Setiap masyarakat pastilah membutuhkan pelayanan. Salah satu
pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah pelayanan yang
dilaksanakan oleh birokrasi publik atau pemerintah. Pelayanan yang
diberikan oleh pemerintah atau birokrat adalah pelayanan publik.
Kurniawan dalam Sinambela (2006:5) memberikan pengerrtian mengenai
pelayanan publik sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang
atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai
dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Dwiyanto (2006:136) pelayanan publik dapat
didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh birokrasi
publik untuk memenuhi warga pengguna. Pengguna yang di maksud disini
adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik seperti kartu
tanda penduduk (KTP), akte kelahiran, akta nikah, akte kematian, sertifikat
tanag, ijin saham, ijin mendirikan bangunan (IMB), Ijin gangguan (HO),
izin pengambilan air bawah tanah, berlangganan air minum, listrik dan
sebagainya.
Oleh Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
81 Tahun 1993 yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2004 mendefinisikan
pelayanan umum sebagai berikut :
Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh Instansi
Pemerintah di Pusat, di daerah, dan di Lingkungan Badan Usaha Milik
Negara atau badan Usaha Milik Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa,
baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam
rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Di dalam penyelenggaraan pelayanan publik dapat dibedakan
menjadi tiga kelompok pelayanan publik (keputusan MENPAN Nomor 63
Tahun 2004) :
a) Kelompok Pelayanan Administratif
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi
yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status kewarganegaraan,
serrtifikat kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu
barang dan sebagainya.
b) Kelompok Pelayanan Barang
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk/jenis barang yang
digunakan oleh publik, misalnya jaringan telepone, penyedia tenaga
listrik, air bersih, dan sebagainya.
c) Kelompok Pelayanan Jasa
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang
digunakan oleh publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan kesehatan,
penyelenggaraan tranportasi dan sebagainya
Pengertian Pelayanan
Pelayanan mempunyai arti yang berbeda-beda. Moenir (2001 : 12 – 15)
menyebutkan timbulnya pelayanan dikarenakan adanya dua faktor, yaitu
faktor yang bersifat ideal dan yang bersifat material. Faktor yang bersifat
ideal mendasar ada 3 jenis, yaitu : adanya rasa cinta dan kasih sayang; adanya
keyakinan untuk saling tolong-menolong sesamanya; dan adanya keyakinan
bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah salah satu bentuk amal saleh.
Sedangkan faktor material adalah organisasi, yang menimbulkan hak dan
kewajiban, baik ke dalam maupun ke luar.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1995 : 571) , pelayanan berasal
dari kata layan (melayani) yang berarti membantu menyiapkan (mengurus)
apa-apa yang diperlukan seseorang. Selanjutnya Sampara berpendapat dalam
Sinambela (2008 : 5), pelayanan adalah suatu kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik,
dan menyediakan kepuasan langganan. Sementara itu Moenir (2001 : 7)
mendefinisikan pelayanan sebagai proses pemenuhan kebutuhan melalui
aktivitas orang lain secara langsung. Pelayanan yang diperlukan manusia
pada dasarnya ada dua jenis, yaitu layanan fisik yang sifatnya pribadi sebagai
manusia dan layanan administrasi yang dberikan oleh orang lain selaku
anggota organisasi, baik itu organisasi massa atau negara.
Definisi pelayanan juga diberikan oleh Ivancevich, Lorenzi, Skinner dan
Crosby dalam Ratmino (2007 : 2), yaitu bahwa pelayanan adalah produk-
produk yang tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha-
usaha manusia dan menggunakan peralatan. Pengertian lain mengenai
pelayanan juga diberikan oleh Gronroos dalam Ratminto (2007 : 2) ,
pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat
tidak kasat mata (tidak bisa diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya
interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan
oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksud untuk memecahkan
permasalahan konsumen/ pelanggan.
Pelayanan mempunyai persamaan dengan jasa. Kotler (1996 : 96)
mendefinisikan jasa sebagai berikut :
“jasa sebagai setiap tindakan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak
pada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud, serta tidak menghasilkan
kepemilikan seusatu”.
Terdapat empat karakteristik utama dari jasa yang dikemukakan oleh Tjiptono
(1997 : 24–27), yaitu :
a. Intangibility
Jasa bersifat intangible, maksudnya tidak dapat dilihat, dirasa, dicium,
didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Konsep intangible
pada jasa memiliki dua pengertian, yaitu :
1). Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa.
2). Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan,
atau dipahami secara rohaniah.
Dengan demikian orang tidak dapat menilai kualitas jasa
sebelum merasakan atau mengkonsumsinya sendiri. Bila pelanggan
membeli suatu jasa, ia hanya menggunakan atau memanfaatkan jasa
tersebut. Pelanggan tersebut tidak lantas memiliki jasa yang dibelinya.
b. Insepatability
Interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus
dalam pemasaran jasa. Kedua pihak mempengaruhi hasil (outcome) dari
jasa tersebut. Dalam hubungan penyedia
c. Variability
Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan non- standardized
output, artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada
siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
d. Perishability
Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
Untuk pelayanan dapat berjalan dengan baik maka dibutuhkan aspek-aspek
yang mendukung pelayanan. Menurut Parasuraman dalam Suryokusumo
(2008:29-31), prasyarat dalam pelayanan meliputi lima aspek seperti di
bawah ini, yaitu :
1) Proses dan Prosedur
Proses dan prosedur pelayanan dapat meliputi prosedur
pelayanan langsung kepada pelanggan, dan proses pengolahan
pelayanan yang merupakan proses internal dalam menghasilkan
pelayanan. Dalam proses dan prosedur ini meliputi seluruh aktivitas
kegiatan pelayanan secara berurutan dimulai dengan aktivitas yang
dilakukan ketika pertama kali pelanggan datang, dan bahkan setelah
pelayanan itu selesai (after service).
2) Persyaratan Pelayanan
Persyaratan pelayanan merupakan hal-hal yang harus dipenuhi
oleh pelanggan untuk mendapatkan pelayanan. Persyaratan pelayanan
dapat berupa dokumen atau surat-surat. Persyaratan pelayanan perlu
diidentifikasi dari tiap aktivitas pelayanan sehingga untuk keseluruhan
persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelanggan termasuk biaya total
yang harus dibayar oleh pelanggan.
3) Sarana dan Prasarana yang dibutuhkan
Sarana pelayanan merupakan berbagai fasilitas yang diperlukan
dalam rangka memberikan pelayanan. Sarana yang digunakan dapat
merupakan sarana yang utama dan sarana pendukung. Sarana utama
merupakan saranan yang disediakan dalam rangka proses pelayanan
yang meliputi antara lain berbagai formulir, fasilitas pengolahan data.
Sedangkan sarana pendukung antara lain seperti penyediaan fasilitas
ruang tunggu yang nyaman, penyedia layanan antara dan lain-lain.
Sedangkan prasarana merupakan berbagai fasilitas yang mendukung
sarana pelayanan antara lain berupa jalan menuju kantor pelayanan.
4) Waktu dan Biaya Pelayanan
Dengan ditentukannya waktu dan biaya yang terpakai untuk
setiap aktivitas yang dilakukan pada proses pengolahan, maka akan
dapat ditentukan waktu dan biaya yang akan digunakan untuk
melayani satu jenis pelayanan sejak awal pelanggan menemui
petugas pelayanan sampai pelayanan selesai dilakukan.
5) Pengaduan Keluhan
Pengaduan keluhan merupakan mekanisme yang dapat ditempuh
oleh pelanggan untuk menyatakan ketidakpuasaan terhadap
pelayanan yang diterima. Pengaduan keluhan merupakan hal yang
sangat penting mengingatkan perbaikan kualitas pelayanan terus
menerus tidak lepas dari masukan pelayanan yang biasanya dalam
bentuk keluhan.
Setiap pelanggan atau pengguna layanan pastilah menginginkan
pelayanan yang memuaskan dari penyedia layanan. Moenir
(2001:41-44) menjelaskan bahwa wujud pelayanan yang
didambakan oleh pengguna jasa itu harus mencakup antara lain :
a) Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan dengan
pelayanan yang cepat dalam arti tanpa hambatan yang kadang
kala dibuat-buat.
b) Memperoleh pelayanan secara wajar tanpa gerutu, sindiran atau
untaian lain semacam itu yang nadanya mengarah pada
permintaan sesuatu baik dengan lasan untuk
organisasi/perusahaan atau alasan untyk kesejahteraan.
c) Mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan terhadap
kepentingan yang sama, tertib dan tidak pandang “bulu”.
d) Pelayanan yang jujur dan terus terang, artinya apabila ada
hambatan suatu masalah yang tidak dapat dielakkan hendaknya
diberitahukan, sehingga orang tidak menunggu sesuatu yang tidak
menentu
Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.
Menurut teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa
pelanggan yang puas dan loyal terhadap sebuah perusahaan cenderung lebih
jarang menawar harga untuk setiap pembelian individualnya. Menurut teori dari
Fandy Tjiptono (2015: 53) menyatakan bahwa berbagai penelitian memilah
kepuasan pelanggan ke dalam komponen-komponennya. Salah satu langkah nya
yaitu yang kedua dimana meminta pelanggan menilai produk dan atau jasa
perusahaan berdasarkan item-item spesifik, seperti harga dan Kualitas pelayanan.
Lonardo dan Soelasih (2014:27) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
positif terhadap kualitas produk dan harga pada kepuasan kosumen. Sehingga
dapat dimungkinkan terdapat hubungan antara harga terhadap kepuasan
konsumen. Sedangkan menurut Lumintang (2018:1778) menyatakan bahwa
terdapat pengaruh harga terhadap kepuasan peserta. Penelitian ini sejalan dengan
penelitian Ari Prasetiyo (2012:1) yang menyatakan bahwa secara parsial harga
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan peserta. Berdasarkan penelitian dari
Fachrul Rizal (2017: 345) menyatakan bahwa secara tidak langsung terdapat
pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. Kemudian penelitian dari Jalal
Hanaysha (2015: 31) menyatakan bahwa terdapat pengaruh siginifikan antara
kewajaran harga dengan kepuasan peserta.
Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka.
Menurut Dita Amanah (2010:85) menyatakan bahwa harga dan kualitas
produk berpengaruh terhadap kepuasan konsumen. Menurut Shandy Widjojo P
(2014:8) menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh terhadap kepuasan
konsumen. Sedangkan menurut Andi Faisal dan Jafar Basalamah (2019: 20)
menyatakan bahwa secara parsial menunjukan terdapat pengaruh dari ketiga
variabel bebas yaitu kualitas produk, kualitas pelayanan dan CRM terhadap
kepuasan peserta. Ini sejalan dengan penelitian dari Resty Avita Haryanto (2013:
1473) menyatakan bahwa kualitas produk secara parsial berpengaruh terhadap
kepuasan. Menurut penelitian dari Winarni Saftarya (2015:109) menyatakan
bahwa kualitas produk dan Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan
pelanggan
Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta
Berdasarkan teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa pada
hakikatnya kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena
dibutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi dengan dasar kualitas pelayanan prima, dan kerapkali juga dituntut
investasi besar pada serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk membahagiakan
pelanggan saat ini dan masa depan. Sedangkan teori dari Ali Hasan (2008: 66)
menyatakan bahwa surplus konsumen dengan konsep kepuasan pelanggan,
mempertimbangkan faktor harga dan kuantitas, kualitas pelayanan dan kemasan.
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa biasanya
perusahaan yang tingkat kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat
layanan pelanggan yang tinggi pula. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
diperlukan dukungan dari semua sumber daya organisasi, serta tanggung jawab
penuh pimpinan tingkat korporat. Karyawan seagai garis terdepan menjadi ujung
tombak perusahaan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan
berkewajiban memberikan pelayanan kepada pelanggan, yaitu memuaskan
pelanggan.
Menurut Eni Sudjiani (2019:123) menyatakan bahwa kualitas pelayanan
berpengaruh terhadap kepuasan peserta pada penelitian di bidang pendidikan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heldalina dan M
Riza Firdaus (2018:238), di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
variabel service quality (kualitas pelayanan) berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan nasabah.
Menurut penelitian Andi Faisal dan Jafar Basalamah (2019: 20)
menyatakan bahwa secara parsial menunjukan terdapat pengaruh dari ketiga
variabel bebas yaitu kualitas produk, kualitas pelayanan dan CRM terhadap
kepuasan peserta. Menurut penelitian Ari Prasetio (2012: 1) menyatakan bahwa
baik secara simultan atau parsial menghasilkan kualitas pelayanan berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan pelanggan, harga berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan
Indikator Kepuasan Peserta
Menurut Ali Hasan (2008:70) menyatakan bahwa indikator yang sebagai
determinasi kepuasan pelanggan pada produk jasa (intangible product) yaitu:
- Serviciability, yaitu tingkat kemudahan dan kecepatan pelayanan
- Accessibility, yaitu letak yang mudah di akses
- Communication, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa konsumen
- Competence, tingkat keterampilan menyelesaikan masalah
- Courtesy, sikap sopan dan bersahabat dengan konsumen
- Reliability, kemampuan mewujudkan pelayanan sesuai promosi
- Security, keamanan, keterjaminan dan legalitas
- Tangibles, wujud fisik, gedung, peralatan-peralatan
- Understanding – customer, pemahaman kebutuhan dan keinginan
pelanggan
Pengertian dan Fungsi Pajak
Pajak merupakan suatu fenomena menarik dalam kehidupan masyarakat
dan negara. Ini tercermin dari pengertian pajak itu sendiri yaitu, “Pembayaran
(pengalihan) sebagian harta kekayaan yang dimilki oleh masyarakat kepada
negara yang dapat dipaksakan berdasarkan undang-undang, namun pembayarnya
tidak mendapatkan suatu balas jasa secara langsung, untuk digunakan membiayai
pengeluaran negara guna meningkatkan kualitas masyarakatnya”. (Pandingan,
2002:19).
Dari pengertian tersebut terlihat adanya dua pihak saling berhadapan yaitu
masyarakat (di satu pihak), dengan pemerintah atau negara (di pihak lain). Bahwa
melalui sarana pajak, maka sebagian harta kekayaan masyarakat akan mengalir
kepada negara berdasarkan sistem dan mekanisme yang telah ditetapkan,
walaupun masyarakat tidak memperoleh balas jasa secara langsung dari negara
dari pembayaran pajak tersebut.
Ada banyak definisi atau batasan pajak yang telah dikemukakan oleh para
pakar, yang satu sama lain pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu
merumuskan pengertian pajak sehingga mudah dipahami. Definisi-definisi
tersebut sebagaimana disusun oleh Tjahjono (2005:2) antara lain:
- Rochmat Soemitro
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor
partikelir ke sektor pemerintah) berdasarkan Undang-Undang (dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (tegen prestatie) yang
langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran
umum.
Definisi tersebut kemudian disempurnakan pada saat beliau berpidato di depan
wisuda sarjana Universitas Parahyangan yang kemudian dikemukakan dalam
buku Pajak dan Pembangunan sebagai berikut :
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk
membiayai pengeluaran rutin dan “surplusnya” digunakan untuk public saving
yang merupakan sumber utama untuk membiayai public invesment. - S.I. Djajadiningrat
Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian daripada kekayaan ke
kas negara disebabkan suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang
memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut
peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada
jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan
umum.
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan tentang ciri-
ciri yang melekat pada pengertian pajak:
a. Pajak dipungut oleh negara (pemerintah pusat maupun pemda) berdasarkan
kekuatan Undang-Undang serta aturan pelaksanaannya.
b. Dalam pembayaran pajak-pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra
prestasi individu oleh pemerintah atau tidak ada hubungan langsung antara
jumlah pembayaran dengan kontra prestasi secara individu.
c. Penyelenggaraan pemerintah secara umum merupakan kontra prestasi
negara.
d. Diperuntukkan bagi pengeluaran rutin pemerintah jika masih surplus
digunakan untuk public invesment.
e. Pajak dipungut disebabkan adanya suatu keadaan, kejadian dan perbuatan
yang memberikan kedudukan tertentu kepada seseorang.
f. Pajak dapat pula mempunyai tujuan yang tidak budgetair yaitu mengatur.
(Sukardji, 2005:2).
Sedangkan yang dimaksud dengan hukum pajak adalah “Keseluruhan dari
aturan-aturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil kekayaan
seseorang dan menyerahkannya kembali melalui kas negara, sehingga ia
merupakan bagian dari hukum publik, yang mengatur hubungan-hubungan hukum
antara negara dan orang-orang atau badan-badan (hukum) yang berkewajiban
membayar pajak”. (Brotodihardjo, 2008:4).
Undang-Undang Pajak sebagai bagian dari hukum yang mengikat warga
negara merupakan elemen penting dalam menunjang pembangunan ekonomi. Saat
ini, pajak merupakan kontributor terbesar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN), yang berarti perannya sangat besar bagi kelangsungan
pembangunan bangsa ini. Untuk meningkatkan penerimaan pajak, diperlukan
perangkat hukum yang mengatur “pemajakan” terhadap rakyat. Prinsip yang
utama adalah adanya keadilan pengenaan pajak. Keadilan akan tercapai jika
adanya kepastian Undang-Undang Perpajakan
Ciri-Ciri Pelayanan yang Baik
Menurut Kashmir ( 2005 : 33-39 ) Dalam praktiknya, pelayanan yang baik
memiliki ciri-ciri tersendiri dan hampir semua perusahaan menggunakan kriteria
yang sama untuk membentuk ciri-ciri pelayanan yang baik tersebut. Adapun ciri-
ciri pelayanan yang baik adalah sebagai berikut :
- Tersedianya karyawan yang baik.
Kenyamanan pelanggan sangat tergantung dari karyawan yang melayaninya,
oleh karena itu karyawan harus ramah, sopan dan menarik. Disamping itu,
karyawan harus cepat tanggap, pandai bicara menyenangkan, mampu memikat
dan mengambil hati pelanggan sehingga pelanggan semakin tertarik. Oleh
karena itu, sebelum melayani pelanggan karyawan harus melalui pendidikan
dan latihan khusus serta kualitas karyawan juga harus sesuai dengan standar
perusahaan. - Tersedianya sarana dan prasarana yang baik.
Salah satu hal yang penting diperhatikan dalam melayani pelanggan selain
kualitas dan kuantitas sumber daya manusia adalah sarana dan prasarana yang
dimiliki perusahaan. Fasilitas yang dimiliki seperti ruang tunggu harus
dilengkapi berbagai fasilitas yang mampu membuat pelanggan merasa nyaman
atau betah dalam ruangan tersebut. Karena kelengkapan dan kenyamanan
sarana dan prasarana ini akan membuat pelanggan merasa betah untuk
berurusan dengan perusahaan. - Bertanggung jawab kepada setiap pelanggan sejak awal samapai selesai.
Bertanggung jawab kepada pelanggan sejak awal hingga selesai artinya dalam
menjalankan kegiatan pelayanan karyawan harus mampu melayani dari awal
sampai tuntas atau selesai. Pelanggan akan merasa puas jika pelanggan
bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diinginkannya. Resiko apabila
ada pelanggan yang dilayani tidak secara tuntas akan menjadi preseden yang
buruk bagi perusahaan. Pelanggan yang tidak puas akan selalu membicarakan
hal-hal yang negatif tentang perusahaan. - Mampu melayani secara cepat dan tepat.
Mampu melayani secara cepat dan tepat artinya dalam melayani pelanggan
diharapkan harus melakukannya sesuai prosedur. Layanan yang diberikan
sesuai jadwal untuk pekerjaan tertentu dan jangan membuat kesalahan dalam
arti pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar perusahaan dan keinginan
pelanggan. Melayani secara cepat artinya melayani dalam batasan waktu yang
normal. Pelayanan untuk setiap transaksi sudah memiliki standar waktu.
Proses pekerjaan harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Proses
yang terlalu lama dan berbelit-belit akan membuat pelanggan menjadi tidak
betah dan malas untuk menjalin kerjasama dan berhubungan kembali. Maksud
ketepatan dalam hal ini adalah berusaha meminimalisir kesalahan dalam hal
pembicaraan maupaun pekerjaan, karena kesalahan akan membuat pelanggan
kesal yang menimbulkan anggapan perusahaan tidak profesional. - Mampu berkomunikasi dengan baik.
Mampu berkomunikasi artinya pemberi layanan harus mampu berbicara
kepada setiap pelanggan, serta dengan cepat memahami keinginan pelanggan.
Komunikasi harus dapat membuat pelanggan senang sehingga jika pelanggan
memiliki masalah, pelanggan tidak segan-segan mengemukakannya kepada
pemberi layanan. - Memberikan Jaminan kerahasiaan setiap transaksi.
Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi artinya pemberi layanan
harus menjaga kerahasiaan pelanggan terutama yang berkaitan dengan
keuangan dan pribadi pelanggan. Pada dasarnya, menjaga rahasia pelanggan
sama artinya dengan menjaga rahasia perusahaan. Oleh karena itu, pemberi
layanan harus mampu menjaga rahasia pelanggan terhadap siapapun, karena
menjaga rahasia nasabah merupakan ukuran kepercayaan pelanggan kepada
perusahaan. - Memiliki kemampuan dan Pengetahuan yang baik.
Pemberi layanan harus dididik khusus mengenai kemampuannya dan
pengetahuannya untuk menghadapi pelanggan atau kemampuan dalam
berkerja. Kemampuan dalam bekerja akan mampu mempercepat proses
pekerjaan sesuai dengan waktu yang diinginkan.
Demikian pula dengan ketepatan dan keakuratan pekerjaan juga terjamin.
Dalam hal ini kualitas manusia tersebut perlu dididik sesuai dengan bidang
pengetahuannya. Risiko dari ketidakmampuan dalam melayani pelanggan
akan berakibat fatal yaitu keterlambatan dan ketidaktepatan pekerjaan
sehingga membuat kesalahan dan tidak mampu melayani pelanggan. - Berusaha memahami kebutuhan pelanggan.
Berusaha memahami kebutuhan pelanggan artinya pemberi layanan harus
cepat tanggap terhadap apa yang diinginkan oleh pelanggan. Petugas pemberi
layanan harus lebih dulu berusaha untuk mengerti kemauan pelanggan dengan
cara mendengar penjelasan, keluhan atau kebutuhan pelanggan secara baik
agar pelayanan terhadap keluhan atau keinginan yang diharapkan pelanggan
tidak salah. - Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan.
Kepercayaan merupakan ujung tombak perusahaan untuk menjalankan
aktivitasnya. Sekali pelayanan yang diberikan dapat memuaskan pelanggan,
maka akan menimbulkan kepercayaan. Dengan demikian calon pelanggan
mau menjadi pelanggan perusahaan yang bersangkutan karena telah memiliki
kepercayaan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan
antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang mereka terima.
Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para
pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka terima.
Menurut Lewis & Booms dalam Tjiptono & Chandra (2005:43), kualitas
pelayanan sebagai ukuran seberapa baik tingkat layanan yang diberikan mampu
sesuai dengan harapan pelanggan. Sedangkan menurut Tjiptono (2001:72),
kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian
atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yaitu: Jasa yang diharapkan dan jasa yang
dirasakan/dipersepsikan. Apabila jasa yang dirasakan sesuai dengan jasa yang
diharapkan, maka kualitas pelayanan tersebut akan dipersepsikan baik atau positif.
Jika jasa yang dipersepsikan melebihi jasa yang diharapkan, maka kualitas jasa
dipersepsikan sebagai kualitas ideal. Demikian juga sebaliknya apabila jasa yang
dipersepsikan lebih jelek dibandingkan dengan jasa yang diharapkan maka
kualitas jasa dipersepsikan negatif atau buruk. Maka baik tidaknya kualitas
pelayanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisten.
Untuk mempermudah penilaian dan pengukuran kualitas pelayanan
dikembangkan suatu alat ukur kualitas layanan yang disebut SERVQUAL
(service Quality). SERVQUAL ini merupakan skala multi item yang dapat
digunakan untuk mengukur persepsi pelanggan atas kualitas layanan yang
meliputi lima dimensi (Zeithami, 2004:65), yaitu:
- Tangibles (bukti langsung), yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam
menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan
kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan
sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan perusahaan. - Reliability (kehandalan) yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang
dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan. Kinerja harus sesuai dengan
harapan pelanggan yang berarti ketetapan waktu, pelayanan yang sama untuk
semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap simpatik dan akurasi yang tinggi. - Responsiveness (daya tanggap) yaitu kemampuan maskapai penerbangan
untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat
kepada para pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas.
Membiarkan pelanggan menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas
menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. - Assurance (jaminan), adanya kepastian yaitu pengetahuan, kesopan santunan
dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya
para pelanggan kepada pelayanan perusahaan yang memiliki beberapa
komponen antara lain:
a. Communication (komunikasi), yaitu secara terus menerus memberikan
informasi kepada pelanggan dalam bahasa dan penggunaan kata yang jelas
sehingga para pelanggan dapat dengan mudah mengerti di samping itu
perusahaan hendaknya dapat secara cepat dan tanggap dalam menyikapi
keluhan dan komplain yang dilakukan oleh pelanggan.
b. Credibility (kredibilitas), perlunya jaminan atas suatu kepercayaan yang
diberikan kepada pelanggan, believability atau sifat kejujuran.
Menanamkan kepercayaan, memberikan kredibilitas yang baik bagi
perusahaan pada masa yang akan datang.
c. Security (keamanan), adanya suatu kepercayaan yang tinggi dari
pelanggan akan pelayanan yang diterima. Tentunya pelayanan yang
diberikan memberikan suatu jaminan kepercayaan yang maksimal.
d. Competence (kompetensi) yaitu ketrampilan yang dimiliki dan dibutuhkan
agar dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan dapat dilaksanakan
dengan optimal.
e. Courtesy (sopan santun), dalam pelayanan adanya suatu nilai moral yang
dimiliki oleh perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan.
Jaminan akan kesopan santunan yang ditawarkan kepada pelanggan sesuai
dengan kondisi dan situasi yang ada. - Empathy (empati), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat
individu atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan
memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami
kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian
yang nyaman bagi pelanggan
Pengertian Pelayanan
Menurut Kotler (2000:42), pelayanan merupakan setiap tindakan atau
kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya
tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Menurut Umar
(2003:21), pelayanan secara umum adalah rasa menyenangkan yang diberikan
kepada orang lain disertai kemudahan-kemudahan dan memenuhi segala
kebutuhan mereka.
Pelayanan adalah merupakan suatu tindakan atau perbuatan seseorang atau
organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggannya atau konsumennya
(Kasmir 2005 : 26). Secara umum pelayanan dapat diartikan dengan melakukan
kegiatan atau perbuatan yang hasilnya ditujukan untuk kepentingan orang lain,
baik perorangan, kelompok atau masyarakat.
Moenir (2002:6) mengemukakan pelayanan timbul karena adanya
kewajiban sebagai suatu proses penyelenggaraan kegiatan organisasi, baik
organisasi pemerintah maupun organisasi swasta.
Pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan landasan faktor materiil melalui sistem, prosedur dan
metode tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan orang lain sesuai haknya.
Menurut Payne (2000:11), pelayanan adalah rasa menyenangkan atau
tidak menyenangkan yang oleh penerima pelayanan pada saat memperoleh
pelayanan. Payne juga mengatakan bahwa pelayanan pelanggan mengandung
pengertian:
- Segala kegiatan yang dibutuhkan untuk menerima, memproses,
menyampaikan dan memenuhi pesanan pelanggan dan untuk menindak lanjuti
setiap kegiatan yang mengandung kekeliruan. - Ketepatan waktu dan reliabilitas penyampaian jasa kepada pelanggan sesuai
dengan harapan mereka. - Serangkaian kegiatan yang meliputi semua bidang bisnis yang terpadu untuk
menyampaikan produk-produk dan jasa tersebut sedemikian rupa sehingga
dipersepsikan memuaskan oleh pelanggan dan merealisasikan pencapaian
tujuan-tujuan perusahaan. - Total pesanan yang masuk dan seluruh komunikasi dengan pelanggan.
- Penyampaian produk kepada pelanggan tepat waktu dan akurat dengan segala
tindak lanjut serta tanggapan keterangan yang akurat.
Pelayanan umum muncul karena adanya kepentingan umum. Pelayanan
umum bukanlah tujuan, melainkan suatu proses untuk mencapai sasaran tertentu
yang telah ditetapkan. Pelayanan berperan sebagai katalisator yang mempercepat
proses sesuai dengan apa seharusnya. Proses pemenuhan kebutuhan melalui
aktivitas orang lain inilah yang dinamakan pelayanan. Pengertian proses dalam
konteks ini terbatas pada kegiatan manajemen dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi. Jadi pelayanan yang dimaksud adalah pelayan dalam rangkaian
organisasi dan manajemen pelayanan umum
Kualitas Pelayanan Publik
Pemberian pelayanan yang baik merupakan salah satu upaya perusahaan
untuk menciptakan kepuasan bagi konsumennya. Jika konsumen merasa telah
mendapatkan pelayanan yang baik berarti perusahaan mampu memberikan
pelayanan yang baik. Demikian pula sebaliknya, pelayanan tidak dapat diuraikan
secara objektif seperti sebuah produk, melainkan merupakan interaksi sosial
dengan subjektivitas yang lebih tergantung pada nilai, parasaan dan perilaku.
Pelayanan yang berkualitas itu tidak hanya ditentukan oleh pihak yang
melayani, tetapi juga pihak yang ingin dipuaskan. Dan yang menjadi prinsip-
prinsip layanan yang berkualitas menurut H.A.S. Moenir (2002:205) antara lain :
a. Proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal.
b. Proses dan prosedur itu harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat.
c. Disiplin bagi pelaksanaan untuk mentaati proses dan prosedur
d. Perlu peninjauan proses dan prosedur oleh pimpinan, sewaktu-waktu dapat
dirubah apabila perlu.
e. Perlu menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembang budaya
organisasi untuk menciptakan kualitas layanan.
f. Kualitas berarti memenuhi keinginan, kebutuhan dan selera konsumen.
g. Setiap orang dalam organisasi merupakan partner dengan orang lainnya
Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Kegiatan pelayanan publik diselenggarakan oleh instansi pemerintah yang
merupakan sebutan kolektif meliputi satuan kerja atau satuan orang kementrian,
departemen, lembaga, pemerintahan non-departemen, dan instansi pemerintah
lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah.
Sedangakan yang berperan sebagai penerima pelayanan publik adalah orang,
masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum.
Dalam pasal 14 UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan penyelenggaran pelayanan publik memiliki beberapa hak sebagai
berikut :
a. Memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya
b. Melakukan kerjasama
c. Mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik
d. Melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai
dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik, dan
e. Menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan.
Dalam pasal 15 UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan publik berkewajiban sebagai
berikut :
a. Menyusun dan menetapkan standar pelayanan
b. Menyusun, menetapkan, dan mempublikasikan maklumat pelayanan
c. Menempatkan pelaksana yang kompeten
d. Menyediakan sarana, prasarana atau fasilitas pelayanan publik yang
mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai
e. Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik
Faktor Pendukung Pelayanan
Pelayan umum kepeda masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang
diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat
difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Pada proses pelayanan
terdapat faktor penting, dan setiap faktor mempunyai peranan yang berbeda-beda
tetapi saling berpengaruh dan secara bersama-sama akan mewujudkan
pelaksanaan pelayanan yang baik.
H.A.S Moenir (2002:88) berpendapat ada enam faktor pendukung
pelayanan, anatara lain :
a. Faktor kesadaran
Faktor kesadaran ini mengarah pada keadaan jiwa seseorang yang
merupakan titik temu dari beberapa pertimbangan sehingga diperoleh suatu
keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan jiwa.
b. Faktor aturan
Aturan sebagai perangkat penting dalam segala tindakan pekerjaan
seseorang. Oleh karena itu, setiap aturan secara langsung ataupun tidak langsung
akan sangat berpengaruh.
c. Faktor organisasi
Faktor organisasi tidak hanya terdiri dari susunan organisasi tetapi lebih
banyak pada pengaturan mekanisme kerja.
d. Faktor pendapatan
Faktor pendapatan yang diterima oleh seseorang merupakan imbalan atas
tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan orang lain. Pendapatan dalam bentuk
uang, iuran atau fasilitas dalam jaka waktu tertentu.
e. Faktor kemampuan
Faktor kemampuan merupakan titik ukur untuk mengetahui sejauh mana
pegawai dapat melakukan suatu pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
jasa sesuai dengan apa yang diharapkan.
f. Faktor sarana pelayanan
Faktor sarana yang dimaksud yaitu segala jenis peralatan, perlengkapan
kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pendukung utama dalam
mempercepat pelaksanaan penyelesaian pekerjaan
Unsur–unsur Pelayanan
Suatu proses kegiatan pelayanan terdapat beberapa faktor atau unsur yang
saling mendukung jalannya kegiatan. Menurut H.A.S Moenir (2002:8) yang
menjadi unsur-unsur dalam pelayanan adalah :
a. Sistem, prosedur, dan metode.
Dalam pelayanan perlu adanya informasi, prosedur dan metode yang
mendukung kelancaran dalam memberikan pelayanan.
b. Personil
Personil lebih ditekankan pada perilaku aparatur dalam pelayanan.
Aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan
terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana
Dalam pelayanan diperlukan peralatan dan ruang kerja serta fasilitas
pelayanan. Misalnya seperti ruang tamu, tempat parkir yang memadai dan
sebagainya.
d. Masyarakat sebagai pelanggan
Dalam pelayananya, masyarakat selaku pelanggan sangatlah heterogen
yaitu tingkat pendidikannya maupun perilakunya.
Standar Pelayanan Publik
Penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan
dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.
Penyusunan standar pelayanan dilakukan dengan pedoman tertentu yang diatur
lebih lanjut dalam UU No. 25 tahun 2009. Adapun komponen standar pelayanan
sekurang-kurangnya meliputi :
a. Dasar hukum
b. Persyaratan
c. Sistem, mekanisme dan prosedur
d. Jangka waktu penyelesaian
e. Biaya/ tarif
f. Produk pelayanan
g. Sarana, prasarana atau fasilitas
h. Kompetensi pelaksanaan
i. Pengawasan internal
j. Penanganan pengaduan, saran dan masukan
k. Jumlah pelaksana
l. Jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan
sesuai dengan standar pelayanan.
m. Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen
untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya dan resiko keragu-
raguan.
n. Evaluasi kinerja pelaksana
Asas Pelayanan Publik
Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan pengguna jasa,
penyelenggaraan pelayanan harus memenuhi asas-asas pelayanan. asas-asas
penyelenggaraan pelayanan publik diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor
25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang dikutip oleh Eny Kusdarini
(2011:190) yakni yang terdiri dari 12 asas :
a. Asas kepentingan umum
b. Asas kepastian hukum
c. Asas kesamaan hak
d. Keseimbangan hak dan kewajiban
e. Asas keprofesionalan
f. Asas partisipasif
g. Asas persamaan perlakuan/tindak deskriminatif
h. Asas keterbukaan
i. Asas akuntabilitas
j. Asas fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan
k. Asas ketepatan waktu
l. Asas kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan
Pelayanan Publik
Pengertian pelayanan publik telah didefinisikan oleh banyak pakar. Salah
satunya dikemukan oleh Agus Dwiyanto (2006:136) yang mendefisinikan
pelayanan publik sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi
publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna. Pengguna yang dimaksudkan
disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik, seperti
pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), akta kelahiran, akta nikah, dan
sebagainya.
Berdasarkan Undang Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik, Pelayanan publik diartikan segala bentuk kegiatan dalam rangka
pengaturan, pembinaan, bimbingan, penyediaan fasilitas, jasa dan lainnya yang
dilaksanakan oleh aparatur pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
kepada masyarakat sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
Publik
Istilah publik berasal dari bahasa inggris dengan kata “public” yang
berarti umum, masyarakat ataupun negara. Menurut Litjan Poltak Sinambella, dkk
(2011:5) Kata publik sebenarnya sudah diterima menjadi bahasa Indonesia baku
menjadi publik yang berarti umum, orang banyak atau ramai. Sedangkan Menurut
Inu Kencana Syafiie, dkk (1999:18) arti dari kata publik itu sendiri adalah
sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap
dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka
miliki.
Pelayanan
Pelayanan merupakan salah satu ujung tombak dari upaya pemuasan
pelanggan dan sudah merupakan keharusan yang wajib dioptimalkan baik oleh
individu maupun organisasi, karena dari bentuk pelayanan yang diberikan
tercermin kualitas individu atau organisasi yang memberikan pelayanan.
Menurut Hardiyansah (2011:11) “Pelayanan dapat diartikan sebagai
aktivitas yang diberikan untuk membantu, menyiapkan, dan mengurus baik itu
berupa barang atau jasa dari satu pihak ke pihak lain”. Pendapat lain mengenai
pelayanan juga dikemukakan oleh Gronross (dalam Ratminto dan Atik Septi
Winarsih, 2006:2) bahwa Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk pemberi
pelayanan untuk memecahkan permasalahan konsumen/ pelanggan
Konsep Pengukuran Kepuasaan
Menurut Hermanto (2019) terdapat 4 (empat) metode untuk mengukur
kepuasan pelanggan yaitu:
a. Sistem keluhan dan saran, artinya setiap perusahaan yang berorientasi pada
pelanggan perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para
pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan mereka.
Media yang bisa digunakan meliputi kotak saran yang diletakkan di tempat-
tempat strategis, menyediakan kartu komentar, menyediakan saluran telepon.
b. Survei kepuasan pelanggan, artinya kepuasan pelanggan dilakukan dengan
menggunakan metode survei, baik melalui pos, telepon, maupun wawancara
pribadi. Dengan melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
umpan balik secara langsung dari pelanggan sekaligus juga memberikan
tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap para
pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya sebagai berikut:
1) Directly reported satisfaction, yaitu pengukuran dilakukan secara
langsung melalui pertanyaan, seperti sangat tidak puas, tidak puas, netral,
puas, dan sangat puas.
2) Derived dissatisfacatin, yaitu pertanyaan yang menyangkut besarnya
harapan pelanggan terhadap atribut.
3) Problem analysis, artinya pelanggan yang dijadikan responden untuk
mengungkapkan dua hal pokok, yaitu (i) masalah-masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan (ii) saran-saran
untuk melakukan perbaikan.
4) Importance-performance analysis, artinya dalam teknik ini responden
dimintai untuk meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan
pentingnya elemen.
c. Ghost shopping, artinya metode ini dilaksanakan dengan cara
memperkerjakan beberapa orang (Ghost sopper) untuk berperan atau
bersikap sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan dan
perusahaan pesaing. Kemudian Ghost sopper menyampaikan temuan-temuan
mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan dan pesaing
berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
d. Lost customer analysis, artinya perusahaan menghubungi para pelanggannya
yang telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok dan diharapkan
diperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut.
Faktor Utama Dalam Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan
Perusahaan harus mempertimbangkan tingkat kepuasan pelanggan, terdapat
5 (lima) faktor utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan untuk kepuasan
pelanggan yaitu (Indrasari, 2019):
a. Kualitas produk
Pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa
produk yang mereka gunakan berkualitas yang bagus.
b. Kualitas pelayanan
Khususnya sektor industri jasa, jika sebuah perusahaan memberikan layanan
yang sangat baik atau memberikan seperti yang dijanjikan, pelanggan akan
pergi dengan senang atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
c. Emosional
Ketika konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan mereka
tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Pelanggan senang dengan merek tertentu bukan karena kualitas dari produk
tetapi nilai sosial yang membuat konsumen menjadi puas terhadap merek
tertentu.
d. Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga lebih
murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggan.
e. Biaya
Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
terhadap produk atau jasa itu.
Prinsip-Prinsip Dasar Kepuasaan Pelanggan
Persepsi dan harapan pelanggan memiliki peran besar dalam kepuasan
pelanggan. Sebuah perusahaan perlu mengetahui beberapa faktor yang
mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan. Berikut Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi dan harapan pelanggan yaitu (Hermanto, 2019):
a. Kebutuhan dan keinginan, yaitu berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan oleh
pelanggan saat pelanggan sedang mencoba melakukan transaksi dengan
perusahaan. Jika pada saat itu kebutuhan dan keinginan terhadap produk
BBM industri oleh PT Lancar Berkah Berlimpah yang ditawarkan oleh
perusahaan besar, maka itu akan meningkatkan harapan-harapan pelanggan
yang berkaitan dengan kualitas produk dan layanan perusahaan akan tinggi
pula, begitu juga sebaliknya.
b. Pengalaman masa lalu (terdahulu) ketika mengkonsumsi produk dan layanan,
baik dari perusahaan maupun perusahaan pesaing.
c. Pengalaman teman-teman, pelanggan dapat memperoleh manfaat dari
pengetahuan teman atau kenalan pelanggan tentang kualitas produk dan
layanan perusahaan yang akan didapat oleh pelanggan.
d. Komunikasi melalui upaya periklanan dan pemasaran atau persepsi yang
timbul dari image periklanan dan pemasaran yang akan direncanakan
perusahaan.
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan adalah respons emosional yang ditunjukkan oleh konsumen setelah
proses pembelian atau pelayanan yang di konsumsi berasal dari perbandingan
antara kinerja aktual terhadap harapan serta evaluasi pengalaman mengkonsumsi
produk atau layanan (Minarti, 2014), dan merupakan evaluasi dimana yang dipilih
yang sekurang-kurangnya atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil (autcome) tidak memenuhi harapan.
Perusahaan yang bergerak di bidang layanan (jasa), kepuasan pelanggan
merupakan bagian dari indikator dari keberhasilan atau hasil kinerja yang
diinginkan. Untuk mencapai tujuan organisasi secara legal, tidak melanggar hukum
dan tidak bertentangan dengan moral dan etika, Perfomance atau kinerja adalah
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu
perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam
upaya pencapaian (Afandi, 2018).
Kepuasaan konsumen adalah sejauh mana seseorang merasa bahwa
harapannya telah terpenuhi setelah membandingkan kinerja dan hasil (Sunyoto,
2015). Pelanggan dapat mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan umum
yaitu jika kinerja di bawah harapan, konsumen akan merasa kecewa tetapi jika
kinerja sesuai dengan harapan pelanggan akan merasa puas dan apa bila kinerja
melebihi harapan pelanggan maka pelanggan akan merasakan sangat puas senang.
Menurut Tjiptono (2014), kepuasan konsumen adalah evaluasi purnabeli
antara persepsi terhadap kinerja alternatif produk atau jasa yang dipilih memenuhi
atau melebihi harapan maka pelanggan akan merasa puas dan jika kinerja produk
atau jasa melelebihi harapan maka pelangggan akan merasa sangat puas. Apabila
persepsi terhadap kinerja atau hasil yang tidak memenuhi harapan, konsumen akan
merasa tidak puas. Oleh karena itu pelanggan yang senang dengan produk dan
layanan yang mereka terima dan lebih dimungkinkan konsumen akan membeli
kembali barang tersebut dan melakukan pembelian yang lain dan juga akan
merekomendasikan pada teman-teman tentang perusahaan tersebut dan produk-
produknya, serta kecil kemungkinan mereka berpaling ke pesaing-pesaing
perusahaan.
Mempertahankan kepuasaan pelanggan dan waktu ke waktu akan membina
hubungan yang baik dengan pelanggan, hal ini dapat meningkatkan keuntungan
perusahaan dalam jangka panjang. Namun, perusahaan harus berhati-hati agar tidak
terjebak pada keyakinan bahwa pelanggan harus dipuaskan tak peduli berapapun
biayanya (Rifa’i, 2019). Tidak semua pelanggan memiliki nilai yang sama bagi
perusahaan. Beberapa pelanggan layak menerima perlakuan khusus atau perhatian
dan pelayanan ynag lebih dibandingkan pelanggan lain. Tak perduli seberapa
banyak perhatian yang kita berikan pada mereka, dan tak peduli beberapa puasnya
mereka, akan selalu ada beberapa pelanggan yang memilih untuk tidak memberikan
umpan balik.
Indikator Kualitas Pelayanan
Mengukur kualitas layanan yang diharapakan oleh pelanggan, perlu diketahui
dimensi atau indikator yang digunakan oleh pelanggan dalam menilai pelayananan,
dimana 5 (lima) indikator kualitas layanan tersebut diantaranya yaitu sebagai
berikut (Bambang, 2013):
a. Berwujud (tangibles) yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam
menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan
fasilitas dan infrastruktur fisik perusahaan yang dapat diandalkan keadaan
lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari pelayanan yang
diberikan oleh pemberi jasa.
b. Keandalan (reliability) yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan secara akurat dan terpercaya yang dijanjikan.
Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap
yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi untuk memuaskan
pelanggan.
c. Ketanggapan (responsiveness) yaitu suatu kebijakan untuk mengutamakan
membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat (responsive)
dan tepat waktu kepada pelanggan, dengan memberikan informasi yang
jelas dan mudah dipahami/mengerti.
d. Jaminan dan Kepastian (assurance) yaitu pengetahuan, kesopan santunan
dan kemampuan para staff perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya
para pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
(courtesy).
e. Empati (emphaty) yaitu memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat
individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan
memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Dimana suatu perusahaan
diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan.
- Karyawan memprioritaskan kepentingan/kebutuhan pelanggan.
- Karyawan tanggap terhadap kepentingan/kebutuhan yang diinginkan
pelanggan. - Karyawan selalu siap merespon pelanggan.
- Karyawan menangani pelanggan dengan penuh perhatian dan
kesabaran. - Menyediakan tempat layanan yang nyaman dan aman.
Strategi Pelayanan Pelanggan
Total Quality Service merupakan derivasi TQM dalam industri jasa yang
mempunyai inti konsep bahwa dalam usaha meningkatkan kualitas jasa perusahaan
harus melibatkan komitmen dan kesadaran seluruh level kerja dalam perusahaan
yang mana usaha ini harus dilaksanakan terus-menerus sepanjang waktu sehingga
akan didapatkan peningkatan penjualan serta pangsa pasar yang lebih luas. Proses-
proses organisasi agar dapat memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan dan
harapan konsumen. Konsep TQS berfokus pada lima bidang, yaitu (HL et al., 2016):
a. Fokus pada Pelanggan
Sangat penting untuk mengidentifikasi pelanggan merupakan prioritas utama.
Apabila sudah dilakukan tahap selajutnya adalah mengindentifikasi atau
mempelajari kebutuhan, keinginan dan harapan mereka.
b. Keterlibatan Total
Keterlibatan total mengandung arti komitmen total. Manajemen harus
mendorong perbaikan kualitas bagi semua karyawan dan menunjukan
kualitas bagi semua karyawan dan menunjukan kualitas bagi semua karyawan
dan menunjukan kualitas kepemimpinan yang bisa memberikan inspirasi
positif bagi organisasi yang dipimpimnya.
c. Pengukuran atau Measurement
Kebutuhan adalah menyusun ukuran-ukuran dasar, baik internal maupun
eksternal bagi organisasi dan pelanggan.
d. Dukungan Sistematis
Manajemen bertanggungjawab dalam mengawasi proses penjaminan mutu
kualitas dengan cara membangun infrastruktur kualitas yang dikaitkan
dengan struktur manajemen internal dan menghubungkan kualitas dengan
sistem manajemen yang ada seperti perencanaan strategi, evaluasi kinerja,
pengakuan, penghargaan dan promosi karyawan dan komunikasi.
e. Perbaikan Berkesinambungan
Setiap orang bertanggungjawab untuk memandang semua pekerjaan sebagai
satu proses, mengatisipasi perubahan kebutuhan, memenuhi permintaan dan
harapan pelanggan, melakukan perbaikan incremental, mengurasi waktu
siklus dan mendorong dengan senang hati menerima umpan balik tanpa rasa
takut dan khawatir.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Adhari (2021) Kualitas Pelayanan dibedakan menjadi 2 (dua)
kriteria yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik dan kualitas pelayanan yang buruk.
Kualitas pelayanan bersifat tidak permanen atau kaku melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Perubahan ini berupa peningkatan kualitas pelayanan agar semakin lebih
baik dari sebelumnya (Indrasari, 2019). Dalam proses perubahan kualitas pelayanan
tersebut diperlukan beberapa hal untuk menunjang prosesnya yaitu survei atau
observasi kepada pelanggan, yang didalamnya berupa masukan, pendapat maupun
umpan balik tentang pelayanan yang telah diberikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan merupakan bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat
pelayanan yang diterima dengan tingkat pelayanan yang diharapkan (Zikri &
Harahap, 2022). Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan apa
yang diharapkan, maka kulitas pelayanan baik dan memuaskan. Kepuasaan yang
telah dibentuk dapat mendorong pelanggan untuk pembelian ulang dan akan
menjadi pelanggan setia.
Kulitas pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada memenuhi
kebutuhan dan persyaratan serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan
pelanggan. Pelayanan berlaku untuk semua jenis layanan yang disediakan oleh
perusahaan saat klien berada di perusahaan (Arianto, 2018).
Pengertian Kualitas
Perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang senantiasa memberikan
kualitas atau barang atau jasa yang ditawarkan. Kualitas menjadi satu modal utama
perusahaan untuk memasarkan produknya kepada pelanggan. Kualitas yang baik
akan memberikan kesan positif kepada pelanggan untuk menumbuhkan kepuasaan
terhadap pelanggan.
Kualitas sebagaimana disefinisikan Revita et al., (2021) Kualitas adalah suatu
strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi kebutuhan
dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara eksplisit dan implisit.
Menurut Bambang (2013) Kualitas adalah sejauh mana layanan yang disampaikan
memenuhi atau melampaui ekspektasi pelanggan
Pengertian Pelayanan
Pelayanan secara umum adalah setiap kegiatan yang diperuntukkan atau
ditunjukan dengan tujuan yang jelas untuk membuat pelangggan puas dan senang.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pelayanan adalah sebagai usaha
melayani kebutuhan orang lain, sedangkan melayani yaitu membantu menyiapkan
(membantu apa yang diperlukan seseorang). Pada hakekatnya pelayanan adalah
serangkaian kegiatan yang merupakan proses. Sebagai proses pelayanan
berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan orang
dalam masyarakat, proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain.
Pelayanan merupakan hal yang paling penting dalam sebuah organisasi.
Setiap karyawan yang bertanggung jawab melayani pelanggan harus keterampilan
dan kepercayaan diri melayani dan memenuhi keperluan pelanggan itu sendiri.
Pelayanan kepada pelanggan merupakan salah satu unsur terpenting dalam
komunikasi pemasaran. Pelayanan kepada pelanggan bertujuan memelihara dan
meningkatkan hubungan psikologis antara produsen dan pelanggan serta memantau
berbagai keluhan pelanggan. Persaingan yang semakin ketat sekarang ini, dimana
semakin banyak produsen yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan
pelanggan menyebabkan setiap perusahaan harus menempatkan orientasi kepada
pemenuhan kepuasan pelanggan sebagai tugas utama.
Menurut Laksana (2017) yang dimaksud dengan pelayanan merupakan setiap
tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain,
yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikian apapun.
Menurut Bambang (2013) bahwa pelayanan merupakan salah satu bentuk
kegiatan atau aktivitas yang diberikan oleh satu pihak atau lebih kepada pihak lain
yang memilki hubungan dengan tujuan untuk memberikan kepuasaan kepada pihak
kedua yang bersangkutan atas barang dan jasa yang diberikan.
Pelayanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus,
menyelesaikan keperluan kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Pada
banyak industri pelayanan adalah ujung tombak yang membuat suatu industri bisa
bertahan dalam dunia persaingan yang semakin ketat. Layanan merupakan standar
baru dan pelanggan menilai kinerja suatu perusahaan dari layanannya.
Ada tiga bentuk pelayanan dapat dikategorikan yaitu: layanan dengan lisan,
layanan dengan tulisan, layanan dengan perbuatan.
a. Layanan dengan lisan
Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas dibidang hubungan
masyarakat (humas), bidang layanan informasi dan bidang lain yang tugasnya
memberikan penjelasan atau informasi kepada siapa saja yang memerlukan
atau memintanya.
b. Layanan dengan tulisan
Bentuk layanan yang paling menonjol dalam pelaksanaan tugas tidak hanya
dari segi jumlah tetapi juga dari segi peranannya melalui layanan dengan
tulisan. Pada dasarnya pelayanan melalui tulisan tulisan cukup efisien
terutama layanan jarak jauh karena faktor biaya. Agar layanan dalam bentuk
tulisan dapat memuaskan pihak yang dilayani, satu hal yang dapat
diperhatikan adalah faktor kecepatan, baik dalam pengolahan masalah
maupun proses penyelesaiannya, (pengetikannya, penandatanganannya, dan
pengiriman kepada yang bersangkutan).
c. Layanan dengan perbuatan
Dilakukan oleh sebagian besar kalangan menegah dan bawah. Akibatnya,
hasil perbuatan atau pekerja tergantung keahlian dan keterampilan petugas
tersebut sangat menetukan
Model Kepuasan Peserta
Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:
- Contrast theory
Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
akan tidak puas. - Assimilation theory
Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan. - Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
berlaku
Model Kepuasan Peserta
Menurut Fandy Tjiptono (2011: 298) menyatakan bahwa secara garis
besar, riset-riset kepuasan pelanggan didasarkan pada 3 teori utama yaitu
diantaranya:
- Contrast theory
Bearsumsi bahwa konsumen akan membandingkan kinerja produk aktual
dengan ekspektasi pra pembelian. Apabila kinerja aktual lebih besar atau
sama dengan ekspektasi, maka pelanggan akan puas. Sebaliknya, jika
kinerja akttual lebih rendah dibandingkan ekpektasi, maka konsumen
akan tidak puas. - Assimilation theory
Menyatakan bahwa evaluasi purna beli merupakan fungsi positif dari
ekspektasi konsumen pra pembelian. Karena proses diskonfirmasi secara
psikologis tidak enak dilakukan, konsumen cenderung secara perseptual
mendistorsi perbedaan antara ekspektasi dan kinerjanya ke arah
ekspektasi awal. Dengan kata lain, penyimpangan dari ekspektasinya
cenderung akan diterima oleh konsumen bersangkutan. - Assimilation – contrast theory berpegangan bahwa terjadinya efek
asimilasi (assimilation effect) atau efek kontras (contrast effect)
merupakan fungsi dari tingkat kesenjangan antara kinerja yang di
harapkan dan kinerja aktual. Apabila kesenjangan nya besar, konsumen
akan memperbesar gap tersebut, sehingga produk dipersepsikan jauh lebih
bagus/buruk dibandingkan kenyataan nya (sebagaimana halnya contrast
theory). Namun, jika kesenjangannya tidak terlampau besar, assimilation
theory yang berlaku. Dengan kata lain, jika rentang deviasi yang bisa
diterima (acceptable deviation) dilewati, maka kesenjangan antara
ekspektasi dan kinerja akan menjadi signifikan dan di situla efek kontras
berlaku
Pengertian Kepuasan Peserta
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Eni Sudjiani (2019:127)
menyatakan bahwa “Customer satisfaction is the level on person’s fell stale
resultating fromcomparing a product’s perceived performance (or outcome) in
relation to the person’s expectation”. Yang artinya kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan konsumen dengan membandingkan harapan yang dimiliki
dengan realita atau hasil yang sebenarnya.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013:180) menyatakan bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja produk yang riil/ aktual
dengan kinerja produk yang di harapkan. Sedangkan menurut M Suyanto (2018:
76) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan senang atau kecewa dari
pelanggan yang berasal dari perbandingan antara kinerja produk dengan harapan.
Jika kinerja produk sesuai dengan harapan, pelanggan puas atau senang, dan
begitu juga sebaliknya
Indikator Harga
Menurut Setyo Ferry (2012:5) dalam penelitiannya, indikator harga yang
digunakan sebanyak 4 indikator, yaitu referensi harga, harga yang relatif lebih
murah, kesesuaian pengorbanan dan harga sesuai dengan manfaat produk.
Sedangkan menurut Rinaldi Bursan dalam Utari Wijayati dan Rahma
Wahdiniwaty (2014:22) menyatakan dimensi atau indikator harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan manfaat produk
- Kesesuaian harga dengan pendapatan atau uang saku yang diterima
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Sedangkan menurut Stanton dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4)
menyatakan bahwa indikator atau dimensi harga yaitu: - Keterjangkauan harga
- Perbandingan dengan merek lain
- Kesesuaian harga dengan kualitas
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Keputusan Harga
Menurut Ali Hasan (2008: 304) menyatakan bahwa keputusan tentang
harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan
perusahaan. Berikut ini adalah faktor yang memengaruhi keputusan harga:
- Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian (inflasi, resesi, tingkat suku bunga, anggaran),
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial sangat
memengaruhi tingkat harga yang berlaku. - Price elasticity
Elastisitas permintaan akan memengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume
penjualan ini berbanding terbalik, artinya jika terjadi kenaikan harga,
maka penjualan akan menurun, dan sebaliknya jika terjadi penurunan
harga, volume penjualan akan meningkat. - Non price factor
Pembeli mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah
produk demi harga yang lebih rendah. - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan. - Faktor legal dan etis
Faktor legasl dan etis biasanya menjadi alat pengawasan ppemerintah
dalam penentuan harga maksimum, minimum, atau harga tertentu. Serta
praktik lainnya demi mencegah keberlangsungan dan mencegah dari pasar
monopoli atau oligopoli. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus di koordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya, yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal,
sebab tingkat harga tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan
mengakibatkan kerugian. Begitupun sebaliknya. - Ukuran bisnis
Manajemen perlu memutuskan siapa yang harus menetapkan harga, setiap
perusahaan menetappkan harga menurut caranya masing-masing. - Persaingan
Kekuatan-kekuatan yang berpengaruh dalam persaingan setiap industri
adalah persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk substitusi,
pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. - Sifat pasar
Setiap perusahaan perlu memahami kaitan sifat pasar dan permintaan yang
dihadapinya, apakah termasuk persaingan sempurna, persaingan
monopolistik, oligopoli, atau monopoli.
Pengertian Harga
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 216) menyatakan bahwa harga
merupakan salah satu atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen, dan
manajer harus benar-benar menyadari peran tersebut dalam pembentukan sikap
konsumen. Pada kondisi tertentu konsumen sangat sensitif terhadap harga
sehingga harga suatu produk yang relatif tinggi dibandingkan para pesaingnya
dapat mengeliminasi produk dari pertimbangan konsumen. Dalam kasus lain,
harga dapat digunakan sebagai indikator pengganti kualitas produk, dengan hasil
produk yang berharga tinggi yang bisa dipandang positif oleh segmen pasar
tertentu.
Menurut M Suyanto (2018: 259) menyatakan bahwa harga merupakan
nilai yang akan membeli dalam jumlah yang terbatas, berat, atau ukuran lainnya
dari barang atau jasa. Sebagai pertimbangan yang diberikan dalam pertukaran
untuk transfer kepemilikan, harga membentuk dasar penting transaksi komersial.
Hal ini mungkin sudah ditetapkan oleh kontrak, meninggalkan yang ditentukan
oleh rumus yang disepakati di masa mendatang, atau diketahui atau di
negosiasikan selama transaksi antara pihak-pihak yang terlibat.
Kotler dan Keller (2012:25) harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa
yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalu tawar menawar, atau
ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
Menurut Ari Setyaningrum (2015: 128) menyatakan bahwa secara lebih luas dapat
dikatakan bahwa harga ialah jumlah semua nilai yang di berikan oleh konsumen
untuk memperoleh keuntungan atas kepemilikan atau penggunaan suatu produk
atau jasa. Secara historis, harga menjadi faktor utama yang memengaruhi pilihan
seorang pembeli. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong, dalam Erna
Susilawati dan Rahma Wahdiniwaty (2017: 17) menyatakan bahwa harga
merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih
jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakan sebuah produk
atau jasa.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2016: 218) menyatakan bahwa
penetapan harga merupakan salah satu keputusan terpenting dalam pemasaran.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).
Disamping itu, harga merupakan unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksible,
artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda halnya dengan karakteristik produk
atau komitmen terhadap saluran distribusi. Kedua hal tersebut tidak dapat diubah
dengan mudah dan cepat, karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Hasan dalam Aprillia Dewi Ratnasari (2016: 4) menyatakan
bahwa harga adalah segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh
konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari
barang beserta pelayanan dari suatu produk.
Indikator Kualitas Produk
Indikator kualitas produk menurut Kotler and Armstrong dalam Shandy
Widjoyo Putro (2014:3) menyatakan kualitas produk sebagai “the ablity of a
product to perform its functions. Its includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kualitas produk berhubungan erat dengan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsinya yaitu diantaranya:
- Keseluruhan Produk,
- Keandalan,
- Ketepatan,
- Kemudahan Pengoperasian,
- Atribut Bernilai Lainnya.
Konsep Produk
Menurut Fandy Tjiptono (2016: 176) menyatakan bahwa secara spesifik,
konsep produk terdiri atas 3 level yaitu:
- Core product, yakni semua manfaat pokok (core benefits) yang ditawarkan
produk kepada konsumen. Manfaat merupakan hasil yang diterima
konsumen dari penggunaan atau kepemilikan sebuha barang ataus
jasa.Contohnya, manfaat pokok sebuah mobil adalah untuk transportasi
dari satu tempat ke tempat lain. - Actual product, yaitu produk fisik atau delievered service yang
memberikan manfaat produk. Sebagai contoh, saat kita membeli tiket
pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, core product nya adalah time
critical transport, sedangkan actual product nya berupa nama merek Air
Asia, layout dan layanan terminal bandara, sistem booking dan fitur
lainnya. - Augmented product, yaitu actual product ditambah fitur-fitur pendukung
lainnya, seperti garansi, fasilitas kredit, layan antar, instalasi, dan reparasi
purna beli
Pengertian Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong dalam Utari
Wijayati dan Rahma Wahdiniwaty (2016: 37) adalah “product quality is the
ability of a product to perform its function, it includes the product’s several
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes”. Artinya kualitas produk adalah kemampuan produk untuk
menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari produk, keandalan,
kemudahan dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang lainnya.
Sedangkan menurut M Suyanto (2018: 214) menyatakan bahwa produk
konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat
yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi
pelanggan. Kualitas produk merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Menurut Hawkins (2010: 19)
menyatakan bahwa “a product quality is anything a consumer acquires or might
acquire to meet a perceived need. Consumer are generally buying need
satisfaction, not physical product attributes”. Yang artinya bahwa kualitas produk
merupakan sesuatu apapun yang diperoleh konsumen untuk memenuhi kebutuhan
atau keinginan yang dirasakan oleh konsumen. Pada umumnya konsumen
membeli karena ingin adanya kepuasan dalam produk tersebut, bukan hanya
atribut produk fisik saja. Sementara menurut John C Mowen (2001: 90)
menyatakan bahwa kualitas produk adalah evaluasi menyeluruh pelanggan atas
kebaikan kinerja barang atau jasa. Menurut Vincent dalam Jogi Morrison
Simanjutak dan Rahma Wahdiniwaty (2018: 195) menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi kualitas produk itu sendiri adalah kinerja, fitur,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, keandalan, kemudahan servis, estetika,
dan kualitas yang dirasakan.
Menurut Etta Mamang Sangadji (2013: 189) menyatakan bahwa meskipun
kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri
pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan, pertama produk harus
mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungsi penggunaannya yang
mana tidak perlu melebihi. Sedangkan menurut Nelly Nailatie Ma’arif (2008:
114) menyatakan bahwa “a product quality is a good that satisies the needs of the
consumer and is serving the objective of the existence of an organization. For a
business corporation, a product has to have value to be financially proftable. A
product is tangible in the nature”. Yang artinya suatu kualitas produk merupakan
barang yang memuaskan kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan dari
perusahaan. Untuk suatu bisnis, produk harus memiliki nilai yang menguntungkan
secara finansial dan berwujud
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017: 65) adalah sebagai berikut:
- Reliability, kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat
diandalkan dan akurat. - Responsiveness, kesediaan untuk membantu pelanggan dan
memberikan layanan yang cepat. - Assurances, pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga peserta percaya dan yakin. - Empathy, perhatian individual terhadap pelanggan.
- Tangibles, penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Sementara menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013:
100) menyatakan bahwa lima indikator kualitas jasa atau layanan adalah: - Kendalan (reliability), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan tepat (accurately) dan kemampuan untuk
dipercaya (dependably), terutama memberikan jasa secara tepat waktu
(on time), dengan cara yang sama sesuai dengan jadwal yang telah di
janjikan, dan tanpa melakukan kesalahan. - Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para
karyawan untuk membantu memberikan jasa yang dibutuhkan
konsumen. - Jaminan (assurances), meliputi pengatahuan, kemampuan, keramahan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya dari kontak personal untuk
menghilangkan sifat keragu-raguan konsumen dan membuat mereka
merasa terbebas dari bahaya dan risiko. - Empati, yang meliputi sikap kontak personal atau perusahaan untuk
memahami kebutuhan dan kesulitasn konsumen dalam bentuk
perhatian pribadimm dan kemudahan untuk melakukan komunikasi. - Produk fisik (tangible), tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan
saran komunikasi, dan lain-lain yang bisa dan harus ada dalam proses
jasa
Model Kualitas Jasa
Menurut Parasuraman dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 101)
menyatakan bahwa model kualitas jasa di identifikasi lima gap yang
menyebabkan kegagalan penyampaian jasa. Kelima gap tersebut adalah:
- Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, yaitu adanya
peredaan antara penilaian pelayanan menurut pengguna jasa dan persepsi
manajemen mengenai harapan pengguna jasa. - Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan
spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain karena tidak
memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
mengenai ketidaklayakan, tdak memadainya standardisasi tugas, dan tidak
adanya penyusunan tujuan. - Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa (service
delievery). Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
a) Ambiguitas pesan, yaitu sejauh mana pegawai dapat melakukan
tugas sesuai dengan harapan manajer dan tetap bisa memuaskan
pelanggan
b) Konflik pesan, yaitu sejauh mana pegawai meyakini bahwa
mereka tidak memuaskan semua pihak.
c) Kesesuaian pegawai dengan tugas yang harus dikerjakannya.
d) Kesesuaian teknologi yang digunakan pegawai.
e) Sistem pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainay sistem
penilaian dan sistem imbalan.
f) Kontrol yang dirasakan (perceived control), yaittu sejauh mana
pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk
menentukan cara pelayanan.
g) Kerja tim (team work), yaittu sejauh mana pegawai dan
manajemen merumuskan tujuan untuk memuaskan pelanggan
secara bersama-sama dan terpadu. - Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Ekspektasi
pelanggan atas kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan yang di
buat oleh perusahaan mengenai komunikasi pemasaran. - Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang diharapkan, yaitu adanya
perbedaan persepsi antara jasa yang dirasakan dan yang diharapkan oleh
pelanggan. Jika keduanya terbukti sama, perusahaan akan memperoleh itra
dan dampak positif.
Lima Perspektif Kualitas Pelayanan
Menurut Garvin dalam Fandy Tjiptono (2017: 129) menyatakan bahwa
setidaknya ada lima perspektif kualitas yang berkembang saat ini: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-based
approach, dan value based approach.
- Transcendental Approach
Dalam perspektif ini, kualitas dipandang sebagai innate excellence, yaitu
sesuatu yang secara intuitif bisa dipahami, namun nyaris tidak mungkin
dikomunikasikan, contohnya kecantikan atau cinta. Perspektif ini
menegaskan bahwa orang hanya bisa belajar memahami kualitas melalui
pengallaman didapatkan dari esposur berulang kali (repated exposure).
Misalkan produk atau jasa seni musik, drama, lukis, tari dan rupa. - Product based approach
Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas merupakan karakteristik,
komponen atau atribut obyektif yang dapat dikuantitatifkan dan dapat
diukur. Misalkan produk laptop yang memiliki spesifikasi mikro prosesor,
kapasitas memori, RAM, fitur tambahan (Wifi, web cam), harga, ukuran
dan berat yang berbeda-beda. - User based approach
Perspektif ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang
paling memuaskan preferensi seseorang (maximum satisfaction)
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi. Perspektif yang bersifat
subyektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa setiap
pelanggan memiliki kebutuhan dan keinginan masing-masing yang
berbeda satu sama lain, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
dengan kepuasan maksimum yang dirasakan nya. Misalkan masakan atau
makanan manis, asin, pedas, dan bersantan memiliki penggemarnya
masing-masing. - Manufacturing based approach
Persepektif ini bersifat supply based dan lebih berfokus pada praktik-
praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan kualitas
sebagai kesesuaian atau kecocokan dengan persyaratan (conformance to
requirement). - Value based approach
Perspektif ini memandang kualitas dari aspek nilai (value) dan harga
(price). Dengan mempertimbankan trade off antara kinerja dan harga,
kualitas didefinisikan sebagai affordable excellence, yakni tingkat kinerja
terbaik atau yang sepadan dengan harga yang di bayarkan. Kualitas dalam
persepektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas
paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Contohnya, mobil
ekonomis berkualitas berbeda dengan mobil mobil mewah yang
berkualitas
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017: 180) mendefinisikan kualitas pelayanan
atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Sedangkan menurut Parasuraman
dalam Arni Purwani dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa
kualitas pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan (persepsi)
pelanggan dengan Kualitas pelayanan yang diharapkan pelanggan.
Menurut Leon G Schiffman (2015: 139) menyatakan bahwa it is more
difficult for consumers to evaluate the quality of service than the quality of
products. This is true because of certain distinctive characteristic of service: they
are intangible, they are variable, they are pershable, and they are simultaneouly
produced and consumed. Yang artinya bahwa lebih sulit bagi konsumen untuk
mengevaluasi Kualitas pelayanan daripada kualitas produk. Ini benar karena
karakteristik khusus layanan tertentu: mereka tidak berwujud, mereka berupa
variabel, mereka mudah rusak karena harus mempertahankan reputasi, dan mereka
secara bersamaan diproduksi dan dikonsumsi.
Menurut Kotler dalam Etta Mamang Sangadji (2013: 99) menyatakan
bahwa kualitas pelayanan atau jasa merupakan kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut Atep Adya Brata (2003:
36) menyatakan bahwa berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukuran nya bukan
hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak ditentukan
oleh pihak yang dilayani, karena mereka lah yang menikmati layanan sehingga
dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka dalam
memenuhi kepuasan nya
Indikator Kepuasan Pelanggan
Indikator untuk mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92)
adalah:
- Kesesuaian harapan
yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi disimpulkan berdasarkan
kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja
perusahaan yang sebenarnya. - Minat berkunjung kembali
yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan ingin
membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan. - Kesediaan merekomendasikan
yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan akan
merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain seperti, keluarga,
teman, dan lainnya.
Konsep Kepuasan Pelanggan
Menurut Tjiptono (2019:79), “Pada dasarnya tujuan dari sebuah bisnis adalah
untuk menciptakan para pelanggan yang puas”. Terciptanya kepuasan pelanggan
dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan dan
pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang
dan terciptanya loyalitas pelanggan, serta membentuk rekomendasi gethok tular
positif yang menguntungkan bagi perusahaan. Secara sederhana, kepuasan pelanggan
dapat diartikan sebagai perbandingan antara harapan atau ekspektasi sebelum
pembelian dan persepsi terhadap kinerja setelah pembelian
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya telah
terpenuhi atau terlampaui.” Kepuasan pelanggan merupakan anggapan pelanggan
bahwa dengan menggunakan suatu produk Perusahaan tertentu dan harapannya telah
terpenuhi.
Menurut Kotler dan Keller (2016:153), kepuasan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang dihasilkan dengan membandingkan kinerja atau hasil produk
atau jasa yang dirasakan dengan harapan. Jika kinerja atau pengalaman tidak sesuai
harapan, maka pelanggan akan merasa tidak puas. Tetapi jika kenyataan sesuai dengan
harapan, maka pelanggan akan merasa puas. Dan jika kenyataan melebihi harapan,
maka pelanggan akan merasa sangat puas atau senang. Sedangkan Menurut Kotler dan
Armstrong (2017:39), kepuasan pelanggan dapat didefinisikan bahwa kepuasan
pelanggan tergantung pada persepsi kinerja produk relatif terhadap harapan pembeli.
Menurut Fatihudin dan Firmansyah (2019:206) kepuasan pelanggan adalah
pengukuran atau indikator sejauh mana pelanggan atau pengguna produk perusahaan
atau jasa sangat senang dengan produk-produk atau jasa yang diterima, kepuasan
pelanggan adalah perbandingan antara harapan terhadap persepsi pengalaman
(dirasakan/diterima)
Indikator harga
Indikator yang mempengaruhi pada harga menurut Kotler dan Amstrong
(2018:165), ada empat adalah sebagai berikut:
- Keterjangkauan harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk
biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek dan harganya juga berbeda dari
termurah sampai termahal. Harga yang sesuai dan terjangkau tentunya akan
menjadi pertimbangan konsumen untuk membeli produk. - Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen, orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya
perbedaan kualitas. Jika harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa
kualitasnya juga lebih baik. - Daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya.
Dalam hal ini mahal atau murahnya harga suatu produk sangat dipertimbangkan
oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut. - Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih
besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika
konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka
konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan
berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang pada produk tersebut.
Tujuan Penetapan Harga
Menurut Swastha dalam Indrasari (2019:41) menjelaskan bahwa tujuan
penetapan harga adalah sebagai berikut:
- Mendapatkan laba maksimum
Terjadinya harga ditentukan oleh penjual dan pembeli. Semakin besar daya beli
konsumen, maka semakin besar juga kemungkinan penjual untuk mendapatkan
tingkat harga yang lebih tinggi. - Mendapatkan pengembalian investasi yang ditargetkan atau pengembalian
padapenjualan bersih.
Harga yang dapat dicapai dalam penjualan dimaksudkan untuk investasi secara
berangsur. Dana yang dipakai untuk mengembalikan investasi hanya bisa diambil
dari laba perusahaan dan laba hanya bisa diperoleh apabila harga jual lebih besar
dari jumlah biaya sebelumnya. - Mencegah atau mengurangi persaingan
Untuk mengurangi persaingan dapat dilakukan melalui kebijakan harga. Hal
tersebut dapat diketahui apabila para penjual menawarkan barang dengan harga
yang sama. Oleh sebab itu, persaingan hanya mungkin dilakukan tanpa melalui
kebijakan harga. - Mempertahankan dan memperbaiki market share
Bagi perusahaan kecil yang memiliki kemampuan sangat terbatas, biasanya
penentuan harga ditujukan untuk sekedar mempertahankan market share.
Fungsi Harga
Ada beberapa fungsi harga bagi perusahaan maupun konsumen menurut
Firmansyah (2018:192) yaitu sebagai berikut:
- Sumber pendapatan dan atau keuntungan perusahaan untuk pencapaian
tujuanprodusen (harga di atas biaya-biaya produk dan memberikan keuntungan bagi
perusahaan). - Pengendali tingkat permintaan dan penawaran (terutama bila bersifat
elastik,permintaan meningkat jika harga turun dan sebaliknya). - Mempengaruhi program pemasaran dan fungsi-fungsi bisnis lainnya bagi
perusahaan. - Mempengaruhi perilaku konsumsi dan pendapatan masyarakat (harga rendah dapat
meningkatkan konsumsi masyarakat dan upah yang tinggi bagi jasa masyarakat
akan mempengaruhi perilaku konsumsinya).
Peranan Harga
Kotler dan Armstrong dalam Indrasari (2019:40) menjelaskan bahwa harga
memiliki dua peranan penting dalam proses pengambilan keputusan yaitu:
- Peranan Alokasi
Merupakan fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk memutuskan cara
memperoleh manfaat atau nilai tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya beli. - Peranan informasi
Merupakan fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk
seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana pembeli
mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya.
Harga
Harga adalah sejumlah uang yang dibayarkan oleh konsumen sebagai nilai
tukar untuk mendapatkan manfaat dari barang/jasa yang diberikan oleh penyedia
barang/jasa.
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:324) yaitu menjelaskan bahwa harga
merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk sebuah produk dan jasa atau
sejumlah nilai yang ditukarkan oleh konsumen untuk memperoleh manfaat dalam
penggunaan atas sebuah produk, sedangkan menurut Riyono dan Budiharja dalam
Melati (2020:883) Harga merupakan sesuatu yang dijadikan untuk pertukaran barang
atau jasa oleh konsumen. Menurut Tjiptono (2019:210) yang menyatakan bahwa
“Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa
lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa”. Menurut Kotler (2019:131), harga merupakan sejumlah uang yang
dibebankan pada suatu produk tertentu. Industri menetapkan harga dalam bermacam
metode. Di perusahaan-perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh
para manajer divisi atau manajer lini produk. Bahkan dalam perusahaan-perusahaan
ini, manajemen puncak menyusun tujuan dan kebijakan tentang penetapan harga
umum dan seringkali menyetujui harga yang diusulkan oleh manajemen peringkat
bawah.
Indikator Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan memenuhi
kebutuhan dan keinginan pelanggan. Menurut Kotler (2019:78) ada lima dimensi
indikator utama untuk mengukur kualitas pelayanan, sebagai berikut:
- Berwujud
Pemberian jasa yang meliputi fasilitas fisik dan layanan yang akan diterima oleh
konsumen. Dalam dimensi ini meliputi tersedia fasilitas fisik, perlengkapan dan
sarana komunikasi yang baik pada konsumen. - Keandalan
Kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan handal dan akurasi
dalam kemampuan memberikan pelayanan dengan cepat dan terpercaya. - Cepat tanggap
Kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat dan
tanggap. Dalam dimensi ini menekankan pada perhatian dan ketepatan ketika
berurusan dengan permintaan, pertanyaan dan keluhan konsumen. - Kepastian
Kemampuan dalam menimbulkan persepsi kepercayaan serta keyakinan pada
pelanggan atas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan. - Empati
Memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang
diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan pelanggan
dalam dimensi ini meliputi keramahan dan pengetahuan karyawan perusahaan
tentang kebutuhan pelanggan secara spesifik.
Karakteristik Pelayanan
Menurut Kotler dalam Indrasari (2019:62) ada beberapa karakteristik
pelayanan yang perlu diperhatikan seperti:
- Akses
yaitu pelayanan tersebut harus menjangkau ke seluruh tempat dan waktu secara
tepat - Komunikasi
yaitu bahwa dalam memberikan pelayanan perku menggunakan komunikasi yang
efektif, efisien, dan jelas serta akurat. - Kompetensi
yaitu terkait dengan pegawai atau karyawan yang memiliki keahlian dan
keterampilan serta pengetahuan yang diperlukan mengenai pelayanan yang
diberikan. - Kesopanan
yaitu bahwa pegawai harus ramah, cepat tanggap dan tenang untuk memberikan
pelayanan yang memuaskan. - Kredibilitas
yaitu perusahaan dan pegawai dapat dipercaya dan mempunyai tempat di hati
pelanggan. - Keandalan
yaitu pelayanan yang diberikan secara konsisten dan tepat - Responsif
yaitu terkait dengan pelayanan dan respon pegawai yang cepat dan kreatif terhadap
permintaan konsumen atau permasalahan yang dihadapi konsumen. - Keamanan
yaitu pelayanan yang diberikan harus bebas risiko, bahaya, keraguan serta kerugian. - Nyata
yaitu pelayanan tersebut harus bisa dicerminkan dalam bentuk fisik yang benarbenar mencerminkan kualitas pelayanan. - Memahami konsumen
yaitu pegawai benar-benar membuat usaha untuk memahami kebutuhan konsumen
dan memberikan perhatian secara individu
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tindakan atau perbuatan seorang atau organisasi
bertujuan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan ataupun karyawan.
erciptanya Kepuasan Pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya hubungan
antara Perusahaan dan Pelanggan menjadi harmonis, Pelanggan akan melakukan
pembelian ulang hingga terciptanya loyaitas pelanggan.
Menurut Kotler dan Keller (2016:143) “kualitas adalah kelengkapan fitur suatu
produk atau jasa yang memiliki kemampuan untuk memberikan kepuasan terhadap
suatu kebutuhan, sedangkan menurut Laksana (2019:79) mengemukakan bahwa
kualitas pelayanan yaitu setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu
pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan
apapun. Kemudian Kotler (2019:143) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah
bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan yang diterima dengan tingkat
pelayanan yang diharapkan. Apa bila pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai
dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan di persepsikan baik dan
memuaskan. Kepuasan yang telah terbentuk dapat mendorong konsumen untuk
melakukan pembelian ulang dan nantikan akan menjadi pelanggan setia.
Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019:61), “kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapka
Definisi Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran merupakan ilmu yang diterapkan pada suatu bisnis agar
tetap hidup melalui proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program
penciptaan konsep pemasaran.
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:34) menjelasakan bahwa manajemen
pemasaran didefinisikan sebagai “the art and science of choosing target markets and
building profitable relationships with them”. Yang berarti manajemen pemasaran
sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar serta menciptakan relasi
yang baik dengan pasar sasaran, sedangkan menurut Alma (2018:83), manajemen
pemasaran adalah kegiatan menganalisa, merencana, mengimplementasi, dan
mengawasi segala kegiatan (program), guna mencapai tingkat pemasaran sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Kemudian menurut Laksana
(2019:1) pemasaran adalah bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan
kegiatan transaksi produk barang atau jasa. Dan menurut Tjiptono (2019:7)
manajemen pemasaran merupakan system total aktivitas bisnis dirancang untuk
merencanakan, menetapkan harga, dan mendistribusikan produk, jasa dan gagasan
yang mampu memuaskan keinginan pasar sasaran dalam rangka mencapai tujuan
organisasional.
Berdasarkan beberapa pendapat menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan
manajemen pemasaran merupakan alat bagi marketer yang terdiri dari berbagai elemen
suatu program pemasaran yang perlu dipertimbangkan agar implementasi strategi
pemasaran dan positioning yang ditetapkan dapat berjalan sukses.
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Lupiyoadi (2013) Servise quality dimensions merupakan dimensi kualitas
pelayanan dimana setiap pelayanan yang di tawarkan memilki beberapa aspek yang
dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kualitasnya, lima indikator kualitas
pelayanan yaitu:
1) Bukti fisik (tangible)
Bukti fisik (tangible) adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukan
eksistensi kepada pihak eksternal. Penampilan, sarana dan prasarana fisik
perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti
nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi fasilitas
fisik seperti transportasi (armada), Perlengkapan dan peralatan yang digunakan
(teknologi), serta penampilan pegawai. Fasilitas fisik yang lengkap dan memadai
akan membuat pelanggan merasa puas dan nyaman dalam menggunakan pelayanan
tersebut.
2) Empati (Emphaty) Menurut
Empati (Emphaty) dengan memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual
atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami
keinginan pelanggan, dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian
dan pengetahuan tentang pelanggan untuk memenuhi kebutuhan secara spesifik,
serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan. Apabila
penilaian pelanggan untuk perhatian dari perusahaan sangat baik maka akan
berdampak pada kepuasan pelanggan setelah menggunakan jasa yang diberikan.
3) Kehandalan (Reliability)
Keandalan (Reliability) yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja
harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan
yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan dan sikap yang simpatik.
Kehandalan juga merupakan salah satu elemen yang harus diperhatikan, karena
kemampuan dalam memberikan pelayanan terbaik akan membuat pelanggan
merasa puas dengan kinerja perusahaan.
4) Daya tanggap (Responsiveness)
Daya tanggap (Responsiveness) suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan
pelayanan yang cepat dan tepat kepada konsumen dengan menyampaikan
informasi yang jelassehingga responsiveness dapat menumbuhkan persepsi yang
positif terhadap kualitas jasa yang diberikan. Daya tanggap/ketanggapan yang
diberikan oleh perusahaan dengan baik akan meningkatkan kepuasan yang
dirasakan oleh pelanggan. Dalam implementasinya daya tanggap meliputi
kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan cepat
dan tanggap dalam menangani transaksi serta penanganan keluhan pelanggan.
5) Jaminan (Asurance)
Jaminan (Asurance) adalah pengetahuan, kesopanansantuan dan kemampuan para
pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para konsumen kepada
perusahaan meliputi kemampuan karyawan atas pengetahuannya terhadap produk
secara tepat, keramahtamahan, perhatian dan kesopanan, keterampilan dalam
memberikan informasi, kemampuan dalam memberikan keamanan dalam
memanfaatkan jasa yang ditawarkan dan kemampuan dalam menanamkan
kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan, sifat dapat dipercaya yang dimiliki
para staf, bebas dari bahaya, resiko atau pun keraguan. Pengetahuan,
kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan dapat menumbuhkan
rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Jaminan atau assurance
merupakan pengetahuan dan kemampuan karyawan untuk membangun
kepercayaan dan keyakinan pada diri konsumen dalam membeli jasa yang
ditawarkan.
Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan Atau Jasa
Meningkatkan kualitas jasa tidaklah semuda membalikkan telapak tangan, banyak
faktor yang perlu dipertimbangkan. Menurut Tjiptono (2016), ada beberapa faktor
dominan yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, diantaraya
adalah:
- Mengidentifikasi determinan utama kualitas pelayanan
Setiap perusahaan jasa yang berupaya memberikan kualitas jasa pelayanan yang
terbaik kepada para pelangganya perlu melakukan riset untuk mengidentifikasi jasa
dominan yang paling penting bagi pasar dan kemudian memperkirakan penilaian
yang diberikan pasar terhadap perusahaan serta pesaing berdasarkan determinan
tersebut. Sehingga diketahui posisi reaktif perusahaan dimata pelanggan
dibandingkan dengan pesaing agar dapat memfokuskan peningkatan kualitas pada
aspek dominasi. - Mengelola harapan pelanggan
Tidak jarang suatu perusahaan melebih-melebihkan pesan komunikasinya kepada
pelanggan mereka terpikat. Hal ini seperti dapat menjadi bomerang, karena
semakin banyak janji yang diberikan maka semakin besar pula harapan pelanggan
yang pada gilirannya akan menambah peluang tidak dapat dipenuhi harapan
pelanggan. - Mengelola bukti (evidence) kualitas jasa
Mengelola bukti kualitas jasa bertujuan untuk memperkuat persepsi pelanggan
selama dan sesudah jasa diberikan. Oleh karena itu, jasa merupakan kinerja dan
tidak dapat dirasakan seperti barang, maka pelanggan cenderung memperhatikan
fakta-fakta tangible yang berkaitan dengan jasa sebagai bukti kualitas. Dari sudut
pandang perusahaan jasa, bukti kualitas meliputi segala sesuatu yang dipandang
pelanggan sebagai indikator seperti apa jasa yang akan diberikan (preservice
expectation) dan seperti apa jasa yang telah diterima (post expectation). - Mendidik konsumen tentang jasa
Membantu pelanggan dalam memahami merupakan usaha yang sangat positif
dalam rangka penyampaian kualitas jasa. Pelanggan yang terdidik akan dapat
mengambil keputusan secara lebih baik sehingga kepuasan mereka dapat tercipta
lebih tinggi. Upaya mendidik ini dapat dilakukan dalam bentuk melakukan
pelayanan sendiri, membantu pelanggan kapan menggunakan jasa, bagaimana
menggunakan jasa, dan menjelaskan kepada pelanggan alasan-alasan yang
mendasari kebijaksanaan yang bisa mengecewakan mereka. - Mengembangkan budaya kualitas jasa
Budaya kualitas pelayanan merupakan sistem nilai organisasi yang menghasilkan
lingkungan yang kodusif bagi pembentuk dan penyempurnaan kualitas secara
terus-menerus. Budaya kualitas terdiri dari: filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai,
tradisi, prosedur, dan harapan yang meningkatkan kualitas. Agar dapat
menciptakan budaya kualitas yang baik maka dibutuhkan komitmen menyeluruh
pada seluruh anggota organisasi. - Menciptakan automathing quality
Adanya otomatisasi dapat mengatasi variabilitas kualitas jasa yang disebabkan
kurangnya sumberdaya manusia yang dimiliki. Namun sebelum memutuskan
otomatisasi, perusahaan perlu melakukan penelitian secara seksama untuk
menentukan bagian yang membutuhkan sentuhan manusia dan memerlukan
otomatisasi. - Menindak lanjuti jasa
Menindaklanjuti jasa dapat membantu memisahkan aspek-aspek jasa yang perlu
ditingkatkan. Perusahaan perlu mengambil inisiatif untuk menghubngi sebagian
atau semua pelanggan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi mereka
terhadap jasa yang diberikan. Perusahaan dapat memberikan kemudahan bagi
para pelanggan untuk berkomunikasi baik menyangkut kebutuhan maupun
keluuhan mereka. - Mengembangkan sistem informasi kualitas jasa
Sistem informasi kualitas jasa suatu sistem yang menggunakan berbagai
pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menyebarluaskan
informasi kualitas jasa guna mendukung pengambilan keputusan. Informasi yang
dibutuhkan mencakup segala aspek, yaitu data saat ini dan masa lalu, kuantitatif
dan kualitatif, internal dan eksternal serta informasi mengenai perusahaan dan
pelanggan
Manfaat Kualitas Pelayanan
Pelayanan yang baik tentu akan memberikan hal yang baik pula untuk perusahaan.
Karena pelayanan ini merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan, maka ini
dapat memberikan keuntungan tersendiri dari perusahaan seperti:
a. Pelanggan akan setia Konsumen akan setia kepada perusahaan karena konsumen
merasa pelayanan perusahaan sangat baik, pelanggan bisa jadi akan menjadi
pelanggan tetap perusahaan tersebut.
b. Pelanggan bisa menjadi media iklan Pelanggan bisa menjadi media iklan gratis
dengan kepuasan pelanggan terhadap pelayanan perusahaan, pelanggan bisa saja
menyebarkan mengenai hal tersebut kepada rekan rekan atau tetangganya sehingga
perusahaan bisa menjadi lebih dikenal.
c. Kelangsungan bisnis jangka panjang terjamin. Dengan semakin banyaknya
pelangggan tetap perusahaan, maka perusahaan tidak perlu khawatir tidak akan
mendapatkan pelanggan, karena sudah adanya para pelanggan tetap tersebut.
d. Pelanggan tidak akan mempermasalahkan mengenai harga karena rasa kepercayaan
pelanggan terhadap perusahaan, maka pelanggan tidak akan mempermasalahkan
mengenai harga terhadap suatu produk yang ditawarkan perusahaan
e. Pelanggan merasa puas karena kebutuhannya terpenuhi Kebutuhan pelanggan
bukan hanya dari kualitas produk, melainkanjuga dari segi kualitas pelayanan
perusahaan. Dengan pelayanan yang baik, maka pelanggan akan merasa bahwa
semua kebutuhannya telah dipenuhi oleh perusahaan.
f. Nama baik perusahaan meningkat hal ini dikarenakan semakin banyaknya
pelanggan yang merasa puas dan menjadi pelanggan yang setia sehingga nama baik
perusahaan meningkat di mata semua pelanggan
g. Unggul dalam persaingan bisnis perusahaan bisa dikatakan satu langkah didepan
perusahaan lainnya dalam bersaing karena pelanggan telah mempercayai baik dari
segi pelayanan maupun kualitas produk perusahaan tersebut
Dimensi Kualitas Pelayanan/Jasa
Terdapat delapan dimensi kualitas yang dikembangkan Garvin (Tjiptono, 2016), dan
dapat digunakan sebagai perencanaan strategi dan analisis. Dimensi-dimensi tersebut
adalah:
- Kinerja (performance) karakteristik operasi pokok dari produk inti, misalnya
kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah penumpang yang dapat diangkut,
kemudahan dan kenyamanan dalam mengemudi dan sebegainya. - Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder atau
pelengkap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior seperti AC, shound sytem,
power steering dan sebagainya. - Kehandalan (realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau
gagal dipakai, misalnya mobil tidak sering macet/rewel/rusak. - Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesifications), yaitu sejauh mana
karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan
sebelumnya. Misalnya standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti ukuras as roda
untuk truk tentunya harus lebih besar dari pada mobil sedan. - Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat terus
digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis pengguna
mobil. Umumnya mobil buatan amerika lebih baik daripada buatan jepang. - Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi,
serta penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan yang diberikan tidak terbatas
hanya sebelum penjualan, tetapi jiga selama proses penjualan, yang juga mencakup
pelayanan reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan. - Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalnya bentuk fisik mobil
yang menarik, model yang artistik, warna dan sebagainya. - Kualitas yangdipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya pengetahuan
pembeli karena atribut/ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merk, iklan, reputasi dan
sebagainya
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kata “kualitas” mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda
akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian dengan persyaratan atau
tuntutan, kecocokan untuk pemakaian perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan
atau cacat, pemenuhan kebutuhan pelanggan, melakukan segala sesuatu yang
membahagiakan (Tjiptono,2016). Kualitas pelayanan menurut Tjiptono (2016)
merupakan ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai
dengan ekspektasi pelanggan.
Tjiptono (2014) menyatakan bahwa pada dasarnya kualitas suatu jasa yang
dipersepsikan pelanggan terdiri atas dua dimensi. Dimensi pertama technical quality
(outcome dimension) berkaitan dengan kualitas output jasa yang dipersepsikan
pelanggan. Dimensi kedua, functional quality (process-related dimension) berkaitan
dengan kualitas cara penyampaian jasa atau menyangkut proses transfer kualitas teknis,
output atau hasil akhir jasa dari penyedia jasa kepada pelanggan. Jasa atau layanan
adalah setiap tindakan atau kinerja yang dapat ditawarkan suatu pihak kepada pihak
lain yang pada intinya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.
Jasa dapat diartikan sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud
fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu (Kotler & Keller, 2012 dalam
Tjiptono, 2016).
Alma (2016) mengungkapkan bahwa kualitas pelayanan adalah cara kerja perusahaan
yang berusaha mengadakan perbaikan dalam hal mutu secara terus-menerus terhadap
proses, produk dan service yang dihasilkan oleh perusahaan. Pelayanan merupakan
perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan demi
tercapainya kepuasan pada pelanggan itu sendiri.
Indikator Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler dan Keller (2018:140), kepuasan pelanggan memiliki
beberapa dimensi, yaitu :
- Tetap setia
Pelanggan yang merasa puas terhadap suatu produk akan cenderung menjadi setia
dan pelanggan tersebut akan melakukan pembelian ulang dari produsen yang
sama. - Membeli produk baru perusahaan
Karena merasa puas pelanggan memiliki keinginan untuk membeli produk yang
ditawarkan karena adanya keinginan untuk mengulang pengalaman yang diterima
setelah mengonsumsi produk. - Merekomendasikan produk
Pelanggan yang puas akan mendapatkan dorongan melakukan komunikasi dari
mulut ke mulut yang bersifat positif tentang perusahaan dan produknya kepada
orang lain. Hal ini dapat berbentuk rekomendasi kepada calon pelanggan lain. - Kurang memperhatikan merek pesaing
Pelanggan bersedia membayar lebih kepada perusahaan karena sudah percaya
akan perusahaan. Mereka memiliki perspektif apabila harga lebih tinggi maka
kualitas juga lebih tinggi
Faktor Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Pelanggan
Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan yaitu :
- Produk (Product)
Produk seperti apa yang hendak ditawarkan kepada konsumen. Hal terpenting
adalah kualitas dari produk itu sendiri. Konsumen tidak hanya membeli fisik dari
produk tetapi juga manfaat dan nilai dari produk. - Harga (Price)
Harga yang dipakai untuk suatu produk atau jasa, hal ini sangat signifikan dalam
pemberian value kepada konsumen dan mempengaruhi image (citra) produk atau
kualitas jasa serta kepuasan konsumen untuk membeli. Strategi harga
berhubungan dengan pendapatan konsumen dan turut mempengaruhi penawaran. - Lokasi (Place)
Hal ini berkaitan dengan bagaimana sistem penghantaran (delivery) yang akan
diterapkan, ini merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan atas saluran
distribusi (cara penyampaian kepada konsumen dan dimana lokasi yang strategis). - Promosi (Promotion)
Hal ini berkaitan dengan bagaimana promosi yang harus dilakukan (proses
pemilihan bauran promosi). Promosi yang baik tentunya akan berdampak pada
kepuasan konsumen. - Orang (People)
Yaitu mengenai kualitas orang yang terlibat dalam pemberian pelayanan,
berhubungan dengan seleksi, training, motivasi dan manajemen sumber daya
manusia. Untuk mencapai kualitas terbaik, pegawai harus dilatih untuk menyadari
bahwa hal terpenting adalah memberi kepuasan kepada konsumen. - Porses (Process)
Hal ini berkaitan dengan bagaimana suatu proses dalam operasi pelayanan
tersebut, yaitu merupakan gabungan semua aktivitas yang umumnya terdiri dari
proses, jadwal pekerjaan, mekanisme, aktivitas dan hal-hal rutin, dimana
pelayanan dihasilkan dan disampaikan kepada konsumen. - Bukti Fisik
Hal ini berkaitan dengan penampilan fasilitas fisik, peralatan, tempat dan alat-alat
komunikasi yang digunakan
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan merupakan penilaian pelanggan atas penggunaan barang
dan jasa kemudian dibandingkan sebelum penggunaanya. Menurut Kotler dan Keller
(2018:138), Menyatakan bahwa kepuasan konsumen atau pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja
(hasil) produk yang diperkirakan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Tjiptono (2019:76), kepuasan pelanggan dapat diartikan sebagai
perbandingan antara harapan atau ekspektasi sebelum pembelian dan presepsi
terhadap kinerja setelah pembelian. Dan menurut Fatihudin dan Firmansyah
(2019:206) kepuasan pelanggan adalah pengukuran atau indikator sejauh mana
pelanggan atau pengguna produk perusahaan atau jasa sangat senang dengan produkproduk atau jasa yang diterima, kepuasan pelanggan adalah perbandingan antara
harapan terhadap persepsi pengalaman (dirasakan/diterima)
Indikator Fasilitas
Menurut Munawir (2018:208) indikator dari fasilitas meliputi:
- Perencanaan spasial
Menimbang tekstur, proporsi, warna dan mengkombinasikannya untuk menarik
respon intelektual maupun emosionl dari konsumen. - Perencanaan ruang
Meliputi mendesain arsitektur dan interior dalam ruangan, seperti menempatkan
perlengkapan perabotan dalam ruangan, perencanaan sirkulasi udara dan
sebagainya. - Perlengkapan
Perlengkapan ini memiliki fungsi sebagai perlatan yang dapat memberikan rasa
nyaman, sebagai hiasan atau sebagai infrastruktur pendukung. - Tata cahaya dan warna
Pencahayaan dan warna bisa dimanfaatkan untuk menaikkan efisiensi,
memberikan kesan santai dan menenangkan, serta mengurangi tingkat kecelakaan. - Unsur pendukung
Eksistensi fasilitas utama tidaklah lengkap tanpa tersedianya fasilitas pendukung,
seperti: toilet, parkiran, kantin, wifi gratis
Faktor – faktor yang mempengaruhi Fasilitas
Faktor yang mempengaruhi fasilitas seperti desain dan tata letak fasilitas jasa
erat kaitannya dengan pembentukan presepsi pelanggan.
- Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang atau tempat.
- Setiap perusahaan jasa membutuhkan lokasi fisik untuk mendirikan fasilitas
jasanya. - Sifat dan tujuan organisasi
Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai persyaratan desainnya. - Fleksibilitas
Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan apabila volume permintaan sering
berfluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, sehingga resiko
keuangan relatif besar. - Biaya kontruksi dan operasi
Kedua jenis biaya ini dipengaruhi desain fasilitas. - Masyarakat dan lingkungan sekitar
Masyarakat (terutama masalah sosial dan lingkungan hidup) dan lingkungan
disekitar fasilitas - Faktor estetis
Fasilitas jasa yang tertata rapi, menarik akan dapat meningkatkan sikap positif
pelanggan terhadap suatu jasa
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Tjiptono (2019 : 305 ) sebagai berikut :
- Keandalan (Reliability),
kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan
memuaskan. - Daya Tanggap (Responsivencess), Keinginan dan kesediaan para karyawan untuk
membentuk para konsumen dan memberikan layanan dengan tanggap. - Jaminan (Assurance) mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan dan
sifatsifat yang dapat dipercaya yang dimiliki para karyawan, bebas dari bahaya
fisik, risiko atau keragu-raguan. - Empati (Emphaty) Kemudahan dalam menjalin hubungan, komunikasi yang
efektif, perhatian personal dan pemahaman atas kebutuhan individual para
konsumen. - Bukti fisik (Tangible), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan dan sarana
komunikasi.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan
Faktor yang memengaruhi Pelayanan menurut Kasmir (2018:6-7) diantaranya
adalah:
- Jumlah tenaga kerja; banyaknya tenaga kerja yang ada dalam suatu perusahaan.
- Kualitas tenaga kerja; meliputi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
tenaga kerja. - Motivasi karyawan; suatu dorongan yang dimiliki oleh karyawan untuk
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. - Kepemimpinan; proses mempengaruhi individu, biasanya dilakukan oleh atasan
kepada bawahan supaya dapat bertindak sesuai dengan kehendak atasan demi
tercapainya tujuan perusahaan. - Budaya organisasi; sebuah sistem dalam suatu perusahaan yang dianut oleh semua
anggota organisasi dan menjadi pembeda antara organisasi yang satu dengan
organisasi yang lain. - Kesejahteraan karyawan; pemenuhan kebutuhan-kebutuhan karyawan oleh suatu
perusahaan. - Lingkungan kerja dan faktor lainnya meliputi sarana dan prasarana yang
digunakan, teknologi, layout gedung dan ruangan, kualitas produk dan lain
sebagainya
Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan (service quality) merupakan hasil persepsi dan
perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual pelayanan yang
terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service
(pengalaman yang diharapkan) dan perceived service (pelayanan yang diterima).
Kualitas pelayanan merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk jasa ,manusia, proses,lingkungan yang mampu memenuhi dan atau
melebihi harapan konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2019:156) mendefinisikan
kualitas pelayanan adalah bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan
yang diterima dengan tingkat pelayanan yang diharapkan .apabila pelayanan yang
diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan,maka kualitas pelayanan di
persepsikan baik dan memuaskan .kepuasan yang telah terbentuk dapat mendorong
konsumen untuk melakukan pembelian ulang dan nantikan akan menjadi pelanggan
setia.
Dan menurut Tjiptono (2019:290) Kualitas Pelayanan adalah upaya pemenuhan
kebutuhan dan keinginann serta ketepatan penyampaian untuk menghimbangi
harapan pelanggan.
Definisi Manajemen Pemasaran
Menurut Tjiptono dan Diana (2020:3), pemasaran adalah proses menciptakan,
mendistribusikan, mempromosikan, dan menetapkan harga barang, jasa dan gagasan
untuk memfasilitasi relasi pertukaran yang memuaskan dengan para pelanggan dan
untuk membangun dan mempertahankan relasi yang positif dengan para pemangku
kepentingan dalam lingkungan yang dinamis. Sedangkan menurut Laksana (2019:1)
pemasaran adalah bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan kegiatan
transaksi produk barang atau jasa. Sehingga pengertian pasar bukan lagi merujuk
kepada suatu tempat tapi lebih kepada aktifitas atau kegiatan pertemuan penjual dan
pembeli dalam menawarkan suatu produk kepada konsumen.
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (2018:34), Marketing
management the art and science of choosing target markets and building profitable
relationship with them. Sedangkan menurut Assauri (2018:12), manajemen
pemasaran merupakan kegiatan menciptakan, mempersiapkan, melaksanakan
rencana yang dilakukan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
Kualitas Jasa
Salah satu faktor penting yang dapat membuat pelanggan puas
adalah kualitas jasa Shellyana dan Basu, (2012).Kualitas jasa ini
mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pelanggan Anderson dan
Sullivan (2016).Pemasar dapat meningkatkan kualitas jasa untuk
mengembangkan loyalitas pelanggannya. Produk yang berkualitas
rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak setia. Jika kualitas
diperhatikan, bahkan diperkuat dengan periklanan yang intensif,
loyalitas pelanggan akan lebih mudah diperoleh. Kualitas dan
promosi menjadi faktor kunci untuk menciptakan loyalitas pelanggan
jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelanggan
akan menjadi loyal pada produk-produk berkualitas tinggi jika
produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang bersaing
Dharmmesta, (2014).
Definisi Loyalitas
Loyalitas secara harfiah diartikan kesetiaan, yaitu
kesetiaanseseorang terhadap suatu objek.Loyalitas menunjukkan
kecenderungan pelanggan untuk menggunakan suatu merek tertentu
dengan tingkat konsistensi yang tinggi Dharmmesta, (2014).Ini berarti
loyalitas selalu berkaitan dengan preferensi pelanggan dan pembelian
aktual.Definisi loyalitas dari pakar yang disebutkan di atas berdasarkan
pada dua pendekatan, yaitu sikap dan perilaku.Dalam pendekatan
perilaku, perlu dibedakan antara loyalitas dan perilaku beli ulang.
Perilaku beli ulang dapat diartikan sebagai perilaku pelanggan yang
hanya membeli suatu produk secara berulang-ulang, tanpa menyertakan
aspek perasaan dan pemilikan di dalamnya. Sebaliknya loyalitas
mengandung aspek kesukaan pelanggan pada suatu produk.Ini berarti
bahwa aspek sikap tercakup di dalamnya.Loyalitas berkembang
mengikuti tiga tahap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Biasanya
pelanggan menjadi setia lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian
pada aspek afektif, dan akhirnya pada aspek konatif. Ketiga aspek
tersebut biasanya sejalan, meskipun tidak semua kasus mengalami hal
yang sama.
Loyalitas Pelanggan
Loyalitas pelanggan merupakan asset dan memiliki peran penting
dalam sebuah perusahaan. Menurut Griffin dalam Hurriyati, (2018)
“Loyalty is defined as noon random purchase expressed over time by
some decision making unit”. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa
loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari unit-unit pengambilan
keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap
barang atau jasa suatu perusahaan yang dipilih.Dengan demikian
kesimpulannya bahwa loyalitas terbentuk karena adanya pengalaman
dalam menggunakan suatu barang atau jasa.
Persaingan yang semakin hebat antara institusi penyedia produk
belakangan ini bukan hanya disebabkan globalisasi. Tetapi lebih
disebabkan karena pelanggan semakin cerdas, sadar harga, banyak
menuntut, kurang memaafkan, dan didekati oleh banyak produk.
Kemajuan teknologi komunikasi juga ikut berperan meningkatkan
intensitas persaingan, karena memberi pelanggan akses informasi yang
lebih banyak tentang berbagai macam produk yang ditawarkan. Artinya
pelanggan memiliki pilihan yang lebih banyak dalam menggunakan uang
yang dimilikinya.
Kotler, Hayes dan Bloom (2012) menyebutkan ada enam alasan
mengapa suatu institusi perlu mendapatkan loyalitas pelanggannya.
- Pelanggan yang ada lebih prospektif, artinya pelanggan loyal akan
memberi keuntungan besar kepada institusi. - Biaya mendapatkan pelanggan baru jauh lebih besar berbanding
menjaga dan mempertahankan pelanggan yang ada. - Pelanggan yang sudah percaya pada institusi dalam suatu urusan
akan percaya juga dalam urusan lainnya. - Biaya operasi institusi akan menjadi efisien jika memiliki banyak
pelanggan loyal. - Institusi dapat mengurangkan biaya psikologis dan sosial
dikarenakan pelanggan lama telah mempunyai banyak pengalaman
positif dengan institusi. - Pelanggan loyal akan selalu membela institusi bahkan berusaha pula
untuk menarik dan memberi saran kepada orang lain untuk menjadi
pelanggan.
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan konsumen didefinisikan sebagai tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan
dibandingkan dengan harapannya Kotler, (2015) atau diartikan bawa
kepuasan merupakan fungsi dari kinerja yang dirasakan (perceived
performance) dan harapan (expectations).Jika kinerja produk atau jasa
lebih rendah dari harapan, konsumen akan merasa tidak puas. Jika kinerja
sesuai harapan maka konsumen akan merasa puas, jika kinerja sampai
melebihi harapan, maka konsumen akan merasa sangat puas (delighted).
Menurut Basu Swasta, (2014), kepuasan konsumen merupakan
evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama
atau melampaui harapan konsumen. Kepuasan konsumen ini akan terpenuhi
apabila mereka memperoleh apa yang mereka inginkan, pada saat mereka
membutuhkannya, di tempat yang mereka inginkan dan dengan cara yang
mereka tentukan. Ketidakpuasan akan timbul apabila hasil atau tidak
memenuhi harapan.Perilaku konsumen adalah perilaku konsumen yang
ditunjukkan melalui pencarian, pembelian, penggunaan, pengevaluasian
dan penentuan produk atau jasa mereka harapkan dapat memuaskan
kebutuhan mereka. Basu Swasta, (2014).
Kepuasan konsumen merupakan kunci keberhasilan suatu
perusahaan. Jangka panjangnya adalah meningkatkan keuntungan yang
ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen secara
memuaskan, karena dari sini akan menimbulkan terjadinya penggunaan
ulang dimasa yang akan datang.Pada dasarnya kepuasan konsumen
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan.
Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi :
- Positive disconfirmation, dimana hasil yang diterima lebih baik
daripada hasil yang diharapkan. - Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil
yang diharapkan. - Negative confirmation, dimana hasil yang diterima lebih buruk
(rendah) daripada hasil yang diharapkan.
Pada akhirnya konsumen yang merasa terpuaskan kebutuhan dan
keinginannya akan menindaklanjuti dengan :
1) Melakukan pembelian ulang (reselling) produk atau jasa.
2) Menyatakan hal baik perusahaan kepada orang lain
3) Kurang memperhatikan produk dan jasa pesaing.
4) Membeli produk yang lain dari perusahaan tersebut
Sedangkan konsumen yang merasa tidak terpuaskan dapat melakukan
tindakan – tindakan yang dikhawatirkan dapat merugikan perusahaan
seperti :
1) Menghentikan pembelian produk dari perusahaan
2) Menyatakan keluhan perusahaan kepada orang lain
3) Membeli produk atau jasa lain pada perusahaan pesaing Sehingga
kunci untuk memuaskan konsumen adalah memenuhi atau melebihi
pengharapan konsumen mengenai kualitas jasa.
Kualitas Pelayanan
Menurut Philip Kotler
(2015), pelayanan merupakan kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan
tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu. Menyadari akan pentingnya
pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang kompetitif, banyak
perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan. Bentuk – bentuk
pelayanan tersebut antara lain :
- Pelayanan Kredit
Perusahaan dapat menawarkan sejumlah pilihan kredit kepada
pelanggan, meliputi : kontrak pembayaran secara kredit, rekening
terbuka dan pinjaman. - Pelayanan infomasi
Perusahaan dapat membentuk suatu unit yang dapat menjawab
pertanyaan para pelanggan dan menyebar informasi mengenai produk
baru, spesifikasi, proses kemungkinan perubahan harga, status pesanan
yang dipenuhi dan kebijakan. Pelayanan merupakan suatu tingkat usaha
dari perusahaan dalam uapaya memberikan kenikmatan dan kepuasan
kepada konsumen. Oleh karena itu pelayanan perlu mendapatkan
perhatian khusus dari perusahaan karena merupakan kunci kesuksesan
suatu perusahaan didalam menjalankan usahanya.Menurut American
Society for Quality Control Kotler, (2015). “Kualitas adalah
keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk
atau jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.
Selanjutnya menurut Duran dalam Lupiyoadi (2012), kualitas dapat
diartikan sebagai biaya yang dapat dihindari (avoidable) dan yang tidak
dapat dihindari (unavoidable).Yang termasuk dalam biaya yang dapat
dihindari misalnya biaya akibat kegagalan produk, sementara yang
termasuk biaya yang tidak dapat dihindari misalnya biaya kegiatan
pengawasan kualitas.Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa definisi kualitas bersumber dari dua sisi, produsen
dan konsumen.Produsen menentukan persyaratan atau spesifikasi
kualitas, sedangkan konsumen menentukan kebutuhan dan keinginan.
Pendefinisian akanakurat jika produsen mampu menerjemahkan
kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang
dihasilkan.
Kualitas pelayanan (Service Quality) seperti yang dikatakan oleh
Parasuraman dikutip oleh Lupiyoadi (2012) dapat didefinisikan yaitu:
“Seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan konsumen atas
pelayanan yang mereka terima atau peroleh”. Sementara menurut
Freddy Rangkuti (2014) bahwa: “Kualitas jasa didefinisikan sebagai
penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan konsumen”.
Definisi tersebut menekankan pada kelebihan dari tingkat kepentingan
konsumen sebagai inti dari kualitas jasa.Salah satu model kualitas
pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah
model ServQual (Service Quality) seperti yang dikembangkan oleh
Parasuraman, Zeithmal, dan Berry seperti yang dikutip oleh Lopiyoadi
(2012) dalam serangkaian penelitian mereka terhadap enam sektor jasa,
reparasi, peralatan rumah tangga, kartu kredit, asuransi, sambungan
telepon jarak jauh, perbankan ritel, dan pialang sekuritas. ServQual
(Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama
yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima
(perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan atau
diinginkan (expected service).
Lebih lanjut Mowen, dkk (2012) dalam Wardhani (2013)
mengemukakan bahwa kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses
evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempatan kinerja
layanan.Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan persepsi pelanggan
tentang mutu suatu usaha. Semakin baik pelayanan yang akan
mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan sehingga
usaha tersebut akan dinilai semakin bermutu. Sebaliknya apabila
pelayanan yang diberikan kurang baik dan memuaskan, maka usaha
tersebut juga dinilai kurang bermutu.Oleh karena itu usaha untuk
meningkatkan kualitas pelayanan harus terus dilakukan agar dapat
memaksimalkan kualitas jasa.
Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu
tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri
dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang
seharusnya konsisten satu sama lain: - Persepsi konsumen,
- Produk (jasa),
- Proses
Citra
Para pakar pemasaran memberikan berbagai definisi serta
pendapat tentang citra dan dengan penekanan yang beragam pula.
Walaupun demikian mereka sepakat akan semakin pentingnya citra
yang baik (positif) bagi sebuah produk. Bahkan Band (2018)
menambahkan satu lagi P „Public Image‟ sebagai bauran pemasaran
dari 4P yang sudah biasa dikenal, yaitu; Product (hasil), Price (harga),
Place (tempat), dan Promotion (promosi). Rintangan untuk
Berpindah. Faktor lain yang mempengaruhi loyalitas yaitu besar
kecilnya rintangan berpindah (switching barrier) Fornell, (2017).
Rintangan berpindah terdiri dari; biaya keuangan(financial cost),
biaya urus niaga (transaction cost), diskon bagi pelanggan loyal (loyal
customer discounts), biaya sosial (social cost), dan biaya emosional
(emotional cost). Semakin besar rintangan untuk berpindah akan
membuat pelanggan menjadi loyal, tetapi loyalitas mereka
mengandung unsur keterpaksaan.
Kualitas Jasa
Salah satu faktor penting yang dapat membuat pelanggan puas
adalah kualitas jasa Shellyana dan Basu, (2012).Kualitas jasa ini
mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pelanggan Anderson dan
Sullivan (2016).Pemasar dapat meningkatkan kualitas jasa untuk
mengembangkan loyalitas pelanggannya. Produk yang berkualitas
rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak setia. Jika kualitas
diperhatikan, bahkan diperkuat dengan periklanan yang intensif,
loyalitas pelanggan akan lebih mudah diperoleh. Kualitas dan
promosi menjadi faktor kunci untuk menciptakan loyalitas pelanggan
jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelanggan
akan menjadi loyal pada produk-produk berkualitas tinggi jika
produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang bersaing
Dharmmesta, (2014)
Kepuasan Pelanggan
Definisi kepuasan yang terdapat dalam berbagai literatur cukup
beragam. Kotler (2015), mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai
perasaan suka/tidak seseorang terhadap suatu produk setelah ia
membandingkan prestasi produk tersebut dengan harapannya. Wilkie
(2005), mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai tanggapan
emosional yang positif pada evaluasi terhadap pengalaman dalam
menggunakan suatu produk atau jasa.Dari berbagai definisi di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya pengertian kepuasan
pelanggan mencakup perbedaan antara harapan dan prestasi atau hasil
yang dirasakan.
Proses Permbandingan (Sumber : Wilkie, 2005)
Baik praktisi ataupun akademisi memahami bahwa loyalitas
pelanggan dan kepuasannya adalah berkaitan, walaupun
keterkaitannya adalah tidak selalu beriringan Oliver,
(2018).Kepuasan adalah langkah yang penting dalam pembentukan
loyalitas tetapi menjadi kurang signifikan ketika loyalitas mulai
timbul melalui mekanisme-mekanisme lainnya.Mekanisme lainnya
itu dapat berbentuk kebulatan tekad dan ikatan sosial.Loyalitas
memiliki dimensi yang berbeda dengan kepuasan.Kepuasan
menunjukkan bagaimana suatu produk memenuhi tujuan pelanggan
Oliver, (2018).Kepuasan pelanggan senantiasa merupakan penyebab
utama timbulnya loyalitas.
Namun penelitian-penelitian lain mendapati kurangnya pengaruh
kepuasan terhadap loyalitas.Strewart (2013) menyimpulkan adalah
keliru untuk mengemukakan asumsi bahwa kepuasan dan loyalitas
adalah bergerak bersamasama. Reicheld (2013) mengemukakan bukti
bahwa dari para pelanggan yang puas atau sangat puas, antara 65%
sampai 85% akan berpindah ke produk lain. Dalam industri otomotif
pula dia menemukan 85% sampai 95% pelanggan yang puas, hanya
30% – 40% yang kembali kepada merek atau model sebelumnya.
Oliver (2018), mencoba mengelompokkan bentuk hubungan
kepuasan – loyalitas ke dalam 6 kelompok panel. Kelompok panel 1
berasumsi bahwa kepuasan dan loyalitas adalah manifesto yang
terpisah dari konsep yang sama dalam cara yang kebanyakan sama.
Panel 2 berpendapat bahwa kepuasan adalah konsep inti untuk
loyalitas yang mana loyalitas tidak akan ada tanpa kepuasan, dan
bahwa kepuasan adalah dasar dari loyalitas. Panel 3 mengecilkan
peranan dasar dari kepuasan dan mengemukakan bahwa kepuasan
adalah suatu unsur dari loyalitas. Panel 4 menunjukkan bahwa
keberadaan loyalitas tanpa batas di mana kepuasan dan loyalitas
„sederhana‟ menjadi komponennya. Panel 5 mengemukakan bahwa
kepuasan merupakan bagian dari loyalitas, tapi bukan bagian esensi
loyalitas. Panel 6 mengemukakan bahwa kepuasan adalah permulaan
dari suatu rangkaian transisi atau peralihan yang berkulminasi dalam
loyalitas. Enam panel tersebut nampak dalam gambar 2.Loyalitas
terjadi karena adanya pengaruh kepuasan/ketidakpuasan dengan
produk tersebut yang berakumulasi secara terus menerus di samping
adanya persepsi tentang kualitas produk Boulding, Staelin, dan
Zeithaml.
Mengukur Loyalitas
Secara umum, loyalitas dapat diukur dengan cara-cara berikut:
- Urutan pilihan (choice sequence) Metode urutan pilihan atau disebut
juga pola pembelian ulang ini banyak dipakai dalam penelitian
dengan menggunakan panel-panel agenda harian pelanggan lainnya,
dan lebih terkini lagi, data scanner supermarket. Urutan itu dapat
berupa:
a. Loyalitas yang tak terpisahkan (undivided loyalty) dapat
ditunjukkan dengan runtutan AA. AA. AA. Artinya pelanggan
hanya membeli suatu produk tertentu saja. Misalnya: pelanggan
selalu memilih clear setiap membeli shampo.
b. Loyalitas yang terbagi (divided loyalty) dapat ditunjukkan dengan
runtutan AB. AB. AB. Artinya pelanggan membeli dua merek
secara bergantian. Misalnya: suatu ketika membeli shampo clear
dan berikutnya shampo zink.
c. Loyalitas yang tidak stabil (unstable loyalty) dapat ditunjukkan
dengan runtutan AA. AB. BB. Artinya pelanggan memilih suatu
merek untuk beberapa kali pembelian kemudian berpindah ke
merek lain untuk periode berikutnya. Misalnya: selama 1 tahun
pelanggan memilih shampo “Clear” dan tahun berikutnya shampo
“Zink”.
d. Tanpa loyalitas (no loyalty), ditunjukkan dengan runtutan
ABCDEF. Artinya pelanggan tidak membeli suatu merek tertentu.
Kotler (2015), mempunyai istilah lain untuk loyalitas di atas,
yaitu; „Hard-core loyals, split loyals, shifting loyals, dan
switchers‟. - Proporsi pembelian (proportion of purchase) Berbeda dengan
runtutan pilihan, cara ini menguji proporsi pembelian total dalam
sebuah kelompok produk tertentu. Data yang dianalisis berasal dari
panel pelanggan. - Preferensi (preference) Cara ini mengukur loyalitas dengan
menggunakan komitmen psikologis atau pernyataan preferensi.
Dalam hal ini, loyalitas dianggap sebagai “sikap yang positif”
terhadap suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam istilah niat
untuk membeli. - Komitmen (commitment) Komitmen lebih terfokus pada komponen
emosional/perasaan. Komitmen terjadi dari keterkaitan pembelian
yang merupakan akibat dari keterlibatan ego dengan kategori merek
Beatty, Kahle, Homer, (2015). Keterlibatan ego tersebut terjadi ketika
sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, keperluan,
dan konsep-diri pelanggan. Cara pertama dan kedua di atas
merupakan pendekatan perilaku (behavioural approach). Cara ketiga
dan keempat termasuk dalam pendekatan attitudinal (attitudinal
approach).
Definisi Loyalitas
Loyalitas secara harfiah diartikan kesetiaan, yaitu
kesetiaanseseorang terhadap suatu objek.Loyalitas menunjukkan
kecenderungan pelanggan untuk menggunakan suatu merek tertentu
dengan tingkat konsistensi yang tinggi Dharmmesta, (2014).Ini berarti
loyalitas selalu berkaitan dengan preferensi pelanggan dan pembelian
aktual.Definisi loyalitas dari pakar yang disebutkan di atas berdasarkan
pada dua pendekatan, yaitu sikap dan perilaku.Dalam pendekatan
perilaku, perlu dibedakan antara loyalitas dan perilaku beli ulang.
Perilaku beli ulang dapat diartikan sebagai perilaku pelanggan yang
hanya membeli suatu produk secara berulang-ulang, tanpa menyertakan
aspek perasaan dan pemilikan di dalamnya. Sebaliknya loyalitas
mengandung aspek kesukaan pelanggan pada suatu produk.Ini berarti
bahwa aspek sikap tercakup di dalamnya.Loyalitas berkembang
mengikuti tiga tahap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Biasanya
pelanggan menjadi setia lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian
pada aspek afektif, dan akhirnya pada aspek konatif. Ketiga aspek
tersebut biasanya sejalan, meskipun tidak semua kasus mengalami hal
yang sama.
Loyalitas Pelanggan
Loyalitas pelanggan merupakan asset dan memiliki peran penting
dalam sebuah perusahaan. Menurut Griffin dalam Hurriyati, (2018)
“Loyalty is defined as noon random purchase expressed over time by
some decision making unit”. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa
loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari unit-unit pengambilan
keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap
barang atau jasa suatu perusahaan yang dipilih.Dengan demikian
kesimpulannya bahwa loyalitas terbentuk karena adanya pengalaman
dalam menggunakan suatu barang atau jasa.
Persaingan yang semakin hebat antara institusi penyedia produk
belakangan ini bukan hanya disebabkan globalisasi. Tetapi lebih
disebabkan karena pelanggan semakin cerdas, sadar harga, banyak
menuntut, kurang memaafkan, dan didekati oleh banyak produk.
Kemajuan teknologi komunikasi juga ikut berperan meningkatkan
intensitas persaingan, karena memberi pelanggan akses informasi yang
lebih banyak tentang berbagai macam produk yang ditawarkan. Artinya
pelanggan memiliki pilihan yang lebih banyak dalam menggunakan uang
yang dimilikinya.
Kotler, Hayes dan Bloom (2012) menyebutkan ada enam alasan
mengapa suatu institusi perlu mendapatkan loyalitas pelanggannya.
- Pelanggan yang ada lebih prospektif, artinya pelanggan loyal akan
memberi keuntungan besar kepada institusi. - Biaya mendapatkan pelanggan baru jauh lebih besar berbanding
menjaga dan mempertahankan pelanggan yang ada. - Pelanggan yang sudah percaya pada institusi dalam suatu urusan
akan percaya juga dalam urusan lainnya. - Biaya operasi institusi akan menjadi efisien jika memiliki banyak
pelanggan loyal. - Institusi dapat mengurangkan biaya psikologis dan sosial
dikarenakan pelanggan lama telah mempunyai banyak pengalaman
positif dengan institusi. - Pelanggan loyal akan selalu membela institusi bahkan berusaha pula
untuk menarik dan memberi saran kepada orang lain untuk menjadi
pelanggan
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan konsumen didefinisikan sebagai tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan
dibandingkan dengan harapannya Kotler, (2015) atau diartikan bawa
kepuasan merupakan fungsi dari kinerja yang dirasakan (perceived
performance) dan harapan (expectations).Jika kinerja produk atau jasa
lebih rendah dari harapan, konsumen akan merasa tidak puas. Jika kinerja
sesuai harapan maka konsumen akan merasa puas, jika kinerja sampai
melebihi harapan, maka konsumen akan merasa sangat puas (delighted).
Menurut Basu Swasta, (2014), kepuasan konsumen merupakan
evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama
atau melampaui harapan konsumen. Kepuasan konsumen ini akan terpenuhi
apabila mereka memperoleh apa yang mereka inginkan, pada saat mereka
membutuhkannya, di tempat yang mereka inginkan dan dengan cara yang
mereka tentukan. Ketidakpuasan akan timbul apabila hasil atau tidak
memenuhi harapan.Perilaku konsumen adalah perilaku konsumen yang
ditunjukkan melalui pencarian, pembelian, penggunaan, pengevaluasian
dan penentuan produk atau jasa mereka harapkan dapat memuaskan
kebutuhan mereka. Basu Swasta, (2014).
Kepuasan konsumen merupakan kunci keberhasilan suatu
perusahaan. Jangka panjangnya adalah meningkatkan keuntungan yang
ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen secara
memuaskan, karena dari sini akan menimbulkan terjadinya penggunaan
ulang dimasa yang akan datang.Pada dasarnya kepuasan konsumen
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan.
Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi :
- Positive disconfirmation, dimana hasil yang diterima lebih baik
daripada hasil yang diharapkan. - Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil
yang diharapkan. - Negative confirmation, dimana hasil yang diterima lebih buruk
(rendah) daripada hasil yang diharapkan.
Pada akhirnya konsumen yang merasa terpuaskan kebutuhan dan
keinginannya akan menindaklanjuti dengan :
1) Melakukan pembelian ulang (reselling) produk atau jasa.
2) Menyatakan hal baik perusahaan kepada orang lain
3) Kurang memperhatikan produk dan jasa pesaing.
4) Membeli produk yang lain dari perusahaan tersebut
Sedangkan konsumen yang merasa tidak terpuaskan dapat melakukan
tindakan – tindakan yang dikhawatirkan dapat merugikan perusahaan
seperti :
1) Menghentikan pembelian produk dari perusahaan
2) Menyatakan keluhan perusahaan kepada orang lain
3) Membeli produk atau jasa lain pada perusahaan pesaing Sehingga
kunci untuk memuaskan konsumen adalah memenuhi atau melebihi
pengharapan konsumen mengenai kualitas jasa
Kualitas Pelayanan
Sikap dan Layanan pihak PT. Indrajaya Swastika Semarang
merupakan kunci keberhasilan, juga usaha untuk menarik minat
konsumen.PT. Indrajaya Swastika Semarang dituntut untuk menekankan
pelayanan yangberkualitas. Mengingat bahwa PT. Indrajaya Swastika
Semarang selaluterlibat dalam pengadaan kontainer, maka faktor pelayanan
PT. Indrajaya Swastika Semarang merupakan faktor yang ikut menentukan.
Tanggungjawab penjual tidak hanya menjual barang saja, akan
tetapi perlu diperhatikan pemberian pelayanan. Menurut Philip Kotler
(2015), pelayanan merupakan kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan
tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu. Menyadari akan pentingnya
pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang kompetitif, banyak
perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan. Bentuk – bentuk
pelayanan tersebut antara lain :
- Pelayanan Kredit
Perusahaan dapat menawarkan sejumlah pilihan kredit kepada
pelanggan, meliputi : kontrak pembayaran secara kredit, rekening
terbuka dan pinjaman. - Pelayanan infomasi
Perusahaan dapat membentuk suatu unit yang dapat menjawab
pertanyaan para pelanggan dan menyebar informasi mengenai produk
baru, spesifikasi, proses kemungkinan perubahan harga, status pesanan
yang dipenuhi dan kebijakan. Pelayanan merupakan suatu tingkat usaha
dari perusahaan dalam uapaya memberikan kenikmatan dan kepuasan
kepada konsumen. Oleh karena itu pelayanan perlu mendapatkan
perhatian khusus dari perusahaan karena merupakan kunci kesuksesan
suatu perusahaan didalam menjalankan usahanya.Menurut American
Society for Quality Control Kotler, (2015). “Kualitas adalah
keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk
atau jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.
Selanjutnya menurut Duran dalam Lupiyoadi (2012), kualitas dapat
diartikan sebagai biaya yang dapat dihindari (avoidable) dan yang tidak
dapat dihindari (unavoidable).Yang termasuk dalam biaya yang dapat
dihindari misalnya biaya akibat kegagalan produk, sementara yang
termasuk biaya yang tidak dapat dihindari misalnya biaya kegiatan
pengawasan kualitas.Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa definisi kualitas bersumber dari dua sisi, produsen
dan konsumen.Produsen menentukan persyaratan atau spesifikasi
kualitas, sedangkan konsumen menentukan kebutuhan dan keinginan.
Pendefinisian akanakurat jika produsen mampu menerjemahkan
kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang
dihasilkan.
Kualitas pelayanan (Service Quality) seperti yang dikatakan oleh
Parasuraman dikutip oleh Lupiyoadi (2012) dapat didefinisikan yaitu:
“Seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan konsumen atas
pelayanan yang mereka terima atau peroleh”. Sementara menurut
Freddy Rangkuti (2014) bahwa: “Kualitas jasa didefinisikan sebagai
penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan konsumen”.
Definisi tersebut menekankan pada kelebihan dari tingkat kepentingan
konsumen sebagai inti dari kualitas jasa.Salah satu model kualitas
pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah
model ServQual (Service Quality) seperti yang dikembangkan oleh
Parasuraman, Zeithmal, dan Berry seperti yang dikutip oleh Lopiyoadi
(2012) dalam serangkaian penelitian mereka terhadap enam sektor jasa,
reparasi, peralatan rumah tangga, kartu kredit, asuransi, sambungan
telepon jarak jauh, perbankan ritel, dan pialang sekuritas. ServQual
(Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama
yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima
(perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan atau
diinginkan (expected service).
Lebih lanjut Mowen, dkk (2012) dalam Wardhani (2013)
mengemukakan bahwa kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses
evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempatan kinerja
layanan.Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan persepsi pelanggan
tentang mutu suatu usaha. Semakin baik pelayanan yang akan
mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan sehingga
usaha tersebut akan dinilai semakin bermutu. Sebaliknya apabila
pelayanan yang diberikan kurang baik dan memuaskan, maka usaha
tersebut juga dinilai kurang bermutu.Oleh karena itu usaha untuk
meningkatkan kualitas pelayanan harus terus dilakukan agar dapat
memaksimalkan kualitas jasa.
Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu
tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri
dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang
seharusnya konsisten satu sama lain: - Persepsi konsumen,
- Produk (jasa),
- Proses
Pengertian Fasilitas
Faktor fasilitas biasanya merupakan suatu faktor yang sangat
menunjang dalam usaha perusahaan memasarkan produk kepada konsumen
pengguna barang ataupun jasa. Adapun definisi fasilitas adalah segala hal yang
dapat memudahkan suatu produk untuk dipasarkan, Philip Kotler
(2015).Fasilitas juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk pembelian manfaat
dai perusahaan kepada konsumen pengguna yang diberikan atas dasar
pembayaran sejumlah uang. Dengan kata lain, pada perusahaan jasa, fasilitas
yang disediakan berupa alat-alat yang dapat menunjang dalam memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi konsumen.
Fasilitas biasa lainnya dipengaruhi oleh tingkat pelayanan,yang
artinya kenaikan atau penambahan fasilitas dalam suatu perusahaan akan
menyebabkan meningkatnya pelayanan. Fasilitas yang memadai dan lengkap
merupakan suatu daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam menentukan
pilihannya atau dalam mengambil keputusan terhadap penggunaan suatu
produk.Dan sebaliknya fasilitas yang memadai yang tidak disesuaikan dengan
pelayanan, mendorong ke arah kegagalan perusahaan karena konsumen dapat
mengurungkan niatnya untuk membeli produk yang ditawarkan
perusahaan.Fasilitas merupakan segala sesuatu yang memudahkan konsumen
dalam menggunakan jasa perusahaan tersebut.
Fasilitas merupakan segala sesuatu yang memudahkan konsumen
dalam usaha yang bergerak di bidang jasa, maka segala fasilitas yang ada yaitu
kondisi fasilitas, kelengkapan, desain interior, dan eksterior serta kebersihan
fasilitas harus diperhatikan terutama yang berkaitan erat dengan apa yang
dirasakan atau didapat konsumen secara langsung.Pelanggan memang harus
dipuaskan, sebab kalau tidak puas akan meninggalkan perusahaan dan menjadi
pelanggan pesaing. Hal ini akan menjadikan penurunan penjualan dan pada
gilirannya akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sedangkan
menurut Kotler (2015) mendefinisikan fasilitas yaitu segala sesuatu yang
bersifat peralatan fisik dan disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung
kenyamanan konsumen.
Menurut Tjiptono (2016) desain dan tata letak fasilitas jasa erat
kaitannya dengan pembentukan presepsi pelanggan.Sejumlah tipe jasa,
presepsi yang terbentuk dari interaksi antara pelanggan dengan fasilitas
berpengaruh terhadap kualitas jasa tersebut di mata pelanggan. Faktor-faktor
yang berpengaruh signifikan terhadap desain fasilitas jasa adalah sebagai
berikut:
- Sifat dan tujuan organisasi.
Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai persyaratan
desainnya.Sebagai contoh desain rumah sakit perlu mempertimbangkan
ventilasi yang memadai, ruang peralatan medis yang representatif, ruang
tunggu pasien yang nyaman, kamar pasien yang bersih.Desain fasilitas
yang baik dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya perusahaan
mudah dikenali dan desain interior bisa menjadi ciri khas atau petunjuk
mengenai sifat jasa didalamnya. - Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang atau tempat.
Setiap perusahaan jasa membutuhkan lokasi fisik untuk mendirikan
fasilitas jasanya. Dalam menentukan lokasi fisik diperlukan beberapa
faktor yaitu kemampuan finansial, peraturan pemerintah berkaitan
dengan kepemilikan tanah dan pembebasan tanah, dan lain – lain. - Fleksibilitas.
Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan apabila volume permintaan sering
berfluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, sehingga resiko
keuangan relatif besar.Kedua kondisi ini menyebabkan fasilitas jasa
harus dapat disesuaikan dengan kemungkinan perkembangan di masa
datang. - Faktor estetis.
Fasilitas jasa yang tertata rapi, menarik akan dapat meningkatkan sikap
positif pelanggan terhadap suatu jasa, selain itu aspek karyawan terhadap
pekerjaan dan motivasi kerjanya juga meningkat. Aspek-aspek yang
perlu ditata meliputi berbagai aspek.Misalnya tinggi langit–langit
bangunan, lokasi jendela dan pintu, bentuk pintu yang beraneka ragam,
dan dekorasi interior. - Masyarakat dan lingkungan sekitar.
Masyarakat (terutama masalah sosial dan lingkungan hidup) dan
lingkungan disekitar fasilitas jasa memainkan peranan penting dan
berpengaruh besar terhadap perusahaan.Apabila perusahaan tidak
mempertimbangkan faktor ini, maka kelangsungan hidup perusahaan
bisa terancam. - Biaya kontruksi dan operasi.
Kedua jenis biaya ini dipengaruhi desain fasilitas.Biaya kontruksi
dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bangunan yang digunakan.Biaya
operasi dipengaruhi oleh kebutuhan energi ruangan, yang berkaitan
dengan perubahan suhu.
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut Hasan (2013 : 106) Metode yang digunakan untuk mengukur
kepuasan pelanggan sebagai berikut:
1) Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang beroritasi pelanggan memberikan kesempatan kepada pelanggan
untuk menyampaikan saran secara langsung. Informasi-informasi yang diperoleh
melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan masukan yang berharga untuk
mengatasi keluhan pelanggan.
2) Ghost shopping
Metode ini efektif jika para manajer perusahaan bersedia sebagai ghost shoppers
untuk mengetahui secara langsung bagaimana karyawannya berinteraksi dan
memperlakukan pelanggan.
3) Lost customer analysis
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau beralih
pemasok, agar dapat memahami alasan pelanggan berhenti membeli. Hal ini dapat
digunakan untuk mengambil kebijakan perbaikan.
4) Survei Kepuasan pelanggan
Sebagaian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode
survei, baik survei melalui telepon, e-mail, website atau wawancara langsung.
Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan langsung dari pelanggan dan
juga memberikan kesan positif bahwa perusahaan menaruh perhatian kepada para
pelanggannya.
Manfaat Kepuasan Pelanggan
Menurut Hasan (2013:102) Perencanaan, implementasi, dan pengendalian
program kepuasan pelanggan yang baik dapat memberikan bagi perusahaan, yaitu:
1) Pendapatan
Pelanggan yang benar-benar puas berkontribusi 17 kali terhadap pendapatan
dibanding pelanggan yang agak puas.
2) Reaksi terhadap produsen berbiaya rendah
Banyak fakta bahwa pelanggan yang bersedia membayar harga lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas produk yang baik. Hal ini merupakan alternatif yang baik
dalam mempertahankan pelanggan untuk menghadapi produsen berbiaya rendah.
3) Manfaat ekonomis
Biaya mempetahankan pelanggan lebih murah 4-6 kali lipat di bandingkan biaya
mencari pelanggan baru.
4) Reduksi sensitivitas harga
Pelanggan yang puas terhadap sebuah perusahaan cenderung lebih jarang untuk
menawar harga dalam setiap pembelian individualnya.
5) Key sukses bisnis masa depan
Kepuasan pelanggan merupakan strategi bisnis jangka panjang, membangun dan
memperoleh reputasi produk, perusahaan butuh waktu yang cukup lama, perlu
investasi besar pada serangkaian aktivitas bisnis untuk membahagiakan pelanggan
Dimensi Kepuasan Pelanggan
Menurut Parasuraman, Zeithaml, & Berry dalam Mohsen Nazari dan Vahid
Tabatabaie (2014). faktor- faktor yang menjadi indikator dalam pembentukan kepuasan
pelanggan adalah:
1) Overall customer satisfaction
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau
hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan
adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
2) Perceived Value
Monroe dalam Vanessa (2007:65) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah rasio
antara keuntungan atau manfaat yang dirasakan dengan pengorbankan yang
dikeluarkan. Dimana keuntungan yang dirasakan adalah kombinasi dari atribut
fisik, atribut jasa dan teknik pendukung dalam pemanfaatan produk. Pengorbanan
yang dikeluarkan adalah total biaya yang dikeluarkan konsumen termasuk biaya
pembelian dan biaya tambahan (seperti biaya pemesanan, transportasi, instalasi,
penanganan pesanan).
3) Afektif Respon
Respon yang berhubungan dengan emosi, sikap dan menilai seseorang terhadap
sesuatu. Respon ini timbul apabila ada perubahan yang disenangi oleh khalayak
terhadap sesuatu.
4) Fulfilling important needs
Untuk mencapai kepuasan pelanggan, perusahaan harus bisa memenuhi kebutuhan
pelanggan dan memberikan pelayanan yang terbaik, tetapi jika perusahaan
memiliki tim pelayanan pelanggan yang buruk, maka membuat perusahaan
kehilangan pelanggan lama dan mungkin juga mengalihkan calon pelanggan. Agar
bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dengan baik, terlebih dahulu Anda harus bisa
mengetahui apa itu. Cara terbaik untuk mengetahui hal ini adalah dengan meminta
pelanggan anda secara langsung menggunakan sejumlah teknik penelitian, seperti
survei.
5) Teori Kepuasan (The Expectancy Disconfirmation Model )
The Expectancy Disconfirmation Model, yang mengemukakan bahwa kepuasan
dan ketidakpuasan konsumen merupakan dampak dari perbandingan oleh harapan
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh konsumen
dari produk yang dibeli tersebut.
6) Fulfilling changing and new needs
Menurut Soekarno (2000:15) Pesaingan bisnis yang semakin ketat menjadi
tantangan maupun ancaman bagi pelaku usaha tersebut. Agar dapat memenangkan
persaingan, mempertahankan pasar yang dimiliki dan merebut pasar yang sudah
ada, perusahaan dituntut untuk mempunyai kemampuan mengadaptasi strategi
usahanya dan lingkungan yang terus-menerus berubah dan berkembang. Setiap
pelaku bisnis dituntut untuk mempunyai kepekaan terhadap setiap perubahan yang
terjadi, serta mampu memenuhi dan menanggapi setiap tuntutan pelanggan yang
terus berubah
Konsep Kepuasan pelanggan
Menurut Hasan (2013 : 94) Secara konseptual kepuasan pelanggan dapat
dikaji dari teori:
1) Experience affective feelings
Tingkat kepuasan pelanggan dipengaruhi perasaan positif dan negatif yang
telah diasosiasikan pelanggan dengan barang atau jasa tertentu setelah
pembeliannya. Dengan kata lain perasaan yang timbul setelah melalukan pembelian
dapat juga mempengaruhi perasaan atau tidak puas terhadap produk yang dibeli.
2) Expectancy disconfirmation theory
Pemakaian merek tertentu atau merek lainnya dalam kelas produk yang sama,
pelanggan membentuk harapan mengenai kinerja seharusnya dari merek yang
bersangkutan. Harapan atas kinerja dibandingkan dengan kinerja aktual produk
yaitu persepsi atas kualitas produk. Terdapat tiga kemungkinan yang terjadi:
a) Apabila kualitas lebih rendah dari harapan, yang terjadi adalah ketidakpuasan
emosional.
b) Apabila kinerja lebih besar dibandingkan harapan, terjadi kepuasan emosional.
c) Apabila kinerja sama dengan harapan, maka yang terjadi adalah konfirmasi
harapan
Definisi Kepuasan pelanggan
Menurut Brown dalam Sudaryono (2014 : 48) kepuasan pelanggan adalah
suatu kondisi dimana kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen terhadap sebuah
produk atau jasa, sesuai atau terpenuhi dengan penampilan dari produk dan jasa.
Konsumen atau pelanggan yang puas akan mengkonsumsi produk tersebut secara terus
– menerus, mendorong konsumen akan loyal terhadap produk dan jasa tersebut, dan
juga dengan senang hati mempromosikan produk atau jasa tersebut dari mulut ke
mulut. Menurut Mowen dan Minor dalam Sudaryono (2016 : 78) kepuasan pelanggan
didefinisikan sebagai keseluruhan sikap yang ditunjukan oleh konsumen atas barang
dan jasa setelah mereka memperoleh dan meggunakannya. Ini merupakan penilaian
evaluatif pasca pemilihan yang disebabkan oleh seleksi pembelian khusus dan
pengalaman mengunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2016 :153) kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan
produk terhadap ekspektasi mereka, jika kinerja sesuai dengan ekspektasi makan akan
puas. Dari berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan
pelanggan ialah perasaan senang atau kecewa yang dihasilkan dari upaya pemenuhan
kebutuhan oleh perusahaan melalui kinerja, perasaan puas muncul ketika konsumen
merasa kinerja sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Metode Pengukuran Promosi Penjualan
Menurut Laksana (2019 : 146) promosi penjualan untuk pasar – pasar
konsumen dapat mudah di uji dengan test pendahuluan, dimana konsumen diminta
untuk menyusun peringkat berbagai promosi atau uji coba dilakukan di daerah tertentu
yang terbatas luasnya. Menurut Laksana (2019 : 147 – 148) ada empat metode untuk
mengukur efektifitas promosi penjualan yaitu:
1) Memperbandingkan penjualan sebelum, sewaktu dan sesudah promosi.
2) Data panel konsumen : akan mengungkap macam – macam orang yang menanggapi
promosi penjualan dan apa yang mereka lakukan setelah promosi.
3) Survei konsumen : apabila di butuhkan banyak, untuk mengetahui berapa banyak
yang mengingat promosi, bagaimana pendapat mereka tentang promosi itu, berapa
orang yang mengambil keuntungan dari promosi tersebut dan bagaimana promosi
tersebut mempengaruhi perilaku mereka dalam memilih merek produk.
4) Lewat percobaan mengenai berbagai macam hal : misalnya nilai insentif, jangka
waktu, dan media distribusinya
Tujuan Promosi Penjualan
Tujuan merupakan petunjuk dalam menentukan alat – alat promosi penjualan
yang tepat dan juga sebagai dasar untuk mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.
Tujuan – tujuan tersebut harus berdasarkan konsep dasarnya, yaitu program promosi
penjualan ini merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilaksanakan perusahaan.
Karena pengaruh utama yang diharapkan dari program pejualan adalah untuk
mendorong konsumen atau distributor melakukan tindakan pembelian. Menurut
Laksana (2019 : 144) tujuan promosi penjulalan tebrbagi menjadi dua yaitu:
1) Tujuan umum : bersumber pada tujuan komunikasi pemasaran, yaitu untuk
mempercepat respon pasar yang di targetkan.
2) Tujuan Khusus :
a) Bagi konsumen (Consumer Promotion) : untuk mendorong konsumen antara
lain untuk lebih banyak menggunakan produk, unit pembeli produk dalam unit
besar, mencoba merek yang dipromosikan, dan untuk menarik pembeli merek
lain yang bersaing dengan produk yang sedang di promosikan.
b) Bagi pengecer (Trade Promotion) : membujuk pengecer untuk menjual barang
produk baru, menimbun lebih banyak persediaan barang, menngingatkan
pembeli ketika sedang tidak musim, membujuk agar menimbun barang –
barang dipromosikan dan memperoleh jalur pengeceran baru.
c) Bagi wiraniaga (Sales Force Promotion) : untuk member dukungan atau produk
atau model baru untuk merangsang mereka mencari pelanggan baru dan
mendorong penjualan di musim sepi.
Hubungan Antara Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Konsumen
Hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsuman sangat
berpengaruh, menurut Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen baik internal maupun eksternal,
secara eksplisit dan implisit.
Menurut Parasuraman et, al (dalam Supranoto, 2001 : 236) ada tiga
pendekatan penciptaan nilai pelanggan sebagai kiat pemasaran yang dapat
digunakan perusahaan untuk mengembangkan ikatan serta kepuasan pelanggan
yang lebih kuat. Tiga pendekatan penciptaan nilai pelanggan tersebut adalah :
- Pendekatan I adalah memberikan kauntungan finansial bagi pelanggan
- Pendekatan II adalah meningkatkan ikatan sosial antara perusahaan dengan
pelanggan dengan cara mempelajari kebutuhan masing-masing pelanggan serta
memberikan pelayanan yang lebih pribadi sifatnya. - Pendekatan III adalah meningkatkan ikatan sturktural
Pemasaran yang didasarkan pada hubungan dengan pelanggan merupakan
kunci mempertahankan pelanggan dan mencakup pemberian keuntungan
finansial serta sosial disamping ikatan struktural dengan pelanggan, karena itu
perusahaan harus dilakukan pada masing-masing segmen pasar dan pelanggan,
dan tingkat pemasaran biasa, kreatif, bertanggung jawab, proaktif sampai
kemitraan penuh
Teknik Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Pada umumnya banyak penelitian mengenai bagaimana cara mengukur
kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode survei. Menurut
Tjiptono (2000 : 149) dalam mengukur kepuasan pelanggan dapat menggunakan
pengukuran sebagai berikut :
- Pengukuran yang dilakukan secara langsung
Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan
suatu atribut tertentu atas apa yang mereka rasakan. - Responden dapat diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi
berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan juga dminta menuliskan
perbaikan yang mereka sarankan. - Responden diminta untuk merangking berbagai elemen (atribut) dari
penawaran berdasarkan derajat pentignya elemen dan seberapa baik kinerja
perusahaan dan masing-masing elemen.
Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Philip Kotler (1994) dalam Fandy Tjiptono (2000) mengidentifikasikan
empat metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut :
- Sistem Keluhan dan Saran
Organisasi yang beroriantasi pada pelanggan perlu memberikan
kesempatan pada pelanggan dalam menyampaikan pendapatnya yang memang
dirasa baik ataupun yang tidak sesuai. Cara atau media yang digunakan bisa
berupa kotak saran, saluran telepon khusus bebas pulsa, dan lain-lain. dimana
informasi melalui media seperti ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan kepada perusahaan agar dapat cepat dan tanggap mengatasi masalah
masalah yang timbul. - Ghost Shopping
Yaitu suatu cara untuk mendapatkan gambaran mengenai kepuasan
pelanggan dengan mempekerjakan beberapa orang yang berperan atau bersikap
sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing
mengenai kekuatan, kelemahan produk dan pesaing berdasarkan pengalaman
merekadalam pembelian produk tersebut. - Lost Customer Ananlisys
Yaitu suatu strategi yang dilakukan oleh perusahaan dengan
menghubungi pelanggan yang telah berhenti membeli atau berpindah tempat
pemasok, hal ini dimaksudkan agar perusahaan bisa mengambil kebijakan
perbaikan dan penyempurnaan selanjutnya. - Survey kepuasan pelanggan
Yaitu suatu cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam memperoleh
tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga
memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
pelanggannya
Pengertian kepuasan konsumen
Untuk mengetahui kepuasan pelanggan bisa dengan melihat kesesuaian
antara harapan pelanggan dengan kinerja yang diujukan oleh produk atau jasa
yang ada, yaitu pelanggan akan merasa tidak puas jika kinerja tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan, begitu juga sebaliknya. Harapan pelanggan dapat dibentuk
oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi
pasar serta saingannya.
Dengan kondisi tersebut diatas Supranoto (2001 : 233) berpendapat bahwa
kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil
yang dirasakannya dengan harapannya. Sehingga bisa dikatakan tingkat kepuasan
merupakan fumgsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Agar kepuasan pelanggan dapat tercipta, perusahaan harus menciptakan
dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan
kemempuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Yazid (2008) berpendapat bahwa kepuasan adalah ketiadaan perbedaan
antara harapan yang dimiliki dan unjukkerja yang senyatanya diterima. Kepuasa
konsumen selalu didasarkan kepada upaya peniadaan atau paling sedikit upaya
penyempitan gap antara keadaan yang diinginkan (harapan) dengan keadaan
sebenarnya yang dihadapi (perceived). Ada tiga macam kondisi kepuasan yang
bisa dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan perbandingan antara harapan
dan kenyataan, yaitu jika harapan atau kebutuhan sama dengan layanan yang
diberikan maka konsumen akan merasa puas. Jika layanan yang diberikan
pada konsumen kurang atau tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan
konsumen maka konsumen menjadi tidak puas. Kepuasan konsumen
merupakan perbandingan antara harapan yang dimiliki oleh konsumen dengan
kenyataan yang diterima oleh konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh
konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen pada saat
mengkonsumsi produk atau jasa. Konsumen yang mengalami kepuasan
terhadap suatu produk atau jasa dapat dikategorikan ke dalam konsumen
masyarakat, konsumen instansi dan konsumen individu
Model Kualitas Pelayanan
Suatu cara perusahaan agar tetap bisa menjadi yang terbaik adalah dengan
memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya secara
konsisten. Harapan konsumen dibentuk dari pengalaman masa lampau,
pembicaraan dari mulut kemulut serta promosi yang dilakukan oleh perusahaan
jasa, kemudian membandingkannya.
Sebuah model kualitas pelayanan telah dikembangkan oleh parasuraman et,
al (dalam Yazid, 2008 : 58) membantu mengidentifikasi gap (kesenjangan) antara
kualitas jasa yang dipersepsikan dan diterima pelanggan dengan model yang
mereka harapkan.
Model ini mengidentifisi lima gap yaitu :
- Gap harapan-persepsi manajemen
Merupakan perbedaan antara harapan pelanggan dengan persepsi
manajemen mengenai harapan konsumen. Riset menunjukkan bahwa
organisasi jasa finansial seringkali memperlakukan aspek privacy dan
kerahasiaan sebagai sesuatu yang relatif tidak penting. - Gap persepsi manajemen-harapan kualitas jasa
Merupakan perbedaan antara persepsi manajemen terhadap harapan
konsumen dan spesifikasi kualitas jasa. - Gap spesifikasi kualitas jasa-penyampaian jasa
Merupakan perbedaan antara spesifikasi kualitas jasa dengan jasa yang
secara aktual disampaikan. Ini sangat penting bagi jasa yang sisitem
penyampaiannya sangat tergantung pada sumber daya manusia. - Gap penyampaian jasa komunikasi eksternal pada konsumen
Merupakan perbedaan antara minat penyampaian jasa dan apa yang
dikomunikasikan tentang jasa kepada pelanggan. Ini membentuk harapan
didalam diri pelanggan yang mungkin tidak terpenuhi dan seringkali
merupakan hasil komunikasi yang tidak memadai oleh penyedia jasa. - Gap jasa diharapkan-jasa yang dipersepsikan
Yaitu mencerminkan perbedaan antara kinerja aktual dan persepsi
pelanggan terhadap jasa. Penilaian subyektif terhadap kualitas jasa akan
dipengaruhi oleh banyak faktor, yang seluruhnhya bisa mengubah persepsi
terhadap jasa yang telah disampaikan
Tahapan konsep kualitas pelayanan
Menurut Ibrahim Buddy (2000 : 6) ada enam tahap konsep kualitas yang
masing-masing tahap akan dijelaskan sebagai berikut :
- Konsep Tahap 1 sesuai standar (fitness to standard)
Konsep ini menentukan kualitas produk sesuai petunjuk petunjuk
standar berdasarkan desain yang telah ditentukan. Kelemahan konsep ini ialah
:
a. Sikap yang berorientasi pada inspeksi sehingga menimbulkan ketegangan
antara bagian produksi dan bagian pemeriksa.
b. Akibat sistem standar dan inspeksi maka orientasi ialah pada produk dan
bukan pada kebutuhan pasar.
c. Makin tinggi standar yang ditentukan maka makin rumit proses produksi
dengan akibat banyak produk yang tidak sesuai sehingga biaya produksi
meningkat makin tinggi. - Konsep tahap 2 sesuai penggunaan pasar (fitness to use)
Konsep ini membuat produk yang sesuai dengan penggunaan pasar.
Hal ini tercapai apabila melakukan inspeksi. Kelemahan konsep ini adalah :
a. Masih bertumpu pada inspeksi standard.
b. Setiap proses produksi menimbulkan variabilitas produk walaupun untuk
standar dan produk yang sama.
c. Setiap produk baru akan mengundang persaingan yang dapat memberi
harga jual yang lebih rendah apabila dapat mengurangi biaya produksi
dalam proses inspeksi, sehingga pangsa pasar dapat berkurang. - Prinsip tahap 3 sesuai harga (fitness of cost)
Untuk memperoleh penurunan harga sambil mempertahankan tingkat
yang tinggi, maka variabilitas proses produksi terus dikurangi sedemikian
rupa sehingga tetap dalam batas inspeksi, serta diperlukan juga umpan balik
dan koreksi dalam setiap langkah proses produksi. Kelemahan konsep ini
adalah : para pesaing dan negara industri baru dapat membuat produk yang
sama dengan biaya buruh yang lebih rendah sehingga dapat menawarkan
harga jual yang lebih kompetitif. - Konsep tahap 4 sesuai perkembangan kebutuhan (fitness to latent
requirements)
Konsep ini berusaha memberikan apa yang dibutuhkan konsumen
meskipun saat itu produk belum ada di pasar, namun setelah di pasar
langsung diminati oleh konsumen. Kelemahan konsep ini adalah : sekali
konsumen tahu akan produk/jasa tersebut maka harus diusahakan perbaikan
dan perubahan baru bersamaan dengan peningkatan kualitas. - Konsep tahap 5 sesuai budaya perusahaan (fitness to corporate culture)
Konsep ini mendasarkan kualitas sebagai landasan budaya perusahaan
agar dapat memenuhui kebutuhan konsumen secara terus menerus dengan
lebih baik. - Konsep tahap 6 sesuai lingkungan global (fitness to global environ metal
requirements)
Konsep ini menghasilkan produk berkualitas yang melestarikan sumber
daya alam yang langka sehingga terjaga dari kerusakan akibat penggunaan
teknologi yang semakin canggih.
Karakteristik Kualitas Pelayanan
Dalam ibrahim buddy (2000 : 3) beberapa ahli pemasaran
mengidentifikasikan sebelas karakteristik yang menentukan kualitas pelayanan
akan jasa yang dijabarkan sebagai berikut :
- Reliability, yaitu konsistensi dalam kinerja dan ketahanannya.
- Responsiveness, yaitu tanggap terhadap klaim/protes konsumen, kesiapan
karyawan dalam memberikan service pada waktu yang diperlukan,
misalnya adanya teknologi, peraturan, yang berubah dan harus diantisipasi
dengan kemungkinan penawaran baru untuk produk/jasa yang belum ada
di pasar. - Competence, yaitu menguasai ketrampilan dan pengetahuan yang memadai
untuk memberikan service yang diperlukan. - Acces, yaitu kemudahan pendekatan dan akses.
- Courtesy, yaitu diperlukannya sopan santun, perhatian yang tulus dan
keramahan dari personil/karyawan service ketika mendengar keluhan
pelanggan. - Communication, yaitu pemberitahuan informasi kepada konsumen dengan
bahasa yang mudah dipahami konsumen, menjelaskan perihal service/jasa
yang ditawarkan bila diperlukan oleh konsumen. - Credibility, yaitu kepercayaan, keandalan, kejujuran dari karyawan
perusahaan. - Security, yaitu bebas dari bahaya resiko, atau keraguan, keamanan fisik
ataupun keamanan finansial serta kerahasiaan. - Understanding the customer, yaitu memahami konsumen dengan cara
berusaha mengerti kebutuhan konsumen. - Assurance, yaitu memiliki sumber daya manusia dan teknologi serta
fasilitas untuk memberikan jaminan dalam memenuhi kebutuhan
konsumen dengan jasa purnajual jangka panjang dan bukan sesaat saja
sewaktu menyerahkan barang. - Tangibles, yaitu bukti fisik adanya jasa (service). Adanya fasilitas fisik,
ketrampilan personil/karyawan yang baik dalam menyediakan jasa demi
kemudahan dan efisiensi bagi konsumen
Pengertian Kualitas Pelayanan
Sebuah jasa atau produk tunggal tidak dapat memenuhi kebutuhan semua
pelanggan, tetapi dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang spesifik. Dengan
kondisi tersebut maka diperlukan kualitas pelayanan yang baik agar pelanggan
bisa merasa puas terhadap apa yang diinginkankannya. Pengertian atau definisi
kualitas itu sendiri menurut J. Supranoto (2001 : 285) adalah “sebuah kata yang
bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik”.
Sedangkan Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara
eksplisit dan implisit. Strategi kualitas ini menggunakan dan memerlukan
kemampuan sumber daya manajemen pengetahuan, kompetensi inti, modal,
teknologi, peralatan, material, sistem dan manusia perusahaan untuk
menghasilkan barang atau jasa bernilai tambah bagi manfaat masyarakat serta
memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Selain itu keunggulan suatu
produk jasa tergantung dari keunikan yaitu apakah sudah sesuai dengan harapan
dan keinginan pelanggan atau tidak.
Bila ditinjau lebih jauh mengapa kualitas sangat diperlukan maka Ibrahim
Buddy (2000 : 5) bisa menjelaskan bahwa kualitas diperlukan karena 4-K yaitu
diharapkan agar :
- Konsumen menjadi labih canggih dalam selera dan pilihan.
- Kompetisi persaigan menjadi lebih ketat dan canggih.
- Kenaikan biaya, yang hanya dapat diatasi lewat perbaikan kualitas
proses dapat meningkatkan produktivitas tanpa hentinya. - Walaupun dengan adanya krisis apapun bentuknya baik dari pihak
pemasok, bank, teknologi proses, pasar konsumen yang labil, moneter,
ataupun ekonomi makro dan mikro bisa membuat kita siap menghadapi
dan mengatasi krisis apabila menjadi kenyataan
Metode Untuk Mengukur Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler yang dikutip Fandy Tjiptono (2014:315) ada beberapa
metode yang dipergunakan setiap perusahaan untuk mengukur dan
memantau kepuasan pelanggannya dan pelanggan pesaing. Kotler
mengidentifikasikan 4 (empat) metode untuk mengukur kepuasan
pelanggan, antara lain:
1) Sistem Keluhan dan Saran
Suatu perusahaan yang berorientasi pada pelanggan akan
memberikan kesempatan yang luas pada para pelanggannya
untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan
menyediakan kotak saran, kartu komentar, dan lain-lain.
Informasi dari para pelanggan ini akan memberi masukan dan
ide-ide bagi perusahaan agar bereaksi dengan tanggap dan cepat
dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul. Sehingga
perusahaan akan tahu apa yang dikeluhkan oleh para
pelanggannya dan segera memperbaikinya. Metode ini berfokus
pada identifikasi masalah dan juga pengumpulan saran-saran dari
pelanggannya langsung.
2) Ghost Shopping / Mystery Shopper
Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan
pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang ghost
shopers untuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan
potensial. Sebagai pembeli potensial terhadap produk dari
perusahaan dan juga dari produk pesaing. Kemudian mereka akan
melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
kelemahan dari produk perusahaan dan pesaing berdasarkan
pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
Selain itu, para ghost shopers juga bisa mengamati cara
penanganan terhadap setiap keluhan yang ada, baik oleh
perusahaan yang bersangkutan maupun dari pesaingnya.
3) Lost Customer Analyze
Perusahaan akan menghubungi para pelanggannya atau
setidaknya mencari tahu pelanggannya yang telah berhenti
membeli produk atau yang telah pindah pemasok, agar dapat
memahami penyebab mengapa pelanggan tersebut berpindah ke
tempat lain. Dengan adanya peningkatan customer lost rate,
dimana peningkatan customer lost rate menunjukkan kegagalan
perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
4) Survei Kepuasan Konsumen
Sebagian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan
menggunakan metode survei, baik survei telepon, e-mail,
website, maupun wawancara langsung. Tujuan survei kepuasan
konsumen adalah untuk mengetahui secara objektif persepsi
konsumen terhadap kinerja produk atau jasa yang dihasilkan,
yang antara lain terkait dengan atribut-atribut tangible, empathy,
responsibility, responsiveness, dan assurance. Atribut-atribut
tersebut adalah yang langsung dirasakan oleh konsumen yang
bermuara pada tingkat kepuasan atas produk atau jasa yang
diterimanya.
Dimensi Untuk Mengukur Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler dan Keller (20012:140) mempertahankan pelanggan
merupakan hal penting daripada memikat pelanggan. Oleh karena itu,
terdapat 5 (lima) dimensi untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu:
1) Membeli lagi
2) Mengatakan hal-hal yang baik tentang perusahaan kepada orang
lain dan merekomendasikan
3) Kurang memperhatikan merek dan iklan produk pesaing
4) Membeli produk lain dari perusahaan yang sama
5) Menawarkan ide produk atau jasa kepada perusahaan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen
Kotler (2012) mengemukakan bahwa kepuasan konsumen
dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1) Kualitas pelayanan
Kualitas pelayanan sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia.
2) Kualitas Produk
Konsumen puas jika setelah membeli dan menggunakan produk,
ternyata kualitas produknya baik. Kualitas barang yang diberikan
bersama-sama dengan pelayanan akan mempengaruhi persepsi
konsumen. Ada delapan elemen dari kualitas produk, yakni
kinerja, fitur, reliabilitas, daya tahan, pelayanan, estetika, sesuai
dengan spesifikasi, dan kualitas penerimaan.
3) Harga
Pembeli biasanya memandang harga sebagai indikator dari
kualitas suatu produk.Konsumen cenderung menggunakan harga
sebagai dasar menduga kualitas produk.Maka konsumen
cenderung berasumsi bahwa harga yang lebih tinggi mewakili
kualitas yang tinggi.
4) Faktor situasi dan personal
Faktor situasi dan pribadi, dapat mempengaruhi tingkat kepuasan
seseorang terhadap barang atau jasa yang dikonsumsinya. Faktor
situasi seperti kondisi dan pengalaman akan menuntut konsumen
untuk dapat kepada suatu penyedia barang atau jasa, hal ini akan
mempengaruhi harapan terhadap barang atau jasa yang akan
dikonsumsinya.
Menurut Tjiptono(2014) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen adalah:
1) Kualitas produk yaitu konsumen puas kalau setelah membeli dan
menggunakan produk tersebut ternyata kualitas produknya baik.
2) Harga yaitu untuk konsumen yang sensitive, biasanya harga
murah adalah sumber kepuasan yang penting karena konsumen
akan mendapatkan valuefor money (nilai uang) yang tinggi.
3) Service quality yaitu kepuasan terhadap kualitas pelayanan,
konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan seperti
yang diharapkan.
4) Emotional factor yaitu konsumen akan merasa puas atau bangga
karena adanya emotional value yang diberikan oleh brand dari
produk tersebut.
5) Biaya dan kemudahan yaitu konsumen akan semakin puas
apabila relatif mudah, nyaman, dan efisiensi dalam mendapatkan
produk tersebut.
Kepuasan Konsumen
Menurut Brown (dalam Sunyoto, dkk 2015)
Kepuasan konsumen adalah suatu kondisi dimana kebutuhan, keinginan,
dan harapan konsumen terhadap sebuah produk dan jasa sesuai atau
terpenuhi dengan penampilan dari produk dan jasa. Konsumen yang puas
akan mengkonsumsi produk tersebut secara terus menerus, mendorong
konsumen akan loyal terhadap suatu produk dan jasa tersebut dan dengan
senang hati mempromosikan produk dan atau jasa tersebut dari mulut ke
mulut.
Menurut Kotler dan Keller (2012) Kepuasan konsumen sebagai
perasaan konsumen, baik itu berupa kesenangan atau kekecewaan yang
timbul dari membandingkan penampilan sebuah produk dihubungkan
dengan harapan konsumen atas produk tersebut
