Mengukur Loyalitas


Secara umum, loyalitas dapat diukur dengan cara-cara berikut:

  1. Urutan pilihan (choice sequence) Metode urutan pilihan atau disebut
    juga pola pembelian ulang ini banyak dipakai dalam penelitian
    dengan menggunakan panel-panel agenda harian pelanggan lainnya,
    dan lebih terkini lagi, data scanner supermarket. Urutan itu dapat
    berupa:
    a. Loyalitas yang tak terpisahkan (undivided loyalty) dapat
    ditunjukkan dengan runtutan AA. AA. AA. Artinya pelanggan
    hanya membeli suatu produk tertentu saja. Misalnya: pelanggan
    selalu memilih clear setiap membeli shampo.
    b. Loyalitas yang terbagi (divided loyalty) dapat ditunjukkan dengan
    runtutan AB. AB. AB. Artinya pelanggan membeli dua merek
    secara bergantian. Misalnya: suatu ketika membeli shampo clear
    dan berikutnya shampo zink.
    c. Loyalitas yang tidak stabil (unstable loyalty) dapat ditunjukkan
    dengan runtutan AA. AB. BB. Artinya pelanggan memilih suatu
    merek untuk beberapa kali pembelian kemudian berpindah ke
    merek lain untuk periode berikutnya. Misalnya: selama 1 tahun
    pelanggan memilih shampo “Clear” dan tahun berikutnya shampo
    “Zink”.
    d. Tanpa loyalitas (no loyalty), ditunjukkan dengan runtutan
    ABCDEF. Artinya pelanggan tidak membeli suatu merek tertentu.
    Kotler (2015), mempunyai istilah lain untuk loyalitas di atas,
    yaitu; „Hard-core loyals, split loyals, shifting loyals, dan
    switchers‟.
  2. Proporsi pembelian (proportion of purchase) Berbeda dengan
    runtutan pilihan, cara ini menguji proporsi pembelian total dalam
    sebuah kelompok produk tertentu. Data yang dianalisis berasal dari
    panel pelanggan.
  3. Preferensi (preference) Cara ini mengukur loyalitas dengan
    menggunakan komitmen psikologis atau pernyataan preferensi.
    Dalam hal ini, loyalitas dianggap sebagai “sikap yang positif”
    terhadap suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam istilah niat
    untuk membeli.
  4. Komitmen (commitment) Komitmen lebih terfokus pada komponen
    emosional/perasaan. Komitmen terjadi dari keterkaitan pembelian
    yang merupakan akibat dari keterlibatan ego dengan kategori merek
    Beatty, Kahle, Homer, (2015). Keterlibatan ego tersebut terjadi ketika
    sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, keperluan,
    dan konsep-diri pelanggan. Cara pertama dan kedua di atas
    merupakan pendekatan perilaku (behavioural approach). Cara ketiga
    dan keempat termasuk dalam pendekatan attitudinal (attitudinal
    approach).