Fenomena beauty influencer dilatarbelakangi pada kesadaran wanita
untuk memiliki penampilan yang menarik agar lebih percaya diri (Haerunnisa
et al.c. 2019). Menurut Eileen Lourence (2021) beauty influencer dapat
dikatakan sebagai bagian dari celebrity endorser. Terdapat tiga dimensi yang
dapat dilihat dari seorang endorser (Shimp, dikutip oleh Eileen Lourence,
2021) yaitu Credibility (Kepercayaan), Attractiveness (Daya Tarik), dan
Power (Kekuatan).
(1) Credibility (Kredibilitas)
Kredibilitas dalam pengertian dasar diartikan sebagai sebuah bentuk
kepercayaan kita kepada seseorang. Ketika seorang endorser yang
dianggap sebagai sumber informasi kredibel, maka sikap audiens akan
berubah melalui proses psikologis yaitu internalisasi. Proses internalisasi
dapat terjadi saat seorang penerima dijadikan sebagai sumber pada
sebuah isu sebagai miliknya. Sikap ini biasanya dipertahankan walaupun
bidang keahliannya tidak dipresepsikan sebagai seorang yang ahli.
Terdapat dua indikator dalam dimensi ini, yaitu sebagai berikut:
a. Expertise (Keahlian)
Keahlian merupakan kemahiran seseorang dalam suatu ilmu (KBBI,
2023). Keahlian didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang dikuasai oleh sumber yang berhubungan dengan
komunikasi. Keahlian merupakan sesuatu yang dirasakan dan tidak
bersifat mutlak. Apakah orang yang dianggap sebagai sumber
tersebut merupakan seorang yang ahli menjadi tidak penting, karena
yang menjadi penting adalah bagaimana cara target audiens
memandang sumbernya. Seorang endorser yang memiliki keahlian
dalam topik tertentu dianggap dapat lebih mempengaruhi opini
audiens yang berhubungan dengan keahliannya dibandingkan dengan
endorser yang tidak dianggap sebagai seorang yang ahli.
b. Trustworthiness (Keterpercayaan)
Keterpercayaan mengarah kepada integritas, kejujuran dan
kepercayaan yang dirasakan oleh sebuah sumber. Contohnya adalah
seorang celebrity dapat membangun kepercayaan penonton lewat
keseharian hidupnya yang dijalani secara profesional (di tayangan tv,
kantor, dan lain-lain) dan sesuai dengan apa yang ada di media massa.
Sebagai seorang pengiklan, nilai kepercayaan endorser yang diartikan
sebagai masyarakat umum, dan dianggap sebagai orang yang jujur,
dapat dipercaya dan diandalkan sehingga dapat menarik minat
konsumen lainnya. Endorser harus dapat menjadi sumber yang
objektif dan tidak mencoba memanipulasi ataupun memihak kepada
pihak manapun dalam setiap review yang mereka berikan.
(2) Attractiveness
Sebagai seorang endorser yang dikatakan menarik bagi konsumen adalah
apabila memiliki kesamaan atau kedekatan dengan sumber tertentu, atau
lebih tepatnya menyukai hal yang sama. Proses persuasi dapat terjadi
ketika seorang audiens menemukan beberapa kesamaan yang menarik
dari seorang sumber, kesamaan ini dapat berupa apa yang disukai,
bagaimana keterampilan dan pengetahuan, sifat, gaya hidup, hobi, dan
sebagainya. Hal ini dapat membuat audiens merasa adanya kemiripan dan
kesukaan yang sama sehingga menganggap bahwa seorang sumber
tersebut menarik bagi mereka, dan audiens akan lebih mudah untuk
mengikuti atau meniru sukap, minat dan preferensi seorang sumber
tersebut. Dalam Attractiveness terdapat tiga indikator, yaitu:
a. Kesamaan
b. Keakraban
c. Kesukaan
(3) Power
Kekuasaan bekerja melalui sebuah proses psikologis dalam bentuk
kepatuhan. Sikap patuh dapat terjadi oleh adanya sumber yang diiklankan
karena mereka mengharapkan reaksi positif dan menguntungkan.
Meskipun hal ini tidak mungkin terjadi dengan iklan media massa, proses
tersebut dapat terjadi melalui materi iklan langsung yang dipersonalisasi,
daya tarik penjualan pribadi, dan/atau pesan media sosial. Contohnya
adalah seorang endorser mampu mempengaruhi audiens melalui
informasi dan konten yang diberikan berupa review terhadap para
pengikutnya di media sosial.
