Brand salah satu atribut penting dari sebuah produk, dimana merek suatu
produk memberikan nilai tambah produk tersebut. Merek tidak hanya kesan-
kesannya, tetapi merek juga harus menempati suatu posisi khusus dalam pikiran
untuk benar-benar menjadi sebuah merek. Menurut American Marketing
Association (AMA) mendefinisikan brand atau merek itu adalah sebagai nama,
istilah, tanda, lambang, atau desain, atau tujuh kombinasinya, yang dimaksudkan
untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual
dan mendiferensiasikan produk atau jasa dari para pesaing. (Kotler, 2009:258)
Sedangkan menurut Boomsma dan Arnoldus brand diciptakan agar
meyakinkan calon konsumen tentang suatu keunggulan standar kualitas, status
sosial, reliabilitas, nilai atau kemana sebuah produk. Brand memperitahukan bahwa
sebuah produk yang menyandang brand berasal dari distributor, produsen. Simons
mengungkapkan bahwa seorang yang menciptakan dan membuat brand terhadap
sebuah produk atau jasa seharuslah berusaha menjalin relasi antara produk atau jasa
yang di berikan kepada pelanggan. Hal ini memperkuat daya saing sebuah produk
dan jasa tersebut ke depannya akan menjadikannya semangkin sulit pesaing untuk
meniru. (Geoffrey, 2007:554)
Kekurangan Media Sosial
Menurut Agus Hermawan dalam buku Komunikasi Pemasaran hal yang
menjadi kekurangan media sosial sebagai suatu media komunikasi
pemasaran yaitu:
a) Produk tidak tersentuh, dari perspektif konsumen,
ketidakmampuan menyentuh, membaui, merasakan atau
mencoba produk secara nyata sebelum membeli merupakan
kekurangan pemasaran online.
b) Keamanan, keamanan terkait keaslian produk dan keamanan
distribusi produk.
c) Iklan dalam iklan, melakukan promosi melalui media sosial
sangat memungkinkan terjadinya ikaln dalam iklan, ini terjadi
ketika pemasar lain beriklan dalam kolom komentar pada sebuah
postingan iklan. Sehingga konsumen sasaran tertepa iklan dari
pemasar lain yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen
tersebut. (Hermawan, 2012:215
Manfaat Media Sosial
Media sosial dapat dimanfaatkan untuk menentukan personal branding
yang diinginkan, mencari lingkungan yang tepat, mempelajari cara
berkomunikasi, untuk konsisten dan sebagai mix the media. Fantastic
marketing result through Sicual media: “people don’t watch TV’s
anymore, they watch their mobile phones” kebiasaan masnyarakat kini
bergeser dari televisi ke layer smart phone, mereka yang tidak memiliki
banyak waktu untuk menonton televisi, kini dapat dengan mudah
mendapat informasi melalui smart phone. Informasi-informasi dapat
diperoleh melalui postingan di media sosial. (Puntoadi, 2011:19)
Media sosial memberikan kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat
antara berbagai pihak, seperti antara produsen dengan konsumen, media
sosial dapat menjadi media untuk membentuk komunitas online. Media
sosial dapat menjadi bagian dari keseluruhan e-marketing starategi yang
digabungkan dengan media sosial lainnya. Media sosial memberikan
peluang masuk ke komunitas yang telah ada sebelumnya dan
memberikan kesempatan mendapat feedback secara langsung. (Puntoadi,
2011:21-31)
Tahap-Tahap Strategi Komunikasi Pemasaran
Tahap dari startegi komunikasi pemasaran menurut Mahmud Machfoedz
ada tujuh tahap yaitu sumber informasi, kode atau program, pesan, media,
penguraian kode, penerima, umpan balik. Secara lebih rinci ketujuh tahapan staretgi
komunikasi pemasaran akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Sumber Informasi
Sumber informasi ialah pemasar (perusahaan atau organisasi).
2) Kode atau Program
Proses pembentukan pesan atau ide ke dalam bentuk yang dapat
dipahami dan diharapkan dapat mempengaruhi penerima. Tahapan ini
mencerminkan strategi kreatif atau saran penjualan, janji yang dibuat
oleh perushaan tentang produk atau perusahaannya. 3) Pesan
Pesan adalah pelaksanaan strategi kreatif. Pesan dapat diungkapkan
dengan berbagai cara, meliput kata-kata (secara lisan atau tertulis),
diagram, gambar, dan dramatisasi dalam berbagai bentuk. Misalnya
presentasi penjualan, label kemasan, atau iklan yang didesain untuk
surat kabar, majalah, atau televisi
4) Media
Saluran yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan, seperti
radio, televisi, media cetak, telepon, faksimili, dan hubungan langsung
antara wiraniaga dan konsumen, atau kata-kata yang diucapkan oleh
konsumen.
5) Penguraian Kode
Penafsiran pesan oleh penerima. Pesan sama dapat ditafsirkan berbeda
oleh penerima yang beragam, yang mempunyai pengalaman,
pengetahuan, dan lingkungan masing-masing.
6) Penerima
Pihak yang menerima pesan, perusahaan, konsumen, atau stakeholder
pengirim pesan yang ingin mempengaruhi dengan cara tertentu.
7) Umpan Balik
Respons penerima terhadap pesan, yang diharapkan oleh pemasar akan
dapat mengubah sikap atau perilaku atau permintaan informasi yang
lebih rinci. (Machfoedz, 2010:17-18)
Strategi Komunikasi Pemasaran
Menurut Mahmud Machfoedz strategi di dalam komunikasi pemasaran
menggunakan dua strategi utama yang dilakukan oleh pemasar untuk mencapai
tujuannya yaitu :
1) Staretgi Mendorong (push strategy)
Strategi yang memerlukan pemanfaatan tenaga penjualan dan promosi
perdagangan untuk mendorong produksi melalui anggota saluran
distribusi ke arah konsumen terakhir.
2) Strategi Menarik (pull strategy)
Digunakan oleh produsen untuk mengarahkan aktivitas pemasarannya
(terutama periklanan dan promosi konsumken) ke arah pengguna produk
atau jasa untuk memotivasi mereka agar membeli produk.
Jika startegi ini berhasil dengan efektif, permintaan produk dari anggota
saluran akan meningkatkan permintaan dari produsen. Dengan demikian,
dengan strategi menarik, konsumen meminta “penarikan” produk
melalui saluran. (Machfoedz, 2010:12-13)
Tujuan Komunikasi Pemasaran
Tujuan dari komunikasi pemasaran menurut Rd. Soemanagara dalam
bukunya Strategi Marketing Communication mengatakan bahwa komunikasi
pemasaran bertujuan untuk mencapai tiga tahap perubahan yang ditujukan kepada
konsumen yaitu:
1) Perubahan Pengetahuan
Perubahan pengetahuan menunjukan bahwa konsumen mengetahui
adanya keberadaaan sebuah produk, untuk apa produk itu diciptakan, dan
ditujukan kepada siapa produk tersebut, dengan demikian pesan yang
disampaikan tidak lebih menunjukkan informasi penting dari produk.
2) Perubahan Sikap
Dalam consumer behaviour perubahan sikap ditentukan oleh tiga unsur
yang ditentukan oleh Sciffman dan Kanuk sebagai tricomponent attitude
changes yang menunjukan bahwa tahapan perubahan sikap ditentukan
oleh tiga komponen yaitu Cognition (pengetahuan), Affection (perasaan),
Conation (perilaku), jika dari ketiga komponen ini menunjukan adanya
kecenderungan terhadap sebuah perubahan maka memungkinkan sekali
akan terjadinya sebuah perubahan sikap.
3) Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku ditujukan agar konsumen tidak beralih kepada
produk lain, dan terbiasa untuk menggunakannya. (Soemanagara,
2008:63)
Definisi Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran menurut Kotler dan Keller, merupakan sarana bagi
perusahaan untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen
baik secara langsung atau tidak langsung tentang produk dan merek yang mereka
jual. Hal ini merupakan, komunikasi pemasaran mewakili “suara” dari perusahaan
dan merek perusahaan serta sarana yang dapat membangun dialog dan juga
membangun hubungan dengan konsumen. (Kotler, 2009:510).
Secara teoritis dan praktis, aktivitas promosi bisa dikatakan sebagai dari
bagian komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran sebuah bagian aktivitas dari
keseluruhan pemasaran. Menurut Mahmud Machfoedz dalam bukunya yaitu
Komunikasi Pemasaran Modern menjelaskan bahwa komunikasi pemasaran adalah
istilah yang digunakan untuk menerangkan arus informasi tentang produk dari
pemasar sampai kepada konsumen. Pemasar menggunakan iklan, pemasaran
langsung, publisitas, promosi penjualan, dan penjualan langsung, untuk
memberikan informasi yang mereka harapkan dapat mempengaruhi keputusan
pembelian oleh konsumen. (Machfoedz, 2010:16-17)
Tujuan Komunikasi
Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang pastinya memiliki
tujuan tertentu. Tujuan yang dimaksud yaitu merujuk pada sebuah hasil atau akibat
yang diinginkan oleh pelaku komunikasi.
Terdapat tujuan komunikasi menurut Agus Hermawan mengutip dari
Arnold dan Bowers (1984) dan Naisbit (1984) dalam buku komunikasi pemasaran
memiliki empat tujuan atau motif yang perlu dikemukakan yaitu :
1) Menemukan, salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan
diri (personal discovery). Dengan berkomunikasi kita dapat memahami
diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara secara lebih baik.
Tetapi, komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia
luar, dunia yang dipenuhi objek, peristiwa, dan manusia lain.
2) Untuk Berhubungan, salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah
berhubungan dengan orang lain (membina dan memelihara hubungan
dengan orang lain). Kita mengahabiskan banyak waktu dan energi
komunikasi kita untuk membina dan memelihara hubungan sosial.
3) Untuk Meyakinkan, media massa sebagian besar untuk kita agar merubah
sikap dan prilaku kita. Media dapat hidup karena adanya dana dari iklan,
yang diarahkan untuk mendorong kita membeli berbagai produk.
4) Untuk Bermain, kita menggunakan banyak prilaku kita untuk bermain
dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaranaan, music
dan film sebagi besar untuk menghibur. (Bower dalam Hermawan,
2012:4-5)
Lalu ada komunikasi menurut Onong uchaja Effendy mengemukakan tujuan
dari komunikasi dalam bukunya yang berjudul Dimensi-Dimensi Komunikasi
yaitu:
1) Social Change (Perubahan Sosial)
Komunikasi bertujuan untuk memberikan berbagai informasi pada
masnyarakat dengan tujuan agar masnyarakat mau mendukung dan ikut
serta terhadap tujuan informasi itu disampaikan.
2) Attitude Change (Perubahan Sikap)
Komunikasi bertujuan untuk memberikan berbagai informasi pada
masnyarakat dengan tujuan masnyarakat akan berubah sikapnya.
Misalnya memberikan informasi mengenai gaya hidup sehat yang
bertujuan mengubah sikap masnyarakat menjadi positif akan gaya hidup
sehat.
3) Opinion Change (Perubahan Pendapat)
Komunikasi bertujuan untuk memberikan berbagai informasi pada
masnyarakat dengan tujuan agar masnyarakat mau berubah pendapat dan
persepsinya terhadap tujuan informasi itu disampaikan.
4) Behavior Change (Perubahan Prilaku)
Komunikasi bertujuan untuk memberikan berbagai informasi pada
masnyarakat dengan tujuan agar masnyarakat mau mengubah
prilakunya. Misalkan memberikan informasi mengenai gaya hidup sehat
yang bertujuan mengubah prilaku masnyarakat agar menjalani gaya
hidup sehat. (Solihat, 2015:10)
Unsur-Unsur Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu usaha untuk menyamakan persepsi di antara
dua pihak. Komunikasi yang baik menghasilkan kesepahaman diantara dua pihak
yang mengadakan interaksi. Maksud komunikator (penyampaian pesan) yang
menyampaikan tentang A, ditangkap juga sebagai A oleh komunikan (penerima
pesan), itulah titik dimana komunikasi disebut sukses.
Menurut Cangara komunikasi terdapat beberapa unsur-unsur diantaranya
yaitu :
1) Komunikator (sumber) yaitu pembuat atau pengirim informasi.
2) Pesan yaitu sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima.
3) Media atau saluran yaitu alat yang digunakan untuk memindahkan pesan
dari sumber kepada penerima.
4) Penerima atau komunikan yaitu pihak yang menjadi sasaran pesan yang
dikirim oleh sumber.
5) Pengaruh atau efek yaitu perbedaan atau apa yang dipikirkan, dirasakan
dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah penerima pesan.
6) Tanggapan balik yaitu salah satu bentuk dari pada pengaruh yang berasal
dari penerima, tetapi umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti
pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.
7) Lingkungan atau situasi yaitu faktor-faktor tertentu yang dapat
mempengaruhi jalannya komunikasi. (Cangara, 2007:23
Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan
manusia. Dan bahkan komunikasi telah menjadi suatu fenomena bagi terbentuknya
suatu masnyarakat atau komunitas yang terintegrasi oleh informasi, di mana
masing-masing individu dalam masnyarakat itu sendiri saling berbagi informasi
(information sharing) untuk mencapai tujuan bersama. Secara sederhana
komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampain pesan dan orang
yang menerima pesan. Komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin
“communis”. Communis atau dalam bahasa inggrisnya “commun” yang artinya
sama. Apabila kita berkomunikasi (to communicate), ini berarti bahwa kita berada
dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan kesamaan. (Suwardi 1986:13 dalam
Rohim, 2009:8)
Komunikasi secara singkat menurut Barnlud bahwa komunikasi timbul
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian,
bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego. (Rismawaty,
2014:68).
Adapun definisi komunikasi yang dikemukakan oleh Raymond S. Ross
(1983:8) sebagai berikut :
“Komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan ,mengirimkan
symbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar
membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan
yang dimaksudkan oleh sang komunikator”. (Raymond dalam Wiryanto,
2008:6).
Sedangkan Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964:527)
mendefinisikan komunikasi sebagai berikut :
“Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, symbol, emosi,
keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol, dan
sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut
komunikasi)”. (Steiner dalam Wiryanto, 2008:7).
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku di dalam bukunya berjudul
Dimensi-Dimensi Komunikasi menyatakan bahwa, komunikasi adalah proses
penyampaian lambang atau suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain, baik
dengan maksud agar mengerti atau untuk mengubah perilaku. (Effendy dalam
Solihat, 2015:3)
Indikator Minat Beli
Ferdinand dalam Kusuma Erik, I., Surya, J., & Suhendra,
I,(2017) minat beli di identifikasi melalui indikator-indikator sebagai
berikut:
1) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk
membeli produk.
2) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan produk kepada orang lain.
3) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
Preferensi ini hanya dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan
produk preferensinya.
4) Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat
positif dari produk tersebut.
Faktor Pendorong Keterlibatan
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan keterlibatan konsumen terhadap
pembelian (Mowen dan Minor 2002:85) yaitu
- Pentingnya ekspresi diri (self-ekspressive importance ) produk-produk yang
membentu orang untuk mengekspresikan konsep diri mereka kepada orang
lain - Pentingnya hedonism (hedonic importance) produk-produk yang dapat
menyenangkan, menarik, menggembirakan, mempesona, dan menggairahkan. - Relevansi Praktis (partical relevance) produk-produk yang mendasar atau
bermanfaat untuk alasan yang bermakna - Risiko Pembelian (purchase risk) produk-produk yang menciptakan
ketidakpastian karena pilihan yang buruk akan menjadi sangat menganggu
pembeli.
Dalam Engel at.al (1992:293) yakni pentingnya konsekuensi negative,
probabilitas subjektif dari kesalahan pembelian – risiko membuat pilihan yang
buruk, nilai kesenangan –nilai hedonic dari pembelian dan pemakaian, nilai tanda
– jangkauan dimana pembelian dan pemakaian membuat pernyataan psiko/sosial
mengenai orang yang bersangkutan. Dalam Engel at.al (1992:35) juga
menjelaskan faktor-faktor determinan utama dari keterlibatan yang tinggi. - Hubungan Ego – Hubungan ini terjadi terjadi ketika pilihan dipresepsikan
mencerminkan citra diri - Risiko konsekuensi negative yang dirasakan – setiap orang kadang merasa
takut bahwa hasil pembelian tidak akan sesuai dengan harapan. - Sanksi Sosial – ada saat-saat penerimaan sosial dipengaruhi oleh pilihan
produk atau jasa, sehingga menegaskan kebutuhan untuk membuat pilihan
yang tepat. - Makna hedonic – barang atau jasa yang dibeli mendapat arti penting dengan
menawarkan kemampuan yang bermakna untuk memberikan kesenangan
Jenis Keterlibatan
Dalam Mowen dan Minor (2002:84) terdapat dua jenis keterlibatan yakni
keterlibatan situasional dan keterlibatan abadi. Keterlibatan situasional
(situational involvement) terjadi selama periode yang pendek dan diasosiasikan
dengan situasi yang spesifik, seperti kebutuhan untuk mengganti sebuah produk.
Keterlibatan abadi (enduring involvement) terjadi saat konsumen menunjukkan
minat yang tinggi dan konsisten terhadap sebuah produk dan seringkali
menghabiskan waktunya untuk memikirkan tentang produk tersebut.
Menurut Schiffman dan Kanuk, (2007) dalam Willy (2010:64) keterlibatan
dibagi menjadi dua jenis yakni keterlibatan rendah dan keterlibatan tinggi.
Keterlibatan yang rendah (low involvement) adalah keadaan dimana para
konsumen menilai bahwa perilaku pembelian tidak atau sudah dilakukan secara
rutin sehingga mereka hanya sedikit terlibat dalam proses pencarian informasi
sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pembelian. Keterlibatan yang
tinggi (high involvement) adalah keadaan dimana para konsumen menilai untuk
melakukan suatu keputusan pembelian yang cukup penting, mereka melakukan
pencarian informasi yang luas sebelum mengambil keputusan untuk melakukan
pembelian
Bentuk Keterlibatan
Dalam Engel at.al. (1992:292) bentuk keterlibatan dapat di ekspresikan
didalam perilaku konsumen, yakni:
- Keterlibatan Pesan (pengolahan dan pencarian informasi yang tuntas) dampak
tinggi
Dalam pencarian informasi ini terjadi ketika terdapat sebuah dorongan
yang diciptakan oleh konsumen, mereka akan mencari dan mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber. Jika dari sumber informasi telah memberikan
alasan yang dibutuhkan, konsumen akan membeli produk tersebut. Tetapi
sebaliknya, konsumen akan mempertimbangkan keputusannya dan akan lebih
banyak mencari informasi lagi (Kotler dan Amstrong 2001 dalam Choubatrash
at.al 2013: 283).
Dengan pencarian informasi dapat membedakan dua tingkat keterlibatan
(Kotler dan Keller 2009:185), pencarian yang lebih rendah disebut perhatian
tajam, pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih respetif terhadap informasi
tentang sebuah produk. Pada tingkat berikutnya, seseorang dapat memasuki
pencarian informasi aktif untuk mempelajari produk tersebut. Menurut Kotler dan
keller (2009:185) sumber informasi utama konsumen dibagi menjadi empat
kelompok yakni (1) pribadi: keluarga, teman, tetangga, rekan (2) komersial: iklan,
situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan (3) public: media massa,
organisasi pemeringkat konsumen, (4) eksperimental: penanganan, pemeriksaan,
penggunaan produk. - Keterlibatan Produk (Merek)
Konsumen juga dapat menjadi terlibat dengan produk (atau merek).
Konsumen lebih mungkin melihat perbedaan dalam sifat yang ditawarkan oleh
berbagai produk atau merek. Dan hasil yang lazim adalah loyalitas yanglebih
besar ketika preferensi didasarkan atas keterlibatan yang dirasakan tinggi. - Keterlibatan Dalam Keputusan pembelian
Bentuk keterlibatan dalam keputusan pembelian ini terdapat dua cara
yakni pemecahan masalah yang diperluas (PMD) apabila keterlibatan tinggi,
sementara keterlibatan rendah menggunakan pemecahan masalah terbatas (PMT) . - Pemecahan Masalah yang Diperluas (PMD)
Ketika proses keputusan dirinci secara khusus dan teliti, mulai dari
pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternative, pembelian, dan
hasil diikuti, walaupun tidak dalam urutan yang persis. Terdapat kemungkinan
bahwa banyak alternative akan dievaluasi dan variasi luas sumber informasi
dikonsultasikan. Dan untuk mengenai bagaimana dan dimana untuk membuat
pembelian juga mungkin memerlukan pencarian dan evaluasi tambahan.Prosesnya
tidak berhenti menyusuli pembelian, karena harapan kerap jelas dan teliti. Bila
barang yang dibeli mengecewakan, hasilnya dapat berupa kekecewaan yang besar
sekali dan sering dibicarakan kepada orang lain. Hasil yang diharapkan tentu saja
adalah kepuasan yang diekspresikan dalam bentuk rekomendasi positif kepada
orang lain dan maksud untuk membeli kembali. (Engel at.al 1992:32)
Menurut Utami (2010:55) pemecahan masalah yang luas adalah suatu
proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen memerlukan usaha
dan waktu yang cukup besar untuk meneliti dan menganalisis berbagai alternatif.
Pemecahan masalah ini terjadi ketika konsumen sedang membuat suatu keputusan
pembelian untuk mencukupi suatu kebutuhan yang penting, atau ketika hanya
memiliki sedikit pengetahuan tentang produk atau jasa tersebut. - Pemecahan Masalah yang Terbatas (PMT)
Pemecahan masalah terbatas adalah suatu proses pengambilan keputusan
belanja yang menyertakan suatu usaha dan waktu yang cukup banyak. Pada situasi
ini, konsumen cenderung untuk lebih mengandalkan pengetahuan pribadi
dibandingkan mengandalkan informasi eksternal. Salah satu jenis pemecahan
masalah terbatas secara umum dan biasa terjadi adalah pembelian impulsive.
Pembelian impulsive adalah suatu keputusan pembelian yang dibuat oleh
konsumen dengan segera setelah melihat barang dagangan. (Utami, 2010:55
Definisi Keterlibatan
Konsep keterlibatan sangat berarti untuk mengerti dan menjelaskan
perilaku konsumen. Istilah ini pertama kali dipopulerkan dalam lingkungan
pemasaran oleh Krugman pada tahun 1965 dan membangkitkan minat besar sejak
saat itu. Walaupun istilah ini sudah didefinisikan dengan banyak cara, menurut
James F Angel (1994: 289) keterlibatan adalah tingkat kepentingan pribadi yang
dirasakan atau dibangkitkan oleh stimulus di dalam situasi spesifik.
Definisi keterlibatan menurut Solomon (2010) dalam Mulyana dkk
(2010:15) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai studi tentang proses
keterlibatan pada saat individu atau kelompok memilih, membeli, menggunakan,
atau membuang produk, jasa, ide atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginannya.
Sedangkan menurut Mowen dan Minor (2002:83) keterlibatan konsumen
adalah pribadi yang dirasakan penting dan atau minat konsumen terhadap
perolehan, konsumsi, dan disposisi barang, jasa, atau ide. Dengan semakin
meningkatnya keterlibatan, konsumen memiliki motivasi yang lebih besar untuk
memperhatikan, memahami, dan mengelaborasi informasi tentang pembelian
Hubungan Perilaku Rasional dan Keputusan Pembelian
Teori perilaku berencana merupakan pendekatan intensi perilaku
yang mengatasi keterbatasan teori tindakan beralasan dalam hal
ketidakakuratan intensi perilaku dalam situasi kontrol volisional yang
lebih rendah. Ajzen menyempurnakan tindakan beralasan menjadi teori
perilaku berencana (Ajzen, 1991) dengan cara menambahkan variabel
baru yang memberi perhatian pada konsep kontrol kemauan berperilaku
yang dirasakan individu (Ajzen dalam Dharmmesta, 1998). Teori perilaku
berencana menambahkan kontrol kemauan yang dirasakan oleh seseorang
dalam situasi pengambilan keputusan berperilaku khususnya ketika
perilaku tersebut tidak berada di bawah kontrol volisional (Ajzen, 1991).
Intensi berperilaku didefinisikan dalam beberapa elemen yaitu
target, tindakan, konteks, dan waktu (Fishbein). Elemen tersebut bisa
dijelaskan pada pembelian produk tabungan merupakan elemen tindakan,
sedangkan produk tabungan merupakan elemen target
Hubungan Keterlibatan Konsumen Dengan Keputusan Pembelian
Menurut kondisi keterlibatan konsumen bertindak seolah- olah
mereka menggunakan model kompensatori. Menurut model kompensatori
pilihan (compensatory models of choice), orang menganalisis setiap
alternatif dengan cara evaluatif yang luas sehingga penilaian yang tinggi
atas salah satu atribut dapat mengkompensasi penilaian rendah atas atribut
lainnya. Dalam jenis proses evaluatif ini, semua informasi mengenai
atribut suatu merek digabung ke dalam penilaian secara keseluruhan.
Prosesnya akan di ulang untuk setiap alternatif merek, dan merek yang
mempunyai preferensi keseluruhan tertinggi dipilih (Mowen dan Minor,
2002).
Salah satu aspek model kompensatori harus diperhatikan: suatu
alternatif tidak perlu ditolak karena mempunyai penilaian yang rendah
atas atribut tertentu. Jadi seorang konsumen dapat menilai merek mobil
tertentu yang kurang dalam akselerasi, tetapi, karena dia menilai mobil
dengan tinggi pada atribut lainnya dan karena pilihannya didasarkan atas
evaluasi global, maka konsumen dapat memilih merek tersebut. Fakta
bahwa penilaian yang tinggi atas beberapa atribut dapat mengkompensasi
penilaian rendah atas atribut lainnya merupakan dasar untuk menyebutkan
model kompensasi tersebut (Mowen dan Minor, 2002)
Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Konsumen
Menurut Keller dan Kotler (2012) perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi oleh faktor-faktor :
- Faktor Budaya
Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
dasar. Masing-masing budaya terdiri dari sub budaya mencakup
kebanggaan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Dan ketika
sub kultur menjadi cukup besardan cukup makmur, maka perusahaan
sering merancang program pemasaran secara khusus untuk melayani
konsumen. faktor budaya dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Sub budaya
Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok yang lebih kecil
atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
berdasarkan pengalaman dan situasi hidup yang sama, yang
meliputi : kewarganegaraan, agama, ras dan daerah geografis.
b. Kelas sosial
Hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas
sosial. Kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif
permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya memiliki
nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama. Kelas sosial
menunjukkan beberapa pilihan-pilihan produk dan merk dari
seperti pakaian, perabotan rumah tangga, mobil dan aktivitas waktu
senggang, kelas sosial seseorang dapat dinyatakan dalam beberapa
variabel seperti jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan dan
variabel lainnya. - Faktor Sosial
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial, seperti kelompok
acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
a. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap
sikap atau perilaku seseorang.
b. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang
paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga
menjadi kelompok acuan yang paling primer yang paling
berpengaruh.
c. Peran dan status terlihat pada kedudukan orang itu di masing-
masing kelompok. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan
akan dilakukan oleh seseorang dan masing-masing peran
menghasilkan status. - Faktor Pribadi
Faktor pribadi meliputi, usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan
keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri,serta nilai dan gaya
hidup .
a. Dalam usia dan tahap siklus hidup, jenis kebutuhan akan
produk akan nampak perbedaan yng disesuaikan dengan umur
seseorang dalam memenuhi suatu kebutuhan.
b. Pekerjaan dan keadaan ekonomi membuat seseorang
mempunyai pola konsumsi yang berbeda.
c. Kepribadian dan Konsep diri membuat seseorang mempunyai
ciri bawaan psikologis manusia yang mampu menpengaruhi
perilaku pembelian.
d. Gaya hidup dan nilai merupakan pola hidup seseorang di dunia
yang terungkap pada aktifitas, minat, dan opini. - Faktor Psikologis
Sigmund Freud mengansumsikan bahwa kekuatan psikologis yang
membentuk perilaku manusia tidak disadari dan bahwa seseorang
tidak dapat sepenuhnya memenuhi motivasi dirinya. Empat proses
psikologis antara lain, motivasi, persepsi, pembelajaran, dan memori.
a. Motivasi mampu membuat seseorang untuk bertindak
melakukan pembelian.Persepsi merupakan proses yang
digunakan untuk menginterpretasikan suatu informasi guna
untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
b. Persepsi itu bisa mempengaruhi perilaku konsumen secara
aktual.
c. Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang
timbul dari pengalaman.
d. Proses memori merupakan tindakan mendapatkan kembali
ingatan yang merujuk pada bagaimana informasi
membangkitkan ingatan kita
Tahapan proses pembelian
Dilihat secara umum bahwa konsumen memiliki 5 (lima) tahap
28
untuk mencapai suatu keputusan pembelian dan hasilnya (Kotler dan Keller,
2012), yaitu:
- Tahapan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini konsumen mengenali
sebuah kebutuhan, keinginan atau masalah. Kebutuhan pada dasarnya
dapat di cetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Perusahaan
harus menentukan kebutuhan, keinginan atau masalah mana yang
mendorong konsumen memulai proses membeli suatu produk. - Tahapan Pencarian Informasi. Konsumen yang terangsang
kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi- informasi yang
lebih banyak. Sumber-sumber informasi konsumen terbagi dalam 4
(empat) kelompok yaitu:
a. Sumber Pribadi. Sumber Pribadi ini di dapat konsumen melalui
keluarga, teman, dan kenalan atau tetangga.
b. Sumber Komersial. Sumber Komersial ini di dapat konsumen
melalui iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
c. Sumber Publik. Sumber Publik ini di dapat konsumen melalui
media masa, organisasi penentu peringkat konsumen atau lembaga
konsumen.
d. Sumber Pengalaman. Sumber Pengalaman ini di dapat konsumen
melalui penanganan, pengkajian, dan pemakaian produk. - Tahapan Evaluasi Alternatif atau Pilihan. Setelah mengumpulkan
informasi sebuah merek, konsumen akan melakukan evaluasi alternatif
terhadap beberapa merek yang menghasilkan produk yang sama dan
bagaimana konsumen memilih di antara produk-produk alternatif. - Tahapan Keputusan Pembelian. Konsumen akan mengembangkan
sebuah keyakinan atas merek dan tentang posisi tiap merek
berdasarkan masing-masing atribut yang berujung pada pembentukan
citra produk. Selain itu, pada evaluasi alternatif konsumen juga
membentuk sebuah prefensi atas produk-produk yang ada dalam
kumpulan pribadi dan konsumen juga akan membentuk niat untuk
membeli merek yang paling di sukai dan berujung pada keputusan
pembelian. - Tahapan Perilaku Pasca Pembelian. Tugas perusahaan pada dasarnya
tidak hanya berakhir setelah konsumen membeli produk yang di
hasilkan saja, tetapi yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah
meneliti dan memonitor apakah konsumen akan mengalami tingkat
kepuasan dan ketidakpuasan setelah menggunakan produk yang akan
dibeli. Tugas tersebut merupakan tugas akhir setelah periode sesudah
pembelian.
Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2009) adalah
pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian.
Artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia
beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah
kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu
dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat
digolongkan sebagai berikut: - Fully Planned Purchase, dimana baik produk dan merek sudah
dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika ada keterlibatan dengan
produk tinggi (barang otomotif), namun bisa juga terjadi dengan
keterlibatan pembelian yang rendah (barang kebutuhan rumah
tangga) - Partially Planned Purchase, dimana konsumen bermaksud untuk
membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda
sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh
diskon harga atau display produk - Unplanned Purchase, dimana produk ataupun merek dipilih pada
saat berada di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan
katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja.
Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan seseorang
akan kebutuhan dan memicu pembelian
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Pengertian keputusan
pembelian , menurut Kotler dan Armstrong (2008) adalah tahap proses
pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli.
Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
ditawarkan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2008), keputusan pembelian
konsumen adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai
alternatif yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian.
Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2009) keputusan
pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih aternatif pilihan keputusan
pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, harus
tersedia beberapa alernatif.
Berdasarkan dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen
untuk melakukan pembelian suatu produk. Oleh karena itu, pengamblan
keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah
satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut
Perilaku setelah membeli yang nyata. Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya.
Keputusan pembelian mengarah pada perilaku konsumen. Pola
perilaku konsumen sangat terkait satu sama lain, khusus disisi seperti
kualitas, harga, dan pengambilan keputusan. Tugas pemasar adalah
memahami perilaku pembeli pada tiap tahap dan pengaruh apa yang
bekerja dalam tahap-tahap tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Rasional
Menurut konteks pemasaran, motif rasional adalah motif yang
didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukan oleh suatu
produk kepada konsumen. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dapat
berupa :
- Faktor ekonomi seperti faktor penawaran, permintaan, dan harga.
- Kualitas produk merupakan keseluruhan ciri serta dari suatu produk
atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat (Kotler, 2009) - Pelayanan ialah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan
oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun (Kotler,
2009) - Ketersediaan barang merupakan wujud kesiapan produsen dalam
menyediakan produknya dan juga melihat sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersedian produk yang ada. - Efisiensi dalam penggunaan merupakan suatu istilah yang
menunjukkan kemudahan manusia untuk menggunakan suatu alat atau
objek buatan manusia lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. - Dapat dipercaya artinya mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang
benar atau nyata dan memastikan sesuatu dapat memenuhi
harapannya. - Keterbatasan waktu yang ada pada konsumen artinya suatu keadaan
dimana proses atau ruang gerak konsumen dibatasi dengan waktu
yang ditentukan.
Motif rasional menurut Manning and Reece (2004) adalah motif
yang berdasarkan alasan atau penilaian dari proses berpikir. Beberapa
motif rasional antara lain fungsi, kebutuhan, kualitas pelayanan, garansi,
tersedianya bantuan teknis, pengiriman yang tepat waktu, keuntungan
finansial, dan tahan lama. Sedangkan motif emosional adalah motif yang
berdasarkan pada perasaan atau hasrat
Perilaku rasional merupakan perlaku yang didasarkan pada
kenyataan-kenyataan seperti yang ditujukan oleh suatu produk kepada
konsumen. Indikator Perilaku Rasional antara lain (Kotler dan Amstrong,
2012) : - Merek, Sebuah nama, istilah, nama, symbol, atau kombinasi semua
yang menunjukkan identitas produk atau jasa. Merek memiliki peran
yang sangat penting karena digunakan sebagai pembeda antara satu
produk dengan produk lainnya. Suatu merek perlu dikelola dengan teliti
agar pelanggan tidak mengalami kekecewaan terhadap merek tersebut.
Merek dapat menjadi aset terbesar yang dimiliki perusahaan karena
memiliki nilai lebih dalam menarik minat konsumen untuk membeli
barang yang telah diproduksi perusahaan tersebut - Harga, Jumlah uang yang dibayarkan pelanggan untuk memperoleh
produk. Harga sangat mempengaruhi konsumen dalam menentukan
proses pembelian, dengan mengetahui harga maka konsumen akan
dapat memperkirakan sejauh mana kemampuan untuk memutuskan
pembelian terhadap produk yang akan dibeli - Kualitas, Konsumen dalam melakukan proses pembelian pasti
mengharapkan produk yang memiliki kualitas yang bagus dengan
harapan bahwa produk yang dibeli memiliki manfaat yang sesuai
dengan yang diharapkan. Kualitas menjadi faktor yang diperhatikan
dalam keputusan pengeambilan kredit karena adanya kepercayaan
konsumen terhadap pembelian produk tersebut
Pengertian Perilaku Rasional
Motif rasional adalah menurut pikiran yang sehat, patut, dan layak.
Motivasi yang berdasarkan rasional akan menentukan pilihan terhadap
suatu produk dengan memikirkan secara matang serta dipertimbangkan
terlebih dahulu untuk membeli produk tersebut. Kecenderungan yang akan
dirasakan oleh konsumen terhadap produk tersebut sangat puas.
Sedangkan motif emosional adalah motif yang dipengaruhi oleh perasaan.
Konsumen terkesan buru-buru untuk membeli produk tersebut dengan
tidak mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi untuk jangka
panjang (Setiadi, 2010).
Menurut Sciffman and Kanuk (2008) menyatakan bahwa motif
rasional terjadi karena konsumen memilih berdasarkan pada kriteria
obyektif seperti ukuran, berat, dan harga. Sedangkan motif emosional
terjadi karena pengonsumsi memilih berdasarkan kriteria subyektif atau
personal seperti harga dir, status, atau rasa takut. Mason and Rath (1995)
mendefinisikan motif rasional adalah motif yang berdasarkan pada logika
dari pengonsumsi seperti kualitas, dapat diandalkan, ekonomis, tahan
lama, keuntungan finansial dan efisiensi. Sedangkan motif emosional
berdasarkan pada gengsi, pengakuan popularitas, perasaan seseorang, dan
emosi seperti penampilan, petualangan, romantis, rasa takut, dan insting.
Menurut Anderson (1991) dalam Sciffman and Kanuk (2008) motif
rasional berdasarkan pada keinginan atau hasrat untuk menghemat waktu
dan uang, meningkatkan keuntungan finansial, mendapat kualitas jasa,
jaminan tahan lama dan kepastiaan keamanan. Contoh produk yang
memiliki motif rasional seperti asuransi, real estate, pendidikan dan lain-
lain. Motif emosional berdasar hasrat untuk mencari kesenangan,
kenyamanan, persetujuaan sosial, status atau romantisme. Contoh produk
yang memiliki motif emosianal adalah parfum, klub kesehatan, kosmetik,
mobil sport, dan lain-lain
Ekuitas merek
Sikap merek adalah aspek penting dari ekuitas merek. Ekuitas
merek menyangkut nilai suatu merek bagi pemasar dan bagi konsumen.
Dari sudut pandang pemasar, ekuitas merek menyiratkan keuntungan,
arus kas dan pangsa pasar yang lebih besar (Setiadi, 2010).
Dari sudut pandang konsumen, ekuitas merek melibatkan suatu
sikap merek positif yang kuat didasarkan pada kepercayaan dan arti
baik yang dapat diakses dari dalam ingatan. Ketiga faktor ini
menciptakan hubungan konsumen merek yang menyenangkan dan kuat
atas aset yang sangat penting bagi sebuah perusahaan dan dasar bagi
ekuitas merek (Setiadi, 2010).
Perusahaan dapat meminjam ekuitas merek dengan cara
memperpanjang nama merek yang positif pada produk lainnya.
Biasanya merek yang paling tinggi mengukur ekuitas merek dengan
berfokus pada persepsi produk dan kualitas produk (Setiadi, 2010)
Brand loyalty
Pada brand loyalty tidak ada lagi merek yang dipertimbngkan
untuk dibeli selain merek produk yang sering dibelinya. Ketika merek
produk itu tidak tersedia, maka konsumen akan berusaha mencari
produk tersebut di tempat lain sampai mendapatkannya. Konsumen
yang berperilaku seperti ini dapat dikatakan bahwa konsumen loyal
terhadap merek pilihannya. Loyalitas merek dapat didefinisikan
sebagai sikap menyenangi terhadap suatu merek yang
direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap merek
tersebut sepanjang waktu (Setiadi, 2010).
Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk
mempelajari loyalitas merek. Pertama dengan pendekatan instrumental
conditioning, yang memandang bahwa pembelian yang konsisten
sepanjang waktu adalah menunjukkan loyalitas merek. Perilaku
pengulangan pembelian diasumsikan merefleksikan penguatan atau
stimulus yang kuat. Jadi, pengukur bahwa seorang konsumen loyal
atau tidak dilihat dari frekuensi dan konsistensi perilaku pembeliannya
terhadap merek. Pengukuran loyalitas dengan pendekatan ini
menekankan pada perilaku masa lalu (Setiadi, 2010).
Pendekatan kedua didasarkan pada teori kognitif. Beberapa
peneliti percaya bahwa perilaku itu sendiri tidak merefleksikan loyalitas
merek. Dengan perkataan lain perilaku pembelian berulang tidak
merefleksikan loyalitas merek. Menurut pendekatan ini, loyalitas
menyatakan komitmen terhadap merek yang mungkin tidak hanya
direfleksikan oleh perilaku pembelian yang terus menerus. Konsumen
mungkin sering membeli merek tertentu karena harganya murah dan
ketika harganya naik konsumen beralih ke merek lain (Setiadi, 2010).
Pendekatan behavioral menekankan bahwa loyalitas dibentuk
oleh perilaku, sementara pendekatan kognitif memandang bahwa
loyalitas merupakan fungsi dari proses psikologis. Assel
mengemukakan empat hal yang menunjukkan kecenderungan
konsumen yang loyal sebagai berikut (Setiadi, 2010):
1) Konsumen yang loyal terdapat merek cenderung lebih percaya
diri terhadap pilihannya.
2) Konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasa tingkat
resiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya.
3) Konsumen yang loyal terhadap merek juga lebih mungkin loyal
terhadap toko.
4) Kelompok konsumen yang minoritas cenderung untuk lebih
loyal terhadap merek
Tipe Keterlibatan Konsumen
Konsep ini merupakan konsep yang masih terus diperdebatkan.
Hingga saat ini belum terdapat konsep yang seragam beserta kerangka
metodologinya (dalam Fauman, 2010). Keterlibatan merupakan variabel
individual yang merupakan efek sebab akibat atau dorongan dengan
sejumlah konsekuensi pada perilaku pembelian dan komunukasi atau
merupakan relevansi tingkat pentingnya proses pembelian suatu produk bagi
konsumen. Lebih jauh keterlibatan merefleksikan sejauh mana energi yang
dialami oleh konsumen mampu menghasilkan loyalitas dan word of mouth
yang positif.
Pada keterlibatan tinggi atau rendah difokuskan pada
pengidentifikasian jenis peraturan yang digunakan masyarakat untuk
memutuskan alternatif-alternatif produk yang akan dibeli dan bagaimana
konsumen merestrukturisasi informasi yang mereka terima sehingga dapat
menentukan pilihan (Mowen dan Minor, 2002). Perbedaan mendasar pada
keterlibatan tinggi dan keterlibatan rendah terletak pada proses keputusan
pembelian. Misalkan seberapa banyak atribut yang digunakan untuk
membandingkan beberapa merek, seberapa lama proses pemilihan di dalam
memproses informasi. Misalnya seberapa luas penelusuran informasi,
kemampuan daya serap pesan iklan, banyak dan jenis respon kognitif
sebagai akibat paparan iklan.
Konsumen tidak saja berbeda dalam tingkat keterlibatannya yakni
keterlibatan tinggi dan rendah (Blackwell, Miniard dan Engel, 2008) tetapi
juga berbeda dalam tipe keterlibatannya. Studi ini mengacu kepada konsep
multi-dimensional aspek keterlibatan yang disarankan oleh beberapa peneliti
(Broderick dan Foxall, 1999) :
a) Keterlibatan Normative
Tingkat pentingnya produk terhadap nilai-nilai pribadi, emosi dan ego
konsumen yang disebut sebagai sign involvement, yaitu hubungan citra
pribadi konsumen terhadap produk.
b) Keterlibatan Resiko Subjective
Perasaan kemungkinan membuat pembelian yang keliru atau disebut
juga sebagai risk involvement.
c) Keterlibatan Jangka Panjang
Minat dan familiaritas dengan produk sebagai satu kesatuan dan untuk
jangka waktu yang lama
d) Keterlibatan Situasional
Kepentingan dan komitmen terhadap produk dalam bentuk loyalitas
terhadap merek yang dipilih. Dalam tipe ini keterlibatan hanya
berlangsung sementara saja
Jenis-jenis Keterlibatan Konsumen
Terdapat dua jenis keterlibatan konsumen dalam proses pengambilan
keputusan (menurut Wilkie,1990 dalam Tjiptono 2010) yaitu :
a. Keterlibatan rendah
Keterlibatan rendah akan terjadi ketika konsumen tidak memiliki
kekuatan untuk berpikir atau merasakan.
b. Keterlibatan tinggi
Keterlibatan tinggi menuntut bahwa tingkat kekuatan yang tinggi
dibangkitkan terhadap konsumen dan bahwa kekuatan diarahkan menuju
pada aktivitas konsumen tertentu. Seseorang yang sangat terlibat
cenderung lebih banyak berpikir atau lebih bisa merasakan
Konsumen akan berpikir lebih keras tentang keputusan yang
dilakukan pada situasi keterlibatan tinggi. Konsumen juga lebih suka
melakukan proses keputusan yang ekstensif dan bergerak melalui setiap
tahap keputusan secara berhati-hati. Konsep keterlibatan harus dipahami
bukan hanya dalam memproses informasi, tetapi juga dalam variasi dari
topik konsumen lainnya (Mowen dan Minor, 2002). Sebagai contoh, tingkat
keterlibatan konsumen memiliki implikasi yang pentimg dalam proses
memori, proses pengambilan keputusan, perumusan sikap dan perubahan,
dan komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth communication).
Banyak orang yang percaya bahwa ketika membeli suatu produk
(apalagi yang harganya relatif mahal), manusia akan sangat rasional.
Bahkan menurut survei yang dilakukan Kontan (2001) dalam buku (Mowen
dan Minor, 2002), para ahli psikologi konsumen membedakan perilaku
berbelanja antara low involvement goods (barang-barang yang harganya
murah dan keterlibatan konsumen untuk mengumpulkan informasinya
rendah) dengan high involvement goods (barang- barang mahal yang
menyandang resiko bagi pembelinya, yang menuntut konsumen membaca
lebih banyak sebelum membeli), namun dalam kenyataannya emosi dan
rasio manusia sama-sama bekerja.
Rasa gembira, bangga, dan senang mungkin akan membunga-
bungakan dirinya bila yakin produk itu memberi manfaat dan kesenangan.
Sebaliknya, rasa bersalah, marah, benci, muak, kesal bisa muncul kalau
merasa keputusannya salah atau barang yang dibelinya menimbulkan efek
yang negatif
Pengertian Keterlibatan Konsumen
Keterlibatan didefinisikan sebagai status motivasi yang
menggerakan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen
pada saat mereka membuat keputusan (Setiadi. 2010). Keterlibatan sangat
berarti untuk mengerti dan menjelaskan perilaku konsumen. Definisi
keterlibatan menurut Setiadi (2010) adalah tingkat kepentingan pribadi yang
dirasakan dan atau minat yang dibangkitkan oleh stimulus di dalam situasi
spesifik hingga jangkauan kehadirannya, konsumen bertindak dengan
sengaja untuk meminimumkan resiko dan memaksimumkan manfaat yang
diperoleh dari pembelian dan pemakaian.
Keterlibatan paling banyak dipahami sebagai fungsi dari orang,
objek dan situasi. Motivasi yang mendasari adalah kebutuhan dan nilai yang
merupakan refleksi dari konsep diri. Keterlibatan diaktifkan ketika objek
(produk, jasa atau pesan promosi) dirasakan membantu dalam memenuhi
kebutuhan, tujuan dan nilai penting. Keterlibatan mengacu pada persepsi
konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu objek, kejadian
atau aktivitas. Konsumen yang melihat bahwa produk yang dimiliki
konsekuensi relevan secara pribadi dikatakan terlibat dengan produk dan
memiliki hubungan dengan produk tersebut. Konsekuensi dengan suatu
produk atau merek memiliki aspek kognitif maupun pengaruh (Setiadi,
2010)
Motivasi dimulai dengan timbulnya rangsangan yang memacu
pengenalan kebutuhan. Rangsangan bisa berasal dari diri konsumen maupun
dari luar konsumen, jika rangsangan menimbulkan perbedaan antara
keadaan yang diinginkan seseorang dan keadaan aktual orang tersebut,
maka akan timbul kebutuhan. Kebutuhan yang dirasakan dapat diaktifkan
dengan cara-cara yang berbeda, yang salah satunya sepenuhnya bersifat
fisiologis, misalnya rasa haus atau lapar. Manusia juga memiliki kapasitas
untuk berpikir tentang orang atau objek yang tidak hadir dalam waktu dekat
atau membayangkan konsekuensi yang diinginkan dari tindakan tertentu
(Engel,2001). Sekali sebuah kebutuhan muncul, kebutuhan ini akan
menghasilkan dorongan. Sebuah dorongan (drive) adalah keadaan afektif
dimana seseorang mengalami dorongan emosi dan fisiologis.
Tingkat keadaan dorongan ini mempengaruhi tingkat keterlibatan
seseorang dan keadaan afektifnya. Kenaikan dorongan ini akan
meningkatkan perasaan dan emosi, yang dihasilkan pada tingkat keterlibatan
yang lebih tinggi dan pemprosesan informasi. Apabila seseorang mengalami
keadaan dorongan ini, berarti mereka terlibat dalam perilaku berdasarkan
tujuan yang terdiri dari tindakan yang dilakukan untuk meringankan
keadaan kebutuhan seseorang.
Insentif konsumen merupakan produk, jasa, informasi, dan bahkan
dapat juga berupa orang lain yang diperkirakan oleh konsumen akan
memuaskan kebutuhan. Objek insentif dihubungkan kembali ke tahap
pengenalan kebutuhan, dimana objek tersebut digunakan untuk
mempersempit kesenjangan antara keadaan aktual dengan keadaan yang
diinginkan (Mowen, 2002)
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat keterlibatan
konsumen adalah: (1) jenis produk yang menjadi pertimbangan, (2)
karakteristik komunikasi yang diterima konsumen, (3) karakteristik situasi
dimana konsumen beroperasi dan (4) kepribadian konsumen. Pada
umumnya keterlibatan konsumen meningkat apabila produk atau jasa yang
dipertimbangkan lebih mahal, diterima secara sosial dan memiliki resiko
pembelian. Komunikasi juga dapat meningkatkan keterlibatan seiring
dengan meningkatnya emosi konsumen. Situasi atau konteks dimana
pembelian dilakukan juga mempengaruhi keterlibatan (Mowen, 2002)
Konsumen dalam menentukan pilihannya sangat dipengaruhi oleh
jenis proses keputusan dimana mereka terlibat. Proses pilihan akan berbeda
bila konsumen akan menggunakan pendekatan keterlibatan tinggi
dibandingkan dengan pendekatan keterlibatan rendah. Demikian pula,
apabila konsumen menggunakan orientasi pengalaman maka proses pilihan
akan berubah menurut perspektif pengaruh perilaku. Di dalam kondisi
keterlibatan tinggi, konsumen menggunakan model kompensatori,
sementara pada kondisi keterlibatan rendah konsumen cenderung untuk
menggunakan model pilihan yang nonkompensatori.
Menurut model kompensatori (Mowen, 2009), konsumen
menganalisis setiap analisis dengan cara evaluasi yang luas sehingga
penilaian yang tinggi atas salah satu atribut dapat mengkompensasi
penilaian rendah atas atribut lainnya. Dalam jenis proses evaluasi ini, semua
informasi mengenai atribut suatu merek digabung ke dalam penilaian merek
secara keseluruhan. Prosesnya akan diulang untuk setiap alternatif merek,
dan merek yang mempunyai preferensi keseluruhan tertinggi yang dipilih.
Menurut model nonkompensatori, penilaian yang tinggi atas
beberapa atribut tidak pernah mengkompensasi penilaian yang rendah atas
atribut lainnya. Konsumen dianggap membandingkan alternatif atas atribut-
atribut pada suatu waktu. Satu atribut dipilih dan kemudian membandingkan
dengan semua alternatif. Proses ini terus berlanjut dengan cara hirarkis
sampai semua atribut telah diungkapkan. Apabila konsumen berada di
dalam situasi keterlibatan rendah, maka mereka tidak mau terlibat dengan
sejumlah besar pemprosesan informasi yang dibutuhkan oleh model
nonkompensatori.
Model nonkompensatori digunakan sebagai jalan pintas untuk
mencapai keputusan yang memuaskan dan bukan optimal suatu proses yang
dikenal sebagai satisficing. Model nonkompensatori juga disebut model
pilihan heuristis. Heuristis merupakan peraturan sederhana yang digunakan
masyarakat untuk mengambil keputusan yang memuaskan dan bukan yang
sempurna (Mowen, 2009)
Pengaruh Keterlibatan Konsumen terhadap Keputusan Pembelian
Keterlibatan merujuk pada minat dan perhatian yang diberikan
konsumen terhadap suatu produk atau merek tertentu. Ketika konsumen
merasa terlibat, mereka cenderung melakukan riset lebih mendalam,
membandingkan berbagai pilihan, dan mempertimbangkan pro dan kontra
sebelum mengambil keputusan. Hal ini didukung dengan adanya peneliti
yang mengatakan bahwa keterlibatan konsumen berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini juga didukung
dengan adanya peneliti yang mengatakan bahwa keterlibatan konsumen
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
Pengaruh Live Streaming terhadap Keterlibatan Konsumen
Keterlibatan yang tinggi pada live streaming dapat menghasilkan
pembelian impulsif. live streaming berfungsi sebagai jembatan antara
merek dengan konsumen, membangun hubungan yang lebih dalam dan
mengubah cara konsumen berinteraksi dengan produk dan layanan. Hal ini
menciptakan ekosistem di mana konsumen merasa terlibat dan dihargai.
Hal ini didukung dengan peneliti yang mengatakan bahwa live streaming
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen
Hasil dari peneliti lain juga menunjukkan bahwa live streaming
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen
Pengaruh Online Customer Review terhadap Keterlibatan Konsumen
Konsumen yang lebih banyak membaca dan berinteraksi dengan
review cenderung memiliki keterlibatan yang lebih dalam, karena review
memberikan data yang memperkaya wawasan mereka sekaligus
membantu mereka merasa lebih siap dalam membuat keputusan pembelian
yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Hal ini didukung dengan
adanya peneliti yang mengatakan bahwa online customer review
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen.
Hasil dari peneliti lain juga menunjukkan bahwa online customer review
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan konsumen
Pengaruh Live Streaming terhadap Keputusan Pembelian
Live streaming ialah sesi dimana penjual atau host dapat berinteraksi
langsung dengan audiens, menciptakan hubungan yang lebih personal dan
real-time. Konsumen dapat bertanya tentang detail produk, meminta
rekomendasi, atau memperoleh panduan penggunaan secara langsung,
sehingga mereka merasa lebih percaya diri dan siap mengambil keputusan
pembelian. Hal ini didukung dengan peneliti yang mengatakan bahwa live
streaming berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian . Hal ini lebih didukung dengan peneliti lain yang
mengatakan live streaming juga berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian
Pengaruh Online Customer Review terhadap Keputusan Pembelian
Online Customer Review merupakan feedback yang diberikan oleh
konsumen yang sudah membeli dan menggunakan produk, biasanya
disampaikan melalui platform e-commerce, media sosial, atau situs web
review. Review berisi pengalaman, penilaian, dan opini pribadi konsumen
tentang produk, baik dalam bentuk teks, foto, hingga video. Customer
review menjadi sumber informasi penting bagi calon pembeli dalam
keputusan pembelian di era digital. Hal ini didukung dengan adanya peneliti
yang mengatakan bahwa online customer review berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Hal ini juga didukung
peneliti lain yang mengatakan online customer review juga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Indikator-indikator keterlibatan konsumen
Ada empat indikator pada keterlibatan konsumen yaitu:
- Keterlibatan Kognitif (Cognitive Engagement)
Keterlibatan kognitif mengacu pada perhatian atau upaya mental yang
diberikan konsumen terhadap suatu merek, produk, atau aktivitas
pemasaran. - Keterlibatan Emosional (Emotional Engagement)
Keterlibatan emosional ialah tingkat hubungan emosional yang
dirasakan konsumen terhadap merek, produk, atau aktivitas pemasaran.
Ini mencakup perasaan positif seperti antusiasme, kepuasan, atau
kegembiraan yang timbul dari interaksi dengan merek. - Keterlibatan Prilaku (Behavioral Engagement)
Keterlibatan perilaku mencerminkan tindakan atau partisipasi aktif
konsumen dalam aktivitas yang berkaitan dengan merek. Partisipasi ini
mencakup interaksi langsung, seperti pembelian, berbagi pengalaman,
atau memberikan umpan balik. - Keterlibatan Sosial (Social Engagement)
Keterlibatan sosial merupakan tingkat interaksi konsumen dengan
komunitas, pengguna lain, atau organisasi yang terkait dengan merek.
Keterlibatan ini mencerminkan hubungan sosial yang terbentuk
berdasarkan pengalaman atau ketertarikan yang sama terhadap merek
Faktor-faktor Keterlibatan Konsumen
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keterlibatan konsumen
adalah sebagai berikut:
- Kepuasan Konsumen: Kepuasan terjadi ketika harapan pelanggan
terhadap barang atau jasa dipenuhi atau bahkan lebih. Pada keterlibatan
konsumen, kepuasan memainkan peran penting dalam mendorong
pelanggan untuk tetap setia dan melakukan transaksi dengan
perusahaan pada tingkat yang lebih besar. - Emosional: Emosi positif terhadap perusahaan dapat meningkatkan
loyalitas dan hubungan konsumen dengan perusahaan. Apabila
konsumen memiliki hubungan emosional yang kuat dengan suatu
merek, mereka cenderung memberikan kontribusi tidak langsung,
seperti merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain,
memberikan ulasan positif, serta berpartisipasi dalam tentang produk
tersebut. - Jenis Perusahaan: Keterlibatan konsumen dipengaruhi oleh model
bisnis perusahaan. Dalam bisnis yang melayani konsumen secara
langsung, keterlibatan lebih banyak terjadi melalui pengalaman
individu dan loyalitas merek. Dalam bisnis yang melayani perusahaan
lain, keterlibatan lebih berfokus pada kerja sama strategis dan hubungan
jangka panjang - Nilai Merek: Nilai merek juga mempengaruhi ekspektasi konsumen,
semakin tinggi nilai merek, semakin besar harapan konsumen terhadap
produk atau layanan yang diberikan. Nilai merek mengacu pada
persepsi konsumen terhadap kualitas, reputasi, dan kredibilitas suatu
merek.
23 - Tingkat Kenyamanan: Faktor ini mencakup kemudahan dalam
melakukan transaksi, aksesibilitas layanan konsumen, fleksibilitas
dalam pemesanan atau pengembalian produk, serta dukungan teknologi
seperti aplikasi atau platform digital yang intuitif. Semakin mudah
konsumen berinteraksi dengan perusahaan, semakin besar
kemungkinan mereka untuk tetap terlibat dan memberikan kontribusi
positif terhadap perusahaan
Definisi Keterlibatan Konsumen
Keterlibatan konsumen atau Customer Engagement merupakan
kontribusi konsumen terhadap pendapatan perusahaan, baik secara langsung
maupun tidak langsung, berdasarkan kebutuhan mereka terhadap produk
atau jasa yang ditawarkan.
Keterlibatan Konsumen ialah Interaksi yang konsisten antara
pelanggan dan merek secara bertahap memperkuat ikatan emosional,
psikologis, atau bahkan fisik pelanggan terhadap merek tersebut. Dengan
setiap interaksi, keterlibatan pelanggan semakin dalam, yang pada akhirnya
menciptakan rasa keterikatan dan loyalitas yang lebih kuat
Indikator-indikator Live Streaming
Beberapa indikator pada live streaming , meliputi:
- Waktu promosi yang tepat, seperti saat jam sibuk atau periode diskon
khusus, dapat meningkatkan visibilitas produk dan mendorong
konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. - Bonus, penawaran bonus atau diskon tambahan dapat memicu minat
beli lebih besar, karena konsumen merasa mendapatkan nilai lebih dari
pembelian mereka. - Deskripsi produk yang sama, konsisten dan informatif membantu
konsumen lebih mudah memahami fitur dan manfaat produk, yang
meningkatkan keyakinan dan ketertarikan untuk membeli. - Gambar visual, gambar yang menarik dan berkualitas tinggi dapat
memperkuat daya tarik produk, memberikan gambaran yang jelas, dan
mengurangi keraguan konsumen sebelum membeli
Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian melalui LiveStreaming
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen melalui live streaming, yaitu:
- Strategi pemasaran yang menarik, seperti foto dan video produk yang
menarik dalam live streaming mendorong niat beli impulsif, di mana
konten visual ini berperan dalam meningkatkan ketertarikan konsumen. - Fasilitas live streaming dalam platform e-commerce, seperti shopee,
tiktok dan lain-lain memungkinkan penjual menunjukkan produk
secara langsung, memberikan informasi rinci, dan interaksi real-time
dengan calon pembeli, yang memperkuat ketertarikan konsumen. - Review produk yang detail atau deskripsi produk yang detail membantu
konsumen untuk lebih yakin dalam pengambilan keputusan pembelian,
terutama dalam hal sesuai dengan kebutuhan atau keinginan mereka.
Definisi Live Streaming
Live streaming merupakan konten yang dikirimkan secara langsung
kepada audiens melalui internet, memungkinkan penonton untuk
menyaksikan dan berinteraksi secara real-time dengan penyiar atau pembuat
konten .
Live streaming shopping ialah bagian dari perdagangan elektronik yang
menawarkan pengalaman belanja interaktif dengan fitur unik berupa
interaksi sosial secara waktu nyata (real time) antara penjual dan pembeli,
melalui live streaming, pembeli dapat melihat produk secara langsung,
mengajukan pertanyaan, serta mendapatkan respons instan dari penjual atau
host .
Produk Urban & Co sangat memanfaatkan live streaming, karena saat
ini live streaming shopping telah menjadi tren dalam e-commerce. Melalui
live streaming, Urban & Co bisa memamerkan koleksi produk mereka
secara real-time kepada audiens, memungkinkan calon pembeli untuk
melihat detail produk seperti bahan, warna, ukuran, dan gaya yang sering
kali tidak terlihat hanya dari foto. Dengan fitur interaktif dalam live
streaming, penonton dapat bertanya langsung mengenai produk, meminta
rekomendasi, me, atau bahkan melihat produk dikenakan secara langsung
oleh host atau model.
Generasi Z yang sangat mengutamakan kemudahan dan kecepatan
dalam berbelanja. Live streaming memberikan pengalaman belanja lebih
praktis tanpa perlu ke toko. Urban & Co memaksimalkan live streaming
untuk lebih dekat dengan konsumen dan memberikan pengalaman belanja
online yang personal dan menarik
Indikator-indikator Online Customer Review
Ada beberapa indikator-indikator pada online customer review, yang
berperan penting dalam membentuk persepsi dan keputusan pembelian,
indikator-indikator tersebut meliputi: (40)
- Perceived Usefulness (kegunaan yang dirasakan), bagaimana
konsumen melihat ulasan seberapa membantu mereka membuat
keputusan. Jika ulasan dianggap informatif, relevan, dan jelas, akan
membantu calon pembeli memahami lebih baik barang yang dijual. - Source Credibility (kredibilitas sumber), yaitu ulasan dari sumber yang
dianggap terpercaya, termasuk reputasi platform dan keandalan
pengulas, cenderung lebih dipercaya oleh calon pembeli karena
kredibilitasnya. - Quality Argumen (kualitas argumen), kualitas ulasan mengacu pada
seberapa jelas, logika, dan kedalaman informasi yang disampaikan.
Ulasan yang kuat dan terstruktur dengan baik seringkali lebih
meyakinkan. - Volume of Online Consumer Review (banyaknya ulasan online),
volume merujuk pada jumlah ulasan yang tersedia untuk suatu produk.
Volume yang besar seringkali dianggap sebagai tanda popularitas, yang
dapat meningkatkan kepercayaan dan ketertarikan calon pembeli. - Valence of Online Consumer Review (valensi ulasan pelanggan online)
valensi mengacu pada apakah ulasan konsumen positif, negatif, atau
netral. Ulasan positif dapat meningkatkan kepercayaan dan mendorong
untuk membeli produk, sementara ulasan negatif cenderung
menurunkan keinginan untuk membeli produk tersebut
Faktor-faktor yang mempengaruhi Online Customer Review
Online Customer Review memiliki pengaruh terhadap keputusan
pembelian dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu:
- Keputusan pembelian produk, merupakan pilihan akhir konsumen
untuk membeli produk tertentu setelah mempertimbangkan berbagai
informasi dan ulasan. - Review dari konsumen lainnya, ulasan dari pengguna lain dapat
memengaruhi preferensi konsumen, baik dalam memilih maupun
menghindari produk tertentu. - Informasi sesuai berdasarkan pengetahuan konsumen, ulasan yang
berisi informasi akurat tentang produk akan lebih dipercaya oleh
konsumen dan membantu mereka memahami manfaat produk. - Kesesuaian review dari konsumen lain, konsistensi ulasan yang
diberikan oleh konsumen lain meningkatkan kredibilitas ulasan
tersebut. - Penilaian produk setelah pembelian, penilaian yang diberikan
konsumen setelah membeli produk mencerminkan pengalaman nyata
dan dapat mempengaruhi calon pembeli lainnya
Definisi Online Customer Review
Online customer review merupakan salah satu sumber informasi yang
paling tepercaya di mata konsumen setelah rekomendasi dari teman maupun
keluarga, dan memiliki pengaruh besar dalam membentuk preferensi serta
memengaruhi keputusan pembelian konsumen .
Online customer review ialah ulasan yang dituliskan konsumen yang
pernah membeli suatu produk mengenai pengalaman yang dirasakan setelah
membeli produk tersebut pada marketplace, dan menjadi tolak ukur
keputusan pembelian calon konsumen lain. Ulasan-ulasan tersebut
merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi resiko yang dihadapi
oleh konsumen
Sebagai merek lokal Indonesia dengan produk-produk fashion
berkualitas tinggi, seperti sepatu, tas, dan pakaian, Urban & Co diuntungkan
oleh review positif yang ditinggalkan oleh konsumen di berbagai e-
commerce. Review ini memberikan gambaran nyata kepada calon konsumen
tentang kualitas produk, kenyamanan, serta kesesuaian desain dengan
ekspektasi, yang sering kali menjadi faktor utama dalam keputusan
pembelian pada produk fashion. konsumen dari generasi Z cenderung
mencari online review dari konsumen yang pernah membeli sebelum
memutuskan membeli suatu produk. Review konsumen dapat menjadi
pertimbangan penting yang membantu mengurangi ketidakpastian atau
risiko, seperti kualitas bahan dan daya tahan produk
Proses Keputusan Pembelian
Proses pengambilan keputusan pembelian terdapat lima tahap yaitu
sebagai berikut:
- Pencarian Informasi: Konsumen secara aktif mencari informasi tentang
produk atau layanan yang dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan
mereka. - Pengenalan Masalah: Proses dimulai ketika konsumen menyadari
adanya kebutuhan atau masalah yang memerlukan solusi, baik yang
timbul dari kebutuhan mendesak maupun dorongan emosional untuk
memiliki sesuatu. - Evaluasi Penduduk: Konsumen membandingkan berbagai pilihan
produk atau layanan yang tersedia berdasarkan kriteria tertentu, seperti
kualitas, harga, fitur, atau merek, untuk menentukan mana yang paling
sesuai dengan kebutuhannya. - Keputusan pembelian: Konsumen membuat keputusan akhir untuk
membeli produk atau layanan tertentu, berdasarkan keyakinan bahwa
pilihan tersebut akan memberikan manfaat terbaik. - Perilaku Pasca Pembelian: Konsumen menilai kepuasan mereka setelah
menggunakan produk atau layanan, yang dapat memengaruhi
keputusan pembelian Kembali.
Indikator-indikator keputusan pembelian
Ada beberapa Indikator-indikator pada keputusan pembelian, Indikator-
indikator tersebut adalah sebagai berikut: (36)
- Kemantapan pada sebuah produk, dimana konsumen merasa yakin
terhadap pilihan produk yang diambil, percaya bahwa produk tersebut
memiliki kualitas yang sesuai dengan harapan, serta mampu memenuhi
kebutuhan dan keinginannya secara optimal. - Kebiasaan dalam membeli produk, konsumen memiliki pola atau
rutinitas tertentu dalam membeli suatu produk, menunjukkan preferensi
yang konsisten terhadap merek atau jenis produk tertentu karena
pengalaman yang positif sebelumnya. - Memberikan rekomendasi pada orang lain, konsumen yang puas
dengan suatu produk cenderung merekomendasikan produk tersebut
kepada orang lain, seperti keluarga, teman, atau rekan kerja,
berdasarkan pengalaman pribadi yang memuaskan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dalam membuat
keputusan pembelian, yaitu:
- Faktor Budaya (Cultural)
a. Budaya (culture) merupakan Prinsip, keyakinan, dan kebiasaan yang
dipegang oleh suatu masyarakat yang mempengaruhi cara orang
berperilaku dan berinteraksi dengan produk dan layanan.
b. Subkultur (subculture) adalah kelompok orang dalam masyarakat
yang memiliki nilai dan perilaku yang berbeda dari budaya dominan,
seperti etnisitas, agama, atau minat tertentu. Subkultur dapat
mempengaruhi preferensi produk, seperti makanan atau pakaian.
c. Kelas Sosial (social class) yaitu Pembagian masyarakat berdasarkan
status ekonomi dan sosial. Kelas sosial dapat memengaruhi cara
konsumen berinteraksi dengan merek dan jenis barang yang di beli. - Faktor Sosial (Social)
a. Grup Referensi (Reference Groups) yaitu kelompok orang yang
mempengaruhi sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh
kelompok referensi. Konsumen cenderung mengikuti merek atau
produk yang disarankan oleh teman, rekan kerja, atau orang-orang
terkenal.
b. Keluarga (Family) dimana anggota keluarga, seperti orang tua,
pasangan, atau anak, sering kali memengaruhi apa yang dibeli dan
digunakan, atau diskusi yang melibatkan keluarga untuk
mendapatkan keputusan bersama dalam keluarga.
c. Peran Sosial dan Status Sosial (Social Roles and Statuses) yaitu
Posisi seseorang dalam suatu kelompok mengacu pada peran sosial
mereka, sedangkan status sosial adalah penghargaan yang diberikan
kepada mereka dalam masyarakat. - Faktor Pribadi (Personal)
a. Usia dan Tahap Dalam Siklus Kehidupan (Age, Stage in The Life
Cycle), dimana usia konsumen memengaruhi jenis produk yang
mereka beli. Misalnya, orang muda mungkin memiliki kebutuhan
dan preferensi yang berbeda dari orang yang sudah berkeluarga atau
sudah pensiun.
b. Pekerjaan (Occupation), ialah Pendapatan, waktu luang, dan
berbagai kebutuhan dipengaruhi oleh pekerjaan, yang berdampak
pada keputusan pembelian.
c. Kondisi Ekonomi (Economic Circumstances), yaitu Kemampuan
dan keinginan konsumen untuk membeli barang tertentu dipengaruhi
oleh kondisi ekonomi pribadi mereka, seperti penghasilan dan
pengeluaran.
d. Gaya Hidup (Lifestyle), Keputusan pembelian dapat dipengaruhi
oleh aktivitas, minat, dan pendapat seseorang. Orang yang sering
berolahraga, misalnya, mungkin lebih cenderung membeli pakaian
olahraga.
e. Kepribadian dan Konsep Diri (Personality and Self Concept) Cara
seseorang berperilaku dan cara mereka melihat diri mereka sendiri
mempengaruhi pilihan mereka untuk produk tertentu
Definisi Keputusan pembelian
Keputusan pembelian merupakan proses evaluasi dalam proses
pengambilan keputusan konsumen, pada tahap ini konsumen
membandingkan dan menilai berbagai merek dalam kelompok pilihan
mereka, membentuk preferensi terhadap merek tertentu, dan
mengembangkan niat untuk membeli merek yang paling disukai dan yang
memenuhi kriterianya
Keputusan pembelian ialah hasil dari rangkaian proses pencarian
informasi dan evaluasi alternatif yang mencakup berbagai faktor pilihan
penting yang dipertimbangkan konsumen, seperti menentukan jenis produk
yang sesuai dengan kebutuhan, memilih merek yang dianggap paling
terpercaya atau sesuai dengan preferensi, mempertimbangkan model atau
varian yang memiliki fitur terbaik, memilih dealer atau penjual yang
menawarkan harga dan pelayanan terbaik, serta menentukan metode
pembayaran yang paling nyaman dan aman bagi konsumen (35).
Pada produk fashion Urban & Co, keputusan pembelian konsumen
melibatkan serangkaian evaluasi yang menyeluruh, di mana konsumen
mempertimbangkan beberapa faktor penting. Konsumen akan mencari
informasi mengenai kualitas, desain, dan tren produk Urban & Co, yang
dikenal dengan produk lokal berkualitas tinggi dan desain fashion terkini.
Pada proses evaluasi, konsumen membandingkan produk brand Urban & Co
dengan brand lain untuk menentukan apakah brand ini sesuai dengan
preferensi dan kebutuhan fashion mereka.
Urban & Co yang memiliki reputasi baik di pasar lokal dapat
memengaruhi preferensi konsumen melalui kepercayaannya sebagai merek
yang menawarkan produk modis, berkualitas, dan terjangkau. Selain itu,
harga yang kompetitif, dan layanan yang memuaskan dari pihak penjual
juga menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian konsumen. Semua
faktor ini dapat membentuk niat konsumen untuk memilih Urban & Co
sebagai merek fashion yang paling memenuhi harapan mereka dalam
memenuhi kebutuhan fashion yang berkualitas
Pengaruh Online Customer Review Terhadap Minat Beli Ulang
Hasil analisis yang dapat di temukan pada penelitian ini adalah
online customer review memiliki pengaruh positif terhadap minat beli ulang
produk pada marketplace instagram. Hal ini menggambarkan bahwa ada
besar tingkatan online customer review dalam melakukan penjualan
produk. Salah satunya dengan adanya fitur online customer review yang
telah banyak menarik banyak perhatian dari akademisi maupun masyarakat
sebagai salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap minat beli ulang
suatu produk. online customer review dapat menjadi alat promosi yang
ampuh untuk komunikasi pemasaran. online customer review memiliki
dampak signifikan kepada kegunaan online customer review yang pada
akhirnya akan mempengaruhi minat beli ulang konsumen.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Riski Deni
Irawan, R.A Nurlinda (2023) yang menyatakan bahwa online customer
review berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang
konsumen
Pengaruh Kredibilitas Influencer Terhadap Minat Beli Ulang
Hasil analisis yang dapat di temukan pada penelitian ini adalah
kredibilitas influencer memiliki pengaruh positif terhadap Minat Beli Ulang
produk pada marketplace instagram. Hal ini menggambarkan bahwa besar
tingkatan kredibilitas influencer dalam melakukan promosi produk pada
marketplace Instagram akan mempengaruhi besar minat beli ulang
konsumen. Hal ini menunjukan bahwa dimasa saat ini dengan adanya
marketplace instagram dan opsi influencer yang memiliki kerjasama dengan
sebuah brand atau toko untuk melakukan promosi dimedia sosial akan
berdampak besar untuk sebuah produk. Influencer memiliki pengaruh
terhadap audiens untuk meningkatkan penjualan, jangkauan, dan hubungan
pelanggan (Sudha & Sheena, 2017).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Holila Hatta,
Ranga Andrenanus (2019) yang menyatakan bahwa Kredibilitas Influencer
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Beli Ulang konsumen
faktor minat beli konsumen
Menurut (Kotler,2008), faktor-faktor yang membentuk minat beli
konsumen adalah sebagai berikut:
- Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu intensitas sifat negatif
orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi
konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. - Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat
mengubah pendirian konsumen dalam melakukan proses pembelian. Hal
tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya
diri dalam memutuskan pembelian suatu barang atau tidak.
Minat Beli Ulang
Minat merupakan gambaran perilaku yang terlihat dalam bentuk
tindakan seseorang terhadap suatu objek yang mencerminkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian (Kotler 2005:15). Minat Beli
merupakan suatu tindakan perilaku konsumen yang berasal dari respon
akan adanya objek yang menunjukan adanya keinginan dalam membeli
suatu produk pada perusahaan (Kotler & Keller, 2013:137). Ketika
seseorang merasa puas kepada suatu produk yang pernah dibelinya maka
akan terjadi pembelian kembali atau pembelian berulang, baik sebanyak
dua kali atau lebih teratur (Prawira et al., 2019).
Menurut Kotler dan Kevin (2012:244) menjelaskan bahwa minat
beli ulang merupakan suatu tindak perlakuan konsumen dalam bentuk
dorongan sebagai mana melaksanakan pembelian kembali tentang suatu
produk karena konsumen telah merasa puas dengan kegiatan pembelian
sebelumnya sehingga menimbulkan keputusan untuk melakukan pembelian
secara teratur atau dapat dikatakan pembelian kembali. Minat beli ulang
merupakan keinginan konsumen dalam melakukan pembelian dimasa
mendatang berdasarkan adanya pengalaman yang telah mereka dapatkan
dimasa lampau (Anggraeni et al.,2015). Keinginan konsumen dalam minat
beli ulang didasarkan adanya rasa puas terhadap produk tersebut yang
dikarenakan produk telah memenuhi harapan dari konsumen.
Menurut (Kotler & Keller, 2021) minat beli ulang diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :
- Minat Transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli ulang
suatu produk. - Minat Refrensial yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain. - Minat Preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseoang
yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya. - Minat Eksploratif yaitu minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi-informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sikap-sikap positif dari produk
tersebut
faktor online customer review
Menurut Hidayati (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi online
customer review adalah sebagai berikut:
- Keputusan dalam memutuskan pembelian produk.
- Isi review konsumen lain yang memberikan pengaruh dalampemilihan
produk. - Kesesuaian informasi suatu produk atas pengetahuan konsumen.
- Kesesuaian review yang diberikan oleh sesama konsumen.
- Penilaian produk yang diberikan oleh konsumen pasca pembelian.
22 - Pertimbangan review terkini yang diberikan oleh konsumen atas suatu
produk
Indikator online customer review
Indikator
online customer review sebagai berikut:
- Perceived Usefulness (Manfaat yang dirasakan)
Konsumen mendapatkan manfaat yang dirasakan dengan adanya online
customer review yang ada pada situs belanja online. Item yang
digunakan untuk indikator ini adalah online customer review membuat
konsumen lebih mudah pada saat berbelanja online dan online customer
review juga membuat konsumen lebih mudah untuk mencari serta
menemukan berbagai informasi terkait produk tersebut. - Argument Quality ( Kualitas Argumen)
Kualitas argumen mengacu pada kekuatan persuasif argumen yang
terkait dengan suatu informasi. Item yang digunakan dalam indikator ini
adalah review pada produk Ms Glow memberikan informasi mengenai
kelebihan dan kekurangan produk yang diulas dari konsumen yang
sudah membeli dan menggunakan produk Ms Glow dan dari ulasan
tersebut juga akan membantu calon konsumen dalam menentukan
keputusan pembelian. - Valensi (Nilai)
Valensi atau nilai mengarah kepada karakteristik positif atau negatif dari
sebuah peryataan informasi dapat membawa pengaruh penting dalam
sikap konsumen yang pada akhirnya akan mempengaruhi keputusan
pembelian. Item yang digunakan untuk indikator ini adalah review
produk Ms Glow memberikan informasi yang benar, memberikan
gambaran yang lengkap mengenai produk secara keseluruhan, review
yang positif dapat mempengaruhi pendapat konsumen terhadap suatu
produk dan apabila terdapat review negatif maka konsumen akan mencari
alternatif produk lain. - Volume of Review (Jumlah Ulasan)
Jumlah dari ulasan dapat mempresentasikan angka dari konsumen yang
tertarik dengan pembelian sebelumnya atau dengan pengalaman konsumen
sebelummnya mengenai suatu produk. Item yang digunakan pada
indikator ini adalah semakin banyak jumlah review positif maka akan
semakin baik reputasi dari sebuah produk tersebut. - Source Credibility (Kredibilitas Sumber)
Kredibilitas sumber adalah persepsi penerima informasi mengenai keahlian
sumber dan kepercayaan terhadap suatu informasi. Source credibility
adalah fitur online customer review yang disediakan oleh instagram pada
akun Ms Glow dan kepercayaan terhadap review yang diberikan oleh para
konsumen yang sudah membeli produk tersebut
Online Customer Review
Menurut Arbaini dkk (2020) online customer review merupakan
bagian dari electronic word of mouth (e-wom) yaitu merupakan pendapat
langsung dari seseorang dan bukan sebuah iklan. Review adalah salah satu
dari beberapa faktor yang menentukan keputusan pembelian seseorang.
Menurut Almana dalam Sari (2019) online customer review adalah review
yang bersifat user generated content atau informasi yang dibuat oleh
perorangan dan dapat digunakan sebagai sarana untuk konsumen mencari
dan mendapatkan informasi suatu produk yang nantinya akan
mempengaruhi keputusan pembelian.
Menurut Wibisono, H., Wijaya, K.E., & Andreani, F.(2021) online
customer review adalah pendapat langsung dari seseorang dan bukan
sebuah iklan. Review merupakan salah satu dari beberapa faktor yang
menentukan keputusan pembelian seseorang, menunjukan bahwa orang
dapat mengambil jumlah review sebagai indikator popularitas produk atau
nilai dari suatu produk. Namun belum tentu semakin banyak review berarti
produk tersebut pasti akan dibeli oleh pelanggan. Banyak faktor-faktor
yang menjadi alasan keputusan pembelian suatu produk bagi pelanggan.
online customer review dapat menjadi alat promosi yang ampuh untuk
komunikasi pemasaran. Pemasar dan vendor telah menggunakan media ini
karena memberikan saluran yang murah dan berdampak untuk menjangkau
berbagai pelanggan.
Menurut Auliya dkk (2017) online customer review adalah ulasan
yang diberikan konsumen terkait dengan informasi dari evaluasi suatu
produk tentang berbagai macam aspek, dengan adanya informasi ini
konsumen bisa mendapatkan kualitas dari produk yang dicari dari ulasan
dan pengalaman yang ditulis oleh konsumen yang telah membeli produk
dari penjual online. Sedangkan menurut Dzulqarnain (2019) online
customer review adalah ulasan yang dibuat oleh konsumen akan memiliki
preferensi unik yang berbeda-beda, latar belakang pemaparan teknis yang
berbeda, tingkat pengetahuan akan produk yang berbeda, dan kondisi
penggunaan yang berbeda, berbagai informasi inilah yang membuat
informasi yang diberikan oleh konsumen menjadi lebih relevan bagi
berbagai macam konsumen lainnya
Kredibilitas Influencer
Kredibilitas (Kredibility) memiliki makna yang cukup luas, namun
kata tersebut biasanya digunakan untuk seseorang yang bisa dipercaya dan
memiliki tanggung jawab. Menurut Shimp (2014) kredibilitas adalah hal
yang mengacu kepada kepercayaan terhadap seseorang. Sedangkan
menurut Aristoteles, kredibilitas adalah komunikator yang memiliki
kekuatan dari karakter pribadinya, sehingga mampu mengendalikan emosi
pendengarnya. Sehingga dari penjelasan para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa kredibilitas adalah persepsi seseorang yang berasal dari sifat-sifat
yang melekat pada orang tersebut.
Menurut Shimp (2014) Influencer merupakan seseorang yang
perkataanya dapat mempengaruhi orang lain. Seorang influencer tidak
hanya harus selebriti, tetapi orang biasa pun dapat dikatakan sebagai
influencer jika orang tersebut memiliki pengikut yang banyak dan
perkataanya dapat mempengaruhi orang lain. Andapun alasan influencer
digunakan oleh perusahaan adalah untuk meningkatkan awareness,
mengedukasi target penjualan, meningkatkan followers dan tentunya untuk
meningkatkan penjualan. Menurut Jin dan Phua (2014) Jumlah pengikut
yang tinggi menyiratkan bahwa banyak orang yang tertarik pada akun
tertentu, misalnya mereka yang berlangganan pembaruannya. Orang-orang
juga mengandalkan syarat ini untuk menilai popularitas seseorang
pengguna yang dianggap lebih menarik, ekstrovet, dapat dipercaya, mudah
didekati dan memiliki karakteristik yang diinginkan secara sosial. Dengan
demikian tampaknya masuk akal bahwa konsumen melihat influencer
sebagai sumber yang berharga atas informasi yang disampaikan. Namun
sebaliknya hasil dari fakta, menunjukan bahwa konsumen melihat
influencer sebagai sumber yang berharga atas informasi yang disampaikan
bukan hanya sekedar memanfaatkan kepopularitasnya saja. Andapun
tujuan umum influencer sebagai berikut:
- To Inform
Tujuan umum pertama influencer adalah untuk memberitahu dan
membantu audiens untuk memperoleh suatu informasi yang belum
dimiliki. - To Persuade
Tujuan umum kedua influencer adalah membujuk, maka pembicara
akan berusaha untuk membuat audiens menerima sudut pandangnya
atau meminta untuk mengadopsi perasaan dan perilakunya. - To Entertain
Tujuan umum ketiga influencer adalah menghibur, konten iklan yang
informatif dan persuasif difokuskan pada hasil akhir dari proses
periklanan, sementara hiburan difokuskan pada kesempatan untuk
menarik perhatian audiens dengan penampilanya dalam
menyampaikan suatu informasi.
Berdasarkan penelitian Menurut Shimp (2014) menjelaskan bahwa
kredibilitas influencer terdiri atas 3 dimensi yaitu trustworthiness
(kepercayaan), expertise (keahlian), dan attractiveness (daya tarik). - Trustworthiness (Kepercayaan)
Kepercayaan adalah sifat dipercayanya sumber oleh audiens, dimana hal
ini memberitahukan sejauh mana penerima pesan memandang sumber
terkait hal kejujuran, ketulusan, atau keberanian (AlFarraj et al.,
2021). Kepercayaan mengacu pada tingkat kepercayaan selebriti tentang
merek, integritas dan kejujuran yang dirasakan konsumen (Sukarno,
Ahmad, & Mastina, 2022). Konsumen memiliki standart dan harapan
tersendiri terhadap suatu produk yang harus dipenuhi, sehingga
kepercayaan adalah kepercayaan pada merek konsumen terhadap suatu
produk tersebut (Nisa, 2019). Dapat disimpulkan bahwa kepercayaan
adalah kemampuan yang menunjukan kejujuran, integritas dan
kepercayaan dalam menyampaikan informasi. - Expertise (Keahlian)
Keahlian adalah keahlian sumber dalam memberikan kualifikasi dan
pengetahuan dalam membuat penilaian terkait suatu topik/subjek juga
dapat mengarah ke pengalaman yang terlihat dimiliki sumber (AlFarraj et
al., 2021). Keahlian mengukur sejauh mana selebriti dianggap
berpengetahuan luas, terampil, dan akrab untuk mempengaruhi orang-
orang untuk melihat suatu produk (Sukarno et al. 2022). Influencer
dianggap sebagai keahlian pada bidang tertentu, menghasilkan dukungan
merek yang lebih tinggi dari pada seorang influencer tanpa keahlian (Ha
& Lam, 2017). Dapat disimpulkan bahwa keahlian adalah pengetahuan
yang dimiliki oleh seorang influencer akan merek yang sedang
diiklankan. - Attractiveness (Daya Tarik Fisik)
Dimensi daya tarik menunjukan daya tarik mengenai fisik atau sifat
disenangi sebagai sumber penyampaian informasi (AlFarraj et al, 2021).
Daya tarik berkaitan dengan penampilan seperti kecantikan atau
keanggunan, penggunaan pakaian dan aksesoris (Sukarno et al.,2022).
Seorang selebriti dapat menarik karena dia telah membangun citra popular
dikalangan masyarakat. Daya tarik cenderung meningkatkan persuasi
terhadap pelanggan karena mereka ingin menjadi seperti selebriti (Ha &
Lam, 2019). Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
daya tarik adalah daya tarik fisik ditransmisikan melalui seseorang yang
dapat ditunjukan melalui penampilan, keanggunan, dan kecantikan wajah
Pengertian Minat Beli
Schiffman dan Kanuk dalam Kusuma Erik, I., Surya, J., &
Suhendra, I,(2017) minat membeli merupakan aktivitas psikis yang
timbul karena adanya perasaan (afektif) dan pikiran (kognitif)
terhadap suatu barang atau jasa yang diinginkan. Sehingga minat
dalam membeli produk dapat diartikan sebagai suatu sikap senang
terhadap suatu objek yang membuat individu berupaya mendapatkan
objek tersebut dengan cara membayarnya dengan uang atau dengan
pengorbanan. Minat terhadap suatu produk sangat bervariasi pada
tiap-tiap individu. Minat membeli merupakan pikiran yang timbul
karena adanya perasaan tertarik dan ingin memiliki terhadap suatu
barang atau jasa yang diharapkan
Minat (Atensi)
Schiffman & Kanuk dalam Shanaz Nanda Bela, F & Wahyono
(2016) minat atau atensi adalah ketertarikan pelanggan atau konsumen
kepada suatu prduk dengan cara mencari informasi lebih.
Rizky & Yasin dalam Shanaz Nanda Bela, F & Wahyono (2016)
minat atau yang timbul dalam diri pembeli seringkali berlawanan dengan
kondisi keuangan yang dimiliki minat beli konsumen merupakan
keinginan tersembunyi dalam benak konsumen.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa minat
adalah kecendrungan seseorang terhadap suatu hal atau aktivitas disertai
adanya perhatian dan rasa senang. Minat dapat dikatakan sebagai
ketertarikan untuk melakukan sesuatu dalam mewujudkan pencapaian
tujuan.
Kompensasi
Kompensasi dengan kata lain ganti rugi atau juga imbalan adalah
semua bentuk pembayaran yang diberikan oleh organisasi/perusahaan
kepada pegawai sebagai balas jasa atas pelaksanaan tugas atau kontribusi
pegawai kepada organisasi, baik yang diberikan secara teratur maupun
situasional.
Nieuwenheuis dalam Fadhly, F (2016) ganti rugi adalah membayar
kerugian yang diderita oleh kreditur. Mariam Darus Badrulzaman dalam
Fadhly, F (2016) ganti rugi adalah hal yang dianggap sebagai membayar
kerugian yang nyata (feitelijknadee) yang dapat diperkirakan pada saat
perikatan itu diadakan yang timbul sebagai akibat ingkar janji
(wanprestasi).
Fadhly, F (2016) ganti rugi dimaksudkan untuk memulihkan
keadaan yang sudah menjadi rusak atau tidak seimbang dikarenakan
adanya penggunaan barang atau pun jasa yang tidak memenuhi harapan
dari konsumen. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan produk atau
jasa yang telah merugikan konsumen baik berupa kerugian materi,
maupun hingga kerugian yang menyangkut diri seperti sakit, cacat, dan
bahkan kematian.
Kualitas Pelayanan
Supranto dalam Semuel, H., & Lianto, A. S. (2014) kualitas
pelayanan adalah sebuah hasil yang harus dicapai dan dilakukan dengan
sebuah tindakan. Namun tindakan tersebut tidak berwujud dan mudah
hilang, namun dapat dirasakan dan diingat. Dampaknya adalah konsumen
dapat lebih aktif dalam proses mengkonsumsi produk dan jasa suatu
perusahaan.
Wyckof dalam Semuel, H., & Lianto, A. S. (2014) kualitas
pelayanan adalah sebuah tingkat keunggulan yang diharapkan, serta
berkaitan dengan hal itu adalah tindakan pengendalian atas tingkat
keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan konsumen. Wyckof
melihat kualitas pelayanan tidak dipandang berdasarkan sudut pandang
produsen melainkan dari persepsi orang yang menerima pelayanan. Hal
ini karena konsumen yang merasakan dan mengkonsumsi pelayanan
yang diberikan tersebut, sehingga konsumen mampu menilai dan
menentukan kualitas pelayanan. Dengan demikian maka kualitas
pelayanan yang baik maupun buruk tergantung pada konsistensi
kemampuan produsen dalam memenuhi harapan para konsumennya
Indikator Kepercayaan Merek (Brand Trust)
Kautonen dan Karjaluoto dalam Octaviany, A., Norisanti N.,
Jhoansyah, D (2019) ada dua indikator variabel yang memengaruhi
kepercayaan merek (brand trust) sebagai berikut :
1) Brand Reliability
Brand Reliability (keandalan merek) yaitu keyakinan konsumen
bahwa produk tersebut dapat memenuhi nilai atau hal yang
dijanjikan dengan persepsi bahwa merek tersebut dapat
memenuhi kebutuhan dan juga bisa memberikan kepuasan.
Dimensi ini juga merupakan suatu hal yang esensial bagi
terciptanya kepercayaan pada merek dikarenan kemampuan
merek dalam hal memenuhi nilai atas hal yang dijanjikannya
sehingga membuat konsumen menaruh rasa yakin dengan
kepuasan yang sama di masa depan. Kehandalan pada merek
juga menilai perihal kualitas pelayanan yang meliputi kejujuran,
kenyamanan servis, prosedur pelayanan, dan pelayanan jasa
yang disediakan hingga kepuasan konsumen.
2) Brand Intentions
Brand Intentions atau minat pada merek mencerminkan
keyakinan konsumen bahwa merek tersebut mampu
mengutamakan kepentingan konsumen ketika masalah dalam
konsumsi produk muncul secara tidak terduga. Oleh karena itu,
intentionality berkaitan dengan kepercayaan bahwa merek akan
tertarik pada apa yang dibutuhkan konsumen dan tidak akan
mengambil keuntungan dari ketidaktahuan konsumen seperti
dengan memberikan asuransi atau kompensasi atas
permasalahan dalam penggunaan produk
Manfaat Merek
Simamora dalam Memey (2019) merek juga memiliki manfaat bagi
pelanggan, perantara, produsen, maupun publik. Adapun manfaatnya
yaitu:
1) Bagi pembeli
a) Menceritakan sesuatu kepada pembeli tentang mutu ataupun
kualitas.
b) Membantu pembeli untuk memperhatikan produk-produk
baru yang mungkin bermanfaat bagi mereka.
2) Bagi penjual
a) Memudahkan penjual mengolah pesanan dan menelusuri
masalah-masalah yang timbul.
b) Memberikan perlindungan hukum atas istimewa atau ciri
khas produk.
c) Memungkinkan untuk menarik sekelompok pembeli yang
setia dan menguntungkan.
d) Membantu penjual melakukan segmentasi pasar yang tepat.
3) Bagi Masyarakat
a) Pemberian merek memungkinkan mutu produk lebih
terjamin dan lebih konsisten.
b) Meningkatkan efisiensi pembelian karena merek dapat
menyediakan informasi tentang produk dimana membelinya.
c) Meningkatnya inovasi-inovasi produk baru, karena
produsen terdorong untuk menciptakan keunikan –
keunikan baru guna mencegah peniruan dari pesaing
Pengertian Merek (Brand)
Aaker dalam Citranuari Sekar Jingga (2015) merek atau
brand adalah suatu nama dan atau simbol yang dimana bersifat
dengan guna untuk dapat membedakan (sebuah logo, cap, dan
kemasan atau yang lainnya) yang bermaksud untuk mengidentifikasi
atau mengetahui suatu barang atau juga suatu jasa dari penjual atau
sebuah produk tertentu, dengan demikian pula membedakannya dari
barang-barang atau jasa yang dihasilkan oleh para pesaing. Sehingga
penjual atau pembuat merek dapat mengidentifikasikan produk atau
jasa yang disediakan berupa nama, merek, logo, atau simbol lainnya.
Kotler dan Keller dalam Ike Vanessa dan Zainul Arifin
(2017) merek atau brand adalah simbol, tanda, rancangan ataupun
suatu kombinasi. Tiga hal tersebut yang dapat dijadikan sebagai
identitas dari beberapa penjual atau produsen untuk nantinya
digunakan sebagai pembeda dengan pesaing lainnya yang ada di
pasaran.
Tjiptono dalam Ike Vanessa dan Zainul Arifin (2017) merek
atau brand adalah suatu deskripsi asosiasi dan juga rasa keyakinan
dari konsumen terhadap suatu merek.
Kartajaya dalam Surya Sanjaya (2015) merek atau brand
adalah indikator value yang produsen akan tawarkan kepada para
pelanggan atau konsumen.
Karakteristik media sosial
Terdapat beberapa platform aplikasi dalam media sosial contohnya
seperti TikTok, Instagram, WhatsAPP, Youtube, Twitter dan sebagainya.
Media sosial juga tidak memiliki batasan bagi siapapun untuk melakukan
aktivitas di dalamnya baik individu, kelompok, komunikasi, organisasi, hingga
kolaborasi antara pengguna media itu. Dalam (Clarasari, 2018)
mengungkapkan bahwa ada beberapa karakteristik dari media sosial yaitu:
- Jaringan (network): sistem yang terhubung dengan perangkat
keras lainnya, sehingga dapat memunculkan koneksi untuk
berkomunikasi dengan yang lain. - Informasi (informations): Bagian hal terpenting dari media sosial
karena berisikan pemberitaan, identitas, pembuatan konten, foto,
video, dan gambar. - Arsip (archive): fitur karakteristik media sosial yang berguna
untuk menyimpan informasi, sehingga memungkinkan pengguna
mengakses dimanapun dan dapat melalui perangkat apapun - Interaksi ( interactivity): media sosial bukan sekedar aplikasi
penghubung antara pengikut dan pereteman. Akan tetapi sebagai
media interaksi dengan user atau teman lain. - Simulasi sosial (simulation of society): media sosial dapat kita
gunakan sebagai wadah kegiatan sosial melalui dunia maya atau
virtual yang belum tentu kita temukan di masyarakat asli. - Konten oleh pengguna (user-generated content): media sosial
memberikan peluang bagi pemilik akun untuk membuat dan
mengunggah konten sesuai kepemilikan masing-masing
Pengertian Media Sosial
Menurut Antony Mayfield (2008) yang memberikan gagasannya berupa
definisi media sosial, bahwa media sosial adalah media yang penggunaannya
mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan peran, khususnya blog, jejaring
sosial, wiki/ensiklopedia online, forum-forum maya, termasuk virtual world
(dengan karakter 3D). Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein media
sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membanguun
diatas dasar ideologi dan teknologi web 2.0 dan yang memungkinkan
penciptanya dan pertukaran user generated content. Menurut Lisa Buyer media
sosial merupakan bentuk hubungan masyarakat yang paling transparan
menarik dan interaktif saat ini. Media sosial merupakan salah satu aplikasi
yang digunakan untuk berbagi sebuah informasi gambar, video, teks dan audio
satu dengan yang lain yang dapat dilakukan dengan muda
Influencer
Influencer berasal dari kata “influencer” yang berarti mempengaruhi, dalam
bahasa Indonesia influencer diartikan sebagai seseorang yang memiliki pengaruh
atau mampu mempengaruhi seseorang. Seorang influencer merupakan seorang
individu yang aktif di berbagai platform media sosial dengan pengikut yang
banyak (Sugiarto Maulana et al., 2021). Para influencer merupakan mereka yang
dipercaya dan digemari oleh sebagian masyarakat, dari apapun yang dipakai dan
dilakukan akan selalu menjadi fokus banyak orang.
Dalam dunia pemasaran, influencer menjadi bagian dari strategi promosi
yang efektif. perusahaan juga memanfaatkan kekuatan personal branding para
influencer untuk menjangkau target pasar secara lebih organik. kolaborasi yang
dilakukan seperti endorsement, paid promote, hingga brand ambassador. Menurut
Hariyanti & Wirapraja 2018 Influencer merupakan individu yang aktif di media
sosial dan memiliki jumlah pengikut yang cukup signifikan. Keberadaan mereka
memungkinkan pesan yang disampaikan melalui platform digital dapat
mengetahui perilaku, opini, bahkan keputusan dari para pengikutnya. Influencer
tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, namun juga berfungsi sebagai
panutan atau role model yang memiliki kekuatan untuk membentuk pola pikir dan
gaya hidup audiens.
Klasifikasi influencer berdasarkan jumlah pengikut. Klasifikasi ini
membantu dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat, tergantung pada
tingkat jangkauan san kedekataan influencer terhadap audiensnya Menurut Ellora
(2019) influencer berdasarkan jumlah followers secara umum dibagi menjadi 4,
yaitu:
- Nano influencer merupakan individu yang memiliki jumlah pengikut
sekitar 500 hingga 1.000 orang. meskipun jangkauannya terbatas nano
influencer cenderung memiliki hubungan yang lebih personal dan
interaktif dengan para pengikutnya. Kedekatan ini memungkinkan pesan
yang disampaikan lebih mudah diterima dan memiliki tingkat kepercayaan
yang tinggi.
16 - Micro Influencer memiliki pengikut berkisar antara 1.000 hingga 100.000
orang. Mereka umumnya memiliki keahlian atau minat pada bidang
tertentu, seperti kecantikan, kuliner, atau parenting. Micro influencer
sering dianggap lebih autentik dan terpercaya karena konten ynay yang
bersifat niche dan sesuai dengan minat audiensnya. - Macro Influencer adalah individu dengan julan pengikutnya antara
100.000 hingga 1 juta orang.Mereka biasanya sudah memiliki pengalaman
profesional dalam menghasilkan konten digital dan, menjadikan aktivitas
di media sosial sebagai pekerjaan utama. influencer jenis ini memiliki
kemampuan produksi yang tinggi serta pengaruh yang luas sehingga sering
menjadi pilihan utama bagi merek-merek besar. - Mega Influencer merupakan tokoh dengan jumlah pengikut lebih dari 1
juta orang. Mereka umumnya berasal dari kalangan selebritis, artis, atau
tokoh publik yang sudah memiliki popularitas sebelum terjun di media
sosial. Mega Influencer memiliki data jangkauan yang sangat luas, namun
interaksi personal dengan pengikut cenderung lebih rendah dengan
dibandingkan kategori lainnya.
2.3 Media Baru
Dengan munculnya media baru pada saat ini menimbulkan perbedaan pada
pola komunikasi. Adanya media baru membuat masyarakat untuk semakin mudah
dalam melakukan komunikasi dari jarak jauh. Media baru hadir dengan
didukungnya internet, saat ini internet menjadi kebutuhan sehari-hari manusia
yang tidak dapat terpisahkan. Dengan adanya internet saat membantu masyarakat
dalam mengakses segala hal seperti mencari informasi, berkomunikasi, pekerjaan,
membeli barang, atau juga sebagai media untuk mengekspresikan. Internet juga
memiliki manfaat yang cukup besar dalam kehidupan manusia, adanya internet
apapun dapat terhubung dari suatu tempat ke tempat lain dengan adanya internet
dan adanya media baru membawa dampak besar pada pola komunikasi dan pola
hidup masyaraka
Teori Personal Branding menurut Peter Montoya
Teori utama yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
menggunakan teori Personal Branding Menurut Peter Montoya, Teori yang
dijelaskan oleh Peter Montoya terdapat eight laws of personal branding yang
berarti delapan hukum dalam personal branding. Menurut Montoya 2014:59-
67) terdapat 8 konsep-konsep untuk pembentukan personal branding sebagai
pondasi dari personal branding yang kuat, yaitu:
- Spesialisasi (Specialization)
Spesialisasi diri merupakan suatu ciri khas dari sebuah personal
branding yang hebat ketepatan pada sebuah spesialisasi terkonsentrasi,
hanya pada sebuah kekuatan, keahlian, atau pencapaian tertentu. Dalam
menilai spesialisasi, dilakukan dengan berpedoman pada aspek-aspek,
contohnya kemampuan, perilaku, gaya hidup, misi, produk, profesi dan
layanan.
a. Ability, dilihat dari kemampuan individu untuk memiliki visi yang
strategik dan prinsip-prinsip awal yang baik. Dalam hal ini
berkaitan dengan kemampuan individu dalam menyusun, dan
memilih kata-kata secara tepat sehingga efektif dalam berbicara di
depan umum.
b. Behavior, yaitu menyangkut tentang perilaku individu. Seperti
keterampilan dalam memimpin, kedermawanan, dan kemampuan
untuk mendengarkan.
c. Lifestyle dapat dilihat dari gaya hidup Sehari-hari yang ditampilkan
individu.
d. Mission, dalam hal ini dapat dilihat dari keterbukaan dari individu
dalam menjalankan proyek-proyek ataupun kegiatan-kegiatan yang
dilakukannya.
e. Product, dilihat dari berbagai produk yang diunggah oleh individu,
baik produk yang dihasilkan sendiri maupun produk-produk yang
merupakan hasil kerjasamanya dengan berbagai brand lainnya.
f. Profession, bisa dilihat dari pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang
yang dibagikan di akun media sosial miliknya.
g. Service, dilihat dari berbagai profesi yang dimiliki oleh seseorang
untuk melakukan pelayanan terhadap masyarakat. - Kepemimpinan (Leadership)
Dalam personal branding menenkankan bahwa orang ingin di
pandu oleh sosok yang memiliki otoritas dan keunggulan.
Kepemimpinan dibangun melalui kemampuan untuk memberikan
arahan yang jelas ditengah ketidakpastian, dengan begitu menunjukan
kompetensi yang kuat dan memenuhi bahkan melebihi harpan. Dengan
cara ini seseorang bisa mendapatkan pengakuan dan otoritas di mata
publik. - Kepribadian (Personality)
Seorang individu yang hebat didasari pada seseorang yang
memiliki kepribadian yang apa adanya dan menyadari
ketidaksempurnaan, pada konsep tersebut menghilangkan beberapa
tekanan yang terdapat konsep kepemimpinan. seseorang harus
memiliki sebuah kepribadian yang baik, namun tidak harus sempurna. - Perbedaaan (Distinctiveness)
Personal brand yang aktif harus menampilkan sesuatu yang beda
dari yang lainnya. Diferensiasi diperlukan supaya membedakan satu
dan lainnya. Dalam membentuk personal branding. Selain itu dengan
perbedaan seseorang akan lebih dikenal oleh khalayak dan bisa
memiliki pengalaman yang lebih besar serta wawasan yang tentunya
lebih luas. - Kenampakan (Visibility)
Seorang individu harus secara konsisten dan terus-menerus
sampai personal branding nya dikenal dan diakui oleh khalayak. maka
visual juga lebih penting daripada kemampuan. Dengan begitu seorang
individu perlu mempromosikan dirinya dan menggunakan setiap
kesempatan untuk membuat dirinya terlihat dan terkenal di khalayak. - Kesatuan (Unity)
Konsep ini menekankan konsistensi dalam setiap aspek
kehidupan dan perilaku seseorang, kesatuan merupakan semua
tindakan, keputusan, dan interaksi dengan orang lain harus memiliki
nilai dan tujun yang sama untuk membangun sebuah citra yang kuat.
Berati keeselarasan anatara apa yang seseorang katakan, lakukan dan
tunjukan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. - Keteguhan (Persistence)
Konsep ini menyatakan bahwa membangaun personal branding
emerluka waktu dan ketekunana. Personal branding tidak bisa terjadi
secara langsung melainkan personal branding membutuhkan waktu
untuk tumbuh. Dalam konsep ini penting untuk tetap fokus pada tujuan
jangka panjang, dengan menghindari tren sesaat yang dapat
membangun cita brand. - Nama Baik (Goodwill)
Sebuah personal branding akan memberikan hasil dan bertahan
lebih lama jika seseorang dibelakangnya dipersepsikan dengan citra
yang positif. Seseorang tersebut harus diasosiasikan dengan sebuah
nilai atau ide yang diakui secara umum yang tentunya positif dan
bermanfaat
Definisi Personal Branding
Personal branding penggabungan dari dua kata yang itu personal dan
branding, dalam bahasa Inggris personal berarti pribadi dan branding adalah
brand berarti merek atau kata brand dalam bahasa Norwegia kuno memiliki arti
merujuk pada sebuah praktik dalam memberi tanda sebuah kepemilikan pada
hewan ternak (Swasty,2016). Menurut Jeff Bezos (2019) “your brand is what
people say about you when you’re in the room” yang merupakan personal
branding dapat diartikan tentang bagaimana seseorang mempresentasikan diri
kepada orang lain dan bagaimana seseorang ingin terlihat dan dikenal oleh
masyarakat sehingga dirinya memiliki keunikan dari orang lain.
Setiap individu perlu memiliki personal branding di dalam dirinya
karena untuk digunakan dalam persaingan di dunia kerja. Dengan memiliki
sebuah citra diri atau personal branding yang kuat akan mendorong individu
dengan mudah untuk mengembanka kemampuannya untuk meningkatkan self
awareness, self esteem, self worth dan tentunya nilai positif lainnya dengan
begitu dapat menjadi pembeda dan keunikan seseorang individu dari individu
lainnya. Personal branding merupakan suatu proses pembentukan sudut
pandang masyarakat dalam aspek-aspek yang dimiliki oleh seseorang
contohnya seperti kemampuannya, kepribadiannya, dan nilai nilai yang dalam
menciptakan sebuah sudut pandang positif dari masyarakat untuk menunjang
menciptakan sebuah personal branding yang kuat. (Haroen, 2014)
Personal branding berasal dari nilai-nilai kehidupan seseorang dan
memiliki sudut pandang tinggi terhadap siapa sebenarnya diri anda. Personal
branding adalah merek pribadi anda di benak orang lain yang ada kenal.
dengan adanya personal branding akan memudahkan semua orang melihat anda
berbeda dengan orang lain dan tentunya dengan adanya keunikan tersendiri,
seperti orang akan lupa dengan wajah kita tetapi dengan adanya keunikan diri
kita akan diingat selalu oleh orang lain (Cindy Yunitasari & Edwin Japarianto,
2013). Konsisten adalah sebuah syarat utama dalam personal branding yang
kuat. Hal-hal yang tidak konsisten akan melemahkan personal branding
dimana pada akhirnya akan menghilangkan kepercayaan serta ingatan orang
lain terhadap diri anda (McNally & Speak, 2002:13).
Menurut Lair, et. all (dalam Lair, Sullivan & Cheney, 2005, 35) Personal
branding merupakan salah satu proses untuk membentuk persepsi masyarakat
terhadap diri seseorang yang dipandang sebagai merek atau brand oleh
masyarakat. Dengan begitu proses pembentukan persepsi masyarakat oleh diri
seseorang yang meliputi kepribadiannya, kemampuannya dan aspek lainnya
yang akan menciptakan persepsi positif di pemikiran masyarakat serta
digunakan sebagai alat pemasaran (McNally & Speak, 2022). Menurut Peter
Montoya (2002) dalam bukunya yang berjudul “The Personal Branding
Phenomenon” menyatakan bawah personal branding merupakan pengertian
mengenai menciptakan identitas yang ditampilkan ke publik untuk diri sendiri
sebagai sebuah proyek bisnis.
Personal branding merupakan proses membangun dan mengelola citra
dan reputasi seseorang di mata publik, menurut para ahli personal branding
melibatkan penciptaan persepsi yang positif dan tak terlupakan tentang
individu yang dapat mempengaruhi karir dan hubungan sosial mereka.
Personal branding adalah sesuatu tentang bagaimana mengambil kendari atas
penilaian orang lain terhadap anda sebelum anda bertemu langsung dengan
anda “personal branding is about taking control of how other people perceive
you before they come into direct contact with you” (Montoya & Vandehey,
2008)
Pengaruh Brand Image, Fitur, Persepsi Harga terhadapLoyalitas Pelanggan
Menurut (Fara Diba. 2018). menyatakan bahwa brand image
dan persepsi harga akan memberikan dampak yang besar pada
keberhasilan produk tersebut dalam memenangkan pelanggan, dan
pelanggan akan kembali membeli, dan akan memberitahu yang lain
tentang pengalaman baiknya dengan produk tersebut dapat
dikatakan pelanggan tersebut merasa puas. Para konsumen membeli
suatu produk bukan karena fisik produk semata-mata tetapi karena
manfaat yang ditimbulkan dari produk yang dibeli.
Menurut (Tingkir, 2014). Brand Image memiliki pengaruh
yang positif terhadap loyalitas pelanggan. Citra merek merupakan
image atau sesuatu yang melekat di benak konsumen. Semakin baik
persepsi di benak konsumen terhadap citra merek perusahaan maka
kepuasan konsumen juga akan semakin tinggi. Sebaliknya juga, jika
persepsi konsumen terhadap citra merek buruk maka kepuasan
konsumen juga akan semakin rendah.
Pengaruh Brand Image, Fitur, Persepsi Harga terhadapKepuasan Pelanggan
Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten
memberikan feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli,
bukan hanya sekedar simbol yang membedakan produk perusahaan
tertentu dengan kompetitornya (Kotler, 2005). Kotler dan Amstrong
(2008) mempunyai pendapat bahwa merek merupakan nama, istilah,
tanda, simbol, desain atau kombinasi yang ditujukan untuk
mengidentifikasi barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan
sekaligus sebagai diferensiasi produk.
Menurut Dapat juga dikatakan bahwa brand image
merupakan konsep yang diciptakan oleh konsumen karena alasan
subyektif dan emosi pribadinya. (Erna Feririanadewi, 2008).
Apabilah citra merek suatu perusahaan baik dan dikenal oleh banyak
orang konsumen akan merasa puas terhadap produk.
Loyalitas Konsumen
Loyalitas pelanggan sangat penting artinya bagi perusahaan
yang ingin menjaga kelangsungan hidup maupun keberhasilan
usahanya. Olson dalam Musanto (2004:128) menyatakan bahwa
loyalitas pelanggan merupakan dorongan perilaku untuk melakukan
pembelian secara berulang-ulang dan membangun kesetiaan
pelanggan terhadap suatu produk/ jasa yang dihasilkan oleh badan
usaha tersebut membutuhkan waktu yang lama melalui proses
pembelian yang berulang-ulang tersebut.
Fournell dalam Margaretha (2004:297) loyalitas merupakan
fungsi dari kepuasan pelanggan, rintangan pengalihan, dan keluhan
pelanggan. Pelanggan yang puas akan dapat melakukan pembelian
ulang pada waktu yang akan datang dan memberitahukan kepada
orang lain apa yang dirasakan.
Griffin (2005:223) mengemukakan keuntungan-
keuntungan yang akan diperoleh perusahaan apabila memiliki
pelanggan yang loyal antara lain:
1) Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk
menarik pelanggan baru lebih mahal).
2) Mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi
kontrak, pemrosesan pesanan, dll.).
3) Mengurangi biaya turnover pelanggan (karena
pergantian pelanggan yang lebih sedikit).
4) Meningkatkan penjualan silang yang akan
memperbesar pangsa pasar perusahaan.
5) Word of mouth yang lebih positif dengan asumsi
bahwa pelanggan yang loyal juga berarti yang merasa
puas
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan adalah sejauh mana kinerja yang
diberikan oleh sebuah produk sepadan dengan harapan pembeli
jika kinerja produk yang dirasakan sama dengan atau lebih besar
dari harapannya maka pelanggan akan merasa lebih puas dan
sebaliknya apabila kinerja produk kurang dari yang diharapkan,
pembelinya tidak akan merasa puas (Kotler dalam Supriyono,
2008:13). sedangkan menurut Band dalam Musanto (2004:125)
kepuasan pelanggan merupakan suatu tingkatan dimana
kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelanggan yang terpenuhi
yang akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau
kesetiaan yang berlanjut.
Wood (2009:11) manfaat-manfaat spesifik kepuasan
pelanggan bagi perusahaan mencakup:
1) Dampak positif pada loyalitas pelanggan.
2) Berpotensi menjadi sumber pendapatan masa depan
(terutama melalui pembelian ulang, cross-selling
dan up-selling).
3) Menekan biaya transaksi pelanggan di masa depan
(terutama biaya-biaya komunikasi, penjualan dan
layanan pelanggan).
4) Menekan volatilitas dan risiko berkenaan dengan
prediksi aliran kas masa depan.
5) Meningkatkan toleransi harga (terutama kesediaan
untuk membayar harga premium dan pelanggan
tidak mudah tergoda untuk beralih pemasok).
6) Rekomendasi gethok tular positif.
7) Pelanggan cenderung lebih reseptif terhadap
product-line extensions, brand extensions dan new
add-on services yang ditawarkan perusahaan.
8) Meningkatnya bargaining power relatif perusahaan
terhadap jejaring pemasok, mitra bisnis dan saluran
distribusi.
Persepsi Harga
Dalam arti sempit, harga (price) adalah jumlah yang
ditagihkan atas suatu produk baik barang maupun jasa. Lebih luas
lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh
pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau
menggunakan suatu produk baik barang maupun jasa (Kotler,
2008). Engel (2004) mendefinisikan harga sebagai sejumlah uang
(ditambah beberapa produk) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
Menurut Stanton (1994) harga adalah sejumlah nilai yang
ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh
pembeli atau penjual (melalui tawar menawar) atau ditetapkan
oleh penjual untuk suatu harga yang sama terhadap semua
pembeli.
Paul Peter dan Jerry Olson (2000) menyatakan:
“Persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga
dipahami seluruhnya oleh konsumen dan memberikan makna
yang dalam bagi mereka.” Pada saat konsumen melakukan
evaluasi dan penelitian terhadap harga dari suatu produk sangat
dipengaruhi oleh perilaku dari konsumen itu sendiri.
Dengan demikian penilaian terhadap harga suatu
produk dikatakan mahal, murah atau biasa saja dari setiap
individu tidaklah harus sama, karena tergantung dari persepsi
individu yang dilatarbelakangi oleh lingkungan kehidupan dan
kondisi individu. Dalam pengambilan keputusan, harga memiliki
dua peranan utama, yaitu (Fandy Tjiptono, 2008).
1) Peranan alokasi, yaitu membantu para pembeli untuk
memutuskan cara terbaik dalam memperoleh manfaat
yang diharapkan sesuai dengan kemampuan daya
belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat
membantu pembeli untuk memutuskan cara
mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis
barang atau jasa. Pembeli membandingkan harga dari
berbagai alternatif yang tersedia, kemudian
memutuskan alokasi dana yang dikehendaki.
2) Peranan informasi, yaitu “mendidik” konsumen
mengenai faktor produk yang dijual, misalnya kualitas.
Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi dimana
pembeli mengalami kesulitan untuk menilai faktor
produk atau manfaatnya secara objektif. Persepsi yang
sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal
mencerminkan kualitas yang tinggi.
Simamora (2002) mendefinisikan persepsi adalah
“bagaimana kita melihat dunia sekitar kita” atau secara formal,
merupakan suatu proses dimana seseorang menyeleksi,
mengorganisasikan, dan menginterpretasi stimuli ke dalam suatu
gambaran dunia yang berarti dan menyeluruh. Menurut Mowen
dalam Ujang Sumarwan (2003) bahwa, “perception is the process
through which individuals are exposed to information, attend to
that information, and comprehend to it”.
Fitur
Dalam teori pemasaran fitur merupakan salah satu
elemen dari atribut produk. Fitur dapat dikatakan sebagai aspek
sekunder dari suatu produk. Fitur identik dengan sesuatu yang
unik, khas, dan istimewa yang tidak dimiliki oleh produk lainnya
(Kotler dan Armstrong, 2008).
Fitur sering diasosiasikan dengan kemanfaatan atau
fungsionalitas dari suatu produk. Menurut Dewi dan Jatra (2013)
fitur merupakan karakteristik tambahan yang dirancang untuk
menambah ketertarikan konsumen terhadap produk atau
menyempurnakan fungsi produk. Indikator yang digunakan untuk
mengukur fitur adalah sebagai berikut: kelengkapan fitur,
kebutuhan fitur, ketertarikan fitur, dan kemudahan dalam
penggunaan.
Fitur adalah sarana kompetitif untuk
mendiferensiasikan produk perusahaan dari produk pesaing.
Menjadi produsen pertama yang memperkenalkan fitur baru yang
bernilai adalah salah satu cara paling efektif untuk bersaing.
(Kotler and Armstrong 2006). Fitur merupakan karakteristik atau
fitur yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh objek.
Berbagai produk yang serupa dapat dilihat berbeda oleh
konsumen dari perbandingan fitur di dalamnya, yaitu
perbandingan kelengkapan fitur, kecanggihan fitur atau
keistimewaan yang ditonjolkan dari satu fitur di suatu produk
dibandingkan dengan produk lain.
Fandy Tjiptono (2002) mengatakan bahwa fitur adalah
unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan
dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Fitur produk
dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli suatu
produk, karena fitur produk melekat erat pada suatu produk dan
seringkali digunakan oleh konsumen sebagai dasar dan
pertimbangan untuk memutuskan membeli atau tidak suatu
barang atau jasa yang ditawarkan.
Sebuah produk dapat ditawarkan dengan berbagai fitur.
Sebuah model awal tanpa tambahan yang menyertai produk
tersebut menjadi titik awalnya. Perusahaan dapat menciptakan
model tingkatan yang lebih tinggi dengan menambahkan
berbagai fitur. Fitur merupakan alat persaingan untuk
mengidentifikasikan produk perusahaan terhadap produk sejenis
yang menjadi pesaingnya. Menjadi produsen awal yang
mengenalkan fitur baru yang dibutuhkan dan dianggap bernilai
menjadi salah satu cara yang efektif untuk bersaing.
Sebuah produk dapat ditawarkan dalam berbagai
macam variasi. Mulai dari variasi warna, kemasan, aroma, rasa,
dan sebagainya. Definisi fitur produk menurut Kotler dan
Armstrong (2008) yaitu alat persaingan untuk membedakan
produk perusahaan terhadap produk sejenis yang menjadi
pesaingnya. Dengan berbagai fitur produk yang ditawarkan oleh
produsen, konsumen pun akan semakin terpuaskan dengan
produk-produk yang sesuai dengan kebutuhannya
Brand Image
Merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten
memberikan feature, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli,
bukan hanya sekedar simbol yang membedakan produk perusahaan
tertentu dengan kompetitornya (Kotler, 2005). Kotler dan Amstrong
(2008) mempunyai pendapat bahwa merek merupakan nama, istilah,
tanda, simbol, desain atau kombinasi yang ditujukan untuk
mengidentifikasi barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan
sekaligus sebagai diferensiasi produk
Proses Keputusan Pembelian
Proses keputusan pembelian dilakukan apabila konsumen
menyadari suatu masalah atau kebutuhan terhadap suatu produk yang
diinginkan. Proses pembelian menggambarkan alasan mengapa
seseorang lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan
merek tertentu. Menurut Firmansyah (2018) tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan, yaitu
diawali dengan tahapan pengenalan kebutuhan, kemudian ke tahapan
kedua pencarian informasi dan penilaian sumber-sumber, dilanjutkan
ke tahapan ketiga evaluasi alternatif, selanjutnya ke tahapan keempat
keputusan untuk membeli, dan tahapan kelima perilaku setelah
pembelian.
Penjelasan dari lima tahap atau proses keputusan pembelian:
- Pengenalan masalah merupakan tahap pertama proses keputusan
pembelian, diamana konsumen menyadari suatu masalah atau
kebutuhan. - Pencarian informasi merupakan tahap proses keputusanpembelian
dimana konsumen ingin mencari informasi lebih banyak,
konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian atau melakukan
pencarian informasi secara aktif. - Evaluasi alternatif merupakan tahap proses keputusan pembeli
dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi
merek alternatif dalam sekolompok pilihan. - Keputusan pembelian merupakan keputusan pembeli tentang
merek mana yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada
antara pembelian dan keputusan pembelian - Perilaku pasca pembelian merupakan tahap proses keputusan
pembeli dimana konsumen mengambil tindakan selanjutnya
setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ke tidak puasan
mereka
Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Tjiptono (2012) dalam Harsono (2018) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan
emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah
pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:
- Nilai emosional, merupakan perasaan atau afektif atau emosi
positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang
akan dialami konsumen pada saat membeli produk. - Nilai sosial, merupakan utilitas yang didapat dari kemampuan
produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai
sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen,
mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk
oleh konsumen. - Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi
biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. - Nilai fungsional, merupakan nilai yang diperoleh dari atribut
produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada
konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang
diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen.
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah sebuah pemikiran dimana individu
mengevaluasi dan memutuskan berbagai pilihan pada suatu ptoduk dari
banyak pilihan. Menurut Kotler & Amstrong (2014) keputusan pembeli
di nama kosumen benar-benar membeli.
Menurut Firmansyah (2018) keputusan pembelian merupakan
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan
alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih
dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat dalam membeli
dengan terlebih dahulu melalui tahapan proses pengambilan keputusan.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusanpembelian
adalah sebuah proses pengambilan keputusan yang diawali dengan
pengenalan masalah kemudian mengevaluasinya dan memutuskan
produk mana yang dipilih dan kemudian mengarah kepada keputusan
pembelian
Indikator Brand Image
Menurut Simamora (2011:33) ada 3 (tiga) indikator brand image,yaitu:
- Citra Pembuat (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasiyang
dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu
barang atau jasa. - Citra Pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan
suatu barang atau jasa. - Citra Produk (Product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa
Dimensi Brand Image
Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan 5 dimensi
brand image yaitu:
- Brand indentify (Identitas merek)
Berkaitan dengan merek atau produk simbol, warna,
packaging, tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebaginya
sehingga memudahkan kosumen dalam menegnal dan
membedakannyadengan produk pesaing. - Brand Personality (Personalitas Merek )
Berkaitan dengan ciri khas dari sesuatu merek yang
membangun karakter khusus seperti halnya manusia, seperti
karekter tegas, wibawa, kaku, hangat dinamis, kreatif, murah
senyum, insipenden, penyayang, berjiwa sosial dan lain-lain. - Brand Association (Asosiasi Merek )
Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu di hubungkan
dengan merek tertentu dapat berupa penwaran menarik, kegiatan
rutin dan kosisten seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat
kuat terkait merek, person, simbol-simbil, dan maksud tertentu
yang sangat melekat kuat pada produk - Brand Attitude and Behavior ( Sikap dan Prilaku Merek)
Yaitu sikap atau prilaku komunikasi dan interaksi merek
kepada kosumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai
yangdimilikinya. Sikap dan prilaku meliputi sikap dan prilaku
kosumen. Kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
berinterkasi dengan para kosumennya. - Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
Yaitu nilai nilai serta kelebihan khususnya yang dihasilkan merek
tertentu kepada kosumen yang membuat kosumen bisa menikmati
manfaat karena kebutuhan, keinginan, harapan dan keingninanya
terealisasi berkat penawaran tersebut
Pengertian Brand Image
Menurut Fandy Tijiptono (2015:105) mengemukakan bahwa
image atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta
kepercayaan kosumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu
sifat yang melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan
tertentu. Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek
adalah hasil penelitian maupun pandangan baik buruknya suatu merek
oleh konsumen. sedangkan Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328)
menjelaskan bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi
khusus yang hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa.
Asosiasi tersebut mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa
yang pemasar janjikan pada kosumennya. Menurut Levy dan Weitz
(2012:93) mendefinisikan citra merek (brand image) atau citra merek
merupakan sekumpulan kepercayaan, ide, dan persepsi yang dimiliki
seseorang pada merek tertentu yang bisa mempengaruhi keputusan
pembelian seseorang. Menurut Shafe, dkk (2014 :364) Brand image
atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi mengenai merek yang
tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada memori konsumen
Definisi Branding
Pada bukunya “Designing Brand Identity fourth edition” Wheeler (2013)
menyatakan bahwa brand atau merek merupakan sesuatu yang dibuat oleh
perusahaan dalam menghubungkan emosional konsumen terhadap produk atau jasa
mereka. Pembuatan suatu merek yang menonjol akan membuat para konsumen
menjadi semakin percaya terhadap brand tersebut bahkan menciptkan hubungan
yang panjang dengan para konsumen (hlm. 2).
Branding merupakan sebuah proses dalam memperluas dan membangun
pengetahuan konsumen akan sebuah brand atau merek. Branding juga bertujuan
untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan serta membuat sebuah produk atau jasa
dipilih oleh konsumen dibandingkan dengan yang lainnya. Maka dari itulah,
perusahaan memanfaatkan branding sebagai sebuah sarana dalam menjangkau
konsumen serta bersaing dengan kompetitor. (Wheeler, 2013)
Menurut Wheeler (2013) sebuah brand strategy dibentuk selaras dengan
visi, nilai, dan budaya yang dicerminkan oleh suatu perusahaan dalam memahami
kebutuhan dan persepsi konsumen. Brand strategy merupakan sebuah inti dalam
memandu pemasaran agar dapat meningkatkan penjualan serta memberikan
kejelasan mengenai produk atau jasa yang terkait. Pembuatan brand strategy dapat didefinisikan dengan positioning,
diferensiasi, keunggulan, serta value proposition dari sebuah produk atau jasa
(Wheeler, 2013). Menurut Bob Ulrich, seperti yang dikutip oleh Wheeler (2013)
menyatakan bahwa inti strategi ini yakni memberikan atau menyediakan kebutuhan
konsumen dengan desain, nilai serta inovasi yang konsisten sehingga hal tersebut
akan menjadi cerminan citra suatu perusahaan agar mendapat kepercayaan
konsume
Strategi Konten Promosi
- Identitas, membentuk identitas untuk mengungkapkan informasi sebagai
gambaran umum akun tersebut. Contoh bentuk identitas dapat mencakup
nama pengguna, biografi, dan logo. - Konten, mengunggah konten-konten yang relate dengan identitas yang
dibentuk. Pembuatan konten ini dapat berupa konten yang bersifat
informatif, interaktif, menghibur, serta membangkitkan emosional - Interaksi, dengan mengunggah konten-konten yang dapat menciptakan
peluang bagi pengguna atau audiens untuk berinteraksi melalui like,
comment, dan share. Hal ini memungkinkan individu dan kelompok untuk
mengekspresikan pendapat mereka, membagikan pesan mereka, dan
terhubung dengan orang-orang yang berpikiran sama. - Relationship, membangun konten interaksi agar menjadi “terkait” bisa
sesederhana seperti dua orang yang sebelumnya tidak dikenal saling
mengikuti konten media sosial satu sama lain. Hal ini membutuhkan dua
atau lebih pengguna yang membentuk semacam hubungan antara satu
dengan yang lain dengan berbicara, berbagi minat, bertemu langsung, atau
sekadar berteman (Kietzmann et al. 2011, 246
Personal Branding dan Jenis Personal Branding
Pada tahun 1969, Kotler dan Levy pertama kali meresmikan gagasan bahwa
seseorang dapat dijadikan sebuah merek yang dipasarkan dan dikelola. Oleh karena
itu, anggapan bahwa manusia adalah sebuah merek telah diadopsi dalam industri
pemasaran sudah sejak lama. Dalam artikel mereka, Kotler dan Levy membahas
bagaimana konsep pemasaran tradisional dapat diubah dari menjual produk
menjadi pemasaran “manusia, ideologi, dan jasa” (Kotler & Levy, 1969). Dengan
kata lain, Kotler dan Levy percaya bahwa sistem konsep pemasaran tradisional
dapat ditingkatkan dan diimplementasikan ke berbagai hal, termasuk manusia,
maka dari itu seseorang dapat disebut sebagai “produk” dan merek. Konsep ini
kemudian diterima, dievaluasi, dan dipromosikan. Pada dasarnya konsep branding
menggunakan dua gagasan utama :
- Branding berperan sebagai fasilitator untuk menyampaikan informasi
kepada target audiences (Chernatony, 1998). - Branding berperan sebagai faktor pembeda dari yang lain (Roper and Fill,
2012).
Personal branding umumnya menjadi ranah selebriti, politisi, atau
profesional yang berusaha sukses dalam karier mereka. Namun, dengan
berkembangnya media sosial, personal branding dapat dilakukan oleh kalangan
masyarakat biasa. Siapa pun yang memiliki akses internet kini dapat membangun
personal branding dengan apa yang mereka bagikan pada laman media sosial
pribadinya.
Mengelola personal branding dinilai lebih abstrak dan memiliki citra yang
kaya dibanding dengan produk atau jasa. Karena pada dasarnya personal branding
dibangun oleh kata-kata dan tindakan orang tersebut. Menurut Timothy P.O’Brien
mengatakan bahwa personal branding adalah identitas pribadi yang mampu
menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan
nilai yang dimiliki oleh orang tersebut (Haroen, 2014:13).
Melalui personal branding, kita dapat mempengaruhi keputusan seseorang
untuk “membeli” maupun mengontrol perilaku seseorang. Keuntungan yang
didapat dari personal branding adalah :
a. Menjadi “top of mind”
b. Meningkatkan wewenang dan kepercayaan dalam keputusan
c. Menempatkan diri dalam peran leadership
d. Meningkatkan prestis
e. Mendapatkan pengakuan
f. Mencapai tujuan.
Personal branding yang dibangun melalui media sosial di era sekarang
merupakan sebuah langkah yang sangat efektif. Hal ini didukung dengan
tersedianya akses internet yang saat ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan
masyaraka
Personal Branding McNally dan Speak
Berbicara mengenai teori dari personal branding, maka diketahui bahwa ada
banyak sekali teori tersebut. Salah satunya adalah teori personal branding yang
dikemukakan oleh McNally dan Speak (2004:21) menjelaskan bahwa personal
brand merupakan persepsi yang tertanam dan terpelihara di benak orang lain, yang
memiliki tujuan akhir agar publik punya pandangan positif terhadapnya sehingga
dapat berlanjut kepada kepercayaan dan loyalitas.
McNally dan Speak (2011) dalam bukunya Be Your Own Brand
menyatakan bahwa “a strong personal brand is a powerful way for the world to see
and value the authentic you” yang dalam bahasa Indonesia artinya “Personal brand
yang kuat adalah cara yang ampuh bagi dunia untuk mengenal dan menghargai
kamu yang sebenarnya”. Tidak hanya tokoh penting saja, saat ini setiap orang
sangat diperlukan memiliki personal branding nya sendiri, dengan memadukan
syarat komunikasi yang tepat, guna terwujudnya hasil yang optimal dan terciptanya
dasar yang stabil bagi kendala, kredibilitas, dan berkharisma (Rampersad, 2008).
Menurut David McNally dan Karl D. Speak (2002), personal branding yang
kuat terdapat tiga hal mendasar yang menyatu. Berikut tiga karakteristiknya :
- Distinctive (Ciri Khas), yaitu personal brand yang kuat menggambarkan
sesuatu yang sangat spesifik atau khas sehingga berbeda dengan
kebanyakan orang atau selebritis. Namun personal branding tidak hanya
12
sekedar berbeda, tetapi seseorang yang memiliki keyakinan dan
kepercayaan atas nilai-nilai dan ide-ide yang dimiliki. Maka, terbentuk
sebuah keunikan dan ciri khas yang mewakili diri orang tersebut. Dalam hal
ini kekhasan ini dapat direpresentasikan dalam bentuk kualitas konten,
tampilan foto maupun video dalam Instagram, copywriting, serta spesifikasi
akun tersebut. - Relevance (Relevansi), bahwa personal brand yang kuat tidak hanya
memiliki khas tetapi juga memiliki hubungan yang dianggap penting oleh
audiens. Dengan kata lain yang diperjuangkan harus relevan bagi audiens.
Relevansi adalah sesuatu yang dihasilkan dari kepentingan orang lain apa
yang dilakukan untuk mereka dan dengan penilaian mereka tentang
seberapa baik seseorang melakukannya. Relevansi bagian dari proses yang
diawali oleh pertanyaan berikut:
a. Apa yang audiens inginkan?
b. Apa yang audiens perlukan?
c. Apa yang audiens hargai?
d. Apa yang audiens harapkan? - Consistent (Konsisten), artinya hal-hal yang khas dan relevan tadi
dilakukan secara berulang atau direpetisi. Hal ini dikarenakan orang-orang
baru akan percaya pada suatu hubungan berdasarkan pada konsistensi
perilaku yang mereka alami atau amati. Konsistensi adalah ciri khas dari
semua merek yang kuat. Sebagai ‘merek’, seseorang hanya mendapatkan
‘kredit’ (pengakuan, penerimaan, atau pengakuan oleh orang lain) dari apa
yang dilakukan secara konsisten.
Proses Keputusan Pembelian
Proses keputusan pembelian dilakukan apabila konsumen
menyadari suatu masalah atau kebutuhan terhadap suatu produk yang
diinginkan. Proses pembelian menggambarkan alasan mengapa
seseorang lebih menyukai, memilih dan membeli suatu produk dengan
merek tertentu. Menurut Firmansyah (2018:27) tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahapan, yaitu
diawali dengan tahapan pengenalan kebutuhan, kemudian ke tahapan
kedua pencarian informasi dan penilaian sumber-sumber, dilanjutkan
ke tahapan ketiga evaluasi alternatif, selanjutnya ke tahapan keempat
keputusan untuk membeli, dan tahapan kelima perilaku setelah
pembelian
Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Tjiptono (2012) dalam Harsono (2018:7) faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan
emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah
pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan
mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah.
Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:
- Nilai emosional, merupakan perasaan atau afektif atau emosi
positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang
akan dialami konsumen pada saat membeli produk. - Nilai sosial, merupakan utilitas yang didapat dari kemampuan
produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai
sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen,
mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk
oleh konsumen. - Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi
biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. - Nilai fungsional, merupakan nilai yang diperoleh dari atribut
produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada
konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang
diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah sebuah pemikiran dimana individu
mengevaluasi dan memutuskan berbagai pilihan pada suatu produk
dari banyak pilihan. Menurut Kotler & Amstrong (2014:30)
keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli.
Menurut Firmansyah (2018:27) keputusan pembelian
merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu
dalam pemilihan alternatif perilaku yang sesuai dari dua alternatif
perilaku atau lebih dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat
dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahapan proses
pengambilan keputusan
Pengertian Brand Awareness
Menurut Hermawan (2014) dalam Tumagor dan Hidayat
(2018:57) brand awareness (kesadaran merek) adalah kemampuan
dari seorang calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali
(recognize) atau mengingat (recall) suatu merek yang merupakan
bagian dari suatu kategori produk. Menurut Firmansyah (2019:26)
brand awareness (kesadaran merek) adalah persentase pelanggan
yang mengetahui dan mengingat brand Anda. Sedangkan menurut
Ambadar (2014) dalam Utomo (2017:79) menyatakan bahwa
kesadaran merek atau brand awareness adalah eksistensi merek
dibenak pelanggan.
Brand
Brand atau merek adalah suatu tanda atau simbol yang terdiri dari nama,
istilah, gambar, logo, lambang, desain atau kombinasi dari semua itu yang
ditujukan untuk mengidentifikasi, mendefinisi atau memberi identitas kepada
suatu barang atau layanan (jasa) dari suatu penjual serta membedakannya dari
pesaing. Menurut UU No. 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi
geografis, menyebutkan bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar,
nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari
unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan dan jasa
Definisi Minat Beli Ulang
Menurut Hellier, et al (2003) dalam Adhitya Rinaldi dan Suryono Budi
Santoso (2018), minat beli ulang merupakan keputusan terencana
seseorang untuk melakukan pembelian kembali atas jasa dan produk
tertentu, dengan mempertimbangkan situasi pengalaman yang terjadi
setelah berbelanja melalui respon negatif atau positif.
Menurut Sundalangi et al (2014) dalam Ketut Joni Santika dan
Kastawan Mandala (2019), minat beli ulang yang tinggi mencerminkan
tingkat kepuasan yang tinggi dari konsumen ketika memutuskan untuk
mengkonsumsi produk yang diberikan setelah mencoba produk tersebut
dan kemudian timbul rasa tidak suka atau suka terhadap produk
Dimensi Brand Experience
Menurut Brakus et al (2009) dalam Hatane Samuel dan Reynaldi
Susanto Putra (2018) brand experience memilikii 4 dimensi :
(1) Sensorik : Menciptakan pengalaman melalui penglihatan, suara,
sentuhan, rasa, dan bau.
(2) Afeksi : Pendekatan perasaan dengan mempengaruhi suasana
emosi, perasaan, dan hati.
(3) Perilaku : Menciptakan pengalaman secara gaya hidup, pola
perilaku, fisik.
(4) Intelektual : Menciptakan pengalaman yang mendorong konsumen
terlibat dalam pemikiran seksama mengenai keberadaan
suatui merek.
Dimensi Brand Trust
Menurut Kustini (2011 : 23) dalam Aldy Novrianto dan Tjahjono Djatmiko
(2016), brand trust memiliki dua dimensi:
(1) Dimension of Viabilty
Dimensi ini mewakili sebuah persepsi bahwa suatu brand dapat
memuaskan serta memenuhi kebutuhan terhadap nilai konsumen.
Dimensi ini dapat diukur dengan menggunakan indikator nilai (value)
dan kepuasan.
(2) Dimension of Intentionality
Dimensi ini mencermikan rasa aman dari seorang individu
terhadap suatu brand. Dapat diukur melalui indikator trust dan
security. Kepercayaan sangat tergantung terhadap pengalaman
konsumen akan suatui merek, kepuasan akan menentukan besarnya
kepercayaan merek yang akhirnya akan mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen pada merek tersebut.
Definisi Brand Experience
Menurut Brakus et al (2009) dalam Hatane Samuel dan Reynaldi
Susanto Putra (2018), brand experience adalah sensasi, perasaan,
kognisi dan tanggapan konsumen yang ditimbulkan oleh merek,
komunikasi pemasaran, orang dan lingkungan merek tersebut
dipasarkan.
Menurut Alloza (2008 : 373) dalam Christopher Edbert Ang dan Keni
(2021), brand experience merupakan persepsi konsumen pada setiap
kontak yang terjadi pada sebuah brand, dapat berupa image dalam
sebuah brand dalam iklan, ketika kontak pertama seorang konsumen
dengan brand tersebut atau tingkat pelayanan yang dirasakan konsumen
dari sebuah brand
Definisi Brand Trust
Menurut Delgado (2003) dalam Rezana Agustyan dan Muhammad
Baehaqi (2020), Brand Trust merupakan rasa aman yang dimiliki oleh
konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah brand, yang
berdasarkan presepsi bahwa brand tersebut dapat bertanggung jawab
dan diandalkan atas keselamatan serta kepentingan dari konsumen.
Menurut Tjiptono (2015 : 398) dalam I Made Dwi Bhisma Putra, I Gede
Putu Kawiana, dan I Wayan Suartina (2021), Kemampuan merek untuk
dipercaya (brand reliability), yang bersumber pada keyakinan konsumen
bahwa produk tersebut mampu memenuhi intensi baik merek (brand
intention) dan nilai yang dijanjikan yang didasarkan pada keyakinan
konsumen bahwa merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan
konsumen
Jenis – Jenis Merek
Menurut Firmansyah (2019:24), brand terbagi sebagai berikut :
(1) Manufacturer Brand
Manufacturer brand merupakan merek yang dimiliki oleh suatu
perusahaan yang memproduksi jasa atau produk. Contoh : Soffel
(2) Private Brand
Private brand merupakan merek yang memiliki oleh distributor
atau pedagang dari produk atau jasa seperti hypermarket Giant
menjual kapas merek Giant, dan sebagainya.
Strategi Merek
Menurut Kotler (2018:264), terdapat berbagai strategi merek, antara
lain:
(1) Line Extension (Perluasan Lini)
Strategi perluasan lini dapat dilakukan dengan cara menambah
varian baru pada produk mereka agar dapat memperkuat merek dan
memperluas target pasar di kalangan masyarakat luas.
(2) Brand Extension (Perluasan Merek)
Perusahaan besar sering melakukan strategi ini untuk menguasai
pasar dengan mengerluarkan produk baru.
(3) Multi Brands (Multi Merek)
Multi brand merupakan strategi perusahaan dengan
menambahkan merek untuk kategori produk yang sama sehingga
menarik minat konsumen dari berbagai kalangan.
(4) New Brands (Merek Baru)
Strategi brand baru ketika perusahaan membuat produk baru
dalam kategori baru, sehingga tidak memungkinkan menggunakan
merek yang sudah ad
Definisi Brand
Menurut Kotler dan Amstrong (2018i:i250) mengatakan bahwaa “ A
brand is a name, term, sign, symbol or design, or a combination of these
that identifies the maker or seller of a product or service.” Yang berarti
merek adalah namaa, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi
dari semuannya yang mengidentifikasi pembuat atau penjual produk atau
jasa.
Menurut Firmansyah (2019:23) mengatakan bahwa brand merupakan
simbol, tanda, desain, nama atau gabungan diantaranya untuk dipakai
sebagai identitas suatu organisasi, perusahaan atau peorangan pada
jasa dan barang yang dimiliki untuk membedakan dengan produk jasa
lainnya
Pentingnya Destination Branding
Destination branding bagi sebuah tempat destinasi menjadi penting karena
beberapa alasan seperti berikut:
- Meningkatkan citra destinasi.
- Memperkuat citra destinasi yang unik sekaligus brand destination
personality. - Mengartikulasi ambisi, meningkatkan ekspektasi dan menciptakan brand
promise yang berkulalitas untuk target maupun calon target. - Memberi diferensiasi kepada destinasi dari kompetitornya yang lain.
- Menurunkan resiko dalam pengambilan keputusan target akan destinasi yang
hendak dituju, di mana destination branding dapat membuat target maupun
calon target menjadi lebih percaya ketika memilih destinasi yang
bersangkutan tersebut untuk dikunjungi. - Menerima respect, recognition, loyalty, dan renown dari target yang
berkunjung ke destinasi yang bersangkutan (Morrison, 2019).
Tujuan Destination Branding
Dalam melakukan destination branding, maka objectives atau beberapa tujuan
yang ingin dicapai untuk perancangan brand destinasi yang bersangkutan perlu
diketahui terlebih dahulu. Dengan menentukan tujuan dilakukannya destination
branding, maka destination image dan positioning dapat ditentukan. Berdasarkan
The Handbook on Tourism Destination Branding oleh The European Travel
Commission and UNWTO (2009) dalam Morrison (2019), beberapa tujuan
dilakukannya destination branding adalah sebagai berikut:
- Untuk membedakan sebuah destinasi dengan berbagai destinasi lainnya
mupun kompetitornya. - Untuk meningkatkan kesadaran, rekognisi, dan daya ingat target mupun calon
Destination Branding
Anholt dalam Morrison (2019) menyatakan bahwa destination branding adalah
sebuah strategi pemasaaran yang digunakan untuk menciptakan persepsi dan citra
destinasi yang baik. Berbagai destinasi tentunya semakin bersaing dalam
menampilkan citra yang baik untuk menarik perhatian wisatawan. Oleh sebab itu,
destination branding digunakan untuk membangun destination image yang positif
dengan menentukan positioning dari destination branding yang hendak dirancang,
sehingga destinasi tersebut berbeda dari destinasi lainnya dengan destination
brand personality tersendiri.
- Destination Image
Destination image adalah citra dan persepsi yang dimiliki dalam benak
konsumen terhadap suatu destinasi wisata sesuai dengan banyaknya informasi
yang diketahui oleh pengunjung maupun calon pengunjung mengenai
destinasi tersebut. - Destination Positioning
Destination positioning adalah upaya yang dilakukan oleh stakeholder dan
organisasi pemasaran destinasi dalam menentukan posisi merek destinasi
sesuai dengan citra yang dimiliki oleh destinasi tersebut. Destination
positioning dapat dikatakan sebagai upaya sebuah destinasi untuk
menunjukkan keunikan dan kelebihan yang dimilikinya kepada target
pengunjung yang telah ditentukan. - Destination Brand Personality
Destination brand personality adalah bagaimana sebuah destination brand
tempat wisata digambarkan seperti karakteristik seseorang, seperti misalnya
brand personality milik Outback Queensland yaitu adventurous, proud
Australian (Morrison, 2019).
Brand Books
Brand book adalah buku berisi guidelines mengenai ketentuan pemakaian merek,
strategi merek, dan kesadaraan merek sehingga penggunaan merek dapat tetap
selaras dengan seluruh proses branding yang telah dibangun (Wheeler, 2018).
- Foreword
Foreword berisi penjelasan seputar merek, seperti visi dan misi, brand
attributes, cara menggunakan guidelines dari merek yang dirancang, dan aturan
identitas merek di dalamnya. - Brand Identity Elements
Menjelaskan elemen-elemen dalam identitas merek, seperti brandmark,
logotype, signature, tagline, name in text, dan larangan dalam penggunaan
identitas merek. - Color
Sistem warna yang digunakan pada identitas merek, warna-warna pendukung,
dan aturan pemakaian warna pada identitas merek. - Signature
Berisi corporate signature, variasi signature, tata cara penggunaan signature
dengan tagline, clearspace, serta ketentuan ukuran signature. - Tipografi
Berisi typeface family yang digunakan, typeface pendukung. - International Business Papers
Berisi implementasi identitas merek seperti pada kop surat A4, amplop A4, dan
kartu nama. - Media digital
Berisi implementasi identitas merek pada berbagai media digital seperti sosial
media, konten internet, video. - Marketing Materials
Invoice, form pemesanan barang, imagery, brochure systems, posters, dan
material lainnya. - Advertising
Berisi implementasi identitas merek pada periklanan, tagline, cara
menempatkan signature pada iklan. - Signage
Berisi ketentuan penggunaan identitas merek pada signage. - Vehicle Identification
Berisi ketentuan penggunaan identitas merek pada kendaraan seperti motor,
mobil. - Packaging
Ketentuan penggunaan identitas merek pada kemasan yang hendak digunakan. - Ephemera
Penggunaan identitas merek pada berbagai material pendukung seperti
stationery, merchandise, souvernir. - Image Library
Berisi implementasi identitas merek pada foto perusaahaan (Wheeler, 2018)
Taglines
Tagline adalah sebuah frasa pendek yang mengandung esensi, personality,
dan positioning dari sebuah perusahaan untuk membedakan perusahaan
tersebut dari pesaingnya. Sebagai brand promise, tagline yang baik dapat
digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dapat tetap digunakan
seiring terjadinya berbagai perubahan. Tagline juga harus bersifat
memorable dan memiliki makna yang sesuai dengan esensi perusahaan
(Wheeler, 2018)
