Pengertian Kinerja


Menurut Mangkunegara (2020 : 67) “Kinerja (prestasi kerja) adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya”. Menurut Sedarmayanti (2017 : 111) “Manajemen
kinerja adalah proses yang digunakan pengusaha untuk memastikan
karyawan bekerja searah dengan tujuan organisasi”.
Menurut Sari dalam Paramita,dkk (2016) “Kinerja karyawan adalah
hasil kerja yang dicapai seseorang atau kelompok orang sesuai dengan
wewenang atau tanggung jawab masing-masing karyawan selama periode
tertentu”. Sebuah perusahaan perlu melakukan penilaian kinerja pada
karyawannya. Penilaian kinerja memainkan peranan yang sangat penting
dalam peningkatan motivasi di tempat kerja. Penilaian hendaknya
memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja. Dari uraian
sebelumnya, maka dapat disimpulkan kinerja berkaitan dengan hasil
pencapaian kerja para karyawan yang bekerja di suatu organisasi atau
perusahaan, yang sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab setiap
karyawan dan menjadi hal penting dalam menerangkan prestasi kerja
mereka

Indikator Self Efficacy


indikator self efficacy mengacu pada 3 dimensi self efficacy yaitu
dimensi level, dimensi generality, dan dimensi strenght. Menurut Brown
dalam Hasanah, dkk (2019) “Indikator self efficacy yaitu : yakin dapat
menyelesaikan tugas tertentu, yakin dapat memotivasi diri, yakin bahwa
dirinya mampu berusaha dengan keras, yakin bahwa diri mampu
menghadapi hambatan dan kesulitan, yakin dapat menyelesaikan tugas”.
a. Yakin dapat menyelesaikan tugas tertentu
Individu yakin bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas
tertentu, yang mana individu sendirilah yang menetapkan tugas
(target) apa yang harus di selesaikan.
b. Yakin dapat memotivasi diri
Yakin dapat memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas, individu mampu
menumbuhkan motivasi pada diri sendiri untuk bisa memilih dan
melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam rangka
menyelesaikan tugas.
c. Yakin bahawa dirinya mampu berusaha dengan keras
Yakin bahwa dirinya mampu berusaha dengan keras,gigih dan
tekun. Adanya usaha yang keras dari individu untuk menyelesaikan
tugas yang di tetapkan dengan menggunakan segala daya yang di
miliki.
d. Yakin bahwa diri mampu menghadapi hambatan dan kesulitan
Individu mampu bertahan saat menghadapi kesulitan dan
hambatan yang muncul serta mampu bangkit dari kegagalan.
e. Yakin dapat menyelesaikan tugas
Yakin dapat menyelesaikan tugas yang memiliki range yang luas
ataupun sempit (spesifik). Individu yakin bahwa dalam setiap tugas
apapun dapat ia selesaikan meskipun itu luas atau spesifik

Aspek-Aspek Self Efficacy


Aspek-aspek Self-Efficacy ada empat yaitu sebagai berikut:
Kepercayaan diri dalam situasi tidak menentu mengandung kekaburan dan
penuh tekanan, Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah
atau tantangan yang muncul, Keyakinan akan kemampuan mencapai target
yang telah ditetapkan, Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan
motivasi, kemampuan kognitif, dan melakukan tindakan yang diperlukan
untuk mencapai suatu hasil (Bandura dalam Hasanah,dkk, 2019).
a) Kepercayaan diri dalam situasi tidak menentu mengandung kekaburan
dan penuh tekanan.
Self-efficacy menentukan pada komponen kepercayaan diri yang
dimiliki oleh individu dalam menghadapi situasi-situasi yang akan
datang yang mengandung kekaburan, tidak dapat diramalkan dan
sering kali penuh dengan tekanan. Keyakinan individu atau tindakan
yang benar-benar akan dilakukan individu tersebut, seberapa besar
usaha yang dilakukan akan menentukan pencapaian tujuan akhir.
b) Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah atau tantangan
yang muncul.
Self-efficacy juga terkait dengan kemampuan individu dalam
mengatasi masalah atau tantangan yang muncul. Jika keyakinan tinggi
dalam menghadapi masalah maka individu akan menngusahakan
dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi masalah tersebut. Sebaliknya
apabila individu tidak yakin terhadap kemampuan dalam menghadapi
situasi yang sulit, maka kemungkinan kegagalan akan terjadi.
c) Keyakinan akan kemampuan mencapai target yang telah ditetapkan.
Individu yang mempunyai self-efficacy tinggi akan menetapkan target
yang tinggi dan selalu konsekuen terhadap target tersebut. Individu
akan berupaya menetapkan target yang lebih tinggi bila target yang
sesungguhnya telah mampu dicapai. Sebaliknya individu dengan self-
efficacy yang rendah akan menetapkan target awal sekaligus membuat
perkiraan pencapaian hasil yang rendah. Individu akan mengurangi
atau bahkan membatalkan target yang telah dicapai apabila
menghadapi beberapa rintangan dan pada tugas berikutnya akan
cenderung menetapkan target yang lebih rendah lagi.
d) Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan motivasi,
kemampuan kognitif, dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk
mencapai suatu hasil.
Motivasi, kemampuan kognitif dan ketetapan bertindak sangat
diperlukan sebagai dasar untuk mencapai hasil kerja yang optimal.
Jika berhadapan dengan tugas maka dibutuhkan motivasi dan
kemampuan kognitif serta tindakan yang tepat untuk mencapai hasil
yang baik kemampuan dan motivasi individu dalam menghadapi
situasi kerja sangat menentukan

Pengertian Self Efficacy


Self-efficacy atau efikasi diri diperkenalkan pertama kali oleh Bandura
yang menyajikan satu aspek pokok teori kognitif sosial. Menurut Bandura
dalam Oktavia dan Suryoko (2017) “Self-Efficacy sebagai keyakinan
seseorang akan kemampuan mereka untuk melakukan suatu pekerjaan
pada tingkat kinerja tertentu atau untuk mencapai suatu hasil yang
diharapkan sehingga akan memengaruhi situasi yang memengaruhi
kehidupan mereka”. Bandura menekankan bahwa self-efficacy atau efikasi
diri juga memainkan peranan vital dalam menentukan kinerja seseorang
seperti aspirasi tujuan, insentif hasil, dan kesempatan yang dirasakan
terhadap suatu tugas yang diberikan.
Menurut Ary dan Sriathi (2019) “Self Efficacy merupakan salah satu
aspek pengetahuan tentang diri atau self-knowledge yang memberikan
pengaruh pada kehidupan sehari-hari manusia”. Menurut Luthan dalam
Sari dan Candra (2020) “self efficacy mengacu pada keyakinan diri
mengenai kemampuannya untuk memotivasi sumber daya kognitif dan
tindakan yang diperlukan agar berhasil dalam melaksanakan tugas
tertentu”

Indikator Locus Of Control


Menurut Subhan,dkk (2019) “indikator Locus of Control (LoC)
sebagai berikut :
a. Suka Bekerja Keras
Pegawai memiliki dorongan untuk terus bekerja keras seperti
berkreativitas dalam melakukan pekerjaannya serta berani mengambil
risiko dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya.
b. Memiliki Inisiatif Yang Tinggi
Pegawai memiliki inisiatif yang tinggi terhadap detail dalam
melaksanakan pekerjaannya seperti memperhatikan posisi kecermatan,
menganalisis, dan perhatian pada setiap rincian pekerjaan.
c. Berorientasi Pada Pemecahan Masalah
Pegawai selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah serta
mampu memanajemen pekerjaannya, yang mana hasil pekerjaan
tersebut berfokus pada hasil yang ingin dicapai.
d. Berusaha
Pegawai selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika
ingin berhasil.
e. Stabil
Pegawai memiliki dorongan untuk terus selalu mencoba untuk berfikir
seefektif mungkin dengan memberikan hasil kerja yang memuaskan
untuk meningkatkan kinerja bukan menjadikan kinerja menurun dan
tidak memiliki motivasi untuk berprestasi.

Pengertian Locus Of Control


Menurut Luthans dalam Oktavia dan Suryoko (2017) “Penggunaan
locus of control, perilaku kerja bisa dijelaskan melalui penilaiaan
karyawan terhadap hasil mereka saat dikontrol secara internal atau
eksternal”. Karyawan yang merasakan control internal merasa bahwa
secara personal dapat memengaruhi hasil melalui kemampuan, keahlian,
atau usaha mereka sendiri. Sedangkan karyawan eksternal merasa bahwa
hasil mereka di luar control, mereka merasa kekuatan-kekuatan eksternal
seperti keberuntungan atau kesulitan tugas memengaruhi hasil mereka.
Menurut Karniati dan Sibawaihin (2017) “Locus of Control (LoC)
adalah kendali diri dalam menilai keberhasilan atau kegagalan yang
diperoleh dalam melaksanakan kegiatan yang dipengaruhi faktor internal
dan eksternal”.
Menurut Sinha dalam Karnati dan Sibawaihin (2017) “locus of control
signifies one’s belief that the events of life are either shaped by one’s
efforts and abilities (internal control) or by fate or powerful others
(external control)”. Locus of control signifikan dengan keyakinan
seseorang bahwa peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dibentuk oleh
upaya dan kemampuan seseorang disebut dengan control internal,
sedangkan oleh nasib atau orang lain disebut dengan kontrol eksternal.
Dari penjabaran diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa locus of
control adalah kendali diri karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dalam menyelesaikan pekerjaan itu bisa melibatkan faktor internal dan
eksternal. Faktor internal itu meliputi kemampuan, keahlian, atau usaha
mereka sendiri. Sedangkan faktor eksternal karyawan merasa bahwa hasil
mereka di luar control, mereka merasa bahwa kekuatan-kekuatan eksternal
seperti keberuntungan atau kesulitan tugas memengaruhi hasil mereka

Indikator Etos Kerja


Menurut Salamun dalam Lawu,dkk (2019) Indikator-indikator untuk
mengukur etos kerja diantaranya :
a. Kerja Keras
Didalam bekerja mempunyai sifat mabuk kerja untuk mencapai sasaran
yang ingin dicapai. Dapat memanfaatkan waktu yang optimal sehingga
kadang-kadang tidak mengenal waktu, jarak dan kesulitan yang
dihadapi.
b. Disiplin
Sebagai suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap
peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak
tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima
sanksi-sanksi apabila melanggar tugas dan wewenang yang diberikan
kepadanya.
c. Jujur
Kejujuran yaitu kesanggupan seorang karyawan dalam menjalankan
pekerjaannya sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan.
d. Tanggung Jawab
Memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
e. Rajin
Terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan
meningkatkan presentase yang sudah dicapai. Rajin ditempat kerja
berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang
sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat.
f. Tekun
Rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh (bekerja, belajar, belajar,
dan lain sebagainya). Orang yang tekun adalah orang yang bekerja
secara teratur, mampu menahan rasa bosan/jemu, dan mau belajar dari
kesalahan (orang lain maupun dirinya) di masa lalu agar tidak terulang
kembali

Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja


Menurut Yuosef dalam Aqsariyanti,dkk (2019) “Etos kerja sangat
ditekankan pada beberapa faktor berikut, yaitu: (a) Kerja keras; (b)
Komitmen dan dedikasi terhadap pekerjaan; (c) Kreativitas selama
bekerja; (d) Kerja sama serta persaingan di tempat kerja; (e) Ketepatan
waktu dalam bekerja; (f) Keadilan dan kedermawanan di tempat kerja”

Pengertian Etos Kerja


Etos kerja sebenarnya adalah istilah populer untuk semangat kerja
atau selera bekerja, kita tahu bagaimana membedakan antara berselera
makan dan tidak berselera makan?, orang dan organisasi punya etos kerja
tentunya menunjukkan semangat untuk berkolaborasi, berdebat,
berkomunikasi, berprestasi yang tidak ada matinya, sehingga secara nyata
dapat memetik hasil yang riil dan memberi kontribusi bagi kemajuan
organisasi dan bangsanya (Moeheriono, 2012 : 351).
Menurut Saleh dan Utomo (2018) “Secara umum Etos Kerja
merupakan semua kebiasaan baik meliputi disiplin, jujur, tanggung jawab,
tekun, sabar yang berdasar pada etika yang harus dilakukan di tempat
kerja”. Tanpa memiliki etos kerja seperti yang telah disebutkan diatas,
seorang karyawan akan merasa terbebani dengan seluruh tanggung jawab
pekerjaan dan dampak buruknya tidak akan mampu meningkatkan
produktivitas perusahaan sesuai dengan target yang diinginkan.
Menurut Sinamo dalam Aqsariyanti,dkk (2019) “Etos kerja adalah
seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kerjasama yang
kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada
paradigma kerja yang integral”. Istilah paradigma di sini berarti konsep
utama tentang kerja itu sendiri yang mencakup idealisme yang mendasari,
prinsip-prinsip yang mengatur, nilai-nilai yang menggerakkan, sikap-sikap
yang dilahirkan, standar-standar yang hendak dicapai, termasuk karakter
utama, pikiran dasar, kode etik, kode moral, dan kode perilaku bagi para
pemeluknya.
Etos kerja sangat diperlukan bagi perusahaan karena etos kerja sangat
berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bentuk keterlibatan karyawan
dalam meningkatkan etos kerja yaitu dengan cara memiliki semangat kerja
yang tinggi, disiplin, selalu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,dll.
Dalam peningkatan etos kerja pastinya ada proses-proses untuk
memaksimalkan etos kerja itu seperti menciptakan lingkungan kerja yang
nyaman dan harmonis, dengan begitu untuk menciptakan semangat kerja
yang tinggi akan tercapai. Selain menciptakan lingkungan yang harmonis
diperlukan juga solidaritas yang tinggi pula sehingga para karyawan betah
berada di perusahaan.
Dari pendapat para ahli dan penjabaran diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa etos kerja yaitu keterlibatan karyawan dalam
menciptakan semangat kerja, disiplin, jujur, tanggung jawab terhadap
pekerjaannya

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Dua hal yang berkaitan dengan kinerja/performance adalah
kesediaan atau motivasi dari karyawan untuk bekerja, yang
menimbulkan usaha karyawan dan kemampuan karyawan untuk
melaksanakannya. Menurut (Gomes, 2007) bahwa kinerja/
performance adalah fungsi dari motivasi dan kemampuan atau dapat
ditulis dengan rumus P = f (M x A) dimana P= performance/kinerja, m
= motivation/motivasi, a = ability/kemampuan. Kemampuan melekat
dalam diri seseorang dan merupakan bawaan sejak lahir serta
diwujudkan dalam tindakannya dalam bekerja, sedangkan motivasi
adalah aspek yang sangat penting untuk menggerakkan kreativitas dan
kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan, serta selalu
bersemangat dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Dari sebagian
uraian yang telah dijelaskan dapat ditarik kesimpulan bahwa para
karyawan mampu melakukan pekerjaan dan ingin mencapai hasil
maksimal dalam pekerjaannya. Perwujudan kinerja yang maksimal,
dibutuhkan suatu dorongan untuk memunculkan kemauan kerja, yaitu
dengan motivasi. Motivasi berfungsi untuk merangsang kemampuan
karyawan maka akan tercipta hasil kinerja maksimal. Namun apabila
motivasinya rendah maka akan berdampak pula pada penurunan kinerja
karyawan.
Penelitian Enjang Suherman (2018) dengan judul Analisis Peran
Self Efficacy dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Marketing Dealer
Wijaya Toyota Subang hasilnya membuktikan bahwa Motivasi
berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan

Pengaruh Self efficacy terhadap Kinerja Karyawan


Kepercayaan terhadap kemampuan diri, keyakinan terhadap
keberhasilan yang selalu dicapai membuat seseorang bekerja lebih giat
dan selalu menghasilkan yang terbaik. Dengan demikian dapat dikatkan
bahwa self efficacy dapat meningkatkan kinerja individual, Semakin
tinggi self efficacy pada diri seseorang maka semakin gigih pula dalam
melakukan setiap tugas yang diberikan, namun apabila self efficacy
yang dimiliki rendah maka akan semakin rendah tingkat performa
kinerja karyawan.
Penelitian Kiki Andiyani (2017) dengan judul Pengaruhi Self
Efficacy dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT.
Gearindo Prakarsa Surabaya) hasilnya menunjukkan Self Efficacy tidak
berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan.
Sedangkan penelitian Fauzan Ali, Dewie Tri Wijayati Wardoyo
(2021) dengan judul Pengaruh Self Efficacy terhadap Kinerja Karyawan
dengan Tujuan Kerja sebagai Variabel Intervening (Studi PT. Ultrajaya
Milk Industry, Tbk Surabaya Bagian Marketing) membuktikan bahwa
self efficacy tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan

Indikator kinerja

Indikator kinerja menurut (Robbins, 2016) sebagai berikut:
a) Kualitas
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
b) Kuantitas
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c) Ketepatan Waktu
Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang
dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
d) Efektifitas
Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang,
teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan
hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
e) Kemandirian
Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat
dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan
tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan.

Kinerja


Kinerja merupakan kondisi yang harus diketahui dan diinformasikan
kepada pihak-pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil
suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi serta
mengetahui dampak positif dan negatif suatu kebijakan operasional yang
diambil. Dengan adanya informasi mengenai kinerja suatu instansi atau
organisasi, akan dapat diambil tindakan yang diperlukan seperti koreksi atas
kebijakan, meluruskan kegiatan- kegiatan utama, dan tugas pokok instansi,
bahan untuk perencanaan, menentukan tingkat keberhasilan instansi untuk
memutuskan suatu tindakan, dan lain-lain.
(Robbins, 2016) mendefinisikan kinerja adalah suatu hasil yang
dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang
berlaku untuk suatu pekerjaan.
Menurut (Mathis & Jackson, 2016), kerja adalah usaha yang
ditunjukkan untuk memproduksi atau mencapai hasil. Dan pekerjaan adalah
pengelompokan tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang merupakan
penugasan kerja total untuk karyawan. (Hasibuan, 2012) mendefinisikan
kinerja sebagai outcome dari karyawan yang didasarkan pada hasil, proses
dan sikap kerja karyawan
Menurut (Mathis & Jackson, 2016) faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja sebagai berikut :

  1. Kemampuan individual untuk melakukan pekerjaan tersebut, yaitu
    Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pekerjaannya
  2. Tingkat usaha yang dicurahkan, bekerja keras sesuai target yang dan
    waktu yang telah ditetapkan dan bekerja keras dengan bersedia kerja
    lembur
  3. Dukungan organisasi, perusahaan mendukung kinerja karyawan melalui
    pelatihan dan perusahaan mendukung kinerja karyawan dengan
    melengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk bekerja

Motivasi Kerja


Menurut (As’ad, 2014) mengatakan bahwa motivasi kerja adalah
sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja. Dengan
demikian, motivasi yang ada pada seseorag merupakan kekuatan pendorong
yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan
dirinya.
Menurut (Mathis & Jackson, 2016), motivasi adalah keinginan
dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut bertindak. Biasanya
orang bertindak karena suatu alasan untuk mencapai tujuan. Memahami
motivasi sangatlah penting karena kinerja, reaksi terhadap kompensasi dan
persoalan sumber daya manusia yang lain dipengaruhi dan mempengaruhi
motivasi. Pendekatan untuk memahami motivasi berbeda – beda, karena
teori yang berbeda mengembangkan pandangan dan model mereka sendiri.
Menurut teori motivasi ERG Theory yang dikembangkan Clayton
Alderfer kemudian meringkas teori Maslow ini menjadi 3 hierarki
kebutuhan, yaitu kebutuhan bertahan hidup (Existence), kebutuhan diakui
lingkungan (Relatedness), dan kebutuhan pengembangan diri (Growth),
yang dikenal juga menjadi teori ERG. (As’ad, 2014)
Alderfer menggabungkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman
kedalam kebutuhan bertahan hidup versinya, dia memasukan kebutuhan
akan cinta/pertemanan dan penghargaan diri secara internal ke dalam
kebutuhan sosial versinya. Terakhir dia memasukan kebuthan penghargaan
diri secara eksternal dan aktualisasi diri ke dalam kolom kebutuhan
pengembangan diri versi ERG

  1. Existence berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan
    keberadaan seseorang dalam hidupnya. Menurut teori yang dikemukakan
    Maslow, hal ini berkaitan dengan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan
    keamanan.
  2. Relatednees berhubungan dengan kebutuhan untuk berinteraksi dengan
    orang lain. Kebutuhan ini sebanding dengan kebutuhan sosial dan
    kebutuhan penghargaan, dalam teori Maslow.
  3. Growth berhubungan dengan kebutuhan pengembangan diri, yang
    identik dengan kebutuhan self-actualization. Dalam teori Maslow, hal ini
    berkaitan dengan kebutuhan aktualisasi diri, berupa kebutuhan naik
    jabatan/promosi, kebutuhan pelatihan, kebutuhan peningkatan
    kompetensi (seminar).
    Menurut teori ini, bila seseorang mengalami hambatan dalam
    memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih tinggi, orang tersebut akan kembali
    pada kebutuhan yang lebih rendah sebagai kompensasinya,yang
    disebut frustration-regression dimension

Self efficacy


Menurut (Indrawati, 2014) mendefinisikan self efficacy sebagai judgment
individu atas kemampuan mereka untuk mengorganisasi dan melakukan
serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkat kinerja yang
ditentukan.
(Indrawati, 2014) mengemukakan bahwa self efficacy merupakan
penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan
tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Individu yang memiliki
self efficacy yang tinggi akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Individu dengan self efficacy yang rendah
ketika menghadapi situasi yang sulit akan cenderung malas berusaha dan menyukai
kerja sama.
Menurut (Angreni, 2015), Self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor
personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy
dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam
penyelesaian tugas dan tujuan. Penelitiannya menemukan bahwa self
efficacy berhubungan positif dengan penetapan tingkat tujuan. Individu
yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan
atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan
tujuan lain yang tinggi. Self efficacy merupakan kepercayaan terhadap
kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas. Orang yang percaya diri
dengan kemampuannya cenderung untuk berhasil, sedangkan orang yang
selalu merasa gagal cenderung untuk gagal. Self efficacy berhubungan
dengan kepuasan kerja dimana jika seseorang memiliki self efficacy yang
tinggi maka cenderung untuk berhasil dalam tugasnya sehingga
meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakannya.
Self-efficacy tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, (Hjelle
& Ziegler, 1992) seperti dikutip (Chamariyah, 2015) menjelaskan bahwa
self- efficacy diperoleh atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
5
1) Pencapaian kinerja, 2) Pengalaman dari orang lain. Dengan melihat
kesuksesan orang lain, dapat menumbuhkan persepsi self-efficacy yang kuat
dalam hal bahwa mereka juga dapat melakukan aktivitas yang sama, 3)
Verbal persuasion, yaitu meyakinkan orang lain bahwa kita memiliki
kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan 4) Dorongan
emosional. Tingkat dorongan emosional dalam menghadapi situasi yang
mengancam dan menekan, akan mempengaruhi tingkat self-efficacy. Bila
dorongan emosional rendah, maka akan meningkatkan keyakinan

Self efficacy


Menurut (Indrawati, 2014) mendefinisikan self efficacy sebagai judgment
individu atas kemampuan mereka untuk mengorganisasi dan melakukan
serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkat kinerja yang
ditentukan.
(Indrawati, 2014) mengemukakan bahwa self efficacy merupakan
penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan
tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Individu yang memiliki
self efficacy yang tinggi akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Individu dengan self efficacy yang rendah
ketika menghadapi situasi yang sulit akan cenderung malas berusaha dan menyukai
kerja sama.
Menurut (Angreni, 2015), Self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor
personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy
dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam
penyelesaian tugas dan tujuan. Penelitiannya menemukan bahwa self
efficacy berhubungan positif dengan penetapan tingkat tujuan. Individu
yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan
atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan
tujuan lain yang tinggi. Self efficacy merupakan kepercayaan terhadap
kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas. Orang yang percaya diri
dengan kemampuannya cenderung untuk berhasil, sedangkan orang yang
selalu merasa gagal cenderung untuk gagal. Self efficacy berhubungan
dengan kepuasan kerja dimana jika seseorang memiliki self efficacy yang
tinggi maka cenderung untuk berhasil dalam tugasnya sehingga
meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakannya.
Self-efficacy tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, (Hjelle
& Ziegler, 1992) seperti dikutip (Chamariyah, 2015) menjelaskan bahwa
self- efficacy diperoleh atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1) Pencapaian kinerja, 2) Pengalaman dari orang lain. Dengan melihat
kesuksesan orang lain, dapat menumbuhkan persepsi self-efficacy yang kuat
dalam hal bahwa mereka juga dapat melakukan aktivitas yang sama, 3)
Verbal persuasion, yaitu meyakinkan orang lain bahwa kita memiliki
kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan 4) Dorongan
emosional. Tingkat dorongan emosional dalam menghadapi situasi yang
mengancam dan menekan, akan mempengaruhi tingkat self-efficacy. Bila
dorongan emosional rendah, maka akan meningkatkan keyakinan

Alat Ukur Efikasi Diri


Beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur
efikasi diri, antara lain:
1) General Self-Efficacy Scale
General Self-Efficacy Scale merupakan instrumen pengukuran
yang bersifat unidimensional, atau hanya mengukur satu faktor
yaitu general self-efficacy. General Self-Efficacy Scale awalnya
dikembangkan oleh Matthias Jerusalem dan Ralf Schwarzer
pada tahun 1979 yang terdiri dari 20 item. General Self-Efficacy
Scale telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa dan digunakan
dalam penelitian di berbagai negara. Setiap item dalam
instrumen memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “sangat tidak
sesuai” hingga “sangat sesuai”. Rentang nilai instrumen ini yaitu
1 sampai 4, sehingga rentang jumlah skor antara 10 sampai 40,
dengan skor semakin tinggi maka efikasi diri semakin tinggi pula.
General Self-Efficacy Scale sudah diuji validitas dan reliabilitas
dengan hasil yang sangat reliabel, stabil, dan valid (Novrianto et
al., 2019).
2) Daily Living Self-Efficacy Scale
Daily Living Self-Efficacy scale merupakan instrumen yang
dapat digunakan untuk menilai efikasi diri penderita stroke
dalam dua domain kehidupan sehari-hari yaitu aspek psikologis
dan aktivitas sehari-hari terlepas dari sifat dan tingkat kecacatan
fisik pasien. Kuesioner ini terdiri dari 12 item pertanyaan yang
mencakup dua sub domain yaitu efikasi diri untuk fungsi
psikososial dan efikasi diri untuk fungsi aktivitas sehari-hari
(Maujean et al., 2014).
3) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ)
The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) merupakan
instrumen untuk menilai efikasi diri yang dirasakan oleh
penderita stroke dalam fungsi tertentu misalnya perawatan diri,
aktivitas dan mobilitas, dan tugas yang terkait dengan
manajemen diri (Maujean et al., 2014). Kuesioner ini digunakan
untuk mengukur efikasi diri individu dalam kinerja fungsional
dan manajemen diri yang relevan dengan individu pasca stroke.
Pengembangan kuesioner ini dilakukan selama tahun 2004
hingga 2006 dengan menjalani 3 kali studi. Kuesioner ini telah
diujicobakan kepada 112 penderita stroke antara 2 sampai 24
minggu pasca stroke. The Stroke Self-Efficacy Questionnaire
(SSEQ) terdiri dari 13 item pertanyaan dengan hasil uji
cronbach’s α 0,90 dan nilai uji validitas r = 0,803 dan p < 0,001
(Jones et al., 2008)

Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Proses Dalam Diri Manusia


Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020) terdapat empat
proses besar psikologis dalam proses efikasi diri dalam
mempengaruhi fungsi manusia:
1) Proses Kognitif
Dampak efikasi diri terhadap proses kognitif seseorang berbeda
antara satu dengan lainnya. Sebagian besar perilaku akan
berubah sesuai dengan pemikiran untuk mewujudkan tujuan.
Semakin kuat persepsi efikasi diri seseorang, semakin tinggi
tujuan-tujuan yang dibuat bagi dirinya dan lebih mengokohkan
komitmen mereka. Semua tindakan dimulai dalam pikiran.
Fungsi utama dari pemikiran adalah untuk memungkinkan
seseorang memprediksi kejadian dan menentukan langkah serta
mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang
mempengaruhi hidup mereka. Ketika seseorang dihadapkan
pada sebuah masalah yang sulit akan timbul keraguan diri
mengenai keberhasilan yang dapat dicapai dalam pemikirannya,
sehingga tujuan dan kualitas prestasi menurun.
2) Proses Motivasional
Efikasi diri berperan penting dalam regulasi motivasi diri.
Kebanyakan motivasi dihasilkan secara kognitif. Orang
memotivasi dirinya sendiri dan mengarahkan tindakan melalui
pemikiran sebelumnya. Efikasi diri mempengaruhi pola pikir
seseorang sehingga mereka membentuk keyakinan mengenai
apa yang dapat mereka lakukan. Mereka menetapkan tujuan bagi
dirinya sendiri dan merencanakan tindakan untuk merealisasikan
tujuan yang telah dibuat. Tujuan yang menantang akan
meningkatkan dan mempertahankan motivasi seseorang.
3) Proses Afektif
Efikasi diri seseorang mengenai kemampuannya untuk
menghadapi masalah mempengaruhi seberapa besar tingkat
motivasi, stres, dan depresi yang dialami dalam menghadapi
situasi yang sulit atau mengancam. Seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengatasi masalah yang ada akan
merubah pola pikirnya yang mengganggu sehingga mereka
menjadi lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan.
Setelah seseorang mengembangkan rasa tangguh yang dimiliki,
seseorang dapat menahan kesulitan yang datang. Sebaliknya
orang yang memiliki kepercayaan yang rendah terhadap
kemampuan dirinya akan merasa sangat cemas dan melihat
berbagai hal sebagai bahaya. Efikasi diri dapat mengatur emosi
seseorang melalui beberapa cara, yaitu seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengelola ancaman tidak akan mudah
tertekan oleh diri sendiri, sebaliknya jika efikasi diri rendah
seseorang cenderung memperbesar risiko, dan dapat mendorong
munculnya depresi (Manuntung, 2019).
4) Proses Seleksi
Efikasi diri seseorang dapat membentuk kehidupan dengan
mempengaruhi jenis aktivitas dan lingkungan yang akan dipilih.
Seseorang akan menghindari aktivitas dan situasi yang mereka
yakini berada diluar kemampuannya. Tetapi mereka akan
bersiap begitu menghadapi suatu masalah dan memilih situasi
yang kemungkinan dapat ditangani

Faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri


Menurut Bandura dalam Anwar (2009) tinggi atau rendahnya
efikasi diri seseorang sangatlah bervariasi. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi, diantaranya yaitu:
1) Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap efikasi diri.
Penelitian Bandura dalam Anwar (2009) menyatakan wanita
cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi daripada pria yang
bekerja, terutama wanita yang memiliki peran selain sebagai ibu
rumah tangga, juga sebagai wanita karir.
2) Budaya
Budaya mempengaruhi efikasi diri melalui nilai, kepercayaan,
dan proses pengaturan diri yang berfungsi sebagai sumber
penilaian efikasi diri.
3) Usia
Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri adalah usia
(Ismatika & Soleha, 2018). Individu yang lebih tua pada
umumnya lebih berpengalaman dalam mengatasi masalah yang
dihadapi dibanding individu yang lebih muda yang kurang
pengalaman menghadapi masalah dalam hidup. Hal ini berkaitan
dengan pengalaman individu yang dimiliki selama rentang
hidupnya.
4) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting untuk
seorang individu. Efikasi diri umumnya terbentuk dari proses
belajar seseorang melalui pendidikan formal. Individu dengan
tingkat pendidikan yang tinggi umumnya memiliki efikasi diri
yang tinggi pula karena banyak menerima proses pembelajaran
dan berbagai persoalan yang dihadapi ketika masa pendidikan.
5) Sifat dari tugas yang dihadapi
Tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh seseorang akan
mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadap kemampuan
dirinya sendiri. Semakin kompleks suatu tugas yang dihadapi
oleh individu maka akan semakin rendah individu tersebut
menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu dihadapkan
pada tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi
individu tersebut menilai kemampuannya.
6) Pengalaman
Efikasi diri dibentuk dari sebuah pengalaman atau proses
adaptasi dan pembelajaran yang telah dialami individu di
lingkungannya, tetapi hal ini bergantung pada bagaimana
individu tersebut menghadapi keberhasilan atau kegagalan
dalam menghadapi masalah.
7) Status atau peran individu dalam lingkungan
Individu yang memiliki status lebih tinggi akan memperoleh
tingkat kontrol yang lebih besar sehingga efikasi diri yang
dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki
status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil
sehingga efikasi diri yang dimiliki juga rendah.
8) Informasi tentang kemampuan diri
Individu akan memiliki efikasi diri tinggi, jika memperoleh
informasi positif mengenai dirinya, sementara individu akan
memiliki efikasi diri yang rendah jika memperoleh informasi
negatif mengenai dirinya

Sumber-Sumber Efikasi Diri


Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber informasi penting
(Lenz & Shortridge-Baggett, 2002):
1) Performance accomplishment: berlatih dan pengalaman
sebelumnya.
Berlatih adalah sumber efikasi diri yang paling penting karena
didasarkan pada pengalaman seseorang sendiri. Pengalaman
individu terkait keberhasilan akan meningkatkan efikasi diri,
sedangkan kegagalan dapat menurunkan efikasi diri, terutama
jika kegagalan terjadi di awal proses pembelajaran. Hal ini
membuktikan bahwa pengalaman individu mempunyai
pengaruh yang besar terhadap efikasi diri.
Seseorang yang berhasil menemukan solusi untuk permasalahan
yang dihadapi dan dapat menuntun bangkit dari keterpurukan
maka efikasi diri orang tersebut secara otomatis akan meningkat
dibandingkan sebelumnya. Menguasai sesuatu hal yang baru
relatif sederhana, yang diperlukan yaitu latihan dan
membiasakannya. Efikasi diri perlu dikembangkan dengan cara
mencoba menyelesaikan tugas yang sulit dan melewati kendala-
kendala yang ditemui.
2) Vicarious experience: pengamatan orang lain.
Efikasi diri juga bisa dibentuk dengan melihat orang lain yang
sukses yang dianggap memiliki suatu kemiripan dengan orang
yang mengamatinya. Orang lain dapat menjadi contoh atau role
model dan memberikan informasi tentang tingkat kesulitan dari
jenis perilaku tertentu. Orang-orang yang berperan sebagai
panutan, bagaimanapun harus menunjukkan kesamaan dengan
pengamat dalam karakteristik yang relevan dengan masalah
tersebut, artinya dengan mengamati orang lain yang dianggap
senasib atau mengalami hal yang sama, sang pengamat dapat
membentuk sugesti positif terhadap dirinya bahwa ia mampu
melakukan hal serupa seperti model yang diamatinya. Hal ini
sangat penting bagi mereka yang kurang mempunyai keyakinan
dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Mengamati orang lain adalah sumber efikasi diri yang lebih
lemah daripada pengalaman langsung, tetapi dapat berkontribusi
pada penilaian seseorang terhadap efikasi dirinya sendiri.
Seberapa besar dampak vicarious experience terhadap efikasi
diri seseorang bergantung pada seberapa mirip seseorang dengan
model dalam pemikiran seseorang (Kristiyani, 2020). Semakin
mirip seorang model dimata seseorang dengan dirinya maka
akan semakin besar pengaruh pengalaman sukses atau
pengalaman gagal model terhadap efikasi diri seseorang.
3) Verbal Persuation: Persuasi verbal
Persuasi verbal merupakan sumber efikasi diri yang paling
sering digunakan karena mudah digunakan. Profesional
kesehatan dapat memberikan instruksi, saran dan nasihat,
mencoba meyakinkan orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
mengerjakan tugas yang sulit, yang paling penting adalah
kredibilitas, keahlian, kepercayaan, dan prestise orang yang
melakukan persuasi. Persuasi verbal untuk meyakinkan orang
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan suatu
perilaku lebih lemah daripada dua sumber sebelumnya karena
mereka tidak memperhatikan pengalaman atau contoh mereka
sendiri. Namun, persuasi verbal bisa menjadi pendukung yang
baik untuk sumber efikasi diri yang lain. Jika seseorang yakin
dengan kemampuan mereka, mereka akan lebih cenderung untuk
bertahan dan tidak akan mudah menyerah.
4) Physiological information: evaluasi diri dari keadaan fisiologis
dan emosional.
Informasi tentang tubuh manusia juga dapat mempengaruhi
penilaian seseorang terhadap kemampuan untuk menunjukkan
perilaku tertentu. Dalam menilai kapasitas mereka sendiri, orang
menggunakan informasi tentang keadaan fisiologis dan
emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi
ditafsirkan sebagai tanda defisiensi personal yang dapat
berdampak negatif terhadap efikasi diri seseorang. Apa yang
orang percaya tentang penyakit mereka dan bagaimana mereka
menafsirkan gejala mereka mempengaruhi efikasi diri mereka
untuk menghadapi penyakit.

Pengertian Konsep Efikasi Diri


Efikasi diri adalah keyakinan individu untuk mengelola
perilaku-perilaku tertentu untuk mencapai kesembuhan (Makhfudli
et al., 2020). Efikasi diri merupakan suatu proses kognitif terkait
kenyamanan individu dalam melakukan suatu hal yang dapat
mempengaruhi motivasi, proses berpikir, kondisi emosional serta
lingkungan sosial yang menunjukkan suatu kebiasaan yang spesifik
(Hasanah, 2018).
Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020), efikasi diri
menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri
sendiri, dan berperilaku. Efikasi diri merupakan dasar dari motivasi,
kesejahteraan, serta berprestasi. Hal ini disebabkan karena jika
seseorang tidak percaya bahwa tindakan mereka dapat
menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, mereka
mendapat sedikit dorongan untuk bertahan ketika dihadapkan
kesulitan. Sebaliknya, jika mereka yakin bahwa mereka dapat
mencapai sesuatu, maka mereka menjadi lebih bersemangat dalam
mencapai sesuatu tersebut Pada umumnya orang dengan efikasi diri
yang baik akan lebih cepat bangkit dari kegagalan atau kemunduran
yang dialami serta memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat
mencapai sesuatu

Norma hasil prestasi akademik


Kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari prestasi akademik. Selama
proses pembelajaran yang dilakukan dalam periode waktu akan dilakukan evaluasi
untuk dapat mengukur sejauh mana keberhasilan dan hasil dari proses belajar
yang telah dilakukan. Suryabrata (2002) mengatakan untuk mengetahui prestasi
akademik sesorang, pendidik atau dosen harus melakukan pengukuran atau
evaluasi. Pengukuran terhadap prestasi belajar ini biasanya dilakukan dengan
memberikan tes pada waktu atau periode tertentu kepada mahasiswa yang
dinyatakan dalam bentuk skor atau angka. Selanjutnya hasil dari proses belajar
mahasiswa akan dikeluarkan dalam bentuk Kartu Hasil Sementara yang
merupakan perumusan terakhir yang diberikan dosen mengenai kemajuan dan
hasil belajar mahasiswa selama masa atau periode tertentu.
Dalam Buku Panduan dan informasi Akademik Universitas Islam Negeri
Sultan Syarif Kasim Riau (2011) keberhasilan belajar mahasiswa akan dinyatakan
dalam bentuk indek prestasi (IP). IP adalah angka yang menunjukkan hasil
prestasi mahasiswa dalam periode waktu satu semester. IP dihitung menurut
semester yang bersangkutan, IP juga digunakan untuk mengikuti kemajuan belajar
mahasiswa setiap semester dan menentukan jumlah beban studi (SKS) pada
semester berikutnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik


Menurut Djamarah (1994) ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses
hasil belajar, antara lain :

  1. Faktor lingkungan
    Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan mahasiswa, lingkungan tempat
    mahasiswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan dibagi menjadi dua bagian ;
    a. Lingkungan alami
    Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal mahasiswa hidup dan
    berusaha didalamnya, kondisi lingkungan yang baik dan nyaman dapat
    membuat mahasiswa lebih baik dala proses belajar.
    b. Lingkungan sosial budaya
    Mahasiswa merupakan bagian dari anggota masyarakat, mahasiswa tidak
    bisa melepaskan diri dari ikatan sosial, susila dan norma-norma hukum
    yang berlaku dimasyarakat.
  2. Faktor instrumental
    Setiap universitas memiliki tujuan yang akan dicapai, dalam rangka mencapai
    tujuan tersebut dan untuk memudahkannya diperlukan sejumlah prangkat
    kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenis diantaranya, kurikulum,
    program pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan dan dosen.
  3. Kondisi fisiologis
    Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan
    belajar seseorang. Kondisi jasmani yang sehat sangat berpengaruh terhadap
    proses belajar dan beraktivitas.
  4. Kondisi psikologis
    Kondisi psikologis juga menjadi bagian penting yang dapat mempengaruhi
    mahasiswa dalam proses belajar diantaranya minat, kecerdasan, bakat,
    motivasi, kemampuan kognitif.
    Minat merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu hal, sedangkan
    kecerdasan lebih berorientasi kepada tingkat intelegensi yang dimiliki individu,
    sedangkan bakat sendiri merupakan kemampuan bawaan yang dibawa pada
    masing-masing individu, selanjutnya motivasi merupakan dorongan yang
    membuat individu melakukan sesuatu tindakan dan kemampuan kognitif yaitu
    kemampuan individu untuk dapat mengolah setiap informasi yang dimiliki baik
    pengetahuan dari luar maupun pengetahuan terhadap diri dalam hal ini self-
    efficacy dan optimisme individu, serta sejauh mana individu dapat mampu
    mengambil keputusan dalam tindakan berdasarkan informasi yang telah diperoleh.
    Lebih lanjut self-efficacy dan optimisme merupakan kemampuan kognitif
    pada diri mahasiswa yang mampu menilai dan mengolah informasi yang telah
    diperoleh dalam mencapai sebuah tujuan. Selanjutnya hal ini dapat memberikan
    motivasi kepada mahasiswa untuk dapat bertindak dalam mewujudkan sebuah
    pencapaian yang diinginkan

Definisi Prestasi Akademik


Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan
pembelajaran yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran
dan penilaian (Tu’u, 2004). Menurut Kartono (1995) prestasi adalah hasil
keahlian dalam kerja akademis yang dinilai oleh para pengajar melalui tes, ujian,
dan ulangan yang dilakukan dalam satu semester. Prestasi akademik adalah hasil
belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran yang bersifat kognitif dan
sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang sudah diberikan serta dinilai
oleh para pengajar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) prestasi adalah hasil yang
telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan). Sedangkan akademik adalah
pelajaran yang diperoleh dari kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif dan
biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Haldane (dalam
Tjundjing, 2001) menjelaskan bahwa seorang siswa baru dapat disebut berhasil
bila siswa meraih suatu prestasi yang tinggi dalam pendidikan atau studinya.
Selanjutnya Sudjana (2004) mendefinisikan prestasi akademik sebagai
kemampuan yang diperoleh oleh mahasiswa setelah menerima pengalaman
pembelajaran. Menurut Sudarsono (1997) prestasi akademik adalah hasil yang
diperoleh mahasiswa dari usaha-usahanya selama mengikuti proses interaksi
belajar mengajar dikampus yang akan mengakibatkan adanya perubahan perilaku
pada mahasiswa tersebut

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Optimisme


Vinacle (dalam Shofia, 2009) menjelaskan bahwa ada dua faktor yang
mempengaruhi pola pikir pesimis-optimis, yaitu:
a. Faktor etnosentris,
Yaitu sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu kelompok atau orang lain yang
menjadi ciri khas dari kelompok atau jenis lain. Faktor etnosentris ini berupa
keluarga, status sosial, jenis kelamin, agama dan kebudayaan.
b. Faktor egosentris,
Yaitu sifat-sifat yang dimiliki tiap individu yang didasarkan pada fakta bahwa
setiap pribadi adalah unik dan berbeda dengan pribadi lain. Faktor egosentris
ini berupa aspek-aspek kepribadian yang memiliki keunikan sendiri dan
berbeda antara pribadi yang satu dengan yang lain

Dimensi Optimisme


Menurut Seligman (2006) terdapat tiga dimensi dalam optimisme, yaitu
Permanensi, Permasiveness, Personalisasi :
a. Permanensi
Permanensi yakni ketetapan suatu peristiwa, pada dimensi ini kita
berbicara mengenai waktu. Individu yang mudah menyerah mempercayai bahwa
penyebab kejadian buruknya adalah permanen. Kejadian-kejadian buruk itu akan
terus berlangsung dan mempengaruhi kehidupan individu. Individu yang optimis
akan menanggapi peristiwa yang buruk itu hanya berlangsung sementara
(temporer). Penjelasan individu yang optimis terhadap peristiwa baik berbeda
dengan penjelasan optimis terhadap kejadian buruk. Individu yang optimis
terhadap kejadian baik menjelaskan kejadian-kejadian tersebut pada diri mereka
sendiri dengan penyebab-penyebab yang permanen seperti karakter, kemampuan
dan keinginan yang harus selalu tercapai. Individu yang percaya bahwa kejadian-
kejadian baik bersifat permanen akan berusaha keras setelah mencapai suatu
keberhasilan.
b. Pervasiveness
Pervasiveness yakni gambaran sebagai keluasaan suatu peristiwa yang
berkaitan dengan berbagai hal spesifik dan global. Individu yang memberikan
penjelasan-penjelasan yang secara umum untuk suatu kegagalan dan akan
menyerah pada berbagai hal saat individu mengalami suatu kegagalan, maka
individu inilah yang jika satu hal dalam hidupnya hancur, maka seluruh
kehidupannya terganggu, berbeda dengan individu yang optimis yang membuat
penjelasan-penjelasan spesifik yang mungkin terjadi, akan lebih mudah tahu
kapan mereka menjadi orang yang tidak berdaya atau lemah dalam hidupnya dan
kapan dirinya merasa kuat pada bagian kehidupan yang lain.
c. Personalisasi
Personalisasi merupakan sumber suatu peristiwa terjadi, baik secara
internal maupun eksternal. Ketika suatu hal buruk terjadi, individu bisa
menyalahkan diri sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau keadaan
(eksternal). Individu yang menyalahkan dirinya sendiri saat gagal akan
menyebabkan rasa penghargaan terhadap diri sendiri menjadi rendah. Individu
akan berfikir dirinya tidak berguna, tidak punya kemampuan, dan tidak dicintai.
Sebaliknya pada individu yang menyalahkan kejadian-kejadian eksternal tidak
kehilangan rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri saat kejadian buruk
menimpanya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa optimisme merupakan
bagaimana persepsi individu terhadap suatu kejadian yang nantinya akan
berpengaruh terhadap individu dalam memandang kejadian tersebut diwaktu yang
akan datang yang nantinya akan membentuk sikap optimis dalam diri individu.
Sikap optimis tersebut dibentuk melalui tiga dimensi yaitu Permanensi,
Permasiveness, Personalisasi sehingga akan mempengaruhi bagaimana individu
memandang suatu peristiwa atau kejadian

Definisi Optimisme


Optimisme adalah bagaimana seseorang bersikap positif terhadap suatu
keadaan. Optimisme lebih ditujukan pada bagaimana seseorang menjelaskan
mengenai sebab terjadinya suatu keadaan baik atau keadaan buruk (Seligman,
1995). Seligman (1990) mengatakan bahwa optimisme berpengaruh terhadap
kesuksesan di dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan, dan relasi sosial. Dalam
studinya, Seligman membuktikan bahwa sikap optimis bermanfaat untuk
memotivasi seseorang di segala bidang kehidupan.
Menurut Csoulter (1999) optimisme merupakan suatu sikap positif saat ini
dan harapan yang mengarah pada orientasi masa depan yang positif. Suatu sikap
positif yang ditunjukan oleh individu semata-mata berharap mendapatkan hasil
yang positif pada waktu yang akan datang. Beberapa ahli lain juga memberian
makna terhadap individu yang optimis. Menurut Chang (dalam Elfida, 2002)
menyatakan bahwa individu yang optimis memiliki kemampuan penyesuaian diri
yang lebih baik, karena individu tersebut sering mengubah kondisi-kondisi yang
berhubungan dengan situasi yang menekan.
Orang yang optimis adalah individu dengan ekspektasi relatif realistis
tentang kemampua mereka, jika mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan
untuk menangani tantangan, maka pada umumnya mereka akan menyatakan
demikian kepada orang lain dan kepada diri mereka sendiri dan tidak terlalu
merasakan kecemasan (Norem, 2001)
(Scheier & Carver, 2002) menjelaskan bahwa individu yang optimis
adalah individu yang mengharapkan hal-hal yang baik terjadi pada mereka,
sedangkan individu yang pesimis cenderung mengharapkan hal-hal buruk terjadi
kepada mereka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang optimis
merupakan individu yang mampu mengendalikan dirinya untuk tetap berfikir
positif akan pencapaian terhadap tujuan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas
yang diberikan. Dengan selalu berfikir positif dapat mengendalikan dan
mengarahkan tingkah laku untuk menyelesaikan permasalahan dan hambatan
yang dihadapi dalam mencapai tujuan dan harapan

strategi dalam efikasi diri

Adapun strategi dalam efikasi diri (Alwilsol, 2004) berdasarkan faktor-
faktor self-efficacy mencakup :

  1. Pengalaman Performansi
    a. Participant modeling, yaitu meniru model yang berprestasi,
    b. Performance desensitization, yaitu menghilangkan pengaruh buruk
    prestasi masa lalu,
    c. Performance exposure, yaitu menonjolkan keberhasilan yang pernah
    diraih,
    d. Self-instructed performance, yaitu melatih diri untuk melakukan yang
    terbaik.
  2. Pengalaman vikarius
    a. Live modeling, yaitu mengamati model yang nyata,
    b. Syimbolic modeling, yaitu mengamati model simbolik, film, komik, dan
    cerita.
  3. Persuasi verbal
    a. Suggestion, yaitu mempengaruhi dengan kata-kata berdasarkan
    kepercayaan,
    b. Exbortation, yaitu nasihat, peringatan yang mendesak atau memaksa,
    c. Self-instruction, yaitu memerintah diri sendiri,
    d. Interpretative treatment, yaitu interpretasi baru memperbaiki interpretasi
    lama yang salah.
  4. Pembangkitan emosi
    a. Attribution, yaitu mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian
    emosional,
    b. Relaxation biodeedback, yaitu relaksasi,
    c. Syimbolic desensitization, yaitu menghilangkan sikap emosional dengan
    modeling simbolik,
    d. Symbolic exposure, yaitu memunculkan emosi secara simbolik.
    Self-efficacy akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi
    terhadap situasi yang menekan (Bandura, 1997). Namun, tinggi rendahnya self-
    efficacy akan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu pengalaman keberhasilan
    (mastery exsperiences), pengalaman orang lain (vicarious exsperiences), persuasi
    sosial (social persuation), dan keadaan fisiologis dan emosional (physiology and
    emotional states)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self-Efficacy


Menurut Bandura (Alwilsol, 2004) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi self-efficacy, yaitu:

  1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Exsperiences)
    Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self-efficacy yang
    dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self-efficacy
    dirinya. Ketika keberhasilan yang didapat seseorang lebih banyak karena
    faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh
    terhadap peningkatan self-efficacy. Sebaliknya, jika keberhasilan tersebut
    didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil
    perjuangan sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan
    self-efficacy.
  2. Pengalaman Orang Lain (Vicarious Exsperiences)
    Pengalaman keberhaslan orang lain yang memiliki kemiripan dengan
    pengalaman individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan
    meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama.
  3. Persuasi Sosial (Social Persuation)
    Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh
    seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan
    seseorang bahwa dirinya cukup mampu melakukan suatu tugas.
  4. Keadaan Fisiologis dan Emosional (Physiology and Emotional States)
    Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan
    tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umunya seseorang
    cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak
    diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan
    somatik lainnya. Self-efficacy yang tinggi biasanya ditandai oleh rendahnya
    tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self-efficacy yang rendah ditandai
    oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula

Dimensi Self-Efficacy


Bandura (1997) mengemukakan beberapa dimensi self-efficacy, yakni
sebagai berikut:

  1. Magnitude atau level yakni persepsi individu mengenai kemampuannya yang
    diukur melalui tingkat kesulitan dengan berbagai macam kesulitan tugas.
    Individu yang memiliki tingkat kesulitan tugas yang tinggi memiliki
    kekyakinan bahwa dirinya mampu mengerjakan tugas-tugas yang sukar dan
    juga memiliki self-efficacy yang tinggi, sedangkan individu dengan tingkat
    kesulitan tugas yang rendah memiliki keyakinan bahwa dirinya hanya mampu
    mengerjakan tugas-tugas yang mudah serta memiliki self-efficacy yang
    rendah.
  2. Generality, dimana individu menilai keyakinan mereka berada pada tingkat
    kesulitan tugas tertentu dalam arti luas individu mempunyai keyakinan dalam
    melaksanakan tugas-tugas. Generalisasi memiliki perbedaan dimensi yang
    bervariasi yaitu intensitas kesamaan aktivitas, kemampuan yang ditunjukkan
    dengan tingkah laku, kognitif, afektif. Menggambarkan secara nyata
    mengenai situasi dan karakteristik perilaku individu yang ditunjukkan.
    Penilaian ini berkaitan dengan perilaku dan konteks situasi yang
    mengungkapkan keyakinan individu terhadap keberhasilan mereka.
  3. Strength, berkaitan dengan kuat-lemahnya keyakinan seorang individu.
    Individu yang memiliki keyakinan yang kuat akan bertahan dengan usaha
    mereka meskipun ada banyak kesulitan dan hambatan.
    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy
    merupakan suatu keyakinan atas kemampuan yang dimiliki individu dalam
    menghadapi setiap kesulitan untuk mencapai tujuan sesuai dengan situasi tertentu.
    Keyakinan tersebut dibagi lagi kedalam 3 dimensi yakni magnitude, generality,
    dan strength sehingga akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi
    terhadap situasi yang menekan

Fungsi Self-Efficacy


Fungsi self-efficacy menurut Bandura (1997) yakni:
a. Fungsi Kognitif, Bandura menyatakan bahwa pengaruh self-efficacy pada
proses kognitif seseorang sangat bervariasi. Self-efficacy yang kuat akan
mempengaruhi upaya seseorang untuk mencapai tujuan pribadinya.
b. Fungsi Motivasi, sebagian besar motivasi manusia dibangkitkan secara
kognitif. Individu memotivasi dirinya dan menuntun tindakan-tindakan yang
menimbulkan keyakinan yang dilandasi oleh pemikiran tentang masa depan.
c. Fungsi Sikap, self-efficacy meningkatkan kemampuan coping individu dalam
mengatasi besaarnya stress dan depresi yang dialami pada situasi yang sulit
dan menekan.
d. Fungsi Selektif, self-efficacy akan mempengaruhi pemilihan aktivitas atau
tujuan yang akan diambil oleh individu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat fungsi
self-efficacy yakni fungsi kognitif, fungsi motivasi, fungsi sikap dan fungsi
selektif dimana keempatnya dapat menjadi gambaran bagaimana self-efficacy
dapat mempengaruhi individu dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
untuk dapat mencapai tujuan dan harapan yang dibuat

Definisi Self-Efficacy


Seseorang bertingkah laku dalam situasi tertentu pada umumnya
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kognitif, khususnya faktor kognitif yang
berhubungan dengan keyakinan bahwa dirinya mampu atau tidak mampu
melakukan tindakan yang memuaskan. Dengan merasa memiliki keyakinan untuk
berhasil dalam proses pembelajaran, maka individu akan terdorong untuk
memperoleh prestasi akademik yang lebih baik.
Keyakinan atau yang disebut self-efficacy yang diungkapkan oleh Bandura
(1997) yakni merupakan persepsi diri mengenai seberapa bagus diri dapat
berfungsi dalam situasi tertentu. Self-efficacy atau efikasi diri ini berhubungan
dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang
diharapkan. Self-efficacy juga merupakan penilaian diri, apakah dapat melakukan
tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan
sesuai dengan yang dipersyaratkan. Maka dapat dilihat bahwa self-efficacy
menggambarkan penilaian kemampuan diri (Alwilsol, 2004).
Self-efficacy adalah suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya
bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan. Self-
efficacy akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi terhadap situasi
yang menekan (Bandura, 1997).
Sejalan dengan Bandura, Pervin (dalam Bart Smet, 1994) menyatakan
bahwa self-efficacy mengacu pada kemampuan yang dirasakan untuk membentuk
perilaku yang relevan pada tugas atau situasi khusus. Untuk memutuskan perilaku
tertentu, akan dibentuk atau tidak, seseorang tidak hanya mempertimbagkan
informasi dan keyakinan tentang kemungkinan kerugian atau keuntungan, tetapi
juga mempertimbangkan sejauh mana dirinya dapat mengatur perilaku tersebut.
Seseorang yang memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung melakukan sesuatu
dengan usaha yang besar dan penuh tantangan, sebaliknya individu yang memiliki
self-efficacy yang rendah akan cenderung menghindari tugas dan menyerah
dengan mudah ketika masalah muncul (Retno, 2013).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang mampu
menyadari potensi yang dimilikinya akan mampu mengoptimalkan dan
mengarahkan kemampuan yang dimilikinya dalam sebuah pencapaian. Dalam
proses pembelajaran, dengan menyadari kemampuan yang dimiliki mahasiswa
dapat terdorong dan berusaha untuk mendapatkan prestasi akademik yang lebih
baik dengan kemampuan yang dimilikinya.

Faktor Pendorong Keterlibatan


Faktor-faktor yang dapat meningkatkan keterlibatan konsumen terhadap
pembelian (Mowen dan Minor 2002:85) yaitu

  1. Pentingnya ekspresi diri (self-ekspressive importance ) produk-produk yang
    membentu orang untuk mengekspresikan konsep diri mereka kepada orang
    lain
  2. Pentingnya hedonism (hedonic importance) produk-produk yang dapat
    menyenangkan, menarik, menggembirakan, mempesona, dan menggairahkan.
  3. Relevansi Praktis (partical relevance) produk-produk yang mendasar atau
    bermanfaat untuk alasan yang bermakna
  4. Risiko Pembelian (purchase risk) produk-produk yang menciptakan
    ketidakpastian karena pilihan yang buruk akan menjadi sangat menganggu
    pembeli.
    Dalam Engel at.al (1992:293) yakni pentingnya konsekuensi negative,
    probabilitas subjektif dari kesalahan pembelian – risiko membuat pilihan yang
    buruk, nilai kesenangan –nilai hedonic dari pembelian dan pemakaian, nilai tanda
    – jangkauan dimana pembelian dan pemakaian membuat pernyataan psiko/sosial
    mengenai orang yang bersangkutan. Dalam Engel at.al (1992:35) juga
    menjelaskan faktor-faktor determinan utama dari keterlibatan yang tinggi.
  5. Hubungan Ego – Hubungan ini terjadi terjadi ketika pilihan dipresepsikan
    mencerminkan citra diri
  6. Risiko konsekuensi negative yang dirasakan – setiap orang kadang merasa
    takut bahwa hasil pembelian tidak akan sesuai dengan harapan.
  7. Sanksi Sosial – ada saat-saat penerimaan sosial dipengaruhi oleh pilihan
    produk atau jasa, sehingga menegaskan kebutuhan untuk membuat pilihan
    yang tepat.
  8. Makna hedonic – barang atau jasa yang dibeli mendapat arti penting dengan
    menawarkan kemampuan yang bermakna untuk memberikan kesenangan

Jenis Keterlibatan


Dalam Mowen dan Minor (2002:84) terdapat dua jenis keterlibatan yakni
keterlibatan situasional dan keterlibatan abadi. Keterlibatan situasional
(situational involvement) terjadi selama periode yang pendek dan diasosiasikan
dengan situasi yang spesifik, seperti kebutuhan untuk mengganti sebuah produk.
Keterlibatan abadi (enduring involvement) terjadi saat konsumen menunjukkan
minat yang tinggi dan konsisten terhadap sebuah produk dan seringkali
menghabiskan waktunya untuk memikirkan tentang produk tersebut.
Menurut Schiffman dan Kanuk, (2007) dalam Willy (2010:64) keterlibatan
dibagi menjadi dua jenis yakni keterlibatan rendah dan keterlibatan tinggi.
Keterlibatan yang rendah (low involvement) adalah keadaan dimana para
konsumen menilai bahwa perilaku pembelian tidak atau sudah dilakukan secara
rutin sehingga mereka hanya sedikit terlibat dalam proses pencarian informasi
sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pembelian. Keterlibatan yang
tinggi (high involvement) adalah keadaan dimana para konsumen menilai untuk
melakukan suatu keputusan pembelian yang cukup penting, mereka melakukan
pencarian informasi yang luas sebelum mengambil keputusan untuk melakukan
pembelian

Bentuk Keterlibatan


Dalam Engel at.al. (1992:292) bentuk keterlibatan dapat di ekspresikan
didalam perilaku konsumen, yakni:

  1. Keterlibatan Pesan (pengolahan dan pencarian informasi yang tuntas) dampak
    tinggi
    Dalam pencarian informasi ini terjadi ketika terdapat sebuah dorongan
    yang diciptakan oleh konsumen, mereka akan mencari dan mengumpulkan
    informasi dari berbagai sumber. Jika dari sumber informasi telah memberikan
    alasan yang dibutuhkan, konsumen akan membeli produk tersebut. Tetapi
    sebaliknya, konsumen akan mempertimbangkan keputusannya dan akan lebih
    banyak mencari informasi lagi (Kotler dan Amstrong 2001 dalam Choubatrash
    at.al 2013: 283).
    Dengan pencarian informasi dapat membedakan dua tingkat keterlibatan
    (Kotler dan Keller 2009:185), pencarian yang lebih rendah disebut perhatian
    tajam, pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih respetif terhadap informasi
    tentang sebuah produk. Pada tingkat berikutnya, seseorang dapat memasuki
    pencarian informasi aktif untuk mempelajari produk tersebut. Menurut Kotler dan
    keller (2009:185) sumber informasi utama konsumen dibagi menjadi empat
    kelompok yakni (1) pribadi: keluarga, teman, tetangga, rekan (2) komersial: iklan,
    situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan (3) public: media massa,
    organisasi pemeringkat konsumen, (4) eksperimental: penanganan, pemeriksaan,
    penggunaan produk.
  2. Keterlibatan Produk (Merek)
    Konsumen juga dapat menjadi terlibat dengan produk (atau merek).
    Konsumen lebih mungkin melihat perbedaan dalam sifat yang ditawarkan oleh
    berbagai produk atau merek. Dan hasil yang lazim adalah loyalitas yanglebih
    besar ketika preferensi didasarkan atas keterlibatan yang dirasakan tinggi.
  3. Keterlibatan Dalam Keputusan pembelian
    Bentuk keterlibatan dalam keputusan pembelian ini terdapat dua cara
    yakni pemecahan masalah yang diperluas (PMD) apabila keterlibatan tinggi,
    sementara keterlibatan rendah menggunakan pemecahan masalah terbatas (PMT) .
  4. Pemecahan Masalah yang Diperluas (PMD)
    Ketika proses keputusan dirinci secara khusus dan teliti, mulai dari
    pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternative, pembelian, dan
    hasil diikuti, walaupun tidak dalam urutan yang persis. Terdapat kemungkinan
    bahwa banyak alternative akan dievaluasi dan variasi luas sumber informasi
    dikonsultasikan. Dan untuk mengenai bagaimana dan dimana untuk membuat
    pembelian juga mungkin memerlukan pencarian dan evaluasi tambahan.Prosesnya
    tidak berhenti menyusuli pembelian, karena harapan kerap jelas dan teliti. Bila
    barang yang dibeli mengecewakan, hasilnya dapat berupa kekecewaan yang besar
    sekali dan sering dibicarakan kepada orang lain. Hasil yang diharapkan tentu saja
    adalah kepuasan yang diekspresikan dalam bentuk rekomendasi positif kepada
    orang lain dan maksud untuk membeli kembali. (Engel at.al 1992:32)
    Menurut Utami (2010:55) pemecahan masalah yang luas adalah suatu
    proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen memerlukan usaha
    dan waktu yang cukup besar untuk meneliti dan menganalisis berbagai alternatif.
    Pemecahan masalah ini terjadi ketika konsumen sedang membuat suatu keputusan
    pembelian untuk mencukupi suatu kebutuhan yang penting, atau ketika hanya
    memiliki sedikit pengetahuan tentang produk atau jasa tersebut.
  5. Pemecahan Masalah yang Terbatas (PMT)
    Pemecahan masalah terbatas adalah suatu proses pengambilan keputusan
    belanja yang menyertakan suatu usaha dan waktu yang cukup banyak. Pada situasi
    ini, konsumen cenderung untuk lebih mengandalkan pengetahuan pribadi
    dibandingkan mengandalkan informasi eksternal. Salah satu jenis pemecahan
    masalah terbatas secara umum dan biasa terjadi adalah pembelian impulsive.
    Pembelian impulsive adalah suatu keputusan pembelian yang dibuat oleh
    konsumen dengan segera setelah melihat barang dagangan. (Utami, 2010:55

Definisi Keterlibatan


Konsep keterlibatan sangat berarti untuk mengerti dan menjelaskan
perilaku konsumen. Istilah ini pertama kali dipopulerkan dalam lingkungan
pemasaran oleh Krugman pada tahun 1965 dan membangkitkan minat besar sejak
saat itu. Walaupun istilah ini sudah didefinisikan dengan banyak cara, menurut
James F Angel (1994: 289) keterlibatan adalah tingkat kepentingan pribadi yang
dirasakan atau dibangkitkan oleh stimulus di dalam situasi spesifik.
Definisi keterlibatan menurut Solomon (2010) dalam Mulyana dkk
(2010:15) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai studi tentang proses
keterlibatan pada saat individu atau kelompok memilih, membeli, menggunakan,
atau membuang produk, jasa, ide atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginannya.
Sedangkan menurut Mowen dan Minor (2002:83) keterlibatan konsumen
adalah pribadi yang dirasakan penting dan atau minat konsumen terhadap
perolehan, konsumsi, dan disposisi barang, jasa, atau ide. Dengan semakin
meningkatnya keterlibatan, konsumen memiliki motivasi yang lebih besar untuk
memperhatikan, memahami, dan mengelaborasi informasi tentang pembelian

Hubungan Perilaku Rasional dan Keputusan Pembelian


Teori perilaku berencana merupakan pendekatan intensi perilaku
yang mengatasi keterbatasan teori tindakan beralasan dalam hal
ketidakakuratan intensi perilaku dalam situasi kontrol volisional yang
lebih rendah. Ajzen menyempurnakan tindakan beralasan menjadi teori
perilaku berencana (Ajzen, 1991) dengan cara menambahkan variabel
baru yang memberi perhatian pada konsep kontrol kemauan berperilaku
yang dirasakan individu (Ajzen dalam Dharmmesta, 1998). Teori perilaku
berencana menambahkan kontrol kemauan yang dirasakan oleh seseorang
dalam situasi pengambilan keputusan berperilaku khususnya ketika
perilaku tersebut tidak berada di bawah kontrol volisional (Ajzen, 1991).
Intensi berperilaku didefinisikan dalam beberapa elemen yaitu
target, tindakan, konteks, dan waktu (Fishbein). Elemen tersebut bisa
dijelaskan pada pembelian produk tabungan merupakan elemen tindakan,
sedangkan produk tabungan merupakan elemen target

Hubungan Keterlibatan Konsumen Dengan Keputusan Pembelian


Menurut kondisi keterlibatan konsumen bertindak seolah- olah
mereka menggunakan model kompensatori. Menurut model kompensatori
pilihan (compensatory models of choice), orang menganalisis setiap
alternatif dengan cara evaluatif yang luas sehingga penilaian yang tinggi
atas salah satu atribut dapat mengkompensasi penilaian rendah atas atribut
lainnya. Dalam jenis proses evaluatif ini, semua informasi mengenai
atribut suatu merek digabung ke dalam penilaian secara keseluruhan.
Prosesnya akan di ulang untuk setiap alternatif merek, dan merek yang
mempunyai preferensi keseluruhan tertinggi dipilih (Mowen dan Minor,
2002).
Salah satu aspek model kompensatori harus diperhatikan: suatu
alternatif tidak perlu ditolak karena mempunyai penilaian yang rendah
atas atribut tertentu. Jadi seorang konsumen dapat menilai merek mobil
tertentu yang kurang dalam akselerasi, tetapi, karena dia menilai mobil
dengan tinggi pada atribut lainnya dan karena pilihannya didasarkan atas
evaluasi global, maka konsumen dapat memilih merek tersebut. Fakta
bahwa penilaian yang tinggi atas beberapa atribut dapat mengkompensasi
penilaian rendah atas atribut lainnya merupakan dasar untuk menyebutkan
model kompensasi tersebut (Mowen dan Minor, 2002)

Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Konsumen


Menurut Keller dan Kotler (2012) perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi oleh faktor-faktor :

  1. Faktor Budaya
    Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
    pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
    dasar. Masing-masing budaya terdiri dari sub budaya mencakup
    kebanggaan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Dan ketika
    sub kultur menjadi cukup besardan cukup makmur, maka perusahaan
    sering merancang program pemasaran secara khusus untuk melayani
    konsumen. faktor budaya dibagi menjadi 2, yaitu :
    a. Sub budaya
    Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok yang lebih kecil
    atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
    berdasarkan pengalaman dan situasi hidup yang sama, yang
    meliputi : kewarganegaraan, agama, ras dan daerah geografis.
    b. Kelas sosial
    Hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas
    sosial. Kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif
    permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya memiliki
    nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama. Kelas sosial
    menunjukkan beberapa pilihan-pilihan produk dan merk dari
    seperti pakaian, perabotan rumah tangga, mobil dan aktivitas waktu
    senggang, kelas sosial seseorang dapat dinyatakan dalam beberapa
    variabel seperti jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan dan
    variabel lainnya.
  2. Faktor Sosial
    Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial, seperti kelompok
    acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
    a. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
    pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap
    sikap atau perilaku seseorang.
    b. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang
    paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga
    menjadi kelompok acuan yang paling primer yang paling
    berpengaruh.
    c. Peran dan status terlihat pada kedudukan orang itu di masing-
    masing kelompok. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan
    akan dilakukan oleh seseorang dan masing-masing peran
    menghasilkan status.
  3. Faktor Pribadi
    Faktor pribadi meliputi, usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan
    keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri,serta nilai dan gaya
    hidup .
    a. Dalam usia dan tahap siklus hidup, jenis kebutuhan akan
    produk akan nampak perbedaan yng disesuaikan dengan umur
    seseorang dalam memenuhi suatu kebutuhan.
    b. Pekerjaan dan keadaan ekonomi membuat seseorang
    mempunyai pola konsumsi yang berbeda.
    c. Kepribadian dan Konsep diri membuat seseorang mempunyai
    ciri bawaan psikologis manusia yang mampu menpengaruhi
    perilaku pembelian.
    d. Gaya hidup dan nilai merupakan pola hidup seseorang di dunia
    yang terungkap pada aktifitas, minat, dan opini.
  4. Faktor Psikologis
    Sigmund Freud mengansumsikan bahwa kekuatan psikologis yang
    membentuk perilaku manusia tidak disadari dan bahwa seseorang
    tidak dapat sepenuhnya memenuhi motivasi dirinya. Empat proses
    psikologis antara lain, motivasi, persepsi, pembelajaran, dan memori.
    a. Motivasi mampu membuat seseorang untuk bertindak
    melakukan pembelian.Persepsi merupakan proses yang
    digunakan untuk menginterpretasikan suatu informasi guna
    untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
    b. Persepsi itu bisa mempengaruhi perilaku konsumen secara
    aktual.
    c. Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang
    timbul dari pengalaman.
    d. Proses memori merupakan tindakan mendapatkan kembali
    ingatan yang merujuk pada bagaimana informasi
    membangkitkan ingatan kita

Tahapan proses pembelian

Dilihat secara umum bahwa konsumen memiliki 5 (lima) tahap
28
untuk mencapai suatu keputusan pembelian dan hasilnya (Kotler dan Keller,
2012), yaitu:

  1. Tahapan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini konsumen mengenali
    sebuah kebutuhan, keinginan atau masalah. Kebutuhan pada dasarnya
    dapat di cetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Perusahaan
    harus menentukan kebutuhan, keinginan atau masalah mana yang
    mendorong konsumen memulai proses membeli suatu produk.
  2. Tahapan Pencarian Informasi. Konsumen yang terangsang
    kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi- informasi yang
    lebih banyak. Sumber-sumber informasi konsumen terbagi dalam 4
    (empat) kelompok yaitu:
    a. Sumber Pribadi. Sumber Pribadi ini di dapat konsumen melalui
    keluarga, teman, dan kenalan atau tetangga.
    b. Sumber Komersial. Sumber Komersial ini di dapat konsumen
    melalui iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
    c. Sumber Publik. Sumber Publik ini di dapat konsumen melalui
    media masa, organisasi penentu peringkat konsumen atau lembaga
    konsumen.
    d. Sumber Pengalaman. Sumber Pengalaman ini di dapat konsumen
    melalui penanganan, pengkajian, dan pemakaian produk.
  3. Tahapan Evaluasi Alternatif atau Pilihan. Setelah mengumpulkan
    informasi sebuah merek, konsumen akan melakukan evaluasi alternatif
    terhadap beberapa merek yang menghasilkan produk yang sama dan
    bagaimana konsumen memilih di antara produk-produk alternatif.
  4. Tahapan Keputusan Pembelian. Konsumen akan mengembangkan
    sebuah keyakinan atas merek dan tentang posisi tiap merek
    berdasarkan masing-masing atribut yang berujung pada pembentukan
    citra produk. Selain itu, pada evaluasi alternatif konsumen juga
    membentuk sebuah prefensi atas produk-produk yang ada dalam
    kumpulan pribadi dan konsumen juga akan membentuk niat untuk
    membeli merek yang paling di sukai dan berujung pada keputusan
    pembelian.
  5. Tahapan Perilaku Pasca Pembelian. Tugas perusahaan pada dasarnya
    tidak hanya berakhir setelah konsumen membeli produk yang di
    hasilkan saja, tetapi yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah
    meneliti dan memonitor apakah konsumen akan mengalami tingkat
    kepuasan dan ketidakpuasan setelah menggunakan produk yang akan
    dibeli. Tugas tersebut merupakan tugas akhir setelah periode sesudah
    pembelian.
    Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2009) adalah
    pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian.
    Artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia
    beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah
    kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu
    dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat
    digolongkan sebagai berikut:
  6. Fully Planned Purchase, dimana baik produk dan merek sudah
    dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika ada keterlibatan dengan
    produk tinggi (barang otomotif), namun bisa juga terjadi dengan
    keterlibatan pembelian yang rendah (barang kebutuhan rumah
    tangga)
  7. Partially Planned Purchase, dimana konsumen bermaksud untuk
    membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda
    sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh
    diskon harga atau display produk
  8. Unplanned Purchase, dimana produk ataupun merek dipilih pada
    saat berada di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan
    katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja.
    Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan seseorang
    akan kebutuhan dan memicu pembelian

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Pengertian keputusan
pembelian , menurut Kotler dan Armstrong (2008) adalah tahap proses
pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli.
Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
ditawarkan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2008), keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai
alternatif yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian.
Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2009) keputusan
pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih aternatif pilihan keputusan
pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, harus
tersedia beberapa alernatif.
Berdasarkan dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen
untuk melakukan pembelian suatu produk. Oleh karena itu, pengamblan
keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah
satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut
Perilaku setelah membeli yang nyata. Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya.
Keputusan pembelian mengarah pada perilaku konsumen. Pola
perilaku konsumen sangat terkait satu sama lain, khusus disisi seperti
kualitas, harga, dan pengambilan keputusan. Tugas pemasar adalah
memahami perilaku pembeli pada tiap tahap dan pengaruh apa yang
bekerja dalam tahap-tahap tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Rasional


Menurut konteks pemasaran, motif rasional adalah motif yang
didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukan oleh suatu
produk kepada konsumen. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dapat
berupa :

  1. Faktor ekonomi seperti faktor penawaran, permintaan, dan harga.
  2. Kualitas produk merupakan keseluruhan ciri serta dari suatu produk
    atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang
    dinyatakan atau tersirat (Kotler, 2009)
  3. Pelayanan ialah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan
    oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak
    berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler,
    2009)
  4. Ketersediaan barang merupakan wujud kesiapan produsen dalam
    menyediakan produknya dan juga melihat sejauh mana sikap
    konsumen terhadap ketersedian produk yang ada.
  5. Efisiensi dalam penggunaan merupakan suatu istilah yang
    menunjukkan kemudahan manusia untuk menggunakan suatu alat atau
    objek buatan manusia lainnya untuk mencapai tujuan tertentu.
  6. Dapat dipercaya artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang
    benar atau nyata dan memastikan sesuatu dapat memenuhi
    harapannya.
  7. Keterbatasan waktu yang ada pada konsumen artinya suatu keadaan
    dimana proses atau ruang gerak konsumen dibatasi dengan waktu
    yang ditentukan.
    Motif rasional menurut Manning and Reece (2004) adalah motif
    yang berdasarkan alasan atau penilaian dari proses berpikir. Beberapa
    motif rasional antara lain fungsi, kebutuhan, kualitas pelayanan, garansi,
    tersedianya bantuan teknis, pengiriman yang tepat waktu, keuntungan
    finansial, dan tahan lama. Sedangkan motif emosional adalah motif yang
    berdasarkan pada perasaan atau hasrat
    Perilaku rasional merupakan perlaku yang didasarkan pada
    kenyataan-kenyataan seperti yang ditujukan oleh suatu produk kepada
    konsumen. Indikator Perilaku Rasional antara lain (Kotler dan Amstrong,
    2012) :
  8. Merek, Sebuah nama, istilah, nama, symbol, atau kombinasi semua
    yang menunjukkan identitas produk atau jasa. Merek memiliki peran
    yang sangat penting karena digunakan sebagai pembeda antara satu
    produk dengan produk lainnya. Suatu merek perlu dikelola dengan teliti
    agar pelanggan tidak mengalami kekecewaan terhadap merek tersebut.
    Merek dapat menjadi aset terbesar yang dimiliki perusahaan karena
    memiliki nilai lebih dalam menarik minat konsumen untuk membeli
    barang yang telah diproduksi perusahaan tersebut
  9. Harga, Jumlah uang yang dibayarkan pelanggan untuk memperoleh
    produk. Harga sangat mempengaruhi konsumen dalam menentukan
    proses pembelian, dengan mengetahui harga maka konsumen akan
    dapat memperkirakan sejauh mana kemampuan untuk memutuskan
    pembelian terhadap produk yang akan dibeli
  10. Kualitas, Konsumen dalam melakukan proses pembelian pasti
    mengharapkan produk yang memiliki kualitas yang bagus dengan
    harapan bahwa produk yang dibeli memiliki manfaat yang sesuai
    dengan yang diharapkan. Kualitas menjadi faktor yang diperhatikan
    dalam keputusan pengeambilan kredit karena adanya kepercayaan
    konsumen terhadap pembelian produk tersebut

Pengertian Perilaku Rasional


Motif rasional adalah menurut pikiran yang sehat, patut, dan layak.
Motivasi yang berdasarkan rasional akan menentukan pilihan terhadap
suatu produk dengan memikirkan secara matang serta dipertimbangkan
terlebih dahulu untuk membeli produk tersebut. Kecenderungan yang akan
dirasakan oleh konsumen terhadap produk tersebut sangat puas.
Sedangkan motif emosional adalah motif yang dipengaruhi oleh perasaan.
Konsumen terkesan buru-buru untuk membeli produk tersebut dengan
tidak mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi untuk jangka
panjang (Setiadi, 2010).
Menurut Sciffman and Kanuk (2008) menyatakan bahwa motif
rasional terjadi karena konsumen memilih berdasarkan pada kriteria
obyektif seperti ukuran, berat, dan harga. Sedangkan motif emosional
terjadi karena pengonsumsi memilih berdasarkan kriteria subyektif atau
personal seperti harga dir, status, atau rasa takut. Mason and Rath (1995)
mendefinisikan motif rasional adalah motif yang berdasarkan pada logika
dari pengonsumsi seperti kualitas, dapat diandalkan, ekonomis, tahan
lama, keuntungan finansial dan efisiensi. Sedangkan motif emosional
berdasarkan pada gengsi, pengakuan popularitas, perasaan seseorang, dan
emosi seperti penampilan, petualangan, romantis, rasa takut, dan insting.
Menurut Anderson (1991) dalam Sciffman and Kanuk (2008) motif
rasional berdasarkan pada keinginan atau hasrat untuk menghemat waktu
dan uang, meningkatkan keuntungan finansial, mendapat kualitas jasa,
jaminan tahan lama dan kepastiaan keamanan. Contoh produk yang
memiliki motif rasional seperti asuransi, real estate, pendidikan dan lain-
lain. Motif emosional berdasar hasrat untuk mencari kesenangan,
kenyamanan, persetujuaan sosial, status atau romantisme. Contoh produk
yang memiliki motif emosianal adalah parfum, klub kesehatan, kosmetik,
mobil sport, dan lain-lain

Brand loyalty


Pada brand loyalty tidak ada lagi merek yang dipertimbngkan
untuk dibeli selain merek produk yang sering dibelinya. Ketika merek
produk itu tidak tersedia, maka konsumen akan berusaha mencari
produk tersebut di tempat lain sampai mendapatkannya. Konsumen
yang berperilaku seperti ini dapat dikatakan bahwa konsumen loyal
terhadap merek pilihannya. Loyalitas merek dapat didefinisikan
sebagai sikap menyenangi terhadap suatu merek yang
direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap merek
tersebut sepanjang waktu (Setiadi, 2010).
Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk
mempelajari loyalitas merek. Pertama dengan pendekatan instrumental
conditioning, yang memandang bahwa pembelian yang konsisten
sepanjang waktu adalah menunjukkan loyalitas merek. Perilaku
pengulangan pembelian diasumsikan merefleksikan penguatan atau
stimulus yang kuat. Jadi, pengukur bahwa seorang konsumen loyal
atau tidak dilihat dari frekuensi dan konsistensi perilaku pembeliannya
terhadap merek. Pengukuran loyalitas dengan pendekatan ini
menekankan pada perilaku masa lalu (Setiadi, 2010).
Pendekatan kedua didasarkan pada teori kognitif. Beberapa
peneliti percaya bahwa perilaku itu sendiri tidak merefleksikan loyalitas
merek. Dengan perkataan lain perilaku pembelian berulang tidak
merefleksikan loyalitas merek. Menurut pendekatan ini, loyalitas
menyatakan komitmen terhadap merek yang mungkin tidak hanya
direfleksikan oleh perilaku pembelian yang terus menerus. Konsumen
mungkin sering membeli merek tertentu karena harganya murah dan
ketika harganya naik konsumen beralih ke merek lain (Setiadi, 2010).
Pendekatan behavioral menekankan bahwa loyalitas dibentuk
oleh perilaku, sementara pendekatan kognitif memandang bahwa
loyalitas merupakan fungsi dari proses psikologis. Assel
mengemukakan empat hal yang menunjukkan kecenderungan
konsumen yang loyal sebagai berikut (Setiadi, 2010):
1) Konsumen yang loyal terdapat merek cenderung lebih percaya
diri terhadap pilihannya.
2) Konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasa tingkat
resiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya.
3) Konsumen yang loyal terhadap merek juga lebih mungkin loyal
terhadap toko.
4) Kelompok konsumen yang minoritas cenderung untuk lebih
loyal terhadap merek

Tipe Keterlibatan Konsumen


Konsep ini merupakan konsep yang masih terus diperdebatkan.
Hingga saat ini belum terdapat konsep yang seragam beserta kerangka
metodologinya (dalam Fauman, 2010). Keterlibatan merupakan variabel
individual yang merupakan efek sebab akibat atau dorongan dengan
sejumlah konsekuensi pada perilaku pembelian dan komunukasi atau
merupakan relevansi tingkat pentingnya proses pembelian suatu produk bagi
konsumen. Lebih jauh keterlibatan merefleksikan sejauh mana energi yang
dialami oleh konsumen mampu menghasilkan loyalitas dan word of mouth
yang positif.
Pada keterlibatan tinggi atau rendah difokuskan pada
pengidentifikasian jenis peraturan yang digunakan masyarakat untuk
memutuskan alternatif-alternatif produk yang akan dibeli dan bagaimana
konsumen merestrukturisasi informasi yang mereka terima sehingga dapat
menentukan pilihan (Mowen dan Minor, 2002). Perbedaan mendasar pada
keterlibatan tinggi dan keterlibatan rendah terletak pada proses keputusan
pembelian. Misalkan seberapa banyak atribut yang digunakan untuk
membandingkan beberapa merek, seberapa lama proses pemilihan di dalam
memproses informasi. Misalnya seberapa luas penelusuran informasi,
kemampuan daya serap pesan iklan, banyak dan jenis respon kognitif
sebagai akibat paparan iklan.
Konsumen tidak saja berbeda dalam tingkat keterlibatannya yakni
keterlibatan tinggi dan rendah (Blackwell, Miniard dan Engel, 2008) tetapi
juga berbeda dalam tipe keterlibatannya. Studi ini mengacu kepada konsep
multi-dimensional aspek keterlibatan yang disarankan oleh beberapa peneliti
(Broderick dan Foxall, 1999) :
a) Keterlibatan Normative
Tingkat pentingnya produk terhadap nilai-nilai pribadi, emosi dan ego
konsumen yang disebut sebagai sign involvement, yaitu hubungan citra
pribadi konsumen terhadap produk.
b) Keterlibatan Resiko Subjective
Perasaan kemungkinan membuat pembelian yang keliru atau disebut
juga sebagai risk involvement.
c) Keterlibatan Jangka Panjang
Minat dan familiaritas dengan produk sebagai satu kesatuan dan untuk
jangka waktu yang lama
d) Keterlibatan Situasional
Kepentingan dan komitmen terhadap produk dalam bentuk loyalitas
terhadap merek yang dipilih. Dalam tipe ini keterlibatan hanya
berlangsung sementara saja

Jenis-jenis Keterlibatan Konsumen


Terdapat dua jenis keterlibatan konsumen dalam proses pengambilan
keputusan (menurut Wilkie,1990 dalam Tjiptono 2010) yaitu :
a. Keterlibatan rendah
Keterlibatan rendah akan terjadi ketika konsumen tidak memiliki
kekuatan untuk berpikir atau merasakan.
b. Keterlibatan tinggi
Keterlibatan tinggi menuntut bahwa tingkat kekuatan yang tinggi
dibangkitkan terhadap konsumen dan bahwa kekuatan diarahkan menuju
pada aktivitas konsumen tertentu. Seseorang yang sangat terlibat
cenderung lebih banyak berpikir atau lebih bisa merasakan
Konsumen akan berpikir lebih keras tentang keputusan yang
dilakukan pada situasi keterlibatan tinggi. Konsumen juga lebih suka
melakukan proses keputusan yang ekstensif dan bergerak melalui setiap
tahap keputusan secara berhati-hati. Konsep keterlibatan harus dipahami
bukan hanya dalam memproses informasi, tetapi juga dalam variasi dari
topik konsumen lainnya (Mowen dan Minor, 2002). Sebagai contoh, tingkat
keterlibatan konsumen memiliki implikasi yang pentimg dalam proses
memori, proses pengambilan keputusan, perumusan sikap dan perubahan,
dan komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth communication).
Banyak orang yang percaya bahwa ketika membeli suatu produk
(apalagi yang harganya relatif mahal), manusia akan sangat rasional.
Bahkan menurut survei yang dilakukan Kontan (2001) dalam buku (Mowen
dan Minor, 2002), para ahli psikologi konsumen membedakan perilaku
berbelanja antara low involvement goods (barang-barang yang harganya
murah dan keterlibatan konsumen untuk mengumpulkan informasinya
rendah) dengan high involvement goods (barang- barang mahal yang
menyandang resiko bagi pembelinya, yang menuntut konsumen membaca
lebih banyak sebelum membeli), namun dalam kenyataannya emosi dan
rasio manusia sama-sama bekerja.
Rasa gembira, bangga, dan senang mungkin akan membunga-
bungakan dirinya bila yakin produk itu memberi manfaat dan kesenangan.
Sebaliknya, rasa bersalah, marah, benci, muak, kesal bisa muncul kalau
merasa keputusannya salah atau barang yang dibelinya menimbulkan efek
yang negatif

Pengertian Keterlibatan Konsumen


Keterlibatan didefinisikan sebagai status motivasi yang
menggerakan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen
pada saat mereka membuat keputusan (Setiadi. 2010). Keterlibatan sangat
berarti untuk mengerti dan menjelaskan perilaku konsumen. Definisi
keterlibatan menurut Setiadi (2010) adalah tingkat kepentingan pribadi yang
dirasakan dan atau minat yang dibangkitkan oleh stimulus di dalam situasi
spesifik hingga jangkauan kehadirannya, konsumen bertindak dengan
sengaja untuk meminimumkan resiko dan memaksimumkan manfaat yang
diperoleh dari pembelian dan pemakaian.
Keterlibatan paling banyak dipahami sebagai fungsi dari orang,
objek dan situasi. Motivasi yang mendasari adalah kebutuhan dan nilai yang
merupakan refleksi dari konsep diri. Keterlibatan diaktifkan ketika objek
(produk, jasa atau pesan promosi) dirasakan membantu dalam memenuhi
kebutuhan, tujuan dan nilai penting. Keterlibatan mengacu pada persepsi
konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu objek, kejadian
atau aktivitas. Konsumen yang melihat bahwa produk yang dimiliki
konsekuensi relevan secara pribadi dikatakan terlibat dengan produk dan
memiliki hubungan dengan produk tersebut. Konsekuensi dengan suatu
produk atau merek memiliki aspek kognitif maupun pengaruh (Setiadi,
2010)
Motivasi dimulai dengan timbulnya rangsangan yang memacu
pengenalan kebutuhan. Rangsangan bisa berasal dari diri konsumen maupun
dari luar konsumen, jika rangsangan menimbulkan perbedaan antara
keadaan yang diinginkan seseorang dan keadaan aktual orang tersebut,
maka akan timbul kebutuhan. Kebutuhan yang dirasakan dapat diaktifkan
dengan cara-cara yang berbeda, yang salah satunya sepenuhnya bersifat
fisiologis, misalnya rasa haus atau lapar. Manusia juga memiliki kapasitas
untuk berpikir tentang orang atau objek yang tidak hadir dalam waktu dekat
atau membayangkan konsekuensi yang diinginkan dari tindakan tertentu
(Engel,2001). Sekali sebuah kebutuhan muncul, kebutuhan ini akan
menghasilkan dorongan. Sebuah dorongan (drive) adalah keadaan afektif
dimana seseorang mengalami dorongan emosi dan fisiologis.
Tingkat keadaan dorongan ini mempengaruhi tingkat keterlibatan
seseorang dan keadaan afektifnya. Kenaikan dorongan ini akan
meningkatkan perasaan dan emosi, yang dihasilkan pada tingkat keterlibatan
yang lebih tinggi dan pemprosesan informasi. Apabila seseorang mengalami
keadaan dorongan ini, berarti mereka terlibat dalam perilaku berdasarkan
tujuan yang terdiri dari tindakan yang dilakukan untuk meringankan
keadaan kebutuhan seseorang.
Insentif konsumen merupakan produk, jasa, informasi, dan bahkan
dapat juga berupa orang lain yang diperkirakan oleh konsumen akan
memuaskan kebutuhan. Objek insentif dihubungkan kembali ke tahap
pengenalan kebutuhan, dimana objek tersebut digunakan untuk
mempersempit kesenjangan antara keadaan aktual dengan keadaan yang
diinginkan (Mowen, 2002)
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat keterlibatan
konsumen adalah: (1) jenis produk yang menjadi pertimbangan, (2)
karakteristik komunikasi yang diterima konsumen, (3) karakteristik situasi
dimana konsumen beroperasi dan (4) kepribadian konsumen. Pada
umumnya keterlibatan konsumen meningkat apabila produk atau jasa yang
dipertimbangkan lebih mahal, diterima secara sosial dan memiliki resiko
pembelian. Komunikasi juga dapat meningkatkan keterlibatan seiring
dengan meningkatnya emosi konsumen. Situasi atau konteks dimana
pembelian dilakukan juga mempengaruhi keterlibatan (Mowen, 2002)
Konsumen dalam menentukan pilihannya sangat dipengaruhi oleh
jenis proses keputusan dimana mereka terlibat. Proses pilihan akan berbeda
bila konsumen akan menggunakan pendekatan keterlibatan tinggi
dibandingkan dengan pendekatan keterlibatan rendah. Demikian pula,
apabila konsumen menggunakan orientasi pengalaman maka proses pilihan
akan berubah menurut perspektif pengaruh perilaku. Di dalam kondisi
keterlibatan tinggi, konsumen menggunakan model kompensatori,
sementara pada kondisi keterlibatan rendah konsumen cenderung untuk
menggunakan model pilihan yang nonkompensatori.
Menurut model kompensatori (Mowen, 2009), konsumen
menganalisis setiap analisis dengan cara evaluasi yang luas sehingga
penilaian yang tinggi atas salah satu atribut dapat mengkompensasi
penilaian rendah atas atribut lainnya. Dalam jenis proses evaluasi ini, semua
informasi mengenai atribut suatu merek digabung ke dalam penilaian merek
secara keseluruhan. Prosesnya akan diulang untuk setiap alternatif merek,
dan merek yang mempunyai preferensi keseluruhan tertinggi yang dipilih.
Menurut model nonkompensatori, penilaian yang tinggi atas
beberapa atribut tidak pernah mengkompensasi penilaian yang rendah atas
atribut lainnya. Konsumen dianggap membandingkan alternatif atas atribut-
atribut pada suatu waktu. Satu atribut dipilih dan kemudian membandingkan
dengan semua alternatif. Proses ini terus berlanjut dengan cara hirarkis
sampai semua atribut telah diungkapkan. Apabila konsumen berada di
dalam situasi keterlibatan rendah, maka mereka tidak mau terlibat dengan
sejumlah besar pemprosesan informasi yang dibutuhkan oleh model
nonkompensatori.
Model nonkompensatori digunakan sebagai jalan pintas untuk
mencapai keputusan yang memuaskan dan bukan optimal suatu proses yang
dikenal sebagai satisficing. Model nonkompensatori juga disebut model
pilihan heuristis. Heuristis merupakan peraturan sederhana yang digunakan
masyarakat untuk mengambil keputusan yang memuaskan dan bukan yang
sempurna (Mowen, 2009)

Pengaruh Keterlibatan Konsumen terhadap Keputusan Pembelian


Keterlibatan merujuk pada minat dan perhatian yang diberikan
konsumen terhadap suatu produk atau merek tertentu. Ketika konsumen
merasa terlibat, mereka cenderung melakukan riset lebih mendalam,
membandingkan berbagai pilihan, dan mempertimbangkan pro dan kontra
sebelum mengambil keputusan. Hal ini didukung dengan adanya peneliti
yang mengatakan bahwa keterlibatan konsumen berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini juga didukung
dengan adanya peneliti yang mengatakan bahwa keterlibatan konsumen
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Live Streaming terhadap Keterlibatan Konsumen


Keterlibatan yang tinggi pada live streaming dapat menghasilkan
pembelian impulsif. live streaming berfungsi sebagai jembatan antara
merek dengan konsumen, membangun hubungan yang lebih dalam dan
mengubah cara konsumen berinteraksi dengan produk dan layanan. Hal ini
menciptakan ekosistem di mana konsumen merasa terlibat dan dihargai.
Hal ini didukung dengan peneliti yang mengatakan bahwa live streaming
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen
Hasil dari peneliti lain juga menunjukkan bahwa live streaming
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen

Pengaruh Online Customer Review terhadap Keterlibatan Konsumen


Konsumen yang lebih banyak membaca dan berinteraksi dengan
review cenderung memiliki keterlibatan yang lebih dalam, karena review
memberikan data yang memperkaya wawasan mereka sekaligus
membantu mereka merasa lebih siap dalam membuat keputusan pembelian
yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Hal ini didukung dengan
adanya peneliti yang mengatakan bahwa online customer review
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen.
Hasil dari peneliti lain juga menunjukkan bahwa online customer review
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen

Pengaruh Live Streaming terhadap Keputusan Pembelian


Live streaming ialah sesi dimana penjual atau host dapat berinteraksi
langsung dengan audiens, menciptakan hubungan yang lebih personal dan
real-time. Konsumen dapat bertanya tentang detail produk, meminta
rekomendasi, atau memperoleh panduan penggunaan secara langsung,
sehingga mereka merasa lebih percaya diri dan siap mengambil keputusan
pembelian. Hal ini didukung dengan peneliti yang mengatakan bahwa live
streaming berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian . Hal ini lebih didukung dengan peneliti lain yang
mengatakan live streaming juga berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Online Customer Review terhadap Keputusan Pembelian
Online Customer Review merupakan feedback yang diberikan oleh
konsumen yang sudah membeli dan menggunakan produk, biasanya
disampaikan melalui platform e-commerce, media sosial, atau situs web
review. Review berisi pengalaman, penilaian, dan opini pribadi konsumen
tentang produk, baik dalam bentuk teks, foto, hingga video. Customer
review menjadi sumber informasi penting bagi calon pembeli dalam
keputusan pembelian di era digital. Hal ini didukung dengan adanya peneliti
yang mengatakan bahwa online customer review berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini juga didukung
peneliti lain yang mengatakan online customer review juga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

Indikator-indikator keterlibatan konsumen


Ada empat indikator pada keterlibatan konsumen yaitu:

  1. Keterlibatan Kognitif (Cognitive Engagement)
    Keterlibatan kognitif mengacu pada perhatian atau upaya mental yang
    diberikan konsumen terhadap suatu merek, produk, atau aktivitas
    pemasaran.
  2. Keterlibatan Emosional (Emotional Engagement)
    Keterlibatan emosional ialah tingkat hubungan emosional yang
    dirasakan konsumen terhadap merek, produk, atau aktivitas pemasaran.
    Ini mencakup perasaan positif seperti antusiasme, kepuasan, atau
    kegembiraan yang timbul dari interaksi dengan merek.
  3. Keterlibatan Prilaku (Behavioral Engagement)
    Keterlibatan perilaku mencerminkan tindakan atau partisipasi aktif
    konsumen dalam aktivitas yang berkaitan dengan merek. Partisipasi ini
    mencakup interaksi langsung, seperti pembelian, berbagi pengalaman,
    atau memberikan umpan balik.
  4. Keterlibatan Sosial (Social Engagement)
    Keterlibatan sosial merupakan tingkat interaksi konsumen dengan
    komunitas, pengguna lain, atau organisasi yang terkait dengan merek.
    Keterlibatan ini mencerminkan hubungan sosial yang terbentuk
    berdasarkan pengalaman atau ketertarikan yang sama terhadap merek

Faktor-faktor Keterlibatan Konsumen


Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keterlibatan konsumen
adalah sebagai berikut:

  1. Kepuasan Konsumen: Kepuasan terjadi ketika harapan pelanggan
    terhadap barang atau jasa dipenuhi atau bahkan lebih. Pada keterlibatan
    konsumen, kepuasan memainkan peran penting dalam mendorong
    pelanggan untuk tetap setia dan melakukan transaksi dengan
    perusahaan pada tingkat yang lebih besar.
  2. Emosional: Emosi positif terhadap perusahaan dapat meningkatkan
    loyalitas dan hubungan konsumen dengan perusahaan. Apabila
    konsumen memiliki hubungan emosional yang kuat dengan suatu
    merek, mereka cenderung memberikan kontribusi tidak langsung,
    seperti merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain,
    memberikan ulasan positif, serta berpartisipasi dalam tentang produk
    tersebut.
  3. Jenis Perusahaan: Keterlibatan konsumen dipengaruhi oleh model
    bisnis perusahaan. Dalam bisnis yang melayani konsumen secara
    langsung, keterlibatan lebih banyak terjadi melalui pengalaman
    individu dan loyalitas merek. Dalam bisnis yang melayani perusahaan
    lain, keterlibatan lebih berfokus pada kerja sama strategis dan hubungan
    jangka panjang
  4. Nilai Merek: Nilai merek juga mempengaruhi ekspektasi konsumen,
    semakin tinggi nilai merek, semakin besar harapan konsumen terhadap
    produk atau layanan yang diberikan. Nilai merek mengacu pada
    persepsi konsumen terhadap kualitas, reputasi, dan kredibilitas suatu
    merek.
    23
  5. Tingkat Kenyamanan: Faktor ini mencakup kemudahan dalam
    melakukan transaksi, aksesibilitas layanan konsumen, fleksibilitas
    dalam pemesanan atau pengembalian produk, serta dukungan teknologi
    seperti aplikasi atau platform digital yang intuitif. Semakin mudah
    konsumen berinteraksi dengan perusahaan, semakin besar
    kemungkinan mereka untuk tetap terlibat dan memberikan kontribusi
    positif terhadap perusahaan

Definisi Keterlibatan Konsumen


Keterlibatan konsumen atau Customer Engagement merupakan
kontribusi konsumen terhadap pendapatan perusahaan, baik secara langsung
maupun tidak langsung, berdasarkan kebutuhan mereka terhadap produk
atau jasa yang ditawarkan.
Keterlibatan Konsumen ialah Interaksi yang konsisten antara
pelanggan dan merek secara bertahap memperkuat ikatan emosional,
psikologis, atau bahkan fisik pelanggan terhadap merek tersebut. Dengan
setiap interaksi, keterlibatan pelanggan semakin dalam, yang pada akhirnya
menciptakan rasa keterikatan dan loyalitas yang lebih kuat

Indikator-indikator Live Streaming


Beberapa indikator pada live streaming , meliputi:

  1. Waktu promosi yang tepat, seperti saat jam sibuk atau periode diskon
    khusus, dapat meningkatkan visibilitas produk dan mendorong
    konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.
  2. Bonus, penawaran bonus atau diskon tambahan dapat memicu minat
    beli lebih besar, karena konsumen merasa mendapatkan nilai lebih dari
    pembelian mereka.
  3. Deskripsi produk yang sama, konsisten dan informatif membantu
    konsumen lebih mudah memahami fitur dan manfaat produk, yang
    meningkatkan keyakinan dan ketertarikan untuk membeli.
  4. Gambar visual, gambar yang menarik dan berkualitas tinggi dapat
    memperkuat daya tarik produk, memberikan gambaran yang jelas, dan
    mengurangi keraguan konsumen sebelum membeli

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian melalui LiveStreaming


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen melalui live streaming, yaitu:

  1. Strategi pemasaran yang menarik, seperti foto dan video produk yang
    menarik dalam live streaming mendorong niat beli impulsif, di mana
    konten visual ini berperan dalam meningkatkan ketertarikan konsumen.
  2. Fasilitas live streaming dalam platform e-commerce, seperti shopee,
    tiktok dan lain-lain memungkinkan penjual menunjukkan produk
    secara langsung, memberikan informasi rinci, dan interaksi real-time
    dengan calon pembeli, yang memperkuat ketertarikan konsumen.
  3. Review produk yang detail atau deskripsi produk yang detail membantu
    konsumen untuk lebih yakin dalam pengambilan keputusan pembelian,
    terutama dalam hal sesuai dengan kebutuhan atau keinginan mereka.

Definisi Live Streaming


Live streaming merupakan konten yang dikirimkan secara langsung
kepada audiens melalui internet, memungkinkan penonton untuk
menyaksikan dan berinteraksi secara real-time dengan penyiar atau pembuat
konten .
Live streaming shopping ialah bagian dari perdagangan elektronik yang
menawarkan pengalaman belanja interaktif dengan fitur unik berupa
interaksi sosial secara waktu nyata (real time) antara penjual dan pembeli,
melalui live streaming, pembeli dapat melihat produk secara langsung,
mengajukan pertanyaan, serta mendapatkan respons instan dari penjual atau
host .
Produk Urban & Co sangat memanfaatkan live streaming, karena saat
ini live streaming shopping telah menjadi tren dalam e-commerce. Melalui
live streaming, Urban & Co bisa memamerkan koleksi produk mereka
secara real-time kepada audiens, memungkinkan calon pembeli untuk

melihat detail produk seperti bahan, warna, ukuran, dan gaya yang sering
kali tidak terlihat hanya dari foto. Dengan fitur interaktif dalam live
streaming, penonton dapat bertanya langsung mengenai produk, meminta
rekomendasi, me, atau bahkan melihat produk dikenakan secara langsung
oleh host atau model.
Generasi Z yang sangat mengutamakan kemudahan dan kecepatan
dalam berbelanja. Live streaming memberikan pengalaman belanja lebih
praktis tanpa perlu ke toko. Urban & Co memaksimalkan live streaming
untuk lebih dekat dengan konsumen dan memberikan pengalaman belanja
online yang personal dan menarik

Indikator-indikator Online Customer Review


Ada beberapa indikator-indikator pada online customer review, yang
berperan penting dalam membentuk persepsi dan keputusan pembelian,
indikator-indikator tersebut meliputi: (40)

  1. Perceived Usefulness (kegunaan yang dirasakan), bagaimana
    konsumen melihat ulasan seberapa membantu mereka membuat
    keputusan. Jika ulasan dianggap informatif, relevan, dan jelas, akan
    membantu calon pembeli memahami lebih baik barang yang dijual.
  2. Source Credibility (kredibilitas sumber), yaitu ulasan dari sumber yang
    dianggap terpercaya, termasuk reputasi platform dan keandalan
    pengulas, cenderung lebih dipercaya oleh calon pembeli karena
    kredibilitasnya.
  3. Quality Argumen (kualitas argumen), kualitas ulasan mengacu pada
    seberapa jelas, logika, dan kedalaman informasi yang disampaikan.
    Ulasan yang kuat dan terstruktur dengan baik seringkali lebih
    meyakinkan.
  4. Volume of Online Consumer Review (banyaknya ulasan online),
    volume merujuk pada jumlah ulasan yang tersedia untuk suatu produk.
    Volume yang besar seringkali dianggap sebagai tanda popularitas, yang
    dapat meningkatkan kepercayaan dan ketertarikan calon pembeli.
  5. Valence of Online Consumer Review (valensi ulasan pelanggan online)
    valensi mengacu pada apakah ulasan konsumen positif, negatif, atau
    netral. Ulasan positif dapat meningkatkan kepercayaan dan mendorong
    untuk membeli produk, sementara ulasan negatif cenderung
    menurunkan keinginan untuk membeli produk tersebut

Faktor-faktor yang mempengaruhi Online Customer Review


Online Customer Review memiliki pengaruh terhadap keputusan
pembelian dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Keputusan pembelian produk, merupakan pilihan akhir konsumen
    untuk membeli produk tertentu setelah mempertimbangkan berbagai
    informasi dan ulasan.
  2. Review dari konsumen lainnya, ulasan dari pengguna lain dapat
    memengaruhi preferensi konsumen, baik dalam memilih maupun
    menghindari produk tertentu.
  3. Informasi sesuai berdasarkan pengetahuan konsumen, ulasan yang
    berisi informasi akurat tentang produk akan lebih dipercaya oleh
    konsumen dan membantu mereka memahami manfaat produk.
  4. Kesesuaian review dari konsumen lain, konsistensi ulasan yang
    diberikan oleh konsumen lain meningkatkan kredibilitas ulasan
    tersebut.
  5. Penilaian produk setelah pembelian, penilaian yang diberikan
    konsumen setelah membeli produk mencerminkan pengalaman nyata
    dan dapat mempengaruhi calon pembeli lainnya

Definisi Online Customer Review


Online customer review merupakan salah satu sumber informasi yang
paling tepercaya di mata konsumen setelah rekomendasi dari teman maupun
keluarga, dan memiliki pengaruh besar dalam membentuk preferensi serta
memengaruhi keputusan pembelian konsumen .
Online customer review ialah ulasan yang dituliskan konsumen yang
pernah membeli suatu produk mengenai pengalaman yang dirasakan setelah
membeli produk tersebut pada marketplace, dan menjadi tolak ukur
keputusan pembelian calon konsumen lain. Ulasan-ulasan tersebut
merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi resiko yang dihadapi
oleh konsumen
Sebagai merek lokal Indonesia dengan produk-produk fashion
berkualitas tinggi, seperti sepatu, tas, dan pakaian, Urban & Co diuntungkan
oleh review positif yang ditinggalkan oleh konsumen di berbagai e-
commerce. Review ini memberikan gambaran nyata kepada calon konsumen
tentang kualitas produk, kenyamanan, serta kesesuaian desain dengan
ekspektasi, yang sering kali menjadi faktor utama dalam keputusan
pembelian pada produk fashion. konsumen dari generasi Z cenderung
mencari online review dari konsumen yang pernah membeli sebelum
memutuskan membeli suatu produk. Review konsumen dapat menjadi
pertimbangan penting yang membantu mengurangi ketidakpastian atau
risiko, seperti kualitas bahan dan daya tahan produk

Proses Keputusan Pembelian


Proses pengambilan keputusan pembelian terdapat lima tahap yaitu
sebagai berikut:

  1. Pencarian Informasi: Konsumen secara aktif mencari informasi tentang
    produk atau layanan yang dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan
    mereka.
  2. Pengenalan Masalah: Proses dimulai ketika konsumen menyadari
    adanya kebutuhan atau masalah yang memerlukan solusi, baik yang
    timbul dari kebutuhan mendesak maupun dorongan emosional untuk
    memiliki sesuatu.
  3. Evaluasi Penduduk: Konsumen membandingkan berbagai pilihan
    produk atau layanan yang tersedia berdasarkan kriteria tertentu, seperti
    kualitas, harga, fitur, atau merek, untuk menentukan mana yang paling
    sesuai dengan kebutuhannya.
  4. Keputusan pembelian: Konsumen membuat keputusan akhir untuk
    membeli produk atau layanan tertentu, berdasarkan keyakinan bahwa
    pilihan tersebut akan memberikan manfaat terbaik.
  5. Perilaku Pasca Pembelian: Konsumen menilai kepuasan mereka setelah
    menggunakan produk atau layanan, yang dapat memengaruhi
    keputusan pembelian Kembali.

Indikator-indikator keputusan pembelian


Ada beberapa Indikator-indikator pada keputusan pembelian, Indikator-
indikator tersebut adalah sebagai berikut: (36)

  1. Kemantapan pada sebuah produk, dimana konsumen merasa yakin
    terhadap pilihan produk yang diambil, percaya bahwa produk tersebut
    memiliki kualitas yang sesuai dengan harapan, serta mampu memenuhi
    kebutuhan dan keinginannya secara optimal.
  2. Kebiasaan dalam membeli produk, konsumen memiliki pola atau
    rutinitas tertentu dalam membeli suatu produk, menunjukkan preferensi
    yang konsisten terhadap merek atau jenis produk tertentu karena
    pengalaman yang positif sebelumnya.
  3. Memberikan rekomendasi pada orang lain, konsumen yang puas
    dengan suatu produk cenderung merekomendasikan produk tersebut
    kepada orang lain, seperti keluarga, teman, atau rekan kerja,
    berdasarkan pengalaman pribadi yang memuaskan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dalam membuat
keputusan pembelian, yaitu:

  1. Faktor Budaya (Cultural)
    a. Budaya (culture) merupakan Prinsip, keyakinan, dan kebiasaan yang
    dipegang oleh suatu masyarakat yang mempengaruhi cara orang
    berperilaku dan berinteraksi dengan produk dan layanan.
    b. Subkultur (subculture) adalah kelompok orang dalam masyarakat
    yang memiliki nilai dan perilaku yang berbeda dari budaya dominan,
    seperti etnisitas, agama, atau minat tertentu. Subkultur dapat
    mempengaruhi preferensi produk, seperti makanan atau pakaian.
    c. Kelas Sosial (social class) yaitu Pembagian masyarakat berdasarkan
    status ekonomi dan sosial. Kelas sosial dapat memengaruhi cara
    konsumen berinteraksi dengan merek dan jenis barang yang di beli.
  2. Faktor Sosial (Social)
    a. Grup Referensi (Reference Groups) yaitu kelompok orang yang
    mempengaruhi sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh
    kelompok referensi. Konsumen cenderung mengikuti merek atau
    produk yang disarankan oleh teman, rekan kerja, atau orang-orang
    terkenal.
    b. Keluarga (Family) dimana anggota keluarga, seperti orang tua,
    pasangan, atau anak, sering kali memengaruhi apa yang dibeli dan
    digunakan, atau diskusi yang melibatkan keluarga untuk
    mendapatkan keputusan bersama dalam keluarga.
    c. Peran Sosial dan Status Sosial (Social Roles and Statuses) yaitu
    Posisi seseorang dalam suatu kelompok mengacu pada peran sosial
    mereka, sedangkan status sosial adalah penghargaan yang diberikan
    kepada mereka dalam masyarakat.
  3. Faktor Pribadi (Personal)
    a. Usia dan Tahap Dalam Siklus Kehidupan (Age, Stage in The Life
    Cycle), dimana usia konsumen memengaruhi jenis produk yang
    mereka beli. Misalnya, orang muda mungkin memiliki kebutuhan
    dan preferensi yang berbeda dari orang yang sudah berkeluarga atau
    sudah pensiun.
    b. Pekerjaan (Occupation), ialah Pendapatan, waktu luang, dan
    berbagai kebutuhan dipengaruhi oleh pekerjaan, yang berdampak
    pada keputusan pembelian.
    c. Kondisi Ekonomi (Economic Circumstances), yaitu Kemampuan
    dan keinginan konsumen untuk membeli barang tertentu dipengaruhi
    oleh kondisi ekonomi pribadi mereka, seperti penghasilan dan
    pengeluaran.
    d. Gaya Hidup (Lifestyle), Keputusan pembelian dapat dipengaruhi
    oleh aktivitas, minat, dan pendapat seseorang. Orang yang sering
    berolahraga, misalnya, mungkin lebih cenderung membeli pakaian
    olahraga.
    e. Kepribadian dan Konsep Diri (Personality and Self Concept) Cara
    seseorang berperilaku dan cara mereka melihat diri mereka sendiri
    mempengaruhi pilihan mereka untuk produk tertentu

Definisi Keputusan pembelian


Keputusan pembelian merupakan proses evaluasi dalam proses
pengambilan keputusan konsumen, pada tahap ini konsumen
membandingkan dan menilai berbagai merek dalam kelompok pilihan
mereka, membentuk preferensi terhadap merek tertentu, dan
mengembangkan niat untuk membeli merek yang paling disukai dan yang
memenuhi kriterianya
Keputusan pembelian ialah hasil dari rangkaian proses pencarian
informasi dan evaluasi alternatif yang mencakup berbagai faktor pilihan
penting yang dipertimbangkan konsumen, seperti menentukan jenis produk
yang sesuai dengan kebutuhan, memilih merek yang dianggap paling
terpercaya atau sesuai dengan preferensi, mempertimbangkan model atau
varian yang memiliki fitur terbaik, memilih dealer atau penjual yang
menawarkan harga dan pelayanan terbaik, serta menentukan metode
pembayaran yang paling nyaman dan aman bagi konsumen (35).
Pada produk fashion Urban & Co, keputusan pembelian konsumen
melibatkan serangkaian evaluasi yang menyeluruh, di mana konsumen
mempertimbangkan beberapa faktor penting. Konsumen akan mencari
informasi mengenai kualitas, desain, dan tren produk Urban & Co, yang
dikenal dengan produk lokal berkualitas tinggi dan desain fashion terkini.
Pada proses evaluasi, konsumen membandingkan produk brand Urban & Co
dengan brand lain untuk menentukan apakah brand ini sesuai dengan
preferensi dan kebutuhan fashion mereka.
Urban & Co yang memiliki reputasi baik di pasar lokal dapat
memengaruhi preferensi konsumen melalui kepercayaannya sebagai merek
yang menawarkan produk modis, berkualitas, dan terjangkau. Selain itu,
harga yang kompetitif, dan layanan yang memuaskan dari pihak penjual
juga menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian konsumen. Semua
faktor ini dapat membentuk niat konsumen untuk memilih Urban & Co
sebagai merek fashion yang paling memenuhi harapan mereka dalam
memenuhi kebutuhan fashion yang berkualitas

Pengaruh Online Customer Review Terhadap Minat Beli Ulang


Hasil analisis yang dapat di temukan pada penelitian ini adalah
online customer review memiliki pengaruh positif terhadap minat beli ulang
produk pada marketplace instagram. Hal ini menggambarkan bahwa ada
besar tingkatan online customer review dalam melakukan penjualan
produk. Salah satunya dengan adanya fitur online customer review yang
telah banyak menarik banyak perhatian dari akademisi maupun masyarakat
sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap minat beli ulang
suatu produk. online customer review dapat menjadi alat promosi yang
ampuh untuk komunikasi pemasaran. online customer review memiliki
dampak signifikan kepada kegunaan online customer review yang pada
akhirnya akan mempengaruhi minat beli ulang konsumen.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Riski Deni
Irawan, R.A Nurlinda (2023) yang menyatakan bahwa online customer
review berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang
konsumen

Pengaruh Kredibilitas Influencer Terhadap Minat Beli Ulang


Hasil analisis yang dapat di temukan pada penelitian ini adalah
kredibilitas influencer memiliki pengaruh positif terhadap Minat Beli Ulang
produk pada marketplace instagram. Hal ini menggambarkan bahwa besar
tingkatan kredibilitas influencer dalam melakukan promosi produk pada
marketplace Instagram akan mempengaruhi besar minat beli ulang
konsumen. Hal ini menunjukan bahwa dimasa saat ini dengan adanya
marketplace instagram dan opsi influencer yang memiliki kerjasama dengan
sebuah brand atau toko untuk melakukan promosi dimedia sosial akan
berdampak besar untuk sebuah produk. Influencer memiliki pengaruh
terhadap audiens untuk meningkatkan penjualan, jangkauan, dan hubungan
pelanggan (Sudha & Sheena, 2017).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Holila Hatta,
Ranga Andrenanus (2019) yang menyatakan bahwa Kredibilitas Influencer
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Beli Ulang konsumen

faktor minat beli konsumen

Menurut (Kotler,2008), faktor-faktor yang membentuk minat beli
konsumen adalah sebagai berikut:

  1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
    disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu intensitas sifat negatif
    orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi
    konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
  2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat
    mengubah pendirian konsumen dalam melakukan proses pembelian. Hal
    tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya
    diri dalam memutuskan pembelian suatu barang atau tidak.

Minat Beli Ulang


Minat merupakan gambaran perilaku yang terlihat dalam bentuk
tindakan seseorang terhadap suatu objek yang mencerminkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian (Kotler 2005:15). Minat Beli
merupakan suatu tindakan perilaku konsumen yang berasal dari respon
akan adanya objek yang menunjukan adanya keinginan dalam membeli
suatu produk pada perusahaan (Kotler & Keller, 2013:137). Ketika
seseorang merasa puas kepada suatu produk yang pernah dibelinya maka
akan terjadi pembelian kembali atau pembelian berulang, baik sebanyak
dua kali atau lebih teratur (Prawira et al., 2019).
Menurut Kotler dan Kevin (2012:244) menjelaskan bahwa minat
beli ulang merupakan suatu tindak perlakuan konsumen dalam bentuk
dorongan sebagai mana melaksanakan pembelian kembali tentang suatu
produk karena konsumen telah merasa puas dengan kegiatan pembelian
sebelumnya sehingga menimbulkan keputusan untuk melakukan pembelian
secara teratur atau dapat dikatakan pembelian kembali. Minat beli ulang
merupakan keinginan konsumen dalam melakukan pembelian dimasa
mendatang berdasarkan adanya pengalaman yang telah mereka dapatkan
dimasa lampau (Anggraeni et al.,2015). Keinginan konsumen dalam minat
beli ulang didasarkan adanya rasa puas terhadap produk tersebut yang
dikarenakan produk telah memenuhi harapan dari konsumen.
Menurut (Kotler & Keller, 2021) minat beli ulang diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Minat Transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli ulang
    suatu produk.
  2. Minat Refrensial yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
    produk kepada orang lain.
  3. Minat Preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseoang
    yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
    dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
  4. Minat Eksploratif yaitu minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang
    selalu mencari informasi-informasi mengenai produk yang diminatinya dan
    mencari informasi untuk mendukung sikap-sikap positif dari produk
    tersebut

faktor online customer review

Menurut Hidayati (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi online
customer review adalah sebagai berikut:

  1. Keputusan dalam memutuskan pembelian produk.
  2. Isi review konsumen lain yang memberikan pengaruh dalampemilihan
    produk.
  3. Kesesuaian informasi suatu produk atas pengetahuan konsumen.
  4. Kesesuaian review yang diberikan oleh sesama konsumen.
  5. Penilaian produk yang diberikan oleh konsumen pasca pembelian.
    22
  6. Pertimbangan review terkini yang diberikan oleh konsumen atas suatu
    produk

Indikator online customer review

Indikator
online customer review sebagai berikut:

  1. Perceived Usefulness (Manfaat yang dirasakan)
    Konsumen mendapatkan manfaat yang dirasakan dengan adanya online
    customer review yang ada pada situs belanja online. Item yang
    digunakan untuk indikator ini adalah online customer review membuat
    konsumen lebih mudah pada saat berbelanja online dan online customer
    review juga membuat konsumen lebih mudah untuk mencari serta
    menemukan berbagai informasi terkait produk tersebut.
  2. Argument Quality ( Kualitas Argumen)
    Kualitas argumen mengacu pada kekuatan persuasif argumen yang
    terkait dengan suatu informasi. Item yang digunakan dalam indikator ini
    adalah review pada produk Ms Glow memberikan informasi mengenai
    kelebihan dan kekurangan produk yang diulas dari konsumen yang
    sudah membeli dan menggunakan produk Ms Glow dan dari ulasan
    tersebut juga akan membantu calon konsumen dalam menentukan
    keputusan pembelian.
  3. Valensi (Nilai)
    Valensi atau nilai mengarah kepada karakteristik positif atau negatif dari
    sebuah peryataan informasi dapat membawa pengaruh penting dalam
    sikap konsumen yang pada akhirnya akan mempengaruhi keputusan
    pembelian. Item yang digunakan untuk indikator ini adalah review
    produk Ms Glow memberikan informasi yang benar, memberikan
    gambaran yang lengkap mengenai produk secara keseluruhan, review
    yang positif dapat mempengaruhi pendapat konsumen terhadap suatu
    produk dan apabila terdapat review negatif maka konsumen akan mencari
    alternatif produk lain.
  4. Volume of Review (Jumlah Ulasan)
    Jumlah dari ulasan dapat mempresentasikan angka dari konsumen yang
    tertarik dengan pembelian sebelumnya atau dengan pengalaman konsumen
    sebelummnya mengenai suatu produk. Item yang digunakan pada
    indikator ini adalah semakin banyak jumlah review positif maka akan
    semakin baik reputasi dari sebuah produk tersebut.
  5. Source Credibility (Kredibilitas Sumber)
    Kredibilitas sumber adalah persepsi penerima informasi mengenai keahlian
    sumber dan kepercayaan terhadap suatu informasi. Source credibility
    adalah fitur online customer review yang disediakan oleh instagram pada
    akun Ms Glow dan kepercayaan terhadap review yang diberikan oleh para
    konsumen yang sudah membeli produk tersebut

Kredibilitas Influencer


Kredibilitas (Kredibility) memiliki makna yang cukup luas, namun
kata tersebut biasanya digunakan untuk seseorang yang bisa dipercaya dan
memiliki tanggung jawab. Menurut Shimp (2014) kredibilitas adalah hal
yang mengacu kepada kepercayaan terhadap seseorang. Sedangkan
menurut Aristoteles, kredibilitas adalah komunikator yang memiliki
kekuatan dari karakter pribadinya, sehingga mampu mengendalikan emosi
pendengarnya. Sehingga dari penjelasan para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa kredibilitas adalah persepsi seseorang yang berasal dari sifat-sifat
yang melekat pada orang tersebut.
Menurut Shimp (2014) Influencer merupakan seseorang yang
perkataanya dapat mempengaruhi orang lain. Seorang influencer tidak
hanya harus selebriti, tetapi orang biasa pun dapat dikatakan sebagai
influencer jika orang tersebut memiliki pengikut yang banyak dan
perkataanya dapat mempengaruhi orang lain. Andapun alasan influencer
digunakan oleh perusahaan adalah untuk meningkatkan awareness,
mengedukasi target penjualan, meningkatkan followers dan tentunya untuk
meningkatkan penjualan. Menurut Jin dan Phua (2014) Jumlah pengikut
yang tinggi menyiratkan bahwa banyak orang yang tertarik pada akun
tertentu, misalnya mereka yang berlangganan pembaruannya. Orang-orang
juga mengandalkan syarat ini untuk menilai popularitas seseorang
pengguna yang dianggap lebih menarik, ekstrovet, dapat dipercaya, mudah
didekati dan memiliki karakteristik yang diinginkan secara sosial. Dengan
demikian tampaknya masuk akal bahwa konsumen melihat influencer
sebagai sumber yang berharga atas informasi yang disampaikan. Namun
sebaliknya hasil dari fakta, menunjukan bahwa konsumen melihat
influencer sebagai sumber yang berharga atas informasi yang disampaikan
bukan hanya sekedar memanfaatkan kepopularitasnya saja. Andapun
tujuan umum influencer sebagai berikut:

  1. To Inform
    Tujuan umum pertama influencer adalah untuk memberitahu dan
    membantu audiens untuk memperoleh suatu informasi yang belum
    dimiliki.
  2. To Persuade
    Tujuan umum kedua influencer adalah membujuk, maka pembicara
    akan berusaha untuk membuat audiens menerima sudut pandangnya
    atau meminta untuk mengadopsi perasaan dan perilakunya.
  3. To Entertain
    Tujuan umum ketiga influencer adalah menghibur, konten iklan yang
    informatif dan persuasif difokuskan pada hasil akhir dari proses
    periklanan, sementara hiburan difokuskan pada kesempatan untuk
    menarik perhatian audiens dengan penampilanya dalam
    menyampaikan suatu informasi.
    Berdasarkan penelitian Menurut Shimp (2014) menjelaskan bahwa
    kredibilitas influencer terdiri atas 3 dimensi yaitu trustworthiness
    (kepercayaan), expertise (keahlian), dan attractiveness (daya tarik).
  4. Trustworthiness (Kepercayaan)
    Kepercayaan adalah sifat dipercayanya sumber oleh audiens, dimana hal
    ini memberitahukan sejauh mana penerima pesan memandang sumber
    terkait hal kejujuran, ketulusan, atau keberanian (AlFarraj et al.,
    2021). Kepercayaan mengacu pada tingkat kepercayaan selebriti tentang
    merek, integritas dan kejujuran yang dirasakan konsumen (Sukarno,
    Ahmad, & Mastina, 2022). Konsumen memiliki standart dan harapan
    tersendiri terhadap suatu produk yang harus dipenuhi, sehingga
    kepercayaan adalah kepercayaan pada merek konsumen terhadap suatu
    produk tersebut (Nisa, 2019). Dapat disimpulkan bahwa kepercayaan
    adalah kemampuan yang menunjukan kejujuran, integritas dan
    kepercayaan dalam menyampaikan informasi.
  5. Expertise (Keahlian)
    Keahlian adalah keahlian sumber dalam memberikan kualifikasi dan
    pengetahuan dalam membuat penilaian terkait suatu topik/subjek juga
    dapat mengarah ke pengalaman yang terlihat dimiliki sumber (AlFarraj et
    al., 2021). Keahlian mengukur sejauh mana selebriti dianggap
    berpengetahuan luas, terampil, dan akrab untuk mempengaruhi orang-
    orang untuk melihat suatu produk (Sukarno et al. 2022). Influencer
    dianggap sebagai keahlian pada bidang tertentu, menghasilkan dukungan
    merek yang lebih tinggi dari pada seorang influencer tanpa keahlian (Ha
    & Lam, 2017). Dapat disimpulkan bahwa keahlian adalah pengetahuan
    yang dimiliki oleh seorang influencer akan merek yang sedang
    diiklankan.
  6. Attractiveness (Daya Tarik Fisik)
    Dimensi daya tarik menunjukan daya tarik mengenai fisik atau sifat
    disenangi sebagai sumber penyampaian informasi (AlFarraj et al, 2021).
    Daya tarik berkaitan dengan penampilan seperti kecantikan atau
    keanggunan, penggunaan pakaian dan aksesoris (Sukarno et al.,2022).
    Seorang selebriti dapat menarik karena dia telah membangun citra popular
    dikalangan masyarakat. Daya tarik cenderung meningkatkan persuasi
    terhadap pelanggan karena mereka ingin menjadi seperti selebriti (Ha &
    Lam, 2019). Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
    daya tarik adalah daya tarik fisik ditransmisikan melalui seseorang yang
    dapat ditunjukan melalui penampilan, keanggunan, dan kecantikan wajah

Pengertian Theory of Planned Behavior (TPB)


Menurut Azjen (2013) Theory of Planned Behavior (TPB) memiliki
dasar pada asumsi manusia berperilaku dengan menghitungkan informasi
yang ada dan secara eksplisit maupun implisit mempertimbangkan akibat
dari tindakan mereka. Teori ini memiliki pondasi terhadap perpektif
kepercayaan yang mampu mempengaruhi
seseorang untuk melaksanakan tingkah laku yang spesifik.
Perpektif kepercayaan dilaksanakan melalui penggabungan beraneka
ragam karakteristik, kualitas dan atribut atas informasi tertentu kemudian
membentuk kehendak dalam bertingkah laku (Ajzen,2013). Niat dan
perilaku dalam teori ini merupakan fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu
satu sifat pribadi, satu akibat pengaruh sosial, dan yang terakhir berkaitan
dengan masalah control. Determinan pertama yang menyangkut sifat
pribadi adalah faktor sikap (attitude) yang merupakan pandangan individu
terhadap suatu perilaku, yang kedua adalah dorongan serta tekanan sosial
orang-orang di sekitar untuk melakukan atau tidak melakukan suatu
perilaku determinan kedua ini di sebut juga dengan norma subjektif
(subjektive norm) dikarenakan berhubungan dengan pengaruh normative
yang dirasakan. Determinan ketiga dari niat adalah kemampuan menilai
tinggi diri sendiri, atau disebut persepsi kontrol perilaku (perceived
behavioral control) Ajzen (2013) menyatakan bahwa niat diasumsikan untuk
menangkap motivasi untuk melakukan sesuatu. Niat tersebut sendiri juga
merupakan faktor mengidentifikasi seberapa besar kemauan, usaha serta
upaya untuk melakukan suatu perilaku. Semakin tinggi niat seseorang,
maka akan semakin besar kemungkinan perilaku yang akan dilakukan
berada dalam kehendak dan kendali perilaku tersebut. Menurut Ajzen
(2010) melalui Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukannya,
menjelaskan bahwa intense (niat) adalah fungsi dari 3 determinan dasar,
yaitu :

Persepsi Pengendalian Perilaku (perceived behavioral control),
merupakan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau
menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan persepsinya tentang
seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat perilakunya
tersebut (perceived power)

Sikap Berperilaku (attitude to ward the behavior), merupakan keyakinan
individu akan hasil dari suatu perilaku dan evaluasi atas hasiltersebut.

Norma Subjektif (subjective norm), merupakan keyakinan tentang
harapan normative orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan
tersebut.

Indikator Keputusan Pembelian

Terdapat lima indikator utama yang digunakan untuk memahami proses
pemecahan masalah dalam aktivitas konsumen saat membeli barang atau jasa
(Dewi et al., 2020). Berikut adalah penjelasan dari setiap indikator :

  1. Recognition of Needs and Desires
    Proses ini dimulai ketika konsumen menyadari adanya kebutuhan atau
    keinginan yang belum terjawab. Tahap ini menjadi langkah awal dalam
    pengambilan keputusan, di mana konsumen mengidentifikasi kesenjangan antara
    situasi saat ini dan apa yang mereka inginkan. Misalnya, individu yang merasa
    rambutnya kering mungkin akan mulai mencari produk perawatan rambut yang
    cocok.
  2. Looking for Information
    Setelah mengidentifikasi kebutuhan, konsumen akan mulai mencari
    informasi mengenai produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
    Informasi ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti internet, testimoni
    pelanggan, saran dari teman, atau iklan. Pada tahap ini, konsumen berusaha untuk
    mengumpulkan informasi yang selengkap mungkin agar dapat membuat
    keputusan yang tepat.
  3. Valuation of Purchase Alternatives
    Konsumen kemudian mengevaluasi berbagai pilihan produk atau jasa
    berdasarkan kriteria tertentu, seperti harga, kualitas, merek, atau fitur. Evaluasi
    ini membantu konsumen mempersempit pilihan mereka dan menentukan opsi
    terbaik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  4. Purchase Decision
    Setelah mengevaluasi alternatif, konsumen akan mengambil keputusan
    untuk membeli produk atau jasa tertentu. Keputusan ini dipengaruhi oleh faktor-
    faktor seperti persepsi terhadap merek, pengalaman sebelumnya, dan promosi
    yang ditawarkan.
  5. Behavior After Purchasing
    Tahap akhir dari proses pembelian adalah evaluasi perilaku konsumen
    setelah transaksi. Pada fase ini, konsumen menilai apakah produk atau layanan
    yang mereka beli sesuai dengan ekspektasi yang dimiliki. Apabila konsumen
    merasa puas, mereka cenderung untuk melakukan pembelian kembali atau
    merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain. Di sisi lain, jika
    konsumen merasa tidak puas, hal ini dapat memicu keluhan atau keputusan untuk
    tidak melakukan pembelian di masa mendatang

Purchase Decision


Keputusan pembelian merupakan bentuk dari kepercayaan konsumen
terhadap perusahaan, dengan mempertimbangkan segala resiko yang ada,
perusahaan dapat meyakinkan konsumen terhadap produk perusahaan.
Keputusan pembelian adalah tahap di mana konsumen mengenali adanya
masalah, mencari informasi mengenai produk, dan mengevaluasi seberapa baik
setiap alternatif dapat menyelesaikan masalah tersebut. Proses ini akhirnya
mengarah pada pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian (Dewi et al.,
2020).

Indikator Kepercayaan

Adapun indikator yang membangun Kepercayaan pelanggan yang dapat
diukur melalui tiga dimensi utama menurut (Nguyen et al., 2013), adalah sebagai
berikut:

  1. Reliability
    Konsep keandalan berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam
    menyajikan produk atau layanan dengan konsistensi dan ketepatan waktu, sesuai
    dengan janji yang telah dibuat kepada pelanggan. Pelanggan mengharapkan
    adanya kepastian bahwa perusahaan dapat diandalkan untuk memenuhi
    kebutuhan dan ekspektasi mereka tanpa adanya kesalahan. Aspek-aspek yang
    termasuk dalam keandalan meliputi pengiriman yang tepat waktu, kualitas
    produk yang konsisten, dan komitmen perusahaan dalam memenuhi janji kepada
    pelanggan.
  2. Integrity
    Integritas mencerminkan sifat jujur, transparan, dan etis dari perusahaan
    dalam berinteraksi dengan pelanggan. Perusahaan yang memiliki tingkat
    integritas tinggi akan berkomunikasi secara terbuka dan jujur, menjaga
    kepercayaan pelanggan, serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang
    diterima secara umum. Dimensi ini juga mencakup perlakuan adil terhadap
    pelanggan, penyampaian informasi yang jelas, serta konsistensi antara
    pernyataan dan tindakan perusahaan.
  3. Competence
    Kompetensi menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memberikan
    solusi yang efektif dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sebuah
    perusahaan yang dianggap kompeten biasanya memiliki karyawan yang terampil
    dan berpengetahuan, proses operasional yang efisien, serta kemampuan untuk
    menangani masalah atau tantangan yang mungkin muncul. Selain itu, kompetensi
    juga mencakup aspek inovasi, adaptabilitas, dan kemampuan perusahaan untuk
    terus berkembang seiring dengan perubahan kebutuhan pelanggan dan dinamika
    pasar

Customer Trust


Kepercayaan konsumen menjadi salah satu faktor utama untuk pelanggan
membuat keputusan pembelian. Dengan tingkat kepercayaan yang tinggi
konsumen dapat mempengaruhi pelanggan untuk membuat keputusan pembelian
produk perusahaan. Konsumen tidak akan melanjutkan transaksi jika mereka
tidak memiliki kepercayaan terhadap penjual. Kepercayaan ini menjadi elemen
fundamental dalam interaksi antara konsumen dan penjual, baik di lingkungan
offline maupun online. Kepercayaan terhadap penjual ditentukan oleh beberapa
dimensi, termasuk kejujuran, kemampuan, kompetensi dan pengakuan. Di
samping itu, kepercayaan dari pelanggan sangat berpengaruh dalam menciptakan
hubungan yang berkomitmen dengan merek. Teori pertukaran sosial juga
mengindikasikan bahwa pelanggan lebih cenderung berinteraksi dengan
perusahaan yang mereka percayai (Kam et al., 2016)

Indikator Live Streaming

indikator-indikator menurut
(Chandrruangphen et al., 2022):

  1. Kualitas Produk
    Salah satu faktor terpenting yang memengaruhi kepercayaan konsumen
    adalah kualitas produk yang ditawarkan selama sesi live streaming. Ketika
    konsumen merasa bahwa produk yang dipromosikan memiliki kualitas yang baik
    dan sesuai dengan deskripsi yang diberikan, mereka cenderung lebih percaya
    pada penjual. Kualitas produk yang tinggi menciptakan kesan positif dan
    meningkatkan keyakinan konsumen bahwa produk tersebut layak untuk dibeli.
  2. Transparansi Harga
    Kejelasan informasi mengenai harga produk juga menjadi elemen penting
    dalam membangun kepercayaan. Konsumen akan merasa lebih yakin jika harga
    yang ditampilkan selama live streaming disampaikan dengan jujur tanpa adanya
    biaya tersembunyi. Transparansi ini menunjukkan bahwa penjual bersikap
    terbuka dan tidak mencoba untuk menyesatkan konsumen, sehingga mendorong
    rasa percaya.
  3. Citra Penjual
    Reputasi atau citra penjual memainkan peran penting dalam memengaruhi
    kepercayaan konsumen. Penjual yang terlihat profesional, ramah, dan dapat
    diandalkan akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari audiens. Meskipun
    pengaruh citra penjual terhadap kepercayaan tidak sekuat kualitas produk atau
    transparansi harga, citra ini tetap menjadi salah satu faktor pendukung yang
    penting dalam proses membangun hubungan dengan konsumen.
  4. Pengumuman Waktu Siaran
    Memberikan informasi mengenai jadwal live streaming sebelumnya juga
    dapat meningkatkan minat konsumen untuk menonton. Ketika waktu siaran
    diumumkan dengan jelas, konsumen dapat mengatur jadwal mereka untuk
    mengikuti sesi tersebut, sehingga menciptakan ekspektasi positif terhadap
    pengalaman belanja yang akan mereka dapatkan. Hal ini juga menunjukkan
    profesionalism dari pihak penjual dalam mengelola acara live streaming.
    Indikator-indikator ini bekerja secara sinergis untuk menciptakan rasa
    percaya pada konsumen selama sesi live streaming, yang pada akhirnya dapat
    mendorong mereka untuk melakukan keputusan pembelian

Live Streaming


Platform media sosial selalu memiliki banyak sekali fitur fitur baru yang
di sediakan bagi perusahaan maupun pelanggan, dengan banyaknya fitur yang di
tawarkan untuk perusahaan. fitur live streaming merupakan salah satu fitur yang
banyak di gunakan baik oleh perusahaan maupun oleh pelanggan. live streaming
pada platform belanja online menjadikan penghubung antara produk dan
konsumen, perilaku pembelian akhir konsumen didasarkan pada kepercayaan
konsumen terhadap produk dan kepercayaan pada rekomendasi yang di berikan
oleh streamer (Wu & Huang, 2023). Live Streaming memiliki fungsi yang mirip
dengan perilaku impulse buying, di mana pembeli cenderung melakukan
pembelian tanpa perencanaan. Peluang ini semakin besar ketika menggunakan
aplikasi digital seperti TikTok, yang menyediakan fitur live streaming shopping
untuk memfasilitasi interaksi langsung antara penjual dan pembeli (Kalemben et
al., 2023).

Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) Terhadap KeputusanPembelian


Penelitian sebelumnya, sebagaimana disampaikan oleh Ratnaningsih
(2022), menegaskan bahwa fear of missing out memiliki pengaruh positif dan –
signifikan, baik secara parsial maupun simultan, terhadap keputusan pembelian
konsumen. Temuan serupa juga dikemukakan oleh Syafah dan Santoso (2022),
yang menunjukkan bahwa fear of missing out memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Hubungan Influencer Marketing Terhadap Keputusan Pembelian


Influencer Marketing adalah teknik pemasaran yang memanfaatkan
media sosial untuk mendapatkan lebih banyak manfaat kampanye yang efektif
(Hariyanti & Wirapraja, 2018). Ini melibatkan influencer atau individu dengan
mempengaruhi konsumen untuk meningkatkan penjualan dan membina
hubungan konsumen (Lengkawati & Saputra, 2021). Influencer Marketing
diklasifikasikan dalam kategori kelompok referensi karena hal itu dapat secara
langsung atau tidak langsung mempengaruhi perilaku dan sikap individu
(Kotler, 2015). Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan lainnya
Influencer Marketing (X) Fear of Missing Out (FoMO) (Z)
sering digunakan oleh perusahaan dan organisasi untuk bertindak sebagai endorser
dan bahkan duta merek ketika melakukan pemasaran produk (Amalia & Sagita,
2019). Dalam ranah influencer, terdapat indikator daya tarik yang dapat
mempengaruhi keputusan pelanggan atau pengikut, mengarahkan mereka untuk
secara konsisten menikmati konten yang dibuat oleh influencer. Itu minat
audiens atau pengikut terhadap influencer dengan daya tarik yang kuat dapat
membentuk konsumen perilaku, sifat, keyakinan, minat, dan preferensi (Shimp,
2013). Hal ini pada gilirannya dapat berdampak keputusan konsumen dalam
membeli produk. Indikator kedua berkaitan dengan sifat dapat dipercaya,
meliputi kejujuran dan integritas seorang influencer (Shimp, 2007).). Seorang
influencer dengan level tinggi keahlian dapat mempengaruhi keputusan
pembelian secara signifikan (Chan, Ng, & Luk, 2013). Pengikut, yang pada
dasarnya adalah konsumen, mengambil keputusan pembelian terhadap produk
yang dipromosikan oleh influencer.
Pada penelitian (Fathurrahman et al., 2021) ; (Uyuun & Dwijayanti,
2022) yaitu variabel influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan
pada keputusan pembelian. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh
Lengkawati dan Saputra (2021). Dalam penelitiannya, mereka menemukan
bahwa influencer marketing memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian
yaitu apabila suatu perusahaan meningkatkan penggunaan influencer marketing
maka keputusan pembelian konsumen pun akan mengalami peningkatan dan
demikian sebaliknya.
Sejalan dengan penelitian tersebut, penelitian yang dilakukan oleh H.P et
al.(2020) juga menemukan bahwa influencer marketing memiliki pengaruh
secara langsung dan signifikan terhadap keputusan pembelian

indikator keputusan pembalian
menurut Kotler & Armstrong (2016:188):
a. Pilihan produk. Dalam membeli produk dan tujuan yang lain, konsumen
harus mengambil keputusan. Dalam kasus ini perusahaan harus
meningkatkan perhatiannya kepada customer ataupun calon customer yang
berminat membeli produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
b. Pilihan merek. Merek sebuah memiliki perbedaan tersendiri, sehingga
membuat konsumen harus memilih dan mengambil keputusan tentang merek
yang akan dibeli. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui alasan
customer memilih sebuah merek.
c. Pilihan penyalur. Setiap konsumen dalam membeli produk pasti ada faktor-
faktor yang mempermudah seperti lokasi yang dekat, harga yang murah,
persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan
tempat dan lain-lain, dalam kasus ini perushaaan harus mengetahui alasan
customer pemilih sebuah penyalur.
d. Waktu pembelian. Dalam pemilihan waktu pembelian keputusan konsumen
menentukan waktu kapan membeli produk dan memprduksinya lalu
membelinya kembali, dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui kapan
customer akan membeli produk sesuai kebutuhannya
e. Jumlah pembelian. Dalam seberapa banyak produk yang akan di belanjakan,
konsumen juga dapat mengambil keputusan berapa banyak produk yang
dibeli untuk kebutuhan. Dalam kasus ini perusahaan harus mengetahui
berapa jumlah pembelian produk dalam satu kali beli.
f. Metode pembayaran. Dalam pembelian produk atau jasa, konsumen
mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan.
Dalam hal ini perusahaan perlu mengetahui metode pembayaran apa yang
biasa dilakukan oleh konsumen berupa cash atau transaksi rekening bank

Faktor Keputusan Pembelian


faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Hatane dalam (Menitulo Gohae et al.,2021), yaitu :Keputusan untuk membeli
dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan
tersebut dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat
digolongkan sebagai berikut:

  1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah diilih
    sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi
    (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan
    pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga).
  2. Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya
    pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
  3. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang
    sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran.
    Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discountharga, atau display produk.
  4. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat
    pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk
    pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah
    pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu
    pembelian

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut setiadi dalam (Darilsyah Mahmud et al.,2023), keputusan
pembelian adalah kegiatan pembelian sebagai pertukaran uang dengan barang atau
jasa. Sehingga menimbulkan kepuasan atau ketidakpuasan konsumen
berdasarkan umpan balik.
Lestari dan Saifuddin dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022) menyatakan
keputusan pembelian adalah kegiatan yang diantaranya berupa pemecahan
masalah yang dilakukan oleh individu dalam pemilihan alternatif. Perilaku dan
dianggap sebagai sikap yang paling tepat dalam membeli dengan mendahulukan
tahapan proses pengambilan keputusan.
Menurut Kotler dan Keller (2009) dalam jurnal Fatmawati dan Soliha
(2017) menyebutkan bahwa keputusan pembelian adalah suatu proses
penyelesaian masalah. Yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan,
keinginan, pencairan informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap
alternatif pembelian, kebutuhan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:188) Keputusan pembelian adalah
perilaku konsumen tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
Menurut Vrat dalam (Raeni Dwi Santy dan Reggina Andriani 2023)
Keputusan pembelian adalah sebagai proses pembelian, dan pembelian yang
efektif. Hal ini bertujuan untuk memperoleh bahan yang sesuai dalam jumlah
yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dari sumber daya yang tepat, pada waktu
yang tepat, dan harga yang tepat.
Menurut Santy, R. D., & Atika, S. D. (2020) bahwa keputusan pembelian
adalah ketika semakin tinggi pengetahuan produk, semakin tinggi pula frekuensi
pengambilan keputusan pembelian dan pengetahuan produk memiliki implikasi
besar terhadap keputusan pembelian

Indikator FoMO

Indikator FoMO menurut dari Pryzbylski, Murayama,
DeeHaan, & Gladwell (2013) karena dapat memberikan peneliti alat yang valid
dan terpercaya untuk mengukur FoMO dalam konteks influencer marketing
terhadap keputusan pembelian. Indikator ini tidak hanya relevan secara teoritis
tetapi juga memiliki aplikasi praktis yang signifikan dalam memahami dan
memanfaatkan perilaku konsumen yang dipengaruhi oleh FoMO. Berikut
indikator Pryzbylski, Murayama, DeeHaan, & Gladwell (2013) :
a. Takut (Fear)
Hal ini berkaitan dengan ketakutan emosional yang dialami ketika seseorang
merasa terancam oleh melewatkan momen atau peristiwa tertentu.
b. Khawatir (Worry)
Kekhawatiran muncul ketika seseorang mengamati orang lain berpartisipasi
dalam momen tertentu atau peristiwa dan pengalaman ketakutan.
c. Kecemasan (Anxiety)
Kecemasan bermanifestasi sebagai respons terhadap situasi tidak nyaman
ketika seseorang mengalami hal tersebut berpartisipasi atau tidak
berpartisipasi dalam suatu momen atau peristiwa

2.1.2.3 Aspek FoMO (Fear of Missing Out)
menurut dalam Przybylski, Murayama, DeHaan dan Gladwell dalam
(Kharisma Adzan Muhammad 2024), yaitu:
a. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan relatedness. Relatedness
adalah kebutuhan seseorang untuk merasakan perasaan tergabung,
terhubung, dan kebersamaan dengan orang lain. Kondisi seperti pertalian
yang kuat, hangat, dan peduli dapat memuaskan kebutuhan untuk
pertalian, sehingga individu merasa ingin memiliki kesempatan lebih
dalam berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap penting dan terus
mengembangkan kompetensi sosialnya dan apabila kebutuhan psikologis
akan relatedness tidak terpenuhi menyebabkan individu merasa cemas
dan mencoba mencari tahu pengalaman dan apa yang dilakukan oleh orang
lain salah satunya melalui internet.

b. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan kebutuhan psikologis akan
berkaitan dengan competencedan autonomy. Competence didefinisikan
sebagai keinginan yang melekat pada individu untuk merasa efektif
dalam berinteraksi dengan lingkungannya mencerminkan kebutuhan
untuk melatih kemampuan dan mencari tantangan yang optimal (Reeve &
Sickenius dalam Tekeng, 2015). Kebutuhan competence berkaitan dengan
keyakinan individu untuk melakukan tindakan atau perilaku tertentu
secara efisien dan efektif. Rendahnya kepuasan terhadap competence akan
memungkinkan individu merasa frustasi dan putus asa. Sementara
autonomy adalah pengalaman merasakan adanya pilihan, dukungan dan
kemauan yang berkaitan dengan memulai, memelihara dan
mengakhiri keterlibatan perilaku (Niemic, Lynch, Vansteenkistec,
Bernstein, Deci & Ryan dalam Tekeng, 2015).
2.1.2.4 Indikator FoMO (fear of Missing Out)
Tabel 2. 2 Tabel Indikator FoMO (fear of Missing Out)
No Nama Penulis Indikator
1
Menurut Beneke dalam (M
Arib Daffa Hisbullah 2023)
a. Ketergantungan pada Media Sosial
b. Perbandingan Sosial,
c. Kecenderungan Implusif
2.
Pryzbylski, Murayama,
DeeHaan, & Gladwell (2013)
a. Fear
b. Worry
c. Anxiety
3
Menurut Lutz dalam
konteks yang dikutip oleh
M. Arib Daffa Hisbullah et
al. (2023)
a. Kecemasan Sosial
b. Keinginan untuk Menjaga Status
Sosial
c. Pengaruh Lingkungan
d. Kebutuhan untuk Terlibat dalam
aktivitas Populer
Sumber: Hasil oleh penelitian, 2024

Faktor FoMO (Fear of Mmissing Out)


Menurut JWT Intelligence dalam (Kharisma Adzan Muhammad 2024)
menyebutkan ada enam faktor pendorong yang mempengaruhi munculnya
FoMO, yaitu keterbukaan informasi di media sosial, usia, social one-
upmanship, peristiwa yang disebarkan melalui fitur hashtag, kondisi deprivasi
relative, serta banyaknya dorongan untuk mengetahui suatu informas

Definisi FoMO (Fear of Missing Out)


Menurut Pryzbylski, Murayama, DeeHaan, dan Gladwell dalam (Darilsyah
Mahmud et al.,2023) menyatakan bahwa FoMO (Fear of Missing Out) adalah
mencerminkan ketakutan individu terhadap terputusnya dari peristiwa terkini dan
keinginan yang kuat untuk tetap terhubung dengan orang lain melalui media
sosial dan saluran komunikasi lainnya. Fenomena ini menggambarkan bagaimana
media sosial dapat menjadi alat yang kuat dalam mempertahankan dan
memperluas jaringan sosial, serta memenuhi kebutuhan akan interaksi dan
informasi yang terkini bagi penggunanya.
Menurut San et al., (2019) Fear of Missing Out (FoMO) adalah strategi
yang sering digunakan dalam e-commerce karena urgensi dan dampak hilangnya
sesuatu yang besar dalam mempengaruhi keputusan orang. Fear of missing out
juga merupakan istilah yang biasa digunakan kalangan muda untuk menyebut pola
perilaku yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan
tertinggal tren pergaulan yang terkini.
Menurut Lutz dalam (M Arib Daffa Hisbullah et al., 2023) menyatakan
fear of missing out adalah seseorang yang mengalami ketertarikan untuk membeli
produk atau layanan karena khawatir akan kehilangan kesempatan atau
pengalaman yang sedang populer dan diminati oleh orang lain. Fenomena ini
dapat mendorong seseorang untuk mengambil keputusan pembelian, meskipun
sebenarnya produk atau layanan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan atau
keinginan pribadi mereka. Hal ini menunjukkan bagaimana FoMO dapat
memengaruhi perilaku konsumen di era digital, di mana pengaruh dari media
sosial dan tren menjadi faktor yang signifikan dalam proses pembelian tersebut
sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pribadi mereka.
Meurut Suhartini dan Dwi Maharani (2023) Fear of Missing Out (FoMO)
adalah istilah yang menggambarkan rasa takut kehilangan kesempatan untuk
mengalami suatu kegiatan atau memiliki sesuatu yang dikira penting bagi
individu. Dalam dunia pemasaran, FoMO dapat memainkan peran penting dalam
memengaruhi perilaku konsumen dalam membuat keputusan pembelian.
Meurut Beneke dalam (Darilsyah Mahmud et al.,2023) menyatakan fear of
missing out adalah konsumen yang cenderung mengalami kesulitan dalam
memilih satu pilihan karena mereka ingin mencoba semua pilihan yang tersedia.
Hal menciptakan dorongan untuk terlibat secara lebih luas dan eksploratif dalam
berbagai kesempatan yang ada, karena ada rasa kekhawatiran bahwa memilih satu
pilihan akan menghilangkan kesempatan untuk mengalami atau memiliki yang
lainnya

Indikator Influencer

Indikator Influencer marketing dari
Shimp (2014) :

a. Daya tarik
Daya tarik, baik fisik maupun non fisik, seperti kepribadian atau watak,
berperan peranan penting dalam diri setiap individu. Shimp (2014)
mengkonsepkan daya tarik sebagai suatu sifat atau karakteristik dalam
kelompok tertentu. Penting untuk dicatat bahwa daya tarik lebih dari itu
penampilan fisik; konsumen juga mempertimbangkan ciri dan karakteristik
kepribadian pemberi pengaruh. Penampilan fisik juga merupakan atribut
penting, karena berkontribusi pada penampilan awal kesan yang dibentuk oleh
konsumen.
b. Dapat dipercaya
Kepercayaan didasarkan pada tingkat kejujuran, integritas, dan integritas
yang dirasakan individu keandalan. Influencer yang dapat membangun
kepercayaan dengan pengikutnya lebih mungkin untuk mempengaruhi
keputusan pembelian mereka (Shimp, 2007).
c. Keahlian
Indikator keahlian berkaitan dengan kemampuan, keterampilan,
pengetahuan, dan kapasitas untuk terhubung dengan merek yang mereka
promosikan (Shimp, 2007). Seorang influencer dengan substansial keahlian
dapat berdampak signifikan terhadap keputusan pembelian (Chan, Ng, & Luk,
2013)

Aspek Influencer Marketing


Menurut Solis dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022) terdapat beberapa
kategori aspek yang dapat dilihat dari seorang influencer, yaitu Reach,
Resonance, dan Relevance.

  1. Reach, berarti seberapa banyak pengikut atau follower yang memiliki
    engagement seperti like, share, retweet, comment, klik pada link URL, atau
    mengisi form pembelian pada postingan yang dibuat oleh influencer. .
  2. Resonance, berarti influencer berhasil mempengaruhi follower untuk
    meneruskan dan membagikan kembali konten yang dibuatnya. Sementara
  3. Relevance, berarti apakah influencer memiliki nilai, budaya, dan demografis
    yang sama dengan target konsumen dari produk tersebut

Definisi Influencer Marketing


Menurut Hariyanti dan Wirapraja dalam penelitian yang dikutip oleh
Darilsyah Mahmud et al. (2023:6), influencer adalah individu yang aktif di media
sosial dengan jumlah pengikut yang signifikan. Influencer memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi pengikutnya berdasarkan keahlian dan kemampuan yang
mereka miliki.
Menurut Ruly Kurniadi dan Aryo Wibisono (2024) Influencer adalah orang
atau tokoh media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak dimedia
sosialnya dan apa yang mereka katakan dapat mempengaruhi perilaku
pengikutnya. Influencer juga mereka yang memiliki pengaruh signifikan terhadap
media sosial. Orang –orang berpengaruh ini telah mendapatkan kepercayaan dari
rekan online mereka,dan pendapat mereka dapat berdampak besar pada reputasi
perusahaan.
Menurut Brown dan Hayes, dalam (Darilsyah Mahmud et al. 2023:6),
influencer adalah seseorang memiliki kemampuan untuk menciptakan konten
yang menarik dan memikat. Dengan keterampilan ini, mereka berhasil
menetapkan diri sebagai individu yang dapat memengaruhi audiens mereka.
Menurut Agustin dan Amron, dalam (Silpia Agustina et al. 2023:359),
sebagian besar pengguna media sosial saat ini secara aktif mengikuti konten
yang mereka lihat di platform tersebut. Hal ini menjadikan peran influencer
sangat penting bagi perusahaan dalam memasarkan produk mereka kepada para
pengguna.
Menurut Shimp dalam (Nikmatus Sholiqah dan Khusnul Fikriyah 2022),
influencer adalah individu yang dinilai berdasarkan tiga aspek utama: kepercayaan
(trustworthiness), keahlian (expertise), dan daya tarik (attractiveness).
Kepercayaan (trustworthiness) mengacu pada sejauh mana seorang influencer
dianggap jujur, memiliki integritas, dan dapat dipercaya. Keahlian (expertise)
mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang dimiliki oleh
seorang influencer yang berkaitan dengan konten yang dibuat atau
dipresentasikannya. Daya tarik (attractiveness) tidak hanya merujuk pada daya
tarik fisik, tetapi juga mencakup karakteristik positif yang dapat dilihat oleh
audiens, seperti sifat kepribadian, keterampilan intelektual, gaya hidup,
kecakapan khusus, dan lain sebagainya.
Menurut Menurut Joseph dalam (Isna Amelia Nurhamidah 2022)
menyatakan para influencer adalah berbagai elemen dalam aktivitas dari individu
yang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya di media sosial. Elemen tersebut
diantaranya motivasi pribadi, kemampuan pribadi, motivasi sosial, kemampuan
sosial, motivasi struktural, dan kemampuan struktural.
Menurut Wong dalam (Yodi H.P et al., 2020) Influencer marketing adalah
praktik yang sangat populer akhir-akhir ini. Praktik ini dapat didefinisikan
sebagai bentuk pemasaran yang melibatkan kegiatan mengidentifikasi dan
membangun hubungan dengan individu yang memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi calon pembeli.
Menurut Rossiter dan Percy (2021, dalam Alifa dan Saputri, 2022)
mengemukakan bahwa terdapat 4 indikator yang dapat mengukur influencer
marketing. Indikator tersebut yaitu visibility (popularitas), credibility
(kredibilitas), attractiveness (daya tarik), power (kekuatan).
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa influencer
marketing adalah strategi modern dalam pemasaran melalui media sosial. Para
influencer tidak hanya mempengaruhi pengikut mereka tetapi juga membantu
perusahaan dalam memasarkan produknya. Mereka memanfaatkan popularitas,
kredibilitas, daya tarik pribadi, dan kekuatan sosial mereka untuk memengaruhi
persepsi dan keputusan pembelian calon konsumen, menjadikan mereka mitra
yang berharga dalam mencapai tujuan pemasaran perusahaan

Pengaruh Keahlian Terhadap Niat Beli Konsumen


Beberapa konsumen lebih tertarik membeli produk yang di endorse oleh
seorang influencer yang memiliki tingkat pengetahuan dan pengalaman tentang
produk yang di endorse. Konsumen akan lebih cenderung mengembangkan
hubungan positif dengan influencer yang dianggap ahli di bidangnya (Lou, 2022).
Keahlian yang dimiliki influencer dapat membentuk tingkat keterlibatan
pelanggan dengan kuat dan mempengaruhi niat beli konsumen terhadap produk
yang dipromosikan (Alfarraj et al.,2021). Keahlian juga tidak hanya membentuk
tingkat kredibilitas influencer yang dirasakan tetapi juga membentuk perilaku
pembelian dan niat beli (Schouten et al., 2019).

Pengaruh Kepercayaan terhadap Niat Beli Konsumen


Kejujuran yang dimiliki oleh seorang influencer ketika mempromosikan
produk dapat memberikan kepercayaan kepada konsumen terhadap suatu produk
sehingga dapat meningkatkan niat beli konsumen terhadap produk. Sehingga
kepercayaan dari influencer yang melakukan endorsement memiliki peran penting
dalam mendorong niat beli konsumen (Yuan & Loui, 2020). Selain itu, influencer
yang selalu aktif membagikan konten informatif akan memperkuat emosional
pengikutnya dan mempengaruhi mereka secara positif untuk memperoleh produk
atau merek yang direkomendasikan (Ki et al., 2020). Influencer yang dapat
dipercaya akan lebih persuasif dan mendukung niat beli konsumen (Koay et al.,
2022). Niat beli dapat didefenisikan sebagai rencana sadar individu untuk
berusaha membeli suatu produk, karena niat beli mencakup probabilitas bahwa
konsumen berencana untuk membeli produk tertentu (Martiningsih & Setyawan,
2022).

Pengaruh Daya Tarik Terhadap Niat Beli Konsumen


Dalam dunia pemasaran digital saat ini, menciptakan kepercayaan
antara influencer dan pelanggan menjadi sangat penting. Influencer yang aktif
selalu menyapa pengikutnya melalui postingannya sehingga membuat pengikut
mereka terlihat seperti rekan (Erz et al., 2019). Influencer dengan fisik yang
menarik lebih menarik perhatian pengikut mereka (Ao et al., 2023). Attractiveness
merupakan faktor penting dalam penggunaan influencer untuk mendukung suatu
produk atau layanan. Attractiveness atau daya tarik merupakan defenisi dari
ketertarikan seorang konsumen yang mengarah pada fisik dan kepribadian
seorang influencer seperti daya tarik fisik yang cantik, ganteng, seksi, dan atletis
(Setiawan et al., 2022). Saat konsumen melihat sisi menarik dari seorang
influencer maka konsumen akan memihak produk dari influencer tersebut.
Influencer yang menarik secara fisik biasanya dipertimbangkan dalam melakukan
promosi produk karena memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan niat beli
konsumen. Niat beli konsumen mengacu pada perencanaan untuk membeli
sesuatu yang digunakan untuk masa depan. Niat beli adalah tindakan kognitif
dimana persepsi konsumen tentang suatu produk dianggap sebagai faktor yang
penting (Martiningsih & Setyawan, 2022)

Niat Beli


Niat beli diartikan sebagai rencana sadar dari konsumen untuk melakukan
upaya dalam membeli, karena niat beli mencakup probabilitas bahwa konsumen
berencana untuk membeli produk tertentu (Lou & Yuan, 2019). Niat beli adalah
kecenderungan dan keinginan dalam diri konsumen yang memotivasi konsumen
untuk membeli suatu produk atau jasa (Putri & Roostika, 2021). Seseorang akan
cenderung memiliki niat untuk melakukan sesuatu jika kegiatan tersebut adalah
hal yang disukai. Niat tersebut akan membentuk perilaku seseorang yang
berhubungan dengan niat pembelian. Konsumen berpandangan bahwa seorang
influencer umumnya merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya (Faizan
et al., 2019). Pandangan konsumen tentang kualitas keseluruhan suatu produk
atau layanan, yang berdasarkan pada niat beli, dapat menjadi faktor penentu dari
nilai produk atau layanan tersebut dan dapat mempengaruhi keputusan dan
loyalitas konsumen terhadap merek tersebut. Purchase intention timbul setelah
konsumen merasa tertarik dan ingin membeli produk yang dilihat (Nugroho et al.,
2022).
Pada konteks pemasaran influencer, penelitian sebelumnya telah
mengindikasikan bahwa sikap konsumen terhadap merek tertentu memiliki
dampak langsung terhadap niat pembelian. Pengambilan keputusan sebelum
melakukan niat pembelian juga harus mempertimbangkan beberapa faktor.
Menurut Ding et al., (2020) terdapat 5 faktor yang mendorong terjadinya
purchase intention: 1) Keinginan dalam mengetahui kejelasan produk, 2)
Mempunyai pertimbangan untuk membeli, 3) Ketertarikan untuk mencoba, 4)
Keinginan untuk mengenal produk lebih dalam, dan 5) Keinginan untuk memiliki
produk.

Keahlian Infuencer


Keahlian dari seorang influencer dalam melakukan endorsement
merupakan hal yang penting dalam meningkatkan minat pembelian. Menurut
Utami (2019) yaitu keahlian influencer akan sangat berpengaruh bagi minat
pembelian. Keahlian adalah sejauh mana seseorang dapat melihat influencer
sebagai orang yang berpengalaman, berpengetahuan, dan berkualitas
(Weismueller et al., 2020). Seorang influencer tidak akan dianggap memiliki
keahlian di bidang tertentu kecuali penggemarnya percaya padanya sebagai
seorang yang terampil, mahir, dan memiliki pengetahuan yang memadai
(Schouten et al., 2019). Keahlian seorang influencer akan mempengaruhi
pengaruh informasinya terhadap konsumen (Lin et al., 2019). Seorang endorser
yang dianggap sebagai ahli pada subjek tertentu lebih persuasif dalam mengubah
pendapat audiens yang berkaitan dengan bidang keahliannya daripada seorang
endorser yang dianggap tidak ahli (Gilal et al., 2020). Oleh karena itu, beberapa
perusahaan menggunakan influencer yang sering menonjolkan bidang keahlian
mereka di media sosial karena calon konsumen menganggap mereka menarik dan
ahli di bidang tertentu

Kepercayaan Influencer


Kekuatan kredibilitas adalah dimana seseorang yang tidak dikenal dapat
menjadi sumber terpercaya dalam proses pengambilan keputusan (Mainolfi et al.,
2021). Kepercayaan adalah kesan konsumen tentang presenter atau model yang
berkaitan dengan wataknya. Kepercayaan adalah seberapa tidak bias persepsi
penerima terhadap sumber (Abdullah et al., 2020). Trustworthiness adalah tingkat
kepercayaan penerima informasi pada sumber untuk menyampaikan pernyataan
(Rusdiana et al., 2020). Tingkat kejujuran atau kepercayaan dari endorser
bergantung pada persepsi audiens terhadap maksud endorser tersebut. Apabila
konsumen percaya bahwa seorang influencer memotivasi murni karena
kepentingan pribadi, maka endorser tersebut kurang persuasif, begitupun
sebaliknya (Gilal et al., 2020). Menurut Lou dan Yuan (2019) trustwothiness
seorang influencer merupakan sejauh mana pengikut mempercayai bahwa
influencer dapat dipercaya, yang tercermin dalam persepsi kejujuran,
ketergantungan, ketulusan, dan kepercayaan influencer. Kepercayaan membentuk
pikiran konsumen sebelum mereka mengkonsumsi produk karena pilihan yang
akan ditetapkan berawal dari tumbuhnya kepercayaan pada produk sehingga
mampu memberikan hal yang positif sesuai dengan apa yang konsumen harapkan
(Bilal & Achmad, 2023). Oleh karena itu, kepercayaan merupakan indikator yang
sangat penting untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Daya Tarik Influencer


Pada umumnya individu cenderung menyukai orang-orang yang mereka
senangi, cantik, atau tampan dan yang banyak memiliki kesamaan. Attractiveness
terdiri dari tiga dimensi, yaitu kesamaan, keakraban, dan rasa suka, yang artinya
influencer dianggap menarik bagi penerima jika mereka memiliki kesamaan atau
keakraban dengan influencer atau mereka menyukai influencer terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan dan keakraban atau tidak (Gilal et al., 2020).
(Annisa et al., 2020) menyatakan bahwa influencer yang kurang menarik akan
kalah dengan influencer yang memiliki daya tarik fisik. Namun, attractiveness
tidak hanya berfokus pada kecantikan fisik saja , tetapi juga kualitas lain seperti
kecerdasan, sifat kepribadian, dan gaya hidup (Olaosebikan, 2020). Influencer
yang memiliki daya tarik tinggi kemungkinan besar akan menarik perhatian dan
mendapatkan lebih banyak publisitas dari publik (Koay et al., 2021). Dengan
menggunakan influencer sebagai bintang iklan suatu produk, maka daya tarik
yang dimiliki oleh influencer tersebut menjadi dimensi penting bagi citra produk
yang diwakili, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen

Influencer


Influencer adalah seorang atau figure dalam kehidupan yang memiliki
jumlah pengikut yang banyak atau signifikan di media sosial dan sesuatu yang
mereka sampaikan dapat mempengaruhi para pengikutnya (Hariyanti & Wipraja,
2019). Influencer bisa dikatakan sebagai genre baru dalam dunia selebriti, yakni
seseorang yang mendapatkan popularitas dan memiliki pengaruh melalui berbagai
konten (video, foto, atau kata-kata) di seluruh platform media sosial (Hayman et
al., 2023). Influencer dapat melakukan proses transfer makna yang merangsang
minat dan mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk atau merek dan
pembelian (Magano et al., 2022). Menurut Pratiwi & Patrikha (2021), influencer
ialah seseorang atau tokoh yang berada dalam media sosial dan mempunyai
beberapa anggota followers yang berlimpah. Para influencer juga disebut sebagai
opinion leader yang dapat membangun kesadaran tertentu bagi para pengikutnya
melalui media sosial (Meifitri, 2020). Istilah beauty influencer pun hadir seiring
dengan meningkatnya kesadaran wanita dalam dunia kecantikan. Beauty
influencer merupakan influencer yang menyajikan konten kecantikan mulai dari
tutorial merias wajah, tips merawat kulit, mengulas produk kecantikan, hingga
vlog mengenai kehidupan pribadi (Haerunissa et al., 2019).
Seorang influencer harus memiliki kredibilitas dan pemahaman yang baik
terkait produk dari brand yang dipromosikan, selain dari menarik perhatian orang.
Kredibilitas merupakan suatu persepsi tentang bagaimana seseorang memiliki
keahlian tertentu dan pesan yang disampaikan dapat dipercaya oleh penerima atau
konsumen (Prayoga & Artanti, 2021). Credibility merupakan kejujuran dan
kepercayaan yang dimiliki dalam membuat konten iklan dan sama seperti yang
dipersepsikan oleh konsumen (Wilopo, 2021). Kredibilitas yang tinggi akan
mempermudah influencer dalam melakukan komunikasi pemasaran produk atau
merek (Alexander et al., 2020). Kredibilitas influencer terdiri dari tiga dimensi
yang mempengaruhi pesan untuk dapat diyakini dan mempunyai daya persuasi.
Menurut Ohanian (1990) dalam Geraldine & Candraningrum (2020)
mengembangkan kredibilitas menjadi tiga dimensi, yaitu attractiveness (daya
tarik), trustworthiness (kepercayaan), dan expertise (keahlian). Selanjutnya dia
menjelaskan bahwa ketiga dimensi tersebut, baik secara mandiri atau bersama-
sama, mempunyai kontribusi dalam mempengaruhi sikap audien terhadap iklan
dan niat beli.

Indikator keputusan pembelian

Menurut Kotler dan Armstrong dalam Pradana et al. (2017),
menyatakan bahwa terdapat empat indikator keputusan pembelian, yaitu:

  1. Kemantapan membeli setelah mengetahui informasi produk adalah
    dari konsumen setelah melakukan pembelian pada sebuah produk
    setelah mengetahui informasi yang baik dari sebuah produk tersebut.
  2. Memutuskan membeli karena merek yang paling disukai merupakan
    melakukan pembelian karena sebuah merek ternama.
  3. Membeli karena sesuai dengan keinginan dan kebutuhan.
    Merupakan konsumen yang membeli karena sebuah keinginan dan
    kebutuhan .
  4. Membeli karena mendapat rekomendasi dari orang lain merupakan
    pembelian dari rekomendasi teman atau keluarga untuk membeli
    produk tersebut.