Definisi Digital Marketing


Pemasaran digital (digital marketing) adalah kegiatan pemasaran
termasuk branding yang menggunakan berbagai media berbasis web
seperti blog, website, e-mail, adwords, ataupun jejaring sosial Sanjaya dan
Taigan, (2012:56).
Menurut Nasdini (2012:28) Pemasaran digital dan media sosial
mencangkup penggunaan alat pemasar digital seperti situs web, media
sosial, mobile ada dan aplikasi, video seluler dan online, e-mial, blog, dan
platform digital lainnya. Komputer, Tablet, Televisi dan perangkat digital
lainnya menjangkau konsumen dimana saja dan kapan saja.
Digital marketing merupakan teknologi dalam memasarkan produk
serta layanan yang harus menggunakan media digital. Adapun media yang
digunakan untuk digital marketing yaitu website, social media, e-mail
marketing, periklanan, dan search engine optimization (SEO). (Rachmadi,
2020

Indikator Kualitas Produk


Kualitas produk memiliki indikator yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristis dari suatu produk. Menurut Tjiptono (2015:22)
kualitas produk ditentutkan oleh indikator – indikator sebagai berikut :
a. Fitur, merupakan karakteristik produk yang dirancang agar dapat
menyempurnakan fungsi dari suatu produk atau menambahkan
ketertarikan pelanggan terhadap produk.
b. Kesesuaian, merupakan sejauh mana karakteristik operasi dasar dari
sebuah produk agar memenuhi suatu kriteria tertentu dari konsumen
atau tidak didapatkan kerusakan produk.
c. Daya tahan, merupakan waktu usia suatu produk mampu bertahan
sebelum produk tersebut harus untuk diganti. Semakin lama
pemakaian konsumen terhadap suatu produk maka akan semakin besar
juga daya tahan produk.
d. Keandalan, merupakan probabilitas dimana suatu produk dapat
memberi kepuasan atau tidak dalam jangka waktu tertentu. Semakin
kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut bisa
diandalkan.
e. Estetika, merupakan daya tarik yang memiliki produk terhadap panca
indra seperti model atau desain produk, warna, bentuk dan sebagainya.
f. Kesan Kualitas, merupakan hasil dari penggunaan atau pengukuran
yang dilakukan secara tidak langsung oleh konsumen karena
konsumen tidak mengetahui atau kekurangan informasi atas produk
yang dibel

Dimensi Kualitas Produk


Perusahaan apa bila ingin mempertahankan keunggulan kompetitif
dalam pasar, maka perusahaan harus tau aspek-aspek apa saja dimensi
kualitas produk tersebut. Menurut Kotler (2013:95) dimensi kualitas
produk antara lain:
a. Bentuk.
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
b. Ciri-ciri produk.
Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah
fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan
pengembangannya.
c. Kinerja.
Berkaitan dengan fungsional suatu produk dan merupakan
karakteristik utama yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli
produk tersebut.
d. Ketepatan atau kesesuaian.
Dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keinginan konsumen.
e. Daya Tahan.
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan tanpa
menimbulkan masalah pada saat penggunaan.
f. Keandalan.
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya.
g. Kemudahan Perbaikan.
Kemudahan perbaikan jika produk rusak. Lebih tepatnya produk akan
mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.
h. Gaya.
Penampilan dan kesan konsumen terhadap produk.
i. Desain.
Keseluruhan keistimewaan produk yang dapat mempengaruhi
penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen

Definisi Kualitas Produk


Kualitas produk adalah sejauh mana produk memenuhi spesifikasi-
spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan diukur berdasarkan
kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra produk. Lupiyoadi (2014:98
Kualitas produk adalah tingkatan mutu yang diharapkan untuk
memenuhi atau melebihi harapan konsumen mencakup produk, jasa,
manusia proses dan lingkungan yang terus di pertahankan agar bertahan
kualitasnya pada masa mendatang. Tjiptono (2015:15)
Kualitas produk adalah kemampuan produk untuk mejalankan
tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan,
kekuatan, kemudahan dalam pengemasan dan reparasi produk dan ciri –
ciri lainnya. Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar
untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang
dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual produk
adalah pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa
ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui
pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen, sesuai dengan kompetensi
dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar. Selain itu produk dapat pula
didefnisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen
melalui hasil produksinya. Produk di pandang penting oleh konsumen dan
dijadikan dasar pengambilan keputusan. Swasta (2012:28)

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) dalam Priansa (2017), indikator
dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a. Pilihan Produk
b. Pilihan Merek
c. Pilihan Saluran Pembelian
d. Waktu Pembelian
e. Jumlah Pembelian

Faktor-Faktor Keputusan Pembelian


Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian,dimana setiap individu mengevaluasi berbagai pilihan dan
memutuskan pilihan pada suatu produk dari sekian banyaknya pilihan tersebut.
Menurut Tjiptono (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara pelanggan dan
produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:
a. Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi
positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika konsumen
mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau
menggunakan suatu merek, maka merek tersebut memberikan nilai
emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan,
yaitu perasaan positif apa yang akan dialami konsumen pada saat
membeli produk.
b. Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk
meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai
yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan
apa yang dianggap buruk oleh konsumen.
c. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya
jangka pendek dan biaya jangka panjang.
d. Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang
memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini
berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau
layanan kepada konsumen.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan konsumen untuk
membeli produk atau tidak. Menurut Kotler dan Amstrong (2011) menyatakan
bahwa “keputusan pembelian merupakan tahap proses keputusan dimana
konsumen secara aktual melakukan pembelian produk”.
Adanya kecenderungan pengaruh kualitas produk, harga dan promosi
terhadap keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut,
mengisyaratkan bahwa manajemen perusahaan perlu mempertimbangkan aspek
perilaku konsumen, terutama proses pengambilan keputusan pembeliannya.
Keputusan pembelian didefinisikan sebagai tahap dalam proses
pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen benar-benar membeli
Kotler dan Armstrong, (2012). Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan
individu secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan

Indikator Persepsi Harga


Indikator Persepsi HargaMenurut Kotler dan Amstrong (2009) dalam
jurnal Manajemen dan keuangan (2017) dikutip oleh Amalia dan Nst,
indikator persepsi harga yaitu sebagai berikut:
a. Keterjangkauan harga.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
c. Daya saing harga.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat.

Teori Persepsi Harga


Dharmmesta dan Handoko (2011) mengemukakan harga adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanan. Dinawan (2010) mengatakan
presepsi harga terlihat dari:
a. Perbandingan harga dengan produk lain, yaitu bagaimana perbandingan
harga produk dengan produk pesaingnya.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu apakah harga yang
ditawarkan sudah sesuai dengan kualitas produk yang didapatkan.
c. Keterjangkauan harga, yaitu adalah keterjangkauan harga yang
ditawarkan produsen ke konsumen

Persepsi Harga


Presepsi harga adalah konsumen yang memiliki kecenderungan
menggunakan harga untuk mempertimbangkan kualitas penilaian suatu produk.
Penilaian harga suatu produk dapat dilihat mahal atau tidak, untuk masing-
masing individu penilaian tidaklah sama karena bergantung pada persepsi
individu. Menurut Tjiptono (2011) mengatakan bahwa harga merupakan bauran
harga berkenaan dengan strategi dan taktis seperti tingkat harga, struktur diskon,
syarat pembayaran, dan tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok
pelanggan.
Menurut Schifman dan Kanuk (2004) mendefinisikan “presepsi
harga adalah pandangan atau persepsi mengenai harga bagaimana pelanggan
memandang harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) mempengaruhi pengaruh
yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli.Konsumen adalah
individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Penilaian yang
dirasakan oleh setiap konsumen terhadap suatu poduk maupun jasa yang mereka
terima tidklah sama.
Presepsi konsumen terhadap suatu harga dapat mempengaruhi keputusan
dalam membeli suatu produk sehingga perusahaan harus mampu memberikan
presepsi yang baik terhadap produk jasa yang akan di jual.Konsumen mempunyai
anggapan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara harga dan kualitas
sebuah produk, maka mereka akan membandingkan produk satu dengan yang
lainnya dan barulah konsumen akan mengambil keputusan untuk membeli.
Menurut Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob Sabran (2009), harga
adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan,
elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan elemen termudah dalam
program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan
komunikasi membutuhkan banyak waktu.

Indikator Kualitas Produk


Menurut Fandy Tjiptono (2012) kualitas produk memiliki indikator-indikator
yaitu sebagai berikut :

  1. Kinerja (Performance) merupakan karakteristik operasi dan produk inti
    (core product) yang dibeli.Misalnya kecepatan, kemudahan dan
    kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Fitur (feature) Fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu produk
    tersebut.
  3. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification) Sejauh
    mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah
    ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar karakteristik operasional.
  4. Ketahanan (Durability) Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
    dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
    ekonomis.
  5. Keandalan (Realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
    kerusakan atau gagal pakai.
  6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
    direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan.Pelayanan yang
    diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan,tetapi juga selama
    proses penjualan hingga purna jual, yang juga mencakup pelayanan
    reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan.
  7. Estetika (Esthetica) Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
    Misal keindahan desain produk,keunikan model produk,dan kombinasi.
  8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) Merupakan persepsi
    konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
    produk.Biasanyakarena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau
    ciri-ciri produk yang akan dibeli,maka pembeli memperspsikan
    kualitasnya dari aspek harga, iklan,reputasi perusahaan, maupun negara
    pembuatnya

Kualitas Produk


Kualitas Produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung
pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan
atau diimplikasikan (Kotler dan Armstrong 2012). Dalam rangka menciptakan
kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan organisasi harus berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat (benefits) bagi pelanggan.
Dalam kaitannya dengan kepuasan pelanggan, kualitas memiliki
beberapa dimensi pokok, bergantung pada konteksnya. Untuk menerapkan
kualitas produk perusahaa program “Total Quality Managemen (TQM)” selain
mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk
meningkatkan nilai konsumen. Kotler dan Keller yang dialihbahasakan oleh Bob
Sabran (2012), menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu
barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari
apa yang diinginkan pelanggan

Konsep Total Quality Management (TQM)


Menurut Gaspersz (2001:25) Total Quality Management (TQM)
merupakan suatu cara meningkatkan performasi secara terus menerus pada
setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu
organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang
tersedia. Sedangkan menurut Tjiptono (1995:24) Total Quality Management
(TQM) merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba
untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus
atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya. Sesuai dengan definisi
dari ISO, TQM adalah suatu pendekatan manajemen untuk suatu organisasi
yang terpusat pada kualitas, berdasarkan partisipasi semua anggotanya dan
bertujuan untuk kesuksesan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan serta
memberi keuntungan untuk semua anggota dalam organisasi serta masyarakat.
TQM mengacu pada penekanan kualitas yang meliputi organissai
keseluruhan, mulai dari pemasok hingga pelanggan. TQM menekankan
komitmen manajemen untuk mendapatkan arahan perusahaan yang terus
ingin meraih keunggulan dalam semua aspek produk dan jasa yang penting
bagi pelanggan. TQM penting karena keputusan kualitas mempengaruhi
masing – masing dari sepuluh keputusan yang dibuat manajer operasi. Setiap
keputusan tersebut berhadapan dengan suatu aspek identifikasi dan
pemenuhan ekspektasi pelanggan. Pemenuhan ekspektasi tersebut
membutuhkan penekanan TQM saat suatu perusahaan bersaing untuk menjadi
pemimpin di pasar dunia. (Heizer dan Render (2009:307)).
Dalam Total Quality Management (TQM) mempunyai beberapa
karakteristik khusus. Menurut Goetch dan Davis dalam Tjiptono (2003:15)
terdapat 10 karakteristik Total Quality Management yaitu :

  1. Fokus pada pelanggan.
  2. Obsesi terhadap kualitas.
  3. Pendekatan ilmiah.
  4. Komitmen jangka panjang.
  5. Kerjasama tim.
  6. Perbaikan secara berkesinambungan.
  7. Pendidikan dan pelatihan.
  8. Kebebasan yang terkendali.
  9. Kesatuan tujuan.
  10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

Pendekatan Pengendalian Kualitas


Untuk melaksanakan pengendalian kualitas di dalam suatu perusahaan,
manajemen perusahaan perlu menerapkan standar pengendalian kualitas di
semua sektor, hal ini disebabkan oleh faktor yang berpengaruh terhadap
kualitas produk perusahaan yang terdiri dari beberapa macam, misal bahan
bakunya, tenaga kerja, mesin, dan peralatan produksi yang digunakan, dimana
faktor tersebut akan mempunyai pengaruh yang berbeda baik dalam jenis
pengaruh yang ditimbulkan maupun besarnya pengaruh yang ditimbulkan
dengan demikian agar pengendalian kualitas yang dilaksanakan dalam
perusahaan dapat mengenai sasarannya serta meminimalkan biaya
pengendalian kualitas perlu dipilih pendakatan yang tepat bagi perusahaan.
Menurut Ahyari (1990 : 225) pengendalian kualitas dapat dilakukan melaui 3
pendekatan, yaitu :

  1. Pendekatan bahan baku
    Di dalam perusahaan umumnya baik dan buruknya kualitas bahan
    baku mempunyai pengaruh cukup besar terhadap kualitas produk akhir,
    bahkan beberapa jenis perusahaan pengaruh kualitas bahan baku yang
    digunakan untuk pelaksanakan proses produksi sedemikian besar sehingga
    kualitas produk akhir hampir seluruhnya ditentukan oleh bahan baku yang
    digunakan. Bagi beberapa perusahaan yang memproduksi suatu produk
    dimana karakteristik bahan baku akan menjadi sangat penting di dalam
    perusahaan tersebut. Dalam pendekatan bahan baku, ada beberapa hal
    yang sebaiknya dikerjakan manajemen perusahaan agar bahan baku yang
    diterima dapat dijaga kualitasnya, yaitu :
     Seleksi Sumber Bahan Baku (Pemasok).
    Untuk pengadaan bahan baku umumnya perusahaan
    melakukan pemesanan kepada perusahaan lain (sebagai perusahaan
    pemasok). Pelaksanakan seleksi sumber bahan baku dapat
    dilakukan dengan cara melihat pengalaman hubungan perusahaan
    pada waktu yang lalu atau mengadakan evaluasi pada perusahaan
    pemasok bahan dengan menggunakan daftar pertanyaan atau dapat
    lebih diteliti dengan melakukan penelitian kualitas perusahaan
    pemasok.
     Pemeriksaaan dokumen pembelian.
    Setelah menentukan perusahaan pemasok, hal berikutnya
    yang perlu dilaksanakan adalah pemeriksaan dokumen pembelian
    yang ada. Oleh karena itu dokumen pembelian nantinya menjadi
    referensi dari pembelian yang dilaksanakan tersebut, maka dalam
    penyusunan dokumen pembelian perlu dilakukan dengan teliti.
    Beberapa hal yang diperiksa meliputi tingkat harga bahan baku,
    tingkat kualitas bahan, waktu pengiriman bahan, pemenuhan
    spesifikasi bahan.
     Pemeriksaan Penerimaan Bahan.
    Apabila dokumen pembelian yang disusun cukup lengkap
    maka pemeriksaan penerimaan bahan dapat didasarkan pada
    dokumen pembelian tersebut. Beberapa permasalahan yang perlu
    diketahui dalam hubungannya dengan kegiatan pemeriksaan
    bahan baku didalam gudang perusahaan antara lain rencana
    pemeriksaan, pemeriksaan dasar, pemeriksaan contoh bahan,
    catatan pemeriksaan dan penjagaan gudang.
  2. Pendekatan Proses Produksi
    Pada beberapa perusahaaan proses produksi akan lebih banyak
    menentukan kualitas produk akhir. Artinya di dalam perusahaan ini
    meskipun bahan baku yang digunakan untuk keperluan proses produksi
    bukan bahan baku dengan kualitas prima, namun apabila proses produksi
    diselenggarakan dengan sebaik baiknya maka dapat diperoleh produk
    dengan kualitas yang baik pula. Pengendalian kualitas produk yang
    dihasilkan perusahaan tersebut lebih baik bila dilaksanakan dengan
    menggunakan pendekatan proses produksi yang disesuaikan dengan
    pelaksanaan proses produksi di dalam perusahaan. Pada umumnya
    pelaksanaan pengendalian kualitas proses produksi di dalam perusahaan
    dipisahkan menjadi 3 tahap :
    a. Tahap Persiapan.
    Pada tahap ini akan dipersiapkan segala sesuatu yang
    berhubungan dengan pelaksanaan pengendalian proses tersebut.
    Kapan pemeriksaan dilaksanakan, berapa kali pemeriksaan proses
    produksi dilakukan pada umumnya akan ditentukan pada tahap ini.
    b. Tahap Pengendalian Proses.
    Dalam tahap ini, upaya yang dilakukan adalah mencegah
    agar jangan sampai terjadi kesalahan proses yang mengakibatkan
    terjadinya penurunan kualitas produk. Apabila terjadi kesalahan
    proses produksi maka secepat mungkin kesalahan tersebut
    diperbaiki sehingga tidak mengakibatkan kerugian yang lebih
    besar atau barang dalam proses tersebut dikeluarkan dari proses
    produksi dan diperlukan sebagai produk yang gagal.
    c. Tahap Pemeriksaaan Akhir.
    Pada tahap ini merupakan pemeriksaan yang terakhir dari
    produk yang ada dalam proses produksi sebelum dimasukkan ke
    gudang barang jadi atau dilempar ke pasar melalui distributor
    produk perusahaan.
  3. Pendekatan Produk Akhir.
    Pendekatan produk akhir merupakan upaya perusahaan untuk
    mempertahankan kualitas produk yang dihasilkannya dengan melihat
    produk akhir yang menjadi hasil dari perusahaan tersebut. Dalam
    pendekatan ini perlu dibicarakan langkah yang diambil untuk dapat
    mempertahankan produk sesuai dengan standar kualitas yang berlaku.
    Pelaksanaan pengendalian kualitas dengan pendekatan produk akhir dapat
    dilakukan dengan cara memeriksa seluruh produk akhir yang akan
    dikirimkan kepada para distributor atau toko pengecer. Dengan demikian
    apabila ada produk yang cacat atau mempunyai kualitas dibawah standar
    yang ditetapkan maka perusahaan dapat memisahkan produk ini dan tidak
    ikut dikirimkan kepada para konsumen.
    Untuk masalah kerusakan produk perusahaan harus mengambil
    tindakan yang tepat bagi peningkatan kualitas produk akhir serta
    kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Oleh sebab itu perusahaan harus
    mengumpulkan informasi tentang berbagai macam keluhan konsumen.
    Kemudian diadakan analisa tentang berbagai kelemahan dan kekurangan
    produk perusahaan sehingga untuk proses berikutnya kualitas produk
    dapat lebih dipertanggung jawabkan.

Teori PDCA


PDCA adalah singakatan dari Plan Do Check and Act yaitu metode
managemen 4 langkah literatif yang digunakan pada proses bisnis untuk
kontrol dan peningkatan berkelanjutan dari proses dan produk. Teori PDCA
pertama kali dikenalkan oleh seorang ahli managemen oleh seorang ahli
managemen kualitas dari Amerika Serikat yang bernama Dr. William Edward
Deming. Heizer dan Render memberikan penjelasan singkat mengenai teori
PDCA, yaitu :

  1. Plan (Rencanakan)
    Merencanakan sasaran (tujuan) dan proses apa yang dibutuhkan
    untuk menentukan hasil yang sesuai dengan spesifikasi tujuan yang
    ditetapkan. Plan ini harus diterjemahkan secara detile dan
    persubsistem. Dalam tahap plan juga meliputi pembentukan tim
    peningkatan proses (process improvement team) dan melakukan
    pelatihan – pelatihan terhadap sumber daya manusai yang berada di
    dalam tim tersebut serta batas – batas waktu atau jadwal yang
    diperlukan untuk melakukan perencanaan – perencanaan yang telah
    ditentukan.
  2. Do (Melaksanakan)
    Melaksanakan perencanaan proses yang telah ditetapkan
    sebelumnya atau melaksanakan yang telah direncanakan di tahap Plan
    termasuk menjalankan prosesnya, memproduksi serta melakukan
    pengumpulan data (data collection) yang kemudian akan digunakan
    untuk tahap Check dan Act.
  3. Check (Memeriksa)
    Tahap Check adalah tahap pemeriksaan dan peninjauan ulang serta
    mempelajari hasil – hasil dari penerapan di tahap Do. Melakukan
    perbandingan antara hasil actual yang telah dicapai dengan target yang
    ditetapkan dan juga ketepatan jadwal yang telah ditentukan.
  4. Act (Menindak)
    Tahap Act adalah tahap untuk mengambil tindakan yang
    seperlunya terhadap hasil – hasil dari tahap Check. Terdapat 2 jenis
    tindakan yang harus dilakukan berdasarkan hasil yang dicapainya,
    antara lain :
     Tindakan perbaikan (Corrective Action) yang berupa solusi
    terhadap masalah yang dihadapi dalam pencapaian target.
    Tindakan perbaikan ini perlu diambil jika hasilnya tidak mencapai
    apa yang telah ditargetkan .
     Tindakan Standarisasi (Standardization Action) yaitu tindakan
    untuk menstandarisasikan cara ataupun praktek terbaik yang telah
    dilakukan. Tindakan standarisasi ini dilakukan jika hasilnya
    mencapai target yang telah ditetapkan

Tahap Pengendalian Kualitas


Untuk memperoleh hasil pengendalian yang efektif, maka pengendalian
terhadap kualitas suatu produk dapat dilaksanakan menggunakan standar –
standar pengendalian kualitas, karena tidak semua hasil produksi sesuai seperti
yang diharapkan. Menurut Suyadi Prawirosentono (2007:74) terdapat beberapa
standar pengendalian atau pengawasan yang bisa digunakan oleh perusahaan
dan dilakukan secara bertahap yang terdiri dari :

  1. Pemeriksaan dan pengawasan kualitas bahan mentah, kualitas bahan
    dalam proses dan kualitas produk jadi. Demikian pula standar jumlah
    dan komposisinya.
  2. Pemeriksaan atas produk sebagai hasil proses pembuatan. Hal ini
    berlaku untuk barang jadi dan setengah jadi. Pemeriksaan yang
    dilakukan tersebut memberi gambaran apakah proses berjalan seperti
    yang telah ditetapkan atau tidak.
  3. Pemeriksaan cara pengemasan dan pengiriman barang ke konsumen.
  4. Mesin, tenaga kerja, dan fasilitas lainnya yang dipakai dalam proses
    produksi harus juga diawasi sesuai dengan standar.

Definisi Pengendalian Kualitas


Pengendalian kualitas merupakan teknik yang sangat bermanfaat bagi
perusahaan agar dapat mengetahui kualitas produknya sebelum dipasarkan
kepada konsumen. Pengendalian kualitas dapat membantu perusahaan dalam
mengetahui kelayakan kualitas produk berdsarkan batas – batas kontrol yang
telah ditentukan. Wulandari dan Amalia (2012) dalam jurnal Pengendalian
Kualitas Produksi di PT Nutrifood Indonesia dalam upaya mengendalikan
tingkat kerusakan (defect) Dus Produk Sweetener dengan Menggunakan
Statistical Process Control (SPC) menyatakan pengendalian kualitas harus
dilakukan melalui proses yang terus menerus dan berkesinambungan.
Pengendalian kualitas merupakan sebuah metode dan aktivitas yang dikerjakan
guna menjamin standar mutu sesuai dengan detile yang ditentukan mulai dari
kualitas bahan, proses produksi, pengolahan barang setengah jadi, hingga
barang jadi.
Pengendalian menurut Gasperz (2005:480) adalah kegiatan yang
dilakukan untuk memantau aktivitas dan memastikan kinerja sebenarnya yang
dilakukan telah sesuai dengan yang direncanakan. Pengendalian kualitas
menurut Ahyari (2002:239) merupakan suatu aktivitas (manajemen
perusahaan) untuk menjaga dan mengarahkan agar kualitas produk dan jasa
perusahaan dapat dipertahankan sebagaimana yang telah direncanakan.
Kesimpulan pengertian diatas diartikan bahwa pengendalian kualitas
adalah suatu teknik dan tindakan yang terencana dan dilakukan untuk
mencapai, mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk dan jasa
agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan dapat memenuhi
kepuasan konsumen.
Tujuan utama dilakukan pengendalian kualitas adalah untuk menjamin
kualitas produk yang diproduksi tepat seperti standar yang sudah ditetapkan
oleh suatu perusahaan. Menurut Assauri (2008:299) terdapat 4 tujuan
pengendalian kualitas, diantaranya :

  1. Agar standar kualitas produk yang dihasilkan dapat tercapai.
  2. Meminimalisir biaya pengawasan.
  3. Meminimalisir biaya design produk dan prosesnya.
  4. Meminimalisir biaya produksi.
    Sedangkan menurut Yamit (2002) terdapat 5 tujuan dilakukannya
    pengendalia kualitas, yaitu :
  5. Meminimalisir jumlah kesalahan dan perbaikan.
  6. Mempertahankan kualitas sesuai ketentuan.
  7. Menekan komplain dari pembeli.
  8. Memungkinkan terjadinya output grading.
  9. Mempertahankan image perusahaan

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Kualitas produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar atau
9M. Pada masa sekarang ini industri disetiap bidang bergantung pada sejumlah
besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara yang tidak pernah
dialami dalam periode sebelumnya. Menurut (Sofjan Assauri, 2009 : 362)
mengatakan bahwa :

  1. Market (Pasar)
    Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus
    bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk
    mempercayai bahwa ada sebuah produk yang dapat memenuhi hampir
    setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta dan
    memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar menjadi lebih
    besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih terspesialisasi di
    dalam barang yang ditawarkan. Dengan bertambahnya perusahaan, pasar
    menjadi bersifat internasional dan mendunia. Akhirnya bisnis harus lebih
    fleksibel dan mampu berubah arah dengan cepat.
  2. Money (Uang)
    Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan
    fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas (marjin) laba. Pada waktu
    yang bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi dan pemekanisan mendorong
    pengeluaran mendorong pengeluaran biaya yang besar untuk proses dan
    perlengkapan yang baru. Penambahan investasi pabrik, harus dibayar
    melalui naiknya produktivitas, menimbulkan kerugian yang besar dalam
    21 memproduksi disebabkan oleh barang afkiran dan pengulangkerjaan
    yang sangat serius. Kenyataan ini memfokuskan perhatian pada manajer
    pada bidang biaya kualitas sebagai salah satu dari “titik lunak” tempat
    biaya operasi dan kerugian dapat diturunkan untuk memperbaiki laba.
  3. Management (Manajemen)
    Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa
    kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi perencanaan
    produknya, harus membuat persyaratan produk. Bagian perancangan
    bertanggung jawab merancang produk yang akan memenuhi persyaratan
    itu. Bagian produksi mengembangkan dan memperbaiki kembali proses
    untuk memberikan kemampuan yang cukup dalam membuat produk sesuai
    dengan spesifikasi rancangan.
  4. Men (Manusia)
    Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan
    seluruh bidang baru seperti elektronika komputer menciptakan suatu
    permintaan yang besar akan pekerja dengan pengetahuan khusus. Pada
    waktu yang sama situasi ini menciptakan permintaan akan ahli teknik
    sistem yang akan mengajak semua bidang spesialisasi untuk bersama
    merencanakan, menciptakan dan mengoperasikan berbagai sistem yang
    akan menjamin suatu hasil yang diinginkan.
  5. Motivation (Motivasi)
    Penelitian tentang motivasi manusia menunjukkan bahwa sebagai
    hadiah tambahan uang, para pekerja masa kini memerlukan sesuatu yang
    22 memperkuat rasa keberhasilan di dalam pekerjaan mereka dan
    pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan sumbangan atas
    tercapainya sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan. Hal ini
    membimbing ke arah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya yaitu
    pendidikan kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran
    kualitas.
  6. Material (Bahan)
    Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli
    teknik memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada
    sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi lebih ketat dan
    keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
  7. Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)
    Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan
    volume produksi untuk memuaskan pelanggan telah terdorong
    penggunaan perlengkapan pabrik yang menjadi lebih rumit dan tergantung
    pada kualitas bahan yang dimasukkan ke dalam mesin tersebut. Kualitas
    yang baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja mesin
    agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  8. Modern Information Metode (Metode Informasi Modern)
    Evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk
    mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi
    informasi pada skala yang tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi
    informasi yang baru ini menyediakan cara untuk mengendalikan mesin 23
    dan proses selama proses produksi dan mengendalikan produk bahkan
    setelah produk sampai ke konsumen.
  9. Mounting Product Requirement (Persyaratan Proses Produksi)
    Kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
    pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan produk.
    Meningkatnya persyaratan prestasi yang lebih tinggi bagi produk
    menekankan pentingnya keamanan dan kehandalan produ

Definisi Kualitas Produk


Produk adalah suatu barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen secara memuaskan (Agus Ahyari, 2002:7). Menurut
Kotler & Amstrong (2001:346) produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan ke pasar untuk memperoleh perhatian, dibeli, digunakan, atau
dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen.
Produk merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keunggulan
bersaing, disamping harga dan jangkauan distribusinya. Jadi setiap perusahaan
berupaya untuk mengembangkan produknya, agar mampu bersaing dengan
produk-produk pesaingnya di pasar. Secara umum pengertian produk adalah
barang maupun jasa yang bias digunakan untuk kegiatan jual beli.
Unsur yang terpenting dalam produk adalah kualitas, yang dimaksud
kualitas produk menurut Handoko (2002:23) adalah kondisi dari barang yang
berlandaskan pada penilaian atas kesesuaiannya dengan standar ukur yang
telah ditetapkan. Bila standar yang ditetapkan semakin sesuai maka nilai
produk tersebut semakin berkualitas. Dari pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa kualitas produk adalah keseluruhan barang atau jasa yang
berkaitan dengan keinginan konsumen yang secara keunggulan produk sudah
layak diperjualkan sesuai harapan dari pelanggan.
Kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan adalah suatu keadaan
produk yang terbaik, yang sudah melewati standar yang ditetapkan oleh
perusahaan, yang berguna untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari
konsumen. Dengan produk yang sesuai standar diharpakan konsumen merasa
puas. Seperti yang diungkapkan Oliver 1997 (dalam Tjiptono 2014 : 355)
kepuasan konsumen adalah evaluasi purnabeli antara persepsi terhadap kinerja
alternatif produk atau jasa yang dipilih memenuhi atau melebihi harapan.
Apabila persepsi terhadap kinerja tidak bisa memenuhi harapan, maka yang
terjadi adalah ketidakpuasan

Definisi Kualitas


Kualitas merupakan salah satu indikator penting bagi perusahaan untuk
dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan dalam industri. Kualitas
didefinisikan sebagai totalitas dari karakteristik suatu produk yang menunjang
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau
ditetapkan. Kualitas dipandang secara lebih luas, dimana tidak hanya aspek
hasil saja yang ditekankan, melainkan juga meliputi proses, lingkungan, dan
manusia. Kualitas merupakan suatu proses didalam penilaian suatu produk atau
jasa yang akan dirasakan langsung dari pelanggan atau si penerima pelayanan
itu sendiri, kualitas juga dapat diartikan sebagai standar yang harus dicapai
oleh seseorang, kelompok, atau lembaga organisasi mengenai kualitas SDM,
kualitas cara kerja, serta barang dan jasa yang dihasilkan.
Kualitas memiliki makna yang berbeda-beda bagi tiap-tiap orang,
menurut Juran (Tjiptono 2003:53) mendefinisikan kualitas sebagai fitness for
use, yang mengandung pengertian bahwa suatu produk atau jasa harus dapat
memenuhi apa yang diharapkan oleh pemakainya. Sedangkan menurut Crosby
dalam Yamit (2013:7) mengatakan kualitas sebagai nihil cacat, kesempurnan,
dan kesesuaian dalam persyaratan. Dari beberapa definisi yang telah ada, hasil
merupakan salah satu aspek kualitas yang paling utama. Jika hasil yang dicapai
sesuai dengan kualitas yang ditetapkan tentunya hal tersebut akan memenuhi
harapan pelanggan

QCC (Quality control circle)


Quality Control Circle disebut juga Gugus Kendali Mutu adalah kelompok

kelompok kecil karyawan (4 s/d 12 orang) yang melakukan kegiatan
pengendalian dan peningkatan mutu, secara teratur, sukarela dan
berkesinambungan dari bidang pekerjaannya dengan menerapkan prinsip-prinsip
dan teknik-teknik pengendalian mutu.
Kaoru Ishikawa, otoritas mutu Jepang yang belakangan mengakui
pengaruh Demming dan Juran atas pemikirannya. Meskipun demikian, Ishikawa
harus diakui kontribusinya. Beliau yang memprakarsai gugus kendali mutu (QCC
= Gugus Kendali Mutu), baik dalam konsep maupun praktek. Beliau juga
mengembangkan “Ishikawa Cause-Effect.”, atau “Fishbone Diagrams”,
dinamakan demikian karena struktural mereka mirip dengan kerangka ikan.
Seperti Deming, Juran dan Feigenbaum, Ishikawa juga menekankan mutu sebagai
“A Way Of Management”.
Menurut pendapat Kaoru Ishikawa, Gugus Kendali Mutu adalah suatu
kelompok kecil untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kendali mutu secara
sukarela dalam tempat kerja yang sama. Kelompok kecil ini melaksanakan secara
terus-menerus sebagai bagian dari kegiatan-kegiatan pengendalian mutu
perusahaan secara menyeluruh. Pengembangan diri dan pengembangan bersama,
pengendalian dan perbaikan dalam tempat kerja dengan memanfaatkan teknik-
teknik pengendalian dengan partisipasi seluruh anggota. Sehingga pengertian
QCC menurut Kaoru Ishikawa adalah sekelompok karyawan yang terdiri dari
empat sampai dengan dua belas karyawan yang berasal dari tempat atau bidang
pekerjaan yang sama dalam perusahaan yang secara sukarela berkumpul untuk
mengidentifikasi, menganalisis dan memecahkan berbagai permasalahan yang
berkaitan dengan pekerjaan mereka dan menerapkannya dalam kegiatan
operasional perusahaan.
Total Quality Control (Pengendalian Mutu Terpadu) diprakarsai oleh Dr.
J.M. Juran dan Dr. E.W. deming dan dikembangkan di Jepang oleh Kaoru
Ishitawa dengan menerapkan Quality Control Circle (QCC). QCC adalah salah
satu konsep baru untuk meningkatkan mutu dan produktivitas kerja industri / jasa.
Terbukti bahwa salah satu factor keberhasilan industrialisasi di Jepang adalah
penerapan QCC secara efektif. Karena keberhasilan ini, sejumlah negara industri
maju dan sedang berkembang termasuk Indonesia, menerapkan QCC
diperusahaan-perusahaan industri guna meningkatkan mutu, produktivitas dan
daya saing

Tahapan Pengendalian Kualitas


Untuk memperoleh hasil pengendalian kualitas yang efektif, maka
pengendalian terhadap kualitas suatu produk dapat dilaksanakan dengan
menggunakan teknik-teknik pengendalian kualitas, karena tidak semua hasil
produksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Menurut Suyadi
Prawirosentono (2007;72), terdapat beberapa standar kualitas yang bisa
ditentukan oleh perusahaan dalam upaya menjaga output barang hasil produksi
diantaranya:

  1. Standar kualitas bahan baku yang akan digunakan.
  2. Standar kualitas proses produksi (mesin dan tenaga kerja yang
    melaksanakannya).
  3. Standar kualitas barang setengah jadi.
  4. Standar kualitas barang jadi.
  5. Standar administrasi, pengepakan dan pengiriman produk akhir tersebut
    sampai ke tangan konsumen.

Faktor-faktor Pengendalian Kualitas


Menurut Douglas C. Montgomery (2001:26) dan berdasarkan beberapa
literatur lain menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengendalian
kualitas yang dilakukan perusahaan adalah:

  1. Kemampuan proses
    Batas-batas yang ingin dicapai haruslah disesuaikan dengan kemampuan
    proses yang ada. Tidak ada gunanya mengendalikan suatu proses dalam
    batas-batas yang melebihi kemampuan atau kesanggupan proses yang ada.
  2. Spesifikasi yang berlaku
    Spesifikasi hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku, bila
    ditinjau dari segi kemampuan proses dan keinginan atau kebutuhan konsumen
    yang ingin dicapai dari hasil produksi tersebut. Dalam hal ini haruslah dapat
    dipastikan dahulu apakah spesifikasi tersebut dapat berlaku dari kedua segi
    yang telah disebutkan di atas sebelum pengendalian kualitas pada proses
    dapat dimulai.
  3. Tingkat ketidaksesuaian yang dapat diterima
    Tujuan dilakukan pengendalian suatu proses adalah dapat mengurangi produk
    yang berada di bawah standar seminimal mungkin. Tingkat pengendalian
    yang diberlakukan tergantung pada banyaknya produk yang berada di bawah
    standar yang dapat diterima.
  4. Biaya kualitas
    Biaya kualitas sangat mempengaruhi tingkat pengendalian kualitas dalam
    menghasilkan produk dimana biaya kualitas mempunyai hubungan yang
    positif dengan terciptanya produk yang berkualitas.
    a. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)
    Biaya ini merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah terjadinya
    kerusakan produk yang dihasilkan.
    b. Biaya Deteksi / Penilaian (Detection / Appraisal Cost)
    Adalah biaya yang timbul untuk menentukan apakah produk atau jasa
    yang dihasilkan telah sesuai dengan persyaratan-persyaratan kualitas
    sehingga dapat menghindari kesalahan dan kerusakan sepanjang proses
    produksi.
    c. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
    Merupakan biaya yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan
    persyaratan dan terdeteksi sebelum barang atau jasa tersebut dikirim ke
    pihak luar (pelanggan atau konsumen).
    d. Biaya Kegagalan Eksternal (Eksternal Failure Cost)
    Merupakan biaya yang terjadi karena produk atau jasa tidak sesuai dengan
    persyaratan-persyaratan yang diketahui setelah produk tersebut dikirimkan
    kepada para pelanggan atau konsumen.

Tujuan Pengendalian Kualitas


Tujuan dari pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri (1998:210)
adalah:

  1. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar kualitas yang telah
    ditetapkan.
  2. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
  3. Mengusahakan agar biaya desain dari produk dan proses dengan
    menggunakan kualitas produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.
  4. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin

Pengertian Pengendalian Kualitas


Menurut Sofjan Assauri (1998:25), pengendalian dan pengawasan adalah:
Kegiatan yang dilakukan untuk menjamin agar kegiatan produksi dan operasi
yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan dan apabila terjadi
penyimpangan, maka penyimpangan tersebut dapat dikoreksi sehingga apa yang
diharapkan dapat tercapai.
Sedangkan menurut Vincent Gasperz (2005:480), pengendalian adalah:
Control can mean an evaluation to indicate needed corrective responses, the act
guilding, or the state of process in which the variability is atribute to a constant
system of chance couses.
Jadi pengendalian dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk
memantau aktivitas dan memastikan kinerja sebenarnya yang dilakukan telah
sesuai dengan yang direncanakan.
Selanjutnya pengertian pengendalian kualitas dalam arti menyeluruh adalah
sebagai berikut :
Pengertian pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri (1998:210) adalah :
Pengawasan mutu merupakan usaha untuk mempertahankan mutu / kualitas dari
barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah
ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan.
Menurut Vincent Gasperz (2005:480), pengendalian kualitas adalah:
“Quality control is the operational techniques and activities used to fulfill
requirements for quality”.

Pengendalian Kualitas


Dengan semakin banyaknya perusahaan yang berkembang di Indonesia
dewasa ini, maka bagi manajemen, kualitas produk menjadi lebih penting dari
sebelumnya. Persaingan yang sangat ketat menjadikan pengusaha semakin
menyadari pentingnya kualitas produk agar dapat bersaing dan mendapat pangsa
pasar yang lebih besar. Perusahaan membutuhkan suatu cara yang dapat
mewujudkan terciptanya kualitas yang baik pada produk yang dihasilkannya serta
menjaga konsistensinya agar tetap sesuai dengan tuntutan pasar yaitu dengan
menerapkan sistem pengendalian kualitas (quality control) atas aktivitas proses
yang dijalani.
Dalam menjalankan aktivitas, pengendalian kualitas merupakan salah satu
teknik yang perlu dilakukan mulai dari sebelum proses produksi berjalan, pada
saat proses produksi, hingga proses produksi berakhir dengan menghasilkan
produk akhir. Pengendalian kualitas dilakukan agar dapat menghasilkan produk
berupa barang atau jasa yang sesuai dengan standar yang diinginkan dan
direncanakan, serta memperbaiki kualitas produk yang belum sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan dan sedapat mungkin mempertahankan kualitas
yang telah sesua

Manajemen Kualitas


Pada dasarnya manajemen kualitas (Quality Management) didefinisikan
sebagai suatu cara meningkatkan performasi terus-menerus (Contionus
Performance Improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap
area fungsional dari suatu modal yang tersedia. (Quality Vocabulary)
mendefinisikan manajemen kualitas sebagai aktivitas dari suatu fungsi manajemen
secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan-tujuan dan
tanggung jawab serta mengimplementasikannya melalui alat-alat seperti :

  1. Penetapan dan pengembangan tujuan dan kebutuhan untuk kualitas serta
    penerapannya yang disebut perencanaan kualitas (Quality Planning).
  2. Teknik-teknik dan aktifitas operasional yang digunakan untuk memenuhi
    persyaratan kualitas disebut pengendalian kualitas (Quality Control).
  3. Semua terencana dan sistematik yang diimplementasikan dan
    didemontrasikan guna memberikan kepercayaan yang cukup bahwa produk
    akan memuaskan kebutuhan untuk kualitas tertentu disebut jaminan kualitas
    (Quality Assurance).

Brand Awareness


Menurut Durianto 2014, dalam (Rintan H, 2023) Brand Awareness merupakan
kemampuan seorang konsumen atau pembeli untuk mengenali atau mengingat
kembali suatu merek terhadap produk tersebut. Pendapat tersebut diperkuat oleh
hasbun dan ruswati yang menyatakan bahwa suatu produk atau merek akan terus
muncul jika seorang konsumen memiliki kemampuan dalam mengingat merek
tersebut. Menurut Shimp dalam (Mustakim 2024) Brand Awareness merupakan suatu
kemampuan yang dimiliki oleh konsumen dalam mengingat suatu merek atau produk
dengan adanya suatu keunikan untuk memudahkannya mengingat suatu merek atau
produk tersebut. Brand Awareness sendiri merupakan salah satu kunci penting dalam
menjalani suatu usaha untuk menaikkan penjualan dengan adanya persaingan yang
ketat.
Menurut Aaker (Wardhana et.al., 2022) terdapat tingkatan Brand Awareness
yaitu Unware of Brand (level terendah), Brand Recognition, Brand Recall, dan Top
of Mind. Brand Awareness merupakan suatu kemampuan seorang konsumen dalam
mengenali suatu merek terhadap suatu kategori tertentu sehingga terjadinya proses
pembelian. Teori ini sendiri menjadi dasar penting pada penelitian karena
memberikan kerangka bagaimana konsumen dapat berkontribusi pada keputusan
pembelian terhadap suatu merek secara keseluruhan. Menurut Aaker, pada model
ekuitas merek berbasis pelanggan (customer base brand equity model) menjelaskan
terhadap empat langkah dalam teori kesadaran merek yaitu identitas merek makna
merek dan respon merek dan hubungan merek. Dalam teori ini akan membantu
penelitian dalam memahami bagaimana adanya suatu identitas merek dapat
berkontribusi secara penuh pada kesadaran merek dan juga ekuitas merek Brand
Awareness memiliki 4 indikator utama:

  1. Recall yaitu suatu merek yang mudah diingat
  2. Recognition, merk yang mudah untuk dikenali
  3. Purchase, suatu merek yang menjadi pilihan utama konsumen
  4. Consumption, Pengetahuan yang dimiliki konsumen terhadap suatu mere

Brand Identity


Brand identity merupakan suatu identitas yang dibentuk melalui desain visual
pada suatu brand atau merek. Tujuan adanya brand identity yaitu untuk membedakan
suatu merek dengan merek yang lainnya agar dapat bersaing dipasar. Brand identity
juga berperan penting dalam membangun citra atau reputasi untuk meningkatkan
kesadaran merek terhadap konsumen. Faktor keunikan suatu UMKM dapat menjadi
nilai tersendiri untuk membangun suatu brand identity.
Menurut Wheeler (dalam Adhika, Birmanti, & Peni, 2020), brand identity
merupakan salah satu bentuk strategi komunikasi visual yang dapat menghubungkan
nilai , kepribadian, dan janji dari sebuah brand atau merek. Brand identity bukan
hanya sekedar tampilan visual yang menunjang adanya nilai estetika, tetapi brand
identity juga mencerminkan adanya suatu identitas yang dapat menjadi pembeda
utama suatu brand dengan para pesaing lainnya. Brand identity juga dibuat secara
konsisten untuk membangun adanta kepercayaan masyarakat terhadap brand tersebut.
Menurut Al ihsaqi dan Islam (2021) dengan membangun brand identity dapat
menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh suatu
brand. Dengan demikian adanya brand identity merupakan salah satu bagian
terpenting untuk dimiliki oleh UMKM Gendhis Art Collections agar dapat lebih
mudah dikenal oleh masyarakat atau konsumen. Menurut Kapferer (dalam Reynaldy,
Gilang, 2021) dalam konsep Brand identity Prism menyampaikan bahwa brand
identity memiliki enam elemen penting, yaitu:

  1. Physique, yaitu bentuk fisik seperti logo dan desain
  2. Personality (kepribadian merek),
  3. Culture, yaitu nilai-nilai inti brand
  4. Relationship, yaitu hubungan yang dibangun oleh pencipta dengan konsumen
  5. Reflection, cerminan konsumen atau target pasar
  6. Self-image, yaitu gambaran konsumen terhadap dirinya saat menggunakan
    produk

Indikator Kepuasan Konsumen


Pengukuran kepuasan konsumen sangat penting untuk dilakukan, karena memberikan
informasi yang bermanfaat bagi organisasi. Cara untuk mencapai kepuasan konsumen dapat
dilakukan juga melalui strategi misalkan survei, kuesioner, angket dan tentunya pengumpulan
data. Menurut Sahir dan Syafrida (2020:27) indikator kepuasan konsumen yaitu:

  1. Pengalaman
    Riview dari konsumen dapat mengubah presepsi serta minat pembelian produk. Di
    mana sebelum menjadi keputusan untuk beli, pelanggan pada umumnya dapat
    membuat berbagai perbandingan bagaimana pengalamannya yang dirasakan,
    kemudian akan diceritakan kepada orang. Pelanggan akan merasa puas, jika
    pengalaman baiknya dapat di terima konsumen lain merasakannya. Pelanggan merasa
    terpuaskan pastinya memberi nilai bagus pada perusahaan, ini akan penting pada
    brand identy sangat kuat bagi bisnis untuk keberlanjutannya
  2. Harga
    Harga inilah indikator untuk pelanggan paling tampak dan jelas sangat penting harus
    diperhatikan. Pelanggan tidak akan perbah beralih pada toko yang lain saat
    mendapatkan harga ekonomis. Tentunya secara finansial pelanggan akan terpuaskan,
    dapat berhemat walaupun hanya dengan berbeda beberapa rupiah saja, demi
    mendapatkan harga murah, karena merasa telah berhemat
  3. Pelayanan
    Kritikan yang telah diterima perusahaan sadar atau tidak ini ada kaitannya dengan
    sebuah pelayanan. Banyaknya pelanggan yang sering mengeluh, namun tidak disertai
    dengan keterangan yang jelas namun kualitas pelayanan benar-benar harus optimal
    dalam memberikan presepsi tentang pelayanan bisnis
  4. Kualitas
    Produk yang memiliki kualitas sejauh dapat tumbuh berkembang di perusahaan.
    Sedangkan kualitas membawakan loyalitas. Maka seharusnya menjadi perhatian
    penting dalam setiap perusahaan bisnis. Kepuasan terpancar dalam
    konsumen/pelanggan, jika dapat produk berkualitas.

Pengukuran Kepuasan Konsumen


Pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan konsumen telah menjadi hal yang
sangat esensial bagi setiap perusahaan. Hal ini dikarenakan langkah tersebut dapat
memberikan umpan balik dan masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi
strategi peningkatan kepuasan konsumen. Pada prinsipnya kepuasan konsumen itu dapat
diukur dengan berbagai macam metode dan teknik. Menurut Kotler dan Armstrong (2017:6)
mengidentifikasi 4 metode untuk mengukur kepuasan konsumen, yaitu sebagai berikut:
1. Sistem keluhan dan Saran
Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan (costomer-oriented) perlu
memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan
saran, pendapat dan keluhan mereka
2.Ghost shopping
Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah
dengan memperkerjakan beberapa orang (ghost shopper) untuk berperan atau
bersikap sebagai pelanggan/pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing
3.Lost Custoer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli
atau yang telah pidah pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan
supaya dapat mengambul kebijakan perbaikan / penyempurnaan selanjutnya
4.Survei kepuasan konsumen
Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan yang dilakuka dengan
metode survei, baik dengan survei melalui pos, telepon, maupun wawancara pribadi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepusan Konsumen


Konsumen mempunyai angan-angan mengenai perasaan yang ingin mereka rasakan
ketika mereka menyelesaikan suatu transaksi atau ketika menikmati pelayanan yang telah diterima. Mencapai tingkat kepuasan konsumen tertinggi adalah tujuan utama pemasaran.
Mempertahankan kepuasan konsumen dari waktu ke waktu akan membina hubungan yang
baik dengan konsumen Menurut Irawan (2017:5) faktor-faktor pendorong kepuasan
konsumen yaitu:

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan merasa puas setelah membeli dan menggunakan produk tersebut yang
    memiliki kualitas produk baik.
  2. Harga
    Biasanya harga murah adalah sumber kepuasan yang penting. Akan tetapi biasanya
    faktor harga bukan menjadi jaminan suatu produk memiliki kualitas yang baik.
  3. Kualitas Jasa
    Pelanggan merasa puas apabila mereka memperoleh jasa yang baik atau sesuai
    dengan yang diharapkan dari pegawai maupun karyawan perusahaan.
  4. Emotional factor
    Kepuasannya bukan karena kualitas produk, tetapi harga diri atau nilai sosial yang
    menjadikan pelanggan puas terhadap merek produk tertentu.
  5. Biaya atau kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa
    Kenyamanan dan efisien dalam mendapatkan suatu produk atau jasa serta mudah
    mendapatkan jasa produk memberikan nilai tersendiri bagi kepuasan pelanggan.
    Strategi pemasaran diperlukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
    Variabel yang memperngaruhi kepuasan konsumen adalah strategi produk, harga, promosi,
    lokasi, pelayanan karyawan, fasilitas dan suasana. Strategi ini menurut Tjiptono (2017:61)
    merupakan faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap kepuasan konsumen:
  6. Produk
    Layanan produk yang baik dan memenuhi selera serta harapan konsumen. Produk
    dapat menciptakan kepuasan konsumen.
  7. Harga
    Harga merupakan bagian yang melekat pada produk yang mencerminkan seberapa
    besar kualitas produk tersebut.
  8. Promosi
    Dasar penelitian promosi yang mengenai informasi produk dan jasa perusahaan dalam
    usaha mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa tersebut pada konsumen sasaran.
  9. Lokasi
    Tempat merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa lokasi perusahaan dan
    konsumen.
  10. Pelayanan
    Karyawan Pelayanan karyawan merupakan pelayanan yang diberikan karyawan
    dalam usaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dalam usaha memuaskan
    konsumen.
  11. Fasilitas
    Fasilitas merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa perantara guna
    mendukung kelancara operasional perusahaan yang berhubungan dengan konsumen.
  12. Suasana
    Suasana merupakan faktor pendukung, karena apabila perusahaan mengesankan maka
    konsumen mendapatkan kepuasan tersendiri

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen dapat dirasakan setelah konsumen membandingkan pengalaman
mereka dalam melakukan pembelian barang/jasa dari penjual atau penyedia barang/jasa
dengan harapan dari pembeli itu sendiri. Harapan tersebut terbentuk melalui pengalaman
pertama mereka dalam membeli suatu barang/jasa, komentar teman dan kenalan, serta janji
dan informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin unggul dalam persaingan tentu
harus memperhatikan harapan pelanggan serta kepuasan pelanggannya.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2018:204) “Kata kepuasan (Satisfaction) berasal dari
bahasa latin satis (artinya cukup baik, memadai dan facio (melakukan atau membuat).
Kepuasan bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu memadai”.
Etta dan Sopiah (2017:31) menyatakan bahwa “kepuasan konsumen adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang dalam perbandingan antara kesannya konsumen terhadap
tingkatan kinerja produk dan jasa ril atau aktual dengan kinerja sesuai harapan”.
Rohaeni (2018) menjelaskan bahwa “kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja yang dirasakan dengan harapannya”. Windarti
(2017) menyatakan bahwa “kepuasan konsumen adalah sejauh mana suatu tingkatan produk
dan jasa yang dipersepsikan sesuai dengan harapan pelanggan atau pembeli”.
Fandy & Anastasia (2018:25), mengidentifikasi tiga komponen utama dalam definisi
kepuasan konsumen sebagai berikut.

  1. Tipe respon (baik respon emosional/afektif maupun kognitif) dan intensitas respon
    (kuat hingga lemah, biasanya dicerminkan lewat istilah-istilah seperti “sangat puas”,
    “netral”, “sangat senang”, “frustasi”, dan sebagainya.
  2. Fokus respon, berupa produk, konsumsi, keputusan pembelian, wiraniaga, toko, dan
    sebagainya.
  3. Timing respon, yaitu setelah konsumsi, setelah pilihan pembelian, berdasarkan
    pengalaman akumulatif, dan seterusnya

Indikator Pelayanan


Indikator kualitas pelayanan, merupakan dimensi kualitas pelayanan dimana setiap
pelayanan yang di tawarkan memiliki beberapa aspek yang dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat kualitasnya menurut Amrullah, et.al (2017) indikator pelayanan yaitu:

  1. Tangibles (Bukti fisik)
    Berkenaan dengan penampilan fisik fasilitas layanan, peralatan/ perlengkapan, sumber
    daya manusia dan materi komunikasi perusahaan.
  2. Reliability (Keandalan)
    Berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk menyampaikan layanan yang
    disajikan secara akurat.
  3. Assurance (Jaminan)
    Berkenaan dengan pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka
    dalam menumbuhkan rasa percaya dan keyakinan pelanggan.
  4. Empathy (Empati)
    Berarti bahwa perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi
    kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personal kepada para pelanggan
    dan memiliki jam operasi yang nyaman.
  5. Responsiveness (Daya Tanggap)
    Berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan penyedia layanan untuk membantu
    para pelanggan dan merespon permintaan mereka dengan segera

Tujuan dari Pelayanan


Tujuan pelayanan juga memberikan manfaat yang cukup banyak bagi perusahaan
apabila dilakukan secara sungguh-sungguh. Manfaatnya juga akan dirasakan oleh pelanggan,
sehingga merasa puas atas pelayanan yang diterimanya. Berikut ini beberapa tujuan
pelayanan menurut Nashar (2020:22) yaitu:

  1. Memberikan pelayanan yang bermutu tinggi
  2. Menimbulkan keputusan dari pihak pelanggan/konsumen agar segera membeli barang
    / jasa yang ditawarkan pada saat itu
  3. Memnumbuhkan kepercayaan pelanggan / konsumen terhadap jasa / barang yang
    ditawarkan
  4. Menghindari terjadinya tuntutan yang tidak perlu di kemudian hari terhadap produsen
    / penjual
  5. Menciptakan kepercayaan dan kepuasan pelanggan
  6. Mempertahankan pelanggan / konsumen merasa diperhatikan segala kebutuhannya
  7. Mempertahankan pelanggan / konsumen agar tetap menggunakan barang / jasa yang
    ditawarkan
    Sedangkan Menurut Silvia (2017) tujuan dari pelayanan adalah sebagai berikut:
  8. Menyampaikan sikap positif
    Tujuannya adalah agar konsumen mempunyai harapan bahwa pelayanan yang
    diberikan akan memuaskan
  9. Mendefenisikan kebutuhan pelanggan
    Peruhsaan hendaknya mengetahui semua kebutuhan pelanggan sehingga dapat
    melayaninya dengan baik
  10. Menyiapkan kebutuhan pelanggan
    Perusahaan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan
    merasa puas dengan pelayanan yang ada
  11. Memastikan pelanggan untuk kembali
    Dengan kepuasan yang diperoleh maka pelanggan diharapkan kembali, bahkan akan
    menjadi iklan berjalan yang dapat menambah jumlah pelanggan

Pengertian Pelayanan


Pelayanan dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan hal pemberian kepuasan
terhadap pelanggan, pelayanan dengan mutu yang baik dapat memberikan kepuasan yang
baik pula bagi pelanggannya, sehingga pelanggan dapat lebih merasa diperhatikan akan
keberadaannya oleh pihak perusahaan. Pengertian lebih mudahnya adalah suatu kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang atau sekumpulan orang untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Ariani dalam Riza (2018:29) menyatakan bahwa “pelayanan merupakan atribut global
perusahaan dan merupakan pertimbangan pelanggan terhadap keberhasilan atau superioritas
perusahaan secara menyeluruh”. Tjiptono dalam Pertiwi (2021:68) menyatakan bahwa
“pelayanan adalah suatu keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk jasa, sumber
daya manusia. Serta proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah
dapat melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan”.
Sudarso (2018:57) menyatakan bahwa “pelayanan merupakan salah satu elemen
penting yang menjadi pertimbangan bagi pelanggan dalam melakukan pembelian suatu
produk”. Moenir (2017:16) menyatakan bahwa “pelayanan adalah proses pemenuhan
kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung menyangkut segala usaha yang
dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencapai tujuan”.
Alma (2018:4) menyatakan bahwa “pelayanan merupakan syarat kelangsungan hidup
perusahaan, tingginya kualitas yang diberikan akan mencerminkan pada aspek kepuasan para
pelanggan”. Maulana (2017) menyatakan bahwa “pelayanan merupakan salah satu bagian
penting yang harus diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat
bersaing di pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Perkembangan
sekarang ini banyak konsumen semakin kritis sebelum dan sesudah membeli produk.
Konsumen selalu ingin mendapatkan produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang
dibayar, yang dibarengi dengan kualitas pelayanan yang baik”

Indikator Kualitas Produk


Apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar,
perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk
membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Kualitas
mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi
pelanggan. Menurut Amrullah, et.al (2017) kualitas produk terdiri dari beberapa indikator,
yaitu:

  1. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah
    produk
  2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang
    bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
    frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya
    produk.
  3. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan
    fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
  4. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
    memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan
    terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
  5. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk, misalnya :
    bentuk fisik, model, desain yang artistik, dan sebagainya.
  6. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan
    pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan
    bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang
    bersangkutan

Dimensi Kualitas Produk


Kualitas suatu produk baik berupa barang maupun jasa perlu ditentukan dimensi-
dimensinya. Apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam
pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen
untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Menurut
Lupiyoadi dan Hamdani (2017:176), dimensi kualitas produk adalah sebagai berikut:

  1. Kinerja (Performance)
    Kinerja disini merujuk pada karakter produk inti yang meliputi merek, atribut-atribut
    yang dapat diukur, dan aspek-aspek kinerja individu. Kinerja beberapa produk
    biasanya didasari oleh preferensi subjektif pelanggan yang pada dasarnya bersifat
    umum.
  2. Keragaman Produk (Features)
    Dapat berbentuk produk tambahan dari suatu produk inti yang dapat menambah nilai
    suatu produk. Keragaman produk biasanya diukur secara subjektif oleh masing –
    masing individu (dalam hal ini konsumen) yang menjukkan adanya perbedaan
    kualitas suatu produk.
  3. Keandalan (Reliability)
    Dimensi ini berkaitan dengan timbulnya kemungkinan suatu produk mengalami
    keadaan tidak berfungsi (malfunction) pada suatu periode. Keandalan suatu produk
    yang menendakan tingkat kualitas sangat berarti bagi konsumen dalam memilih
    produk.
  4. Kesesuaian (Conformance)
    Dimensi lain yang berhubungan dengan kualitas suatu produk adalah kesesuaian
    produk dengan standar dalam industrinya. Kesesuaian suatu produk dalam industri
    jasa diukur dari tingkat akurasi dan waktu penyelesaian termasuk juga perhitungan
    kesalahan yang terjadi, keterlambatan yang tidak dapat diantisipasi dan beberapa
    kesalahan lain.
  5. Ketahanan atau Daya Tahan (Durability)
    Ukuran ketahanan suatu produk meliputi segi ekonomis maupun teknis. Secara teknis,
    ketahan suatu produk didefinisikan sebagai sejumlah kegunaan yang diperoleh
    seseorang sebelum mengalami penurunan kualitas. Secara ekonomis, ketahanan
    diartikan sebagai usia ekonomis suatu produk dilihat dari jumlah kegunaan yang
    diperoleh sebelum terjadi kerusakan dan keputusan untuk mengganti produk.
  6. Kemampuan Pelayanan (Servicebility)
    Kemampuan pelayanan bisa juga disebut dengan kecepatan, kompetensi, kegunaan
    dan kemudahan produk untuk diperbaiki. Dimensi ini menunjukkan bahwa konsumen
    tidak hanya memerhatikan adanya penurunan kualitas produk tetapi juga waktu
    sebelum produk disimpan, penjadwalan, pelayanan, proses komunikasi dengan staf,
    frekuensi pelayanan perbaikan akan kerusakan produk, dan pelayanan lainnya.
  7. Estetika (Aesthetics)
    Estetika merupakan dimensi pengukuran yang paling subjektif. Estetika suatu produk
    dilihat dari bagaimana suatu produk terdengar oleh konsumen, bagaimana penampilan
    luar suatu produk, rasa maupun bau. Dengan demikian, estetika jelas merupakan
    penilaian dan refleksi yang dirasakan oleh konsumen.
  8. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality)
    Konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai atribut – atribut
    produk. Namun umumnya konsumen memiliki informasi tentang produk secara tidak
    langsung, misalnya melalui merek, nama dan negara produsen.
    Sedangkan Menurut Riyono (2017) dimensi kualitas produk adalah sebagai berikut:
  9. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah
    produk.
  10. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang
    bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
    frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya
    tahan produk.
  11. Conformance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
    karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari
    konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
  12. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan
    fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
  13. Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
    memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan
    terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
  14. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat
    dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
  15. Perceived Quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan
    pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan
    bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang
    bersangkutan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Dalam hal mutu suatu produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan kadang
mengalami keragaman. Hal ini disebabkan mutu suatu produk itu dipengaruhi oleh beberapa
faktor, dimana faktor-faktor ini dapat menentukan bahwa suatu produk dapat memenuhi
standar yang telah ditentukan atau tidak, faktor-faktor tersebut antara lain. Menurut Harjadi
(2021:35) dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas suatu produk yaitu:

  1. Fungsi suatu produk
    Fungsi untuk apa produk tersebut digunakan atau dimaksudkan.
  2. Wujud luar
    Faktor wujud luar yang terdapat dalam suatu produk tidak hanya terlihat dari bentuk
    tetapi warna dan pembungkusannya.
  3. Biaya produk bersangkuta
    Biaya untuk perolehan suatu barang, misalnya harga barang serta biaya untuk barang
    itu sampai kepada pembeli.
    Gunawan (2022:20) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk secara
    langsung dipengaruhi oleh sembilan 9 bisang dasar atau sembilan (9) M yaitu:
  4. Market (Pasar)
    Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus bertumbuh pada laju
    yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk mempercayai bahwa ada sebuah produk
    yang dapat memenuhi hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen
    meminta dan memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar menjadi lebih
    besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih terspesialisasi di dalam barang
    yang ditawarkan. Dengan bertambahnya perusahaan, pasar menjadi bersifat
    internasional dan mendunia. Akhirnya bisnis harus lebih fleksibel dan mampu
    berubah arah dengan cepat.
  5. Money (Uang)
    Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan fluktuasi ekonomi
    dunia telah menurunkan batas (marjin) laba. Pada waktu yang bersamaan, kebutuhan
    akan otomatisasi dan pemekanisan mendorong pengeluaran mendorong pengeluaran
    biaya yang besaruntuk proses dan perlengkapan yang baru. Penambahan investasi
    pabrik, harus dibayar melalui naiknya produktivitas, menimbulkan kerugian yang
    besar dalam memproduksi disebabkan oleh barangafkiran dan pengulangkerjaan yang
    sangat serius. Kenyataan ini memfokuskan perhatian pada manajer pada bidang biaya
    kualitas sebagai salah satu dari “titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian dapat
    diturunkan untuk memperbaiki laba.
  6. Management (Manajemen)
    Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapakelompok khusus.
    Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi perencanaan produknya, harus membuat
    persyaratan produk. Bagian perancangan bertanggung jawab merancang produk yang
    akan memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan dan memperbaiki
    kembali proses untuk memberikan kemampuan yang cukup dalam membuat produk
    sesuai dengan spesifikasi rancangan. Bagian pengendalian kualitas merencanakan
    pengukuran kualitas pada seluruh aliran proses yang menjamin bahwa hasil akhir
    memenuhi persyaratan kualitas dan kualitas pelayanan, setelah produk sampai pada
    konsumen menjadi bagian yang penting dari paket produk total. Hal ini telah
    menambah beban manajemen puncak khususnya bertambahnya kesulitan dalam
    mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi penyimpangan dari
    standar kualitas.
  7. Men (Manusia)
    Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan seluruh bidang
    baru seperti elektronika komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan
    pekerja dengan pengetahuan khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan
    permintaan akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua bidang spesialisasi
    untuk bersama merencanakan, menciptakan dan mengoperasikan berbagai sistem
    yang akan menjamin suatu hasil yang diinginkan.
  8. Motivation (Motivasi)
    Penelitian tentang motivasi manusia menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan
    uang, para pekerja masa kini memerlukan sesuatu yang memperkuat rasa keberhasilan
    di dalam pekerjaan mereka dan pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan
    sumbangan atas tercapainya sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan. Hal ini
    membimbing ke arah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya yaitu pendidikan kualitas
    dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas.
  9. Material (Bahan)
    Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli teknik memilih
    bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada sebelumnya. Akibatnya spesifikasi
    bahan menjadi lebih ketat dan keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
  10. Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)
    Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan volume produksi untuk
    memuaskan pelanggan telah terdorong penggunaan perlengkapan pabrik yang
    menjadi lebih rumit dan tergantung pada kualitas bahan yang dimasukkan ke dalam
    mesin tersebut. Kualitas yang baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara
    waktu kerja mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  11. Modern Information Metode (Metode Informasi Modern)
    Evolusi teknologi komputer membuka kemungkinan untuk mengumpulkan,
    menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi informasi pada skala yang tidak
    terbayangkan sebelumnya. Teknologi informasi yang baru ini menyediakan cara untuk
    mengendalikan mesin dan proses selama proses produksi dan mengendalikan produk
    bahkansetelah produk sampai ke konsumen. Metode pemprosesan data yang baru dan
    konstan memberikan kemampuan untuk memanajemeni informasi yang bermanfaat,
    akurat, tepat waktu dan bersifat ramalan mendasari keputusan yang membimbing
    masa depan bisnis
  12. Mounting Product Requirement (Persyaratan Proses Produksi)
    Kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan yang lebih ketat pada
    seluruh proses pembuatan produk. Meningkatnya persyaratan prestasi yang lebih
    tinggi bagi produk menekankan pentingnya keamanan dan kehandalan produk

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas produk adalah kondisi fisik, fungsi dan sifat suatu produk baik barang atau
jasa berdasarkan tingkat mutu yang di harapkan seperti durabilitas, rellabilitas, ketepatan,
kemudahan pengoprasian, reparasi produk serta atribut produk lainnya dengan tujuan
memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Kualitas produk merupakan
salah satu kunci persaingan diantara pelaku usaha yang ditawarkan kepada konsumen.
Konsumen selalu ingin mendapatkan produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang di
bayar, walaupun terdapat yang berpendapat bahwa produk yang mahal adalah produk yang
berkualitas.
Arinawati (2021:164) menyatakan bahwa “kualitas produk adalah totalitas fitur dan
karakteristik produk atau jasa yang memiliki kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan mamupun implisit”. Moko (2021:121) menyatakan bahwa “kualitas produk
adalah karakteristik yang melekat atau membedakan derajat atau tingkat keunggulan dari
suatu produk”.
Yunita (2021:60) menyatakan bahwa “kualitas produk adalah sekumpulan ciri-ciri
karakteristik dari barang dan jasa yang mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan
yang merupakan suatu pengertian dari gabungan daya tahan, keandalan, ketepatan,
kemudahan pemeliharaan serta atribut-atribut lainnya dari suatu produk”.
Gunawan (2022:20) menyatakan bahwa “kualitas produk merupakan kemampuan
suatu produk dalam memenuhi keinginan pelanggan. Keinginan pelanggan tersebut
diantaranya keawetan produk, keandalan produk, kemudahan pemakaian serta atribut bernilai
lainnya”. Meutia (2020:6) menyatakan bahwa “kualitas produk merupakan faktor-faktor
yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut
sesuai dengan tujuan barang diproduksi”.
Rahman (2018:26) menyatakan bahwa “kualitas produk merupakan kekuatan dari
sebuat produk terhadap fungsinya, adapun yang meliputinya adalah keterampilan, ketahanan,
ketelitian, kemudahan, operasi, peningkatan produk, serta atribut yang bernilai lainnya”.

Indikator Kualitas Produk (Makanan)


Perusahaan perlu memahami berbagai dimensi yang dijadikan acuan
oleh konsumen dalam membedakan produk perusahaan dari produk pesaing.
Secara garis besar Indikator kualitas makanan adalah sebagai berikut (26):
a. Penampilan: Penampilan visual adalah kesan pertama yang diterima
konsumen terhadap makanan. Indikator ini meliputi warna, kilau, dan
presentasi makanan yang secara keseluruhan memengaruhi daya
tariknya.
b. Rasa: Rasa yang enak khas adalah perpaduan cita rasa seimbang yang
mencerminkan keunikan bahan, bumbu, dan cara pengolahan suatu
masakan, sehingga memberikan kenikmatan tersendiri yang
membedakannya dari makanan lain.
c. Porsi: Ukuran atau jumlah makanan yang disajikan harus sesuai
dengan ekspektasi konsumen. Porsi yang tepat menciptakan kepuasan,
baik secara nutrisi maupun estetika.
Menurut Namkung dan Jang kualitas makanan dapat diukur
dengan beberapa indikator, yaitu:
a. Presentation of food, tampilan suatu makanan saat disajikan harus
terlihat baik karena merupakan faktor yang penting.
b. Variations of menu, menu makanan dan minuman yang ditawarkan
beragam.
c. Taste, makanan yang disajikan memiliki cita rasa yang baik dan sesuai
dengan yang diinginkan pelanggan

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi ini memberikan kerangka yang komprehensif untuk
memahami berbagai faktor yang memengaruhi kepuasan pelanggan
terhadap produk (24). Dimensi kualiats produk sesebagai berikut:
a. Performance (Kinerja): Karakteristik utama dari produk atau layanan
yang berhubungan langsung dengan fungsi dasarnya. Misalnya,
akselerasi pada mobil atau kejernihan suara pada TV.
b. Features (Fitur): Karakteristik sekunder atau pelengkap yang
memperkaya fungsi utama, seperti fitur tambahan pada mesin cuci
atau mobil.
c. Reliability (Keandalan): Kemungkinan produk berfungsi dengan baik
dalam periode waktu tertentu tanpa gagal. Diukur dengan “means time
to failure”.
d. Conformance (Kesesuaian): Tingkat kesesuaian produk terhadap
spesifikasi desain atau standar industri.
e. Durability (Daya Tahan): Seberapa lama produk dapat digunakan
sebelum mengalami kerusakan atau perlu diganti.
f. Serviceability (Kemudahan Perawatan): Kemudahan dan kecepatan
perbaikan jika terjadi kerusakan, termasuk keramahan staf layanan
dan respons terhadap keluhan.
g. Aesthetics (Estetika): Aspek visual dan sensorik seperti bentuk, warna,
rasa, bau, suara semua yang bersifat subjektif dari konsumen.
h. Perceived Quality (Kualitas yang Dipersepsikan): Persepsi konsumen
terhadap kualitas secara keseluruhan, yang sering dipengaruhi oleh
reputasi merek, iklan, atau pengalaman sebelumnya.

Definisi Kualitas Produk


Definisi kualitas merupakan “fitness for use,” “conformance to
requirements,” and “freedom from variation”. Artinya “kesesuaian untuk
digunakan”, “kesesuaian dengan persyaratan”, dan “bebas dari variasi”,
sehingga kualitas merupakan totalitas fitur dan karakteristik suatu produk atau
layanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan
yang dinyatakan atau tersirat (21). Kualitas produk mencerminkan sejauh mana
produk memenuhi harapan pelanggan (21). Kualitas produk adalah
bagaimmana produk tersebut memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen
baik secara fisik maupun secara psikologis yang merujuk pada atribut atau
sifat-sifatnya, terdapaat dalam suatu barang atau hasil (22).
Kualitas adalah tentang memuaskan pelanggan. Terlepas dari
karakteristik yang terukur, produk berkualitas hanyalah produk yang
memenuhi harapan pelanggan untuk penggunaan atau konsumsinya (23).
Kualitas produk tidak hanya bergantung pada atribut fisik tetapi juga pada
bagaimana konsumen memandang dan mengalami produk tersebut (24).
Menurut Firmanto et al,. (25), kualitas mempunyai dampak langsung
pada kinerja produk atau jasa. Dalam arti sempit, kualitas bias
didefinisikan sebagai “bebas dari kerusakan”. Artinya bahwa pelanggan menilai
baik buruknya kualitas suatu produk itu berdasarkan persepsinya. Suatu produk
dikatakan berkualitas jika memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli. Kualitas
ditentukan oleh pelanggan dan pengalaman mereka terhadap produk dan jasa

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller, (2016:184) mengemukakan indikator keputusan
pembelian memiliki dimensi sebagai berikut :

  1. Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus
    memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah
    produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan. Misalnya: kebutuhan
    suatu produk, keberagaman varian produk dan kualitas produk.
  2. Pilihan merek
    Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli.
    Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini
    perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
    Misalnya: kepercayaan dan popularitas merek.
  3. Pilihan penyalur
    Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan dikunjungi.
    Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal
    menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
    murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain. Misalnya: kemudahan
    mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
  4. Waktu pembelian.
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-
    beda,misalnya: ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan sekali, enam
    bulan sekali atau satu tahun sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
    akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari
    satu.

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Amstrong, (2018:158) mengemukakan bahwa keputusan
pembelian ialah sikap pembeli konsumen mengacu pada perilaku pembelian akhir,
individu dan rumah tangga selain barang dan jasa untuk dikonsumsi pribadi.
Setiap konsumen akan mempertimbangkan suatu hal sebelum melakukan
keputusan pembelian. Apakah produk yang akan dibeli sudah sesuai dengan
kebutuhannya atau keinginannya. Hal ini karena konsumen hanya tertarik pada
bentuk fisik dari produk yang akan dibeli.
Keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen dapat terjadi apabila
konsumen sudah mendapatkan layanan dari pemberian jasa dan setelah itu
konsumen merasakan adanya kepuasan dan ketidakpuasan, maka dari itu konsep
keputusan pembelian tidak lepas dari konsep kepuasan konsumen. Indrasari,
(2019:70).

Pengertian Lokasi


Lokasi merupakan salah satu faktor pada marketing mix yaitu terdiri dari
produk, harga, promosi dan lokasi. Faktor lokasi merupakan salah satu faktor
yang terpenting pada saluran pemasaran di perusahaan karena faktor lokasi sangat
berhubungan langsung kepada pembeli. Perusahaan menyebut juga dengan kata
lain dari lokasi yaitu pada suatu tempat yang menawarkan produk ke konsumen.
lokasi usaha dapat juga disebut dengan saluran distribusi perusahaan karena lokasi
juga berhubungan langsung dengan pembeli atau konsumen atau dengan kata lain
lokasi juga merupakan tempat produsen menyalurkan produknya kepada
konsumen ataupun merupakan komitmen sumber daya jangka panjang. Pengertian
Lokasi menurut Tjiptono, (2015:345) lokasi mengacu pada berbagai aktivitas
pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian atau
penyaluran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen.
2.1.3.1 Indikator Lokasi
Menurut Tjiptono, (2015:15) mengatakan bahwa terdapat indikator faktor-
faktor dalam pemilihan tempat atau lokasi, meliputi:

  1. Akses, yaitu kemudahan untuk menjangkau lokasi misalnya lokasi yang sering
    dilalui atau mudah dijangkau.
  2. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas dari jarak
    pandang normal.
  3. Lalu lintas (traffic). Menyangkut dua pertimbangan utama:
    a) Banyaknya orang yang lalu-lalang bisa memberikan peluang besar
    terhadap terjadinya impulse buying, yaitu keputusan pembelian yang
    seringkali terjadi spontan, tanpa perencanaan, dan atau tanpa melalui
    usaha-usaha khusus.
    b) Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa juga jadi peluang, merupakan
    salah satu point dalam periklanan. Misalnya terhadap pelayanan
    kepolisian, pemadam kebakaran, atau ambulans.
  4. Lingkungan, adalah keadaan lingkungan merupakan titik pemasangan iklan
    meliputi, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan lingkungan.
  5. Kriteria adalah titik lokasi merupakan titik yang pas, strategis dan bagus
    prospek nya untuk suatu pemasangan media iklan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Fatihudin & Firmansyah, (2019:29) ada lima dimensi kualitas
pelayanan jasa, yaitu:

  1. Kehandalan (Realibility)
    Kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat,
    dan memuaskan. Pemasar harus menyediakan produk atau jasa yang dapat
    diandalkan. Produk atau jasa yang rusak atau gagal harus dihindari. Dengan
    kata lain, produk atau jasa tersebut harus selalu baik.
  2. Daya tanggap (Responsiveness)
    Kemampuan staf untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan yang
    cepat serta tanggap.
  3. Jaminan (Assurance)
    Melibatkan kemampuan karyawan atas pengetahuan produk, berperilaku
    sopan, memberikan keamanan di dalam memanfaatkan jasa yang ditawarkan,
    serta kemampuan untuk membangun kepercayaan pelanggan terhadap
    perusahaan.
  4. Empati (Empathy)
    Meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik,
    perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.
  5. Bukti langsung (Tangibles)
    Bukti fisik perusahaan untuk menunjukkan keberadaannya kepada pihak
    eksternal. Keadaan lingkungan sekitar, serta penampilan dan kemampuan
    sarana dan prasarana fisik perusahaan, merupakan bukti nyata atas pelayanan
    yang diberikan oleh penyedia jasa, yang meliputi fasilitas fisik, peralatan, staf,
    dan fasilitas komunikasi

Pengertian Kualitas Pelayanan


Perkembangan perusahaan menciptakan persaingan yang ketat. Berbagai
cara dilakukan agar dapat memperoleh pelanggan dan mempertahankannya. Salah
satu strategi yang dipakai perusahaan untuk bisa memenangkan persaingan adalah
dengan kualitas layanan yang baik. Pelanggan tertarik membeli sebuah produk
atau jasa karena kualitas layanan yang baik.
Menurut Sumarwan & Tjiptono, (2018:655) menyatakan bahwa kualitas
adalah penetapan standar yang tanpa pengecualian. Kualitas adalah tercapainya
standar yang disyaratkan. Pandangan ini menekankan bahwa perusahaan akan
menetapkan berbagai fitur yang harus memenuhi standar tertentu. Sedangkan
Menurut Wahyu & Budiarti, (2015:4) kualitas pelayanan merupakan ukuran
pelayanan menyeluruh atas suatu pelayanan yang diterima pelanggan, dimulai dari
proses pelayanan, lingkungan, sumber daya manusia, dan diakhiri dengan hasil
akhir pelayanan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Kualitas Produk


Menurut Kotler & Amstrong, (2016:253–54) beberapa faktor yang
menyertai dan melengkapi produk adalah sebagai berikut :

  1. Product Quality ( Kualitas Produk)
    Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-
    fungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang
    dihasilkan, kemudian operasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang
    berharga pada produk secara keseluruhan.
  2. Product Features (Fitur produk)
    Fitur produk merupakan alat persaingan untuk mendiferensiasikan produk
    perusahaan terhadap produk sejenis yang menjadi persaingan. Menjadi
    produsen awal yang mengendalikan fitur baru yang dibutuhkan dan dianggap
    bernilai menjadi salah satu cara yang efektif untuk bersaing.
  3. Product Style and Desain (Gaya dan Desain Produk)
    Gaya semata-mata menjelaskan penampilan produk tertentu. Gaya
    mengedepankan tampilan luar dan membuat orang bosan. Gaya yang
    sensasional mungkin akan mendapat perhatian dan mempunyai nilai seni,
    tetapi tidak selalu membuat produk tertentu berkinerja dengan baik. Berbeda
    dengan gaya, desain bukan sekedar tampilan setipis kulit ari, tetapi desain
    masuk ke dalam jantung produk. Desain yang baik dapat memberikan
    kontribusi dalam hal kegunaan produk dan juga penampilannya, gaya dan
    desain yang baik dapat menarik perhatian, meningkatkan kinerja produk,
    memotong biaya produksi dan memberikan keunggulan bersaing di pasar
    sasaran. Gaya dan desain yang baik juga akan berkuntribusi terhadap
    tercapainya tujuan perusahaan. Karena keunggulan suatu produk menjadi
    senjata utama perusahaan untuk tetap dapat bertahan dan mencapai tujuan

Indikator Kualitas Produk


Menurut Tjiptono, (2015:315) untuk menentukan indikator kualitas
produk, dapat melalui delapan dimensi seperti yang terdiri dari :

  1. Kinerja (Performance)
    Kinerja merupakan suatu karakteristik operasi dasar dari suatu produk, Ini
    merupakan manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli. Biasanya ini
    menjadi pertimbangan pertama kita membeli produk. misalnya: kinerja produk
    pada jasa penerbangan adalah ketepatan waktu, kenyamanan, keramahan.
  2. Fitur (Features)
    Fitur merupakan pelengkap khusus yang dapat menambah pengalaman
    pemakai produk, Fitur adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
    menyempurnakan fungsi produk atau menambak ketertarikan konsumen
    terhadap produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi konsumen. Kalau
    manfaat utama sudah standar, fitur seringkali ditambahkan. Idenya, fitur bisa
    meningkatkan kualitas produk kalau pesaing tidak memilikinya.misalnya pada
    mobil terdapat fitur sensor parkir atau kamera parkir, fitur Keyless entry yakni
    tidak perlu kunci untuk menyalakan kendaraan.
  3. Kehandalan (Reability)
    Kehandalan merupakan suatu probabilitas yang terjadi kegagalan atau
    kerusakan produk dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil tingkat
    kerusakan maka semakin andal produk yang dihasilkan.
  4. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to specifications)
    Kesesuaian dengan spesifikasi merupakan suatu tingkat kesesuaian produk
    dengan standar yang telah ditetapkan atau Sejauh mana karakteristik operasi
    dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau
    tidak ditemukannya cacat dalam produk. Misalnya: ketepatan waktu
    keberangkatan kereta api dan kesesuaian ukuran sepatu dengan standar yang
    berlaku.
  5. Daya Tahan (Durability)
    Daya tahan menunjukkan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk
    sebelum produk itu digunakan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu
    semakin awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas
    dibanding produk yang cepat habis atau cepat diganti.
  6. Kemampuan Melayani (Serviceability)
    Kemampuan melayani merupakan suatu kecepatan dan kemudahan untuk
    direparasi, serta kompetensi dan keramahan staff pelayanan.
  7. Estetika (Asthetics)
    Estetika merupakan daya tarik produk atau penampilan produk yang dapat
    dinilai dengan panca indera (rasa, suara, dan pendengaran).
  8. Persepsi Terhadap Kualitas (Perceived Quality)
    Persepsi terhadap kualitas merupakan suatu kualitas yang dinilai berdasarkan
    reputasi penjual atau hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara
    tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti
    atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi
    konsumen terhadap produk terdapat dari harga, merek, periklanan, reputasi,
    dan negara asal. Misalnya: mobil BMW/Mercedes, arloji Rolex, TV Sony

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Deming dalam Yamit, (2017:7) mendefinisikan kualitas
merupakan apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Masih
dalam Yamit, (2017:8) Davis menjelaskan bahwa kualitas merupakan suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan menurut
Firmansyah, (2019:15) kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam
mempergerakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk
lainnya. Menurut Tjiptono, (2016:95) kualitas produk merupakan suatu penilaian
konsumen terhadap suatu kelebihan atau keistimewaan produk.

Indikator Loyalitas Pelanggan


Sedangkan menurut Tjiptono yang dikutip oleh (Sangadji &
Sopiah, 2013) mengemukakan ada enam indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur Loyalitas Pelanggan, Adapun enam
indikator tersebut adalah:
1) Pembelian ulang.
Merupakan suatu sikap perilaku pelanggan yang hanya
membeli sebuah produk/jasa secara berulang-ulang tanpa
menyertakan aspek kesukaan didalamnya, sehingga tercipta
loyalitas pelanggan yang merupakan suatu komitmen terhadap
suatu merek atau produk tertentu.
2) Kebiasaan mengkonsumsi merek.
Merupakan pelanggan yang puas dengan merek produk
yang dikonsumsi dan tidak ada alasan yang cukup
menciptakan keinginan untuk membeli merek produk lain atau
berpindah merek, terutama jika peralihan tersebut memerlukan
usaha, biaya maupun pengorbanan lain.
3) Rasa suka yang besar pada merek.
Pelanggan sungguh-sungguh menyukai merek tersebut,
rasa suka ini bisa saja didasari oleh asosiasi yang terkait
dengan symbol, rangkaian pengalaman dalam penggunaan
sebelumnya, baik yang dialami pribadi maupun kerabat, atau
dapat juga disebabkan oleh kesan kualitas yang tinggi, meski
demikian seringkli suatu perasaan yang sulit didefinisikan dan
ditelusuri dengan cermat untuk dikatgorikan dalam suatu yang
spesifik.
4) Ketetapan pada merek.
Meyakini bahwa merek tersebut layak dikonsumsi
sehingga menetapkan penggunaan pada satu merek tersebut.
5) Keyakinan bahwa merek tertentu adalah merek terbaik.
Pelanggan merupakan yang pelanggan yang setia dan
memiliki kebanggaan sebagai pengguna suatu produk merek
dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi
mereka dipandang dari segi fungsi maupun sebagai ekspresi
mengenai siapa sebenarnya mereka.
6) Perekomendasian merek pada orang lain.
Pelanggan yang loyal akan dengan senang hati
memberikan informasi yang positif berkenaan dengan jasa
yang sudah menjadi langganannya sehingga mengajak orang
lain untuk ikut memakainya.

Karakteristik Loyalitas Pelanggan


Pelanggan yang loyal merupakan asset yang penting bagi suatu
perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya.
Seperti yang dikemukakan oleh Griffin dalam (Sangadji & Sopiah,
2013), bahwa pelanggan yang loyal terhadap perusahaan
mempunyai beberapa karakteristik. Adapun karakteristik pelanggan
yang loyal terhadap perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat
purchase)
2) Melakukan pembelian disemua lini produk atau jasa
(purchase across product and service lines).
3) Merekomendasikan produk lain (Refers other)
4) Menunjukan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari
pesaing (Demonstrates on immunity to the full of the
competition)

Loyalitas Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller (2016:153) definisi dari Loyalitas
Pelanggan adalah sebagai berikut
“a deeply held commitment to rebury or repatronize a preffered a
product or service in the future despite situational influences and
marketing efforts having the potential to cause switching
behavior”.
Seorang pelanggan mungkin akan loyal terhadap suatu merek
dikarenakan tingginya kendala beralih merek disebabkan faktor-faktor
teknis, ekonomi dan psikologi. Disisi lain mungkin pelanggan loyal
terhadap sebuah merek karena puas terhadap penyedia produk atau
merek dan ingin melanjutkan hubungan dengan penyedia produk atau
layanan tersebut. Pelanggan yang loyal adalah mereka yang membeli
ulang merek yang sama, hanya mempertimbangkan merek yang sama
dan sama sekali tidak mencari informasi-informasi tentang merek yang
lain.
Menurut Tjiptono (2012:482) Loyalitas pelanggan adalah
komitmen pelanggan terhadap suatu merek, berdasarkan sikap yang
sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten.
Menurut (Irawan & Japarianto, 2013) Loyalitas Pelanggan adalah
komitmen terhadap perusahaan, merek ataupun pemasok yang
didasarkan atas sikap positif yang tercermin dalam bentuk pembelian
berulang secara konsisten. Pelanggan yang benar-benar loyal bukan saja
sangat potential menjadi word-of-mouth-advertissers, namun
kemungkinan besar juga loyal pada produk dan jasa perusahaan selama
bertahun-tahun

Indikator Kepuasan Pelanggan


Irwan dalam Putranto (2016:18-19) ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu sebagai
berikut:
1) Kualitas produk, pelanggan akan puas apabila produk yang
digunakan memiliki kualitas yang baik.
2) Harga, dengan harga yang terjangkau menjadikan
pelanggan merasakan kepuasan maka dari itu harga murah
merupakan sumber dari kepuasan pelanggan, karena
pelanggan sangat sensitive terhadap harga jual suatu
produk.
3) Service Quality, kualitas pelayanan yang baik merupakan
kepuasan bagi pelanggan maka dari itu kualitas pelayanan
merupakan sesuatu yang sulit untuk ditiru.
4) Biaya dan kemudahan, apabila pelanggan dapat dengan
mudah, nyaman dan efisien menggunakan suatu jasa maka
pelanggan akan semakin puas.
5) Emotional factor. Pelanggan akan merasa puas (bangga)
karena adanya emotional value yang diberikan oleh brand
suatu produk

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan atau ketidakpuasan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap
kinerja produk yang rill/actual dengan kinerja produk yang diharapkan.
Menurut Kotler dan Keller (2009:138-139) mengungkapkan
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal
dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu
produk dan harapan harapannya.
Tse dan Wilton dalam (Tjiptono, 2011, p. 24) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
actual produk yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Sedangkan menurut (Supranto, 2011, p. 224) mengatakan bahwa
kepuasan pelanggan adalah perbedaan antara harapan dan kinerja yang
dirasakan. Jadi, kinerja suatu perusahaan jasa setidaknya harus sama
dengan yang diekspektasikan dan diinginkan oleh pelanggan.
Kepuasan pelanggan diukur dengan seberapa besar harapan
pelanggan tentang produk dan pelayanan sesuai dengan kinerja produk
dan pelayanan yang actual. Kepuasan akan mendorong pelanggan untuk
membeli ulang produk. Ada lima tahap pasca pembelian produk yang
akan dilalui pelanggan yaitu (1) konsumsi poduk, (2) perasaan puas atau
tidak puas (3) perilaku keuhan pelanggan (4) disposisi barang, dan (5)
pembentukan kesetiaan merek.
a. Metode untuk mengukur Kepuasan Pelanggan
Pengukuran Kepuasan Pelanggan perlu dilakukan oleh
perusahaan untuk mengetahui kinerja perusahaan menurut sudut
pandang pelanggan. Menurut Tjiptono (2012:453) meskipun
belum ada cara mengukur Kepuasan Pelanggan, sejumlah studi
menunjukan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu ditelaah
dalam kerangka pengukuran Kepuasan Pelanggan, yaitu:
1) Kepuasan general atau keseluruhan (Overall Satisfaction).
2) Konfirmasi harapan (confirmation of expectation), yakni
tingkat kesesuaian antara kinerja dan ekspektasi.
3) Perbandingan dengan situasi ideal (comparison to ideal),
yaitu kinerja produk dibandingkan dengan produk ideal
menurut persepsi pelanggan.
Paling tidak ada empat metode yang banyak dipergunakan dalam
mengukur kepuasan pelanggan (Kotler & Keller, 2012)
1) Sistem keluhan dan saran
Setiap organisasi jasa yang berorientasi pada pelanggan
wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para
pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan
mereka. Media yang digunakan bisa berupa kotak saran yang
diletakan di tempat-tempat strategis (yang mudah diakses atau
sering dilalui pelanggan), saluran telephone khusus bebas pulsa,
website, facebook, twitter dll. Informasi-informasi yang
diperoleh melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan
masukan yang berharga kepada perusahaan, sehingga
memungkinkannya untuk bereaksi dengan tanggap dan cepat
untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.
Akan tetapi, karena metode ini bersifat pasif, maka sulit
mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan. Tidak semua pelanggan yang tidak
puas akan menyampaikan keluhannya. Sangat mungkin mereka
langsung berganti pemasok dan tidak akan membeli produk/jasa
perusahaan yang bersangkutan lagi.
2) Ghost/Mystery Shopping
Salah satu metode untuk memperoleh gambaran mengenai
kepuasan peanggan adalah dengan memperkerjakan beberapa
orang ghost shopper untuk berperan sebagai pelanggan potensial
jasa perusahaan dan pesaing. Mereka diminta melaporkan
berbagai temuan penting bedasarkan pengalamannya mengenai
kekuatan dan kelemahan jasa perusahaan dibandingkan para
pesaing. Selain itu, para ghost shopper juga dapat mengobservasi
cara perusahaan dan pesaingnya melayani permintaan spesifik
pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menangani
setiap masalah/keluhan pelanggan. Ada baiknya para manajer
perusahaan terjun langsung sebagai ghost shoppers untuk
mengetahui secara langsung bagaimana karyawannya
berinteraksi dan memperlakukan para pelanggan.
3) Lost customer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi para pelanggan yang
telah berhenti membeli atau yang telah beralih pemasok, agar
dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat
mengambil kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.
Bukan hanya exit interview saja yang perlu, tetapi pemantauan
pelanggan loss rate juga penting, di mana peningkatan pelanggan
loss rate menunjukan kegagalan perusahaan dalam memuaskan
pelanggannya. Hanya saja kesulitan menerapkan metode ini
adalah pada mengidentifikasikan dan mengkontak mantan
pelanggan yang bersedia memberian masukan dan evaluasi
terhadap kinerja perusahaan.
4) Survey Kepuasan Pelanggan
Umumnya sebagian besar penelitian mengenai kepuasan
pelanggan menggunakan metode survei, baik via pos, telpon, e-
mail, maupun wawancara langsung. Melalui survey, perusahaan
akan memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari
pelanggan dan juga memberikan sinyal positif bahwa perusahaan
menaruh perhatian terhadap mereka

Indikator Citra Merek atau Brand Image


Indikator dari Citra Merek atau Brand Image (Brand
Image) menurut pendapat Harrison (2014:71) bahwa citra
perusahaan merupakan informasi lengkap mengenai perusahaan
dibenak kosumen yang merpakan personality (kepribadian),
reputation (reputasi), value (nilai), dan corporate identity
(identitas perusahaan). Keempat indikator tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1) Personality (Kepribadian)
Keseluruan karakteristik perusahaan yang dipahami
publik sasaran perusahaan seperti, perusahaan yang dapat
dipercaya dan perusahaan yang mempunyai tanggungjawab
sosial.
2) Reputation (Reputasi)
Hal yang telah dilakukan perusahaan yang telah
diyakini publik sasaran berdasarkan pengalaman sendiri
maupun pihak lain seperti kinerja perusahaan.
3) Value (Nilai)
Nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan
kata lain seperti sikap manajemen yang peduli terhadap
pelanggan, karyawan yang cepat tanggap terhadap
permintaan maupun keluhan pelanggan.
4) Corporate identity (Identitas Perusahaan)
Komponen-komponen yang mempermudah
pengenalan publik sasaran terhadap perusahaan seperti
logo, warna dan slogan.
Schiffman Kanuk dalam (Putri & Ratnawati, 2011, p. 41)
menyebutkan indikator dari Citra Merek atau Brand Image
adalah sebagai berikut:
1) Kualitas atau mutu
Hal ini sangat berkaitan erat dengan kualitas jasa
yang ditawarkan oleh perusahaan yang berkaitan dengan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan jasa
tersebut.
2) Dapat dipercaya atau dapat diandalkan
Berkaitan dengan kesepakatan ataupun pendapat
yang telah dibuat oleh masyarakat atas jasa yang
digunakan.
3) Manfaat
Hal ini berkaitan dengan suatu fungsi dari jasa yang
dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pelanggan untuk
memenuhi kebutuhannya.
4) Pelayanan
Yang berkaitan dengan tugas perusahaan jasa dalam
melayani pelanggan.
5) Resiko
Berkaitan dengan kerugian maupun keuntungan yang
dialami oleh pelanggan setelah menggunakan jasa dari
perusahaan tersebut.
6) Harga
Yaitu berkaitan dengan banyak sedikitnya ataupun
rendah tingginya dengan jumlah biaya yang dapat
dikeluarkan pelanggan untuk membayar mendapatkan
suatu produk pada suatu perusahaan.
7) Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri
Merupakan sesuatu yang berupa pandangan,
kesepakatan, dan informasi yang berhubungan dengan
suatu merek tertentu

Faktor dan pembentuk Citra Merek atau Brand Image


(Keller, 2013, p. 78) menyatakan bahwa pengukur Citra
Merek atau Brand Image dapat dilakukan berdasarkan pada
aspek sebuah merek yaitu:
1) Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan dalam hal ini berkaitan dengan seberapa
kuat hubungan yang dapat diciptakan oleh merek dengan
pelanggan. Biasanya pengukuran kekuatan ini bisa
didapatkan melalui pengalaman secara langsung yang
berkaitan dengan harga, kualitas dari produk, rekomendasi,
perorangan, iklan/promosi dan lain sebagainya. Yang
terdapat didalam kelompok kekuatan (Strength) ini adalah
penampilan fisik suatu produk, kegunaan/fungsi dari
produk itu sendiri, harga produk, maupun penampilan
fasillitas pendukung dari produk tersebut.
2) Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan
satu merek dengan merek yang lain. Kesan untuk ini
muncul dari atribut suatu produk, yang berarti ada
perbedaan antara suatu produk dengan produk
kompetitornya. Perusahaan harus dapat membuat produk
mereka unik dan beda dengan produk pesaing. Yang masuk
kedalam kelompok unik ini adalah dari hal yang sangat
berbeda dari produk lain yaitu yang berbeda secara
dominan dari produk pesaingnya yaitu berbagai variasi
dalam pelayanan, dengan berbagai tingkatan harga,
penampilan dari produk itu sendiri seperti fitur produk dan
produk yang tersedia.
3) Kesukaan (Favorable)
Favorable mengarah pada kemampuan merek
tersebut untuk mudah diingat oleh pelanggan. Yang
termasuk kedalam kelompok favorable ini antara lain:
bagaimana suatu nama atau merek itu dapat atau dengan
mudah diucapkan oleh pelanggan, dan bagaimana merek
tersebut dapat sesuai seperti kesan yang ada pada benak
pelanggan dengan citra yang diharapkan perusahaan
terhadap merek tersebut

Makna dan Tipe Merek.


Penjelasan makna dan tipe merek akan dijelaskan oleh
(Mehmood & Shafiq, 2015, p. 179) dalam suatu merek memiliki
6 tingkatan pengertian, sebagai berikut :
1) Atribut
Atribut merupakan ciri-ciri atau berbagai aspek dari
merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua
bagian, yaitu hal -hal yang tidak berhubungan dengan
produk (contoh: harga, kemasan, pemakai, citra
penggunaan), dan hal -hal yang berhubungan dengan
produk (contoh: warna, ukuran dan desain)
Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari
sebuah produk, baik dari program purna jual, pelayanan,
maupun kelebihannya dan perusahaan menggunakan
atribut tersebut sebagai materi iklan.
2) Manfaat
Merek bukanlah sekedar sekumpulan atribut, karena
yang dibeli pelanggan adalah manfaat, bukan atribut.
3) Nilai
Merek juga menatakan nilai-nilai produsennya.
4) Budaya
Merek juga mungkin mencerminkan budaya tertentu.
5) Kepribadian
Merek juga dapat memproyeksikan kepribadian
tertentu terhadap suatu produk.
6) Pemakaian
Merek memberikan kesan mengenai jenis pelanggan
yang membeli atau menggunakan produknya

Tujuan Merek


Tjiptono dan Diana dalam Akbar (2012:17) menyatakan
bahwa merek memiliki berbagai macam tujuan, yaitu:
1) Sebagai identitas perusahaan yang membedakannya dengan
perusahaan pesaing sehingga lebih mudah mengenali dan
apabila akan melakukan pembelian ulang atas merek
tersebut.
2) Sebagai alat promosi yang menonjolkan daya tarik produk
(misalnya dengan bentuk desain dan warna-warna
menarik).
3) Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan,
jaminan kualitas tertentu kepada Pelanggan.
4) Untuk mengendalikan dan mendominasi pasar. Artinya,
dengan membangun merek yang terkenal, bercitra baik dan
dilindungi hak eksklusif berdasarkan hak cipta/hak paten,
maka perusahaan dapat meraih dan mempertahankan
loyalitas Pelanggan

Brand Image


Tjiptono (2012:112) Brand Image yakni deskripsi tentang asosiasi
dan keyakinan Pelanggan terhadap merek tertentu. Sejumlah Teknik
kuantitatif dan kualitatif telah dikembangkan untuk membentuk,
mengungkapkan persepsi dan asosiasi Pelanggan terhadap sebuah merek
tertentu, diantaranya multidimensional scaling, projection tehniques, dan
sebagainya.
Kotler dan Armstrong (Kotler & Armstrong, 2014, p. 233)
menyatakan bahwa brand image adalah “The set of belief held about a
particular brand is known as brand image” yang artinya adalah
sekumpulan keyakinan terhadap suatu merek disebut Citra Merek atau
Brand Image.
Sunyoto, dalam (Wijaya, 2013, p. 107) menyatakan bahwa brand
image adalah “nilai tambah yang diberikan pada sebuah produk dan jasa”
Brand Image berdasarkan perspektif Pelanggan adalah pengenalan
Pelanggan atas merek tersebut dan menyimpannya dalam memori merek
yang mendukung, kuat, dan unik.
Darmadi Durianto (2004:4) dalam (Djan & Burhanudin, 2018)
mengatakan merek merupakan suatu nama, istilah, tanda, symbol, warna,
gerak dan atau kombinasinya yang menjad identitas suatu produk serta
memiliki makna teretentu sehingga dapat membedakan suatu produk satu
dengan produk yang lainnya. Selain itu merek merupakan segala kesan
yang muncul pada benak seseorang yang terkait dengan ingatannya
mengenai suatu merek.

Dimensi dan Indikator Kualitas Produk


Kualitas produk memiliki dimensi yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristik dari suatu produk. Menurut David Garvin
dalam buku (Tjiptono, 2016, p. 134)kualitas produk memiliki delapan
dimensi sebagai berikut:
1) Kinerja (Performance)
Yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti dan dapat
didifinisikan sebagai tampilan dari sebuah produk sesungguhnya.
Performance sebuah produk merupakan pencerminan bagaimana
sebuah produk itu disajikan atau ditampilkan kepada pelanggan.
Tingkat pengukuran performance pada dasarnya mengacu pada
tingkat karakteristik dasar produk itu beroperasi. Sebuah produk
dikatakan memiliki performance yang baik bilamana dapat
memenuhi harapan. Bagi setiap produk/jasa, dimensi
performance bisa berlainan, tergantung pada functional value
yang dijanjikan oleh perusahaan.
2) Ciri-ciri produk (Features)
Merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap dan dapat
didefinisikan sebagai tingkat kelengkapan atribut-atribut yang
ada pada sebuah produk. Pada inti tertentu, performance dari
setiap merek hampir sama tetapi justru perbedaannya terletak
pada fiturnya. Ini juga mengakibatkan harapan pelanggan
terhadap dimensi performance relative homogen dan hadapan
terhadap fitur relative heterogen.
3) Kehandalan (Reliability)
Yaitu tingkat kehandalan suatu produk atau konsistensi
kehandalan sebuah produk didalam proses operasionalnya dimata
pelanggan. Reliability sebuah produk juga merupakan ukuran
kemungkinan suatu produk tidak akan rusak atau agal dalam
suatu periode tertentu. Sebuah produk dikatakan memiliki
reliability yang tinggi bilamana dapat menarik kepercayaan dari
pelanggan terkait kualitas keandalan sebuah produk. Dimensi
performance dan reliability sekilas hampir sama tetapi memiliki
perbedaan yang jelas. Reliability lebih menunjukan probabilitas
produk menjalankan fungsinya.
4) Ketepatan/kesesuaian (Conformance)
Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi
memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya dan
dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana semua unit yang
diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi sasaran yang
dijanjikan. Definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa tingkat
conformance sebuah produk dikatakan telah akurat bilamana
produk-produk yang dipasarkan oleh produsen telah sesuai
perencanaan perusahaan yang berarati merupakan produk-produk
yang mayoritas diinginkan pelanggan.
5) Ketahanan (Durability)
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
digunakan dan dapat didefiniskan sebagai ukuran usia operasi
produk yang diharapkan dalam kondisi normal dan atau berat.
6) Pelayanan (Serviceability)
Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan,
direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan dan dapat
didefinisikan sebagai suatu ukuran kemudahan memperbaiki
suatu produk yang rusak atau gagal. Disini artinya bilamana
sebuah produk rusak atau gagal maka kesiapan perbaikan produk
tersebut dapat dihandalkan, sehingga pelanggan tidak merasa
dirugikan.
7) Estetika (Aesthetics)
Yaitu keindahan produk terhadap panca indera dan dapat
didefinisikan sebagai atribut-atribut yang melekat pada sebuah
produk, seperti warna, model atau desain, bentuk dan lain-lain.
Pada dasarnya aesthetics merupakan elemen yang melengkapi
fungsi dasar suatu produk sehingga performance sebuah produk
akan menjadi lebih baik dihadapan pelanggan.
8) Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality)
Yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
perusahaan terhadapnya

Kualitas Produk


Perusahaan dalam menjalankan bisnisnya harus dapat
mempertahankan keberlangusungan hidup perusahaan dan dapat
mencapai tujuan dari perusahaan tersebut. Perusahaan sendiri
memerlukan cara untuk dapat mengatur kegiatan pamasarannya agar
sesuai dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, untuk itu
perusahaan memerlukan manajemen pemasaran agar dapat mencapai hal
tersebut. Manajemen perusahaan sendiri merupakan seni dan ilmu dalam
memilih pasar sasaran yang dirancang untuk menciptakan, membangun
dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan untuk mencapai
tujuan-tuuan perusahaan.
Salah satu keunggulan dalam sebuah persaingan antar perusahaan
adalah salah satunya kualitas produk yang dapat memenuhi keinginan
Pelanggan. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk akan
ditolak. Sekalipun produk tersebut masih dalam batas toleransi yang telah
ditentukan maka produk tersebut sebaiknya perlu menjadi catatan untuk
menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar diwaktu yang akan
datang. Demikian juga Pelanggan dalam membeli suatu produk
Pelanggan selalu berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan
segala keinginan dan kebutuhannya.
Menurut Garvin dalam (Tjiptono & Chandra, 2011, p. 168) bahwa
“Kualitas memiliki perbedaan dalam proses interpretasikan yang dimana
disesuaikan oleh masing-masing individu atau dapat disebut dengan
perspektif kualitas”
Menurut Kotler and Armstrong (Kotler & Armstrong, 2012, p. 283)
menyatakan bahwa Kualitas produk adalah
“The alibity of a product to peform its funcitions, it includes the
product’s overall durability, reliability, precision, ease of
operation and repair, and other valued attributes” yang artinya
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal
itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan,
kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk
lainnya. Kualitas produk (product quality) adalah salah satu sarana
positioning utama pemasar. Kualitas produk memiliki pengaruh
secara langsung terhadap kepuasan pelanggan.
Goetsch dan Davis dalam Tjiptono (2010) menyatakan bahwa
“Kualitas produk merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk atau jasa yang memenuhi atau melebihi harapan”. Dapat
dikatakan bahwa kualitas produk berpusat pada pandangan Pelanggan
sehingga kualitas produk ditentukan dari sesuai atau tidaknya produk
dimata Pelanggan

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Sarwono dalam Imam dan Rismawati (2022) menyatakan bahwa
keberhasilan organisasi dalam lingkungan kerja tersebut disebabkan dengan
mampu memberikan energi antara lingkungan internal dan lingkungan eksternal.
Keseluruhan dari faktor internal dan faktor eksternal yang ada di sekitar kerja setiap
karyawan, dalam hal ini berupa tempat fisik seperti kursi, meja serta peralatan kerja
lainnya yang dapat mempengaruhi karyawan di dalam melaksanakan pekerjaan
sehari-hari. Sehingga para karyawan akan bekerja maksimal jika merasa puas
dengan lingkungan kerja yang memberikan kenyaman dan dukungan.
Berdasarkan pernyataan diatas sesuai dengan penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Ramadhan dan Padmantyo (2022), Sutanti dan Widayati (2022) dan
Anasi (2020) yang menyatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan kerja karyawan

Pengaruh Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Saputra (2022) menjelaskan bahwa kompensasi diartikan sebagai
pendapatan yang berbentuk uang baik barang langsung maupun tidak langsung
sebagai tanda imbalan dari perusahaan. Kompensasi yang cukup dan adil menjadi
harapan bagi karyawan. Kompensasi yang diatur dengan baik akan mempengaruhi
semangat dalam hal produktivitas bekerja karyawan. Dengan adanya sistem
kompensasi yang adil tersebut serta lingkungan kerja yang baik memungkinkan jika
kepuasan kerja nya akan mengalami peningkatan. Pemberian kompensasi yang
tepat dan benar akan membuat karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja dan
termotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi, sebaliknya jika kompensasi
yang diberikan kurang tepat dan tidak memadai maka akan menyebabkan prestasi,
motivasi, kepuasan kerja dan hasil kerja karyawan dapat berpengaruh sehingga
mengalami penurunan.
Pernyataan diatas sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Wibowo (2021), Cahyani et al., (2020), Apriyani dan Iriyanto (2020) dan Suleiman
et al., (2018) yang menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan kerja karyawan

Pengaruh Self Efficacy Terhadap Kepuasan Kerja


Menurut Andre dan Santoso (2022) menjelaskan bahwa self efficacy
merupakan ketahanan diri dan kemampuan seseorang dalam menghadapi sebuah
permasalahan dan berupaya untuk menghadapi segala kegagalan di dalam
perusahaan. Apabila seorang karyawan memiliki self efficacy yang tinggi dan
percaya bahwa mereka dapat memenuhi tujuan akan lebih besar kemungkinannya
untuk bekerja lebih keras guna mencapai tujuan yang ditetapkan serta menunjukkan
kepuasan kerja yang lebih tinggi. Self efficacy juga mempengaruhi bagaimana orang
merasa berpikir, memotivasi diri dan berperilaku. Meskipun pengetahuan dan
keterampilan diperlukan akan tetapi latar belakang pendidikan tidak menjamin
kesuksesan seseorang. Dua orang memiliki latar belakang pendidikan yang sama,
tetapi mungkin tidak berhasil di tugas yang sama karena perbedaan dalam tingkat
self efficacy-nya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa self
efficacy yang dimiliki karyawan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kepuasan kerja.
Pernyataan ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Bargsted et al., (2019) yang menyatakan bahwa self efficacy berpengaruh signifikan
terhadap kepuasan kerja.

Indikator Kepuasan Kerja
Menurut kartika et al., (2018) terdapat beberapa indikator dalam kepuasan kerja
yaitu :

  1. Upah
    Upah diartikan sebagai imbalan keuangan yang diterima karyawan seperti
    honor, premi, bonus, atau tunjangan keuangan lainnya. Jika upah yang
    diberikan sesuai dengan yang diinginkan karyawan, maka upah dapat
    memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan tersebut. Karyawan
    mengharapkan imbalan keuangan yang diterima sesuai dengan tanggung
    jawab, pengalaman, kecakapan ataupun senioritas. Apabila kebutuhan akan
    upah terpenuhi, maka karyawan akan memperoleh kepuasan dari apa yang
    karyawan harapkan.
  2. Perlakuan Atasan
    Setiap karyawan tentunya ingin diperlakukan secara adil. Untuk dapat
    menciptakan persepsi yang sama antara atasan dengan bawahan mengenai
    makna adil yang sesungguhnya, perlu diadakan komunikasi yang terbuka
    antar keduanya. Apabila atasan menghargai karyawan dengan baik, maka
    karyawan dapat merasa pekerjaannya dihargai selama bekerja di perusahaan
    tersebut. Pada umumnya, karyawan lebih suka mempunyai supervisi yang
    adil, terbuka dan mau bekerja sama dengan bawahan.
  3. Kondisi Lingkungan Kerja
    Setiap karyawan akan mudah dan nyaman dalam menyelesaikan pekerjaan
    bila merasa bahwa lingkungan kerjanya tenang, bersih, dan menyenangkan.
    Karyawan peduli akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi
    maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas.
  4. Promosi
    Para karyawan menginginkan agar hasil karyanya dihargai. Dalam era
    manajemen modern, promosi telah dianggap sebagai imbalan yang cukup
    efektif untuk meningkatkan moral pekerja dan mempertinggi loyalitas
    terhadap organisasi. Selain itu, promosi berfungsi sebagai perangsang bagi
    karyawan yang memiliki ambisi dan prestasi kerja tinggi. Dengan demikian,
    usaha-usaha menciptakan kepuasan atau komponen promosi dapat
    mendorong karyawan untuk berprestasi lebih baik di masa-masa yang akan
    datang. Hal ini bertujuan agar karyawan merasa termotivasi dalam bekerja
    dan akan selalu bekerja dengan giat. Sebaliknya, apabila tidak ada
    kesempatan untuk dipromosikan maka karyawan dapat merasa jenuh dan
    keluar dari perusahaan.
  5. Rekan Kerja
    Kebanyakan karyawan juga membutuhkan interaksi sosial dalam bekerja.
    Oleh karena itu, kepuasan kerja juga dapat tercapai bila mempunyai rekan
    kerja yang ramah dan mendukung. Karyawan yang merasa tidak nyaman
    dengan rekan kerjanya akan berpengaruh terhadap pekerjaan yang
    dilakukan dan bisa menghambat gairah kerja. Hal ini dapat diatasi melalui
    komunikasi dua arah secara timbal balik

Pengertian Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja merupakan hal yang penting di dalam manajemen, hal ini
mempengaruhi pada produktifitas karyawan saat bekerja. Kepuasan kerja bisa
dilihat bagaimana karyawan melakukan suatu perubahan karakteristik
pekerjaannya. Sebuah organisasi atau perusahaan yang baik akan menghasilkan
kepuasan kerja yang tinggi dengan adanya manajemen yang efektif. Menurut
Saputra (2022) kepuasan kerja didefinisikan yaitu sebagai sikap positif untuk
karyawan dalam mencakup perasaan serta tingkah laku dalam tanggung jawab
pekerjaannya pastinya melalui penilaian pekerjaan sebagai rasa menghargai dalam
pencapaian nilai-nilai penting yang ada dipekerjaan tersebut. Rasa menghargai
tersebut harus menunjukkan bahwa mereka menyenangi dan mencintai pekerjaan
yang mereka lakukan. Sehingga dapat dikatakan juga kepuasan kerja yaitu sebagai
alat mengidentifikasi perasaan karyawan terhadap pekerjaannya.
Menurut Suhery et al., (2020) mengatakan kepuasan kerja ialah keadaan
perasaan emosional seseorang yang menyenangkan dari setiap para karyawan
terhadap pekerjaannya, hal ini karyawan juga merasa bahwa balas jasa yang mereka
terima atas pekerjaannya sesuai dengan kontribusi apa yang mereka berikan ke
organisasi atau perusahaan. Menurut Greenberg dan Baron dalam Erwan dan
Kurniawan (2022) kepuasan kerja dapat diukur dengan menggunakan skala
peringkat, kuesioner ataupun dengan wawancara. Menurut Kuswadi dalam Erwan
dan Kurniawan (2022) terdapat tujuan untuk pengukuran kepuasan kerja adalah
untuk mengetahui kepuasan karyawan secara menyeluruh termasuk hubungannya
dengan tingkatan prioritasnya yang dianggap penting bagi seorang karyawan, untuk
mengetahui persepsi atau anggapan setiap karyawan pada suatu perusahaan harus
mengenal dan mengetahui atribut-atribut yang termasuk ke dalam kategori kritis
yang memberikan pengaruh secara signifikan terhadap kepuasan karyawan.
Dari pernyataan beberapa pengertian para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa kepuasan kerja ialah seorang karyawan yang dapat memenuhi tingkat
keinginannya sesuai dengan jasa yang telah mereka berikan dan kontribusikan
terhadap organisasi atau perusahaan, hal ini bahwa kepuasan kerja sangat memiliki
peranan penting bagi seorang karyawan untuk memaksimalnya kinerjanya secara
optimal dan maksimal sehingga dapat mempermudah organisasi atau perusahaan
untuk mencapai target dengan tepat waktu. Menurut Pranitasari dan Saputri (2020)
mengatakan bahwa kepuasan kerja juga dirasakan setiap orang yang sangat berbeda
karena banyak aspek yang mempengaruhinya. Beberapa aspek tersebut sangat
penting untuk menunjang tercapainya kepuasan kerja yang dimiliki seseorang, yang
akan berdampak pada pencapaian nilai kerja seseorang atas pekerjaan yang telah
dilaksanakannya

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2011) menyatakan bahwa secara garis besar, Indikator
lingkungan kerja terbagi menjadi 2 jenis yaitu :

  1. Lingkungan Kerja Fisik
    Lingkungan kerja fisik yaitu meliputi segala keadaan berbentuk fisik di
    sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan secara langsung
    atau tidak langsung. Lingkungan kerja fisik mencakup beberapa indikator,
    antara lain penerangan atau cahaya, ruang gerak, jam kerja, sirkulasi udara,
    kebersihan, tata warna, dan keamanan tempat kerja.
  2. Lingkungan Kerja Non Fisik
    Lingkungan kerja non fisik, yaitu kondisi lingkungan tempat kerja
    karyawan yang berupa suasana kerja yang harmonis yang di dalamnya
    terdapat hubungan atau komunikasi dan perlakuan antara bawahan dengan
    atasan (hubungan vertikal) dan hubungan atau komunikasi dan perlakuan
    antara sesama karyawan (hubungan horizontal). Lingkungan kerja non fisik
    terdapat beberapa indikator yaitu : hubungan kerja dengan pemimpin,
    hubungan kerja pemimpin dengan bawahan, dan hubungan kerja karyawan
    dengan karyawan lainnya

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Lingkungan Kerja


Menurut Widyaningrum (2019) faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja
adalah :

  1. Faktor personal : pengetahuan, keterampilan, kemampuan,
    kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu.
  2. Faktor kepemimpinan : kualitas dalam memberikan dorongan, arahan,
    semangat dan dukungan yang diberikan manajer.
  3. Faktor tim : kualitas semangat dan dukungan yang diberikan
    oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama tim, kekompakan
    dan keeratan anggota tim.
  4. Faktor sistem : sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang
    diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja dalam
    organisasi.
  5. Faktor situasional : tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan
    internal.

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja yang baik yaitu lingkungan kerja yang kondusif.
Lingkungan kerja yang kondusif di tempat kerja adalah salah satu syarat untuk
menciptakan kinerja perubahan yang lebih baik. Lingkungan kerja yang kondusif
sendiri bisa tercipta jika adanya komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan
maupun antar para bawahan itu sendiri. Perusahaan juga harus bisa membangun
rasa kepercayaan yang tinggi terhadap bawahan ataupun antar karyawan dalam
artian para karyawan merasa tidak ada rasa saling curiga justru saling menjaga. Jika
sudah tercipta seperti ini maka lingkungan kerja yang kondusif akan lebih mudah
tercipta dan kontribusi dari setiap karyawan semakin mudah didapatkan.
Hal ini lingkungan kerja merupakan bagian yang sangat penting ketika
karyawan melakukan kelancaran produksi dengan lingkungan yang sesuai sehingga
mampu memuaskan karyawan dalam melaksanakan aktivitas kegiatan dan
berpengaruh terhadap peningkatan kinerja dan kepuasan kerja karyawan. Menurut
Pranitasari (2019) mengatakan lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang tinggi
terhadap perilaku seseorang. sebagaimana lingkungan kerja yang menyenangkan,
aman dan memberikan kepuasan akan mempengaruhi semangat kerja karyawan,
sebab karyawan tidak akan merasa terganggu dalam menjalankan kegiatan
aktivitasnya.
Menurut Widyaningrum (2019) mengatakan bahwa lingkungan kerja adalah
segala sesuatu yang ada disekitar para karyawan yang dapat mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya sehingga akan
diperoleh hasil kerja yang maksimal, dimana dalam lingkungan kerja tersebut
terdapat fasilitas kerja yang mendukung karyawan dalam penyelesaian tugas yang
bebankan kepada karyawan guna meningkatkan kerja karyawan dalam suatu
perusahaan. Dengan memperhatikan lingkungan kerja diharapkan dapat menambah
semangat dalam bekerja. Apabila hal ini dapat berjalan dengan baik maka
pencapaian tujuan suatu perusahaan akan berjalan dengan baik dan lancar. Adapun
16
lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik yaitu
keadaan yang berbentuk fisik terdapat di sekitar tempat kerja yang mempengaruhi
karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Sedangkan
lingkungan kerja non fisik yaitu keadaan yang berkaitan dengan hubungan kerja
baik dengan atasan maupun sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan

Indikator Kompensasi


Pengelolaan kompensasi adalah fungsi penting dalam organisasi atau perusahaan
karena bagian dari tanggung jawab departemen sumber daya manusia. Aspek
terpenting dari pekerjaan di mata sebagian besar karyawan adalah tingkat
bayarannya. Karyawan umumnya dibayar sesuai dengan kualifikasi yang relevan
dengan pekerjaan dan jumlah orang dalam tenaga kerja yang memiliki kualifikasi
tersebut. Kompensasi juga ditentukan oleh keahlian dan upaya yang dibutuhkan
untuk meningkatkan pekerjaan terhadap tingkat pekerjaannya yang dinilai oleh
organisasi dan masyarakat. Maka dari itu indikator dalam pemberian kompensasi
untuk karyawan tentu berbeda-beda. Menurut Simamora (2014) mengemukakan
indikator kompensasi, yaitu :
a) Gaji
Merupakan pembayaran yang diberikan setiap bulan kepada karyawan
sebagai balas jasa atas kontribusinya.
b) Upah
Merupakan imbalan yang diberikan secara langsung kepada karyawan yang
didasarkan pada jam kerja karena berstatus tidak terikat dengan perusahaan.
c) Insentif
Merupakan imbalan finansial yang diberikan secara langsung kepada
karyawan yang kinerjanya melebihi standar yang ditentukan atas kerja keras
mereka dalam bekerja.
d) Tunjangan
Merupakan kompensasi yang diberikan kepada karyawan tertentu sebagai
imbalan atas pengorbanannya yang dialokasikan secara rutin untuk tujuan
tertentu.
e) Fasilitas
Merupakan sarana dan prasarana serta suasana pendukung sebagai
penunjang yang diberikan oleh organisasi

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kompensasi


Menurut Sutrisno dalam Herispon dan Firdaus (2022) faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya kompensasi antara lain sebagai berikut :
a) Produktivitas
Pemberian kompensasi melihat besarnya produktivitas yang diberikan oleh
karyawan kepada pihak perusahaan. Dengan kata lain, ketika tingkat output
meningkat, kompensasi yang ditawarkan kepada karyawan maka akan
semakin besar pula kompensasinya.
b) Kemampuan Perusahaan
Kemampuan untuk melakukan pembayaran secara logis ukuran pemberian
kompensasi sangat penting bagi kemampuan perusahaan untuk membayar
kompensasi karyawan. Karena sangat tidak mungkin perusahaan membayar
kompensasi diatas kemampuan yang ada.
c) Kesediaan Perusahaan
Kesediaan untuk membayar meskipun perusahaan mampu membayar
kompensasi, tetapi belum tentu perusahaan tersebut mau membayar
kompensasi dengan layak dan adil.
d) Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja
Penawaran dan permintaan tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap
pemberian kompensasi. Jika permintaan tenaga kerja banyak oleh
perusahaan maka kompensasi cenderung lebih tinggi begitupun sebaliknya
jika tenaga kerja ke perusahaan rendah maka kompensasi cenderung
menurun


Menurut Sumaila dan Rossanty (2022) indikator self efficacy adalah sebagai
berikut :

  1. Level (Tingkat Kesulitan)
    Terkait dengan tingkat kesulitan tugas, seseorang yang memiliki self
    efficacy tinggi cenderung lebih memilih tugas dengan tingkat kesulitannya
    yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
  2. Generality (Luas Bidang Perilaku)
    Berkaitan dengan penguasaan seseorang terhadap bidang atau tugas
    pekerjaan tertentu. Seseorang akan terlihat mempunyai self efficacy yang
    tinggi yang mampu menguasai beberapa bidang sekaligus untuk
    menyelesaikan suatu tugas, sebaliknya jika seseorang dengan self efficacy
    yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang diperlukan dalam
    menyelesaikan suatu tugas.
  3. Strength (Kekuatan)
    Berkaitan dengan lebih menekankan pada tingkat kekuatan atau
    keseriusannya yang dimiliki seseorang bahwa tindakan yang dilakukan akan
    memberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Self Efficacy


Menurut Kartika et al., (2018) ada beberapa faktor yang mempengaruhi self efficacy
yaitu :

  1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experineces)
    Keberhasilan yang akan didapatkan dalam meningkatkan self efficacy yang
    dimiliki seseorang, sebaliknya jika mengalami kegagalan maka
    menurunkan self efficacy. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang
    lebih besar karena faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa
    pengaruh terhadap peningkatan self efficacy dan jika keberhasilannya
    terdapat hambatan yang besar dan hasil dari perjuangan sendiri maka itu
    membawa pengaruh pada peningkatan self efficacy.
  2. Pengalaman Orang Lain (Vicarious Experiences)
    Keberhasilan pengalaman ini memiliki kemiripan dengan individu dalam
    mengerjakan tugas yang akan meningkatkan self efficacy seseorang dalam
    mengerjakan tugas yang sama. Self efficacy tersebut didapat melalui social
    models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan
    tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk
    melakukan modeling dan self efficacy tidak terlalu berpengaruh bila model
    yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model.
  3. Informasi (Information)
    Dengan adanya informasi ini bisa membuat lebih fokus untuk memberikan
    upaya yang terbaik dalam mengatasi keraguan diri. Informasi yang
    disampaikan secara verbal oleh seseorang tentang kemampuan yang
    biasanya berpengaruh digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa
    cukup melakukan suatu tugas dan membantu tujuan yang diinginkan.
  4. Keadaan Fisiologis dan Emosional (Physiological and Emotional States)
    Kecemasan dan stres yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan
    tugas sering diartikan suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang
    cenderung mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai
    dengan ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan
    lainnya. Self efficacy yang tinggi biasanya ditandai dengan rendahnya
    tingkat stres dan kecemasan, sebaliknya self efficacy yang rendah ditandai
    dengan tingkat stres dan kecemasan yang tinggi

Teori Dasar dan Pengertian Self Efficacy


Konsep Self Efficacy dikenal juga sebagai bagian dari teori kognitif sosial.
Teori ini merujuk pada keyakinan individu akan kemampuannya dalam
mengerjakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Self efficacy dikembangkan oleh
Albert Bandura sebagai bagian dari teori yang lebih luas, yakni teori kognitif sosial.
Teori kognitif sosial diturunkan dari teori pembelajaran sosial. Teori pembelajaran
sosial menyatakan bahwa jika manusia terdorong mempelajari perilaku tertentu,
mereka belajar melalui pengamatan dan peniruan tindakan-tindakan tertentu.
Menurut Bandura dalam Lianto (2019) Asumsinya adalah bahwa manusia akan
beradaptasi dengan faktor-faktor yang disukai dari lingkungannya, seraya mencoba
mengubah faktor-faktor yang tidak disukai. Menurut Bandura dalam Lianto (2019)
Teori kognitif sosial berguna untuk meramalkan perilaku, tentang pembelajaran dan
perubahan. Teori kognitif sosial diajukan Bandura sebagai reaksi ketidakpuasannya
atas prinsip-prinsip psikologi behaviorisme dan psikoanalisis. Behaviorisme dan
psikoanalisis terlalu menekankan determinisme lingkungan sebagai satu-satunya
penentu perilaku individu. Melalui teorinya, Bandura mengajukan pandangan
humanistik dan eksistensialis yang menekankan peran kapasitas manusia dalam
penilaian kesadaran dan arah tindakan. Individu adalah kontributor utama yang
menentukan mau menjadi apa seturut pilihan hidupnya.
Self efficacy merupakan keyakinan pada diri sendiri untuk mencapai hasil atau
tugas tertentu dalam meningkatkan kepuasan kerja nya. Menurut Luthans dalam
Azhari et al., (2022) mengatakan self efficacy ialah yang mengacu kepada
kepercayaan diri yang dimiliki seseorang agar orang lain termotivasi dalam
mencapai tugas-tugas tertentu. Sehingga dengan adanya kepercayaan diri ini
diharapkan termotivasi agar mendapatkan tujuan yang diinginkan. Menurut
Sumaila dan Rossanty (2022) self efficacy merupakan suatu kepercayaan diri yang
muncul dan dimiliki setiap individu agar memperoleh hasil kinerja yang baik
supaya tercapainya tujuan yang ingin diraih. Sehingga dengan adanya muncul suatu
kepercayaan diri yang dimiliki mampu membuat seseorang meraih keberhasilannya.
Menurut Badeni dalam Sutanti dan Widayati (2022) efikasi diri ialah
keyakinan individu mengenai seberapa baik diri sendiri bisa melakukan dan
mengerjakan tugas ataupun suatu kegiatan yang diperlukan untuk menjalin dengan
suasana yang mungkin sedang terjadi saat ini. Orang yang meyakini dengan
kemampuannya cenderung untuk berhasil, sebaliknya orang yang senantiasa
merasa gagal cenderung untuk gagal. Seseorang dengan self efficacy yang tinggi
sangat yakin dalam kemampuan kinerja mereka maka dengan itu mereka juga harus
membutuhkan motivasi dari diri sendiri.
Menurut Aprian dalam Andre dan Santoso (2022) menjelaskan efikasi diri
ialah analisis pada individu yang berdasarkan tiga dimensinya, meliputi magnitude,
generality dan strength. Magnitude yaitu berhubungan dengan tingkat kesulitan
tugas, generality yaitu yang berkaitan dengan keyakinan individu untuk
menyelesaikan tugas- tugas tertentu secara baik dan tuntas serta strength (kekuatan)
yaitu yang mengacu pada derajat dan kemantapan terhadap keyakinannya.
Seseorang yang memiliki self efficacy yang tinggi dan percaya jika mereka dapat
memenuhi tujuan akan lebih besar kemungkinan untuk bekerja lebih keras guna
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dan menunjukkan prestasi yang lebih tinggi.
Dari beberapa pengertian menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa self
efficacy adalah keyakinan dan kepercayaan dalam diri pribadi terhadap kemampuan
dirinya dalam mengatur tindakan yang akan dilakukan agar suatu pekerjaan dan
kegiatan yang dilakukan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan suatu bidang
manajemen yang mempelajari khusus hubungan serta peranan antara manusia di
dalam organisasi perusahaan, yang mencakup tentang pembinaan, pelatihan,
pengetahuan, kemampuan dan perlindungan sumber daya manusia yang baik agar
efisien dan efektif sehingga membantu terwujudnya tujuan perusahaan.
Menurut Imam dan Rismawati (2022) Manajemen Sumber Daya Manusia
merupakan perencanaan, perorganisasian, pengoordinasian, pelaksanaan dan
pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian jasa, pengintegrasian,
pemeliharaan, serta pemisahan tenaga kerja yang didalamnya diisi oleh sumber
daya manusia ada yang berperan sebagai pemimpin, dan sebagai besar lainnya
berperan sebagai anggota/ karyawan dalam rangka untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Menurut Mokoagow (2022) Manajemen sumber daya manusia ialah suatu
rangkaian aktivitas mengikuti sebuah alur yang merentang mulai dari proses
perencanaan sampai dengan proses hubungan ketenagaan kerjaan sebagai bagian
dari manajemen memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan
organisasi yang harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan tradisional
untuk mengelola orang secara efektif serta untuk itu membutuhkan pengetahuan
tentang perilaku manusia dan kemampuan mengelolanya.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli maka pengertian manajemen
sumber daya manusia adalah suatu kegiatan aktivitas yang mempelajari proses-
proses hubungan ketenagakerjaan yang dikelola oleh manusia di dalam suatu
organisasi atau perusahaan berdasarkan ketentuan dan perundangan yang berlaku
agar mencapai sasaran dan tujuan individu karyawan, perusahaan dan masyarakat
9
serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan, baik bersifat internal maupun
yang bersifat eksternal yang ditentukan oleh sumber daya manusia yang setepat-
tepatnya

Pengaruh Kejenuhan Kerja terhadap Kinerja
Penurunan kualitas kinerja dan kesehatan fisik dan psikologis bisa
sangat berbahaya tidak hanya untuk pekerja individu, tetapi juga untuk
perusahaan secara umum. Kejenuhan kerja bisa membuat individu merasa
kekurangan energi untuk melakukan pekerjaannya. Kejenuhan kerja sering
kali menghabiskan banyak waktu dengan klien mereka, mereka
menghabiskan banyak waktu berbicara dengan pelanggan bisa
menyebabkan kejenuhan kerja pada awalnya yang akan berdampak pada
kualitas kinerja pada akhirnya. Menurut penelitian Saputra, dkk
Sumaryani, dkk keadaan jenuh seringkali membuat pikiran kita
menjadi terasa penuh dan mulai kehilangan rasional, hal ini dapat
menyebabkan kewalahan dengan pekerjaan dan akhirnya menyebabkan
keletihan mental dan emosional, kemudian mulai kehilangan minat
terhadap pekerjaan dan motivasi menurun, pada akhirnya kualitas kerja
dan kualitas hidup ikut menurun

Pengaruh Self Efficacy terhadap Kejenuhan Kerja


Kejenuhan kerja adalah kondisi perilaku karyawan ketika mereka
dalam posisi untuk menanggung tekanan ekstra profesional dan merasa
benar-benar kesal dengan lingkungan. Perasaan seperti itu menempatkan
mereka di ambang titik keluar di mana mereka cenderung bergerak dari
kondisi yang menyenangkan untuk mulai mengalami kelelahan. Self
efficacy telah terbukti berhubungan dengan kejenuhan kerja sejalan
dengan penelitian Skaalvik EM, dan Skaalvik S. Self efficacy
berkorelasi negatif terhadap kejenuhan kerja pada setting kesehatan
dengan subyek penelitian adalah perawat. Hal ini berarti apabila seseorang
memiliki self efficacy yang tinggi maka tingkat kejenuhan kerja akan
rendah

Pengaruh Self Efficacy terhadap Kinerja


Self efficacy memainkan peranan penting dalam mengoptimalkan
kinerja karyawan dalam sebuah organisasi. Hal ini dikarenakan dengan
adanya Self efficacy dalam diri individu akan menimbulkan keyakinan
akan kemampuan dirinya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan
atasannya secara tepat waktu. Sesuai dengan penelitian Agustin, dkk (39);
Kiftiyah & Al Banin Harianja, dkk memberikan simpulan bahwa
dengan meningkatkan self efficacy perawat, maka kinerja perawat juga
akan meningkat seiring dengan keyakinan dan kemampuan perawat dalam
bekerja

Indikator Kejenuhan Kerja


Menurut Maslach dan Leiter kejenuhan kerja mempunyai indikator yaitu
:

  1. Kelelahan Emosional
    Kelelahan emosional ditandai dengan munculnya rasa letih, lelah,
    dan habis tenaga ketika berada di tempat kerja. Individu yang
    mengalaminya merasa energi yang dimiliki terkuras hingga
    menimbulkan rasa hampa yang sulit dipulihkan. Kondisi ini dapat
    terlihat dari seringnya merasa lelah secara fisik maupun emosional
    dalam menjalankan tugas sehari-hari.
  2. Depersonalisasi
    Depersonalisasi tercermin melalui berkembangnya sikap dingin,
    sinis, dan berkurangnya rasa kepedulian terhadap orang lain. Hal ini
    biasanya muncul sebagai bentuk mekanisme pertahanan ketika
    tuntutan pekerjaan tidak seimbang dengan kemampuan diri.
    Penderitanya cenderung menjaga jarak, mengurangi keterlibatan
    dalam pekerjaan, serta bersikap acuh terhadap rekan kerja maupun
    pasien. Sikap tersebut dianggap sebagai cara untuk melindungi diri
    dari kekecewaan atau ketidakpastian yang muncul dalam pekerjaan.
    Gejala ini dapat diukur melalui perasaan bahwa pekerjaan yang
    dilakukan tidak lagi bermakna.
  3. Penurunan Prestasi Pribadi
    Penurunan prestasi pribadi terlihat dari munculnya rasa tidak puas
    terhadap diri sendiri, terhadap hasil pekerjaan, bahkan terhadap
    kehidupan secara umum. Kondisi ini sering dipengaruhi oleh
    perasaan bersalah karena dianggap gagal atau memberikan dampak
    negatif kepada orang-orang di sekitar. Indikator yang dapat
    digunakan untuk mengukurnya adalah adanya ketidakpuasan diri
    yang berulang, baik dalam konteks pekerjaan maupun dalam aspek
    pribadi

Faktor yang mempengaruhi Kejenuhan kerja


Menurut Maslach dan Leiter membagi beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya kejenuhan kerja, yaitu:

  1. Work Overloaded kemungkinan terjadi akibat ketidaksesuaian
    antara pekerja dengan pekerjaannya. Pekerja terlalu banyak
    melakukan pekerjaan dengan waktu yang sedikit. (36) Overload
    terjadi karena pekerjaan yang dikerjakan melebihi kapasitas
    kemampuan manusia yang memiliki keterbatasan. Hal ini dapat
    menyebabkan menurunnya kualitas pekerja, hubungan yang tidak
    sehat di lingkungan pekerjaan, menurunkan kreativitas pekerja,
    dan menyebabkan kejenuhan kerja.
  2. Lack of Work Control atau setiap individu memiliki kebutuhan
    untuk diberi ruang dalam mengambil keputusan, memilih cara
    kerja, menggunakan kemampuan berpikir kritis, serta
    menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri demi mencapai
    prestasi. Namun, keberadaan aturan yang terlalu ketat sering kali
    membatasi kreativitas pekerja. Akibatnya, mereka merasa kurang
    memiliki tanggung jawab penuh terhadap hasil kerja karena adanya
    kontrol berlebihan dari atasan.
  3. Rewarded for Work, kurangnya penghargaan dari lingkungan kerja
    dapat menimbulkan perasaan bahwa karyawan tidak memiliki
    nilai. Bentuk penghargaan tidak selalu berupa kompensasi
    finansial, melainkan juga bisa hadir melalui hubungan harmonis
    antara sesama rekan kerja maupun antara karyawan dan atasan.
    Pemberian apresiasi akan menumbuhkan perasaan positif yang
    memperkuat keyakinan bahwa hasil kerja mereka dihargai dan
    diakui.
  4. Breakdown in Community, apabila pekerja tidak memiliki rasa
    kebersamaan atau keterikatan dengan lingkungannya, maka akan
    muncul rasa asing dan tidak nyaman di tempat kerja. Produktivitas
    cenderung lebih tinggi ketika seseorang merasa bahagia, dihargai,
    dan memiliki relasi positif dengan rekan kerja. Sebaliknya, ketika
    interaksi sosial minim, dukungan antarpegawai melemah sehingga
    menimbulkan rasa frustrasi, kecemasan, marah, serta perasaan
    tidak dihormati. Oleh karena itu, hubungan sosial yang sehat
    melalui kegiatan sederhana seperti berbagi cerita atau bercanda
    sangat penting untuk membangun solidaritas.
  5. Treated Fairly, ketidakadilan dalam lingkungan kerja juga menjadi
    salah satu penyebab munculnya kejenuhan kerja. Keadilan berarti
    adanya sikap saling menghormati dan penerimaan terhadap
    perbedaan. Ketika pekerja merasa diperlakukan tidak adil,
    misalnya saat proses promosi jabatan atau ketika dituduh bersalah
    tanpa alasan yang jelas, kepercayaan terhadap lingkungan kerja
    pun menurun. Sebaliknya, rasa keadilan mampu menumbuhkan
    keterikatan dan kepercayaan terhadap komunitas kerja.
  6. Dealing with Conflict Values, kadang pekerjaan menuntut
    seseorang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip
    atau nilai hidupnya. Contohnya, seorang tenaga penjual mungkin
    terdorong untuk menyampaikan informasi yang tidak sepenuhnya
    benar demi meningkatkan penjualan. Situasi seperti ini dapat
    mengurangi kualitas serta kinerja karena bertolak belakang dengan
    integritas pribadi. Individu akan bekerja dengan lebih baik apabila
    apa yang dilakukan selaras dengan nilai dan keyakinan yang
    dijunjung, sehingga integritas serta rasa hormat terhadap diri
    sendiri tetap terjaga

Kejenuhan Kerja


Kejenuhan kerja menurut Maslach dan Leiter merupakan sindrom
psikologis dari kelelahan emosional, depresionalisasi, dan penurunan prestsi
kerja yang muncul di antara individu-individu yang bekerja dengan orang
lain. Kejenuhan kerja menurut Dharma suatu sindrom kelelahan
emosional, fisik, dan mental berhubungan dengan rendahnya perasaan harga
diri, disebabkan penderitaan stress yang intens dan berkepanjangan(33).
Kejenuhan kerja merupakan representasi dari sindrom stress secara
psikologis, yang menunjukan respon negatif sebagai hasil dari tekanan-
tekanan pekerjaan.
Kejenuhan kerja yaitu keadaan stress secara psikologis yang sangat
ekstrem sehingga individu mengalami kelelahan emosional dan motivasi
yang rendah untuk bekerja. Kejenuhan kerja dapat merupakan akibat dari
stress kerja yang kronis. Maslach dan Leiter berpendapat bahwa kejenuhan
kerja merupakan reaksi emosi negatif yang terjadi dilingkungan kerja,
ketika individu tersebut mengalami stress yang berkepanjangan (15). Anisa
menjelaskan kejenuhan kerja merupakan sindrom psikologis yang meliputi
kelelahan, depersonalisasi dan menurunnya kemampuan dalam melakukan
tugas-tugas rutin seperti mengakibatkan timbulnya rasa cemas, depresi, atau
bahkan dapat mengalami gangguan tidur.
Noviawati menyatakan kejenuhan kerja biasanya terjadi karena
adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan pekerja, ketika adanya
perbedaan yang sangat besar antara individu yang bekerja dengan
pekerjaannya akan mempengaruhi performasi kerja (11)

Indikator Self Efficacy


Self-efficacy muncul secara bertahap melalui pengalaman kemampuan
kognitif, sosial, bahasa, dan keterampilan fisik yang kompleks. Efikasi diri
yang dimiliki seseorang berbeda-beda dan dapat dilihat berdasarkan
beberapa aspek. Bandura menyatakan terdapat tiga aspek dimensi dalam
efikasi diri antara lain (10):

  1. Magnitude
    Magnitude menggambarkan tingkat kesulitan tugas yang diyakini
    dapat diselesaikan oleh perawat. Perawat dengan magnitude tinggi
    akan lebih percaya diri menghadapi tugas-tugas kompleks seperti
    menangani pasien gawat darurat atau melakukan tindakan medis
    dengan tingkat risiko tinggi. Hal ini berdampak positif terhadap
    kinerja, karena perawat mampu menyelesaikan tanggung jawabnya
    secara efektif meskipun dalam kondisi menekan. Indikator yang
    menunjang akan terciptanya dimensi ini yaitu:
    a. Mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.
    b. Dapat menyelesaikan tugas dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
    c. Pantang menyerah dengan kesulitan yang dihadapi.
    d. Menghindari tugas di luar batas kemampuan.
    e. Selalu menghadapi kesulitan dan berusaha menanganinya.
  2. Strength
    Dimensi ini berhubungan dengan derajat kemantapan individu
    terhadap keyakinannya (32). Strength mencerminkan seberapa kuat
    keyakinan perawat terhadap kemampuannya sendiri. Jika self-efficacy
    strength tinggi, perawat tidak mudah menyerah ketika menghadapi
    hambatan seperti beban kerja berlebih atau pasien dengan kondisi
    sulit. Kekuatan keyakinan ini membantu mereka tetap fokus,
    konsisten, dan menunjukkan performa kerja yang stabil. Dimensi ini
    berkaitan dengan dimensi magnitude, dimana makin tinggi taraf
    kesulitan tugas yang dihadapi maka akan makin lemah keyakinan
    yang dirasakan untuk menyelesaikannya.
    Pada dimensi ini, semangat kerja dan ketegasan menjadi aspek utama
    yang membangun dimensi ini, adapun indikator antara lain:
    a. Selalu ingin mendalami pengetahuan.
    b. Tekun dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tuntas.
    c. Mempunyai harapan yang tinggi pada setiap tugas yang
    dikerjakan.
  3. Generality
    Generality berkaitan dengan sejauh mana keyakinan diri perawat
    dapat diterapkan di berbagai situasi dan konteks pekerjaan. Perawat
    dengan generality tinggi mampu beradaptasi di berbagai ruang
    perawatan atau jenis pasien yang berbeda, karena mereka percaya
    bahwa kemampuan yang dimiliki dapat digunakan di berbagai
    kondisi. Hal ini meningkatkan fleksibilitas dan kualitas pelayanan,
    yang pada akhirnya memperkuat kinerja secara keseluruhan.
    Pada dimensi ini, fokus pada kesungguhan bekerja menjadi aspek
    yang membangun dimensi ini, indikator pada dimensi ini antara lain:
    a. Memiliki keyakinan bahwa usaha yang dilakukan dapat mencapai
    tujuan dan tuntutan yang harus dicapai.
    b. Mampu memecahkan masalah.
    c. Memiliki keyakinan diri atas kemampuan yang dimiliki dalam
    menghadapi berbagai macam tugas

Faktor yang mempengaruhi Self Efficacy


Faktor yang mempengaruhi self efficacy menurut Pudjiastuti dalam
jurnalnya antara lain :

  1. Faktor Orientasi kendali diri
    Self efficacy merujuk pada keyakinan diri dalam menyelesaikan
    suatu masalah dan orientasi kendali diri yang sempurna dapat
    mengembangkan self efficacy yang positif dan dapat
    mengembangkan cara-cara yang sukses dalam mencapai tujuan.
  2. Faktor Situasional
    Self efficacy sangat bergantung pada kondisi kontekstual dan
    situasional. Beberapa situasi yang dihadapi dapat membawa resiko
    yang tinggi dan membutuhkan keterampilan yang tinggi sehingga
    timbul self efficacy yang bervariasi dalam setiap diri individu.
  3. Status atau peran individu
    Seorang individu yang memiliki status social yang lebih tinggi
    dilingkungannya atau kelompoknya maka menghasilkan self
    efficacy yang tinggi.
  4. Faktor insentif eksternal atau reward
    Reward yang diberikan individu ke individu yang lain akan
    mempengaruhi self efficacy. Dimana semakin banyak reward yang
    diterima individu ketika menyelesaikan tugas maka semakin tinggi
    juga self efficacy nya

Self-efficacy


Efikasi diri merujuk pada konsep yang terdiri dari dua kata, yaitu
“self” yang mengacu pada aspek kepribadian, dan “efficacy” yang mengacu
pada penilaian individu terhadap kemampuan mereka untuk melakukan
tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, dan mampu atau tidak
mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang diberikan.
Konsep self efficacy dikenal juga sebagai bagian dari teori kognitif sosial.
Teori ini merujuk pada penelitian Priyantika dimana keyakinan individu
akan kemampuannya dalam mengerjakan tugas yang dipercayakan
kepadanya (22).
Menurut Ambarita & Hanafi menjelaskan bahwa efikasi diri merujuk
pada keyakinan seseorang mengenai kemampuannya dalam menyelesaikan
tugas, dan bahwa individu merasa kompeten dan efektif dalam
melakukannya (28). Konsep efikasi diri juga terkait dengan kemampuan
individu untuk menghadapi situasi tertentu, serta penilaian atas kemampuan
dan keterampilannya dalam melakukan tindakan yang terkait dengan tugas
tertentu.
Firdaus, dkk menyatakan bahwa self-efficacy memiliki pengaruh
penting terhadap perilaku individu (29). Pertama, efikasi diri dapat
mempengaruhi pilihan dan tindakan individu dalam menjalankan tugas
ketika individu merasa kompeten dan percaya diri. Kedua, efikasi diri
mempengaruhi seberapa keras individu berusaha, seberapa lama individu
bertahan dalam menghadapi rintangan, dan seberapa teguh individu dalam
menghadapi situasi yang sulit. Sedangkan Rahmadani dkk,. menyatakan
bahwa self efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan
dirinya dalam melakukan aktivitas atau tindakan tertentu, yang diperlukan
untuk mencapai suatu keberhasilan(30). Dari beberapa definisi sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa self-efficacy atau efikasi diri adalah penilaian
individu terhadap kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas dalam
situasi tertentu, serta kekuatannya untuk mengatasi hambatan- hambatan
yang mungkin muncul dalam proses pengerjaan tugas tersebu

Hubungan Kualitas Produk dan Brand Image Terhadap KeputusanPembelian


Menurut Kotler (2013), kualitas produk adalah kemampuan suatu produk
untuk melaksanakan fungsinya, meliputi daya tahan, keandalan, ketepatan,
kemudahan operasi dan perbaikan serta atribut bernilai lainnya. Upaya yang
dilakukan untuk mencapai mutu dan memberikan pelayanan yang unggul tidak
akan ada artinya jika pelanggan tidak merasa puas dengan kualitas produk. Dari
sini dapat dilihat bahwa kualitas produk yang dihasilkan sangat berpengaruh
terhadap keputusan pembelian konsumen. Citra merek mengacu pada skema
memori akan sebuah merek, yang berisikan interpretasi konsumen atas atribut,
kelebihan, penggunaan, situasi, para pengguna, dan karakteristik pemasar dan/atau
karakteristik pembuat dari produk/merek tersebut. Citra merek adalah apa yang
konsumen pikirkan dan rasakan ketika mendengar atau melihat nama suatu merek

Indikator kinerja perawat


Marwansyah dkk,. Indikator untuk mengukur kinerja karyawan,
adalah sebagai berikut (25):

  1. Kualitas Kerja
    Gambaran keterkaitan hasil kerja yang berkaitan dengan kerapihan,
    ketelitian dengan tidak mengabaikan tugas pekerjaan. Noor Riadi
    menyebutkan bahwa kualitas pekerjaan yang baik dan kemampuan
    karyawan dapat menghindari terjadinya kesalahan dalam
    menyelesaian suatu pekerjaan sehingga dapat bermanfaat bagi
    kemajuan perusahaan (26). Indikator dari dimensi ini meliputi :
    a. Rapi dalam menyelesaikan suatu tugas dengan hasil kerja.
    b. Ketelitian dengan meminimalisir kesalahan saat mengerjakan
    tugas.
    c. Keterampilan dan kemampuan yang dapat dicurahkan dengan
    baik dalam dalam bekerja.
  2. Kuantitas Kerja
    Niswati dkk,. Jumlah pekerjaan yang dicapai atau jumlah pekerjaan
    yang mampu diselesaikan dalam satu waktu sehingga efisiensi dan
    efektivitas sesuai dengan tujuan perusahaan . Indikator dari
    dimensi ini meliputi :
    a. Rasa tanggung jawab dalam melaksanakan kerja.
    b. Kecepatan dalam bertindak enyelesaikan perkerjaan yang
    dihadapi.
  3. Tanggung jawab
    Sikap menerima dan melaksanakan pekerjaannya, seberapa besar
    pegawai dapat mengambil keputusan dan mempertanggung jawabkan
    hasil kerja. Indikator dari dimensi ini meliputi:
    a. Menerima dan melaksanakan pekerjaan dengan mengerjakan dan
    menyelesaikan pekerjaan secara optimal
    b. Mengambil keputusan mengenai pekerjaan yang dihadapi.
  4. Kerjasama
    Kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dengan karyawan yang lain
    secara vertikal dan horizontal baik di dalam maupun diluar pekerjaan
    sehingga pekerjaan akan semakin baik. Adapun indikatornya dapat
    diukur dengan melihat seberapa seorang karyawan bisa bepartispasi
    dengan karyawan lainnya.
  5. Inisiatif
    Memiliki kesadaran tinggi akan membantu perusahaan dalam
    mengatasi masalah pekerjaan tanpa menunggu arahan dari atasan,
    mengedepankan tanggung jawab atas kewajiban pekerjaan. Indikator
    dari dimensi ini yaitu kemandirian dalam melakukan suatu pekerjaan

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian

Tjiptono (2016) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan
suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, meliputi daya tahan, keandalan,
ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan serta atribut bernilai lainnya.
Keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau
tidak terhadap produk. Oleh karena itu, pengambilan keputusan pembelian
konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif
penyelesaian masalah dengan tindak lanjut yang nyataKualitas produk
menggambarkan produk tersebut dapat memberikan sesuatu yang dapat
memuaskan konsumen. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus
diusahakan oleh setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing di
pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keininan konsumen. Jika pelanggan sudah
tidak mempercayai kualitas suatu produk, maka mereka akan menghentikan
pembeliannya dengan perusahaan yang memiliki produk yang sejenis.

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Brand Image


Menurut Kotler (2013), variabel kualitas produk yang ada pada suatu
produk memberikan tingkat brand image value yang sangat tinggi dalam diri
pelanggan. Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk
untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan
kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya. Tingkat nilai
brand image yang tinggi konsumen juga akan memberikan manfaat bagi pihak
perusahaan. Manfaat yang muncul adalah hasil positif yang diberikan konsumen
terhadap apa yang telah konsumen rasakan setelah melakukan pembelian.

Faktor yang mempengaruhi kinerja perawat


Gibson menjelaskan faktor yang mempengaruhi kinerja perawat dapat
dibagi menjadi dua bagian yaitu :

  1. Faktor personal ferdiri dari faktor demografi dan kompetensi:
    keterampilan dan kompetensi perawat dan faktor psikologis yang
    terdiri dari sikap, kepribdaian, motivasi dan kepuasan kerja.
  2. Faktor organisasi yang terdiri dari kepemimpinan,
    kompensasi,mdisiplin, desain kerja, struktur organisasi, system
    pengawasan dan manajemen kar

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Laksana (2010), keputusan pembelian konsumen dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1) Kualitas Pelayanan yaitu tindakan atau kegiatan yang dilakukan untuk
memuaskan konsumen.
2) Harga yaitu suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau
barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa
bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu
3) Kualitas Produk yaitu kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan
operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya.
4) Promosi yaitu upaya untuk memberitahukan atau menawarkan produk
atau jasa pada dengan tujuan menarik calon konsumen untuk membeli
atau mengkonsumsinya.
5) Lokasi yaitu letak atau tempat dimana fenomena geografi terjadi.
6) Brand image adalah apa yang konsumen pikirkan dan rasakan ketika
mendengar atau melihat sebuah brand

Perilaku Pasca Pembelian


Konsumen akan mempengaruhi perilaku konsumen berikutnya. Jika
konsumen merasa puas maka ia akan menunjukkan kemungkinan yang lebih
tinggi untuk membeli produk itu lagi. Konsumen yang merasa puas cenderung
akan mengatakan hal-hal yang baik mengenai suatu produk terhadap orang lain.
Sebaliknya apabila konsumen merasa tidak puas, maka konsumen akan
memungkinkan melakukan salah satu dari dua tindakan ini yaitu membuang
produk atau mengembalikan produk tersebut atau mereka mungkin berusaha
untuk rnengurangi ketidakpuasan dengan mencari informasi yang mungkin
memperkuat nilai produk tersebut.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian didasarkan pada penilaian yang dibentuk mengenai
nilai pemasaran yang dilakukan pemasar. Proses pengambilan keputusan
pembelian pada setiap orang pada dasarnya adalah sama, hanya saja semua proses
tersebut tidak semua dilaksanakan oleh para konsumen. Berdasarkan tujuan
pembelian, konsumen dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu
konsumen akhir atau individual dan konsumen organisasional atau konsumen
industrial. Konsumen akhir terdiri atas individu dan rumah tangga yang bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau untuk dikonsumsi. Sedangkan konsumen
organisasional terdiri atas organisasi, pemakai industri, pedagang dan lembaga
non-profit, tujuan pembeliannya adalah untuk keperluan bisnis atau meningkatkan
kesejahteraan anggotanya.

Pengenalan Kebutuhan


Menurut Engel (2014:73), mengklasifiasikan kebutuhan secara
sistematik kedalam lima kategori sebagai berikut:
1) Kebutuhan yang paling pokok, seperti sandang, pangan, dan papan.
2) Kebutuhan Rasa Aman, Jika kebutuhan fisiologis terpenuhi maka
kebutuhan rasa aman muncul menggantikannya. Hal ni menjadi
kebutuhan yang berusaha dipenuhi. Oleh sebab itu, kebutuhan ini akan
memotivasi seseorang seperti jaminan keamanan.
3) Kebutuhan Sosial, Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi
maka kebutuhan itu tidak lagi memotivasi perilaku. Selanjutnya,
kebutuhan sosial yang menjadi motivasi aktif perilaku seperti afiliasi,
memberi dan menerima kasih sayang serta persahabatan.
4) Kebutuhan Ego, Kebutuhan yang berkaitan dengan kehormatan diri,
reputasi seseorang seperti pengakuan, dan penghormatan.
5) Kebutuhan Perwujudan Diri, Kebutuhan yang hanya mulai
mendominasi perilaku seseorang jika semua kebutuhan pada tingkat
yang lebih rendah terpenuhi. Kebutuhan tersebut, merupakan
kebutuhan yang dimiliki semua orang untuk menjadi orang yang
memiliki kemampuan untuk mewujudkan seperti pegawai yang
mengikuti kuliah untuk mencapai jenjang pendidikan lebih tinggi.

Konsep Keputusan Pembelian


Menurut Doublert (2014:82), pelanggan dalam memutuskan pembelian
suatu produk ada dua kepentingan utama yang diperhatikannya yaitu:
a) Keputusannya pada ketersediaan dan kegunaan suatu produk.
Konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk, jika
produk yang ditawarkan tersebut tersedia dan bermanfaat baginya.
b) Keputusan pada hubungan dari produk atau jasa, konsumen akan
memutuskan untuk membeli suatu produk jika produk tersebut
mempunyai hubungan dengan yang diinginkan konsumen. Keputusan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen melalui beberapa tahap
yaitu: tahap pengenalan kebutuhan, tahap pencarian informasi, tahap
evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan terakhir tahap perilaku
setelah pembelian

Pengertian Keputusan Pembelian


Berdasarkan tujuan pembelian, konsumen dapat diklasifikasikan menjadi
dua kelompok yaitu konsumen akhir atau individual dan konsumen organisasional
atau konsumen industrial. Konsumen akhir terdiri atas individu dan rumah tangga
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau untuk dikonsumsi.
Sedangkan konsumen organisasional terdiri atas organisasi, pemakai industri,
pedagang dan lembaga non-profit, tujuan pembeliannya adalah untuk keperluan
bisnis atau meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Menurut Laksana (2010),
keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah
satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada. Proses pengambilan keputusan
pembelian pada setiap orang pada dasarnya adalah sama, hanya saja semua proses
tersebut tidak semua dilaksanakan oleh para konsumen. Menurut Kotler
(2013:175), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau
membeli atau tidak terhadap produk.
Menurut Barata (2014 : 180), perilaku konsumen dalam proses
pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian akan diwarnai oleh ciri
kepribadiannya, usia, pendapatan dan gaya hidupnya. Proses keputusan pembelian
terdiri lima tahap yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi
alternatif, keputusan pembelian, paska pembelian. Menurut Cravens (2016:56),
Keputusan pembelian menunjuk arti kesimpulan terbaik konsumen untuk
melakukan pembelian. Konsumen melakukan kegiatan-kegiatan dalam mencapai
kesimpulannya. Kualitas setiap kegiatan membentuk totalitas kesimpulan terbaik
sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya

Indikator Citra Merek (Brand Image)


Menurut Kotler (2013:349), indikator-indikator citra merek adalah sebagai
berikut :
1) Atribut
Suatu merek dapat mengingatkan pada atribut-atribut tertentu
2) Manfaat
Atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan
emosional.
3) Nilai
Suatu merek juga mengatakan sesuatu tentang nilai produsennya.
Menurut Sunarto (2014:18), indikator-indikator citra merek adalah sebagai
berikut:
1) Atribut produk (product attribute), merupakan hal-hal yang berkaitan
dengan merek tersebut sendiri, seperti kemasan, rasa, harga, dan lain-
lain.
2) Keuntungan konsumen (consumer benefits), merupakan kegunaan
produk dari merek tersebut.
3) Kepribadian merek (brandpersonality), merupakana sosiasi yang
mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut adalah
manusia.

Kinerja


Kinerja sering dimaknai sebagai hasil atau pencapaian dari suatu
tugas, di mana setiap karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya harus
berpedoman pada program kerja organisasi. Hal ini bertujuan untuk
menunjukkan sejauh mana tingkat kinerja organisasi dalam mewujudkan
visi, misi, serta tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja menurut Syamsyu
dkk,. adalah suatu bentuk usaha kegiatan atau program yang diprakarsai dan
dilaksanakan oleh pemimpin organisasi atau perusahaan untuk
mengarahkan dan mengendalikan prestasi karyawan (21).
Menurut Simamora et.al, kinerja perawat merupakan bentuk
pencapaian atau prestasi kerja yang ditunjukkan oleh perawat dalam
menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga menghasilkan
keluaran (output) yang optimal bagi organisasi, tenaga keperawatan itu
sendiri, maupun pasien dalam kurun waktu tertentu. Sementara itu, Suriana
menjelaskan bahwa kinerja perawat mencerminkan kemampuan profesional
yang meliputi aspek intelektual, teknikal, interpersonal, dan moral. Perawat
dituntut untuk bertanggung jawab dan memiliki kewenangan dalam
memberikan asuhan keperawatan secara optimal, guna mencapai tujuan
pelayanan kesehatan serta sasaran unit organisasi, tanpa terpengaruh oleh
kondisi dan situasi yang dihadapi.
Sedangkan menurut Wahyudi menyebutkan kinerja perawat adalah
serangkaian kegiatan perawat yang memiliki kompetensi yang dapat
digunakan dan ditunjukkan dari hasil penerapan pengetahuan, keterampilan
dan pertimbangan yang efektif dalam memberikan asuhan keperawatan.
Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa
kinerja perawat adalah hasil kerja perawat dalam melaksanakan tugas
profesionalnya dengan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap untuk mencapai tujuan pelayanan kesehatan