Kualitas


Menurut (Parasuraman, 2014) kualitas adalah sebuah kata bagi penyedia
jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Aplikasi kualitas
debagai sifat dan penampilan produk atau kinerja merupakan bagian utama stategi
perushaan dalam rangka mencapai target perusahaan secara terus menerus.
Menurut Rambat Lupiyoadi dalam (Kurniawan et al., 2020) Kualitas adalah
perpaduan sifat dan dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran
dapat memenuhi persyaratan kebutuhan pelanggan yang menentukan nilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik tersebut memnuhi kebutuhanya.
Menurut Garvin yang dikutip oleh (Tjiptono, 2016), setidaknya ada lima
perspektif kualitas yang berkembang saat ini:

  1. Transcendental Approach
    Kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu sesuatu yang secara
    intuitif dapat dipahami, namun nyaris tidak mungkin dikomunikasikan,
    misalnya kecantikan atau cinta. Perpektif ini menegaskan bahwa seseorang
    hanya bisa belajar memahami kualitas melalui pengalaman yang didapatkan
    dan eksposure berulang kali (repeated exposure)
  2. Product-Based Approach
    Kualitas merupakan karakteristik, komponen atau variasi yang objektif
    yang dapat diukur. Perbedaan pada kualitas terlihat dari perbedaan dalam
    jumlah beberapa unsur atau variasi yang dimiliki produk tersebut. Semakin
    banyak variasi yang dimiliki sebuah produk atau merek, maka semakin
    berkualitas produk atau merek bersangkutan.
  3. User-Based Approach
    Didasari pada pemikiran, perspektif ini merupakan kualitas yang
    tergantung pada orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga
    produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
    merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
    subyektif dan demandoriented ini juga menyatakan bahwa setiap pelanggan
    memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang berbeda satu sama
    lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan
    maksimum yang dirasakan.
  4. Manufacturing-Based Approach
    Perspektif ini bersifat supply-based dan lebih berfokus pada praktik- praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
    sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
    requirements). Dalam konteks bisnis jasa, kualitas berdasarkan perspektif ini
    cenderung bersifat operation-driven.
  5. Value-Based Approach
    Memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga (price) adalah
    ciri- ciri dari perspektif ini. Dengan mempertimbangkan trade-off antara
    kinerja dan harga, kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yaitu
    tingkat kinerja ‘terbaik’ atau sepadan dengan harga yang dibayarkan. Kualitas
    dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
    paling bernilai adalah barang atau jasa yang paling tepat dibeli (best-buy).