Klasifikasi Gaya Hidup


VALS (Value and Lifestyle) merupakan suatu program yang dikembangkan
untuk mengukur gaya hidup, dan mengidentifikasikan delapan kelompok
konsumen pada suatu masyarakat (Setiadi, 2015:86):

  1. Actualizer: seseorang yang mempunyai pendapatan tinggi dan harga diri
    yang tinggi. Mereka mempunyai rentang minat yang luas pada berbagai
    bidang dan terbuka pada perubahan. Mereka membeli produk untuk
    mencapai yang terbaik dalam hidup.
  2. Fulfilleds: seseorang yang berpendapatan tinggi , dewasa, bertanggung
    jawab, berpendidikan tinggi dalam bidang profesional. Termasuk dalam
    konsumen yang praktis dan berorientasi pada nilai.
  3. Believers: agak kurang kaya, dan lebih tradisonal disbanding fulfilleds.
    Kehidupan mereka terpusat pada keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.
  4. Achiever: banyak kerja kurang rekreasi, fokus karier dan keluarga,
    menghindari perubahan, dan konservatif dalam politik.
  5. Striver: seseorang dengan nilai-nilai yang serupa dengan achiever namun
    sumber daya ekonomi, sosial dan psikologinya lebih sedikit.
  6. Struggeler: orang yang berpenghasilan paling rendah dan terlalu sedikit
    sumber dayanya untuk dimasukkan ke dalam orientasi konsumen manapun
    dengan keterbatasannnya, mereka cenderung menjadi konsumen yang loyal
    pada merek.
  7. Experiencer: konsumen yang berkeinginan besar dalam menyukai hal-hal
    baru.
  8. Maker: orang yang suka mempengaruhi lingkungan mereka dengan cara
    yang praktis

Gaya Hidup


Dalam Widjaja (2013:39) menyatakan lifestyle (gaya hidup) merupakan
bagian dari customer behavior dan didefinisikan sebagai perilaku individu yang
diwujudkan dalam bentuk aktivitas, minat dan pandangan individu untuk
mengaktualisasikan kepribadiannya karena pengaruh interaksi dengan
lingkungannya.
Gaya hidup merupakan bagian dari perilaku konsumen yang dapat
mempengaruhi tindakan konsumen dalam melakukan pembelian. Gaya hidup
adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat,
dan opininya (Kotler dan Keller, 2012:192).
Dan secara luas Setiadi (2015:80) mendefinisikan gaya hidup sebagai cara
hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu
mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya
(ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga
dunia di sekitarnya (pendapat). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda
dengan masyarakat yang lainnya. Bahkan dari masa ke masa gaya hidup suatu
individu dan kelompok masyarakat tertentu akan bergerak dinamis. Namun
demikian, gaya hidup tidak cepat berubah sehingga pada kurun waktu tertentu
gaya hidup relatif permanen.
Konsumen termotivasi dalam melekukan pembelian karena unsur dan
dorongan kebutuhan yang muncul karena lifestyle. Terdapat empat kategori yang
menjadi motif dalam proses pembelian oleh konsumen karena lifestyle (Widjaja,
2013:43), yaitu:

  1. Utilitarian purchase (pembelian produk bermanfaat)
    Konsumen membelanjakan produk ini, dalam kondisi tidak sangat menesak
    membutuhkan, tetapi memberikan keyakinan bahwa produk/jasa yang
    dibelinya akan meningkatkan kehidupan yang lebih baik atau lebih mudah.
  2. Indulgences (kesukaan/memanjakan diri)
    Individu mencoba untuk hidup menikmati sedikit kemewahan tanpa banyak
    menambah pengorbanan dari pengeluarannya. Gratifikasi dari prodk/jasa ini
    terletak pada faktor emosional. Contoh: lotions and potions to pamper
    yourself in the bath, costume jewelry, entertainment products, berlibur dan
    ke salon atau spa.
  3. Lifestyle luxuries (gaya hidup mewah)
    Lifestyle luxuries menawarkan manfaat dan kegunaan bagi konsumen
    berupa penngkatan prestige, image, dan superior quality dari suatu merek.
    Dalam hal ini, peranan merek menjadi gratifikasi konsumen untuk membeli
    produk atau jasa.
  4. Aspirational luxuries (hasrat kemewahan)
    Seiring dengan indulgences, aspirational luxuries akan memuaskan
    konsumen dari aspek kebutuhan emosionalnya. Melalui pembelian,
    konsumen dapat mengekspresikan dirinya, sistem nilai, minat dan hasratnya.
    Kepuasan muncul dari emosi lebih besar daripada kepuasan pemenuhan
    kebutuhan praktis atau fungsional.

Teori Motivasi Maslow


Menurut Maslow dalam Setiadi (2015:39) tingkat kebutuhan yang paling
rendah ialah kebutuhan fisiologis dan tingkat yang tertinggi ialah kebutuhan akan
perwujudan diri (self-astualization needs). Kebutuhan tersebut didefinisikan
sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs), merupakan kebutuhan
    mempertahankan hidup dan bukti yang nyata akan tampak dalam
    pemenuhannya atas sandang, pangan dan papan. Dan konsumen membeli
    suatu produk agar dapat memenuhi kebutuhan.
  2. Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan (Safety and Security Needs), dapat
    terlihat pada kebutuhan akan kebebasan dari ancaman, yakni aman dari
    ancaman kejadian atau lingkungan. Seperti konsumen membeli suatu
    produk karena produk tersebut dapat menghadirkan rasa aman baginya.
    Misalnya dalam hal pembelian ponsel, ponsel dapat mempermudah
    konsumen saat dalam waktu genting atau keadaan darurat.
  3. Kebutuhan Sosial (Social Needs), merupakan kebutuhan yang paling
    penting untuk diperhatikan segera setelah kebutuhan rasa aman dan
    kebutuhan psikologis sudah terpenuhi. Seperti produk yang digunakan
    konsumen dapat membantu ataupun meningkatkan kebutuhan sosialnya.
  4. Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs), lebih bersifat egoistik dan berkaitan
    erat dengan status seseorang. Semakin tinggi status seseorang maka akan
    semakin tinggi pula kebutuhannya akan suatu pengakuan, penghormatan,
    prestise dan lain-lain. Seperti produk yang digunakan dapat
    menggambarkan citra diri konsumen.
  5. Kebutuhan Perwujudan Diri (Self-Actualization Needs), merupakan
    kebutuhan tertinggi. Yaitu kebutuhan untuk memenuhi diri sendiri dengan
    memaksimumkan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi. Motivasi
    yang ada pada diri konsumen akan mewujudkan suatu tingkah laku yang
    diarahkan pada tujuan yang mencapai sasaran kepuasan. Dengan kata lain,
    produk yang digunakan konsumen dapat menjadi alat dalam aktualisasi diri.

Dinamika Proses Motivasi


Menurut Rossanty (2018:100) proses motivasi: perusahaan harus bisa
menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen
dimotivasi kearah itu. Mengetahui kepentingan, perusahaan harus bisa mengetahui
keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
Komunikasi efektif, melakukan komunikasi dengan baik terhadap
konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan
apa yang bisa mereka dapatkan. Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan
perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk
mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konsumen adalah pemenuhan
kebutuhan dan kepuasan. Kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu
penting adanya penyesuaian motivasi. Perusahaan memberikan fasilitas agar
konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

Motivasi Konsumen


Menurut Kayode (2014:52) the reason behind purchases made on particular
goods or services is reffered to as buying motive. It is the driving force behind
buying behavior; it may be based on physiological wants or psychological wants.
Yang berarti alasan dibalik pembelian yang dilakukan pada barang atau jasa
tertentu disebut sebagai motif pembelian. Ini adalah kekuatan pendorong dibalik
perilaku pembelian; mungkin didasarkan pada keinginan fisiologis atau keinginan
psikologis.
Dalam Kamugisha (2017:57) motivations: customers have ‘drives’ that
make them buy certain product. Artinya motivasi: konsumen memiliki ‘dorongan’
yang membuat mereka membeli produk tertentu. Motivasi dapat digambarkan
sebagai kekuatan pendorong dalam individu yang mendorong mereka untuk
mengambil tindakan. Kekuatan pendorong dihasilkan oleh tegangan. Ketegangan
muncul karena kebutuhan yang tidak terpenuhi. Manusia sebagai individu
berusaha (baik secara sadar maupun tidak sadar) untuk mengurangi tegangan ini
melalui perilaku pembelian yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dan
membebaskan mereka dari tekanan yang dirasakan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah kecenderungan
yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan
dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok
yang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.
Menurut Setiadi (2015:27) motivasi konsumen adalah keadaan di dalam
pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan
guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan
menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai
sasaran kepuasan. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi muncul karena
kebutuhan yang dirasakan konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena
ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dengan yang sebenarnya
dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan memenuhi kebutuhan tersebut.

Dimensi Persepsi Kualitas


Kotler dan Keller (2012:9) menyatakan terdapat enam dimensi yang perlu
diperhatikan dalam persepsi kualitas suatu produk, yaitu:

  1. Mutu kinerja (performance), dimensi yang paling basic dan berhubungan
    dengan fungsi utama dari suatu produk. Seperti konsumen dapat
    menemukan kemudahan dalam pengoperasian suatu produk.
  2. Keandalan (reliability), adalah ukuran kemungkinan suatu produk tidak
    akan rusak atau gagal dalam suatu periode tertentu. Seperti konsumen
    menganggap produk yang dipilihnya mempunyai kualitas yang membuatnya
    lebih handal dari produk lain.
  3. Keistimewaan (feature), sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan
    berbagai keistimewaan, yakni karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
    produk. Dengan kata lain, produk memiliki karakteristik yang membuatnya
    istimewa dari produk lain.
  4. Daya tahan (durability), daya tahan atau keawetan menunjukkan suatu
    pengukuran terhadap siklus produk dalam kondisi normal dan/ atau berat
    baik secara teknis maupun waktu. Produk memiliki daya tahan yang lama
    sehingga dipilih oleh konsumen.
  5. Mutu kesesuaian (conformance quality), dimensi ini menunjukkan seberapa
    jauh suatu produk dapat menyamai standar atau spesifikasi tertentu.
  6. Gaya (style), dimensi ini banyak menawarkan aspek emosional dalam
    mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dan juga dapat menggambarkan
    penampilaan serta perasaan yang ditimbulkan oleh produk bagi konsumen.

Persepsi Kualitas


Menurut Kartajaya (2010:73)) persepsi kualitas merupakan dimensi ekuitas
merek. Konsumen akan memiliki persepsi baik atau buruk terhadap kualitas suatu
produk, dan akan cenderung memberikan respon positif ataupun negatif terhadap
produk. Semakin positif persepsi konsumen terhadap suatu produk maka akan
semakin baik pula persepsinya pada merek produk itu sendiri.
Menurut Tjiptono (2011:97) persepsi kualitas merupakan penilaian
konsumen terhadap keunnggulan atau superioritas produk secara keseluruhan.
Oleh karena itu, persepsi kualitas didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen
terhadap kualitas produk.
Seorang konsumen dalam memilih suatu produk akan sangat dipengaruhi
oleh penilaian kualitas produk tersebut. Persepsi kualitas menjadi hal yang hampir
selalu dipertimbangkan oleh konsumen dalam membuat suatu keputusan
pembelian. Karena untuk mendapatkan manfaat yang diinginkin dari suatu
produk, persepsi kualitas merupakan salah satu hal yang penting untuk
dipertimbangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi kualitas
adalah penilaian konsumen terhadap keunggulan yang dimiliki suatu produk
secara keseluruhan

Proses Persepsi


Setiadi (2015:102) menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses yang
terdiri darri seleksi, organisasi dan interpretasi terhadap stimulus. Proses persepsi
terdiri dari:

  1. Seleksi Perseptual, terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih
    stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological
    set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum
    seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian
    dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang termasuk ke dalam definisi
    seleksi adalah:
    a. Perhatian (attention)
    b. Persepsi selektif (selectif perception)
  2. Organisasi Persepsi, berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi
    dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk
    memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari
    organisasi persepsi ialah penyatuan yang berarti bahwa berbagai stimulus
    akan dirasakan sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.
    Pengorganisasian seperti itu memudahkan untuk memproses informasi dan
    memberikan pengertian yang terintegrasi terhadap stimulus.
  3. Interpretasi Persepstual
    Proses terakhir pada persepsi ialah memberikan interpretasi atas stimulus
    yang diterima oleh konsumen. Setiap stimulus yang menarik perhatian
    konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh
    konsumen. Dalam proses interpretasi konsumen membuka kembali berbagai
    informasi dalam memori yang telah tersimpan dalam waktu yang lama (long
    term memory) yang berhubungan dengan stimulus yang diterima. Informasi
    dalam long term memory akan membentuk konsumen untuk
    menginterpretasikan stimulus. Interpretasi ini didasarkan pengalaman
    penggunaan pada masa lalu, dan pengalaman itu tersimpan dalam memori
    jangka panjang konsumen

Persepsi Konsumen


Hampir semua kejadian di dunia saat ini penuh dengan rangsangan. Suatu
rangsangan (stimulus) adalah sebuah unit input yang merangsang satu atau lebih
dari (lima) pancaindra: penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan pendengaran.
Oleh karena itu mereka menggunakan keterbukaan yang selektif (selectif
exposure) untuk menentukan mana rangsangan yang harus diperhatikan dan mana
yang harus diabaikan (Setiadi, 2015:91).
Dalam Rossanty et al (2018:84) dijelaskan persepsi merupakan suatu proses
yang timbul akibat adanya sensasi, di mana sensasi adalah aktivitas merasakan
atau penyebab keadaan emosi yang menggembirakan. Sensasi juga dapat
didefinisikan sebagai tanggap yang cepat dari indra penerima terhadap stimuli
dasar seperti cahaya, warna, dan suara. Dengan adanya itu semua, persepsi akan
timbul.
Persepsi merupakan salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi
bagaimana seseorang memutuskan untuk membeli dan menggunakan suatu
produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Persepsi yang dibentuk seseorang
dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya (Setiadi, 2015:92).
Maka dapat dikatakan persepsi merupakan sebagai cara seseorang
memandang dunia di sekitarnya. Persepsi adalah semua yang berhubungan dengan
pemahaman subjektif konsumen. Dan konsumen akan bertindak dan bereaksi atas
dasar persepsi yang dimilikinya

Proses Pengambilan Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller dalam Firmansyah (2018:35) menjelaskan bahwa proses
pengambilan keputusan merupakan proses psikologis dasar yang memainkan
peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil
keputusan pembelian. Sebelum membuat suatu keputusan membeli suatu produk
atau jasa, seorang konsumen akan mencari dan mengumpilkan informasi-
informasi sebagai bahan penilaian dan pertimbangan terhadap produk yang akan
dibelinya. Terdapat tahapan proses dalam keputusan pembelian (Kotler dan
Amstrong, 2014:176), yaitu:

  1. Pengenalan Masalah
    Proses membeli diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan
    pembelinya dari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan
    keadaan yang diinginkan. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan
    dari dalam diri pembeli ataupun dari luar. Sebagai contoh kebutuhan normal
    seseorang, yaitu rasa haus dan lapar yang meningkat hingga suatu tingkat
    tertentu dan berubah menjadi dorongan. Atau suatu kebutuhan yang timbul
    karena rangsangan dari luar, yaitu seseorang yang melewati suatu took roti
    dan melihat roti yang baru selesai dibakar dapat merangsang rasa laparnya.
  2. Pencarian Informasi
    Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk
    mencari informasi lebih banyak. Seberapa jauh seseorang mencari informasi
    bergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan. Proses mencari
    informasi secara aktif di mana ia mencari bahan-bahan bacaan, menelpon
    teman-temannya, dan melakukan kegiatan untuk mempelajari yang lain.
    Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan
    dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas
    ke pemecahan masalah yang ekstensif. Sumber informasi utama dimana
    konsumen mendapatkan informasi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:
    a. Pribadi: keluarga, teman, tetangga dan rekan.
    b. Komersial: iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan.
    c. Publik: media masa dan organisasi penilai konsumen.
    d. Eksperimental: penanganan, pemeriksaan dan penggunaan produk.
  3. Evaluasi Alternatif
    Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari
    proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka
    memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk
    terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.
    Konsumen mungkin mengembangkan seperangkat kepercayaan merek
    tentang di mana setiap merek berada pada ciri masing-masing. Kepercayan
    merek menimbulkan citra merek. Produsen harus berusaha memahami cara
    konsumen mengenal informasi yang di perolehnya dan sampai pada sikap
    tertentu mengenai produk, merek dan keputusan untuk membeli.
  4. Keputusan Pembelian
    Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-
    merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin akan
    membentuk tujuan membeli merek yang paling disukai. Terdapat dua faktor
    yang bisa muncul diantara niat untuk membeli dan keputusan pembelian
    yang mungkin mengubah niat tersebut. Faktor pertama adalah sikap orang
    lain; faktor kedua adalah situasi yang tidak diharapkan. Jadi, pilihan dan niat
    untuk membeli tidak selalu menghasilkan pilihan pembelian yang aktual.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Sesudah pembelian terhadap suatu produk dilakukan, konsumen akan
    mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Konsumen akan
    terlibat dalam tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang
    akan menarik minat pemasar. Apabila produk tidak memberikan kepuasan
    yang diharapkan, maka konsumen akan merubah sikapnya terhadap merek
    produk tersebut menjadi negatif dan bahkan mungkin akan menolak dari
    daftar pilihan. Sebaliknya, maka keinginan untuk membeli ulang merek
    produk tersebut cenderung menjadi lebih kuat

Tipe Perilaku Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller (2013:23), membedakan 4 (empat) tipe perilaku
pembelian konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat
perbedaan diantara merek, yaitu:

  1. Perilaku pembelian yang rumit
    Perilaku konsumen yang rumit membutuhkan keterlibatan yang tinggi
    dalam pembelian, dengan berusaha menyadari perbedaan-perbedaan yang
    jelas diantara merek-merek yang ada.
  2. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan
    Dalam tahap ini, konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan
    bukan berdasarkan kesetiaan terhadap suatu merek. Konsumen memilih
    produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi karena mereka
    sudah mengenal produk tersebut.
  3. Perilaku pembelian yang mencari keragaman
    Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, tetapi masih terdapat
    perbedaan merek yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari
    keragaman bukan kepuasan terhadap produk.
  4. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan
    Terkadang konsumen sangat terlibat dalam pembelian, namun mereka hanya
    melihat sedikit perbedaan antar merek. Dalam perilaku ini, setelah
    pembelian konsumen mungkin akan mengalami ketidaknyamanan karena
    merasakan adanya fitur yang tidak mengenakkan atau mendengar kabar
    yang membuatnya tertarik mengenai merek lain dan akan siaga terhadap
    informasi yang mendukung keputusannya.

Dimensi Keputusan Pembelian


Kotler dan Amstrong (2016:188) menyebutkan terdapat enam dimensi
keputusan pembelian, yaitu:

  1. Pemilihan Produk (Product Choice)
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini, perusahaan
    harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berniat membeli
    suatu produk serta alternatif yang akan mereka pertimbangkan. Misalnya:
    kebutuhan suatu produk.
  2. Pemilihan Merek (Brand Choice)
    Konsumen harus menentukan merek mana yang akan dibeli, setiap merek
    memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
    mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Sehingga
    konsumen dalam memilih produk menyatakan mereknyalah yang akan
    dipilih. Misalnya: kepercayaan dan popularitas merek.
  3. Pemilihan Saluran Pembelian (Dealer Choice)
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
    dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur,
    dapat dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan
    barang yang lengkap. Kenyamanan berbelanja, dan keleluasaan tempat.
    Seperti misalnya konsumen akan memilih tempat yang mudah ia jangkau.
  4. Penentuan Waktu Pembelian (Purchase Timing)
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian dapat berbeda-
    beda. Konsumen akan mempertimbangkan kapan dia akan membeli suatu
    produk. Dan konsumen akan memilih waktu yang tepat untuk membeli
    produk yang dipilihnya.
  5. Jumlah Pembelian (Purchase Amount)
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
    yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin
    lebih dari satu jenis produk. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
    banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para
    pembeli. Konsumen akan menetapkan membeli dan menggunakan satu atau
    lebih produk yang dipilihnya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Setiadi (2015:10) keputusan pembelian dari pembeli sangat
dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi pembeli.
Faktor Kebudayaan

  1. Kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan
    dan perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak
    berdasarkan naluri,maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
  2. Subbudaya. Setiap kebudayaan terdiri dari subbudaya-subbudaya yang lebih
    kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk
    para anggotanya.
  3. Kelas sosial adalah kelompok yang relative homogeny dan bertahan lama
    dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan yang
    keanggotaanya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa.
    Faktor Sosial
  4. Kelompok refernsi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang
    mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau
    perilaku seseorang.
  5. Keluarga. Keluarga orientasi, yang merupakan orang tua seseorang. Dan
    keluarga prokreasi, yaitu pasangan hidup anak-anak seseorang keluarga
    merupakan organisasi pembeli konsumen yang paling penting dalam suatu
    masyarakat.
  6. Peran dan status. Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok
    selama hidupnya keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap
    kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status.
    Faktor Pribadi
  7. Umur dan tahapan dalam siklus hidup. Konsumsi seseorang juga dibentuk
    oleh tahapan siklus hidup keluarga. Orang-orang dewasa biasanya
    mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani
    hidupnya.
  8. Pekerjaan. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok
    pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa
    tertentu.
  9. Keadaan ekonomi. Yang dimaksud dengan keadaan ekonomi seseorang
    adalah terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya,
    stabilitasnya dan polanya), tabungan dan hartanya, kemampuan untuk
    meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan menabung.
  10. Gaya hidup. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan”
    yan berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan
    sesuatu di balik kelas sosial seseorang.
  11. Kepribadian dan konsep diri. Yang dimaksud dengan kepribadian adalah
    karakteristik psikologis yang berbeda dan setiap orang yang memandang
    responsnya terhadap lingkungan yang relative konsisten.
    Faktor Psikologis
  12. Motivasi. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari
    suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, haus, resah tidak
    nyaman. Adapun kebutuhan lain bersifat psikogenik, yaitu kebutuhan yang
    timbul dari keadaan fisiologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui,
    kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
  13. Persepsi, didefinisikan sebagai proses di mana seseorang memilih,
    mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan
    suatu gambaran yang berarti dari dunia ini.
  14. Proses belajar, menjelaskan perubahan dalam perilau seseorang yang timbul
    dari pengalaman.
  15. Kepercayaan dan sikap. Kepercayaan adalah suatu gagasan deskriptif yang
    dimiliki seseorang terhadap sesuatu

Perilaku Konsumen


Menurut Firmansyah (2018:2) perilaku konsumen adalah sebuah kegiatan
yang berkaitan erat dengan proses pembelian suatu barang atau jasa. Perilaku
konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,
mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan
yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Setiadi, 2015:2).
Dan The American Marketing Association dalam Kotler (2000) yang dialih
bahaskan oleh Setiadi (2015:2) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai
interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya di mana
manusia melakukan kegatan pertukaran dalam hidup mereka.
Dari definisi tersebut terdapat tiga ide penting, yaitu : (1) perilaku
konsumen adalah dinamis; (2) hal tersebut melibatkan interaksi antara afeksi dan
kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; dan (3) hal tersebut melibatkan
pertukaran.
Perilaku konsumen adalah dinamis, berarti bahwa perilaku seorang
konsumen, grup konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah dan bergerak
sepanjang waktu. Hal ini memiliki implikasi terhadap studi perilaku konsumen.
Dalam hal studi perilaku konsumen, salah satu implikasinya adalah bahwa
generalisasi perilaku konsumen biasanya terbatas untuk jangka waktu tertentu,
produk, dan individu atau grup tertentu.
Perilaku konsumen melibatkan pertukaran. Itu merupakan hal terakhir yang
ditekankan dalam definisi perilaku konsumen, yaitu pertukaran di antara individu.
Hal ini membuat definisi perilaku konsumen tetap konsisten dengan definisi
pemasaran sejauh ini juga menekankan pertukaran. Kenyataannya, peran
pemasaran adalah untuk menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui
formulasi dan penerapan strategi pemasaran.

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2016), terdapat empat indikator utama
yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Keterjangkauan harga
    Mengacu pada kemampuan daya beli konsumen terhadap suatu
    produk. Harga yang diterapkan harus sesuai dengan kondisi ekonomi
    target pasar agar produk dapat diakses oleh lebih banyak konsumen atau
    wisatawan.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Menunjukkan bahwa kualitas produk yang diperoleh konsumen
    harus sebanding dengan atau bahkan melebihi nilai uang yang telah
    mereka keluarkan. Konsumen cenderung merasa puas apabila harga yang
    dibayarkan sesuai dengan mutu dan keunggulan produk yang diterima.
  3. Daya saing harga
    Merupakan kemampuan perusahaan dalam menetapkan harga
    yang kompetitif dibandingkan dengan produk lain di pasar. Harga yang
    lebih menarik dapat meningkatkan daya tarik produk dan memperkuat
    posisi perusahaan di industri yang bersangkutan.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Mengacu pada sejauh mana manfaat yang diperoleh konsumen
    dari produk yang dibeli sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan.
    Konsumen akan lebih cenderung memilih produk yang memberikanya
    nilai lebih tinggi dibandingkan harga yang dibayarkan.

Menetapkan Strategi Harga


Dalam menetapkan strategi harga, perusahaan perlu menyesuaikan
dengan produk yang dihasilkannya agar keputusan yang diambil tidak
menimbulkan kerugian , berikut adalah strategi penetapan harga:

  1. Strategi Penetapan Harga Produk Baru
    Strategi ini menetapkan harga untuk produk baru dengan tujuan
    memberikan dampak positif bagi pertumbuhan pasar serta mengurangi
    tingkat persaingan yang ketat. Menurut Tjiptono (2008:171), terdapat dua
    pendekatan dalam strategi ini:
    a. Skimming Price, yaitu strategi yang menetapkan harga tinggi pada
    produk baru dengan dukungan promosi yang intensif.
    b. Penetration Pricing, yaitu strategi dengan menggunakan harga rendah
    pada awal produksi untuk menarik pangsa pasar yang lebih luas
    sekaligus mencegah masuknya pesaing.
  2. Strategi Penetapan Harga Produk Yang Sudah Mapan
    Menurut Tjiptono (2008:174) perusahaan harus terus mengevaluasi
    strategi untuk produk yang sudah beredar agar tetap sesuai dengan kondisi
    perusahaan. Beberapa strategi yang dapat diterapkan adalah:
    a. Mempertahankan Harga
    Bertujuan menjaga posisi di pasar dan meningkatkan citra
    positif di masyarakat.
    b. Menurunkan Harga
    Strategi ini sulit diterapkan karena membutuhkan stabilitas
    keuangan yang kuat, sementara dampaknya adalah margin
    keuntungan yang lebih kecil.
    c. Menaikkan Harga
    Strategi ini diteapkan untuk mempertahankan profibilitas,
    terutama dalam kondisi inflansi atau untuk menargetkan segmen
    pasar tertentu

Pengertian Harga


Dalam sektor percetakan, ketidakseimbangan antara harga yang
ditawarkan dan kualitas pelayanan dapat mempengaruhi minat customer atau
konsumen untuk melakukan transaksi. Harga sendiri merupakan elemen
penting dalam bauran pemasaran yang berkontribusi terhadap pendapatan.
Bagi sebuah percetakan yang memproduksi barang atau jasa, harga
merupakan faktor yang erat kaitannya dengan konsumen dalam memperoleh
nilai tukar. Selain itu, harga juga berperan dalam bauran pemasaran, karena
penentuan harga berdampak langsung pada pendapatan perusahaan.
Swastha (2018) menyatakan harga adalah sejumlah uang yang
dibutuhkan untuk mendapat sejumlah kombinasi dari barang beserta
pelayanannya. Konsumen berhak menilai apakah harga yang dikeluarkan
untuk membeli sesuai dengan barang yang didapatkannya.
Menurut Kotler dan Amrstrong (2016), harga didefinisikan sebagai
jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu produk atau jasa,
atau nilai yang ditukarkan oleh konsumen demi mendapatkan manfaat,
kepemilikan, atau penggunaan produk atau jasa tersebut. Sementara itu,
Lupiyoadi (Rizky Teguh, 2015;5) menjelaskan bahwa harga mencerminkan
manfaat yang dimiliki suatu produk atau jasa dibandingkan dengan berbagai
biaya yang timbul dalam penggunaanya. Biaya tersebut dapat berupa waktu
yang dikorbankan, usaha fisik yang dikeluarkan, beban mental seperti stress.
Serta pengorbanan yang berkaitan dengan panca indra, seperti kebisingan
atau suhu yang tidak nyaman.
Menurut Kotler dan Amstrong (Krisdayanto 2018) mendefinisikan
harga sebagai sejumlah uang yang dibayarkan untuk jasa atau nilai yang
ditukar oleh konsumen guna memperoleh manfaat dari kepemilikan atau
penggunaan barang maupun jasa. Sementara itu, menurut Arumsari (Deni
2022), harga adalah sejumlah uang (ditambah beberapa produk) yang
diperlukan untuk mendapatkan kombinasi tertentu dari produk dan layanan.
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa harga yang dibayarkan oleh
pembeli sudah mencakup layanan yang diberikan oleh penjual.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Zeithaml (Anim & Indiani. 2020), indikator kualitas
pelayanan dalam hasil fokus grup di Amerika menghasilkan 10 indikator,
setelah itu disederhanakan menjadi 5 indikator sebagai berikut:

  1. Tangibles ( Bukti Fisik)
    Mengacu pada segala bentuk tampilan fisik yang dapat dilihat oleh
    pelanggan termasuk: fasilitas, perlengkapan, kebersihan, serta tampilan
    karyawan dalam memberikan layanan.
  2. Reability (Keandalan)
    Kemampuan perusahaan dalam memberikan layanan secara
    konsisten, akurat, dan dapat diandalkan sesuai dengan yang dijanjikan
    kepada pelanggan.
  3. Responsiveness (Daya Tanggap)
    Kesigapan dan kecepatan dalam merespons kebutuhan pelanggan,
    baik dalam memberikan bantuan, informasi, maupun menyelesaikan
    keluhan.
  4. Assurance (Jaminan)
    Tingkat kepercayaan dan rasa aman yang diberikan kepada
    pelanggan melalui kompetensi, keramahan, profesionalisme, serta
    kredibilitas penyedia layanan.
  5. Empahty (Empati)
    Kepedulian Perusahaan dalam memahami dan memenuhi kebutuhan
    pelanggan, termasuk memberikan perhatian secara personal dan
    menciptakan pengalaman yang aman

Definisi Kualitas Pelayanan


Menurut Kasmir (2017) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah
tindakan atau perbuatan seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan
kepuasan kepada pelanggan, sesama karyawan, dan juga pimpinan.
Menurut Goetsch dan Davis (Adimah, Irsyad, & Oktriawan, 2022),
kualitas ialah pengaruh dari berbagai faktor, termasuk barang, jasa, sumber
daya manusia, prosedur dan lingkungan yang semuanya berkontribusi
terhadap pencapaian standart kualitas.
Menurut Kotler (Fakhrudin & Roellyanti, 2022), pelayanan merupakan
segala bentuk pekerjaan yang dapat dilakukan seseorang untuk kepentingan
orang lain. Secara umum, layanan bersifat tidak berwujud dan tidak
memberikan hak kepemilikan.
Kualitas pelayanan didefinisikan sebagai kesesuaian layanan dengan
kebutuhan pelanggan serta kemampuannya untuk melampaui ekspetasi
mereka (Bagale et al, 2019), sementara itu, menurut Kamarul Ikhsan Bin
Ahamed Zaki & Bin Abdul Lasi (2020), kualitas pelayanan merupakan sejauh
mana layanan dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan,
yang dinilai berdasarkan pengalaman nyata pelanggan terhadap layanan yang
mereka terima. Kasinem (2020), menjelaskan bahwa kualitas pelayanan
mencakup segala bentuk penyediaan layanan secara optimal oleh Perusahaan
dengan berbagai keunggulan yang dimiliknya, guna memenuhi kebutuhan
pelanggan dan melampaui harapan mereka.
Kualitas pelayanan merupakan ukuran yang digunakan untu menilai
tingkat kepuasan pelanggan. Pelayanan yang baik dapat menciptakan loyalitas
pelanggan serta membangun citra positif bagi perusahaan. Kualitas pelayanan
dinilai berdasarkan sejauh mana layanan yang diterima sesuai dengan harapan
pelanggan. Abu Bakar (2018) menyatakan bahwa kualitas pelayanan
mencerminkan kemampuan Perusahaan dalam memberikan layanan yang
lebih unggul dibandingkan pesaingnya. Kualitas pelayanan hanya dapat
dirasakan setelah pelanggan mengalaminya, sehingga harus dirancang sebaik
mungkin agar lebih menarik dan berbeda dari Perusahaan lain

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Amstrong (Dedhy, 2017) terdapat beberapa indikator
dalam keputusan pembelian konsumen, yaitu sebagai berikut :
a. Kemantapan membeli setelah mengetahui informasi produk, adalah dari
konsumen setelah melakukan pembelian pada sebuah produk setelah
mengetahui informasi yang baik dari sebuah produk tersebut.
b. Memutuskan membeli karena merek yang paling disukai, merupakan
melakukan pembelian karena sebuah merek ternama.
c. Membeli karena sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, merupakan
konsumen yang membeli karena sebuah keinginan dan kebutuhan.
d. Membeli karena mendapat rekomendasi dari orang lain, merupakan
pembelian dari rekomendasi teman atau keluarga untuk membeli produk
tersebut

Tahapan Keputusan Pembelian


Menurut Alma (2020:104) sebelum melakukan pembelian, konsumen
akan melalui beberapa tahapan, yaitu:
a. Pengenalan Masalah atau Kebutuhan
Konsumen berupaya untuk mengidentifikasi kebutuhan dan
keinginan yang masih belum terpenuhi dan tidak terpuaskan. Dengan
menyadari kebutuhan tersebut, konsumen dapat memahami bahwa ada
kebutuhan yang harus dipenuhi segera dan ada juga yang bisa
ditangguhkan. Kebutuhan muncul baik dari dalam diri individu sebagai
konsumen maupun dari lingkungan sekitarnya.
b. Mencari Informasi
Seseorang akan mencari tahu terlebih dahulu informasi mengenai
produknya seperti: ingin membeli produk apa, produk yang bagaimana,
dimana tempat membelinya, dan sebagainya. Untuk mencari informasi
tersebut seseorang bisa menemukannya dari beberapa sumber yaitu:
sumber pribadi yang meliputi sumber yang berasal dari lingkungan
sekitar seperti keluarga, teman dan tetangga, sumber komersial
mencakup iklan, tenaga penjual dan melihat display, sumber publik
meliputi media masa atau pers, TV dan radio. Dan juga pengalaman
masa lalu atau produk tersebut sudah digunakan sebelumnya.
c. Evaluasi Alternatif
Dalam tahap ini, evaluasi tiap konsumen akan berbeda-beda
tergantung pada pemilihan atribut produk, apakah cocok atau tidak
dengan harapan konsumen. Serta tiap konsumen berbeda tingkat
kebutuhannya, ada konsumen yang memiliki kebutuhan yang sangat
mendesak, ada pula yang tidak terlalu mendesak, dengan kata lain
masih dapat ditunda dilain hari. Lalu ada juga faktor merek yang dapat
membuat konsumen memutuskan alternatif, ada konsumen yang
fanatic kepada sebuah merek, hal ini akan membuat konsumen tersebut
sulit untuk berpindah ke merek lainnya. Hasilnya pertimbangan dari
konsumen adalah kepuasan penuh akan alternatif yang diambil seperti:
iklan di sosial media yang dinilai adalah gambar, warna dan harga.
Sedangkan restoran yang dinilai adalah kebersihan, makanan, lokasi,
kenyamanan dan harga.
d. Keputusan Pembelian
Pada tahap ini, konsumen harus mengambil keputusan setelah
beberapa tahapan sebelumnya. Apabila terjadi keputusan pembelian,
maka kumpulan keputusan termasuk jenis produk, kualitas, waktu,
harga, cara membayar, dan sebagainya. Terkadang dalam pengambilan
keputusan ada pihak-pihak yang memberi dorongan terakhir, hal ini
akan membuat adanya pertimbangan lagi dan dapat mengubah
keputusan awal secara singkat.
e. Perilaku Pasca Pembelian
Perilaku pasca pembelian adalah pengalaman konsumen setelah
pembelian atau mengkonsumsi produk. Hal ini akan mencakup apakah
konsumen senang atau kecewa, hal ini tergantung dari ekspektasi
konsumen terhadap produk dengan kenyataan yang ditemui. Jika
ekspektasi jauh dari kenyataan, maka konsumen akan kecewa, jika
sesuai dengan ekspektasi, berarti konsumen puas dan jika lebih baik
dari ekspektasi yang dipikirkan maka konsumen akan sangat senang.
Pada umumnya, ekspektasi konsumen akan meningkat apabila
mengetahui ulasan produk ataupun cerita pengalaman teman tentang
produk itu sangatlah bagus dan jika hal ini tidak dirasakan konsumen,
maka akan sangat kecewa. Sehingga penjual tidak perlu
mengunggulkan kelebihan produknya, supaya jarak antara kenyataan
dan ekspektasi konsumen tidaklah jauh.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Chaniago (2021:49), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi konsumen ketika melakukan pembelian, diantaranya yaitu:

  1. Faktor Internal
    a. Budaya
    Jika dilihat dari lingkungan bisnis maka faktor budaya adalah
    berkaitan dengan sifat dan kepribadian seseorang. Contohnya: sikap,
    pola berfikir, bahasa, tata krama, hedonism, dan lain-lainnya.
    b. Agama
    Seseorang dengan tingkat agama tertentu akan menentukan
    sikap dalam membeli sesuatu. Contohnya seseorang yang sangat taat
    agama cenderung akan lebih sabar dan memaklumi suatu produk.
    c. Pengalaman masa lalu
    Tiap pengalaman konsumen baik itu positif maupun negatif
    dari pembelian sebelumnya, pengalaman orang lain atau dari sumber
    lainnya akan membuat sikap dan kepribadian dalam membeli sebuah
    barang. Konsumen yang sudah memiliki pengalaman akan lebih
    berhati-hati dengan promosi penjual.
  2. Faktor Ekstenal
    a. Strata sosial
    Seorang konsumen akan memiliki stratanya masing-masing
    tiap di lingkungan tertentu. Contohnya: konsumen kelas atas,
    konsumen kelas menengah, dan juga konsumen kelas bawah. Strata
    ini bisa didasari dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, profesi
    atau pekerjaan dan lainnya.
    b. Keluarga
    Cara seseorang tumbuh dan berkembang di dalam sebuah
    keluarga akan mempengaruhi perilaku konsumen. Contoh:
    seseorang tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang kritis
    akan cenderung memiliki perilaku yang lebih selektif ketika
    membeli sesuatu.
    c. Atribut produk
    Hal yang mempengaruhi seseorang untuk menentukan minat
    dan perilaku konsumen dalam pembelian adalah seperti spesifikasi
    barang, kemasan, harga, kualitas dan manfaat produk tersebut.
    Seringkali atribut produk ini menjadi pesona bagi konsumen

Definisi Keputusan Pembelian


Secara istilah, terdapat beberapa definisi dari keputusan pembelian
yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut:
a. Menurut Firmansyah (2019:205)
Keputusan pembelian adalah kegiatan pemecahan masalah yang
dilakukan individu untuk memilih alternatif yang sesuai dari dua atau
lebih alternatif dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat dalam
membeli dengan terlebih dahulu melalui tahap-tahap proses
pengambilan Keputusan.
b. Menurut Sudaryono (2016:99)
Keputusan pembelian adalah memilih dari beberapa alternatif
pilihan, bisa antara dua atau lebih dari dua pilihan. Ketika mengambil
suatu keputusan, seseorang harus dapat menetapkan satu dari alternatif
lainnya. Jika seseorang memutuskan untuk membeli karena berhadapan
dengan pilihan antara membeli atau tidak membeli, maka hal ini disebut
posisi membuat keputusan.
c. Menurut Kotler & Amstrong (2016)
Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan
keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Konsumen
bebas memilih produk yang diinginkan sesuai dengan kebutuhannya,
memutuskan tempat pembelian, bagaimana caranya, banyak pembelian,
kapan membeli, dan mengapa harus membeli.
d. Menurut Kotler dan Amstrong (2017:180)
Keputusan pembelian adalah keputusan pembeli tentang merek
mana yang akan dibeli. Proses pengambilan keputusan yang rumit
sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen
adalah tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk
membeli produk yang paling disukai, dimana keputusan konsumen
untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar sangat dipengaruhi
resiko yang dirasakan.
e. Menurut Kurniawan et al (2023)
Keputusan pembelian adalah sebuah tahapan pengambilan
keputusan untuk menentukan apakah akan melakukan pembelian atau
tidak terhadap barang yang dibutuhkan atau diinginkan. Keputusan
pembelian merupakan sebuah proses evaluasi terhadap dua atau lebih
objek untuk kemudian dilakukan pembelian terhadap salah satunya.
Sehingga keputusan pembelian adalah tahap kritis dalam proses
pengambilan keputusan konsumen di mana individu memilih apakah
akan membeli suatu produk atau layanan setelah mempertimbangkan
berbagai faktor dan opsi yang tersedia.
f. Menurut Kotler dan Keller (2018)
Keputusan pembelian adalah tahapan dalam proses pengambilan
keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli. Sebelum
benar-benar membeli, konsumen akan melewati beberapa tahapan
proses pembelian. Pengambilan keputusan merupakan kegiatan individu
yang terlibat langsung dalam proses pembelian barang yang ditawarkan
oleh perusahaan

Hubungan Keragaman Produk Dengan Keputusan Pembelian


Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sapuri & Amron (2022), terlihat hasil
bahwa Keberagaman produk menjadi variabel terbesar ketiga yang
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
Semakin tinggi tingkat keberagaman produk maka keputusan pembelian
akan meningkat

Hubungan Store Atmosphere Dengan Keputusan Pembelian


Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sapuri & Amron (2022), terlihat hasil
bahwa Store atmosphere menjadi variabel terbesar kedua yang
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelitan.
Semakin menarik store atmosphere maka keputusan pembelian semakin
meningka

Hubungan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian


Promosi memiliki peranan penting dalam pembelian konsumen. Promosi
dapat membantu para pembeli untuk memberikan rangsangan-rangsangan untuk
mendorong penjualan dengan cepat. Selain itu untuk mengetahui kebutuhan dan
keinginan konsumen perusahaan juga perlu mempelajari perilaku konsumen
terutama mengenai hal-hal yang berhubungan dengan proses pengambilan
keputusan.
Menurut Swasta dan Irawan (2003) kegiatan promosi untuk
memperkenalkan kebaikan, manfaat tambahan, harga yang murah dan sebagainya
kepada konsumen dan calon konsumen. Seluruh alat-alat promosi penjualan
sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas suatu produk adalah penelitian yang subyektif oleh konsumen.
Penelitian ini ditentukan oleh persepsi pada apa yang dikehendaki dan dibutuhkan
oleh konsumen terhadap produk tersebut. Suatu perusahaan yang mengetahui hal
tersebut, tentu tidak hanya menjual produk itu sendiri, tetapi juga manfaat dari
produk tersebut dimana pada akhirnya hal tersebut membantu perusahaan untuk
meningkatkan penjualan karena akan berpengaruh pada keputusan pembelian
yang dilakukan oleh konsumen. Menurut (Kotler dan Armstrong , 2012) arti dari
kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan
fungsinya.

Promosi


Menurut Napik (2018) promosi adalah alat pemasaran yang digunakan
perusahaan untuk memperkenalkan produk yang dihasilkan kepada pelanggan,
membujuk pelanggan untuk menggunakan produk yang ditawarkan, serta
memberikan informasi mengenai produk yang diciptakan perusahaan.
Sedangkan menurut Okki (2016) promosi merupakan kegiatan yang
ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mengenal produk yang ditawarkan
oleh perusahaan kepada konsumen dan kemudian menjadi senang membeli
produk.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) variabel ini dapat diukur dengan
menggunakan beberapa indikator promosi yaitu :

  1. Advertising (Periklanan)
  2. Sales Promotion (Promosi Penjualan)
  3. Publicity (Publisitas

Kualitas Produk


Kualitas merupakan suatu dorongan atau daya tarik kepada konsumen
yang berpengaruh (Indrawati, 2018), sedangkan produk adalah hasil produksi
yang memiliki tingkat kualitas tertentu (Denisa, 2016). Jadi kualitas produk
adalah suatu produksi yang memiliki daya tarik untuk mendorong konsumen
supaya membeli atau mendapatkannya.
Sedangkan menurut Tjiptono (2016) kualitas produk adalah suatu
penilaian konsumen terhadap keunggulan atau keistimewaan suatu produk.
Kualitas produk yang sudah dipercaya oleh konsumen harus tetap dijaga. Jika
diabaikan akan mengecewakan konsumen. Ada dua macam yang termasuk dalam
dimensi kualitas ini, yaitu desain yang baik dan komitmen kualitas. Dimensi
kedua menjaga kualitas yang sudah dipercaya konsumen dengan baik, model,
warna motif dan bahan manik-manik yang awet harus konsisten kualitasnya.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas produk menurut
Tjiptono (2016) meliputi :

  1. Pemilihan Bahan
  2. Desain Produk
  3. Keragaman Produk

Produk


Pengertian produk ( product ) menurut Kotler dan Keller (2014) adalah
segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian,
dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau
kebutuhan konsumen. Secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif
dari produsen atas suatu yang bias ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai
tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen, sesuai
dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar.
Ummu Habibah dan Sumiati (2016) mengungkapkan bahwa produk
sebagai kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk
didalamnya kemasan, warna, harga, dan kualitas ditambah dengan jasa dan
reputasi penjualannya.
Sedangkan produk menurut Tjiptono (2016) produk adalah semua yang
bisa ditawarkan dipasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan pemakaian
atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Kotler (2014) menyatakan bahwa perilaku pembelian konsumen
dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut :

  1. Faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan
    paling dalam. Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting
    bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan
    perilaku yang paling dasar. Sub budaya mencakup kebangsaan,
    agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Sedangkan kelas sosial
    adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen,
    yang tersusun secara hirarkis dan yang para anggotanya menganut
    nilai, minat, dan perilaku yang serupa. Kelas sosial tidak hanya
    mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti
    pekerjaan, pendidikan, dan wilayah tempat tinggal.
  2. Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi oleh faktor-
    faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status
    sosial masyarakat.
    a. Kelompok acuan seseorang terdiri atas semua kelompok di sekitar
    individu yang mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak
    langsung terhadap perilaku individu tersebut (Kotler, 2014).
    Kelompok acuan mempengaruhi pendirian dan konsep pribadi
    seseorang karena individu biasanya berhasrat untuk berperilaku
    sama dengan kelompok acuan tersebut (Kotler, 2014)
    b. Keluarga sendiri biasanya menjadi sumber orientasi dalam
    perilaku. Anak akan cenderung berperilaku sama dengan orang
    tua saat mereka melihat perilaku orang tua mereka mendatangkan
    manfaat atau keuntungan (Kotler, 2014).
    c. Peranan adalah kegiatan yang diharapkan untuk dilakukan
    mengacu pada orang-orang di sekellilingnya. Sedang status
    adalah pengakuan umum masyarakat sesuai dengan peran yang
    dijalankan. Setiap individu dan status yang disandangnya akan
    mempengaruhi perilakunya (Kotler, 2014).
  3. Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
    Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan,
    keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri
    pembeli.
    a. Usia, Individu dalam membeli barang atau jasa biasanya
    disesuaikan dengan perubahan usia mereka. Pola konsumsi yang
    terbentuk juga berbeda antara individu-individu yang usianya
    berbeda (Kotler, 2014)
    b. Pekerjaan, Pekerjaan individu tentunya ikut mempengaruhi
    perilaku pembelian individu. Penghasilan yang mereka peroleh
    dari pekerjaannya itulah yang menjadi determinan penting dalam
    perilaku pembelian mereka (Kotler, 2014)
    c. Gaya Hidup, Gaya hidup merupakan pola kehidupan seseorang
    sebagaimana tercermin dalam aktivitas, minat, dan opininya.
    Gaya hidup akan sangat mempengaruhi pola tindakan dan
    perilaku individu (Kotler, 2014).
    d. Kepribadian adalah karakteristik psikologi yang berbeda dari
    seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten
    dan tetap terhadap lingkungannya (Kotler, 2014)
  4. Faktor Psikologis, Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh
    empat faktor psikologi utama. Faktor-faktor tersebut terdiri dari
    motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
    Kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga mencapai
    tahap intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang
    memadai untuk mendorong seseorang bertindak. Persepsi adalah
    proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi,
    dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan
    gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi dapat sangat beragam
    antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang
    sama.
    a. Motivasi, Motivasi adalah kebutuhan yang memadai untuk
    mendorong seseorang bertindak. Seseorang memiliki banyak
    kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat
    biogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan biologis seperti
    lapar, haus, tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan yang lain
    bersifat psikogenis; kebutuhan tersebut muncul dari tekanan
    psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau
    rasa keanggotaan kelompok
    b. Disamping motivasi mendasari seseorang untuk melakukan
    keputusan pembelian maka akan dipengaruhi juga oleh
    persepsinya terhadap apa yang diinginkan. Konsumen akan
    menampakkan perilakunya setelah melakukan persepsi terhadap
    keputusan apa yang akan diambil dalam membeli suatu produk
    c. Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan
    berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima
    (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir)
    atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang
    diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback
    bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan
    dalam situasi yang sama (Schiffman dan Kanuk , 2008).
    d. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang
    mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan
    asli, opini, dan iman (Kotler dan Armstrong , 2012). Sedangkan
    sikap adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan
    kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah
    obyek atau ide (Kotler dan Armstrong , 2012).

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam memahami perilaku konsumen, terdapat banyak pengaruh yang
mendasari seseorang dalam mengambil keputusan pembelian suatu produk atau
merek. Pada kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali diawali
dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan dan lingkungan yang lain.
Rangsangan tersebut kemudian diproses (diolah) dalam diri, sesuai dengan
karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya diambil keputusan pembelian.
Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk memproses rancangan
tersebut sangat komplek, dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk
membeli.
Pada satu titik dalam proses pembelian, konsumen harus berhenti mencari
dan berhenti melakukan evaluasi untuk membuat keputusan pembelian. Sebagai
hasil dari kegiatan evaluasi alternatif, konsumen mulai mengarah pada niat atau
keinginan untuk membeli (purchase intention) dengan kecenderungan untuk
membeli merek tertentu.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012), keputusan pembelian konsumen
adalah membeli merek yang paling disukai dari berbagai alternatif yang ada,
tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian.
Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2008) adalah
pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian. Artinya
bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif
pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses
dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan

Perilaku Konsumen


Semakin majunya perekonomian dan teknologi, berkembang pada strategi
yang harus dijalankan perusahaan, khususnya di bidang pemasaran. untuk itu
perusahaan perlu memahami atau mempelajari perilaku konsumen dalam
hubungannya dengan pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut. Dalam
menentukan jenis produk atau jasa, konsumen selalu mempertimbangkan tentang
produk atau jasa apa yang dibutuhkan, hal ini dikenal dengan perilaku konsumen.
Menurut Swasta dan Irawan (2012) perilaku konsumen adalah kegiatan
individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempengaruhi
barang dan jasa, termasuk di dalamnya pengambilan keputusan pada persiapan
dan penentuan kegiatan tersebut.
Hubungannya dengan keputusan pembelian suatu produk atau jasa,
pemahaman mengenai perilaku konsumen meliputi jawaban atas pertanyaan
seperti apa (what) yang dibeli, dimana membeli (where), bagaimana kebiasaan
(how often) membeli dan dalam keadaan apa (under what condition) barang-
barang dan jasa dibeli. Keberhasilan perusahaan dalam pemasaran perlu didukung
pemahaman yang baik mengenai perilaku konsumen, karena dengan adanya
memahami perilaku konsumen perusahaan dapat merangsang apa saja yang
diinginkan konsumen.
Perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor (Kotler dan
Keller, 2014) :

  1. Faktor Budaya
    Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
    pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
    dasar. Masing-masing budaya terdiri dari sub budaya mencakup
    kebanggaan, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis. Dan ketika
    sub kultur menjadi cukup besardan cukup makmur, maka perusahaan
    sering merancang program pemasaran secara khusus untuk melayani
    konsumen. faktor budaya dibagi menjadi 2, yaitu :
    a. Sub budaya
    Setiap budaya mempunyai kelompok-kelompok yang lebih kecil
    atau sekelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
    berdasarkan pengalaman dan situasi hidup yang sama, yang
    meliputi : kewarganegaraan, agama, ras dan daerah geografis.
    b. Kelas sosial
    Hampir setiap masyarakat memiliki beberapa bentuk struktur kelas
    sosial. Kelas sosial adalah bagian-bagian masyarakat yang relatif
    permanen dan tersusun rapi yang anggota-anggotanya memiliki
    nilai-nilai, kepentingan dan perilaku yang sama. Kelas sosial
    menunjukkan beberapa pilihan-pilihan produk dan merk dari
    seperti pakaian, perabotan rumah tangga, mobil dan aktivitas waktu
    senggang, kelas sosial seseorang dapat dinyatakan dalam beberapa
    variabel seperti jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan dan
    variabel lainnya.
  2. Faktor Sosial
    Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial, seperti kelompok
    acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
    a. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
    pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap
    sikap atau perilaku seseorang.
    b. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang
    paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga
    menjadi kelompok acuan yang paling primer yang paling
    berpengaruh.
    c. Peran dan status terlihat pada kedudukan orang itu di masing-
    masing kelompok. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan
    akan dilakukan oleh seseorang dan masing-masing peran
    menghasilkan status.
  3. Faktor Pribadi
    Faktor pribadi meliputi, usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan dan
    keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri,serta nilai dan gaya
    hidup .
    a. Dalam usia dan tahap siklus hidup, jenis kebutuhan akan
    produk akan nampak perbedaan yng disesuaikan dengan umur
    seseorang dalam memenuhi suatu kebutuhan.
    b. Pekerjaan dan keadaan ekonomi membuat seseorang
    mempunyai pola konsumsi yang berbeda.
    c. Kepribadian dan Konsep diri membuat seseorang mempunyai
    ciri bawaan psikologis manusia yang mampu menpengaruhi
    perilaku pembelian.
    d. Gaya hidup dan nilai merupakan pola hidup seseorang di dunia
    yang terungkap pada aktifitas, minat, dan opini.
  4. Faktor Psikologis
    Kekuatan psikologis yang membentuk perilaku manusia tidak disadari
    dan bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya memenuhi motivasi
    dirinya. Empat proses psikologis antara lain, motivasi, persepsi,
    pembelajaran, dan memori.
    a. Motivasi mampu membuat seseorang untuk bertindak
    melakukan pembelian.Persepsi merupakan proses yang
    digunakan untuk menginterpretasikan suatu informasi guna
    untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
    b. Persepsi itu bisa mempengaruhi perilaku konsumen secara
    aktual.
    c. Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang
    timbul dari pengalaman.
    d. Proses memori merupakan tindakan mendapatkan kembali
    ingatan yang merujuk pada bagaimana informasi
    membangkitkan ingatan kita

Reputasi E-Commerce


Pengertian Reputasi Menurut Doney dan Cannon reputasi perusahaan
berhubungan dengan sejarah atau riwayat perusahaan terutama dalam hubungannya
dengan pihak lain, apakah memiliki hubungan yang lebih baik atau tidak. Reputasi
perusahaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen terhadap suatu produk atau jasa dari suatu perusahaan.
Reputasi atau merek menjadi sebuah masalah dari sikap dan kepercayaan terhadap
kesadaran pada merek dan image.
Upaya pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan, terutama
merunjuk adanya anggapan bahwa reputasi yang berupa citra merk (brand image),
citra perusahaan (company image), pelayanan prima (service excelent) dan semua
yang berhubungan dengan kepuasaan nasabah mendapatkan prioritas. Reputasi bank
merupakan karateristik suatu bank yang berbentuk dari pandangan yang pihak yang
terlibat dengan bank yang menjadikannya unggul dan kompetitif dibandingkan bank
lain. Reputasi baik yang dimilki bank menjadi dasar kepercayaan nasabah
penyimpan untuk tetap menggunakan jasa simpanan dan membuat keputusan
menabung. Reputasi bank dianggap penting oleh nasabah untuk teap
mempercayakan dana yang mereka miliki dikelola oleh bank terkait. Semakin baik
reputasi yang dimiliki ban dari pandangan nasabah, maka semakin kuat keputusan
yang diambil nasabah untuk menabung di bank.
Indikator Reputasi Adapun indikator-indikator reputasi pada penelitian ini diacu dari
penelitian Selnes adalah:
a. Nama baik, Nama baik adalah persepsi para nasabah tentang sejauh mana nama
baik yang berhasil dibangun oleh bank bagi sebuah perusahaan., menjaga nama
baik tentunya menjadi salah satu kewajiban utama mereka untuk mendukung
kelnacaran pemasaran bisnisnya. Apabila nama baik yang dimilki oleh pelaku
usaha sudah cukup kuat, maka konsumen akan lebih percaya dengan
kemampuan bisnis yang dijalankannya dan tidak ragu lagi untuk membeli atau
menggunakan produk dan jasa yang ditawarkan sebuah perusahaan.
b. Reputasi pesaing, Reputasi pesaing adalah persepsi para nasabah bank
mengenai sebarapa baik reputasi bank tersebut dibanding dengan bank-bank
lain. Sebuah perushaan harus memiliki kekuatan untuk menonjolkan nilai lebih
yang dimiliki dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Artinya ciri khas sangat
diperlukan dalam suatu perusahaan.
c. Dikenal luas, Dikenal luas menunjukkan persepsi nasabah, baik tentang sejauh
mana nama bank tersebut sudah dikenal luas oleh masayarakat sebuah
perusahaan pasti ingin produknya dikenal secara luas baik produk baru maupun
produk lamanya.
d. Kemudahan, diingat Kemudahan di ingat menunjukkan persepsi para nasabah
bank akan kemudahan nasabah untuk menginat nama baik bank tersebut jika
nama sebuah perusahaan mudah di ingat maka orang akan lebih mudah
menemukan anda di search angine atau dalam dunia nyata. Seperti halnya
perusahaan yang bernama international business machine lebih di kenal dengan
sebutan IBM

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh setiap
perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing dipasar untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Dewasa ini sebagian besar konsumen semakin
kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin mendapatkan
produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar, meskipun ada sebagian
masyarakat berpendapat bahwa, produk yang mahal adalah produk yang berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat (benefits) pada pelanggan. Dimensi dari kualitas produk ini meliputi
delapan dimensi. Yang terdiri dari :
a. Performance, kinerja ( performance) yaitu karakteristik operasi pokok dari
produk inti dan dapat didefinisikan sebagi tampilan dari sebuah produk yang
sesungguhnya.
b. Durability (daya tahan), yang berarti beberapa lama umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya
produk.
c. Conformance to specifications ( kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh
mana karakteristik operasi dasar sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu
dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
d. Features ( fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen
terhadap produk.
e. Reliability ( reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil
kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
f. Aesthetics ( estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk.
g. Perceived quality ( kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat
kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas
produk yang bersangkutan.
h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
kompetensi dan keramahtamahan kualitas pelayanan.
Menurut Baldric Siregar dalam skripsi Burhanudin Al-Ghozali kualitas (quality)
dapat diartikan dari tiga faktor yaitu:
a. Memuaskan harapan konsumen yang berkaitan dengan atribut-atribut harapan
konsumen.
b. Memastikan seberapa baik produk dapat memenuhi aspek-aspek teknis dari
desain produk tersebut, kesesuaian kerja dengan standart pembuatannya.
c. Kualitas merupakan harapan konsumen sehingga upaya meningkatkan kualitas
(improving quality) merupakan kewajiban produsen

Keuntungan-Keuntungan E-commerce


Beberapa bentuk keuntungan e-commerce yang didapatkan dari penggunaannya
yaitu:

  1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin menjanjikan, yang
    tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
  2. Dapat meningkatkan Market Exposure.
  3. Menurunkan tingkat biaya operasional (Operating Cost).
  4. Melebarkan jangkauan perusahaan (Global Reach).
  5. Meningkatkan Customer Loyality.
  6. Meningkatkan Supplier Management.
  7. Memperpendek waktu produksi.
  8. Meningkatka Value Chain (Mata rantai pendapatan)

Jenis-jenis E-commerce


Dalam e-commerce terbagi menjadi tiga jenis model bisnis yang biasanya dilakukan
dalam praktek, yaitu :
a. Bussines to Bussines (B2B)
Merupakan sistem komunikasi bisnis online antar pelaku bisnis yang
mengikatkan dirinya di dalam suatu kegiatan untuk melakukan suatu usaha
dengan pihak pebisnis lainnya.
Adapun karakteristik dari bussines to bussines ini adalah :

  1. Trading partner yang sudah saling mengetahui diatara mereka terjalin
    hubungan yang cukup lama. Pertukaran informasi hanya terjadi diantara
    mereka dan karena mereka telah saling mengenal, maka pertukaran
    informasi dilakukan atas dasar kebutuhan.
  2. Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan format
    data yang telah disepakati. Sehingga servis yang dilakukan antara kedua
    sistem tersebut sama dan menggunakan standar yang sama pula.
  3. Salah satu pelaku tidak harus menunggu partner mereka lainnya untuk
    mengirim data. Model yang umum digunakan adalah model peer to peer,
    dimana processing intelligent dapat di distribusikan di kedua pelaku bisnis.
    b. Bussines to consumer (B2C)
    Berbeda dengan bussines to bussines, banyak cara digunakan untuk melakukan
    pendekatan dengan pihak konsumen, antara lain dengan mekanisme toko online
    electronic shopping mall atau bisa juga menggunakan sistem portal. Toko online
    memanfaatkan website untuk menjajakan produk dan jasa pelayanannya. Para
    penjual menyediakan semacam storefront yang berisikan catalog produk dan
    pelayanan yang diberikan. Para pembeli bisa melihat-lihat barang apa saja yang
    akan dibeli dan pembeli dapat melakukan kapan saja tanpa dibatasi jam buka
    took.
    Adapun karakteristiknya adalah :
  4. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan secara umum
  5. Servis yang digunakan juga bersifat umum, sehingga mekanismenya dapat
    digunakan orang banyak.
  6. Servis yang diberikan adalah berdasarkan permintaan, konsumen
    berinisiatif sedangkan produsen harus siap memberikan respon atau
    tanggapan terhadap konsumen tersebut.
  7. Sering dilakukan sistem pendekatan client-server, dimana konsumen
    dipihak client menggunakan sistem yang minimal dan penyedia barang atau
    jasa berada pada pihak server.
  8. Pihak-pihak dalam ecommerce contract ini adalah e-mercant yang
    menawarkan suatu produk atau jasa kepada pihak e-costumer yang
    menggunakan atau membeli barang atau jasa yang ditawarkan. E-commerce
    merupakan tempat berlangsungnya komunikasi dan sekaligus sebagai
    tempat berlangsungnya penyerahan media tersebut.

E-Commerce


E-commerce adalah salah satu strategi penting dalam bisnis saat ini,
dikarenkana e-commerce dapat meningkatkan tingkat efiensi dalam suatu
perusahaan. Meningkatkan jumlah pelanggan untuk belanja online, e-commerce
telah terbukti menjadi lebih rumit dibandingkan dengan cara-cara tradisonal
melakukan bisnis (Santouris, 2012)

Kepercayaan Konsumen


Pengertian Kepercayaan Menurut Pavlou dan Geffen dalam Baskara dan
Hariyadi (2014), faktor yang sangat penting yang bisa mempengaruhi minat
pembelian yang kemudian dapat memicu keputusan pembelian online oleh
konsumen adalah faktor kepercayaan. Faktor kepercayaan menjadi faktor kunci
dalam setiap transaksi jual beli secara online. Hanya pelanggan yang memiliki
kepercayaan yang akan melalui transaksi melalui internet. Menurut Kramer dalam
Ling et al (2010), kepercayaan adalah pernyataan kompleks karena individu tidak
tahu motif dan minat lain. Kimery dan McCard dalam Suryani (2013)
mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan konsumen untuk menerima
kerentanan dalam melakukan transaksi online berdasarkan harapannya yang positif
mengenai perilakunya berbelanja online pada masa mendatang.
Dimensi Kepercayaan Menurut Ling et al (2010) dimensi kepercayaan meliputi
keamanan, privasi dan keandalan. Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

  1. Keamanan didefinisikan sebagai sejauh mana pelanggan percaya bahwa jual
    beli online aman bagi mereka untuk mengirimkan informasi sensitif terhadap
    transaksi bisnis. Keamanan berperan penting dalam mempengaruhi sikap dan
    minat beli karena dianggap memiliki resiko transmisi informasi seperti nomor
    kartu kredit dan lain-lain.
  2. Privasi didefinisikan sebagai menjaga segala perilaku konsumen selama
    transaksi yang kemudian berkaitan dengan kinerja toko online.
  3. Keandalan perusahaan dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen. Dalam
    lingkungan web-shopping sebagian besar konsumen menganggap bahwa
    perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik untuk meningkatkan
    kepercayaan online mereka. Hal ini juga mengusulkan bahwa sebuah
    perusahaan dengan reputasi positif yang meningkatkan kepercayaan konsumen

Keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah proses pengambilan keputusan dari beberapa
alternatif yang diberikan untuk menganalisa kebutuhan, keinginan, pencarian
informasi, penilaian sumbersumber seleksi terhadap alternatif pembelian keputusan
pembeli (Hutagaol, 2019). Keputusan pembeli menurut (Zulaicha & Irawati, 2016)
adalah suatu pilihan dari dua pilihan alternatif atau lebih sehingga seorang konsumen
dapat memilih pilihan alternatif mana yang ingin dipilih. Berdasarkan (Chairul
Akbar & Sunarti, 2018) keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk
memenuhi kebutuhannya yang dinilai berdasarkan kepuasan konsumen itu sendiri.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian
merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang terdiri dua pilihan alternatif
atau lebih untuk menganalisa suatu kebutuhan dan keinginan terlebih dahulu,
pencarian informasi, penilaian untuk memenuhi kebutuhan yang dinilai berdasarkan
kepuasan konsumen.
Pada umumnya, keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek
yang paling disukai, tetapi 2 faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Faktor pertama adalah orang lain. Jika seseorang yang mempunyai arti penting bagi
konsumen, maka ia dapat mempengaruhi konsumen tersebut. Faktor kedua adalah
faktor situasional yang tidak diharapkan. Konsumen mungkin membentuk niat
pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti pendapat, harga, dan manfaat produk
yang diharapkan. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
ditawarkan.
Kotler & Keller (2012) mengemukakan bahwa konsumen melewati lima
tahap dalam proses pembelian sebuah produk, yaitu:

  1. Pengenalan Masalah
  2. Pencarian Informasi
  3. Evaluasi Alternatif
  4. Keputusan Membeli
  5. Pasca Pembelian Dalam pengambilan keputusan membeli, konsumen seringkali
    dipengaruhi oleh dua pihak atau lebih yang terlibat dalam proses pertukaran dan
    pembeliannya.
    Umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan seseorang.
    Dimana kelima peranan ini dipegang oleh satu orang, namun seringkali pula peran
    tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Kelima peran tersebut meliputi (Kotler dan
    Armstrong, 2012)
  6. Pemrakarsa (Initiator) yaitu orang yang pertama kali menyadari adanya
    keinginan atau kebutuhan yang belum terpenuhi dan mengusulkan ide untuk
    membeli suatu barang atau jasa tertentu.
  7. Pemberi pengaruh (Influenser) yaitu orang yang pandangan, nasehat atau
    pendapatnya mempengaruhi keputusan pembelian.
  8. Pengambil keputusan (Desider) yaitu orang yang menentukan keputusan
    pembelian, misalnya apakah jadi membeli, apa yang dibeli, bagaimana cara
    membeli, atau mana membelinya.
  9. Pembeli (Buyer) yaitu orang yang melakukan pembelian aktual.
  10. Pemakai (User) yaitu orang yang mengkonsumsi atau menggunakan barang atau
    jasa yang dibeli.

Tingkatan Produk


Menurut Kotler & Keller (2016), produk memiliki 5 tingkatan,
diantaranya:
1) Core Benefit Manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan
kepada konsumen.
2) Basic Product Bentuk dasar dari suatu produk yang dapat dirasakan
oleh panca indera.
3) Expected Product Serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-
kondisi yang.
4) Augmented Product Sesuatu yang membedakan antara produk yang
ditawarkan oleh badan usaha dengan produk yang ditawarkan oleh
pesaing.
5) Potential Product Semua argumentasi dan perubahan bentuk yang
dialami oleh suatu produk dimasa datang

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut Kotler &
Amstrong (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara
pelanggan dan produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan
jasa dari perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut
memberi nilai tambah. Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu:
1) Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau
emosi positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika
konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat
membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut
memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional
berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan
dialami konsumen pada saat membeli produk.
2) Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk
meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan
nilai yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap
baik dan apa yang dianggap buruk oleh konsumen.
3) Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya
jangka pendek dan biaya jangka panjang.
4) Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang
memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini
berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau
layanan kepada konsumen

Indikator Keputusan Pembelian


Dalam perubahan-perubahan yang terjadi seiring dengan pesatnya
teknologi dan persaingan dagang yang ketat, perusahaan perlu
melakukan pengukuran untuk mengevaluasi setiap keadaan yang
berubah dan kemungkinan yang akan terjadi dari waktu ke waktu yang
dilakukan oleh konsumen. Menurut Kotler & Amstrong (2018),
Indikator keputusan konsumen dalam menentukan pembelian suatu
produk atau jasa adalah sebagai berikut :
1) Pemilihan produk Dalam pemilihan produk, produsen harus bisa
memusatkan perhatian konsumen terhadap produknya agar berminat
mengeluarkan uangnya untuk membeli produk dengan berbagai
pertimbangan alternatif yang ada.
2) Pemilihan merek Produsen harus mengetahui bagaimana konsumen
memilih produk, oleh karena itu setiap merek harus mempunyai
suatu ciri atau perbedaan dengan merek yang lainya, untuk
memudahkan konsumen dalam mengambil keputusan pembeliannya.
3) Pemilihan tempat penyalur Setiap konsumen mempertimbangkan
tempat penyaluran yang akan di pilih, biasanya disesuaikan dengan
lokasi terdekat, harga yang murah, barang yang disediakannya
lengkap.
4) Waktu pembelian Dalam memilih waktu pembelian, setiap
konsumen memiliki pemilihan waktu yang berbeda-beda disesuaikan
dengan kesibukan aktivitasnya, seperti setiap hari, setiap minggu,
setiap dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali.
5) Jumlah pembelian Perusahaan perlu mempersiapakan banyaknya
produk yang akan dijualnya, hal ini untuk mengantisiapsi
kemungkinan konsumen akan membeli lebih dari satu produk.
6) Metode pembayaran Produsen harus mempersiapkan berbagai
alternatif metode pembayaran yang bisa dilakukan oleh konsumen,
karena hal ini juga merupakan penentu keputusan pembeli bagi
konsumen dalam membeli sebuah produk atau jasa. Biasanya metode
pembayaran ini dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan pada
saat transaksi pembelian

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah pemilihan suatu barang atau jasa yang
dilakukan oleh konsumen untuk menentukan suatu pilihan. Menurut
Schiffman (2018), keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau
lebih alternative pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang
dapat mebuat keputusan harus tersedia beberapa alternative pilihan.
Keputusan untuk membeli dapat mengarah pada bagaimana proses dalam
pengambilan keputusan itu dilakukan.
Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau
merek tertentu dan mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa
baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya,
yang kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan
pembelian (Sumarwan & Tjiptonon, 2019).
Berikutnya menurut Kotler & Amstrong (2018), menambahkan bahwa,
proses keputusan pembelian adalah proses lima tahap yang dilewati
konsumen, dimulai dari pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi
alternative yang dapat memecahkan masalahnya, keputusan pembelian,
dan perilaku pasca pembelian, yang dimulai jauh sebelum pembelian yang
sesungguhnya dilakukan oleh konsumen dan memiliki dampak yang lama
setelah itu.

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran adalah suatu sistem yang dirancang untuk
melakukan kegiatan mempromosikan kepada pelanggan. Menurut
Kotler & Keller (2016), manajemen pemasaran adalah seni dan ilmu
dalam memilih pasar sasaran dan meraih, menjaga, dan
mengembangkan pelanggan melalui menciptakan, mengantarkan, dan
mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.
Menurut Tjiptono (2019), manajemen pemasaran secara keseluruhan
yaitu cara perusahaan melakukan bisnis yang mempersiapkan,
menentukan, dan mendistribusikan produk, jasa, dan gagasan yang
dapat memenuhi kebutuhan pasar sasaran. Dan Menurut Assauri
(2019), manajemen pemasaran merupakan kegiatan menciptakan,
mempersiapkan, melaksanakan rencana yang dilakukan perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan.
Dapat disimpulkan dari pernyata tersebut manajemen pemasaran adalah
seni dan ilmu dalam memilih pasar sasaran dan meraih, menjaga, dan
mengembangkan pelanggan sebagai acuan perusahaan melakukan
bisnis yang mempersiapkan, menentukan, dan mendistribusikan produk,
jasa, dan gagasan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar sasaran.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran adalah suatu kegiatan seni bertujuan untuk menjual suatu
produk atau jasa. Sedang kan menurut Kotler & Keller (2016),
Pemasaran adalah kegiatan mengatur lembaga, dan proses untuk
menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan bertukar
penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan
masyarakat pada umumnya.
Pemasaran adalah proses dari penciptaan, mengomunikasikan hingga
pada bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan dan
masyarakat pada umumnya. Disisi lain menurut Priansa (2019),
menjelaskan bahwa pemasaran adalah proses sosial dan manajerial
dimana setiap individu dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar
sesuatu yang bernilai dengan pihak lain. Pemasaran harus mampu
menghasilkan seorang pelanggan guna membeli produk yang di
tersedia. Menurut Agustria & Khuzaini (2020), pemasaran adalah suatu
proses sosial yang di dalamnya individu atau kelompok mendapatkan
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan, dan secara bebas memperertukarkan produk yang bernilai
dari pihak lain

Hubungan Keragaman Produk Dengan Loyalitas Pelanggan


Pada saat ini banyak perusahaan menyadari betapa pentingnya kesetiaan
pelanggan. Banyak cara yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam rangka
mempertahankan dan meningkatkan kesetiaan pelanggannya. Salah satu caranya
adalah ragam produk yang disediakan oleh perusahaan.Oleh karena itu,
perusahaan harus membuat keputusan yang tepat mengenai keragaman produk
yang dijual, karena dengan adanya macam-macam produk dalam arti produk yang
lengkap mulai dari merk, ukuran, kualitas dan ketersediaan produk. Sesuai dengan
pendapat Swastha dan Irawan (2002:122) dalam Dwi Cahyono 2012, faktor-
faktor yang mempengaruhi loyalitas adalah harga, penggolongan dan keragaman
barang, lokasi penjual yang strategis dan mudah dicapai, desain fisik toko, service
yang ditawarkan pada pelanggan, kemampuan tenaga penjual dan pengiklanan
serta promosi di toko.

Hubungan Harga dengan Loyalitas Pelanggan


Persaingan dalam dunia usaha yang semakin meningkat pada gilirannya akan
menjadikan harga menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk
memenangkan persaingan. Menurut pendapat Fandy Tjiptono (2006:54)
menyebutkan bahwa kualitas produk dan harga memiliki hubungan yang erat
dengan kepuasan pelanggan untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan
perusahaan, dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan
untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta membutuhkan mereka.
Swastha dan Irawan (2002:122) dalam Dwi Cahyono 2012, faktor- faktor yang
mempengaruhi loyalitas adalah harga, penggolongan dan keragaman barang,
lokasi penjual yang strategis dan mudah dicapai, desain fisik toko, service yang
ditawarkan pada pelanggan, kemampuan tenaga penjual dan pengiklanan serta
promosi di toko. Akan halnya bagi konsumen harga tersebut haruslah merupakan
refleksi produk yang benar-benar bermutu pada tingkat konsumen yang terjangkau
dan diupayakan dapat memenuhi kepuasan konsumen.

Hubungan Kualitas Produk Dengan Loyalitas Pelanggan


Kualitas suatu produk adalah penelitian yang subyektif oleh konsumen. Penelitian
ini ditentukan oleh persepsi pada apa yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh
konsumen terhadap produk tersebut. Produk yang berkualitas mempunyai peranan
penting untuk membentuk kepuasan pelanggan. Semakin berkualitas produk dan
jasa yang diberikan, maka kepuasaan yang dirasakan oleh pelanggan semakin
berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh
pelanggan semakin tinggi, maka dapat menimbulkan keuntungan bagi badan
usaha tersebut.
Kualitas produk sangat berhungan dengan loyalitas pelanggan jika barang
dan jasa dibeli cocok dengan apa yang diharapkan oleh konsumen, maka akan
terdapat kepuasaan atau loyalitas dan sebaliknya.
Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu konsumen untuk
loyal, antara lain faktor harga: seseorang tentu akan memilih perusahaan atau
merek yang menurutnya menyediakan alternatif harga paling murah diantara
pilihan-pilihan yang ada. Selain itu ada juga faktor kebiasaan, seseorang yang
telah terbiasa menggunakan suatu merek atau perusahaan tertentu maka
kemungkinan untuk berpindah ke pilihan yang lain akan semakin kecil

Tipe Loyalitas


Loyalitas terbagi atas dua fakto yang mempengaruhi emosional/ perasaan
(attachment) dan pola pengulangan (repeat patonage) dalam mengkonsumsi
produk maupun jasa (Griffin, 2002) dalam Na’in 2013.
Terdapat empat (4) loyalitas : No Loyalty, Inertia Loyalty, Latent Loyalty
And Premium Loyalty. Keempat itu muncul ketika ikatan emosional yang tinggi
dan rendah beklasiikasi silang dengan pengulangan dalam pola mengkonsumsi
yang tinggi dan rendah. Manfaat Loyalitas Pelanggan menurut Griffin (dalam
Ariana, 2011:27) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh
perusahaan apabila memiliki konsumen yang loyal :

  1. Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik konsumen baru
    lebih mahal).
  2. Mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi kontrak, pemrosesan
    pesanan dan lain-lain).
  3. Mengurangi biaya turn-over konsumen (karena pergantian konsumen
    lebihsedikit)
  4. Meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar pangsa pasar
    perusahaan.
  5. Word of mouth yang lebih positif, dengan asumsi bahwa konsumen yang loyal
    juga berarti mereka yang merasa puas.
  6. Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya penggantian dan lain-lain.)

Karakteristik loyalitas konsumen


Pelanggan yang loyal merupakan aset tak ternilai bagi perusahaan, karena
karakteristik dari pelanggan yang loyal menurut Griffin (2002) dalam Na’in 2013
antara lain ;

  1. Merekomendasikan kepada orang lain atau teman
  2. Melakukan pembelian secara berulang
  3. Menunjukkan kekebalan (tak terpengaruh) oleh daya tarik produk pesaing.

Pengertian Loyalitas Pelanggan


Definisi loyalitas menurut Griffin 2002 (dalam Na’in 2013) adalah ”customer
loyalty is behaviour based and is defined as non random purchase expessed oe
time by some decision making unit”. Sedangkan menurut Oliver (dalam Hurriyati,
2005: 129), loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan bertahun-tahun
secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang
produk atau jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun
pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk
menyebabkan perubahan perilaku.
Kemudian menurut Wihdya Utami (2016 : 58) loyalitas konsumen berarti
kesetiaan konsumen untuk berbelanja di lokasi ritel tertentu. Berdasakan beberapa
dasar untuk mempertahankan keunggulan bersaing juga membantu menarik
perhatian dan mempertahankan para konsumen yang loyal

Keragaman Produk


Keragaman produk adalah penciptaan produk-produk yang sedikit berbeda dari
standart untuk memenuhi atau melengkapi kebutuhan dan keinginan konsumen.
Karena adanya perbedaan – perbedaan tersebut, perlu adanya keragaman produk
agar selera, keinginan atau harapan konsumen dapat terpenuhi oleh produk.
Adapun diferensiasi produk meliputi :

  1. Bentuk produk
  2. Variasi rasa
  3. Daya tahan (expired)
  4. Keistimewaan keragaman produk
    Menurut Kotler dan Keller (2007 ; 15) dalam Dwi Saputro 2014,
    Keragaman Produk (product assortment) adalah kumpulan seluruh produk dan
    barang yang ditawakan penjual tertentu kepada pembeli. Menurut Utami
    (2006:166) Keragaman produk merupakan banyaknya item pilihan dalam masing-
    masing kategori produk

Harga


Harga merupakan salah satu atribut penting yang dievaluasi oleh konsumen
sehingga manajer perusahaan perlu benar-benar memahami peran tersebut dalam
mempengaruhi sikap konsumen. Harga sebagai atribut dapat diartikan bahwa
harga merupakan konsep keanekaragaman yang memiliki arti berbeda bagi tiap
konsumen, tergantung karakteristik konsumen, situasi dan produk
(Munir:2005:46). Dengan kata lain, pada tingkat harga tertentu yang telah
dikeluarkan, konsumen dapat merasakan manfaat dari produk yang telah
dibelinya.
Menurut Swastha (2010;147) harga adalah jumlah uang (ditambah
beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Menurut Kotler dan Armstrong
(2008;63) harga adalah jumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa.
Lebih luas lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk
atau jasa. Menurut Stanton (2007;306), beberapa faktor yang biasanya
mempengaruhi keputusan penetapan harga, antara lain:

  1. Permintaan produk
    Memperkirakan permintaan total terhadap produk adalah langkah yang
    penting dalam penetapan harga sebuah produk. Ada dua langkah yang dapat
    dilakukan dalam memperkirakan permintaan produk, yaitu menentukan
    apakah ada harga tertentu yang diharapkan oleh pasar dan memperkirakan
    volume penjualan atas dasar harga yang berbeda – beda.
  2. Penggunaan strategi penetapan harga atau penetrasi ratai saringan
    Untuk produk baru, biasanya menggunakan strategi penetapan harga
    saringan. Strategi ini berupa penetapan harga yang tinggi dalam lingkup
    harga-harga yang diharapkan atau harga yang menjadi harapan konsumen.
    Sedangkan strategi berikutnya yaitu strategi penetapan harga penetrasi.
    Strategi ini menetapkan harga awal yang rendah untuk suatu produk dengan
    tujuan memperoleh konsumen dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang
    cepat.
  3. Produk, saluran distribusi, dan promosi serta kemudahan.
    Untuk beberapa jenis produk, konsumen lebih memilih membeli produk
    dengan harga yang lebih murah dengan kualitas dan kriteria yang mereka
    perlukan. Sebuah perusahaan yang menjual produknya langsung kepada
    konsumen dan melalui distribusi melakukan penetapan harga yang berbeda.
    Sedangkan untuk promosi, harga produk akan lebih murah apabila biaya
    promosi produk tidak hanya dibebankan kepada perusahaan, tetapi juga
    kepada pengecer. Biaya memproduksi atau membeli produk Seorang
    pengusaha perlu mempertimbangkan biaya-biaya dalam produksi dan
    perubahan yang terjadi dalam kuantitas produksi apabila ingin dapat
    menetapkan harga secara efektif

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan faktor utama dalam perusahaan. Kualitas produk
merupakan kebijakan penting dalam meningkatkan daya saing produk yang harus
memberikan kepuasan kepada konsumen yang melebihi atau paling tidak sama
dengan kualitas produk dari pesaing. Menurut Crosby 1997(dalam Na’in 2013)
“kualitas produk adalah produk yang sesuai dengan yang diisyaratkan atau
distandartkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standart
kualitas yang telah ditentukan”.
Kotler dan Keller (2009:143) menyatakan bahwa kualitas produk atau
jasa adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa atau jasa yang
bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan
atau tersirat Berdasarkan definisi tentang kualitas, kita boleh menyatakan bahwa
pada dasarnya kualitas mengacu kepada pengertian pokok:

  1. Kualitas produk atau jasa terdiri dari sejumlah keistimewaan produk atau jasa,
    baik keistimewaan langsung maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi
    keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas
    penggunaan produk atau jasa itu.
  2. Kualitas produk atau jasa terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari
    kekurangan atau kerusakan

Indikator – Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:137) menjelaska bahwa terdapat lima
indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan, yaitu :

  1. Reliability, yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan janji yang telah
    ditawarkan
  2. Responsiveness, yaitu respond atau tanggapan karyawan serta staff dalam
    membantu konsumen dan membeikan playanan yang cepat dan baik.
  3. Assurance, kemampuan karyawan terhadaap pengetahuan porduk secara
    terapat, keramaahan, kesopanan, dan memberikan perhatian dalam pelayanan.
  4. Empathy, memberikan kemudahan konsumen untuk menghubungi perusahaan,
    kemampuan karyawan memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumennya.
  5. Tangible, meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan,
    tersedia tempat parkir yang aman, kebersihan, kerapian, kenyamanan dan juga
    penampilan karyawan

Dimensi – Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:137), menyebutkan lima dimensi dalam
menentukan kualitas jasa atau pelayanan, yaitu :

  1. Reliability : yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan janji yang telah
    ditawarkan
  2. Responsiveness : yaitu respond atau tanggapan karyawan serta staff dalam
    membantu konsumen dan membeikan playanan yang cepat dan baik.
  3. Assurance : kemampuan karyawan terhadaap pengetahuan porduk secara
    terapat, keramaahan, kesopanan, dan memberikan perhatian dalam pelayanan.
    Dan dengan sikap baik memberikan informasi, memberikan keamanan atas
    jasa yang ditawarkan serta mampu menumbuhkan rasa kepercayaan konsumen
    terhadap peruahaan.
  4. Empathy : memberikan kemudahan konsumen untuk menghubungi
    perusahaan, kemampuan karyawan memenuhi keinginan dan kebutuhan
    konsumennya.
  5. Tangible : meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan,
    tersedia tempat parkir yang aman, kebersihan, kerapian, kenyamanan dan juga
    penampilan karyawan.

Faktor Faktor Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2012:178) adapun faktor faktor penghambat kualitas pelayanan
yang ampu mengurangi kualitas layanan pada perusahaan yaitu:

  1. Intensitas tenaga kerja yang tinggi
    Hubungan karyawan secara intensif dalam melakukan penyampaian layanan
    mampu menimbulkan dampak negatif pada kualitas yaitu tingginya
    variabilitas layanan yang dihasilkan, seperti halnya : pelatihan yang kurang
    memadahi, pelatihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak
    memperhatikan motivasi kerja karyawan, tingkat turnover karyawan yang
    tinggi.
  2. Gap komunikasi
    Komunikasi adalah hal yang penting bagi produsen dan konsumen, jika terjadi
    gap komunikasi faktor ini menjadi nilai negatif dari konsumen pada kualitas
    pelayanan perusahaan. Gap komunikasi yang dimaksut sebagai berikut:
    a. Komunikasi yang disapaikan oleh pemyedia layanan tidak dipahami oleh
    konsumen
    b. Pihak penyedia layanan memberi janji yang berlebihan dan pada akhirnya
    tidak bisa memenuhi
    c. Pihak penyedia layanan tidak memberi informasi terbaru kepada
    konsumen
    d. Pihak penyedia layanan tidak menindak lanjuti komplain dai konsumen
  3. Memperlakukan konsumen dengan cara yang sama
    Konsumen memiliki kepribadian yang berbeda jadi penyedia layanan harus
    mampu memahami kemauan dan keinginan konsumen. Konsumen tidak dapat
    dipelakukan dengan cara yang sama dengan konsumen lain.
  4. Dukungan dari pihak iternal kurang maksimal
    Karyawan yang bertugas sebagai pelayanan konsumen merupkan ujung
    tombak perusahaan. Mewakili citra perusahaan dalam memberikan kesan
    pertama untuk konsumen. karyawan mampu memberikan pelayanan yang
    terbaik kepada konsumen, serta diberi dukungan yag baik dari pihak internal
    yang berupa : pelatihan, peralatan saat beroprasi dan juga dukungan informasi
    (prosedur oprasi)
  5. Konsumsi dan produksi terjadi secara bersama sama
    Karakter jasa adalah tidak bisa dipisah, jasa diproduksi dan dikonsumsi
    secara bersamaan. Sering terjadi hal hal negatif di mata konsumen yaitu:
    a. Perkataan yang kurang sopan
    b. Penampilan karyawan kurang sopan
    c. Wajah karyawan tidak nyaman dipandang
    d. Tidak ramah saat melayani konsumen
    e. Karyawan bau badan sehingga konsumen tidak nyaman
  6. Visi jangka pendek
    Visi jangka pendek ini bisa di ambil contoh penghematan biaya yang
    semaksimal mungkin. Hal ini bisa membuat kualitas pelayanan tidak baik.
  7. Pengebangan layanan secara berlebihan
    Hal ini bisa menjadi dampak baik atau menjadi dampak buruk suatu
    prusahaan. Dampak baiknya bisa menyempurnakan layanan, tetapi jika
    layanan baru terlalu belebihan maka hasil yang didapatkan belum tentu
    optimal.

Karakteristik Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2012:28) terdapat 4 karakteristik jasa yang membedahkan
dengan barang yaitu:

  1. Tidak berwujut (intangibility)
    Jasa memiliki sifat tersebut yang tidak dapat dirasa, dilihat, diraba, didengar
    jika belum membeli jasa tersebut. Seseorang tidak dapat menilai sebelum
    membeli jasa tersebut.
  2. Tidak terpisahkan (inseparability)
    Secara umum jasa dijual terlebih dahulu kemudian diproduksi dan dikonsumsi
    secara bersama, penyedia jasa juga merupakan bagian dari jasa tersebut. baik
    dari pelanggan ataupun penyedia jasa yang akan mempengaruhi hasil dari jasa
    tersebut.
  3. Bervariasi (variability)
    Jasa bersifat variabel karena merupakan nonstandardized output yang bisa
    disebut banyak variasi yang meliputi bentuk, kualitas dan jenis. Tergantug
    untuk siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan.
  4. Mudah lenyap (perishability)
    Jasa merupakan hal yang tidak bisa tahan lama dan tidak dapat disimpan jika
    permintaan jasa bersifat konstan, sehingga bila tidak digunakan maka akan
    hilang begitu saja.

Indikator – Indikator Keragaman Produk


Menurut Utami (2014:364), menjelaska terdapat tiga indikator yang digunakan
untuk mengukur keragaman produk, yaitu :

  1. Merk produk, menyangkut berapa banyak merk produk yang dijual, dengan
    banyaknya merk produk yang dijual konsumen bisa merasa puas dengan
    pilihan sesuai dengan kebutuhan
  2. Variasi produk, menyangkut berapa banyak variasi produk yang dijual,
    dengan banyaknya variasi produk, seperti variasi rasa, harga, kemasan
    membuat konsumen menjadi tertarik untuk membeli
  3. Kategori produk, menyankut berapa banyak kategori produk yang dijual,
    dengan banyaknya kategori produk yang dijual mempermudah konsumen
    untuk berbelanja tanpa bepindah pindah toko

Tingkatan Produk


Menurut Kotler dan Keller (2012:326) terdapat lima tingkatan produk diataranya:
produk utama, produk dasar, produk yang diharapkan, produk yang diinginkan,
produk potensial. Pemasar perlu memahami hal tersebut yaitu:

  1. Produk utama
    Yaitu manfaat mendasar yang sesunguhya dibeli oleh konsumen atau
    pelanggan, produk utama terdiri berbagai manfaat pemecaahan masalah yang
    konsumen cari ketika membeli produk tersebut. Sebab itu, dalam mendesain
    produk harus menjelaskan manfaat utama yang diberikan produk tersebut
    kepada konsumen atau pelanggan.
  2. Produk dasar
    Merupakan Produk yang harus mempunyai fungsi dasar. Produk dasar harus
    memiliki sifat tingkat kualitas, fitur, desain, merek, dan kemasan yang
    dikombinasikan dengan atribut.
  3. Produk yang diharapan
    Merupakan produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan
    kondisi normal (layak) diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
  4. Produk yang ditingkatkan
    Pada produk tingkatan ini, berbagai produk dilengkapi atau ditambah berbagai
    manfaat dan layanan, sehingga dapat menambah kepuasan dan bisa dibedakan
    dengan produk pesaing. pada tingkatan ini juga menawarkan dengan adanya
    solusi.
  5. Produk potensial
    Pada produk potensial ini, segala macam tambahan dan perubahan yang akan
    dikembangkan untuk masa yang akan datang, perusahaan mencari cara baru
    untuk memuaskan pelanggan dan membedahkan penawarannya

Definisi Keragaman Produk


Menurut Utami (2013:258) keragaman produk adalah banyaknya item pilihan dari
berbagai kategori produk yang dijual, toko dengan berbagai macam produk yang
dijual. Sedangkan menurut Bob Sabran (2016:358), mengatakan bahwa
keragaman produk yaitu kumpulan produk yang ditawarkan perusahaan kepada
penjual tertentu dan nantinya dijual kepada konsumen akhir. Karakteristik utama
produk perusahaan adalah:

  1. Lebar, mengacu pada berapa banyak perbedaan produk yang dijual
    perusahaan.
  2. Panjang, mengacu pada jumlah produk dalam bauran tersebut.
  3. Kedalaman, mengacu pada banyaknya varian yang ditawarkan masing masing
    produk pada lini tersebut.
  4. Konsistensi bauran produk, mengacu pada seberapa dekat hubungan dari
    berbagai lini produk pada penggunanya.
    Menuut Bob Sabran (2015:359), mengatakan bahwa dari keempat dimensi
    keragaman produk di atas, perusahaan dapat memperluas bisnisnya dengan cara
    sebagai berikut:
  5. Perusahaan dapat menambah lini produk baru, sehingga memperlebar
    keragaman produk
  6. Peusahaan dapat memperpanjang lini produk
  7. Perusahaan dapat menambah varian produk pada tiap produk
  8. Peusahaan harus menjaga konsistensi lini produk yang kua

Indikator – Indikator Harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012:52), menjelaska bahwa terdapat empat
indikator yang digunakan untuk mengukur persepsi harga, yaitu :

  1. Keterjangkauan harga, harga yang ditawarkan sesuai dengan kemampuan
    konsumen
  2. Kesesuaian harga, berhubungan dengan harga dan kualitas dan yang
    didapatkan.
  3. Daya saing harga, harga yan ditawarkan oleh produsen yaitu harga yang
    bersaing dengan produsen lain dengan jenis produk yang sama.
  4. Harga sesuai dengan manfaat, harga yang ditawarkan produsen sesuai dengan
    manfaat yang diperoleh konsumen dari produk yang dibeli

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga


Berbeda dengan pendapat Sunyoto (2015:133) mengatakan bahwa terdapat dua
faktor yang mempengaruhi harga sebagai berikut :

  1. Memperkirakan permintaan produk
    Harga adalah yang utama menjadi perhatian dan pertimbangan konsumen,
    yang dinilai oleh konsumen atau pelanggan. Fakta ini para produsen harus
    dapat memperhatikan reaksi para konsumen atau pelanggan, jika suatu produk
    harganya akan dinaikkan atau diturukan, jadi manajemen eksekutif harus
    dapat memperkirakan volume penjualan dengan harga yang berbeda, dengan
    hal ini dapat memperkirakan jumlah permintaan.
  2. Reaksi pesaing
    Pesaing adalah salah satu faktor penetapan harga, yang paling utama ancaman
    pesaing yang potensial. Persaingan ini merujuk kepada produk yang serupa,
    produk yang tidak serupa dan produk penggant

Tujuan Penetapan Harga


Tujuan penetapan harga ini sangat penting bagi seorang produsen dan konsumen.
Melalui penetapan harga terlihat kekayakan produk dari nilai ekonomisnya.
Tujuan penetapan harga yang dikutip oleh (Kompas.com:2020) yaitu sebagai
berikut:

  1. Kestabilan harga
    Dilakukan untuk perusahaan yang memegang kendali atas harga, usaha
    pengendalian harga ini diarahkan untuk mencegah saat terjadinya perang
    harga, terutama bila menghadapi permintaan yang sedang menurun.
  2. Mencapai penghasilan atas investasi
    Sebagaian besar keuntungan dari investasi itu telah ditetapkan presntasenya,
    dan diperlukan penetapan harga dari barang yang telah dihasilkan.
  3. Penetapan harga untuk meningkatkan laba
    Hal ini menjadi acuan bagi setiap bisnis bisa bertahan, karena semua bisnis
    memerlukan keuntungan yang besar.
    Menurut Fajar (2016:114) mengatakan bahwa perusahaan menetapkan
    harga memiliki tiga tujuan yaitu :
  4. Berorientsi pada laba :
    a. Untuk mecapai target laba penjualan bersih.
    b. Untuk memaksimalkan laba
  5. Berorientasi pada penjualan :
    a. Untuk meninkatkan penjualan
    b. Untuk mempertahankan pasar dan penjualan
  6. Berorientasi pada status quo :
    a. Untuk menstabilkan laba
    b. Untuk menangkal persaingan

Definisi Harga


Menurut Daryanto (2013:62) harga adalah jumlah uang yang ditagih kepada
konsumen untuk membeli produk atau jasa yang nantinya konsumen akan
medapatkan manfaat dari produk atau jasa tersebut. Harga ini sangat penting
untuk konsumen, karena harga juga menjadi pertimbangan utama para konsumen
sebelum memutuskan unuk membeli, harapan konsumen mendapatkan manfaat
yang sesuai dengan harga yang diawarkan penjual.
Menurut Utami (2014:236) Terdapat dua strategi harga yang digunakan
dalam bisnis ritel modern yaitu penetapan harga tinggi dan harga rendah (high atau low pricing-HLP) dan penetapan harga rendah (everyday low pricing-EDLP).
Beberapa ahli juga berpendapat bahwa HLP strategi adalah strategi menjual
sebagaian barang mereka dengan harga normal pasaran dan menjaga dalam
batasan yang masuk akal, tetapi secara konstan memberikan promosi khusus pada
barang barang tertentu. Utami (2014:237) Penetapan harga tinggi atau rendah
sering dijumpai di toko ritel. Biasanya bisa disebut dengan harga diskon atau
promosi dengan jangka waktu yang tertentu dengan menerapkan strategi ini
konsumen lebih tertarik dan lebih sering datang ke toko ritel tersebut.
Setelah strategi penetapan harga, yang perlu ditetapkan oleh ritel adalah
harga untuk setiap unit dengan mempertimbangkan: harga permintaan dan
persaingan. Terdapat tiga pendekatan dalam penetapan harga dalam ritel. Utami
(2014:240), yaitu:

  1. Metode penetapan harga jual impas
    Metode penetapan harga jual impas merupakan metode penetapan harga yang
    berorientasi biaya (harga ditentukan dengan penambahan suatu peresentase
    tetap kepada biaya atau harga barang dagang).
  2. Metode penetapan harga yang berorientasi pada permintaan
    Metode penetapan harga yang berorientasi permintaan atau harga didasarkan
    pada perkiraan kemauan pelanggan untuk membayar. Metode ini dipakai
    bersama dengan metode berorientasi biaya. Fokusnya pada struktur laba dan
    efek dari perubahan harga terdapat penjualan.
  3. Metode penetapan harga yang berorientasi pada persaingan
    Strategi ini biasanya dilakukan oleh perusahaan ritel yang baru memulai usaha
    dan hendak masuk dalam suatu segmen tertentu

Indikator – Indikator Keputusan Pembelian


Kotler dan Keller (2012:227), menjelaska bahwa terdapat lima indikator yang
digunakan untuk melakukan pembelian, yaitu :

  1. Pengenalan kebutuan, proses dimana konsumen mengenali sebuah masalah
    atau kebtuhan, pemasar perlu mencari informasi tentang masalah atau
    kebutuhan dari sejumlah konsumen
  2. Pencarian informasi, kosumen akan mencari informasi yang timbul dari
    pemikirannya atau dari lingkungan sekitar.
  3. Evaluasi alternatif , setelah pencarian informasi, konsumen akan melakukan
    pilihan alternatif yang nantinya akan dipilih untuk keputusan pembelian.
  4. Keputusan pembelian, melakukan pembelian yang sudah diperoleh dari
    evaluasi alternatif terhadap merk yang sudah dipilih.
  5. Perilaku pasca pembelian, dimana keadaan konsumen yang sudah melakukan
    pembelian akan mengalami tingkat kepuasan atau tidak puas

Faktor – Faktor yang Menpengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler (2012:137) mengatakan bahwa terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yaitu :

  1. Faktor pribadi
    Faktor pribadi yang menyangkut keputusan pembelian melalui pribadi
    seseorang meliputi :
    a. Usia dan tahap siklus hidup
    Selerah konsumen saat membeli dipengaruhi oleh usia dan siklus hidup
    konsumen tersebut, keputusan pembelian juga dibentuk oleh tahap siklus
    hidup keluarga. Tahap yang dilalui keluarga ketika mereka manjadi
    matang. Itu sebabnya pemasar membentuk produk sesuai usia konsumen
    dan siklus hidup konsumen.
    b. Pekerjaan
    Pekerjaan seseorang menjadikan barang dan jasa yang mereka beli juga
    berbeda. Pekerja buruh membeli pakaian yang tahan lama dan jgua kuat
    sedangkan sorang pembisnis membeli pakaian yang khusus bisnis dan juga
    mewah. Hal ini bisa disebut menyangkut gaji yang mereka dapatkan untuk
    membeli suatu prduk atau jasa.
    c. Gaya hidup
    Gaya hidup yaitu kebiasaan seseorang yang di ekspresikan dalam
    psikografisnya. Keputusan pembelian sangat berkaitan yang tergambarkan
    dalam minat, keinginan, dan pendapatannya.
    d. Kepribadian
    Karakteristik konsumen untuk memutuskan pembelian suatu produk
    berdasarkan kinginan dan kebutuhan berdasarkan kepribadian seseorang.
  2. Faktor psikologis
    Faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan pembelian sebagai berikut:
    a. Motivasi
    Motivasi dari seseorang mendorong untuk mencari kepuasan atas
    kebutuhan tersebut dan rasa ingin akan suatu barang mndorong atau
    meningkatkan keputusan pembelian konsumen.
    b. Persepsi
    Persepsi ini adalah pendapat konsumen atas barang atau jasa yang akan
    dibeli. Persepsi setiap orang akan berbeda. Ini yang meyebabkan
    keputusan pembelian berdasarkan perspsi sangat diperhatikan oleh
    pemasar. Strategi yang dilakukan oleh pemasar untuk membentuk suatu
    pespsi ini bisa berupa harga, merk, kualitas.
    c. Keyakinan dan sikap
    Keyakinan yaitu sikap yang dimiliki seseorang tentang sesuatu yang sudah
    dipercayainya, sedangkan sikap yaitu sikap yang konsisten dari seseorang
    terhadap suatu objek. Produk akan dinilai, dievaluasi, dianalisis oleh
    konsumen sebelum pembelian dilakukan.
  3. Faktor budaya
    Terdapat dua faktor budaya yang mempengaruhi keputusan pembelian antara
    lain :
    a. Kebudayaan
    Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku konsumen
    paling mendasar
    b. Sub-budaya
    Sub budaya memiliki kelompok kelompok sub-budaya yang lebih kecil,
    merupakan identifikasi dan sosialisasi yang khas untuk perilaku
    anggotamya.
  4. Faktor sosial
    Berikut tiga faktor sosial yang mempengaruhi keputusan pembelian antara
    lain:
    a. Kelompok referensi
    Kelompok adalah pengaruh besar bagi seseorang, kelompok ini mampu
    memberi pengaruh langsung ataupun tidak langsung
    b. Keluarga
    Keluarga adalah kelompok referensi utama yang paling berpengaruh.
    c. Peran dan status
    Kelompok klub, dan organisasi sering menjadi sumber informasi penting
    dan membantu mendefinisikan norma prilaku. Kita dapat mendefinisikan
    posisi seseorang dalam tiap kelompok dimana ia menjadi anggota
    berdasarkan peran dan status

Jenis – Jenis Keputusan Pembelian


Pengambilan keputusan konsumen itu berbeda beda tergantung pada jenis
keputusan pembeliannya. Menurut Kotler dan Amstrong (2013:157) terdapat lima
tipe keputusan pembelian yaitu:

  1. Perilaku pembelian kompleks
    Konsumen berada pada perilaku pembelian yang rumit dimana konsumen
    menyadari adanya merk yang signifikan.
  2. Perilaku pembelian pengurangan disonansi
    Konsumen mengalami keterlibatan tinggi, tetapi terdapat sedikit perbedaan,
    diantara merk-merk. Keterlibatan yang tinggi dibuktikan oleh fakta bahwa
    pembelian tersebut mahal, jarang dibeli.
  3. Perilaku pembelian bervariasi
    Situasi ini konsumen ditandai keterlibatan konsumen yang rendah, namun
    perbedaan merk yang signifikan. Dalam hal ini, konsumen sering melakukan
    berpindah pindah merk
  4. Peilaku pembelian kebiasaan
    Keterlibatan konsumen rendah dalam pembelian karena tidak ada perbedaan
    nyata diantaa merk satu dengan yang lainnya. Harga barang relatif murah

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut Setiadi (2012:331) keputusan melibatkan pilihan antara dua atau lebih
alternatif tindakan. Perkembanga teknologi yang semakin pesat membuat
konsumen lebih mudah mendapatkan pengetahuan, oleh sebab itu konsumen
mempunyai banyak pilihan dalam mengambil keputusan pembelian. Keputusan
pembelian adalah proses dimana konsumen melewati lima tahapan, yaitu
pengenalan masalah, pencarian informasi, evauasi alternatif, keputusan pembelian
dan perilaku pasca keputusan pembelian Kotler dan keller (2012:227). Menurut
Tjiptono (2012:184) menjelaskannya bahwa keputusan konsumen untuk
melakukan pembelian suatu produk meliputi enam sub keputusan sebagai berikut:

  1. Pilihan produk
    Konsumen mampu memilih produk yang mana produk tersebut sesuai dengan
    kebtuhan atau keinginanya.
  2. Pilihan merek
    Konsumen mampu mengambil keputusan merk apa yang akan dibeli. Karena
    setiap merk yang satu dan merk lainnya memiliki perbedaan tersendiri.
  3. Pilihan penyalur
    Konsumen mampu mengambil keputusan penyalur mana yang akan dipilih.
    Dalam mennetukan penyalur terdapat faktor yang mempengaruhi yaitu: karena
    harga yang sesuai dengan kebutuhan, persediaan barang yang lengkap, lokasi
    yang dekat.
  4. Waktu pembelian
    Keputusan konsuemen saat membeli juga mempunyai waktu yang berbeda
    beda, seperti: membeli produk tersebut setiap hari, membeli satu minggu
    sekali, atau sebulan sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen mampu mengambil keputusan seberapa banyak produk yang akan
    dibeli, dalam hal ini perusahaan harus mampu menyediakan banyaknya
    produk yang sesuai dengan keinginan konsumen.
  6. Metode pembayaran
    Hal ini konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran
    yang akan dilakukan. Keputusan konsumen saat membeli juga di pengaruhi
    oleh teknologi yang digunakan dalam transaksi pembelian.

Promosi dengan Keputusan Pembelian


Promosi adalah proses komunikasi suatu perusahaan dengan pihak-
pihak yang berkepentingan sekarang, dan yang akan datang serta
masyarakat (Kotler, 2005). Agar perusahaan berhasil terhadap produk
atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen, harus
mengkomunikasikan sejumlah informasi tentang perusahaan, produk,
struktur harga, dan sistem distribusi kepada sejumlah pemirsa yang
meliputi konsumen, perantara perdagangan dan media. Komunikasi
pemasaran mengacu pada promosi, dapat digunakan untuk
mendapatkan keunggulan daya saing (Boyd,2000). Fungsi utama dari
suatu strategi promosi para pemasar adalah untuk meyakinkan target
pelanggan bahwa barang dan jasa yang ditawarkan tersebut memiliki
keunggulan yang berbeda dibandingkan pesaing, sehingga hal ini dapat
menarik minat konsumen untuk melakukan pembelian.

Harga dengan Keputusan Pembelian


Harga adalah jumlah uang yang telah disepakati oleh calon pembeli
dan penjual untuk ditukar dengan barang atau jasa dalam transaksi
bisnis normal (Tandjung, 2004). Harga merupakan variabel yang dapat
dikendalikan dan menentukan diterima atau tidaknya suatu produk
oleh konsumen. Harga semata-semata tergantung pada kebijakan
perusahaan, tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai hal.
Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relatif sifatnya. Untuk
mengatakannya perlu terlebih dahulu dibandingkan dengan harga
produk serupa yang diproduksi atau dijual perusahaan lain.Perusahaan
perlu memonitor harga yang ditetapkan oleh para pesaing agarharga
yang ditentukan oleh perusahaan tidak terlalu tinggi atau sebaliknya,
sehingga harga yang ditawarkan dapat menimbulkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian. Harga dengan keputusan
pembelian mempunyai kaitan yang erat yang dapat dibuktikan oleh
beberapa penelitian terdahulu. Hasil penelitian Wahyudi (2005) dan
Tedjakusuma, dkk (2001) menyatakan bahwa harga berpengaruh
terhadap keputusan pembelian. Hal itu sesuai dengan teori Angipora
(2002) yang menyatakan bahwa harga berpengaruh terhadap keputusan
pembelian.

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Amstrong
dalam Soetanto et al., (2020:64) antara lain.
1) Pilihan produk, konsumen dapat mengambil keputusan untuk
membeli sebuah produk atau menggunakan uang nya untuk tujuan
lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya
kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta
alternatif yang mereka pertimbangkan. Misalnya kebutuhan suatu
produk, keberagaman varian produk dan kualitas produk.
2) Pilihan merek, konsumen harus mengambil keputusan tentang
merek mena yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-
perbedaan tersendiri. Perusahaan harus mengetahui bagaimana
konsumen memilih sebuah merek. Misalnya kepercayaan dan
popularitas merek.
3) Pilihan penyalur, konsumen harus mengambil keputusan tentang
penyalur mana yang akan dikunjungi. Dalam hal ini menentukan
penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang
murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lainnya. Misalnya
kemudahan mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
4) Jumlah pembelian, konsumen dapat mengambil keputusan tentang
seberapa banyak yang akan dibeli pada suatu saat. Pembelian yang
dilakukan mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbeda-beda dari para pembeli misalnya kebutuhan akan produk.
5) Waktu pembelian, konsumen dalam pemilihan waktu bisa berbeda-
beda misalnya ada yang yang melakukan setiap hari, satu minnggu
sekali, dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali dan
lainnya

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut (Sari 2013:88) keputusan pembelian secara konsumen
dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti produk (kualitas, keragaman,
keistimewaan), harga, saluran distribusi, promosi dan merek.
1) Produk secara umum didefinisikan untuk memenuhi atau
memuaskan keperluan manusia yang baik nyata ataupun tidak nyata
untuk penawaran secara fisik, keragaman produk, kemasan,
keistimewaan dan kualitas produk.
2) Harga menjadi faktor yang penting dalam memengaruhi keputusan
pembelian konsumen dengan tingkat harga terjangkau, harga
bersaing dengan produk lain, harga sesuai kualitas produk.
3) Saluran distribusi adalah kegiatan distribusi dalam penempatan atau
penyampaian produk ke tangan konsumen. Dalam melaksanakan
kegiatan tersebut adalah penyalur. Dengan lokasi penjualan yang
mudah dijangkau, produk yang selalu tersedia ditempat penjualan
dan lokasi yang ada dipusat kota menjadi faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen.
4) Promosi yang penting dilakukan dengan cara mengiklankan atau
aktitivitas lain supaya terjadinya permintaan produk oleh
konsumen. Dan dengan memberika informasi melalui media iklan
yang tepat, dan karyawan toko yang dapat memberikan infomasi
terpercaya. Serta hal hal yang menarik seperti kupon berhadiah
setiap pembelian produk baru.
5) Merek adalah identitas suatu produk yang memberi dampak
kepercayaan konsumen dan popularitas merek, sebagai pembeda, di
mana perusahaan yang memiliki brand kuat akan mudah dibedakan
dengan kompetitor menjadi pengaruh keputusan pembelian karena
terdapat dari faktor sosial yaitu pengaruh teman, pengaruh keluarga,
dan pengaruh status sosial.

Tahap-tahap Pengambilan Keputusan


Pada proses keputusan pembelian yang akan dilakukan oleh
konsumen yang dijelaskan oleh Kotler dalam Indrasari (2019:72)
terdapat tahap, antara lain:
a) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari apa
yang menjadi masalah dan kebutuhan yang diperlukan. Kebutuhan
ini dapat ditimbulkan oleh rangsangan internal maupun internal,
dengan demikian pemasar perlu menentukan keadaan yang memicu
pada permintaan tertentu.
b) Pencarian Informasi
Proses kedua dalam keputusan pembelian yaitu pencarian
informasi dimana konsumen yang terangsang untuk memenuhi
kebutuhan maka akan termotivasi untuk mencari lebih banyak
informasi. Dalam pencarian informasi terdapat sumber informasi
konsumen, diantaranya:
a. Sumber pribadi yaitu keluarga, teman, tetangga, dan kolega.
b. Sumber komersial yaitu iklan, wiraniaga, distributor, kemasan,
pajangan di toko.
c. Sumber publik yaitu media massa, organisasi penentu tingkatan
konsumen.
d. Sumber pengalaman yaitu penanganan, peninjauan, dan
pemakaian produk.
c) Evaluasi Alternatif
Pada tahap evaluasi, konsumen akan membentuk preferensi
terhadap merek dalam serangkaian pilihan. Konsumen mungkin
juga berniat untuk membeli produk favorit mereka.
d) Keputusan Pembelian
Dalam melakukan tujuan pembelian, konsumen dapat
membuat lima sub keputusan pembelian, yaitu keputusan merek,
keputusan pemasok, keputusan jumlah, keputusan waktu pembelian
dan keputusan cara pembayaran.
e) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian produk, konsumen akan
mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Kepuasan
atau ketidakpuasan pada suatu produk akan mempengaruhi perilaku
selanjutnya. Tugas pemasar tidak hanya berakhir saat pembelian
produk, tetapi berlanjut hingga periode pasca pembelian.
f) Kepuasan Pasca Pembelian
Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari seberapa dekat
kehendak pembeli atas suatu produk dengan kinerja yang dirasakan
pembeli atas produk tersebut. Jika kinerja produk lebih rendah dari
keinginan pelanggan akan kecewa, jika ternyata sesuai keinginan
pelanggan akan puas, jika melebihi keinginan pembeli akan sangat
puas.
g) Tindakan Pasca Pembelian
Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen akan mempengaruhi
perilaku selanjutnya. Jika konsumen merasa puas, maka ia akan
memperlihatkan peluang yang lebih tinggi untuk membeli produk
tersebut

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dalam Marlius dan Noveliza (2022:256)
keputusan pembelian ialah tahap dimana konsumen telah memiliki
pilihan dan akan melakukan pembelian atau pertukaran antara uang dan
janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan barang
atau jasa.
Menurut Wangean dan Mandey dalam Fitriana et al.,(2022:207)
keputusan pembelian merupakan suatu proses yang dimana konsumen
benar-benar memilih untuk membeli produk dan mengkonsumsi barang
tersebut.
Menurut Umar dan Husein dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
Keputusan pembelian merupakan proses yang berawal dari konsumen
mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk dan
mengevaluasi produk atau merek tersebut dengan pilihan antara dua atau
lebih pilihan alternatif, dimana seseorang memerlukan berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Bancin dalam Maryati (2022:545) keputusan pembelian
merupakan sebuah proses pengambilan keputusan yang dapat
dipengaruhi oleh perilaku konsumen atau pelanggan.
Dari pengertian beberapa teori di atas maka, dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian merupakan proses yang dimana konsumen
benar-benar akan memilih produk untuk dibeli dengan berproses dari
konsumen dengan mengenal masalahnya, mencari informasi tentang
produk, mengevaluasi produk dengan pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang memerlukan berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.

Indikator Promosi


Terdapat empat indikator promosi menurut Kotler dan Keller dalam
Anggraini et al., (2022:410) sebagai berikut.

  1. Frekuensi promosi adalah jumlah promosi penjualan yang
    dilakukan dalam suatu waktu oleh perusahaan melalui promosi
    penjualan.
  2. Kualitas promosi adalah sebagai tolak ukur seberapa baik promosi
    penjualan dilakukan.
  3. Waktu promosi adalah seberapa lama waktu Perusahaan untuk
    melakukan program promosi.
  4. Ketepatan atau kesesuaian sasaran promosi adalah faktor yang
    diperlukan untuk mencapai target yang diinginkan Perusahaan.
    Menurut Kotler dan Keller dalam Marlius dan Noveliza (2022:260)
    memiliki indikator sebagai berikut :
  5. Promosi penjualan adalah kegiatan Pemasaran bentuk yang
    digunakan mencakup diskon, kupon, pajangan, demonstrasi, kontes
    dan undian.
  6. Hubungan kepembeli adalah bentuk promosi dengan meyakinkan
    konsumen akan produk yang ditawarkan bisa dipercaya dan
    program-program yang dilakukan adalah pidato, seminar, publikasi,
    donasi, laporan tahunan dan lain sebagainya
  7. Pemasaran langsung bentuk promosi ini digunakan mencakup
    brosur, kios/toko, pemasaran seluler dan lainnya

Macam-macam Promosi


Dalam pelaksanaan promosi, perlu didukung akan membuat
perusahaan sukses dalam pelaksanaan promosinya. Menurut Ardhi
dalam Murdana et al., (2023:139) sebagai berikut.
1) Media cetak konvensional adalah media yang paling banyak kita
temui yang dimana-mana dan kapanpun. Media ini disebut
konvensional karena dibandingkan dengan media lain. Media ini
termasuk media yang paling tua. Media ini dapat bertahan dalam
jangka waktu yang relatif lama. Media ini terdiri dari flyer, pamflet,
dan brosur, booklet dan company profile, kartu nama, co-card, kop
surat, sticker, karty pos, kupon undian, katalog, dan daftar harga.
2) Media cetak adalah media yang sering ditemukan dalam surat kabar,
tabloid, dan majalah. media cetak digunakan karena memiliki
segmentasi pembaca yang sama dengan target audiens yang ingin
dicapai. Terlihat pada bagian tertentu saja seperti bagian awal atau
bagian akhirnya saja.
3) Media luar ruangan adalah media yang sering kali digunakan
ditempat umum dan terbuka. Media luar ruangan ini sendiri meliputi
poster, spanduk, billboard, baliho, papan nama, banner, foamboard.
4) Media online adalah media dengan perkembangan jaman, seiring
internet semain memegang peranan penting didalam kehidupan
manusia. Dengan media ini internet kita dimungkinkan melakukan
promosi tanpa tatap muka dengan cakupan audiens yang luas dan
jarak bukanlah suatu penghalang dalam media promosi ini sehingga
media internet ini berkembang pesat menjadi sebuah media dengan
berbagai macam model dari website, web banner, forum online dan
media sosial

Jenis Promosi Penjualan


Menurut Kotler dan Keller dalam Fauzan et al., (2023)
mengelompokkan jenis promosi penjualan menjadi tiga jenis utama,
yaitu.
1) Promosi konsumen (consumer promotion) yaitu upaya
mendorong konsumen untuk membeli pada unit-unit yang lebih
besar dan menarik orang beralih merek dari pesaing. Alat yang
digunakan seperti sample, kupon, penawaran uang kembali
(cashback), pengurangan harga (discount), hadiah.
2) Promosi dagang (trade promotion) yaitu upaya membujuk
pengecer agar menjual produk baru dan mempunyai persediaan
dan mendorong pembelian diluar musim. Alat yang digunakan
dalam melakukan promosi dagang seperti jaminan pembelian,
hadiah barang, iklan bersama, kontes penjualan para penyalur.
3) Promosi wiraniaga (sales force promotion) yaitu upaya suatu
dukungan terhadap produk atau model baru dan mencari calon
pelanggan yang lebih banyak. Alat yang digunakan dalam
promosi penjualan yaitu dengan cara memberikan bonus dan
bazar

Tujuan Promosi


Menurut Malau dalam Fauzan et al.,(2023:131) tujuan utama dari
promosi adalah menginfomasikan, mempengaruhi dan membujuk serta
mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran
pemasarannya. Secara terperinci tujuan promosi dapat dijabarkan
sebagai berikut.
1) Menginfomasikan suatu produk dapat berupa komunikasi
pemasaran dengan memberikan informasi, kejelasan detail
tentang keberadaan produk maupun jasa yang telah dijual dan
beredar dipadar agar dapat dikenal dan kemudian menjadi
pelanggan.
a) Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk
b) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk
c) Menyampaikan perubahan harga kepada pasar
d) Menjelaskan cara kerja suatu produk
e) Menginfomasikan jasa-jasa yang disediakan oleh perusahaan
f) Meluruskan kesan yang keliru dan membangun citra
perusahaan.
g) Mengurangi ketakutan dan kekhawatiran pembeli
2) Membujuk pelanggan sasaran adalah dalam proses pemasaran
dengan melakukan kegiatan yang bertujuan agar konsumen
membeli produk dengan melihat aspek-aspek yang berada pada
suatu produk.
a) Membentuk pilihan merek dan mengalihkan pilihan merek
b) Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk.
c) Mendorong pembeli untuk belanja saat itu juga.
d) Mendorong pembeli untuk menerima kunjungan wiraniaga.
3) Mengingatkan dapat menjadi kebiasaan yang baik bagi pelaku
usaha dalam mendekekatkan diri pada konsumen.
a) Mengingatkan pembeli atau konsumen bahwa produk yang
bersangkutan dibutuhkan dalam waktu dekat.
b) Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual
produk dan perusahaan tertentu.
c) Membuat pembeli tetap ingat walaupun tidak ada kampanye
iklan.
d) Menjaga agar ingatan pertama pembeli jatuh pada produk
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstong dalam Sukrin et al., (2023:133)
tujuan promosi adalah:
1) Mendorong pembeli pelanggan jangka pendek atau
meningkatkan hubungan pelanggan jangka panjang
2) Mendorong pengecer menjual barang baru dan menyediakan
lebih banyak persediaan.
3) Mengiklankan produk perusahan dan memberikan ruang gerak
yang lebih banyak.
4) Untuk tenaga penjualan berguna untuk mendapatkan lebih
banyak dukungan tenaga penjualan bagi produk lama atau baru
atau mendorong wiraniaga mendapatkan pelanggan baru

Pengertian Promosi


Menurut Brahim dalam Maryati (2022:544) promosi adalah
kegiatan yang merupakan alat komunikasi untuk memperkenalkan
barang kepada masyarakat dan dapat mempengaruhi masyarakat luas
untuk menggunakan produk tersebut.
Menurut Hermawan dan Yasa dalam Rahanatha et al., (2022:14)
promosi adalah aktivitas dengan memberi informasi mengenai produk
yang dapat meningkatkan penjualan serta dapat meningkatkan minat
pelanggan untuk tetap berbelanja pada suatu merek.
Menurut Alma dalam Fairliantina dan Paniroi (2021:3924)
promosi adalah memberikan informasi, menarik perhatian, dan
mempengaruhi tujuan perusahaan dalam meningkatkan penjualan. Oleh
karena itu toko akan menciptakan pengetahuan tentang sebuah produk
bagi konsumen dalam membeli promosi yang umum dilakukan oleh
sebuah toko yaitu iklan di media sosial maupun informasi sebuah produk
yang didapatkan dari mulut ke mulut.
Menurut Swastha dalam Denny et al., (2021:103) mengatakan
promosi adalah arus informasi untuk mengarahkan seseorang atau
organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam
pemasaran yang dilalui berbagai media dilakukan perusahaan.

Harga


Dalam menarik perhatian konsumen untuk menentukan harga yang tepat
terhadap produk yang akan dipasarkan merupakan faktor penting agar
konsumen dapat memutuskan untuk memilih produk yang akan dibelinya
sesuai dengan keinginan atau kebutuhannya.
a. Pengertian Harga
Menurut Romdhoni dan Cahyani dalam (Marlius et
al.,(2022:256) harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran
yang menghasilkan pendapatan dalam usaha sedangkan unsur lainnya
menghasilkan beban atau biaya.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Rukmayanti dan Fitriana
(2022:208) harga merupakan sejumlah uang yang ditukarkan konsumen
atas manfaat yang mereka dapatkan karena telah melakukan transaksi
pada suatu produk.
Menurut Swastha dalam Arianto (2022:85) harga adalah sebagai
sejumlah uang yang kemungkinan ditambah barang dan dibutuhkan
untuk memperoleh sejumlah kombinasi dari barang berserta
pelayanannya.
Menurut Alma dalam Khalik (2022:86) harga merupakan jumlah
uang yang dinilai serta dapat menggunakan uang tersebut sebagai alat
tukar untuk membeli produk maupun jasa.
Menurut Sondakh dalam Jelita et al., (2021:70) harga adalah
satuan moneter atau ukuran lainnya yang ditukarkan agar mendapatkan
hak kepemilikan atas suatu barang atau jasa

Indikator Keragaman Produk

Menurut Benson dalam Fandiyanto (2021:181) menyatakan
bahwa indikator keragaman produk adalah sebagai berikut.
a. Ukuran produk yang beragam didalam kategori toko dengan yang
luas bisa dikatakan memiliki kedalaman yang baik.
b. Jenis produk yang beragam merupakan variasi produk dalam
memberikan produk dalam jumlah yang banyak dan kesesuaian
dengan selera.
c. Bahan produk yang beragam merupakan kategori jenis bahan yang
beragam di dalam Pop up store Kean signature yang di tawarkan
kepada konsumen dengan berbagai tipe bahan produk.
d. Desain produk yang beragam merupakan usaha-usaha menentukan
sejenis produk barang ataupun jasa yang disesuaikan dengan
harapan semua konsumen kean. Serta dapat memaksimalkan faktor
penampilan, dan kinerja produk yang dihasilkan secara
memuaskan.
e. Kualitas produk yang beragam merupakan standar kualitas yang
didalamnya memiliki kategori barang yang berhubungan dengan
kemasan, label, ketahanan sebuah produk, jaminan sebuah produk
yang bisa memberikan manfaat.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019:31)
mengungkapkan bahwa terdapat indikator keragaman produk
diantaranya :
1) Lebar produk, ialah mengacu pada beberapa banyak lini produk
yang berbeda dimiliki perusahaan tersebut.
2) Panjang produk, ialah mengacu pada beberapa banyak jenis yang
ditawarkan masing masing produk dalam lini tersebut.
3) Kedalaman produk, ialah mengacu pada jumlah seluruh varian
dalam setiap jenis produk yang terdapat dalam lini produk tersebut.
4) Konsistensi produk, ialah mengacu pada seberapa erat hubungan
berbagai lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi, atau hal-hal lainnya

Klasifikasi produk


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Saragih et al. (2023:71)
berdasarkan konsumen yang menggunakan produk atau jasa dibedakan
menjadi dua kategori produk ialah Produk konsumen dan produk
industri.

  1. Produk Konsumen merupakan produk yang dibeli konsumen untuk
    di konsumsi secara pribadi dapat dibedakan berdasarkan cara
    konsumen membelinya.
    a. Produk sehari-hari adalah produk atau jasa yang dibeli oleh
    konsumen dan dikonsumsi secara teratur, daan cepat contohnya
    sabun, makanan cepat saji, koran dan lain sebagainya umumnya
    produk jenis ini memiliki harga yang lebih terjangkau dan
    mudah ditemukan.
    b. Produk belanja adalah barang yang frekuensi pembeliannya
    tidak sesering menggunakan produk sehari-hari dan dalam
    pembeliannya konsumen biasanya melakukan perbandingan
    dengan produk lain seperti kecocokannya, kualitas, harga,
    keragamannya, dan gaya. Contohnya pakaian, perabotan, dan
    lain sebagainya
    c. Produk yang tidak dicari adalah produk konsumen yang
    konsumen sendiri tidak mengetahui ataupun mengetahuinya
    tetapi biasanya tidak terpikirkan untuk membeli produk
    tersebut. Contohnya asuransi, donor darah ke PMI dan produk-
    produk ini memerlukan usaha pemasaran yang besar seperti
    iklan dengan frekuensi tinggi, penjualan pribadi, dan usaha
    Pemasaran lainnya.
  2. Produk Industri adalah produk yang dibeli dengan tujuan diproses
    lebih lanjut atau digunakan untuk menjalankan usaha bisnis.

Jenis Strategi diversifikasi Produk


Strategi diversifikasi dapat dilakukan,secara :
a) Diversifikasi Konsentris, dimana produk-produk baru
yang diperkenalkan memiliki kaitan atau hubungan dalam
hal pemasaran, teknologi dengan produk yang sudah ada.
b) Diversifikasi Konglomerat, dimana produk-produk yang
dihasilkan sama sekali baru tidak memiliki hubungan
dalam hal pemasaran maupun teknologi dengan produk
yang sudah ada dan dijual kepada pelanggan yang berbeda
Berdasarkan target pasar yang disasar, jenis strategi
diversifikasi dibagi menjadi berikut ini:
a) Diversifikasi Vertikal
Diversifikasi vertikal adalah strategi membuat produk
dengan tingkat manfaat dan guna yang berbeda-beda,
namun masih bisa melengkapi atau menggantikan
produk satu sama lain.
b) Diversifikasi Horizontal
Diversifikasi horizontal adalah salah satu strategi untuk
menciptakan berbagai macam produk yang memiliki
persamaan jenis. Perbedaannya terdapat pada merek,
ukuran, atau target pasar

Manfaat diversifikasi produk


Menurut Sulaksana dalam Bulan (2017:680) menjelaskan
tentang manfaat strategi diversifikasi produk sebagai berikut :
a) Perusahaan dapat mengerahkan kapasitas yang banyak
karena tidak tergantung pada satu macam produk
b) Dapat memaksimumkan profitnya dengan cara
mengadakan ekspansi perusahaan.
c) Penemuan-penemuan baru yang menguntungkan bagi
calon konsumen
d) Dengan mengadakan strategi diversifikasi produk
perusahaan tidak tergantung pada satu pasar saja

Tujuan diversifikasi produk


Tujuan yang mendasari strategi diversifikasi produk ini
memberikan banyak pilihan produk kepada para pelanggan
maupun calon pelanggan. Diversifikasi dilakukan demi
tercapainya pertumbuhan, menjaga stabilitas, mampu
meningkatkan kredebilitas perusahaan. Sehingga sebuah usaha
dapat selalu bertahan dan mencapai puncak keberhasilan dimasa
yang akan datang.
1) Meningkatkan Profit
Meningkatkan profit perusahaan adalah tujuan diversifikasi
paling utama. Bila suatu perusahaan memproduksi banyak
produk dalam satu waktu, perusahaan dapat meningkatkan
penjualan. Melakukan untuk menghindari risiko kerugian atas
produk yang tidak laku.
2) Perluasan Pangsa Pasar
Pangsa pasar merupakan bagian penting penentu kesuksesan
bisnis perusahaan, bila perusahaan mempunyai banyak
kompetitor. Adanya diversifikasi produk ini membuat konsumen
memiliki banyak pilihan produk untuk dibeli.
3) Mencegah Kebosanan Masyarakat Atas Suatu Sebuah Brand
Di dalam dunia manufaktur, terdapat istilah product life cycle,
maksudnya adalah peredaran produk dari pertama kali launching
hingga mengalami penurunan penjualan. Tujuan perusahaan
melakukan diversifikasi adalah agar perusahaan dapat terhindar
dari penurunan profit saat product life cycle-nya mencapai
puncak. Meskipun produk yang sudah launching mengalami
penurunan penjualan, produk hasil diversifikasi sudah dikenal
dan dibeli masyarakat luas.
4) Personalisasi Produk yang Sesuai dengan Karakteristik
Target Pasar. Setiap produk pastinya memiliki target pasar dengan
ciri yang berbeda. Cara yang dilakukan perusahaan untuk
melakukan diversifikasi yaitu dengan membuat beragam produk
yang terpersonalisasi. Hal ini agar sesuai dengan target
marketnya.
5) Membantu Mengalahkan Kompetitor
Integrasi penguasaan pangsa pasar inovasi bisnis, dan
personalisasi produk membuat suatu perusahaan akan lebih
superior dari kompetitornya

Diversifikasi Produk


Menurut Hermawan dalam Rambing (2021:4) diversifikasi produk
dilakukan oleh suatu perusahaan sebagai akibat dilaksanakannya
pengembangan produk, sementara produk lama secara ekonomis masih
dapat dipertahankan. Dalam diversifikasi produk, perusahaan berusaha
untuk menaikan penjualan dengan cara mengembangkan produk baru
untuk pasar-pasar.
Menurut Nijman dan Wolk dalam Rambing (2021:3) diversifikasi
produk adalah upaya perusahaan untuk meningkatkan penjualan melalui
keragaman produk, baik lewat pengembangan produk baru atau
mengembangkan produk yang sudah ada.
Menurut Tjiptono dalam Bulan (2017:680) diversifikasi adalah
suatu upaya mencari dan mengembangakan produk pasar yang baru atau
keduanya dalam rangka mengejar pertumbuhan peningkatan penjualan,
profitabilitas dan fleksibilitas

Pengertian Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Amstrong dalam Rahmawati (2022:40)
keragaman produk adalah kumpulan seluruh produk dan barang yang
ditawarkan pelaku usaha kepada konsumen, dengan keputusan
keragaman produk yang beragam akan memberikan kemudahan kepada
konsumen untuk memilih dan melakukan keputusan pembelian sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Menurut Utami dalam Fandiyanto (2021:178) keragaman
produk merupakan beberapa hal tentang produk yang menjadi
pertimbangan atas keputusan pembelian. Didalam keragaman produk
terdapat variasi merek, variasi kelengkapan produk, variasi ukuran
produk, dan variasi kualitas produk yang penting diperhatikan agar
keragaman produk tersebut dapat memenuhi keinginan konsumen.
Menurut Asep dalam Indrasari (2019:29) keragaman produk
adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam jumlah dan
jenis yang sangat variatif, sehingga menimbulkan banyaknya pilihan
dalam proses belanja konsumen.
Keragaman produk menurut Sihombing (2016:152) merupakan
variasi produk yang mencakup ketersediaan produk tersebut saat di toko
dan seluruh rangkaian produk dalam hal kedalaman, merek ukuran,
kualitas produk, dan ketersediaan produk.
Menurut Simamora dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
keragaman produk merupakan salah satu unsur yang perlu di harus
diperhatikan oleh para pengusaha bisnis. Keragaman produk yang baik
membuat perusahaan dapat menarik konsumen untuk berkunjung dan
melakukan pembelian, keragaman produk sebagai separangkat
keanekaragaman lini produk dan unsur yang ditawarkan oleh penjual
tertentu pada para pembeli

Jenis Bisnis Ritel


Menurut Maddinsyah (2022:7) ada beberapa jenis bisnis ritel :

  1. Toko serba ada, tujuannya dibentuk bisnis ritel adalah menyediakan
    berbagai produk untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari calon
    konsumen. Contohnya mini-market, supermarket, dan kesehatan
    store.
  2. Khusus yang menjual satu jenis produk toko, ialah usaha ritel jenis
    ini mempunyai beberapa kategori yang sempit namun leseh.
    Contohnya toko pakaian (muslim), toko mainan, obat, toko
    perhiasan, dan toko buku.
  3. Pengecer Non Toko, ialah perkembangan bisnis ritel di Indonesia
    seiring maju teknologi saat ini. Dengan memanfaatkan sarana alat
    komunikasi, seperti email, website, aplikasi, bahkan telepon, untuk
    menjual produk eceran

Pengertian Pemasaran Ritel


Menurut Fauzan et al.,(2023:7) pemasaran ritel adalah sebuah
mekanisme penjualan dan pelayanan seperti aktivitas harian gerai ritel
yang dilaksanakan secara langsung dengan berinteraksi dengan
konsumen.
Menurut Maddinsyah (2022:1) pemasaran ritel merupakan
aktivitas yang memfokuskan pedagang eceran dalam menentukan
kebutuhan target pasar yang dapat memuaskan kebutuhan secara lebih
efektif dan efisien dari perbandingan pesaing sejenis.
Menurut Fandiyanto (2021:177) pemasaran ritel yaitu hubungan
penjual dengan konsumen yang terjadi transaksi secara langsung di
berbagai jenis pusat tempat belanja eceran berdiri dengan jenis-jenis
bisnis ritel dan ukuran yang mengakibatkan persaingan didalam usaha
ritel menjadi begitu ketat persaingannya.
Menurut Ma’ruf (2006:4) Pemasaran ritel adalah orang yang
membutuhkan kebutuhan terhadap barang tertentu dengan aktivitas
antara penjual dan konsumen yang terjadi transaksi secara langsung.
Tujuan utama dalam pemasaran ritel dengan mengembangkan strategi
pemasaran dan menetapkan target pasar, dan segmentasi pasar secara
langsung yang akan tersampaikan pada konsumen akhir

Pengertian Manajemen Pemasaran


Menurut Kotler dan Armstrong dalam Kaawoan et al.,(2022:512)
manajemen pemasaran adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh
perusahaan untuk menciptakan suatu nilai bagi para pelanggan dan
membangun hubungan yang kuat dengan mereka agar tercipta suatu
nilai dari para pelanggan tersebut.
Menurut Alma dalam Gunawan (2022:20) manajemen pemasaran
adalah segala kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tingkat
pemasaran dan tujuan bisnis.
Menurut Sudarsono (2020:2) manajemen pemasaran merupakan
usaha untuk merencanakan, mengimplementasikan, yang terdiri dari
kegiatan mengorganisasikan, mengarahkan mengkoordinir serta
mengawasi atau mengendalikan kegiatan pemasaran suatu organisasi
agar mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif

Pengertian Pemasaran


Dalam mengukur kegiatan pemasaran, perusahaan perlu
menerapkan manajemen pemasaran agar terciptanya tujuan perusahaan
dalam mengelola pemasaran. Dalam proses yang perlu dilalui ialah adanya
perencanaan, pengarahan, pengendalian dan penetapan harga, pemetaan
distribusi, serta kegiatan promosi.
Menurut Kotler dalam Arraniri et al., (2022:7) pemasaran
merupakan proses sosial yang memungkinkan orang dan kelompok dalam
pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dalam organisasi.
Dengan menciptakan, memberikan, dan mengkomunikasikan kepada
pelanggan untuk menciptakan pemasaran yang tepat.
Menurut Karyanto et al., (2021:17) pemasaran merupakan aktivitas
dan proses dalam mengkomunikasikan, merencanakan strategi, menentukan
harga, melakukan promosi hingga mendisribusikan produk bagi pelanggan,
klien, mitra, dan masyarakat umum. Untuk pemenuhan kebutuhan manusia
yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia.
Menurut Sumarwan dalam Indrasari (2019:4) pemasaran merupakan
adalah suatu proses yang dimana mengindentifkasikan kebutuhan
konsumen kemudian memproduksi barang atau jasa tersebut sehingga
terjadi transaksi atau pertukaran antara produsen dengan konsumen.
Menurut Fandy Tjiptono dalam Saleh et al., (2019:1) pemasaran
adalah kegiatan yang bertujuan untuk menarik perhatian pembeli dalam
mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Oleh karena itu pemasaran
memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi.

Faktor yang mempengaruhi Minat Beli Konsumen


Konsumen dimanapun dan kapanpun akan dihadapkan dengan sebuah
keputusan pembelian untuk melakukan transaksi pembelian. Dimana konsumen
akan membandingkan atau mempertimbangkan satu barang dengan barang yang
lainnya untuk mereka konsumsi. Beberapa faktor yang membentuk minat beli
konsumen menurut Kotler dan Keller (2016:199) yaitu :
a. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat
negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi
konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
b. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat
mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut
tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri
dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak

Indikator Pengukuran Minat Beli Konsumen


Seorang konsumen tidak dengan sendirinya memiliki keputusan dalam
pembelian barang atau jasa. Terlebih dahulu konsumen mencari informasi dari
orang terdekat atau orang yang benar-benar dipercaya untuk membantunya
dalam pengambilan keputusan.
Menurut Shahnaz dan Wahyuno (2016), minat beli di identifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut:
a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk.
b. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari
informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut

Pengertian Minat Beli Konsumen


Menurut Kotler and Keller (2016:198) minat beli timbul setelah adanya
proses evaluasi alternatif dan di dalam proses evaluasi, seseorang akan membuat
suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang hendak dibeli atas dasar merek
maupun minat.

Dimensi Harga


Menurut Kotler dan Keller (2016:492), menjelaskan ada empat ukuran dari
dimensi harga yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas
produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga sesuai dengan kemampuan
atau daya saing harga. Empat ukuran harga yaitu sebagai berikut :
1) Keterjangkaun Harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek
harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal. Dengan harga
yang di tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen
orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
Tujuan penetapan
harga Deskripsi
Aliran kas (cash flow)
Dirancang untuk memaksimumkan pengembalian kas secepat
mungkin. Tujuan ini bermanfaat manakala perusahaan
mengalami masalah keterbatasaan kas (cash emergency) atau
jika siklus hidup produk diprediksi bakal berlangsung relatif
singkat.
Menyamai pesaing
Dirancang untuk menyamai atau mengalahkan tingkat harga para
pesaing. Sasarannya adalah untuk mempertahan persepsi good
value dibandingkan para pesaing.
Prestise
Menetapkan harga mahal yang konsisten dengan produk
berstatus atau prestise tinggi. Harga ditetapkan tanpa terlalu
mencerminkan struktur biaya atau tingkat persaingan
Status quo Mempertahankan tingkat harga saat ini dalam rangka
mengamankan posisi kompetitif.
3) Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang
dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil
dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk
melakukan pembelian ulang.
4) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya, dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut

Pengertian Harga


Menurut Kotler dan keller (2016:483) harga adalah:
“Price is the one element of the marketing mix that produces revenue; the
other elements produce costs. Price also communicates the company’s
intended value positioning of its product or brand”.
Harga adalah salah satu elemen dari marketing mix yang menghasilkan
pendapatan dan diikuti oleh elemen lainnya yang menghasilkan biaya. harga
juga mengomunikasikan posisi nilai yang ditunjukan oleh perusahaan dari
produk atau merek.

Indikator Kenyamanan pemakaian


Menurut pengertian dari Nugroho,WA&Hidayat,R (2017) penulis
menyimpulkan bahwa indikator kenyamanan pemakaian sebagai berikut:
1) Fungsional
Aspek fungsional pada pemakaian helm KYT terdiri dari aspek
berikut:
a) Sirkulasi Udara
Dalam memakai helm seseorang memerlukan sirkulasi udara di
dalam helm tersebut. Jika sirkulasi udara pada helm baik maka
pengendara akan merasakan kenyamanan dalam berkendara.
b) Kebisingan
Pada daerah pada seperti jalan raya, kebisingan adalah satu
masalah pokok yang bisa mengganggu kenyamanan bagi orang di
sekitarnya. Banyak cara untuk mengurangi kebisingan, salah satunya
dengan menggunakan alat pelindung diri (Helm).
c) Keamanan
Keamanan merupakan masalah terpenting, karena ini dapat
mengganggu dan menghambat aktivitas yang akan dilakukan. Dalam
berkendara sangat penting untuk melindungi bagian kepala.
2) Social risk
Aspek sosial disini berbicara mengenai adalah resiko tinggi helm
tersebut untuk dicuri oleh pencuri