Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan
hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang
diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun
sebelumnya. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) pengertian
penerapan adalah perbuatan menerapkan.
Penerapan merupakan sebuah tindakan yang dilakukan, baik secara
individu maupun kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan. Cahyono dalam Badudu dan Zain (2010:1487) menyatakan
“penerapan adalah hal, cara atau hasil”.
Adapun menurut Ali (2007:104), Penerapan adalah mempraktekkan atau
memasangkan.
Menurut Wahab (2008:65) “Penerapan merupakan tindakan-tindakan yang
dilakukan baik oleh individu-individu atau kelompok-kelompok yang diarahkan
pada tercapainya tujuan yang telah digariskan dalam keputusan”. Dalam hal ini,
penerapan adalah pelaksanaan sebuah hasil kerja yang diperoleh melalui sebuah
cara agar dapat dipraktekkan kedalam masyarakat.
Pengaruh Electronic word-of-mouth (e-WOM) terhadap KeputusanPembelian
Hubungan antar variabel ini didasarkan pada model perilaku konsumen menurut
Kotler dan Keller (2009) bahwa Electronic word-of-mouth (e-WOM) dapat
mempengaruhi keputusan pembelian. Berdasarkan model perilaku konsumen
tersebut dapat diketahui bahwa terdapat rangsangan penasaran berupa
komunikasi pemasaran yaitu Electronic word-of-mouth (e-WOM) sebagai salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Hasil
penelitian Zhoraida (2021) menyebutkan bahwa secara parsial Electronic word-
of-mouth (e-WOM) dapat mempengaruhi keputusan pembelian
Pengaruh kepercayaan terhadap keputusan pembelian
Penelitian yang dilakukan Ha et al. (2019) menunjukkan trust merupakan faktor
yang berpengaruh signifikan terhadap online purchase intention konsumen.
Oleh karena itu untuk meningkatkan niat tersebut, perusahaan perlu
membangun kepercayaan dengan pelanggannya. Zhao et al. (2020) dalam
penelitiannya menegaskan peran kepercayaan dalam niat membeli konsumen.
Kepercayaan kognitif konsumen pada informasi yang dikomunikasikan oleh
eWOM berkaitan dengan keputusan pembelian berdasarkan konten informas.
Alharbi et al. (2020) menjelaskan bahwa dapat diketahui jika komunikasi
eWOM positif, purchase intention pada pengguna online juga positif dan begitu
sebaliknya. Disamping itu, saat komunikasi eWOM negatif, maka trust atau
kepercayaan menurut begitupun juga dengan purchase intention
Pengaruh Electronic word-of-mouth (e-WOM) terhadap Kepercayaan
Zhao et al. (2020) mengatakan kualitas informasi e-WOM dapat
mempengaruh persepsi konsumen tentang kredibilitas ulasan online. Ia
menambahkan, kualitas informasi e-WOM dapat mempengaruhi persepsi
konsumen tentang keandalannya, yang kemudian menginformasikan tingkat
kepercayaan pada e-WOM. Komunikasi e-WOM dapat memberikan informasi
yang lebih terpercaya mengenai suatu produk atau layanan daripada dengan
media tradisional seperti iklan yang dilakukan penjual (Ismagilova et al., 2017)
Keputusan Pembelian
Menurut Peter Jerry C. Olson (2013) berpendapat bahwa suatu keputusan
mencakup suatu pilihan diantara dua atau lebih tindakan atau prilaku alternatif.
Pemasar secara khusus akan tertarik dengan perilaku Pembeli, terutama pilihan
konsumen akan merek-merek yang akan dibeli. Proses inti dari pengambilan
keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk
mengkombinasikan pengetahuan guna untuk mengevaluasi dua atau lebih
perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil dari proses integrasi
tersebut merupakan suatu pilihan, serta kognitif menunjukan intensi prilaku.
Keputusan pembelian akan suatu produk merupakan kegiatan yang sering
dilakukan oleh konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu: Faktor budaya, faktor social, faktor pribadi, faktor
psikologis. Menurut Kotler dan Amstrong (2012) terdapat lima tahapan yang
dilalui oleh konsumen dalam pengambilan keputusan: Tahapan pengenalan
masalah, pencarian informasi, evaluasi alternative, keputusan pembelian,
perilaku pasca pembelian.
Keputusan pembelian konsumen merupakan penyeleksian terhadap dua
pilihan alternatif atau lebih konsumen pada pembelian di Shopee. Indikator
indikator keputusan pembelian dikembangkan dari indikator yang digunakan
menurut Lina (2019) sebagai berikut sebagai berikut: Pilihan Merek, Pilihan
Penyalur, Jumlah Pembelian.
Kepercayaan
Kepercayaan (Trust) didefinisikan oleh Kotler dan Keller (2016) sebagai
kesediaan perusahaan untuk mengandalkan mitra bisnis yang tergantung pada
sejumlah faktor interpersonal dan antar organisasi, seperti kompetensi,
integritas, kejujuran, dan ketulusan yang dirasakan perusahaan. Jika melihat
pada konteks online, Beldad et al. (2010) mengutarakan kepercayaan sebagai
sikap ekspektasi percaya diri seseorang mengenai situasi risiko online di mana
kerentanan seseorang tidak akan dimanfaatkan. Kemudian Sharma et al.
(2019) menganggap bahwa kepercayaan sebagai faktor penting dalam
membangun dan memelihara hubungan jangka panjang, oleh sebab itu
dianggap sebagai pelopor utama konsumen dalam memiliki niat membeli
menggunakan platform online.
Menurut Ha et al. (2019) kepercayaan adalah kesediaan seseorang untuk
menerima kemungkinan terburuk yang tidak menguntungkan untuk
melakukan transaksi belanja dengan penjual online dengan harapan akan
sesuai dengan keinginan konsumen. Ia juga menambahkan bahwa kepercayaan
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap niat belanja online konsumen.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan niat tersebut, perusahaan perlu membangun kepercayaan dengan konsumennya. Oliveira et al. (2017)
mengungkapkan terdapat tiga dimensi pada variabel kepercayaan yaitu
Competence, Integrity, dan Benevolence. Competence (kemampuan)
mengarah kepada kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmen yang
diberikannya kepada konsumen. Integrity (integritas) mengacu pada
perusahaan yang bertindak secara konsisten, jujur dan andal. Benevolence
(ketulusan) merupakan kemampuan perusahaan untuk mengutamakan
kepentingan konsumen daripada kepentingan pribadi, dan menunjukkan
kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan konsumen
Electronic Word of Mouth (E-WOM)
Electronic word-of-mouth (eWOM) merupakan perkembangan baru dari
Word-of Mouth (WOM) yaitu bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan
melalui jaringan internet. eWOM pada dasarnya terjadi karena adanya
perpindahan informasi (Farzin & Fattahi, 2018). Menurut Hennig-Thurau et al.
(2004) eWOM merupakan pernyataan positif atau negatif apapun yang
terbentuk oleh calon konsumen, konsumen aktual, atau konsumen sebelumnya
tentang suatu produk atau perusahaan yang tersedia untuk banyak orang atau
lembaga melalui internet.
Persebaran eWOM dilakukan dengan menggunakan media internet
sebagai media perantara, dengan adanya komunikasi sosial secara online ini
secara otomatis bisa membantu konsumen untuk membagikan pengalaman
mengenai produk atau jasa yang mereka peroleh dalam melakukan pembelian
(Kamtarin 2012). Cheung and Lee (2012) mengemukakan faktor yang
mendorong terjadinya eWOM adalah rasa ingin memiliki, reputasi, dan
kebersediaan untuk membantu. Hal yang sama dikemukakan oleh Hening-
Thurau, et al. (2004) yang menemukan faktor pendorong terjadinya eWOM
yaitu: platform assistance, venting negative feeling, concern for other
consumen, extraversion/ positive self enhancement, social benefit, Economic
incentives, helping the company, advice seeking. Goyette et al. (2010) dalam
penelitianya membagi eWOM menjadi tiga dimensi yang mencakup intensity,
valance of opinion, content
Komponen atau Metode Digital Marketing
Ada empat metode pemasaran digital yang dapat dilakukan
perusahaan dalam memberikan keuntungan berupa kemampuan perusahaan
mencapai lebih banyak konsumen melalui pendekatan global, (Kotler &
Keller, 2016). Adapun empat metode tersebut adalah:
a) Pemasaran daring, dimana perusahaan menyampaikan informasi yang
ingin disampaikan melalui media daring, baik media yang berbayar atau
tidak berbayar. Pemasaran daring biasanya dilakukan melalui laman
web, search ads, display ads, dan pesan elektronik;
b) Media sosial, biasanya media ini perusahaan dapat menampilkan suara
public melalui kehadiran mereka dalam interaksi antar konsumen.
Secara umum, media sosial dapat diklasifikasikan kedalam tiga
kategori: komunitas dan forum online, blog, serta social network;
c) Word of Mouth (E-WOM), dimana interaksi antar konsumen tercipta
baik secara generik atau diinisiasi oleh perusahaan. Metode ini membuat
perusahaan perlu untuk mengendalikan interaksi yang dilakukan oleh
konsumen;
d) Mobile marketing, dimana pemasaran dilakukan melalui gawai gawai
pintar.
Sesuai dengan topik penelitian, akan dijelaskan lebih lanjut tentang Word
of Mouth (E-WOM) pada sub bab berikut ini
Manfaat Digital Marketing
Manfaat Digital Marketing menurut Kotler (2002; 758), pemasaran
online atau digital marketing memiliki banyak keuntungan bagi pelanggan
atau konsumen dan pelaku pasar.
a) Manfaat bagi pelanggan atau klien antara lain:
(1) Nyaman. Pelanggan dapat memesan barang di mana saja selama 24
jam sehari. Pelanggan tidak harus pergi ke perusahaan tempat
mereka menjual.
(2) Informasi. Pelanggan dapat memperoleh informasi komparatif
tentang perusahaan, produk, dan pesaing mereka tanpa
meninggalkan kantor atau rumah mereka.
(3) Haluskan sedikit. Pelanggan tidak harus berurusan dengan
provokasidan emosi, sehingga mereka tidak perlu antre untuk
melakukan pembelian.
(4) Pelanggan dapat memesan barang sesuai dengan keinginannya.
Pelanggan dapat mengirimkan permintaan mereka langsung ke
perusahaan tentang barang dan jasa yang mereka butuhkan. Untuk
memungkinkan pembeli menemukan kelebihan dan kekurangan
barang tersebut.
b) Manfaat pemasaran:
(1) Cepat menyesuaikan dengan kondisi pasar. Perusahaan dapat dengan
cepat menambahkan produk ke penawaran mereka dan mengubah
harga serta deskripsi produk.
(2) Biaya rendah. Pemasar online dapat menghindari biaya manajemen
toko, biaya sewa, asuransi, dan infrastruktur yang menyertainya.
Mereka dapat membuat katalog digital dengan biaya yang jauh lebih
rendah daripada mencetak dan mengirimkan katalog kertas.
(3) Mengembangkan hubungan. Pemasar online dapat berbicara dengan
pelanggan dan belajar lebih banyak dari mereka. Pemasar dapat
mengunduh laporan yang diperlukan atau demo gratis perangkat
lunak pemasar.
(4) Mengukur ukuran penonton. Pemasar dapat mengetahui
berapapersentase pelanggan yang berbelanja online dapat
mengunjungi situs yang telah mereka buat. Informasi ini akan
membantu pelaku pasar meningkatkan tawaran dan iklan mereka.
Berikut keunggulan pemasaran digital (Pangestika, 2018):
(1) Kecepatan Lokasi Strategi pemasaran media digital dapat dilakukan
dengan sangat cepat hanya dalam beberapa detik. Selain itu, pemasaran
digital dapat diukur secara real time.
(2) Kemudahan Evaluasi Dengan menggunakan media online, Anda bisa
langsung melihat hasil kegiatan pemasaran Anda. Informasi tentang
berapa lama produk telah dilihat, berapa persentase penjualan yang
telah dikonversi dari setiap iklan, dan sebagainya.
(3) Jaringan geografis pemasaran digital yang luas menggunakan beberapa
langkah untuk mendistribusikan produk ke seluruh dunia
menggunakan Internet.
Pengertian Digital Marketing
Pemasaran digital adalah proses mempromosikan dan mencari pasar
melalui media digital online menggunakan berbagai alat seperti jejaring
sosial (Purwana, 2017). Digital marketing merupakan salah satu media
pemasaran yang banyak diminati masyarakat dalam hal mendukung banyak
kegiatan (Pradiani, 2017). Iklan digital dapat menjangkau khalayak yang
lebih luas di kancah internasional. Saat ini jaringan internet sudah ada
dimana-mana dan setiap orang memiliki smartphone, sehingga sekarang bisa
melakukan pemasaran dimana saja. Pemasaran digital memperluas dan
meningkatkan fungsi pemasaran tradisional menggunakan fasilitas Internet
dan teknologi informasi. Definisi ini berfokus pada semua pemasaran
tradisional, dan perlu dicatat bahwa konsep-konsep seperti “pemasaran
interaktif”, “pemasaran individual”, dan “pemasaran elektronik” terkait erat
dengan “pemasaran digital” (Urban, 2004: 2). Ditulis oleh Ridwan Sanjaya
& Josua Tarigan (2009: 47), pemasaran digital adalah kegiatan pemasaran
yang melibatkan branding dengan menggunakan berbagai media berbasis
web seperti blog, situs web, email, iklan, dan jejaring sosial. Tentu saja,
pemasaran digital bukan hanya tentang pemasaran internet. Menurut Kleindl
& Burrow (2005), pemasaran digital adalah proses perencanaan dan
penerapan ide atau konsep pemikiran, penetapan harga, periklanan, dan
distribusi. Pemasaran dapat dijelaskan secara lebih sederhana, seperti
mengembangkan dan memelihara hubungan yang saling memuaskan antara
perusahaan dan konsumen. Pemasaran digital Chaffey (2002: 14) adalah
penggunaan teknologi digital untuk membuat saluran online melalui inovasi
terbaru di pasar (situs web, email, database, televisi digital, blog lain, saluran,
podcast, jejaring sosial, dll.).
Vardhana (2015) menemukan bahwa strategi pemasaran digital
memiliki dampak sebesar 78% terhadap keunggulan kompetitif UMKM
dalam mempromosikan produknya. Strategi tersebut terdiri dari sebagai
berikut:
a) Tersedianya informasi produk dan manual produk;
b) Ketersediaan gambar, seperti foto dan ilustrasi produk;
c) Ketersediaan video dengan kemampuan untuk mendeskripsikan atau
mempromosikan suatu produk;
d) Tersedianya lampiran dokumen yang berisi informasi dalam berbagai
format;
e) Mampu berkomunikasi dengan pengusaha secara online;
f) Ketersediaan alat transaksi, pilihan alat pembayaran;
g) Ketersediaan layanan dan layanan pelanggan;
h) Mampu mendukung umpan balik online;
i) Kesiapan tampilan testimoni;
j) Ketersediaan pendaftaran tamu;
k) Kesiapan proposal khusus;
l) Tersedianya penyajian informasi terkini melalui SMS-blog;
m) Pencarian produk yang mudah;
n) Kemampuan untuk menciptakan visibilitas dan pengetahuan merek;
o) Kemampuan untuk mengidentifikasi dan menarik pelanggan baru;
p) Kemampuan untuk memperkuat citra merek yang diterima konsumen
Tahap Keputusan Berkunjung
Menurut Kotler dan Keller (2012) proses keputusan pembelian dan
keputusan berkunjung meliputi lima tahapan, yaitu :
- Problem Recognition (Pengenalan Masalah)
Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari suatu masalah atau
kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan internal atau pun internal. Pemasar
perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu dengan
mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen. Kemudian mereka dapat
mengembangkan strategi pemasaran yang memicu minat konsumen. - Information Search (Pencarian Informasi)
Setelah mengenal kebutuhan yang dihadapinya, konsumen akan mencari
informasi lebih lanjut atau tidak. Ketika konsumen mengumpulkan informasi,
hanya bebrapa pilihan yang ,menjadi kuat. Jika kebutuhan itu sangat penting
bagi konsuemen maka pencarian informasi akan lebih mendalam, salah satu
cara konsumen yaitu mendapatkan informasi dari berbagai pihak. Informasi-
informasi yang didapatkan konsumen dibagi menjadi empat kelompok sumber
informasi diantaranya :
a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga
b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, tampilan.
c. Publik : media masa, organisasi pemeringkat, konsumen.
d. Pengalaman : penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk.
Jumlah dan pengaruh relatif dari sumber-sumber informasi tergantung pada
jenis produk dan karakteristik pembeli.Secara umum konsumen menerima
informasi tentang suatu produk dari sumber komersial, yaitu sumber yang
didominasi pemasar. Namun sumber informasi yang paling efektif didominasi
dari sumber pribadi.Setiap sumber informasi menjalankan fungsi yang berbeda
dalam memengaruhi keputusan pembelian.Yang menjadi pusat perhatian
pemasaran adalah sumber informasi pokok yang diperhatikan konsumen. - Evaluation Alternative (Evaluasi Alternatif )
Setelah melalui tahapan pencarian informasi, konsumen akan menghadapi
sejumlah merek yang dapat dipilih, pemilihan alternatif ini melalui beberapa
proses tertentu, yaitu :
a. Konsumen akan mempertimbangkan berbagai sifat produk
b. Pemasar harus mempertimbangkan kegunaan ciri-ciri suatu produk
c. Konsumen biasnaya membangun seperangkat kepercayaan merek sesuai
dengan ciri-cirinya
d. Konsumen diasumsikan memiliki sejumlah fungsi kegunaan setiaap cirri
yang menggambarkan bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan dari
suatu produk yang bervariasi pada tingkat yang berbeda untuk masing-
masing ciri
e. Terbentuknya sikap konsumen terhadap beberapa merek melalui prosedur
f. Penilaian konsumen ternyata menerapkan prosedur penilaian yang berbeda
untuk membuat suatu pilihan diantara sekian banyak ciri-ciri objek
g. Purchase Decision (Keputusan Pembelian)
Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk prefensi antar merek dalam
kumpulan pilihan. Konsumen membentuk suatu minat terhadap merek yang
paling dsukai. Dalam melaksanakan pembelian, konsumen dapat membentuk
lima sub keputusan : merek, penyalur, kuantitas waktu, dan metode pembayaran.
Cara sikap orang lain mengurangi altenatif yang disukai akan bergantung pada
dua hal yaitu intensitan negatif orang lain pada alternatif yang disukai
konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Minat
beli berada pada posisi setelah konsumen melakukan evaluasi alternatf sebelum
melakukan keputusan pembelian. Pertimbangan alternatif konsumen untuk
menyelesaikan masalah dalam memilih sebuah merek mana yang menjadi
pilihan konsumen untuk mengatasi masalahnya terdapat beberapa macam
alternatif pilihaan yang dibedakan berdasarkan beberapa klasifikasi yaitu: kelas
produk, bentuk produk, merek atau model yang ingin konsumen beli. Adapun
klasifikasi lainnya yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan
pilihan membeli yaitu : meteode dalam pembayaran (kas, cek, atau kredit) yang
dikunjunginya, dan waktu yang dikunjunginya harian atau bulanan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Berkunjung
Menurut Wahyuni et al., (2022) menyatakan bahwa ada lima faktor yang
menentukan seseorang untuk membeli jasa atau mengunjungi objek wisata, yaitu :
- Lokasi, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang lokasi yang
benar-benar strategis dan tidak membutuhkan terlalu banyak waktu, tenaga dan
biaya sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain. - Fasilitas, fungsinya adalah memenuhi kebutuhan wisatawan selama tinggal
untuk sementara waktu di destinasi wisata yang dikunjungi. Sehingga apabila
suatu destinasi memiliki fasilitas yang lengkap maka akan mempengaruhi
konsumen untuk berkunjung. - Citra/image, menggambarkan kepada seseorang terhadap suatu destinasi yang
mengandung kenyakinan, kesan dan persepsi. Citra yang terbentuk di pasar
merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi yang
bersangkutan (seperti cuaca, pemandanan alam, keamanan, kesehatan dan
sanitasi, keramah tamahan, dan lain-lain) dan informasi yang diterima oleh
calon wisatawan dari berbagai sumber dipihak lain, atau fantasinya sendiri,
walaupun tidak nyata, sangat penting di dalam mempengaruhi keputusan calon
wisatawan. - Harga/tarif, akan mempengaruhi seorang konsumen untuk mengambil
keputusan dalam berkunjung ke suatu destinasi. Harga yang tinggi pada suatu
daerah tujuan wisata akan memberikan imbas/timbal balik pada pengunjung
begitu pula sebaliknya. - Pelayanan, yang diberikan pada saat memilih sampai terjadinya transaksi
pembelian sangatlah berpengaruh terhadap jadi tidaknya pembelian yang
dilakukan oleh konsumen. Oleh karena itu, suatu destinasi akan memiliki
banyak pengunjung apabila memberikan pelayanan yang terbaik bagi
pengunjungnya.
Definisi Keputusan Berkunjung
Keputusan berkunjung adalah suatu tahap dimana konsumen telah
memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran antara
uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa (Kotler, 2012). Sedangkan menurut Tina Rahmadayanti &
Kholid Murtadlo, (2020) keputusan berkunjung adalah suatu keputusan yang
diambil oleh seseorang yang akan melakukan perjalanan ke suatu tempat wisata
tertentu untuk berlibur. Keputusan pengunjung untuk memilih objek wisata yang
dipilih pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan.
Kristiutami, (2015) menyatakan bahwa keputusan berkunjung wisatawan sama
dengan keputusan pembelian. Keputusan berkunjung merupakan sebuah proses
dimana seseorang pengunjung melakukan penilaian dan memilih satu alternatif
yang diperlukan berdasarkan pertimbangan tertentu. Proses pengambilan
keputusan sangatlah penting karena dalam melakukan perjalanan wisata seorang
pengunjung terlebih dahulu menyiapkan mental, jarak tempuh berapa lama, ke
tempat wisata mana dan lain-lain. Keputusan berkunjung merupakan tahapan atau
proses yang dipengaruhi oleh motivasi, preferensi, informasi, dan kondisi
lingkungan dimana seseorang memiliki pilihan dan melakukan penilaian dengan
berbagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam melakukan perjalanan
atau kunjungan ke suatu tempat tertentu
Aspek Digital Marketing
Aspek digital marketing yang harus diketahui dan dipersiapkan dalam
menjalankan sebuah usaha menurut Karni Fadhillah (2020) sebagai berikut :
- Menetukan Target Market
Menentukan kriteria target market bisnis merupakan hal penting dilakukan
sebelum terjun ke dunia bisnis. Dari menentukan spesifikasi target pasar
nantinya akan memudahkan untuk menjalankan strategi pemasaran
menggunakan iklan digital ataupun cara penyampaian konten melalui sosial
media. - Branding
Branding merupakan sebuah cara yang dilakukan untuk membuat sebuah bisnis
atau usaha dikenal oleh banyak orang. Hal ini bisa diwujudkan melalui
penggunaan iklan (baik secara digital maupun konvensional), melalui word of
mouth (ulut ke mulut), mengikuti sebuah event, menjadi sponsor sebuah acara,
menciptakan logo yang ikonik, membuat nama brand yang mudah diingat, dan
masih banyak lagi. - Iklan
Aspek pemasaran yang tak kalah penting adalah ads atau iklan. Iklan dalam
promosi digital dapat dibuat spesifik mungkin dengan menargetkan kriteria
konsumen tertentu. Melalui penargetan iklan yang spesifik iklan akan tayang
pada orang-orang dengan kriteria yang diinginkan. Dengan demikian
perusahaan dapat menghemat biaya dalam metode pemasaran yang digunakan.
Hal ini tidak seperti pemasaran konvensional dimana jangkauan atau target
market tidak bisa dibuat spesifik - Berkomunikasi dengan Konsumen
Dalam menjalin hubungan dengan konsumen pastikan bahwa cara
berkomunikasi yang digunakan sesuai dengan kriteria target market yang
sebelumnya sudah ditentukan. Cara berkomunikasi yang tepat dan baik akan
membangun hubungan di antara suatu brand dengan konsumennya. Hal ini
berperan dalam meningkatkan kredibilitas serta kepuasan pelanggan terhadap
pelayanan brand bisnis. - Konsistensi
Konsistensi merupakan kunci utama dalam memasarkan sebuah usaha atau
bisnis. Untuk memaksimalkan peluang dalam bersaing dengan kompetitor lain,
membuat sebuah konten media sosial atau iklan digital harus secara konsisten.
Mempertahankan setiap kualitas konten hingga seluruh informasi yang akan
diberikan tersampaikan pada konsumen. Informasi yang diberikan pun harus
sesuai kebenarannya sebab, hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas bisnis atau
usaha di mata konsumen
Jenis-jenis Digital Marketing
Menurut Andy et al., (2020) terdapat beebrapa jenis digital marketing
sebagai berikut :
- Website
Salah satu jenis dari digital marketing yaitu website. Saat ini banyak produk atau
jasa yang sudah menggunakan website sebagai sarana promosi dam memasarkan
produknya di era digital. Selain sebagai sarana promosi dan memasarkan produk,
mealui website konsumen dapat mencari dan melihat review tentang produk atau
jasa yang dicari. - Sosial Media Marketing
Sosial media marketing adalah pemasaran menggunakan situs media sosial untuk
meningkatkan visibilitas di internet dan untuk mempromosikan produk dan jasa.
Melalui media sosial bisa menjadi jembatan untuk bertukar ide, pengetahuan,
informasi, bahkan komunikasi antar pengguna. - Search Engine atau Mesin Pencarian
Search Engine atau Mesin Pencarian adalah jenis website yang khusus untuk
mengumpulkan daftar website yang bisa ditemukan di internet dalam data base
yang kemudian menampilkan daftar indeks ini berdasarkan kata kunci atau
keyword yang dicari oleh pengguna. Search Engine terbagi menjadi 2 yaitu SEO
(Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing)
a. SEM (Optimasi Mesin Pemasaran) : bekerja dengan cara meningkatkan
visitabily dengan menggunakan periklanan dan optimasi dengan timbal balik
berupa biaya. SEM memudahkan dalam mengupayakan website bisa muncul
dihalaman pertama Google.
b. SEO (Optimasi Mesin Pencari) : merupakan upaya menaikkan website
dihalaman pertama Google dengan startegi atau peletakkan kata kunci artikel
atau suatu konten
Kelebihan dan Kekurangan Digital Marketing
Dalam pengaplikasiannya digital marketing memiliki kelebihan dan
kekurangan. Menurut Andy et al., (2020) kelebihan dan kekurangan digital
marketing sebagai berikut :
a. Kelebihan menggunakan Digital Marketing
- Efisiensi biaya dan waktu : pemasaran digital memiliki biaya yang lebih rendah
dibandingkan dengan pemasaran tradisional. Selain itu, pemasaran digital akan
mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas dan lebih besar tanpa harus
membuang banyak waktu untuk melakukan promosi. - Interaktif : pengguna online dapat memilik kapan untuk memulai
pemasarannya, dengan siapa, dimana saja, dan berapa lama nya tidak terbatas
oleh waktu. - Konten menarik : pemasaran digital menawarkan banyak konten menarik,
praktis, dan tidak terbatas. - Mudah diukur : teknologi digital memungkinkan pengukuran. Pemilik usaha
dapat mengetahui seberapa jauh konten yang dibuat dan dapat berdampak pada
penjualan. - Audiens tak terbatas : kunjungan pada platform online yang dimiliki tidak
terbatas, siapapun dapat melihat web, media sosial, atau akun lainnya.
b. Kekurangan menggunakan Digital Marketing - Koneksi internet : promosi online dapat terhambat salah satunya karena
koneksi internet yang lambat, audiens akan sulit untuk mengakses konten yang
telah di upload. - Tantangan privasi dan keamanan : pengumpulan dan penggunaan data pribadi
dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan yang perlu dikelola hati-
hati. - Kurangnya kepercayaan : kurangnya kepercayaan pengguna karena banyaknya
iklan yang dimanipulasi sehingga mengarah pada penipuan.
Manfaat Digital Marketing dan Dampak Digital Marketing
Menurut Andy et al., (2020) digital marketing memiliki beberapa manfaat
bagi perusahaan untuk meningkatkan pemasaran produk, jasa, atau tempat sebagai
berikut :
- Meningkatkan penjualan, jangkauan konsumen dan target pasar yang luas akan
membuat produk, jasa, atau tempat semakin dikenal oleh banyak orang. - Lebih dekat dengan konsumen, komunikasi melalui media digital akan
membuat konsumen menjadi lebih dekat. Dengan memberikan pelayanan
terbaik konsumen akan merasa nyaman dan menjadi pelanggan setia. - Meningkatkan pendapatan, dengan berkembangnya jaringan konsumen yang
dimiliki, maka pendapatan juga akan ikut bertambah. Pendapatan yang
meningkat juga bisa mendorong pertambahan profit perusahaan.
Digital Marketing memiliki dampak signifikan dalam membentuk persepsi dan
mempengaruhi keputusan pengunjung untung berkunjung. Berikut beberapa
dampak dari digital marketing, yaitu : - Membangun Kesadaran Merek
Dengan berbagai saluran digital seperti media sosial perusahaan dapat
membangun kesadaran merek secara efektif. Kesadaran merek yang tinggi
dapat membentuk persepsi positif terhadap usaha yang dijalankan dan
meningkatkan kemungkinan bahwa orang tersebut akan mengunjungi situs web
atau tempat usaha tersebut. - Testimoni atau Review Online
Ulasan atau review online akan memainkan peran penting dalam membentuk
persepsi seseorang. Ulasan positif yang baik dan terdapat bukti yang akurat
tentang kualitas dan kepuasan pelanggan yang dapat mempengaruhi keputusan
pengunjung untuk mengunjungi. - Interaksi melalui Media Sosial
Interaksi melalui media sosial dapat membentuk persepsi pelanggan tentang
keaslian, nilai merek, dan sebagainya. Respon positif dan interaksi langsung
dapat menciptakan ikatan emosional dengan pelanggan yang akan mendorong
mereka untuk mengunjungi situs web atau tempat usaha. - Kampanye Iklan Berbayar
Kampanye iklan berbayar dapat memberikan hasil cepat dan membentuk
persepsi bahwa bisnis tersebut memiliki tawaran menarik. Iklan yang
ditargetkan secara tepat dapat memotivasi pengunjung untuk mengklik iklan
dan mengunjungi situs web. - Personalisasi melalui Email Marketing
Melalui email marketing yang personal dan disesuaikan, bisnis dapat
membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan. Personalisasi pesan
dapat membentuk persepsi bahwa bisnis peduli dan memahami kebutuhan
individual pelanggan
Indikator Digital Marketing
Digital marketing memiliki beberapa indikator menurut Viedy E, Samadi L
(2022), yaitu :
- Accessibility (aksessibilitas), kemampuan pengguna untuk mengakses
informasi dan layanan yang disediakan secara online dan periklanan. - Interactivity (interaktivitas), tingkat komunikasi dua arah yang mengacu pada
kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan dan konsumen, dan
menanggapi input yang akan diterima. - Entertainment (hiburan), kemampuan beriklan untuk memberi kesenangan
atau hiburan kepada konsumen. - Credibility (kepercayaan), tingkat kepercayaan konsumen pada iklan yang
muncul atau sejauh mana iklan memberikan informasi tentang mereka dapat
dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel, dan spesifik. - Informativeness (informatif), kemampuan iklan untuk menyuplai informasi
kepada konsumen, serta memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai
sebuah produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis.
Definisi Digital Marketing
Kini banyak perusahaan yang menggunakan teknologi modern untuk
mempromosikan usaha atau bisnis mereka. Hal ini juga dimanfaatkan oleh
industri pariwisata di Jawa Timur Park 3 yang menggunakan startegi digital
marketing untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Digital marketing
merupakan penggunaan berbagai platform atau media online seperti media sosial,
email dan berbagai platform online lainnya untuk mempromosikan, memasarkan,
dan mengkomunikasikan produk dan layanan. Tujuan utama dari digital
marketing adalah untuk meningkatkan keputusan berkunjung, meningkatkan
kesadaran merek, meningkatkan penjualan, dan menarik perhatian calon
pelanggan. Digital marketing memiliki definisi yang sangat luas dengan berbagai
konsep juga sistem penerapan yang berbeda-beda menurut Chaffey (2011) digital
marketing adalah pemasaran digital adalah suatu bentuk usaha perusahaan dalam
memasarkan produk dan jasanya ke dalam teknologi digital secara online guna
mendapatkan pasar secara global dan spesifik.
Strategi digital marketing akan terus berkembang seiring berkembangnya
teknologi dan seiring berjalannya waktu, perusahaan akan terus memperbarui
strateginya untuk tetap bertahan di pasar yang dinamis ini. Digital marketing
bukan hanya tentang periklanan, tetapi juga tentang berinteraksi dengan calon
pelanggan dan membangun hubungan jangka panjang. Digital marketing memiliki
peran penting dalam dunia bisnis modern dan memainkan peran inti dalam
menarik perhatian pengunjung ke platform online atau situs web.
Menurut Andy et al., (2020) ada beberapa alasan mengapa digital marketing
penting , yaitu :
- Targeting yang lebih efisien, digital marketing dapat memudahkan untuk
mengetahui apa yang diinginkan pelanggan, apa yang disukai dan apa yang
tidak disukai - Mencapai audiens yang lebih luas, melalui digital marketing perusahaan
dapat terhubung dengan orang dari seluruh penjuru dunia sehingga, akan
memperluas pelanggan potensial - Biaya yang lebih efisien, melalui digital marketing perusahaan dapat
menghemat anggaran dan memaksimalkan hasil keuangan perusahaan karena,
semua aktivitas pemasaran dilakukan secara online
Pengertian keputusan pembelian
Keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah
menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk,
serta mengkonsumsinya. Keputusan pembelian antara satu
konsumen dengan yang lainnya berbeda-beda, karena
kebutuhan dan selera konsumen yang berbeda, menurut
Schiffman dan Kanuk, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011 keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan
konsumen dalam mencari, memberi, menggunakan,
mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya. Menurut Kotler
dan Amstrong, 2008:179 yang dikutip oleh Mandey, 2013
keputusan pembelian adalah proses keputusan pembeli tentang
merek mana yang dibeli. Pada umumnya, keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi 2
faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Konsumen dalam keputusan pembelian dipengaruhi oleh
perilaku konsumen, pola perilaku konsumen antara satu
dengan yang lainnya saling berkaitan, seperti produk kemudian
harga dan juga promosi. Sebelum memutuskan untuk membeli
konsumen akan memastikan produk apa yang akan dibeli
kemudian memilih produknya melihat kualitas dan
kegunaannya terlebih dahulu kemudian konsumen akan
melihat harga dari produk yang telah ia pilih. Promosi juga
mempengaruhi keputusan pembelian, konsumen tidak akan
tahu produk yang baik serta harga yang murah jika tidak ada
promosi dari penjual
Manfaat influencer marketing
Menurut Ellora (2019), berdasarkan jumlah followers secara
umum jenis influencer dibagi menjadi 4, yaitu :
- Nano influencer
Nano influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
followers 500 hingga 1.000. Meskipun jumlah
followersnya paling sedikit di kategori influencer, namun
tetap memiliki pengaruh yang kuat karena lebih mengenal
hampir seluruh followersnya secara langsung - Micro influencer
Micro influencer adalah influencer yang memiliki jumlah
followers antara 1.000 hingga 100.000. Micro influencer
biasanya dikenal karena suatu bidang secara spesifik.
Misalnya beauty blogger, parenting blogger, food
blogger, dan masih banyak lagi. - Macro influencer
Macro influencer berada satu tingkat diatas micro
influencer, mereka memiliki followers diatas 100.000
hingga 1.000.000. Influencer jenis ini paling banyak
ditemukan dan kerap dianggap paling ideal bagi brand.
Macro influencer juga memproduksi konten yang lebih
berkualitas, karena content creator adalah pekerjaan
utamanya. - Mega influencer
Mega influencer atau biasa disebut dengan premium
influencer atau celebrity influencer, mereka memilliki
followers lebih dari 1 juta. Influencer jenis ini
dikategorikan sebagai jenis influencer tertinggi karena
biasanya berasal dari kalangan artis, youtuber, atau
selebgram yang memiliki lebih dari 1 juta followers
Pengertian Influencer Marketing
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin
pesat, dunia bisnis dituntut untuk selalu memperbarui strategi
pemasarannya agar lebih inovatif dalam menciptakan produk
hingga melakukan promosinya. Saat ini strategi pemasaran
yang sedang banyak digunakan adalah metode pemasaran yang
menggunakan influencer sebagai medianya. Para influencer
adalah mereka yang dipercaya dan digemari oleh sebagian
masyarakat, apapun yang dipakai dan dilakukan akan selalu
menjadi sorotan bagi orang banyak. Seorang influencer dapat
menciptakan citra merek produk yang lebih baik dan dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan brand
endorser artis atau figur publik yang sudah berada kalangan
artis papan atas. Seorang influencer secara umum biasanya
dipilih berdasarkan kemampuan, keahlian, tingkat popularitas,
maupun reputasi yang dimilikinya (Hariyanti & Wirapraja,
2018). Kepribadian generasi milenial yang dekat dengan dunia
internet, lebih menyukai pendekatan secara online berupa User
Generated Content (UGC) yang dibuat oleh perseorangan.
Mereka menggunakan media sosial untuk mendapatkan
informasi dan melakukan pengambilan keputusan dalam
pembelian produk berdasarkan review atau testimoni dari
orang yang sudah membeli atau menggunakan produk tersebut
(Arini, Angga, & Putra, 2019). Oleh sebab itu menggunakan
influencer sebagai media promosi merupakan hal yang efektif
karena masing-masing influencer memiliki cara yang berbeda
dalam melakukan promosi produk secara soft selling, hal ini
diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan massa dan
meningkatkan brand awareness.
Indikator influencer marketing menurut Hovland, Janis dan
Kelly, 1953 yang dikutip oleh Sugiharto & Ramadhana, 2018
“kredibilitas disusun menyimpulkan dari pembahasan-
pembahasan sebelumnya bahwa itu memiliki 3 komponen
yaitu trustworthiness, expertise, dan attractiveness”.
- Trustworthiness
Menurut Shimp (2007), trustworthiness mengarah pada
kemampuan sumber yang dilihat memiliki kejujuran,
integritas dan dapat dipercaya. Influencer yang dipercaya
dapat mempengaruhi audience meskipun memiliki
kemampuan yang biasa-biasa saja - Expertise
Menurut Shimp (2007), expertise mengarah pada
pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki oleh
seorang influencer yang dapat dikaitkan dengan merek
yang sedang di iklan-kan - Attractiveness
Attractiveness menurut Shimp (2007), yaitu mengarah
kepada diri yang menurut audience dianggap memiliki
daya tarik fisik yang menarik. Menurut Mowen dan Minor
(2002), karakteristik influencer harus sesuai dengan
produk yang mereka bawakan. Jika audience merasa
tertarik dengan influencer, hal tersebut dapat mempersuasi
dengan mudah melalui ketertarikan dari inflluencer
tersebut
Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan Pembelian
Menurut P. Kotler & Keller, 2009 yang dikutip oleh Musay,
2013 citra merek adalah presepsi dan keyakinan yang dipegang
oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang
tertanam dalam ingatan pelanggan, yang selalu diingat pertama
kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak
konsumennya, kemudian menurut Tjiptono & Fandy (2015),
citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen
terhadap merek tertentu. Citra merek (brand image) adalah
pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen,
seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen.
Menurut Ferrinadewi, 2008:166 yang dikutip oleh Musay,
2013 brand image merupakan konsep yang diciptakan oleh
konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadinya.
Berbagai upaya dilakukan perusahaan dalam rangka
mempertahankan brand image yang mereka miliki diantaranya
inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk tersebut,
penetapan harga yang bersaing, dan promosi yang tepat
sasaran. Semakin baik brand image produk yang dijual, maka
semakin tinggi keputusan pembelian oleh konsumen
(Francisco, 2013)
Kesimpulannya, brand image (citra merek) merupakan
gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek
dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak
konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra
merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara
positif. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan
positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu
diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek
yang bersangkutan sangat besar (P.musay, 2013)
Teori Brand Image
Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011, menyatakan ada beberapa faktor yang membentuk citra
merek yaitu :
- Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk
barang yang ditawarkan oleh produsen dengan merek
tertentu - Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan
pendapat dan kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat
tentang suatu produk yang dikonsumsi - Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari
suatu produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen - Pelayanan, yang berkaitan dengan tugas produsen dalam
melayani konsumennya - Resiko, berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh
konsumen - Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi
citra berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang jangka panjang - Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa
pelanggan, kesempatan dan informasi yang berkaitan
dengan suatu merek dari produk tertentu
Menurut Rahman, 2010:179 yang dikutip oleh Kurniati,
2012, pengukuran terhadap merek mempunyai enam tingkat
pengertian, yaitu : - Atribut : Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
sebuah produk, baik dari program purna jualnya,
pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan
menggunakan atribut tersebut sebagai materi iklan mereka - Manfaat : Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut
dari suatu produk melainkan manfaatnya - Nilai : Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan
merek Rolex, misalnya yang memberikan nilai tinggi bagi
penggunanya - Budaya : Merek mewakili budaya tertentu
- Kepribadian : Merek layaknya seseorang yang
merefleksikan sebuah kepribadian tertentu - Pemakai : Merek menunjukkan jenis konsumen yang
membeli atau menggunakan suatu produk tersebut.
Manfaat dari brand image menurut Tjiptono (2012) yaitu : - Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan
atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam
pengorganisasian sediaan dan pencatatan akuntansi - Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk
yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti
intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui merek
dagang terdaftar (registered trademarks) proses
pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten dan
kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyright) dan
desain - Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas,
sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan
membelinya lagi di lain waktu - Sarana untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang
membedakan produk dari para pesaing - Sumber keunggulan kompetitif, terutama menyangkut
pendapatan masa datang - Sumber financial returns, terutama menyangkut
pendapatan masa datang
Pengertian Brand Image
Brand Image merupakan representasi dari keseluruhan
persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu konsumen terhadap merek itu. Ketika
konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk
sebenarnya mereka memiliki alasan-alasan tertentu dalam
memilih sebuah produk, misalnya merasa puas dengan kualitas
dan pelayanan yang ditawarkan produk tersebut. Ada pula
konsumen yang membeli barang berdasarkan kebutuhan akan
suatu barang dan tidak sedikit konsumen yang membeli suatu
produk secara spontanitas, maksudnya konsumen membeli
produk tersebut tanpa ada rencana untuk membeli sebelumnya
atau tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan khusus ketika
memutuskan untuk membeli (Musay, 2013). Berbagai upaya
dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan brand
image yang mereka miliki diantaranya inovasi teknologi
keunggulan yang dimiliki produk tersebut, penetapan harga
yang bersaing, dan promosi yang tepat sasaran. Semakin baik
brand image produk yang dijual, maka semakin tinggi
keputusan pembelian oleh konsumen (Francisco, 2013).
Pengertian brand image menurut para ahli :
- Menurut Tjiptono, 2015:49 yang dikutip oleh Venessa &
Arifin, 2015 Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan
keyakinan konsumen terhadap merek tertentu - Menurut Kertajaya, 2007 yang dikutip oleh Xian, Gou Li,
2011, mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud
dengan citra merek adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang
terkait pada suatu merek yang sudah ada di benak
konsumen
Pengertian Digital Marketing
Digital Marketing atau biasa disebut dengan pemasaran
digital merupakan aktivitas promosi baik untuk produk atau
merek (Brand) yang menggunakan media elektronik (digital).
Saat ini perkembangan teknologi sangat memudahkan pebisnis
dalam melakukan pemasaran secara digital, iklan bisa dilakukan
melalui blog, website, e-mail dan berbagai macam sosial media.
Iklan adalah bentuk promosi dan promosi merupakan salah satu
elemen yang paling penting dari bauran pemasaran (Laksana &
Dharmayanti, 2018). Definisi digital marketing menurut para ahli:
- Menurut Tjiptono, 2016 yang dikutip oleh Hariyanti &
Wirapraja, 2018, e-marketing (Electronic Marketing) adalah
proses strategik, mengembangkan, mendistribusikan,
mempromosikan, dan menetapkan harga barang dan jasa
kepada pasar sasaran melalui internet atau alat-alat digital
seperti smartphone. - Pemasaran digital menurut Chaffey, 2016:14 yang dikutip oleh
Jayabaya Putu Nina Mediawati, 2018 adalah penerapan dari
internet serta teknologi-teknologi digital yang berkaitan
terhadap metode komunikasi tradisional untuk memperoleh
tujuan pemasaran
Menurut Eun Young Kim, 2002 yang dikutip oleh Laksana &
Dharmayanti, 2018 ada empat dimensi dari digital marketing.
Empat dimensi yang diukur dari digital marketing adalah :
- Cost, merupakan salah satu teknik promosi yang memiliki
tingkat efisiensi yang tinggi sehingga dapat menekan biaya
dan waktu transaksi. - Incentive Program, adalah program-program menarik yang
menjadi keunggulan dalam setiap promosi yang dilakukan.
Program-program ini juga diharapkan agar dapat memberikan
niai yang lebih kepada perusahaan. - Site design, merupakan tampilan menarik dalam media
digital marketing yang dapat memberikan nilai positif bagi
perusahaan. - Interactive, merupakan hubungan antara pihak perusahaan
dengan konsumen yang dapat memberikan info dan dapat
diterima dengan baik dan jelas
Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan
fungsinya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan,
kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan ciri- ciri lainnya (Kotler
dan Amstrong, 2008). Menurut Stanton, (2004) mendefinisikan produk adalah
sekumpulan atribut yang nyata yang terkait dalam sebuah bentuk yang dapat
didentifikasikan, di dalamnya sudah ter-cakup warna, harga, kemasan, prestise
pabrik, prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik serta pengecer yang
mungkin diterima oleh pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginan.
Kualitas produk merupakan hal yang sangat penting dan harus di utamakan
perusahaan agar menarik minat produsen untuk membeli sebuah produk yang di
hasilkan sehingga dapat bersaing untuk memuaskan kebutuhan konsumen
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dalam Priansa (2017), indikator
dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a. Pilihan Produk
b. Pilihan Merek
c. Pilihan Saluran Pembelian
d. Waktu Pembelian
e. Jumlah Pembelian
Penjelasan dari kelima indikator tersebut :
a. Pemilihan produk Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli
sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang
lain.Perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang
yang berniat membeli.
b. Konsumen memutuskan merek mana yang akan dibeli. Setiap merek
memiliki perbedaan-perbedaan yang tersendiri. Dalam hal ini, perusahaan
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek, apakah
berdasarkan ketertarikan, atau kesesuaian.
c. Pembelian, konsumen harus mengambil keputusan penyalur produk yang
mana akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda dalam pemilihan
penyalur, misalnya faktor lokasi, harga, persediaan barang yang lengkap,
kenyamanan berbelanja, keluasan tempat, dan lain sebagainya merupakan
faktor-faktor yang memengaruhi konsumen untuk memilih penyalur.
d. Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-
beda, contohnya : ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua
minggu sekali, tiga minggu sekali, satu bulan sekali dan sebagainya.
e. Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian dilakukan mungkin lebih
dari satu. Dalam keputusan pembelian tersebut perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbeda-beda dari setiap pembeli
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan konsumen untuk
membeli produk atau tidak. Menurut Kotler dan Amstrong (2011) menyatakan
bahwa “keputusan pembelian merupakan tahap proses keputusan dimana
konsumen secara aktual melakukan pembelian produk”.
Adanya kecenderungan pengaruh kualitas produk, harga dan promosi
terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut,
mengisyaratkan bahwa manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan aspek
perilaku konsumen, terutama proses pengambilan keputusan pembeliannya.
Keputusan pembelian didefinisikan sebagai tahap dalam proses
pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen benar-benar membeli
Kotler dan Armstrong, (2012). Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan
individu secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan.
Indikator Persepsi Harga
Indikator Persepsi HargaMenurut Kotler dan Amstrong (2009) dalam
jurnal Manajemen dan keuangan (2017) dikutip oleh Amalia dan Nst,
indikator persepsi harga yaitu sebagai berikut:
a. Keterjangkauan harga.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
c. Daya saing harga.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat.
Penjelasan dari keempat indikator diatas adalah sebagai berikut:
a. Keterjangkauan Harga Harga yang terjangkau adalah harapan
konsumen sebelum mereka melakukan pembelian. Konsumen akan
mencari produk-produk yang harganya dapat mereka jangkau.
b. Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk Untuk produk tertentu,
biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus membeli dengan
harga relative mahal asalkan kualitas produknya baik. Namun
konsumen lebih menginginkan produk dengan harga murah dan
kualitasnya baik.
c. Daya Saing Harga Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk
dengan mempertimbangkan harga produk yang dijual oleh pesaingnya
agar produknya dapat bersaing di pasar.
d. Kesesuaian Harga dengan Manfaat Konsumen terkadang mengabaikan
harga suatu produk namun lebih mementingkan manfaat dari produk
tersebut
Teori Persepsi Harga
Dharmmesta dan Handoko (2011) mengemukakan harga adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanan. Dinawan (2010) mengatakan
presepsi harga terlihat dari:
a. Perbandingan harga dengan produk lain, yaitu bagaimana perbandingan
harga produk dengan produk pesaingnya.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu apakah harga yang
ditawarkan sudah sesuai dengan kualitas produk yang didapatkan.
c. Keterjangkauan harga, yaitu adalah keterjangkauan harga yang
ditawarkan produsen ke konsumen.
Peresepsi Harga
Presepsi harga adalah konsumen yang memiliki kecenderungan
menggunakan harga untuk mempertimbangkan kualitas penilaian suatu produk.
Penilaian harga suatu produk dapat dilihat mahal atau tidak, untuk masing-
masing individu penilaian tidaklah sama karena bergantung pada persepsi
individu. Menurut Tjiptono (2011) mengatakan bahwa harga merupakan bauran
harga berkenaan dengan strategi dan taktis seperti tingkat harga, struktur diskon,
syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok
pelanggan.
Menurut Schifman dan Kanuk (2004) mendefinisikan “presepsi
harga adalah pandangan atau persepsi mengenai harga bagaimana pelanggan
memandang harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) mempengaruhi pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli.Konsumen adalah
individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Penilaian yang
dirasakan oleh setiap konsumen terhadap suatu poduk maupun jasa yang mereka
terima tidklah sama.
Presepsi konsumen terhadap suatu harga dapat mempengaruhi keputusan
dalam membeli suatu produk sehingga perusahaan harus mampu memberikan
presepsi yang baik terhadap produk jasa yang akan di jual.Konsumen mempunyai
anggapan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara harga dan kualitas
sebuah produk, maka mereka akan membandingkan produk satu dengan yang
lainnya dan barulah konsumen akan mengambil keputusan untuk membeli.
Menurut Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob Sabran (2009), harga
adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan,
elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan elemen termudah dalam
program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan
komunikasi membutuhkan banyak waktu.
Indikator Kualitas Produk
Menurut Fandy Tjiptono (2012) kualitas produk memiliki indikator-indikator
yaitu sebagai berikut :
- Kinerja (Performance) merupakan karakteristik operasi dan produk inti
(core product) yang dibeli.Misalnya kecepatan, kemudahan dan
kenyamanan dalam penggunaan. - Fitur (feature) Fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu produk
tersebut. - Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification) Sejauh
mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar karakteristik operasional. - Ketahanan (Durability) Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
ekonomis. - Keandalan (Realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal pakai. - Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan.Pelayanan yang
diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan,tetapi juga selama
proses penjualan hingga purna jual, yang juga mencakup pelayanan
reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan. - Estetika (Esthetica) Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
Misal keindahan desain produk,keunikan model produk,dan kombinasi. - Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) Merupakan persepsi
konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
produk.Biasanyakarena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau
ciri-ciri produk yang akan dibeli,maka pembeli memperspsikan
kualitasnya dari aspek harga, iklan,reputasi perusahaan, maupun negara
pembuatnya
Kualitas Produk
Kualitas Produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung
pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan
atau diimplikasikan (Kotler dan Armstrong 2012). Dalam rangka menciptakan
kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan organisasi harus berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat (benefits) bagi pelanggan.
Dalam kaitannya dengan kepuasan pelanggan, kualitas memiliki
beberapa dimensi pokok, bergantung pada konteksnya. Untuk menerapkan
kualitas produk perusahaa program “Total Quality Managemen (TQM)” selain
mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen. Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob
Sabran (2012), menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu
barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari
apa yang diinginkan pelanggan.
Pendapat yang diajukan oleh Kotler dan Keller diatas sejalan dengan
konsep yang disampaikannya, dimana Kotler dan Keller (2012) menyatakan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya, meliputi daya tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan
perbaikan serta atribut bernilai lainnya.Kualitas produk merupakan hal penting
yang harus diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat
bersaing dipasar untuk memuaskan kebutuhan dan keininan konsumen.
Menurut Dinawan (2010), menyatakan bahwa konsumen mempunyai
anggapan adanya hubungan yang positif antara harga dan kualitas suatu produk,
maka mereka akan membandingkan antara produk yang satu dengan yang lainnya
dan barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
Pendapat ini menyatakan kualitas produk adalah karakteristik suatu produk atau
jasa yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.
Menurut Orville, Larreche, dan Boyd (2005), “Apabila perusahaan
ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan
harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen
untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan
produk pesaing”
Indikator Minat Beli (Purchase Intention)
Minat beli dapat dilihat dari beberapa indikator menurut
Munawaroh (2018:112) di antaranya:
- (Attention,) yaitu perhatian calon konsumen terhadap produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Interest), yaitu ketertarikan calon konsumen terhadap produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Desire), yaitu keinginan calon konsumen untuk memiliki produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Action), yaitu calon konsumen melakukan pembelian terhadap produk
yang ditawarkan.
Ferdinand (2019:98) mengatakan bahwa minat beli memiliki beberapa
indikator, yaitu : - Minat Transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk. - Minat Referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan produk kepada orang lain. - Minat Preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. - Minat Eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat produk tersebut.
Tahapan Minat Beli (Purchase Intention)
Terdapat empat tahapan produsen dalam menentukan minat beli
atau menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian
terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Empat tahapan tersebut
dikenal dengan model AIDA (Priansa, 2017).
- (Attention), Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu
produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu
calon pelanggan juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan. - (Interest), Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk
membeli produk atau jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan
informasi yang lebih terperinci mengenai produk atau jasa yang
ditawarkan. - (Desire), Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi
mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan
keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahapan ini calon
pelanggan sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang
ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari
calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang
ditawarkan. - (Action), Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan
yang tinggi untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.
Faktor Minat Beli (Purchase Intention)
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen
menurut Ujia & Munawaroh (2018:101) di antaranya :
a. Kesadaran akan kebutuhan
Dimana kebutuhan akan mempengaruhi seseorang untuk memiliki
minat beli terhadap apa yang dibutuhkan.
b. Pengenalan Produk
Apabila seseorang mengenal suatu produk tertentu akan cenderung
mempengaruhi minat beli terhadap produk tersebut.
c. Evaluasi Alternatif
Dengan munculnya alternatif pilihan maka akan terjadi evaluasi
alternatif yang akan mempengaruhi minat beli.
d. Pengaruh Eksternal
Adanya pengaruh dalam Usaha Pemasaran, Sosial, Budaya
Aspek Minat Beli (Purchase Intention)
Minat beli adalah tahap terakhir dari suatu proses keputusan
pembelian yang kompleks. Proses ini dimulai dari munculnya kebutuhan
akan suatu produk atau merek (need arousal), kemudian pemrosesan
informasi oleh konsumen (consumer information processing), selanjutnya
konsumen akan mengevaluasi produk atau merek tersebut.
Hasil evaluasi ini yang akhirnya memunculkan niat atau intensi
untuk membeli sebelum akhirnya konsumen benar-benar melakukan
pembelian. Terdapat beberapa aspek minat beli pada konsumen menurut
(Schiffman dan Kanuk, 2012) di antaranya:
a. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk. Konsumen yang
terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang
lebih banyak. Terdapat dua level rangsangan atau simultan kebutuhan
konsumen, yaitu level pencarian informasi yang lebih ringan atau
penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi yaitu dengan
mencari bahan bacaan, bertanya pada teman, atau mengunjungi toko
untuk mempelajari produk tertentu.
b. Mempertimbangkan untuk membeli. melalui pengumpulan informasi,
konsumen mempelajari merek-merek yang bersaing serta fitur merek
tersebut. Melakukan evaluasi terhadap pilihan-pilihan dan mulai
mempertimbangkan untuk membeli produk.
c. Tertarik untuk mencoba. Setelah konsumen berusaha memenuhi
kebutuhan, mempelajari merek-merek yang bersaing serta fitur merek
tersebut, konsumen akan mencari manfaat tertentu dari solusi produk
dan melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini
dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif. Maksudnya adalah
konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan
rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.
d. Ingin mengetahui produk. Setelah memiliki ketertarikan untuk
mencoba suatu produk, konsumen akan memiliki keinginan untuk
mengetahui produk. Konsumen akan memandang produk sebagai
sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan.
e. Ingin memiliki produk. Para konsumen akan memberikan perhatian
besar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya. Dan
akhirnya konsumen akan mengambil sikap (keputusan, preferensi)
terhadap produk melalui evaluasi atribut dan membentuk niat untuk
membeli atau memiliki produk yang disukai.
Definisi Minat Beli
Minat beli yaitu dengan menciptakan suatu hal yang dapat terekam
dalam pikiran konsumen lalu menjadikannya suatu keinginan yang sangat
kuat dengan cara motivasi. Fitrah (2018:45)
Menurut Sciffman dan Kanuk (2012:76), menyatakan bahwa minat
beli adalah suatu model sikap seseorang terhadap objek barang yang
sangat cocok dalam mengukur siap terhadap golongan produk, jasa, atau
merek tertentu.
Menurut Ferdinand (2019:78) menyatakan bahwa minat beli adalah
sesuatu yang terjadi setelah adanya rangsangan oleh produk yang dilihat
disitulah timbul minat beli untuk mendapatkannya
Minat Beli konsumen adalah inisiatif responden dalam
pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk. Model terperinci
perilaku konsumen tersebut menjelaskan bahwa rangsangan pemasaran
yang terdiri dari variabel marketing mix yaitu produk, harga, tempat,
promosi sebagai komponen utama dalam pemasaran. Komponen utama
tersebut juga di pengaruhi oleh adanya rangsangan lainnya yaitu bersifat
eksternal yaitu ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Oentoro (2012:98)
Indikator Pemasaran Digital (Digital Marketing)
Adapun indikator dari pemasaran digital dari sisi promosi sebagai
bagian dari bauran pemasaran (4Ps) menurut Ryan dan Jones
(2009:29) yaitu:
a. Website: Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital,dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
b. Optimasi Mesin Pencari (search engine optimation) : Salah satu bagian
penting dari website adalah SEO (search engine optimation),atau
proses pengaturan konten dari website agar mudah ditemukan oleh
pengguna internet yang sedang mencari konten yang relevan dengan
yang ada di website, dan juga menyajikan konten agar dapat dengan
mudah ditemukan oleh mesin-mesin pencari.
c. Periklanan berbasis klik pencarian berbayar (PPC advertising) :
Periklanan PPC (pay per click) memungkinkan pemasar membeli
halaman hasil pencarian internet berdasarkan kata kunci – kata kunci
dan kalimat yang dipilih.
24
d. Pemasaran afiliasi dan kemitraan strategis (affiliate marketing and
strategic partnership): Kegiatan bermitra dengan
organisasi/perusahaan lain dan website-website untuk mencapai
keuntungan bersama dari sebuah kerjasama untuk mempromosikan
produk atau layanan.
e. Hubungan masyarakat online (Online Public Relation) : Menggunakan
saluran komunikasi online seperti press release, sindikasi artikel, dan
blog untuk menciptakan persepsi positif atas merek dan/atau untuk
menempakan organisasi/perusahaan sebagai pihak yang berwenang di
bidang tertentu.
f. Jejaring social (social network) : Sebuah peluang pemasaran, namun
saat ini belum ada seseorangpun yang bisa menawarkan sistem
periklanan dengan sangat fokus ke kelompok masyarakat yang sangat
kecil (niche) atas dasar informasi profil yang didapatkan dari situs-
situs jejaring social.
g. E-mail pemasaran (e-mail marketing): Surat elektronik (e-mail) masih
menjadi alat yang penting untuk kegiatan pemasaran digital, yang
dikirimkan dengan tujuan untuk menjaga hubungan antara konsumen
yang sudah ada maupun calon konsumen yang bersedia menerima
informasi lewat e-mail.
h. Manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship
Management) : Menjaga konsumen yang sudah ada dan membangun
kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka adalah salah
satu elemen penting dari kegiatan pemasaran digital.
Indikator Digital Marketing menurut Nasdini (2012:37) yaitu :
- Aksessibilitas, adalah kemampuan pengguna untuk mengakses
informasi dan layanan yang disediakan secara online periklanan.
Aksessibilitas umumnya terkait dengan cara pengguna dapat
mengakses situs Sosial Media. - Interactivity (Interaktivitas), adalah tingkat komunikasi dua arah yang
mengacu pada kemampuan timbal balik komunikasi antara pengiklan
dan konsumen, dan menganggapi input yang mereka terima. - Entertainment (Hiburan), adalah kemampuan beriklan untuk memberi
kesenangan atau hiburan kepada konsumen, secara umum menang
banyak iklan yang memberikan hiburan sambil menyisipkan
informasi-informasi. - Credibility (Kepercayaan), adalah bagaimana tingkat kepercayaan
konsumen online iklan yang muncul, aau sejauh mana iklan
memberikan informasi tentang mereka dapat dipercaya, tidak
memihak, kompeten, kredibel dan spesifik. - Irritation (Kejengkelan), adalah gangguan yang terjadi dalam iklan
online, seperti manipulasi iklan sehingga mengarah pada penipuan atau
pengalaman buruk konsumen tentang periklanan online. - Informativeness (Informative), kemampuan iklan untuk menyuplai
informasi kepada konsumen adalah hakekat dari sebuah iklan. Iklan
juga harus memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai sebuah
produk sehingga bisa memberikan keuntungan ekonomis bagi
konsumen
Dimensi E-Service Quality
Menurut Zeithmal dalam buku Tjiptono (2016:178-179) mengemukakan ada
7 dimensi E-Service Quality antara lain:
- Efisiensi
Kemampuan pelanggan untuk mengakses website, mencari produk yang
diinginkan dan informasi yang berkaitan dengan produk tersebut, dan
meninggalkan situs bersangkutan dengan upaya minimal. - Reliabilitas
Berkenaan dengan fungsional teknis situs bersangkutan, khususnya se jauh
mana situs tersebut tersedia dan berfungsi sebagaimana mestinya. - Fulfillment
Mencakup akurasi janji layanan, ketersediaan stok produk, dan pengiriman
produk sesuai dengan waktu yang dijanjikan. - Privasi
Berupa jaminan bahwa data perilaku berbelanja tidak akan diberikan kepada
pihak lain manapun dan bahwa informasi kartu kredit pelanggan terjamin
keamanannya - Daya Tanggap (Responsiveness)
Kemampuan pengelola untuk memberikan informasi yang tepat kepada
pelanggan sewaktu timbul masalah, memiliki mekanisme untuk menangani
pengembalian produk, dan menyediakan garansi online. - Kompensasi
Meliputi pengembalian uang,biaya pengiriman, dan biaya penanganan produk. - Kontak
Mencerminkan kebutuhan pelanggan untuk bisa berbicara dengan staf layanan
pelanggan secara online atau meliputi telepon (dan bukan berkomunikasi
dengan mesin).
E-Service Quality
Menurut Parasuraman dan Malhotra dalam Perwira (2016:48) E-Service
Quality adalah pelayanan berbasis elektronik yang digunakan untuk memfasilitasi
belanja, pembelian maupun pengiriman produk dan jasa secara efektif dan efisien.
Sedangkan menururt Santos dalam Agus (2017) e-service quality didefinisikan
sebagai evaluasi dan penilaian pelanggan secara keseluruhan mengenai keunggulan
dan kualitas pengiriman e-service pada market place.
Menurut Zeithmal dalam Tjiptono (2016:178-179) E-Service Quality adalah
model kualitas jasa online yang komprehensif dan integrative. Pada prinsipnya,
model E-Service Quality ini merupakan adaptasi dan perluasan model tradisional
Service Quality kedalam konteks pengalaman berbelanja online.
Kualitas Layanan (Service Quality)
Kualitas pelayanan adalah konsumen mengevaluasi kualitas pelayanan yang
didapatkan mulai dari proses dan hasil penyampaian yang diberikan apakah sudah
sesuai dengan harapan konsumen, dalam menentukan pelayanan yang didapatkan
sudah terpenuhi dengan baik akan dikembalikan pada konsumen karena pandangan
konsumen akan berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan harapan konsumen
(Adam, 2015:11)
Menurut Zeithaml dan Binter dalam (Adam, 2015:11) kualitas pelayanan
adalah penyampaian yang sangat baik atau unggul sesuai harapan pelanggan
dengan memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan, pelanggan akan menilai hasil dari pelayanan yang diharapkan.
Menurut pasuraman dalam Tjiptono (2017: 125) terdapat dua faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yakni, layanan yang diharapkan (expected
service) dan layanan yang diterima (perceived service). Tingkat harapan adalah
keyakinan konsumen bahwa sebuah produk memiliki atribut-atribut tertentu yang
di inginkan. Sementara itu, tingkat kenyataan adalah presepsi terhadap jumlah
atribut produk atau jasa dari hasil yang diterima
Karakteristik Jasa
Dalam buku (Ari Setyaningrum, 2015) dikatakan terdapat beberapa karakteristik
khusus jasa, yaitu:
- Intangible
Jasa bersifat tidak berwujud. Sebuah barang tersusun dari materi berwujud,
sedangkan jasa merupakan kinerja yang tidak memiliki wujud yang solid. Jasa
tidak dapat dilihat, dan disentuh. - Inseparability
Sebagian besar jasa memiliki sifat tidak terpisahkan antara produksi dan
konsumsi jasa. Jasa dikonsumsi saat jasa tersebut diproduksi. - Variability
Kualitas jasa lebih bervariasi dibandingkan dengan barang. Karena bersifat
inseparability dan live performance, berbagai faktor dapat menyebabkan
ualitas jasa bervariasi. Personerl jasa yang berbeda, outlet jasa yang berbeda,
dan waktu pemakaian yang berbeda dapat menyebabkan variasi dalam kualitas. - Perishability
Jasa bersifat tidak disimpan. Kapasitas jasa yang tersedia bersifat sensitif
terhadap perubahan waktu. Dengan berlalunya waktu kapasitas jasa yang tidak
terpakai akan hilang. Seperti kursi sebuah pesawat yang hanya terisi setengah
dan berangkat dari jakarta menuju Yogyakarta akan hilang begitu saja tidak
dapat dimanfaatkan lagi di masa depan. - Difficult to Understand
Jasa cenderung sulit dipahami. Beberapa jasa melalui tahapan-tahapan yang
rumit dan tidak mudah dimengerti. Dindakan operasi, penyusunan laporan
keuangan, dan hypotherapy adalah contoh jasa yang kompleks dan sulit
dimengerti oleh konsumen. Karakteristik jasa lain adalah intangibility,
inseparability, dan variability juga menyebabkan suatu jasa sulit dimengert
Bauran Pemasaran Jasa
Menurut Fandy Tjiptono (2015:41) “Bauran pemasaran jasa merupakan
seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik jasa
yang ditawarkan kepada pelanggan.” Dalam bauran pemasaran terdapat
seperangkat alat pemasaran yang dikenal dalam istilah 4P, yaitu product (produk).
price (harga), place (tempat atau saluran distribusi), dan promotion (promosi),
sedangkan dalam pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran tambahan
seperti people (orang), physical evidence (fasilitas fisik), dan process (proses),
sehingga dikenal dengan istilah 7P. Maka dapat disimpulkan bauran pemasaran jasa
yaitu product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process.
Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Amstrong (2014:62):
- Produk
Produk adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan
pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah
produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang lain
yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa. - Harga
Harga adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan menentukan harga
dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus menentukan strategi yang
menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut dan berbagai variabel
yang bersangkutan. - Tempat
Tempat yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai untuk
menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani pasar sasaran, serta
mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan perniagaan produk
secara fisik. - Promisi
Promosi adalah suatu unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan
membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui
iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi. - Sarana Fisik
Sarana Fisik merupakan hal nyata yang turut mempengaruhi keputusan
konsumen untuk membeli dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan.
Unsur yang termasuk dalam sarana fisik antara lain lingkungan atau bangunan
fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan barang- barang lainnya - Orang
Orang adalah semua pelaku yang memainkan peranan penting dalam penyajian
jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen dari orang adalah
pegawai perusahaan, konsumen, dan konsumen lain. Semua sikap dan tindakan
karyawan, cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan memiliki
pengaruh terhadap keberhasilan penyampaian jasa. - Proses
Proses adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas yang
digunakan untuk menyampaikan jasa. Elemen proses ini memiliki arti sesuatu
untuk menyampaikan jasa. Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam
bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan senang merasakan sistem
penyebaran jasa sebagai bagian jasa itu sendiri.
Digital Marketing
Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11) “Digital marketing is the
application of the internet and related digital technologies in conjunction with
traditional communications to to achieves marketing objectives.”. Artinya Digital
Marketing merupakan aplikasi dari internet dan berhubungan dengan teknologi
digital dimana didalamnya berhubungan dengan komunikasi tradisional untuk
mencapai tujuan pemasaran. Hal tersebut dapat dicapai untuk meningkatkan
pengetahuan tentang konsumen seperti profil, perilaku, nilai, dan tingkat loyalitas,
kemudian menyatukan komunikasi yang ditargetkan dan pelayanan online sesuai
kebutuhan masing-masing individu.
Menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11), Dedi Purwana (2017:2) Jadi pada
dasarnya digital marketing merupakan kegiatan pemasaran yang menggunaan
media digital dengan menggunakan internet yang memanfaatkan media berupa
web, social media, e-mail, database, mobile/wireless dan digital tv guna
meningkatkan target konsumen dan untuk mengetahaui profil, perilaku, nilai
produk, serta loyalitas para pelanggan atau target konsumen untuk mencapai tujuan
pemasaran
Tahapan Minat Beli (Purchase Intention)
Terdapat empat tahapan produsen dalam menentukan minat beli
atau menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian
terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Empat tahapan tersebut
dikenal dengan model AIDA (Priansa, 2017).
- (Attention), Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu
produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu
calon pelanggan juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan. - (Interest), Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk
membeli produk atau jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan
informasi yang lebih terperinci mengenai produk atau jasa yang
ditawarkan. - (Desire), Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi
mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan
keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahapan ini calon
pelanggan sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang
ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari
calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang
ditawarkan. - (Action), Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan
yang tinggi untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan. - Indikator Minat Beli (Purchase Intention)
Minat beli dapat dilihat dari beberapa indikator menurut
Munawaroh (2018:112) di antaranya: - (Attention,) yaitu perhatian calon konsumen terhadap produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Interest), yaitu ketertarikan calon konsumen terhadap produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Desire), yaitu keinginan calon konsumen untuk memiliki produk yang
ditawarkan oleh produsen. - (Action), yaitu calon konsumen melakukan pembelian terhadap produk
yang ditawarkan.
Ferdinand (2019:98) mengatakan bahwa minat beli memiliki beberapa
indikator, yaitu : - Minat Transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk. - Minat Referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan produk kepada orang lain. - Minat Preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. - Minat Eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat produk tersebut
Faktor Minat Beli (Purchase Intention)
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen
menurut Ujia & Munawaroh (2018:101) di antaranya :
a. Kesadaran akan kebutuhan
Dimana kebutuhan akan mempengaruhi seseorang untuk memiliki
minat beli terhadap apa yang dibutuhkan.
b. Pengenalan Produk
Apabila seseorang mengenal suatu produk tertentu akan cenderung
mempengaruhi minat beli terhadap produk tersebut.
c. Evaluasi Alternatif
Dengan munculnya alternatif pilihan maka akan terjadi evaluasi
alternatif yang akan mempengaruhi minat beli.
d. Pengaruh Eksternal
Adanya pengaruh dalam Usaha Pemasaran, Sosial, Budaya
Definisi Minat Beli
Minat beli yaitu dengan menciptakan suatu hal yang dapat terekam
dalam pikiran konsumen lalu menjadikannya suatu keinginan yang sangat
kuat dengan cara motivasi. Fitrah (2018:45)
Menurut Sciffman dan Kanuk (2012:76), menyatakan bahwa minat
beli adalah suatu model sikap seseorang terhadap objek barang yang
sangat cocok dalam mengukur siap terhadap golongan produk, jasa, atau
merek tertentu.
Menurut Ferdinand (2019:78) menyatakan bahwa minat beli adalah
sesuatu yang terjadi setelah adanya rangsangan oleh produk yang dilihat
disitulah timbul minat beli untuk mendapatkannya
Minat Beli konsumen adalah inisiatif responden dalam
pengambilan keputusan untuk membeli sebuah produk. Model terperinci
perilaku konsumen tersebut menjelaskan bahwa rangsangan pemasaran
yang terdiri dari variabel marketing mix yaitu produk, harga, tempat,
promosi sebagai komponen utama dalam pemasaran. Komponen utama
tersebut juga di pengaruhi oleh adanya rangsangan lainnya yaitu bersifat
eksternal yaitu ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Oentoro (2012:98)
Dari definisi diatas Minat beli merupakan pernyataan mental
konsumen yang merefleksikan rencana pembelian suatu produk dengan
merek tertentu pengetahuan tentang niat beli konsumen terhdap produk
perlu diketahui oleh para pemasar untuk mendeskripsikan perilaku
konsumen pada masa yang akan datang. Minat beli merupakan tahapan di
mana konsumen membentuk pilihan mereka di antara beberapa merek
yang tergabung ke dalam perangkat pilihan. Di mana pada akhirnya
mereka melakukan pilihan pada satu alternatif yang paling disukai atau
proses yang dilalui konsumen untuk membeli barang atau jasa berdasarkan
dari berbagai pertimbangan. Minat beli pada sebuah produk dapat muncul
karena adanya kepercayaan pada produk yang diiring dengan kemampuan
membeli produk
Definisi Digital Marketing
Pemasaran digital (digital marketing) adalah kegiatan pemasaran
termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web
seperti blog, website, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial Sanjaya dan
Taigan, (2012:56).
Menurut Nasdini (2012:28) Pemasaran digital dan media sosial
mencangkup penggunaan alat pemasar digital seperti situs web, media
sosial, mobile ada dan aplikasi, video seluler dan online, e-mial, blog, dan
platform digital lainnya. Komputer, Tablet, Televisi dan perangkat digital
lainnya menjangkau konsumen dimana saja dan kapan saja.
Digital marketing merupakan teknologi dalam memasarkan produk
serta layanan yang harus menggunakan media digital. Adapun media yang
digunakan untuk digital marketing yaitu website, social media, e-mail
marketing, periklanan, dan search engine optimization (SEO). (Rachmadi,
2020)
Pemasaran digital dan media sosial melibatkan penggunaan alat
pemasara digital seperti situs web, media sosial, mobile ada dan aplikasi,
video online, emial, blog, dan platform digital lainnya untuk menjangkau
konsumen di mana saja, dan kapan saja melalui komputer, smartphone,
tablet, TV, dan perangkat digital lainnya. Kotler dan Armstrong (2018:78)
Hasil belajar siswa
Hasil belajar merupakan puncak dari keberhasilan belajar siswa
terhadap tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat
meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik
(tingkah laku).
Hal ini sesuai dengan pendapat Bettencourt (Suparno, 2012: 61)
yang menuliskan bahwa, ”Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman
siswa dengan dunia fisik dan lingkungannya”. Hasil belajar seseorang
tergantung pada apa yang telah diketahuinya; misal konsep-konsep, tujuan,
dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang
dipelajari.Selanjutnya menurut Chatib (2012: 169-170), “Hasil belajar
tidak hanya terbatas pada tes atau ujian saja tetapi sangat luas. Hasil
belajar dapat dilihat dari; a) perubahan perilaku anak; b) perubahan pola
pikir anak; c) membangun konsep baru”. Keberhasilan belajar siswa dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut; faktor materi, lingkungan,
instrumen (kurikulum, pengajar/guru, model dan metode mengajar). Untuk
memperoleh hasil belajar yang efektif dan baik, faktor instrumental ini
dirancang sedemikian rupa sehingga sesuai dengan materi dan subjek
belajar.
Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan di atas
dipertegas lagi oleh Nawawi dalam K. Brahim (2007:39) yang menyatakan
bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa
dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam
skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran
tertentu. Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa
adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.
Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat
penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan
demikian, penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang
dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan kepada
siswa.
Selanjutnya, dikemukakan oleh Wasliman (2007: 159) bahwa
sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar
siswa. Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas pengajaran di
sekolah, maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa
Belajar dan Pembelajaran
Belajar menurut beberapa ahli, antara lain yaitu:
a. Daryanto (2009:2) mengemukakan bahwa belajar sebagai suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
sendiri dalam interaksi dengan lingkungnnya.
b. Suyono & Hariyanto (2014: 9) belajar merujuk kepada suatu proses
perubahan perilaku atau pribadi atau perubahan struktur kognitif
seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu hasil interaksi
aktifnya dengan lingkungan dan sumber-sumber pembelajaran yang
ada di sekitarnya.
c. Purwanto (2014: 85) belajar merupakan suatu perubahan yang bersifat
internal dan relatif mantap dalam tingkah laku melalui latihan atau
pengalaman yang menyangkut aspek kepribadian, baik fisik maupun
psikis.
d. Sanjaya (2008: 229) belajar pada dasarnya adalah suatu proses
aktivitas mental seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya
sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif
baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun psikomotor.
e. Winaputra, dkk (2007: 19) belajar adalah perubahan perilaku pada
individu sebagai buah dari pengalaman atau interaksi.
Berdasarkan definisi itu dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri. Pada
dasarnya belajar memiliki makna yang sangat spesifik.
Menurut Suyono (2011: 9), belajar adalah suatu aktivitas atau suatu
proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan,
memperbaiki perilaku, sikap dan memperkokoh kepribadian. Belajar
adalah suatu proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan
menetap relatif lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut
aspek kepribadian baik scara fisik ataupun psikis. Belajar menghasilkan
perubahan dalam diri setiap individu, dan perubahan tersebut mempunyai
nilai positif bagi dirinya.
Proses belajar merupakan sebuah langkah untuk memperoleh
pengetahuan. Berdasarkan uraian di atas belajar adalah sebagai suatu
usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk tujuan perubahan tingkah laku
melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Slameto (2003:76) pembelajaran matematika sangat
ditentukan oleh strategi dan pendekatan yang digunakan dalam mengajar
matematika itu sendiri. Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat
menggunakan strategi belajar yang tepat. Secara psikologis pengertian
pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku secara menyeluruh, sebagai hasil
dari interaksi individu itu dengan lingkungannya. Suyono & Hariyanto
(2014: 183) mengatakan bahwa pembelajaran identik dengan pengajaran,
suatu kegiatan dimana guru mengajar atau membimbing anak-anak
menuju proses pendewasaan diri
Perilaku Siswa
Menurut Alwi (2001: 859) perilaku merupakan tanggapan atau
reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan, sedangkan menurut
Notoatmodjo (2007: 133) perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme dalam hal ini perilaku makhluk hidup terutama manusia, pada
hakikatnya adalah suatu tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri.
Perilaku siswa adalah semua tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh
siswa didalam lingkungan sekolah (Razak dkk, 2019).
Dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas ada berbagai
faktor yang mempengaruhi, yakni faktor guru, faktor peserta didik, dan
faktor lingkungan/sarana. Yang masuk faktor guru adalah pertama, tipe
kepemimpinan guru: guru yang otoriter dan kurang demokratis dapat
menumbuhkan sikap agresif peserta didik. Kedua, format mengajar yang
monoton menimbulkan rasa bosan dan frustasi dari peserta didik. Ketiga,
kepribadian guru yang hangat, adil, objektif da leksibel menimbulkan
suasana emosional menyenangkan dalam proses belajar mengajar.
Keempat, pemahaman guru mengenai peserta didik dan latar belakangnya
sangat menolong dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas. Faktor
peserta didik juga berperan dalam pengelolaam perilaku siswa. Peserta
didik harus sadar bahwa jika mereka mengganggu temannya yang sedang
belajar berarti mereka tidak melakukan kewajiban sebagai anggota
masyarakat dan tidak menghormati hak peserta didik lain untuk
memperoleh manfaat maksimal dari proses belajar mengajar. Sementara
faktor keluarga mencakup sikap orang tua terhadap anaknya. Sikap otoriter
orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan
apatis. Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga seperti tidak
tertib, kurang disiplin dan kebebasan berlebih atau terlalu dikekang akan
menjadi penyebab anak didik melanggar disiplin kelas.
Perilaku adalah kegiatan atau aktivitas makhluk hidup terutama
manusia yang disebabkan karena adanya rangsangan yang berasal dari
internal maupun eksternal (Sari, 2013: 143). Siswa adalah sekelompok
orang dengan usia tertentu yang belajar baik secara kelompok atau
perorangan (Muhaimin dkk dalam Razak dkk, 2019: 97). Perilaku siswa
adalah segala aktivitas yang dilakukan siswa di dalam lingkungan sekolah
disebabkan oleh rangsangan internal maupun eksternal.
Skinner dalam Hergenhahn, B & Olson, H, (2008: 84–85)
menyatakan ada dua jenis perilaku yaitu respondent behavior (perilaku
responden) dan operant behavior (perilaku operan). Perilaku responden
ditimbulkan oleh stimulus yang dikenali atau bergantung dari stimulus
yang mendahuluinya, misalnya gerak refleks. Jenis perilaku yang kedua
adalah perilaku operan yaitu perilaku yang diakibatkan oleh stimulus yang
dikenal, biasanya lebih spontan. Misalnya dalam aktivitas seseorang
sehari-hari. Perilaku merupakan proses perubahan tingkah laku. Perilaku
datang dari sebuah pikiran sehingga memaksa tubuh untuk melaksanakan
aktivitas atau tindakan. Secara psikologi pikiran dan tubuh saling
berhubungan yang mempengaruhi kesehatan. Menurut Laura A. King
(2010: 33-34) hubungan antara pikiran dan tubuh (mind and body)
dibedakan menjadi dua yaitu bagaimana pikiran berdampak pada tubuh
dan bagaimana tubuh berdampak pada pikiran.
Pikiran berdampak pada tubuh, apa yang seseorang pikiran akan
berpengaruh pada tingkah laku seseorang tersebut, Perilaku kesehatan
yang berasal dari pikiran sehingga berdampak pada tubuh misalnya makan
dengan gizi seimbang, menggosok gigi, tidak merokok, tidak
mengkonsumsi NAPZA, akan berdampak pada tubuh seseorang. Pikiran
yang positif menyebabkan perilaku yang baik sehingga menjadikan tubuh
seseorang bugar. Tubuh berdampak pada pikiran. Hal yang saling
berlawanan tetapi memiliki hubungan yang sangat mempengaruhi. Tubuh
yang bugar tentu saja akan membuat pemikiran seseorang nyaman dan
jernih sehingga diharapkan seseorang berfikir positif. Gagasan bahwa
pikiran dan tubuh adalah dua hal terpisah yang mendorong kesadaran
manusia untuk berperilaku. Perubahan perilaku tersebut dapat dilakukan
melalui pendekatan behavioristik (behavioral approach).
Perilaku, apabila sudah menjadi kebiasaan memang kadang susah
untuk diubah, tetapi masih dapat diubah, meskipun membutuhkan waktu
yang lama. Menurut Wahid Iqbal M& Nurul Chayatin. (2009: 365)
perilaku seseorang dapat diubah dengan cara sebagai berikut: (1)
Cognitive dissonance, yaitu adanya suatu gangguan keseimbangan tentang
kemantapan pengertian yang sudah dimiliki oleh seseorang. Gangguan
keseimbangan ini dapat dilihat dari perbedaan pandangan antara sesuatu
yang lama dan penemuan yang baru misalnya penyebab suatu penyakit,
sehingga menyebabkan perubahan sikap dan perilakunya; (2) Perubahan
perilaku menurut Kelman dalam Wahid Iqbal M& Nurul Chayatin. (2009:
365) ada tiga cara yaitu; (a) terpaksa (compliance), perubahan perilaku
yang dikarenakan ada penyebab dan reward, misalnya seseorang
mengubah perilakunya karena akan mendapatkan imbalan, pengakuan dari
seseorang ataupun kelompok. perubahan perilaku karena terpaksa ini tidak
dapat bertahan lama, (b) Peniruan (Identification), individu mengubah
perilakunya karena ingin disamakan dengan seseorang yang dikaguminya.
Guru kadang dijadikan suatu model atau objek oleh siswa dalam
berperiaku sehari-hari, oleh karena itu guru harus menunjukkan sikap dan
perilaku yang baik agar siswa dapat berperilaku baik, (c). menghayati
manfaatnya (Internalization), perubahan perilaku yang mendasar sehingga
sulit untuk diubah karena sudah menjadi bagian dalam hidup seseorang.
Pemahaman tentang perilaku dan bahwa perilaku seseorang itu bisa diubah
sebaiknya dimiliki oleh setiap guru dan siswa itu sendiri, bahkan setiap
orang
Aspek-aspek efikasi diri,
Menurut Bandura (1997) dalam Ghufron
& Risnawita (2010: 80-81), efikasi diri pada diri tiap individu akan
berbeda antara satu individu dengan yang lainnya berdasarkan tiga
dimensi. Berikut ini adalah tiga dimensi tersebut.
a. Dimensi tingkat (level)
Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu
merasa mampu untuk melakukannyal. Apabila individu dihadapkan
pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitannya, maka
efikasi diri individu mugkin akan terbatas pada tugas-tugas yang
mudah, sedang, atau bahkan meliputi tugas-tugas yang sulit, sesuai
dengan batas kemampuan yang dirasakan untuk memenuhi tuntunan
perilaku yang dibutuhkan masing-masing tingkat. Dimensi ini memiliki
implikasi terhadap pemilihan tingkah laku yang akan dicoba atau
dihindari. Individu akan mencoba tingkah laku yang dirasa mampu
dilakukannya dan menghindari tingkah laku yang berada di luar batas
kemampuan yang dirasakannya.
b. Dimensi kekuatan (strength)
Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau
pengharapan individu mengenai kemampuannya. Pengharapan yang
lemah mudah digoyangkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak
mendukung. Meskipun mungkin ditemukan pengalaman yang kurang
menunjang. Dimensi ini biasanya berkaitan langsung dengan dimensi
level, yaitu makin tinggi taraf kesulitan tugas, makin lemah keyakinan
yang dirasakan untuk menyelesaikannya.
c. Dimensi generalisasi (generality)
Dimensi ini berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana
individu merasa yakin akan kemampuannya. Individu dapat merasakan
11
yakni terhadap kemampuan dirinya. Apakah sebatas pada sesuatu
aktivitas dan situasi tertentu atau pada serangkaian aktivitas dan situasi
yang bervariasi.
Efikasi diri
Efikasi diri menurut Alwisol dalam Cahyadi (2021: 5) adalah
pandangan atau persepsi pada diri tentang bagaimana diri dapat berfungsi
sesuai situasi yang sedang dihadapi. Efikasi diri secara umum tidak
berkaitan dengan keahlian yang dimiliki individu melainkan lebih kepada
psikologis atau keyakinan individu.
Efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri
atau self-knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Hal ini disebabkan efikasi diri yang dimiliki ikut
mempengaruhi individu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan
untuk mencapai suatu tujuan, termasuk didalamnya perkiraan berbagai
kejadian yang akan dihadapi (Ghufron & Risnawita, 2010: 73). Menurut
Widiyanti & Marheni (2013: 72) efikasi diri penting dimiliki oleh
kalangan remaja agar mampu terus menghadapi segala perubahan yang
terjadi. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki
kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan. Efikasi adalah
penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk,
tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang
dipersyaratkan. Efikasi tidak sama dengan aspirasi (cita-cita) karena
aspirasi menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai
sedangkan efikasi menggambarkan penilaian tentang kemampuan diri
(Widyaninggar, 2014: 92).
Baron dan Byrne (dalam Ariska dkk, 2020: 15) menyatakan dalam
ilmu psikologi, keyakinan dan kepercayaan individu terhadap kemampuan
dirinya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu
tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasikan tindakan untuk
menampilkan kecakapan tertentu disebut dengan efikasi diri. Menurut
Schunk (dalam Purnomo, dkk, 2018:182) efikasi diri merujuk kepada
keyakinan seseorang mengenai kemampuan dirinya untuk belajar atau
melakukan sesuatu. Astuti dan Pratama (2020:149) perasaan yakin akan
kemampuan dalam efikasi diri dapat menumbuhkan semangat untuk
belajar menjadi lebih baik. Efikasi diri berperan menentukan bagaimana
seseorang melakukan pendekatan terhadap berbagai saran, tugas dan
tantangan.
Bandura (dalam Ghufron & Risnawita, 2010:73) adalah tokoh yang
memperkenalkan istilah efikasi diri (self-effacy). Ia mendefinisikan bahwa
efikasi adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam
melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil
tertentu. Efikasi diri merupakan unsur kepribadian yang berkembang
melalui pengamatan-pengamatan individu terhadap akibat-akibat
tindakannya dalam situasi tertentu. Persepsi seseorang mengenai dirinya
dibentuk selama hidupnya melalui reward dan punishment dari orang-
orang di sekitarnya. Unsur penguat (reward dan punishment) lamakelamaan dihayati sehingga terbentuk pengertian dan keyakinan mengenai
kemampuan diri. Bandura (1997) dalam (Ghufron & Risnawita, 2010:77)
mengatakan bahwa persepsi terhadap efikasi diri pada setiap individu
berkembang dari pencapaian secara berangsur-angsur akan kemampuan
dan pengalaman tertentu secara terus-menerus. Pietsch, Walkeer, dan
Chapman (2003: 589–603) juga menemukan hasil yang sama, yaitu ada
hubungan antara efikasi diri matematika dengan prestasi matematika.
Menurut Bandura dalam Mahmudi dan Suroso (2014:187) karakter
individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi adalah ketika individu
tersebut yakin bahwa mereka mampu menangani sebuah situasi yang
mereka hadapi secara efektif, tekun dalam menyelesaikan tugas, percaya
diri, memandang kesulitan sebagai tantangan, berkomitmen kuat terhadap
dirinya, menanamkan usaha yang kuat dalam apa yang dilakukannya,
meningkatkan usaha saat menghadapi kegagalan, berfokus pada tugas dan
memikirkan strategi dalam menghadapinya, cepat memulihkan rasa
mampu setelah mengalami kegagalan , dan menghadapi ancaman dengan
keyakinan
Tahapan Program Psikoedukasi Bersahabat dengan Stroke
Merujuk pada tahapan atau sesi yang sudah dikembangkan
beberapa penelitian sebelumnya terkait dengan pasien pasca stroke
yang mengalami gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi
efikasi diri, maka dalam penelitian ini dilakukan psikoedukasi untuk
meningkatkan efikasi diri pada pasien pasca stroke yang dapat
membuat pasien puas dengan keadaannya, mencapai kebebasan
dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari, meningkatkan kualitas
hidup dan menurunkan depresi yang biasanya terjadi pasca stroke
sehingga dapat mempengaruhi motivasi dan berperilaku untuk
mencapai kesembuhan. Adapun sesi-sesi program psikoedukasi
bersahabat dengan stroke yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Sesi 1: video edukasi dan motivasi untuk meningkatkan efikasi
diri
Pada sesi ini responden melihat video yang berisi tentang apakah
stroke dapat disembuhkan, serta kiat-kiat meningkatkan motivasi
pasien pasca stroke. Video yang ditampilkan berdurasi 6 menit 57
detik untuk mempertahankan fokus pasien (Denny et al., 2017).
Sesi 1 dilakukan saat responden pulang dari rumah sakit dan pada
hari yang sama setelah responden mengisi pretest.
2) Sesi 2: video persuasi verbal dan cerita penyintas stroke
Pada sesi ini responden melihat video yang berisi tentang persuasi
verbal dan kata-kata motivasi untuk dapat meningkatkan efikasi
diri, selain itu salah satu penyintas stroke membagikan
pengalamannya saat terkena stroke hingga menjalani rehabilitasi.
Video yang ditampilkan berdurasi 7 menit 7 detik. Sesi 2
dilakukan 3 hari setelah sesi 1, peneliti memberikan video melalui
tautan YouTube yang dibagikan melalui WhatsApp. Tindak lanjut
psikoedukasi melalui telepon sangat berarti bagi responden dan
keluarga karena dapat menghemat biaya dan tenaga untuk pergi
ke rumah sakit.
3) Sesi 3: review video 1 dan 2
Sesi 3 dilakukan 3 hari setelah sesi 2, peneliti meminta
responden untuk melihat kembali video 1 dan 2. Satu minggu
setelah review video, dilakukan evaluasi dengan mengisi
kuesioner (posttest). Posttest menggunakan google formulir
melalui tautan yang dibagikan ke responden menggunakan
WhatsApp dengan dibantu keluarga.
Program atau Modul Psikoedukasi
Program psikoedukasi merupakan suatu rangkaian kegiatan
psikoedukasi untuk membantu kelompok klien sasaran/partisipan
mengembangkan satu atau serangkaian keterampilan hidup tertentu
(Supratiknya, 2011). Program psikoedukasi dapat dikembangkan
menggunakan modul psikoedukasi yang tersusun atas komponen:
1) Topik
Topik menjelaskan jenis keterampilan hidup yang hendak
diberikan dalam modul psikoedukasi dan biasanya digunakan
sebagai judul.
2) Tujuan
Tujuan menjelaskan secara spesifik jenis-jenis keterampilan
hidup yang akan menjadi tujuan modul serta hasil yang
diharapkan akan dicapai oleh peserta psikoedukasi pada akhir
kegiatan.
3) Waktu
Menjelaskan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan modul
dari kegiatan dari awal hingga evaluasi, biasanya dituliskan jam
atau menit
4) Tata ruang
Menjelaskan pengaturan isi ruangan, kondisi ruangan, peralatan
dan perlengkapan dalam pelaksanaan modul psikoedukasi.
5) Materi
Menjelaskan secara konseptual jenis-jenis keterampilan hidup
yang menjadi tujuan pada modul yang dapat disajikan melalui
handouts, booklet, rekaman pidato, video, atau media lain yang
disertai penjelasan lisan oleh fasilitator.
6) Prosedur
Menjelaskan langkah-langkah kegiatan psikoedukasi yang harus
dilakukan oleh peserta dan fasilitator untuk mencapai tujuan
yang diharapkan.
7) Media
Media dalam psikoedukasi dapat berupa:
a) Handouts atau booklet yang berisi materi yang disampaikan
b) Lembar kerja pribadi maupun kelompok
c) Slides-film, rekaman audio seperti pidato, musik, dan
sebagainya
d) Gambar, koran bekas, majalah bekas, dan lain-lain
e) Laptop, komputer, dan reviewer
38
f) Alat tulis
8) Evaluasi
Komponen ini terdiri dari dua macam evaluasi, yaitu evaluasi
hasil dan evaluasi kinerja. Evaluasi hasil
mempertanggungjawabkan hasil penyelenggaraan modul
psikoedukasi yang telah dilaksanakan, sedangkan evaluasi
kinerja mempertanggungjawabkan proses pelaksanaan modul
psikoedukasi yang telah dilaksanakan terkait kinerja fasilitator.
9) Sumber
Memuat berbagai sumber pustaka yang digunakan sebagai acuan
dalam penyusunan modul
Tujuan Psikoedukasi
Tujuan dari psikoedukasi adalah untuk meningkatkan
pengetahuan tentang penyakit anggota keluarga, mengurangi tingkat
kekambuhan, dan meningkatkan fungsi pasien dan keluarga (Stuart,
2009). Intervensi psikoedukasi diharapkan dapat meningkatkan
pencapaian pengetahuan individu tentang penyakit, mengajarkan
bagaimana teknik pengajaran dalam upaya membantu mereka
melindungi individu dengan mengetahui gejala-gejala perilaku dan
mendukung individu
Psikoedukasi. Pengertian
Psikoedukasi adalah pendidikan kesehatan pada pasien baik
yang mengalami penyakit fisik maupun gangguan jiwa yang
bertujuan untuk mengatasi masalah psikologis yang dialami pasien
(Suryani, 2016). Psikoedukasi dapat dilaksanakan secara individual
maupun kelompok/grup dan dapat diberikan dalam satu sesi atau
lebih.
Psikoedukasi dapat dilaksanakan di berbagai tempat pada
berbagai kelompok atau rumah tangga. Tindakan psikoedukasi
memiliki media berupa catatan seperti poster, booklet, leaflet, video,
dan beberapa eksplorasi yang diperlukan. Perawat dapat
membangun hubungan saling percaya agar dapat melakukan
pengkajian yang tepat dan memberikan pengertian terhadap
keluarga bagaimana psikoedukasi memberikan keuntungan pada
mereka, dapat mengatasi dan mencegah terjadinya gangguan
emosional dengan strategi koping yang efektif (Supratiknya, 2011).
Terapi psikoedukasi ini bisa dilakukan secara pasif berupa
pemberian informasi dengan leaflet atau melalui email atau website
dan juga dilakukan secara aktif berupa konseling atau pemberian
pendidikan kesehatan secara individu atau kelompok (Suryani,
2016).
Fase Rehabilitasi Stroke
Rehabilitasi pada pasien stroke bertujuan untuk
meminimalkan defisit neurologis beserta komplikasinya,
mendorong keluarga, dan memfasilitasi dan meningkatkan kualitas
hidup pasien stroke (Tan, 2017).
Secara umum rehabilitasi pasien stroke dibagi menjadi 3 fase
sebagai acuan penentuan tujuan dan jenis intervensi rehabilitasi
yang diberikan, yaitu (Wirawan, 2009):
1) Stroke fase akut (2 minggu pertama pasca serangan stroke)
Pada fase akut, biasanya keadaan hemodinamik pasien belum
stabil dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Pasien
stroke dapat dirawat di ruang rawat biasa ataupun unit stroke.
Pasien yang dirawat di unit stroke menghasilkan perawatan yang
lebih baik dibandingkan dengan pasien yang dirawat di ruang
rawat biasa. Pasien cenderung lebih mandiri dan mempunyai
kualitas hidup yang lebih baik. Rehabilitasi pada fase ini
dijalankan oleh tim yang biasanya latihan aktif dimulai sesudah
prosesnya stabil, 24-72 jam sesudah serangan, kecuali terjadi
perdarahan (Purwanti, 2008).
2) Stroke fase subakut (antara 2 minggu hingga 6 bulan pasca
serangan stroke)
Pada fase subakut, kecuali pasien yang memerlukan perawatan
rehabilitasi intensif, status hemodinamik pasien lebih stabil dan
diperbolehkan pulang. Pada fase ini pasien mulai menunjukkan
tanda-tanda depresi, fungsi bahasa mulai dapat terperinci.
Rehabilitasi pada fase ini dilakukan untuk mencegah hemiplegic
posture dengan mengatur posisi dan stimulasi sesuai kondisi
klien (Purwanti, 2008).
Pasa fase subakut pasien mulai mempelajari kembali aktivitas
perawatan diri dan berjalan. Rehabilitasi diperlukan untuk
memastikan gerakan pasien lebih terarah dan lebih efisien dalam
penggunaan energi. Rehabilitasi dilakukan dengan terapi latihan
yang terstruktur yang berkelanjutan dan berulang serta
mempertimbangkan kinesiologi dan biomekanik gerak. Tujuan
rehabilitasi pada fase ini yaitu untuk mencegah komplikasi
akibat tirah baring, mempersiapkan atau mempertahankan
kondisi yang memungkinkan pemulihan fungsional secara
optimal, mengembalikan kemandirian dalam aktivitas seharihari, serta mengembalikan kebugaran fisik dan mental.
3) Stroke fase kronis (lebih dari 6 bulan pasca serangan stroke)
Program latihan untuk fase stroke kronis hampir mirip dengan
fase subakut, yang berlangsung lebih dari 6 bulan pasca stroke.
Hasil dari rehabilitasi pada fase kronis tergantung pada tingkat
keparahan stroke. Hasilnya terdiri dari beberapa tingkatan
seperti mandiri penuh dan kembali ke tempat kerja seperti
sebelum sakit, mandiri penuh dan bekerja namun berganti
pekerjaan yang lebih ringan sesuai kondisi, mandiri penuh
namun tidak bekerja, aktivitas sehari-hari perlu bantuan minimal
dari orang lain, atau aktivitas sehari-hari sebagian besar atau
sepenuhnya dibantu orang lain.
Tujuan dari program latihan pada fase kronis ini adalah untuk
mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien,
mempertahankan kemampuan fungsional yang dicapai,
mengoptimalkan kualitas hidup pasien, dan mencegah
komplikasi. Pada saat fase ini, fokusnya adalah pada terapi
kelompok, keluarga pasien lebih banyak dilibatkan, pekerja
medik sosial, dan psikolog perlu lebih aktif (Purwanti, 2008)
Dampak Stroke
Beberapa dampak stroke yang terjadi pada pasien stroke,
antara lain:
1) Dampak fisik
Stroke dapat menyebabkan beberapa gangguan fisik seperti
kelumpuhan atau cacat (hemiplegia dan hemiparesis), gangguan
berkomunikasi, hilangnya indra perasa, gangguan tidur, nyeri,
kehilangan kemampuan dasar sebagai individu normal, kesulitan
mengunyah dan menelan makanan (disfagia), dan inkontinensia
(Lingga, 2013).
2) Dampak psikososial
Kondisi tidak berdaya oleh pasien akibat stroke dapat
menyebabkan perubahan mental pada pasien, sehingga
mengalami stres, depresi, mudah tersinggung, mudah marah,
dan sedih. Tidak jarang diantara mereka yang putus asa dan
kehilangan semangat hidup. Sebagian besar pasien pasca stroke
juga tidak dapat menerima kehidupan baru yang dialaminya.
Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak dapat mengatasi
persoalan yang dialaminya sendirian. Karena itu, perlu
dukungan orang lain agar perubahan emosi dan mental tersebut
tidak berkembang lebih buruk. Konseling yang dilakukan oleh
psikolog atau pemuka agama merupakan sebuah upaya yang jitu
dan terbukti efektif untuk membantu pasien mengatasi persoalan
kejiwaan yang berat (Lingga, 2013).
3) Dampak ekonomi
Stroke digolongkan ke dalam penyakit katastropik karena
mempunyai dampak luas secara ekonomi dan sosial (Kemenkes
RI, 2018). Stroke memerlukan biaya perawatan dan biaya
pengobatan yang tidak sedikit dan dapat mempengaruhi
stabilitas ekonomi keluarga dan dapat mempengaruhi stabilitas
emosi baik pasien maupun keluarga (Muttaqin, 2008
Terapi Stroke
National Institutes of Health (NIH) (2004) menyatakan bahwa
terapi yang dapat diberikan untuk rehabilitasi stroke yaitu:
1) Terapi fisik
Terapi yang diberikan untuk merawat klien dengan gangguan
motorik dan mengembalikan mobilitas klien pasca stroke
2) Terapi okupasi
Layanan kesehatan yang ditujukan pada klien yang mengalami
gangguan motorik atau mental yang dilakukan untuk
meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari dan melatih
kemandirian
3) Terapi wicara
Layanan kesehatan yang diberikan pada klien yang mengalami
gangguan bicara (afasia). Klien stroke kemungkinan mengalami
gangguan dalam komunikasi sehingga membutuhkan terapi
wicara untuk melatih dan meningkatkan kemampuannya dalam
berbicara/komunikasi
Manifestasi Klinis Stroke
Manifestasi klinis stroke beragam tergantung pada jenis stroke
(Ghofir, 2021):
1) Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis)
yang muncul secara mendadak
2) Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
(gangguan hemisensorik)
3) Perubahan mendadak pada status mental (konfusi, delirium,
letargi, stupor, atau koma)
4) Afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, atau kesulitan
memahami ucapan)
5) Disartria (bicara pelo atau cadel)
6) Gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau
diplopia
7) Vertigo, mual dan muntah, dan nyeri kepala
Klasifikasi Stroke
Klasifikasi stroke dibedakan menurut patologi dari serangan
stroke meliputi (LeMone et al., 2016):
- Stroke hemoragik
Stroke hemoragik merupakan perdarahan serebral dan mungkin
perdarahan subarakhnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah otak pada daerah otak tertentu dan pada umumnya
kesadaran klien menurun (Muttaqin, 2008). Terdapat dua jenis
stroke hemoragik yaitu hemoragi intraserebral dan hemoragi
subarakhnoid.
a) Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah dikarenakan hipertensi yang
mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
membentuk massa yang menekan jaringan otak dan
menimbulkan edema otak.
b) Perdarahan subarakhnoid
Perdarahan yang berasal dari pecahnya aneurisma berry atau
AVM. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subarakhnoid
menyebabkan TIK meningkat secara mendadak,
meregangnya struktur peka nyeri, dan vasopasme pembuluh
darah serebral yang berakibat disfungsi otak global yaitu
nyeri kepala, penurunan kesadaran maupun disfungsi otak
fokal yaitu hemiparesis, gangguan hemisensorik, afasia, dan
lainnya. - Stroke Nonhemoragik
Stroke yang berupa iskemia atau emboli dan trombosis serebral
yang biasanya terjadi saat setelah lama istirahat, baru bangun
tidur, atau di pagi hari. Stroke nonhemoragik ini tidak terjadi
perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia
dan edema sekunder
Faktor Risiko Stroke
Faktor risiko stroke diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu
faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Faktor
yang dapat dimodifikasi dapat diubah dengan prevensi (LeMone et
al., 2016). Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi terdiri dari
usia, jenis kelamin, ras, dan hereditas, sedangkan faktor yang dapat
dimodifikasi terdiri dari hipertensi, penyakit jantung, kolesterol
tinggi, obesitas, diabetes, merokok, penyalahgunaan zat dan alkohol
(Muttaqin, 2008). Faktor risiko lain meliputi stroke sebelumnya atau
serangan iskemia transien (TIA), dan faktor khusus untuk wanita
adalah kontrasepsi oral (khususnya disertai hipertensi, merokok, dan
kadar estrogen tinggi) (LeMone et al., 2016)
Etiologi Stroke
Menurut Muttaqin (2008) beberapa keadaan di bawah ini dapat
menyebabkan stroke:
1) Trombosis serebral
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
penyumbatan sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak
yang dapat menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya.
Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur
atau bangun tidur, dikarenakan penurunan aktivitas simpatis dan
penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemia
serebral. Trombosis serebral dapat disebabkan oleh
aterosklerosis, hiperkoagulasi dan arteritis.
2) Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak
oleh bekuan darah, lemak, dan udara.
3) Hemoragik
Perdarahan intrakranial atau intraserebral meliputi perdarahan di
dalam ruang subarakhnoid atau di dalam jaringan otak sendiri.
Perdarahan ini dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.
Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah
ke dalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,
pergeseran, dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan,
sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan
sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin herniasi otak.
4) Hipoksia umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum
adalah:
a) Hipertensi yang parah,
b) Henti jantung paru,
c) Curah jantung turun akibat aritmia.
5) Hipoksia lokal
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia lokal
adalah:
a) Spasme arteri serebri yang disertai perdarahan subarakhnoid
b) Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migren
Stroke Pengertian
Stroke atau cedera vaskular serebral adalah kondisi
kedaruratan ketika terjadi defisit neurologis akibat dari penurunan
tiba-tiba aliran darah ke area otak yang terlokalisasi (LeMone et al.,
2016). Defisit neurologis ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh
darah di otak dan/atau terjadinya trombosis dan emboli (Batticaca,
2008). Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul
mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan peredaran darah
otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Stroke
merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan kecacatan
berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir,
daya ingat, dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat
gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008)
Alat Ukur Efikasi Diri
Beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur efikasi diri, antara lain: 1) General Self-Efficacy Scale 24 General Self-Efficacy Scale merupakan instrumen pengukuran yang bersifat unidimensional, atau hanya mengukur satu faktor yaitu general self-efficacy. General Self-Efficacy Scale awalnya dikembangkan oleh Matthias Jerusalem dan Ralf Schwarzer pada tahun 1979 yang terdiri dari 20 item. General Self-Efficacy Scale telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa dan digunakan dalam penelitian di berbagai negara. Setiap item dalam instrumen memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “sangat tidak sesuai” hingga “sangat sesuai”. Rentang nilai instrumen ini yaitu 1 sampai 4, sehingga rentang jumlah skor antara 10 sampai 40, dengan skor semakin tinggi maka efikasi diri semakin tinggi pula. General Self-Efficacy Scale sudah diuji validitas dan reliabilitas dengan hasil yang sangat reliabel, stabil, dan valid (Novrianto et al., 2019). 2) Daily Living Self-Efficacy Scale Daily Living Self-Efficacy scale merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai efikasi diri penderita stroke dalam dua domain kehidupan sehari-hari yaitu aspek psikologis dan aktivitas sehari-hari terlepas dari sifat dan tingkat kecacatan fisik pasien. Kuesioner ini terdiri dari 12 item pertanyaan yang mencakup dua sub domain yaitu efikasi diri untuk fungsi psikososial dan efikasi diri untuk fungsi aktivitas sehari-hari (Maujean et al., 2014). 25 3) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) merupakan instrumen untuk menilai efikasi diri yang dirasakan oleh penderita stroke dalam fungsi tertentu misalnya perawatan diri, aktivitas dan mobilitas, dan tugas yang terkait dengan manajemen diri (Maujean et al., 2014). Kuesioner ini digunakan untuk mengukur efikasi diri individu dalam kinerja fungsional dan manajemen diri yang relevan dengan individu pasca stroke. Pengembangan kuesioner ini dilakukan selama tahun 2004 hingga 2006 dengan menjalani 3 kali studi. Kuesioner ini telah diujicobakan kepada 112 penderita stroke antara 2 sampai 24 minggu pasca stroke. The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) terdiri dari 13 item pertanyaan dengan hasil uji cronbach’s α 0,90 dan nilai uji validitas r = 0,803 dan p < 0,001 (Jones et al., 2008).
Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Proses Dalam Diri Manusia
Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020) terdapat empat
proses besar psikologis dalam proses efikasi diri dalam
mempengaruhi fungsi manusia:
1) Proses Kognitif
Dampak efikasi diri terhadap proses kognitif seseorang berbeda
antara satu dengan lainnya. Sebagian besar perilaku akan
berubah sesuai dengan pemikiran untuk mewujudkan tujuan.
Semakin kuat persepsi efikasi diri seseorang, semakin tinggi
tujuan-tujuan yang dibuat bagi dirinya dan lebih mengokohkan
komitmen mereka. Semua tindakan dimulai dalam pikiran.
Fungsi utama dari pemikiran adalah untuk memungkinkan
seseorang memprediksi kejadian dan menentukan langkah serta
mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang
mempengaruhi hidup mereka. Ketika seseorang dihadapkan
pada sebuah masalah yang sulit akan timbul keraguan diri
mengenai keberhasilan yang dapat dicapai dalam pemikirannya,
sehingga tujuan dan kualitas prestasi menurun.
2) Proses Motivasional
Efikasi diri berperan penting dalam regulasi motivasi diri.
Kebanyakan motivasi dihasilkan secara kognitif. Orang
memotivasi dirinya sendiri dan mengarahkan tindakan melalui
pemikiran sebelumnya. Efikasi diri mempengaruhi pola pikir
seseorang sehingga mereka membentuk keyakinan mengenai
apa yang dapat mereka lakukan. Mereka menetapkan tujuan bagi
dirinya sendiri dan merencanakan tindakan untuk merealisasikan
tujuan yang telah dibuat. Tujuan yang menantang akan
meningkatkan dan mempertahankan motivasi seseorang.
3) Proses Afektif
Efikasi diri seseorang mengenai kemampuannya untuk
menghadapi masalah mempengaruhi seberapa besar tingkat
motivasi, stres, dan depresi yang dialami dalam menghadapi
situasi yang sulit atau mengancam. Seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengatasi masalah yang ada akan
merubah pola pikirnya yang mengganggu sehingga mereka
menjadi lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan.
Setelah seseorang mengembangkan rasa tangguh yang dimiliki,
seseorang dapat menahan kesulitan yang datang. Sebaliknya
orang yang memiliki kepercayaan yang rendah terhadap
kemampuan dirinya akan merasa sangat cemas dan melihat
berbagai hal sebagai bahaya. Efikasi diri dapat mengatur emosi
seseorang melalui beberapa cara, yaitu seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengelola ancaman tidak akan mudah
tertekan oleh diri sendiri, sebaliknya jika efikasi diri rendah
seseorang cenderung memperbesar risiko, dan dapat mendorong
munculnya depresi (Manuntung, 2019).
4) Proses Seleksi
Efikasi diri seseorang dapat membentuk kehidupan dengan
mempengaruhi jenis aktivitas dan lingkungan yang akan dipilih.
Seseorang akan menghindari aktivitas dan situasi yang mereka
yakini berada diluar kemampuannya. Tetapi mereka akan
bersiap begitu menghadapi suatu masalah dan memilih situasi
yang kemungkinan dapat ditangani
Faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri
Menurut Bandura dalam Anwar (2009) tinggi atau rendahnya
efikasi diri seseorang sangatlah bervariasi. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi, diantaranya yaitu:
1) Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap efikasi diri.
Penelitian Bandura dalam Anwar (2009) menyatakan wanita
cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi daripada pria yang
bekerja, terutama wanita yang memiliki peran selain sebagai ibu
rumah tangga, juga sebagai wanita karir.
2) Budaya
Budaya mempengaruhi efikasi diri melalui nilai, kepercayaan,
dan proses pengaturan diri yang berfungsi sebagai sumber
penilaian efikasi diri.
3) Usia
Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri adalah usia
(Ismatika & Soleha, 2018). Individu yang lebih tua pada
umumnya lebih berpengalaman dalam mengatasi masalah yang
dihadapi dibanding individu yang lebih muda yang kurang
pengalaman menghadapi masalah dalam hidup. Hal ini berkaitan
dengan pengalaman individu yang dimiliki selama rentang
hidupnya.
4) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting untuk
seorang individu. Efikasi diri umumnya terbentuk dari proses
belajar seseorang melalui pendidikan formal. Individu dengan
tingkat pendidikan yang tinggi umumnya memiliki efikasi diri
yang tinggi pula karena banyak menerima proses pembelajaran
dan berbagai persoalan yang dihadapi ketika masa pendidikan.
5) Sifat dari tugas yang dihadapi
Tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh seseorang akan
mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadap kemampuan
dirinya sendiri. Semakin kompleks suatu tugas yang dihadapi
oleh individu maka akan semakin rendah individu tersebut
menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu dihadapkan
pada tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi
individu tersebut menilai kemampuannya.
6) Pengalaman
Efikasi diri dibentuk dari sebuah pengalaman atau proses
adaptasi dan pembelajaran yang telah dialami individu di
lingkungannya, tetapi hal ini bergantung pada bagaimana
individu tersebut menghadapi keberhasilan atau kegagalan
dalam menghadapi masalah.
21
7) Status atau peran individu dalam lingkungan
Individu yang memiliki status lebih tinggi akan memperoleh
tingkat kontrol yang lebih besar sehingga efikasi diri yang
dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki
status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil
sehingga efikasi diri yang dimiliki juga rendah.
8) Informasi tentang kemampuan diri
Individu akan memiliki efikasi diri tinggi, jika memperoleh
informasi positif mengenai dirinya, sementara individu akan
memiliki efikasi diri yang rendah jika memperoleh informasi
negatif mengenai dirinya
Sumber-Sumber Efikasi Diri
Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber informasi penting
(Lenz & Shortridge-Baggett, 2002):
1) Performance accomplishment: berlatih dan pengalaman
sebelumnya.
Berlatih adalah sumber efikasi diri yang paling penting karena
didasarkan pada pengalaman seseorang sendiri. Pengalaman
individu terkait keberhasilan akan meningkatkan efikasi diri,
sedangkan kegagalan dapat menurunkan efikasi diri, terutama
jika kegagalan terjadi di awal proses pembelajaran. Hal ini
membuktikan bahwa pengalaman individu mempunyai
pengaruh yang besar terhadap efikasi diri.
Seseorang yang berhasil menemukan solusi untuk permasalahan
yang dihadapi dan dapat menuntun bangkit dari keterpurukan
maka efikasi diri orang tersebut secara otomatis akan meningkat
dibandingkan sebelumnya. Menguasai sesuatu hal yang baru
relatif sederhana, yang diperlukan yaitu latihan dan
membiasakannya. Efikasi diri perlu dikembangkan dengan cara
mencoba menyelesaikan tugas yang sulit dan melewati kendalakendala yang ditemui.
2) Vicarious experience: pengamatan orang lain.
Efikasi diri juga bisa dibentuk dengan melihat orang lain yang
sukses yang dianggap memiliki suatu kemiripan dengan orang
yang mengamatinya. Orang lain dapat menjadi contoh atau role
model dan memberikan informasi tentang tingkat kesulitan dari
jenis perilaku tertentu. Orang-orang yang berperan sebagai
panutan, bagaimanapun harus menunjukkan kesamaan dengan
pengamat dalam karakteristik yang relevan dengan masalah
tersebut, artinya dengan mengamati orang lain yang dianggap
senasib atau mengalami hal yang sama, sang pengamat dapat
membentuk sugesti positif terhadap dirinya bahwa ia mampu
melakukan hal serupa seperti model yang diamatinya. Hal ini
sangat penting bagi mereka yang kurang mempunyai keyakinan
dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Mengamati orang lain adalah sumber efikasi diri yang lebih
lemah daripada pengalaman langsung, tetapi dapat berkontribusi
pada penilaian seseorang terhadap efikasi dirinya sendiri.
Seberapa besar dampak vicarious experience terhadap efikasi
diri seseorang bergantung pada seberapa mirip seseorang dengan
model dalam pemikiran seseorang (Kristiyani, 2020). Semakin
mirip seorang model dimata seseorang dengan dirinya maka
akan semakin besar pengaruh pengalaman sukses atau
pengalaman gagal model terhadap efikasi diri seseorang.
3) Verbal Persuation: Persuasi verbal
Persuasi verbal merupakan sumber efikasi diri yang paling
sering digunakan karena mudah digunakan. Profesional
kesehatan dapat memberikan instruksi, saran dan nasihat,
mencoba meyakinkan orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
mengerjakan tugas yang sulit, yang paling penting adalah
kredibilitas, keahlian, kepercayaan, dan prestise orang yang
melakukan persuasi. Persuasi verbal untuk meyakinkan orang
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan suatu
perilaku lebih lemah daripada dua sumber sebelumnya karena
mereka tidak memperhatikan pengalaman atau contoh mereka
sendiri. Namun, persuasi verbal bisa menjadi pendukung yang
baik untuk sumber efikasi diri yang lain. Jika seseorang yakin
dengan kemampuan mereka, mereka akan lebih cenderung untuk
bertahan dan tidak akan mudah menyerah.
4) Physiological information: evaluasi diri dari keadaan fisiologis
dan emosional.
Informasi tentang tubuh manusia juga dapat mempengaruhi
penilaian seseorang terhadap kemampuan untuk menunjukkan
perilaku tertentu. Dalam menilai kapasitas mereka sendiri, orang
menggunakan informasi tentang keadaan fisiologis dan
emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi
ditafsirkan sebagai tanda defisiensi personal yang dapat
berdampak negatif terhadap efikasi diri seseorang. Apa yang
orang percaya tentang penyakit mereka dan bagaimana mereka
menafsirkan gejala mereka mempengaruhi efikasi diri mereka
untuk menghadapi penyakit.
Konsep Efikasi Diri
Efikasi diri adalah keyakinan individu untuk mengelola
perilaku-perilaku tertentu untuk mencapai kesembuhan (Makhfudli
et al., 2020). Efikasi diri merupakan suatu proses kognitif terkait
kenyamanan individu dalam melakukan suatu hal yang dapat
mempengaruhi motivasi, proses berpikir, kondisi emosional serta
lingkungan sosial yang menunjukkan suatu kebiasaan yang spesifik
(Hasanah, 2018).
Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020), efikasi diri
menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri
sendiri, dan berperilaku. Efikasi diri merupakan dasar dari motivasi,
kesejahteraan, serta berprestasi. Hal ini disebabkan karena jika
seseorang tidak percaya bahwa tindakan mereka dapat
menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, mereka
mendapat sedikit dorongan untuk bertahan ketika dihadapkan
kesulitan. Sebaliknya, jika mereka yakin bahwa mereka dapat
mencapai sesuatu, maka mereka menjadi lebih bersemangat dalam
mencapai sesuatu tersebut Pada umumnya orang dengan efikasi diri
yang baik akan lebih cepat bangkit dari kegagalan atau kemunduran
yang dialami serta memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat
mencapai sesuatu.
Cara Mengukur Perilaku Pencegahan Diare
Subjek memberi respon dengan lima kategori ketentuan untuk sub variable sikap, yaitu: sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Sub variable pengetahuan dan tindakan, subyek memberi respon dengan dua kategori yaitu : ya dan tidak. Pernyataan positif untuk jawaban sangat setuju (skor 5), setuju (skor 4), tidak tahu (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1), atau ya (skor 1) dan tidak (skor 0). Untuk pernyataan negative untuk jawaban sangat setuju (skor 1), setuju (skor 2), tidak tahu (skor 3), tidak setuju (skor 4), sangat tidak setuju (skor 5) atau ya (skor 0), tidak (skor 1), ((Nursalam, 2017). Menurut (Arikunto,2010) pengukuran perilaku dapat diinterprestasikan baik (76-100%), cukup (56-75%), dan kurang (<56%)
Perilaku pencegahan diare
Perilaku pencegahan penyakit diare pada balita sangat penting dilakukan oleh
keluarga kususnya ibu, pencegahan kejadian diare tidak terlepas dari orang tua
yang harus mengetahui cara-cara pencegahannya, tindakan untuk mencegah
penyakit termasuk kedalam perilaku kesehatan. Upaya pencegahan merupakan
komponen strategis pemberantasan diare pada anak terdiri dari pencegahan
melalui imunisasi dan non-imunisasi. Pencegahan non-imunisasi merupakan
pencegahan nonspesifik misalnya mengatasi berbagai faktor-risiko seperti polusi
udara dalam-ruang, merokok, kebiasaan perilaku tidak sehat/bersih, perbaikan gizi
dan dan lain-lain
Faktor yang mempengaruhi perilaku
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu (Notoatmodjo, 2007):
a. Faktor internal, yaitu faktor dari dalam yang berhubungan dengan
karakteristik orang yang bersangkutan, seperti tingkat kecerdasan, tingkat
emosional, keyakinan, jenis kelamin, dan sebagainya
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang memepengaruhi dari luar seperti
lingkungan, sosial budaya, politik, ekonomi, agama, pendidikan, dan
sebagainya
Domain perilaku
Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam buku (Notoatmodjo, 2011b)
menyebutkan perilaku manusia dibagi dalam tiga ranah atau kawasan, yaitu
kognitif, afektif, psikomotor yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Pengetahuan (kognititf)
Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh seseorang tentang sesuatu hal
yang terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu onyek. Pengetahuan
atau kognitif merupakan domain yang penting untuk membentuk perilaku
seseorang. Wawasan dan pemikiran yang luas di bidang kesehatan akan
mempengaruhi perilaku individu dalam menyikapi suatu masalah. Menurut
pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan
yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
1) Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang sudah dipelajari.
2) Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secera
benar tentang obyek yang diketahui.
3) Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sesungguhnya.
4) Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi ke dalam
komponen-konponen tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis, menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi, berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
b. Sikap
Menurut sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus tertentu
yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap juga
mempunyai tingkat berdasarkan intensitasnya, yaitu (Notoatmodjo, 2011b) :
1) Menerima (receiving), diartikan bahwa orang tersebut mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
2) Merespon (responding), yaitu memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
dari sikap.
3) Menghargai (valving), yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible), yaitu bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang
paling tinggi.
c. Praktik atau tindakan
Menurut praktik adalah melaksanakan atau mempraktikkan apa yang
diketahui dan disikapi oleh seseorangdan dibedakan menjadi empat tingkatan
yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
1) Persepsi, yaitu mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil
2) Respons terpimpin, yaitu tindakan yang dilakukan seseorang yang masih
menggunakan panduan atau tergantung pada tuntunan.
3) Mekanisme, yaitu kegiatan atau tindakan yang telah dilakukan secara
otomatis, besar, dan tepat dan akan dilakukan kembali tanpa harus diperintah
atau ditunggui (kebiasaan)
4) Adopsi, yitu suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya, yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja,
tetapi sudah dilakukan modifikasi menuju tindakan yang lebih berkualitas.
Bentuk-bentuk perilaku
Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka bentuk perilaku
dibedakan menjadi dua yaitu (Notoatmodjo, 2011b):
a. Bentuk pasif
Bentuk pasif yaitu respon yang terjadi dalam diri sesrorang dan tidak secara
langsung dapat dilihat oleh orang lain seperti berfikir, sikap, dan pengetahuan.
Bentuk perilaku pasif ini juga disebut sebagai perilaku tertutup (covert behavior),
karena perilaku ini masih terselubung atau tertutup
b. Bentuk aktif
Bentuk aktif yaitu apabila respon seseorang jelasa dapat diobservasi secara
langsung oleh orang lain seperti tindakan nyata. Bentuk perilaku aktif ini juga
disebut sebagai perilaku terbuka (open behavior), karena perilaku ini sudah
tampak dalam bentuk tindakan nyata.
Konsep Perilaku Pencegahan Diare
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia hakekatnya adalah suatu aktivitas
manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia mempunyai bentangan yang
sangat luas, mencakup; berjalan, berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan
lain sebagainya. Perilaku dapat dikatakan apa yang dikerjakan secara langsung
atau secara tidak langsung .Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang
(organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Perilaku pencegahan penyakit
adalah respon untuk melakukan pencegahan penyakit (Notoatmodjo, 2011a)
Pengukuran Efikasi Diri
Alat ukur yang digunakan dalam mengukur efikasi diri adalah kuisioner
keyakinan diri untuk mengukur keyakinan diri yang terdiri dari 30 peranytaan
yang diberikan kepada responden. Kuesioner perilaku keyakinan diri berisi
pernyataan untuk mengidentifikasi keyakinan diri pada ibu balita yang terdiri
dari 3 sub variabel yaitu magnitude, generality dan strenght.Kuesioner
keyakinan diri terdiri dari 30 pertanyaan yaitu 10 pernyataan mengenai
magnitude, 10 pernyataan mengenai generality, dan 10 pernyataan mengenai
strenght dengan menggunakan skala likert, item-item disusun berupa
pernyataan positif dan negatif. Penyataan positif untuk jawaban sangat yakin
(skor 5), yakin (skor 4), ragu-ragu (skor 3), tidak yakin (skor 2), sangat tidak
yakin (skor 1). Sedangkan untuk pernyataan negatif, jawaban sangat yakin
(skor 1), yakin (skor 2), ragu-ragu (skor 3), tidak yakin (skor 4), sangat tidak
yakin (skor 5),(Nursalam, 2017)
Cara meningkatkan efikasi diri
Untuk meningkatkan efikasi diri dibagi menjadi empat aspek penting yaitu
(Bandura, 1997) :
a. Kepercayaan diri, keyakinan individu bahwa dapat melaksanakan tugas
dengan baik akan menentukan prilaku atau tindakan yang benar-benar akan
dilakukan individu tersebut (seberapa besar usaha yang akan dilakukan akan
menentukan pencapain tujuan akhir).
b. Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah atau tantangan
(efikasi diri juga terkait dengan kemampuan individu dalam mengatasi
masalah atau tantangan yang muncul).
c. Keyakinan mencapai target yang ditetapkan (seseorang yang mempunyai
efikasi diri yang tinggi akan menetapkan target yang tinggi dan selalu
konsekuen terhadap target tersebut, individu akan berupaya menetapkan
target yang lebih tinggi bila target sesungguhnya telah mampu dicapai dan
begitu pula sebaliknya)
d. Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan motivasi, kemampuan
kognitif dan melakukan yang diperlukan untuk mencapai hasil
Pengaruh efikasi diri pada tingkah laku
Menurut Bandura (1997) efikasi diri akan mempengaruhi individu
merasakan, berpikir, motivasi diri sendiri, dan bertingkah laku. Efikasi diri atau
kapabilitas yang dimiliki individu akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam
beberapa hal seperti :
a. Tindakan individu efikasi diri menentukan kesiapan individu
dalammerencanakan apa yang harus dilakukannya. Individu dengan
keyakinan diri tinggi tidak mengalami keragu-raguan dan mengetahui apa
yang harus dilakukannya.
b. Usaha, efikasi diri mencerminkan seberapa besar upaya yang dikeluarkan
individu untuk mencapai tujuannya. Individu dengan keyakinan terhadap
kemampuan diri tinggi akan berusaha maksimal untuk mengetahui cara
belajar serta kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Individu dengan
keyakinannya terhadap kemampuan diri tinggi akan berusaha mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
c. Daya tahan individu dalam menghadapi hambatan atau rintangan dan
kegagalan, individu dengan efikasi diri tinggi mempunyai daya tahan yang
kuat dalam menghadapi rintangan atau kegagalan, serta dengan mudah
mengembalikan rasa percaya diri setelah mengalami kegagalan. Individu juga
beranggapan bahwa kegagalan dalam mencapai tujuan adalah akibat dari
kurangnya pengetahuan, bukan karena kurangnya keahlian yang dimilikinya.
Hal ini membuat individu berkomitmen terhadap tujuan yang dicapainya.
Individu akan menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses, dan tidak
menghentikan usahanya.
d. Ketahanan individu terhadap keadaan tidak nyaman, dalam situasi tidak
nyaman. Individu dengan efikasi diri tinggi menganggap sebagai suatu
tantangan, bukan merupakan sesuatu yang harus dihindari. Ketika individu
mengalami keadaan tidak nyaman dalam usaha untuk mencapai tujuan yang
diminati, iaakan tetap berusaha bertahan dengan mengabaikan
ketidaknyamanan tersebut dan berkonsentrasi penuh.
e. Pola pikir, situasi tertentu akan mempengaruhi pola pikir individu. Individu
dengan efikasi diri tinggi, pola pikirnya akan tidak mudah terpengaruh oleh
situasi lingkungan dan tetap memiliki cara pandang yang luas memungkinkan
individu untuk memiliki alternative pilihan kegiatan belajar yang banyak dari
bidang yang diminati.
f. Stres dan depresi, bagi individu yang memiliki efikasi diri rendah, kecemasan
yang dibangkitkan oleh stimulus tertentu akan membuatnya mudah merasa
tertekan.
g. Tingkat pencapaian yang akan terealisasikan. Individu dengan efikasi diri
tinggi dapat membuat tujuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
mampu menentukan bidang pendidikan sesuai dengan minat dan
kemampuannya
Dimensi efikasi diri
Menurut Bandura (1997) efikasi diri terdiri dari 3 dimensi, yaitu :
a. Magnitude
Dimensi magnitude berfokus pada tingkat kesulitan yang setiap orang tidak
akan sama. Seseorang bisa mengalami tingkat kesulitan yang tinggi terkait dengan
usaha yang dilakukan, sedikit agak berat atau ada juga yang melakukan usaha
terkait dengan sangat mudah dan sederhana. Semakin tinggi keyakinan efikasi diri
yang dimiliki maka akan mudah usaha terkait yang dapat dilakukan.
b. Generality
Generalitas berkaitan dengan seberapa luas cakupan tingkah laku yang
diyakini mampu dilakukan. Berbagai pengalaman pribadi dibandingkan
pengalaman orang lain, pada umumnya akan lebih mampu meningkatkan efikasi
diri seseorang.
c. Strength
Dimensi ini berfokus pada kekuatan atau keyakinan dalam melakukan sebuah
usaha. Harapan yang lemah bisa disebabkan oleh pengalaman yang buruk, tetapi
bila seseorang mempunyai harapan yang kuat mereka akan tetap berusaha
walaupun mengalami sebuah kegagalan
Proses pembentukan efikasi diri
Menurut proses pembentukan efikasi diri dibagi menjadi empat proses yaitu
(Bandura, 1997):
a. Proses kognitif
Proses kognitif merupakan proses berpikir yang didalamnya termasuk
pemerolehan, pengorganisasian dan penggunaan informasi. Kebanyakan tindakan
manusia bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang
memiliki efikasi diri yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.
Sebaliknya individu yang efikasi dirinya rendah lebih banyak membayangkan
kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan.
b. Proses motivasi
Kebanyakan motivasi manusia dibangkitkan melalui kognitif. Individu
memberi motivasi/dorongan bagi diri mereka sendiri dan mengarahkan tindakan
melalui tahap pemikiran sebelumnya. Kepercayaan akan kemampuan diri dapat
mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yaitu menentukan tujuan yang telah
ditentukan individu, seberapa besar usaha yang dilakukan, seberapa tahan mereka
dalam menghadapi kesulitan dan ketahanan mereka dalam menghadapi kegagalan.
c. Proses afektif
Proses afektif merupakan proses pengaturan kondisi emosi dan reaksi
emosional, keyakinan individu akan koping mereka turut mempengaruhi level
stress dan depresi seseorang saat mereka menghadapi situasi yang sulit. Persepsi
efikasi diri tentang kemampuannya mengontrol sumber stress memiliki peranan
penting dalam kecemasan. Individu yang percaya akan kemampuannya untuk
16
mengontrol situasi cenderung tidak memikirkan hal-hal yang negative. Individu
yang merasa tidak mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level
kecemasan yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang
lingkungan sekitar penuh ancaman, membesar-besarkan masalah kecil, dan terlalu
cemas pada hal-hal yang sebenarnya jarang terjadi.
d. Proses seleksi
Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi tertentu, turut
mempengaruhi efek dari suatu kejadian individu cenderung menghindari aktivitas
dan situasi yang diukur batas kemampuan mereka. Bila individu merasa yakin
bahwa mereka mampu menangani suatu situasi, maka mereka cenderung tidak
menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat, individu
kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat dan hubungan social mereka
Klasifikasi efikasi diri
Efikasi diri menjadi dua yaitu efikasi diri tinggi dan rendah. Ada beberapa
perbedaan pola prilaku antara seseorang yang mempunyai efikasi diri tinggi dan
rendah, yang dapat dilihat pada gambar berikut (Robert Kreitner dan Angilo,
1989):
Gambar 1 Klasifikasi efikasi diri menurut Robert Kreitner dan Angilo
Dari diagram diatas dijelaskan perbedaan pola perilaku (behavioral
pattern) antara seseorang yang mempunyai efikasi diri tinggi
dengan seseorang yang mempunyai efikasi diri rendah sebagi
berikut :
a. Efikasi diri tinggi :
1) Aktif memilih peluang terbaik
2) Mampu mengelola situasi, menghindari atau menetralisir hambatan
3) Menetapkan tujuan, menetapkan standard
4) Membuat rencana, persiapan dan praktek
5) Bekerja keras
6) Kreatif dalam memecahkan masalah
7) Belajar dari pelajaran
8) Memvisualisasikan keberhasilan
9) Membatasi stress
b. Efikasi diri rendah
1) Pasif
2) Menghindari tugas yang sulit
3) Aspirasi lemah dan komitmen rendah
4) Fokus pada kekurangan pribadi
5) Tidak melukan upaya apapun
6) Berkecil hati karena kegagalan
7) Mengaanggap kegagagalan adalah karena kurangnya kemampuan atau nasib
buruk
8) Mudah khawatir, stress dan menjadi depresi
9) Memikirkan alasan untuk gagal
Sumber-sumber efikasi diri
Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber yang penting, yaitu : pengalaman
pribadi/pencapaian prestasi , pengalaman orang lain, persuasi verbal , dan kondisi
fisik dan emosional (Bandura, 1997) :
a. Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experiences)
Hal ini merupakan sumber yang paling penting dari efikasi diri karena
didasarkan pada pengalaman orang itu sendiri. Pengalaman keberhasilan dapat
meningkatkan efikasi diri sedangkan kegagalan dapat menurunkannya. Setelah
seseorang memiliki efikasi diri yang tinggi, dia cenderung menggeneralisasi
pengalaman. Beberapa kesulitan dan kegagalan diperlukan untuk membentuk
individu yang kuat dan menyadarkan manusia bahwa kesuksesan membutuhkan
suatu usaha, seseorang yang memiliki keyakinan akan sukses mendorongnya
untuk bangkit dan berusaha untuk mewujudkan kesuksesan tersebut.
b. Pengalaman orang lain (vicarious experience)
Seseorang dapat belajar dari pengalaman orang lain dan meniru prilakunya
untuk mendapatkan seperti apa yang didapatkan oleh orang lain tersebut. Efikasi
diri meningkat saat kita mengobservasi pencapaian orang lain yang mempunyai
kompetensi setara, namun akan menurun saat melihat rekan sebaya gagal.
c. Persuasi verbal (verbal persuasion)
Persuasi social memberikan petunjuk, saran dan nasehat, tenaga kesehatan
mencoba untuk meyakinkan orang-orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
tugas yang sulit. Upaya verbal untuk meyakinkan orang bahwa mereka memiliki
kemampuan untuk berprilaku. Jika orang yakin akan kemampuan mereka, mereka
akan lebih cenderung untuk bertahan dan tidak akan menyerah dengan mudah.
12
Meningkatkan efikasi diri melalui persuasi social, dapat menjadi efektif hanya
bila kegiatan yang ingin di dukung untuk dicoba berada dalam jangkauan prilaku
seseorang.
d. Kondisi fisik dan emosional (physiological and emosional state)
Dalam menilai kepastian mereka sendiri orang yang menggunakan informasi
tentangfisik dan emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi sebagai
hambatan fisik, kondisi emosional juga mempengaruhi seseorang dalam
mengambil keputusan terkait efikasi diri. Psikoterapis telah lama mengetahui
bahwa penurunan kecemasan atau peningkatan rileksasi fisik dapat meningkatkan
peforma. Informasi rangsangan berhubungan dengan beberapa variable. Variabel
pertama adalah tingkat rangsangan, biasanya semakin tinggi rangsangan semakin
rendah efikasi diri. Variabel yang kedua adalah realisme yang dipersepsikan dari
rangsangan tersebut. Apabila seseorang mengetahui bahwa rasa takut yang ia
rasakan bersifat realistis maka efikasi diri akan meningkat.
Pengertian keyakinan diri / efikasi diri
Bandura (1997, dalam Ghufron & Risnawati, 2014) mengatakan bahwa
efikasi diri pada dasarnya adalah hasil proses kognitif berupa keputusan ,
keyakinan atau penghargaan tentang sejauh mana individu memperkirakan
kemampuan dirinya dalam melaksanakan tindakan tertentu yang diperlukan untuk
mencapi hasil yang diinginkan. Efikasi diri adalah evaluasi seseorang terhadap
kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan
atau mengatasi hambatan,. Jeanne Ellis (2008) menyatakan bahwa efikasi diri
adalah keyakinan bahwa seseorang mampu menjalankan perilaku tertentu atau
mencapai tujuan tertentu. Menurut Baron dan Byrne (2003) efikasi diri adalah
keyakinan seseorang akan kemampuan atau kompetensinya atas kinerja tugas
yang diberikan, mencapai tujuan atau mengatasi sebuah hambatan. Pender (1996
dalam Tomey & Alligod,2006) menegaskan bahwa efikasi diri mengacu pada
keyakinan seseorang akan kemampuan diri dalam mengatur dan melakukan
tindakan yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan
yang diinginkan.
Persepsi efikasi diri didefinisikan sebagai “penilaian orang tentang keyakinan
atas kemampuan mereka untuk mengatur dan melaksanakan program tindakan
yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Itu berkaitan bukan tentang keterampilan
seseorang tetapi dengan penilaian tentang apa yang bisa dilakukan dengan
keterampilan apapun yang dimiliki (Bandura 1997 dalam Shortridge-Bagget &
Lens,2002). Efikasi diri berhubungan situasi yang spesifik, yang tidak berlaku
untuk konsep-konsep terkait seperti harga diri, kepercayaan diri dan locus of
control (Maibach & Murphy,1995 dalam Shortridge-Bagget & Lens,2002).
Dengan kata lain, untuk setiap individu berhak menentukan , apakah dia harus
percaya diri atau tidak.
Efikasi diri berkombinasi dengan lingkungan, perilaku sebelumnya dan
variable-variabel persoalan lain, terutama harapan terhadap hasil untuk
menghasilkan perilaku. Efikasi diri akan mempengaruhi beberapa aspek dari
kognisi dan perilaku seseorang. Efikasi diri dapat membawa perilaku yang
berbeda diantara individu dengan kemampuan yang sama karena efikasi diri
memengaruhi pilihan, tujuan, pengatasan masalah dan kegigihan dalam berusaha
(Erez dan Judge,2001). Efikasi diri adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan
tindakan baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai
dengan yang dipersyaratkan (Alwisol, 2009). Dengan bahasa yang berbeda
mengemukakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri)
terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan
mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan (Juntika dan Syamsu, 2008).
Jadi, dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa efikasi diri
adalah keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dia mampu melakukan sesuatu
untuk mencapai tujuan dan mengatasi hambatan
Indikator Teknikal
Indikator teknikal merupakan suatu alat pasar yang digunakan dalam
membantu memberikan indentifikasi arah pergerakan seperti tren, momen, dan pola
pada harga pasar untuk mengambil keputusan dalam membeli atau menjual saham.
Indikator teknikal merupakan serangkaian rumus matematis yang menghasilkan
nilai-nilai dalam membantu mengidentifikasi pergerakan harga saham. Menurut
Purnomo (2018), indikator teknikal merupakan sebuah metode analisis yang
dihasilkan dari perhitungan suatu formula dari data-data sebelumnya dalam
memprediksi pergerakan harga selanjutnya.
Ong (2012) menyatakan indikator teknikal secara garis besar
dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu:
- Lagging indicators, merupakan indikator yang terlambat dalam
memberikan sinyal beli dan sinyal jual dengan maksud indikator
lagging berada di belakang pergerakan harga. Contoh dari
beberapa indikator ini berupa Moving Average, Moving Average
Convergence Divergence dan Bollinger Bands. - Leading indicator, merupakan indikator yang mendahului
pergerakan dari harga saham. Indikator akan memberikan sinyal
beli dan sinyal jual lebih awal dari pergerakan harga saham.
Indikator ini memberikan fungsi untuk membaca momentum
suatu pasar yang sedang mengalami keadaan oversold atau
overbought. Contoh dari beberapa indikator ini berupa Stochastic
Oscillator, Relative Strength Index, dan Average Directional
Index.
The Dow Theory
Teori analisis teknikal ini sering digunakan dalam memprediksi
pergerakan tren harga yang terjadi dalam pasar saham. Teori diciptakan oleh
Charles H. Dow untuk memahami pergerakan harga saham. Menurut Kodrat &
Indonanjaya, teori Dow memiliki beberapa asumsi yang digunakan berupa:
- Pasar saham terdapat tiga tren
Terdapat tiga tren dalam memberikan peranan penting dalam
pasar berupa:
a. Tren primer merupakan kondisi pasar saat membentuk tren
bullish maupun bearish. Pasar yang membentuk harga tertinggi
baru serta pembentukan harga terendah yang lebih tinggi akan
membuat tren primer mengalami kenaikan. Tren primer akan
mengalami penurunan, ketika pasar membuat harga tinggi yang
lebih rendah secara berurutan dan harga terendah yang
mengalami penurunan lebih dalam.
b. Tren sekunder merupakan kondisi dari reaksi korektif rata-rata
dari tren primer yang berlangsung dalam beberapa periode.
c. Tren minor merupakan gerakan jangka pendek yang berlangsung
dalam periode yang lebih pendek atau biasanya kurang dari
sebulan. Perubahan harga saham dalam jangka pendek tersebut
dipengaruhi banyaknya manipulasi yang membuat tren ini tidak
terlalu dianggap. - Tren primer memiliki beberapa fase
Fase pertama dibentuk dari pembelian yang dilakukan secara
agresif oleh investor, dalam menanggapi dari pemulihan ekonomi dengan
menghitung pertumbuhan dalam jangka panjang. Dalam fase ini,
memberikan tanggapan terhadap pembalikan yang tidak dapat dihindari
dari penjualan. Fase kedua saat kinerja perusahaan mengalami
peningkatan dengan diikuti situasi ekonomi yang baik akan membuat
saham diakumulasi oleh para investor kembali. Pada fase terakhir, kinerja
perusahaan akan mencapai puncaknya dan para investor semakin banyak
yang melakukan pembelian saham tersebut. Para investor yang telah
membeli di tahap pertama akan melakukan penjualan saham yang dimiliki
untuk meraih keuntungan dan mengantisipasi penurunan harga kembali. - Indeks dapat menjelaskan satu sama lain
Indeks yang beranekaragam dapat menjelaskan satu sama lain
dalam memastikan perubahan tren yang terjadi. Perubahan tren dapat
dikonfirmasi ketika beberapa indeks dapat menjangkau tren sekunder
untuk menjelaskan perubahan tersebut. - Harga saham merupakan harga yang paling efisien
Harga saham dapat menjelaskan segala sesuatu yang dapat
diketahui dari saham yang ada. Informasi yang baru muncul, memberikan
reaksi yang cepat dalam menyebarkan informasi sehingga memberikan
efek berupa penyesuaian harga. - Tren akan terus bergerak hingga muncul tanda pembalikan yang
muncul
Tren kenaikan diperlihatkan dari adanya rangkaian harga
tertinggi dan terendah yang lebih tinggi. Tren naik dijelaskan akan
mengalami perubahan arah ketika terdapat setidaknya satu harga yang
lebih rendah dan satu harga terendah yang lebih bawah/ rendah. - Volume dapat menjelaskan tren
Teori ini menjelaskan mengenai adanya aksi perubahan harga.
Volume dapat digunakan dalam menjelaskan kondisi yang tidak menentu.
Volume akan mengalami peningkatan ketika terjadi pada arah tren primer.
Volume turun selama pasar turun diikuti dengan tren primer yang turun
dan sebaliknya, jika tren primer naik maka volume akan meningkat selama
pasar naik.
Definisi Digital Marketing
Pemasaran digital (digital marketing) adalah kegiatan pemasaran
termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web
seperti blog, website, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial Sanjaya dan
Taigan, (2012:56).
Menurut Nasdini (2012:28) Pemasaran digital dan media sosial
mencangkup penggunaan alat pemasar digital seperti situs web, media
sosial, mobile ada dan aplikasi, video seluler dan online, e-mial, blog, dan
platform digital lainnya. Komputer, Tablet, Televisi dan perangkat digital
lainnya menjangkau konsumen dimana saja dan kapan saja.
Digital marketing merupakan teknologi dalam memasarkan produk
serta layanan yang harus menggunakan media digital. Adapun media yang
digunakan untuk digital marketing yaitu website, social media, e-mail
marketing, periklanan, dan search engine optimization (SEO). (Rachmadi,
2020)
Pemasaran digital dan media sosial melibatkan penggunaan alat
pemasara digital seperti situs web, media sosial, mobile ada dan aplikasi,
video online, emial, blog, dan platform digital lainnya untuk menjangkau
konsumen di mana saja, dan kapan saja melalui komputer, smartphone,
tablet, TV, dan perangkat digital lainnya. Kotler dan Armstrong (2018:78)
Signaling Theory
Teori sinyal merupakan teori yang diperkenalkan oleh dua ekonom
Michael Spence dan Joseph Stiglitz di tahun 1973. (Khairudin & Wandita, 2017).
Teori sinyal ini membahas mengenai fluktuasi harga pasar yang memiliki pengaruh
dengan adanya keputusan investor (Safitri & Kurniasari, 2019). Teori sinyal
merupakan konsep yang ada di bidang ekonomi dan sosiologi untuk menjelaskan
individu maupun perusahaan dalam menggunakan tindakan yang dapat
diperhatikan untuk dapat memberikan sinyal atau informasi penting kepada pihak
lain dalam situasi di mana informasi itu sebenarnya sulit untuk diverifikasi atau
tidak dapat dipahami dengan jelas. Teori ini sering digunakan untuk menjelaskan
perilaku mengenai situasi atau informasi asimetris yang dimana satu pihak dapat
memiliki lebih banyak informasi daripada pihak lain. Sinyal ini merupakan
tindakan atau sebagai karakteristik yang digunakan oleh pihak tersebut untuk
memiliki fungsi sebagai indikator kualitas maupun informasi tersembunyi yang
dimilikinya. Ketidakseimbangan informasi ini dapat menyebabkan masalah dan
ketidakefisienan dalam menyebabkan masalah dan ketidakefisienan dalam proses
pengambilan keputusan dan mempengaruhi perilaku ekonomi.
Permasalahan informasi asimetris ini terjadi ketika satu pihak memiliki
lebih banyak informasi dengan mengarah kepada hasil yang tidak efisien atau tidak
menguntungkan. Teori sinyal menjelaskan mengenai seharusnya sinyal informasi
keberhasilan maupun kegagalan manajemen terhadap stakeholder. Signaling theory
mempunyai konsep mengenai mengenai kualitas informasi pada teori sinyal
merupakan hal terpenting karena memilik pengaruh secara langsung mengenai
tindakan yang diambil oleh investor. Teori sinyal merupakan sikap dari manajemen
perusahaan dalam memberi petunjuk kepada investor mengenai prospek yang
dimiliki dalam masa yang akan datang (Brigham & Houston, 2018)
Indikator Kualitas Produk
Kualitas produk memiliki indikator yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristis dari suatu produk. Menurut Tjiptono (2015:22)
kualitas produk ditentutkan oleh indikator – indikator sebagai berikut :
a. Fitur, merupakan karakteristik produk yang dirancang agar dapat
menyempurnakan fungsi dari suatu produk atau menambahkan
ketertarikan pelanggan terhadap produk.
b. Kesesuaian, merupakan sejauh mana karakteristik operasi dasar dari
sebuah produk agar memenuhi suatu kriteria tertentu dari konsumen
atau tidak didapatkan kerusakan produk.
c. Daya tahan, merupakan waktu usia suatu produk mampu bertahan
sebelum produk tersebut harus untuk diganti. Semakin lama
pemakaian konsumen terhadap suatu produk maka akan semakin besar
juga daya tahan produk.
d. Keandalan, merupakan probabilitas dimana suatu produk dapat
memberi kepuasan atau tidak dalam jangka waktu tertentu. Semakin
kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut bisa
diandalkan.
e. Estetika, merupakan daya tarik yang memiliki produk terhadap panca
indra seperti model atau desain produk, warna, bentuk dan sebagainya.
f. Kesan Kualitas, merupakan hasil dari penggunaan atau pengukuran
yang dilakukan secara tidak langsung oleh konsumen karena
konsumen tidak mengetahui atau kekurangan informasi atas produk
yang dibeli.
Menurut Kotler dan Keller (2012:56) kualitas produk memiliki
lima indikator sebagai berikut :
a. Manfaat Inti (Core Benefit) adalah layanan atau manfaat mendasar
yang sesungguhnya dibeli pelanggan.
b. Produk Dasar (Basic Product) pemasar harus mengubah manfaat inti
menjadi produk dasar.
c. Produk yang diharapkan (Augmented Product), yaitu pada tingkat ini
produk melampaui harapan pelanggan.
d. Calon Produk (Potential Product), meliputi segala kemungkinan
peningkatan dan perubahan atau tawaran tersebut pada masa
mendatang.
Dimensi Kualitas Produk
Perusahaan apa bila ingin mempertahankan keunggulan kompetitif
dalam pasar, maka perusahaan harus tau aspek-aspek apa saja dimensi
kualitas produk tersebut. Menurut Kotler (2013:95) dimensi kualitas
produk antara lain:
a. Bentuk.
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
b. Ciri-ciri produk.
Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah
fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan
pengembangannya.
c. Kinerja.
Berkaitan dengan fungsional suatu produk dan merupakan
karakteristik utama yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli
produk tersebut.
d. Ketepatan atau kesesuaian.
Dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keinginan konsumen.
e. Daya Tahan.
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan tanpa
menimbulkan masalah pada saat penggunaan.
f. Keandalan.
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya.
g. Kemudahan Perbaikan.
Kemudahan perbaikan jika produk rusak. Lebih tepatnya produk akan
mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.
h. Gaya.
Penampilan dan kesan konsumen terhadap produk.
i. Desain.
Keseluruhan keistimewaan produk yang dapat mempengaruhi
penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen
Jenis-Jenis Grafik
Grafik / chart merupakan gambar yang memiliki kegunaan utama dalam
menjelaskan riwayat pergerakan dari nilai harga saham perusahaan dalam periode
tertentu, sehingga perlu adanya alat utama dalam melakukan suatu analisis secara
teknikal (Ong, 2012). Terdapat tiga jenis chart yang digunakan dalam analisis
teknikal seperti:
- Line Charts
Grafik ini terbentuk dari hubungan setiap titik harga penutupan
pada tiap sesi, sehingga line charts tidak memberikan informasi lain
seperti dari adanya harga pembukaan, harga tertinggi maupun harga
terendah. - Bar Charts
Grafik ini merupakan garis yang terbentuk dari 4 jenis informasi
harga dari harga pembukaan, penutupan, harga tertinggi dan harga
terendah. Harga pembukaan selalu berada di kiri, sedangkan untuk harga
penutupan berada di sebelah kanan. - Candlestick Charts
Grafik ini memberikan informasi yang sama dengan bar charts
memberikan informasi harga pembukaan, penutupan, harga tertinggi dan
terendah. Perbedaan berada di penampilan yang memiliki badan lilin
dengan warna tertentu, menyesuaikan harga naik dan harga turun yang
memudahkan dalam membaca. Garis yang ada di antara badan lilin adalah
bayangan/shadow. Garis ini menunjukkan informasi harga tertinggi dan
harga terendah dari suatu sesi perdagangan
Definisi Kualitas Produk
Kualitas produk adalah sejauh mana produk memenuhi spesifikasi-
spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan diukur berdasarkan
kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra produk. Lupiyoadi (2014:98
Kualitas produk adalah tingkatan mutu yang diharapkan untuk
memenuhi atau melebihi harapan konsumen mencakup produk, jasa,
manusia proses dan lingkungan yang terus di pertahankan agar bertahan
kualitasnya pada masa mendatang. Tjiptono (2015:15)
Kualitas produk adalah kemampuan produk untuk mejalankan
tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan,
kekuatan, kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan ciri –
ciri lainnya. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar
untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual produk
adalah pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa
ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui
pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen, sesuai dengan kompetensi
dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar. Selain itu produk dapat pula
didefnisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen
melalui hasil produksinya. Produk di pandang penting oleh konsumen dan
dijadikan dasar pengambilan keputusan. Swasta (2012:28)
Definisi Keberlangsungan Usaha
Menurut Widayanto, et.al (2020) bahwa keberlangsungan usaha
(going concern) adalah kemampuan perusahaan untuk dapat
mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Suatu perusahaan akan
terus berlangsung kecuali pemilik bermaksud untuk melikuidasi usaha
tersebut atau menghentikan operasinya, atau tidak memiliki atau alternatif
lain kecuali melakukan hal-hal tersebut, melalui konsep going concern ini,
suatu perusahaan diasumsikan akan mampu mempertahankan kegiatan
usahanya selama-lamanya.
Perusahaan yang dapat mempertahankan keberlangsungan usahanya
akan dapat mempertahankan pangsa pasar, kapasitas produksi, dan kondisi
keuangannya atau bahkan dapat ditingkatkan. Sementara itu perusahaan
yang kinerjanya kurang baikmempunyai beberapa ciri, Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) pada sekso 341 (Institusi Akuntan Publik
Indonesia, 2016) membahas berbagai macam faktor yang dapat
mempengaruhi kelangsungan usaha suatu unit usaha, sebagai berikut:
a. Kerugian usaha secara berulang-ulang atau kekurangan modal kerja.
b. Ketidakmampuan suatu unit usaha untuk membayar kewajiban pada
saatnya.
c. Kehilangan pelanggan utama.
d. Terjadi bencana yang tidak diasuransikan seperti gempa bumi atau
banjir yang merugikan asset perusahaan.
e. Masalah perburuhan seperti pemogokan kerja buruh.
f. Perkara pengadilan, atau masalah serupa yang telah terjadi yang
membahayakan kemampuan perusahaan untuk dapat beroperasi.
Harga Saham
Menurut Jogiyanto (2015), Harga saham merupakan harga dari suatu
saham perusahaan yang berada di bursa efek pada periode yang ada, dengan harga
yang ditentukan oleh pasar dan adanya permintaan dan penawaran saham di pasar
modal. Definisi lain dari harga saham, menurut Husnan dan Pudjiastuti (2017)
adalah harga pasar terbaru dari suatu saham yang terbentuk dari aktivitas jual beli
di pasar saham. Harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor seperti dari kinerja
perusahaan, kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Harga saham yang dijelaskan dari
uraian di atas, dapat dipahami sebagai nilai dari sebuah saham yang terbuat dari
permintaan dan penawaran terhadap saham perusahaan yang ada di suatu pasar
modal. Harga saham dipengaruhi dari 2 faktor utama yaitu:
- Faktor Internal
Faktor ini merupakan faktor yang terbentuk dari dalam
perusahaan itu sendiri dengan dikendalikan oleh manajemen perusahaan.
Faktor-faktor internal yang ada seperti:
a. Aksi Perusahaan
Kebijakan yang dilakukan oleh para manajemen perusahaan
untuk membuat perubahan dalam perusahaan. Kebijakan seperti aksi
pemasaran, produksi, dan aksi akuisisi, merger, right issue beserta
divestasi.
b. Faktor Fundamental Perusahaan
Faktor fundamental perusahaan merupakan faktor-faktor
berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan dalam bentuk rasio
keuangan. Kinerja keuangan yang baik dari emiten perusahaan membuat
semakin besar pengaruh yang dihasilkan dari kenaikan harga saham dan
begitu juga sebaliknya, semakin buruk kerja emiten perusahaan maka akan
semakin merosot harga saham yang diperdagangkan. - Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang memengaruhi perusahaan,
tetapi berasal dari luar perusahaan yang tidak bisa dikendalikan oleh
manajemen perusahaan. Faktor-faktor eksternal tersebut dapat berupa:
a. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah yang diberlakukan di suatu negara
memengaruhi harga saham, meskipun kebijakan itu masih dalam tahap
pembuatan dan belum terealisasi. Kebijakan pemerintah membuat adanya
perubahan harga saham, seperti adanya kebijakan ekspor – impor,
kebijakan Penanaman Modal Asing dan lainnya.
b. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu negara sering mengalami perubahan dari
pengaruh informasi yang beredar, sehingga dapat memengaruhi daya beli
masyarakat terutama para investor dan membuat pengaruh terhadap harga
saham secara langsung
Menurut Jogiyanto (2015), Harga saham merupakan harga dari suatu
saham perusahaan yang berada di bursa efek pada periode yang ada, dengan harga
yang ditentukan oleh pasar dan adanya permintaan dan penawaran saham di pasar
modal. Definisi lain dari harga saham, menurut Husnan dan Pudjiastuti (2017)
adalah harga pasar terbaru dari suatu saham yang terbentuk dari aktivitas jual beli
di pasar saham. Harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor seperti dari kinerja
perusahaan, kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Harga saham yang dijelaskan dari
uraian di atas, dapat dipahami sebagai nilai dari sebuah saham yang terbuat dari
permintaan dan penawaran terhadap saham perusahaan yang ada di suatu pasar
modal. Harga saham dipengaruhi dari 2 faktor utama yaitu:
- Faktor Internal
Faktor ini merupakan faktor yang terbentuk dari dalam
perusahaan itu sendiri dengan dikendalikan oleh manajemen perusahaan.
Faktor-faktor internal yang ada seperti:
a. Aksi Perusahaan
Kebijakan yang dilakukan oleh para manajemen perusahaan
untuk membuat perubahan dalam perusahaan. Kebijakan seperti aksi
pemasaran, produksi, dan aksi akuisisi, merger, right issue beserta
divestasi.
b. Faktor Fundamental Perusahaan
Faktor fundamental perusahaan merupakan faktor-faktor
berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan dalam bentuk rasio
keuangan. Kinerja keuangan yang baik dari emiten perusahaan membuat
semakin besar pengaruh yang dihasilkan dari kenaikan harga saham dan
begitu juga sebaliknya, semakin buruk kerja emiten perusahaan maka akan
semakin merosot harga saham yang diperdagangkan. - Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang memengaruhi perusahaan,
tetapi berasal dari luar perusahaan yang tidak bisa dikendalikan oleh
manajemen perusahaan. Faktor-faktor eksternal tersebut dapat berupa:
a. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah yang diberlakukan di suatu negara
memengaruhi harga saham, meskipun kebijakan itu masih dalam tahap
pembuatan dan belum terealisasi. Kebijakan pemerintah membuat adanya
perubahan harga saham, seperti adanya kebijakan ekspor – impor,
kebijakan Penanaman Modal Asing dan lainnya.
b. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu negara sering mengalami perubahan dari
pengaruh informasi yang beredar, sehingga dapat memengaruhi daya beli
masyarakat terutama para investor dan membuat pengaruh terhadap harga
saham secara langsung
Karakteristik Jasa
Menurut Fandy Tjiptono (2011:136) bahwa karakteristik utama
yang membedakan barang dan jasa. Jasa memiliki empat karakteristik jasa
yaitu:
- Intagibility
Jasa bersifat intangibility, yaitu tidak dapat melihat, diras, dicium,
didengar,atau diraba sebelum dibeli sebelum dibeli dan dikonsumsi
dan dipahami secara rohaniah. Sesorang tidak dapat menilai
kualitas pelayanan sebelum mereka menggunakan/merasakannya
sendiri. Konsumen hanya menggunakan, memanfaatkan atau
menyewa layanan tersebut. Untuk mengurangi keraguan, setiap
konsumen harus lebih memperhatikan kualitas yang dibeli. Mereka
akan mengetahui kualitas pelayanan dari tempat, orang, peralatan,
bahan-bahan komunikasi, symbol serta harga yang mereka amati. - Inperability
sebuah barang yang diproduksi, kemudia dijual setelah itu
dikonsumsi. Sedangkan Jasa di lain pihak, pada umumnya dijual
terlebih dahulu, setelah itu baru diproduksi dan digunakan secara
bersamaan. Komunikasi antara penyedia jasa dan konsumen
merupakan karakteristik khusu dalam pemasaran jasa. hasil dari
jasa tersebut mempengaruhi hasil dari kedua pihak. Hubungan antar
penyedia jasa dan konsumen, unsur penting dalam efektivitas
individu yang menyampaikan jasa (contact-personel). Proses
rektutmen, kompensasi, pelatihan dan pengembangan karyawam
merupakan kunci keberhasilan bisnis jasa. - Variability
Non-standardized adalah jasa yang bersifat sangat variabel, yang
berarti banyak variabel bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada
siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan. Sebelum
memutuskan untuk memilih mereka meminta pendapat orang lain
karena setiap pembeli jasa sangat peduli dengan variabilitas yang
tinggi. Penyedia jasa dapat melakukan tiga tahap dalam
pengendalian kualitasnya:
a) Melakukan pelatihan personil yang baik dalam investasi
b) Melakukan standarisasi proses pelaksanaan jasa (service-
performance process). Jasa yang menggambarkan peristiwa
dan proses jasa dalam suatu diagram alur dapat dilakukan
dengan menyiapkan cetak biru, dengan maksud untuk
mengetahui apa saja faktor-faktor potensial yang dapat
menyebabkan kegagalsn dalam jasa tersebut.
c) Membantu memberi kepuasan konsumen melalui sistem
masukan dan keluhan yang dirasakan oleh konsumen,
mendatangi konsumen, dan comparison shopping, sehingga
pelayanan yang kurang baik dapat diketahui. - Perishability
Jasa adalah barang tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
Seperti kursi kereta api yang kosong, kamar hotel yang tidak ada
penghuni atau jam tertentu tanpa pasien ditempat seorang dokter,
maka akan hilang begitu jasa dan tidak bisa disimpan untuk
digunakan diwaktu lain. Ketika permintaan berfluktuasi berbagai
masalah muncul terkait dengan kapasitas menganggur (ketika
permintaan rendah) dan konsumen tidak melayani dengan resiko
kecewa atau beralih ke penyedia jasa (pada saatpermintaan naik)
Saham
Saham merupakan salah satu jenis investasi yang paling banyak diminati
investor, karena kemampuan dalam menghasilkan tingkat pengembalian yang
tinggi dengan diikuti risiko yang tinggi. Saham merupakan produk investasi yang
diterbitkan di bursa efek dan menjadi salah satu hal dilakukan oleh perusahaan
dalam mendapatkan modal tambahan sebagai bentuk timbal hasil dari kegiatan
penjualan tersebut. Menurut Damodaran (2012), saham merupakan sertifikat yang
menunjukkan pemegang saham mempunyai hak atas sebagian dari perusahaan dan
hak untuk memperoleh bagian dari keuntungan yang diperoleh dari perusahaan.
Pengertian saham dari uraian di atas menjadikan saham sebagai surat
berharga yang dibuat oleh perusahaan terbuka untuk menyatakan adanya
kepemilikan hak atas dari perusahaan dan dapat diperjualbelikan. Efek dari
kepemilikan saham akan menerima keuntungan dari melakukan investasi di saham.
Keuntungan yang dihasilkan dari kepemilikan saham tersebut, pasti meninggalkan
risiko yang dibuat dari adanya melakukan investasi tersebut. Risiko likuiditas dan
capital loss menjadikan risiko yang perlu diperhatikan. Risiko likuiditas merupakan
risiko yang akan dialami oleh investor, ketika tidak dapat menjual saham pada harga
yang dibutuhkan oleh peminat. Kejadian tersebut terjadi, ketika tidak adanya lagi
peminat yang muncul untuk membeli saham perusahaan, maka dapat menyebabkan
perusahaan dinyatakan bangkrut dan perusahaan akan dibubarkan
Ciri-Ciri Pelayanan Yang Baik
Pelayanan yang baik memiliki karakteristik tersendiri dan hampir
semua perusahaan menggunakan kriteria yang sama untuk membentuk
kharakteristik pelayanan yang baik. Terdapat beberapa faktor pendukung
yang secara langsung mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan.
Berikut ini beberapa ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti oleh
karyawan dalam melayani konsumen yaitu: (Zulkarnain, et al:2020)
- Tersedia karyawan yang baik
- Tersedianya sarana dan prasaranan yang baik
- Bertanggung jawab kepada konsumen
- Mampu melayani konsumen dengan cepat tanggap
- Mampu berkomunikasi
- Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi
- Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik
- Berusaha memahami kebutuhan konsumen
- Mampu memberikan kepercayaan kepada konsumen
Investasi
Investasi merupakan sebuah upaya penanaman modal maupun sumber
daya yang dimiliki individu / perusahaan dengan membeli sebuah aset atau proyek
yang diharapkan dapat memberikan keuntungan di masa datang. Menurut Brigham
dan Houston (2016), investasi merupakan pengorbanan pada saat ini, untuk
memperoleh manfaat di masa datang, hal itu dilakukan dengan membeli maupun
menanamkan dana pada suatu aset yang memiliki nilai tumbuh maupun yang
menghasilkan keuntungan. Investasi dapat dijelaskan sebagai komitmen dalam
pengorbanan konsumsi saat ini, dengan tujuan memperoleh manfaat dan
keuntungan yang lebih besar di masa yang datang. Investasi terdiri dari dua jenis
yaitu:
a. Aset Riil sebagai investasi yang dilakukan kepada aktiva berwujud
dapat berbentuk emas, bangunan, gedung, tanah, mesin dan
sebagainya.
b. Aset Keuangan sebagai investasi yang melakukan penanaman modal
pada dokumen maupun surat-surat klaim yang tidak langsung dimiliki
oleh pemiliknya terhadap aset riil pihak yang melakukan penerbitan
dokumen seperti saham, deposito, obligasi, waran, opsi, sertifikat BI.
Investasi merupakan kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pemahaman
dasar keputusan investasi dan menyusun kegiatan dalam proses keputusan
investasi. Investor harus memahami proses investasi dengan mengetahui beberapa
konsep dasar investasi yang menjadi dasar dalam setiap tahap pembuatan keputusan
investasi. Keputusan investasi menjadi proses memahami hubungan return yang
diharapkan dengan risiko melakukan investasi. Hubungan yang dihasilkan dari
kedua tersebut, diharapkan membuat investasi memiliki hubungan yang searah dan
linear dengan memberikan perbandingan return yang diharapkan sesuai dengan
tingkat risiko yang harus dipertimbangkan
