Keputusan Pembelian


Konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk setelah
mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut (Kusumaningtyas et
al., 2023). Sehingga, menarik atau tidaknya suatu produk dapat mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen, jika semakin banyak manfaat produk yang
ditawarkan maka akan semakin tinggi keinginan konsumen untuk membeli (Sari,
2020). Selain itu, menurut (Kotler & Armstrong, 2020), keputusan pembelian
dipengaruhi oleh keadaan yang tidak terduga, seperti pendapatan yang diharapkan,
biaya yang diharapkan, dan manfaat yang diantisipasi dari suatu produk adalah
semua faktor yang dapat digunakan konsumen untuk merumuskan niat beli
mereka.
Sementara menurut (Martini, 2015) dalam (Hamid et al., 2023), keputusan
pembelian adalah sebuah pendekatan penyelesaian masalah pada kegiatan
manusia untuk membeli suatu barang atau jasa dalam memenuhi keinginan dan
kebutuhannya yang terdiri dari pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian
informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan
tingkah laku setelah pembelian. Oleh karena itu, keputusan pembelian merupakan
hal yang sangat penting karena ada banyak hal yang dapat mempengaruhi
keputusan pembelian yang dilakukan konsumen, sehingga perusahaan harus
memiliki strategi agar dapat menarik minat konsumen untuk melakukan
pembelian terhadap suatu produk (Swastha dan Irawan, 2013) dalam (Sari, 2020).
Pemasar perlu mempelajari perilaku konsumen dalam proses pengambilan
keputusan, mulai dari pengalaman mereka dalam belajar, memilih, menggunakan,
sampai kemungkinan merekomendasikan produk (Arbaini, 2020).
Berdasarkan semua beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah proses di
mana konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli produk atau
layanan yang ditawarkan dari merek tertentu, setelah melalui berbagai
pertimbangan sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melakukan pembelian.
Menurut (Kotler & Armstrong, 2020), perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

  1. Faktor Budaya
    Faktor-faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam pada
    perilaku konsumen. Pemasar perlu memahami peran yang dimainkan oleh
    budaya pembeli, sub-budaya, dan strata sosial.
    Faktor budaya terdiri dari:
    a. Budaya (Culture), hal mendasar penyebab dari keinginan dan perilaku
    seseorang. Setiap kelompok atau masyarakat memiliki budaya, dan
    pengaruh budaya pada perilaku pembelian dapat sangat bervariasi dari
    provinsi ke provinsi dan negara ke negara. Pemasar harus paham dan
    memperhatikan perubahan budaya untuk menemukan produk baru yang
    mungkin diinginkan.
    b. Sub-budaya (Subculture), setiap budaya mengandung sub-budaya yang
    lebih kecil, atau kelompok orang dengan sistem nilai bersama berdasarkan
    pengalaman dan situasi kehidupan yang sama. Sub-budaya terdiri dari
    kewarganegaraan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Banyak
    sub-budaya membentuk segmen pasar yang penting, dan pemasar sering
    merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan
    kebutuhan mereka.
    c. Stratifikasi Sosial (Social Class), kelas masyarakat yang relatif permanen
    dan teratur yang anggotanya berbagi nilai-nilai, minat, dan perilaku yang
    sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu faktor, seperti penghasilan,
    namun diukur sebagai kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan,
    kekayaan, dan variabel lainnya. Kelas sosial menunjukkan preferensi produk
    dan merek yang berbeda di berbagai bidang, seperti pakaian, perabotan
    rumah, perjalanan dan kegiatan rekreasi, layanan keuangan, mobil, dll.
    Sehingga pemasar tertarik dengan kelas sosial karena orang-orang dalam
    kelas sosial tertentu cenderung menunjukkan perilaku pembelian yang
    serupa.
  2. Faktor Sosial
    Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, terdiri dari:
    a. Grup dan Jaringan Sosial Online (Groups and Social Networks), bagaimana
    seseorang berperilaku dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok
    keanggotaan (membership groups) adalah kelompok yang mempengaruhi
    seseorang secara langsung dan kemana mereka termasuk. Di sisi lain,
    kelompok referensi (reference groups) berfungsi sebagai titik perbandingan
    atau referensi langsung (interaksi tatap muka) atau tidak langsung dalam
    mempengaruhi sikap atau perilaku seseorang. Sementara kelompok aspirasi
    (aspirational groups), adalah kelompok yang sering dipengaruhi oleh
    kelompok referensi ke mana mereka tidak termasuk. Adapun jaringan sosial
    online adalah komunitas online di mana orang berkumpul dan bertukar
    pendapat dan informasi, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan
    lain-lain.
    b. Keluarga (Family), anggota keluarga sangat mempengaruhi perilaku dalam
    pembelian. Peran referensi dari anggota keluarga menjadi hal yang dapat
    berpengaruh dalam keputusan pembelian produk atau layanan pada
    seseorang.
    c. Peran dan Status (Roles and Status), peran dan status individu dalam setiap
    kelompok dapat menentukan posisi mereka. Setiap peran memiliki status
    yang mencerminkan rasa hormat yang diberikan oleh masyarakat. Individu
    akan memilih produk yang sesuai dengan peran dan status mereka.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti profesi
    pembeli, usia dan tahap, situasi ekonomi, gaya hidup, dan kepribadian dan
    konsep diri.
    a. Profesi (Occupation), profesi seseorang mempengaruhi barang dan jasa
    yang dibeli. Sebuah perusahaan dapat mengkhususkan diri dalam
    menciptakan produk yang dibutuhkan oleh kelompok profesi tertentu.
    b. Usia dan Tahap Kehidupan (Age and Life Stage), usia sering dihubungkan
    dengan selera dalam memilih makanan, pakaian, furniture, dan rekreasi.
    Pilihan konsumsi juga terbentuk dari tahap kehidupan seseorang melalui
    peran keluarga.
    c. Situasi Ekonomi (Economic Situation), situasi ekonomi seseorang akan
    mempengaruhi pemilihan toko dan produknya. Sehingga pemasar
    mengamati tren dalam pengeluaran, pendapatan pribadi, tabungan, dan suku
    bunga untuk menjadi penentu pilihan produk terhadap keadaan ekonomi
    seseorang.
    d. Gaya hidup (Lifestyle), keputusan pembelian dipengaruhi gaya hidup
    seseorang yang tercermin dalam kegiatannya, minatnya, maupun
    pendapatnya.
    e. Kepribadian dan Konsep Diri (Personality and Self-Concept), masing-
    masing individu memiliki karakteristik pribadi yang mempengaruhi perilaku
    pembeliannya. Kepribadian (personality) merujuk pada karakteristik
    psikologis yang unik yang membedakan seseorang atau kelompok.
    Konsumen cenderung memilih merek yang sesuai dengan kepribadian
    mereka sendiri.
  4. Faktor Psikologi
    Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama,
    diantaranya yaitu:
    a. Motivasi (Motivation), seseorang memiliki banyak kebutuhan setiap saat.
    Kebutuhan menjadi motivasi ketika dibangkitkan pada tingkat intensitas
    yang cukup. Motivasi adalah kebutuhan yang cukup mendesak untuk
    mengarahkan individu dalam mencari kepuasan.
    b. Persepsi (Perception), individu yang termotivasi siap untuk bertindak.
    Bagaimana individu bertindak dipengaruhi oleh persepsi dirinya tentang
    situasi. Persepsi adalah proses dimana individu memilih, mengatur, dan
    menafsirkan informasi untuk membentuk gambaran dunia yang bermakna.
    c. Belajar (Learning), ketika individu bertindak, mereka belajar. Pembelajaran
    menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari
    pengalaman. Pembelajaran terjadi melalui interaksi dari dorongan,
    rangsangan, petunjuk, tanggapan, dan penguatan.
    d. Keyakinan dan sikap (Beliefs and Attitudes), diperoleh setelah melalui
    pembelajaran, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku pembelian
    individu. Keyakinan didasarkan pada pengetahuan, pendapat, atau
    keyakinan nyata dan mungkin atau tidak membawa beban emosional.
    Sementara sikap menggambarkan penilaian, perasaan, dan kecenderungan
    individu yang relatif konsisten terhadap objek atau ide. Sikap menempatkan
    individu ke dalam kerangka pikiran menyukai atau tidak suka, bergerak ke
    arah atau menjauhi.
    Menurut (Kotler & Armstrong, 2020) juga menyatakan bahwa proses
    pengambilan keputusan pembelian (The Buyer Decision Process) terdiri dari lima
    tahapan, yakni:
  5. Pengenalan Kebutuhan (Needs Recognition)
    Tahap pertama dari proses keputusan pembeli, dimana konsumen mengenali
    masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan internal
    maupun rangsangan eksternal.
  6. Pencarian Informasi (Information Search)
    Tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen yang tertarik akan
    termotivasi untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai produk/jasa yang
    ditawarkan, baik melalui sumber pribadi (keluarga, teman, dll), sumber publik
    (media massa, internet), dan sumber berbasis pengalaman (memegang,
    mengamati, menggunakan produk).
  7. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
    Tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen membandingkan berbagai
    alternatif brand (produk/jasa) yang tersedia di pasar dengan perhitungan yang
    hati-hati dan pemikiran logis. Evaluasi ini bisa dengan membaca
    review/testimoni online, mendapat saran dari teman/keluarga, dll.
  8. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Tahap keputusan pembeli, di mana konsumen memilih brand dan membentuk
    niat pembelian. Umumnya, konsumen akan melakukan keputusan pembelian
    pada brand yang disukai dan dianggap terbaik.
  9. Perilaku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior)
    Tahapan dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut terkait kepuasan
    maupun ketidakpuasan mereka terhadap produk/jasa yang mereka beli.
    Adapun indikator untuk menentukan keputusan pembelian menurut (Kotler &
    Keller, 2018) dalam (Romadon et al., 2023), yaitu:
  10. Kemantapan Pada Sebuah Produk
    Konsumen memilih salah satu dari beberapa alternatif yang ada dalam
    melakukan pembelian. Pilihan tersebut didasarkan pada kualitas, mutu, harga
    yang terjangkau, dan faktor-faktor lain yang dapat meyakinkan konsumen
    untuk membeli produk yang dipilihnya adalah produk yang terbaik dan dapat
    memenuhi kebutuhannya.
  11. Kebiasaan dalam Membeli Produk
    Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh terhadap
    keputusan pembelian. Konsumen cenderung membeli produk yang sama
    berulang kali karena produk tersebut sudah melekat di benak konsumen dan
    mereka juga sudah merasakan manfaat dari produk tersebut. Sehingga,
    konsumen merasa tidak nyaman jika mencoba produk baru karena harus
    menyesuaikan diri lagi.
  12. Memberikan rekomendasi pada orang lain
    Jika konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dengan suatu produk dalam
    melakukan pembelian, mereka pasti merekomendasikan produk yang dibelinya
    kepada orang lain karena merasa puas dengan produk tersebut. Mereka ingin
    orang lain juga merasakan bahwa produk tersebut sangat bagus dan lebih baik
    dari produk lain.