Tujuan Penetapan Harga


Tujuan penetapan harga ini sangat penting bagi seorang produsen dan konsumen.
Melalui penetapan harga terlihat kekayakan produk dari nilai ekonomisnya.
Tujuan penetapan harga yang dikutip oleh (Kompas.com:2020) yaitu sebagai
berikut:

  1. Kestabilan harga
    Dilakukan untuk perusahaan yang memegang kendali atas harga, usaha
    pengendalian harga ini diarahkan untuk mencegah saat terjadinya perang
    harga, terutama bila menghadapi permintaan yang sedang menurun.
  2. Mencapai penghasilan atas investasi
    Sebagaian besar keuntungan dari investasi itu telah ditetapkan presntasenya,
    dan diperlukan penetapan harga dari barang yang telah dihasilkan.
  3. Penetapan harga untuk meningkatkan laba
    Hal ini menjadi acuan bagi setiap bisnis bisa bertahan, karena semua bisnis
    memerlukan keuntungan yang besar.
    Menurut Fajar (2016:114) mengatakan bahwa perusahaan menetapkan
    harga memiliki tiga tujuan yaitu :
  4. Berorientsi pada laba :
    a. Untuk mecapai target laba penjualan bersih.
    b. Untuk memaksimalkan laba
  5. Berorientasi pada penjualan :
    a. Untuk meninkatkan penjualan
    b. Untuk mempertahankan pasar dan penjualan
  6. Berorientasi pada status quo :
    a. Untuk menstabilkan laba
    b. Untuk menangkal persaingan

Definisi Harga


Menurut Daryanto (2013:62) harga adalah jumlah uang yang ditagih kepada
konsumen untuk membeli produk atau jasa yang nantinya konsumen akan
medapatkan manfaat dari produk atau jasa tersebut. Harga ini sangat penting
untuk konsumen, karena harga juga menjadi pertimbangan utama para konsumen
sebelum memutuskan unuk membeli, harapan konsumen mendapatkan manfaat
yang sesuai dengan harga yang diawarkan penjual.
Menurut Utami (2014:236) Terdapat dua strategi harga yang digunakan
dalam bisnis ritel modern yaitu penetapan harga tinggi dan harga rendah (high atau low pricing-HLP) dan penetapan harga rendah (everyday low pricing-EDLP).
Beberapa ahli juga berpendapat bahwa HLP strategi adalah strategi menjual
sebagaian barang mereka dengan harga normal pasaran dan menjaga dalam
batasan yang masuk akal, tetapi secara konstan memberikan promosi khusus pada
barang barang tertentu. Utami (2014:237) Penetapan harga tinggi atau rendah
sering dijumpai di toko ritel. Biasanya bisa disebut dengan harga diskon atau
promosi dengan jangka waktu yang tertentu dengan menerapkan strategi ini
konsumen lebih tertarik dan lebih sering datang ke toko ritel tersebut.
Setelah strategi penetapan harga, yang perlu ditetapkan oleh ritel adalah
harga untuk setiap unit dengan mempertimbangkan: harga permintaan dan
persaingan. Terdapat tiga pendekatan dalam penetapan harga dalam ritel. Utami
(2014:240), yaitu:

  1. Metode penetapan harga jual impas
    Metode penetapan harga jual impas merupakan metode penetapan harga yang
    berorientasi biaya (harga ditentukan dengan penambahan suatu peresentase
    tetap kepada biaya atau harga barang dagang).
  2. Metode penetapan harga yang berorientasi pada permintaan
    Metode penetapan harga yang berorientasi permintaan atau harga didasarkan
    pada perkiraan kemauan pelanggan untuk membayar. Metode ini dipakai
    bersama dengan metode berorientasi biaya. Fokusnya pada struktur laba dan
    efek dari perubahan harga terdapat penjualan.
  3. Metode penetapan harga yang berorientasi pada persaingan
    Strategi ini biasanya dilakukan oleh perusahaan ritel yang baru memulai usaha
    dan hendak masuk dalam suatu segmen tertentu

Indikator – Indikator Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller (2012:227), menjelaska bahwa terdapat lima indikator yang
digunakan untuk melakukan pembelian, yaitu :

  1. Pengenalan kebutuan, proses dimana konsumen mengenali sebuah masalah
    atau kebtuhan, pemasar perlu mencari informasi tentang masalah atau
    kebutuhan dari sejumlah konsumen
  2. Pencarian informasi, kosumen akan mencari informasi yang timbul dari
    pemikirannya atau dari lingkungan sekitar.
  3. Evaluasi alternatif , setelah pencarian informasi, konsumen akan melakukan
    pilihan alternatif yang nantinya akan dipilih untuk keputusan pembelian.
  4. Keputusan pembelian, melakukan pembelian yang sudah diperoleh dari
    evaluasi alternatif terhadap merk yang sudah dipilih.
  5. Perilaku pasca pembelian, dimana keadaan konsumen yang sudah melakukan
    pembelian akan mengalami tingkat kepuasan atau tidak puas

Faktor – Faktor yang Menpengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2012:137) mengatakan bahwa terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yaitu :

  1. Faktor pribadi
    Faktor pribadi yang menyangkut keputusan pembelian melalui pribadi
    seseorang meliputi :
    a. Usia dan tahap siklus hidup
    Selerah konsumen saat membeli dipengaruhi oleh usia dan siklus hidup
    konsumen tersebut, keputusan pembelian juga dibentuk oleh tahap siklus
    hidup keluarga. Tahap yang dilalui keluarga ketika mereka manjadi
    matang. Itu sebabnya pemasar membentuk produk sesuai usia konsumen
    dan siklus hidup konsumen.
    b. Pekerjaan
    Pekerjaan seseorang menjadikan barang dan jasa yang mereka beli juga
    berbeda. Pekerja buruh membeli pakaian yang tahan lama dan jgua kuat
    sedangkan sorang pembisnis membeli pakaian yang khusus bisnis dan juga
    mewah. Hal ini bisa disebut menyangkut gaji yang mereka dapatkan untuk
    membeli suatu prduk atau jasa.
    c. Gaya hidup
    Gaya hidup yaitu kebiasaan seseorang yang di ekspresikan dalam
    psikografisnya. Keputusan pembelian sangat berkaitan yang tergambarkan
    dalam minat, keinginan, dan pendapatannya.
    d. Kepribadian
    Karakteristik konsumen untuk memutuskan pembelian suatu produk
    berdasarkan kinginan dan kebutuhan berdasarkan kepribadian seseorang.
  2. Faktor psikologis
    Faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan pembelian sebagai berikut:
    a. Motivasi
    Motivasi dari seseorang mendorong untuk mencari kepuasan atas
    kebutuhan tersebut dan rasa ingin akan suatu barang mndorong atau
    meningkatkan keputusan pembelian konsumen.
    b. Persepsi
    Persepsi ini adalah pendapat konsumen atas barang atau jasa yang akan
    dibeli. Persepsi setiap orang akan berbeda. Ini yang meyebabkan
    keputusan pembelian berdasarkan perspsi sangat diperhatikan oleh
    pemasar. Strategi yang dilakukan oleh pemasar untuk membentuk suatu
    pespsi ini bisa berupa harga, merk, kualitas.
    c. Keyakinan dan sikap
    Keyakinan yaitu sikap yang dimiliki seseorang tentang sesuatu yang sudah
    dipercayainya, sedangkan sikap yaitu sikap yang konsisten dari seseorang
    terhadap suatu objek. Produk akan dinilai, dievaluasi, dianalisis oleh
    konsumen sebelum pembelian dilakukan.
  3. Faktor budaya
    Terdapat dua faktor budaya yang mempengaruhi keputusan pembelian antara
    lain :
    a. Kebudayaan
    Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku konsumen
    paling mendasar
    b. Sub-budaya
    Sub budaya memiliki kelompok kelompok sub-budaya yang lebih kecil,
    merupakan identifikasi dan sosialisasi yang khas untuk perilaku
    anggotamya.
  4. Faktor sosial
    Berikut tiga faktor sosial yang mempengaruhi keputusan pembelian antara
    lain:
    a. Kelompok referensi
    Kelompok adalah pengaruh besar bagi seseorang, kelompok ini mampu
    memberi pengaruh langsung ataupun tidak langsung
    b. Keluarga
    Keluarga adalah kelompok referensi utama yang paling berpengaruh.
    c. Peran dan status
    Kelompok klub, dan organisasi sering menjadi sumber informasi penting
    dan membantu mendefinisikan norma prilaku. Kita dapat mendefinisikan
    posisi seseorang dalam tiap kelompok dimana ia menjadi anggota
    berdasarkan peran dan status

Jenis – Jenis Keputusan Pembelian


Pengambilan keputusan konsumen itu berbeda beda tergantung pada jenis
keputusan pembeliannya. Menurut Kotler dan Amstrong (2013:157) terdapat lima
tipe keputusan pembelian yaitu:

  1. Perilaku pembelian kompleks
    Konsumen berada pada perilaku pembelian yang rumit dimana konsumen
    menyadari adanya merk yang signifikan.
  2. Perilaku pembelian pengurangan disonansi
    Konsumen mengalami keterlibatan tinggi, tetapi terdapat sedikit perbedaan,
    diantara merk-merk. Keterlibatan yang tinggi dibuktikan oleh fakta bahwa
    pembelian tersebut mahal, jarang dibeli.
  3. Perilaku pembelian bervariasi
    Situasi ini konsumen ditandai keterlibatan konsumen yang rendah, namun
    perbedaan merk yang signifikan. Dalam hal ini, konsumen sering melakukan
    berpindah pindah merk
  4. Peilaku pembelian kebiasaan
    Keterlibatan konsumen rendah dalam pembelian karena tidak ada perbedaan
    nyata diantaa merk satu dengan yang lainnya. Harga barang relatif murah

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut Setiadi (2012:331) keputusan melibatkan pilihan antara dua atau lebih
alternatif tindakan. Perkembanga teknologi yang semakin pesat membuat
konsumen lebih mudah mendapatkan pengetahuan, oleh sebab itu konsumen
mempunyai banyak pilihan dalam mengambil keputusan pembelian. Keputusan
pembelian adalah proses dimana konsumen melewati lima tahapan, yaitu
pengenalan masalah, pencarian informasi, evauasi alternatif, keputusan pembelian
dan perilaku pasca keputusan pembelian Kotler dan keller (2012:227). Menurut
Tjiptono (2012:184) menjelaskannya bahwa keputusan konsumen untuk
melakukan pembelian suatu produk meliputi enam sub keputusan sebagai berikut:

  1. Pilihan produk
    Konsumen mampu memilih produk yang mana produk tersebut sesuai dengan
    kebtuhan atau keinginanya.
  2. Pilihan merek
    Konsumen mampu mengambil keputusan merk apa yang akan dibeli. Karena
    setiap merk yang satu dan merk lainnya memiliki perbedaan tersendiri.
  3. Pilihan penyalur
    Konsumen mampu mengambil keputusan penyalur mana yang akan dipilih.
    Dalam mennetukan penyalur terdapat faktor yang mempengaruhi yaitu: karena
    harga yang sesuai dengan kebutuhan, persediaan barang yang lengkap, lokasi
    yang dekat.
  4. Waktu pembelian
    Keputusan konsuemen saat membeli juga mempunyai waktu yang berbeda
    beda, seperti: membeli produk tersebut setiap hari, membeli satu minggu
    sekali, atau sebulan sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen mampu mengambil keputusan seberapa banyak produk yang akan
    dibeli, dalam hal ini perusahaan harus mampu menyediakan banyaknya
    produk yang sesuai dengan keinginan konsumen.
  6. Metode pembayaran
    Hal ini konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran
    yang akan dilakukan. Keputusan konsumen saat membeli juga di pengaruhi
    oleh teknologi yang digunakan dalam transaksi pembelian.

Promosi dengan Keputusan Pembelian


Promosi adalah proses komunikasi suatu perusahaan dengan pihak-
pihak yang berkepentingan sekarang, dan yang akan datang serta
masyarakat (Kotler, 2005). Agar perusahaan berhasil terhadap produk
atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen, harus
mengkomunikasikan sejumlah informasi tentang perusahaan, produk,
struktur harga, dan sistem distribusi kepada sejumlah pemirsa yang
meliputi konsumen, perantara perdagangan dan media. Komunikasi
pemasaran mengacu pada promosi, dapat digunakan untuk
mendapatkan keunggulan daya saing (Boyd,2000). Fungsi utama dari
suatu strategi promosi para pemasar adalah untuk meyakinkan target
pelanggan bahwa barang dan jasa yang ditawarkan tersebut memiliki
keunggulan yang berbeda dibandingkan pesaing, sehingga hal ini dapat
menarik minat konsumen untuk melakukan pembelian.

Harga dengan Keputusan Pembelian


Harga adalah jumlah uang yang telah disepakati oleh calon pembeli
dan penjual untuk ditukar dengan barang atau jasa dalam transaksi
bisnis normal (Tandjung, 2004). Harga merupakan variabel yang dapat
dikendalikan dan menentukan diterima atau tidaknya suatu produk
oleh konsumen. Harga semata-semata tergantung pada kebijakan
perusahaan, tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai hal.
Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relatif sifatnya. Untuk
mengatakannya perlu terlebih dahulu dibandingkan dengan harga
produk serupa yang diproduksi atau dijual perusahaan lain.Perusahaan
perlu memonitor harga yang ditetapkan oleh para pesaing agarharga
yang ditentukan oleh perusahaan tidak terlalu tinggi atau sebaliknya,
sehingga harga yang ditawarkan dapat menimbulkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian. Harga dengan keputusan
pembelian mempunyai kaitan yang erat yang dapat dibuktikan oleh
beberapa penelitian terdahulu. Hasil penelitian Wahyudi (2005) dan
Tedjakusuma, dkk (2001) menyatakan bahwa harga berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Hal itu sesuai dengan teori Angipora
(2002) yang menyatakan bahwa harga berpengaruh terhadap keputusan
pembelian.

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Amstrong
dalam Soetanto et al., (2020:64) antara lain.
1) Pilihan produk, konsumen dapat mengambil keputusan untuk
membeli sebuah produk atau menggunakan uang nya untuk tujuan
lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya
kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta
alternatif yang mereka pertimbangkan. Misalnya kebutuhan suatu
produk, keberagaman varian produk dan kualitas produk.
2) Pilihan merek, konsumen harus mengambil keputusan tentang
merek mena yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-
perbedaan tersendiri. Perusahaan harus mengetahui bagaimana
konsumen memilih sebuah merek. Misalnya kepercayaan dan
popularitas merek.
3) Pilihan penyalur, konsumen harus mengambil keputusan tentang
penyalur mana yang akan dikunjungi. Dalam hal ini menentukan
penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lainnya. Misalnya
kemudahan mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
4) Jumlah pembelian, konsumen dapat mengambil keputusan tentang
seberapa banyak yang akan dibeli pada suatu saat. Pembelian yang
dilakukan mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbeda-beda dari para pembeli misalnya kebutuhan akan produk.
5) Waktu pembelian, konsumen dalam pemilihan waktu bisa berbeda-
beda misalnya ada yang yang melakukan setiap hari, satu minnggu
sekali, dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali dan
lainnya

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut (Sari 2013:88) keputusan pembelian secara konsumen
dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti produk (kualitas, keragaman,
keistimewaan), harga, saluran distribusi, promosi dan merek.
1) Produk secara umum didefinisikan untuk memenuhi atau
memuaskan keperluan manusia yang baik nyata ataupun tidak nyata
untuk penawaran secara fisik, keragaman produk, kemasan,
keistimewaan dan kualitas produk.
2) Harga menjadi faktor yang penting dalam memengaruhi keputusan
pembelian konsumen dengan tingkat harga terjangkau, harga
bersaing dengan produk lain, harga sesuai kualitas produk.
3) Saluran distribusi adalah kegiatan distribusi dalam penempatan atau
penyampaian produk ke tangan konsumen. Dalam melaksanakan
kegiatan tersebut adalah penyalur. Dengan lokasi penjualan yang
mudah dijangkau, produk yang selalu tersedia ditempat penjualan
dan lokasi yang ada dipusat kota menjadi faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen.
4) Promosi yang penting dilakukan dengan cara mengiklankan atau
aktitivitas lain supaya terjadinya permintaan produk oleh
konsumen. Dan dengan memberika informasi melalui media iklan
yang tepat, dan karyawan toko yang dapat memberikan infomasi
terpercaya. Serta hal hal yang menarik seperti kupon berhadiah
setiap pembelian produk baru.
5) Merek adalah identitas suatu produk yang memberi dampak
kepercayaan konsumen dan popularitas merek, sebagai pembeda, di
mana perusahaan yang memiliki brand kuat akan mudah dibedakan
dengan kompetitor menjadi pengaruh keputusan pembelian karena
terdapat dari faktor sosial yaitu pengaruh teman, pengaruh keluarga,
dan pengaruh status sosial.

Tahap-tahap Pengambilan Keputusan


Pada proses keputusan pembelian yang akan dilakukan oleh
konsumen yang dijelaskan oleh Kotler dalam Indrasari (2019:72)
terdapat tahap, antara lain:
a) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari apa
yang menjadi masalah dan kebutuhan yang diperlukan. Kebutuhan
ini dapat ditimbulkan oleh rangsangan internal maupun internal,
dengan demikian pemasar perlu menentukan keadaan yang memicu
pada permintaan tertentu.
b) Pencarian Informasi
Proses kedua dalam keputusan pembelian yaitu pencarian
informasi dimana konsumen yang terangsang untuk memenuhi
kebutuhan maka akan termotivasi untuk mencari lebih banyak
informasi. Dalam pencarian informasi terdapat sumber informasi
konsumen, diantaranya:
a. Sumber pribadi yaitu keluarga, teman, tetangga, dan kolega.
b. Sumber komersial yaitu iklan, wiraniaga, distributor, kemasan,
pajangan di toko.
c. Sumber publik yaitu media massa, organisasi penentu tingkatan
konsumen.
d. Sumber pengalaman yaitu penanganan, peninjauan, dan
pemakaian produk.
c) Evaluasi Alternatif
Pada tahap evaluasi, konsumen akan membentuk preferensi
terhadap merek dalam serangkaian pilihan. Konsumen mungkin
juga berniat untuk membeli produk favorit mereka.
d) Keputusan Pembelian
Dalam melakukan tujuan pembelian, konsumen dapat
membuat lima sub keputusan pembelian, yaitu keputusan merek,
keputusan pemasok, keputusan jumlah, keputusan waktu pembelian
dan keputusan cara pembayaran.
e) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian produk, konsumen akan
mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Kepuasan
atau ketidakpuasan pada suatu produk akan mempengaruhi perilaku
selanjutnya. Tugas pemasar tidak hanya berakhir saat pembelian
produk, tetapi berlanjut hingga periode pasca pembelian.
f) Kepuasan Pasca Pembelian
Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari seberapa dekat
kehendak pembeli atas suatu produk dengan kinerja yang dirasakan
pembeli atas produk tersebut. Jika kinerja produk lebih rendah dari
keinginan pelanggan akan kecewa, jika ternyata sesuai keinginan
pelanggan akan puas, jika melebihi keinginan pembeli akan sangat
puas.
g) Tindakan Pasca Pembelian
Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen akan mempengaruhi
perilaku selanjutnya. Jika konsumen merasa puas, maka ia akan
memperlihatkan peluang yang lebih tinggi untuk membeli produk
tersebut

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dalam Marlius dan Noveliza (2022:256)
keputusan pembelian ialah tahap dimana konsumen telah memiliki
pilihan dan akan melakukan pembelian atau pertukaran antara uang dan
janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan barang
atau jasa.
Menurut Wangean dan Mandey dalam Fitriana et al.,(2022:207)
keputusan pembelian merupakan suatu proses yang dimana konsumen
benar-benar memilih untuk membeli produk dan mengkonsumsi barang
tersebut.
Menurut Umar dan Husein dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
Keputusan pembelian merupakan proses yang berawal dari konsumen
mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk dan
mengevaluasi produk atau merek tersebut dengan pilihan antara dua atau
lebih pilihan alternatif, dimana seseorang memerlukan berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Bancin dalam Maryati (2022:545) keputusan pembelian
merupakan sebuah proses pengambilan keputusan yang dapat
dipengaruhi oleh perilaku konsumen atau pelanggan.
Dari pengertian beberapa teori di atas maka, dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian merupakan proses yang dimana konsumen
benar-benar akan memilih produk untuk dibeli dengan berproses dari
konsumen dengan mengenal masalahnya, mencari informasi tentang
produk, mengevaluasi produk dengan pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang memerlukan berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.

Indikator Promosi


Terdapat empat indikator promosi menurut Kotler dan Keller dalam
Anggraini et al., (2022:410) sebagai berikut.

  1. Frekuensi promosi adalah jumlah promosi penjualan yang
    dilakukan dalam suatu waktu oleh perusahaan melalui promosi
    penjualan.
  2. Kualitas promosi adalah sebagai tolak ukur seberapa baik promosi
    penjualan dilakukan.
  3. Waktu promosi adalah seberapa lama waktu Perusahaan untuk
    melakukan program promosi.
  4. Ketepatan atau kesesuaian sasaran promosi adalah faktor yang
    diperlukan untuk mencapai target yang diinginkan Perusahaan.
    Menurut Kotler dan Keller dalam Marlius dan Noveliza (2022:260)
    memiliki indikator sebagai berikut :
  5. Promosi penjualan adalah kegiatan Pemasaran bentuk yang
    digunakan mencakup diskon, kupon, pajangan, demonstrasi, kontes
    dan undian.
  6. Hubungan kepembeli adalah bentuk promosi dengan meyakinkan
    konsumen akan produk yang ditawarkan bisa dipercaya dan
    program-program yang dilakukan adalah pidato, seminar, publikasi,
    donasi, laporan tahunan dan lain sebagainya
  7. Pemasaran langsung bentuk promosi ini digunakan mencakup
    brosur, kios/toko, pemasaran seluler dan lainnya

Macam-macam Promosi


Dalam pelaksanaan promosi, perlu didukung akan membuat
perusahaan sukses dalam pelaksanaan promosinya. Menurut Ardhi
dalam Murdana et al., (2023:139) sebagai berikut.
1) Media cetak konvensional adalah media yang paling banyak kita
temui yang dimana-mana dan kapanpun. Media ini disebut
konvensional karena dibandingkan dengan media lain. Media ini
termasuk media yang paling tua. Media ini dapat bertahan dalam
jangka waktu yang relatif lama. Media ini terdiri dari flyer, pamflet,
dan brosur, booklet dan company profile, kartu nama, co-card, kop
surat, sticker, karty pos, kupon undian, katalog, dan daftar harga.
2) Media cetak adalah media yang sering ditemukan dalam surat kabar,
tabloid, dan majalah. media cetak digunakan karena memiliki
segmentasi pembaca yang sama dengan target audiens yang ingin
dicapai. Terlihat pada bagian tertentu saja seperti bagian awal atau
bagian akhirnya saja.
3) Media luar ruangan adalah media yang sering kali digunakan
ditempat umum dan terbuka. Media luar ruangan ini sendiri meliputi
poster, spanduk, billboard, baliho, papan nama, banner, foamboard.
4) Media online adalah media dengan perkembangan jaman, seiring
internet semain memegang peranan penting didalam kehidupan
manusia. Dengan media ini internet kita dimungkinkan melakukan
promosi tanpa tatap muka dengan cakupan audiens yang luas dan
jarak bukanlah suatu penghalang dalam media promosi ini sehingga
media internet ini berkembang pesat menjadi sebuah media dengan
berbagai macam model dari website, web banner, forum online dan
media sosial

Jenis Promosi Penjualan


Menurut Kotler dan Keller dalam Fauzan et al., (2023)
mengelompokkan jenis promosi penjualan menjadi tiga jenis utama,
yaitu.
1) Promosi konsumen (consumer promotion) yaitu upaya
mendorong konsumen untuk membeli pada unit-unit yang lebih
besar dan menarik orang beralih merek dari pesaing. Alat yang
digunakan seperti sample, kupon, penawaran uang kembali
(cashback), pengurangan harga (discount), hadiah.
2) Promosi dagang (trade promotion) yaitu upaya membujuk
pengecer agar menjual produk baru dan mempunyai persediaan
dan mendorong pembelian diluar musim. Alat yang digunakan
dalam melakukan promosi dagang seperti jaminan pembelian,
hadiah barang, iklan bersama, kontes penjualan para penyalur.
3) Promosi wiraniaga (sales force promotion) yaitu upaya suatu
dukungan terhadap produk atau model baru dan mencari calon
pelanggan yang lebih banyak. Alat yang digunakan dalam
promosi penjualan yaitu dengan cara memberikan bonus dan
bazar

Tujuan Promosi


Menurut Malau dalam Fauzan et al.,(2023:131) tujuan utama dari
promosi adalah menginfomasikan, mempengaruhi dan membujuk serta
mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran
pemasarannya. Secara terperinci tujuan promosi dapat dijabarkan
sebagai berikut.
1) Menginfomasikan suatu produk dapat berupa komunikasi
pemasaran dengan memberikan informasi, kejelasan detail
tentang keberadaan produk maupun jasa yang telah dijual dan
beredar dipadar agar dapat dikenal dan kemudian menjadi
pelanggan.
a) Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk
b) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk
c) Menyampaikan perubahan harga kepada pasar
d) Menjelaskan cara kerja suatu produk
e) Menginfomasikan jasa-jasa yang disediakan oleh perusahaan
f) Meluruskan kesan yang keliru dan membangun citra
perusahaan.
g) Mengurangi ketakutan dan kekhawatiran pembeli
2) Membujuk pelanggan sasaran adalah dalam proses pemasaran
dengan melakukan kegiatan yang bertujuan agar konsumen
membeli produk dengan melihat aspek-aspek yang berada pada
suatu produk.
a) Membentuk pilihan merek dan mengalihkan pilihan merek
b) Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk.
c) Mendorong pembeli untuk belanja saat itu juga.
d) Mendorong pembeli untuk menerima kunjungan wiraniaga.
3) Mengingatkan dapat menjadi kebiasaan yang baik bagi pelaku
usaha dalam mendekekatkan diri pada konsumen.
a) Mengingatkan pembeli atau konsumen bahwa produk yang
bersangkutan dibutuhkan dalam waktu dekat.
b) Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual
produk dan perusahaan tertentu.
c) Membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kampanye
iklan.
d) Menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstong dalam Sukrin et al., (2023:133)
tujuan promosi adalah:
1) Mendorong pembeli pelanggan jangka pendek atau
meningkatkan hubungan pelanggan jangka panjang
2) Mendorong pengecer menjual barang baru dan menyediakan
lebih banyak persediaan.
3) Mengiklankan produk perusahan dan memberikan ruang gerak
yang lebih banyak.
4) Untuk tenaga penjualan berguna untuk mendapatkan lebih
banyak dukungan tenaga penjualan bagi produk lama atau baru
atau mendorong wiraniaga mendapatkan pelanggan baru

Pengertian Promosi


Menurut Brahim dalam Maryati (2022:544) promosi adalah
kegiatan yang merupakan alat komunikasi untuk memperkenalkan
barang kepada masyarakat dan dapat mempengaruhi masyarakat luas
untuk menggunakan produk tersebut.
Menurut Hermawan dan Yasa dalam Rahanatha et al., (2022:14)
promosi adalah aktivitas dengan memberi informasi mengenai produk
yang dapat meningkatkan penjualan serta dapat meningkatkan minat
pelanggan untuk tetap berbelanja pada suatu merek.
Menurut Alma dalam Fairliantina dan Paniroi (2021:3924)
promosi adalah memberikan informasi, menarik perhatian, dan
mempengaruhi tujuan perusahaan dalam meningkatkan penjualan. Oleh
karena itu toko akan menciptakan pengetahuan tentang sebuah produk
bagi konsumen dalam membeli promosi yang umum dilakukan oleh
sebuah toko yaitu iklan di media sosial maupun informasi sebuah produk
yang didapatkan dari mulut ke mulut.
Menurut Swastha dalam Denny et al., (2021:103) mengatakan
promosi adalah arus informasi untuk mengarahkan seseorang atau
organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam
pemasaran yang dilalui berbagai media dilakukan perusahaan.

Harga


Dalam menarik perhatian konsumen untuk menentukan harga yang tepat
terhadap produk yang akan dipasarkan merupakan faktor penting agar
konsumen dapat memutuskan untuk memilih produk yang akan dibelinya
sesuai dengan keinginan atau kebutuhannya.
a. Pengertian Harga
Menurut Romdhoni dan Cahyani dalam (Marlius et
al.,(2022:256) harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran
yang menghasilkan pendapatan dalam usaha sedangkan unsur lainnya
menghasilkan beban atau biaya.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Rukmayanti dan Fitriana
(2022:208) harga merupakan sejumlah uang yang ditukarkan konsumen
atas manfaat yang mereka dapatkan karena telah melakukan transaksi
pada suatu produk.
Menurut Swastha dalam Arianto (2022:85) harga adalah sebagai
sejumlah uang yang kemungkinan ditambah barang dan dibutuhkan
untuk memperoleh sejumlah kombinasi dari barang berserta
pelayanannya.
Menurut Alma dalam Khalik (2022:86) harga merupakan jumlah
uang yang dinilai serta dapat menggunakan uang tersebut sebagai alat
tukar untuk membeli produk maupun jasa.
Menurut Sondakh dalam Jelita et al., (2021:70) harga adalah
satuan moneter atau ukuran lainnya yang ditukarkan agar mendapatkan
hak kepemilikan atas suatu barang atau jasa

Indikator Keragaman Produk

Menurut Benson dalam Fandiyanto (2021:181) menyatakan
bahwa indikator keragaman produk adalah sebagai berikut.
a. Ukuran produk yang beragam didalam kategori toko dengan yang
luas bisa dikatakan memiliki kedalaman yang baik.
b. Jenis produk yang beragam merupakan variasi produk dalam
memberikan produk dalam jumlah yang banyak dan kesesuaian
dengan selera.
c. Bahan produk yang beragam merupakan kategori jenis bahan yang
beragam di dalam Pop up store Kean signature yang di tawarkan
kepada konsumen dengan berbagai tipe bahan produk.
d. Desain produk yang beragam merupakan usaha-usaha menentukan
sejenis produk barang ataupun jasa yang disesuaikan dengan
harapan semua konsumen kean. Serta dapat memaksimalkan faktor
penampilan, dan kinerja produk yang dihasilkan secara
memuaskan.
e. Kualitas produk yang beragam merupakan standar kualitas yang
didalamnya memiliki kategori barang yang berhubungan dengan
kemasan, label, ketahanan sebuah produk, jaminan sebuah produk
yang bisa memberikan manfaat.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019:31)
mengungkapkan bahwa terdapat indikator keragaman produk
diantaranya :
1) Lebar produk, ialah mengacu pada beberapa banyak lini produk
yang berbeda dimiliki perusahaan tersebut.
2) Panjang produk, ialah mengacu pada beberapa banyak jenis yang
ditawarkan masing masing produk dalam lini tersebut.
3) Kedalaman produk, ialah mengacu pada jumlah seluruh varian
dalam setiap jenis produk yang terdapat dalam lini produk tersebut.
4) Konsistensi produk, ialah mengacu pada seberapa erat hubungan
berbagai lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi, atau hal-hal lainnya

Klasifikasi produk


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Saragih et al. (2023:71)
berdasarkan konsumen yang menggunakan produk atau jasa dibedakan
menjadi dua kategori produk ialah Produk konsumen dan produk
industri.

  1. Produk Konsumen merupakan produk yang dibeli konsumen untuk
    di konsumsi secara pribadi dapat dibedakan berdasarkan cara
    konsumen membelinya.
    a. Produk sehari-hari adalah produk atau jasa yang dibeli oleh
    konsumen dan dikonsumsi secara teratur, daan cepat contohnya
    sabun, makanan cepat saji, koran dan lain sebagainya umumnya
    produk jenis ini memiliki harga yang lebih terjangkau dan
    mudah ditemukan.
    b. Produk belanja adalah barang yang frekuensi pembeliannya
    tidak sesering menggunakan produk sehari-hari dan dalam
    pembeliannya konsumen biasanya melakukan perbandingan
    dengan produk lain seperti kecocokannya, kualitas, harga,
    keragamannya, dan gaya. Contohnya pakaian, perabotan, dan
    lain sebagainya
    c. Produk yang tidak dicari adalah produk konsumen yang
    konsumen sendiri tidak mengetahui ataupun mengetahuinya
    tetapi biasanya tidak terpikirkan untuk membeli produk
    tersebut. Contohnya asuransi, donor darah ke PMI dan produk-
    produk ini memerlukan usaha pemasaran yang besar seperti
    iklan dengan frekuensi tinggi, penjualan pribadi, dan usaha
    Pemasaran lainnya.
  2. Produk Industri adalah produk yang dibeli dengan tujuan diproses
    lebih lanjut atau digunakan untuk menjalankan usaha bisnis.

Jenis Strategi diversifikasi Produk


Strategi diversifikasi dapat dilakukan,secara :
a) Diversifikasi Konsentris, dimana produk-produk baru
yang diperkenalkan memiliki kaitan atau hubungan dalam
hal pemasaran, teknologi dengan produk yang sudah ada.
b) Diversifikasi Konglomerat, dimana produk-produk yang
dihasilkan sama sekali baru tidak memiliki hubungan
dalam hal pemasaran maupun teknologi dengan produk
yang sudah ada dan dijual kepada pelanggan yang berbeda
Berdasarkan target pasar yang disasar, jenis strategi
diversifikasi dibagi menjadi berikut ini:
a) Diversifikasi Vertikal
Diversifikasi vertikal adalah strategi membuat produk
dengan tingkat manfaat dan guna yang berbeda-beda,
namun masih bisa melengkapi atau menggantikan
produk satu sama lain.
b) Diversifikasi Horizontal
Diversifikasi horizontal adalah salah satu strategi untuk
menciptakan berbagai macam produk yang memiliki
persamaan jenis. Perbedaannya terdapat pada merek,
ukuran, atau target pasar

Manfaat diversifikasi produk


Menurut Sulaksana dalam Bulan (2017:680) menjelaskan
tentang manfaat strategi diversifikasi produk sebagai berikut :
a) Perusahaan dapat mengerahkan kapasitas yang banyak
karena tidak tergantung pada satu macam produk
b) Dapat memaksimumkan profitnya dengan cara
mengadakan ekspansi perusahaan.
c) Penemuan-penemuan baru yang menguntungkan bagi
calon konsumen
d) Dengan mengadakan strategi diversifikasi produk
perusahaan tidak tergantung pada satu pasar saja

Tujuan diversifikasi produk


Tujuan yang mendasari strategi diversifikasi produk ini
memberikan banyak pilihan produk kepada para pelanggan
maupun calon pelanggan. Diversifikasi dilakukan demi
tercapainya pertumbuhan, menjaga stabilitas, mampu
meningkatkan kredebilitas perusahaan. Sehingga sebuah usaha
dapat selalu bertahan dan mencapai puncak keberhasilan dimasa
yang akan datang.
1) Meningkatkan Profit
Meningkatkan profit perusahaan adalah tujuan diversifikasi
paling utama. Bila suatu perusahaan memproduksi banyak
produk dalam satu waktu, perusahaan dapat meningkatkan
penjualan. Melakukan untuk menghindari risiko kerugian atas
produk yang tidak laku.
2) Perluasan Pangsa Pasar
Pangsa pasar merupakan bagian penting penentu kesuksesan
bisnis perusahaan, bila perusahaan mempunyai banyak
kompetitor. Adanya diversifikasi produk ini membuat konsumen
memiliki banyak pilihan produk untuk dibeli.
3) Mencegah Kebosanan Masyarakat Atas Suatu Sebuah Brand
Di dalam dunia manufaktur, terdapat istilah product life cycle,
maksudnya adalah peredaran produk dari pertama kali launching
hingga mengalami penurunan penjualan. Tujuan perusahaan
melakukan diversifikasi adalah agar perusahaan dapat terhindar
dari penurunan profit saat product life cycle-nya mencapai
puncak. Meskipun produk yang sudah launching mengalami
penurunan penjualan, produk hasil diversifikasi sudah dikenal
dan dibeli masyarakat luas.
4) Personalisasi Produk yang Sesuai dengan Karakteristik
Target Pasar. Setiap produk pastinya memiliki target pasar dengan
ciri yang berbeda. Cara yang dilakukan perusahaan untuk
melakukan diversifikasi yaitu dengan membuat beragam produk
yang terpersonalisasi. Hal ini agar sesuai dengan target
marketnya.
5) Membantu Mengalahkan Kompetitor
Integrasi penguasaan pangsa pasar inovasi bisnis, dan
personalisasi produk membuat suatu perusahaan akan lebih
superior dari kompetitornya

Diversifikasi Produk


Menurut Hermawan dalam Rambing (2021:4) diversifikasi produk
dilakukan oleh suatu perusahaan sebagai akibat dilaksanakannya
pengembangan produk, sementara produk lama secara ekonomis masih
dapat dipertahankan. Dalam diversifikasi produk, perusahaan berusaha
untuk menaikan penjualan dengan cara mengembangkan produk baru
untuk pasar-pasar.
Menurut Nijman dan Wolk dalam Rambing (2021:3) diversifikasi
produk adalah upaya perusahaan untuk meningkatkan penjualan melalui
keragaman produk, baik lewat pengembangan produk baru atau
mengembangkan produk yang sudah ada.
Menurut Tjiptono dalam Bulan (2017:680) diversifikasi adalah
suatu upaya mencari dan mengembangakan produk pasar yang baru atau
keduanya dalam rangka mengejar pertumbuhan peningkatan penjualan,
profitabilitas dan fleksibilitas

Pengertian Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Amstrong dalam Rahmawati (2022:40)
keragaman produk adalah kumpulan seluruh produk dan barang yang
ditawarkan pelaku usaha kepada konsumen, dengan keputusan
keragaman produk yang beragam akan memberikan kemudahan kepada
konsumen untuk memilih dan melakukan keputusan pembelian sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Menurut Utami dalam Fandiyanto (2021:178) keragaman
produk merupakan beberapa hal tentang produk yang menjadi
pertimbangan atas keputusan pembelian. Didalam keragaman produk
terdapat variasi merek, variasi kelengkapan produk, variasi ukuran
produk, dan variasi kualitas produk yang penting diperhatikan agar
keragaman produk tersebut dapat memenuhi keinginan konsumen.
Menurut Asep dalam Indrasari (2019:29) keragaman produk
adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam jumlah dan
jenis yang sangat variatif, sehingga menimbulkan banyaknya pilihan
dalam proses belanja konsumen.
Keragaman produk menurut Sihombing (2016:152) merupakan
variasi produk yang mencakup ketersediaan produk tersebut saat di toko
dan seluruh rangkaian produk dalam hal kedalaman, merek ukuran,
kualitas produk, dan ketersediaan produk.
Menurut Simamora dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
keragaman produk merupakan salah satu unsur yang perlu di harus
diperhatikan oleh para pengusaha bisnis. Keragaman produk yang baik
membuat perusahaan dapat menarik konsumen untuk berkunjung dan
melakukan pembelian, keragaman produk sebagai separangkat
keanekaragaman lini produk dan unsur yang ditawarkan oleh penjual
tertentu pada para pembeli

Jenis Bisnis Ritel


Menurut Maddinsyah (2022:7) ada beberapa jenis bisnis ritel :

  1. Toko serba ada, tujuannya dibentuk bisnis ritel adalah menyediakan
    berbagai produk untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari calon
    konsumen. Contohnya mini-market, supermarket, dan kesehatan
    store.
  2. Khusus yang menjual satu jenis produk toko, ialah usaha ritel jenis
    ini mempunyai beberapa kategori yang sempit namun leseh.
    Contohnya toko pakaian (muslim), toko mainan, obat, toko
    perhiasan, dan toko buku.
  3. Pengecer Non Toko, ialah perkembangan bisnis ritel di Indonesia
    seiring maju teknologi saat ini. Dengan memanfaatkan sarana alat
    komunikasi, seperti email, website, aplikasi, bahkan telepon, untuk
    menjual produk eceran

Pengertian Pemasaran Ritel


Menurut Fauzan et al.,(2023:7) pemasaran ritel adalah sebuah
mekanisme penjualan dan pelayanan seperti aktivitas harian gerai ritel
yang dilaksanakan secara langsung dengan berinteraksi dengan
konsumen.
Menurut Maddinsyah (2022:1) pemasaran ritel merupakan
aktivitas yang memfokuskan pedagang eceran dalam menentukan
kebutuhan target pasar yang dapat memuaskan kebutuhan secara lebih
efektif dan efisien dari perbandingan pesaing sejenis.
Menurut Fandiyanto (2021:177) pemasaran ritel yaitu hubungan
penjual dengan konsumen yang terjadi transaksi secara langsung di
berbagai jenis pusat tempat belanja eceran berdiri dengan jenis-jenis
bisnis ritel dan ukuran yang mengakibatkan persaingan didalam usaha
ritel menjadi begitu ketat persaingannya.
Menurut Ma’ruf (2006:4) Pemasaran ritel adalah orang yang
membutuhkan kebutuhan terhadap barang tertentu dengan aktivitas
antara penjual dan konsumen yang terjadi transaksi secara langsung.
Tujuan utama dalam pemasaran ritel dengan mengembangkan strategi
pemasaran dan menetapkan target pasar, dan segmentasi pasar secara
langsung yang akan tersampaikan pada konsumen akhir

Pengertian Manajemen Pemasaran


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
manajemen pemasaran adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh
perusahaan untuk menciptakan suatu nilai bagi para pelanggan dan
membangun hubungan yang kuat dengan mereka agar tercipta suatu
nilai dari para pelanggan tersebut.
Menurut Alma dalam Gunawan (2022:20) manajemen pemasaran
adalah segala kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tingkat
pemasaran dan tujuan bisnis.
Menurut Sudarsono (2020:2) manajemen pemasaran merupakan
usaha untuk merencanakan, mengimplementasikan, yang terdiri dari
kegiatan mengorganisasikan, mengarahkan mengkoordinir serta
mengawasi atau mengendalikan kegiatan pemasaran suatu organisasi
agar mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif

Pengertian Pemasaran


Dalam mengukur kegiatan pemasaran, perusahaan perlu
menerapkan manajemen pemasaran agar terciptanya tujuan perusahaan
dalam mengelola pemasaran. Dalam proses yang perlu dilalui ialah adanya
perencanaan, pengarahan, pengendalian dan penetapan harga, pemetaan
distribusi, serta kegiatan promosi.
Menurut Kotler dalam Arraniri et al., (2022:7) pemasaran
merupakan proses sosial yang memungkinkan orang dan kelompok dalam
pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dalam organisasi.
Dengan menciptakan, memberikan, dan mengkomunikasikan kepada
pelanggan untuk menciptakan pemasaran yang tepat.
Menurut Karyanto et al., (2021:17) pemasaran merupakan aktivitas
dan proses dalam mengkomunikasikan, merencanakan strategi, menentukan
harga, melakukan promosi hingga mendisribusikan produk bagi pelanggan,
klien, mitra, dan masyarakat umum. Untuk pemenuhan kebutuhan manusia
yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia.
Menurut Sumarwan dalam Indrasari (2019:4) pemasaran merupakan
adalah suatu proses yang dimana mengindentifkasikan kebutuhan
konsumen kemudian memproduksi barang atau jasa tersebut sehingga
terjadi transaksi atau pertukaran antara produsen dengan konsumen.
Menurut Fandy Tjiptono dalam Saleh et al., (2019:1) pemasaran
adalah kegiatan yang bertujuan untuk menarik perhatian pembeli dalam
mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Oleh karena itu pemasaran
memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi.

Faktor yang mempengaruhi Minat Beli Konsumen


Konsumen dimanapun dan kapanpun akan dihadapkan dengan sebuah
keputusan pembelian untuk melakukan transaksi pembelian. Dimana konsumen
akan membandingkan atau mempertimbangkan satu barang dengan barang yang
lainnya untuk mereka konsumsi. Beberapa faktor yang membentuk minat beli
konsumen menurut Kotler dan Keller (2016:199) yaitu :
a. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat
negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi
konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
b. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat
mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut
tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri
dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak

Indikator Pengukuran Minat Beli Konsumen


Seorang konsumen tidak dengan sendirinya memiliki keputusan dalam
pembelian barang atau jasa. Terlebih dahulu konsumen mencari informasi dari
orang terdekat atau orang yang benar-benar dipercaya untuk membantunya
dalam pengambilan keputusan.
Menurut Shahnaz dan Wahyuno (2016), minat beli di identifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut:
a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk.
b. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari
informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut

Pengertian Minat Beli Konsumen


Menurut Kotler and Keller (2016:198) minat beli timbul setelah adanya
proses evaluasi alternatif dan di dalam proses evaluasi, seseorang akan membuat
suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang hendak dibeli atas dasar merek
maupun minat.

Dimensi Harga


Menurut Kotler dan Keller (2016:492), menjelaskan ada empat ukuran dari
dimensi harga yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas
produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga sesuai dengan kemampuan
atau daya saing harga. Empat ukuran harga yaitu sebagai berikut :
1) Keterjangkaun Harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek
harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal. Dengan harga
yang di tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen
orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
Tujuan penetapan
harga Deskripsi
Aliran kas (cash flow)
Dirancang untuk memaksimumkan pengembalian kas secepat
mungkin. Tujuan ini bermanfaat manakala perusahaan
mengalami masalah keterbatasaan kas (cash emergency) atau
jika siklus hidup produk diprediksi bakal berlangsung relatif
singkat.
Menyamai pesaing
Dirancang untuk menyamai atau mengalahkan tingkat harga para
pesaing. Sasarannya adalah untuk mempertahan persepsi good
value dibandingkan para pesaing.
Prestise
Menetapkan harga mahal yang konsisten dengan produk
berstatus atau prestise tinggi. Harga ditetapkan tanpa terlalu
mencerminkan struktur biaya atau tingkat persaingan
Status quo Mempertahankan tingkat harga saat ini dalam rangka
mengamankan posisi kompetitif.
3) Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil
dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk
melakukan pembelian ulang.
4) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya, dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut

Pengertian Harga


Menurut Kotler dan keller (2016:483) harga adalah:
“Price is the one element of the marketing mix that produces revenue; the
other elements produce costs. Price also communicates the company’s
intended value positioning of its product or brand”.
Harga adalah salah satu elemen dari marketing mix yang menghasilkan
pendapatan dan diikuti oleh elemen lainnya yang menghasilkan biaya. harga
juga mengomunikasikan posisi nilai yang ditunjukan oleh perusahaan dari
produk atau merek.

Indikator Kenyamanan pemakaian


Menurut pengertian dari Nugroho,WA&Hidayat,R (2017) penulis
menyimpulkan bahwa indikator kenyamanan pemakaian sebagai berikut:
1) Fungsional
Aspek fungsional pada pemakaian helm KYT terdiri dari aspek
berikut:
a) Sirkulasi Udara
Dalam memakai helm seseorang memerlukan sirkulasi udara di
dalam helm tersebut. Jika sirkulasi udara pada helm baik maka
pengendara akan merasakan kenyamanan dalam berkendara.
b) Kebisingan
Pada daerah pada seperti jalan raya, kebisingan adalah satu
masalah pokok yang bisa mengganggu kenyamanan bagi orang di
sekitarnya. Banyak cara untuk mengurangi kebisingan, salah satunya
dengan menggunakan alat pelindung diri (Helm).
c) Keamanan
Keamanan merupakan masalah terpenting, karena ini dapat
mengganggu dan menghambat aktivitas yang akan dilakukan. Dalam
berkendara sangat penting untuk melindungi bagian kepala.
2) Social risk
Aspek sosial disini berbicara mengenai adalah resiko tinggi helm
tersebut untuk dicuri oleh pencuri

Pengertian Kenyamanan pemakaian


Menurut Nugroho,WA&Hidayat,R (2017) Kenyamanan pemakaian
adalah penilaian atau perasaan individu terhadap suatu produk. Tingkat
kenyamanan suatu produk didasarkan dari perasaan paling nyaman sampai
perasaan tidak nyaman yang dinilai dari presepsi individu

Indikator Keragaman Produk


Menurut Sari, N & Setiyowati, S (2017) terdapat beberapa indikator pada
keragaman produk:
1) Ukuran Produk
Pada helm KYT ukuran produk yang dipakai sesuai dengan ukuran
lingkar kepala masyarakat Indonesia secara umum sehingga saat
digunakan memiliki tingkat kenyamanan yang baik.
2) Jenis Produk
Pada helm KYT jenis yang ditawarkan memiliki banyak yang
memudahkan untuk konsumen dalam pemilihan helm.
3) Bahan Produk
Pada helm KYT memiliki kualitas dari bahan material yang baik.
4) Desain Produk
Pada helm KYT memiliki desain produk yang sangat beragam.
Contohnya adalah pada helm KYT terdapat karakter-karakter yang
menarik serta desain yang sangat kekinian.
5) Kualitas Produk
Pada helm KYT memiliki kualitas produk yang sebanding dengan
harga yang ditawarkan, sehingga saat ini helm KYT masih menjadi favorit
untuk dibeli oleh konsumen

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan
oleh para pengusaha bisnis. Keragaman produk yang baik membuat perusahaan
dapat menarik konsumen untuk berkunjung dan melakukan pembelian. Definisi
keragaman produk menurut Simamora (2016:441) mendefinisikan keragaman
produk sebagai seperangkat (keanekaragaman) lini produk dan unsur yang
ditawarkan oleh penjual tertentu pada para pembeli.
Menurut Kotler dan Armstong (2014:258) keragaman produk
A product mix(or product portfolio) consists of all the product lines and
items that a particular seller offers for sale
Yaitu bauran produk atau keragaman produk sebagai kumpulan semua
produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh penjual tertentu.
Definisi dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa keragaman
produk adalah sekumpulan dari keseluruhan lini produk dan jenis produk yang
ditawarkan oleh penjual kepada pembeli, termasuk di dalamnya jumlah lini
produk serta unsur yang terkait didalamnya. Pengertian lini produk itu sendiri
menurut Kotler dan Armstrong (2014;258) yaitu kelompok produk di dalam
kelas produk yang berhubungan erat karena mempunyai fungsi yang serupa,
dijual kepada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui gerai atau
saluran yang sama, atau masuk dalam kisaran harga tertentu

Tingkatan Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:390) produk memiliki 5 tingkatan,
diantaranya :
(1) Core Benefit
Manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Contohnya adalah untuk keamanan dalam berkendara roda dua
memerlukan helm untuk melindungi kepala dari benturan.
(2) Basic Product
Bentuk dasar dari suatu produk yang dapat dirasakan oleh panca
indera. Contohnya adalah pada helm KYT bentuk dengan visor yang
berdampak pada terlindungnya mata dari hantaman benda dari luar.
(3) Expected Product
Serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-kondisi yang
diharapkan oleh pembeli pada saat membeli suatu produk. Contohnya
yang terihat pada helm KYT adalah terdapat fitur double visor yang
mempengaruhi kenyamanan penglihatan saat berkendara pada siang hari.
(4) Augmented Product
Sesuatu yang membedakan antara produk yang ditawarkan oleh
badan usaha dengan produk yang ditawarkan oleh pesaing. Contohnya
pada helm KYT memiliki banyak motif dibandingkan dengan merek
pesaing.
(5) Potential Product
Semua argumentasi dan perubahan bentuk yang dialami oleh suatu
produk dimasa datang. Pada helm KYT tidak terdapat perubahan bentuk
yang secara signifikan di masa yang akan datang

Pengertian Produk


Menurut Kotler dan Amstrong (2014:248), Produk adalah
“A product as anything that can be offered to a market for attention,
acquisition use, or consumption that migh satisfy a want or need. Product
include more than just tangible objects, such as cars, computers, or cell phones.
Broadly defined, “products” also include services, events, persons, places,
organizations, ideas, or a mixture of therse,”
Produk sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan dalam pasar untuk
diperhatikan, akuisisi, pengunaan, atau konsumsi, yang mungkin memenuhi
keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara,
orang, tempat, properti, organisasi, informasi dan ide.
Hirarki produk membentang dari kebutuhan dasar sampai barang tertentu
yang memuaskan kebutuhan tersebut. Menurut Kotler dan Keller (2016:402)
menyebutkan enam hierarki produk yaitu sebagai berikut:

  • Kelompok kebutuhan (need family). Kebutuhan inti yang mendasari
    keberadaan suatu kelompok produk.
  • Kelompok produk (product family). Semua kelas produk yang dapat
    memenuhi kebutuhan inti dengan lumayan efektif.
  • Kelas produk (product class). Sekelompok produk dalam keluarga produk
    yang diakui mempunyai ikatan fungsional tertentu.
  • Lini produk (product line). Kelompok produk di dalam kelas produk yang
    berhubungan erat karena mempunyai fungsi yang serupa, dijual kepada
    kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui saluran yang sama,
    atau masuk ke dalam rentang harga tertentu. Lini produk dapat terdiri dari
    berbagai merek, atau satu merek keluarga, atau merek individu yang sudah
    diperluas lininya.
  • Tipe produk (product type). Sekelompok barang di dalam lini produk yang
    berbagi satu dari beberapa kemungkinan bentuk produk.
  • Barang (item). Unit yang berbeda dalam merek atau lini produk dapat
    dibedakan berdasarkan ukuran, harga, penampilan, atau atribut lainnya

Harga dengan Keputusan Pembelian


Harga adalah jumlah uang yang telah disepakati oleh calon pembeli
dan penjual untuk ditukar dengan barang atau jasa dalam transaksi
bisnis normal (Tandjung, 2004). Harga merupakan variabel yang dapat
dikendalikan dan menentukan diterima atau tidaknya suatu produk
oleh konsumen. Harga semata-semata tergantung pada kebijakan
perusahaan, tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai hal.
Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relatif sifatnya. Untuk
mengatakannya perlu terlebih dahulu dibandingkan dengan harga
produk serupa yang diproduksi atau dijual perusahaan lain.Perusahaan
perlu memonitor harga yang ditetapkan oleh para pesaing agarharga
yang ditentukan oleh perusahaan tidak terlalu tinggi atau sebaliknya,
sehingga harga yang ditawarkan dapat menimbulkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian. Harga dengan keputusan
pembelian mempunyai kaitan yang erat yang dapat dibuktikan oleh
beberapa penelitian terdahulu. Hasil penelitian Wahyudi (2005) dan
Tedjakusuma, dkk (2001) menyatakan bahwa harga berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Hal itu sesuai dengan teori Angipora
(2002) yang menyatakan bahwa harga berpengaruh terhadap keputusan
pembelian.

Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian


Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang akan
dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen
(Angipora,2002). Kualitas dari setiap produk yang dihasilkan
merupakan salah satu unsur yang harus mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh dari perusahaan, kalau perusahaan ingin
memenangkan suatu persaingan dalam usaha (Angipora,2002).
Tuntutan terhadap kualitas suatu produk sudah menjadi suatu
keharusan yang harus dipenuhi oleh perusahaan, kalau tidak
menginginkan konsumen yang telah dimilikinya beralih kepada
produk-produk pesaing lainnya yang dianggap memiliki kualitas
produk yang lebih baik. Konsumen menginginkan produk yang
dibelinya sesuai dengan keinginannya atau produk tersebut berkualitas.
Semakin tinggi kualitas suatu produk, maka semakin tinggi keputusan
konsumen untuk melakukan pembelian. Hal ini dapat dibuktikan oleh
penelitan sebelumnya yang meneliti hubungan antara kualitas produk
dengan keputusan pembelian.

Menentukan pembelian


Menentukan pembelian merupakan tahap proses keputusan dimana
konsumen secara actual melakukan pembelian produk. Secara umum,
keputusan pembelian konsumen akan membeli merek yang paling
disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul diantara kecenderungan
pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang
lain, karena konsumen mungkin membentuk kecenderungan pembelian
berdasar pada pendapat yang diharapkan. Faktor kedua adalah faktor
situasi yang tak terduga, karena keadaan tak terduga dapat mengubah
kecenderungan pembelian. Dalam keputusan membeli konsumen
seringkali ada lebih dari dua pihak yang terlibat dalam proses pembelian.
Umumnya ada lima peran yang dapat dilakukan seorang konsumen.
Adakalanya kelima peran ini dipegang oleh satu orang, namun sering kali
pula peranan tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Menurut Kotler (
1997 ) kelima peranan tersebut meliputi :
1) Pemrakarsa ( Initiator ), yaitu orang yang pertama kali menyadari
adanya keinginan atau kebutuhan yang belum terpenuhi dan
mengusulkan ide untuk membeli suatu barang atau jasa tertentu.
2) Pemberi Pengaruh ( Influencer ), yaitu orang yang pandangan,
nasihat atau pendapatannya mempengaruhi keputusan pembelian.
3) Pengambilan Keputusan ( Decider ), yaitu orang yang mengambil
keputusan pembelian.
4) Pembeli ( Buyer ), yaitu orang yang melakukan pembelian.
5) Pemakai ( User ), yaitu orang yang mengkonsumsi atau
menggunakan barang atau jasa yang dibeli.

Pengertian Keputusan Pembelian


Pengertian keputusan pembelian menurut Helga Drumond (2003),
adalah mengidentifikasikan semua pilihan yang mungkin untuk
memecahkan persoalan itu dan menilai pilihan-pilihan secara
sistematis dan obyektif serta sasaran-sasarannya yang menentukan
keuntungan serta kerugiannya masingmasing. Definisi keputusan
pembelian menurut Nugroho (2003) adalah proses pengintegrasian
yang mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau
lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu diantaranya.
Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan. Tahap-tahap proses keputusan pembelian
(Phillip Kotler, 2005) :
1) Pengenalan Masalah (Problem Recognition
Proses pembeli dimulai dengan pengenalan masalah atau
kebutuhan. Pembeli menyadari suatu perbedaan antara keadaan
sebenarnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat
digerakkan oleh rangsangan dari dalam diri pembeli atau dari luar.
Para pemasar perlu mengenal berbagai hal yangdapat
menggerakkan kebutuhan atau minat tertentu dalam konsumen.
Para pemasar perlu meneliti konsumen untuk memperoleh
jawaban, apakah kebutuhan yang dirasakan atau masalah yang
timbul, apa yang menyebabkan semua itu muncul, dan bagaimana
kebutuhan atau masalah itu menyebabkan seseorang mencari
produk tertentu ini.
2) Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang mulai tertugah minatnya mungkin akan
atau mungkin tidak mencari informasi yang lebih banyak lagi. Jika
dorongan konsumen adalah kuat, dan obyek yang dapat
memuaskan kebutuhan itu tersedia, konsumen akan membeli obyek
itu. Jika tidak, kebutuhan konsumen itu tinggal mengendap dalam
ingatannya. Konsumen mungkin tidak berusaha untuk memperoleh
informasi lebih lanjut atau sangat aktif mencari informasi
sehubungan dengan kebutuhan itu.
3) Penilaian Alternatif
Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin tentang
banyak hal, selanjutnya konsumen harus melakukan penilaian
tentang beberapa alternatif yang ada dan menentukan langkah
selanjutnya.
Penilaian ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh sumber-sumber
yang dimiliki oleh konsumen (waktu, uang dan informasi) maupun
risiko keliru dalam penilaian.
4) Keputusan Membeli
Setelah tahap-tahap awal tadi dilakukan, sekarang tiba saatnya bagi
pembeli untuk menentukan pengambilan keputusan apakah jadi
membeli atau tidak. Jika keputusan menyangkut jenis produk,
bentuk produk, merk, penjual, kualitas dan sebagainya. Untuk
setiap pembelian ini, perusahaan atau pemasar perlu mengetahui
jawaban atas pertanyaan yang menyangkut perilaku konsumen,
misalnya: berapa banyak usaha yang harus dilakukan oleh
konsumen dalam pemilihan penjualan (motif langganan/patronage
motive), faktor-faktor apakah yang menentukan ksan terhadap
sebuah toko, dan motif langganan yang sering menjadi latar
belakang pembelian konsumen.
5) Perilaku setelah pembelian
Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami
beberapa tingkat kepuasan atau tidak ada kepuasan. ada
kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan setelah
melakukan pembelian, karena mungkin harga barang dianggap
terlalu mahal, atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan
atau gambaran sebelumnya dan sebagainya. Untuk mencapai
keharmonisan dan meminimumkan ketidakpuasan pembeli harus
mengurangi keinginan-keinginan lain sesudah pembelian, atau juga
pembeli harus mengeluarkan waktu lebih banyak lagi untuk
melakukan evaluasi sebelum membeli

Indikator Promosi


Dalam penelitian ini promosi diukur dengan indikator sesuai dengan
teori dari Wijayanti (2008) yaitu :
1) Promosi melalui media cetak
2) Promosi dengan mengadakan pameran
3) Penyampaian informasi
4) Periklanan

Tujuan Promosi


Tujuan utama dari promosi yang akan dilakukan oleh perusahaan
secara mendasar terdiri dari beberapa alternatif antara lain dapat
berupa : menginformasikan, mempengaruhi, membujuk dan
mengingatkan sasaran konsumen tentang perusahaan dan bauran
pemasarannya. Oleh karena itu, secara mendalam tujuan promosi
tersebut dapat diuraikan sebagai berikut (Angipora, 2002) :
1) Menginformasikan Sebagai tujuan utama dari kegiatan promosi
yang akan dilakukan adalah menginformasikan seluruh aspek-
aspek dan kepentingan perusahaan yang berhubungan dengan
konsumen dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk dapat
diketahui secara jelas. Kegiatan untuk menginformasikan atas
berbagai hal yang berkaitan antara perusahaan dengan konsumen
dapat berupa:
a) Menginformasikan pasar mengenai produk baru
b) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk
c) Menyampaikan perubahan harga kepada pasar
d) Menjelaskan cara kerja produk
e) Menginformasikan jasa-jasa yang disediakan
f) Meluruskan kesan yang salah
g) Mengurangi ketakutan atau kekhawatiran pembeli
h) Membangun citra perusahaan
2) Mempengaruhi dan Membujuk Pelanggan Sasaran
Sebagai alternatif kedua dari tujuan promosi yang akan dilakukan
oleh perusahaan adalah mempengaruhi dan membujuk pelanggan
atau konsumen sasaran agar mau membeli atau mengalihkan
pembelian terhadap produk-produk yang dihasilkan perusahaan.
Kegiatan yang dilakukan untuk mempengaruhi dan membujuk
pelanggan sasaran dengan tujuan utama :
a) Membentuk pilihan merek
b) Mengalihkan pilihan ke merek lain
c) Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk
d) Mendorong pembeli untuk belanja saat itu juga
e) Mendorong pembeli untuk menerima kunjungan salesman
3) Mengingatkan
Sebagai alternatif terakhir dari tujuan promosi yang akan dilakukan
perusahaan adalah mengingatkan kembali konsumen sasaran yang
selama ini dimiliki atas keberadaan perusahaan dan merek-merek
produk yang dihasilkan yang tetap setia dan konsisten untuk
melayani konsumennya dimanapun mereka berada. Kegiatan
promosi yang bersifat mengingat terdiri atas :
a) Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan
dibutuhkan dalam waktu dekat
b) Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual
produk perusahaan
c) Membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kegiatan
kampanye iklan
d) Menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk
perusahaan

Pengertian Promosi


Promosi merupakan proses komunikasi suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan sekarang, dan yang akan datang
serta masyarakat (Kotler,2005). Definisi lain promosi adalah
mengkomunikasikan informasi antara penjual dan pembeli potensial
atau orang lain dalam saluran untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
(Cannon,dkk,2008).
Pemasaran modern memerlukan lebih dari sekedar mengembangkan
produk yang baik, menetapkan harga yang menarik dan membuatnya
dapat terjangkau. Perusahaan-perusahaan juga harus berkomunikasi
dengan pihak-pihak yang berkepentingan sekarang dan yang akan
datang, dan masyarakat umum. Setiap perbusahaan mau tidak mau
harus terjun ke dalam peran komunikator dan promotor (Kotler,2005)

Indikator Harga


Dalam penelitian ini strategi harga diukur dengan indikator sesuai
dengan teori dari Wijayanti(2008) yaitu :
1) Harga sesuai manfaat
2) Harga terjangkau
3) Harga sesuai fasilitas
4) Harga bersaing

Strategi Harga


Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus selalu
meninjau kembali strategi penetapan harga produk-produknya yang
sudah ada di pasar, di antaranya yaitu (Tjiptono,1997) :
1) Adanya perubahan dalam lingkungan pemasaran, misalnya ada
pesaing besar yang menurunkan harganya.
2) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadi perubahan selera
konsumen

Pengertian Harga


Harga adalah salah satu unsur bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan dan biaya, serta paling mudah disesuaikan yang bertujuan
untuk mengkomunikasikan posisi nilai yang dimaksudkan perusahaan
kepada pasar tentang produk dan mereknya (Kotler,2005). Definisi
lain harga adalah segala sesuatu yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan keunggulan yang ditawarkan oleh bauran pemasaran
perusahaan (Cannon,dkk, 2008). Menurut Angipora (2002), harga
adalah jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang
dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk
dan pelayanan yang menyertainya.
Harga adalah salah satu dari empat variabel keputusan strategi utama
yang dikendalikan oleh manajer pemasaran. Keputusan penetapan
harga mempengaruhi jumlah penjualan yang dilakukan oleh
perusahaan dan berapa banyak pendapatan yang diperoleh
(Cannon,dkk, 2008). Pada umumnya harga ditetapkan melalui
negosiasi antara pembeli dan penjual. Tawar menawar masih
merupakan permainan di beberapa wilayah (Kotler,2005).
Menetapkan satu harga untuk semua pembeli merupakan gagasan
yang relatif modern yang muncul bersama perkembangan eceran
berskala besar.
Banyak perusahaan tidak menangani penetapan harga dengan baik.
Perusahaan tersebut melakukan kesalahan, seperti terlalu berorientasi
biaya, harga tidak sering direvisi untuk memanfaatkan perubahan
pasar, tanpa mempertimbangkan seluruh unsur bauran pemasaran
lainnya, harga kurang cukup bervariasi untuk jenis produk, segmen
pasar, saluran distribusi,dan saat pembelian yang berbeda
(Kotler,2005). Penetapan harga oleh perusahaan mempunyai beberapa
tujuan tertentu, seperti : (1). Seberapa fleksibel harga tersebut. (2).
Tingkat harga terhadap siklus kehidupan produk. (3). Kepada siapa
serta kapan diskon dan bantuan akan diberikan. (4). Bagaimana biaya
transportasi akan ditangani (Cannon,dkk, 2009).

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Kualitas produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar atau
9M. Pada masa sekarang ini industri disetiap bidang bergantung pada
sejumlah besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara
yang tidak pernah dialami dalam periode sebelumnya.
(Feigenbaum,2000) :
1)Market (Pasar)
Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus
bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk
mempercayai bahwa ada sebuah produk yang dapat memenuhi
hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta
dan memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar
menjadi lebih besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih
terspesialisasi di dalam barang yang ditawarkan. Dengan
bertambahnya perusahaan, pasar menjadi bersifat internasional dan
mendunia. Akhirnya bisnis harus lebih fleksibel dan mampu
berubah arah dengan cepat.
2)Money (Uang)
Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan
fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas (marjin) laba.
Pada waktu yang bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi dan
pemekanisan mendorong pengeluaran mendorong pengeluaran
biaya yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru.
Penambahan investas pabrik, harus dibayar melalui naiknya
produktivitas, menimbulkan kerugian yang besar dalam
memproduksi disebabkan oleh barang afkiran dan pengulang
kerjaan yang sangat serius. Kenyataan ini memfokuskan perhatian
pada manajer pada bidang biaya kualitas sebagai salah satu dari
“titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian dapat diturunkan
untuk memperbaiki laba.
3)Management (Manajemen).
Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa
kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi
perencanaan produknya, harus membuat persyaratan produk.
Bagian perancangan bertanggung jawab merancang produk yang
akan memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan
dan memperbaiki kembali proses untuk memberikan kemampuan
yang cukup dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi
rancangan. Bagian pengendalian kualitas merencanakan
pengukuran kualitas pada seluruh aliran proses yang menjamin
bahwa hasil akhir memenuhi persyaratan kualitas dan kualitas
pelayanan, setelah produk sampai pada konsumen menjadi bagian
yang penting dari paketproduk total. Hal ini telah menambah beban
manajemen puncak khususnya bertambahnya kesulitan dalam
mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi
penyimpangan dari standar kualitas.
4)Human (Manusia).
Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan
seluruh bidang baru seperti elektronika komputer menciptakan
suatu permintaan yang besar akan pekerja dengan pengetahuan
khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan permintaan
akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua bidang
spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan
mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil
yang diinginkan.
5)Motivation (Motivasi).
Penelitian tentang motivasi manusia menunjukkan bahwa sebagai
hadiah tambahan uang, para pekerja masa kini memerlukan sesuatu
yang memperkuat rasa keberhasilan di dalam pekerjaan mereka dan
pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan sumbangan
atas tercapainya sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan.
Hal ini membimbing ke arah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya
yaitu pendidikan kualitas dankomunikasi yang lebih baik tentang
kesadaran kualitas.
6)Material (Bahan)
Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli
teknik memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada
sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi lebih ketat dan
keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
7)Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)
Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan
volume produksi untuk memuaskan pelanggan telah terdorong
penggunaan perlengkapan pabrik yang menjadi lebih rumit dan
tergantung pada kualitas bahan yang dimasukkan ke dalam mesin
tersebut. Kualitas yang baik menjadi faktor yang kritis dalam
memelihara waktu kerja mesin agar fasilitasnya dapat digunakan
sepenuhnya.

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi kualitas produk menurut Fandy Tjiptono (2008), dimensi
kualitas produk meliputi :
1) Kinerja (performance) Yaitu karakteristik operasi pokok dari
produk inti (core product) yang dibeli, misalnya kecepatan,
kemudahan dan kenyamaan dalam penggunaan.
2) Keistimewaan tambahan (features) yaitu karakteristik sekunder
atau pelengkap.
3) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi
standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
4) Keandalan (reliability) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal dipakai.
5) Daya tahan (durability) berkaitan dengan berapa lama produk
tersebut dapat terus digunakan.
6) Estetika (asthethic) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
7) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) merupakan
persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan
suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli
akan atribut atau ciri- ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan,
reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya.
8) Dimensi kemudahan perbaikan (serviceability) meliputi kecepatan,
kemudahan, penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan
yang diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan, tetapi juga
selama proses penjualan hingga purna jual yang mencakup
pelayanan reparasidan ketersediaan komponen yang dibutuhkan.

Pengertian kualitas produk


Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang akan
dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen
(Angipora,2002). Definisi lain kualitas adalah suatu kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan
(Tjiptono,2006:51). Menurut (Cannon, dkk, 2008), kualitas adalah
kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan
pelanggan. Menurut Simamora (2001), kualitas produk merupakan
selisih produk yang layak menurut konsumen dengan produk
menurutkonsumen saat ini. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa kualitas adalah kemampuan suatu produk dalam
memuaskan kebutuhan atau keinginan pelanggan.
Kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu
produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas
kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifikasi produk,
sedangkan kualitas kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh
suatu produk mampu memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas
yang telah ditetapkan(Tjiptono,2006).
Kualitas dari setiap produk yang dihasilkan merupakan salah satu
unsur yang harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari
perusahaan, kalau perusahaan ingin memenangkan suatu persaingan
dalam usaha (Angipora,2002). Tuntutan terhadap kualitas suatu
produk sudah menjadi suatu keharusan yang harus dipenuhi oleh
perusahaan, kalau tidak menginginkan konsumen yang telah
dimilikinya beralih kepada produk-produk pesaing lainnya yang
dianggap memiliki kualitas produk yang lebih baik. Oleh karena itu,
masalah kualitas dari produk yang dihasilkan sudah harus menjadi
komitmen dari manajemen, yang selanjutnya harus dituangkan
/dijabarkan secara jelas dalam fungsi-fungsi manajemen lainnya
untuk dilaksanakan, sehingga menjadi fokus dari keseluruhan
operasional perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian,
perusahaan tidak boleh berpuas diri apabila telah menghasilkan suatu
produk yang memiliiki kualitas yang memadai dan bersaing, tetapi
justru kualitas produk yang baik adalah hasil dari perbaikan terus-
menerus yang tidak pernah berakhir, sejalan dengan selalu
berubahnya kebutuhan dan keinginan konsumen yang tidak pernah
putus. Apalagi tuntutan terhadap kualitas produk pada saat ini dan
masa mendatang sudah menjadi tuntutan yang mendunia dari dunia
internasional dengan adanya ketentuan tentang International Standard
Organization (ISO) yang menguntungkan produk-produk perusahaan
dapat diterima secara internasional atau hanya bersifat lokal
(Angipora,2002).

Pengaruh keragaman produk dengan keputusan pembelian


Keragaman produk adalah kelengkapan produk yang menyangkut
kedalaman, luas, dan kualitas produk yang ditawarkan juga ketersediaan
produk tersebut setiap saat di toko (Engel et al, 1995). Pengecer perlu
mengetahui produk apa saja yang dapat ditawarkan sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Adanya keragaman produk dapat
memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk menentukan pilihan
produk yang akan dibeli sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan

Pengaruh antara harga dengan keputusan pembelian


Harga merupakan sebuah unsur yang tidak dapat dilepaskan dari
sebuah perusahaan, karena dengan harga perusahaan mampu
menentukan besaran keuntungan yang bisa diperoleh dan menentukan
keberlangsungan perusahaannya. Bagi produsen harga dapat menjadi
strategi dalam penjualan produk, ini karena harga menjadi aspek yang
tampak jelas bagi para pembeli. Hal ini sama dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Arsyadani (2015) Pengaruh Harga Terhadap
Keputusan Pembelian Di Minimarket Kopma Iain Walisongo Semarang
menunjukkan bahwa Harga Dan Keragaman Produk mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator keragaman produk


Menurut Hendri (2006) indikator keragaman produk ada 5
seabagai berikut:
a. Variety (jenis produk)
Jenis produk yang ditawarkan dalam suatu toko harus lebih
lengkap dibandingkan dengan toko eceran biasa, karena
kelengkapan produk dari suatu toko merupakan salah satu
pertimbangan bagi konsumen dalam memilih tempat
berbelanja.
b. Width or Breadth (keluasan)
Adanya produk-produk pelengkap dari jenis produk utama
yang ditawarkan, mempunyai tujuan untuk menarik minat
konsumen melakukan pembelian terhadap barang pelengkap
jika sudah berada di dalam toko.
c. Depth (kedalaman)
Apabila jenis produk yang ditawarkan sudah sesuai dengan
pasar sasaran maka harus diperlengkapi dengan macam-macam
ukuran, warna dan karakteristik lain, sehingga produk yang
ditawarkan lebih bervariasi dan menarik.
d. Consistency (konsistensi)
Produk yang sudah sesuai dengan keinginan pasar sasaran
harus dijaga konsistennya dengan cara menjaga kelengkapan,
kualitas dan harga produk yang ditawarkan.
e. Balance (keseimbangan)
Jenis-jenis barang yang dijual harus disesuaikan dengan
keadaan pasar

Keragamana Produk


Menurut Kotler dan Keller (2014) keragaman produk adalah
kumpulan semua produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh
penjual tertentu
Keragaman produk menurut Engel (1995) adalah kelengkapan
produk yang menyangkut kedalaman, luas, dan kualitas produk yang
ditawarkan juga ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko. Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk mulai dari
merek, ukuran, dan kualitas serta ketersediaan produk tersebut setiap saat
di toko.
Chandra dan Adriana (2008), mengemukakan variasi produk
cocok dipilih apabila perusahaan bermaksud memanfaatkan fleksibilitas
produk sebagai strategi bersaing dengan para produsen misal produk-
produk standar. Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen dalam melakukan keputusan pembelian sangat erat kaitannya
pada kelangsungan penjualan suatu perusahaan. Perusahaan yang tidak
mampu menciptakan produk baru akan menghadapi resiko penurunan
volume penjualan, karena munculnya pesaing yang lebih kreatif, adanya
perubahan selera konsumen, munculnya teknologi baru dalam proses
produksi. Pengembangan produk dapat dilakukan oleh perusahaan
dengan cara mengembangkan produk yang sudah ada, dapat pula
menyewa para peneliti guna menciptakan produk baru dengan model-
model yang sesuai

Indikator Harga


Menurut Swastha (2012) indikator harga sebagai berikut:

  1. Keterjangkauan harga
    Perusahaan menyediakan dan menetapkan harga produk UD.
    Dadi Jaya Lamongan yang mudah dijangkau oleh konsumen.
  2. Daya saing harga
    Perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lain baik dari
    segi harga

Harga


Harga adalah salah satu komponen utama dalam keputusan
membeli suatu produk. Dalam penelitian ini harga didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang dalam menilai suatu barang dengan satuan alat
ukur rupiah untuk membeli suatu produk (Arsyadani, 2015).
Swastha (2008) menyatakan harga adalah jumlah uang yang di
butuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan
pelayanannya. Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2008) harga
adalah sejumlah nilai yang di keluarkan atas suatu produk, atau jumlah
dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki
atau menggunakan produk tersebut. Harga adalah merupakan salah satu
faktor penentu yang mempengaruhi keputusan pembelian, di kalangan
kelompok-kelompok sosial dan di kalangan masyarakat. Namun terakir
ini harga menjadi relatif lebih penting dalam keputusan pembelian. Harga
dapat menunjukan kualitas merek suatu produk, di mana konsumen
mempunyai anggapan harga yang mahal akan memiliki kualitas yang
baik.

Tahap-Tahap melakukan Keputusan Pembelian


Kotler (2015) Perilaku konsumen akan menentukan proses
pengambilan keputusan dalam pembelian mereka, proses tersebut
merupakan sebuah pendekatan penyesuaian masalah yang terdiri dari
lima tahap yang dilakukan konsumen, kelima tahap tersebut adalah
pengenalan masalah, pencarian informasi, penilaian alternatife,
membuat keputusan, dan prilaku pasca pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2009) kelima tahap yang
dilakukan konsumen dalam pengambilan keputusan dapat
dirumuskan sebagai berikut:

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pengenalan atau kebutuha, jika kebutuhan diketahui
    maka konsumen akan serta memahami kebutuhan yang belum
    perlu segera di penuhi atau masalah dapat ditunda pemenuhnya,
    serta kebutuhan yang sama-sama harus segera dipenuhi. Jadi
    pada tahap inilah proses pembelian itu mulai dilakukan.
  2. Pencarian informasi
    Seorang konsumen yang telah mengenali kebutuhannya dapat
    atau tidak dapat mencari informasi lebih lanjut jika dorongan
    keinginan kuat. Konsumen mungkin melakukan pencarian lebih
    banyak atau segera aktif mencari informasi yang mendasari
    kebutuhan.
  3. Penilaian Alternatif
    Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin,
    konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi
    beberapa merek alternatif dalam pilihan.
  4. Keputusan pembelian
    Jika keputusan yang diambil adalah membeli, maka akan
    menjumpai serangkaian keputusan yang menyangkut jenis
    pembelian, waktu pembelian, dan acara pembeli. Pada tahap ini
    konsumen benar-benar membeli produk.
  5. Perilaku setelah membeli
    Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami
    beberapa tingkatan kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan.
    Ada kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan
    setelah melakukan pembelian karena tidah sesuai gambaran dan
    tidak sesuai yang diharapkan. Keputusan pembelian merupakan
    kegiatan secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan
    untuk melakuakn pembelian tertahap produk produk yang
    ditawarkan oleh penjua

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen mengenai
prefrensi merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Kotler
(2015) menyatakan keputusan pembelian didefinisikan sebagai sesuatu
proses di mana konsumen mengenali kebutuhanya, mencari informasi
mengenai produk yang sesuai dan mengambil keputusan tentang produk
mana yang akan dibeli atau digunakan. Boyd, dan Orvile (2010)
menyatakan pengambilan keputusan konsumen pada dasar nya
merupakan pemecahan masalah dalam saat membeli suatu produk yang
akan dibeli.

Proses Keputusan Pembelian


Kotler (2015) menyatakan para produsen harus melihat lebih
jauh bermacam-macam faktor yang mempengaruhi para pembeli dan
mengenai cara konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

  1. Peran pembelian
    Konsumen dapat membedakan lima peran yang dimainkan
    dalam keputusan pembelian:
    a. Pencetus: orang yang pertama kali mengusulkan utuk
    melakuakan keputusan pembelian barang atau jasa.
    b. Pemberi pengaruh: orang yang saranya mempengaruhi utuk
    melakukan keputusan pembelian.
    c. Pengambil keputusan: orang yang mengambil keputusan
    mengenai keputusan pembelian apakah membeli atau tidak.

Perilaku Konsumen


Kotler (2015) menyatakan Perilaku konsumen adalah studi
tentang bagai mana individu kelompok, dan organisasi memilih,
membeli, mengunakan barang atau jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan. Assauri (2013) menyatakan
perilaku konsumen merupakan tindakan seseorang atau individu yang
langsung menyangkut pencapaian dan penggunan produk termasuk
proses keputusan yang mendahului dan menetukan tindakaan tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2009) perilaku konsumen adalah studi
tentang bagaimana idividu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk
memuasakan kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku pembelian
konsumen di pengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan pribadi.

  1. Faktor budaya
    Faktor budaya sangat mempengaruhi perilaku konsumen. Budaya
    adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Setiap
    budaya dan beberapa subbudaya yang lebih kecil yang memberikan
    identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota.
    Hampir seluruh kelompok manusia mengalami stratifikasi sosial,
    sering kali dalam bentuk kelas sosial, devisi yang relative homogen
    dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat.
  2. Faktor sosial
    Faktor sosial seperti kelompok refrensi, keluarga, serta peran sosial
    dan status mempengaruhi perilaku pembelian. Kelompok referensi
    adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung atau
    tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
    Kelompok langsung seperti kelompok keanggotaan yang terdiri dari
    kelompok sekunder dan kelompok primer. Sedangkan untuk
    kelompok tidak langsung yaitu kelompok aspirasional. Faktor
    keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
    dalam masyarakat dan anggota keluarga merepresentasikan
    kelompok referensi utama yang paling berpengaruh.
  3. Peran dan status
    Semua orang dapat mendifinisikan posisi seorang dalam tiap
    kelompok dimana dia menjadi anggota berdasarkan peran dan status.
    Peran terdiri dari kegiatan yang di harapkan dapat di lakukan
    seseorang. Setiap peran menyandang status. (Kotler dan Keller,
    2014)
    Dalam mengenal konsumen perlu mempelajari perilaku-perilaku
    konsumen dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku konsumen adalah
    tindakan yang dilakukan individu, kelompok atau organisasi yang
    berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan,
    menggunakan barang-barang atau jasa ekonomis, yang dapat di
    pengaruhi oleh lingkungan (Swastha, 2008).

Konsep Pemasaran


Pemasaran merupakan suatu elemen yang sangat penting bagi
suatu perusahaan. Dengan adanya pemasaran yang baik perusahaan
dapat mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Pemasaran adalah
suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu atau
kelompok mendapatkan yang konsumen butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai
dengan yang lain. Pengertian ini melahirkan konsep pemasaran yang
menyatakan bahwa kunci untuk meraih sukses adalah menjadi lebih
efektif dari pada pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran guna
menetapkan dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran.
(Kotler dan Armstrong, 2014)

Pengaruh Produk Inovasi Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Crawford dan De Benedetto dalam Dewi (2010) produk
inovasi adalah keseluruhan operasi perusahaan dimana sebuah produk baru
diciptakan dan dipasarkan, termasuk inovasi di segala proses fungsional
atau kegunaannya. Di dalam suatu perusahaan produk menjadi bagian yang
sangat penting. Suatu produk perlu penambahan inovasi baru, karena
dengan inovasi produk bisa memiliki nilai tambah dan nilai jual yang tinggi
serta menjadi daya tarik yang berpengaruh langsung kepada konsumen
dalam melakukan pembelian. Konsumen akan melihat apakah produk ini
mempunyai fungsi atau kandungan yang sesuai dengan apa yang sedang
dibutuhkan. Produk yang terus berinovasi sesuai perkembangan zaman
dapat menciptakan produk-produk terbaru yang berbeda dengan produk
lainnya sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumen yang memutuskan
untuk melakukan pembelian terhadap produk tersebu

Pengaruh Digital Marketing Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Tri Rachmadi (2020), Digital marketing merupakan
teknologi dalam proses memasarkan produk serta layanan yang harus
menggunakan media digital. Melalui media digital atau media sosial bisa
menjadi suatu wadah bagi para konsumen dalam menyampaikan gambar,
audio, teks ataupun video yang memberikan informasi satu sama lain
dengan perusahaan ataupun sebaliknya. Melalui media digital
memungkinkan terjadinya hubungan dengan konsumen secara online dan
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemilik usaha dalam menampung
saran serta keinginan konsumen secara online dan juga dapat mendorong
pemilik usaha untuk terus berinovasi agar terus berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman. Apalagi semakin berkembangnya teknologi di era
digital seperti sekarang ini banyak sekali aplikasi jual beli online yang mana
dengan mudah memasarkan suatu produk serta para konsumen dengan
mudah mengakses informasi maupun memesan suatu produk yang
dibutuhkan. Dapat diketahui bahwa penelitian mengenai digital marketing
memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian. Dengan melakukan
pemasaran melalui media digital, konsumen pun akan semakin melirik serta
tertarik terhadap produk yang ditawarkan dan tetarik untuk membeli produk
sesuai keinginannya. Dengan kata lain, semakin maraknya pemasaran
melalui media digital maka semakin tinggi pula konsumen untuk tertarik
dan memutuskan untu melakukan pembelian

Indikator Produk Inovasi


1) Pembaharuan Jenis Produk (Varian Produk)
Suatu sarana untuk membedakan produk satu dengan yang lainnya atau
membedakan produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Sebagai
contoh menu makanan restaurant yang menyajikan makanan yang
serupa tetapi masing-masing restaurant pasti memberi variasi makanan
yang berbeda di hidangannya.
2) Kualitas Produk
Keunggulan suatu produk terhadap fungsinya masing-masing yang
meliputi daya tahan, ketelitian, kekuatan, kehandalan serta rasa yang
dipertahankan.
3) Gaya dan Desain Produk
Gaya dan desain produk merupakan suatu penampilan dari sebuah
produk, sebagai contoh desain produk untuk melakukan promosi dengan
menggunakan fitur desain promosi guna menarik konsumen untuk
membelinya

Tujuan Produk Inovasi


Tujuan dari produk inovasi yaitu untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan agar tidak kalah saing dengan perusahaan
lain. Selain itu dengan terus berkembangnya teknologi yang mengharuskan
perusahaan terus mengembangkan inovasi terhadap produknya agar bisa
menyesuaikan kebutuhan dan selera konsumen serta siklus hidup produk
yang tidak bertahan lama yang membuat persaingan domestik dan luar
negeri semakin ketat. Produk yang ditawarkan pun harus unik dan beragam
dengan menunjukan kualitas keunggulan dari masing-masing produk yang
ditawarkan demi memenuhi kebutuhan serta selera konsumennya.
Menurut Tjiptono (2018:439), tujuan yang ingin dicapai dari
penciptaan produk baru diantaranya adalah:
1) Untuk memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi
perusahaan sebagai innovator, yaitu dengan menawarkan produk
yang lebih baru dari pada yang telah ada (strategi ofensif).
2) Untuk mempertahankan daya saing terhadap yang ada, yaitu
dengan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan yang baru. Bentuknya dapat berupa tambahan terhadap
lini produk yang sudah ada ataupun revisi terhadap produk yang
telah ada (strategidefensif).
Cara meningkatkan nilai tambah suatu produk sebagai kunci
keberhasilan sebuah perusahaan yaitu dengan memberikan produk inovasi
yang menarik yang dapat membawa perusahaan memiliki keunggulan yang
kompetitif sebagai perusahaan terbaik dipasarnya, (Arianti,2012)

Proses Pegembangan Produk Inovasi


Menurut Kotler (2017:10) proses pengembangan produk baru dapat
dibagi menjadi delapan proses, yaitu:
1) Proses Penciptaan Gagasan (Idea Generation)
Proses penciptaan gagasan bertujuan mendapatkan sebanyak
mungkin gagasan. Sumber gagasan tersebut dapat diperoleh dari
pelanggan, ilmua, pesaing, salesman perusahaan, distributor,
maupun pihak manajemen puncak. Pada tahap ini manajemen
puncak perlu menetapkan dan menegaskan kelompok produk apa
dan pasar mana yang akan diteliti. Maka harus jelas dulu
sebelumnya mengenai sasaran produk baru dan seberapa besar
upaya yang diperlukan untuk mengembangkan produk tersebut.
2) Proses Penyaringan Gagasan (Idea Screening)
Kesalahan penyaringan gagasan ini bertujuan pokok meneliti dan
membuang gagasan yang tidak baik sedini mungkin. Dua jenis
kesalahan yang harus dihindarkan dalam tahap ini adalah:
a) Kesalahan membuang (Drop error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
membuang gagasan yang sebenarnya bagus.
b) Kesalahan jalan terus (Go error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
meloloskan gagasan yang tidak bagus ke tahap
pengembangan dan akhirnya ke tahap komersial.
3) Proses Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept
Development and Testing)
Setelah melewati tahap penyaringan gagasan mengenai produk
tertentu yang bisa dijual ke pasar, lalu dikembangkan menjadi
beberapa konsep produk. Konsep produk yang telah ditemukan
masih perlu penempatan yang jelas sehingga pemisahan bisa
menyadari pada tingkat persaingan maka ia bersaing. Selanjutnya
pengujian atas konsep dilakukan pada sekelompok konsumen yaitu
konsumen diberikan uraian terperinci masing-masing konsep dan
diminta menjawab pertanyaan mengenai konsep tadi. Berdasarkan
jawaban responden tadi lalu diambil sebagai sampel sehingga
produsen dapat menilai konsep mana yang paling memikat dan
cukup kuat.
4) Proses pengembangan strategi pemasaran (Marketing Strategy
Development)
Pada tahap ini manajer produk, baru menyusun suatu konsep
permulaan strategi pemasaran untuk memperkenalkan produk di
pasar nanti. Strategi ini mencakup tiga bagian pokok, yaitu:
a) Rencana penempatan produk tersebut, hasil penjualan,
pangsa pasar serta sasaran keuntungan selama beberapa
tahun yang akan datang.
b) Perincian harga produk, saluran distribusi dan anggaran
pemasaran selama tahun pertama.
c) Sasaran jangka panjang dalam penjualan, keuntungan dan
strategi bauran pemasaran.
5) Proses Analisis Bisnis (Business Analysis)
Pada tahap ini manajer perusahaan harus memperkirakan jumlah
penjualan, jumlah penjualan perdana, jumlah penjualan pengganti,
jumlah penjualan ulang, serta biaya dan laba.
6) Proses Pengembangan Produk (Product Development)
Apabila dari segi bisnis sudah dinyatakan layak untuk diteruskan,
maka pada tahap ini konsep produk masuk ke tahap perekayasaan
untuk dikembangkan secara fisik di bagian produksi. Beberapa versi
fisik dari konsep produk akan di kembangkan oleh bagian R&D
dimana dalam proses itu diharapkan akan terbentuk prototype yang
memenuhi persyaratan.
7) Proses pengujian pasar (Market Testing)
Sasaran pokok dari pengujian pasar adalah pengkajian atas
tanggapan-tanggapan konsumen dan penyalur terhadap masalah-
masalah perlakuan, penggunaan dan pembelian produk senyatanya
senta pengkajian atas seberapa luas pasar sesungguhnya. Seberapa
luas pasar yang harus diadakan akan tergantung pada dua segi yaitu
biaya dan resiko penanaman modal disatu pihak adalah keterbatasan
waktu dan biaya penelitian.
8) Proses Komersialisasi (Commercialization)
Melalui tahap pengujian pasar, diharapkan dapat diperoleh
informasi yang cukup untuk keputusan berikutnya, yaitu produk
dipasarkan secara masal atau produk dibatalkan. Bila keputusan
yang diambil adalah meneruskan ke tahap komersialisasi, maka
perusahaan memerlukan penanaman modal dan biaya pemasaran
yang besar. Selain itu perusahaan juga harus memperhatikan faktor-
faktor seperti kapan waktu yang tepat untuk memasuki pasar,
dimana produk baru akan dipasarkan, pemasaran pasar yang
terencana dan prospek pasar sasaran

Pengertian Produk Inovasi


Pada era perdagangan bebas dan persaingan global ini, membuat
perusahaan harus siap dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin
ketat. Persaingan yang lebih ketat serta luas serta pandangan perilaku
konsumen yang semakin kritis dalam memilih serta menentukan suatu
produk yang membuat perusahaan harus lebih kreatif dan inovatif dalam
membuat dan menghasilkan suatu produk yang berkualitas serta lebih baik
dari produk pesaing. Inovasi dapat meningkatkan nilai tambah produk, serta
dengan adanya inovasi akan dapat menciptakan ide baru serta memunculkan
produk baru yang dapat memberikan manfaat serta solusi yang baik bagi
permasalahan yang dihadapi konsumen.
Menurut Myers &Marquis (dalam Kotler,2016:454, Produk inovasi
merupakan hasil dari berbagai macam proses yang digabungkan dan saling
mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Serta cara untuk
menciptakan produk baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Inovasi adalah suatu ide, praktik, atau objek yang
dipahami oleh setiap individu atau pengguna lainnya sebagai sesuatu yang
baru. Proses pengambilan keputusan untuk inovasi pada prinsipnya studi
dan sebuah aktivitas pemrosesan informasi dimana setiap individu dapat
termotivasi guna untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan
dan kerugian dari inovasi (Sumarwan,2010).
Inovasi berujung pada menciptakan introduksi produk baru. Tipe
produk baru ini berkaitan dengan strategik apa yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut. Dari produk lama yang telah mencapai titik jenuh
dipasaran, diperlukan sebuah inovasi untuk mengganti produk lama
tersebut. Penggantian ini dapat berupa produk pengganti yang secara total
baru atau dengan perkembangan produk lama yang lebih modern, sehingga
dapat terus meningkatkan keinginan pelanggan dalam keputusan pembelian
produk tersebut (Siswanto et al., 2018).
Menurut Stanton (2016:222) adalah: “A product is
asset of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price
quality and brand plus the services and reputation of the seller”. Artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk
ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.
Inovasi dapat dilakukan pada barang, pelayanan, atau gagasan-
gagasan yang diterima oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru, sehingga
mungkin saja suatu gagasan telah muncul di masa lampau, tetapi dapat
dianggap inovatif bagi konsumen yang baru mengetahuinya. Seringkali
orang berpendapat bahwa dengan melakukan inovasi pada suatu hal maka
seseorang telah melakukan perubahan yang bersifat positif yang mengarah
pada kemajuan. Pendapat tersebut memang benar adanya, tetapi perubahan
(dalam bentuk apapun) tersebut bagi sebagian konsumen sesuatu yang sulit
diterima begitu saja.

Indikator Digital Marketing


Menurut Ryan and Jones (2009:32-33), indikator digital marketing
saling terhubung dengan bauran pemasaran (4p) terutama promosi, berikut
beberapa indikator digital marketing:
1) Website
Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital, dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
2) Optimal Mesin Pencari (SEO)
SEO merupakan proses pengaturan konten atau bagian penting dari
website yang dapat membantu konsumen agar lebih mudah juga
menyuguhkan konten agar dengan mudah ditemukan oleh mesin
pencari dan selain itu untuk melakukan pencaharian konten dengan
lebih spesifik.
3) Hubungan masyarakat online (Online PR)
Online PR merupakan saluran berbasis online untuk membentuk
presepsi yang positif terhadap merek yang bertujuan untuk
menempatkan perusahaan atau organisasi dalam bidang tertentu
untuk memiliki kewenangan yang besar.
4) Sosial Network
Jejaring Sosial merupakan kesempatan yang besar dalam
pemasaran, tetapi jejaring sosial belum dapat menawarkan adanya
metode periklanan atau dasar informasi yang didapat dari situs
jejaring sosial, kepada kelompok yang berskala kecil di masyarakat.
5) Manajemen hubungan pelanggan
Digunakan untuk tujuan menjaga konsumen yang sudah ada dan
membangun kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka

Hal-hal Yang Mempengaruhi Digital Marketing


Digital marketing digunakan untuk memperluas pemasaran dari cara
konvensional menjadi serba digital untuk dijangkau konsumen secara tepat
waktu dan fleksibel. Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi digital
marketing yaitu:
1) Search Engine Marketing
Search Engine Marketing merupakan metode pemasaran digital
yang menggunakan iklan berbayar untuk mendapatkan
jangkauan yang lebih luas ataupun traffic ke website agar
masyarakat luas dapat melihat serta mengaksesnya dengan
mudah sehingga para pelaku bisnis bisa mengembangkan
usahanya lebih besar lagi dengan menggunakan media digital
ini.
2) E-mail Marketing
E-mail marketing suatu bentuk digital marketing yang
memanfaatkan media email dalam proses promosi produk
maupun jasa, yang ditujukan kepada calon konsumen ataupun
konsuemn yang sebelumnya pernah membeli suatu produk/jasa
pada suatu perusahaan. Digital marketing melalu email
marketing ini bertujuan untuk membangun relasi serta koneksi
dengan konsumen agar selalu mengetahui update penawaran
terbaru yang dipromosikan oleh perusahaan.
3) Social Media Marketing
Menurut Gunelius (2011 dalam Ratana, 2018) social media
marketing merupakan bentuk pemasaran langsung maupun tidak
langsung untuk membangun kesadaran, pengenalan merek,
peningkatan kembali, dan penindakan terhadap merek, bisnis,
produk yang dikemas dengan alat-alat disitus jejaring sosial.
Media sosial membantu pelaku usaha dalam mencari konsumen
dan membangun hubungan yang lebih personal

Pengertian Digital Marketing


Teknologi digital dan media sosial sudah menjadi trend tersendiri,
masyarakat luas dapat melihat semua unggahan semua jenis produk melalui
media sosial dan dapat sekali dimanfaatkan sebagai peluang bisnis memalui
digital marketing yang mana dapat diakses secra realtime dan tidak terbatas
wilayah, jadi semua orang bisa melihatnya inilah yang menjadi strategi para
pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya agar tetap bertahan bahkan
berkembang pesat. Menurut data dari Google, Temase, Bain & Company,
menunjukan besarnya peningkatan ekonomi digital pada tahun 2020
(Eka,2020). Adanya perubahan pola perilaku sosial dan belanja pada
masyarakat dengan masuknya digitalisasi membuat semua hal berubah
menjadi online (Eka,2020).
Definisi digital marketing menurut American marketing association
(AMA) adalah sebuah institusi, aktivitas, dan proses yang difasilitasi oleh
teknologi berbasis digital dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan
menyampaikan nilai-nilai kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan
lainnya (Kannan & Hongshuang,2016).

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong
(2021) dalam buku Wibowo dan Priansa (2017:300) menjelaskan bahwa
keputusan konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Pilihan Produk
Konsumen mempunyai beberapa pilihan alternatif yang mana dapat
diambil keputusan untuk membeli produk tersebut dan
membayarnya atau memakai uangnya untuk keperluan yang lain.
2) Pilihan Merek
Pilihan merek yang begitu beragam membuat konsumen harus
menentukan keputusan apa yang akan diambil mengenai pilihan
merek tersebut yang nantinya akan dibeli.
3) Pilihan Penyalur
Penyalur yang menjual barang/jasa juga menjadikan sebuah pilihan
terhadap konsumen dalam mengambil keputusan dimana konsumen
akan membeli barang/jasa tersebut.
4) Waktu Pembelian
Konsumen dapat menentukan keputusan kapan waktu yang tepat
harus melakukan pembelian.
5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan mengenai seberapa banyak
jumlah produk yang akan dibelinya pada suatu saat, jumlah
pembelian mungkin saja lebih dari satu.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Adapun faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Amalina Hudani (2020:100) :
1) Faktor Sosial
Faktor sosial dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk
makanan yang dijual di restaurant teras dara and lounge dimana itu
tergantung dari pengaruh kelompok sosial bagi seseorang.
Konsumen akan datang dan mengkonsumsi makanan tersebut sesuai
dengan keinginannya serta statusnya dalam kelompok sosialnya.
Faktor sosial tersebut bisa saja dari keluarga, teman, organisasi,
maupun masyarakat lain yang memberikan pengaruh terhadap
perilaku pembelian.
2) Faktor Pribadi
Faktor pribadi ini meliputi pekerjaan, keadaan perekonomian, usia
dan siklus hidup pembeli, dan gaya hidup. Dari sinilah banyak sekali
karakteristik yang berpengaruh langsung terhadap perilaku
konsumen dalam proses pembelian, serta sebagai pemasar wajib
menjalin hubungan jangka panjang serta baik dengan pelanggan.
Agar pelanggan tertarik maka harus diimbangi dengan strategi
pemasaran yang tepat dengan memperhatikan fenomena-fenomena
perubahan yang berlaku pada konsumen guna mendapatkan dan
mempertahankan nilai perusahaan di mata pelanggan.
3) Faktor Budaya
Faktor budaya menjadi hal utama yang memberikan pengaruh secara
luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kebudayaan
(culture) merupakan faktor yang paling mendasar dalam keinginan
dan perilaku manusia. Setiap budaya terdiri dari subkultur yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik bagi anggotanya. Subkultur meliputi kebangsaan, agama,
ras dan wilayah geografis. Peran lainnya adalah kelas sosial, kelas
sosial adalah pembagian atau kelompok yang relatif homogen dan
tetap dalam masyarakat yang terstruktur secara hierarkis dan yang
anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama. (Thamrin
Abdullah, 2012).
Norma budaya didasarkan pada nilai, kepercayaan, dan sikap
anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempengaruhi
perilaku pembelian, misalnya, orang memperhatikan kesehatanya
maka akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan
berbahaya bagi kesehatan

Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) dalam buku Wibowo
(2017:312) dan Priansa, terdapat tahap-tahap proses keputusan pembelian
yang terdiri dari :
1) Pengenalan Masalah
Keputusan pembelian diawali dengan adanya keinginan serta
kebutahan konsumen yang belum terpenuhi dan tersalurkan, dalam
hal ini konsumen pun menyadari terdapat perbadaan antara keadaan
yang diinginkan dengan yang sebenarnya diperlukan.
2) Pencarian Informasi
Setelah konsumen menyadari akan adanya kebutuhan terhadap suatu
produk tertentu maka konsumen akan mencari informasi tentang
produk tersebut baik melalui logika pengetahuan maupun informasi
yang didapatkan dari luar.
3) Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh maka konsumen akan melakukan
evaluasi mengenai produk tersebut melalui berbagai alternatif
pilihan dalam memenuhi suatu kebutuhan yang diperlukakan.
4) Keputusan Pembelian
Apabila tidak ada faktor lain yang mempengaruhi hasil pemilihan
evaluasi maka pilihan yang telah ditentukan menjadi sebuah
keputusan yang diambil dan ditetapkan, maka pembelian yang
aktual adalah hasil akhir dari sebuah pencarian serta evaluasi yang
telah dilakukan.
5) Evaluasi Pasca Pembelian
Merupakan perilaku konsumen yang merasa puas atau tidak puas
dengan produk yang dibeli. Jika konsumen merasa puas maka akan
melakukan pembelian kembali akan tetapi jika konsumen merasa
tidak puas dengan produk yang dibeli mereka akan meniggalkan,
menolaknya, bahkan menggembalikan produk tersebut dikemudian
hari.
6) Waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia akan
melakukan pembelian dengan disertai ketersediaan uang yang
cukup.
7) Cara Pembayaran
Konsumen bebas melakukan pembayaran bisa melalui tunai/cash
ataupun debit atau bahkan melalui cicilan/kredit

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam proses pengambilan keputusan diawali karena adanya
kebutuhan yang harus dipenuhi, yang mana kebutuhan ini terkait dengan
beberapa pilihan alternatif sehingga perlu adanya evaluasi yang bertujuan
untuk memperoleh keputusan dalam memilih alternatif yang terbaik untuk
kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) dalam jurnal Harjati dan
Lusia (2014) keputusan merupakan suatu hal yang dihadapkan pada dua
pilihan alternatif atau lebih. Contohnya yaitu jika seseorang dihadapkan
oleh suatu keinginan atau kebutuhan akan suatu produk maka orang tersebut
mempunyai dua pilihan antara membelinya atau tidak, maka orang tersebut
sedang dihadapkan dengan posisi dalam pengambilan keputusan.
Pada tahap evaluasi, konsumen membuat preferensi mengenai
berbagai pilihan merek suatu barang ataupun jasa, dimana diantara berbagai
merek tersebut terdapat pilihan yang nantinya membentuk suatu keputusan
merek produk barang/jasa apa yang dibeli dan disukai (Kotler dan Keller
Lane,2018).
Adapun menurut Suryani (2012:17) keputusan pembelian adalah
proses konsumen dalam memilih atau menentukan keputusan dalam
membeli produk atau jasa. Ketertarikan konsumen untuk membeli atau
mengambil tindakan terhadap suatu barang yang berhubungan dengan
keputusan yang akan diambil serta diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian.
Menurut Setiadi (2010:384), mengatakan: Perilaku membeli
mengandung makna yakni kegiatan- kegiatan individu secara langsung
terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa serta dalam proses
pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut. Menurut
Kotler dan Keller (2012:170), yang mengatakan bahwa: “Keputusan
pembelian adalah tahap awal dalam proses pengembalian keputusan
pembelian dimana konsumen benar-benar memilih suatu produk untuk
dibeli. Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau
menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang
dirasakan”

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator untuk mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92)
adalah:
a. Kesesuaian harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan
dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
b. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
c. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
kepada orang lain seperti, keluarga, teman, dan lainnya

Pengertian Kepuasan Konsumen


Menurut Oliver (2019) kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja/hasil yang dirasakanya dengan harapan, jadi tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan,apabila
harapan maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja sesuai dengan harapan,konsumen
akan sangat puas.sedangkan bila kinerja melebihi harapan,pelanggan akan sanagat puas.
Harapan konsumen dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari
kerabatnya jadi dan informasi pemasar dan sampai.Menurut Daryanto dan Setyobudi
(2019), menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari
konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan
konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Menurut Daryanto (2019) menyatakan
kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
terpenuhi. Menurut Park dalam (Irawan 2021:54), mengungkapkan kepuasan pelanggan
adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa yang
telah dikonsumsi.
Pada prinsipnya, definisi kepuasan pelanggan dapat diklasifikasikan ke dalam
lima kategori pokok, yaitu perspektif defisit normatif, ekuitas/keadilan, standar
normatif, keadilan prosedural, dan atribusional (Hunt, 2019). Menurut Daryanto dan
Setyobudi (2019), menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional
dari konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan
konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Menurut Daryanto (2019) menyatakan
kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
terpenuhi. Indikator kepuasan konsumenadalah :
a. Kepuasan pelanggan keseluruhan
b. Dimensi kepuasan pelanggan
c. Konfimasi harapan
d. Niat beli ulang

Indikator Harga.


Menurut Kotler dalam buku Indrasari (2019:42), terdapat empat indikator yang
mencirikan harga. Keempat indikator tersebut adalah :
a. Keterjangkauan harga. Harga yang dipasarkan dapat dijangkau oleh semua
kalangan sesuai dengan target segmen pasar yang dipilih.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk. Harga yang ditetapkan perusahaansesuai
dengan kualitas dari produk yang dijual. Kualitas produk menentukan besarnya
harga yang akan ditawarkan kepada konsumen.
c. Daya saing harga. Harga yang ditawarkan lebih tinggi atau dibawah rata-rata dari
pada pesaing.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat. Konsumen akan merasa puas ketika mereka
mendapatkan manfaat setelah mengkonsumsi apa yang ditawarkan sesuai degan
nilai yang mereka keluarkan.

Peranan Harga


Kotler dan Amstrong dalam buku (Indrasari, 2019:40), mengatakan harga memiliki
dua peran penting dalam proses pengambilan keputusan, yaitu : (1) Peranan
AlokasiMerupakan fungsi harga yang membantu pembeli memutuskan bagaimana
mendapatkan manfaat atau nilai tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya beli. (2)
Peranan Informasi Merupakan fungsi harga dalam mendidik konsumen tentang faktor
produk seperti kualitas. Ini sangat berguna dalam situasi di mana pembeli mengalami
kesulitan untuk menilai faktor atau manfaat produk

Tujuan Penetapan Harga


Sebelum menetapkan harga ada beberapa tujuan yang dapat dijadikan alasan dalam
menetapkan harga. Menurut angipora dalam Krisdayanto (2018:3) menyatakan bahwa tujuan penetapan harga adalah sebagai berikut :
a. Mendapatkan laba maksimum
b. Mendapatkan pengembalian investasi
c. Mencegah atau mengurangi persaingan
d. Mempertahankan atau memperbaiki market share

Pengertian Harga


Harga telah menjadi salah satu bagian terpenting dalam proses jual beli, karena
harga merupakan alat tukar dalam bertransaksi. Harga adalah satu-satunya baruan
pemasaran yang fleksibel di mana dapat berubah sewaktu waktu. Harga didefinisikan
sebagai jumlah yang dibayarkan oleh pembeli.
Dalam hal ini, harga merupakan suatu cara bagi penjual untuk membedakan
penawarannya dari para pesaingnya.Philip Kotler dalam (Indrasari, 2019:36)
menjelaskan harga adalah sejumlah nilai atau uang yang dibebankan atas suatu produk
atau jasa untuk jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat- manfaat harga
yang telah menjadi faktor penting yang mempengaruhi pilihan pembeli. Sedangkan
Menurut William J. Stanton dalam (Indrasari, 2019:36), harga adalah sejumlah uang
(kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh
beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya.
Menurut Alma (2013) dalam (Indrasari, 2019:39), harga adalah sejumlah uang yang
dibayarkan atas jasa, atau jumlah nilai yang konsumen tukar dalam rangka mendapatkan
manfaat dari memiliki atau menggunakan barang atau jasa. Harga juga dapat diartikan
sebagai nilai relatif dari produk atau jasa, bukan indikator yang jelas dalam
menunjukkan besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau
jasa menurut Samsul Ramli dalam (Indrasari, 2019). Dari beberapa definisi diatas, dapat
disimpulkan bahwa harga adalah sejumlah uang yang ditukar konsumen untuk
memperoleh manfaat dari produk atau jasa yang mereka beli. Ketika harga dikaitkan
dengan persepsi atas suatu barang atau jasa, harga biasanya digunakan sebagai indikator
nilai.
Menurut Bashu Swastha (dalam Kurniawan, 2022) harga adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Harga memiliki persepsi yang
berbeda-beda menurut pandangan setiap orang dalam menentukan keputusan
pembelian. Menurut Gitosudarmo (2019) harga ialah sejumlah uang yang digunakan
untuk mendapatkan produk-produk tertentu berupa barang atau jasa. Harga tidak hanya
diperuntukkan untuk pembelian yang dilakukakan dipasar maupun supermarket saja,
harga juga dapat diperuntukan untuk proses jual beli secara online dimarketplace
maupun dimedia sosial

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk merupakan suatu proses rancangan dan pengelolaan ragam
produk dalam satu kelompok (Anam & Pristiana, 2020). Sedangkan menurut (Anam &
Pristiana, 2020) ada beberapa indikator keragaman produk yang perlu dipertimbangkan
oleh perusahaan, yaitu :

  1. Kedalaman barang yang tersedia dalam kategori tertentu.
  2. Variasi barang yang tesedia.
  3. Harga dan mutu barang.
  4. Keunikan barang
    Menurut Saejita (2018:29) keragaman produk merupakan bagian terpenting dalam
    rencana kegiatan bisnis, karena ini berperan dalam menciptakan suatu pembelian
    produk dengan cara menarik dan membuat minat kosumen dalam melakukan pembelian
    pada kegiatan bisnis, dan ini harus sangat diperhatikan oleh pengusaha bisnis.
    Keragaman produk adalah keseluruhan dari setiap hal yang ditawarkan penjual kepada
    pembeli (Satria et al, 2020:590).

Pengertian produk


Produk adalah titik fokus yang berpusat dalam suatu kegiatan pemasaran karena
produk merupakan suatu hasil dari setiap bisnis yang dapat dijual belikan di pasar untuk
di konsumsi konsumen dan berfungsi sebagai alat bagi setiap bisnis untuk mencapai
tujuan dalam perusahaan. Suatu produk harus memiliki keunggulan dari produk-produk
lain baik dari segi kualitas, desain, bentuk, ukuran, kemasan, pelayanan, garansi, dan
rasa untuk menarik minat konsumen untuk mencoba dan membeli produk tersebut.
Pengertian produk (product) menurut Kotler & Armstrong, (2001: 346) dalam buku
Indrasari (2019:26) adalah segala sesuatu yang dapatditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual, produk merupakan pemahaman subjektif
produsen terhadap sesuatu yang dapat diberikan sebagai upaya mencapai tujuan
organisasi dengan cara memuaskan kebutuhan dan aktivitas konsumsi penggunanya
sesuai dengan kapasitas dan kemampuan organisasi serta daya beli. organisasi di pasar.
Lebih lanjut, produk juga dapat diartikan sebagai persepsi konsumen yang digambarkan
oleh produsen melalui hasil produksinya. Produk dianggap penting oleh konsumen dan
menjadi dasar pengambilan keputusan pembelian.
Pengertian produk menurut Stanton (1996:222) dalam buku Indrasari (2019:26)
adalah suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk ditambah
denganjasa dan reputasi penjualannya.
Pengertian produk menurut Tjiptono (1999:95) dalam buku Indrasari (2019:26)
secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu”
yang bisa ditawarkan sebagai usahauntuk mencapai tujuan organisasi melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan
kapasitas organisasi serta daya beli. Menurut Sofyan Assauri (2010:200) menyatakan
bahwa produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar dimiliki
dan digunakan atau di konsumsi guna memenuhi kebutuan dan keinginan konsumen.
Keberagaman produk merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan oleh
suatu bisnis ritel. Adanya keberagaman produk yang baik, perusahaan dapat menarik
konsumen untuk berkunjung dan melakukan pembelian. Hal-hal yang harusdiperhatikan
oleh suatu perusahaan adalah bagaimana membuat berbagai keputusantentang bauran
produk yang dihasilkanpada saat ini maupun untuk masamendatang (Hadita, 2018:367)

Hubungan Antara Lokasi Dengan Keputusan Pembelian


Lokasi adalah sesuatu yang mengarah pada suatu aktivitas pemasaran
yang diusahakan untuk memperlancar dan memudahkan proses untuk
menyampaikan atau menyalurkan barang dan jasa dari produsen kepada
konsumen. Keputusan pembelian. Keputusan pembelian adalah suatu
keputusan yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan suatu usaha
(Tjiptono, 2015:345). Menurut Mutoharoh (2015) keputusan pembelian
adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen dalam memutuskan
tindakan pembelian

Hubungan Antara Keragaman Produk Dengan Keputusan Pembelian


Menurut Fure (2013:273-274) keragaman produk adalah keputusan
tentang penempatan produk berkaitan dengan ketersediaan produk atau
keragaman produk dengan jumlah yang sesuai dan di lokasi yang sangat
tepat. Keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang sangat penting
untuk menunjang keberhasilan suatu usaha. Menurut Muotharoh (2015)
keputusan pembelian adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen
dalam memutuskan tindakan pembelian.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keragaman
produk mempunyai hubungan yang erat dengan keputusan pembelian.
Karena pembeli akan merasa senang dengan berbagai macam keragaman
produk yang dijualkan dan bebas memilih apa yang pembeli butuhkan.
Dengan meningkatnya berbagai macam keragaman produk yang pembeli
inginkan, maka meningkat juga untuk penjualannya

Indikator Kualitas Produk


Menurut Budiyanto (2016:490) dalam jurnal Irfan Rizqullah Ariella,
menyatakan bahwa indikator kualitas produk yaitu :

  1. Keawetan, suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran masa pakai
    atau daya tahan suatu barang.
  2. Keandalan, sesuatu yang berkaitan dengan kemungkinan suatu
    barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan.
  3. Kesesuaian produk, sesuatu yang berkaitan dengan tingkat
    kesesuaian terhadap spesifikasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  4. Kemudahan dipergunakan dan diperbaiki, sesuatu karakteristik yang
    berkaitan dengan kemudahan dan akurasi dalam pemberian layanan
    untuk perbaikan barang.

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008:25-26)
mengemukakan, bahwa kualitas prdouk memiliki beberapa dimensi antara
lain :

  1. Performance (kinerja), merupakan karakteristik operasi dan produk
    ini (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan
    kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Durability (daya tahan), yang berarti daya tahan menunjukkan usia
    produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk itu
    digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin
    awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas
    dibanding produk yang cepat habis atau cepay diganti.
  3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
    sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang
    telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan
    desain, standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja
    produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam
    “janji” yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki
    kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya.
  4. Features (fitur), merupakan karateristik atau ciri-ciri tambahan yang
    melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau
    option bagi konsumen. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika
    competitor tidak memiliki fitur tersebut, ciri-ciri atau keistimewaan
    tambahan (features), merupakan karakteristik sekunder atau
    pelengkap.
  5. Reliability (reliabilitas keandalan) yaitu kemungkinan kecil akan
    mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan
    kualitas dan desain, standar karakteristik operasional kesesuaian
    dengan spesifikasi.
  6. Asthetics (estetika) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera,
    misalkan bentuk fisik, model atau desain yang artistic, warna dan
    sebagainya.
  7. Perceived quality (kesan kualitas) yaitu perspsi konsumen terhadap
    keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena
    kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk
    yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari
    aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara
    pembuatnya, kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu
    cara dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan
    terhadapnya.
  8. Service ability (kemampuan melayani), yaitu kualitas produk
    ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki (service ability),
    meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi
    serta penanganan khusus keluhan yang memuaskan. Produk yang
    mampu diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibandingkan
    dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Utami (2010:209) dalam jurnal Siti Humairoh (2019),
indikator keragaman produk antara lain :

  1. Kelengkapan produk
  2. Merek produk
  3. Variasi ukuran produk
  4. Variasi kualitas produk

Gambaran Keragaman Produk


Kotler dan Keller (2007) memberikan gambaran tentang keragaman
produk yaitu :
a. Lebar, mengacu pada berapa banyak lini produk yang berbeda
dimiliki perusahaan tersebut.
b. Kedalaman, mengacu pada jumlah seluruh barang pada bauran
tersebut.
c. Keluasan, mengacu pada berapa banyak jenis yang ditawarkan
masing-masing produk pada lini tersebut.
d. Konsistensi bauran produk, mengacu pada seberapa erat hubungan
berbagai lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi, atau lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Menurut Fure (2013:273-274) keragaman produk adalah keputusan
tentang penempatan produk berkaitan dengan ketersediaan produk atau
keragaman produk dengan jumlah yang sesuai dan di lokasi yang sangat
sepi. Sedangkan menurut Utami (2010:209) keragaman produk adalah
kelengkapan produk yang menyangkut kedalaman, luas, dan kualitas produk
yang ditawarkan juga ketersedian produk tersebut disetiap saat di toko.
Dengan berbagai macam jenis dan jumlah produk yang beragam disuatu
usaha, maka konsumen akan merasa senang dan bebas untuk memilih dan
melakukan pembelian.

Indikator Keputusan Pembelian


Didasarkan pada pandangan Kotler dan Amstrong (2011:280) dalam
jurnal Tommy Kurniawan Njoto (2016), indikator keputusan pembelian
yaitu :

  1. Kemantapan sebuah produk
  2. Kebiasaan dalam membeli
  3. Memberikan rekomendasi ke orang lain
  4. Melakukan pembelian ulang

Pemasaran


Pemasaran merupakan ujung tombak perusahaan. Dalam dunia
perusahaan yang semakin ketat, perusahaan dituntut agar tetap bertahan
hidup dan berkembang. Oleh karena itu seorang tenaga pemasar dituntut
memahami permasalahan pokok dibidang dan menyusun strategi agar dapat
mencapai tujuan yang diinginkan oleh setiap perusahaan. Pemasaran atau
marketing adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Pemasaran adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan perusahaan
untuk menstimulus permintaan atas produk atau jasanya dan memastikan
bahwa produk dijual dan disampaikan kepada pelanggan (Tjiptono,
Chandra, Adriana 2008:4). Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2012:5)
pengertian pemasaran adalah sebagai berikut : “Marketing is a societal
process by which individuals and group obtain what they need and want
trhough creating, offering, and freely exchanging products and services of
value with others” (pemasaran adalah proses sosial yang didalamnya
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
12
inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Pemasaran merupakan (marketing) adalah proses dimana perusahaan
menciptkakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat
dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan
sebagai imbalannya Kotler dan Amstrong (2008:6)

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang sangat penting
untuk menunjang keberhasilan suatu usaha. Pentingnya keputusan
pembelian bagi keberlangsungan suatu perusahaan, banyak peneliti yang
melakukan tentang keputusan pembelian. Menurut Mutoharoh (2015)
keputusan pembelian adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen
dalam memutuskan tindakan pembelian. Sedangkan menurut Azany
(2014:17) keputusan pembelian adalah suatu tahapan atau proses dimana
pembeli akan benar-benar mengambil keputusan untuk membeli suatu
produk atau jasa.
Berdasarkan penjelasan dari para ahli tersebut dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian adalah aspek keputusan yang dilakukan
pembeli atau konsumen sebelum melakukan pembelian dari produk yang
akan dibeli sesuai dengan kebutuhan dan keperluan pembeli.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian terdapat 5 tahap yang akan dilalui yaitu :

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pembelian akan diawali dengan pengenalan masalah atau
    kebutuhan konsumen.
  2. Pencarian Informasi
    Dalam proses ini konsumen akan mencari informasi tentang kebutuhan
    yang dimilikinya melalui berbagai sumber antara lain iklan, teman dan
    sebgainya.
  3. Evalusi Alternatif
    Setelah melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber,
    konsumen akan mempunyai beberapa pilihan alternative merek atau
    produk.
  4. Keputusan Pembelian
    Pada tahap ini konsumen memungkinkan untuk menentukan minat beli
    terhadap produk yang disukainya.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Pada tahap ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman konsumen saat
    membeli suatu produk dan setelah itu akan mengalami rasa kepuasan
    atau ketidakpuasan dalam proses pembelian suatu produk.

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian


Store atmosphere atau suasana toko merupakan salah satu faktor yang
mampu menarik perhatian konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2016:561) store
atmosphere adalah gambaran susana keseluruhan dari sebuah toko yang
diciptakan oleh elemen fisik (eksterior, interior,layout, display) dan elemen
psikologis (kenyamanan, pelayanan, kebersihan, ketersedian barang, kreatifitas,
promosi, tekologi). Store atmosphere bertujuan untuk menarik konsumen untuk
berkunjung, mempertahankan mereka untuk berlama-lama berada di dalam toko,
memotivasi mereka untuk melakukan pembelian.

Indkator Keputusan Pembelian


Menurut Thompson (2016:57) ada 4 indikator dalam keputusan
pembelian yaitu:

  1. Sesuai kebutuhan
    Pelanggan melakukan pembelian karena produk yang ditawarkan sesuai yang
    dibutuhkan dan mudah dalam mencari barang yang dibutuhkan.
  2. Mempunyai manfaat
    Produk yang dibeli sangat berarti dan bermanfaat bagi konsumen.
  3. Ketepatan dalam membeli produk
    Harga produk sesuia kualitas produk dan sesuai dengan keinginan konsumen.
  4. Pembelian berulang
    Keadaan dimana konsumen merasa puas dengan transaksi sebelumnya
    sehingga berniat selalu melakukan transaksi dimasa yag akan datang.