Tujuan Pemberian Merek (Brand)


Sebuah perusahaan menggunakan merek untuk produknya karena mereka
mendapatkan manfaat dari pemakaian merek produk. Hurriyanti (2015:37)
berpendapat bahwa sebuah merek memiliki beberapa peran, antara lain :

  1. Merek memudahkan dalam proses pemesanan dan penelusuran suatu
    produk
  2. Merek membantu untuk mengatur persediaan dan pencat atan akutansi
  3. Merek menawarkan perlindungan hukum atas aspek atau keunikan
    produk yang dimiliki
  4. Merek menandakan suatu kualitas tertentu sehingga pembeli yang puas
    akan melakukan pembelian ulang
  5. Merek menjadi suatu sarana yang kuat untuk mengaman kan
    keunggulan kompetitif
    Bagi konsumen atau pembeli, merek produk pun berperan penting dalam
    keputusan pembelian. Ratnasari (2013:83) Karena merek dapat memberikan
    manfaat kepada konsumen/pembeli sebagai berikut:
    1) Merek membantu menarik perhatian konsumen atas suatu produk yang
    baru yang dapat memberikan keuntungan bagi mereka.
    2) Merek dapat menunjukkan mutu atau kualitas produk kepada
    konsumen/pembeli (merek sebagai indikator kualitas).
    3) Merek dapat meningkatkan efisiensi proses pembelian konsumen. Hal ini
    berkaitan erat dengan fungsi merek sebagai indikator kualitas. Otomatis
    merek pun sebagai indikator karakteristik produk.
    Arnould (2013:6), dengan merek, konsumen memiliki “memori” tentang
    suatu produk. Sehingga dalam pembelian selanjutnya, konsumen cukup berbekal
    nama merek yang ada dalam memorinya. Jika semua barang atau supermarket
    tidak bermerek misalnya, maka pembeli harus mengeluarkan banyak energi
    untuk mencium, menyentuh/meraba maupun mencicipi tiap-tiap produk untuk
    mengetahui tingkat mutu produk tersebut.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Merek (Brand Image)


Menurut Kotler (2013:240), faktor-faktor yang mempengaruhi citra merek
yaitu sebagai berikut:
1) Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk yang ditawarkan
oleh produsen dengan merek tertentu.
2) Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat dan
kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
yang dikonsumsi.
3) Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen
4) Pelayanan, yang berkaitan dangan tugas produsen dalam melayani
konsumennya.
5) Kualitas produk yaitu produk yang sesuai dengan yang disyaratkan
atau distandarkan
6) Resiko berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh konsumen.
7) Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
suatu produk, juga dapat mempengaruhicitra berkaitan dengan tinggi
rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang jangka panjang.
8) Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa pelanggan,
kesempatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari
produk tertentu

Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan


Gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi kinerja karyawan, karena
gaya kepemimpinan dapat mendorong kemampuan pegawainya untuk dapat
bekerja sesuai keinginan dan juga upah gaji yang diberikan, memperhatikan proses
yang dilakukan bawahan dalam penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang telah
diberikan Wulandari et al (2021:3).
Dalam penelitian Dewi et al (2017:9) didalam sebuah organisasi
dibutuhkan seseorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang dapat
memajukan organisasi tersebut. Gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap
organisasi atau perusahaan. Gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor
dalam rangka peningkatan kinerja karyawan, karena pada dasarnya pemimpin
sebagai tulang punggung pengembangan organisasi untuk mendorong dan
memengaruhi semangat kerja yang baik kepada karyawan. Pada sebuah koperasi
peran kepemimpinan dibutuhkan sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam
pencapaian visi dan misi suatu organisasi. Fungsi kepemimpinan dalam organisasi
merupakan elemen yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Selain memberikan pengarahan, juga memberikan motivasi dalam upaya
peningkatan kinerja karyawan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa gaya
kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dapat disimpulkan
bahwa semakin baik gaya kepemimpinan yang ada maka akan semakin baik juga
kualitas kinerja karyawan

Pengertian Citra Merek (Brand Image)


Tanda merek adalah sebagian dari merek yang dapat dikenali, namun
tidak dapat diucapkan seperti misalnya, lambang, desain, huruf atau
warna khusus. Contohnya adalah tiga berlian dari Mitsubishi.
3) Tanda Merek Dagang (Trademark)
Tanda merek dagang adalah merek atau sebagian dari merek yang
dilindungi oleh hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan
sesuatu yang istimewa. Tanda merek dagang ini melindungi penjual
dengan hak istimewanya untuk menggunakan nama merek dan atau
tanda jasa.
4) Hak Cipta (Copy Right)
Hak cipta adalah hak istimewa yang dilindungi oleh undang-undang
untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual karya tulis ataupun
karya seni

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Motivasi kerja dapat mempengaruhi kinerja karyawan dengan adanya
motivasi dalam diri pegawai pada setiap individu pegawai atau karyawan
berkeinginan untuk bekerja keras dan semangat dalam menyelesaikan pekerjaannya
sehingga akan menghasilkan produktivitas yang sangat baik untuk perusahaan dan
juga kinerja karyawan Wulandari et al (2021:3).
Menurut Syagufta (2017:333) dalam Asnawi (2020:3) menyatakan
bahwa motivasi kerja adalah seperangkat faktor internal maupun eksternal yang
sifatnya sebagai pendorong dari berbagai perilaku yang berhubungan dengan
pekerjaan sekaligus mempengaruhi baik buruknya hasil kerja yang dicapai.
Kurangnya motivasi bagi karyawan dalam bekerja akan dapat mempengaruhi
kinerja mereka, motivasi diyakini merupakan sebagai dorongan yang mampu
menimbulkan rasa percaya diri bagi karyawan serta dapat menimbulkan Hasrat
untuk bekerja dengan baik secara konsistensi. Hasil penelitian ini menyatakan
bahwa pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan berpengaruh positif. Dan
dapat disimpulkan bahwa dengan semakin baik motivasi yang akan diterapkan oleh
perusahaan maka akan baik juga motivasi yang akan diterapkan oleh kinerja
karyawan yang ada dalam perusahaan

Pengertian Merek (Brand)


Sebuah merek yang terkenal dan terpercaya merupakan aset yang tidak
ternilai. Keahlian yang paling unik dari pemasaran yang professional adalah
kemampuannya untuk menciptakan, memelihara, melindungi, dan meningkatkan
merek. Merek adalah cara membedakan sebuah nama atau simbol seperti logo,
trademark, atau desain kemasan yang dimaksudkan untuk
mengidentifikasikan produk atau jasa dari satu produsen atau satu kelompok
produsen dan untuk membedakan produk atau jasa itu dari produsen pesaing.
Undang-Undang Merek Nomor.15 Tahun 2001 Pasal 1 Ayat 1 menyatakan
bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar, nama kata, huruf-huruf, angka-
angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki
daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.
Definisi ini memiliki kesamaan dengan definisi versi American Marketing
Association yang menekankan peranan merek sebagai identifier dan
differentiation. Merek sangat bermanfaat bagi konsumen dan produsen. Menurut
Lucas (2012:84), ada (enam) makna yang bisa di sampaikan melalui suatu merek,
yaitu:
1) Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan
produk bagi perusahaan.
2) Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik Signal
tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa
dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu. Signal tingkat
kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan
mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu.
3) Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk
dari para pesaing.
4) Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,
loyalitas pelanggan, dan citra unik yang berbentuk dalam benak
konsumen.
5) Sumber financial returns terutama menyangkut pendapatan masa depan

Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Lingkungan kerja, merupakan komponen yang penting untuk karyawan
atau pegawai perusahaan dalam melaksanakan aktivitas kerja dengan
memperhatikan lingkungan kerja yang baik dan menciptakan kondisi kerja yang
nyaman dan akan memberikan motivasi semangat dalam menyelesaikan pekerjaan
dari kinerja karyawan. Hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa lingkungan
kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dapat disimpulkan bahwa
semakin baik lingkungan kerja yang ada diperusahaan maka semakin baik juga
kinerja karyawan Wulandari et al., (2021:3).
Menurut Moulana (2017:181) dalam Asnawi (2020:3) bahwa suatu
kondisi yang dapat mendukung kinerja karyawan dengan motivasi yang diberikan
oleh perusahaan itu sendiri, agar dapat meningkatkan kinerja karyawan sehingga
hasil dari pekerjaan akan sesuai dengan yang diharapkan.

Indikator kinerja karyawan

Indikator kinerja karyawan menurut Ordunlade jamil dan Raja
(2011:22) dalam Idris et al, (2020:741) yaitu :
a. Kuantitas
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seseorang pegawai bekerja dalam satu
harinya dan dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu masing-
masing.
b. Kualitas
Kualitas kerja adalah suatu hasil yang dapat diukur dengan efektivitas dan
efisiensi suatu pekerjaan dalam pencapaian tujuan atau sasaran perusahaan
dengan baik dan berdaya guna

Indikator Kualitas Produk


Indikator kualitas produk menurut Kotler (2013:149) adalah:
1) Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar
dari sebuah produk.
2) Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk
yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti.
Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka
semakin besar pula daya produk.
3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi
spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada
produk.
4) Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan
konsumen terhadap produk.
5) Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan
bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu.
Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk
tersebut dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan
produk.
7) Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil
dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung
karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau
kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan.
8) Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi,
serta kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.
Kualitas produk merupakan driver kepuasan konsumen yang pertama.
Menurut Lupiyoadi (2015:177), indikator kualitas produk adalah:
1) Kinerja (performance) adalah dimensi yang paling dasar yang
berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan
karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli
barang tersebut. Konsumen akan sangat kecewa apabila harapan
mereka terhadap dimensi ini tidak terpenuhi. Performace pada setiap
produk berbeda-beda tergantung functional value yang dijanjikan
perusahaan.
2) Keandalan (reliability) adalah dimensi kualitas produk yang kedua.
Dimensi performance dan reliability secara sepintas tampak mirip
tetapi memiliki perbedaan yang jelas. Reliability menunjukkan
probabilitas atau kemungkinan produk berhasil menjalankan fungsi-
fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu.
3) Fitur (feature) dapat dikatakan sebagai aspek sekunder. Feature adalah
karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
Karena perkembangan feature hampir tidak terbatas jalannya dengan
perkembangan teknologi, maka feature menjadi target inovasi para
produsen untuk memuaskan konsumen.
4) Daya Tahan (durability) adalah keawetan menunjukkan suatu
pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu.
Produk disebut awet kalau sudah berulang kali digunakan atau sudah
lama sekali digunakan. Yang pertama adalah awet secara teknis dan
yang kedua adalah awet secara waktu. Bagi konsumen, awet secara
waktu lebih mudah dimengerti karena sebagian besar produk yang
menjanjikan keawetan lebih menonjolkan keawetan dalam hal waktu.
Tingkat kepentingan dimensi ini berbeda untuk target pasar yang
berbeda sangat mungkin terjadi pergeseran dari waktu ke waktu karena
perubahan pasar dan persaingan.
5) Kesesuaian (conformance) menunjukkan seberapa jauh suatu produk
dapat menyamai standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang
memiliki conformance yang tinggi berarti sesuai dengan standar yang
telah ditentukan. Salah satu aspek dari conformance adalah
konsistensi

Kinerja Karyawan


Manusia mempunyai potensi untuk bertindak dalam berbagai bentuk
aktivitas. Kemampuan untuk bertindak itu dapat diperoleh manusia baik secara
alami atau ada dalam sejak lahir dan di pelajari. Manusia mempunyai potensi untuk
berperilaku tertentu tetapi perilaku itu hanya diaktualisasi pada saat-saat tertentu
saja. Potensi untuk berperilaku tertentu itu disebut ability (kemampuan), sedangkan
ekspresi dari potensi ini di kenal sebagai performance (kinerja).
Kinerja adalah nilai dari serangkaian perilaku yang berkontribusi, baik
secara positif maupun negative, terhadap tercapainya tujuan organisasi.Wibowo
(2015:2) dalam Badrianto & Ekhsan (2019:8). Penggambaran tingkat pencapaian
pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan tujuan,
sasaran, visi, misi, organisasi yang dituangkan dalam suatu rencana strategis
organisasi. Moeheriono (2012:95) didalam Badrianto & Ekhsan (2019:7). Pegawai
kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai olehseseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya Mangkunegara, (2016:67) didalam Wulandari et al.,
(2021:6

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas adalah karakteristik dari produk dalam kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat laten. Menurut
Lupiyoadi (2015:150) kualitas adalah keunggulan yang dimiliki oleh produk
tersebut. Kualitas dalam pandangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang
lingkup tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen saat
mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal kualitas sebenarnya. Menurut
Prasetijo (2013:143) kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau
jasa yang bergantung pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat. Menurut Sangadji (2013:143) kualitas adalah jaminan
terbaik kami atas loyalitas konsumen, pertahanan terkuat kami menghadapi
persaingan luar negeri, dan satu-satunya jalan untuk mempertahankan
pertumbuhan dan penghasilan. Menurut Laksana (2010:55), kualitas didefinisikan
sebagai keseluruhan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada
kemampuan memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
Sedangkan menurut Peter (2011:33), kualitas merupakan perpaduan antara sifat
dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi
prasyarat kebutuhan pelanggan atau menilai sampai seberapa jauh sifat dan
karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Menurut Lupiyoadi (2015:175) kualitas produk adalah sejauh mana
produk memenuhi spesifikasi-spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan
diukur berdasarkan kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra produk. Konsumen akan merasa
puas apabila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka
gunakan berkualitas. Menurut Kotler (2013:146), kualitas produk adalah
kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan
keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya.

Pengertian Produk


Menurut Kotler (2013:3) produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, digunakan, dibeli ataupun
dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan ataupun kebutuhan yang
diharapkan pemakainya. Ketika konsumen membeli sebuah produk, maka ia
memiliki harapan bagaimana produk tersebut berfungsi (product moment).
Menurut Laksana (2010:49) produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan pada
suatu pasar untuk mendapatkan perhatian untuk dimiliki, penggunaan ataupun
konsumsi yang bisa memuaskan keinginan atau kebutuhan.
Secara garis besar produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada
suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan. Segala sesuatu yang
termasuk ke dalamnya adalah barang berwujud, jasa, events, tempat, organisasi,
ide atau pun kombinasi antara hal-hal yang baru saja disebutkan. Produk juga
merupakan seperangkat kepuasan yang diperoleh konsumen jika mereka
melakukan transaksi (jual beli). Menurut Hamdani (2013:5) produk
diklasifikasikan berdasarkan 3 macam yaitu:
1) Daya Tahan dan Wujud
Daya tahan dan wujud dibedakan kedalam tiga kategori yaitu:
a) Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods)
Barang berwujud yang dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali
penggunaan. Barang konsumsi ini cepat/sering dibeli oleh konsumen.
b) Barang tahan lama (durable goods)
Barang berwujud yang tidak akan habis walaupun sudah digunakan
berkali-kali.
c) Jasa (services)
Produk yang tidak memiliki wujud, tidak dapat dipisahkan dan tidak
akan habis.
2) Barang Konsumen
Berdasarkan kebiasaan belanja dari konsumen, barang konsumen
dibedakan kedalam empat kategori yaitu:
a) Barang sehari-hari (convinience goods)
Barang yang digunakan sehari-hari oleh konsumen, pembelian ulang
cepat dan dengan upaya untuk mendapatkannya kecil.
b) Barang toko (shopping goods)
Barang yang dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga,
dan gaya dalam proses pemilihan dan pembeliannya.
c) Barang khusus (specialty goods)
Barang eksklusif, unik dan mahal yang hanyak bisa dimiliki segelintir
orang saja namun pembeli bersedia melakukan upaya pembelian yang
khusus.
d) Barang yang tidak dicari (unsought goods)
Barang yang tidak diketahui konsumennya, dan seringkali tidak pernah
terpikir oleh konsumen untuk membeli barang tersebut.
3) Barang Industri
Barang industri dibedakan kedalam tiga kategori yaitu:
a) Bahan baku dan suku cadang
Barang yang seluruhnya masuk ke produksi produsen tersebut.
b) Barang modal
Barang tahan lama yang memudahkan pengembangan atau
pengelolaan produk jadi.
c) Perlengkapan dan layanan bisnis
Barang dan jasa berumur pendek yang memudahkan pengembangan
atau pengelolaan produk jadi

indikator gaya kepemimpinan

Jurnal Parashakti & Setiawan (2019:71) indikator gaya kepemimpinan
yaitu sebagai berikut :
a. Kepemimpinan Otoriter.
Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang, sebagian besar
mutlak tetap berada pada pemimpin atau kalau pimpinan itu menganut sistem
sentralisasi wewenang. Proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan
hanya ditetapkan sendiri oleh sang pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan
memberikan saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan
keputusan.
b. Kepemimpinan Delegatif
Kepemimpinan delegatif apabila seorang pemimpin melakukan delegasi
wewenang kepada bawahan dengan lengkap. Dengan demikian, bawahan bisa
mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa di dalam
melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada
bawahan.
c. Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan partisipatif adalah bila dalam kepemimpinannya dilakukan
dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan rasa
loyalitas, dan partisipatif para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar
merasa ikut memiliki perusahaan.
Pada penelitian sekarang menggunakan indikator dari Paais & Pattiruhu
(2020:16) dapat di ukur sebagai berikut:
a. Gaya Kepemimpinan Karismatis
Memiliki daya penarik yang sangat baik karena umumnya memiliki pengikut
yang anggotanya dalam skala besar dan keikutsertaan anggota bersifat buta
serta sangat mematuhi kepada pemimpinnya.
b. Gaya Kepemimpinan demokratis
Kepemimpinan yang mengutamakan pengambilan kebijakan dengan diskusi
kelompok, pemimpin menghargai pendapat setiap anggota organisasi dan
memberikan alternatif prosedur jika terjadi hambatan dalam pelaksanaan
kebijakan.
c. Gaya Kepemimpinan (laissez faire)
Kebebasan penuh diberikan kepada anggota organisasi dengan partisipasi yang
sangat minim dari pimpinan, sehingga dalam pimpinannya hanya
menempatkan dirinya sebagai pengawas tanpa banyak mengatur suatu
kebijakan

Gaya Kepemimpinan


Kepemimpinan merupakan tulang punggung pengembangan
organisasi, karena tanpa kepemimpinan yang baik akan sulit mencapai tujuan
organisasi. Jika seorang pemimpin berusaha untuk mempengaruhi perilaku orang
lain, maka orang tersebut perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Dalam suatu
organisasi kepemimpinan memegang peranan penting, dengan kata lain bahwa
sukses tidaknya pencapaian organisasi di tentukan dengan adanya kulitas
kepemimpinannya.
Kepemimpinan dipahami sebagai kekuatan untuk menggerakkan dan
mempengaruhi karyawannya. Kepemimpinan sebagai saran atau proses untuk
membujuk orang agar bersedia melakukan secara sukarela/sukacita. Dalam suatu
organisasi/perusahaan, factor kepemimpinan memegang peranan penting karena
pemimpin tersebut yang akan menggerakkan dan mengarahkan karyawan dalam
mencapai tujuan organisasi/perusahaan.
Gaya kepemimpinan yang tidak memperdulikan bagaimana bawahan
mengambil keputusan dan melakukan pekerjaannya, diserahkan sepenuhnya
kepada bawahan. Hal ini diperkuat dengan adanya gaya kepemimpinan yang
cenderung kurang memperhatikan proses yang dilakukan bawahan dalam
mendelegasikan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan. Hasibuan
(2014:172) dalam Wulandari et al (2021:8). Norma dan perilaku yang digunakan
oleh seseorang untuk mencoba mempengaruhi perilaku orang lain atau karyawan
dan suatu cara yang digunakan oleh pemimpin dalam berinteraksi dengan
bawahannya Busro (2018:804).

Pengaruh Price Discount Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen


Price Discoount mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan
pembelian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa price discount, seperti diskon,
potongan harga, dan program loyalitas, dapat meningkatkan keputusan pembelian.
bahwa pemberian diskon berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian (Adeliya, 2019). Oleh karena itu, pengusaha perlu memperhatikan
pengaruh price discount terhadap keputusan pembelian dan menciptakan strategi
price discount yang efektif untuk meningkatkan keputusan pembelian

indikator Motivasi Kerja

Pada penelitian sekarang menggunakan indikator dari Kuswati
(2020:998) yaitu sebagai berikut:
a. Prinsip partisipasi
Melibatkan karyawan dengan adanya pendapat yang berbeda dalam
pengambilan keputusan, Terbuka dalam melakukan saran atau ide dari
karyawan.
b. Prinsip komunikasi
Prinsip komunikasi memerlukan tata krama yang disesuaikan dengan lawan
bicaranya, sehingga sikap yang akan dilakukan harus diprediksi terlebih
dahulu, adanya prediksi membuat orang lebih nyaman dan tenang dalam
berkomunikasi.
c. Prinsip saling memperhatikan
Prinsip saling memperhatikan dengan menciptakan suasana kerja yang
harmonis dengan adanya suasana kerja yang harmonis dapat menyebabkan
bekerja dengan nyaman dan tenang, dan juga berusaha untuk memenuhi
kebutuhan karyawan

Motivasi Kerja


Untuk mencapai kinerja yang diharapkan oleh perusahaan dibutuhkan
motivasi pada karyawan. Dengan adanya motivasi dan penilaian kinerja, tujuan
organisasi dapat tercapai serta tercapai pula tujuan pribadi. Pemberian motivasi
kepada seorang merupakan suatu mata rantai yang dimulai dari kebutuhan,
menimbulkan keinginan, menimbulkan Tindakan, dan menghasilkan keputusan.
Dari berbagai tahapan pemberian motivasi, faktor utama yaitu kebutuhan dan
pengarahan perilaku. Pemberian motivasi haruslah diarahkan untuk pencapaian
tujuan organisasi.
Motvasi Kerja merupakan modal dalam menggerakkan dan mengarahkan
pegawai atau pekerja untuk dapat melaksanakan tugasnya masing-masing mencapai
tujuan dengan penuh kesadaran, semangat dan tanggung jawab. Hasibuan
(2008:117) dalam Wulandari et al (2021:3). Motivasi berarti suatu keinginan untuk
merangsang kemauan seseorang untuk bekerja, setiap motif mempunyai tujuan
tertentu yang ingin dicapai Haibuan (2012:191) dalam Badrianto & Ekhsan
(2019:4)
Menurut Maslow (2016:44) dalam Gunawan et al, (2020:6) indikator
motivasi kerja yaitu sebagai berikut :
a. Kebutuhan fisik, ditunjukkan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang
transport, uang makan, fasilitas perumahan, dan sebagainya.
b. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan kerja, yang diantaranya seperti adanya
jaminan social tenaga kerja, tunjangan kesehatan, dana pension, perlengkapan
keselamatan kerja dan asuransi kecelakaan.
c. Kebutuhan sosial, ditunjukan dengan melakukan interaksi dengan orang lain
yang diantaranya kebutuhan untuk diterima dalam kelompok, kebutuhan untuk
mencintai, dan dicintai.
d. Kebutuhan akan penghargaan, ditunjukan dengan pengakuan maupun
penghargaan berdasakan dengan kemampuan yang dimiliki, kebutuhan untuk
dihormati dan dihargai oleh pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi
kerjanya.
e. Kebutuhan perwujudan diri, ditujukan dengan sifat pekerjaan yang menantang
dan menarik, dimana pegawai akan mengerahkan kemampuan, dan potensinya.
Dalam pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh organisasi atau
perusahaan, dengan memberikan pendidikan dan pelatihan.

Pengaruh Product Quality Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen


Product Quality merupakan hal yang penting bagi pengusaha. Product
Quality kerap kali dipakai sebagai indikator nilai bagi pelanggan jika dikaitkan
dengan manfaat yang mereka dapatkan oleh suatu produk. Product Quality menjadi
suatu pertimbangan penting oleh pembeli dalam memilih produk yang berkualitas
dan bernilai tinggi, apabila kualitas yang dihasilkan produk tersebut bagus maka
konsumen akan tertarik untuk melakukan keputusan pembelian, sementara itu,
Produk Quality yang diproduksi jelek maka konsumen tidak berminat dalam
membeli produk tersebut. Produk dengan kualitas tinggi akan membantu
membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen, yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi keputusan pembelian Khitamina et al., (2022).
Dalam penelitian yang dilakukan (Hidayah, 2022) menyatakan bahwa kualitas
produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal tersebut dapat
dijelaskan bahwa setiap peningkatan kepercayaan maka akan dapat meningkatkan
keputusan pembelian. Hal tersebut dipertegas dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh (Yana, 2022; Apriani, 2020) yang menyatakan bahwa Product Quality
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator Lingkungan Kerja

Menurut Jain dan Kaur (2014:24) dalam Idris et al (2020:741) Indikator
lain dari lingkungan kerja adalah sebagai berikut :
a. Lingkungan kerja fisik adalah semua yang berada disekitar tempat kerja yang
dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung.
b. Lingkungan Kerja non-fisik adalah segala keadaan yang berhubungan dengan
hubungan kerja, baik dengan atasan maupun dengan sesame rekan kerja atau
hubungan dengan bawahan.
Pada penelitian sekarang menggunakan indikator lingkungan kerja dari
Sedarmayanti (2011:28) dalam Agung et al (2018:6) yaitu sebagai berikut:
a. Pencahayaan
Pencahayaan ruangan yang baik yaitu penggunaan penerangan yang tepat,
pencahayaan yang sangat terang dapat menyebabkan ruangan panas dan
karyawan cemas.
b. Temperatur Udara
Temperatur udara yang baik yaitu dengan memberi pendingin ruangan pada
setiap ruangan agar suhu udara pada setiap ruangan selalu tetap stabil dingin,
dan sirkulasi udara yang baik dapat menyebabkan karyawan nyaman pada saat
bekerja.
c. Tingkat Kebisingan
Bunyi yang tidak diinginkan dan dapat mengganggu kesehatan dan
kenyamanan manusia yang berada pada lingkungan. Kami meyakini bahwa
kebisingan lingkungan adalah aspek yang perlu diperhatikan karena
dampaknya pada kesehatan publik baik secara langsung maupun tidak
langsung

Hubungan Logis Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis


Variable independent sendiri terdiri dari : Product Quality, Price Discount,
dan Sales Promotion. Sementara itu untuk variable dependen sendiri terdiri dari :
keputusan pembelian.
Keputusan pembelian merupakan hal yang sangat penting bagi pembisnis
kerena dapat meningktkan keuntungan bagi para pembisnis dalam meningkatkan
produk yang dipasarkan. Keputusan dalam pembelian di dasari dengan beberapa
faktor yaitu Product Quality, Price Discount, dan Sales Promotion

Keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah peran pendekatan antara harapan dan kinerja
produk. Apabila kinerja tidak sepadan dengan harapan, maka akan mengecewakan
pembeli, Apabila memenuh harapan konsumen akan merasa puas. Perasaan ini dapat
menentukan jika konsumen membeli produk Kembali dan membicarakan mengenai
hal yang baik atau tidak tentang produk itu kepada orang lain (Saputra, 2020).
Tujuan dari keputusan pembelian adalah untuk memiliki dan menyanggupi
kebutuhan konsumen. Untuk menemukan kesuksesan, pembisnis harus melewati
berbagai variabel yang dapat memengaruhi pembelian dan menumbuhkan
pemahaman tentang bagaimana pelanggan menentukan pilihan pembelian. Nasution
(2022). keputusan pembelian yaitu tingkatan pada suatu proses membuat keputusan
yang mana terjadi pembelian yang sebenarnya oleh pembeli Yana dan Pardi (2022).
Sementara Tjiptono (2016:22) menambahkan keputusan pembelian yaitu salah satu
bentuk perilaku seorang konsumen. Dengan demikian ada aktivitas langsung untuk
mendapatkan, memilih barang atau layanan, bagitu juga proses membuat keputusan
yang terjadi sebelum dan seiring terjadinya kegiatan. Tjiptono (2014) menyebutkan
terdapat lima indikator dalam penentuan keptusan pembelian meliputi:
a) Pemilihan produk,
b) Pemilihan merek
c) Pemilihan Penyalur
d) Waktu pembelian
e) Jumlah pembelian

Sales Promotion


Menurut Amstrong and Kotler (2010) menyatakan bahwa sales promotion
adalah Promosi penjualan yang terdiri dari insentif jangka pendek untuk mengajak
pembelian atau penjualan layanan produk. Sementara itu iklan menawarkan alasan
untuk membeli produk atau jasa, sales promotion alasan untuk membeli sekarang.
Promosi adalah suatu aktivitas komunikasi yang dikerjakan oleh seseorang atau
suatu pengusaha dengan masyarakat luas, dimana tujuannya adalah untuk
memperkenalkan sesuatu (barang/ jasa/ merek/ perusahaan) terhadap masyarakat
dan sekaligus merayu masyarakat luas supaya membeli dan menggunakan
produk tersebut. Ningrum et al., (2023). Sedangkan Tanriady dan Septina (2022)
Sales promotion, seperti pengiriman gratis, obral, atau harga murah dalam waktu
terbatas dapat memicu pembelian impulsif. Promosi berbasis harga tampaknya
mendorong konsumen untuk mengunjungi situs e-commerce yang menawarkan
barang-barang yang dipromosikan, dan kemudian menarik konsumen untuk
melakukan pembelian.
Adapun indikator Sales promotion menurut Tanriady, Inneke (2022) sebagai berikut:
a) Discount
b) Bebas biaya ongkos kirim
c) Kontes permainan
d) Kupon pembelian
e) Pengembalian uang

Price Discount


Dalam kamus besar bahasa Indonesia, diskon berarti potongan harga.
Menurut pemahaman keuangan Price discount merupakan potongan bunga bagi
nasabah yang meminjam uang di bank. Besaran Price discount umumnya dijelaskan
dalam bentuk persentase, jarang diskon dijelaskan dalam bentuk rupiah. Price
discount biasanya diberikan pada umumnya 20 persen, 30 persen, 50 persen, dan 70
persen Dirgantaran, Muh 2019. Price Discount atau Diskon adalah penyusutan harga
dari Price list yang telah ditetapkan oleh pembisnis dalam periode tertentu. Dalam
menentukan Price discount, pastinya pembisnis telah memiliki strategi supaya
potongan harga yang diberikan tidak menimbulkan kerugian dan dapat menarik
pengunjung, baik yang sedang berbelanja ataupun yang hanya melihat-lihat saja
Maryati dan Erveni (2020).
Menurut Widodo dalam Revitria et al., (2023) Price Discount adalah
Sebagian uang yang diserahkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai
yang diganti konsumen atas keuntungan karena telah memiliki atau memakai produk
atau jasa tersebut. Price discount atau diskon yaitu sesuatu yang umum dipergunakan
sebagai daya tarik bagi konsumen untuk membeli dalam jumlah yang cukup banyak.
Sedangkan Arsyani (2019) menyatakan bahwa price discount yaitu poin yang di
share sebagai bentuk penurunan biaya dalam proses pembayaran.Untuk memperoleh
gambaran secara jelas mengenai teori di atas maka sesuai dengan pemecahan
masalah yang ada, dibawah ini akan diuraikan tentang macam-macam atau jenis-
jenis potongan (discount) sebagai berikut yaitu:
a) Potongan kuantitas adalah akibat dari harga tercantum yang ditawarkan oleh
seorang penjual untuk memikat konsumen dalam jumlah yang lebih banyak dari
biasanya. Potongan berdasarkan dalam total pembelian dalam rupiah atau dalam
unit. Potongan kuantitas bisa dikerjakan dengan menggunakan cara yaitu:

  1. Potongan non komulatif
  2. Potongan kumulatif
    b) Potongan fungsional adalah potongan dari Price list yang dipromosikan ke
    konsumen yang diinginkan memiliki fungsi pemasaran.
    c) Potongan kontan adalah potongan harga yang dikasih untuk konsumen sebab
    membayar kontan atau membayar dalam jadwal pelunasan yang telah ditentukan
    sebelumnya. Potngan dihitung dari nilai sisa sesudah dikurang potongan kualitas
    dan potongan dagang dari harga dasar. Setiap potongan kontan mencakup 3
    unsur:
  3. Potongan prosentase
  4. Jadwal pembayaran untuk memperoleh potongan
  5. Batas akhir waktu pelunasarn hutang
    d) Potongan musiman adalah korting yang biasa dipakai oleh para produsen
    musiman seperti jas hujan .
    e) Kelonggaran promosi adalah potongan harga yang diberikan oleh penjual sebagai
    imbalan promosi yang dilakukan oleh pembeli

Product Quality


Product quality adalah salah satu hal penting yang diperhatikan dalam
suatu organisasi atau perusahaan. Kualitas menjadi suatu kebijakan penting
dalam meningkatkan daya saing produk yang bertujuan untuk meghasilkan
konsumen puas dengan produk itu melebihi kualitas produk dari pesaing. Dalam
setiap perusahaan, kualitas menjadi suatu hal yang unggul, berhubungan dengan
waktu yang berjalan cepat, harga jual yang rendah serta kualitas menjadi strategi
dan kunci utama agar fleksibel dalam memenuhi permintaan konsumen tercapai.
Bersamaan dengan, kualitas juga menjadi strategi yang sangat berpotensi dalam
mengalahkan competitor. Pengusaha yang memiliki kualitas produk paling baik
akan tumbuh dengan pesat dan dalam jangka waktu panjang perusahaan tersebut
akan lebih berhasil dibandingkan perusahaan lain (Febriani, 2023).
Menghasilkan dan menjual produk yang berkualitas adalah harapan setiap
perusahaan. Perhatian pada peningkatan kualitas menjadi prosedur penting dalam
meningkatkan daya saing perusahaan. Berbagai perusahaan bersaing memberikan
kualitas melebihi pesaingnya (Chaniago, 2021). Product quality merupakan suatu
keunggulan dalam memberikan berbagai pilihan produk yang berkualitas untuk
dipasarkan dan dapat mempengaruhi keputusan pembelian apabila produk yang
ditawarkan bagus dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen (Hidayah,
2022)
Adapun indikator Product quality menurut (Indah, Hidayah, 2022) sebagai berikut:
a) Fitur, adalah aspek performansi berfungsi untuk memperbanyak fitur dasar,
berupa pilihan – pilihan produk dan pengembangannya.
b) Reliabilitas, adalah berhubungan dengan probabilitas suatu barang, apakah ia
telah berhasil menjalankan fungsinya pada saat digunakan dalam periode waktu
dan kondisi tertentu.
c) Daya tahan, adalah refleksi umur ekonomis berupa masa pakai suatu barang.
d) Kesesuaian dengan spesifikasi, adalah tingkat kemiripan spesifikasi yang
ditetapkan sebelumnya berdasarkan kebutuhan konsumen.
e) Estetika, adalah karakteristik bersifat subyektif atas nilai – nilai estetik, ini terkait
dengan memperhitungkan pribadi dan refleksi dari prefensi individual

Citra Merek terhadap keputusan pembelian


Brand image atau brand description, yakni deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan terhadap
merek tertentu. Brand Image dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul dalam benak
konsumen ketika mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi itu dapat muncul dalam bentuk
citra atau pemikiran tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek (Tjiptono 2005).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Iryanita dan Sugiarto (2013), Adrianto
(2013) menyimpulkan bahwa variabel citra merek berpengaruh positif terhadap keputusan
pembelian.Brand image yang positif akan membuat konsumen menyukai produk dengan
merek yang bersangkutan bagi produsen,brand image yang baik akan membantu kegiatan
perusahaan dalam bidang pemasaran, maka dari itu selain memperhatikan atribut fisik dari
produknya, tugas perusahaan adalah membangun citra merek yang positif agar tingkat
permintaan pembelian terhadap produknya semakin meningkat

Kualitas Pelayanan terhadap keputusan pembelian


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arya (2009), Pelayanan sangat mempengaruhi
berhasil tidaknya penjualan suatu produk maupun jasa karena menyangkut keinginan dan
kebutuhan serta tuntutan pelanggan. Ukuran-ukuran kualitas pelayanan antara lain keandalan,
jaminan, bukti langsung, empati, dan daya tanggap sehingga dampaknya konsumen akan
merasa senang, puas, hingga loyal dan merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain

Kualitas Produk terhadap keputusan pembelian


Kualitas produk menurut Feigenbaum (2000) bahwa kualitas produk adalah keseluruhan
gabungan karakteristik barang dan jasa dari pemasaran, rekayasa, pembuatan dan
pemeliharaan yang memuat produk dan jasa yang digunakan memenuhi harapan
pelanggankualitas produk terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Iryanita dan Sugiarto (2013), Saidani (2013)menyimpulkan bahwa variabel
kualitas produk berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian.Maka dari itu dinyatakan
bahwa agar perusahaan untuk lebih memberikan fokus pada kualitas produk dan
membandingkan dengan produk pesain

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian yakni dimana suatu metode dalam mengambil kepastian ketika
mendapatkan suatubarang atau jasa dengan adanya kesadaran penuh atas harapan dan
keperluan terhadap produk yang ingin dibeli, kemudian konsumen melakukan beberapa
tahapan ketika ingin membeli suatu produk dan sampai dengan tahap pasca pembelian
(Marlina, 2018 : 119). Keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang dikerjakan bagi
seseorang dalam bentuk keinginan dan kebutuhan dari suatu barang yang bisa dipengaruhi
oleh budaya, keluarga maupun lingkungan yang akan mempengaruhi diri sendiri saat
menunaikan belanja suatu barang dalam bentuk barang ataupun jasa (Merentek, 2017).
Indikator Keputusan Pembelian menurut (Gerung, Sepang, 2017) yaitu:

  1. Keinginan Suatu Produk
    Kebutuhan pada suatu barang atau jasa yang bisa dikatakan keinginan seseorang pada sesuatu
    yang belum terpenuhi.
  2. Mengevaluasi Sebelum Membeli
    Memilih beberapa produk sebelum melakukan pembelian agar ketika sudah dibeli tidak akan
    ada penyesalanterhadap produk yang dipilih.
  3. Hasil dari Keputusan Pembelian
    Dimana suatu produk yang telah dipasarkan dengan berbagai macam promosi baik dari merek
    maupun penampilan yang akan menarik konsumen dan terjadi proses pembelian atau tidak
    membeli produk tersebut.
  4. Kepuasan Konsumen
    Setelah dilakukan keputusan pembelian tentunya konsumen sudah memilih barang yang telah
    dibeli dan ada rasa puas setelah memilih barang yang disukai.
  5. Loyal terhadap Produk
    Ketika konsumen membeli barang dan barang tersebut kualitasnya bagus dan disukai oleh
    konsumen, pastinya konsumen tersebut akan membeli pruduknya lagi

Kualitas Pelayanan (Service Quality)


Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan satu pihak
kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan
apapun (Laksana, 2008). Dalam perspektif TQM (Total Quality Management) kualitas
dipandang secara lebih luas, yaitu tidak hanya aspek hasil yang ditekankan, tetapi juga
meliputi proses, lingkungan dan manusia. Tjiptono dan Chandra (2005) menyatakan bahwa
Goetsch & Davis (1994) mendefinisikan kualitas sebagai suatu kondisi dinamis yang
berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan. Menurut Tjiptono dan Chandra (2005), Lewis & Booms mendefinisikan
kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai
dengan ekspektasi pelanggan. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu
perusahaan adalah kemampuan perusahaan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada
konsumen. Kualitas pelayanan (Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua
faktor utama yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima (perceived
service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan (Tjiptono dan Chandra, 2005).
Menurut Lupiyoadi dan Hamdani (2006), Parasuraman dkk (1998) mendefinisikan
kualitas jasa sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas
layanan yang mereka terima. Terdapat lima indikator dalam kualitas pelayanan yang
dikemukakan oleh Parasuraman dkk (1998) yaitu :

  1. Berwujud (tangible)
    Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak
    eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat
    diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari layanan yang
    diberikan oleh para pemberi jasa. Hal ini meliputi fasilitas fisik (contoh : gedung, gudang dan
    lain-lain), perlengkapan dan peralatan yang digunakan (teknologi) serta penampilan
    pegawainya.
  2. Keandalan (reliability)
    Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan sesuai dengan dijanjikan secara
    akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
    waktu, layanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik dan
    dengan akurasi yang tinggi.
  3. Ketanggapan (responsiveness)
    Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan layanan yang cepat (responsive) dan
    tepat kepada pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen
    menunggu, persepsi yang negatif dalam kualitas layanan.
  4. Jaminan dan kepastian (assurance)
    Yaitu pengetahuan, kesopansantunan dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk
    menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa
    komponen anatara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan
    (security), kompetensi (competence) dan sopan santun (courtesy).
  5. Empati (empathy)
    Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan
    kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu
    perusahaan diharapkan memilki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami
    kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi
    pelanggan

Kualitas Produk(Product Quality)


Di dalam menjalankan suatu bisnis, produk maupun jasa yang dijual harus memiliki
kualitas yang baik atau sesuai dengan harga yang ditawarkan. Agar suatu usaha atau
perusahaan dapat bertahan dalam menghadapi persaingan, terutama persaingan dari segi
kualitas, perusahaan perlu terus meningkatkan kualitas produk atau jasanya. Karena
peningkatan kualitas prosuk dapat membuat konsumen merasa puas terhadap produk atau
jasa yang mereka beli, dan akan mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian
ulang.Menurut Kotler (2007), pengertian produk dalam arti yang lebih luas untuk mencakup
segala sesuatu yang diberikan kepada seseorang guna memuaskan suatu kebutuhan atau
keinginan. Konsep produk berpendapat bahwa para konsumen akan menyukai produk-produk
yang memberikan kualitas, penampilan dan ciri-ciri yang terbaik. Manajemen dalam
organisasi yang berorientasi pada produk demikian memusatkan energi mereka untuk
membuat produk yang baik dan terus-menerus meningkatkan mutu produk tersebut.Persepsi
konsumen terhadap kualitas produk, dapat dipengaruhi oleh harga produk. Konsumen
memiliki persepsi, apabila semakin tinggi harga suatu produk maka semakin tinggi pula
kualitas dari produk tersebut. Konsumen dapat mempunyai persepsi seperti itu ketika mereka
tidak memiliki petunjuk atau acuan lain dari kualitas produk, selain harga produk. Namun
sebenarnya persepsi kualitas suatu produk dapat dipengaruhi pula oleh citra perusahaan,
iklan, dan variabel-variabel lainnya.
Mutu produk atau jasa dapat mempengaruhi kepuasan konsumen. Definisi mutu yang
berpusat pada pelanggan sendiri adalah keseluruhan fitur dan sifat produk atau pelayanan
yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat. Kita dapat mengatakan bahwa penjual telah menghasilkan mutu bila produk atau
pelayanan penjual tersebut memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. (Kotler, 2007).
Kotler & Armstrong (2007) berpendapat bahwa kualitas dan peningkatan produk merupakan
bagian yang penting dalam strategi pemasaran. Meskipun demikian, hanya memfokuskan diri
pada produk perusahaan akan membuat perusahaan kurang memperhatikan faktor lainnya
dalam pemasaran. Pengertian produk konsumen adalah produk dan jasa yang dibeli oleh
konsumen dengan tujuan untuk konsumsi pribadi. Pemasar biasanya menggolongkan produk
dan jasa ini berdasarkan cara konsumen membelinya.Untuk mengklasifikasikan jenis-jenis
produk berikut terdapat berbagai jenis-jenis produk antara lain:
a. Produk kebutuhan sehari-hari (convenience product)
Produk kebutuhan sehari-hari biasanya murah harganya dan terdapat di banyak tempat agar
produk itu tersedia ketika pelanggan memerlukannya.
b. Produk belanja (shopping product)
Ketika membeli produk dan jasa ini, konsumen menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga
dalam mengumpulkan informasi dan membuat perbandingan.
c. Produk khusus (specialty product)
Merupakan produk dan jasa konsumen dengan karakteristik unik dimana sekelompok
pembeli bersedia melakukan usaha pembelian khusus.
d. Produk yang tidak dicari (unsought product)
Merupakan produk konsumen yang mungkin tidak dikenal oleh konsumen, atau produk yang
mungkin sudah dikenal konsumen namun konsumen tidak berfikir untuk membelinya.
Ketika konsumen akan mengambil suatu keputusan pembelian, variabel produk
merupakan pertimbangan paling utama, karena produk adalah tujuan utama bagi konsumen
untuk memenuhi kebutuhannya. Jika konsumen merasa cocok dengan suatu produk dan
produk tersebut dapat memenuhi kebutuhannya, maka konsumen akan mengambil keputusan
untuk membeli produk tersebut terus menerus (Nabhan dan Kresnaini, 2005). Menurut
Tedjakusuma, Hartini, dan Muryani (2001), untuk produk yang merupakan kebutuhan pokok
seperti makanan dan minuman, konsumen sangat mempertimbangkan kualitasnya. Karena
merupakan kebutuhan pokok dan sangat berhubungan dengan kesehatan manusia, maka
kualitas produk sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian
produk. Apabila kualitas produk ditingkatkan, perilaku konsumen untuk melakukan
pembelian juga akan meningkat. Definisi dari kualitas produk adalah mencerminkan
kemampuan produk untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan,
atau kemajuan, kekuatan, dalam pengemasan atau reparasi produk dan ciri-ciri lainnya
(Kotler dan Amstrong, 1997). Menurut (Kotler dan Amstrong, 1997) , produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau
di konsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual produk
adalah pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha
untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen,
sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar.
Menurut (Mowen, 1995) kualitas Menurut pendapat ini dapat dinyatakan bahwa
kualitas adalah kesesuaian terhadap karakter dari suatu produk/jasa yang didesain untuk
memenuhi kebutuhan tertentu di bawah kondisi tertentu.Menurut (Handoko, 2002), Kualitas
adalah suatu kondisi dari sebuah barang berdasarkan pada penilaian atas kesesuaiannya
dengan standar ukur yang telah diterapkan. Berdasarkan pendapat ini dapat diketahui bahwa
kualitas produk ditentukan oleh tolak ukur penilaian. Semakin sesuai dengan standar yang
diterapkan dinilai semakin berkualitas.
Menurut (Garvin, 1998) dalam (Istijanto, 2007) mengungkapkan ada delapan indikator
kualitas produk, yaitu :
a) Kinerja (performance)
Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini manfaat atau khasiat
utama produk yang kita beli. Biasanya ini menjadi pertimbangan pertama kali dalam membeli
suatu produk.
b) Fitur Produk
Indikator fitur merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat
dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan bagi konsumen. Kalau manfaat utama sudah sesuai
standar, fitur seringkali ditambahkan. Idenya, fitur bisa meningkatkan kualitas produk kalau
pesaing tidak memiliki.
c) Keandalan (reliability)
Indikator keandalan adalah peluang suatu produk bebas dari kegagalan saat menjalankan
fungsinya.
d) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specification) Conformance adalah
kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam “janji”
yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari indikator ini berarti
sesuai dengan standarnya.
e) Daya Tahan (durability)
Daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk
itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin awet, produk yang
awet akan dipersepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepat habis atau cepat
diganti karena rusak.
f) Kemampuan diperbaiki (serviceability)
Sesuai dengan maknanya, disini kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan
diperbaiki: mudah, cepat, dan kompeten. Produk yang mampu diperbaiki tentu kualitasnya
lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.
g) Keindahan (aestethic)
Keindahan menyangkut tampilan produk yang bisa membuat konsumen suka. Ini sering kali
dilakukan dalam bentuk desain produk atau kemasannya. Beberapa merek diperbaharui
“wajahnya” supaya lebih cantik di mata konsumen.
h) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)
Ini menyangkut konsumen terhadap citra, merek, atau iklan. Produk- produk yang bermerek
terkenal biasanya dipersepsikan lebih berkualitas dibandingkan dengan merek-merek yang
tidak didengar atau diketahui banyak orang.
Menurut (Kotler, 2003) adapun tujuan dari kualitas produk adalah sebagai berikut:
a. Mengusahakan agar barang hasil produksi dapat mencapai standar yang telah
ditetapkan.
b. Mengusahakan agar biaya inspeksi dapat menjadi sekecil mungkin.
c. Mengusahakan agar biaya desain dari produksi tertentu menjadi sekecil mungkin.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi serendah mungkin

Hubungan Self Efficacy (X3) Terhadap Kinerja


Self Efficacy merupakan kepercayaan terhadap kemampuan
seseorang untuk menjalankan tugas artinya Self Efficacy merupakan
variabel yang dapat mempengaruhi kinerja secara langsung.Individu
yang memiliki Self Efficacy tinggi akan mencapai suatu kinerja yang
lebih baik (Setyawan, 2017)

Hubungan Locus Of Control Terhadap Kinerja


“locus of control, a personality characteristic that describes
people who see the control of their lives as coming from inside
themselves as internalizers.” Locus of control adalah suatu
karakteristik personalitas yang menggambarkan seseorang memiliki
kontrol di dalam kehidupan yang berasal dari dalam dirinya. Oleh
karena itu, mereka disebut sebagai faktor internal. Sedangkan
seseorang yang memiliki keyakinan bahwa kehidupan dikontrol oleh
faktor-faktor eksternal disebut faktor eksternal (Gibson dalam Karnati
dan Sibawaihin, 2017).
Karyawan yang memiliki locus of control internal dalam dirinya
dapat meningkatkan kinerjanya karena dalam keputusan-keputusan
dalam pekerjaannya sesuai dengan kemampuan, keahlian, atau usaha
mereka sendiri, sedangkan dalam locus of control eksternal karyawan
selalu terpengaruh dalam hasil pekerjaanya karena dipercaya
terpengaruh nasib dan orang lain.

Harga


Harga juga temasuk kedalam elemen bauran pemasaran yang dapat
menghasilkan pendapatan. Harga merupakan salah satu elemen yang paling
fleksibel dari bauran pemasaran. Tidak seperti sifat-sifat dari produk, dan harga
dapat berubah dengan cepat, dan penjualan melalui proses tawar-menawar,
sehingga terjadi kesepatakan harga tertentu

Hubungan Etos Kerja Terhadap Kinerja


Etos kerja adalah semangat dan sikap batin tetap seseorang atau
sekelompok orang sejauh didalamnya terdapat tekanan moral. Dapat
dikatakan bahwa etos kerja adalah cara pandang seseorang dalam
menyikapi, melakukan dan bertindak dalam bekerja, dengan kemauan
dan perhatian terhadap nilai-nilai serta aturan yang berlaku dalam
sebuah organisasi, instansi maupun perusahaan sehingga pekerjaan
dapat dilaksanakan dengan baik (Lawu,dkk, 2019).
Etos kerja yang tinggi akan membuat karyawan bersemangat
dalam melaksanakan pekerjaannya. Ketika semangat kerja karyawan
tinggi maka kinerja karyawan akan sangat baik karena dapat
memunculkan ide-ide dan inovasi baru terhadap karyawan

Kualitas Produk


Kualitas produk adalah karakteristik dari suatu produk atau layanan yang
bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan baik yang
dinyatakan secara langsung maupun tersirat (Kotler & Armstrong, 2018). Dengan
demikian, kualitas produk dapat diartikan sebagai kemampuan suatu produk untuk
melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan, ketepatan, kemudahan,
dan sebagainya.
Menurut (Wijaya, 2018) kualitas produk adalah keseluruhan gabungan
karakteristik barang dan jasa menurut pemasaran, rekayasa, produksi, maupun
pemeliharaan yang menjadikan barang dan jasa yang digunakan memenuhi harapan
pelanggan atau konsumen. Kualitas merupakan sesuatu yang diputuskan oleh
pelanggan, artinya, kualitas didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan atau
konsumen terhadap barang dan jasa yang diukur berdasarkan persyaratan atau
atribut-atribut tertentu yang dapat pula subjektif berdasarkan keinginan pribadi
pelanggan

Indikator Kinerja


Menurut Robbins dalam Bintoro dkk (2017: 107) Indikator untuk
mengukur kinerja karyawan secara individu ada lima indikator yaitu :
a. Kualitas
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
b. Kuantitas
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah
seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c. Ketepatan Waktu
Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang
dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
d. Efektivitas
Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga,
uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud
menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
e. Kemandirian
Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya. Komitmen kerja merupakan suatu
tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi
dan tanggung jawab karyawan terhadap perusahan dimana dia bekerja

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kinerja


Faktor yang mempengaruhi pencapaian kerja adalah faktor
kemampuan (abilit) dan faktor motivasi (motivation). Hal ini sesuai
dengan pendapat Keith Davis dalam Mangkunegara (2020:67) yang
merumuskan
a) Human Performnace = Ability + Motivation
b) Motivation = Attitude + Situation
c) Ability = Knowledge + Skill
1) Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari
kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill).
Artinya, pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120)
dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam
mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai
kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan
pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
2) Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam
menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan
organisasi (tujuan kerja)

Pengertian Kinerja


Menurut Mangkunegara (2020 : 67) “Kinerja (prestasi kerja) adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya”. Menurut Sedarmayanti (2017 : 111) “Manajemen
kinerja adalah proses yang digunakan pengusaha untuk memastikan
karyawan bekerja searah dengan tujuan organisasi”.
Menurut Sari dalam Paramita,dkk (2016) “Kinerja karyawan adalah
hasil kerja yang dicapai seseorang atau kelompok orang sesuai dengan
wewenang atau tanggung jawab masing-masing karyawan selama periode
tertentu”. Sebuah perusahaan perlu melakukan penilaian kinerja pada
karyawannya. Penilaian kinerja memainkan peranan yang sangat penting
dalam peningkatan motivasi di tempat kerja. Penilaian hendaknya
memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja. Dari uraian
sebelumnya, maka dapat disimpulkan kinerja berkaitan dengan hasil
pencapaian kerja para karyawan yang bekerja di suatu organisasi atau
perusahaan, yang sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab setiap
karyawan dan menjadi hal penting dalam menerangkan prestasi kerja
mereka

Kepuasan Pelanggan


Menurut (Tjiptono, 2022), Kepuasan Pelanggan adalah perasaan senang
atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara presepsi
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dengan harapan-harapannya. Oleh karena
pernyataan tersebut kepuasan pelanggan merupakan suatu tolak ukur tinggi dalam
berbagai kebutuhan dalam pemasaran dan tujuan perusahaan secara umum.
Menurut (Sunyoto, 2019) Kepuasan Pelanggan merupakan salah satu alasan
dimana pelanggan memutusskan untuk berbelanja pada suatu tempat. Hal tersebut
dikarenakan bila konsumen puas dengan apa yang di berikan oleh produsen maka
ia akan membeli kembali atau memberikan rekomendasi pada calon pelanggan
lainnya.
Menurut (Kotler & Armstrong, 2018) Kepuasan pelanggan atau Customer
Satisfaction merupakan salah satu pendorong utama yang menghubungkan antara
perusahaan dan pelanggan dalam jangka panjang.

Harga


Menurut (Kotler & Armstrong, 2018) “Price the amount of money charged
for a product or service, or thr sum of value that customers exchange for the
benefits or having or using the product or service”. (harga merupakan sejumlah
uang yang dikeluarkan untuk sebuah produk atau jasa, atau sejumlah nilai yang
ditukarkan oleh konsumen untuk memperoleh manfaat atau kepemilikan atau
penggunaan atas sebuah produk atau jasa).
a. Atribut Harga
Menurut (Kotler & Armstrong, 2018), atribut harga terdiri dari list,
price, diskon, allowance, payment period, dan credit terms.

  1. List Price, berarti daftar mengenai harga satuan barang yang
    dianjurkan kepada pedagang eceran untuk dimuat dalam satu daftar.
  2. Diskon, merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual
    kepada pembeli sebagai penghargaan atas aktivitas tertentu dari
    pembeli yang menyenangkan bagi penjual. Menurut Kotler dan
    Amstrong (2018, p. 335) diskon merupakan pengurangan langsung
    terhadap harga atas pembelian selama satu periode tertentu.
  3. Allowance, seperti halnya dengan diskon, allowance juga
    merupakan pengurangan dari harga menurut daftar kepada pembeli
    karena adanya aktivitas-aktivitas tertentu yang dilakukan pembeli.
    Ada tiga bentuk allowance yang biasa digunakan yaitu : Trade-in
    Allowance, Promotional Allowance, dan Product Allowance.
  4. Payment Period, adalah cicilan sesuai dengan kesepakatan antara
    penjual dan pembeli biasanya berhubungan dengan kredit. Periode
    pembayaran dibagi menjadi 3 bagian yaitu, Jangka Pendek, Jangka
    Menengah, dan Jangka Panjang.
  5. Credit Terms, adalah pembayaran secara tidak tunai.

Indikator Self Efficacy


indikator self efficacy mengacu pada 3 dimensi self efficacy yaitu
dimensi level, dimensi generality, dan dimensi strenght. Menurut Brown
dalam Hasanah, dkk (2019) “Indikator self efficacy yaitu : yakin dapat
menyelesaikan tugas tertentu, yakin dapat memotivasi diri, yakin bahwa
dirinya mampu berusaha dengan keras, yakin bahwa diri mampu
menghadapi hambatan dan kesulitan, yakin dapat menyelesaikan tugas”.
a. Yakin dapat menyelesaikan tugas tertentu
Individu yakin bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas
tertentu, yang mana individu sendirilah yang menetapkan tugas
(target) apa yang harus di selesaikan.
b. Yakin dapat memotivasi diri
Yakin dapat memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang
diperlukan dalam menyelesaikan tugas, individu mampu
menumbuhkan motivasi pada diri sendiri untuk bisa memilih dan
melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam rangka
menyelesaikan tugas.
c. Yakin bahawa dirinya mampu berusaha dengan keras
Yakin bahwa dirinya mampu berusaha dengan keras,gigih dan
tekun. Adanya usaha yang keras dari individu untuk menyelesaikan
tugas yang di tetapkan dengan menggunakan segala daya yang di
miliki.
d. Yakin bahwa diri mampu menghadapi hambatan dan kesulitan
Individu mampu bertahan saat menghadapi kesulitan dan
hambatan yang muncul serta mampu bangkit dari kegagalan.
e. Yakin dapat menyelesaikan tugas
Yakin dapat menyelesaikan tugas yang memiliki range yang luas
ataupun sempit (spesifik). Individu yakin bahwa dalam setiap tugas
apapun dapat ia selesaikan meskipun itu luas atau spesifik

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan pengertian dari kemampuan suatu produk untuk
dapat memenuhi kepuasan konsumen dengan melaksanakan segala fungsinya
yang meliputi kinerja produk, daya tahan produk, kesesuain terhadap spesifikasi,
fitur, reabilitas keandalan, estetika, kesan terhadap kualitas, dan kemampuan
untuk dapat diperbaiki dengan baik.
Menurut (Kotler & Armstrong, 2018) Kualitas produk adalah karakterisitik
dari suatu produk atau layanan yang bergantung pada kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan baik yang dinyatakan secara langsung maupun
tersirat. Sedangkan menurut (Runtunuwu et al., 2014) dan (Umami et al., 2019)
kualitas produk adalah sebuah kemampuan dari suatu produk dalam rangka
melaksanakan sebuah fungsi yang meliputi kehandalan, daya tahan, kemudahan
operasi, ketepatan, kebaikan dari produk, ataupun sebuah atribut bernilai lainnya.
Menurut (Tjiptono, 2019) terdapat delapan dimensi kualitas produk yang
sering digunakan sebagai pengukuran dalam evaluasi perusahaan maupun
penelitian yang di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Performance, Karakteristik infomasi pokok dari produk inti yang
    dibeli.
  2. Features, karakterisitik sekunder atau pelengkap.
  3. Reliability, kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal
    pakai.
  4. Conformance to specifications, sejauh mana karakteristik desain dan
    operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Durability, berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
    digunakan.
  6. Serveceability, meliputi kecepatan, kompetisi, kenyamanan, mudah
    diopersi serta penanganan.
  7. Aesthetics, Daya tarik produk terhadap pancaindra.
  8. Perceived quality, citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
    perusahaan terhadapny

Aspek-Aspek Self Efficacy


Aspek-aspek Self-Efficacy ada empat yaitu sebagai berikut:
Kepercayaan diri dalam situasi tidak menentu mengandung kekaburan dan
penuh tekanan, Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah
atau tantangan yang muncul, Keyakinan akan kemampuan mencapai target
yang telah ditetapkan, Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan
motivasi, kemampuan kognitif, dan melakukan tindakan yang diperlukan
untuk mencapai suatu hasil (Bandura dalam Hasanah,dkk, 2019).
a) Kepercayaan diri dalam situasi tidak menentu mengandung kekaburan
dan penuh tekanan.
Self-efficacy menentukan pada komponen kepercayaan diri yang
dimiliki oleh individu dalam menghadapi situasi-situasi yang akan
datang yang mengandung kekaburan, tidak dapat diramalkan dan
sering kali penuh dengan tekanan. Keyakinan individu atau tindakan
yang benar-benar akan dilakukan individu tersebut, seberapa besar
usaha yang dilakukan akan menentukan pencapaian tujuan akhir.
b) Keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah atau tantangan
yang muncul.
Self-efficacy juga terkait dengan kemampuan individu dalam
mengatasi masalah atau tantangan yang muncul. Jika keyakinan tinggi
dalam menghadapi masalah maka individu akan menngusahakan
dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi masalah tersebut. Sebaliknya
apabila individu tidak yakin terhadap kemampuan dalam menghadapi
situasi yang sulit, maka kemungkinan kegagalan akan terjadi.
c) Keyakinan akan kemampuan mencapai target yang telah ditetapkan.
Individu yang mempunyai self-efficacy tinggi akan menetapkan target
yang tinggi dan selalu konsekuen terhadap target tersebut. Individu
akan berupaya menetapkan target yang lebih tinggi bila target yang
sesungguhnya telah mampu dicapai. Sebaliknya individu dengan self-
efficacy yang rendah akan menetapkan target awal sekaligus membuat
perkiraan pencapaian hasil yang rendah. Individu akan mengurangi
atau bahkan membatalkan target yang telah dicapai apabila
menghadapi beberapa rintangan dan pada tugas berikutnya akan
cenderung menetapkan target yang lebih rendah lagi.
d) Keyakinan akan kemampuan untuk menumbuhkan motivasi,
kemampuan kognitif, dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk
mencapai suatu hasil.
Motivasi, kemampuan kognitif dan ketetapan bertindak sangat
diperlukan sebagai dasar untuk mencapai hasil kerja yang optimal.
Jika berhadapan dengan tugas maka dibutuhkan motivasi dan
kemampuan kognitif serta tindakan yang tepat untuk mencapai hasil
yang baik kemampuan dan motivasi individu dalam menghadapi
situasi kerja sangat menentukan

Pengertian Self Efficacy


Self-efficacy atau efikasi diri diperkenalkan pertama kali oleh Bandura
yang menyajikan satu aspek pokok teori kognitif sosial. Menurut Bandura
dalam Oktavia dan Suryoko (2017) “Self-Efficacy sebagai keyakinan
seseorang akan kemampuan mereka untuk melakukan suatu pekerjaan
pada tingkat kinerja tertentu atau untuk mencapai suatu hasil yang
diharapkan sehingga akan memengaruhi situasi yang memengaruhi
kehidupan mereka”. Bandura menekankan bahwa self-efficacy atau efikasi
diri juga memainkan peranan vital dalam menentukan kinerja seseorang
seperti aspirasi tujuan, insentif hasil, dan kesempatan yang dirasakan
terhadap suatu tugas yang diberikan.
Menurut Ary dan Sriathi (2019) “Self Efficacy merupakan salah satu
aspek pengetahuan tentang diri atau self-knowledge yang memberikan
pengaruh pada kehidupan sehari-hari manusia”. Menurut Luthan dalam
Sari dan Candra (2020) “self efficacy mengacu pada keyakinan diri
mengenai kemampuannya untuk memotivasi sumber daya kognitif dan
tindakan yang diperlukan agar berhasil dalam melaksanakan tugas
tertentu”

Indikator Locus Of Control


Menurut Subhan,dkk (2019) “indikator Locus of Control (LoC)
sebagai berikut :
a. Suka Bekerja Keras
Pegawai memiliki dorongan untuk terus bekerja keras seperti
berkreativitas dalam melakukan pekerjaannya serta berani mengambil
risiko dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dikerjakannya.
b. Memiliki Inisiatif Yang Tinggi
Pegawai memiliki inisiatif yang tinggi terhadap detail dalam
melaksanakan pekerjaannya seperti memperhatikan posisi kecermatan,
menganalisis, dan perhatian pada setiap rincian pekerjaan.
c. Berorientasi Pada Pemecahan Masalah
Pegawai selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah serta
mampu memanajemen pekerjaannya, yang mana hasil pekerjaan
tersebut berfokus pada hasil yang ingin dicapai.
d. Berusaha
Pegawai selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika
ingin berhasil.
e. Stabil
Pegawai memiliki dorongan untuk terus selalu mencoba untuk berfikir
seefektif mungkin dengan memberikan hasil kerja yang memuaskan
untuk meningkatkan kinerja bukan menjadikan kinerja menurun dan
tidak memiliki motivasi untuk berprestasi.

Pengertian Locus Of Control


Menurut Luthans dalam Oktavia dan Suryoko (2017) “Penggunaan
locus of control, perilaku kerja bisa dijelaskan melalui penilaiaan
karyawan terhadap hasil mereka saat dikontrol secara internal atau
eksternal”. Karyawan yang merasakan control internal merasa bahwa
secara personal dapat memengaruhi hasil melalui kemampuan, keahlian,
atau usaha mereka sendiri. Sedangkan karyawan eksternal merasa bahwa
hasil mereka di luar control, mereka merasa kekuatan-kekuatan eksternal
seperti keberuntungan atau kesulitan tugas memengaruhi hasil mereka.
Menurut Karniati dan Sibawaihin (2017) “Locus of Control (LoC)
adalah kendali diri dalam menilai keberhasilan atau kegagalan yang
diperoleh dalam melaksanakan kegiatan yang dipengaruhi faktor internal
dan eksternal”.
Menurut Sinha dalam Karnati dan Sibawaihin (2017) “locus of control
signifies one’s belief that the events of life are either shaped by one’s
efforts and abilities (internal control) or by fate or powerful others
(external control)”. Locus of control signifikan dengan keyakinan
seseorang bahwa peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dibentuk oleh
upaya dan kemampuan seseorang disebut dengan control internal,
sedangkan oleh nasib atau orang lain disebut dengan kontrol eksternal.
Dari penjabaran diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa locus of
control adalah kendali diri karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dalam menyelesaikan pekerjaan itu bisa melibatkan faktor internal dan
eksternal. Faktor internal itu meliputi kemampuan, keahlian, atau usaha
mereka sendiri. Sedangkan faktor eksternal karyawan merasa bahwa hasil
mereka di luar control, mereka merasa bahwa kekuatan-kekuatan eksternal
seperti keberuntungan atau kesulitan tugas memengaruhi hasil mereka

Indikator Etos Kerja


Menurut Salamun dalam Lawu,dkk (2019) Indikator-indikator untuk
mengukur etos kerja diantaranya :
a. Kerja Keras
Didalam bekerja mempunyai sifat mabuk kerja untuk mencapai sasaran
yang ingin dicapai. Dapat memanfaatkan waktu yang optimal sehingga
kadang-kadang tidak mengenal waktu, jarak dan kesulitan yang
dihadapi.
b. Disiplin
Sebagai suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap
peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak
tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima
sanksi-sanksi apabila melanggar tugas dan wewenang yang diberikan
kepadanya.
c. Jujur
Kejujuran yaitu kesanggupan seorang karyawan dalam menjalankan
pekerjaannya sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan.
d. Tanggung Jawab
Memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
e. Rajin
Terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan
meningkatkan presentase yang sudah dicapai. Rajin ditempat kerja
berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang
sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat.
f. Tekun
Rajin, keras hati, dan bersungguh-sungguh (bekerja, belajar, belajar,
dan lain sebagainya). Orang yang tekun adalah orang yang bekerja
secara teratur, mampu menahan rasa bosan/jemu, dan mau belajar dari
kesalahan (orang lain maupun dirinya) di masa lalu agar tidak terulang
kembali

Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja


Menurut Yuosef dalam Aqsariyanti,dkk (2019) “Etos kerja sangat
ditekankan pada beberapa faktor berikut, yaitu: (a) Kerja keras; (b)
Komitmen dan dedikasi terhadap pekerjaan; (c) Kreativitas selama
bekerja; (d) Kerja sama serta persaingan di tempat kerja; (e) Ketepatan
waktu dalam bekerja; (f) Keadilan dan kedermawanan di tempat kerja”

Pengertian Etos Kerja


Etos kerja sebenarnya adalah istilah populer untuk semangat kerja
atau selera bekerja, kita tahu bagaimana membedakan antara berselera
makan dan tidak berselera makan?, orang dan organisasi punya etos kerja
tentunya menunjukkan semangat untuk berkolaborasi, berdebat,
berkomunikasi, berprestasi yang tidak ada matinya, sehingga secara nyata
dapat memetik hasil yang riil dan memberi kontribusi bagi kemajuan
organisasi dan bangsanya (Moeheriono, 2012 : 351).
Menurut Saleh dan Utomo (2018) “Secara umum Etos Kerja
merupakan semua kebiasaan baik meliputi disiplin, jujur, tanggung jawab,
tekun, sabar yang berdasar pada etika yang harus dilakukan di tempat
kerja”. Tanpa memiliki etos kerja seperti yang telah disebutkan diatas,
seorang karyawan akan merasa terbebani dengan seluruh tanggung jawab
pekerjaan dan dampak buruknya tidak akan mampu meningkatkan
produktivitas perusahaan sesuai dengan target yang diinginkan.
Menurut Sinamo dalam Aqsariyanti,dkk (2019) “Etos kerja adalah
seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kerjasama yang
kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada
paradigma kerja yang integral”. Istilah paradigma di sini berarti konsep
utama tentang kerja itu sendiri yang mencakup idealisme yang mendasari,
prinsip-prinsip yang mengatur, nilai-nilai yang menggerakkan, sikap-sikap
yang dilahirkan, standar-standar yang hendak dicapai, termasuk karakter
utama, pikiran dasar, kode etik, kode moral, dan kode perilaku bagi para
pemeluknya.
Etos kerja sangat diperlukan bagi perusahaan karena etos kerja sangat
berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Bentuk keterlibatan karyawan
dalam meningkatkan etos kerja yaitu dengan cara memiliki semangat kerja
yang tinggi, disiplin, selalu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,dll.
Dalam peningkatan etos kerja pastinya ada proses-proses untuk
memaksimalkan etos kerja itu seperti menciptakan lingkungan kerja yang
nyaman dan harmonis, dengan begitu untuk menciptakan semangat kerja
yang tinggi akan tercapai. Selain menciptakan lingkungan yang harmonis
diperlukan juga solidaritas yang tinggi pula sehingga para karyawan betah
berada di perusahaan.
Dari pendapat para ahli dan penjabaran diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa etos kerja yaitu keterlibatan karyawan dalam
menciptakan semangat kerja, disiplin, jujur, tanggung jawab terhadap
pekerjaannya

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


Dua hal yang berkaitan dengan kinerja/performance adalah
kesediaan atau motivasi dari karyawan untuk bekerja, yang
menimbulkan usaha karyawan dan kemampuan karyawan untuk
melaksanakannya. Menurut (Gomes, 2007) bahwa kinerja/
performance adalah fungsi dari motivasi dan kemampuan atau dapat
ditulis dengan rumus P = f (M x A) dimana P= performance/kinerja, m
= motivation/motivasi, a = ability/kemampuan. Kemampuan melekat
dalam diri seseorang dan merupakan bawaan sejak lahir serta
diwujudkan dalam tindakannya dalam bekerja, sedangkan motivasi
adalah aspek yang sangat penting untuk menggerakkan kreativitas dan
kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan, serta selalu
bersemangat dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Dari sebagian
uraian yang telah dijelaskan dapat ditarik kesimpulan bahwa para
karyawan mampu melakukan pekerjaan dan ingin mencapai hasil
maksimal dalam pekerjaannya. Perwujudan kinerja yang maksimal,
dibutuhkan suatu dorongan untuk memunculkan kemauan kerja, yaitu
dengan motivasi. Motivasi berfungsi untuk merangsang kemampuan
karyawan maka akan tercipta hasil kinerja maksimal. Namun apabila
motivasinya rendah maka akan berdampak pula pada penurunan kinerja
karyawan.
Penelitian Enjang Suherman (2018) dengan judul Analisis Peran
Self Efficacy dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Marketing Dealer
Wijaya Toyota Subang hasilnya membuktikan bahwa Motivasi
berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan

Pengaruh Self efficacy terhadap Kinerja Karyawan


Kepercayaan terhadap kemampuan diri, keyakinan terhadap
keberhasilan yang selalu dicapai membuat seseorang bekerja lebih giat
dan selalu menghasilkan yang terbaik. Dengan demikian dapat dikatkan
bahwa self efficacy dapat meningkatkan kinerja individual, Semakin
tinggi self efficacy pada diri seseorang maka semakin gigih pula dalam
melakukan setiap tugas yang diberikan, namun apabila self efficacy
yang dimiliki rendah maka akan semakin rendah tingkat performa
kinerja karyawan.
Penelitian Kiki Andiyani (2017) dengan judul Pengaruhi Self
Efficacy dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT.
Gearindo Prakarsa Surabaya) hasilnya menunjukkan Self Efficacy tidak
berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan.
Sedangkan penelitian Fauzan Ali, Dewie Tri Wijayati Wardoyo
(2021) dengan judul Pengaruh Self Efficacy terhadap Kinerja Karyawan
dengan Tujuan Kerja sebagai Variabel Intervening (Studi PT. Ultrajaya
Milk Industry, Tbk Surabaya Bagian Marketing) membuktikan bahwa
self efficacy tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan

Indikator kinerja

Indikator kinerja menurut (Robbins, 2016) sebagai berikut:
a) Kualitas
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
b) Kuantitas
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c) Ketepatan Waktu
Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang
dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
d) Efektifitas
Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang,
teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan
hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
e) Kemandirian
Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat
dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan
tanggung jawab karyawan terhadap perusahaan.

Kinerja


Kinerja merupakan kondisi yang harus diketahui dan diinformasikan
kepada pihak-pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil
suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi serta
mengetahui dampak positif dan negatif suatu kebijakan operasional yang
diambil. Dengan adanya informasi mengenai kinerja suatu instansi atau
organisasi, akan dapat diambil tindakan yang diperlukan seperti koreksi atas
kebijakan, meluruskan kegiatan- kegiatan utama, dan tugas pokok instansi,
bahan untuk perencanaan, menentukan tingkat keberhasilan instansi untuk
memutuskan suatu tindakan, dan lain-lain.
(Robbins, 2016) mendefinisikan kinerja adalah suatu hasil yang
dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang
berlaku untuk suatu pekerjaan.
Menurut (Mathis & Jackson, 2016), kerja adalah usaha yang
ditunjukkan untuk memproduksi atau mencapai hasil. Dan pekerjaan adalah
pengelompokan tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang merupakan
penugasan kerja total untuk karyawan. (Hasibuan, 2012) mendefinisikan
kinerja sebagai outcome dari karyawan yang didasarkan pada hasil, proses
dan sikap kerja karyawan
Menurut (Mathis & Jackson, 2016) faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja sebagai berikut :

  1. Kemampuan individual untuk melakukan pekerjaan tersebut, yaitu
    Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pekerjaannya
  2. Tingkat usaha yang dicurahkan, bekerja keras sesuai target yang dan
    waktu yang telah ditetapkan dan bekerja keras dengan bersedia kerja
    lembur
  3. Dukungan organisasi, perusahaan mendukung kinerja karyawan melalui
    pelatihan dan perusahaan mendukung kinerja karyawan dengan
    melengkapi peralatan yang dibutuhkan untuk bekerja

Motivasi Kerja


Menurut (As’ad, 2014) mengatakan bahwa motivasi kerja adalah
sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja. Dengan
demikian, motivasi yang ada pada seseorag merupakan kekuatan pendorong
yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan
dirinya.
Menurut (Mathis & Jackson, 2016), motivasi adalah keinginan
dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut bertindak. Biasanya
orang bertindak karena suatu alasan untuk mencapai tujuan. Memahami
motivasi sangatlah penting karena kinerja, reaksi terhadap kompensasi dan
persoalan sumber daya manusia yang lain dipengaruhi dan mempengaruhi
motivasi. Pendekatan untuk memahami motivasi berbeda – beda, karena
teori yang berbeda mengembangkan pandangan dan model mereka sendiri.
Menurut teori motivasi ERG Theory yang dikembangkan Clayton
Alderfer kemudian meringkas teori Maslow ini menjadi 3 hierarki
kebutuhan, yaitu kebutuhan bertahan hidup (Existence), kebutuhan diakui
lingkungan (Relatedness), dan kebutuhan pengembangan diri (Growth),
yang dikenal juga menjadi teori ERG. (As’ad, 2014)
Alderfer menggabungkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman
kedalam kebutuhan bertahan hidup versinya, dia memasukan kebutuhan
akan cinta/pertemanan dan penghargaan diri secara internal ke dalam
kebutuhan sosial versinya. Terakhir dia memasukan kebuthan penghargaan
diri secara eksternal dan aktualisasi diri ke dalam kolom kebutuhan
pengembangan diri versi ERG

  1. Existence berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan
    keberadaan seseorang dalam hidupnya. Menurut teori yang dikemukakan
    Maslow, hal ini berkaitan dengan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan
    keamanan.
  2. Relatednees berhubungan dengan kebutuhan untuk berinteraksi dengan
    orang lain. Kebutuhan ini sebanding dengan kebutuhan sosial dan
    kebutuhan penghargaan, dalam teori Maslow.
  3. Growth berhubungan dengan kebutuhan pengembangan diri, yang
    identik dengan kebutuhan self-actualization. Dalam teori Maslow, hal ini
    berkaitan dengan kebutuhan aktualisasi diri, berupa kebutuhan naik
    jabatan/promosi, kebutuhan pelatihan, kebutuhan peningkatan
    kompetensi (seminar).
    Menurut teori ini, bila seseorang mengalami hambatan dalam
    memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih tinggi, orang tersebut akan kembali
    pada kebutuhan yang lebih rendah sebagai kompensasinya,yang
    disebut frustration-regression dimension

indikator self- efficacy

Menurut (Indrawati, 2014) indikator self- efficacy antara lain :

  1. Perasaan mampu melakukan pekerjaan, mampu melakukan
    pekerjaan dan memiliki sikap positif terhadap diri
  2. Kemampuan yang lebih baik, memiliki keyakinan keterampilan
    dan kemampuan dengan mengutamakan kuantitas/hasil sesuai
    dengan target
  3. Senang pekerjaan yang menantang, menyukai pekerjaan
    terutama pekerjaan menantang
  4. Kepuasan terhadap pekerjaan, memahami tugas yang diemban

Self efficacy


Menurut (Indrawati, 2014) mendefinisikan self efficacy sebagai judgment
individu atas kemampuan mereka untuk mengorganisasi dan melakukan
serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkat kinerja yang
ditentukan.
(Indrawati, 2014) mengemukakan bahwa self efficacy merupakan
penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan
tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Individu yang memiliki
self efficacy yang tinggi akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Individu dengan self efficacy yang rendah
ketika menghadapi situasi yang sulit akan cenderung malas berusaha dan menyukai
kerja sama.
Menurut (Angreni, 2015), Self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor
personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy
dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam
penyelesaian tugas dan tujuan. Penelitiannya menemukan bahwa self
efficacy berhubungan positif dengan penetapan tingkat tujuan. Individu
yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan
atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan
tujuan lain yang tinggi. Self efficacy merupakan kepercayaan terhadap
kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas. Orang yang percaya diri
dengan kemampuannya cenderung untuk berhasil, sedangkan orang yang
selalu merasa gagal cenderung untuk gagal. Self efficacy berhubungan
dengan kepuasan kerja dimana jika seseorang memiliki self efficacy yang
tinggi maka cenderung untuk berhasil dalam tugasnya sehingga
meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakannya.
Self-efficacy tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, (Hjelle
& Ziegler, 1992) seperti dikutip (Chamariyah, 2015) menjelaskan bahwa
self- efficacy diperoleh atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
5
1) Pencapaian kinerja, 2) Pengalaman dari orang lain. Dengan melihat
kesuksesan orang lain, dapat menumbuhkan persepsi self-efficacy yang kuat
dalam hal bahwa mereka juga dapat melakukan aktivitas yang sama, 3)
Verbal persuasion, yaitu meyakinkan orang lain bahwa kita memiliki
kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan 4) Dorongan
emosional. Tingkat dorongan emosional dalam menghadapi situasi yang
mengancam dan menekan, akan mempengaruhi tingkat self-efficacy. Bila
dorongan emosional rendah, maka akan meningkatkan keyakinan

Self efficacy


Menurut (Indrawati, 2014) mendefinisikan self efficacy sebagai judgment
individu atas kemampuan mereka untuk mengorganisasi dan melakukan
serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai tingkat kinerja yang
ditentukan.
(Indrawati, 2014) mengemukakan bahwa self efficacy merupakan
penilaian individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan
tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Individu yang memiliki
self efficacy yang tinggi akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Individu dengan self efficacy yang rendah
ketika menghadapi situasi yang sulit akan cenderung malas berusaha dan menyukai
kerja sama.
Menurut (Angreni, 2015), Self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor
personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy
dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam
penyelesaian tugas dan tujuan. Penelitiannya menemukan bahwa self
efficacy berhubungan positif dengan penetapan tingkat tujuan. Individu
yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan
atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan
tujuan lain yang tinggi. Self efficacy merupakan kepercayaan terhadap
kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas. Orang yang percaya diri
dengan kemampuannya cenderung untuk berhasil, sedangkan orang yang
selalu merasa gagal cenderung untuk gagal. Self efficacy berhubungan
dengan kepuasan kerja dimana jika seseorang memiliki self efficacy yang
tinggi maka cenderung untuk berhasil dalam tugasnya sehingga
meningkatkan kepuasan atas apa yang dikerjakannya.
Self-efficacy tidak muncul begitu saja dalam diri seseorang, (Hjelle
& Ziegler, 1992) seperti dikutip (Chamariyah, 2015) menjelaskan bahwa
self- efficacy diperoleh atau dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1) Pencapaian kinerja, 2) Pengalaman dari orang lain. Dengan melihat
kesuksesan orang lain, dapat menumbuhkan persepsi self-efficacy yang kuat
dalam hal bahwa mereka juga dapat melakukan aktivitas yang sama, 3)
Verbal persuasion, yaitu meyakinkan orang lain bahwa kita memiliki
kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dan 4) Dorongan
emosional. Tingkat dorongan emosional dalam menghadapi situasi yang
mengancam dan menekan, akan mempengaruhi tingkat self-efficacy. Bila
dorongan emosional rendah, maka akan meningkatkan keyakinan

Alat Ukur Efikasi Diri


Beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur
efikasi diri, antara lain:
1) General Self-Efficacy Scale
General Self-Efficacy Scale merupakan instrumen pengukuran
yang bersifat unidimensional, atau hanya mengukur satu faktor
yaitu general self-efficacy. General Self-Efficacy Scale awalnya
dikembangkan oleh Matthias Jerusalem dan Ralf Schwarzer
pada tahun 1979 yang terdiri dari 20 item. General Self-Efficacy
Scale telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa dan digunakan
dalam penelitian di berbagai negara. Setiap item dalam
instrumen memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “sangat tidak
sesuai” hingga “sangat sesuai”. Rentang nilai instrumen ini yaitu
1 sampai 4, sehingga rentang jumlah skor antara 10 sampai 40,
dengan skor semakin tinggi maka efikasi diri semakin tinggi pula.
General Self-Efficacy Scale sudah diuji validitas dan reliabilitas
dengan hasil yang sangat reliabel, stabil, dan valid (Novrianto et
al., 2019).
2) Daily Living Self-Efficacy Scale
Daily Living Self-Efficacy scale merupakan instrumen yang
dapat digunakan untuk menilai efikasi diri penderita stroke
dalam dua domain kehidupan sehari-hari yaitu aspek psikologis
dan aktivitas sehari-hari terlepas dari sifat dan tingkat kecacatan
fisik pasien. Kuesioner ini terdiri dari 12 item pertanyaan yang
mencakup dua sub domain yaitu efikasi diri untuk fungsi
psikososial dan efikasi diri untuk fungsi aktivitas sehari-hari
(Maujean et al., 2014).
3) The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ)
The Stroke Self-Efficacy Questionnaire (SSEQ) merupakan
instrumen untuk menilai efikasi diri yang dirasakan oleh
penderita stroke dalam fungsi tertentu misalnya perawatan diri,
aktivitas dan mobilitas, dan tugas yang terkait dengan
manajemen diri (Maujean et al., 2014). Kuesioner ini digunakan
untuk mengukur efikasi diri individu dalam kinerja fungsional
dan manajemen diri yang relevan dengan individu pasca stroke.
Pengembangan kuesioner ini dilakukan selama tahun 2004
hingga 2006 dengan menjalani 3 kali studi. Kuesioner ini telah
diujicobakan kepada 112 penderita stroke antara 2 sampai 24
minggu pasca stroke. The Stroke Self-Efficacy Questionnaire
(SSEQ) terdiri dari 13 item pertanyaan dengan hasil uji
cronbach’s α 0,90 dan nilai uji validitas r = 0,803 dan p < 0,001
(Jones et al., 2008)

Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Proses Dalam Diri Manusia


Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020) terdapat empat
proses besar psikologis dalam proses efikasi diri dalam
mempengaruhi fungsi manusia:
1) Proses Kognitif
Dampak efikasi diri terhadap proses kognitif seseorang berbeda
antara satu dengan lainnya. Sebagian besar perilaku akan
berubah sesuai dengan pemikiran untuk mewujudkan tujuan.
Semakin kuat persepsi efikasi diri seseorang, semakin tinggi
tujuan-tujuan yang dibuat bagi dirinya dan lebih mengokohkan
komitmen mereka. Semua tindakan dimulai dalam pikiran.
Fungsi utama dari pemikiran adalah untuk memungkinkan
seseorang memprediksi kejadian dan menentukan langkah serta
mengembangkan cara untuk mengontrol hal-hal yang
mempengaruhi hidup mereka. Ketika seseorang dihadapkan
pada sebuah masalah yang sulit akan timbul keraguan diri
mengenai keberhasilan yang dapat dicapai dalam pemikirannya,
sehingga tujuan dan kualitas prestasi menurun.
2) Proses Motivasional
Efikasi diri berperan penting dalam regulasi motivasi diri.
Kebanyakan motivasi dihasilkan secara kognitif. Orang
memotivasi dirinya sendiri dan mengarahkan tindakan melalui
pemikiran sebelumnya. Efikasi diri mempengaruhi pola pikir
seseorang sehingga mereka membentuk keyakinan mengenai
apa yang dapat mereka lakukan. Mereka menetapkan tujuan bagi
dirinya sendiri dan merencanakan tindakan untuk merealisasikan
tujuan yang telah dibuat. Tujuan yang menantang akan
meningkatkan dan mempertahankan motivasi seseorang.
3) Proses Afektif
Efikasi diri seseorang mengenai kemampuannya untuk
menghadapi masalah mempengaruhi seberapa besar tingkat
motivasi, stres, dan depresi yang dialami dalam menghadapi
situasi yang sulit atau mengancam. Seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengatasi masalah yang ada akan
merubah pola pikirnya yang mengganggu sehingga mereka
menjadi lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan.
Setelah seseorang mengembangkan rasa tangguh yang dimiliki,
seseorang dapat menahan kesulitan yang datang. Sebaliknya
orang yang memiliki kepercayaan yang rendah terhadap
kemampuan dirinya akan merasa sangat cemas dan melihat
berbagai hal sebagai bahaya. Efikasi diri dapat mengatur emosi
seseorang melalui beberapa cara, yaitu seseorang yang percaya
bahwa mereka mampu mengelola ancaman tidak akan mudah
tertekan oleh diri sendiri, sebaliknya jika efikasi diri rendah
seseorang cenderung memperbesar risiko, dan dapat mendorong
munculnya depresi (Manuntung, 2019).
4) Proses Seleksi
Efikasi diri seseorang dapat membentuk kehidupan dengan
mempengaruhi jenis aktivitas dan lingkungan yang akan dipilih.
Seseorang akan menghindari aktivitas dan situasi yang mereka
yakini berada diluar kemampuannya. Tetapi mereka akan
bersiap begitu menghadapi suatu masalah dan memilih situasi
yang kemungkinan dapat ditangani

Faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri


Menurut Bandura dalam Anwar (2009) tinggi atau rendahnya
efikasi diri seseorang sangatlah bervariasi. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi, diantaranya yaitu:
1) Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap efikasi diri.
Penelitian Bandura dalam Anwar (2009) menyatakan wanita
cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi daripada pria yang
bekerja, terutama wanita yang memiliki peran selain sebagai ibu
rumah tangga, juga sebagai wanita karir.
2) Budaya
Budaya mempengaruhi efikasi diri melalui nilai, kepercayaan,
dan proses pengaturan diri yang berfungsi sebagai sumber
penilaian efikasi diri.
3) Usia
Salah satu faktor yang mempengaruhi efikasi diri adalah usia
(Ismatika & Soleha, 2018). Individu yang lebih tua pada
umumnya lebih berpengalaman dalam mengatasi masalah yang
dihadapi dibanding individu yang lebih muda yang kurang
pengalaman menghadapi masalah dalam hidup. Hal ini berkaitan
dengan pengalaman individu yang dimiliki selama rentang
hidupnya.
4) Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting untuk
seorang individu. Efikasi diri umumnya terbentuk dari proses
belajar seseorang melalui pendidikan formal. Individu dengan
tingkat pendidikan yang tinggi umumnya memiliki efikasi diri
yang tinggi pula karena banyak menerima proses pembelajaran
dan berbagai persoalan yang dihadapi ketika masa pendidikan.
5) Sifat dari tugas yang dihadapi
Tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh seseorang akan
mempengaruhi penilaian individu tersebut terhadap kemampuan
dirinya sendiri. Semakin kompleks suatu tugas yang dihadapi
oleh individu maka akan semakin rendah individu tersebut
menilai kemampuannya. Sebaliknya, jika individu dihadapkan
pada tugas yang mudah dan sederhana maka akan semakin tinggi
individu tersebut menilai kemampuannya.
6) Pengalaman
Efikasi diri dibentuk dari sebuah pengalaman atau proses
adaptasi dan pembelajaran yang telah dialami individu di
lingkungannya, tetapi hal ini bergantung pada bagaimana
individu tersebut menghadapi keberhasilan atau kegagalan
dalam menghadapi masalah.
7) Status atau peran individu dalam lingkungan
Individu yang memiliki status lebih tinggi akan memperoleh
tingkat kontrol yang lebih besar sehingga efikasi diri yang
dimilikinya juga tinggi. Sedangkan individu yang memiliki
status yang lebih rendah akan memiliki kontrol yang lebih kecil
sehingga efikasi diri yang dimiliki juga rendah.
8) Informasi tentang kemampuan diri
Individu akan memiliki efikasi diri tinggi, jika memperoleh
informasi positif mengenai dirinya, sementara individu akan
memiliki efikasi diri yang rendah jika memperoleh informasi
negatif mengenai dirinya

Sumber-Sumber Efikasi Diri


Efikasi diri dipengaruhi oleh empat sumber informasi penting
(Lenz & Shortridge-Baggett, 2002):
1) Performance accomplishment: berlatih dan pengalaman
sebelumnya.
Berlatih adalah sumber efikasi diri yang paling penting karena
didasarkan pada pengalaman seseorang sendiri. Pengalaman
individu terkait keberhasilan akan meningkatkan efikasi diri,
sedangkan kegagalan dapat menurunkan efikasi diri, terutama
jika kegagalan terjadi di awal proses pembelajaran. Hal ini
membuktikan bahwa pengalaman individu mempunyai
pengaruh yang besar terhadap efikasi diri.
Seseorang yang berhasil menemukan solusi untuk permasalahan
yang dihadapi dan dapat menuntun bangkit dari keterpurukan
maka efikasi diri orang tersebut secara otomatis akan meningkat
dibandingkan sebelumnya. Menguasai sesuatu hal yang baru
relatif sederhana, yang diperlukan yaitu latihan dan
membiasakannya. Efikasi diri perlu dikembangkan dengan cara
mencoba menyelesaikan tugas yang sulit dan melewati kendala-
kendala yang ditemui.
2) Vicarious experience: pengamatan orang lain.
Efikasi diri juga bisa dibentuk dengan melihat orang lain yang
sukses yang dianggap memiliki suatu kemiripan dengan orang
yang mengamatinya. Orang lain dapat menjadi contoh atau role
model dan memberikan informasi tentang tingkat kesulitan dari
jenis perilaku tertentu. Orang-orang yang berperan sebagai
panutan, bagaimanapun harus menunjukkan kesamaan dengan
pengamat dalam karakteristik yang relevan dengan masalah
tersebut, artinya dengan mengamati orang lain yang dianggap
senasib atau mengalami hal yang sama, sang pengamat dapat
membentuk sugesti positif terhadap dirinya bahwa ia mampu
melakukan hal serupa seperti model yang diamatinya. Hal ini
sangat penting bagi mereka yang kurang mempunyai keyakinan
dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Mengamati orang lain adalah sumber efikasi diri yang lebih
lemah daripada pengalaman langsung, tetapi dapat berkontribusi
pada penilaian seseorang terhadap efikasi dirinya sendiri.
Seberapa besar dampak vicarious experience terhadap efikasi
diri seseorang bergantung pada seberapa mirip seseorang dengan
model dalam pemikiran seseorang (Kristiyani, 2020). Semakin
mirip seorang model dimata seseorang dengan dirinya maka
akan semakin besar pengaruh pengalaman sukses atau
pengalaman gagal model terhadap efikasi diri seseorang.
3) Verbal Persuation: Persuasi verbal
Persuasi verbal merupakan sumber efikasi diri yang paling
sering digunakan karena mudah digunakan. Profesional
kesehatan dapat memberikan instruksi, saran dan nasihat,
mencoba meyakinkan orang bahwa mereka dapat berhasil dalam
mengerjakan tugas yang sulit, yang paling penting adalah
kredibilitas, keahlian, kepercayaan, dan prestise orang yang
melakukan persuasi. Persuasi verbal untuk meyakinkan orang
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan suatu
perilaku lebih lemah daripada dua sumber sebelumnya karena
mereka tidak memperhatikan pengalaman atau contoh mereka
sendiri. Namun, persuasi verbal bisa menjadi pendukung yang
baik untuk sumber efikasi diri yang lain. Jika seseorang yakin
dengan kemampuan mereka, mereka akan lebih cenderung untuk
bertahan dan tidak akan mudah menyerah.
4) Physiological information: evaluasi diri dari keadaan fisiologis
dan emosional.
Informasi tentang tubuh manusia juga dapat mempengaruhi
penilaian seseorang terhadap kemampuan untuk menunjukkan
perilaku tertentu. Dalam menilai kapasitas mereka sendiri, orang
menggunakan informasi tentang keadaan fisiologis dan
emosional mereka. Ketegangan, kecemasan, dan depresi
ditafsirkan sebagai tanda defisiensi personal yang dapat
berdampak negatif terhadap efikasi diri seseorang. Apa yang
orang percaya tentang penyakit mereka dan bagaimana mereka
menafsirkan gejala mereka mempengaruhi efikasi diri mereka
untuk menghadapi penyakit.

Pengertian Konsep Efikasi Diri


Efikasi diri adalah keyakinan individu untuk mengelola
perilaku-perilaku tertentu untuk mencapai kesembuhan (Makhfudli
et al., 2020). Efikasi diri merupakan suatu proses kognitif terkait
kenyamanan individu dalam melakukan suatu hal yang dapat
mempengaruhi motivasi, proses berpikir, kondisi emosional serta
lingkungan sosial yang menunjukkan suatu kebiasaan yang spesifik
(Hasanah, 2018).
Menurut Bandura dalam Kristiyani (2020), efikasi diri
menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, memotivasi diri
sendiri, dan berperilaku. Efikasi diri merupakan dasar dari motivasi,
kesejahteraan, serta berprestasi. Hal ini disebabkan karena jika
seseorang tidak percaya bahwa tindakan mereka dapat
menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diharapkan, mereka
mendapat sedikit dorongan untuk bertahan ketika dihadapkan
kesulitan. Sebaliknya, jika mereka yakin bahwa mereka dapat
mencapai sesuatu, maka mereka menjadi lebih bersemangat dalam
mencapai sesuatu tersebut Pada umumnya orang dengan efikasi diri
yang baik akan lebih cepat bangkit dari kegagalan atau kemunduran
yang dialami serta memiliki komitmen yang tinggi untuk dapat
mencapai sesuatu

Norma hasil prestasi akademik


Kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari prestasi akademik. Selama
proses pembelajaran yang dilakukan dalam periode waktu akan dilakukan evaluasi
untuk dapat mengukur sejauh mana keberhasilan dan hasil dari proses belajar
yang telah dilakukan. Suryabrata (2002) mengatakan untuk mengetahui prestasi
akademik sesorang, pendidik atau dosen harus melakukan pengukuran atau
evaluasi. Pengukuran terhadap prestasi belajar ini biasanya dilakukan dengan
memberikan tes pada waktu atau periode tertentu kepada mahasiswa yang
dinyatakan dalam bentuk skor atau angka. Selanjutnya hasil dari proses belajar
mahasiswa akan dikeluarkan dalam bentuk Kartu Hasil Sementara yang
merupakan perumusan terakhir yang diberikan dosen mengenai kemajuan dan
hasil belajar mahasiswa selama masa atau periode tertentu.
Dalam Buku Panduan dan informasi Akademik Universitas Islam Negeri
Sultan Syarif Kasim Riau (2011) keberhasilan belajar mahasiswa akan dinyatakan
dalam bentuk indek prestasi (IP). IP adalah angka yang menunjukkan hasil
prestasi mahasiswa dalam periode waktu satu semester. IP dihitung menurut
semester yang bersangkutan, IP juga digunakan untuk mengikuti kemajuan belajar
mahasiswa setiap semester dan menentukan jumlah beban studi (SKS) pada
semester berikutnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik


Menurut Djamarah (1994) ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses
hasil belajar, antara lain :

  1. Faktor lingkungan
    Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan mahasiswa, lingkungan tempat
    mahasiswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan dibagi menjadi dua bagian ;
    a. Lingkungan alami
    Lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal mahasiswa hidup dan
    berusaha didalamnya, kondisi lingkungan yang baik dan nyaman dapat
    membuat mahasiswa lebih baik dala proses belajar.
    b. Lingkungan sosial budaya
    Mahasiswa merupakan bagian dari anggota masyarakat, mahasiswa tidak
    bisa melepaskan diri dari ikatan sosial, susila dan norma-norma hukum
    yang berlaku dimasyarakat.
  2. Faktor instrumental
    Setiap universitas memiliki tujuan yang akan dicapai, dalam rangka mencapai
    tujuan tersebut dan untuk memudahkannya diperlukan sejumlah prangkat
    kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenis diantaranya, kurikulum,
    program pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan dan dosen.
  3. Kondisi fisiologis
    Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan
    belajar seseorang. Kondisi jasmani yang sehat sangat berpengaruh terhadap
    proses belajar dan beraktivitas.
  4. Kondisi psikologis
    Kondisi psikologis juga menjadi bagian penting yang dapat mempengaruhi
    mahasiswa dalam proses belajar diantaranya minat, kecerdasan, bakat,
    motivasi, kemampuan kognitif.
    Minat merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu hal, sedangkan
    kecerdasan lebih berorientasi kepada tingkat intelegensi yang dimiliki individu,
    sedangkan bakat sendiri merupakan kemampuan bawaan yang dibawa pada
    masing-masing individu, selanjutnya motivasi merupakan dorongan yang
    membuat individu melakukan sesuatu tindakan dan kemampuan kognitif yaitu
    kemampuan individu untuk dapat mengolah setiap informasi yang dimiliki baik
    pengetahuan dari luar maupun pengetahuan terhadap diri dalam hal ini self-
    efficacy dan optimisme individu, serta sejauh mana individu dapat mampu
    mengambil keputusan dalam tindakan berdasarkan informasi yang telah diperoleh.
    Lebih lanjut self-efficacy dan optimisme merupakan kemampuan kognitif
    pada diri mahasiswa yang mampu menilai dan mengolah informasi yang telah
    diperoleh dalam mencapai sebuah tujuan. Selanjutnya hal ini dapat memberikan
    motivasi kepada mahasiswa untuk dapat bertindak dalam mewujudkan sebuah
    pencapaian yang diinginkan

Definisi Prestasi Akademik


Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan
pembelajaran yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran
dan penilaian (Tu’u, 2004). Menurut Kartono (1995) prestasi adalah hasil
keahlian dalam kerja akademis yang dinilai oleh para pengajar melalui tes, ujian,
dan ulangan yang dilakukan dalam satu semester. Prestasi akademik adalah hasil
belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran yang bersifat kognitif dan
sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang sudah diberikan serta dinilai
oleh para pengajar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) prestasi adalah hasil yang
telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan). Sedangkan akademik adalah
pelajaran yang diperoleh dari kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif dan
biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Haldane (dalam
Tjundjing, 2001) menjelaskan bahwa seorang siswa baru dapat disebut berhasil
bila siswa meraih suatu prestasi yang tinggi dalam pendidikan atau studinya.
Selanjutnya Sudjana (2004) mendefinisikan prestasi akademik sebagai
kemampuan yang diperoleh oleh mahasiswa setelah menerima pengalaman
pembelajaran. Menurut Sudarsono (1997) prestasi akademik adalah hasil yang
diperoleh mahasiswa dari usaha-usahanya selama mengikuti proses interaksi
belajar mengajar dikampus yang akan mengakibatkan adanya perubahan perilaku
pada mahasiswa tersebut

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Optimisme


Vinacle (dalam Shofia, 2009) menjelaskan bahwa ada dua faktor yang
mempengaruhi pola pikir pesimis-optimis, yaitu:
a. Faktor etnosentris,
Yaitu sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu kelompok atau orang lain yang
menjadi ciri khas dari kelompok atau jenis lain. Faktor etnosentris ini berupa
keluarga, status sosial, jenis kelamin, agama dan kebudayaan.
b. Faktor egosentris,
Yaitu sifat-sifat yang dimiliki tiap individu yang didasarkan pada fakta bahwa
setiap pribadi adalah unik dan berbeda dengan pribadi lain. Faktor egosentris
ini berupa aspek-aspek kepribadian yang memiliki keunikan sendiri dan
berbeda antara pribadi yang satu dengan yang lain

Dimensi Optimisme


Menurut Seligman (2006) terdapat tiga dimensi dalam optimisme, yaitu
Permanensi, Permasiveness, Personalisasi :
a. Permanensi
Permanensi yakni ketetapan suatu peristiwa, pada dimensi ini kita
berbicara mengenai waktu. Individu yang mudah menyerah mempercayai bahwa
penyebab kejadian buruknya adalah permanen. Kejadian-kejadian buruk itu akan
terus berlangsung dan mempengaruhi kehidupan individu. Individu yang optimis
akan menanggapi peristiwa yang buruk itu hanya berlangsung sementara
(temporer). Penjelasan individu yang optimis terhadap peristiwa baik berbeda
dengan penjelasan optimis terhadap kejadian buruk. Individu yang optimis
terhadap kejadian baik menjelaskan kejadian-kejadian tersebut pada diri mereka
sendiri dengan penyebab-penyebab yang permanen seperti karakter, kemampuan
dan keinginan yang harus selalu tercapai. Individu yang percaya bahwa kejadian-
kejadian baik bersifat permanen akan berusaha keras setelah mencapai suatu
keberhasilan.
b. Pervasiveness
Pervasiveness yakni gambaran sebagai keluasaan suatu peristiwa yang
berkaitan dengan berbagai hal spesifik dan global. Individu yang memberikan
penjelasan-penjelasan yang secara umum untuk suatu kegagalan dan akan
menyerah pada berbagai hal saat individu mengalami suatu kegagalan, maka
individu inilah yang jika satu hal dalam hidupnya hancur, maka seluruh
kehidupannya terganggu, berbeda dengan individu yang optimis yang membuat
penjelasan-penjelasan spesifik yang mungkin terjadi, akan lebih mudah tahu
kapan mereka menjadi orang yang tidak berdaya atau lemah dalam hidupnya dan
kapan dirinya merasa kuat pada bagian kehidupan yang lain.
c. Personalisasi
Personalisasi merupakan sumber suatu peristiwa terjadi, baik secara
internal maupun eksternal. Ketika suatu hal buruk terjadi, individu bisa
menyalahkan diri sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau keadaan
(eksternal). Individu yang menyalahkan dirinya sendiri saat gagal akan
menyebabkan rasa penghargaan terhadap diri sendiri menjadi rendah. Individu
akan berfikir dirinya tidak berguna, tidak punya kemampuan, dan tidak dicintai.
Sebaliknya pada individu yang menyalahkan kejadian-kejadian eksternal tidak
kehilangan rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri saat kejadian buruk
menimpanya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa optimisme merupakan
bagaimana persepsi individu terhadap suatu kejadian yang nantinya akan
berpengaruh terhadap individu dalam memandang kejadian tersebut diwaktu yang
akan datang yang nantinya akan membentuk sikap optimis dalam diri individu.
Sikap optimis tersebut dibentuk melalui tiga dimensi yaitu Permanensi,
Permasiveness, Personalisasi sehingga akan mempengaruhi bagaimana individu
memandang suatu peristiwa atau kejadian

Definisi Optimisme


Optimisme adalah bagaimana seseorang bersikap positif terhadap suatu
keadaan. Optimisme lebih ditujukan pada bagaimana seseorang menjelaskan
mengenai sebab terjadinya suatu keadaan baik atau keadaan buruk (Seligman,
1995). Seligman (1990) mengatakan bahwa optimisme berpengaruh terhadap
kesuksesan di dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan, dan relasi sosial. Dalam
studinya, Seligman membuktikan bahwa sikap optimis bermanfaat untuk
memotivasi seseorang di segala bidang kehidupan.
Menurut Csoulter (1999) optimisme merupakan suatu sikap positif saat ini
dan harapan yang mengarah pada orientasi masa depan yang positif. Suatu sikap
positif yang ditunjukan oleh individu semata-mata berharap mendapatkan hasil
yang positif pada waktu yang akan datang. Beberapa ahli lain juga memberian
makna terhadap individu yang optimis. Menurut Chang (dalam Elfida, 2002)
menyatakan bahwa individu yang optimis memiliki kemampuan penyesuaian diri
yang lebih baik, karena individu tersebut sering mengubah kondisi-kondisi yang
berhubungan dengan situasi yang menekan.
Orang yang optimis adalah individu dengan ekspektasi relatif realistis
tentang kemampua mereka, jika mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan
untuk menangani tantangan, maka pada umumnya mereka akan menyatakan
demikian kepada orang lain dan kepada diri mereka sendiri dan tidak terlalu
merasakan kecemasan (Norem, 2001)
(Scheier & Carver, 2002) menjelaskan bahwa individu yang optimis
adalah individu yang mengharapkan hal-hal yang baik terjadi pada mereka,
sedangkan individu yang pesimis cenderung mengharapkan hal-hal buruk terjadi
kepada mereka.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang optimis
merupakan individu yang mampu mengendalikan dirinya untuk tetap berfikir
positif akan pencapaian terhadap tujuan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas
yang diberikan. Dengan selalu berfikir positif dapat mengendalikan dan
mengarahkan tingkah laku untuk menyelesaikan permasalahan dan hambatan
yang dihadapi dalam mencapai tujuan dan harapan

strategi dalam efikasi diri

Adapun strategi dalam efikasi diri (Alwilsol, 2004) berdasarkan faktor-
faktor self-efficacy mencakup :

  1. Pengalaman Performansi
    a. Participant modeling, yaitu meniru model yang berprestasi,
    b. Performance desensitization, yaitu menghilangkan pengaruh buruk
    prestasi masa lalu,
    c. Performance exposure, yaitu menonjolkan keberhasilan yang pernah
    diraih,
    d. Self-instructed performance, yaitu melatih diri untuk melakukan yang
    terbaik.
  2. Pengalaman vikarius
    a. Live modeling, yaitu mengamati model yang nyata,
    b. Syimbolic modeling, yaitu mengamati model simbolik, film, komik, dan
    cerita.
  3. Persuasi verbal
    a. Suggestion, yaitu mempengaruhi dengan kata-kata berdasarkan
    kepercayaan,
    b. Exbortation, yaitu nasihat, peringatan yang mendesak atau memaksa,
    c. Self-instruction, yaitu memerintah diri sendiri,
    d. Interpretative treatment, yaitu interpretasi baru memperbaiki interpretasi
    lama yang salah.
  4. Pembangkitan emosi
    a. Attribution, yaitu mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian
    emosional,
    b. Relaxation biodeedback, yaitu relaksasi,
    c. Syimbolic desensitization, yaitu menghilangkan sikap emosional dengan
    modeling simbolik,
    d. Symbolic exposure, yaitu memunculkan emosi secara simbolik.
    Self-efficacy akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi
    terhadap situasi yang menekan (Bandura, 1997). Namun, tinggi rendahnya self-
    efficacy akan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu pengalaman keberhasilan
    (mastery exsperiences), pengalaman orang lain (vicarious exsperiences), persuasi
    sosial (social persuation), dan keadaan fisiologis dan emosional (physiology and
    emotional states)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self-Efficacy


Menurut Bandura (Alwilsol, 2004) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi self-efficacy, yaitu:

  1. Pengalaman Keberhasilan (Mastery Exsperiences)
    Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self-efficacy yang
    dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self-efficacy
    dirinya. Ketika keberhasilan yang didapat seseorang lebih banyak karena
    faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh
    terhadap peningkatan self-efficacy. Sebaliknya, jika keberhasilan tersebut
    didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil
    perjuangan sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan
    self-efficacy.
  2. Pengalaman Orang Lain (Vicarious Exsperiences)
    Pengalaman keberhaslan orang lain yang memiliki kemiripan dengan
    pengalaman individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan
    meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama.
  3. Persuasi Sosial (Social Persuation)
    Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh
    seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan
    seseorang bahwa dirinya cukup mampu melakukan suatu tugas.
  4. Keadaan Fisiologis dan Emosional (Physiology and Emotional States)
    Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan
    tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umunya seseorang
    cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak
    diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan
    somatik lainnya. Self-efficacy yang tinggi biasanya ditandai oleh rendahnya
    tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self-efficacy yang rendah ditandai
    oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula

Dimensi Self-Efficacy


Bandura (1997) mengemukakan beberapa dimensi self-efficacy, yakni
sebagai berikut:

  1. Magnitude atau level yakni persepsi individu mengenai kemampuannya yang
    diukur melalui tingkat kesulitan dengan berbagai macam kesulitan tugas.
    Individu yang memiliki tingkat kesulitan tugas yang tinggi memiliki
    kekyakinan bahwa dirinya mampu mengerjakan tugas-tugas yang sukar dan
    juga memiliki self-efficacy yang tinggi, sedangkan individu dengan tingkat
    kesulitan tugas yang rendah memiliki keyakinan bahwa dirinya hanya mampu
    mengerjakan tugas-tugas yang mudah serta memiliki self-efficacy yang
    rendah.
  2. Generality, dimana individu menilai keyakinan mereka berada pada tingkat
    kesulitan tugas tertentu dalam arti luas individu mempunyai keyakinan dalam
    melaksanakan tugas-tugas. Generalisasi memiliki perbedaan dimensi yang
    bervariasi yaitu intensitas kesamaan aktivitas, kemampuan yang ditunjukkan
    dengan tingkah laku, kognitif, afektif. Menggambarkan secara nyata
    mengenai situasi dan karakteristik perilaku individu yang ditunjukkan.
    Penilaian ini berkaitan dengan perilaku dan konteks situasi yang
    mengungkapkan keyakinan individu terhadap keberhasilan mereka.
  3. Strength, berkaitan dengan kuat-lemahnya keyakinan seorang individu.
    Individu yang memiliki keyakinan yang kuat akan bertahan dengan usaha
    mereka meskipun ada banyak kesulitan dan hambatan.
    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy
    merupakan suatu keyakinan atas kemampuan yang dimiliki individu dalam
    menghadapi setiap kesulitan untuk mencapai tujuan sesuai dengan situasi tertentu.
    Keyakinan tersebut dibagi lagi kedalam 3 dimensi yakni magnitude, generality,
    dan strength sehingga akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi
    terhadap situasi yang menekan

Fungsi Self-Efficacy


Fungsi self-efficacy menurut Bandura (1997) yakni:
a. Fungsi Kognitif, Bandura menyatakan bahwa pengaruh self-efficacy pada
proses kognitif seseorang sangat bervariasi. Self-efficacy yang kuat akan
mempengaruhi upaya seseorang untuk mencapai tujuan pribadinya.
b. Fungsi Motivasi, sebagian besar motivasi manusia dibangkitkan secara
kognitif. Individu memotivasi dirinya dan menuntun tindakan-tindakan yang
menimbulkan keyakinan yang dilandasi oleh pemikiran tentang masa depan.
c. Fungsi Sikap, self-efficacy meningkatkan kemampuan coping individu dalam
mengatasi besaarnya stress dan depresi yang dialami pada situasi yang sulit
dan menekan.
d. Fungsi Selektif, self-efficacy akan mempengaruhi pemilihan aktivitas atau
tujuan yang akan diambil oleh individu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat fungsi
self-efficacy yakni fungsi kognitif, fungsi motivasi, fungsi sikap dan fungsi
selektif dimana keempatnya dapat menjadi gambaran bagaimana self-efficacy
dapat mempengaruhi individu dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
untuk dapat mencapai tujuan dan harapan yang dibuat

Definisi Self-Efficacy


Seseorang bertingkah laku dalam situasi tertentu pada umumnya
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kognitif, khususnya faktor kognitif yang
berhubungan dengan keyakinan bahwa dirinya mampu atau tidak mampu
melakukan tindakan yang memuaskan. Dengan merasa memiliki keyakinan untuk
berhasil dalam proses pembelajaran, maka individu akan terdorong untuk
memperoleh prestasi akademik yang lebih baik.
Keyakinan atau yang disebut self-efficacy yang diungkapkan oleh Bandura
(1997) yakni merupakan persepsi diri mengenai seberapa bagus diri dapat
berfungsi dalam situasi tertentu. Self-efficacy atau efikasi diri ini berhubungan
dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang
diharapkan. Self-efficacy juga merupakan penilaian diri, apakah dapat melakukan
tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan
sesuai dengan yang dipersyaratkan. Maka dapat dilihat bahwa self-efficacy
menggambarkan penilaian kemampuan diri (Alwilsol, 2004).
Self-efficacy adalah suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya
bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan. Self-
efficacy akan mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi terhadap situasi
yang menekan (Bandura, 1997).
Sejalan dengan Bandura, Pervin (dalam Bart Smet, 1994) menyatakan
bahwa self-efficacy mengacu pada kemampuan yang dirasakan untuk membentuk
perilaku yang relevan pada tugas atau situasi khusus. Untuk memutuskan perilaku
tertentu, akan dibentuk atau tidak, seseorang tidak hanya mempertimbagkan
informasi dan keyakinan tentang kemungkinan kerugian atau keuntungan, tetapi
juga mempertimbangkan sejauh mana dirinya dapat mengatur perilaku tersebut.
Seseorang yang memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung melakukan sesuatu
dengan usaha yang besar dan penuh tantangan, sebaliknya individu yang memiliki
self-efficacy yang rendah akan cenderung menghindari tugas dan menyerah
dengan mudah ketika masalah muncul (Retno, 2013).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang mampu
menyadari potensi yang dimilikinya akan mampu mengoptimalkan dan
mengarahkan kemampuan yang dimilikinya dalam sebuah pencapaian. Dalam
proses pembelajaran, dengan menyadari kemampuan yang dimiliki mahasiswa
dapat terdorong dan berusaha untuk mendapatkan prestasi akademik yang lebih
baik dengan kemampuan yang dimilikinya.

Pengaruh product quality terhadap keputusan pembelian.


Product quality menjadi faktor yang sangat penting dalam keputusan
pembelian. Dalam keputusan pembelian suatu produk, konsumen tentu ingin
mendapatkan product quality yang baik dan sesuai dengan kebutuhannya.
Memberikan product quality yang tinggi merupakan kewajiban perusahan agar
mendapatkan kepercayaan dan retensi konsumen. Keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap untuk membeli merek yang
paling disukai diantara sejumlah merek yang disukai. Keputusan pembelian
konsumen meningkat pada produk-produk yang berkualitas baik, sebaliknya
keputusan pembelian menurun pada produk-produk yang kurang baik

Pengaruh celebrity endorser terhadap keputusan pembelian.


Celebrity endorser merupakan alat promosi yang populer di dunia bisnis
dikarenakan menggunakan selebriti dapat menjadi daya tarik, dan dapat
dipercaya oleh publik sehingga produk yang dipromosikan diketahui dan dikenal
oleh konsumen. Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari
beberapa tahap untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah
merek yang disukai. Semakin baik celebrity endorser maka diharapkan akan
meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli produk tersebut, sebaliknya
bila celebrity endorser tidak baik maka akan menurunkan keputusan pembelian.

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian.


Brand Image merupakan suatu hasil pandangan atau persepsi konsumen
terhadap suatu merek tertentu, yang didasarkan atas pertimbangan dan
perbandingan dengan beberapa merek lainnya, pada jenis produk yang sama.
Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap
untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah merek yang
disukai. Brand image yang baik menggambarkan citra yang positif dari
konsumen terhadap suatu merek sehingga meningkatkan kemungkinan
konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Semakin baik Brand Image
maka diharapkan akan meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli
produk tersebut, sebaliknya bila Brand Image tidak baik maka akan menurunkan
keputusan pembelian untuk membeli produk tersebut.

Pengukuran Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:96), mengemukakan keputusan pembelian
dapat diukur melalui consumer behavior sebagai berikut:
(1) Pilihan Produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian
sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam
hal ini perusahaan harus memusatkan perhatian kepada orang – orang yang
berminat membeli sebuah produk serta alternative mereka pertimbangkan.
(2) Pilihan Merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang
akan dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini
perusahaan harus mngetahui bagaiman konsumen memilih sebuah merek.
(3) Pilihan Penyalur
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur nama yang
akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda – beda dalam hal menentukan
penyalur, bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah,
persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam berbelanja, keluasan
tempat, dan lain – lain.
(4) Waktu Pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda
beda misalnya ada yang beli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu
sekali dan lain sebagainya.
(5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
produk yang akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
mungkin lebih dari satu dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda.
(6) Metode Pembayaran
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran
yang akan dilakukan dengan pengambilan keputusan menggunakan produk
atau jasa. Saat ini keputusan pembelian dipengaruhi oelh tidak hanya aspek
lingkungan dan keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh aspek
teknologi yang digunakan dalam pembayaran

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:198), keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling disukai diantara
sejumlah merek yang berbeda.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:185), keputusan pembelian adalah
membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor yang dapat muncul dari
keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor kedua
adalah faktor situasional yang tidak terduga.
Menurut Firmansyah (2018:26), keputusan pembelian adalah konsumen
memiliki sasaran atau perilaku yang ingin dicapai atau dipuaskan. Selanjutnya,
konsumen membuat keputusan mengenai perilaku yang ingin dilakukan untuk
dapat memecahkan masalahnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa pemecahan
masalah merupakan suatu aliran timbal balik yang berkesinambungan di antara
faktor lingkungan, proses kognitif dan afektif, serta tindakan perilaku

Pengukuran Celebrity Endorser


Menurut Andrews & Shimp (2017:228), menyebutkan ada beberapa atribut
pengukuran dari celebrity endorsement, yaitu:
(1) Credibility (Kredibilitas)
Mengacu pada kecenderungan untuk percaya atau mempercayai
endorser. Jika sebuah sumber informasi seperti endorser dianggap kredibel,
ada dua dimensi penting dalam atribut kredibel yaitu:
(a) Keahlian (expertise)
Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau
keterampilan yang dimiliki oleh endorser.
(b) Kepercayaan (trustworthiness)
Kepercayaan mengacu pada kejujuran yang dirasakan, integritas,
endorser merupakan orang yang dapat dipercaya oleh khalayak.
(2) Attractiveness (Daya Tarik)
Terdiri dari tiga dimensi yang terkait yaitu kesamaan, keakraban, dan
disukai. Sumber dianggap menarik untuk penerima jika ada kesamaan atau
keakraban dengan sumber, dan jika penerima menyukai sumber terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan atau tidak dalam hal apapun. Daya
tarik tidak hanya fisik, tapi juga meliputi sejumlah karakteristik yang
menjadi kelebihan endorser seperti keterampilan intelektual, sifat
kepribadian, karakteristik gaya hidup, kecakapan dan sebagainya
(3) Power (Kekuatan)
Merupakan kharisma yang dipancarkan oleh narasumber sehingga dapat
mempengaruhi pemikiran, sikap, atau tingkah laku konsumen karena
pernyataan atau pesan endorser tersebut.

Peran Celebrity Endorser


Berikut ini adalah beberapa peran selebriti sebagai model iklan yang bisa
digunakan perusahaan dalam sebuah iklan Schiffman & Kanuk dalam Putra
(2020), yaitu :
(1) Testimonial
Jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka
pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit dari
produk atau merek yang diiklankan tersebut.
(2) Endorsement
Ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.
(3) Actor
Selebriti diminta mempromosikan suatu produk atau merek tertentu
terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program tayangan
tertentu.
(4) Spokeperson
Selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu perusahaan
dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran spokerperson.
Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau produk yang
mereka wakil

Pengertian Celebrity Endorser (Pendukung Selebriti)


Menurut Andrews & Shimp (2017:227), celebrity endorser adalah
menggunakan bintang televisi, aktor film, atlet terkenal, dan bahkan tokoh yang
sudah meninggal sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak,
media sosial, maupun media televisi.
Menurut Rabia et al. (2019), celebrity endorser digunakan untuk menarik
perhatian konsumen, dengan melibatkan selebriti tertentu dalam iklan akan
memotivasi orang untuk mendapatkan perhatian terhadap produk karena strategi
ini meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk bermerek.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), celebrity endorser merupakan orang yang
mendukung suatu merek dari tokoh masyarakat yang popular dan juga alat yang
dipercaya oleh perusahan untuk berkomunikasi dengan publik guna untuk
meningkatkan angka penjualan pada produk.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa celebrity
endorser adalah penggunaan sebagai icon dari orang-orang terkenal seperti
bintang televisi, aktor film, atlet terkenal, dan bahkan tokoh yang sudah
meninggal sebagai bintang iklan di media-media oleh perusahan untuk
berkomunikasi dengan publik guna untuk meningkatkan angka penjualan pada
produk

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:393), pengukuran pada kualitas
produk dapat diukur menggunakan product differentiation adalah
sebagai berikut :
(1) Bentuk (Form)
Banyak produk dapat dibedakan dalam ukuran, bentuk, atau
struktur fisik suatu produk. Pertimbangkan banyak kemungkinan
bentuk aspirin. Meskipun pada dasarnya komoditas, dapat dibedakan
berdasarkan dosis, ukuran, bentuk, warna, pelapisan, atau waktu
tindakan.
(2) Fitur (Feature)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan beragam fitur
yang melengkapi fungsi dasarnya. Sebuah perusahaan dapat
mengidentifikasi dan memilih fitur baru yang sesuai dengan
melakukan survei pembeli baru dan kemudian menghitung nilai
pelanggan versus biaya perusahaan untuk setiap fitur potensial.
Pemasar harus mempertimbangkan berapa banyak orang yang
menginginkan setiap fitur, berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk memperkenalkannya, dan apakah pesaing dapat dengan
mudah menirunya.
(3) Kualitas Kinerja (Performance Quality)
Kualitas kinerja adalah tingkat di mana karakteristik utama
produk beroperasi. Kualitas tumbuh semakin penting untuk
diferensiasi karena perusahaan mengadopsi model nilai dan
memberikan kualitas yang lebih tinggi dengan biaya lebih sedikit.
Perusahaan harus merancang tingkat kinerja yang sesuai dengan
target pasar dan persaingan. Mereka juga harus mengelola kualitas
kinerja melalui waktu. Meningkatkan produk secara terus-menerus
dapat menghasilkan pengembalian tinggi dan pangsa pasar;
kegagalan dalam melakukannya dapat memiliki konsekuensi
negatif.
(4) Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
Kualitas kesesuaian pembeli mengharapkan kualitas
kesesuaian tinggi, sejauh mana semua unit yang diproduksi identik
dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan. Produk dengan kualitas
kesesuaian yang rendah akan mengecewakan beberapa pembeli.
(5) Daya Tahan (Durability)
Daya tahan, ukuran dari masa pakai produk yang diharapkan
dalam kondisi alami atau penuh tekanan, adalah atribut yang
dihargai untuk kendaraan, peralatan dapur, dan barang tahan lama
lainnya. Namun, biaya tambahan untuk daya tahan tidak boleh
berlebihan, dan produk tidak boleh mengalami keusangan teknologi
yang cepat, seperti komputer pribadi, televisi, dan telepon seluler
terkadang.
(6) Keandalan (Reliability)
Pembeli biasanya akan membayar premi untuk produk yang
lebih andal. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa suatu
produk tidak akan mengalami kegagalan fungsi dalam jangka waktu
tertentu.
(7) Perbaikan (Repairabiliy)
Perbaikan mengukur kemudahan memperbaiki produk ketika
tidak berfungsi dengan baik. Perbaikan yang ideal akan ada jika
pengguna dapat memperbaiki produk sendiri dengan sedikit biaya
dalam uang atau waktu.
(8) Gaya (Style)
Gaya menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada
pembeli dan menciptakan kekhasan yang sulit untuk ditiru.
(9) Kustomisasi (Customization)
Produk dan pemasaran khusus memungkinkan perusahaan
untuk menjadi sangat relevan dan berbeda dengan mencari tahu
persis apa yang diinginkan atau yang tidak inginkan konsumen.

Pengertian Product Quality (Kualitas Produk)


Menurut Kotler & Keller (2016:156), kualitas produk adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau layanan yang bergantung
pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat.
Menurut Kotler et al. (2017:249), kualitas produk merupakan
karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat.
Menurut Yanto (2017), kualitas produk adalah suatu usaha untuk
memenuhi atau melebihi harapan konsumen, dimana suatu produk
tersebut memiliki kualitas yang sesuai dengan standar kualitas yang telah
ditentukan, dan kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena
selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah.
Kualitas produk menurut Mapaung et al. (2021) merupakan
karakteristik produk dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Dengan adanya kualitas yang baik, maka akan
terbentuk suatu karakteristik yang baik di pandangan pelanggan

Tingkatan Produk


Dalam merencanakan penawaran pasarnya, pemasar perlu mengatasi
lima tingkatan produk. Setiap tingkatan akan menambahkan lebih banyak
nilai pelanggan, dan bersama-sama lima tingkatan tersebut akan membentuk
customer-value hierarchy. Tingkatan produk menurut Kotler & Keller
(2016:389):
(1) Manfaat Inti (Core Benefit)
Pada tingkatan ini layanan atau manfaat yang benar-benar dibeli oleh
pelanggan. Pemasar harus melihat diri mereka sebagai penyedia
manfaat.
(2) Produk Dasar (Basic Product)
Pada tingkatan ini pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi
produk dasar.
(3) Produk Ekspektasi (Expected Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk yang diharapkan,
sekumpulan atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli
ketika mereka membeli produk tersebut.
(4) Produk Tambahan (Augmented Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk tambahan yang
melebihi harapan pelanggan.
(5) Produk Potensial (Potential Product)
Pada tingkatan ini produk potensial yang mencakup semua
kemungkinan tambahan dan transformasi yang mungkin dialami
sebuah produk atau penawaran dimasa depan

Pengertian Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:389), produk adalah segala sesuatu
yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau
kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat,
properti, organisasi, informasi, dan ide.
Menurut Kotler et al. (2017:244), produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan, atau
dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar berupa barang fisik, jasa,
pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.
untuk memuaskan keinginan atau kebutuhannya.

Pengukuran Citra Merek


Menurut Kotler & Keller dalam Juliet (2020), pengukuran citra merek
dapat dilakukan berdasarkan aspek sebuah merek yaitu:
(1) Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan dalam hal ini adalah keunggulan-keunggulan yang
dimiliki oleh merek yang bersifat fisik dan tidak ditemukan pada merek
lainnya. Keunggulan merek ini mengacu pada atribut-atribut fisik
sehingga biasa dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingkan
dengan merek lain. Yang termasuk pada kelompok kekuatan (strength):
penampilan fisik, keberfungsian semua fasilitas produk, maupun
fasilitas pendukung dari produk tersebut.
(2) Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek
di antara merek-merek lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut
produk, menjadi kesan pada diferensiasi antara produk satu dengan
lainnya. Termasuk dalam kelompok untuk ini antara lain: ciri khas,
variasi layanan yang biasa diberikan sebuah produk, variasi harga dari
produk-produk yang bersangkutan maupun diferensiasi dari
penampilan fisik sebuah produk serta nilai unik lainnya.
(3) Kesukaan (Favorable)
Kesukaan mengarah pada kemampuan merek tersebut agar
mudah diingat oleh konsumen, yang termasuk dalam kelompok. yang
termasuk dalam kelompok Favorable ini antara lain: kemudahan merek
tersebut diucapkan, kemampuan merek untuk tetap diingat oleh
pelanggan (Brand Recognition), maupun, kesesuaian antara kesan
merek di benak pelanggan dengan citra yang diinginkan perusahaan
atas merek yang bersangkutan.

Pengertian Brand Image (Citra Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:231), brand image harus menyampaikan
manfaat dan pemosisian produk yang khas. Bahkan ketika penawaran yang
bersaing terlihat sama, pembeli merasakan perbedaan berdasarkan
diferensiasi citra merek.
Menurut Kotler & Keller (2016:330), brand image mendeskripsikan
sifat ekstrinsik yang artinya hal yang bisa dilihat atau dinilai bahkan
sebelum konsumen atau orang menggunakan suatu produk atau layanan,
termasuk cara merek tersebut dapat memenuhi kebutuhan sosial dan
psikologis dari konsumen.
Menurut Firmansyah (2018:87), brand image merupakan gambaran
dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman terhadap merek tersebut.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), brand image merupakan cara padang
konsumen terhadap suatu merek sebagai sebuah gambaran dari apa yang ada
dalam pikiran atau benak konsumen terhadap suatu merek.

Fungsi Brand (Merek)


Menurut Kotler dan Keller (2016 : 322), fungsi dari merek bagi perusahaan
dan konsumen yaitu sebagai berikut :
(1) Peranan merek untuk konsumen
Merek adalah janji antara perusahaan dan konsumen. Ini adalah
sebuah penetapan harapan konsumen dan merek mampu untuk
menyederhanakan pengambilan keputusan untuk mengurangi resiko
mereka
(2) Peran merek untuk perusahaan
Merek juga melakukan fungsi yang berharga untuk perusahaan.
Merek menyederhanakan produk penanganan dengan membantu
mengatur catatan barang, catatan akuntansi, dan sebuah merek juga
menawarkan perlindungan hukum

Pengertian Brand (Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:250), brand adalah nama, istilah, tanda,
simbol, atau desain atau kombinasi dari semuanya yang mengidentifikasi
pembuat atau penjual produk atau layanan.
Menurut Kotler & Keller (2016:322), Brand diartikan sebagai, sebuah
nama, istilah, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang
mengidentifikasi pembuat atau penjual barang atau jasa

Definisi Destination branding


Destination Brand adalah jati diri atau identitas yang dapat
mengidentifikasi suatu destinasi dengan cara yang berbeda dari
destinasi lainnya, dan memudahkan pengunjung destinasi untuk
mengingatnya. Destination branding dapat didefinisikan sebagai
sebuah cara untuk mengkomunikasikan identitas unik suatu destinasi
wisata dengan membedakannya dari para pesaingnya (Morisson &
Anderson, 2002).
Destination branding adalah proses yang digunakan untuk
mengembangkan identitas dan kepribadian yang berbeda dari semua
destinasi yang kompetitif. Tujuan dari branding adalah “memilih
kombinasi elemen merek yang konsisten untuk mengidentifikasi dan
membedakan tujuan sebagai membangun citra positif” (Cai, 2000).
Destination branding menawarkan banyak keuntungan bagi wisatawan
dan pengelola wisata, membedakan dari pesaing, dan meningkatkan
ekspetasi dari pengalaman yang diberikan oleh sebuah destinasi wisata
(Murphy, et. al, 2007).
Konsep branding dalam pariwisata adalah destination
branding. Menurut Kavaratzis, destination branding merupakan salah
satu trend dari mem-branding suatu tempat dengan menjadikan suatu
kota sebagai destinasi atau kota tujuan wisata dari masyarakat local
maupun nasional, hingga internasional, memungkinkan sebuah kota
untuk mengelola potensi pariwisata yang dimiliki daerahnya sebagai
identitas dan karakteristik yang unik bagi kota tersebut.
Melalui destination branding, membantu wisatawan
membedakan satu destinasi dengan destinasi lainnya. Selain itu,
dibandingkan dengan destinasi serupa lainnya, dapat memberikan nilai
lebih pada sebuah destinasi. Destinasi brand yang baik pasti akan
menimbulkan ekspektasi bagi wisatawan aktual maupun potensial
untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Dalam proses
membangun brand yang kuat, diperlukan strategi untuk mencapai
tujuan dengan sempurna. Dapat dikatakan bahwa destination branding
adalah strategi yang dimulai dari tujuan (kota, negara atau wilayah),
membangun posisi yang kuat di benak pasar sasaran, seperti halnya
memposisikan suatu produk, membuat tujuan dikenal di seluruh dunia.
Carmen Blain, Stuart Levy, dan J.R Brent Richie (2005:329)
mennyebutkan bahwa, definisi destination branding merupakan
seperangkat kegiatan pemasaran yang :
1) mendukung terciptanya nama, simbol, logo, atau gambar yang dapat
mengidentifikasikan dan membedakan suatu daerah tujuan wisata
dengan daerah tujuan wisata lainnya.
2) secara konsisten menyampaikan harapan pengalaman perjalanan
yang tak terlupakan dan secara unik terkait dengan daerah tujuan
wisata
3) berfungsi untuk menghubungkan dan mempererat hubungan
emosional antara wisatawan dengan destinasi wisata
4) mengurangi biaya dan resiko pencarian informasi konsumen

Branding


Pada dasarnya, brand dan branding adalah dua hal yang
berbeda. Menurut Baladi (2001) dalam bukunya yang berjudul “The
Brutal Truth About Asian Branding”, mengemukakan bahwa brand
adalah positioning dari suatu produk di benak konsumen. Dan
membangun brand adalah proses menciptakan, membangun, dan
memelihara merek. Promosi merek harus dapat menarik dan
membangun pelanggan setia dengan meningkatkan nilai merek, citra,
prestise atau gaya hidup.
Branding dipahami sebagai suatu proses merancang rencana
dan mengkomunikasikan nama dan identitas untuk membangun atau
mengelola reputasi. Branding tidak terbatas hanya melakukan kegiatan
promosi, tetapi branding harus dipandang sebagai proses yang
berkelanjutan sepenuhnya, perlu diintegrasikan dengan semua kegiatan
pemasaran yang menciptakan karakteristik, membedakan,
mengidentifikasi citra positif dan meningkatkan keunggulan kompetitif
(Kavaratzis 2008)

Brand as a Symbol


Symbol yang kuat memberikan kohesi dan struktur pada
identitas brand dan membuat brand lebih mudah untuk
diidentifikasi dan disebukan. Simbol terbagi menjadi dua
elemen, yaitu : visual imagery dan brand heritage. Dari
perspektif periklanan, gambar visual (simbol) lebih mudah
dipelajari dibandingkan kata-kata (nama). Jenis simbol menurut
bentuknya dapat dibagi menjadi tujuh, yaitu : bentuk Geometris,
Things, Packages, Logos, People, Scenes, dan Cartoon
Characters.

Brand as a person


Aaker dalam buku Building Strong Brand mendefinisikan brand
personality atau kepribadian merek sebagai seperangkat
karakteristik manusia yang diasosiasikan terhadap brand
tertentu. Hal-hal yang termasuk karakteristik seperti jenis
kelamin, usia, kelas sosial dan ekonomi, perilaku hangat,
kepedulian dan perasaan sentimental. Brand personality dapat
membantu brand manager untuk mendapatkan pemahaman
yang mendalam mengenai persepsi dan perilaku konsumen
terhadap suatu brand. Selain personality, relasi (relationship)
memegang peranan penting dalam membangun sebuah brand.
Jika dianalogikan dengan manusia, sebagian orang tidak pernah
bercita-cita untuk memiliki kepribadian seperti orang lain, tetapi
mereka Brand as a Person Customer/Brand Relationship
Personality akan lebih memilih berhubungan dengan orang
tersebut jika kepribadiannya dianggap cocok.

Brand as Organization


Perspektif brand sebagai organisasi difokuskan untuk atribut
organisasi dan bukan sekadar pada produk dan jasa. Melainkan
inovasi, gerakan sadar kualitas, kepeduliaan terhadap
lingkungan budaya, nilai-nilai, dan program perusahaan

Brand as a Product


Sebagai sebuah produk, sebuah brand dapat dilihat dari
beberapa bagian sebagai berikut :
1) Product scope adalah elemen inti dari identitas merek
produk itu sendiri, dan menciptakan gambaran yang
akan dipertimbangkan oleh sasaran pasar.
2) Product attributes, merupakan atribut terkait produk
dapat digunakan untuk menciptakan proposi nilai
dengan memberikan sesuatu yang “lebih”.
3) Quality/Value, juga dapat dilihat bahwa kualitas merek
lebih baik atas nilai yang dimiliki.
4) Uses, Berbagai brand telah berhasil membuat brand-nya
digunakan oleh konsumen pada waktu – waktu tertentu.
5) Users, Brand dapat dikaitkan dengan jenis pengguna
tertentu. Ini akan berdampak pada proposisi nilai dan
kepribadian merek.
6) Country of Origin, asosiasi suatu brand dapat berasal
dari negara atau wilayah tempat lahirnya suatu brand

Brand


Brand atau merek merupakan salah satu atribut terpenting dari
suatu produk, dan saat ini banyak digunakan untuk berbagai
kepentingan, yang dimana mem-branding suatu produk berarti
menambah nilai pada produk tersebut. Brand merupakan nama, logo,
simbol, desain, istilah, atau kombinasi dari semuanya, yang bertujuan
untuk mengidentifikasi suatu produk atau jasa dari satu atau
sekelompok penjual, sehingga dapat berbeda dari yang lain atau pesaing
(Shimp, 2000:8).
(Moilanen & Rainisto,2009:6) menjelaskan bahwa brand
merupakan keseluruhan nilai – nilai berwujud (tangible) ataupun yang
tidak berwujud (intangible) yang menjadikan suatu produk ataupun jasa
memiliki hal unik. Sebuah brand tidak hanya sekedar menjadi simbol
yang membedakan satu produk dengan produk yang lainnya, dengan
kata lain, brand mencerminkan keseluruhan opini dan perasaan umum
konsumen tentang atribut dan fungsi produk, nama brand dan
maknanya, serta perusahaan yang terkait dengan brand yang
bersangkutan. Selain itu, sebuah perusahaan harus memandang brand-
nya sebagai: 1) produk, 2) organisasi, 3) orang, dan 4) simbol.
Perspesktif tersebut bervariasi, tetapi tujuannya adalah untuk
memperjelas, memperkaya, dan membedakan identitas brand tersebut.
Tidak setiap identitas merek perlu diterapkan sepenuhnya. Setidaknya,
setiap brand harus mempertimbangkan dan menggunakannya dalam
hal identitas brand (brand identity) ketika memperkirakan seperti apa
brand itu di dalam benak konsumen

Jenis Jenis Brand Activation


Brand activation menurut Pudjiastuti, akan efektif dalam memperngaruhi
masnyarakat sebagai sasarannya dalam beberapa aspek, sebagai berikut :
1) Aspek Kognitif
Dimana brand activation dapat mempengaruhi awareness dan
pengetahuan masnyarakat terhadap perusahaan, brand, atau produk yang
ditawarkan.
2) Aspek Afektif
Dimana brand activation dapat digunakan untuk mengatasi kesalah
pahaman dan prasangka serta membantu menghubungkan pesan dari
brand terhadap konsumen.
3) Aspek Konatif
Dimana brand activation dapat mempertahankan penerimaan
masnyarakat atau produk, brand, atau perusahaan, atau dapat
mempertahankan loyalitas konsumen (Pudjiastuti, 2010:69)

Manfaat Branding


Di dalam sebuah perusahaan branding sangat di butuhkan untuk di kenal
oleh banyak masnyarakat. Maka dari itu branding memiliki manfaat yang cukup
besar bagi perusahaan. Dikutip dari jurnal enterpreneur Manfaat dari branding
antara lain, sebagai berikut :

  1. Memberikan sebuah daya Tarik terhadap konsumen
  2. Memudahkan setiap perusahaan dalam menetapkan loyalitas konsumen
    terhadap produk dan jasa bagi perusahaan.
  3. Membuka peluang bagi sebuah perusahaan dalam menetapkan harga
    jual yang tinggi.
  4. Peluang bagi perusahaan dalam melakukan diferensiasi sebuah produk
  5. Menjadi pembeda atau memiliki ciri khas yang bisa membedakan
    produk perusahaan dengan produk milik competitor. (Jurnal
    entrepreneur, n.d.)

Fungsi Branding


Di dalam suatu branding dikutip dari jurnal enterpereneur di dalam
branding harus memiliki fungsi yang baik agar terciptanya suatu branding yang
maksimal. berikut beberapa fungsi dari suatu branding antara lain, yaitu :

  1. Sebagai suatu pembeda, dimana setiap perusahaan yang mempunyai
    sebuah brand yang kuat akan muda dibedakan dengan competitor
    lainnya. (Jurnal entrepreneur, n.d.)
  2. Daya tarik dan promosi, jika memiliki brand yang kuat maka di dalam
    promosinya pun akan mudah dilakukan. Komsumen pun lebih memilih
    brand yang kuat dan loyal terhadap brand yang sama. (Jurnal
    entrepreneur, n.d.)
  3. Membangun sebuah citra, jaminan kualitas, kepercayaan, dan wibawa,
    dalam hal ini membuat bisnis akan menjadi mudah diingat. (Jurnal
    entrepreneur, n.d.)
  4. Pengendali pasar, sebuah brand yang kuat bisa mengendalikan suatu
    pasar dikarnakan konsumen atau masnyarakat telah mengenal brand
    tersebut. (Jurnal entrepreneur, n.d.)

Jenis-Jenis Branding


Selain pengertian branding ada pula jenis-jenis branding dikutip dari jurnal
entrepreneur yang perlu diketahuai tentang jenis branding antara lain yaitu :

  1. Product Branding
    Adalah jenis branding yang paling umum. dikarena produk atau merek
    yang berhasil yaitu produk yang mampu membuat konsumen terdorong
    untuk memilih produk miliknya di atas produk competitor. (Jurnal
    entrepreneur, n.d.)
  2. Personal Branding
    Alat pemasaran yang paling terkenal di kalangan public figure seperti
    artis, musisi, dan politis, sehingga mereka memiliki pandangan tersendiri
    di mata masnyarakat. (Jurnal entrepreneur, n.d.)
  3. Corporate Branding
    Semua aspek perusahaan yang terdiri mulai dari produk atau jasa yang
    ditawarkan sampai kontribusi karyawan dimata masnyarakat. corporate
    branding sangat penting untuk mengembangkan reputasu perusahaan di
    pasar. (Jurnal entrepreneur, n.d.)
  4. Destination Branding
    Tujuannya untuk mengenalkan produk atau jasa ketika suatu nama lokasi
    disebutkan seseorang. Jadi ketika seseorang menyebut nama kota maka
    terkenal dengan kulinernya atau suatu yang melekat pada kota tersebut.
    (Jurnal entrepreneur, n.d.)
  5. Culture Branding
    Mengembangkan reputasi tentang lingkungan dan orang-orang dari
    lokasi atau kebangsaan tertentu. (Jurnal entrepreneur, n.d.)