Terdapat beberapa cara dalam meningkatkan suatu pelayanan, salah satunya
dengan melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan yang dilakukan secara terus-
menerus. Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
adalah sebagai berikut (Puung, 2015) :
a) Mendapatkan feed back yang dari costumer
Feed back yang positif dari costumer adalah suatu nilai plus bagi perusahaan dan
sebagai bukti pelayanan yang diberikan perusahaan telah sesuai dengan
ekspektasi costumer
b) Evaluasi perusahaan
Evaluasi yang dilakukan perusahaan diantaranya yaitu melakukan survei
berfokus dengan hal-hal yang paling penting untuk diketahui. Survei dilakukan
guna mengetahui kepedulian kepada costumer, mengukur tingkat kemampuan
suatu perusahaan terkait keandalan dan daya tanggap, serta mengetahui kualitas
produk berdasarkan pengalaman konsumen secara langsung.
c) Perbaikan pelayanan perusahaan
Perbaikaan kualitas pelayanan dilakukan dengan cara memberikan standar
pelayanan perusahaan yang jelas kepada karyawan perusahaan tersebut,
memberikan pelatihan kepada karyawan agar menjadi seseorang yang
bertanggung jawab, loyal, dan memiliki etos kerja yang tinggi. Kemungkinan
yang diperoleh dengan memberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi.
Selain itu, kemudahan kepada costumer dalam memeberikan masukannya adalah
hal yang perlu untuk dilakukan. Lebih baik jika semua usaha perbaikan kualitas
pelayanan perusahaan ini agar dilakukan secara berkelanjutan.
Kualitas Pelayanan Menurut Harapan Pelanggan
Menurut Mardiana (2017), tingkatan suatu kualitas pelayanan yang diharapkan
oleh costumer dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Desired service
Tingkatan ini adalah suatu harapan costumer terkait pelayanan yang diinginkan,
seperti kepercayaan costumer tentang pelayanan yang diterima dan dirasakan.
b) Adequate service
Tingkatan ini adalah ketika costumer menerima dan merasakan pelayanan yang
berkaitan berkaitan dengan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi
permintaan pelayanan tersebut
Definisi Kualitas Pelayanan
Terdapat beberapa definisi dari kualitas pelayanan yang diutaran oleh beberapa
ahli. Definisi -definisi tersebut yaitu :
a) Kualitas pelayanan menurut Saleh
Menurut Saleh (2010), kualitas pelayanan adalah suatu hasil yang harus
diperoleh dan dilakukan dengan suatu tindakan. tetapi tindakan tersebut harus
memiliki kesan yang baik dan dapat dirasakan serta diingat. Efeknya yaitu
konsumen dapat lebih aktif dalam suatu pelayanan produk dan jasa perusahaan.
b) Kualitas Pelayanan menurut Fandy Tjiptono
Menurut Tjiptono (2012) kualitas pelayanan yaitu suatu kondisi yang dinamis
berkaitan erat dengan produk atau jasa serta sumber daya manusia dan
lingkungan yang setidaknya diterima atau dapat melebihi kualitas pelayanan
yang diharapkan. Menurut Tjiptono (2012), arti dari kualitas pelayanan adalah
suatu upaya pemenuhan kebutuhan costumer yang dilakukan dengan keinginan
serta ketepatan cara penyampaiannya sehingga dapat memenuhi harapan dari
kepuasan pelanggan tersebut. Dalam kualitas pelayanan dapat dikatakan baik,
jika terdapat beberapa kategori pelayanan, antara lain:
- Kesesuaian waktu dalam pelayanan, termasuk didalamnya waiting time
selama transaksi maupun proses pembayaran. - Akurasi dalam pelayanan, yaitu menekan kesalahan dalam bentuk
pelayanan maupun transaksi. - prilaku ketika memberikan pelayanan.
- Kemudahan mendapatkan suatu pelayanan, seperti ketersediaan SDM
untuk melayani konsumen, serta fasilitas pendukung dalam mencari
ketersediaan suatu produk. - Kenyaman konsumen, yaitu seperti tata letak, parkir, ruang tunggu yang
nyaman, kebersihan, layanan informasi, dan lain sebagainya.
c) Kualitas pelayanan menurut Gronroos
Menurut Gronroos yang dikutip dari Sirine Hani (2017), suatu kualitas pelayanan
yaitu tindakan yang ditawarkan seseorang kepada orang lain. Tindakan ini berupa
tidak tetapi dapat dirasakan. Intinya pelayanan merupakan suatu tindakan yang
dilakukan oleh penjual kepada pembeli / pelanggan untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginannya. Tindakan memiliki tujuan agar tercapainya kepuasan
pelanggan.
KUALITAS PELAYANAN
Kualitas pelayanan dapat dibedakan ke dalam dua kategori yaitu jenis kualitas
pelayanan yang baik dan kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas pelayanan bukanlah
suatu hal yang kaku, melainkan bersifat fleksibel dan dapat dirubah. Perubahan –
perubahan ini ditentukan dalam peningkatan kualitas pelayanan agar semakin lebih
baik lagi dan dapat dipertahanlan. Dalam proses perubahan-perubahan suatu kualitas
pelayanan tersebut diperlukan beberapa hal dalam prosesnya. Seperti observasi kepada
pelanggan, yang terdiri berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang
pelayanan yang telah diberikan dan diterima pelanggan.
Kualitas pelayanan dapat diasumsikan sebagai suatu tingkatan kepuasan
pelanggan. Sedangkan tingkat kepuasan pelangg dapat diperoleh dari perbandingan
atas jenis pelayanan yang diterima oleh konsumen tersebut dengan jenis pelayanan
yang diharapkan. Jenis kualitas pelayanan dikatakan baik yaitu pelayanan yang
memuaskan dan sesuai dengan ekspektasi pelayanan yang diharapkan oleh konsumen.
Sedangkan jenis kualitas pelayanan yang buruk yaitu suatu pelayanan yang berada jauh
dibawah ekspekstasi pelayanan yang diharapkan oleh konsumen.
Kualitas pelayanan menjadi factor penting karena akan berdampak langsung
terhadap citra/pandangan terhadap perusahaan. Kualitas pelayanan yang baik akan
menjadi sebuah nilai plus bagi perusahaan. Jika suatu perusahaan memiliki nilai positif
di mata konsumen, maka konsumen tersebut akan bersedia memberikan feedback yang
baik, serta bukan tidak mungkin akan menjadi pelanggan tetap atau repeat buyer. Maka
dari itu, sangat penting untuk memperbaiki aspek-aspek kepuasan pelanggan yang
berhubungan dengan kualitas pelayanan yang diberikan. Jenis-jenis pelayanan yang
yang dapat diberikan seperti kemudahan dalam orderan, kecepatan pelayanan,
kemampuan, dan atitude yang ditunjukkan melalui sikap dan prilaku langsung kepada
konsumen. (Puung Florensia 2016)
Indikator Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono dan Chandra (2019:99), dimensi Kualitas yang paling
sering dijadikan acuan adalah:
- Reliabilitas
Yaitu kemampuan melayani yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan
memuaskan. - Responsivitas
Yaitu kesediaan karyawan membantu pelanggan dan memberikan layanan
dengan tanggap. - Jaminan
Mencakup hal seperti pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat
dipercaya yang dimiliki para karyawan dan bebas dari bahaya fisik, risiko
atau keragu-raguan. - Empati
Kemudahan dalam menjalin hubungan antara karyawan dengan konsumen,
komunikasi yang efektif, perhatian personal, dan pemahaman atas
kebutuhan individual para pelanggan. - Bukti fisik
Bukti fisik biasanya terdiri dari fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan,
dan saranan komunikasi
Manfaat Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:119), mengemukakan beberapa
manfaat yang didapatkan apabila sebuah perusahaan dapat memaksimalkan
kualitas pelayanan diantaranya :
- Bagi pelanggan
a. Memuaskan pelanggan karena kebutuhan terpenuhi.
b. Meningkatkan loyalitas pelanggan karena merasa dihargai dan
mendapatkan layanan yang baik.
c. Meningkatkan penjualan produk dan jasa perusahaan karena dipercaya
sebagai mitra bisnis.
d. Meningkatkan pendapatan perusahaan karena merasa menemukan
perusahaan yang profesional. - Bagi karyawan
a. Lebih percaya diri karena puasnya pelanggan.
b. Terciptanya kepuasan pribadi karena meningkatnya loyalitas
pelanggan.
c. Menambah ketenangan bekerja karena meningkatkannya penjualan
produk dan jasa perusahaan.
d. Memupuk semangat untuk meniti karir karena meningkatnya
pendapatan perusahaan. - Bagi perusahaan
a. Meningkatkan citra perusahaan karena pelanggan merasa puas.
b. Kelangsungan usaha perusahaan terjamin karena loyalitas pelanggan
meningkat.
c. Mendorong masyarakat untuk berhubungan dengan perusahaan karena
adanya peningkatan penjualan produk dan jasa perusahaan.
d. Mendorong kemungkinan ekspansi dan meningkatkan laba perusahaan
karena pendapatan perusahaan meningkat.
Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono dan Chandra (2016:124), ada beberapa kategori yang
mendukung kualitas pelayanan diantaranya :
- Informasi
Informasi yang dimaksud seperti jalan/arah menuju tempat produsen,
jadwal penyampaian produk, harga dan instruksi cara menggunakan
produk. - Konsultasi
Konsultasi yang dimaksud seperti pemberian saran, auditing, konseling
pribadi dan konsultasi teknis. - Order taking
Meliputi aplikasi, jasa langganan, jasa berbasis kualifikasi, reservasi
tempat duduk, meja dan ruangan. - Hospitality
Yang dimaksud seperti sambutan, makanan, toilet, perlengkapan kamar
mandi, fasilitas menunggu, transportasi dan jasa keamanan. - Caretaking
Terdiri dari perhatian dan perlindungan atas barang milik pelanggan yang
mereka bawa. - Expectations
Meliputi permintaan khusus sebelum penyampaian produk, menangani
komplain, pujian, saran dan penyelesaian masalah. - Billing
Meliputi laporan rekening periodik, faktur untuk transaksi individual,
laporan verbal mengenai jumlah rekening dan lainnya. - Pembayaran
Dalam bentuk pembayaran swalayan oleh pelanggan , pelanggan
berinteraksi dengan personil perusahaan yang menerima pembayaran;
pengurangan otomatis atas rekening pelanggan serta verifikasi.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono dan Chandra (2019:101), Kualitas Pelayanan adalah
perbandingan antara tingkat layanan yang disampaikan perusahaan dibandingkan
ekspektasi konsumen yang diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi atau
melampaui harapan konsumen.
Menurut Sudarso (2016:57), Kualitas Pelayanan merupakan hasil
perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual pelayanan dan juga
salah satu elemen terpenting yang menjadi pertimbangan bagi pelanggan dalam
melakukan pembelian suatu produk.
Menurut Ismainar (2015:130), Kualitas Pelayanan merupakan suatu
bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan yang diterima dengan
tingkat pelayanan yang diharapkan, sedangkan menurut Santoso (2019:46),
Kualitas Pelayanan adalah bagaimana tanggapan konsumen terhadap jasa yang di
konsumsi atau dirasakannya dan menurut Mutiawati, dkk (2019:7), Kualitas
Pelayanan adalah kemampuan pemberi layanan dalam melayani pengguna barang
atau jasa tersebut
Indikator Perilaku Konsumen
Menurut Firmansyah (2019:80), ada beberapa pengukuran Perilaku
Konsumen yaitu:
- Faktor Sosial
Peran dari status sosial seseorang akan menunjukkan jabatan atau
kedudukan orang tersebut dalam sebuah kelompok sosial. Faktor sosial
meliputi kelompok acuan, peran, keluarga, maupun status sosial. Yang
dimaksud kelompok acuan adalah semua kelompok yang mempunyai
pengaruh secara tidak langsung ataupun langsung terhadap sikap dan
perilaku orang tertentu. - Faktor Budaya
Budaya merupakan sebuah penentu paling dasar. Masing-masing budaya
terdiri dari beberapa sub budaya yang lebih memperlihatkan sosialisasi
khusus kepada anggotanya. Sub budaya mencakup beberapa hal seperti
Agama, Suku, Ras bagi anggota-anggotanya. - Faktor Pribadi
Keputusan membeli atau tidaknya suatu barang atau produk akan sangat
berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor pribadi. Karakteristik meliputi
beberapa aspek seperti pekerjaan, ekonomi, kepribadian, dan konsep diri
sendiri, juga gaya hidup sang pembeli. - Faktor Psikologi
Awal mula seseorang untuk memahami Perilaku seorang konsumen adalah
adanya rangsangan dari luar yang meliputi teknologi, politik, ekonomi,
dan budaya.
Ruang Lingkup Perilaku Konsumen
Menurut Tjiptono dan Diana (2016:57), secara sistematis, lingkup Perilaku
Konsumen dapat di ilustrasikan pada lima aspek spesifik yang tercermin dalam
hal berikut:
- Perilaku Konsumen berkenaan dengan pemahaman atas sejumlah
keputusan yakni menyangkut whether, what, why, when, where, how, how
much, how often dan how long konsumen akan membeli, menggunakan
atau menghentikan pemakaian produk spesifik. - Perilaku Konsumen tidak hanya terbatas pada pembelian. Tentu saja cara
konsumen berbelanja merupakan isu penting bagi pemasar. Namun
cakupan Perilaku Konsumen meliputi tiga aspek utama yakni acquiring
behavior, using behavior dan disposing behavior. - Perilaku Konsumen meliputi beraneka bentuk produk seperti barang fisik,
jasa, aktivitas, pengalaman dan event, orang serta gagasan. - Perilaku Konsumen dapat melibatkan banyak orang dengan berbagai peran
berbeda seperti initiator, decider, buyer dan user. - Perilaku Konsumen merupakan proses dinamis. Tahapan acquisition,
konsumsi dan disposition dapat berlangsung sepanjang waktu, baik itu
dalam satuan jam, hari, minggu, bulan maupun tahun.
Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Perilaku Konsumen
Menurut Firmansyah (2018:16), perilaku konsumen dilakukan berdasarkan
suatu proses sebelum dan sesudah konsumen melakukan proses pembelian suatu
produk maupun jasa. Dalam perilaku konsumen tersebut, seorang pembeli akan
melakukan penilaian yang kemudian pada akhirnya akan mempengaruhi proses
pengambilan keputusannya atas pembelian produk atau jasa tersebut. Berikut ini
proses perilaku terbentuk:
- Pembelajaran sikap
Pada bagian-bagian terdahulu yang telah di pelajari tentang proses
pembelajaran dasar, seperti teori-teori:
a. Clasisscal conditioning
b. Instrumental conditioning
c. Cognitive learning theory
d. Information processing - Sumber pengaruh terhadap pembentukan sikap
Sumber-sumber utama yang mempengaruhi pembentukan sikap konsumen
adalah:
a. Pengalaman
Pengalaman langsung yang dialami oleh konsumen dalam mencoba
dan mengevaluasi produk dapat mempengaruhi sikap konsumen
terhadap produk tersebut. Dengan maksud ini, pemasar dalam upaya
pemasarannya sering memberikan sampel gratis dan upon diskon
bahkan beberapa merek kopi, the, madu, dan berbagai daging goring
tepung di tawarkan pada calon konsumen di mall dan di depan pasar
swalayan. Tujuannya adalah agar konsumen mengalami produk baru
dan sesudah itu mengevaluasinya. Bila memuaskan, maka konsumen
diharapkan akan membentuk sikap positif dan mungkin membeli
produk tersebut apabila kelak mereka membutuhkannya.
b. Kepribadian
Keluarga adalah faktor penting dalam pembentukan kepribadian dan
selanjutnya pembentukan sikap seseorang. Dalam keluarga itulah,
seseorang membentuk nilai-nilai dasar keyakinannya.
c. Informasi dari media massa
Pengaruh media massa tidak boleh dianggap remeh. Pemasar
menggunakan berbagai macam media massa secara efektif dan gencar
untuk mempengaruhi sikap konsumen yang merupakan konsumen atau
calon konsumen. Sikap dapat terbentuk dari jenis media massa yang
digunakan baik cetak maupun elektronik untuk mengkomunikasikan
dan informasi tentang produk
Pengertian Perilaku Konsumen
Menurut Firmansyah (2018:2), Perilaku Konsumen merupakan suatu
proses yang berkaitan erat dengan adanya suatu proses pembelian, pada saat itu
konsumen melakukan aktivitas seperti melakukan pencarian, penelitian dan
pengevaluasian produk dan jasa (product and service).
Menurut Rumondang, dkk (2020:32), Perilaku Konsumen merupakan
tindakan-tindakan konsumen yang langsung melekat dalam proses mendapatkan,
mengonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses yang
mendahului dan menyusuli tindakan ini.
Menurut Setiadi (2019:2), Perilaku Konsumen merupakan tindakan yang
langsung terlibat dalam mendapatkan, mengonsumsi, dan menghabiskan produk
dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan
tersebut, sedangkan menurut Septiana (2017:1), Perilaku Konsumen adalah
sebuah kegiatan yang berkaitan erat dengan proses pembelian suatu barang atau
jasa dan menurut Damiati, dkk (2017:12), Perilaku Konsumen merupakan
tahapan-tahapan langkah yang ditempuh dan dilakukan oleh seseorang/individual
atau kelompok orang dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
Perilaku Konsumen merupakan sebuah studi yang berhubungan dengan
bagaimana seorang individu konsumen membuat keputusan untuk memilih sebuah
produk atau jasa yang ditawarkan diantara berbagai alternatif pilihan yang ada.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Firmansyah (2018:27), dengan demikian seorang konsumen
dalam melakukan keputusan membeli terdapat beberapa pengukuran yaitu:
- Pengenalan Masalah (Problem Recoqnition)
Proses pembelian oleh konsumen diawali sejak pembeli mengenali
kebutuhan atau masalah. Kebutuhan tersebut dapat ditimbulkan oleh
rangsangan internal atau eksternal. - Pencari Informasi (Informasi Search)
Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya, konsumen akan
terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Orang lebih peka
terhadap informasi produk. - Evaluasi Alternatif (Alternative Evaluation)
Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin tentang banyak
hal, selanjutnya konsumen harus melakukan penilaian tentang beberapa
alternatif yang ada dan menentukan langkah selanjutnya. - Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
Setelah tahap-tahap dilakukan, sekarang saatnya bagi pembeli untuk
menentukan pengambilan keputusan apakah jadi membeli atau tidak. - Perilaku Pasca Pembelian (Post-Purchase Behavior)
Pemasar harus memperhatikan konsumen setelah melakukan pembelian
produk. Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami
beberapa tingkat kepuasan atau tidak ada kepuasan. Ada kemungkinan
bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan setelah membeli.
Struktur Keputusan Pembelian
Menurut Firmansyah (2018:37), struktur keputusan membeli penting
karena sesudah menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan produk
tertentu, konsumen diharapkan untuk memunculkan keputusan untuk membeli.
Ada delapan struktur keputusan membeli yang mempengaruhi konsumen yaitu:
- Keputusan tentang jenis produk
Dalam setiap pengambilan keputusan mengenai pembelian suatu produk,
harus memperhatikan mana kebutuhan yang penting didahulukan dan
jumlah uang yang dipunyai sesuai dengan pendapatan rumah tangga, juga
menetapkan dan menggunakan berbagai kriteria evaluasi termasuk harga,
merek, kualitas, dan lain-lain pada saat membuat keputusan pembelian.
Penilaian kinerja setiap alternatif sebagai dasar dari evaluasi serta
mengetahui dan memahami bagaimana situasi konsumen dalam
menentukan pilihan dengan melihat berbagai aspek yang ada di dalamnya
apa saja yang terkait hingga mempengaruhi tingkat pembelian. - Keputusan tentang karakteristik produk
Konsumen memutuskan untuk membeli produk dengan bentuk tertentu.
Perusahaan harus menggunakan riset pemasaran untuk mengetahui
kesukaan konsumen. - Keputusan tentang merek
Konsumen memutuskan merek yang akan diambil. Perusahaan harus
mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Misalnya,
berdasarkan informasi yang dihimpun. - Keputusan tentang penjualan
Konsumen memutuskan dimana akan membeli, baik di toko, perusahaan,
dan lain-lain. Hal paling mudah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
penjualan dan mendapatkan keuntungan yang signifikan dari bisnis adalah
dengan memperlebar target bisnis. - Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli. Perusahaan
harus mempertimbangkan banyaknya produk tersedia untuk konsumen
sesuai keinginan konsumen yang berbeda-beda. Konsumen dapat
mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan
dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari
satu unit. Dalam hal ini, perusahaan harus mempersiapkan banyak produk
sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli. - Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen memutuskan kapan harus membeli. Perusahaan harus
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam penentuan
waktu pembelian, yang juga mempengaruhi perusahaan dalam mengatur
waktu produksi, pemesanan, periklanan, dan sebagainya. Konsumen dapat
mengambil keputusan tentang kapan harus melakukan pembelian. Oleh
karena itu, perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen dalam penentuan waktu pembelian. - Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen memutuskan mode pembelanjaan yang disukainya, perusahaan
harus mengetahui hal ini yang akan mempengaruhi dalam penawaran
pembayaran (diskon untuk tunai, kemudahan kredit, bunga rendah, dan
lain-lain). - Keputusan tentang pelayanan
Salah satu cara utama suatu pemasar untuk dapat membedakan dengan
perusahaan lain adalah dengan cara konsisten menyampaikan mutu
pelayanan yang tinggi. Setiap pemasar harus sadar bahwa mutu pelayanan
yang luar biasa dapat memberikan keunggulan bersaing
Pertimbangan Keputusan Pembelian
Menurut Firmansyah (2019:90), semakin penting dan beresiko suatu
produk yang akan dibeli, konsumen semakin mempertimbangkan berbagai merek
dan mencari berbagai informasi yang dibutuhkan yaitu:
- Complex Decision Making
Complex decision making bisa terjadi, ketika konsumen melakukan
pembelian produk yang membutuhkan berbagai pertimbangan sehubungan
dengan pentingnya produk dan tingginya resiko bagi individu konsumen.
Pada umumnya, konsumen akan mempertimbangkan berbagai merek dan
mencari berbagai informasi yang dibutuhkan sebelum membeli rumah atau
mobil, konsumen akan mempertimbangkan secara selektif setiap detail
perbedaan dari masing-masing produk. Informasi ini penting bagi
konsumen, supaya tidak terhadi ketidaknyamanan setelah pembelian. - Limited Decision Making
Limited decision making terjadi ketika konsumen melakukan keputusan
untuk membeli suatu produk yang membutuhkan pertimbangan merek dan
informasi, yang secara kontinyu menarik bagi konsumen atau konsumen
sering mengkonsumsi atau menggunakan produk tersebut. Proses
pembuatan keputusan terbatas ini membutuhkan lebih sedikit informasi
daripada complex decision making. - Brand Loyalty
Brand loyalty menunjukkan sikap loyal terhadap merek tertentu dan
berdampak pada pembelian secara konsisten sepanjang waktu. Konsumen
yang loyal terhadap merek tertentu akan melakukan pembelian merek
tersebut dalam jangka panjang, dan membutuhkan informasi yang relatif
sedikit, karena sudah menjadi kebiasaannya untuk membeli produk dengan
merek tersebut. Loyalitas konsumen terhadap merek tertentu ini
disebabkan oleh rasa puas atau rasa keinginan dan kebutuhan yang
terpenuhi terhadap merek tersebut secara berulang sehingga terbiasa. - Inertia
Ketika konsumen menggunakkan hirarki low involvement, konsumen
membentuk keyakinan terhadap produk secara pasif dan membuat
keputusan hanya dengan memproses sedikit informasi dan selanjutnya
mengevaluasi merek setelah pembelian. - Impulse Purchasing
Tipe keputusan ini dikenal dengan keputusan pembelian tiba-tiba,
dikatakan demikian karena konsumen tidak membutuhkan banyak
pertimbangan untuk melakukan pembelian. Proses keputusan dapat
dilakukan dengan cepat, tanpa harus menunggu pencarian informasi dan
penilaian tertentu untuk memilih produk.
Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan pembelian
Menurut Firmansyah (2019:93), terdapat 5 faktor yang saling
mempengaruhi dalam keputusan pembelian yaitu:
- Rangsangan Pemasaran (Marketing Stimulation)
Rangsangan pemasaran sepenuhnya dipengaruhi oleh usaha perusahaan
dalam menarik keputusan pembelian konsumen. Dalam hal ini, perusahaan
bisa melakukan rangsangan kepada konsumen melalui beberapa kegiatan,
seperti memperkenalkan keunggulan produk yang akan dijual,
memberikan diskon atau potongan harga terhadap produknya tersebut,
memilih tempat atau lokasi penjualan yang cocok, serta melakukan
berbagai langkah promosi melalui iklan atau promosi lainnya. - Rangsangan Lain (Other Stimulation)
Rangsangan lain yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan
pembelian terhadap suatu produk, diantaranya adalah situasi ekonomi,
perkembangan teknologi, pengaruh politik, dan pengaruh budaya yang
dirasakan oleh konsumen secara langsung. Jika situasi ekonomi yang
tengah dialami konsumen berbanding lurus dengan ketiga faktor lainnya,
bukan mustahil keputusan pembelian akan segera diambil. Begitu pula
sebaliknya, jika situasi berbanding terbalik, jangan harap akan muncul
keputusan pembelian dari konsumen. - Karakteristik Pembeli (Buyer Characteristics)
Variabel terpenting dari model perilaku konsumen adalah karakteristik
pembeli itu sendiri. Karakteristik itu meliputi, faktor budaya, faktor sosial,
faktor pribadi, dan faktor psikologis. Faktor budaya ini nantinya akan
melahirkan kelas sosial tertentu dalam pembelian produk, yaitu kelas
sosial golongan atas, kelas sosial golongan menengah, dan kelas sosial
golongan rendah. Sementara itu, faktor sosial yang mempengaruhi
perilaku konsumen meliputi kelompok acuan, keluarga, dan peran serta
status konsumen dalam masyarakat. Faktor pribadi yang mempengaruhi
perilaku konsumen meliputi umur, pekerjaan, kondisi ekonomi, dan gaya
hidup konsumen. Faktor psikologis meliputi motivasi, persepsi,
pembelajaran, dan keyakinan serta sikap konsumen terhadap produk yang
akan dibelinya. - Proses Keputusan Membeli (Buying Decision Process)
Proses keputusan membeli ini didapat setelah konsumen melakukan tahap
pengenalan terhadap suatu produk, pencarian informasi lain, evaluasi
keunggulan dan kelemahan produk, sampai terciptanya keputusan
pembelian dan keputusan pasca pembelian. Jika semua tahapan ini bernilai
positif, pemakaian terhadap suatu produk akan berlangsung secara
kontinyu. - Keputusan Pembelian (Buyer Decision)
Variabel terakhir dari model perilaku konsumen adalah keputusan
pembelian. Dalam hal ini, keputusan pembeli akan menghadirkan suatu
keputusan terbaik menyangkut pilihan produk, pilihan merek, pilihan
penyalur, waktu pembelian, dan jumlah produk yang akan dibeli
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Firmansyah (2018:27), Keputusan Pembelian merupakan
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu dalam pemilihan alternatif
perilaku yang sesuai dari dua alternatif perilaku atau lebih dan dianggap sebagai
tindakan yang paling tepat dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahapan
proses pengambilan keputusan.
Menurut Sawlani (2021:19), Keputusan Pembelian adalah salah satu tahap
dari keseluruhan proses mental dan kegiatan fisik lainnya yang terjadi dalam
proses pembelian pada suatu periode dan waktu tertentu serta pemenuhan
kebutuhan tertentu dengan kata lain serangkaian tahapan yang diambil oleh
seorang konsumen.
Menurut Morissan (2016:111), Keputusan Pembelian adalah tahap
selanjutnya setelah adanya niat atau keinginan membeli namun keputusan
pembelian tersebut tidak sama dengan pembelian yang sebenarnya. Adapun
menurut Tjiptono dan Diana (2019:47), Keputusan Pembelian merupakan respon
yang didapatkan lewat pembelajaran atas pengaruh dari lingkungan. Sedangkan
menurut Bancin (2019:22), Keputusan Pembelian merupakan suatu tindakan akhir
yang dilakukan konsumen sebagai bentuk jawab atas kebutuhan konsumen
melalui serangkaian proses evaluasi beberapa alternatif yang ada.
Indikator Harga Produk
Menurut Kotler dalam Fathorrahman (2021:219) ada empat
indikator harga produk, antara lain sebagai berikut.
1) Keterjangkauan harga, ialah perusahaan menetapkan harga yang
dapat dijangkau oleh para konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas, ialah ketika memilih antara dua
produk, konsumen cenderung memilih harga yang lebih tinggi
karena mereka menganggap perbedaan kualitas antara kedua produk
tersebut.
3) Daya saing harga, ialah konsumen umumnya membandingkan harga
dengan produk sejenis lainnya ketika akan membeli suatu produk,
sehingga harga yang lebih tinggi atau lebih rendah sangat
memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah keputusan pembelian
konsumen dipengaruhi oleh manfaat yang diperoleh dari produk
tersebut dibandingkan dengan nilai yang dibayarkan untuk
membelinya.
Adapun indikator harga produk menurut Lupiyoadi dalam Octavia
(2021:711), antara lain sebagai berikut.
1) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah jika manfaat yang diperoleh
konsumen meningkat pada suatu level harga, maka nilai produk
tersebut juga akan meningkat. Sebaliknya, pada tingkat harga
tertentu, semakin besar manfaat yang dirasakan konsumen, maka
nilai barang atau jasa tersebut juga akan meningkat.
2) Keterjangkauan harga, ialah apabila harga suatu produk terlalu
tinggi, maka ada kemungkinan produk tersebut tidak dapat
dijangkau oleh segmen pasar tertentu atau bahkan dapat
menurunkan nilai produk di mata konsumen.
3) Daya saing harga, ialah strategi yang ditetapkan oleh perusahaan
dalam persaingan untuk memenangkan produk pesaing
Strategi Penetapan Harga
Penetapan harga mencakup dimensi strategis dan taktis. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2020:427—443), ada enam opsi strategi yang
dapat dikategorikan menurut konteks spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Penetapan harga produk baru
Dalam menetapkan harga produk baru harus ditentukan
dengan hati-hati, karena memengaruhi potensi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Secara umum, ada dua strategi utama yang
dapat dipilih, antara lain:
a) Skimming pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang tinggi untuk produk baru. Biasanya setelah beberapa waktu
harga dikurangi dengan produk yang sama atau versi yang lebih
murah.
b) Penetration pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang relatif rendah pada awal siklus hidup produk untuk
mendapatkan pangsa pasar yang besar dan mencegah pesaing
memasuki pasar.
2) Penetapan harga produk yang sudah mapan
Terdapat tiga opsi yang dapat digunakan dalam strategi
penetapan harga produk yang telah ada di pasaran, antara lain:
a) Mempertahankan harga, yaitu strategi yang diterapkan dengan
maksud menjaga posisi pasar serta memperkuat citra positif di
mata konsumen dan masyarakat.
b) Menurunkan harga, yaitu strategi mengurangi harga yang
diterapkan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan
dengan faktor pertimbangan pengaruh jangka panjang, pengaruh
kualitas, pengaruh terhadap produk lain, dan pengaruh terhadap
daya kerja finansial. Sehingga, konsumen yang selektif dalam
membeli produk tidak akan berpaling ke pesaing lainnya yang
lebih murah.
c) Menaikkan harga, yaitu strategi yang diterapkan untuk menjaga
profitabilitas pada saat inflasi, memanfaatkan perbedaan produk,
atau untuk membagi pasar yang dilayani.
3) Strategi fleksibilitas harga
Terdapat dua jenis strategi dalam fleksibilitas harga, antara
lain sebagai berikut.
a) Strategi harga tunggal, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang sama untuk konsumen yang membeli
produk dengan kualitas dan kuantitas yang sama dalam kondisi
yang sama.
b) Strategi harga fleksibel, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang berbeda untuk setiap konsumen yang
berbeda dengan kualitas produk yang sama.
4) Penetapan harga lini produk (price lining)
Strategi price lining dapat digunakan jika perusahaan
memasarkan lebih dari satu jenis atau lini produk. Harga produk lini
produk ini dapat bervariasi dan diatur pada tingkat harga yang
berbeda.
5) Leasing
Leasing yaitu sebuah perjanjian dimana pemilik suatu aset
(lessor) setuju untuk memberikan penggunaan aset tersebut kepada
pihak lain (lessee) untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, dengan
imbalan yang telah disepakati. Ada dua jenis leasing, yaitu sebagai
berikut.
Metode Penetapan Harga
Menurut Tjiptono (2015:298—309) metode penetapan harga
terdiri dari empat kelompok, antara lain sebagai berikut.
1) Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi
keinginan dan kebiasaan konsumen. Metode penetapan harga
berdasarkan permintaan memiliki beberapa metode penetapan harga
yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Skimming pricing, ialah menetapkan harga tinggi pada tahap
perkenalan produk baru, kemudian mengurangi harga saat
terjadi persaingan.
b) Penetration pricing, ialah meluncurkan produk baru dengan
harga yang rendah, dengan tujuan untuk mencapai penjualan
yang besar dalam waktu yang singkat.
c) Prestige pricing, ialah harga dianggap sebagai penunjuk tingkat
kualitas atau keistimewaan sebuah produk atau jasa oleh
konsumen.
d) Price lining, ialah apabila perusahaan menjual lebih dari satu
jenis produk, maka harga yang digunakan akan berbeda-beda
dan ditentukan pada level harga yang berbeda pula.
e) Odd-even pricing, ialah harga tersebut hampir mencapai jumlah
genap yang telah ditentukan.
f) Demand-backward pricing, ialah harga yang diperkirakan pada
tingkat harga yang tinggi bagi produk tertentu, menentukan
margin yang perlu dibayarkan kepada grosir atau pengcer,
sehingga harga jual akhir dapat ditetapkan.
g) Product bundle pricing, ialah cara pemasaran yang
menggabungkan dua atau lebih produk ke dalam satu paket
harga.
h) Optional product pricing, ialah strategi yang menggabungkan
penawaran produk aksesoris atau operasional sebagai pelengkap
dari produk utama yang ditawarkan.
i) Captive product pricing, ialah strategi yang digunakan perlu
dipadukan dengan produk utama untuk dapat berfungsi dengan
efektif.
j) By-product pricing, ialah dalam mencari pasar untuk produk
tambahan, orang-orang yang bersedia membayar apapun untuk
menutupi biaya penyimpangan dan pengiriman, sehingga
produk dapat ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif
dengan mengurangi biaya produk
2) Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini mengutamakan faktor penawaran atau biaya
sebagai penentu harga utama. Harga ditentukan dengan cara
menambahkan biaya produksi dan pemasaran dengan jumlah
tertentu untuk menutupi biaya overhead serta memperoleh
keuntungan. Terdapat beberapa metode penetapan harga yang
mengacu pada biaya, antara lain sebagai berikut.
a) Standard markup pricing, ialah menetapkan harga dengan
menaikkan persentase biaya pada semua macam produk dalam
sebuah produk.
b) Cost plus percentage of cost pricing, ialah perusahaan
menaikkan persentase pada biaya produksi atau konstruksi.
c) Cost plus fixed fee pricing, ialah pemasok dan produsen akan
menerima penggantian biaya yang dikeluarkan, namun produsen
hanya akan menerima remunerasi sebagai keuntungan yang
sesuai dengan biaya proyek akhir yang disepakati.
d) Experience curve pricing, ialah biaya satuan barang dna jasa
akan turun sebesar 10%—30% ketika volume produksi dan
penjualan barang atau jasa mengalami peningkatan dua kali
lipat.
3) Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
Metode ini menggunakan penyeimbangan antara pendapatan
dan biaya sebagai dasar penetapan harga, dengan tujuan untuk
mencapai target keuntungan tertentu dalam bentuk angka volume
laba atau persentase dari penjualan atau investasi. Metode penetapan
harga berbasis laba memiliki beberapa metode penetapan harga yang
digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Target profit pricing, ialah penetapan harga didasarkan pada
target keuntungan tahunan yang ditentukan secara spesifik.
b) Target return on sales pricing, ialah penetapan harga dilaukan
dengan menentukan tingkat harga tertentu yang mampu
memperoleh keuntungan pada persentase volume penjualan
tertentu.
c) Target return of investment (ROI) pricing, ialah penetapan harga
dilakukan berdasarkan target rasio antara keuntungan dan
investasi total perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang
menopang produk tertentu.
4) Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Metode penetapan harga ini berfokus pada persaingan. Dalam
metode ini, ada beberapa cara yang digunakan untuk menetapkan
harga, antara lain sebagai berikut.
a) Customary pricing, ialah harga ditetapkan berdasarkan faktor-
faktor yang termasuk budaya, saluran distribusi yang standar,
dan persaingan yang ada, yang merupakan cara penetapan harga
yang bergantung pada faktor-faktor eksternal.
b) Above, at, or below market pricing, ialah penetapan harga yang
lebih tinggi daripada harga pasar dilakukan dengan metode
above market pricing, penetapan harga yang mengikuti harga
pasar pesaing dilakukan dengan metode at market pricing,
sedangkan penetapan harga yang lebih rendah dari harga pasar
dilakukan dengan metode below market pricing, dan umumnya
harga ditentukan antara 8%—10% lebih murah dari harga
produk merek nasional pesaing.
c) Loss leader pricing, ialah meningkatkan penjualan produk dan
memikat konsumen untuk berkunjung ke toko, dengan cara
mempromosikan produk yang memiliki markup tinggi, sehingga
dapat menjadi daya tarik utama yang membuat konsumen
membeli produk lain yang tersedia.
d) Sealed bid pricing, ialah sistem yang melibatkan perantara
pembelian untuk memberikan penawaran harga
Peranan Harga
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:417), ada tiga peran penting
yang dimiliki harga dalam perekonomian, antara lain sebagai berikut.
1) Bagi perekonomian, harga produk memiliki pengaruh terhadap
tingkat upah, sewa, laba, dan bunga. Selain itu, harga juga berperan
sebagai pengatur alokasi sumber daya dengan memengaruhi jenis
produk yang diproduksi dan siapa yang akan membeli produk
tersebut.
2) Bagi konsumen, dalam penjualan, konsumen cenderung sangat peka
terhadap faktor harga dan sering mempertimbangkan harga sebagai
pertimbangan utama dalam keputusan membeli sebuah produk.
3) Bagi perusahaan, harga memiliki dampak pada pendapatan dan
keuntungan bersih yang diperoleh oleh suatu perusahaan.
Perusahaan menghasilkan pendapatan dari produk dan jasa yang
dijual melalui harga yang ditetapkan
Tujuan Penetapan Harga Produk
Menurut Tjiptono (2015:291—293), pada prinsipnya ada
beberapa jenis tujuan dalam menetapkan harga, antara lain sebagai
berikut.
1) Tujuan berorientasi pada laba
Menurut asumsi teori ekonomi klasik, setiap perusahaan akan
selalu memilih harga untuk menghasilkan keuntungan paling
maksimal. Namun, di era persaingan global yang semakin ketat dan
banyak faktor yang memengaruhi daya saing perusahaan akan
menjadi sangat sulit untuk mencapai tujuan ini, karena jumlah
penjualan yang dapat dicapai pada tingkat harga tertentu akan sulit
diperkirakan dengan akurat.
2) Tujuan berorientasi pada volume
Pada tujuan ini, perusahaan menentukan harga sedemikian
rupa sehingga target penjualan, nilai penjualan, atau pangsa pasar
dapat tercapai.
3) Tujuan berorientasi pada citra
Perusahaan dapat membebankan harga tinggi untuk
membangun atau mempertahankan citra ternama, sementara harga
yang rendah dapat digunakan untuk membangun citra nilai.
4) Tujuan stabilisasi harga
Tujuan ini diterapkan dengan menetapkan harga untuk
menjaga hubungan yang stabil antara harga perusahaan dan harga
yang ditetapkan oleh pemimpin industri.
5) Tujuan-tujuan lainnya
Harga dapat ditetapkan dengan beberapa tujuan, seperti
menghindari pesaing, mempertahankan loyalitas konsumen,
mendukung penjualan kembali, memperoleh aliran kas yang cepat,
atau menghindari intervensi dari pemerintah
Harga Produk
Menurut Suhardi et al. (2022:54), harga merupakan ukuran
kepuasan seseorang berdasarkan besaran nilai yang diberikan terhadap
produk yang dibelinya.
Menurut Kotler dan Keller dalam Malonda et al. (2021:1200),
harga adalah jumlah uang yang perlu dikeluarkan oleh konsumen
sebagai pembayaran untuk memperoleh produk tersebut.
Menurut Weenas dan Hadi dalam Shalihah et al. (2021:87), harga
adalah nilai uang yang digunakan sebagai sarana pertukaran untuk
membeli suatu produk atau layanan, yang menjadi penentuan nilai
produk tersebut dalam pandangan konsumen.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:412), harga adalah jumlah
uang yang mencakup manfaat/kegunaan tertentu yang dibutuhkan untuk
menerima produk.
Menurut Abdurrahman (2015:109), harga merupakan suatu nilai
uang yang digunakan sebagai pertukaran untuk membeli produk dan
jasa.
Indikator Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:78—79)
ada lima indikator kualitas produk, antara lain sebagai berikut.
1) Daya tahan produk, ialah ukuran berapa lama suatu produk dapat
bertahan dengan baik sebelum perlu diganti atau rusak.
2) Keistimewaan produk, ialah pandangan konsumen mengenai fitur-
fitur atau kelebihan produk tersebut.
3) Kehandalan produk, ialah karakteristik fungsional dan produk utama
yang dibeli.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, ialah seberapa jauh desain dan
kinerja memenuhi standar yang telah ditentukan.
5) Estetika produk, ialah kemampuan produk untuk menarik perhatian
panca indera
Tingkatan Produk
Menurut Limakrisna dan Purba (2019:76—77), terdapat tiga
tingkatan produk, antara lain sebagai berikut.
1) Produk inti (the core product), ialah produk inti dianggap sebagai
elemen sentral dari total produk, yang mencakup kebutuhan utama
yang dipenuhi, keinginan yang terpenuhi, serta masalah yang dapat
diatasi melalui penggunaan produk tersebut.
2) Produk sebenarnya (the actual product), ialah produk yang lebih
konkrit dan mencakup berbagai aspek seperti kualitas, fitur,
kemasan, gaya, desain, serta merek yang terkait. Dalam situasi yang
diinginkan, keputusan mengenai produk harus didasarkan pada
kebutuhan dan preferensi konsumen, serta mempertimbangkan
alternatif produk yang tersedia.
3) Produk tambahan (augmented product), ialah produk yang
mencakup fitur dan layanan yang memberikan nilai tambahan pada
transaksi yang melebihi harapan konsumen. Meskipun banyak
konsumen mungkin menganggapnya tidak penting, sebenarnya
dalam banyak situasi, hal tersebut dapat menjadi faktor penentu
yang membedakan antara pesaing
Kategori-kategori Produk
Menurut Limakrisna dan Purba (2019:88), orang-orang Indonesia
mengenal dua jenis makanan ringan yang umumnya dikonsumsi, yakni:
1) Makanan ringan basah, ialah makanan kecil basah yang biasanya
dipersiapkan oleh ibu rumah tangga untuk dikonsumsi oleh
keluarga. Dimana, setiap daerah di Indonesia memiliki makanan
kecil khas yang terkenal di daerah tersebut. Makanan kecil ini pun
dapat dibeli dari pedagang kaki lima, seperti pisang goreng,
singkong goreng, dan berbagai jenis lainnya.
2) Makanan ringan kering, ialah produk-produk yang biasanya terbuat
dari bahan tepung dan dijual dalam bentuk kemasan. Makanan
ringan kering ini dapat dibagi menjadi kategori, antara lain sebagai
berikut.
a) Makanan ringan kering tradisional, yaitu makanan ringan yang
biasanya dibuat di rumah dengan bentuk standar, dijual dalam
kemasan plastik transparan, dan hanya memiliki tiga rasa umum
seperti asin, manis, dan pedas.
b) Makanan ringan kering modern, yaitu makanan ringan yang
diproduksi dalam jumlah besar dan memiliki kemasan yang
modern, serta tersedia dalam kemasan tunggal
Pengertian Kualitas Produk
Menurut Suhardi et al. (2022:53), kualitas produk merupakan
kapasitas suatu produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan
konsumen.
Menurut Tjiptono dalam Okhtavia dan Setiawan (2022:360),
kualitas produk merupakan karakteristik unik yang dimiliki sebuah
produk, termasuk kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan tertentu,
dan mencakup karakteristik mendasar.
Indikator Inovasi Produk
Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:77—78)
ada enam indikator inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia, ialah produk baru yang menciptakan pasar
yang benar-benar baru, dimana pesaing belum pernah membuat
produk serupa, sehingga produk tersebut benar-benar baru untuk
membedakan produk baru ini dengan produk serupa.
2) Lini produk baru, ialah produk baru yang memungkinkan bisnis
memasuki pasar yang ada untuk pertama kalinya, dan lini produk
baru memengaruhi pilihan produk konsumen.
3) Tambahan pada lini produk yang telah ada, ialah produk baru yang
melengkapi atau menambah suatu lini produk bisnis yang sudah
mapan, sehingga produk menjadi lebih beragam dan menawarkan
banyak pilihan.
4) Perbaikan dan revisi produk yang telah ada, ialah cara untuk selalu
memperbaharui produk yang telah ada di pasaran. Produk yang
menawarkan kinerja atau nilai unggul dan menggantikan produk
yang sudah ada, menghasilkan produk baru dengan kinerja dan
kegunaan yang lebih baik.
5) Penentuan kembali, ialah produk yang sudah ada yang ditargetkan
atau dipasarkan ke pasar atau segmen pasar baru, yang diharapkan
dapat memperluas pemasaran dengan mendapatkan pangsa pasar
atau konsumen baru untuk meningkatkan penjualan.
6) Pengurangan biaya, ialah produk baru yang menawarkan produk
alternatif dengan kinerja atau manfaat serupa, tetapi dengan harga
yang lebih rendah atau terjangkau, yang bertujuan untuk
memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan memengaruhi
pertumbuhan volume penjualan produk
Tipe-tipe Inovasi Produk
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:350—352), terdapat enam
tipe inovasi produk yang dihasilkan dari pengembangan produk baru,
yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia (new-to-the-world products), ialah produk
yang mewujudkan sebuah pasar baru dan menjadikan siklus hidup
yang baru.
2) Lini produk baru (new product line), ialah produk baru suatu
perusahaan yang telah diluncurkan oleh pasar yang sudah ada.
3) Perluasan lini (line extension), ialah sebuah produk baru yang
memungkinkan perusahaan menjangkau pasar lebih luas dengan
penawaran manfaat yang memiliki pembeda.
4) Penyempurnaan produk yang telah ada (improvements to existing
products), ialah sebuah produk yang umumnya didesain sebagai
pengganti produk yang telah ada sebelumnya.
5) Repositioning, ialah kemungkinan penawaran aplikasi baru dalam
pemenuhan kebutuhan baru dengan pengembangan teknis suatu
produk.
6) Pengurangan biaya (cost reductions), ialah pemberian kemampuan
kerja produk yang ada sesuai harga yang lebih rendah.
Jenis-jenis Inovasi Produk
Menurut Setiadi (2019:304—305), ada beberapa jenis inovasi
produk, yaitu sebagai berikut.
1) Inovasi berkelanjutan, yaitu mengubah produk yang telah ada dan
tidak menciptakan produk baru.
2) Inovasi berkelanjutan yang dinamis, yaitu penciptaan produk baru
atau perubahan produk yang telah ada, biasanya tidak mengubah
kebiasaan membeli dan penggunaan produk konsumen yang sudah
baik.
3) Inovasi terputus, yaitu produk yang benar-benar baru yang
memotivasi pembeli untuk mengubah perilaku konsumen mereka
secara signifikan
Inovasi Produk
Perkembangan selera konsumen yang semakin berubah-ubah,
menuntut sebuah bisnis agar selalu menciptakan inovasi produk untuk
mempertahankan dan meningkatkan daya saing sebuah bisnis di persaingan
pasar yang semakin ketat. Sebuah bisnis yang menawarkan inovasi produk
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen yang memberikan
keunggulan kompetitif dibandingkan pesaingnya akan menjadi daya tarik
konsumen untuk memutuskan membeli suatu produk.
Pengertian Inovasi Produk
Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:52), inovasi produk adalah
strategi yang dijalankan oleh pengusaha untuk memperbaiki,
menyempurnakan, mengembangkan, dan melengkapi produk yang telah
diproduksi sebelumnya.
Menurut Prasetyo (2018:37), inovasi produk adalah sumber
inspirasi baru yang menarik, sehingga seseorang dapat secara sadar
mengajukan inovasi dengan tujuan pembangunan dan strategi yang
menarik.
Menurut Jauhari (2020:227), inovasi produk adalah promosi
keistimewaan produk yang dapat menjadikan produk lebih unggul
daripada pesaingnya, jika produk memiliki keunggulan, maka akan
menciptakan nilai tambah bagi konsumen.
Menurut Setiadi (2019:304), inovasi produk adalah konsep,
tindakan, atau objek yang memiliki perbedaan kualitatif dari bentuk
yang telah ada dalam hal keunggulan komparatif, kesesuaian,
kompleksitas, ketercobaan, dan visibilitas.
Menurut Setyabudi dan Suranto (2018:116), inovasi produk
merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan jasa, termasuk
melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama yang telah
ada.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Keller dalam Octavia (2021:712), ada tiga
indikator keputusan pembelian, antara lain sebagai berikut.
1) Kebiasaan dalam membeli produk, yaitu kebiasaan yang umum
dilakukan oleh konsumen sebagai kecenderungan untuk membeli
produk.
2) Memberikan rekomendasi kepada orang lain, yaitu deskripsi
perilaku konsumen saat menawarkan rekomendasi, pilihan, atau
saran tentang suatu produk yang mereka yakini menawarkan nilai
uang dan kualitas yang baik untuk produk tersebut kepada orang
lain.
3) Melakukan pembelian ulang, yaitu tindakan yang mencerminkan
perilaku individu yang merasa puas dengan produk dan kemudian
memutuskan untuk membeli kembali produk tersebut karena
percaya bahwa produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen.
Adapun indikator keputusan pembelian menurut Schiffman dan
Kanuk dalam Maharani (2019:13), antara lain sebagai berikut.
1) Pemilihan produk, yaitu konsumen memilih apakah akan membeli
produk atau mengalokasikan uang untuk keperluan lain.
2) Pemilihan merek, yaitu saat akan membeli produk, konsumen perlu
memutuskan merek mana yang ingin dibeli karena setiap merek
memiliki perbedaan dan karakteristik masing-masing.
3) Pemilihan pemasok, yaitu dalam memutuskan pengecer mana yang
akan dituju, konsumen perlu membuat keputusan sendiri karena
preferensi setiap konsumen berbeda-beda.
4) Jumlah pembelian, yaitu keputusan mengenai jumlah produk yang
akan dibeli dapat diambil oleh konsumen.
Proses Keputusan Pembelian
Menurut Abdurrahman (2015:41—43), terdapat lima tahap dalam
proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen, antara lain
sebagai berikut.
1) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian diawali ketika konsumen menyadari adanya
masalah atau kebutuhan yang harus dipenuhi baik dipicu oleh faktor
internal atau eksternal. Pelaku usaha perlu melakukan penelitian dan
memahami jenis kebutuhan yang memotivasi konsumen, serta
mengarahkan mereka pada produk atau jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan.
2) Pencarian Informasi
Langkah kedua dalam proses pengambilan keputusan
pembelian adalah pencarian informasi, dimana konsumen mencari
informasi tambahan. Ada beberapa sumber informasi yang dapat
diakses oleh konsumen, antara lain sebagai berikut.
a) Sumber pribadi, meliputi keluarga, teman, tetangga, dan kolega.
b) Sumber komersial, meliputi iklan, wiraniaga, distributor,
kemasan, pajangan di toko.
c) Sumber publik, meliputi media massa, organisasi penentu
tingkatan konsumen.
d) Sumber pengalaman, meliputi penanganan, peninjauan, dan
pemakaian produk.
3) Evaluasi Alternatif
Evaluasi alternatif merupakan bagian dari proses pengambilan
keputusan pembelian oleh konsumen, dimana informasi digunankan
untuk mengevaluasi merek-merek alternatif yang tersedia dalam
beberapa pilihan yang dipertimbangkan.
4) Keputusan Pembelian
Bagi pemasar, keputusan pembelian merupakan salah satu
alternatif pilihan penting yang harus dipertimbangkan, dimana
keputusan ini merujuk pada keputusan konsumen untuk membeli
atau tidak membeli produk atau jasa tertentu.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah melakukan pembelian, konsumen akan melakukan
tindakan selanjutnya berdasarkan tingkat kepuasan atau
ketidakpuasan mereka yang ditentukan oleh perbandingan antara
harapan konsumen dan daya kerja produk atau jasa yang diterima
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Islamey dan Maskur (2023:767), keputusan pembelian
adalah proses pengambilan keputusan saat hendak melakukan
pembelian berdasarkan keinginan dan kebutuhan konsumen, dengan
tujuan konsumen merasa puas terhadap produk yang dibelinya.
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Pramana dan Soebiantoro
(2023:988), keputusan pembelian adalah pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang perlu memiliki berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono dalam Sari dan Soebiantoro (2022:854),
keputusan pembelian merupakan upaya konsumen dalam mencari
informasi dan menilai kemampuan suatu produk atau merek untuk
memenuhi kebutuhan mereka.
Menurut Kotler dalam Shalihah et al. (2021:88), keputusan
pembelian merupakan tindakan dimana konsumen secara sungguh-
sungguh memilih untuk membeli dan mengkonsumsi barang atau jasa
tertentu dari beragam opsi alternatif yang tersedia.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), keputusan pembelian
merupakan suatu proses dimana konsumen menghadapi berbagai
pilihan, lalu membuat keputusan untuk membeli penawaran produk
tersebut.
Indikator Word of Mouth
Terdapat tiga indikator Word of Mouth, yang pertama adalah berbicara
mengenai pengalaman positif dan kualitas produk. Indikator kedua melibatkan
merekomendasikan kepada teman dan keluarga. Sedangkan indikator ketiga
terkait dengan usaha untuk membujuk teman dan mengajak keluarga untuk
melakukan sesuatu (Fakhrudin et al., 2021).
Pengertian Word of Mouth
Word of Mouth merupakan komunikasi yang terjadi melalui perkataan atau
saran dari orang ke orang mengenai pandangan atau penilaian terhadap suatu
produk atau layanan. Komunikasi ini dapat terjadi baik secara personal maupun
dalam kelompok, dengan tujuan memberikan informasi secara pribadi mengenai
suatu produk atau layanan (Fakhrudin et al., 2021). Word of Mouth merupakan
bentuk komunikasi antara individu, di mana informasi mengenai suatu produk,
layanan, atau merek disampaikan dari satu orang ke orang lain. Dalam proses ini,
pesan yang disampaikan penerima pesan bersifat non-komersil (Suarmaja et al.,
2023). Word of Mouth adalah suatu aktivitas pemasaran yang memiliki potensi
untuk mendorong individu konsumen agar berbicara, mempromosikan,
merekomendasikan, dan bahkan menjual produk atau merek perusahaan kepada
calon pelanggan lainnya (Wibowo et al., 2022)
Indikator Brand Image
Indikator brand image melibatkan tiga aspek utama. Pertama, citra
perusahaan mencakup pandangan konsumen terhadap perusahaan, termasuk
popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, dan pemakai produk (Syahrazad
and Hanifa, 2019). Kedua, citra produk mengevaluasi persepsi konsumen terhadap
barang atau jasa, melibatkan atribut produk, manfaat bagi konsumen, dan jaminan
produk (Arianty and Andira, 2021). Ketiga, citra pemakai mencakup persepsi
yang dihasilkan oleh konsumen terhadap pemakaian barang atau jasa, melibatkan
identitas pemakai dan status sosialnya (Liyono, 2022). Ketiga aspek ini menjadi
indikator penting dalam membentuk citra merek dan memengaruhi persepsi
konsumen terhadap produk atau layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan
(Dairina and Sanjaya, 2022)
Indikator Brand Ambassador
Indikator yang digunakan untuk menilai variabel brand ambassador
mencakup transference, congruence, kredibilitas, daya tarik, dan power (Amalia
and Riva’i, 2022). Transference (keterbukaan) adalah saat seorang selebriti
mendukung merek yang terkait dengan profesi mereka, dan produk yang
dipromosikan dapat diterima oleh konsumen (Muthia and Kusumahadi, 2023).
Congruence (kesesuaian) merupakan konsep kunci dalam peran brand
ambassador yang memastikan keselarasan antara merek dan selebriti, sehingga
produk yang diiklankan dapat meningkatkan kepercayaan dan ketergantungan
konsumen (Wardani and Istiyanto, 2022). Kredibilitas menunjukkan sejauh mana
konsumen melihat bahwa selebriti tersebut memiliki pengetahuan, keterampilan,
atau pengalaman yang relevan, sehingga dianggap dapat dipercaya untuk
memberikan informasi objektif (Siahaan et al., 2022). Daya Tarik merupakan
aspek nonfisik penampilan selebriti yang mendukung citra produk melalui
kecerdasan, sifat kepribadian, gaya hidup, atau kebugaran tubuh (Rusli et al.,
2020). Power (pengaruh) adalah daya tarik kharismatik yang dipancarkan oleh
selebriti untuk mempengaruhi konsumen, mendorong mereka untuk membeli atau
menggunakan produk yang dipromosikan (Muthia and Kusumahadi, 2023).
Pengertian Brand Ambassador
Brand ambassador adalah seseorang yang dipilih oleh suatu merek atau
perusahaan untuk mewakili dan mempromosikan produk atau layanan mereka
(Iswanto, 2021). Brand ambassador adalah individu yang memberikan dukungan
kepada suatu merek dan seringkali berasal dari kalangan tokoh masyarakat yang
terkenal (Rani and Widyasari, 2022). Brand ambassador sering kali dapat
dianggap sebagai bintang iklan atau pendukung iklan yang aktif mendukung dan
mempromosikan produk atau layanan suatu merek (Probosini et al., 2021).
Seorang selebriti atau influencer media sosial yang menjadi brand ambassador
dapat memberikan pengaruh positif terhadap persepsi konsumen terhadap suatu
produk atau merek (Lailiya, 2020). Berdasarkan definisi tersebut, dapat
disimpulkan bahwa Brand Ambassador merupakan strategi perusahaan untuk
memengaruhi konsumen dengan melibatkan selebriti sebagai endorser dalam
mempromosikan citra produk, dengan tujuan meningkatkan tingkat pembelian
oleh konsumen terhadap suatu produk (Fasha et al., 2022).
Indikator Keputusan Pembelian
Indikator keputusan pembelian adalah faktor-faktor atau tanda-tanda yang
memberikan petunjuk atau informasi terkait dengan pengambilan keputusan
pembelian oleh konsumen (Anim and Indiani, 2020). Ada 4 indikator yang dapat
memengaruhi keputusan pembelian. Pertama, kemantapan produk menjadi faktor
kunci, di mana keputusan pembelian dipengaruhi oleh tingkat keyakinan dan
kepercayaan konsumen terhadap stabilitas dan kualitas produk (Maryati and
Khoiri, 2022). Kedua, kebiasaan pembelian konsumen dapat menjadi indikator
yang signifikan, karena konsumen cenderung memilih produk atau merek tertentu
secara teratur berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Camelia and Hartono,
2021). Ketiga, pengaruh dari rekomendasi orang lain, termasuk teman, keluarga,
atau ulasan online, sering menjadi faktor kuat dalam pengambilan keputusan
pembelian (Romadon et al., 2023). Terakhir, tindakan pembelian ulang oleh
konsumen dapat mencerminkan tingkat kepuasan dan kepercayaan terhadap
produk, menjadi indikator bahwa konsumen memilih kembali produk yang sama
berdasarkan pengalaman positif sebelumnya (Misnawati and Sumarni, 2020).
Pemahaman terhadap indikator-indikator ini dapat membantu perusahaan dalam
merancang strategi pemasaran yang lebih efektif untuk memenuhi harapan dan
kebutuhan konsumen
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang
meliputi:
a. Brand Ambassador
Brand ambassador adalah individu yang ditunjuk oleh perusahaan untuk
mempromosikan produknya. Iklan yang disampaikan oleh sumber yang menarik,
seperti selebriti yang populer, akan mendapatkan perhatian besar dan mudah
diingat oleh masyarakat. Personality seorang brand ambassador dapat
mempengaruhi personality dari sebuah brand. Dengan demikian, citra positif dari
brand ambassador dapat meningkatkan citra merek dan menarik konsumen untuk
membeli produk tersebut (Liya et al., 2021).
b. Brand Image
Brand image adalah persepsi konsumen terhadap suatu merek, yang dapat
memengaruhi keputusan pembelian mereka. Konsumen dengan citra positif
terhadap suatu merek lebih cenderung melakukan pembelian pada produk
tersebut. Citra merek yang baik memberikan kepercayaan kepada konsumen
mengenai kualitas produk dan layanan yang ditawarkan (Liya et al., 2021).
c. Word of Mouth
Word of mouth adalah komunikasi informal yang terjadi antara konsumen
mengenai pengalaman mereka dengan suatu produk. Strategi promosi yang
menggunakan konsumen yang puas untuk meningkatkan kesadaran produk
dikenal sebagai Word of Mouth. Word of Mouth dianggap lebih terpercaya
dibandingkan informasi dari iklan, karena informasi tersebut berasal dari orang
yang dikenal dan dipercaya, seperti teman atau keluarga. Kemudahan dalam
melakukan WOM tanpa disadari dapat meningkatkan nilai suatu produk di mata
konsumen lainnya, sehingga mempengaruhi keputusan pembelian mereka (Liya et
al., 2021).
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan proses di mana konsumen memilih dan
membeli produk atau layanan tertentu dari berbagai pilihan yang tersedia (Sari,
2020). Menurut Kotler and Armstrong (2018), keputusan pembelian merupakan
keputusan konsumen tentang merek mana yang akan dibeli dari berbagai pilihan
yang tersedia di pasaran. Proses pengambilan keputusan konsumen yang rumit
seringkali melibatkan beberapa tahap dan keputusan yang saling terkait (Kotler
and Armstrong, 2018). Menurut Firmansyah (2019), keputusan pembelian adalah
langkah-langkah pemecahan masalah yang diambil oleh individu saat memilih
tindakan yang paling sesuai dari dua atau lebih alternatif perilaku. Proses ini
dianggap sebagai langkah yang paling tepat dalam melakukan pembelian,
melibatkan tahapan proses pengambilan keputusan sebelumnya (Firmansyah,
2019). Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh bagaimana suatu proses
pengambilan keputusan pembelian tersebut dilaksanakan (Tanady and Fuad,
2020). Sementara menurut Yusuf (2021), keputusan pembelian merupakan
evaluasi pilihan-pilihan yang dilakukan individu untuk memilih produk tertentu
dari berbagai opsi (Yusuf, 2021).
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan
keputusan oleh konsumen untuk memanfaatkan barang atau jasa. Proses ini
melibatkan pertimbangan mengenai pilihan produk atau jasa yang akan dibeli,
evaluasi terhadap kualitasnya, penentuan jumlah yang dibutuhkan, serta cara atau
metode pembelian yang akan digunakan (Maryati and Khoiri, 2022)
Kekuatan Asosiasi Merek
Ketika konsumen telah menggunakan suatu produk, maka
konsumen akan mengingat kesan yang dirasakannya dari produk
tersebut. Terlebih lagi ketika konsumen tersebut telah merasakan
manfaat yang diambilnya setelah menggunakan produk tersebut
maka asosiasi yang baik terhadap produk tersebut akan semakin
kuat. Reputasi inilah yang dibangun melalui citra merek.
Reputasi yang baik tidak hanya diambil dari segi manfaatnya saja
melainkan juga efek yang ditimbulkan setelah menggunakan
produk tersebut. Seperti halnya ketika konsumen menggunakan
produk kosmetik Wardah maka selain ekspresi cantik yang
dirasakannya juga rasa aman karena telah mengkonsumsi produk
dengan label hala
Ciri-ciri Citra Merek
Merek merupakan hal penting bagi sebuah perusahaan.Karena dengan
merek yang bernilai positif, para konsumen dapat menyimpan informasi yang unik
didalam memori mereka sehingga ketika disebutkan sebuah kategori produk,
muncul merek tertentu untuk di recall dalam kognisi individu.Merek juga menjadi
pembeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya.
Menurut sebuah biro riset (dalam Ningsih, 2009, hal. 28) terdapat
beberapa ciri dari citra merek yang terdiri dari tiga komponen, yakni:
1) Brand Association
Merupakan tindakan dari konsumen untuk membuat asosiasi tentang
merek tertentu berdasarkan informasi atau pengetahuan mereka, baik
pengetahuan yang sifatnya faktual maupun berdasar pada pengalaman
dan emosi.
2) Brand Value
Merupakan tindakan konsumen dalam memilih merek.Tindakan
konsumen tersebut lebih mengarah pada alasan persepsi mereka
terhadap karakteristik merek dengan menghubungkannya dengan nilai-
nilai yang diyakini mereka.
3) Brand Positioning
Merupakan persepsi konsumen tentang kualitas merek, dimana mereka
akan menggunakannya pada saat memilih berbagai alternatif pilihan
yang ada
Pengertian Citra Merek
Citra Merek dapat didefinisikan sebagai persepsi tentang merek yang
dihubungkan dengan informasi terhadap merek tersebut dan melekat dalam
ingatan konsumen (Rangkuti, 2000, hal. 90). Selain itu, citra merek dapat
diartikan sebagai nilai simbolis yang berhubungan dengan merek tersebut.
Pengertian lain menyebutkan bahwa citra merek diartikan sebagai
sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen (Rangkuti, 2004,
hal. 43 ).
Pengertian Merek
Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda, symbol, atau rancangan atau
bahkan kombinasi dari kesemuanya, yang bertujuan untuk menyebutkan barang
atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan membedakannya dari para
pesaingnya (Kotler, 1999, hal. 194).
Menurut perspektif pemasaran, merek adalah symbol manifestasi dari
seluruh informasi yang berkaitan dengan suatu produk atau jasa. Merek juga
merupakan bentuk visualisasi yang ingin ditanamkan perusahaan pada benak
konsumen. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari peluncuran sebuah merek
adalah menjadikannya identitas perusahaan dan membedakannya dengan produk
perusahaan lain, merek juga dapat digunakan sebagai alat promosi yang dapat
menjadi daya tarik sebuah produk, membina citra kepada konsumen dengan
memberikan keyakinan, dan jaminan kualitas, selain itu merek juga dapat
digunakan untuk mengendalikan pasar (Widiana & Bonar, 2010 hal. 43).
Istilah brand berasal dari kata brandr yang berarti “to brand”, yaitu
aktivitas yang sering dilakukan para peternak sapi Amerika dengan memberi
tanda pada ternak-terak mereka untuk memudahkan identifikasi kepemilikan
sebelum dijual ke pasar (Sadat, 2009, hal. 18).
Menurut UU Merek No. 15 Tahun 2001 pasal 1 ayat 1 (dalam Tjiptono,
2005, hal. 2), merek adalah:
“tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,
susunan warna, atau kombinasi dan unsur-unsur tersebut yang memiliki
dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”.
Merek juga dapat diartikan sebagai nama atau simbol yang dihubungkan
dengan suatu produk atau jasa dan menimbulkan arti psikologis (Susanto dan
Wijarnako, 2004, hal. 5). Merek berperan sebagai sarana bagi perusahaan untuk
membina dan mengembangkan loyalitas konsumen. Merek yang kuat akan
memberikan nilai positif dari produk yang dihasilkan, selain itu juga dapat
menghalang pesaing untuk masuk ke pasar sasaran perusahaan
Pengertian Citra
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiamenyebutkan bahwa citra adalah
gambaran yang dimiliki banyak orang mengenai pribadi, perusahaan, organisasi
atau produk (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989, hal. 169).
Disisi lain, citra diartikan sebagai persepsi total mengenai suatu obyek
yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai member (Assel, 1992,
hal. 65).
Pride dan Ferrell mengemukakan bahwa untuk menarik minat konsumen
maka sebuah iklan pada promosi suatu produk harus memperhitungkan suatu
image atau citra yakni gambaran fungsional dan gambaran psikologis dalam
benak manusia (Pride dan Ferrell, 1989, hal. 156)
Definisi Pengambilan Keputusan
Pilihan-pilihan produk dan jasa konsumen terus berubah. Hal ini
disebabkan dengan semakin pesatnya jenis produk dan jasa yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan. Selain itu, perusahaan yang ingin berkembang dan menarik
pelanggan sebanyak-banyaknya, perlu mempunyai pengetahuan yang mendalam
tentang perilaku konsumen agar dapat mendefinisikan pasar yang baik dan
mengikuti perubahan yang konsisten terus-menerus serta merancang bauran
pemasaran yang tepat.
Dalam memahami tentang perilaku konsumen, terdapat apa yang disebut
dengan pengambilan keputusan konsumen. Keputusan adalah membuat pilihan
diantara dua alternatif atau lebih. Keputusan juga dapat diartikan sebagai hasil
dari pemecahan masalah, namun dalam prosesnya harus didasari oleh logika dan
pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta mendekati dari tujuan yang telah
dibuat sebelumnya (Soenhadji, hal. 2).
Menurut Kotler (dalam Yulaifah, 2011, hal. 23) keputusan adalah sebuah
proses pendekatan dalam upaya menyelesaikan masalah yang terdiri dari tahapan-
tahapan berikut; pencarian informasi, penilaian beberapa alternatif, merumuskan
keputusan membeli dan perilaku setelah membeli yang dilalui konsumen.
Sedangkan pengertian dari pengambilan keputusan didefinisikan sebagai suatu
respon terhadap suatu masalah, dimana masalah merupakan kesenjangan antara
keadaan yang terjadi dengan keadaan yang diinginkan (Robbins, 1996, hal. 134)
Source Characteristics
Komunikasi yang efektif dipengaruhi oleh bagaimana karakteristik
komunikator tersebut, yaitu bagaimana pesan dapat diterima oleh penerima dan
dapat mempersuasi penerima. Tiga faktor dari komunikator sebagai karakteristik
sumber menurut Kelman (2012) adalah source credibility, source attractiveness,
dan source power.
- Source Credibility
Source Credibility dapat tercipta apabila sumber tersebut memiliki
pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang relevan terhadap suatu
bidang yang berhubungan dengan pesan yang diinformasikan. Sehingga
sumber dapat memberikan pendapat yang bersifat obyektif atau dapat
dipercaya - Source Attractiveness Daya tarik seorang komunikator dikaitkan
dengan tingkah laku seseorang, bagaimana individu tersebut dapat
meyakinkan atau mempersuasi pihak penerima. - Source Power Sumber atau komunikator memiliki kekuatan atau
kekuasaan dalam hal mempengaruhi penerima. Kekuatan yang dimiliki
tersebut untuk menghukum atau sebaliknya, memberikan penghargaan
kepada penerimanya.
Electronic Word of Mouth
Hermawan (2012:211) Electronic word of mouth merupakan fenomena
yang terjadi pada saat seorang konsumen menggunakan teknologi internet atau
www (world wide web) untuk berkomunikasi dengan orang lain ketika mencari
pendapat atau opini mengenai merek tertentu dari produk atau jasa serta perusahaan
(Manzoor, 2010). eWOM dapat berupa pendapat atau opini negatif serta positif dari
seseorang yang telah menggunakan produk atau jasa untuk mengetahui bagaimana
kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut melalui jejaring sosial, blog, situs
web, dan aplikasi.
Pemasaran Online dan Media Sosial
Online and social media marketing menurut Kotler dan Keller (2016:26)
adalah “online activites and programs designes to engage customers or prospects
and directly or indirectly raise awareness, improve image, or elicit sales of
products and services”. Media sosial merupakan suatu aktivitas komunikasi
pemasaran yang menggunakan media elektronik (online) dalam menarik konsumen
atau perusahaan dalam berbagai bentuk (gambar, tulisan, dll) untuk meningkatkan
kesadaran, citra perusahaan, dan untuk meningkatkan penjualan.
Pengguna internet semakin bertambah dari tahun ke tahun sehingga
perusahaan membuat strategi pemasaran baru yang efektif dan efisien yaitu
pemasaran dengan media internet. Menurut Hermawan (2012) pemasaran internet
juga dapat disebut sebagai pemasaran-I, web marketing, online marketing, e-
marketing, e-commerce yaitu pemasaran produk atau jasa melalui internet. Model
pemasaran via internet tersebut terdiri dari tiga kategori adalah e-commerce,
pemasaran internet lokal dan pendekatan orang per orang (one-one approach).
Hermawan (2012:211). Agar menemukan produk yang dibutuhkan, pengguna
melakukan pencarian dengan browsing internet untuk mencari sesuatu informasi
seperti, produk dan penawaran tertentu atau hal lainnya. Dengan menggunakan kata
yang dimasukkan, pengguna langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Indikator Minat Beli
Menurut Schiffman dan Kanuk (2014:201) Menyatakan bahwa minat
merupakan salah satu aspek psikologis yang memiliki pengaruh cukup besar
terhadap sikap dan perilaku seorang konsumen dalam membeli suatu merek, atau
mengambil sebuah tindakan yang berhubungan dengan pembelian. Seorang
konsumen tidak dengan sendirinya memiliki keputusan dalam pembelian barang
atau jasa, terlebih dahulu konsumen mencari informasi dari orang terdekat atau
orang yang benar benar di percaya untuk membantunya dalam mengambil sebuah
tindakan yang berhubungan dengan pembelian.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2014:201) terdapat beberapa indikator yang
mempengaruhi minat beli, berikut 5 indikator minat beli :
- Memiliki keinginan untuk mencari informasi tentang produk.
Menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi
mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut. - Melakukan pertimbangan untuk membeli.
Mengggambarkan perilaku seseorang yang memiliki Hasrat untuk
mempertimbangkan biaya dan waktu. Biasanya konsumen mendalami tentang
kelebihan produk, maka pada tahap ini konsumen akan memiliki keinginan
dan hasrat untuk membeli produk tersebut. - Memiliki keinginan untuk mencoba.
Menggambarkan perilaku seseorang yang tertarik untuk mencoba dan ingin
mengetahui tentang produk. Biasanya konsumen ingin memiliki produk
setelah mengetahui informasi tentang produk maka konsumen akan tertarik
untuk membeli dan memiliki produk - Memiliki rasa ingin tahu terhadap produk.
Menggambarkan perilaku seseorang konsumen yang memiliki minat
terhadap produk sebelum menggunakan produk tersebut. Biasanya
konsumen tertarik dengan produk tersebut maka pada tahap ini akan timbul
rasa ketertarikan terhadap produk. - Ingin memiliki produk.
Menggambarkan perilaku seseorang konsumen yang memiliki minat
terhadap suatu produk barang atau jasa. Biasanya konsumen yang
cenderung memiliki minat terhadap suatu barang atau jasa akan bersedia
untuk membeli produk tersebut
Minat Beli
Menurut Kotler dan Keller (2016:181) minat beli adalah seberapa besar
kemungkinan konsumen membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar
kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya maka
dorongan untuk membeli semakin tinggi.
Menurut Kotler dan Amstrong (2014:106) Minat beli adalah sesuatu yang
timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, lalu muncul
keinginan untuk membeli dan memilikinya. Minat beli menciptakan suatu motivasi
yang akan terus terekam dalam pikirandan menjadi suatu keinginan yang sangat
kuat yang pada akhirnya ketikaakanmemenuhi kebutuhannya mereka akan
merealisasikan apa yang ada dalam pikiraannya. bahwa motivasi sebagai kekuatan
dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk melakukan
tindakan. Jika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu,
maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai produk tersebut. Sebaliknya
jika motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk menghindari obyek yang
bersangkutan.
Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Buchari Alma (2016:96) bahwa keputusan pembelian dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk,
harga, lokasi, promosi, physical evidence, people, process, sehingga akan
membentuk kepada keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen.
- Ekonomi Keuangan
Keadaan ekonomi seseorang adalah terdiri dari pendapatan yang dapat
dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya dan polanya)tabungan dan hartanya,
kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap mengeluarkan lawan
menabung. - Teknologi
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang
yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. - Politik
Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan
kebijakan publik. - Budaya
Budaya merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan
perilaku seseorang. Bila makhluk-makhluk lainnya bertindak berdasarkan
naluri, maka perilaku manusia umumnya dipelajari. Dalam naluri manusia
tentunya akan memutuskan membeli produk yang memiliki kualitas yang
berarti faktor kualitas produk merupakan salah satu unsur dalam Faktor
Kebudayaan - Produk
Kombinasi antara barang dan jasa dari perusahaan yabg dapat ditawarkan
kepada pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan terentu yang
diharapkan untuk dapat diterima dengan baik oleh pasar. - Price
Jumlah uang atau kewajiban yangharusdibayarkan oleh konsumen untuk
mendapatkan suatu produk atau jasa yang diinginkan oleh konsumen. Harga
dapat menjadikan pertimbangan bagi konsumen untuk membeli suatu produk
atau layanan. - Place
Meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk yang tersedia dan dapat
dijangkau konsumen. - Promotion
Kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan
manfaat produk, membujuk konsumen dengan berbagai cara agar konsumen
tertarik untuk membelinya dan dapat loyal terhadap produk yang telah
dipasarkan. - Physical evidence
Physical evidence atau bukti fisik merupakan suatu hal yang mempengaruhi
kepuasan konsumen untuk membeli dan menggunakan barang atau jasa yang
ditawarkan. - People
People adalah orang yang memainkan peranan dalam memberikan pelayanan,
termasuk orang-orang yang berinteraksi langsung dengan pelanggan. - Process
Proses adalah metode, prosedur ataupun urutan kegiatan aktivitas yang saling
terkait dalam rangka menyampaikan layanan atau jasa kepada pelanggannya.
Indikator Keputusan Pembelian
Kotler dan Keller (2016:188) mengemukakan keputusan pembelian
memiliki dimensi sebagai berikut :
- Pilihan Produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini perusahaan
harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli
serta alternatif lain yang mereka pertimbangkan. - Pilihan Merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang akan dibeli
setiap merk memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. - Pilihan Saluran Pembelian
Konsumen mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur
bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persedian
barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan tempat dan lain-
lain. - Pilihan Waktu Pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda
misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu
sekali dan lain sebagainya. - Jumlah pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih
dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk
sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda.
Keputusan Pembelian
Kotler dan Keller (2016:102) menjelaskan bahwa “Pada tahap evaluasi,
konsumen membentuk preferensi di antara merek dalam pilihan dan mungkin juga
membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai.” Menurut Kotler dan
Keller (2016:198) keputusan pembelian merupakan “in the evalution stage, the
consumer forms preferences among the brands in the choice and may also form an
intention to buy the most preferred brand”. Pernyataaan diatas dapat diartikan
bahwa dalam tahap evalusi konsumen membentuk preferensi merek dalam
pemilihan dan mungkin juga membentuk niat untuk membeli merek yang paling
disukai.
Menurut Kotler dan Armstrong (2014:129) “keputusan pembelian merupakan
proses keputusan dimana konsumen benar-benar memutuskan untuk membeli salah
satu produk diantara berbagai macam alternatif pilihan”Keputusan pembelian
merupakan sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari
informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi seberapa baik
masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian
mengarah kepada keputusan pembelian (Tjiptono, 2014:21)
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Menurut Kotler dan Armstrong (2014:135) Memahami konsumen sasaran
dan tipe dari proses keputusan yang akan mereka lalui merupakan tugas penting
bagi seorang pemasar. Disamping itu, pemasar juga perlu mengenal pelaku-pelaku
lain yang mempengaruhi keputusan membeli, memahami tingkah pembeli pada
setiap tahap pembelian dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku mereka.
Jika pemasar tidak mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, maka akan
kesulitan bagi pemasar untuk mengetahui tingkah laku perilaku konsumen.
mengatakan bahwa: “perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor
budaya, sosial, pribadi, dan psikologis”. Berikut faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen:
- Faktor budaya
Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling
mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-
lembaga penting lainnya. Faktor kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan
dalam pada tingkah laku konsumen. Faktor Kebudayaan, terdiri dari : Budaya, Sub
budaya, Kelas sosial
a) Budaya
Seseorang menciptakan kumpulan nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari
keluarganya serta lembaga-lembaga penting lainnya.
b) Sub-budaya
Sub-budaya terdiri dari kebangsaan agama, kelompok, ras dan daerah geografis.
Sub-budaya ini terbagi dari beberapa jenis yang dibagi untuk mempengaruhi
perilaku konsumen untuk memudahkan perusahaan dalam melihat perilaku
konsumen.
c) Kelas sosial
Stratifikasi kadang-kadang terbentuk sistem kasta dimana anggota kasta yang
berbeda dibesarkan dalam peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan
kasta mereka. - Faktor sosial
Kelas sosial merupakan pembagian masyarakat yang relatif homogen dan
permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai,
minat, dan perilaku yang serupa. Faktor Sosial, terdiri dari : Kelompok, Keluarga,
Peran dan status
a) Kelompok referensi
Seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung (tatap
muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok
merupakan pengaruh yang paling besar bagi setiap konsumen.
b) Keluarga
Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dan
masyarakat dan ia telah menjadi objek penelitian yang luas.
c) Peran dan status
Seseorang berpartisipasi kedalam banyak kelompok sepanjang hidup keluarga,
klub dan organisasi. - Faktor Pribadi
Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang yang
berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatifkonsisten dan
bertahan lama terhadap lingkungan Faktor Pribadi, terdiri dari : Usia dan tahap
siklus hidup, Pekerjaan dan lingkungan, Gaya hidup, Kepribadian dan Konsep Diri.
a) Usia dan tahap siklus hidup
Setiap orang membeli barang-barang yang berbeda pada tingkat usia terntentu dan
tingkat manusia terhadap pakaian, peralatan, yang juga berhubungan dengan
manusia. Tentunya untuk setiap kebutuhan setiap orang berbeda-beda baik itu
anak kecil, remaja, dan orang dewasa.
b) Pekerjaan dan lingkungan
Ekonomi Pekerjaan seseorang juga mempengaruhi pola konsumsinya. Seseorang
direkrut perusahaaan akan mempunyai pola konsumsi yang berbeda dengan
seorang yang berprofesi debagai dokter dan lain sebagainya.
c) Gaya hidup
Merupakan pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas
minat dan opini. Gaya hidup merupakan kebiasaan seseorang atau keluarga yang
sering dilakukan rutin.
d) Kepribadian dan Konsep diri
Kepribadian diartikan sebagai karakteristik psikologi seseorang yang berbeda
dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan
bertahan lama terhadap lingkungannya. - Faktor Psikologis
Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia
tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa
lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang. Faktor Psikologis, terdiri
dari : Motivasi, Persepsi, Pembelajaran, Keyakinan dan sikap.
a) Motivasi
Motivasi adalah kebutuhan yang mendorong seseorang untuk bertindak. Motivasi
bisa muncul dari dalam maupun dari luar.
b) Persepsi
Persepsi merupakan proses yang digunakan oleh individu untuk memilih,
mengorganisasikan, dan menginterpretasikan masukan-masukan guna
menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
c) Pembelajaran
Meliputi perubahan seseorang yang timbul berdasarkan pengalaman
dipenengaruhi oleh lingkungan tertentu.
d) Keyakinan dan sikap
Keyakinanmerupakan gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang suatu
hal. Keyakinan dapat berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan.
Perilaku pembelian seseorang dapat dikatakan sesuatu yang unik, karena
preferensi dan sikap terhadap objek setiap orang berbeda. Selain itu konsumen
berasal dari beberapa segmen, sehingga apa yang diinginkan dan dibutuhkan juga
berbeda. Beberapa segmen konsumen sangat mempengaruhi proses keputusan
pembelian. Keputusan seorang konsumen dipengaruhi oleh ciri-ciri
kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen
akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelia
Perilaku Konsumen
Kotler dan Keller (2016:179), perilaku konsumen yaitu sebagai studi
tentang bagaimana tindakan individu, organisasi, dan kelompok dalam membeli,
memilih dan menggunakan ide, produk maupun jasa dalam memuaskan kebutuhan
dan keinginan pelanggan. Konsep pendekatan perilaku konsumen mengajarkan
agar pemasar cenderung memiliki orientasi lebih kepada pelanggan dan bukan
hanya sekedar menjual apa yang diproduksi perusahaan. Perilaku konsumen
merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian. Ketika memutuskan akan membeli suatu barang atau produk, konsumen
selalu memikirkan terlebih dahulu barang yang akan dibeli. Mulai dari harga,
kualitas, fungsi atau kegunaan barang tersebut, dan lain sebagainya. Kegiatan
memikirkan, mempertimbangkan, dan mempertanyakan barang sebelum membeli
merupakan atau termasuk ke dalam perilaku konsumen. Fokus dari perilaku
konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan
sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang. Berikut
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:181) Perilaku konsumen menggambarkan
suatu proses yang berkesinambungan, dimulai dari ketika konsumen belum
melakukan pembelian, saat melakukan pembelian, dan setelah pembelian terjadi
sehingga hubungan antara satu tahap dengan tahapan lainnya menggambarkan
pendekatan proses pembuatan keputusan oleh konsumen. Assael (2014:31)
mengungkapkan bahwa ketika konsumen membuat suatu keputusan, maka mereka
juga akan melakukan evaluasi pasca pembelian berupa feedback yang dapat
dimanfaatkan para pemasar sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran. Seluruh
aktivitas tersebut dipelajari oleh para pemasar untuk mengetahui alasan pelanggan
memilih salah satu merek diantara sejumlah alternatif merek serupa yang ada di
pasaran. Dengan demikian, informasi yang dikumpulkan tersebut akan membantu
manajemen dalam memformulasikan kembali strategi pemasaran yang lebih
mendekati kebutuhan pelanggannya (Schiffman dan Kanuk, 2014:6).
Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller (2016:27) merupakan seni
dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan dan mengkomunikasikan nilai
pelanggan yang umum, kemudian manajemen pemasaran mengatur semua
keinginan pemasaran. Karna hal ini lah manajemen pemasaran sangat penting bagi
perusahaan.
Manajemen pemasaran merupakan penganalisaan, perencanaan,
pelaksanaaan, dan pengendalian program-program yang dibuat untuk membentuk,
membangun memelihara keuntungan dari pertukaran melalui sasaran guna
mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang (Assauri, 2011:28)
Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan
penentuan harga, promosi dan distribusi barang, jasa dan gagasan untuk
menciptakan pertukaraan sesuatu yang bernilai dengan kelompok sasaran
memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi (Tjiptono, 2011:2).
Pemasaran
Marketing is a sociental process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freering, and freely exchanging
products and services of value with others. Pemasaran merupakan kegiatan
mengatur lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan,
menyampaiakan dan bertukar penawaran nilai bagi pelanggan, klien, mitra dan
masyarakat pada umumnya Kotler dan Keller (2016:27).
Menurut AMA (America Marketing Association) yang dikutip oleh Kotler
dan Keller (2016:27) marketing is the activity set of institution and processes for
creating, communicating, delivering, and exchanging offerings that value for
customers, clients, partners, and society at large. Dari defenisi tersebut dapat
diartikan bahwa pemasaran adalah kegiatan, mengatur lembaga, dan proses untuk
menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan bertukar penawaran yang
bernilai bagi pelanggan, klien, mitra dan masyarakat pada umumnya
Indikator Kualitas Pelayanan
Indikator kualitas pelayanan menurut Kotler dalam Arni Purwani
dan Rahma Wahdiniwaty (2017:65) adalah sebagai berikut :
a. Reliability (kehandalan)
Kemampuan untuk melakukan layanan yang dapat diandalkan
dan akurat.
b. Responsiveness (daya tanggap)
Kesediaan untuk membantu pelanggan dan memberikan
layanan yang cepat.
c. Assurances (jaminan)
Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan
mereka untuk menjamin mutu sehingga konsumen yakin dan
percaya.
d. Empati
Perhatian individual terhadap pelanggan
e. Tangibles (bukti fisik)
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, sarana dan prasarana.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Menurut Fandy Tjiptono (2017:180) mendefinisikan
kualitas pelayanan atau kualitas jasa sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan
ekspetasi pelanggan. Kualitas pelayanan adalah seberapa baik
suatu organisasi atau perusahaan mampu merespon kebutuhan
pelanggan. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan waktu respon
kecepatan pelayanan, jaminan pelayanan dan tingkat kepuasan
pelanggan. Menurut Parasuraman dalam Arni Purwani dan
Rahma Wahdiniwaty (2017:65) menyebutkan bahwa kualitas
pelayanan adalah perbandingan antara layanan yang dirasakan
persepsi pelanggan dengan kualitas pelayanan pelanggan yang
diharapkan. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang
mereka terima dengan pelayanan sesungguhnya yang mereka
harapkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.
Jika jasa yang diterima sesuai dengan apa yang diharapkan maka
kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa
yang diterima melebihi harapan konsumen, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas. Sebaliknya
jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan,
maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk dan berakibat pada
citra toko. Menurut Arianto (2018:83) kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai berfokus pada memenuhi kebutuhan dan
persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk memenuhi harapan
pelanggan. Kualitas pelayanan merupakan titik sentral bagi
perusahaan karena mempengaruhi kepuasan konsumen dan
kepuasan konsumen akan muncul apabila kualitas Kualitas
Pelayanan yang diberikan dengan baik. Berdasarkan pendapat
para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas
pelayanan adalah persepsi konsumen tentang seberapa baik
pelayanan yang diterima terutama dalam memenuhi kebutuhan
konsumen
Indikator Store Atmosphere
Indikatore store atmsophere menurut Berman dan Evan
(2014:545) sebagai berikut :
a. Store Exterior (bagian depan toko)
Bagian depan toko mencerminkan kemantapan dan kekokohan
spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada di dalamnya serta
dapat menciptakan kepercayaan goodwill bagi konsumen store
exterior berfungsi sebagai identifikasi atau tanda pengenal
sehingga dinyatakan sebagai lambang. Elemen-elemen store
exterior terdiri dari :
1) Bagian depan toko meliputi pintu masuk dan konstruksi
gedung. Store front harus menciptakan keunikan,
kemantapan, kekokohan atau hal lain yang berkaitan dengan
citra toko.
2) Papan nama (Marque) adalah suatu tanda yang digunakan
untuk memajang nama atau logo suatu toko. Marque dapat
dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf atau
penggunaan lampu neon dan dapat terdiri dari nama atau
logo saja atau dapat dikombinasikan dengan slogan dan
informasi lainnya supaya lebih efektif, marquee harus
diletakan diluar terlihat berbeda dan lebih menarik.
3) Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin, sehingga
dapat mengundang konsumen untuk masuk melihat ke
dalam toko.
b. General Interior (bagian dalam toko)
Menyangkut banyak hal yang harus dirancang untuk
memaksimalkan visual merchandising seperti iklan dapat
menarik pembeli untuk datang ke toko, tetapi yang paling
berpengaruh untuk membuat penjualan setelah pembelian
ketika berada di toko adalah display. Elemen-elemen general
interior terdiri dari :
1) Layout yaitu berkaitan dengan penentuan jenis lantai
(keramik, karpet), desain, warna lantai penting karena
konsumen dapat mengembangkan persepsi mereka
berdasarkan apa yang mereka lihat.
2) Lighting yaitu warna dan tata cahaya dapat memberikan
image pada pelanggan. Warna yang cerah akan
memberikan image berbeda dengan warna lembut dan
kurang terang. Tata cahaya yang baik mempunyai kualitas
dan warna yang dapat membentuk produk-produk yang
ditawarkan lebih menarik.
3) Fixtures yaitu memilih peralatan penunjang dan cara
penyusunan barang harus dilakukan dengan baik agar
mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan dan
harapan konsumen.
4) Temperature yaitu suhu udara dalam ruangan harus diatur
sebaik mungkin jangan terlalu panas atau dingin jika
terdapat ruangan yang tertutup. Image toko juga
dipengaruhi dengan penggunaan AC, kipas angin dan
jendela terbuka.
5) Distance yaitu rak barang yang harus diatur sedemikian
rupa agar cukup lebar dan membuat konsumen lebih
mudah dan nyaman pada saat berada di toko.
6) Dead areas merupakan ruangan di dalam toko dimana
display yang normal tidak bisa diterapkan karena akan
terasa janggal misalnya pintu masuk, toilet dan sudut
ruangan. Pengelola harus dapat menerapkan barang-
barang pajangan biasa untuk memperindah dan
memberikan kesan menarik.
7) Personal yaitu berkaitan dengan karyawan yang ramah,
sopan, berpenampilan menarik dan mengetahui
pengetahuan yang cukup mengenai produk yang dijual.
8) Merchandise yaitu barang dagangan yang dijual pengecer
juga mempengaruhi citra toko. Pengelola toko harus
memutuskan mengenai variasi, warna, ukuran, kualitas,
lebar dan kedalaman produk yang akan dijual.
9) Cashier yaitu pengelola harus memutuskan dua hal yang
berkenaan dengan kasir. Pertama penentuan jumlah kasir
yang memadai agar konsumen tidak terlalu lama antri atau
menunggu proses pembayaran. Kedua adalah penentuan
lokasi kasir, kasir harus ditempatkan di lokasi yang
strategis dan sedapat mungkin menghindari kemacetan
antrian antara konsumen yang keluar masuk toko.
10) Technology / modernization yaitu pengelola toko harus
melayani konsumen secanggih mungkin seperti dalam
proses pembayaran dibuat secanggih dan cepat baik
pembayaran secara tunai atau pembayaran kredit dan
debet.
11) Cleanliness yaitu kebersihan dapat menjadi pertimbangan
utama bagi konsumen dalam mengunjungi toko. Pengelola
toko harus mempunyai rencana yang baik dalam
pemeliharaan kebersihan toko walaupun exterior dan
interior baik bila tidak dirawat kebersihannya akan
menimbulkan penilaian negatif dari konsumen.
c. Store layout (tata letak)
Rencana untuk menentukan lokasi tertentu dan pengaturan dari
jalan atau gang di dalam toko yang cukup lebar sehingga
memudahkan konsumen untuk melakukan aktifitas di
dalamnya.
d. Interior display (papan pengumuman)
Merupakan tanda yang digunakan untuk memberikan
informasi kepada konsumen untuk mempengaruhi suasana
lingkungan toko, yang termasuk interior display
Pengertian Store Atmosphere
Store atmosphere atau suasana toko merupakan suasana
terencana yang sesuai dengan sasaran pasar sehingga
memungkinkan dapat menarik minat konsumen untuk
berkunjung. Menurut Utami (2017:322) mendefinisikan store
atmosphere sebagai karakteristik fisik toko seperti pencahayaan,
warna, temperatur, musik dan aroma sehingga menciptakan
kenyamanan pada konsumen. Suasana toko atau store atmosphere
adalah perasaan atau kejiwaan pada seseorang pada saat
memasuki toko (Alma, 2018:60). Store atmosphere dapat
digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan
pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat
menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian.
M.Ma’ruf Amin (2014:204) store atmosphere adalah suasana
dalam toko yang menciptakan perasaan tertentu dalam diri
pelanggan yang ditimbulkan dari penggunaan unsur-unsur desain
interior seperti pencahayaan, tata suara, sistem pengaturan udara
dan pelayanan Bagi sebuah toko penting untuk menonjolkan
tampilan fisik, store atmosphere berguna untuk membangun citra
dan menarik minat pembeli. Store atmosphere meliputi berbagai
tampilan seperti interior, exsterior, tata letak, lalu lintas internal
toko, kenyamanan, udara, seragam, fasilitas, keunikan desain,
panjang barang dan sebagainya yang menimbulkan daya tarik
konsumen sehingga konsumen nyaman dan membangkitkan
keinginan untuk membeli (Berman dan Evan yang dialih
bahasakan Lina Salim 2014:528). Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa store atmosphere adalah
suasana yang dapat dirasakan konsumen ketika berada di dalam
toko.
Indikator Keragaman Produk
Menurut Philip Kotler (2012:347) adalah tersedianya jenis semua
produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau dikonsumsi
oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen jenis atau
variasi menu yang ditawarkan.
Adapun indikatornya adalah :
- Produk yang tersedia mempunyai berbagai varian
- Terdapat menu yang beragam
- Kualitas produk yang dijual memenuhi selera konsumen.
Dimensi Keragaman Produk
Menurut Kotler dan Keller (2011) terdapat empat dimensi
keragaman produk sebagai berikut :
a. Lebar
Semakin banyak bauran produk yang disajikan mengacu pada
banyaknya lini produk yang berbeda di setiap perusahaan.
b. Kedalaman
Suatu bauran mengacu pada jumlah seluruh barang dalam
bauran tersebut.
c. Keluasan
Suatu bauran produk mengacu pada berapa banyak jenis yang
ditawarkan masing-masing produk dalam lini tersebut.
d. Konsistensi
Bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai
lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi atau yang lainnya
Pengertian Keragaman Produk
Keragaman produk adalah kumpulan semua produk dan
barang yang ditawarkan oleh penjual. Keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk dan
menu yang dapat dilihat dari segi rasa, kualitas serta ketersediaan
produk pada setiap toko tersebut (Aerianto, 2017). Menurut
Kotler (2012:347) kelengkapan produk adalah tersedianya semua
jenis produk yang ditawarkan untuk dimiliki, dipakai atau
dikonsumsi oleh konsumen yang dihasilkan oleh suatu produsen.
Keragaman produk diartikan sebagai suatu usaha
penganekaragaman produk yang dihasilkan oleh perusahaan
untuk digunakan konsumen dalam memuaskan kebutuhannya.
Keragaman produk dan cara penyajian yang berbeda juga dapat
menarik konsumen dan mempertahankan eksistensi pada sebuah
perusahaan. Semua hal dilakukan perusahaan agar terjadi
peningkatan keputusan pembelian.
Keragaman merupakan faktor penting untuk pertimbangan
konsumen dalam memilih alternatif produk yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka. Keragaman produk dapat
berjalan apabila perusahaan terus berinovatif dalam menciptakan
produk baru atau variasi produk yang dihasilkan untuk
memuaskan konsumen. Konsumen akan semakin senang jika
suatu restoran atau toko menyajikan beragam produk dimana di
dalamnya terdapat produk dan menu yang di display secara
lengkap Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen itu sendiri yang merupakan sebuah proses dalam
pengambilan keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016:26) bahwa keragaman produk adalah strategi yang
membuat produk berbeda dengan competitor bahkan dapat
melebihinya sehingga mendapat hasil yang dinilai oleh konsumen
dan nilai yang diharapkan dapat memengaruhi pilihan dan
kebutuhan konsumen. Hal ini sejalan dengan teori dari (Utami,
2010) bahwa toko yang tidak dapat menyediakan kebutuhan
produk yang dicari oleh konsumen akan mengakibatkan
kurangnya kesetiaan konsumen dan berdampak kerugian pada
toko. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa keragaman produk adalah suatu cara yang
dilakukan perusahaan dan pebisnis melalui penawaran produk
yang beragam dan memiliki varian berbeda-beda sehingga
konsumen akan merasa senang dalam memilih produk yang
diinginkan sesuai dengan selera konsumen
Indikator Brand Image
Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen
Indikator Brand Image
Adapun indikator brand image menurut Kotler dan Keller
(2016:347) sebagai berikut :
a. Keunggulan asosiasi merek
Keunggulan asosiasi merek, salah satu faktor pembentuk brand
image adalah keunggulan produk, dimana produk tersebut
unggul dalam persaingan.
b. Kekuatan asosiasi merek
Setiap merek yang berharga mempunyai jiwa kualitas tinggi.
Kepribadian khusus adalah kewajiban mendasar bagi pemilik
merek untuk mensosialisasikan kepribadian tersebut dalam
bentuk iklan ataupun bentuk kegiatan promosi lainnya agar
mampu menjadi penghubung antara produk dan merek dengan
pelanggan sehingga merek tersebut lebih mudah dikenal dan
tetap eksis ditengah maraknya persaingan. Membangun
popularitas merek yang terkenal bukan hal mudah akan tetapi
popularitas adalah salah satu kunci yang dapat membentuk
brand image kepada pelanggan.
c. Keunikan asosiasi merek
Keunikan asosiasi merek merupakan keunikan-keunikan yang
dimiliki oleh merek produk tertentu untuk menarik perhatian
konsumen
Pengertian Brand Image
Brand image merupakan persepsi dan keyakinan
konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam
memori atau benak konsumen terhadap suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana muncul dalam bentuk
pemikiran yang dikaitkan dengan suatu merek. Menurut Sotjan
(2015:204) mendefinisikan bahwa merek adalah nama, istilah,
tanda atau lambang dan kombinasi dari dua atau lebih unsur
tersebut yang bermaksud untuk mengidentifikasikan barang atau
jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual sehingga
konsumen mengenal merek yang berbeda dari produk pesaingnya.
Brand image sebagai suatu nama atau simbol yang
mempresentasikan atas apa yang dilakukan perusahaan untuk
menyampaikan jenis usahanya kepada konsumen (Kotler dan
Keller, 2016). Citra merek dapat mendeskripsikan berbagai
informasi yang diterima oleh konsumen. Informasi citra terdapat
dari logo atau simbol yang digunakan oleh penjual untuk
mewakili produknya. Fungsi simbol dan logo bukan semata-mata
hanya sebagai pembeda dari pesaing sejenis namun juga
merefleksikan mutu dan visi misi perusahaan tersebut. Brand
image yang dibangun dapat menjadi identitas cerminan dari visi,
keunggulan, standart kualitas, pelayanan dan komitmen dari
pelaku usaha atau pemilik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa brand image adalah representasi
dari keselurahan presepsi terhadap merek yang dibentuk dari
informasi logo atau simbol suatu bisnis.
Faktor yang Mempengaruhi Brand Image
Menurut Alifian B (2012:26) mengemukakan faktor-faktor
terbentuknya citra merek antara lain :
a. Keunggulan produk
Produk yang unggul dapat dikatakan mampu bersaing dengan
lainnya. Keunggulan kualitas memiliki arti model dan
kenyamanan bagi pengguna produk dan ciri khas itu yang
menyebabkan suatu produk punya daya tarik tersendiri untuk
tiap konsumen.
b. Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan asosiasi merek merupakan pengolahan informasi
yang diterima oleh konsumen. Ketika seorang konsumen
secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa
maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat pada ingatan
konsumen. Asosiasi merek pada benak konsumen tergantung
bagaimana suatu merek tersebut dapat dipertimbangkan.
c. Keunikan merek
Salah satu faktor terbentuknya brand image adalah keunikan
merek. Keunikan merek adalah bagian dari asosiasi terhadap
suatu merek yang mau tidak mau harus terbagi dengan merek
lainnya sehingga masing-masing produk harus memiliki
keunggulan untuk bersaing yang menjadi dasar alasan
konsumen memilih suatu merek tertentu. Dengan
memposisikan merek lebih mengacu pada pengalaman atau
keuntungan diri dari image produk tersebut.
Dimensi Pembentuk Brand Image
Menurut Widyaningsih dalam Cendana (2017) bahwa terdapat
dimensi-dimensi utama yang mempengaruhi terbentuknya citra
sebuah merek adalah sebagai berikut :
a. Identitas merek (Brand Identity)
Identitas merek berkaitan dengan identitas fisik pada produk
sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakan
dengan merek produk lain seperti adanya logo, warna,
kemasan dan identitas perusahaan lainnya.
b. Personalitas merek (Brand Personality)
Personalitas merek adalah karakter khas sebuah merek yang
membentuk kepribadian tertentu sebagaimana layaknya
manusia sehingga konsumen dengan mudah membedakan
merek lain dalam kategori yang sama .
c. Asosiasi merek (Brand Association)
Asosiasi merek adalah hal-hal spesifik yang selalu dikaitkan
dengan suatu merek dapat berupa penawaran unik suatu
produk, aktivitas yang berulang dan konsisten misalnya dalam
hal sponsorship atau kegiatan sosial, isu-isu yang kuat
berkaitan dengan merek tersebut.
d. Sikap dan perilaku merek (brand attitude and behavior)
Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku
komunikasi dan interaksi merek dengan konsumen dalam
menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya. Brand
attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
komunikasi, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek
saat berhubungan dengan konsumen, termasuk perilaku
karyawan dan pemilik merek.
e. Manfaat dan keunggulan merek (Brand Benefit and
Competence)
Manfaat dan keunggulan merek merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada
konsumen agar merasakan manfaat karena kebutuhan,
keinginan dan harapannya terwujud melalui penawaran
tersebut
Indikator Keputusan Pembelian
Indikator keputusan pembelian menurut Kotler (2018:70) adalah
sebagai berikut :
a. Kemantapan pada sebuah produk
Keputusan konsumen dalam melakukan suatu pembelian, pasti
memilih salah satu dari beberapa alternatif. Pilihan alternatif
tersebut didasari pada kualitas, mutu, harga yang terjangkau
serta faktor-faktor lain yang memantapkan keinginan
konsumen untuk membeli produk tersebut berdasarkan harapan
dan kebutuhannya.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli suatu produk dapat
berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Konsumen merasa
produk yang dibelinya sudah melekat di benak hati mereka
karena sudah merasakan manfaat dari produk tersebut sehingga
enggan untuk mencoba produk baru. Hal tersebut membuat
konsumen cenderung memilih produk yang sudah biasa
digunakan.
c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Apabila konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai dari
produk yang dibeli, maka mereka pasti merekomendasikan
produk tersebut ke orang lain supaya merasakan bahwa produk
yang dibelinya benar-benar sangat bagus dan lebih baik dari
produk lain
Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2015), sikap konsumen dalam membeli sesuatu
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
a. Faktor budaya
Budaya merupakan penentu paling dasar dari keinginan dan
perilaku seseorang. Pemasaran lintas budaya muncul dari riset
pemasaran yang cermat bahwa relung etnis dan demografi
yang berbeda tidak selalu menanggapi secara baik terhadap
iklan pasar massal.
b. Faktor sosial
Dalam faktor sosial, perilaku konsumen dipengaruhi oleh
kelompok acuan, keluarga, peran dan status sosial sebagai
berikut :
1) Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang
memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap
sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang berpengaruh
langsung yaitu kelompok keanggotan seperti keluarga,
teman, tetangga dsb. Pada kelompok tidak langsung seperti
keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan yang
interaksinya tidak rutin.
2) Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen paling
penting dalam masyarakat karena menjadi acuan primer dan
dominan yang paling berpengaruh. Orientasi keluarga
terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang
mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi
pribadi serta cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap
perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi
yaitu pasangan dan anak seseorang.
3) Peran dan status sosial
Seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga,
organisasi dan lainnya. Posisi seseorang dalam masing-
masing kelompok dapat didefinisikan dalam peran dan
status. Peran terdiri dari kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan tugas serta tanggung jawabnya yang berada di
lingkungan sekitarnya. Masing-masing peran membawa
status yang mencerminkan nilai umum yang diberikan
kepada masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi.
Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap siklus dalam
hidup misalnya pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan
konsep diri serta nilai dan gaya hidup pembeli.
d. Faktor psikologis
Satu perangkat proses psikologis berkombinasi dengan
karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses
keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa
yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya
rangsangan pemasaran luar dan keputusan pembelian akhir.
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang secara
langsung terlibat dalam memperoleh produk dan jasa yang
ditawarkan oleh penjual. Menurut Kotler dan Armstrong (2015)
keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai,
tetapi dua faktor dapat berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian. Menurut Sunyoto (2013:87) menyatakan
bahwa keputusan pembelian merupakan satu tindakan konsumen
membentuk preferensi diantara alternatif-alternatif merek barang.
Keputusan tersebut mendorong bagaimana konsumen melakukan
pilihan diantara dua atau lebih alternatif terhadap pembelian suatu
produk sesuai dengan kebutuhannya. Keputusan untuk membeli
mengarah pada pelanggan bagaimana proses dalam pengambilan
keputusan.
Sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk,
seorang konsumen pada dasarnya melakukan proses pengambilan
keputusan terlebih dahulu. Proses pengambilan keputusan
menuagustarut Agusta (2020:12) merupakan tahapan konsumen
dalam memutuskan suatu produk tertentu yang menurutnya sudah
paling baik dari berbagai alternatif yang dianggap sesuai dengan
kebutuhan dan kepentingan yang dimiliki melalui pilihan yang
tepat serta menguntungkan. Proses pengambilan keputusan yang
rumit sering melibatkan beberapa keputusan seperti adanya
pilihan alternatif dua atau lebih yang membentuk niat membeli
produk yang paling disukai untuk mengkolaborasi, menunda dan
menghindar sangat dipengaruhi oleh resiko yang dirasakan.
Pengambilan keputusan oleh konsumen dalam melakukan
pembelian suatu produk diawali adanya kesadaran atas
pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Setelah konsumen
menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan tersebut maka perlu
tindak lanjuti untuk memenuhinya. Menurut Kotler dan Amstrong
(2016:177) keputusan pembelian adalah perilaku konsumen
tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan barang , jasa, ide atau pengalaman untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan mengetahui
informasi ataupun merek produk tersebut dan melakukan evaluasi
sehingga dapat memecahkan masalah dan mengarah pada
keputusan pembelian. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah suatu
keputusan final yang dimiliki seorang konsumen untuk membeli
suatu barang atau jasa dengan berbagai pertimbangan-
pertimbangan tertentu
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian yaitu sikap konsumen dalam membeli sebuah
produk. Menurut Kotler dan Amstrong (2013:20) menyatakan bahwasanya
keputusan pembelian yaitu sebuah tahapan dalam pengambilan keputusan
pembelian dimana konsumen melakukan kegiatan pembelian yang
sesungguhnya. Menurut Peter dan James dalam Foster (2016)
mengemukakan bahwa keputusan pembelian yaitu tahapan konsumen
dalam membuat keputusan untuk membeli beragam produk dan merek yang
dimulai dengan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi
informasi, melakukan pembelian dan kemudian mengevaluasi keputusan
pasca pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2016:177)
mengemukakan bahwasanya keputusan pembelian yaitu komponen dari
perilaku konsumen, yang mana perilaku konsumen merupakan studi
mengenai seperti apa seseorang maupun kelompok dalam menentukan,
membeli, mengkonsumsi, serta seperti apa produk, ide atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan konsumen
Jenis – Jenis Word Of Mouth
Menurut Hughes (2015:31) membagi 2 jenis komunikasi Word Of
Mouth, yakni :
1) Word Of Mouth positif
Tahapan menyalurkan informasi dari mulut ke mulut oleh antar
perseorangan menurut pengalaman positif yang diperoleh dari suatu
barang, jasa, ataupun perusahaan.
2) Word Of Mouth negatif
Tahapan penyampaian informasi dari mulut ke mulut antar individu
menurut pengalaman buruk yang dirasakan dari suatu barang, jasa,
ataupun perusahaan.
Pengertian Word Of Mouth
Komunikasi dari mulut ke mulut atau yang sering kita kenal dengan
Word Of Mouth (WOM) merujuk pada pertukaran pesan, persepsi, respon,
dan ide-ide antar konsumen. Pada hakikatnya, Word Of Mouth yaitu
informasi yang berkaitan dengan produk dari suatu perusahaan, ataupun
mengenai perusahaan itu sendiri, dalam wujud tanggapan perihal
kemampuan produk, kredibilitas, kesupelan, kecepatan dalam pelayanan
dan lain-lain yang dirasakan oleh seseorang dan diinformasikan kepada
orang lain.
Menurut Kotler dan Amstrong (dalam Hutami Permita, 2014:35)
Word of Mouth yaitu komunikasi personal mengenai sebuah barang atau
jasa antara konsumen sasaran dengan kerabat, rekannya, anggota
keluarganya, serta masyarakat disekitarnya. Menurut Zeithaml, et al (dalam
Tjiptono dan Chandra, 2011) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai suatu
penjelasan baik dengan perseorangan maupun bukan perseorangan yang
dikemukakan seseorang (bukan penyedia jasa) kepada orang lain. Menurut
Sumardy dkk (2011:68) mendefinisikan Word Of Mouth sebagai tindakan
pemberian informasi dari seorang konsumen terhadap orang lain. Sebelum
melakukan pembelian, seorang konsumen akan menanyakan tentang
kualitas yang dimiliki suatu produk yang hendak dibelinya kepada orang
lain.
Indikator Brand Image
Menurut Simamora (2011:33) mengemukakan 3 indikator brand
image atau citra merek, yakni :
1) Citra pembuat (Corporate Image)
Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
pelanggan pada perusahaan yang menghasilkan produk.
2) Citra pemakai (User Image)
Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
pelanggan pada pihak yang mengkonsumsi produk tersebut.
3) Citra produk (Product Image)
Berhubungan dengan seperangkat asosiasi yang dipersepsikan
pelanggan yang berkaitan dengan produk.
Menurut Kotler dan Keller (2015:97) mengemukakan lima indikator brand
image, yaitu :
1) Brand Identify (Identitas Merek)
Berkaitan dengan merek atau produk (simbol, warna, packaging,
tempat, identitas perusahaan, motto, dan lain sebagainya) sehingga
memudahkan konsumen dalam mengenal dan membedakannya dengan
produk pesaing.
2) Brand Personality (Personalitas Merek)
Berkaitan dengan ciri khas dari suatu merek yang membangun karakter
khusus seperti halnya manusia, seperti karakter tegas, wibawa, kaku,
hangat, dinamis, kreatif, murah senyum, independen, penyayang,
berjiwa sosial, dan lain-lain.
3) Brand Association (Asosiasi Merek)
Yaitu perihal spesifik yang layak atau selalu dihubungkan dengan
merek tertentu dapat berupa penawaran menarik, kegiatan rutin dan
konsisten (seperti sponsorship, CSR, isu-isu yang sangat kuat terkait
merek, person, simbol-simbol, dan maksud tertentu yang sangat melekat
kuat pada produk.
4) Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek)
Yaitu sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek kepada
konsumen dalam menawarkan manfaat-manfaat dan nilai yang
dimilikinya. Sikap dan perilaku ini meliputi sikap dan perilaku
konsumen, kegiatan dan atribut yang melekat pada merek ketika
berinteraksi dengan para konsumennya.
5) Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
Yaitu nilai-nilai serta kelebihan khusus yang dihasilkan merek tertentu
kepada konsumen yang membuat konsumen bisa menikmati manfaat
karena kebutuhan, keinginan, harapan, dan keinginannya terealisasi
berkat penawaran tersebut.
Pengertian Brand Image
Menurut Fandy Tjiptono (2015:105) mengemukakan bahwa Image
atau citra sebagai penjelasan mengenai asosiasi serta kepercayaan
konsumen mengenai suatu merek, sementara asosiasi yaitu sifat yang
melekat pada merek dan mempunyai tingkat kekuatan tertentu.
Brand image atau yang sering dikenal dengan citra merek adalah
hasil penilaian maupun pandangan baik buruknya suatu merek oleh
konsumen. Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:328) menjelaskan
bahwasanya citra merek merupakan sekumpulan asosiasi khusus yang
hendak diwujudkan dan dijaga oleh penyedia jasa. Asosiasi tersebut
mengungkapkan merek yang sebenarnya dan apa yang pemasar janjikan
pada konsumennya. Menurut Levy dan Weitz (2012:93) mendefinisikan
citra merek (brand image) sebagai sekumpulan kepercayaan, ide, dan
persepsi yang dimiliki seseorang pada merek tertentu yang bisa
mempengaruhi keputusan pembelian seseorang. Menurut Shafiee, dkk
(2014:364) brand image atau citra merek merupakan sekumpulan persepsi
mengenai merek yang tergambar dari asosiasi merek yang terdapat pada
memori konsumen
Tujuan dan Manfaat Merek
Suatu perusahaan dalam menghasilkan suatu barang ataupun jasa
tentunya diberi merek sebagai tanda pengenal. Dan pemberian merek ini
tentunya memiliki manfaat dan tujuan.
Menurut Sopiah dan Sangadji (2016:71) tujuan pemberian merek
adalah sebagai berikut :
1) Pengusaha memberikan jaminan kepada konsumen jika barang atau jasa
yang dibelinya benar-benar dari perusahaannya.
2) Perusahaan memberikan jaminan kualitas barang atau jasa yang
ditawarkannya
3) Perusahaan memberikan nama pada merek setiap barang atau jasa yang
diproduksinya agar mudah diingat dan diucapkan oleh konsumennya.
Sehingga ketika membeli produk tersebut, konsumen cukup
mengucapkan nama mereknya saja.
4) Meningkatkan ekuitas merek. Sehingga mendapatkan keuntungan yang
maksimal dan menawarkan kemudahan dalam menjaga loyalitas
konsumennya.
5) Memberikan motivasi dalam saluran distribusi. Sebuah produk yang
memiliki merek terkenal akan laku lebih cepat, penyalurannya mudah,
dan mudah dalam pengendaliannya
Pengertian Merek
Pada hakikatnya, seorang pengusaha dalam memasarkan barang/jasa
yang diproduksinya selalu memberikan tanda, simbol, gambar, atau kalimat
tertentu pada produknya. Pemberian tanda ini dimaksudkan agar dapat
dibedakan dengan barang/jasa yang dihasilkan oleh pesaing. Tanda tersebut
dikenal dengan sebutan “merek”. Merek yaitu sebuah nama maupun
lambang yang mampu menciptakan identitas sebuah produk dalam wujud
kata-kata, gambar, maupun gabungan keduanya.
Menurut Manorek (2016:663) menyatakan bahwasanya merek yaitu
nama, istilah, tanda, simbol, maupun gabungan dari mereka yang bertujuan
untuk membedakan produk dari suatu perusahaan dengan perusahaan
lainnya. Menurut Hui Wang dan Fen Tsai (2014:29) mendefinisikan merek
sebagai ilustrasi maupun karakter yang dihasilkan oleh advertensi,
packaging, branding, dan program pemasaran yang lain. Menurut Buchari
Alma (2014:130) menyatakan bahwasanya merek merupakan sebuah nama
maupun lambang yang menghasilkan identitas sebuah produk tertentu, yang
terdiri dari tulisan, gambar, maupun gabungan diantaranya
Indikator Persepsi Kualitas Pelayanan
Menurut Kotler (dalam Fandy Tjiptono, 2016:284) menyebutkan lima
indikator kualitas pelayanan, yaitu :
1) Keandalan (Reliability)
Adalah kinerja perusahaaan dalam menyajikan pelayanan yang sepadan
seperti yang dijanjikan, tepat waktu, mampu dipercaya, serta tanpa
membuat kekeliruan.
2) Daya Tanggap (Responssiveness)
Yaitu kesanggupan karyawan dalam membantu memberikan pelayanan
yang dibutuhkan oleh para konsumennya
3) Jaminan atau Kepastian (Assurance)
Yaitu kemampuan karyawan yang dapat menimbulkan keyakinan bagi
para konsumennya serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan
rasa aman bagi konsumennya.
4) Empati (Empathy)
Berkaitan dengan sikap karyawan atau perusahaan dalam memahami
setiap permasalahan yang dihadapi oleh konsumennya.
5) Bukti fisik (Tangibles)
Berhubungan dengan penyediaan sarana dan prasarana oleh perusahaan
serta performa karyawan dalam perusahaan tersebut
Pengertian Persepsi Kualitas Pelayanan
Kualitas merupakan tingkat baik buruknya suatu produk. Menurut
Kotler dan Keller (2016) menjelaskan kualitas sebagai ciri serta
karakteristik yang menyeluruh mengenai suatu produk yang mendorong
kemampuan guna memuaskan kebutuhan. Definisinya berfokus pada
pelanggan.
Ketika seorang konsumen memilih barang atau jasa yang akan
dibeli, tentunya banyak sekali faktor yang dipertimbangkan, salah satunya
kualitas pelayanan. Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2014:216)
mendeskripsikan kualitas pelayanan dengan sejauh mana selisih antara
ekspektasi dengan pelayanan yang konsumen terima sebenarnya. Menurut
Tjiptono (2016) Kualitas pelayanan yaitu kondisi dinamis yang berkaitan
dengan produk, SDM, prosedur, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan
melampaui apa yang diharapkan oleh konsumen. Dengan kata lain, kualitas
pelayanan dideskripsikan dengan tindakan memuaskan kebutuhan dan
keinginan pelanggan dan juga kecermatan penyalurannya agar selaras
dengan ekspekstasi pelanggan.
Setiap orang dalam mempersepsikan suatu barang atau jasa
berbeda-beda. Sehingga persepsi bersifat subyektif. Persepsi yang timbul
pada diri seseorang dipengaruhi pikiran serta lingkungan sekelilingnya.
Menurut Zeithaml (dalam Markovic dan Jankovic, 2013) persepsi kualitas
pelayanan yaitu evaluasi atau pendapat pelanggan berkaitan dengan
keunggulan keseluruhan dari pelayanan. Persepsi kualitas pelayanan yaitu
perbandingan antara ekspektasi konsumen mengenai suatu pelayanan
dengan pelayanan yang konsumen rasakan sesungguhnya. Jika pelayanan
yang dipersepsikan ternyata sama dengan pelayanan yang diekspektasikan,
maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan positif. Apabila pelayanan
yang dipersepsikan melampaui pelayanan yang diekspektasikan maka
kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas yang sempurna. Namun,
apabila pelayanan yang dipersepsikan lebih buruk daripada pelayanan yang
diekspektasikan maka kualitas pelayanan tersebut dipersepsikan negatif.
Sehingga baik buruknya suatu kualitas pelayanan ditentukan oleh kinerja
perusahaan dalam memenuhi setiap harapan konsumennya.
Persepsi
Menurut Pride dan Ferrel (dalam Fadila, 2013:45) persepsi
merupakan tahapan dalam penentuan, pengelompokan, dan
penginterpretasian input informasi, sensasi yang ditangkap alat indera
manusia guna menghasilkan makna. Menurut Rakhmat Jalaludin (dalam
Natalia, 2012:3) mengemukakan bahwa persepsi merupakan pengalaman
mengenai obyek, kejadian yang didapatkan dengan menarik kesimpulan
informasi serta memahami pesan. Tahapan persepsi tidak sekedar tahapan
psikologi saja, namun dimulai melalui tahap fisiologi yang disebut dengan
sensasi.
Beberapa hal yang mampu membentuk persepsi seseorang:
1) Karakter rangsangan.
2) Keterkaitan rangsangan pada sekitarnya.
3) Keadaan dalam diri individu.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Ada beragam faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:159-173)
terkandung empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam
pembelian suatu produk. Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut :
1) Faktor Kebudayaan
a) Budaya
Budaya adalah penyebab mendasar keinginan dan perilaku seseorang.
b) Sub-Budaya
Termasuk kwarganegaraan, keyakinan, kelompok rasial, dan daerah
geografis. Aneka sub-budaya menghasilkan kelompok pasar yang
penting, dan penyedia jasa biasanya mendesain produk dan strategi
pemasaran yang diselaraskan dengan kebutuhan konsumennya.
c) Kelas Sosial
Kelas sosial tidak hanya diukur oleh satu aspek saja, seperti
penghasilan, namun diukur sebagai perpaduan dari mata pencaharian,
penghasilan, pendidikan, aset, dan lain – lain.
2) Faktor Sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi perilaku pembelian antara lain:
a) Kelompok Acuan (Reference Group)
Yaitu seluruh kelompok yang mempunyai dampak langsung langsung
maupun tidak langsung terhadap perilaku pembelian individu.
b) Keluarga (Family)
Keluarga yaitu sistem pembelian konsumen yang sangat utama dalam
masyarakat dan anggota keluarga memerankan kelompok acuan
pokok yang sangat berpengaruh. Terdapat dua keluarga dalam
kehidupan konsumen, yakni: keluarga orientasi (family of orientation)
mencakup orang tua dan saudara kandung, keluarga prokreasi (family
of procreation) mencakup suami / istri dan anak.
c) Peran Sosial dan Status (Roles and Status)
Seseorang berperan serta pada berbagai kelompok, keluarga, dan
organisasi. Kelompok senantiasa sebagai sumber informasi utama
dalam berkontribusi menjelaskan norma perilaku. Kita bisa
menentukan kedudukan seorang individu pada setiap kelompok
dimana ia menjadi anggota menurut peran dan status.
3) Faktor Pribadi
Mencakup umur dan tahapan pada siklus hidup konsumen, mata
pencaharian dan kondisi ekonomi, perangai dan konsep diri, serta gaya
hidup dan nilai.
4) Faktor Psikologis
Faktor ini mencakup motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, serta
perilaku
Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen akan menimbulkan terciptanya keputusan
konsumen untuk melakukan pembelian. Mengetahui perilaku seorang
konsumen amatlah sulit, pemasar harus pandai dalam memahami
mempelajari persepsi, selera, dan perilakunya saat berbelanja. Perilaku
konsumen yaitu kegiatan langsung dalam memperoleh dan mengkonsumsi
produk, termasuk tahapan pengambilan keputusan yang memulai serta
menetapkan tindakan-tindakan tersebut.
Menurut Peter dan Olson (2014:3) mengemukakan jika perilaku
konsumen merupakan dinamika hubungan antara pengaruh dan kesadaran,
perilaku dan lingkungan dimana seseorang menjalankan pertukaran unsur –
unsur kehidupan.
Menurut Harman Malau (2017:217) menjelaskan jika perilaku
konsumen adalah sikap mengenai perseorangan, golongan atau lembaga
dan tahapan yang mereka lalui guna menentukan, mengamankan, dan
mengkonsumsi produk, pengalaman atau ide untuk kepuasan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:158) mengemukakan
bahwasanya “consumer buyer behavior refers to the buying behavior of
final consumers individuals and households that buy goods and services for
personal comsumption”. Yang berarti perilaku pembelian konsumen
berpedoman pada perilaku pembelian akhir konsumen, baik perseorangan
ataupun rumah tangga yang berbelanja produk untuk kepentingan pribadi.
Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran atau sering disebut sebagai marketing mix yaitu
suatu hal yang harus diperhatikan oleh pemasar. Karena marketing mix
memiliki peranan yang penting dalam melayani pasar sasaran secara tepat.
Dibawah ini terdapat berbagai pengertian bauran pemasaran (Marketing mix)
menurut beberapa ahli, diantaranya :
a. Menurut Lupiyoadi (2014:92) menyatakan bahwa bauran pemasaran yaitu
instrumen atau cara bagi penjual yang berupa beragam komponen suatu
strategi pemasaran yang harus diperhitungkan supaya penerapan strategi
pemasaran serta penetapan posisi yang ditentukan bisa terlaksana dengan
baik.
b. Menurut Buchari Alma (2014:205) mendefinisikan bauran pemasaran
sebagai langkah dalam mengkombinasikan aktivitas pemasaran, agar
diperoleh perpaduan maksimal hingga mampu membuahkan hasil yang baik
yang berupa 4P yakni Product, Price, Place, dan Promotion.
c. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:78) memperkuat definisi bauran
pemasaran sebagai “Marketing mix is the set of tactical marketing tools
that the firm blends to produce the response it wants in the target market”.
Definisi tersebut menjelaskan bahwasanya bauran pemasaran merupakan
sekumpulan alat pemasaran yang dipakai oleh perusahaan untuk
memperoleh tanggapan dari pasar sasaran yang diinginkan
Manajemen Pemasaran
Kesuksesan suatu kegiatan pemasaran dalam sebuah Perusahaan
terwujud berkat adanya manajemen pemasaran yang baik. Dalam memajukan
suatu perusahaan, manajemen pemasaranlah yang dijadikan sebagai dasar
dalam setiap bertindak. Karena tanpa adanya manajemen pemasaran yang baik
nihil suatu perusahaan mampu mencapai kesuksesannya. Perusahaan
membutuhkan beragam upaya guna mampu mengelola program
pemasarannya agar selaras dengan misi perusahaan yang sudah ditetapkan
sebelumnya, dalam hal ini pengelolaan yang dibutuhkan perusahaan yaitu
manajemen pemasaran.
a. Menurut Buchari Alma (2014:289) menyatakan jika manajemen pemasaran
merupakan aktivitas mengkaji, merencanakan, menerapkan dan mengontrol
berbagai aktivitas dengan tujuan meraih hasil pemasaran seperti dengan
tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya.
b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:34) manajemen pemasaran
didefinisikan sebagai “the art and science of choosing target markets and
building profitable relationships with them”. Yang berarti manajemen
pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar serta
menciptakan relasi yang baik dengan pasar sasaran.
c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) definisi menajemen pemasaran yaitu
“Marketing management as the art science of choosing target markets and
getting, keeping, and growing customers through creating delivering, and
communicating superior customer value”. Yang berarti manajemen
pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu dalam menentukan target pasar,
mendapatkan, mengendalikan, serta mengembangkan konsumen dengan
cara menghasilkan, menyalurkan, serta menyebarluaskan nilai tambah
kepada konsumen
Pemasaran
Pemasaran berasal dari kata pasar yang artinya market. Sehingga
istilah pemasaran sering dikenal dengan marketing. Berikut ini beberapa
definisi marketing dari berbagai sumber, yaitu :
a. Menurut Hasan (2014:1) mengemukakan jika pemasaran adalah suatu teori
ilmu pada strategi bisnis guna memperoleh kepuasan berkelanjutan untuk
stakeholder (pelanggan).
b. Menurut Kotler dan Amstrong (2018:29) menjabarkan pemasaran sebagai
“marketing as the process by which companies engage customers, build
strong customer relationships in order to capture value from customers in
return”. Pengertian ini menjelaskan jika pemasaran merupakan suatu
tahapan bagi perusahaan dalam menghasilkan nilai untuk konsumen serta
menciptakan relasi yang erat dengan konsumen yang berguna untuk
mengetahui nilai dari konsumen sebagai balasannya.
c. Menurut Kotler dan Keller (2016:26) mengemukakan jika “marketing is the
activity, set of institutions, and processes for creating, communicating,
delivering, and exchanging offering that have value for customers, clients,
partners, and society at large”. Pengertian diatas menjelaskan jika
pemasaran adalah aktifitas yang melibatkan serangkaian institusi untuk
menjalankan tahapan guna menghasilkan, mengkomunikasikan,
menyampaikan, dan pertukaran nilai untuk konsumen, klien, mitra, serta
masyarakat pada umumnya
Push Digital Marketing
Menurut (Kotler 2005) dalam (Rauf, Manullang, and
Ardiansyah PS 2021) Marketing (pemasaran) adalah proses sosial
antara individu atau kelompok dengan menciptakan penawaran
secara bebas bertukar produk dan jasa yang bernilai dengan pihak
lain. Marketing (pemasaran) secara signifikan dapat mempengaruhi
kepercayaan konsumen tentang kinerja produk yang akhirnya dapat
menentukan kemungkinan mereka membeli. Tujuan utama dari
pemasaran adalah untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
pelanggan untuk mencapai tujuan perusahaan seperti peningkatan
penjualan, pangsa pasar, dan keuntungan.
Kemudian konsep pemasaran diatas diadopsi menjadi
Digital Marketing, Menurut (Wsi 2013) dalam (Rauf, Manullang,
and Ardiansyah PS 2021) Digital Marketing adalah suatu cara
inovatif yang menggunakan database dan menjangkau konsumen
secara individu, hemat biaya dan lebih tepat waktu. Sedangkan
menurut (Todor 2016) Digital Marketing adalah istilah umum
pemasaran yang ditargetkan, terukur dan interaktif menggunakan
teknologi digital untuk menjangkau dan mengubah prospek
menjadi pelanggan dan mempertahankannya, tujuan utamanya
adalah mempromosikan merek, membentuk preferensi dan
meningkatkan penjualan melalui berbagai teknik digital marketing.
Kemudian Digital Marketing berkembang menjadi Push
Digital Marketing, yaitu pemasaran Dimana perusahaan atau
merek secara proaktif mendorong produk atau layanan mereka
kepada audiens melalui berbagai saluran digital, yang bertujuan
untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong mereka untuk
berinteraksi dengan produk atau layanan yang ditawarkan (Rauf,
Manullang, and Ardiansyah PS 2021). Push Digital Marketing
mempunyai indikator :
- Tiktok Ads
TikTok Ads adalah platform periklanan yang ditawarkan oleh
TikTok, platform media sosial berbasis video yang sangat
populer di kalangan pengguna muda. TikTok Ads
memungkinkan perusahaan dan pemasar untuk membuat dan
menayangkan iklan video yang ditargetkan kepada audiens
yang spesifik di TikTok. - Meta Ads
Meta Ads mengacu pada platform periklanan yang disediakan
oleh Meta Platforms, Inc. Sebelumnya dikenal sebagai
Facebook Ads, platform ini memungkinkan pemasar untuk
membuat dan menayangkan iklan di berbagai layanan yang
dimiliki oleh Meta, termasuk Facebook, Instagram,
WhatsApp, dan Messenger. - Google Ads
Google Ads adalah platform periklanan online yang
disediakan oleh Google, yang memungkinkan pengiklan untuk
membuat dan menayangkan iklan mereka di berbagai layanan
Google, termasuk mesin pencari Google, situs web mitra
Google, aplikasi seluler, dan platform media sosial seperti
YouTube
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut (Kotler, P. & Keller) dalam (Cesariana, Juliansyah, and
Fitriyani 2022) indikator yang digunakan untuk mengukur
keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
- Pengenalan masalah
Tahap dimana konsumen mengenali sebagai merek yang tepat
untuk memenuhi kebutuhannya. - Pencarian informasi
Informasi mengenai merek melalui berbagai media mendukung
konsumen untuk mengetahui kelebihan suatu merek. - Evaluasi alternatif
Merupakan merek yang paling sesuai dibandingkan merek
alternatif yang lainnya. - Keputusan pembelian
Keyakinan konsumen dalam pengambilan keputusan terhadap
merek. - Perilaku setelah pembelian
Adanya persepsi positif dari konsumen setelah menggunakan
produk dengan merek yang dibeli
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Soffian sebagai berikut :
- Produk
Produk adalah suatu sifat yang kompleks baik dapat diraba
maupun tidak dapat diraba, termasuk kemasan, warna, harga,
prestise perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli
untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Produk dapat
memberikan rangsangan pada konsumensehingga dapat
membangkitkan selera atau minat untuk membeli. Jika suatu
produk mempunyai kualitas yang bagus maka banyak
konsumen yang akan memutuskan untuk membeli produk
tersebut. Oleh karena itu jika perusahaan menginginkan
produknya terjual dalam jumlah besar sehingga mendapatkan
keuntungan yang besar, maka harus meningkatkan kualitas
produknya. - Harga (price)
Harga diartikan sebagai ekspresi dari sebuah nilai, dimana nilai
tersebut menyangkut keinginan dan kualitas produk, citra yang
dibentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk
melalui jaringan distribusi dan layanan yang menyertainya.
Dalam kebijakan harga, manajemen harus menentukan harga
dasar dari produknya, kemudian menentukan kebijakan
menyangkut potongan. - Promosi (promotion)
Promosi adalah arus informasi yang dibuat untuk mengarahkan
seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan
pertukaran dalam pemasaran. Kegiatan-kegiatan yang termasuk
dalam promosi antara lain periklanan, personal selling, promosi
penjualandan publikasi. Dengan adanya promosi, konsumen
mendapatkan barang yang diinginkannya. - Tempat (place)
Adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan
mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen
kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan
yang diperlukan. Tempat juga menjadi pertimbangan konsumen
dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk.
Jika konsumen menilai tempat suatu produk baik maka
kemungkinan besar konsumen akan menjatuhkan pilihannya
pada produk tersebut dan membelinya. - Lokasi Penjual yang strategis
Dari segi lokasi ini, pembeli akan memilih lokasi yang benar-
benar strategis dantidak membutuhkan terlalu banyak waktu,
tenaga, dan biaya seperti: mudah dijangkau, dekat dengan
fasilitas-fasilitas umum, atau mungkin dekat denganjalan raya,
sehingga lokasi ini dapat mendukung yang lain. - Pelayanan yang baik
Bagi konsumen yang ingin membeli suatu produk, pelayanan
yang diberikanpada saat memilih sampai terjadinya transaksi
pembelian sangatlah berpengaruhterhadap jadi tidaknya
pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Pelayanan yang
kurang baik akan menimbulkan rasa tidak puas yang dirasakan
olehkonsumen yang selanjutnya akan mempengaruhi tingkat
penjualan pada waktuselanjutnya. - Kemampuan tenaga penjualnya
Dalam suatu kegiatan usaha (penjualan), tidak terlepas dari
tenaga kerja baiktenaga kerja mesin maupun tenaga kerja
manusia.Tenaga kerja merupakan faktorutama dalam
perusahaan sehingga diperlukan sejumlah tenaga kerja
yangberkemampuan dan mempunyai keterampilan tertentu
yang sesuai dengankebutuhan perusahaan untuk mendukung
kegiatan dalam pemasaran
Tujuan Keputusan Pembelian
1) Memenuhi kebutuhan dasar
Tujuan utama pembelian yaitu memenuhi kebutuhan dasar
manusia seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk
memastikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka.
2) Memenuhi kebutuhan fungsional
Yaitu memenuhi kebutuhan seperti alat-alat yang dibutuhkan
untuk pekejaan, hobi dan Pendidikan tertentu.
3) Memenuhi kebutuhan emosional
Banyak keputusan pembelian didasari oleh kebutuhan
emosional seperti keinginan untuk merasa bahagia, percaya diri
atau diterima orang lain. Seperti membeli barang mewah,
hiburan atau barang-barang untuk meningkatkan citra diri.
4) Memenuhi kebutuhan social
Orang sering membeli produk atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan sosial, seperti keinginan untuk berinteraksi dengan
orang lain atau mempererat hubungan social, contohnya adalah
membeli tiket ke acara sosial atau makan malam bersama
teman-teman.
5) Keamanan dan perlindungan
Pembelian asuransi, sistem keamanan, atau produk yang
meningkatkan keamanan fisik atau finansial juga merupakan
tujuan pembelian yang penting bagi banyak orang.
6) Pemenuhan kebutuhan masa depan
Pembelian investasi seperti rumah, kendaraan, atau investasi
keuangan juga dapat menjadi tujuan pembelian untuk tujuan
masa depan, seperti pensiun atau investasi jangka panjang.
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan sikap seseorang untuk
membeli atau menggunakan suatu produk baik berupa barang atau
jasa yang telah diyakini akan memuaskan dirinya dan kesediaan
menanggung risiko yang mungkin ditimbulkannya. Konsumen
mengambil keputusan pembelian setiap hari. Pemasar perlu
mengatahui apa yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam
keputusan pembelian. Suatu proses penilaian dan pemilihan dari
berbagai alternative sesuai dengan kepentingan-kepentingan
tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling
menguntungkan.
Keputusan pembelian adalah tahap dalam proses
pengambilan keputusan pembelian di masa konsumen benar-benar
membeli. Pengambilan keuptusan merupakan suatu individu yang
secara langsung terlihat dalam pendatan dan mempergunakan
barang yang ditawarkan, Keputusan pembelian merupakan
serangkaian proses yang berawal darikonsumen mengenal
masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merektertentu
danmengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masing-
masingalternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang
kemudian serangkaian proses tersebut mengarah kepada keputusan
pembelian (Abi 2020).
Hubungan Gaya Hidup Konsumen dengan Keputusan Pembelian
Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang
lainnya. Gaya hidup merupakan tindakan yang dilakukan seseorang untuk
mendapatkan dan memakai suatu barang atau jasa dan termasuk proses keputusan
yang mendahului serta menentukan tindakan yang dilakukannya.
Dalam penelitian yang dilakukan Abdilla dan Agus (2020) gaya hidup yang
diekspresikan dengan aktivitas, minat dan opini seseorang menyatakan gaya hidup
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian
smartphone. Serta penelitian yang dilakukan Badjamal (2019) menyimpulkan
dalam penelitiannya bahwa gaya hidup memiliki hubangan dan berpengaruh
terhadap keputusan pembelian handphone merek Samsung
Hubungan Motivasi Konsumen dengan keputusan Pembelian
Terdapat hubungan yang saling berkaitan antara motivasi dengan faktor-
faktor kebudayaann, sosial dan pribadi. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi
motivasi pembeli dalam melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepuasan.
Tiap tindakan yang dilakukan seseorang didorong oleh suatu kekuatan dalam diri
orang tersebut.
Motivasi muncul karena kebutuhan yang dirasakan konsumen. Dan
kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang
dirasakannya dengan apa yang seharusnya terjadi. Maka konsumen terdorong
untuk melakukan suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut
hasil dari suatu penelitian, terdapat pengaruh yang sangat nyata antara motivasi
konsumen terhadap keputusan pembelian handphone Android (Syahril, 2017)
Hubungan Persepsi Kualitas dengan Keputusan Pemebelian
Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda-beda, disebabkan
karena adanya berbagai stimulus yang mucul dan dirasakannya. Dan pada
dasarnya persepsi akan berhubungan dengan perilaku seseorang dalam mengambil
suatu keputusan. Persepsi kualitas sebuah merek dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam memutuskan merek mana yang akan dipilih dan
mendorongnya untuk melakukan keputusan pembelian serta menciptakan loyalitas
terhadap produk tersebut.
Dalam Saputra et al (2019) disimpulkan terdapat pengaruh positif dan
signifikan dari persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian smartphone.
Mengingat persepsi konsumen dapat diramalkan maka jika persepsi kualitasnya
negatif, produk tidak akan disukai dan bertahan lama dalam pasar. Sebaliknya,
jika persepsi kualitas pelanggan postif maka produk akan disukai
Dimensi Gaya Hidup
Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan
masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam alam pikir pelanggan yang
cenderung berbair dengan berbagai hal yan terkait dengan masalah emosi dan
psikologis konsumen.
Menurut Setiadi (2015:81) gaya hidup akan berkembang pada masing-
masing dimensi AIO (Activities, Interest, and Opinion), dan didefinisikan sebagai
berikut:
- Aktivitas (Activities), adalah tindakan nyata. Aktivitas ini dapat berupa
kerja, hobi, kegiatan sosial, hiburan, anggota klub, masyarakat, belanja dan
olahraga. Aktivitas (kegiatan) konsumen merupakan karakteristik konsumen
dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas konsumen,
perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh
pasar sasarannya, sehingga mempermudah perusahaan untuk menciptakan
strategi-strategi dari informasi yang didapatkan tesebut. Dengan kata lain,
perusahaan dapat menghasilkan produk yang dapat menunjang aktivitas
keseharian serta gaya hidup yang dimiliki konsumen. - Ketertarikan (Interest), adalah tindakan kegairahan yang menyertai
perhatian khusus maupun terus menerus. Minat atau ketertarikan setiap
manusia berbeda-beda. Adakalanya manusia tertarik pada makanan,
adakalanya manusia tertarik pada mode pakaian, dan sebagainya. Minat
merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses
pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu memahami
minat dan hasrat para pelanggannya. Dengan memahami minat
pelanggannya, dapat memudahkan perusahaan untuk menciptakan konsep
pemasar guna mempengaruhi proses pembelian pada pasar sasarannya.
Sehingga konsumen akan menyukai produk yang ditawarkan. - Pendapat (Opinion), adalah jawaban lisan atau tertulis yang akan orang
berikan sebagai respon terhadap suatu situasi. Opini digunakan untuk
mendeskripsikan penafsiran, harapan dan evaluasi seperti kepercayaan
mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
datang. Seperti konsumen memiliki pendapat bahwa produk yang digunakan
dapat memberikan manfaat untuknya di jaman sekarang ini
