Indikator Keragaman Produk


Menurut Philip Kotler (2012:347) adalah tersedianya jenis semua
produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau dikonsumsi
oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen jenis atau
variasi menu yang ditawarkan.
Adapun indikatornya adalah :

  1. Produk yang tersedia mempunyai berbagai varian
  2. Terdapat menu yang beragam
  3. Kualitas produk yang dijual memenuhi selera konsumen.

Dimensi Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Keller (2011) terdapat empat dimensi
keragaman produk sebagai berikut :
a. Lebar
Semakin banyak bauran produk yang disajikan mengacu pada
banyaknya lini produk yang berbeda di setiap perusahaan.
b. Kedalaman
Suatu bauran mengacu pada jumlah seluruh barang dalam
bauran tersebut.
c. Keluasan
Suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak jenis yang
ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
d. Konsistensi
Bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai
lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi atau yang lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan
barang yang ditawarkan oleh penjual. Keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk dan
menu yang dapat dilihat dari segi rasa, kualitas serta ketersediaan
produk pada setiap toko tersebut (Aerianto, 2017). Menurut
Kotler (2012:347) kelengkapan produk adalah tersedianya semua
jenis produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau
dikonsumsi oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen.
Keragaman produk diartikan sebagai suatu usaha
penganekaragaman produk yang dihasilkan oleh perusahaan
untuk digunakan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya.
Keragaman produk dan cara penyajian yang berbeda juga dapat
menarik konsumen dan mempertahankan eksistensi pada sebuah
perusahaan. Semua hal dilakukan perusahaan agar terjadi
peningkatan keputusan pembelian.
Keragaman merupakan faktor penting untuk pertimbangan
konsumen dalam memilih alternatif produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka. Keragaman produk dapat
berjalan apabila perusahaan terus berinovatif dalam menciptakan
produk baru atau variasi produk yang dihasilkan untuk
memuaskan konsumen. Konsumen akan semakin senang jika
suatu restoran atau toko menyajikan beragam produk dimana di
dalamnya terdapat produk dan menu yang di display secara
lengkap Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen itu sendiri yang merupakan sebuah proses dalam
pengambilan keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016:26) bahwa keragaman produk adalah strategi yang
membuat produk berbeda dengan competitor bahkan dapat
melebihinya sehingga mendapat hasil yang dinilai oleh konsumen
dan nilai yang diharapkan dapat memengaruhi pilihan dan
kebutuhan konsumen. Hal ini sejalan dengan teori dari (Utami,
2010) bahwa toko yang tidak dapat menyediakan kebutuhan
produk yang dicari oleh konsumen akan mengakibatkan
kurangnya kesetiaan konsumen dan berdampak kerugian pada
toko. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa keragaman produk adalah suatu cara yang
dilakukan perusahaan dan pebisnis melalui penawaran produk
yang beragam dan memiliki varian berbeda-beda sehingga
konsumen akan merasa senang dalam memilih produk yang
diinginkan sesuai dengan selera konsumen

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen

Indikator Brand Image


Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen

Pengertian Brand Image


Brand image merupakan persepsi dan keyakinan
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam
memori atau benak konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana muncul dalam bentuk
pemikiran yang dikaitkan dengan suatu merek. Menurut Sotjan
(2015:204) mendefinisikan bahwa merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur
tersebut yang bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual sehingga
konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk pesaingnya.
Brand image sebagai suatu nama atau simbol yang
mempresentasikan atas apa yang dilakukan perusahaan untuk
menyampaikan jenis usahanya kepada konsumen (Kotler dan
Keller, 2016). Citra merek dapat mendeskripsikan berbagai
informasi yang diterima oleh konsumen. Informasi citra terdapat
dari logo atau simbol yang digunakan oleh penjual untuk
mewakili produknya. Fungsi simbol dan logo bukan semata-mata
hanya sebagai pembeda dari pesaing sejenis namun juga
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Brand
image yang dibangun dapat menjadi identitas cerminan dari visi,
keunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari
pelaku usaha atau pemilik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa brand image adalah representasi
dari keselurahan presepsi terhadap merek yang dibentuk dari
informasi logo atau simbol suatu bisnis.

Faktor yang Mempengaruhi Brand Image


Menurut Alifian B (2012:26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek antara lain :
a. Keunggulan produk
Produk yang unggul dapat dikatakan mampu bersaing dengan
lainnya. Keunggulan kualitas memiliki arti model dan
kenyamanan bagi pengguna produk dan ciri khas itu yang
menyebabkan suatu produk punya daya tarik tersendiri untuk
tiap konsumen.
b. Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan asosiasi merek merupakan pengolahan informasi
yang diterima oleh konsumen. Ketika seorang konsumen
secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa
maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan
konsumen. Asosiasi merek pada benak konsumen tergantung
bagaimana suatu merek tersebut dapat dipertimbangkan.
c. Keunikan merek
Salah satu faktor terbentuknya brand image adalah keunikan
merek. Keunikan merek adalah bagian dari asosiasi terhadap
suatu merek yang mau tidak mau harus terbagi dengan merek
lainnya sehingga masing-masing produk harus memiliki
keunggulan untuk bersaing yang menjadi dasar alasan
konsumen memilih suatu merek tertentu. Dengan
memposisikan merek lebih mengacu pada pengalaman atau
keuntungan diri dari image produk tersebut.

    Dimensi Pembentuk Brand Image


    Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) bahwa terdapat
    dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi terbentuknya citra
    sebuah merek adalah sebagai berikut :
    a. Identitas merek (Brand Identity)
    Identitas merek berkaitan dengan identitas fisik pada produk
    sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakan
    dengan merek produk lain seperti adanya logo, warna,
    kemasan dan identitas perusahaan lainnya.
    b. Personalitas merek (Brand Personality)
    Personalitas merek adalah karakter khas sebuah merek yang
    membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
    manusia sehingga konsumen dengan mudah membedakan
    merek lain dalam kategori yang sama .
    c. Asosiasi merek (Brand Association)
    Asosiasi merek adalah hal-hal spesifik yang selalu dikaitkan
    dengan suatu merek dapat berupa penawaran unik suatu
    produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam
    hal sponsorship atau kegiatan sosial, isu-isu yang kuat
    berkaitan dengan merek tersebut.
    d. Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior)
    Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku
    komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
    menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Brand
    attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
    komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek
    saat berhubungan dengan konsumen, termasuk perilaku
    karyawan dan pemilik merek.
    e. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit and
    Competence)
    Manfaat dan keunggulan merek merupakan nilai-nilai dan
    keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada
    konsumen agar merasakan manfaat karena kebutuhan,
    keinginan dan harapannya terwujud melalui penawaran
    tersebut

    Indikator Keputusan Pembelian


    Indikator keputusan pembelian menurut Kotler (2018:70) adalah
    sebagai berikut :
    a. Kemantapan pada sebuah produk
    Keputusan konsumen dalam melakukan suatu pembelian, pasti
    memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan alternatif
    tersebut didasari pada kualitas, mutu, harga yang terjangkau
    serta faktor-faktor lain yang memantapkan keinginan
    konsumen untuk membeli produk tersebut berdasarkan harapan
    dan kebutuhannya.
    b. Kebiasaan dalam membeli produk
    Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk dapat
    berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa
    produk yang dibelinya sudah melekat di benak hati mereka
    karena sudah merasakan manfaat dari produk tersebut sehingga
    enggan untuk mencoba produk baru. Hal tersebut membuat
    konsumen cenderung memilih produk yang sudah biasa
    digunakan.
    c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
    Apabila konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dari
    produk yang dibeli, maka mereka pasti merekomendasikan
    produk tersebut ke orang lain supaya merasakan bahwa produk
    yang dibelinya benar-benar sangat bagus dan lebih baik dari
    produk lain

    Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Kotler (2015), sikap konsumen dalam membeli sesuatu
    dipengaruhi oleh beberapa faktor :
    a. Faktor budaya
    Budaya merupakan penentu paling dasar dari keinginan dan
    perilaku seseorang. Pemasaran lintas budaya muncul dari riset
    pemasaran yang cermat bahwa relung etnis dan demografi
    yang berbeda tidak selalu menanggapi secara baik terhadap
    iklan pasar massal.
    b. Faktor sosial
    Dalam faktor sosial, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
    kelompok acuan, keluarga, peran dan status sosial sebagai
    berikut :
    1) Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang
    memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap
    sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang berpengaruh
    langsung yaitu kelompok keanggotan seperti keluarga,
    teman, tetangga dsb. Pada kelompok tidak langsung seperti
    keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan yang
    interaksinya tidak rutin.
    2) Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen paling
    penting dalam masyarakat karena menjadi acuan primer dan
    dominan yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga
    terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang
    mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi
    pribadi serta cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap
    perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi
    yaitu pasangan dan anak seseorang.
    3) Peran dan status sosial
    Seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga,
    organisasi dan lainnya. Posisi seseorang dalam masing-
    masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
    status. Peran terdiri dari kegiatan yang dilakukan sesuai
    dengan tugas serta tanggung jawabnya yang berada di
    lingkungan sekitarnya. Masing-masing peran membawa
    status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan
    kepada masyarakat.
    c. Faktor pribadi
    Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
    Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus dalam
    hidup misalnya pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan
    konsep diri serta nilai dan gaya hidup pembeli.
    d. Faktor psikologis
    Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan
    karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses
    keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa
    yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya
    rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian akhir.

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang secara
    langsung terlibat dalam memperoleh produk dan jasa yang
    ditawarkan oleh penjual. Menurut Kotler dan Armstrong (2015)
    keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai,
    tetapi dua faktor dapat berada antara niat pembelian dan
    keputusan pembelian. Menurut Sunyoto (2013:87) menyatakan
    bahwa keputusan pembelian merupakan satu tindakan konsumen
    membentuk preferensi diantara alternatif-alternatif merek barang.
    Keputusan tersebut mendorong bagaimana konsumen melakukan
    pilihan diantara dua atau lebih alternatif terhadap pembelian suatu
    produk sesuai dengan kebutuhannya. Keputusan untuk membeli
    mengarah pada pelanggan bagaimana proses dalam pengambilan
    keputusan.
    Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk,
    seorang konsumen pada dasarnya melakukan proses pengambilan
    keputusan terlebih dahulu. Proses pengambilan keputusan
    menuagustarut Agusta (2020:12) merupakan tahapan konsumen
    dalam memutuskan suatu produk tertentu yang menurutnya sudah
    paling baik dari berbagai alternatif yang dianggap sesuai dengan
    kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki melalui pilihan yang
    tepat serta menguntungkan. Proses pengambilan keputusan yang
    rumit sering melibatkan beberapa keputusan seperti adanya
    pilihan alternatif dua atau lebih yang membentuk niat membeli
    produk yang paling disukai untuk mengkolaborasi, menunda dan
    menghindar sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan.
    Pengambilan keputusan oleh konsumen dalam melakukan
    pembelian suatu produk diawali adanya kesadaran atas
    pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Setelah konsumen
    menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan tersebut maka perlu
    tindak lanjuti untuk memenuhinya. Menurut Kotler dan Amstrong
    (2016:177) keputusan pembelian adalah perilaku konsumen
    tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih,
    membeli, menggunakan barang , jasa, ide atau pengalaman untuk
    memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan mengetahui
    informasi ataupun merek produk tersebut dan melakukan evaluasi
    sehingga dapat memecahkan masalah dan mengarah pada
    keputusan pembelian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat
    ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah suatu
    keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli
    suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan-
    pertimbangan tertentu

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian yaitu sikap konsumen dalam membeli sebuah
    produk. Menurut Kotler dan Amstrong (2013:20) menyatakan bahwasanya
    keputusan pembelian yaitu sebuah tahapan dalam pengambilan keputusan
    pembelian dimana konsumen melakukan kegiatan pembelian yang
    sesungguhnya. Menurut Peter dan James dalam Foster (2016)
    mengemukakan bahwa keputusan pembelian yaitu tahapan konsumen
    dalam membuat keputusan untuk membeli beragam produk dan merek yang
    dimulai dengan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi
    informasi, melakukan pembelian dan kemudian mengevaluasi keputusan
    pasca pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2016:177)
    mengemukakan bahwasanya keputusan pembelian yaitu komponen dari
    perilaku konsumen, yang mana perilaku konsumen merupakan studi
    mengenai seperti apa seseorang maupun kelompok dalam menentukan,
    membeli, mengkonsumsi, serta seperti apa produk, ide atau pengalaman
    untuk memuaskan kebutuhan konsumen

    Jenis – Jenis Word Of Mouth


    Menurut Hughes (2015:31) membagi 2 jenis komunikasi Word Of
    Mouth, yakni :
    1) Word Of Mouth positif
    Tahapan menyalurkan informasi dari mulut ke mulut oleh antar
    perseorangan menurut pengalaman positif yang diperoleh dari suatu
    barang, jasa, ataupun perusahaan.
    2) Word Of Mouth negatif
    Tahapan penyampaian informasi dari mulut ke mulut antar individu
    menurut pengalaman buruk yang dirasakan dari suatu barang, jasa,
    ataupun perusahaan.

    Pengertian Word Of Mouth


    Komunikasi dari mulut ke mulut atau yang sering kita kenal dengan
    Word Of Mouth (WOM) merujuk pada pertukaran pesan, persepsi, respon,
    dan ide-ide antar konsumen. Pada hakikatnya, Word Of Mouth yaitu
    informasi yang berkaitan dengan produk dari suatu perusahaan, ataupun
    mengenai perusahaan itu sendiri, dalam wujud tanggapan perihal
    kemampuan produk, kredibilitas, kesupelan, kecepatan dalam pelayanan
    dan lain-lain yang dirasakan oleh seseorang dan diinformasikan kepada
    orang lain.
    Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Hutami Permita, 2014:35)
    Word of Mouth yaitu komunikasi personal mengenai sebuah barang atau
    jasa antara konsumen sasaran dengan kerabat, rekannya, anggota
    keluarganya, serta masyarakat disekitarnya. Menurut Zeithaml, et al (dalam
    Tjiptono dan Chandra, 2011) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai suatu
    penjelasan baik dengan perseorangan maupun bukan perseorangan yang
    dikemukakan seseorang (bukan penyedia jasa) kepada orang lain. Menurut
    Sumardy dkk (2011:68) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai tindakan
    pemberian informasi dari seorang konsumen terhadap orang lain. Sebelum
    melakukan pembelian, seorang konsumen akan menanyakan tentang
    kualitas yang dimiliki suatu produk yang hendak dibelinya kepada orang
    lain.

    Indikator Brand Image


    Menurut Simamora (2011:33) mengemukakan 3 indikator brand
    image atau citra merek, yakni :
    1) Citra pembuat (Corporate Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan pada perusahaan yang menghasilkan produk.
    2) Citra pemakai (User Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan pada pihak yang mengkonsumsi produk tersebut.
    3) Citra produk (Product Image)
    Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
    pelanggan yang berkaitan dengan produk.
    Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan lima indikator brand
    image, yaitu :
    1) Brand Identify (Identitas Merek)
    Berkaitan dengan merek atau produk (simbol, warna, packaging,
    tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebagainya) sehingga
    memudahkan konsumen dalam mengenal dan membedakannya dengan
    produk pesaing.
    2) Brand Personality (Personalitas Merek)
    Berkaitan dengan ciri khas dari suatu merek yang membangun karakter
    khusus seperti halnya manusia, seperti karakter tegas, wibawa, kaku,
    hangat, dinamis, kreatif, murah senyum, independen, penyayang,
    berjiwa sosial, dan lain-lain.
    3) Brand Association (Asosiasi Merek)
    Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu dihubungkan dengan
    merek tertentu dapat berupa penawaran menarik, kegiatan rutin dan
    konsisten (seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat kuat terkait
    merek, person, simbol-simbol, dan maksud tertentu yang sangat melekat
    kuat pada produk.
    4) Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek)
    Yaitu sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek kepada
    konsumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai yang
    dimilikinya. Sikap dan perilaku ini meliputi sikap dan perilaku
    konsumen, kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
    berinteraksi dengan para konsumennya.
    5) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
    Yaitu nilai-nilai serta kelebihan khusus yang dihasilkan merek tertentu
    kepada konsumen yang membuat konsumen bisa menikmati manfaat
    karena kebutuhan, keinginan, harapan, dan keinginannya terealisasi
    berkat penawaran tersebut.

    Pengertian Brand Image


    Menurut Fandy Tjiptono (2015:105) mengemukakan bahwa Image
    atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta kepercayaan
    konsumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu sifat yang
    melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan tertentu.
    Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek adalah
    hasil penilaian maupun pandangan baik buruknya suatu merek oleh
    konsumen. Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328) menjelaskan
    bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi khusus yang
    hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa. Asosiasi tersebut
    mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa yang pemasar janjikan
    pada konsumennya. Menurut Levy dan Weitz (2012:93) mendefinisikan
    citra merek (brand image) sebagai sekumpulan kepercayaan, ide, dan
    persepsi yang dimiliki seseorang pada merek tertentu yang bisa
    mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Menurut Shafiee, dkk
    (2014:364) brand image atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi
    mengenai merek yang tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada
    memori konsumen

    Tujuan dan Manfaat Merek


    Suatu perusahaan dalam menghasilkan suatu barang ataupun jasa
    tentunya diberi merek sebagai tanda pengenal. Dan pemberian merek ini
    tentunya memiliki manfaat dan tujuan.
    Menurut Sopiah dan Sangadji (2016:71) tujuan pemberian merek
    adalah sebagai berikut :
    1) Pengusaha memberikan jaminan kepada konsumen jika barang atau jasa
    yang dibelinya benar-benar dari perusahaannya.
    2) Perusahaan memberikan jaminan kualitas barang atau jasa yang
    ditawarkannya
    3) Perusahaan memberikan nama pada merek setiap barang atau jasa yang
    diproduksinya agar mudah diingat dan diucapkan oleh konsumennya.
    Sehingga ketika membeli produk tersebut, konsumen cukup
    mengucapkan nama mereknya saja.
    4) Meningkatkan ekuitas merek. Sehingga mendapatkan keuntungan yang
    maksimal dan menawarkan kemudahan dalam menjaga loyalitas
    konsumennya.
    5) Memberikan motivasi dalam saluran distribusi. Sebuah produk yang
    memiliki merek terkenal akan laku lebih cepat, penyalurannya mudah,
    dan mudah dalam pengendaliannya

    Pengertian Merek


    Pada hakikatnya, seorang pengusaha dalam memasarkan barang/jasa
    yang diproduksinya selalu memberikan tanda, simbol, gambar, atau kalimat
    tertentu pada produknya. Pemberian tanda ini dimaksudkan agar dapat
    dibedakan dengan barang/jasa yang dihasilkan oleh pesaing. Tanda tersebut
    dikenal dengan sebutan “merek”. Merek yaitu sebuah nama maupun
    lambang yang mampu menciptakan identitas sebuah produk dalam wujud
    kata-kata, gambar, maupun gabungan keduanya.
    Menurut Manorek (2016:663) menyatakan bahwasanya merek yaitu
    nama, istilah, tanda, simbol, maupun gabungan dari mereka yang bertujuan
    untuk membedakan produk dari suatu perusahaan dengan perusahaan
    lainnya. Menurut Hui Wang dan Fen Tsai (2014:29) mendefinisikan merek
    sebagai ilustrasi maupun karakter yang dihasilkan oleh advertensi,
    packaging, branding, dan program pemasaran yang lain. Menurut Buchari
    Alma (2014:130) menyatakan bahwasanya merek merupakan sebuah nama
    maupun lambang yang menghasilkan identitas sebuah produk tertentu, yang
    terdiri dari tulisan, gambar, maupun gabungan diantaranya

    Indikator Persepsi Kualitas Pelayanan


    Menurut Kotler (dalam Fandy Tjiptono, 2016:284) menyebutkan lima
    indikator kualitas pelayanan, yaitu :
    1) Keandalan (Reliability)
    Adalah kinerja perusahaaan dalam menyajikan pelayanan yang sepadan
    seperti yang dijanjikan, tepat waktu, mampu dipercaya, serta tanpa
    membuat kekeliruan.
    2) Daya Tanggap (Responssiveness)
    Yaitu kesanggupan karyawan dalam membantu memberikan pelayanan
    yang dibutuhkan oleh para konsumennya
    3) Jaminan atau Kepastian (Assurance)
    Yaitu kemampuan karyawan yang dapat menimbulkan keyakinan bagi
    para konsumennya serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan
    rasa aman bagi konsumennya.
    4) Empati (Empathy)
    Berkaitan dengan sikap karyawan atau perusahaan dalam memahami
    setiap permasalahan yang dihadapi oleh konsumennya.
    5) Bukti fisik (Tangibles)
    Berhubungan dengan penyediaan sarana dan prasarana oleh perusahaan
    serta performa karyawan dalam perusahaan tersebut

    Pengertian Persepsi Kualitas Pelayanan


    Kualitas merupakan tingkat baik buruknya suatu produk. Menurut
    Kotler dan Keller (2016) menjelaskan kualitas sebagai ciri serta
    karakteristik yang menyeluruh mengenai suatu produk yang mendorong
    kemampuan guna memuaskan kebutuhan. Definisinya berfokus pada
    pelanggan.
    Ketika seorang konsumen memilih barang atau jasa yang akan
    dibeli, tentunya banyak sekali faktor yang dipertimbangkan, salah satunya
    kualitas pelayanan. Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2014:216)
    mendeskripsikan kualitas pelayanan dengan sejauh mana selisih antara
    ekspektasi dengan pelayanan yang konsumen terima sebenarnya. Menurut
    Tjiptono (2016) Kualitas pelayanan yaitu kondisi dinamis yang berkaitan
    dengan produk, SDM, prosedur, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
    melampaui apa yang diharapkan oleh konsumen. Dengan kata lain, kualitas
    pelayanan dideskripsikan dengan tindakan memuaskan kebutuhan dan
    keinginan pelanggan dan juga kecermatan penyalurannya agar selaras
    dengan ekspekstasi pelanggan.
    Setiap orang dalam mempersepsikan suatu barang atau jasa
    berbeda-beda. Sehingga persepsi bersifat subyektif. Persepsi yang timbul
    pada diri seseorang dipengaruhi pikiran serta lingkungan sekelilingnya.
    Menurut Zeithaml (dalam Markovic dan Jankovic, 2013) persepsi kualitas
    pelayanan yaitu evaluasi atau pendapat pelanggan berkaitan dengan
    keunggulan keseluruhan dari pelayanan. Persepsi kualitas pelayanan yaitu
    perbandingan antara ekspektasi konsumen mengenai suatu pelayanan
    dengan pelayanan yang konsumen rasakan sesungguhnya. Jika pelayanan
    yang dipersepsikan ternyata sama dengan pelayanan yang diekspektasikan,
    maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan positif. Apabila pelayanan
    yang dipersepsikan melampaui pelayanan yang diekspektasikan maka
    kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang sempurna. Namun,
    apabila pelayanan yang dipersepsikan lebih buruk daripada pelayanan yang
    diekspektasikan maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan negatif.
    Sehingga baik buruknya suatu kualitas pelayanan ditentukan oleh kinerja
    perusahaan dalam memenuhi setiap harapan konsumennya.

    Persepsi


    Menurut Pride dan Ferrel (dalam Fadila, 2013:45) persepsi
    merupakan tahapan dalam penentuan, pengelompokan, dan
    penginterpretasian input informasi, sensasi yang ditangkap alat indera
    manusia guna menghasilkan makna. Menurut Rakhmat Jalaludin (dalam
    Natalia, 2012:3) mengemukakan bahwa persepsi merupakan pengalaman
    mengenai obyek, kejadian yang didapatkan dengan menarik kesimpulan
    informasi serta memahami pesan. Tahapan persepsi tidak sekedar tahapan
    psikologi saja, namun dimulai melalui tahap fisiologi yang disebut dengan
    sensasi.
    Beberapa hal yang mampu membentuk persepsi seseorang:
    1) Karakter rangsangan.
    2) Keterkaitan rangsangan pada sekitarnya.
    3) Keadaan dalam diri individu.

    Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen


    Ada beragam faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
    melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:159-173)
    terkandung empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
    pembelian suatu produk. Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut :
    1) Faktor Kebudayaan
    a) Budaya
    Budaya adalah penyebab mendasar keinginan dan perilaku seseorang.
    b) Sub-Budaya
    Termasuk kwarganegaraan, keyakinan, kelompok rasial, dan daerah
    geografis. Aneka sub-budaya menghasilkan kelompok pasar yang
    penting, dan penyedia jasa biasanya mendesain produk dan strategi
    pemasaran yang diselaraskan dengan kebutuhan konsumennya.
    c) Kelas Sosial
    Kelas sosial tidak hanya diukur oleh satu aspek saja, seperti
    penghasilan, namun diukur sebagai perpaduan dari mata pencaharian,
    penghasilan, pendidikan, aset, dan lain – lain.
    2) Faktor Sosial
    Faktor sosial yang mempengaruhi perilaku pembelian antara lain:
    a) Kelompok Acuan (Reference Group)
    Yaitu seluruh kelompok yang mempunyai dampak langsung langsung
    maupun tidak langsung terhadap perilaku pembelian individu.
    b) Keluarga (Family)
    Keluarga yaitu sistem pembelian konsumen yang sangat utama dalam
    masyarakat dan anggota keluarga memerankan kelompok acuan
    pokok yang sangat berpengaruh. Terdapat dua keluarga dalam
    kehidupan konsumen, yakni: keluarga orientasi (family of orientation)
    mencakup orang tua dan saudara kandung, keluarga prokreasi (family
    of procreation) mencakup suami / istri dan anak.
    c) Peran Sosial dan Status (Roles and Status)
    Seseorang berperan serta pada berbagai kelompok, keluarga, dan
    organisasi. Kelompok senantiasa sebagai sumber informasi utama
    dalam berkontribusi menjelaskan norma perilaku. Kita bisa
    menentukan kedudukan seorang individu pada setiap kelompok
    dimana ia menjadi anggota menurut peran dan status.
    3) Faktor Pribadi
    Mencakup umur dan tahapan pada siklus hidup konsumen, mata
    pencaharian dan kondisi ekonomi, perangai dan konsep diri, serta gaya
    hidup dan nilai.
    4) Faktor Psikologis
    Faktor ini mencakup motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, serta
    perilaku

    Pengertian Perilaku Konsumen


    Perilaku konsumen akan menimbulkan terciptanya keputusan
    konsumen untuk melakukan pembelian. Mengetahui perilaku seorang
    konsumen amatlah sulit, pemasar harus pandai dalam memahami
    mempelajari persepsi, selera, dan perilakunya saat berbelanja. Perilaku
    konsumen yaitu kegiatan langsung dalam memperoleh dan mengkonsumsi
    produk, termasuk tahapan pengambilan keputusan yang memulai serta
    menetapkan tindakan-tindakan tersebut.
    Menurut Peter dan Olson (2014:3) mengemukakan jika perilaku
    konsumen merupakan dinamika hubungan antara pengaruh dan kesadaran,
    perilaku dan lingkungan dimana seseorang menjalankan pertukaran unsur –
    unsur kehidupan.
    Menurut Harman Malau (2017:217) menjelaskan jika perilaku
    konsumen adalah sikap mengenai perseorangan, golongan atau lembaga
    dan tahapan yang mereka lalui guna menentukan, mengamankan, dan
    mengkonsumsi produk, pengalaman atau ide untuk kepuasan.
    Menurut Kotler dan Amstrong (2018:158) mengemukakan
    bahwasanya “consumer buyer behavior refers to the buying behavior of
    final consumers individuals and households that buy goods and services for
    personal comsumption”. Yang berarti perilaku pembelian konsumen
    berpedoman pada perilaku pembelian akhir konsumen, baik perseorangan
    ataupun rumah tangga yang berbelanja produk untuk kepentingan pribadi.

    Bauran Pemasaran


    Bauran pemasaran atau sering disebut sebagai marketing mix yaitu
    suatu hal yang harus diperhatikan oleh pemasar. Karena marketing mix
    memiliki peranan yang penting dalam melayani pasar sasaran secara tepat.
    Dibawah ini terdapat berbagai pengertian bauran pemasaran (Marketing mix)
    menurut beberapa ahli, diantaranya :
    a. Menurut Lupiyoadi (2014:92) menyatakan bahwa bauran pemasaran yaitu
    instrumen atau cara bagi penjual yang berupa beragam komponen suatu
    strategi pemasaran yang harus diperhitungkan supaya penerapan strategi
    pemasaran serta penetapan posisi yang ditentukan bisa terlaksana dengan
    baik.
    b. Menurut Buchari Alma (2014:205) mendefinisikan bauran pemasaran
    sebagai langkah dalam mengkombinasikan aktivitas pemasaran, agar
    diperoleh perpaduan maksimal hingga mampu membuahkan hasil yang baik
    yang berupa 4P yakni Product, Price, Place, dan Promotion.
    c. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:78) memperkuat definisi bauran
    pemasaran sebagai “Marketing mix is the set of tactical marketing tools
    that the firm blends to produce the response it wants in the target market”.
    Definisi tersebut menjelaskan bahwasanya bauran pemasaran merupakan
    sekumpulan alat pemasaran yang dipakai oleh perusahaan untuk
    memperoleh tanggapan dari pasar sasaran yang diinginkan

    Manajemen Pemasaran


    Kesuksesan suatu kegiatan pemasaran dalam sebuah Perusahaan
    terwujud berkat adanya manajemen pemasaran yang baik. Dalam memajukan
    suatu perusahaan, manajemen pemasaranlah yang dijadikan sebagai dasar
    dalam setiap bertindak. Karena tanpa adanya manajemen pemasaran yang baik
    nihil suatu perusahaan mampu mencapai kesuksesannya. Perusahaan
    membutuhkan beragam upaya guna mampu mengelola program
    pemasarannya agar selaras dengan misi perusahaan yang sudah ditetapkan
    sebelumnya, dalam hal ini pengelolaan yang dibutuhkan perusahaan yaitu
    manajemen pemasaran.
    a. Menurut Buchari Alma (2014:289) menyatakan jika manajemen pemasaran
    merupakan aktivitas mengkaji, merencanakan, menerapkan dan mengontrol
    berbagai aktivitas dengan tujuan meraih hasil pemasaran seperti dengan
    tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya.
    b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:34) manajemen pemasaran
    didefinisikan sebagai “the art and science of choosing target markets and
    building profitable relationships with them”. Yang berarti manajemen
    pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar serta
    menciptakan relasi yang baik dengan pasar sasaran.
    c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) definisi menajemen pemasaran yaitu
    “Marketing management as the art science of choosing target markets and
    getting, keeping, and growing customers through creating delivering, and
    communicating superior customer value”. Yang berarti manajemen
    pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar,
    mendapatkan, mengendalikan, serta mengembangkan konsumen dengan
    cara menghasilkan, menyalurkan, serta menyebarluaskan nilai tambah
    kepada konsumen

    Pemasaran


    Pemasaran berasal dari kata pasar yang artinya market. Sehingga
    istilah pemasaran sering dikenal dengan marketing. Berikut ini beberapa
    definisi marketing dari berbagai sumber, yaitu :
    a. Menurut Hasan (2014:1) mengemukakan jika pemasaran adalah suatu teori
    ilmu pada strategi bisnis guna memperoleh kepuasan berkelanjutan untuk
    stakeholder (pelanggan).
    b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:29) menjabarkan pemasaran sebagai
    “marketing as the process by which companies engage customers, build
    strong customer relationships in order to capture value from customers in
    return”. Pengertian ini menjelaskan jika pemasaran merupakan suatu
    tahapan bagi perusahaan dalam menghasilkan nilai untuk konsumen serta
    menciptakan relasi yang erat dengan konsumen yang berguna untuk
    mengetahui nilai dari konsumen sebagai balasannya.
    c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) mengemukakan jika “marketing is the
    activity, set of institutions, and processes for creating, communicating,
    delivering, and exchanging offering that have value for customers, clients,
    partners, and society at large”. Pengertian diatas menjelaskan jika
    pemasaran adalah aktifitas yang melibatkan serangkaian institusi untuk
    menjalankan tahapan guna menghasilkan, mengkomunikasikan,
    menyampaikan, dan pertukaran nilai untuk konsumen, klien, mitra, serta
    masyarakat pada umumnya

    Push Digital Marketing


    Menurut (Kotler 2005) dalam (Rauf, Manullang, and
    Ardiansyah PS 2021) Marketing (pemasaran) adalah proses sosial
    antara individu atau kelompok dengan menciptakan penawaran
    secara bebas bertukar produk dan jasa yang bernilai dengan pihak
    lain. Marketing (pemasaran) secara signifikan dapat mempengaruhi
    kepercayaan konsumen tentang kinerja produk yang akhirnya dapat
    menentukan kemungkinan mereka membeli. Tujuan utama dari
    pemasaran adalah untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
    pelanggan untuk mencapai tujuan perusahaan seperti peningkatan
    penjualan, pangsa pasar, dan keuntungan.
    Kemudian konsep pemasaran diatas diadopsi menjadi
    Digital Marketing, Menurut (Wsi 2013) dalam (Rauf, Manullang,
    and Ardiansyah PS 2021) Digital Marketing adalah suatu cara
    inovatif yang menggunakan database dan menjangkau konsumen
    secara individu, hemat biaya dan lebih tepat waktu. Sedangkan
    menurut (Todor 2016) Digital Marketing adalah istilah umum
    pemasaran yang ditargetkan, terukur dan interaktif menggunakan
    teknologi digital untuk menjangkau dan mengubah prospek
    menjadi pelanggan dan mempertahankannya, tujuan utamanya
    adalah mempromosikan merek, membentuk preferensi dan
    meningkatkan penjualan melalui berbagai teknik digital marketing.
    Kemudian Digital Marketing berkembang menjadi Push
    Digital Marketing, yaitu pemasaran Dimana perusahaan atau
    merek secara proaktif mendorong produk atau layanan mereka
    kepada audiens melalui berbagai saluran digital, yang bertujuan
    untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong mereka untuk
    berinteraksi dengan produk atau layanan yang ditawarkan (Rauf,
    Manullang, and Ardiansyah PS 2021). Push Digital Marketing
    mempunyai indikator :

    1. Tiktok Ads
      TikTok Ads adalah platform periklanan yang ditawarkan oleh
      TikTok, platform media sosial berbasis video yang sangat
      populer di kalangan pengguna muda. TikTok Ads
      memungkinkan perusahaan dan pemasar untuk membuat dan
      menayangkan iklan video yang ditargetkan kepada audiens
      yang spesifik di TikTok.
    2. Meta Ads
      Meta Ads mengacu pada platform periklanan yang disediakan
      oleh Meta Platforms, Inc. Sebelumnya dikenal sebagai
      Facebook Ads, platform ini memungkinkan pemasar untuk
      membuat dan menayangkan iklan di berbagai layanan yang
      dimiliki oleh Meta, termasuk Facebook, Instagram,
      WhatsApp, dan Messenger.
    3. Google Ads
      Google Ads adalah platform periklanan online yang
      disediakan oleh Google, yang memungkinkan pengiklan untuk
      membuat dan menayangkan iklan mereka di berbagai layanan
      Google, termasuk mesin pencari Google, situs web mitra
      Google, aplikasi seluler, dan platform media sosial seperti
      YouTube

    Indikator Keputusan Pembelian


    Menurut (Kotler, P. & Keller) dalam (Cesariana, Juliansyah, and
    Fitriyani 2022) indikator yang digunakan untuk mengukur
    keputusan pembelian adalah sebagai berikut:

    1. Pengenalan masalah
      Tahap dimana konsumen mengenali sebagai merek yang tepat
      untuk memenuhi kebutuhannya.
    2. Pencarian informasi
      Informasi mengenai merek melalui berbagai media mendukung
      konsumen untuk mengetahui kelebihan suatu merek.
    3. Evaluasi alternatif
      Merupakan merek yang paling sesuai dibandingkan merek
      alternatif yang lainnya.
    4. Keputusan pembelian
      Keyakinan konsumen dalam pengambilan keputusan terhadap
      merek.
    5. Perilaku setelah pembelian
      Adanya persepsi positif dari konsumen setelah menggunakan
      produk dengan merek yang dibeli

    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Soffian sebagai berikut :

    1. Produk
      Produk adalah suatu sifat yang kompleks baik dapat diraba
      maupun tidak dapat diraba, termasuk kemasan, warna, harga,
      prestise perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli
      untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Produk dapat
      memberikan rangsangan pada konsumensehingga dapat
      membangkitkan selera atau minat untuk membeli. Jika suatu
      produk mempunyai kualitas yang bagus maka banyak
      konsumen yang akan memutuskan untuk membeli produk
      tersebut. Oleh karena itu jika perusahaan menginginkan
      produknya terjual dalam jumlah besar sehingga mendapatkan
      keuntungan yang besar, maka harus meningkatkan kualitas
      produknya.
    2. Harga (price)
      Harga diartikan sebagai ekspresi dari sebuah nilai, dimana nilai
      tersebut menyangkut keinginan dan kualitas produk, citra yang
      dibentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk
      melalui jaringan distribusi dan layanan yang menyertainya.
      Dalam kebijakan harga, manajemen harus menentukan harga
      dasar dari produknya, kemudian menentukan kebijakan
      menyangkut potongan.
    3. Promosi (promotion)
      Promosi adalah arus informasi yang dibuat untuk mengarahkan
      seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan
      pertukaran dalam pemasaran. Kegiatan-kegiatan yang termasuk
      dalam promosi antara lain periklanan, personal selling, promosi
      penjualandan publikasi. Dengan adanya promosi, konsumen
      mendapatkan barang yang diinginkannya.
    4. Tempat (place)
      Adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan
      mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen
      kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan
      yang diperlukan. Tempat juga menjadi pertimbangan konsumen
      dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk.
      Jika konsumen menilai tempat suatu produk baik maka
      kemungkinan besar konsumen akan menjatuhkan pilihannya
      pada produk tersebut dan membelinya.
    5. Lokasi Penjual yang strategis
      Dari segi lokasi ini, pembeli akan memilih lokasi yang benar-
      benar strategis dantidak membutuhkan terlalu banyak waktu,
      tenaga, dan biaya seperti: mudah dijangkau, dekat dengan
      fasilitas-fasilitas umum, atau mungkin dekat denganjalan raya,
      sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain.
    6. Pelayanan yang baik
      Bagi konsumen yang ingin membeli suatu produk, pelayanan
      yang diberikanpada saat memilih sampai terjadinya transaksi
      pembelian sangatlah berpengaruhterhadap jadi tidaknya
      pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Pelayanan yang
      kurang baik akan menimbulkan rasa tidak puas yang dirasakan
      olehkonsumen yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat
      penjualan pada waktuselanjutnya.
    7. Kemampuan tenaga penjualnya
      Dalam suatu kegiatan usaha (penjualan), tidak terlepas dari
      tenaga kerja baiktenaga kerja mesin maupun tenaga kerja
      manusia.Tenaga kerja merupakan faktorutama dalam
      perusahaan sehingga diperlukan sejumlah tenaga kerja
      yangberkemampuan dan mempunyai keterampilan tertentu
      yang sesuai dengankebutuhan perusahaan untuk mendukung
      kegiatan dalam pemasaran

    Tujuan Keputusan Pembelian


    1) Memenuhi kebutuhan dasar
    Tujuan utama pembelian yaitu memenuhi kebutuhan dasar
    manusia seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk
    memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka.
    2) Memenuhi kebutuhan fungsional
    Yaitu memenuhi kebutuhan seperti alat-alat yang dibutuhkan
    untuk pekejaan, hobi dan Pendidikan tertentu.
    3) Memenuhi kebutuhan emosional
    Banyak keputusan pembelian didasari oleh kebutuhan
    emosional seperti keinginan untuk merasa bahagia, percaya diri
    atau diterima orang lain. Seperti membeli barang mewah,
    hiburan atau barang-barang untuk meningkatkan citra diri.
    4) Memenuhi kebutuhan social
    Orang sering membeli produk atau jasa untuk memenuhi
    kebutuhan sosial, seperti keinginan untuk berinteraksi dengan
    orang lain atau mempererat hubungan social, contohnya adalah
    membeli tiket ke acara sosial atau makan malam bersama
    teman-teman.
    5) Keamanan dan perlindungan
    Pembelian asuransi, sistem keamanan, atau produk yang
    meningkatkan keamanan fisik atau finansial juga merupakan
    tujuan pembelian yang penting bagi banyak orang.
    6) Pemenuhan kebutuhan masa depan
    Pembelian investasi seperti rumah, kendaraan, atau investasi
    keuangan juga dapat menjadi tujuan pembelian untuk tujuan
    masa depan, seperti pensiun atau investasi jangka panjang.

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian merupakan sikap seseorang untuk
    membeli atau menggunakan suatu produk baik berupa barang atau
    jasa yang telah diyakini akan memuaskan dirinya dan kesediaan
    menanggung risiko yang mungkin ditimbulkannya. Konsumen
    mengambil keputusan pembelian setiap hari. Pemasar perlu
    mengatahui apa yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam
    keputusan pembelian. Suatu proses penilaian dan pemilihan dari
    berbagai alternative sesuai dengan kepentingan-kepentingan
    tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling
    menguntungkan.
    Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses
    pengambilan keputusan pembelian di masa konsumen benar-benar
    membeli. Pengambilan keuptusan merupakan suatu individu yang
    secara langsung terlihat dalam pendatan dan mempergunakan
    barang yang ditawarkan, Keputusan pembelian merupakan
    serangkaian proses yang berawal darikonsumen mengenal
    masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merektertentu
    danmengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masing-
    masingalternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang
    kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan
    pembelian (Abi 2020).

    Hubungan Gaya Hidup Konsumen dengan Keputusan Pembelian


    Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang
    lainnya. Gaya hidup merupakan tindakan yang dilakukan seseorang untuk
    mendapatkan dan memakai suatu barang atau jasa dan termasuk proses keputusan
    yang mendahului serta menentukan tindakan yang dilakukannya.
    Dalam penelitian yang dilakukan Abdilla dan Agus (2020) gaya hidup yang
    diekspresikan dengan aktivitas, minat dan opini seseorang menyatakan gaya hidup
    memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
    smartphone. Serta penelitian yang dilakukan Badjamal (2019) menyimpulkan
    dalam penelitiannya bahwa gaya hidup memiliki hubangan dan berpengaruh
    terhadap keputusan pembelian handphone merek Samsung

    Hubungan Motivasi Konsumen dengan keputusan Pembelian


    Terdapat hubungan yang saling berkaitan antara motivasi dengan faktor-
    faktor kebudayaann, sosial dan pribadi. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi
    motivasi pembeli dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepuasan.
    Tiap tindakan yang dilakukan seseorang didorong oleh suatu kekuatan dalam diri
    orang tersebut.
    Motivasi muncul karena kebutuhan yang dirasakan konsumen. Dan
    kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang
    dirasakannya dengan apa yang seharusnya terjadi. Maka konsumen terdorong
    untuk melakukan suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut
    hasil dari suatu penelitian, terdapat pengaruh yang sangat nyata antara motivasi
    konsumen terhadap keputusan pembelian handphone Android (Syahril, 2017)

    Hubungan Persepsi Kualitas dengan Keputusan Pemebelian


    Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda-beda, disebabkan
    karena adanya berbagai stimulus yang mucul dan dirasakannya. Dan pada
    dasarnya persepsi akan berhubungan dengan perilaku seseorang dalam mengambil
    suatu keputusan. Persepsi kualitas sebuah merek dapat menjadi bahan
    pertimbangan dalam memutuskan merek mana yang akan dipilih dan
    mendorongnya untuk melakukan keputusan pembelian serta menciptakan loyalitas
    terhadap produk tersebut.
    Dalam Saputra et al (2019) disimpulkan terdapat pengaruh positif dan
    signifikan dari persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian smartphone.
    Mengingat persepsi konsumen dapat diramalkan maka jika persepsi kualitasnya
    negatif, produk tidak akan disukai dan bertahan lama dalam pasar. Sebaliknya,
    jika persepsi kualitas pelanggan postif maka produk akan disukai

    Dimensi Gaya Hidup


    Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan
    masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang
    cenderung berbair dengan berbagai hal yan terkait dengan masalah emosi dan
    psikologis konsumen.
    Menurut Setiadi (2015:81) gaya hidup akan berkembang pada masing-
    masing dimensi AIO (Activities, Interest, and Opinion), dan didefinisikan sebagai
    berikut:

    1. Aktivitas (Activities), adalah tindakan nyata. Aktivitas ini dapat berupa
      kerja, hobi, kegiatan sosial, hiburan, anggota klub, masyarakat, belanja dan
      olahraga. Aktivitas (kegiatan) konsumen merupakan karakteristik konsumen
      dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas konsumen,
      perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh
      pasar sasarannya, sehingga mempermudah perusahaan untuk menciptakan
      strategi-strategi dari informasi yang didapatkan tesebut. Dengan kata lain,
      perusahaan dapat menghasilkan produk yang dapat menunjang aktivitas
      keseharian serta gaya hidup yang dimiliki konsumen.
    2. Ketertarikan (Interest), adalah tindakan kegairahan yang menyertai
      perhatian khusus maupun terus menerus. Minat atau ketertarikan setiap
      manusia berbeda-beda. Adakalanya manusia tertarik pada makanan,
      adakalanya manusia tertarik pada mode pakaian, dan sebagainya. Minat
      merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses
      pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu memahami
      minat dan hasrat para pelanggannya. Dengan memahami minat
      pelanggannya, dapat memudahkan perusahaan untuk menciptakan konsep
      pemasar guna mempengaruhi proses pembelian pada pasar sasarannya.
      Sehingga konsumen akan menyukai produk yang ditawarkan.
    3. Pendapat (Opinion), adalah jawaban lisan atau tertulis yang akan orang
      berikan sebagai respon terhadap suatu situasi. Opini digunakan untuk
      mendeskripsikan penafsiran, harapan dan evaluasi seperti kepercayaan
      mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
      datang. Seperti konsumen memiliki pendapat bahwa produk yang digunakan
      dapat memberikan manfaat untuknya di jaman sekarang ini

    Klasifikasi Gaya Hidup


    VALS (Value and Lifestyle) merupakan suatu program yang dikembangkan
    untuk mengukur gaya hidup, dan mengidentifikasikan delapan kelompok
    konsumen pada suatu masyarakat (Setiadi, 2015:86):

    1. Actualizer: seseorang yang mempunyai pendapatan tinggi dan harga diri
      yang tinggi. Mereka mempunyai rentang minat yang luas pada berbagai
      bidang dan terbuka pada perubahan. Mereka membeli produk untuk
      mencapai yang terbaik dalam hidup.
    2. Fulfilleds: seseorang yang berpendapatan tinggi , dewasa, bertanggung
      jawab, berpendidikan tinggi dalam bidang profesional. Termasuk dalam
      konsumen yang praktis dan berorientasi pada nilai.
    3. Believers: agak kurang kaya, dan lebih tradisonal disbanding fulfilleds.
      Kehidupan mereka terpusat pada keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.
    4. Achiever: banyak kerja kurang rekreasi, fokus karier dan keluarga,
      menghindari perubahan, dan konservatif dalam politik.
    5. Striver: seseorang dengan nilai-nilai yang serupa dengan achiever namun
      sumber daya ekonomi, sosial dan psikologinya lebih sedikit.
    6. Struggeler: orang yang berpenghasilan paling rendah dan terlalu sedikit
      sumber dayanya untuk dimasukkan ke dalam orientasi konsumen manapun
      dengan keterbatasannnya, mereka cenderung menjadi konsumen yang loyal
      pada merek.
    7. Experiencer: konsumen yang berkeinginan besar dalam menyukai hal-hal
      baru.
    8. Maker: orang yang suka mempengaruhi lingkungan mereka dengan cara
      yang praktis

    Gaya Hidup


    Dalam Widjaja (2013:39) menyatakan lifestyle (gaya hidup) merupakan
    bagian dari customer behavior dan didefinisikan sebagai perilaku individu yang
    diwujudkan dalam bentuk aktivitas, minat dan pandangan individu untuk
    mengaktualisasikan kepribadiannya karena pengaruh interaksi dengan
    lingkungannya.
    Gaya hidup merupakan bagian dari perilaku konsumen yang dapat
    mempengaruhi tindakan konsumen dalam melakukan pembelian. Gaya hidup
    adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat,
    dan opininya (Kotler dan Keller, 2012:192).
    Dan secara luas Setiadi (2015:80) mendefinisikan gaya hidup sebagai cara
    hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu
    mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya
    (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga
    dunia di sekitarnya (pendapat). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda
    dengan masyarakat yang lainnya. Bahkan dari masa ke masa gaya hidup suatu
    individu dan kelompok masyarakat tertentu akan bergerak dinamis. Namun
    demikian, gaya hidup tidak cepat berubah sehingga pada kurun waktu tertentu
    gaya hidup relatif permanen.
    Konsumen termotivasi dalam melekukan pembelian karena unsur dan
    dorongan kebutuhan yang muncul karena lifestyle. Terdapat empat kategori yang
    menjadi motif dalam proses pembelian oleh konsumen karena lifestyle (Widjaja,
    2013:43), yaitu:

    1. Utilitarian purchase (pembelian produk bermanfaat)
      Konsumen membelanjakan produk ini, dalam kondisi tidak sangat menesak
      membutuhkan, tetapi memberikan keyakinan bahwa produk/jasa yang
      dibelinya akan meningkatkan kehidupan yang lebih baik atau lebih mudah.
    2. Indulgences (kesukaan/memanjakan diri)
      Individu mencoba untuk hidup menikmati sedikit kemewahan tanpa banyak
      menambah pengorbanan dari pengeluarannya. Gratifikasi dari prodk/jasa ini
      terletak pada faktor emosional. Contoh: lotions and potions to pamper
      yourself in the bath, costume jewelry, entertainment products, berlibur dan
      ke salon atau spa.
    3. Lifestyle luxuries (gaya hidup mewah)
      Lifestyle luxuries menawarkan manfaat dan kegunaan bagi konsumen
      berupa penngkatan prestige, image, dan superior quality dari suatu merek.
      Dalam hal ini, peranan merek menjadi gratifikasi konsumen untuk membeli
      produk atau jasa.
    4. Aspirational luxuries (hasrat kemewahan)
      Seiring dengan indulgences, aspirational luxuries akan memuaskan
      konsumen dari aspek kebutuhan emosionalnya. Melalui pembelian,
      konsumen dapat mengekspresikan dirinya, sistem nilai, minat dan hasratnya.
      Kepuasan muncul dari emosi lebih besar daripada kepuasan pemenuhan
      kebutuhan praktis atau fungsional.

    Teori Motivasi Maslow


    Menurut Maslow dalam Setiadi (2015:39) tingkat kebutuhan yang paling
    rendah ialah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang tertinggi ialah kebutuhan akan
    perwujudan diri (self-astualization needs). Kebutuhan tersebut didefinisikan
    sebagai berikut:

    1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), merupakan kebutuhan
      mempertahankan hidup dan bukti yang nyata akan tampak dalam
      pemenuhannya atas sandang, pangan dan papan. Dan konsumen membeli
      suatu produk agar dapat memenuhi kebutuhan.
    2. Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan (Safety and Security Needs), dapat
      terlihat pada kebutuhan akan kebebasan dari ancaman, yakni aman dari
      ancaman kejadian atau lingkungan. Seperti konsumen membeli suatu
      produk karena produk tersebut dapat menghadirkan rasa aman baginya.
      Misalnya dalam hal pembelian ponsel, ponsel dapat mempermudah
      konsumen saat dalam waktu genting atau keadaan darurat.
    3. Kebutuhan Sosial (Social Needs), merupakan kebutuhan yang paling
      penting untuk diperhatikan segera setelah kebutuhan rasa aman dan
      kebutuhan psikologis sudah terpenuhi. Seperti produk yang digunakan
      konsumen dapat membantu ataupun meningkatkan kebutuhan sosialnya.
    4. Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs), lebih bersifat egoistik dan berkaitan
      erat dengan status seseorang. Semakin tinggi status seseorang maka akan
      semakin tinggi pula kebutuhannya akan suatu pengakuan, penghormatan,
      prestise dan lain-lain. Seperti produk yang digunakan dapat
      menggambarkan citra diri konsumen.
    5. Kebutuhan Perwujudan Diri (Self-Actualization Needs), merupakan
      kebutuhan tertinggi. Yaitu kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan
      memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi. Motivasi
      yang ada pada diri konsumen akan mewujudkan suatu tingkah laku yang
      diarahkan pada tujuan yang mencapai sasaran kepuasan. Dengan kata lain,
      produk yang digunakan konsumen dapat menjadi alat dalam aktualisasi diri.

    Dinamika Proses Motivasi


    Menurut Rossanty (2018:100) proses motivasi: perusahaan harus bisa
    menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen
    dimotivasi kearah itu. Mengetahui kepentingan, perusahaan harus bisa mengetahui
    keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
    Komunikasi efektif, melakukan komunikasi dengan baik terhadap
    konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan
    apa yang bisa mereka dapatkan. Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan
    perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk
    mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konsumen adalah pemenuhan
    kebutuhan dan kepuasan. Kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu
    penting adanya penyesuaian motivasi. Perusahaan memberikan fasilitas agar
    konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

    Motivasi Konsumen


    Menurut Kayode (2014:52) the reason behind purchases made on particular
    goods or services is reffered to as buying motive. It is the driving force behind
    buying behavior; it may be based on physiological wants or psychological wants.
    Yang berarti alasan dibalik pembelian yang dilakukan pada barang atau jasa
    tertentu disebut sebagai motif pembelian. Ini adalah kekuatan pendorong dibalik
    perilaku pembelian; mungkin didasarkan pada keinginan fisiologis atau keinginan
    psikologis.
    Dalam Kamugisha (2017:57) motivations: customers have ‘drives’ that
    make them buy certain product. Artinya motivasi: konsumen memiliki ‘dorongan’
    yang membuat mereka membeli produk tertentu. Motivasi dapat digambarkan
    sebagai kekuatan pendorong dalam individu yang mendorong mereka untuk
    mengambil tindakan. Kekuatan pendorong dihasilkan oleh tegangan. Ketegangan
    muncul karena kebutuhan yang tidak terpenuhi. Manusia sebagai individu
    berusaha (baik secara sadar maupun tidak sadar) untuk mengurangi tegangan ini
    melalui perilaku pembelian yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dan
    membebaskan mereka dari tekanan yang dirasakan.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah kecenderungan
    yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan
    dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok
    yang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.
    Menurut Setiadi (2015:27) motivasi konsumen adalah keadaan di dalam
    pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan
    guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan
    menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai
    sasaran kepuasan. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi muncul karena
    kebutuhan yang dirasakan konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena
    ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dengan yang sebenarnya
    dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk
    melakukan tindakan memenuhi kebutuhan tersebut.

    Dimensi Persepsi Kualitas


    Kotler dan Keller (2012:9) menyatakan terdapat enam dimensi yang perlu
    diperhatikan dalam persepsi kualitas suatu produk, yaitu:

    1. Mutu kinerja (performance), dimensi yang paling basic dan berhubungan
      dengan fungsi utama dari suatu produk. Seperti konsumen dapat
      menemukan kemudahan dalam pengoperasian suatu produk.
    2. Keandalan (reliability), adalah ukuran kemungkinan suatu produk tidak
      akan rusak atau gagal dalam suatu periode tertentu. Seperti konsumen
      menganggap produk yang dipilihnya mempunyai kualitas yang membuatnya
      lebih handal dari produk lain.
    3. Keistimewaan (feature), sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan
      berbagai keistimewaan, yakni karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
      produk. Dengan kata lain, produk memiliki karakteristik yang membuatnya
      istimewa dari produk lain.
    4. Daya tahan (durability), daya tahan atau keawetan menunjukkan suatu
      pengukuran terhadap siklus produk dalam kondisi normal dan/ atau berat
      baik secara teknis maupun waktu. Produk memiliki daya tahan yang lama
      sehingga dipilih oleh konsumen.
    5. Mutu kesesuaian (conformance quality), dimensi ini menunjukkan seberapa
      jauh suatu produk dapat menyamai standar atau spesifikasi tertentu.
    6. Gaya (style), dimensi ini banyak menawarkan aspek emosional dalam
      mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dan juga dapat menggambarkan
      penampilaan serta perasaan yang ditimbulkan oleh produk bagi konsumen.

    Persepsi Kualitas


    Menurut Kartajaya (2010:73)) persepsi kualitas merupakan dimensi ekuitas
    merek. Konsumen akan memiliki persepsi baik atau buruk terhadap kualitas suatu
    produk, dan akan cenderung memberikan respon positif ataupun negatif terhadap
    produk. Semakin positif persepsi konsumen terhadap suatu produk maka akan
    semakin baik pula persepsinya pada merek produk itu sendiri.
    Menurut Tjiptono (2011:97) persepsi kualitas merupakan penilaian
    konsumen terhadap keunnggulan atau superioritas produk secara keseluruhan.
    Oleh karena itu, persepsi kualitas didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen
    terhadap kualitas produk.
    Seorang konsumen dalam memilih suatu produk akan sangat dipengaruhi
    oleh penilaian kualitas produk tersebut. Persepsi kualitas menjadi hal yang hampir
    selalu dipertimbangkan oleh konsumen dalam membuat suatu keputusan
    pembelian. Karena untuk mendapatkan manfaat yang diinginkin dari suatu
    produk, persepsi kualitas merupakan salah satu hal yang penting untuk
    dipertimbangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi kualitas
    adalah penilaian konsumen terhadap keunggulan yang dimiliki suatu produk
    secara keseluruhan

    Proses Persepsi


    Setiadi (2015:102) menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses yang
    terdiri darri seleksi, organisasi dan interpretasi terhadap stimulus. Proses persepsi
    terdiri dari:

    1. Seleksi Perseptual, terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih
      stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological
      set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum
      seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian
      dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi
      seleksi adalah:
      a. Perhatian (attention)
      b. Persepsi selektif (selectif perception)
    2. Organisasi Persepsi, berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi
      dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk
      memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari
      organisasi persepsi ialah penyatuan yang berarti bahwa berbagai stimulus
      akan dirasakan sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.
      Pengorganisasian seperti itu memudahkan untuk memproses informasi dan
      memberikan pengertian yang terintegrasi terhadap stimulus.
    3. Interpretasi Persepstual
      Proses terakhir pada persepsi ialah memberikan interpretasi atas stimulus
      yang diterima oleh konsumen. Setiap stimulus yang menarik perhatian
      konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh
      konsumen. Dalam proses interpretasi konsumen membuka kembali berbagai
      informasi dalam memori yang telah tersimpan dalam waktu yang lama (long
      term memory) yang berhubungan dengan stimulus yang diterima. Informasi
      dalam long term memory akan membentuk konsumen untuk
      menginterpretasikan stimulus. Interpretasi ini didasarkan pengalaman
      penggunaan pada masa lalu, dan pengalaman itu tersimpan dalam memori
      jangka panjang konsumen

    Persepsi Konsumen


    Hampir semua kejadian di dunia saat ini penuh dengan rangsangan. Suatu
    rangsangan (stimulus) adalah sebuah unit input yang merangsang satu atau lebih
    dari (lima) pancaindra: penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan pendengaran.
    Oleh karena itu mereka menggunakan keterbukaan yang selektif (selectif
    exposure) untuk menentukan mana rangsangan yang harus diperhatikan dan mana
    yang harus diabaikan (Setiadi, 2015:91).
    Dalam Rossanty et al (2018:84) dijelaskan persepsi merupakan suatu proses
    yang timbul akibat adanya sensasi, di mana sensasi adalah aktivitas merasakan
    atau penyebab keadaan emosi yang menggembirakan. Sensasi juga dapat
    didefinisikan sebagai tanggap yang cepat dari indra penerima terhadap stimuli
    dasar seperti cahaya, warna, dan suara. Dengan adanya itu semua, persepsi akan
    timbul.
    Persepsi merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi
    bagaimana seseorang memutuskan untuk membeli dan menggunakan suatu
    produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Persepsi yang dibentuk seseorang
    dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya (Setiadi, 2015:92).
    Maka dapat dikatakan persepsi merupakan sebagai cara seseorang
    memandang dunia di sekitarnya. Persepsi adalah semua yang berhubungan dengan
    pemahaman subjektif konsumen. Dan konsumen akan bertindak dan bereaksi atas
    dasar persepsi yang dimilikinya

    Proses Pengambilan Keputusan Pembelian


    Kotler dan Keller dalam Firmansyah (2018:35) menjelaskan bahwa proses
    pengambilan keputusan merupakan proses psikologis dasar yang memainkan
    peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil
    keputusan pembelian. Sebelum membuat suatu keputusan membeli suatu produk
    atau jasa, seorang konsumen akan mencari dan mengumpilkan informasi-
    informasi sebagai bahan penilaian dan pertimbangan terhadap produk yang akan
    dibelinya. Terdapat tahapan proses dalam keputusan pembelian (Kotler dan
    Amstrong, 2014:176), yaitu:

    1. Pengenalan Masalah
      Proses membeli diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan
      pembelinya dari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan
      keadaan yang diinginkan. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan
      dari dalam diri pembeli ataupun dari luar. Sebagai contoh kebutuhan normal
      seseorang, yaitu rasa haus dan lapar yang meningkat hingga suatu tingkat
      tertentu dan berubah menjadi dorongan. Atau suatu kebutuhan yang timbul
      karena rangsangan dari luar, yaitu seseorang yang melewati suatu took roti
      dan melihat roti yang baru selesai dibakar dapat merangsang rasa laparnya.
    2. Pencarian Informasi
      Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk
      mencari informasi lebih banyak. Seberapa jauh seseorang mencari informasi
      bergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan. Proses mencari
      informasi secara aktif di mana ia mencari bahan-bahan bacaan, menelpon
      teman-temannya, dan melakukan kegiatan untuk mempelajari yang lain.
      Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan
      dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas
      ke pemecahan masalah yang ekstensif. Sumber informasi utama dimana
      konsumen mendapatkan informasi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
      a. Pribadi: keluarga, teman, tetangga dan rekan.
      b. Komersial: iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan.
      c. Publik: media masa dan organisasi penilai konsumen.
      d. Eksperimental: penanganan, pemeriksaan dan penggunaan produk.
    3. Evaluasi Alternatif
      Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari
      proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka
      memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk
      terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.
      Konsumen mungkin mengembangkan seperangkat kepercayaan merek
      tentang di mana setiap merek berada pada ciri masing-masing. Kepercayan
      merek menimbulkan citra merek. Produsen harus berusaha memahami cara
      konsumen mengenal informasi yang di perolehnya dan sampai pada sikap
      tertentu mengenai produk, merek dan keputusan untuk membeli.
    4. Keputusan Pembelian
      Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-
      merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin akan
      membentuk tujuan membeli merek yang paling disukai. Terdapat dua faktor
      yang bisa muncul diantara niat untuk membeli dan keputusan pembelian
      yang mungkin mengubah niat tersebut. Faktor pertama adalah sikap orang
      lain; faktor kedua adalah situasi yang tidak diharapkan. Jadi, pilihan dan niat
      untuk membeli tidak selalu menghasilkan pilihan pembelian yang aktual.
    5. Perilaku Pasca Pembelian
      Sesudah pembelian terhadap suatu produk dilakukan, konsumen akan
      mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Konsumen akan
      terlibat dalam tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang
      akan menarik minat pemasar. Apabila produk tidak memberikan kepuasan
      yang diharapkan, maka konsumen akan merubah sikapnya terhadap merek
      produk tersebut menjadi negatif dan bahkan mungkin akan menolak dari
      daftar pilihan. Sebaliknya, maka keinginan untuk membeli ulang merek
      produk tersebut cenderung menjadi lebih kuat

    Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


    Kotler dan Keller (2013:23), membedakan 4 (empat) tipe perilaku
    pembelian konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat
    perbedaan diantara merek, yaitu:

    1. Perilaku pembelian yang rumit
      Perilaku konsumen yang rumit membutuhkan keterlibatan yang tinggi
      dalam pembelian, dengan berusaha menyadari perbedaan-perbedaan yang
      jelas diantara merek-merek yang ada.
    2. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan
      Dalam tahap ini, konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan
      bukan berdasarkan kesetiaan terhadap suatu merek. Konsumen memilih
      produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi karena mereka
      sudah mengenal produk tersebut.
    3. Perilaku pembelian yang mencari keragaman
      Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, tetapi masih terdapat
      perbedaan merek yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari
      keragaman bukan kepuasan terhadap produk.
    4. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan
      Terkadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian, namun mereka hanya
      melihat sedikit perbedaan antar merek. Dalam perilaku ini, setelah
      pembelian konsumen mungkin akan mengalami ketidaknyamanan karena
      merasakan adanya fitur yang tidak mengenakkan atau mendengar kabar
      yang membuatnya tertarik mengenai merek lain dan akan siaga terhadap
      informasi yang mendukung keputusannya.

    Dimensi Keputusan Pembelian


    Kotler dan Amstrong (2016:188) menyebutkan terdapat enam dimensi
    keputusan pembelian, yaitu:

    1. Pemilihan Produk (Product Choice)
      Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau
      menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini, perusahaan
      harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berniat membeli
      suatu produk serta alternatif yang akan mereka pertimbangkan. Misalnya:
      kebutuhan suatu produk.
    2. Pemilihan Merek (Brand Choice)
      Konsumen harus menentukan merek mana yang akan dibeli, setiap merek
      memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
      mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Sehingga
      konsumen dalam memilih produk menyatakan mereknyalah yang akan
      dipilih. Misalnya: kepercayaan dan popularitas merek.
    3. Pemilihan Saluran Pembelian (Dealer Choice)
      Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
      dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur,
      dapat dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan
      barang yang lengkap. Kenyamanan berbelanja, dan keleluasaan tempat.
      Seperti misalnya konsumen akan memilih tempat yang mudah ia jangkau.
    4. Penentuan Waktu Pembelian (Purchase Timing)
      Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian dapat berbeda-
      beda. Konsumen akan mempertimbangkan kapan dia akan membeli suatu
      produk. Dan konsumen akan memilih waktu yang tepat untuk membeli
      produk yang dipilihnya.
    5. Jumlah Pembelian (Purchase Amount)
      Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
      yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin
      lebih dari satu jenis produk. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
      banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para
      pembeli. Konsumen akan menetapkan membeli dan menggunakan satu atau
      lebih produk yang dipilihnya.

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Setiadi (2015:10) keputusan pembelian dari pembeli sangat
    dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi pembeli.
    Faktor Kebudayaan

    1. Kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan
      dan perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak
      berdasarkan naluri,maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
    2. Subbudaya. Setiap kebudayaan terdiri dari subbudaya-subbudaya yang lebih
      kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk
      para anggotanya.
    3. Kelas sosial adalah kelompok yang relative homogeny dan bertahan lama
      dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan yang
      keanggotaanya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa.
      Faktor Sosial
    4. Kelompok refernsi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang
      mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau
      perilaku seseorang.
    5. Keluarga. Keluarga orientasi, yang merupakan orang tua seseorang. Dan
      keluarga prokreasi, yaitu pasangan hidup anak-anak seseorang keluarga
      merupakan organisasi pembeli konsumen yang paling penting dalam suatu
      masyarakat.
    6. Peran dan status. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok
      selama hidupnya keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap
      kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status.
      Faktor Pribadi
    7. Umur dan tahapan dalam siklus hidup. Konsumsi seseorang juga dibentuk
      oleh tahapan siklus hidup keluarga. Orang-orang dewasa biasanya
      mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani
      hidupnya.
    8. Pekerjaan. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok
      pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa
      tertentu.
    9. Keadaan ekonomi. Yang dimaksud dengan keadaan ekonomi seseorang
      adalah terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya,
      stabilitasnya dan polanya), tabungan dan hartanya, kemampuan untuk
      meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan menabung.
    10. Gaya hidup. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan”
      yan berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan
      sesuatu di balik kelas sosial seseorang.
    11. Kepribadian dan konsep diri. Yang dimaksud dengan kepribadian adalah
      karakteristik psikologis yang berbeda dan setiap orang yang memandang
      responsnya terhadap lingkungan yang relative konsisten.
      Faktor Psikologis
    12. Motivasi. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari
      suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak
      nyaman. Adapun kebutuhan lain bersifat psikogenik, yaitu kebutuhan yang
      timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui,
      kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
    13. Persepsi, didefinisikan sebagai proses di mana seseorang memilih,
      mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan
      suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
    14. Proses belajar, menjelaskan perubahan dalam perilau seseorang yang timbul
      dari pengalaman.
    15. Kepercayaan dan sikap. Kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang
      dimiliki seseorang terhadap sesuatu

    Perilaku Konsumen


    Menurut Firmansyah (2018:2) perilaku konsumen adalah sebuah kegiatan
    yang berkaitan erat dengan proses pembelian suatu barang atau jasa. Perilaku
    konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
    mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan
    yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Setiadi, 2015:2).
    Dan The American Marketing Association dalam Kotler (2000) yang dialih
    bahaskan oleh Setiadi (2015:2) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai
    interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya di mana
    manusia melakukan kegatan pertukaran dalam hidup mereka.
    Dari definisi tersebut terdapat tiga ide penting, yaitu : (1) perilaku
    konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara afeksi dan
    kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; dan (3) hal tersebut melibatkan
    pertukaran.
    Perilaku konsumen adalah dinamis, berarti bahwa perilaku seorang
    konsumen, grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak
    sepanjang waktu. Hal ini memiliki implikasi terhadap studi perilaku konsumen.
    Dalam hal studi perilaku konsumen, salah satu implikasinya adalah bahwa
    generalisasi perilaku konsumen biasanya terbatas untuk jangka waktu tertentu,
    produk, dan individu atau grup tertentu.
    Perilaku konsumen melibatkan pertukaran. Itu merupakan hal terakhir yang
    ditekankan dalam definisi perilaku konsumen, yaitu pertukaran di antara individu.
    Hal ini membuat definisi perilaku konsumen tetap konsisten dengan definisi
    pemasaran sejauh ini juga menekankan pertukaran. Kenyataannya, peran
    pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui
    formulasi dan penerapan strategi pemasaran.

    Indikator Harga


    Menurut Kotler dan Armstrong (2016), terdapat empat indikator utama
    yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

    1. Keterjangkauan harga
      Mengacu pada kemampuan daya beli konsumen terhadap suatu
      produk. Harga yang diterapkan harus sesuai dengan kondisi ekonomi
      target pasar agar produk dapat diakses oleh lebih banyak konsumen atau
      wisatawan.
    2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
      Menunjukkan bahwa kualitas produk yang diperoleh konsumen
      harus sebanding dengan atau bahkan melebihi nilai uang yang telah
      mereka keluarkan. Konsumen cenderung merasa puas apabila harga yang
      dibayarkan sesuai dengan mutu dan keunggulan produk yang diterima.
    3. Daya saing harga
      Merupakan kemampuan perusahaan dalam menetapkan harga
      yang kompetitif dibandingkan dengan produk lain di pasar. Harga yang
      lebih menarik dapat meningkatkan daya tarik produk dan memperkuat
      posisi perusahaan di industri yang bersangkutan.
    4. Kesesuaian harga dengan manfaat
      Mengacu pada sejauh mana manfaat yang diperoleh konsumen
      dari produk yang dibeli sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan.
      Konsumen akan lebih cenderung memilih produk yang memberikanya
      nilai lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayarkan.

    Menetapkan Strategi Harga


    Dalam menetapkan strategi harga, perusahaan perlu menyesuaikan
    dengan produk yang dihasilkannya agar keputusan yang diambil tidak
    menimbulkan kerugian , berikut adalah strategi penetapan harga:

    1. Strategi Penetapan Harga Produk Baru
      Strategi ini menetapkan harga untuk produk baru dengan tujuan
      memberikan dampak positif bagi pertumbuhan pasar serta mengurangi
      tingkat persaingan yang ketat. Menurut Tjiptono (2008:171), terdapat dua
      pendekatan dalam strategi ini:
      a. Skimming Price, yaitu strategi yang menetapkan harga tinggi pada
      produk baru dengan dukungan promosi yang intensif.
      b. Penetration Pricing, yaitu strategi dengan menggunakan harga rendah
      pada awal produksi untuk menarik pangsa pasar yang lebih luas
      sekaligus mencegah masuknya pesaing.
    2. Strategi Penetapan Harga Produk Yang Sudah Mapan
      Menurut Tjiptono (2008:174) perusahaan harus terus mengevaluasi
      strategi untuk produk yang sudah beredar agar tetap sesuai dengan kondisi
      perusahaan. Beberapa strategi yang dapat diterapkan adalah:
      a. Mempertahankan Harga
      Bertujuan menjaga posisi di pasar dan meningkatkan citra
      positif di masyarakat.
      b. Menurunkan Harga
      Strategi ini sulit diterapkan karena membutuhkan stabilitas
      keuangan yang kuat, sementara dampaknya adalah margin
      keuntungan yang lebih kecil.
      c. Menaikkan Harga
      Strategi ini diteapkan untuk mempertahankan profibilitas,
      terutama dalam kondisi inflansi atau untuk menargetkan segmen
      pasar tertentu

    Pengertian Harga


    Dalam sektor percetakan, ketidakseimbangan antara harga yang
    ditawarkan dan kualitas pelayanan dapat mempengaruhi minat customer atau
    konsumen untuk melakukan transaksi. Harga sendiri merupakan elemen
    penting dalam bauran pemasaran yang berkontribusi terhadap pendapatan.
    Bagi sebuah percetakan yang memproduksi barang atau jasa, harga
    merupakan faktor yang erat kaitannya dengan konsumen dalam memperoleh
    nilai tukar. Selain itu, harga juga berperan dalam bauran pemasaran, karena
    penentuan harga berdampak langsung pada pendapatan perusahaan.
    Swastha (2018) menyatakan harga adalah sejumlah uang yang
    dibutuhkan untuk mendapat sejumlah kombinasi dari barang beserta
    pelayanannya. Konsumen berhak menilai apakah harga yang dikeluarkan
    untuk membeli sesuai dengan barang yang didapatkannya.
    Menurut Kotler dan Amrstrong (2016), harga didefinisikan sebagai
    jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu produk atau jasa,
    atau nilai yang ditukarkan oleh konsumen demi mendapatkan manfaat,
    kepemilikan, atau penggunaan produk atau jasa tersebut. Sementara itu,
    Lupiyoadi (Rizky Teguh, 2015;5) menjelaskan bahwa harga mencerminkan
    manfaat yang dimiliki suatu produk atau jasa dibandingkan dengan berbagai
    biaya yang timbul dalam penggunaanya. Biaya tersebut dapat berupa waktu
    yang dikorbankan, usaha fisik yang dikeluarkan, beban mental seperti stress.
    Serta pengorbanan yang berkaitan dengan panca indra, seperti kebisingan
    atau suhu yang tidak nyaman.
    Menurut Kotler dan Amstrong (Krisdayanto 2018) mendefinisikan
    harga sebagai sejumlah uang yang dibayarkan untuk jasa atau nilai yang
    ditukar oleh konsumen guna memperoleh manfaat dari kepemilikan atau
    penggunaan barang maupun jasa. Sementara itu, menurut Arumsari (Deni
    2022), harga adalah sejumlah uang (ditambah beberapa produk) yang
    diperlukan untuk mendapatkan kombinasi tertentu dari produk dan layanan.
    Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa harga yang dibayarkan oleh
    pembeli sudah mencakup layanan yang diberikan oleh penjual.

    Indikator Kualitas Pelayanan


    Menurut Zeithaml (Anim & Indiani. 2020), indikator kualitas
    pelayanan dalam hasil fokus grup di Amerika menghasilkan 10 indikator,
    setelah itu disederhanakan menjadi 5 indikator sebagai berikut:

    1. Tangibles ( Bukti Fisik)
      Mengacu pada segala bentuk tampilan fisik yang dapat dilihat oleh
      pelanggan termasuk: fasilitas, perlengkapan, kebersihan, serta tampilan
      karyawan dalam memberikan layanan.
    2. Reability (Keandalan)
      Kemampuan perusahaan dalam memberikan layanan secara
      konsisten, akurat, dan dapat diandalkan sesuai dengan yang dijanjikan
      kepada pelanggan.
    3. Responsiveness (Daya Tanggap)
      Kesigapan dan kecepatan dalam merespons kebutuhan pelanggan,
      baik dalam memberikan bantuan, informasi, maupun menyelesaikan
      keluhan.
    4. Assurance (Jaminan)
      Tingkat kepercayaan dan rasa aman yang diberikan kepada
      pelanggan melalui kompetensi, keramahan, profesionalisme, serta
      kredibilitas penyedia layanan.
    5. Empahty (Empati)
      Kepedulian Perusahaan dalam memahami dan memenuhi kebutuhan
      pelanggan, termasuk memberikan perhatian secara personal dan
      menciptakan pengalaman yang aman

    Definisi Kualitas Pelayanan


    Menurut Kasmir (2017) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah
    tindakan atau perbuatan seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan
    kepuasan kepada pelanggan, sesama karyawan, dan juga pimpinan.
    Menurut Goetsch dan Davis (Adimah, Irsyad, & Oktriawan, 2022),
    kualitas ialah pengaruh dari berbagai faktor, termasuk barang, jasa, sumber
    daya manusia, prosedur dan lingkungan yang semuanya berkontribusi
    terhadap pencapaian standart kualitas.
    Menurut Kotler (Fakhrudin & Roellyanti, 2022), pelayanan merupakan
    segala bentuk pekerjaan yang dapat dilakukan seseorang untuk kepentingan
    orang lain. Secara umum, layanan bersifat tidak berwujud dan tidak
    memberikan hak kepemilikan.
    Kualitas pelayanan didefinisikan sebagai kesesuaian layanan dengan
    kebutuhan pelanggan serta kemampuannya untuk melampaui ekspetasi
    mereka (Bagale et al, 2019), sementara itu, menurut Kamarul Ikhsan Bin
    Ahamed Zaki & Bin Abdul Lasi (2020), kualitas pelayanan merupakan sejauh
    mana layanan dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan,
    yang dinilai berdasarkan pengalaman nyata pelanggan terhadap layanan yang
    mereka terima. Kasinem (2020), menjelaskan bahwa kualitas pelayanan
    mencakup segala bentuk penyediaan layanan secara optimal oleh Perusahaan
    dengan berbagai keunggulan yang dimiliknya, guna memenuhi kebutuhan
    pelanggan dan melampaui harapan mereka.
    Kualitas pelayanan merupakan ukuran yang digunakan untu menilai
    tingkat kepuasan pelanggan. Pelayanan yang baik dapat menciptakan loyalitas
    pelanggan serta membangun citra positif bagi perusahaan. Kualitas pelayanan
    dinilai berdasarkan sejauh mana layanan yang diterima sesuai dengan harapan
    pelanggan. Abu Bakar (2018) menyatakan bahwa kualitas pelayanan
    mencerminkan kemampuan Perusahaan dalam memberikan layanan yang
    lebih unggul dibandingkan pesaingnya. Kualitas pelayanan hanya dapat
    dirasakan setelah pelanggan mengalaminya, sehingga harus dirancang sebaik
    mungkin agar lebih menarik dan berbeda dari Perusahaan lain

    Indikator Keputusan Pembelian


    Menurut Kotler & Amstrong (Dedhy, 2017) terdapat beberapa indikator
    dalam keputusan pembelian konsumen, yaitu sebagai berikut :
    a. Kemantapan membeli setelah mengetahui informasi produk, adalah dari
    konsumen setelah melakukan pembelian pada sebuah produk setelah
    mengetahui informasi yang baik dari sebuah produk tersebut.
    b. Memutuskan membeli karena merek yang paling disukai, merupakan
    melakukan pembelian karena sebuah merek ternama.
    c. Membeli karena sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, merupakan
    konsumen yang membeli karena sebuah keinginan dan kebutuhan.
    d. Membeli karena mendapat rekomendasi dari orang lain, merupakan
    pembelian dari rekomendasi teman atau keluarga untuk membeli produk
    tersebut

    Tahapan Keputusan Pembelian


    Menurut Alma (2020:104) sebelum melakukan pembelian, konsumen
    akan melalui beberapa tahapan, yaitu:
    a. Pengenalan Masalah atau Kebutuhan
    Konsumen berupaya untuk mengidentifikasi kebutuhan dan
    keinginan yang masih belum terpenuhi dan tidak terpuaskan. Dengan
    menyadari kebutuhan tersebut, konsumen dapat memahami bahwa ada
    kebutuhan yang harus dipenuhi segera dan ada juga yang bisa
    ditangguhkan. Kebutuhan muncul baik dari dalam diri individu sebagai
    konsumen maupun dari lingkungan sekitarnya.
    b. Mencari Informasi
    Seseorang akan mencari tahu terlebih dahulu informasi mengenai
    produknya seperti: ingin membeli produk apa, produk yang bagaimana,
    dimana tempat membelinya, dan sebagainya. Untuk mencari informasi
    tersebut seseorang bisa menemukannya dari beberapa sumber yaitu:
    sumber pribadi yang meliputi sumber yang berasal dari lingkungan
    sekitar seperti keluarga, teman dan tetangga, sumber komersial
    mencakup iklan, tenaga penjual dan melihat display, sumber publik
    meliputi media masa atau pers, TV dan radio. Dan juga pengalaman
    masa lalu atau produk tersebut sudah digunakan sebelumnya.
    c. Evaluasi Alternatif
    Dalam tahap ini, evaluasi tiap konsumen akan berbeda-beda
    tergantung pada pemilihan atribut produk, apakah cocok atau tidak
    dengan harapan konsumen. Serta tiap konsumen berbeda tingkat
    kebutuhannya, ada konsumen yang memiliki kebutuhan yang sangat
    mendesak, ada pula yang tidak terlalu mendesak, dengan kata lain
    masih dapat ditunda dilain hari. Lalu ada juga faktor merek yang dapat
    membuat konsumen memutuskan alternatif, ada konsumen yang
    fanatic kepada sebuah merek, hal ini akan membuat konsumen tersebut
    sulit untuk berpindah ke merek lainnya. Hasilnya pertimbangan dari
    konsumen adalah kepuasan penuh akan alternatif yang diambil seperti:
    iklan di sosial media yang dinilai adalah gambar, warna dan harga.
    Sedangkan restoran yang dinilai adalah kebersihan, makanan, lokasi,
    kenyamanan dan harga.
    d. Keputusan Pembelian
    Pada tahap ini, konsumen harus mengambil keputusan setelah
    beberapa tahapan sebelumnya. Apabila terjadi keputusan pembelian,
    maka kumpulan keputusan termasuk jenis produk, kualitas, waktu,
    harga, cara membayar, dan sebagainya. Terkadang dalam pengambilan
    keputusan ada pihak-pihak yang memberi dorongan terakhir, hal ini
    akan membuat adanya pertimbangan lagi dan dapat mengubah
    keputusan awal secara singkat.
    e. Perilaku Pasca Pembelian
    Perilaku pasca pembelian adalah pengalaman konsumen setelah
    pembelian atau mengkonsumsi produk. Hal ini akan mencakup apakah
    konsumen senang atau kecewa, hal ini tergantung dari ekspektasi
    konsumen terhadap produk dengan kenyataan yang ditemui. Jika
    ekspektasi jauh dari kenyataan, maka konsumen akan kecewa, jika
    sesuai dengan ekspektasi, berarti konsumen puas dan jika lebih baik
    dari ekspektasi yang dipikirkan maka konsumen akan sangat senang.
    Pada umumnya, ekspektasi konsumen akan meningkat apabila
    mengetahui ulasan produk ataupun cerita pengalaman teman tentang
    produk itu sangatlah bagus dan jika hal ini tidak dirasakan konsumen,
    maka akan sangat kecewa. Sehingga penjual tidak perlu
    mengunggulkan kelebihan produknya, supaya jarak antara kenyataan
    dan ekspektasi konsumen tidaklah jauh.

    Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Menurut Chaniago (2021:49), terdapat beberapa faktor yang
    mempengaruhi konsumen ketika melakukan pembelian, diantaranya yaitu:

    1. Faktor Internal
      a. Budaya
      Jika dilihat dari lingkungan bisnis maka faktor budaya adalah
      berkaitan dengan sifat dan kepribadian seseorang. Contohnya: sikap,
      pola berfikir, bahasa, tata krama, hedonism, dan lain-lainnya.
      b. Agama
      Seseorang dengan tingkat agama tertentu akan menentukan
      sikap dalam membeli sesuatu. Contohnya seseorang yang sangat taat
      agama cenderung akan lebih sabar dan memaklumi suatu produk.
      c. Pengalaman masa lalu
      Tiap pengalaman konsumen baik itu positif maupun negatif
      dari pembelian sebelumnya, pengalaman orang lain atau dari sumber
      lainnya akan membuat sikap dan kepribadian dalam membeli sebuah
      barang. Konsumen yang sudah memiliki pengalaman akan lebih
      berhati-hati dengan promosi penjual.
    2. Faktor Ekstenal
      a. Strata sosial
      Seorang konsumen akan memiliki stratanya masing-masing
      tiap di lingkungan tertentu. Contohnya: konsumen kelas atas,
      konsumen kelas menengah, dan juga konsumen kelas bawah. Strata
      ini bisa didasari dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, profesi
      atau pekerjaan dan lainnya.
      b. Keluarga
      Cara seseorang tumbuh dan berkembang di dalam sebuah
      keluarga akan mempengaruhi perilaku konsumen. Contoh:
      seseorang tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang kritis
      akan cenderung memiliki perilaku yang lebih selektif ketika
      membeli sesuatu.
      c. Atribut produk
      Hal yang mempengaruhi seseorang untuk menentukan minat
      dan perilaku konsumen dalam pembelian adalah seperti spesifikasi
      barang, kemasan, harga, kualitas dan manfaat produk tersebut.
      Seringkali atribut produk ini menjadi pesona bagi konsumen

    Definisi Keputusan Pembelian


    Secara istilah, terdapat beberapa definisi dari keputusan pembelian
    yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut:
    a. Menurut Firmansyah (2019:205)
    Keputusan pembelian adalah kegiatan pemecahan masalah yang
    dilakukan individu untuk memilih alternatif yang sesuai dari dua atau
    lebih alternatif dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat dalam
    membeli dengan terlebih dahulu melalui tahap-tahap proses
    pengambilan Keputusan.
    b. Menurut Sudaryono (2016:99)
    Keputusan pembelian adalah memilih dari beberapa alternatif
    pilihan, bisa antara dua atau lebih dari dua pilihan. Ketika mengambil
    suatu keputusan, seseorang harus dapat menetapkan satu dari alternatif
    lainnya. Jika seseorang memutuskan untuk membeli karena berhadapan
    dengan pilihan antara membeli atau tidak membeli, maka hal ini disebut
    posisi membuat keputusan.
    c. Menurut Kotler & Amstrong (2016)
    Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
    keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Konsumen
    bebas memilih produk yang diinginkan sesuai dengan kebutuhannya,
    memutuskan tempat pembelian, bagaimana caranya, banyak pembelian,
    kapan membeli, dan mengapa harus membeli.
    d. Menurut Kotler dan Amstrong (2017:180)
    Keputusan pembelian adalah keputusan pembeli tentang merek
    mana yang akan dibeli. Proses pengambilan keputusan yang rumit
    sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
    pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen
    adalah tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk
    membeli produk yang paling disukai, dimana keputusan konsumen
    untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar sangat dipengaruhi
    resiko yang dirasakan.
    e. Menurut Kurniawan et al (2023)
    Keputusan pembelian adalah sebuah tahapan pengambilan
    keputusan untuk menentukan apakah akan melakukan pembelian atau
    tidak terhadap barang yang dibutuhkan atau diinginkan. Keputusan
    pembelian merupakan sebuah proses evaluasi terhadap dua atau lebih
    objek untuk kemudian dilakukan pembelian terhadap salah satunya.
    Sehingga keputusan pembelian adalah tahap kritis dalam proses
    pengambilan keputusan konsumen di mana individu memilih apakah
    akan membeli suatu produk atau layanan setelah mempertimbangkan
    berbagai faktor dan opsi yang tersedia.
    f. Menurut Kotler dan Keller (2018)
    Keputusan pembelian adalah tahapan dalam proses pengambilan
    keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Sebelum
    benar-benar membeli, konsumen akan melewati beberapa tahapan
    proses pembelian. Pengambilan keputusan merupakan kegiatan individu
    yang terlibat langsung dalam proses pembelian barang yang ditawarkan
    oleh perusahaan

    Hubungan Keragaman Produk Dengan Keputusan Pembelian


    Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sapuri & Amron (2022), terlihat hasil
    bahwa Keberagaman produk menjadi variabel terbesar ketiga yang
    berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
    Semakin tinggi tingkat keberagaman produk maka keputusan pembelian
    akan meningkat

    Hubungan Store Atmosphere Dengan Keputusan Pembelian


    Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sapuri & Amron (2022), terlihat hasil
    bahwa Store atmosphere menjadi variabel terbesar kedua yang
    berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelitan.
    Semakin menarik store atmosphere maka keputusan pembelian semakin
    meningka

    Hubungan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian


    Promosi memiliki peranan penting dalam pembelian konsumen. Promosi
    dapat membantu para pembeli untuk memberikan rangsangan-rangsangan untuk
    mendorong penjualan dengan cepat. Selain itu untuk mengetahui kebutuhan dan
    keinginan konsumen perusahaan juga perlu mempelajari perilaku konsumen
    terutama mengenai hal-hal yang berhubungan dengan proses pengambilan
    keputusan.
    Menurut Swasta dan Irawan (2003) kegiatan promosi untuk
    memperkenalkan kebaikan, manfaat tambahan, harga yang murah dan sebagainya
    kepada konsumen dan calon konsumen. Seluruh alat-alat promosi penjualan
    sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

    Hubungan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


    Kualitas suatu produk adalah penelitian yang subyektif oleh konsumen.
    Penelitian ini ditentukan oleh persepsi pada apa yang dikehendaki dan dibutuhkan
    oleh konsumen terhadap produk tersebut. Suatu perusahaan yang mengetahui hal
    tersebut, tentu tidak hanya menjual produk itu sendiri, tetapi juga manfaat dari
    produk tersebut dimana pada akhirnya hal tersebut membantu perusahaan untuk
    meningkatkan penjualan karena akan berpengaruh pada keputusan pembelian
    yang dilakukan oleh konsumen. Menurut (Kotler dan Armstrong , 2012) arti dari
    kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan
    fungsinya.

    Promosi


    Menurut Napik (2018) promosi adalah alat pemasaran yang digunakan
    perusahaan untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan kepada pelanggan,
    membujuk pelanggan untuk menggunakan produk yang ditawarkan, serta
    memberikan informasi mengenai produk yang diciptakan perusahaan.
    Sedangkan menurut Okki (2016) promosi merupakan kegiatan yang
    ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mengenal produk yang ditawarkan
    oleh perusahaan kepada konsumen dan kemudian menjadi senang membeli
    produk.
    Menurut Kotler dan Amstrong (2012) variabel ini dapat diukur dengan
    menggunakan beberapa indikator promosi yaitu :

    1. Advertising (Periklanan)
    2. Sales Promotion (Promosi Penjualan)
    3. Publicity (Publisitas

    Kualitas Produk


    Kualitas merupakan suatu dorongan atau daya tarik kepada konsumen
    yang berpengaruh (Indrawati, 2018), sedangkan produk adalah hasil produksi
    yang memiliki tingkat kualitas tertentu (Denisa, 2016). Jadi kualitas produk
    adalah suatu produksi yang memiliki daya tarik untuk mendorong konsumen
    supaya membeli atau mendapatkannya.
    Sedangkan menurut Tjiptono (2016) kualitas produk adalah suatu
    penilaian konsumen terhadap keunggulan atau keistimewaan suatu produk.
    Kualitas produk yang sudah dipercaya oleh konsumen harus tetap dijaga. Jika
    diabaikan akan mengecewakan konsumen. Ada dua macam yang termasuk dalam
    dimensi kualitas ini, yaitu desain yang baik dan komitmen kualitas. Dimensi
    kedua menjaga kualitas yang sudah dipercaya konsumen dengan baik, model,
    warna motif dan bahan manik-manik yang awet harus konsisten kualitasnya.
    Indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas produk menurut
    Tjiptono (2016) meliputi :

    1. Pemilihan Bahan
    2. Desain Produk
    3. Keragaman Produk

    Produk


    Pengertian produk ( product ) menurut Kotler dan Keller (2014) adalah
    segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian,
    dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau
    kebutuhan konsumen. Secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif
    dari produsen atas suatu yang bias ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai
    tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen, sesuai
    dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar.
    Ummu Habibah dan Sumiati (2016) mengungkapkan bahwa produk
    sebagai kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk
    didalamnya kemasan, warna, harga, dan kualitas ditambah dengan jasa dan
    reputasi penjualannya.
    Sedangkan produk menurut Tjiptono (2016) produk adalah semua yang
    bisa ditawarkan dipasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan pemakaian
    atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen.

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Kotler (2014) menyatakan bahwa perilaku pembelian konsumen
    dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut :

    1. Faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan
      paling dalam. Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting
      bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan
      perilaku yang paling dasar. Sub budaya mencakup kebangsaan,
      agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Sedangkan kelas sosial
      adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen,
      yang tersusun secara hirarkis dan yang para anggotanya menganut
      nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Kelas sosial tidak hanya
      mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti
      pekerjaan, pendidikan, dan wilayah tempat tinggal.
    2. Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-
      faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status
      sosial masyarakat.
      a. Kelompok acuan seseorang terdiri atas semua kelompok di sekitar
      individu yang mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak
      langsung terhadap perilaku individu tersebut (Kotler, 2014).
      Kelompok acuan mempengaruhi pendirian dan konsep pribadi
      seseorang karena individu biasanya berhasrat untuk berperilaku
      sama dengan kelompok acuan tersebut (Kotler, 2014)
      b. Keluarga sendiri biasanya menjadi sumber orientasi dalam
      perilaku. Anak akan cenderung berperilaku sama dengan orang
      tua saat mereka melihat perilaku orang tua mereka mendatangkan
      manfaat atau keuntungan (Kotler, 2014).
      c. Peranan adalah kegiatan yang diharapkan untuk dilakukan
      mengacu pada orang-orang di sekellilingnya. Sedang status
      adalah pengakuan umum masyarakat sesuai dengan peran yang
      dijalankan. Setiap individu dan status yang disandangnya akan
      mempengaruhi perilakunya (Kotler, 2014).
    3. Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
      Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan,
      keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri
      pembeli.
      a. Usia, Individu dalam membeli barang atau jasa biasanya
      disesuaikan dengan perubahan usia mereka. Pola konsumsi yang
      terbentuk juga berbeda antara individu-individu yang usianya
      berbeda (Kotler, 2014)
      b. Pekerjaan, Pekerjaan individu tentunya ikut mempengaruhi
      perilaku pembelian individu. Penghasilan yang mereka peroleh
      dari pekerjaannya itulah yang menjadi determinan penting dalam
      perilaku pembelian mereka (Kotler, 2014)
      c. Gaya Hidup, Gaya hidup merupakan pola kehidupan seseorang
      sebagaimana tercermin dalam aktivitas, minat, dan opininya.
      Gaya hidup akan sangat mempengaruhi pola tindakan dan
      perilaku individu (Kotler, 2014).
      d. Kepribadian adalah karakteristik psikologi yang berbeda dari
      seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten
      dan tetap terhadap lingkungannya (Kotler, 2014)
    4. Faktor Psikologis, Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh
      empat faktor psikologi utama. Faktor-faktor tersebut terdiri dari
      motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
      Kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga mencapai
      tahap intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang
      memadai untuk mendorong seseorang bertindak. Persepsi adalah
      proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi,
      dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan
      gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi dapat sangat beragam
      antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang
      sama.
      a. Motivasi, Motivasi adalah kebutuhan yang memadai untuk
      mendorong seseorang bertindak. Seseorang memiliki banyak
      kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat
      biogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan biologis seperti
      lapar, haus, tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan yang lain
      bersifat psikogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan
      psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau
      rasa keanggotaan kelompok
      b. Disamping motivasi mendasari seseorang untuk melakukan
      keputusan pembelian maka akan dipengaruhi juga oleh
      persepsinya terhadap apa yang diinginkan. Konsumen akan
      menampakkan perilakunya setelah melakukan persepsi terhadap
      keputusan apa yang akan diambil dalam membeli suatu produk
      c. Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan
      berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima
      (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir)
      atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang
      diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback
      bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan
      dalam situasi yang sama (Schiffman dan Kanuk , 2008).
      d. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang
      mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan
      asli, opini, dan iman (Kotler dan Armstrong , 2012). Sedangkan
      sikap adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan
      kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah
      obyek atau ide (Kotler dan Armstrong , 2012).

    Pengertian Keputusan Pembelian


    Dalam memahami perilaku konsumen, terdapat banyak pengaruh yang
    mendasari seseorang dalam mengambil keputusan pembelian suatu produk atau
    merek. Pada kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali diawali
    dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan dan lingkungan yang lain.
    Rangsangan tersebut kemudian diproses (diolah) dalam diri, sesuai dengan
    karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya diambil keputusan pembelian.
    Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk memproses rancangan
    tersebut sangat komplek, dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk
    membeli.
    Pada satu titik dalam proses pembelian, konsumen harus berhenti mencari
    dan berhenti melakukan evaluasi untuk membuat keputusan pembelian. Sebagai
    hasil dari kegiatan evaluasi alternatif, konsumen mulai mengarah pada niat atau
    keinginan untuk membeli (purchase intention) dengan kecenderungan untuk
    membeli merek tertentu.
    Menurut Kotler dan Amstrong (2012), keputusan pembelian konsumen
    adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai alternatif yang ada,
    tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian.
    Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2008) adalah
    pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian. Artinya
    bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif
    pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses
    dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan

    Perilaku Konsumen


    Semakin majunya perekonomian dan teknologi, berkembang pada strategi
    yang harus dijalankan perusahaan, khususnya di bidang pemasaran. untuk itu
    perusahaan perlu memahami atau mempelajari perilaku konsumen dalam
    hubungannya dengan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut. Dalam
    menentukan jenis produk atau jasa, konsumen selalu mempertimbangkan tentang
    produk atau jasa apa yang dibutuhkan, hal ini dikenal dengan perilaku konsumen.
    Menurut Swasta dan Irawan (2012) perilaku konsumen adalah kegiatan
    individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempengaruhi
    barang dan jasa, termasuk di dalamnya pengambilan keputusan pada persiapan
    dan penentuan kegiatan tersebut.
    Hubungannya dengan keputusan pembelian suatu produk atau jasa,
    pemahaman mengenai perilaku konsumen meliputi jawaban atas pertanyaan
    seperti apa (what) yang dibeli, dimana membeli (where), bagaimana kebiasaan
    (how often) membeli dan dalam keadaan apa (under what condition) barang-
    barang dan jasa dibeli. Keberhasilan perusahaan dalam pemasaran perlu didukung
    pemahaman yang baik mengenai perilaku konsumen, karena dengan adanya
    memahami perilaku konsumen perusahaan dapat merangsang apa saja yang
    diinginkan konsumen.
    Perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor (Kotler dan
    Keller, 2014) :

    1. Faktor Budaya
      Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
      pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
      dasar. Masing-masing budaya terdiri dari sub budaya mencakup
      kebanggaan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Dan ketika
      sub kultur menjadi cukup besardan cukup makmur, maka perusahaan
      sering merancang program pemasaran secara khusus untuk melayani
      konsumen. faktor budaya dibagi menjadi 2, yaitu :
      a. Sub budaya
      Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok yang lebih kecil
      atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
      berdasarkan pengalaman dan situasi hidup yang sama, yang
      meliputi : kewarganegaraan, agama, ras dan daerah geografis.
      b. Kelas sosial
      Hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas
      sosial. Kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif
      permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya memiliki
      nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama. Kelas sosial
      menunjukkan beberapa pilihan-pilihan produk dan merk dari
      seperti pakaian, perabotan rumah tangga, mobil dan aktivitas waktu
      senggang, kelas sosial seseorang dapat dinyatakan dalam beberapa
      variabel seperti jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan dan
      variabel lainnya.
    2. Faktor Sosial
      Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial, seperti kelompok
      acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
      a. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
      pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap
      sikap atau perilaku seseorang.
      b. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang
      paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga
      menjadi kelompok acuan yang paling primer yang paling
      berpengaruh.
      c. Peran dan status terlihat pada kedudukan orang itu di masing-
      masing kelompok. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan
      akan dilakukan oleh seseorang dan masing-masing peran
      menghasilkan status.
    3. Faktor Pribadi
      Faktor pribadi meliputi, usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan
      keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri,serta nilai dan gaya
      hidup .
      a. Dalam usia dan tahap siklus hidup, jenis kebutuhan akan
      produk akan nampak perbedaan yng disesuaikan dengan umur
      seseorang dalam memenuhi suatu kebutuhan.
      b. Pekerjaan dan keadaan ekonomi membuat seseorang
      mempunyai pola konsumsi yang berbeda.
      c. Kepribadian dan Konsep diri membuat seseorang mempunyai
      ciri bawaan psikologis manusia yang mampu menpengaruhi
      perilaku pembelian.
      d. Gaya hidup dan nilai merupakan pola hidup seseorang di dunia
      yang terungkap pada aktifitas, minat, dan opini.
    4. Faktor Psikologis
      Kekuatan psikologis yang membentuk perilaku manusia tidak disadari
      dan bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya memenuhi motivasi
      dirinya. Empat proses psikologis antara lain, motivasi, persepsi,
      pembelajaran, dan memori.
      a. Motivasi mampu membuat seseorang untuk bertindak
      melakukan pembelian.Persepsi merupakan proses yang
      digunakan untuk menginterpretasikan suatu informasi guna
      untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
      b. Persepsi itu bisa mempengaruhi perilaku konsumen secara
      aktual.
      c. Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang
      timbul dari pengalaman.
      d. Proses memori merupakan tindakan mendapatkan kembali
      ingatan yang merujuk pada bagaimana informasi
      membangkitkan ingatan kita

    Reputasi E-Commerce


    Pengertian Reputasi Menurut Doney dan Cannon reputasi perusahaan
    berhubungan dengan sejarah atau riwayat perusahaan terutama dalam hubungannya
    dengan pihak lain, apakah memiliki hubungan yang lebih baik atau tidak. Reputasi
    perusahaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
    pembelian konsumen terhadap suatu produk atau jasa dari suatu perusahaan.
    Reputasi atau merek menjadi sebuah masalah dari sikap dan kepercayaan terhadap
    kesadaran pada merek dan image.
    Upaya pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan, terutama
    merunjuk adanya anggapan bahwa reputasi yang berupa citra merk (brand image),
    citra perusahaan (company image), pelayanan prima (service excelent) dan semua
    yang berhubungan dengan kepuasaan nasabah mendapatkan prioritas. Reputasi bank
    merupakan karateristik suatu bank yang berbentuk dari pandangan yang pihak yang
    terlibat dengan bank yang menjadikannya unggul dan kompetitif dibandingkan bank
    lain. Reputasi baik yang dimilki bank menjadi dasar kepercayaan nasabah
    penyimpan untuk tetap menggunakan jasa simpanan dan membuat keputusan
    menabung. Reputasi bank dianggap penting oleh nasabah untuk teap
    mempercayakan dana yang mereka miliki dikelola oleh bank terkait. Semakin baik
    reputasi yang dimiliki ban dari pandangan nasabah, maka semakin kuat keputusan
    yang diambil nasabah untuk menabung di bank.
    Indikator Reputasi Adapun indikator-indikator reputasi pada penelitian ini diacu dari
    penelitian Selnes adalah:
    a. Nama baik, Nama baik adalah persepsi para nasabah tentang sejauh mana nama
    baik yang berhasil dibangun oleh bank bagi sebuah perusahaan., menjaga nama
    baik tentunya menjadi salah satu kewajiban utama mereka untuk mendukung
    kelnacaran pemasaran bisnisnya. Apabila nama baik yang dimilki oleh pelaku
    usaha sudah cukup kuat, maka konsumen akan lebih percaya dengan
    kemampuan bisnis yang dijalankannya dan tidak ragu lagi untuk membeli atau
    menggunakan produk dan jasa yang ditawarkan sebuah perusahaan.
    b. Reputasi pesaing, Reputasi pesaing adalah persepsi para nasabah bank
    mengenai sebarapa baik reputasi bank tersebut dibanding dengan bank-bank
    lain. Sebuah perushaan harus memiliki kekuatan untuk menonjolkan nilai lebih
    yang dimiliki dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Artinya ciri khas sangat
    diperlukan dalam suatu perusahaan.
    c. Dikenal luas, Dikenal luas menunjukkan persepsi nasabah, baik tentang sejauh
    mana nama bank tersebut sudah dikenal luas oleh masayarakat sebuah
    perusahaan pasti ingin produknya dikenal secara luas baik produk baru maupun
    produk lamanya.
    d. Kemudahan, diingat Kemudahan di ingat menunjukkan persepsi para nasabah
    bank akan kemudahan nasabah untuk menginat nama baik bank tersebut jika
    nama sebuah perusahaan mudah di ingat maka orang akan lebih mudah
    menemukan anda di search angine atau dalam dunia nyata. Seperti halnya
    perusahaan yang bernama international business machine lebih di kenal dengan
    sebutan IBM

    Kualitas Produk


    Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh setiap
    perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing dipasar untuk memuaskan
    kebutuhan dan keinginan konsumen. Dewasa ini sebagian besar konsumen semakin
    kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin mendapatkan
    produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar, meskipun ada sebagian
    masyarakat berpendapat bahwa, produk yang mahal adalah produk yang berkualitas.
    Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
    manfaat (benefits) pada pelanggan. Dimensi dari kualitas produk ini meliputi
    delapan dimensi. Yang terdiri dari :
    a. Performance, kinerja ( performance) yaitu karakteristik operasi pokok dari
    produk inti dan dapat didefinisikan sebagi tampilan dari sebuah produk yang
    sesungguhnya.
    b. Durability (daya tahan), yang berarti beberapa lama umur produk yang
    bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
    frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya
    produk.
    c. Conformance to specifications ( kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh
    mana karakteristik operasi dasar sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu
    dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
    d. Features ( fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
    menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen
    terhadap produk.
    e. Reliability ( reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
    memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil
    kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
    f. Aesthetics ( estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk.
    g. Perceived quality ( kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
    penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat
    kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas
    produk yang bersangkutan.
    h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
    kompetensi dan keramahtamahan kualitas pelayanan.
    Menurut Baldric Siregar dalam skripsi Burhanudin Al-Ghozali kualitas (quality)
    dapat diartikan dari tiga faktor yaitu:
    a. Memuaskan harapan konsumen yang berkaitan dengan atribut-atribut harapan
    konsumen.
    b. Memastikan seberapa baik produk dapat memenuhi aspek-aspek teknis dari
    desain produk tersebut, kesesuaian kerja dengan standart pembuatannya.
    c. Kualitas merupakan harapan konsumen sehingga upaya meningkatkan kualitas
    (improving quality) merupakan kewajiban produsen

    Keuntungan-Keuntungan E-commerce


    Beberapa bentuk keuntungan e-commerce yang didapatkan dari penggunaannya
    yaitu:

    1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin menjanjikan, yang
      tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
    2. Dapat meningkatkan Market Exposure.
    3. Menurunkan tingkat biaya operasional (Operating Cost).
    4. Melebarkan jangkauan perusahaan (Global Reach).
    5. Meningkatkan Customer Loyality.
    6. Meningkatkan Supplier Management.
    7. Memperpendek waktu produksi.
    8. Meningkatka Value Chain (Mata rantai pendapatan)

    Jenis-jenis E-commerce


    Dalam e-commerce terbagi menjadi tiga jenis model bisnis yang biasanya dilakukan
    dalam praktek, yaitu :
    a. Bussines to Bussines (B2B)
    Merupakan sistem komunikasi bisnis online antar pelaku bisnis yang
    mengikatkan dirinya di dalam suatu kegiatan untuk melakukan suatu usaha
    dengan pihak pebisnis lainnya.
    Adapun karakteristik dari bussines to bussines ini adalah :

    1. Trading partner yang sudah saling mengetahui diatara mereka terjalin
      hubungan yang cukup lama. Pertukaran informasi hanya terjadi diantara
      mereka dan karena mereka telah saling mengenal, maka pertukaran
      informasi dilakukan atas dasar kebutuhan.
    2. Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan format
      data yang telah disepakati. Sehingga servis yang dilakukan antara kedua
      sistem tersebut sama dan menggunakan standar yang sama pula.
    3. Salah satu pelaku tidak harus menunggu partner mereka lainnya untuk
      mengirim data. Model yang umum digunakan adalah model peer to peer,
      dimana processing intelligent dapat di distribusikan di kedua pelaku bisnis.
      b. Bussines to consumer (B2C)
      Berbeda dengan bussines to bussines, banyak cara digunakan untuk melakukan
      pendekatan dengan pihak konsumen, antara lain dengan mekanisme toko online
      electronic shopping mall atau bisa juga menggunakan sistem portal. Toko online
      memanfaatkan website untuk menjajakan produk dan jasa pelayanannya. Para
      penjual menyediakan semacam storefront yang berisikan catalog produk dan
      pelayanan yang diberikan. Para pembeli bisa melihat-lihat barang apa saja yang
      akan dibeli dan pembeli dapat melakukan kapan saja tanpa dibatasi jam buka
      took.
      Adapun karakteristiknya adalah :
    4. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan secara umum
    5. Servis yang digunakan juga bersifat umum, sehingga mekanismenya dapat
      digunakan orang banyak.
    6. Servis yang diberikan adalah berdasarkan permintaan, konsumen
      berinisiatif sedangkan produsen harus siap memberikan respon atau
      tanggapan terhadap konsumen tersebut.
    7. Sering dilakukan sistem pendekatan client-server, dimana konsumen
      dipihak client menggunakan sistem yang minimal dan penyedia barang atau
      jasa berada pada pihak server.
    8. Pihak-pihak dalam ecommerce contract ini adalah e-mercant yang
      menawarkan suatu produk atau jasa kepada pihak e-costumer yang
      menggunakan atau membeli barang atau jasa yang ditawarkan. E-commerce
      merupakan tempat berlangsungnya komunikasi dan sekaligus sebagai
      tempat berlangsungnya penyerahan media tersebut.

    E-Commerce


    E-commerce adalah salah satu strategi penting dalam bisnis saat ini,
    dikarenkana e-commerce dapat meningkatkan tingkat efiensi dalam suatu
    perusahaan. Meningkatkan jumlah pelanggan untuk belanja online, e-commerce
    telah terbukti menjadi lebih rumit dibandingkan dengan cara-cara tradisonal
    melakukan bisnis (Santouris, 2012)

    Kepercayaan Konsumen


    Pengertian Kepercayaan Menurut Pavlou dan Geffen dalam Baskara dan
    Hariyadi (2014), faktor yang sangat penting yang bisa mempengaruhi minat
    pembelian yang kemudian dapat memicu keputusan pembelian online oleh
    konsumen adalah faktor kepercayaan. Faktor kepercayaan menjadi faktor kunci
    dalam setiap transaksi jual beli secara online. Hanya pelanggan yang memiliki
    kepercayaan yang akan melalui transaksi melalui internet. Menurut Kramer dalam
    Ling et al (2010), kepercayaan adalah pernyataan kompleks karena individu tidak
    tahu motif dan minat lain. Kimery dan McCard dalam Suryani (2013)
    mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan konsumen untuk menerima
    kerentanan dalam melakukan transaksi online berdasarkan harapannya yang positif
    mengenai perilakunya berbelanja online pada masa mendatang.
    Dimensi Kepercayaan Menurut Ling et al (2010) dimensi kepercayaan meliputi
    keamanan, privasi dan keandalan. Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai
    berikut:

    1. Keamanan didefinisikan sebagai sejauh mana pelanggan percaya bahwa jual
      beli online aman bagi mereka untuk mengirimkan informasi sensitif terhadap
      transaksi bisnis. Keamanan berperan penting dalam mempengaruhi sikap dan
      minat beli karena dianggap memiliki resiko transmisi informasi seperti nomor
      kartu kredit dan lain-lain.
    2. Privasi didefinisikan sebagai menjaga segala perilaku konsumen selama
      transaksi yang kemudian berkaitan dengan kinerja toko online.
    3. Keandalan perusahaan dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen. Dalam
      lingkungan web-shopping sebagian besar konsumen menganggap bahwa
      perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik untuk meningkatkan
      kepercayaan online mereka. Hal ini juga mengusulkan bahwa sebuah
      perusahaan dengan reputasi positif yang meningkatkan kepercayaan konsumen

    Keputusan pembelian


    Keputusan pembelian adalah proses pengambilan keputusan dari beberapa
    alternatif yang diberikan untuk menganalisa kebutuhan, keinginan, pencarian
    informasi, penilaian sumbersumber seleksi terhadap alternatif pembelian keputusan
    pembeli (Hutagaol, 2019). Keputusan pembeli menurut (Zulaicha & Irawati, 2016)
    adalah suatu pilihan dari dua pilihan alternatif atau lebih sehingga seorang konsumen
    dapat memilih pilihan alternatif mana yang ingin dipilih. Berdasarkan (Chairul
    Akbar & Sunarti, 2018) keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk
    memenuhi kebutuhannya yang dinilai berdasarkan kepuasan konsumen itu sendiri.
    Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian
    merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang terdiri dua pilihan alternatif
    atau lebih untuk menganalisa suatu kebutuhan dan keinginan terlebih dahulu,
    pencarian informasi, penilaian untuk memenuhi kebutuhan yang dinilai berdasarkan
    kepuasan konsumen.
    Pada umumnya, keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek
    yang paling disukai, tetapi 2 faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
    Faktor pertama adalah orang lain. Jika seseorang yang mempunyai arti penting bagi
    konsumen, maka ia dapat mempengaruhi konsumen tersebut. Faktor kedua adalah
    faktor situasional yang tidak diharapkan. Konsumen mungkin membentuk niat
    pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti pendapat, harga, dan manfaat produk
    yang diharapkan. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang
    secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
    ditawarkan.
    Kotler & Keller (2012) mengemukakan bahwa konsumen melewati lima
    tahap dalam proses pembelian sebuah produk, yaitu:

    1. Pengenalan Masalah
    2. Pencarian Informasi
    3. Evaluasi Alternatif
    4. Keputusan Membeli
    5. Pasca Pembelian Dalam pengambilan keputusan membeli, konsumen seringkali
      dipengaruhi oleh dua pihak atau lebih yang terlibat dalam proses pertukaran dan
      pembeliannya.
      Umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan seseorang.
      Dimana kelima peranan ini dipegang oleh satu orang, namun seringkali pula peran
      tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Kelima peran tersebut meliputi (Kotler dan
      Armstrong, 2012)
    6. Pemrakarsa (Initiator) yaitu orang yang pertama kali menyadari adanya
      keinginan atau kebutuhan yang belum terpenuhi dan mengusulkan ide untuk
      membeli suatu barang atau jasa tertentu.
    7. Pemberi pengaruh (Influenser) yaitu orang yang pandangan, nasehat atau
      pendapatnya mempengaruhi keputusan pembelian.
    8. Pengambil keputusan (Desider) yaitu orang yang menentukan keputusan
      pembelian, misalnya apakah jadi membeli, apa yang dibeli, bagaimana cara
      membeli, atau mana membelinya.
    9. Pembeli (Buyer) yaitu orang yang melakukan pembelian aktual.
    10. Pemakai (User) yaitu orang yang mengkonsumsi atau menggunakan barang atau
      jasa yang dibeli.

    Tingkatan Produk


    Menurut Kotler & Keller (2016), produk memiliki 5 tingkatan,
    diantaranya:
    1) Core Benefit Manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan
    kepada konsumen.
    2) Basic Product Bentuk dasar dari suatu produk yang dapat dirasakan
    oleh panca indera.
    3) Expected Product Serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-
    kondisi yang.
    4) Augmented Product Sesuatu yang membedakan antara produk yang
    ditawarkan oleh badan usaha dengan produk yang ditawarkan oleh
    pesaing.
    5) Potential Product Semua argumentasi dan perubahan bentuk yang
    dialami oleh suatu produk dimasa datang

    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


    Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut Kotler &
    Amstrong (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
    pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara
    pelanggan dan produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan
    jasa dari perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut
    memberi nilai tambah. Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:
    1) Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau
    emosi positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
    konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
    membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
    memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
    berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan
    dialami konsumen pada saat membeli produk.
    2) Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk
    meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan
    nilai yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap
    baik dan apa yang dianggap buruk oleh konsumen.
    3) Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya
    jangka pendek dan biaya jangka panjang.
    4) Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang
    memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini
    berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau
    layanan kepada konsumen

    Indikator Keputusan Pembelian


    Dalam perubahan-perubahan yang terjadi seiring dengan pesatnya
    teknologi dan persaingan dagang yang ketat, perusahaan perlu
    melakukan pengukuran untuk mengevaluasi setiap keadaan yang
    berubah dan kemungkinan yang akan terjadi dari waktu ke waktu yang
    dilakukan oleh konsumen. Menurut Kotler & Amstrong (2018),
    Indikator keputusan konsumen dalam menentukan pembelian suatu
    produk atau jasa adalah sebagai berikut :
    1) Pemilihan produk Dalam pemilihan produk, produsen harus bisa
    memusatkan perhatian konsumen terhadap produknya agar berminat
    mengeluarkan uangnya untuk membeli produk dengan berbagai
    pertimbangan alternatif yang ada.
    2) Pemilihan merek Produsen harus mengetahui bagaimana konsumen
    memilih produk, oleh karena itu setiap merek harus mempunyai
    suatu ciri atau perbedaan dengan merek yang lainya, untuk
    memudahkan konsumen dalam mengambil keputusan pembeliannya.
    3) Pemilihan tempat penyalur Setiap konsumen mempertimbangkan
    tempat penyaluran yang akan di pilih, biasanya disesuaikan dengan
    lokasi terdekat, harga yang murah, barang yang disediakannya
    lengkap.
    4) Waktu pembelian Dalam memilih waktu pembelian, setiap
    konsumen memiliki pemilihan waktu yang berbeda-beda disesuaikan
    dengan kesibukan aktivitasnya, seperti setiap hari, setiap minggu,
    setiap dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali.
    5) Jumlah pembelian Perusahaan perlu mempersiapakan banyaknya
    produk yang akan dijualnya, hal ini untuk mengantisiapsi
    kemungkinan konsumen akan membeli lebih dari satu produk.
    6) Metode pembayaran Produsen harus mempersiapkan berbagai
    alternatif metode pembayaran yang bisa dilakukan oleh konsumen,
    karena hal ini juga merupakan penentu keputusan pembeli bagi
    konsumen dalam membeli sebuah produk atau jasa. Biasanya metode
    pembayaran ini dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan pada
    saat transaksi pembelian

    Keputusan Pembelian


    Keputusan pembelian adalah pemilihan suatu barang atau jasa yang
    dilakukan oleh konsumen untuk menentukan suatu pilihan. Menurut
    Schiffman (2018), keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau
    lebih alternative pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang
    dapat mebuat keputusan harus tersedia beberapa alternative pilihan.
    Keputusan untuk membeli dapat mengarah pada bagaimana proses dalam
    pengambilan keputusan itu dilakukan.
    Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari
    konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau
    merek tertentu dan mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa
    baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya,
    yang kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan
    pembelian (Sumarwan & Tjiptonon, 2019).
    Berikutnya menurut Kotler & Amstrong (2018), menambahkan bahwa,
    proses keputusan pembelian adalah proses lima tahap yang dilewati
    konsumen, dimulai dari pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi
    alternative yang dapat memecahkan masalahnya, keputusan pembelian,
    dan perilaku pasca pembelian, yang dimulai jauh sebelum pembelian yang
    sesungguhnya dilakukan oleh konsumen dan memiliki dampak yang lama
    setelah itu.

    Manajemen Pemasaran


    Manajemen pemasaran adalah suatu sistem yang dirancang untuk
    melakukan kegiatan mempromosikan kepada pelanggan. Menurut
    Kotler & Keller (2016), manajemen pemasaran adalah seni dan ilmu
    dalam memilih pasar sasaran dan meraih, menjaga, dan
    mengembangkan pelanggan melalui menciptakan, mengantarkan, dan
    mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.
    Menurut Tjiptono (2019), manajemen pemasaran secara keseluruhan
    yaitu cara perusahaan melakukan bisnis yang mempersiapkan,
    menentukan, dan mendistribusikan produk, jasa, dan gagasan yang
    dapat memenuhi kebutuhan pasar sasaran. Dan Menurut Assauri
    (2019), manajemen pemasaran merupakan kegiatan menciptakan,
    mempersiapkan, melaksanakan rencana yang dilakukan perusahaan
    untuk menghasilkan keuntungan.
    Dapat disimpulkan dari pernyata tersebut manajemen pemasaran adalah
    seni dan ilmu dalam memilih pasar sasaran dan meraih, menjaga, dan
    mengembangkan pelanggan sebagai acuan perusahaan melakukan
    bisnis yang mempersiapkan, menentukan, dan mendistribusikan produk,
    jasa, dan gagasan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar sasaran.

    Pengertian Pemasaran


    Pemasaran adalah suatu kegiatan seni bertujuan untuk menjual suatu
    produk atau jasa. Sedang kan menurut Kotler & Keller (2016),
    Pemasaran adalah kegiatan mengatur lembaga, dan proses untuk
    menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan bertukar
    penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan
    masyarakat pada umumnya.
    Pemasaran adalah proses dari penciptaan, mengomunikasikan hingga
    pada bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan dan
    masyarakat pada umumnya. Disisi lain menurut Priansa (2019),
    menjelaskan bahwa pemasaran adalah proses sosial dan manajerial
    dimana setiap individu dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan dan
    keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar
    sesuatu yang bernilai dengan pihak lain. Pemasaran harus mampu
    menghasilkan seorang pelanggan guna membeli produk yang di
    tersedia. Menurut Agustria & Khuzaini (2020), pemasaran adalah suatu
    proses sosial yang di dalamnya individu atau kelompok mendapatkan
    apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
    menawarkan, dan secara bebas memperertukarkan produk yang bernilai
    dari pihak lain

    Hubungan Keragaman Produk Dengan Loyalitas Pelanggan


    Pada saat ini banyak perusahaan menyadari betapa pentingnya kesetiaan
    pelanggan. Banyak cara yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam rangka
    mempertahankan dan meningkatkan kesetiaan pelanggannya. Salah satu caranya
    adalah ragam produk yang disediakan oleh perusahaan.Oleh karena itu,
    perusahaan harus membuat keputusan yang tepat mengenai keragaman produk
    yang dijual, karena dengan adanya macam-macam produk dalam arti produk yang
    lengkap mulai dari merk, ukuran, kualitas dan ketersediaan produk. Sesuai dengan
    pendapat Swastha dan Irawan (2002:122) dalam Dwi Cahyono 2012, faktor-
    faktor yang mempengaruhi loyalitas adalah harga, penggolongan dan keragaman
    barang, lokasi penjual yang strategis dan mudah dicapai, desain fisik toko, service
    yang ditawarkan pada pelanggan, kemampuan tenaga penjual dan pengiklanan
    serta promosi di toko.

    Hubungan Harga dengan Loyalitas Pelanggan


    Persaingan dalam dunia usaha yang semakin meningkat pada gilirannya akan
    menjadikan harga menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk
    memenangkan persaingan. Menurut pendapat Fandy Tjiptono (2006:54)
    menyebutkan bahwa kualitas produk dan harga memiliki hubungan yang erat
    dengan kepuasan pelanggan untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan
    perusahaan, dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan
    untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta membutuhkan mereka.
    Swastha dan Irawan (2002:122) dalam Dwi Cahyono 2012, faktor- faktor yang
    mempengaruhi loyalitas adalah harga, penggolongan dan keragaman barang,
    lokasi penjual yang strategis dan mudah dicapai, desain fisik toko, service yang
    ditawarkan pada pelanggan, kemampuan tenaga penjual dan pengiklanan serta
    promosi di toko. Akan halnya bagi konsumen harga tersebut haruslah merupakan
    refleksi produk yang benar-benar bermutu pada tingkat konsumen yang terjangkau
    dan diupayakan dapat memenuhi kepuasan konsumen.

    Hubungan Kualitas Produk Dengan Loyalitas Pelanggan


    Kualitas suatu produk adalah penelitian yang subyektif oleh konsumen. Penelitian
    ini ditentukan oleh persepsi pada apa yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh
    konsumen terhadap produk tersebut. Produk yang berkualitas mempunyai peranan
    penting untuk membentuk kepuasan pelanggan. Semakin berkualitas produk dan
    jasa yang diberikan, maka kepuasaan yang dirasakan oleh pelanggan semakin
    berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh
    pelanggan semakin tinggi, maka dapat menimbulkan keuntungan bagi badan
    usaha tersebut.
    Kualitas produk sangat berhungan dengan loyalitas pelanggan jika barang
    dan jasa dibeli cocok dengan apa yang diharapkan oleh konsumen, maka akan
    terdapat kepuasaan atau loyalitas dan sebaliknya.
    Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu konsumen untuk
    loyal, antara lain faktor harga: seseorang tentu akan memilih perusahaan atau
    merek yang menurutnya menyediakan alternatif harga paling murah diantara
    pilihan-pilihan yang ada. Selain itu ada juga faktor kebiasaan, seseorang yang
    telah terbiasa menggunakan suatu merek atau perusahaan tertentu maka
    kemungkinan untuk berpindah ke pilihan yang lain akan semakin kecil

    Tipe Loyalitas


    Loyalitas terbagi atas dua fakto yang mempengaruhi emosional/ perasaan
    (attachment) dan pola pengulangan (repeat patonage) dalam mengkonsumsi
    produk maupun jasa (Griffin, 2002) dalam Na’in 2013.
    Terdapat empat (4) loyalitas : No Loyalty, Inertia Loyalty, Latent Loyalty
    And Premium Loyalty. Keempat itu muncul ketika ikatan emosional yang tinggi
    dan rendah beklasiikasi silang dengan pengulangan dalam pola mengkonsumsi
    yang tinggi dan rendah. Manfaat Loyalitas Pelanggan menurut Griffin (dalam
    Ariana, 2011:27) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh
    perusahaan apabila memiliki konsumen yang loyal :

    1. Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik konsumen baru
      lebih mahal).
    2. Mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi kontrak, pemrosesan
      pesanan dan lain-lain).
    3. Mengurangi biaya turn-over konsumen (karena pergantian konsumen
      lebihsedikit)
    4. Meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar pangsa pasar
      perusahaan.
    5. Word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi bahwa konsumen yang loyal
      juga berarti mereka yang merasa puas.
    6. Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya penggantian dan lain-lain.)

    Karakteristik loyalitas konsumen


    Pelanggan yang loyal merupakan aset tak ternilai bagi perusahaan, karena
    karakteristik dari pelanggan yang loyal menurut Griffin (2002) dalam Na’in 2013
    antara lain ;

    1. Merekomendasikan kepada orang lain atau teman
    2. Melakukan pembelian secara berulang
    3. Menunjukkan kekebalan (tak terpengaruh) oleh daya tarik produk pesaing.

    Pengertian Loyalitas Pelanggan


    Definisi loyalitas menurut Griffin 2002 (dalam Na’in 2013) adalah ”customer
    loyalty is behaviour based and is defined as non random purchase expessed oe
    time by some decision making unit”. Sedangkan menurut Oliver (dalam Hurriyati,
    2005: 129), loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan bertahun-tahun
    secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang
    produk atau jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun
    pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk
    menyebabkan perubahan perilaku.
    Kemudian menurut Wihdya Utami (2016 : 58) loyalitas konsumen berarti
    kesetiaan konsumen untuk berbelanja di lokasi ritel tertentu. Berdasakan beberapa
    dasar untuk mempertahankan keunggulan bersaing juga membantu menarik
    perhatian dan mempertahankan para konsumen yang loyal

    Keragaman Produk


    Keragaman produk adalah penciptaan produk-produk yang sedikit berbeda dari
    standart untuk memenuhi atau melengkapi kebutuhan dan keinginan konsumen.
    Karena adanya perbedaan – perbedaan tersebut, perlu adanya keragaman produk
    agar selera, keinginan atau harapan konsumen dapat terpenuhi oleh produk.
    Adapun diferensiasi produk meliputi :

    1. Bentuk produk
    2. Variasi rasa
    3. Daya tahan (expired)
    4. Keistimewaan keragaman produk
      Menurut Kotler dan Keller (2007 ; 15) dalam Dwi Saputro 2014,
      Keragaman Produk (product assortment) adalah kumpulan seluruh produk dan
      barang yang ditawakan penjual tertentu kepada pembeli. Menurut Utami
      (2006:166) Keragaman produk merupakan banyaknya item pilihan dalam masing-
      masing kategori produk

    Harga


    Harga merupakan salah satu atribut penting yang dievaluasi oleh konsumen
    sehingga manajer perusahaan perlu benar-benar memahami peran tersebut dalam
    mempengaruhi sikap konsumen. Harga sebagai atribut dapat diartikan bahwa
    harga merupakan konsep keanekaragaman yang memiliki arti berbeda bagi tiap
    konsumen, tergantung karakteristik konsumen, situasi dan produk
    (Munir:2005:46). Dengan kata lain, pada tingkat harga tertentu yang telah
    dikeluarkan, konsumen dapat merasakan manfaat dari produk yang telah
    dibelinya.
    Menurut Swastha (2010;147) harga adalah jumlah uang (ditambah
    beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
    kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Menurut Kotler dan Armstrong
    (2008;63) harga adalah jumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa.
    Lebih luas lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
    untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk
    atau jasa. Menurut Stanton (2007;306), beberapa faktor yang biasanya
    mempengaruhi keputusan penetapan harga, antara lain:

    1. Permintaan produk
      Memperkirakan permintaan total terhadap produk adalah langkah yang
      penting dalam penetapan harga sebuah produk. Ada dua langkah yang dapat
      dilakukan dalam memperkirakan permintaan produk, yaitu menentukan
      apakah ada harga tertentu yang diharapkan oleh pasar dan memperkirakan
      volume penjualan atas dasar harga yang berbeda – beda.
    2. Penggunaan strategi penetapan harga atau penetrasi ratai saringan
      Untuk produk baru, biasanya menggunakan strategi penetapan harga
      saringan. Strategi ini berupa penetapan harga yang tinggi dalam lingkup
      harga-harga yang diharapkan atau harga yang menjadi harapan konsumen.
      Sedangkan strategi berikutnya yaitu strategi penetapan harga penetrasi.
      Strategi ini menetapkan harga awal yang rendah untuk suatu produk dengan
      tujuan memperoleh konsumen dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang
      cepat.
    3. Produk, saluran distribusi, dan promosi serta kemudahan.
      Untuk beberapa jenis produk, konsumen lebih memilih membeli produk
      dengan harga yang lebih murah dengan kualitas dan kriteria yang mereka
      perlukan. Sebuah perusahaan yang menjual produknya langsung kepada
      konsumen dan melalui distribusi melakukan penetapan harga yang berbeda.
      Sedangkan untuk promosi, harga produk akan lebih murah apabila biaya
      promosi produk tidak hanya dibebankan kepada perusahaan, tetapi juga
      kepada pengecer. Biaya memproduksi atau membeli produk Seorang
      pengusaha perlu mempertimbangkan biaya-biaya dalam produksi dan
      perubahan yang terjadi dalam kuantitas produksi apabila ingin dapat
      menetapkan harga secara efektif

    Kualitas Produk


    Kualitas produk merupakan faktor utama dalam perusahaan. Kualitas produk
    merupakan kebijakan penting dalam meningkatkan daya saing produk yang harus
    memberikan kepuasan kepada konsumen yang melebihi atau paling tidak sama
    dengan kualitas produk dari pesaing. Menurut Crosby 1997(dalam Na’in 2013)
    “kualitas produk adalah produk yang sesuai dengan yang diisyaratkan atau
    distandartkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standart
    kualitas yang telah ditentukan”.
    Kotler dan Keller (2009:143) menyatakan bahwa kualitas produk atau
    jasa adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa atau jasa yang
    bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan
    atau tersirat Berdasarkan definisi tentang kualitas, kita boleh menyatakan bahwa
    pada dasarnya kualitas mengacu kepada pengertian pokok:

    1. Kualitas produk atau jasa terdiri dari sejumlah keistimewaan produk atau jasa,
      baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi
      keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas
      penggunaan produk atau jasa itu.
    2. Kualitas produk atau jasa terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari
      kekurangan atau kerusakan

    Indikator – Indikator Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:137) menjelaska bahwa terdapat lima
    indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan, yaitu :

    1. Reliability, yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan janji yang telah
      ditawarkan
    2. Responsiveness, yaitu respond atau tanggapan karyawan serta staff dalam
      membantu konsumen dan membeikan playanan yang cepat dan baik.
    3. Assurance, kemampuan karyawan terhadaap pengetahuan porduk secara
      terapat, keramaahan, kesopanan, dan memberikan perhatian dalam pelayanan.
    4. Empathy, memberikan kemudahan konsumen untuk menghubungi perusahaan,
      kemampuan karyawan memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumennya.
    5. Tangible, meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan,
      tersedia tempat parkir yang aman, kebersihan, kerapian, kenyamanan dan juga
      penampilan karyawan

    Dimensi – Dimensi Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:137), menyebutkan lima dimensi dalam
    menentukan kualitas jasa atau pelayanan, yaitu :

    1. Reliability : yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan janji yang telah
      ditawarkan
    2. Responsiveness : yaitu respond atau tanggapan karyawan serta staff dalam
      membantu konsumen dan membeikan playanan yang cepat dan baik.
    3. Assurance : kemampuan karyawan terhadaap pengetahuan porduk secara
      terapat, keramaahan, kesopanan, dan memberikan perhatian dalam pelayanan.
      Dan dengan sikap baik memberikan informasi, memberikan keamanan atas
      jasa yang ditawarkan serta mampu menumbuhkan rasa kepercayaan konsumen
      terhadap peruahaan.
    4. Empathy : memberikan kemudahan konsumen untuk menghubungi
      perusahaan, kemampuan karyawan memenuhi keinginan dan kebutuhan
      konsumennya.
    5. Tangible : meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan,
      tersedia tempat parkir yang aman, kebersihan, kerapian, kenyamanan dan juga
      penampilan karyawan.

    Faktor Faktor Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono (2012:178) adapun faktor faktor penghambat kualitas pelayanan
    yang ampu mengurangi kualitas layanan pada perusahaan yaitu:

    1. Intensitas tenaga kerja yang tinggi
      Hubungan karyawan secara intensif dalam melakukan penyampaian layanan
      mampu menimbulkan dampak negatif pada kualitas yaitu tingginya
      variabilitas layanan yang dihasilkan, seperti halnya : pelatihan yang kurang
      memadahi, pelatihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak
      memperhatikan motivasi kerja karyawan, tingkat turnover karyawan yang
      tinggi.
    2. Gap komunikasi
      Komunikasi adalah hal yang penting bagi produsen dan konsumen, jika terjadi
      gap komunikasi faktor ini menjadi nilai negatif dari konsumen pada kualitas
      pelayanan perusahaan. Gap komunikasi yang dimaksut sebagai berikut:
      a. Komunikasi yang disapaikan oleh pemyedia layanan tidak dipahami oleh
      konsumen
      b. Pihak penyedia layanan memberi janji yang berlebihan dan pada akhirnya
      tidak bisa memenuhi
      c. Pihak penyedia layanan tidak memberi informasi terbaru kepada
      konsumen
      d. Pihak penyedia layanan tidak menindak lanjuti komplain dai konsumen
    3. Memperlakukan konsumen dengan cara yang sama
      Konsumen memiliki kepribadian yang berbeda jadi penyedia layanan harus
      mampu memahami kemauan dan keinginan konsumen. Konsumen tidak dapat
      dipelakukan dengan cara yang sama dengan konsumen lain.
    4. Dukungan dari pihak iternal kurang maksimal
      Karyawan yang bertugas sebagai pelayanan konsumen merupkan ujung
      tombak perusahaan. Mewakili citra perusahaan dalam memberikan kesan
      pertama untuk konsumen. karyawan mampu memberikan pelayanan yang
      terbaik kepada konsumen, serta diberi dukungan yag baik dari pihak internal
      yang berupa : pelatihan, peralatan saat beroprasi dan juga dukungan informasi
      (prosedur oprasi)
    5. Konsumsi dan produksi terjadi secara bersama sama
      Karakter jasa adalah tidak bisa dipisah, jasa diproduksi dan dikonsumsi
      secara bersamaan. Sering terjadi hal hal negatif di mata konsumen yaitu:
      a. Perkataan yang kurang sopan
      b. Penampilan karyawan kurang sopan
      c. Wajah karyawan tidak nyaman dipandang
      d. Tidak ramah saat melayani konsumen
      e. Karyawan bau badan sehingga konsumen tidak nyaman
    6. Visi jangka pendek
      Visi jangka pendek ini bisa di ambil contoh penghematan biaya yang
      semaksimal mungkin. Hal ini bisa membuat kualitas pelayanan tidak baik.
    7. Pengebangan layanan secara berlebihan
      Hal ini bisa menjadi dampak baik atau menjadi dampak buruk suatu
      prusahaan. Dampak baiknya bisa menyempurnakan layanan, tetapi jika
      layanan baru terlalu belebihan maka hasil yang didapatkan belum tentu
      optimal.

    Karakteristik Kualitas Pelayanan


    Menurut Tjiptono (2012:28) terdapat 4 karakteristik jasa yang membedahkan
    dengan barang yaitu:

    1. Tidak berwujut (intangibility)
      Jasa memiliki sifat tersebut yang tidak dapat dirasa, dilihat, diraba, didengar
      jika belum membeli jasa tersebut. Seseorang tidak dapat menilai sebelum
      membeli jasa tersebut.
    2. Tidak terpisahkan (inseparability)
      Secara umum jasa dijual terlebih dahulu kemudian diproduksi dan dikonsumsi
      secara bersama, penyedia jasa juga merupakan bagian dari jasa tersebut. baik
      dari pelanggan ataupun penyedia jasa yang akan mempengaruhi hasil dari jasa
      tersebut.
    3. Bervariasi (variability)
      Jasa bersifat variabel karena merupakan nonstandardized output yang bisa
      disebut banyak variasi yang meliputi bentuk, kualitas dan jenis. Tergantug
      untuk siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
    4. Mudah lenyap (perishability)
      Jasa merupakan hal yang tidak bisa tahan lama dan tidak dapat disimpan jika
      permintaan jasa bersifat konstan, sehingga bila tidak digunakan maka akan
      hilang begitu saja.

    Indikator – Indikator Keragaman Produk


    Menurut Utami (2014:364), menjelaska terdapat tiga indikator yang digunakan
    untuk mengukur keragaman produk, yaitu :

    1. Merk produk, menyangkut berapa banyak merk produk yang dijual, dengan
      banyaknya merk produk yang dijual konsumen bisa merasa puas dengan
      pilihan sesuai dengan kebutuhan
    2. Variasi produk, menyangkut berapa banyak variasi produk yang dijual,
      dengan banyaknya variasi produk, seperti variasi rasa, harga, kemasan
      membuat konsumen menjadi tertarik untuk membeli
    3. Kategori produk, menyankut berapa banyak kategori produk yang dijual,
      dengan banyaknya kategori produk yang dijual mempermudah konsumen
      untuk berbelanja tanpa bepindah pindah toko

    Tingkatan Produk


    Menurut Kotler dan Keller (2012:326) terdapat lima tingkatan produk diataranya:
    produk utama, produk dasar, produk yang diharapkan, produk yang diinginkan,
    produk potensial. Pemasar perlu memahami hal tersebut yaitu:

    1. Produk utama
      Yaitu manfaat mendasar yang sesunguhya dibeli oleh konsumen atau
      pelanggan, produk utama terdiri berbagai manfaat pemecaahan masalah yang
      konsumen cari ketika membeli produk tersebut. Sebab itu, dalam mendesain
      produk harus menjelaskan manfaat utama yang diberikan produk tersebut
      kepada konsumen atau pelanggan.
    2. Produk dasar
      Merupakan Produk yang harus mempunyai fungsi dasar. Produk dasar harus
      memiliki sifat tingkat kualitas, fitur, desain, merek, dan kemasan yang
      dikombinasikan dengan atribut.
    3. Produk yang diharapan
      Merupakan produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan
      kondisi normal (layak) diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
    4. Produk yang ditingkatkan
      Pada produk tingkatan ini, berbagai produk dilengkapi atau ditambah berbagai
      manfaat dan layanan, sehingga dapat menambah kepuasan dan bisa dibedakan
      dengan produk pesaing. pada tingkatan ini juga menawarkan dengan adanya
      solusi.
    5. Produk potensial
      Pada produk potensial ini, segala macam tambahan dan perubahan yang akan
      dikembangkan untuk masa yang akan datang, perusahaan mencari cara baru
      untuk memuaskan pelanggan dan membedahkan penawarannya

    Definisi Keragaman Produk


    Menurut Utami (2013:258) keragaman produk adalah banyaknya item pilihan dari
    berbagai kategori produk yang dijual, toko dengan berbagai macam produk yang
    dijual. Sedangkan menurut Bob Sabran (2016:358), mengatakan bahwa
    keragaman produk yaitu kumpulan produk yang ditawarkan perusahaan kepada
    penjual tertentu dan nantinya dijual kepada konsumen akhir. Karakteristik utama
    produk perusahaan adalah:

    1. Lebar, mengacu pada berapa banyak perbedaan produk yang dijual
      perusahaan.
    2. Panjang, mengacu pada jumlah produk dalam bauran tersebut.
    3. Kedalaman, mengacu pada banyaknya varian yang ditawarkan masing masing
      produk pada lini tersebut.
    4. Konsistensi bauran produk, mengacu pada seberapa dekat hubungan dari
      berbagai lini produk pada penggunanya.
      Menuut Bob Sabran (2015:359), mengatakan bahwa dari keempat dimensi
      keragaman produk di atas, perusahaan dapat memperluas bisnisnya dengan cara
      sebagai berikut:
    5. Perusahaan dapat menambah lini produk baru, sehingga memperlebar
      keragaman produk
    6. Peusahaan dapat memperpanjang lini produk
    7. Perusahaan dapat menambah varian produk pada tiap produk
    8. Peusahaan harus menjaga konsistensi lini produk yang kua

    Indikator – Indikator Harga


    Menurut Kotler dan Amstrong (2012:52), menjelaska bahwa terdapat empat
    indikator yang digunakan untuk mengukur persepsi harga, yaitu :

    1. Keterjangkauan harga, harga yang ditawarkan sesuai dengan kemampuan
      konsumen
    2. Kesesuaian harga, berhubungan dengan harga dan kualitas dan yang
      didapatkan.
    3. Daya saing harga, harga yan ditawarkan oleh produsen yaitu harga yang
      bersaing dengan produsen lain dengan jenis produk yang sama.
    4. Harga sesuai dengan manfaat, harga yang ditawarkan produsen sesuai dengan
      manfaat yang diperoleh konsumen dari produk yang dibeli

    Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga


    Berbeda dengan pendapat Sunyoto (2015:133) mengatakan bahwa terdapat dua
    faktor yang mempengaruhi harga sebagai berikut :

    1. Memperkirakan permintaan produk
      Harga adalah yang utama menjadi perhatian dan pertimbangan konsumen,
      yang dinilai oleh konsumen atau pelanggan. Fakta ini para produsen harus
      dapat memperhatikan reaksi para konsumen atau pelanggan, jika suatu produk
      harganya akan dinaikkan atau diturukan, jadi manajemen eksekutif harus
      dapat memperkirakan volume penjualan dengan harga yang berbeda, dengan
      hal ini dapat memperkirakan jumlah permintaan.
    2. Reaksi pesaing
      Pesaing adalah salah satu faktor penetapan harga, yang paling utama ancaman
      pesaing yang potensial. Persaingan ini merujuk kepada produk yang serupa,
      produk yang tidak serupa dan produk penggant