Menurut Dwimulyani dan djamhuri (2014:113), Economic Value
Added (EVA) merupakan nilai tambah ekonomis yang diciptakan oleh
perusahaan dari kegiatan yang dilakukan selama periode tertentu yang
diciptakan oleh perusahaan dari kegiatan yang dilakukan selama
periode tertentu dan merupakan salah satu cara untuk menilai kinerja
keuangan.
Dewi (2017 :651) mengungkapkan bahwa dalam penerapannya,
Economic Value Added (EVA) memiliki tujuan untuk memperoleh
hasil perhitungan nilai ekonomis perusahaan yang lebih realistis.
Selain itu, perhitungan Economic Value Added (EVA) juga
diharapkan dapat mendukung penyajian laporan keuangan sehingga
akan mempermudah bagi para pengguna laporan keuangan
diantaranya para investor, kreditur, karyawan, pemerintah,
pelanggaran, serta pihak yang berkepentingan lainnya.
Manfaat yang diperoleh dari penerapan model Economic Value
Added (EVA) dalam suatu perusahaan, antara lain :
1) Penerapan Economic Value Added (EVA) bermanfaat sebagai
pengukur kinerja perusahaan di mana fokus penilaian kinerja
keuangan adalah penciptaan nilai (value creation).
2) Penilaian kinerja keuangan dengan pendekatan Economic Value
Added (EVA) menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan
kepentingan pemegang saham.
3) Economic Value Added (EVA) dapat mendorong perusahaan unutk
lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya.
4) Economic Value Added (EVA) berguna untuk mengidentifikasikan
proyek atau kegiatan manakah yang dapat memberikan
pengambilan yang lebih tinggi daripada biaya modal.
Aktivitas pembiayaan perusahaan diperoleh dari kewajiban
jangka pendek (current liabilities) yang dibedakan menjadi utang
jangka pendek dengan bunga dan utang jangka pendek yang tidak
dibebankan bunga (non interest). Hal tersebut berhubungan kaitannya
dengan pembiayaan dari aktiva operasional perusahaan. Aktiva lancar
sebagai modal kerja bruto tidak seluruhnya didanai dengan bunga
seperti utang usaha dan akrual yang sering disebut sebagai pendanaan
spontan (non interest liabilities). Modal operasi perusahaan diperoleh
dari modal kerja operasi bersih adalah harta lancar dikurangi
kewajiban lancar non interest ditambah dengan modal pada aktiva
tetap bersih. Jumlah kas yang berlebihan dan surat-surat berharga
bukan untuk menjaga likuiditas yang dibutuhkan tetapi diinvestasikan
karena kelebihan likuidasi, maka surat-surat berharga tersebut tidak
dapat digolongkan sebagai modal kerja operasi.
Modal operasi perusahaan diperoleh dari modal kerja operasional
bersih ditambah dengan aktiva tetap bersih, sehingga didapatkan
sumber pembiayaannya terdiri dari utang jangka pendek yang bukan
spontan yang dibebankan bunga ditambah utang jangka Panjang dan
modal sendiri.
