Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio adalah analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos
tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi
dari kedua laporan tersebut. Rasio keuangan adalah hasil perhitungan antara
dua macam data keuangan yang digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara kedua data keuangan tersebut yang pada umumnya dinyatakan secara
numeric, baik dalam presentase atau kali. Hasil perhitungan ini digunakan
untuk mengukur kinerja keuangan pada periode tertentu, dan dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai tingkat kesehatan selama periode keuangan tersebut.
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan. Misalnya antara hutang dan modal,
antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan
dan sebagainya (Syafri, 2008). Rasio keuangan merupakan salah satu alat
untuk menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan (Sawir, 2009).
Banyak para ahli yang mengemukakan jenis-jenis rasio keuangan yang
menurut mereka cocok untuk memahami perusahaan. Namun secara umum
jenis rasio yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
a. Rasio Likuiditas
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Beberapa rasio
liquiditas adalah sebagai berikut :

  1. Rasio Lancar (Current Ratio)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan
    aktiva lancar yang dimilikinya.
  2. Rasio Kas (Cash Ratio)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam membayar kewajiban yang harus segera dipenuhi dengan
    aktiva lancar yang lebih liquid (liquid assets).
  3. Rasio Cepat (Quick Ratio)
    Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling
    liquid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini
    semakin baik.
    34
  4. Working Capital to Total Assets Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur likuiditas dari total aktiva
    dan posisi modal kerja (netto).
    b. Rasio Laverage (Rasio Hutang)
    Rasio ini menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan
    terhadap modal maupun aset. Rasio ini dapat melihat seberapa jauh
    perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan
    perusahaan yang digambarkan oleh modal. Beberapa jenis rasio ini
    antara lain sebagai berikut:
  5. Total Debt to Total Equity Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian modal sendiri yang
    dijadikan jaminan untuk keseluruhan kewajiban atau hutang.
  6. Total debt to Total Capital Assets
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian aktiva yang digunakan
    untuk menjamin keseluruhan kewajiban atau hutang.
  7. Long Term Debt to Equity Ratio
    Ratio ini digunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri
    yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang.
  8. Tangible Assets Debt Coverage
    Rasio ini digunakan untuk mengukur besar aktiva tetap tangible
    yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang.
    35
  9. Times Interest Earned Ratio
    Rasio ini digunakan untuk mengukur besar jaminan keuntungan
    yang digunakan untuk membayar bunga hutang jangka panjang.
    c. Rasio Aktivitas
    Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan
    dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini
    diantaranya :
  10. Total Aseets Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang
    tertanam dalam keseluruhan aktiva yang berputar pada suatu
    periode atau kemampuan modal yang diinvesasikan untuk
    menghasilkan revenue.
  11. Receivable Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam mengelola dana yang tertanam dalam piutang yang berputar
    pada suatu periode tertentu.
  12. Average Collection Periode
    Rasio ini digunakan untuk mengukur periode rata-rata yang
    diperlukan untuk mengumpulkan piutang (dalam satuan hari). Jika
    menghasilkan angka yang semakin kecil menunjukan hasil yang
    semakin baik.
  13. Inventory Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang
    tertanam dalam persediaan yang berputar pada suatu periode
    tertentu, atau likuiditas dari persediaan dan tendensi adanya
    overstock.
  14. Average day’s Inventory
    Rasio ini digunakan untuk mengukur periode (hari) rata-rata
    persediaan barang dagangan berada di gudang perusahaan.
  15. Working Capital Turnover
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal kerja
    (netto) yang berputar pada suatu periode siklus kas (cash cycle)
    yang terdapat di perusahaan.
    d. Rasio Profitabilitas
    Rasio Profitabilitas atau Rasio Keuntungan digunakan untuk
    mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba
    dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal
    sendiri. Rasio Profitabilitas atau disebut juga dengan istilah
    Rentabilitas diantaranya adalah :
  16. Gross Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    mendapatkan laba bruto per rupiah penjualan.
  17. Operating Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
    menghasilkan laba operasi sebelum bunga dan pajak yang
    dihasilkan oleh setiap rupiah penjualan.
  18. Operating Ratio
    Rasio ini digunakan untuk mengukur biaya operasi per rupiah
    penjualan, semakin kecil angka rasio menunjukan kinerja yang
    semakin baik.
  19. Net Profit Margin
    Rasio ini digunakan untuk mengukur keuntungan netto atau laba
    bersih per rupiah penjualan. Semakin besar angka yang
    dihasilkan, menunjukan kinerja yang semakin baik.
  20. Earning Power of Total Investment (Rate of Return on Total
    assets)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen
    perusahaan dalam mengelola modal perusahaan yang
    diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan
    keuntungan bagi semua investor (pemegang obligasi dan saham).
  21. Net Earning Power Ratio (ROI/Return On Invesment)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang
    diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan
    keuntungan bersih.
  22. Rate Of Return For The Owners (Rate Of Return On Net Worth)
    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal sendiri
    dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen
    dan saham biasa.
  23. Return On Asssets (ROA)
    Rasio ini menggambarkan perputaraan aktiva diukur dari volume
    penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik kerena aktiva
    akan lebih cepat berputar dan memperoleh laba
  24. Return On Equity (ROE)
    Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih diukur
    bila diukur dari modal pemilik