Media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan
kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.
Media merupakan komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung
materi instruksional di lingkungan siswa, yang dapat merangsang siswa untuk
belajar.
Arief S.Sadiman dkk (2014:6) “Media berasal dari bahasa latin dan
merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara
atau pengantar”. Menurut Gerlach dan Ely dalam Hamdani (2011:243)
mengatakan bahwa media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun
kondisi agar siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Guru, buku, teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.
Menurut Briggs dalam Arief S. Sadiman dkk (2014:6) “Media adalah
segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk
belajar”. Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim
kepenerima sehingga dapat merangsang pikirann, perasaan, perhatian dan minat
serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Timing Memasuki Pasar Produk Baru
Menurut Tjiptono (2017:350) terdapat delapan faktor yang perlu
dianalisis secara komprehensif agar timing memasuki pasar bisa ‘optimal’
diantaranya :
1) Kepastian preferensi pelanggan. Semakin kecil tingkat ketidakpastian
preferensi pelanggan, semakin besar kemungkinan berhasilnya strategi
pionir atau early entry.
2) Tingkat penyempurnaan teknologi baru dibandingkan teknologi lama.
Apabila teknologi baru menawarkan perbaikan dramatis atas teknologi
sebelumnya atau teknologi berbeda yang berfungsi serupa, Pelanggan
akan lebih mudah dan cepat menerimanya.
3) Karakteristik teknologi pendukung. Teknologi pendukung yang telah
mapan menunjang keberhasilan strategi early entry, sementara teknologi
penunjang yang relatif lemah cenderung membuka peluang bagi
perusahaan yang melakukan ‘wait and see’.
4) Karakteristik produk komplementer. Apabila inovasi perusahaan
membutuhkan produk komplementer yang belum tersedia di pasar dan
perusahaan bersangkutan belum mampu mengembangkan komplementer
tersebut, maka peluang keberhasilan startegi early entry bakal tipis.
5) Ancaman pendatang baru. Apabila hambatan masuk relatif besar atau
hanya ada sedikit pesaing potensial yang bakal mampu memasuki pasar,
maka perusahaan bisa menanti sampai customer requirement dan
teknologi relatif mapan. Namun, jika ancaman pendatang baru relatif
besar, maka perusahaan perlu masuk lebih cepat dalam rangka
membangun citra merek, meraih pangsa pasar, menjalin relasi dengan
pemasok dan distributor.
6) Kemungkinan mendapatkan ‘increasing returns to adoption’. Jika
peluang untuk hal itu besar, maka early-entry merupakan pilihan paling
ideal.
7) Ketersediaan dan akses sumber daya organisasi. Sumber daya finansial
dan SDM mutlak dibutuhkan dalam rangka menunjang keberhasilan
strategi early-entry, terutama dalam mendanai biaya riset dan
pengembangan, mengakomodasi slow market take off, dan
mengakselerasi penerimaan pasar (misalnya : melalui program edukasi
pelanggan, pengembangan jaringan pasokan dan distribusi, serta
pengembangan produk komplementer).
8) Reputasi dan kredibilitas perusahaan. Perusahaan yang bereputasi bagus
akan mampu memacu proses adopsi lebih cepat dibandingkan
perusahaan yang reputasinya kurang bagus. Reputasi bagus bisa menjadi
signal kuat akan peluang kesuksesan teknologi baru yang ditawarkan
Pengembangan Produk Baru
Di sejumlah industri inovasi teknologi merupakan kunci utama
kesuksesan bersaing. Globalisasi pasar menghadirkan tantangan bagi
setiap perusahaan agar mampu berinovasi secara berkesinambungan dalam
rangka menawarkan produk dan jasa yang unik dan unggul (Tjiptono,
2017:348). Introduksi produk baru berperan penting dalam
meningkatkan profitabilitas perusahaan, sementara inovasi proses
memainkan peran strategi dalam menekan biaya.
Menurut Tjiptono (2017:349), produk ‘baru’ bisa ditinjau dari
dimensi ‘kebaruan’ (newness) bagi perusahaan dan bagi pasar. Produk
baru bisa merupakan tambahan bagi lini produk perusahaan saat ini
maupun tipe kepuasan baru. Bentuk produk yang dihasilkan bisa berupa
produk orisinal, penyempurnaan/modifikasi produk, imitasi produk,
maupun inovasi produk. Secara garis besar, tujuan yang ingin dicapai
melalui proses pengembangan produk baru meliputi :
- Memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi perusahaan
sebagai inovator melalui upaya menawarkan produk yang lebih baru
dan lebih bagus dari pada produk sebelumnya. - Mempertahankan daya saing terhadap produk yang ada di pasaran,
yaitu dengan jalan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan baru. Bentuknya bisa tambahan terhadap lini produk yang
sudah ada maupun revisi terhadap produk yang telah ada. - Pengembangan produk baru merupakan proses kompleks yang
menuntut perencanaan matang. Tidak ada formula ajaib yang bisa
memastikan bahwa sebuah gagasan cemerlang pasti akan sukses
dipasarkan secara komersial sebagai produk baru. Selain itu, tidak
ada jaminan bahwa produk baru pasti akan sukses bila perusahaan
telah sukses meluncurkan beberapa produk sebelumnya. Selama ini
fakta justru menunjukkan bahwa mayoritas produk baru mengalami
kegagalan dikarenakan sejumlah faktor diantaranya :
1) Target pasar yang dituju terlampau kecil, sehingga penjualan tidak
dapat menutupi biaya riset dan pengembangan, biaya produksi dan
biaya pemasaran.
2) Kualitas produk tidak memadai dan bahkan tidak lebih bagus
dibandingkan produk-produk yang sudah ada.
3) Perusahaan tidak memiliki akses ke distributor dan pasar, misalnya
kalah bersaing dalam mendapatkan tempat (space) dalam rak-rak
pajangan pasar swalayan atau toko pengecer lainnya.
4) Timing tidak tepat, artinya produk baru diluncurkan terlalu cepat,
terlalu lambat, atau bahkan pada saat selera Pelanggan telah berubah
secara drastis
Konsep Produk Baru
Dalam bukunya, Tjiptono (2017:316) berpendapat mengenai
dinamika lingkungan bisnis berdampak pada perubahan selera dan
preferensi pelanggan. Perubahan itu pada gilirannya menuntut inovasi
dan kreativitas setiap organisasi agar dapat menyempurnakan produk
yang sudah ada dan mengembangkan produk baru dalam rangka
mempertahankan kelangsungan hidup dan profitabilitas perusahaan.
Konsep produk “baru” bisa ditelah dari dua perspektif, yakni :
1) Baru bagi pasar (new to market) yang mengandung arti belum ada
perusahaan yang memproduksi atau memasarkan produk tersebut
sebelumnya.
2) Baru bagi perusahaan bersangkutan (new to the firm) artinya
perusahaan-perusahaan lain sudah memasarkan produk tersebut tetapi
perusahaan bersangkutan belum memasarkannya.
Dengan demikian istilah ‘baru’ disini mengandung pengertian
relatif (a matter of degree). Secara garis besar, aktivitas
pengembangan produk baru bisa menghasilkan 6 macam tipe produk
baru :
- Produk baru bagi dunia (new-to-the-world products) yaitu :
produk-produk yang menciptakan pasar yang sama sekali baru
dan membentuk siklus hidup produk baru. - Lini produk baru (new product line) yaitu produk-produk yang
baru bagi perusahaan, namun diluncurkan bagi pasar yang sudah
ada. - Perluasan lini (line extension) yaitu produk baru yang
memungkinkan perusahaan memperluas pasar yang dilayani
dengan menawarkan manfaat yang berbeda. - Penyempurnaan produk yang telah ada (improvements to existing
products) yaitu : produk-produk yang biasanya dirancang untuk
menggantikan penawaran produk yang sudah ada. - Repositioning yaitu : pengembangan teknis yang memungkinkan
suatu produk menawarkan aplikasi baru dan melayani kebutuhan
yang baru. - Pengurangan biaya (cost reductions) yaitu : versi dari produk yang
ada yang dapat memberikan kinerja setara pada tingkat harga yang
lebih murah. Meskipun tidak tergolong benar-benar ‘baru’
berdasarkan perspektif pemasaran, tipe ini bisa berdampak pada
proses produksi dan daya saing perusahaan
Jenis Inovasi Produk
Dalam Fauzi (2015:16) Inovasi terdiri dari empat jenis, yaitu :
1) Penemuan
Kreasi suatu produk, jasa atau proses baru yang belum pernah
dilakukan sebelumnya, konsep ini cenderung disebut revolusioner.
2) Pengembangan
Pengembangan suatu produk, jasa atau proses yang sudah ada, konsep
seperti ini menjadi aplikasi ide yang telah ada berbeda.
3) Duplikasi
Peniruan suatu produk, jasa atau proses yang telah ada, meskipun
demikian duplikasi bukan semata meniru melainkan menambah sentuhan
kreatif untuk memperbaiki konsep agar lebih mampu memenangkan
persaingan.
4) Sintesis
Perpaduan konsep dan faktor-faktor yang sudah ada menjadi
formulasi baru, proses ini meliputi pengambilan sejumlah ide atau
produk yang sudah ditemukan dan dibentuk sehingga menjadi produk
yang dapat diaplikasikan dengan cara baru
Pengertian Inovasi Produk
Adanya kesamaan tampilan produk sejenis dari pesaing merupakan
faktor pendorong terjadinya inovasi produk, biasanya produk pesaing
muncul tanpa mengalami perubahan yang berarti bahkan cenderung statis.
Keadaan tersebut dapat menjadi hal yang menguntungkan, karena
persaingan yang timbul dengan munculnya produk pesaing dapat diatasi
dengan melakukan inovasi produk. Adapun pengertian mengenai inovasi
produk menurut beberapa ahli akan dipaparkan sebagai berikut.
Menurut Tjiptono (2016:348) memberi pengertian mengenai inovasi
produk yaitu : “Secara sederhana, inovasi bisa diartikan sebagai
implementasi praktis sebuah gagasan ke dalam produk atau proses baru.
Inovasi bisa bersumber dari individu, perusahaan, riset di universitas,
laboratorium dan inkubator pemerintah, maupun organisasi nirlaba swasta”.
Menurut Rogers dalam penelitian yang dilakukan Apriliani (2015:18)
berpendapat bahwa : “Inovasi produk merupakan suatu ide, gagasan,
praktek atau objek atau benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal
yang baru oleh individu atau kelompok untuk diadopsi.”
Menurut Tjiptono (2015:294) “ada tiga aspek penting yang perlu ditelah
dalam pengembangan produk baru untuk pasar global. Pertama, identifikasi
ide produk baru yang bisa bersumber dari pelanggan, pemasok, pesaing,
wiraniaga perusahaan, distributor dan agen, eksekutif kantor cabang,
eksekutif kantor pusat, sumber-sumber dokumentasi (seperti publikasi dan
laporan jasa informasi) dan observasi langsung di lingkungan pasar.”
Indikator ekuitas Merek
Ekuitas merek memiliki Indikator menurut kotler (2018 :337-338) suatu
merek dapa diukut berdasarkan tujuh indikator
a. Leadership Yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pasar, baik harga
maupun atribut non-harga
b. Stability yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan
c. Market yaitu kekuatan merk untuk meningkatkan kinerja toko atau
distributor
d. Internationality yaitu kemampuan merk untuk keluar dari area
geografisinya atau masuk ke negara maupun daerah lan
e. Trend yaitu merk menjadi semakin penting dalam industri
f. Support yaitu besarnya dan yang dikeluarkan mengkomunikasikan
merk
g. Protection yaitu merk tersebut mempunyai legalitas
Pengertian brand equity
Ekuitas merek atau brand equity adalah kekuatan dari suatu merek.
Dengan merek yang kuat sebuah perusahaan bisa mengelola aset-aset mereka
dengan baik, meningkatkan arus kas, meluaskan pangsa pasar, menentukan
harga premium, membatasi biaya promosi, peningkatan penjualan, menjaga
stabilitas dan meningkatkan keunggulan kompetitif.
Menurut Kotler dan Keller (2017:263) ekuitas merek adalah nilai tambah
yang diberikan pad produk dan jasa. Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara
Pelanggan berpikir, merasa dan bertindak dalam hubungannya dengan merek,
dan juga harga, pangsa pasar dan profitabilitas yang diberikan merek untuk
perusahaan.
Menurut tjiptono (2015:38) ekuitas merek adalah serangkaian aset dan
kewajiban merek yang terkait dengan sebuah merek ,nama dan simbolnya,yang
menambag atau mengurangi nilai yang diberikan sebuah produk atau jasa
kepada perusaahan dan atau pelanggan perusaahan tersebut
Kualitas Produk
Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena produk
merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau aktivitas perusahaan
yang dapat ditawarkan ke pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan Pelanggan. Pada dasarnya dalam membelisuatu produk,seorang
Pelanggan tidak hanyamembeli produk, akan tetapi Pelanggan juga membeli
manfaat atau keunggulan yang dapat diperolehdari produk yang dibelinya.
Oleh karena itu, suatu produk harus memiliki keunggulan dari produk-produk
yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk yang ditawarkan. Kualitas
produk merupakan salah satu kunci persaingan diantara pelaku usaha yang
ditawarkan kepada Pelanggan. Berikut ini merupakan pengertian kualitas
produk menurutKotler dan Keller (2016:156) pengertian kualitas adalah
sebagai berikut, “Quality is the totality of features andcharacteristics of a
product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs”.
Kualitas produk memiliki indikator yang dapat digunakan untuk menganalisis
karakteristik darisuatu produk.
Menurut Kotler dan keller (2016:159) kualitas produk memiliki
delapan indikator sebagai berikut:
- Performance (kinerja) merupakan karakteristik operasi pokok dari produk
inti (coreproduct) yang dibeli. - Features (fitur atau ciri-ciri tambahan) yaitu karaktersitik sekunder atau
pelengkap. - Reliability (reliabilitas) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan
atau gagal dipakai. - Confermance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi) yaitu sejauh
mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. - Durability (daya tahan) yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
dapat digunakan. - Serviceability meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan
direparasi serta penanganan keluhan secara memuaskan. - Esthetics (Estetika) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
- Perceived Quality (kualitas yang dipersepsikan), yaitu citra dan reputasi
produk sertatanggung jawab perusahaan terhadapnya
Manajemen Pemasaran
Suatu perusahaan akan menjadi sukses apabila di dalamnya ada
kegiatan manajemen pemasaran yang baik. Manajemen pemasaran pun menjadi
pedoman dalam menjalankan kelangsungan hidup perusahaan yaitu sejak
dimulainya proses produksi hingga barang sampai pada Pelanggan. Kotler dan
Keller (2016:27) berpendapat bahwa Marketing management as the art and
science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers
through creating, delivering, and communicating superior customer value.
Manajemen pemasaran terjadi ketika setidaknya satu pihak dalam
sebuah pertukaran potensial berpikir tentang cara-cara untuk mencapai respons
yang diinginkan oleh pihak lain. Menurut Kotler dan Keller (2016:30) adalah:
“Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan
membangun hubungan yang menguntungkan dengan mereka”. Menurut Kotler
dan Keller (2016:27) yang mengatakan bahwa; “Manajemen pemasaran sebagai
seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, mempertahankan, serta
meningkatkan jumlah pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul”.
Dari beberapa definisi di atas, manajemen pemasaran adalah seni dan
ilmu perencanaan, implementasi, pengendalian program yang dirancang untuk
mendapatkan, menjaga dan menumbuhkan pelanggan demi melakukan
pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli agar mencapai tujuan
organisasi yang sudah menjadi konsep pemasarannya. Kegiatan pemasaran
perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada Pelanggan bila ingin
mendapatkan tanggapan yang baik dari Pelanggan. Pemasaran yang baik bukan
sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanan dan pelaksanaan yang cermat
yang akhirnya menjadikan kesuksesan finansial bagi perusahaan
Pemasaran
Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan
oleh perusahaan, baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya mendapatkan
laba dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut
disebabkan karena pemasaran merupakan salah satu ujung tombak kegiatan
perusahaan, yang secara langsung berhubungan dengan Pelanggan. Maka
kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia berkaitan dengan
pasar. America Marketing Association (AMA) dalam Kotler dan Keller
(2016:27) berpendapat bahwa Marketing is the activity, set of institutions, and
processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings
that have value for customers, clients, partners, and society at large.
Kotler dan Keller (2016:27) berpendapat bahwa pemasaran adalah
proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi Pelanggan dan membangun
hubungan yang kuat dengan dengan Pelanggan, dengan tujuan untuk menangkap
nilai dari Pelanggan sebagi imbalan. Kotler dan Keller (2016:27) menyatakan
bahwa “Marketing is meeting needs profitability”, maksud ungkapan tersebut
adalah pemasaran merupakan hal yang dilakukan untuk memenuhi setiap
kebutuhan (kebutuhan Pelanggan) dengan cara-cara yang menguntungkan
semua pihak.
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah suatu proses dimana pelanggan melalui
tahapan-tahapan tertentu untuk mengambil keputusan membeli suatu produk
menurut Hertina et al., (2022). Kebiasaan pelanggan mempengaruhi keputusan
pembelian yang dilakukan oleh pelanggan atau pembeli. Kegiatan individu yang
terlibat langsung dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
produk yang ditawarkan penjual adalah definisi dari keputusan pembelian.
Seseorang akan melalui beberapa tahapan pembelian, mulai dari pengenalan
kebutuhan akan suatu produk, dalam pengambilan keputusan pembelian.
Drumond (2018) menyatakan keputusan pembelian adalah mengidentifikasi
semua pilihan yang mungkin memecahkan persoalan mengenai pembelian dan
menilai pilihan-pilihan secara sistematis dan obyektif serta sasaran-sasarannya
yang menentukan keuntungan serta kerugian masing-masing. Nugroho (2018)
juga menyatakan keputusan pembelian sebagi proses pengintegrasian yang
mengkombinasi sikap pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku
alternatif dan memilih salah satu diantaranya.
Proses keputusan pembelian konsumen dapat ditentukan oleh banyak
faktor. Faktor tersebut dapat berasal dari konsumen itu sendiri maupun berasal
dari luar atau pengaruh eksternal konsumen menurut Ihwah (2015). Menurut
Kotler & Amstrong (2009) dalam Wahyuni et al., (2021) keputusan pembelian
merupakan tahapan proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen
benar-benar membeli. Proses keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan antara
lain:
a. Pengenalan masalah
Proses pembeli dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan. Pembeli
mengetahui perbedaan antara keadaan aktual dan keadaan yang diinginkan.
Stankevich (2017) menyatakan pemasar penting untuk menentukan apa dan
siapa targetnya, bagaimana demografisnya, dan memiliki tahapan strategi
untuk mengembangkan kebutuhan konsumen.
b. Pencarian informasi
Konsumen yang tertarik mungkin tidak mencari informasi lebih lanjut atau
konsumen sangat aktif mencari informasi sehubungan dengan kebutuhan
tersebut. Menurut Sunarto (2018) pada tahap ini konsumen biasanya mencari
informasi produk ketika ingin mencoba produk baru terutama untuk produk
yang memiliki manfaat tertinggi yang didapat dari berbagai sumber seperti
keluarga, teman, tetangga, kenalan, dan lain-lain.
c. Evaluasi alternatif
Konsumen harus melakukan penilaian terhadap beberapa alternatif dan
menentukan langkah selanjutnya setelah mencari informasi sebanyak-
banyaknya mengenai banyak hal. Stankevich (2017) menyatakan konsumen
memilih salah satu atribut terpenting yang menjadi dasar pengambilan
keputusan akhir atau menggunakan metode cut-off.
d. Keputusan pembelian
Setelah melewati tahap awal, pembeli mengambil keputusan apakah akan
membeli atau tidak. Keputusan yang diambil mengenai jenis produk, bentuk
produk, merek, penjual, kualitas dan sebagainya. Menurut Qazzafi (2019)
konsumen akan membeli merek atau produk yang menurutnya berada
ditingkat tertinggi dalam tahap evaluasi.
e. Perilaku pasca pembelian
Konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan
setelah membeli suatu produk. Untuk mencapai keharmonisan dan
meminimalkan ketidakpuasan, pembeli harus mengurangi keinginan lain
setelah pembelian, atau menghabiskan lebih banyak waktu mengevaluasi
sebelum membeli.
Persepsi Harga
Menurut Cockril & Goode (2015), persepsi harga adalah faktor psikologis
dari berbagai segi yang memiliki pengaruh penting dalam reaksi konsumen
kepada harga. Hal ini membuat persepsi harga menjadi alasan mengapa seseorang
membuat keputusan pembelian. Kemudian, Kotler & Keller (2016) menyatakan
persepsi harga adalah sejumlah biaya yang harus dibayar pembeli untuk barang
atau jasa yang digunakan atau dibeli oleh konsumen. Persepsi harga menjadi
bentuk penilaian konsumen terhadap apa yang ditawarkan oleh penjual kemudian
akan dibandingkan dengan barang lain yang menawarkan harga yang lebih wajar
menurut Lee & Lawson (2011) dalam Bimaruci & Havidz (2022). Vera (2015)
menyatakan harga merupakan konfirmasi dari nilai yang ditawarkan kepada
konsumen. Nilai yang ditawarkan nantinya akan direspon oleh pelanggan secara
berbeda-beda.
Menurut Alma (2007) dalam Arjuna & Ilmi (2020) pada dasarnya harga
jual harus dapat menutup seluruh biaya ditambah dengan keuntungan yang wajar.
Harga merupakan faktor penentu permintaan pasar, sehingga dapat mempengaruhi
posisi perusahaan dalam suatu pasar. Menurut Kotler & Armstrong (2008) dalam
Arjuna & Ilmi (2020) faktor harga yang ditentukan oleh konsumen diambil dari
keterjangkauan suatu harga pada produk, manfaat yang dapat diambil meskipun
harganya di atas rata-rata pasar, membandingkan kualitas dengan harga seimbang
atau tidak, dan membandingkan harga dengan produk pesaing lainnya. Menurut
Kotler & Amstrong (2015), terdapat beberapa dimensi persepsi harga sebagai
berikut:
a. Keterjangkauan harga : harga yang ditetapkan oleh perusahaan dapat
dijangkau oleh konsumen.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk : konsumen memilih harga
yang lebih tinggi diantara dua produk karena terdapat adanya
perbedaan kualitas.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat : jika manfaat yang dirasakan lebih
besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan, maka konsumen akan
memutuskan untuk membelinya.
d. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga : mahal-murahnya
produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen saat akan membeli
suatu produk.
Persepsi Kualitas
Persepsi kualitas adalah penilaian psikologis tentang kualitas suatu produk
berdasarkan persepsinya oleh konsumen, menurut Sanyal & Datta (2011) dalam
Saleem et al., (2015). Menurut Aaker (2008) dalam Sya’idah et al., (2020)
persepsi kualitas merupakan persepsi pelanggan terhadap kualitas suatu produk
dan jasa yang sehubungan dengan tujuan yang diinginkan, dibandingkan dengan
produk alternatif lainnya. Persepsi kualitas memainkan peran penting dalam
membangun merek. Nguyen et al., (2022) juga percaya bahwa persepsi kualitas
memiliki hubungan dengan pengetahuan pelanggan ketika mereka melihat dan
menyentuh produk dari suatu perusahaan mengenai apa yang mereka lihat dan
mereka rasakan. Menurut Liu et al., (2017) untuk memilih suatu merek dari merek
pesaing perusahaan yang menyediakan layanan berkualitas tinggi harus memiliki
keunggulan kompetitif dan lebih menguntungkan karena persepsi kualitas yang
tinggi dapat meningkatkan preferensi merek dan dapat memotivasi konsumen.
Persepsi kualitas juga didefinisikan sebagai evaluasi konsumen terhadap
keseluruhan merek mengenai keunggulan berdasarkan isyarat intrinsik (kinerja
dan daya tahan) dan ekstrinsik (nama merek) menurut Asshidin et al., (2016).
Sumarwan (2009) dalam Sivaram et al., (2019) menyatakan suatu merek dinilai
dapat memenuhi harapan konsumen ketika konsumen memiliki persepsi baik
tentang kualitas suatu merek. Evgeniy et al., (2019) menyatakan persepsi kualitas
dibangun dari perbedaan antara standar kualitas konsumen dan kualitas nyata dari
suatu produk atau layanan. Pengaruh tak terbatas dari karakteristik produk yang
diproduksi yang memungkinkan konsumen untuk menentukan kualitas suatu
barang atau jasa disebut persepsi kualitas. Persepsi kualitas dapat memperluas
persepsi konsumen dan dapat meramalkan masa lalu penjualan dengan baik
menurut Parboteeah (2009) dalam Astuti et al., (2023). Zeithmal (2006) dalam
Zufrie & Sahputra (2021) juga berpendapat persepsi kualitas dalam pandangan
konsumen memiliki ruang lingkup tersendiri yang berbeda dengan kualitas
pandangan produsen saat mengeluarkan produk yang bisa dikenal dengan kualitas
sebenarnya. Terdapat beberapa nilai dari persepsi kualitas, antara lain: alasan
untuk membeli, diferensiasi, harga optimum, minat saluran distribusi, dan
perluasan merek
Loyalitas Merek
Suatu komitmen yang dipegang teguh untuk mengulangi pembelian
produk atau layanan merupakan definisi loyalitas merek menurut Shabbir (2020).
Loyalitas merek juga merupakan sikap positif seorang konsumen terhadap merek
tertentu di atas pesaing lainnya. Menurut Huo et al., (2022) loyalitas merek dapat
memberikan keuntungan kepada perusahaan dengan berbagai cara seperti
peningkatan pangsa pasar termasuk mendapatkan banyak pelanggan, dukungan
perluasan merek, rendahnya pengeluaran pemasaran, dan mempertahankan merek
dari ancaman persaingan. Konsumen yang loyal mengacu kepada konsumen yang
berulang kali membeli merek yang sama dan tidak rentan terhadap fitur produk,
harga, dan kenyamanan pengguna atau atribut lain yang disediakan oleh produk
merek lainnya.
Loyalitas merek menurut Sasmita & Norazah (2015) adalah inti dari setiap
nilai yang dimiliki oleh suatu merek. Memperkuat ukuran dan intensitas dari
setiap segmen yang loyal merupakan konsep dari loyalitas merek. Sebuah merek
yang memiliki pelanggan yang kecil tetapi menjadi pelanggan yang sangat setia
dapat memiliki ekuitas yang signifikan. Loyalitas merek juga merupakan inti
bagian dari ekuitas merek yang menjadi gagasan sentral dalam pemasaran karena
merupakan ukuran keterkaitan pelanggan dengan sebuah merek menurut Priansa
(2017). Menurut Popp & Wilson (2018) loyalitas merek juga menjadi salah satu
impuls utama profitabilitas karena memberikan keunggulan biaya dengan
menahan konsumen setia perusahaan, dan memberikan lebih banyak niat untuk
membeli dan mengurangi sensitivitas harga. Loyalitas merek menurut
Algesheimer (2005) dalam Wiastuti & Kimberlee (2018) memiliki dua dimensi,
yaitu:
a. Behavioural brand loyalty
Komitmen yang dipegang teguh untuk melakukan pembelian kembali atau
mengulang produk atau jasa yang disukai secara konsisten. Terdapat pengaruh
situasional dan upaya pemasaran yang menunjukkan potensi dan menyebabkan
peralihan perilaku.
b. Attitudinal brand loyalty
Adanya niat pembelian berulang dan kesediaan untuk mengeluarkan uang lebih
dalam jumlah besar atau kesediaan konsumen yang loyal untuk memperoleh suatu
merek. Adanya niat untuk melakukan word of mouth untuk berbicara mengenai
hal-hal baik mengenai merek tersebut
Asosiasi Merek
Menurut Aulia & Briliana, n.d. (2017), asosiasi merek mengandung makna
bagi konsumen dan simpul merek dalam ingatan yang berkaitan dengan simpul
informasi lainnya. Asosiasi merek yang dihasilkan semakin kuat membuat
seseorang berpikir semakin dalam mengenai informasi produk dan berhubungan
dengan pengetahuan merek yang ada. Menurut Foroudi (2018) menciptakan
asosiasi merek dan kepercayaan merek yang menguntungkan sangat penting
dalam mengidentifikasi keberhasilan sikap konsumen terhadap merek atau
perusahaan. Asosiasi merek didefinisikan sebagai arti merek bagi konsumen atau
apapun yang terkait dalam memori dengan merek. Sya’idah et al., (2020)
menyatakan umumnya yang membuat keputusan pembelian dan loyalitas merek
pelanggan adalah asosiasi merek yang membentuk citra merek sebagai pijakan
konsumen.
Grewal (2013) menyatakan asosiasi merek mencerminkan hubungan
mental pelanggan mengenai merek dan fitur-fitur utama merek tersebut, seperti
logo, slogan atau kepribadian unik dari merek. Aaker (1997) dalam Wiastuti &
Kimberlee (2018) menyatakan asosiasi merek memiliki tiga dimensi untuk
mengukur asosiasi merek, yaitu sebagai berikut :
a. Attribute
Penggambaran karakteristik dari suatu merek, apa yang dipikirkan oleh konsumen
yang berhubungan dengan merek atau yang dimiliki oleh merek tertentu ketika
membeli atau mengkonsumsi produk tersebut menurut Keller (2013). Menurut Kotler & Amstrong (2011) dalam Wiastuti & Kimberlee (2018) atribut di bagi
menjadi beberapa bagian antara lain kualitas produk, fitur produk, desain produk,
merek, label, kemasan, dan pelayanan pendukung produk.
b. Benefit
Nilai pribadi konsumen yang melekat pada atribut produk atau layanan dan
dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu functional, experiential, dan symbolic
menurut Keller (2013).
c. Attitude
Evaluasi kesukaan atas penggunaan produk yang berhubungan dengan motivasi
diri sendiri menurut Aaker (1997) dalam Wiastuti & Kimberlee (2018)
Kesadaran Merek
Menurut Buil et al., (2013) kesadaran merek merupakan tahap pertama
untuk menciptakan ekuitas merek. Aulia & Briliana, n.d. (2017) mendefinisikan
kesadaran merek sebagai kemampuan konsumen untuk melakukan pembelian
dengan mengenali atau mengingat merek secara detail. Kesadaran merek juga
berkaitan dengan jejak merek dalam memori, dimana hal ini dapat menjadi tolak
ukur seseorang dalam mengidentifikasi merek dalam kondisi yang berbeda.
Brewer & Zhao (2010) dalam Shabbir et al., (2017) berpendapat jika konsumen
mendengar atau melihat tentang merek, konsumen dapat mengetahui merek
dengan baik. Merek yang menjadi pertimbangan serius untuk dibeli dapat
meningkatkan kesadaran merek dan memungkinkan merek tersebut masuk dalam
bahan pertimbangan.
Cara komunikasi pemasaran yang berharga seperti telepon data, telepon
online, dan iklan media, konsumen dapat memperoleh kesadaran merek. Hal ini
dikarenakan memberikan pernyataan tentang kelebihan produk dan keandalannya
yang membantu meminimalkan ancaman dalam penilaian dan pilihan produk saat
konsumen membeli produk, menurut Rubio et al., (2014). Menurut Aaker (2013) menyatakan kesadaran merek memiliki tempat tertentu dalam memori atau benak
konsumen untuk menciptakan sebuah nilai. Berikut ini adalah tingkatan kesadaran
merek konsumen terhadap merek suatu produk dari tingkat terendah sampai
dengan tingkatan tertinggi
a. Unaware of brand
Tingkatan ini merupakan tingkatan terendah dalam piramida kesadaran merek.
Pada tingkat ini, konsumen tidak menyadari keberadaan suatu merek pada
suatu kategori produk.
b. Brand recognition
Tingkat kedua yaitu brand recognition, dimana pada tingkat ini merupakan
tingkat minimal kesadaran merek konsumen terhadap suatu merek. Pada saat
seorang konsumen memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian,
brand recognition menjadi sesuatu yang penting.
c. Brand recall
Brand recall atau bisa disebut sebagai pengingat kembali terhadap merek,
didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu
dalam suatu kelas produk.
d. Top of mind
Faktor utama dari berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen adalah
merek. Tingkat ini terjadi ketika responden ditanya secara langsung tanpa
diberi petunjuk untuk mengingat. Merek yang disebutkan pertama kali
merupakan top of mind, dimana responden dapat menyebutkan suatu nama
merek dari berbagai kategori produk tertentu
Ekuitas Merek
Menurut Aulia & Briliana, n.d. (2017), ekuitas merek adalah nilai tambah
yang diberikan pada produk dan layanan dengan konsumen. Ekuitas merek juga
mengacu pada utilitas tambahan ke produk dari nama merek yang sering diyakini
menjadi kontribusi terhadap keuntungan jangka panjang perusahaan menurut
Chen (2008) dalam Widhiarta & Wardana (2015). Hal ini dapat dilihat dari cara
konsumen merasakan, berpikir, dan bertindak dengan hal yang berhubungan
dengan merek, harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang dikuasainya. Menurut
Nigam (2011) dalam Widhiarta & Wardana (2015) ekuitas merek yang kuat
memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan pelanggan menjadi lebih baik,
layanan kebutuhan pelanggan lebih efektif, dan meningkatkan keuntungan
perusahaan. Wiastuti & Kimberlee (2018) juga menyatakan hanya perusahaan
yang memiliki ekuitas merek yang kuat yang akan tetap mampu bersaing,
merebut, dan menguasai pangsa pasar.
Menurut Soebianto (2014) dalam dunia pemasaran, perusahaan yang ingin
tetap bertahan dan terus bergerak lebih maju untuk dapat bersaing dengan pesaing
lainnya perlu mengetahui mengenai ekuitas merek produknya. Ekuitas merek
menjadi posisi penting bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya dimana ekuitas
merek dijadikan sebagai landasan dalam menentukan langkah dan strategi
pemasaran dari suatu produk. Wiastuti & Kimberlee (2018) menyatakan semakin
kuat ekuitas merek suatu produk, semakin kuat pula daya tariknya bagi konsumen
untuk mengkonsumsi produk tersebut dan selanjutnya dapat menuntun konsumen
untuk melakukan pembelian
Pengaruh citra merek terhadap ekuitas merek
Dugaan sementara citra merek memiliki pengaruh positif
dan signifikan terhadap ekuitas merek di kalangan konsumen muda.
Penelitian sebelumnya dengan topik yang sama yang dilakukan oleh
Fahrani (2016) yang menemukan bahwa citra merek berpengaruh
positif terhadap ekuitas merek. Serta Imarta (2013) menemukan
bahwa citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap
ekuitas merek.
Pengaruh kesadaran merek terhadap ekuitas merek
Dugaan sementara kesadaran merek berpengaruh positif dan
signifikan terhadap ekuitas merek di kalangan konsumen muda.
Penelitian sebelumnya dengan topik yang sama yang dilakukan oleh
Fahrani (2016) yang menemukan bahwa kesadaran merek
berpengaruh positif terhadap ekuitas merek. Serta Chamid et al
(2015) menemukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan antara kesadaran merek terhadap ekuitas merek
Pengaruh loyalitas merek terhadap ekuitas merek
Dugaan sementara loyalitas merek berpengaruh positif dan
signifikan terhadap ekuitas merek di kalangan konsumen muda.
Penelitian sebelumnya dengan topik yang sama yang dilakukan oleh
Fahrani (2016) yang menemukan bahwa loyalitas merek
berpengaruh positif terhadap ekuitas merek. Serta Muzaqqi et al
(2016) menemukan bahwa loyalitas merek memiliki pengaruh
secara positif dan signifikan terhadap ekuitas merek.
Pengaruh asosiasi merek terhadap ekuitas merek
Dugaan sementara asosiasi merek berpengaruh positif dan
signifikan terhadap ekuitas merek di kalangan konsumen muda.
Penelitian sebelumnya dengan topik yang sama yang dilakukan oleh
Fahrani (2016) yang menemukan bahwa asosiasi merek
berpengaruh positif terhadap ekuitas merek. serta Muzaqqi et al
(2016) menemukan bahwa asosiasi merek memiliki pengaruh secara
positif dan signifikan terhadap ekuitas merek
Citra Merek
Menurut Kotler dan Keller (2012) Citra adalah cara masyarakat
menganggap merek secara aktual. Agar citra benar dapat tertanam
dalam pikiran konsumen, pemasar harus memperlihatkan identitas
merek melalui semua sarana komunikasi dan kontak merek yang
tersedia. Identitas harus disebarkan dalam iklan, laporan tahunan,
brosur, catalog, kemasan, alat tulis perusahaan, dan kartu bisnis. Keller
(2003) berpendapat bahwa sebuah citra merek yang positif diciptakan
oleh program-program yang menghubungkan asosiasi yang kuat,
menguntungkan, dan unik untuk memori merek pemasaran.
Menurut Keller (2003) penawaran citra merek dengan sifat
ekstrinsik dari produk atau layanan, termasuk cara-cara di mana merek
mencoba untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial
pelanggan. Citra merek adalah bagaimana orang berpikir tentang sebuah
merek secara abstrak. Dengan demikian, citra mengacu pada aspek
merek yang lebih berwujud. asosiasi citra dapat dibentuk langsung (dari
pengalaman konsumen sendiri dan kontak dengan produk, merek, target
pasar, atau situasi penggunaan) atau tidak langsung (melalui
penggambaran pertimbangan yang sama seperti yang disampaikan
dalam iklan merek atau oleh beberapa sumber informasi lain, seperti dari
mulut ke mulut).Banyak jenis-jenis aspek berwujud yang dapat
dihubungkan dengan sebuah merek, tapi empat kategori dapat disorot:
a. Profil pengguna
b. Pembelian dan penggunaan situasi
c. Kepribadian dan nilai-nilai
d. Sejarah, warisan, dan pengalaman
Kesadaran Merek
Menurut Sasmita dan Suki (2015) kesadaran merek adalah
bagaimana konsumen mengasosiasikan merek dengan produk tertentu
yang mereka ingin miliki. Kesadaran merek berkaitan dengan kekuatan
node merek atau jejak di memori, sebagaimana tercermin pada
kemampuan konsumen untuk mengidentifikasi merek di bawah kondisi
yang berbeda. Kesadaran merek terdiri dari pengenalan merek dan
kinerja brand recall. Pengenalan merek berkaitan dengan kemampuan
konsumen untuk mengkonfirmasi paparan sebelum merek ketika diberi
dedak sebagai isyarat. Brand recall berkaitan dengan kemampuan
konsumen untuk mengambil merek dari memori ketika diberi kategori
produk, kebutuhan dipenuhi oleh kategori, atau pembelian atau
penggunaan situasi sebagai isyarat (Keller, 2003).
Menurut Durianto et al (2001) peran kesadaran merek terhadap
ekuitas merek dapat dipahami dengan membahas bagaimana kesadaran
merek menciptakan suatu nilai. Penciptaan ini dapat dilakukan paling
sedikit dengan 4 cara yaitu:
a. Anchor to witch other association can be attached, artinya suatu
merek dapat digambarkan seperti suatu jangkar dengan beberapa
rantai. Rantai menggambarkan asosiasi dari merek tersebut.
b. Familiarity – liking, artinya dengan mengenal merek akan
menimbulkan rasa terbiasa terutama produk-produk yang bersifat
low involvement (keterlibatan rendah) seperti pasta gigi, tisu, dan
yang kadang-kadang dapat menjadi suatu pendorong dalam
membuat keputusan.
c. Substance/commitment. Kesadaran akan nama dapat menandakan
keberadaan, komitmen, dan inti yang sangat penting bagi suatu
perusahaan.
d. Brand to consider – langkah pertama dalam suatu proses pembelian
adalah menyeleksi dari suatu kelompok merek-merek yang dikenal
untuk dipertimbangkan merek mana yang akan dibeli
Loyalitas Merek
Loyalitas merek merupakan sikap yang menguntungkan
terhadap merek yang mengakibatkan pembelian yang konsisten dari
merek dari waktu ke waktu. Ini adalah hasil dari pembelajaran
konsumen bahwa hanya merek tertentu yang dapat memenuhi
kebutuhan mereka (Tuominen, 1999).
Seorang pelanggan yang sangat loyal kepada suatu merek tidak
akan dengan mudah memindahkan pembeliannya ke merek lain, apapun
yang terjadi dengan merek tersebut. Sebaliknya, pelanggan yang tidak
loyal terhadap suatu merek, pada saat mereka melakukan pembelian
akan merek tersebut, pada umumnya tidak didasarkan pada ketertarikan
mereka pada mereknya tetapi lebih didasarkan pada karakteristik
produk, harga dan kenyamanan pemakaiannya ataupun berbagai atribut
lain yang ditawarkan oleh merek produk alternatif (Durianto et al,
2001).
Menurut Durianto et al (2001), dengan pengelolaan dan
pemanfaatan yang benar, loyalitas merek dapat menjadi aset strategis
bagi perusahaan. Berikut adalah beberapa potensi yang dapat diberikan
oleh loyalitas merek kepada perusahaan:
a. Reduced marketing costs (mengurangi biaya pemasaran) dalam
kaitannya dengan biaya pemasaran, akan lebih murah
mempertahankan pelanggan dibandingkan dengan upaya untuk
mendapatkan pelanggan baru. Jadi, biaya pemasaran akan mengecil
jika loyalitas merek meningkat.
b. Trade leverage (meningkatkan perdagangan) loyalitas yang kuat
terhadap suatu merek akan menghasilkan peningkatan perdagangan
dan memperkuat keyakinan perantara pemasaran.
c. Attracting new customer (menarik minat pelanggan baru) dengan
banyaknya pelanggan suatu merek yang merasa puas dan suka pada
merek tersebut akan menimbulkan perasaan yakin bagi calon
pelanggan untuk mengkonsumsi merek tersebut terutama jika
pembelian yang mereka lakukan mengandung risiko tinggi
d. Provide time to respond competitive threats (memberi waktu untuk
merespons ancaman persaingan) loyalitas merek akan memberikan
waktu pada sebuah perusahaan untu merespons geraka pesaing.
Asosiasi Merek
Kotler dan Keller (2012) mendefinisikan bahwa asosiasi merek
terdiri dari semua pikiran, perasaan, persepsi, citra, pengalaman,
kepercayaan, sikap, dan sebagainya yang berkaitan dengan merek dan
berhubungan dengan node merek. Komponen kunci asosiasi atau
diferensiasi ekuitas merek biasanya melibatkan dimensi gambar yang
unik untuk kelas produk atau merek (Aaker, 1996). Asosiasi datang
dalam segala bentuk dan mungkin mencerminkan karakteristik dari
produk atau aspek independent dari produk itu sendiri (Keller, 2003).
Menurut Durianto et al (2001) Dalam prakteknya, didapati
banyak sekali kemungkinan asosiasi dan variasi dari asosiasi merek
yang dapat memberikan nilai bagi suatu merek, dipandang dari sisi
perusahaan maupun dari sisi pengguna. Berbagai fungsi asosiasi
tersebut adalah:
a. Membantu proses penyusunan informasi
b. Suatu asosiasi dapat memberikan landasan yang penting bagi upaya
pembedaan suatu merek dari merek lain.
c. Asosiasi merek membangkitkan berbagai atribut produk atau
manfaat bagi konsumen (customer benefits) yang dapat memberikan
alasan spesifik bagi konsumen untuk membeli dan menggunakan
merek tersebut.
d. Beberapa asosiasi mampu merangsang suatu perasaan positif yang
pada gilirannya merembet ke merek yang bersangkutan. Asosiasi–
asosiasi tersebut dapat menciptakan perasaan positif atas dasar
pengalaman mereka sebelumnya serta pengubahan pengalaman
tersebut menjadi sesuatu yang lain dari pada yang lain.
e. Suatu asosiasi dapat menghasilkan landasan bagi suatu perluasan
dengan menciptakan rasa kesesuaian (sense of fit) antara merek dan
sebuah produk baru atau dengan menghadirkan alasan untuk
membeli produk perluasan tersebut
Ekuitas Merek
Ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada produk
dan jasa. Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara konsumen berfikir,
merasa, dan bertindak dalam hubungannya dengan merek, dan juga
harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi
perusahaan (Kotler dan Keller, 2012).
Kotler dan Keller (2012) mendefinisikan ekuitas merek berbasis
pelanggan adalah pengaruh differensial yang dimiliki pengetahuan
merek atas respon konsumen terhadap pemasaran merek tersebut.
Sebuah merek mempunyai ekuitas merek berbasis pelanggan yang
positif ketika konsumen beraksi lebih positif terhadap produk dan cara
produk itu dipasarkan ketika merek itu teridentifikasi, dibandingkan
ketika merek itu tidak teridentifikasi. Merek mempunyai ekuitas merek
berbasis pelanggan yang negatif jika konsumen tidak terlalu menyukai
aktivitas pemasaran untuk merek itu dalam kedaan yang sama. Ada tiga
bahan kunci ekuitas merek berbasis pelanggan.
Pertama, ekuitas merek timbul akibat perbedaan respon
konsumen. Jika tidak ada perbedaan, maka pada intinya produk nama
merek merupakan suatu komoditas atau versi generik dari produk.
Persaingan mungkin timbul dalam hal harga. Kedua, pengetahuan
merek yang terdiri dari semua pikiran, perasaan, citra, pengalaman,
keyakinan dan lainnya yang berhubungan dengan merek. Ketiga,
respons diferensial dari konsumen yang membentuk ekuitas merek
tercermin dalam persepsi, preferensi, dan prilaku yang berhubungan
dengan semua aspek pemasaran merek (Kotler dan Keller, 2012).
Berikut di bawah ini adalah peranan ekuitas merek bagi
pelanggan dan perusahaan menurut Durianto et al (2001), yaitu:
a. Bagi pelanggan
1) Membantu pelanggan menafsirkan, memproses dan menyimpan
informasi yang terkait dengan produk atau merek tersebut.
2) Mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengambilan
keputusan pembelian atas dasar pengalaman masa lalu dalam
penggunaan atau kedekatan, asosiasi dengan berbagai
karakteristik merek.
b. Bagi perusahaan
1) Ekuitas merek yang kuat, dapat mempertinggi keberhasilan
program dalam memikat konsumen baru tau merangkul kembali
konsumen lama.
2) Empat dimensi ekuitas merek: kesadaran merek, persepsi
kualitas, asosiasi-asosiasi dan asset merek lainnya dapat
mepengaruhi pembelian konsumen.
3) Loyalitas merek yang telah diperkuat merupakan hal yang
penting dalam merespon inovasi yang dilakukan para pesaing.
4) Asosiasi merek sangat penting sebagai dasar strategi positioning
maupun strategi perluasan produk.
5) Ekuitas merek yang kuat memungkinkan perusahaan meperoleh
margin yang lebih tinggi dan menetapkan harga premium, serta
mengurangi ketergantungan pada promosi sehingga dapat
diperoleh laba yang lebih tinggi.
6) Ekuitas merek yang kuat dapat digunakan sebagai dasar untuk
pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau
menciptakan bidang bisnis baru yang terkait yang biayanya akan
jauh lebih mahal untuk dimasuki tenpa merek yang memiliki
ekuitas merek tersebut.
7) Ekuitas merek yang kuat dapat meningkatkan penjualan karena
mampu menciptakan loyalitas saluran distribusi.
8) Aset-aset ekuitas merek lainnya dapat memberikan keuntungan
kompetitif bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah
yang tidak dimiliki pesaing
Kesan Kualitas (Perceived Quality)
Kesan kualitas didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan
kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan
maksud yang diharapkan (Aaker, 1997: 124). Perceived quality mempunyai peranan penting dalam membangun suatu merek, dalam banyak konteks
perceived quality sebuah merek dapat menjadi alasan yang penting pembelian
serta merek mana yang akan dipertimbangkan konsumen yang pada gilirannya
akan mempengaruhi pelanggan dalam memutuskan merek yang akan dibel
Asosiasi Merek (Brand Associations)
Asosiasi merek adalah segala kesan yang muncul di benak seseorang yang terkait
dengan ingatannya mengenai suatu merek (Aaker, 1997: 160). Suatu merek yang
telah mapan akan memiliki posisi yang menonjol dalam persaingan bila didukung
asosiasi yang kuat. Berbagai asosiasi merek yang saling berhubungan akan
menimbulkan suatu rangkaian yang disebut brand image. Semakin banyak
asosiasi yang saling berhubungan, semakin kuat brand image merek tersebut.
Keuntungan asosiasi merek yang dikemukakan oleh Rangkuti (2004: 44) ada
lima, yaitu:
- Dapat membantu proses penyusunan informasi, yaitu dapat membantu
memberikan sekumpulan fakta dan spesifikasi yang dapat dengan mudah
dikenal oleh konsumen. - Perbedaan. Asosiasi dapat memberikan landasan yang penting bagi usaha
pembedaan satu merek dengan merek yang lain. - Alasan untuk membeli. Asosiasi merek sangat membantu para konsumen
untuk mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut atau tidak. - Penciptaan sikap atau perasaan positif. Asosiasi merek dapat merangsang
perasaan positif yang pada akhirnya juga akan berdampak positif pada
produk yang bersangkutan. - Landasan untuk perluasan. Asosiasi merek dapat menghasilkan landasan
bagi suatu perluasan merek, yaitu dengan menciptakan rasa kesesuaian
antara suatu merek dengan sebuah produk baru.
Manfaat Ekuitas Merek (Brand Equity)
Menurut Durianto, Sugiarto, Sijintak dalam bukunya yang berjudul “Strategi
Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek” (2001: 6), Brand
Equity merupakan aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dibenak
konsumennya. Aset yang dikandungnya dapat membantu konsumen dalam
menafsirkan, memproses dan menyimpan informasi yang terkait dengan produk
dan merek tersebut. Brand equity dapat mempengaruhi rasa percaya diri
konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian berdasarkan atas pengalaman
masa lalu dalam penggunaan atau kedekatan, asosiasi dengan berbagai
karakteristik merek. Dalam kenyataannya, perceived quality dan brand
association dapat mempertinggikan tingkat kepuasan konsumen.
Disamping memberikan nilai bagi konsumen, brand equity juga memberikan
nilai bagi perusahaan dalam bentuk:
a. Brand equity yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam
memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama.
Promosi yang dilakukan lebih efektif jika merek sudah terkenal. Brand
equity yang kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap
kualitas merek.
b. Empat elemen brand equity, yaitu: brand awareness, perceived quality,
asosiasi-asosiasi, dan aset merek lainnya dapat mempengaruhi alasan
pembelian konsumen, bahkan seandainya brand awareness, perceived
quality dan asosiasi-asosiasi tidak begitu penting dalam proses pemilihan
merek, ketiganya tetap dapat mengurangi keinginan atau rangsangan
konsumen untuk mencoba merek-merek lain.
c. Brand loyalty yang telah diperkuat merupakan hal penting dalam
merespon inovasi yang dilakukan pesaing. Brand loyalty adalah salah satu
kategori brand equity yang dipengaruhi oleh kategori brand equity
lainnya. Kategori-kategori brand equity lainnya juga berhubungan satu
sama lain. Perceived quality dapat dipengaruhi oleh brand awareness.
Nama merek dapat memberikan kesan bahwa produk dibuat dengan baik
(perceived quality), diyakinkan oleh asosiasi dan loyalitas konsumen.
(seorang konsumen yang loyal tidak akan menyukai produk yang
kualitasnya rendah).
d. Brand association juga sangat penting sebagai dasar strategi positioning
maupun strategi perluasan produk.
e. Salah satu cara memperkuat brand equity adalah dengan melakukan
promosi besar-besaran yang membutuhkan biaya besar. Brand equity yang
kuat memungkinkan perusahaan memperoleh margin yang lebih tinggi
dengan menerapkan premium price (harga premium) dan mengurangi
ketergantungan pada promosi sehingga dapat memperoleh laba yang lebih
tinggi.
f. Brand equity yang kuat dapat digunakan dasar sebagai dasar untuk
petumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau
menciptakan bidang bisnis baru yang terkait, dimana biayanya akan lebih
mahal untuk dimasuki tanpa merek yang memiliki brand equity tersebut.
g. Brand equity yang kuat dapat meningkatkan penjualan karena mampu
menciptakan loyalitas saluran distribusi. Toko, supermarket dan tempat-
tempat penjualan lainnya tidak akan ragu-ragu untuk menerima sebuah
produk dengan brand equity yang kuat dan sudah terkenal untuk dijual ke
konsumen. Produk dengan brand equity yang kuat akan dicari oleh
pedagang karena mereka yakin bahwa produk dengan merek tersebut akan
memberikan keuntungan bagi mereka. Dengan brand equity yang kuat,
saluran distribusi dapat berkembang sehingga semakin banyak tempat
penjualan yang pada akhirnya akan memperbesar volume penjualan
produk tersebut.
h. Aset-aset brand equity lainnya dapat memberikan keuntungan kompetitif
bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah yang tidak dimiliki
pesaing. Biasanya, bila elemen utama dari brand equity yaitu brand
awareness, brand association, perceived quality dan brand loyalty sudah
sangat kuat, secara otomatis aset brand equity lainnya juga akan kuat.
Sebagai contoh kesetiaan perantara atau pemasaran (diler, grosir, dll)
sangat bergantung pada kekuatan empat elemen utama dari brand equity.
Pada umumnya, mereka tidak ragu lagi terhadap perusahaan yang
memiliki brand equity kuat, sehingga kepercayaan untuk memasarkan
produknya semakin meningkat. Oleh karenanya penekanan riset brand
equity diberikan pada keempat elemen utama dari brand equity.
Sedangkan aset brand equity lainnya akan secara otomatis terimbas oleh
kekuatan dari empat elemen utama tersebut
Pengertian Ekuitas Merek (Brand Equity)
Menurut Durianto, Sugiarto dan Budiman (2004) pengukuran ekuitas merek telah
dikembangkan oleh Aaker menjadi model Brand Equity Ten. Pengukuran-
pengukuran dikelompokkan dalam lima kategori. Empat kategori yang pertama
mewakili persepsi konsumen tentang suatu merek melalui empat dimensi ekuitas
merek, yaitu loyalitas, persepsi kualitas, asosiasi dan kesadaran (loyalty,
perceived quality, association, and awareness). Kategori kelima meliputi
pengukuran dua jenis perilaku pasar (market behaviour) yang mewakili informasi
yang diperoleh berdasarkan pasar dan bukan langsung dari konsumen. Aaker
menyatakan bahwa merek memberikan “nilai”, sehingga nilai total produk yang
“bermerek” baik menjadi lebih tinggi dibandingkan produk yang dinilai semata-
mata secara objektif. Salah satu pertimbangan yang dapat dikemukakan adalah
reputasi tinggi merek yang baik dibangun melalui proses yang memakan waktu
ratusan tahun. Aaker menyebut nilai tersebut sebagai (brand equity). Munculnya
konsep ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa merek yang bereputasi
merupakan aset yang juga dapat diperjualbelikan sebagaimana aset-aset
perusahaan lainnya. Merek yang prestisius memiliki ekuitas merek yang tinggi.
Semakin kuat ekuitas merek suatu produk, semakin kuat daya tariknya untuk
menggiring konsumen mengonsumsi produk tersebut, yang selanjutnya akan
mengantar perusahaan memanen keuntungan dari waktu ke waktu
Manfaat Merek
Merek merupakan hal yang sangat penting, baik bagi konsumen maupun
produsen. Dari sisi konsumen, merek mempermudah pembelian. Bila tidak ada
merek, konsumen harus mengevaluasi semua produk yang tidak memiliki merek
setiap mereka akan melakukan pembelian. Merek juga membantu meyakinkan
konsumen bahwa mereka akan mendapatkan kualitas yang konsisten ketika
mereka membeli produk tersebut. Sedangkan dari sisi produsen, merek dapat
dipromosikan. Merek dapat dengan mudah diketahui ketika diperlihatkan atau
ditempatkan dalam suatu display. Selain itu, merek dapat dipakai untuk
mengurangi perbandingan harga, karena merek adalah salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam membandingkan produk-produk sejenis yang berbeda
(Rangkuti 2004: 5)
Pengertian Merek
Merek adalah nama dan atau symbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah
logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari
seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian
membedakannya dari barang-barang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor
(Aaker, 1997: 9).
Sedangkan menurut Webster’s dalam Rangkuti (2002: 10) adalah sebagai berikut:
To mark with a stencil, as a box, cask, etc, in order to give a description of the
contents or the name of the manufacturer. We may assume for the ease of
understanding that “brand” is refers to the particular name, logo, or design a
manufacturer uses to identify its products.
Dalam pengertian tersebut pada intinya, merek digunakan untuk menandai sesuatu
dengan tujuan untuk memberikan gambaran dari isi maupun nama peusahaan
dimana dapat dianggap bahwa merek dapat mewakili nama, logo, rancangan
tertentu suatu perusahaan yang digunakan untuk mengidentifikasi produknya
Pengaruh ekuitas merek, harga, dan kualitas pelayanan terhadaployalitas pelanggan
Banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk dapat menciptakan kesetiaan
bagi pelanggan sehingga pelanggan tersebut melalukan pembelian ulang terhadap
produknya. Loyalitas pelanggan mempunyai keterkaitan dengan kualitas pelayanan
produk dan harga produk, dimana tingkat kesetiaan merupakan cermin dari tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan tingkat kinerja yang dirasakan dengan
harapan pelanggan tersebut. Sementara itu loyalitas menunjukan sejauh mana
perbedaan antara harapan atau kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan persepsi
yang dirasakan. loyalitas pelanggan juga dapat ditunjang dengan harga produk yang
sesuai dan dapat dijangkau oleh pelanggan. Ketika pelanggan setia terhadap suatu
produk, maka pelanggan akan merasa puas dan hal ini akan meningkatkan kualitas
pelayanan yang lebih baik lagi terhadap pelanggan kepada produk ataupun
perusahaan.
Dengan kualitas pelayanan produk yang baik, pelanggan akan merasa puas
dengan apa yang mereka harapkan. Mereka akan merekomendasikan produk
tersebut kepada orang lain. Hal ini tentu akan berdampak baik bagi perusahaan
karena secara tidak langsung perusahaan akan mendapatkan keuntungan dan
kehidupan perusahaan akan berlangsung lebih lama. Loyalitas pelanggan
merupakan fungsi pandangan terhadap kinerja dan harapan pembeli. Perusahaan
yang berfokus pada pelanggan biasanya berpedoman bahwa pelanggan merupakan
sasaran sekaligus alat pemasaran. Karna itu salah satu tugas utama tenaga
pemasaran adalah mempertahankan pelanggannya
Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan
Tjiptono (2014: 52) mengatakan bahwa kualitas pelayanan merupakan suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia, proses dan lingkungan
yang dapat memenuhi harapan konsumen. Penelitian Muhammad Maftukhin
(2017) menunjukan bahwa kualitas pelayanan dan kualitas produksi berpengaruh
signifikan terhadap loyalitas pelanggan
Pengaruh harga terhadap loyalitas pelanggan
Pelanggan mempunyai ekspektasi bahwa harga yang murah, akan
berdampak pada kesetiaan pelanggan. Harga seringkali digunakan sebagai indikator
nilai yang mana harga tersebut dihubungkan dengan barang atau jasa. Dapat
disimpulkan bahwa harga berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Made Novandri (2015) menunjukan bahwa harga
berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan, hal ini menunjukan bahwa
harga yang semakin kompetitif akan meningkatkan minat pelanggan untuk lebih
loyal terhadap kartu telkomsel
Pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas pelanggan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekuitas merek berpengaruh positif
pada loyalitas pelanggan. Hal tersebut membuktikan bahwa semakin tinggi
loyalitas konsumen pada kartu Telkomsel, semakin tinggi nilai yang diberikan kartu
Telkomsel terhadap perusahaan Telkomsel. Hasil penelitian ini mendukung
penelitian yang dilakukan oleh Severi dan Ling (2016) dan Sasmita dan suki (2017),
dengan hasil yang menunjukkan bahwa ekuitas merek berpengaruh positif terhadap
loyalitas pelanggan
Indikator Loyalitas Pelanggan
Menurut Tjiptono (2014:115) mengatakan bahwa ada enam indikator yang
bisa digunakan untuk mengukur loyalitas pelanggan, adapu keenam indicator
tersebut adalah :
- Pembelian ulang
Minat beli ulang berbeda dengan loyalitas, jika loyalitas mencerminkan
komitmen psikologis terhadap merek atau produk tertentu sedangkan
perilaku pebelian ulang semata-mata menyangkut pembelian merek yang
sama secara beulang kali. - Kebiasaan mengkonsumsi merek
Suatu merek akan menjadi sebuah kebutuhan jika dikonsumsi secara terus
menerus, dan akan menciptakan image yang baik pada merek tersebut. - Rasa suka yang besar pada merek
Semakin sering dikonsumsinya suatu merek maka akan menimbulkan rasa
suka yang besar terhadap suatu merek tersebut. - Ketetapan pada merek
Keloyalitasan terhadap suatu merek hingga pengguna tidak berfikir untuk
beralih merek. - Keyakinan bahwa merek tertentu adalah merek terbaik
Jika suatu merek telah membuat image yang baik maka konsumen akan
melihatnya sebagai suatu merek yang terbaik dan enggan untuk beralih
merek. - Perekonomian merek pada orang lain.
Dengan adanya suatu merek yang menjadi sebuah pionir, maka merek
tersebut akan menjadi suatu kebutuhan yang tidak boleh terhenti
produksinya dan akan menciptakan pesaing baru untuk menggantikannya
jika produk tersebut terhenti produksinya.
Menurut Graffin dalam Ratih Hurriyati (2015:132) menyatakan bahwa
terdapat proses atau tahap-tahap terbentuknya loyalitas pelanggan yang terbagi
menjadi tujuh tahap, yaitu: - Suspect
Suspect meliputi semua orang yang mungkin akan membeli barang/jasa
perusahaan tetapi belum tahu apapun mengenai perusahaan dan
barang/jasa yang ditawarkan. - Prospect
Prosect adalah orang-orang yang memiliki kebutuhan akan suatu produk
atau jasa tertentu dan mempunyai kemampuan untuk membeli
produk/jasa. Para prospect ini, meskipun mereka belum melakukan
pembelian, mereka telah mengetahui keberadaan perusahaan dan
barang/jasa yang ditawarkan, karena seseorang telah merekomendasi
barang/jasa tersebut kepadanya. - Disqualified Prospect
Yaitu prospect yang telah mengetahui keberadaan barang/jasa tertentu,
tetapo tidak mempunyai kebutuhan akan barang/jasa tersebut atau tidak
mempunyai kemampuan untuk membeli barang/jasa tersebut. - First Time Customers
Yaitu pelanggan yang membeli untuk pertama kalinya.Mereka masih
menjadi pelanggan yang baru untuk menggunakan produk yang
ditawarkan oleh sebuah perusahaan. - Repeat Customers
Yaitu pelanggan yang telah melakukan pembelian suatu produk sebanyak
dua kali atau lebih. Mereka adalah yang melakukan pembelian atas
produk yang sama sebanyak dua kali, atau membeli dua macam produk
yang berbeda dalam dua kesempatan yang berbeda pula. - Clients
Clients adalah pelanggan yang akan membeli semua barang atau jasa
yang ditawarkan oleh perusahaan dan yang mereka butuhkan. Mereka
membeli secara teratur, hubungan dengan jenis pelanggan ini sudah kuat
dan berlangsung lama, membuat mereka tidak terpengaruh oleh produk
pesaing. - Advocates
Seperti halnya clients, advocates membeli barang atau jasa yang
ditawarkan dan mereka butuhkan, serta melakukan pembelian secara
teratur terhadap produk tersebut.Selain itu, mereka mendorong teman-
teman mereka agar membeli barang/jasa dari perusahaan tersebut atau
merekomedasikan perusahaan tersebut pada orang lain, dengan begitu
secara tidak langsung mereka telah melakukan pemasaran untuk
perusahaan dan membawa konsumen untuk perusahaan yang mana hal
tersebut sangat baik untuk keberlangsungan perusahaan.
Loyalitas pelanggan
Menurut Kotler dan Keller (2016:138) menyatakan bahwa “A deeply held
commitment to rebay or repatronize apreferred product or service in the future
despite situational influence and marketing efforts having the potentialto cause
switching behaviour” artinya, loyalitas pelanggan adalah komitmen yang dipegang
secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali produk atau jasa yang
disukai di masa depanm meski pengaruh situasi dan usaha pemasaran berpotensi
menyebabkan pelanggan beralih.
Menurut Tjiptono (2014:393) mengatakan bahwa loyalitas pelanggan
adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok,
berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang
konsisten. Menurut Hasan (2015:75) mengatakan bahwa loyalitas pelanggan
merupakan perilaku yang terkait dengan sebuah produk, termasuk kemungkinan
memperbaharui kontrak merek di masa yang akan datang, berapa kemungkinan
pelanggan mengubah dukungannya terhadap merek, berapa keinginan pelanggan
untuk meningkatkan citra positif suatu produk”. Berdasarkan definisi diatas
loyalitas konsumen merupakan bentuk sebuah komitmen konsumen terhadap suatu
produk yang telah digunakannya dalam jangka waktu yang lama karena sudah
mempercayai, merasa nyaman dan merasa puas terhadap produk tersebut
Menurut Kotler dan Keller (2016:650) pelanggan loyal adalah aset penting
perusahaan yang harus dijaga.Pelanggan yang loyal memiliki beberapa
karakteristik yang dapat menunjukkan seberapa besar pelanggan loyal terhadap
suatu produk atau jasa. Pelanggan yang loyal memiliki karakteristik sebagai
berikut:
- Satisfaction : Tetap bersama perusahaan selama ekspektasi
terpenuhi. - Repeat purchase : Kembali ke perusahaan untuk membeli lagi.
- Word of Mouth/Buzz : Memasang reputasinya untuk memberi tahu
orang lain tentang perusahaan. - Evangelism : Meyakinkan orang lain untuk membeli produk
perusahaan. - Ownership : Merasa bertanggungjawab atas kesuksesan perusahaan
yang berkelanjutan
Indikator kualitas pelayanan
Menurut Hardiansyah (2012: 46) untuk mengetahui kualitas pelayanan yang
dirasakan secara nyata oleh konsumen, ada 5 indikator kualitas pelayanan, yaitu:
- Tangibles (berwujud)
kualitas pelayanan berupa sarana fisik perkantoran, komputerisasi
administrasi, ruang tunggu, tempat informasi yang meliputi :
a. Penampilan petugas/aparatur dalam melayani pelanggan
b. Kenyamanan tempat melakukan pelayanan
c. Kemudahan dalam proses pelayanan
d. Kedisiplinan petugas/aparatur dalam melakukan pelayanan
e. Kemudahan akses pelanggan dalam permohonan pelayanan
f. Penggunaan alat bantu dalam pelayanan - Realibility (kehandalan) : kemampuan dan keandalan untuk
menyediakan pelayanan yang terpercaya, yang meliputi :
a. Kecermatan petugas dalam melayani
b. Memiliki standar pelayanan yang jelas
c. Kemampuan petugas/aparatur dalam menggunakan alat bantu dalam
proses pelayanan
d. Keahlian petugas dalam menggunakan alat bantu dalam proses
pelayanan - Responsivess (ketanggapan) : kesanggupan untuk membantu dan
menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap
keinginan konsumen. Indikatornya adalah:
a. Merespon setiap pelanggan/pemohon yang ingin mendapatkan
pelayanan
b. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cepat
c. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan tepat
d. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan cermat
e. Petugas/aparatur melakukan pelayanan dengan waktu yang tepat
f. Semua keluhan pelanggan direspon oleh petugas. - Assurance (jaminan) : kemampuan dan keramahan serta sopan santun
pegawai dalam meyakinkan kepercayaan konsumen, yang meliputi :
a. Petugas memberikan jaminan tepat waktu dalam pelayanan
b. Petugas memberikan jaminan biaya dalam pelayanan
c. Petugas memberikan jaminan legalitas dalam pelayanan
d. Petugas memberikan jaminan kepastian biaya dalam pelayanan - Emphaty (Empati) : sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai
terhadap konsumen. Indikatornya adalah :
a. Mendahulukan kepentingan pelanggan/pemohon
b. Petugas melayani dengan sikap ramah
c. Petugas melayani dengan sikap sopan santun
d. Petugas melayani dengan tidak diskriminatif (membeda-bedakan)
Kualitas pelayanan
Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak kepada pihak yang lain pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler, 2012:96). Sementara itu menurut
Howard dan Shetch sebagaimana dikutip oleh Tjiptono (2014:243) mengatakan
kepuasan pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan kesepadanan
atau ketidakpahaman antara hasil yang didapatkan dibandingkan dengan
pengorbanan yang dilakukan.
Dalam pengertian lain dijelaskan bahwa pelayanan (service) bisa dipandang
sebagai sebuah sistem yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu service
operations yang kerap kali tidak tampak atau tidak diketahui keberadaannya oleh
pelanggan (back office atau backstage) dan service delivery yang biasanya tampak
(visible) atau diketahui pelanggan (sering disebut pula front office) (Tjiptono,
2012:4). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan adalah
bentuk aktivitas yang diberikan kepada konsumen yang bertujuan untuk memenuhi
harapan pelanggan. Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang ditunjukkan melalui sikap dan sifat dalam
memberikan pelayanan untuk kepuasan pelanggan. Kualitas pelayanan dapat
diketahui dengan cara membandingkan persepsi para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima atau mereka peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya
terhadap atribut pelayanan suatu perusahaan.
Menurut Tjiptono (2012:59), ada terdapat lima faktor dominan atau penentu
kualitas pelayanan jasa, kelima faktor dominan tersebut diantaranya yaitu:
- Bukti fisik (tangibles) yaitu berupa penampilan fisik, peralatan dan
berbagai materi komunikasi yang baik. Hal ini meliputi fasilitas fisik
(contoh: gedung, gudang dan lain-lain), perlengkapan dan peralatan yang
digunakan (teknologi), serta penampilan karyawannya. - Keandalan (reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan, terpercaya, dan akurat serta
konsisten. Contoh dalam hal ini antara lain, kemampuan karyawan dalam
memberikan pelayanan yang terbaik, kemampuan karyawan dalam
menangani kebutuhan pelanggan dengan cepat dan benar, kemampuan
perusahaan dalam memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan
harapan pelanggan. - Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemampuan dari karyawan dan
pengusaha untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan
cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan pelanggan. Dengan cara
keinginan para pegawai dalam membantu dan memberikan pelayanan
dengan cepat dan benar, kesigapan para pegawai untuk ramah pada setiap
pelanggan, kesigapan para pegawai untuk bekerja sama dengan
pelanggan. - Jaminan/keyakinan (assurance), yaitu berupa kemampuan karyawan
untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan terhadap janji yang telah
dikemukakan kepada pelanggan. Contoh dalam hal ini antara lain
pengetahuan dan keterampilan pegawai dalam menjalankan tugasnya,
pegawai dapat diandalkan, pegawai dapat memberikan kepercayaan
kepada konsumen, pegawai memiliki keahlian teknis yang baik. - Empati (emphaty), yatu kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih
peduli memberikan perhatian pribadi kepada pelanggan. Misalnya
karyawan harus mencoba menempatkan diri sebagai pelanggan. Jika
pelanggan mengeluh maka dicari solusi secara segera, agar selalu terjaga
hubungan yang harmonis, dengan menunjukkan rasa peduli yang tulus.
Dengan cara perhatian yang diberikan para pegawai dalam melayani dan
memberikan tanggapan atas keluhan para pelanggan
Indikator Harga
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:278) ada empat indikator yang
mencirikan harga yaitu:
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga yang diberikan oleh perusahan terhadap produknya sesuai
dengan kualitas produk yang mereka hasilkan, misalnya jika
harganya tinggi maka kualitas produk yang diberikan pun memiliki
kualitas yang tinggi sehingga konsumen pun merasa tidak keberatan
jika membeli produk tersebut. - Keterjangkauan harga
Harga yang diberikan oleh perusahaan terhadap produk mereka
dapat dijangkau oleh para konsumennya. Harga yang sesuai dan
terjangkau tentunya akan menjadi pertimbangan konsumen untuk
membeli produk mereka. - Daya saing harga
Dalam pasar, perusahaan sebaiknya juga memperhatikan bahwa
harga yang diberikan memiiki daya saing yang tinggi terhadap para
kompetitornya. Jika harga yang diberikan terlampau tinggi di atas
harga para kompetitor maka produk tersebut tidak memiliki daya
saing yang baik. - Kesesuaian harga dengan manfaat
Manfaat produk yang dimiliki harus sesuai dengan harga yang
diberikan oleh perusahaan terhadap produk mereka. Ada baiknya
jika harga yang tinggi memiliki manfaat produk yang tinggi pula
Harga
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa atau
jumlah dari nilai yang ditukar pelanggan atas manfaat-manfaat karena memiliki
atau menggunakan produk atau jasa tersebut (Kotler dan Amstrong, 2012:43).
Sedangkan menurut Alma (2016:169), harga merupakan atribut yang melekat pada
suatu barang, yang memungkinkan barang tersebut dapat memenuhi kebutuhan
(needs), keinginan (wants), dan memuaskan konsumen (satisfaction).
Menurut Daryanto (2013:62), harga adalah jumlah uang yang ditagihkan untuk
suatu produk atau sejumlah nilai yang diperlukan konsumen untuk manfaat
memiliki atau menggunakan produk. Dan ditambahkan lagi oleh Tjiptono
(2012:439) bahwa agar dapat sukses dalam memasarkan suatu barang atau jasa,
setiap perusahaan harus menetapkan harganya secara tepat.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya
(produk, tempat dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya atau pengeluaran.
Dapat disimpulkan bahwa harga adalah suatu nilai yang diperlukan pelanggan
untuk ditukarkan pada produk atau jasa agar dapat memiliki atau menggunakan
produk atau jasa tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan
yang dapat memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan. Banyak
faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan penentuan harga jual baik dari
lingkungan internal maupun lingkungan eksternal perusahaan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penetapan harga menurut Hasan (2013:304) yaitu:
- Kondisi Perekonomian
Kondisi ekonomi (inflasi, booming, atau resesi, tingkat suku bunga)
kebijakan serta peraturan pemerintah, dan aspek sosial (kepedulian terhadap
lingkungan) sangat mempengaruhi tingkat harga yang berlaku, khususnya
nilai tukar rupiah atas mata uang asing (dollar Amerika untuk kasus
Indonesia), berdampak pada peningkatan harga berbagai barang khususnya
impor barang dengan kandungan impor kebijakan uang ketat oleh
pemerintah yang membuat peredam uang rupiah terhadap dollar akan
mempengaruhi penetapan bunga. - Elastisitas Harga
Elastisitas permintaan akan mempengaruhi penentuan harga dan volume
yang dapat dijual. Untuk beberapa jenis barang, harga dan volume penjualan
ini berbanding tebal, artinya jika terjadi kenaikan harga maka penjualan
akan menurun dan sebaliknya jika penurunan harga maka volume penjualan
akan meningkat. Lebih dari itu setiap perubahan pada harga akan
memunculkan berbagai respon dari konsumen. - Faktor yang tidak berkaitan dengan harga
Pelanggan mungkin bersedia membayar harga premium (jaminan,
pelayanan) atau justru mengorbankan beberapa manfaat dari sebuah produk
demi harga yang lebih rendah - Tujuan perusahaan
Penetapan harga suatu produk sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh perusahaan, setiap perusahaan tidak selalu mempunyai
tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya yang ingin dicapai dan
dinyatakan secara eksplisit. - Faktor legal dan etis
Faktor legal dan etis perlu dipertimbangkan, keduanya mempengaruhi
strategi harga. - Bauran pemasaran
Penetapan harga harus dikoordinasikan dan saling mendukung dengan
bauran pemasaran lainnya yaitu produk, distribusi dan promosi. - Biaya
Biaya merupakan faktor dasar dalam penentuan harga yang minimal, sebab
tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan mengakibatkan
kerugian. Sebaliknya, apabila tingkat harga diatas semua biaya, maka akan
menghasilkan keuntungan
Indikator ekuitas merek
Ekuitas merek ini terbentuk dari 4 dimensi yang bisa dijadikan indikator
dalam menilai brand equity. Indikator ekuitas merek menurut Shimp (2013: 33)
adalah sebagai berikut :
- Kesadaran Merek (Brand Awareness)
Kesadaran merek merupakan suatu kesanggupan konsumen untuk
mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu brand adalah suatu bagian
dari kategori produk tertentu. Dalam hal ini kesadaran merek merupakan
suatu elemen identitas yang sangat penting bagi perusahaan. - Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Persepsi kualitas adalah suatu persepsi yang dimiliki oleh konsumen
terhadap keseluruhan kualitas atau kelebihan dari suatu produk dengan
brand tertentu yang berkaitan dengan apa yang diharapkan konsumen. - Asosiasi Merek (Brand Associations)
Brand associations adalah seluruh kesan yang timbul dan berhubungan
dengan ingatan konsumen tentang suatu brand. Asosiasi merek ini
menggambarkan pencitraan suatu brand terhadap suatu kesan tertentu dalam
hubungannya dengan manfaat, atribut, pesaing, kebiasaan, harga, dan lain
sebagainya. - Loyalitas Merek (Brand Loyalty)
Brand loyalty adalah suatu ukuran kedekatan atau keterkaitan konsumen
pada suatu merek. Ukuran tersebut mencerminkan tentang mungkin
tidaknya seorang konsumen akan beralih atau berpaling ke brand yang lain
Ekuitas Merek
Menurut Kotler (2016), ekuitas merek (brand equity) adalah nilai tambah
yang diberikan pada produk dan jasa. Ekuitas merek (brand equity) yang terdiri dari
empat dimensi yaitu kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek dan loyalitas
merek dapat memberikan nilai kepada konsumen. Ekuitas merek dapat tercermin
dalam hal konsumen berpikir, bertindak dalam hubungannya dengan merek, dan
juga harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi perusahaan.
Oleh karena itu ekuitas merek juga dapat mempengaruhi konsumen dalam
melakukan keputusan pembelian.
Suatu merek akan kuat jika didukung dengan ekuitas merek yang kuat.
Pemasar akan selalu berusaha membangun merek karena hanya merek yang kuat
yang akan memenangkan persaingan (Kotler dan Armstrong, 2014:266). Merek
yang kuat akan mendorong terciptanya ekuitas merek yang kuat pula. Ekuitas
merek adalah seperangkat asosiasi dan perilaku yang dimiliki oleh pelanggan
merek, anggota saluran distribusi, dan perusahaan yang memungkinkan suatu
merek mendapatkan 12 kekuatan, daya tahan, dan keunggulan yang membedakan
dengan para pesaing (David A Aaker, 2013:204).
Menurut David Allen Aaker (2018:15), ekuitas merek dikelompokkan
kedalam empat dimensi yang dapat dijadikan indikator dalam menilai ekuitas
merek, yaitu sebagai berikut :
a. Brand awareness (kesadaran merek) menunjukkan kesanggupan seorang calon
pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari
suatu kategori produk tertentu.
b. Perceived quality (persepsi kualitas) dapat didefinisikan sebagai persepsi
pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk
berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.
c. Brand association (asosiasi merek) merupakan segala kesan yang muncul
dibenak seorang yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek.
d. Brand loyalty (loyalitas merek) merupakan suatu ukuran keterkaitan konsumen
kepada sebuah merek.
Pengertian pemasaran
Menurut Kotler (2014: 27), pemasaran adalah suatu proses pemasyarakatan
dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan
produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain. Menurut Hasan (2013: 4),
Pemasaran adalah proses mengidentifikasi, menciptakan dan mengkomunikasikan
nilai, serta memelihara hubungan yang memuaskan pelanggan untuk
memaksimalkan keuntungan perusahaan.
Pada saat ini, kegiatan pemasaran memegang peranan penting dalam dunia
bisnis. Terkadang istilah pemasaran digunakan secara bergantian dengan istilah-
istilah seperti: perdagangan, penjualan, dan distribusi. Pengertian ini muncul karena
pihak-pihak yang berkepentingan memiliki kegiatan dan kepentingan yang berbeda.
Padahal, pemasaran memiliki konsep yang luas sedangkan istilah lainnya hanyalah
satu kegiatan dalam keseluruhan sistem pemasaran. Jadi pemasaran adalah seluruh
pengertian penjualan, perdagangan dan distribusi
Tahap-tahap Minat Beli Konsumen
Minat beli yang terdapat pada diri seseorang untuk melakukan suatu
perilaku dipengaruhi oleh sikap maupun variabel lainnya. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada variabel minat ini adalah: (Schiffman dan Kanuk, 2014).”
a. Minat dianggap sebagai penangkap atau perantara faktor-faktor motivasional
yang mempunyai dampak pada suatu perilaku.
b. Minat menunjukkan seberapa kuat seseorang berani mencoba.
c. Minat juga menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan
seseorang untuk dilakukan.
d. Minat adalah paling dekat berhubungan dengan perilaku selanjutnya
Komponen – komponen Minat Beli Konsumen
Indikator-indikator dari minat beli konsumen dijelaskan oleh konsumen
dari Schiffman dan Kanuk (2014). Komponen-komponen tersebut adalah sebagai
berikut:”
- Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk
- Mempertimbangkan untuk membeli
- Tertarik untuk mencoba
- Ingin mengetahui produk
- Jadi ingin memiliki produk
Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen
Kotler dan Amstrong (2012) mengemukakan bahwa perilaku Minat Beli
dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu:”
- Budaya (culture, sub culture dan kelas ekonomi)
- Sosial (kelompok acuan, keluarga serta peran dan status)
- Pribadi (usia dan tahapan daur hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi,
gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri). - Psikologis (motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap)
Jenis-Jenis Digital Marketing
Adapun jenis-jenis digital marketing menurut (kelly Sawlani, SE. & Dhiraj, 2021)
1) Banner Advertisement (iklan melalui banner), iklan melalui banner ini berupa
file grafis yang mempunyai ukuran yang diberi nama pixel untuk diposting
pada website penyedia iklan. Banner dibuat semenarik mungkin agar calon
pembeli melirik dan membeli produk yang di tawarkan dengan cara mengklik
iklan dan mengarah ke website atau media sosial produk tersebut.
2) Sponsorship (sponsor), dengan melakukan kegiatan sponsorship sangat
membantu dalam pemasaran digital karena peserta dari kegiatan dapat
memikat calon pembeli agar mau dan bersedia membeli produk yang telah di
tawarkan dan dapat meningkatkan penjualan.
3) Classified Listings (daftar produk terklasifikasi), jenis digital marketing ini
adalah mengklasifikasi produk yang telah di sebar di surat kabar, koran
maupun majalah. Klasifikasi online adalah terbilang cara yang sangat baik
digunakan untuk memposting bisnis yang telah ditujukan kepada orang-orang
yang ingin membeli produk tersebut. Keunggulan dari klasifikasi online yaitu
dapat mempermudah konsumen dalam mencari dan melihat produk dengan
cepat dan tepat yang telah di tawarkan.
4) Email Marketing (pemanfaatan email), jenis digital marketing ini adalah berupa
pemasaran dengan memanfaatkan email guna untuk melakukan penyebaran
iklan dimana ada 2 cara atau tahap. Tahap pertama dengan menempatkan
iklan atau pesan dalam email newslatter. Tahap kedua dengan mengirimkan
email penawaran kepada calon konsumen
5) Partnertship/affiliate marketing (pemasaran metode afiliasi), metode jenis ini
merupakan pemanfaatan untuk mengiklankan. Para pebisnis yang menjual
produk atau jasanya dengan menggunakan cara online. Dengan metode ini
melibatkan beberapa orang atau penjual produk atau jasa yang ada.
6) Search engine marketing (pemasaran menggunakan mesin pencari), metode
ini biasanya digunakan untuk mencari informasi melalui google, yahoo dan
sebagainya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencari informasi tetapi
para pelaku bisnis harus memastikan bahwa situs yang dimilikinya terdaftar
atau terlampir dalam mesin pencari google, yahoo dan sebagainya.
7) Social media (metode pemasaran menggunakan situs jejaring media sosial),
dengan banyaknya berbagai situs media sosial yang ada seperti facebook,
twitter, instagram, my space dan lain-lain, merupakan senjata yang bisa
digunakan untuk melakukan pemasaran melalui jejaring sosial. Begitu banyak
situs jejaring sosial yang menyediakan sarana dan fasilitas untuk melakukan
sosialisasi atau berkomentar.
8) Website (situs web), sekumpulam dokumen dimana untuk dipublikasikan
melalui internet sehingga dapat di akses oleh pengguna melalui web browser.
c. Manfaat dalam menggunakan Digital Marketing
Adapun manfaat digital marketing menurut (Rachmadi, 2020), yaitu:
1) Menghubungkan anda dengan konsumen di internet, konsumen
menggunakan internet untuk memperoleh informasi mengenai produk
ataupun jasa yang diinginkan, dengan banyaknya situs jejaring sosial di
internet para pebisnis dapat berinteraksi atau bertukar pesan dengan
konsumen melalui internet.
2) Menghasilkan penjualan yang tinggi, dengan adanya digital marketing
para pebisnis dapat menjangkau lebih banyak konsumen, pebisnis juga
dapat menghasilkan prospek atau meningkatkan penjualan. Dalam
membuka pemasaran digital akan membuahkan hasil yang
menguntungkan bagi para pebisnis.
3) Lebih hemat, dengan adanya pemasaran digital membuat para pebisnis
mendapatkan banyak keuntungan dari pemasaran digital. Pemasaran
digital juga memberikan kemudahan untuk para pebisnis baik dalam
menghasilkan pemasukan serta dapat membantu para pebisnis untuk
menghemat pengeluarannya.
4) Mengaktifkan layanan pelanggan real-time, dengan adanya layanan ini
memudahkan pelaku bisnis dan konsumen dalam berkomunikasi yang
memberikan dampak besar pada keberhasilan untuk para pelaku pebisnis
serta mempertahankan pelanggan dan memberikan kepuasan layanan
terhadap konsumen.
5) Mengjangkau pengguna mobile (smartphone), dalam digital marketing
membawa para pebisnis memasuki pasar digital yang luas untuk
menjagkau para konsumen atau target yang diinginkan.
6) Membantu menghasilkan peningkatan pendapatan, dengan
menggunakan digital marketing para pebisnis dapat memudahkan
konsumen untuk melakukan transaksi baik secara offline maupun online
sehingga dapat meningkatkan keuntungan bagi pebisnis.
Definisi Pemasaran Digital (Digital Marketing)
Pemasaran digital atau digital marketing merupakan bentuk pemasaran
barang atau jasa yang menggunakan media sosial yang dimana penggunaannya
menggunakan internet sehinggah dapat menjangkau target pasar yang lebih luas.
Menurut (Lestari & Saifuddin, 2020) Digital Marketing adalah bentuk
pemasaran modern sekaligus merupakan harapan baru dan dobrakan
baru bagi perusahaan dan diharapkan memberikan dampak positif
bagi perusahan. Digital marketing memungkinkan pengiklanan
berkomunikasi langsung dengan konsumen potensial tanpa terhalang
oleh waktu dan lokasi geografis. Salah satu cara terbaik dalam
mengatasi dan meminimalisir kekacauan dan berkomunikasi langsung
dengan konsumen yaitu dengan pemasaran digital (digital marketing).
Menurut (Lestari & Saifuddin, 2020) Pemasaran digital adalah sebuah
penggunaan teknologi elektronik terutama dalam bentuk teknologi
informasi untuk melakukan segala proses bisnis termasuk didalamnya
kegiatan jual beli produk, jasa dan informasi, meningkatkan
permintaan, melayani pelanggan dengan sentuhan digital
Jenis-Jenis Promosi
Menurut (Cinthya, 2021) terdapat beberapa jenis jenis promosi, yaitu:
1) Promosi secara fisik, promosi ini dapat ditemukan dengan mudah pada acara
event ataupun kegiatan tertentu (Bazar, konser, dan lain-lain) kegiatan
promosi ini bisa juga dilakukan dengan membuka booth dengan begitu dapat
menawarkan produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen. Pada
promosi ini memiliki kelebihan ataupun kekuran dimana kelebihannya dapat
menjangkau dan melakukan interaksi kepada konsumen secara langsung
sedangkan kekurangannya terbatasnya calon konsumen yang bisa di
jangkau. Adapun kegiatan promosi ini diselenggarakan pada lokasi khusus
saja seperti sekolah, mall, kampus dan lain-lain, dengan begitu dilokasi
tersebut akan mudah menjangkau konsumen.
2) Promosi melalui media tradisional, dimana promosi ini dulunya sangat efektif
dalam meningkatkan penjualan ataupun promosi seperti melakukan promosi
di TV, media cetak, billboard, dan lain-lain. Jenis promosi ini memiliki
keuntungan tersendiri dari pada promosi fisik yang telah dipaparkan di atas
dimana promosi ini dapat menjangkau konsumen dalam jangka Panjang.
Tetapi jenis promosi ini juga memiliki kekurangan karena biaya promosinya
yang mahal baik dari segi media atau promosinya sendiri.
3) Promosi melalui media digital, dalam promosi ini dilakukan dengan cara
memakai jaringan website, media sosial, aplikasi, email, dan lain-lain. Setiap
pebisnis yang sudah mengerti tentang teknologi akan cenderung memilih
internet sebagai sarana promosi bisnisnya selain lebih mudah dan murah
promosi juga menjangkau banyak orang serta promosinya lebih cepat, mudah,
dan murah. Namun pada promosi ini diperlukan tingkat kreativitas untuk
melakukan promosi secara kelanjutan karena terdapat banyak pesaing yang
dimana artinya kunci utama dalam promosi digital yaitu keunikan dan juga
target pasar yang tepat
Bauran Promosi
Promosi merupakan bagian dari proses strategi pemasaran sebagai alat
berkomunikasi dengan konsumen dan menggunakan bauran promosi
(promotional mix). Menurut (Tasruddin, 2015), bauran promosi adalah gabungan
arus informasi yang secara menyeluruh dan hanya di lakukan oleh satu organisasi
dan individu. Adapun upaya dalam memperkenalkan produk dan mempengaruhi
konsumen sehingga konsumen menjadi senang dan membeli produk tersebut.
Berikut menurut (Tasruddin, 2015) bauran promosi yang di kelompokkan menjadi
4 bagian, yaitu:
1) Periklanan adalah komunikasi non individu, dengan sejumlah biaya
melalui berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, Lembaga
non laba, serta individu-individu. Periklanan bersifat menjangkau
masyarakat luas (massal), tidak pribadi namun secara langsung
dengan audiens dan dalam menyampaikan gagasan secara
meyakinkan dan menimbulkan efek dramatif.
2) Publikasi merupakan cara yang biasanya digunakan oleh pengusaha
untuk membentuk pengaruh secara tidak langsung kepada konsumen
agar konsumen menjadi tahu dan menyenangi produk tersebut.
3) Promosi penjualan penjualan merupakan kegiatan perusahaan untuk
menjajakan produk yang dipasarkan sedemikian rupa sehingga
konsumen akan mudah melihat dan mengetahui bagaimana cara
penempatan dan pengaturan tertentu maka produk tersebut akan
menjadi daya tarik konsumen untuk melihatnya.
4) Penjualan Personal merupakan interaksi antar individu, saling bertemu
muka yang dirujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai
dan mempertahankan hubungan pertukaran yang saling
menguntungkan antara satu pihak dan pihak yang lain.
d. Strategi Promosi
Strategi promosi merupakan tujuan dalam meningkatkan penjualan. Konten
promosi yang memunculkan minat konsumen sehingga menimbulkan permintaan
terhadap suatu produk. Peningkatan permintaan yang diakibatkan kenaikan
penjualan dapat mendorong proses produksi. Strategi promosi merupakan bentuk dasar dari komunikasi pemasaran antara lain media massa tradisional (televisi,
majalah dll), iklan online (situs, SMS dll), promosi penjualan (barang-barang
premium, sampel dll). Publikasi, iklan rilis, sponsorship, presentasi bagian
penjualan dan berbagai bentuk jaminan sebagai sarana komunikasi (Khairani &
Pratiwi, 2018).
Adapun beberapa tujuan promosi yaitu
1) Memberitahu, dengan tujuan untuk memberitahu target pasar yang dituju
terkait penawaran. Hal ini sangat penting dalam meningkatkan permintaan,
Sebagian orang tidak akan membeli barang atau jasa yang mereka tidak
ketahui.
2) Membujuk, promosi yang bertujuan untuk membujuk dan mendorong minat
masyarakat untuk melakukan pembelian terkait produk atau jasa yang di
tawarkan.
3) Modifikasi tingkah laku, yang dimana penjual selalu menciptakan kesan baik
karena orang-orang yang melakukan komunikasi mempunyai alasan tertentu
seperti mencari kesenangan, memberikan pertolongan, memberikan
informasi dan mengemukakan ide serta pendapat
4) Mengingatkan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan brand
dari suatu bisnis. (Swasta D & Irawan, 2017)
Definisi Promosi
Promosi merupakan bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran
adalah suatu aktivitas pemasaran yang menyebarkan informasi, membujuk atau
mempengaruhi pasar yang di targetkan atas produknya sehingga konsumen
bersedia membeli produk yang ditawarkan (Siagian & Cahyono, 2021).
Pengertian Promosi Menurut Fandy Tjiptono dalam (Riki dkk., 2023),
Promosi adalah komunikasi pemasaran yang dilakukan untuk
menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk, atau
meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan dan juga produknya
agar masyarakat bisa menerima, membeli dan juga loyal pada produk
yang ditawarkan oleh perusahaan.
Dampak Digital Marketing Terhadap Ekuitas Merek E-CommerceShopee Indonesia
Ekuitas merek dapat memberikan nilai pada pelanggan dengan
memperkuat proses informasi yang diberikan pelanggan pada
perushaaan, rasa percaya pelanggan pada perusahaan dalam pembelian
dan pencapaian keputusan pembelian pada suatu toko online ataupun
offline. Ekuitas merek juga memberikan nilai pada perusahaan dengan
memperkuat efisiensi dan efektifitas dalam bidang pemasaran, brand
loyalty, harga/laba, dan peningkatan perdagangan dan keuntungan.
Maka dapat disimpulkan dari pernyataan diatas bahwa dengan
memperkuat ekuitas merek suatu perusahaan akan memberikan nilai
positif yang cukup kuat bagi pelanggan juga perusahaan tersebut.
Ekuitas merek juga menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan
bagi pembeli dalam memutuskan pembeliannya pada suatu toko.
Menurut Chaffey dan Chadwich (2016:6) mengatakan digital
marketing adalah suatu bidang promosi yang cukup menarik untuk
dilakukan karena dapat memberikan banyak peluang dan tantangan baru
setiap tahun, bulan, bahkan setiap harinya pada pelaku bisnis tersebut.
Chaffey dan Chadwich (2016:11) mengatakan pengertian singkat dari
digital marketing adalah mencapai tujuan pemasaran melalui teknologi
dan media. Jika dijabarkan dapat di artikan, digital marketing
merupakan tempat untuk mencapai suatu tujuan pemasaran melalui satu
media elektronik ataupun lebih untuk menimbulkan banyak peluang
bagi produk dan meningkatkan penjualan jika bisa menggunakannya
secara baik. Agar hal tersebut dapat memberikan keuntungan untuk
pelaku bisnis juga pada konsumen.
Menurut Wibowo dan Priansa (2017:182) social media
marketing memungkinkan perusahaan untuk memahami lebih baik
tentang kebutuhan pelanggan agar tercipta hubungan yang lebih efektif
dan efisien. Jadi perusahaan harus mampu menyampaikan juga
mempengaruhi khalayak ramai dengan informasi dari promosi yang
disampikan, sehingga para masyarakat pun akan lebih banyak lagi
membicarakan hal tersebut. Dengan adanya social media marketing ini
akan lebih memudahkan perusahaan menyampaikan informasi dari suatu
produk secara luas pada masyarakat. Sehingga dengan dimudahkannya
dalam bidang pemasaran ini, perusahaan harus mengemas informasi
menjadi konten yang menarik dan hits yang mengikuti tren pada
masanya agar masyarakat lebih mudah memahami. Menurut Heuer
dalam solis (2011:224) terdapat 4C dalam penggunaan media sosial,
sebagai berikut :
- Context (Konteks)
Perusahaan harus lebih memperhatikan penggunaan bahasa maupun
pesan yang akan disampaikan juga kejelasan pemilihan kata-kata
yang baik agar lebih mudah dipahami dan menarik bagi siapa saja
yang melihat konten iklan tersebut. Ketika membuat konten pun
perusahaan harus tahu apa yang saat itu sedang viral atau hits agar
konten iklan dapat menarik dan membuat konsumen yang melihat
tertarik untuk melanjutkan melihat iklan tersebut. Sehingga
informasi yang di sampaikan dalam konten iklan dapat tersampaikan
dengan baik kepada para konsumen yang melihat konten tersebut.
membuat konten iklan pun tidak asal tetapi harus ada kejelasan
skenario dalam iklan tersebut agak lebih jelas lagi dan meanrik
minat konsumen ketika melihatnya. - Communication (Komunikasi)
Perusahaan harus bisa membuat para pelanggan merasa nyaman,
perusahaan dapat menyampaikan pesan dengan baik, seperti
memberikan informasi yang up to date dan respon admin yang
menjawab semua pertanyaan para pelanggan di media sosial
haruslah baik. Agar pelanggan merasa bahwa perusahaan tersebut
bisa menyampaikan pesan dan memperbaiki apa yang pelanggan
inginkan. Pihak perusahaan juga harus memperhatikan pelayanan
customer service pada E-Commerce agar keluhan dan kekurangan
perusahaan menurut konsumen dapat diatasi dan tanggulangi dengan
cepat agar konsumen merasa nyaman berbelanja pada E-Commerce
itu. Adanya komunikasi yang baik antara perusahaan dan konsumen
sangat penting, karena hal tersebut bisa memperbaiki suatu
hubungan ataupun kekurangan pada aplikasi E-Commerce untuk
kenyamanan bersama yaitu untuk perusahaan juga untuk para
konsumen Shopee. Misalkan saja adanya kesalahan pada aplikasi
yang terjadi eror dan konsumen tidak mengetahui informasi tersebut
bisa saja konsumen salah paham dan akhirnya hal buruk terjadi
konsumen berpindah berbelanja pada aplikasi E-Commerce lainnya. - Collaboration (Kolaborasi)
Perusahaan harus mampu secara langsung atau tidak membuat
khalayak melihat postingan suatu brand dan memberikan like
ataupun comment bahkan menyebar luaskan pada teman-temannya.
Maka hal tersebut akan lebih efektif bagi perusahaan ataupun pelaku
bisnis dalam menjalankan strategi digital marketing ini. Contohnya
saja pada aplikasi E-Commerce Shopee yang memiliki program
influencer/affiliate untuk umum. Program affiliate itu influencer
yang membuat konten atau video tentang suatu barang yang bisa di
dapatkan melalui belanja di Shopee, atau menyebar luaskan link
suatu produk yang berbelanja di Shopee pada media sosial yang di
punyai. Akan tetapi program tersebut ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi salah satunya teman atau pengikut pada akun media sosial
yang di cantumkan pada formulir pendaftaran minimal 1.000 teman
atau pengikut pada media sosialnya. Sehingga yang mengikuti
program Shopee affiliate hanya orang-orang yang memiliki jumlah
teman pada akunnya sebanyak 1.000 teman atau pengikut. - Connection (Koneksi)
Perusahaan harus bisa menjaga dan memelihara hubungan baik yang
telah dibuat antara perusahaan, pelaku bisnis, dan konsumen. Hal
tersebut sangat penting dilakukan untuk lebih mempertahankan
kepercayaan konsumen pada perusahaan. Dengan begitu juga dapat
menguntungkan bagi perusahaan, yaitu konsumen setia dan
peningkatan konsumen juga transaksi pembelian pada E-Commerce
Shopee itu sendiri. Menjaga koneksi antara pihak E-Commerce
Shopee, pelaku bisnis yang menggunakan Shopee dalam
pemsarannya, dan konsumen sangat penting untuk selalu di jaga dan
dipertahankan jika sudah baik hubungan antar semua pihak tersebut.
Memang tidak mudah untuk menjaga dan mempertahankan koneksi
ini, akan tetapi harus tetap dilakukan dan dijaga untuk kelancaran
masing-masing bisnis dan masing-masing kepentingan didalamnya
Strategi E-Commerce Shopee Dalam Mempertahankan EkuitasMereknya
Dalam menjalankan sebuah bisnis tentu saja kita butuh adanya
strategi pemasaran agar tepat pada sasaran. Termasuk juga dengan E-
Commerce Shopee yang memiliki strategi tertentu untuk
mempertahankan ekuitas mereknya agar tetap stabil bahkan meningkat
di masa pandemi ini. Berikut strategi yang diterapkan oleh E-Commerce
Shopee :
- Strategi Pemasaran Mengikuti Tren
Salah satu alasan kenapa Shopee sangat populer dan banyak dikenal
masyarakat adalah strategi pemasaran Shopee yang mengikuti tren di
setiap moment belanja tertentu. Contohnya seperti membuat iklan
Shopee menggunakan nada lagu Baby Shark sehingga mudah diingat
oleh konsumen yang menyaksikan iklan tersebut, dan iklan yang
menggunakan Jokowi KW dengan wording “Sepedenya mana?” juga
sukses menarik perhatian masyarakat. Iklan tersebut berkaitan
dengan kebiasaan Presiden Jokowi yang kerap kali membagikan
sepeda kepada anak-anak. Sama halnya seperti saat ini, iklan E-
Commerce Shopee menggunakan selebriti yang sedang naik daun
seorang pemain sinetron dengan judul ‘Ikatan Cinta’ yang banyak
digandrungi oleh banyak masyarakat dari muda hingga tua, dari ibu-
ibu sampai bapak-bapak, yaitu Arya Saloka dan Amanda Manopo.
Hal tersebut membuat kepopuleran Shopee juga meningkat dengan
menggait bintang sinetron terkenal itu. Sehingga membuat jumlah
transaksi dan kunjungan konsumen pada E-Commerce Shopee terus
meningkat dari tahun ke tahun. Strategi ini cukup menarik bnayak
konsumen untuk mempercayakan berbelanja online di Shopee.
Bukan hanya itu tetapi Shopee juga mempromosikannya melalui
digital marketing lain selain iklan di televisi juga di media sosial
bahkan sampai iklan di aplikasi games pun banyak bermunculan
iklan Shopee. - Memilih Media yang Tepat Untuk Promosi
Strategi lainnya yang digunakan oleh Shopee untuk meningkatkan
penjualan dan mempertahankan ekuitas mereknya adalah dengan
memilih media terbaik untuk Shopee. Hal ini bisa dilihat dari Shopee
yang fokus mengembangkan bisnisnya pada penggunaan mobile atau
aplikasi media sosial juga games yang banyak di download oleh
banyak orang di ponselnya. Berdasarkan analisis E-Commerce
Shopee, penggunaan ponsel atau smartphone di Indonesia sangat
berkembang pesat dibandingkan dengan negara lain di Asia
Tenggara. Hal ini yang digunakan oleh Shopee sebagai salah satu
strateginya dalam meningkatkan jumlah transaksi, tentu saja itu
sangat menguntungkan bagi Shopee dalam meningkatkan transaksi
pesanan hingga 90% di aplikasi Shopee. Itulah pentingnya memillih
media yang tepat untuk promosi agar lebih mengembangkan dan
memperluas jangkauan bisnis menjadi besar dan banyak dikenal juga
digunakan oleh masyarakat luas. Pemilihan media yang tepat
sangatlah penting karena hal tersebut dapat menentukan berkembang
tidaknya bisnis kita dan adakah peningkatan atau penurunan dalam
bisnis tersebut. - Memiliki Target Pasar yang Jelas
Menyasar target pasar yang jelas juga menjadi pilihan strategi yang
dilakukan oleh Shopee dalam meningkatkan penjualan dan jumlah
transaksinya. Salah satu bukti dari strategi Shopee yang menyasar
target pasar dengan prioritas perempuan dibandingkan dengan laki-
laki. Karena melihat perempuan lah yang lebih sering berbelanja
mau itu online ataupun datang langsung pada tempat perbelanjaan
yang ada disekitarnya. Perempuan jugalah yang lebih banyak
memiliki barang-barang kebutuhan yang harus di penuhi dan di
mudahkan melalui aplikasi Shopee. Kebutuhan perempuan seperti
skincare, parfume, fashion yang banyak sekali jenis dan kategorinya,
dan sebagainya melalui aplikasi Shopee semua ada dan tersedia.
Shopee memilih target pasar perempuan yang tentu akan membuat
lebih fokus dan lebih baik dalam pemasarannya dibandingkan
membuat target pasar yang luas tetapi tidak jelas kemana
sebenarnaya target pasar tersebut. Tidak heran jika kebanyakan
produk yang dijual Shopee adalah kebutuhan perempuan seperti
fashion dari ujung rambut hingga ujung kepala, contohnya saja
berbagai macam produk jilbab, tas, baju, sepatu, dan sebagainya,
juga produk kecantikan hingga parfume pun juga banyak sekali
pilihannya pada Aplikasi Shopee. Hal tersebut membuat target pasar
Shopee bisa dibilang tepat pada sasaran karena hal tersebut dapat
meningkatkan transaksi pembelian pada E-Commerce Shopee itu
sendiri. Hal itu tentu saja disambut dengan sangat gembira oleh para
perempuan untuk lebih mudah berbelanja hanya melalui ponsel saja,
tentu bagi perempuan pekerja lebih menyenangkan bisa berbelanja
apa saja tanpa harus datang pada tokonya langsung. Ibu rumah
tangga pun dimudahkan dalam memenuhi kebutuhannya ataupun
kebutuhan rumah tangga lebih mudah dan terjangkau harganya,
misalnya saja seperti alat-alat memasak, pel laintai dengan berbagai
model dari yang pel biasa sampai yang canggih dan mudah pun ada
di aplikasi Shopee, alat-alat mandi, dan sebagainya. - Jaminan Harga Murah
Memberikan harga yang bisa bersaing juga menjadi strategi Shopee
untuk meningkatkan penjualannya. Agar bisa bersaing dengan E-
Commerce lainnya, Shopee memiliki jargon “Garansi Harga
Termurah, Uang Kembali 2x Lipat”. Strategi pemasaran Shopee
dengan memberikan jaminan harga termurah ini cukup ampuh untuk
menarik konsumen berbelanja melalui E-Commerce Shopee saja.
Meskipun Shopee memberikan jaminan harga termurah tetapi tidak
serta merta membuat Shopee tidak memperhatikan kualitas
produknya, kualitas tetap akan menjadi prioritas Shopee. Tidak
hanya memberikan harga murah, Shopee juga banyak sekali
memberikan promo voucher potongan harga hingga cashback 50%
koin Shopee/uang yang akan di masukan dalam saldo shopeepay
ataupun gratis ongkir yang tentu saja sangat di sukai oleh para
perempuan yang ingin berbelanja lebih hemat apalagi untuk para
pelanggan setia Shopee. Tentu saja yang terbaik akan diberikan oleh
Shopee pada mereka semua yang telah mempercayakan untuk
menjadikan Shopee tempat belanja onlinenya. Dengan strategi
penjualan tersebut, tidak heran jika E-Commerce Shopee menjadi
nomer satu di Indonesia. Hal tersebut tentu saja memberikan
keuntungan bagi Shopee juga pada pelanggan yang merasa puas dan
senang dengan promo-promo tersebut, sehingga transaksi pembelian
pun juga meningkat dengan pesat pada aplikasi Shopee. Di setiap
bulannya Shopee selalu mengadakan big sale, promo voucher gratis
ongkir, promo voucher cashback koin shopee ataupun uang saldo
shopeepay. Biasnaya Shopee akan mengadakan promo gratis ongkir
Rp 0; di tanggal dan bulan yang sama, misalnya tanggal 6 bulan
Juni (6.6), tanggal 7 bulan Juli (7.7), tanggal 8 bulan Agustus (8.8),
dan sesterusnya. Di akhir bulan Shopee juga mengadakan promo
gratis dan cashback di tanggal 25 setiap bulannya. Bahkan di Shopee
kita melihat video live dari suatu toko saja bisa mengklaim voucher
gratis ongkir yang bisa digunakan di hari itu atau sesuai dengan
batas waktu yang ditentukan toko untuk voucher tersebut. banyak
sekali promo-promo yang diberikan Shopee untuk para penggunanya
dari yang baru menggunakan sampai yang sudah lama pun tetap bisa
mendapatkan promo-promo tersebut
Dampak Digital Marketing
E-Commerce telah berkembang sangat pesat di Indonesia
dan belanja online menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat
dalam satu dekade terakhir ini. Dalam bisnis belanja online,
website memainkan peran penting namun untuk membangun
dan meningkatkan brand image dibutuhkan peran media sosial
seperti Instagram, Facebook, dan Tiktok yang sedang ramai-
ramainya digunakna oleh banyak orang di seluruh dunia
termasuk Indonesia, dan media sosial lainnya.
Mengembangkan strategi pemasaran yang berhasil pada
dasarnya adalah permasalahan komunikasi, karena semua
promosi yang diterima masyarakat itu sebagai informasi terhadap
suatu barang atau jasa. Pertama konsumen harus mengetahui
sebuah informasi promosi, lalu konsumen mulai masuk dalam
komunikasi promosi dan memahami makna informasi promosi
tersebut. Akhirnya, pengetahuan, makna dan kepercayaan yang
didapat dari informasi promosi yang diterimanya dan akan
diintegrasikan dengan pengetahuan lainnya untuk menentukan
sikap dan membuat keputusan pembelian. (Peter dan Olson,
2014). Media sosial merupakan sarana yang digunakan oleh
orang-orang untuk berkomunikasi, berinteraksi satu sama lain,
dan mencari informasi tentang segala hal dengan cara
menciptakan, berbagi serta bertukar informasi dan gagasan
dalam sebuah jaringan ataupun komunitas virtual. (Mcgraw Hill
Didactionary 2012). Media sosial menjadi salah satu saluran
dalam pemasaran yang dapat membantu perusahaan
meningkatkan transaksi pembelian ataupun penjualan
Mengelola Ekuitas Merek
Pengelolaan merek yang efektif membutuhkan tindakan
pemasaran jangka panjang, karena respons pelanggan terhadap
aktivitas pemasar tergantung pada apa yang mereka ketahui
tentang sebuah merek, tindakan pemasar jangka pendek, dengan
mengubah pengetahuan merek, sangat mempengaruhi
peningkatan atau penurunan kesuksesan jangka panjang tindakan
pemasaran dimasa depan (Philip Kotler dan Kevin Lane Keller).
Beberapa faktor (Aaker, 2000) yang dapat dilihat indikator
kurangnya perhatian serius dari para manajer dalam upaya
membangun dan mengelola ekuitas merek perusahaan, indikator
tersebut adalah :
- Ketidak mampuan manajer untuk mengidentifikasi asosiasi
merek dengan kekuatan asosiasi perusahaan itu sendiri
dengan tepat. - Rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kesadaran merek
dari sebagian besar karyawannya. - Tidak adanya ukuran yang sistematis, handal, peka dan valid
mengenai kepuasan serta loyalitas customer. - Tidak adanya kesungguhan dalam upaya melindungi ekuitas
merek itu sendiri. - Tidak adanya mekanisme yang dapat mengukur serta
mengevaluasi elemen program pemasaran merek. - Belum adanya strategi jangka panjang dalam upaya
pengembangan manajemen merek. - Belum adanya strategi jangka panjang dalam upaya
pengembangan manajemen merek.
Mengukur dan Mengelola Kinerja Ekuitas Merek
- Penilaian Merek
Penilaian merek menurut Philip Kotler dan Kevin Lane
Keller adalah Pemasar harus membedakan ekuitas merek
dengan penilaian merek (brand valuation), yaitu pekerjaan
memperkirakan nilai keuangan total dari merek. Kekuatan
merek terletak dalam pikiran konsumen dan cara merek
mengubah respons konsumen terhadap pemasaran, ada dua
pendekatan dasar untuk mengukur ekuitas merek. Pendekatan
tidak langsung menilai sumber ekuitas merek yang potensial
dengan megidentifikasi dan melacak struktur pengetahuan
merek konsumen. Pendekatan langsung menilai dampak
aktual pengetahuan merek terhadap respons konsumen pada
berbagai aspek pemasaran.
Penilaian merek menurut Armstrong dan kotler (2004)
mengemukakan bahwa terdapat lima kategori yang harus
diperhatikan dalam menilai ekuitas merek yaitu : - Brand Awareness
Kesadaran merek adalah kesanggupan seorang pembeli untuk
mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek
merupakan bagian dari kategori produk tertentu. Kesadaran
merek membutuhkan jangkauan kontinum (continuum
ranging) dari perasaan yang tak pasti bahwa merek tertentu
telah dikenal dan menjadi keyakinan bahwa produk tersebut
merupakan satu-satunya dalam kelas produk yang berada
pada kategorinya. Jangkauan kontinum ini diwakili oleh 4
tingkat kesadaran merek, yaitu :
1) Top of Mind (puncak pikiran) yaitu merek produk yang
pertama kali disebutkan oleh konsumen secara spontan
dan menempati tempat khusus/istimewa di benak
konsumen.
2) Brand Recall (pengingatan kembali merek),
mencerminkan merek-merek apa saja yang diingat
konsumen setelah menyebutkan merek yang pertama kali
disebut. Dimana merek-merek yang disebutkan kedua,
ketiga dan seterusnya merupakan merek yang menempati
brand recall dalam benak konsumen.
3) Brand Recognition (pengenalan merek) merupakan
tingkat minimal dari kesadaran merek yang merupakan
pengenalan merek dengan bantuan, misalnya dengan
bantuan daftar merek, daftar gambar, atau cap merek.
Dan merek yang masuk dalam ingatan konsumen disebut
brand recognition.
4) Unware of Brand (tidak menyadari merek) merupakan
tingkatan merek yang paling rendah dalam piramida
brand awareness, dimana konsumen tidak menyadari
akan eksistensi suatu merek. Peran brand awareness
terhadap brand equity dapat dipahami dengan membahas
bagaimana brand awareness menciptakan suatu nilai.
Penciptaan nilai ini dapat dilakukan dengan banyak cara,
antara lain :
a. Anchor to Other Association Which Can be
Attached
Pada dasarnya suatu merek dapat memiliki
hubungan dengan hal-hal lain.
b. Familiarity–Liking
Suatu upaya mengenalkan sebuah merek dengan
cara menimbulkan suatu hal yang familiar. Suatu
kebiasaan dapat menimbulkan keterkaitan
kesukaan yang kadang-kadang dapat berpengaruh
dalam membuat keputusan.
c. Substance/Commitment
Kesadaran akan merek dapat menandakan
keberadaan, komitmen, dan inti yang sangat
penting bagi suatu perusahaan.
d. Brand to Consider
Penyeleksian suatu kelompok merek yang telah
dikenal sebagai suatu upaya mempertimbangkan
merek mana yang akan diputuskan untuk
digunakan. Keputusan pemilihan ini biasanya
dipengaruhi oleh ingatan konsumen terhadap
merek yang paling diingat. Humdiana (2012)
mendefinisikan kesadaran merek sebagai
kesanggupan seorang calon pembeli untuk
mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu
merek merupakan bagian dari kategori produk
tertentu
Pengertian Ekuitas Merek Menurut Ahli
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian ekuitas merek
berdasarkan para ahli, sebagai berikut :
- David Aaker
Menurut David Aaker, ekuitas merek merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan nilai yang diakui dan
dimiliki oleh merek, dari gagasan bahwa merek yang kuat
dan bereputasi lebih sukses. Lebih detail, David Aaker
menyebutkan bahwa pengertian ekuitas merek menjadi
sebagai berikut :
Ekuitas merek adalah serangkaian aset dan kewajiban merek
yang ditautkan menggunakan nama dan simbol merek, yang
menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu
produk atau layanan. - Kotler – Keller
Dalam bukunya yang berjudul marketing manajemen, Philip
Kotler dan Keller menjabarkan mengenai pengertian ekuitas
merek. Dalam buku tersebut, dalam chapter 11 page 324,
Kotler dan Keller mengungkapkan pengertian ekuitas merek
sebagai berikut :
Ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada
produk dan layanan. Ini dapat tercermin dalam cara
konsumen berpikir, merasakan dan bertindak sehubungan
dengan merek, dan harga, pangsa pasar, dan profitabilitas
merek perusahaan. - Wikipedia
Menurut wikipedia berbahasa Inggris, pengertian ekuitas
merek adalah sebagai berikut :
Ekuitas merek merupakan frasa yang dipakai dalam industri
pemasaran yang mengacu dalam nilai yang dirasakan dari
suatu merek dalam dirinya sendiri yaitu, nilai sosial dari
nama merek yang terkenal. Hal ini didasarkan pada
pemikiran bahwa pemilik nama merek populer bisa membuat
lebih banyak pendapatan hanya dari pengakuan merek,
lantaran konsumen menduga produk dengan yang merek
populer lebih baik daripada merek yang kurang dikenal. - Menurut Durianto (2001), ekuitas merek adalah seperangkat
aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek,
nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai
yang diberikan oleh suatu barang dan jasa kepada perusahaan
atau pelanggan. - Menurut Shimp (2013), ekuitas merek adalah nilai merek
yang menghasilkan kesadaran merek (brand awareness)
yang tinggi dan asosiasi merek yang kuat, disukai, dan
mungkin pula unik, yang diingat konsumen atas merek
tertentu. - Menurut Keller dan Brexendorf (2019), ekuitas merek adalah
kekuatan merek yang terletak di benak konsumen,
pengalaman dan pelajaran tentang merek dari waktu ke
waktu. Ekuitas merek mampu dianggap sebagai nilai tambah
yang diberikan kepada suatu produk dalam perkataan,
tindakan, serta pikiran konsumen
Ekuitas Merek
Di masa sekarang perkembangan digitalisasi sistem
informasi dalam sektor perdagangan sangat pesat, yang
memunculkan berbagai macam E-Commerce di Indonesia, salah
satunya yaitu Shopee. Semakin bertambahnya tahun,
perkembangan pada E-Commerce di sektor perdagangan kian
pesat membuat persaingan juga semakin kuat antar E-Commerce.
Hal tersebut dapat memunculkan sebuah pendapat, ekuitas merek
adalah salah satu hal penting yang dapat mempengaruhi transaksi
pembelian konsumen. Karena adanya rasa percaya konsumen
terhadap E-Commerce tersebut jika ekuitas mereknya juga baik
di masyarakat.
Definisi ekuitas merek menurut Aaker & David dan
Keller (dalam Seliani & Pratomo, 2019) menyebutkan bahwa
ekuitas merek suatu produk atau jasa di bentuk dan dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti citra merek, persepsi kualitas,
asosiasi merek, kesadaran merek, loyalitas merek dan juga
negara asal, hal tersebut dapat menentukan adanya penambahan
dan pengurangan nilai dari suatu produk atau layanan. Definis
lain menyebutkan bahwa ekuitas merek adalah konstruk
multidimensi yang dibentuk dan dipengaruhi dari citra merek
atau dari sikap terhadap suatu merek tertentu (Gόmez et.al,
2018). Ansary & Nik Hashim (2018) mengemukakan bahwa
nilai suatu merek dalam bentuk ekuitas merek didorong oleh
keterikatan merek, kesadaran merek, dan sikap merek, yang
berkontribusi dalam hubungan antara ekuitas merek dan citra
merek. Ekuitas merek yang juga disebut sebagai aset merek tidak
berwujud dikaitkan dengan simbolisme merek yang
menguntungkan serta asosiasi yang menyediakan keunggulan
kompetitif dan pendapatan masa depan bagi merek tersebut
(Keller dalam Sun, Garrett & Kim, 2016; Sun, Garrett, Phau &
Zheng, 2018)
Cara Memulai Digital Marketing
Setelah mengetahui pengertian digital marketing, kelebihan serta
jenisnya, selanjutnya adalah pembahasan terkait bagaimana cara
memulai digital marketing. Untuk memulai pemasaran yang
dilakukan melalui media digital, ada beberapa hal yang harus
disiapkan. Di antaranya sebagai berikut :
- Menyiapkan Alat
Cara pertama untuk memulai digital marketing adalah
dengan menyiapkan alat. Siapkanlah alat yang bisa
digunakan dalam kegiatan pemasaran. Ada beberapa alat
bantu yang bisa digunakan di dalam digital marketing.
Contohnya seperti unggahan blog, akun media sosial, situs
atau website, identitas brand dan sebuah produk, jejak online
seperti feedback, review dan lain sebagainya. Di dalam dunia
digital marketing, alat bantu tersebut adalah sebuah aset.
Aset tersebut sangat berguna bagi kehidupan bisnis di media
digital. Oleh karena itu, penting untuk mengurus semua hal
tersebut dengan baik. - Menyiapkan Konten
Cara kedua yang bisa dilakukan adalah menyiapkan konten.
Siapkanlah konten dengan semenarik dan sebaik mungkin.
Konten yang dibuat harus menarik perhatian dan shareable.
Ada berbagai macam konten yang bisa dibuat. Mulai dari
tulisan, foto, video dan lain sebagainya. Selain itu,
tentukanlah tujuan pemasaran dan target pasarnya. Hal itu
juga penting dalam pembuatan konten. - Mulai Menggunggah
Tahap selanjutnya adalah mulai menggunggah. Jika sudah
selesai menggunggah, jangan lupa untuk memperhatikan
setiap gerak konten yang kamu buat. Selanjutnya lakukanlah
evaluasi pada tjap unggahan. Tentukanlah mana konten yang
memberikan feedback. Kemudian fokuslah pada konten
tersebut. Hal itu akan baik bagi suatu bisnis. - Masuk dan Bergabung Forum
Tahapan terakhir ini juga tidak kalah penting. Ketika semua
poin sebelumnya sudah dilakukan, selanjutnya masuklah dan
bergabung pada sebuah forum marketplace public.
Usahakanlah profil bisnis yang dibuat bagus dan semenarik
mungkin. Hal itu akan mempengaruhi citra brand bisnis
Skills yang Harus Dimiliki Digital Marketing
- Social Media Marketing
Media Sosial merupakan salah satu media yang memiliki
pengaruh cukup besar dalam pemasaran dan kegiatan
promosi. Oleh karena itu, pemahaman digital marketer dalam
menentukan strategi pada media sosial. Terdapat banyak
sekali platform yang menyediakan fitur untuk melakukan
promosi produk. Salah satu contohnya adalah Facebook ads,
Twitter ads, serta Instagram Ads. Keuntungan yang dapat
diperoleh dari penggunaan media sosial sendiri adalah efisien
dalam waktu dan biaya yang dikeluarkan. Selain itu, sosial
media dapat menjangkau customer secara luas melalui
channel yang dibuat. - Search Engine Optimization (SEO)
SEO merupakan metode yang digunakan untuk dapat masuk
pada halaman pertama di mesin pencarian. SEO sendiri
terbagi menjadi dua jenis, On Page dan Off Page. Untuk On
page sendiri lebih mengarah kepada proses optimasi pada
halaman website-nya. Sedangkan, Off page merupakan
proses optimasi yang dilakukan dengan bantuan dari website
lain untuk meningkatkan kredibilitas situs perusahaan. Di
dunia digital marketing sendiri, terdapat beberapa pekerjaan
yang cocok untuk menangani SEO, seperti SEO Specialist,
Content Writer, Copywriter, dan masih banyak yang lain. - Search Engine Marketing (SEM)
Search engine marketing merupakan salah satu pemahaman
yang harus dimilki seorang digital marketing. SEM sendiri
lebih fokus untuk meningkatkan traffic website dengan
beriklan berbayar. - Content Marketing
Salah satu tugas dari digital marketer adalah merencanakan
distribusi konten promosi hard selling serta soft selling
dalam media sosial, website, email serta blog. Sebab itulah
seorang digital marketing harus memilki keterampilan dalam
content marketing untuk menciptakan konten-konten yang
menarik serta berdampak pada peningkatan
Anggaran Digital Marketing
Mahal atau tidaknya digital marketing tergantung dengan jenis
yang digunakan oleh perusahaan. Jika digital marketing seperti
SEO serta konten tentu saja tidak menghabiskan banyak
anggaran. Akan tetapi, jika digital marketing seperti brosur
online serta email tentu saja memerlukan biaya-biaya tertentu.
Setelah mengetahui tentang pengertian digital marketing, untuk
kesuksesan dan kelancaran bisnis tentu juga harus didukung
perencanaan keuangan yang baik. Melakukan penghitungan,
pelaporan, dan analisa keuangan merupakan kegiatan
pendukung untuk melakukan strategi pemasaran.
Kesalahan Umum Pada Digital Marketing
Banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh konsep
pemasaran digital memang menggiurkan. Tetapi penting untuk
di perhatikan bahwa ada beberapa kesalahan seperti di bawah
ini yang harus dihindari saat menjalankan konsep pemasaran
digital agar bisnis dapat berjalan sesuai dengan rencana
pemasaran.
- Strategi yang Tidak Tepat Sasaran
Strategi dan perencanaan merupakan sebuah langkah awal
untuk menentukan arah sebuah bisnis. Apalagi di era digital
seperti saat ini, tren begitu mudah berubah dari waktu ke
waktu, sehingga kebutuhan dan keinginan konsumen
semakin beragam setiap hari. Biasanya beberapa marketer
bertekad untuk mendapatkan cakupan konsumen yang
banyak, sehingga kerap serampangan dalam memilih target
pasar. Hal ini yang akan menyulitkan proses digital
marketing terlebih dalam proses analisa audiens yang
menjangkau produk perusahaan. Sebelum mengenalkan
produk maupun jasa kepada masyarakat secara luas,
perusahaan harus menentukan tujuan dan rencana
pemasaran produk tersebut. Pastikan bahwa strategi
pemasaran yang di rancang sudah spesifik, tepat sasaran,
dan dapat dijangkau dengan mudah oleh target pasar. - Memahami Calon Konsumen
Bisnis yang sedang dijalani harus mampu menjadi solusi
atas kebutuhan konsumen. Namun, masih ada banyak
pebisnis yang mengabaikan hal tersebut, sehingga mereka
cenderung menawarkan produk yang tidak sesuai dengan
permintaan pasar. Itulah sebabnya mengapa perusahaan
wajib untuk mengukur tingkat kebutuhan pasar sebelum
menyusun strategi pemasaran. Idealisme bisnis memang
sangat penting, namun produk yang dijual juga harus
memerhatikan audiens, apa kebutuhannya, apa yang
menjadi kesukaan dan tren calon konsumen. Memahami
calon konsumen tidak perlu mengubah produk, namun
dengan menyesuaikan kemasan, konten promosi, dan juga
pemilihan Key Opinion Leader. Perusahaan dapat mencari
tren produk yang sedang berkembang di masyarakat dengan
menggunakan Google Trends. Cukup masukkan nama
produk pada kolom pencarian, Google Trends akan
menunjukkan grafik permintaan produk yang dimaksud. - Mengabaikan Pengukuran Kinerja Digital Marketing
Fungsi digital marketing tidak hanya fokus pada fitur
promosi yang lebih mudah namun juga terukur. Padahal
salah satu inti seorang pebisnis menggunakan digital
marketing adalah untuk melihat kinerja pemasaran melalui
analisis angka. Berapakah audiens yang sadar dengan brand
perusahaan, mengunjungi website, atau meng-klik iklan di
mesin pencarian. - Mengabaikan Story-telling dan Copywriting
Dalam pengertian yang relevan, digital marketing erat
kaitannya dengan konten. Hal yang paling penting dalam
pembuatan konten adalah tulisan. Baik konten desain
ataupun video, peran copywriting sangat diperlukan untuk
menyampaikan pesan yang akan diberikan kepada calon
konsumen. Tulisan yang dibuat juga harus mampu
memberikan kesan dan mengedukasi audiens sehingga
produk yang diberikan dapat disadari dengan mudah. - Halaman Website yang Tidak Rapi dan Tidak Lengkap
Website resmi perusahaan merupakan elemen pertama yang
pada umumnya dituju oleh para konsumen ketika mencari
informasi produk melalui mesin pencarian. Di era digital
ini, dapat dikatakan bahwa website merupakan “wajah”
bisnis. Itulah sebabnya mengapa perlu memastikan tampilan
website mampu mengakomodasi kebutuhan para
pengunjung, bukan malah akan membuat mereka bingung
karena navigasi website yang rumit. Website bisnis yang
baik harus mampu menghadirkan informasi, call-to-action,
dan landing page yang jelas serta tidak merusak fokus
pengunjung untuk menemukan apa yang mereka cari.
Pastikan pula pesan yang ditampilkan di muka website
singkat, jelas, namun sangat informatif. Website yang tidak
lengkap seperti tidak memiliki blog, tidak dilengkapi
dengan informasi kontak atau About Us, juga dapat merusak
reputasi bisnis. Selain About Us, nomor telepon dan alamat
email perusahaan juga wajib ditampilkan dalam website
untuk memudahkan konsumen menyalurkan pertanyaan,
saran, dan kritiknya. Website juga harus sudah beradaptasi
dengan perilaku pengguna dengan menggunakan fitur go-
mobile. Perilaku pengguna yang semakin dinamis menuntut
sebuah website dapat diakses di manapun dan kapanpun. - Iklan dan Landing Page yang Tidak Sesuai
Kesalahan marketing yang satu ini jelas saja akan
menurunkan kepercayaan konsumen. Misalnya perusahaan
sedang mencari laptop murah di Google, lalu klik iklan
yang tersedia, tetapi ternyata malah diarahkan ke halaman
website yang menampilkan tablet dengan harga fantastis.
Untuk mencegah hal tersebut terjadi pada bisnis, periksa
dan analisa kembali elemen yang akan ditampilkan
di landing page. Konten landing page harus sesuai dengan
iklan yang dipasang di Google, Facebook, YouTube,
Instagram, dan lain sebagainya. - Proses Check-out yang Rumit
Jika website perusahaan mengharuskan konsumen untuk
melalui tahapan check-out yang rumit, maka hampir dapat
dipastikan bahwa konsumen justru akan meninggalkan
website tanpa menyelesaikan pembeliannya. Ketika
konsumen sudah sampai pada tahap check-out, langkah
menuju proses pembayaran harus singkat dan sederhana. - Tidak Menghitung Return of Investment (ROI)
ROI atau yang lebih dikenal dengan istilah laba atas
investasi merupakan rasio uang yang diperoleh atau hilang
dalam sebuah investasi. Jika perusahaan tidak menghitung
ROI, maka perusahaan tidak akan mengetahui efektivitas
strategi pemasaran yang telah diterapkan. Menghitung ROI
bisa menjadi hal yang cukup rumit. Pertama, perlu
menentukan komponen mana saja yang perlu dihitung,
seperti traffic, leads, conversion rate, atau jumlah klik. ROI
harus dihitung dengan mengurangi jumlah total penjualan
dengan biaya investasi, kemudian bagi dengan keseluruhan
biaya investasi dan dikalikan dengan 100%
Jenis-Jenis Digital Marketing
Setelah memahami apa itu digital marketing dan strateginya,
selanjutnya pembahasan jenis-jenis pemasaran digital, sebagai
berikut :
- Berdasarkan Strategi
Dilihat dari strategi, pemasaran digital dibagi menjadi dua,
yaitu :
1) Push Digital Marketing
Push digital marketing adalah salah satu jenis yang
metodenya menawarkan langsung produk ke pelanggan
untuk mendapat hasil penjualan secara cepat. Biasanya
strategi ini dilakukan pada produk baru yang belum
terlalu dikenal, dan tujuan utamanya adalah
untuk exposure. Beberapa contoh push digital
marketing adalah endorsement produk dari pemilik usaha
ke para influencer atau selebriti, email promosi dari
sebuah produk kepada para pelanggan yang telah
berlangganan newsletter di sebuah situs, atau broadcast
WA untuk semua kontak yang pernah membeli produk.
2) Pull Digital Marketing
Berbanding terbalik dengan strategi sebelumnya,
pada pull digital marketing promosi yang dilakukan tidak
terlalu frontal. Iklan jenis ini biasanya dibuat sedemikian
rupa sehingga pelanggan tertarik dan bergerak untuk
mencari tahu lebih banyak informasi tentang produk yang
dijual. Tujuan utama pull digital marketing adalah
meningkatkan awareness serta loyalitas pelanggan.
Contoh jenis pemasaran digital ini adalah konten SEO di
sebuah situs, iklan pay per click, pemasaran di media
sosial, liputan media, giveaway, atau promosi potongan
harga di marketplace. - Berdasarkan Media Pemasaran
Sedangkan berdasarkan media yang digunakan, digital
marketing dibagi menjadi 5, yaitu :
1) Website
Memiliki website resmi seperti sudah menjadi kewajiban
bagi para pemilik usaha yang memutuskan untuk
beroperasi secara online. Selain menjadi “kantor atau
toko” digital, website juga memiliki fungsi lain yang
tidak kalah penting yaitu sebagai media promosi. Tidak
hanya lebih murah, promosi melalui website juga akan
membuat pelanggan bisa lebih mengenal produk yang
dijual perusahaan.
2) Pay Per Click
Salah satu jenis digital marketing ini juga memanfaatkan
website untuk media promosi. Bedanya, promosi
dilakukan di website lain dengan jumlah pengunjung
besar dan populer. Bentuk iklan untuk promosi jenis ini
biasanya berupa banner yang ketika diklik, pengunjung
akan diarahkan pada website resmi atau marketplace
tempat produk dijual. Inilah mengapa strateginya disebut
pay per click (PPC). Pemilik iklan akan membayar biaya
promosi sesuai jumlah klik yang dilakukan pengunjung.
Iklan jenis ini juga bisa dijadikan indikator apakah
konten yang kita buat cukup efektif sehingga pengunjung
tertarik untuk mengklik.
3) Search Engine Marketing (SEM)
Hampir mirip dengan strategi search engine optimization
(SEO), search engine marketing atau SEM memanfaatkan
mesin pencari untuk fokus pada iklan langsung di mesin
pencarian. Untuk bisa membuat iklan digital semacam
ini, kita membutuhkan produk seperti Google Ads.
Seperti PPC, konten promosi untuk SEM sudah
seharusnya dibuat semenarik mungkin. Karena jika tidak,
biaya yang dikeluarkan tentu akan sia-sia.
4) Social Media Marketing (SMM)
Apabila SEM memanfaatkan mesin pencari, SMM
memanfaatkan media sosial. Untuk iklan semacam ini,
membutuhkan alat seperti Facebook atau Instagram Ads.
Dibanding SEM, peluang produk untuk dikenal lebih
besar sebab saat ini hampir semua orang memiliki media
sosial dan menggunakannya untuk mencari suatu
informasi juga.
5) Email Marketing
Promosi ini berupa pesan dalam bentuk gambar atau
tulisan dan dikirimkan kepada semua pelanggan yang
telah men-subscribe newsletter di website atau platform
milik pemilik usaha lainnya. Berbeda dengan jenis
promosi lainnya, tidak semua orang bisa melihat iklan
yang kita bagikan. Strategi ini biasanya dilakukan untuk
memicu pembelian kembali dan meningkatkan loyalitas
konsumen suatu perusahaan.
Kelebihan Digital Marketing
Selain manfaat, ternyata digital marketing juga memiliki
beberapa kelebihan. Berikut ini beberapa kelebihan dari
digital marketing : - Hemat Biaya
Ketika melakukan promosi serta pemasaran secara
tradisional, perusahaan juga perlu menyiapkan biaya
untuk media promosinya. Sebagai contoh, kamu
dapat mencetak brosur, mencetak spanduk, bahkan
mengeluarkan berbagai biaya yang besar untuk
kemudian memasang iklan di billboard, tv, ataupun
radio. Hal ini akan menyulitkan bisnis kecil. Dengan
digital marketing, perusahaan dapat melakukannya
dengan biaya yang lebih minim, bahkan gratis! Iklan
berbayar yang tersedia juga akan jauh lebih
terjangkau. - Dapat Diukur
Ketika memasang iklan di tv, radio, atau billboard,
perusahaan tidak dapat mengukur berapa banyak
orang yang melihat iklan tersebut. Sebaliknya, digital
marketing juga memungkinkan mengetahui berapa
banyak audiens yang dijangkau, bahkan ada banyak
yang akhirnya melakukan pembelian. - Jangkauan Pasar yang Lebih Luas
Dengan menerapkan pemasaran digital, perusahaan
juga dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Baik
melalui pasar lokal maupun global. Internet juga
memungkinkan untuk memperluas pasar tanpa
memakan banyak biaya. Tentu saja, hal seperti ini
juga akan sangat sulit dilakukan jika mengandalkan
pemasaran tradisional. Selain itu, digital marketing
juga akan membantu dalam menjangkau lebih banyak
pelanggan potensial, walaupun mereka berada di luar
negeri sekali pun. Hanya terdapat satu klik, juga
dapat meningkatkan visibilitas merek sekaligus
memungkinkan mereka untuk berbelanja kapan pun
dan dari mana saja. - Pemasaran yang Lebih Interaktif
Kelebihan digital marketing yang selanjutnya, adalah
menciptakan teknik pemasaran yang lebih interaktif
antara penjual serta pembeli. Hal ini karena
pemasaran digital juga melibatkan komunikasi dua
arah. Jadi, merek ini dapat berinteraksi lebih banyak
dengan para pelanggannya melalui beragam
campaign yang dilakukan. Dengan teknik pemasaran
yang lebih interaktif, perusahaan juga bisa
meningkatkan ketertarikan ataupun minat pelanggan
sehingga mereka semakin yakin dalam melakukan
pembelian. Cara seperti ini tentu saja lebih efektif
dibandingkan iklan biasa yang hanya satu arah. Jadi,
pertimbangkanlah dalam melakukan pemasaran
secara digital jika menginginkan interaksi yang lebih
intens dengan pelanggan potensial. - Tingkat Keterlibatan yang Lebih Besar
Pemasaran yang interaktif seperti digital marketing
ini juga meningkatkan keterlibatan pelanggan
menjadi lebih tinggi. Media sosial juga menjadi
wadah yang tepat bagi brand untuk berbagi beragam
konten interaktif serta memicu keterlibatan dengan
audiens. Misalnya, pada interaksi di kolom komentar
ataupun fitur chat di media sosial yang berisi tanya
jawab dari pelanggan. Jadi, perusahaan juga sebagai
pemilik brand dapat membangun komunikasi yang
lebih baik dengan pelanggan. Pada akhirnya, brand
juga menciptakan hubungan yang positif dengan
pelanggan mereka. Keterlibatan pelanggan ini juga
dapat dilihat dari berbagai aktivitas audiens yang
membagikan postingan perusahaan di media sosial,
menyimpan konten, serta berlangganan newsletter di
blog brand milikmu. Hubungan kedekatan antara
brand dengan pelanggan potensial seperti ini juga
meningkatkan kepercayaan publik terhadap merek.
Pelanggan juga akan merasa lebih yakin untuk
melakukan pembelian karena mereka merasa
diapresiasi melalui interaksi atau keterlibatan
tersebut
Influencer/Affiliate Marketing
Cara digital marketing ini melibatkan pihak lain, yaitu
influencer atau mitra afiliasi untuk membantu perusahaan
memasarkan produk. Influencer marketing dilakukan
dengan membayar jasa influencer di internet, lalu
influencer tersebut akan memasarkan produk perusahaan
kepada pengikutnya di jejaring sosialnya. Affiliate
marketing melibatkan mitra, dan perusahaan
membayarkan komisi kepada mitra tersebut apabila
mereka berhasil menjual produk perusahaan. Contohnya,
Hostinger memiliki program afiliasi untuk memasarkan
produk secara lebih luas.
- Content Marketing
Seperti namanya, content marketing adalah strategi
pemasaran yang melibatkan berbagai jenis konten, baik
dengan membuat, mengelola, maupun memposting
konten. Perusahaan menggunakan konten untuk
“membujuk” pengguna membeli produk atau jasa yang di
tawarkan. Nah, salah satu cara terbaik untuk menerapkan
strategi digital marketing ini adalah membuat website
sendiri, dengan memilih domain yang tepat dan layanan
web hosting terbaik. Apabila sudah memiliki website,
khususnya yang SEO-friendly, bisa mengoptimasi konten
di situs tersebut agar muncul di halaman pertama mesin
pencari sehingga bisnis lebih dikenal secara luas. - Email Marketing
Email marketing adalah strategi digital marketing yang
dilakukan dengan mengirimkan email kepada pelanggan
(subscriber). Poin utama cara ini bukanlah sekadar
mengirimkan email, tapi bagaimana perusahaan
membuatnya semenarik mungkin agar pelanggan mau
membacanya, bahkan mengeklik promosi dalam email
tersebut. Ada beberapa tool email marketing yang bisa
digunakan untuk membuat email promosi yang menarik. - Social Media Marketing
Social media marketing adalah strategi pemasaran yang
dilakukan melalui media sosial, baik dengan
mengoptimasi konten Anda maupun dengan “menitip”
iklan di jejaring sosial. Perusahaan bisa promosi bisnis di
TikTok, Facebook, Twitter, atau YouTube. Hampir semua
platform media sosial kini menyediakan layanan untuk
mempromosikan bisnis. Sebenarnya, cara yang digunakan
oleh platform-platform ini kurang lebih sama seperti SEM.
Mereka menyediakan marketplace yang menjadi wadah
bagi peeusahaan untuk mempromosikan bisnis, dan bisa
memilih cara organik atau berbayar. - Viral Marketing
Viral marketing adalah cara pemasaran yang dilakukan
sekreatif mungkin agar orang-orang tertarik untuk
membagikannya secara luas. Masih ingat iklan es krim
dengan tema drama kolosal kerajaan nusantara yang ada
adegan menaiki elang? Yap, ini salah satunya. Perusahaan
yang membuat iklan ini mengambil latar drama kolosal
yang sebenarnya cukup sering trending dan menjadi bahan
pembicaraan orang-orang. Mereka pun turut menerapkan
semua ciri khas drama tersebut, mulai dari naik elang,
menggunakan aktor dan aktris yang sama, bahkan jalan
ceritanya. Namun, ada beberapa hal yang sengaja dibuat
“nyeleneh” agar menarik perhatian orang-orang yang
menontonnya. Hasilnya, iklan ini pun cepat sekali menjadi
viral karena penonton terus membagikannya di berbagai
platform jejaring sosial. - Mobile Marketing
Pemanfaatan perangkat mobile atau seluler untuk
pemasaran digital dilakukan selain menggunakan koneksi
Internet. Mobile marketing sendiri dibagi menjadi 2
bentuk, yaitu telemarketing dan SMS marketing.
Telemarketing
Strategi digital marketing ini dilakukan melalui
telepon, dengan menghubungi nomor ponsel
pelanggan. Sebagai contoh, perusahaan yang kerap
menggunakan cara ini adalah perbankan atau
pembiayaan (finance). Telemarketing juga bisa
digunakan sebagai metode yang cukup efektif
untuk retensi pelanggan, karena dirasa lebih
personal dan membuat pelanggan merasa spesial.
SMS Marketing
Metode ini dilakukan menggunakan layanan SMS
untuk mengirimkan pesan promosi massal ke
nomor ponsel pelanggan. Meskipun kini SMS
sudah jarang sekali digunakan untuk
berkomunikasi, beberapa perusahaan masih
menggunakan cara ini untuk mempromosikan
produk atau layanan mereka. Salah satu
keunggulan SMS dalam strategi digital marketing
adalah para marketer bisa melakukannya dengan
cepat dan lebih murah, menggunakan fitur yang
disebut “SMS Blast”. - Radio Advertising
Radio advertising juga termasuk strategi digital
marketing. Memang, radio untuk digital marketing adalah
metode yang sangat populer ketika perangkat ini masih
menjadi salah satu hiburan utama dulu. Tapi jangan salah,
dengan kecanggihan teknologi saat ini yang
memungkinkan radio didengarkan melalui Internet, cara
ini juga masih cukup ampuh untuk memasarkan suatu
produk perusahaan. - TV Advertising
Selain radio, salah satu media lainnya yang masih sangat
populer untuk digital marketing adalah televisi. Dengan
TV advertising, bisa membeli slot untuk beriklan dan
memasarkan produk. Semakin populer acara yang sedang
tayang, biasanya semakin mahal pula slot iklannya. Jenis-
jenis iklan yang ditampilkan juga beragam, seperti iklan di
antara jeda acara, iklan running text, atau yang
ditampilkan langsung dalam acaranya (sponsor). Untuk
beriklan di TV, Anda bisa menggunakan jasa agensi iklan.
Kisaran biaya yang harus dikeluarkan juga berbeda-beda,
tergantung pada stasiun TV yang menayangkannya, waktu
penayangan, dan jenis iklan. Biaya rata-rata untuk
beriklan di TV berkisar antara 14 juta rupiah hingga 110
juta rupiah
Strategi Digital Marketing : Penjelasan dan Penerapannya
Ada beberapa strategi digital marketing yang bisa dilakukan
untuk memasarkan produk melalui media digital. Seperti yang
sudah di jelaskan di atas, media-media yang digunakan untuk
pemasaran digital meliputi saluran komunikasi yang
sebenarnya hampir setiap hari kita jumpai, baik melalui
jaringan Internet maupun telepon. Digital marketing memiliki
beberapa strategi, tergantung pada media yang digunakan.
Strategi digital marketing sebagai berikut :
- Search Engine Marketing (SEM)
Strategi digital marketing yang satu ini melibatkan
penggunaan mesin pencari, seperti Google, Bing, Yahoo,
19
atau Facebook. SEM sendiri dibagi menjadi dua area,
yaitu SEO dan PPC.
Search Engine Optimization
Cara ini dilakukan dengan mengoptimasi konten
digital marketing agar muncul di halaman pertama
Google tanpa harus membayar ke penyedia iklan.
Pay-per-Click (PPC)
Berbeda dengan SEO, PPC dilakukan dengan
membayar sejumlah biaya kepada penyedia iklan
agar materi digital marketing selalu berada di hasil
teratas saat calon pelanggan mencari keyword
tertentu sesuai produk yang dicar
Manfaat Digital Marketing
Setelah menjelaskan apa itu digital marketing dan pengertian
digital marketing, selanjutnya akan membahas faktor-faktor
yang memengaruhi efektivitas pemasaran digital. Tentu saja,
faktor utama yang mendukung keberhasilan strategi digital
marketing adalah banyaknya pengguna internet di seluruh
dunia seperti penjelasan di atas. Hampir semua orang
sekarang ini juga lebih memilih untuk melakukan transaksi
secara online, apalagi sejak pandemi COVID-19. Dari sisi
teknologi dan efisiensi, ada juga beberapa alasan yang
membuatnya menjadi cara pemasaran yang wajib dicoba jika
sedang merintis atau sudah memiliki bisnis. Berikut manfaat
digital marketing untuk bisnis :
- Penargetan Pasar Lebih Sesuai
Menggunakan berbagai tool digital marketing yang telah
didesain sedemikian rupa, kita bisa memperoleh data yang
akurat tentang kebiasaan dan preferensi pengguna terkait
segmen pasar tertentu, atau terkait produk dan jasa yang
di tawarkan. Dari sini, bisa menyusun strategi yang paling
sesuai untuk pasar yang di targetkan sehingga
penerapannya bisa lebih efektif. - Evaluasi Strategi Berdasarkan Data
Setelah strategi digital marketing diterapkan, kita bisa
melihat evaluasi dan analisis pemasaran. Data-data seperti
tingkat keberhasilan kampanye, jumlah pengguna yang
membuka iklan, dan lain sebagainya bisa di manfaatkan
untuk memperbaiki strategi pemasaran sebelumnya.
Berdasarkan data yang akurat ini, nantinya pun bisa
meningkatkan efektivitas campaign agar angka penjualan
semakin melesat. - Bisa Menjangkau Hampir Semua Pasar
Seperti yang diketahui, dunia online tidak terbatas ruang
dan waktu. Hampir 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan
sepanjang tahun, jaringan-jaringan digital ini selalu
terhubung ke berbagai wilayah di dunia. Digital marketing
adalah metode yang tepat karena bisa menjangkau dan
saling terhubung dengan pelanggan dari berbagai belahan
dunia, kapan pun dan di mana pun. Hasilnya, jasa atau
produk yang di tawarkan menjadi selalu tersedia dan bisa
dibeli oleh pelanggan kapan saja. - Biaya Lebih Murah
Budget yang perlu di keluarkan untuk pemasaran digital
jauh lebih murah dibandingkan strategi pemasaran
tradisional. Tidak perlu mencetak poster, atau membuang-
buang dana untuk iklan yang tidak efektif atau bertarget.
Ada beberapa cara organik yang bisa dilakukan tanpa
harus mengeluarkan biaya iklan yang cukup besar.
Misalnya, kalau sudah punya website atau blog
menggunakan WordPress, bisa mencoba cara menaikkan
ranking web di Google. - Meningkatkan Reputasi Brand
Sudah pasti, dengan semakin banyaknya pengguna
Internet dan platform online,mbisa meningkatkan reputasi
brand melalui pemasaran digital. Sebagian besar pembeli
umumnya akan mencari produk atau layanan terlebih
dahulu di Internet sebelum memutuskan untuk melakukan
transaksi. Dengan menerapkan digital marketing, bisnis
akan mudah ditemukan oleh calon pelanggan, dan mereka
akan merasa yakin bahwa merek tersebut bisa dipercaya,
yang akhirnya akan meningkatkan penghasilan online
perusahaan
Digital Marketing
Sejarah digital marketing dapat ditelusuri kembali ke
masa awal internet ketika perusahaan mulai menyadari potensi
penggunaan situs web untuk menjangkau khalayak yang lebih
luas. Pada awal tahun 2000-an, Search Engine Optimization
(SEO) menjadi cara populer untuk meningkatkan visibilitas situs
web dan meningkatkan traffic. Hal ini melibatkan pengoptimalan
konten situs web untuk mendapat peringkat lebih tinggi di
halaman hasil mesin pencari. Seiring waktu, digital marketing
telah berkembang untuk memasukkan berbagai strategi dan
teknik, seperti Search Engine Marketing (SEM), pemasaran
media sosial, pemasaran email, pemasaran konten, dan masih
banyak lagi.
Era daring membuat banyak perubahan signifikan tentang
cara komunikasi dan pemasaran suatu produk. Kini, tren
pemasaran mulai bergerak ke arah digital marketing. Digital
marketing dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran atau
promosi suatu merek atau brand produk atau jasa yang dilakukan
melalui media digital. Tujuan pemasaran ini adalah menjangkau
sebanyak-banyaknya pelanggan dengan cara yang efisien,
relevan, dan efektif. Jika pemasaran tradisional menggunakan
media cetak sebagai sarananya, pemasaran digital banyak
menggunakan media-media daring. Pada dasarnya, strategi
pemasaran digital atau strategi digital marketing adalah kegiatan
pemasaran produk berupa barang atau jasa menggunakan media
atau teknologi berbasis digital. Penggunaan media digital
diharapkan mampu menjangkau target pasar yang lebih luas.
Secara isi atau konten, pemasaran digital tidak berbeda jauh
dengan marketing konvensional. Bedanya, ada kesempatan untuk
berinteraksi langsung dengan calon konsumen ketika
memasarkan produk melalui internet. Jadi selain meningkatkan
angka penjualan, produk beserta keunggulannya bisa lebih
dikenal.
Pengertian digital marketing adalah suatu kegiatan
pemasaran atau promosi sebuah brand atau produk
menggunakan media digital atau internet. Tujuan digital
marketing adalah untuk menarik konsumen dan calon
konsumen secara cepat. Seperti yang kita tahu, penerimaan
teknologi dan internet di masyarakat sangat luas sehingga tidak
heran kegiatan pemasaran secara digital dijadikan pilihan utama
oleh perusahaan-perusahaan. Akibatnya, perusahaan saling
berkompetisi membuat konten yang menarik untuk ditampilkan
dalam pemasarannya di dunia maya. Dengan banyaknya media
digital di sekitar kita saat ini, sudah jelas bahwa digital
marketing adalah cara pemasaran yang sangat efektif. Media
pemasaran digital mencakup saluran komunikasi yang sering
kita jumpai, baik melalui jaringan Internet maupun jaringan
lainnya seperti telepon dan televisi. Banyak perusahaan kini
mulai berlomba-lomba memaksimalkan kampanye-kampanye
mereka di dunia digital. Akan membahas kelebihan digital
marketing dibandingkan dengan cara pemasaran lainnya, serta
strategi pemasaran digital yang wajib dicoba untuk
meningkatkan penjualan suatu perusahaan.
Seiring dengan perkembangan zaman, istilah digital
marketing kemudian terus berkembang menjadi bagian-bagian
kecil yang lebih spesifik. Untuk memahami secara keseluruhan,
mengenai digital marketing, maka perlu juga untuk mengetahui
terlebih dahulu tentang bagaimana tren digital yang tengah
terjadi. Setelah itu, nantinya akan paham tentang mengapa
digital marketing ini muncul serta dapat memberikan pengaruh
besar khususnya bagi perkembangan bisnis yang masih bertahan
hingga saat ini.
Tentunya para ahli dalam digital marketing memiliki
definisi masing-masing. Adapun pengertian digital
marketing menurut para ahli adalah sebagai berikut :
- Ridwan Sanjaya & Josua Tarigan (2009)
Digital marketing adalah kegiatan pemasaran termasuk
branding yang menggunakan berbagai media. Sebagai
contoh yaitu blog, website, e-mail, adwords, dan berbagai
macam jaringan media sosial. - Kleindl dan Burrow (2005)
Pengertian digital marketing adalah suatu proses
perencanaan dan pelaksanaan dari konsep, ide, harga,
promosi dan distribusi. Secara sederhana dapat diartikan
sebagai pembangunan dan pemeliharaan hubungan yang
saling menguntungkan antara konsumen dan produsen. - Heidrick & Struggles (2009)
Digital marketing menggunakan perkembangan dunia
digital untuk melakukan periklanan yang tidak digembar-
gemborkan secara langsung akan tetapi memiliki efek yang
sangat berpengaruh. - Rob Thompson dari Trendjackers
Selain itu, digital marketing menurut para ahli adalah
penggunaan teknologi digital dan perangkat yang
didukung koneksi internet untuk mencapai target
pemasaran. - Urban (2004)
Pengertian digital marketing adalah sebuah kegiatan
pemasaran yang dilakukan dengan internet. Penggunaan
internet atau teknologi akan membantu memperluas,
sekaligus meningkatkan fungsi dari pemasaran tradisional
sebelumnya. - Coviello, Miley and Marcolin (2001)
Pengertian digital marketing menurut Coviello, Milley dan
Marcolin cenderung lebih spesifik. Mereka menyebutkan
bahwa digital marketing merupakan penggunaan internet.
Digital marketing adalah penggunaan teknologi interaktif
lain dalam menciptakan dan menghubungkan komunikasi.
Komunikasi yang dimaksud adalah yang terjadi di antara
konsumen spesifik dengan perusahaan. - American Marketing Association
Pengertian digital marketing yang disebutkan oleh Asosiasi
Marketing Negeri Paman Sam ini mengatakan bahwa digital
marketing adalah sebuah aktivitas, institusi, serta sebuah
proses yang difasilitasi teknologi digital. Gunanya adalah
untuk menciptakan, menginformasikan dan memberi nilai
lebih pada konsumen dan pemangku kepentingan yang
lainnya. - Chaffey (2009)
Chaffey memberikan pengertian digital marketing secara
sederhana. Digital marketing adalah sebuah kegiatan yang
dilakukan untuk mencapai tujuan dari pemasaran. Dalam
mencapai tujuannya, pemasaran akan dibantu oleh teknologi
digital. Digital marketing adalah sebuah penggunaan
teknologi. Tujuannya untuk membantu aktivitas pemasaran.
Guna meningkatkan pengetahuan para pelanggan, dengan
menyesuaikan apa saja yang mereka butuhkan.
Wilayah Pemasaran
Wilayah pemasaran adalah unsur yang akan dikaji selanjutnya untuk
mengetahui dampak penggunaan platform jual-beli online. Seperti yang
dinyatakan oleh Tandjung (2011) bahwa dengan internet dapat memberikan
efisiensi anggaran pemasaran, internet memiliki jangkauan yang luas, akses
mudah dan biaya murah. Salah satu bukti bahwa penggunaan internet seperti
aplikasi Online Shop memiliki dampak positif bagi pelaku UMKM adalah
banyaknya pelaku usaha yang mulai mencoba menawarkan berbagai macam
produknya dengan menggunakan media internet. Dengan menggunakan e-
commerce atau Online Shop maka kegiatan usaha kecil dan menengah dapat
mengurangi jumlah saluran distribusi dan akan berdampak pada pengurangan
harga. Biaya operasional yang murah akan diikuti dengan harga jual produk yang
murah juga. Harga produk yang murah akan menarik minat calon pembeli untuk
membeli produk tersebut karena para konsumen merasa memiliki kemampuan
untuk membeli, dan lebih daripada itu mereka merasa daya beli mereka
meningkat, dan akhirnya akan meningkatkan penjualan dan pendapatan produsen.
Penggunaan internet untuk mendapatkan informasi merupakan hal yang
cukup mudah dilakukan bagi masyarakat pada umumnya. Penggunaan internet
yang dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun asalkan wilayah
tersebut memiliki jaringan internet yang disediakan oleh berbagai provider
dianggap juga dapat menembus batas dimensi kehidupan penggunanya, waktu,
dan bahkan ruang. Hanya dengan mengetikkan kata kunci di Google search atau
situs pencari informasi tertentu maka seorang pengguna internet dapat
menemukan berbagai alternatif dan pilihan informasi yang diperlukannya dengan
form yang telah disediakan. Bahkan ketika sesorang mengetikan nama sebuah
produk di google search maka google akan menampilkan beberapa e-commerce
yang menjualnya
Laba
Unsur ketiga yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah laba yang
kaitannya dengan penggunaan platform jual-beli online. Mendapatkan keuntungan
atau laba sebanyak-banyaknya merupakan tujuan dari setiap perusahaan. Secara
sederhana Kuswadi (2008:46) mendefinisikan laba (rugi) adalah pendapatan
dikurangi seluruh beban/biaya yang telah dikeluarkan. Sedangkan menurut
Soemarso (2010) definisi laba adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha. Apabila beban lebih besar dari pendapatan,
maka selisihnya disebut rugi
Sumber-sumber Pendapatan
Menurut Greuning, et al. (2013:289) menyebutkan bahwa pendapatan dapat
berasal dari beberapa sumber, diantaranya adalah penjualan barang, pemberian
jasa, penggunaan aset entitas oleh entitas lain yang menghasilkan bunga, royalti
dan dividen.
Berdasarkan teori Greuning, dapat disimpulkan bahwa kegiatan normal
perusahaan seperti penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan akan mendatangkan hasil yang disebut pendapatan.
Adapun pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan disebut
hasil non operasi. Bunga dan deviden merupakan contoh pendapatan non operasi
biasanya dimasukkan ke dalam pendapatan lain-lain
Indikator Pendapatan
Pendapatan sebagai unsur kedua yang akan dikaji kaitanya dengan
penggunaan platform jual-beli online harus memiliki indikator yang jelas.
Menurut Kuswadi (2008:45) ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai
indikator dalam menentukan pendapatan yaitu :
- Modal usaha. Modal usaha merupakan sesuatu yang digunakan untuk
mendirikan atau menjalankan suatu usaha. Modal ini dapat berupa uang dan
juga tenaga atau keahlian. - Lama usaha. Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat
pendapatan, lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan
mempengaruhi produktivitasnya sehingga dapat menambah efisiensi dan
menekan biaya produksi lebih kecil daripada penjualan. - Jam kerja pedagang. Analisis jam kerja merupakan bagian dari teori ekonomi
mikro, khususnya pada teori penawaran tenaga kerja yaitu tentang kesediaan
individu untuk bekerja dengan harapan memperoleh penghasilan atau tidak
bekerja dengan konsekuensi mengorbankan penghasilan yang seharusnya
didapatkan
Pendapatan
Pendapatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan suatu
perusahaan, karena besar kecilnya pendapatan yang dihasilkan akan
mempengaruhi tingkat laba yang didapatkan perusahaan tersebut. Menurut
Kartikahadi, et.al (2012:186) pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi
selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset
atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal. Sedangkan Martani, et.al (2016:204)
menyebutkan definisi penghasilan dan pendapatan adalah kenaikan manfaat
ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau
penambahan aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas
yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Pendapatan adalah penghasilan
yang berasal dari aktivitas normal dari suatu entitas dan merujuk kepada istilah
yang berbeda-beda seperti penjualan (sales), pendapatan jasa (fees), bunga
(interest), dividen (dividend), dan royalti (royalty).
Penjualan
Unsur kedua yang akan dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan
penggunaan platform jual-beli online adalah penjualan. Berikut ini adalah
beberapa definisi penjualan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut
Moekijat (2011:488) penjualan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
mencari pembeli, mempengaruhi serta memberikan petunjuk agar pembeli dapat
menyesuaikan kebutuhannya dengan produksi yang ditawarkan serta mengadakan
perjanjian mengenai harga yang menguntungkan untuk kedua belah pihak.
Sedangkan menurut Wijaya (2011: 92) penjualan adalah sebuah transaksi
pendapatan barang atau jasa yang dikirim pelanggan untuk imbalan kas suatu
kewajiban untuk membayar. Assuari (2004: 5) berpendapat bahwa “penjualan
ialah sebagai kegiatan manusia yang mengarahkan untuk memenuhi dan
memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran”. Swastha
(2014:9) menyatakan “penjualan merupakan satu bagian dari promosi dan
promosi adalah satu bagian dari program pemasaran secara keseluruhan”.
Dalam sebuah perusahaan, kegiatan penjualan merupakan kegiatan yang
paling penting karena dengan adanya kegiatan penjualan tersebut maka akan
terbentuk laba yang dignakan untuk menjamin keberlangsungan perusahaan
tersebut. Penjualan harus menghasilkan suatu aliran pendapatan yang cukup agar
dapat digunakan untuk menutup biaya operasi perusahaan dan dapat memberikan
suatu keuntungan bagi investor. Pada umumnya tujuan penjualan adalah untuk
mencapai laba optimal dengan modal yang minimal.
Biaya
Definisi biaya menurut Darsono (2015:15) “biaya adalah kas atau setara kas
yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang
diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan di masa yang akan
datang”. Selanjutnya adalah definisi efisiensi biaya yang dikemukakan oleh
Adisasmita (2006:43) “efisiensi adalah input yang digunakan, dialokasikan secara
optimal dan baik untuk mencapai output yang menggunakan biaya terendah”.
Sedangkam efisiensi menurut Mulyadi (2007: 63) adalah ketepatan cara (usaha,
kerja) dalam menjalankan sesuatu dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga
dan biaya. Efisiensi juga berarti perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran
atau antara biaya dan keuntungan. Kaitan antara biaya dan efisiensi dikemukakan
oleh Wakidi (2012) yang mengartikan efisiensi biaya penjualan online sebagai
“ukuran pencapaian terbaik dari perbandingan antara biaya yang dikeluarkan
untuk usaha mendapatkan calon pembeli dan usaha menawarkan produk secara
online kepada pembeli sehingga terjadi penjualan online sampai pada usaha untuk
pengiriman barang kepada pembeli dengan pencapaian hasil yang sudah diraih”.
Berdasarkan beberapa teori tentang efisiensi dan biaya di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara efisiensi dan biaya. Dalam
pengelolaan sebuah usaha sangatlah penting mengutamakan efisiensi dalam
pembiayaan operasional perusahaan. Hal ini tidak lain adalah untuk meningkatkan
pendapatan perusahaan melalui perhitungan dan proses tertentu. Biaya pemasaran
yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan merupakan bagian dari biaya variabel
atau dapat disebut variabel cost dan merupakan bagian dari total cost atau biaya
total dari sebuah produk. Jika perusahaan memiliki dan menggunakan teknologi
yang efektif dalam melakukan pemasaran produk, maka akan dapat menekan
biaya pemasaran itu sendiri dan efek positif nya akan mengurangi harga jual
produk. Dengan begitu maka harga produk dapat dijual dengan harga yang lebih
murah. Harga produk yang lebih murah, menjadikan produk tersebut memiliki
peluang yang besar untuk bisa terjual dan pada akhirnya akan meningkatkan
penjualan dan pendapatan.
Untuk dapat mengukur tingkat efisiensi biaya maka perlu diketahui
beberapa indikator biaya. Indikator Biaya Pemasaran Menurut Tjiptono, dkk,
(2015:3), yaitu:
- Biaya Periklanan (advertising cost)
- Biaya Promosi Penjualan (sales promotion cost)
- Biaya Publisitas
- Biaya Pemasaran Personal (personal selling cost
Kelebihan dan Kelemahan Online shop
Banyak kelebihan dari system belanja online telah menyebabkan seseorang
lebih memilih belanja online daripada belanja offline. Berikut ini kelebihan online
shop menurut Prasetio (2012) dalam web Hestanto (2021) diantaranya :
- Belanja online dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan konsumen
dan penjual tersambung dengan internet. - Tersedia banyak pilihan ragam produk dalam toko online.
- Dengan menggunakan system jual-beli online maka dapat menghemat waktu
dan tenaga, calon pembeli cukup meluangkan waktu sebentar dengan
membuka internet untuk mencari dan membeli produk yang dibutuhkan
melaui katalog digital. - Konsumen jual-beli online dapat membandingkan produk dan harga dengan
toko online lainnya, sehingga lebih banyak memiliki pilihan. - Proses belanja yang mudah bagi para konsumen. Para konsumen cukup
memesan barang, dan melakukan pembayaran yang biasanya dapat dilakukan
melalui internet/mobile banking atau ATM dan tinggal menunggu barang
dikirim.
Selain memiliki kelebihan, system belanja online juga memiliki beberapa
kekurangan, berikut ini beberapa kekurangan dari belanja online : - Sering terjadi penipuan penjualan yang dilakukan oleh penjual dengan tidak
mengirim barang kepada pembeli setelah dilakukan pembayaran atau transfer
uang. - Kualitas dan fisik barang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Fisik barang
berbeda dengan foto yang ditampilkan di website. - Sistem jual-beli secara online membutuhkan biaya tambahan untuk
transportasi atau pengiriman barang. - Dengan membeli barang secara online maka pembeli tidak dapat melihat dan
mencoba secara barang yang dipesan secara langsung. - Jual-beli online membutuhkan waktu agar barang sampai ditempat pembeli
karena proses pengiriman.
Etika Dalam Menjalankan Online Shop
Hal yang wajib diketahui oleh para pengguna atau pemilik online shop
adalah bahwa sekarang Indonesia sudah memiliki Undang-undang tentang
transaksi elektronik, yaitu UU RI. No.11 th 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik dan UU RI. No.8 th.1999 tentang Perlindungan Konsumen (Prasetio,
2012: 36). Dalam menjalankan bisnis secara online diperlukan juga bberapa etika
agar dapat berjalan dengan baik. Laudon dalam Prasetio (2012: 38-39)
menyatakan beberapa etika yang dapat diteapkan sebagai cara untuk
mengevaluasi kegiatan bisnis online shop, yaitu:
- The Golden Rule. Sebelum melakukan kegiatan bisnis online shop, para
pelaku usaha disarankan harus memposisikan diri sebagai konsumen. Dengan
cara ini akan membantu pelaku bisnis online shop mendapatkan sudut
pandang yang lebih adil bagi penjual dan pembeli. - Universalism. Terkadang terdapat situasi dimana sebuah tindakan yang tidak
bisa diterapkan dalam segala keadaan, maka tindakan ini tidak dapat
digunakan dalam keadaan tertentu. - Slippery Slope. Maksud dari Slipepry Slope ini adalah apabila dalam sebuah
situasi tidak dapat dilakukan secara berulangkali, maka lebih baik hal tersebut
tidak dilakukan sama sekali. - Collective Utilitarian Principle. Lakukan tindakan yang dapat menghasilkan
nilai positif bagi kelompok. - Risk Aversion. Lakukan tindakan dengan akibat masalah atau resiko terkecil
atau potensi biaya yang terendah. - No Free Lunch. Hal ini dapat diasumsikan bahwa setiap benda baik yang
berwujud maupun yang tidak berwujud dimiliki oleh seseorang. - The New York Times Test. Selalu asumsikan bahwa hasil tindakan yang
dilakukan oleh siapapun akan menjadi artikel utama di surat kabar besar pada
esok hari.
Tingkatan Pelaku Online Shop
Dalam system penjualan online terdapat beberapa tingkatan pelaku usaha.
Menurut Prasetio (2012) terdapat tiga tingkatan dalam pengoperasian bisnis
online atau online shop, antara lain yaitu:
- Suplier. Supplier adalah pihak yang menyediakan, menyalurkan dan
memasarkan suatu produk tertentu. - Reseller. Reseller adalah orang atau pihak yang menjual kembali produk
orang lain atau supplier dimana reseller ini berdiri sendiri atau bukan
merupakan pegawai dari supplier. - Dropshipper. Dropshipper tidak melakukan stock barang, mereka hanya
memamerkan atau memajang gambar/foto kepada calon pembeli. Jika ada
orang yang mau membelinya, maka barang akan dikirim dari supplier ke
konsumen secara langsung, namun atas nama dropshipper. Beberapa
keuntungan dropshipper, yaitu :
a) Dropshipper mendapat untung atau fee atas jasanya memasarkan barang
milik sang pemilik barang.
b) Tidak membutuhkan modal besar untuk menjalankan sistem ini.
c) Sebagai dropshipper, Anda tidak perlu menyediakan kantor dan gudang
barang.
d) Dapat terbebas dari beban pengemasan dan distribusi produk.
Sejarah dan Perkembangan Online Shop
Sekitar tahun 2000an online shop ini baru banyak tumbuh di Indonesia. Saat
ini online shop sangat booming. Banyak orang yang dulunya kurang percaya
sekarang mulai percaya dan mulai suka dengan cara jual-beli online ini. Michael
Aldrich adalah orang pertama yang melakukan belanja secara online. Diketahui
pada tahun 1979 ia pertama kali melakukan belanja secara online melalui Redifon
Computers. System kerjanya saat itu adalah hanya dengan menyambungkan TV
berwarna dengan komputer yang dapat memproses tranksaksi secara realtime
melalui siaran telepon. Pada tahun 1980 ia mulai menjual sistem yang ia temukan
tersebut di Inggris. Selanjutnya pada tahun 1992 Charles Stack membuat sebuah
toko buku online bernama Book Stacks Unlimited dan saat ini berkembang
menjadi Books.com. Pada tahun 1994 munculah website bernama Amazon.com
yang dibuat oleh Jeff Bezos. Kemudian pada tahun 1996 muncul lah situs
bernama Ebay yang sekarang tambah besar seperti Amazon.
Seiring dengan perkembangan zaman semakin banyak bermunculan situs-
situs lain khususnya saat ini di Indonesia ada Tokopedia, Shopee, JD.ID,
Bukalapak, OLX dan banyak lagi. Saat ini online shop tidak hanya dapat diakses
dengan menggunakan website tapi juga sudah dapat digunakan melalui aplikasi
Android maupun iOS. Untuk memperluas jangkauan para perusahaan online shop
juga memanfaatkan social media seperti Facebook, twitter, Instagram, WhatsApp
dan banyak lainnya
Market Place
Market place merupakan bagian dari digital marketing. Pengertian market
place menurut Opida (2014) Market place merupakan media online berbasis
internet (web based) tempat melakukan kegiatan bisnis dan transaksi antara
pembeli dan penjual. Pembeli dapat mencari supplier sebanyak mungkin dengan
kriteria yang diinginkan, sehingga memperoleh sesuai harga pasar. Sedangkan
bagi supplier/penjual dapat mengetahui perusahaan-perusahaan yang
membutuhkan produk/jasa mereka
Dampak Negatif E-commerce
Meskipun banyak manfaat dan keuntungan dari penggunaan aplikasi e-
commerce, namun ternyata penggunaan e-commerce juga memliki beberapa
kelemahan dan dampak negatif, menurut Purwaningtias (2020) terdapat beberapa
adalah dampak negatif dari penggunaan e-commerce :
- Terjadi pencurian informasi berharga dan rahasia.
Tindakan pencurian ini informasi rahasia sebuah organisasi kepada pihak-pihak
yang tidak berhak dan tidak bertanggungjawab dapat mengakibatkan kerugian
yang besar bagi korbannya. - Dapat berakibat kehilangan kesempatan bisnis jika terjadi gangguan pelayanan.
Jika terjadi kesalahan dalam hal pelayanan yang bersifat kesalahan non-teknis
seperti padamnya aliran listrik atau koneksi internet yang buruk, maka
kesempatan atau peluang bisnis bisa saja hilang karena calon pelanggan bisa
saja beralih kepada produsen atau penjual yang lain. - Hilangnya kepercayaan dari para konsumen.
Persaingan dalam bisnis merupakan suatu hal yang biasa terjadi. Namun
persaingan yang tidak sehat bisa saja terjadi dan dilakukan oleh perusahaan
pesaing, misalnya saja usaha menjatuhkan reputasi sebuah perusahaan yang
dilakukan oleh perusahaan lain sebagai pesaing. Hal ini akan memberikan
dampak negatif bagi perusahaan yang menjadi korban. Bisa saja para
konsumen tidak lagi mempercayai perusahaan yang reputasinya telah
dijatuhkan tersebut. - Penggunaan akses oleh pihak yang tidak berhak dan tidak bertanggungjawab.
Contoh kasus dalam hal ini adalah pembobolan sebuah sistem perbankan oleh
hacker, yaitu dengan memindahkan sejumlah rekening orang lain ke rekening
pribadinya. - Kerugian yang sifatnya tidak terduga.
Kerugian ini disebabkan karena adanya gangguan yang dilakukan dengan
sengaja, ketidak jujuran, praktek bisnis yang melanggar kesepakatan dan
hukum, serta kesalahan yang disebabkan oleh faktor manusia atau kesalahan
pada sistem elektronik
Manfaat E-commerce
Dalam penerapannya, penggunaan E-commerce memiliki sejumlah manfaat
bagi perusahaan. Widayati (2013) menyebutkan 5 manfaat e-commerce bagi
perusahaan, daiantaranya adalah :
- Dapat meningkatkan market exposure. Dengan bantuan internet maka semua
orang dapat melakukan transaksi jual beli online, misalnya dalam hal
memesan dan membeli produk yang dijual tanpa ada batasan jarak dan waktu. - Menurunkan biaya operasional. Dengan bantuan computer maka biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan tidak terlalu banyak, sehingga biaya-biaya
seperti gaji, sewa tempat, dan biaya lainya dapat dikurangi. - Melebarkan jangkauan. Penggunaan internet pada e-commerce dapat diakses
oleh semua orang dan menjangkau hamper seluruh belahan dunia tanpa
batasan tempat dan waktu. - Meningkatkan Customer Loyalty. Konsumen yang menggunakan E-
commerce dapat memilih sendiri produk yang ia inginkan yaitu dengan
melihat katalog produk yang ditawarkan oleh penjual atau produsen. Selain
itu, para konsumen juga bisa mendapatkan informasi yang detail dari para
penjual atau produsen dimana informasi tersebut dapat diakses setiap waktu. - Meningkatkan Supply Management. Penggunaan E-commerce pada
perusahaan dapat meningkatkan efisiensi pengeluaran operasional perusahaan
terutama pada stock barang dan jumlah karyawan. Hal ini terjadi karena
adanya supply management yang baik. - Memperpendek Waktu Produksi. Dengan e-commerce maka proses
pemesanan barang oleh konsumen kepada penjual atau produsen dapat
dilakukan secara langsung tanpa batas waktu. Hal ini akan mempersingkat
waktu dalam proses perpindahan barang dari penjual ke konsumen.
Sedangkan menurut Suyanto (2003:50) beberapa manfaat yang dapat
diperoleh dari e-commerce bagi organisasi adalah : - Memperluas market place hingga ke pasar nasional dan international.
- Menurunkan biaya pembuatan, pemrosesan, pendistribusian, penyimpanan dan
pencarian informasi yang menggunakan kertas. - Memungkinkan pengurangan inventory dan overhead dengan
menyederhanakan supply chain dan management tipe “pull”. - Mengurangi waktu antara outlay modal dan penerimaan produk dan jasa.
- Mendukung upaya-upaya business process reengineering.
- Memperkecil biaya telekomunikasi internet lebih murah dibanding VAN.
- Akses informasi lebih cepat
Tujuan Menggunakan Aplikasi E-commerce
Tujuan suatu perusahaan menggunakan sistem E-commerce adalah dalam
rangka membantu perusahaan untuk dapat lebih efektif dan efisien dalam
meningkatkan keuntungan yang didapatkan
Klasifikasi E-commerce
E-commerce dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian. Menurut
Laudon dan Traver (2017: 22-27) e-commerce diklasifikasikan menjadi enam
jenis model, yaitu:
- Business-to-Consumer (B2C) e-commerce, bisnis online jenis ini menjangkau
konsumen secara individual. B2C e-commerce mencakup pembelian barang
ritel, 10 travel, konten online dan jenis layanan lainnya. Jenis B2C e-
commerce ini tumbuh secara eksponensial sejak 1995, dan merupakan jenis e-
commerce yang paling sering ditemui konsumen. - Business-to-Business (B2B) e-commerce, merupakan jenis e-commerce
terbesar yang berfokus pada penjualan ke bisnis lain. Proses transaksi
ecommerce bertipe B2B, perusahaan atau organisasi yang terlibat dapat
bertindak sebagai pembeli atau penjual. Terdapat dua model bisnis utama
yang digunakan dalam B2B e-commerce: (1) net marketplace, yang meliputi
e-distributor, perusahaan e-procurement, bursa dan konsorsium industri, dan
(2) jaringan industri swasta. - Consumer-to-Consumer (C2C) e-commerce, pada jenis ini tersedia media
bagi konsumen untuk menjual satu sama lain, dengan bantuan pembuat pasar
online (juga disebut penyedia platform). Dalam C2C e-commerce, pihak
individu menjual barang atau jasanya kepada individu, organisasi atau
perusahaan yang berperan sebagai konsumen melalui internet. - Mobile e-commerce (m-commerce), mengacu pada penggunaan perangkat
mobile untuk memungkinkan bertransaksi online dengan menggunakan
jaringan seluler dan nirkabel untuk menghubungkan smartphone atau tablet
ke internet. - Social e-commerce, merupakan e-commerce yang menggunakan jejaring
sosial dan social media. Pertumbuhan Social e-commerce didorong oleh
sejumlah faktor, termasuk meningkatnya popularitas sign-on sosial, notifikasi
jaringan, kolaborasi alat belanja online, pencarian social toko virtual di
Facebook, Instagram, Pinterest, YouTube, dan situs jejaring sosial lainnya.
Social e-commerce sering kali dihubungkan dengan jenis m-commerce, hal
ini disebabkan karena semakin banyak pengguna jaringan sosial yang
mengakses jaringan tersebut melalui perangkat mobile. Proses social e-
commerce melibatkan penggunaan aplikasi mobile pengolahan pesan seperti
Facebook Messenger, WhatsApp, BBM, dan lain-lain sebagai media
berinteraksi antara penjual dengan konsumen. - Local e-commerce, Local e-commerce adalah perpaduan dari m-commerce,
social e-commerce, dan local e-commerce yang didorong oleh banyaknya
minat terhadap layanan on-demand lokal seperti Uber, dan GOJEK. Local e-
commerce merupakan bentuk e-commerce yang berfokus untuk melibatkan
konsumen berdasarkan lokasi geografis saat ini. Pedagang lokal
menggunakan berbagai teknik pemasaran online untuk mendorong konsumen
ke toko mereka
E-commerce
Setelah memahami definisi dan teori tentang digital marketing dari para
ahli, berikutnya adalah definisi tentang e-commerce dari para ahli. Menurut
Wijaya (2020:19) E-commerce adalah website yang digunakan untuk menjual
produk-produk dari pemilik website itu sendiri. Definisi E-commerce menurut
menurut David yang telah diterjemahkan oleh Purbo (2001:2) merupakan satu set
teknologi dinamis, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan,
konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan
barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Menurut
Wong (2010: 33) pengertian dari electronic commerce adalah pembelian,
penjualan dan pemasaran barang serta jasa melalui sistem elektronik. Seperti
radio, televisi dan jaringan computer atau internet. Dapat disimpulkan bahwa di
dalam kegiatan e-commerce terdapat unsur kegiatan pemasaran untuk mendukung
kegiatan jual-beli secara digital. Sedangkan menurut Kotler & Amstrong (2012)
E-commerce adalah saluran online yang dapat dijangkau seseorang melalui
komputer, yang digunakan oleh pebisnis dalam melakukan aktifitas bisnisnya dan
digunakan konsumen untuk mendapatkan informasi dengan menggunakan
bantuan komputer yang dalam prosesnya diawali dengan memberi jasa informasi
pada konsumen dalam penentuan pilihan. Menurut Laudon dan Traver (2017: 11-
12) pada awal berkembangnya e-commerce, satu-satunya media digital adalah
web browser, namun saat ini media yang lebih banyak digunakan adalah melalui
aplikasi mobile.
Kelemahan Digital marketing
Meskipun memiliki banyak kelebihan, namun ternyata digital marketing
juga memiliki beberapa kelemahan dalam penerapannya. Menurut Royan (2020),
terdapat 3 kelemahan dalam digital marketing, antara lain adalah :
- Konten dan system digital marketing mudah ditiru.
Masalah plagiatisme di Indonesia sangatlah banyak terjadi. Hal ini disebabkan
karena ketidakpastian hukum yang mengatur tentang plagiatisme. Semantara
banyak oknum pelaku usaha yang hanya ingin memasarkan produk mereka
secara mudah saja tanpa harus membuat konten iklan hasil karya mereka
sendiri yang tentunya membutuhkan biaya, waktu dan pengorbanan yang lebih. - Memunculkan banyak pesaing.
Kesadaran masyarakat dan para pelaku usaha terhadap besarnya manfaat
internet dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan biaya
pemasaran konvensional telah memicu minat para pelaku usaha untuk beralih
ke system pemasaran digital. Hal ini berdampak terhadap semakin banyaknya
para pelaku usaha yang baru sebagai pesaing dalam bisnis. - Membutuhkan kreatifitas yang tinggi
Untuk dapat bersaing deangan para pelaku usaha yang sama-sama memasarkan
produknya melalui digital marketing, maka seorang pelaku usaha dituntut harus
memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi dalam membuat konten iklan untuk
dipasang di platform digitalnya. Hal ini diperlukan untuk dapat membedakan
dengan iklan dari para pelaku usaha yang lain dan juga untuk dapat menarik
para customer untuk mengunjungi iklan yang dipasang dan pada akhirnya
melakukan pembelian
Manfaat Digital Marketing
Penggunaan digital marketing dalam dunia usaha memiliki beberapa
manfaat. Berikut adalah manfaat dari kegiatan pemasaran menggunakan digital
marketing menurut Chole dan Dharmik (2018):
- Informasi Produk dan Layanan yang Transparan Dengan adanya informasi
digital yang hanya membutuhkan sekali klik (internet) sehingga masyarakat
mampu mendapatkan informasi yang detail, jelas dan transparan mengenai
produk atau servis. - Kemudahan update informasi produk atau jasa, sehingga pelanggan dapat
memperoleh pembaharuan langsung. Pelanggan dapat memperoleh
pembaharuan informasi dengan mudah dan cepat mengenai produk atau jasa
dengan tersedianya pembaruan informasi produk atau jasa yang terus
ditingkan secara berkelanjutan dan dengan kemudahan dalam melakukan
pengeditan di situs tersebut. - Analisis Komparatif dengan pesaing, mudah untuk membandingkan produk
atau jasa sendiri dengan produk orang lain. Kemajuan teknologi yang terjadi
saat ini memberikan kemudahan bagi sebuah pemilik usaha yang melakukan
pemasaran secara digital untuk membandingkan produk atau jasa perusahaan
tersebut dengan produk atau jasa dari perusahaan lain. Hal ini dapat
membantu dalam meningkatkan kualitas produk atau jasa sendiri. - Biaya lebih murah. Dengan bantuan digital, biaya yang diperlukan untuk
mempromosikan produk atau jasa melalui situs social, channels media, dan
personal email menjadi tidak mahal
Media Pemasaran Digital
Dalam penelitiannya mengenai Digital marketing and Social Media (Chole
dan Dharmik, 2018) menyampaikan beberapa media yang dapat digunakan
sebagai pendukung kegiatan digital marketing antara lain adalah ponsel, social
media, search engine optimization (SEO), Email, search engine marketing (SEM)
dan text massage.
- Ponsel. Penggunaan ponsel sebagai media pemasaran digunakan oleh hampir
semua perusahaan yang memiliki produk atau jasa misal seperti produk
belanja, produk khusus, produk luxury, atau lainnya. Pengiriman sms, atau
menggunakan aplikasi mobile phone seperti Whatsapp, Line, Kakao Talk
merupakan beberapa contoh cara yang dapat dilakukan untuk
mempromosikan produk atau jasa hanya dengan sekali klik. - Social Media Marketing. Sosial Media Marketing adalah metoda pemasaran
online yang saat ini sangat booming dibandingkan dengan jenis pemasaran
lainnya. Hampir semua orang mengenal dan memiliki social media. Media
pemasaran ini lebih dimanfaatkan oleh bisnis berukuran kecil, UKM atau
bisnis lainnya yang berada di wilayah pedesaan. Facebook, Instagram,
Twitter, Linkedin, SnapGram, Youtube dan lain sebagainya merupakan
beberapa contoh social media yang sering digunakan oleh perusahaan. - Search Engine Marketing. Search engine merupakan suatu cara pilihan terbaik
untuk menemukan suatu informasi melalui internet. Terdapat beberapa traffic
atau sumber kunjungan ke sebuah website, namun traffic dari mesin pencari
menjadi yang paling baik khususnya dalam mendapatkan pengunjung yang
tetarget (Ridwan dkk. 2017). Strategi yang dilakukan pada Search Engine
Marketing adalah dengan mengupgrade visibilitas website dan menjadikannya
paling atas dalam mesin pencarian. - Search Engine Optimization. Search Engine Optimization adalah proses yang
mempengaruhi tampilan website yang dipromosikan di situs mesin pencari
(search engine) seperti google, yahoo, bing yang dapat di tampilkan di
halaman pertama dari pengguna internet dengan menggunakan kata kunci
tertentu tanpa mengeluarkan biaya (Wibowo, 2017). Strategi yang dilakuan
hampir sama dengan Search Engine Marketing yaitu dengan membuat website
perusahaan berada di daftar paling atas pada search engine namun relative
lebih murah bahkan bisa dilakukan sendiri dengan gratis, meskipun memiliki
kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama. - Email Marketing. Yang dimaksud dalam email marketing adalah menyediakan
pesan tentang produk atau jasa yang dikirim melalui email kepada seseorang
atau calon konsumen tertentu. Di dalam email marketing, iklan, video dan
pesan dikirimkan kepada pelanggan untuk membuat mereka sadar atau
mengetahui terhadap produk, brand atau merek, dan informasi tentang harga
dan strategi ini cukup murah. Sebagai contoh: ketika seseorang mendownload
sebuah aplikasi seperti pegipegi kemudian saat registrasi terdapat salah satu
form yang wajib diisi berupa alamat email calon konsumen, dan biasanya di
aplikasi tersebut akan menawarkan kepada calon konsumennya untuk
berlangganan surat elektronik apabila ada penawaran harga diskon dan
lainnya. - Pesan Teks. Cara ini merupakan satu-satunya media pemasaran yang mudah
dan nyaman untuk mengirim pesan informasi ataupun penawaran produk atau
jasa dengan menggunakan bantuan telepon genggam
Pemasaran Digital (Digital Marketing)
Definisi Digital marketing menurut Chaffey dan Chadwick (2016:11)
“Digital marketing is the application of the internet and related digital
technologies in conjunction with traditional communications to to achieves
marketing objectives”. Artinya Digital marketing merupakan aplikasi dari internet
dan berhubungan dengan teknologi digital dimana didalamnya berhubungan
dengan komunikasi tradisional untuk mencapai tujuan pemasaran. Beberapa
contoh platform online yang digunakan oleh para marketer untuk menawarkan
produk mereka dan berkomunikasi dengan para calon konsumennya antara lain
adalah Website, Blog, Media sosial (Instagram, Whatsapp, Line, dan lain
sebagainya). Dalam bukunya Sanjaya dan Tarigan (2016:47) menyatakan bahwa
kegiatan marketing termasuk branding yang menggunakan berbagai media
berbasis web seperti blog, website, e-mail, adwords ataupun jejaring sosial.
Digital marketing adalah aktivitas mempromosikan dan menawarkan pasar
melalui media digital secara online dengan menggunakan berbagai sarana seperti
jejaring sosial (Purwana, et.al, 2017). Dalam arti yang sederhana marketing atau
kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai pembangunan dan pemeliharaan
hubungan yang saling memuaskan antara perusahaan dan konsumen. Dari
pengertian Digital marketing diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Digital
marketing adalah kegiatan pemasaran yang dilakukan secara digital dengan
menggunakan teknologi berbasis internet. Mengingat bahwa hampir semua
wilayah di belahan dunia sudah terjangkau oleh internet maka penggunaan Digital
marketing sebagai alat pemasaran sangatlah dibutuhkan oleh para pemasar,
sehingga terdapat peluang yang sangat besar untuk melakukan kegiatan
pemasaran.
Menurut Iram dan Chopade (2018) dalam Sabila (2019:23) menyatakan
bahwa dengan menggunakan digital marketing sebagai alat pemasaran dapat
memberikan kenyamanan, kemudahan, serbaguna, dan lebih cepat dibanding yang
lain. Hal ini tidak hanya memudahkan konsumen, tetapi juga sebagai alat yang
efektif bagi pemasar dalam menjangkau target pasar mereka. Digital marketing
merupakan platfrom yang digunakan oleh pengusaha, investor mikro, perusahaan
berbasis produk, dan unit lainnya untuk mempromosikan produk atau jasa yang
mereka tawarkan (Chole dan Dharmik, 2018)
Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran yang dikemukakan oleh Sudaryono (2016:50) terdiri dari
3 fungsi antara lain adalah :
- Fungsi Pertukaran. Dengan adanya kegiatan pemasaran, maka pembeli dapat
membeli produk dari produsen. Baik dengan cara menukar uang dengan
produk ataupun dengan cara menukar produk dengan produk (barter) untuk
dipakai sendiri atau untuk dijual kembali. Pertukaran merupakan salah satu
dari empat cara orang mendapatkan suatu produk. - Fungsi Distribusi Fisik. Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan
mengangkut dan menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen
mendekati konsumen yang membutuhkan dengan banyak cara, baik melalui
transportasi air, darat, udara, dan sebagainya. Penyimpanan produk bertujuan
untuk menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan. - Fungsi Perantara. Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke
tangan konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang
menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distirbusi fisik. Aktivitas fungsi
perantara antara lain pengurangan tingkat risiko, pembiayaan, pencarian
informasi serta standarisasi dan penggolongan (klasifikasi) produk.
Berdasarkan ketiga fungsi pemasaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jual-
beli merupakan salah satu kegiatan dari fungsi pertukaran dalam pemasaran.
Pemasaran
Pemasaran merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting bagi setiap
perusahaan. Mengingat pentingnya pemasaran bagi setiap perusahaan, maka
diperlukan pemahaman yang tepat tentang definisi pemasaran. Menurut
Melydrum dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses bisnis yang
berusaha menyelaraskan antara sumber daya manusia, finansial dan fisik
organisasi dengan kebutuhan dan keinginan para pelanggan dalam konteks
strategi kompetitif. Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2016:27)
menyatakan : “Marketing is a societal process by which individuals and groups
obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging
products and services of value with others”. (Pemasaran adalah proses sosial
dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran secara bebas produk dan
jasa yang bernilai dengan orang lain). Berdasarkan teori pemasaran yang
dikemukakan oleh Kotler and Keller tersebut, maka dapat digaris-bawahi bahwa
kegiatan pemasaran harus memiliki nilai yang saling menguntungkan bagi
pemasar dan juga bagi para calon konsumen.
Pengaruh Economic Value Added (EVA) Terhadap Harga Saham
EVA merupakan suatu estimasi laba riil dari perusahaan dalam satu periode
yang berbeda. Pada saat nilai EVA yang tinggi memberikan gambaran bahwa perusahaan
memberikan pengembalian yang tinggi disbanding dengan biaya modal. Artinya, saat
perusahaan mampu mengelola investasi dan modal yang diberikan para investor dan
memberikan hasil yang dapat dibagikan kepada perusahaan dan investor. Pengembalian
yang didapat oleh investor tinggi membuat permintaan saham perusahaan naik dan dapat
meningkatkan harga saham perusahaan. EVA berpengaruh positif terhadap pendapatan
atau pengembalian saham, Ketika nilai EVA tinggi maka pendapatan atas saham yang
diberikan perusahaan kepada investor akan tinggi (Indriyani, Narayan & Reddy, 2019).
EVA menunjukkan laba dari investasi yang dilakukan perusahaan berpengaruh positif
terhadap harga saham (Haryuningputri & Widyarti, 2012)
Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham
Earning Per Share adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode
untuk tiap lembar saham yang beredar dan akan dipakai oleh pimpinan perusahaan untuk
menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan (Lauda, 2018). Pada saat nilai EPS
tinggi maka investor akan tertarik untuk berinvestasi, karena tujuan para investor adalah
memperoleh pendapatan yang tinggi. Penelitian Indriyani (2019) menilai hubungan EPS
terhadap harga saham dengan sampel perbankan, nilai EPS yang tinggi menandakan
bahwa perusahaan sangat mapan (mature) sehingga banyak investor yang tertarik
membeli saham perusahaan tersebut. EPS yang tinggi menandakan laba per lembar
saham yang diperoleh investor tinggi, karena tujuan investor adalah untuk mendapatkan
pendapatan yang tinggi, maka investor tertarik untuk membeli saham perusahaan,
semakin banyak permintaan dari calon investor akan membuat harga saham akan
mengalami peningkatan
Pengaruh Current Ratio Terhadap Harga Saham
Current Ratio (CR) adalah yang paling sering digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendeknya dengan cara membagi
asset lancar dengan kewajiban lancar. CR perusahaan yang tinggi dapat memberikan
sinyal positif kepada para investor bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik dan
mampu membayar kewajiban dividen karena ada kelebihan kas yang dimiliki
perusahaan. Nilai CR yang tinggi membuat investor tertarik untuk membeli saham
perusahaan, permintaan yang tinggi saham perusahaan membuat harga saham
perusahaan akan naik. Sutapa (2018) memberikan pendapat bahwa nilai current ratio
yang tinggi menunjukkan likuiditas perusahaan tinggi, artinya perusahaan mampu
memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan akan meningkatkan penawaran saham, hal
tersebut akan meningkatkan harga saham perusahaan. CR tinggi mampu mempengaruhi
harga saham, karena CR mampu mempengaruhi keputusan investor dan tertarik untuk
membeli saham perushaan tersebut ( Suwandry, 2020)
Economic Value Added (EVA)
Economic Value Added (EVA) atau nilai tambah ekonomis merupakan pengukuran
yang baik untuk menilai suatu kinerja keuangan, karena EVA beruhubungan langsung
dengan nilai pasar sebuah perusahaan. EVA menunjukkan suatu ukuran yang baik
mengenai sejauh mana perusahaan telah memberikan tambahan pada nilai pemegang
saham. Apabila manajer perusahaan berfokus pada Economic Value Added, hal ini akan
dapat membantu memastikan bahwa manajer perusahaan telah menjalankan kegiatan
operasi perusahaan dengan cara yang konsisten dengan tujuan memaksimalkan
kekayaan pemegang saham (Alfitri, 2020).
Current Ratio (CR)
Current ratio (CR) merupakan rasio yang paling sering digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangan pendeknya dengan cara membagi
asset lancar dengan kewajiban lancar (Indriyani, 2019).
CR yang tinggi menunjukkan perusahaan mampu membayar kewajiban jangka
pendeknya termasuk membayar kewajiban deviden kepada pemegang saham artinya
perusahaan mempunyai kelebihan kas. Pada saat nilai CR tinggi diharapkan dapat
menarik perhatian investor untuk membeli saham perusahaan, semakin banyak
permintaan akan saham perusahaan dapat membrikan nilai tambah terhadap harga
saham perusahaan tersebut
Harga Saham
Menurut Houston (2011) harga saham menentukan kekayaan pemiliknya
(stockholders). Hal ini dilakukan dengan memaksimalisasi kekayaan pemegang
saham (stockholder wealth maximization) yang diterjemahkan menjadi
memaksimalisasi harga saham biasa perusahaan. Menurut Jogiyanto (2013) harga
saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang
ditentukan oleh mekanisme pasar berupa permintaan dan penawaran saham
tersebut. Menurut Horne (2012) harga pasar saham merupakan ukuran indeks
prestasi perusahaan, yaitu seberapa jauh manajemen telah berhasil mengelola
perusahaan
Jenis Saham
Menurut Fahmi (2015) terdapat dua jenis saham yang paling umum dikenal
oleh publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preference
stock).
- Common Stock (Saham Biasa) adalah suatu surat berharga yang
dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal dimana
pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum
Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa). Common Stock ini memiliki beberapa jenis yaitu:
a. Blue Chip-Stock (Saham Unggulan) adalah saham dari
perusahaan yang dikenal secara nasional dan memiliki
sejarah laba, pertumbuhan, dan manajemen yang berkualitas.
b. Growth Stock adalah saham-saham yang diharapkan
memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari ratarata saham-saham lain.
c. Defensive Stock (Saham-Saham Defensif) adalah saham
yang cenderung lebih stabil dalam masa resesi atau
perekonomian yang tidak menentu.
d. Cyclical Stock adalah sekuritas yang cenderung naik nilainya
secara cepat saat ekonomi semarak dan jatuh juga secara
cepat saat ekonomi lesu.
e. Seasonal Stock adalah perusahaan yang penjualannya
bervariasi karena dampak musiman.
f. Speculative Stock adalah saham yang kondisinya memiliki
tingkat spekulasi yang tinggi, yang kemungkinan tingkat
pengembalian hasilnya rendah atau negatif.
2 Saham preferen menurut Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt (2016)
adalah: “Preference shares are a special class of shares that possess
certain preferences or features not possessed by ordinary shares.”
Menurut Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt (2016) fitur-fitur dari
saham preferen terdiri atas:
a) Cumulative Preference Shares
b) Participating Preference Shares
c) Convertible Preference Shares
d) Callable Preference Shares
e) Redeemable Preference Shares
