Menurut Seligman (2006) terdapat tiga dimensi dalam optimisme, yaitu
Permanensi, Permasiveness, Personalisasi :
a. Permanensi
Permanensi yakni ketetapan suatu peristiwa, pada dimensi ini kita
berbicara mengenai waktu. Individu yang mudah menyerah mempercayai bahwa
penyebab kejadian buruknya adalah permanen. Kejadian-kejadian buruk itu akan
terus berlangsung dan mempengaruhi kehidupan individu. Individu yang optimis
akan menanggapi peristiwa yang buruk itu hanya berlangsung sementara
(temporer). Penjelasan individu yang optimis terhadap peristiwa baik berbeda
dengan penjelasan optimis terhadap kejadian buruk. Individu yang optimis
terhadap kejadian baik menjelaskan kejadian-kejadian tersebut pada diri mereka
sendiri dengan penyebab-penyebab yang permanen seperti karakter, kemampuan
dan keinginan yang harus selalu tercapai. Individu yang percaya bahwa kejadian-
kejadian baik bersifat permanen akan berusaha keras setelah mencapai suatu
keberhasilan.
b. Pervasiveness
Pervasiveness yakni gambaran sebagai keluasaan suatu peristiwa yang
berkaitan dengan berbagai hal spesifik dan global. Individu yang memberikan
penjelasan-penjelasan yang secara umum untuk suatu kegagalan dan akan
menyerah pada berbagai hal saat individu mengalami suatu kegagalan, maka
individu inilah yang jika satu hal dalam hidupnya hancur, maka seluruh
kehidupannya terganggu, berbeda dengan individu yang optimis yang membuat
penjelasan-penjelasan spesifik yang mungkin terjadi, akan lebih mudah tahu
kapan mereka menjadi orang yang tidak berdaya atau lemah dalam hidupnya dan
kapan dirinya merasa kuat pada bagian kehidupan yang lain.
c. Personalisasi
Personalisasi merupakan sumber suatu peristiwa terjadi, baik secara
internal maupun eksternal. Ketika suatu hal buruk terjadi, individu bisa
menyalahkan diri sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau keadaan
(eksternal). Individu yang menyalahkan dirinya sendiri saat gagal akan
menyebabkan rasa penghargaan terhadap diri sendiri menjadi rendah. Individu
akan berfikir dirinya tidak berguna, tidak punya kemampuan, dan tidak dicintai.
Sebaliknya pada individu yang menyalahkan kejadian-kejadian eksternal tidak
kehilangan rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri saat kejadian buruk
menimpanya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa optimisme merupakan
bagaimana persepsi individu terhadap suatu kejadian yang nantinya akan
berpengaruh terhadap individu dalam memandang kejadian tersebut diwaktu yang
akan datang yang nantinya akan membentuk sikap optimis dalam diri individu.
Sikap optimis tersebut dibentuk melalui tiga dimensi yaitu Permanensi,
Permasiveness, Personalisasi sehingga akan mempengaruhi bagaimana individu
memandang suatu peristiwa atau kejadian
