Hubungan Earning Per Share Terhadap Harga Saham


Earning Per Share merupakan suatu rasio yang menunjukan jumlah laba
yang didapatkan dari setiap lembar saham yang ada. Menurut Kasmir (2013), rasio
laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku, merupakan rasio untuk
mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang
saham. Rasio yang rendah berarti belum berhasil untuk memuaskanpemegang saham,
sebaliknya rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat
dengan pengertian lain, bahwa tingkat pengembalian tinggi. Hal ini didukung oleh
Setyorini, Maria M Minarsih dan Andi Tri Haryono (2016)penelitian yang
dilakukanhasil penelitiannya menunjukkan bahwa EPS berpengaruh positif dan
signifikan secara parsial terhadap harga saham

Hubungan Price Earning RatioTerhadap Harga Saham


Variabel Price Earning Ratio menunjukkan perbandingan harga saham yang
dibeli dengan earning yang akan diperoleh dikemudian hari sehingga hal tersebut
menunjukkan bahwa investor yakin terhadap besarnya earning yang diberikan
perusahaan, yang nantinya akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk
dividen di masa datang. Antara harga saham dan Price Earning Ratio memiliki
hubungan yang kuat, dikarenakan Price Earning Ratio itu menunjukkan
pertumbuhan laba dari perusahaan, dan investor akan tertarik terhadap pertumbuhan
laba tersebut sehingga pada akhirnya akan memberikan efek terhadap harga saham.
Pernyataan ini didukung penelitian yang dilakukan Ratih (2013), dan Safitri (2013)
yang menyatakan bahwa PER berpengaruh positif terhadap harga saham

Hubungan Total Aset Turnover Terhadap Harga Saham


Menurut Brigham dan Houston (2011) Total asset turnover (TATO)
merupakan rasio yang mengukur perputaran semua aktiva perusahaan. Semakin
cepat waktu yang dibutuhkan untuk perputaran total aktiva, maka akan semakin baik.
Pemilihan total asset turnover untuk mewakili rasio aktivitas, karena Nilai Total
asset turnover yang semakin besar menunjukkan bahwa penjualan meningkat.
Dengan demikian harapan untuk memperoleh laba juga diharapkan akan mengalami
peningkatan. Jika nilai penjualan dan laba yang diperoleh perusahaan meningkat, hal
ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik. Kinerja perusahaan
yang semakin baik akan berdampak pada harga saham yang tinggi. Hal ini didukung
olehAlbertha W. Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017) yang
dilakukanhasil penelitiannya menunjukkan bahwa TATO berpengaruh positif dan
signifikan secara parsial terhadap harga saham.

Hubungan Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham


Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang menggambarkan sejauh mana
pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar dan merupakan rasio yang
mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang.Menurut Kasmir (2010)Debt
to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan
ekuitas. Rasio ini digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan
peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini
digunakan untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk
jaminan utang.
Debt to Equity Ratio mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal
sendiri yang digunakan untuk membayar hutang.Selain itu DER juga dapat
memberikan gambaran mengenai struktur perusahaan.
Semakin tinggi proporsi Debt to Equity Ratio menyebabkan laba perusahaan
semakin tidak menentu dan menambah kemungkinan bahwa perusahaan tidak dapat
memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.Oleh karena itu apabila Debt to Equity
Ratio semakin tinggi maka resiko financial perusahaan tersebut akan tinggi juka.
Tinggi rendahnya resiko keuangan perusahaan secara tidak langsung dapat
mempengaruhi harga sahamperusahaan tersebut. Hal ini didukung olehAlbertha W.
Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017)penelitian yang dilakukanhasil
36
penelitiannya menunjukkan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan secara
parsial terhadap harga saham

Hubungan Return on Equity Terhadap Harga Saham


Menurut Brigham dan Houston (2010), Return on Equity (ROE)
menunjukkan rasio antara laba bersih perusahaan dengan ekuitas pemegang saham
biasa mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa. Rasio
ini digunakan untuk mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan
sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas atau
mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham
perusahaan.Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik karena berarti posisi
pemilik perusahaan semakin kuat, demikian juga sebaliknya. Hal ini didukung
oleh Albertha W. Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017),
penelitian yang dilakukan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROE
berpengaruhpositif dan signifikan secara parsial terhadap harga saham

Price Book Value (PBV)


Nilai perusahaan adalah gambaran investor terhadap tingkat keberhasilan
perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi
membuat nilai perusahaan juga tinggi, dan meningkatkan kepercayaan pasar tidak
hanya terhadap kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan
di masa yang akan mendatang. Brigham dan Houston (2008), menjelaskan nilai
perusahaan sangat penting karena nilai perusahaan yang tinggi diikuti oleh
tingginya kemakmuran pemegang saham, semakin tinggi harga saham maka
semakin tinggi pula nilai perusahaan

Price Earning Ratio (PER)


Price Earning Ratio merupakan salah satu ukuran paling besar dalam
analisis saham secara fundamental dan bagian dari rasio penilaian untuk
mengevaluasi laporan keuangan. Price earning ratio bermanfaat untuk melihat
bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja
perusahaan yang tercermin dalam laba per saham. Menurut Brigham dan
Houston (2010), Price Earning Ratio adalah: Rasio harga per saham terhadap
laba per saham menunjukkan jumlah yang rela dibayarkan oleh investor untuk
setiap dolar laba yang dilaporkan

Total Aset Turnover (TATO)


Total asset turnover (TATO) merupakan rasio yang mengukur perputaran
semua aktiva perusahaan. Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk
perputaran total aktiva, maka akan semakin baik. Pemilihan total asset turnover
untuk mewakili rasio aktivitas, karena Nilai Total asset turnover yang semakin
besar menunjukkan bahwa penjualan meningkat. Dengan demikian harapan untuk
memperoleh laba juga diharapkan akan mengalami peningkatan. Jika nilai
penjualan dan laba yang diperoleh perusahaan meningkat, hal ini menunjukkan
bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik. Kinerja perusahaan yang semakin
baik akan berdampak pada harga saham yang tinggi.(Brigham dan Houston,
2011).

Debt to Equity Ratio (DER)


Debt To Equity Ratio (DER) menunjukkan perbandingan antara total
hutang dengan modal sendiri. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan
antara seluruh hutang, termasuk hutang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio
ini digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam
(kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi
untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan
hutang. Tingkat Debt to Equity Ratio yang aman biasanya kurang dari 50
persen, semakin kecil Debt to Equity Ratio maka semakin baik bagi
perusahaan.(Kasmir, 2014).

Return On Equity (ROE)


Return on Equity (ROE) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang
banyak digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini penting bagi pemegang saham untuk mengetahui
efektivitas dan efesiensi pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan.(Sudana, 2011).
Return on Equity (ROE) menunjukkan rasio antara laba bersih
perusahaan dengan ekuitas pemegang saham biasa mengukur tingkat
pengembalian atas investasi pemegang saham biasa.(Brigham dan
Houston,2010:149).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham


Harga saham tidak sendiri berubah begitu saja terdapat berbagai faktor
yang mengakibatkan harga saham berubah naik atau turun. Faktor yang
makroekonomi dan faktor mikro ekonomi merupakan faktor yang menyebabkan
harga saham terpengaruh. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Makroekonomi
    Faktor makro ekonomi merupakan faktor yang berada diluar
    peusahaan. Faktor makro yang memiliki pengaruh terhadap kinerja harga
    saham perusahaan yaitu:
    a. Tingkat bunga umum domestik
    Suku bunga deposito yang meningkat akan mendorong investor
    untuk menjual saham yang mereka memiliki dan menanamkan hasil
    penjualan saham tersebut kedalam deposito. Penjualan saham secara
    besar-besaran ini akan menyebabkan harga saham jatuh. Sebaliknya
    menurunnya tingkat bunga pinjaman atau tingkat bunga deposito akan
    menaikkan harga saham dipasar bursa. Penurunan tingkat bunga umum ini
    akan menyebabkan para investor secara beramai-ramai membeli saham.
    Hal inilah yang menyebabkan harga saham akan ikut meningkat akibat
    meningkatnya permintaan saham.
    b. Tingkat inflasi
    Inflasi yang tinggi akan membuat banyak perusahaan mengalami
    kesulitan keuangan dan bahkan mengalami kebangkrutan. Jadi, inflasi
    yang tinggi akan menyebabkan harga saham jatuh dan inflasi yang rendah
    juga mengakibatkan harga saham bertumbuh dan bergerak lamban.
    c. Peraturan perpajakan
    Peraturan perpajakan yang mengatur pajak badan yang tinggi akan
    menyebabkan laba bersih turun. Hal ini disebabkan dalam laporan laba
    rugi, pajak merupakan biaya sebelum dihasilkannya laba bersih. Padahal
    investor tertarik akan laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan
    sehingga harga saham pun akan turun.
    d. Kebijakan pemerintah
    Bergagai macam kebijakan yang dibuat pemerintah dapat
    mempengaruhi kinerja perusahaan. Misalnya saja, larangan ekspor
    tembaga ke luar negeri. Jika kebijakan larangan ini dijalankan, maka
    perusahaan tembaga akan mengalami kelesuhan penjualan sebab
    pendapatan perusahaan yang berasal dari luar negeri menurun dan
    perusahaan hanya bergantung dari penjualan dalam negeri. Padahal,
    penjualan luar negerilah yang lebih menghasilkan banyak keuntungan
    karena tembaga dijual dengan harga yang tinggi. Kelesuan penjualan ini
    akan menimbulkan reaksi dikalangan investor sehingga harga sahampun
    akan menurun.
    e. Kurs valuta asing
    Kenaikan kurs US$terhadap Rupiah akan berdampak negatif
    terhadap emiten yang memiliki hutang dalam satuan US$. Emiten harus
    membayar Rupiah yang lebih besar untuk dapat melunasi hutangnya. Jika
    kebutuhan emiten terhadap Rupiah semakin besar, maka harta perusahaan
    yang memiliki untuk membayar hutangnya akan semakin menipis. Hal ini
    akan menyebabkan reaksi investor terhadap saham memburuk. Harga
    saham akan jatuh dan emiten akan kesulitan untuk membayar
    pengembalian atas saham yang dimiliki investor.
    f. Tingkat bunga pinjaman luar negeri
    Perubahan suku bunga luar negeri akan menyebabkan harga saham
    bereaksi. Emiten yang memiliki hutang luar negeri akan selalu
    memperhatikan besarnya suku bunga hutang luar negerinya. Semakin
    besar suku bunga hutang luar negeri, maka emiten membutuhkan lebih
    banyak dana untuk melunasi hutang tersebut dan kepercayaan investor
    terhadap emitenpun akan menurun sehingga menyebabkan harga
    saham juga menjadi turun.
    g. Kondisi ekonomiinternasional
    Jika emiten bergerak dibidang ekspor impor, maka ada negara
    tujuan utama ekspor emiten tersebut. Misalnya saja, jika Amerika Serikat
    adalah tujuan utama ekspor, maka emiten akan sangat bergantung pada
    kemajuan dan kemunduran ekonomi Amerika Serikat. Salah satu indikator
    kemajuan dan kemunduran ekonomi Amerika Serikat adalah indeks harga
    saham gabungan yang tercatat di Bursa Efek Amerika Serikat (misal.
    NYSE). Jika AS mengalami kemajuan ekonomi dilihat dari IHSG-nya
    (misalnya. Dow JonesIndex), maka kinerja ekspor emiten akan meningkat
    sehingga investor akan tertarik berinvestasi pada emiten tersebut dan
    harga saham emiten akan naik.
  2. Faktor Mikro ekonomi
    Faktor mikro ekonomi merupakan faktor yang berasal dari
    lingkungan internal perusahaan dan berupa rasio-rasio keuangan. Untuk
    menentukan nilai atau harga saham, kita harus memprediksikan berapa harga
    saham pada akhir satu periode tertentu dan besarnya deviden pada akhir
    periode. Rumus yang dapat digunakan sebagai berikut:
    PO =( )
    (
    Keterangan:
    P : Nilai atau harga saham
    P1 : Harga pada sutau periode yang akan dating
    D1 : Deviden kas yang dibayarkan pada akhir periode
    R : Tingkat keuntungan yang disyaratkan pasar atas investasi
    tersebut.(Sudana, 2011)

Harga saham


Menurut Brigham Houston (2010), bahwa harga saham adalah
menentukan kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi maksimalkan
harga perusahaan. Harga saham pada suatu waktu tertentu akan bergantung pada
arus kas yang diharapkan diterima dimasa depan oleh investor “rata-rata” jika
investor membeli saham.
Harga saham adalah pembagian antara modal perusahaan dan jumlah
saham yang diterbitkan harga saham merupakan alat untuk memperkirakan
prospek keuntungan yang diharapkan oleh investor. Harga saham dipengaruhi
oleh kondisi ekonomi secara umum dan persepsi pasar terhadap kondisi
perusahaan saat ini, juga persentasi yang diharapkan dimasa yang akan datang.
Harga pasar terdiri dari harga pembukaan (open price), harga tertinggi (high
price), dan harga penutupan (close price).(Dominic, 2009).
Harga saham dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Harga nominal
    Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh
    emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan.Besarnya
    harga nominal memberikan arti penting saham karenaa dividen minimal
    biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
    18
  2. Harga perdana
    Harga ini merupaakan harga pada waktu harga saham tersebut
    dicatat dibursa efek.Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan
    oleh penjamin dan emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian
    akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada
    masyarakat biasanya untuk menentukan harga saham perdana.
  3. Harga pasar
    Harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan
    investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di
    bursa. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi
    harga ini yang disebut sebgai harga dipasar sekunder dan harga inilah
    yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada
    transaksi sekunder, kecil sekali terjadi negoisasi harga investor dengan
    perusahaan penerbit . harga yang setiap hari diumumkan disurat kabar
    atau media lain adalah harga saham.
    Terdapat 6 kondisi dan situasi yang menentukan suatu saham akan
    mengalami fluktuasi, yaitu:
    a. Kondisi makro dan mikro ekonomi.
    b. Kebijakan perusahaan dalam memutuskan untuk ekspansi (perluasan
    usaha).
    c. Pergantian direksi secara tiba-tiba.
    d. Adanya direksi atau pihak komisaris perusahaan yang terlibat tindak
    pidana dan kaussnya sudah masuk kepengadilan.
    e. Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap
    waktunya.
    f. Resiko sistematis, yaitu suatu bentuk resiko yang terjadi secara
    menyeluruh dan telah ikut menyebabkan perusahaan ikut terlibat.
    g. Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi.
    (Fahmi, 2009

Jenis nilai saham


Saham merupakan surat berharga yang sangat dikenal luas oleh
masyarakat. Umumnya, saham yang dikenal sehari-hari merupahan saham biasa
(common stock) yang memiliki nilai yang sangat berharga.
Jenis-jenis nilai saham sebagai berikut:

  1. Nilai buku, yaitu nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan
    penerbit saham (emiten).
  2. Nilai intrinsic (teoritis) saham, yaitu nilai saham yang sebenarnya atau
    seharusnya terjadi
  3. Nilai pasar, yaitu nilai pasar saham atau harga yang terjadi dipasaran
    saham

Jenis-jenis Saham


Jenis-jenis saham dapat ditinjau dalam beberapa segi diantar lain sebagai
berikut:

  1. Segi Peralihan
    Dari segi peralihan saham dibagi menjadi dua yaitu:
    a. Saham atas tunjuk (bearer stock)
    Saham atas tunjuk merupakan saham yang tidak mempunyai nama
    atau tidak tertulis nama pemilik dalam saham tersebut dan saham ini
    mudah untuk dialihkan atau dijual oleh pihak lain.
    b. Saham atas nama (registered stock)
    Saham atas nama merupakan saham yang didalamnya tertulis nama
    pemiliknya dan untuk dialihkan kepada pihak lain diperlukan syarat dan
    prosedur tertentu.
  2. Dari segi hak tagih
    Dari segi hak tagih saham dibagi menjadi dua yaitu:
    a. Saham biasa (common stock)
    Bagi pemilik saham ini hak untuk memperoleh deviden akan
    didahulukan terlebih dahulu kepada saham preferen.
    b. Saham preferen (preferred stock)
    Saham preferen merupakan saham yang memperoleh hak utama
    dalam deviden.(Kasmir, 2008).
    Ada dua jenis saham menurut manfaatnya:
    a. Saham biasa (common stock)
    Saham biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang memiliki
    fungsi sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan sebesar nilai saham
    yang dimilikinya dengan mendapatkan hak untuk menerima sebagian
    pendapatan tetap/deviden dari perusahaan serta kewajiban menanggung
    resiko kerugian yang diderita perusahaan. Saham biasa mewakili klaim
    kepemilikan pada penghasilan dari aktiva yang dimiliki perusahaan.
    Kepemilikan saham suatu perusahaan memiliki hak untuk ambil
    bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang
    dimilikinya berdasarkan besar kecil saham yang dimiliki.Semakin
    banyak presentasi saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara
    yang dimiliki untuk mengontrol kebijakan perusahaan.
    Saham biasa memiliki karakteristik utama sebagai berikut:
  3. Hak suara pemegang saham, dapat memilih dewan komisaris.
  4. Hak didahulukan, bila organisasi penerbit menerbitkan saham baru.
  5. Tanggung jawab terbatas, pada jumlah yang diberikan saja.
    b. Saham preferen (preferred stock).
    Saham preferen adalah saham yang mempunyai hak istimewa
    dalam hal pembagian deviden dan pembagian kekayaan dalam likuiditas
    perusahaan dibandingkan dengan saham biasa.Saham preferen ini
    biasanya memberikan deviden yang setiap tahunnya seperti halnya
    obligasi.Pada umumnya saham preferen ini tidak mempunyai hari jatuh
    tempo.Saham preferen mempunyai karakteristik gabungan antara obligasi
    dan saham biasa, karena biSa menghasilkan pendapatan tetap (seperti
    bunga obligasi), tetapi juga tidak mendatangkan hasil seperti yang
    dikehendaki investor.(Agustin dan Hamdi, 2014).
    Saham preferen memiliki karakteristik sebagai berikut:
  6. Memiliki berbagai tingkat, yang dapat diterbitkan dengan
    karakteristik berbeda.
  7. Tagihan terhadap aktiva dan pendapatan, memiliki prioritas lebih
    tinggi dari saham biasa dalam hal pembagian deviden.
  8. Deviden kumulatif, bila belum dibayarkan dari periode sebelumnya
    maka dapat dibayarkan pada periode berjalan dan lebih dahulu dari
    saham biasa.
  9. Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila kesepakatan
    antar pemegang saham dan organisasi penerbit terbentuk

Hubungan Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham


Price Earning Ratio (PER) mengukur rasio harga pasar per lembar
saham dengan laba per lembar saham. PER merupakan rasio yang mencerminkan
penilaian investor terhadap laba perusahaan dimasa datang. Penilaian investor ini
mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan
dimasa datang. Semkain tinggi PER maka pertumbuhan laba diharapkan akan
mengalami kenaikan juga
Nilai PER yang tinggi memberikan sinyal pada investor bahwa laba
perusahaan dimasa yang akan datang akan semakin tinggi. Tingginya laba
perusahaan yang akan datang akan menarik investor karena dengan tingginya laba
perusahaan maka semakin tinggi pula pembayaran dividen yang akan diberikan
kepada pemegang saham. Tingginya pembayaran dividen akan membuat investor
tertarik pada saham perusahaan, sehingga saham akan semakin diminati oleh
investor. Peningkatan minat investor pada saham perusahaan bearti permintaan
saham juga meningkat, yang akan berakibat pada meningkatnya harga saham
perusahaan.
Rahmadewi dan Abudanti (2018) melakukan pengujian pengaruh Price
Earnings Ratio (PER) terhadap harga saham pada 12 perusahaan Otomotif dan
Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 – 2016. Hasil
penelitian tersebut menunjukan bahwa Price Earning Ratio (PER) berpengaruh
signifikan terhadap harga saham

Hubungan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham


Dividen merupakan wujud atas pembagian laba per saham setiap
investor.Kemampuan membayar dividen kepada investor dapat digambarkan
dengan Dividend Per Share. Informasi mengenai DPS sangat diperlukan untuk
mengetahui berapa besar keuntungan setiap lembar saham yang akan diterima
oleh para pemegang saham. Naiknya DPS akan menarik investor untuk membeli
saham perusahaan tersebut. Banyaknya saham yang dibeli maka harga saham
perusahaan akan naik di pasar modal (Sunariyah dalam Fauziah et al, 2014).
Menurut Sharpe dalam Praditama (2011) perubahan dividen adalah
pengumuman kenaikan dividen yang merupakan tanda bahwa manajemen telah
menaikkan pendapatan masa depan perusahaan. Oleh karena itu, pengumuman
kenaikan dividen merupakan kabar baik dan pada gilirannya akan menaikkan
ekspektasi mereka mengenai pendapatan perusahaan. Hal ini merupakan suatu
implikasi bahwa pengumuman kenaikan dividen akan menyebabkan kenaikan
harga saham perusahaan.
Informasi mengenai Dividend Per Share sangat diperlukan untuk
mengetahui berapa besar keuntungan setiap lembar saham yang akan diterima
oleh para pemegang saham. Dividend Per Share yang diterima naik maka akan
mempengaruhi harga saham di pasar modal, karena dengan naiknya Dividend Per
Share kemungkinan besar akan menarik investor untuk membeli saham
perusahaan tersebut. Banyaknya saham yang dibeli maka harga saham suatu
perusahaan akan naik di pasar modal.
Hal ini sesuai dengan signally theory yang menyatakan bahwa deviden
menunjukan sinyal rpsopek suatu perusahaan dimasa yang akan datang. Signally
theory menjelaskan bahwa informasi tentang deviden yang dibayarkan, digunakan
oleh investor sebagai sinyal perusahaan dimasa mendatang. Sinyal perubahan
deviden dapat dilihat dari reaksi harga saham.
Damayanti dkk (2014) melakukan pengujian pengaruh Dividen Per
Share (DPS) terhadap harga saham pada 14 Perusahaan industri Barang Konsumsi
yang terdaftar di Bursa efek Indonesia periode 2010 – 2012. Hasil penelitian
tersebut menunjukan bahwa Dividen Per Share (DPS) berpengaruh signifikan
terhadap harga saham

Hubungan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham


Earning Per Share merupakan rasio yang mengukur perbandingan
anatara laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku dengan jumlah saham yang
diterbitkan. Nilai EPS yng lebih besar menandakan kemampuan perusahaan yang
lebih besar dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham.
Semakin tinggi nilai EPS akan semakin menarik minat investor dalam
menanamkan modalnya, karena EPS menunjukan laba yang berhak didapatkan
oleh pemegang saham atas satu lembar saham yang dimilikinya.
Informasi peningkatan EPS akan diterima pasar sebagai sinyal baik yang
akan memberikan masukan positif bagi investor dalam pengambilan keputusan
membeli saham. Pengaruh EPS terhadap harga saham didukung oleh teori
signaling, dimana hal ini membuat permintaan akan saham meningkat sehingga
harga saham pun akan naik.
Damayanti dkk (2014) melakukan pengujian pengaruh Earning Per
Share (EPS) terhadap harga saham pada 14 Perusahaan industri Barang Konsumsi
yang terdaftar di Bursa efek Indonesia periode 2010 – 2012. Hasil penelitian
tersebut menunjukan bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh signifikan
terhadap harga saham

Price Earning Ratio (PER)


Price Earning Ratio (PER) merupakan salah satu rasio nilai pasar yang
digunakan untuk memprediksi harga saham. Menurut Brigham dan Hauston
(2014), PER menunjukan jumlah yang rela dibayarkan oleh investor untuk setiap
dollar / rupiah laba yang dilaporkan. Menurut Jusup (2011) PER mengukur rasio
harga pasar investor terhadap laba perusahaan dimasa yang akan datang. Bagi
investor semakin tinggi PER maka pertumbuhan laba diharapkan juga akan
mengalami kenaikan.
Rasio PER akan lebih tinggi bagi perusahaan dengan prospek
pertumbuhan yang bagus dan risikonya relative rendah. Apabila nilai PER pada
suatu perusahaan berada di bawah rata – rata industri sehingga menunjukan
perusahaan dinilai lebih berisiko dari pada perusahaan pada umumnya, memiliki
prospek pertumbuhan yang kurang baik.

Deviden Per Share (DPS)


Investasi dalam bentuk saham akan memberikan keuntungan kepada
investor, yaitu keuntungan berupa dividen dan capital gain. Capital gain
diperoleh dari selisih harga jual dan beli saham. Sedangkan menurut Tangki lisan
dan Hessel (2003), dividen adalah bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada
para pemegang saham.
Stice (2004) menyatakan bahwa dividen adalah pembagian
keuntungan kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional
sesuai dengan jumlah lembar saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik.
Sehingga dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dividen adalah
bagian keuntungan bersih setelah pajak yang dibagikan kepadapemegang saham.
Salah satu yang menjadi alasan investor berinvestasi adalah
mengharapkan pengembalian dalam bentuk dividen yang dibagikan
perusahaan kepada pemegang saham, maka pihak manajemen perusahaan
perlumemperhatikan kebijakan dividen yang akan diterapkan dalam rangka
menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan
dalam bentuk kepemilikan saham. Ini menjadi kebiijakan perusahaan pada
saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana diputuskan apakah
perusahaan pada periode tersebut akan membagikan dividen atau menahannya,
tentunya perusahaan mempunyai alasan yang jelas dalam pengambilan
keputusan ini karena apabila perusahaan terus menerus menahan pembagian
dividen mereka, hal ini akan berpengaruh keepada jumlah investor mereka.
Dividend per share merupakan rasio yang mengukur seberapa besar dividen
25
yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar pada tahun
tertentu.
Tentunya ada perbedaan penilaian dari para investor dan calon
investor antara perusahaan yang selalu membagi dividen mereka dengan
perusahaan yang menahan pembagian dividen mereka. Perusahaan yang
terus-menerus menahan dividen mereka mengindikasikan bahwa ada masalah
dalam pengelolaan dan aktivitas usaha mereka sehingga mereka tidak dapat
membagi dividen atau menahan pembagian dividen, investor tentunya
menghindari perusahaan perusahaan yang sering menahan pembagian dividen
karena pada dasarnya investor berinvestasi untuk mengharapkan
pengembalian, yang salah satunya dalam bentuk dividen

Earning Per Share (EPS)


Menurut Fabozzi (2001), earning per share adalah perbandingan
antara laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba setelah pajak
dikurangi dividen saham preferen) dengan jumlah saham yang beredar
selama periode perhitungan yang dilakukan. Dengan demikian, earning per
share merupakan besaran pendapatan yang diterima oleh para pemegang saham
dari setiap lembar saham biasa yang beredar dalam periode waktu tertentu.
Menurut Tandelilin (2010), earning per share adalah laba bersih
setelah bunga dan pajak yang siap dibagikan kepada pemegang saham dibagi
dengan jumlah lembar saham perusahaan.
Menurut Baridwan (2007), laba bersih per saham adalah jumlah
pendapatan yang diperoleh dalam satuperiode untuk tiap lembar saham yang
beredar, dan akan dipakai oleh pimpinanperusahaan untuk menentukan besarnya
dividen yang akan dibagikan”.
Tujuan perhitungan earning per share menurut Machfoedz (2000)
adalah untuk melihat kemajuan (progress) dari operasi
perusahaan,menentukan harga saham, dan menentukan besarnya dividen yang
akan dibagikan
Darmadji (2001) menyatakan semakin tinggi nilai earning per share akan
menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang
disediakan untuk pemegang saham. Dengan meningkatnya laba maka harga
saham cenderung naik, sedangkan ketika laba menurun maka harga saham ikut
juga turun. Untuk menganalisis penyebab perubahan EPS dapat digunakan
analisis rasio laba (Fabozzi, 1999). Rasio laba menunjukkan dampak gabungan
dari likuiditas serta manajemen aktiva dan kewajiban terhadap kemampuan
perusahaan menghasilkan laba.
Menurut Robbert Angg (1997) ada dua jenis Earning per Share, yaitu :

  1. Earning per Share Historis
    Adalah Earning per Share yang dihitung berdasarkan kinerja perusahaan
    pada tahun buku yang telah lampau. EPS historis merupakan nilai yang
    telah terjadi pada masa lampau.
  2. Earning per Share Proyektif
    Adalah Earning per Share yang diperkirakan akan terjadi dengan asumsi
    sesuai dengan proyeksi kinerja emiten

Analisis Tekhnikal


Analis teknikal merupakan analisis harga saham dengan melihat historis
harga untuk memprediksi tren pergerakan harga masa depan. Analis teknikal tidak
melihat atau memperhatikan kinerja keuangan perusahaan, mereka lebih tertarik
untuk mengetahui tentang kinerja pergerakan harga. Analisis teknikal difokuskan
pada grafik harga historis dan memprediksi dalam volume harga yang
diperdagangkan.
Dalam perkembangannya banyak perusahaan pialang atau trader
professional sekarang menggunakan kombinasi analisa fundamental dan teknikal
untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik pada prospek investasi mereka.
Weston dan Brighman (1990) mengemukakakn bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi harga saham adalah sebagai berikut :

  1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/ EPS)
    Seorang investor akan melakukan investasi pada perusahaan akan menerima
    laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS)
    yang diberikan pengembalian yang cukup baik. Ini akan mendorong investor
    untuk melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga perusahaan
    akan meningkat.
  2. Tingkat bunga
    Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara :
    a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi,
    apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk
    ditukarkan dengan obligasi.
    b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya,
    semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan.
  3. Jumlah kas dividen yang dibagikan
    Kebijakan pembagian dividen dapat menjadi dua, yaitu sebagian dibagikan
    dalam bentuk dividend dan sebagian lagi disisihkan sebagai laba ditahan.
    Peningkatan dividen merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
    kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas dividen besar adalah
    yang diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik.

Analisis Fundamental


Analisis fundamental adalah usaha untuk menganalisis berbagai faktor
yang berhubungan dengan saham yang akan dipilih. Menurut Husnan (2015)
analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham dimasa yang akan
datang dengan (1) mengestimasi nilai faktor – faktor fundamental yang
mempengaruhi harga saham yang akan datang, (2) menerapkan hubungan variabel
– variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham. Model peramalan
yang digunakan untuk peramalan harga saham dengan langkah mengidentifikasi
faktor – faktor fundamental seperti (penjualan, pertumbuhan penjualan, biaya,
kebijakan deviden, dan sebagainya) yang diperkirakan akan mempengaruhi harga
saham. Menurut Suhartono dan Fadillah dalam Hermuningsing (2012) analisis
fundamental adalah usaha untuk memperkirakan kesehatan dan prospek, yaitu
kemmapuan suatu perusahaan untuk tumbuh dana menghasilkan laba dimasa
depan.
Analisis yang bersifat fundamental memerlukan analisis perusahaan.
Menurut Husnan (2015) pada analisis perusahaan yang perlu diketahui adalah
memahami laba yang diperoleh perusahaan dan PER (Price Earning Ratio).
Terdapat dua alas an mengapa dua variabel tersebut perlu diperhatikan. Pertama,
untuk meningkatkan pembayaran deviden, perusahaan harus mampu
meningkatkan laba yang diperoleh. Kedua, umumnya terdapat korelasi yang kuat
antara pertumbuhan laba dengan pertumbuhan harga saham. Pertumbuhan laba
per lembar saham dapat diperoleh dalam laporan keuangan yang disajikan oleh
perusahaan berdasarkan atas prinsip – prinsip akuntansi yang diterima umum.
Maka perlunya kita memahami laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan

Harga Saham


Harga saham merupakan salah satu indikator pengelolaan perusahaan.
Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan memebrikan kepuasan bagi
investor. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan keuntungan, yaitu berupa
capital gain dan citra yang lebih bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi
manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan. Menurut Susanto (2002)
harga saham yaitu harga yang ditentukan secara lelang continue. Sedangkan menurut
Sartono (2001), harga saham terbentuk melaluli mekanisme permintaan dan
penawaran di pasar modal. Harga saham mengalami perubahan naik turun dari waktu
ke waktu. Perubahan tersebut tergantung pada keukatan permintaan dan penawaran.
Apabila suatu saham mengalami kelebihan permintaan, maka harga saham akan
cenderung naik. Sebaliknya, apabila kelebihan penawaran, maka harga saham
cenderung turun. Harga saham yang digunakan sebagai pengukuran kinerja
perusahaan selama setahun merupakan harga saham penutupan. Harga saham
penutupan (pclosing price)yaitu harga yang diminta oleh penjual atau harga
perdagangan terakhir suatu periode.
Menurut (Widioatmodjo, 2009), harga saham dapat dibedakan menjadi tiga,
yaitu :

  1. Harga Nominal
    Harga nominal adalah harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang
    ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang
    dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham
    karena dividen biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
  2. Harga Perdana
    Harga ini merupakan harga saham yang dicatat di bursa efek. Harga saham
    pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter)
    dan emiten.
  3. Harga Pasar
    Jika harga perdana merupakan harga jual dari perjanjia emisi kepada
    investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu ke
    yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatat di bursa.
    Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dan penjamin emisi. Harga
    ini yang disebut harga pasar sekunder dan harga ini yang benar – benar
    mewakili harga perusahaan. Harga yang setiap hari diumumkan di surat
    kabar dan di media lain adalah harga pasar.
    Menurut (Daniel, 2015) terdapat dua faktor yang mempengaruhi
    harga saham, yaitu :
  4. Faktor Internal : faktor ini biasanya dipengaruhi dari si penjual atau
    kemampuan dari perusahaan tersebut dalam menangani kinerja perusahaan
    baik ekonomi dan manajemen finansialnya. Bagaimana perusahaan
    tersebut bisa memanage modal yang ada, mengatur kegiatan dari
    operasional perusahaan tersebut, bagaiman perusahaan tersebut bisa
    menarik keuntungan dari operasionalnya.
  5. Faktor Eksternal : faktor eksternal biasanya dikaitkan dengan kondisi
    eonomi yang terjadi di suatu Negara. Misalkan di Indonesia, harga saham
    bisa saja dipengaruhi oleh kondisi kurs rupiah dan inflasi yang terjadi,
    huru – hara yang terjadi di suatu Negara juga kerap dapat mempengaruhi
    harga saham

Saham


Saham merupakan surat berharga jangka panjang yang diterbitkan
perusahaan (emiten) ke publik untuk diperjualbelikan kepada investor dengan
tujuan untuk untuk pendanaan perusahaan. Saham dapat didefinisikan tanda
penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau
perseroan terbatas (Darmadji dan Fakhruddin, 2001).
Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan sehingga para
pemegang saham berhak menentukan menentukan arah kebijaksanaan perusahaan
lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham juga berhak
memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Sebaliknya, pemegang
saham pun turut menanggung resiko sebesar saham yang dimiliki apabila
perusahaan tersebut bangkrut.
Menurut jenisnya,saham dapat dibedakan antara saham biasa (common
stock) dan saham preferen (preferred stock). Saham biasa adalah efek dari
pernyertaan pemiliknya dari badan usaha berbentuk perseroan terbatas. Jika usaha
perusahaan berjalan dengan baik maka dividen saham biasa akan lebih besar
daripada saham preferen. Tetapi manakala terjadi likuidasi pembagian dividen dan
pembagian harta perusahaan serta pemegang saham biasa akan memperoleh
pembagian terakhir setelah pemegang saham preferen. Karakteristik saham biasa
adalah sebagai berikut :

  1. Deviden dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
  2. Memilik hak suara
  3. Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan, apabila bangkrut
    dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
    Saham preferen merupakan saham yang mempunyai hak khusus melebihi
    pemegang saham biasa. Saham preferen disebut juga dengan saham istimewa sebab
    mempunyai banyak keistimewaan. Biasanya keistimewaan ini dihubungkan dalam hal
    pembagian dividen atau pembagian aktiva pada saat likuiditas. Kelebihan dalam hal
    pembagian dividen adalah bahwa dividen yang dibagi pertama kali harus dibagikan
    untuk saham preferen, kalau ada kelebihan baru dibagikan kepada pemegang saham
    biasa. Karakteristik saham preferen adalah sebagai berikut :
  4. Pembayaran dividen dalam jumlah yang tetap.
  5. Hak klaim lebih dahulu dibandingkan saham biasa jika perusahaan dilikuidasi
  6. Dapat dikonversikan menjadi saham biasa.
  7. Tidak memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

Pasar Modal


Undang – undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal
mendifinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan efek. Menurut Marzuki Usman dalam Hermuningsing (2012) pasar modal
adalah pelengkap disektor keuangan terhadap dua lembaga lainnya yaitu bank dan
lembaga pembiayaan.
Pasar modal memberikan jasa yaitu menjembatani hubungan antara
pemilik modal yang disebut pemodal (investor) dengan peminjam dana yang
disebut emiten (perusahaan go public). Investor membeli instrumenn pasar modal
untuk keperluan investasi portofolio sehingga akan dapat memaksimumkan
penghasilan. Bagi emiten pencari dana melalui pasar modal merupakan pilihan
pembiayaan yang lain, selain pinjam bank, dengan jalan mengeluarkan saham dan
obligasi. Dengan masuknya emiten ke pasar modal, maka emiten akan bisa
memperbaiki posisi struktur modal yang pada akhirnya akan memperkuat daya
saingnya di industry sejenis.
Instrumen yang ditawarkan melalui pasar modal adalah instrument yang
berbentuk surat – surat berharga (securities) atau efek. Instrumen ini dibagi
menjadi dua kelompok besar, yaitu instrument kepemilikan (equity), sperti saham
15
(stock) dan instrument hutang seperti obligasi perusahaan. Investasi secara
portofolio di pasar modal ada dua kepentingan, yaitu (1) Investasi dengan
membeli instrumen – instrumen di pasar modal dan (2) Investasi secara langsung,
yaitu terlibat langsung dalam proses pengendalian perusahaan. Investasi yang
pertama, investor tidak tertarik dan tidak berkepentingan untuk menjalankan
usaha dari perusahaan yang sahamnya dimiliki, tetapi mereka lebih
berkepentingan terhadap deviden atau capital gain dari saham tersebut. Investasi
yang kedua, investor yang bersangkutan ingin bisa menjalankan langsung usaha
investasi tersebut (Hermuningsing, 2012)

Signally Theory


Menurut Wolk dalam (Serang & Pontoh, 2011), Teori sinyal menjelaskan
mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan
keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan
informasi karena terdapat asimetris informasi antara perusahaan dan pihak luar.
Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka
melindungi diri dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan.
Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi
asimetris. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetris adalah dengan
memberikan sinyal pada pihak luar. Salah satunya berupa informasi keuangan
yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek
perusahaan yang akan datang. Teori sinyal mengemukakan bagaimana seharusnya
sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal
ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk
merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi
lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan
lain.
Laporan keuangan yang mencerminkan kinerja baik merupakan sinyal
atau tanda bahwa perusahaan telah beroperasi dengan baik. Sinyal baik akan
direspon dengan baik pula oleh pihak luar, karena respon pasar sangat tergantung
pada sinyal fundamental yang dikeluarkan perusahaan. Investor hanya akan
menginvestasikan modalnya jika menilai perusahaan mampu memberikan nilai
tambah atas modal yang diinvestasikan lebih besar dibandingkan jika
menginvestasikan di tempat lain. Untuk itu, perhatian investor diarahkan pada
laba perusahaan yang tercermin dari laporan keuangan yang diterbitkan
perusahaan.
Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis
karena menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa
lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup
suatu perusahaan. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat
diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis pengambilan
keputusan investasi Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman
akan memberikan sinyal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news) bagi
investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut
mengandung sinyal baik, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut diterima oleh pasar (Cecilia; Rambe, S; Torong;, 2015).
Hubungan baik akan terus berlanjut jika pemilik ataupun investor puas
dengan kinerja manajemen, dan penerimaan sinyal juga menafsirkan sinyal
perusahaan sebagai sinyal yang positif. Hal ini jelas bahwa pengukuran kinerja
keuangan perusahaan merupakan hal yang penting dalam hubungan anatara
manajemen dengan pemilik ataupun investor

Pengaruh DPS dan Struktur Modal Terhadap Harga Saham


Perubahan dividen adalah pengumuman kenaikan dividen yang merupakan tanda bahwa
manajemen telah menaikan pendapatan masa depan perusahaan. Oleh karena itu,
pengumuman kenaikan dividen merupakan kabar baik dan pada gilirannya akan menaikan
ekspektasi mereka mengenai pendapatan perusahaan. Hal ini merupakan suatu implementasi
bahwa suatu pengumuman kenaikan dividen akan menyebabkan kenaikan saham
perusahaan.
Struktur Modal merupakan imbangan antara hutang dengan modal sendiri. Teori struktur
modal ini penting karena setiap ada perubahan struktur modal akan mempengaruhi biaya
modal secara keseluruhan, hal ini disebabkan masing- masing jenis modal mempunyai biaya
modal sendiri – sendiri., besarnya biaya modal keseluruhan ini nantinya akan digunakan
sebagai cut of rate pada pengambilan keputusan investasi. Oleh karena itu kebijaksanaan
struktur modal akan mempengaruhi keputusan investasi.
Harga saham merupakan nilai sekarang dari arus kas yang akan diterima oleh pemilik
saham dikemudian hari. Harga saham adalah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh
bukti penyertaan atas pemilik suatu perusahaan

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham


Faktor – faktor yang mempengaruhi harga saham adalah :

  1. Laba per lembar saham
    Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba atas
    saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham yang diberikan
    perusahaan akan memberikan pengembalian yang cukup baik.
  2. Tingkat Bunga
    Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara :
    a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi, apabila
    suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk ditukarkan dengan
    obligasi.
    b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya,
    semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan.
  3. Jumlah kas dividen yang diberikan
    Kebijakan dividen dapat dibagi dua yaitu sebagai bentuk dividen dan sebagian lagi
    disisihkan sebagai laba ditahan.
  4. Jumlah laba didapat perusahaan
    Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang mempunyai
    profit yang cukup baik karena menunjukan prospek yang baik sehingga investor
    tertarik untuk berinvestasi.
  5. Tingkat resiko dan pengembalian
    Apabila tingkat resiko dan proyeksi laba yang diharapkan perusahaan meningkat,
    maka akan mempengaruhi harga saham perusahaan.

Harga Saham


Harga saham merupakan nilai sekarang dari arus kas yang akan diterima oleh pemilik
saham dikemudian hari. Harga saham adalah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh
bukti penyertaan atas pemilik suatu perusahaan.
Nilai pasar dari sekuritas merupakan harga pasar dari sekuritas itu sendiri. Untuk
sekuritas yang diperdagangkan dengan aktif, nilai pasar merupakan terakhir yang
dilaporkan pada saat sekuritas terjual.
a. Nilai Saham Berdasarkan Fungsinya
Berdasarkan fungsi nilai suatu saham terbagi atas tiga jenis yaitu:

  1. Par Value ( Nilai Nominal)
    Merupakan nilai yang tercantum pada saham untuk tujuan akuntansi. Jumlah
    saham yang dikeluarkan perusahaan dikalikan dengan nilai nominalnya
    merupakan modal disetor penuh bagi suatu perseorangan dalam pencatatan
    akuntansi nilai nominal dicatat sebagai modal perusahaan didalam neraca.
  2. Base Price ( Harga Dasar)
    Merupakan harga perdana yang dipergunakan dalam perhitungan indeks harga
    saham. Untuk menghitung nilai dasar dikalikan total saham yang beredar.
  3. Market Price ( Harga Pasar)
    Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika
    pasar ditutup ( Closing Price), harga pasar inilah yang menyatakan naik
    turunnya suatu saham dan setiap hari diumumkan.
    b. Penilaian Harga Saham
    Model penilaian harga saham yang sering digunakan dalam analisis saham yaitu :
  4. Pendekatan present value
    Dalam pendekatan nilai saat ini dari suatu saham adalah sama dengan present
    value arus kas yang diharapkan akan diterima oleh pemilik saham tersebut. Dividen
    merupakan arus kas bagi pemegang saham. Model ini dikembangkan menjadi dua
    model pendekatan yaitu :
    a. Model tanpa pertumbuhan dividen ( The Zero Growt Model)
    Model ini didasarkan pada asumsi :
  5. Keuntungan tidak berubah setiap tahunnya
  6. Semua keuntungan dibagikan sebagai dividen
    Sehingga harga saham dirumuskan :
    P0 =𝐷
    𝑟
    Dimana :
    P0 = Harga Saham ( Nilai Intrinsik)
    D = Dividen
    r = Required rate of return ( Tingkat keuntungan yang dianggap relevan atau
    diharapkan)
    b. Model pertumbuhan Konstan ( Constant Growth Model )
    Model ini di dasarkan pada asumsi :
  7. Tidak semua laba dibagikan
  8. Laba ditahan diinvestasikan kembali
    Sehingga harga saham dirumuskan pada asumsi :
    Po =𝐷𝑖
    𝑟 − 𝑔
    Dimana :
    P0 = Harga saham ( Nilai Intrinsik)
    Di = Dividen pada periode i
    r = Required rate of return
    g = Growth of rate
  9. Pendekatan Price Earning Ratio (PER)
    Dalam pendekatan ini harga saham ( nilai intrinsik) dirumuskan sebagai berikut :
    P0 = EPSi X PER
    Dimana :
    P0 = Harga Saham
    EPS = Earning Per Share
    PER = Price Earning Ratio

Jenis – Jenis Saham


Menurut (Rusdin, 2006:69) di dalam prakteknya, dikenal beberapa jenis saham
yang dibagi menjadi dua kelompok besar sebagai berikut :

  1. Berdasarkan Cara Peralihan Hak
    a. Saham atas unjuk ( Bearee Stock)
    Saham yang tidak ditulis nama pemiliknya, agar mudah
    dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.
    b. Saham atas nama ( Registered Stock)
    Saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya, dimana cara peralihannya
    harus melalui prosedur tertentu, yaitu dengan dokumen peralihan dan
    kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus
    dibuat daftar nama pemegang saham.
  2. Berdasarkan Hak Tagih Klaim
    a. Saham Biasa
    Saham biasa merupakan jenis efek yang paling sering dipergunakan oleh
    emiten untuk memperoleh dana dari masyarakat dan juga merupakan jenis
    paling popular dipasar modal.
    b. Saham Preferen
    Yang berbentuk gabungan antara obligasi dan saham biasa. Jenis saham ini
    sering disebut dengan sekuritas campuran

Karakteristik Pemegang Saham

Sebagai posisi dan batasannya dimana saham merupakan bukti penyertaan modal
pada satu perusahaan, maka menurut Nor Hadi (2013:68) saham memiliki karakteristik
antara lain :

  1. Limited risk, artinya pemegang saham hanya bertanggung jawab sebatas jumlah
    yang disetorkan, yaitu sejumlah nilai saham yang dimiliki. Keuntungan dan
    kerugian yang terjadi pada perusahaan akan dinikmati atau ditanggung sebesar
    proporsi saham yang dimiliki/dipegangnya.
  2. Ultimate control, artinya pemegang saham secara (secara kolektif) akan
    menentukan arah dan tujuan perusahaan. Hal itu, dilakukan pada saat Rapat
    Umum Pemegang Saham (RUPS), dan secara harian dilaksanakan oleh Dewan
    Komisaris yang merupakan wakil/representasi dari pemegang saham.
  3. Residual claim, artinya pemegang saham merupakan pihak terakhir yang
    mendapatkan pembagian hasil perusahaan. Claim pemegang saham adalah
    keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen. Pemegang saham juga
    memperoleh bagian atas sisa asset perusahaan, ketika perusahaan telah
    dilikuiditas setelah dikurangi kewajiban kepada pegawai, pajak, hutang pada
    pihak ketiga, pemegang saham preferen dan kewajiban lainya

Jenis – Jenis Modal


Modal menunjukan dana jangka panjang pada suatu perusahaan yang meliputi semua
bagian disisi kanan neraca perusahaan kecuali utang lancar. Modal terdiri dari modal
pinjaman dan modal sendiri.
Modal pinjaman termasuk semua pinjaman jangka panjang yang diperoleh
perusahaan pemberi dana umumnya meminta pengembalian yang relatif rendah, karena
mereka memperoleh risiko yang paling kecil atas segala jenis modal jangka panjang,
sebab :
a. Modal pinjaman mempunyai prioritas lebih dahulu jika terjadi tuntutan atas
pendapatan aktiva yang tersedia untuk pembayaran.
b. Modal pinjaman mempunyai kekuatan hukum atas pembayaran dibandingkan
dengan pemegang saham preferen atau saham biasa.
c. Bunga pinjaman merupakan biaya yang dapat mempengaruhi pajak, maka biaya
modal pinjaman yang sebenarnya secara substansial menjadi lebih rendah

Kebijakan Struktur Modal


Struktur Modal sangat berpengaruh terhadap kelangsungan suatu perusahaan. Oleh
karena itu perlu suatu kebijakan dalam hal penentuan struktur modal suatu perusahaan
untuk dapat meningkatkan kinerja modal perusahaan tersebut.
Masalah pendanaan dalam perusahaan adalah salah satu masalah penting yang selalu
dihadapi oleh setiap perusahaan, mulai dari penarikan dana sampai pada pengalokasian
dana tersebut secara efektif dan efisien ( Suad Husnan, 2006:263 ) menyebutkan bahwa
terdapat metode –metode dasar untuk menentukan kebijakan struktur modal yang
sebaiknya dijalankan oleh perusahaan. Metode dasar tersebut adalah :
a) Analisis EBIT – EPS
Melalui analisis ini manajemen dapat melihat dampak dari berbagai alternatif
pendanaan terhadap EPS pada tingkatan EBIT yang bervariasi. Yang dimaksud dengan
EPS adalah laba bersih setelah pajak dibagi jumlah saham perusahaan yang beredar.
Pada analisis ini hubungan EPS dan EBIT dapat di cari dengan :

  1. Menghitung EPS pada berbagai alternative pendanaan untuk EBIT tertentu
  2. Mengulang langkah pertama untuk EBIT yang berbeda – beda. Hasilnya kemudian
    digambarkan dalam grafik EBIT – EPS.
    Expected dan deviasi standar EBIT dapat dicari dengan mengembangkan sejumlah
    skenario tentang EBIT dimasa mendatang bersama dengan probabilita terjadinya. Jika
    deviasi standar EBIT relatif besar, manajemen harus lebih hati – hati karena Expected
    EBIT menjadi kurang dipercaya.
    b) Perbandingan Rasio – Rasio Laverage
    Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan efek dari setiap alternatif
    pendanaan terhadap rasio – rasio laverage. Manajemen kemudian dapat
    membandingkan rasio – rasio yang ada saat ini dan rasio – rasio pada alternatif dengan
    pendanaan tertentu dengan rasio – rasio industri sejenis.
    Manajemen dapat menggunakan metode perhitungan rasio sebagai berikut :
    a. Rasio Hutang
    a. Total hutang / Total Aktiva
    b. Hutang jangka panjang/ (hutang jangka panjang + Modal sendiri )
    c. Total Hutang / Modal sendiri
    b. Rasio Jaminan
    a. Time interes earned = EBIT/ Biaya bunga
    b. Debt service coverage = EBIT / [ biaya bunga + (pembayaran pokok
    pinjaman/1-pajak).
    Rasio hutang dan Rasio jaminan dapat dihitung berdasarkan posisi keuangan
    perusahaan pada saat ini dan posisi keuangan dan posisi perusahaan dengan hutang dsb.
    Rasio – rasio tersebut kemudian dibandingkan dengan rasio industri dari perbandingan
    tersebut, manajemen dapat menentukan alternatif pendanaan yang paling tepat bagi
    perusahaan.
    c) Analisis Rasio Kas Perusahaan
    Metode ini menganalisis dampak keputusan struktur modal terhadap arus kas
    perusahaan. Metode ini melibatkan suatu persiapan seri anggaran kas pada kondisi
    perekonomian yang berbeda dari struktur modal yang berbeda

Teori Struktur Modal


Terdapat beberapa teori mengenai struktur modal dan kebijakannya, salah satunya
yang dikemukakan oleh Sartono ( 2001 : 225) yang menjelaskan beberapa teori struktur
modal diantaranya :
1.Teori modiglani – Miller

  1. financial distress –agency costs
  2. Model Trade Off
  3. Teori Informasi tidak simestris

Struktur Modal Optimal


Struktur Modal Optimal adalah Struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan
antara risk dan return sehingga memaksimalkan harga saham. Terdapat dua jenis risiko
yaitu risiko bisnis adalah tingkat risiko dari operasi perusahaan jika tidak menggunakan
utang sedangkan risiko keuangan adalah risiko tambahan bagi pemegang saham biasa
karena perusahaan menggunakan utang (Farah Margaretha, 2011:113).

Pengertian Struktur Modal


Menurut Farah Margaretha (2011:112) Struktur Modal menggambarkan
pembiayaan permanen perusahaan yang terdiri dari utang jangka panjang dan modal
sendiri. Struktur modal merupakan cermin dari kebijaksanaan perusahaan dalam
menentukan jenis sekuritas yang dikeluarkan, karena masalah struktur modal adalah erat
hubungannya dengan masalah kapitalisasi, dimana disusun dari jenis – jenis funds yang
membentuk kapitalis.
Kebijakan struktur modal merupakan trade off antara Risk dan Return apabila utang
meningkat, maka risk meningkat sehingga return pun meningkat. Jika hutang
sesungguhnya (realisasi) berada dibawah target, pinjaman perlu ditambah, dan jika rasio
hutang melampaui target, maka saham dijual.
Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai struktur modal
yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang
dapat meminimalkan biaya pendanaan modal keseluruhan atau biaya modal rata – rata
sehingga memaksimalkan nilai perusahaan.
Struktur Modal dihitung dengan rasio Debt to Equity Ratio rasio ini berfungsi untuk
mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang. Rumus untuk
mencari debt to equity ratio dapat digunakan perbandingan antara total utang dengan total
ekuitas sebagai berikut :
Bagi Bank (Kreditor), semakin besar rasio ini, akan semakin tidak menguntungkan
karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi
di perusahaan. Namun, bagi perusahaan justru semakin besar rasio akan semakin baik.
Sebaliknya dengan rasio yang rendah, semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan
pemilik dan semakin besar batas pengamanan bagi peminjam jika terjadi kerugian atau
penyusutan terhadap nilai aktiva. Rasio ini juga memberikan petunjuk umum tentang
kelayakan dan risiko keuangan perusahaan.
Debt to equity ratio untuk setiap perusahaan tentu berbeda – beda, tergantung
karakteristik bisnis dan keberagaman atau kasnya. Perusahaan dengan arus kas yang stabil
biasanya memiliki rasio yang lebih tinggi dari rasio kas yang kurang stabil.

Kebijakan Dividen


Kebijakan dividen menyangkut tentang masalah penggunaan laba yang menjadi hak
pemegang saham. Pada dasarnya, laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan
untuk di investasikan kembali. Dengan demikian pertanyaan yang sering muncul adalah
kapan (dalam keadaan yang seperti apa) laba akan dibagikan dan kapan akan ditahan,
dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan (Suad
Husnan, 2006 : 297).

Teori Signaling


Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk
memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk
memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan
pihak luar, dimana perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan itu sendiri
dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor). Salah satu cara untuk
mengurangi informasi asimetri adalah memberi sinyal pada pihak luar, salah satunya
berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian
mengenai prospek perusahaan yang akan datang

Teori Perbedaan Pajak


Teori ini menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan
capital gains. Para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda
pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang
lebih tinggi pada saham yang memberikan dividen yield tinggi. Jika pajak atas dividen lebih
besar dari pajak atas capital gains perbedaan ini akan makin terasa

Teori Keagenan (Agency Theory)


Bagi perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas, seringkali terjadi pemisahan antara
pengelola perusahaan (pihak manajemen, disebut juga sebagai agen) dengan pemilik
perusahaan atau (pemegang saham) tanggung jawab pemilik hanya sebatas modal yang
disetorkan. Artinya, apabila perusahaan mengalami kabangkrutan, maka modal sendiri
(ekuitas) yang telah disetorkan oleh para pemilik perusahaan mungkin sekali akan hilang,
akan tetapi kekayaan pribadi pemilik tidak akan diikut sertakan untuk menutup kerugian
tersebut. Dengan demikian memungkinkan munculnya masalah – masalah yang disebut
dengan masalah keagenan.
Masalah keagenan muncul dalam dua bentuk, yaitu antara pemilik perusahaan dengan
pihak manajemen dan antara pemegang saham dengan pemegang obligasi. Tujuan
normative pengambilan keputusan keuangan yang menyatakan bahwa keputusan siambil
untuk memaksimumkan kemakmuran pemilik perusahaan (Suad Husnan, 2006:10)

Teori Kebijakan Dividen


Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli sebagaimana yang ada dalam
Sutrisno (2012 : 274) antara lain :

  1. Teori Residu Dividen atau Residual Dividend of Theory
    Laba yang diperoleh oleh perusahaan dalam suatu periode sebenarnya adalah untuk
    kesejahteraan para pemegang saham. Namun biasanya sebagian dibagikan kepada
    pemegang saham sebagai dividen dan sebagian ditahan.
  2. Dividen Model Walter atau Walter’s Dividend Model
    Teori dividen model ini berpendapat bahwa selama keuntungan yang di peroleh dari
    reinvestasi lebih tinggi disbanding dengan biayanya maka reinvestasi tersebut
    cenderung akan meningkatkan harga saham atau nilai perusahaan

Macam –Macam Kebijakan Dividen


Menurut Sutrisno, (2012 : 268) kebijakan pemberian dividen yaitu :

  1. Kebijakan pemberian dividen stabil, artinya dividen akan diberikan secara tetap per
    lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan
    berfluktuasi.
  2. Kebijakan dividen yang meningkat, artinya dengan kebijakan ini, perusahaan akan
    membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu
    meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
  3. Kebijakan dividen yang konstan, kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya
    mengikuti besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan.
  4. Kebijakan dividen regular yang rendah ditambah ekstra, perusahaan menentukan
    jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian
    ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.

Faktor yang mempengaruhi Kebijakan Dividen


Menurut Sutrisno, (2012 : 267) faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
diantaranya adalah :

  1. Posisi Solvabilitas Perusahaan
    Apabila perusahaan dalam kondisi insolvensi kurang menguntungkan, biasanya
    perusahaan tidak membagikan laba. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh lebih
    banyak digunakan untuk memperbaiki posisi struktur modalnya.
  2. Posisi Likuiditas perusahaan
    Cash Dividen merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, oleh karena itu bila
    perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan uang kas yang
    cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan.
  3. Kebutuhan untuk melunasi hutang
    Salah satu sumber dana perusahaan adalah dari kreditor berupa hutang baik jangka
    pendek maupun jangka panjang.
  4. Rencana perluasan
    Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan
    perusahaan, dan hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan oleh perusahaan.
  5. Kesempatan Investasi
    Kesempatan investasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya dividen
    yang akan dibagi.
  6. Stabilitas pendapatan
    Bagi perusahaan yang pendapatannya stabil, dividen yang akan dibayarkan kepada
    pemegang saham lebih besar dibanding dengan perusahaan yang pendapatannya
    tidak stabil.
  7. Pengawasan terhadap Perusahaan
    Kadang – kadang pemilik tidak mau kehilangan kendali terhadap perusahaan.
    Apabila perusahaan mencari sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan akan
    masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan pemilik lama
    dalam mengendalikan perusahaan

Jenis – Jenis Dividen


Dividen dapat dibagi menjadi lima jenis yaitu :

  1. Cash Dividen : Metode paling umum untuk pembagian keuntungan. Dibayarkan
    dalam bentuk tunai dan dikenai pajak pada tahun pengeluarannya.
  2. Stock Dividen : Cukup umum dilakukan dan dibayarkan dalam bentuk saham
    tambahan, biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham yang
    dimiliki. Contohnya, setiap 100 saham yang dimiliki, dibagikan 5 saham tambahan.
    Metode ini mirip dengan stock split karena dilakukan dengan cara menambah jumlah
    sambil mengurangi nilai tiap saham sehingga tidak mengubah kapitalisasi pasar.
  3. Property Dividen : Dibayarkan dalam bentuk asset. Dalam hal ini mungkin saja
    terjadi pembayaran dividen dalam bentuk barang – barang yang dihasilkan atau
    diperdagangkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Dalam pembayaran dividen ini
    para pemegang saham tidak dapat dipaksakan untuk menerimanya sebagai dividen
    oleh karena itu perusahaan dapat menjualnya terlebih dahulu barangnya. Lalu hasil
    penjualan tersebut diberikan kepada pemegang saham pembagian dividen dengan
    cara ini jarang dilakukan.
  4. Scrip Dividen : Yaitu dividen yang dibayarkan dalam dalam bentuk surat janji
    hutang. Perseroan akan membayar dalam jumlah tertentu, sesuai dengan yang
    tercantum dalam scrip tersebut. Pembayaran dalam bentuk ini akan menyebabkan
    perseroan mempunyai hutang jangka pendek kepada scrip. Alasan dibayarkan
    dividen ini adalah perseroan telah berhasil memperoleh laba, tapi tidak punya cukup
    uang untuk membayar dividen tunai sedangkan rapat pemegang saham
    menginginkan dividen dibayarkan pada periode tersebut.
  5. Liquidating dividen : Dividen yang dibagikan berdasarkan pengurangan modal
    perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan

Pasar Modal


Sebagaimana Menurut Rusdin (2006: 1) Pasar Modal adalah “ Kegiatan yang
berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek. Perusahaan publik yang
berkaitan dengan diterbitkannya, serta lembaga profesi yang berkaitan dengan efek”. Pasar
modal menyediakan berbagai alternatif investasi bagi para investor selain alternatif
investasi lainnya seperti : menabung di Bank, menjual emas, asuransi dan lainnya. Pasar
modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien. Investor dapat melakukan
investasi pada beberapa perusahaan melalui pembelian efek – efek yang baru ditawarkan
ataupun yang diperdagangkan dipasar modal. Sebaliknya, perusahaan dapat memperoleh
dana yang dibutuhkan dengan menawarkan instrument keuangan jangka panjang melalui
pasar modal tersebut

Macam – Macam Rasio Keuangan


Menurut Sofyan Syafri Harahap (2013:301) rasio keuangan yang sering digunakan
adalah :

  1. Rasio Likuiditas
    Rasio Likuiditas menggabarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan
    kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi
    tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan utang lancar.
  2. Rasio Solvabilitas
    Rasio Solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar
    kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan
    likuidasi. Rasio ini dapat dihitung dari pos-pos yang sifatnya jangka panjang seperti
    aktiva tetap dan utang jangka panjang.
  3. Rasio Rentabilitas / Profitabilitas
    Rasio Rentabilitas / Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan
    mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan
    penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya rasio yag
    menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating
    ratio.
  4. Rasio Leverage
    Rasio ini menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadap modal maupun
    asset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan yang digambarkan oleh modal
    (equity).
  5. Rasio Aktivitas
    Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan
    operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya.
  6. Rasio Pertumbuhan
    Rasio ini menggambarkan persentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke
    tahun
  7. Rasio Penilaian Pasar
    Rasio ini merupakan rasio yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal
    yang menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal. Tidak
    berarti rasio lainnya tidak dipakai.
  8. Rasio Produktivitas
    Rasio ini menunjukan sejauh mana kemampuan karyawan menghasilkan laba.
    Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap lebih produktif.

Jenis – Jenis Rasio Keuangan


Menurut Sutrisno (2012 : 215) Rasio Keuangan diperoleh dengan cara
menghubungkan elemen – elemen laporan keuangan. Ada dua pengelompokan jenis –
jenis rasio keuangan, pertama rasio menurut sumber darimana rasio itu dibuat dan dapat
dikelompokan menjadi :

  1. Rasio – Rasio Neraca (Balance Sheet Ratios)
    Merupakan rasio yang menghubungkan elemen – elemen yang ada pada
    neraca saja. Seperti Current Ratio,Cash Ratio, Debt to Equity Ratio dan
    sebagainya.
  2. Rasio – Rasio Laporan Rugi – Laba (Income Statement Ratios)
    Yaitu Rasio yang menghubungkan elemen – elemen yang ada pada laporan rugi
    – laba saja, seperti Profit Margin, Operating Ratio dan Lain- lain.
  3. Rasio – Rasio antar Laporan (Inter Statement Ratios)
    Rasio yang menghubungkan elemen – elemen yang ada pada dua laporan neraca
    dan laporan laba – rugi

Pengertian Rasio Keuangan


Pengertian rasio keuangan menurut james C Van Horne dalam Kasmir (2013 : 104)
merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akutansi dan diperoleh dengan
membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk
mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
Jadi, Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka – angka yang ada
dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan lainnya.
Menurut Sutrisno (2012:212) Informasi dan gambaran perkembangan keuangan
perusahaan bisa diperoleh dengan mengadakan interpretasi dari laporan keuangan,
yakni dengan menghubungkan elemen – elemen yang ada pada laporan keuangan dari
berbagai aktiva dengan pasiva, elemen – elemen neraca dengan elemen – elemen
laporan laba/rugi, akan bisa diperoleh banyak gambaran mengenai kondisi keuangan
suatu perusahaan.

Pengertian Manajemen Keuangan


Menurut Sutrisno (2012 : 3) “Manajemen Keuangan diartikan sebagai semua aktivitas
perusahaan yang berhubungan dengan usaha – usaha mendapatkan dana perusahaan
dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana
secara efisien.
Manajemen keuangan berhubungan dengan tiga aktivitas, yaitu :
a. Aktivitas penggunaan dana, yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai
aktiva.
b. Aktivitas perolehan dana, yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana, baik dari
sumber dana internal maupun sumber dana eksternal perusahaan.
c. Aktivitas pengelolaan aktiva, yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam
bentuk aktiva, dana harus dikelola seefisien mungkin.
Ada beberapa fungsi Manajemen Keuangan yang biasa diketahui dan pelajari meliputi
:
a. Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta kegiatan
– kegiatan lainnya untuk periode tertentu.
b. Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat
detail pengeluaran dan pemasukan.
c. Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana
yang ada dengan berbagai cara.
d. Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk
operasional kegiatan perusahaan.
e. Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan
mengamankan dana tersebut.
f. Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem
keuangan pada perusahaan.
g. Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada
agar tidak terjadi penyimpangan.
h. Pelaporan Keuangan, penyedia informasi tentang kondisi keuangan perusahaan
sekaligus sebagai bahan evaluasi

Laporan Keuangan


Laporan keuangan adalah Laporan yang menunjukan kondisi keuangan perusahaan
pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan adalah bagian dari proses
pelaporan keuangan (Kasmir, 2013 : 7 ). Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi
:
a. Laporan Neraca
Menurut Kasmir (2013 : 8) Neraca adalah Laporan yang menunjukan jumlah aktiva
(harta), kewajiban (hutang), dan modal perusahaan (ekuitas) perusahaan pada saat
tertentu. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aktiva, kewajiban, dan modal yang
dihubungkan dengan persamaan berikut :
Aktiva – kewajiban + modal. Informasi yang dapat dilihat dari neraca antara lain adalah
posisi sumber kekayaan perusahaan dan sumber pembiayaan untuk memperoleh
kekayaan perusahaan tersebut dalam suatu periode akuntansi (triwulan , kwartal , atau
tahunan).
b. Laporan Laba/ Rugi adalah ringkasan pendapatan dan biaya perusahaan selama periode
tertentu diakhiri dengan laba atau rugi periode tersebut (Kasmir, 2013 : 45).
c. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas adalah Laporan yang menunjukan perubahan dari kekayaan
pemilik selama periode tertentu. Laporan perubahan ekuitas ini akan memberikan
informasi tentang jumlah dan perubahan dari kekayaan dan klaim pemilik atas
kekayaan perusahaan.
d. Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus kas atau
laporan arus dana.
Laporan arus cash (cash flow statement) adalah bagian dari laporan keuangan suatu
perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukan aliran
masuk dan keluar uang (kas) perusahaan. Informasi arus kas berguna sebagai indikator
jumlah arus kas dimasa yang akan datang, serta berguna untuk menilai kecermatan arus
atas taksiran atas arus kas yang telah dibuat sebelumnya. Laporan arus kas juga menjadi
alat pertanggungjawaban arus kas masuk dan arus kas keluar selama periode pelaporan.
Apabila dilakukan dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas memberikan
informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan dalam mengevaluasi perubahan
kekayaan bersih, ekuitas dana suatu entitas pelaporan dan struktur keuangan
pemerintah (termasuk likuiditas dan solvabilitas).
Menurut Kasmir (2013 : 165) Solvabilitas adalah Rasio yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Dalam arti luas dikatakan
bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar
seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan
dibubarkan.
Menurut Kasmir (2013:153) Tujuan dan manfaat rasio solvabilitas adalah :

  1. Untuk menilai dan mengetahui kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban
    kepada pihak lainnya;
  2. Untuk menilai dan mengetahui kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang
    bersifat tetap;
  3. Untuk menilai dan mengetahui keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva
    tetap dengan modal;
  4. Untuk menilai dan mengetahui seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh
    hutang;
  5. Untuk menilai dan mengetahui seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh
    terhadap pengelolaan aktiva;
  6. Untuk menilai dan mengetahui atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah
    modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang;
  7. Untuk menilai dan mengetahui berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada
    terdapat sekian kalinya modal sendiri.
    Menurut Kasmir ( 2013 : 145) Likuiditas adalah Rasio yang digunakan
    untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Dengan kata lain, rasio
    likuiditas berguna untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi
    kewajiban jangka pendeknya, pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau
    perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar
    dengan harta lancarnya.
    Menurut Kasmir (2013:132) Tujuan dan manfaat dari rasio likuiditas
    adalah :
  8. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek;
  9. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek tanpa
    memperhitungkan persediaan;
  10. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan modal
    kerja perusahaan;
  11. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang;
  12. Untuk menghitung seberapa besar perputaran kas;
  13. Sebagai alat bagi pihak luar terutama yang berkepentingan terhadap perusahaan dalam
    menilai kemampuan perusahaan agar dapat meningkatkan saling percaya.
  14. Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari
    laporan keuangan. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi
    keuangan adalah aktiva, kewajiban dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan
    dengan pengukuran kinerja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban.
    Laporan posisi keuangan harusnya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan
    perubahan dalam berbagai unsur neraca

Hubungan Market Value Added (MVA) terhadap Harga Saham.

Menurut Steward (dalam Rahayu, 2007) Market Value Added (MVA) adalah suatu pengukuran kinerja yang tepat untuk menilai sukses tidaknya perusahaan dalam menciptakan pengukur kinerja yang tepat untuk menilai sukses tidaknya perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemiliknya. Jadi, kekayanaa atau kesejahteraan pemilik perusahaan (pemegang saham) akan bertambah bila Market Value Added (MVA) bertambah. Menurut Young, S. D & O’byrne,S.F (2001) Indikator yang digunakan untuk mengukur Market Value Added (MVA) yaitu : (1) Jika Market Value Added (MVA) > 0, bernilai positif, artinya perusahaan berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana. (2) Jika Market Value Added (MVA) < 0, bernilai negatif, artinya perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana

Hubungan Return On Asset (ROA) terhadap Harga Saham.


Menurut Shidiq, N. A (2012) Return On Asset (ROA) atau
disebut juga rentabilitas ekonomi adalah laba usaha dengan modal
sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba
tersebut dan dinyatakan dalam persentase. Oleh karena pengertian
rentabilitas sering digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan
modal dalam suatu perusahaan, maka rentabilitas ekonomi sering pula
dimaksudkan sebagai kemampuan suaru perusahaan dnegan seluruh
modal yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan lama.
Rasio ini mengukur tigkat pengembalian investasi yang telah
dilakukan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktva yang
dimilkinya. Semakin tinggi ROA semakin tinggi keuntungan. Semakin
besar tingkat keuntungan yang dihasilkan perusahaan, maka akan
menjadikan investor tertarik terhadap nilai saham. Sehingga
peningkatan jumlah investor akan berpengaruh terhadap peningkatan
harga saham

Hubungan Economic Value Added (EVA) terhadap HargaSaham.


Economic Value Added (EVA) adalah suatu pengukuran dengan
memperhitungkan secara tepat semua faktor-faktor yang berhubungan
dengan penciptaan nilai. Hubungan antara Economic Value Added
(EVA) dan nilai perusahaan dapat dijelaskan, bahwa Economic Value
Added (EVA) dapat digunakan sebagai alat untuk menilai perusahaan
apabila perhitungan Economic Value Added (EVA) tidak hanya pada
periode masa kini tetapi juga mencakup periode yang akan dating. Hal
ini disebabkan karena Economic Value Added (EVA) pada tahun
tertentu menunjukkan nilai sekarang dari total penciptaan nilai selama
umur perusahaan tersebut.
Economic Value Added (EVA) juga bisa dilihat sebagai ukuran
keberhasilan manajemen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah
(value added) bagi perusahaan. Analisis ini dilakukan dengan cara
pandang kaum fundamentalis yang menyatakan bahwa nilai dari ekuitas
fundamental perusahaan. Asumsinya adalah jika kinerja manajemen
efektif (dilihat dari berapa besar nilai tambah yang dihasilkan), hal
tersebut mengindikasikan penciptaan laba yang tinggi, sehingga
direspon secara positif oleh para investor.

Hubungan Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham.


Earning Per Share (EPS) adalah rasio yang digunakan
menunjukkan perolehan laba untuk setiap lembar saham. Menurut
Darmadji, Tjiptono dan Hendry M Fakhrudin (2006) Earning Per Share
(EPS) menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar pada
setiap lembar saham. Rasio ini merupakan salah satu rasio yang sering
digunakan oleh para investor untuk melihat kondisi perusahaan dipasar,
dan untuk memprediksikan harga saham, karena Earning Per Share
(EPS) memberikan gambaran terkait jumlah besaran atau keuntungan
yang diperoleh untuk setiap lembar saham.
Pada umumnya seorang investor melakukan aktivitas investasi
dengan harapan mampu memperoleh keuntungan atas modal yang
sudah diinvestasikan. Investor beranggapan bahwa besarnya nilai laba
per lembar saham yang dibagikan oleh sebuah perusahaan merupakan
suatu indikator keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan bagi
pemegang saham. Pola pemikiran tersebut mampu mendorong seorang
investor dalam melakukan pembelian saham pada perusahaan yang
memiliki nilai earning per share yang cukup tinggi. Pada kondisi seperti
itu maka harga saham di pasar modal akan bergerak naik karena terjadi
peningkatan jumlah permintaan saham.

Market Value Added (MVA)


Market Value Added (MVA) dikembangkan oleh Stern Stewart
& Co, sebuah perusahaan konsultan manajemen keuangan berkantor
pusat di New York (1991). Market Value Added (MVA) diyakini
sebagai pengukuran kinerja keuangan untuk menilai sukses tidaknya
suatu perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemegang
sahamnya. Menurut Sartono (2001) Market Value Added (MVA)
adalah kemakmuran pemegang saham dimaksimumkan dengan
memaksimumkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas
nilai modal yang disetor pemegang saham. Kenaikan ini disebut
MVA.
Indikator Market Value Added (MVA) menurut Kartini dan
Gatot Hermawan (2008) antara lain yaitu jika Market Value Added
(MVA) bernilai positif berarti menunjukkan pihak manajemen
mampu meningkatkan kekayaan pemegang saham. Sedangkan jika
Market Value Added (MVA) bernilai negatif menunjukkan bahwa
berkurangnya nilai modal pemegang saham sehingga
memaksimumkan nilai Market Value Added (MVA) yang seharusnya
menjadi tujuan utama perusahaan dalam meningkatkan kekayaan
pemegang saham tidak tercapai.

Return On Asset (ROA)


Menurut Mardiyanto (2009:196) dalam penelitian Rendi Wijaya
(2019) Return On Asset (ROA) adalah imbal hasil atas aset, artinya
rasio yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana investasi atau
aset yang telah ditanamkan mampu menghasilkan laba. Nilai dari
Return On Asset (ROA) mampu menjelaskan bagaimana perusahaan
telah mengelola asetnya agar memperoleh keuntungan. Return On
Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang dinilai
dapat mempengaruhi investor untuk melakukan investasi, tentunya
juga berpengaruh terhadap naik turunnya harga saham.
Return on Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas. Dalam
menganalisis laporan keuangan, rasio ini sering digunakan, karena
mampu dalam menunjukkan keberhasilan perusahaan untuk
menghasilkan keuntungan. ROA memiliki kemampuan dalam
mengukur perusahaan untuk menghasilkan keuntungan pada masa
lampau untuk kemudian diproyeksikan ke masa yang akan datang.
Assets yang dimaksud adalah seluruh harta atau kekayaan perusahaan,
yang diperoleh dari modal sendiri ataupun dari modal asing yang telah
diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang telah
digunakan dalam kelangsungan hidup perusahaan.
Menurut Horne & Wachowicz (2005:235), “ROA memiliki
kemampuan dalam mengukur efektivitas keseluruhan dalam
memperoleh laba melalui aktiva yang tersedia atau kemampuan untuk
menghasilkan laba dari modal yang diinvestasikan”. Horne dan
Wachowicz menghitung ROA dengan menggunakan rumus laba
bersih setelah pajak dibagi total aktiva. Keuntungan neto merupakan
keuntungan sesudah pajak. Dari uraian di atas dapat diperoleh
kesimpulan bahwa ROA atau ROI dalam penelitian ini adalah
mengukur perbandingan dari laba bersih setelah beban bunga dan
pajak (Earning After Taxes / EAT) yang dihasilkan dari kegiatan
pokok perusahaan dengan total aktiva (assets) yang dimiliki
perusahaan dalam melakukan aktivitas perusahaan secara menyeluruh
dan dinyatakan dalam persentase

Economic Value Added (EVA)


Menurut Dwimulyani dan djamhuri (2014:113), Economic Value
Added (EVA) merupakan nilai tambah ekonomis yang diciptakan oleh
perusahaan dari kegiatan yang dilakukan selama periode tertentu yang
diciptakan oleh perusahaan dari kegiatan yang dilakukan selama
periode tertentu dan merupakan salah satu cara untuk menilai kinerja
keuangan.
Dewi (2017 :651) mengungkapkan bahwa dalam penerapannya,
Economic Value Added (EVA) memiliki tujuan untuk memperoleh
hasil perhitungan nilai ekonomis perusahaan yang lebih realistis.
Selain itu, perhitungan Economic Value Added (EVA) juga
diharapkan dapat mendukung penyajian laporan keuangan sehingga
akan mempermudah bagi para pengguna laporan keuangan
diantaranya para investor, kreditur, karyawan, pemerintah,
pelanggaran, serta pihak yang berkepentingan lainnya.
Manfaat yang diperoleh dari penerapan model Economic Value
Added (EVA) dalam suatu perusahaan, antara lain :
1) Penerapan Economic Value Added (EVA) bermanfaat sebagai
pengukur kinerja perusahaan di mana fokus penilaian kinerja
keuangan adalah penciptaan nilai (value creation).
2) Penilaian kinerja keuangan dengan pendekatan Economic Value
Added (EVA) menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan
kepentingan pemegang saham.
3) Economic Value Added (EVA) dapat mendorong perusahaan unutk
lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya.
4) Economic Value Added (EVA) berguna untuk mengidentifikasikan
proyek atau kegiatan manakah yang dapat memberikan
pengambilan yang lebih tinggi daripada biaya modal.
Aktivitas pembiayaan perusahaan diperoleh dari kewajiban
jangka pendek (current liabilities) yang dibedakan menjadi utang
jangka pendek dengan bunga dan utang jangka pendek yang tidak
dibebankan bunga (non interest). Hal tersebut berhubungan kaitannya
dengan pembiayaan dari aktiva operasional perusahaan. Aktiva lancar
sebagai modal kerja bruto tidak seluruhnya didanai dengan bunga
seperti utang usaha dan akrual yang sering disebut sebagai pendanaan
spontan (non interest liabilities). Modal operasi perusahaan diperoleh
dari modal kerja operasi bersih adalah harta lancar dikurangi
kewajiban lancar non interest ditambah dengan modal pada aktiva
tetap bersih. Jumlah kas yang berlebihan dan surat-surat berharga
bukan untuk menjaga likuiditas yang dibutuhkan tetapi diinvestasikan
karena kelebihan likuidasi, maka surat-surat berharga tersebut tidak
dapat digolongkan sebagai modal kerja operasi.
Modal operasi perusahaan diperoleh dari modal kerja operasional
bersih ditambah dengan aktiva tetap bersih, sehingga didapatkan
sumber pembiayaannya terdiri dari utang jangka pendek yang bukan
spontan yang dibebankan bunga ditambah utang jangka Panjang dan
modal sendiri.

Earning Per Share (EPS)


Menurut (Faitullah, 2016) Earning Per Share (EPS) merupakan
laba yang didapati dari satu lembar saham. Nilai ini adalah bentuk
pendapatan atau pemberian keuntungan yang diberikan kepada
investor pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki.
Investor akan mengharapkan keuntungan dari tiap investasi yang telah
dilakukan dan akan fokus dalam memperhatikan keuntungan
perusahaan tiap tahunnya. Nilai Earning Per Share (EPS) dapat
memperlihatkan sejauh mana perusahaan mampu meningkatkan laba
perusahaannya tersebut. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap
harga saham, dikarenakan jika perusahaan tiap tahunnya dapat
meningkatkan Earning Per Share (EPS), maka akan menarik minat
investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut, dan juga
permintaan atas saham perusahaan meningkat yang menyebabkan
terjadinya peningkatan harga saham, begitupun sebaliknya. Rasio ini
mampu mengukur bagaimana pasar modal (para pemodal) menilai
suatu perusahaan. Perusahaan yang menghasilkan laba yang sama,
belum tentu mencerminkan memiliki penilaian pasar yang sama.
Sama halnya perusahaan yang memiliki nilai buku ekuitas yang sama,
belum tentu memiliki nilai pasar yang sama. Rasio nilai pasar ini
terdiri dari;
a. Price Earning Ratio (PER), membandingkan harga saham per
lembar (yang ditentukan di pasar modal) dengan laba per lembar
saham (Earning Per Share).
b. Market to Book Value Ratio (MBV), membandingkan antara
harga per lembar saham dengan nilai buku per lembar.
Menurut Kamaludin (2011), kekurangan dari informasi analisis
rasio ini adalah;

  1. Rasio keuangan didasarkan atas informasi akuntansi yang
    dihasilkan dari prinsip-prinsip akuntansi yang dianut perusahaan,
    sedangkan data tersebut bisa ditafsirkan dengan berbagai macam
    cara dan bahkan bisa dimanipulasi.
  2. Rasio keuangan dapat mencerminkan suatu kondisi yang luar
    biasa di masa lampau, sebagai contoh penjualan meningkat
    200%. Jika lebih lanjut tidak diteliti dengan data pendukung,
    maka hasilnya akan bias

Faktor yang Berpengaruh Terhadap Saham

Husnan dan Pudjiastuti (1998 : 134) menjelaskan faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap harga saham dapat dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu :
1) Faktor yang bersifat fundamental
adalah faktor yang memberi informasi terkait kinerja perusahaan
dan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya. Faktorfaktor ini meliputi :

  1. Kemampuan manajemen untuk mengelola kegiatan
    operasional perusahaan.
  2. Prospek bisnis perusahaan di masa datang.
  3. Prospek pemasaran dari bisnis yang dilakukan.
  4. Perkembangan teknologi yang digunakan untuk kegiatan
    operasi perusahaan.
  5. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
    2) Faktor yang bersifat teknis
    Adalah faktor yang menyajikan informasi dalam menggambarkan
    suatu efek, baik secara kelompok maupun secara individu. Analis
    teknis banyak memperhatikan hal-hal berikut dalam menilai
    harga saham:
  6. Perkembangan kurs.
  7. Keadaan pasar modal.
  8. Volume dan frekuensi transaksi suku bunga.
  9. Kekuatan pasar modal untuk mempengaruhi harga saham
    perusahaan.
  10. Faktor sosial politik.
  11. Tingkat inflasi yang terjadi.
  12. Kebijaksanaan moneter yang dilakukan oleh pemerintah.
  13. Kondisi perekonomian.
  14. Keadaan politik suatu negara.

Harga Saham Perusahaan


Pergerakan harga saham merupakan ringkasan dari naik atau
turunnya harga saham setiap harinya. Syaiful S (2013) Pergerakan
harga saham tidak terlepas dari kekuatan permintaan dan penawaran
akan saham tersebut. Marvina et al (2020) Harga saham merupakan
salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan, dalam hal ini
harga saham yang tinggi merupakan wujud apresiasi investor
terhadap kinerja suatu perusahaan. Investor menganggap bahwa
perusahaan tersebut sukses dalam mengelola bisnisnya. Ponggohong
et al (2016) Kepercayaan investor atau calon investor sangat berguna
bagi perusahaan, karena semakin banyak orang yang menaruh
kepercayaan kepada perusahaan, semakin banyak pula investor yang
mau berinvestasi pada perusahaan tersebut. Sehingga bagi sebuah
perusahaan, mengetahui faktor-faktor yang dapat menjadi
kecenderungan yang fluktuatif dan berubah-ubah setiap detiknya.
Apabila permintaan terhadap saham lebih bersar dibandingkan
dengan penawaran, maka mengakibatkan harga saham tersebut naik,
demikian pula sebaliknya apabila penawaran saham lebih besar
dibandingkan dengan permintaan saham, maka dapat
mengakibatkan harga saham turun.
Keown, et al (2010 : 199) menjelaskan bahwa tujuan utama
perusahaan adalah memaksimalkan nilai atau harga saham
perusahaan. Tepat atau tidaknya manajemen dalam memutuskan
suatu hal dapat dinilai dari dampaknya pada harga saham
perusahaan. Bodie, et al (2014) Saham adalah bagian kepemilikan
11
dalam suatu perusahaan yang dimana setiap lembarnya memberi hak
satu suara kepada pemiliknya
Menurut Brigham dan Houston yang dialih bahasakan oleh Ali
Akbar Yulianto (2011:7) menjelaskan bahwa harga saham sebagai
berikut:
“Harga saham menentukan kekayaan pemegang saham.
Memaksimalkan kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi
memaksimalkan harga saham perusahaan. Harga saham pada satu
waktu tertentu akan tergantung pada arus kas yang diharapkan
diterima di masa depan oleh investor “rata-rata” jika investor
membeli saham”.
Dari pengertian dan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
harga saham adalah harga yang terjadi pada pasar bursa di waktu
tertentu tergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa
depan oleh investor, dimana tinggi rendah nya harga saham
ditentukan oleh permintaan dan penawaran terhadap saham tersebut
di pasar modal.

Pasar Modal


Pasar modal pada hakikatnya adalah jaringan tatanan yang
memungkinkan pertukaran klaim jangka panjang, penambahan financial
assets (dan hutang) pada saat yang sama, memungkinkan investor untuk
mengubah dan menyesuaikan portofolio investasi (melalui pasar sekunder).
Berlangsungnya fungsi pasar modal (Bruce Lloyd, 1976), adalah
meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan
“kriteria pasarnya” secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil
ekonomi secara keseluruhan.
Definisi secara umum pasar modal adalah suatu sistem keuangan
yang terorganisasi, termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan
semua lembaga perantara di bidang keuangan serta keseluruhan surat-surat
berharga yang beredar. Sedangkan secara sempit pasar modal adalah suatu
pasar (tempat berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan
saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan
memakai jasa perantara perdagangan efek (Sunariyah, 1997).
Menurut Sunariyah (1997) Investasi dalam pasar perdana di pasar
modal dapat dilakukan pada jenis pasar modal sebagai berikut:

  1. Pasar Perdana (Primary Market)
    Pasar perdana adalah penawaran saham dari perusahaan yang
    menerbitkan saham (emiten) kepada investor selama waktu yang
    ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut
    diperdagangkan di pasar sekunder. Pasar perdana merupakan pasar
    yang memperdagangkan saham-saham dan sekuritas lain yang yang
    dapat dijual untuk pertama kalinya sebelum saham tersebut dicatat di
    bursa. Dalam menjual sekuritasnya, perusahaan umumnya
    menggunakan jasa profesional dan lembaga pendukung pasar modal,
    untuk membantu menyiapkan berbagai dokumen serta persyaratan yang
    diperlukan untuk go public. Penjamin yang ditunjuk oleh perusahaan
    akan membantu dalam penentuan harga perdana saham serta membantu
    memasarkan sekuritas tersebut ke calon investor.
  2. Pasar Sekunder (Secondary Market)
    Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah
    melewati masa penawaran. Jadi pasar sekunder merupakan pasar
    dimana saham dan sekuritas lain diperjualbelikan secara luas, setelah
    memasuki masa penjualan di pasar perdana. Harga saham di pasar
    sekunder ditentukan oleh permintaan dan penawaran antara penjual dan
    pembeli. Besarnya permintaaan dan penawaran dipengaruhi oleh dua
    faktor, yaitu pertama faktor internal perusahaan, merupakan faktor yang
    berhubungan dengan kebijakan internal perusahaan sebagai kinerja
    yang telah dicapai misalnya pendapatan per lembar saham, besarnya
    dividen yang dibagikan, kinerja manajemen perusahaan, prospek
    perusahaan di masa yang akan datang. Kedua, faktor eksternal
    perusahaan yaitu, hal-hal lain diluar kemampuan perusahaan atau diluar
    kemampuan manajer untuk mengendalikan. Misalnya, gejolak politik
    suatu negara, perubahan kebijakan moneter, dan laju inflasi yang tinggi.
    Pasar modal sebagai alternatif menghimpun dana dan sebagai sarana
    investasi banyak memberikan manfaat, tidak hanya kepada emiten, tetapi
    juga bagi pihak-pihak lain seperti pemodal, lembaga penunjang, dan
    pemerintah. Menurut (Sunariyah, 1997) manfaat pasar modal adalah:
  3. Bagi Emiten
    a. Tidak ada convenand (perjanjian) sehingga manajemen dapat
    bebas (mempunyai kebebasan) dalam mengelola dana yang
    diperoleh perusahaan.
    b. Jangka waktu penggunaan dana tidak terbatas.
    c. Solvabilitas perusahaan tinggi sehingga akan memperbaiki citra
    perusahaan.
    d. Jumlah dana yang dapat dihimpun berjumlah besar dan dapat
    sekaligus diterima oleh emiten di pasar perdana.
  4. Bagi Investor
    a. Nilai investasi tersebut tercermin dari perubahan harga saham yang
    diharapkan akan menjadi capital gains.
    b. Pemegang saham atau investasi akan mendapatkan dividen dan
    pemegang saham obligasi akan mendapatkan bunga tetapi setiap
    periode.
    c. Dapat melakukan pergantian dan kombinasi surat berharga
    sehingga dapat mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan.
  5. Bagi Lembaga Penunjang
    Berkembangnya pasar modal akan mendorong perkembangan lembaga
    penunjang menjadi lebih profesional dan memberikan pelayanan
    sesuai dengan bidang masing-masing.
  6. Bagi Pemerintah
    Pembangunan yang makin pesat memerlukan dana yang makin besar
    pula. Perkembangan pasar modal merupakan alternatif lain dalam
    pemanfaatan potensi masyarakat sebagai sumber pembiayaan

Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio adalah analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos
tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi
dari kedua laporan tersebut. Rasio keuangan adalah hasil perhitungan antara
dua macam data keuangan yang digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara kedua data keuangan tersebut yang pada umumnya dinyatakan secara
numeric, baik dalam presentase atau kali. Hasil perhitungan ini digunakan
untuk mengukur kinerja keuangan pada periode tertentu, dan dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai tingkat kesehatan selama periode keuangan tersebut.
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan. Misalnya antara hutang dan modal,
antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan
dan sebagainya (Syafri, 2008). Rasio keuangan merupakan salah satu alat
untuk menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan (Sawir, 2009).
Banyak para ahli yang mengemukakan jenis-jenis rasio keuangan yang
menurut mereka cocok untuk memahami perusahaan. Namun secara umum
jenis rasio yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
a. Rasio Likuiditas
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
liquiditas adalah sebagai berikut :

  1. Rasio Lancar (Current Ratio)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan
    aktiva lancar yang dimilikinya.
  2. Rasio Kas (Cash Ratio)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan
    aktiva lancar yang lebih liquid (liquid assets).
  3. Rasio Cepat (Quick Ratio)
    Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling
    liquid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini
    semakin baik.
    34
  4. Working Capital to Total Assets Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur likuiditas dari total aktiva
    dan posisi modal kerja (netto).
    b. Rasio Laverage (Rasio Hutang)
    Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan
    terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh
    perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan
    perusahaan yang digambarkan oleh modal. Beberapa jenis rasio ini
    antara lain sebagai berikut:
  5. Total Debt to Total Equity Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian modal sendiri yang
    dijadikan jaminan untuk keseluruhan kewajiban atau hutang.
  6. Total debt to Total Capital Assets
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian aktiva yang digunakan
    untuk menjamin keseluruhan kewajiban atau hutang.
  7. Long Term Debt to Equity Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri
    yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang.
  8. Tangible Assets Debt Coverage
    Rasio ini digunakan untuk mengukur besar aktiva tetap tangible
    yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang.
    35
  9. Times Interest Earned Ratio
    Rasio ini digunakan untuk mengukur besar jaminan keuntungan
    yang digunakan untuk membayar bunga hutang jangka panjang.
    c. Rasio Aktivitas
    Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan
    dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini
    diantaranya :
  10. Total Aseets Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang
    tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu
    periode atau kemampuan modal yang diinvesasikan untuk
    menghasilkan revenue.
  11. Receivable Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar
    pada suatu periode tertentu.
  12. Average Collection Periode
    Rasio ini digunakan untuk mengukur periode rata-rata yang
    diperlukan untuk mengumpulkan piutang (dalam satuan hari). Jika
    menghasilkan angka yang semakin kecil menunjukan hasil yang
    semakin baik.
  13. Inventory Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang
    tertanam dalam persediaan yang berputar pada suatu periode
    tertentu, atau likuiditas dari persediaan dan tendensi adanya
    overstock.
  14. Average day’s Inventory
    Rasio ini digunakan untuk mengukur periode (hari) rata-rata
    persediaan barang dagangan berada di gudang perusahaan.
  15. Working Capital Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja
    (netto) yang berputar pada suatu periode siklus kas (cash cycle)
    yang terdapat di perusahaan.
    d. Rasio Profitabilitas
    Rasio Profitabilitas atau Rasio Keuntungan digunakan untuk
    mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba
    dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal
    sendiri. Rasio Profitabilitas atau disebut juga dengan istilah
    Rentabilitas diantaranya adalah :
  16. Gross Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    mendapatkan laba bruto per rupiah penjualan.
  17. Operating Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    menghasilkan laba operasi sebelum bunga dan pajak yang
    dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan.
  18. Operating Ratio
    Rasio ini digunakan untuk mengukur biaya operasi per rupiah
    penjualan, semakin kecil angka rasio menunjukan kinerja yang
    semakin baik.
  19. Net Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur keuntungan netto atau laba
    bersih per rupiah penjualan. Semakin besar angka yang
    dihasilkan, menunjukan kinerja yang semakin baik.
  20. Earning Power of Total Investment (Rate of Return on Total
    assets)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen
    perusahaan dalam mengelola modal perusahaan yang
    diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan
    keuntungan bagi semua investor (pemegang obligasi dan saham).
  21. Net Earning Power Ratio (ROI/Return On Invesment)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang
    diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan
    keuntungan bersih.
  22. Rate Of Return For The Owners (Rate Of Return On Net Worth)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal sendiri
    dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen
    dan saham biasa.
  23. Return On Asssets (ROA)
    Rasio ini menggambarkan perputaraan aktiva diukur dari volume
    penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik kerena aktiva
    akan lebih cepat berputar dan memperoleh laba
  24. Return On Equity (ROE)
    Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih diukur
    bila diukur dari modal pemilik

Laporan Keuangan


Dalam upaya untuk membuat keputusan yang rasional, pihak ekstern
perusahaan maupun pihak intern perusahaan seharusnya menggunakan suatu
alat yang mampu menganalisis laporan keuangan yang disajikan oleh
perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan pada perusahaan
merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi (siklus akuntansi) yang
mencerminkan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan.
Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat
memberikan gambaran keadaaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang
telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu, keadaan
inilah yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan. Apalagi informasi
mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk
berbagai pihak seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak
manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Laporan
keuangan dapat dipakai sebagai alat berkomunikasi dengan pihak-pihak
berkepentingan dengan data keuangan perusahaan, dan karena itulah sering
juga disebut sebagai language of business.
Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu
perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk
menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan Keuangan adalah
output dan hasil akhir dari proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang
menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sabagai salah satu bahan
dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi, laporan
keuangan juga sebagai pertanggung jawaban atau accountability. Sekaligus
mengambarkan indikator kesuksesan suatu perusahaan dalam mencapai
tujuannya (Syafri, 2008).
Laporan keuangan terdiri dari empat laporan dasar, yaitu:

  1. Neraca
    Neraca adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang
    dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi
    keuangan perusahaan pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga
    unsur, yaitu aktiva, kewajiban, dan modal. Harta yang disajikan dalam
    neraca disusun berdasarkan likuiditas, yaitu tingkat kecepatan harta
    tersebut menjadi uang, dalam kegiatan perusahaan.Sedangkan hutang
    disusun atas jangka waktu pembayaran. Dan modal disusun berdasarkan
    tingkat kekekalan/lamanya bertahan dalam perusahaan. Neraca
    29
    menunjukkan posisi keuangan yang meliputi kekayaan, kewajiban serta
    modal pada waktu tertentu.
  2. Laporan Laba Rugi
    Laporan laba rugi adalah suatu bentuk laporan keuangan yang menyajikan
    informasi hasil usaha perusahaan yang isinya terdiri dari pendapatan usaha
    dan beban usaha untuk satu periode akuntansi tertentu.
  3. Laporan Perubahan Modal/Laba ditahan
    Laporan perubahan modal adalah suatu bentuk laporan keuangan yang
    menyajikan informasi mengenai perubahan yang tejadi pada modal suatu
    perusahaan untuk satu periode akuntansi tertentu. Unsur-unsur laporan
    perubahan modal terdiri dari modal awal, laba (rugi) bersih, setoran
    pemilik (prive) dan modal akhir.
  4. Laporan Arus Kas
    Laporan arus kas (Cash Flow) merupakan laporan keuangan yang berisi
    informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan
    selama periode tertentu. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan
    menurut jenis kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan
    kas keluar tersebut. Kegiatan perusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis
    yaitu, kegiatan operasional, kegiatan investasi serta kegiatan keuangan
    Menurut Syafri (2008) pemakai laporan keuangan antara lain:
  5. Pemilik Perusahaan
    Bagi pemilik perusahaan laporan keuangan dimaksudkan untuk :
    a. Menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen perusahaan
    30
    b. Mengetahui hasil deviden yang akan diterima
    c. Menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya
    d. Mengetahui nilai saham dan laba perlembar saham
    e. Sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan dimasa
    datang
    f. Sebagai dasar untuk mempertimbangkan menambah atau
    mengurangi investasi.
  6. Manajemen perusahaan
    Bagi manajemen perusahaan laporan keuangan digunakan untuk :
    a. Alat untuk mempertanggung jawabkan pengelolaan kepada
    pemilik
    b. Mengatur tingkat biaya dari setiap kegiatan operasi perusahaan,
    divisi, bagian segmen tertentu
    c. Mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan,
    divisi, bagian, atau segmen tertentu
    d. Menilai hasil kerja individu yang diberikan tugas dan tanggung
    jawab
    e. Untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu
    tidaknya diambil kebijaksanaan baru
    f. Memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang, peraturan,
    Anggaran Dasar, Pasar Modal dan lembaga regulator lainnya.
  7. Investor
    Bagi investor laporan keuangan dimaksudkan untuk :
    a. Menilai kondisi keuangan dan hasil uasaha perusahaan
    b. Menilai kemungkinan menanamkan dana dalam perusahaan
    c. Menilai kemungkinan menanamkan divestasi (menarik investasi)
    dari perusahaan
    d. Menjadi dasar memprediksi kondisi perusahaan di masa dating.
  8. Kreditur atau Banker
    Bagi kreditur, banker, atau supplier laporan keuangan digunakan untuk
    :
    a. Menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan dalam
    jangka pendek maupun dalam jangka panjang
    b. Menilai kualitas jaminan kredit/investasi untuk menopang kredit
    yang akan diberikan
    c. Melihat dan memprediksi prospek keuntungan yang mungkin
    diperoleh dari perusahaan atau menilai rate of return perusahaan
    d. Menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, rentabilitas
    perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit
    e. Menilai sejauh mana perusahaan mengikuti perjanjian kredit
    yang sudah disepakati.
  9. Pemerintah dan Regulator
    Bagi pemerintah atau regulator laporan keuangan dimaksudkan untuk :
    a. Menghitung dan menetapkan jumlah pajak yang harus di bayar
    b. Sebagai dasar dalam menetapkan kebijakan-kebijakan baru
    c. Menilai apakah perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan
    lain
    d. Menilai kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang ditetapkan
    e. Bagi lembaga pemerintah lainnya bisa menjadi bahan
    penyusunan data dan statistik.
  10. Analisis, Akademis, Pusat Data Bisnis
    Para analisis, akademis, dan juga lembaga-lembaga pengumpulan data
    bisnis laporan keuangan penting sebagai bahan atau sumber informasi
    yang akan diolah sehingga menghasilkan informasi yang bermanfaat
    bagi analisa, ilmu pengetahuan, dan komoditi informasi

Kinerja Keuangan


Menurut Mangkunegara, Anwar Prabu (2000) kinerja diartikan sebagai
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Sedangkan menurut Nawawi. H. Hadari (1997), yang dimaksud
dengankinerja adalah hasil dari pelaksanaan suatu pekerjaan, baik yang
bersifat fisik atau mental maupun non fisik atau non mental. Sementara itu
menurut Bernaden dan Russel, sebagaimana dikutip oleh Gomes, Faustino
Cardoso (2000).Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil yang
diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun
waktu tertentu.
Untuk mengukur kinerja karyawan dapat digunakan beberapa kriteria
kinerja, antara lain adalah:

  1. Kualitas (Quality), merupakan tingkatan di mana proses atau hasil dari
    penyelesaian suatu kegiatan mendekati sempurna.
  2. Kuantitas (Quantity), merupakan produksi yang dihasilkan dapat
    ditunjukkan dalam satuan mata uang, jumlah unit, atau jumlah siklus
    kegiatan yang diselesaikan.
  3. Ketepatan waktu (Timeliness), merupakan di mana kegiatan tersebut
    dapat diselesaikan, atau suatu hasil produksi dapat dicapai, pada
    permulaan waktu yang ditetapkan bersamaan koordinasi dengan hasil
    produk yang lain dan memaksimalkan waktu yang tersedia untuk
    kegiatan-kegiatan lain.
  4. Efektivitas biaya (Cost effectiveness), merupakan tingkatan di mana
    sumber daya organisasi, seperti manusia, keuangan, teknologi, bahan
    baku dapat dimaksimalkan dalam arti untuk memperoleh keuntungan
    yang paling tinggi atau mengurangi kerugian yang timbul dari setiap
    unit atau contoh penggunaan dari suatu sumber daya yang ada.
  5. Hubungan antar perseorangan (Interpersonal Impact) merupakan
    tingkatan di mana seorang karyawan mampu untuk mengembangkan
    perasaan saling menghargai, niat baik dan kerjasama antara karyawan
    yang satu dengan karyawan yang lain dan juga pada bawahan.
    Penilaian kinerja karyawan atau dikenal dengan istilah “Performance
    appraisal”, menurut pendapat Leon C. Megginson, sebagaimana dikutip
    Mangkunegara, Anwar Prabu (2000) adalah suatu proses yang digunakan
    majikan untuk menentukan apakah seorang pegawai melakukan pekerjaannya
    sesuai dengan yang dimaksudkan. Penilaian pegawai merupakan evaluasi
    yang sistimatis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan.
    Penilaian adalah proses penaksiran atau penentuan nilai, kualitas, atau status
    dari beberapa objek, orang ataupun sesuatu.
    Berdasarkan pendapat dua ahli diatas, maka dapat dikatakan bahwa
    penilaian kinerja adalah suatu proses penilaian kinerja pegawai yang
    dilakukan pimpinan perusahaan secara sistimatis berdasarkan pekerjaan yang
    ditugaskan kepadanya. Pemimpin perusahaan yang menilai kinerja pegawai,
    yaitu atasan pegawai langsung, dan atasan tak langsung. Disamping itu pula,
    kepala bagian personalia berhak pula memberikan penilaian prestasi terhadap
    semua pegawainya sesuai dengan data yang ada di bagian personalia.
    Menurut Handoko, Hani, mengatakan bahwa penilaian kinerja dapat
    digunakan untuk :
  6. Perbaikan kinerja, umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan
    karyawan, manajer dan departemen personalia dapat memperbaiki
    kegiatan-kegiatan mereka untuk meningkatkan prestasi
  7. Penyesuaian-penyesuaian gaji, evaluasi kinerja membantu para
    pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah, pemberian
    bonus dan bentuk gaji lainnya.
  8. Keputusan-keputusan penempatan, promosi dan mutasi biasanya
    didasarkan atas kinerja masa lalu. Promosi sering merupakan bentuk
    penghargaan terhadap kinerja masa lalu.
  9. Perencanaan kebutuhan latihan dan pengembangan, kinerja yang buruk
    mungkin menunjukkan perlunya latihan. Demikian juga sebaliknya,
    kinerja yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus
    dikembangkan.
  10. Perencanaan dan pengembangan karier, umpan balik prestasi
    mengarahkan keputusan-keputusan karier, yaitu tentang jalur karier
    tertentu yang harus diteliti.
  11. Penyimpangan-penyimpangan proses staffing, kinerja yang baik atau
    buruk adalah mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur
    staffing departemen personalia.
  12. Melihat ketidak akuratan informasional, kinerja yang buruk mungkin
    menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam informasi analisis jabatan,
    rencana sumber daya manusia atau komponen-komponen lain, seperti
    sistem informasi manajemen. Menggantungkan pada informasi yang
    tidak akurat dapat menyebabkan keputusan-keputusan personalia yang
    tidak tepat.
  13. Mendeteksi kesalahan-kesalahan desain pekerjaan, kinerja yang buruk
    mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam desain pekerjaan.
    Penilaian prestasi membantu diagnosa kesalahan-kesalahan tersebut.
    27
  14. Menjamin kesempatan yang adil, penilaian kinerja yang akurat akan
    menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa
    deskriminasi.
  15. Melihat tantangan-tantangan eksternal, kadang-kadang prestasi
    seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar lingkungan kerja,
    seperti keluarga, kesehatan dan masalah-masalah pribadi lainnya.
    Berdasarkan penilaian kinerja, departemen personalia mungkin dapat
    menawarkan bantuan.

Rumus Market to Book ratio


Rumus dalam mencari Market to Book Ratio adalah :
Market to book ratio seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu
perusahaan. Jika nilai market to book ratio semakin besar mengindikasikan pasar
percaya akan prospek perusahaan tersebut pada masa mendatang dan implikasinya
adalah harga saham perusahaan akan naik, demikian juga sebaliknya.
Nilai pasar (market value) berbeda dengan nilai buku. Jika nilai buku
merupakan nilai yang dicatat pada saat saham dijual oleh perusahaan, maka nilai pasar
adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pad saat tertentu yang ditentukan oleh
pelaku pasar (Jogiyanto,1998:88).
Nilai buku atau ekuitas per lembar saham biasa, ditentukan oleh akuntan
sebagai jumlah aktiva yang dinilai menurut harga perolehan dikurangi akumulasi
penyusutan, dikurangi semua modal pinjaman, dikurangi lagi dengan klaim pemegang
saham preferen dan jumlahnya dibagi dengan saham yang beredar. Di sisi lain, Nilai
pasar merupakan fungsi dari kas yang diperkirakan akan diterima para pemegang saham
di masa yang akan mendatang ( Weston dan Brigham,1990:38)
Harga pasar (market value) sendiri adalah nilai setiap aktiva atau kumpulan
aktiva pada saat diperdagangkan dalam pasar yang terorganisasi atau di antara pihakpihak swasta dalam suatu transaksi tanpa beban dan tanpa paksaan (Helfert E.A
(1993:234)). Nilai pasar tentu saja dapat diciptakan melalui transaksi-transaksi
perorangan apabila tidak tersedia pasar yang terorganisasi. Nilai pasar juga sering
dipergunakan di dalam penilaian persediaan dan di dalam analisis penenaman modal,
untuk menilai penghasilan yang diperoleh pad masa yang akan datang.
Nilai buku (book value) adalah suatu nilai yang disusun berdasar sejarahnya, di
mana pada suatu saat tertentu, mungkin merupakan nilai ekonomi untuk perusahaan
yang bersangkutan, akan tetapi sejalan dengan waktu dan perubahan-perubahan
ekonomi yang terjadi akan makin menyimpangkan nilai tersebut. Dan nilai buku per
saham (net book per share) adalah aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh
pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham (Jogiyanto,1998:82)

Pengertian Dividend Yield


Dividend Yield merupakan sebuah rasio keuangan yang menunjukkan berapa
banyak perusahaan akan membayar dalam dividen setiap tahun relatif terhadap harga
saham perusahaan.
Dividend Yield merupakan cara untuk mengukur berapa banyak arus kas anda
memperoleh untuk setiap dolar yang diinvestasikan dalam posisi. Investor yang
membutuhkan aliran minimum arus kas dari portofolio investasi mereka dapat
mengamankan arus kas ini dengan berinvestasi di saham membayar relatif tinggi, hasil
dividen stabil

Pengertian Earning Yield


Earning Yield adalah cara untuk mengukur kembali, dan membantu investor
menilai apakah return mereka sepadan dengan risiko investasi yang mereka tanggung
Earning Yield adalah komponen penting dari Model Fed, yang mengevaluasi
apakah saham yang overvalued atau undervalued. Namun, hanya satu metode untuk
mengevaluasi investasi, maka tidak ada pengganti untuk analisis yang komprehensif.
Meskipun pendapatan dan harga saham agak berkorelasi, harga di mana investor
membeli dan kemudian menjual saham akhirnya menentukan kembali.

Pengertian Dividen Per Share (DPS)

.
Menurut Horne dan Wachowicz Jr, (1998) dividen saham hanyalah merupakan
pembayaran saham tambahan saham biasa pada pemegang saham. Dividen saham
tersebut tidak lebih dari rekapitulasi perusahaan,proporsi kepemilikan dari pemegang
saham tetap tidak berubah. Secara teoritis, dividen saham bukan sesuatu yang
menyangkut nilai bagi para investor.
Menurut Helfert (1993:69), deviden adalah laba yang dikembalikan sebagian
atau seluruhnya kepada pemegang saham. Deviden ini biasanya diumumkan kepada
public atas dasar perlembar saham oleh dewan direktur perusahaan, yang dipilih oleh
pemegang saham, dan tidak perlu diberikan perhitungan.
Dividen saham merupakan pembayaran tambahan saham biasa kepada
pemegang saham. Dividen saham hanya menunjukkan perubahan pembukuan dalam
perkiraan ekuitas pemegang saham pada neraca perusahaan. Proporsi kepemilikan
saham dalam perusahaan tetap sama
Menurut Darmadji dan Hendy (2001) dividen merupakan pembagian sisa laba
perusahaan yang didistribusikan kepada pemegang saham, atas persetujuan RUPS
(Rapat Umum Pemegang Saham). Dividen itu sendiri dalam bentuk tunai (cash dividen)
ataupun dividen saham (stock dividen

Kegunaan EPS


Variabel EPS merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan yang
diharapkan dapat memberikan gambaran bagi investor mengenai bagian keuntungan
yang dapat diperoleh dalam suatu periode keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu
periode tertentu dengan memiliki suatu saham (Chandradewi, 2000:17). Seorang
investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan
memperoleh deviden atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan
pembayaran deviden dan kenaikan nilai saham di masa mendatang (Prastowo, 2002:93).
Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang
dilaporkan perusahaan.
EPS atau laba per lembar saham adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap
lembar sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya.
Laba per lembar saham diperoleh dari laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa
dibagi dengan rata-rata saham biasa yang beredar. EPS merupakan hasil atau
pendapatan yang akan diterima oleh pemegang saham untuk setiap lembar saham yang
dimilikinya atas keikutsertaannya dalam perusahaan. laba per lembar saham biasanya
merupakan indikator laba yang diperhatikan oleh para investor yang umumnya terhadap
korelasi yang kuat antara pertumbuhan laba dan pertumbuhan harga saham.
Jumlah pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham adalah pendapatan
bersih setelah dikurangi pajak pendapatan. Pendapatan bersih ini setelah dikurangi
dengan deviden dan hak-hak lainnya untuk pemegang saham biasa. Dengan cara
membagi jumlah pendapatan yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan jumlah
lembar saham biasa yang beredar maka akan diketahui jumlah lembar pendapatan untuk
setiap lembar saham tersebut (Munawir, 1995:96).
Husnan (2001:317) bahwa jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
meningkat, maka harga saham akan meningkat. Dengan meningkatnya harga saham
perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi.
Jika nilai EPS naik maka harga saham mengalami kenaikan, return sahamnya juga
mengalami kenaikan.
Pendapatan per saham (Earning per share/EPS) perusahaan biasanya menjadi
perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan
manajemen. EPS menunjukkan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari setiap lembar
saham. Semakin besar nilai EPS, semakin besar keuntungan/return yang diterima
pemegang saham (Alwi, 2003:77).
Jadi jika saham yang beredar dari saham prioritas dan saham biasa maka
langkah pertama adalah menentukan pendapatan yang menjadi hak pemegang saham
prioritas dan hak tersebut dikurangkan pada laba bersih yang diperoleh baru kemudian
dapat dihitung laba per lembar saham

Teknik-teknik analisis laporan keuangan


Teknik-teknik analisis laporan keuangan digunakan untuk memperlihatkan
hubungan-hubungan dan perubahan-perubahan.
Menurut Munawir (1995:36), laporan keuangan yang dianalisis dengan
menggunakan pembanding dari laporan-laporan selama beberapa periode, maka analisis
yang demikian dinamakan analisis horizontal atau analisis dinamis. Sedang apabila
laporan keuangan yang dianalisa hanya meliputi satu periode saja (hanya
memperbandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam satu laporan
keuangan), analisis yang demikian disebut analisis vertical atau analisis statis.
Dengan mengadakan atau menggunakan analisis yang dinamis akan diperoleh
hasi analisis yang lebih memuaskan, karena dengan laporan keuangan yag
diperbandingkan untuk beberapa periode akan diketahui sifat, dan tendensi perubahan
yang terjadi dalam perusahaan tersebut.
Keuntungan utama dapet diketahuinya pertambahan atau pengurangan dalam data
laporan keuangan adalah bahwa perubahan yang besar akan terlihat dengan jelas, dan
dapat segera diadakan penyelidikan atau analisis lebih lanjut dan menunjukkan sampai
seberapa jauh perkembangan keadaan keuangan perusahaan dan hasil yang dicapai
perusahaan.
Besarnya perubahan dalam jumlah rupiah dari tahun ke tahun sebaiknya juga
diikuti dengan menentukan perubahan relatifnya yang dinyatakan dalam prosentase,
sehingga kita mengetahui proporsi perubahan yang terjadi (Munawir (1995:40)).
Dan dalam penelitian yang dilakukan ini menggunakan analisis horizontal atau
analisis dinamis, ini dikarenakan dalam penelitian ini dilakukan analisis dalam beberapa
tahun laporan keuangan yang dianalisis dengan menggunakan pembanding dari laporanlaporan selama beberapa periode yaitu dalam penelitian ini dilakukan dalam kurun
waktu antara tahun 2004 hingga 2009

Bentuk-bentuk laporan keuangan


Menurut Munawir (2001:13) yang dikutip dari Sri Artatik (2007) pada dasarnya
laporan keuangan dibagi menjadi:
a. Neraca, adalah laporan keuangan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta
modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Neraca terdiri dari tiga
bagian utama yaitu aktiva, hutang dan modal.
b. Laporan Rugi laba, adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan,
biaya, rugi laba yang diperoleh dari suatu perusahaan selama periode
tertentu. Laporan rugi laba terdiri dari penghasilan, biaya dan rugi laba yang
diperoleh dari suatu perusahaan selama periode tertentu.
c. Laporan perubahan modal, merupakan laporan keuangan yang secara
sistematis menyajikan informasi mengenai perubahan modal perusahaan
akibat operasi perusahaan dan transaksi dengan pemilik pada satu periode
akuntansi tertentu.
d. Laporan arus kas, menyajikan laporan keuangan yang digunakan untuk
memperlihatkan hubungan-hubungan dan perubahan-perubahan.
Yang dalam penelitian ini menggunakan data dari laporan keuangan yang
berupa jumlah saham beredar yang berada dalam neraca konsolidasi, dan untuk nilai
buku terdapat dalam bagian catatan atas laporan keuangan konsolidasi laporan
keuangan

Pengertian Laporan Keuangan


Para investor yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu
perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut,
dan kondisi ini dapat dilihat dari laporan keuangan yang terdiri dari Neraca, Laporan
Laba-Rugi, serta laporan keuangan lainnya. Dalam neraca dapat melihat posisi
keuangannya dan melalui laporan laba-rugi akan mendapatkan gambaran tentang
hasil/perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan (Munawir,1995:1)
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntasi yang digunakan sebagai alat
komunikasi antara data keuangan atau aktifitas suatu perubahan dengan pihak-pihak
yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan tersebut (Munawir, 2001:2).
Menurut Bambang Riyanto (1996:327) Laporan Keuangan adalah laporan yang
memberikan ikhtisar mengenai keadaan financial suatu perusahaan, dimana neraca
(balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat
tertentu dan laporan rugi laba mencerminkan hasil yang dicapai selama suatu periode
tertentu.
Menurut Erich A. Helfert (1993:9), laporan keuangan adalah dasar bagi
kebanyakan upaya analitis tentang suatu usaha. Pertama-tama kita harus mengerti sifat,
cakupan, dan batasannya sebelum kita menggunakan data dan observasi yang
diturunkan dari laporan itu untuk penilaian analitis kita. Laporan keuangan yang dibuat
berdasar prinsip akuntansi yang lazim, mencerminkan efek keputusan yang dibuat
manajemen pada masa lalu maupun pada masa sekarang.
Laporan keuangan melaporkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu
maupun hasil operasinyan selama periode tertentu. Nilai riel dari lapoean keuangan
terletak pada kenyataan bahwa laporan keuangan dapat digunakan unruk membanru
meramalkan laba dan dividen perusahaan di masa yang akan datang. Dari sudut
investor, meramalkan masa mendatang merupakan hal terpentingn dari analisis laporan
keuangan, sedangkan dari sudut manajemen, analisis laporan keuangan berguna sebagai
cara untuk mengantisipasi keadaan di masa mendatang dan yang lebih penting sebagai
titik tolak bagi tindakan perencanaan yang akan mempengaruhi jalannya kejadian di
masa mendatang (Weston dan Brigham, 1990:294)
Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan perusahaan
17
yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
(Ikatan Akuntansi Indonesia (2002)).
Dari sudut pandang investor, analisis laporan keuangan digunakan untuk
memprediksi masa depan, sedangkan dari sudut pandang manajemen, analisis laporan
keuangan digunakan untuk membantu mengantisipasi kondisi di masa depan dan yang
lebih penting, sebagai titik awal untuk perencanaan tindakan yang akan mempengaruhi
peristiwa di masa depan (Brigham dan Houston, 1998: 78)

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham


Menurut Arifin (2001:115-116) yang dikutip dari Sri Artatik (2007) pergerakan
saham dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Kondisi fundamental emiten
    Faktor fundamental merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi
    perusahaan yaitu kondisi manajemen organisasi sumber daya manusia,
    kondisi keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangan
    perusahaan. Nilai fundamental merupakan nilai intrinsik dari suatu saham
    yang dianalisis dengan menggunakan analisis yang menggunakan data-data
    finansial yaitu data-data yang berasal dari laporan keuangan perusahaan,
    contohnya laba, dividend yang dibagi, penjualan dan sebaginya (Jogiyanto,
    1998:70) Sedangkan menurut Arifin (2001:116) faktor fundamental
    merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham.
    Perkembangan harga saham tidak akan terlepas dari perkembangan kinerja
    perusahaan. Secara teoritis jika kinerja perusahaan mengalami peningkatan
    maka harga saham akan merefleksikannya dengan peningkatan harga saham,
    demikian sebaliknya (Ang, 1997: 187). Earning per share dan Price Earning
    Ratio merupakan data rasio dari laporan keuangan perusahaan dan
    merupakan faktor fundamental yang mempengaruhi pergerakan harga saham
    (Arifin, 2001:116). Faktor fundamental merupakan faktor yang berkaitan
    dengan kinerja emiten yang tercermin dalam kinerja keuangan yang
    tercermin dalam laporan keuangan perusahaan. Semakin baik kinerja emiten
    maka semakin besar pengaruhnya terhadap kenaikan harga saham. Demikian
    sebaliknya, semakin menurun kinerja emiten maka semakin besar
    kemungkinan merosotnya harga saham yang diterbitkan dan
    diperdagangkan. Selain itu keadaan emiten akan menjadi tolak ukur seberapa
    besar resiko yang akan ditanggung oleh investor. Saham-saham yang bagus
    atau saham blue chip tentu memiliki resiko yang lebih kecil jika dibanding
    dengan jenis saham lainnya. Ini karena faktor fundamental perusahaan
    penerbitnya bagus. Baik kondisi keuangannya, strategi bisnisnya, produknya,
    maupun manajemennya.
  2. Hukum permintaan dan penawaran
    Faktor hukum permintaan dan penawaran digunakan investor untuk
    mengetahui kondisi fundamental perusahaan dalam melakukan transaksi jual
    beli. Transaksi inilah yang akan mempengaruhi fluktuasi harga saham. Perlu
    diwaspadai juga bahwa kenaikan harga saham karena permintaan yang
    banyak atau penawaran yang sedikit tidak akan berlangsung terus sebab pada
    suatu titik harga akan terlalu mahal.
  3. Tingkat suku bunga
    Investor harus memperhatikan faktor suku bunga untuk mengetahui harapan
    hasil dari setiap investasi yang dilakukannya. Dengan adanya perubahan
    suku bunga, tingkat pengembalian hasil berbagai sarana invertasi akan
    mengalami perubahan, ada yang cenderung naik dan ada pula yang
    cenderung turun. Bunga yang tinggi ini tentunya akan berdampak pada
    alokasi dana investasi para investor. Investor produk bank seperti deposito
    atau tabungan jelas lebih kecil resikonya jika dibanding dengan investasi
    dalam bentuk saham. Karena investor akan menjual saham dan dananya akan
    ditempatkan di bank. Penjualan saham secara serentak ini akan berdampak
    pada penurunan harga saham secara signifikan.
    Valuta asing
    Dolar Amerika (US Dollar) merupakan mata uang kuat yang mempengaruhi
    nilai dari mata uang negara-negara lain. Sebagai contoh ketika suku bunga
    dolar Amerika naik, investor asing mengharapakn hal yang sama. Mereka
    akan berbondong-bondong menjual sahamnya untuk ditempatkan di bank
    dalam bentuk dolar, otomatis harga saham akan turun.
  4. Dana asing di Bursa
    Mengamati jumlah dana investasi asing merupakan hal yang penting, karena
    dengan semakin besarnya dana yang ditanamkan, hal ini menandakan bahwa
    kondisi investasi di Indonesia telah kondusif yang berarti pertumbuhan
    ekonomi tidak lagi negatif, yang tentu saja akan merangsang kemampuan
    emiten untuk mencetak laba. Sebaliknya, jika investasi asing berkurang, ada
    perkiraan bahwa mereka sedang ragu atas negeri ini, baik atas keadaan sosial
    politik maupun keamananya. Jadi besar kecilnya investasi dana asing di
    bursa akan berpengaruh pada kenaikan atau penurunan harga saham.
  5. Indeks harga saham
    Kenaikan indeks harga saham gabungan sepanjang waktu tertentu, tentunya
    menandakan kondisi investasi dan perekonomian negara dalam keadaan
    baik. Sebaliknya jika turun berarti iklim investasi sedang buruk. Kondisi
    demikian akan mempengaruhi naik turunnya harga saham di pasar bursa.
  6. News dan Rumors
    Berita yang beredar di masyarakat yang menyangkut berbagai hal baik itu
    masalah ekonomi, sosial, politik, keamanan, hingga berita seputar reshuffle
    kabinet. Dengan adanya berita tersebut, parainvestor bisa memprediksi
    seberapa kondusif keadaan negeri ini sehingga kegiatan investasi bisa
    dilaksanakan. Ini akan berdampak pada pergerakan harga saham di bursa.
    Begitu banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham, dalam
    penelitian ini akan difokuskan pada factor fundamental emiten sebagai
    pertimbangan utama dalam menanamkan saham

Jenis-jenis saham


Menurut Jogiyanto (2003:67) saham dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Saham Preferen
Merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham
biasa. Seperti obligasi yang membayarkan bunga atas pinjaman, saham
preferen juga memberikan hasil yang tetap berupa deviden preferen.
Dibandingkan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak, yaitu
hak atas dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika terjadi
likuidasi. Oleh karena itu, saham preferen dianggab mempunyai karakteristik
di tengah-tengah antara obligasi dan saham biasa.
b. Saham Biasa
Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini
biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock). Sebagai pemilik
perusahaan, pemegang saham biasa mempunyai beberapa hak antara lain:

  1. Hak kontrol yaitu hak pemegang saham biasa untuk memilih pimpinan
    perusahaan.
  2. Hak menerima Pembagian Keuntungan yaitu hak pemegang saham biasa
    untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.
  3. Hak Preemptive yaitu hak pemegang saham untuk mendapatkan persentasi
    pemilikan yang sama jika perusahaan mengeluarkan tambahan lembar
    saham untuk tujuan melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama dan
    melindungi harga saham lama dari kemerosotan nilai.
    c. Saham Treasuri
    Merupakan saham milik perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan
    beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan
    sebagai treasuri yang nantinya dapat dijual kembali.

Pengertian saham


Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu Perseroan
Terbatas (PT) (Riyanto,1995:240). Saham menurut Robert Ang (1997:22) yang dikutip
dari Sri Artatik (2007) adalah surat berharga sebagai tanda kepemilikan atas perusahaan
penerbitnya. Dari pengertian saham menurut Riyanto maka dapat disimpulkan bahwa
saham adalah surat bukti kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan

Hubungan Earning Per Share (EPS) Dengan Harga Saham


Bagi para investor, informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling
mendasar dan berguna, karena bisa menggambarkan prospek earning perusahaan
di masa mendatang. Apabila EPS yang dihasilkan sesuai dengan harapan investor,
maka keinginan investor untuk menanamkan modalnya juga meningkat dan akan
meningkatkan harga saham seiring dengan tingginya permintaan akan saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Stice dan Skousen (2005), terdapat hubungan
yang signifikan antara perubahan earning dan perubahan saham. Apabila EPS
tinggi, investor menganggap perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa
yang akan datang, karena investor percaya bahwa nilai suatu saham akan
bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setiap lembar
saham. Apabila EPS yang dihasilkan sesuai dengan harapan investor, maka
keinginan investor untuk menanamkan modalnya juga meningkat dan akan
meningkatkan harga saham seiring dengan tingginya permintaan akan saham

Kenaikan Earning Per Share (EPS)


  1. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar tetap.
  2. Laba bersih tetap dan jumlah lembar saham biasa yang beredar turun.
  3. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar turun.
  4. Presentase kenaikan laba bersih lebih besar daripada presentase
    kenaikan jumlah lembar saham biasa yang beredar.
  5. Presentase penurunan jumlah lembar saham biasa yang beredar lebih
    besar daripada presentase penurunan laba bersih

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Earning Per Share (EPS)


Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi earning per share adalah :

  1. Pengguna hutang.
    Dalam menentukan sumber dana untuk menjalankan perusahaan, manajemen
    dituntut untuk mempertimbangkan kemungkinan perusahaan dalam struktur
    modal yang mampu memaksimumkan harga saham perusahaannya. Perubahan
    dalam penggunaan hutang akan mengakibatkan perubahan laba per lembar saham
    (EPS) dan karena itu juga mengakibatkan perubahan harga saham. Dari
    penjelasan tersebut terlihat bahwa perubahan penggunaan hutang, merupakan
    faktor yang mempengaruhi tingkat besaran EPS.
  2. Tingkat laba bersih sebelum bunga dan pajak (EBIT).
    Dalam memenuhi sumber dananya, manajemen pun dihadapkan pada beberapa
    alternatif sumber pendanaan, apakah dengan modal sendiri atau dengan pinjaman
    (modal asing). Sutrisno (2001) menyatakan bahwa dalam memilih alternatif
    sumber dana, perlu diketahui pada tingkat profit sebelum bunga dan pajak
    (EBIT) berapa apabila dibelanjai dengan modal sendiri atau hutang menghasilkan
    EPS yang sama. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat laba
    bersih sebelum bunga dan pajak (EBIT) merupakan faktor yang mempengaruhi
    besarnya laba per lembar saham

Pengertian Earning Per Share (EPS)


Darmadji dan Fakhuruddin (2001) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
Earning Per Share (EPS) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar
keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per saham.
Earning Per Share (EPS) sebagai salah satu rasio yang biasa digunakan dalam
prospektus, bahan penyajian, dan laporan tahunan kepada pemegang saham yang
merupakan laba bersih dikurangi dividen (laba tersedia bagi pemegang saham
biasa) dibagi dengan rata-rata tertimbang dari saham biasa yang beredar akan
menghasilkan laba per saham. Sehingga Earning Per Share (EPS) merupakan
jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham
yang beredar.
Angka yang ditunjukkan dari EPS ini yang sering dipublikasikan sebagai
indikator kinerja perusahaan. Investor maupun calon investor berpandangan
bahwa EPS mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi
mengenai besarnya dividen per saham dan tingkat harga saham dikemudian hari,
serta EPS juga relevan untuk menilai efektivitas manajemen dan kebijakan
pembayaran dividen. .

Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen


Faktor yang menentukan dan mempengaruhi dalam pembuatan kebijakan
dividen menurut Sjahrial (2002) antara lain:

  1. Posisi Likuiditas Perusahaan
    Makin kuat posisi likuiditas perusahaan makin besar dividen yang dibayarkan.
  2. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Hutang
    Apabila sebagian besar laba digunakan untuk membayar hutang maka sisanya
    yang digunakan untuk membayar dividen makin kecil.
  3. Rencana Perluasan Usaha
    Makin besar perluasan usaha perusahaan, makin berkurang dana yang dapat
    dibayarkan untuk dividen.
  4. Pengawasan Terhadap Perusahaan
    Kebijakan pembiayaan untuk ekspansi dibiayai dengan dana dari sumber intern
    antara lain adalah laba. Dengan pertimbangan, apabila dibiayai dengan penjualan
    saham baru ini akan melemahkan kontrol dari kelompok pemegang saham
    dominan. Karena suara pemegang saham mayoritas berkurang

Teori Clientele Effect


Teori ini menyebutkan adanya kelompok (clientele) pemegang saham yang
berbeda akan memiliki prefrensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen
perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada
saat ini menyukai suatu Dividend Per Share (DPS) yang tinggi. Sebaliknya
kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih
senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.
Jika ada perbedaan pajak bagi individu karena dapat menunda pembayaran pajak,
kelompok ini lebih senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil, dengan
demikian maka kelompok pemegang saham yang dikenakan pajak lebih menyukai
capital gains pula sebaliknya

Teori Signaling Hypotesis


Menurut Modigliani dan Miller dividen biasanya merupakan suatu signal (tanda)
kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatau
penghasilan yang baik dimasa mendatang. Sebaliknya suatu penurunan dividen
atau kenaikan dividen yang dibawah normal (biasanya) diyakini investor sebagai
pertanda (signal) bahwa perusahaan menghadapi masa sulit diwaktu mendatang.

Teori Dividen Tidak Relevan dari Modigliani dan Miller

.
Teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai
pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya.
Asumsi-asumsi teori ini sebagai berikut:
a. Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional. Prakteknya
sulit ditemui pasar modal yang sempurna.
b. Tidak ada biaya estimasi saham baru, kenyataannya biaya emisi saham baru
(floating cost) itu pasti ada.
c. Tidak ada pajak, kenyataanya pasti ada pajak.
d. Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah, prekteknya kebijakan investasi
perusahaan pasti berubah.
e. Bahwa kebijakn dividen tidak mempengaruhi tingkat pengembalian yang
dipersyaratkan atas ekuitas investor.

Analisis Teknikal


Analis teknikal merupakan analisis harga saham dengan melihat historis harga
untuk memprediksi tren pergerakan harga masa depan. Analis teknikal tidak
melihat atau memperhatikan kinerja keuangan perusahaan, mereka lebih tertarik
untuk mengetahui tentang kinerja pergerakan harga. Analisis teknikal difokuskan
pada grafik harga historis dan memprediksi dalam volume harga yang
diperdagangkan.
Dalam perkembangannya banyak perusahaan pialang atau trader professional
sekarang menggunakan kombinasi analisa fundamental dan teknikal untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih baik pada prospek investasi mereka.
Weston dan Brighman (1990) mengemukakakn bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi harga saham adalah sebagai berikut :

  1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/ EPS)
    Seorang investor akan melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba
    atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS) yang
    diberikan pengembalian yang cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk
    melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga perusahaan akan
    meningkat.
  2. Tingkat bunga
    Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara :
    a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi,
    apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk
    ditukarkan dengan obligasi.
    b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya,
    semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan.
  3. Jumlah kas dividen yang dibagikan
    Kebijakan pembagian dividen dapat menjadi dua, yaitu sebagian dibagikan dalam
    bentuk dividend dan sebagian lagi disisihkan sebagai laba ditahan. Peningkatan
    dividen merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan dari
    pemegang saham karena jumlah kas dividen besar adalah yang diinginkan oleh
    investor sehingga harga saham naik

Analisis Fundamental


Tujuan dasar dari analisis fundamental adalah untuk mendapatkan pemahaman
tentang parameter penting dari kinerja keuangan perusahaan. Hal tersebut dapat
dilihat dari laporan arus kas, neraca, laporan laba rugi, dll. Analis fundamental
percaya pada konsep investasi dengan berpedoman pada saham yang bagus untuk
jangka waktu yang panjang dan dapat memperoleh dividen dengan melihat
investasi yang dilakukan pada perusahaan tersebut

Harga Saham


Harga saham merupakan harga yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang
ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran
saham yang bersangkutan dipasar modal (Jogiyanto,2008).
Berdasarkan fungsinya, nilai suatu saham dibagi atas tiga jenis, yaitu :

  1. Par value (Nilai Nominal/Stated Value/Face Value)
    Nilai nominal adalah nilai yang tercantum pada saham untuk tujuan akuntasi,
    menurut ketentuan UU PT No. 1/1995 sebagai berikut:
    1) Nilai nominal dicantumkan dalam mata uang RI.
    2) Saham tanpa nilai nominal tidak dapat dikeluarkan..
  2. Base Price (Harga Dasar)
    Harga dasar adalah harga perdana, untuk menetapkan nilai dasar yang
    dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham. Harga dasar akan berubah
    sesuai dengan aksi emiten. Untuk saham baru, harga dasar merupakan harga
    perdananya.
  3. Market Price (Harga Pasar)
    Market price merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling
    mudah ditentkan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang
    sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga
    penutupannya (closing price).
    Ada dua keuntungan yang diperoleh investor melalui saham, yaitu :
  4. Mendapatkan dividen
    Dividen adalah pembagian keuntungan dari laba bersih yang dihasilkan
    perusahaan dalam periode tertentu kepada para pemegang saham..
  5. Capital Gain.
    Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
    terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder .
    Selain memiliki keuntungan, berinvestasi di saham juga memiliki risiko, yaitu :
  6. Risiko tidak mendapat dividen.
  7. Capital Los, merupakan kebalikan dari capital gain, yaitu suatu kondisi
    dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
  8. Risiko Likuidasi
    Risiko Likuidasi yaitu perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut
    oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Hak klaim dari pemegang
    saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat
    dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan), jika masih terdapat sisa dari
    hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara
    proporsional kepada seluruh pemegang saham, namun jika tidak terdapat sisa
    kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari
    likuidasi tersebut.
  9. Saham disuspend
    Saham disuspend yaitu saham yang terdafar diberhentikan perdagangannya oleh
    otoritas Bursa Efek Indonesia yang sekarang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan.
    Risiko atas saham disuspend membuat seorang pemegang saham dituntut untuk
    secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan seperti dengan
    melihat faktor yang mempengaruhi harga saham.
    Harga saham dapat ditentukan melalui analisis teknikal dan analisis fundamental.

Saham


Saham merupakan surat berharga jangka panjang yang diterbitkan perusahaan
(emiten) ke publik untuk diperjualbelikan kepada investor dengan tujuan untuk
untuk pendanaan perusahaan. Saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau
kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas
(Darmadji dan Fakhruddin, 2001).
Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan sehingga para
pemegang saham berhak menentukan menentukan arah kebijaksanaan perusahaan
lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham juga berhak
memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Sebaliknya, pemegang
saham pun turut menanggung resiko sebesar saham yang dimiliki apabila
perusahaan tersebut bangkrut.
Menurut jenisnya,saham dapat dibedakan antara saham biasa (common stock) dan
saham preferen (preferred stock).
Saham biasa adalah efek dari pernyertaan pemiliknya dari badan usaha berbentuk
perseroan terbatas. Jika usaha perusahaan berjalan dengan baik maka dividen
saham biasa akan lebih besar daripada saham preferen. Tetapi manakala terjadi
likuidasi pembagian dividen dan pembagian harta perusahaan serta pemegang
saham biasa akan memperoleh pembagian terakhir setelah pemegang saham
preferen. Karakteristik saham biasa adalah sebagai berikut :

  1. Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.
  2. Memiliki hak suara
  3. Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut dilakukan
    setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
    Saham preferen merupakan saham yang mempunyai hak khusus melebihi
    pemegang saham biasa. Saham preferen disebut juga dengan saham istimewa
    sebab mempunyai banyak keistimewaan. Biasanya keistimewaan ini dihubungkan
    dalam hal pembagian dividen atau pembagian aktiva pada saat likuiditas.
    Kelebihan dalam hal pembagian dividen adalah bahwa dividen yang dibagi
    pertama kali harus dibagikan untuk saham preferen, kalau ada kelebihan baru
    dibagikan kepada pemegang saham biasa. Karakteristik saham preferen adalah
    sebagai berikut :
  4. Pembayaran dividen dalam jumlah yang tetap.
  5. Hak klaim lebih dahulu dibanding saham biasa jika perusahaan dilikuidasi
  6. Dapat dikonversikan menjadi saham biasa
  7. Tidak memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham

Pengertian Perilaku


Karakteristik Konsumen yang berbeda – beda dapat dipengaruhi oleh
berbagai hal sebelum seorang konsumen tersebut melakukan pembelian, tugas
seorang pemasar adalah dapat memahami berbagai hal menyangkut keinginan
konsumen dalam membeli sebuah produk.”
Pengertian Perilaku Konsumen menurut Schiffman dan Kanuk (2014)
perilaku konsumen adalah:”
“Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil
keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu dan
uang) guna membeli barang – barang yuang berhubungan dengan konsumsi. Hal
ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka
membeli, dimana mreka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa
sering mereka menggunakannya”.”
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) mendefiniskan perilaku konsumen
sebagai berikut:
“Perilaku pembeli konsumen mengacu pada perilaku pembelian konsumen
akhir – individu dan rumah tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi
pribadi”.”
Sedangkan menurut Tjiptono (2012) definisi perilaku konsumen adalah:”
“Perilaku konsumen merupakan tindakan – tindakan individu yang secara
langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan
produk dan jasa, termasuk proses pengembalian keputusan yang mendahului dan
mengikuti tindakan – tindakan tersebut”

Indicator Social Media Marketing


Adapun indikator variabel dari isi pesan yang dapat mempengaruhi
persepsi konsumen antara lain: (Pramudita, 2012)
1) Entertainment
Entertainment didefinisikan sebagai tulisan atau gambar yang menarik
perhatian atau menyenangkan sehingga membuat penerima tertarik
untuk membaca atau melihat (Pramudita, 2012). Entertainment merupakan
salah satu hal yang penting dalam sebuah iklan. Isi yang menghibur
diharapkan mampu meningkatkan loyalitas konsumen dan memberikan
nilai lebih dimata konsumen.
2) Informativeness
Informativeness didefinisikan sebagai isi dari iklan yang bersifat
menginformasikan atau memberikan informasi yang jelas kepada
konsumen yang dituju (Pramudita, 2012). Sebuah iklan haruslah bersifat
informativeness atau memberikan informasi yang jelas kepada konsumen
yang dituju. Konsumen mengharapkan informasi yang cepat, terarah dan
tidak sulit untuk dicerna atau mudah dimengerti.
3) Irritation
Irritation atau gangguan dapat diartikan sebagai sesuatu yang
tidak diharapkan terjadi oleh konsumen. Gangguan dapat diartikan secara
berbeda oleh konsumen. Kebanyakan dari konsumen tidak menyukai
iklan yang tidak bermanfaat atau sebagian dari mereka ada juga
yang merasa terganggu dengan karakteristik dari iklan yang
bersangkutan seperti pada saat sekarang ini dimana sering terdapat
sosial media marketing yang kemudian hari memaksa konsumen untuk
menghabiskan kuota mereka.
4) Credibility
Credibility didefenisi kan sebagai tingkat kebenaran yang
tinggi atau iklan tersebut dapat dipercaya bahwa hal-hal yang
dijanjikan memang benar adanya (Pramudita, 2012). Iklan
yang baik harus memiliki kredibilitas yang tinggi dimata
konsumen. Kredibilitas konsumen dapat diartikan seperti
tingkat kebeneran yang tinggi atau iklan tersebut dapat di
percaya bahwa hal yang dijanjikan benar adanya

Pengertian Social Media Marketing


Menurut Evans et al. (2010) mengatakan bahwa Social Media Marketing
di gunakan untuk membangun pasar melalui media sosial yang bertujuan untuk
menjaring banyak pengunjung baru, hal tersebut secara langsung melibatkan
pelanggan. Menurut Santoso (2017) pemasaran sosial media merupakan bentuk
pemasaran yang dipakai untuk menciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan
bahkan tindakan terhadap suatu merek, produk, bisnis, individu, atau kelompok
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan alat dari web
sosial seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial.
Dengan adanya social media marketing memudahkan para pelaku usaha
untuk berinteraksi dengan pelanggannya secara online. Biaya yang dikeluarkan
tidak terlalu besar dan tidak ada batasannya waktu selama tersambung dengan
internet. Media sosial berperan saat pemasaran kegiatan perusahaan membentuk
hubungan individu dengan pelanggan dan memberi perusahaan peluang untuk
mengakses pelanggan (Kelly, 2010). Dengan generalisasi media sosial di seluruh
masyarakat, para peneliti telah mempelajari penggunaan media sosial dengan
menyelidiki mengapa mereka menggunakan media sosial, berapa banyak waktu
yang mereka gunakan, dan jumlah digunakan dalam periode waktu tertentu
(Afrilia, 2017).
Menurut (Arthur, 2010), 90% dari pengguna media sosial adalah likers
(penyuka) yang hanya menonton konten yang diposting, 9% berinteraksi dengan
menambahkan komentar mereka, dan hanya 1% membuat konten baru.
Berdasarkan hal ini, pengguna media sosial dapat didefinisikan secara
komprehensif dan inklusif mulai dari lukers hingga partisipan aktif. Social Media
dalam bahasa indonesia disebut media sosial adalah media yang didesain untuk
memudahkan interaksi sosial yang bersifat interaktif atau dua arah. Menurut Tsitsi
(2013 ) Social Media Marketing adalah sistem yang memungkinkan pemasar
untuk terlibat, berkolaborasi, berinteraksi dan memanfaatkan kecerdasan orang-
orang yang berpartisipasi didalamnya untuk tujuan pemasaran. menarik perhatian
dan mendorong pembaca untuk berbagi dengan jaringan sosial mereka.
Keuntungan dalam menggunakan Social Media Marketing menurut Neti (2011) ,
antara lain:
1) Menyediakan ruang dangan tidak hanya untuk memasarkan produk
atau jasa kepada pelanggan tetapi juga untuk mendengarkan keluhan
dan saran.
2) Mempermudah untuk mengidentifikasi berbagai kelompok atau
pengaruh antara berbagai kelompok, yang dapat menjadi pemberi
informasi tentang merek dan membantu dalam growth of brand
(pertumbuhan merek).
3) Biaya rendah kerena sebagian besar situs jejaring sosial gratis

Pengertian Digital Marketing


Sejak awal tahun 2000, teknologi informasi telah memasuki pasar utama
dan dikembangkan labih jauh menjadi apa yang disebut sebagai New Wave
Technology. New Wave Technology adalah teknologi yang memungkinkan
konektivitas dan interaktivitas antar individu dan kelompok (Kotler dan Keller,
2012). New Wave meliputi tiga kekuatan utama: komputer dan telepon genggam
yang murah, internet yang murah, dan open source. Dalam era new wave,
ekonomi yang dipertimbangkan tidak hanya pertumbuhan ekonomi, tingkat suku
bunga, dan inflasi saja melainkan juga faktor ekonomi digital. Keberadaan
ekonomi digital ditandai dengan semakin maraknya bisnis atau transaksi
perdagangan yang memanfaatkan internet sebagai medium komunikasi,
kolaborasi dan kooperasi antar perusahaan ataupun antar individu (Situmorang,
2011).”
Digital marketing adalah praktek marketing melibatkan penggunaan alat
pemasaran digital seperti situs web, media sosial, iklan dan aplikasi seluler, video
online, email, blog, dan platform digital lainnya untuk melibatkan konsumen di
mana saja, kapan saja melalui komputer, smartphone, tablet, internet, dan media
digital lainnya (Kotler dan Keller, 2012). Aktivitas-aktivitas pemasaran akan
dilakukan secara intensif menggunakan media komputer, baik mulai dari
penawaran produk, pembayaran dan pengirimannya. Dalam konteks marketing,
kondisi krisis global membuat banyak organisasi mulai memikirkan dan mencari
metode penghematan.”
Oleh sebab itu, organisasi bisnis harus pandai melihat peluang melakukan
aktivitas marketing yang efektif di era digital dengan biaya yang murah dan
efektif. Teknologi digital telah banyak mengubah wajah dunia bisnis, termasuk
aktivitas pemasaran. Meskipun digital marketing tidak meliputi teknik dan
praktek yang masuk dalam kategori internet maketing dengan cara-cara untuk
mencapai target konsumen yang tidak memerlukan internet (mobile technology).
Teknologi telah mengubah cara manusia dalam berbicara, berkomunikasi,
bertindak, dan mengambil keputusan. Teknologi telah menjadi sangat efektif
dalam memaksimalkan bottom line suatu organisasi.”
Banyaknya jumlah pengguna ponsel membuat ponsel menjadi media masa
baru, peluang ini dimanfaatkan oleh para produsen sebagai media untuk beriklan.
Bagi para marketer, mobile marketing dianggap lebih efisien karena biaya
muarah, lebih fokus pada konsumen yang diinginkan (tersegmentasi) dan lebih
terukur (Situmorang, 2011). Para marketer bahkan banyak yang menggunakan
Facebook atau Twitter untuk beriklan, sehingga melahirkan inovasi baru yaitu
mobile marketing.”
Setidaknya terdapat tiga dimensi sebagai keuntungan perusahaan dalam
menggunakan mobile marketing:”

  1. Consumer Relationship Management
    Perusahaan dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan.
  2. Corporate usage
    Meningkatkan komunikasi diantara karyawan tanpa batas waktu,
    mengecek jadwal dan informasi.
  3. Biaya dan meningkatkan produktivitas
    Aplikasi wireless secara signifikan mengurangi biaya komunikasi kepada
    pelanggan, improving brand awareness, menawarkan produk spesial
    dengan calon pelanggan potensial

Word Of Mouth


Word of mouth ialah perusahaan dapat mempromosikan produk yang
mereka jual melalui metode promosi. Word of Mouth adalah strategi
pemasaran yang bekerja dengan menyampaikan dari mulut ke mulut dari satu
pelanggan ke pelanggan lainnya. Artinya pelanggan yang puas akan
memberitahu pelanggan lain mengapa produk perusahaan lebih baik dan akan
merekomendasikannya kepada pelanggan lain. Verbal menurut Sernovitz
dalam Nugraha (2013) secara keseluruhan adalah komunikasi lisan satu orang
ke orang lain atau kormunikasi lisan antara orang dengan orang lain/di antara
pengirim dan penerima pesan yang mengandung komponen barang,
administrasi atau merek. Telah dibuktikan bahwa promosi dari mulut ke mulut
memengaruhi pilihan konsumen dan memainkan peran penting dalam
keputusan pembelian konsumen. Dari Word of Mouth, berikut adalah beberapa
definisi:
1) Sesuai WOMMA (Word of Mouth Marketing Association) mengatakan
WOMMA adalah tindakan dimana pembeli memberikan data tentang suatu
barang kepada pembeli yang berbeda. WOM adalah tindakan pemasaran
yang memicu pelanggan untuk berdiskusi, memajukan,
merekomendasikan, dan menawarkan barang kepada pembeli yang
berbeda.
2) Word of Mouth ialah proses dimana informasi mengenai suatu produk
yang ditemukan seseorang di media, melalui interaksi sosial, atau melalui
pengalaman pribadi dengan produk tersebut diteruskan ke orang lain yanf
menyebarkan informasi ke seluruh dunia (Prasetijo & Lhalauw dalam
Puspasari, 2014). Menurut beberapa definisi yang diberikan di atas, “Word
of Mouth” ialah bentuk komunikasi pemasaran dimana seorang pelanggan
menyebarkan informasi tentang suatu produk kepada pelanggan lain
melalui mulut ke mulut

Promotion (Promosi)


Promosi adalah komponen penting dari setiap strategi pemasaran yang
memerlukan seperangkat alat yang komprehensif, yang umumnya bersifat
jangka pendek, dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau perdagangan
yang lebih cepat.
Promosi dalam pemasaran yaitu aktivitas yang telah terbukti dapat
meningkatkan permintaan barang atau jasa. Promosi bisa dilakukanuntuk
menyebarluaskan informasi tentang produk ataupun jasa yang ditawarkan, baik
untuk membuat produk atau jasa yang sudah dikenal menjadi pilihan atau
membuat produk atau jasa tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2018) Segala jenis komunikasi yang dilakukan
untuk menjelaskan meyakinkan, dan mengingatkan pasar sasaran tentang
barang yang dibuat oleh perusahaan orang, atau keluarga dianggap sebagai
promosi Menurut Praestuti (2020), promosi ialah upaya persuasi yang
dilakukan untuk merayu ataupun mendorong pelanggan agar mau membeli
barang atau jasa suatu perusahaan. Menurut Kotler dan Armstrong (2018)
menyatakan Mempromosikan produk adalah strategi untuk menonjolkan
keunggulannya kepada pelanggan dan meyakinkan mereka untuk membelinya.
Promosi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu
program pemasaran.
Dari ketiga pendapat para ahli diatas, maka kesimpulannya promosi adalah
kegiatan persuasif atau bujukan yang mendorong konsumen untuk membeli
produk yang ditawarkannya.
Berikut ini adalah tujuan dari promosi penjualan menurut Fandi Tjiptono

  1. Tujuan promosi penjualan
    a) Memberi Informasi
    Alasan utama promosi ialah untuk memahami produk ataupun jasa pada tahap
    pengenalan bersama-sama dengan membangkitkan minat terhadap item
    tersebut.
    b) Membujuk
    Membujuk merupakan pilihan kedua dari pemasaran yang menekankan pada
    keunggulan produk yang dijual.
    c) Pengingat
    Agar pelanggan tidak beralih ke produk saingan di pasar sasaran, sangat
    penting atau perlu untuk mengingatkan mereka tentang keberadaan produk
    tersebut.
    d) Pemantapan
    Pada tahap ini, perusahaan berupaya meyakinkan pembeli bahwasannya
    mereka sudah mengambil keputusan yang sesuai dengan mengambil barang
    dan menjadi klien setia.
  2. Kegiatan Promosi
    1) Over The Line ialah jenis metode khusus dengan teknik “menarik
    perhatian” pelanggan melalui iklan yang menarik dserta membangkitkan
    minat individu untuk membeli atau mencoba barang. Media tersebut
    adalah sebagai berikut : Media Elektronik, Media Cetak (koran, majalah,
    katalog), dan Media Online (Internet)
    2) Below the Line ialah jenis pemasaran yang bertujuan untuk mendorong
    calon pembeli untuk membeli atau mencoba barang ataupun jasa yang
    ditawarkan melalui Tindakan yang melibatkan atau mempertemukan
    pelaku usaha atau penjual secara langsung dengan pembeli. Media
    promosi yang dimanfaatkan: Seminar, pameran, kuis, dan event

Digital Marketing


Marketing adalah proses membuat, menyampaikan, menukar, dan
mengkomunikasikan penawaran yang berharga bagi pelanggan atau
masyarakat. Sementara itu, Internet adalah media digital. Internet membuatnya
sangat mudah dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, membeli barang,
dan melakukan lebih banyak lagi dalam hidup. yang seharusnya dapat
dilakukan melalui media web. Jadi saat ini web telah menjadi mekanisme
penting bagi perusahaan ataupun pelaku bisnis dalam menawarkan barangnya.
Dari penjelasan inilah muncul nama promosi lanjutan di masa komputerisasi
yang sedang berlangsung (Muljono, 2018). Jadi digital marketing
mempromosikan melalui media canggih dalam menawarkan merek yang
perusahaan miliki.
Memanfaatkan pemasaran digital, khususnya media sosial, sebagai bagian
dari strategi bisnis dapat menawarkan strategi memperluas jaringan konsumen
untuk pemasaran produk, sehingga memperluas keunggulan perusahaan atas
pesaing. Pelaku bisnis harus menyelidiki berbagai strategi komunikasi digital
sebagai bagian dari strategi komunikasi bisnis sebelum menerapkan pemasaran
digital. Perusahaan menggunakan saluran media digital, strategi komunikasi
digital, untuk mengiklankan produk mereka di situs web dan melalui media
online dengan tujuan menarik dan membujuk pelanggan untuk melakukan
pembelian.
Ada enam jenis utama media sosial dalam buku Nasrullah (2015) yang
berjudul Social Media.
1.Social Networking
Sarana untuk berinteraksi khususnya efek dari interaksi tersebut di dunia maya
adalah social networking. Atribut dasar dari tempat interaksi interpersonal
adalah bahwa klien mereka membentuk jaringan pertemanan baru. Secara
umum, jaringan pertemanan baru dibingkai berdasarkan minatnya pada hal
yang persis sama, seperti kegiatan ketertatikan bersama. Facebook dan
Instagram ialah contoh jejaring sosial.

  1. Blog
    Blog ialah media sosial yang memungkinkan pengguna untuk berbagi dengan
    pengguna lain, misalnya dengan berbagi tautan web, informasi, dan lainnya
    serta memposting aktivitas dan kegiatan sehari-hari.
  2. Microblogging
    Microblogging ialah jenis media sosial yang memungkinkan orang
    memposting serta menulis mengenai kegiatan atau dan pemikiran mereka.
    Secara garis besar, kehadiran media sosial semacam ini mengacu pada
    perkembangan Twitter yang hanya memberikan ruang khusus, khususnya batas
    140 karakter.
  3. Media sharing
    Dokumen, video, audio, dan gambar dapat dibagikan dan disimpan secara
    online oleh pengguna platform media sosial ini. Contoh media ini adalah
    Youtube, flash, photo bucke

Strategi Digital Marketing


Mengapa pemasar perlu strategi pemasaran digital? Tanpa teknologi pemasar
akan kehilangan peluang bahkan bisnis. Strategi pemasaran digital akan
membantu pemasar untuk menganalisis konsumen dan membuat keputusan
berdasarkan informasi yang diperoleh dari konsumen secara langsung. Sehingga
pemasar bisa memastikan bahwa strategi yang diterapkan sudah relevan dengan
bisnis yang dijalankannya. Untuk pengabdosian ke pemasaran digital, penting
bagi pemasar untuk memahami perkembangan pasar digital, dan bagaimana
teknologi sangat berpengaruh pada perkembangan bsinis kita untuk meningkatkan
brand dan mendatangkan pelanggan untuk kita. Semakin banyak target pasar yang
menggunakan teknologi maka semakin mudah pemasar untuk meneliti,
mengevaluasi, menganalisis sebuah produk atau jasa yang dikonsumsi oleh
konsumen (Wati dkk., 2020:12).
Strategi marketing seorang pebisnis online yang baik adalah dimana seorang
pelaku pebisnis online dapat berkomunikasi lancar dengan konsumen atau calon
konsumen mereka sehingga platform media sosial menjadi strategi marketing
yang bagus karena pelaku bisnis akan dengan mudah membagikan berbagai
informasi mengenai produk mereka melalui digital konten. Dengan begitu,
konsumen mendapatkan banyak pengetahuan mengenai produk tersebut dan akan
tertarik untuk membelinya (Nusantara, 2021

Digital Marketing Agency


Agensi digital (Digital Agency) adalah sebuah bidang usaha yang bergerak di
bidang jasa dalam membantu mempromosikan merk atau produk tertentu
(Aryanto & Wismantoro, 2020:33). Sebenarnya, apa hubungan Digital Marketing
dengan digital marketing agency? Digital marketing adalah suatu objek,
sedangkan digital marketing agency adalah tools (alat) nya. Dengan kata lain,
seiring perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi sekarang, tak luput
juga pertumbuhan agensi digital yang bertujuan untuk membantu promosi suatu
merek perusahaan tertentu. Lalu apa peran Digital Marketing Agency dalam hal
ini? Pertama, digital agency atau digital marketing agency akan melakukan
analisis terhadap permasalahan yang dimiliki klien. Biasanya, dapat berupa
penjualan, pengembangan, bahkan pembuatan produk baru. Dalam tahapan yang
pertama ini harus dilakukan dengan teliti karena bila salah sedikit dapat berakibat
fatal pada langkah selanjutnya.
Kedua, memberikan solusi dan rekomendasi strategi dari analisis
permasalahan sebelumnya. Dalam hal ini pihak Digital marketing dan Digital
Agency akan melakukan tutorial beberapa kali untuk memastikan strategi yang
diajukan selaras dengan strategi klien sehingga strategi yang dibuat dapat berjalan
dengan lancar. Setelah sepakat dengan strategi yang diajukan, kemudian digital
manager pada Digital Marketing Agency akan mendistribusikan pekerjaan ke
divisi masing – masing. Distribusi dapat meliputi ke tim IT, desain grafis,
marketing, media sosial, pay per click (setiap klik dari pewebsite akan
mendapatkan pembayaran dari google) hingga Search Engine Operation (Mesin
pencarian pada internet, contohnya google, yahoo, internet explorer dan lain
sebagainya). Digital Agency akan memperbaiki website klien, membuat design
produk terbaru, dan juga memperbarui konten – konten marketing klien. Semua
hal itu akan didistribusikan ke seluruh media klien sehingga kampanye digital
dapat berjalan dengan lancar.

Penerapan Digital Marketing


Digital marketing adalah teknik atau alat yang digunakan untuk
menjalankan pemasaran bisnis dan usaha, dan bukan sebuah bisnis yang bisa
menghasilkan uang. Sedangkan cara kerja penerapannya untuk bisnis adalah
sebagai berikut (Musnaini dkk., 2020:81):

  1. Mengenali Jenis Bisnis dan Usaha Harusnya hal ini sudah cukup mudah,
    sebagai pelaku dan pemilik usaha harus sudah paham jenis bisnisnya apa,
    misalnya jenis jasa atau produk, jenis kebutuhan sehari-hari (primer)
    kebutuhan sekunder, tersier, atau prestise
  2. Memahami Segmen Market Tidak semua orang akan membeli produk
    anda, ada orangorang tertentu yang akan membeli produk yang kita jual.
    Setiap produk punya segmen market sendiri-sendiri Dengan mengetahui
    target market selanjutnya kita bisa lebih tepat memilih media digital
    marketing yang paling tepat digunakan.
  3. Memilih Media Digital Marketing
  4. Membuat Funneling dari Traffic hingga Sales
    a. Urutan funneling dari menggunakan digital marketing adalah:
    b. Mengumpulkan visitor (traffic market customer) dari media digital
    c. Bagaimana cara membuat visitor tertarik
    d. Visitor menghubungi contact
    e. Terjadi sales penjualan (goal)
    Peran customer service sangat penting untuk bisa terjadi sales
    order atau penjualan, peran digital marketing berhenti sampai pada
    customer menghubungi customer service.
  5. Membuat Ikatan Rantai Digital.
    Setelah bisa menentukan media digital marketing yang tepat, maka ada
    baiknya juga mengikatkan satu media dengan media digital yang lainnya
    yang saling berhubungan. Hal ini agar memberikan kemudahan kepada
    konsumen. Karena biasanya media digital akan saling melengkapi satu
    sama lain dan bisa mendatangkan traffic, tetapi jangan salah langkah, pilih
    terlebih dulu media yang paling tepat.
  6. Mengelola Iklan Digital
    Iklan menggunakan anggaran adalah langkah terakhir ketika kita sudah
    benar-benar maksimal dengan kelima langkah diatas. Fakta 90% pengiklan
    gagal karena tidak menerapkan step by step cara kerja digital marketing
    yang benar. Iklan ada Google Ads, Facebook Ads, Instagram Ads, dan
    Endorse (Musnaini dkk., 2020:82).

Digital Marketing


Digital Marketing adalah kegiatan pemasaran yang menggunakan media
digital dan dikerjakan oleh manusia atau alat canggih sehingga identik dengan
inovasi, teknologi, kemajuan dan pengembangan (Pranoto, 2021:9). Inovasi di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti penemuan baru yang
berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Teknologi
berarti keseluruhan sarana untuk menyediakan barang – barang yang diperlukan
bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Digital Marketing bisa didefinisikan sebagai penggunaan semua fasilitas
digital untuk memfasilitasi proses marketing dengan tujuan memfasilitasi
interaksi dengan konsumen dan membuahkan sebuah keterlibatan dalam wujud
loyalitas konsumen. Digital Marketing atau Pemasaran Digital adalah istilah
umum suatu usaha untuk memperkenalkan sebuah merk dengan menggunakan
media teknologi digital yang dapat menjangkau konsumen secara real time,
interaktif dan relevan. Digital Marketing sendiri berkembang sejak era industri
teknologi 1990 sampai saat ini, yang memanfaatkan fasilitas perangkat teknologi
sebagai media advertising bisnis untuk berkembang dan dikenal luas (Aryanto &
Wismantoro, 2020:21).
Sekarang ini, platform digital selain televisi, seperti facebok dan instagram
selalu digunakan dalam kehidupan sehari – hari, bahkan hampir separuh waktu
dan kegiatan. Dengan demikian, teknik pemasaran digital akan menjadi sangat
berpotensi untuk mempromosikan suatu merk serta meningkatkan preferensi dan
penjualan. Apabila dilihat dari sudut pandang strategi marketing, ada 3 langkah
dasar yang digunakan perusahaan yang menerapkan digital marketing :

  1. Kenali dan pahami tentang perusahaan dan merk.
  2. Letakkan konten dan kata kunci ke dalam website agar konsumen
    dapat menemukan produk kita.
  3. Gunakan platform pengiriman lain yang berbasis digital, seperti email,
    sosial media dan smartphone

Perkembangan dan Transformasi Digital


Perkembangan teknologi dalam kehidupan dimulai dari proses sederhana
dalam kehidupan sehari-hari samapai pada tingkat pemenuhan kepuasan sebagai
individu dan makluk sosial. Dari masa ke masa keamajuan teknologi terus
berkembang, mulai dari era teknologi pertanian, era teknologi industri, era
teknologi informasi, dan era teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan
ini membawa berbagai dampak dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan
bernegara, setiap individu tertarik untuk mengunakan dan memanfaatkan setiap
perkembangan ini (Danuri., 2020:117).
a. Penemuan Komputer
Sejak komputer ditemukan telah membawa perubahan besar dalam pola
pikir manusia, sejak akhir perang dunia II perkembangan teknologi
komputer generasi pertama sedikit demi sedikit terus meningkat. Hingga
akhir tahun 1990an telah digunakannya jaringan yang lebih luas dengan
nama internet menjadikan arah teknologi dunia menjadi berubah.
Komputer menjadi dasar semua perkembangan teknologi, sehingga
muncullah beberapa perusanhaan besar komputer dunia dan menjadi
pioneer perkembangan teknologi ini seperti IBM, Microsoft, Intel,
Macintos dan Apple. Sampai akhir tahun 2000 telah muncul generasi
computer yang ke empat dengan alat utama micro prosessor, yang
memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam melakukan proses, hingga
sampai saat ini terus meningkat kecepatannya.
b. Penemuan Komunikasi Digital
Perpaduan teknologi komputer dan komunikasi menjadikan teknologi
informasi yang memiliki bebebagai macam kelebihan dalam pertukaran
informasi ke berbagai belahan dunia, teknologi ini disebut internet dengan
jaringan yang mendunia dan akses yang sangat cepat. Setiap individu
dapat saling bertukar data dan informasi dengan jangkauan yang tidak
terbatas, akses kegiatan dan aktivitas dapat dilakukan secara online dengan
sarana ini.
c. Perkembangan Smart Aplikasi
Munculnya teknologi perangkat keras komputer yang juga disertai dengan
peralatan software yang memiliki berbagai macam kemampuan untuk
membantu pekerjaan setiap individu, mulai dari aplikasi perkantoran,
manajemen, pribadi, hiburan dan bidang-bidang pekerjaan manusia yang
lain. Semua perkerjaan manusia telah terbantukan dengan peralatan ini,
semakin mudah, cepat, teliti dan efisien.
d. Perkembangan Smart Phone
Perkembangan akses jaringan internet membawa perubahan pada
teknologi telepon, pemanfaatan jaringan internet telah dapat diaplikasikan
melalui telepon sehingga membawa berbagai kemudahan bagi setiap
individu untuk melakukan akses ke jaringan yang lebih luas.
Perkembangan aplikasi pendukung telepon menjadikan perangkat ini
semakin smart, semua aktivitas dapat dikelola melalui telepon yang cerdas
(smart phone), seperti komunikasi digital dengan media sosial, aktivitas
pembelian dan bisnis dengan aplikasi penjualan online serta banyak lagi
aplikasi pendukung pada smart phone yang dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan sehari-hari.
e. System cerdas (Expert system)
Perkembangan perangkat cerdas berbasis expert system telah banyak
mengubah pola pikir bisnis dan kegiatan perusahaan. Alat – alat sistem
cerdas yang membantu pekerjaan menjadi semakin dibutuhkan bagi
perusahaan untuk menigkatkan efisiensi dan efektivitas. Salah satu alat
cerdas yang digunakan perusahaan ini adalah auto teller machine, yang
dapat membantu para nasabah untuk melakukan transaksi perbankan tanpa
harus ke bank. Perkembangan selanjutnya adalah internet banking, dengan
system cerdas ini transaksi dapat dilakukan dari rumah kemudian
berkembang lagi dengan sms banking dan aplikasi banking melalui
fasilitas smart phone. Efisiensi dan efektifitas perkerjaan telah dapat
dinikmati oleh para nasabah, begitu juga pihak bank yang dapat
meningkatkan efisisensi dan efektifitas kegiatannya.
f. Digital Money
Era teknologi ditigal juga telah merubah pola dan model transaski dalam
bisnis dan investasi. Muncullnya uang digital (Digital Money) menjadikan
proses transaski semakin cepat, mudah, efektif dan efisien

Marketing


Menurut American Marketing Association (Assauri, 2017) Marketing atau
Pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan
mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai konsumen. Pemasaran juga
memiliki kegiatan yang berkaitan erat dan bertujuan untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan setiap individu melalui proses pertukaran. Kegiatan pemasaran juga
harus dapat memberikan kepuasan kespada konsumen jika menginginkan
usahanya berjalan terus atau konsumen mempunyai pandangan yang baik
terhadap perusahaan.
Sedangkan Sedjati (2018) mendefinisikan bahwa Marketing atau Pemasaran
mengandung arti segala usaha atau aktivitas dalam menyampaikan barang atau
jasa para produsen kepada konsumen, dimana kegiatan tersebut ditujukan untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan dalam cara tertentu yang disebut
pertukara