Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman definisi dari kualitas layanan adalah alat pembanding
antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan yang mereka terima
(Parasuraman, 2014). Menurut Lewis dan Booms kualitas jasa sebagai ukuran
seberapa baik tingkat layanan yang diberikan sesuai dengan ekpektasi pelanggan
(Tjiptono, 2016). Menurut Zeithaml, Berry dan Parasuraman dalam Travel (2019)
ada lima dimensi kualitas pelayanan jasa, hal ini juga sejalan dengan pendapat
Kotler dalam Tjiptono (2016) yaitu;

  1. Wujud Fisik (Tangible)
    Wujud fisik (tangible) adalah dimensi yang berkenaan dengan daya tarik
    fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta
    penampilan karyawan. Sedangkan Kotler mendefinisikan wujud fisik
    (tangible) sebagai kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
    eksistensinya kepada pihak luar. Penampilan karyawan dan tampilan fisik
    perusahaan termasuk fasilitas-fasilitas yang ada di perusahaan meliputi
    perangkat kerja yang baik, tempat duduk, keadaan ruangan yang nyaman,
    fasilitas umum seperti mushala, toilet dan area parkir adalah bukti nyata dari
    pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. (Kotler & Keller, 2016)
  2. Kehandalan (Reliability)
    Kehandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
    pelayanan sesuai dengan apa yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
    Kinerja harus sesuai dengan harapan konsumen yang berarti ketepatan waktu,
    pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang
    simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi. Pemenuhan janji dalam pelayanan
    akan mencerminkan kredibilitas perusahaan. Kehandalan adalah seringkali
    dijadikan pelanggan sebagai tolak ukur paling penting di berbagai industri
    jasa.
  3. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Daya tanggap (responsiveness) dapat dikatakan daya tanggap terletak pada
    kecakapan, kemampuan para pelaku pemberi jasa dalam memberikan
    pelayanan kepada pelanggan untuk merespon secara cepat dan tepat apa yang
    menjadi kebutuhan pelangan saat itu.
  4. Jaminan (Asurance)
    Keyakinan (assurance) adalah jaminan kepada konsumen mencakup
    kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh para
    pemberi jasa, bebas dari bahaya atau resiko keragu–raguan, perilaku para
    karyawan diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan dan perusahaan
    diharapkan dapat menumbuhkan rasa aman bagi pelanggannya. Sedangkan
    Kotler mendefinisikan keyakinan (assurance) adalah pengetahuan terhadap
    produk secara tepat, kesopan santunan karyawan dalam memberi pelayanan,
    ketrampilan dalam memberi informasi, kemampuan dalam memberi
    keamanan dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan konsumen
    terhadap perusahaan. (Kotler & Kevin lane keller, 2017). 5. Empati
    Empati (empathy) yaitu memberikan sikap yang tulus dan bersifat
    individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan
    berupaya memahami keinginan konsumen. Perusahaan diharapkan memiliki
    pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan
    pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman
    bagi pelanggan.
    Setiap pelanggan mempunyai harapan tersendiri saat memutuskan untuk
    memilih tempatpenyedia jasa yang dibutuhkan. Menurut Kotler harapan
    pelanggan dibentuk berdasarkan pengalaman konsumen berbelanjaan pada masa
    lampau, opini teman dan kerabat, serta informasi dan janji-janji perusahaan
    tersebut dan para pesaing (Kotler & Kevin lane keller, 2017). Menurut Zeithalm
    (2003) mengatakan bahwa harapan pelanggan terhadap jasa ada dua tingkat, yaitu;
    (Parasuraman, 2014)
  5. Pelayanan yang diinginkan (Desired Service)
    Merupakan tingkat pelayanan yang dinginkan pelanggan terdiri dari
    campuran tentang apa yang pelanggan yakini dan seharusnya diterima.
  6. Pelayanan yang memadai (Adequote Service)
    Merupakan tingkatan pelayanan yang paling rendah yang akan diterima
    pelanggan. Pelayanan yang memadai merupakan pelayanan minimum yang
    diberikan perusahaan dan masih diharapkan untuk dapat memenuhi
    kebutuhan dasar konsumen.
    Implikasi baik buruknya kualitas suatu layanan tergantung kepada
    kemampuan penyedia layanan memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten.
    Parasuraman, Zeithaml, dan Berry mengembangkan suatu alat ukur kualitas
    pelayanan yang disebut SERVQUAL (Service Quality) yang dapat digunakan
    untuk memahami harapan persepsi konsumen terhadap kualitas pelayanan dan
    membagi kualitas pelayanan dengan sepuluh dimensi sebagai berikut:
    (Parasuraman, 2014)
  7. Fasilitas fisik (Tangibel) atau yang dirasakan yaitu bentuk fisik dari jasa bisa
    berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, respresentasi fisik dari
    jasa (misalnya kartu kredit plastik), meliputi hal-hal berikut;
  8. Kenyamanan ruangan (udara sejuk, tempat duduk).
  9. Ketersediaan fasilitas penunjang (komputer dan lain-lain).
  10. Ketersediaan tempat parkir.
  11. Penampilan pegawai.
  12. Kebersihan toilet.
  13. Reliabilitas (Reliability) atau keterandalan mencakup dua hal pokok, yaitu
    konsistensi kerja (performance) dan kemampuan untuk dipercaya
    (dependability). Hal ini berarti perusahaan memberikan jasanya secara tepat
    sejak awal (right the first times). Selain itu juga berarti bahwa perusahaan
    yang bersangkutan memenuhi janji, misalnya menyampaikan jasanya sesuai
    dengan jadwal yang disepakati, meliputi:
  14. Ketepatan dalam memenuhi janji yang diberikan.
  15. Keandalan proses pelayanan.
  16. Responsivitas (Responsiveness) atau ketanggapan yaitu kemauan atau
    kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan,
    meliputi hal-hal berikut;
  17. Ketanggapan petugas dalam menangani masalah.
  18. Ketersediaan petugas menjawab pertanyaan konsumen.
  19. Ketersediaan petugas keamanan (satpam) membantu konsumen.
  20. Kompetensi (Competency) atau kemampuan artinya setiap orang dalam suatu
    perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar
    dapat memberikan jasa tertentu, meliputi hal-hal berikut;
  21. Pengetahuan pegawai tentang produk/jasa yang ditawarkan.
  22. Keterampilan petugas dalam melayani konsumen.
  23. Kecepatan pelayanan.
  24. Keragaman produk/jasa yang disediakan/ditawarkan perusahaan
  25. Keakuratan data/informasi yang diberikan konsumen.
  26. Tata krama (Courtesy) atau kesopanan meliputi sikap sopan santun, respek,
    perhatian, dan keramahan yang dimiliki para contact person (seperti
    resepsionis, operator telepon, dan lain-lain) yang meliputi hal-hal sebagai
    berikut;
  27. Keramahan dan sopan santun pegawai dalam melayani konsumen.
  28. Keramahan petugas satpam dalam menjaga keamanan perusahaan.
  29. Kesopanan penampilan pegawai (pakaian dan sikap).
  30. Komunikasi (Communication) artinya memberikan informasi kedalam
    pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami, serta selalu
    mendengarkan saran dan keluhan konsumen yang meliputi;
  31. Kejelasan tentang produk dan jasa layanan yang ditawarkan.
  32. Informasi yang cepat dan tepat tentang perusahaan tarif dan ketentuan.
  33. Penyampaian informasi melalui iklan dan advertansi.
  34. Kredibilitas (Credibility) atau sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas
    mencakup nama perusahaan, reputasi perusahaan, karakteristik pribadi
    contact personnal, dan interaksi dengan pelanggan meliputi tiga hal sebagai
    berikut;
  35. Status kepemilikan perusahaan.
  36. Kinerja manajemen perusahaan.
  37. Reputasi manajemen perusahaan.
  38. Keamanan (Security) yaitu aman dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.
    Aspek ini meliputi tiga hal sebagai berikut;
  39. Keamanan fasilitas fisik perusahaan.
  40. Keamanan dalam melakukan bisnis dengan perusahaan.
  41. Keamanan dari tindak kejahatan.
  42. Akses (Access), yaitu kemudahan untuk dihubungi dan ditemui. Hal ini
    berarti lokasi fasilitas yang mudah dijangkau, waktu menunggu yang tidak
    lama, saluran komunikasi perusahaan yang mudah dihubungi, dan lain-lain
    meliputi hal-hal sebagai berikut;
  43. Mudahnya akses ke perusahaan.
  44. Kemudahan menemui petugas/pejabat perusahaan yang di perlukan.
  45. Tersedianya sarana telekomunikasi (telepon, facsimile dan e-mail).
  46. Perhatian pada pelanggan (Understanding the Customer), yaitu usaha untuk
    memahami kebutuhan yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
  47. Kemampuan untuk pegawai dalam memberikan saran dan pendapat sesuai
    dengan kondisi konsumen/pelanggan.
  48. Pemahaman terhadap kebutuhan konsumen/pelanggan.
  49. Perhatian terhadap konsumen inti (pelanggan utama).