Tingkatan Loyalitas Merek (skripsi dan tesis)

Adapun tingkatan loyalitas merek tersebut menurut Aaker dalam Durianto dkk (2001:19) adalah sebagai berikut :

 a. Berpindah-pindah (Switcher Buyer)
 Pelanggan tidak tertarik pada merek apapun yang ditawarkan. Pada tingkatan ini, merek mempunyai peranan kecil dalam keputusan pembelian. Ciri yang paling tampak dari jenis pelanggan ini adalah mereka membeli suatu produk karena harganya murah dan banyak konsumen lain yang membeli merek tersebut.
 b. Pembeli yang Bersifat Kebiasaan (Habitual Buyer)
Pelanggan merasa puas dengan produk yang digunakan, setidaknya tidak mengalami kekecewaan sehingga pelanggan memiliki motivasi melakukan pembelian ulang.
c. Pembeli yang Puas dengan Biaya Peralihan (Satisfied Buyer)
 Pada tingkatan ini berisi pelanggan loyal yang melakukan pengorbanan baik waktu, uang, ataupun risiko apabila melakukan pembelian dan beralih ke merek lain. Untuk menarik minat pembeli kategori ini, pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus ditanggung pembeli dengan menawarkan berbagai manfaat sebagai kompensasi.
d. Menyukai Merek (Likes the Brand)
 Pelanggan pada tingkatan ini benar-benar menyuai suatu merek berdasarkan suatu asosiasi seperti symbol, maupun pengalaman ketika menggunakan merek tersebut, maupun kesan kualitas yang tinggi.
 e. Pembeli yang Berkomitmen (Commited Buyer)
Pada tingkatan ini adalah kategori pembeli yang setia, dimana pelanggan memiliki suatu kebanggaan ketika menggunakan produk suatu merek. Pelanggan akan merasa percaya diri apabila menggunakan produk merek tertentu. Ciri yang tampak pada kategori ini adalah tindakan pembeli untuk merekomendasikan atau mempromosikan merek yang digunakannya kepada orang lain (dalam Durianto dkk, 2001:19)

Respon Merek (Brand Response/Loyalty) (skripsi dan tesis)

 Menurut Rangkuti (2004) loyalitas merek merupakan inti dari ekuitas merek yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran. Terciptanya kepuasan dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, menjadi dasar bagi pembelian ulang dan menciptakan loyalitas pelanggan serta rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan perusahaan (Tjiptono, 2002:24). Definisi lain mengatakan loyalitas merek adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek dan pemasok, berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten (Umar, 2005:16). Assael (1992) mengemukakan beberapa hal yang menunjukkan kecenderungan konsumen loyal sebagai berikut:
 1. Konsumen yang loyal terhadap merek cenderung lebih percaya diri terhadap pilihannya.
2. Konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasakan tingkat risiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya.
3. Konsumen yang loyal terhadap merek juga lebih mungkin loyal terhadap toko.
 4. Kelompok konsumen yang minoritas cenderung untk lebih loyal terhadap merek (Assael, 1992).

Komponen Citra Merek (skripsi dan tesis)

Konsumen sering menganggap merek-merek yang terkenal dan memiliki citra yang positif lebih baik dan pantas dibeli karena adanya jaminan penuh terhadap kualitas, keandalan, kinerja, dan pelayanan.Selain itu Menurut Joseph Plummer (dalam Lutiary, 2007:54), citra merek terdiri dari tiga komponen, yaitu:

1. Product attributes (atribut produk) yang merupakan hal-hal yang berkaitan dengan merek tersebut sendiri, seperti kemasan, isi produk,harga, rasa, dan lain-lain.
 2. Consumer benefits (keuntungan konsumen) yang merupakankegunaan produk dari merek tersebut. 3. Brand personality (Kepribadian merek) merupakan asosiasi yang mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut adalah manusia (dalam Lutiary, 2007:54)
. Citra merek berkaitan dengan persepsi konsumen terhadap suatu produk merek tertentu, seperti yang dikemukakan oleh Assael (1995) dalam Sodik (2003) bahwa persepsi terhadap suatu produk melalui proses itu sendiri terkait dengan komponennya (kemasan, bagian produk, bentuk) serta komunikasi yang ditunjukkan untuk mempengaruhi perilaku konsumen yang mencerminkan produk  melalui kata-kata, gambar dan simbolisasi atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk (harga, tempat, penjualan, dampak di Negara penjualan). Konsumen yang memiliki persepsi citra positif terhadap suatu merek, lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. Selain itu dengan adanya citra merek yang positif, perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap merek produk lama

Faktor Citra MErek (skripsi dan tesis)

Schiffman dan Kanuk (dalam Fajrianthi, 2005:285) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra merek adalah sebagai berikut:

1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu Membentuk suatu citra positif merupakan hal yang tidak mudah, maka citra positif yang telah dibagun harus dijaga sebaik mungkin,karena semakin baik citra suatu merek maka merek tersebut akan semakin menarik minat konsumen.
 2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi.
 3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani konsumennya.
5. Resiko, berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau untung dan rugi yang mungkin dialami oleh konsumen.
 6. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
 7. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan, kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dariproduk tertentu (dalam Fajrianthi, 2005:285).

Citra Merek (Brand Image) (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2000) syarat merek yang kuat adalah citra merek. Citra merek merupakan syarat dari merek yang kuat dan citra adalah persepsi yang relatif konsisten dalam jangka panjang (enduring perception) (Kotler, 2002:225). Citra merek merupakan deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu (Tjiptono, 2005:49). Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian. (Setiadi, 2003:180). Selain itu dalam konsep pemasaran, citra merek sering direferensikan sebagai aspek psikologis, yaitu citra yang dibangun dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau jasa. (Setiawan dalam Farid, 2011:9). Menurut Kotler, citra merek yang efektif dapat mencerminkan tiga hal, yaitu:
 Membangun karakter produk dan memberikan value proposition.
 Menyampaikan karakter produk secara unik sehingga berbeda dengan para pesaingnya.
  Memberi kekuatan emosional dari kekuatan rasional (Kotler, 2003:326)

Nilai Dalam Kesadaran Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Aaker (1997:93-94) bahwa, kesadaran merek dalam benak konsumen setidaknya memiliki empat nilai, yaitu:

a. Jangkar tempat cantelan asosiasi-asosiasi lain Pengakuan merek merupakan langkah dasar pertama dalam tugas komunikasi. Sangat sulit mengkomunikasikan atribut-atribut merek sebelum sebuah merek mantap dengan atribut-atribut yang diasosiasikan. Dengan tingkat pengenalan yang mapan, tugas selanjutnya mengkaitkan dengan asosiasi baru, seperti suatu atribut produk.
 b. Familiaritas Secara umum calon konsumen lebih tertarik pada sesuatu yang akrab bagi mereka. Calon konsumen akan cenderung membeli produk yang dikategorikan sebagai produk dengan tingkat keterlibatan rendah (low involvement product) yang memiliki merek yang sudah dikenal.
c. Tanda Mengenai Substansi (Komitmen) Kesadaran merek menjadi suatu signal dari kehadiran, komitmen, dan substansi. Semakin tinggi kesadaran atas suatu nama produk menunjukkan semakin tinggi komitmen dari merek tersebut. Alasan yang dapat timbul mengapa seseorang dapat mengenali sebuah merek adalah:
  Perusahaan telah melakukan promosi secara terus-menerus.
 Perusahaan telah bergerak dalam kurun waktu yang lama pada bidang tersebut.
 Perusahaan telah melakukan distribusi secara luas.
 Merek tersebut adalah merek yang sukses, oranglain juga menggunakan merek tersebut.
d. Bahan pertimbangan merek
Pada proses pembelian, langkah pertama yang dilakukan adalah pemilihan alternatif. Pada proses ini, ketersediaan informasi menjadi sumber dari pemilihan tersebut. Proses mengingat menjadi penting, karena biasanya tidak banyak nama merek yang muncul pada proses ini. Merek pertama yang ada dalam benak pelanggan akan mendapatkan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan merek yang memiliki tingkkat rendah dalam ingatan. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kesadaran merek merupakan kemampuan pelanggan untuk melakukan identifikasi suatu merek, yang dapat dijadikan perbandingan dengan merek lainnya

Kesadaran Merek (Brand Awareness) (skripsi dan tesis)

 Kesadaran merek dalam ekuitas merek tergantung pada sejauh mana tingkatan kesadaran yang dicapai oleh suatu merek (Aaker dalam Rangkuti, 2002:40). Kesadaran merek adalah kekuatan kehadiran merek bagi konsumen. Kesadaran merek merupakan kemampuan seorang calon pembeli untuk mengenalatau mengingat suatu merek yang merupakan bagian dari suatu kategori produk (Aaker, 1991:61). Kesadaran merek memiliki fungsi sebagai mekanisme memperluas pasar merek, mempengaruhi persepsi dan tingkah laku, dan sebagai kunci pembuka untuk masuk ke elemen lainnya (key of brand asset).

Tidak Menyadari Merek (Unaware of Brand) Merupakan tingkatan paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek. b. Pengenalan Merek (Brand Recognition) Merupakan tingkat minimal dari kesadaran merek, dimana pengenalan suatu merek muncul lagi setelah dilakukan pengingatan kembali lewat bantuan (aided recall). c. Pengingatan Kembali terhadap Merek (Brand Recall) Pada tingkatan ini didasarkan pada permintaan seseorang untuk meyebutkan merek tertentu tanpa bantuan (unaided recall). d. Puncak Pikiran (Top of Mind) Merek yang disebutkan pertama dalam suatu tugas pengingatan kembali tanpa bantuan berarti telah meraih kesadaran puncak pikiran (top-of-mind awareness), suatu posisi istimewa. Dalam pengertian sederhana, merek tersebut menjadi “pimpinan” dari berbagai merek yang ada dalam pikiran seseorang (Aaker, 1997:92).

Pengertian Ekuitas Merek (skripsi dan tesis)

Dari perspektif konsumen, ekuitas merek merupakan nilai tambah yang diberikan pada produk oleh merek. Ekuitas merek merupakan kekuatan suatumerek bagi pelanggannya. Ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan dan para pelanggan perusahaan (Aaker, 1997). Menurut Morgan (2000:76) dari sisi perusahaan, melalui merek yang kuat perusahaan dapat mengelola aset-aset mereka dengan baik, meningkatkan arus kas, memperluas pangsa pasar, menetapkan harga premium, mengurangi biaya promosi, meningkatkan penjualan, menjaga stabilitas, dan meningkatkan keunggulan kompetitif. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa ekuitas merek sangatlah berpengaruh bagi pelanggan karena berkaitan dengan persepsi pelanggan mengenai suatu merek dibandingkan dengan pesaingnya

Manfaat Merek (skripsi dan tesis)

 Suatu merek tentunya memiliki manfaat bagi perusahaan maupun pelanggan. Bagi perusahaan, merek berperan penting sebagai:
 1. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan pencatatan akutansi.
 2. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti intelektual. Nama merek bisadiproteksi melalui merek dagang terdaftar (registered trademarks), prosespemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten, dan kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyrights) dan desain. Hak-hak property intelektual ini memberikan jaminan bahwa perusahaan dapat berinvestasidengan aman dalam merek yang dikembangkan dan meraup manfaat dari asetbernilai tersebut.
3. Sinyal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka biasdengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu. Loyalitas merekseperti ini menghasilkan predictability dan security permintaan bagi perusahaan dan menciptakan hambatan masuk yang menyulitkan perusahaanlain untuk memasuki pasar.
 4. Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk daripada pesaing.
5. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,loyalitas, pelanggan, dan citra unik yang terbentuk dalam benak konsumen
. 6. Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa datang (dalamTjiptono, 2005). Bagi konsumen, merek bisa memberikan beragam nilai melalui sejumlah fungsi dan manfaat potensial. Kevin Lane Keller (dalam Tjiptono, 2005) mengemukakan 7 manfaat pokok merek bagi konsumen yaitu sebagai identifikasi sumber produk, penetapan tanggung jawab pada pemanufaktur atau distributor tertentu, pengurang resiko, penekan biaya pencarian internal dan eksternal, janji tau ikatan khusus dengan produsen, alat simbolis yang memproyeksikan citra diri dan sinyal kualitas.

Pengertian Merek (skripsi dan tesis)

Fenomena persaingan pemasaran saat ini, membuat pemasar harus inovatif dan kreatif untuk membuat merek yang dipasarkan menjadi pilihan pelanggan. Merek adalah salah satu modal untuk memenangkan persaingan karena merek merupakan salah satu unsur penting bagi pelanggan untuk membeli dan menggunakan produk tertentu. Merek yang akrab dibenak pelanggan tentunya akan lebih diminati karena pelanggan dapat merasakan kebanggan tersendiri ketika menggunakan produk.

Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 Pasal 1 ayat 1 merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa (Tjiptono, 2005:2). Merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dari barang-barang dan jasa yang dihasilkan para competitor (Aaker, 1997:9). Sedangkan American Marketing Association (AMA) mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. Jadi merek membedakan penjual, produsen atau produk dari penjual, produsen atau produk lain (Kotler, 2002:215).
Menurut Durianto, dkk (2004:61), merek sangat penting atau berguna karena beberapa alasan sebagai berikut:
 Mengkosistenkan dan menstabilkan emosi konsumen.
 Mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar.
 Mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen.
  Berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen.
  Memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian, karena konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang dibelinya dengan produk lain
.  Dapat berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan (Durianto, dkk, 2004:61).
Dari definisi yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa merek merupakan identitas ataupun ciri khas tertentu yang dimililiki suatu produk seperti logo maupun kemasan yang dapat membedakannya dengan produk pesaing

Pengertian Komunikasi Pemasaran Terintegrasi (IMC) (skripsi dan tesis)

Komunikasi pemasaran dapat membantu perusahaan untuk mencapai loyalitas pelanggan dan membentuk identitas merek yang berdampak pada citra merek (brand image). Dalam bukunya Marketing Communication and Promotion, William G. Nickels mendefinisikan komunikasi pemasaran sebagai proses pertukaran informasi yang dilakukan secara persuasif sehingga proses pemasaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Purba, dkk, 2006:126). Sedangkan menurut Sofyan Assauri (1996:243) komunikasi pemasaran merupakan kombinasi strategi yang paling baik dari unsur-unsur promosi tersebut, maka untuk dapat efektifnya promosi dilakukan oleh suatu perusahaan, perlu ditentukan terlebih dahulu peralatan atau unsur promosi apa saja yang sebaiknya digunakan dan bagaimana pengkombinasian unsur-unsur tersebut agar hasilnya dapat optimal. Komunikasi pemasaran dapat disimpulkan suatu perencanaan pemasaran yang melibatkan seluruh bentuk komunikasi agar dapat mempengaruhi target pasar. Komunikasi pemasaran didefinisikan oleh Nickles (dalam Dharmmesta, 1990:56), sebagai: Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual yang sangat membantu dalam pengambilan keputusan di bidang pemasaran, serta mengarahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik. Definisi ini menyatakan bahwa komunikasi pemasaran merupakan pertukaran informasi dua arah antara pihak-pihak atau lembagalembaga yang terlibat dalam pemasaran. Pihak-pihak yang terlibat akan mendengarkan, beraksi dan berbicara sehingga tercipta hubungan pertukaran yang memuaskan (dalam Dharmmesta, 1990:56).
 Menurut Kotler (2005:249) bauran komunikasi pemasaran merupakan penggabungan dari lima model komunikasi dalam pemasaran, yaitu:
 1. Iklan: setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan promosi gagasan, barang atau jasa oleh sponsor yang telah ditentukan.
2. Promosi penjualan: berbagai jenis insentif jangka pendek untuk mendorong orang mencoba atau membeli produk atau jasa.
3. Hubungan masyarakat dan pemberitaan: berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.
4. Penjualan pribadi: interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan maksud untuk melakukan presentasi, menjawab pertanyaan, dan memperoleh pemesanan.
5. Pemasaran langsung dan interaktif: penggunaan surat, telepon, faksimili, email, atau internet untuk berkomunikasi secara langsung atau meminta tanggapan atau berdialog dengan pelanggan (Kotler 2005:249).
Pendekatan komunikasi pemasaran terintegrasi dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasikan metode yang paling cepat dan efektif dalam berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pelanggan, dan juga dengan para stakeholder. Dalam buku Advertising Management, Belch, George E. & Belch, dan Michael A. mendefinisikan komunikasi pemasaran terintegrasi sebagai konsep dari perencanaan komunikasi pemasaran yang memperkenalkan nilai tambah dari rencana komperhensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi. Komunikasi pemasaran terintegrasi (IMC) adalah sebuah konsep dimana suatu perusahaan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai saluran komunikasi untuk mengirim pesan yang jelas, konsisten, dan produknya (Kotler dan Amstrong, 2005). The American Association of Advertising Agency menjelaskan IMC sebagai konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah dari perencanaan komperhensif yang mengkaji pesan strategis masing-masing bentuk komunikasi.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi pemasaran terintegrasi menggabungkan seluruh unsur bauran pemasaran (promotion mix) yang secara konsisten menyampaikan citra merek kepada pelanggan untuk memaksimalkan pemasaran dan ekuitas merek. Konsep Komunikasi Pemasaran Terintegrasi (IMC) pertama kali dicetuskan oleh Levitt pada tahun 1962 lalu dikembangkan oleh Shultz pada tahun 1993. IMC merupakan proses strategi bisnis dalam mengelola hubungan dengan konsumen yang pada intinya untuk menggerakan brand value, dengan kata lain IMC berusaha menyamakan persepsi konsumen dengan produsen produk atau jasa. Komunikasi pemasaran terintegrasi (IMC) mengintegrasikan seluruh unsur bauran promosi yang ada dengan asumsi tidak ada satupun unsur yang terpisah untuk mencapai tujuan pemasaran yang efektif. Unsur bauran promosi yang terdapat pada model komunikasi terintegrasi dijabarkan untuk menciptakan ekuitas merek, komunikasi pemasaran terintegrasi akan berdampak positif pada persepsi positif pelanggan terhadap merek

Faktor Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Philip Kotler dan gary Amstrong (2010 :235) kemampuan konsumen didalam memutuskan dari setiap komponen pembelian yang sudah diseleksi dan dijadikan pilihan alternatif. Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pelanggan untuk melakukan pembelian yaitu :

1. Faktor pertama adalah pendirian orang lain. Sejauh mana pendirian orang lain mengurangi alternative yang disukai seseorang akan tergantung pada dua hal yaitu : intensitas pendirian negative orang lain terhadap alternative yang disukai oleh pelanggan dan motivasi pelanggan untuk menuruti keinginan orang lain.

 2. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak diantisipasi. Faktor ini dapat muncul dan mengubah niat pembelian, misalnya seorang calon pelanggan akan membeli suatu produk, tetapi karena pelayanan toko yang tidak memuaskan maka calon pembeli tersebut akan membatalkan pembelian. Jadi, preferensi dan bahkan niat pembelian bukanlah peramal perilaku yang benar-benar handal. Dan terdapat lima faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian , yaitu

 1. Motivasi (Motivation)

 Merupakan suatu dorongan yang terdapat dalam diri seseorang guna mencapai suatu tujuan tertentu. 2. Persepsi (Perception) Merupakan hasil dari pemaknaan atau pandangan seseorang terhadap suatu kejadian yang dihadapinya berdasarkan pada informasi dan pengalamannya terhadap kejadian tersebut.
3. Pembentukan Sikap (Attitude Formation) Merupakan penilaian yang terdapat dalam diri seseorang, yang mencerminkan sikap suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu hal.
4. Integrasi (Integration) Merupakan gabungan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon terhadap sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli suatu produk, sebaliknya perasaan tidak suka akan membuat seseorang untuk tidak membeli suatu produk

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong (2010:202) yang dialih bahasa oleh Benyamin Molan, “Karakteristik pembeli dan proses pengambilan keputusannya akan menimbulkan keputusan pembelian” sedangkan menurut Helga Drumond (2003:68), adalah mengidentifikasikan semua pilihan yang mungkin untuk memecahkan persoalan itu dan menilai pilihan-pilihan secara sistematis dan obyektif serta sasaran-sasarannya yang menentukan keuntungan serta kerugiannya masingmasing Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan. Tahap-tahap proses keputusan pembelian (Phillip Kotler dan Gary Amstrong 2010:204) : 23
1. Pengenalan Masalah (Problem Recognition) Proses pembeli dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan. Pembeli menyadari suatu perbedaan antara keadaan sebenarnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh rangsangan dari dalam diri pembeli atau dari luar. Para pemasar perlu mengenal berbagai hal yangdapat menggerakkan kebutuhan atau minat tertentu dalam konsumen. Para pemasar perlu meneliti konsumen untuk memperoleh jawaban, apakah kebutuhan yang dirasakan atau masalah yang timbul, apa yang menyebabkan semua itu muncul, dan bagaimana kebutuhan atau masalah itu menyebabkan seseorang mencari produk tertentu ini. 2. Pencarian Informasi Seorang konsumen yang mulai tertugah minatnya mungkin akan atau mungkin tidak mencari informasi yang lebih banyak lagi. Jika dorongan konsumen adalah kuat, dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia, konsumen akan membeli obyek itu. Jika tidak, kebutuhan konsumen itu tinggal mengendap dalam ingatannya. Konsumen mungkin tidak berusaha untuk memperoleh informasi lebih lanjut atau sangat aktif mencari informasi sehubungan dengan kebutuhan itu.
 3. Penilaian Alternatif Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin tentang banyak hal, selanjutnya konsumen harus melakukan penilaian tentang beberapa 24 alternatif yang ada dan menentukan langkah selanjutnya.Penilaian ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh sumber-sumber yang dimiliki oleh konsumen (waktu, uang dan informasi) maupun risiko keliru dalam penilaian.
4. Keputusan Membeli Setelah tahap-tahap awal tadi dilakukan, sekarang tiba saatnya bagi pembeli untuk menentukan pengambilan keputusan apakah jadi membeli atau tidak. Jika keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk, penjual, kualitas dan sebagainya. Untuk setiap pembelian ini, perusahaan atau pemasar perlu mengetahui jawaban atas pertanyaan yang menyangkut perilaku konsumen, misalnya: berapa banyak usaha yang harus dilakukan oleh konsumen dalam pemilihan penjualan (motif langganan/patronage motive), faktor-faktor apakah yang menentukan ksan terhadap sebuah toko, dan motif langganan yang sering menjadi latar belakang pembelian konsumen.
5. Perilaku setelah pembelian Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau tidak ada kepuasan. ada kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan setelah melakukan pembelian, karena mungkin harga barang dianggap terlalu mahal, atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan atau gambaran sebelumnya dan sebagainya. Untuk mencapai keharmonisan dan meminimumkan ketidakpuasan pembeli harus  mengurangi keinginan-keinginan lain sesudah pembelian, atau juga pembeli harus mengeluarkan waktu lebih banyak lagi untuk melakukan evaluasi sebelum membeli. Menurut Philip Kotler dan gary Amstrong (2010 :235) kemampuan konsumen didalam memutuskan dari setiap komponen pembelian yang sudah diseleksi dan dijadikan pilihan alternatif.

Citra merek (Brand Image) (skripsi dan tesis)

Brand image itu sendiri memiliki arti kepada suatu pencitraan sebuah produk dibenak konsumen secara massal. Setiap orang akan memiliki pencitraan yang sama terhadap sebuah merek. Menurut Philip Kotler dan Gary Amstrong(2010:326) Brand image yang efektif dapat mencerminkan tiga hal, yaitu :

1. Membangun karakter produk dan memberikan value proposition
2. Menyampaikan karakter produk secara unik sehingga berbeda dengan para pesaingnya 3. Member kekuatan emosional dari kekuatan rasional Menurut (Simamora, 2004)Komponen brand image terdiri atas 3 bagian, yaitu;

1. Citra pembuat (corporate image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa. Dalam penelitian ini citra pembuat meliputi: popularitas, kredibilitas serta jaringan perusahaan,
 2. Citra pemakai (user image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa. Meliputi : pemakai itu sendiri, gaya hidup/kepribadian, serta status sosialnya

3. Citra Produk (product image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk. Meliputi artibut produk tersebut, manfaat bagi konsumen, penggunanya, serta jaminan. Schiffman dan Kanuk (2006 : 135) menyebutkan faktor-faktor pembentuk citra merek adalah sebagai berikut;
1. Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu
 2. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk yang dikonsumsi
 3. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk barang yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen,
 4. Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam melayani konsumennya,
 5. Resiko, berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau untung dan rugi yang mungkin dialami oleh konsumen,
 6. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra jangka panjang
7. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan, kesepakatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu.
 Asosiasi Pemasaran Amerika (The American Marketing Association) mendefinisikan merek atau brand sebagai nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasinya, yang ditujukan agar dapat mengenali barang atau jasa dari satu atau sekelompok penjual dan membedakannya dari produk dan jasa para pesaing. Berdasarkan peraturan perundang-undangan merek dagang, penjual tersebut diberikan hak eksklusif untuk menggunakan nama mereknya selamanya. Merek berbeda dengan aset lainnya seperti hak paten atau hak cipta yang memiliki tanggal kadaluarsa. Menurut (Fandy Tjiptono, 2011:36) Perusahaan mempunyai empat pilihan ketika harus memilih strategi merek. Perusahaan dapat memperkenalkan perluasan lini (merek yang telah ada diubah ke dalam bentuk, ukuran, dan rasa yang baru untuk kategori produk yang sudah ada), perluasan merek (nama merek yang ada diperkenalkan ke kategori produk baru), aneka merek (nama merek baru diperkenalkan ke kategori produk yang sama), atau merek baru (merek baru untuk kategori produk yang baru)

Identitas Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Murphy dalam jurnal Impact of Brand Equity on Purchase Decision of Final Consumer Focusing on Products with Low Mental Conflict (2012), merek adalah sebuah fenomena yang kompleks. Tidak hanya produk yang nyata, tetapi adalah unik dari fitur-fiturnya Pelanggan mungkin berhubungan dengan merek didasarkan pada beberapa fitur dan persepsi mereka ( Veloutsou , 2006 Moutinho ) menurut pandangan Brodie et al ( 2009 ) dalam jurnal Impact of Brand Equity on Purchase Decision of Final Consumer Focusing on Products with Low Mental Conflict (2012); . ada hubungan tersendiri antara konsep dan kepribadian merek . Identitas merek sebagai kumpulan sifat manusia dikombinasikan dengan merek, identitas merek meliputi nama merek dan fitur visual ( seperti logo , warna , font , dll ) . Dalam identitas merek ditentukan pelanggan merasa senang terhadap suatu 17 merek . Dengan demikian identitas merek adalah alat untuk mengidentifikasi pelanggan dan menunjukkan perbedaan merek. Identitas merek menunjukkan asosiasi merek dan merupakan keinginan perusahaan untuk membentuk identitas mereka sendiri di benak pelanggan . Konsep identitas sangat penting untuk tiga alasan : merek harus tahan lama , dapat mengeluarkan gejala dan produk yang konsisten dan realistis.

Ekuitas Merek (skripsi dan tesis0

Menurut Kotler dan Armstrong (2010:302) ekuitas merek (brand equity) adalah pengaruh diferensial positif bahwa jika pelanggan mengenal nama merek, pelanggan akan merespons produk atau jasa. Salah satu ukuran ekuitas merek adalah sejauh mana pelanggan bersedia membayar lebih untuk merek tersebut. Dalam bukunya disebutkan juga mengenai hasil studi yang menemukan bahwa 72 persen konsumen bersedia membayar 20 persen lebih mahal untuk merek yang mereka pilih dibandingkan merek pesaing terdekat, 40 persen berkata mereka bersedia membayar 50 persen lebih mahal. 15 Merek yang yang kuat membentuk dasar bagi pembangunan hubungan pelanggan yang kuat dan profitable. Aset fundamental yang mendasari ekuitas merek adalah ekuitas pelanggan yaitu nilai hubungan pelanggan yang diciptakan oleh merek. Merek yang kuat adalah penting, tetapi yang benar-benar merepresentasikan kekuatannya adalah kumpulan pelanggan loyal.
Fokus pemasaran yang benar adalah membangun ekuitas pelanggan dengan manajemen merek yang bertindak sebagai sarana pemasaran utama. Ekuitas merek yang tinggi memberikan banyak keunggulan kompetitif bagi perusahaan untuk menghadapi persaingan. Dengan demikian, membangun merek adalah penting bagi setiap perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan dan tetap menjaga tingkat kepuasan konsumen Ekuitas merek (brand equity) adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa (kotler dan Keller, 2009).
 Dalam sebuah bisnis, ekuiti pemilik adalah nilai yang nilai yang dipegang pemilik di perusahaan. Nilai tersebut ditentukan oleh perbedaan antara apa yang perusahaan miliki berupa aset dan apa yang dimiliki berupa kewajiban. Semakin besar ratio aset terhadap kewajiban, semakin besar ekuiti pemilik. sama halnya dengan menghitung nilai perusahaan, menghitung nilai merek adalah mengurangi nilai kewajiban merek total dari nilai aset merek total (Brand Equity = Brand Assets – Brand Liabilities) Pembangunan ekuitas merek bergantung pada tiga faktor utama yaitu : pilihan awal untuk elemen atau identitas merek yang membentuk merek, cara merek diintegrasikan ke dalam dukungan program pemasaran dan asosiasi yang dipindahkan secara tidak langsung ke merek dengan menghubungkan merek 16 dengan entitas lainnya (misalnya perusahaan, negara asal, saluran distribusi atau merek lainnya). Selain itu konsep ekuitas merek harus dilengkapi dengan konsep ekuitas pelanggan yang merefleksikan jumlah dari nilai-nilai seumur hidup dari seluruh pelanggan untuk sebuah merek (Kotler dan Keller, 2009).
Menurut Jurnal Mohammad Doostar, Maryam Kazemi Iman Abadi, Reza Kazemi Iman Abadi”Impact of Brand Equity on Purchase Decision of Final Consumer Focusing on Products with Low Mental Conflict” (2012) Terdapat hubungan antara struktur ekuitas merek yang mencakup identitas merek, citra merek, kesadaran merek, presepsi kualitas dari produk untuk membangun keputusan pembelian yang dilakukan konsumen

Peran Yang di Mainkan UKM Dalam Manajemen Merek (skripsi dan tesis)

 Pada penelitian yang dilakukan Krake (2005 h.231) diperoleh fakta bahwa pada UKM, pengelolaan merek belum atau sedikit mendapatkan perhatian dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Pengeloaan merek belum menjadi prioritas utama dalam aktivitas bisnis. Meskipun pemilik atau direktur yang merupakan ujung tombak aktivitas UKM, mereka jarang melakukan pengelolaan merek pada produknya dan tidak menyadari bahwa pengelolaan merek merupakan sebuah konsep penting dalam kesuksesan usahanya. Karenanya konsep pengelolaan merek tidak ditanamkan secara mendalam dalam aktivitas bisnis UKM sehingga tak ada pekerja yang bersedia memberi perhatian yang cukup untuk kegiatan pengeloalan/ pengembangan merek. Realitas ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pemilik atau pengelola UKM untuk menjadikan pengelolaan merek sebagai prioritas dalam aktivitas bisnisnya sehingga keberlangsungan bisnisnya tetap terjaga.
 Krake (2005 h. 231) menemukan bahwa nama perusahaan sering tidak sama dengan nama merek produknya. Dalam banyak kasus, UKM hanya mengeluarkan satu atau dua merek. Itupun dilakukan sendiri-sendiri tanpa melakukan cobranding dan kerjasama dengan UKM lainnya. Kondisi tersebut mengakibatkan pengurangan kesempatan bagi merek-merek dari UKM dalam memperoleh perhatian konsumen (Krake 2005 h. 231). Peran enterpreneur (pemilik UKM) dalam hal ini sangat penting baik secara internal maupun eksternal untuk memprioritaskan pengelolaan merek dalam kegiatan bisnisnya. Pemilik UKM dapat menjajagi kemungkinan cobranding atau kerjasama promosi dengan merekmerek terkenal atau UKM lain untuk mengangkat merek yang dimilikinya tetapi harus memperhatikan anggaran yang dimiliki dan kesesuaiany

Tipe Bisnis UKM dan Strategi Mereknya (skripsi dan tesis)

1. Package Type

UKM menjual produk-produk yang cepat habis atau termasuk ”fast moving consumer good” (FMCG, seperti: makanan, produk pembersih, permen, kue dan lain-lain. Perilaku konsumen dalam pembelian FMCG ini adalah ini adalah selalu membandingkan product features satu yang lain sehingga peran merek menjadi penting. Konsumen akan mengkaitkan sebuah nama dengan kategori tertentu, sehingga dapat memungkinkan pencapain kedudukan top of mind. Bagaimana agar merek kita mudah diingat dan dikenal, strategi komunikasi menjadi penting, bentuknya bisa melalui iklan, promosi penjualan, publikasi, tenaga penjualan dan pemasaran langsung. Wong dan merrilees (2005 h.160) mengajukan beberapa saran untuk mendukung aktivitas pemasaran pada UKM yaitu:

a. Melakukan investasi merek untuk jangka penjang
b. Mengembangkan merek yang unik
c. Mengembangkan kesadaran kepada karyawan akan pentingnya merek perusahaan
d. Mengkomunikasikan merek secara konsisten dan jelas melalui semua aktivitas pemasarannya.
 2. Component type
 UKM menjual barang-barang yang dibutuhkan industri.
 Dalam hal ini peran merek kurang begitu penting, dibandingkan barangbarang konsumen. Harga barang-barang modal relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga barang konsumsi sehingga proses pembeliannya biasanya panjang dan melibatkan banyak orang.
3. Customer Interface Type
Usaha ini menghasilkan produk yang harus disertai pelayanan misalnya penjual mobil disertai layanan purna jual. Dalam mengelola bisnis ini, pemasaran internal memegang peranan penting, yaitu perusahaan melatih dan memotivasi karyawannya agar melayani pelanggan dengan baik

UKM dan Aspek Pemasarannya (skripsi dan tesis)

Telah banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai definisi UKM. Laporan dari The Bolton (Krake (2005 h.229) merupakan formulasi awal yang mengungkapkan secara jelas mengenai definisi usaha kecil. Menurut definisi dari Uni Eropa, UKM merupakan suatu usaha yang mempekerjakan tenaga kerja tidak lebih dari 250 orang. Uni eropa mengklasifikasikan UKM menjadi 3 (tiga) kategori usaha meliputi: perusahaan mikro dengan tenaga kerja sama atau kurang dari 10 orang, perusahaan kecil dengan tenaga kerja lebih dari 10 sampai 50 orang, perusahaan menengah dengan tenaga kerja lebih dari 50 sampai 250 orang (Krake 2005 h. 229). Hillberg (1999) dalam Kakisina (2002 h. 433) membedakan UKM dengan usaha mikro. Usaha mikro secara normal dimiliki oleh keluarga dan dikerjakan sendiri oleh pemilik, kebanyakan beroperasi pada sektor informal. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengklasifikasikan UKM menjadi 3 (tiga) kategori yaitu usaha mikro (rumah tangga) dengan pekerja : 1-4 pekerja, usaha kecil dengan pekerja antara 5 sampai 19 pekerja dan usaha menengah dengan pekerja antara 20 sampai 99 pekerja.
Disiplin kajian UKM didasarkan secara luas dalam kajian baik bidang manajemen, pemasaran dan kewirausahaan (Carson, 1995 h. 10). Ketika hal tersebut diperdebatkan bahwa UKM merupakan fitur/ usaha unik yang berbeda pada aspek pemasarannya dibandingkan dengan perusahaan besar (Carson and Cromie dalam Merrilees (2005 h.156), beberapa penulis mendorong penyatuan manajemen strategi dan pemasaran dalam konteks UKM (Carson, 1995 h. 11). Pemasaran dapat dipandang sebagai bagian integral dari aktivitas UKM. Bisnis alamiah UKM adalah secara fundamental dan secara tersurat sesuai dengan filosofi pemasaran. Konsekuensinya, hal tersebut memberikan peluang untuk menyatukan antara pemasaran dengan aktivitas UKM. Sebagai contoh, seperti yang diungkapkan Carson (1990, h. 96) menggunakan model yang berbeda dari perusahaan besara ketika mengevaluasi kinerja dari UKM. Perencanaan pemasaran, dengan beberapa adopsi dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi kemajuan UKM. (Carson, 1990 h. 97). Bauran pemasaran khusus untuk UKM diadopsi dari pemasaran tradisonal 4Ps yang dapat dijadikan arahan bagi pola pikir dan kegiatan bisnis UKM (Carson and Gilmore, dalam Krake 2005 h. 229).
Literatur mengenai UKM mendukung bahwa ide, konsep, teknik, pemasaran dapat bermanfaat jika dapat diterapkan secara baik dalam aktivitas UKM. Ada beberapa keunggulan dan aspek positif dari tipe bisnis UKM dalam melakukan kegiatan pemasarannya. Studi yang dilakukan Reijnders and Verstappen dalam Krake (2005 h. 229) menjelaskan bahwa fleksibilitas, kecepatan bereaksi dan kemampuan melihat peluang pasar merupakan keunggulan UKM dalam hal pemasaran. Shiram and Sapienza dalam Becherer, Halstead dan Hayries. 2003 h. 14), mengungkapkan bahwa UKM yang berorientasi pemasaran dapat memiliki keberlangsungan keunggulan kompetitif potensialnya ketika mereka mempunyai struktur organisasi yang sederhana, lebih fleksibel, adaptif, kecepatan bereaksi, dan berinovasi.
Studi yang dilakukan oleh Cohen dan Stretch dalam Krake (2005 h. 229) mengungkapkan bahwa sebagian besar masalah yang dihadapi oleh para pemilik UKM adalah masalah pemasaran. Hal tersebut menguatkan temuan yang dari Kraft dan Goodell dalam Krake (2005 h. 229), yang menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi oleh UKM 75 persen berhubungan dengan pemasaran. Aspek pemasaran dipandang sebagai kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh UKM, tetapi masalah-masalah tersebut tidak diketahui secara jelas penyebabnya. Masalah tersebut dapat ditelusuri melalui literatur bisnis yang terdokumentasi dengan baik mengenai karakteristik UKM. Carson (1995 h. 12) mencatat penyebab utamanya adalah produk dan harga. Studi yang dilakukan oleh Hill dalam Krake (2005 h. 229) mengenai faktor kunci pemasaran yang efektif mengkonfirmasikan bahwa orientasi penjualan yang bagus secara luas menentukan karakter pemasarannya. Sebagai hasilnya, promosi yang didorong untuk membangun merek menjadi lebih sulit untuk dilaksanakan oleh UKM karena beberapa keterbatasan pendanaan.

Manajemen Merek (skripsi dan tesis)

Ada beberapa definisi mengenai manajemen merek. Keller (1998) dan Kapferer (1995) dalam Krake (2005 h. 229) mempunyai beberapa kesamaan dan memberikan penjelasan yang lebih mudah mengenai menajemen merek: Perusahaan yang melekatkan manajemen merek di dalam pengenalan organisasinya yang implementasi dari manajemen dan strategi mereknya tidak hanya sekali diujikan tetapi dilakukan secara berulang tiap hari dalam setiap aspek kebijakan pemasaran. Sedangkan para akademisi telah dan sedang mencoba untuk menguraikan efektivitas dan efisiensi sistem manajemen merek, yang memasukkan topik seperti persepsi merek, loyalitas merek, pengetahuan merek, diferensiasi merek, ekuitas, pengetahuan merek, ekuitas merek, kesadaran merek, proliferasi merek dan citra merek (Keller, 2003 h. 210). Perhatian besar dari berbagai perspektif mengenai merek adalah membangun suatu merek yang berbeda dari kompetisi untuk memperoleh penghargaan yang tinggi dan menimbulkan pertalian kuat dengan target konsumen (Aaker, 1996 h.98).
 De Chernatony (1998 h.101) dari perspektif manajemen merek dalam sudut pandang yang holistik, mengajukan ide-ide yang praktis untuk menciptakan merek yang terkenal. Sepaham dengan argumen De Chernatony (1998), Arnold (1992) dalam Wong dan Merrilees (2005 h. 156) memberikan andil mengenai pandangan yang holistik mengenai manajemen merek, yaitu dengan menyatakan bahwa manajemen merek penting guna mengatur keseluruan merek, bukan untuk mengatur elemen/ bagian dari bauran pemasaran. Manajemen merek merupakan proses pelaksanaan keputusan-keputusan di bidang pemasaran dengan merefleksikan prinsip-prinsip merek (nilai, arti, ide). Proses itu dimulai dari: menetapkan prinsip-prinsip merek, menyebarkan dan mencatatnya kemudian menyebarluaskan ke dalam organisasi dan menentukan struktur manajemen (siapa orang yang berwenang). Langkah-langkah tersebut dinamakan sebagai ”brand driven marketing management”, namun masalahnya adalah bagaimana menyatukan ide merek ini dengan masalahmasalah di luar pemasaran dan mengarahkan kegiatan bisnis sambil mencocokkan dengan prinsip-prinsip merek (Aaker, 1991 h.102).
 Hal ini penting, misalnya bagaimana menghubungkan tipe bisnis yang sudah ditentukan sebelumnya dengan keputusan merek ini. Inilah yang disebut ”externality” manajemen merek, yaitu jenis kegiatan yang mempunyai pengaruh dengan kegiatan lain, namun tidak mempunyai hubungan langsung ke dalam (Aaker, 1991 h.103). Dua ”externality” merek tersebut meliputi strategi perusahaan (corporate strategy) dan tipe bisnis (business tipe) (Aaker, 1991 h.104). Tugas yang diemban oleh manajemen merek, maupun membuat strategi perusahaan atau memilih tipe bisnis adalah berbeda satu sama lain. Walaupun menyusun strategi dan tipe bisnis merupakan tugas top management dan berdiri sendiri (relatively independent) dari keputusankeputusan merek, namun hasilnya akan mempengaruhi strategi merek

Pentingnya Merek (skripsi dan tesis)

Merek adalah kelengkapan suatu produk. Jadi produk mesti punya merek. Kalau tidak punya, maka konsumen sulit mencari kembali produk tersebut. American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai berikut: merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual untuk membedakannya dari produk pesaing (Kottler and Keller, 2006 h.258) . Dewasa ini, hampir semua produk diberi merek. Bahkan produk-produk yang sebelumnya tidak memerlukan merek misalnya: garam, apel, tepung terigu. Kenapa perlu merek? Selain memiliki nilai jika mereknya kuat (brand equity), merek juga bermanfaat bagi pembeli dan penjual (Kotler, 1998 h.198).
 Manfaat merek bagi pembeli:
1. Menceritakan sesuatu kepada pembeli tentang mutu produk
2. Membantu menarik perhatian konsumen terhadap produk-produk baru yang mungkin bermanfaat bagi merek.
3. Manfaat bagi penjual:
1. Memudahkan penjual mengolah pesanan dan menelusuri masalah-masalah yang timbul
 2. Merek dagang penjual memberikan perlindungan hukum atas keistimewaan produk yang unik yang tanpa perlindungan hukum akan mudah ditiru oleh pesaing.
3. Memungkinkan penjual menarik sekelompok pelanggan yang setia dan menguntungkan.
 4. Membantu penjual melakukan segmentasi pasar.

Teori perkembangan konsep diri (skripsi dan tesis)

Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Kesadaran dirinya baru muncul pada tahun kedua kehidupannya. Pada usia 18 bulan anak mulai mengenai wajah mereka sendiri dan menunjukkan gambar mereka sendiri ketika disebutkan namanya (Damon & Hart dalam Mussen dkk., 1979). Awal kehidupannya, bayi belum dapat membedakan dirinya. Umur 3-6 tahun anak mulai merasa ada perbedaan diri dengan orang lain, tetapi gagal membedakan antara perspektif sosial (pemikiran, perasaan) orang lain dan perspektif diri sendiri (Santrock, 1999). Piaget mengindentifikasikan bahwa pada awalnya bayi dalam keadaan undifferentiated absolute dimana tidak ada batas antara pengertiannya tentang tubuh dan objek-objek lainnya, diantara realitas dan fantasi; tetapi secara betahap dia akan membuat perbedaanperbedaan yang jelas antara apa yang dirinya dan apa yang bukan dirinya (Burns, 1979)

Skala-skala Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Konsep diri melalui sejarah perkembangan yang cukup panjang, yang meliputi: 1) model terdahulu yang berisikan riset tentang konsep diri sebagai sesuatu yang terdiri dari banyak segi (multifaceted) (Marsh dkk., 1984); 2) Model Shalvelson yang berisikan tentang model konsep diri yang bersifat terorganisasi atau terstruktur, terdiri dari banyak segi (multi-faceted), bersifat hirarkis (dalam hirarki terdapat puncak yang stabil, namun untuk hirarki di bawahnya menjadi kurang stabil sebagai konsekuensi adanya konsep diri pada suatu situasi yang spesifik), bersifat evaluatif maupun deskriptif dan berbeda dari konstruk yang lain (Byrne & Darlene, 1996); 3) model Shalvelson dan Marsh (Marsh dkk., 1983).

Bagi Shalvelson (Marsh dkk., 1984), konsep diri ini sangat multi dimensi dan bergerak secara hirarki. Dimulai dari konsep diri akademik (matematika dan membaca) dan kemudian ke konsep diri secara umum. Konsep diri ini kurang multifaced seiring dengan dengan perkembangan individu, bayi menjadi dewasa dan tergantung juga dengan sistem lain yang individu terima dalam kelompok.

Aspek Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Konsep diri terbagi atas beberapa bagian. Atwater dalam Puspasari (2007), mengolongkannya dalam lima bagian, setelah melakukan penelitian panjang tentang konsep diri, yaitu pola pandang diri subjektif (subjective self), bentuk dan bayangan tubuh (self image), perbandingan ideal (the ideal self), pembentukan diri secara sosial (the social self) dan skala-skala konsep diri:
 a) Pola pandangan diri subjektif (Subjective self)
Cara pengenalan diri yang terbentuk dari bagaimana individu melihat dirinya sendiri. Biasanya secara umum diri yang dipikirkan itu terdiri dari gambaran-gambaran diri (self image) baik itu potongan visual (seperti bentuk wajah dan tubuh yang diamati ketika bercermin), persepsi diri (umumnya didapati melalui bentuk komunikasi terhadap diri sendiri ataupun pengalaman bersosialisasi dengan orang lain). Dengan pemahaman konsep diri, seseorang akan membandingkan dirinya dengan orang lain dalam berbagai hal baik itu bersifat nonfisik. Salah satu proses yang berkaitan dengan perbandingan nonfisik adalah proses perbandingan perspektif. Perbandingan ini dilakukan seseorang untuk melihat karakteristik dirinya dalam mengembangkan diri, seperti tingkat kemampuan komunikasi, tingkat kemampuan untuk menarik perhatian lawan jenis atau lainya. Tentunya mekanisme pengenalan diri nyata dan perseptif tidak dapat dipisahkan. Proses pengenalan diri yang bersifat nyata mempengaruhi persepsi diri kita. Misalnya seseorang yang melihat bayangan dirinya pada cermin secara nyata kemudian secara langsung akan mempengaruhi persepsi dirinya
. b) Bentuk dan Bayangan Tubuh (Body Image)
Berbeda dengan mekanisme yang sebelumnya, bahwa bayangan tubuh dicermin mempengaruhi persepsinya, sebaliknya yang kedua ini adalah kondisi emosional dapat memberi pengaruh terhadap bagaimana seseorang mengenali bentuk fisiknya. Misalnya pengalaman traumatis yang beresiko besar seperti pelecehan seksual atau kekerasan fisik maupun psikologis lainnya. Korban pada umumnya akan memiliki konsep diri yang negatif pada tubuhnya.
c) Perbandingan Ideal
Salah satu proses pengenalan diri adalah dengan membandingkan diri dengan sosok ideal yang diharapkan. Proses pembentukan diri ideal ini melalui proses-proses seperti adanya pembentukan harapan diri seperti ingin menjadi cantik atau lebih pandai, persyaratan moral, seperti kejujuran, ketaatan beribadah dan tingkah laku terhadap orangtua. Misalnya anak yang tinggal pada lingkungan yang sangat religious, kemungkinan besar akan memiliki konsep diri yang sangat tinggi pada kejujuran. Menurut Keliat dalam Salbiah (2003), agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri, idela diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar menjadi pendorong dan masih dapat dicapai.
 d) Pembentukan Diri Secara Sosial (The Social Self)
Proses ini merupakan proses melihat diri seperti yang dirasakan orang lain. Seseorang mencoba untuk memahami persepsi orang lain terhadap dirinya. Pembentukan konsep diri ini melibatkan penilaian sekelompok terhadap suatu individu. Penilaian sekelompok orang inilah yang merupakan proses labelisasi terhadap karakteristik konsep diri seseorang. Proses labeling ini, misalnya memanggil anak dengan nama si gendut, bandel, tukang berkelahi. Pemberian label ini dilakukan berdasarkan persepsi orang terhadap apa yang kelihatan, baik fisik maupun non fisik. Keliat dalam Salbiah (2003) memasukan peran dan identitas dalam pembentukan diri secara sosial.

Dimensi Konsep Diri (skripsi dan tesis)

.Pengertianpengertian yang kemudian dikembangkan oleh para ahli seperti yang dijelaskan diatas mengenai konsep diri, dapat terlihat bahwa konsep diri sebenarnya mencakup beberapa dimensi didalamnya. Ada beberapa dimensi yang terkandung dalam konsep diri, yaitu pengetahuan seseorang tentang dirinya, pengharapan mengenai dirinya (descriptive) dan penilaian (evaluative) tentang diri sendiri (Calhoun & Acocella, 1990). Berikut ketiga dimensi ini akan dibahas rinci :
 a) Dimensi pengetahuan
Dimensi ini adalah tentang apa yang seseorang ketahui mengenai dirinya sendiri seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, suku, pekerjaan dan lainnya. Faktor-faktor tersebut menempatkan individu kepada suatu kelompok sosial seperti kelompok umur, suku bangsa, dan sebagainya. Akhirnya individu tersebut mengidentifikasikan dengan kelompok sosial tersebut yang menambah daftar julukan kita, seperti kelompok menengah atas, kelompok wanita karir dan lainnya. Julukan-julukan ini berganti setiap hari dan setiap individu tersebut menerima julukan baru, ada informasi baru yang diterima yang individu tersebut masukan ke dalam potret diri mentalnya.
b) Dimensi Harapan
Rogers (Calhoun dan Acocella 1990) mengemukakan bahwa pada saat individu memiliki satu set pandangan tentang siapa kita, kita juga mempunyai satu set pandangan lain yaitu tentang kemungkinan kita menjadi apa dimasa mendatang. Artinya individu tersebut memiliki pengharapan bagi dirinya sendiri dan pengharapan ini merupakan diri-ideal. Diri ideal ini berbeda setiap individu. Apapun harapan setiap individu, semuanya membangkitkan kekuatan yang mendorong menuju masa depan dan memandu kegiatan individu dalam perjalanan hidupnya.
c) Dimensi Penilaian
 Ini merupakan penilaian terhadap diri sendiri (Marsh dkk., 1983). Setiap individu berkedudukan sebagai penilaian tentangnya diri sendiri setiap hari, mengukur apakah kita bertentangan dengan
 a) saya-dapat-menjadi-apa, yaitu pengharapan individu bagi dirinya sendiri;
 b) saya-seharusnya-menjadi-apa. Hasil pengukuran tersebut disebut rasa harga diri. Rogers menilai bahwa semakin besar ketidaksesuaian antara gambaran kita mengenai siapa kita dan gambaran tentang seharusnya kita menjadi apa atau dapat menjadi apa, akan semakin rendah rasa harga diri kita

Faktor Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Sebagaimana faktor psikologis lainya, Ghufron, & Risnawati (2011) kontrol diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: a. Faktor Internal. Faktor internal yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia dan kematangan. Semakin bertambah usia seseorang, maka semakin baik kemampuan mengontrol dirinya, individu yang matang secara psikologis juga akan mampu mengontrol perilakunya karena telah mampu mempertimbangkan mana hal yang baik dan yang tidak baik bagi dirinya. b. Faktor Eksternal. Faktor eksternal ini di antaranya adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga terutama orangtua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Hasil penelitian Nasichah (2000) menunjukan, bahwa persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orangtua yang semakin demokratis cenderung diikuti tingginya kemampuan mengontrol dirinya. Oleh sebab itu, bila orangtua menerapkan sikap disiplin kepada anaknya secara intens sejak dini, dan orang tua tetap konsisten terhadap semua konsekuensi yang dilakukan anak bila menyimpang dari  yang sudah ditetapkan, maka sikap ke konsistensian ini akan diinternalisasi anak, dan kemudian akan menjadi kontrol diri baginya.

Aspek Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Averill (dalam Ghufron, & Risnawati, 2011) menyebutkan, terdapat tiga aspek kontrol diri, yaitu:

 a. Kontrol perilaku (behavior control).
Kontrol perilaku merupakan kesiapan tersedianya suatu respons yang dapat secara langsung memengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaan (regulated administrastion) dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability). Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan. Apakah dirinya sendiri atau aturan perilaku dengan menggunkan kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu mencegah atau menjahui stimulus, menempatkan tenggang waktu diantara rangkaian stimulus sebelum waktunya berakhir, dan membatasi intensitasnya.

 b. Kontrol Kognitif (cognitif control).
Kontrol kognitif merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak dinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangkan kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri atas dua konponen, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki oleh individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memerhatikan segi-segi positif secara subjektif.
 c. Mengontrol keputusan (decesional control).
Mengontrol keputusan merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada suatu yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi, baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

Aspek Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Dalam rangka mempermudah prosedur dalam pengukuran, Stany (dalam Ma’ruf, 2006) membuat 4 prespektif utama dari konsep diri, yaitu: a. Konsep diri dasar atau persepsi individu mengenai kemampuan-kemampuan dan peranan-peranan yang dimiliki pada dunia luar, hal ini menyangkut konsep tentang pribadi yang dipikirkan sebagaimana apa adanya. b. Diri sosial. Diri yang diyakininya individu sebagaimana orang lain melihat dan mengevaluasinya dengan cara mencari orang yang dapat dijadikan sebagai figur. c. Diri yang fana. Persepsi diri yang dipegang oleh individu pada saat sekarang dan Dipengaruhi mood-nya pada saat itu. d. Diri yang ideal. Merupakan karakteristik dan sifat kepribadian yang ideal ada pada individu tersebut.

 Isi konsep diri menurut pandangan Berzonsky (dalam Ma’ruf, 2006) terdiri atas: a. Aspek fisik; meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya. b. Aspek sosial; meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan oleh individu dan sejauhmana penilaian terhadap kerjanya. c. Aspek moral; meliputi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang memberi arti dan arah bagi kehidupan seseorang. d. Aspek psikis; meliputi pikiran, perasaan, dan sikap individu terhadap dirinya sendiri.

Menurut Steiner (dalam Burns, 1993) ada 3 aspek tentang konsep diri, antara lain: a. Diri yang dikognisikan merupakan diri yang dasar; konsep diri yang dipikirkan sebagai mana apa adanya. b. Diri yang lain merupakan diri yang berasal dari penilaian orang lain yang dihormati, penilaian-penilaian dari orang lain kepada individu. c. Diri yang ideal merupakan seperangkat interpretasi tentang diri individu mengenai jenis pribadi yang diinginkan dan diharapkan oleh individu yang bersangkutan

Faktor Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Pudjijogyanti (1995) ada beberapa factor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu: a. Citra fisik: citra fisik seseorang akan terbentuk melalui refleksi dan tanggapan dari orang lain mengenai keadaan fisiknya. b. Jenis Kelamin: merupakan penentu untuk menetapkan seseorang digolongkan sebagai laki-laki atau perempuan berdasarkan fakta-fakta biologisnya. c. Perilaku Orang Lain: lingkungan pertama yang akan menanggapi perilaku seseorang adalah lingkungan keluarga, sehingga dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan dasar dari pembentukan konsep diri seseorang. d. Faktor Sosial: konsep diri terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang-orang disekitarnya. Argyle (Handry & Heyes, 1989) berpendapat bahwa terbentuknya konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: a. Reaksi dari orang lain. Caranya dengan mengamati pencerminan perilaku seseorang terhadap respon orang lain, dapat dipengaruhi dari diri orang itu sendiri. b. Perbandingan dengan orang lain. Konsep diri seseorang sangat tergantung pada cara orang tersebut membandingkan dirinya dengan orang lain. c. Peranan seseorang. Setiap orang pasti memiliki citra dirinya masing-masing, sebab dari situlah orang tersebut memainkan peranannya. d. Identifikasi terhadap orang lain. Pada dasarnya seseorang selalu ingin memiliki beberapa sifat dari orang yang dikaguminya

Faktor Perilaku Konsumtif (skripsi dan tesis)

Stanton (dalam Mangkunegara, 2002) menyatakan terdapat dua faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu:

 a. Kekuatan Sosial Budaya
 1) Faktor budaya.
Budaya dapat didefinisikan sebagai hasil kreativitas manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupanya sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan suatu hal yang kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, kebiasaan, dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat.
2) Faktor Kelas Sosial.
 Kelas sosial didefinisikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari sejumlah orang yang mempunyai kedudukan yang seimbang dalam masyarakat
 3) Faktor Kelompok Anutan (small reference group).
elompok anutan didefinisikan sebagai suatu kelompok yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen. lebih lanjut perilaku konsumen dipengaruhi oleh kelompok anutan yang mereka menjadi anggotanya atau yang mereka cita-citakan. Pengaruh kelompok anutan terhadap perilaku konsumen antara lain dalam menentukan produk dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompok. Adanya pengaruh kelompok sebaya (peer group) dan kelompok acuan (reference group). Individu yang banyak berinteraksi pada orang-orang yang memiliki gaya hidup konsumtif, maka individu tersebut cenderung memiliki perilaku konsumtif pula.
4) Faktor Keluarga. Keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu unit masyarakat yang terkecil yang perilakunya sangat mempengaruhi dan menentukan dalam pengambilan keputusan membeli. Lebih lanjut keluarga merupakan, lingkungan utama dan pertama bagi anak, dengan demikian unit yang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan, termasuk yang berkaitan dengan sikap dan perilaku konsumsi. Kebiasaan dalam keluarga dalam menggunakan suatu barang dan jasa akan menjadi model bagi anak
. b. Kekuatan Faktor Psikologis
1) Faktor pengalaman belajar. Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman sebelumnya. Perilaku konsumen dapat dipelajari karena sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya.
 2) Faktor Kepribadian. Kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk dari sifat-sifat yang ada pada diri individu yang sangat menentukan perilakunya. Kepribadian konsumen sangat ditentukan oleh faktor internal dirinya (motif, IQ, emosi, cara berfikir, persesi) dan faktor eksternal dirinya (lingkungan fisik, keluarga, masyarakat, sekolah, lingkungan alami).
 3) Faktor Sikap dan Keyakinan.
Sikap dapat didefinisikan sebagai suatu penilaian kognitif seseorang terhadap suka atau tidak suka, perasaan emosional yang tindakanya cenderung ke arah berbagai objek atau ide. Sikap dapat pula diartikan sebagai kesiapan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau aktivitas. Sikap sangat mempengaruhi keyakinan, begitu pula sebaliknya, keyakinan menentukan sikap. Dalam hubunganya dengan perilaku konsumen, sikap dan keyakinan sangat berpengaruh dalam menentukan suatu produk, merek, dan pelayanan.

Perilaku Konsumtif (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumtif adalah kecenderungan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha barang-barang yang sebenarnya yang tidak didasarkan pada pertimbangan rasional. Aspek-aspek perilaku konsumtif menurut Lina, dan Rosyid (dalam Fardhani & Izzati, 2013)

Karakteristik siswa sekolah dasar (skripsi dan tesis)

Karakteristik siswa, menurut Hamzah B Uno (2011: 20), adalah “aspekaspek atau kualitas perseorangan siswa seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang dimiliki”. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal fisik maupun psikisnya. Dalam perkembangannya, siswa sekolah dasar mempunyai karakteristik sebagai berikut. Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase:

1. Masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar (SD) yang berlangsung antara usia 6/7 tahun-9/10 tahun biasanya duduk di kelas 1,2 dan 3. Ciri-ciri anak masa kelas-kelas rendah SD adalah sebagai berikut. a. Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah.
b. Suka memuji diri sendiri. c. Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggap tidak penting.
 d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya. e. Suka meremehkan orang lain.
 2. Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar (SD) yang berlangsung antara usia 9/10 tahun-12/13 tahun, biasanya duduk di kelas 4,5 dan 6. Ciri-ciri anak masa kelas-kelas tinggi SD adalah sebagai berikut. a. Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari.
b. Ingin tahu, ingin belajar dan realistis. c. Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus. d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
e. Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama dan membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya (Rita Eka Izzaty dkk, 2008:116-117).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik siswa kelas IV SD se-gugus2 Pengasihyang rata-rata berusia antara 9-10 tahun memiliki karakteristik diantaranya yaitu mempunyai perhatian pada kehidupan praktis sehari-hari, mempunyai minat pada mata pelajaran tertentu, selalu ingin tahu, ingin belajar, memandang nilai sebagai ukuran yang tepat 39 mengenaiprestasi belajarnya di sekolah dan suka membentuk kelompok sebaya dan membuat sendiri aturan dalam kelompoknya

Pengaruh Konsep Diri terhadap Minat Belajar Matematika (skripsi dan tesis)

Frymeir (dalam Farida Rahim, 2008: 28-29) berpendapat bahwa konsep diri berkaitan dengan berguna atau tidaknya bagi diri siswa. Siswa akan berminat dengan Matematika jika Matematika dipandang berguna dan membantu meningkakan dirinya. Guru dapat melakukannya dengan cara menghubungkan bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu dan menjelaskan kegunaan Matematika di masa yang akan datang. 37 Ketika siswa mengalami kegagalan yang berulang-ulang, kemungkinan siswa akan merasa rendah diri dan kurang termotivasi dalam mengikuti pelajaran Matematika (Slameto, 2003:183). Jika siswa merasa masa lalunya gagal dalam Matematika, ia akan menilai dirinya kurang pula. Hal tersebut tentu akan membuat siswa merasa kurang senang terhadap pelajaran Matematika yang mengakibatkan kurang minat terhadap pelajaran Matematika. Konsep diri merupakan penilaian terhadap diri sendiri sebagai hasil interaksi dengan orang lain. Ketika anak mendapat dukungan dari orang tua untuk mengembangkan minat Matematikanya, anak akan menilai dirinya mampu dalam memahami materi dan mengerjakan soal Matematika. Dorongan dan pemenuhan kebutuhan anak diperlukan agar anak merasa bahwa orang lain memperdulikan dia.
Oleh karena itu, siswa harus memiliki konsep diri yang positif agar mampu mengembangkan minat terhadap pelajaran tertentu seperti minat terhadap pelajaran Matematika. Demikian pula dalam hal minat belajar Matematika dalam Standar kompetensi 2 yaitu memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah meliputi kompetensi dasar 2.3 menentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kompetensi 2.4 menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK dan FPB. Siswa kelas IV yang memiliki konsep diri yang positif akan mampu mengembangkan minat terhadap materi KPK dan FPB tersebut dengan baik

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

Matematika dianggap ilmu yang membutuhkan kecerdasan yang tinggi, sedangkan siswa yang memiliki kecerdasan yang sedang merasa kurang termotivasi dalam belajar Matematika. Padahal kalau diajarkan secara benar 35 yaitu menggunakan hal-hal yang konkret bagi siswa sekolah dasar, anggapan itu mungkin akan hilang. Hal ini seperti yang dikatakan bahwa “siswa sekolah dasar yang umumnya berusia 7-12 tahun di mana menurut Jean Piaget termasuk dalam tahap operasional konkret” (dalam Muchtar A Karim dkk, 1996: 20-21). Pada usia tersebut anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkret. Artinya siswa akan mengerti materi Matematika yang disampaikan guru apabila menggunakan benda-benda konkret. Untuk itu, dalam proses pembelajaran guru harus bertindak efektif untuk meningkatkan motivasi belajar Matematika pada siswa dengan cara sebagai berikut.
a. “Pembelajaran Matematika di sekolah dasar akan lebih menarik perhatian siswa jika proses pembelajarannya sesuai dengan konteks siswa”. (Masykur, 2006: 58). Konteks siswa yang dimaksud adalah melalui pengalaman yang terjadi di lingkungan siswa seperti latar belakang fisik, keluarga, keadaan sosial, keadaan ekonomi dan budaya.
 b. “Guru membantu dan mendorong siswa untuk mengembangkan pemikiran atau penalaran siswa sendiri” (Masykur, 2006: 59). Kemudian menghubungkannya dengan pemikiran orang lain dan disimpulkan sesuai dengan konteks pelajaran. Dan terakhir guru meminta siswa untuk merealisasikan gagasan siswa.
c. “Memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman materi maupun kesulitan mengerjakan soal” (Masykur, 2006: 36 61). Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk kecil, pemberian model penyelesaian tugas, pemberitahuan kekeliruan, dan menjaga emosional siswa agar tidak frustasi.
d. “Menumbuhkan minat siswa dalam belajar Matematika” (Masykur, 2006: 70). Minat akan membantu siswa untuk menyenangi materi pelajaran Matematika. Tanpa minat, siswa akan malas untuk belajar. Menumbuhkan minat siswa akan terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode, ruang belajar, dan suasana belajar yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Penyampaian materi Matematika yang benar, diharapkan agar Matematika lebih menyenangkan, mengasyikkan, dinamis, dan humanis bagi siswa. Dengan tujuan agar siswa mampu memahami konsep Matematika, menggunakan penalaran dalam Matematika, memecahkan masalah dalam Matematika, mampu mengkomunikasikan gagasan Matematika, dan memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari

Tujuan Matematika Sekolah Dasar (skripsi dan tesis)

 Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 dijelaskan bahwa tujuan pelajaran Matematika di sekolah dasar agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut (Masykur, 2006: 52-53). a) Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. b) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika. c) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model Matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. d) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. e) Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari Matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dari pernyataan tersebut disimpulkan bahwa pelajaran Matematika perlu diberikan kepada siswa sekolah dasar dengan tujuan agar siswa mampu memahami konsep Matematika, menggunakan penalaran dalam Matematika, memecahkan masalah dalam Matematika, mampu mengkomunikasikan gagasan Matematika, dan memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Matematika (skripsi dan tesis)

Menurut Depdiknas (2003: 1) “Matematika berasal dari bahasa Latin “manthanein” atau “mathema” yang artinya belajar atau yang dipelajari”. Sedangkan Masykur dkk (2007: 42) menyatakan bahwa “Matematika menurut bahasa Sansekerta “medha” atau “widya” yang berarti kepandaian”. Dengan mempelajari Matematika seseorang akan mengatur jalan pikirannya dan menambah kepandaiannya. Matematika sama halnya dengan ilmu logika. “Kedudukan Matematika dalam ilmu pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar” (Masykur dkk 2007: 42). Sehingga untuk menguasai sains, teknologi dan ilmu lainnya, langkah awal yang dikuasai adalah menguasai Matematika secara benar artinya dapat memahami makna-makna yang terkandung dalam simbol dan lambang dalam Matematika. “Matematika juga merupakan alat komunikasi yang jelas, tepat dan singkat (Masykur dkk, 2007: 49). Dalam Matematika terdapat rumus yang jika ditulis  dalam bahasa verbal membutuhkan jumlah kalimat yang banyak. Hal tersebut kemungkinan akan menyebabkan kesalahan intrepretasi ataupun kesalahan informasi. Misalnya a=b:c, b≠0 apabila diverbalkan akan membutuhkan deretan kata yang jumlahnya banyak yaitu a sama dengan b dibagi c dengan syarat b tidak sama dengan nol. Apabila diverbalkan, kemungkinan saat membaca pernyataan tersebut akan menimbulkan salah tafsir dalam penjedaan misalnya mengartikan bahwa a sama dengan b, hasil tersebut kemudian dibagi c. Padahal yang diharapkan adalah b dibagi c sama dengan a.
 Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ciri bahasa Matematika adalah jelas, tepat, dan singkat. “Matematika merupakan ilmu penalaran deduktif yang menyatakan bahwa kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya” (Depdiknas, 2003: 2). Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman nyata. Misalnya mengamati fakta yang ada, melihat gejala, dan dilanjutkan dengan memperkirakan hasil baru yang diharapkan, kemudian dibuktikan secara deduktif. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Matematika merupakan ilmu logika yang menuntun seseorang yang belajar Matematika untuk berfikir secara logis. Matematika digunakan sebagai dasar untuk menguasai sains dan teknologi.

Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Minat (skripsi dan tesis)

.

Menurut Saiful Sagala (2010:152) “pembelajaran perlu memperhatikan minat dan kebutuhan siswa, sebab keduanya akan menimbulkan perhatian”. Sesuatu yang menarik minat dan dibutuhkan siswa akan menarik perhatian dan mereka akan bersungguh-sungguh dalam belajar. Frymeir (dalam Farida 28 Rahim, 2008: 28-29) mengidentifikasi enam faktor yang mempengaruhi perkembangan minat anak, yaitu sebagai berikut.
a. Pengalaman sebelumnya. Siswa akan mengembangkan minatnya terhadap sesuatu jika sebelumnya ia pernah mengalaminya.
b. Konsep tentang diri Konsep diri berkaitan dengan berguna atau tidaknya bagi diri siswa. Siswa akan menerima informasi jika dipandang berguna dan membantu meningkatkan dirinya.
c. Nilai-nilai Minat siswa akan timbul jika suatu mata pelajaran disajikan oleh orang atau guru yang mempunyai wibawa
. d. Mata pelajaran yang bermakna Mata pelajaran yang bermakna dapat diartikan bahwa materi yang disajikan dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Materi yang disusun berdasarkan pengalaman siswa sehari-hari akan lebih mudah diterima oleh siswa dan akan menarik minat siswa.
e. Tingkat keterlibatan tekanan Minat terhadap mata pelajaran tertentu akan lebih tinggi jika siswa mempunyai beberapa tingkat pilihan dan sedikit tekanan.
 f. Kekompleksitasan materi pelajaran Siswa yang lebih mampu secara intel
 Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar yaitu pengalaman sebelumnya, konsep diri, nilainilai, mata pelajaran yang bermakna, tingkat keterlibatan tekanan, dan kekompleksitasan materi pelajaran

Indikator Minat Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (2006: 115) ciri-ciri minat anak adalah sebagai berikut.
a. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat disemua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental. Anak-anak yang tumbuh lebih lambat dari teman sebayanya akan mengalami masalah saat menghadapi masalah sosialnya. Hal tersebut dikarenakan minat mereka masih minat anak sedangkan minat teman sebayanya sudah mencapai minat remaja. Dan sebaliknya, anak-anak yang berkembang lebih cepat juga akan mengalami masalah sosialnya karena  minat teman sebayanya adalah minat anak sedangkan minatnya sudah minat remaja.
b. Minat bergantung pada kesiapan belajar Anak-anak tidak dapat mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan mental. Misalnya anak belum mempunyai minat terhadap sepak bola sebelum memiliki kekuatan dan koordinasi otot yang diperlukan untuk bermain sepak bola.
c. Minat bergantung pada kesempatan belajar Lingkungan untuk belajar bagi siswa diawali dari rumah, maka minat anak terbatas pada rumah. Dengan bertambah luas lingkungan sosialnya, maka bertambah luaslah minat mereka.
d. Perkembangan minat mungkin terbatas Ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial akan membatasi minat anak. Misalnya anak yang memiliki kecatatan fisik mungkin akan kurang berminat pada bidang olah raga.
e. Minat dipengaruhi pengaruh budaya Anak-anak mendapat kesempatan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya untuk belajar apa saja yang dianggap oleh kelompok budayanya merupakan minat yang sesuai. Sebaliknya, anak-anak tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang tidak sesuai dengan budayanya.
f. Minat berbobot emosional Bobot emosional yang kurang menyenangkan akan melemahkan minat dan bobot emosional yang menyenangkan akan memperkuat minat.
 g. Minat itu egosentris Sepanjang masa perkembangan anak-anak, minat it egosentris. Misalnya anak laki-laki yang mempunyai minat pada Matematika karena berfikir bahwa Matematika merupakan langkah penting menuju kedudukan yang menguntungkan.
 Menurut Slameto (2003: 58) indikator siswa yang mempunyai minat dalam suatu kegiatan tertentu adalah sebagai berikut.
1. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menyenangi beberapa kegiatan. 2. Kegiatan yang diminati akan diperhatikan terus menerus disertai rasa senang.
3. Memperoleh kepuasaan dari kegiatan yang diminati.
4. Minat pada kegiatan tertentu akan diimplementasikan melalui partisipasi aktif.
5. Lebih menyukai kegiatan tertentu daripada kegiatan yang lain. Berdasarkan pendapat ahli tersebut, penelitian ini menggunakan indikator minat belajar menurut Slameto untuk dikembangkan dalam instrumen penelitian

Pengertian Minat belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (2001: 744), kata “minat” memiliki arti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, dan keinginan”. Keinginan tersebut dapat berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Slameto dalam Djali (2008: 121) juga memaparkan bahwa “minat merupakan rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada sesuatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Dengan kata lain, minat timbul dari dalam diri sendiri”. Selanjutnya Hurlock (1978: 114) menjelaskann bahwa “minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih”. Bila seseorang melihat sesuatu akan menguntungkan baginya, maka seseorang akan berminat terhadap sesuatu. Demikian halnya pada seorang siswa yang merasakan bahwa belajar akan menguntungkan baginya, maka ia akan berminat terhadap belajar. Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas disimpulkan bahwa minat adalah rasa lebih suka dan ketertarikan seseorang terhadap kegiatan tertentu tanpa ada paksaan dari orang lain. Dalam hal ini, minat dapat menimbulkan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan tertentu.
Anita E Wool Folk (dalam Sunaryo Kartadinata, 1998: 57) memaparkan bahwa “belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman”. Morgan dkk (dalam Mulyani, 1998: 15) menguatkan pendapat Anita bahwa “belajar dicirikan dengan perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengamatan”.  Moh. Uzer Usman (2006: 5) menjelaskan bahwa “belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya”. Setelah mengalami proses belajar, individu akan mengalami perubahan tingkah laku baik aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun aspek sikapnya. Tidak semua perubahan tingkah laku dikatakan belajar. Dalam konteks sekolah, seorang anak dikatakan belajar apabila perubahan yang terjadi pada siswa sesuai dengan kebutuhankebutuhan sekolah.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Konsep diri tidak terbentuk secara kebetulan tetapi melalui proses interaksi dengan orang lain. Setelah orang lain memberikan tanggapan atau respon kepada diri individu tersebut, maka individu akan memberikan penilaian kepada dirinya apakah ia termasuk individu yang diterima atau tidak dalam lingkungannya. Konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
a. Orang tua
Konsep diri mula-mula terbentuk dalam lingkungan keluarga. Kepercayaan dasar seorang bayi akan terbentuk melalui perlakuan orang tuanya dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Menurut Cony R. Semiawan (1998: 169) “seorang bayi yang kelahirannya tidak diharapkan oleh orang tuanya dan diperlakukan secara tidak wajar akan menumbuhkan sikap tidak percaya diri”. Kemudian pada saat dewasa rasa ketidakpercayaan pada orang lain akan lebih besar, maka akan menjadi frustasi, menarik diri, dan penuh curiga pada lingkungannya. Calhoun & Acocella (1990: 77) mengatakan bahwa “berdasarkan penelitian yang ditemukan pada orang dewasa bahwa orang menilai diri sendiri seperti ketika di miliki oleh orang tuanya”. Dengan demikian, orang tua adalah kontak sosial yang paling awal dan paling kuat yang mempengaruhi konsep diri indiviidu.
b. Teman sebaya
Menurut Desmita (2006: 187). “Interaksi dengan teman sebaya dapat mengembangkan konsep diri anak”. Interaksi tersebut akan mendatangkan umpan balik kepada anak apakah dia di terima dalam kelompok sebayanya atau tidak. Menurut Calhoun & Acocella (1990: 78), “apabila tidak ada penerimaan dari teman sebayanya, hal itu dapat mengganggu konsep diri anak”. Misalnya dikenal ada anak yang disenangi temannya dan ada anak yang kurang disenangi temannya. Dengan interaksi tersebut, anak-anak akan menilai dirinya apakah termasuk anak yang disenangi atau tidak disenangi.
 c. Guru
“Interaksi dengan guru dan teman di sekolah memberikan peluang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif, ketrampilan, dan pengetahuan tentang dunia serta mengembangkan konsep dirinya” (Desmita, 2006: 187). Hal tersebut dikarenakan sebagian besar penggunaan waktu anak sekolah dasar dihabiskan di sekolah untuk berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Interaksi tersebut menghasilkan pengalaman-pengalaman baik itu keberhasilan maupun kegagalan. “Pengalaman kegagalan atau keberhasilan siswa pada tahun pertama di sekolah dasar, lebih ditentukan oleh interaksinya dengan guru daripada prestasi akademisnya” (Stipek dalam Desmita, 2006: 188). Selama mereka memiliki teman dan guru yang memberikan motivasi, mereka akan merasa senang dan berhasil di sekolah. Untuk itulah guru sebaiknya memberikan penguatan yang positif kepada siswa apabila siswa mengalami kegagalan dan memberikan dukungan apabila anak memperoleh keberhasilan dalam bidang akademik maupun non akademiknya.
 d. Pengalaman yang pernah dialami.
 Pengalaman yang pernah dialami terutama pengalaman yang berhubungan dengan diri sendiri, seperti perasaan positif dan perasaan berharga akan berdampak positif pada konsep diri seseorang. Studi dari Meichanbeum dalam Slameto (2006:184) mengatakan bahwa “bila siswa dibantu menyatakan halhal positif mengenai dirinya dan diberi penguatan, maka hal itu akan menghasilkan konsep diri yang positif”. Slameto (2003:183) juga berpendapat bahwa “keberhasilan dan kegagalan mempengaruhi diri seseorang”. Bila seseorang mengalami keberhasilan secara teratur, maka kegagalan akan memacu seseorang untuk menjadi lebih giat. Sedangkan kegagalan yang dialami berulang kali, kemungkinan apabila terjadi kegagalan yang baru akan mengurangi motivasinya untuk mencapai tujuan.
Untuk menghindari kegagalan atau ketakutan pada diri siswa, biasanya siswa memakai cara-cara sebagai berikut.
 1) Menghindari penilaian diri sendiri, sehingga tidak mengetahui kesahalannya.
 2) Membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki kemampuan yang lebih rendah.
 3) Hanya memilih tugas-tugas yang sangat muda.
 4) Menghindari partisipasi yang dapat menyebabkan kegagalan.
5) Menolak tanggungjawab untuk kegagalan yang terjadi (Slameto, 2006: 183)
Untuk itu guru harus memotivasi siswa agar tidak terjebak dalam perasaan gagal atau mengingat kegagalan di masa lalu. Guru harus mendorong siswa memikirkan hal-hal positif tentang dirinya agar cita-cita yang dahulu pernah diinginkan dapat diperjuangkan.
e. Aktualisasi diri.
 Fitts (dalam Hendrianti Agustiani, 2006: 139) berpendapat bahwa “aktualisasi diri berupa implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya”. Potensi diri yang dikembangkan lebih optimal akan mempengaruhi penilaian diri seseorang daripada potensi yang tidak dikembangkan. Seorang siswa yang mengaktualisasikan bakatnya akan membentuk penilaian positif tentang dirinya bahwa dia memiliki kemampuan dalam bidang tertentu

Aspek-Aspek Konsep Diri (skripsi dan tesis)

Atwater (dalam Desmita, 2006: 180) mengidentifikasi konsep diri menjadi tiga bentuk, yaitu
 (1) body image yaitu kesadaran tentang tubuhnya berupa pandangan seseorang tentang dirinya
 (2) ideal self yaitu harapan-harapan seseorang mengenai dirinya, dan
 (3) social selfyaitu pandangan orang lain melihat dirinya.
Semua bentuk konsep diri tersebut akan mempengaruhi tingkah laku seseorang di dalam kehidupannya. Pada umumnya tingkah laku seseorang berhubungan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri. Jika seseorang memiliki gagasan tentang dirinya bahwa dia tidak akan diterima di lingkungannya, maka ia akan cenderung bertingkah diam dan menarik dari pergaulan.
Menurut Hurlock (1978: 58), konsep diri dapat ditinjau dari  citra diri, yaitu sebagai berikut.
 a) Citra fisik diri
Citra fisik diri merupakan citra diri yang pertama yang dirasakan individu. Citra fisik diri berkaitan dengan menerima atau tidak menerima seorang  individu dengan bentuk fisiknya, daya tarik terhadap penampilannya dan sesuai atau tidaknya dengan jenis kelaminnya. Citra diri fisik ini akan mempengaruhi perilaku individu dan harga diri individu dimata orang lain lain.
b) Citra psikologis diri
Citra psikologis diri didasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi. Contoh dari citra psikologis diri adalah sifat keberanian, kejujuran, kemandirian, dan kepercayaan diri. Citra psikologis diri akan mempengaruhi kualitas dan kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Fitts (dalam Hendriati Agustiani, 2006: 142) melengkapi aspek konsep diri dengan membagi konsep diri menjadi 2 dimensi, yaitu sebagai berikut.
a. Dimensi Internal Dimensi internal adalah penilaian yang dilakukan individu untuk menilai dirinya berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi internal dibagi menjadi tiga bentuk, yaitusebagai berikut.
 1) Diri identitas (identity self) Diri identitas berkaitan dengan identitas diri individu itu sendiri, misalnya gambaran tentang dirinya “siapa saya”. Selain itu berkaitan dengan label yang diberikan kepada diri oleh individu yang bersangkutan.
 2) Diri pelaku (behavioral self) Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan oleh dirinya. Diri yang kuat ditunjukkan dengan kesesuaian antara diri identitas dengan  dengan diri pelakunya sehingga ia dapat menerima baik dari diri identitas maupun diri pelakunya.
 3) Diri penerimaan/ penilaian (judging self) Diri penerimaan berkaitan dengan kepuasaan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya. Jika individu mempunyai kepuasaan yang tinggi pada dirinya, maka ia memiliki kesadaran diri yang realistis, dan memfokuskan untuk mengembangkan dirinya. Sebaliknya, jika seseorang tidak mempunyai kepuasaan terhadap dirinya, maka ia akan mengalami ketidakpercayaan diri dan menimbulkan rendahnya harga diri.
b. Dimensi Eksternal Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungannya dengan orang lain. Baik itu aktivitas sosial, nilai-nilai yang dianut di dalam masyarakat, ataupun hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi eksternal menurut Fitts di bagi menjadi lima bentuk, yaitu sebagai berikut.
1) Diri fisik (Psysical self) Diri fisik menyangkut persepsi seseorang tentang keadaannya secara fisik. Contohnya mengenai kesehatan diri, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik atau tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk atau kurus).
2) Diri etik-moral (moral-ethical self) Diri etik-moral merupakan persepsi seseorang yang didasarkan pada standar pertimbangan secara mor
al dan etika. Hal ini berhubungan dengan Tuhan, kepuasaan seseorang akan agamanya, dan nilai moral.
 3) Diri pribadi (personal self) Diri personal merupakan persepsi seseorang mengenai keadaan pribadinya. Dalam hal ini menyangkut sejauh mana individu merasa sebagai pribadi yang tepat.
4) Diri keluarga (Family self) Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Dalam hal ini, diri keluarga berkaitan dengan peran yang dijalani sebagai anggota keluarga.
5) Diri Sosial (Sosial self) Diri sosial merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.
 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri menurut Atwater di bagi menjadi tiga bentuk, yaitu (1) body image, (2) ideal self, dan (3) social self. Menurut Hurlock konsep diri yang dimiliki siswa dapat ditinjau dari 2 citra diri, yaitu: citra fisik diri dan citra psikologisdiri. Fits melengkapinya dengan membagi konsep diri menjadi diri identitas, diri pelaku, diri penilai, diri fisik, diri etik-moral, diri sosial, diri keluarga, dan diri pribadi. Asepk diri tersebut membentuk suatu kesatuan diri yang utuh dalam rangka menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.

Konsep diri negatif (skripsi dan tesis)

Menurut Calhoun & Acocella (1990: 73), konsep diri negatif merupakan “perasaan yang negatif tentang dirinya”. Ia merasa pribadinya tidak cukup baik daripada orang lain. Hal ini terjadi karena individu menghadapi informasi tentang dirinya yang tidak dapat diterima dengan baik oleh dirinya. Calhoun & Acocella (1990: 73) berpendapat, bahwa “konsep diri negatif dapat mengakibatkan depresi atau kecemasan dan kekecewaan emosional”. Konsep diri negatif menurut Calhoun & Acocella (1990: 72) dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe orang yang memilliki pandangan tentang dirinya sendiri yang benar-benar tidak teratur dan tipe orang yang kaku. Tipe orang yang tidak teratur mempunyai ciri-ciri yaitu
(1) tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri,
(2) tidak tahu siapa diri sendiri,
(3) tidak tahu apa kelemahan dan kekuatan diri, dan
(4) tidak tahu apa yang dihargai dalam dirinya.
Sedangkan tipe kaku mempunyai ciri-ciri yaitu terlalu stabil dan terlalu teratur. Artinya individu menciptakan konsep diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dalam hidupnya. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan didikan orang tua yang terlalu keras.
Menurut Wiliam D. Brooks dan Philip Emmert (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2012: 103), ada empat tanda seseorang yang mempunyai konsep diri negatif, antara lain sebagai berikut.
 a) Menganggap bahwa kritik sebagai alat untuk menjatuhkan harga dirinya. Orang yang mempunyai konsep diri negatif cenderung tidak menyukai dialog terbuka.
b) Responsif sekali terhadap pujian
 c) Bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia tidak sanggup menyampaikan penghargaan dan mengakui kelebihan orang lain.
 d) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan.
 e) Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Misalnya ia tidak mau bersiang dengan orang lain dalam hal prestasi.
Berdasarkan uraian ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki konsep diri negatif adalah orang yang tidak tahu kekurangan maupun kelebihan dirinya. Ia menganggap informasi tentang dirinya yang diterima dari orang lain merupakan ancaman terhadap dirinya, sehingga ia akan diliputi kecemasan.

Konsep diri positif (skripsi dan tesis)

Konsep diri positif lebih berupa penerimaan terhadap diri bukan berupa kebanggan yang besar tentang dirinya” (Calhoun & Acocella, 1990: 73). Konsep diri positif mengarah pada kerendahan hati bukan keangkuhan dan keegoisan. Jadi orang yang memiliki konsep diri positif adalah orang yang memiliki perasaan berupa penerimaan tentang dirinya. Ia dapat menerima berbagai fakta yang berkaitan dengan dirinya dan menanggapi bahwa faktafakta yang ada pada dirinya bukan merupakan ancaman baginya. Jalaluddin Rahmat (2012: 104) menyampaikan tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri positif, antara lain sebagai berikut.
 1) Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.
 2) Ia merasa setara dengan orang lain.
3) Ia menerima pujian tanpa rasa malu.
4) Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
 5) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspekaspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya.
Orang yang mempunyai konsep diri positif, menurut Calhoun dan Acocella (1990: 73), mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
 1) Orang dengan konsep diri yang positif akan mengenal dirinya dengan baik.
2) Orang dengan konsep diri yang positif akan mempunyai sifat stabil dan bervariasi.
3) Orang dengan konsep diri yang positif dapat menerima fakta tentang dirinya baik itu positif maupun negatif.
4) Orang dengan konsep diri yang positif dapat menerima dirinya sendiri dan dapat menerima orang lain.
 5) Orang dengan konsep diri yang positif merancang tujuan-tujuan yang sesuai dan realistis
. 6) Orang dengan konsep diri yang positif akan bertindak berani dan memperlakukan orang lain dengan hangat dan hormat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa orang dengan konsep diri yang positif adalah orang yang mau menerima fakta tentang dirinya dengan baik. Selain itu, ia juga dapat menerima fakta-fakta tentang orang lain. Konsep diri yang positif akan membawa orang kepada hidup yang menyenangkan dan tidak terlarut dalam kegagalan.

Perkembangan konsep diri pada anak (skripsi dan tesis)

 Proses perkembangan konsep diri merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Symond dalam Fitts yang dikutip Hendriyanti Agustiani (2006: 143) berpendapat bahwa “konsep diri tidak langsung muncul pada saat kelahiran. “Perkembangan konsep diri bersifat hirarkis yang meliputi konsep diri primer dan konsep diri sekunder” (Hurlock, 1978: 59). Konsep yang paling dasar yaitu konsep diri primer. Dinamakan konsep diri primer karena konsep diri mula-mula terbentuk sebagai hasil dari pengalaman bersama anggota keluarganya. Konsep awal mengenai perannya dalam hidup, cita-cita dan tanggungjawab yang didasarkan atas didikan orang tua. Hurlock melanjutkan bahwa konsep diri primer meliputi citra fisik diri dan citra psikologis diri. Citra fisik diri berkembang lebih awal dari citra psikologis diri. Citra fisik diri berhubungan dengan keadaan fisiknya, sedangkan citra psikologis diri didasarkan pada hubungan anak dengan saudara kandungnya dan perbandingan dirinya dengan saudara kandungnya serta konsep awal perannya dalam hidup yang diajarkan oleh orang tuanya. Meningkatnya hubungan dengan lingkungan di sekitarnya, membuat anak mulai mengembangkan konsep diri sekundernya. “Konsep diri sekunder berkaitan dengan bagaimana anak melihat dirinya di mata orang lain” (Hurlock, 1978: 59).
Konsep diri sekunder juga di bagi menjadi citra fisik diri dan citra psikologis diri. Dalam hal citra fisik diri, anak-anak berfikir struktur fisik mereka sama dengan orang di luar rumahnya sedangkan dalam hal citra psikologis dirinya anak-anak menilai dengan membandingkan citra yang mereka peroleh di rumah dengan penilaian orang lain seperti guru, teman sebaya atau orang lain di lingkungan lainnya tentang diri mereka. Berdasarkan pernyataan di atas dapat dapat disimpulkan bahwa perkembangan konsep diri anak dimulai dari konsep diri primer yang terjadi di dalam lingkungan keluarganya. Perilaku orang tua terhadap anak berperan dalam mengembangkan konsep diri anak. Kemudian berlanjut pada konsep diri sekunder yang terjadi di lingkungan sekitarnya

Pengertian Konsep Diri (skripsi dan tesis)

 Menurut Andi Mappiare (2006: 293) kata “self concept” atau konsep diri secara umum didefinisikan sebagai “keseluruhan pola persepsi diri sebagaimana dirumuskan individu itu sendiri, atau pemahaman dan pemaknaan seseorang yang berkaitan dengan diri”. Seifert dan Hofnung (dalam Desmita, 2006: 180), juga berpendapat bahwa “konsep diri berarti suatu pemahaman atau ide tentang diri sendiri”. Menurut Calhoun & Acocella (1990: 90) “konsep diri adalah gambaran mental diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri, pengharapan, dan penilaian terhadap diri”. Atwater (dalam Desmita, 2006: 180) menjelaskan bahwa “konsep diri berupa keseluruhan gambaran diri yang meliputi persepsi seseorang tentang dirinya, keyakinan, perasaan, dan nilai-nilai yang ada hubungannya dengan dirinya”.Selanjutnya menurut Anant Pai (dalam Djali, 2008: 129) konsep diri merupakan “pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi pikiran dan perasaannya serta bagaimana perilakunya berpengaruh terhadap orang lain”.
Sedangkan Hurlock (1978: 58) mengatakan bahwa “konsep diri adalah gambaran seseorang tentang diri mereka sendiri yang menyangkut karakteristik fisik, psikologis, sosial dan emosional, aspirasi, dan prestasi”. Selanjutnya, Shavelson dan Bolus (dalam Muijs dan Reynolds, 2008: 218) mendefinisikan konsep diri sebagai “persepsi seseorang tentang dirinya 11 sendiri, yang terbentuk melalui pengalaman, interaksi dengan orang-orang lain yang memiliki arti penting dan atribusi yang melekat pada dirinya”. Sependapat dengan Shavelson dan Bolus, Leonard dan Supardi (2010: 343) juga berpendapat bahwa “konsep diri terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain bukan faktor yang dibawa sejak lahir”. Ketika berhubungan dengan orang lain, individu akan memperoleh tanggapan. Tanggapan tersebut akan digunakan individu sebagai acuan untuk menilai dan memahami dirinya. “Konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan” (William Fitts dalam Hendriyanti Agustiani, 2006: 138).
 Ketika seseorang memberikan penilaian tentang dirinya, berarti ia telah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat dirinya terhadap dunia di luar dirinya. Selanjutnya, Jalaluddin Rakhmat (2012: 102) berpendapat bahwa “konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi intrapersonal, karena tingkah laku seseorang didasarkan dengan konsep dirinya”. Bila seseorang mempunyai konsep diri yang negatif misalnya rendah diri, maka ia akan sulit berbicara menyampaikan pedapatnya kepada orang lain. Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah gambaran atau pemahaman individu tentang dirinya yang berkaitan dengan apa yang individu ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi pikiran dan perasaannya serta bagaimana perilakunya berpengaruh terhadap 12 orang lain. Konsep diri penting bagi individu sebagai acuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan adanya pemahaman diri yang positif, individu akan mampu menyesuaiakan dirinya dengan baik pula

Pengaruh berpikir positif terhadap efikasi diri akademik mahasiswa (skripsi dan tesis)

Manusia dalam setiap aspek kehidupan tidak lepas dari proses berpikir dan merasakan. Setiap kali berpikir, individu membentuk keyakinan dan prinsip dalam dirinya. Kemudian keyakinan membentuk perasaan terhadap keyakinan itu. Untuk itu, pendekatan berpikir positif selayaknya juga mencakup level emosional seseorang selain mencakup level kognitif. Dalam berpikir individu mudah terperangkap dalam apa yang telah dilakukan sebelumnya, misalnya ketika individu mengalami kegagalan sering membuat dirinya terperangkap dalam pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif. Pemikirian mahasiswa yang negatif terhadap suatu masalah membuat dirinya cenderung membentuk keyakinan bahwa dirinya tidak mampu dalam hal akademik. Pandangan negatif telah membentuk keyakinan atas ketidakmampuan yang bisa menumbuhkan rasa rendah diri. Berpikir positif membantu mahasiswa mampu untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik dengan optimal. Dengan mengubah cara berpikirnya menjadi positif, efikasi diri akademik dapat ditingkatkan, karena berpikir positif membuat individu cenderung berperasaan positif serta memandang tujuan akademik tertentu dapat diraihnya apabila mau mengarahkan dan memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai harapan akademiknya, sehingga efikasi diri akademiknya menjadi tinggi.

Komponen-komponen pelatihan berpikir positif (skripsi dan tesis)

Pelatihan berpikir positif dirancang berdasarkan model berpikir positif Elfiky (2008) yang dikolaborasikan dengan beberapa pendekatan lain sebagai pelengkap. Pelaksanaan pelatihan ini terdiri dari tiga kali pertemuan. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan efikasi diri akademik mahasiswa. Pelatihan berpikir positif juga tidak hanya sekedar menekankan pada level kognitif saja, tetapi juga pada level emosi, dimana menurut Elfiky level kognitif individu selalu berkaitan secara simultan terhadap level emosional individu tersebut. Setiap sesi dalam tiap pertemuan memiliki tujuan terhadap sumber-sumber efikasi diri akademik mahasiswa, yaitu pengalaman tentang penguasaan, pemodelan sosial, persuasi sosial, dan kondisi fisik-emosional (dalam Feist & Feist, 2006, h.416-418).

Pelatihan berpikir positif (skripsi dan tesis)

Pelatihan berpikir positif merupakan salah satu pengembangan atas model kognitif transpersonal. elatihan berpikir positif dalam penelitian ini dikembangkan dari model pendekatan berpikir positif Elfiky (2008) yang dikombinasikan dengan beberapa pendekatan psikologi, yaitu anchor, relaksasi, visualisasi, dan afirmasi. Pelatihan berpikir positif didasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu untuk melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghapus keyakinan yang merusak dirinya sendiri (Ellis dalam Corey, 2007, h.243).

Ciri-ciri individu yang berpikir positif (skripsi dan tesis)

Individu yang cenderung berpikir positif dapat dideteksi melalui beberapa kriteria. Pertama, percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, selalu menjauh dari perilaku negatif seperti berbohong, menggunjing, mengadu domba, dan sebagainya. Ketiga, memiliki cara pandang, tujuan, dan alasan menginginkan sesuatu, kapan, serta bagaimana cara mendapatkannya dengan mengerahkan seluruh potensi serta kemungkinan yang ada. Keempat, memiliki keyakinan dan proyeksi tentang sesuatu secara positif. Kelima, selalu mencari jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapi. Keenam, belajar dari masalah dan kesulitan. Ketujuh, tidak membiarkan masalah atau kesulitan mepengaruhi hidupnya. Kedelapan, memiliki rasa percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan. Kesembilan, hidup dengan cita-cita, perjuangan, dan kesabaran. Terakhir, pandai bergaul dan suka membantu orang lain

Manfaat Berpikir Positif (skripsi dan tesis)

Peneliltian terhadap efek berpikir positif mulai dikembangkan oleh para pakar psikologi positif saat ini. Penelitian Herabadi (2007, h.23) juga membuktikan adanya hubungan kebiasaan berpikir secara negatif dengan rendahnya harga diri. Berpikir positif juga membuat individu mampu bertahan dalam situasi yang rawan distres (Brissette dkk. dalam Kivimaki dkk, 2005, h.413). Selain itu, Fordyce (dalam Seligman dkk, 2005, h. 419) juga menemukan bahwa kondisi psikologis yang positif pada diri individu dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan beragam masalah dan tugas. Berpikir positif juga membantu seseorang dalam memberikan sugesti positif pada diri saat menghadapi kegagalan, saat berperilaku tertentu, dan membangkitkan motivasi (Hill & Ritt, 2004, h. 175).

Definisi Berpikir Positif (skripsi dan tesis)

Elfiky menyebutkan bahwa proses berpikir berkaitan erat dengan konsentrasi, perasaan, sikap, dan perilaku. Berpikir positif dapat dideskripsikan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi (Elfiky, 2008, h.269). Pelatihan berpikir positif dapat diidentifikasikan sebagai pelatihan yang menekankan suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi.

Definisi Efikasi Diri Akademik (skripsi dan tesis)

Efikasi diri dapat diartikan sebagai keyakinan manusia akan kemampuan dirinya untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadian di lingkungannya (Bandura dalam Feist & Feist, 2006, h.415). Efikasi diri individu dalam akademik disebut efikasi diri akademik. Sehingga, efikasi diri akademik dapat didefinisikan sebagai keyakinan yang dimiliki seseorang tentang kemampuan atau kompetensinya untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik

Pengaruh faktor Emotion terhadap Pengambilan keputusan ketika bertransaksi di Pasar Modal Syariah dan Konvensional (skripsi dan tesis)

Emosi menurut Nofsinger (2014:86) adalah sifat yang terus berkaitan
dengan badmood atau goodmood dari seorang investor yang dapat
mempengaruhi keputusan investor. Karena faktor emosi ini memiliki faktor
ketidakpastian yang tinggi bagi seorang Investor sehingga sifat ini
merupakan salah satu fator terpenting dalam pengambilan keputusan
berinvestasi. Pada penelitian Kartini dan Nuris Firmansyah (2015)
mengatakan terdapat pengaruh emotion dalam pengambilan keputusan
investasi pada investor di Yogyakarta

Pengaruh Social Interaction terhadap pengambilan keputusan Investor ketika bertransaksi di Pasar Modal Syariah dan Konvensional (skripsi dan tesis)

Social Interaction yang telah dikemukakan oleh Nofsinger (2014:75)
adalah interaksi sosial yang biasa dilakukan di Pasar Modal yang erat
kaitannya dengan transaksi di Pasar Modal baik dari pertukaran informasi,
opini yang bisa jadi dapat mempengaruhi investor dalam memutuskan
bertransaksi di pasar modal.
Berdasarkan penelitian dari Pramita Agustin dan Imron Mawardi
(2014) bahwa faktor Social Interaction masih dipertimbangkan dalam
bertransaksi saham di pasar modal. Sedangkan pada penelitian Widayat
(2010) bahwa faktor social interaction mempunyai pengaruh signifikan
dalam penentu perilaku berinvestasi.

Pengaruh faktor Overconfidence terhadap keputusan Investor ketika bertransaksi di Pasar Modal Syariah dan Konvensional (skripsi dan tesis)

Overconfidence yang telah dikemukakan oleh Nofsinger (2014:11) adalah
orang yang terlalu percaya diri yang menyebabkan seseorang terlalu
mendewakan dan melebih-lebihkan ilmu pengetahuan mereka,
mengabaikan risiko dan selalu membesar-besarkan kemampuannya.
Berdasarkan pada penelitian Kartini & Nuris Firmansyah Nugraha
(2015) yang mengatakan bahwa variabel overconfidence memiliki
pengaruh positif yang signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi
pada investor di Yogyakarta. Sedangkan pada penelitian Angga Budiarto &
Susanti (2017) Faktor overconfidence juga berpengaruh pada keputusan
investasi. Berdasarkan pada teori penelitian diatas membuktikan bahwa
overconfidence dari seseorang memiliki pengaruh terhadap keputusan
ketika bertransaksi. Oleh karena itu penelitan ini dilakukan untuk menguji
kembali faktor overconfidence terhadap pengambilan keputusan investor
ketika bertransaksi di pasar modal syariah dan konvensional

Trader/Investor Masa kini/Investor Kontemporer (skripsi dan tesis)

Menurut Sri Utamy ady (2013:30-33) Trader adalah investor yang
memberi alasan berinvestasi untuk kepentingan jangka pendek, sesaat,
keseharian, dan kekinian. Sedangkan menurut Edwin Santoso (2017:16)
Trader adalah seseorang yang memiliki tujuan untuk memperoleh profit
sebesar-besarnya melalui jual-beli saham dalam jangka waktu pendek dan juga membatasi tingkat loss yang ada melalui penempatan stop loss yang baik.
Jadi trader adalah sama halnya dengan investor yaitu seseorang yang
berinvestasi di pasar modal aka tetapi investor ini berinvestasi dalam jangka
waktu yang pendek dan tentu ingin mendapatkan return sebanyak-banyaknya.
Menurut jangka waktu informan melakukan perdagangan saham,
terdapat tiga macam Trader, yaitu Day Trader, Swing Trader, dan Position
Trader,yaitu :
1. Day Trader
Day Trader adalah Trader yang melakukan transaksi saham harian.
Seorang day trader dapat melakukan berkali-kali transaksi beli dan jual.
Gaya trading ini mengambil keuntungan dari fluktuasi harga harian.
Biasanya trader membuka beberapa posisi dalam sehari. Sifat trader jenis
ini sangat spekulatif. Tujuannya murni mencari capital gain.
2. Swing Trader
Swing Trader adalah saham yang memiliki gaya trading dalam jangka
waktu yang lebih lama dari day trading. Gaya trading ini berusaha
mengambil keuntungan dari fluktuasi atau goyangan (swing) harga dalam
periode yang lebih Panjang. Time horizon-nya adalah dalam hitungan hari
sampai beberapa minggu.
3. position trader
Position Trader adalah trader yang melakukan trading dalam jangka
waktu yang lebih Panjang dari swing trader. Position trader bertransaksi
melakukan pembelian atau penjualan saham dalam jangka waktu minggu
sampai dua-tiga bulan

Pengambilan Keputusan berinvestasi (skripsi dan tesis)

Pengambilan Keputusan (Decision Making) menurut Dagun
M.save (2006:185) adalah pemilihan keputusan atau kebijakan yang
didasarkan atas kriteria tertentu. Sedangkan menurut Suharnan
(2005:194) Pengambilan Keputusan ialah proses memilih atau
menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi-situasi yang tidak
pasti. Pembuatan keputusan terjadi di dalam situasi-situasi yang
meminta seseorang harus membuat prediksi kedepan, memilih salah
satu diantara dua pilihan, membuat estimasi (perkiraan) mengenai
frekuensi perkiraan yang akan terjadi.
Jadi dapat disimpulkan dari pengertian diatas bahwa
Pengambilan Keputusan adalah suatu pilihan atau pembuatan
keputusan dimana seseorang harus membuat keputusan yang tepat
yang berdasarkan dari kriteria tertentu.
Tujuan investor dapat tercapai, jika investor tepat dalam
mengambil keputusan berinvestasi, sehingga keputusan tersebut telah
mempertimbangkan tingkat keuntungan yang diharapkan dan juga
resiko yang akan dihadapi.
1) Berikut tahapan- tahapan dalam pengambilan keputusan
berinvestasi yang harus dihadapi oleh investor yakni :
a) Menentukan kebijakan investasi
Ada hubungan positif antara tingkat pengembalian dan
resiko, jadi tujuan investasi dari investor tidak hanya untuk
mendapatkan kekayaan saja akan tetapi investor juga harus
memahami bahwa ada kemungkinan resiko yang berpotensi
yang menyebabkan kerugian.
b) Analisis Sekuritas
Langkah berikutnya yakni melaksanakan analisis terhadap
sekuritas yang melingkupi penilaian terhadap sekuritas baik
secara individual ataupun beberapa sekelompok sekuritas.
c) Pembentukan portofolio
Pada tahap ini membentuk portofolio yang melibatkan
identitas aset yang akan menjadi pilihan dalam berinvestasi
pada masing-masing sekuritas.
d) Melakukan revisi portofolio
Waktu yang terus berjalan tentu akan membuat investor
berubah tujuan dari melakukan awalnya investasi yakni
membentuk portofolio baru yang lebih optimal.
e) Evaluasi kinerja portofolio
Tahapan yang terakhir ini, seorang investor akan
melaksanakan penilaian terhadap kinerja portofolionya secara
periodik baik dari segi return dan resikonya (Agustin,
2014:886-887)

aktor-faktor yang dipertimbangkan sebelum berinvestasi atau penanaman Modal (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dipertimbangkan sebelum berinvestasi atau
penanaman Modal yaitu
1) Masalah Risiko Menanam Modal (Country Risk)
Masalah pada country risk adalah salah satu faktor yang cukup
dominan menjadi dasar pertimbangan bagi seorang investor untuk
melakukan kegiatan berinvestasi. Contohnya adalah dari segi aspek
stabilitas politik dan jaminan keamanan pada negara dimana
investasi dilakukan, dan risiko kegagalan yang akan dihadapi juga
semakin besar.
2) Masalah Jalur Biroraksi
Semakin terlalu panjang biroraksi biasanya akan menimbulkan
situasi yang kurang kondusif bagi kegiatan penanaman modal,
sehingga dapat mengurungkan niat para pemodal untuk melakukan
investasi. Adanya biroraksi yang panjang berarti terdapat biaya
tambahan yang akan memberatkan para calon pemodal karena
dapat mengakibatkan usaha yang akan dijalankan menjadi tidak
feasible.
3) Masalah Transparansi dan Kepastian Hukum
Bagi para calon investor, adanya transparansi dalam proses dan
tata cara penanaman modal akan menimbulkan suatu kepastian
hukum dan menjadikan segala sesuatunya menjadi mudah
diperkirakan (Predictable). Sebaliknya jika tidak ada transparansi
dan kepastian hukum akan membuat para calon investor bingung
dan seringkali mengakibatkan adanya biaya yang cukup mahal.
4) Masalah Ahli Teknologi
Terdapat peraturan yang terlampau ketat yang menyangkut
kewajiban ahli teknologi dari negara tuan rumah (host country)
akan mengurangi minat dari penanaman modal yang sangat
berharga dalam mengembangkan karier usahanya.
5) Masalah Jaminan Investasi
Adanya jaminan dari suatu negara tuan rumah kepada
kepentingan pemodal pada suatu hal yang tidak dinginkan. Seperti
kerusuhan, huru-hara, penyitaan, nasionalisasi serta
pengambilalihan.
6) Masalah ketenagakerjaan
Kemudian adanya tenaga kerja yang terlatih dan terampil
dalam jumlah yang memadai serta rupiah upah yang tidak terlalu
tinggi akan menjadi salah satu faktor yang sangat dipertimbangkan
oleh para calon investor sebelum melakukan kegiatan berinvestasi.
7) Masalah Infastruktur
Tersedianya jaringan infrastrukur yang memadai akan sangat
berperan penting dalam menunjang keberhasilan pada suatu
kegiatan penanaman modal.
8) Masalah keberadaan sumber daya alam
Disamping masalah modal, tenaga kerja, keahlian dan
keberadaan infrastruktur, masalah dari keberadaan sumber daya
alam adalah salah satu daya tarik utama dalam melakukan kegiatan
berinvestasi. Karena negara yang akan kaya tentang sumber daya
alam seperti bahan komoditi/baku dalam industri telah menjadi
sasaran utama para pemilik modal untuk menanamkan modalnya.
9) Masalah akses pasar
Akses terhadap pasar yang besar juga menjadi salah satu saran
utama para pemilik modal untuk menanamkan modalnya. Hal ini
merupakan salah satu jalan terbukanya akses pasar untuk menyerap
produk yang dihasilkan dari suatu kegiatan penanaman modal.
10) Masalah Insentif Perpajakan
Kegiatan penanaman modal adalah kegiatan yang berorientasi
pada mencari keuntungan (profit oriented). Adanya diberikan
beberapa insentif dalam bidang perpajakkan akan sangat
membantu dalam menyehatkan cash flow serta mengurangi secara
substansial biaya produksi (production cost) yang pada akhirnya
mampu meningkatkan profit margin dari suatu kegiatan
penanaman modal.
11) Mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif
Adanya mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif juga
adalah salah satu faktor yang diperhitungkan sebelum memutuska
berinvestasi (Rokhmastussa’dyah&Suratman,2010:5-12).

Keputusan Investor (skripsi dan tesis)

a. Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal
Dalam pengambilan keputusan berinvestasi terdapat 2 pendekatan
yang bisa digunakan oleh investor. Bagi seorang investor yang
menerapkan strategi pada value investing seperti buffet, warrent maka
investor tersebut lebih fokus pada saham fundamentalnya dan lebih
fokus pada kenaikan tinggi dan berjangka panjang. Sedangkan bagi
seorang investor yang ingin mendapatkan keuntungan secara singkat
dan memanfaatkan momentum perubahan harga pasar dan
menerapkannya pada analisis teknikal.
1) Analisis Fundamental
Pada analisis fundamental yang harus diperhatikan oleh investor
yaitu apakah fundamental dan perusahaan dalam kondisi yang baik
atau tidak dan berapa harga wajar perusahaan saat ini. Prinsip dari
analisisfundamental ialah membeli saham dengan fundamental baik
pada harga yang wajar atau dibawah harga wajarnya. Jika harga
pasar jauh diatas harga wajar, maka investor bisa memutuskan untuk
melepaskan saham. Analisisa Fundamental menurut Bursa Efek
Indonesia (2016:72) adalah suatu analisa yang mempelajari hal-hal
yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan
dengan tujuan untuk mengetahui sifat-sifat dasar dan karakteristik
operasional dari perusahaan publik. Sedangkan menurut M. Maksus
Peter (2011:252) Analisis Fundamental adalah metode analisis yang
didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Analisis
ini menitikberatkan pada rasio finansial dan kejadian-kejadian yang
secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja
keuangan perusahaan.
2) Analisis Teknikal
Analisis teknikal menurut Kirpatrick dan Dahlquist (2006:3)
adalah suatu teknik analisis yang dikenal dalam dunia keuangan
yang digunakan untuk memprediksi trend suatu harga saham
dengan cara mempelajari data pasar yang lampau, terutama
pergerakan harga dan volume saham. Sedangkan menurut M.
Maksus Peter (2011:180) Analisis Teknikal adalah analisis
pergerakan harga saham sehari-hari yang biasanya digunakan untuk
investasi jangka pendek.
Jadi dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa analisis
teknikal adalah analisis yang mempelajari perilaku investor yang
lebih fokus pada pasar dan dicerminkan melalui grafik yang
bergerak dan biasanya digunakan untuk investasi jangka pendek.
Dalam menganalisa teknikal menurut Indonesia Stock Excange
(2016:46) terdapat tiga prinsip yakni:
a) Price discount everything
Berdasarkan pada analisis fundamental dimana harga akan
dipengaruhi dengan informasi mengenai keuangan, nilai
penjualan ataupun harga komoditi yang dihasilkan dari
perusahaan tersebut.
b) Price fluctuates in Trends
Pada awamnya Harga saham akan bergerak mengikuti suatu tren
tertentu.
c) History repeat itself
Pola pergerakan harga di masa lalu akan kembali berulang di
masa yang akan datang.
Analisis Teknikal berfungsi untuk memprediksi atau “forecasting”
harga saham di masa yang akan datang dengan menggunakan data
historis seperti harga saham dan volume perdagangan.
Pada umumnya analisis teknikal dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu:
(1) Analisis chart pattern
Analisis ini dilakukan dengan cara mengamati pola-pola yang
terbentuk dari pergerakan grafik harga saham dalam periode
tertentu. Berdasarkan pergerakan harga dari investor kemudian
menarik garis atau pola-pola tertentu. Pola-pola itu diantaranya
Head and Shouder, Double Top, Double Botom, Ascending
Triangle, Descending Triangle, symmetrical Triangle, dan
Wedges.
(2) Analisis Candlestick Pattern
Metode analisis yang melihat pola-pola berbentuk batang lilin
(candlestick) yang diolah dari harga Open, High, Low dan Close
suatu saham.
Open :Harga Transaksi pertama kali
High :Harga Transaksi tertinggi
Low :Harga transaksi terendah
Close :Harga Transaksi terakhir
(3) Analisis Teknikal Modern
Analisis teknikal yang berasio pada perhitungan rasio tertentu
yang berdasarkan pada pergerakan harga historis saham. Ketika
rasio tersebut mencapai angka tertentu, maka akan terjadi kondisi
yang disebut sebagai oversold dan overbought. Pada kedua kondisi
tersebut dalam penerapannya di analisis teknikal adalah harga
suatu saham sudah terlalu rendah atau terlalu tinggi sehingga
selanjutnya akan berbalik arah.
Pada dasarnya konsep mengenai tentang investor rasional
dalam teori pengambilan keputusan berarti dalam mengambil
keputusan, tindakan yang harus dipilih yaitu tindakan yang
menghasilkan utilitas (utility) tertinggi yang diharapkan, investor
yang rasional akan menjalankan suatu analisis dalam pengambilan
suatu keputusan dalam berinvestasi. Analisis yang dapat dilakukan
antara lain mempelajari laporan keuangan perusahaan dan
mengevaluasi kinerja bisnis perusahaan yang bertujuan untuk
mengambil keputusan investasi akan memberikan nilai keputusan
yang optimal (Shahzad, J.H, & dkk, 2013:605-619

Faktor Psikologi Investor (skripsi dan tesis)

Pada penelitian ini menggunakan faktor psikologis investor sebagai tolak ukur untuk menggunakan variabel, sebagai berikut :

a. Overconfidence

Overconfidence yang telah dikemukakan oleh Nofsinger (2014:11) adalah orang yang terlalu percaya diri yang menyebabkan seseorang terlalu mendewakan dan melebih-lebihkan ilmu pengetahuan mereka, mengabaikan risiko dan selalu membesar-besarkan kemampuannya. Sedangkan Overconfidence menurut Sri Utamy Ady (2013:150) bahwa investor cenderung Overconfidence terhadap kemampuan investasi, khususnya investor yang melakukan prediksi investasi terlalu sederhana, tipe Overconfidence ini disebut prediction Overconfidence. Dan investor juga akan selalu melakukan penyesuaian dengan terlalu yakin dan hal ini disebut Certainty Overconfidence. Jadi overconfidence adalah sifat terlalu percaya diri atas kemampuannya dalam menganalisis saham atas informasi yang didapatkannya dan terlalu mengabaikan pendapat orang lain, bahwa orang yang memiliki sifat overconfidence ini sangat percaya diri terhadap kemampuannya namun sifat terlalu percaya diri ini yang menyebabkan investor mengalami kerugian bukan keuntungan. Hal-hal yang melandasi seseorang memiliki sifat overconfidence dalam berinvestasi adalah karena mereka menyakini bahwa segala informasi yang didapatkannya yakni dalam kemampuan menganalisi saham adalah suatu kekuatan yang sangat kuat bagi investor sehingga ia mengabaikan risiko yang didapat/yang akan dialami. Berinvestasi  merupakan suatu proses yang sulit karena perlu mengumpulkan sebuah informasi, analisis informasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi tersebut. Akan tetapi jika sifat terlalu percaya diri ini yang menyebabkan kita akan salah menafsirkan dari keakrutan informasi dan sekali lagi selalu melebih-lebihkan kemampuan kita dalam menganalisis saham. Hal inilah yang merupakan salah satu faktor dampak dari berinvestasi menjadi buruk dan seringkali pada kenyataan atau praktiknya menjadikan seorang investor terlalu memperdagangkan secara berlebihan dan terlalu banyak mengambil risiko serta akan mendapatkan kerugian dari portofolio.

Contoh dari faktor Overconfidence menurut Sri Utamy Ady (2013:63) ini adalah 1. seseorang/perilaku investor yang melakukan tindakan berinvestasi karena terlalu percaya kepada pendapatnya/ilmunya sendiri dan seringkali melakukan transaksi yang salah, 2. Trader yang sering melakukan transaksi secara berlebihan karena faktor Overconfidence dan keinginan dari seorang trader tersebut ingin cepat mendapatkan keuntungan sehingga mengabaikan resiko-resiko yang merugikan dirinya sendiri.

b. Social Interaction

Social Interaction yang telah dikemukakan oleh Nofsinger (2014:75) adalah interaksi sosial yang biasa dilakukan di pasar modal 36 yang erat kaitannya dengan transaksi di pasar modal baik dari pertukaran informasi, opini yang bisa jadi dapat mempengaruhi investor dalam memutuskan bertransaksi di Pasar Modal. Sedangkan Social Interaction menurut Sri Utamy Ady (2013:60) adalah perilaku investor dimana investor melakukan pembelian dan penjualan saham hanya mengikuti investor lain tanpa melakukan analisis. Jadi dari tulisan diatas bahwa investor di pasar modal tentu saling berinteraksi satu sama lain, interaksi sosial dengan pelaku pasar ini juga berkaitan pada transaksi di pasar yang dapat mempengaruhi keputusan individu dalam melakukan transaksi. Interaksi antar individu atau kelompok akan mempengaruhi investor dalam keputusan bertransaksi individu terhadap instrumen aset yang digunakan untuk berinvestasi. Dan sekarang tidak bisa dipungkiri terdapat banyak group bagi investor untuk mendapatkan informasi baik dari lembaga seperti OJK yang menaungi para investor pemula dan sudah berpengalaman untuk berbagai informasi, selain itu terdapat banyak media sosial untuk menunjang berbagai informasi untuk saham. Investor yang termasuk dalam kategori social interaction yang dapat memilih ataupun mengubah keputusan investasi berdasarkan percakapan ataupun saran yang diberikan oleh sesama investor ataupun pelaku dalam berinvestasi. Menurut teori, interaksi social dan lingkungan mampu mempengaruhi orang lain dalam melakukan  pengambilan keputusan investasi. Jadi semakin banyak melakukan berinteraksi dengan orang lain maka semakin besar juga dalam toleransi investor terhadap resiko. Contoh investor yang memiliki faktor Sosial Interaction menurut Sri Utamy Ady (2013:60) ialah: perilaku investor yang dalam membeli dan menjual saham hanya berdasarkan sifat mengikuti dari pendapat investor lain dan biasanya seorang investor tersebut tidak melakukan analisis sendiri.

c. Emotion

Emotion menurut Nofsinger (2014:86) adalah sifat yang terus berkaitan dengan badmood atau goodmood dari seorang investor yang dapat mempengaruhi keputusan investor. Karena faktor emosi ini memiliki faktor ketidakpastian yang tinggi bagi seorang investor sehingga sifat ini merupakan salah satu faktor terpenting dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Sedangkan Emotion menurut Sri Utamy Ady (2013:157) adalah emosi yang dialami oleh investor pada pengambilan keputusan berinvestasi. Jadi dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa Emotion adalah bagian yang penting dalam proses pengambilan keputusan yang mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi, pada faktor berkaitan erat dengan keadaan sedang buruk (badmood) maupun keadaan sedang baik (googmood) pada seorang investor. Emotion dapat mempengaruhi  keputusan berinvestasi, karena semakin banyak kompleks dan adanya suatu situasi yang tidak pasti, tentunya emosi dapat mempengaruhi investor dalam pengambilan keputusan berinvestasi. Saat investor mengalami keadaan sedang baik (goodmood), maka dapat mengambil keputusan dengan baik dan benar, akan tetapi ketika seorang investor merasakan keadaan sedang buruk (badmood) maka investor cenderung akan kurang tepat dalam mengambil suatu keputusan yang baik dan benar. Contoh dari seorang investor yag memiliki faktor Emotion menurut Sri Utamy Ady (2013:78) adalah :

1) kecerendungan investor yang berinvestasi di pasar modal yang mengalami ketakutan pada saat rugi (harga saham turun) dan menjadi sangat rakus jika memperoleh keuntungan (harga saham naik). 2) Emosi terjadi ketika investor menghadapi suatu peristiwa yang drastik dimana tidak bisa diperkirakan sebelumnya, sehingga hal tersebut menyebakan investor panik dan overreaction untuk secepatnya melepas saham.

3) Pada saat tidak mood seperti dipengaruhi oleh kondisi tubuh, faktor keluarga, atau keadaan setelah menerima kerugian yang besar, banyak investor tidak melakukan transaksi di pasar modal.

Perilaku keuangan (skripsi dan tesis)

Teori tentang perilaku keuangan (behavioral finance theory) dapat didefinisikan sebagai suatu aplikasi tentang ilmu psikologi dalam disiplin ilmu keuangan. Perilaku keuangan ialah analisis berinvestasi yang memanfaatkan ilmu psikologi dalam ilmu keuangan. Jadi perilaku keuangan adalah suatu strategi yang sangat jelas bagi investor untuk melakukan investasi ataupun yang berhubungan langsung dengan keuangan yang dipengaruhi oleh faktor psikologi (Agustin, 2014:881). Perilaku keuangan adalah mempelajari bagaimana manusia secara aktual berperilaku dalam penentuan keuangan. Khususnya dalam mempelajari bagaimana faktor psikologi dalam mempengaruhi keputusan dalam keuangan, perusahaan dan pasar keuangan. Pada konsep yang diuraikan secara transparan dalam menyatakan bahwa perilaku keuangan adalah sebuah pendekatan yang menjelaskan bagaimana manusia melakukan investasi atau berhubungan langsung dengan keuangan yang dipengaruhi oleh faktor psikologi.

Teori dalam perilaku keuangan bisa diartikan sebagai aplikasi ilmu psikologi dalam disiplin ilmu keuangan. Perilaku keuangan adalah analisis berinvestasi yang menggunakan ilmu psikologi dan ilmu keuangan, yakni suatu pendekatan yang menjelaskan bagaimana manusia (investor) yang melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan dipengaruhi oleh faktor psikologi. Perilaku keuangan sendiri bermaksud untuk memahami perilaku investor dalam pengambilan suatu keputusan berinvestasi dan bertindak di pasar modal yang akan berpengaruh pada market. Konsep perilaku keuangan menyatakan bahwa keputusan investasi yang dilakukan oleh investor lebih mempertimbangkan aspek-aspek nonekonomi terutama aspek psikologis yang dapat mempengaruhi perilaku investor.

Pada kenyataanya investor seringkali melakukan tindakan berdasarkan judgement dan berbertentangan dengan teori yang selama ini dikemukakan dalam pasar modal tentang asumsi rasionalitas. Pasar modal mungkin memberikan reaksi cepat terhadap informasi (seperti yang disyaratkan dalam Efficient Market Hypothesis), akan tetapi pengaruh reaksi tersebut justru mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh unsur subyektifitas, emosi dan berbagai faktor psikologis lainnya

Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution (2008:7) Investasi adalah Penempatan sejumlah kekayaan untuk mendapatkan keuntungan di 28 masa yang akan datang. Sedangkan Investasi dalam perspektif syariah menurut Nurul Huda & Mustafa Edwin Nasution (2008:7) adalah salah satu ajaran dari konsep Islam yang memenuhi proses tadrij dan trichotomy pengetahuan tersebut. Dimana konsep Investasi selain sebagai pengetahuan juga bernuansa spiritual juga menggunakan norma syariah dan hakikat dari sebuah ilmu dan amal. Sehingga investasi sangat dianjurkan bagi setiap muslim. a. Proses Investasi Proses investasi merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang Investor dalam membuat keputusan dalam berinvestasi sekuritas yang dipasarkan. Berikut lima prosedur dalam membuat keputusan yang menjadi dasar proses investasi :

(1) Kebijakan Investasi

Langkah yang pertama dalam memutuskan kebijakan investasi yakni penentuan tujuan investor dan kemampuannya/kekayaannya yang dapat diinvestasikan. Karena terdapat hubungan positif antara risiko dan return dalam strategi investasi, jadi bukanlah hal yang tepat bagi seorang investor yang memiliki tujuan hanya untuk mendapatkan keuntungan. Langkah ini merupakan suatu proses dalam investasi yang meliputi identifikasi kategori potensial dari aset financial untuk portofolio. 29 Identifikasi ini berasas pada tujuan investasi, jumlah kekayaan yang akan diinvestasikan dan status pajak dari investor.

(2) Analisis sekuritas

Langkah kedua dalam proses investasi adalah melakukan analisis sekuritas yang melingkupi penilaian terhadap sekuritas secara individual (atau beberapa kelompok sekuritas) yang masuk dalam kelompok sekuritas) yang masuk dalam kelompok luas dari aset finansial yang telah diidentifikasi sebelumnya. Salah satu tujuan dalam melakukan penilaian tersebut adalah untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga (mispriced). Terdapat banyak pendekatan terhadap analisis sekuritas, akan tetapi pendekatan tersebut dapat dikategorikan dalam dua klasifikasi. Pada klasifikasi pertama ialah analisis teknis, pendekatan ini hanya untuk analisis sekuritas yang disebut sebagai teknisi atau ahli analisis teknis. Dan yang kedua analisis fundamental atau ahli analis fundamental, dalam membahas kedua pendekatan tersebut, pertama-tama yang harus difokuskan pada saham biasa kemudian baru aset financial yang lain.

(3) Konstruksi portofolio

Langkah yang ketiga dalam proses investasi adalah kontruksi portofolio yang melibatkan identifikasi aset khusus mana yang akan dijadikan investasi juga menentukan berapa besar bagian investor pada tiap aset tersebut. Pada masalah selektivitas, penentuan waktu dan diversifikasi menjadi sesuatu yang harus diperhatikan oleh seorang seorang investor.

(4) Revisi portofolio

Langkah keempat dalam proses investasi, revisi portofolio bertepatan dengan pengulangan periodik dari tiga langkah sebelumnya. Sejalan dengan waktu investor mungkin mengubah waktu tujuan investasinya, yang pada gilirannya berarti portofolio yang dipegangnya tidak lagi optimal. Jadi investor membentuk portofolio baru dengan menjual portofolio yang dimilikinya dan membeli portofolio lain yang belum dimiliki.

(5) Evaluasi kinerja portofolio

Langkah kelima dalam proses investasi, evaluasi kinerja portofolio, melingkapi penentuan kinerja portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan namun risiko yang akan dihadapi. Jadi diperlukan ukuran yang tepat dalam return dan risiko juga standart yag relevan. (William, 1997, hal. 11-15)

b. Pola manajemen

Investasi dalam ekonomi Islam Modal adalah sarana yang dapat meningkatkan distribusi aset pada masa mendatang untuk negara atau individu yang berguna dalam menambah aset maka disebut dengan modal. Agar jumlah modal  meningkat, maka setiap masyarakat harus melakukan investasi. Berikut menurut chapra untuk meningkatkan modal, yaitu :

1) Memanfaatkan sumber daya dan peran pemerintah

Dalam prinsip islam tidak mentoleransi sikap boros, karena dalam islam lebih mendorong umatnya untuk menggunakan sumber dayanya secara efisien tidak hanya berlaku individu akan tetapi bagi masyakat luas. Hal ini juga ditegaskan oleh pemerintah sebagai kepercayaan dari masyarakat untuk menggunakan sumber dayanya untuk kesejahteraan rakyat. Jadi pemerintah perlu mengevaluasi program-program dengan membatasi defisit anggaran yang berlebihan.

2) Penggunaan tabungan secara efisien

Pengorganisasian sangat penting dalam mengatur keuangan untuk mengurangi pemborosan sekaligus untuk memobilisikan dana tabungan dan menyalurkan hal-hal yang lebih produktif. Yang berarti modal tersebut tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri akan tetapi juga untuk kepentingan sosial.

3) Membatasi uang yang tak terpakai

Dalam Islam sudah ditegaskan bahwa sikap boros sangat dilarang, jadi sumber daya yang diberikan kepada Allah untuk umat manusia harus dimanfaatkan sesuai dengan batasan-batasan yang telah diizinkan dalam Islam

4) Sikap tidak berlebihan dalam pengeluaran.

Agama islam menegaskan untuk menghindari sikap berlebihan (boros). Pesan ini disampaikan secara jelas dalam al-quran. Karena sikap boros ini hanya mempengaruhi usaha dan hanya menghabiskan banyak modal (Muhammad, 2004:171-172)

Saham (skripsi dan tesis)

.

Saham (stock) seperti yang telah dikemukakan oleh Tjiptono Darmadji dan M. Fakhruddin (2006:6) adalah suatu bentuk kepemilikan seseorang atau suatu badan perusahaan tertentu. Dimana saham merupakan suatu wujud kertas yang menunjukkan bahwa pemilk kertas ialah pemilik perusahaan yang membuat surat berharga. Sedangkan Saham menurut Hamud M. Balfas (2012:103) adalah efek yang paling umum ditawarkan dalam suatu penawaran umum, dan karenanya merupakan instrumen yang paling umum dikenal dan diperdagangkan di pasar modal (bursa). Saham 24 merupakan komponen dan wujud dari penyertaan modal dalam suatu usaha yang berbentuk perseroan terbatas. Dan menurut khaerul umam (2013:113) saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan. kemudian menurut indonesia stock exchange (IDX) dalam situsnya http://www.idx.co.id/idid/beranda/produkdanlayanan/saham.aspx, Saham (Stock) merupakan salah satu instrumen yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jadi dapat disimpulkkan dari kalimat diatas bahwa Saham merupakan suatu wujud kertas dimana kertas itu berisi tentang kepemilikan seseorang atau individu terhadap suatu perusahaan tertentu dan instrumen paling terkenal dan sudah banyak diperdagangkan di pasar modal selain itu saham dapat memberikan keuntungan bagi investor maupun perusahannya.

Berikut dua keuntungan dapat diterima investor dengan membeli atau memiliki saham :

a. Capital Gain

Capital Gain adalah selisih antara harga beli dengan harga jual. Capital gain terwujud dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Seperti seorang membeli saham ABC dengan harga per saham Rp. 3.000 lalu dijual dengan harga Rp. 3.500 per saham yang bermakna pemodal tersebut menerima capital gain sebesar Rp. 500 dalam setiap saham yang telah dijual.

b. Dividen

Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan dari perusahaan yang berasal dari keuntungan yang dihasillkan oleh perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seseorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka seorang pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yakni hingga kepemilikan dari saham itu berada dalam periode yang diakui sebagai pemegang saham yang berhak menerima dividen. Dalam instrumen investasi. Tentu saham memiliki risiko, yaitu :

1) Capital Loss

Capital loss merupakan kebalikan dari capital gain, dimana suatu kondisi seorang investor menjual saham lebih rendah dari 26 harga beli. Seperti Saham dari PT. XYZ yang dibeli dengan harga Rp.200,- per saham. Kemudian harga dari saham tersebut mengalami penurunan hingga mencapai Rp. 1400,- per saham. Karena investor tersebut mengalami ketakutan karena mendapati sahamnya akan terus turun, maka investor tersebut memutuskan untuk menjual sahamnya dengan harga Rp. 1.400,- sehingga investor tersebut mengalami kerugian

. 2) Risiko Likuidasi

Perusahaan dari saham yang dimiliki mengalami kebangkrutan oleh pernyataan dari pengadilan atau perusahaan tersebut telah dibubarkan. Pada hal ini hak klaim dari pemegang mendapatkan prioritas yang terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (hasil dari penjualan kekayaan perusahaan). Sisa dari hasil penjual kekayaan dari perusahaan tersebut akan dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Akan tetapi jika hasil dari penjualan kekayaan perusahaan tersebut tidak ada sisa, maka pemegang saham tidak akan tidak akan menerima hasil dari likuiditas tersebut. Jadi kondisi risiko adalah risiko yang terberat dari pemegang saham. Maka seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus-menerus mengikuti perkembangan perusahaan (www.idx.co.id, 2018).

Sedangkan Saham Syariah menurut Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution (2008:60) Saham Syariah adalah surat bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan yang melakukan penawaran umum (go public) dalam nominal ataupun presentase tertentu. Sedangkan menurut otoritas Jasa Keuangan (2016:47) Saham Syariah adalah Saham yang bidang usahanya memenuhi prinsip syariah. Dimana prinsip syariah ini meliputi :

a) Perusahaan yang bidang usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah seperti perusahaan rokok, minuman keras, perbankan yang menganut riba dan perjudian.

b) Perusahaan yang tingkat hutangnya tidak berlebihan dengan debt to equity ratio maksimal 82% atau debt ratio maksimal 45%

c) Perusahaan yang memiliki pendapatan yang tidak memenuhi kaidah syariah seperti bunga bank namun pendapatan tersebut <10% total pendapatan perusahaan.

Jadi dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa Saham Syariah merupakan salah satu instrumen kertas yang berisi tentang kepemilikan seseorang atau individu terhadap suatu perusahaan. Dimana pada perusahaan ini tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah, kemudian tingkat hutangnya tidak berlebihan serta tidak memiliki bunga

Mekanisme Transaksi Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pada umumnya transakasi pada surat berharga untuk saham dibagi menjadi dua yakni pada transaksi pasar perdana dan pasar sekunder. Dimana pada pasar perdana investor membeli sahamnya dilakukan di IPO untuk pertama kalinya dan dana dari investor tersebut langsung disalurkan kepada perusahaan dan akan digunakan untuk kepentingan ekspansi perusahaan. Selanjutnya untuk transaksi yang dilakukan di pasar sekunder, adalah transaksi pembelian dan penjualan sudah tidak terjadi lagi diantara investor dengan perusahaan akan tetapi antara Investor satu dengan investor yang lainnya. Kemudian transaksi di pasar sekunder ini transaksi saham dilakukan melalui fasilitas bursa.

1) Transaksi di pasar sekunder dilakukan pada BEI melalui perantara perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa. 2) Investor yang membeli saham akan melakukan perintah pembelian (order beli) melalui perusahaan sekuritas dengan memasukkan nama saham, nominal pembelian dalam lot dan harga pembeliannya. 3) Investor yang ingin menjual saham akan melakukan perintah penjualan (order jual) melalui perusahaan sekuritas dengan 23 memasukkan nama saham, nominal penjualan dalam lot dan harga penjualannya. 4) Order yang masuk selanjutnya akan ditampilkan di BEI dan juga bisa dilihat pada layar transaksi perusahaan sekuritas. 5) Apabila harga transaksi cocok, transaksi akan terjadi secara sistem dimana untuk perpindahana aset dan pembayaran akan difasilitasi oleh KPEI dan KSEI. 6) Untuk pembelian, investor harus menyetor sesuai nominal pembelian maksimal 3 hari kerja (T+3) setelah transaksi. 7) Untuk penjualan, investor akan menerima pembayaran maksimal 3 hari kerja (T+3) setelah transaksi. 8) Dalam hal terdapat libur, maka yang diperhitungkan adalah hari kerja.

Proses Go Public atau IPO (Initial Public Offering) (skripsi dan tesis)

IPO menurut otoritas jasa keuangan (2016:61) adalah perusahaan tertutup yang memiliki peluang untuk menjadi perusahaan yang terbuka dengan cara menawar dan menjual sebagian sahamnya kepada publik dan mencatatkannya di PT BEI atau bisa disebut sebagai “Bursa”. Selanjutnya proses tersebut disebut sebagai “Go Public”. Jadi IPO merupakan perusahaan yang mendaftarkan sahamnya kemudian menawarkan sahamnya kepada masyarakat luas sehingga perusahaan yang sudah tercatat di bursa disebut sebagai “Go Public”. Manfaat dari Go Public adalah 1) Menerima sumber pendanaan baru. 21 2) Memberikan keunggulan kompetitif (Competitive advantage) untuk pengembangan usaha. 3) Melakukan merger atau akuisis perusahaan lain dengan pembiayaan melalui penerbiatan saham baru. 4) Peningkatan kemampuan going concern. 5) Meningkatkan citra perusahaan (company image). 6) Meningkatkan nilai perusahaan (company value). 7) Menjadi batu loncatan untuk melakukan cross border listing di bursa efek luar negeri. 8) Meningkatkan kepercayaan dari lembaga keuangan internasional bila perseroan bermaksud mendapatkan pembiayaan dari pasar keuangan internasional.

Pasar Modal Syariah (skripsi dan tesis)

Pasar Modal Syariah menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin (2006:231) adalah pasar modal yang menggunakan ajaran syariah dalam aktivitas di segala transaksi ekonomi dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam ajaran islam. Sedangkan menurut Muhammad (2004:149) Pasar Modal menurut pandangan islam adalah pasar modal yang memiliki adab beretika. Segala transaksi di pasar modal harus sesuai dengan norma dalam etika islam sebagaimana sudah diatur dalam syariah. Serta menurut Khaerul umam (2013:85-86) Pasar Modal Syariah adalah kegiatan pembiayaan dan investasi keuangan dari aspek syariah pada prinsipnya kegiatan yang dilakukan oleh pemilik harta (investor) terhadap pemilik usaha (emiten) untuk memberdayakan pemilik usaha dalam melakukan kegiatan usahanya dan pemilik harta (investor) berharap untuk memperoleh manfaat tertentu. Dan 20 kegiatan-kegiatan di pasar modal tersebut termasuk pada kegiatan ekonomi yang termasuk dalam kegiatan muamalah yang tidak mengandung unsur riba, spekulasi, gharar ataupun khida’ (penipuan). Jadi dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa pasar modal syariah adalah penawaran jual beli saham yang diperdagangkan di lembaga bursa efek sama seperti pasar modal konvensional akan tetapi segala transakasi yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip-prinsip islam dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam ajaran agama

Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pasar modal merupakan sarana bagi pihak yang mempunyai dana lebih dan pihak yang membutuhkankan dana melalui dengan memperjual-belikan berbagai instrumen keuangan baik dari bentuk utang, ekuitas (saham), instrumen derivatif, ataupun instrumen lainnya. Pada umumnya pasar modal di Indonesia terdapat 2 jenis yakni pasar modal Konvensional dan pasar modal syariah. 1) Pasar Modal Konvensional Pasar Modal seperti yang dikemukakan oleh Sunariyah (2003:14) adalah suatu sistem keuangan yang sangat sistematis, dimana didalamnya mengandung unsur-unsur tentang bank-bank komersial dan semua badan perantara di bidang keuangan, dan seluruh surat berharga yang beredar. Dalam arti sempitnya, pasar modal merupakan suatu pasar dimana berguna untuk memperjualbelikan saham, obligasi dan jenis surat berharga lainnya dengan menggunakan jasa perantara seperti pedagang efek. kemudian Pasar Modal menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin (2006:1) adalah suatu pasar untuk berbagai instrumen keuangan dalam waktu jangka panjang yang umumnya 19 diperjualbelikan, baik dalam bentuk ekuitas (saham), utang, instrumen derivatif dan lain sebagainya. Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah pasar yang memperjualbelikan saham, obligasi, atau surat berharga lainnya melalui Bursa efek dimana pasar modal ini menggunakan berbagai instrumen keuangan dalam waktu relatif jangka panjang

Prosedur Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Menyusun hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas.
2. Menentukan prioritas elemen
– Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah mem buat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan
sesuai kriteria yang diberikan.
– Matriks perbandingn berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah:
– Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
– Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks.
– Menumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata .
4. Mengukur konsistensi Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui
sebeapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan
berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang rendah. Hal-hal yang
dilakukan dalam langkah ini adalah:
– kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen
pertama, nilai pada kolom kedua dengan prioritas relatif elemen kedua, dan
seterusnya.
– Jumlahkan setiap baris.
– Hasi dari pejumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang
bersangkutan.
– Jumlahkan hasil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λ maks.
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus :
CI = ( λ maks-n)/n
Di mana n = banyaknya elemen
6. Hitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) dengan rumus :
CR=CI/IR
15
Di mana CR=Consistency Ratio
CI=Consistency Index
IR=Indeks Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Namun jika ratio konsistensi (CI/IR) kurang atau sama denga 0,1. maka hasil perhitungan bisa dinyatakan benar.

Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Penelitian ini melakukan tinjauan literature pada kualitas website untuk menghasilkan  subkriteria (alternatif pilihan) dan empat kriteria kualitas website (faktor utama) yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan dan daya tarik yang digunakan untuk mengukur kualitas website. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengguna website perpustakaan ini akan dilakukan pengkajian dengan mendapatkan masukan dari para responden yang terhimpun dalam sebuah kuesioner yang akan diolah dengan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan bobot relatif faktor kualitas website dengan kelengkapan data numerik dari perhitungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Model proses analisis hirarki (berjenjang) ini diperkenalkan pertama kali oleh Thomas L. Saaty pada era 1970-an di mana ciri khas dari model ini adalah penentuan skala prioritas atas alternatif pilihan berdasarkan suatu proses analitis secara berjenjang, terstruktur atas variabel keputusan (Darmawan 2009). Metode AHP merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan dengan memperhatikan faktor-faktor persepsi, prefensi, pengalaman dan intuisi. AHP menggabungkan penilaian-penilaian dan nilai-nilai pribadi ke dalam satu cara yang logis. (Marimin dan Nurul 2010). AHP (Analytical Hierarchy Process) memiliki sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi 1992).

Dapat disimpulkan AHP adalah sebuah metode yang dapat menguraikan permasalahan yang sangat luas menjadi terstruktur. AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Dengan 13 AHP proses keputusan kompleks dapat diuraikan menjadi keputusan-keputusan lebih kecil yang dapat ditangani dengan mudah. Penelitian sebelumnya tentang website dengan menggunakan metode AHP telah dilakukan oleh Changping (2009) tentang AHP dan dasar evaluasi analisis kesesuaian terhadap kualitas layanan informasi: studi empiris pada industri berteknologi tinggi dengan informasi portal web, di mana hasil dari penelitiannya terhadap 10 (sepuluh) pusat informasi yang berbasis web didapat nilai tertinggi pada informasi di website industri perangkat medis China dengan nilai tertinggi yaitu 3,8296, dimana alternatif pilihannya ada pada kemudahan dalam pemakaian website seperti navigasi dan kecepatannya dengan nilai 0,2371. Hsiu-Fen (2010) tentang penggunaan aplikasi AHP untuk mengevaluasi kualitas website didapat hasil dengan nilai tertinggi 0,288 pada kualitas informasi dan peringkat kedua 0,258 pada kualitas sistem. Menurut Permadi (1992) AHP adalah salah satu bentuk model pengambilan keputusan yang pada dasarnya berusaha menutupi semua kekurangan dari model-model sebelumnya. Model AHP memakai persepsi manusia yang dianggap ekspert dalam arti kata mengerti benar dengan permasalahan yang diajukan atau memiliki kepentingan dengan permasalahan.

World Wide Web (WWW) (skripsi dan tesis)

Saat ini website adalah aplikasi layanan internet yang paling banyak dipakai (popular). Pertumbuhan website sangat cepat sekali, boleh dibilang setiap hari bermunculan puluhan bahkan ribuan web baru, hal ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi internet dan teknologi komunikasi. Web sebenarnya berasal dari world wide web (WWW) adalah sebuah sistem penyebaran informasi melalui internet. Informasi yang dikirimkan dapat berupa teks, suara (audio), animasi, gambar, dan browser, seperti internet explorer, mozilla firefox, opera dan lain-lain. (Yuhefizar et al. 2005). Sedangkan menurut Zaki (2009) website adalah sebuah tempat yang memungkinkan seorang menyatakan dirinya, hobinya, pengetahuannya, produk yang dijualnya dan apapun juga yang dapat diakomodasi oleh teks, tulisan, gambar, video, animasi dan file multimedia lainnya. Atau juga kumpulan informasi dari beberapa server yang terhubung satu sama lain dalam jaringan internet. Informasi ini mempunyai link (hubungan) dengan informasi lain, baik dalam satu jaringan terbatas maupun dalam sistem jaringan yang lebih luas (Yusup 2010). Dapat dikatakan bahwa website adalah kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar, suara atau gabungan dari semuanya yang saling terkait dimana masingmasing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). World Wide Web menawarkan berbagai aspek unik yang membuatnya sangat popular (Yuhefizar et al. 2005) antara lain :

1. Bisa mengakses situs-situs yang ada di semua belahan dunia. Kita bisa menghubungkan komputer yang kita gunakan dengan ribuan Web servers, hanya dengan mengklik pilihan-pilihan pada menu tertentu atau masuk ke alamat situs spesifik.

2. Bisa melakukan hubungan dengan berbagai tipe sistem yang berlainan, tanpa harus khawatir akan perbedaan tersebut.

3. Bisa mengakses berbagai variasi tipe informasi (teks, gambar, audio, video) secara relatif mudah.

4. Dengan menggunakan satu Web browser, kita bisa mengakses bermacammacam tipe sistem dan informasi di seluruh dunia.

Cara kerja WWW dikendalikan oleh dua hal yang menentukan, yakni software web browser, kadang disebut dengan browser saja, dan software web server yang dikenal dengan server saja. Istilah lain yang sering ditemui sehubungan website adalah homepage. Homepage adalah halaman awal sebuah domain. Misalnya, ketika kita membuka website halaman pertama yang muncul disebut dengan homepage, jika kita mengklik menu-menu yang ada dan meloncat ke lokasi lainnya disebut web page, sedangkan keseluruhan isi/conten domain disebut website. Situs web dirancang untuk memberikan akses besar ke sejumlah informasi. Beberapa situs web komersial, misalnya menyediakan berbagai informasi tentang produk dan jasa mereka dan sering menyediakan komponen ecommerce sehingga pengunjung dapat melakukan transaksi pembelian. Banyak teori yang berpendapat bahwa sebuah situs website dalam memberikan layanan dan produknya kepada masyarakat pengguna agar mereka merespon websitenya adalah sebagai berikut: Menurut Kochtanek dan Matthews (2002), sebuah website akan sering dikunjungi penggguna apabila menghibur, menarik perhatian, isinya sangat berguna, informasi disesuaikan dengan kebutuhan, visualnya menarik, sangat interaktif dan bisa cepat loading.

Sedangkan menurut Palmer JW (2002), variabel – variabel website sebagai berikut : Accessibility (dapat diakses dengan mudah), Navigability (memiliki sistem navigasi yang mudah), Response time (waktu loading yang cepat), Learnibility (kemudahan dalam berinteraksi dengan website) Menurut Delone dan Mclean (2003) website haruslah memiliki Accurasy (ketepatan), Currency (kemutakhiran), Completeness (kelengkapan), Format (sesuai dengan materi pembelajaran). Konteks basis web menurut Parasuraman A., Zeithaml VA. Dan Berry LL. (1985) harus dapat memberikan kualitas dukungan layanan yang penuh seperti Realibility (dapat diandalkan), Responsiveness (daya tanggap terhadap 7 pemberian layanan yang cepat), Trust (dapat dipercaya), dan Empathy (memiliki rasa perhatian yang tinggi terhadap kebutuhan pengguna). Tampilan website juga harus bisa memberikan daya tarik kepada pengguna, bahwa halaman web tersebut enak untuk dibaca dan menyenangkan. Design graphis, layout, isi website harus dapat meningkatkan estetika dan daya tarik (Ranganatan dan Ganapathy 2002). Daya tarik tersebut terdiri dari :

1. Multimedia capability; kemampuan multimedia misalkan teks, grafis, video klip, audio clip dan animasi

2. Webpage design; disain halaman web mengacu kepada kemutakhiran

3. Course design; disain yang mengacu pada disain yang sesuai skenario pembelajaran

4. online Enjoyment; kenikmatan atau kenyamanan mengacu pada sejauh mana pengguna senang dan puas ketika menggunakan program situs web .

Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya anak jalanan (skripsi dan tesis)

Tini (2008: 24) Diantara factor-faktor yang melatarbelakangi munculnya anak jalanan adalah sebagai berikut: 1) Kondisi ekonomi keluarga Kondisi keluarga merupakan salah satu sebab terbesar mengapa menjamurnya anak-anak jalanan di jalan-jalan kota, orang tua mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya sehingga terpaksa mereka ikut membantun untuk mecari nafkah. 2) Konflik dengan orang tua. Banyak juga anak-anak yang setelah ada konflik dengan orangtuanya kemudian ia memutuskan untuk kabur dari rumah sehingga membuatnya menjadi tidak punya rumah lagi sehingga mereka lebih memilih untuk hidup di jalanan. 3) Mencari pengalaman Tidak jarang anak-anak melakukan aktivitas di jalan adalah untuk menambah pengalaman memperoleh penghasilan hasil dari keringatnya sendiri

Karakteristik anak jalanan (skripsi dan tesis)

Anak jalanan sesungguhnya adalah anak-anak yang termarjinalkan karena berbagai factor dan banyak dikucilkan oleh masyarakat dan dicap sebagai sampah masyarakat sehingga tidak jarang mereka menjadi korban kerasnya kehidupan kota. Berdasarkan intensitasnya di jalanan, anak jalanan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok (sanituti, 1999)

1) Children of the street

Anak yang bekerja di jalanan dan sama sekali tidak memiliki memiliki hubungan dengan keluarga, biasanya mereka akan tinggal di ujung-ujung jalanan, stasiun, emperan took, dan lain sebagainya.

2) Vulberable children to be street children

Anak yang rentan menjadi anak jalanan, biasanya diisi oleh anakanak yang masih berusia sekolah, masih memiliki hubungan dengan keluarga akan tetapi.

3) Children on the street

Anak yang bekerja di jalanan, umumnya mereka adalah anak putus sekolah.

Masih ada hubungan dengan keluarga namun mereka jarang pulang.

Penelitian Departemen Sosial dan UNDIP di Jakarta dan Surabaya, anak jalanan dikelompokkan menjadi empat kategori sebagai berikut: 1) Anak jalanan yang hidup di jalanan

Anak dalam kategori ini adalah anak yang kesehariannya dihabiskan untuk berada di jalanan, bahkan anak dalam kategori ini biasanya tidak memiliki rumah atau tempat tinggal untuk dijadikan tempat pulang dan istirahat.

2) Anak yang bekerja di jalanan

Anak ini adalah anak yang kesehariannya berjualan mencari nafkah membantu perekonomian keluarga dan bertahan hidup. Bahkan anak dalam kategori ini cenderung lebih mandiri dari kategori anak yang pertama.

3) Anak yang rentan menjadi anak jalanan

Anak yang kesehariannya berada di jalanan untuk mencari nafkah, biasanya hubungannya dengan orang lain tidak teratur

Pengertian anak jalanan (skripsi dan tesis)

(Suyanto, 2010) Anak jalanan atau disebut juga secara eufimistis sebagai anak mandiri, sesungguhnya mereka adalah anak yang tersisihkan, terpinggirkan atau termarjinal, dan tersisihkan dari kasih sayang. Mayoritas mereka adalah anak-anak usia dini atau usia-usia produktif yang terlalu dini untuk menghadapi kerasnya hidup di jalanan yang tidak bersahabat. Di berbagai sudut kota akan seringkali kita dapati anak-anak usia sekolah yang berkeliaran yang mana seharusnya di usia mereka 24 adalah usia produktif untuk menuntut ilmu akan tetapi malah mereka menjadi termarjinalkan dan bahkan mengalami penolakan oleh masyarakat. Marjinal atau terasingkan, rentan, eksploitatif adalah istilahistilah untuk menggambarkan kondisi hidup anak jalanan. Disebut sebagai marjinal karena kondisi mereka yang tidak diterima di masyarakat, tidak dihargai dan tidak jarang pula mendapatkan perlakuan yang tidak pantas. Rentan karena kondisi kehidupannya yang bebas disetiap sudt-sudut kota sehingga mereka memiliki peluang lebih besar untuk terkena musibah, kecelakaan, dan bahkan penyakit menular. Eksploittif, karena usia anakanak cenderung dimanfaatkan dengan sewenang-wenang oleh para orangtua untuk mencari uang, entah dengan berjualan snack kecil-kecilan hingga mengamen dan memulung sampah di sudut-sudut kota. Karena usia anak akan mendapatkan empati

besar dari calon pembeli sehingga pembeli akan mudah untuk tergerak hatinya membantu si anak ini. Menurut Departemen Sosial RI (2005:5), anak jalanan adalah anak yanag menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri berusia 5-18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus. Dari dua definisi diatas bahwa anak jalanan adalah anak yang banyak menghabiskan waktunya di jalanan, baik untuk mencari nafkah ataupun kegiatan lain di ujung jalanan. Ada beberapa diantara mereka yang melakukan profesinya di jalanan secara sukarela untuk membantu ekonomi keluarga, namun tak sedikit pula yang karena keterpaksaan, keterbatasan, dan minimnya kasih sayang dan pengawasan dari orang tua

Aspek-aspek psychology Well Being (skripsi dan tesis)

Psychological Well Being menurut Ryff (dalam Ryff, 1989) memiliki enam aspek yang merupakan rumusan dari teori Functioning Psychology ada enam:

1) Aspek penerimaan diri (Self-acceptance)

Pada teori mengenai perkembangan manusia, selfacceptance memiliki keterkaitan dengan sikap penerimaan individu dengan masa kini dan masa lalunya, kemampuan untuk mengetahui dan mengakui akan aspek diri. Adapun individu yang memiliki nilai rendah pada aspek penerimaan diri yakni individu  yang sering merasa tidak puas diri, mider, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan penerimaan dirinya sendiri.

2) Aspek hubungan positif dengan orang lain

Aspek kemampuan berhubungan positif dengan orang lain ini mencakup kemampuan individu untuk menjalin komunikasi dan saling percaya satu sama lain. Adapun yang memiliki nilai aspek hubungan positif dengan orang lain rendah yakni apabila sering merasa sendiri, depresi, merasa kesepian, terasing, dan susah bersosialisasi dengan masyarakat luas.

3) Aspek otonomi

Aspek ortonomi merupakan aspek dimana individu memiliki kebebasan dalam diri sendiri untuk memutuskan segala sesuatu, mandiri, peduli dengn orang lain, dan dapat mengevaluasi dirinya sendiri, adapun yang memiliki aspekotonomi rendah akan sulit untuk dapat mandiri, bergantung pada penilaian orang lain, melakukan penyesuaian dengan tekanan sosial untuk berpikir dan bertindak dengan cara-cara tertentu

4) Aspek penguasaan lingkungan

Memiliki perasaan penguasaan diri tinggi pada lingkungan, banyak aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan, dan mampu mengelola lingkungan, adapun individu yang memiliki nilai rendah pada aspek penguasaan lingkungan akan sukar untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari, tidak mampu mengubah lingkungan sekitarnya, dan tidak memiliki kesadaran akan lingkungan sekitar.

5) Aspek tujuan hidup

Memiliki tujuan hidup dan arah hidup yang jelas sehingga berdampak pula pada psikologinya, merasa memiliki makna dalam hidup yang tidak terpengaruh pada masa lalu. Adapun individu yang memiliki aspek tujuan hidup rendah adalah individu yang tidak memiliki tujuan hidup, ketidak beraturan hidupnya, dan tak memiliki makna dalam hidupnya.

6) Aspek pertumbuhan pribadi

Adalah individu yang memiliki perasaan dirinya dapat berkembang, memiliki keterbukaan dalam dirinya dalam menerima pengalaman baru, dan menyadari berbagai potensi dirinya. Adapun individu yang memiliki aspek pertumbuhan pribadi yang rendah adalah memiliki perasaan kemandekan pribadi, merasa mudah bosan, dan merasa tidak mampu mengembangkan pribadi yang lebih baik dan lebih mampu

Pengertian Psychological Well Being (skripsi dan tesis)

Psychological Well Being atau dalam bahasa Indonesia adalah kesejahteraan psikologi. Kata “sejahtera” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti aman sentosa dan makmur, selamat (lepas dari segala macam gangguan, kesukaran, dan sebagainya), adapun “kesejahteraan” berarti sejahtera, aman, selamat, tentraman kesenangan hidup, makmur, dan sebagainya. Psychological Well Being merupakan aktualisasi dan pencapaian yang paripurna dari potensi individu dimana seseorang dapat menerima segala kekurangan yang ada dalam dirinya juga kekurangannya, mandiri, mampu bersosialisasi dengan positif dengan orang lain, dapat menguasai lingkungan dan sekitarnya agar dapat menyelaraskan dengan cita-cita hidupnya, memiliki goal dalam kehidupannya, serta terus mengembangkan pribadinya (Ryff, 1989: 57) Sari, (2006: 13)

Bradburn menerjemahkan kesejahteraan psikologis berdasarkan pada buku karangan Aristoteles yang berjudul “Nicomachean Ethics” menjadi Happines (Kebahagiaan). Kebahagiaan berdasarkan pada pendapat Bradburn yakni adanya kesamaan dan keseimbangan antara sisi positif dan negatif. Amawidyati dalam jurnal religiusitas dan psychological Well Being pada korban gempa, Robinson mendefinisikan Psychological Well Being merupakan hasil evaluasi diri dan penilaian diri sendiri atas kehidupannya. Evaluasi dan penilaian akan pengalaman diri ini lah yang dapat membuat psychological Well Being seseorang dapat menjadi rendah atau dapat berusaha untuk menaikkan keadaan dan kesejahteraannya agar kesejahteraan psikologinya meningkat. Setiap individu yang dapat dengan mandiri menempatkan berbagai hal pada tempatnya, dapat mengatur dirinya secara meredeka, menatap masa depan dengan tanpa terbayang oleh masa lalu dan kemudian didukung dengan kemampuan untuk menempatkan hal-hal positif dan negatif dalam dirinya akan mendapatkan kesejahteraan psikologi yang tinggi dan sehat

Proses Internalisasi kebersyukuran (skripsi dan tesis)

Dalam proses intrernalisasi ini, dibutuhkan kerjasama dan saling terkait antara peneliti dengan subjek penelitian, menurut (Muhaimin, 1996 p. 153) dikutip oleh (Laila 2016:19) kebersykuran akan melewati tiga tahap proses internalisasi: 1) Tahap transformasi Pada tahap ini, subjek penelitian akan melalui proses transformasi nilai-nilai kebersyukuran, memperkenalkan konsepnya, dan menjelaskan berbagai seluk beluknya, pada tahap ini hanya menggunakan komunikasi verbal antara peneliti dengan subjek penelitian. 2) Tahap transaksi nilai-nilai kebersyukuran Pada tahap ini peneliti akan menggunakan pola komunikasi dua arah atau interaksi antara peneliti dengan subjek penelitian bersifat timbal balik 3) Tahap transinternalisasi Pada tahap ini, pola internalisasi lebih jauh mendalam dari tahap sebelumnya, dalam tahap ini bukan hanya komunikasi verbal, namun juga sikap mental dan kepribadian, jadi tahap ini komunikasi kepribadian berperan secara aktif. Proses internalisasi nilai-nilai kebersyukuran terjadi dengan berbagai tahapan dimulai dengan tahapan yang mudah dan ringan sampai bertahap pada tahapan yang lebih lanjut agar maksud dan tujuan internalisasi nilai-nilai dapat tercapai dengan sempurna.

Rahmawati (2018), bersyukur merupakan sebaik-baik jalan kehidupan bagi orang-orang, tidaklah seseorang menjadi semakin tinggi derajatnya melankan karena tingkat kesyukuran mereka juga meningkat, karena iman terdiri dari dua bagian yaitu bersyukur dan bersabar, maka bersyukur merupakan sebuah kewajiban bagi mereka yang mengaharapkan yang terbaik untuk dirinya. Orang-orang yang telah mendapati kesyukuran dalam dirinya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) Selalu berterimakasih dengan sesama manusia dan selalu berbuat baik kepada sesama 2) Selalu menghadirkan hati yang gembira dengan segala pemberian meskipun pemberian tersebut 3) Mampu mempergunakan nikmat itu untuk memperlancar jalan menuju keridhoan Allah SWT  4) Selalu mengucapkan Hamdalah atau tahmid setiap kali mendapatkan anugerag berupa kenikmatan atau mendapatkan pujian, maka mengucapkan sanjungan untuk Allah SWT 5) Memandang besar nikmat Allah SWT sekecil apapun yang diterimanya dan selalu memandang kepada orang-orang yang berada di bawahnya untuk mempertebal rasa syukurnya

Metode kebersyukuran (skripsi dan tesis)

Alkharraz menyatakan sebagaimana dikutip oleh Amir Najjar bahwa syukur itu dibagi menjadi 3 (an-Najjar, 2001) 1) Syukur dengan hati, yaitu kesyukuran yang berasal dari hati yakni penerimaan sepenuhnya akan nikmat adalah datangnya dari Allah semata dengan tulus dan ridho sehingga tidak akan muncul rasa kekurangan dan kekufuran atas berbagai anugerahnya. Ketika syukur dengan hati sudah 18 dilaksanakan maka akan timbul ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan jauh dari kesusahan dunia. 2) Syukur dengan lidah/lisan. Yakni dengan mengakui dengan ucapan akan segala kenikmatan dan anugerah itu merupakan datangnya dari Allah semata dengan banyak mengucap Hamdalah dan berbagai pujian-pujian yang baik kepada Allah atas segala kenikmatan yang dianugerahkan kepadanya. 3) Syukur dengan perbuatan yakni mempergunakan kenikmatan yang diperoleh untuk melaksanakan ketaatan dan untuk merenungi berbagai kenikmatan yang ia peroleh. Dengan mengamalkan ketiga bagian syukur tersebut, maka berbagai kemudahan hidup, kebermaknaan hidup, kesucian jiwa dan lain sebagaiya akan timbul seiring dengan tingkatan syukur tersebut.

Aspek Kebersyukuran (skripsi dan tesis)

Menurut McCullogh (2002) dalam Sulistyarini (2010) mengungkapkan aspek-aspek bersyukur terdiri dari empat unsur,yakni:

1) Intensity, seseorang yang bersyukur ketika menemui atau mendapati hal-hal yang positif diharapkan dapat lebih intens untuk bersyukur.

2) Frequency, seseorang yang memiliki kebiasaan untuk bersyukur akan merasakan kecenderungan untuk banyak bersyukur setiap harinya dan kebersyukuran itu bisa mendorong perilaku kesederhanaan atau kesopanan.

3) Span, maksudnya adalah dari peristiwa-peristiwa kehidupan bisa membuat seseorang bisa bersyukur, misalnya merasa bersyukur atas harta, keluarga, kesehatan, dan lain sebagainya.

4) Density, maksudnya adalah orang yang bersyukur diharapkan dapat menuliskan lebih banyak nama-nama orang-orang atau sosok-sosok yang mampu membuatnya untuk terus bersyukur termasuk kerabat terdekat, keluarga, teman, dan lain sebagainya.

Adapun kandungan dalam syukur adalah sebagai berikut (M Thobroni, 2010)

1) Menerima apa yang telah didapat Banyak orang yang telah mendapatkan kesuksesan, kekayaan, dan kedudukan yang tinggi, akan tetapi ia tetap merasa belum tercukupi. Kekayaan ddan kesuksesan yang didapat tidak membuatnya merasa cukup. Ia terus mencari kebahagiaan, membeli berbagai hal yang konon membuat hidupnya bahagia

2) Merawat apa yang sudah ada Termasuk dalam kesyukuran adalah merawat apa yang sudah ada dengan tanpa membandingkan atau melihat-lihat halhal yang belum ia unya, karena hal tersebut dapat mengakibatkan kurang bersyukur bahkan mengkufuri pencapaian saat ini.

3) Mengembangkan apa yang belum baik jadi lebih baik Ketika mendapatkan kesempatan hidup yang masih panjang, maka bentuk kesyukurannya adalah dengan memanfaatkan segenap nikmat usia untuk selalu meng-upgrade kompetensi dan kapasitas diri dari berbagai aspek positif.

4) Setia pada proses kesuksesan Segala hal tidak ada yang instan dan pasti membutuhkan proses, maka ketika mendapatkan kenikmatan berupa proses, harus disyukuri dengan tidak berpaling dari proses tersebut.

(Al-Munajjid, 2006) memberikan penjelasan bahwa Syukur dapat muncul karena 3 aspek, yaitu:

1) Mengenal nikmat Yakni dengan sepenuh hati menerima berbagai kenikmatan yang Allah SWT anugerahkan adalah semata-mata datang dari Allah SWT.

2) Menerima nikmat Menjadi bijaksana saat menerima kenikmatan Allah SWT, yakni meyakini dengan setulus hati bahwa nikmat yang diperoleh adalah bukti kasih saying dan karunia Allah SWT. 3) Memuji Allah SWT atas pemberian nikmat Dengan selalu mengucapkan hamdalah dan berbagai ucapan-ucapan yang baik ketika setelah mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT

Pengertian Kata syukur (skripsi dan tesis)

Pengertian Kata syukur merupakan kata serapan dari bahasa Arab, berasal dari kata”syakara” yang memiliki arti berterimakasih, dan bentuk ism mashdar dari kaa ini adalah “syukr” atau “syukron” yang artnya juga terimakasih. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, diartikan sebagai rasa terimakasih kepada Allah SWT. Syukur merupakan ajaran yang sangat pentig dalam Al-Qur’an dan hadits ia beriringan dengan zikir dan ibadah kepada Allah SWT. Syukur dalam pengertiannya yang komprehensif mencakup perbuatan hati, lisan, dan anggota-anggota tubuh lainnya. Walaupun demikian, banyak orang yang terpaku pada syukur dengan lisan. Oleh sebab itu, diperlukan pertolongan dari Allah SWT agar dapat mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan olehNya dengan benar.

Kebersyukuran kepada Allah SWT atas segala kenikmatan yang diberikan juga akan menambah kenikmatan dan nikmat dari Allah SWT, sebagaimana firmanNya: “Dan (Ingatlah) tatkala telah memberi ingat tuhanmu, ”Sesungguhnya jikalau bersyukur kamu, akan ditambahilah untuk kamu dan jika kufur kamu, sesungguhnya adzab-Ku adalah sangat ngeri” [QS Ibrahim:6]

Dalam kitab Tafsir Al-azhar karya ulama fenomenal tanah air, Buya Hamka dijelaskan mengenai ayat diatas bahwa ayat ini berkenaan dengan Bani Isra’il yang telah Allah selamatkan mereka dari penindasan dan kejahatan Fir’aun agar mensyukuri keselamatan mereka tersebut. dalam bersyukur hendaklah terus berusaha guna mengatasi kesulitan. Setelah bebas dari penindasan Fir’aun, mereka harus membangun. Jangan 14 mengomel atas persediaan yang kurang, jangan mengeluh jika banyak cita-cita yang belum tersampaikan, syukuri apa yang ada niscaya akan ditambah oleh Allah SWT. Tetapi kalau hanya mengomel atas persedian yang serba kurang, ini itu belum beres dan lain sebagainya seakan-akan pertolongan Allah SWT tidak datang maka itu disebut sebagai sebuah kekufuran, artinya melupakan nikmat dan tidak mengenal terimakasih.

Orang yang demikian akan medapatkan siksa yang pedih dan mengerikan, diantaranya ialah jiwanya yang merumuk karena ditimpa penyakit selalu merasa tidak puas. Tafsir diatas dikatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Bani Israil saat itu, namun makna dan maksud dari ayat ini berlaku untuk semuanya sebagaimana dalam kaidah ‘ulumul Qur’an “al ‘ibrotu bi’umumil lafdzi, la bi khususissabab” yang artinya adalah ibroh dari ayat tersebut diambil dari umumnya lafadz, tidak terikat dengan khususnya sebab diturunkannya ayat tersebut. yang menandakan bahwa meskipun ayat tersebut turun berkenan dengan Bani Israil agar mensyukuri nikmat atas pembebasan mereka dari Fir’aun dan ancaman dari Allah SWT apabila mereka mendustakan nikmatnya atau mengkufuri kenikmatan dari Allah SWT, maka azab Allah SWT adalah pedih. Ayat tersebut juga berlaku bagi kita saat ini dengan keumuman lafadznya. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda: “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘lihatlah kepada siapa yang lebih dibawah klian dan janganlah melihat kepada siapa yang lebih diatas kalian, karena hal itu lebih patut menjadikan kalian tidak mengingkari nikmat Allah atas kalian’” [Muttafaqun ‘alaih] Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk kepada obat yang menakjubkan ini, sebab yang sangat kuat untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala yaitu hendaknya setiap hambanya memperhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmatnikmat lainnya. Jika seorang senantiasa melakukan hal ini, maka mengharuskannya untuk banyak bersyukur kepada Rabbnya serta menyanjungNya. Karena ia akan selalu melihat manusia berada sangat jauh tingkatanya dalam hal-hal tersebut. (sa’di, 2014 hal. 77) Merupakan naluri dasar manusia yang selalu menengok keatas, lupa akan kondisi dirinya sendiri yang sebenarnya memiliki banyak kelebihan yang belum pasti dimiliki oleh orang lain, seakan selalu merasa tidak puas dengan pencapaiannya sehingga membuatnya lalai untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmatNya. Sehingga Rasulullh SAW sebagai suri tauladan memberikan pelajaran untuk selalu melihat kebawah, melihat orang-orang yang tidak lebih beruntung daripada kondisi kita saat ini sehingga hal ini akan menimbulkan kesyukuran atas segala pencapaian diri

Hubungan Inflasi, Nilai Tukar dan Suku Bunga Terhadap Return Saham (skripsi dan tesis)

Banyak indakator yang dapat mengukur variabel makro dan indikator yang lazim digunakan untuk mem-prediksi fluktuasi harga dan return saham dimasa mendatang adalah variabel moneter yang dikendalikan oleh kebijakan moneter melalui mekanisme transmisi pasar keuangan (Bank Indonesia, 2004). Variabel-variabel antara lain tingkat bunga, laju inflasi, dan kurs valuta asing. Arbitrage Pricing Theory mengemukakan bahwa return saham dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko. Salah satu resiko yang mempengaruhi perubahan pada return saham adalah perubahan tingkat inflasi yang tidak diantisipasi sebelumnya (unanticipated inflation). Kenaikan laju inflasi yang tidak antisipasi tersebut akan meningkatkan harga barang dan jasa, sehingga konsumsi akan menurun. Selain itu kenaikan harga faktor produksi juga akan meningkatkan biaya modal perusahaan. Sehingga pengaruh dari kenaikan laju inflasi yang tidak antispasi tersebut akan menurunkan harga saham (Berry, 1998). Dornbusch dan Fisher (1980) berpendapat bahwa ada hubungan antara current account saat ini dan perilaku nilai tukar. hal ini diasumsikan bahwa nilai tukar ditentukan oleh current account dan tradebalance performance.

Perubahan dalam kurs mempengaruhi daya saing internasional dan neraca perdagangan, dengan demikian mem-pengaruhi variabel ekonomi riil seperti pendapatan riil dan output. Artinya, model pasar uang menunjukkan bahwa perubahan dalam nilai tukar mempengaruhi daya saing perusahaan, yang pada gilirannya mempengaruhi laba perusahaan dan biaya yang mem-pengaruhi harga sahamnya. Sedangkan dalam teori, saham harus netral inflasi, dan kenaikan inflasi seharusnya tidak berdampak pada penilaian saham. Selain inflasi indikator moneter lain yang menunjukkan bahwa dapat mempengaruhi return saham adalah kurs valuta asing sebagai cerminan fluktuasi pasar valuta asing.

Pengaruh variabel ini dapat dijelaskan melalui mekanisme term of trade. Geske and Roll (1983) men jelaskan bahwa depresiasi mata uang domestik akan meningkatkan volume ekspor. Bila permintaan pasar internasional cukup elastis, hal ini akan meningkatkan cash flow perusahaan domestik, kemudian meningkatkan harga saham ini berarti meningkatnya harga saham dapat meningkatkan return saham. Dalam literatur, antara tingkat bunga dan harga saham berhubungan negatif dengan beberapa alasan. Dalam proses penilaian ekuitas, pada pertama tingkat diskonto yang ditentukan. Tingkat diskonto yang dipilih mencerminkan nilai waktu uang dan keberisikoan saham. Risk free rate merupakan nilai waktu dari uang. Sebuah premi risiko merupakan kompensasi untuk risiko, diukur relatif terhadap risk free rate. Pemilihan tingkat diskonto oleh investor sebagai tingkat pengembalian (Stowe et al. 2007 : 47).

Hubungan antara Suku Bunga dengan Nilai Tukar (skripsi dan tesis)

Perekonomian terbuka dengan arus lintas modal yang bebas, peningkatan suku bunga akan memperkuat nilai tukar karena terjadi pemasukan modal dari luar negeri. Kenaikan suku bunga dalam negeri diharapkan bisa menarik minat para pemegang modal untuk menarik dana dari luar negeri ke Indonesia. Dengan masuknya dana dari luar negeri akan menyebabkan surplus neraca pembayaran. Orang asing ingin membeli aset domestik, keadaan ini akan menyebabkan nilai tukar mengalami apresiasi (Dornbusch, 2004).

Hubungan Antara Inflasi Dengan Nilai Tukar (skripsi dan tesis)

Hubungan antara nilai tukar dengan inflasi dapat dianalisis melalui pass throught effect (dampak lintasan langsung) pada umumnya adalah untuk mengetahui efek perubahan nilai tukar terhadap perubahan harga barang impor dan ekspor dan harga konsumen. Namun dapat dikembangkan lebih lanjut untuk melihat dampaknya terhadap investasi dan volume perdagangan. Fokus di berikan terhadap harga karena perubahan harga, misalnya harga ekspor dan harga impor, merupakan fenomena mendasar dalam pembentukkan harga produk, yang selanjutnya akan ber-pengaruh terhadap perubahan harga konsumen, dan pada gilirannya pada investasi dan volume perdagangan (Sunariyah, 2006). Model tersebut serupa dengan model yang dekembangkan oleh Svensson (2000), dimana pengaruh lintasan langsung kurs terhadap perekonomian dapat melalui efek langsung (direct pass through) maupun tidak langsung (indirect pass through).

Efek Langsung (Direct Pass Through) Pada efek langsung perubahan nilai tukar akan mempengaruhi melalui jalur output, yaitu melalui perubahan permintaan agregat dan penawaran agregat. Dampak langsung perubahan nilai tukar mempengaruhi inflasi melalui perubahan indeks barang domestik yang berasal dari impor barang-barang konsumsi. Dimana jika terjadi fluktuasi nilai tukar (depresiasi rupiah) maka harga-harga barang dari luar negeri akan menjadi mahal.

b. Efek Tidak Langsung (Indirect Pass Through)

Dampak tidak langsung lintasan kurs, dapat dilihat dari pergerakan nilai tukar yang akan mempengaruhi tingkat harga domestik melalui goncangan permintaan dan penawaran agregat. Secara teoritis, jalur tidak langsung biasanya melalui transmisi demand pull, dimana kenaikan harga luar negeri ataupun kenaikan pendapatan eksportir dalam negeri, pada gilirannya akan meningkatkan permintaan mereka terhadap barang dan jasa di dalam negeri (Menon, 1995).

Ekpektasi Pengembalian (Expected Return) (skripsi dan tesis)

Untuk mengukur apakah kita akan memutuskan untuk membeli suatu aset, kita akan dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang akan diperoleh dari penyimpanan aset tersebut. Indikator inflasi dapat menggambarkan tingkat pengembalian atas suatu aset apabila tingkat inflasi tinggi akan memperngaruhi perekonomian nasional yang dapat menyebabkan tingkat pengem-balian suatu aset. Fluktuasi tingkat inflasi yang tinggi di masa mendatang memilki resiko atau kerugian yang juga tinggi terhadap aset yang dimilki. Maka itu tingkat inflasi menjadi salah satu indikator yang cukup kuat untuk menurunkan harapan tingkat pengembalian yang tinggi di masa mendatang. Perubahan ekspektasi atas inflasi juga mempengaruhi nilai aset riil secara langsung dan lainnya secara tidak langsung. Kenaikan ekspektasi atas inflasi akan membuat nilai nominal dari aset riil naik dan meningkatkan permintaan atas aset tersebut. Sedangkan karena tingkat pengembalian yang diharapkan oleh aset lain relatif menjadi lebih rendah maka permintaan aset lain pun menjadi menurun. Kesimpulannya adalah peningkatan pada expected return suatu aset relatif terhadap alternatif aset lainnya akan meningkatkan kuantitas permintaan dari aset tersebut, ceteris paribus

Peraturan IHSG (skrispi dan tesis)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan data semua saham yang tercatat di suatu bursa efek. Metodologi perhitungan Indeks meng-gunakan ratarata tertimbang nilai pasar (market value weighted average Index). Nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali harga pasar hari ini (kapitalisasi pasar), sedangkan nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali harga dasar pada hari dasar. Hari dasar di Bursa Efek Jakarta adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100. Indeks Harga Saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah saham IHSG yang nilainya diambil dari Monthly Statistic Bursa Efek Indonesia dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2011. Nilai yang dipakai adalah nilai harga penutupan (closing price) setiap bulan yang akan digunakan untuk mendapatkan return dari setiap bulan

Inflasi (skripsi dan tesis)

Inflasi dapat di kaitkan dengan kemampuan daya beli baik individu maupun perusahaan. Hampir semua negara mengalami inflasi baik inflasi yang rendah atau tinggi. Didalam per-ekonomian ada kekuatan tertentu yang menyebabakan tingkat harga melonjak sekaligus, tetapi ada kekuatan lain yang menyebabkan kenaikan tingkat harga berlangsung terus menerus secara perlahan. Peristiwa yang cenderung mendorong naiknya tingkat harga disebut gejolak Inflasi (Lipsey, 1997). Secara keseluruhan, laju inflasi yang sedang berlangsung tergantung pada (i) permintaan, seperti yang ditunjukan oleh senjang inflasi atau senjang resesi, (ii) kenaikan biaya yang diharapkan, (iii) serangkaian kekuatan luar yang datang terutamadari sisi penawaran. Laju inflasi dapat dipisahkan menjadi tiga komponen yaitu inflasi inti, inflasi permintaan dan inflasi gejolak (Nopirin, 1997). Inflasi inti adalah inflasi yang komponen harganya dipengaruhi oleh faktor fundamental. Inflasi permintaan yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah seperti kebijakan harga BBM, listrik, air minum, dan lainnya, sedangkan inflasi bergejolak adalah inflasi yang dipengaruhi oleh kelancaran produksi dan distribusi barang dan jasa. Kenaikan inflasi dapat diukur dengan menggunakan indeks harga konsumen (Customer Price index)

Tingkat Suku Bunga SBI (skripsi dan tesis)

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang digunakan sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan sistem diskonto. Sertifikat Bank Indonesia diterbitkan tanpa warkat (scripless) dan transaksi yang dilakukan dicatat dalam sarana Bank Indonesia BISSSS. Masyarakat dan bank umum dapat memilki SBI dan Bank dapat membeli SBI di pasar perdana sementara masyarakat diperbolehkan membeli di pasar sekunder. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk mengontrol kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar. Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme BI Rate (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan. Bagi masyarkat tingkat suku bunga tinggi berarti terjadi inflasi yang cukuptinggi. Dengan adanya inflasi dapat menyebabkan penurunan konsumsi riilmasyarakat karena nilai uang yang dipegang masyarakat berkurang dan barang yangdihasilkan oleh perusahaan menurun pula. Hal ini kan mengurangi pendapatan perusahaan sehingga akan mempengaruhi tingkat keuantungan perusahaan, yangpada akhirnya akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan tersebut(Sunariyah, 2006).

Nilai Tukar (skripsi dan tesis)

Pengertian nilai tukar atau sering disebut kurs adalah harga satu unit mata uang asing dalam mata uang domestik atau dapat juga dikatakan harga mata uang domestik terhadap mata uang asing. Sebagai contoh nilai tukar Rupiah (Rp) terhadap dolar Amerika (USD) adalah harga satu dolar Amerika (USD) dalam Rupiah (Rp), atau dapat juga sebaliknya diartikan harga satu Rupiah terhadap satu USD. Nilai tukar yang kita kenal dalam pengertian sehari-hari sebagai-mana diuraikan diatas adalah dalam pengertian nominal (nilai tukar nominal). Ada beberapa indikator yang mempengaruhi fluktuasi harga saham dan return saham di masa mendatang, di antaranya faktor makro ekonomi seperti inflasi, nilai tukar, dan suku bunga. Harga pada umumnya terkait dengan sejumlah uang, dan nilai tukar ini bersifat stabil dan bisa labil atau terlalu bergerak naik atau turun

Indeks Harga Saham (skripsi dan tesis)

Untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perkembangan bursa dengan lengkap salah satu informasi yang diperlukan adalah harga saham sebagai cerminan dari pergerakan harga saham. Indeks harga saham merupakan indikator utama yang meng-gambarkan pergerakan harga saham. Indeks harga saham juga berfungsi untuk mengevaluasi seberapa baik kinerja suatu saham. Di pasar modal sebuah indeks diharapkan memilki lima fungsi (BEI, 2008) yaitu :

1. Sebagai indikator tren pasar

2. Sebagai indikator tingkat keuntungan

3. Sebagai tolak ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio

4. Memfasilitasi pembentukan porto-folio dengan strategi pasif

5. Memfasilitasi berkembangnya produk derivatif

Pelaku Pasar Modal (Skripsi dan tesis)

Para pemain utama yang terlibat di pasar modal dan lembaga penunjang yangterlibat langsung dalam proses transaksi antara pemain utama (Kasmir, 2001 : 183-189) sebagai berikut:

1. Emiten, perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat berharga ataumelakukan emisi di bursa disebut emiten.

2. Investor, Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya diperusahaan yang melakukan emisi.

3. Lembaga Penunjang

Pengertian dan Fungsi Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi) maupun modal sendiri (saham) yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan swasta. Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan suratsurat berharga yang beredar. Dalam arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar (tempat, berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek (Sunariyah, 2000:4) Fungsi pasar modal yaitu tempat bertemunya pihak yang memiliki dana lebih (lender) dengan pihak yang memerlukan dana jangka panjang tersebut (borrower). Pasar modal mempunyai dua fungsi yaitu ekonomi dan keuangan. Penyediaan fasilitas untuk memindahkan dana dari lender ke borrower. Dengan menginvestasikan dananya, lender mengharapkan adanya imbalan atau return dari penyerahan dana tersebut. Sedangkan bagi borrower, adanya dana dari luar dapat digunakan untuk usaha pengembangan usahanya tanpa menunggu dana dari hasil operasi perusahaannya. Di dalam keuangan, dengan cara menyediakan dana yang diperlukan oleh borrower dan para lender tanpa harus terlibat langsung dalam kepemilikan aktiva riil

Langkah Analisis ARIMA (skrispi dan tesis)

Setelah data diperoleh, maka langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
menganalisis data adalah :
1. Membuat plot time series  I
2. Melakukan pemeriksaan pada data apakah data sudah stasioner atau belum, menggunakan uji Augmented Dickey Fuller (ADF) untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam mean dan melalui grafik transformasi Box-Cox dan uji Bartlett untuk memeriksa apakah data sudah stasioner dalam varian.
3. Melakukan proses pembedaan (differencing) jika tidak memenuhi asumsi stasioner dalam rata-rata dan melakukan transformasi data jika tidak memenuhi asumsi stasioneritas dalam varians untuk data.
4. Membuat plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF) untuk melihat apakah terdapat efek musiman atau tidak serta untuk melihat panjang musiman dari data dan juga untuk mengukur hubungan keeratan antar pengamatan suatu deret waktu
5. Penetapan model untuk sementara atau mengidentifikasi model ARIMA berdasarkan dari plot Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF)
6. Penaksiran parameter dari semua model ARIMA Musiman yang mungkin dari data.
7. Menguji signifikansi parameter model ARIMA Musiman dan memilih model dengan semua parameter yang dihasilkan.
8. Pemeriksaan atau diagnosa apakah model memadai yaitu meliputi uji independensi residual dan uji kenormalan residual.
9. Mengevaluasi model peramalan yang telah didapatkan dengan menghitung nilai MSE, serta dilakukan pemilihan model terbaik berdasarkan nilai MSE yang paling kecil.
10. Menghitung residual yaitu selisih antara data aktual dengan hasil peramalan selama enam tahun sebelumnya.
11. Melakukan verifikasi peramalan pada model sementara menggunakan peta kendali Moving Range untuk mengetahui apakah hasil peramalan tersebut benar-benar mencerminkan data masa lalu.
12. Melakukan peramalan  kedepan untuk data berdasarkan model terbaik yang dihasilkan oleh metode ARIMA Musiman.

Pengertian dan fungsi Investasi (skripsi dan tesis)

Investasi dapat diartikan sebagai pananaman modal di masa mendatang dari suatu aset yang dimiliki. Dimana investasi salah satu komponen dari pertumbuhan ekonomi atau GDP yaitu: GDP = C + I + G + (X – M). Dimana apabila Investasi naik maka GDP naik begitu pula sebaliknya.Investasi terbagi menjadi dua jenis antara lain :

a. Investasi Otonom (Autonomous Investment)

Investasi otonom adalah investasi yang tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan dalam pendapatan nasional maupun tingkat bunga. Jadi, tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Investasi otonom (autonomous investment) dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di dalam jangka panjang seperti :

1. Tingkat keuntungan investasi yang diramalkan akan diperoleh.

2. Tingkat bunga.

3. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan.

4. Kemajuan teknologi.

5. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.

b. Investasi Terpengaruh (Induced Investment)

Investasi terpengaruh adalah investasi yang didorong oleh adanya perubahan pendapatan nasional. Jika pendapatan nasional naik investasi juga akan naik, jika pendapat nasional turun maka investasi juga menurun. Peningkatan pendapatan nasional diikuti kenaikan investasi karena kenaikan pendapatan nasional akan membawa serta kenaikan konsumsi, sehingga produksi dan investasi juga bertambah. Keseimbangan dalam perekonomian terjadi apabila:

1. Y = C + I, yaitu pendapatan nasional sama dengan konsumsi ditambahinvestasi.

2. I = S, yaitu investasi sama dengan tabungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat investasi antara lain:

1. Expected Rate of Return

2. Kondisi internal perusahaan

3. Kondisi eksternal perusahaan

4. Biaya investasi

5. Margianl Efficiency of Capital (MEC) dan Marginal Efficienct of Investment (MEI)

6. Tingkat bunga.

7. Ramalan kondisi yang akan datang.

8. Perubahan dan perkembangan teknologi.

9. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya.

10. Keuntungan yang dicapai perusahaan.

Jenis Stasioneritas (skripsi dan tesis)

1. Kestasioneran terhadap rata-rata

Suatu proses stasioner dalam rata-rata jika E(Zt) = μt = μ adalah konstan untuk setiap t. Untuk memeriksa kestasioneran ini dapat digunakan diagram deret waktu (time series plot) yaitu diagram pencar antara nilai peubah Zt dengan waktu t. Dapat juga dengan menggunakan uji unit root yang bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebut mengandung unit root atau tidak. Salah satu dari uji unit root ini yang digunakan adalah Augmented Dickey Fuller (ADF-test) dimana filosofi dari uji ADF ini adalah dengan mengikuti proses autoregressive orde pertama atau AR(1).

2. Kestasioneran terhadap varians

Suatu proses stasioner pada varians jika Var (Zt) = E (Zt – μt) 2 = σ 2 adalah konstan untuk setiap t. Pengujian stasioneritas dalam varians dapat menggunakan uji Bartlett. Jika data tidak stasioner dalam varians maka digunakan transformasi data. Menurut Rosadi (2012), transformasi yang biasa digunakan adalah Box-Cox Transformation

Heteroskedastisitas (skripsi dan tesis)

Heteroskedastisitas merupakan suatu kondisi apabila suatu data memiliki varians residual yang tidak konstan atau dengan kata lain situasi saat varians dari faktor pengganggu adalah tidak sama untuk semua observasi. Jika kesalahan pada suatu model mengandung masalah heteroskedastisitas, maka akibatnya UNIVERSITAS SUMATERA UTARA estimator yang dihasilkan tetap konsisten, tetapi tidak lagi efisien karena ada estimator lain yang memilki varians yang lebih kecil daripada estimator yang memiliki residual yang bersifat heteroskedastisitas. Adanya masalah heteroskedastisitas juga menjadi indikasi adanya efek ARCH pada data.

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Stasioneritas berarti bahwa tidak terdapat perubahan yang drastis pada data. Fluktuasi data berada di sekitar suatu nilai rata-rata yang konstan, tidak tergantung pada waktu dan variansi dari fluktuasi tersebut. (Makridakis, 1995) Sekumpulan data dinyatakan stasioner jika nilai rata-rata dan varians dari data time series tersebut tidak mengalami perubahan secara sistematik sepanjang waktu atau dengan kata lain rata-rata dan variansnya konstan. Kestasioneran data ini berkaitan dengan metode estimasi yang digunakan. Tidak stasionernya data akan mengakibatkan kurang baiknya model yang diestimasi. Selain itu apabila data yang digunakan dalam model ada yang tidak stasioner, maka data tersebut dipertimbangkan kembali validitas dan kestabilannya. Salah satu penyebab tidak stasionernya sebuah data adalah adanya autokorelasi. Bila data distasionerkan maka autokorelasi akan hilang dengan sendirinya, karena itu transformasi data untuk membuat data yang tidak stasioner menjadi stasioner sama dengan transformasi data untuk menghilangkan autokorelasi

Kestasioneran Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)

Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian  yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s| yang dapat ditulis sebagai berikut :

(1)Stasioneritas merupakan suatu keadaan jika proses pembangkitan yang mendasari suatu deret berkala didasarkan pada nilai tengah konstan dan nilai varians konstan. Dalam suatu data kemungkinan data tersebut tidak stationer hal ini dikarenakan mean tidak konstan atau variannya tidak konstan sehingga untuk menghilangkan ketidakstasioneran terhadap mean, maka data tersebut dapat dibuat lebih mendekati stasioner dengan cara melakukan penggunaan metode pembedaan atau differencing. Prilaku data yang stasioner antara lain tidak mempunyai variasi yang terlalu besar dan mempunyai kecendrungan untuk mendekati nilai rata-ratanya, dan sebaliknya untuk data yang tidak stasioner. [3].

Jenis-jenis data yang dikategorikan stasioner dan non stasioner adalah: [5]

1. Kestasioneran data deret waktu

Ada dua macam kestasioneran data, yaitu stasioner kuat (strickly stationer) dan stasioner lemah (weakly stationer). Disebut stasioner kuat (strickly stationer) jika bentuk distribusi gabungannya tetap untuk setiap himpunan bagian dari himpunan data deret waktu, dan dalam notasi statistiknya.

Data deret waktu stasioner lemah (weakly stationer) jika pola trendnya hampir merupakan fungsi konstan.

2. Nonstasioner

Nonstasioneritas data diklasifikasikan atas

tiga bentuk yaitu :

a. Nonstasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliput secara seimbang trendnya.

b. Nonstasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliput secara seimbang trendnya (pola terompet).

c. Nonstasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet

Identifikasi Ke-tidak-stasioner-an Data Deret Waktu (skripsi dan tesis)

Suatu data pengamatan dikatakan stasioner apabila proses tidak mengalami perubahan seiring dengan waktu yang berubah, dengan kata lain, proses stasioner untuk suatu {Zt}, mempunyai : Mean ?(??)=? , Var (??)=?(??−?)2=?2 yang konstan dan kovarian yang merupakan fungsi dari perbedaan waktu |t – s|

Dalam kondisi tertentu maka di dapatkan data yang tidak stationer. Dimaksud dengan  ketidak-stasioneran data secara visual, tahap pertama dapat dilakukan pada peta data atas waktu, karena biasanya “mudah” dan jika belum mendapatkan kejelasan, maka tahap berikutnya ditelaah pada gambar ACF dan PACF. Telaahan pada gambar pada peta data atas waktu, ACF dan PACF, jika data tidak stasioner maka gambarnya akan membangun pola diantaranya :

  1. Menurun, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung (trend naik atau turun).

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam rata-rata hitung

  1. Alternating, jika data tidak stasioner dalam varians.

Gambar 1. Data tidak stasioner dalam varians

Gambar 2. ACF data tidak stasioner dalam varians

Gambar 3. PACF data tidak stasioner dalam varians

  1. Gelombang, jika data tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians

Stasioneritas (skripsi dan tesis)

Kestasioneran data merupakan kondisi yang diperlukan dalam analisis regresi deret waktu karena dapat memperkecil kekeliruan model, sehingga jika data tidak stasioner, maka harus dilakukan transformasi stasioneritas melalui proses diferensi, jika trend-nya linier, sedangkan jika tidak linier, maka transformasi linieritas trend melalui proses logaritma natural jika trend-nya eksponensial, dan proses pembobotan (penghalusan eksponensial sederhana) jika bentuknya yang lain, yang selanjutnya dilakukan proses diferensi pada data hasil proses linieritas.

Berdasarkan deskripsinya, bentuk kestasioneran ada dua yaitu Stasioner Kuat (Strickly Stationer) atau Stasioner Orde Pertama (Primary Stationer) dan stasioner lemah (Weakly Stationer) atau Stasioner orde kedua (Secondary Stationer). Deskripsi umum kestasioneran adalah sebagai berikut, Xt1, Xt2, … disebut stasioner kuat jika distribusi gabungan Xt1, Xt2, … , Xtn sama dengan distribusi gabungan Xt1+k, Xt2+k, … , Xtn+k, untuk setiap nilai t1, t2, … , tn dan k. Sedangkan disebut stasioner lemah, jika rata-rata hitung data konstan, E(X)  = µ dan autokovarians-nya merupakan fungsi dari lag ρk =  f(k). Sedangkan ketidaksioneran data diklasifikasikan atas 3 (tiga) bentuk yaitu :

  1. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung, jika trend tidak datar (tidak sejajar sumbu waktu) dan data tersebar pada “pita” yang meliputi secara seimbang trendnya.
  2. Tidak stasioner dalam varians, jika trend datar atau hampir datar tapi data tersebar membangun pola melebar atau menyempit yang meliputi secara seimbang trendnya (pola terompet).
  3. Tidak stasioner dalam rata-rata hitung dan varians, jika trend tidak datar dan data membangun pola terompet.

Model AUTOREGRESIF INTEGRETED MOVING AVERAGE/ARIMA (skripsi dan tesis)

Model ARIMA merupakan model gabungan antara Autoregressive (AR) orde p dan Moving Average (MA) orde q serta proses differencing orde d untuk data pada level musiman maupun non musiman dan termasuk dalam kelompok pemodelan linier . Model AR (Autoregressive) pada orde p menyatakan pengamatan pada waktu ke-t berhubungan linier dengan pengamatan waktu sebelumnya t-1, t-2,…, t-p. Bentuk fungsi persamaan untuk model AR pada orde p dinyatakan sebagai berikut:

?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ?2?̇ ?−2 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? (1)

Model MA (Moving Average) digunakan untuk menjelaskan suatu kejadian bahwa suatu pengamatan pada waktu t dinyatakan sebagai kombinasi linier dari sejumlah residual. Bentuk fungsi persamaan untuk model MA pada orde q dinyatakan sebagai berikut:

?? ̇ = ?? − ?1??−1 − ?2??−2 − ⋯ − ????−? (2)

Model ARMA merupakan model gabungan antara model AR (Autoregressive) dan MA (Moving Average) yang kadang ditulis dengan notasi ARMA (p,q). Bentuk fungsi model ARMA pada orde p dan q dinotasikan sebagai berikut:

?? ̇ = ?1?̇ ?−1 + ⋯ + ???̇ ?−? + ?? − ?1??−1 − ⋯ − ????−? (3)

Model ARIMA (p, d, q) yang dikenalkan oleh Box dan Jenkins dengan p sebagai orde operator dari AR, d merupakan orde differencing dan q sebagai orde operator dari MA. Model ini digunakan untuk data time series yang telah stasioner setelah dilakukan differencing sebanyak d kali yaitu dengan menghitung selisih pengamatan dengan pengamatan sebelumnya dimana bentuk persamaan untuk model ARIMA adalah sebagai berikut: ?? (?)(1 − ?) ??? = ?0 + ??(?)?? (4) Apabila model ARIMA mempunyai pola musiman (seasonal) maka model yang dibentuk secara umum adalah sebagai berikut: Φ? (? ? )(1 − ? ? ) ??? = Θ?(? ? )?? (5)

Hubungan Kebersyukuran dengan Makna Hidup pada Pensiunan (skripsi dan tesis)

Hakikatnya setiap orang menginginkan kehidupan yang bermakna dan penuh dengan rasa syukur kepada Allah Swt. Dalam penelitian ini dikhususkan kepada makna hidup yang dimiliki oleh seorang pensiunan. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang menetap seperti yang pernah didapatkan ketika masih bekerja. Kebutuhan-kebutuhan jika diuraikan tidak akan pernah ada habisnya untuk memuaskan diri pribadi. Pemenuhan kebutuhan baik itu kebutuhan berbentuk barang fisik, kekayaan, dan untuk batin diri sendiri setiap individu akan mempengaruhi bagaimana memaknai hidup. Dibutuhkan juga penghayatan yang dimiliki setiap individu untuk mampu memaknai dirinya sendiri dan dengan mampu memaknai dirinya sendiri maka seseorang itu akan mampu untuk mensyukuri apa yang sudah didapatkan dan dimiliki oleh setiap individu itu saat ini. Frankl (2003) mengemukakan bahwa kebermaknaan hidup dapat dicapai melalui pengalaman spiritual.

Pengalaman spiritual dalam penelitiaan ini lebih dikerucutkan lagi yaitu pengalaman ketika ia mampu untuk bersyukur, bersyukur memiliki kaitan erat hubungannya dengan Allah Swt karena mampu bersyukur dengan apa yang dimiliki baik 24 itu status, harta, tahta dan sebagainya. Bersyukur merupakan suatu keharusan yang dimiliki oleh orang-orang yang berharap mendapatkan kebaikan untuk dirinya sendiri serta memprioritaskan keselamatan dan kebahagiaan (Al-Munajjid, 2006). Melalui bersyukur seorang pensiunan akan mampu menyadari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah sehingga ia akan menemukan makna kehidpannya dan tidak diliputi oleh perasaan kecewa dengan apa yang dimiliki olehnya saat ini. Menurut Al-Munajjid syukur itu memiliki 3 aspek, antara lain mengenal nikmat, menerima nikmat, dan memuji atas pemberian nikmat. Mengenal nikmat adalah mengetahui bahwa pemberian dari Allah dalam bentuk apapun itu merupakan pemberian dari Allah dan hal itu adalah berupa nikmat bukan menilai sebagai hal yang lain. Menyadari hal-hal yang dimiliki sekarang tidak semata-mata didapatkan sendiri dan tidak ada manfaatnya dan kebaikan untuk diri sendiri. Seorang pensiun yang bersyukur maka akan mampu mengenal nikmat yang pensiunan peroleh, seperti jabatan yang selama pensiunan tersebut jalankan, keluarga yang bersamanya hingga saat ini, harta yang pensiunan miliki dan lain sebagainya semua pensiuan peroleh dan dapatkan tidak begitu saja melainkan berupa nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Dengan mengenal nikmat yang diberikan oleh Allah maka akan mampu membuat seorang pensiunan menjadi bersyukur sehingga mampu membuatnya dirinya menjadi lebih bermakna. Aspek selanjutnya adalah menerima nikmat. Menerima nikmat adalah mensyukuri apapun yang didapatkan baik itu hal yang baik ataupun buruk menurut manusia tetapi tetap berkeyakinan bahwa itulah yang terbaik yang diberikan oleh Allah swt kepada diri kita. Pensiun yang menerima nikmat adalah ketika pensiunan mampu menjalankan dan menerima dengan lapang dada semua yang sudah tidak pensiunan dapatkan lagi ketika masih bekerja dan memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan tempat dulu ia bekerja. Pensiunan mampu memahami dan menerima bahwa itu adalah hal terbaik yang diberikan  oleh Allah swt untuknya, karena dengan begitu ia menyadari bahwa memang sudah saatnya untuk tidak lagi aktif bekerja dan bisa menggunakan waktu yang ada sekarang untuk melakukan kegiatan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah swt, dan juga menganggap pensiun adalah momen terbaik yang didapatkan setelah sekian lama mengabdi untuk perusahaan dan mencari nafkah dari orang lain untuk keluarga. Menerima nikmat tidak mencaci dan menghujat apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Memperlihatkan dengan segala kerendahan hati dan kefakiran kepada yang telah memberikan nikmat dan hajat kita kepada-Nya, dan berlangsungnya semua nikmat yang diterima itu bukan karena keberhakan kita mendapatkannya, karena sesungguhnya Allah memberi manusia banyak nikmat hanyalah sebagai karunia dan kemurahan dariNya semata. Menerima nikmat dapat berupa terpenuhinya kebutuhan psikologis dasar pensiunan, yaitu baik itu terpenuhinya kebutuhan dasar seperti maka, tempat tinggal dan rasa aman yang merupakan sumber utama dari makna hidup menurut Reker dan Wong (Macdonald, dkk, 2011). Aspek yang terakhir adalah memuji Allah atas pemberian nikmat, pujian yang berkaitan dengan nikmat itu ada dua macam, yang pertama bersifat umum yaitu dengan memujiNya karena sifat dermawan, pemurah, baik, luas pemberianNya, sedangkan yang kedua bersifat khusus yaitu membicarakan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan olehNya. Seorang pensiun yang bersyukur akan selalu mengingat apa-apa saja kenikmatan yang telah diperoleh dan diberikan oleh Tuhannya, dengan cara memuji dan mengucapkan syukur. Menurut Al-Munajjid (2006), bersyukur dengan kalbu ialah dengan menyakini bahwa Allah yang memberikan segala macam nikmat, dan bersyukur dengan anggota badan ialah dengan menggunakan anggota tubuh untuk mengerjakan amal shalih. Memuji Allah atas pemberian nikmat merupakan bentuk dari rasa syukur kita sebagai 26 umat beragama yang merupakan salah satu sumber utama dari makna hidup menurut Reker dan Wong (Macdonald, dkk, 2011). Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya rasa syukur dalam diri seorang individu, mampu menuntun dirinya untuk menjadi bermakna dan memiliki makna hidup