Karakteristik Experiental Marketing


Pendekatan pemasaran experiential marketing merupakan pendekatan
yangmencoba menggeser pendekatan pemasaran tradisional, pendekatan
tradisional ini menurut (Schmitt dalam Kustini, 2007) memiliki empat karakteristik
experiential marketing, yaitu :

  1. Fokus pada pengalaman pertama
    Berbeda dengan pemasaran tradisional, experiential marketing berfokus pada
    pengalaman pelanggan. Pengalaman yang terjadi akibat pertemua, menjalani
    atau melewati situasi tertentu. Pengalaman yang terjadi akibat pertemuan,
    menjalani atau melewati situasi tertentu. Pengalaman memberika nilai-nilai
    indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang menggantikan nilainilai fungsional.
  2. Menguji situasi konsumsi
    Pemasar eksperensial menciptakan sinergi untuk dapat meningkatkan
    pengalaman konsumsi. pelanggan tidak hanya mengevaluasi suatu produk
    sebagai produk yang berdiri sendiri dan juga tidak hanya menganalisis tampilan
    dan fungsi saja, melainkan pelanggan lebih menginginkan suatu produk yang
    sesuai dengan situasi dan pengalaman pada saat mengkonsumsi produk tersebut.
  3. Mengenali aspek rasional dan emosional
    Pemicu dari konsumsi Jangan memperlakukan pelanggan hanya sebagai
    pembuat keputusan yang rasional, pelanggan ingin dihibur, dirangsang,
    dipengaruhi secara emosional dan ditantang secara kreatif.
  4. Metode dan perangkat bersifat elektik
    Metode dan perangkat untuk mengukur pengalaman seseorang bersifat elektik,
    yaitu tidak hanya terbatas pada suatu metode saja, melainkan memilih metode
    dan perangkat yang sesuai tergantung dari objek yang diukur. Jadi bersifat lebih
    pada kustomisasi untuk setiap situasi dari pada menggunakan suatu standar yang
    sama. Adapun pergeseran dari pendekatan pemasaran tradisional ke pendekatan
    experiential marketing terjadi karena adanya perkembangan tiga faktor di dunia
    bisnis (Schmitt dalam Rahmawati, 2003), yaitu :
  5. Teknologi informasi yang dapat diperoleh dimana-mana sehingga
    kecanggihan- kecanggihan teknologi akibat revolusi teknologi informasi dapat
    menciptakan suatu pengalaman dalam diri seseorang dan membaginya dengan
    orang lain dimanapun ia berada.
  6. Keunggulan dari merek, melalui kecanggihan teknologi informasi maka
    informasi mengenai brand atau merek dapat tersebar luas melalui berbagai
    media dengan cepat dan global. Dimana brand atau merek memegang kendali,
    suatu produk dan jasa tidak lagi sekelompok fungsional tetapi lebih berarti
    sebagai alat pencipta experience bagi pelanggan.
  7. Komunikasi dan banyaknya hiburan yang ada dimana-mana yang
    mengakibatkansemua produk dan jasa saat ini cenderung bermerek dan
    jumlahnya banyak.

Experiental Marketing


Schmitt dalam Kustini (2007) experiential marketing merupakan cara untuk
membuat pelanggan menciptakan pengalaman melalui panca indera (sense),
menciptakan pengalaman afektif (feel), menciptakan pengalaman berpikir secara
kreatif (think), menciptakan pengalaman pelanggan yang berhubungan dengan
tubuh secara fisik, dengan perilaku dan gaya hidup serta dengan pengalamanpengalaman sebagai hasil dari interaksi dengan orang lain (act), juga menciptakan
pengalaman yang terhubung dengan keadaan sosial, gaya hidup, dan budaya yang
dapat direflesikan merek tersebut yang merupakan pengembangan dari sensations,
feelings, cognitions dan actions (relate).
Experiential marketing adalah suatu konsep pemasaran yang bertujuan
untuk membentuk pelanggan-pelanggan yang loyal dengan menyentuh emosi
mereka dan memberikan suatu feeling yang positif terhadap produk dan service
(Kartajaya dalam Handal, 2010). Experiential marketing adalah peristiwa-peristiwa
pribadi yang terjadi pada pelanggan dikarenakan adanya stimulus tertentu misalnya
yang diberikan oleh pihak pemasar saat mengkonsumsi barang atau jasa (Schmitt,
2009 dalam Oddy Adam Noegroho, Suharyono & Srikandi Kumadji. 2013).
Experiental marketing dibagi menjadi lima bagian besar (Schmitt, 2009):

  1. Panca Indera (Sense)
    Sense adalah aspek-aspek yang berwujud dan dapat dirasakan dari suatu produk
    yang dapat ditangkap oleh kelima indera manusia, meliputi pandangan, suara, bau,
    rasa, dan sentuhan. Sense bagi pelanggan berfungsi untuk mendiferensiasikan suatu
    produk dari produk yang lain, untuk memotivasi pembeli untuk bertindak, dan
    untuk membentuk value pada produk atau jasa dalam benak pembeli. Indera
    manusia dapat digunakan selama fase pengalaman (pra pembelian, pembelian dan
    sesudah pembelian) dalam mengkonsumsi sebuah produk atau jasa. Perusahaan
    biasanya menerapkan unsur sense dengan menarik perhatian pelanggan melalui
    hal-hal yang mencolok, dinamis, dan meninggalkan kesan yang kuat, dalam
    penelitian ini meliputi hal yang mencolok yaitu keunikan, dinamis yaitu kerapian
    dan kesan kuat berupa kombinasi warna ruangan.
  2. Perasaan (Fell)
    Feel berhubungan dengan perasaan yang paling dalam dan emosi pelanggan. Iklan
    yang bersifat feel good biasanya digunakan untuk membuat hubungan dengan
    pelanggan, menghubungkan pengalaman emosional mereka dengan produk atau
    jasa, dan menantang pelanggan untuk bereaksi terhadap pesan. Feel campaign
    sering digunakan untuk membangun emosi pelanggan secara perlahan. Ketika
    pelanggan merasa senang terhadap produk yang ditawarkan perusahaan, pelanggan
    akan menyukai produk dan perusahaan. Sebaliknya, ketika pelanggan merasa tidak
    senang terhadap produk yang ditawarkan perusahaan, maka pelanggan akan
    meninggalkan produk tersebut dan beralih kepada produk lain (Schmitt dalam Amir
    Hamzah,2007).
    Jika sebuah strategi pemasaran dapat menciptakan perasaan yang baik
    secara konsisten bagi pelanggan, maka perusahaan dapat menciptakan loyalitas
    merek yang kuat dan bertahan lama (Schmitt,2009). Affective experience adalah
    tingkat pengalaman yang merupakan perasaan yang bervariasi dalam intensitas,
    mulai dari perasaan yang positif atau pernyataan mood yang negatif sampai emosi
    yang kuat. Jika pemasar bermaksud untuk menggunakan affective experience
    sebagai bagian dari strategi pemasaran, maka ada dua hal yang harus diperhatikan
    dan dipahami, yaitu:
    a) Suasana hati (moods). Moods merupakan affective yang tidak spesifik.Suasana
    hati dapat dibangkitkan dengan cara memberikan stimuli yang spesifik (Schmitt,
    2009). Suasana hati merupakan keadaan afektif yang positif atau negatif. Suasana
    hati seringkali mempunyai dampak yang kuat terhadap apa yang diingat
    pelanggan dan merek apa yang mereka pilih.
    b) Emosi (emotion), lebih kuat dibandingkan suasana hati dan merupakan
    pernyataan afektif dari stimulus yang spesifik, misalnya marah, iri hati, dan cinta.
    Emosi-emosi tersebut selalu disebabkan oleh sesuatu atau seseorang.
  3. Think (berfikir)
    Perusahaan berusaha untuk menantang pelanggan, dengan cara memberikan
    problem-solving experiences, dan mendorong pelanggan untuk berinteraksi secara
    kognitif atau secara kreatif dengan perusahaan atau produk. Think marketing adalah
    salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk membawa komoditi menjadi
    pengalaman (experience) dengan melakukan customization secara terus-menerus
    (Kertajaya, 2004).
    Menurut Schmitt Cara yang baik untuk membuat think berhasil adalah:
    a) Kejutan (surprise)
    Kejutan merupakan suatu hal yang penting dalam membangun pelanggan agar
    mreka terlibat dalam cara berpikir yang kreatif. Kejutan dihasilkan ketika
    pemasar memulai dari sebuah harapan. Kejutan harus bersifat positif yang
    berarti pelanggan mendapatkan lebih dari yang mereka minta lebih
    menyenangkan dari yang mereka harapkan atau sesuatu yang sama sekali lain
    dari yang mereka harapkan yang pada akhirnya dapat membuat pelanggan
    merasa senang. Dalam experiential marketing, unsur surprise menempati hal
    yang sangat penting karena dengan pengalaman-pengalaman yang mengejutkan
    dapat memberikan kesan emosional yang mendalam dan diharapkan dapat terus
    membekas di benak pelanggan dalam waktu yang lama.
    b) Memikat (intrigue)
    Jika kejutan berangkat dari sebuah harapan, intrigue campaign mencoba
    membangkitkan rasa ingin tahu pelanggan, apa saja yangmemikat pelanggan.
    Namun daya pikat ini tergantung dari acuan yang dimiliki oleh setiap pelanggan.
    Terkadang apa yang dapat memikat seseorang dapat menjadi sesuatu yang
    membosankan bagi orang lain, tergantung pada tingkat pengetahuan, kesukaan,
    dan pengalaman pelanggan tersebut.
    c) Provokasi (provocation)
    Provokasi dapat menimbulkan sebuah diskusi atau menciptakan sebuah
    perdebatan. Provokasi dapat beresiko jika dilakukan secara tidak baik dan
    agresif (Shmitt, 2009).
  4. Act (Kebiasaan)
    Act marketing merupakan tipe experience yang bertujuan untuk mempengaruhi
    perilaku, gaya hidup dan interaksi dengan pelanggan (Schmitt dalam Amir
    Hamzah, 2007). Act marketing adalah salah satu cara unuk membentuk persepsi
    pelanggan terhadap produk dan jasa yang bersangkutan (Kertajaya, 2004). Act
    marketing didesain untuk menciptakan pengalaman pelanggan dalam
    hubungannya dengan physical body, lifestyle, dan interaksi dengan orang lain.
  5. Relate (pertalian)
    Relate menghubungkan pelanggan secara individu dengan masyarakat, atau
    budaya. Relate menjadi daya tarik keinginan yang paling dalam bagi pelanggan
    untuk pembentukan self-improvement, status socio-economic, dan image. Relate
    campaign menunjukkan sekelompok orang yang merupakan target pelanggan
    dimana seorang pelanggan dapat berinteraksi, berhubungan, dan berbagi
    kesenangan yang sama

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan dapat dilihat dari
ukuran atau dimensi kepuasan pelanggan menurut Kotler & Keller (2015)
sebagai berikut:

  1. Tetap Setia.
    Pelanggan yang terpuaskan cenderung akan menjadi setia atau loyal.
    Pelanggan yang puas terhadap produk yang dikonsumsinya akan mempunyai
    kecenderungan untuk membeli ulang dari produsen yang sama.
  2. Membeli Produk yang ditawarkan
    Keinginan untuk membeli produk atau makanan lain yang ditawarkan karena
    adanya keinginan untuk mengulang pengalaman yang baik dan menghindari
    pengalaman yang buruk.
  3. Merekomendasikan Produk
    Kepuasan merupakan faktor yang mendorong adanya komunikasi dari mulut
    ke mulut (Word of Mouth Communication) yang bersifat positif. Hal ini dapat
    berupa rekomendasi kepada calon pelanggan yang lain dan mengatakan halhal baik mengenai produk dan perusahaan yang menyediakan produk.
  4. Bersedia membayar lebih.
    Pelanggan cenderung menggunakan harga sebagai patokan kepuasan. Ketika
    harga lebih tinggi, pelanggan cenderung berfikir kualitas menjadi lebih tinggi
    juga.
  5. Memberi masukan.
    Walaupun kepuasan sudah tercapai, pelanggan selalu menginginkan yang
    lebih lagi. Maka pelanggan akan memberikan masukan atau saran agar
    keinginan mereka dapat tercapai.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan konsumen, Lupiyoadi
(2016) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan dalam kaitannya
dengan kepuasan konsumen, antara lain:

  1. Kualitas Produk, konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka
    menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk
    dikatakan berkualitas bagi seseorang.
  2. Kualitas Pelayanan, konsumen akan merasa puas bila mendapatkan
    pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan harapan.
  3. Emosional, konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena
    menggunakan merek yang mahal.
  4. Harga, produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
    harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi
  5. Biaya, konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
    tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa
    cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut

Kepuasan


Menurut Kotler dan Keller (2017) menyatakan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah
membandingkan antara kinerja (hasil) produk yang diperkirakan terhadap
kinerja (atau hasil) yang diharapkan. Jika kinerja dibawah harapan, konsumen
tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, konsumen puas. Jika kinerja
melebihi harapan, konsumen amat puas/senang.
Definisi Kepuasan Pelanggan Menurut Oliver (2016) Kepuasan
Pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa yang didapatkan seseorang dari
membandingkan antara kinerja (atau hasil) produk yang dipersepsikan dan
ekspektasinya. Seorang pelanggan puas atau tidak, sangat tergantung pada
kinerja produk (Percieved Performance) dibandingkan ekspektasi pelanggan
bersangkutan dan apakah sang pelanggan menginterpretasikan adanya deviasi
atau gap di antara kinerja dan ekspektasi tersebut. Apabila kinerja lebih rendah
di bandingkan ekspektasi, maka pelanggan bersangkutan akan merasa tidak
puas.
Menurut Swastha, (2012) kepuasan pelanggan adalah:”Suatu dorongan
keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan”
dalam hal ini kita perlu mengetahui bahwa suatu keinginan itu harus diciptakan
atau didorong sebelum memenuhi motif. Sumber yang mendorong terciptanya
suatu keinginan dapat berbeda dari diri orang itu sendiri atau berada pada
lingkungannya. Kotler (2012) mendasarkan bahwa kepuasan konsumen adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang ia
rasakan dibandingkan dengan harapannya. Bila kinerja melebihi harapan
mereka akan merasa puas dan sebaliknya jika kinerja tidak sesuai harapan maka
konsumen akan merasa kecewa. Menurut, Schisffman dan Kanuk (2014)
kepuasan pelanggan merupakan perasaan seseorang terhadap kinerja dari suatu
produk yang dirasakan dan diharapkannya. Maka tidaklah mengherankan jika
perusahaan menjadi terosebsi untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
24
mengingat hubungannya yang sangat erat dengan kesetiaan pelanggan, pangsa
pasar dan keuntungan.

Karakteristik Experiential Marketing


Pendekatan pemasaran experiential marketing merupakan pendekatan
yang mencoba menggeser pendekatan pemasaran tradisional. Menurut Rizal
(2016), experiential marketing memiliki empat karakterisitik, yaitu:

  1. Fokus pada pengalaman pertama
    Berbeda dengan pemasaran tradisional, experiential marketing berfokus
    pada pengalaman pelanggan. Pengalaman yang terjadi akibat pertemuan,
    menjalani atau melewati situasi tertentu. Pengalaman memberikan nilai-
    nilai indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang
    menggantikan nilai-nilai fungsional.
  2. Menguji situasi konsumsi
    Pemasar experiential menciptakan sinergi untuk dapat meningkatkan
    pengalaman konsumsi. Pelanggan tidak hanya mengevaluasi suatu
    produk sebagai produk yang berdiri sendiri dan juga tidak hanya
    menganalisis tampilan dan fungsi saja,melainkan pelanggan lebih
    menginginkan suatu produk yang sesuai dengan situasi dan pengalaman
    pada saat mengkonsumsi produk tersebut.
  3. Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari konsumsi
    Jangan memperlakukan pelanggan hanya sebagai pembuat keputusan
    yang rasional, pelanggan ingin dihibur, dirangsang, dipengaruhi secara
    emosional dan ditantang secara kreatif.
  4. Metode dan perangkat bersifat eklektik
    Metode dan perangkat untuk mengukur pengalaman seseorang bersifat
    eklektik,yaitu tidak hanya terbatas pada suatu metode saja, melainkan
    memilih metode dan perangkat yang sesuai tergantung dari objek yang
    diukur. Jadi bersifat lebih pada kustuminasi untuk setiap situasi dari pada
    menggunakan suatu standar yang sama.

Experiential Marketing


Menurut Lisa et.al., (2018) experiential marketing berasal dari dua kata
yaitu experiental dan marketing. experiential adalah pengalaman merupakan
peristiwa-peristiwa pribadi yang terjadi karena adanya stimulus tertentu.
Sedangkan pengertian marketing adalah suatu proses sosial dan manajerial
yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk
dan nilai dengan orang lain.
Menurut Soli et.al., (2013), Konsep experiential marketing ini
merupakan salah satu perkembangan konsep pemasaran yang disesuaikan
dengan keadaan yang berkembang secara dinamis dimana konsumen lebih
pintar dan selektif dalam memilih produk. Menurut Ratih et.al., (2015)
menyatakan bahwa experiential marketing adalah konsep pemasaran yang
bertujuan untuk membentuk pelanggan yang loyal dengan cara menyentuh
emosi pelanggan dengan menciptakan pengalaman-pengalaman positif dan
suatu perasaan yang positif terhadap jasa dan produk mereka.
Sedangkan menurut Fahmi (2019) experiential marketing adalah bahwa
para pemasar yang menawarkan suatu produk dan jasanya dengan cara
merangsang dalam unsur-unsur emosi konsumen dan menciptakan berbagai
pengalaman positif bagi konsumen. Konsep pemasaran dan bisnis tradisional
hampir tidak memberikan arah untuk memanfaatkan kemunculan ekonomi
experiential. Pemasar harus menetapkan lingkungan yang tepat untuk
memungkinkan pengalaman yang diinginkan pelanggan.
Perusahaan tidak mungkin untuk menjadi kompetitif dengan alat-alat
pemasaran tradisional karena manfaat dari produk sekarang semakin lebih
mirip. Lebih lanjut disebutkan pada konsep pemasaran tradisional, konsumen
dilihat sebagai masyarakat yang berpikir rasional, mereka akan melihat
produk dan karakteristiknya serta kelebihannya dibandingkan dengan produk
lain. Berbeda dengan konsep pemasaran tradisional, experiential marketing
melihat konsumen bukan hanya sebagai pemikir rasional tetapi juga
emosional.
Konsep experiential marketing digunakan untuk beberapa tujuan,
antara lain membangun hubungan, menghasilkan interaksi, memastikan
target audiens, meningkatkan kesadaran merek, meningkatan relevansi,
meningkatkan loyalitas, menciptakan ingatan atau kenangan. Menurut Dewi
et.al., (2022), experiential marketing berguna untuk sebuah perusahaan yang
ingin meningkatkan merek yang berada pada tahap penurunan, membedakan
produk mereka dari produk pesaing, menciptakan sebuah citra dan identitas
untuk sebuah perusahaan, meningkatkan inovasi dan membujuk pelanggan
untuk mencoba dan membeli produk. Hal yang terpenting adalah
menciptakan pelanggan yang loyal.
a) Karakteristik Experiential Marketing
Pendekatan pemasaran experiential marketing merupakan pendekatan
yang mencoba menggeser pendekatan pemasaran tradisional. Menurut Rizal
(2016), experiential marketing memiliki empat karakterisitik, yaitu:

  1. Fokus pada pengalaman pertama
    Berbeda dengan pemasaran tradisional, experiential marketing berfokus
    pada pengalaman pelanggan. Pengalaman yang terjadi akibat pertemuan,
    menjalani atau melewati situasi tertentu. Pengalaman memberikan nilai-
    nilai indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang
    menggantikan nilai-nilai fungsional.
  2. Menguji situasi konsumsi
    Pemasar experiential menciptakan sinergi untuk dapat meningkatkan
    pengalaman konsumsi. Pelanggan tidak hanya mengevaluasi suatu
    produk sebagai produk yang berdiri sendiri dan juga tidak hanya
    menganalisis tampilan dan fungsi saja,melainkan pelanggan lebih
    menginginkan suatu produk yang sesuai dengan situasi dan pengalaman
    pada saat mengkonsumsi produk tersebut.
  3. Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari konsumsi
    Jangan memperlakukan pelanggan hanya sebagai pembuat keputusan
    yang rasional, pelanggan ingin dihibur, dirangsang, dipengaruhi secara
    emosional dan ditantang secara kreatif.
  4. Metode dan perangkat bersifat eklektik
    Metode dan perangkat untuk mengukur pengalaman seseorang bersifat
    eklektik,yaitu tidak hanya terbatas pada suatu metode saja, melainkan
    memilih metode dan perangkat yang sesuai tergantung dari objek yang
    diukur. Jadi bersifat lebih pada kustuminasi untuk setiap situasi dari pada
    menggunakan suatu standar yang sama.
    b) Manfaat Experiential Marketing
    Menurut Dharmawansyah (2013), fokus utama dari experiential
    marketing adalah pada tanggapan panca indera, pengaruh, tindakan serta
    hubungan. Oleh karena itu, suatu perusahaan harus dapat memberikan
    pengalaman yang dihubungkan dengan kehidupan nyata dari pelanggan dan
    experiential marketing dapat dimanfaatkan secara efektif apabila diterapkan
    pada beberapa situasi tertentu dan hal ini dapat menjadi strategi yang tepat
    dalam mempertahankan pelanggan.
    Menurut Eko dan Mbayak (2016), menyebutkan ada beberapa
    keuntungan yang dapat diterima dan dirasakan suatu perusahaan apabila
    menerapkan experiential marketing antara lain:
  5. Membangkitkan kembali merek yang sedang merosot.
  6. Untuk membedakan suatu produk dengan produk pesaing.
  7. Untuk menciptakan citra dan identitas suatu perusahaan.
  8. Untuk mempromosikan inovasi.
  9. Untuk membujuk percobaan, pembelian dan loyalitas pelanggan.

Minat Berkunjung Ulang


Menurut Aulia (2020) minat merupakan dorongan untuk memotivasi
seseorang melakukan tindakan. Sedangkan menurut Nugraha (2021) minat
berkunjung adalah rasa ingin seseorang untuk berkunjung ke suatu objek wisata.
Kotler and Keller (2013), menambahkan bahwa minat berkunjung merupakan
tindakan konsumen dalam memilih atau memutuskan berkunjung pada suatu
tempat berdasarkan pada pengalaman dalam berkunjung. Pendapat lain
mengenai Minat Berkunjung Kembali diutarakan oleh Agusli and Kunto (2013)
yaitu minat merupakan sesuatu kekuatan yang mampu mendorong dan
mempengaruhi konsumen yang dapat menarik perhatian secara sadar dan dapat
diartikan sesuatu yang pribadi serta berhubungan erat dengan sikap.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Minat Berkunjung
Kembali merupakan suatu keputusan konsumen untuk mengunjungi suatu
tempat lebih dari satu kali. Minat Berkunjung Kembali juga diiringi oleh faktorfaktor yang mempengaruhinya, terutama tentang informasi mengenai manfaat
yang akan mereka dapatkan ketika berkunjung kembali.
a) Aspek Minat Berkunjung Kembali
Menurut Aulia (2020) mengemukakan minat terbagi menjaid tiga
aspek, yaitu:

  1. Aspek kognitif.
    Berdasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari,
    baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat, dan berbagai jenis
    media massa.
  2. Aspek Efektif
    Konsep yang membangun aspek afeksi, minat dinyatakan dalam sikap
    terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Berkembang dari
    pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting yaitu orang tua, guru
    dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat
    tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai
    bentuk media massa terhadap kegiatan itu.
  3. Aspek psikomotor.
    Berjalan dengan lancar tanpa perlu pemikiran lagi, urutannya tepat.
    Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga keluwesan dan
    keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan lambat.
    b) Indikator Minat Berkunjung Kembali
    Menurut Ferdinand (2017) minat beli/berkunjung dapat
    diidentifikasi melalui beberapa indikator sebagai berikut:
    1) Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang
    yang selalu mencari informasi mengenai suatu produk yang
    diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat
    positif dari produk tersebut.
    2) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
    seseorang yang memiliki prefrensi utama pada suatu produk.
    Preferensi dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk tersebut.
    3) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
    merefrensikan suatu produk kepada seseorang.
    4) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
    suatu produk

Hubungan Promosi Dengan Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler dan Keller (2012:498), menjelaskan promosi adalah
suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk menginformasikan,
mengarahkan, dan mengingatkan konsumen baik langsung maupun tidak
langsung terhadap produk atau jasa yang disediakan perusahaan tersebut.
Sedangkan Kepuasan konsumen Menurut Kotler dan Keller (2012: 117),
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang dan kecewa yang muncul karena
membandingkan kinerja yang dirasakan dari produk atau hasil dengan harapan
mereka

Hubungan Kualitas Produk Dengan Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler dan Armstrong (2012), kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian,
dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya. sedangkan Kepuasan
konsumen Menurut Kotler dan Keller (2012: 117), Kepuasan konsumen
adalah perasaan senang dan kecewa yang muncul karena membandingkan
kinerja yang dirasakan dari produk atau hasil dengan harapan mereka.
Dapat disimpulkan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh besar
terhadap Kepuasan Konsumen. Apablia konsumen merasakan kualitas produk
tersebut dengan ekspetasinya maka konsumen akan merasakan puas dan
keinginan untuk melakukan pembelian ulang yang menjadi timbulnya
kepuasan konsumen.

Hubungan Experiential Marketing Dengan Kepuasan Konsumen


Menurut Schmitt, (1999) experential marketing yaitu pemasar
menawarkan produk dan jasanya dengan merangsang unsur–unsur emosi
konsumen yang menghasilkan berbagai pengalaman bagi konsumen.
Experiential marketing merupakan pendekatan pemasaran yang
melibatkan emosi dan perasaan konsumen dengan menciptakan pengalaman–
pengalaman positif yang tidak terlupakan.. sedangkan Kepuasan Konsumen
Menurut Kotler dan Keller (2012: 117), Kepuasan konsumen adalah perasaan
senang dan kecewa yang muncul karena membandingkan kinerja yang
dirasakan dari produk atau hasil dengan harapan mereka.
Dapat disimpulkan bahwa Experiential Marketing dapat ditunjukan
agar konsumen terdorong untuk berfikir ,bertindak, serta dapat menjalin sebuah
relasi, sehingga menimbulkan keinginan seseorang konsumen untuk melakukan
pembelian ulang yang dapat menciptakan kepuasan konsumen.

Indikator Promosi


Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa dimensi untuk mengukur
variabel Promosi Menurut Kotler dan Armstrong (2014) dalam jurnal Enni
Sustiyatik (2020) terdapat 3 indicator menurut Kotler dan Armstrong (2014),
yaitu :
1) Periklanan (Advertising)
2) Promosi Penjualan (Sales Promotion)
3) Pemasaran Langsung (Direct Marketing)

Jenis Jenis Promosi


Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (2008), terdapat tiga jenis
promosi yaitu:
1) Promosi Secara Fisik
Pelaku bisnis untuk lebih mudah dan lebih dekat serta secara
langsung untuk menjangkau dan melakukan interaksi dengan calon
konsumen.
2) Promosi Melalui Media Tradisonal
Promosi melalui media tradisional. Pada zaman dahulu, promosi
jenis ini bisa dikatakan sebagai cara atau jenis promosi yang sangat
efektif.
3) Promosi Melalui Media Digital
Promosi yang bisa dilakukan secara digital sendiri antara lain, yaitu
jaringan website, media sosial, mesin pencari, aplikasi, email, dan
masih banyak lagi.

Pengertian Promosi


Promosi adalah suatu aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh
seseorang ataupun perusahaan kepada masyarakat luas. Tujuan promosi ini
sendiri sebenarnya adalah untuk memperkenalkan merek, produk, atau
perusahaan kepada masyarakat sekaligus dapat mempengaruhi mereka untuk
menggunakan atau membeli produk atau jasa tersebut. Segala kegiatan yang
memiliki berkaitan secara langsung maupun tidak langsung biasanya akan
menggabungkan beberapa bentuk promosi, misalnya saja seperti iklan, diskon,
ataupun kaos bermerk perusahaan.
Menurut Kotler dan Keller (2012:498), menjelaskan promosi adalah
suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk menginformasikan,
mengarahkan, dan mengingatkan konsumen baik langsung maupun tidak
langsung terhadap produk atau jasa yang disediakan perusahaan tersebut.
Sedangkan Menurut Tjiptono (2012:367) promosi penjualan merupakan segala
bentuk penawaran atau insentif jangka pendek yang ditunjukan bagi pembeli,
pengecer atau pedagang grosir dan dirancang untuk memperoleh respon
spesifik Page 17 25 dan segera.

Indikator Kualitas Produk


Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa indicator untuk
mengukur variabel Kualitas Produk Menurut Tjiptono (2008:34) dalam
jurnal Tias Windarti (2017) terdapat 8 indikator yaitu :

  1. Hasil Produk (Performance) Karakteristik operasi pokok dari produk
    inti (core product) yang dibeli kinerja dari produk yang memberikan
    manfaat bagi konsumen yang mengkonsumsi sehingga konsumen dapat
    memperoleh manfaat dari produk yang telah dikonsumsi.
  2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features) merupakan
    karakteristik sekunder atau pelengkap dari produk inti keistimewaan
    tambahan produk juga dapat dijadikan ciri khas yang membedakan
    dengan produk pesaing yang sejenis.
  3. Kehandalan (Reliability) Kemungkinan kecil terhadap suatu kegagalan
    pakai atau kerusakan tingkat risiko kerusakan produk, menentukan
    tingkat kepuasan konsumen yang diperoleh dari suatu produk.
  4. Kesesuaian dengan Spesifikasi (Conformance to Specfication)
    kesesuaian kinerja dan kualitas produk dengan standar yang diinginkan.
    Pada dasarnya, setiap produk memiliki standar ataupun spesifikasi yang
    telah ditentukan.
  5. Daya Tahan (Durability) Berkait dengan berapa lama produk tersebut
    dapat tersebut digunakan. Daya tahan biasanya berlaku untuk produk
    yang bersifat dapat dikonsumsi dalam jangka panjang.
  6. Kegunaan (Serviceability) Meliputi kecepatan, kompetensi,
    kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan keluhan yang
    memuaskan.
  7. Estetika (Aesthetics) Daya tarik produk terhadap panca indera.
    Konsumen akan tertarik terhadap suatu produk ketika konsumen
    melihat tampilan awal dari produk tersebut.
  8. Kualitas yang Dirasakan (Perceived Quality) Kualitas yang dirasakan
    adalah Kesan Kualitas suatu produk yang dirasakan oleh konsumen.

Faktor – Faktor Pengaruh Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller (2012 : 283), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kualitas produk, yaitu:

  1. Manusia. Sumber daya manusia adalah unsur utama yang
    memungkinkan terjadinya proses penambahan nilai.
  2. Metode. Hal ini meliputi prosedur kerja dimana setiap orang harus
    melaksanakan kerja sesuai dengan tugas yang dibebankan pada masingmasing individu.
  3. Mesin. Mesin atau peralatan yang digunakan dalam proses penambahan
    nilai menjadi output.
  4. Bahan. Bahan baku yang diproses produksi agar menghasilkan nilai
    tambah menjadi output, jenisnya sangat beragam. Keragaman bahan baku
    yang digunakan akan mempengaruhi nilai output yang beragam pula.
  5. Ukuran. Dalam setiap tahap produksi harus ada ukuran sebagai standar
    penilaian agar setiap tahap produksi dapat dinilai kinerjanya.
    Kemampuan dari standar ukuran tersebut merupakan faktor penting untuk
    mengukur kinerja seluruh tahapan proses produksi, dengan tujuan agar
    hasil yang diperoleh sesuai dengan rencana.
  6. Lingkungan. Lingkungan dimana proses produksi berada sangat
    mempengaruhi hasil atau kinerja proses produksi. Bila lingkungan kerja
    berubah, maka kinerjapun akan berubah pula.

Pengertian Kualitas produk


Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh
setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing di pasar untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Sebagian besar konsumen
semakin kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin
mendapatkan produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar,
meskipun ada sebagian masyarakat berpendapat bahwa, produk yang mahal
adalah produk yang berkualitas.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012), kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian,
dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya. sedangkan Menurut
Tjiptono (2012), kualitas produk adalah tingkat mutu yang diharapkan dan
pengendalian keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.

Indikator Experiential Marketing


Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa indicator untuk mengukur
variabel Experiential Marketing menurut Schmitt (1999:64) dalam jurnal
Rojil Gufron Abdilhaq (2020) terdapat 5 indikator yaitu :

  1. Sense (Indera)
  2. Feel (Perasaan)
  3. Think (Pikiran)
  4. Action (Prilaku Dan Kebiasaan)
  5. Relate (Hubungan)

Karakteristik Experiential Marketing


Schmitt, (1999) membagi Experiential Marketing menjadi empat kunci
karakteristik antara lain:

  1. Fokus pada pengalaman konsumen Suatu pengalaman terjadi sebagai
    pertemuan, menjalani atau melewati situasi tertentu yang memberikan
    nilai-nilai indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang
    menggantikan nilai-nilai fungsional.
  2. Menguji situasi konsumen Berdasarkan pengalaman yang telah ada
    konsumen tidak hanya menginginkan suatu produk dilihat dari
    keseluruhan
  3. Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari
    konsumsi Dalam experiential marketing, konsumen bukan hanya
    dilihat dari sisi rasional saja melainkan juga dari sisi emosionalnya.
  4. Metode dan perangkat bersifat elektik Metode dan perangkat untuk
    mengukur pengalaman seseorang lebih bersifat elektik.

Pengertian Experiential Marketing


Experiential marketing adalah teknik pemasaran yang melibatkan
pengalaman konsumen terhadap suatu produk. Pengalaman yang dimaksud
adalah kesan yang didapatkan secara langsung konsumen setelah membeli atau
menggunakan produk tertentu. Metode pemasaran ini memberikan ruang untuk
konsumen mengkomunikasikan ide dan emosi yang lebih kompleks terhadap
suatu brand. Keterlibatan konsumen ini cukup penting untuk mengukur
bermakna pengalaman yang konsumen miliki terhadap suatu brand.
Keterlibatan atau engagement konsumen bisa berupa view, likes atau komentar
di sosial media. Selain itu juga bisa informasi yang dibagikan saat
berkomunikasi langsung dengan orang lain.
Menurut Kotler (2000), Experiential marketing adalah suatu proses
sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang
diperlukan dan inginkan dalam menciptakan, menawarkan, saling bertukar
produk dan jasa yang bernilai secara bebas dengan pihak lain. Sedangkan
Menurut Schmitt, (1999) experential marketing yaitu pemasar menawarkan
produk dan jasanya dengan merangsang unsur–unsur emosi konsumen yang
menghasilkan berbagai pengalaman bagi konsumen.

Indikator Kepuasan Konsumen


Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa indicator untuk mengukur
variabel kepuasan konsumen. Menurut Philip Kotler (2000) dalam jurnal
Haditaa (2019) terdapat 5 indikator yaitu :

  1. Kepuasan pelanggan keseluruhan
  2. Dimensi keputusan pelanggan
  3. Konfirmasi harapan
  4. Minat pembelian ulang
  5. Ketidakpuasan pelanggan

Dimensi Kepuasan Konsumen


Hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan dapat dilihat dari
ukuran atau dimensi kepuasan konsumen menurut Kotler & Keller (2012)
sebagai berikut :

Memberi Masukan. Walaupun kepuasan sudah tercapai,
pelanggan selalu menginginkan yang lebih lagi. Maka
pelanggan akan memberikan masukan atau saran agar keinginan
mereka dapat tercapai.

Tetap Setia. Pelanggan yang terpuaskan cenderung akan
menjadi setia atau loyal. Pelanggan yang puas terhadap produk
yang dikonsumsinya akan mempunyai kecenderungan untuk
membeli ulang dari produsen yang sama.

Membeli Produk yang ditawarkan. Keinginan untuk membeli
produk atau makanan lain yang ditawarkan karena adanya
keinginan untuk mengulang pengalaman yang baik dan
menghindari pengalaman yang buruk.

Merekomendasikan Produk. Kepuasan merupakan faktor yang
mendorong adanya komunikasi dari mulut ke mulut (Word of
Mouth Communication) yang bersifat positif.

Bersedia Membayar Lebih Pelanggan cenderung menggunakan
harga sebagai patokan kepuasan.

Pengukuran Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler, et al. Dalam Tjiptono & Chandra (2016:219), beberapa metode
dalam mengukur kepuasan pelanggan sebagai berikut:

  1. Sistem Keluhan dan Saran. Setiap pemasar yang berorientasi pada
    pelanggan wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para
    pelanggannya untuk menyampaikan saran, kritik, pendapat,
    gagasan, masukan dan keluhan mereka.
  2. Ghost/Mystery Shopping. Salah satu metode untuk memperoleh
    gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan
    mempekerjakan beberapa orang ghost shoppers untuk berperan
    sebagai pelanggan potensial perusahaan dan pesaing.
  3. Lost Customer Analysis. Perusahaan sedapat mungkin
    menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau
    yang telah beralih pemasok.
  4. Survei Kepuasan Pelanggan. Sebagian besar riset kepuasan
    pelanggan menggunakan metode survei, baik via pos, telepon, email, website, maupun wawancara langsung.

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan konsumen setelah
melakukan perbandingan antara apa yang dia terima dengan apa yang dia
harapkan. Menilai kepuasan konsumen dan meningkatkan ekspektasi
konsumen, sehingga dapat menjadi pelanggan yang setia. Ketika apa yang
didapatkan oleh konsumen sesuai dengan harapannya, tentu konsumen akan
merasa puas. Memberikan kepuasan kepada konsumen adalah keinginan setiap
perusahaan. Memenuhi kepuasan konsumen menjadi faktor penting bagi
kelangsungan hidup perusahaan, yang mana dapat meningkatkan keunggulan
dalam persaingan.
Menurut (Tjiptono ,2012:301) Kepuasan konsumen adalah situasi yang
ditunjukkan oleh konsumen ketika mereka menyadari bahwa kebutuhan dan
keinginannya sesuai dengan yang diharapkan serta terpenuhi secara baik.
. Kepuasan konsumen Menurut Kotler dan Keller (2012: 117),
“Kepuasan konsumen adalah perasaan senang dan kecewa yang muncul karena
membandingkan kinerja yang dirasakan dari produk atau hasil dengan harapan
mereka”. Jika produk itu sesuai atau lebih baik dari yang diharapkan oleh
konsumen, maka kesenangan dan kepuasan akan dirasakan oleh konsumen.
Sementara jika setelah mengkonsumsi produk tidak sesuai dengan harapan,
maka tentu konsumen tidak merasa puas dengan produk tersebut

Pengertian Prilaku Konsumen


Perilaku konsumen merupakan suatu bagian dari perilaku manusia dan
oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari bagiannya. Dalam bidang
pemasaran, studi tentang perilaku konsumen bertujuan untuk mengetahui selera
konsumen yang senantiasa berubah dan untuk mempengaruhinya agar bersedia
untuk membeli barang dan jasa perusahaan pada saat mereka butuhkan.
Perusahaan berkepentingan dengan setiap kegiatan manusia, dalam sistem ini
perilaku konsumen merupakan kegiatan manusia sehingga dalam
membicarakan perilaku konsumen berarti membicarakan ruang lingkup
kegiatan manusia hanya dalam ruang lingkup yang lebih terbatas. Lebih lanjut
The American Asociation (dikutip dalam Khodijah dan Saino, 2012),
memberikan definisi perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara
afeksi dan kognisi, perilaku dan lingkungannya, dimana manusia melakukan
kegiatan pertukaran dalam hidup mereka.
Menurut Kotler dan Keller (2012:173) perilaku konsumen adalah studi
bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Teori perilaku konsumen yang lebih dalam dijelaskan oleh Shiffman,
dkk (dalam Tjiptono, 2014), perilaku konsumen adalah perilaku yang
diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi
dan mengabaikan produk jasa atau ide yang diharapkan dapat memuaskan
konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi
produk atau jasa yang ditawarkan.

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan konsumen setelah
melakukan perbandingan antara apa yang dia terima dengan apa yang dia
harapkan. Menilai kepuasan konsumen dan meningkatkan ekspektasi
konsumen, sehingga dapat menjadi pelanggan yang setia. Ketika apa yang
didapatkan oleh konsumen sesuai dengan harapannya, tentu konsumen akan
merasa puas. Memberikan kepuasan kepada konsumen adalah keinginan setiap
perusahaan. Memenuhi kepuasan konsumen menjadi faktor penting bagi
kelangsungan hidup perusahaan, yang mana dapat meningkatkan keunggulan
dalam persaingan.
Menurut (Tjiptono ,2012:301) Kepuasan konsumen adalah situasi yang
ditunjukkan oleh konsumen ketika mereka menyadari bahwa kebutuhan dan
keinginannya sesuai dengan yang diharapkan serta terpenuhi secara baik.
. Kepuasan konsumen Menurut Kotler dan Keller (2012: 117),
“Kepuasan konsumen adalah perasaan senang dan kecewa yang muncul karena
membandingkan kinerja yang dirasakan dari produk atau hasil dengan harapan
mereka”. Jika produk itu sesuai atau lebih baik dari yang diharapkan oleh
konsumen, maka kesenangan dan kepuasan akan dirasakan oleh konsumen.
Sementara jika setelah mengkonsumsi produk tidak sesuai dengan harapan,
maka tentu konsumen tidak merasa puas dengan produk tersebut.

Pengertian Prilaku Konsumen


Perilaku konsumen merupakan suatu bagian dari perilaku manusia dan
oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari bagiannya. Dalam bidang
pemasaran, studi tentang perilaku konsumen bertujuan untuk mengetahui selera
konsumen yang senantiasa berubah dan untuk mempengaruhinya agar bersedia
untuk membeli barang dan jasa perusahaan pada saat mereka butuhkan.
Perusahaan berkepentingan dengan setiap kegiatan manusia, dalam sistem ini
perilaku konsumen merupakan kegiatan manusia sehingga dalam
membicarakan perilaku konsumen berarti membicarakan ruang lingkup
kegiatan manusia hanya dalam ruang lingkup yang lebih terbatas. Lebih lanjut
The American Asociation (dikutip dalam Khodijah dan Saino, 2012),
memberikan definisi perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara
afeksi dan kognisi, perilaku dan lingkungannya, dimana manusia melakukan
kegiatan pertukaran dalam hidup mereka.
Menurut Kotler dan Keller (2012:173) perilaku konsumen adalah studi
bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Teori perilaku konsumen yang lebih dalam dijelaskan oleh Shiffman,
dkk (dalam Tjiptono, 2014), perilaku konsumen adalah perilaku yang
diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi
dan mengabaikan produk jasa atau ide yang diharapkan dapat memuaskan
konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi
produk atau jasa yang ditawarkan.

Kepuasan Pelanggan Terhadap WoM


Kepuasan konsumen merupakan salah satu tujuan
utama perusahan, karena dengan terpuaskannya pelanggan
akan sebuah jasa /produk maka membuat pelanggan menjadi
loyal Kepuasan konsumen terhadap suatu produk atau jasa
maka akan berdampak pada adanya word of mouth positif
yang diberikan konsumen terhadap jasa atau produk yang
dikonsumsinya. Hal ini sesuai dengan penelitian Muhammad
& Artanti (2016) yang menyatakan terdapat hubungan
positif yang signifikan antara kepuasan konsumen terhadap
word of mouth. Kotler & Keller (2007:204) mengemukakan
bahwa word of mouth communication (WOM) atau
komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses
komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara
individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa
yang bertujuan untuk memberikan informasi secara
personal. Word of mouth positif dari konsumen menjadi
sebuah keharusan yang wajib dicapai oleh perusahaan untuk
meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan

Experiential Marketing Terhadap WoM


Selain dipengaruhi kepuasan konsumen, word of
mouth juga dapat dipengaruhi oleh experiential marketing,
karena pengalaman yang diperoleh atau dirasakan pelanggan
dari pengalaman mencoba suatu jasa. maka akan menjadi
sumber word of mouth itu sendiri, baik word of mouth positif
maupun negatif, tergantung kesan yang dirasakan pelanggan
terhadap suatu jasa. Hal ini sesuai dengan penelitian
Mismiwati (2016 : Vol. 2) yang menyatakan bahwa
experiential marketing berpengaruh positif terhadap word of
mouth.

Experiential Marketing Terhadap Kepuasan Pelanggan


Experiential Marketing adalah sebuah konsep untuk
meningkatkan pelanggan dengan memberikan pengalaman
yang unik dan bersifat positif dan tidak terlupakan
Experiential Marketing sangat berguna dalam menciptakan
kepuasan konsumen, karena perusahaan lebih dapat
menyentuh pelanggan baik secara emosi maupun fisik dari
setiap jasa atau produk yang sudah dirasakan konsumen. Hal
ini juga sesuai dengan penelitian Ratih, Srikandi, & Kholid
(2015) yang menyatakan ada hubungan yang positif dan
signifikan antara Experiential Marketing terhadap Kepuasan
pelanggan

Motifasi Melakukan WoM


Menurut Sernovitz (2006), terdapat motivasi dasar yang
membuat orang terdorong untuk melakukan rekomendasi atau WoM
positif, yakni:
a. Konsumen menyukai produk yang di konsumsi. Orang-orang
akan membicarakan suatu produk atau jasa dikarenakan mereka
menyukai produk atau jasa.
b. Pembicaraan yang membuat mereka merasa baik. Terkadang
konsumen melakukan WoM karena motif emosi atau perasaan
terhadap suatu produk yang mereka konsumsi dan dapatkan
c. Mereka merasa terhubung dalam satu kelompok. Ketika
mempunyai perasaan social yang paling kuat sesorang akan
mempunyai keinginaan menjadi bagian dari suatu kelompok.
Biasanya dalam suatu ikatan kelompok kerapkali seseorang
akan membicarakan suatu produk atau jasa di dalam satu ikatan
kelompok.

Indicator WoM


Didalam WoM terdapat bebrapa hal yang di gunakan untuk
dapat mengukur WoM tersebut berhasil atau tidak menurut
penelitian dari Babin, et all (2005) indicator WoM adala berikut ini:
a. Menceritakan hal yang positif tentang prusahaan
b. Kecenderungan untuk mempengaruhi
c. Mendorong orang lain untuk datang

Pengertian WoM


WoM adalah sebuah proses komunikasi dari mulut ke
mulut berupa pemberian rekomendasi yang terbaik secara individu
maupun kelompok terhadap sutu produk atau jasa yang di tawarkan
yang tujuannya tidak lain untuk memberikan informasi secara
personal (Kotler & Keller, 2012). WoM dapat berupa rekomendasi
maupun komentar yang dengan sepontan di sebarkan oleh para
konsumen berdasarakn pengalaman yang di terima atau di rasakan
para konsumen setelah melakukan pembelian yangmana memiliki
pengaruh yang kuat terhadap pengambilan keputusan terakir.
Menurut Hasan (2010). WoM adalah sebuah rekomendasi,
pujian dan komentar pelanggan yang berdasarkan pengalaman
mereka atas layanan jasa maupun produk yang benar-benar
mempengaruhi keputusan pelanggan atau prilaku pembelian
mereka. WoM merupakan slah satu sumber informasi paling
berpengaruh yang di berikan oleh para konsumen. WoM
mempengaruhi prilaku konsumen dengan menciptakan kesadaran,
mengibah dan mengkonfirmasi pendapat, menciptakan untuk
membeli sebuah produk/merek. Dalam kaitanya denagn WoM,
Kotller & Keller (2008) berpendapat bahwa keseluruhan
komunikasi personal dalam ucapan maupun perkataan dari mulut
ke mulut bisa menjadi metode promosi yang efektif karena pada
umumnya disampaikan dari konsumen oleh konsumen dan untuk
konsumen, sehingga para konsumen yang merasa puas menjadi
media iklan bagi prusahaan. Rekomendasi WoM memiliki
pengaruh yang besar dan berdampak untuk pemasaran di
bandingkan dengan komunikasi lainnya. Karena para konsumen
lain akan berbicara dengan para konsumen lainnya juga.
Manfaat dari word of mouth sebagai sumber infomasi yang
kuat dalam memberikan pengaruh keputusan pembelian (Hasan.
2010). 1) word of mouth adalah sumber informasi yang jujur
(ketika informasi datang dari seorang teman bisa dibilang lebih
jujur karena tidak ada association dari orang dengan perusahaan).
2) word og mouth sangatlah kuat dikarenakan memberikan manfaat
kepada yang bertanya dengan seseorang yeng memiliki
pengalaman lagsung tentang produk itu sendiri yang mana dapat
dari kerabat atau temannya yang lain.3) word of mouth mampu
menjadi media iklan yang informal. 6) word of mouth tidak
dibataasi ruang dan waktu maupun kendala lainnya seperti, ikatan
social, keluarga atau hambatan fisik lainnya.

Factor Kepuasan


Zeithaml, et all (2003) berpendapat adanya lima factor yang
mempengaruhi dan menentukan kepuasan pelanggan, yakni:
a) Fitur produk dan layanan. Yang di terima oleh konsumen akan
di evaluasi oleh pelanggan setelah meneriman jasa atau
mengonsumsi produk, evaluasi yang dilakukan untuk
mengetahui apakah barang atau jasa mampu memberikan
kepuasan atau tidak.
b) Emosi konsumen. Emosi konsumen ( senang / gembira atau
sedih / susah) akan memberikan pengaruh terhadap kepuasan
pelanggan dalam layanan yang akan diberikan prusahaan atau
pemasar
c) Atribut dari keberhasilan ataupun kegagalan layanan. Layanan
yang diberikan perusahaan kepada konsumen membuat
merasa istimewa atau malah membuat para konsumen kecewa,
semuanya menjadi alasan yang akan mempengaruhi kepuasan
konsumen.
d) Presepsi akan keadilan dan kewajaran. Kepuasan pelanggan
akan di pengaruhi oleh kewajaran dan keadilan yang di
terimanya jika di bandingkan dengan yang diterima oleh
pelanggan lain.
e) Pelanggan yang lain, seperti anggota keluarga dan rekan kerja.
Kepuasan pelanggan dapat dipengaruhi oleh pelanggan yang
lain.
Engel et al (2006) mendefinisikan kepuasan pelanggan
sebagai evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih
sekurang- kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan,
sedang ketidak puasan timbul apabila hasil tidak memenuhi
harapan. Sedangkan Kotler (2001) mengemukakan bahwa
kepuasan pelanggan ialah tingkat perasaan seseorang 91 setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dengan
dibandingkan harapannya.
Kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon
pelanggan terhadap evaluasi ketidasesuaian (disconfirmation) yang
dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk
yang dirasakan setelah pemakaiannya (Tjiptono, 2006). Tse dan
Wilton dalam Tjiptono (2006) mendefinisikan kepuasan pelanggan
sebagai respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang
dipersepsikan antara harapan awal sebelum pembelian dan kinerja
actual produk yang dipersepsikan setelah pemakaian atau
konsumsi barang bersangkutan.
Adapun menurut Hawkins dan Lonney dikutip dalam
Tjiptono, indikator kepuasan terdiri dari:
a. Kesesuaian harapan Merupakan tingkat kesesuaian
antara kinerja produk yang diharapkan oleh konsumen dengan
yang dirasakan oleh konsumen, meliputi: 1) Produk yang diperoleh
sesuai atau melebihi dengan yang diharapkan. 2) Pelayanan oleh
karyawan yang diperoleh sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan. 3)Fasilitas penunjang yang didapat sesuai atau
melebihi dengan yang diharapkan.
b. Minat berkunjung kembali Merupakan kesediaan
konsumen untuk berkunjung kembali atau melakukan pembelian
ulang terhadap produk terkait, meliputi: 1) Berminat untuk
berkunjung kembali karena pelayanan yang diberikan karyawan
memuaskan. 2) Berminat untuk berkunjung kembali karena nilai
dan manfaat yang diperoleh setelah mengkonsumsi produk.
3) berminat berkunjung kembali karena fasilitas penunjang
yang disediakan memadai

Pengertian kepuasan pelanggan


Kepuasan berasal dari Bahasa latin yaitu satisfaction atau
satis yang artinya cukup baik atau memadai, dan fasio yang
memiliki arti melakukan atau membuat. Secara singkat, kepuasan
dapat diartikan sebagai upaya perubahan sesuatu atau membuat
sesuatu memadai. Namun jika di tinjau dari prespektif konsumen,
istilah kepuasan pelanggan menjadi sesuatu yang kompleks
(Tjiptono, 2014). Kemudian pedapat dari Kotler & Keller (2009)
secara umum menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan senang
atau kecewa konsumen yang muncul setelah membandingkan
antara presepsi atau kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu
produk atau jasa dengan harapannya. Oleh karena itu, pemasar
dituntut mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
Sehingga tercapai kepuasan konsumen.
Kotler & Amstrong (2008) mengatakan bahwa kepuasan
pelanggan tergantung pada ekspetasi yang di bangun oleh
konsumen, jika kinerja prusahaan sebuah produk tidak memenuhi
ekspetasi para konsumen, maka kemungkinan besar konsumen
akan kecewa.namun jika kinerja suatu produk dapat memenuhi
ekspetasi para konsumen bahkan melebihi ekspetasi para
konsumen, maka di pastikan para konsumen akan merasakan rasa
kepuasan. Umumnya harapan pelanggan merupakan pikiran atau
keyakinan para pelanggan tentang apa yang akan di peroleh saaat
membeli atam saat mengonsumsi suatu produk baik barang
maupun suatu jasa. Sedangkan kinerja yang di sarankan adalah
presepsi pelanggan terhadap apa yang di rasakan dan terima setelah
mengonsumsi produk yang di beli (Tjiptono, 2016)

Indikator Experiential Marketing


Schmitt (1999), menjelaskan ada lima indicator yang terdapat
didalam experiential marketing yaitu:
a. Panca Indra (sense/sensory experience) (perasaan yang timbul
melalui panca indra)
Sence experience adalah usaha penciptaan pengalaman
yang berkaitan dengan panca indra pelanggan melalui
pengelihatan, suara, sentuhan, rasa dan bau. Hal ini di gunakan
untuk mendefinisikan prusahaan dan produk di pasar,
memotivasi para konsumen agar mau membeli produk tersebut
sehingga value dari produk atau jasa yang di tawarkan
tersampaikan.
Dalam sense terdapat tiga kunci strategi yang dapat
digunakan untuk menstimulus sense, yaitu:
 Sense as differentiator
Pengalaman yang di peroleh dasi sense (panca indra)
mungkin melekat pada konsumen karena tampil dengan
cara yang unik dan special. Cara yang dilakukan untuk
menarik konsumen melebihi batas normal sehingga
produk dan jasa tersebut sudah memiliki cara khusus
untuk diingat di benak konsumen.
 Sense as value provider
sense sebagai nilai tambahan yang dapat memberikan
nilai unik kepada konsumen. Sense dipengaruhi oleh
panca indra, melalui panca indra konsumen dapat
menentukan nilai suatu produk.
 Sense as motivator
sense yang dapat memotifasi konsumen dengan tidak
terlalu memaksa konsumen tetapi juga jangan terlalu
acuh terhadap keinginan konsumen
b. Perasaan (fell / affective experience)
fell experience merupakan suatu pengalaman yang
didasarkan pada perasaan atau apa yang konsumen rasakan
sehingga mempengaruhi emosional seseorang dengan
produk maupun jasa. Hal ini tidak menyangkut keindahan
namun juga suasana hati dan emosi jiwa yang mampu
membangkitkan kebahagiaan atau bahkan kesedihan (Rini,
2009). Berdasarkan dengan sense, konteks feel mempunyai
makna yang lebih dalam, perasaan yang di rasakan
merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan
pribadi. Misalkan persamaan harga diri, putus asa dan
perasaan puas, feel experience timbul dari hasil kontak dan
interaksi yang berkelanjutanmelalui perasaan maupun emosi
yang ditimbulkan. Selain itu juga dapat dihasilkan dari
sebuah ide, kebahagiaan, serta reputasi akan pelayanan yang
diberikan kepada konsumen.
c. Pikiran (think / creative cognitive experience)
Tujuannya adalah untuk mendorong konsumen agar
tertarik dan berfikir secara kreatif sehingga dapat
menghasilkan evaluasi kembali mengenai produk, merek
atau perusahaan tersebut. Think memiliki potensi untuk
masuk ke dalam bahkan memimpin terjadinya perubahan
paradigm di dalam masyarakat. Inti dari think adalah
bagaimana cara menarik minat konsumen pada prusahaan
dan produk yang di tawarkan melalui ajakan untuk berfikir
kreatif. Disini konsumen dipaksa secara halus untuk dapat
menarik kesimpulan tentang produk yang ditawarkan.
d. Tindakan (act / physical experience and entitle lifestyle)
Merupakan teknik pemasaran untuk menciptakan
pengalaman konsumen yang berhubungan dengan tubuh
secara fisik, pola prilaku, dan gaya hidup jangka panjang seta
pegalaman yang terjadi dari dari interaksi dengan orang lain
e. Hubungan (relate / social identity experience)
Relate experience merupakan gabungan dari
keempat aspek yang telah di paparkan di atas yakni sense,
feel, think, dan act. Pada umumnya relate experience
menunjukan hubungan dengan orang lain maupun kelompok
lain seperti negara, masyarakat, budaya. Tujuan dari relate
experience adalah menghubungkan konsumen dengan
kebudayaan atau lingkunga social yang di cerminkan oleh
prusahaan atau merek suatu produk.

Pengertian Experiential Marketing


Experiential marketing berasal dari dua kata yaitu
experience dan marketing. Experience merupakan peristiwapristiwa seseorang yang terjadi dikarenakan adanya stimulus
tertentu misalnya diberikan oleh pihak pemasar sebelum maupun
sesudah membeli suatu barang atau jasa (Shmitt, 1999). Lalu
pengertian dari marketing sendiri adalah proses sebuah prusahaan
menciptakan nilai untuk pelanggan dengan tujuan untuk
melengkapi nilai dari pelanggan sebagai imbalannya (Kotler &
Amstrong, 2008).
Experiential marketing merupakan sebuah pendekatan guna
memberikan sebuah sesuatu yang lebih dari informasi mengenai
sebuah produk dan jasa. Pengalaman konsomen dalam
mengonsumsi barang dan jasa erat kaitannya dengan kosep
Experiential marketing. Menurut Schmitt (1999) experiential
marketing merupakan sebuah upaya yang digunakan oleh
perusahaan atau pemasar, guna mengemas barang atau produk
sehingga mampu menawawarkan pengalaman emosi hingga dapat
menyentuh hati dan perasaan konsumen. Sedangkan menurut
Handi Chandra (2008,166) Experiential Marketing merupakan
salah satu strategi pemasaran yang dikemas dalam bentuk kegiatan,
sehingga dapat memberikan sebuah pengalaman yang dapat
membekas dihati konsumen. Menurut Kertajaya & Hermawan
(2010) experiential marketing adalah suatu strategi pemasaran
yang bermanfaat untuk membentuk pelanggan yang loyal
dikarenakan timbulnya pengalaman positif yang di rasakan
konsumen. Konsep experiential marketing sendiri mencoba untuk
mengeliminasi keunggulan fitur dan benefit, karena kebanyakan
konsumen tidak lagi membeli produk belaka, namun sebuah
pengalaman yang diharapkan dapat tercipta setelah memakai atau
mengonsumsi produk atau jasa tersebut (Indriani, 2019). Pada
experiential marketing, merek suatu produk bukan hanya sebagai
pengenal atau tanda suatu prusahaan saja, namun lebih sebagai
memberi pengalaman positif pada konsumen sehingga dapat
menimbulkan kepuasan pada konsumen terhadap bahan usaha atau
merek tersebut. Berdasarkan pendapat di atas maka Experiential
Marketing adalah suatu konsep pemasaran yang menekannkan
kinerja produk dan jasa yang memberikan pengalaman positif, unik
dan mengesankan kepada konsumen dan juga menyentuh hati dan
perasaan para konsumen. Sehingga mau menggunaan produk dan
jasa perusahaan kembali.

Penerapan strategi marketing mix jasa pendidikan


Marketing mix adalah strategi kombinasi kegiatan inti
pemasaran dalam kegiatan dapat dikendalikan oleh organisasi dalam
menyajikan penawaran produk pada segmen pasar sebagai sasaran
pasar. Kombinasi elemen yang tergabung dalam strategi marketing mix
sekolah harus dikoordinasikan seefektif mungkin, diantaranya strategi
produk, harga, lokasi dan promosi. Hal tersebut saling mempengaruhi
dan menjadi satu kesatuan dalam strategi pemasaran untuk mencapai
tujuan lembaga pendidikan. (Candra A, 2018). Keempat unsur tersebut
dirasa kurang mencukupi sehingga menambahkan tiga unsur lagi yaitu
orang (SDM), bukti fisik, dan proses, sifat dari unsur tersebut operasi
atau konsumsi yang merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan
dan mengikut sertakan pelanggan dan pemberian layanan secara
langsung hingga terjadinya interaksi langsung (Zulkifli Z. , 2021).
Pemilihan strategi pemasaran jasa pendidikan yang tepat
mempertimbangan sumber daya dan kemampuan yang tersedia serta
memperoleh keterampilan baru untuk mengembangkan dan menerapkan
startegi secara efektif dan efisien. Strategi pemasaran yang dipilih
menentukan target strategi pemasaran melalui segmentasi, target,
positioning di realisasikan menggunakan marketing mix di realisasikan
pengelolaan pemasaran jasa pendidikan (M Fauzan & dkk, 2022).
Penerapan marketing mix sebagai strategi pemasaran jasa
sebagai tujuan untuk mencapai target keberhasilan sekolah. Penawaran
produk seperti program pendidikan, proses pelayanan pendidikan, dan
hasil lulusan dari pendidikan. Dengan melaksanakan berbagai upaya
sekolah untuk tetap berkembang dan mampu bersaing secara unggul.
Sekolah dikatakan sukses jika sanggup menghasilkan input, proses,
output, income dan juga semakin bertambahnya jumlah pelanggan.
Penerapan strategi marketing mix jasa pendidikan pada proses
pemasarannya senantiasa memperhatikan faktor lingkungan yang
mempengaruhinya dari lingkungan internal maupun eksternal untuk
mencari peluang untuk menghadapi tantangan persaingan. Pada tingkat
penerapannya dari marketing mix perlu memperhatikan produk apa yang
ingin ditawarkan, kebijakan harga dalam penentuannya, promosi apa
saja yang dilakukan, lokasi yang strategis dan saluran distribusi, sumber
daya manusia yang berkualitas dan kuantitas orang yang terlibat dalam
memberikan layanan jasa pendidikan, proses dalam pelaksanakan
kegiatan untuk menghasilkan tujuan pemasaran. Sehingga
membutuhkan komitmen yang tinggi dan struktur organisasi dari
seluruh rangkaian dalam manajemen sekolah yang berfungsi sebagai
koordinasi dan kerjasama untuk kepentingan (stakeholder) baik dari
pemerintah, masyarakat, orang tua peserta didik, peserta didik dan
sekolah dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dalam memberikan
manfaat layanan jasa untuk mencapai kepuasan pelanggan. Dengan
demikian sekolah mampu menghasilkan lulusan yang unggul dan
berkualitas yang mampu memberikan citra baik bagi sekolah agar
mampu meningkatkan sekolah lebih berkualitas.

Unsur-unsur strategi pemasaran jasa pendidikan


Pemasaran memiliki tiga unsur penting yaitu strategi
pemasaran, taktik pemasaran, dan nilai pemasaran. Untuk memasarkan
produk jasa agar tepat sasaran, adapun unsur-unsur strategi pemasaran
jasa pendidikan, yaitu (Rusdiana & kodir, 2022) :
1) Identifikasi pasar, yaitu tahapan pertama untuk mengetahui
kapasitas dan potensi lembaga pendidikan dalm pemasaran dengan
melakukan riset pasar pendidikan untuk mengetahui keadaan dan
ekspetasi pasar yang menjadi kepentingan pelanggan.
2) Segmentasi pasar, yaitu tindakan mengidentifikasi dan membentuk
kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Setiap konsumen
dibedakan menurut karakteristik kebutuhan produk dan bauran
pemasaran sendiri (Nina, 2021).
3) Targeting, yaitu proses memilih salah satu atau lebih segmen yang
akan dijadikan pasar sasaran atau target pasar.
4) Positioning, yaitu rancangan tindakan dan citra dari lembaga
pendidikan untuk mencapai sebuah posisi diantara para pesaing
yang diterapkan dalam pencapaian sasaran, sehingga diperlukan
kreatifitas yang dilakukan terhadap produk (Nina, 2021).
5) Deferensiasi, yaitu suatu proses dalam memberikan penawaran yang
berbeda dari pesaing, dengan mengisyaratkan lembaga pendidikan
mempunyai jasa yang berkualitas, menciptakan persepsi terhadap
nilai tertentu kepada pelanggan.
6) Komunikasi pemasaran, yaitu proses menyampaikan informasi
produk atau ide yang efektif yang ada di lembaga pendidikan kepada
target sasaran.
7) Pelayanan lembaga pendidikan, kemampuan sumber daya manusia
dengan mengoptimalkan fasilitas lembaga pendidikan untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan.

Analisis strategi pemasaran jasa pendidikan


Manajemen Pemasaran menggunakan informasi yang
dihasilkan oleh analisis situasi sebagai pedoman untuk menentukan
sebuah strategi baru atau mengubah strategi yang sudah ada. Penentuan
penggunaan strategi terlebih dahulu menganalisis situasi secara teratur,
sehingga dapat mengetahui hasil pencapaian melalui identifikasi
kebutuhan. Strategi digunakan untuk mengetahui situasi yang
mempengaruhi lembaga pendidikan dengan cara menganalisis situasi
secara internal maupun eksternal, sebagai berikut (Sunaengsih C. ,
2017):
1) Faktor internal lembaga pendidikan yang harus dianalisis adalah
perkembangan hasil pencapaian penjualan produk setiap sektor dan
kategori pelanggan perkembangan pangsa pasar proses dan hasil
pelaksanaan program-program marketing mix sumber-sumber daya
produksi keuangan manusia serta manajemen sekolah.
2) Secara eksternal yang harus dianalisis meliputi pasar pesaing
pemasok, perekonomian, sosial budaya, situasi politik, beserta
produk-produknya misalnya kebijakan fisikal dan moneter, serta
hukum perundang-undangan serta peraturan yang berlaku.
Strategi pemasaran adalah suatu mindset yang rinci mengenai
pasar sasaran, penetapan posisi, marketing mix, dan biaya untuk
pemasaran yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pasar (grace,
2021). Lembaga pendidikan juga membutuhkan strategi pemasaran jasa
pendidikan sebagai sektor jasa yang membutuhkan orientasi pemasaran
khusus.
Strategi pemasaran jasa pendidikan merupakan kreativitas
untuk mengembangkan misi yang jelas mencapai tujuan yang
ditentukan oleh pemimpin dalam lembaga pendidikan pada titik temu
antara visi, nilai dan alokasi sumber daya pendidikan dengan usaha
menawarkan kepuasan melalui program, persiapan karir, layanan dan
manfaat (Wijaya, 2016). Tujuan dari pemasaran jasa pendidikan
menentukan strategi antara lain; sebagai bahan acuan dalam
pelaksanaan pasar, peningkatan kualitas koordinasi dalam tim
pemasaran jasa pendidikan, bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan, instrumen dalam evaluasi pemasaran produk jasa
pendidikan, pengembangan pasar yang lebih luas, serta membangun
reputasi lembaga pendidikan (Surveyandini, 2018)

Pengertian strategi pemasaran jasa pendidikan


Strategi adalah cara untuk mencapai sebuah sasaran, strategi
dapat didefinisikan sebagai keputusan dan tindakan yang menentukan
kinerja jangka panjang sebuah organisasi, dengan menggambarkan
pentingnya strategi bagi manajer pemasaran melalui pemasaran strategi
dalam menetapkan rencana organisasi melakukan bisnis Bagaimana
organisasi akan berhasil dalam persaingan dan bagaimana organisasi
menarik dan memuaskan pelanggannya (Sunaengsih C. , 2017).
Pemasaran itu sendiri adalah proses, cara, atau perbuatan
memasarkan barang dagangan (Azan & dkk, 2021). Pemasaran adalah
proses perencanan dan penerapan konsep, penetapan harga, promosi,
distribusi ide, barang, dan jasa untuk menciptakan komunikasi tujuan
pribadi dan organisasi (Mardia & dkk, 2021). Konsep pemasaran
merupakan suatu kerangka pemikiran yang menjadi dasar pengambilan
keputusan di dalam suatu perusahaan untuk mengelola semua sumber
daya yang ada pada perusahaan yang bersangkutan berjalan secara
efektif dan efisien. Dengan begitu dalam mencapai tujuan pasar harus
melakukan beberapa pendekatan melalui proses manajemen pemasaran
diantaranya, analisis, rencana, implementasi, dan evaluasi. Hal tersebut
berguna bagi manajer pemasaran dalam membuat perencanaan dan
mengambil keputusan, sehingga manajer perlu memperhatikan aspek
yang meliputi; analisi situasi, prioritas tujuan organisasi, sasaran pasar
(target market), marketing mix.
Strategi pemasaran jasa pendidikan merupakan salah satu alat
bagi lembaga pendidikan untuk menghadapi daya saing yang dinamis.
Strategi pemasaran memiliki tujuan yaitu mendapat keuntungan dan
mencapai tujuan secara efektif dan efisien sebagai pertimbangan untuk
menjalankan lembaga pendidikan dengan menekankan pada biaya
promosi, operasional, dan proses pemasaran jasa pendidikan (Syarifah
N & dkk, 2022). Pemanfaatan menentukan strategi pemasaran jasa
pendidikan harus inovatif dan tepat sasaran dengan analisis lingkungan
dalam menghadapi persaingan untuk mempertahankan positioning
lembaga pendidikan.

Tujuan dan manfaat marketing mix jasa pendidikan


Marketing mix dalam pemahamannya perlu diketahui bahwa
terdapat beberapa tujuan dalam penggunaan marketing mix, diantaranya
(Sumuyati, 2019):
1) Periklanan (adventising)
Periklanan merupakan salah satu kegiatan penting dalam
marketing mix tujuan dari periklanan ini adalah untuk memberikan
informasi tentang produk barang atau jasa kepada target konsumen
dan untuk meningkatkan pemasaran.
2) Promosi penjualan (sale promotion)
Aktivitas ini merupakan kumpulan dari berbagai alat
intensif yang dirancang untuk mendorong permintaan suatu barang
atau jasa. Dengan kegiatan inti sebagian besar berjangka pendek dan
tidak dilakukan secara berulang.
3) Pemasaran langsung (direct marketing)
Pemasaran langsung adalah sistem pemasaran interaktif
yang menggunakan suatu media iklan untuk menghasilkan
tanggapan atau transaksi yang dapat diukur pada suatu lokasi
tujuannya untuk mengkomunikasikan produk atau jasa secara
langsung kepada konsumen yang dianggap target market potensial

Pengertian penerapan marketing mix jasa pendidikan


Penerapan adalah suatu perbuatan untuk mempraktekan suatu
teori atau metode dalam mencapai tujuan serta kepentingan yang
diinginkan oleh suatu kelompok agar tersusun dan terencana (Endang S
& Zaimuddin, 2021). Pengertian marketing mix secara bahasa yaitu
bauran pemasaran, sedangkan menurut istilah marketing mix adalah
strategi pemasaran yang dilaksanakan secara terpadu yang dilakukan
secara bersamaan dalam menerapkan elemen marketing mix sebagai
strategi pemasaran. Marketing mix di dalamnya terdapat beberapa
elemen marketing jika sebelumnya dengan 4P product (produk), place
(lokasi), price (harga), promotion (promosi), namun seiring
berkembangnya zaman yang semakin modern dengan kecanggihan
teknologi terdapat penambahan tiga elemen people (sumber daya
manusia), physical evidence (bukti fisik), process (proses) yang kini
menjadi 7P dalam marketing mix (Hutabarat, 2017, p. 116). Lembaga
pendidikan dapat memilih untuk menerapkan marketing mix sebagai
strategi pemasaran selama penggunaannya menjadikan organisasi lebih
berkembang dalam mencapai tujuan.

Faktor Keberhasilan Pemasaran E-commerce


Menurut Fauziah, dkk (2021) mengungkapkan bahwa terdapat
beberapa faktor kesuksesan pemasaran dengan melalui e-commerce, yaitu:
a. Nilai nyata dan nilai persepsi. Nilai ini dapat dirasakan oleh konsumen
yang berkaitan dengan jasa dipromosikan dan harga.
b. Kemudahan navigasi. Pada sisi estetika, informatif dan lain-lain ialah
beberapa dari kemudahan dalam berkomunikasi dengan konsumen.
c. Keamanan dan kepercayaan. Dari segi keamanan dan kepercayaan dapat
dengan mudah untuk menghubungi perusahaan yang menjual barang atau
jasa, kemudahan refund atau return, dan kemudahan lainnya.
d. Strategi pemasaran secara online. Strategi ini dapat dilakukan dengan
menggunakan analisis pesaing dan pangsa pasar, pemilihan strategi
pemasaran e-commerce, hingga penentuan target pasar.

Komponen E-commerce


Menurut Malau (2017) mengungkapkan bahwa e-commerce juga
memiliki beberapa komponen yang diperhatikan diantaranya yaitu:
a. Produk. Terdapat beberapa produk yang dapat dipasarkan melalui
teknologi saat ini seperti komputer, pakaian, buku, dan lain-lainnya.
b. Tempat menjual produk. Internet merupakan salah satu hal yang harus
memiliki domain.
c. Cara menerima pesanan. Beberapa cara ini dapat dilakukan dengan
melalui e-mail, telepon, dan lain-lainnya.
d. Cara pembayaran. Terdapat berbagai cara untuk pembayaran meliputi cara
cash, kartu kredit, internet payment (seperti PayPal) hingga bank draft.
e. Costumer service. Pelayanan kepada konsumen dapat dilakukan
dengan melalui berbagai cara meliputi e-mail, FAQ, telepon, hingga
formulir online, dan lain-lainnya.
f. Metode pengiriman. Untuk pengiriman bisa dilakukan dengan
salesman, atau melalui paket, dan lain sebagainya

Manfaat E-commerce


Menurut Darfin et al (2022) mengemukakan bahwa ada beberapa
keuntungan yang dapat diambil dari penggunaan e-commerce, yaitu:
a. Electronic commerce memungkinkan pelanggan untuk berbelanja atau
melakukan transaksi lain selama 24 jam sehari sepanjang tahun dari
hampir setiap kota.
b. Electronic commerce menawarkan lebih banyak pilihan kepada
pelanggan, mereka memilih berbagai produk dari banyak vendor.
c. Electronic commerce menyediakan produk dan jasa yang murah
kepada pelanggan dengan cara mengunjungi banyak toko dan
melakukan perbandingan dengan cepat.
Manfaat dalam menggunakan e-commerce dapat dibagi menjadi
dua yaitu sebagai berikut.
a. Manfaat E-commerce dalam Dunia Bisnis
Manfaat dalam menggunakan E-commerce dalam dunia bisnis sebagai
sistem transaksi adalah:
1) Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar). Transaksi
online yang membuat semua orang di seluruh dunia dapat
memesan dan membeli produk yang dijual hanya dengan melalui
media komputer dan tidak terbatas jarak dan waktu.
2) Menurunkan biaya operasional (operating cost). Transaksi e-commerce
adalah transaksi yang sebagian besar operasionalnya diprogram di
dalam komputer sehingga biaya-biaya seperti showroom, beban gaji
yang berlebihan, dan lain-lain tidak perlu terjadi.
3) Melebarkan jangkauan (global reach). Transaksi online yang dapat
diakses oleh semua orang di dunia tidak terbatas tempat dan waktu
karena semua orang dapat mengaksesnya hanya dengan
menggunakan media perantara komputer.
4) Meningkatkan customer loyalty. Ini disebabkan karena sistem
transaksi e-commerce menyediakan informasi secara lengkap dan
informasi tersebut dapat diakses setiap waktu selain itu dalam hal
pembelian juga dapat dilakukan setiap waktu bahkan konsumen
dapat memilih sendiri produk yang dia inginkan.
5) Meningkatkan supply management. Transaksi e-commerce
menyebabkan pengefisienan biaya operasional pada perusahaan
terutama pada jumlah karyawan dan jumlah stok barang yang tersedia
sehingga untuk lebih menyempurnakan pengefisienan biaya tersebut
maka sistem supply management yang baik harus ditingkatkan.
b. Manfaat E-commerce untuk Pelanggan
E-commerce memungkinkan pelanggan untuk berbelanja atau
melakukan transaksi selama 24 jam sehari dari hampir setiap lokasi
dimana konsumen itu berada. Pelanggan juga dapat memiliki banyak
pilihan barang yang ingin dibeli pada saat mengunjungi situs dan
melakukan perbandingan harga dengan perusahaan lain. Pada saat
membeli barang-barang secara online, pelanggan tidak perlu mengantri
untuk mendapatkan barang

Jenis-Jenis E-commerce


Terdapat enam jenis e-commerce menurut Laudon dan Traver
(2017) yaitu sebagai berikut.
a. Business to Consumer (B2C), yaitu jenis e-commerce yang paling
sering dibahas, dimana bisnis online jenis ini menjangkau konsumen
individual. B2C mencakup pembelian barang ritel, travel dan konten
online. Jenis B2C ialah salah satu jenis e-commerce yang paling sering
ditemui konsumen.
b. Business to Business (B2B), yaitu model e-commerce dimana pelaku
bisnisnya adalah perusahaan, sehingga proses transaksi dan
interaksinya adalah antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Contoh model e-commerce ini yaitu beberapa situs e-banking yang
melayani transaksi antara perusahaan.
c. Consumer to Consumer (C2C), yaitu salah satu jenis yang
menyediakan media sebagai konsumen untuk menjual satu sama lain,
dengan bantuan pembuat pasar online (juga disebut penyedia
platfrom). Pada C2C pihak individual menjual barang atau jasanya
kepada individu, organisasi atau perusahaan yang berperan sebagai
konsumen melalui internet.
d. Mobile e-commerce (m-commerce) pada pengguna perangkat mobile untuk
melakukan transaksi online dengan menggunakan jaringan seluler dan
jaringan wifi untuk menghubungkan smartphone atau tablet ke internet.
e. Social e-commerce, yaitu e-commerce yang menggunakan jejaring
sosial dan social media contohnya facebook, twitter, instragram dan
lainnya. Lalu social e-commerce sering kali dihubungan dengan jenis
m-commerce, hal ini disebabkan karena semakin banyak pengguna
jaringan sosial mengakses jaringan tersebut melalui perangkat mobile
seperti whatsapp, line dan lain-lain sebagai media interaksi penjual dan
pembeli.
f. Local e-commerce, merupakan bentuk e-commerce yang berfokus
untuk melibatkan konsumen berdasarkan lokasi geografis saat ini.
Local e-commerce adalah perpaduan dari m-commerce, social ecommerce dan local e-commerce yang didorong oleh banyaknya minat
terhadap layanan on-demand lokal seperti grab dan gojek.

Pengertian E-commerce


Electronic commerce merupakan suatu pertukaran jasa atau barang
dan menggunakan informasi secara elektronik sesuai dengan
perkembangan zaman saat ini. Menurut Akbar dan Alam (2020)
mengatakan bahwa e-commerce dapat mempermudah untuk penyediaan
transaksi dalam waktu yang singkat.
E-commerce merupakan suatu kegiatan-kegiatan bisnis yang
menyangkut konsumen, manufaktur, service providers dan perdagang perantara
dengan menggunakan jaringan-jaringan komputer yaitu internet. E-commerce
juga secara istilah yang sering digunakan saat terkait dengan internet, dimana
tidak ada seorang yang mengetahui dengan jelas arti dari e-commerce tersebut.
Menurut Rizki et al (2019) e-commerce merupakan suatu
perdagangan elektronik yang mencakup proses pembelian dan penjualan
barang atau jasa, pertukaran produk, transfer dana, pelayanan serta
informasi yang menggunakan jaringan komputer atau internet. Sedangkan
Menurut Wardana (2018) e-commerce yaitu singkatan dari “Electronic
Commerce” yang berarti transaksi yang meliputi berbagai macam kegiatan
bisnis mulai dari pembelian sampai penjualan yang dilakukan melalui
media jaringan berbasis internet.

Teknik Pemasaran Jasa


Terdapat beberapa teknik pemasaran jasa untuk menghasilkan
suatu jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan dengan secara optimal,
diantaranya sebagai berikut.
a. Memberikan pelayanan secara efisien. Efisien disini dapat diartikan
cepat dan tepat, tidak terlalu ribet dan cukup sesuai dengan yang
diinginkan konsumen.
b. Meningkatkan kinerja karyawan
c. Harga yang masuk akal
d. Memanfaatkan teknologi. Era sekarang pemasaran online sedang
sangat naik daun, banyak cara untuk memasarkan jasa kita melalui
internet misalkan dengan SEO (Search Engine Optimization), ecommerce ataupun menggunakan sosial media. Semakin canggih
teknologi yang digunakan, semakin cepat pula pelayanan yang
diberikan untuk konsumen.
e. Sesuaikan budaya yang sedang berkembang
f. Memuaskan keluhan pelanggan
g. Memanjakan pelanggan untuk media marketing mix
h. Memberikan reward atas referensi pelanggan.

Strategi Pemasaran Jasa


Strategi pemasaran merupakan serangkaian tindakan terpadu
menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Tujuan akhir dan
konsep, kiat dan strategi pemasaran adalah kepuasan pelanggan
sepenuhnya (“Total Customer Statisfaction”). Kepuasan pelanggan
sepenuhnya bukan berarti memberikan kepada apa yang menurut kita
keinginan dari mereka, tetapi apa yang sesungguhnya mereka inginkan
serta kapan dan bagaimana mereka inginkan.
Secara singkat strategi pemasaran ialah suatu proses untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebelum meluncurkan suatu produk baru
ke pasar, sebuah perusahaan hendaknya merancang suatu strategi yang
baik untuk produk tersebut agar produk yang dihasilkannya dapat
mencapai sasaran yang diinginkan.

Karakteristik Pemasaran Jasa


Menurut Kelly (2020) terdapat enak karakteristik jasa yang perlu
diperhatikan dalam pemasaran jasa diantaranya sebagai berikut.
a. Tidak Berwujud (Intangibility)
Jasa mempunyai sifat tidak berwujud karena tidak bias dilihat, dirasa,
di dengar, didengar, diraba, atau dicium sebelum ada transaksi
pembelian. Tidak seperti produk fisik, jasa tidak dapat dilihat,
dirasakan, diraba, didengar, atau dibaui sebelum jasa itu dibeli.
b. Tidak Dapat Dipisahkan (Inspirability)
Suatu bentuk jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, apakah
sumber itu merupakan orang atau mesin, apakah sumber itu hadir atau
tidak, produk fisik yang berwujud tetap ada. Sementara barang fisik
dibuat, dimasukkan dalam persediaan, didistribusikan melalui berbagai
perantaraan, dan dikonsumsi kemudian, jasa umumnya diproduksi dan
dikonsumsi sekaligus.
c. Berubah-ubah (Variability)
Jasa sesungguhnya sangat mudah berubah-ubah karena jasa ini sangat
tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan dan dimana disajikan.
d. Mudah Lenyap (Perishability)
Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah jika permintaan
selalu ada. Bila permintaan atau turun, maka masalah yang sulit akan
segera muncul. Jasa tidak dapat disimpan, jadi dapat musnahnya jasa
bisa menjadi masalah ketika permintaan berfluktuasi. Beberapa strategi
dapat menghasilkan kesesuaian yang lebih baik antara permintaan dan
penawaran dalam bisnis jasa

Pengertian Pemasaran Jasa


Industri jasa saat ini sangat berperan penting pada perekonomian
negara. Salah satunya di Indonesia, berbagai sektor jasa yang cukup
signifikan perkembangannya seperti sektor jasa perhotelan, jasa
pariwisata, jasa perbankan, dan lain-lain. Pemasaran jasa adalah suatu
individu dan kelompok yang mendapatkan keinginan dan kebutuhan
dengan proses secara sosial dan manajerial.
Pemasaran jasa memiliki dua perbedaan dalam pengertian
diantaranya yaitu secara sosial maupun manajerial. Secara sosial,
pemasaran jasa adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan serta inginkan dengan
cara menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk jasa yang
bernilai dengan pihak lain. Sedangkan secara manajerial, adalah proses
perencanaan, pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, dan
penyaluran gagasan tentang produk jasa untuk menciptakan pertukaran
yang memenuhi sasaran individu dan organisasi.
Jasa (services) berbeda dengan goods (produk) karena secara kasat
mata jasa tidak dapat dilihat dan dapat menimbulkan berbagai cara dan
kegiatan dalam mengembangkan strategi pemasaran. Contoh dari jasa
diantaranya bengkel mobil, hotel, kecantikan, kursus, Lembaga pendidikan
dan sebagainya

Pengertian Manajemen Pemasaran


Berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran yang disebut
sebagai manajemen pemasaran. Menurut Kristiawan et al. (2017)
menyatakan bahwa manajemen ialah suatu yang memanfaatkan fungsifungsi manajemen seperti planning, organizing, actuating, dan controlling
yang ada di dalam organisasi agar dapat mencapai suatu tujuan secara
efisien dan efektif (Angelya et al., 2022). Sedangkan untuk mencapai
tujuan dari usaha atau bisnis perlu dilakukan suatu analisa, perencanaan,
penerapan, hingga pengendalian terhadap keuntungan pembelian yang
disebut sebagai pemasaran.
Suatu proses dan eksekutif yang dilakukan individu atau tim untuk
meraih apa yang ditujukan dan diperlukan dengan menawarkan,
menciptakan, hingga mempertukarkan jasa atau produk yang berkualitas
kepada pihak lain dapat disebut sebagai pemasaran. Peranan dari
pemasaran juga tidak hanya memberikan jasa atau produk hingga ke
konsumen, melainkan bagaimana jasa atau produk tersebut dapat
memberikan suatu kepuasaan untuk konsumen sehingga mendapatkan
profit dengan pembelian ulang oleh konsumen.
Menurut Ir. Agustina Shinta (2020) dan Lestari & Saifuddin (2020)
mengatakan bahwa salah satu tujuan dari pemasaran untuk menarik
konsumen baru dengan memberikan janji kualitas yang berkelas,
mempermudah penyebaran suatu jasa layanan atau produk, menetapkan
suatu harga yang menggiurkan atau menarik, hingga efektif terhadap
promosi dan mempertahankan konsumen dengan menjaga kepuasaan
untuk konsumen (Abidin & Sofyan, 2022).
Menurut P. and K. L. K. Kotler (2016) diterjemahkan oleh Bob
Sobran menyatakan bahwa manajemen pemasaran sebagai pengetahuan
dan seni untuk memilihi pasar sasaran dan mendapatkan,
mempertahankan, hingga meningkatkan jumlah pelanggan dengan
menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan suatu nilai
pelanggan yang unggul (Sumarsid & Paryanti, 2022).

Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal


Analisis lingkungan internal merupakan input yang sangat penting dalam
merumuskan strategi yang mengarah kepada kekuatan (strengths) dan
kelemahan (weakness) yang terdapat dalam perusahaan. Perubahan pada
lingkungan internal yang terjadi di dalam perusahaan dapat diawasi
dikarenakan masih berada di dalam lingkungan perusahaan. Analisis
lingkungan internal meliputi beberapa fungsi yang mendukung kelancaran
aktivitas perusahaan, fungsi tersebut diantaranya produksi atau operasi,
pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, penelitian dan
pengembangan, sistem informasi manajemen sebagai suatu kekuatan dan
kelemahan.
Analisis lingkungan eksternal merupakan input yang sangat penting dalam
merumuskan strategi yang mengarah pada peluang (opportunities) dan
ancaman (treats) produksi operasi yang berada di luar perusahaan.
Lingkungan eksternal seperti persaingan, ekonomi, teknologi, informasi,
politik, tuntutan konsumen, gangguan suplai, regulasi pemerintah, suku
Bungan, perubahan nilai tukar, budaya dan juga kondisi sosial yang dapat
mempengaruhi operasi perusahaan. Lingkungan eksternal harus lebih
dicermati karena merupakan keadaan yang sulit untuk diprediksi
(Khair,2021).

Analisis SWOT


Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang
dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities),
namun secara bersamaan yang dapat meminimalkan kelemahan (Weakness)
dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategi selalu
berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan
perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategis planner)
harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini
disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling popular untuk analisis
situasi adalah Analisis SWOT (Rangkuti,2019). Berikut adalah penjelasan
dari analisis SWOT :
a. Kekuatan (Strengths)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan atau keunggulankeunggalan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan
dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan.
b. Kelemahan(Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya,
keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja
perusahaan. Keterbatasan tersebut meliputi fasilitas, sumber daya
keuangan, kemampuan manajemen, dan keterampilan pemasaran dapat
merupakan sumber dari kelemahan perusahaan.
c. Peluang(Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan
perusahaan. Kecenderungan penting seperti perubahan teknologi dan
meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau
pemasok merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.
d. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.
Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi yang diinginkan
oleh perusahaan.

Bauran Pemasaran


Rambat Lupiyoadi (2013:92) menyebutkan bahwa bauran pemasaran jasa
terdiri:
a. Produk (product).
Produk adalah pelayanan yang ditawarkan dan memberikan nilai
kepada konsumen. Konsumen ditawarkan manfaat dari sebuah produk
jasa. Tugas pemasar adalah mennyusun dan menghasilkan nilai tambah
dari produk yang ditawarkan. Kotler dan Armstrong (2014:226)
membagi produk menjadi tiga level, yang setiap levelnya akan
menambah nilai pelanggan. Nilai pelanggan inti (core customer value)
yang menjawab pertanyaan “apa yang benar-benar dibeli oleh
pembeli”. Produk aktual (actual product), pemasar perlu
mengembangkan fitur-fitur produk dan layanan, desain, tingkat
kualitas, nama merek dan pengemasan. Manfaat tambahan produk
(augmented product), pemasar harus membangun produk tambahan
setelah fase manfat inti dan produk aktual. Konsumen melihat produk
sebagai kumpulan manfaat kompleks yang memuaskan kebutuhan
mereka. Ketika hendak mengembangkan sebuah produk, pemasar harus
terlebih dahulu mengidentifikasi nilai pelanggan inti yang konsumen
butuhkan dari produk tersebut. Kemudian mereka merancang produk
aktual dan mencari cari untuk menciptakan nilai yang lebih untuk
pelanggan dan memberikan pengalaman yang paling memuaskan.
b. Harga (price).
Strategi penentuan harga adalah suatu faktor yang sangat signifikan
dalam mempengaruhi citra produk yang ditawarkan dan keputusan
konsumen untuk membeli produk tersebut. Sebagaimana yang
diketahui bahwasanya harga menjadi faktor penentu terhadap jumlah
permintaan. Tapi harga juga bisa memberikan citra premium terhadap
sebuah produk. Strategi penentuan harga harus konsisten dengan
strategi pemasaran yang telah ditetapkan. Beberapa tujuan dari
penentuan harga: memaksimalkan penjualan dan laba, memberikan
kesan prestise terhadap produk, ditetapkan berdasarkan tingkat
pengembalian investasi (return on ainvestment-ROI), dan bertahan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan harga, antara lainnya:
(a) posisi jasa, (b) segmentasi dan target pasar, (c) tingkat persaingan,
(d) elastisitas permintaan, (e) sumber daya yang digunakan, dan (f)
kondisi secara umum.
c. Lokasi/tempat (place).
Lokasi adalah tempat di mana perusahaan melakukan kegiatan
transaksi dan interaksinya dengan konsumen. Terdapat tiga jenis
interaksi antara pemasar jasa dan konsumen yang mempengaruhi
penentuan lokasi: Konsumen mendatangi perusahaan, maka perusahaan
sebaiknya memilih lokasi yang dekat dengan konsumen sehingga
perusahaan mudah dijangkau oleh konsumen. Pemasar jasa yang
mendatangi konsumen, penentuan lokasi tidak terlalu penting, namun
pemasar harus bisa menjangkau tempat konsumen yang membeli
jasanya. Pemasar jasa dan konsumen tidak bertemu secara langsung,
tempat menjadi sangat tidak penting selama komunikasi antara
keduanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada kendala.
d. Promosi (promotion).
Promosi yang bisa dilakukan oleh pemasar jasa adalah seperti: iklan
(advertising), penjualan perseorangan (personal selling). Informasi
mulut ke mulut (word of mouth-WOT) positif, promosi penjualan (sales
promotion), surat langsung (direct mail) dan hubungan masyarakat
(public relation). Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam
kegiatan promosi, antara lain: Mengidentifikasi terlebih dahulu audiens
sasarannya (segmentasi pasar). Menentukan tujuan dari promosi yang
akan dilakukan (informasi, memengaruhi atau mengingatkan).
Mengembangkan pesan yang ingin disampaikan, yang berhubungan
dengan isi (apa yang akan disampaikan), struktur (cara menyampaikan
pesan secara logis), gaya (penggunaan bahasa yang kuat) dan sumber
pesan (siapa yang akan mengirimkan pesan tersebut).

Konsep-Konsep Strategi Pemasaran


Pada masa globalisasi sekarang ini pemasaran merupakan kegiatan yang
memegang peranan penting dalam dunia usaha. Sebuah perusahaan dapat
dikatakan sukses dalam persaingan bisnis, jika perusahaan tersebut mampu
menganalisis kebutuhan konsumen dengan cermat, mendefinisikan
peluang atau kesempatan dan menciptakan peluang pasar bagi konsumen
yang belum terjangkau oleh pesaing serta mampu mengelola fungsi
pemasaran dengan baik. Kata pemasaran berasal dari kata market dalam
bahasa Inggris yang berarti pasar atau mekanisme yang mempertemukan
permintaan dan penawaran. Radiosunu (2018) mengatakan bahwa strategi
pemasaran terdiri atas empat konsep strategi. Konsep-konsep strategi
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Segmentasi pasar.
Tiap pasar terdiri atas bermacam-macam pembeli yang mempunyai
kebutuhan, kebiasaan membeli, dan reaksi yang berbeda-beda.
Perusahaan tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan semua pembeli,
karena itu perusahaan harus mengelompokkan pasar yang bersifat
heterogen tersebut ke dalam satu-satuan pasar yang bersifat homogen.
b. Marketing positioning.
Perusahaan tidak mungkin dapat menguasai pasar keseluruhan. Prinsip
pemasaran yang kedua adalah memilih pola spesifik pemusatan pasar
yang akan memberikan kesempatan maksimum kepada perusahaan
untuk mendapatkan kedudukan yang kuat, dengan kata lain perusahaan
harus memilih segmen pasar yang dapat menghasilkan penjualan dan
laba yang paling besar.
c. Market entry strategy
Adalah strategi memasuki segmen yang dijadikan sasaran penjualan.
Memasuki sesuatu segmen pasar dapat dilakukan dengan cara membeli
perusahaan lain, internal development, dan kerja sama dengan
perusahaan lain.
d. Marketing-mix strategy (strategi pemasaran)
Adalah kumpulan variabel yang dapat digunakan perusahaan untuk
mempengaruhi tanggapan konsumen. Variabel yang dapat
mempengaruhi pembeli adalah variabel-variabel yang berhubungan
dengan produk, tempat, promosi, dan harga.
Freddy Rangkuti (201:4) menyatakan bahwa pemahaman yang baik mengenai
konsep strategi dan konsep-konsep lainnya, sangat menentukan suksenya strategi
yang disusun. Konsep-konsep tersebut adalah:
a) Distinctive competence: tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar
dapat melakukan kegiatan lebih baik dibandingkan pesaingnya, perusahaan
yang memiliki kekuatan yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan lain.
Indikator yang menentukan distinctive competence adalah: keahlian tenaga
kerja, dan kemampuan sumber daya.
b) Competetive advantage: kegiatan spesifik yang dikembangkan oleh
perusahaan agar lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya.
Keunggulan bersaing didapat melalui pemilihan strategi untuk merebut
peluang pasar. Ada 3 strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk
memperoleh keunggulan kompetitif., yaitu: cost leadership, perusahaan
memperoleh keunggulan kompetitif dengan memberikan harga jual yang
lebih rendah daripada harga yang diberikan oleh pesaingnya. Harga jual
yang lebih murah ini dapat dicapai dengan memanfaatkan skala ekonomis,
efisiensi produksi, penggunaan teknologi dan kemudahan akses terhadap
bahan baku.
Differentiation, perusahaan berusaha memberikan manfaat yang penting
untuk sebagian besar pasar. Perusahaan menciptakan persepsi nilai tertentu
pada konsumennya yang tidak diberikan oleh pesaingnya. Pemasar bisa
membuat persepsi terhadap keungglan kinerja produk, inovasi produk,
pelayanan yang lebih baik, dan brand image yang lebih unggul. Focus,
perusahaan berusaha memperoleh keunggulan bersaing melalui fokus
terhadap segmentasi dan pasar sasaran yang diharapkan. Perusahaan
berfokus pada satu atau lebih segmen pasar yang sempit, mengenal mereka
dan berusaha akrab dengan mereka.

Tipe Strategi Pemasaran


Menurut Rangkuti (2019) strategi dapat dikelompokkan atas tiga tipe,
yaitu:
a. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh
manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro.
Misalnya strategi pengembangan produk. Strategi pengembangan
pasar, strategi mengenai keuangan dan sebagainya.
b. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
Misalnya, apakah perusahan ingin melakukan strategi pertumbuhan
yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi
bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi
divestasi, dan sebagainya.
c. Strategi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisijs secara fungsional
karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen,
misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi
distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan
dengan keuangan.

Pengertian Strategi Pemasaran


Menurut Philip Kotler (2019) mendefinisikan strategi pemasaran sebagai
logika pemasaran yang digunakan oleh unit bisnis untuk mencapai tujuan
pemasarannya. Strategi pemasaran menunjukkan pasar secara spesifik yang
akan menjadi sasaran kegiatan pemasaran dan juga merupakan jenis
keunggulan kompetitif yang bisa dieksploitasi. Kemudian, Piercy juga
berpendapat bahwa strategi pemasaran adalah memilih target pasar yang
kuat didasarkan kemampuan diferensiasi untuk menciptakan proporsi nilai
yang kuat dan berkelanjutan untuk pelanggan dan jaringan hubungan kritis.
Sedangkan menurut Anumpamaa (2019), strategi pemasaran adalah proses
yang dapat memungkinkan suatu organisasi untuk memusatkan sumber
dayanya yang terbatas pada peluang terbesar untuk meningkatkan
penjualan dan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Strategi pemasaran dapat didefinisikan sebagai rancangan besar yang
menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan harus beroperasi untuk
mencapai tujuannya. Menurut Tjiptono (2019), strategi pemasaran
merupakan alat fundamental yang dirancang atau direncanakan untuk
mencapai tujuan suatu perusahaan dengan melakukan pengembangan
keunggulan bersaing yang berkesinambungan. Sedangkan menurut Umar
(2020) menyatakan bahwa startegi merupakan tindakan yang bersifat
senantiasa terus meningkat, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang apa
yang diharapkan dimasa depan. Strategi pemasaran pada dasarnya suatu
rencana yang menyeluruh, terpadu serta menyatu yang memberikan
panduan tentang apa yang dijalankan dalam suatu kegiatan untuk mencapai
tujuan perusahaan guna melayani kebutuhan pasar yang menjadi target.
Dalam menjalankan suatu usaha, pebisnis harus mengerti strategi apa saja
yang tepat untuk digunakan di dalam bisnisnya sendiri yang akan
berdampak pada maju mundurnya sebuah perusahaan dengan taktik dan
strategi harus diselaraskan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Hal
ini sangat penting dengan pemahaman yang baik akan keinginan,
kebutuhan dan permintaan konsumen yang akan memberikan masukan
penting untuk merancang strategi pemasaran yang tepat. Selain itu strategi
pemasaran yang telah ditetapkan dan dijalankan, harus dinilai kembali,
apakah sudah sesuai dengan keadaan atau kondisi pada situasi saat ini.
Strategi merupakan titik awal atau serangkaian upaya atau rencana yang
dilakukan oleh perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan tertentu.
Strategi pemasaran pada umumnya mempunyai peranan yang sangat
penting untuk menghadapi lingkungan yang dinamis, dan pada akhirnya
memperoleh keunggulan yang berhasil dan mendapatkan laba. Strategi
pemasaran yang ditetapkan harus ditinjau dan dikembangkan sesuai dengan
perkembangan pasar dan lingkungan pasar tersebut dan strategi pemasaran
juga harus memberi gambaran yang jelas serta terarah tentang apa yang
akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan setiap kesempatan atau
peluang ke beberapa pasar yang menjadi sasaran.

Karakteristik dan Klasifikasi Jasa


Dari pemaparan mengenai pengertian jasa di atas, dapat diketahui bahwa
jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan barang. Rambat (2017:7)
menyebutkan ada 3 karakteristik jasa, yaitu:

  1. Intangibility (tidak berwujud).
    Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum
    jasa itu dibeli. Nilai penting yang dialami konsumen dari pelayanan jasa
    pun sifatnya tidak berwujud, di mana konsumen merasakan
    kenikmatan, kepuasan atau rasa aman.
  2. Unstorability (tidak dapat disimpan).
    Jasa tidak mengenal persedian atau penyimpanan dari produk yang
    telah dihasilkan. Karakteristik ini juga disebut inseparability (tidak
    dapat dipisahkan) karena biasanya, penghasilan jasa dan
    pengonsumsiannya dilakukan secara bersamaan.
  3. Customization (kostumisasi).
    Jasa lebih fleksibel dari barang karena jasa bisa didesain khusus sesuai
    dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh konsumen. Jasa
    memiliki 4 karakteristik, yaitu: tidak berwujud (intangibility), tidak
    terpisahkan (inseparability), bervariasi (variability) dan dapat musnah
    (perishability). Jasa bersifat bervariasi dalam artian bahwa kualitas jasa
    akan sangat bergantung kepadasiapa yang menyediakan jasa tersebut,
    waktu dan tempat penyediannya serta kepada siapa jasa tersebut
    diberikan. Jasa dapat musnah sama pengertiannya dengan jasa tidak
    dapat disimpan (unstorability). (Agustina,2024).

Pengertian Jasa


Kotler dan Keller (2015:422) menyatakan bahwa jasa adalah bentuk
tindakan atau kinerja apapun yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada
pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan
perpindahan kepemilikan. Produk jasa mungkin berkaitan dengan produk
fisik ataupun tidak. Jasa sebagai segala aktivitas ekonomi yang hasilnya
tidak merupakan produk dalam bentuk fisik, yang umumnya dikonsumsi
pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberi nilai
tambah atau pemecahan atas masalah yang dihadapi oleh konsumen
(Zalyus, 2020).
Jadi jasa adalah kegiatan pelayanan yang bersifat ekonomi, ditawarkan
kepada pihak lain untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Dalam jasa pasti akan ada hubungan atau interaksi antara pemilik jasa dan
konsumen. Konsumen dapat menikmati pelayanan jasa tersebut melalui
penyedian dan pemberian manfaat dari pemilik jasa. Konsumsi jasa
biasanya dilakukan bersamaan dengan waktu pemberian jasa disebabkan
pembelian jasa bukanlah pembelian hak kepemilikan. Sebagai contoh, jasa
salon, konsumen membeli dari salon tersebut layanan potong rambut,
konsumen mendapatkan manfaat potong rambut ketika pemotong rmbut
memotong dan merapihkan rambutnya, dan bukan berarti dengan
konsumen membeli jasa salon tersebut, karyawan pemotong rambut atau
mesin yang digunakan karyan tersebut menjadi milik konsumen (Lestari et
al., 2020).

Experiential Marketing


Experiential Marketing berasal dari dua kata yaitu experience dan
marketing. Experience adalah “pengalaman yang merupakan peristiwaperistiwa pribadi yang terjadi dikarenakan adanya stimulus tertentu
(misalnya yang diberikan oleh pihak pemasar sebelum dan sesudah
pembelian barang atau jasa)”. Experience juga didefinisikan sebagai
sebuah bagian subjektif dalam konstruksi atau transformasi dari individu,
dalam penekanan pada emosi dan panca indera secara langsung. Sedangkan
pengertian marketing menurut Kotler dan Keller (2015) adalah “suatu
proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok
memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan
pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain”.
Experiential Marketing merupakan cara untuk membuat pelanggan
menciptakan pengalaman melalui panca indera (sense), menciptakan
pengalaman afektif (feel), menciptakan pengalaman berpikir secara kreatif
(think), menciptakan pengalaman pelanggan yang berhubungan dengan
tubuh secara fisik, dengan perilaku dan gaya hidup, serta dengan
pengalaman-pengalaman sebagai hasil dari interaksi dengan orang lain
(act), juga menciptakan pengalaman yang terhubung dengan keadaan
sosial, gaya hidup, dan budaya yang dapat merefleksikan merek tersebut
yang merupakan pengembangan dari sensations, feelings, cognitions, dan
actions (relate) (Susmita, 2020).
Experiential marketing merupakan sebuah pendekatan dalam marketing
yang sebenarnya telah dilakukan sejak zaman dulu hingga sekarang oleh
para pemasar. Pendekatan ini dinilai sangat efektif karena sejalan dengan
perkembangan zaman dan teknologi, para pemasar lebih menekankan
diferensiasi produk untuk membedakan produknya dengan produk
kompetitor. Dengan adanya experiential marketing, pelanggan akan
mampu membedakan produk dan jasa yang satu dengan lainnya.
Experiential marketing adalah suatu usaha yang digunakan oleh
perusahaan atau pemasar untuk mengemas produk sehingga mampu
menawarkan pengalaman emosi hingga menyentuh hati dan perasaan
konsumen (Rahmat, 2021).

Pemasaran Jasa


Jasa merupakan semua aktifitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan
dalam bentuk fisik atau kontruksi yang biasanya dikonsumsi pada saat yang
sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (seperti
misalnya: kenyamanan, hiburan, kesenangan atau kesehatan) atau
pemecahan atas masalah yang dihadapi konsumen (Fandy Tjiptono, 2017
p:8). Pemasaran jasa adalah setiap tindakan yang ditawarkan oleh salah satu
pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak
menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun (Sulistyowati & Rum,
2021).
Pemasaran jasa adalah pemasaran yang bersifat intangible dan immaterial
dan dilakukan pada saat konsumen berhadapan dengan produsen. Jasa
adalah produk yang tak berwujud. Apabila seseorang membeli jasa, hal itu
sama artinya dengan menukarkan uang yang dimilikinya dengan suatu
produk yang tidak berwujud. Jasa berbeda dengan barang, dimana
pembuatan barang dilakukan melewati suatu proses produksi. Jasa
dihasilkan dari pemberian manfaat suatu atau beberapa sarana maupun
prasarana kepada pengguna jasa, dengan penyampaian keterampilan
tertentu dari pihak pemberi jasa (Setyawati et al., 2023).
Pemasaran dan penjualan memiliki konsep yang berbeda. Seperti yang
dapat difahami dari penjelasan sebelumnya bahwa pemasaran adalah lebih
umum dan lebih penting dari penjualan. Pemasaran dapat dikatakan sebagai
seni yang digunakan para marketer untuk menghasilkan proses penjualan
barang dan jasa. Walaupun tujuan akhir dari pemasaran adalah peningkatan
penjualan. Namun, penjualan hanyalah satu bagian dari proses pemasaran
(Sadiyah, 2020). Tujuan utama pemasaran adalah bagaimana pemasar
dapat mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik agar dapat
dihasilkan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan (need) dan
keinginan (want) mereka, sehingga produk atau layanan tersebut dapat
terjual dengan sendirinya (Nasikin et al., 2023).

Marketing Mix


Pembauran pemasaran ( marketing mix ) sebagai suatu konsep pertama kali
dipelopori oleh Borden di tahun 1960an (Yoeti 2001:24). Konsep bauran
pemasaran merupakan alat yang dikembangkan dengan baik yang dipakai sebagai
struktur oleh para pemasar. Konsep ini terdiri dari berbagai macam unsur program
pemasaran yang perlu dipertimbangkan agar berhasil melaksanakan strategi pada
positioning pemasaran dalam pasar-pasar perusahaan tersebut.
Untuk membedakan produk dan pelayanan, (yoeti 2001 :25) MacCarthy
memperkenalkan suatu konsep marketing mix baru bagi industri jasa (hospitality).
Menurut MacCarthy, pembauran yang dimaksudkan terdiri dari tiga sub-mix,
yaitu :

The Communication Mix
Semua bentuk komunikasi yang dilakukan perusahaan untuk mencapai target
pasar yang dapat meningkatkan product dan service sesuai dengan harapan
konsumen. Bentuk komunikasi ini dapat menjadi suatu cara untuk membujuk
konsumen untuk melakukan pembelian

The Product Service Mix
Kombinasi antara dan service yang dapat ditawarkan untuk memenuhi
kebutuhan keinginan dan kepuasan konsumen

The Presentation Mix
Semua unsur yang digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan
perwujudan dari panduan product dan service dalam persepsi target pasar
pada waktu dan tempat yang tepat.

Pemasaran Jasa


Menurut Philip Kotler jasa adalah suatu aktifitas yang memberikan
manfaat dan ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak yang lain dalam bentuk
tidak nyata (intangible) dan tidak menimbulkan pemindahan kepemilikan seperti
halnya terjadi pada produk manufaktur. Ciri-ciri khusus jasa sebagai suatu
produk sangat berbeda dengan produk yang bersifat konkret. Ciri-ciri yang
spesifik itu adalah ( Yoeti 2001 : 1 )
a. Jasa tidak bisa diraba atau disentuh karena sifatnya yang tidak nyata
b. Proses produksi dan konsumsi jatuh pada saat yang bersamaan
c. Jasa tidak bisa dipindahkan dan untuk mengkonsumsinya konsumen harus
datang pada produsen
d. Konsumen terlibat dalam proses produksi
e. Jasa tidak bisa ditimbun
f. Jasa tidak memiliki standart atau ukuran yang objektif
g. Jasa tidak dapat dicoba karena itu pelanggan tidak bisa mencicipinya terlebih
dahulu
h. Kualitas hasil produk berupa jasa sangat tergantung pada tenaga manusia dan
sedikit sekali dapat digantikan oleh mesin
i. Permintaan atas produk berupa jasa tidak tetap melainkan sangat dipengaruhi
oleh faktor-faktor non ekonomis
j. Umumnya peranan perantara (middlemen) tidak diperlukan, tapi untuk produk
tertentu perantara diperlukan untuk penggunaan terbatas

Analisis IFAS


Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan
diidentfikasi, suatu tabel IFAS (Internal Strategic Factor Analysis
Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal
tersebut dalam kerangka Strenght dan Weakness perusahaan. Menurut
Rangkuti (2016:25) tahapnya adalah:
a. Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan
perusahaan dalam kolom 1.
b. Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1,0
(paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), berdasarkan pengaruh
faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. (Semua
bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor 1,0).
c. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan
memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan (poor),
berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan
yang bersangkutan. Variable yang bersifat positif (semua variable
yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai
dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata
industry atau dengan pesaing utama. Sedangkan variable yang bersifat
negative, kebalikannya.
d. Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk
memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor
pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi
mulai dari 4.0 (Outstanding) sampai dengan 1,0 (poor).
e. Jumlah skor pembobotan (pada kolom 4, untuk memperoleh total skor
pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini
menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktorfaktor strategis internalnya. Skor total ini dapat digunakan untuk
membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam
kelompok industri yang sama.

Pengertian Analisis SWOT


Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang
digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan
(weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam
suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang
membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan
threats).
Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan
memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian
menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah
bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan
(advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara
mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan
(advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, selanjutnya
bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats)
yang ada, dan terakhir adalah bagimana cara mengatasi kelemahan
(weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata
atau menciptakan sebuah ancaman baru.

Pengembangan Jasa Baru


Menurut Fandy dan Gregorius (2013:131) Prosedur
pengembangan jasa baru, pada prinsipnya proses tersebut terdiri atas
6 tahap utama:

  1. Pemunculan ide
    Ide jasa baru bersumber dari sumber internal (misalnya dari
    manajemen puncak dan karyawan) maupun sumber eksternal
    (konsultan, pelanggan, pemasok, ditributor, publikasi, pesaing,
    dan lain-lain).
  2. Penyaringan ide
    Tahap ini meliputi aktifitas mengevaluasi ide-ide yang muncul
    dan mengeliminasi gagasan yang tidak sesuai dengan tujuan dan
    sumberdaya organisasi
  3. Pengembangan dan pengujian konsep
    Ide-ide yang lolos dari tahap penyaringan perlu diterjemahkan
    kedalam konsep-konsep jasa yang dikemudikan diujikan pada
    sekelompok pelanggan sasaran.
  4. Analisis bisnis
    Ide yang dikemukakan tersebut selanjutnya kemungkinan
    sukses/gagalnya dianalisis, sumber daya yang dibutuhkan
    sumberdaya manusia, sumberdaya fisik ekstra, dan lain lain.
  5. Pengembangan
    Tahap ini merupakan tahap penerjemah gagasan kedalam jasa
    aktual yang dapat ditawar kepelanggan. Unsur- unsur tangible dan
    system penyampaian jasa aktual yang dapat ditawarkan jasa
    keseluruhan harus dirancang dan diuji.
  6. Komersialisasi
    Dalam tahap ini, organisasi jasa harus memutuskan kapan,
    dimana, kepada, siapa, dan bagaimana mengintroduksi jasa baru
    tersebut. Untuk mendukung kesuksesan program pengembangan
    jasa baru.

Strategi


“Strategi adalah rencana manajer yang berskala besar dan
berorientasi kepada masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan
persaingan guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan” (Pearce dan
Robinson,1997:2 dalam Amirullah, 2015:4).
Pemahaman yang baik mengenai konsep strategi dan konsepkonsep lain yang bersangkutan sangat menentukan suksesnya strategi apa
yang akan disusun. Konsep-konsep tersebut adalah:
a. Distinctive Competence: tindakan yang dilakukan perusahaan supaya
dapat melakukan kegiatan lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya.
Distinctive Competance ini meliputi keahlian tenaga kerja dan
kemampuan sumberdaya.
b. Competitive Advantage: kegiatan spesifik yang dikembangkan
perusahaan untuk melakukan yang lebih baik disbanding dengan
pesaingnya. Strategi yang digunakan untuk memperoleh keunggulan
dalam bersaing adalah cost leadership, differensial dan focus

Bauran Pemasaran Jasa


Menurut Lupiyoadi (2014:92) bauran pemasaran jasa terdiri atas
tujuh hal yaitu:

  1. Produk
    Merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan
    sejumlah nilai kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam
    produk adalah konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk saja,
    tetapi membeli manfaat dan nilai dari produk tersebut yang disebut
    “the offer”.
  2. Harga
    Dalam memutuskan strategi penentuan harga maka harus diperhatikan
    tujuannya seperti: bertahan, memaksimalkan laba, memaksimalkan
    penjualan, gengsi dan pretise, tingkat pengembalian investasi (return
    on investment-ROI).
  3. Lokasi dan Tempat
    Lokasi (berhubungan dengan sistem penyampaian) dalam jasa
    merupakan gabungan antara lokasi dan keputusan atas saluran
    distribusi. Ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian jasa
    kepada konsumen dan dimana lokasi yang strategis.
  4. Promosi
    Hal yang perlu diperhatikan dalam promosi adalah pemilihan bauran
    promosi.
  5. SDM (Sumber Daya Manusia)
    Dalam hubungannya dengan pemasaran jasa, “orang” yang berfungsi
    sebagai penyeida jasa sangat memengaruhi kulitas jasa yang
    diberikan. Keputusan dalam faktor “orang” ini berarti sehubungan
    dengan seleksi, pelatihan, motivasi dan manajemen sumber daya
    manusia (MSDM).
  6. Proses
    Proses merupakan gabungan semua aktivitas, yang umumnya terdiri
    atas prosedur, jadwal pekerjaan, mekanisme, dan hal-hal rutin lainnya,
    di mana jasa dihasilkan dan disampaikan kepada konsumen.
  7. Layanan Pelanggan
    Layanan pelanggan pada pemasaran jasa lebih dilihat sebagai hasil
    (outcome) dari kegiatan distribusi dan logistik, dimana pelayanan
    diberikan kepada konsumen untuk mencapai kepuasaan.

Pengertian Pemasaran Jasa


Menurut Lupiyoadi (2006) dalam Wibowo dan Priansa (2017)
Pemasaran jasa merupakan setiap tindakan yang ditawarkan oleh salah
satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak
menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun.
Menurut Lovelock dan Wirtz (2011) dalam Wibowo dan Priansa
(2017) Pemasaran jasa adalah bagian dari system jasa keseluruhan dimana
perusahaan tersebut memiliki sebuah bentuk kontak dengan pelanggannya,
mulai dari pengiklanan hingga penagihan, hal itu mencakup kontak yang
dilaukan pada saat penyerahan jasa.
Sedangkan menurut Zeithaml dan Bitner dalam Daryanto
(2011:236) Pemasaran jasa adalah mengenai janji-janji. Janji-janji yang
dibuat kepada pelanggan dan harus dijaga. Kerangka kerja strategik
diketahui sebagai service triangle yang memperkuat pentingnya orang
dalam perusahaan dalam membuat janji mereka dan sukses dalam
membangun customer relationship.

Ciri-Ciri Konsumen Puas


Ciri-ciri konsumen yang merasa puas (Kotler, Philip, 2001) yaitu :

  1. Loyal terhadap produk, konsumen yang puas cenderung loyal dimana
    mereka akan membeli ulang dari produsen yang sama
  2. Adanya komunikasi dari mulut ke mulut yang bersifat positif, yaitu
    rekomendasi kepada calon konsumen lain dan mengatakan hal-hal yang
    baik mengenai produk dan perusahaan
  3. Perusahaan menjadi pertimbangan utama ketika membeli merk lain, ketika
    konsumen ingin membeli produk yang lain, maka perusahaan yang telah
    memberikan kepuasan kepadanya akan menjadi pertimbangan yang utama

Cara Mengukur Kepuasan Pasien


Ada beberapa cara mengukur kepuasan pelanggan atau pasien (Nursalam,
2011) antara lain :

  1. Sistem keluahan dan saran, seperti kotak saran di lokasi-lokasi strategis,
    kartu pos berprangko, saluran telepon bebas pulsa, website, email dan lainlain
  2. Survey kepuasan pelanggan, baik via pos, telepon, email, maupun tatap
    muka langsung
  3. Ghost shopping, salah satu bentuk observasi yang memakai jasa orang
    yang menyamar sebagai pelanggan atau pesaing untuk mengamati aspekaspek pelayanan dan kualitas produk
  4. Lost customer analysis, yaitu menghubungi atau mewawancarai pelanggan
    yang telah beralih dalam rangka memahami penyebab dengan melakukan
    perbaikan pelayanan

Komponen Kepuasan Konsumen


Sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap
mengarah kepada tiga komponen utama (Cote, 2000):

  1. Respon : Tipe dan Intensitas, kepuasan konsumen merupakan respon
    emosional dan juga kognitif. Intensitas respondnya mulai dari sangat puas
    dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tersebut
  2. Focus pada performansi objek yang disesuaikan pada beberapa standar.
    Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi,
    keputusan berbelanja, penjual
  3. Waktu Respon, respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah
    konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman
    akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada beberapa lama respon
    kepuasan itu berakhir

Pengertian Kepuasan Pelanggan/Pasien


Pada dasarnya tujuan dari suatau bisnis adalah untuk menciptkan konsumen
yang merasa puas. Terciptanya kepuasan konsumen dapat memberikan beberapa
manfaat antara lain pengaruh antara perusahaan dan konsumen menjadi harmonis,
memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas
konsumen, dan membentuk suatu recomendasi dari mulut ke mulut (word ofmouth) yang menguntungkan bagi perusahaan.
Secara umum kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk
atau hasil terhadap ekspektasi. Jika kinerja gagal memenuhi ekspektasi maka
pelanggan tidak puas, jika kinerja sesuai ekspektasi, pelanggan akan puas.
Perusahaan akan bertindak bijaksana dengan mengukur kepuasan pelanggan
secara teratur, karena salah satu kunci untuk mempertahankan pelanggan adalah
kepuasan pelanggan (Kotler, 2009). Kepuasan konsumen merupakan respon
emosional terhadap pengalaman yang berkaitan dengan produk atau jasa yang
dibeli (Tjiptono, 2005).

Strategi Bauran Pemasaran

  1. Strategi Produk, menetapkan cara dan penyediaan produk yang tepat bagi
    pasar yang dituju, sehingga dapat memuaskan para konsumenya dan
    sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka
    panjang, melalui peningkatan penjualan dan peningkatan share pasar
    (Sofhan Assauri, 2018)
  2. Strategi Harga, penetapan harga mempengaruhi kemampuan bersaing
    perusahaan dan kemampuan perusahaan mempengaruhi konsumen
    (Sofhan Assauri, 2018)
  3. Strategi Tempat dan Distribusi, distribusi merupakan cara perusahaan
    menyalurkan produknya mulai dari perusahaan sampai ketangan
    konsumen akhir. Strategi distribusi penting dalam upaya perusahaan
    melayani konsumen tepat waktu dan tepat sasaran (Hartini, 2016)
  4. Strategi Promosi, setiap perusahaan berusaha mempromosikan produk dan
    jasa yang dimilikinya baik langsung maupun tidak langsung. Tanpa
    promosi pelanggan tidak dapat mengenal produk atau jasa yang
    ditawarkan. Promosi merupakan sarana yang paling ampuh untuk
    mempertahankan konsumen dan berusaha menarik calon pelanggan baru
    (Hartini, 2016)

Bauran Pemasaran


Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat tetap hidup, berkembang dan
mampu bersaing. Dalam rangka inilah maka perusahaan/ rumah sakit selalu
menetapkan dan menerapkan strategi dan cara pelaksanaan kegiatan pemasaranya.
Kebijakan pemasaran tentunya sejalan dengan konsep pemasaran, yang
menekankan pemberian pelayanan yang memuasakan kepada konsumen, melalui
kegiatan dan strategi pemasaran yang terpadu dan memungkinkan diperolehnya
keuntungan/laba dalam jangka panjang. Salah satu unsur dalam strategi
pemasaran terpadu adalah strategi acuan/ bauran pemasaran, yang merupakan
strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana
perusahaan menyajikan penawaran produk pada segmen pasar tertentu yang
merupakan sasaran pasarnya (Sofhan Assauri, 2018)
Marketing mix merupakan kombinasi variable atau kegiatan yang merupakan
inti dari system pemasaran, variable yang dapat dikendalikan oleh perusahaan
untuk mempengaruhi reaksi para pembeli dan konsumen (Sofhan Assauri, 2018).
Dalam literature review ini marketing mix jasa yang digunakan adalah product,
price, promotion, place, personal traits, process dan physical evidence. Hal ini
disebabkan karena keberhasilan penyelenggaraan kesehatan tidak bisa lepas dari
proses penyelenggaraan kesehatan tersebut dan merupakan bagaimana jasa dan
layanan diberikan. Demikian penjelasan dari beberapa komponen bauran
pemasaran
Bauran Pemasaran (Marketing Mix) terdapat 4 (empat) bauran yaitu product,
price, promotion, dan place (4P) (Malau, 2017)

  1. Product (Produk adalah “segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar
    unutk perhatian, akuisi, penggunaan dan konsumsi yang dapat memuaskan
    keingginan atau kebutuhan”.
  2. Price (Harga) ini mengacu pada jumlah uang yang harus dibayar oleh
    pembeli agar mendapat produk yang kita jual. Hal ini merupakan proses
    menetapkan nilai produk dalam bentuk harga moneter.
  3. Promotion (Promosi) adalah aspek informasi produk kepada konsumen.
    Ini termasuk periklanan, promosi penjualan, publisitas, hubungan
    masyarakat, sponsorship, yang mengacu pada berbagai metode untuk
    mempromosikan produk, merek, atau perusahaan.
  4. Place (Distribusi) mengacu pada penyuluran produk agar sampai ke
    pelanggan. Misalnya, orang yang menjual langasung kepada pembeli atau
    ritel. Penyalur ini kadang-kadang disebut juga tempat jualan, mengacu
    pada saluran dimana suatu produk atau jasa dapat diperoleh oleh
    konsumen.

Fungsi-Fungsi Pemasaran

Fungsi perantara, untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ketangan
konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang menghubungkan
aktivitas pertukaran dengan distribusi fisik. Aktivitas fungsi perantara antara
lain: penguarangan resiko, pembiyaaan, pencarian informasi serta standarisasi
penggolongan (klasifikasi produk).
Konsep inti pemasaran mencakup kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi,
utilitas, nilai dan kepuasan, pertukaran, transaksi. Dan hubungan pasar, pemasaran
dan pasar. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan merupakan konsep yang
berbeda. Kebutuhan adalah suatu keadaaan dirasakannya ketiadaan kepuasaan
tertentu, sedangkan keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuasan yang
spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sementara
permintaan adalah keinginan akan produk spesifik yang didukung oleh
kemampuan dan kesediaan untuk membelinya (Sudaryono, 2016)

Fungsi pertukaran , dengan pemasaran, pembeli dapat membeli produk dari
produsen, baik dengan menukar uang dengan produk maupun menukar produk
dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali.

Fungsi distribusi fisik, distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan
mengangkut serta menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen
mendekati konsumen yang membutuhkan dengan banyak cara, baik melalui
air, darat, udara dan sebagainya. Penyimpanan produk mengedepankan upaya
menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan

Pengertian Pemasaran


Masalah yang masih sering dihadapi rumah sakit adalah rumah sakit masih
belum memberikan pelayanan yang sesuai dengan keinginan pasien, dan pasien
belum maksimal merasa puas atas pelayanan yang didapat. Pemasaran merupakan
strategi yang baik agar kualitas jasa yang ditawarkan dapat dilihat, didengar, dan
dibeli oleh pasien. Pemasaran mengungkapkan secara jelas makna dan
signifikansi pemasaran. Pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan
pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, penentuan proses produk, promosi dan
tempat atau distribusi, sekaligus merupakan proses social dan manajerial untuk
mencapai tujuan (Manap, 2016). Pemasaran (marketing) bersangkut paut dengan
kebutuhan hidup sehari-hari kebanyakan orang. Melalui proses tersebut, produk
atau jasa diciptakan,dikembangkan, dan didistribusikan ke masyarakat.
Kebanyakan orang menganggap bahwa pemasaran sama dengan penjualan dan
promosi, padahal tidak demikian. Pada hakikatkanya pemasaran adalah kegiatan
manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui
pertukaran. Konsep penting dalam studi pemasaran adalah kebutuhan, keinginan,
permintaan, produk, pertukaran, transaksi dan pasar (Sudaryono, 2016).
Pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak paling besar dengan
lingkungan besar eksternal padahal perusahaan hanya memiliki kendali yang
terbatas terhadap lingkungan eksternal. Pemasaran bertujuan untuk menarik
pembeli dan mengkonsumsi produk yang ditawarkan, oleh karena itu pemasaran
memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi (Tjiptono, 2008).
Pemasaran adalah proses mengindetifikasi, menciptakan, dan
mengkomunikasikan nilai, serta memlihara hubungan yang memuaskan pelanggan
untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan (Hasan, 2013).

Indikator loyalitas pelanggan


Indikator loyalitas pelanggan yang digunakan menurut Orel &
Kara (2014) dalam (Muhammad & Mardian, 2020) yaitu :

  1. Pembelian dan service kembali
  2. Merekomendasikan perusahaan kepada kerabatnya
  3. Menjadikan perusahaan sebagai prioritas utama
  4. Membicarakan hal positif tentang suatu Perusahaan

Tahapan-tahapan loyalitas pelanggan


Pelanggan yang setia, ialah pelanggan yang juga dikatakan
loyal dengan beberapa tahapan dan pelanggan setia berangsurangsur bertambah. Melakukan hal itu butuh waktu, penuh kasih
sayang, dan perhatian pada setiap tahapan perkembangan. Tiap
tahapan mempunyai persyaratan khusus. Seperti
mengidentifikasikan tiap tahapan dan memenuhi kebutuhan khusus
tersebut, maka perusahaan memiliki peluang lebih besar untulk
merubah pembeli menjadi pelanggan atau pelanggan setia. menurut
Griffin dalam (Firmansyah, 2018: 138-139), ada 8 tahapan loyalitas
pelanggan, yaitu:

  1. Suspect : seseorang yang pasti membeli layanan. kepercayaan
    mengira akan membeli tapi dengan keyakinan tidak sepenuhnya.
  2. Prospek : seseorang yang perlu pelayanan dan mempunyai
    kesanggupan untuk membeli. Walaupun prospek itu belum
    membeli tapi sudah memikirkan, dan bahkan sudah ada yang
    menyarankan pelayanan tersebut.
  3. Prospek yang diskualifikasi : guna mengetahui mereka tidak lah
    mempunyai kesanggupan untuk membeli dan tidak
    membutuhkan jasa anda.
  4. Pelanggan pertama kali : seseorang yang sudah membeli jasa
    lebih dari satu kali dan bisa disebut sebagi pelanggan bahkan juga
    bisa disebut pesaing pelanggan.
  5. Pelanggan berulang :seseorang yang sudah membeli dua kali atau
    lebih dari itu yang pelayanan berbeda
  6. Klien : seseorang yang membeli teratur, merek tersebut tidak
    terpengaruh pada pesaing dan adanya hubungan yang
    berkelanjutan.
  7. Pendukung : seseorang yang sama seperti klien, membeli apapun
    yang tersedia dalam pelayanan dengan teratur, melakukan
    pemasaran pada jasa, mendorong orang supaya membeli dan
    bahkan merekomendasikan hingga membawa orang tersebut.
  8. Pelanggan yang hilang : seseorang yang sudah pernah jadi
    pelanggan tapi pembelian menjadi berhenti maka kembali kepada
    cara pelayanan atau kualitas pelayanan, karena tidak selamanya
    pelanggan dengan pembelian normal.

Aspek-Aspek Loyalitas Pelanggan


Terdapat tiga aspek-aspek pada loyalitas pelanggan menurut
Mowen (Agustin, 2017:8), yaitu;

  1. Sikap, ialah hal yang kompleks dan didefinisikan sebagai
    pernyataan evaluatif, apakah menyenangkan atau tidak, atau
    penilaian atas hal-hal orang atau peristiwa.
  2. Norma subjektif, ialah hasil dari keyakinan pengunjung yang
    berpengaruh oleh pendapat orang lain tentang perlu tidaknya
    pengunjung melaksanakan perilakunya dengan motivasi
    pengunjung untuk memenuhi pengharapan sosial tersebut,
  3. Perilaku lampau, ialah pengalaman pengunjung mendapatkan
    jasa. Pengalaman masa lalu lalah tentang hasil yang ditemukan
    pengunjung di jasa sebelumnya dan secara langsung
    mempengaruhi minat dan perilaku di masa mendatang

Faktor- Faktor Loyalitas Pelanggan


Faktor- faktor loyalitas pelanggan untuk dapat mempengaruhi
Loyalitas pelanggan diantaranya (Yulna Dewita Hia, 2017:59)
adalah :
i. Fasilitas tersedia
ii. Rasa puas yang dirasakan pelanggan
iii. Penilaian oleh pelanggan dan
iv. Kesetiaan pelanggan bisa diukur dengan keloyalan pelanggan
kepada Perusahaan

Pengertian Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan ialah komitmen yang kuat untuk membeli
Kembali suatu jasa secara konsisten di waktu yang akan datang,
sehingga menyebabkan pembelian berulang pada merek yang sama.
Jadi meskipun keadaan dan upaya pemasaran mungkin memiliki
dampak potensial pada perilaku pemilihan, hal yang sama berlaku
untuk penggunaan berulang atau pembelian merek yang sama.
(Minrohayati, Meirani Harsasi, 2016:157).
Loyalitas pelanggan berjanji untuk membeli barang dan
mengabaikan aktivitas pesaing yang berusaha menarik pelanggan.
Berdasarkan makna di atas dapat menyimpulkan bahwa loyalitas
pelanggan dibentuk melalui berbagai tahapan pembelajaran dalam
memperoleh pelanggan dalam pertukaran antara pelanggan dan
penyedia jasa (Syaifullah, 2018:119).
Customer Loyalty atau loyalitas pelanggan adalah suatu
pembelian ulang yang dilakukan oleh seorang pelanggan karena
komitmen pada suatu merek atau perusahaan (Nainggolan,
2018:53).

Indikator citra merek


Menurut Kotler dan Keller, dialih bahasakan oleh Bob Sabran
(2013 : 347), citra merek dapat dilihat dari :

Keunikan asosiasi merek terhadap suatu merek mau tidak mau
harus terbagi dengan merek-merek lain. Oleh karena itu, harus
diciptakan keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi
konsumen untuk memilih suatu merek tertentu.

Keunggulan asosiasi merek merupakan salah satu faktor
pembentuk brand image, dimana produk tersebut unggul dalam
persaingan.

Kekuatan asosiasi merek ialah bagaimana informasi masuk
kedalam ingatan konsumen dan bagaimana proses bertahan
sebagai bagian dari citra merek. Hal itulah yang akan terus
menerus menjadi penghubung antara produk/merek dengan
konsumen. Dengan demikian merek tersebut akan cepat dikenal
dan akan tetap terjaga ditengah-tengah maraknya persaingan.
Membangun popularitas sebuah merek menjadi merek yang
terkenal tidaklah mudah. Namun demikian, popularitas adalah
salah satu kunci yang dapat membentuk brand image pada
konsumen.

Indikator People (orang)


Menurut Bilson (2001:45) mengukur people dapat dilakukan
dengan menggunakan indikator-indikator sebagai berikut:
1) Kompetensi, yaitu orang-orang yang bertugas dapat melakukan
tugasnya dengan sangat handal serta penuh keahlian pada
bidangnya masing masing.
2) Kesopanan, yaitu orang-orang yang memberikan jasa selalu
bersikap ramah, baik, sopan kepada konsumen.
3) Selektif, yaitu orang-orang yang menjadi penyaji jasa sebelum di
pekerjakan harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh
masing – masing perusahaan penyedia jasa.
4) Komunikatif, yaitu orang-orang yang menyajikan jasa akan selalu
memberikan informasi penting yang akan disampaikan kepada
konsumen.

Pengertian People (orang)


Pengertian People (Orang) Menurut Zeithaml, Bitner, dan
Gremler (2010, p.26) people adalah semua orang yang memainkan
peranan dalam penyajian layanan yang dapat mempengaruhi
persepsi konsumen. Elemen-elemen dari ”people”adalah pegawai
perusahaan, konsumen, dan konsumen lain dalam lingkungan jasa.
Semua sikap dan tindakan karyawan, bahkan cara berpakaian
karyawan dan penampilan karyawan mempunyai pengaruh terhadap
persepsi konsumen atau keberhasilan penyampaian jasa (service
counter).
Kesuksesan pemasaran suatu jasa sangat bergantung pada
seleksi, pelatihan, motivasi, dan manajemen sumber daya manusia.
Banyak contoh jasa yang gagal atau berhasil sebagai konsekuensi
manajemen sumber daya manusia yang tidak efektif atau yang
efektif. Pentingnya orang dalam pemasaran jasa mengarah pada
minat yang lebih besar dalam pemasaran internal. Hal ini menyadari
pentingnya motivasi, pelatihan dan mempertahankan kualitas
karyawan dengan mengembangkan pekerjaan untuk memuaskan
kebutuhan individu. Penurunan keuntungan, minat beli konsumen,
peningkatan keluhan konsumen dan ketidakpuasan konsumen
membutuhkan serangkaian program yang berfokus pada personel
(people) yang menghasilkan jasa tersebut. Menurut Zeithaml dan
Mary Jo Bitner (2010, p.27) people meliputi employee (tenaga
kerja), customers (konsumen), dan communicating (komunikasi).
Dalam hubungannya dengan pemasaran jasa maka orang
yang berfungsi sebagai penyedia jasa sangat mempengaruhi kualitas
jasa yang diberikan. Keputusan dalam “orang” ini berarti
berhubungan dengan seleksi, pelatihan, motivasi, dan manajemen
sumber daya manusia. Untuk mencapai kualitas terbaik maka
pegawai harus dilatih untuk menyadari pentingnya pekerjaan
mereka, yaitu memberikan konsumen kepuasan dalam memenuhi
kebutuhannya. Pentingnya “orang” dalam pemasaran jasa berkaitan
erat dengan pemasaran internal. Pemasaran internal adalah interaksi
atau hubungan antara setiap karyawan dan departemen dalam suatu
perusahaan yang dalam hal ini dapat diposisikan sebagai konsumen
internal dan pemasok internal. Tujuan dari adanya hubungan
tersebut adalah untuk mendorong “orang” dalam kinerja
memberikan kepuasan kepada konsumen.

Bauran Pemasaran Jasa


Perusahaan yang menawarkan jasa memiliki karakter yang
berbeda dengan perusahaan non jasa. Oleh karena itu, strategi yang
dilakukan oleh perusahaa jasa pun berbeda dengan perusahaan non
jasa. Perbedaan startegi ini dipengaruhi oleh ciri-ciri dasar dari jenis
produk yang dihasilkan. Pada pemasaran jasa terdapat beberapa
aspek yang perlu diperhatikan yang biasa disebut dengan bauran
pemasaran jasa.
Menurut Zeithaml dan Bitner di dalam buku Ratih Hurriyati
(2015:48) mengemukakan bahwa : “Bauran pemasaran jasa adalah
elemen-elemen organisasi perusahaan yang dapat dikontrol oleh
perusahaan dalam melakukan komunikasi dengan konsumen dan
akan dipakai untuk memuaskan konsumen.”
Selanjutnya Zeithaml dan Bitner dalam Rutih Hurriyati
mengemukakan konsep bauran pemasaran tradisional (traditional
marketing mix) terdiri dari 4P, yaitu product (produk), price (harga),
place (tempat/lokasi) dan promotion (promosi). Sementara itu,
untuk pemasaran jasa perlu bauran pemasaran yang diperluas
(expanded marketing mix for services) dengan panambahan unsur
nontraditional marketing mix, yaitu people (orang), physical
evidence (fasilitas fisik) dan process (proses), sehingga menjadi
unsur 7P. Penjelasan ketujuh unsur tersebut (Ratih Hurriyati,
2015:50-65), yaitu:
21

  1. Produk Jasa (The Service Product)
    Produk jasa merupakan suatu kinerja penampilan,
    tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan
    dari pada dimiliki karena manfaat dari jasa tersebut
    dirasakan saat proses jasa berlangsung, serta pelanggan
    lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses
    mengkonsumsi jasa tersebut.
  2. TarifJasa (Price)
    Penentuan harga merupakan titik kritis dalam bauran
    pemasaran jasa karena harga menentukan pendapatan
    dari suatu usaha/bisnis. Keputusan penentuan harga juga
    sangat signifikan di dalam penentuan nilai/manfaat yang
    dapat diberikan kepada pelanggan dan memainkan
    peranan penting dalam gambaran kualitas jasa.
  3. Tempat/Lokasi Pelayanan (Place/Service Location)
    Untuk produk pada industri jasa, place diartikan
    sebagai tempat pelayanan jasa tersebut disampaikan dan
    dirasakan oleh pelanggan. Lokasi pelayanan jasa yang
    digunakan dalam memasok jasa kepada pelanggan yang
    dituju merupakan keputusan kunci. Tempat juga penting
    sebagai lingkungan dimana dan bagaimana jasa akan
    diserahkan, sebagai bagian dari nilai dan manfaat dari
    jasa.
  4. Promosi (Promotion)
    Menurut Buchari Alma dalam Ratih Hurriyati
    (2015:57) promosi adalah suatu bentuk komunikasi
    pemasaran. Yang merupakan aktivitas pemasaran yang
    berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi atau
    membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran atas
    perusahaan dan produknya agar bersedia menerima,
    membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan
    perusahaan yang bersangkutan. Promosi salah satu faktor
    penting penunjang keberhasilan sebuah perusahaan.
  5. Orang/Partisipan (People)
    Orang (people) adalah semua pelaku yang
    memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat
    mempengaruhi persepsi pembeli. Elemenelemen dari
    ‘people’ adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan
    konsumen lain dalam lingkungan jasa. Semua sikap dan
    tindakan karyawan, bahkan cara berpakaian karyawan
    dan penampilan karyawan mempunyai pengaruh
    terhadap persepsi konsumen atau keberhasilan
    penyampaian jasa (service encounter).
  6. Sarana Fisik (Physical Evidence)
    Sarana fisik merupakan suatu hal yang secara nyata
    turut mempengaruhi keputusan konsumen untuk
    membeli dan mengginakan produk jasa yang ditawarkan.
    Unsur-unsur yang termasuk di salam sarana fisik antara
    lain bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo,
    warna, dan barang-barang lainnya yang disatukan
    dengan service yang diberikan seperti tiket, sampul,
    label, dan lain sebagainya. Sedangkan menurut Rambat
    Lupiyoadi (2014:94) bukti fisik merupakan lingkungan
    fisik tempat jasa diciptakan dan langsung berinteraksi
    dengan konsumen.
  7. Proses (Process)
    Proses adalah semua prosedur aktual, mekanisme,
    dan aliran aktivitas yang digunakan untuk
    menyampaikan jasa. Elemen proses ini mempunyai arti
    suatu upaya perusahaan dalam menjalankan dan
    melaksanakan aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan
    dan keinginan konsumennya.

Karakteristik Jasa


Jasa memiliki karakteristik yang luas, yang membedakan dari
produk berupa barang. Karakteristik tersebut menimbulkan
implikasi yang penting dalam pemasaran jasa. Kotler dan Armstrong
(2012, p.260) menjelaskan jasa memiliki empat karakteristik utama
yang sangat mempengaruhi rancangan program yaitu :

  1. Tidak Berwujud (Intangibility)
    Jasa tidak dapat dilihat, diraba, dirasa, didengar, dicium, atau
    menggunakan indra lainnya sebelum jasa itu dibeli. Hal ini lah
    yang membedakan jasa dengan hasil produksi (produk)
    perusahaan. Penampilan suatu barang jasa diwakili oleh wujud
    tertentu seperti perbuatan, penampilan, atau sebuah usaha
    lainnya yang tidak dapat disimpan, dipakai, atau ditempatkan di
    suatu tempat yang kita inginkan. Wujud inilah yang dapat
    membentuk pengalaman dan mempengaruhi kepuasan
    konsumen. Hal inilah yang membuat sulit untuk mengevaluasi
    suatu produk layanan. Oleh karena itu, tugas perusahaan adalah
    untuk memberikan pelayanan yang nyata pada satu atau lebih
    cara dan mengirim sinyal yang tepat tentang kualitas perusahaan.
  2. Tidak Terpisahkan (Inseparability)
    Jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedia pelayanannya,
    baik orang-orang maupun mesin. Jika seorang karyawan
    memberikan pelayanan, maka karyawan menjadi bagian dari
    pelayanan tersebut karena pelanggan juga hadir pada saat jasa
    dihasilkan. Jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
    Tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam
    persediaan, didistribusikan lewat berbagai penjualan, dan baru
    kemudian dikonsumsi, jasa biasanya dijual dahulu kemudian
    diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan atau tidak
    dipisahkan.
  3. Bervariasi (Variability)
    Jasa sangat bervariasi karena tergantung pada siapa yang
    menyediakan dan kapan serta dimana jasa itu dilakukan.
    Misalnya jasa yang diberikan oleh suatu hotel. Walaupun setiap
    hotel mempunyai standar yang sama, tetapi jasa yang diberikan
    akan bervariasi.
  4. Tidak Tahan Lama (Perishability)
    Suatu jasa tidak dapat disimpan untuk dipakai kedepannya.
    Seorang calon penumpang yang telah membeli tiket pesawat
    untuk suatu tujuan tertentu tetap dikenakan biaya administrasi,
    walaupun dia tidak jadi berangkat. Tidak tahan lamanya jasa
    tidak jadi masalah bila permintaan tetap. Tetapi jika permintaan
    berfluktuasi, perusahaan jasa dapat menghadapi masalah yang
    rumit.

Definisi Pemasaran Jasa


Definisi dari pemasaran jasa yang dikutip oleh Kotler dan
Keller (2009, p.4) adalah setiap tindakan jasa adalah perbuatan yang
dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada
dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
menghasilkan kepemilikan sesuatu.
Menurut Lovelock dan Gummesson (2011, p.36)
mendefinisikan bahwa pelayanan (service) adalah sebuah bentuk
jasa dimana para pelanggan atau konsumen dapat memperoleh
manfaat melalui nilai jasa yang diharapkan. Konsep pemasaran jasa
secara sederhana sebagai usaha untuk mempertemukan produk atau
jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dengan calon pelanggan
yang akan menggunakan jasa tersebut, oleh karena itu produk dan
jasa yang dihasilkan oleh suatu atau perusahaan harus dapat
memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan

Strategi


“Strategi adalah rencana manajer yang berskala besar dan
berorientasi kepada masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan
persaingan guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan” (Pearce dan
Robinson,1997:2 dalam Amirullah, 2015:4).
Pemahaman yang baik mengenai konsep strategi dan konsepkonsep lain yang bersangkutan sangat menentukan suksesnya strategi apa
yang akan disusun. Konsep-konsep tersebut adalah:
a. Distinctive Competence: tindakan yang dilakukan perusahaan supaya
dapat melakukan kegiatan lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya.
Distinctive Competance ini meliputi keahlian tenaga kerja dan
kemampuan sumberdaya.
b. Competitive Advantage: kegiatan spesifik yang dikembangkan
perusahaan untuk melakukan yang lebih baik disbanding dengan
pesaingnya. Strategi yang digunakan untuk memperoleh keunggulan
dalam bersaing adalah cost leadership, differensial dan focus.

Pengertian Pemasaran Jasa


Menurut Lupiyoadi (2006) dalam Wibowo dan Priansa (2017)
Pemasaran jasa merupakan setiap tindakan yang ditawarkan oleh salah
satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak
menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun.
Menurut Lovelock dan Wirtz (2011) dalam Wibowo dan Priansa
(2017) Pemasaran jasa adalah bagian dari system jasa keseluruhan dimana
perusahaan tersebut memiliki sebuah bentuk kontak dengan pelanggannya,
mulai dari pengiklanan hingga penagihan, hal itu mencakup kontak yang
dilaukan pada saat penyerahan jasa.
Sedangkan menurut Zeithaml dan Bitner dalam Daryanto
(2011:236) Pemasaran jasa adalah mengenai janji-janji. Janji-janji yang
dibuat kepada pelanggan dan harus dijaga. Kerangka kerja strategik
diketahui sebagai service triangle yang memperkuat pentingnya orang
dalam perusahaan dalam membuat janji mereka dan sukses dalam
membangun customer relationship.

Pembentukan Rumah Kualitas (House of Quality)


Rumah kualitas menampilkan keinginan dan kebutuhan pelanggan (Suara
Pelanggan) di sebelah kiri, dan tanggapan teknis tim pengembangan untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhan di bagian atas. Matriks ini terdiri dari beberapa
bagian atau submatries yang tergabung bersama, masing-masing berisi informasi
yang terkait dengan yang lain (Cohen, 1995). Rumah kualitas terdiri dari:
A. Kebutuhan dan keinginan pelanggan
B. Matriks perencanaan (riset pasar dan perencanaan strategis)
C. Persyaratan Teknis
D. Hubungan (dampak respon teknis terhadap kebutuhan dan manfaat pelanggan)
E. Korelasi Teknis
F. Matriks teknis

Manfaat Quality Function Deployment


Menurut Dudung (2012) manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan QFD
bagi perusahaan yang berusaha meningkatkan daya saingnya melalui perbaikan
kualitas dan produktivitasnya secara berkesinambungan. Manfaat-manfaat tersebut,
antara lain:

  1. Fokus pada pelanggan
    QFD memerlukan pengumpulan masukan dan umpan balik dari pelanggan.
    Informasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sekumpulan persyaratan
    pelanggan yang spesifik.
  2. Efisiensi waktu
    QFD dapat mengurangi waktu pengembangan produk karena memfokuskan
    pada persyaratan pelanggan yang spesifik dan telah diidentifikasi dengan jelas.
  3. Orientasi kerja sama tim
    QFD merupakan pendekatan kerja sama tim. Semua keputusan dalam proses
    didasarkan pada consensus dan dicapai melalui diskusi mendalam dan
    brainstorming.
  4. Orientasi pada dokumentasi
    Salah satu produk yang dihasilkan dari proses QFD dokumen komprehensif
    mengenai semua data yang berhubungan dengan segala proses yang ada dan
    perbandinganya dengan persyaratan pelanggan.

Quality Function Deployment


Secara umum, QFD merupakan suatu alat/metode yang digunakan untuk
memusatkan perhatian pada hal-hal yang menjadi kebutuhan dan keinginan
konsumen dalam penyusunan standar layanan. Cohen (1995) mendefinisikan QFD
sebagai metode untuk perencanaan dan pengembangan produk terstruktur yang
memungkinkan tim pengembangan untuk menentukan secara jelas keinginan dan
kebutuhan pelanggan, dan kemudian mengevaluasi setiap produk yang diusulkan
atau kemampuan layanan secara sistematis dalam hal dampaknya untuk memenuhi
kebutuhan itu. Proses QFD melibatkan membangun satu atau lebih matriks (tabel
kualitas) atau disebut juga House of Quality (HOQ). Sedangkan Menurut Ginting (2010) QFD adalah suatu cara untuk
meningkatkan kualitas barang atau jasa dengan memahami kebutuhan konsumen
kemudian menghubungkannya dengan ketentuan teknis untuk menghasilkan suatu
barang atau jasa pada setiap tahap pembuatan barang atau jasa yang dihasilkan. Konsep QFD dikembangkan untuk menjamin bahwa produk yang memasuki tahap
produksi benar-benar akan dapat memuaskan kebutuhan para pelanggan dengan
jalan membentuk tingkat kualitas yang diperlukan dan kesesuaian maksimal pada
setiap tahap pengembangan produk.

Skala Pengukuran Service Quality


Dalam menghasilkan suatu pelayanan yang berkualitas, perusahaan
diharapkan dapat mengukur pelayanan yang telah diberikan kepada pelanggannya
melalui skala pengukuran. Model Servqual memiliki aplikasi skala pengukuran
yang disebut dengan multiple item scale yang merupakan hasil penelitian
Parasuraman dkk. Instrumen dalam skala tersebut didesain untuk bermacam bentuk
pelayanan. Instrumen tersebut merupakan merupakan suatu format dalam
menentukan harapan dan persepsi pelanggan, serta dapat digunakan untuk
menentukan kualitas jasa suatu perusahaan atas dasar lima dimensi kualitas jasa.
Caranya yaitu dengan merata-ratakan perbedaaan nilai yang dihasilkan dari masing- masing bagian yang membentuk kelima dimensi.
Salah satu aplikasi yang digunakan dari skala pengukuran Servqual ini adalah
dengan menentukan nilai kepentingan relatif lima dimensi yang mempengaruhi
persepsi pelanggan. Pendekatan ini melakukan regresi nilai persepsi kualitas
pelanggan dengan masing-masing nilai dimensi Servqual

Dimensi Kualitas Jasa


Terdapat lima dimensi Servqual menurut Parasuraman dkk (1985) yaitu:

  1. Berwujud (Tangiable)
    Kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak
    eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan
    yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata
    dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliabilitas
    Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang
    dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
  3. Ketanggapan (Responsiveness)
    Suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat
    (responsive) dan tepat kepada pelanggan dan penyampaian informasi yang jelas.
  4. Jaminan dan Kepastian (Assurance)
    Pengetahuan, kesopan santunan, dan kemampuan para pegawai peruasahaan
    untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan.
  5. Empati (Empathy)
    Memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang
    diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    mereka.

Kualitas Pelayanan (Service Quality)


Menurut Lovelock dkk (2010) mendefinisikan Kualitas layanan dari sudut
pandang pengguna sebagai sesuatu yang secara konsisten memenuhi atau
melampaui harapan pelanggan. Menurut Parasuraman dkk (1985) Service quality
(kualitas layanan) adalah ukuran seberapa baik suatu layanan menemui kecocokan
dengan harapan pelanggan. Penyelenggaraan kualitas layanan berarti melakukan
kompromi dengan harapan pelanggan dengan tata cara yang konsisten. Konsekuensi atas pendekatan kualitas jasa suatu produk memiliki esensi penting
bagi strategi perusahaan untuk mempertahankan diri dan mencapai kesuksesan
dalam mengahadapi persaingan bisnis. Salah satu pendekatan kualitas jasa yang banyak dijadikan acuan dalam riset
pemasaran adalah model Servqual yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk.
Servqual dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi
pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima (perceived service) dengan
layanan yang sesungguhnya diharapkan (expected service).

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan menurut Kotler (1997) adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesan yang diterima terhadap
kinerja (hasil) suatu produk dan harapan mereka. Jika kinerja berada dibawah
harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas.
Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang. Penilaian
pelanggan atas kinerja produk / jasa tergantung banyak faktor, terutama jenis
hubungan loyalitas yang dimiliki pelanggan dengan sebuah merek. Konsumen
sering membentuk persepsi yang lebih menyenangkan tentang sebuah produk / jasa
dengan merek yang sudah mereka anggap positif (Kotler dan Keller, 2009).
Dalam era globalisasi ini, perusahaan akan selalu menyadari pentingnya
faktor kepuasan pelanggan dalam dunia bisnis oleh karena itu perlu dipahami
komponen-kompenen yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Pada dasarnya
kepuasan pelanggan dapat didefinisikan secara sederhana, yaitu sebagai suatu
keadaan saat kebutuhan dan harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk atau
jasa yang dikonsumsi.
Banyak perusahaaan berfokus pada kepuasan tinggi karena para pelanggan
yang hanya merasa puas mudah untuk berubah pikiran bila mendapat tawaran lebih
baik. Pelanggan yang amat puas lebih sukar untuk mengubah pilihannya. Kepuasan
tinggi menciptakan kelekatan emosional terhadap merek, hasilnya adalah kesetiaan
pelanggan yang tinggi. Namun Kotler (1997) berpendapat bahwa perusahaan yang
berfokus pada pelanggan, sasaran utamanya bukan hanya untuk pelanggan,
dikarenakan perusahaan mempunyai banyak pihak yang berkepentingan, termasuk
karyawan, penyalur, pemasok, dan pemegang saham. Perusahaan mengeluarkan
lebih banyak biaya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan mungkin mengalihkan
dana yang seharusnya untuk meningkatkan kepuasan mitra usaha, pada akhirnya
perusahaan harus beroperasi dengan memberikan kepuasan pelanggan yang tinggi
dengan memberikan kepuasan juga kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan
sesuai dengan batasan jumlah sumber daya.

Klasifikasi Jasa


Bagaimanapun produk jasa tidak ada yang benar-benar sama satu sama
lainnya. Oleh karena itu, untuk memahami sektor ini, Griffin (1996) dalam
Lupiyoadi (2013) menyebutkan ada beberapa cara pengklasifikasian produk jasa
ini. Pertama, didasarkan atas tingkat kontak konsumen dengan pemberi jasa sebagai
bagian dari sistem saat jasa tersebut dihasilkan. Kedua, jasa juga bisa
diklasifikasikan berdasarkan kesamaannya dengan operasi manufaktur.
Cara lain untuk mengklasifikasikan jasa adalah dengan menggunakan
kesamaannya dengan operasi manufaktur. Lupiyoadi (2013) menyebutkan jasa
dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama jasa murni (pure service), jasa yang
tergolong kontak tinggi dan dengan tanpa persediaan, dengan kata lain benar-benar
sangat berbeda dengan manufaktur. Sebagai contoh, jasa tukang cukur, dan ahli
bedah. Kedua jasa semi manufaktur (quasumanufacturing service), jasa yang
tergolong kontak rendah, memiliki kesamaan, dan konsumen tidak harus menjadi
bagian dari proses produksi jasa. Contohnya, jasa perbankan, jasa asuransi, kantor
pos, dan pengiriman. Ketiga jasa campuran (mixed service), merupakan kelompok
jasa yang tergolong kontak menengah (moderat-contact), gabungan beberapa sifat
jasa murni dan semi manufaktur. Misalnya jasa bengkel, jasa laundry, ambulans,
pemadam kebakaran, dll.