Jika kinerja personel diberi penghargaan, maka kemungkinan kinerja
diberi penghargaan akan tinggi, sehingga hal ini menyebabkan tingginya
usaha personel untuk menghasilkan kinerja. Jika kinerja personel tidak
diberi penghargaan, maka kemungkinan kinerja diberi penghargaan akan
rendah, sehingga hal ini menyebabkan rendahnya usaha personel untuk
menghasilkan kinerja.
Sawir (2001: 1) mengemukakan bahwa analisis kinerja keuanga
adalah suatu aktivitas atau kegiatan untuk mengetahui kondisi keuangan
perusahaan serta mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk
berkembang, membayar deviden dan menghindari kebangkrutan.
Pengertian kinerja menurut Mulyadi (2007: 337) adalah : Kinerja
adalah keberhasilan personel, tim, atau unit organisasi dalam
mewujudkan sasaran strategik yang telah ditetapkan sebelumnya dengan
perilaku yang diharapkan.
Keberhasilan pencapaian strategik perlu diukur. Itulah sebabnya
sasaran strategic yang menjadi basis pengukuran kinerja perlu ditentukan
ukurannya, dan ditentukan inisiatif strategic untuk mewujudkan sasaran
tersebut. Sasaran strategic beserta ukurannya kemudian digunakan untuk
menentukan target yang akan dijadikan basis penilaian kinerja, untuk
menentukan penghargaan yang akan diberikan kepada personel, tim, atau
unit organisasi.
Pengertian penilaian kinerja menurut Mulyadi (2007: 419) adalah :
penilaian kinerja sebagai penentu secara periodik efektivitas operasional
suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran,
standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Indikator Kepuasan Konsumen
Menurut Lupiyoadi ada lima indikator utama dalam kaitannya dengan
kepuasan pelanggan yaitu: (Wahyuni & Murtani, 2020). 1. Kualitas produk,
Pelanggan akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka menunjukkan
bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
- Kualitas pelayanan
Pelanggan akan merasa puas apabila mendapatkan pelayanan yang baik atau
yang sesuai dengan harapan. - Emosional
Pelanggan akan merasa bangga dan mendapat keyakinan bahwa orang lain
akan kagum bila seseorang menggunakan produk yang bermerek dan
cenderung mempunyai kepuasan yang lebih tinggi. Kepuasan yang diperoleh
bukan karena kualitas dari produk tetapi nilai sosial yang membuat pelanggan
menjadi puas dengan merek tertentu. - Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang
relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggannya - Biaya
Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
terhadap produk atau jasa tersebut.
Tahapan Kepuasan Konsumen
Wilkie dikutip oleh Kuncoro, membagi kepuasan pelanggan ke dalam lima
tahapan yaitu: (Dharasta, 2019)
- Expectations (Pengharapan).
Sebelum melakukan pembelian terhadap suatu produk atau jasa,
pelanggan telah memiliki ekspektasi bahwa jika nanti dia membeli produk
atau jasa ini maka dia mengharapkan akan menerima suatu tingkatan nilai
yang didefinisikan oleh mahasiswa itu sendiri. Selanjutnya adalah kegiatan
pengambilan keputusan membelian. - Performance (Kinerja).
Setelah mahasiswa melakukan transaksi pembelian maka kemudian
mahasiswa mengalami suatu situasi atau kondisi yang disebabkan oleh
kinerja dari produk atau jasa yang telah dibelinya - Comparison (Membandingkan).
Tahap ini pelanggan mulai membandingkan antara harapan yang dia
inginkan sebelum membeli produk atau jasa tersebut dengan perasaan atau
pengalaman yang diterima dari kinerja produk atau jasa tersebut. - Confirmation/Disconfirmation (Konfirmasi/Diskonfirmasi).
Tahap ini pelanggan memperoleh suatu hasil dari perbandingan antara
harapan dan kinerja produk atau jasa yang dibelinya. Apabila kinerja produk
atau jasa tersebut sama dengan yang diharapkan, maka pelanggan mengalami
confirmation of expectations. Sebaliknya jika kinerja produk atau jasa
tersebut lebih atau kurang dari yang diharapkan, maka konsumen mengalami
disconfirmation of expectations. Disconfirmation of expectations itu sendiri
terbagi dua yaitu positive dan negative disconfirmation of expectations. 5. Discrepancy (Ketidaksesuaian).
Tahap ini konsumen akan mulai mengalami ketidakpuasan karena kinerja
dari produk atau jasa tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal
ini akan mendorong pada pengambilan keputusan untuk berpindah pada
produk atau jasa kompetitor.
Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Travel kepuasan konsumen diciptakan
melalui kualitas, pelayanan konsumen dan nilai. Berikut akan diuraikan satu-per
satu: (Sutapa, 2019) - Kualitas
Kualitas mempunyai hubungan yang erat dengan pelanggan. Kualitas
akan mendorong konsumen untuk menjalin hubungan yang erat dengan
perusahaan. Dalam jangka panjang, ikatan ini memungkinkan perusahaan
untuk memahami harapan dan kebutuhan konsumen. Kepuasan pelanggan
pada akhirnya akan menciptakan loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang
akan memberikan kualitas yang memuaskan mereka. - Pelayanan konsumen
Pelayanan konsumen tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan dan
keluhan konsumen mengenai suatu produk atau jasa yang tidak memuaskan
mereka, namun lebih dari pemecahan yang timbul setelah pembelian.
Menurut Kotler hubungan dengan konsumen dapat dibedakan menjadi
lima tingkat, yaitu: (Kotler & Kevin lane keller, 2017) - Pemasaran Dasar (basic marketing). Tenaga pemasar melakukan
penjaulan produk kepada nasabah tetapi tidak menghubungi pelanggan
lagi. - Pemasaran Bertanggung Jawab (accountable marketing). Tenaga
pemasar menghubungi pelanggan segera setelah penjualan untuk
menanyakan apakah produk memenuhi harapan pelanggan. - Pemasaran Reaktif (reactive marketing). Tenaga pemasar menjual
produk dan meminta pelanggan menghubungi bila pelanggan
mempunyai pertanyaan atau keluhan. - Pemasaran Proaktif (proactive marketing). Tenaga pemasar
menghubungi pelanggan dari waktu ke waktu dengan saran untuk
peningkatan penggunaan produk atau produk baru yang berguna. - Pemasaran Kemitraan (partnership marketing). Perusahaan terus
bekerjasama dengan pelanggan untuk mencapai penghematan bagi
pelanggan atau membantu pelanggan dengan baik. - Nilai
Nilai menurut pelanggan adalah selisih antara evaluasi calon pelanggan
atas semua manfaat serta semua biaya tawaran tertentu dan alternatif-alternatif
lain yang dipikirkan. Dengan demikian, nilai yang dipikirkan pelanggan
didasarkan pada perbedaan antara apa yang didapatkan pelanggan dan apa yang
diberikannya untuk berbagai kemungkinan pilihan
Kepuasan Konsumen
Menurut Oliver kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakanya dengan harapan, Harapan
konsumen dapat didasari oleh pengalaman masa lampau baik yang dirasakan
secara langsung atau pun dari komentar orang lain. Menurut Kotler kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap (kinerja atau hasil) suatu
produk dan harapan-harapannya (Zikri & Iksan Harahap, 2022). Menurut Tjiptono (2017), kepuasan konsumen adalah evaluasi purna beli,
dimana persepsi terhadap kinerja alternative produk atau jasa yang dipilih
memenuhi atau melebihi harapan sebelum pembelian. Menurut Daryanto dan
Setyobudi, menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari
konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana harapan dan
kebutuhan konsumen yang menggunakan nya terpenuhi (Daryanto, 2014). Menurut Kotler & Amstrong metode yang dipergunakan dalam mengukur
kepuasan konsumen dan pelanggan, antara lain: (Kotler & Amstrong, 2017). 1. Complaint and suggestion system (sistem keluhan dan saran). Saat ini banyak
perusahaan–perusahaan pemberi jasa baik yang berskala kecil maupun yang
besar membuka pusat layanan baik berupa kotak saran dan call centreyang
dijadikan wadah untuk menyampaikanpesan,saran,keluhan serta kritik dalam
pelayanan yang telah diterima oleh nasabah.
- Customer satisfaction surveys (survey kepuasan pelanggan). Welcome call
adalah salah satu cara perusahaan penyedia jasa untuk melakukan survey
secara langsung kepada nasabah atas pelayanan yang diberikan. Welcamo call
dilakukan secara random kepada setiap nasabah baik melalui telp,email,
ataupun sms. - Ghost shopping (pembeli bayangan). Atau juga lebih dikenal dengan istilah
mistery shopper adalah pihak ke-3 yang dipercaya oleh perusahaan, biasanya
dilakukan oleh Kantor pusat kepada kantor-kantor wilayah dan supervisinya
untuk mengecek apakah pelayanan yang diberikan oleh penyedia layanan
sudah sesuai dengan standar layanan atau tidak. - Lost customer analiysis (analisa pelanggan yang lari). Mencari konsumen
baru jauh lebih mudah dibandingkan dengan mempertahankan konsumen
yang telah ada, kalimat ini bukan hanya menjadi kalimat biasa di saat
konsumen yang telah kita miliki berpindah ke perusahaan kompetitor. Segala
usaha akan dilakukan oleh para penyedia jasa untuk kembali menjemput
konsumen yang telah pergi tersebut. Hal ini dilakukan dengan cara
pendekatan secara emosinal, baik itu berupa kunjung secara langsung,
teleponp, email,whatshaap. Mendengarkan apa yang menjadi penyebab
perginya, layanan seperti apa yang konsumen harapankan, mendengarkan
komplain atas pelayanan yang selama ini telah perusahan kita berikan tentu
saja akan menjadi tolak ukur para penyedia jasa untuk memperbaiki
kinerjanya sesuai yang konsumen harapkan.
Indikator Kualitas Tenaga Kerja
Menurut Rahardjo, indikator dari kualitas sumber daya manusia atau
kualitas tenaga kerja adalah sebagai berikut; (Rahardjo, 2019). 1. Kualitas Intelektual (Pengetahuan dan Keterampilan) meliputi,
a) Memiliki pengetahuan dan keterampilan dibidang ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sesuai dengan tuntunan industrialisasi.
b) Memiliki pengetahuan bahasa, meliputi bahasa nasional, bahasa daerah
dan sekurang-kurangnya satu bahasa asing.
- Pendidikan
a) Memiliki kemampuan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
b) Memiliki tingkat ragam dan kualitas pendidikan serta keterampilan yang
relevan dengan memperhatikan dinamika lapangan kerja baik yang di
tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Indikator Kualitas Sumber Daya Manusia menurut (Notoatmodjo, 2012) yaitu; - Pendidikan
- Pelatihan
Adapun Indikator Kualitas Sumber Daya Manusia menurut (Hutapea & Thoha,
2008) yaitu; - Memahami bidangnya masing-masing
- Pengetahuan
- Kemampuan
- Semangat kerja
- Kemampuan perencanaan/pengorganisasian
Kualitas Tenaga Kerja
Kualitas tenaga kerja mencakup keahlian atau kemampuan yang dimiliki
sumber daya manusia dalam melakukan pekerjannya. Kualitas juga mencakup
pendidikan formal, bagaimana sumber daya manusa tersebut bersikap serta
berperilaku dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jika ada orang yang berkata
bahwa kualitas atau mutu sumber daya manusia suatu bangsa itu tergantung pada
kualitas atau mutu ketaqwaan, kesehatan, kekuatan fisik, pendidikan, serta
kecakapan penduduknya hal itu menunjukkan adanya kebenaran.
Permintaan sumber daya manusia atau tenaga kerja berkaitan dengan
jumlah SDM yang dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi tertentu. Hal tersebut
karena jumlah sumber daya manusia yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan
oleh suatu usaha akan memberikan dampak yang negatif berupa kurangnya efisien
produksi pada perusahaan tersebut.
Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam mewujudkan
program-program Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan
pembangunan berkelanjutan diantaranya mempromosikan pertumbuhan ekonomi
berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk
semua. Meskipun terkena dampak panjang krisis ekonomi pada 2008/2009, dalam
25 tahun terakhir ini jumlah pekerja yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah
berkurang secara dramatis.
Efektivitas
Penilaian terhadap keberhasilan suatu organisasi dapat diukur melalui
pengukuran dengan melihat sejauh mana organisasi tersebut telah mencapai
tujuan yang sebelumnya sudah ditetapkan. Konsep efektivitas banyak
dikemukakan oleh para ahli organisasi yang memiliki pendapat berbeda-beda
dikarenakan kerangka acuan yang digunakan oleh para ahli berbeda-beda.
Pengertian efektivitas menurut Siagian adalah pemanfaatan sumber daya, sarana
dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya
untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya.
Efektivitas menunjukkan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang
telah ditetapkan. (Parasuraman, 2014)
Sementara, The Liang Gie dalam Muhyadi (2016), menyebutkan
efektivitas adalah suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat yang dikehendaki
kalau seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud tertentu dan
menghendakinya, maka orang itu dikatakan efektif bila menimbulkan atau
mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendakinya (Muhyadi, 2016). (Taliziduhu Ndraha, 2012) dalam bukunya Teori Budaya Organisasi, khusus
mengenai efektivitas pemerintahan mengemukakan efektivitas didefinisikan
secara abstrak sebagai tingkatan pencapaian tujuan, diukur dengan rumus hasil
dibagi dengan (per) tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak
itu dapat dideduksi sampai menjadi konkrit, yaitu sasaran (strategi). Sasaran
adalah tujuan yang terukur, konsep hasil relatif, bergantung pada pertanyaan, pada
mata rantai mana dalam proses dan siklus pemerintahan, hasil didefinisikan.
Handayaningrat menjelaskan efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya
sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas kerja dalam
suatu organisasi ditentukan oleh desain organisasi yang mampu mempertemukan
kepentingan individual dan organisasi serta strategi organisasi (Handayaningrat, 2014). Supriyono (2000) juga mendefinisikan efektivitas merupakan hubungan
antara keluaran suatu pusat tanggung jawab dengan sasaran yang harus dicapai,
semakin besar konstribusi dari keluaran yang dihasilkan terhadap nilai
pencapaian sasaran tersebut, maka dapat dikatakan efektif pula unit tersebut.
Efektivitas juga disebutkan upaya melakukan hal yang benar, sedangkan efisiensi
adalah melakukan hal secara benar, atau efektivitas adalah sejauh mana kita
mencapai sasaran dan efisiensi adalah bagaimana kita mencampur segala sumber
daya secara cermat (Atmosoeprapto, 2002). Argris dalam Tangkilisan menyatakan efektivitas organisasi adalah
keseimbangan atau pendekatan secara optimal pada pencapaian tujuan,
kemampuan, dan pemanfaatan tenaga manusia. Sedangkan Bastian dalam
Tangkilisan menyatakan bahwa efektivitas adalah hubungan antara output dan
tujuan, dimana efektivitas diukur berdasarkan seberapa jauh tingkat output,
kebijakan dan prosedur dari organisasi mencapai tujuan yang telah ditetap
(Tangkilisan, 2005). Jika disimpulkan dari beberapa pengertian mengenai teori
efektivitas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa efektivitas merupakan ukuran
terhadap sejauh mana pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan suatu organisasi.
Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Parasuraman definisi dari kualitas layanan adalah alat pembanding
antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan yang mereka terima
(Parasuraman, 2014). Menurut Lewis dan Booms kualitas jasa sebagai ukuran
seberapa baik tingkat layanan yang diberikan sesuai dengan ekpektasi pelanggan
(Tjiptono, 2016). Menurut Zeithaml, Berry dan Parasuraman dalam Travel (2019)
ada lima dimensi kualitas pelayanan jasa, hal ini juga sejalan dengan pendapat
Kotler dalam Tjiptono (2016) yaitu;
- Wujud Fisik (Tangible)
Wujud fisik (tangible) adalah dimensi yang berkenaan dengan daya tarik
fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta
penampilan karyawan. Sedangkan Kotler mendefinisikan wujud fisik
(tangible) sebagai kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
eksistensinya kepada pihak luar. Penampilan karyawan dan tampilan fisik
perusahaan termasuk fasilitas-fasilitas yang ada di perusahaan meliputi
perangkat kerja yang baik, tempat duduk, keadaan ruangan yang nyaman,
fasilitas umum seperti mushala, toilet dan area parkir adalah bukti nyata dari
pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. (Kotler & Keller, 2016) - Kehandalan (Reliability)
Kehandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan apa yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
Kinerja harus sesuai dengan harapan konsumen yang berarti ketepatan waktu,
pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang
simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. Pemenuhan janji dalam pelayanan
akan mencerminkan kredibilitas perusahaan. Kehandalan adalah seringkali
dijadikan pelanggan sebagai tolak ukur paling penting di berbagai industri
jasa. - Daya Tanggap (Responsiveness)
Daya tanggap (responsiveness) dapat dikatakan daya tanggap terletak pada
kecakapan, kemampuan para pelaku pemberi jasa dalam memberikan
pelayanan kepada pelanggan untuk merespon secara cepat dan tepat apa yang
menjadi kebutuhan pelangan saat itu. - Jaminan (Asurance)
Keyakinan (assurance) adalah jaminan kepada konsumen mencakup
kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh para
pemberi jasa, bebas dari bahaya atau resiko keragu–raguan, perilaku para
karyawan diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan dan perusahaan
diharapkan dapat menumbuhkan rasa aman bagi pelanggannya. Sedangkan
Kotler mendefinisikan keyakinan (assurance) adalah pengetahuan terhadap
produk secara tepat, kesopan santunan karyawan dalam memberi pelayanan,
ketrampilan dalam memberi informasi, kemampuan dalam memberi
keamanan dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan konsumen
terhadap perusahaan. (Kotler & Kevin lane keller, 2017). 5. Empati
Empati (empathy) yaitu memberikan sikap yang tulus dan bersifat
individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan
berupaya memahami keinginan konsumen. Perusahaan diharapkan memiliki
pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan
pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman
bagi pelanggan.
Setiap pelanggan mempunyai harapan tersendiri saat memutuskan untuk
memilih tempatpenyedia jasa yang dibutuhkan. Menurut Kotler harapan
pelanggan dibentuk berdasarkan pengalaman konsumen berbelanjaan pada masa
lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji-janji perusahaan
tersebut dan para pesaing (Kotler & Kevin lane keller, 2017). Menurut Zeithalm
(2003) mengatakan bahwa harapan pelanggan terhadap jasa ada dua tingkat, yaitu;
(Parasuraman, 2014) - Pelayanan yang diinginkan (Desired Service)
Merupakan tingkat pelayanan yang dinginkan pelanggan terdiri dari
campuran tentang apa yang pelanggan yakini dan seharusnya diterima. - Pelayanan yang memadai (Adequote Service)
Merupakan tingkatan pelayanan yang paling rendah yang akan diterima
pelanggan. Pelayanan yang memadai merupakan pelayanan minimum yang
diberikan perusahaan dan masih diharapkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan dasar konsumen.
Implikasi baik buruknya kualitas suatu layanan tergantung kepada
kemampuan penyedia layanan memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten.
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry mengembangkan suatu alat ukur kualitas
pelayanan yang disebut SERVQUAL (Service Quality) yang dapat digunakan
untuk memahami harapan persepsi konsumen terhadap kualitas pelayanan dan
membagi kualitas pelayanan dengan sepuluh dimensi sebagai berikut:
(Parasuraman, 2014) - Fasilitas fisik (Tangibel) atau yang dirasakan yaitu bentuk fisik dari jasa bisa
berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, respresentasi fisik dari
jasa (misalnya kartu kredit plastik), meliputi hal-hal berikut; - Kenyamanan ruangan (udara sejuk, tempat duduk).
- Ketersediaan fasilitas penunjang (komputer dan lain-lain).
- Ketersediaan tempat parkir.
- Penampilan pegawai.
- Kebersihan toilet.
- Reliabilitas (Reliability) atau keterandalan mencakup dua hal pokok, yaitu
konsistensi kerja (performance) dan kemampuan untuk dipercaya
(dependability). Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat
sejak awal (right the first times). Selain itu juga berarti bahwa perusahaan
yang bersangkutan memenuhi janji, misalnya menyampaikan jasanya sesuai
dengan jadwal yang disepakati, meliputi: - Ketepatan dalam memenuhi janji yang diberikan.
- Keandalan proses pelayanan.
- Responsivitas (Responsiveness) atau ketanggapan yaitu kemauan atau
kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan,
meliputi hal-hal berikut; - Ketanggapan petugas dalam menangani masalah.
- Ketersediaan petugas menjawab pertanyaan konsumen.
- Ketersediaan petugas keamanan (satpam) membantu konsumen.
- Kompetensi (Competency) atau kemampuan artinya setiap orang dalam suatu
perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar
dapat memberikan jasa tertentu, meliputi hal-hal berikut; - Pengetahuan pegawai tentang produk/jasa yang ditawarkan.
- Keterampilan petugas dalam melayani konsumen.
- Kecepatan pelayanan.
- Keragaman produk/jasa yang disediakan/ditawarkan perusahaan
- Keakuratan data/informasi yang diberikan konsumen.
- Tata krama (Courtesy) atau kesopanan meliputi sikap sopan santun, respek,
perhatian, dan keramahan yang dimiliki para contact person (seperti
resepsionis, operator telepon, dan lain-lain) yang meliputi hal-hal sebagai
berikut; - Keramahan dan sopan santun pegawai dalam melayani konsumen.
- Keramahan petugas satpam dalam menjaga keamanan perusahaan.
- Kesopanan penampilan pegawai (pakaian dan sikap).
- Komunikasi (Communication) artinya memberikan informasi kedalam
pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami, serta selalu
mendengarkan saran dan keluhan konsumen yang meliputi; - Kejelasan tentang produk dan jasa layanan yang ditawarkan.
- Informasi yang cepat dan tepat tentang perusahaan tarif dan ketentuan.
- Penyampaian informasi melalui iklan dan advertansi.
- Kredibilitas (Credibility) atau sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas
mencakup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakteristik pribadi
contact personnal, dan interaksi dengan pelanggan meliputi tiga hal sebagai
berikut; - Status kepemilikan perusahaan.
- Kinerja manajemen perusahaan.
- Reputasi manajemen perusahaan.
- Keamanan (Security) yaitu aman dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.
Aspek ini meliputi tiga hal sebagai berikut; - Keamanan fasilitas fisik perusahaan.
- Keamanan dalam melakukan bisnis dengan perusahaan.
- Keamanan dari tindak kejahatan.
- Akses (Access), yaitu kemudahan untuk dihubungi dan ditemui. Hal ini
berarti lokasi fasilitas yang mudah dijangkau, waktu menunggu yang tidak
lama, saluran komunikasi perusahaan yang mudah dihubungi, dan lain-lain
meliputi hal-hal sebagai berikut; - Mudahnya akses ke perusahaan.
- Kemudahan menemui petugas/pejabat perusahaan yang di perlukan.
- Tersedianya sarana telekomunikasi (telepon, facsimile dan e-mail).
- Perhatian pada pelanggan (Understanding the Customer), yaitu usaha untuk
memahami kebutuhan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: - Kemampuan untuk pegawai dalam memberikan saran dan pendapat sesuai
dengan kondisi konsumen/pelanggan. - Pemahaman terhadap kebutuhan konsumen/pelanggan.
- Perhatian terhadap konsumen inti (pelanggan utama).
Pelayanan
Menurut Kotler Pelayanan adalah setiap tindakan atau kinerja yang
ditawarkan oleh pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler & Keller, 2016). Sedangkan menurut
Atep Adya Barata Pelayanan adalah daya tarik yang besar bagi para pelanggan
sehingga korporat bisnis seringkali menggunakannnya sebagai alat untuk menarik
minat pelanggan (Barata, 2015b). Menurut Kotler bahwa jasa atau layanan
memiliki empat karakteristik utama yaitu; (Kotler & Keller, 2016). 1. Intangibility (tidak berwujud)
Jasa atau layanan berbeda secara signifikan dengan barang fisik. Bila
barang merupakan suatu objek, benda, material yang bisa dilihat, disentuh
dan dirasa dengan pancaindra, maka jasa atau layanan justru merupakan suatu
perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja (performance) atau usaha
yang sifatnya abstrak. Bila barang dapat dimiliki, maka jasa/layanan
cenderung hanya dapat dikonsumsi tetapi tidak dapat dimiliki (non- ownership). Jasa juga bersifat intangible, artinya jasa tidak dapat dilihat,
dirasa, dicium, didengar atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Seorang
konsumen jasa tidak dapat menilai hasil dari sebuah jasa sebelum ia
mengalami atau mengkonsumsinya sendiri.
Perishability (tidak tahan lama)
Perishability berarti bahwa jasa atau layanan adalah komoditas yang
tidak tahan lama, tidak dapat disimpan untuk pemakaian ulang di waktu yang
akan datang, dijual kembali, atau dikembalikan. Permintaan jasa juga bersifat
fluktuasi dan berubah, dampaknya perusahaan jasa seringkali mengalami
masalah sulit. Oleh karena itu perusahaan jasa merancang strategi agar lebih
baik dalam menjalankan usahanya dengan menyesuaikan permintaan dan
penawaran.
Inseparability (tidak terpisahkan)
Barang biasanya diproduksi terlebih dahulu, kemudian dijual, baru
dikonsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian
diproduksi dan dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. Interaksi
antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran
jasa layanan bersangkutan. Keduanya mempengaruhi hasil (outcome) dari
jasa/layanan bersangkutan. Hubungan antara penyedia jasa dan pelanggan ini,
efektivitas staf layanan merupakan unsur kritis. Implikasinya, sukses tidaknya
jasa atau layanan bersangkutan ditunjang oleh kemampuan organisasi dalam
melakukan proses rekrutmen dan seleksi, penilaian kinerja, sistem
kompensansi, pelatihan, dan pengembangan karyawan secara efektif. 3. Variability
Layanan sangat bervariasi. Kualitas tergantung pada siapa yang
menyediakan mereka dan kapan dan dimana kualitas layanan disediakan. Ada
beberapa penyebab variabilitas layanan di mana jasa diproduksi dan
dikonsumsi secara bersama-sama sehingga membatasi kontrol kualitas.
Permintaan yang tidak tetap membuat sulit untuk memberikan produk yang
konsisten dan tetap selama permintaan tersebut berada dipuncak. Tingginya
tingkat kontak antara penyedia layanan dan tamu, berarti bahwa konsistensi
produk tergantung pada kemampuan penyedia layanan dan kinerja pada saat
yang sama. Seorang tamu dapat menerima pelayanan yang sangat baik selama
satu hari dan mendapat pelayanan dari orang yang sama keesokan harinya.
Manfaat Kualitas
Menurut Edvarsdsson dalam buku (Tjiptono, 2016), produktivitas biasanya
selalu dikaitkan dengan kualitas dan profitabilitas. Meskipun demikian ketiga
konsep tersebut memiliki penekanan yang berbeda-beda:
- Produktivitas menekankan pemanfaatan (utilisasi) sumber daya, yang
seringkali diikuti dengan penekanan biaya dan rasionalisasi modal. Fokus
utamanya terletak pada produksi/operasi. - Kualitas lebih menekankan aspek kepuasan pelanggan dan pendapatan. Fokus
utamanya adalah customer utility. 3. Profitabilitas merupakan hasil dari hubungan antara penghasil (uncome),
biaya, dan modal yang digunakan.
Perusahaan dapat meningkatkan pangsa-pasarnya melalui pemenuhan
kualitas yang bersifat customer–driven yang akan memberikan keunggulan harga
dan customer value. Customer value merupakan kombinasi dari manfaat dan
pengorbanan yang terjadi apabila pelanggan menggunakan suatu barang atau jasa
guna memenuhi kebutuhan tertentu. Jika kualitas yang dihasilkan superior dan
pangsa pasar yang dimiliki besar, maka profitabilitasnya terjamin. Manfaat
superior meliputi; 1) Loyalitas pelanggan yang besar, 2) Pangsa pasar lebih besar,
3) Harga saham yang lebih tinggi, 4) Harga jual produk/jasa lebih tinggi, dan 5)
Produktivitas yang lebih besar.
Kualitas
Menurut (Parasuraman, 2014) kualitas adalah sebuah kata bagi penyedia
jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Aplikasi kualitas
debagai sifat dan penampilan produk atau kinerja merupakan bagian utama stategi
perushaan dalam rangka mencapai target perusahaan secara terus menerus.
Menurut Rambat Lupiyoadi dalam (Kurniawan et al., 2020) Kualitas adalah
perpaduan sifat dan dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran
dapat memenuhi persyaratan kebutuhan pelanggan yang menentukan nilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik tersebut memnuhi kebutuhanya.
Menurut Garvin yang dikutip oleh (Tjiptono, 2016), setidaknya ada lima
perspektif kualitas yang berkembang saat ini:
- Transcendental Approach
Kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu sesuatu yang secara
intuitif dapat dipahami, namun nyaris tidak mungkin dikomunikasikan,
misalnya kecantikan atau cinta. Perpektif ini menegaskan bahwa seseorang
hanya bisa belajar memahami kualitas melalui pengalaman yang didapatkan
dan eksposure berulang kali (repeated exposure) - Product-Based Approach
Kualitas merupakan karakteristik, komponen atau variasi yang objektif
yang dapat diukur. Perbedaan pada kualitas terlihat dari perbedaan dalam
jumlah beberapa unsur atau variasi yang dimiliki produk tersebut. Semakin
banyak variasi yang dimiliki sebuah produk atau merek, maka semakin
berkualitas produk atau merek bersangkutan. - User-Based Approach
Didasari pada pemikiran, perspektif ini merupakan kualitas yang
tergantung pada orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga
produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demandoriented ini juga menyatakan bahwa setiap pelanggan
memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang berbeda satu sama
lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan
maksimum yang dirasakan. - Manufacturing-Based Approach
Perspektif ini bersifat supply-based dan lebih berfokus pada praktik- praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirements). Dalam konteks bisnis jasa, kualitas berdasarkan perspektif ini
cenderung bersifat operation-driven. - Value-Based Approach
Memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga (price) adalah
ciri- ciri dari perspektif ini. Dengan mempertimbangkan trade-off antara
kinerja dan harga, kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yaitu
tingkat kinerja ‘terbaik’ atau sepadan dengan harga yang dibayarkan. Kualitas
dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling bernilai adalah barang atau jasa yang paling tepat dibeli (best-buy).
Jenis Jenis Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah menyebutkan bahwa Pajak Daerah dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1.Pajak Provinsi terdiri dari:
a. Pajak Kendaraan Bermotor
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
d. Pajak Air Permukaan
e. Pajak Rokok
- Jenis Pajak Kabupaten/Kota
a. Pajak Hotel
b. Pajak Restoran
c. Pajak Hiburan
d. Pajak Reklame
e. Pajak Penerangan Jalan
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
g. Pajak Parkir
h. Pajak Air Tanah
i. Pajak Sarang Burung Walet
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
Pengertian Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada
Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
UndangUndang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pajak daerah yaitu pajak negara yang diserahkan kepada daerah untuk dipungut
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dipergunakan guna membiayai
pengeluaran daerah sebagai badan hukum public
Menurut Siti Kurnia Rahayu (2013:46) menyatakan bahwa Pajak daerah adalah sebagai
berikut: “Pajak daerah adalah pungutan wajib atas orang pribadi atau badan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa kontraprestasi secara langsung yang seimbang,
yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan
daerah.”
Menurut Mardiasmo (2011:12) Pajak Daerah adalah kontribusi wajib
kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat
Pengertian Pajak
Menurut UU No. 28 Tahun 2007, pajak adalah kontribusi Wajib Pajak kepada Negara
yang terutang oleh Orang Pribadi atau Badan yang bersifat yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang sifatnya dapat di paksakan dan di pungut oleh Undang-Undang,
serta tidak mendapat imbalan secara langsung dan di gunakan untuk keperluan Negara
bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Nurmantun (2003 : 1) “ Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara (peralihan
kekayaandari sektor partikulir kesektor pemerintah) berdasarkan Undang – undang (dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung
dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai Pengeluaran Umum.”
Menurut Rochmat Soemitro yang di kutip oleh Madiasmo bahwa: “Pajak adalah iuran
rakyat kepada kas Negara (yang dapat di paksakan) dengan tidak mendapatkan jasa
timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat di tunjukkan dan yang di gunakan untuk
membayar pengeluaran umum”.
Menurut Adriani dalam Sri (2010:54) pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang
dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanperaturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang
langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaranpengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Pengertian pajak menurut Soeparman Soemahamidjaja dari disertasinya yang berjudul
Pajak Berdasarkan Asas Gotong Royong menyatakan pajak adalah iuran wajib berupa
uang atau barang yang dipungut oleh pengusaha berdasarkan norma-norma hukum, guna
menutup biaya barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan
umum. Dari definisi di atas tidak tampak istilah ”dipaksakan” karena bertitik tolak pada
istilah ”iuran wajib” sisi lainya yang terhubung dengan kontrasepsi itu diperlukan pajak.
Menurut Rachmad Soemitro (2012) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara
berdasarkan undang – undang (yang dapat dipaksakan)dengan tidak mendapat jasa timbal
balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.
Menurut Rahayu (2020:2) Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan dan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dari berbagai defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli perpajakan bahwa pajak
merupakan sumber dana yang digali dari rakyat untuk membiayai pembangunan Negara
yang berguna bagi kepentingan bersama an dari definisi di atas dapat disimpulkan
sebagai berikut :
a. Pajak dipungut oleh Negara, baik lewat pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
berdasarkan atas Undang – Undang dan aturan pelaksanaannya.
b. Penerimaan dari sektor pajak digunakan untuk pembiayaan pengeluaran – pengeluaran
pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintah.
c. Tidak dapat ditunjukkan imbalan dari pemerintah terhadap Wajib Pajak yang
membayar pajak.
d. Pemungutan pajak mengisyaratkan adanya ahli dana (sumber daya) dari sektor swasta
(Wajib Pajak) ke sektor Negara (fiskus).
e. Selain dari mengisi kas Negara, pajak juga untuk mengatur kebijakan Negara dalam
bidang ekonomi dan sosial.
Pendekatan Efektivitas
Pendekatan efektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana aktifitas itu efektif. Ada
beberapa pendekatan yang digunakan terhadap efektivitas yaitu:
a. Pendekatan sasaran (Goal Approach) Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu
lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai.
Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran
organisasi dan mengukur tingkatan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran
tersebut. Sasaran yang penting diperhatikan dalam pengukuran efektivitas dengan
pendekatan ini adalah sasaran yang realistis untuk memberikan hasil maksimal berdasarakan
sasaran resmi “Official Goal” dengan memperhatikan permasalahan yang ditimbulkannya,
dengan memusatkan perhatian terhadap aspek output yaitu dengan mengukur keberhasilan
program dalam mencapai tingkat output yang direncanakan. Dengan demikian, pendekatan
ini mencoba mengukur sejauh mana organisasi atau lembaga berhasil merealisasikan sasaran
yang hendak dicapai. Efektivitas juga selalu memperhatikan faktor waktu pelaksanaan. Oleh
karena itu, dalam efektivitas selalu terkandung unsur waktu pelaksanaan dan tujuan
tercapainya dengan waktu yang tepat maka program tersebut akan lebih efektif. Contoh dari
pendekatan sasaran yaitu apabila suatu pekerjaan mempunyai target menjual habis
barangnya dalam waktu satu minggu, dan barang tersebut terjual habis dalam waktu satu
minggu, maka pekerjaan tersebut dapat di katakan efektif.
b. Pendekatan Sumber (System Resource Approach)
Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu lembaga dalam
mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya. Suatu lembaga harus dapat
memperoleh berbagai macam sumber dan juga memelihara keadaan dan sistem agar dapat
menjadi efektif. Pendekatan ini didasarkan pada teori mengenai keterbukaan sistem suatu
lembaga terhadap lingkungannya, karena lembaga mempunyai hubungan yang merata dalam
lingkungannya, dimana dari lingkungan diperoleh sumber-sumber yang terdapat pada
lingkungan seringkai bersifat langka dan bernilai tinggi. Pendekatan sumber dalam kegiatan
usaha organisasi dilihat dari seberapa jauh hubungan antara anggota binaan program usaha
dengan lingkungan sekitarnya, yang berusaha menjadi sumber dalam mencapai tujuan
c. Pendekatan Proses (Internal Process Approach)
Pendekatan proses menganggap sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga
internal. Pada lembaga yang efektif, proses internal berjalan dengan lancar dimana kegiatan
bagian-bagian yang ada berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan
lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap
sumber-sumber yang dimiliki lembaga yang menggambarkan tingkat efisiensi serta
kesehatan lembaga.
Pendekatan Efektivitas menurut Gibson (2000:38) dalam Priansa mengungkapkan tiga
pendekatan mengenai efektivitas, yaitu:
- Pendekatan Tujuan
Pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektivitas merupakan
pendekatan tertua dan paling luas digunakan. Menurut pendekatan ini, keberadaan
organisasi dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan tujuan
menekankan peranan sentral dari pencapaian tujuan sebagai kriteria untuk menilai
efektivitas serta mempunyai pengaruh yang kuat atas pengembangan teori dan praktik
manajemen dan perilaku organisasi, tetapi sulit memahami bagaimana melakukannya.
Alternatif terhadap pendekatan tujuan ini adalah pendekatan teori sistem - Pendekatan Teori Sistem Teori system menekankan pada pertahanan elemen dasar
masukanproses-pengeluaran dan mengadaptasi terhadap lingkungan yang lebih luas yang
menopang organisasi. Teori ini menggambarkan hubungan organisasi terhadap sistem
yang lebih besar, dimana organisasi menjadi bagiannya. Konsep organisasi Sebagian
suatu sistem yang berkaitan dengan sistem yang lebih besar memperkenalkan pentingnya
umpan balik yang ditujukan sebagai informasi mencerminkan hasil dari suatu tindakan
atau serangkaian 30 Tindakan oleh seseorang, kelompok atau organisasi.
Teori sistem juga menekankan pentingnya umpan balik informasi. Inti teori sitem adalah:
a. Kriteria efektivitas harus mencerminkan siklus masukan proses-keluaran, bukan
keluaran yang sederhana; dan
b. Kriteria efektivitas harus mencerminkan hubungan antar organisasi dan lingkungan
yang lebih besar dimana organisasi itu berada.
Jadi efektivitas organisasi adalah konsep dengan cakupan luas termasuk sejumlah konsep
komponen; dan tugas manajerial adalah menjaga keseimbangan optimal antara komponen
dan bagiannya. - Pendekatan multiple constituency
Pendekatan ini adalah perspektif yang menekankan pentingnya hubungan relatif diantara
kepentingan kelompok dan individual dalam hubungan relatif diantara kepentingan
kelompok dan individual dalam suatu organisasi dalam pendekatan ini memungkinkan
pentingnya hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan individual dalam suatu
organisasi.
Ukuran Efektivitas
Mengukur efektivitas suatu program kegiatan bukanlah suatu hal yang sangat sederhana,
karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan tergantung pada siapa
yang menilai serta menginterpretasikannya. Bila dipandang dari sudut produktivitas,
maka seorang manajer produksi memberikan pemahaman bahwa efektivitas berarti
kualitas dan kuantitas (output) barang dan jasa. Tingkat efektivitas juga dapat diukur
dengan membandingkan antara rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang
telah diwujudkan. Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan
tidak tepat sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang diharapkan,
maka hal itu dikatakan tidak efektif
Adapun ukuran efektivitas Menurut Ricard M.Streers (dalam Nadia Azlin,2013:18)
mengatakan beberapa ukuran dari efektivitas,yaitu:
- Kualitas artinya kualitas yang menghasilkan oleh organisasi
- Produktivitas artinya kuantitas dari jasa yang dihasilkan
- Kesiagaan yaitu penilaian menyeluruh sehubungan dengan kemungkinan dalam hal
penyelesaian suatu tugas khusus dengan baik - Efensiensi merupakan perbandingan beberapa aspek prestasi terhadap biaya untuk
menghasilkan prestasi tersebut - Penghasilan yaitu jumlah sumber daya yang masih tersisa setelah semua biaya dan
kewajiban dipenuhi - Pertumbuhan adalah suatu perbandingan antara keadaan organisasi sekarang
dengan masa lalu. - Stabilitas adalah pemeliharaan struktur,fungsi dan sumber daya sepanjang waktu
- Kecelakaan yaitu frekuensi frekuensi dalam pekerjaan yang berakibat kerugian waktu
untuk turun mesin atau waktu penyembuhan/perbaikan. - Semangat kerja yaitu adanya perasaan terikat dalam hal pencapaian tujuan,yang melibatkan
usaha tambahan,kebersamaan tujuan dan perasaan memiliki - Motivasi adalah adanya kekuatan yang muncul dari setiap individu untuk mencapai tujuan
- Kepuasan yaitu tingkat kesenangan yang di rasakan seseorang atau pekerjaan nya dalam
organisasi. Tingkat rasa puas individu bahwa mereka mendapat imbalan yang setimpal
dari bermacam macam aspek situasi pekerjaan dan organisasi tempat mereka berada. - Penilaian oleh pihak luar yaitu penilaian mengenai organisasi atau unit organisasi oleh
mereka ( individu atau organisasi ) dalam lingkungan nnya yaitu pihak pihak dengan
siapa organisasi ini berhubungan. Kesetiaaan, kepercayaan, dan dukungan yang diberikan
kepada organisasi oleh kelompok kelompok seperti pensuplai pelanggan, pemegang
saham, para petugas dan masyarakat umum.
Pengertian Efektivitas
Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu
yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efetivitas
sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Efektivitas merupakan
unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap
organisasi, kegiatan ataupun program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun
sasaran seperti yang telah ditentukan. Dalam hal ini, efektivitas merupakan pencapaian
tujuan organisasi melalui pemanfaatan sumber daya yang dimiliki secara efisien ditinjau
dari sisi masukan (input) proses maupun keluaran (output).
Beberapa pakar mengemukakan pengertian tentang efektivitas, diantaranya seperti yang
dijelaskan sebagai berikut:
Menurut james L.Gibson Efektivitas adalah pencapaian sasaran menunjukan derajat
efektivitas.(dalam buku Herbani Pasolong,2010:4).
Efektivitas adalah suatu pengukuran terhadap penyelesaian suatu pekerjaan tertentu
dalam suatu organisasi (Kumorotomo,2005:362).
Menurut keban mengatakan bahwa suatu organisasi dapat dikatakan efektif kalau tujuan
organisasi atau nilai-nilai sebagaimana ditetapkan dalam visi tercapai. (dalam buku
Herbani pasolong,2010;4).
Menurut SP. Siagian (2002 : 151 ) adalah tercapainya suatu sasaran yang telah
ditentukan pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber data tertentu yang
dialokasikan untuk menjalankan kegiatan-kegiantan organisasi tertentu.
Menurut pendapat Gibson Ivancevich Donnelly (1985:34) menyebutkan bahwa ukuran
efektivitas organisasi,sebagai berikut :
Pengembangan adalah merupakan mengukur kemampuan organisasi untuk meningkatkan
kapsitasnya dalm menghadapu tuntutan masyarakat.
Menurut Saxena (1986: 07) dalam Indrawijaya (2014:176) efektivitas adalah suatu
ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kualitas, kuantitas, waktu) telah dicapai.
Makin besar target yang dicapai, maka semakin tinggi tingkat efektivitas.
Pengertian efektivitas menurut Emerson (dalam Hasibuan, 2006:242) menyatakan bahwa
“(Effectiveness is measuring in term of attaining prescribed goal objective)” artinya
efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya.”
Siagian (1988: 85) dalam Indrawijaya memberikan pengertian tentang efektivitas
berkaitan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan, yaitu: “penyelesaian pekerjaan tepat pada
waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan suatu tugas dinilai baik atau
tidak, terutama menjawab pertanyaan bagaimana cara melaksanakannya, dan beberapa
biaya yang dikeluarkan untuk itu.
Produksi adalah merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu
output sesuai dengan permintaan lingkungan
Efesiensi adalah merupakan perbandingan (ratio) antara output dengan input
Kepuasan adalah merupakan ukuran untuk menunjukan tingkat dimana organisasi dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat.
Keadaptasian adalah tingkat dimana organisasi dapat dan benar-benar tanggap terhadap
perubahan internal dan eksternal
Perbedaan Efektivitas dengan Efisiensi
Sebelum mengetahui perbedaan efektivitas dengan efisiensi sebaiknya
kita juga mengerti pengertian dari efisien menurut Drucker didalam
Nawawi, (2006:39) adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing
thinght right), sebagai konsep in put – out put, yakni kemampuan
meminimumkan penggunaan sember daya dalam mencapai sasaran
organisasi.
Pengertian Efektivitas
Menurut kamus besar bahasa indonesia (2003:284) “secara umum
efektifitas menunjukkan bagaimana akibat atau hasil dari suatu tindakan
yang terlebih dahulu ditentukan”. Menurut Peter f. Drucker dalam taufiq
(2013:54)“efektivitas adalah mengerjakan pekerjaan yang benar (doing the
right things)”. Menurut Nawawi, (2006:40) “Efektivitas dapat diartikan pula
sebagai suatu ukuran menyatakan tingkat pencapaian sasaran/tujuan
(kuantitas, kualitas, waktu)”
Efektifitas Penjualan
Konsepsi utama untuk mengukur prestasi kerja (performance) tenaga
penjualan adalah efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar, ini merupakan perhitungan ratio
antara keluaran (output) dan masukan (input). Seorang tenaga penjualan efisien
adalah seseorang yang mencapai keluaran yang lebih tinggi (hasil, produktivitas,
performance) dibanding masukan-masukan (tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan
waktu) yang digunakan. Dengan kata lain, tenaga penjualan yang dapat
meminimumkan biaya penggunaan sumber daya untuk mencapai keluaran yang
telah ditentukan disebut tenaga penjual yang efisien. Atau sebaliknya, tenaga
penjual disebut efisien bila dapat memaksimumkan keluaran dengan jumlah
masukan yang terbatas. Sedangkan efektivitas merupakan kemampuan untuk
memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan kata lain, seorang tenaga penjualan efektif, apabila dapat
memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk
mencapai tujuan.
Pengertian efektivitas dalam Johnson (2003) adalah dasar dari kesuksesan
dan efisiensi merupakan kondisi minimum untuk bertahan setelah kesuksesan
dicapai. Pernyataan ini mempunyai maksud bahwa efektifitas lebih penting untuk
berhasil dalam pekerjaan, sedangkan untuk tetap bertahan dengan kesuksesan
yang telah diperoleh, diperlukan kondisi minimum yakni efisiensi. Efektifitas
mempunyai arti melakukan pekerjaan yang tepat dalam bisnis. Seringkali dalam
aktivitas penjualan dijumpai pekerjaan yang sia-sia dan tidak membawa hasil
yang memuaskan. Agar tenaga penjualan dapat beraktivitas secara efektif, tenaga
penjualan tersebut harus memiliki pengetahuan tentang perusahaannya, produk,
customers dan kompetitor, presentasi sales yang efektif serta prosedur dan
tanggungjawabnya. Dengan kata lain tenaga penjual harus memiliki keahlian
menjual. Sedangkan, efektifitas penjualan menurut Feinberg dan Kennedy (2008)
dimaknai sebagai ringkasan evaluasi dari keseluruhan kinerja perusahaan.
Efektifitas penjualan dan kinerja tenaga penjualan merupakan konstruk yang
berbeda secara konseptual, walaupun berhubungan (Kauppila et al. 2007).
Efektifitas penjualan merupakan penilaian keseluruhan dari hasil perusahaan yang
sebagian ditentukan oleh kinerja tenaga penjualan, sedangkan kinerja tenaga
penjualan hanya berhubungan dengan faktor yang dapat dikontrol langsung oleh
mereka (Ambaddy & Hogan, 2006)
Efektifitas penjualan mengacu pada ringkasan indeks hasil akhir organisasi,
dimana tenaga penjual bertanggung jawab terhadap volume penjualan, pangsa
pasar dan profitabilitan penjualan (Baldauf et al. 2001). Efektivitas organisasi
penjualan merupakan suatu indikasi seberapa baik organisasi penjualan telah
mengimplementasikan strategi bisnis dan pemasaran. Kinerja tenaga penjual yang
tinggi diharapkan memberikan konstribusi terhadap keefektifan organisasi penjual
Kinerja Tenaga Penjualan
Pengukuran kinerja tenaga penjualan dlihat dari keberhasilan yang dicapai
oleh tenaga penjual karena melakukan aktivitas dan tanggung jawab dengan baik.
Kinerja penjualan dilihat dari hasil penjualannya dan cara tenaga penjual dalam
mendekati dan melayani customernya (Spiro & Weitz, 1990 didalam Retno
Mulatsih, 2012 ). Kinerja ini dapat mengambil berbagai macam bentuk indikator
antara lain volume penjualan, tingkat pertumbuhan penjualan dan pertumbuhan
pelanggan (Ferdinand, 2000). Menurut Baldauf et al. (2001) kinerja tenaga
penjualan secara konseptual berguna untuk menguji kinerja yang berkenaan
dengan perilaku atau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh tenaga penjualan, dan
hasil-hasil yang dapat didistribusikan pada usaha-usaha mereka. Dimensi-dimensi
dari kinerja ini ditunjukkan sebagai kinerja perilaku dan kinerja hasil. Kinerja
tenaga penjualan dievaluasi menggunakan faktor-faktor yang dikendalikan oleh
tenaga penjualan itu sendiri yaitu berdasarkan perilaku tenaga penjualan dan hasil
yang diperoleh tenaga penjualan.
Anglin et al. (1990) didalam Retno Mulatsih (2012) memberikan suatu
instrumen pengukuran kinerja tenaga penjualan perusahaan berdasarkan
pengukuran kinerja secara obyektif dan subyektif. Secara obyektif, pengukuran
kinerja penjualan lebih menitikberatkan pada volume penjualan dan porsi pasar.
Sementara pengukuran secara subyektif lebih menitikberatkan pada 1) kepuasan
pelanggan, 2) kemampuan mendengarkan pelanggan, 3)kemampuan melakukan
presentasi penjualan, 4) penanganan kebutuhan dan keinginan pelanggan secara
efektif, 5) penciptaan rasa saling menghargai dalam setiap aktivitas penjualan, 6)
pengetahuan mengenai produk, 7) menjual pada pelanggan yang prospektif, 8)
menjual produk yang penting, 9) memelihara porsi pasar yang dimilikinya. Untuk
memperoleh hasil penjualan, tenaga penjualan terlibat dalam berbagai macam
pertanggungjawaban pekerjaan dalam bentuk aktivitas-aktiitas yang harus
dilakukan. Aktivitas-aktivitas tenaga penjualan berkaitan dengan kinerja perilaku
seperti memahami produk, membangun hubungan yang efektif, melakukan
presentasi yang efektif dan mempertahankan pelanggan, dapat mempertinggi
kinerja hasil yang merupakan konsekuensi dari usaha dan keahlian yang dimiliki,
menurut Baldauf et al. (2001).
Pendapat Badger et al. (2000) keahlian dapat mempermudah dan
membentuk sebuah pemahaman serta implementasi atas hubungan strategi antara
perusahaan dengan pelanggannya. Oleh sebab itu, menegaskan bahwa tenaga
penjualan yang memiliki keahlian tenaga penjualan dalam aktivitas penjualan
yang bermutu akan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kondisi
perusahaan untuk tetap bertahan dan menghasilkan laba bagi perusahaan. Hasil
penelitian Baldauf et al., (2001) menyatakan bahwa kemampuan menjual
memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja tenaga penjualan. Pendapat
Crosby et al. (1990) didalam Retno Mulatsih (2011) bahwa aspek keahlian tenaga
penjualan dalam aktivitas penjualan sebagai sebuah atribut dari tenaga penjualan,
dihipotesakan dalam penelitian tersebut, keahlian tenaga penjualan mempunyai
pengaruh positif terhadap efektivitas peningkatan kinerja tenaga penjualan.
Kinerja tenaga penjualan ditunjukkan dengan efektivitas aktivitas penjualan yang
dilakukan oleh tenaga penjualan. Untuk mengukur kinerja dapat dilihat dari input
factors yang dihasilkan perusahaan dari program orientasi kinerja yang efektif,
sehingga efektiivitas dapat mempengaruhi kinerja tenaga penjualan (Retno
Mulatsih, 2011).
Desain Wilayah Penjualan
Wilayah penjualan merupakan salah satu fokus perhatian manajemen
penjualan untuk meningkatkan kinerja penjualan dari setiap tenaga penjual.
Penelitian Grant et al, (2001) mengembangkan lebih lanjut kontruk rancangan
wilayah penjualan yang memiliki makna sebagai susunan gambaran seorang
tenaga penjualan berkaitan dengan aktivitas dalam mengelola pelanggan, produk,
kondisi geografis dan dimensi lainya dalam suatu wilayah penjualan. Penelitian
Baldauf et al. (2001) menyatakan bahwa rancangan wilayah penjualan adalah
merupakan suatu konsep dimana seorang tenaga penjualan dituntut dapat
menyesuaikan aktivitas penjualan dengan rancangan wilayah penjualan mereka.
Penjelasan yang logisnya menurut Zoltners dan Sinha (2001) dalam Piercy
et al. (1998) bahwa desain wilayah yang membawa pasar potensial, persaingan
yang baik dan faktor organisasional yang tidak dapat dikontrol tenaga penjualan
memungkinkan mereka untuk menggunakan usaha dan keahlian mereka untuk
mencapai keuntungan yang terbaik.. Menurut Grant et al. (2001) kepuasan
terhadap desain wilayah penjualan mempunyai dampak penting pada sikap dan
perilaku. Tenaga penjualan yang merasa puas terhadap desain wilayah
penjualannya memberi kesempatan untuk memiliki performa yang baik akan lebih
mendorong tenaga penjualan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.
28
Kepuasan tenaga penjualan terhadap desain wilayahnya berdasarkan dari
beban kerja, potensi penjualan, intensitas persaingan dan faktor yang relevan
lainnya. Sebagai tambahan, studi-studi lain mempertimbangkan hubungan
kepuasan desain wilayah terhadap sikap dan perilaku tenaga penjualan secara
individu. Tenaga penjualan akan memiliki motivasi dari dalam jika mereka
merasa puas terhadap desain wilayah yang dibuat oleh manajemen mereka.
Adanya perasaan puas terhadap pembagian desain wilayah tenaga penjual serta
perencanaan ulang terhadap desain wilayah akan mendorong tenaga penjualan
meningkatkan keahliannya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya. Desain
wilayah penjualan yang baik bermanfaat untuk memperluas cakupan pelanggan
(customer coverage), meningkatkan penjualan, mendukung sistem evaluasi dan
reward yang adil serta memperkecil biaya perjalanan, menurut Zoltners &
Lorimer (2000).
Desain wilayah yang baik menyediakan kesempatan bagi tenaga penjual
untuk mendapatkan keuntungan dari karakteristik mereka sendiri yang dibantu
dengan semua aktivitas manajer dilapangan (Barker, 2001). Tenaga penjual yang
tidak memiliki kontrol terhadap potensi wilayahnya, jumlah dana periklanan, dan
reputasi umum perusahaan dalam wilayah tersebut, dapat menghasilkan kinerja
buruk meskipun kualitas supervisi manajemenya memadai. Oleh sebab itu, tenaga
penjual harus mengenal batas wilayah kerjanya agar dalam pelaksanaan tugasnya
tidak terjadi tumpang tindih. Penelitian Barker (2001) menyatakan bahwa setiap
manajer penjualan menyadari bahwa salah satu aspek tersulit dalam mendesain
wilayah adalah untuk menyeimbangkan tingkat beban kerja dan potensi dari suatu
wilayah. Desain wilayah penjualan yang buruk dapat menjadi penghalang besar
untuk meningkatkan kinerja tenaga penjual. Oleh karena itu, manajer penjualan
harus waspada untuk mengembangkan desain wilayah yang tepat dalam
merancang wilayah penjualan sehingga dapat berdampak positif terhadap kinerja
tenaga penjual.
Sistem Kontrol Manager Penjualan
Penelitian Feindbreg dan Kennedy (2008) mendefinisikan sistem kontrol
manajer penjualan sebagai tingkat aktivitas monitoring, directing, evaluating, dan
rewarding yang dilakukan oleh manajer penjualan dalam perusahaanya. Personal
Selling sering sekali merupakan satu-satunya fungsi yang dapat menghasilkan
penjualan. Oleh karena itu, desain yang tepat dan sesuai dari sistem kontrol
terhadap tenaga penjual merupakan hal yang vital bagi suatu perusahaan. Sistem
kontrol adalah sekumpulan prosedur organisasi untuk memantau, menilai dan
memberikan kompensasi para pegawai dalam organisasi tersebut (Anderson dan
Oliver, 1987). Seorang manajer penjualan hendaknya dapat mengkombinasikan
berbagai elemen kontrol yang berbeda, seperti pemberian komisi, intensitas
supervisi, dan berbagai tipe kontrol yang dapat mempengaruhi perilaku tenaga
penjualnya secara lansung. Menurut Mulyadi dan Johny Setyawan (2001:3) sistem
pengendalian manajemen adalah suatu sistem yang digunakan untuk
merencanakan berbagai kegiatan perwujudan visi organisasi melalui misi yang
telah dipilih dan untuk mengimplementasikan dan memantau pelaksanaan rencana
kegiatan tersebut.
Kontrol menyatakan upaya yang dilakukan pihak manajemen untuk
mempengaruhi perilaku dan aktivitas personel pemasaran untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Tujuan dari kontrol penjualan adalah memaksimalkan
kemungkinan bahwa organisasi penjualan dapat mencapai tujuannya, baik tujuan
jangka pendek maupun jangka panjangnya. Menurut Mulyadi dan Johny
Setyawan (2001:646) kontrol perlu diterapkan dalam suatu organisasi untuk
mencegah perilaku yang tidak diharapkan dan mendorong perilaku yang
diharapkan dari individu dalam organisasi tersebut, sehingga tujuan organisasi
tercapai. Ada 2 penyebab mengapa individu tidak mau melakukan perilaku yang
diharapkan demi kepentingan perusahaan, yaitu : 1. Ketidaksesuaian tujuan
individu dengan tujuan organisasi dan 2. Ketidak mampuan individu dalam
mencapai tujuan organisasi melalui perilaku yang diharapkan (Mulyadi dan Johny
Setyawan, 2001:646). Oleh karena itu, pengetahuan manajemen tentang penyebab
diperlukannnya kontrol akan menjadi dasar yang akan menentukan efektivitas tipe
kontrol yang didesain dan dilaksanakan dalam organisasi.
Sumber utama penyebab masalah kontrol adalah personel. Oleh karena itu,
jika manajemen ingin pelaksanaan fungsi kontrol yang efektif, fokus utama
kontrol perlu dipusatkan pada penyebab timbulnya masalah kontrol tersebut.
Tenaga penjual dalam menjalankan pekerjaanya terkadang melampui batas
kewenangannya sehingga efektivitas organisasi penjualan tidak tercapai. Oleh
sebab itu, dibutuhkan kontrol yang benar dari pihak manajemen. Apabila ada
pelanggaran maka tenaga penjual diberi sanksi. Demikian pula sebaliknya.
Manajer penjualan yang menerapkan kontrol behavior based akan menuju ke arah
peningkatan kinerja dalam mencapai tujuan organisasi penjualan dan melayani
kebutuhan pelanggan. Manajer penjualan yang menerapkan kontrol behavior
based mempunyai fokus lebih banyak pada kolaborasi daripada memberikan
perintah (Baldauf et al. 2001). Sementara outcome based kontrol akan menuju
kearah kinerja yang lebih tinggi dalam pencapaian penjualan individual dan hasil
output yang lain ( Piercy et al. 1998 ).
Pengaruh Pengendalian Internal terhadap Efektivitas Penjualan
Dalam suatu perusahaan salah satu aktivitas operasionalnya adalah penjualan
yang merupakan aktivitas yang paling penting dalam perusahaan untuk dapat
mempertahankan hidup perusahaan, maka dengan ini diperlukan adanya suatu
pengendalian yang baik dalam aktivitas penjualan yaitu pengendalian internalyang
merupakan salah satu sistem yang dirancang untuk dapat memberikan jaminandan
keamanan dalam melindungi setiap aset perusahaan dari berbagai macam tindakan
penyalahgunaan. Dengan adanya pengendalian internal yang baik di dalam
perusahaan diharapkan untuk dapat menghidari ataupun memperkecil terjadinya
penyimpangan atau kecurangan di dalam perusahaan, aktivitas penjualan dapat
dilaksanakan dengan baik dengan adanya komponen di dalam pengendalian internal
yaitu lingkungan pengendalian, aktivitas pengendalian, penilaian resiko, informasi
dan komunikasi, dan pemantauan. Pengendalian yang baik dapat membantu
perusahaan dalam mengendalikan dan menjalankan aktivitas penjualan yang terjadi
di perusahaan sehingga efektivitas penjualan berjalan dengan baik.
Dalam menjalankan usahanya untuk mencapai tujuan perusahaan dalam proses
penjualan, perusahaan harus membangun suatu manajemen penjualan yang baik
supaya tercapainya efektivitas penjualan Terjadinya penyimpangan yang muncul
dari kegiatan penjualan sangat besar kemungkinannya. Keberadaan sistem
pengendalian internal adalah merupakan faktor dasar untuk melaksanakan
penjualan yang efektif (Barata & Kurniawati, 2020)
Indikator Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Azhar Susanto (2017:322) bahwa indikator dalam mengukur
efektivitas sistem informasi akuntansi yaitu :
- Perangkat Keras (Hardware)
Peralatan fisik yang digunakan untuk mengumpulkan, memproses,
menyimpan, memasukkan dan mengeluarkan data hasil pengolahan dalam
bentuk informasi. - Perangkat Lunak (Software)
Sekumpulan program yang digunakan untuk mengoperasikan suatu aplikasi
pada komputer - Manusia (Brainware)
sumber daya manusia yang terlibat dalam pembuatan sistem informasi, yang
meliputi pengumpulan, pengolahan data, pendistribusian data sampai
pemanfaatan data untuk kebutuhan organisasi. - Prosedur (Prosedure)
Serangkaian kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan dengan cara
yang sama. Proses penting untuk sebuah organisasi agar segala sesuatu bisa
dilakukan secara konsisten. - Basis Data (Database)
Sistem pencatatan dengan menggunakan komputer yang memiliki tujuan
untuk memelihara informasi agar selalu siap saat dibutuhkan. - Jaringan Komunikasi (Network)
Pemanfaatan media elektronik untuk memindahkan informasi maupun data
dari satu lokasi ke lokasi lain maupun beberapa lokasi yang berbeda.
Definisi Sistem Informasi Akuntansi
Menurut A. Karim (2022:24) pengertian dari sistem infromasi akuntansi adalah
sebagai berikut:
“Sistem Informasi Akuntansi adalah sistem kuno yang digunakan
oleh organisasi bisnis maupun non-bisnis. Informasi yang diberikan
oleh sistem berguna untuk departemen akun serta departemen lain
seperti departemen pembelian, departemen penjualan, departemen
kas, departemen manufaktur.”
Menurut Lilis Puspitawati (2021:49) mendefinisikan sistem informasi akuntansi
adalah:
”Sistem Informasi Akuntansi adalah kumpulan sub-sub sistem atau
komponen-komponen baik fisik maupun non fisik yang saling
berhubungan secara harmonis untuk mengolah data keuangan
menjadi informasi keuangan yang dibutuhkan oleh berbagai pihak
sebagai dasar pengambilan keputusan dan pengendalian dalam suatu
organisasi”.
Menurut Azhar Susanto (2017:80) mendefinisikan sistem informasi akuntansi
adalah sebagai berikut:
“Kumpulan (integrasi) dari sub-sub sistem/ komponen baik fisik
maupun nonfisik yang saling berhubungan dan bekerja sama satu
sama lain secara harmonis untuk mengolah data transaksi yang
berkaitan dengan masalah keuangan menjadi informasikeuangan.”
Indikator Pengendalian Internal
Menurut V. Wiratna Sujarweni (2015:71) sistem pengendalian internal
memiliki 5 komponen utama sebagai berikut:
- Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian merupakan sarana dan
prasarana yang ada di dalam organisasi atau perusahaan untuk menjalankan
struktur pengendalian internal yang baik. - Penaksiran Risiko. Manajemen perusahaan harus dapat mengidentifikasi
berbagai risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Dengan memahami risiko,
manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan, sehingga perusahaan dapat
menghindari kerugian yang besar. - Aktivitas Pengendalian. Kegiatan pengawasan merupakan berbagai proses dan
upaya yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk menegakkan
pengawasan atau pengendalian operasi perusahaan. - Informasi dan Komunikasi. Merancang sistem informasi perusahaan dan
manajemen puncak harus mengetahui hal-hal berikut ini:
a. Bagaimana transaksi diawali.
b. Bagaimana data dicatat ke dalam formulir yang siap dimasukkan kesistem
komputer.
c. Bagaimana fail data dibaca, diorganisasi, dan diperbaharui isinya.
d. Bagaimana data diproses agar menjadi informasi dan informasidiproses lagi
menjadi informasi yang lebih berguna bagi pembuat keputusan
e. Bagimana informasi yang baik dilakukan.
f. Bagaimana transaksi berhasil. - Pemantuan adalah kegiatan untuk mengikuti jalannya sistem informasi
akuntansi, sehingga apabila ada sesuatu berjalan tidak seperti yang diharapkan,
dapat segera diambil tindakan.
Definisi Pengendalian Internal
Menurut wakhyudi (2018:18) definisi pengendalian internal adalah sebagai
berikut: “proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personal
lain dalam organisasi untuk memberikan keyakinan yang memadai terkait
pencapaian tujuan.”
Selanjutnya menurut Mulyadi (2017:129), definisi pengendalian internal adalah
sebagai berikut:
“Pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan
ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga aset organisasi,
mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong
efisiensidan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.”
Menurut Committee of Sponsoring Organisations of the TreadwayCommission
(COSO) dalam Rick Hayes (2017:260), definisi pengendalian internal adalah
sebagai berikut:
“pengendalian internal merupakan proses yang dipengaruhi oleh
dewan direksi, manajemen, dan personellainnya dari entitas, yang
dirancang untuk memberikan asurans yang memadai (reasonable
assurance) terkait tujuan-tujuan tertentu.”
Indikator Efektivitas Penjualan
Menurut Swasta (2010:404), adapun indikator dari efektivitas penjualan sebagai
berikut :
- Mencapai Volume Penjualan
Dimana perusahaan perlu menetapkan target penjualan yang akan dicapai
untuk periode waktu, biasanya dalam satu tahun. Target penjualan ini sangat
penting untuk kegiatan perencanaan keuangan dan manajer promosi penjualan
karena dengan menetapkan target penjualan, maka volume penjualan akan
tercapai. Mencapai volume penjualan dalam efektivitas penjualan, meliputi :
a. Peningkatan penjualan,
b. Peningkatan volume penjualan,
c. Kondisi pasar yang mempengaruhi penjualan,
d. Promosi untk membantupeningkatan penjualan,
e. Saluran distribusi yang tepat,
f. Target penjualan minimum,
g. Penghapusan produk yang tak mencapai target minimum. - Mendapatkan laba tertentu
Pada saat mendirikan suatu perusahaan, setiap individu dalam perusahaan
tertentu mempunyai tujuan masing-masing dan tujuan tersebut harus diarahkan
menuju tercapainya tujuan perusahaan secara keseluruhan yaitu untuk
memperoleh laba yang optimal. Pengukuran, Pengakuan, dan laporan atau
penyajian laba perusahaan sangat penting, hal ini dapat membantu manajemen
untuk mengetahui seberapa berhasil aktivitas penjualan yang telah
dilaksanakan. Menetapkan laba tertentu dalam efektivitas penjualan, meliputi :
a. Penetapan laba sesuai target pasar yang dituju.
b. Kenaikan biaya penjualan diikuti dengan peningkatan laba perusahaan - Menunjang pertumbuhan perusahaan
Penjualan yang efektif sangat membantu dalam meningkatkan volume
penjualan, sehingga laba yang diharapkan oleh suatu perusahaan dapat tercapai.
dengan adanya suatu laba, maka dengan secara tidak langsung bisa menunjang
pertumbuhan perusahaan, sehingga perusahaan bisa mengembangkan
usahanya. Didalam suatu usaha untuk mencapai ketiga tujuan tersebut tidak
sepenuhnya hanya dilakukan oleh pelaksana penjualan atau para ahli penjualan.
Dalam hal ini perlu adanya suatu kerja sama yang baik didalamsetiap
perusahaan. Menunjang laba perusahaan dalam efektivitas penjualan, meliputi:
a. Peningkatan teknologi dan infrastruktur
b. Realisasi penjualan menunjang pertumbuhan perusahaan
Definisi Efektivitas Penjualan
Menurut Laban T. M’mbololo (2018:14) definisi efektivitas penjualan adalah:
“Produk dari hasil yang kita dapatkan. Efektivitas dalam penjualan
di organisasi mana pun berasal dari peningkatan cara tim penjualan
beroperasi. Melalui berbagi dan menerapkan praktik terbaik industri,
menggabungkan cara-cara dengan kemampuan untuk mengukur
kinerja, secara drastis mengurangi siklus penutupan kesepakatan, dan
meningkatkan persentase bisnis yang Anda menangkan secara luar
biasa”.
Selanjutnya menurut Yurdagul Meral (2020:03) definisi efektivitas penjualan
adalah sebagai berikut:
“Kemampuan untuk mencapai kinerja operasional yang disukai atau
optimal di setiap tahap proses penjualan perusahaan serta proses
pembelian pelanggan. Ketika strategi keefektifan penjualan
dioptimalkan, strategi tersebut berlaku di seluruh spektrum
organisasi dan menjadi relevan dengan semua aktivitas penghasil
pendapatan perusahaan”
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bauran Promosi
Menurut Swastha dan Irawan (2008:355) manajemen tidak dapat
terlepas dari berbagai macam faktor yang mempengaruhinya dalam
menentukan kombinasi yang terbaik dari variabel-variabel promotional
mix.Faktor-faktor yang mempengaruhi bauran promosi tersebut yaitu:
- Dana yang digunakan untuk promosi
Besarnya dana yang tersedia merupakan faktor penting yang sangat
berperan pada promotional mix. Perusahaan yang memiliki dana
lebih besar, kegiatan promosinya akan lebih efektif dibandingkan
dengan perusahaan yang hanya memiliki sumber dana terbatas. - Sifat pasar
Ada beberapa sifat pasar yang mempengaruhi promotional mix,
yaitu:
a. Luas pasar secara geografis
Perusahaan yang mempunyai pasar lokal sering mengadakan
kegiatan prmosi yang berbeda yang memiliki pasar bertaraf
nasional atau internasional.Bagi perusahaan yang mempunyai
pasar lokal mungkin sudah cukup menggunakan personal selling
saja, tetapi bagi perusahaan yang mempunyai pasar nasional
paling tidak menggunakan periklanan.
b. Konsentrasi pasar
Jumlah keseluruhan calon pelanggan atau pengguna jasa juga
merupakan suatu pertimbangan dalam menentukan strategi
promosi. Makin banyak calon pelanggan atau pengguna jasa
makin efektiflah penjualan dengan carapersonal selling
dibandingkan dengan periklanan, karena personal selling
merupakan media promosi yang tepat untuk perusahaan dalam
menjalani hubungan yang baik dengan para konsumennya.
c. Macam pembeli
Macam pelanggan atau pengguna jasa perusahaan juga sangat
berperan penting pada promotional mix, apalagi dalam hal ini
membentuk good public relation bagi perusahaan tersebut
nantinya berdasarkan pelayanan yang telah dilakukan oleh
perusahaan. - Jenis produk
Produk yang ditawarkan juga merupakan suatu hal penting dalam hal
kegiatan periklanan, yang ditunjang dari kegiatan personal selling,
promosi penjualan serta publisitas sesuai dengan produk tersebut. - Tahap-tahap dalam siklus kehidupan barang
Strategi yang diambil untuk mempromosikan barang yang
dipengaruhi oleh setiap tahap-tahap dalam siklus kehidupan barang.
a. Tahap perkenalan
Tahap ini kegiatan personal selling harus lebih menonjol
daripada kegiatan promosi lainnya, personal selling bertanggung
jawab terhadap pengenalan produk baru atau pada saat memasuki
daerah pemasaran yang baru.
b. Tahap pertumbuhan
Tahap ini personal selling mempunyai peranan yang sangat
penting hanya saja aktivitasnya sudah dapat dikurangi, sebaiknya
kegiatan promosi berupa iklan menjadi lebih dominan.
c. Tahap dewasa
Dalam tahap ini, kegiatain promosi penjualan menjadi sangat
penting jika dibandingkan dengan iklan yang hanya diperlukan
untuk mengingatkan kembali.
d. Tahap kemunduran
Tahap ini, iklan dapat dipertahankan untuk meningkatkan
kembali ingatan konsumen, sementara promosi penjualan haru
lebih giat lagi dilaksanakan.
Jenis Pemilihan Media Promosi
Menurut Tjiptono (2008:243) ada beberapa jenis pilihan media promosi
diantaranya adalah:
- Media cetak, yaitu media yang statis dan mengutamakan pesanpesan dengan sejumlah kata, gambar atau foto, baik dalam tata
warna maupun hitam putih. Bentuk-bentuk iklan dalam media cetak
biasanya berupa iklan baris, iklan display, suplemen, pariwara dan
iklan layanan masyarakat. Jenis-jenis media cetak terdiri atas:
a. Surat kabar
b. Majalah
c. Tabloid, brosur, selebaran dan lain-lain. - Media Elektronik, yaitu media dengan teknologi elektronik dan
hanya bisa digunakan bila ada jasa transmisi siaran. Bentuk-bentuk
iklan dalam media elektronik biasanya berupa sponsorhip, iklan
partisipasi (disisipkan di tengah-tengah film atau acara),
pengumuman acara/film, iklan layanan masyarakat, jingle, sandiwara
dan lain-lain.
a. Televisi
b. Radio - Media luar ruang, yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang
dipasang di tempat-tempat terbuka seperti di pinggir jalan, di pusat
keramaian atau tempat-tempat khusus lainnya, seperti di dalam bus
kota, gedung, pagar/tembok dan sebagainya. Jenis-jenis media luar
ruang meliputi billboard, baleho, paster, spanduk, umbul-umbul,
transit (panel bus), balon raksasa dan lain-laing. - Media lini bawah, yaitu media-media minor yang digunakan untuk
mengiklankan produk. Umumnya ada empat macam media yang
digunakan dalam media lini bawah yaitu:
a. Pameran
b. Direct mail
c. Point of purchase
d. Merchandising schemes
e. Kalender
Strategi Bauran Promosi
Menurut Tjiptono (2008:235), strategi bauran promosi berupaya
memberikan distribusi yang optimal dari setiap metode promosi. Tugas
tersebut tidaklah mudah mengingat efektivitas masing-masing metode
berbeda dan yang paling repot, setiap metode kadang-kadang tumpang
tinding (overlap) dengan metode yang lain. Berikut ini adalah factor yang
menentukan bauran promosi.
- Faktor Produk
Yaitu mempertimbangkan karakteristik dan cara produk itu
dibelikan, dikonsumsi dan dipersepsikan. - Faktor Pasar
a. Tahap perkenalan
b. Tahap pertumbuhan
c. Tahap kedewasaan
d. Tahap penurunan - Faktor Pelanggan
Pelanggan rumah tangga lebih mudah dipikat dengan iklan, karena
untuk mencapai mereka metode tersebut paling murah, sedangkan
jika sasaran yang dituju adalah pelanggan industri, maka perusahaan
harus menggunakan personal selling agar dapat memberi penjelasanpenjelasan dan jasa-jasa tertentu yang berkaitan dengan produk. - Faktor Anggaran
Jika perusahaan memiliki dana promosi yang besar, maka
peluangnya untuk menggunakan iklan yang bersifat nasional juga
besar. Sebaliknya bila dana yang tersedia terbatas, maka perusahaan
dapat memilih personal selling, promosi penjualan atau iklan
bersama di dalam wilayah lokal atau regional. - Faktor Bauran Pemasaran
a. Harga yang tinggi sering dianggap pelanggan berkorelasi positif
dengan kualitas yang juga tinggi.
b. Jika pendistribusian dilakukan secara langsung, maka
karakteristiknya mensyaratkan penggunaan personal selling,
sedangkan apabila secara tidak langsung maka dibutuhkan iklan
karena terbatasnya jumlah armada penjualan yang dipakai.
Sebagaimana halnya dengan produk, merek baru memerlukan daur
hidup. Pada tahap perkenalan, suatu merek baru memerlukan iklan yang
gencar untuk memperkenalkannya. Memasuki tahap pertumbuhan, iklan
harus dikombinasikan dengan personal selling. Setelah tahap ini dengan
segala aktivitas promosi mulai menurun, sehingga pada tahap kedewasaan
pemasar dapat menerapkan life-extension strategy, harvest atau
memperkenalkan merek baru
Bauran Promosi
Menurut Lupiyoadi (2011:120), bauran promosi adalah gabungan dari
perangkat promosi yaitu periklanan, penjualan perorangan (personal selling),
promosi penjualan, hubungan masyarakat, pemasaran langsung (direct
marketing) dan publikasi. Meskipun secara umum bentuk-bentuk promosi
memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut dapat dibedakan
berdasarkan tugas-tugas khususnya.
Menurut Tjiptono (2008:222), beberapa tugas khusus itu atau sering
disebut bauran promosi adalah:
- Penjualan Perorangan (Personal Selling)
Penjualan perorangan (personal selling) adalah komunikasi langsung
(tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk
memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk
pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian
akan mencoba dan membelinya. Sifat-sifat personal selling antara lain:
a. Personal Confrontation, yaitu adanya hubungan yang hidup,
langsung dan interaktif antara dua orang atau lebih.
b. Cultivation, yaitu sifat yang memungkinkan berkembangnya
segala macam hubungan, mulai dari sekedar hubungan jual beli
sampai dengan suatu hubungan yang lebih akrab.
c. Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan
pelanggan untuk mendengar, memperhatikan dan menanggapi. - Mass Selling
Mass selling merupakan pendekatan yang menggunakan media
komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak ramai
dalam satu waktu.Mass selling terdiri atas:
a. Periklanan
Iklan merupakan salah satu bentuk promosi yang paling banyak
digunakan perusahaan dalam mempromosikan produknya. Iklan
memiliki empat fungsi utama, yaitu:
1) Menginformasikan khalayak mengenai seluk beluk produk
(informative)
2) Mempengaruhi klayak untuk membeli (persuading)
3) Menyegarkan informasi yang telah diterima khalayak
(reminding)
4) Menciptakan suasana yang menyenangkan sewaktu
khalayak menerima dan mencerna informasi
(entertainment)
b. Publisitas
Publisitas adalah bentuk penyajian dan penyebaran ide, berang
dan jasa secara non personal, yang mana orang atau organisasi
yang diuntungkan tidak membayar untuk itu.Publisitas
merupakan pemanfaatan nilai-nilai berita yang terkandung
dalam suatu produk untuk membentuk citra produk yang
bersangkutan. Dibandingkan dengan iklan, publisitas
mempunyai kredibilitas yang lebih baik, karena pembenaran
(baik langsung maupun tidak langsung) dilakukan oleh pihak
lain selain pemilik iklan. Disamping itu karena pesan publisitas
dimasukkan dalam berita dan artikel koran, tabloid, majalah,
radio dan televise maka khalayak tidak memandangnya sebagai
komunikasi promosi. Publisitas juga dapat memberikan
informasi lebih banyak dan lebih terperinci daripada iklan.
Namun demikian karena tidak ada hubungan perjanjian antara
pihak yang diuntungkan dan pihak penyajian, maka pihak yang
diuntungkan tidak dapat mengatur kapan publisitas itu akan
disajikan atau bagaimana publisitas tersebut disajikan. Selain
itu publisitas tidak mungkin diulang-ulang seperti iklan.Oleh
karena itu, kini publisitas biasanya merupakan bagian dari
departemen humas perusahaan. - Promosi Penjualan
Promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui
penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang
pembelian produk dengan segera dan/atau meningkatkan jumlah
barang yang dibeli pelanggan. Secara umum tujuan-tujuan tersebut
dapat digenerasikan menjadi:
a. Meningkatkan permintaan dari para pemakai industrial dan/atau
konsumen akhir
b. Meningkatkan kinerja pemasaran perantara
c. Mendukung dan mengkoordinasikan kegiatan personal selling
dan iklan - Public Relation (HUMAS)
Public relation merupakan upaya komunikasi menyeluruh dari suatu
perusahaan untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan dan sikap
berbagai kelompok terhadap perusahaan tersebut.Yang dimaksud
dengan kelompok-kelompok itu adalah mereka yang terlibat,
mempunyai kepentingan dan dapat mempengaruhi kemampuan
perusahaan dalam mencapai tujuannya. Kelompok-kelompok
tersebut bisa terdiri atas karyawan dan keluarganya, pemegang
saham, pelanggan, khalayak/orang-orang yang tinggal di sekitar
organisasi, pemasok, perantara, pemerintah serta media massa.
Kegiatan public relations meliputi hal-hal berikut:
a. Press relations
Tujuan hubungan dengan pers adalah untuk memberikan
informasi yang pantas/layak dimuat di surat kabar agar dapat
menarik perhatian public terhadap seseorang, produk, jasa atau
organisasi.
b. Product publicity
Aktivitas ini meliputi berbagai upaya untuk mempublikasikan
produk-produk tertentu.
c. Corporate communication
Kegiatan ini mencakup komunikasi internal dan eksternal, serta
mempromosikan pemahaman tentang organisasi.
d. Lobbying
Merupakan usaha untuk bekerja sama dengan pembuat undangundang dan pejabat pemerintah sehingga perusahaan mendapat
informasi-informasi penting yang berharga. Bahkan kadangkala
juga dimaksudkan untuk mempengaruhi keputusan yang akan
diambil.
e. Counseling
Aktivitas ini dilakukan dengan jalan memberi saran pendapat
kepada manajemen mengenai masalah-masalah yang berkaitan
dengan publik dan mengenai posisi dan citra perusahaan. - Direct marketing atau pemasaran langsung
Direct marketing adalah system pemasaran yang bersifat interaktif,
yang memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk
menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi di sembarang
lokasi.
Tujuan Promosi
Menurut Tjiptono (2002:221), tujuan utama dari promosi adalah
menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk, serta
mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran
pemasarannya. Secara rinci ketiga tujuan promosi tersebut dapat
dijabarkan sebagai berikut:
a. Menginformasikan (informing), dapat berupa:
- Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk
baru - Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu
produk - Menyampaikan peruabahan harga kepada pasar
- Menjelaskan cara kerja suatu produk
- Meluruskan kesan yang keliru
b. Membujuk pelanggan sasaran (persuading) untuk: - Membentuk pilihan merek
- Mengalihkan pilihan ke merek tertentu
- Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk
- Mendorong pembeli untuk belanja saat itu juga
- Mendorong pembeli untuk menerima kunjungan wiraniaga
c. Mengingatkan (reminding), dapat terdiri dari: - Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan
dibutuhkan dalam waktu dekat - Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual
produk perusahaan - Membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kampanye
iklan - Menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk
perusahaan
Pengertian Promosi
Menurut Assauri (2004:264), suatu produk betapapun
bermanfaat akan tetapi jika tidak dikenal oleh konsumen, maka
produk tersebut tidak akan diketahui manfaatnya dan mungkin tidak
dibeli oleh konsumen. Oleh karena itu, perusahaan harus berusaha
mempengaruhi para konsumen, untuk menciptakan permintaan atas
produk itu, kemudian dipelihara dan dikembangkan.
Menurut Lupiyoadi (2011:120), promosi merupakan satu
variable dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan
oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa.
Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Salah satu unsur dalam strategi pemasarn terpadu adalah strategi acuan
atau bauran pemasaran, yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan
yang berkaitan dengan penentuan bagaimana perusahaan menyajikan
penawaran produk pada segmen pasar tertentu, yang merupakan sasaran
pasarnya.
Menurut Daryanto, (2011:20) bauran pemasaran adalah perangkat alat
pemasaran taktis yang dapat dikendalikan yang dipadukan oleh perusahaan
untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam pasar sasaran. Bauran
pemasaran tersebut terdiri atas:
- Produk (Product)
Kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada
pasar sasaran, meliputi: keragaman produk, mutu, rancangan, sifat,
merek, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan dan manfaat. - Harga (Price)
Jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh
produk, meliputi: harga, diskon, potongan, syarat kredit, periode
pembayaran. - Distribusi (Place)
Aktivitas perusahaan untuk membuat produk tersedia bagi konsumen
sasaran, meliputi: saluran, lokasi, persediaan. - Promosi (Promotion)
Aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk
pelanggan sasaran untuk membelinya, meliputi: periklanan, personal
selling, promosi penjualan, humas.
Bauran pemasaran (Marketing Mix) menurut Assauri (2004:198), adalah
kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran,
variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi
reaksi para pembeli atau konsumen.
Strategi Pemasaran
Menurut Assauri (2013:15), menyatakan bahwa:
Strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran,
kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha
pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada masing-masing
tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan
perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan persaingan
yang selalu berubah.
Seperti diketahui, strategi pemasaran adalah himpunan asas yang secara
tepat, konsisten, dan layak dilaksanakan oleh perusahaan guna mencapai
sasaran pasar yang dituju dalam jangka panjang dan tujuan perusahaan
jangka panjang, dalam situasi tertentu.Dalam strategi pemasaran ini, terdapat
strategi acuan atau bauran pemasaran (Marketing Mix), yang menetapkan
komposisi terbaik darai keempat komponen atau variabel pemasaran, untuk
dapat mencapai sasaran pasar yang dituju sekaligus mencapai tujuan dan
sasaran perusahaan.
Menurut Hasan (2013:436), strategi pemasaran yang baik harus
dibangun atas dasar pemahaman bisnis yang kuat, dikombinasikan dengan
pemahaman kebutuhan dan keinginan pelanggan, pesaing dan skills, dan core
bisnis termasuk dengan para pemasok dan distributor. Di semua tipe bisnis,
tiga langkah berikut ini dapat membantu dalam mencapai keberhasilan.
- Pelajari pelanggan dan pasar untuk mengetahui produk dan jasa apa
yang dapat menciptakan nilai ekonomis. - Kembangkan segmentasi yang mencerminkan daya tarik ekonomis
bagi pelanggan. - Kembangkan nilai yang jelas bagi setiap segmen.
Pengertian Pemasaran
Menurut The Chartered Institute of Marketing (Wijaya,2012:4)
“Pemasaran adalah suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan
yang memungkinkan individu dan perusahaan mendapatkan apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain dan untuk
mengembangkan hubungan pertukaran”.
Menurut Kotler dan Amstrong (Wijaya,2012:4) “Pemasaran adalah
proses social dan manajerial yang dilakukan individu atau kelompok untuk
memperoleh kebutuhan dan keinginan, dengan cara membuat serta
mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain”.
Menurut Tjiptono, Chandra dan Adriana (2008:5) menyatakan
pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsep, penetapan
harga, promozsi, dan distribusi gagasan dan barang dan jasa untuk
menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individual dan
organisasional. Sedangkan menurut Thamrin dan Francis, (2012:2)
menyatakan pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang
dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan
mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa
baik kepada para konsumen saat ini maupun konsumen potensial.
Pengertian Efektivitas
Efektivitas berhasil bila sasaran yang telah ditetapkan berhasil dengan
tujuan tertentu. Semakin hasil mendekati tujuan yang diinginkan maka
semakin tinggi derajat keefektivitasannya.
Menurut Abdurahmat (2003:92), efektivitas adalah pemanfaatan
sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar
ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pad
waktunya.
Menurut Sunyoto dalam Wurinanda (2015) mengungkapkan beberapa
kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas media promosi,
yaitu pengingatan, persuasi dan penjualan. Efektivitas media promosi produk
olahan dapat diukur menggunakan model AIDA yaitu attention (perhatian),
interest (ketertarikan), desire (keinginan), danaction (tindakan).
Aspek-Aspek Pola Asuh Otoriter
Stewart dan Koch (dalam Tridhonanto, 2014) menyebutkan bahwa pola
asuh otoriter lebih banyak menerapkan pola asuh dengan aspek-aspek sebagai
berikut:
a. Orang tua mengekang anak untuk bergaul dan memilih-milih orang yang
menjadi teman anaknya.
b. Orang tua tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berdialog,
mengeluh dan mengemukakan pendapat. Anak harus menuruti kehendak
orang tua tanpa peduli keinginan dan kemampuan anak.
c. Orang tua menentukan aturan bagi anak dalam berinteraksi baik di rumah
maupun di luar rumah. Aturan tersebut harus ditaati oleh anak walaupun tidak
sesuai dengan keinginan anak.
d. Orang tua tidak memberikan kesempatan pada anak untuk berinisiatif dalam
bertindak dan menyelesaikan masalah.
e. Orang tua melarang anaknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.
f. Orang tua menuntut anaknya untuk bertanggung jawab terhadap tindakan
yang dilakukannya, tetapi tidak menjelaskan kepada anak mengapa anak
harus bertanggung jawab.
Aspek pola asuh otoriter lainnya dikemukakan oleh Baumrind (dalam Riberio,
2009), ada tiga aspek yaitu :
a. Low responsivness. Low responsivness merupakan perilaku orang tua yang
tidak ingin mendengarkan permintaan anak, disertai dengan kurangnya sikap
hangat, dan kurang tanggap terhadap peran untuk mencukupi keperluan anak.
Aspek ini memiliki dua indikator yaitu :
a) Low warmth or nurturing, yakni kurang tersedianya kehangatan dalam
cara orang tua mengasuh.
b) Low communication between parent and children, yakni keberlangsungan
komunikasi orang tua dan anak hanya berjalan secara satu arah. Orang tua
tidak mempertimbangkan keinginan anak dan hanya mengedepankan
kehendak mereka saja.
b. High demandingness. Orang tua banyak memberi batasan atau kekangan dan
aturan yang harus dipatuhi oleh anak. Orang tua akan memberi hukuman jika
anak tidak melaksanakan perintahnya. Ada dua indikator pada aspek ini :
a) High maturity demand, yakni orang tua mendesak anak untuk menjadi
lebih dewasa, tetapi merasa tidak perlu untuk memberi arahan pada anak
saat mereka beranjak dewasa.
b) High in control, yakni mengendalikan perilaku anak dengan menerapkan
larangan atau aturan dan menerapkan hukuman jika perintah tidak
berjalan sesuai keinginan orang tua
Pengertian Pola Asuh Otoriter
Menurut Stewart dan Koch (dalam Tridhonanto, 2014) pola asuh
otoriter merupakan gaya pengasuhan orang tua yang lebih memprioritaskan dalam
hal membentuk kepribadian anak dengan cara menerapkan standar mutlak harus
dituruti, biasanya disertai dengan ancaman-ancaman. Kemudian, menurut Ribeiro
(2009) pola asuh otoriter merupakan model pengasuhan oleh orang tua melalui
cara memberikan batasan yang sangat erat dan menghukum apabila perintah atau
dorongan dari orang tua tidak diwujudkan oleh remaja. Sedangkan menurut
Baumrind (1991) pola asuh otoriter merupakan jenis pola asuh yang membatasi,
memberi hukuman dan mengatur perilaku anak untuk menghargai pekerjaan dan
upaya orang tua serta menjalankan kehendak yang telah ditetapkan oleh orang tua.
Pola asuh otoriter merupakan gaya pengasuhan yang diberikan oleh
orang tua lebih condong untuk tidak memberi peluang pada anak untuk
mengemukakan pikiran dan perasaannya sehingga jenis pola asuh ini acapkali
memicu perilaku yang cenderung ke arah negatif pada remaja (Miski dan
Mawarpury, 2017). Pola asuh otoriter adalah jenis pengasuhan orang tua yang
lebih memprioritaskan kewenangan yang satu sisi dalam interaksinya dengan
remaja (Rozi dan Hafiz, 2018)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well Being
Menurut Ryff (1989) faktor-faktor yang mempengaruhi psychological
well being antara lain, yaitu :
a. Faktor demografis.
1) Usia. Ryff (1989) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan
psychological well-being pada usia yang semakin dewasa. Ryff dan
keyes (1995) membuktikan bahwa terdapat perbedaan tingkat
psychological well being berdasarkan pada perbedaan usia.
2) Jenis Kelamin. Hasil riset yang dilakukan oleh Ryff dan Keyes (1995)
menemukan bahwa dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan
pertumbuhan pribadi, wanita dinilai lebih tinggi jika dibandingkan
dengan pria.
3) Status Sosial Ekonomi. Ryff (1989) mengutarakan bahwa status sosial
ekonomi meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan
keberhasilan yang membawa pengaruh pada kondisi psychological well
being seseorang. faktor ini memiliki hubungan dengan penerimaan diri,
penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan diri. Seseorang
yang berada pada kelas puncak sosial dapat memandang diri dan masa
lalu secara positif, serta memiliki arah pada hidupnya dibandingkan
dengan seseorang yang berada pada kelas sosial yang lebih rendah.
4) Budaya: Ryff mengemukakan bahwa sistem orientasi budaya yang
kolektif mempunyai dampak terhadap psychological well being yang
dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi pada
hal pertumbuhan pribadi dan tujuan hidup. Sedangkan pada budaya
timur, nilai tinggi ditunjukan oleh hubungan positif dengan orang lain.
b. Dukungan sosial
Dukungan sosial menjadi salah satu faktor yang memepengaruhi kondisi
psychological well being. Dukungan sosial yang dimiliki oleh individu
berhubungan dengan aktivitas sosial yang diikuti oleh individu tersebut.
Misalnya, bergabung dengan organisasi-organisasi, kualitas hubungan
dengan individu lain dan kontak sosial yang dilakukan. Dukungan sosial
dapat didefinisikan seperti perasaan nyaman, perhatian, penghargaan atau
pertolongan yang dipersepsikan oleh individu yang diberikan oleh manusia
lain atau kelompok. Dukungan sosial ini dapat bersumber dari pasangan,
keluarga, teman, rekan kerja, dokter, maupun organisasi sosial. Dengan
adanya dukungan dari orang sekitar, seorang individu akan lebih kuat
menghadapi tantangan-tantangan di setiap pejalanan hidup yang dilaluinya.
c. Evaluasi terhadap pengalaman hidup
Ryff (1989) mengungkapkan bahwa pengalaman hidup yang telah dilalui
oleh seseorang akan mempengaruhi tingkat psychological well being pada
seseorang tersebut. Pengalaman hidup melingkupi berbagai macam hal yang
pernah terjadi di kehidupan individu dalam berbagai periode kehidupannya.
Evaluasi atau penilaian individu terhadap kejadian semasa hidupnya
memiliki dampak yang penting terhadap psychological well being.
d. Locus of Control (LoC)
Locus Of Control diartikan sebagai suatu ukuran harapan umum seseorang
mengenai pengendalian atau kontrol terhadap penguatan (reinforcement)
yang mengikuti perilaku tertentu, serta dapat memberikan perkiraan terhadap
kondisi psychological well-being individu. Seseorang yang mempunyai locus
of control internal pada umumnya mampu memiliki tingkat psychological
well being yang tinggi dibandingkan dengan individu yang mempunyai locus
of control eksternal.
Menurut Maryam (2013) faktor-faktor yang mempengaruhi
Psychological Well Being yaitu:
a. Status sosial ekonomi, meliputi tingkat pendidikan, besar penghasilan dan
status sosial di masyarakat.
b. Jaringan sosial, meliputi aktivitas sosial, perkumpulan keanggotaan dalam
organisasi sosial.
c. Kompetensi pribadi. Kompetensi pribadi adalah kemampuan dan kelebihan
seseorang yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kepribadian, ialah kemampuan pribadi dan sosial seperti penerimaan diri,
coping stress, resiliensi dan menjalin hubungan baik dengan orng sekitar.
e. Religiusitas. Dalam hal ini berkaitan dengan hubungan kepada Tuhan dalam
persoalan sehari-hari.
f. Jenis kelamin. Faktor ini berhungan dengan coping stress. Wanita lebih
mampu mengekspresikan perasaannya untuk menurunkan sress dibanding
dengan laki-laki
Aspek-Aspek Psychological Well Being
Menurut Ryff (1989) aspek-aspek dalam membangun psychological
well being adalah :
a. Self accaptance (Penerimaan diri). Kriteria kesejahteraan psikologis yang
paling sering terlihat adalah penerimaan diri individu. Ini ditafsirkan sebagai
elemen utama kesehatan mental dan karakteristik dari individu yang dapat
mengaktualisasikan diri, mampu berfungsi secara optimal, dan menunjukan
sikap maupun sifat yang dewasa. Seorang individu dapat dikatakan menerima
dirinya sendiri adalah seseorang yang memandang dirinya secara positif,
mampu menerima dan mempercayai segala kekurangan dan kelebihan dalam
dirinya, serta melihat jalan kehidupannya baik di masa lalu maupun masa
sekarang dengan positif. Maka, dengan mempunyai sikap positif terhadap diri
sendiri merupaka hal yang termasuk dalam karakteristik utama dari
berjalannya fungsi psikologis yang positif.
b. Positive relations with other (Hubungan positif dengan orang lain).
Kemampuan untuk mencintai dianggap sebagai unsur yang penting dari
kesehatan mental. Konsep aktualisasi diri dalam membina hubungan dengan
orang lain digambarkan memiliki rasa empati dan kasih sayang yang kuat
dengan manusia lainnya dan mampu memiliki rasa cinta yang lebih luas,
persahabatan yang terbuka dan hangat, dan identifikasi yang lebih lengkap
dengan orang lain. Seseorang yang mampu membentuk hubungan positif
dengan orang lain akan mampu untuk membina suatu hubungan yang hangat,
saling mempercayai, mampu menunjukan empati, kasih sayang, intimitas
sebagai bentuk kepedulian antar satu sama lain. Selain itu, individu tersebut
dapat memahami pikiran atau bahkan prinsip dan memberi serta menerima
dalam hubungannya dengan orang lain.
c. Autonomy (Otonomi). Orang yang berfungsi secara penuh digambarkan
sebagai individu yang memiliki lokus evaluasi internal, dimana individu
tersebut tidak mencari persetujuan orang lain, tetapi mengevaluasi diri sendiri
dengan standar pribadi. Konsep otonomi dipandang sebagai kebebasan
seseorang untuk tidak lagi bergantung pada hukum massa, aturan-aturan atau
norma-norma yang mengikat kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang baik
kemampuan otonominya akan mampu untuk mandiri dalam mengambil
keputusan sendiri sesuai kenyakinan pribadinya dan tidak terpengaruh oleh
argumen orang lain.
d. Environmental mastery (Penguasaan lingkungan). Salah satu karakteristik
dari kesehatan mental adalah kemampuan seseorang untuk memilih serta
menciptakan lingkungan yang sepadan dengan kondisi psikisnya. Seseorang
yang mampu menguasai lingkungan merupakan seseorang yang mempunyai
kuasa dan bersaing untuk mengatur lingkungannya, mampu mengkontrol
situasi yang rumit. Dapat menggunkaan segala kesempatan untuk sukses di
lingkungan secara efektif, dan mampu memilih serta menciptakan lingkungan
sesuai dengan nilai yang ada pada dirinya. Selain itu, individu juga dapat
mengendalikan lingkungan dengan menciptakan modifikasi baik melalui
aktivitas fisik maupun psikis untuk mengambil manfaat dari lingkungan
tersebut.
e. Purpose in life (Tujuan hidup). Individu yang mampu menetapkan tujuan
hidup dari kehidupan yang ia jalani serta mampu memberikan makna pada
jalan kehidupannya baik di masa lalu maupun saat ini merupakan karakteristik
individu yang sehat secara mental. Seseorang yang memiliki tujuan dalam
hidup akan merasa terarah, dapat memahami kejadian hidup dari masa lalu
dan masa kini, mempunyai kepercayaan yang menentukan tujuan hidup, dan
menetapkan target yang akan dicapai dalam hidupnya. Jadi, seseorang yang
berfungsi secara positif akan memiliki tujuan, niat, dan arah, yang
berpartisipasi pada perasaan untuk memaknai hidup.
f. Personal growth (Pengembangan diri). Fungsi psikologis yang ideal tidak
hanya mewajibkan seseorang untuk mencapai karakteristik-karakteristik
khusus, namun seseorang tersebut juga terus-menerus mengembangkan
potensi dalam dirinya, untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang
memiliki kualitas yang positif. Kebutuhan untuk aktualisai diri dan sadar akan
potensi dalam diri merupakan pemikiran yang utama mengenai pertumbuhan
pribadi. Pada teori rentang hidup, mengutamakan pada pentingnya keinginan
manusia untuk tumbuh dan berkembang guna menghadapi setiap tantangan
yang tersedia di fase-fase tahap perkembangan. Individu yang mempunyai
kualitas pengembangan diri yang baik memiliki ciri adanya keingian untuk
berkembang, dapat memandang dirinya sebagai manusia yang perlu untuk
tumbuh dan berkembang, terbuka dengan setiap kesempatan baru yang
datang, memiliki kemauan untuk mewujudkan potensinya, mampu untuk
melihat setiap peningkatan yang terjadi dalam diri dan perilakunya dari waktu
ke waktu dan dapat beranjak menjadi seseorang yang lebih bermanfaat
Pengertian Psychological Well Being
Menurut Ryff (1989) Psychological well being merupakan keadaan
dimana sesorang memiliki fungsi positif secara psikologis yang berkaitan dengan
kesehatan mental dan dapat berfungsi optimal. Huppert (2009) berpendapat
bahwa psychological well being memiliki makna yang sama dengan kesehatan
mental. Seseorang yang cakap mengggapai kesehatan mental yang prima, akan
terpenuhi seluruh aspek-aspek kesejahteraan psikologisnya. Sedangkan menurut
Diener & Larsen (dalam Aryanto, 2020) psychological well-being dapat diartikan
sebagai kegembiraan, dalam sebuah makna yang luas dari distres yang
direfleksikan oleh kesepadaan antara pengaruh positif dan negatif. Hal serupa
disampaikan oleh Bradburn (dalam Ryff dan Keyes, 1995) yang mendeskripsikan
psycological well being sebagai sebuah rasa kebahagiaan (happines), dimana
kebahagiaan adalah dampak dari keselarasan antara efek positif dan efek negatif.
Menurut Schultz (dalam Ramdhani dkk, 2016) mengartikan
psychological well being seperti peran dari sisi positif psikologi seseorang,
dimana hal tersebut adalah tujuan yang diupayakan untuk digapai oleh seseorang
yang sehat. Keberadaan psychological well being dalam diri individu menjadikan
ia dapat berupaya untuk melaksanakan fungsi psikologisnya dengan lebih unggul,
termasuk dalam segi belajar dan perolehan prestasi (Chow, 2007).
Dari beberapa definisi yang disampaikan oleh para ahli di atas, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa psycholocical well being adalah keadaan dimana
seorang individu dapat seimbang secara psikologis sehingga mampu berfungsi
dengan positif dan terhindar dari gejala atau masalah yang mengganggu kesehatan
mental.
Dari beberapa pendapat di atas peneliti memilih berfokus pada teori
milik Riff (1989) karena diantara teori-teori yang ada di atas, teori milik Riff juga
menyertakan tentang keberfungsian secara optimal.
Dimana seseorang yang dikatakan sejahterah secara psikologis tidak
hanya memiliki sisi positif yang berkaitan dengan kesehatan mental saja tetapi
juga dapat mencapaian titik terbaik atau tertinggi pada fungsi seseorang baik
secara mental, kognitif, emosional, atau sosialnya
Upaya Penanggulangan Resiko Pernikahan Dini
- Pencegahan
a. Orangtua perlu menyadari bahwa pernikahan dini bagi anaknya penuh
dengan resiko yang membahayakan baik secara sosial, kejiwaan
maupun kesehatan. Sehingga orang tua perlu menghindari pernikahan
dini bagi remaja
b. Remaja perlu diberikan informasi tengtang hak-hak reproduksi nya dan
resiko pernikahan dini
c. Bagi remaja yang belum menikah, kehamilan remaja dapat dicegah
dengan cara menghindari terjadinya senggama. Itu berarti remaja harus
mengisi wktunya dengan kegiatan-kegiatan yang akan memberi bekal
hidupnya dimasa depan. - Penanganan
Kehamilan remaja merupakan kehamilan yang beresiko, karena itu
remaja yang hamil harus intensif memeriksakan kehamilannya. Dengan
demikian diharpkan kelainan dan penyulit yang akan terjadi dapat segera
di obati. Akhirnya diharapkan kehamilan dan persalinan dapat dilalui
dengan baik dan selamat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja sebagai orang tua harus
memahami perkembangan anak yang sehat dan wajar, mampu mendidik
anak dan membina anak, mengembangkan potensi diri sehingga menjadi
ahli dan dapat dijadikan panutan sebagai orang tua yang baik
Resiko Pernikahan Dini
a. Remaja Sebagai Orang Tua
Para ahli psikologi yang menaruh minat pada masalah-masalah
kehidupan remaja (dalam Thornburg, 2013), merasa tertarik untuk ikut
memberikan solusi, yakni agar remaja agar remaja dapat mengatasinya
dengan baik. Mereka menyarankan agar remaja segera dapat
mempersiapkan diri sebagai orang tua, yaitu melalui 4 cara :
1) Remaja perlu mempelajari, memahami dan mengerti tentang
perkembangan kehidupan anak yang sehat, wajar, dan normal.
2) Remaja perlu mempelajari, memahami serta dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan fisiologis-ekonomis, kognisi, psikososial
bagi perkembangan yang sehat untuk anak.
3) Remaja perlu mempelajari dan memahami cara mendidik,
membina, dan mengarahkan anak-anak agar dapat tumbuh dan
berkembang sehingga memiliki kebribadian yang baik.
4) Remaja perlu mempelajari cara untuk mengembangkan
keterampilan sendiri agar dapat menjadi seorang individu yang ahli
profesional dibidangnya, sehingga dapat dijadikan landasan
sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi keluarganya
b. Resiko Sosial Pernikahan Dini
Masa remaja merupakan masa untuk mencari identitas diri dan
membutuhkan pergaulan dengan teman-teman sebaya nya. Pernikahan
dini secara sosial akan menjadi bahan pembicaraan teman-teman
remaja dan masyarakat. Kesempatan untuk bergaul dengan teman
sesama remaja hilang, sehingga remaja kurang dapat membicarakan
masalah-masalah yang dihadapinya.Mereka memasuki lingkungan
orang dewasa dan keluarga yang baru, dan asing bagi mereka. Bila
mereka kurang dapat menyesuaikan diri, maka akan timbul berbagai
ketegangan dalam hubungan keluarga dan masyarakat.
Pernikahan dini dapat mengakibatkan remaja putus sekolah
sehingga kehilangan kesempatan untuk menuntut ilmu sebagai bekal
untuk masa depan. Sebagian besar pasangan muda ini bergantung pada
orangtua, sehingga kurang dapat mengambil keputusan sendiri.Mereka
mudah terjerumus untuk melakukan tindakan atau perbuatan yang
tercela seperti menjadi pecandu Napza (Narkoba, dan zat aditif
lainnya), perjudian, perkelahian, penodong, dll.
Wanita yang kurang berpendidikan dan tidak siap menjalankan
perannya sebagai ibu akan kurang mampu untuk mendidik anaknya,
sehingga anak akan tumbuh dan berkembang secara kurang baik, yang
akan merugikan masa depan anak tersebut.
c. Resiko Kejiwaan Pernikahan Dini
Pengalaman hidup mereka yang berumur dibawah 20 tahun
biasanya belum mantap. Apabila wanita pada masa perkawinan usia
muda menjadi hamil dan secara mental belum mantap, maka janin
yang dikandungnya akan menjadi anak yang tidak dikehendaki ini
berakibat jauh terhadap perkembangan jiwa anak sejak dalam
kandungan. Bila anak lahir, ibu biasanya kurang memberikan perhatian
dan kasih sayang malahan anak dianggap sebagai beban.
Dari penelitian salah satu di luar negeri ternyata bahwa 85% dari
ibu muda yang hamil untuk pertama kali, mengalami kekecewaan dan
kecemasan setelah mengetahui mereka hamil. Hasil dari salah satu
penelitian lain menunjukkan 47% dari ibu hamil sebenarnya belum
mengingnkan untuk mempunyai anak.
Sebagai akibat kurang matang nya kejiwaan dan emosi remaja,
maka pernikahan dini akan menimbulkan perasaan gelisah, kadang-
kadang mudah timbul rasa curiga dan pertengkaran suami istri sering
terjadi. Masalah tersebut akan bertambah apabila pasangan tersebut
teraksa tinggal ditempat orangtua dan belum memiliki pekerjaan atau
penghasilan yang tetap/memadai. Tidak jarang pasangan ini
mengalami ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga, sehingga
pernikahan tidak bahagia, bahkan dapar berakhir dengan perceraian.
d. Resiko Kesehatan Pernikahan Dini
Resiko kesehatan terutama terjadi pada pasangan wanita pada saat
mengalami kehamilan dan persalinan.Kehamilan mempunyai dampak
negatif terhadap kesejahteraan remaja. Sebenarnya ia belum siap
mental hamil, namun karena keaadan ia terpaksa menerima kehamilan
dengan resiko :
1) Kurang Darah (Anemia) ada masa kehamilan dengan akibat yang
buruk bagi janin yang dikandungnya seperti pertumbuhan janin
terhambat, kelahiran prematur.
2) Kurang Gizi pada masa kehamilan yang dapat mengakibatkan
perkembangan biologis dan kecerdasan janin terhambat. Bayi lahir
dengan berat badan rendah
3) Penyulit pada saat melahirkan seperti perdarahan dan persalinan
lama
4) Preeklamsi dan eklamsi yang dapat membawa maut bagi ibu
maupun bayinya
5) Ketidakseimbangan besar bayi dengan lebar panggul, biasanya ini
akan menyebabkan macetnya persalinan. Bila tidak di akhiri oleh
operasi caesar maka keadaan ini akan menyebabkan kematian ibu
maupun janinnya.
6) Pasangan yang kurang siap untuk menerima kehamilan cenderung
untuk mencoba melakukan pengguguran kandungan (aborsi) yang
dapat berakibat kematian bagi wanita.
7) Pada wanita yang menikah sebelum usia 20 tahun mempunyai
resiko kira-kira dua kali lipat untuk mendapatkan kanker serviks
dibandingkan wanita yang menikah pada umur yang lebih matang
Resiko Pernikahan Dini Dan Seksualitas
Pernikahan dini adalah pernikahan pada remaja dibawah usia 20 tahun
yang seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan. Masa remaja juga
merupakan masa yang rentan resiko kehamilan karena pernikahan dini (usia
muda). Di antaranya adalah keguguran, persalinan premature, BBLR, kelainan
bawaan, mudah terjadi infeksi, anemia pada kehamilan, dan kematian (Kusmiran,
2011).
Remaja usia 15-19 tahun meninggal karena komplikasi dari kehamilan dan
persalinan (WHO, 2016). Kusumaningsih (dalam Utomo,dkk, 2016) juga
mengungkapkan bahwa remaja SMA mengalami putus sekolah sebanyak 1,9%.
Bahkan pada kasus-kasus tertentu, remaja yang hamil diluar nikah memiliki
kecendrungan 3,5 kali lebih tinggi untuk bunuh diri dibandingkan tingkat bunuh
diri pada remaja tanpa kasus hamil di luar nikah
Hamil Diluar Nikah
Hamil diluar nikah merupakan suatu pertumbuhan hasil konsepsi dari
pembuahan sel sperma dengan ovum didalam rahim sebelu adanya perjanjian
(akad) yang menjadikan halal hubungan seksual sebagai suami istri antara seorang
laki-laki dan seorang wanita.
Kehamilan dapat menjadi dambaan, tetapi juga dapat menjadi suatu
malapetaka apabila kehamilan itu dialami oleh remaja yang belum
menikah.Kehamilan pada masa remaja mempunyai resiko medis yang cukup
tinggi, karena pada masa ini alat reproduksi belum cukup matang untuk
melakukan fungsinya (Sarwono 2015).
Beberapa alasan mengapa kehamilan remaja dapat menimbulkan resiko
antara lain rahim remaja belum siap untuk mendukung kehamilan. Rahim (uterus)
baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 tahun, karena pada usia ini fungsi
hormonal melewati masa kerjanya yang maksimal.
Jika kehamilan tidak diharpakan, maka secara otomatis ibu akan sangat
membenci kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan dari ibu untuk melakukan
hal-hal positif yang dapat meningkatkan kesehatan bayinya. Pada kasus ini kita
waspadai adanya keguguran, premature dan kematian janin.
Pada kehamilan di luar nikah hampir bisa dipastikan bahwa pasangan
masih belum siap dalam hal ekonomi. Selain itu, kekurang siapan ibu untuk
merawat bayinya juga perlu diwaspadai agar tidak terjadi postpartum blues.
Akibat yang terjadi dari kehamilan diluar nikah pada remaja adalah :
- Aborsi
Angka kejadian aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta
pertahun, sekitar 750.000 dilakukan remaja. Ada dua hal yang bisa
dilakukan oleh remaja, yaitu mempertahankan kehamilan dan mengakhiri
kehamilan (aborsi).Semua tindakan tersebut membawa dampak baik fisik,
psikis, social, dan ekonomi (Marmi, 2013:219). - Komplikasi
Meliputi peersalinan belum cukup bulan (prematuritas), pertumbuhan
janin dalam rahim kurang sempurna, kehamilan dengan keracunan yang
memerlukan penanganan khusus, persalinan sering dengan tindakan
operasi, perdarahan setelah melahirkan semakin meningkat, kembalinya
alat reproduksi terlambat setelah persalinan, mudah terjadi infeksi setelah
persalinan dan pengeluaran ASI tidak cukup (Manuba dkk, 2015:20). - Faktor-faktor psikologis
a. Faktor Internal
Ini meliputi faktor-faktor pemicu stres ibu hamil yang berasal dari
diri ibu sendiri. Adanya beban psikologis yang ditanggung oleh ibu
dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi yang nantinya akan
terlihat ketika bayi lahir. Anak akan tumbuh menjadi sesorang dengan
kepribadian yang tidak baik, bergantung pada kondisi stres yang
dialami oleh ibunya, seperti anak yang menjadi seorang dengan
kepribadian tempramental, autis, atau orang yeng terlalu rendah diri
(minder). Ini tentu saja tidak kita harapkan.Oleh karena itu, pemantau
kesehatan psikologis ibu sangat perlu dilakukan.
b. Faktor Eksternal
Pemicu stres yang berasal dari luar bentuknya sangat bervariasi,
misalnya masalah ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan
suami, tekanan dari lingkungan (respon negatif dari lingkungan) dan
masih banyak kasus lainnya.
c. Dukungan Keluarga
Setiap tahap usia kehamilan ibu akan mengalami perubahan baik
yang bersifat fisik maupun psikologis. Ibu harus melakukan adaptasi
pada setiap perubahan yang terjadi, dimana sumber stres terbesar
terjadi karena dalam rangka melakukan adaptasi terhadap kondisi
tertentu. Dalam menjalani proses itu, ibu hamil sangat membutuhkan
dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukan
perhatian dan kasih sayang.
d. Kekeresan yang dilakuakn oleh pasangan (Partner Abuse)
Hasil penelitian menunjukan bahwa korban kekerasan terhadap
perempuan adalah wanita yang telah bersuami. Setiap bentuk kekersan
yang dilakukan oleh pasangan harus selalu diwaspadai oleh tenaga
kesehatan jangan sampai kekerasan yang terjadi akan membehayakan
ibu dan bayinya. Efek psikologis yang muncul adalah gangguan rasa
aman dan nyaman pada ibu. Sewaktu-waktu ibu akan mengalami
perasaan terancam yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janinnya.
dampak negative dari perilaku seksual di luar nikah
Menurut Sarwono (2014) ada beberapa dampak negative dari
perilaku seksual di luar nikah :
a. Dampak Fisik
Dampak fisik dari perilaku seksual pada remaja seperti timbulnya
penyakit menular seksual (PMS), dan resiko terkena HIV/AIDS.Remaja
yang berganti ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual dan
juga kurangnya pengetahuan tentang seksualitas maka akan beresiko
terjadinya PMS dan HIV/AIDS. Menurut Ditjen PP dan PL Kemenkes
(2014) dalam penelitian, kauss HIV/AIDS sering terjadi pad alai-laki
(54%) dan remaja perempuan (29%). Hal tersebut disebabkan karena
perilaku seks bebas yang dilakukan remaja tanpa menggunakan
kondom.
b. Dampak Fisiologis
Yang ditimbulkan pada remaja yang melakukan perilaku seksual
diluar nikah seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan tindakan
aborsi. Saat remaja melakukan hubungan seksual tanpa disengaja
mengeluarkan cairan dan bertemu dengan sel telur maka akan
menghasilkan pembuahan dan terjadilah kehamilan yang tidak
diinginkan tersebut.
Penelitian Azinar (2015) menyatakan bahwa sebanyak 12,1%
responden melakukan perilaku seksual di luar nikah yang beresiko
terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.
c. Dampak Psikologis
Ketika seorang remaja sudah melakukan perilaku seksual maka
mereka akan merasa cemas, takut, merasa bersalah, dan berdosa.
Dampak psikologis yang ditimbulkan pada remaja laki-laki dan remaja
perempuan berbeda-beda. Remaja perempuan yang melakukan
hubungan seksual dengan pasangannya mereka akan merasa lebih takut
dan cemas dibandingkan laki-laki karena takut aka terjadi
kehamilannya. Penelitian Wahyuni (2014) menyatakan bahwa sebanyak
47% responden wanita merasakan takut akan hamil, berdosa, dan
ketahuan orang tua setelah melakukan hubungan seksual.
d. Dampak Sosial
Dampak social dari perilaku seksual biasanya dikucilkan dari
kehidupan social di masyarkat. Remaja perempuan yang hamil akan
terjadi perubahan peran menjadi ibu dan remaja remaja laki-laki
menjadi bapak. Mereka juga tidak dapat bersekolah lagi seperti pada
remaja umumnya. Kemudia mereka juga akan mendaptkan tekanan dari
masyarakat yang ,mencela dan menolak keadaan tersebut
Faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku seks diluar nikah
Tristiadi, 2016) Faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku seks diluar
nikah pada remaja adalah :
- Usia
Semakin bertambanya usia seseorang maka akan mempengaruhi
kematangan seksualnya. Perubahan-perubahan hormonal yang terjadi pada
remaja dapat meningkatkan hasrat seksual.Peningkatan hasrat seksual
membutuhkan penyaluran dakm bentuk tingkah laku seksualnya (Sarwono,
2013). - Jenis Kelamin
Perkembangan seksual pada remaja perempuan dan remaja laki-laki
berbeda-beda. Dorongan seksual remaja laki-laki lebih kuat dan lebih aktif
dalam mencari obyek seksual. Remaja perempuan lebih membutuhkan
suatu ikatan yang kuat dan lebih lama dalam hubungan dengan lawan
jenisnya.Remaja laki-laki cenderung menekan dan memaksakan remaja
perempuan untuk berhubungan seksual sehingga pada remaja perempuan
kadang terjadi trauma (Sarwono, 2014). - Paparan Media Pornografi
Perkembangan teknologi setiap tahun nya semakin maju dan
semakin mudah untuk didapat. Setiap orang dimanapun berada mereka
dapat dengan mudah mengakses informasi dengan cepat mulai berbagai
media seperti elektronik yaitu internet, smartphone, video porno, media
elektronik banyak dipakai untuk menyebarluaskan berbagai tindakan
pornografi. Remaja saat ini ingin lebih tehu, mencoba, dan meniru setiap
apa yang didapat dari media tersebut. Perkembangan hormonal pada
remaja akan menimbulkan keinginan mereka untuk mencoba melakukan
aktivitas seksual (Sarwono, 2013) - PengaruhTeman Sebaya
Masa remaja lebih cenderung untuk memiliki teman yang banyak
dan berkelompok. Mereka berkelompok berdasarkan kesamaan yang ada
pada pribadi mereka masing-masing. Setiap remaja dalam kelompoknya
sangat memperhatikan solidaritas, sehingga sekelompok remaja biasanya
sering memberikan tantangan kepada temannya untuk membuktikan
solidaritas mereka. Tantangan yang diberikan terkadang tidak sesuai
dengan hokum dan norma seperti untuk menggunakan narkoba,
berpacaran, mencium pacranya hingga dorongan untuk melakukan
hubungan seksual (Sarwono, 2013) - Ketaatan Agama
Agama membentuk moral dan keyakinan pada setiap orang.
Seseorang yang mentaati agamanya akan cenderung berprilaku sesuai
dengan norma dan memberikan efek positif pada setiap orang, tetapi jika
sesorang tidak mentaati agamanya maka akan mudah terpengaruh untuk
berprilaku tidak sesuai norma, sehingga pada remaja dapat mempengaruhu
mereka untuk melakukan prilaku seksual (Azinar, 2013) - Tingkat Pengetahuan Seksual
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu sesorang terhadap objek
melalui indera yang dimiliki seperti mata, hidung, telinga, dan sebagainya
(Notoatmodjo, 2014).
Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi meliputi system
reproduksi, fungsi system reproduksi, bahaya aborsi, dan penyakit menular
seksual. Remaja yang memiliki pengetahuan yang baik tentang reproduksi
dan prilaku seksual maka akan memikirkan dampak yang terjadi saat
melakukan hubungan seksual pada usia muda (Notoatmodjo, 2015). - Komunikasi Orang tua
Peran orang tua sangat penting dalam hal membentuk perilaku
seorang anak terutama dalam hal komunikasi dan memberikan
pengetahuan kepada anak tentang seksualitas. Kurangnya komunikasi
orang tua terhadap anak akan menyebabkan anak tidak terbuka dan
memendam setiap masalah yang ada pada dirinya. Jika komunikasi tentang
seksualitas pada orang tua dan anak baik, maka anak akan mengerti dan
tidak melakukan perilaku seksual sebelum waktunya (Sarwono, 2014). - Kontrol Diri
Kontrol diri merupakan pengeturan proses fisik, psikologis, dan
perilaku sesorang. Seseorang yang dapat mengontrol dirinya dengan baik
mak akan memperhatikan perilakunya yang sesuai dengan norma. Usia
remaja merupakan usia yang masih belum bisa mengontrol dirinya
sehingga akan berdampak pada perilakunya yang tidak sesuai dengan
norma seperti melakukan hubungan seksual (Khairunnisa, 2013)
Pengertian Seks di Luar Nikah
Perilaku seksual adalah perilaku yang ditimbulkan karena adanya
dorongan seksual dari dalam dirinya (Efendi, 2014). Perilaku seksual diluar nikah
adalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis
maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Bentuk-bentuk
tingkah lakunya mulai dari perasaan tertarik untuk melakukan ciuman, pelukan
hingga bersenggama (Sarwono, 2014)
Pada awalnya dorongan seksual muncul karena pengaruh hormon, tetapi
kemudian ada faktor lain yang mempengaruhi dorongan seksual yaitu psikis,
rangsangan seksual dari luar dan pengalaman seksual sebelumnya (bercumbu dan
berciuman) di sertai faktor coba-coba dan ingin tahu yang akhirnya keterusan dan
terjerumus dalam seks di luar nikah. (Tjokronegoro, 2013).
Menurut hudson (2013) perilaku seksual adalah perilaku dan aktivitas fisik
seorang yang didorong oleh hasrat seksual dan menggunakan tubuh untuk
mengekspresikan perasaan erotik yang dilakukan sendiri maupun melibatkan
masyarakat lain diluar ikatan pernikahan
Pertumbuhan pribadi (Personal growth)
Dimensi ini menjelaskan mengenai kemampuan individu untuk
mengembangkan potensi dalam dirinya. Pertumbuhan pribadi yang baik
ditandai dengan perasaan mampu dalam melalui tahap-tahap
perkembangan, terbuka terhadap pengalaman baru, menyadari potensi
yang ada dalma dirinya, melakukan perbaikan dalam hidupnya setiap
waktu. Sebaliknya, seseorang yang kurang baik dalam dimensi ini akan
menampilkan ketidakmampuan untuk mengembangkan sikap dan
bertingkah laku baru, mempunyai perasaan bahwa ia adalah pribadi yang
stagnan dan tidak tertarik dengan kehidupan yang dijalaninya. Berdasarkan
pada dimensi-dimensi yang ada dalam kesejahteraan psikologis dapat
disimpulkan bahwa dimensi kesejahteraan psikologis meliputi kemampuan
individu dalam menerima diri apa adanya, mampu mengembangkan
potensi dalam dirinya, memiliki hubungan yang positif dengan orang lain,
memilki kemandirian, memiliki tujuan dalam hidup, dan mampu mengusai
lingkungannya
Tujuan Hidup (Purpose of life)
Kesehatan mental didefinisikan mencakup kepercayaan-kepercayaan
yang memberikan individu suatu perasaan bahwa hidup ini memiliki
tujuan dan makna.Individu yang berfungsi secara positif memiliki tujuan,
misi danarah yang membuatnya merasa hidup ini memiliki makna.
Dimensi ini menjelaskan mengenai kemampuan individu untuk mencapai
tujuan dalam hidup. Seseorang yang mempunyai arah dalam hidup akan
mempunyai perasaan bahwa kehidupan saat ini dan masa lalu mempunyai
makna, memegang kepercayaan yang memberikan tujuan hidup dan
mempunyai target yang ingin dicapai dalam kehidupan. Sebaliknya,
seseorang yang kurang baik, dalam dimensi ini akan memiliki perasaan
bahwa tidak ada tujuan yang ingin dicapai dalam hidup, tidak melihat
adanya manfaat dari masa lalu kehidupannya dan tidak mempunyai
kepercayaan yang membuat hidup lebih bermakna
Bentuk-bentuk Kemandirian
Menurut Robert Havighurst membedakan kemandirian atas emapat
bentuk, yaitu :
1) Kemandirian Emosi
Merupakan kemampuan mengontrol emosi sendiri dan tidak
bergantung kebutuhan emosi orang lain.
2) Kemandirian Ekonomi
Yaitu kemampuan mengantur ekonomi sendiri dan tidak
bergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang lain.
3) Kemandirian Intelektual
Kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi
4) Kemandirian Sosial
Merupakan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang
lain dan tidak bergantung pada aksi orang lain
Hubungan Positif Dengan Orang Lain (Possitive relations with others)
Berfikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk menilai
pengalaman-pengalaman dalam hidupnya sebagai bahan yang berharga
untuk pengalaman selanjutnya dan menganggap semua itu sebagi proses
hidup yang harus di terima. Peale menyatakan bahwa individu yang
berpikir positif akan mendapatkan hasil yang positif dan individu yang
berpikir negative akan mendapatkan hasil yang negative (Peale, 2013).
Berpikir positif juga dapat di artikan sebagai cara berpikir yang
berangkat dari hal-hal baik, yang mampu menyulut semangat untuk
melakukan perubahan menuju taraf hidup yang lebih baik. Dalam konteks
ini lah berpikir positif telah menjadi sebuah system berpikir yang
mengarah dan membimbing seseorang untuk meninggalkan hal-hal
negative yang bisa melemahkan semangat perubahan dalam jiwanya
(arifin, 2014).
a. Hubungan positif dengan orang tua
Sejumlah teoritis dan peneliti kontemporer menyatakan bahwa
otonomi yang baik berkembang dari hubungan orang tua yang positif
dan supportif.Menurut mereka hubungan orang tua yang supportif
memungkinkan untuk mengungkapkan perasaan positif dan negative,
yang membantu perkembangan kompetensi sisial dan otonomi yang
bertanggung jawab.
Remaja yang memiliki hubungan yang nyaman dan harmonis
dengan orang tua mereka, memiliki harga diri dan kesejahteraan
emosional yang lebih baik. Sebaliknya, ketidak dekatan emosional
dengan orang tua berhubungan dengan perasaan-perasaan akan
penolakan oleh orang tua yang lebih besar serta perasaan lebih rendah
nya daya tarik social dan romantic yang dimiliki diri sendiri (Santrock,
1995).
b. Hubungan positif dengan teman sebaya
Menurut Santosa (2014:79) teman sebaya atau peer group adalah
kelompok sebaya ialah aanak-anak atau remaja yang memiliki usia atau
tingkat kematangan yang kurang lebih sama, yang saling berinteraksi
dengan kawan-kawan sebaya yang berusia sama dan memiliki peran
yang unik dalam budaya atau kebiasaan.
1) Menjalani Persahabatan
a) Kebersamaan dalam berbagai aktivitas
b) Stimulasi, seperti informasi menarik dan kegembiraan
c) Dukungan fisik, seperti pertolongan
d) Keakraban atau perhatian
2) Keakraban
Dalam persahabatan yang secara sempit diartikan sebagai
pengungkapan diri atau membagi pikiran-pikiran pribadi.
c. Hubungan positif dengan masyarakat
R. Sudiro Muntahar (2013:5) hubungan masyarakat adalah
hubungan-hubungan social yang dinamis yang meliputi hubungan
antara orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia, maupun
antar perorangan kelompok manusia.
1) Menghargai pendapat orang lain
Bersikap dan bertindak positif terhadap lawan bicara, menghindari
sikap sombong, menghindari kebiasaan memotong pembicaraan
yang belum selesai
2) Mawas Diri
Bersikap dan berprilaku menggali informasi dalam diri sendiri dan
menghindari sikap mencari kesalahan orang lain
3) Sopan Santun
Berprilaku sopan santun dalam mengemukakan pikiranpikiran
secara lisan, menghadiri diri dari perilaku yang tidak sopan.
4) Terbuka
Menerima saran dak kritik dari orang lain, menghindari sikap dan
tindakan mau menang sendiri.
Banyak teori yang menekankan pentingnya hubungan interpersonal
yang hangat dan saling mempercayai dengan orang lain. Kemampuan
untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama kesehatan mental.
Individu yang mempunyai hubungan positif dengan orang lain atau tinggi
untuk dimensi ini ditandai dengan adanya hubungan yang hangat,
memuaskan, dan saling percaya dengan orang lain. Individu tersebut juga
mempunyai rasa afeksi dan empati yang kuat. Sebaliknya, individu yang
rendah atau kurang baik untuk dimensi ini, sulit untuk bersikap hangat dan
enggan untuk mempunyai ikatan dengan orang lain
Ciri-ciri penerimaan diri
Menurut Sari & Nuryanto (2014) cirri-ciri penerimaan diri adalah :
1) Memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya dalam menjalani
kehidupan.
2) Meganggap dirinya berharga sebagai seorang manusia yang
sederajat dengan individual lain.
3) Tidak ada anggapan aneh/abnormal terhadap diri sendiri.
4) Menyadari dan tidak merasa malu akan keadaan dirinya.
5) Bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
6) Menerima pujian atau celaan atas dirinya secara objektif.
Pengertian Penerimaan diri (Self acceptance)
Menurut Ryff 1996 (Wibowo 2013) penerimaan diri adalah
keadaan dimana seorang individu memiliki penilaian positif terhadap
dirinya, menerima serta mengakui segala kelebihan maupun segala
keterbatasan yang ada dalam dirinya tanpa merasa malu atau merasa
bersalah terhadap hidupnya.Penerimaan diri merujuk pada kepuasaan
hidup dan kebahagiaan seseorang yang sangat penting bagi kesehatan
mental yang baik.Seseorang yang mampu menerima diri memahami
betul kelebihan dan kelemahan dalam dirinya (Shepard, 1979, dalam
Cristanty & Whardhana, 2013).
Menurut Ananwong dkk (2013) mengatakan bahwa “Self-
acceptance is the self-consciousness of oneself by individual through
the process of understanding their own life with reasonable reality,
perceiving the pros and cons, and accepting the limitations and errors
of their own judgment”. Penerimaan diri adalah kesadaran individu
mengenai pemahaman hidupnya dalam menghadapi pro dan kontra
serta menerima keterbatasannya.
Hurlock (1974) mendefinisikan self acceptance sebagai “the degree
to which an individual having considered his personal characteristics,
is able and willing to live with them” yaitu derajat dimana seseorang
telah mempertimbangkan karakteristik personalnya, merasa mampu
serta bersedia hidup dengan karakteristiknya tersebut.
Sedangkan Aderson dalam Sugiarti, (2013) menyatakan bahwa
penerimaan diri berarti kita telah berhasil menerima kelebihan dan
kekurangan diri apa adanya. Menerima diri berarti kita telah
menemukan karakter diri dan dasar yang membentuk kerendahan hati
dan intergritas.
Menurut Kubler-Ross (2015) penerimaan (acceptance) terjdi bila
seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah
pada tidak adanya harapan.
Berdasarkan uraian pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
penerimaan diri merupakan kemauan individu untuk hidup dengan
keadaan karakteristik pribadinya, mampu menghadapi kenyataan dan
menerima dirinya secara utuh, baik kelebihan mapun kekurangannya
Dimensi-dimensi kesejahteraan Psikologis (Psikological Well-Being)
Ryff (1989) mengembangkan pendekatan multidimensial untuk mengukur
psychological well-being. Pendekatan multidimensial tersebut berdasarkan pada
tinjauan berbagai sudut pandang berbagai ahli psikologi yang tertarik dengan
pertumbuhan dan perkembangan penuh potensi individual seperti teori aktualisasi
diri Abraham Maslow (1968), fully functioning personCarl Rogers (1961),
matureperson Gordon Allport (1961), dan Individuation Carl Jung (1933) (dalam
Ryff, Keyes dan Shmothkin, 2002).
Ryff (1989) telah menyusun pendekatan multidimensional untuk
menjelaskan mengenai psychological well-being. Dimensi-dimensi tersebut antara
lain kepemilikan akan rasa penghargaan terhadap dirisendiri, kemandirian,
memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup dan
pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan.
Dampak Perceived Organizational Support
Menurut Eisenberger (Eisenberger dan Rhoades, 2002), Perceived
Organizational Support (POS) memiliki beberapa dampak yaitu :
a. Komitmen organisasi
Atas dasar reprocity norm, persepsi dukungan organisasi akan
mendorong pegawai untuk peduli dengan kesejahteraan organisasi, yang
akan meningkatkan komitmen afektif pegawai terhadap organisasi.
persepsi dukungan organisasi juga akan meningkatkan komitmen afektif
dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional seperti afiliasi dan
dukungan emosional. Pemenuhan kebutuhan tersebut menghasilkan
rasa yang kuat sebagai anggota organisasi, yang melibatkan
keanggotaan pegawai (Eisenberger dan Rhoades, 2002).
b. Job-related effect
Persepsi dukungan organisasi mempengaruhi reaksi afektif pegawai
terhadap pekerjaan mereka, termasuk kepuasan kerja dan mood positif.
Kepuasan kerja mengacu pada sikap keseluruhan pegawai terhadap
pekerjaan mereka. Persepsi dukungan organisasi berkontribusi terhadap
kepuasan kerja dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional,
meningkatkan harapan kinerja penghargaan, dan menandakan
ketersediaan bantuan bila diperlukan. Mood positif berbeda dari
kepuasan kerja karena melibatkan keadaan emosi seseorang tanpa objek
tertentu. Persepsi dukungan organisasi dapat berkontribusi terhadap
perasaan kompetensi dan kelayakan pegawai, sehingga meningkatkan
mood positif (Eisenberger dan Rhoades, 2002).
c. Keterlibatan kerja
Keterlibatan kerja berarti bahwa seseorang merasa tertarik pada
pekerjaan tertentu yang mereka lakukan. Keterlibatan pegawai
dikaitkan dengan ketertarikan mereka. Dengan meningkatkan
kemampuan pegawai, persepsi dukungan organisasi dapat
meningkatkan minat pegawai dengan pekerjaan mereka (Eisenberger
dan Rhoades, 2002)
d. Prestasi
Persepsi dukungan organisasi dapat meningkatkan kinerja pegawai
dengan melakukan pekerjaan yang melampaui tanggung jawab yang
sudah ditugaskan, dan ini akan sangat menguntungkan organisasi
.Menurut George dan Brief, pekerjaan tersebut seperti pekerjaan extra
role, meliputi membantu sesama pegawai, mengambil tindakan yang
melindungi organisasi dari risiko, menawarkan saran konstruktif, dan
memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi
organisasi (Eisenberger dan Rhoades, 2002).
e. Strain
Persepsi dukungan organisasi diharapkan dapat mengurangi
keadaan psikologis yang tidak menyenangkan dan reaksi psikosomatik
(disebut tekanan) terhadap stressor dengan menunjukkan ketersediaan
memberikan dukungan materi dan dukungan emosional ketika
dibutuhkan dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi. Dapat
disimpulkan bahwa persepsi dukungan organisasi dapat menurunkan
tingkat stres pegawai baik tinggi dan rendah terhadap stressor
(Eisenberger dan Rhoades, 2002).
f. Withdrawal behavior
Withdrawal behavior mengacu pada berkurangnya partisipasi aktif
pegawai dalam organisasi. Bentuk withdrawal behavior seperti
keterlambatan, ketidakhadiran, dan omset yang seadanya. Persepsi
dukungan organisasi juga dapat meningkatkan komitmen organisasi
afektif, dengan demikian mengurangi withdrawal behavior
(Eisenberger dan Rhoades, 2002)
Indikator Locus Of Control
Menurut Subhan,dkk (2019) “indikator Locus of Control (LoC)
sebagai berikut :
a. Suka Bekerja Keras
Pegawai memiliki dorongan untuk terus bekerja keras seperti
berkreativitas dalam melakukan pekerjaannya serta berani mengambil
risiko dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya.
b. Memiliki Inisiatif Yang Tinggi
Pegawai memiliki inisiatif yang tinggi terhadap detail dalam
melaksanakan pekerjaannya seperti memperhatikan posisi kecermatan,
menganalisis, dan perhatian pada setiap rincian pekerjaan.
c. Berorientasi Pada Pemecahan Masalah
Pegawai selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah serta
mampu memanajemen pekerjaannya, yang mana hasil pekerjaan
tersebut berfokus pada hasil yang ingin dicapai.
d. Berusaha
Pegawai selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika
ingin berhasil.
e. Stabil
Pegawai memiliki dorongan untuk terus selalu mencoba untuk berfikir
seefektif mungkin dengan memberikan hasil kerja yang memuaskan
untuk meningkatkan kinerja bukan menjadikan kinerja menurun dan
tidak memiliki motivasi untuk berprestasi.
Influencer Endorsement
Influencer marketing adalah jenis promosi yang berkonsentrasi pada
pelanggan yang paling dekat dengan target pasar dari semua sudut karena
pelanggan tersebut telah diidentifikasi sebagai calon pembeli (Dwidienawati et al.,
2020). Influencer adalah seseorang yang mempunyai banyak pengikut serta
perkataannya bisa menarik perhatian pihak lain (Riyandana & Bestari, 2023).
Dalam konteks ini, mengacu pada influencer endorsement sebagai bentuk
pemasaran yang melibatkan publik figur yang memiliki pengaruh besar di media
sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran merek, mempengaruhi
persepsi konsumen, yang pada akhirnya mendorong konsumen untuk melakukan
pembelian berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh influencer tersebut.
Adapun indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang
dilakukan oleh (Dwidienawati et al., 2020). Berikut penjelasan indikator
influencer endorsement yang digunakan dalam penelitian ini:
- Visibility
Mengacu pada eksposur yang diperoleh oleh suatu brand melalui endorsement
dari influencer. Indikator ini mencerminkan sejauh mana influencer berhasil
membuat brand terlihat atau dikenal oleh audiens mereka melalui konten yang
mereka bagikan. - Credibility
Mengacu pada dipercayainya atau kredibelnya influencer yang memberikan
endorsement terhadap suatu brand. Indikator ini mencerminkan sejauh mana
konsumen percaya pada informasi atau rekomendasi yang diberikan oleh
influencer tersebut. - Attractiveness
Mengacu pada daya tarik yang dimiliki oleh influencer yang memberikan
endorsement terhadap suatu brand. Indikator ini mencerminkan sejauh mana
konsumen tertarik atau terpikat oleh penampilan, gaya, atau kepribadian
influencer tersebut. Daya tarik influencer dapat mempengaruhi seberapa efektif
mereka dalam menarik perhatian dan minat konsumen terhadap produk yang
mereka promosikan. - Power
Mengacu pada pengaruh atau kekuatan yang dimiliki oleh influencer dalam
mempengaruhi perilaku konsumen terkait dengan suatu brand. Indikator ini
mencerminkan sejauh mana influencer mampu mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen melalui rekomendasi atau endorsement yang influencer
berikan
Customer Review
Customer review menurut (Dwidienawati et al., 2020), customer review
sendiri umumnya berisikan mengenai informasi tambahan, ulasan ahli, saran,
yang akan menambah nilai bagi calon pelanggan. Customer review berfungsi
sebagai strategi penting bagi perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk,
sementara pelanggan, di sisi lain, mencari ulasan dari reviewer yang terpercaya
(Zhao et al., 2019). Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa
customer review merupakan salah satu strategi pemasaran yang memungkinkan
pelanggan untuk menyampaikan secara publik mengenai pengalaman, opini, dan
penilaian tentang produk atau layanan suatu perusahaan yang sudah digunakan.
Hal ini akan membentuk transparansi terkait kualitas produk atau layanan yang
ditawarkan oleh suatu perusahaan.
Adapun indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang
dilakukan oleh (Dwidienawati et al., 2020). Berikut penjelasan indikator customer
review yang digunakan dalam penelitian ini:
- Impression
Perilaku konsumen yang sering membaca ulasan pelanggan untuk mengetahui
kesan atau impresi produk dari orang lain sebelum mereka membuat keputusan
pembelian. Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen mengandalkan
ulasan pelanggan sebagai sumber informasi untuk membentuk pemahaman
tentang bagaimana produk tersebut dilihat oleh orang lain. - Certainty
Tingkat keyakinan atau kepastian konsumen dalam membuat keputusan
pembelian terkait dengan produk setelah melihat atau membaca ulasan dari
pelanggan. Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen merasa yakin
atau percaya terhadap informasi yang diberikan dalam ulasan pelanggan terkait
produk. - Gathering Information
Tingkat aktivitas konsumen dalam menggunakan ulasan pelanggan sebagai
sumber informasi utama dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
Indikator ini menunjukkan bahwa konsumen secara konsisten menggunakan
ulasan pelanggan sebagai panduan untuk memilih produk yang sesuai dengan
kebutuhan atau preferensi mereka. - Confidence to Make a Purchase
Ketika konsumen membaca ulasan pelanggan, dapat memberikan keyakinan
tambahan kepada mereka untuk membeli produk tersebut. Indikator ini
mencerminkan bahwa ulasan pelanggan memiliki peran penting dalam
meningkatkan kepercayaan diri konsumen dalam mengambil keputusan
pembelian.
Definisi Influencer
Influencer menurut katagori baru yaitu seorang yang memimpin suatu opini, dengan
suatu profesi sebagai selebriti yang telah berkontribusi di media sosial. Seorang influencer
mungkin di gambarkan sebagai “selebriti mikro” atau buatan sendiri (Evans et al., 2017).
Selebriti atau influencer sudah sejak lama di manfaatkan atau di gunakan sebagai media
promosi bahkan kampanye pemasaran, dengan tujuan untuk menyalurkan citra atau
memberikan nilai selebriti kepada merek yang di dukungnya bahkan yang sedang di
gunakannya (Cheah, Ting Cham &Memon,2019). Influencer lebih sering fokus kepada audiens
atau target pasar mereka dengan tujuan agar lebih tersegmentasi kepada siapa berbagi minat,
dan dengan siapa mereka berbagi minat. Dengan begitu, maka influencer harus lebih dekat
dengan audiens dan lebih sepesifik dengan mereka, sehingga mereka dapat tampil dengan
mudah dan percaya atau kredibel.
Pengikut seorang influencer cendrung lebih mengandalkan atau mencari informasi
tentang kepuasaan dengan pembelian produk yang mereka beli. Sehingga lebih relevansi dan
berpotensi bahkan bisa berdampak ke influencer di media sosial (Casalo et al., 2020).
Perkembangan seorang influencer telah meluas dan mendorong customer dalam penggunaan
suatu produk yang berkelanjutan bahkan meluas sampai pemasaranya di media sosial seperti
Instagram (Hashoff,2017). Di sektor ini banyak perusahaan yang memanfaatkan dampak
positif atas influencer dengan cara melakukan kampanye pemasaran yang bertujuan agar minat
pembelian produk dapat mengalami peningkatan (Lou & Yuan, 2019, Rakuten,2019).
Influencer adalah sebuah fenomena modern. Agen pemasaraan telah meningkat secra
signifikan, Sebagian besar seorang influencer termasuk dalam katagori berikut : Selebriti, pakar
industri, blogger atau pembuat konten dan mikro influencer. Sebagai besar pemasaran
influencer di lakukan menggunaan media sosial terutama influencer mikro. Seorang pakar
industry dan pemimpin pemikiran (seorang junalis) juga dapat dianggap sebagai pengaruh
pemberi informasi. Lalu ada seorang selebritis , mereka adalah influencer yang terdukung
dengan followers atau pengikut mereka yang sudah dikatakan banyak. Influencer dapat
dikatakan sebagai seseorang yang:
- Mengetahui keinginan dan keputusan pembelian, opini, perilaku dan keyakinan orang
lain dengan otoritas, pengetahuan pemirsa atau pengikut. - Terkait atau berpartisipasi aktif dalam niche yang sama. Contohnya menggunkan
bintang iklan atau model untuk mengiklankan atau memasarkan produknya.
Influencer biasanya mendukung atau sedang menggunkan produk dengan menceritakan
berdasarkan rekomendasi dari juru bicara. Kemudian pemasaran seorang influencer harus
menarik pengikut mereka
Indikator dan dimensi
Menurut Luthans (2011) bahwa kepuasan kerja memiliki
beberapa dimensi, yaitu :
- Pekerjaan itu sendiri
Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan
pastinya memerlukan keterampilan yang di milikinya
sekaligus merasa bahwa keahliannya dibutuhkan dalam
pekerjaan tersebut atau tidak. Jika karyawan merasa bahwa
pekerjaan yang dilakukan itu menarik, maka karyawan akan
merasa termotivasi dalam melakukan pekerjaan dan puas
terhadap pekerjaan tersebut. - Gaji
Karyawan menganggap bahwa gaji adalah bagaimana
manajemen di dalam organisasi memandang kontribusi
mereka selama melakukan pekerjaan. Karyawan yang telah
melakukan pekerjaan pasti mendapatkan gaji yang
dihasilkan dari jerih payahnya, sehingga gaji yang diterima
oleh karyawan harus bersifat adil karena mempengaruhi
kepuasan kerja dalam diri karyawan. - Promosi
Promosi merupakan suatu penghargaan yaitu proses
kenaikan jabatan dari satu jabatan ke jabatan yang lebih
tinggi. Karyawan yang di promosikan akan memiliki porsi
lebih tinggi dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, serta
wewenangnya. Hal tersebut mendorong karyawan untuk
lebih maju dan lebih semangat dalam bekerja. - Pengawasan
Seorang atasan dalam melakukan pengawasan terhadap
karyawan bisa dengan cara memberikan kepedulian melalui
komunikasi dengan karyawan, memeriksa kinerja karyawan,
memberikan nasihat serta bantuan kepada karyawan secara
individu. Jika suara karyawan dianggap dalam proses
pengambilan keputusan maka karyawan akan merasa di
perhatikan dan dihargai. - Kelompok Kerja
Jika dalam perusahaan memiliki rekan kerja yang
peduli, ramah, mampu diajak dalam bekerja sama maka hal
tersebut sekaligus menjadi sumber dukungan satu sama lain,
kenyamanan, dan dapat memberikan bantuan antar anggota.
Hal tersebut sangat mempengaruhi karyawan dalam
kepuasan bekerja karena menimbulkan rasa senang dalam
diri karyawan serta memudahkan dalam bekerja. Namun
sebaliknya, jika di dalam perusahaan memiliki rekan kerja
yang buruk maka akan menurunkan kualitas kerja karyawan
sehingga kepuasan kerja akan menurun. - Kondisi kerja
Pengaruh kondisi kerja kurang lebih sama dengan
kelompok kerja, jika kondisi kerja memiliki lingkungan
yang bersih, rapi serta menarik maka karyawan akan merasa
lebih semangat dan mudah dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Sebaliknya, jika kondisi kerja memiliki
lingkungan yang kotor, panas, berisik maka karyawan akan
merasa lebih sulit dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Menurut Crow et al (2012) bahwa kepuasan kerja
memiliki beberapa indikator, yaitu : - Puas dengan pekerjaan
Jika seorang karyawan melakukan pekerjaan sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya lalu memberikan hasil
yang baik untuk organisasi maka karyawan akan merasa
puas dengan pekerjaannya tersebut. - Menyukai pekerjaan yang dilakukan
Karyawan yang dapat melakukan pekerjaan sesuai
dengan kemampuannya maka ia dapat menyalurkan
kemampuannya tersebut untuk organisasi, serta memiliki
lingkungan yang mendukung maka karyawan tersebut akan
menyukai pekerjaan yang dilakukan. - Menghabiskan waktu untuk bekerja keras
Jika karyawan merasa puas dengan pekerjaan yang
dilakukan berarti karyawan tersebut senang dalam
melakukan pekerjaannya serta merasa nyaman, sehingga
mampu menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan
pekerjannya. - Dihargai dalam pekerjaan
Karyawan yang merasa telah melakukan pekerjaannya
dengan baik maka akan senang jika dihargai oleh rekan
kerja maupun atasan organisasi tersebut. - Proaktif dalam bekerja
Karyawan yang merasa senang dengan pekerjaannya
maka akan berinisiatif untuk memberikan pengaruh yang
baik dalam organisasinya, serta ingin mencapai tujuan
organisasi sehingga karyawan tersebut merasa puas. - Pekerjaan merupakan hal yang penting
Jika seorang karyawan merasa puas dan nyaman dengan
pekerjaannya maka ia berpikir bahwa pekerjaan yang ia
miliki sangat penting bagi hidupnya.
Indikator Lingkungan Kerja
Indikator lingkungan kerja dalam penelitian ini mendasarkan pendapat
Sedarmayanti (2011 : 26), sebagai berikut: Perhatian dan dukungan pimpinan, yaitu
sejauh mana karyawan merasakan bahwa pimpinan sering memberikan
penghargaan dan perhatian serta menghargai mereka; Kerjasama antarkelompok,
yaitu sejauh mana karyawan merasakan adanya kerjasama yang baik di antara
kelompok yang ada; dan Kelancaran komunikasi, yaitu sejauh mana karyawan
merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar baik antarrekan kerja
maupun pimpinan
Environmental Performance
Environmental performance adalah kinerja perusahaan dalam menciptakan
lingkungan yang baik (green). Peningkatan environmental performance adalah
sumber informasi penting agar perusahaan dapat mencapai tingkatan produksi
yang efisien, perbaikan produktivitas sesuai dengan standar keamanan, penekanan
biaya yang disebabkan karena kerusakan lingkungan dan kesempatan memperoleh
pasar baru (Porter & Van der Linde, 1995). Environmental performance menurut
Ali (2004) adalah mekanisme bagi perusahaan untuk secara sukarela
mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan ke dalam operasinya dan
interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di
bidang hukum. Environmental performance diungkapkan ke dalam environmental
disclosure.
Environmental performance itu sebaiknya di terapkan dalam setiap
perusahaan karena dalam tanggung jawabnya perusahaan terhadap lingkungan
dapat mempengaruhi nilai positif perusahaan itu sendiri. Adanya kesadaran
perusahaan menetapkan environmental performance secara baik sebenarnya
merupakan perwujudan sekaligus titik temu antara kepentingan pelaku etis
perusahaan dan esensi strategi pembangunan berkelanjutan, yaitu dengan melalui
langkah mengintegrasikan antara pembangunan ekonomi, sosial, kemasyarakatan
dan lingkungan hidup. Para investor juga menaruh perhatian terhadap isu
lingkungan ini, terutama kaitannya dengan pemilihan investasi. Para investor pasti
akan memilih investasi yang paling menguntungkan dan tidak mengandung
banyak risiko yang diakibatkan oleh kepedulian lingkungan perusahaan yang
kurang (Wibisono, 2011).
Namun environmental performance perusahaan ini masih dipengaruhi
skala usaha dan kelompok perusahaan tertentu saja (Wahjoedi, 2005). Bahkan
dalam perkembangan selanjutnya, bahwa pihak-pihak yang berkepentingan
menaruh perhatian terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial, terutama
dalam keputusan ekonominya. Environmental performance harus digunakan
sebagai salah satu strategi di dalam mengembangkan usaha perusahaan.
Pengukuran terhadap environmental performance dengan melihat prestasi
perusahaan mengikuti program PROPER yang merupakan salah satu upaya yang
dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mendorong
penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrumen
informasi. Sistem peringkat kinerja PROPER mencakup pemeringkatan
perusahaan dalam lima warna yang akan diberi skor secara berturut-turut dengan
nilai tertinggi 5 untuk warna emas, 4 untuk warna hijau, 3 untuk warna biru, 2
untuk warna merah, dan nilai terendah 1 untuk warna hitam.
Para peneliti sebelumnya berpendapat bahwa environmental performance
yang telah dilakukan perusahaan lebih mengarah pada citra positif dari
masyarakat terhadap perusahaan, karena perusahaan telah memiliki kepedulian
lingkungan yang tinggi. Laporan atas kinerja social perusahaan berpengaruh
terhadap kinerja keuangan perusahaan. Bahkan Anderson & Frankle dalam
Wahjoedi (2005) berpendapat lebih jauh lagi, implikasi dari laba perusahaan akan
berpengaruh terhadap naik-turunnya harga saham di bursa bagi perusahaan yang
memiliki kepedulian environmental performance yang tinggi
Teori Legitimasi
Lindblom (1994) dalam Deegan (1996), mendefinisikan legitimacy theory
sebagai berikut:
“… sebuah kondisi atau status yang ada ketika sistem nilai entitas kongruen dengan
sistem nilai masyarakat yang lebih luas dimana masyarakat menjadi bagiannya.
Ketika suatu perbedaaan, baik yang nyata atau potensial ada di antara kedua sistem
nilai tersebut, maka akan muncul ancaman terhadap legitimasi perusahaan.”
Postulat dari teori legitimasi adalah organisasi bukan hanya harus terlihat
memperhatikan hak-hak investor namun secara umum juga harus memperhatikan
hak-hak publik pendapat dari Deegan & Rankin (1996). Berdasarkan definisi
tersebut, maka tujuan, metode operasi, dan output organisasi harus sesuai dengan
norma dan nilai sosial. Lebih utama, organisasi harus conform dengan aturan
masyarakat untuk menjamin social approval dan dapat terus eksis. Sesuai dengan hal
tersebut, sistem akuntabilitas dan social accounting menjadi esensial untuk
penerimaan operasi organisasi yang berkelanjutan (continued approval of
organization’s operasions) oleh masyarakat.
Teori legitimasi menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya memastikan
bahwa mereka beroperasi dalam bingkai dan norma yang ada dalam masyarakat atau
lingkungan dimana perusahaan berada, dimana mereka berusaha untuk memastikan
bahwa aktivitas perusahaan diterima oleh pihak luar sebagai suatu yang “sah”
pendapat dari Deegan (1996). Pendapat yang sama diungkapkan juga oleh Tilt (1994)
dalam Haniffa et. al (2005) yang menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak
dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan nilai-nilai justice, dan
bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk
melegitimasi tindakan perusahaan. Teori legitimasi kaitannya dengan kinerja sosial
dan kinerja keuangan adalah apabila jika terjadi ketidakselarasan antara sistem nilai
perusahaan dan sistem nilai masyarakat, maka perusahaan dapat kehilangan
legitimasinya, yang selanjutnya akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan
Lindblom (1994) dalam Haniffa et. al (2005)
Return on Asset (ROA)
Profitabilitas merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan
keputusan,dimana rasio ini digunakan sebagai alat pengukur atas kemampuan
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian pengukuran
profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan keefektifan manajemen secara
menyeluruh dan secara tidak langsung para investor jangka panjang akan sangat
berkepentingan dalam hal ini. Ahmar & Kurniawan (2007) mengatakan keuntungan
bagi perusahaan sangat penting karena tidak hanya mempertahankan pertumbuhan
bisnisnya saja tetapi juga memperkokoh posisi keuangan yang kuat.
Profitabilitas dapat diukur dengan menggunakan Return on Assset (ROA)
yang merupakan salah satu rasio keuangan yang sering digunakan. Return on Asset
adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba setiap tahunnya dengan cara menghitung keuntungan atau
kerugian yang dihasilkan oleh perusahaan dibagi dengan jumlah seluruh aset yang
dimiliki oleh perusahaan. MenurutVan Horne (2005) ROA dihitung dengan cara:
Return on Asset = Laba Bersih Setelah Pajak
Total Aktiva
Pengertian CSR (Corporate Social Responsibility)
Definisi CSR atau dikenal sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
adalah suatu tindakan yang dilakukan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab
perusahaan terhadap sosial dan lingkungan disekitar tempat beroperasi (Aini, 2015).
CSR juga dimaksudkan untuk meminimalisir dampak yang di timbulkan
perusahaan selama menjalankan aktivitas bisnisnya (Pradnyani,et.al, 2015).
WBSD (The Word Business Council for Sustainable Development)
memaknai CSR sebagai komitmen bisnis untuk berperilaku etis, beroperasi secara
legal, dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang sekaligus
meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, serta masyarakat lokal
dan masyarakat pada umumnya (Rudito dalam Hastuti,2014).
Menurut Prastowo dan Huda dalam Saraswati (2014), menyatakan bahwa
CSR merupakan suatu upaya/mekanisme alamiah perusahaan untuk membersihkan
keuntungan-keuntungan besar yang diperoleh perusahaan. Sebagaimana yang telah
diketahui bahwa perusahaan dalam memperoleh keuntungan terkadang dapat
menimbulkan kerugian bagi pihak lain baik dalam kegiatan yang disengaja maupun
tidak disengaja. Dikatakan sebagai upaya alamiah CSR adalah konsekuensi dari
dampak yang ditimbulkan dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh perusahaan dapat merugikan masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan
berkewajiban untuk mengembalikan keadaan masyarakat yang mengalami dampak
yang telah ditimbulkan oleh kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan menjadi
lebih baik.
CSR juga merupakan bentuk kepedulian suatu usaha terhadap lingkungan,
baik lingkungan dalam kegiatan usaha maupun lingkungan diluar kegiatan usaha.
Contoh bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan dapat bermacam-
macam mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan
30
30
masyarakat, pemberian beasiswa pendidikan, sumbangan untuk fasilitas
masyarakat yang bersifat sosial dan berguna bagi masyarakat banyak khususnya
masyarakat ditempat beroperasi (Septiana et.al, 2014)
Faktor yang Mempengaruhi Green Human Resources Management
Menurut Fathussalam, dkk (2021), faktor-faktor yang mempengaruhi praktik
Green Human Resources Management, yakni:
- Budaya organisasi dan kepuasan kerja
- Regulasi dan komitmen organisasi
- Kesadaran etika lingkungan dan perilaku pimpinan
- Pelatihan lingkungan (Utama et al., 2022)
Jenis Green Human Resources Management
Jenis-jenis dalam Green Human Resources Management (GHRM) menurut
Hadjri et al. (2020), antara lain:
- Green Recruitment and Selection (GRS)
Green Recruitment and Selection adalah konsep yang menekankan pada
pengambilan keputusan rekrutmen dan seleksi yang ramah lingkungan.
Organisasi harus melakukan kiat untuk pemilihan dan perekrutan karyawan
selektif yang mendukung dan tertarik pada lingkungan (Renwick, Redman
and Maguire, 2013). Sehingga, tujuannya untuk meningkatkan daya tarik
rekrutmen dan juga seleksi bagi calon karyawan yang semakin sadar
lingkungan. Selama pemilihan calon karyawan, proses seleksi karyawan
wajib memastikan pemilihan kandidat yang berkomitmen terhadap
lingkungan (Subramanian, Roscoe and Jabbour, 2019). Serta organisasi juga
dapat mempromosikan praktik ramah lingkungan dan keberlanjutan kepada
kandidat, yang dapat meningkatkan citra mereka di mata masyarakat dan
karyawan. - Green Training (GTR)
Green Training adalah konsep yang menekankan pada pelatihan dan
pengembangan karyawan dengan memperhatikan dampaknya terhadap
lingkungan dan keberlanjutan. Green Training (GTR) berupaya untuk
meningkatkan dukungan inisiatif kelestarian lingkungan (Subramanian,
Roscoe and Jabbour, 2019). Menurut Opatha & Arulrajah, Green Training
(GTR) bertanggung jawab dalam menciptakan budaya untuk menumbuhkan
praktik organisasi hijau (Arulrajah and Opatha, 2016). - Green Compensation (GCO)
Green Compensation adalah konsep yang menekankan pada kompensasi
yang ramah lingkungan. Tujuan penghijauan organisasi dapat dicapai dengan
cara meningkatkan pemberian beberapa kompensasi kepada karyawan atas
komitmen dan kepercayaan yang telah mereka lakukan terhadap praktik
kelestarian lingkungan (Subramanian, Roscoe and Jabbour, 2019). Bentuk
praktik Green Compensation dapat dalam imbalan berbasis tunai (bonus,
uang tunai, premi), imbalan berbasis non tunai (cuti panjang, liburan, hadiah),
penghargaan berbasis pengakuan (penghargaan, apresiasi, publisitas, peran
eksternal, plakat), serta penghargaan positif (umpan balik)
Definisi Green Human Resources Management
Green Human Resources Management (GHRM) yaitu merupakan praktik
pelaksanaan kebijakan serta praktik manajemen sumber daya manusia untuk
memanfaatkan sumber daya yang berkelanjutan dalam organisasi bisnis, dan bentuk
mempromosikan kelestarian lingkungan. Green Human Resources Management
(GHRM) dapat diartikan sebagai praktik pegawai lebih “hijau” menggunakan
praktik dan kebijakan sumber daya manusia yang “hijau”. Praktik ini dilakukan
demi kepentingan individu, bermasyarakat, serta lingkungan (Arulrajah and
Opatha, 2016). Fungsi manajemen sumber daya manusia untuk mendorong
keberlanjutan dalam praktik dan kebijakan Green Human Resources Management
(GHRM) yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja lingkungan
Teori Triple Bottom Line (Grand Theory)
Teori Triple Bottom Line (TBL) disampaikan oleh John Elkington bukunya
“Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century Bussiness”
yang dipublikasi pada tahun 1997. John Elkington mengembangkan konsep Triple
Bottom Line dengan istilah economic prosperity, environmental quality dan social
justice. Teori Triple Bottom Line berbicara tentang bagaimana bisnis korporasi bisa
tumbuh secara berkelanjutan hanya ada satu pilihan, yaitu menyelaraskan kinerja
laba (profit), sumber daya manusia (people), dan kinerja lingkungan (planet) secara
berkesinambungan (Elkington, 1997). Jika sebuah perusahaan ingin
mempertahankan kelangsungan hidupnya serta ingin tetap operasionalnya berjalan,
maka perusahaan tersebut harus memperhatikan laba, sumber daya manusia, dan
lingkungan.
Setiap kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan dan organisasi, termasuk
kebijakan dalam Manajemen SDM harus memiliki upaya dalam kelestarian
lingkungan. Salah satu konsep yang berkaitan dengan implementasi teori Triple
Bottom Line adalah Green Human Resources Management (GHRM) yang dapat
membantu meningkatkan kinerja lingkungan dari industri yang berpotensi
mencemari lingkungan (Hadjri et al., 2020). GHRM dimaksudkan untuk
meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan, dan motivasi karyawan untuk
tujuan meningkatkan kinerja lingkungan perusahaan (Ren, Jiang and Tang, 2022)
Hubungan Antar Variabel Identifikasi Organisasi Dengan GreenOrganizational Citizenship Behavior
Identifikasi Organisasi mendukung keberlanjutan organisasi seperti
organizational citizenship behavior. Akibatnya ketika terdapat identifikasi yang
tinggi terhadap organisasi, karyawan cenderung menunjukkan perilaku membantu
yang melampaui apa yang diharapkan dari karyawan (Freire & Pieta, 2022). Selain
itu dari identifikasi yang tinggi juga mengarahkan karyawan untuk melakukan
aktivitas ramah lingkungan dengan mengadopsi perilaku ramah lingkungan dan
mengembangkan budaya perilaku kewarganegaraan organisasi yang ramah
lingkungan di kalangan karyawan (Meng et al., 2023).
Maka dari itu keberhasilan lingkungan perusahaan tidak dapat bergantung
sepenuhnya pada kebijakan keberlanjutan perusahaan tetapi relatif pada perilaku
pekerja yang ramah lingkungan seperti Green Organizational Citizenship Behavior
(Malik et al., 2021). Oleh karena itu, karyawan yang mengidentifikasi lebih dekat
dengan organisasi cenderung mengadopsi perilaku dan sikap yang melampaui peran
mereka dan yang pada akhirnya menguntungkan perusahaan (Freire & Pieta, 2022).
Sehingga dapat disimpulkan Identifikasi Organisasi berpengaruh terhadap Green
Organizational Citizenship Behavior
Hubungan Antar Variabel Kepuasan Kerja Dengan Perilaku KewargaanOrganisasi Hijau
Karyawan yang mengalami tingkat kepuasan kerja yang tinggi berusaha
menampilkan perilaku yang bermanfaat bagi perusahaan. Karyawan yang puas
dengan pekerjaannya cenderung menunjukkan perilaku timbal balik dan positif,
dengan tujuan menguntungkan organisasi (Freire & Pieta, 2022).
Hubungan antara kepuasan kerja dengan Green Organizational Citizenship
Behavior merupakan hubungan yang searah, yang berarti semakin tinggi tingkat
kepuasan kerja maka akan semakin tinggi Green Organizational Citizenship
Behavior pada perusahaan tersebut (Mulyantoro & Suherman, 2022). Dapat
dikatakan bahwa ketika karyawan lebih puas dengan pekerjaan mereka, mereka
cenderung bertindak dengan tujuan membalas organisasi yang menguntungkan
mereka melalui perilaku organisasi yang bertanggung jawab (Freire & Pieta, 2022).
Sehingga bisa disimpulkan bahwasannya Kepuasan Kerja berpengaruh positif
terhadap Green Organizational Citizenship Behavior
Hubungan Antar Variabel Green Human Resource Management denganIdentifikasi Organisasi
Green Human Resource Management bertujuan untuk menerapkan praktik
yang mendorong pengembangan keterampilan lingkungan dan membuat karyawan
untuk terlibat dalam kegiatan ramah lingkungan. Dengan mengembangkan
keterampilan lingkungan dan berpartisipasi dalam aksi ramah lingkungan,
karyawan menjadi lebih siap secara psikologis bagi organisasi dan menganggap
pekerjaan karyawan tersebut lebih bermakna, yang menghasilkan identifikasi
organisasi yang lebih besar. Karyawan lebih cenderung mengidentifikasi suatu
organisasi ketika karyawan merasa bahwa organisasi tersebut memiliki citra yang
baik. Dalam hal ini, karyawan yang tergabung dalam organisasi yang memiliki
reputasi lingkungan yang baik memberikan penilaian positif terhadap kinerja
organisasi. Hal ini, pada gilirannya, menimbulkan rasa memiliki dan pada akhirnya
mengarah pada Identifikasi Organisasi (Freire & Pieta, 2022). Karena karyawan
lebih memilih untuk mengidentifikasikan diri pada organisasi yang memiliki
reputasi tinggi dan citra yang baik sehingga akan memperkaya konsep diri, citra
diri, dan harga diri karyawannya (Ribeiro et al., 2022).
Identifikasi Organisasi kemudian muncul sebagai salah satu bentuk
identifikasi sosial, dimana seorang individumengembangkan keterikatan emosional
atau rasa memiliki terhadap organisasi tempat karyawan tersebut bekerja yang
diharapkan dapat meningkatkan kinerja praktik Green Human Resource
Management, karena karyawan akan merasa sangat terhubung dengan organisasi
yang akan membuat karyawan mengembangkan perilaku yang lebih bertanggung
jawab terhadap lingkungan dan dengan demikian meningkatkan kinerja lingkungan
dan keberlanjutan organisasi (Ribeiro et al., 2022). Sesuai dengan literatur diatas,
penelitian yang dilakukan oleh (Freire & Pieta, 2022) menyatakan Green Human
Resource Management berdampak positif terhadap Identifikasi Organisasi dan
mengakibatkan hasil kerja yang positif
Hubungan Antar Variabel Green Human Resource Management Hijaudengan Green Organizational Citizenship Behavior
Praktik Green Human Resource Management telah diamati menjadi sangat
penting karena hal tersebut tersebut memainkan peran penting dalam menerapkan
praktik ramah lingkungan dan memodifikasi kebijakan yang ada secara efektif dan
dalam mengembangkan Green Organizational Citizenship Behavior (Meng et al.,
2023). Semakin baik penerapan praktik Green Human Resource Management,
khususnya seperti rekrutmen dan seleksi ramah lingkungan serta pelatihan dan
pengembangan ramah lingkungan, semakin besar kemungkinan karyawan akan
melakukan Green Organizational Citizenship Behavior dalam organisasi (Mostafa
& Saleh, 2023).
GHRM diharapkan dapat mempengaruhi perilaku ramah lingkungan,
karena merekrut karyawan yang memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap
lingkungan, melibatkan mereka dalam implementasi inisiatif ramah lingkungan dan
memberikan pelatihan ramah lingkungan. Sehingga menjadikan karyawan lebih
ramah lingkungan (Ribeiro et al., 2022). Manajemen memainkan peran penting
dalam mendorong kesadaran diri karyawan dan menerapkan praktik ramah
lingkungan dalam kehidupan kerja sehari-hari, Organisasi mengadopsi gaya hidup
ramah lingkungan, yang mempengaruhi perilaku ramah lingkungan para
karyawannya (Meng et al., 2023).
Selain itu beberapa penelitian telah mengkonfirmasi hubungan antara Green
Human Resource Management dengan Green Organizational Citizenship Behavior
(Burlea-Schiopoiu et al., 2022). Sehingga dapat diartikan Green Human Resource
Management berpengaruh positif terhadap Green Organizational Citizenship
Behavior
Green Organizational Citizenship Behavior
Green Organizational Citizenship Behavior mencakup tindakan sukarela
karyawan yang tidak diberi imbalan oleh organisasi terhadap perbaikan lingkungan,
yang telah terbukti memiliki peran penting bagi keberlanjutan perusahaan dan
pengelolaan lingkungan (Malik et al., 2021).
Menurut (Malik et al., 2021) menyatakan bahwa, ada beberapa indikator
untuk mengukur Green Organizational Citizenship Behavior yaitu:
- Eco-initiatives: Upaya yang diambil untuk mendukung, melindungi, atau
memperbaiki lingkungan. - Eco-civic involvement: Perilaku sukarela karyawan untuk ikut
berpartisipasi dalam acara – acara yang diselenggarakan/dikoordinasikan
oleh perusahaan pro – lingkungan. - Eco-helping: Mengacu pada segala bentuk bantuan atau tindakan yang
bertujuan untuk melestarikan atau memperbaiki keseimbangan lingkungan.
Green Organizational Citizenship Behavior merupakan tindakan atau
perilaku karyawan yang melampaui kewajiban dan tanggung jawab formal mereka,
khususnya yang berkaitan dengan praktik ramah lingkungan (Riyanto et al., 2023).
Menurut (Riyanto et al., 2023) menyatakan bahwa, ada beberapa indikator
untuk mengukur Green Organizational Citizenship Behavior yaitu: - Berikan saran: Tindakan yang bertujuan untuk memberikan ide atau
pendapat terhadap suatu masalah atau situasi. - Kontribusi terhadap lingkungan: Kontribusi secara aktif dalam kegiatan
sosial yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan. - Dorongan perilaku: Tindakan yang menunjukan adanya kebutuhan atau
keinginan yang mendorong karyawan untuk bertindak. - Tindakan pertimbangan: Waktu yang dibutuhkan untuk
mempertimbangkan berbagai pilihan, sebelum mengambil sebuah
keputusan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka variabel Green Organizational
Citizenship Behavior merujuk pada penggunaan indikator menurut (Malik et al.,
2021)
Identifikasi Organisasi
Identifikasi organisasi didefinisikan persepsi kepemilikan terhadap suatu
organisasi dan rasa kesatuan dengan organisasi (Ismail & Baki, 2017) dalam
(Hongdiyanto & Saidah, 2024).
Berdasarkan definisi diatas indikator Identifikasi Organisasi menurut
(Hongdiyanto & Saidah, 2024):
- Kritik: Penilaian terhadap suatu tindakan atau ide, baik dalam bentuk
komentar positif maupun negatif. - Keberhasilan: Merujuk pada pencapaian suatu tujuan atau hasil yang telah
ditetapkan. - Rasa Memiliki: Perasaan keterhubungan atau keterikatan emosional dengan
organisasi. - Rasa Ingin Tahu: Keinginan untuk mengetahui atau memahami sesuatu yang
belum diketahui. - Pujian: Ungkapan penghargaan terhadap suatu tindakan yang sudah
dilakukan. - Reputasi: Persepsi atau penilaian yang terbentuk berdasarkan tindakan atau
prestasi.
Identifikasi Organisasi adalah reaksi individu terhadap konsep diri dalam
hubungan khusus antara dirinya dan organisasi. Identifikasi organisasi terdiri dari
daya tarik organisasi, konsistensi antara tujuan organisasi dan individu, loyalitas,
dan hubungan antara individu dan keanggotaan organisasi (Tang, 2022).
Berdasarkan definisi diatas indikator dari Identifikasi Organisasi menurut
(Tang, 2022): - Dimensi Kognitif: Sebuah konsep yang berhubungan dengan proses berpikir
dan pemahaman terhadap suatu informasi. - Dimensi Emosional: Aspek psikologis yang berkaitan dengan perasaan,
emosi, dan suasana hati. - Dimensi Evaluasi: Suatu perspektif yang lebih luas dan mendalam dalam
memahami kinerja atau keberhasilan suatu hal. - Dimensi Perilaku: Aspek – aspek yang membentuk dan mempengaruhi
tindakan atau tingkah laku seseorang, mulai dari internal (psikologis)
sampai eksternal (lingkungan).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka variabel Identifikasi Organisasi
merujuk pada penggunaan indikator menurut (Hongdiyanto & Saidah, 2024)
Kepuasan Kerja
Kepuasan Kerja melibatkan persepsi dan sikap individu terhadap pekerjaan
mereka, termasuk manfaat dan kompensasi yang mereka terima, serta faktor
lingkungan, interpersonal, dan organisasi di tempat kerja mereka (Ibrahim et al.,
2024).
Menurut (Ibrahim et al., 2024) menyatakan bahwa, ada beberapa indikator
untuk mengukur Kepuasan Kerja yaitu:
- Gaji: Merupakan jumlah kompensasi yang diberikan sebagai imbalan atas
pekerjaan yang sudah dilakukan. - Pengawasan: Proses pemantauan atau koreksi yang dilakukan manajemen
terhadap pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan rencana. - Imbalan Bersyarat: merujuk pada jenis kompensasi yang diberikan kepada
karyawan berdasarkan pencapaian kriteria atau hasil tertentu yang telah
ditetapkan. - Tunjangan Tambahan: Bentuk kompensasi tambahan yang diberikan, tetapi
hanya jika karyawan tersebut memenuhi persyaratan atau mencapai kondisi
tertentu. - Sifat Pekerjaan: Mengacu pada jenis pekerjaan dan tugas – tugas yang
dapat di lakukan di tempat kerja.
Kepuasan kerja adalah kemampuan dalam melaksanakan tugas dan
mencapai standar keberhasilan yang ditetapkan oleh perusahaan kepada karyawan
sesuai dengan pekerjaan yang diberikan kepada masing-masing karyawan
(Todingbua & Lambe, 2024).
Berdasarkan definisi di atas, indikator Kepuasan Kerja menurut (Todingbua
& Lambe, 2024): - Pekerjaan itu sendiri: Sejauh mana pekerjaan tersebut menyediakan tugas-
tugas yang menarik bagi individu, peluang untuk belajar, dan kesempatan
untuk menerima tanggung jawab. - Gaji/Upah: Jumlah remunerasi finansial yang diterima dan sejauh mana hal
ini dipandang adil terhadap orang lain dalam organisasi. - Kesempatan promosi: Peluang untuk maju dalam organisasi.
- Pengawasan: Kemampuan pengawas untuk memberikan bantuan teknis dan
dukungan perilaku. - Hubungan Dengan Rekan kerja. Sejauh mana rekan kerja memiliki
kecakapan teknis dan dukungan sosial.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka variabel Kepuasan Kerja merujuk pada
penggunaan indikator menurut (Todingbua & Lambe, 2024)
Green Human Resource Management
Green Human Resource Management didefinisikan sebagai suatu
mekanisme untuk meningkatkan kemauan karyawan dalam mengambil inisiatif
ramah lingkungan dan menunjukan perilaku ramah lingkungan, mengikuti
kebijakan Green Human Resource Management didalam suatu organisasi karyawan
akan memperjuangkan tujuan dan visi organisasi (Hassanein et al., 2024).
Menurut (Hassanein et al., 2024) menyatakan bahwa, ada beberapa
indikator untuk mengukur Green Human Resource Management yaitu:
- Perekrutan Ramah Lingkungan: Suatu proses perekrutan karyawan baru
yang secara aktif mempertimbangkan dampak lingkungan dari setiap tahap
proses perekrutan - Pelatihan: Serangkaian kegiatan yang diberikan kepada karyawan untuk
meningkatkan kemampuan. - Kinerja: Hasil yang dicapai oleh karyawan dalam melaksanakan atau
menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. - Penghargaan: Suatu bentuk imbalan yang diberikan kepada karyawan atas
usaha atau kontribusi yang telah dilakukan. - Keterlibatan: Partisipasi pihak manajemen maupun manajer dalam proses
operasional organisasi terkait inovasi atau ide – ide ramah lingkungan.
Perusahaan yang menjalankan Green Human Resource Management
menerapkan kebijakan organisasi yang ramah lingkungan, memenuhi tanggung
jawab perusahaan, dan menjaga lingkungan yang pada akhirnya akan meningkatkan
citra mereka yang akan berdampak pada keberlanjutan bisnis (Setyaningrum &
Muafi, 2023).
Menurut (Setyaningrum & Muafi, 2023) menyatakan bahwa, ada beberapa
indikator untuk mengukur Green Human Resource Management yaitu: - Green Office: Konsep manajemen kantor yang mengintegrasikan prinsip-
prinsip keberlanjutan dalam operasional sehari-hari - Green Corporate: mengacu pada perusahaan yang menjalankan bisnis
dengan memprioritaskan keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan
dalam setiap aspek operasionalnya. - Green Ability: Kemampuan organisasi atau individu untuk mengadopsi,
mengelola, dan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan secara
efektif dan inovatif. - Green Employees: Adalah karyawan yang memiliki kesadaran lingkungan
yang tinggi, menerapkan perilaku ramah lingkungan di tempat kerja, serta
aktif mendukung inisiatif keberlanjutan perusahaan. - Green Opportunity: Merujuk pada peluang yang dapat dimanfaatkan oleh
organisasi untuk menciptakan nilai tambah melalui inisiatif keberlanjutan.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka variabel Green Human Resource
Management merujuk pada penggunaan indikator menurut (Hassanein et al.,
2024)
Green Innovation
Green innovation berfokus pada pengembangan dan penerapan teknologi dan
praktik ramah lingkungan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Green
innovation menjadi salah satu strategi utama yang diadopsi oleh perusahaan dan
pemerintah untuk menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan pada era modern, di
mana tantangan lingkungan semakin meningkat akibat perubahan iklim dan
eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Hal ini mencakup upaya untuk
mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasional.
Green innovation terdiri dari sistem, proses, produk, dan praktik yang unik atau
diubah yang memberikan keuntungan bagi lingkungan dan mensubsidi
keberlanjutan perusahaan (Xie et al., 2019 dalam Wang et al., 2021). Penerapan
green innovation tidak hanya terbatas pada industri manufaktur, tetapi juga meluas
ke sektor jasa, pertanian, dan energi, yang bertujuan untuk mengurangi dampak
negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan efisiensi sumber daya. Green
innovation harus diberlakukan tidak hanya sebagai formalitas, namun sebagai
langkah konkret perusahaan untuk menciptakan operasional yang ramah
lingkungan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Tseng at al., (2013) dalam Guinot et al. (2022) berpendapat green innovation
terdiri dari ide-ide inovatif baru yang bertujuan untuk menyediakan produk atau
layanan tanpa menyerang alam, menghormati lingkungan, dan bersifat ekologis
dalam konsepsi, konstruksi, penggunaan, dan pembuangannya. Penelitian Thomas
et al., (2022) membahas manfaat ganda dari green innovation bagi lingkungan dan
konsumen, yang menekankan perlunya inovasi produk dan proses hijau. Hal
tersebut disebabkan dari sudut pandang konsumen, produk dan layanan berbasis
green innovation semakin diminati karena kesadaran masyarakat terhadap
keberlanjutan terus meningkat. Green innovation tidak hanya berfungsi sebagai alat
strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai sarana untuk
meningkatkan posisi di pasar, menarik pelanggan, menyediakan layanan ramah
lingkungan, dan memungkinkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif (Luo
& Zhang, 2021, dalam Rodrigues & Franco, 2023). Dengan kata lain, green
innovation adalah alat penting bagi perusahaan untuk meningkatkan pangsa pasar
dan tetap hidup dalam jangka panjang (Karimi, 2020 dalam Rodrigues & Franco,
2023)
Employee Retention
Employee retention mengacu pada kemampuan perusahaan mempertahankan
karyawan dalam jangka panjang. Das dan Baruah (2013) dalam Hadi & Ahmed
(2018) menjelaskan konsep tersebut sebagai sebuah proses di mana karyawan
didorong untuk tetap bersama organisasi selama periode maksimum atau hingga
penyelesaian proyek. Hal tersebut juga didukung oleh Gorde (2019) yang
menyatakan retensi karyawan memperhitungkan berbagai langkah yang diambil
agar seseorang tetap berada di sebuah organisasi untuk jangka waktu yang
maksimal. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai hal sesuai dengan
kapasitas perusahaan untuk membuat karyawannya bertahan dan bekerja di
perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Hal tersebut dikarenakan retensi
karyawan mengacu pada kapasitas perusahaan untuk mempertahankan
karyawannya sekaligus mengurangi keinginan untuk keluar (Wijayanthi et al.,
2024).
Perusahaan perlu memperhatikan 5 hal dasar yang berkaitan dengan retensi
menurut Gorde (2019) yaitu:
a. Environment
Karyawan yang termotivasi ingin berkontribusi pada area kerja di luar
deskripsi pekerjaan spesifiknya. Ramlall (2003) menekankan lingkungan kerja
yang sesuai merupakan kebutuhan karyawan dalam sebuah organisasi karena
akan mendorong komitmen. Nelson (2006) juga menjelaskan dalam studinya
kepuasan kerja merupakan sesuatu yang tidak ternilai, tidak tertandingi dan tidak
ternilai harganya.
b. Growth
Pertumbuhan merupakan bagian integral dari karir setiap individu. Jika
seorang karyawan tidak dapat memperkirakan jalur pengembangan karirnya di
perusahaan saat ini, terdapat kemungkinan karyawan akan meninggalkan
perusahaan begitu mendapatkan kesempatan. Grossman (2002) menekankan
pertumbuhan dan produktivitas adalah hasil akhir dari perilaku karyawan seperti
kinerja, retensi, dan kepuasan karyawan.
c. Compensation
Kompensasi merupakan bagian terbesar dari proses retensi. Karyawan
selalu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap paket kompensasi karyawan.
Kompensasi meliputi gaji dan upah, bonus, asuransi kesehatan, dan tunjangan
setelah pensiun.
d. Relationship
Terkadang hubungan dengan manajemen dan rekan kerja menjadi alasan
bagi karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Manajemen sering kali tidak
dapat menyediakan budaya dan lingkungan kerja yang mendukung bagi
karyawan dalam hal hubungan personalia dan profesional. Budaya kerja yang
mendukung dapat membantu mengembangkan karyawan secara profesional dan
meningkatkan kepuasan karyawan.
e. Support
Karyawan saat ini meminta tempat kerja yang membantu karyawan
menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga, daripada
memaksa karyawan untuk mengutamakan salah satunya.
Di sisi lain, jika perusahaan tidak memperhatikan kelima hal dasar tersebut,
karyawan dapat merasa tidak dihargai yang dapat berdampak pada dedikasi kepada
perusahaan. Dedikasi karyawan terhadap perusahaan atau organisasi dapat
memengaruhi keputusan karyawan untuk tetap tinggal atau keluar dari perusahaan
atau organisasi (Fauzi et al., 2023, dalam Wijayanthi et al., 2024). Menurut Gorde
(2019) perusahaan yang tidak dapat mempertahankan karyawannya dengan baik
atau memiliki turn over yang tinggi dapat berdampak negatif pada perusahaan
seperti:
a. Biaya pergantian karyawan
Biaya pergantian karyawan merupakan salah satu beban finansial yang
signifikan bagi perusahaan. Perusahaan terkadang sulit untuk mengukur secara
akurat seluruh komponen biaya seperti biaya rekrutmen, pelatihan, serta
hilangnya produktivitas selama masa transisi.
b. Hilangnya pengetahuan perusahaan
Karyawan yang keluar dapat membawa pengetahuan berharga tentang
perusahaan, pelanggan, proyek-proyek saat ini, dan sejarah perusahaan.
Perusahaan sering menghabiskan banyak waktu dan uang untuk karyawan
tersebut dengan harapan akan kembali lagi di masa depan.
c. Terganggunya pelayanan pelanggan
Pergantian karyawan juga berpotensi menimbulkan gangguan terhadap
layanan pelanggan. Hal ini disebabkan oleh fakta sebagian besar pelanggan dan
klien menjalin hubungan bisnis tidak hanya berdasarkan produk atau jasa yang
ditawarkan, tetapi juga karena adanya relasi interpersonal yang dibangun dengan
karyawan perusahaan.
d. Turnover dapat menyebabkan lebih banyak turnover
Tingginya turnover dapat memengaruhi stabilitas organisasi secara
menyeluruh. Hal tersebut dikarenakan beban kerja dari posisi yang kosong
sering kali dialihkan kepada rekan kerja yang lain, sehingga menimbulkan
tekanan kerja, penurunan moral, dan potensi meningkatnya keinginan karyawan
lain untuk mengundurkan diri.
e. Efisiensi berkurang
Jika seorang karyawan mengundurkan diri, maka sejumlah waktu akan
terbuang untuk merekrut dan melatih karyawan baru, yang secara langsung dapat
menjadi kerugian bagi perusahaan meskipun sering kali tidak terlihat secara
langsung. Bahkan setelah proses tersebut, tidak ada jaminan karyawan baru akan
memiliki tingkat efisiensi yang sama.
Seiring berkembangnya lingkungan kerja, perusahaan akan mengalami kendala
dalam mempertahankan karyawannya, dikarenakan faktor-faktor untuk
mempertahankan karyawan juga akan berevolusi. Salah satu tantangan utama
adalah sifat lingkungan kerja yang terus berkembang, di mana karyawan menuntut
fleksibilitas yang lebih besar dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan,
yang sering kali tidak dapat diatasi oleh strategi retensi tradisional (Sepahvand dan
Khodashahri, 2021 dalam Noorulkhathija & Hussain, 2025). Menurut beberapa
penelitian terdahulu faktor-faktor yang memengaruhi employee retention, antara
lain talent development, work-life balance, budaya organisasi yang mendukung,
komunikasi, mekanisme umpan balik, pelatihan, lingkungan kerja, kepuasan kerja,
dan kompensasi (Irawati & Bagus Ketut, 2022; Wahyudi et al., 2023; Xuecheng et
al., 2022)
Green Human Resource Management
Green human resource management merupakan pendekatan dalam
manajemen sumber daya manusia yang mengintegrasikan prinsip-prinsip
keberlanjutan lingkungan ke dalam kebijakan dan praktik SDM. Pendekatan ini
muncul sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan global untuk mengadopsi
praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menurut penelitian
Kuo et al. (2022) green human resource management mencakup berbagai aspek,
antara lain green recruitment, green training and development, dan green
compensation and rewards. Pada penelitian ini, ditambahan aspek green
involvement dan green performance appraisal.
a. Green recruitment
Green recruitment bertujuan untuk menarik dan memilih kandidat yang tidak
hanya memiliki keterampilan dan kualifikasi yang dibutuhkan, tetapi juga
memiliki kesadaran dan nilai-nilai yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan
perusahaan. Mwita dan Kinemo (2018) dalam Tsymbaliuk et al. (2023)
menyatakan green recruitment membantu menarik lebih banyak pelamar yang
kompeten. Penerapan green recruitment juga harus sejalan dengan prinsip
keberlanjutan, seperti menggunakan proses rekrutmen berbasis digital, tidak
menggunakan kertas dalam proses rekrutmen, dan melakukan wawancara secara
daring.
b. Green training and development
Green training and development dibutuhkan oleh semua karyawan terutama
karyawan yang belum mengerti mengenai praktik keberlanjutan. Perusahaan
dapat memberikan pelatihan kepada karyawannya agar mendapatkan
pemahaman mengenai keberlanjutan, sehingga karyawan memiliki visi yang
sama dengan perusahaan. Green training and development harus melibatkan
seminar dan lokakarya yang akan memungkinkan karyawan agar memperoleh
pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola lingkungan
dengan efektif; sehingga karyawan dapat menunjukkan perilaku pro-lingkungan
dan pada saat yang sama menjadi ramah lingkungan (Hosain & Rahman, 2016,
dalam Moradeke et al., 2021).
c. Green compensation and rewards
Kompensasi dan penghargaan merupakan salah satu faktor penting tujuan
karyawan bekerja. Green compensation and rewards didasarkan pada kinerja
karyawan terhadap praktik-praktik keberlanjutan. Di antara praktik-praktik
green human resource management, green compesation and rewards
merupakan praktik penting di mana suatu organisasi memberikan imbalan dan
kompensasi kepada karyawannya (Maderazo, 2016; Mandago, 2018, dalam Kuo
et al., 2022).
d. Green involvement
Green Involvement adalah salah satu aspek dalam green human resource
management yang berfokus pada keterlibatan aktif karyawan dalam inisiatif
keberlanjutan lingkungan di tempat kerja. Menurut Renwick et al. (2013) dan
Gupta (2018) dalam Kaur & Mittal (2021) green involvement merujuk pada
kesempatan yang diberikan kepada karyawan untuk mempelajari dan
menerapkan strategi keberlanjutan guna mencegah polusi lingkungan dan
masalah ekologi lainnya. Praktik ini bertujuan untuk mendorong partisipasi
karyawan dalam berbagai program dan kebijakan ramah lingkungan, sehingga
menciptakan budaya organisasi yang lebih sadar lingkungan serta meningkatkan
komitmen karyawan terhadap tujuan keberlanjutan perusahaan.
e. Green performance appraisal
Green performance appraisal merupakan salah satu elemen dalam green
human resource management yang bertujuan untuk menilai dan mengevaluasi
kinerja karyawan berdasarkan kontribusi karyawan terhadap keberlanjutan
lingkungan. Pavitra (2017) dalam Ardiza et al. (2021) menyatakan green
performance appraisal adalah penilaian kinerja karyawan mengenai seberapa
baik karyawan membuat kemajuan menuju lingkungan yang hijau, dimensi dari
green performance appraisal terdiri dari fokus strategis, keterukuran, dan
kelengkapan.
Penerapan green human resource management tidak hanya mendukung
efektivitas organisasi, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap pencapaian
Sustainable Development Goals. Praktik seperti green recruitment dan green
training berperan dalam membentuk budaya kerja yang layak dan beretika sesuai
dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), sedangkan green involvement
dan green performance appraisal mendorong partisipasi aktif karyawan dalam
inisiatif ramah lingkungan, yang sejalan dengan SDG 12 (Responsible
Consumption and Production) dan SDG 13 (Climate Action). Green human
resource management tidak cukup jika hanya sebatas integrasi teknis ke dalam
sistem manajemen SDM. Green human resource management dapat dijadikan
sebagai budaya organisasi yang dipraktikkan karyawan dalam sehari-hari.
Perusahaan yang berhasil membangun kesadaran dan pemahaman akan pentingnya
keberlanjutan pada seluruh elemen SDM akan lebih efektif dalam mencapai kinerja
operasional sekaligus berkontribusi pada tujuan lingkungan global. Jabbour et al.
(2010) dalam Faisal (2023) menyatakan green human resource management
memastikan keberlanjutan lingkungan dan membuat organisasi lebih kompetitif
karena karyawan dan organisasi terlibat dalam inisiatif hijau
Hubungan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Organisasi
Dalam ruang lingkup organisasi selalu ada sebuah sistem nilai yang
mengikat orang-orang di dalamnya. Sistem nilai bersama (sharing value) yang
tumbuh dan berkembang dalam organisasi yang dijadikan acuan seluruh
anggota sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sistem
nilai tersebut adalah budaya organisasi. Sebagaimana menurut Sweeney dan
McFarlin (2002:334) menyatakan budaya organisasi mengacu kepada cara hidup
(way of life) organisasi. Adanya budaya organisasi dalam organisasi akan
membedakan cara kerja organisasi satu dengan organisasi yang lainnya. Budaya
organisasi memberikan arahan mengenai bagaimana seseorang harus
berperilaku, bersikap, bertindak dalam suatu organisasi. Budaya organisasi
menjadikan tugas-tugas di organisasi menjadi terarah sehingga memberikan
pegaruh positif terhadap kinerja organisasi. Pernyataan tersebut sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Asree, et. al. (2010), budaya organisasi
memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kinerja organisasi. Artinya
organisasi yang memiliki budaya yang kuat akan memberikan peningkatan pada
kinerja organisasi. Sebaliknya organisasi yang memiliki budaya yang lemah,
maka kinerja organisasi tidak akan mengalami peningkatan. Hal ini terbukti pada
sebuah hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Febrianto (2011) dan Arifin
(2012) bahwa budaya organisasi yang lemah makan tidak akan berpengaruh
positif pada kinerja organisasi.Budaya organisasi yang lemah maka akan rentan
terjadinya kesalahan-kesalahan dalam bekerja, tidak sesuai dengan sistem nilai
yang telah ditentukan. Oleh sebabnya budaya organisasi harusdianut dan
diinternalisasikan ke semua karyawan yang ada dalam organisasi
Hubungan Green Management Terhadap Kinerja Organisasi
Banyak penelitian sebelumnya yang telah meneliti green management
terhadap kinerja organisasi. Chuang dan Huang (2013), Choi (2012), Green, et.
al. (2012), Alhadid, et. al. (2014), Heriyanto (2008) menunjukkan hasil
penelitiannya bahwa green management memberikan pengaruh positif pada
kinerja organisasi. Konsep metode green management merupakan kebutuhan
utama dalam menjaga perubahan iklim yang terjadi saat ini. Organisasi yang
menerapkan konsep green management akan memberikan pengaruh besar
terhadap lingkungan di mana organisasi tersebut berada. Konsep ini tidak
sekedar memperhitungkan keuntungan namun yang terlebih penting adalah
lingkungan dan sosial. Sehingga akan memberikan dampak positif kembali pada
organisasi yaitu kinerja organisasi dan image perusahaan terhadap masyarakat,
pemerintah, mitra, serta pemasok
Hubungan Budaya Organisasi Terhadap Green Management
Budaya organisasi merupakan akar terwujudnya segala aktivitas dalam
organisasi. Greenberg dan Baron (2003) mengemukakan bahwa organizational
culture is a cognitive framework consisting of attitudes, values, behavior norms,
and expectations shared by organization members.Budaya organisasi yang kuat
tentu akan memengaruhi karyawan dalam bertindak agar sesuai dengan harapan
organisasi. Dalam penelitian-penelitian sebelumnya masih jarang ditemukan
penelitian yang meneliti variabel budaya organisasi terhadap variabel green
management. Namun peneliti memiliki dugaan sementara bahwa adanya
hubungan signifikan dan positif antara budaya organisasi terhadap green
management. Budaya organisasi yang dikembangkan seperti inovasi adanya
pengambilan resiko setiap pekerjaan, diperlukannya perhatian yang rinci,
orientasi pada manusia, orientasi pada hasil, orientasi pada tim, kegresifan kerja
karyawan, dan menjaga stabilitas kerja merupakan bagian dari budaya
organisasi yang dipertahankan dalam ruang lingkup organisasi terutama dalam
penerapan konsep green management. Setiap kegiatan bisnis termasuk green
management tentu menginternalisasikan budaya tersebut. Proses menciptakan
produk yang ramah lingkungan diperlukan adanya sikap yang kreatif dan berani
mengambil resiko dalam bekerja. Dapat dibayangkan ketika karyawan bekerja
tidak memiliki sikap yang kreatif, ketelitian, dan ragu-ragu/ tidak percaya diri
maka akan memberikan pengaruh negative ada pekerjaan yang dilakukannya.
Orientasi pada manusia (pimpinan memberikan perhatian pada karyawan,
bonus) merupakan sebagian dari motivasi yang dapat meningkatkan hasil kerja
dari kegiatan bisnis green management, tanpa motivasi berupa reward atau
perhatian pimpinan maka akan memberikan pengaruh pada hasil kerja bahkan
bias saja dapat terjadi turn over. Selanjutnya orientasi hasil (perhatian pada hasil
pekerjaan, visi dan misi) dan kestabilan kerja merupakan syarat dalam
menjalankan kegiatan bisnis. Hal ini perlu agar visi dan misi yang sudah
ditentukan dapat berjalan sesuai harapan dan hasil dari kegiatan bisnis sehingga
dapat dinilai apakah sudah mencapai standar yang diinginkan atau
belum.Budaya organisasi yang dapat menjaga kestabilan kerja pun sangat
diutamakan dalam setiap kegiatan bisnis termasuk green management. Setiap
pelaksanaan kerja diharapkan dapat berjalan sesuai aturan-aturan yang telah
ditentukan dan harapan yang ingin dicapai agar hasil kerja yang diperoleh
organisasi sesuai target dan kemudian dari hasil yag dicapai tersebut akan
memberikan pengaruh pada reward yang akan diterimanya.
Organisasi yang selalu memelihara budaya organisasi yaitu orientasi tim
akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam kegiatan bisnis green
management. Kemampuan bekerja sama dengan tim merupakan hal yang krusial
dalam organisasi karena manusia adalah makhluk sosial sehingga selalu
membutuhkan bantuan dari orang lain. Bekerja sama dengan tim yang baik pun
dapat menciptakan pendekatan emosional antara karyawan sehingga
menciptakan keharmomisan dalam organisasi.
Deal dan Kennedy dalam Tika (2012:6) pun menegaskan bahwa budaya
organisasimerupakan nilai inti sebagai esensi falsafah organisasi untuk mencapai
sukses yang didukung semua warga organisasi dan memberikan sukses yang
didukung semua warga organisasi dan memberikan pemahaman bersama
tentang arah bersama dan menjadi pedoman perilaku mereka dari hari ke hari.
Oleh karenanya peneliti memiliki dugaan sementara bahwa adanya pengaruh
yang signifikan dan positif antara budaya organisasi terhadap green
management
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transaksional Terhadap Kinerja Organisasi
Gaya kepemimpinan transaksional yang diterapkan dalam suatu
organisasi mampu memberikan pengarh terhadap hasil kerja bawahan. Bawahan
terasa dimotivasi dan diawasi dalam gaya kepemimpinan transaksional.
Pemberian reward berupa penghargaan dari pimpinan karena tugas telah
dilaksanakan, bonus atau bertambahnya penghasilan. Gaya kepemimpinan ini
memfokuskan pada aspek kesalahan yang dilakukan bawahan sehingga
menghindarai hal-hal yang kemungkinan memmengaruhi terjadinya kesalahan.
Ejere dan Abasilim (2013), Iscan (2014) menunjukkan hasil penelitiannya bahwa
gaya kepemimpinan transaksional berpengaruh terhadap kinerja organisasi.
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional TerhadapKinerja Organisasi
Gaya kepemimpinan transformasional dapat mendorong bawahnnya
untuk menerima dan menginternalisasi misi, visi, dan tujuan organisasi, sehingga
menciptakaan perasaan memiliki, Guay, et. al. (2015). Kemampuan memotivasi
dari pemimpin transformasional ini dapat menginspirasibawahan agar dapat
melakukan perubahan besar dan mengaharapkan karyawannya dapat bekerja di
luar batas sehingga dampak yang diperoleh kinerja yang terus menerus.
Mahdinezhad (2013), Yildiz, et. al. (2014), Ejere dan Abasilim (2013)
menunjukkan hasil penelitiannya bahwa kepemimpinan transformasional memiliki
pengaruh yang kuat terhadap kinerja perusahaan. Kepemimpinan
transformasional membuat gambaran yang terkait masa depan yang baik,
optimis dan dicapai, mendorong orang lain untuk meningkatkan harapan mereka,
dan menggunakan bahasa sederhana untuk menyampaikan misi
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transaksional Terhadap Green Management
Selain gaya kepemimpinan transformasional, peneliti memiliki dugaan
sementara bahwa gaya kepemimpinan transaksional memberikan pengaruh
signifikan dan positif terhadap green management. Hal ini mengacu bahwa
dalam penerapan konsep green management dalam suatu organisasi diperlukan
adanya contingent reward, active management by exception dan passive
management by exception yang merupakan indikator dari gaya kepemimpinan
transaksional. Aktivitas karyawan dalam organisasi tidak akan terlepas dari
pengaruh pimpinannya. Penerapan konsep green management dalam organisasi
pun demikian, adanya reward dan punishment akan menjadi motivasi bagi
karyawan untuk bekerja. Keterlibatan pimpinan dalam menyelesaikan pekerjaan-
pekerjaan karyawan yang dinilai tidak memenuhi standar akan memberikan hasil
yang sesuai dengan keinginan pimpinan. Perhatian pemimpin terhadap
pekerjaan bawahannya turut memberikan peran penting dan pencegahan
terhadap kesalahan kerja bawahan serta memberikan arahan yang lebih baik lagi
terhadap keberlangsungan konsep green management tersebut
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Green Management
Gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh kuat terhadap berjalannya
suatu oragnisasi karena ia memiliki wewenang yang dapat mengarahkan dan
memengaruhi para karyawan untuk bertindak sesuai yang diharapkan
organisasi.Pada penelitian-penelitian sebelumnya masih jarangnya
ditemuipenelitian mengenai gaya kepemimpinan transformasional terhadap
green management. Namun, peneliti memiliki dugaan sementara bahwa adanya
hubungan yang signifikan dan positif antara gaya kepemimpinan
transformasional terhadap green management. Hal dapat dijabarkan dari
beberapa indikator yang dimiliki oleh gaya kepemimpinan transformasional,
antara lain Idealized influence (pengaruh ideal), inspirational motivation (motivasi
inpirasional), intellectual stimulation (stimulasi intelektual), dan individualized
consiceration (pertimbangan individu), Bassa dan Avalio dalam Hickman
(1998:135) terhadap indikator-indikator variabel green managementantara lain 1)
proses produksi, 2) pengelolaan lingkungan, 3) keselamatan kerja, dan 4)
manajemen perusahaan.
Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional (pengaruh
ideal) akan dijadikan sebagai acuan ataupun contoh bagi karyawan untuk
bekerja. Pemimpin akan menunjukkan sikap yang sesuai dengan standar etika
dan moral sehingga memungkinkan seorang pemimpin untuk menanamkan sikap
bawahan yang dapat menirunya, Ejere, et. al. (2014). Dalam penerapan green
management diperlukan sikap pemimpin yang dapat menunjukkan etika dan
moral sesuai dengan standar yang telah ditetapkan organisasi. Begitupun halnya
ketika organisasi menerapkan kegiatan bisnis yang ramah lingkungan (green
management). Berbagai kegiatan yang dijalankan seperti proses produksi,
pengelolaan lingkungan, keselamatan kerja, dan manajemen perusahaan sangat
memerlukan sikap pimpinan yang patuh terhadap etika yang sudah ditetapkan.
Sehingga karyawan dapat meniru dan mematuhi peraturan-peraturan sesuai
Standar Operasional Perusahaan (SOP).
Dalam organisasi yang menerapkan konsep green management
diperlukan pimpinan yang mampu mengembangkan semangat tim, memiliki sikap
optimis, dan komitmen terhadap visi organisasi (inspirational motivation (motivasi
inspirasional).Penerapan kegiatan bisnis green management menuntut
organisasi untuk dapat bersaing dengan organisasi yang sejenis yang telah ada.
Tidak hanya sekedar mengandalkan inovasi dari bahan-bahan alami sebagai
input produksi, namun diperlukan dukungan dari seorang pimpinan juga. Cara
kerja pimpinan yang merujuk pada visi yang telah ditetapkan akan menjalankan
misi-misi kerja yang telah direncanakan sehingga visi dan misi akan berjalan
dengan selaras. Pun demikian halnya dalam penerapan konsep green
management, ketika organisasi telah menentukan visi sebagai organisasi yang
ramah lingkungan, maka pola kerja yang diciptakan organisasi pun akan
mengarah pada kerja-kerja yang ramah lingkungan. Pencapaian visi tersebut
perlu dikelola dengan kerja sama dan semangat tim, sikap optimis dari seorang
pimpinan pun dibutuhkan agar karyawan dapat bekerja dengan percaya diri juga.
Intellectual stimulation (stimulasi intelektual), Bass dan Avalio dalam
Hickman (1998) menambahkan bahwa pemimpin transformasional merangsang
upaya karyawan untuk menjadi kreatif. Hal ini sangat berkaitan erat dengan
konsep green management yang diterapkan pada UKM batik. Dalam proses
produksi misalnya, karyawan dituntut untuk dapat bekerja secara kreatif dalam
menciptakan suatu karya. Pimpinan memberikan kebebasan pada karyawan
untuk mengembangkan bakat yang dimiliki. Kemudian apabila dari hasil produksi
terjadi kesalahan, karyawan turut diikutsertakan dalam penyelesaiannya
sehingga mereka didorong untuk memiliki ide atau solusi masalah. Oleh
sebabnya karakteristik pimpinan yang memiliki stimulasi intelektual dapat
membantu mensukseskan kegiatan bisnis green management.
Selanjutnya individualized consideration (pertimbangan individu),yang
juga merupakan salah satu karakteristik gaya kepemimpinan transformasional.
Dalam aktivitas organisasi dengan penerapan konsep green management, gaya
kepemimpinan transformasional (pertimbangan individu) sangat diperlukan,
mengingat dalam hal ini pimpinan memberikan kesempatan belajar bagi
karyawan. Pimpinan secara langsung memberikan pelatihan tentang proses
produksi dengan konsep green management. Di sini, pimpinan memberikan
perhatian khusus terhadap karyawan yang dinilai masih memerlukan
peningkatan kemampuan, oleh karenanya karyawan diberikan kesempatan
belajar oleh pimpinan baik secara langsung atau melalui pendelegasian tugas.
Selain itu karakteristik pertimbangan individu menunjukkan adanya penerimaan
perbedaan individu dengan menempatkan tugas pekerjaan sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya misalnya dalam penugasan proses produksi yang
terbagi menjadi beberapa bagian seperti, pembuatan motif, pencantingan, dan
pencelupan warna. Semua karyawan ditempatkan pada posisi tertentu sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki karyawan
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transaksional Terhadap Budaya Organisasi
Budaya organisasi dibentuk oleh pemimpin yang ada di dalam organisasi.
Pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan dengan mendorong bawahnnya
bekerja dan imbalan sebagai motivasinya, maka akan senantiasa terbentuk
budaya organisasi yang demikian juga. Sebabnya pemimpin memiliki wewenang
untuk memengaruhi bawahannya bertindak sesuai dengan kehendaknya.
Makanya diindikasikan bahwa adanya hubungan gaya kepemimpinan
transaksional terhadap budaya organisasi. Siswatiningsih (2015), Kotter dan
Heskett dalam Tika (2013;149) menunjukkan hasil penelitiannya bahwa gaya
kepemimpinan memberi pengaruh terhadap budaya organisasi. Pemimpin
dipuncak sangat berperan dalam melakukan perubahan-perubahan budaya
organisasi
Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap BudayaOrganisasi
Budaya organisasi dibangun pada orang-orang yang mempunyai
wewenang penuh dalam perusahaan. Pemimpin merupakan seseorang yang
memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menciptakan sistem, nilai, dan
peraturan di perusahaan sehingga akan terciptanya suatu budaya yang melekat
pada perusahaan. Budaya yang diciptakan tidak hanya sekedar dalam bentuk
peraturan yang tertulis, namun dapat berupa komunikasi dan interaksi pemimpin
terhadap karyawan. Pengaruh gaya kepemmpinan pada budaya organisasi
dapat memicu rasa kolektivisme dalam mencapai tujuan organisasi, memberikan
kontribusi lebih besar untuk keberhasilan organisasi. Oleh karenanya, berbagai
macam gaya kepemimpinan akan memengaruhi budaya organisasi. Dalam
penelitian Tipu, et. al. (2012), Graves, et. al. (2013), dan Siswatiningsih (2015)
menunjukkan hasil penelitiannya bahwa kepemimpinan transformasional
berhubungan positif terhadap budaya organisasi. Karyawan dapat menerima dan
menginternalisasi nilai-nilai yang disampaikan oleh para pemimpin, sehingga
meningkatkan pentingnya nilai-nilai yang lebih tinggidan melakukan kegiatan
yang lebih bermakna untuk karyawan
Indikator Kinerja Organisasi
Setiap organisasi memiliki standar kerja yang telah ditentukan. Hal ini
dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan apakah kinerja yang telah
dilakukan telah memenuhi standar atau belum. Masing-masing organisasi
memiiliki indikator yang berbeda, hal ini merupakan aspek penting yang harus
dicapai selain standar kerja yang telah ditentukan. Richard dan Devinney dalam
Ozer dan Tinaztepe (2014) mengungkapkan bahwa indikator kinerja organisasi
dibagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut.
a. Kinerja keuangan (performance financial), meliputi profit, return on assets,
return on investment.
b. Kinerja pemasaran produk (product market performance), meliputi sales,
market share.
c. Shareholder return, meliputi total shareholder return, economic value added.
Sedangkan Moullin (2007) dalam Alhadid, et. al. (2014) menambahkan
mengungkapkan ada tiga indikator dalam mengukur kinerja organisasi, antara
lain sebagai berikut.
a. Financial Performance (Kinerja Keuangan)
Dalam penerapan kegiatan bisnis yang ramah lingkungan, tentu akan
menghilangkan polusi. Selain itu penggunaan kembali bahan produksi
menghasilkan banyak kesempatan untuk memotong biaya dan peningkatan
laba akhir. financial performance (kinerja keuangan) meliputi peningkatan
pangsa pasar, peningkatan omset penjualan, dan peningkatan keuntungan.
b. Environmental Performance (Kinerja Lingkungan)
Kinerja lingkungan berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk
mengurangi polusi udara, limbah cair, dan limbah padat dan kemampuan
untuk mengurangi penggunaan bahan yang berbahaya atau bahan beracun.
Adanya penurunan frekuensi bahaya lingkungan akan ada perbaikan dalam
situasi lingkungan sebuah organisasi.
c. Operational Performance (Kinerja Operasi)
Kinerja operasional berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk
memproduksi peningkatan kualitas produk, dan pemanfaatan kualitas.
Fungsi-Fungsi Kegiatan Terkait Kinerja Organisasi
Dalam organisasi ada berbagai kegiatan yang dilakukan oleh SDM terkait
tujuan yang hendak dicapai dan hal tersebut berkaitan dengan kinerja organisasi
yang telah memiliki standar. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan aktivitas
yang dilakukan secara berulang-ulang dan sistematis. Adapun beberapa fungsi
kegiatan yang terkait dengan kinerja organisasi antara lain sebagai berikut, Umar
(2005:50).
a. Strategi perusahaan. Dalam strategi perusahaan terdapat misi perusahaan,
strategi bisnis yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Strategi
tersebut dapat mencakup perencanaan, implementasi, dan pengawasan.
b. Pemasaran. Evaluasi aspek pasar diarahkan untuk mendapatkan informasi
mengenai hal-hal segmentasi, target, dan posisi produk di pasar, strategi
bersaing yang diterapkan, kegiatan pemasaran melalui bauran pemasaran,
nilai penjualan, dan market share yang dikuasai perusahaan.
c. Operasional. Kegiatan operasional dalam perusahaan, meliputi kegiatan-
kegiatan kualitas produk, teknologi yang digunakan, kapasitas produksi,
persediaan bahan baku dan barang jadi sumber daya manusia, dan
keuangan
Indikator-Indikator Green Management
Dalam organisasi yang memiliki visi dan misi sebagai organisasi yang
ramah lingkungan, diperlukan sebuah konsep yang dapat merealisasikan hal
tersebut. Peneliti akan memaparkan mengenai indikator-indikator green
management baik untuk perusahaan besar yang bertaraf internasional hingga
diperuntukkan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Hal ini dilakukan sebagai
pembanding diantara kedua hal tersebut.
Samsung Electronics (2008) sebagai perusahaan besar yang telah
menerapkan green management yang mengambil co-existence dan kemakmuran
bersama dengan masyarakat adalah inti dari kelangsungan hidup perusahaan
Perusahaan berusaha untuk menjadi perusahaan kontributif bagi masyarakat.
Ada beberapa indikator penerapan green management, Samsung (2008) antara
lain sebagai berikut.
a. The Greening of Management (Penghijauan Manajemen). Dibutuhkan
lingkungan yang sehat dan mengutamakan keselamatan sebagai faktor
utama dalam pengelolaan perusahaan untuk pembangunan berkelanjutan,
membangun lingkungan yang canggih, sehat, dan adanya sistem keamanan
dalam bekerja. memperluas sertifikat standar global dan mempromosikan
kerja yang efisien dengan mengadopsi Sistem Informasi Manajemen Hijau
(GMIS) merupakan beberapa aktivitas dari the greening of management
(penghijauan manajemen).
b. The Greening of Product (Penghijauan Produk). Hal ini untuk meminimalkan
dampak lingkungan dan untuk membuat produk ramah lingkungan mengingat
seluruh proses melalui produksi, penggunaan produk dan hingga menjadi
limbah.
c. The Greening of Process (Penghijauan Proses). Upaya dari the greening of
processs (penghijauan proses) dapat meningkatkan proses atau fasilitas,
mengembangkan teknologi hijau yang beragam termasuk bahan baku
alternatif, meminimalkan bahan bekas melalui pengelolaan bahan yang
mudah tercemar, memaksimalkan efisiensi energi, dan lain-lain, melakukan
penerapan teknologi untuk memproduksi bersih.
d. The Greening of Workplace (Penghijauan Tempat Kerja). Hal ini terwujud
dengan tidak terjadinya polusi, terjaganya kesehatan, dan terhindarnya
kecelakaan di tempat kerja.
e. The Greening of Communities (Penghijauan Komunitas). Bekerja sama
dengan masyarakat sekitar dengan memberikan edukasi pentingnya
pelestarian lingkungan dan bantuan. Peran perusahaan dalam kaitannya
dengan para stakeholder, misalnya menjaga hubungan baik dengan para
pemasok yang mempunyai komitmen pada lingkungan.
Sedangkan green management pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM),
Kementerian Perindustrian berdasarkan pada Peraturan Kepala Badan
Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri No. 56/BPKIMI/PER/2/2014
menerapkan beberapa indikator yang merupakan sebagai bentuk kepatuhan
dalam menjalankan green management, antara lain sebagai berikut.
a) Proses produksi meliputi program efisiensi produksi, penempatan bahan
produksi, adanya perijinan penggunaan bahan pewarna, dan peningkatan
tekhnologi.
b) Pengelolaan lingkungan meliputi pengelolaan limbah dan pemanfaatan
limbah kembali.
c) Keselamatan kerja meliputi sistem sirkulasi udara, adanya penggunaan alat
perlindungan diri, dan persediaan Pertolongan Pertama Kecelakaan (P3K).
d) Manajemen perusahaan meliputi produk bersertifikasi ramah lingkungan, dan
adanya kepedulian terhadap lingkungan.
Berdasarkan pada penjelasan diatas, indikator-indikator dari green
management yang dikemukakan oleh Samsung (2008) hampir memiliki
kesamaan dengan Peraturan Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan
Mutu Industri No. 56/BPKIMI/PER/2/2014 yang diterapkan oleh UKM. Namun
berdasarkan pada ukuran organisasi yang akan diteliti, peneliti lebih memilih
menggunakan tiga indikator yang diterapkan oleh Kementerian Perindustrian
yang dirujuk dari Peraturan Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu
Industri No. 56/BPKIMI/PER/2/2014 yang dikhususkan pada Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) yang dijadikan sebagai alat ukur dari variabel green
management.
Green Management
Suatu organisasi dengan sistem manajemen berbasiskan lingkungan
(green management) merupakan terutama harapan dari semua masyarakat
sekitar organisasi berada. Lingkungan yang bersih dan tidak terkena polusi dapat
melancarkan segala aktivitas masyarakat dan organisasi itu sendiri. Berdasarkan
Undang-Undang RI No.3 Tahun 2014 tentang industri hijau atau green
management adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan
upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan
sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian
fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sedangkan Haden, et. al. (2009) dalam Wintoro (2012) mengemukakan bahwa
green management merupakan kegiatan bisnis yang menggunakan inovasi
sebagai alat untuk mencapai keberlanjutan sumber daya alam, pengurangan
pemborosan sumber daya alam, meningkatkan kemakmuran sosial, dan
memberi keunggulan bersaing perusahaan. Mathur, et. al. (2013) pun
menambahkan bahwa green management merupakan kegiatan organisasi yang
memberikan dampak terhadap lingkungan alam. Triastity (2011) melanjutkan
bahwa green management adalah salah satu model pendekatan untuk
mengevaluasi komitmen suatu perusahaan terhadap tanggung jawab lingkungan.
Artinya kegiatan green management tersebut tidak hanya sekedar berorientasi
pada keuntungan organisasi saja, namun turut memperhatikan lingkungan dan
sosial melalui aktivitas organisasi yang dilakukannya.
Tanggung jawab organisasi terhadap lingkungan tentu menyangkut udara
dan air karena kedua faktor alami ini sangat berpengaruh pada aktivitas
masyarakat. Salah satu tanggung jawab bagi organisasi adalah terjaganya
lingkungan yang sehat dan terhindar dari polusi/ pencemaran. Menurut
Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
No.02/MENLH/I/1998, yang dimaksud dengan polusi/pencemaran air adalah
masuk/dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain
kedalam air/udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, kurang atau
tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini yang kemudian masih menjadi PR besar bagi
organisasi yang masih menghasilkan limbah ke lingkungan.
Banyak peranan yang dihasilkan ketika organisasi telah berkomitmen
menerapkan green management sebagai aktivitas organisasinya. Florida (1994)
dalam Rao (2004) mengemukakan bahwa perusahaan yang menerapkan green
management dalam proses produksinya memberikan beberapa peranan, antara
lain:
a. Produk/ jasa yang dihasilkan oleh perusahaan akan ramah terhadap
lingkungan.
b. Adanya pencegahan pencemaran karena segala sumber pencemaran
berawal dari proses produksi.
c. Proses produksi yang ramah lingkungan diikuti juga dengan penggunaan
teknologi ramah lingkungan.
d. Penggunaan bahan dan daur ulang dilakukan sehingga meminimalisir
pemakaian bahan.
e. Proses produksi ramah lingkungan ditingkatkan sehingga meminimalkan
memberikan dampak limbah yang berbahaya.
f. Produk yang didesain untuk lingkungan dapat meminimalisir dampak
lingkungan yang merugikan.
Artinya dengan dimulainya aktivitas organisasi yang dimulai dari proses
produk yang ramah lingkungan akan memberikan dampak pada proses-proses
produksi selanjutnya yang ramah terhadap lingkungan juga. Bahkan dalam
pengolahan limbahnya pun akan ditangani secara ramah bagi organisasi yang
telah berkomitmen, meski proses produksi yang telah dilakukannya
menggunakan bahan-bahan produksi alami
Karakteristik Budaya Organisasi
Budaya organisasi antara satu organisasi dengan yang lainnya tentu
berbeda karena masing-masing organisasi memiliki sistem nilai berbeda yang
dianut dan diaksanakan. Sistem nilai tersebut dibangun oleh tujuh karakteristik
sebagai esensi dari budaya organisasi, Robbins dan Judge (2011:554) antara
lain sebagai berikut.
a) Inovatif. Suatu tingkatan dimana para karyawan terdorong untuk
bersikap inovatif dalam bekerja.
b) Pengambilan resiko. Suatu tingkatan dimana karyawan berani dalam
bekerja untuk menentukan pilihan yang didalamnya mengandung
resiko.
c) Perhatian yang rinci. Suatu tingkatan dimana para bawahan
diharapkan memperlihatkan kecermatan dan perhatian kepada
rincian.
d) Orientasi pada manusia. Suatu tingkatan dimana keputusan
manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada anggota
organisasi itu.
e) Orientasi hasil. Suatu tingkatan diana manajemen memusatkan
perhatian pada hasil bukan pada teknik dan proses yang digunakan
untuk mencapai hasil.
f) Orientasi tim. Suatu tingkatan dimana kegiatan kerja diorganisir di
sekitar tim-tim dan bukan individu-individu.
g) Keagresifan. Sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif
ketimbang santai.
h) Stabilitas. Sejauh mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan
dipertahankannya status quo dalam perbandingannya dengan
pertumbuhan
Fungsi-Fungsi Budaya Organisasi
Budaya organisasi yang diterapkan perusahaan harus dianut, dipatuhi
dan diinternalisasikan kesemua karyawan perusahaan. Setiap budaya
organisasi yang diinternalisasikan pada karyawan memiliki peranan penting,
oleh sebab itu budaya memiliki sejumlah fungsi dalam organisasi, antara lain
sebagai berikut, Tika (2012:14): 1) pembeda terhadap lingkungan, organisasi
maupun kelompok lain, 2) sebagai perekat bagi karyawan dalam organisasi, 3)
mempromosikan stabilisasi system sosial, 4) sebagai mekanisme control dalam
memadu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan, 5) sebagai integrator,
6) membentuk perilaku bagi para karyawan, 7) sebagai sarana untuk
menyelesaikan masalah-masalah pokok organisasi, 8) sebagai acuan dalam
menyusun perencanaan perusahaan, dan 9) sebagai alat komunikasi.
