Adapun strategi dalam efikasi diri (Alwilsol, 2004) berdasarkan faktor-
faktor self-efficacy mencakup :
- Pengalaman Performansi
a. Participant modeling, yaitu meniru model yang berprestasi,
b. Performance desensitization, yaitu menghilangkan pengaruh buruk
prestasi masa lalu,
c. Performance exposure, yaitu menonjolkan keberhasilan yang pernah
diraih,
d. Self-instructed performance, yaitu melatih diri untuk melakukan yang
terbaik. - Pengalaman vikarius
a. Live modeling, yaitu mengamati model yang nyata,
b. Syimbolic modeling, yaitu mengamati model simbolik, film, komik, dan
cerita. - Persuasi verbal
a. Suggestion, yaitu mempengaruhi dengan kata-kata berdasarkan
kepercayaan,
b. Exbortation, yaitu nasihat, peringatan yang mendesak atau memaksa,
c. Self-instruction, yaitu memerintah diri sendiri,
d. Interpretative treatment, yaitu interpretasi baru memperbaiki interpretasi
lama yang salah. - Pembangkitan emosi
a. Attribution, yaitu mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian
emosional,
b. Relaxation biodeedback, yaitu relaksasi,
c. Syimbolic desensitization, yaitu menghilangkan sikap emosional dengan
modeling simbolik,
d. Symbolic exposure, yaitu memunculkan emosi secara simbolik.
Self-efficacy akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi
terhadap situasi yang menekan (Bandura, 1997). Namun, tinggi rendahnya self-
efficacy akan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu pengalaman keberhasilan
(mastery exsperiences), pengalaman orang lain (vicarious exsperiences), persuasi
sosial (social persuation), dan keadaan fisiologis dan emosional (physiology and
emotional states)
