Definisi Keputusan Pembelian


Menurut (Kumbara, 2021) keputusan pembelian merupakan sikap
konsumen dalam menentukan suatu pemilihan suatu produk untuk
mencapai kepuasan yang diinginkan. Keputusan pembelian adalah
tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk,
Kholidah dan Arifiyanto (2020).
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut maka dapat disimpulkan
keputusan pembelian merupakan hasil dari sikap konsumen terhadap
produk yang mereka anggap dapat memenuhi kebutuhan mereka, maka
akan terjadilah suatu keputusan dalam pembelian tersebut

Indikator sosial media marketing

Menurut Rumman dan Alhadid (2014) terdapat indikator yang ada
pada sosial media marketing yaitu:

  1. Online Communities, sebuah perusahaan atau bisnis dapat
    menggunakan media sosial untuk membangun komunitas di sekitar
    produk/bisnisnya. Komunitas yang hidup menciptakan loyalitas dan
    mendorong diskusi, yang dapat berkontribusi terhadap
    pengembangan dan peningkatan bisnis, Taprial dan Kanwar (2012).
  2. Interaction, sebuah halaman Facebook atau akun Twitter dapat
    memberi tahu semua pengikutnya mengenai subjek tertentu dengan
    cepat dan bersamaan. Situs jejaring sosial memungkinkan interaksi
    yang lebih besar dengan komunitas online melalui penyiaran
    informasi terkini yang relevan bagi konsumen Berselli et al. (2012).
  3. Sharing of Content, dimensi berbagi adalah tentang sejauh mana
    seorang individu mengubah, mendistribusikan, dan menerima
    konten dalam lingkungan media sosial Babac (2011).
  4. Accessibility, media sosial mudah diakses dan membutuhkan biaya
    yang minimal atau bahkan tanpa biaya untuk menggunakannya.
    Media sosial mudah digunakan dan tidak memerlukan keahlian
    khusus, pengetahuan untuk menggunakannya Taprial dan Kanwar,
    (2012).
  5. Credibility, ini adalah tentang menyampaikan pesan Anda dengan
    jelas kepada orang-orang, membangun kredibilitas untuk apa yang
    Anda katakan atau lakukan, terhubung secara emosional dengan
    audiens target Anda, memotivasi pembeli dan menghasilkan
    pelanggan yang loyal. Media sosial menyediakan platform yang
    sangat baik untuk semua bisnis (besar atau kecil) untuk membangun
    jaringan dan menjangkau audiens target mereka, terhubung dengan
    mereka secara langsung dan menghasilkan kepercayaan dengan
    mendengarkan apa yang mereka katakana Taprial dan Kanwar,
    (2012).

Definisi Sosial Media


Sosial media merupakan salah satu alat perantara bagi setiap orang
untuk keperluan berkomunikasi antar sesama, serta mengeksperesikan
dirinya (Nasrullah, 2019). Media sosial memungkinkan penggunanya
untuk berbagi konten dengan cepat dan realtime melalui smartphone,
tablet, laptop maupun komputer. Dengan adanya sosial media menjadi
solusi untuk mempermudah kita dalam berkomunikasi. Bahkan saat ini
media sosial banyak dimanfaatkan untuk media berbisnis sekaligus untuk
melakukan pemasaran sebuah produk.
Berikut terdapat dimensi untuk mengukur efektivitas media sosial
sebagai sarana pemasaran (Bilgin, 2018) :

  1. Entertainment, mendorong perilaku yang menciptakan
    emosi/perasaan positif tentang merek di benak jumlah pengikut di
    media sosial.
  2. Interaction, media sosial memfasilitasi interaksi, konten berbagi
    dan kolaborasi bisnis dengan pelanggan mereka.
  3. Trendiness, memperkenalkan informasi terbaru/terkini tentang
    produk kepada pelanggan.
  4. Advertisement, iklan media sosial pada persepsi dan kesadaran
    pelanggan adalah bagian dari kegiatan pemasaran media sosial.
  5. Customization, tindakan menciptakan kepuasan pelanggan
    berdasarkan kontak bisnis dengan pengguna individu. Media sosial
    sebagai alat bantu untuk berkomunikasi jarak jauh dan dengan
    perbedaan waktu

Karakteristik Influencer


Ada beberapa aspek karakteristik seorang influencer untuk
menentukan kesesuaiannya terhadap merek (Hafiidh, 2022), antara lain:

  1. Kesepakatan influencer dengan pembisnis. Dengan hal ini
    menjadikan hal yang sangat penting dikarenakan sangat
    mempengaruhi dalam tujuan kerjasama antara seorang influencer
    dengan perusahaan untuk mencapai keberhasilan bersama;
  2. Tingkat ketenaran influencer, dengan promosi sebuah merek yang
    bertujuan untuk mengangkat citra merek, tentu saja diperlukan kerja
    sama dengan seorang influencer yang telah di kenal oleh banyak
    publik;
  3. Kualitas feeds atau kualitas konten yang di upload. Dengan adanya
    tanggapan oleh seorang pengikut terhadap sebuah merek akan sangat
    berpengaruh pada feeds yang ditayangkan serta konten yang menarik
    yang di tayangkan oleh seorang influencer. Inilah salah satu alasan
    pentingnya dengan pembuatan konten yang sangat berkualitas karna
    sangat mempengaruhi bahkan mewakili produk di mata para
    pengikut atau konsumen;
    19
  4. Seorang influencer harus memiliki postingan di media sosial yang
    jelas atau bahkan memiliki postingan yang unik atau bahkan
    memiliki kekhasan yang tidak semua orang atau influencer lain
    memilikinya;
  5. Seorang influencer harus seorang yang benar-benar membutuhkan
    produk tersebut atau bahkan menggunakan produk yang di tawarkan
    kepada para pengikut mereka, dengan demikan produk yang di
    iklankan memang benar – benar bermanfaat

indikator influence

Menurut (Forbes, 2016) indikator seorang influencer yaitu:

  1. Relatability, influencer memiliki koneksi dengan pengikutnya
    seperti berbagi cerita dan pengalaman pribadi yang
    menimbulkan hubungan simpatik dengan pengikutnya.
  2. Knowledge, influencer memiliki pengetahuan dan wawasan
    tentang suatu produk atau merek dan mampu memberikan fakta
    yang jelas dan pasti tentang produk ke konsumen.
  3. Helpfulness, influencer memberikan saran dan opini yang dapat
    digunakan untuk mempengaruhi keputusan konsumen terhadap
    suatu produk atau jasa.
  4. Confidence, influencer memiliki kepercayaan atas informasi
    yang diberikan dan memiliki keyakinan atas kemampuan yang
    dimiliki.
  5. Articulation, influencer dapat mengkomunikasikan dan
    menyajikan informasi dengan jelas dan lancar untuk membantu
    pengikutnya dalam memahami produk atau merek, baik secara
    visual maupun verbal.

Pengertian Influencer


Menurut Azevedo et al. (2018) dalam Herviani et al. (2020) sosial
media influencer adalah pengguna media sosial dengan jumlah pengikut
yang tinggi di media sosial, yang dipercaya oleh masyarakat umum dan
dapat menyebarkan informasi di media sosial dengan mudah dan kapan
saja influencer menerbitkan sebuah postingan akan menjangkau banyak
pengguna lain. Selebriti atau influencer sudah sejak lama di manfaatkan
atau di gunakan sebagai media promosi bahkan kampanye pemasaran,
dengan tujuan untuk menyalurkan citra atau memberikan nilai selebriti
kepada merek yang di dukungnya bahkan yang sedang di gunakannya
Cheah et al. (2019).
Influencer lebih sering fokus kepada audiens atau target pasar
mereka dengan tujuan agar lebih tersegmentasi kepada siapa berbagi
minat. Dengan begitu, maka influencer harus lebih dekat dengan audiens
dan lebih sepesifik dengan mereka, sehingga mereka dapat tampil dengan
mudah dan percaya atau kredibel. Influencer adalah sebuah fenomena
modern. Agen pemasaraan telah meningkat secara signifikan, sebagian
besar seorang influencer termasuk dalam katagori berikut: Selebriti,
pakar industri, blogger atau pembuat konten dan mikro influencer.
Sebagai besar pemasaran influencer di lakukan menggunaan media sosial
terutama influencer mikro.

Pengaruh Social Media Ads terhadap Potongan Harga


Sosial media ads yang menyertakan elemen potongan harga cenderung lebih
efektif dalam menarik perhatian konsumen. Visualisasi promo diskon dalam iklan
media sosial dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap nilai produk
tersebut. Hasil penelitian (Ramadhani & Anjani, 2021) menyatakan bahwa social
media ads yang menampilkan potongan harga mampu meningkatkan persepsi nilai
dan menarik lebih banyak konsumen untuk melakukan pembelian

Pengaruh Influencer Marketing terhadap Potongan Harga


Selain memengaruhi keputusan pembelian secara langsung, Influencer
Marketing juga dapat berperan dalam memperkuat daya tarik potongan harga.
Influencer seringkali memberikan kode diskon atau mempromosikan promo
eksklusif, sehingga potongan harga menjadi lebih menarik bagi audiens mereka.
Menurut (Yuniarti & Setiawan, 2021), promosi melalui influencer yang disertai
dengan penawaran diskon dapat meningkatkan minat beli konsumen secara
signifikan

Pengaruh Social Media Ads terhadap Keputusan Pembelian


Social media ads adalah bentuk promosi berbayar yang disebarkan melalui
platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Iklan di media
sosial yang menarik, relevan, dan ditargetkan dengan baik dapat menciptakan
kesadaran merek serta mempengaruhi konsumen dalam proses pengambilan
keputusan pembelian. Menurut (Putri & Suprapti, 2020), efektivitas iklan media
sosial secara signifikan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Penelitian lain oleh (Hidayat & Hidayat, 2022) juga menunjukkan bahwa social
media ads mampu meningkatkan intensi pembelian melalui paparan visual yang
menarik dan penawaran yang relevan

Pengaruh Influencer Marketing terhadap Keputusan Pembelian


Influencer Marketing adalah strategi pemasaran dengan memanfaatkan
individu yang memiliki pengaruh kuat di media sosial untuk mempromosikan
produk atau layanan tertentu. Influencer yang memiliki kredibilitas tinggi, daya
tarik personal, dan kekuatan persuasif dapat memengaruhi keputusan pembelian
konsumen melalui rekomendasi atau ulasan produk yang mereka bagikan. Menurut
penelitian oleh (Nugroho & Iqbal, 2021), Influencer Marketing terbukti memiliki
pengaruh positif terhadap keputusan pembelian konsumen. Hal ini juga sejalan
dengan hasil penelitian (Rachmawati & Wulandari, 2020) yang menyatakan bahwa
kepercayaan terhadap influencer mampu meningkatkan minat beli yang kemudian
mempengaruhi keputusan pembelian

Skincare


Skincare merujuk pada serangkaian perawatan dan produk yang digunakan
untuk menjaga kesehatan dan penampilan kulit. Produk skincare terdiri dari
berbagai jenis yang memiliki tujuan khusus, seperti menjaga kelembapan kulit,
melindungi dari sinar matahari, mencegah penuaan dini, dan mengatasi masalah
kulit seperti jerawat atau kulit kusam. Dalam beberapa tahun terakhir, industri
skincare mengalami perkembangan pesat, dengan meningkatnya kesadaran
konsumen akan pentingnya perawatan kulit yang baik dan penggunaan produk yang
sesuai dengan jenis kulit mereka.
Di Indonesia, pasar skincare berkembang pesat seiring dengan perubahan
gaya hidup dan meningkatnya kepedulian terhadap kesehatan kulit, terutama di
kalangan generasi muda. Menurut data dari Nielsen (2020), tren perawatan kulit
telah beralih dari hanya sekedar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup, di mana
konsumen kini lebih tertarik untuk menggunakan produk yang tidak hanya efektif,
tetapi juga aman dan ramah lingkungan. Hal ini mengarah pada meningkatnya
permintaan untuk produk-produk skincare yang berbahan alami dan terbukti aman
untuk digunakan.
Sebagai bagian dari pasar yang berkembang ini, produk skincare
menghadirkan berbagai pilihan yang bertujuan untuk menjawab kebutuhan
konsumen yang mencari solusi praktis dan efektif dalam merawat kulit mereka.
Produk ini ditujukan untuk memberikan manfaat seperti mencerahkan,
melembapkan, dan meremajakan kulit, yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen yang peduli dengan hasil nyata dan kemudahan penggunaan.
Jenis-jenis Produk Skincare
Produk skincare memiliki berbagai macam jenis yang dibedakan berdasarkan
fungsinya. Beberapa produk umum dalam kategori skincare antara lain:

  1. Micellar Water ( pembersih )
    micelle, yang berfungsi untuk mengangkat kotoran, minyak, dan sisa
    makeup secara lembut tanpa perlu dibilas. Selain membersihkan, micellar
    water juga membantu menyegarkan kulit, menjaga kelembapan, serta cocok
    digunakan untuk semua jenis kulit, termasuk kulit sensitif, karena
    formulanya yang ringan dan tidak mengandung alkohol.
  2. Facial Wash
    pembersih wajah yang berfungsi untuk mengangkat kotoran, minyak
    berlebih, debu, dan sisa makeup, sehingga membantu mencegah
    penyumbatan pori-pori, jerawat, serta komedo. Selain itu, facial wash juga
    membantu mengontrol minyak di wajah, menyegarkan kulit, menjaga
    keseimbangan pH kulit, dan memaksimalkan penyerapan produk perawatan
    21
    kulit selanjutnya.
  3. Toner
    Toner adalah produk yang digunakan setelah pembersihan wajah untuk
    membantu mengencangkan pori-pori, menghidrasi kulit, dan
    menyeimbangkan pH kulit. Beberapa toner juga memiliki kandungan yang
    dapat membantu mengatasi masalah kulit tertentu, seperti jerawat atau kulit
    kusam.
  4. Serum
    Serum adalah produk dengan konsentrasi bahan aktif yang lebih tinggi
    dibandingkan dengan krim atau pelembap. Serum biasanya digunakan
    untuk memberikan manfaat spesifik, seperti mencerahkan, mengurangi
    tanda penuaan, atau mengatasi masalah kulit tertentu seperti jerawat dan
    noda hitam.
  5. Moisturizer (Pelembap)
    Pelembap berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit dan mencegah kulit
    menjadi kering. Pelembap sangat penting untuk menjaga kulit tetap
    terhidrasi dan tampak sehat.
    Skincare tidak hanya berfungsi untuk mempercantik penampilan, tetapi juga
    untuk menjaga kesehatan kulit secara keseluruhan. Kulit yang sehat akan lebih
    terlihat segar, terhindar dari iritasi, dan memiliki kelembapan yang cukup. Oleh
    karena itu, perawatan kulit yang baik dan rutin dapat berkontribusi pada
    peningkatan rasa percaya diri dan kenyamanan diri.
    Selain itu, penggunaan produk skincare yang tepat juga dapat membantu
    mencegah berbagai masalah kulit yang sering terjadi, seperti jerawat, kulit
    berminyak, kulit kering, serta tanda-tanda penuaan dini. Produk seperti Skincare ini
    dapat membantu memenuhi kebutuhan perawatan kulit yang lebih terfokus pada
    hasil yang nyata dan bisa dirasakan oleh pengguna dalam waktu yang relatif
    singkat.
    Keputusan pembelian produk skincare sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
    seperti kualitas produk, reputasi merek, harga, dan rekomendasi dari orang lain.
    Dalam konteks ini, Influencer Marketing dan social media ads yang dipasang di
    platform seperti Instagram dan TikTok dapat memainkan peran penting dalam
    memengaruhi konsumen untuk memilih produk tertentu. Menurut Theory of
    Reasoned Action (TRA), keputusan pembelian konsumen didorong oleh sikap
    mereka terhadap produk dan pengaruh sosial, termasuk rekomendasi dari influencer
    yang mereka percayai (Fishbein & Ajzen, 2011).
    Produk seperti Skincare ini, yang dipromosikan melalui influencer atau media
    sosial ads, dapat mempengaruhi audiens untuk mencoba produk tersebut karena
    mereka merasa lebih yakin dengan kualitas dan hasil yang dijanjikan oleh
    influencer yang mereka ikuti. Selain itu, hasil yang nyata, seperti kulit yang lebih
    cerah atau lebih lembap, dapat meningkatkan tingkat kepuasan dan loyalitas
    konsumen terhadap produk tersebut.
    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Produk Skincare
  6. Jenis Kulit
    Setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda, seperti kulit kering,
    berminyak, atau kombinasi. Konsumen cenderung memilih produk skincare
    yang sesuai dengan jenis kulit mereka untuk menghindari iritasi dan
    mendapatkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, merek seperti Skincare
    ini perlu menawarkan produk yang diformulasikan khusus untuk berbagai
    jenis kulit.
  7. Kandungan Produk
    Kandungan bahan aktif dalam produk skincare sangat penting untuk
    diperhatikan oleh konsumen. Beberapa bahan seperti asam hialuronat,
    vitamin C, dan retinol memiliki manfaat tertentu, dan konsumen sering
    mencari produk yang mengandung bahan-bahan ini untuk mencapai hasil
    yang mereka inginkan.
  8. Harga dan Aksesibilitas
    Harga produk juga menjadi pertimbangan utama dalam keputusan
    pembelian. Produk skincare yang harganya terjangkau namun efektif,
    seperti Skincare ini, akan lebih menarik bagi konsumen yang ingin merawat
    kulit mereka tanpa mengeluarkan biaya yang tinggi. Aksesibilitas produk
    juga penting, di mana produk yang mudah ditemukan di toko kosmetik atau
    online store akan lebih mudah diakses oleh konsumen.
    Skincare merupakan elemen penting dalam menjaga kesehatan dan
    kecantikan kulit. Produk seperti Skincare ini hadir sebagai solusi yang dapat
    membantu konsumen merawat kulit mereka dengan hasil yang terlihat. Melalui
    pemasaran yang efektif, baik melalui Influencer Marketing atau social media
    ads, merek skincare dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan
    konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Dengan
    meningkatnya kesadaran akan pentingnya perawatan kulit, produk skincare
    yang berkualitas akan terus memiliki potensi besar di pasar, terutama di
    kalangan audiens muda yang sangat aktif di platform media sosial

Social Media Ads


Social media ads atau iklan media sosial merujuk pada bentuk iklan yang
ditempatkan atau dipasang di platform media sosial dengan tujuan untuk
meningkatkan kesadaran merek, menarik audiens baru, atau mendorong tindakan
tertentu, seperti pembelian produk. Platform media sosial seperti Instagram,
TikTok, Facebook, Twitter, dan lainnya menawarkan berbagai jenis format iklan
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan merek dan tujuan pemasaran mereka
(Susanto, 2020). Untuk produk Skincare ini , penggunaan social media ads di
Instagram dan TikTok menjadi salah satu strategi utama untuk menjangkau
konsumen dengan cara yang lebih tepat sasaran dan personal.
Jenis-jenis Social Media Ads

  1. Iklan Bergambar (Display Ads)
    Iklan bergambar adalah salah satu bentuk iklan yang paling sederhana dan
    umum digunakan di media sosial. Iklan ini biasanya berupa gambar atau
    banner yang menarik perhatian audiens dan diletakkan di dalam feed atau
    stories pengguna. Pada platform seperti Instagram, iklan bergambar dapat
    menampilkan produk seperti Perusahaan ini dengan desain yang menarik,
    sehingga dapat menarik minat audiens untuk mengetahui lebih lanjut
    tentang produk tersebut (Wahyuni, 2020).
  2. Iklan Video (Video Ads)
    Video ads memungkinkan merek untuk menunjukkan produk mereka dalam
    format yang lebih dinamis dan menarik. Iklan video sangat efektif dalam
    memperkenalkan produk secara lebih mendalam, seperti tutorial
    penggunaan produk atau testimoni pengguna. Untuk produk skincare , iklan
    video bisa memperlihatkan cara penggunaan produk, hasil yang dapat
    dicapai, serta testimoni dari pengguna yang sudah merasakan manfaatnya.
    Menurut studi oleh Handayani (2021), iklan video cenderung lebih memikat
    karena dapat mengkomunikasikan pesan secara lebih lengkap dan visual,
    yang membuat audiens lebih tertarik.
  3. Iklan Carousel
    Iklan carousel adalah format iklan yang memungkinkan pengguna untuk
    menggulirkan beberapa gambar atau video dalam satu iklan. Iklan carousel
    memungkinkan merek untuk menampilkan berbagai aspek produk atau fitur
    produk dalam satu iklan. Untuk produk seperti Skincare ini, format carousel
    bisa digunakan untuk menampilkan berbagai varian produk, manfaat, atau
    sebelum dan sesudah penggunaan produk. Format ini memberikan
    fleksibilitas lebih bagi merek untuk menyampaikan pesan dengan cara yang
    lebih kreatif (Suryadi, 2021).
  4. Iklan Stories
    Instagram dan TikTok memiliki fitur stories yang memungkinkan merek
    untuk menampilkan iklan dalam format singkat yang berlangsung 24 jam.
    Iklan stories dapat sangat efektif untuk meningkatkan keterlibatan audiens
    karena tampil di bagian atas feed dan lebih mudah dilihat oleh pengguna.
    Iklan stories juga cenderung lebih informal dan personal, yang dapat
    membuat audiens merasa lebih dekat dengan merek. Produk Skincare ini
    dapat dipromosikan melalui stories dengan cara yang menarik dan mudah
    diakses oleh audiens target.
    Social media ads memainkan peran penting dalam pemasaran produk
    skincare seperti Glad 2 Glow karena kemampuannya untuk menjangkau audiens
    secara tepat dan efektif. Platform seperti Instagram dan TikTok memiliki sistem
    iklan yang sangat canggih yang memungkinkan pengiklan untuk menargetkan
    audiens berdasarkan berbagai kriteria, seperti usia, lokasi, minat, dan perilaku.
    Misalnya, dengan menggunakan Facebook Ads Manager, merek seperti Skincare
    ini dapat menargetkan iklan mereka kepada perempuan muda yang tertarik dengan
    perawatan kulit dan kecantikan, serta sering berinteraksi dengan konten terkait
    produk skincare.
    Iklan di media sosial juga dapat memanfaatkan fitur-fitur seperti shoppable
    posts, yang memungkinkan konsumen untuk langsung membeli produk dari iklan
    yang mereka lihat tanpa perlu keluar dari platform media sosial. Fitur ini sangat
    menguntungkan untuk produk skincare yang ingin memberikan kemudahan bagi
    konsumen dalam melakukan pembelian langsung setelah melihat iklan.
    Menurut Theory of Reasoned Action (TRA), keputusan pembelian konsumen
    sangat dipengaruhi oleh sikap dan niat mereka terhadap produk (Fishbein & Ajzen,
    2011). Social media ads, dengan kemampuannya untuk menyampaikan pesan yang
    menarik dan relevan, dapat membentuk sikap positif konsumen terhadap produk
    Perusahaan ini dan mendorong mereka untuk melakukan pembelian. Misalnya,
    iklan yang menampilkan testimonial atau bukti hasil nyata dari penggunaan produk
    skincare dapat memengaruhi niat beli konsumen.
    19
    Keuntungan utama dari social media ads adalah kemampuan untuk
    menargetkan audiens secara tepat dan memantau hasil secara real-time. Dengan
    menggunakan alat analitik yang tersedia pada platform media sosial, merek dapat
    melihat kinerja iklan mereka melalui metrik seperti tingkat klik, konversi, dan
    keterlibatan. Hal ini memungkinkan pengiklan untuk mengoptimalkan kampanye
    mereka secara lebih efisien dan efektif (Wahyuni, 2020). Selain itu, iklan di media
    sosial cenderung memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan iklan
    tradisional seperti televisi atau radio, namun tetap dapat menjangkau audiens yang
    luas.
    Penggunaan social media ads juga memungkinkan merek untuk berinteraksi
    langsung dengan audiens mereka melalui fitur-fitur seperti komentar, pesan
    langsung, atau reaksi terhadap iklan. Ini menciptakan peluang bagi merek untuk
    membangun hubungan yang lebih personal dengan konsumen dan meningkatkan
    loyalitas terhadap produk (Susanto, 2020).
    Meskipun social media ads menawarkan banyak keuntungan, ada beberapa
    tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah persaingan yang tinggi
    dalam iklan berbayar di media sosial. Banyak merek yang bersaing untuk
    mendapatkan perhatian audiens yang sama, sehingga pengiklan perlu memiliki
    strategi yang kreatif dan terukur untuk memastikan bahwa iklan mereka dapat
    menonjol di antara banyaknya konten yang ada (Suryadi, 2021). Selain itu,
    perubahan algoritma platform media sosial juga bisa memengaruhi jangkauan dan
    efektivitas iklan. Platform seperti Instagram dan TikTok sering mengubah cara
    mereka menampilkan iklan kepada pengguna, yang dapat memengaruhi visibilitas
    iklan dan hasil kampanye pemasaran (Susanto, 2020)

Potongan Harga


Potongan harga adalah salah satu strategi promosi penjualan yang umum
digunakan oleh perusahaan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong
keputusan pembelian. Potongan harga atau diskon ini memberikan insentif finansial
kepada konsumen dengan mengurangi harga normal suatu produk dalam periode
tertentu, sehingga konsumen merasa mendapatkan nilai lebih dari transaksi tersebut
(Sari, 2020). Strategi ini efektif dalam meningkatkan volume penjualan jangka
pendek dan mempercepat perputaran produk, terutama dalam industri yang sangat
kompetitif seperti kosmetik dan skincare.
Menurut Kotler dan Keller (2016), potongan harga termasuk dalam kategori
promosi penjualan yang bertujuan untuk merangsang permintaan dalam waktu
singkat dengan menawarkan pengurangan harga langsung. Dalam konteks produk
skincare, potongan harga bisa menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang
mempertimbangkan pembelian pertama atau bagi mereka yang ingin mencoba
produk baru dengan risiko finansial yang lebih rendah. Sebagaimana dikemukakan
oleh Wulandari (2021), diskon harga mampu memengaruhi persepsi konsumen
terhadap nilai produk, sehingga meningkatkan intensi pembelian mereka.
Dalam pemasaran digital, potongan harga sering dikombinasikan dengan
kampanye media sosial dan Influencer Marketing untuk menciptakan efek
pemasaran yang lebih kuat. Sebagai contoh, brand skincare yang melakukan
kolaborasi dengan influencer untuk mengumumkan potongan harga eksklusif dapat
menarik lebih banyak perhatian dari audiens yang sudah mempercayai influencer
tersebut (Prasetya, 2022). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Nurhayati
(2023) yang menunjukkan bahwa konsumen yang menerima informasi tentang
promosi dari influencer cenderung lebih termotivasi untuk melakukan pembelian
karena adanya penawaran diskon.
Elemen-Elemen Strategi Potongan Harga:

  1. Diskon Langsung (Direct Discount)
    Diskon langsung adalah pengurangan harga yang diterapkan secara
    langsung pada harga produk yang ditawarkan. Misalnya, harga normal
    produk skincare tertentu adalah Rp200.000, dan selama periode promosi,
    perusahaan memberikan diskon 20%, sehingga harga jual menjadi
    Rp160.000. Menurut penelitian oleh Hartati (2021), diskon langsung
    merupakan salah satu bentuk promosi yang paling efektif untuk menarik
    konsumen karena memberikan manfaat yang langsung dirasakan dalam
    bentuk penghematan finansial.
  2. Diskon Musiman (Seasonal Discount)
    Diskon musiman diberikan selama periode tertentu, seperti akhir tahun, hari
    raya, atau selama event promosi khusus seperti Harbolnas (Hari Belanja
    Online Nasional). Menurut Susilowati (2022), strategi ini tidak hanya
    membantu menghabiskan stok produk, tetapi juga meningkatkan kesadaran
    merek saat periode promosi berlangsung. Dalam konteks toko kosmetik
    seperti Guardian Mall Olympic Garden Malang, diskon musiman sangat
    efektif dalam menarik pelanggan yang mencari produk skincare berkualitas
    dengan harga lebih terjangkau.
  3. Diskon Berbasis Volume (Quantity Discount)
    Diskon berbasis volume diberikan kepada konsumen yang membeli produk
    dalam jumlah tertentu. Contohnya, beli dua produk skincare mendapatkan
    diskon 15%. Studi oleh Rahayu (2023) menyatakan bahwa diskon berbasis
    volume dapat meningkatkan nilai rata-rata pembelian per transaksi serta
    mendorong konsumen untuk mencoba lebih banyak varian produk dalam
    satu kali pembelian.
    Pengaruh Potongan Harga terhadap Keputusan Pembelian:
    Potongan harga memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan
    pembelian konsumen. Berdasarkan teori perilaku konsumen, diskon harga dapat
    memengaruhi persepsi nilai dan urgensi pembelian, yang pada akhirnya mendorong
    konsumen untuk melakukan pembelian segera (Schiffman & Kanuk, 2014).
    Penelitian oleh Dewi (2021) menemukan bahwa 68% konsumen lebih tertarik untuk
    membeli produk skincare saat terdapat penawaran diskon, dibandingkan saat harga
    normal.
    Selain itu, potongan harga juga dapat menciptakan efek psikologis seperti
    “fear of missing out” (FOMO), yaitu kekhawatiran konsumen akan kehilangan
    kesempatan mendapatkan harga spesial. Menurut hasil riset oleh Yuliani (2022),
    promosi diskon yang dikemas dengan batasan waktu tertentu cenderung
    meningkatkan urgensi pembelian karena konsumen terdorong untuk segera
    memanfaatkan penawaran tersebut sebelum berakhir.
    Tidak hanya itu, potongan harga yang disampaikan melalui Influencer
    Marketing atau iklan media sosial terbukti lebih efektif dibandingkan dengan
    promosi konvensional. Hal ini diperkuat oleh penelitian Setiawan (2023), yang
    menunjukkan bahwa 75% responden merasa lebih terdorong untuk membeli produk
    yang mendapatkan rekomendasi dari influencer sekaligus ditawarkan dengan
    potongan harga khusus.
    Keuntungan utama dari penerapan potongan harga adalah kemampuannya
    untuk menarik pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama. Bagi
    perusahaan, strategi ini bukan hanya meningkatkan volume penjualan jangka
    pendek, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan ketika dikombinasikan dengan
    pengalaman produk yang memuaskan. Dalam industri skincare, di mana konsumen
    cenderung mencoba berbagai produk sebelum menemukan yang sesuai, potongan
    harga dapat menjadi strategi yang efektif untuk memperkenalkan produk baru
    sekaligus memperbesar pangsa pasar (Fitriani, 2024)

Influencer Marketing


Influencer Marketing adalah salah satu strategi pemasaran digital yang
memanfaatkan individu dengan pengaruh besar di media sosial untuk
mempromosikan produk atau layanan kepada audiens mereka. Influencer adalah
seseorang yang memiliki jumlah pengikut yang besar di platform media sosial,
seperti Instagram, TikTok, YouTube, atau Twitter, dan memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi opini serta perilaku audiens mereka (Handayani, 2021). Dalam
konteks pemasaran produk skincare ini , Influencer Marketing dapat menjadi salah
satu metode yang efektif untuk memperkenalkan produk kepada konsumen dan
mempengaruhi keputusan pembelian mereka.
Influencer Marketing bekerja berdasarkan prinsip bahwa konsumen lebih
cenderung percaya pada rekomendasi dari individu yang mereka ikuti dan percayai
dibandingkan dengan iklan langsung dari merek atau perusahaan. Influencer
mampu menciptakan hubungan emosional yang lebih kuat dengan audiens mereka,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat keterlibatan dan kepercayaan
terhadap produk yang dipromosikan (Susanto, 2020). Dalam industri kosmetik,
seperti produk skincare pengaruh influencer menjadi sangat signifikan karena
audiens sering mencari rekomendasi dari orang yang mereka anggap
berpengalaman dalam merawat kulit dan menggunakan produk kecantikan.
Jenis-jenis Influencer

  1. Mega Influencer
    Mega influencer adalah individu yang memiliki pengikut dalam jumlah
    besar, biasanya lebih dari satu juta pengikut. Mereka sering kali merupakan
    selebritas atau tokoh terkenal yang sudah memiliki pengaruh yang kuat di
    media sosial. Meskipun dapat menjangkau audiens yang sangat luas, kerja
    sama dengan mega influencer cenderung memiliki biaya yang tinggi dan
    dapat menghasilkan keterlibatan yang lebih rendah dibandingkan dengan
    influencer yang lebih kecil (Suryadi, 2021).
  2. Macro Influencer
    Macro influencer memiliki pengikut antara 100 ribu hingga satu juta.
    Mereka memiliki audiens yang cukup besar dan sering kali memiliki niche
    tertentu. Merek yang ingin menjangkau audiens dengan minat atau
    demografi tertentu lebih cenderung bekerja sama dengan macro influencer,
    karena mereka dapat memberikan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi
    dibandingkan dengan mega influencer.
    12
  3. Micro Influencer
    Micro influencer memiliki pengikut yang lebih sedikit, sekitar 1.000 hingga
    100.000 pengikut, tetapi mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih
    dekat dan lebih personal dengan audiens mereka. Meskipun jangkauannya
    lebih kecil, micro influencer biasanya memiliki tingkat keterlibatan yang
    lebih tinggi dan dapat lebih efektif dalam membangun kepercayaan serta
    mempengaruhi keputusan pembelian audiens (Susanto, 2020).
  4. Nano Influencer
    Nano influencer memiliki jumlah pengikut yang lebih kecil lagi, biasanya
    di bawah 1.000. Meskipun mereka memiliki audiens yang terbatas, nano
    influencer sering kali memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam komunitas
    yang mereka bangun, karena kedekatannya dengan pengikut mereka. Hal
    ini membuat nano influencer menjadi pilihan yang menarik bagi merek
    yang ingin mengedepankan pemasaran yang lebih autentik dan berbasis
    komunitas (Suryadi, 2021).
    Dalam pemasaran produk skincare seperti Perusahaan ini, Influencer
    Marketing dapat dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain:
  5. Endorsement Produk
    Influencer dapat memberikan endorsement atau rekomendasi langsung
    terhadap produk skincare kepada audiens mereka. Mereka bisa berbagi
    pengalaman pribadi menggunakan produk, memberikan testimonial, atau
    menampilkan cara penggunaan produk dalam kehidupan sehari-hari. Ini
    akan membangun kredibilitas produk dan memberikan keyakinan kepada
    audiens tentang kualitas dan manfaat produk tersebut (Wibowo, 2021).
  6. Content Collaboration
    Kolaborasi konten antara merek dan influencer adalah salah satu bentuk
    kerja sama yang populer. Influencer dapat membuat konten berupa video
    tutorial, review produk, atau unboxing yang menunjukkan cara penggunaan
    produk Skincare ini. Konten semacam ini dapat meningkatkan kesadaran
    merek sekaligus memberikan informasi yang berguna bagi konsumen,
    sehingga mereka merasa lebih percaya diri untuk mencoba produk tersebut.
  7. Giveaways dan Kontes
    Memberikan hadiah atau mengadakan kontes yang melibatkan produk
    skincare Perusahaan ini juga merupakan strategi Influencer Marketing yang
    efektif. Influencer dapat menyelenggarakan kontes di mana pengikut
    mereka harus mengikuti akun media sosial merek atau membagikan
    pengalaman mereka dengan produk skincare yang dipromosikan. Hal ini
    dapat memperluas jangkauan produk dan meningkatkan interaksi dengan
    audiens.
    Keberhasilan Influencer Marketing sangat bergantung pada seberapa besar
    pengaruh yang dimiliki oleh influencer terhadap audiens mereka. Menurut Theory
    of Social Influence, individu cenderung dipengaruhi oleh orang yang mereka
    percayai atau kagumi (Wibowo, 2021). Dalam konteks ini, influencer yang
    dipercaya oleh audiens mereka dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap
    keputusan pembelian produk skincare. Audiens lebih cenderung membeli produk
    yang direkomendasikan oleh influencer yang mereka ikuti, terutama jika influencer
    tersebut memiliki kredibilitas dalam bidang tersebut.
    Dalam penelitian oleh Handayani (2021), ditemukan bahwa audiens yang
    mengikuti influencer di media sosial merasa lebih yakin dalam memilih produk
    skincare yang direkomendasikan oleh influencer favorit mereka, karena mereka
    percaya pada pengalaman pribadi influencer tersebut. Hal ini membuktikan bahwa
    Influencer Marketing dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk,
    yang pada akhirnya mendorong keputusan pembelian.
    Keuntungan utama dari Influencer Marketing adalah peningkatan kesadaran
    merek dan pengaruh yang lebih besar terhadap audiens target. Melalui kerja sama
    dengan influencer, merek dapat menjangkau audiens yang mungkin sulit dijangkau
    dengan cara pemasaran tradisional. Selain itu, influencer dapat membantu
    menciptakan konten yang lebih menarik dan autentik, yang dapat membangun
    hubungan yang lebih kuat dengan audiens.
    Namun, ada juga tantangan dalam Influencer Marketing, seperti memilih
    influencer yang tepat, memastikan kecocokan antara merek dan influencer, serta
    mengukur hasil dari kampanye pemasaran yang dilakukan. Oleh karena itu, penting
    bagi merek seperti Skincare ini untuk memilih influencer yang memiliki audiens
    yang sesuai dengan target pasar mereka dan memiliki kredibilitas yang baik di mata
    pengikut mereka (Susanto, 2020)

Digital Marketing


Digital marketing adalah strategi pemasaran yang menggunakan teknologi
digital dan platform internet untuk mempromosikan produk atau layanan.
Pemasaran ini memanfaatkan beragam kanal digital seperti mesin pencari, situs
web, media sosial, email, dan aplikasi untuk berinteraksi langsung dengan audiens,
meningkatkan kesadaran merek, serta mendorong keputusan pembelian konsumen
(Wahyuni, 2020). Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan
internet di berbagai lapisan masyarakat, digital marketing kini menjadi elemen
penting dalam strategi bisnis untuk mencapai konsumen yang lebih luas, termasuk
dalam industri kosmetik dan skincare seperti produk Skincare ini.
Dalam konteks digital marketing untuk produk skincare, dua elemen utama
yang paling relevan adalah Influencer Marketing dan Social Media Ads. Kedua
elemen ini memanfaatkan platform media sosial, terutama Instagram dan TikTok,
untuk menjangkau audiens yang lebih besar dan menciptakan keterlibatan yang
lebih personal dengan konsumen.
Elemen-Elemen Digital Marketing dalam Media Sosial

  1. Media Sosial
    Media sosial merupakan salah satu kanal utama dalam digital marketing.
    Platform seperti Instagram dan TikTok memungkinkan brand untuk
    terhubung dengan audiens mereka secara langsung dan personal. Melalui
    platform-platform ini, merek dapat memperkenalkan produk, meningkatkan
    kesadaran merek, serta membangun hubungan jangka panjang dengan
    konsumen melalui konten yang menarik dan interaktif. Menurut Susanto
    (2020), media sosial menyediakan ruang bagi merek untuk berkomunikasi
    dengan audiensnya melalui berbagai format konten, mulai dari foto, video,
    hingga live streaming, yang dapat meningkatkan keterlibatan dan perhatian
    konsumen.
    9
  2. Influencer Marketing
    Influencer Marketing adalah bentuk pemasaran yang memanfaatkan orang-
    orang berpengaruh di media sosial untuk mempromosikan produk atau
    layanan. Influencer memiliki pengikut yang besar dan dapat memengaruhi
    opini serta keputusan pembelian pengikut mereka (Handayani, 2021).
    Dalam penelitian ini, influencer yang relevan di Instagram dan TikTok
    dapat digunakan untuk mempromosikan produk skincare ini . Pengikut
    influencer yang merasa dekat dengan mereka sering kali lebih percaya pada
    rekomendasi produk yang diberikan, yang dapat mempengaruhi keputusan
    mereka dalam membeli produk tersebut. Influencer yang tepat dapat
    memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku pembelian konsumen.
  3. Iklan Berbayar di Media Sosial
    Salah satu bentuk iklan yang paling banyak digunakan dalam digital
    marketing adalah social media ads atau iklan di media sosial. Instagram dan
    TikTok menawarkan berbagai format iklan, mulai dari iklan foto, video,
    carousel, hingga story ads yang dapat disesuaikan dengan preferensi
    pengguna. Melalui iklan ini, merek dapat menargetkan audiens berdasarkan
    demografi, minat, perilaku, dan bahkan lokasi geografis, sehingga
    pemasaran menjadi lebih tepat sasaran (Suryadi, 2021). Iklan berbayar ini
    tidak hanya meningkatkan kesadaran merek, tetapi juga mendorong audiens
    untuk melakukan tindakan tertentu, seperti mengklik link produk atau
    melakukan pembelian langsung.
    Pemasaran digital, khususnya yang dilakukan melalui media sosial, memiliki
    pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan pembelian konsumen, terutama di
    kalangan audiens muda yang aktif di platform seperti Instagram dan TikTok.
    Menurut teori AIDA (Attention, Interest, Desire, Action), pemasaran digital
    berfungsi untuk menarik perhatian audiens, membangkitkan minat, menciptakan
    keinginan untuk membeli produk, dan akhirnya mendorong konsumen untuk
    melakukan pembelian (Wibowo, 2021). Dalam konteks produk skincare ini,
    Influencer Marketing dan social media ads dapat mempercepat proses ini.
    Influencer yang memiliki kredibilitas di mata pengikutnya dapat dengan mudah
    menarik perhatian mereka dan menumbuhkan keinginan untuk mencoba produk
    yang dipromosikan.
    Salah satu keuntungan utama dari digital marketing adalah kemampuan untuk
    mengukur hasil secara langsung. Melalui metrik seperti tingkat klik, konversi, dan
    tingkat keterlibatan, perusahaan dapat mengetahui seberapa efektif kampanye
    pemasaran yang dilakukan dan melakukan perbaikan jika diperlukan. Di sisi lain,
    biaya pemasaran digital yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan pemasaran
    tradisional menjadi alasan utama mengapa banyak merek kosmetik, seperti
    Skincare ini , memilih untuk memanfaatkan media sosial dalam strategi pemasaran
    mereka (Suryadi, 2021).
    Keuntungan utama dari digital marketing adalah efisiensi biaya yang lebih
    tinggi dan kemampuan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dalam
    pemasaran tradisional, merek harus bergantung pada media cetak, televisi, atau
    radio untuk menjangkau konsumen, yang memerlukan biaya tinggi dan waktu yang
    lama untuk mencapai audiens yang tepat. Sementara itu, digital marketing
    memungkinkan perusahaan untuk melakukan pemasaran dengan biaya yang lebih
    rendah dan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini sangat bermanfaat untuk merek
    seperti Skincare ini , yang ingin meningkatkan visibilitas dan penjualannya tanpa
    mengeluarkan anggaran besar.
    Selain itu, digital marketing memungkinkan merek untuk mengembangkan
    personalized marketing atau pemasaran yang dipersonalisasi, yaitu pemasaran yang
    menyesuaikan konten dengan preferensi dan kebiasaan konsumen. Dengan data
    yang diperoleh dari interaksi pengguna di media sosial, merek dapat menyesuaikan
    kampanye pemasaran untuk menjawab kebutuhan spesifik audiens mereka. Hal ini
    tentu saja dapat meningkatkan efektivitas pemasaran dan memengaruhi keputusan
    pembelian konsumen

Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2018:145) dikutip oleh Priscilla Hartanti
(2022) terdapat lima tahap yang dilewati oleh seorang pelanggan dalam
menentukan keputusan pembelian, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari terdapat
    masalah atau kebutuhan. Kebutuhan didapat oleh rangsangan dari dalam
    diri pelanggan (internal), misalnya rasa lapar, atau haus yang muncul
    sampai pada suatu tingkat tertentu dan menjadi sebuah dorongan.
    Kebutuhan juga dapat dipicu oleh rangsangan dari luar diri pelanggan
    (eksternal), misalnya seseorang yang mungkin mengagumi mobil atau
    rumah baru teman atau melihat iklan di telivisi yang menginspirasi
    pemikiran untuk melakukan pembelian.
  2. Pencarian Informasi (Information Search)
    Pelanggan yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong
    untuk mencari lebih banyak informasi. Pencarian informasi dapat
    dibedakan berdasarkan dua tingkatan. Pertama adalah perhatian yang
    memuncak (heightened attention), yaitu keadaan pencarian informasi
    yang lebih ringan. Pada tingkat ini, seseorang hanya sekadar bersikap
    lebih menerima terhadap informasi tentang suatu produk. Kedua adalah
    pencarian informasi aktif (active information search). Pada tingkat ini,
    seseorang akan lebih aktif untuk mencari informasi dari segala sumber
    seperti melalui bahan bacaan, menelepon teman, atau mengunjungi toko
    untuk mempelajari tentang suatu produk.
  3. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
    Setelah pencarian informasi, pelanggan akan menghadapi
    sejumlah pilihan mengenai merek dengan produk yang sejenis. Tidak ada
    proses evaluasi tunggal dan sederhana yang digunakan oleh semua
    pelanggan atau oleh seorang pelanggan dalam semua situasi pembelian.
    Sejumlah konsep dasar akan dapat membantu pemahaman terhadap
    proses evaluasi pelanggan. Pertama, pelanggan berusaha memenuhi suatu
    kebutuhan. Kedua, pelanggan mencari manfaat tertentu dari solusi
    produk. Ketiga, pelanggan memandang setiap produk sebagai
    sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
    memberikan manfaat yang dicari. Pelanggan bersikap berbeda-beda
    dalam menilai atribut produk yang dianggap relevan atau menonjol,
    mereka akan memberikan perhatian paling besar pada atribut yang
    memberikan manfaat yang dicari.
  4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Dalam tahap evaluasi, pelanggan membentuk preferensi antar
    merekmerek dalam kumpulan pilihan dan mungkin juga membentuk
    minat pembelian pada merek yang disukai. Umumnya, pelanggan akan
    memutuskan pembelian pada merek tersebut. Namun, ada dua faktor
    yang berintervensi di antara minat pembelian dan keputusan pembelian.
    Faktor yang pertama adalah sikap orang lain dan faktor yang kedua adalah
    faktor situasional yang tidak terduga. Oleh karena itu, minat pembelian
    tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual.
  5. Perilaku Pasca Pembelian (Postpurchase Behavior)
    Setelah membeli suatu produk, pelanggan akan merasakan
    kepuasan atau ketidakpuasan. Apabila kinerja produk tidak sesuai dengan
    harapan pelanggan, maka pelanggan akan tidak puas. Jika memenuhi
    harapan, maka pelanggan akan puas, dan jika melebihi harapan, maka
    pelanggan akan sangat puas. Semakin besar kesenjangan antara harapan
    dan kinerja produk yang dirasakan, semakin besar ketidakpuasan
    pelanggan. Pelanggan yang merasa puas akan membeli produk tersebut
    kembali, membicarakan hal yang positif terhadap produk tersebut kepada
    orang lain, kebal dari daya tarik produk pesaing, dan membeli produk lain
    dari perusahaan tersebut. Sedangkan pelanggan yang tidak puas akan
    membicarakan hal yang negatif terhadap produk tersebut kepada orang
    lain

Jumlah Pembelian
Seorang pelanggan akan membeli produk dengan jumlah yang tak
sama. Oleh karena itulah setiap perusahaan harus mempersiapkan jumlah
produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan, yang ditentukan
berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
(1) Kebutuhan : pelanggan akan menentukan jumlah produk yang akan
dibelinya berdasarkan kebutuhannya
(2) Sebagai persediaan : merupakan tindakan mempersiapkan produk
bagi pelanggan apabila dibutuhkan dimasa yang akan datang

Pemilihan Tempat Penyalur


Setiap pelanggan akan memilih penyalur yang akan mereka
hubungi atau kunjungi untuk memilih produk yang akan dibelinya. Dalam
hal ini terdapat beberapa pertimbangan pelanggan dalam memilih
penyalurnya yaitu:
(1) Pelayanan yang diberikan, yaitu dengan pelayanan yang baik serta
kenyamanan yang diberikan oleh distributor atau pengecer kepada
pelanggan membuat mereka akan selalu memilih lokasi tersebut
untuk membeli produk yang dibutuhkannya.
(2) Kemudahan untuk mendapatkan produk, yaitu pelanggan akan
merasa lebih nyaman jika lokasi pendistribusian (pengecer, grosir,
dan lain-lain) mudah dijangkau dalam waktu singkat dan
menyediakan produk yang dibutuhkan.
(3) Ketersediaan barang, yaitu kebutuhan dan keinginan pelanggan akan
suatu produk tidak dapat dipastikan kapan terjadi, namun dengan
ketersediaan barang yang memadai pada penyalur akan membuat
pelanggan memilih untuk melakukan

Pemilihan Merek
Pilihan merek yang begitu beragam membuat konsumen berhak
memilih merek yang akan mereka beli. Oleh karena itu perusahaan harus
mengetahu bagaimana cara mereka memilih merek yang pada umumnya
berdasarkan ketertarikan, kebiasaan, dan kesesuaian harga.
(1) Ketertarikan pada merek : ketertarikan yang timbul pada citra sebuah
merek yang melekat pada produk sesuai kebutuhannya
(2) Kebiasaan pada merek : menjatuhkan pilihan produk pada merek yang
biasa dibeli oleh konsumen tersebut
(3) Kesesuaian harga : pertimbangan harga dengan produk yang sesuai
bagi masing-masing konsumen

Dimensi Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan tahap dari sebuah proses calon
konsumen dalam mengambil keputusan untuk menentukan pembelian produk
dari merek yang paling disukai dari beberapa alternatif yang ada (Hasanah,
2018)
Menurut Kotler dan Armstrong (dikutip oleh Hasanah, 2018)
keputusan pembelian memiliki dimensi sebagai berikut :

  1. Pemilihan Produk
    Setiap pelanggan memiliki hak untuk memutuskan bagaimana
    menggunakan uangnya untuk membeli sebuah produk atau tujuan lain.
    Pelanggan dapat memilih sebuah produk dengan beberapa pertimbangan
    (1) Keunggulan produk : berdasarkan tingkat kualitas yang diharapkan
    oleh pelanggan pada produk
    (2) Manfaat produk : berdasarkan tingkat kegunaan suatu produk yang
    akan digunakan memenuhi kebutuhannya
    (3) Pemilihan produk : pilihan yang diputuskan oleh pelanggan pada
    produk yang akan dibelinya menyesuaikan dengan kualitas dan
    manfaat yang diinginkannya

Definisi Keputusan Pembelian


Sedangkan menurut kotler dan keller (dikutip oleh Narista dan Dian,
2021) keputusan pembelian merupakan perilaku individu, organisasi maupun
kelompok dalam mencari, memilih, dan memutuskan untuk membeli serta
menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya
sendiri. Keputusan pembelian adalah bagian dari pemenuhan atas kebutuhan
konsumen terhadap suatu produk.
Menurut Indrasari (2019:70) keputusan pembelian adalah kegiatan
seseorang yang terlibat secara langsung untuk mengambil keputusan dalam
pembelian terhadap sebuah produk. Keputusan pembelian diartikan sebagai
tahapan seorang konsumen dalam menemukan apa masalah yang mereka
hadapi, kemudian mencari produk yang dibutuhkan, lalu memilih alternatif
produk yang dapat dijadikan solusi, dan menentukan produk yang paling
tepat, barulah memutuskan untuk melakukan pembelian (Elisa dan Sugeng,
2022). Menurut Kotler dan Amstrong (2018:177) dikutip oleh Priscilla
(2022) keputusan pembelian merupakan keputusan seorang pembeli
mengenai merek yang ingin mereka beli. Secara sederhana keputusan
pembelian adalah proses konsumen menentukan pilihannya terhadap
pembelian produk, dengan mempertimbangkan berbagai hal untuk
menentukan keputusan yang paling tepat terhadap produk dan merek yang
dibutuhkannya.
Keputusan pembelian merupakan hasil pertimbangan calon
konsumen terhadap suatu produk. sebelum berada pada tahap keputusan
pembelian, konsumen akan dihadapkan pada beragam alternatif pilihan
sehingga pada fase inilah seorang konsumen akan memutuskan
pembeliannya diantara beragam pilihan yang ada (Yenni Arfah, 2022:4).
Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh banyak pertimbangan,
sehingga setiap produk harus memiliki perbedaan yang unik agar dapat
menarik keputusan pembelian terhadap calon konsumen

Online Customer Review


Online Customer Review sifatnya begitu luas dan dapat mencapai
lebih jauh konsumen karena seluruh konsumen dapat mengakses Online
Customer Review melalui internet (Iskandar Dzulqarnain, 2019). Pada e-
commerce shopee, Online Customer Review dapat dilihat dibawah deskripsi
produk dan sifatnya terbuka sehingga semua orang yang mengakses produk
tersebut, maka otomatis dapat melihat review yang ditulis oleh konsumen lain
yang telah membeli dan menggunakan produk tersebut. Review yang ditulis
oleh konsumen akan memiliki preferensi yang berbeda-beda, dari segi tingkat
pengetahuan mengenai produk, latar belakang penjelasan teknis, cara
penggunaan, dan sebagainya sehingga informasi inilah yang dinilai lebih
realistis dan relevan bagi konsumen lainnya (Iskandar Dzulqarnain, 2019)

Dimensi Online Customer Review


Sebagai calon konsumen untuk mendapatkan informasi mengenai
sebuah produk dari konsumen yang lebih dulu membelinya disebut sebagai
Online Customer Review (Risya dan Monry, 2022). Menurut Chen et al.
(dikutip oleh Izzatul et.al.c. 2021) Online Customer Review memiliki 3
dimensi, yaitu:
(1) Motivation
Motivasi merupakan dorongan atau alasan seseorang melakukan sesuatu,
dimana seseorang pada dasarnya akan melakukan sesuatu didasari dengan
motivasi (Ketut Swarjana:157). Motivasi menggambarkan hal-hal yang
menyebabkan para konsumen mencari informasi secara online yaitu pada
ulasan online. Pada dimensi motivation terdapat subdimensi yaitu benefit,
support, dan search.
(2) Source
Dimensi sumber merujuk pada tempat asal komunitas online yang dalam
hal ini adalah online review. sumber dianggap sebagai dampak yang
muncul dari ulasan online terhadap konsumennya. Dimensi sumber
memiliki subdimensi yaitu influence, trust, dan characteristic.
(3) Content
Dimensi konten menjelaskan bahwa konten yang jelas dan menarik dapat
mendorong keinginan dari konsumen lagi untuk memiliki dan membeli
produk yang serupa. Dalam dimensi konten terdapat dua subdimensi yaitu
teknologi dan gambar sebagai faktor yang mempengaruhi proses
keinginan pembelian pada konsumen

Definisi Online Customer Review


Online Customer Review merupakan bentuk komunikasi pada
penjualan online dimana calon pembeli mendapatkan informasi terkait
produk dari konsumen yang telah lebih dahulu mencoba dan mendapat
manfaat dari produk tersebut (Filieri, dikutip oleh Asri dan Widiartanto,
2019). Online Customer Review bersifat jujur dan terbuka sehingga semua
orang dapat mengakses dan membaca bagaimana review dan informasi yang
ditinggalkan oleh konsumen yang telah lebih dulu menggunakan produk
tersebut.
Menurut Mo, Li,Fan (dikutip oleh Cincin dan Devilia, 2021) Online
Customer Review merupakan informasi mengenai evaluasi dan layanan
produk yang diletakkan pada sebuah situs pihak ketiga oleh konsumen.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas, Online Customer Review merupakan
tempat para konsumen yang pernah membeli dan menggunakan produk
memberikan informasi dan pengalamannya mengenai produk tersebut agar
dapat menjadi masukan dan saran bagi calon konsumen lainnya.
Online Customer Review merupakan seorang konsumen yang
sebelumnya pernah melakukan pembelian terhadap suatu produk dan
memberikan informasi serta pengalamannya terhadap calon pembeli lain
(Risya dan Monry, 2022). Menurut Thakur (dikutip oleh Jessica, 2022)
Online Customer Review merupakan pengalaman pembeli tentang pelayanan
dan apapun yang diberikan oleh penjual dalam segala aspek di marketplace
atau retail online. Online Customer Review dapat dijadikan sebagai media
promosi dalam komunikasi pasar (Livia dan Budi, 2021).
Sebagai konsumen, kita pasti akan mencoba untuk mencaritahu
banyak hal mengenai produk yang akan kita beli. Terkadang sumber seperti
video promosi atau iklan dirasa kurang meyakinkan karena sifatnya yang
berbayar. Oleh karena itulah dibutuhkan sumber lain yang tidak dibayar, yang
telah menggunakan dan merasakan manfaat produk tersebut. Calon
konsumen dapat memanfaatkan review atau komentar dari konsumen lain
untuk dijadikan sebagai tolak ukur nilai sebuah produk, yang dalam hal ini
akan mempengaruhi keputusan konsumen selanjutnya (Livia dan Budi,
2021).

Dimensi Beauty Influencer


Fenomena beauty influencer dilatarbelakangi pada kesadaran wanita
untuk memiliki penampilan yang menarik agar lebih percaya diri (Haerunnisa
et al.c. 2019). Menurut Eileen Lourence (2021) beauty influencer dapat
dikatakan sebagai bagian dari celebrity endorser. Terdapat tiga dimensi yang
dapat dilihat dari seorang endorser (Shimp, dikutip oleh Eileen Lourence,
2021) yaitu Credibility (Kepercayaan), Attractiveness (Daya Tarik), dan
Power (Kekuatan).
(1) Credibility (Kredibilitas)
Kredibilitas dalam pengertian dasar diartikan sebagai sebuah bentuk
kepercayaan kita kepada seseorang. Ketika seorang endorser yang
dianggap sebagai sumber informasi kredibel, maka sikap audiens akan
berubah melalui proses psikologis yaitu internalisasi. Proses internalisasi
dapat terjadi saat seorang penerima dijadikan sebagai sumber pada
sebuah isu sebagai miliknya. Sikap ini biasanya dipertahankan walaupun
bidang keahliannya tidak dipresepsikan sebagai seorang yang ahli.
Terdapat dua indikator dalam dimensi ini, yaitu sebagai berikut:
a. Expertise (Keahlian)
Keahlian merupakan kemahiran seseorang dalam suatu ilmu (KBBI,
2023). Keahlian didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang dikuasai oleh sumber yang berhubungan dengan
komunikasi. Keahlian merupakan sesuatu yang dirasakan dan tidak
bersifat mutlak. Apakah orang yang dianggap sebagai sumber
tersebut merupakan seorang yang ahli menjadi tidak penting, karena
yang menjadi penting adalah bagaimana cara target audiens
memandang sumbernya. Seorang endorser yang memiliki keahlian
dalam topik tertentu dianggap dapat lebih mempengaruhi opini
audiens yang berhubungan dengan keahliannya dibandingkan dengan
endorser yang tidak dianggap sebagai seorang yang ahli.
b. Trustworthiness (Keterpercayaan)
Keterpercayaan mengarah kepada integritas, kejujuran dan
kepercayaan yang dirasakan oleh sebuah sumber. Contohnya adalah
seorang celebrity dapat membangun kepercayaan penonton lewat
keseharian hidupnya yang dijalani secara profesional (di tayangan tv,
kantor, dan lain-lain) dan sesuai dengan apa yang ada di media massa.
Sebagai seorang pengiklan, nilai kepercayaan endorser yang diartikan
sebagai masyarakat umum, dan dianggap sebagai orang yang jujur,
dapat dipercaya dan diandalkan sehingga dapat menarik minat
konsumen lainnya. Endorser harus dapat menjadi sumber yang
objektif dan tidak mencoba memanipulasi ataupun memihak kepada
pihak manapun dalam setiap review yang mereka berikan.
(2) Attractiveness
Sebagai seorang endorser yang dikatakan menarik bagi konsumen adalah
apabila memiliki kesamaan atau kedekatan dengan sumber tertentu, atau
lebih tepatnya menyukai hal yang sama. Proses persuasi dapat terjadi
ketika seorang audiens menemukan beberapa kesamaan yang menarik
dari seorang sumber, kesamaan ini dapat berupa apa yang disukai,
bagaimana keterampilan dan pengetahuan, sifat, gaya hidup, hobi, dan
sebagainya. Hal ini dapat membuat audiens merasa adanya kemiripan dan
kesukaan yang sama sehingga menganggap bahwa seorang sumber
tersebut menarik bagi mereka, dan audiens akan lebih mudah untuk
mengikuti atau meniru sukap, minat dan preferensi seorang sumber
tersebut. Dalam Attractiveness terdapat tiga indikator, yaitu:
a. Kesamaan
b. Keakraban
c. Kesukaan
(3) Power
Kekuasaan bekerja melalui sebuah proses psikologis dalam bentuk
kepatuhan. Sikap patuh dapat terjadi oleh adanya sumber yang diiklankan
karena mereka mengharapkan reaksi positif dan menguntungkan.
Meskipun hal ini tidak mungkin terjadi dengan iklan media massa, proses
tersebut dapat terjadi melalui materi iklan langsung yang dipersonalisasi,
daya tarik penjualan pribadi, dan/atau pesan media sosial. Contohnya
adalah seorang endorser mampu mempengaruhi audiens melalui
informasi dan konten yang diberikan berupa review terhadap para
pengikutnya di media sosial.

Definisi Beauty Influencer


Influencer merupakan seseorang yang dapat mempengaruhi serta
membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita suka dan rekomendasikan
(Tim Stiletto Book dan Ranny Afandi, 2019:85). Menurut Devi dan Sugeng
(2022) Beauty Influencer merupakan strategi pemasaran dimana seseorang
mengunggah foto atau video tutorial atau informasi review mengenai produk
kecantikan sehingga menimbulkan daya tarik dan mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen. Berdasarkan pengertian diatas Beauty influencer
adalah seseorang yang mampu memberikan review serta informasi mengenai
suatu produk terhadap para audience-nya.
Menurut Tran et.al.c. (dikutip oleh Devi dan Sugeng, 2022) Beauty
Influencer merupakan seseorang yang memiliki keahlian pada dunia
kecantikan yang membagikan ilmu serta pengalamannnya mengenai
kesehatan kulit dan produk kecantikan, dengan memberikan tutorial atau
review penggunaan produk. Informasi yang dibagikan dapat berupa review
dan praktik langsung pemakaian produk yang disertai dengan informasi
seputar produk yang digunakan. Review yang diberikan oleh beauty
influencer mampu membantu konsumen dalam memperoleh informasi
seputar kecantikan sesuai dengan kebutuhannya (Haerunnisa et al.c. 2019).
Beauty influencer merupakan seseorang yang memiliki pengalaman
dalam dunia kecantikan untuk memberikan informasi serta pengalaman
mengenai produk-produk kecantikan yang telah mereka gunakan (Hutapea,
dikutip oleh Alfitri dan Zakiy, 2019). Kesimpulan yang dapat diambil adalah
Beauty influencer merupakan seseorang yang memiliki pengalaman serta
pengetahuan dalam dunia kecantikan, yang memberikan informasi dan
review mengenai produk kecantikan secara jujur terhadap para pengikutnya
di media sosial

Faktor-faktor Yang Memengaruhi Trust


Trust (kepercayaan) seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor kognitif dan
afektif yang ada pada dirinya:
a. Faktor kognitif
Faktor kognitif berkitan dengan perilaku, pengetahuan, dan perilaku rasional
seseorang. Adanya faktor kognitif menyebabkan persepsi pada konsumen
sesuai dengan informasi dan pengetahuannya tentang produk tanpa
melibatkan perasaan sama sekali. Kepercayaan konsumen akan timbul ketika
beauty influencer benar-benar memiliki pengetahuan dan pengalaman yang
banyak tentang produk yang diulasnya (Suki, 2014). Sedangkan, pada
penelitian yang pernah dilakukan oleh Hsu et al., (2017), faktor afektif lebih
memengaruhi kepercayaan konsumen daripada faktor kognitif karena
biasanya keputusan konsumen untuk membeli suatu produk didasari oleh
sikap impulsif.
b. Faktor afektif
Faktor afektif menyangkut kepada emosi, perasa, suasana hati, gaya dan
tempramen pada seseorang (Savolainen, 2015). Faktor afektif membentuk
kepercayaan emosional yang terbentuk karena interaksi timbal balik yang
dilakukan oleh beauty influencer dengan para pengikutnya dan masyarakat
umum (Meng et al., 2021). Beauty influencer perlu menciptakan kepercayaan
emosional dengan para pengikutnya dan masyarakat umum supaya
mendapatkan kepedulian dari mereka (Meng et al., 2021). Kekaguman
konsumen terhadap beauty influencer akan memotivasi mereka untuk
membeli produk-produk yang di review oleh beauty influencer (Meng et al.,
2021). Konsumen yang juga menjadi penggemar beauty influencer cenderung
akan mempercayai produk-produk yang diulasnya karena menganggap
bahwa produk- produk tersebut memiliki kualitas yang baik (Deshbhag &
Mohan, 2020)

Trust (kepercayaan) Kepada Beauty Influencer


Trust (kepercayaan) terhadap beauty influencer menggambarkan seberapa
jauh masyarakat umum dan para pengikutnya memahami konten yang mereka
buat, serta bagaimana mereka menyampaikan integritas dan kejujuran dalam
mereview produk melalui media sosial mereka (Kim et al., 2014). Keahlian
merujuk pada keterampilan atau penguasaan seorang influencer pada bidang
tertentu, sementara beauty influencer berarti memiliki keahlian khusus pada
bidang kecantikan (Kim et al., 2014). Daya tarik ditunjukkan kepada penampilan
fisik, karakter, maupun cara influencer membawakan dirinya dihadapan publik
(Ohanian, 1990). Keahlian dan daya tarik seorang influencer memengaruhi
kepercayaan masyarakat terhadap influencer, seberapa ahli influencer di
bidangnya dan seberapa menarik influencer mempresentasikan dirinya pada
platform media sosial yang dimilikinya.
Sebagai beauty influencer harus memiliki kepercayaan dari para pengikutnya
di media sosial dan masyarakat umum yang melihat reviewnya untuk membangun
reputasinya. Kejujuran merupakan salah satu faktor penting bagi beauty
influencer ketika mengulas suatu produk untuk mendapatkan kepercayaan dari
konsumen (Deshbhag & Mohan, 2020). Konsumen datang kepada beauty
influencer untuk mendapatkan informasi tentang suatu produk yang diinginkan
melalui reviewnya yang jujur dan objektif. Kepercayaan terhadap beauty
influencer dapat memengaruhi persepsi penilaian konsumen terhadap produk-
produk yang diulasnya (Suki, 2014). Konsumen lebih memilih mempercayai
beauty influencer jika mereka benar-benar menggunakan produk dan
mengulasnya sesuai dengan hasil pemakaian dari produk tersebut.
Selain kepercayaan, keahlian juga merupakan hal yang penting bagi beauty
influencer untuk meningkatkan reputasinya. Keahlian merujuk pada pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman yang dimiliki oleh beauty influencer tentang
bidang yang didalaminya yaitu kecantikan (Deshbhag & Mohan, 2020).
Keterampilan yang dimiliki beauty influencer dalam berkomunikasi dengan
pengikut-pengikutnya melalui unggahan foto atau video ulasan produk di media
sosial juga merupakan faktor penilaian konsumen akan keahlian yang dimiliki
oleh mereka (Liu et al., 2020). Konsumen menilai beauty influencer memiliki
keahlian tinggi dengan memandang seberapa besar pengetahuan beauty influencer
mengenai produk yang diulasnya dan bagaimana cara mereka menyampaikan
ulasannya.
Beauty influencer dalam menaikkan reputasinya juga harus memiliki daya
tarik untuk mendapatkan perhatian dari publik. Daya tarik biasanya dipengaruhi
oleh persepsi konsumen, persepsi konsumen terhadap beauty influencer akan
memengaruhi reputasinya dalam bidang kecantikan (Deshbhag & Mohan, 2020).
Konsumen memberikan persepsinya dengan menilai daya tarik fisik yang dimiliki
oleh beauty influencer terlebih dahulu (Taillon et al., 2020). Sejauh mana
konsumen menganggap beauty influencer cantik dan berpenampilan menarik
dapat memengaruhi persepsi konsumen kepada suatu produk yang diulasnya
(Weismueller et al., 2020). Selain daya tarik fisik, persepsi konsumen juga
dipengaruhi oleh daya tarik pengetahuan, sifat, dan gaya hidup yang dimiliki oleh
beauty influencer (Umeogu, 2012). Hal-hal tersebut dapat memengaruhi persepsi
konsumen terhadap beauty influencer dan dapat memengaruhi sikap konsumen
dalam menilai produk yang diulasnya.
Dalam membangun kepercayaan konsumen, sebagai beauty influencer harus
memahami bahwa kepercayaan dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap
merek dan perusahaan dari produk yang diulasnya (Hussain et al., 2020). Trust
dalam perilaku konsumen adalah dengan melakukan pembelian pada produk
tersebut

Pengertian Trust


Menurut Bauer (2015) kepercayaan adalah kesediaan satu pihak untuk
menjadi rentan terhadap tindakan pihak lain berdasarkan harapan bahwa pihak
lain akan melakukan tindakan tertentu yang penting bagi pemberi kepercayaan.
Kepercayaan didefinisikan sebagai kesediaan seseorang untuk peka terhadap
tindakan spesifik orang lain (Hussain et al., 2020

Dimensi Purchase Intention


Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), terdapat dua dimensi purchase intention
yaitu:
a. Sikap terhadap produk (Attitude toward behavior)
Dimensi ini menunjukkan keterkaitan antara keinginan konsumen untuk
berperilaku dengan hasil yang diharapkan dari perilaku tersebut. Ketika
konsumen yakin bahwa suatu perilaku akan menghasilkan hasil yang positif,
maka konsumen tersebut akan memiliki sikap positif terhadap perilaku
tersebut. Begitupula sebaliknya, jika konsumen yakin bahwa suatu perilaku
akan menghasilkan hasil yang negatif, maka konsumen tersebut akan
memiliki sikap negatif terhadap perilaku tersebut.
b. Norma subjektif (Subjek norm)
Dimensi ini dipengaruhi oleh persetujuan dari orang-orang dekatnya atau
sekelompok orang yang memiliki pengaruh bagi konsumen seperti teman
dekat, keluarga, kolega, dan sebagainya. Dimensi ini mengacu pada
keyakinan seseorang tentang persepsi bagaimana orang lain akan
memandangnya jika melakukan suatu perilaku. Seseorang akan cenderung
melakukan suatu perilaku jika termotivasi oleh orang lain yang
menyetujuinya untuk melakukan perilaku tersebut.

  1. Faktor-faktor Yang Memengaruhi Purchase Intention
    a. Pengalaman konsumen (Customer experience)
    Customer experience didefinisikan berasal dari satu set interaksi antara
    pelanggan dan produk, perusahaan, atau bagian dari organisasi, yang
    menimbulkan reaksi. Pengalaman ini benar-benar pribadi dan menyiratkan
    keterlibatan pelanggan pada tingkat yang berbeda (baik secara rasional,
    emosional, sensorik, fisik, dan spiritual) (Gentile, 2007).
    b. Interaktivitas merek (Brand interactivity)
    Interaksi pengguna secara signifikan akan memiliki tingkat keterlibatan
    tinggi pula, oleh karena itu akan meningkatkan pula niat konsumen untuk
    membeli produk pada merek tersebut (Dabbous & Barakat, 2020).
    c. Loyalitas merek (Brand loyalty)
    Dengan adanya perasaan positif konsumen akan menimbulkan loyalitas
    terhadap suatu merek, hal ini akan mempengaruhi dedikasi yang kuat
    terhadap niat membeli (Devi Selvarajah, 2018).
    d. Kesadaran merek (Brand awareness)
    Brand awareness adalah sejauh mana merek tersebut dikenal oleh konsumen,
    hal ini akan mempengaruhi konsumen untuk menentukan merek produk yang
    akan dipilih dan pada akhirnya melakukan pembelian (Lu et al., 2014).
    e. Persepsi kualitas (Perceived quality)
    Perceived quality ialah persepsi konsumen mengenai kualitas produk atau
    keunggulan satu merek bila dibandingkan dengan merek lainnya (Zeeshan,
    2013).

Pengertian Purchase Intention


Purchase intention adalah kecenderungan subjektif konsumen pada produk
tertentu, dan dapat digunakan sebagai indikator penting untuk memprediksi
perilaku konsumen (Fishbein & Ajzen, 1975). Menurut Kotler & Keller (2012)
purchase intention merupakan bentuk atau perilaku konsumen setelah menerima
rangsangan produk yang dilihatnya, lalu muncul keinginan untuk membeli dan
memilikinya.
Sedangkan Spears dan Singhs (2004) mendefinisikan purchase intention
merupakan rencana konsumen secara sadar untuk melakukan pembelian sebuah
produk. Purchase intention dapat diartikan sebagai sikap senang terhadap suatu
produk yang membuat konsumen berusaha untuk mendapatkan produk tersebut
dengan cara melakukan pembelian dan pengorbanan (Schiffman & Kanuk, 2008)

Pengertian Beauty Influencer


Influencer adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi,
mengubah perilaku, dan mendorong hasil yang dapat diukur secara online. Mereka
membentuk hubungan yang kuat dengan individu yang berpikiran sama di dalam
jaringan sosial dan memperkuat koneksi tersebut dengan interaksi yang bernilai
dan bermakna. Influencer ini bisa memiliki pengaruh berdasarkan berbagai faktor,
seperti pengikut yang besar atau terfokus di media sosial, reputasi yang baik, atau
otoritas dalam komunitas tertentu (Solis & Webber, 2012).
Beauty influencer merupakan salah satu individu yang memberikan dampak
di media sosial dalam industri kecantikan, sehingga beauty influencer dapat
mempengaruhi cara konsumen saat membuat dan mengambil keputusan dalam
pemilihan produk kecantikan (Solis & Webber, 2012).
Beauty influencer memiliki keahlian khusus pada dunia kecantikan yang
kemudian membagikan keahlian tersebut dalam bentuk cerita, tutorial, dan
penilaian mengenai kesehatan kulit serta produk kecantikan (Tran et al., 2020).
Eksistensi seorang beauty influencer tergolong penting bagi industri kecantikan,
karena konsumen membutuhkan referensi produk yang dicarinya, sehingga peran
beauty influencer dapat membantu para konsumen dalam membuat dan
mengambil keputusan pembelian produk skincare.
Beauty influencer dapat dikatakan sebagai seorang yang mahir dalam
menyampaikan informasi, dan memiliki popularitas yang tinggi sehingga citranya
terlihat kuat dan terpercaya. Dengan jumlah pengikut yang banyak, review produk
yang mereka bagikan dianggap jujur dan valid, karena mereka biasanya mencoba
produk terlebih dahulu dan berbagi opini berdasarkan pengalaman pribadi
mereka.
Konsumen mendapat kemudahan berupa informasi mendetail tentang produk,
cara penggunaan produk, kelebihan dan kekurangan produk, kesan setelah
mencoba produk, hasil yang diharapkan setelah mencoba produk, dan
perbandingan dengan produk lain. Kegiatan yang dilakukan oleh beauty
influencer ini dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk kecantikan
berdasarkan review yang diberikan oleh beauty influencer.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa beauty influencer
merupakan seseorang yang aktif di media sosial dalam dunia kecantikan dan
memiliki pengaruh dalam membentuk keputusan bagi para konsumen

Pengaruh Brand Image Terhadap Minat Beli


Sebuah brand diciptakan agar produk terbebut memiliki ciri khas
tersendiri yang dapat menimbulkan minat beli dalam diri konsumen. Brand image
menjadi hal sangat penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam
melakukan pemasaran produk atau jasanya. Karena melalui brand image yang
baik akan menimbulkan nilai-nilai emosional pada diri konsumen sehingga
menimbulkan minat beli terhadap suatu produk. Semakin positif sikap seorang
konsumen terhadap suatu brand, maka semakin tinggi juga minat beli konsumen.
Sehingga pembentukan brand image yang positif diperlukan oleh pelaku usaha
dalam menjaga agar brand yang sudah didirikan dapat sukses dalam jangka waktu
yang lama. Brand image dapat berpengaruh terhadap minat beli konsumen.
Seperti yang diungkapkan oleh Fauziah & Aziz Mubarok (2019) yang menyatakan
bahwa Brand Image memiliki hubungan sangat kuat dan hubungan searah dengan
minat beli.

Pengaruh Digital Marketing Terhadap Minat Beli


Seiring dengan perkembangan teknologi digital, masyarakat dunia
khususnya masyarakat Indonesia yang terbiasa berbelanja langsung dengan
mendatangi toko kini berganti menjadi berbelanja dengan hanya dirumah, dengan
memanfaatkan media digital yaitu dengan berbelanja online. Hal tersebut dapat
terjadi karena pembelian melalui media digital ini mudah untuk dilakukan seperti
transaksi, pemesanan dan pencarian informasi membuat masyarakat lebih tertarik
untuk berbelanja secara online. Maka dari itu, di era sekarang perushaan harus
pandai-pandai untuk dapat melakukan pemasaran dengan memanfaatkan media
digital. Seperti yang diungkapkan oleh Pangkey et al (2019) bahwa semakin
meningkat media digital oleh konsumen maka perusahaan dalam mencapai
targetnya akan semakin mudah. Digital marketing dapat memberikan pengaruh
terhadap minat beli. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Friani Wulan
Cahya Simanjuntak (2022) yang menyatakan bahwa digital marketing
berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen. Konsumen merasa termotivasi
untuk membeli produk akibat dari digital marketing yang sudah dilakukan oleh
perusahaan. Karena, konsumen berpendapat jika digital marketing lebih
informatif dalam menjelaskan setiap produk, mudah dicari dan lebih menarik

Pengaruh Influencer Marketing Terhadap Minat Beli


Influencer merupakan seorang yang memengaruhi orang lain lewat
perkataan mereka, serta mereka mempunyai banyak audiens (Sugiharto dan
Ramadhana, 2018). Influencer tidak diharuskan seorang selebriti, tetapi seluruh
orang dapat dikatakan sebagai seorang influencer apabila perkataannya dapat
memberikan pengaruh kepada pendengarnya. Influencer marketing adalah teknik
pemasaran yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan kerja sama
dengan influencer yang biasanya melakukan pemasaran menggunakan media
sosial seperti Instagram, Twitter, YouTube, Facebook dan masih banyak lagi
media sosial yang dapat digunakan oleh para influencer tersebut. Influencer
marketing dipercaya dapat mempengaruhi minat beli pelanggan dikarenakan
seorang influencer yang diyakini dapat mempengaruhi pengikutnya di media
sosial. Influencer dapat menjangkau konsumen potensial secara efisien. Penelitian
yang dilakukan oleh Tamrin (2023) yang menyatakan bahwa influencer marketing
memiliki pengaruh terhadap minat beli.

Indikator Brand Image


Menurut Rahman (2010), terdapat tiga tipe indikator brand image, antara lain:

  1. Attribute brand yaitu merek yang mampu mengkomunikasikan kepercayaan
    terhadap atribut fungsional produk.
  2. Aspirational brands yaitu merek yang menyampaikan citra tentang tipe orang
    yang membeli merek tersebut.
  3. Experience brands yaitu merek yang menyampaikan citra asosiasi dan emosi
    bersama antara merek dan konsumen secara individu

Brand Image


Image atau citra merupakan persepsi dari masyarakat terhadap suatu
produk atau perusahaan dengan banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya
citra terhadap perusahaan tersebut. Kotler (2009) menyatakan bahwa image (citra)
adalah kepercayaan, ide, dan impressi seseorang terhadap sesuatu. Citra merupaan
kesan, impressi, perasaan atau persepsi yang ada pada publik mengenai
perusahaan, suatu obyek, orang atau lembaga. Citra yang baik terhadap
perusahaan akan sangat dapat membantu perusahaan dalam membangun brand
nya, tetapi jika perusahaan memiliki citra yang buruk, hal tersebut menjadi
pengaruh yang cukup buruk terhadap perusahaan.
Menurut Supranto (2011) yang menyatakan bahwa citra merek adalah apa
yang konsumen pikir atau rasakan ketida mereka mendengar atau melihat namam
suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah pelajari tentnag merek.
Brand image merupakan persepsi atau sinyal yang ditimbulkan dari konsumen
pengguna merek. Agar citra merek berfungsi maka citra itu harus disampaikan
melalui setiap srana komunikasi yang tersedia dan kontak merek (Kartika
Nintiyas, 2016).
Berdasarkan beberapa definisi tentang brand image diatas, dapat
disimpulkan jika brand image merupakan persepsi atau tanggapan dari konsumen
terhadap produk atau jasa dari suatu brand yang digunakan atau dikonsumsi oleh
konsumen tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi menurut Kotler (2009)
yaitu antara lain:

  1. Atribut
    Sebuah merek menyampaikan atribut-atribut tertentu, misalnya; Mercedes
    mengisyaratkan mahal, tapi tahan lama, berkualitas, nilai jual Kembali yang
    tinggi, cepat dan sebagainya.
  2. Manfaat
    Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena yang dibeli konsumen
    adalah manfaat, bukan atribut. Misalnya atribut mobil mahal dapat diterjemahkan
    kedalam manfaat emosional.
  3. Nilai-nilai
    Merek juga menyatakan nilai-nilai prosedurnya. Contohnya Mercedes
    berarti kinerja tinggi, keamanan, parties, dan sebagainya.
  4. Budaya
    Merek juga mungkin mencerminkan budaya tertentu. Mercedes
    mencerminkan budaya Jerman, yaitu terorganisasi rapi, efisiensi dan berkwalitas
    tinggi.
  5. Kepribadian
    Merek juga dapat memproyeksikan kepribadian tertentu.
  6. Pemakaian
    Merek memberikan kesan mengenai jenis konusmen yang membeli atau
    menggunakan produknya

Indikator Digital Marketing


Indikator merupakan tolak ukur sebuah konsep atau variabel. Indikator
sangat dibutuhkan dalam membuat konsep untuk membantu mendapatkan
pengukuran bagi variabel dengan lebih baik dan tepat. Indikator digital marketing
di dalam penelitian ini, mengambil indikator yang diperkenalkan oleh Kartika
Wulandari (2021), yang kemudian diukur dengan beberapa indikator antara lain:

  1. Minat Transaksional
    Minat transaksional adalah kecenderungan konsuemn untuk membdli suatu
    produk atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
    diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
  2. Minat Referensial
    Minat referensial adalah minat yang menggambarkan perilaku sesorang yang
    memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
  3. Minat Preferensial
    Minat preferensial adalah minat yang menggambarkan suatu pilihan yang
    diambil dan dipilih konsumen dari berbagai macam pilihan yang tersedia. Tahap
    preferensi yang dimiliki oleh pelanggan merupakan tahap awal dalam loyalitas
    pelanggan atau konsumen terhadap produk yang dipasarkan tersebut.
  4. Minat Eksploratif.
    Minat ekploratif adalah perilaku konsumen yang selalu mencari informasi
    mengenai produk yang diminati dan mecari produk lain yang akan mendukung
    sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Digital Marketing


Digital marketing merupakan cara untuk memasarkan produk dengan
menggunakan media digital. Digital marketing adalah kombinasi antara
penggunaan teknologi informasi dengan internet untuk meningkatkan jangkauan
pemasaran konvensional (Urban, 2004). Hal ini berarti digital marketing
merupakan cara yang dilakukan oleh pelaku pemasaran untuk memanfaatkan
internet dalam melakukan pemasaran produk atau jasa dengan menggunakan
media digital dan teknologi digital dengan tujuan meningkatkan jangkauan dan
memberikan nilai tambah kepada pelanggan. Digital marketing telah mengalami
evolusi dari kegiatan pemasaran yang menggunakan sarana online menjadi proses
memperoleh konsumen, membangun preferensi konsumen, promosi produk dan
merek, pemeliharaan konsumen dan peningkatan penjualan (Purwana, Rahmi, &
Aditya, 2017).
Menurut Armstrong Kottler (2010) digital marketing menggambarkan
usaha-usaha perushaaan untuk meninformasikan, mempromosikan,
berkomunikasi dan memasarkan suatu produk dan jasa melalui media internet.
Digital marketing digunakan oleh pelaku usaha untuk dapat memasarkan produk
atau jasa dari cara tradisional menjadi serba digital dengan tujuan konsumen dapat
menjangkau produk atau jasa yang dipasarkan dengan tepat waktu dan efisien.
Penjelasan yang sudah diberikan oleh para ahli diatas membantu peneliti
untuk mengetahui bahwa digital marketing adalah salah satu cara yang dapat
dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan promosi produk atau jasanya dengan
memanfaatkan teknologi internet seperti sosial media atau jejaring sosial lainnya.
20
Armstrong Kottler (2010) menyatakan bahwa ada hal-hal yang dapat
mempengaruhi digital marketing antara lain yaitu:

  1. Website
    Website merupakan situs internet yang berupa halaman web dengan
    menampilkan berbagai macam informasi dalam bentuk digital baik dalam tulisan,
    animasi, video, suara bahkan gambar. Website mudah di akses oleh siapa saja yang
    memiliki fasilitas internet, dan akses untuk menggunakannya cukup dibilang
    mudah dan cepat. Sekarang sudah banyak perusahaan yang menggunakan website
    untuk melakukan pemasaran pada produk atau jasa yang ditawarkan. Karena sifat
    website yang mudah digunakan dan memiliki banyak informasi yang dapat dicari.
  2. Search Engine Marketing
    Search engine marketing adalah cara pemasaran di internet guna
    meningkatkan kualitas website yang digunakan untuk melakukan pemasaran.
    Biasanya cara pemasaran ini melalui iklan berbayar yang bertujuan untuk
    mendapatkan kenaikan kualitas website. Perusahaan menggunakan search engine
    marketing untuk membantu pembangunan di era digitalisasi ini.
  3. E-Mail Marketing
    E-mail marketing merupakan cara pemasaran yang dilakukan oleh
    perusahaan dengan memanfaatkan media email untuk setiap kegiatan permasaran
    produk maupun jasa tersebut. Cara pemasaran ini bertujuan supaya dapat
    membangun koneksi dengan konsumen apabila ada penawaran terbaru yang di
    promosikan.
  4. Social Media Marketing
    Social media marketing merupakan teknik dalam memasarkan produk atau
    jasa dengan menggunakan sosial media dan situs website. Cara pemasaran ini
    dapat berinteraksi langsung dengan pelanggan melalui media sosial, dapat
    melakukan pemberitahuan akan adanya launching produk baru, menerima
    feedback dan rekomendasi, serta dapat membangun komunitas pelanggan

Indikator Influencer Marketing


Ada lima indikator menurut Shimp (2014) dalam memasarkan produk
menggunakan strategi influencer marketing yaitu sebagai berikut:

  1. Trustwhorthiness (Dapat Dipercaya)
    Hal-hal yang mengacu pada kepercayaan, kejujuran, intergritas dan bagaimana
    seorang influencer dapat dipercaya.
  2. Expertise (Keahlian)
    Mengacu pada pada pengetahuan, pengalaman atau keahlian yang dimiliki
    oleh influencer atau pemengaruh yang dihubungkan dengan merek yang didukung
    oleh pemengaruh tersebut yang akan lebih persuasif terhadap menarik calon
    konsumen daripada pemengaruh yang tidak dterima oleh seorang ahli.
  3. Attractive (Daya Tarik Fisik)
    Mengacu pada diri yang dianggap sebagai hal yang menarik untuk dilihat
    dalam kaitannya dengan konsep kelompok tertentu dengan daya tarik fisik.
  4. Respect (Kualitas Dihargai)
    Kualitas dihargai atau digemari sebagai akibat dari kualitas pencapaian
    personal.
  5. Similarity (Kesamaan dengan Konsumen yang Dituju)
    Mengacu pada kesamaan antara sumber pesan dan calon konsumen dalam hal
    umur, jenis, kelamin, etnis, status sosial dan sebagainya

Indikator Minat Beli


Indikator yang menentukan minat beli menurut Tjiptono antara lain yaitu:

  1. Minat transaksional yaitu kecenderungan seorang konsumen untuk membeli
    produk. Konsumen telah memiliki minat terhadap produk tertentu untuk
    melakukan pembelian.
  2. Minat refresial yaitu kecenderungan untuk merujuk dan menyatakan produk
    tertentu kepada orang lain untuk dibeli.
  3. Minat preferensial yaitu kecenderungan ke minat yang menggambarkan
    perilaku seorang konsumen yang menajdikan produk sebagai pilihan utama.
    Preferensi dapat diganti Ketika terjadi sesuatu dengan produk tersebut.
  4. Minat eksporiatif yaitu perilaku seorang konsumen yang selalu mencari
    informasi dan hal-hal positif mengenai produk tertentu.
    Adapun menurut Kotler (2009) menyatakan minat beli konsumen dapat
    dilakukan melalui lima tahap dalam mengadopsi produk baru, antara lain:
  5. Kesadaran (awareness) yaitu konsumen menyadari adanya incovasi tersebut
    tetapi masih kekurangan informasi mengenai hal tersebut.
  6. Minat (interest) yaitu konsuen terdorong untuk mencari informasi mengenai
    inovasi tersebut.
  7. Evaluasi (evaluation) konsumen mempertimbangkan untuk mencoba inovasi
    tersebut.
  8. Percobaan (trial) yaitu konsumen mencoba inovasi tersebut untuk
    memperbaiki pikirannya atas nilai inovasi tersebut.
  9. Penerimaan (adoption) yaitu konsumen memutuskan untuk menggunakan
    inovasi tersebut sepenuhnya dan secara teratur.

Minat Beli


Minat beli adalah sikap ingin mendapatkan atau memiliki suatu produk
yang timbul karena terdapat persepsi, kualitas suatu produk dan informasi dari
produk tersebut dan mempengaruhi tindakan seperti pembelian yang dilakukan
oleh konsumen. Minat beli adalah kecenderungan konsumen untuk membeli suatu
merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian (Supranto,
2011).
Menurut Kotler dan Keller (2017) bahwa minat beli merupakan perilaku
seseorang yang memiliki keinginann dalam memilih atau bahkan membeli suatu
produk berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan
mengkonsumsi suatu produk.
Berdasarkan definisi dari minat beli diatas, maka dapat disimpulkan jika minat
beli adalah kecenderungan konsumen dalam membeli produk setelah mengetahui
informasi dan pengalaman dari diri konsumen tentang merek yang akan dibeli

Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Armstrong (2021) harga merupakan elemen krusial
dalam proses pengambilan keputusan konsumen, karena merupakan satu-satunya
komponen dalam bauran pemasaran yang secara langsung menghasilkan
pendapatan. Harga yang ditetapkan harus mencerminkan persepsi konsumen
terhadap nilai dan kualitas suatu produk, karena hal ini dapat menjadi pendorong
utama dalam keputusan pembelian. Penelitian yang dilakukan oleh Alamsyah &
Tanjung (2023) menemukan bahwa harga memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian. Konsumen cenderung memilih produk yang
menawarkan keseimbangan antara harga dan manfaat yang diperoleh, sehingga
strategi penetapan harga yang tepat menjadi kunci dalam menarik minat beli.
Semakin sesuai harga dengan ekspektasi konsumen, semakin besar kemungkinan
terjadinya pembelian. Hasil ini diperkuat oleh temuan Hidayat (2021) yang
menyatakan bahwa harga memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian. Konsumen akan lebih terdorong untuk membeli apabila mereka merasa
harga yang ditawarkan sepadan dengan manfaat yang diterima. Penetapan harga
yang kompetitif tidak hanya membentuk persepsi positif terhadap produk, tetapi
juga meningkatkan keyakinan konsumen dalam melakukan transaksi. Stabilitas dan
daya tarik harga menjadi faktor penting yang dapat memperkuat motivasi konsumen
untuk terus melakukan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Armstrong (2021) kualitas produk merupakan inti dari nilai
yang ditawarkan kepada konsumen dan berperan penting dalam membentuk
kepuasan serta loyalitas pelanggan. Kualitas yang baik mencerminkan kemampuan
produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen, yang pada akhirnya
memengaruhi keputusan untuk membeli. Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari
dan Nadiya & Wahyuningsih (2020) membuktikan bahwa kualitas produk memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Konsumen
cenderung memilih produk yang memiliki daya tahan, kinerja, dan keandalan yang
tinggi karena hal ini menciptakan rasa percaya terhadap merek. Selain itu,
Alamsyah & Tanjung (2023) juga menemukan bahwa persepsi konsumen terhadap
kualitas suatu produk sangat menentukan tindakan pembelian. Produk yang secara
konsisten menunjukkan kualitas yang unggul akan membentuk citra positif dan
meningkatkan kepercayaan konsumen dalam melakukan pembelian. Oleh karena
itu, semakin tinggi kualitas produk yang ditawarkan, semakin besar kemungkinan
konsumen untuk memutuskan membeli produk tersebu

Indikator Keputusan Pembelian


Kotler & Amstrong (2021) faktor yang berkontribusi pada sub-keputusan
berikut dalam keputusan pembelian produk konsumen:

  1. Pemilihan Produk
    Produk tersebut dijual, tetapi pelanggan dapat memilih untuk
    membelanjakan uang mereka sesuka mereka. Di sini, bisnis sebaiknya
    berkonsentrasi pada calon pelanggan dan faktor-faktor yang mungkin mereka
    gunakan sebagai alternatif. Persyaratan produk, keragaman produk, dan kualitas
    produk adalah beberapa contohnya.
  2. Pemilihan Merek
    Dalam hal ini, tanggung jawab ada pada pembeli untuk memilih merek. Ada
    variasi yang berbeda di antara merek. Jadi, sangat penting bagi bisnis untuk
    mengetahui mengapa pelanggan memilih merek mereka. Faktor-faktor seperti
    popularitas merek dan kepercayaan pelanggan terhadap merek adalah contoh
    elemen yang memengaruhi pilihan konsumen.
  3. Pilihan Penyalur
    Ketika memutuskan pemasok mana yang akan bekerja sama, setiap
    pelanggan memiliki prioritas yang unik. Faktor-faktor seperti kedekatan,
    keterjangkauan, ketersediaan produk yang lengkap, dan promosi dapat
    memengaruhi keputusan ini. Yang juga perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan
    barang dan kemudahan pelanggan untuk membelinya.
  4. Waktu Pembelian
    Ketika akan melakukan pembelian, konsumen memiliki banyak pilihan.
    Tergantung pada masing-masing individu, beberapa orang mungkin hanya
    melakukan pembelian produk secara bulanan, kuartalan, semesteran, atau tahunan.
  5. Jumlah Pembelian
    Pelanggan lebih cenderung membeli banyak barang ketika permintaan mereka
    bervariasi. Oleh karena itu, bisnis perlu menyediakan barang yang sesuai dengan
    selera pelanggan

Keputusan Pembelian


Konsumen menilai dan memilih produk sesuai dengan kriteria tertentu
selama proses pengambilan keputusan pembelian. (Schiffman & Kanuk dalam
Pradiatiningtyas, 2020). Tjiptono dalam Nst (2023) menjelaskan bahwa dalam
mengambil keputusan, konsumen akan terlebih dahulu mengidentifikasi
kebutuhannya, mencari informasi tentang alternatif produk, melakukan
perbandingan, dan akhirnya membuat keputusan pembelian.
Kotler dan Keller (2008:184) mengusulkan model lima tahap proses
pengambilan keputusan konsumen yang dimulai jauh sebelum pilihan untuk
membeli, berlanjut hingga pembelian, dan kemudian berlanjut lagi setelah
penjualan. Pernyataan ini menegaskan bahwa proses pembelian bukanlah tindakan
yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui serangkaian pertimbangan dan
evaluasi yang memiliki dampak jangka panjang terhadap perilaku konsumen
setelah pembelian dilakukan.
Gambar 2.1 Tahap Proses Pembelian
Sumber : Kotler & Keller, 2008

  1. Pemilihan Produk
    Di sini, pembeli menimbang pro dan kontra dari melakukan pembelian
    vs mengalokasikan dana tersebut di tempat lain. Oleh karena itu, sangat
    penting bagi bisnis untuk memahami faktor-faktor pengambilan keputusan,
    seperti permintaan pelanggan, variasi produk, dan kualitas produk.
  2. Pencarian Informasi
    Pelanggan didorong untuk mempelajari lebih lanjut tentang barang
    dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan mereka begitu mereka
    menyadarinya. Data ini dapat diperoleh dari berbagai tempat, termasuk akun
    tangan pertama, lingkaran sosial seseorang (termasuk kerabat dan teman),
    dan, tentu saja, iklan dan laporan berita. Konsumen juga dapat mencari
    pengetahuan dengan terlibat dalam pengalaman langsung dengan barang
    tersebut, seperti mengujinya atau membaca ulasan online. Sebelum
    melanjutkan ke tahap penilaian alternatif, tujuan utama dari pencarian
    informasi ini adalah mengumpulkan pengetahuan yang cukup.
  3. Evaluasi Alternatif
    Setelah mereka memiliki semua fakta, pembeli mulai
    membandingkan dan membedakan berbagai merek atau barang. Pelanggan
    dapat membuat keputusan yang tepat dengan mengevaluasi produk sesuai
    dengan kriteria penting termasuk harga, kualitas, desain, dan keuntungan
    yang diberikan.
  4. Keputusan Pembelian
    Setelah mengevaluasi berbagai alternatif, konsumen akan sampai
    pada tahap membuat keputusan akhir untuk melakukan pembelian.
    Pemilihan merek dan produk pada fase ini dipengaruhi oleh niat untuk
    membeli serta faktor situasional lainnya, seperti ketersediaan produk atau
    pengaruh sosial. Meskipun konsumen telah memiliki preferensi, keputusan
    akhir dapat berubah karena pertimbangan mendadak, seperti rekomendasi
    orang lain atau insentif diskon.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Umpan balik pelanggan tentang kinerja produk selama penggunaan
    adalah langkah terakhir sebelum melakukan pembelian. Orang akan menilai
    produk berdasarkan seberapa baik produk tersebut memenuhi harapan
    mereka. Ketika pelanggan senang, mereka cenderung untuk membeli dari
    Anda lagi dan memberi tahu teman-teman mereka tentang hal itu. Ketika
    pelanggan tidak puas, mereka memiliki pilihan: mengeluh, mencoba merek
    lain, atau menyampaikan keluhan mereka di tempat lain

Indikator Harga


Menurut Kotler & Armstrong dalam Septyadi et al. (2022), terdapat empat
indikator utama yang menjadi dasar dalam menetapkan harga suatu produk
atau jasa. Keempat indikator ini tidak hanya mencerminkan nilai ekonomis,
tetapi juga strategi pemasaran yang tepat sasaran. Pertama
adalah affordability atau keterjangkauan, yang menggambarkan sejauh mana
harga sesuai dengan daya beli konsumen sasaran. Kedua, kesesuaian harga
dengan kualitas produk (price–quality congruence), yaitu penilaian
konsumen terhadap nilai yang diperoleh dibandingkan dengan harga yang
dibayarkan. Ketiga, harga dibandingkan dengan pesaing (competitive
pricing), yakni sejauh mana harga suatu produk kompetitif di pasar yang sama.
Terakhir adalah konsistensi harga (price consistency), yang berarti harga
harus stabil dan tidak mudah berubah tanpa alasan yang jelas, agar
menciptakan kepercayaan dan persepsi yang positif dari pelanggan.
Kombinasi dari keempat indikator ini memungkinkan perusahaan untuk
menetapkan harga yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga sesuai dengan
persepsi dan kebutuhan konsumen.

  1. Keterjangkauan harga
    Anggaran dari target demografis harus menginformasikan strategi
    penetapan harga.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas
    Harga yang wajar harus ditentukan dengan mempertimbangkan kualitas
    produk.
  3. Daya saing harga
    Jika dibandingkan dengan bisnis lain di pasar, harga harus masuk akal.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Nasabah akan senang jika nilai yang mereka dapatkan sebanding dengan
    investasi mereka

Harga


Menurut Philip Kotler, harga produk atau layanan menunjukkan nilai
moneter yang harus dibayarkan oleh pembeli untuk memperoleh dan
menikmati barang atau layanan tersebut (Indrasari, 2019). Harga bukan hanya
sekadar angka, melainkan mencerminkan nilai yang dirasakan konsumen atas
manfaat yang ditawarkan oleh produk atau layanan tersebut. Dalam strategi
pemasaran, harga memainkan peran yang sangat strategis karena secara
langsung memengaruhi daya tarik produk di mata konsumen serta daya saing
produk di pasar. Harga yang ditetapkan terlalu tinggi dapat menghambat
produk dalam menjangkau segmen pasar yang ditargetkan, karena konsumen
mungkin merasa produk tersebut tidak sepadan dengan biaya yang harus
mereka keluarkan. Akibatnya, penjualan bisa terhambat dan pangsa pasar sulit
berkembang. Sebaliknya, harga yang terlalu rendah berisiko menimbulkan
persepsi negatif, di mana konsumen dapat menganggap kualitas produk
tersebut rendah atau tidak dapat diandalkan. Selain itu, harga yang terlalu
murah juga dapat merusak citra merek dan menimbulkan perang harga dengan
kompetitor, yang pada akhirnya bisa menurunkan margin keuntungan
perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan harga dengan cermat melalui
analisis biaya, nilai produk, posisi merek, kondisi pasar, serta perilaku dan
preferensi konsumen. Penetapan harga yang tepat akan membantu perusahaan
menyeimbangkan antara nilai yang diberikan kepada konsumen dengan
keuntungan yang diharapkan, sekaligus menjaga persepsi positif terhadap
kualitas produk. Strategi harga yang efektif juga memungkinkan perusahaan
beradaptasi dengan dinamika pasar, seperti perubahan tren, fluktuasi biaya
produksi, atau tekanan dari pesaing, sehingga perusahaan tetap dapat bersaing
dan berkembang secara berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, harga juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi dalam
pemasaran. Harga premium, misalnya, sering digunakan untuk menegaskan
kesan eksklusivitas dan kualitas tinggi, sedangkan harga promosi bisa menarik
konsumen baru dan meningkatkan volume penjualan dalam jangka pendek.
Oleh sebab itu, keputusan harga harus selaras dengan strategi pemasaran
secara keseluruhan, termasuk segmen pasar yang dituju, positioning merek,
serta keunggulan kompetitif yang ingin dibangun oleh perusahaan

Indikator Kualitas Produk


Menurut Budiyanto dalam Ariella (2018), terdapat beberapa indikator yang
menentukan kualitas suatu produk. Indikator-indikator ini mencerminkan sejauh
mana suatu produk mampu memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen secara
optimal. Beberapa indikator tersebut meliputi: kinerja (performance) produk
dalam menjalankan fungsi utamanya; keandalan (reliability) atau tingkat
konsistensi produk dalam jangka waktu tertentu; daya tahan (durability) yang
mencerminkan usia pakai produk; fitur (features) atau karakteristik tambahan
yang memberikan nilai lebih; kesesuaian (conformance) terhadap spesifikasi
standar; estetika (aesthetics) atau penampilan visual dan sensorik produk;
serta kualitas yang dirasakan (perceived quality), yaitu persepsi konsumen
terhadap kualitas produk berdasarkan pengalaman atau informasi dari pihak lain.
Seluruh indikator ini secara keseluruhan membantu dalam mengevaluasi apakah
sebuah produk benar-benar memiliki kualitas tinggi di mata konsumen.

  1. Durability (Ketahanan)
    Produk memiliki daya tahan yang baik dalam penggunaan normal serta
    tidak mudah rusak.
  2. Reliability (Kehandalan)
    Produk berfungsi dengan baik dan konsisten tanpa mengalami kendala
    selama masa penggunaannya.
  3. Conformance (Ketepatan/Kesesuaian)
    Produk sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya.
  4. Kemudahan Penggunaan & Perbaikan
    Produk dibuat sesuai dengan persyaratan tertentu

Kualitas Produk


Kotler & Armstrong dalam Aristamia et al. (20 C.E.) mendefinisikan
kualitas produk sebagai atribut-atribut layanan atau barang yang berdampak pada
kemampuannya untuk memenuhi permintaan konsumen, baik yang dinyatakan
maupun tidak. Karena mempengaruhi kebahagiaan konsumen, kualitas produk
merupakan pertimbangan pemasaran yang penting. (Soedarmanto & Suada, 2022).
Assauri dalam Nadiya & Wahyuningsih (2020) menegaskan bahwa
kualitas suatu produk didefinisikan sebagai kemampuannya untuk memenuhi
kebutuhan dan memenuhi janji yang dibuat kepada pembeli. Oleh karena itu,
produk harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi
pelanggan agar dapat memberikan nilai tambah yang maksimal. Produk berkualitas
tinggi cenderung lebih diminati dan berpotensi meningkatkan loyalitas pelanggan.
Kotler & Armstrong dalam Aristamia et al. (20 C.E.) mendefinisikan
kualitas produk sebagai atribut-atribut layanan atau barang yang berdampak pada
kemampuannya untuk memenuhi permintaan konsumen, baik yang dinyatakan
maupun yang tidak. Karena memengaruhi kepuasan dan kebahagiaan konsumen,
kualitas produk merupakan pertimbangan pemasaran yang sangat penting, terutama
dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin kompetitif (Soedarmanto &
Suada, 2022). Produk yang memiliki kualitas baik tidak hanya mampu menarik
perhatian konsumen baru, tetapi juga mempertahankan loyalitas konsumen lama,
sehingga berdampak langsung pada keberlangsungan dan keuntungan perusahaan
dalam jangka panjang. Assauri dalam Nadiya & Wahyuningsih (2020) menegaskan
bahwa kualitas suatu produk didefinisikan sebagai kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan dan memenuhi janji yang dibuat kepada pembeli. Oleh karena
itu, produk harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi
pelanggan agar dapat memberikan nilai tambah yang maksimal. Produk berkualitas
tinggi cenderung lebih diminati, memiliki keunggulan kompetitif, dan berpotensi
meningkatkan loyalitas pelanggan karena mampu menciptakan kepuasan yang
berkelanjutan.
Selain itu, kualitas produk tidak hanya mencakup aspek fungsional, seperti
keandalan dan daya tahan, tetapi juga mencakup aspek emosional, seperti desain
menarik, kemasan yang estetik, hingga citra merek yang melekat pada produk
tersebut. Menurut Tjiptono (2019), persepsi konsumen terhadap kualitas produk
sangat dipengaruhi oleh pengalaman mereka dalam menggunakan produk serta
informasi yang mereka terima, baik melalui iklan, ulasan konsumen lain, maupun
rekomendasi dari orang terdekat. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan
bahwa kualitas produk tetap terjaga secara konsisten untuk mempertahankan
kepercayaan pasar. Lebih jauh lagi, Garvin (1987) mengemukakan bahwa kualitas
produk dapat dilihat dari delapan dimensi, yaitu performa, fitur, keandalan,
kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, kemudahan perawatan, estetika, dan
kualitas yang dirasakan secara subjektif oleh konsumen. Delapan dimensi ini
menekankan pentingnya perusahaan untuk tidak hanya fokus pada keunggulan
teknis produk, tetapi juga pada faktor-faktor lain yang membentuk persepsi positif
di mata konsumen.
Selain itu, strategi untuk meningkatkan kualitas produk juga harus diiringi
dengan proses pengendalian kualitas (quality control) yang ketat dalam setiap tahap
produksi. Hal ini penting untuk meminimalkan cacat produk, mengurangi biaya
pengembalian barang, serta menjaga kepuasan pelanggan. Di era globalisasi saat
ini, banyak perusahaan menerapkan standar kualitas internasional seperti ISO 9001
untuk memastikan produk yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu yang diakui
secara global. Dengan demikian, kualitas produk tidak hanya menjadi alat untuk
memenuhi harapan konsumen, tetapi juga menjadi senjata strategis bagi perusahaan
dalam membangun diferensiasi, memperkuat posisi di pasar, serta memenangkan
persaingan bisnis yang semakin kompleks. Perusahaan yang mampu secara
konsisten menghasilkan produk berkualitas tinggi akan lebih mudah meraih
kepercayaan konsumen dan menciptakan citra merek yang positif, yang pada
akhirnya akan mendorong pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan

Dimensi & Indikator Influencer Marketing


Menurut Smuda dalam Uyuun (2022), Dalam hal mengukur keberhasilan
influencer marketing, ada beberapa metrik penting yang perlu diperhatikan. Ini
termasuk:

  1. Kepercayaan(Trustworthiness)
    Untuk mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya, influencer haruslah
    sangat kredibel. Kredibilitas yang baik memungkinkan pengikut mereka untuk
    mempercayai rekomendasi produk yang diberikan.
  2. Keahlian(Expertise)
    Seorang influencer harus memiliki pengetahuan atau keterampilan dalam
    bidang yang mereka geluti, sehingga dapat memberikan informasi yang valid
    dan relevan kepada pengikutnya.
  3. DayaTarik(Attractiveness)
    Faktor daya tarik meliputi aspek visual maupun kesamaan emosional dengan
    audiens. Influencer dengan citra menarik dan relatable akan lebih mudah
    membangun koneksi dengan pengikut mereka

Pengertian Influencer Marketing


Menurut Lengkawati (2021), Salah satu jenis iklan yang dikenal sebagai
“influencer marketing” memanfaatkan orang-orang terkenal untuk menyebarkan
berita tentang produk atau layanan tertentu. Karena influencer memiliki banyak
pengaruh dalam kelompok mereka sendiri, taktik ini semakin penting dalam
pemasaran digital, terutama di media sosial. lebih lanjut dengan mengatakan bahwa
tujuan dari influencer marketing adalah untuk menargetkan demografi tertentu
melalui tokoh-tokoh terkemuka yang dianggap memiliki dampak besar pada
kelompok tersebut.
Dalam pemasaran modern, banyak perusahaan mengandalkan influencer
marketing sebagai strategi utama dalam membangun kesadaran merek dan
meningkatkan penjualan. Kotler & Keller dalam Uyuun (2022) mengacu pada
pemasaran influencer sebagai jenis iklan yang memanfaatkan pengguna media
sosial populer untuk mempengaruhi opini konsumen dan pada akhirnya pembelian
mereka. Ketenaran, keahlian, dan posisi mereka dalam industri tertentu adalah
faktor penentu siapa yang akan menjadi influencer.
Penerapan influencer marketing dapat membantu perusahaan dalam
meningkatkan brand awareness, mengedukasi calon konsumen, memperluas
jangkauan pasar, hingga mendorong peningkatan penjualan. Secara umum,
pendekatan influencer marketing bertujuan untuk melakukan tiga hal:
mengedukasi, meyakinkan, dan menghibur.
Dalam praktik pemasaran modern, banyak perusahaan menjadikan
influencer marketing sebagai salah satu strategi utama dalam membangun
kesadaran merek (brand awareness) dan mendorong peningkatan penjualan.
Menurut Kotler & Keller dalam Uyuun (2022), influencer marketing merupakan
jenis iklan yang menggunakan individu populer di media sosial untuk membentuk
opini konsumen dan pada akhirnya memengaruhi keputusan pembelian mereka.
Pemilihan influencer tidak dilakukan secara sembarangan; ketenaran, keahlian, dan
posisi mereka dalam industri tertentu menjadi faktor utama dalam menentukan
siapa yang layak dijadikan mitra promosi. Influencer dengan reputasi yang baik
akan mampu meningkatkan kredibilitas produk, sedangkan influencer yang
memiliki keterlibatan tinggi dengan pengikutnya berpotensi menciptakan efek viral
yang sangat bermanfaat bagi perusahaan. Penerapan influencer marketing dapat
memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan, mulai dari meningkatkan
kesadaran merek, mengedukasi calon konsumen tentang manfaat produk atau
layanan, memperluas jangkauan pasar, hingga secara signifikan mendorong
pertumbuhan penjualan. Strategi ini juga memungkinkan perusahaan untuk
menciptakan koneksi emosional dengan konsumen melalui konten yang otentik dan
personal, yang sering kali lebih efektif dibandingkan dengan iklan tradisional.
Konten yang dibuat oleh influencer umumnya dikemas dengan cara yang lebih
natural, sehingga pesan pemasaran terasa lebih kredibel dan tidak memaksa.
Selain itu, pendekatan influencer marketing dapat membantu perusahaan untuk
mendapatkan umpan balik langsung dari target audiens melalui interaksi di kolom
komentar atau pesan pribadi.
Hal ini memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memahami
preferensi dan kebutuhan konsumen dengan lebih baik, sehingga dapat melakukan
penyesuaian pada produk, layanan, maupun strategi komunikasi. Secara umum,
pendekatan influencer marketing memiliki tiga tujuan utama, yaitu mengedukasi
audiens mengenai produk, meyakinkan mereka untuk membeli, serta menghibur
melalui konten yang menarik dan relevan. Dengan ketiga tujuan tersebut, influencer
marketing mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat dan personal antara
merek dan konsumen, sekaligus memperkuat loyalitas terhadap produk atau
layanan yang ditawarkan.
Dalam konteks persaingan bisnis yang semakin ketat dan dinamis, influencer
marketing juga dinilai lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan strategi pemasaran
konvensional.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, kampanye influencer dapat
disesuaikan dengan tren yang sedang berkembang di masyarakat, sehingga merek
tetap relevan di mata konsumen. Oleh karena itu, influencer marketing kini menjadi
salah satu elemen penting dalam bauran pemasaran perusahaan modern, yang tidak
hanya berfokus pada promosi produk, tetapi juga pada pembangunan citra positif
dan hubungan jangka panjang dengan konsumen

Social Media Marketing Terhadap Keputusan Pembelian


Social media marketing adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan
untuk mempromosikan bisnisnya melalui media sosial dengan menciptakan
konten yang menarik untuk menjangkau komunitas, hal ini lebih menjanjikan
dibandingkan dengan iklan konvensional. Selain itu, perusahaan dapat
berinteraksi dengan para pengikutnya, yang memungkinkan konsumen,
pelanggan atau pengikutnya mudah mendapatkan informasi dari perusahaan
(Riyandana & Bestari, 2023). Hal tersebut diperkuat dengan penelitian
(Ansari et al., 2019) bahwa social media marketing memiliki peran penting
dalam membangun koneksi dengan pelanggan.
Banyak perusahaan memanfaatkan social media untuk mendukung
bisnis mereka karena interaksi dari pengguna aktif social media sangat besar
sehingga iklan perusahaan di social media sering muncul di smartphone
mereka daripada TV saat ini. Oleh karena itu, keputusan pembelian di era
digital saat ini dapat terjadi saat seseorang melihat iklan secara tidak sengaja
di social media dan tertarik sesuai dengan produk yang diinginkannya
(Narayana, 2020) dalam (Riyandana & Bestari, 2023). Sehingga social media
marketing dapat mempengaruhi perilaku konsumen, mendorong konsumen
untuk membeli produk, dan membantu meningkatkan keputusan pembelian
(Angelyn & Kodrat, 2021).
Artinya, melalui social media marketing, pelaku usaha dapat
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan menciptakan konten
yang relevan, menarik, dan informatif, serta menciptakan interaksi yang aktif
dengan konsumen agar terbina hubungan yang kuat dengan konsumen di
sosial media

Influencer Endorsement Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut (Dwidienawati et al., 2020), influencer berada di garis depan
tren sosial. Mereka bisa menjadi inovator yang menciptakan ide-ide, konsep
atau konten baru yang secara teratur dan rutin untuk menarik perhatian di
media sosial sehingga akan lebih mudah bagi pengikutnya untuk mengikuti
rekomendasi yang diberikan oleh influencer tersebut.
Sejalan dengan pendapat (Azizah & Padmantyo, 2024) menyatakan
bahwa, pengaruh influencer adalah komponen penting dalam influencer
marketing. Influencer yang merekomendasikan atau mendukung produk dari
merek tertentu diharapakan dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli
produk tersebut.
Artinya, seorang influencer memiliki potensi yang kuat untuk
menciptakan buzz di media sosial tentang produk atau layanan yang di-
endorse. Hal ini dapat memperluas jangkauan produk dan menarik perhatian
audiens yang akan berpengaruh pada pertimbangan konsumen untuk
melakukan pembelian

Pengaruh Customer Review Terhadap Keputusan Pembelian


Melalui review dari customer yang disampaikan secara online,
konsumen dapat menemukan berbagai informasi tentang produk baik dari sisi
kualitas produk maupun layanan (Filieri et al., 2018) dalam (Anggraini et al.,
2023). Konsumen lebih mudah untuk mencari perbandingan dengan produk
yang sejenis yang dijual pada penjual online lain, dimana konsumen tidak
harus mengunjungi penjual yang berbeda secara langsung (Yasmin et al.,
2015) dalam (Ardianti & Widiartanto, 2019).
Sejalan dengan pendapat (Dwidienawati et al., 2020) menyatakan
bahwa customer review sangat penting karena mereka memberikan informasi
tambahan bagi konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Ulasan ini
dapat memberikan gambaran tentang pengalaman yang diperoleh oleh
pelanggan lain dengan produk yang sama, sehingga memungkinkan
konsumen untuk membuat perbandingan dan menentukan apakah produk
memenuhi kebutuhan dan harapan mereka.
Dengan demikian, ulasan merupakan salah satu dari beberapa faktor
yang menentukan keputusan pembelian seseorang, dalam hal ini
menunjukkan bahwa orang dapat menilai jumlah ulasan sebagai indikator
popularitas produk atau nilai dari suatu produk yang akan mempengaruhi
kemauan mereka untuk membeli produk (Lee, E-J. & Shin, S.Y, 2014) dalam
(Arbaini, 2020). Artinya, ketika terjadi konsistensi review yang diberikan dari
34
satu pelanggan dengan pelanggan lainnya, maka akan meningkatkan
kredibilitas review, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap keputusan
pembelian konsumen

Trust


Kepercayaan muncul ketika mereka yang terlibat telah mendapat kepastian
dari pihak lainnya melalui testimonial sebuah produk yang telah dibeli (Anggraini
et al., 2023). Sehingga, kepercayaan dalam berbelanja online adalah faktor kunci
yang mempengaruhi keputusan pembelian (Pramuswari et al., 2024). Oleh karena
itu (Dwidienawati et al., 2020) menganggap bahwa, trust memiliki peranan
penting dalam segala bentuk transaksi, karena terdapat ketidakpastian dan risiko
dalam melakukan transaksi. Dengan demikian, kepercayaan merupakan salah satu
pondasi pada proses bisnis karena suatu transaksi antara dua pihak atau lebih akan
terjadi jika kedua belah pihak saling mempercayai (Anggraini et al., 2023).
Dari beberapa pendapat para ahli mengenai trust yang dijabarkan di atas,
dapat disimpulkan bahwa trust adalah keyakinan yang dimiliki oleh konsumen
maupun pelanggan terhadap produk atau layanan dari suatu merek. Sehingga,
membangun kepercayaan bagi konsumen merupakan hal yang sangat penting
karena kepercayaan dapat mempengaruhi keputusan mereka untuk melakukan
pembelian. Begitu pun dengan pelanggan, perlu adanya upaya penguatan
kepercayaan agar tercipta loyalitas yang kuat dari mereka terhadap suatu merek.
Adapun indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang
dilakukan oleh (Dwidienawati et al., 2020). Berikut penjelasan indikator trust
yang digunakan dalam penelitian ini:

  1. Integrity
    Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen yakin bahwa ulasan
    produk dan promosi serta konten yang disajikan memiliki integritas, dimana
    hal tersebut dapat dipercaya sebagai informasi yang jujur dan akurat.
  2. Reliability
    Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen percaya bahwa ulasan
    produk dan promosi serta konten yang disajikan dapat diandalkan sebagai
    sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya.
  3. Trustworthy
    Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen percaya bahwa ulasan
    produk dan promosi serta konten yang disajikan dapat dipercaya sebagai
    informasi dalam membuat keputusan pembelian

Keputusan Pembelian


Konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk setelah
mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut (Kusumaningtyas et
al., 2023). Sehingga, menarik atau tidaknya suatu produk dapat mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen, jika semakin banyak manfaat produk yang
ditawarkan maka akan semakin tinggi keinginan konsumen untuk membeli (Sari,
2020). Selain itu, menurut (Kotler & Armstrong, 2020), keputusan pembelian
dipengaruhi oleh keadaan yang tidak terduga, seperti pendapatan yang diharapkan,
biaya yang diharapkan, dan manfaat yang diantisipasi dari suatu produk adalah
semua faktor yang dapat digunakan konsumen untuk merumuskan niat beli
mereka.
Sementara menurut (Martini, 2015) dalam (Hamid et al., 2023), keputusan
pembelian adalah sebuah pendekatan penyelesaian masalah pada kegiatan
manusia untuk membeli suatu barang atau jasa dalam memenuhi keinginan dan
kebutuhannya yang terdiri dari pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian
informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan
tingkah laku setelah pembelian. Oleh karena itu, keputusan pembelian merupakan
hal yang sangat penting karena ada banyak hal yang dapat mempengaruhi
keputusan pembelian yang dilakukan konsumen, sehingga perusahaan harus
memiliki strategi agar dapat menarik minat konsumen untuk melakukan
pembelian terhadap suatu produk (Swastha dan Irawan, 2013) dalam (Sari, 2020).
Pemasar perlu mempelajari perilaku konsumen dalam proses pengambilan
keputusan, mulai dari pengalaman mereka dalam belajar, memilih, menggunakan,
sampai kemungkinan merekomendasikan produk (Arbaini, 2020).
Berdasarkan semua beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah proses di
mana konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli produk atau
layanan yang ditawarkan dari merek tertentu, setelah melalui berbagai
pertimbangan sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melakukan pembelian.
Menurut (Kotler & Armstrong, 2020), perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

  1. Faktor Budaya
    Faktor-faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam pada
    perilaku konsumen. Pemasar perlu memahami peran yang dimainkan oleh
    budaya pembeli, sub-budaya, dan strata sosial.
    Faktor budaya terdiri dari:
    a. Budaya (Culture), hal mendasar penyebab dari keinginan dan perilaku
    seseorang. Setiap kelompok atau masyarakat memiliki budaya, dan
    pengaruh budaya pada perilaku pembelian dapat sangat bervariasi dari
    provinsi ke provinsi dan negara ke negara. Pemasar harus paham dan
    memperhatikan perubahan budaya untuk menemukan produk baru yang
    mungkin diinginkan.
    b. Sub-budaya (Subculture), setiap budaya mengandung sub-budaya yang
    lebih kecil, atau kelompok orang dengan sistem nilai bersama berdasarkan
    pengalaman dan situasi kehidupan yang sama. Sub-budaya terdiri dari
    kewarganegaraan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Banyak
    sub-budaya membentuk segmen pasar yang penting, dan pemasar sering
    merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan
    kebutuhan mereka.
    c. Stratifikasi Sosial (Social Class), kelas masyarakat yang relatif permanen
    dan teratur yang anggotanya berbagi nilai-nilai, minat, dan perilaku yang
    sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu faktor, seperti penghasilan,
    namun diukur sebagai kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan,
    kekayaan, dan variabel lainnya. Kelas sosial menunjukkan preferensi produk
    dan merek yang berbeda di berbagai bidang, seperti pakaian, perabotan
    rumah, perjalanan dan kegiatan rekreasi, layanan keuangan, mobil, dll.
    Sehingga pemasar tertarik dengan kelas sosial karena orang-orang dalam
    kelas sosial tertentu cenderung menunjukkan perilaku pembelian yang
    serupa.
  2. Faktor Sosial
    Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, terdiri dari:
    a. Grup dan Jaringan Sosial Online (Groups and Social Networks), bagaimana
    seseorang berperilaku dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok
    keanggotaan (membership groups) adalah kelompok yang mempengaruhi
    seseorang secara langsung dan kemana mereka termasuk. Di sisi lain,
    kelompok referensi (reference groups) berfungsi sebagai titik perbandingan
    atau referensi langsung (interaksi tatap muka) atau tidak langsung dalam
    mempengaruhi sikap atau perilaku seseorang. Sementara kelompok aspirasi
    (aspirational groups), adalah kelompok yang sering dipengaruhi oleh
    kelompok referensi ke mana mereka tidak termasuk. Adapun jaringan sosial
    online adalah komunitas online di mana orang berkumpul dan bertukar
    pendapat dan informasi, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan
    lain-lain.
    b. Keluarga (Family), anggota keluarga sangat mempengaruhi perilaku dalam
    pembelian. Peran referensi dari anggota keluarga menjadi hal yang dapat
    berpengaruh dalam keputusan pembelian produk atau layanan pada
    seseorang.
    c. Peran dan Status (Roles and Status), peran dan status individu dalam setiap
    kelompok dapat menentukan posisi mereka. Setiap peran memiliki status
    yang mencerminkan rasa hormat yang diberikan oleh masyarakat. Individu
    akan memilih produk yang sesuai dengan peran dan status mereka.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti profesi
    pembeli, usia dan tahap, situasi ekonomi, gaya hidup, dan kepribadian dan
    konsep diri.
    a. Profesi (Occupation), profesi seseorang mempengaruhi barang dan jasa
    yang dibeli. Sebuah perusahaan dapat mengkhususkan diri dalam
    menciptakan produk yang dibutuhkan oleh kelompok profesi tertentu.
    b. Usia dan Tahap Kehidupan (Age and Life Stage), usia sering dihubungkan
    dengan selera dalam memilih makanan, pakaian, furniture, dan rekreasi.
    Pilihan konsumsi juga terbentuk dari tahap kehidupan seseorang melalui
    peran keluarga.
    c. Situasi Ekonomi (Economic Situation), situasi ekonomi seseorang akan
    mempengaruhi pemilihan toko dan produknya. Sehingga pemasar
    mengamati tren dalam pengeluaran, pendapatan pribadi, tabungan, dan suku
    bunga untuk menjadi penentu pilihan produk terhadap keadaan ekonomi
    seseorang.
    d. Gaya hidup (Lifestyle), keputusan pembelian dipengaruhi gaya hidup
    seseorang yang tercermin dalam kegiatannya, minatnya, maupun
    pendapatnya.
    e. Kepribadian dan Konsep Diri (Personality and Self-Concept), masing-
    masing individu memiliki karakteristik pribadi yang mempengaruhi perilaku
    pembeliannya. Kepribadian (personality) merujuk pada karakteristik
    psikologis yang unik yang membedakan seseorang atau kelompok.
    Konsumen cenderung memilih merek yang sesuai dengan kepribadian
    mereka sendiri.
  4. Faktor Psikologi
    Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama,
    diantaranya yaitu:
    a. Motivasi (Motivation), seseorang memiliki banyak kebutuhan setiap saat.
    Kebutuhan menjadi motivasi ketika dibangkitkan pada tingkat intensitas
    yang cukup. Motivasi adalah kebutuhan yang cukup mendesak untuk
    mengarahkan individu dalam mencari kepuasan.
    b. Persepsi (Perception), individu yang termotivasi siap untuk bertindak.
    Bagaimana individu bertindak dipengaruhi oleh persepsi dirinya tentang
    situasi. Persepsi adalah proses dimana individu memilih, mengatur, dan
    menafsirkan informasi untuk membentuk gambaran dunia yang bermakna.
    c. Belajar (Learning), ketika individu bertindak, mereka belajar. Pembelajaran
    menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari
    pengalaman. Pembelajaran terjadi melalui interaksi dari dorongan,
    rangsangan, petunjuk, tanggapan, dan penguatan.
    d. Keyakinan dan sikap (Beliefs and Attitudes), diperoleh setelah melalui
    pembelajaran, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku pembelian
    individu. Keyakinan didasarkan pada pengetahuan, pendapat, atau
    keyakinan nyata dan mungkin atau tidak membawa beban emosional.
    Sementara sikap menggambarkan penilaian, perasaan, dan kecenderungan
    individu yang relatif konsisten terhadap objek atau ide. Sikap menempatkan
    individu ke dalam kerangka pikiran menyukai atau tidak suka, bergerak ke
    arah atau menjauhi.
    Menurut (Kotler & Armstrong, 2020) juga menyatakan bahwa proses
    pengambilan keputusan pembelian (The Buyer Decision Process) terdiri dari lima
    tahapan, yakni:
  5. Pengenalan Kebutuhan (Needs Recognition)
    Tahap pertama dari proses keputusan pembeli, dimana konsumen mengenali
    masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan internal
    maupun rangsangan eksternal.
  6. Pencarian Informasi (Information Search)
    Tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen yang tertarik akan
    termotivasi untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai produk/jasa yang
    ditawarkan, baik melalui sumber pribadi (keluarga, teman, dll), sumber publik
    (media massa, internet), dan sumber berbasis pengalaman (memegang,
    mengamati, menggunakan produk).
  7. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
    Tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen membandingkan berbagai
    alternatif brand (produk/jasa) yang tersedia di pasar dengan perhitungan yang
    hati-hati dan pemikiran logis. Evaluasi ini bisa dengan membaca
    review/testimoni online, mendapat saran dari teman/keluarga, dll.
  8. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Tahap keputusan pembeli, di mana konsumen memilih brand dan membentuk
    niat pembelian. Umumnya, konsumen akan melakukan keputusan pembelian
    pada brand yang disukai dan dianggap terbaik.
  9. Perilaku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior)
    Tahapan dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut terkait kepuasan
    maupun ketidakpuasan mereka terhadap produk/jasa yang mereka beli.
    Adapun indikator untuk menentukan keputusan pembelian menurut (Kotler &
    Keller, 2018) dalam (Romadon et al., 2023), yaitu:
  10. Kemantapan Pada Sebuah Produk
    Konsumen memilih salah satu dari beberapa alternatif yang ada dalam
    melakukan pembelian. Pilihan tersebut didasarkan pada kualitas, mutu, harga
    yang terjangkau, dan faktor-faktor lain yang dapat meyakinkan konsumen
    untuk membeli produk yang dipilihnya adalah produk yang terbaik dan dapat
    memenuhi kebutuhannya.
  11. Kebiasaan dalam Membeli Produk
    Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh terhadap
    keputusan pembelian. Konsumen cenderung membeli produk yang sama
    berulang kali karena produk tersebut sudah melekat di benak konsumen dan
    mereka juga sudah merasakan manfaat dari produk tersebut. Sehingga,
    konsumen merasa tidak nyaman jika mencoba produk baru karena harus
    menyesuaikan diri lagi.
  12. Memberikan rekomendasi pada orang lain
    Jika konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dengan suatu produk dalam
    melakukan pembelian, mereka pasti merekomendasikan produk yang dibelinya
    kepada orang lain karena merasa puas dengan produk tersebut. Mereka ingin
    orang lain juga merasakan bahwa produk tersebut sangat bagus dan lebih baik
    dari produk lain.

Social Media Marketing


Menurut (Angelyn & Kodrat, 2021), pemasaran yang menggunakan media
sosial disebut social media marketing. Social media marketing adalah program
yang dirancang oleh perusahaan untuk melibatkan konsumen secara langsung atau
tidak langsung untuk menciptakan kesadaran merek, meningkatkan merek, dan
meningkatkan penjualan. Sementara menurut (Rahayu, 2021) dalam (Riyandana
& Bestari, 2023), social media marketing yaitu strategi untuk promosi yang
memanfaatkan media sosial sebagai sarana mengiklankan suatu produk ataupun
jasa dengan melibatkan orang-orang yang aktif di social media untuk tujuan
pemasaran.
Menurut (Ansari et al., 2019), media sosial adalah platform digital bagi
perusahaan untuk melakukan aktivitas pemasaran di era modern ini dimana
konsumen secara aktif terlibat penawaran, memiliki akses untuk berkomentar,
berbagi dan mendapatkan informasi. Banyaknya konsumen yang tertarik untuk
membeli suatu produk merupakan bentuk dari keefektifan media sosial dalam
mempengaruhi keputusan pembelian (Yulianti & Kristiawati, 2024).
Berdasarkan penjelasan mengenai definisi social media marketing tersebut,
dapat ditarik kesimpulan bahwa social media marketing adalah salah satu
pemasaran digital dengan menggunakan media sosial sebagai sarana pemasaran
dalam memperkenalkan dan mempromosikan produk atau layanan yang
ditawarkan kepada audiens yang relevan melalui berbagai jenis konten dengan
penyampaian pesan yang menarik dan mudah dipahami.
Indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang dilakukan
oleh (Angelyn & Kodrat, 2021). Berikut penjelasan indikator social media
marketing yang digunakan dalam penelitian ini:

  1. Promosi dan Konten Menarik Konsumen
    Promosi dan konten yang dibagikan melalui platform media sosial mampu
    menarik minat dan perhatian konsumen sehingga konsumen tertarik untuk
    melihat lebih lanjut atau berinteraksi dengan informasi yang disampaikan
    perusahaan.
  2. Konsumen Memahami Promosi dan Konten yang Disampaikan
    Konsumen dapat memahami dengan jelas pesan yang disampaikan melalui
    promosi dan konten yang dipublikasikan oleh perusahaan melalui platform
    media sosial. Pemahaman yang baik dari konsumen terhadap promosi dan
    konten tersebut dapat meningkatkan efektivitas kampanye pemasaran yang
    dilakukan oleh perusahaan.
  3. Promosi dan Konten yang Disediakan Sesuai dengan Harapan Konsumen
    Promosi dan konten yang dibagikan sesuai dengan apa yang diharapkan
    konsumen, baik dari segi informasi yang disampaikan, gaya penyampaian,
    maupun nilai tambah yang diberikan kepada konsumen. Dengan memenuhi
    ekspektasi konsumen, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih baik
    dengan konsumen dan meningkatkan efektivitas campaign pemasaran mereka.
  4. Konsumen Didorong untuk Membeli Setelah Melihat Promosi dan Konten
    Mengacu pada dampak dari promosi dan konten yang disampaikan melalui
    media sosial terhadap perilaku konsumen. Promosi dan konten yang efektif
    dapat mendorong konsumen untuk memutuskan melakukan pembelian setelah
    melihat informasi yang disampaikan.
  5. Konsumen Didorong untuk Memberikan Testimonial
    Mengacu pada dampak dari promosi dan konten yang disampaikan melalui
    media sosial terhadap respons konsumen dalam memberikan testimoni atau
    ulasan positif. Promosi dan konten yang berhasil mempengaruhi konsumen
    secara positif sehingga mendorong konsumen untuk memberikan testimoni
    atau ulasan yang baik tentang produk atau layanan yang ditawarkan oleh
    perusahaan

Influencer Endorsement


Influencer marketing adalah jenis promosi yang berkonsentrasi pada
pelanggan yang paling dekat dengan target pasar dari semua sudut karena
pelanggan tersebut telah diidentifikasi sebagai calon pembeli (Dwidienawati et al.,
2020). Influencer adalah seseorang yang mempunyai banyak pengikut serta
perkataannya bisa menarik perhatian pihak lain (Riyandana & Bestari, 2023).
Dalam konteks ini, mengacu pada influencer endorsement sebagai bentuk
pemasaran yang melibatkan publik figur yang memiliki pengaruh besar di media
sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran merek, mempengaruhi
persepsi konsumen, yang pada akhirnya mendorong konsumen untuk melakukan
pembelian berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh influencer tersebut.
Adapun indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang
dilakukan oleh (Dwidienawati et al., 2020). Berikut penjelasan indikator
influencer endorsement yang digunakan dalam penelitian ini:

  1. Visibility
    Mengacu pada eksposur yang diperoleh oleh suatu brand melalui endorsement
    dari influencer. Indikator ini mencerminkan sejauh mana influencer berhasil
    membuat brand terlihat atau dikenal oleh audiens mereka melalui konten yang
    mereka bagikan.
  2. Credibility
    Mengacu pada dipercayainya atau kredibelnya influencer yang memberikan
    endorsement terhadap suatu brand. Indikator ini mencerminkan sejauh mana
    konsumen percaya pada informasi atau rekomendasi yang diberikan oleh
    influencer tersebut.
  3. Attractiveness
    Mengacu pada daya tarik yang dimiliki oleh influencer yang memberikan
    endorsement terhadap suatu brand. Indikator ini mencerminkan sejauh mana
    konsumen tertarik atau terpikat oleh penampilan, gaya, atau kepribadian
    influencer tersebut. Daya tarik influencer dapat mempengaruhi seberapa efektif
    mereka dalam menarik perhatian dan minat konsumen terhadap produk yang
    mereka promosikan.
  4. Power
    Mengacu pada pengaruh atau kekuatan yang dimiliki oleh influencer dalam
    mempengaruhi perilaku konsumen terkait dengan suatu brand. Indikator ini
    mencerminkan sejauh mana influencer mampu mempengaruhi keputusan
    pembelian konsumen melalui rekomendasi atau endorsement yang influencer
    berikan

Customer Review


Customer review menurut (Dwidienawati et al., 2020), customer review
sendiri umumnya berisikan mengenai informasi tambahan, ulasan ahli, saran,
yang akan menambah nilai bagi calon pelanggan. Customer review berfungsi
sebagai strategi penting bagi perusahaan untuk meningkatkan penjualan produk,
sementara pelanggan, di sisi lain, mencari ulasan dari reviewer yang terpercaya
(Zhao et al., 2019). Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa
customer review merupakan salah satu strategi pemasaran yang memungkinkan
pelanggan untuk menyampaikan secara publik mengenai pengalaman, opini, dan
penilaian tentang produk atau layanan suatu perusahaan yang sudah digunakan.
Hal ini akan membentuk transparansi terkait kualitas produk atau layanan yang
ditawarkan oleh suatu perusahaan.
Adapun indikator dalam penelitian ini dikembangkan dari penelitian yang
dilakukan oleh (Dwidienawati et al., 2020). Berikut penjelasan indikator customer
review yang digunakan dalam penelitian ini:

  1. Impression
    Perilaku konsumen yang sering membaca ulasan pelanggan untuk mengetahui
    kesan atau impresi produk dari orang lain sebelum mereka membuat keputusan
    pembelian. Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen mengandalkan
    ulasan pelanggan sebagai sumber informasi untuk membentuk pemahaman
    tentang bagaimana produk tersebut dilihat oleh orang lain.
  2. Certainty
    Tingkat keyakinan atau kepastian konsumen dalam membuat keputusan
    pembelian terkait dengan produk setelah melihat atau membaca ulasan dari
    pelanggan. Indikator ini mencerminkan sejauh mana konsumen merasa yakin
    atau percaya terhadap informasi yang diberikan dalam ulasan pelanggan terkait
    produk.
  3. Gathering Information
    Tingkat aktivitas konsumen dalam menggunakan ulasan pelanggan sebagai
    sumber informasi utama dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
    Indikator ini menunjukkan bahwa konsumen secara konsisten menggunakan
    ulasan pelanggan sebagai panduan untuk memilih produk yang sesuai dengan
    kebutuhan atau preferensi mereka.
  4. Confidence to Make a Purchase
    Ketika konsumen membaca ulasan pelanggan, dapat memberikan keyakinan
    tambahan kepada mereka untuk membeli produk tersebut. Indikator ini
    mencerminkan bahwa ulasan pelanggan memiliki peran penting dalam
    meningkatkan kepercayaan diri konsumen dalam mengambil keputusan
    pembelian.

Manajemen Pemasaran


Setiap pelaku bisnis tidak akan lepas dari adanya manajemen pemasaran.
Bisnis atau perusahaan yang berkembang harus memahami manajemen pemasaran
yang baik, terutama di era globalisasi ini dimana banyak pesaing berlomba
memasarkan produk/jasa mereka bahkan ke berbagai negara asing. Perusahaan
harus menjalankan manajemen pemasaran dan melibatkan sebagai salah satu
strategi penting untuk mencapai tujuan (Setyaningsih, 2021). Menurut (Prastyorini
et al., 2022), manajemen pemasaran bisa diartikan menjadi sebuah perencanaan,
pengorganisasian, dan pengawasan produk yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan konsumen. Selain itu, manajemen pemasaran mempunyai tujuan agar
perusahaan dapat menghasilkan laba sebanyak-banyaknya, yaitu dengan cara
memenuhi atau melayani konsumen dengan cara menyediakan produk (barang
dan jasa) yang mereka butuhkan dan inginkan (Ariyanto et al., 2023).
Menurut Kotler (2012:146) dalam (Tri Nuryani et al., 2022), mendefinisikan
pengertian manajemen pemasaran adalah penganalisaan, pelaksanaan, dan
pengawasan, pogram-program yang ditujukan untuk mengadakan pertukaran
dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.
Sementara menurut Suparyanto & Rosad (2015:1) dalam (Satriadi et al., 2021),
manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, mengatur, dan
mengelola program-program yang mencakup pengkonsepan, penetapan harga,
promosi dan distribusi dari produk, jasa, dan gagasan yang dirancang untuk
menciptakan dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pasar
sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan

Pengertian Pemasaran Instagram


Pemasaran merupakan sebuah proses dimana setiap individu dan kelompok
berkeinginan untuk memiliki dan membutuhkan. Hal seperti ini merupakan gagasan penting
bagi suatu perusahaan untuk meningkatkan keuntugan (Kotler & Keller 2016). Sosial media
Instagram adalah sebuah cara dalam memanfaatkan sosial media sebagai wadah melakukan
suatu aktivitas pemasaran secara optimal dan maksimal. Instagram digunakan untuk
kepentingan pemasaran branding brand suatu produk maupun jasa. Seperti yang telah di
jelaskan pada bagian di atas, Instagram adalah sebuah wadah yang menyediakan sajian hiburan
berbentuk video atau foto untuk menyampaikan pesan tertentu kepada calon konsumen maupun
audience. Foto dan video yang diunggah ke akun Instagram tidak hanya terpaku pada
pengunggahan produk saja melainkan dapat ditambahkan dengan foto atau video animasi,
dengan tujuan memberi hiburan bagi konsumen sehingga dapat menambah atau memicu
munculnya pengikut baru. Dalam pembuatan bahan yang ingin di unggah, pemasar harus dapat
memastikaan bahwa konten yang diunggah sudah sesuai dengan ide, target dan pasar bisnis.
Contohnya ketika mengelola akun Instagaram khusus brand dengan kegiatan outdoor, target
pasar dapat ditujukan kepada konsomen yang senang dengan aktivitas outdoor. Oleh karena
itu konten yang di buat memilik unsur alam terbuka baik dari desain, caption dan tanda.
Pemasaran produk harus memberikan informasi yang relevan dan berkaitan dengan produk
yang di pasarkan

Tipe Keterikatan Karyawan (employee engagement)


Menurut Gallup the Consulting Organization (www.businessjournal.gallup.com)
membagi 3 tipe employee engagement berdasarkan tingkat engagement, yakni
diantaranya :

  1. Engaged
    Karyawan dikatakan terikat ketika mereka bekerja dengan kemampuan dan
    keahlian serta merasakan sebuah hubungan yang kuat dengan perusahaan.
    Karyawan yang terikat cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi dan
    maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga bersedia untuk
    mengembangkan kemampuan secara maksimal agar perusahaan berkembang.
  2. Not Engaged
    Karyawan dikatakan “not engaged” ketika pada saat bekerja hanya
    menghadirkan fisiknya sedangkan pikirannya tidak berfokus pada pekerjaan.
    Karyawan hanya mengerjakan tugas sesuai dengan porsi dengan apa yang
    dibayar perusahaan dan bekerja selalu menunggu perintah dari atasan serta
    cenderung merasa tidak memiliki energi saat bekerja.
  3. Actively Disengaged
    Karyawan tipe ini adalah karyawan yang tidak terikat sehingga lebih berani
    menunjukkan perasaan tidak bahagia dan ketidakpuasan pada pekerjaan yang
    dilakukan sehingga kinerja karyawan berbeda dengan karyawan yang terikat

Definisi Keterikatan Karyawan (employee engagement)


Keterikatan karyawan atau employee engagement adalah komitmen emosional yang
dimiliki karyawan pada organisasi dan tujuan organisasi. Robbins (2009:103)
mengatakan employee engagement adalah keterlibatan individu dengan kepuasan
dan antusiasme untuk pekerjaan yang dilakukan. Karyawan dalam bekerja akan
terlibat secara fisik, kognitif, maupun emosional selama menunjukkan kinerjanya
dalam bekerja. Karyawan yang memiliki hubungan baik dan terikat dengan
perusahaan menjadi salah satu faktor dari keberhasilan perusahaan jika perusahaan
mampu mengelola employee engagement (keterikatan karyawan) dengan baik dan
konsisten.
Keterikatan (engagement) karyawan dianggap sebagai energi dan motivasi
positif yang dimiliki karyawan sehingga membantu perusahaan untuk mencapai
tujuan (Schiemann, 2011:30). (Akbar, dalam Rustono dan Akbari, 2015;1173)
menambahkan bahwa employee engagement (keterikatan karyawan) dapat
dihubungkan dengan kesuksesan dan beragam konsekuensi bisnis yang lebih besar
seperti karyawan lebih gigih dalam berupaya, kinerja yang lebih baik, kualitas yang
lebih tinggi dan menurunnya tingkat turnover karyawan. Jika keterikatan
(engagement) dihubungkan dengan konsekuensi dari masing-masing karyawan
maka dapat menurunkan tingkat stres dan konflik, kesehatan lebih baik dan
kepuasan kerja menjadi lebih besar.
Employee engagement (keterikatan karyawan) merupakan komitmen
emosional dari karyawan untuk perusahaan atau organisasi dan tujuannya sehingga
dapat memberikan asumsi bahwa karyawan merasa peduli dengan pekerjaan dan
tanggung jawab pada perusahaan. Karyawan saat bekerja tidak hanya
mementingkan gaji maupun promosi jabatan melainkan bekerja atas tujuan
organisasi (Kruse, 2012:698). Siddhanta dan Roy (2010:171) menyatakan bahwa
“employee engagement dapat menciptakan kesuksesan bagi perusahaan yang
berkaitan dengan kinerja karyawan, produktifitas, keselamatan kerja, kehadiran dan
retensi, kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan, dan profitabilitas” maka kinerja
karyawan menjadi salah satu hal yang dapat menciptakan tingginya employee
engagement (keterikatan karyawan). Beberapa riset dari peneliti juga mengatakan
adanya hubungan positif dari employee engagement dengan perusahaan atau
organisasi yang dapat mengarah pada profitabilitas dan kinerja menjadi lebih baik
(Choo et al, 2013:132).
Keterikatan karyawan atau employee engagement dapat dikatakan sebagai
suatu kondisi atau keadaan dari seorang karyawan yang memiliki rasa keterikatan,
kesediaan karyawan maupun perasaan sukarela untuk memaksimalkan potensi yang
dimiliki sehingga memberikan kinerja terbaik untuk perusahaan. Karyawan tidak
hanya bekerja untuk mementingkan gaji dan promosi jabatan yang diberikan
perusahaan, akan tetapi karyawan yang merasa terikat akan bekerja berdasarkan
tujuan organisasi atau perusahaan

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen merupakan ilmu dan seni yang mengatur proses sumber daya manusi
maupun sumber daya lainnya sedara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
tertentu yang terdiri dari unsur 6M yaitu men, money, method, material, machine,
dan market. Manajemen yang mengatur hubungan manusia (men) yaitu manajemen
Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah salah satu
bidang manajemen yang khusus mempelajari peranan dan hubungan manusia dan
merupakan tenaga kerja manusia dalam organisasi (Priansa, 2016;7).
Definisi manajemen sumber daya manusia menurut Bangun (2012;23)
merupakan pelaksana yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan sumber daya
manusia dimulai dari kegiatan pengadaan, pelatihan dan pengembangan, sampai
pemutusan hubungan kerja. Beberapa fungsi yang dimiliki manajemen sumber daya
manusia terdiri dari fungsi manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
serta pengendalian) dan fungsi operasional (pengadaan pegawai, pengembangan,
kompensasi, penintegrasian, pemeliharaan, serta pensiun)

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan


Kepuasan kerja merupakan perasaan puas atau tidak puas yang
dirasakan oleh karyawan terhadap pekerjaannya. Tingkat kepuasan kerja
kan mempengaruhi prestasi kerja karyawan dan produktifitas karyawan di
dalam organisasi. Kinerja karyawan merupakan suatu hasil kerja karyawan
yang dapat dilihat dari hasil-hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang telah
dilakukan selama periode tertentu berdasarkan tanggung jawab yang
diberikan oleh organisasi. Karyawan yang bekerja biasanya memiliki
kebutuhan yang harus dipenuhi, jika organisasi mampu memenuhi
kebutuhan tersebut pastinya karyawan akan merasakan puas dalam dirinya.
Hal tersebut akan memicu karyawan untuk melakukan pekerjaan dengan
usaha yang sebaik mungkin sehingga dapat memajukan organisasi. Jadi,
kepuasan kerja sangat mempengaruhi baik atau buruknya kinerja
karyawan di dalam organisasi.

Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Karyawan


Komitmen organisasi merupakan suatu perilaku karyawan yang
mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap organisasi, serta
mendukung penuh dan menerima nilai-nilai yang ada di dalam organisasi
untuk selalu patuh terhadap perusahaan. Kinerja adalah suatu perwujudan
nyata yang terlihat di diri karyawan seperti prestasi kerja yang telah
dihasilkan sesuai dengan peran di dalam organisasi tersebut.
Karyawan ingin tetap tinggal di dalam organisasi karena sependapat
dengan tujuan dan nilai-nilai yang dimiliki oleh organisasi. Karyawan
yang memiliki komitmen tinggi akan berusaha untuk memajukan
organisasi dan mewujudkan tujuan organisasi. Komitmen tersebut dapat
tercapai jika karyawan mampu menjalankan perannya sesuai dengan tugas
yang diberikan, karena jika pencapaian tersebut berhasil maka hal tersebut
merupakan hasil kerja karyawan di dalam organisasi. Hal tersebut
menunjukkan bahwa semakin tinggi komitmen organisasi akan
mempengaruhi kinerja karyawan

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan


Keterlibatan kerja adalah suatu sikap yang dimiliki karyawan dalam
melibatkan perannya serta memiliki motivasi yang tinggi untuk
menyelesaikan segala pekerjaan yang dilakukannya. Karyawan yang
memiliki keterlibatan kerja yang tinggi akan senang menghabiskan
waktunya untuk bekerja. Kinerja karyawan adalah tingkat keberhasilan
yang telah dicapai seseorang dalam menjalankan tugas yang dibebankan
kepadanya berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan tanggung jawab
yang dimilikinya.
Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi akan
benar-benar memihak pada pekerjaan yang dilakukan serta peduli dengan
pekerjaan tersebut, karyawan akan berusaha untuk selalu memberikan
ide-ide untuk kemajuan organisasi. Keterlibatan kerja yang dimiliki oleh
karyawan sangat memiliki peran dalam organisasi untuk merealisasikan
tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi, hal tersebut akan mewujudkan
berhasil atau tidaknya tujuan yang ingin dicapai. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan kerja karyawan maka
akan mempengaruhi kinerja karyawan

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Kepuasan Kerja


Keterlibatan kerja merupakan seorang karyawan yang berpartisipasi
aktif di suatu organisasi dan memandang bahwa pekerjaan maupun
prestasi yang dimilikinya merupakan hal yang penting dan mempengaruhi
harga dirinya. Kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang dimiliki
karyawan untuk menilai apakah pekerjaan yang dilakukan tersebut
menyenangkan atau tidak menyenangkan sesuai dengan penilaian
individu.
Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi dalam dirinya
akan selalu memberikan usaha-usaha yang terbaik untuk organisasinya,
sehingga dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi.
Karyawan senang jika dapat menghabiskan waktu untuk melakukan
pekerjaannya, secara tidak langsung ia menyenangi pekerjaan yang
dilakukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan
kerja akan mempengaruhi kepuasan kerja yang ada di dalam diri
karyawan

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Komitmen Organisasi


Keterlibatan kerja merupakan sebuah partisipasi karyawan terhadap
pekerjaannya yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaan
maupun organisasinya karena merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan
adalah hal yang penting bagi hidupnya. Sementara komitmen organisasi
adalah seorang karyawan yang memiliki tujuan serta nilai yang sama
dengan organisasi sehingga menimbulkan kepercayaan yang tinggi untuk
setia bekerja di organisasi dan mempertahankan keanggotaannya di
dalam organisasi.
Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi dalam
dirinya maka akan merasa bahwa pekerjaannya adalah suatu hal yang
penting dalam hidupnya. Apabila keterlibatan kerja telah muncul dalam
diri karyawan, ia merasa bahwa memiliki kewenangan ataupun
kemampuan dalam mengelola pekerjaan yang dilakukan, maka ia selalu
memberikan yang terbaik untuk organisasi. Hal tersebut menunjukkan
bahwa adanya loyalitas dalam diri karyawan untuk organisasi, jika
keterlibatan kerja dan loyalitas karyawan tinggi maka akan
mempengaruhi komitmen yang ada dalam diri karyawan semakin
meningkat

Dampak yang disebabkan kinerja karyawan

  1. Menurut penelitian Sahlan, Mekel & Trang (2015) kinerja
    karyawan dapat dipengaruhi oleh lingkungan kerja, kepuasan
    kerja dan kompensasi. Jika lingkungan kerja posoitf dan
    meningkat maka kinerja karyawan akan meningkat, sementara
    jika kebutuhan akan kepuasan terpenuhi oleh organisasi maka
    kinerja yang dilakukan oleh karyawan pun akan meningkat,
    apabila terjadi peningkatan kompensasi maka kinerja karyawan
    pun akan meningkat.
  2. Menurut Prahiawan & Simbolon (2014) terdapat pengaruh yang
    signifikan antara motivasi intrinsik, lingkungan kerja terhadap
    kinerja karyawan. Jika organisasi dapat memberikan motivasi
    terhadap karyawan maka adanya peningkatan kinerja, sementara
    jika karyawan merasa nyaman dan nyaman saat bekerja dapat
    meningkatkan kinerja karyawan.
  3. Menurut Sari & Susilo (2018) terdapat pengaruh positif dan
    signifikan antara Organizational Citizenship Behavior dan
    kepuasan kerja terhadap kinerja. Semakin kuat organisasi
    menciptakan perilaku Organizational Citizenship Behavior
    kepada karyawan, maka kinerja karyawan akan semakin optimal.
    Jika kepuasan karyawan meningkat maka kinerja karyawan akan
    meningkat ditunjukkan melalui kualitas, kuantitas, serta
    ketepatan waktu yang meningkat

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan


Menurut Mathis & Jackson (2008) terdapat faktor yang
dapat mempengaruhi kinerja karyawan, yaitu :

  1. Kemampuan
    Jika ingin mencapai hasil kerja yang optimal maka
    seorang karyawan harus bekerja dengan
    sungguh-sungguh, bila hanya bekerja dengan setengah
    hati maka pekerjaan yang dihasilkan tidak akan
    maksimal. Jadi kemampuan karyawan dapat diukur dari
    ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki saat
    menyelesaikan tugas yang dibebankan.
  2. Motivasi
    Motivasi merupakan suatu hal yang penting bagi
    organisasi, hal tersebut diperlukan karena biasanya
    karyawan membutuhkan dorongan atau pancingan
    untuk menghasilkan kinerja yang baik. Karyawan yang
    telah termotivasi biasanya cenderung lebih produktif
    dalam bekerja, sehingga semakin memiliki motivasi
    yang tinggi maka kinerja yang dimiliki karyawan akan
    meningkat.
  3. Dukungan yang diterima
    Karyawan yang melaksankan pekerjaannya sangat
    memerlukan dukungan dari rekan kerja sekaligus
    organisasi tempat ia bekerja, jika setiap karyawan
    mendapatkan dukugan dari rekan kerja sekaligus atasan
    maka dapat menjadikan karyawan merasa tertarik dan
    dihargai saat melakukan pekerjaannya. Semakin
    mendapat dukungan yang positif, kinerja karyawan pun
    akan semakin meningkat.
  4. Keberadaan pekerjaan yang dilakukan
    Setiap organisasi sudah semestinya memiliki
    gambaran dari suatu pekerjaan dengan jelas tentang apa
    yang harus dilakukan oleh karyawan. Setiap pekerjaan
    pasti memiliki maksud dan tujuan untuk dikerjakan, jika
    karyawan mengetahui dengan jelas apa saja yang harus
    dilakukan ketika bekerja maka karyawan akan
    menunjukkan kinerja yang baik. Sebaliknya, jika
    organisasi tidak memiliki gambaran yang jelas terhadap
    suatu pekerjaan maka karyawan tidak bisa memberikan
    kinerja yang maksimal.
  5. Hubungan karyawan dan organisasi
    Hubungan antar rekan kerja satu sama lain di dalam
    organisasi itu sangat penting bagi berjalannya sebuah
    organisasi. Antar rekan kerja harus menciptkan
    hubungan yang baik satu sama lain, karena jika tercipta
    komunikasi yang baik dengan organisasi maka setiap
    adanya masalah pastinya langsung dapat memecahkan
    suatu masalah tanpa adanya hambatan. Jika memiliki
    hubungan yang baik antar satu dengan yang lainnya
    pasti mudah untuk mewujudkan tujuan yang ingin
    dicapai

Indikator dan dimensi Kinerja


Menurut Schuler & Jackson (1999) bahwa kinerja karyawan
memiliki dimensi, yaitu :

  1. Kehadiran dan ketepatan waktu
    Karyawan yang semangat dalam melakukan pekerjaan
    memiliki semangat untuk datang bekerja, misalnya saat
    berangkat ke kantor sesuai dengan jam yang ditetapkan.
    Biasanya perusahaan mengadakan rapat maupun berbagai
    acara penting maka dari itu karyawan yang peduli dengan
    organisasinya sudah seharusnya menghadiri rapat ataupun
    acara.
  2. Kemampuan antarpersonal
    Karyawan yang memiliki tingkat kinerja yang baik
    maka mampu untuk berkomunikasi dengan baik dan
    nyaman dengan rekan kerjanya, serta dapat menerima atau
    memberi saran kepada rekan kerjanya. Jika saran yang telah
    diberikan tidak sesuai dengan keinginan pribadi maka sudah
    seharusnya menerima dan tidak keras kepala saat
    berkomunikasi.
  3. Sikap mendukung kelompok
    Jika karyawan memiliki kinerja yang tinggi maka
    cenderung lebih peduli dengan organisasinya untuk
    mewujudkan cita-cita organisasi, sehingga jika sedang
    berada di rapat organisasi maka karyawan sudah seharusnya
    memberikan masukan kepada kelompok ataupun
    mendukung keputusan yang telah dibuat oleh kelompok.
  4. Perencanaan dan koordinasi
    Karyawan yang bekerja di organisasi sudah semestinya
    memiliki ide-ide yang telah direncanakan untuk kemajuan
    organisasinya, maka dari itu saling membantu dan
    memberikan saran satu sama lain untuk melaksanakan
    perencanaan-perencanaan yang sudah di rancang.
    Menurut Mathis & Jackson (2004) bahwa kinerja karyawan
    memiliki indikator, yaitu :
  5. Ketepatan waktu
    Hal tersebut dapat dilihat dari segala aktivitas yang
    diselesaikan dari awal sampai dengan menghasilkan sesuatu
    yang baik sekaligus mampu menyelesaikan pada waktu
    yang ditetapkan, maka dari itu karyawan dapat
    memanfaatkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
  6. Kualitas
    Hal tersebut dapat dilihat dari hasil pekerjaan yang
    dilakukan dan kesempurnaaan tugas berdasarkan
    ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh karyawan.
    Pekerjaan yang dihasilkan dapat mendekati sempurna atau
    memenuhi tujuan yang diinginkan dari pekerjaan tersebut.
  7. Kehadiran
    Karyawan yang memiliki kinerja yang baik maka akan
    hadir sesuai dengan jam kerja organisasi, datang tepat
    waktu agar dapa menyelesaikan pekerjaan dengan baik
    tidak terburu-buru, serta pulang juga tepat pada waktunya.
    Karyawan harus hadir sesuai jadwal yang ditetapakn dan
    membolos kerja.

Definisi Kinerja Karyawan


Menurut Colquitt, Lepine & Wesson (2015) kinerja merupakan
sekumpulan dari perilaku karyawan yang telah memberikan
kontribusi secara positif ataupun negatif untuk mencapai sebuah
tujuan organisasi. Menurut Mathis & Jackson (2008) kinerja
merupakan sesuatu hal yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh
karyawan. Menurut Robert Bacal (2004) dalam Kaswan (2019)
kinerja merupakan seorang karyawan yang memberikan segala
ketrampilan, kemampuan, serta pengetahuan yang di miliknya
sebagai tingkat dedikasi kepada perusahaan agar tercapai segala
tujuan perusahaan. Pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulannya
bahwa kinerja merupakan suatu hal yang dilakukan oleh karyawan
sehingga dapat memberikan hasil pencapaian target selama priode
waktu yang ditentukan oleh organisasi. Tercapai atau tidaknya target
tersebut berdasarkan karyawan itu sendiri

Dampak yang disebabkan karena kepuasan kerja


Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat dampak yang
ditimbulkan oleh kepuasan kerja, yaitu :

  1. Kinerja pekerjaan
    Seorang karyawan yang bahagia dalam melakukan
    pekerjaannya biasanya dapat bekerja secara produktif, hal
    tersebut dipengaruhi oleh kepuasan yang dialami oleh
    karyawan. Jika karyawan memiliki kepuasan kerja yang
    tinggi, akan berpengaruh pada kinerja yang dimiliki oleh
    karyawan.
  2. Organizational citizenship behavior (OCB)
    Kepuasan kerja memiliki pengaruh terhadap
    Organizational citizenship behavior, karyawan yang
    memiliki kepuasan dalam dirinya biasanya akan berbicara
    hal yang positif tentang organisasinya, membantu rekan
    kerja, dan melaksankan pekerjaan dengan baik. Salah satu
    alasan yang dimiliki oleh karyawan adalah kepercayaan,
    jika seorang karyawan merasa dibantu oleh rekan kerjanya
    maka ia akan terlibat dalam peilaku yang membantu juga.
    Jadi, karyawan yang mendapatkan hal positif dari rekan
    kerjanya biasanya cenderung melanjutkan kegiatan
    Organizational citizenship behavior mereka.
  3. Kepuasan pelanggan
    Karyawan yang bekerja di garis terdepan harus dapat
    memberikan pelayanan yang optimal kepada konsumen
    sehingga mewujudkan kepuasan pelanggan yang tinggi.
    Maka dari itu, karyawan yang memiliki kepuasan kerja yang
    tinggi dapat mempengaruhi kinerja karyawan dan
    menimbulkan efek terhadap kepuasan pelanggan.
  4. Kepuasan hidup
    Pekerjaan adalah salah satu bagian terpenting dalam
    hidup karyawan, sehingga jika pekerjaan menimbulkan rasa
    senang dan puas maka secara tidak langsung akan
    mempengaruhi kepuasan hidup karyawan.
    Menurut Sutrisno (2010), terdapat dampak yang ditimbulkan
    oleh kepuasan kerja, yaitu :
  5. Dampak terhadap produktivitas
    Jika seorang karyawan tidak mencerminkan nilai dalam
    intrinsik (suatu perasaan dalam mencapai sesuatu) dan
    ekstrinsik (gaji) yang berkaitan dengan prestasi kerja maka
    tidak akan terjadi korelasi antara prestasi kerja dengan
    kepuasan kerja yang dimiliki karyawan.
  6. Dampak terhadap ketidakhadiran dan keluarnya tenaga kerja
    Jika karyawan memilih untuk tidak hadir saat bekerja
    itu lebih baik karena masih ada rasa puas dalam diri
    karyawan walaupun hanya sedikit, akan tetapi jika
    karyawan memilih untuk keluar dari organisasi maka tingkat
    kepuasan di dalam diri karyawan cenderung rendah. Banyak
    hal yang menandakan bahwa kepuasan kerja dalam diri
    karyawan rendah selain meninggalkan pekerjaan, karyawan
    akan sering datang terlambat, menghindari sebagian
    tanggung jawabnya di dalam organisasi.
  7. Dampak terhadap kesehatan
    Tingkat kepuasan kerja karyawan memiliki hubungan
    yang saling berkaitan dengan kesehatan karyawan,
    walaupun hubungan penyebab kedua hal tersebut masih
    belum jelas. Jika seorang karyawan memiliki mental
    kesehatan yang baik maka kepuasan kerja juga akan baik,
    sebaliknya jika kesehatan karyawan menurun, maka akan
    berdampak buruk pada kepuasan kerja yang ada dalam diri
    karyawan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja


Menurut Robbins & Judge (2016) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja :

  1. Kondisi kerja
    Organisasi yang memiliki fasilitas yang baik untuk
    penyelesaian pekerjaan karyawan, maka akan memuaskan
    sebagian besar karyawan karena dapat menyelesaikan
    pekerjaan dengan baik. Jika memiliki rekan kerja yang baik
    seperti saling memberi dukungan satu sama lain, secara
    tidak langsung akan memberikan kenyamanan bagi para
    karyawan dalam bekerja. Pengawasan yang dilakukan oleh
    pimpinan juga berpengaruh dalam kepuasan karyawan, jika
    pimpinan mengawasi dengan cara yang buruk maka
    karyawan akan merasa tidak nyaman.
  2. Kepribadian
    Karyawan yang memiliki kepercayaan pada dirinya
    sendiri dan selalu berpikir positif terhadap pekerjaan yang
    diakukan, maka karyawan akan lebih puas dengan
    pekerjaan yang mereka lakukan. Sebaliknya, jika karyawan
    memiliki pemikiran yang negatif terhadap dirinya dan tidak
    percaya diri maka pekerjaan yang dilakukan akan
    menimbulkan ketidakpuasan.
  3. Gaji
    Besar kecilnya gaji seorang karyawan dapat
    mempengaruhi kepuasan kerja, akan tetapi hal itu hanya
    memiliki efek yang rendah jika seorang karyawan sudah
    mengetahui porsi kenyamanan dalam hidupnya. Gaji yang
    diberikan oleh organisasi memang memotivasi karyawan,
    akan tetapi belum tentu dapat membuat karyawan bahagia.
  4. Corporate social responsibilty (CSR)
    Jika karyawan memiliki pandangan yang sama dengan
    organisasi tentang pelaksanaan Corporate Social
    Responsibility maka akan meningkatkan kepuasan kerja
    yang dimiliki oleh karyawan, karena program Corporate
    Social Responsibility merupakan tndakan yang dilakukan
    untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan
    lingkungan sekitar. Karyawan yang memiliki nilai-nilai
    pribadi yang sesuai dengan kegiatan Corporate Social
    Responsibility yang dilakukan perusahaan cenderung lebih
    merasa puas.
    Menurut Hasibuan (2008) terdapat beberapa faktor yang
    mempengaruhi kepuasan kerja :
  5. Balas jasa yang adil dan layak
    Karyawan yang telah lama bekerja di perusahaan serta
    mampu memberikan hasil yang baik untuk mencapai tujuan
    perusahaan, sudah semestinya perusahaan memberikan
    reward sesuai dengan kinerja yang telah dilakukan.
  6. Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian
    Penempatan dalam perusahaan merupakan suatu proses
    mencocokan kualifikasi yang dimiliki karyawan dengan
    persyaratan kerja, serta memberikan tugas kepada karyawan
    untuk dilaksanakan. Jika perusahaan menetapkan sesuai
    dengan minat, bidang dan kemampuan karyawan maka akan
    menimbulkan rasa puas dan senang dalam melakukan
    pekerjaan. Namun sebaliknya, jika karyawan diberikan
    penempatan yang kurang sesuai dengan kemampuan maka
    dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurangnya
    kontribusi kerja karyawan.
  7. Berat-ringannya pekerjaan
    Karyawan yang melakukaan pekerjaan di dalam
    perusahaan tidak bisa memilih pekerjaan apa saja yang
    dapat dikerjakan, akan tetapi harus menyelesaikan pekerjaan
    sesuai dengan apa yang diberikan oleh atasan. Puas atau
    tidaknya karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berat
    atau ringan itu fleksibel sesuai dengan individu
    masing-masing, tapi jika karyawan dapat menyelesaikan
    pekerjaan yang berat dengan hasil yang baik maka kepuasan
    kerja karyawan cenderung akan meningkat, karena dapat
    berkontribusi dalam menyelesaikan pekerjaan yang berat.
  8. Suasana dan lingkungan pekerjaan
    Jika keadaan sekitar tempat kerja baik dan dapat
    memberikan suasana yang menyenangkan, mengamankan,
    menentramkan karyawan maka hal tersebut dapat
    mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan
    pekerjaannya. Kesan tersebut akan meningkatkan kepuasan
    karyawan dalam bekerja. Namun sebaliknya, jika suasana
    tempat kerja tidak kondusif maka karyawan akan cenderung
    tidak puas dalam melakukan pekerjaannya.
  9. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
    Jika perusahaan memiliki fasilitas ataupun peralatan
    yang memadai untuk melaksanakan pekerjaan, maka
    karyawan akan mudah untuk menyelesaikan pekerjaannya
    dengan hasil yang optimal. Produktivitas yang dihasilkan pu
    akan meningkat dan hal tersebut akan mempengaruhi
    kepuasn kerja dalam diri karyawan.
  10. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
    Kepemimpinan salah satu unsur penting dalam sebuah
    perusahaan, tanpa adanya kepemimpinan yang baik dari
    seorang pemimpin akan mempengaruhi perusahaan tersebut.
    Jika pimpinan memiliki sikap yang baik, adil, serta peduli
    dengan karyawan maka karyawan pun akan senang dan
    semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Hal tersebut
    dapa meningkatkan kepuasan kerja dalam diri karyawan,
    akan tetapi jika pimpinan memiliki sikap yang buruk dengan
    karyawannya maka kinerja karyawan akan menurun dan
    kepuasannya pun ikut menurun.
  11. Sifat pekerjaan monoton atau tidak
    Karyawan memiliki karakter yang berbeda-beda dalam
    melaksanakan pekerjannya, monoton atau tidaknya
    pekerjaan tergantung penilaian karyawan masing-masing.
    Karyawan yang senang dalam zona nyamannya dan
    melakukan pekerjaan yang begitu-begitu saja maka hal
    tersebut sudah menimbulkan kepuasan kerja, akan tetapi
    jika karyawan senang untuk mengetahui hal baru dan
    tantangan dalam pekerjaan maka ia barua merasakan
    kepuasan kerja pada saat itu

Indikator dan dimensi


Menurut Luthans (2011) bahwa kepuasan kerja memiliki
beberapa dimensi, yaitu :

  1. Pekerjaan itu sendiri
    Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan
    pastinya memerlukan keterampilan yang di milikinya
    sekaligus merasa bahwa keahliannya dibutuhkan dalam
    pekerjaan tersebut atau tidak. Jika karyawan merasa bahwa
    pekerjaan yang dilakukan itu menarik, maka karyawan akan
    merasa termotivasi dalam melakukan pekerjaan dan puas
    terhadap pekerjaan tersebut.
  2. Gaji
    Karyawan menganggap bahwa gaji adalah bagaimana
    manajemen di dalam organisasi memandang kontribusi
    mereka selama melakukan pekerjaan. Karyawan yang telah
    melakukan pekerjaan pasti mendapatkan gaji yang
    dihasilkan dari jerih payahnya, sehingga gaji yang diterima
    oleh karyawan harus bersifat adil karena mempengaruhi
    kepuasan kerja dalam diri karyawan.
  3. Promosi
    Promosi merupakan suatu penghargaan yaitu proses
    kenaikan jabatan dari satu jabatan ke jabatan yang lebih
    tinggi. Karyawan yang di promosikan akan memiliki porsi
    lebih tinggi dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, serta
    wewenangnya. Hal tersebut mendorong karyawan untuk
    lebih maju dan lebih semangat dalam bekerja.
  4. Pengawasan
    Seorang atasan dalam melakukan pengawasan terhadap
    karyawan bisa dengan cara memberikan kepedulian melalui
    komunikasi dengan karyawan, memeriksa kinerja karyawan,
    memberikan nasihat serta bantuan kepada karyawan secara
    individu. Jika suara karyawan dianggap dalam proses
    pengambilan keputusan maka karyawan akan merasa di
    perhatikan dan dihargai.
  5. Kelompok Kerja
    Jika dalam perusahaan memiliki rekan kerja yang
    peduli, ramah, mampu diajak dalam bekerja sama maka hal
    tersebut sekaligus menjadi sumber dukungan satu sama lain,
    kenyamanan, dan dapat memberikan bantuan antar anggota.
    Hal tersebut sangat mempengaruhi karyawan dalam
    kepuasan bekerja karena menimbulkan rasa senang dalam
    diri karyawan serta memudahkan dalam bekerja. Namun
    sebaliknya, jika di dalam perusahaan memiliki rekan kerja
    yang buruk maka akan menurunkan kualitas kerja karyawan
    sehingga kepuasan kerja akan menurun.
  6. Kondisi kerja
    Pengaruh kondisi kerja kurang lebih sama dengan
    kelompok kerja, jika kondisi kerja memiliki lingkungan
    yang bersih, rapi serta menarik maka karyawan akan merasa
    lebih semangat dan mudah dalam menyelesaikan
    pekerjaannya. Sebaliknya, jika kondisi kerja memiliki
    lingkungan yang kotor, panas, berisik maka karyawan akan
    merasa lebih sulit dalam menyelesaikan pekerjaannya.
    Menurut Crow et al (2012) bahwa kepuasan kerja
    memiliki beberapa indikator, yaitu :
  7. Puas dengan pekerjaan
    Jika seorang karyawan melakukan pekerjaan sesuai
    dengan kemampuan yang dimilikinya lalu memberikan hasil
    yang baik untuk organisasi maka karyawan akan merasa
    puas dengan pekerjaannya tersebut.
  8. Menyukai pekerjaan yang dilakukan
    Karyawan yang dapat melakukan pekerjaan sesuai
    dengan kemampuannya maka ia dapat menyalurkan
    kemampuannya tersebut untuk organisasi, serta memiliki
    lingkungan yang mendukung maka karyawan tersebut akan
    menyukai pekerjaan yang dilakukan.
  9. Menghabiskan waktu untuk bekerja keras
    Jika karyawan merasa puas dengan pekerjaan yang
    dilakukan berarti karyawan tersebut senang dalam
    melakukan pekerjaannya serta merasa nyaman, sehingga
    mampu menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan
    pekerjannya.
  10. Dihargai dalam pekerjaan
    Karyawan yang merasa telah melakukan pekerjaannya
    dengan baik maka akan senang jika dihargai oleh rekan
    kerja maupun atasan organisasi tersebut.
  11. Proaktif dalam bekerja
    Karyawan yang merasa senang dengan pekerjaannya
    maka akan berinisiatif untuk memberikan pengaruh yang
    baik dalam organisasinya, serta ingin mencapai tujuan
    organisasi sehingga karyawan tersebut merasa puas.
  12. Pekerjaan merupakan hal yang penting
    Jika seorang karyawan merasa puas dan nyaman dengan
    pekerjaannya maka ia berpikir bahwa pekerjaan yang ia
    miliki sangat penting bagi hidupnya.

Definisi Kepuasan Kerja


Menurut Wagner III & Hollenback (2010) kepuasan kerja adalah
suatu perasaan senang yang muncul dari dalam diri seseoang bahwa
suatu pekerjaannya telah memenuhi nilai-nilai dari suatu
pekerjaannya. Sementara menurut Robbins & Judge (2016) kepuasan
kerja adalah perasaan senang yang muncul dari dalam diri seseorang
karena dihasilkan dari pekerjaannya. Jika seorang karyawan memiliki
perasaan positif terhadap pekerjaannya maka akan memiliki kepuasan
yang tinggi, sebaliknya jika memiliki perasaan negatif terhadap
pekerjaannya maka akan menimbulkan kepuasan yang rendah. Sikap
kepuasan kerja ini mempengaruhi kinerja karyawan dalam melakukan
pekerjaannya di dalam organisasi. Menurut Locke dalam Luthans
(2011) kepuasan kerja merupakan suatu keadaan yang muncul dalam
diri karyawan menimbulkan sikap emosi yang menyenangkan atau
emosi positif yang berdasarkan dari penilaian pekerjaan atau
pengalaman kerja seseorang di dalam organisasi dan memenuhi
nilai-nilai yang penting dalam kebutuhannya. Menurut Griffin et al
dalam Crow et al (2012) kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang
subjektif tentang bagaimana banyaknya kebutuhan individu dalam
pekerjaan dan dapat dinyatakan sebagai sejauh mana karyawan
tersebut menyukai pekerjaan yang dilakukannya saat ini.
Pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulannya bahwa kepuasan
kerja adalah suatu sikap atau perasaan karyawan terhadap pekerjaan
yang dilakukan sehingga dapat menimbulkan perasaan yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perasaan tersebut
dipengaruhi oleh banyak hal sehingga bisa mempengaruhi puas atau
tidak puasnya karyawan dalam bekerja

Dampak yang disebabkan karena komitmen organisasi


1) Menurut Pane & Fatmawati (2017) komitmen afektif memiliki
hubungan positif yang signifikan terhadap kinerja karyawan.
Karyawan yang merasa mudah dan nyaman saat bekerja dalam
lingkungan organisasi dapat disesuaikan dengan variabel
personal yang membuat karyawan untuk tetap bekerja di
organisasi. Karyawan akan memiliki motivasi untuk
berpartisipasi terhadap perusahaan. Komitmen normatif juga
menunjukkan hubungan positif dan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan, karena karyawan menunjukkan
tanggung jawab yang tinggi karena adanya kontrak kerja di
dalam organisasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa karyawan
memiliki komitmen yang tinggi saat bekerja sesuai dengan job
desk nya. Komitmen berkelanjutan memiliki hubungan positif
yang signifikan terhadap kinerja pegawai, karena karyawan
sangat membutuhkan pekerjaan di organisasi sedangkan
karyawan merasa bahwa organisasi lain memberikan
kesejahteraan lebih sedikit.
2) Menurut Sapitri (2016) komitmen organisasi memliki pengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan di suatu
organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen dan kinerja yang
tinggi maka mampu untuk mencapai tujuan serta visi dan misi
perusahaan sesuai dengan target perusahaan. Terdapat 3 (tiga)
komitmen organisasi yang mempengaruhi, komitmen yang
paling tinggi adalah komitmen afektif, sedangkan komitmen
yang paling rendah adalah komitmen normatif.
3) Menurut Putra Widyantara & Ardana (2015) komitmen
organisasi berpengaruh negatif signifikan dengan turnover
intention di organisasi. Jika rasa komitmen organisasi yang
dimiliki oleh karyawan semakin tinggi maka turnover intention
perusahaan akan menurun. Hal tersebut memberikan dampak
yang sangat baik bagi organisasi, karena tidak perlu
mengeluarkan biaya yang bertujuan untuk mencari karyawan
yang baru

Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi


Menurut Stum (1998) dalam Adolfina (2014) terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi, yaitu :

  1. Budaya keterbukaan
    Perusahaan yang memiliki budaya keterbukaan di
    dalamnya maka akan menimbulkan rasa percaya karyawan
    terhadap organisasi, jika sudah terbentuk rasa kepercayaan
    dalam diri karyawan maka akan meningkatkan komitmen
    organisasi.
  2. Kepuasan kerja
    Jika rasa puas dalam diri karyawan sudah terpenuhi
    serta meningkat maka komitmen yang akan diberikan
    karyawan terhadap perusahaan juga akan meningkat.
  3. Kesempatan untuk berkembang
    Jika perusahaan memberikan karyawan kesempatan
    untuk mengembangkan dirinya, secara tidak langsung
    komitmen yang sudah ada dalam diri karyawan akan
    semakin tinggi sekaligus enggan untuk meninggalkan
    organisasi karena di dalam perusahaan tersebut karyawan
    dapat mengembangkan dirinya agar memiliki kualitas yang
    baik dalam bekerja.
  4. Arah organisasi
    Sudah seharusnya organisasi memiliki arah yang jelas
    untuk kedepannya, sehingga karyawan yang bekerja di
    dalam organisasi akan percaya dengan organisasi.
    Sebaliknya, jika organisasi tidak memiliki arah yang jelas
    maka karyawan tidak memiliki rasa percaya terhadap
    perusahaan, sehingga komitmen yang dimiliki karyawan
    akan menurun.
  5. Penghargaan kerja yang sesuai dengan kebutuhan
    Karyawan yang telah bekerja secara maksimal dan
    memberikan hasil yang baik untuk organisasi akan
    mendapat penghargaan yang diberikan oleh organisasi. Jika
    penghargaan tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan
    karyawan maka akan membuat ia senang dalam bekerja
    serta merasa dihargai oleh perusahaan, sekaligus komitmen
    yang dimiliki karyawan akan meningkat

Indikator dan dimensi


Dimensi komitmen organisasi menurut Meyer & Allen dalam
Luthans (2011) yaitu :

  1. Komitmen afektif
    Seorang karyawan yang memperlihatkan keinginan
    yang kuat agar dapat beradaptasi dengan nilai-nilai yang
    dimiliki oleh perusahaan. Komitmen afektif dapat timbul
    karena adanya pengaruh dari dalam diri sendiri, lingkungan
    perusahaan ataupun tanggapan dari pemimpin perusahaan,
    sedangkan karyawan yang memiliki komitmen afektif
    biasanya ingin tetap bertahan di dalam perusahaan karena
    mempunyai visi dan misi yang sama untuk mencapai tujuan
    organisasi.
  2. Komitmen berkelanjutan
    Suatu kekhawatiran yang muncul dari dalam diri
    karyawan karena takut kehilangan sesuatu yang telah
    diperoleh selama bekerja di perusahaan, seperti gaji, fasilitas
    dan lain-lain. Hal tersebut yang menyebabkan adanya
    komitmen berkelanjutan di dalam diri karyawan. Jika
    adanya pengurangan dalam fasilitas atapun tunjangan
    tersebut maka akan menurunkan komitmen berkelanjutan
    dalam diri karyawan.
  3. Komitmen normatif
    Komitmen ini merupakan suatu tanggung jawab dan
    etika yang dimiliki oleh karyawan untuk berniat tetap
    tinggal di dalam organisasi. Hal tersebut muncul karena
    adanya dorongan dari dalam maupun luar organisasi
    dikarenakan adanya balas jasa terhadap perusahaan ataupun
    respek sosial, budaya dan agama.
    Menurut Crow et al (2012) komitmen organisasi terdapat
    lima indikator, yaitu :
  4. Mengenali diri saya sebagai anggota organisasi
    Karyawan yang telah memiliki komitmen yang tinggi
    terhadap organisasinya, maka akan memiliki tujuan serta
    visi, misi yang sama dengan organisasi. Hal tersebut
    menunjukkan bahwa karyawan tersebut adalah anggota
    organisasi.
  5. Merasa memiliki ikatan dengan organisasi
    Jika karyawan memiliki komitmen yang tinggi dalam
    dirinya, hal tersebut dapat menimbulkan ikatan yang sangat
    kuat terhadap dirinya dengan organisasi.
  6. Pekerjaan yang saya miliki berarti bagi saya
    Karyawan yang telah merasa bahwa ia memiliki tujuan
    serta visi, misi yang sejalan dengan organisasi maka dapat
    menimbulkan komitmen yang tinggi dan merasa bahwa
    pekerjaannya adalah hal yang berarti.
  7. Organisasi tempat bekerja sudah seperti keluarga
    Karyawan yang memiliki komitmen yang tinggi di
    dalam dirinya maka akan loyal dengan perusahaan serta
    menganggap bahwa tempat bekerja adalah suatu keluarga
    bagi dirinya.
  8. Berharap untuk tetap dengan pekerjaan sampai pensiun
    Karyawan yang memiliki komitmen yang tinggi
    terhadap pekerjaannya serta senang dengan pekerjaan yang
    dilakukan, maka karyawan tidak ingin berpindah tempat lain
    untuk bekerja

Definisi Komitmen Organisasi


Menurut Robbins & Judge (2016) komitmen organisasi
merupakan seorang karyawan yang memiliki tujuan dan keinginan
yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi. Karyawan yang
memiliki komitmen yang tinggi dalam dirinya akan lebih kecil
kemungkinannya untuk keluar dari organisasi karena memiliki
loyalitas yang tinggi terhadap pekerjaannya serta bersedia untuk
berkorban demi kepentingan organisasinya. Sementara menurut Cook
et al dalam Crow et al (2012) komitmen organisasi adalah seorang
karyawan yang memiliki kedekatan dari dalam diri antara karyawan
dengan perusahaan dengan memiliki berbagai faktor. Menurut
Luthans (2011) komitmen organisasi merupakan seorang karyawan
yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama dengan organisasi
serta memiliki kemauan yang sangat kuat untuk mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi dengan cara berusaha keras
memenuhi keinginan organisasi. Sementara menurut Greenberg &
Baron (2003) komitmen organisasi adalah dimana seorang karyawan
memiliki keterlibatan di dalam organisasinya serta mempertahankan
keanggotaannya karena tidak ingin meninggalkan perusahaan
sehingga bersedia selalu bekerja secara maksimal untuk organisasi.
Pernyataan diatas menyimpulkan bahwa komitmen organisasi
adalah suatu sikap dalam pekerjaan seorang karyawan yang
mempunyai kemauan, kontribusi, loyalitas serta kepercayaan yang
tinggi terhadap perusahaan serta memiliki tujuan dan nilai-nilai yang
sejalan dengan perusahaan untuk mencapai segala kepentingan
perusahaan.

Dampak yang disebabkan karena keterlibatan kerja


1) Menurut penelitian Mauna & Safitri (2015) menunjukkan bahwa
keterlibatan kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
komitmen organisasi. Keterlibatan kerja termasuk salah satu
faktor internal yang perlu untuk ditingkatkan untuk
mempengaruhi kemajuan organisasi, sehingga dapat
menghasilkan kerja yang maksimal. Karyawan yang
berpartisipasi untuk berusaha semaksimal mungkin agar dapat
mencapai tingkat komitmen yang tinggi terhadap organisasi.
2) Menurut penelitian Afriani (2017) menunjukkan bahwa
keterlibatan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja
karyawan karena karyawan berpartisipasi aktif di dalam
organisasi dan menganggap bahwa pekerjaan merupakan sesuatu
yang penting. Karyawan selalu berusaha untuk semua pekerjaan
yang dilakukan dapat terselesaikan dengan baik.
3) Menurut penelitian Ardiana Putra & Riana (2017) menunjukkan
bahwa memperoleh hasil yang positif signifikan antara
keterlibatan kerja dengan komitmen organisasi. Karyawan yang
semakin dilibatkan dalam pekerjaannya maka akan timbul sikap
komitmen terhadap organisasi, karena karyawan merasa
dianggap di dalam organisasi tersebut

Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan kerja


Menurut Kanungo (1982) terdapat 2 (dua) faktor yang
mempengaruhi keterlibatan kerja, yaitu :
1) Faktor personal, terdapat 2 (dua) faktor yang
mempengaruhi keterlibatan kerja yaitu :

  1. Faktor demografis yang meliputi :
    a) Usia
    Karyawan yang memiliki usia lebih tua
    cenderung lebih puas terhadap pekerjaan yang
    dilakukan serta memiliki keterlibatan kerja yang
    tinggi, sedangkan karyawan yang lebih muda
    biasanya kurang tertarik dan kurang puas terhadap
    pekerjaan yang dilakukan karena merasa cepat
    bosan dengan pekerjaan atau merasa bahwa gaji
    yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan
    yang dilakukan.
    b) Pendidikan
    Organisasi selalu membutuhkan karyawan
    yang memiliki latar belakang pendidikan yang
    tinggi, biasanya organisasi melihat latar belakang
    pendidikan yang ingin melamar kerja terlebih
    dahulu. Karyawan yang memiliki latar belakang
    pendidikan yang baik biasanya lebih diutamakan
    dalam melakukan pekerjaan.
    c) Jenis kelamin
    Karyawan perempuan biasanya dipandang
    sebagai perempuan yang mudah lemah dan tidak
    bisa melakukan pekerjaan yang berat, sehingga
    karyawan laki-laki cenderung diberi beban
    pekerjaan lebih banyak karena dianggap dapat
    menyelesaikan segala pekerjaan.
    d) Jabatan
    Suatu organisasi sudah semestinya terdapat
    tingkat jabatan di dalamnya. Tingkat jabatan yang
    lebih tinggi biasanya memiliki gambaran pekerjaan
    yang lebih berat dan lebih berkontribusi di dalam
    organisasi, serta memiliki keberanian untuk
    menyatakan pendapat. Sebaliknya, jabatan yang
    lebih rendah biasanya kurang memberikan
    kontribusi yang lebih di dalam organisasi. Hal
    tersebut terlihat bahwa semakin tinggi jabatan
    maka keterlibatan pekerjaan pun akan meningkat.
    e) Senioritas
    Senioritas merupakan suatu hal negatif yang
    berada di dalam organisasi, biasanya senioritas di
    dalam organisasi karena sudah lamanya karyawan
    yang berada di organisasi, tidak terpengaruh oleh
    umur ataupun pengalaman yang dimiliki.
    Karyawan senior biasanya memiliki keterlibatan
    kerja yang tinggi karena ingin dilihat oleh atasan
    bahwa ia terlihat lebih bekerja keras daripada
    karyawan junior, sehingga keterlibatan kerja yang
    dimiliki karyawan junor lebih rendah.
  2. Faktor psikologis yang meliputi :
    a) Nilai-nilai pribadi individu
    Nilai merupakan suatu keyakinan yang dimiliki
    seseorang terhadap suatu pandangan, setiap
    individu memiliki nilai masing-masing dalam
    menilai suatu hal. Jika karyawan memiliki
    nilai-nilai pribadi yang sama dengan organisasi,
    maka karyawan akan merasa sejalan dengan
    perusahaan.
    b) Locus of Control
    Locus of Control merupakan suatu
    kepercayaan yang dimiliki seseorang bahwa suatu
    keberhasilan atau kegagalan dapat dikendalikan
    dari faktor internal ataupun eksternal. Jika faktor
    internal atau eksternal dalam diri karyawan positif
    maka akan menimbulkan perilaku yang positif juga.
    c) Kepuasan terhadap hasil kerja
    Karyawan dalam bekerja memiliki penilaian
    kepuasan masing-masing, jika karyawan telah
    melibatkan dirinya secara maksimal dan mampu
    mencapai hasil yang baik maka kepuasan dalam
    diri karyawan meningkat. Hal tersebut
    menunjukkan semakin karyawan melibatkan
    dirinya dan memberikan hasil yang baik, maka
    kepuasan dalam dirinya akan meningkat.
    d) Absensi
    Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja
    yang tinggi, biasanya senang menghabiskan
    waktunya untuk melakukan pekerjaan, maka
    karyawan memiliki tingkat absensi yang rendah.
    e) Itensi Turnover
    Karyawan akan benar-benar peduli dengan
    pekerjaan yang ia laukan, dan memikirkan
    perusahaan dengan baik. Karyawan yang memiliki
    keterlibatan kerja yang tinggi memiliki rasa bangga
    terhadap pekerjaan yang ia lakukan, sehingga
    muncul perasaan tidak ingin meninggalkan
    organisasi ataupun memilih bekerja di organisasi
    lain.
    2) Faktor situasional :
    a) Jenis pekerjaan
    Jika karyawan mendapat pekerjaan yang sesuai
    dengan kemampuan yang dimiliki, maka karyawan
    akan selalu memberikan usaha-usaha yang terbaik
    untuk perusahaan. Hal tersebut menunjukkan
    bahwa karyawan merasa senang terlibat dalam
    pekerjaan di dalam organisasinya.
    b) Organisasi
    Karyawan yang memliki hubungan baik
    dengan organisasi serta selalu diberikan dukungan
    oleh organisasi saat melakukan pekerjaannya, akan
    menimbulkan perasaan senang dalam dirinya.
    Maka hal tersebut dapat meningkatkan semangat
    untuk terlibat dalam organisasi.
    c) Gaji
    Karyawan yang telah terlibat di dalam
    organisasi dan mendapatkan gaji yang sesuai
    dengan pekerjaannya, akan menimbulkan rasa
    senang di dalam diri karyawan. Maka hal tersebut
    menunjukkan bahwa adanya pemberian gaji yang
    sesuai akan meningkatkan keterlibatan kerja.
    d) Rasa aman
    Karyawan yang telah merasa nyaman dengan
    organisasi tempat ia bekerja, maka karyawan tidak
    ada pikiran ingin keluar dari organisasi atau bekerja
    di organisasi lain. Hal tersebut dapat menciptakan
    semangat dalam diri karyawan untuk melakukan
    pekerjaan

Indikator dan dimensi


Menurut Lodahl & Kejner (1965) dalam Kanungo (1982),
terdapat tiga indikator dalam keterlibatan kerja, yaitu :

  1. Pekerjaan hal penting
    Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi
    biasanya cenderung menghabiskan waktu untuk
    menyelesaikan pekerjaannya dan secara sukarela
    mengerjakan tugas diluar jam kerjanya, sehingga ia berfikir
    bahwa pekerjaan adalah suatu hal yang penting bagi
    hidupnya.
  2. Pekerjaan identitas diri
    Karyawan yang melakukan pekerjaan sudah
    semestinya bekerja sesuai dengan kemampuan yang
    dimilikinya, sehingga hal tersebut menunjukkan
    performansi kerja di dalam dirinya. Hal tersebut yang dapat
    memperlihatkan bahwa pekerjaan yang ia miliki adalah
    suatu identitas diri didalam organisasi.
  3. Keterikatan diri dengan pekerjaan
    Seorang karyawan yang telah mengidentifikasi dirinya
    secara psikologis terhadap pekerjaaannya dan merasa
    bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang penting bagi harga
    dirinya maka ia telah memiliki keterikatan dalam
    pekerjaanya.
    Menurut Teh & Sun (2012) terdapat lima indikator dalam
    keterlibatan kerja, yaitu :
  4. Hal penting yang terjadi pada diri saya, melibatkan pekerjaan
    Karyawan yang telah menjadi satu dengan pekerjaannya
    maka setiap hal yang terjadi pada dirinya akan terlibat dengan
    pekerjaan yang dilakukan.
  5. Sebagian besar minat saya terpusat pada pekerjaan saya
    Minat yang dimiliki oleh karyawan tertuju pada pekerjaan
    yang dilakukan, sehingga karyawan merasa senang
    melibatkan dirinya ke dalam pekerjaannya karena mampu
    menyalurkan minatnya dalam pekerjaanya tersebut.
  6. Memiliki ikatan yang kuat dengan pekerjaan saya
    Jika karyawan yang dapat mengidentifikasi pekerjaannya
    terhadap dirinya maka ia memiliki ikatan terhadap
    pekerjaannya tersebut, sehingga mampu mengerti apa yang
    harus dikerjakan.
  7. Senang menghabiskan sebagian waktu saya untuk bekerja
    Karyawan yang senang dalam melakukan pekerjaannya
    maka akan memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya
    serta mampu menghabiskan waktu nya untuk bekerja agar
    dapat memberikan pengaruh yang baik bagi organisasinya.
  8. Hal penting yang terjadi pada hidup, melibatkan pekerjaan
    Segala sesuatu hal yang terjadi dalam kehidupan
    karyawan maka akan melibatkan pekerjaan yang dilakukan
    serta mampu mempengaruhi pekerjaan yang dilakukan

Definisi Keterlibatan Kerja


Menurut Robbins & Judge (2016) keterlibatan kerja adalah
seorang karyawan yang mengukur dirinya dengan mengidentifkasi
pekerjaannya serta berpartisipasi aktif dalam perusahaannya serta
menganggap bahwa pekerjannya itu penting bagi harga diri dan
hidupnya. Sementara menurut Schermerhorn, Jr. et al. (2010)
keterlibatan kerja merupakan seorang individu memiliki kontribusi
yang tinggi terhadap pekerjaannya. Seseorang yang memiliki
keterlibatan kerja yang tinggi biasanya memiliki harapan yang tinggi
dalam menyelesaikan segala pekerjaannya. Menurut Lawler & Hall
(1970) dalam Saleh & Hosek (1976) keterlibatan kerja adalah sejauh
mana seseorang mendefinisikan pekerjaanya, karena pekerjaan yang
dilakukan merupakan salah satu bagian yang penting dalam
hidupnya dalam memenuhi kebutuhannya. Menurut Lodahl & Kejner
dalam Teh & Sun (2012) keterlibatan kerja merupakan sejauh mana
seseorang mengidentifikasi secara psikologis dengan pekerjaannya
atau pentingnya pekerjaan di dalam harga diri seorang karyawan.
Pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulannya bahwa
keterlibatan kerja merupakan suatu hal yang penting bagi seseorang
dalam hidupnya, sehingga seorang karyawan yang memiliki
pekerjaannya dan berusaha untuk selalu menyelesaikan
pekerjaannya

Indikator Keterikatan Kerja


Menurut Anita J 2014(dalam Handoyo dan Setiawan 2017:168)
menyebutkan beberapa indikator dari employee engagement (keterikatan
karyawan) sebagai berikut :

  1. Lingkungan kerja
  2. Kepemimpinan
  3. Tim dan hubungan rekan kerja
  4. Pelatihan dan pengembangan karir
  5. Kompensasi
  6. Kebijakan organisasi
  7. Kesejahteraan kerja

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterikatan Kerja


Menurut Bakker (2011:373) terdapat dua faktor yang
mempengaruhi work engagement, yaitu:
a. Job Resources
Job resourches diartikan sebagai aspek fisik, psikologis, sosial, dan
organisasi pada pekerjaan yang mampu mengurangi tuntutan pekerjaan
dalam kaitannya dengan pengorbanan psikologis yang diberikan oleh
karyawan dan memberikan pengaruh pada pencapaian tujuan.
b. Personal Resources
Personal resources diartikan sebagai evaluasi diri positif yang
terkait dengan ketahanan mental individu serta mengacu pula pada perasaan
individu terhadap kemampuan dirinya untuk berhasil dalam mengontrol dan
mempengaruhi lingkungannya. Karyawan memiliki ketahanan diri serta
memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan memberikan dampak baik
pada lingkungan perusahaan (Damerouti dalam Ayu, 2013). Personal
resources terdiri self-efficacy, optimism, self esteem dan resiliensi.
1) Self-Efficacy
Bandura (1997:378) mendefinisikan self-efficacy adalah keyakinan
individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau
tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu.
2) Optimism
Menurut Segerestrom (1998:122) optimisme adalah cara berpikir
yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Lopez dan
Snyder (2003:89) berpendapat bahwa optimisme adalah suatu harapan yang
ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju kearah
kebaikan.
3) Self esteem
Menurut Lerner dan Spainer (1980:76) berpendapat bahwa self esteem
merupakan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri secara positif dan
juga sebaliknya dapat menghargai secara negatif.
4) Resiliensi
Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bertahan, bangkit, dan
menyesuaikan diri dengan kondisi yang sulit (Reivich,dkk dalam Widuri,
2012)

Aspek-aspek keterikatan kerja


a. Vigor
Merupakan curahan energi dan mental yang kuat selama bekerja,
keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan, dan tekun dalam menghadapi kesulitan kerja, juga memiliki
kemauan untuk menginvestasikan segala upaya dalam suatu pekerjaan, dan
tetap bertahan meskipun menghadapi kesulitan.
b. Dedication
Merasa terlibat sangat kuat dalam suatu pekerjaan dan mengalami
rasa kebermaknaan, antusiasme, kebanggaan, inspirasi dan tantangan
c. Absorption
Karyawan selalu penuh konsentrasi dan serius terhadap suatu
pekerjaan. Pada saat bekerja, waktu menjadi terasa berlalu begitu cepat dan
menemukan kesulitan dalam memisahkan diri dengan pekerjaan.
Macey dan Schneider (2009:49) menjelaskan dua aspek pembentuk
work engagement, yaitu sebagai berikut:
a. Work engagement sebagai energi psikis
Karyawan merasakan pengalaman puncak dengan berada di dalam
pekerjaan dan arus yang terdapat di dalamnya. Karyawan menerapkan
energi psikis lebih pada tugas tertentu berfokus secara intensif dan
menghabiskan sedikit energi untuk fokus di tempat lain, benarbenar fokus
pada tugas yang ada.
b. Work Engagement sebagai energi tingkah laku, bagaimana work
engagement terlihat oleh orang lain. Work engagement terlihat oleh orang
lain dalam bentuk tingkah laku yang berupa hasil. Tingkah laku yang
terlihat dalam pekerjaan berupa:
1) Karyawan akan berpikir dan bekerja secara proaktif, akan mengantisipasi
kesempatan untuk mengambil tindakan dan akan mengambil tindakan
dengan cara yang sesuai dengan tujuan organisasi.
2) Karyawan yang engaged tidak terikat dengan job description, karyawan
fokus pada tujuan dan mencoba untuk mencapai cara konsisten mengenai
kesuksesan organisasi.
3) Karyawan secara aktif mencari jalan untuk dapat memperluas
kemampuan yang dimiliki dengan jalan yang sesuai dengan visi dan misi
perusahaan.
4) Karyawan pantang menyerah walau dihadapkan dengan rintangan atau
situasi yang membingungkan

Pengertian Keterikatan kerja


Menurut Kahn (1990:2) keterikatan kerja dalam pekerjaan
dikonsepsikan sebagai anggota organisasi yang melaksanakan peran
kerjanya, bekerja dan mengekspresikan dirinya secara fisik, kognitif dan
emosional selama bekerja. Perrin (2003:5) memberikan pengertian
mengenai work engagement sebagai pusat kerja afektif diri yang
merefleksikan kepuasan pribadi karyawan dan afirmasi yang mereka
dapat dari bekerja dan menjadi bagian dari suatu organisasi. Schmidt
(2004:4) mengartikan work engagement sebagai gabungan antara
kepuasan dan komitmen, kepuasan tersebut mengacu lebih kepada
elemen emosional atau sikap, sedangkan komitmen lebih melibatkan
pada elemen motivasi dan fisik.
Menurut Wellins dan Concelman (2004:2) work engagement adalah
kekuatan ilusif yang memotivasi karyawan meningkatkan kinerja pada
level yang lebih tinggi, energi ini berupa komitmen terhadap organisasi,
rasa memiliki pekerjaan dan kebanggaan, usaha yang lebih (waktu dan
energi), semangat dan ketertarikan, komitmen dalam melaksanakan
pekerjaan. Keterikatan kerja adalah sebuah kondisi dimana seseorang
memiliki pikiran yang positif sehingga mampu mengekspresikan dirinya
baik secara fisik, kognitif dan afektif dalam melakukan pekerjaannya
(Schaufeli dan Bakker, 2004). Lockwood (2007:12) memberi pengertian
mengenai work engagement sebagai keadaan dimana seseorang mampu
berkomitmen dengan organisasi baik secara emosional maupun secara
intelektual. Saks (2006:26) menjelaskan bahwa keterikatan sebagai
konstruk yang menggunakan komponen kognitif, emosi dan perilaku
yang diasosiasikan dengan tanggung jawab pekerjaannya. Sedangkan
Benthal (dalam Mujiasih 2006) berpendapat bahwa work engagement
adalah suatu keadaan ketika manusia merasa dirinya menemukan arti diri
secara utuh, memiliki motivasi dalam bekerja, maupun menerima
dukungan orang lain secara positif dan mampu bekerja secara efektif dan
efisien di lingkungan kerjanya. Hewitt (2008:22) mendefinisikan work
engagement sebagai sikap positif pegawai dan perusahaan (komitmen,
keterlibatan dan keterikatan) terhadap nilai-nilai budaya dan pencapaian
keberhasilan perusahaan. Work engagement bergerak melampaui
kepuasan yang menggabungkan berbagai persepsi karyawan yang secara
kolektif menunjukkan kinerja yang tinggi, komitmen, serta loyalitas
(Kingsley dan Associates, 2008).
Menurut Federman (2009:33), work engagement karyawan adalah
derajat dimana seorangkaryawan mampu berkomitmen pada suatu
organisasi dan hasil dari komitmen tersebut ditentukan pada bagaimana
mereka bekerja dan lama masa bekerja. Taylor (2004:23) menyatakan
bahwa keterikatan kerja adalah perasaan keikutsertaan aspek kognitif,
emosional, dan fisik karyawan dalam aktivitas pekerjaan, kinerja dan
output organisasional. Sementara itu, Bakker dan Xanthopoulou
(2013:12) menyatakan bahwa keterikatan kerja merupakan suatu hal yang
positif, terpenuhi, pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan
meliputi tiga dimensi yang saling melengkapi yaitu vigor, dedication dan
absorption

Indikator Kompensasi


Menurut Simamora (2004: 442), indikator untuk mengukur
kompensasi karyawan diantaranya sebagai berikut:
Upah dan gaji, Upah adalah basis bayaran yang seringkali
digunakan bagi para pekerja produksi dan pemeliharaan. Upah pada
umumnya berhubungan dengan tarif gaji per jam dan gaji biasanya berlaku
untuk tarif bayaran tahunan, bulanan atau mingguan.
Insentif, Pengertian Insentif adalah tambahan kompensasi di atas
atau di luar gaji atau upah yang diberikan oleh perusahaan.
Tunjangan, Pengertian Tunjangan adalah asuransi kesehatan dan
jiwa, program pensiun, liburan yang ditanggung perusahaan, dan tunjangan
lainnya yang berkaitan dengan hubungan kepegawaian.
Fasilitas, Pengertian Fasilitas adalah pada umumnya berhubungan
dengan kenikmatan seperti mobil perusahaan, akses ke pesawat perusahaan,
tempat parkir khusus dan kenikmatan (baca: perlakuan khusus) yang
diperoleh karyawan

Tujuan dan Manfaat Pemberian Kompensasi
Pemberian kompensasi kepada karyawan dari perusahaan adalah bertujan
untuk meningkatka produktivitas karyawan agar lebih giat dalam bekerja dan
memperlancar tujuan perusahaan mencapai tujuannya. Menurut Hasibuan (2002 :
120), tujuan pemberian kompensasi adalah sebagai berikut :

  1. Ikatan kerja sama
    Dengan pemberian kompensaso terciptalah ikatan kerjasama yang
    formal antara atasan dan karyawannya. Karyawan harus melakasanakan
    tugas-tugasnya dengan baik dan benar. Sedangkan atasan atau bos wajib
    membayar kompensasi sesuai dengan perjanjian awal.
  2. Kepuasan kerja
    Dengan timbal balik yang baik, karyawan akan dapat memenuhi
    kebutuhannya sehingga memperoleh kepuasan dalam bekerja.
  3. Pengadaan efektif
    Jika kompensasi yang diberikan cukup besar, pengadaan karyawan yang
    berkualitas untuk perusahaan akan lebih mudah.
  4. Motivasi
    Jika balas jasa yang diberikan atasan kepada karyawannya cukup besar,
    maka sang atasan akan lebih mudah memberikan motivasi kepada
    karyawannya.
  5. Stabilitas karyawan
    Program kompensasi yang berprinsip adil dan layak serta konsisten dan
    kompetitif, maka stabilitas karyawan lebih terjamin.
  6. Disiplin
    Dengan pemberian kompensasi yang cukup besar maka disiplin
    karyawan akan semakin baik. Mereka akan menyadari dan menaati aturan-
    aturan yang ada di perusahaan.
  7. Pengaruh serikat buruh
    Dengan program kompensasi yang baik, maka perusahaan akan
    terhindar dari pengaruh serikat buruh dan karyawan dapat berkonsentrasi
    pada pekerjaannya.
  8. Pengaruh pemerintah
    Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan
    yang berlaku (batas upah minimum), maka intervensi pemerintah dapat
    terhindar

Sistem Pemberian Kompensasi


Menurut Siagian (2002 : 257) pemberian kompensasi yang efektif dibagi
menjadi empat, yaitu :

  1. Melakukan analisis pekerjaan, artinya perlu disusun deskripsi jabatan,
    uraian pekerjaan, dan standar pekerjaan dalam perusahaan.
  2. Melakukan penilaian yang berkaitan dengan keadilan internal. Dalam
    melakuakan penilaian usahakan tersusun urutan peringkat pekerjaan,
    penentuan nilai untuk setiap pekerjaan, susuan perbandingan dengan
    pekerjaan lain, dan pemberian point untuk setiap pekerjaan.
  3. Melakukan survei berbagai sistem imbalan yang berlaku guna
    memperoleh bahan yang berkaitan dengan keadilan eksternal.
  4. Menentukan “harga” setiap pekerjaan, berdasarkan dengan “harga”
    pekerjaan sejenis ditempat lain.
    Dari pendapat Siagian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sistem
    kompensasi adalah sistem pemberian balas jasa kepapa para karyawan dengan
    menentukn berapakah yang layak dan pantas diterima oleh seorang karyawan atas
    apa yang sudah dikerjakannya. Agar pemberian kompensasi terasa adil dan baik,
    perlu dilakukan tahapan pengevaluasian pekerjaan, survey gaji, dan penilaian
    prestasi kerja

Jenis-jenis Kompensasi


Menurut Simamora (2006 : 442), kompensasi dibagi menjadi dua macam yaitu :

  1. Kompensasi finansial
    Kompensasi langsung dibagi menjadi dua jenis, yaitu langsung dan tidak
    langsung.
    a. Kompensasi langsung
    Menurut Hariandja (2002 : 224) kompensasi langsung adalah
    kompensasi yang dikaitkan secara langsung dengan pekerjaan seperti upah
    atau gaji, bonus, dan konsumsi. Berikut ini adalah macam-macam
    kompensasi langsung:
    a) Gaji atau upah
    Menurut Hariandja (2002 : 245) gaji adalah balas jasa dalam
    bentuk uang yang diterima karyawan sebagai penghargaan dalam
    kedudukannya sebagai pegawai yang memberikan sumbangan
    pikiran dalam mencapaitujuan organisasi. Sedangkan menurut
    Marihot (2002 : 235) mengatakan bahwa gaji adalah pembayaran
    tetap yang diterima seseorang secara rutin dalam sebuah organisasi.
    Berdasarkan teori kedua ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa gaji
    merupakan suatu balas jasa berupa uang, yang diberikan oleh
    perusahaan kepada karyawannya tanpa melihat hasil kerja yang
    mereka capai. Besarnya gaji itu tetap tidak berubah sesuai dengan
    golongan dan besarnya gaji tidak berdasarkan jam kerja dan
    diberikan setiap bulan atau mingguan.
    b) Insentif
    Insentif menurut Hariandja (2002 : 265), insentif adalah bentuk
    pembayaran yang dikaitkan langsung dengan gain sharing atau
    pembagian keuntungan bagi karyawan karena pningkatan
    produktivitas. Sedangkan menurut Simamora (2006 : 509), insentif
    adalah tambahan pendapatan seorang karyawan diluar gaji yang
    diberikan perusahaan. Pemberian intensif adalah berdasarkan
    produktivitas, keuntungan, kehadiran, prestasi, dan efektifitas biaya.
    b. Kompensasi Tidak Langsung
    Menurut Mathis dan Jackson (2002 : 416) kompensasi tidak langsung
    adalah imbalan yang diberikan secara tidak langsung kepada karyawan
    sebagai bagian dari keanggotaan organisasi seperti asuransi, jaminan
    kesehatan, pembayaran saat tidak bekerja, dan pensiun.
    Kompensasi tidak langsung merupakan balas jasa yang diberikan
    perusahaan berdasarkan kebijaksanaan perusahaan terhadap semua
    karyawannya sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
    Kompensasi tidak langsung diberikan dalam bentuk tunjangan seperti
    asuransi, tunjangan hari raya, kesehatan, liburan, dan tunjangan lainnya
  2. Kompensasi Non FinansialMenurut Simamora (2006 : 540) bahwa kompensasi nonfinansial terdiri atas kepuasan yang diperoleh seorang karyawan dari pekerjaannya dan lingkungan psikologis dan fisik dimana dia bekerja.

Pengertian Kompensasi


Semua karyawan yang bekerja tentu saja membutuhkan kompensasi
atau imbalan yang seusai dan kompetitif dibanding dengan perusahaan lain atas
kinerja yang telah dilakukannya terhadap perusahaan. Sistem kompensasi yang
baik akan memberikan dampak yang terhadap kinerja karyawan perusahaan
tersebut.
Kompensasi adalah hubungan timbal balik dari perusahaan untuk
sumber daya manusia. Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh
pekerja sebagai balas jasa atas kerja mereka (Handoko, 2008:155).
Menurut Hasibuan (2014:119) Kompensasi adalah semua pendapatan
yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima
karyawan sebagai immbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan.
Pembentukan sistem kompensasi yang efektif merupakan bagian penting dari
manajemen sumber daya manusia karena membantu menarik dan
mempertahankan pekerjaan–pekerjaan yang berbakat. Selain itu sistem
kompensasi perusahaan memiliki dampak terhadap kinerja strategis.
Ada juga pengertian Kompensasi adalah imbalan jasa atau balas jasa
yang diberikan oleh perusahaan kepada para tenaga kerja karena tenaga kerja
tersebut telah memberikan sumbangan tenaga dan pikiran demi kemajuan
perusahaan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Sastrohadiwiryo, 2010:
218).
Sedangkan menurut Desseler (2009 : 82) kompensasi karyawan adalah
semua bentuk pembayaran atau hadiah yang diberikan perusahaan kepada
karyawan dan timbul dari apa yang kayawannya sudah kerjakan. Kompensasi
mempunyai dua komponen, yaitu pembayaran langsung (upah, gaji, insentif,
komisi, dan bonus), dan pembayaran tidak langsung (tunjangan atau asuransi).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa balas jasa tidak hanya
berupa uang tetapi juga berupa bukan uang seperti fasilitas kesehatan, fasilitas
perumahan, jaminan social, kendaraan, asuransi, dan segala bentuk jasa tersebut
diberikankepada para pegawai oleh perusahaan secara tetap

Jenis-jenis Gaya Kepemimpinan


Menurut Hasibuan (2014: 221), terdapat beberapa macam gaya
kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:
a. Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian
besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan itu menganut sistem
sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya
ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan
saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
b. Kepemimpinan Partisipasi
Kepemimpinan Partisipasi adalah apabila dalam kepemimpinan-nya
dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi,
menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi
bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan. Bawahan harus berpartisipasi
memberikan saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
c. Kepemimpinan Delegasi
Kepemimpinan Delegasi apabila seorang pemimpin mendelegasikan
wewenangnya kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan
dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam
melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada
bawahan.
Sedangkan menurut Sutikno (2014: 35), gaya kepemimpinan terbagi
menjadi beberapa tipe, yaitu:
a. Tipe Otokratik
Tipe kepemimpinan menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak
pribadinya (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain
dan tidak boleh ada orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin otokratik
akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakuannya, dan selalu mengabaikan
peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan, tidak mau menerima saran
dan pandangan bawahannya.
b. Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire)
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan
otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin biasanya menunjukkan
perilaku yang pasif dan seringkali menghindar diri dari tanggung jawab. Seorang
pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran yang pasif dan
membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Disini seorang
pemimpin mempunyai keyakinan bebas dengan memberikan kebebasan yang
seluas-luasnya terhadap bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil.
c. Tipe Paternalistik
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam
kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan kepadanya.
Harapan bawahan berwujud keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai
bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan
untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan
kesejahteraan bawahannya.
d. Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus yaitu
daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu memperoleh pengikut yang
sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
mengapa orang tersebut itu dikagumi.
e. Tipe Militeristik
Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin dalam menggerakkan
bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah, senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang berlebih-
lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya, dan sukar
menerima kritikan dari bawahannya.
f. Tipe Pseudo-demokratik
Tipe ini disebut juga kepemimpinan manipulatif atau semi demokratik.
Pemimpin seperti ini menjadikan demokrasi sebagai selubung untuk memperoleh
kemenangan tertentu. Pemimpin yang bertipe pseudo-demokratik hanya
tampaknya saja bersikap demokratis padahal sebenarnya dia bersikap otokratis.
Pemimpin ini menganut demokrasi semu dan lebih mengarah kepada kegiatan
pemimpin yang otoriter dalam bentuk yang halus dan samar-samar.
g. Tipe Demokratik
Tipe demokratik adalah tipe pemimpin yang demokratis, dan bukan karena
dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Tipe kepemimpinan dimana pemimpin
selalu bersedia menerima dan menghargai saran-saran, pendapat, dan nasihat dari
staf dan bawahan, melalui forum musyawarah untuk mencapai kata sepakat.
Kepemimpinan demokratik adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah.
Kegiatan-kegiatan pengendalian dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab

Indikator Gaya Kepemimpinan


Menurut Kartono (2008: 32), gaya kepemimpinan seseorang dapat dilihat
dan dinilai dari beberapa indikator sebagai berikut:
Kemampuan Mengambil Keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan
mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling
tepat.
Kemampuan Memotivasi. Kemampuan Memotivasi adalah Daya
pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk
menggerakkan kemampuannya (dalam bentuk keahlian atau keterampilan) tenaga
dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung
jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan
berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Kemampuan Komunikasi. Kemampuan Komunikasi Adalah kecakapan
atau kesanggupan penyampaian pesan, gagasan, atau pikiran kepada orang lain
dengan tujuan orang lain tersebut memahami apa yang dimaksudkan dengan baik,
secara langsung lisan atau tidak langsung.
Kemampuan Mengendalikan Bawahan. Seorang Pemimpin harus memiliki
keinginan untuk membuat orang lain mengikuti keinginannya dengan
menggunakan kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada
tempatnya demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Termasuk di dalamnya
memberitahukan orang lain apa yang harus dilakukan dengan nada yang bervariasi
mulai dari nada tegas sampai meminta atau bahkan mengancam. Tujuannya adalah
agar tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik.
Tanggung Jawab. Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab
kepada bawahannya. Tanggung jawab bisa diartikan sebagai kewajiban yang wajib
menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan
jawab dan menanggung akibatnya.
Kemampuan Mengendalikan Emosional. Kemampuan Mengendalikan
Emosional adalah hal yang sangat penting bagi keberhasilan hidup kita. Semakin
baik kemampuan kita mengendalikan emosi semakin mudah kita akan meraih
kebahagiaan

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Gaya kepemimpinan adalah suatu cara, pola dan kemampuan tertentu yang
digunakan oleh seorang pemimpin dalam bersikap, berkomunikasi dan berinteraksi
untuk mempengaruhi, mengarahkan, mendorong dan mengendalikan orang lain
atau bawahan agar bisa melakukan suatu pekerjaan sehingga mencapai suatu
tujuan. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda antara satu
pemimpin dengan pemimpin yang lainnya, dan bukan suatu keharusan bahwa suatu
gaya kepemimpinan lebih baik atau lebih buruk dibanding gaya kepemimpinan
lainnya.
Gaya kepemimpinan menunjukkan secara langsung maupun tidak
langsung, mengenai keyakinan seorang pimpinan terhadap kemampuan
bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai
hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan
seorang pemimpin saat mencoba untuk memengaruhi kinerja bawahannya.
Berikut definisi dan pengertian kepemimpinan menurut para ahli dari
beberapa sumber buku:
Menurut Rivai (2014: 42), gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri
yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi
tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku
dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Menurut Hasibuan (2014: 221), gaya kepemimpinan adalah suatu cara
pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya, agar mau bekerja sama dan bekerja
secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Thoha (2010: 49), gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku
yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi
perilaku orang lain atau bawahan.
Sedangkan menurut Purnomo dan Wijayanti (2016: 171), gaya
kepemimpinan bersumber dari beberapa teori, yaitu:
Teori Bakat (traits). Teori yang mencari karakter atau kepribadian, sosial,
fisik, atau intelektual yang membedakan pemimpin dari bukan pemimpin. Bakat
(traits) di-definisikan sebagai kecenderungan yang dapat diduga, yang
mengarahkan perilaku individu berbuat dengan cara yang konsisten dan khas.
Teori Perilaku. Teori perilaku kepemimpinan, yaitu teori-teori yang
mengemukakan bahwa perilaku spesifik membedakan pemimpin dari bukan
pemimpin. Kebanyakan perilaku kepemimpinan yang digambarkan oleh bawahan
sebagai struktur prakarsa (initiating structure) dan pertimbangan (consideration),
yaitu mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan para bawahan.
Teori Situasional. Gaya situasional yang dikaitkan dengan tugas dan
hubungan. Yang dimaksud dengan gaya situasional dikaitkan dengan tugas dan
hubungan, yaitu bahwa seorang manajer atau pemimpin akan menggunakan gaya
tertentu, tergantung pada apa yang menonjol, tugas atau hubungan

Indikator Lingkungan Kerja


Indikator lingkungan kerja dalam penelitian ini mendasarkan pendapat
Sedarmayanti (2011 : 26), sebagai berikut: Perhatian dan dukungan pimpinan, yaitu
sejauh mana karyawan merasakan bahwa pimpinan sering memberikan
penghargaan dan perhatian serta menghargai mereka; Kerjasama antarkelompok,
yaitu sejauh mana karyawan merasakan adanya kerjasama yang baik di antara
kelompok yang ada; dan Kelancaran komunikasi, yaitu sejauh mana karyawan
merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar baik antarrekan kerja
maupun pimpinan

Jenis-jenis Lingkungan Kerja


a. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik dapat diartikan semua keadaan yang ada disekitar
tempat kerja, yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Menurut Sedarmayanti
(dalam Rahmawanti dkk, 2014) yang dimaksud lingkungan kerja fisik yaitu semua
keadaan berbentuk fisik yang terdapat disekitar tempat kerja dimana dapat
mempengaruhi kerja karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung.
b. Lingkungan Kerja Non Fisik
Menurut Sedarmayanti (dalam Rahmawanti dkk, 2014) lingkungan kerja
non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan
kerja, baik dengan atasan maupun dengan sesama rekan kerja, ataupun dengan
bawahan.