Experiential Marketing


Menurut Lisa et.al., (2018) experiential marketing berasal dari dua kata
yaitu experiental dan marketing. experiential adalah pengalaman merupakan
peristiwa-peristiwa pribadi yang terjadi karena adanya stimulus tertentu.
Sedangkan pengertian marketing adalah suatu proses sosial dan manajerial
yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk
dan nilai dengan orang lain.
Menurut Soli et.al., (2013), Konsep experiential marketing ini
merupakan salah satu perkembangan konsep pemasaran yang disesuaikan
dengan keadaan yang berkembang secara dinamis dimana konsumen lebih
pintar dan selektif dalam memilih produk. Menurut Ratih et.al., (2015)
menyatakan bahwa experiential marketing adalah konsep pemasaran yang
bertujuan untuk membentuk pelanggan yang loyal dengan cara menyentuh
emosi pelanggan dengan menciptakan pengalaman-pengalaman positif dan
suatu perasaan yang positif terhadap jasa dan produk mereka.
Sedangkan menurut Fahmi (2019) experiential marketing adalah bahwa
para pemasar yang menawarkan suatu produk dan jasanya dengan cara
merangsang dalam unsur-unsur emosi konsumen dan menciptakan berbagai
pengalaman positif bagi konsumen. Konsep pemasaran dan bisnis tradisional
hampir tidak memberikan arah untuk memanfaatkan kemunculan ekonomi
experiential. Pemasar harus menetapkan lingkungan yang tepat untuk
memungkinkan pengalaman yang diinginkan pelanggan.
Perusahaan tidak mungkin untuk menjadi kompetitif dengan alat-alat
pemasaran tradisional karena manfaat dari produk sekarang semakin lebih
mirip. Lebih lanjut disebutkan pada konsep pemasaran tradisional, konsumen
dilihat sebagai masyarakat yang berpikir rasional, mereka akan melihat
produk dan karakteristiknya serta kelebihannya dibandingkan dengan produk
lain. Berbeda dengan konsep pemasaran tradisional, experiential marketing
melihat konsumen bukan hanya sebagai pemikir rasional tetapi juga
emosional.
Konsep experiential marketing digunakan untuk beberapa tujuan,
antara lain membangun hubungan, menghasilkan interaksi, memastikan
target audiens, meningkatkan kesadaran merek, meningkatan relevansi,
meningkatkan loyalitas, menciptakan ingatan atau kenangan. Menurut Dewi
et.al., (2022), experiential marketing berguna untuk sebuah perusahaan yang
ingin meningkatkan merek yang berada pada tahap penurunan, membedakan
produk mereka dari produk pesaing, menciptakan sebuah citra dan identitas
untuk sebuah perusahaan, meningkatkan inovasi dan membujuk pelanggan
untuk mencoba dan membeli produk. Hal yang terpenting adalah
menciptakan pelanggan yang loyal.
a) Karakteristik Experiential Marketing
Pendekatan pemasaran experiential marketing merupakan pendekatan
yang mencoba menggeser pendekatan pemasaran tradisional. Menurut Rizal
(2016), experiential marketing memiliki empat karakterisitik, yaitu:

  1. Fokus pada pengalaman pertama
    Berbeda dengan pemasaran tradisional, experiential marketing berfokus
    pada pengalaman pelanggan. Pengalaman yang terjadi akibat pertemuan,
    menjalani atau melewati situasi tertentu. Pengalaman memberikan nilai-
    nilai indrawi, emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang
    menggantikan nilai-nilai fungsional.
  2. Menguji situasi konsumsi
    Pemasar experiential menciptakan sinergi untuk dapat meningkatkan
    pengalaman konsumsi. Pelanggan tidak hanya mengevaluasi suatu
    produk sebagai produk yang berdiri sendiri dan juga tidak hanya
    menganalisis tampilan dan fungsi saja,melainkan pelanggan lebih
    menginginkan suatu produk yang sesuai dengan situasi dan pengalaman
    pada saat mengkonsumsi produk tersebut.
  3. Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari konsumsi
    Jangan memperlakukan pelanggan hanya sebagai pembuat keputusan
    yang rasional, pelanggan ingin dihibur, dirangsang, dipengaruhi secara
    emosional dan ditantang secara kreatif.
  4. Metode dan perangkat bersifat eklektik
    Metode dan perangkat untuk mengukur pengalaman seseorang bersifat
    eklektik,yaitu tidak hanya terbatas pada suatu metode saja, melainkan
    memilih metode dan perangkat yang sesuai tergantung dari objek yang
    diukur. Jadi bersifat lebih pada kustuminasi untuk setiap situasi dari pada
    menggunakan suatu standar yang sama.
    b) Manfaat Experiential Marketing
    Menurut Dharmawansyah (2013), fokus utama dari experiential
    marketing adalah pada tanggapan panca indera, pengaruh, tindakan serta
    hubungan. Oleh karena itu, suatu perusahaan harus dapat memberikan
    pengalaman yang dihubungkan dengan kehidupan nyata dari pelanggan dan
    experiential marketing dapat dimanfaatkan secara efektif apabila diterapkan
    pada beberapa situasi tertentu dan hal ini dapat menjadi strategi yang tepat
    dalam mempertahankan pelanggan.
    Menurut Eko dan Mbayak (2016), menyebutkan ada beberapa
    keuntungan yang dapat diterima dan dirasakan suatu perusahaan apabila
    menerapkan experiential marketing antara lain:
  5. Membangkitkan kembali merek yang sedang merosot.
  6. Untuk membedakan suatu produk dengan produk pesaing.
  7. Untuk menciptakan citra dan identitas suatu perusahaan.
  8. Untuk mempromosikan inovasi.
  9. Untuk membujuk percobaan, pembelian dan loyalitas pelanggan.