana mungkin manajemen mampu
    merasakan secara tepat apa yang diingkan para
    pelanggan, tetapi pihak manajemen tersebut tidak
    menyusun suatu standar kinerja tersebut.
  7. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan
    penyampaian jasa. Ada banyak faktor yang
    mempengaruhi pemberian jasa. Tenaga kerja
    barangkali belum memperoleh cukup latihan atau
    mempunyai beban kerja yang terlalu banyak.
  8. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi
    eksternal. Dimanna harapan konsumen dipengaruhi
    akan janji yang diutarakan oleh pemberi jasa
    melalui komunikasi.
  9. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang
    diharapkan. Dimana Gap ini terjadi bila konsumen
    mengukur kinerja atau prestasi perusahaan dengan
    cara berlainan dan salah dalam mempersepsikan
    kualitas jasa tersebut

Jasa


Menurut Tjiptono (2002), mendefinisikan Jasa
adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh
suatu pihak pada pihak lain dan pada dasarnya tidak
berwujud serta tidak menghasilakn kepemilikan sesuatu.
Proses produksinya mungkin dikaitkan dan mungkin
tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik. Jasa
merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang
ditawarkan untuk dijual. Contohnya bengkel
motor/mobil, lembaga pendidikan, jasa telekomunikasi,
transportasi, dan lain-lain

Kualitas Pelayanan


Menurut Kuswanto (2017), Pemahaman konsep
kualitas sangat penting dalam mengembangkan aktifitas
perusahaan, sebab pertumbuhan suatu perusahaan sangat
ditentukan oleh kualitas produk atau jasa yang diberikan.
Ketidakpedulian terhadap kualitas akan menyebabkan
terjadinya kehilangan peluang menjual produk menjual
produk dalam pasar yang pada akhirnya berakibat
penurunan aktivitas dan pertumbuhan perusahaan.
American Society for Quality Control mendefinisikan
kualitas sebagai berikut, kualitas adalah keseluruhan ciri
atau sifat dari suatu produk atau pelayanan yang
berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersisa.
Berdasarkan definisi kualitas diatas, kualitas
pelayanan dapat diartikan sebagai sesuatu yang
memfokuskan pada usaha-usaha untuk memenuhi
kebetuhan dan keinginan konsumen yang disertai
ketetapan dalam menyampaikannya, sehingga tercipta
kesesuaian yang seimbang dengan harapan konsumen.
Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan
yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang
dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan
menyediakan kepuasan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2016), Layanan adalah suatu
sikap yang dapat mengakibatkan rasa puas atau tidak
puas yang dialami konsumen pada saat terjadinya proses
tindakan. Layanan merupakan pengantar bagi aliran nilai
tambah yang akan disampaikan kepada pelanggan,
sampai nilai tambah itu dapat memenuhi kebutuhan atau
harapan konsumen. Layanan adalah sesuatu yang tidak
gampang karena tiap pelanggan memiliki persepsi
sendiri-sendiri mengenai nilai berdasarkan nilai –nilai
yang mereka anut serta kebutuhan mereka sendiri.
Kunci utama dari kualitas layanan adalah
menyesuaikan atau melebihi kualitas layanan yang
diharapkan pelanggan. Bahwa sebelum membeli suatu
produk atau jasa, konsumen tentunya mempunyai
harapan yang dijadikan sebagai standart untuk menilai
kualitas layanan dari perusahaan. Tingkat kepuasan
konsumen satu akan berbeda dengan konsumen yang
lain, karena harapan setiap konsumen terhadap kualitas
layanan juga berbeda-beda. Beberapa faktor yang
mempengaruhi harapan meliputi :
1) Pengalaman masa lalu
2) Kata-kata orang lain
3) Komunikasi eksternal
4) Kebutuhan pribadi
Dari 4 faktor tersebut yang paling sulit dikontrol
oleh perusahaan adalah kebutuhan pribadi (Tjiptono,
2002). Konsumen yang memiliki harapan yang terlalu
tinggi akan lebih sulit untuk merasa puas dibandingkan
dengan konsumen yang memiliki harapan akan suatu
kualitas layanan lebih rendah. Harapan merupakan
keinginan atau kebutuhan dari konsumen, harapan
layanan tidak menggambarkan layanan yang akan di
tawarkan, tetapi layanan yang seharusnya di tawarkan

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan menurut Richard Gerson
adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya telah
terpenuhi atau terlampaui. Sedangkan, menurut Handi
Irawan memgungkapkan bahwa kepuasan pelanggan
adalah Produk atau jasa yang sanggup memberikan
sesuatu yang dicari konsumen sampai pada tingkat yang
cukup (Handi Irawan 2002). Berdasarkan kedua teori
tersebut, maka kepuasan pelanggan terlatak pada
ekspetasi pelanggan terhadap suatu pelayanan. Dan
pelanggan akan merasa puas dengan jasa pelayanan yang
sesuai dengan keinginan.
Pemahaman terhadap harapan-harapan pelanggan
oleh supplier merupakan input untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan kualitas produk, baik barang
maupun jasa. Pelanggan akan membandingkan dengan
produk jasa lainnya. Bilamana harapan-harapannya
terpenuhi, maka akan menjadikannya pelanggan loyal,
puas terhadap produk barang atau jasa yang di belinya.
Sebaliknya, bilamana pelanggan tidak puas,
supplier akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kunci
keputusan pelanggan berkaitan dengan kepuasan
terhadap penilaian produk barang dan jasa. Kerangka
kepuasan pelanggan tersebut terletak pada kemampuan
supplier dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan
harapan pelanggan sehingga penyampaian produk, baik
barang maupun jasa oleh supplier sesuai dengan harapan
pelanggan. Selain fakor-faktor diatas, dimensi waktu juga
mempengaruhi tanggapan persepsi pelanggan terhadap
kualitas produk, baik barang maupun jasa.

Pengertian Bauran Promosi (Promotion Mix)


Promosi bukan program yang tidak terkendali dan terpadu pada
metode komunikasi material perusahaan atau produk yang dapat
memuaskan konsumen, mendorong penjualan serta memberi
kontribusi pada kinerja laba perusahaan. Promosi menunjukan
adanya lalu lintas informasi dua arah meliputi informasi produk, dan
segenap aspek informasi organisasi yang memerlukan pengolahan
dalam keberadaannya. Menurut Djaslim Saladin dan Herry Achmad
Buchory (2010 : 213) bauran promosi merupakan salah satu variabel
dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh
perusahaan dalam memasarkan produk untuk mencapai tujuan
program penjualan. Dharmmesta (2010 : 247) menyatakan bauran
promosi sebagai kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-
variabel advertising, personal selling, dan alat promosi lainnya yang
semua direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan.
Sedangkan Kotler dan Keller yang diterjemahkan oleh Bob Sabran
(2012 : 497) mengemukakan terdapat delapan cara komunikasi
utama dari bauran komunikasi pemasaran yaitu:“Bauran komunikasi
pemasaran terdapat delapan model utama komunikasi diantaranya
periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas,
event and experiences, pemasaran langsung, pemasaran interaktif,
word of mouth, dan penjualan pribadi”.

Tujuan Promosi


Promosi di rancang semenarik mungkin untuk menjangkau
masyarakat luas melalui bermacam – macam media, hal ini bertujuan
agar perusahaan dapat berkomunikasi dengan konsumen. Tujuan
promosi secara sederhana menurut Kuncoro (2010 : 134) terbagi
menjadi tiga jenis yaitu:

  1. Memberikan informasi pelanggan tentang produk atau
    fitur baru.
  2. Mengingatkan pelanggan tentang merek perusahaan.
  3. Mempengaruhi pelanggan untuk membeli

Promosi


Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk
mengkomunikasikan manfaat dari produk untuk meyakinkan pelanggan
agar membeli produk tersebut. Promosi juga merupakan cara bagaimana
memperkenalkan produk kepada pelanggan dan calon pelanggan melalui
periklanan, penjualan perorangan, promosi penjualan dan pemasaran
langsung. Dengan dilakukan promosi, produk akan dikenal oleh pelanggan
dan diharapkan pelanggan tertarik untuk membeli produk tersebut. Tanpa
promosi jangan diharapkan pelanggan dapat mengenal produk yang
ditawarkan. Promosi merupakan suatu cara untuk menarik perhatian dan
mempertahankan pelanggan. Salah satu tujuan promosi untuk
menginformasikan suatu produk yang ditawarkan dengan tujuan
memberikan kepuasan pelanggan. Untuk mempertahankan pelanggan dan
diharapkan pelanggan melakukan pembelian ulang.
Promosi merupakan salah satu variabel didalam bauran pemasaran
(marketing mix) yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
memasarkan produk atau jasanya. Kadang-kadang istilah promosi ini
digunakan secara sinonim dengan istilah perjualan meskipun yang
dimaksud adalah promosi. Menurut Hermawan (2012 : 38) Promosi adalah
salah satu komponen prioritas dari kegiatan pemasaran yang
memberitahukan kepada konsumen bahwa perusahaan meluncurkan produk
baru yang menggoda konsumen untuk melakukan kegiatan pembelian.
Sedangkan menurut Daryanto (2011 : 94) Promosi adalah kegiatan terakhir
dari marketing mix yang sangat penting karena kebanyakan pasar lebih
banyak bersifat pasar pembeli dimana keputusan terakhir terjadinya
transaksi jual beli sangat dipengaruhi oleh konsumen. Dari kedua definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa promosi merupakan hal yang penting
dalam memasarkan suatu produk sehingga konsumen akan tertarik dan
melakukan pembelian terhadap produk tersebut, sehingga suatu promosi
perlu di rancang semenarik mungkin dan informasi yang disampaikan dapat
dimengerti dengan mudah oleh masyarakat

Tujuan penetapan harga


Tujuan penetapan harga pada setiap perusahaan berbeda-beda,
sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai oleh
perusahaan itu sendiri. Menurut Fandy Tjiptono (2016 : 220)
pada dasarnya terdapat beranekaragam tujuan penetapan harga,
yaitu:

  1. Survival
    Salah satu tujuan pokok penetapan harga adalah demi
    survival (kelangsungan hidup) perusahaan. Biasanya
    harga secara temporer ditetapkan murah, kadangkala
    lebih rendah daripada biaya, dalam rangka mendorong
    terjadinya penjualan. Tujuan survival biasanya
    ditempuh dengan harapan situasinya akan segera
    kembali normal.
  2. Laba
    Asumsi teori ekonomi klasik adalah setiap perusahaan
    berusaha memaksimumkan laba. Dalam praktik, tujuan
    seperti ini sulit diwujudkan karena begitu banyak
    variabel yang mempengaruhi tingkat penjualan. Oleh
    karenanya, tujuan laba biasanya dinyatakan dalam
    bentuk nilai rupiah atau persentase pendapatan
    penjualan yang dipandang memuaskan atau reaslistis
    dicapai oleh pemilik dan manajemen puncak.
  3. Return On Investment (ROI)
    Tujuan berorietasi pada ROI dinyatakan dalam bentuk
    rasio laba terhadap invetasi total yang dikeluarkan
    perusahaan dalam riset dan pengembangan, serta
    fasilitas produksi dan asset yang mendukung produk
    bersangkutan.
  4. Pangsa Pasar
    Perusahaan sering kali menetapkan peningkatan pangsa
    pasar sebagai tujuan penetapan harga. Pangsa pasar
    dapat berupa pangsa relatif dan pangsa pasar absolut.
    Pangsa pasar relatif adalah perbandingan antara
    penjualan produk perusahaan dan penjualan produk
    pesaing utama. Sedangkan pangsa pasar absolut adalah
    perbandingan antara penjual produk perusahaan dan
    penjualan industry secara keseluruhan.
  5. Aliran Kas
    Sebagian perusahaan menetapkan harga agar dapat
    menghasilkan kas secepat mungkin. Tujuan ini biasanya
    dipilih manakala perusahaan bermaksud menutup biaya
    pengembangan produk secepatnya. Selain itu, apabila
    siklus hidup produk diperkirakan berlangsung singkat,
    maka tujuan ini dapat menjadi pilihan stategik

Harga


Dalam proses jual beli, harga menjadi salah satu bagian terpenting,
karena harga adalah alat tukar dalam transaksi. Harga merupakan satu-
satunya unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap saat
dapat berubah-ubah. Harga juga merupakan salah satu faktor persaingan
dalam memasarkan produk. Setiap perusahaan berlomba-lomba
menawarkan harga yang menarik agar konsumen mau membeli produk yang
ditawarkannya. Menurut Fandy Tjiptono (2016 : 218) harga merupakan
satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau
pendapatan bagi perusahaan. Sedangkan menurut Buchari Alma (2013 :
169), mengemukakan bahwa harga adalah nilai suatu barang yang
dinyatakan dengan uang

Citra Merek


Citra merek (brand image) adalah nama, istilah, tanda, simbol,
rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, untuk mengidentifikasi
barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk
membedakannya dari produk pesaing (Kotler dan Keller, 2012). Citra merek
yang positif akan memiliki keuntungan karena dapat membangun persepsi
konsumen, dimana semakin kuat citra merek suatu produk maka akan
semakin menarik keinginan konsumen untuk terus membeli dan menjadi
pelanggan yang loyal terhadap citra merek tertentu.
Merek juga dapat membantu konsumen dalam mengidentifikasi
suatu produk yang dinilai berguna dan bermanfaat bagi konsumen. Merek
juga dapat menunjukan kualitas dari suatu produk . keputusan konsumen
dalam memilih sebuah merek bukanlah terjadi begitu saja tapi banyak
pertimbangan sebelum konsumen memutuskan untuk membeli suatu
produk misalnya kemasan, merek, harga. Merek mempunyai fungsi
identitas yang membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing
sebagai bahan untuk memudahkan konsumen dalam melakukan identitas
suatu produk dan sebagai alat bantu promosi karena pada posisi tertentu
merek akan memiliki daya tarik yang sangat menarik bagi konsumen

Konsep Pengukuran Kepuasan Pelanggan Menurut Kotler


dalam Tjiptono (2014 : 367) menyatakan terdapat empat metode
untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem keluhan dan saran, artinya setiap perusahaan yang
    berorientasi pada pelanggan perlu memberikan kesempatan
    seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan
    saran, pendapat, dan keluhan mereka. Media yang bisa
    digunakan meliputi kotak saran yang terletak di tempat-tempat
    strategis, menyedikan kartu komentar, menyedikan saluran
    telepon.
  2. Survei kepuasan pelanggan, artinya kepuasan pelanggan
    dilakukan dengan menggunakan metode survei, baik melalui
    pos, telepon, maupun wawancara pribadi. Dengan melalui
    survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan
    balik secara langsung dari pelanggan sekaligus memberikan
    tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
    para pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui
    metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
    sebagi berikut :
    a. Directly reported satisfaction, yaitu pengukuran dilakukan
    secara langsung melalui pertanyaan, seperti sangat tidak
    puas, tidak puas, netral, puas, dan sangat puas.
    b. Derived dissatisfaction, yaitu pertanyaan yang menyangkut
    besarnya harapan pelanggan terhadap atribut.
    c. Problem analysis, artinya pelanggan yang dijadikan
    responden untuk mengungkapkan 2 (dua) hal pokok, yaitu:
  • Masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan
    dengan penawaran dari perusahaan.
  • Saran-saran untuk melakukan perbaikan.
    d. Importance-porformance analysis, artinya dalam teknik ini
    responden diminta untuk meranking berbagai elemen dari
    penawaran berdasaran pentingnya elemen.
  1. Ghost shopping, artinya metode ini dilaksanakan dengan cara
    memperkerjakan beberapa orang (ghost shopper) untuk
    berperan atau bersikap sebagai pelanggan/pembeli potensial
    produk perusahaan dan pesaing. Kemudian ghost shopper
    menyampaikan temuan-temuan mengenai kekuatan dan
    kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan
    pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
  2. Lost customer, artinya perusahaan menghubungi para
    pelanggannya yang telah berhenti membeli atau yang telah
    beralih pemasok dan harapan diperoleh informasi penyebab
    terjadinya hal tersebut. Tingkat kepuasan pelanggan sangat
    tergantung pada mutu suatu produk. Suatu produk dikatakan
    bermutu bagi seseorang kalau produk tersebut dapat memenuhi
    kebutuhannya. Aspek mutu suatu produk dapat diukur.
    Pengukuran tingkat kepuasan erat hubungannya dengan mutu
    produk (barang atau jasa). Selain itu, pengukurn aspek mutu
    bermanfaat bagi pemimpin bisnis, yaitu :
    a. Untuk mengetahui dengan baik bagaimana jalannya proses
    bisnis.
    b. Mengetahui dimana harus melakukan perubahan dalam
    upaya melakukan perbaikan secara terus-menerus untuk
    memuaskan pelanggan.
    c. Menentukan apakah perubahan yang dilakukan mengarah
    keperbaikan. Salah satu cara untuk mengukur sikap
    pelanggan ialah dengan menggunakan kuesioner.
    Perusahaan harus mendesain kuesioner kepuasan pelanggan
    tentang mutu barang atau jasa. Penggunaan kuesioner
    kepuasan pelanggan harus benar-benar dapat mengukur
    dengan tepat presepsi dan sikap pelanggan

Prinsip-prinsip Dasar Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan sangat tergantung pada presepsi dan harapan
pelanggan. Sebuah perusahaan perlu mengetahui persepsi dan
harapan pelanggan. Faktor-faktor yang mempengaruhi presepsi dan
harapan pelanggan di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. kebutuhan dan keinginan berkaitan dengan hal-hal yang
    dirasakan.
  2. Pengalaman masa lalu saat mengkomsumsi produk pesaing.
  3. Pengalaman dari teman, dengan menceritakan kualitas produk
    yang dibeli.
  4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran dengan
    mempengaruhi pesepsi pelanggan

Kepuasan Pelanggan

Menurut Kotler (2013 : 138) kepuasan (satisfaction) adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (hasil) terhadap ekspektasi mereka. Jika
kinerja berada di bawah harapan, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan, pelanggan puas. Maka jika kinerja melebihi harapan,
pelanggan akan sangat puas atau senang. Perusahaan pemasaran
terkemuka akan mencari cara sendiri untuk mempertahankan kepuasan
pelanggannya. Pelanggan yang merasa puas akan membeli kembali, dan
mereka akan memberi tahu kepada yang lain tentang pengalaman baik
mereka dengan produk tersebut. Kuncinya adalah menyesuaikan harapan
pelanggan dengan kinerja perusahaan. Perusahaan yang pintar bermaksud
untuk memuaskan pelanggan dengan hanya menjanjikan apa yang dapat
mereka berikan, kemudian memberikan lebih banyak dari mereka janjikan.
Kepuasan pelanggan berkaitan erat dengan kualitas.
Mencapai tingkat kepuasan pelanggan tertinggi adalah tujuan utama
pemasaran. Pada kenyataan, akhir-akhir ini banyak perhatian terarah pada
konsep kepuasan “total”, yang implikasinya adalah mencapai kepuasan
sebagian saja tidaklah cukup untuk membuat pelanggan setia dan kembali
lagi. Ketika pelanggan merasa puas akan pelayanan yang didapat pada saat
proses transaksi dan juga puas akan barang dan jasa yang mereka dapatkan,
besar kemungkinan mereka akan kembali lagi dan melakukan pembelian-
pembelian yang lain dan juga akan merekomendasikan kepada teman-
teman dan keluarganya tentang perusahaan tersebut dan produk-
produknya. Mempertahankan kepuasan dari waktu ke waktu akan
membina hubungan yang baik dengan pelanggan. Hal ini dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. Pemasaran
bukanlah semata-mata membuat penjualan melainkan tentang bagaimana
memuaskan pelanggan terus-menerus. Ketika pelanggan merasa puas,
penjualan berikutnya akan terjadi. Pelanggan yang senang dan puas
cenderung akan berperilaku positif, mereka akan membeli kembali barang
atau jasa tersebut

Metode Pengukuran Kepuasan Masyarakat


Menurut Philip Kotler yang dikutip oleh Mu’ah (2014:122), Bakti
(2017:55), Tjiptono (2016:219) dan Hermanto (2019:23), pengukuran kepuasan
masyarakat dapat dilakukan dengan empat metode, sebagaimana berikut :
1) Analisis komplain dan keluhan pelanggan, metode ini dilakukan dengan
cara mempelajari keluhan para pelanggan dengan tujuan analisis keluhan
pelanggan dilakukan agar setiap keluhan dapat ditangani dengan baik,
tidak berulang, jumlah keluhan dapat diminimalisir, keluhan tidak
menjadi masalah yang lebih besar, dan kinerja produk atau jasa dapat
ditingkatkan.
2) Ghost (mystery) shopping, metode ini dilakukan dengan cara mengamati
proses yang terjadi dalam pemberian produk kepada pelanggan dengan
cara menugaskan seseorang atau beberapa pengamat untuk berpura-pura
menjadi pelanggan. Pelanggan yang menyamar ini bertugas mengamati
dan memberikan penilaian dengan beberapa aspek yang dinilai seperti
informasi, pelayanan, prosedur pelayanan, sarana, dan prasarana.
3) Analisis hilangnya pelanggan (lost customer analysis), metode ini
dilakukan dengan cara mengidentifikasi seberapa banyak pelanggan yang
berhenti untuk bertransaksi atau beralih ke produk pesaing. Hal yang
harus dilakukan dalam penerapan metode ini adalah tidak semua
pelanggan bersedia memberi masukan perbaikan kinerja organisasi karena
bisa jadi pelanggan sudah beralih ke pesaing dan merasa puas dan loyal.
Metode ini lebih cocok digunakan pada jenis pelanggan B2B (business to
business).
4) Survei kepuasan pelanggan, metode ini dilakukan dengan cara meminta
beberapa pelanggan untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan
pewawancara atau pertanyaan dari Kuesioner yang mereka terima.
Metode ini adalah metode pengukuran kepuasan pelanggan yang paling
populer dibandingkan beberapa metode yang disebutkan sebelumnya. Hal
ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya seperti hasil survei memiliki
kemampuan generalisasi populasi secara luas, instrumen pengukuran
yang dipakai sudah terstandar sehingga hasil dianggap lebih tepat,
pengaruh subjektivitas peneliti terhadap hasil kecil, dan respons
pelanggan untuk menjawab lebih tinggi. Dalam praktiknya metode survei
kepuasan masyarakat dapat dilakukan dengan wawancara dan atau
Kuesioner

Kepuasan Masyarakat


Menurut paradigma New Public Service (NPS), Kepuasan Masyakarat
adalah penilaian masyarakat yang disebut citizen terhadap pelayanan instansi
pemerintah, dengan sepuluh indikator yaitu kemudahan proses, kejelasan
petugas, keadilan dalam pelayanan, kejelasan informasi, jadwal pelayanan,
kenyamanan, biaya pelayanan, ketepatan waktu penyelesaian, keramahan petugas
dan kecepatan pelayanan. Citizen tidak hanya menerima kepuasan tetapi turut
mewujudkan kolaborasi antara citizen dan penyelenggara layanan publik (Semil,
2018).
Rangkuti (2013:68) menyatakan bahwa konsumen atau pelanggan adalah
bagian dari masyarakat, yang dipengaruhi oleh kelas sosial, budaya, sub-budaya,
dan kelompok acuan. Sedangkan menurut Permenpan RB Nomor 14 Tahun
2017, Kepuasan masyarakat adalah pendapat, hasil dan penilaian dari masyarakat
terhadap kinerja pelayanan yang diberikan kepada penyelenggara pelayanan
publik baik pemerintah pusat maupun daerah. Pelayanan publik dalam arti sempit
(mikro) adalah semua kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi
pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan
pengelolaannya dapat dilakukan hanya oleh satu unit kerja atau sub unit kerja
(Ratminto; et al., 2017).

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan memerlukan definisi yang jelas supaya
pengukurannya dapat ditentukan dengan tepat karena kepuasan pelanggan
merupakan variabel abstrak. Para ahli menyatakan definisi kepuasan sebagai
proses evaluasi dan disisi lain kepuasan pelanggan juga diartikan sebagai respon
terhadap proses evaluasi. Kepuasan pelanggan juga dapat diartikan sebagai
kemampuan suatu layanan membuat pelanggan merasa tercukupi kebutuhannya
(Bakti and Sumaedi, 2017). Bahkan, Juran, Barkelay dan Saylor seperti yang
dikutip Hermanto (2019:21) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan sama
dengan kualitas.
Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya dan kepuasan juga berjalan bersamaan dengan ketidakpuasan.
Respon pelanggan terhadap evaluasi dan ketidaksesuaian yang dirasakan antara
harapan dan kinerja pelayanan yang dirasakan setelah pelayanan itu diterima.
Kepuasan pelanggan merupakan suatu tanggapan emosional pelanggan pada saat
mereka menikmati pengalaman saat mendapatkan pelayanan jasa atau
mengkonsumsi suatu produk (Rangkuti, 2013; Indrasari, 2019). Sedangkan
Fatihudin (2019:210) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan
indikator sejauh mana pelanggan sangat senang dengan produk atau jasa yang
diterima (Fatihudin and Firmansyah, 2019)

Kepuasan


Secara etimologi, kepuasan berasal dari bahasa latin yaitu satis (cukup
baik, memadai) dan facio/facere (melakukan dan membuat), sehingga kepuasan
dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi
memadai (Tjiptono and Chandra, 2016; Bakti and Sumaedi, 2017). Kepuasan
merupakan penilaian evaluatif pilihan terakhir dari transaksi tertentu yang dinilai
secara langsung sebagai perasaan keseluruhan sehingga seseorang puas dengan
produk atau jasa dan disaat yang bersamaan mengevaluasi hasil seperti rata-rata
dibandingkan yang seharusnya (Mu’ah, 2014).
Ningsih dan Segoro (2014) menyatakan bahwa kepuasan merupakan
respon emosional komsumen setelah proses pelayanan yang diterima berasal dari
hasil membandingkan antara kinerja terhadap harapan serta evaluasi pengalaman
menerima layanan, sedangkan ketidakpuasan muncul jika hasil (outcome) tidak
memenuhi harapan (Ningsih and Segoro, 2014; Tjiptono and Chandra, 2016).

layanan.

Hubungan Jaminan (Assurance) Terhadap Kepuasan Masyarakat


Jaminan (Assurance) mencakup tentang pengetahuan petugas pelayanan pada
Kantor Kecamatan Bungah Gresik dalam melayani kebutuhan masyarakat, etika
para petugas dan jaminan mutu pelayanan yang diberikan oleh petugas untuk
masyarakat yang melakukan pelayanan. Kesopanan dan keramahan para petugas
akan membuat masyarakat merasa dihargai sehingga mereka puas dengan
pelayanan yang diberikan oleh instansi. Hubungan jaminan dan kepuasan
masyarakat memberikan dampak positif terhadap kepuasan masyarakat. Karena
jika persepsi masyarakat terhadap jaminan baik maka kepuasan masyarakat akan
meningkat. Sedangkan jika persepsi masyarakat terhadap jaminan buruk maka
kepuasan masyarakat terhadap kepuasan masyarakat akan menurun. Penelitian
yang dilakukan oleh Alfa Sakinata Marhardika (2016) menyebutkan bahwa variabel
Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty berpengaruh
Signifikan terhadap Kepuasan Masyarakat.

Hubungan Daya Tanggap (Responsivess) Terhadap KepuasanMasyarakat


Daya tanggap (Responsiveness) yang diberikan oleh petugas pelayanan dengan baik
akan menghasilkan kepuasan masyarakat. Indikator daya tanggap (Responsiveness)
adalah memberikan palayanan yang tepat, keinginan dan keikhlasan untuk
membantu/menolong masyarakat dan petugas pelayanan cepat tanggap terhadap
jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hubungan daya tanggap (Responsiveness)
dan kepuasan masyarakat memberikan dampak positif terhadap kepuasan
masyarakat. Karena jika persepsi masyarakat terhadap daya tanggap
(Responsiveness) baik maka kepuasan masyarakat akan meningkat. Sedangkan jika
persepsi masyarakat terhadap daya tanggap buruk maka kepuasan masyarakat
terhadap kepuasa masyarakat akan menurun

Hubungan Keandalan (reliability) Terhadap KepuasanMasyarakat


Kinerja petugas pelayanan harus sesuai dengan harapan masyarakat, seperti :
ketepatan waktu dalam melakukan pelayanan, tidak membeda-bedakan pelayanan
antar masyarakat, melakukan pelayanan tanpa kesalahan. Hal ini dapat
mencerminkan kualitas pelayanan yang baik bagi kantor pelayanan pada Kantor
Kecamatan Bungah Gresik. Indikator yang dapat di ukur dari keandalan (reliability)
adalah memberikan pelayanan sesuai dengan peraturan perda, memberikan
pelayanan yang tepat. Hubungan keandalan (reliability) dan kepuasan masyarakat
memberikan dampak positif terhadap kepuasan masyarakat. Karena jika persepsi
masyarakat terhadap keandalan (reliability) baik, maka kepuasan masyarakat akan
meningkat. Sedangkan jika persepsi masyarakat terhadap keandalan (reliability)
buruk, maka kepuasan masyarakat terhadap kepuasan masyarakat akan menurun.

Mengukur Kepuasan Masyarakat


Terdapat empat metode untuk mengukur kepuasan masyarakat yang dikemukakan
oleh Tjiptono (2014:369-370), yaitu :

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi
    pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat
    berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informasi ini
    memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat
    untuk menyelesaikan masalah.
  2. Survei Kepuasan Pelanggan
    Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan
    pelanggan. Industri yang responsive mengukur kepuasan pelanggan dengan
    mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau
    menelpon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka
    terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu ditanyakan tentang kinerja
    industri saingannya.
  3. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan)
    Pelanggan bayangan adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan
    dan melaporkan titik-titik kuat maupn titik-titik lemah yang dialami waktu
    membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu
    pelanggan bayangan melaporkan apakah wiraniaga tersebut menanganinya
    dengan baik atau tidak.
  4. Analisis Pelanggan yang Beralih
    Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti
    pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan
    kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya, sehingga
    dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan)

Faktor – Faktor Kepuasan Masyarakat


Menurut Barnes (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan
masyarakat terhadap penyedia jasa ataupun terhadap organisasi dapat dilihat ke
dalam lima level, yaitu :

Elemen emosional – dimensi afektif pelayanan inti dari level kelima ini adalah
bagaimana kita menumbuhkan perasaan positif dalam diri pelanggan. Kelima
level pemicu kepuasan pelanggan tersebut adalah sebagai berikut : (1) Perasaan
dan emosi yang dikomunikasikan: Pada intinya perasaan apa yang kita
timbulkan dalam diri mereka. (2) Tingkat pelayanan pribadi, perhatian,
kecepatan pelayanan, kualitas umum dari kontak; bagaimana orang
diperlakukan dan dilayani. (3) Mengikuti standar yang ada, penghantaran tepat
waktu, menepati janji, sedikit kesalahan pada produk dan jasa. (4). Sistem
penghantaran, rekening, penetapan harga, jaminan, jadwal penanganan
keluhan dan keistimewaan lain yang meningkatkan dan mnedukung produk
atau jasa inti. (5) Produk atau jasa inti: inti dari yang kita tawarkan

Produk atau jasa inti, adalah esensi dari penawaran yang mewakili produk atau
jasa inti yang disediakan oleh perusahaan.

Sistem dan layanan pendukung, meliputi layanan-layanan pendukung yang
bisa meningkatkan kelengkapan dan layanan atau produk inti.

Performa teknis, intinya berkaitan dengan apakah perusahaan menetapkan
produk inti dan layanan pendukungnya dengan benar. Penekanannya adalah
perusahaan menampilakan produk kepada pelanggan sesuai yang dijajnikan.

Elemen-elemen interaksi dengan pelanggan, level ini mengacu pada interaksi
penyedia jasa dengan pelanggan melalui tatap muka langsung atau melalui
kontak berbasis teknologi.

Pengertian Kepuasan Masyarakat


Kepuasan atau ketidak puasan adalah kesimpulan dari interaksi antara harapan dan
pengalaman sesudah memakai jasa atau pelayanan yang diberikan. Upaya untuk
mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah, Mudie dan
Cottom menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total tidak mungkin tercapai,
sekalipun hanya untuk sementara. Kepuasan pelanggan/masyarakat adalah respon
emosional terhadap pengalaman – pengalaman berkitan dengan produk/jasa
tertentu yang dibeli (Tjiptono 2008:353).
Jika kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat
puas atau senang (Kotler, 2009). Kepuasan masyarakat adalah kesimpulan dari
interaksi sesudah menggunakan jasa atau pelayanan yang telah diberikan kemudian
membandingkan kinerja yang telah diberikan terhadap kinerja yang diharapkan.

Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2012:182–189), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan :

  1. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
    Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan berkualitas
    terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi penilaian konsumen
    seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit),
    keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini dilakukan untuk
    membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan yang telah
    diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor tersebut, perlu
    diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian yang lebih baik
    di mata pelanggan.
  2. Mengelola ekspektasi pelanggan
    Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan dengan
    berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji sehingga itu
    menjadi ‘bumerang’ untuk perusahaan apabila tidak dapat memenuhi apa yang
    telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang diberikan, semakin besar
    pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih bijak dalam memberikan
    ‘janji’ kepada pelanggan.
  3. Mengelola bukti kualitas layanan
    Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan selama dan
    sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang bersifat tangible,
    sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan cendrung
    memperhatikan “seperti apa layanan yang akan diberikan” dan “seperti apa
    layanan yang telah diterima”. Sehingga dapat menciptakan persepsi tertentu
    terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
  4. Mendidik konsumen tentang layanan
    Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk mewujudkan
    proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif dan efisien.
    Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara lebih baik dan
    memahami perannya dalam proses penyampaian layanan. Sebagai contoh :
    a. Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
    melakukan sendiri layanan tertentu. Seperti mengisi formulir pendaftaran, menggunakan fasilitas teknologi (ATM, Internet banking, dan sebagainya),
    mengisi bensin sendiri (self-service), dan lain-lain.
    b. Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
    menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
    mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
    periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
    c. Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
    cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
    mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
    d. Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
    kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
    mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
  5. Menumbuhkan budaya kualitas
    Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan dengan
    diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi dari yang
    teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap,
    norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan dalam peningkatan
    kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun dapat pula
    memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu :
    a. Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
    pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
    b. Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
    struktur pelaporan.
    c. Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan keluhan
    serta kepuasan konsumen.
    d. Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
    database, dan teknis.
    e. Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
    alat-alat promosi/ penjualan.
    f. Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam operasional.
    g. Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
    pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan.
  6. Menciptakan automating quality
    Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya sumber daya
    manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan perhatian dalam aspek-
    aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemen-elemen yang memerlukan
    otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara kedua hal tersebut sangat
    dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan penyampaian layanan secara
    efektif dan efisien. Contoh, internet banking, phone banking, dan sejenisnya.
  7. Menindaklanjuti layanan
    Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspek-aspek layanan
    yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah baik. Dalam rangka
    ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap sebagian atau seluruh
    konsumen mengenai layanan yang telah diterima. Sehingga perusahaan dapat
    mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan di mata konsumen.
  8. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
    Service quality information system adalah sistem yang digunakan oleh
    perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil dari
    masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta informasi
    mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk memahami
    suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan persepsi
    konsumen terhadap layanan yang diberikan perusahaan. Sehingga perusahaan
    dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan berdasarkan sudut
    pandang konsumen

Karakteristik Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2011:28-51) mengemukakan bahwa jasa memiliki empat karakteristik
utama yaitu :

  1. Tidak berwujud (Intangibility)
    Jasa adalah tidak nyata, tidak sama dengan produk fisik (barang). Jasa tidak
    dapat dilihat, dirasakan, dibaui, atau didengar sebelum dibeli. Untuk
    mengurangi ketidakpastian, pembeli jasa akan mencari tanda atau bukti dari
    kualitas jasa, yakni dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol, dan
    harga yang mereka lihat. Karena itu, tugas penyedia jasa adalah mengelola
    bukti itu mewujudkan yang tidak berwujud.
  2. Tidak terpisahkan (Inseparability)
    Pada umumnya jasa yang diproduksi (dihasilkan) dan dirasakan pada waktu
    bersamaan, untuk selanjutnya apabila dikehendaki oleh seorang untuk
    diserahkan kepada pihak lainnya, maka dia akan tetap merupakan bagian dari
    jasa tersebut.
  3. Bervariasi (Variability)
    Jasa sangat bervariasi karena tergantung pada siapa, kapan dan di mana jasa
    tersebut disediakan.
  4. Mudah lenyap (Perishability)
    Jasa tidak dapat disimpan. Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah
    bila permintaan selalu ada dan pasti, karena menghasilkan jasa di muka adalah
    mudah. Bila permintaan berubah-ubah naik dan turun, maka masalah yang sulit
    akan segera muncul.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono (2011:174-175)
terdapat lima dimensi kualitas jasa yang dijadikan pedoman oleh pelanggan dalam
menilai kualitas jasa, yaitu:

  1. Berwujud (Tangible)
    Penampilan fasilitas fisik, peralatan, dan personil.
  2. Empati (Emphaty)
    Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.
  3. Keandalan (Reliability)
    Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan
    terpercaya.
  4. Keresponsifan (Responsiveness)
    Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat atau
    tanggap.
  5. Keyakinan (Assurance)
    Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk
    menimbulkan kepercayaan dan keyakinan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono & Chandra (2011:164), Konsep kualitas dianggap sebagai ukuran
kesempurnaan sebuah produk atau jasa yang terdiri dari kualitas desain dan kualitas
kesesuaian (conformance quality). Kualitas desain merupakan fungsi secara
spesifik dari sebuah produk atau jasa, kualitas kesesuaian adalah ukuran seberapa
besar tingkat kesesuaian antara sebuah produk atau jasa dengan persyaratan atau
spesifikasi kualitas yang ditetapkan sebelumnya.
Maka dari itu yang dimaksud kualitas adalah apabila beberapa faktor dapat
memenuhi harapan konsumen seperti pernyataan tentang kualitas oleh Goetsh dan
Davis dalam Tjiptono & Chandra (2011:164), “Kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan memenuhi atau
melebihi harapan”.
Menurut beberapa definisi di atas dalam kata lain, kualitas adalah sebuah
bentuk pengukuran terhadap suatu nilai layanan yang telah diterima oleh konsumen
dan kondisi yang dinamis suatu produk atau jasa dalam memenuhi harapan
konsumen.
Menurut Vargo & Lusch dalam Tjiptono (2011:3), “Service is an interactive
process of doing something for someone”. Diartikan bahwa layanan/ jasa
merupakan proses interaksi dalam melakukan sesuatu kepada seseorang.
Menurut Gummesson dalam Tjiptono & Chandra (2011:17)
mengungkapkan bahwa layanan/ jasa adalah “Something which can be bought and
sold but which you cannot drop on your feet”. Sehingga dikatakan bahwa layanan
merupakan hal yang dapat dipertukarkan melalui beli dan jual namun tidak dapat
dirasakan secara fisik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Pelanggan MelaluiKepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan melalui kepuasan
pelanggan akan diteliti dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan
membantu memberikan pengaruh dari ketiga variabel tersebut. Temuan yang
dilakukan oleh Sandy, dkk. (2024) menjelaskan bahwa secara umum loyalitas
berarti kesetiaan, kesetiaan ini muncul tanpa ada paksaan melainkan dari kesadaran
diri masa lalu. Upaya menciptakan kepuasan pelanggan lebih besar
kemungkinannya mempengaruhi sikap pelanggan. Pada saat yang sama, konsep
loyalitas pelanggan menekankan pada perilaku pembeli. Memang dengan loyalitas
diharapkan perusahaan akan memperoleh manfaat jangka panjang dari hubungan
timbal balik yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Temuan lain dilakukan
oleh Yulisetiarini, dkk. (2024) yang menjelaskan bahwa kualitas produk yang baik
memberikan dampak positif dengan menciptakan tingkat kepuasan konsumen yang
tinggi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumen melakukan pembelian
berulang dan menggunakan layanan tersebut kembal

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelanggan MelaluiKepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan melalui kepuasan
pelanggan akan diteliti di dalam penelitian ini. Beberapa temuan dari penelitian
terdahulu akan memberikan gambaran dari pengaruh ketiga variabel tersebut.
Kualitas pelayanan merupakan faktor pertama yang berpengaruh positif terhadap
kepuasan dan loyalitas pelanggan. Menurut Santos, dkk. (2023) penelitiannya
menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan pelanggan. Artinya jika kualitas pelayanan meningkat maka
kepuasan pelanggan akan meningkat. Telkomcel sebagai perusahaan jasa tentunya
memandang pelayanan pelanggan sebagai suatu hal yang penting dan mendasar
agar setiap pelanggan yang menggunakan produk Telkomcel memperoleh
kepuasan. Pengertian lain dari loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan
terhadap suatu merek, toko, pemasok yang bergantung pada sikap yang sangat
positif. sikap. sikap dan tercermin dalam pembelian berulang (Salsabillah, dkk.,
2024)

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan akan diteliti di dalam
penelitian ini. Beberapa temuan dari penelitian terdahulu akan membantu
memberikan gambaran bagaimana pengaruh dari kualitas produk terhadap loyalitas
pelanggan. Kualitas produk penting untuk loyalitas pelanggan. Semakin tinggi
kualitas produk yang ditawarkan Rumah Makan Sakinah kepada pelanggan maka
semakin loyal pelanggan terhadap produk yang ditawarkan dan penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas produk mempunyai pengaruh terhadap
produk yang ditawarkan secara signifikan (Naini, dkk., 2022). Artinya kualitas
produk yang diberikan dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan pelanggan akan diteliti di
dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan membantu memberikan
gambaran pengaruh antara kedua variabel tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh
Naini, dkk. (2022) menjelaskan bahwa kualitas produk terbukti berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Penelitian menunjukkan bahwa
kualitas produk yang baik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan
pelanggan. Artinya kualitas produk akan meningkat dan kepuasan pelanggan akan
meningkat. Begitu pula ketika kualitas produk menurun maka kepuasan pelanggan
juga menurun. Mencapai tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi membawa
manfaat yang signifikan bagi bisnis, meningkatkan loyalitas pelanggan dan
mengurangi perpindahan pelanggan ke bisnis lain.
Kualitas produk secara umum dapat mempengaruhi prestise, niat beralih,
niat membeli lebih dari satu kali, kualitas pelayanan perusahaan, loyalitas
pelanggan, dan terakhir kepuasan pelanggan (Rosyidi, dkk., 2024). Kepuasan
pelanggan akan tercipta bila harapan pelanggan terpenuhi secara tepat untuk
memuaskan loyalitas pelanggan. Didukung oleh penelitian Salsabillah, dkk. (2024)
yang menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah sejauh mana suatu produk
secara efektif memenuhi harapan konsumen. Mempertahankan kepuasan pelanggan
lebih bermanfaat bagi bisnis dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah
ada atau menarik pelanggan baru

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan akan diteliti
apakah berpengaruh didalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan
membantu memberikan gambaran bagaiman pengaruh dari dua variabel tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Sani, dkk. (2024) bahwa kualitas pelayanan dan
kepuasan pelanggan mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai hubungan
positif yang. Loyalitas pelanggan dipengaruhi langsung oleh kualitas layanan yang
merupakan aspek penting dari kepuasan pelanggan. Temuan lain yang dilakukan
oleh Yulisetiarini, dkk. (2024) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan yang baik
memberikan dampak positif dengan menciptakan tingkat kepuasan konsumen yang
tinggi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumen melakukan pembelian
berulang dan mulai menggunakan layanan tersebut kembali.
Sebuah kedai kopi harus memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk
memuaskan pelanggannya. Apalagi di era sekarang ini, permintaan akan kopi jenis
ini semakin meningkat dan menyebabkan persaingan yang ketat antar kedai kopi.
Hal ini tidak bisa dihindari dan membutuhkan lebih banyak keuntungan untuk
bertahan dalam lingkungan yang kompetitif (Taufik, dkk. 2022). Didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Fitriani, dkk. (2024) bahwa kualitas pelayanan dapat
berdampak positif terhadap kepuasan pelanggan yang selanjutnya menyebarkan
informasi pelanggan dari mulut ke mulut dan memberikan dampak
positif. Perusahaan menganggap hubungan jangka panjang dengan pelanggan
sebagai aset, bisnis atau organisasi terus berupaya untuk mencapai kepuasan pelanggan yang tinggi

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan merupakan variabel dependen (Y) dari penelitian ini.
Grand Theory dari variabel loyalitas pelanggan didapatkan dari Griffin (2002) yang
menjelaskan bahwa ada empat faktor dimensi dari loyalitas pelanggan yaitu,
pembelian kembali (regular repurchase), membeli produk lainnya (buy others
product), bersedia merekomendasikan kepada orang lain (willing to recommend to
others), dan loyalitas (loyalty). Beberapa penelitian terdahulu juga akan membantu
memberikan gambaran pengertian dari loyalitas pelanggan. Penelitian dari
Mahsyar, dkk. (2020) loyalitas konsumen sangatlah penting bagi suatu bisnis baik
itu jasa maupun produk (barang) agar dapat meningkatkan keuntungan perusahaan,
karena jika konsumen tidak loyal terhadap produk bisnis maka pasti akan beralih
ke produk lain. Untuk menjaga loyalitas. konsumen, salah satu cara untuk
meningkatkan loyalitas pelanggan adalah dengan memberikan pelayanan yang
berkualitas, sehingga akan mendorong pelanggan untuk mengulangi transaksi.
Loyalitas pelanggan biasanya terjadi setelah pelanggan merasa nyaman dengan
suatu produk atau jasa yang digunakan dan yang sudah dialami oleh pelanggan
tersebut. Temuan dilakukan oleh Urbano, dkk. (2019) menjelaskan bahwa loyalitas
konsumen diperkirakan berdasarkan tiga kualitas utama yang diakui secara tertulis,
kepuasan dalam kerangka partai, pola pikir dan kemampuan menjaga waktu. Selain
itu, loyalitas pelanggan juga dinilai berdasarkan tiga karakteristik dasar yang
dibedakan secara tertulis, kepuasan terhadap pengalaman bersantap, suasana hati,
dan ketersediaan.

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan merupakan variabel mediasi (Z) dari penelitian ini.
Grand Theory kepuasan pelanggan didapatkan dari Wang & Lo (2002) yang
menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan memiliki dua faktor dimensi, yaitu
kepuasan terhadap semua yang diberikan (satisfaction a fulfillment) dan kepuasan
sebagai ambivalensi (satisfaction as ambivalence). Beberapa penelitian terdahulu
juga akan membantu menjelaskan bagaimana pengertian dari kepuasan pelanggan.
Penelitian yang dilakukan oleh Sani, dkk. (2024) menjelaskan bahwa pelanggan
yang puas dengan produk atau layanan yang dibelinya kemungkinan besar akan
terus berbisnis dengan merek atau perusahaan tersebut di masa mendatang.
Kepuasan pelanggan merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau
menginspirasi loyalitas pelanggan. Pelanggan yang puas dengan suatu penawaran
atau layanan cenderung tidak mencari alternatif atau beralih ke pesaing. Hal ini
membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasarnya. Temuan lain dari Taufik,
dkk. (2022) kepuasan merupakan penilaian pelanggan dari sudut pandang evaluatif
akibat kegagalan memenuhi harapan sebelum dan sesudah menggunakan produk.
Untuk itu kepuasan pelanggan akan tercipta apabila harapan dapat dipenuhi dengan
baik

Kualitas Produk


Haasya (2016) menjelaskan bahwa kualitas produk memiliki enam faktor dimensi, yaitu rasa
produk (taste), opsi kesehatan (healty option), keberagaman pilihan (diversity of
choice), presentasi makanan (the presentation of food), suhu (temperature), dan
kesegaran (freshness). Beberapa penelitian terdahulu juga akan membantu
memberikan gambaran bagaimana pengertian dari kualitas produk. Penelitian
Taufik, dkk. (2022) menjelasakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan
spesifik suatu produk untuk menunjukkan kegunaannya, termasuk umur panjang
produk, keandalan, kemudahan penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai lainnya.
Selanjutnya produk merupakan hal terpenting yang dilihat pelanggan setelah
melakukan pembelian, baik berupa barang maupun jasa yang dapat mereka nikmati.
Mendefinisikan kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk
menjalankan fungsinya, termasuk ketahanan produk secara keseluruhan, keandalan,
keakuratan, kemudahan penggunaan dan perbaikan, serta sifat-sifatnya (Santos,
dkk., 2023). Perusahaan selalu memperhatikan kualitas produk yang dimiliki
perusahaan agar produk di mata pelanggan mempunyai kesan produk yang
berkualitas. Selain itu, kualitas produk juga dapat mempengaruhi loyalitas
pelanggan karena banyak konsumen yang mengutamakan kualitas produk yang
sesuai dengan kebutuhannya.
Temuan lain oleh Hongdiyanti, dkk. (2021) menjelaskan bahwa kualitas
produk mengacu pada karakteristik suatu produk atau layanan yang mempengaruhi
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kualitas mempengaruhi
kinerja produk dan terkait erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan. Sementara,
penelitian yang dilakukan oleh Sandy, dkk. (2024) secara konseptual, produk
merupakan pemahaman subjektif produsen terhadap sesuatu yang dapat ditawarkan
sebagai upaya mencapai tujuan organisasi dengan memuaskan kebutuhan dan
aktivitas pelanggan, sesuai dengan keterampilan dan kemampuan organisasi
produksi serta daya belinya pasar. Selain itu, produk juga dapat dipahami sebagai
persepsi pelanggan yang diungkapkan oleh produsen melalui hasil produksinya.
Produk dianggap penting oleh pelanggan dan menjadi dasar pengambilan
keputusan.

Dimensi-Dimensi Pelayanan Publik


Menurut Ratminto dan Winarsih (2005:21), dimensi-dimensi pelayanan publik
adalah sebagai berikut :

  1. Kesederhanaan
    Kesederhanaan mengandung arti bahwa prosedur pelayanan tidak berbelit-
    belit, mudah dimengerti dan dipahami serta mudah dilaksanakan.
  2. Kejelasan
    Kejelasan ini mencakup persyaratan teknis dan administrasi pelayanan
    publik dan rincian biaya pelayanan publik
  3. Kepastian Waktu
    Kepastian waktu dalam pelayanan publik harus sesuai dengan waktu yang
    telah ditentukan dalam standar pelayanan.
  4. Akurasi
    Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
  5. Keamanan
    Proses dan produk pelayanan publik harus memberikan rasa aman dan
    kepastian hukum.
  6. Tanggung Jawab
    Pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik harus bertanggung jawab
    terhadap semua proses dan produk pelayanan yang diberikan kepada
    masyarakat.
  7. Kelengkapan sarana dan prasarana
    Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam mendukung
    pelayanan publik.
  8. Kemudahan Akses
    Tempat dan lokasi sarana pelayanan mudah dijangkau oleh masyarakat.
  9. Kedisiplinan dan Keramahan
    Pemberian pelayanan oleh petugas harus bersikap sopan, santun, ramah
    dan melakukan pelayanan dengan ikhlas.
  10. Kenyamanan
    Lingkungan tempat pelayanan harus tertib, teratur, bersih, disediakan
    ruang tunggu dan sarana lainnya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Publik


Menurut Passolong (2007: 42-46), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas pelayanan publik yang antara lain sebagai berikut:
a. Struktur Organisasi
Menurut Passolong (2007: 42), struktur adalah susunan berupa kerangka yang
memberikan bentuk dan wujud, dengan demikian akan terlihat prosedur
kerjanya. Dalam organisasi pemerintahan, prosedur merupakan sesuatu
rangkaian tindakan yang ditetapkan lebih dulu, yang harus dilalui untuk
mengerjakan sesuatu tugas. Struktur organisasi dapat pula diartikan sebagai
suatu hubungan karakteristik, norma dan pola yang terjadi di dalam badan-
badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial atau nyata dengan
apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijaksanaan
Struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor
kepada siapa, mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaaksi yang
akan diikuti. Struktur organisasi mempunyai tiga komponen, yaitu:
kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas berarti dalam struktur
orgaisasi mempertimbangkan tingkat differensiasi yang ada dalam organisasi
termasuk di dalamnya tingkat spesialisasi atau pembagian kerja, jumlah
tingkatan dalam organisasi serta tingkat sejauh mana unit-unit organisasi
tersebar secara geografis. Formalisasi berarti dalam struktur organisasi
memuat tentang tata cara atau prosedur bagaimana kegiatan dilaksanakan
(Standard Operating Prosedures), apa yang boleh dan tidak dapat dilakukan.
Sentralisasi berarti dalam struktur organisasi memuattentang kewenangan
pengambilan keputusan, apakah disentralisasi atau didesentralisasi.
b. Kemampuan Aparat
Menurut Passolong (2007: 44), aparatur pemerintah, adalah kumpulan
manusia yang mengabdi pada kepentingan negara dan pemerintahan dan
berkedudukan sebagai pegawai negeri. Aparatur pemerintah adalah seluruh
jajaran pelaksana pemerintah yang memperoleh kewenangannya berdasarkan
pendelegasian dari Presiden.
Aparatur negara atau aparatur adalah pelaksana kegiatan dan proses
penyelenggaraan pemerintahan, baik yang bekerja dalam badan eksekutif,
legislatif dan yudikatif maupun mereka yang sebagai TNI dan pegawai negeri
sipil pusat dan daerah yang ditetapkan dengan peraturan peraturan pemerintah
Aparat negara dan atau aparatur pemerintah, diharapkan atau dituntut adanya
kemampuan baik berupa pengetahuan, keterampilan serta sikap perilaku yang
memadai, sesuai dengan tuntutan pelayanan dan pembangunan sekarang ini
Sementara itu, konsep lain mendefinisikan kemampuan (ability) sebagai sifat
yang dibawa lahir atau dipelajari yang memungkinkan seseorang melakukan
hal yang bersifat mental atau fisik, sedangkan skill atau keterampilan adalah
kecakapan yang berhubungan dengan tugas

Pengertian Pelayanan Publik


Menurut Moenir (2000: 13), pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui
sistem, prosedur dan metode tertentu dalam usaha memenuhi kepentingan orang
lain sesuai dengan haknya. Tujuan pelayanan publik adalah mempersiapkan
pelayanan publik tersebut yang dikehendaki atau dibutuhkan oleh publik, dan
bagaimana menyatakan dengan tepat kepada publik mengenai pilihannya dan cara
mengaksesnya yang direncanakan dan disediakan oleh pemerintah.
Selanjutnya menurut Moenir (2000: 13), pelayanan publik harus mengandung
unsur-unsur dasar sebagai berikut:
a. Hak dan kewajiban bagi pemberi maupun pelayanan umum harus jelas dan
diketahui secara pasti oleh masing-masing pihak;
b. Pengaturan setiap bentuk pelayanan umum harus disesuaikan dengan kondisi
kebutuhan dan kemampuan masyarakat untuk membayar berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap berpegang teguh
pada efisiensi dan efektivitas;
c. Kualitas, proses dan hasil pelayanan umum harus diupayakan agar dapat
memberi keamanan, kenyamanan, kepastian hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan;
d. Apabila pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah terpaksa
harus mahal, maka instansi pemerintah yang bersangkutan berkewajiban
memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut menyelenggarakannya.

Faktor-Faktor Penentu Kepuasan Masyarakat


Menurut Lupioyadi (2006: 158), dalam menentukan tingkat kepuasan publik,
terdapat lima faktor yang harus diperhatikan oleh organisasi pelayanan yaitu:
a. Kualitas produk/jasa, publik akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk/jasa yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas pelayanan, publik akan merasa puas bila mereka mendapatkan
pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
c. Emosional, publik akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadapnya bila menggunakan produk/jasa dengan
merek tertentu yang cendrung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
d. Harga, produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi mempunyai harga
yang lebih murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
e. Biaya, publik tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.
Kepuasan masyarakat merupakan respon terhadap kinerja organisasi publik yang
dipersepsikan sebelumnya. Tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan
antara kinerja yang dirasakan (perceived performance) dan harapan (expectation)
masyarakat bisa mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan yang umum. Jika
kinerja di bawah harapan, masyarakat akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan
harapan, masyarakat akan puas. Apabila kinerja melampaui harapan, masyarakat
akan sangat puas, senang, atau bahagia

Pengertian Kepuasan


Kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan
harapan. Apabila kinerja di bawah harapan, maka masyarakat akan kecewa. Bila
kinerja sesuai dengan harapan, maka masyarakat akan puas. Sedangkan bila
kinerja melebihi harapan, masyarakat akan sangat puas. Harapan masyarakat
dapat dibentuk oleh masyarakat masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji
dan informasi pemasar dan saingannya. Masyarakat yang puas akan setia lebih
lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang
organisasi publik.
Menurut Supranto (1997: 23), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapannya. Kepuasan
masyarakat merupakan perasaan senang atau kecewa sebagai hasil dari
perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan diharapkan.
Menurut Lupiyoadi (2006: 155), faktor utama penentu kepuasan masyarakat
adalah persepsi terhadap kualitas jasa. Apabila ditinjau lebih jauh, pencapaian
kepuasan masyarakat melalui kualitas pelayanan dapat ditingkatkan dengan
beberapa pendekatan sebagai berikut:
a. Memperkecil kesenjangan yang terjadi antara pihak manajemen dengan
pihak masyarakat
b. Organisasi publik harus mampu membangun komitmen bersama untuk
menciptakan visi di dalam perbaikan proses pelayanan
c. Memberikan kesempatan pada masyarakat untuk menyampaikan keluhan
dengan membentuk sistem saran dan kritik
d. Mengembangkan pelayanan untuk mencapai kepuasan dan harapan
masyarakat

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam (Tjiptono dan Chandra, 2016:137) terdapat 5
(lima) indikator penentu dalam kualitas pelayanan sebagai berikut:

  1. Kehandalan (Reliability), berhubungan dengan keahlian perusahaan demi
    memberikan pelayanan yang akurat sejak pertama kali tanpa melakukan
    kesalahan dan menginformasikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.
  2. Daya Tanggap (Responsiveness), berkaitan dengan kesediaan dan keahlian
    karyawan untuk membantu para konsumen dan merespon permintaan mereka,
    serta memberitahukan kapan jasa hendak diberikan dan segera memberikan jasa
    secara cepat.
  3. Jaminan (Assurance), perilaku karyawan yang bisa menumbuhkan kepercayaan
    pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman
    untuk para konsumennya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu
    bersikap sopan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
    untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah konsumen.
  4. Empati (Empathy), menjelaskan bahwa perusahaan memahami masalah para
    konsumenya dan bertindak untuk kepentingan konsumen, serta memberikan
    perhatian khusus kepada para konsumen dan mempunyai jam operasi yang
    nyaman.
  5. Bukti Fisik (Tangible), berkenaan dengan kapabilitas fasilitas fisik, peralatan
    atau perlengkapan yang lengkap, dan bahan-bahan yang digunakan perusahaan
    bersih, serta penampilan dari karyawan rapi.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Mutiawati et al., (2019:7), menyatakan kualitas pelayanan merupakan
kemampuan pemberi pelayanan dalam melayani pengguna barang atau jasa.
Sedangkan, menurut Usmara dalam (Pattaray et al., 2021:11) kualitas pelayanan
merupakan suatu sikap yang dihasilkan dari membandingkan harapan konsumen
terhadap kualitas pelayanan dengan kinerja perusahaan seperti yang dipersepsikan
konsumen.
Kotler dalam (Pertiwi, 2021:68) menyatakan bahwa, kualitas pelayanan
merupakan kinerja dari seseorang kepada orang lain yang dapat berupa tindakan yang tidak berwujud dan tidak mengarah pada kepemilikan suatu barang atau
kepada siapa pun

Tujuan Penetapan Harga Jasa

Tujuan penetapan harga merupakan bentuk strategi perusahaan dalam
menjalankan usahanya. Menurut Tjiptono (2014:207-209) setiap keputusan
mengenai strategi penetapan harga harus didasarkan atas tujuan spesifik yang
hendak dicapai. Berikut 3 (tiga) kategori tujuan spesifik penetapan harga jasa,
diantaranya:

  1. Tujuan Berorientasi Pendapatan, pada umumnya perusahaan swasta merupakan
    perusahaan yang mengejar keuntungan. Perusahaan semacam ini berupaya
    untuk memaksimalkan laba dibandingkan pengeluaran. Sebaliknya, perusahaan
    jasa publik cenderung lebih berfokus pada titik impas (break-even point).
    Namun, tidak sedikit perusahaan jasa publik yang menetapkan harga untuk
    mendapatkan profit pada beberapa unit lini produk jasanya.
  2. Tujuan Berorientasi Kapasitas, yaitu sejumlah perusahaan berusaha
    menyesuaikan permintaan dan penawaran guna mencapai taraf pemanfaatan
    kapasitas produktif secara optimal pada waktu tertentu.
  3. Tujuan Berorientasi Pelanggan, yaitu perusahaan-perusahaan yang berupaya
    memaksimalkan daya tariknya bagi tipe pelanggan spesifik harus menggunakan
    strategi penetapan harga yang mampu mengakomodasi perbedaan antar segmen
    pasar, perbedaan daya beli, perbedaan preferensi pelanggan atas berbagai
    alternatif tingkat layanan atau jasa.

Indikator Harga


Menurut Kotler (2017:308), terdapat empat indikator yang mencirikan harga:

  1. Keterjangkauan harga, yaitu tingkat kemampuan konsumen dalam membeli
    produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu adanya sebuah hubungan
    yang positif dengan kualitas suatu produk yang satu dengan produk lainnya.
  3. Daya saing harga, didefinisikan sebagai posisi harga relatif dari salah satu
    pesaing yang lain.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat, yaitu manfaat yang dirasakan lebih besar
    atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan produk yang
    dibelinya.

Dimensi Harga


Tjiptono (2014:195-197), menyatakan harga adalah salah satu faktor bauran
pemasaran yang membutuhkan pertimbangan cermat. Sebab terdapat sejumlah
dimensi harga dalam berbagai faktor sebagai berikut:

  1. Harga adalah pernyataan nilai dari suatu produk. Nilai merupakan rasio atau
    perbandingan antara persepsi terhadap manfaat dengan biaya yang dikeluarkan
    untuk memperoleh produk.
  2. Harga adalah bagian yang terlihat jelas bagi para pembeli.
  3. Harga merupakan penentu utama permintaan. Berdasarkan hukum permintaan,
    kualitas produk dipengaruhi oleh besar kecilnya harga yang dibeli konsumen.
    Semakin mahal harga, maka semakin sedikit jumlah permintaan atas produk
    bersangkutan dan sebaliknya.
  4. Harga bersangkutan langsung dengan pendapatan. Harga merupakan satu-
    satunya elemen bauran pemasaran yang menghadirkan pemasukan bagi
    perusahaan yang pada gilirannya berpengaruh pada besar kecilnya profit dan
    pangsa pasar yang didapatkan.
  5. Harga bersifat fleksibel, yang berarti dapat disesuaikan dengan cepat.
  6. Harga mempengaruhi citra dan strategi positioning. Dalam pemasaran produk,
    harga menjadi salah satu elemen terpenting.
  7. Harga adalah masalah utama yang dihadapi oleh manaje

Pengertian Harga


Harga merupakan sebuah nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang
pada dasarnya diakui dalam satuan mata uang (Dollar, Rupiah, Yen, dan lain-lain).
Sedangkan, definisi harga dari perspektif pemasaran yaitu satuan mata uang atau
satuan alat ukur (termasuk barang dan jasa) yang dapat ditukarkan agar
mendapatkan hak penggunaan atau kepemilikan suatu barang dan jasa (Tjiptono,
2014:193).
Menurut Kotler dan Amstrong dalam (Setiyaningrum et al., 2015:128),
mengatakan harga merupakan total semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
untuk mendapatkan keuntungan (benefit) atas kepemilikan atau pemakaian suatu
produk atau jasa.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator untuk mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92)
adalah:

  1. Kesesuaian harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa
    perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa
    tersebut kepada orang lain seperti, keluarga, teman, dan lainnya.

Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Indrasari (2019:87-88) dalam menentukan tingkat kepuasan
pelanggan, terdapat lima faktor utama dan harus diperhatikan oleh perusahaan
yaitu:

  1. Kualitas produk, pelanggan akan merasa puas bila evaluasi mereka
    menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan memang berkualitas.
  2. Kualitas pelayanan, pelanggan akan merasa puas apabila mendapatkan
    pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Emosional, pelanggan akan merasa bangga dan yakin bahwa orang lain akan
    kagum terhadap mereka, apabila memakai produk tertentu yang cenderung
    mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
  4. Harga, produk dengan kualitas yang sama tetapi harga yang relatif rendah
    menawarkan nilai yang lebih besar kepada pelanggan.
  5. Biaya, pelanggan yang tidak mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
    membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk cenderung merasa puas
    dengan produk tersebut.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Menurut Park dalam (Irawan 2021:54), mengungkapkan kepuasan pelanggan
adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa
yang telah dikonsumsi.
Kotler dan Keller (2016:33) mengatakan kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
“Satisfaction reflects a person’s judgment of a product’s perceived
performance in relationship to expectations. If performance falls short of
expectations, the customer is disappointed. If it matches expectations, the customer
is satisfied. If it exceeds them, the customer is delighted” yang artinya kepuasan
mencerminkan penilaian seseorang tentang kinerja produk yang dirasakan dalam
kaitannya dengan harapan. Apabila kinerja jauh dari ekspektasi, pelanggan kecewa.
Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika melebihi ekspektasi,
pelanggan senang.
Bahrudin, M., dan Zuhro, S. (2016), menyatakan kepuasan pelanggan adalah
evaluasi pilihan yang disebabkan oleh keputusan pembelian tertentu dan
pengalaman dalam menggunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa. Sedangkan,
Tjiptono (2014:353) mengkonseptualisasikan kepuasan pelanggan seperti perasaan
yang muncul menjadi output penilaian terhadap pengalaman pemakaian produk
atau jasa

Pengertian E-Commerce


E-Commerce merupakan transaksi elektronik yang berkaitan dengan
pembelian atau penjualan barang maupun jasa antara rumah tangga, individu,
pemerintah dan organisasi publik atau swasta lainnya yang dilakukan melalui
jaringan komputer (Pradana, M. 2017:167). Sedangkan, menurut Laudon dalam
(Prasetio et al., 2021:3), mengatakan E-Commerce adalah penggunaan internet,
web, aplikasi mobile dan bro

Indikator Handling Complaint


Fasilitas yang disediakan kepada pelanggan yang bermaksud
memudahkan penyampaian masukan seperti keluhan, kritik, pendapat
maupun saran. Menurut (Santoso, Arif Kurniawan, Rois Arifin 2021).
Indikator penanganan konsumen diuraikan sebagai berikut:

  1. Cepat dalam menangani keluhan.
  2. Kewajaran atau keadilan dalam memecahkan permasalahan atau
    keluhan.
  3. Kemudahan bagi konsumen untuk menghubungi perusahaan

Faktor Faktor yang mempengaruhi Handling Complaint


Setiap konsumen yang merasa tidak puas terhadap kinerja produk, jasa
dan atau perusahaan tertentu akan bereaksi dengan tindakan yang berbeda-
beda. Ada yang mendiamkan saja dan ada pula yang melakukan komplain.
Menurut Tjiptono (2020), keputusan seseorang untuk melakukan
komplain atau tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Tingkat kepentingan konsumsi yang dilakukan Apabila konsumen
    mempersepsikan tingkat kepentingan, biaya dan waktu yang
    dibutuhkan relatif besar, maka besar kemungkinan pelanggan
    bersangkutan akan melakukan komplain.
  2. Tingkat ketidakpuasan pelanggan Semakin tidak puas seorang
    pelanggan semakin besar pula kemungkinannya melakukan
    komplain.
  3. Manfaat yang diperoleh oleh komplain Semakin besar persepsi
    konsumen terhadap manfaat yang bisa diperoleh dari penyampaian
    komplain, semakin besar pula kemungkinannya melakukan
    complain

Handling Complaint


Kotler (2016) Keluhan atau komplain merupakan suatu ungkapan
ketidakpuasan dari pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan. Pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan dari perusahaan
yang menyebabkan kekecewaan akan mengatakan ketidakpuasannya kepada
orang lain. Penanganan komplain yang baik mampu memberikan peluang
mengubah pelanggan yang kurang puas menjadi loyal. Keluhan konsumen
yang ditanggapi dengan positif akan membuat pelanggan tersebut merasakan
diperhatikan oleh perusahaan tersebut. Pada hal ini, kepuasan dalam
penanganan keluhan menjadi tingi dari pada kepuasan terhadap barang atau
jasa yang telah pelanggan tersebut komsumsi ( Daengs,et all 2015) Keluhan
adalah artikulasi ketidakpuasan verbal atau tertulis yang mengirimkan
peringatan kepada perusahaan atau penyedia layanan tentang perilaku,
layanan, atau produknya Stauss B (2019) Pelanggan biasanya mengeluh
karena ada sesuatu yang salah tetapi mereka juga dapat mengeluh karena
harapan yang tidak terpenuhi atau ada gangguan dalam komunikasi.
Artinya Keluhan merupakan hal yang disampaikan oleh konsumen
karena mereka merasakan adanya ketidaksesuaian atas jasa yang diterima
dengan yang dijanjikan. Suatu pengaduan dan keluhan bisa dijadikan
kesempatan untuk perusahaan agar memperbaiki kesalahan yang ada. Dengan
demikian, perusahaan dapat mengembangkan ide-ide yang baru,
meningkatkan pemasaran ataupun pelayanan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2020)berhasil mengidentifikasi lima dimensi pokok kualitas
pelayanan jasa, yaitu:
1) Bukti langsung (tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi.
2) Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan
3) Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
tanggap.
4) Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas
dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
5) Empati (emphaty), kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan
pada pelanggan

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan


Faktor-faktor yang diperhatikan dalam Pelaksanaan Pelayanan Menurut
(Januar Efendi 2016), faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh suatu
perusahaan dalam pelaksanaan pelayanan adalah:

  1. Ketepatan waktu pelayanan, seperti waktu tunggu dan proses
    pelayanan
  2. Akurasi pelayanan, yaitu berkaitan dengan reliabilitas pelayanan dan
    bebas kesalahan
  3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan
  4. Tanggung jawab misalnya cara penerimaan pesanan,dan penanganan
    keluhan dari pelanggan external
  5. Kelengkapan, menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan
    sarana pendukung
  6. Kemudahan mendapat pelayanan, berkaitan dengan banyak nya
    outlet,petugas, staf administrasi, dan fasilitas pendukung
  7. Variasi model pelayanan yaitu berkaitan dengan inovasi untuk
    memberikan pola-pola baru dalam pelayanan, features dari
    pelayanan
  8. Pelayanan pribadi, berkaitan dengan flexibilitas dan penangaanan
    permintaan khusus
  9. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan local, ruang pelayanan,
    dan kemudahan menjangkau pelayaanan

Kualitas Pelayanan


Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan.
Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Tentang pengertian atau
definisi kualitas dapat berbeda makna bagi setiap orang, karena kualitas
memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnya.
Menurut Kotler (2014) kualitas adalah kemampuan suatu barang untuk
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang
diinginkan pelanggan. Menurut Tjiptono Fandy dan Chandra (2015), kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan yang diwujudkan melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2014:51) kualitas pelayanan didefinisikan sebagai
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Tujuan
kualitas pelayanan akan terwujud apabila kualitas pelayanan yang diberikan
lebih dari apa yang diharapkan oleh para pasien. Pelayanan yang diberikan
oleh pasien harus secara keseluruhan bukan hanya kualitas pelayanan yang
diberikan oleh para dokter maupun suster ataupun perawat tetapi lebih pada
hal-hal yang terkait dengan pelayanan kepada pasien.

Faktor Faktor Kepercayaan


Menurut Harmilan (2018)mengemukakan agar pasien dapat percaya
terhadap perusahaan, perlu adanya aktivitas yang dilakukan. Terdapat tiga
aktivitas yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menumbuhkan
kepercayaan pasien tersebut, diantaranya :

  1. Achieving Result
    Harapan pasien tidak lain ialah janji pasien yang harus dipenuhi bila
    ingin mendapatkan kepercayaan pasien. Dengan kata lain,
    kepercayaan pasien dapat ditumbuhkan melalui penetapan janji yang
    diberikan oleh pihak perusahaan.
  2. Acting with integrity
    Bertindak dengan integritas berarti adanya konsistensi antara ucapan
    dan tindakan dalam setiap situasi. Adanya integritas merupakan
    faktor kunci bagi salah satu pihak untuk percaya akan ketulusan dari
    pihak lain. Segala sesuatu yang diucapkan harus sesuai dengan
    tindakan.
  3. Demonstrate concern
    Kemampuan perusahaan untuk menunjukkan perhatiannya kepada
    pasien dalam bentuk menunjukan sikap pengertian kepada pasien
    jika pasien tersebut menghadapi masalah dengan produknya, hal ini
    digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap merek

Kepercayaan


Menurut Peelen (2013)trust atau kepercayaan adalah sebuah kemauan
untuk bergantung terhadap rekan yang dapat dipercayai. Dimensi yang
digunakan untuk menilai trust adalah persepsi atau kepercayaan terhadap
kehandalan dan integritas dari seorang mitra.
Sedangkan Menurut Priansa (2017), kepercayaan terjadi karena adanya
keyakinan yang disertai reliabilitas dan integritas dari apa yang dipercaya
oleh konsumen. Keberlangsungan hidup suatu perusahaan tergantung kepada
kepercayaan dari pelanggan.
Sedangkan Kepercayaan pasien menurut Etta Mamang Sangadji (2013)
adalah semua pengetahuan yang dimilki oleh pasien dan semua kesimpulan
yang dibuat oleh pasien tentang objek, atribut, dan manfaatnya.sedangkan
menurut Diansyah (2018) Kepercayaan pasien merupakan sebuah jenis
refleksi emosional bagi dunia usaha klinik kesehatan. Hal tersebut tergantung
pada tingkat pemenuhan produk yang diharapkan atau layanan manfaat, serta
tingkat konsistensi harapan dan hasil aktual. Apabila pasien mengharapkan
suatu pelayanan pada tingkat tertentu, dan yang dirasakannya pelayanan yang
diterima lebih tinggi dari apa yang diharapkannya dan tetap menggunakan
produk atau pelayanan tersebut, maka pasien tersebut dapat dikatakan
percaya

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Irawan (2012) indikator yang akan diukur dari variable
kepuasan pelanggan sebagai berikut :
1) Kepuasan jasa secara menyeluruh. Para konsumen yang memakai
jasa akan merasa puas saat melihat pekerjaan yang di kerjakan
selesai dengan bagus dan tidak mengecewakan konsumen.
2) Merekomendasikan kepada pihak lain Konsumen yang merasa puas
akan memberi informasi kepada kerabat dan temannya, jika kinerja
itu bagus.
3) Akan menggunakan jasa kembali Konsumen puas dengan produk
dan pelayanan yang berikan, pelanggan pasti akan mengunakan
kembali produk dan jasa

Faktor Faktor yang mempengaruhi Kepuasan


Menurut Wijayanti (2017) Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan adalah kebutuhan konsumen, harapan-harapan yang terselubung,
pelanggan khusus, sentuhan emosional, dan zona toleransi yang didasarkan
pada informasi dari beberapa sumber diantaranya:

  1. Dari mulut ke mulut (word of mouth) Pengaruh ini timbul dari segala
    sesuatu yang didengar oleh konsumen dari konsumen lainnya. Hal
    ini merupakan faktor potensial karena konsumen biasanya cenderung
    mempercayai konsumen lain yang pernah mencoba produk atau jasa
    yang diberikan perusahaan atau instansi. Kebutuhan Pribadi
    (Personal needs) Faktor ini bergantung pada kebutuhan pribadi
    masing-masing, konsumen biasanya tidak sama antar konsumen,
    sehingga harapan yang diperlukan oleh konsumen jadi tidak sama.
  2. Pengalaman masa lalu (Past experience) Keadaan yang diharapkan
    tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dari masing-masing
    konsumen, karena semakin tinggi pengalamannya maka akan sangat
    berpengaruh terhadap harapannya dalam mempengaruhi kebutuhan.
  3. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen.
  4. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen

Kepuasan Pelanggan


Memahami kebutuhan dan keinginan pasien adalah hal penting yang
mempengaruhi kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan aset yang
sangat berharga karena apabila pasien merasa puas mereka akan terus
melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya, tetapi jika pasien merasa
tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang
lain tentang pengalaman buruknya Untuk menciptakan kepuasan pasien,
rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk
mempertahankan pasiennya.
Menurut Kotler (2014) menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan kesannya
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan – harapannya.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2013), kepuasan pasien adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja atau hasil) yang
dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Pasien dapat mengalami salah
satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja di bawah harapan,
pasien akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai dengan harapan
pelanggan akan merasa puas dan apabila kinerja bisa melebihi harapan maka
pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira. Menurut
Tjiptono Fandy 2015) mendefinisikan kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap
pengalaman pelanggan suatu produk atau jasa Kotler dan Keller (2012)
mengatakan bahwa kepuasan merupakan tingkat keadaan perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja suatu produk yang dirasakan dengan
harapannya.

Prinsip-Prinsip Kualitas Pelayanan


Untuk menciptakan suatu gaya menejemen dan lingkungan yang kondusif
bagi perusahaan jasa untuk memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu
memenuhi enam prinsip utama yang berlaku baik bagi perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Keenam prinsip tersebut sangat bermanfaat dalam
membentuk dan mempertahankan lingkungan yang tepat untuk melaksanakan
penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan dengan didukung oleh
pemasok, karyawan, dan pelanggan. Enam prinsip pokok tersebut meliputi
(Wolkins, dkk dalam Tjiptono, 2004) :

  1. Kepemimpinan
    Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan komitmen
    manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin perusahaannya
    untuk meningkatkan kinerja kualitasnya. Tanpa adanya kepemimpinan
    dari manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas hanya
    berdampak kecil terhadap perusahaan.
  2. Pendidikan
    Semua personil perusahaan dari manajer puncak sampai karyawan
    operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-
    aspek yang perlu mendapat penekanan dalam pendidikan tersebut meliputi
    konsep kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknik implementasi
    strategi kualitas, dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi
    kualitas.
  3. Perencanaan
    Proses perencanaan strategik harus mencakup pengukuran dan tujuan
    kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
    mencapai visinya.
  4. Review
    Proses review merupakan satu-satumya alat yang paling efektif bagi
    manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini
    merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang
    konstan untuk mencapai tujuan kualitas.
  5. Komunikasi
    Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh proses
    komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan
    karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya, seperti
    pemasok, pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
  6. Penghargaan dan Pengakuan
    Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam
    implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang berprestasi baik
    perlu diberi penghargaan dan prestasinya tersebut diakui. Dengan
    demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, dan rasa
    kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat
    memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
    dilayani.

Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan


Pada awalnya, Parasuraman, et al. (1985) mengidentifikasi sepuluh
dimensi pokok, yakni reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan,
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kemampuan memahami pelanggan, dan bukti
fisik. Namun pada penelitian berikutnya, ketiga pakar ini menyempurnakan dan
merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan
kemampuan disatukan menjadi jaminan (assurance). Sedangkan akses,
komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati
(emphaty). Dengan demikian, terdapat lima dimensi utama yaitu:

  1. Kehandalan (Reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan
    pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
  2. Ketanggapan (Responsiveness), yaitu kemampuan perusahaan untuk
    menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan yang
    baik.
  3. Keyakinan/Jaminan (Assurance), yaitu pengetahuan, kesopanan petugas,
    serta sifatnya yang dapat dipercaya sehingga pelanggan terbatas dari risiko.
  4. Kepedulian/Empati (Emphaty), yaitu rasa peduli untuk memberikan
    perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan
    pelanggan, serta kemudahan untuk dihubungi.
  5. Penampilan/Bukti Fisik (Tangible), yaitu meliputi fasilitas fisik,
    perlengkapan karyawan, dan sarana komunikas

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan
pelanggan (Lovelock dalam Tjiptono, 2004). Dalam model SERVQUAL, kualitas
pelayanan didefinisikan sebagai penilaian atau sikap global berkenaan dengan
superioritas suatu jasa (Parasuraman, et al., 1985). Definisi ini didasarkan pada
tiga landasan konseptual utama: (1) kualitas jasa lebih sukar dievaluasi konsumen
dibandingkan kualitas barang; (2) persepsi terhadap kualitas jasa merupakan hasil
dari perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual jasa; (3)
evaluasi kualitas tidak hanya dilakukan atas hasil jasa, namun juga mencakup
evaluasi terhadap proses penyampaian jasa.
Majid (2009) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai suatu penyajian
produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan
dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan
oleh konsumen. Putro, dkk (2014) mengatakan bahwa kualitas pelayanan adalah
segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan
konsumen. Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan, hubungan,
kemampuan dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap dan sifat dalam
memberikan pelayanan untuk kepuasan konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Kotler (2002) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan
dalam kaitannya dengan kepuasan konsumen antara lain :

  1. Kualitas produk
    Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa
    produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas
    bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhannya. Kualitas
    produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk
    dari faktor eksternal adalah citra merek.
  2. Kualitas Pelayanan
    Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang akan baik
    atau yang sesuai dengan harapan.
  3. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan
    merek yang mahal.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
  5. Biaya
    Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
    membuang waktu untuk mendapatkan suatu jasa cenderung puas terhadap
    jasa tersebut.

Aspek-Aspek Kepuasan Pelanggan


Sureshchandar, Rajendran & Anantharaman (2002) mengatakan bahwa
terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Kelima dimensi tersebut adalah:

  1. Layanan inti jasa (Core service)
    Layanan inti dari jasa menggambarkan isi layanan yaitu fitur apa saja yang
    ditawarkan dalam layanan yang diberikan seperti gamabaran dan suatu
    objek. Gambaran apa saja yang ditawarkan oleh biro jasa pada layanan
    jasa yang diberikan oleh konsumen
  2. Elemen manusia dalam penyampaian jasa (Human element of service
    delivery)
    Pada dimensi ini merujuk kepada semua aspek (keandalan, ketanggapan,
    jaminan, empati, saat kebenaran, insiden kritis dan pemulihan) yang akan
    berpengaruh pada elemen manusia dalam penyampaian jasa.
  3. Elemen sistem dalam penyampaian jasa (systematizatioon of service
    delivery)
    Pada aspek ini merupakan proses, prosedur, sistem dan teknologi yang
    akan membuat layanan yang baik. Pelanggan selalu ingin dan
    mengharapkan proses pelayanan yang benar-benar standar, efisien, dan
    sederhana sehingga mereka bisa menerima layanan tanpa gangguan, hal-
    hal yang tidak diinginkan atau banyak pertanyaan yang diajukan oleh
    penyedia layanan.
  4. Bukti fisik (Tangible of service)
    Merupakan aspek nyata dari fasilitas layanan (peralatan, mesin,
    penampilan karyawan, dan lain-lain) atau lingkungan fisik.
  5. Tanggung jawab sosial (Social responsibility)
    Merupakan tanggung jawab sosial membantu sebuah organisasi untuk
    memimpin sebagai warga yang bertanggungjawab dalam mendorong
    perilaku etis dalam segala hal

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa Latin “satis” (artinya
cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau ‘membuat
sesuatu memadai’. Menurut Tjiptono (2000), bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau
diskonfirmasi, yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja
lainnya) dan kinerja aktual jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Wilkie (dalam Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
merupakan respon emosional terhadap evaluasi pengalaman mengkonsumsi
produk, toko atau jasa. Sedangkan Mowen & Minor (2002) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan keseluruhan sikap yang ditunjukkan pelanggan
atas jasa atau barang setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Menurut Kotler (2002), kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja (hasil) suatu jasa dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada di
bawah harapan, konsumen tidak akan puas. Jika kinerja memenuhi harapan,
pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelangga amat puas atau
senang. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan referensi yang baik
terhadap jasa kepada orang lain.

Pengukuran Tingkat Kepuasan


Pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan juga
menjadi hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Hal ini
dikarenakan langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan
bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan
kualitas pelanggan. Pada prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat diukur
dengan berbagai macam metode dan tehnik.
Menurut Kotler (1994:41-43) ada beberapa macam metode
pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Sistem keluhan dan saran, yaitu organisasi yang berpusat pelanggan
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk
    menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak
    saran, kartu komentar, customer hot lines, dan lain-lain.
  2. Ghost Shopping, yaitu salah satu cara untuk memperoleh gambaran
    mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa
    orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial,
    kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
    kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman
    mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
  3. Lost Customer analysis, yaitu perusahaan menghubungi para pelanggan
    yang telah berhenti atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi.
  4. Survei kepuasan pelanggan, yaitu salah satu konsep untuk penilaian
    kepuasan adalah konsep ServQual yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Berry dan Zeithaml. Konsep ini yang paling banyak
    digunakan oleh pelaku bisnis diseluruh dunia yang berkecimpung dalam
    pelayanan pelanggan. Menurut konsep ServQual Faktor yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yaitu
    Tanggible, Reability, Responsiveness, Assurance dan Empaty.
    Kelebihan dari konsep ini adalah karena didasarkan pada suatu riset
    yang sangat komprehensif, mudah dipahami dan mempunyai instrumen
    yang jelas untuk melakukan pengukuran

Definisi Pelayanan


Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak-pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak
berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu dan
pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pasien
(Kotler, 2011).
Menurut Algifari (2016) pelayanan adalah suatu bentuk layanan yang
diselenggarakan oleh penyedia layanan (produsen atau instansi
pemerintah) kepada pengguna layanan tersebut. Layanan dapat berupa
pelayanan yang ditawarkan. Pelayanan berhubungan dengan upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pengguna layanan serta ketepatan
dalam penyampaian untuk memenuhi harapan pengguna layanan.
Menurut Lukman (Rahadi,2010) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan
yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau
pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu
urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang
atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen.
Sebagai pelayanan kesehatan masyarakat umum, Rumah sakit
memiliki masalah utama yaitu mengenai pelayanan yang diberikan apakah
sudah sesuai harapan pasien atau tidak. Oleh karena itu, pihak Rumah
Sakit dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan pasien dengan
meningkatkan mutu pelayanannya

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien


Salah satu studi mengenai dimensi dari dari kualitas pelayanan adalah
hasil kajian dari Gronroos seorang pakar dari Swedia. Menurutnya ada 3
dimensi dari kualitas pelayanan. Pertama adalah technical quality, yaitu
yang berhubungn dengan outcome suatu pelayanan. Kedua adalah functional
quality yang lebih banyak berhubungan dengan proses delievery atau
bagaiman pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Ketiga adalah image
atau reputasi dari produsen yang menyediakan jasa.
Menurut Anderson (Rahadi, 2010) dengan pelayanan yang sama untuk
kasus yang sama bisa terjadi tingkat kepuasan yang dirasakan pasien akan
berbeda-beda. Hal ini tergantung dari latar belakang pasien itu sendiri,
karakteristik individu yang sudah ada sebelum timbulnya penyakit yang
disebut dengan predisposing factor. Faktor-faktor tersebut antara lain:
pangkat, tingkat ekonomi, kedudukan sosial, pendidikan, latar belakang
sosial budaya, sifat umum kesukuan, jenis kelamin, sikap mental dan
kepribadian seseorang.
Menurut Parasuraman terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi
kepuasan oleh pelayanan, yaitu pelayanan yang diharapkan (expected
service) dan pelayanan yang diterima oleh pengguna (perceived service) apabila pelayanan yang diterima atau yang dirasakan (perceived service)
sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan yang diberikan
di persepsikan baik dan memuaskan. Sebaliknya jika pelayanan yang
diterima lebih rendah daripada pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan
yang diberikan dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya
pelayanan tergantung kepada kemampuan penyelenggara pelayanan dalam
memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.
Menurut Parasuraman, Berry dan Zeithamlmembagi pelayanan yang
mempengaruhi kepuasan Pasien, yaitu:
a. Tangible yang meliputi penampilan dan perfomansi dari fasilitas-
fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material komunikasi
yang digunakan dalam proses penyampaian layanan.
b. Reliability meliputi kemampuan pihak penyedia jasa dalam
memberikan jasa atau pelayanan secara tepat dan akurat sehingga
konsumen dapat mempercayai dan mengandalkannya.
c. Responsivenees meliputi kemauan atau keinginan pihak penyedia jasa
untuk segera memberikan bantuan pelayanan yang dibutuhkan dengan
tanggap.
d. Assurance, yaitu pemahaman dan sikap sopan dari karyawan (contact
personnel) dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam memberikan
keyakinan kepada konsumen bahwa pihak penyedia jasa mampu
memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Dimensi assurance

Definisi Kepuasan


Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapat
Value dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari
produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Kalau
pengatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan
terjadi kalau pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Kalau value
bagi pelanggan adalah kenyamanan, maka kepuasan akan datang apabila
pelayanan yang diperoleh benar-benar nyaman. Kalau value dari pelanggan
adalah harga yang murah, maka pelanggan akan puas kepada produsen yang
memberikan harga yang paling kompetitif (Irawan, 2007:2).
Menurut Aritonang R dan Lerbin R (2005) Kepuasan pelanggan sebagai
hasil penilaian pelanggan terhadap apa yang diharapkannya dengan
membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Harapan itu lantas dibandingkan
dengan persepsinya terhadap kinerja yang diterimanya dengan
mengkonsumsi produk tersebut. Jika harapannya lebih tinggi dari kinerja
produk, ia akan merasa tidak puas. Sebaliknya, jika harapannya sama
dengan atau lebih rendah daripada kinerja produk ia akan merasa puas.
Menurut Minor (Aprilia, 2015) kepuasan konsumen adalah keseluruhan
sikap yang ditunjukan konsumen atas barang atau jasa setelah memperoleh
dan menggunakannya

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller dalam Tjiptono (2014:369) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran
kepuasan pelanggan, diantaranya:

  1. Sistem keluhan dan saran
    Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered)
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya
    untuk menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini
    dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan
    memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
    mengatasi masalah-masalah yang timbul.
  2. Pembeli bayangan (Ghost atau Mystery Shopping)
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
    berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
    melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan
    produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka
    dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost
    shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan.
  3. Analisis konsumen terakhir (Lost Customer Analysis)
    Perusahaan selayaknya menghubungi para pelanggan yang telah
    berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja
    yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting,
    peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan
    perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
  4. Survei kepuasan pelanggan
    Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan
    dengan penelitian survei, baik melalui pos, telepon, maupun
    wawancara langsung. Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
    umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan
    tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
    terhadap para pelanggannya

Faktor-faktor Kepuasan pelanggan


Menurut Irawan (2004:37) ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan :

  1. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan puas setelah membeli dan
    menggunakan produk tersebut dan ternyata kualitas produknya
    baik. Kualitas produk ini adalah dimensi global.
  2. Harga, yaitu untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah
    adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
    mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini
    relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga.
  3. Kualitas layanan, yaitu sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
    sistem, teknologi dan manusia. Kualitas layanan merupakan driver
    yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep kualitas
    layanan yang populer adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini,
    kualitas layanan diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability,
    responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible.
  4. Faktor perasaan, yaitu kepuasan pelanggan dapat timbul pada saat
    mengendarai mobil yang memiliki brand image yang baik. Rasa
    bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
    orang penting dan sebagainya adalah contoh – contoh emotional
    value yang mendasari kepuasan pelanggan.
  5. Kemudahan, yaitu pelanggan akan semakin puas apabila relatif
    mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau
    layanan

Definisi Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler (2014:150) kepuasan pelanggan ialah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Daryanto (2011:9) kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
dirasakan, dibandingkan dengan harapan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Lupiyoadi (2006:182), ada 5 (lima)
jenis dimensi dalam kualitas pelayanan (Service Quality), yaitu:

  1. Bukti fisik (Tangibles)
    Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
    eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
    sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
    keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari
    pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
    fasilitas fisik contoh: gedung, gudang, dan lain-lain, perlengkapan
    dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
    pegawainya.
  2. Keandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai
    dengan yang dijanjikan secara akurat dengan terpercaya. Kinerja
    harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
    waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
    kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
  3. Ketanggapan (Responsivenes)
    Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
    penyampaian informasi yang jelas.
  4. Jaminan dan kepastian (Assurance)
    Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para
    pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
    pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
    antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
    keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
    (courstesy).
  5. Empati (Emphaty)
    Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
    pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
    memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan
    diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
    pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
    memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Lovelock yang dikutip oleh Laksana (2008:88) kualitas
pelayanan adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik
maka perlu dibina hubungan yang erat antara perusahaan, dalam hal ini
adalah karyawan dengan pemakai jasa tersebut
Menurut Kotler (2005:153) kualitas layanan adalah model yang
menggambarkan kondisi pelanggan dalam membentuk harapan akan
layanan dari pengalaman masa lalu, promosi dari mulut ke mulut, dan
iklan dengan membandingkan pelayanan yang mereka harapkan dengan
apa yang mereka terima atau rasakan.
Tjiotono (2007:51) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Parasuraman dalam Dimyati, 2005:25) salah satu pendekatan
kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan riset pemasaran adalah
model SERVQUAL (Service Quality). SERVQUAL dibangun atas
adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas
layanan yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang
sesungguhnya diharapkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari
yang diharapkan maka layanan dapat berkualitas, dan sebaliknya.
Singkat kata, kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan
yang mereka terima.

Pengertian Pelayanan


Moenir (2010:26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi
melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.
Loina (2001:38) mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui
media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun
melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para
pemimpin pemerintahan serta publik lainnya yang berkepentingan.

Pengertian Kualitas


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Kualitas menurut Lupiyoadi
(2006:175) adalah perpaduan antara sifat dan karakteristik yang
menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Sementara Tjiptono (2008:67) mengatakan bahwa kualitas adalah
produk yang bebas cacat. Dengan kata lain produk sesuai dengan
standar (target, sasaran atau persyaratan yang bisa didefinisikan,
diobservasi, dan diukur). Kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi
pelanggan

Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Harga TerhadapKepuasan


Berdasarkan peneltian dari Freekley Stefly Maramis (2018:1666)
menyatakan bahwa kualitas produk, harga dan kualitas pelayanan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Sedangkan menurut Rina
Sukmawati (2018: 141) menyatakan bahwa Terdapat pengaruh positif dan
signifikan secara bersama-sama dari variabel kualitas produk, harga, dan kualitas
pelayanan terhadap kepuasan konsumen.

Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta


Berdasarkan teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa pada
hakikatnya kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena
dibutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi dengan dasar kualitas pelayanan prima, dan kerapkali juga dituntut
investasi besar pada serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk membahagiakan
pelanggan saat ini dan masa depan. Sedangkan teori dari Ali Hasan (2008: 66)
menyatakan bahwa surplus konsumen dengan konsep kepuasan pelanggan,
mempertimbangkan faktor harga dan kuantitas, kualitas pelayanan dan kemasan.
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa biasanya
perusahaan yang tingkat kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat
layanan pelanggan yang tinggi pula. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
diperlukan dukungan dari semua sumber daya organisasi, serta tanggung jawab
penuh pimpinan tingkat korporat. Karyawan seagai garis terdepan menjadi ujung
tombak perusahaan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan
berkewajiban memberikan pelayanan kepada pelanggan, yaitu memuaskan
pelanggan

Indikator Kepuasan Peserta


Menurut Ali Hasan (2008:70) menyatakan bahwa indikator yang sebagai
determinasi kepuasan pelanggan pada produk jasa (intangible product) yaitu:

  1. Serviciability, yaitu tingkat kemudahan dan kecepatan pelayanan
  2. Accessibility, yaitu letak yang mudah di akses
  3. Communication, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa konsumen
  4. Competence, tingkat keterampilan menyelesaikan masalah
  5. Courtesy, sikap sopan dan bersahabat dengan konsumen
  6. Reliability, kemampuan mewujudkan pelayanan sesuai promosi
  7. Security, keamanan, keterjaminan dan legalitas
  8. Tangibles, wujud fisik, gedung, peralatan-peralatan
  9. Understanding – customer, pemahaman kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
    Menurut Mowen dalam Fransiska Pramita (2010:30) menyatakan bahwa
    indikator atau dimensi kepuasan peserta adalah :
  10. Attributes related to product, atribut yang berhubungan dengan
    produk.
  11. Attributes related to service, atribut yang berhubungan dengan
    layanan.
  12. Attributes related to purchase, atribut yang berhubungan dengan
    penjualan.
    Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2015: 35) indikator yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah ekspektasi, diskonfirmasi (obyektif
    dan subyektif), perceived performance, dan sikap konsumen

Model Kepuasan Peserta


Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:

  1. Contrast theory
    Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
    dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
    sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
    kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
    akan tidak puas.
  2. Assimilation theory
    Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
    ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
    psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
    mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
    ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
    cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan.
  3. Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
    asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
    merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
    harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
    akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
    bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
    theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
    theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
    diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
    ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
    berlaku

Pengertian Kepuasan Peserta


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut Engel dalam Ali Hasan (2008: 56) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan suatu konsep evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Sedangkan menurut
Menurut Fandy Tjiptono dalam Rida farida (2016: 39) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan
harapan.

Indikator Harga


Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:

  1. Kesesuaian harga dengan manfaat produk
  2. Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
  3. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
    Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
    menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu:
  4. Keterjangkauan harga
  5. Perbandingan dengan merek lain
  6. Kesesuaian harga dengan kualitas

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga


Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:

  1. Kondisi perekonomian
    Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
    kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
    memengaruhi tingkat harga yang berlaku.
  2. Price elasticity
    Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
    yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
    penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
    maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
    harga, volume penjualan akan meningkat.
  3. Non price factor
    Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
    pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
    produk demi harga yang lebih rendah.
  4. Tujuan perusahaan
    Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
    akan dicapai oleh perusahaan.
  5. Faktor legal dan etis
    Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
    dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
    praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
    monopoli atau oligopoli.
  6. Bauran pemasaran
    Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
    bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi.
  7. Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
    sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
    mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya.
  8. Ukuran bisnis
    Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
    perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing.
  9. Persaingan
    Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
    adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
    pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru.
  10. Sifat pasar
    Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
    dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
    monopolistik, oligopoli, atau monopoli

Pengertian Harga


Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa

Indikator Kualitas Produk


Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:

  1. Keseluruhan Produk,
  2. Keandalan,
  3. Ketepatan,
  4. Kemudahan Pengoperasian,
  5. Atribut Bernilai Lainnya

Konsep Produk

Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:

  1. Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
    produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
    konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
    jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
    dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
    memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
    pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
    critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
    Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
    lainnya.
  3. Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
    lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
    purna beli

Pengertian Kualitas Produk


Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan

Indikator Kualitas Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:

  1. Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
    diandalkan dan akurat.
  2. Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
    memberikan layanan yang cepat.
  3. Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
    mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin.
  4. Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
  5. Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
    Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
    100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah:
  6. Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
    yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
    dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
    (on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
    janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan.
  7. Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
    karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
    konsumen.
  8. Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
    kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
    menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
    merasa terbebas dari bahaya dan risiko.
  9. Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
    memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
    perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi.
  10. Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
    saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
    jasa

Model Kualitas Jasa


Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
    peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
    manajemen mengenai harapan pengguna jasa.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
    spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
    memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
    mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
    adanya penyusunan tujuan.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
    delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
    berikut:
    a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
    tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
    pelanggan
    b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
    mereka tidak memuaskan semua pihak.
    c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
    d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
    e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
    penilaian dan sistem imbalan.
    f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
    pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
    menentukan cara pelayanan.
    g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
    manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
    secara bersama-sama dan terpadu.
  4. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
    pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
    buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran.
  5. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
    perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
    pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
    dan dampak positif.

Lima Perspektif Kualitas Pelayanan


Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.

  1. Transcendental Approach
    Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
    sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
    dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
    menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
    pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
    Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa.
  2. Product based approach
    Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
    komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
    diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
    kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
    dan berat yang berbeda-beda.
  3. User based approach
    Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
    orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
    paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
    subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
    pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
    berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
    dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
    makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
    masing-masing.
  4. Manufacturing based approach
    Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktik-
    praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
    sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
    requirement).
  5. Value based approach
    Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
    (price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
    kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
    terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
    persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
    paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
    ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
    berkualitas.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya

Indikator Pada Kualitas Pelayanan


Sebelumnya telah dijelaskan mengenai dimensi – dimensi kualitas
pelayanan. Diantaranya adalah Reliability, Responsiveness, Assurance,
Empathy, Tangible. Tiap dimensi ini memiliki indikator – indikator
tersendiri. Yang dikenal dengan indikator kualitas pelayanan, adalah
sebagai berikut (Ratih, 2020):

  1. Indikator untuk dimensi reliability, diantaranya:
    a) Kecermatan dalam melayani pelanggan.
    b) Standar pelayanan yang jelas.
    c) Kemampuan perusahaan dalam menggunakan alat bantu dalam proses
    pelayanan.
  2. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi responsiveness, terdiri dari:
    a) Merespon dengan baik pelanggan yang ingin mendapatkan pelayanan.
    b) Perusahaan melakukan pelayanan dengan cepat, tepat, dan cermat.
    c) Perusahaan melayani dalam waktu yang tepat.
    d) Semua keluhan pelanggan direspon oleh perusahaan.
  3. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi assurance, diantaranya:
    a) Perusahaan memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan
    pelanggan.
    b) Perusahaan memberikan jaminan biaya yang sesuai dengan
    pelayanan.
  4. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi empathy, diantaranya:
    a) Pelaku usaha melayani dengan sopan santun dan ramah – tamah.
    b) Menghargai setiap pelanggan.
    c) Mendahulukan kepentingan pelanggan.
  5. Indikator kualitas pelayanan untuk dimensi tangibles, diantara:
    a) Penggunaan alat bantu dalam pelayanan.
    b) Penampilan dalam melayani pelanggan.
    c) Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Lima dimensi utama yang menentukan tingkat kepuasan konsumen
serta kualitas jasa suatu perusahaan (Ratih, 2020):

  1. Reliability (keandalan) adalah kemampuan perusahaan dalam
    memberikan layanan bagi pelanggan. Bisa dikatakan, reliability adalah
    kebalikan dari tangible, yang mana reliability bersifat abstrak. Karena
    reliability berhubungan langsung dengan harapan konsumen.
  2. Responsiveness (daya tanggap) adalah dimensi yang berkaitan dengan
    ketanggapan. Yaitu bagaimana perusahaan dapat memberikan layanan
    yang responsif terhadap semua keinginan dan kebutuhan pelanggan.
    Biasanya, dimensi ini diikuti dengan penyampaian yang runtut namun
    mudah dimengerti.
  3. Assurance (kepastian), yaitu kepastian yang didapatkan oleh pelanggan
    dari perilaku pelaku bisnis. Contohnya adalah komunikasi yang baik,
    pengetahuan yang luas, hingga sikap sopan dan santun kepada
    pelanggan. Dengan adanya assurance ini, maka kepercayaan pelanggan
    akan meningkat. Karena merasa pelaku bisnis profesional dan
    memahami product knowledge dengan baik.
  4. Empathy (empati) di mana empathy berkaitan dengan kepuasan
    pelanggan yang erat kaitannya dengan perhatian yang tulus dan dekat
    kepada setiap pelanggan. Empathy akan membantu perusahaan untuk
    mengetahui kebutuhan serta keinginan dari pelanggan dengan spesifik.
  5. Tangibles (bukti fisik) artinya adalah kemampuan perusahaan dalam
    memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Kemampuan ini merupakan
    hal yang konkret, artinya dapat dilihat dan dirasakan secara langsung
    oleh pelanggan

Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan berarti tingkat layanan yang terkait dengan
harapan dan kebutuhan pelanggan. Yang mana ini berarti bahwa perusahaan
dapat dikatakan mampu menyediakan produk baik barang ataupun jasa, jika
sesuai dengan keinginan pelanggan. Jika pelanggan merasa puas dengan
produk serta pelayanan perusahaan, berarti kualitas pelayanan dikatakan
baik. Kualitas pelayanan dapat dikatakan baik apabila sesuai dengan yang
diharapkan oleh konsumen. Jika sesuai dengan harapan konsumen, berarti
dapat dikategorikan memuaskan. Sementara jika melebihi harapan
konsumen, maka dapat dikatakan sangat memuaskan (Ratih, 2020)

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Setyo (2017:758) indikator kepuasan pelanggan yaitu:

  1. Terpenuhinya harapan pelanggan;
  2. Selalu mengunakan produk;
  3. Merekomendasi ke orang lain;
  4. Kualitas layanan;
  5. Loyalitas;
  6. Reputasi yang baik;
  7. Lokasi