Pada umumnya individu cenderung menyukai orang-orang yang mereka
senangi, cantik, atau tampan dan yang banyak memiliki kesamaan. Attractiveness
terdiri dari tiga dimensi, yaitu kesamaan, keakraban, dan rasa suka, yang artinya
influencer dianggap menarik bagi penerima jika mereka memiliki kesamaan atau
keakraban dengan influencer atau mereka menyukai influencer terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan dan keakraban atau tidak (Gilal et al., 2020).
(Annisa et al., 2020) menyatakan bahwa influencer yang kurang menarik akan
kalah dengan influencer yang memiliki daya tarik fisik. Namun, attractiveness
tidak hanya berfokus pada kecantikan fisik saja , tetapi juga kualitas lain seperti
kecerdasan, sifat kepribadian, dan gaya hidup (Olaosebikan, 2020). Influencer
yang memiliki daya tarik tinggi kemungkinan besar akan menarik perhatian dan
mendapatkan lebih banyak publisitas dari publik (Koay et al., 2021). Dengan
menggunakan influencer sebagai bintang iklan suatu produk, maka daya tarik
yang dimiliki oleh influencer tersebut menjadi dimensi penting bagi citra produk
yang diwakili, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen
