Terdapat delapan dimensi kualitas yang dikembangkan Garvin (Tjiptono, 2016), dan
dapat digunakan sebagai perencanaan strategi dan analisis. Dimensi-dimensi tersebut
adalah:
- Kinerja (performance) karakteristik operasi pokok dari produk inti, misalnya
kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah penumpang yang dapat diangkut,
kemudahan dan kenyamanan dalam mengemudi dan sebegainya. - Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder atau
pelengkap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior seperti AC, shound sytem,
power steering dan sebagainya. - Kehandalan (realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau
gagal dipakai, misalnya mobil tidak sering macet/rewel/rusak. - Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesifications), yaitu sejauh mana
karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan
sebelumnya. Misalnya standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti ukuras as roda
untuk truk tentunya harus lebih besar dari pada mobil sedan. - Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat terus
digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis pengguna
mobil. Umumnya mobil buatan amerika lebih baik daripada buatan jepang. - Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi,
serta penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan yang diberikan tidak terbatas
hanya sebelum penjualan, tetapi jiga selama proses penjualan, yang juga mencakup
pelayanan reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan. - Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalnya bentuk fisik mobil
yang menarik, model yang artistik, warna dan sebagainya. - Kualitas yangdipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya pengetahuan
pembeli karena atribut/ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merk, iklan, reputasi dan
sebagainya
