Teori Motivasi Maslow


Menurut Maslow dalam Setiadi (2015:39) tingkat kebutuhan yang paling
rendah ialah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang tertinggi ialah kebutuhan akan
perwujudan diri (self-astualization needs). Kebutuhan tersebut didefinisikan
sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), merupakan kebutuhan
    mempertahankan hidup dan bukti yang nyata akan tampak dalam
    pemenuhannya atas sandang, pangan dan papan. Dan konsumen membeli
    suatu produk agar dapat memenuhi kebutuhan.
  2. Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan (Safety and Security Needs), dapat
    terlihat pada kebutuhan akan kebebasan dari ancaman, yakni aman dari
    ancaman kejadian atau lingkungan. Seperti konsumen membeli suatu
    produk karena produk tersebut dapat menghadirkan rasa aman baginya.
    Misalnya dalam hal pembelian ponsel, ponsel dapat mempermudah
    konsumen saat dalam waktu genting atau keadaan darurat.
  3. Kebutuhan Sosial (Social Needs), merupakan kebutuhan yang paling
    penting untuk diperhatikan segera setelah kebutuhan rasa aman dan
    kebutuhan psikologis sudah terpenuhi. Seperti produk yang digunakan
    konsumen dapat membantu ataupun meningkatkan kebutuhan sosialnya.
  4. Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs), lebih bersifat egoistik dan berkaitan
    erat dengan status seseorang. Semakin tinggi status seseorang maka akan
    semakin tinggi pula kebutuhannya akan suatu pengakuan, penghormatan,
    prestise dan lain-lain. Seperti produk yang digunakan dapat
    menggambarkan citra diri konsumen.
  5. Kebutuhan Perwujudan Diri (Self-Actualization Needs), merupakan
    kebutuhan tertinggi. Yaitu kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan
    memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi. Motivasi
    yang ada pada diri konsumen akan mewujudkan suatu tingkah laku yang
    diarahkan pada tujuan yang mencapai sasaran kepuasan. Dengan kata lain,
    produk yang digunakan konsumen dapat menjadi alat dalam aktualisasi diri.