Kualitas Pelayanan

Menurut Philip Kotler
(2015), pelayanan merupakan kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan
tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu. Menyadari akan pentingnya
pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang kompetitif, banyak
perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan. Bentuk – bentuk
pelayanan tersebut antara lain :

  1. Pelayanan Kredit
    Perusahaan dapat menawarkan sejumlah pilihan kredit kepada
    pelanggan, meliputi : kontrak pembayaran secara kredit, rekening
    terbuka dan pinjaman.
  2. Pelayanan infomasi
    Perusahaan dapat membentuk suatu unit yang dapat menjawab
    pertanyaan para pelanggan dan menyebar informasi mengenai produk
    baru, spesifikasi, proses kemungkinan perubahan harga, status pesanan
    yang dipenuhi dan kebijakan. Pelayanan merupakan suatu tingkat usaha
    dari perusahaan dalam uapaya memberikan kenikmatan dan kepuasan
    kepada konsumen. Oleh karena itu pelayanan perlu mendapatkan
    perhatian khusus dari perusahaan karena merupakan kunci kesuksesan
    suatu perusahaan didalam menjalankan usahanya.Menurut American
    Society for Quality Control Kotler, (2015). “Kualitas adalah
    keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk
    atau jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi
    kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.
    Selanjutnya menurut Duran dalam Lupiyoadi (2012), kualitas dapat
    diartikan sebagai biaya yang dapat dihindari (avoidable) dan yang tidak
    dapat dihindari (unavoidable).Yang termasuk dalam biaya yang dapat
    dihindari misalnya biaya akibat kegagalan produk, sementara yang
    termasuk biaya yang tidak dapat dihindari misalnya biaya kegiatan
    pengawasan kualitas.Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat
    disimpulkan bahwa definisi kualitas bersumber dari dua sisi, produsen
    dan konsumen.Produsen menentukan persyaratan atau spesifikasi
    kualitas, sedangkan konsumen menentukan kebutuhan dan keinginan.
    Pendefinisian akanakurat jika produsen mampu menerjemahkan
    kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang
    dihasilkan.
    Kualitas pelayanan (Service Quality) seperti yang dikatakan oleh
    Parasuraman dikutip oleh Lupiyoadi (2012) dapat didefinisikan yaitu:
    “Seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan konsumen atas
    pelayanan yang mereka terima atau peroleh”. Sementara menurut
    Freddy Rangkuti (2014) bahwa: “Kualitas jasa didefinisikan sebagai
    penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan konsumen”.
    Definisi tersebut menekankan pada kelebihan dari tingkat kepentingan
    konsumen sebagai inti dari kualitas jasa.Salah satu model kualitas
    pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah
    model ServQual (Service Quality) seperti yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Zeithmal, dan Berry seperti yang dikutip oleh Lopiyoadi
    (2012) dalam serangkaian penelitian mereka terhadap enam sektor jasa,
    reparasi, peralatan rumah tangga, kartu kredit, asuransi, sambungan
    telepon jarak jauh, perbankan ritel, dan pialang sekuritas. ServQual
    (Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama
    yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima
    (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan atau
    diinginkan (expected service).
    Lebih lanjut Mowen, dkk (2012) dalam Wardhani (2013)
    mengemukakan bahwa kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses
    evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempatan kinerja
    layanan.Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan persepsi pelanggan
    tentang mutu suatu usaha. Semakin baik pelayanan yang akan
    mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan sehingga
    usaha tersebut akan dinilai semakin bermutu. Sebaliknya apabila
    pelayanan yang diberikan kurang baik dan memuaskan, maka usaha
    tersebut juga dinilai kurang bermutu.Oleh karena itu usaha untuk
    meningkatkan kualitas pelayanan harus terus dilakukan agar dapat
    memaksimalkan kualitas jasa.
    Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu
    tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri
    dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang
    seharusnya konsisten satu sama lain:
  3. Persepsi konsumen,
  4. Produk (jasa),
  5. Proses