Menurut Kartika et al., (2018) ada beberapa faktor yang mempengaruhi self efficacy
yaitu :
- Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experineces)
Keberhasilan yang akan didapatkan dalam meningkatkan self efficacy yang
dimiliki seseorang, sebaliknya jika mengalami kegagalan maka
menurunkan self efficacy. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang
lebih besar karena faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa
pengaruh terhadap peningkatan self efficacy dan jika keberhasilannya
terdapat hambatan yang besar dan hasil dari perjuangan sendiri maka itu
membawa pengaruh pada peningkatan self efficacy. - Pengalaman Orang Lain (Vicarious Experiences)
Keberhasilan pengalaman ini memiliki kemiripan dengan individu dalam
mengerjakan tugas yang akan meningkatkan self efficacy seseorang dalam
mengerjakan tugas yang sama. Self efficacy tersebut didapat melalui social
models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan
tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk
melakukan modeling dan self efficacy tidak terlalu berpengaruh bila model
yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model. - Informasi (Information)
Dengan adanya informasi ini bisa membuat lebih fokus untuk memberikan
upaya yang terbaik dalam mengatasi keraguan diri. Informasi yang
disampaikan secara verbal oleh seseorang tentang kemampuan yang
biasanya berpengaruh digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa
cukup melakukan suatu tugas dan membantu tujuan yang diinginkan. - Keadaan Fisiologis dan Emosional (Physiological and Emotional States)
Kecemasan dan stres yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan
tugas sering diartikan suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang
cenderung mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai
dengan ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan
lainnya. Self efficacy yang tinggi biasanya ditandai dengan rendahnya
tingkat stres dan kecemasan, sebaliknya self efficacy yang rendah ditandai
dengan tingkat stres dan kecemasan yang tinggi
