Prestasi Kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Dessler (1997) penilaian prestasi kerja adalah suatu proses penilaian prestasi kinerja pegawai yang dilakukan pemimpin perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Menurut Handoko (1996) penilaian prestasi kinerja adalah proses mengevaluasi dan menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.

Menurut Stoner et al. (1996) penilaian prestasi kerja adalah proses yang meliputi:

(1). Penetapan standar prestasi kerja.

(2). Penilaian prestasi kerja aktual karyawan dalam hubungan dengan standar-standar ini.

(3). Memberi umpan balik kepada karyawan dengan tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan prestasi kerja.

Sedangkan yang dimaksud dengan dimensi kerja menurut Gomes (1995: 142) memperluaskan dimensi prestasi kerja karyawan yang berdasarkan:

  1. Quantity work; jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.
  2. Quality of work; kualitas kerja berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
  3. Job knowledge; luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya.
  4. Creativeness; Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
  5. Cooperation; kesetiaan untuk bekerjasama dengan orang lain
  6. Dependability; kesadaran dan kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
  7. Initiative; semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
  8. Personal qualities; menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi.

            Menurut Nurmianto dan Wijaya (2003) tujuan penilaian prestasi kinerja ada 2 (dua) tujuan pokok, yaitu:

  1. Untuk tujuan administrasi personalia.
  2. Menjadi dasar pembuatan keputusan manajemen mengenai promosi, mutasi, demosi dan pemberhentian pegawai.
  3. Menjadi dasar dalam pemberian balas jasa.
  4. Menjadi dasar dalam menetapkan program pendidikan dan pelatihan guna mendukung efektivitas unit unit kerja organisasi.
  5. Menjadi dasar penetapan criteria criteria untuk seleksi dan penetapan pegawai.
  6. Memberikan data mengenai produktivitas organisasi secara keseluruhan atau unit- unit kerja dan individu individu pegawai khususnya.
  7. Untuk tujuan bimbingan dan konseling.
  8. Merupakan forum pembimbingan dan konseling antara atasan dan bawahannya untukmemperbaiki atau mengembangkan kecakapan pegawai.
  9. Mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan pegawai yang menjadi salah satudasar pertimbangan dalam melibatkan pegawai pada program pelatihan dan pengembangan pegawai.
  10. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai sehingga dapat dicapai kinerja yang baik dalam rangka pencapaian tujuan unit kerja dan organisasi.
  11. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para atasan atau pejabat penilai mengamati perilaku kerja pegawai sebagai totalitas hingga diketahui minat, kemampuan, serta kebutuhan pegawai.

Ada beberapa metode penilaian prestasi kinerja, yaitu : Rating Scales (Skala Rating), CriticalIncidents (Insiden-insiden Kritis), Work Standar (Standar Kerja), Ranking, Forced Distribution (Distribusi yang Dipaksakan), Forced-choice and Weighted Checklist Performance Report (Pemilihan yang Dipaksakan dan Laporan Pemeriksaan Kinerja Tertimbang), Behaviorally Anchored Scales, Metode Pendekatan Management By Objective.

 Penilaian kinerja terdiri dari 3langkah (Dessler, 1997):

  1. Mendefinisikan jabatan, yaitu memastikan bahwa penilai dan yang dinilai sepakat tentang tugas – tugasnya dan standard jabatan.
  2. Menilai kinerja, yaitu membandingkan antara kinerja aktual dengan standard-standard yang telah ditetapkan.
  3. Sesi umpan balik, yaitu saat membahas kinerja dan kemajuan bawahan serta membuat rencana pengembangan.

Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Dessler (1997) penilaian kinerja adalah suatu proses penilaian kinerja pegawai yang dilakukan pemimpin perusahaan secara sistematik berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Menurut Handoko (1996) penilaian kinerja adalah proses mengevaluasi dan menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.

Menurut Stoner et al. (1996) penilaian kinerja adalah proses yang meliputi:

  1. Penetapan standar prestasi kerja.
  2. Penilaian prestasi kerja aktual karyawan dalam hubungan dengan standar-standar ini.
  3. Memberi umpan balik kepada karyawan dengan tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan prestasi kerja.

Sedangkan yang dimaksud dengan dimensi kerja menurut Gomes (1995: 142) memperluaskan dimensi prestasi kerja karyawan yang berdasarkan:

  1. Quantity work; jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.
  2. Quality of work; kualitas kerja berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
  3. Job knowledge; luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya.
  4. Creativeness; Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.
  5. Cooperation; kesetiaan untuk bekerjasama dengan orang lain.
  6. Dependability; kesadaran dan kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
  7. Initiative; semangat untuk melaksanakan tugas-tugas  baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
  8. Personal qualities; menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi.

Menurut Nurmianto dan Wijaya (2003) tujuan penilaian kinerja ada 2 (dua) tujuan pokok, yaitu:

  1. Untuk tujuanadministrasi personalia.
  2. Menjadi dasar pembuatan keputusan manajemen mengenai promosi, mutasi, demosi dan pemberhentian pegawai.
  3. Menjadi dasar dalam pemberian balas jasa.
  4. Menjadi dasar dalam menetapkan program pendidikan dan pelatihan guna mendukung efektivitas unit unit kerja organisasi.
  5. Menjadi dasar penetapan criteria criteria untuk seleksi dan penetapan pegawai.
  6. Memberikan data mengenai produktivitas organisasi secara keseluruhan atau unit- unit kerja dan individu individu pegawai khususnya.
  7. Untuk tujuanbimbingan dan konseling.
  8. Merupakan forum pembimbingan dan konseling antara atasan dan bawahannya untuk  memperbaiki atau mengembangkan kecakapan pegawai.
  9. Mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan pegawai yang menjadi salah satu   dasar pertimbangan dalam melibatkan pegawai pada program pelatihan dan pengembangan pegawai.
  10. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai sehingga dapat dicapai kinerja yang baik dalam rangka pencapaian tujuan unit kerja dan organisasi.
  11. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para atasan atau pejabat penilai mengamati perilaku kerja pegawai sebagai totalitas hingga diketahui minat, kemampuan, serta kebutuhan pegawai.

Ada beberapa metode penilaian kinerja, yaitu : Rating Scales (Skala Rating), CriticalIncidents (Insiden-insiden Kritis), Work Standar (Standar Kerja), Ranking, Forced Distribution (Distribusi yang Dipaksakan), Forced-choice and Weighted Checklist Performance Report (Pemilihan yang Dipaksakan dan Laporan Pemeriksaan Kinerja Tertimbang), Behaviorally Anchored Scales, Metode Pendekatan Management By Objective.

Penilaian kinerja terdiri dari 3 langkah (Dessler, 1997):

  1. Mendefinisikan jabatan, yaitu memastikan bahwa penilai dan yang dinilai sepakat tentang tugas – tugasnya dan standard jabatan.
  2. Menilai kinerja, yaitu membandingkan antara kinerja aktual dengan standard-standard yang telah ditetapkan.
  3. Sesi umpan balik, yaitu saat membahas kinerja dan kemajuan bawahan serta membuat rencana pengembangan.

 

Respon Stress (skripsi dan tesis)

Respon stress  dapat dilihat dari sisi individu maupun dari sisi organisasi. Respon stres secara individu akan tampak pada reaksi-reaksi terhadap pekerjaan dalam proses dan hasil dari pekerjaan itu sendiri.  Ada beberapa perubahan yang dirasakan individu ketika menghadapi tekanan yaitu reaksi fisik, emosi, pikiran dan perilaku. Perubahan fisiologis sampai munculnya berbagai penyakit akan muncul dalam kondisi stres. Misalnya jantung berdebar, keringat dingin dan berbagai gangguan psikosomatis lainnya (Bachroni dan Sahlan Asnawi, 1999).

Moorhead dan Griffin (1995) menyatakan bahwa ada tiga dampak terhadap individu yaitu perilaku, psikologis dan medis. Secara perilaku, orang akan melakukan perilaku-perilaku yang tidak biasa seperti minuman keras atau perilaku tindakan kekerasan. Dampak yang lain adalah dampak psikologis yang mengakibatkan misalnya gangguan pada pola makan dan tidur. Dampak pada kesehatan misalnya menyebabkan tekanan darah tinggi dan sakit kepala.

Sementara secara spesifik disebutkan bahwa stres kerja mempunyai dampak negatif terhadap kinerja, ketidakhadiran dan kemungkinan kepindahan (Davis dan Newstroom, 1989). Model hubungan antara stres kerja dengan kinerja disajikan dalam moden stres-prestasi kerja (hubungan U terbalik) pola U tersebut menunjukkan hubungan tingkat stres (rendah tinggi) dengan kinerja (rendah-tinggi). bila tidak ada stres, tantangan kerja juga tidak ada dan prestasi kerja cenderung menurun. Sejalan dengan meningkatnya stres, prestasi kerja cendrung naik karena stres membantu karyawan untuk mengerahkan sumber daya dalam memenuhi kebutuhan kerja. Akhirnya stres mencapai titik stabil yang kira-kira sesuai dengan kemampuan prestasi karyawan (Robbins, 1996).

Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa repon stress dapat berwujud yaitu perilaku, psikologis dan medis dimana hubungannya termodelkan dalam pola U terbalik. Dimana artinya makin tinggi tingkat stres, tantangan kerja juga bertambah maka akan mengakibatkan prestasi kerja juga bertambah. Tetapi apabila tingkat stress sudah optimal maka akan menyebabkan gangguan kesehatan dan pada akhimya akan menurunkan prestasi kerja yang terlalu tinggi. Stres kerja yang sudah optimal umumnya akan mengakibatkan timbulnya kelelahan psikologis yang menyebabkan seorang karyawan akan bekerja dalam keadaan tertekan dan memperbesar terjadinya kesalahan. Sedangkan beban kerja yang terlalu rendah akan menimbulkan kebosanan atau gangguan psikologis.

Sumber Stres Kerja (skripsi dan tesis)

Northcraft (1999) menyatakan bahwa ada beberapa sumber stress di tempat kerja yang berkaitan dengan individu yaitu kondisi organisasi, tuntutan sosial dan keluarga, dan karateristik kepribadian. Dari sisi organisasi sumber stress meliputi:

  1. Pekerjaan itu sendiri yaitu beben kerja yang terlalu sedikit atau terlalu berat, kondisi lingkungan fisik yang jelek, tekanan waktu dan sebagainya.
  2. Peran dalam organisasi yaitu apakah karyawan merasakan conflict role, role of ambiguity, besarnya tanggung jawab, partisipasi dalam organisasi dan pengambilan keputusan.
  3. Perkembangan karir yaitu apakah karyawan merasa overpromotion, underpromotion, kurangnya rasa aman dalam pekrjaan dan sebagainya
  4. Hubungan dalam organisasi yaitu sejauh mana hubungan yang kurang baik antara karyawan-pimpinan, karyawan-karyawan, anatar pimpinan itu sendiri.
  5. Keberadaan organisasi meliputi konsultasi kurang efektif, hambatan dalam perilaku dan politik dalam organisasi
  6. Hubungan organisasi dengan pihak luar yaitu bagaimana kesesuaian anatara tuntutan keluarga dengan tuntutan organisasi dan minat antara pribadi dengan kebijakan organisasi

Dikemukakan Northcraft (1999) bahwa ada dua bentuk sumber stress kerja yaitu perasaan frustasi karena tidak mampu mengontrol situasi yang sedang berlangsung atau karena dari situasi tidak menentu/tidak mampu diprediksikan. Semakin besar potensi frustasi terhadap ketidakpastian dan kotrol yang rendah terhadap situasi, maka semakin besar stress yang dirasakan. Frustasi yang mungkin muncul dari control yang rendah bersumber dari konsultasi yang kurang baik, hambatan perilaku, terlalu banyak atau sedikit pekerjaan, tekanan waktu, partisipasi rendah dalam pengambilan keputusan, dan tuntutan baik dari keluarga masyarakat atau keluarga, serta hubungan interpersonal yang kurang baik. Sumber stress karena ketidakpastian adalah politik dalam organisasi, ketidaknyamanan pekerjaan, kekaburan peran, konflik peran dan delegasi yang kurang jelas.

Moorhead dan Griffin (1995) mengatakan bahwa ada beberapa sumber stress dari organisasi yang mempunyai dampak terhadap perilaku yaitu stress yang berasal dari organisasi dan sumber yang berasal dari kehidupan. Stres yang berasal dari organisasi meliputi tuntutan tugas, tuntutan fisik dan tuntutan interpersonal yang dijelaskan sebagai berikut :

  1. Tuntutan tugas adalah sumber stress yang berkaitan dengan pekerjaan tertentu. Umumnya bila beban kerja tinggi maka semakin stres semkin mudah muncul.
  2. Tuntutan fisik sebagai sumber stres adalah apakah rancangan lingkungan menjadi sumber stres atau tidak.
  3. Tuntutan peran berkaitan dengan interaksi di pekerjaan.

Sementara stres kehidupan berkaitan dengan perubahan kehidupan dan trauma dalam kehidupan. Perubahan kehidupan misalnya kematian pasangan hidup dan trauma kehidupan misalnya perceraian dengan pasangan hidup.

Menurut Robbins (1996) kondisi-kondisi penyebabkan stres disebut dengan stressor yang dapat dikategorikan menjadi sumber stres terkait dengan faktor organisasi antara lain: (a) tuntutan tugas, merupakan tuntutan yang dikaitkan dengan pekerjaan seseorang (b) tuntutan peran, berhubungan dengan tekanan yang diberikan seseorang sebagai suatu fungsi dan peran tertentu yang dijalankan dalam organisasi (c) tuntutan pribadi, adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain.

Kondisi kerja yang menyebabkan diperjelas oleh Davis (1996) dapat berasal dari beban kerja yang berlebihan, tekanan dan desakan waktu, kualitas penyelia yang jelek, iklim politik tidak aman, wewenang yang tidak memadai untuk melaksanakan tanggung jawab, konflik dan ketaksaan (ambiguity) peran, perbedaan antara nilai perusahaan dan karyawan, serta perubahan tipe dan frustasi. Secara singkat kesemua penyebab stres demikian dikategorikan menjadi on the job dan off the job (Handoko, 1992).

Cartwright et al. (1995) memilah-milah penyebab stres kerja menjadi 6 kelompok, yaitu: faktor instrinsik pekerjaan, faktor peran individu dalam organisasi kerja, faktor hubungan kerja, faktor pengembangan karier, faktor struktur organisasi dan suasana kerja, faktor di luar pekerjaan.

Stressor dapat menyebabkan empat hal (Wicken et al, 2004). Pertama, stressor akan menghasilkan suatu pengalaman psikologis seperti perasaan tertekan. Kedua, timbulnya gejala-gejala fisik yang dapat teramati dalam jangka pendek seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Ketiga, terjadinya penurunan efisiensi dan efektifitas kinerja. Keempat, dalam jangka panjang stressor akan menyebabkan pengaruh yang negatif pada kesehatan.

Pengertian Stres Kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Stephen P. Robbins (2003) stress merupakan suatu kondidi dinamik yang didalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constrains), atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Sedangkan menurut Pandji Anoraga (1992) stress diartikan sebagai suatu bentuk tanggapan seseorang baik secara fisik maupun mental terhadap perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.

Sementara lebih spesifik stress kerja oleh Bahrul Ilmi (2003) didefinisikan sebagai perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan, yang disebabkan oleh stresor yang datang dari lingkungan kerja seperti faktor lingkungan, organisasi dan individu. Tinggi rendahnya tingkat stres kerja tergantung dari manajemen stres yang dilakukan oleh individu dalam menghadapi stresor pekerjaan tersebut.

Dari pernyataan diatas maka dapat disimpulkan bahwa stress kerja merupakan beban yang ditanggung karyawan terhadap peluang, kendala, atau tuntutan yang datang dari lingkungan kerja seperti faktor lingkungan, organisasi dan individu yang menyebabkan konfrontasi terhadap keinginan serta persepsi sehingga menyebabkan karyawan mengalami perasaan tertekan atau terancam.

Dimensi Dalam Agresivitas (konsultasi skripsi dan tesis)

Buss dan Perry (1992) mengatakan bahwa ada empat macam agresi, yaitu:

1)        Agresi fisik adalah agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara fisik. Hal ini termasuk memukul, menendang, menusuk, membakar, dan sebagainya.

2)        Agresi verbal adalah agresi yang dilakukan untuk melukai orang lain secara verbal. Bila seorang mengumpat, membentak, berdebat, mengejek, dan sebagainya, orang itu dapat dikatakan sedang melakukan agresi verbal.

3)        Kemarahan hanya berupa perasaan dan tidak mempunyai tujuan apapun. Contoh seseorang dapat dikatakan marah apabila apabila dia sedang merasa frustrasi atau tersinggung

Kebencian adalah sikap yang negatif terhadap orang lain karena penilaian sendiri yang negatif. Contohnya adalah seseorang curiga kepada orang lain karena orang lain tersebut baik dan lain sebagainya

Buss (dalam Bukhori, 2008) mengklasifikasikan agresivitas yaitu agresivitas secara fisik dan verbal, secara aktif maupun pasif, secara langsung maupun tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut masing-masing saling berinteraksi, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk agresivitas.Pendapat ini dikemukakan oleh Buss ada 8 agresivitas yaitu;

1)        Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara langsung misalnya menusuk, memukul, mencubit.

2)        Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menjebak untuk mencelakakan orang lain.

3)        Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara langsung misalnya memberikan jalan untuk orang lain.

4)        Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menolak melakukan sesuatu.

5)        Agresivitas verbal aktif secara langsung misalnya mencaci maki orang lain menusuk, memukul.

6)        Agresivitas verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya menyebarkan gosip yang tidak benar kepada orang lain.

7)        Agresivitas verbal pasif yang dilakukan secara langsung misalnya tidak mau berbicara pada orang lain.

8)        Agresivitas verbal pasif fisik aktif yang dilakukan secar tidak langsung misalnya diam saja meskipun tidak setuju.

Perilaku agresi menurut Myers (2002). Agresi dibagi menjadi dua tipe yaitu:

  1. Agresi Instrumental (Instrumental aggression)

Yaitu agresi yang dilakukan oleh organisme atau individu sebagai alat untuk mencapai tujuan.

  1. Agresi benci (Hostile Aggression)

 Adalah agresi yang di lakukan semata – mata sebagai pelampiasan keinginan untuk menimbulkan efek kerusakan, kesakitan atau kematian pada sasaran atau korban.

Buzz & Perry (dalam Abd-El-Fattah, 2007:237) membagi tipe agresivitas menjadi empat kelompok yaitu:

  1. Physical agression, yaitu tindakan menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk fisik.
  2. Verbal agression, yaitu tindakan menyakiti, mengganggu, atau membahayakan orang lain melalui respon motorik dalam bentuk verbal.
  3. Anger, merupakan suatu bentuk reaksi afektif berupa dorongan fisiologis sebagai tahap persiapan agresi. Beberapa bentuk anger adalah perasaan marah, kesal, sebal, dan bagaimana mengontrol hal tersebut. Termasuk di dalamnya adalah irritability, yaitu mengenai temperamental, kecenderungan untuk cepat marah, dan kesulitan mengendalikan amarah
  4. Hostility, yaitu tergolong kedalam agresi covert (tidak kelihatan). Hostility mewakili komponen kognitif yang terdiri dari kebencian seperti cemburu dan iri terhadap orang lain, dan kecurigaan seperti adanya ketidakpercayaan, kekhawatiran.

Pengertian Agresivitas (konsultasi skripsi dan tesis)

Kartono (2005) menyatakan bahwa perilaku agresif merupakan reaksi primitif dalam bentuk kemarahan hebat dan ledakan emosi tanpa terkendali, serangan, kekerasan, tingkah laku kegila-gilaan dan sadistis. Lebih lanjut Mahmudah (2010) menyatakan bahwa perilaku agresif merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain. Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran agresi. Secara umum, agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain.

Kaplan, Santrock, dan Grebb (2003) menjelaskan bahwa agresi adalah tipe bentuk perilaku yang diarahkan pada tujuan menyakiti atau melukai orang lain. Agresi sendiri menurut Berkowitz (2003) selalu mengacu pada beberapa jenis perilaku, baik secara fisik maupun simbolis, yang dilakukan dengan tujuan menyakiti. Murray (dalam Chaplin, 2004) mengatakan bahwa agresif adalah kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, 16 menjahati, mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara sehat, menghukum berat atau melakukan tindakan sadis lainnya. Dayakisni dan Hudaniah (2006) mengartikan agresi sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organism terhadap organism lain, objek lain dan bahkan dirinya sendiri. Chaplin (2004) mengatakan bahwa agresif adalah satu serangan atau serbuan tindakan permusuhan yang ditujukan pada seseorang atau benda.

Aspek Dalam Kontrol Diri (konsultasi skripsi dan tesis)

Berdasarkan konsep Averill (Devinthia, 2008) terdapat tiga jenis kontrol diri yang meliputi lima aspek, yaitu :

  1. Kemampuan mengontrol perilaku (Behavioral Control)

Kemampuan mengontrol perilaku didefinisikan sebagai kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen :

1)             Kemampuan mengontrol pelaksanaan (regulated administration), yaitu kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya.

2)             Kemampuan mengontrol stimulus (stimulus modifiability), merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi.

  1. Kontrol Kognitif (Cognitive Control)

Kontrol kognitif yaitu kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Kemampuan ini diperinci lebih lanjut ke dalam dua komponen:

1)             Kemampuan memperoleh informasi (information gain), dengan informasi yang dimiliki, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan secara relatif objektif.

2)             Kemampuan melakukan penilaian (appraisal), yaitu melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara objektif.

  1. Kemampuan Mengontrol Keputusan (Decisional Control).

Kemampuan mengontrol keputusan merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.

Menurut Block and Block (dalam Ghufron, 2011) ada tiga jenis kontrol yaitu:

  1. Over control, yaitu kontrol yang berlebihan dan menyebabkan seseorang banyak mengontrol dan menahan diri untuk bereaksi terhadap suatu stimulus
  2. Under control, yaitu kecenderungan untuk melepaskan implus yang bebas tanpa perhitungan yang masak.
  3. Approprite control, yaitu kontrol yang memungkinkan individu mengendalikan implusnya secara tepat.

Dalam penelitian ini akan menggunakan pengukuran berdasarkan teori Averill (Devinthia, 2008) yang membagi kontrol diri menjadi (1) Kemampuan mengontrol perilaku (Behavioral Control) (2) Kontrol Kognitif (Cognitive Control) (3) Kemampuan Mengontrol Keputusan (Decisional Control).

Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Chaplin (2002) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah lakunya sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-implus atau tingkah laku yang impulsif. Kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian, keinginan untuk mengubah perilaku agar sesuai untuk orang lain, selalu nyaman dengan orang lain, menutup perasaannya (Gufron & Risnawati, 2011).

Marvin R. Goldfried dan Michael Merbaum (dalam Ghufron, 2011) berpendapat kontrol diri secara fungsional didefinisikan sebagai konsep dimana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan untuk mengontrol tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara dan teknik yang digunakan melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Menurut Goleman (2005), kontrol diri adalah ketrampilan untuk mengendalikan diri dari api-api emosi yang terlihat mencolok. Tanda-tandanya meliputi ketegangan saat menghadapi stress atau menghadapi seseorang yang bersikap bermusuhan tanpa membalas dengan sikap atau perilaku serupa. Skiner menyatakan bahwa kontrol diri merupakan tindakan diri dalam mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku. Dan tingkah laku dapat dikontrol melalui berbagai cara yaitu menghindar, penjenuhan, stimuli yang tidak disukai, dan memperkuat diri (Alwisol, 2009).

Berdasarkan dari beberapa uraian di atas maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud kontrol diri dalam bentuk penelitian ini adalah kemampuan seseorang untuk menahan keinginan dan mengendalikan tingkah lakunya sendiri, mampu mengendalikan emosi serta dorongandorongan dari dalam dirinya yang berhubungan dengan orang lain, lingkungan, pengalaman dalam bentuk fisik maupun psikologis untuk memperoleh tujuan di masa depan dan dinilai secara sosial

Dimensi dalam Coping (skripsi dan tesis)

Folkman (1986) memandang coping sebagai usaha yang bersifat kognitif dan behavioral yang dilakukan untuk mengatur tuntutan internal dan eksternal yang timbul dari hubungan individu dengan lingkungan yang dinilai mengganggu atau di luar batas-batas yang dimiliki individu tersebut. Ada dua dimensi strategi coping stres, yaitu:

  1. Manifestations of coping
    1. Secara kognitif

Teknik coping secara kognitif adalah untuk menggambarkan usaha intra fisik untuk menyesuaikan dengan kondisi yang stressfull dan akibatnya.

    1. Secara behavioral

Coping secara behavioral lebih kepada usaha tingkah laku yang digunakan untuk mengatasi stres.

  1. Focus of coping
  2. Problem focused coping

Biasanya digunakan untuk mengatasi dan mengatur strategi yang menjadi penyebab timbulnya stres, individu mengontrol hubungannya dengan lingkungan melalui pemecahan masalah, pembuatan keputusan, maupun tindakan langsung. Termasuk diantaranya adalah :

  1. Exercised caution (kehati-hatian), yaitu menahan diri, individu cenderung melakukan tindakan yang tidak memerlukan tantangan daripada tindakan yang mampu menyelesaikan masalah.
  2. Negotiation, diarahkan pada orang lain penyebab masalah, misalnya dengan berusaha mengubah pemikiran orang lain.
  3. Instrumental action, yang mengarah pada pemecahan masalah secara langsung.
  4. Emotional focused coping

Merupakan pemecahan sementara agar individu tidak terlalu menderita terhadap stres yang dialami untuk dicari pemecahan masalah. Meredakan dan mengelola ketegangan emosi yang muncul antara individu dengan lingkungan, misalnya :

  • Support mobilization, memperoleh informasi, saran, dan dukungan emosional dari orang lain.
  • Minimization, secara disadari berusaha untuk tidak memikirkan masalah.
  • Escapism, individu berusaha untuk menghindari stres yang dihadapi.
  • Self blame, memilih pasif daripada mencari usaha untuk keluar dari masalah.

Seeking meaning, menemukan jawaban dari perenungan

Pengertian Coping (skripsi dan tesis)

Proses yang digunakan oleh seseorang untuk mengatasi stressor dinamakan coping. Coping merupakan suatu strategi yang dikembangkan dalam mengatasi masalah yang merupakan kecenderungan tingkah laku individu untuk melindungi diri dari tekanan-tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh problematika pengalaman sosial (Lazarus, 1976). Coping adalah respon yang ditujukan terhadap stressor, baik yang berupa sikap, perasaan, atau pikiran individu dalam usaha untuk mengatasi, menahan, atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam.

Lazarus (dikutip Stone dan Neale, 1984) mengemukakan pendapat bahwa tingkah laku coping adalah tingkah laku yang mengarah pada pemecahan masalah yang paling sederhana dan realistis untuk membebaskan diri dari bahaya yang nyata dan tidak nyata (imajiner). Tingkah laku tersebut juga melibatkan pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi dan mengontrol efek dari perasaan dan pengalaman seseorang dalam situasi yang menekan. Coping merupakan respon yang ditujukan terhadap stressor, baik itu berupa sikap, perasaan atau pikiran individu dalam usaha mengatasi, menahan atau menurunkan efek negatif dari situasi yang mengancam (Baron dan Byrne, 1991).

Perilaku coping merupakan suatu proses yang dibutuhkan setiap waktu, karena konflik akan selalu timbul. F. Cohen dan Lazarus (1972) menyatakan bahwa usaha coping bertumpu pada lima tugas utama yaitu:

  1. Mengurangi kondisi lingkungan yang mengancam dan meningkatkan kemungkinan untuk kembali ke kondisi semula.
  2. Bertahan dan menyesuaikan diri dengan kejadian negatif dan kenyataan.
  3. Memelihara self image yang positif.
  4. Menjaga keseimbangan emosional.
  5. Menjaga kelanjutan hubungan emosional yang memuaskan dengan orang lain.

Aspek dalam Harga Diri (skripsi dan tesis)

Ada empat aspek menurut Coopersmith (1967) yang menjadi  sumber pembentukan harga diri seseorang. Empat hal tersebut adalah :

  1. Keberartian (significant)

Keberartian individu nampak dari adanya penerimaan, penghargaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian biasanya ditujukan dengan adanya penerimaan dari lingkungannya, ketenaran dan dukungan keluarga. Semakin banyak ekspresi kasih sayang yang diterima individu, individu akan semakin berarti. Tetapi apabila individu tidak atau jarang memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka kemungkinan besar individu akan merasa ditolak dan mengisolasikan diri dari pergaulan.

  1. Kekuatan (power)

Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol diri sendiri serta orang lain. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan adanya penghargaan, penghormatan dari orang lain. Pengaruh dan wibawa juga merupakan hal-hal yang menunjukkan adanya aspek ini pada seorang individu. Dari pihak individu, seseorang yang mempunyai kemampuan seperti ini biasanya akan menunjukkan sifat-sifat asertif dan explanatory actions yang tinggi.

  1. Kompetensi (competence)

Merupakan performance atau penampilan yang prima dalam upaya meraih kesuksesan dan keberhasilan. Dalam hal ini penampilan yang prima ditunjukkan dengan adanya skill atau kemampuan yang merata untuk semua usia. Dengan adanya kemampuan yang cukup, individu akan merasa yakin untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Individu dengan kompetensi yang bagus akan merasa setiap orang memberi dukungan padanya. Individu akan merasa mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapinya serta mampu menghadapi lingkungannya.

  1. Kebajikan (virtue)

Adanya kesesuaian diri dengan moral dan standar etik yang berlaku di lingkungan. Kesesuaian diri dengan moral dan standar etik diadaptasi individu dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orang tua. Permasalahan nilai ini pada dasarnya berkisar pada persoalan benar dan salah. Bahasan tentang kebajikan juga tidak akan lepas dari segala macam pembicaraan mengenai peraturan dan norma di dalam masyarakat, juga hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta ketaatan dalam beragama

Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Brandshaw (1981) mengatakan bahwa harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Yang dimaksud penilaian adalah perbandingan antara dirinya sendiri dengan suatu kelompok acuan, baik dalam kelompok dimana individu tersebut menjadi anggota maupun suatu kelompok dimana individu ingin menjadi anggota. Penilaian ini dapat berupa perasaan positif tentang dirinya, yang berarti individu tersebut memiliki harga diri yang tinggi, maupun perasaan negatif tentang dirinya, yang berarti individu tersebut memiliki harga diri yang rendah. Harga diri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tingkah laku.

Individu dengan harga diri  yang tinggi mempunyai pemikiran yang tepat tentang kemampuan atau kualitas dirinya, berpikir positif mengenai dirinya, mempunyai tujuan yang tepat, dan mampu menggunakan feedback untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai harga diri yang rendah akan berpikir negatif tentang dirinya sendiri, mempunyai gambaran diri yang kurang tepat, sering menetapkan tujuan yang tidak realistik, cenderung pesimis menghadapi masa depan, bereaksi secara emosional dan perilaku yang lebih merugikan terhadap kritik atau feedback negatif, serta lebih merisaukan tentang pengaruh sosial pada orang lain (dalam Taylor, Peplau, dan Spears, 2000).

Harga diri menurut Coopersmith (1967) adalah suatu pendapat pribadi yang pantas, yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu yang berpatokan pada dirinya sendiri. Coopersmith (dalam Elkins, 1979) juga mengemukakan bahwa kemungkinan besar syarat paling penting untuk perilaku efektif, pokok dari seluruh permasalahan adalah  harga diri. Dengan harga diri, kita menunjuk pada evaluasi yang dibuat oleh individu dan umumnya dipertahankan melalui penghargaan untuk dirinya; harga diri mengekspresikan sikap persetujuan atau ketidaksetujuan, dan menunjukkan tingkat dimana individu tersebut mempercayai bahwa dirinya mampu, signifikan, sukses, dan berharga. Secara singkat, harga diri adalah sebuah penilaian personal dari ‘keberhargaan’, yang terekspresi dalam sikap yang individu lakukan terhadap dirinya sendiri. Harga diri merupakan pengalaman subyektif yang disampaikan individu kepada orang lain secara verbal dan perilaku ekspresif overt lainnya

KRITERIA DALAM PENELITIAN KLINIS (skripsi dan tesis)

 

Menurut undang-undang, maka penelitian klinis harus memenuhi tiga kriteria yakni:

  1. Kegiatan peneliitan klinis itu mencakup pemberian obat oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien
  2. Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa obat tersebut mempunyai efek yang bermanfaat bagi pasien
  3. Pemberian obat tersebut bertujuan untuk menentukan berapa besar dan sampai berapa jauh suatu obat mempunyai efek-efek yang menguntungkan atau merugikan

(Soekidjo, 2010)

JENIS DALAM PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)

 

Pada dasarnya ada dua tipe penelitian intervensi ini, yakni intervensi di bidang preventif dan penelitian intervensi di bidang kuratif.

  1. Penelitian intervensi preventif

Penelitian ini mencoba mempelajari hubungan faktor resko dengan kejadian suatu penyakit dengan memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap faktor tersebut pada subjek. Walau efek perlakuan yang diberikan secara kolektif pada individu dalam masyarakat tersebut dapat diamati dengan pendekatan individual tetapi pengamatan tersebut lebih sering dilakukan dengan pendekatan kelompok.

  1. Penelitian intervensi kuratif

Penelitian eksperimental kuratif/intervensi mencoba memberikan perlakuan terhadap perkembangan suatu penyakit. Dengan kata lain, penelitian ini akan mengungkapkan apakah riwayat alamiah suatu penyakit dapat dimanipulasi atau di intervensi secara spesifik. Perlakuan dalam tipe penelitian ini adalah berupa pemberian penatalaksnaan tindakan kuratif kepada masyarakat untuk menanggulangi penyakit endemi masyarakat. Perlakuan bisa berupa penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk pengobaan massal

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

 

 

 

PENGERTIAN PENELITIAN INTERVENSI (skripsi dan tesis)

Penelitian intervensi adalah penelitian eksperimental yang dikenakan pada masyarakat sebagai kesatuan himpunan subjek. Peneliti melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan bukan dengan pendekatan subjek secara individual seperti pada penelitian klinik, melainkan dengan pendekatan kelompok. Perlakuan diberikan dalam wujud paket yang dikenakan pada subjek secara kolektif dalam komunitas. Efek perlakuan diamati dengan menggunakan satuan analisis inividual maupun kelompok

Nama lain dari penelitian intervensi ini adalah penelitian operasional. Disebut penelitian operasional karena peneliian ini dilakukan sekaligus untuk meperbaiki suatu sistem atau program yang sedang berjalan. Beberapa peneliti menamakan penelitian ini sebagai action research atau penelitian tindakan karena penelitian dilakukan dengan melakukan tindakan yakni intrevensi atau manipulasi salah satu variabel

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN SEPARATE SAMPLE PRETEST POSTTEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan dan keluarga berencana. Pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap sampel yag dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kedua (post test) pada kelompok sampel lain yang juga dipilih secara acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk menghindari pengaruh atau efek dari “pretest: meskipn tidak dapat mengkontrol sejarah, maturitas dan instrumen. Rancangan ini dapat di ilustrasikan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x
Kel. Kontrol x 02

 

Di samping itu, ke empat rancangan eksperimen semu ini rancangan eksperimen sungguhan (true experiment) juga dapat digunakan dalam penelitian eksperimen, hanya simbol R (randomisasi) dilakukan atau diabaikan.

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN NON EQUIVALENT CONTROL GROUP (skripsi dan tesis)

 

 

Dalam penelitian lapangan, biasanya lebih dimungkinkan untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan dengan suatu kelompok kontrol yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang benar-benar sama. Misalnya kita akan melakukan studi tentang perngaruh pelatihan kader terhadap cakupan Posyandu. Kelompok kader yang akan diberikan pelatihan, tidak mungkin sama betul dengan kelompok kader yang tidak akan diberi pelatihan (kelompok kontrol). Bentuk rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 x 02
Kel. Kontrol 01 x 02

 

Rancangan ini disebut sebagai non equivlent control group dan sangat baik digunakan untuk evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan lainnya. Di samping itu, rancangan ini juga baik untuk membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu kecamatan atau desa atau sebaliknya. Dalam rancangan ini pengelompokkan kontrol tidak dapat dilakukan secara random atau acak. Oleh sebab itu rancangan ini sering disebut juga non randomized control pretest posttest design

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU DENGAN KELOMPOK PEMBANDING (skripsi dan tesis)

 

 

Pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, hanya saja menggunakan kelomok pembanding (kontrol). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya kontrol terhadap validitas internal sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih menjamin adanya validitas internal yang tinggi. Bentu rancangan tersebut adalah sebagaimana tercantum sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen 01 02 03 x 04 05 06 07
Kel. Kontrol 01 02 03 x 04 05 06 07

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini seperti rancangan pretest post test, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang), sebelum dan sesudah perlakuan. Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 02 03 04 X 05 06 07 08

 

Dengan menggunakan serangkan observasi (tes) dapat memungkinkan validitasnya lebih tinggi. Karena pada rancangan pre tes postets kemungkinan hasil 02 dipengaruhi oleh faktor lain di luar perlakuan sangat besar. Sedangkan pada rancangan ini, oleh karena observasi dilakukan lebih dari satu kali (baik sebelum maupun sesudah perlakuan) maka pengaruh faktor luar tersebut dapat dikurangi

 

(Soekidjo, 2010)

 

 

RANCANGAN POSTTEST DENGAN KELOMPOK KONTROL (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini juga merupakan eskperimen sungguhan dan hampir sama dengan rancangan  Randomizes Salomon Four Grup, hanya bedanya tidak dilakukan pre test. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupin kelompok kontrol. Kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
R (kelompok Eksperimen) X 02
R (kelompok Kontrol) 02

 

Dengan rancangan ini, memungkinkan peneliti mengukur pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok kontrol. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahan itu terjadi, sebab pretest tidak dilakukan untuk menentukan data awal

(Soekidjo, 2010)

RANCANGAN RANDOMIZES SALOMON FOUR GRUP (skripsi dan tesis)

 

 

Rancangan ini dapat mengtaasi kelemahan eksternal validitas uang ada pada rancangan randomized control group pretest posttes. Apabila pretest mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretest maka generalisasi dari penelitian ini untuk populasi. Demikian pula kalau ada interaksi antara pretest dengan perlakuan (X). Rancangan Salomon ini dapat mengtasi masalah ini dengan menambah kelompok ke 3 (dengan perlakuan, tanpa pretest) dan yang ke 4 (tanpa perlakuan, tanpa pretest). Bentuk rancangan ini sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
Kel. Eksperimen (a) 01 X 02
Kel. Kontrol 01 02
Kel. Kontrol X 02
Kel. Kontrol 02

 

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN PERBANDINGAN KELOMPOK STATIS (skripsi dan tesis)

 

Rancangan ini seperti rancangan Rancangan Post Test Only Design, hanya bedanya menambahkan kelompok kontrol atau kelompok pembanding. Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok kontrol yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Perlakuan Post Test
Kelompok eksperimen X 02
Kelompok kontrol 02

 

Dengan rancangan ini , beberapa faktor pengganggu seperti sejarah, testing, maturasi dan instrumen dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya.

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN ONE GROUP PRETEST POST TEST (skripsi dan tesis)

Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (program). Bentuk rancanganini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest
01 X 02

 

Kelemahan dari rancangan ini antara lain tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen karena intrevensi atau perlakuan. Tetapi perlu dicatat bahwa rancangan ini tidak terhindar dari berbaga kelemahan tersehadap validitas misalnya sejarah, testing, maturasi dan instrumen

 

(Soekidjo, 2010)

 

RANCANGAN POST TEST ONLY DESIGN (skripsi dan tesis)

Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X) kemudan dilakukan pengukuran (observasi) atau post test (02). Selama tidak ada kelompok kontrol, hasil 02 tidak mungkin dibandingkan engan yang lain. Rancangan ini sering disebut “The One Shot Case Study”. Hasil observasi (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. Rancangan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Eksperimen Posttets
X 02

Dalam rancangan ini sama sekali tidak ada kontrol dan tidak ada internal validitas. Sifatnya yang cepat dan mudah, menyebabkan rancangan ini sering digunakan untuk meneliti suatu program yang inovatif. Misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan. Di samping itu, rancangan in tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau perbandingan. Oleh sebab itu kesimpulan yang diperoleh dapat menyesatkan. Namn demikian rancangan ini mempnunyai keuntungan antara lain dapat digunakan untuk menjajagi masalah-masalah yang diteliti atau mengembangkan gagasan atau metode-metode atau alat-alat tertentu.

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS EKSTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

  1. Efek seleksi berbagai bias

Karakteristik anggota kelompok atau sampel eksperimen menentukan sekali terhadap generalisasi yang diperoleh. Kekeliruan dalam memilih anggota sampel dapat mengganggu hasil eksperimen. Oleh sebab itu, agar sampel yang diambil dapat representatf terhadap opulasi perlu diakukan identifikasi dan kontrol yang tepat

  1. Efek pelaksanaan pretest

Pretest banyak mempengaruhi variabel eksperimen, sedang pretest hanya dilakukan terhadap sampel. Oleh karena itu, eneralisasi yang diperoleh dari pelaksanaan eksperimen terhadap sampel, kemungkinan tidak daat berlaku untuk seluruh populasi sebab hanya anggota sampel yang mengalami pretest yang dapat mempengaruhi generalisasi, perlu dilakukan kontrol yang cermat dalam pelaksanaan pretes sehingga tidak mempunyai pengaruh terhada perlakuan yang menjadi dasar membuat generalisasi

  1. Efek prosedur eksperimen

Eksperimen yang dilakukan terhadap anggota-anggota sampel yang menyadari bahwa dirinya sedang dicoba atau di eksperimen menyebabkan generalisasi yang diperoleh tida berlaku bagi populasi karena adanya perbedaan pengalaman antara anggota sampel denga anggota populasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan ontrol terhadap pengaruh prosedur eksperimen tersebut

  1. Gangguan penangan perlakuan berganda

Jika subjek pada kelompok eksperimen di paparkan terhadap perlakuan dua kali atau lebih secara berturut-turut, maka perlakuan yang terdahulu mempunyai efek terhadap yang diberikutnya. Hal ini menyebabkan perlakuan terakhir yang muncul dipengaruhi oleh perlakuan sebelumnya. Jadi generalisasi yangdiperoleh hanya berlaku bagi subjek yang mempunyai pengalaman dengan pelaksanaan dan pemunculan perlakuan ganda secara berturut-turut

 

(Soekidjo, 2010)

FAKTOR –FAKTOR DALAM VALIDITAS INTERNAL PENELITIAN KUASI EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi atau mengganggu validitas internal dalam penelitian kuasi tersebut dapat disebut sebagai ancaman-ancaman validitas internal itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Sejarah (history)

Peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu kadang-kadang dapat berpengaruh terhadap variabel keluaran (variabel terikat) . oleh karrena itu terjadi perubahan variabelterikat, kemungkinan bukan sepenuhnya disebabkan karena perakuan atau eksperimen tetapi juga dipengaruhi oleh faktr sejarah atau pengalaman subjek penelitian trhadap masalah-masalah yang dicobakan atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan eksperimen tersebut.

  1. Kematangan (maturitas)

Manusia, binaang atau makluk hidup lainnya sebagai subjek penelitian selalu mengalami perubahan. Pada manusai, perubahan berkiatan dengan proses kematangan atau maturitas baik secara biologis maupun psikologis. Dengan bertambahnya kematangan pada subjek ini akan berpengaruh terhadap variabel terikat. Dengan demikian, maka perubahan yang terjadi pada variabel terikat bukan saja karena adanya eksperimen tetapi juga disebabkan karena proses kematangan pada subjek yang mendapatkan perlakuan atau eksperimen

  1. Seleksi (selection)

Dalam memilih anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrool bisa terjadi perbdaan ciri-ciri atau sifat-sifat anggota kelompok satu dengn kelompok yang lainnya. Misalnya anggota-anggota kelompok eksperimen lebih tinggi pendidikannya dibandingkan dengana anggota-anggota kelompok kontrol sehingga sebelum diadakan perlakuan sudah terjadi pengaruh yang berbeda terhadap kedua kelompok tersebut. Setelah adanya perlakuan pada kelompok eksperimen, maka besarnya perubahanvariabel terikat yang terjadi mendapat gangguan dari variabel pendidikan tersebut. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak saja pengaruh perlakuan tetapi juga karena pengaruh pendidikan

  1. Prosedur tes (testing)

Pengalaman pada pretest dapat mempengaruhi hasil posttest, karena kemungkinan para subjek penelitian dapat mengingat kembali jawaban-jawaban yang salah pada waktu pretest dan kemudian pada waktu posttest subjek tersebut dapat memperbaiki jawabannya. Oleh sebab itu, perubahan variabel terikat tersebut bukan hanya karena hasl eksperimen saja, melainkan juga karena pengaruh dari pretest.

  1. Instrumen (instrumentation)

Alat ukur atau alat pengumpul data (instrumen) pada pretest biasanya digunakan lagi pada posttest. Hal ini sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil posttest tersebut. Dengan perkataan lain, perubahan yang terjadi pada variabel terikat, tidak disebabkan oleh perlakuan atau eksperimen saja tetapi juga karena pengaruh eksperimen.

  1. Mortalitas (mortality)

Pada proses dilakukan eksperimen atau pada waktu pretest dan posttest sering terjadi subjek yang drop out baik karena pindah, sakit ataupun meninggal dunia. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap hasil eksperimen

  1. Regresi ke arah nilai rata-rata

Ancaman ini terjadi karena adanya nilai ekstrem tinggi maupun ekstrem rendah dari hasil pretest (pengukuran pertama) cenederung untuk tidak ekstrem lagi pada posttest (pengukuran setelah namun biasanya mendekati nilai rata-rata. Perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut bukan pada perubahan yang sebenarnya, melainkan merupakan perubahan semu. Oleh sebab itu ke aah nilai rata-rata ini juga disebut regresi semu. Untuk mempertinggi validitas internal eksperimen ini, maka faktor-faktor tersebut harus dikontrol atau diwaspadai dan diupayakan sehingga seminimal mungkin mengganggu validitas internal

 

(Soekidjo, 2010)

VALIDITAS HASIL PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian eksperimen, terutama eksperimen semu (quasi experiment) selalu dipertanyakan mengenai validitasnya, baik validitas internal maupun validitas eksternal

  1. Validitas internal

Validtas internal berhubungan dengan ketepatan mengindentifikasi variabel-variabel keluaran (hasil eksperimen) tersebut, hanya sebagai akibat dari adanya perlakuan (eksperimen). Dengan kata lain, seberapa jauh hasil atau atau perubahan yang terjadi pada variabel terikat tersebut sebagai pengaruh atau akiat dari adanya perlakuan atau eksperimen (terutama eksperimen semu). Banyak faktor yang mempengaruhi validitas internal ini sehingga dapat mengganggu hasil eksperimen.

  1. Validitas eksternal

Validitas eksternal ini berkaitan dengankemungkinan generalisasi dari hasil eksperimen tersebut. Hal ini berarti, apakah hasil eksperimen tersebut terjadi pula, apabila eksperimen yang sama dilakukan pada populasi lain. Dengan kata lain, seberapa jauhkah representatif penemuan-penemuan penelitian ini dan seberapa jauh hasil-hasil penelitian tersebut dapat digeneralisasikan kepada subjek-subjek atau kondisi yang serupa atau semacam. Untuk mengontrol validitas eksternal ini diperlukan pengajian terhadap beberapa faktor.

PERANAN KONTROL DALAM PENELITIAN EKSPERIMEN (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian eksperimen, kontrol mempunyai peranan yang sangat penting antara lain:

  1. Untuk mencegah munculnya faktor-faktor yang sebenarnya tidak diharapkanberpengaruh terhadap variabel terikat
  2. Untuk membedakan berbagai variabel yang tidak diperlukan dari variabel yang diperlukan
  3. Untuk menggambarkan secara kuantitatif hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat dan sejauh mana tingkat hubungan antara ke dua variabel tersebut.

(Soekidjo, 2010)