Pengaruh tidak langsung Kualitas Pelayanan terhadap LoyalitasPelanggan melalui Kepuasan Pelanggan


Hubungan antara kualitas pelayanan dengan loyalitas pelanggan melalui
kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan
kebutuhan konsuman dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila
pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen.
Pengukuran kepuasan konsuman merupakan elemen penting dalam menyediakan
pelayanan yang lebih baik, lebih efisien dan lebih efektif, apabila konsuman
merasa tidak puas terhadap suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan
tersebut dapat dipastikan tidak efektif dan tidak efisien. Dengan adanya kepuasan
konsumen maka akan dapat menciptakan loyalitas pembelian

Pengaruh langsung Kualitas Pelayanan terhadap Loyalitas Pelanggan


Kualitas pelayanan yang baik memiliki arti penting bagi kelangsungan
hidup perusahaan karena dapat menciptakan kepuasan pelanggan. Menurut Kotler
(2004: 42) Kepuasan pelanggan adalah Perasaan senang atau kecewa seseorang
yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap
kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya. Keberhasilan perusahaan
apabila karyawan mampu memberikan pelayanan yang baiksehingga pelanggan
merasa puas dan di mata pelanggan citramenjadi positif. Hal tersebut dapat
menumbuhkan loyalitas pelanggan, karakteristik pelanggan yang loyal menurut
Griffin (2003:31) adalah sebagai berikut melakukan pembelian ulang secara
teratur, membeli antar lini produk dan jasa, mereferensikan kepada orang lain,
menunjukan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing

Pengaruh langsung Kualitas Produk terhadap Loyalitas Pelanggan


Kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan adalah dengan adanya
kepuasan dan pembelian produk yang ditawarkan kepada konsumen, mereka terus
menerut membeli dan menggunakan produk itu secara berkala dan tidak tertarik
dengan produk lain karena sudah percaya pada produk tersebut dan tetap loyalitas
pada satu produk dan merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain, hal
itu disebabkan juga karena tingkatan kepuasan memiliki keterkaitan dengan
kualitas produk yang mengakibatkan loyalitas pelanggan. Dimana tingkat loyalitas
konsumen berkaitan dengan tingkat kepuasan konsumen yang merupakan cermin
dari tingkat perasanan seseorang setelah membandingkan tingkat kinerja yang
dirasakan dengan harapan pelanggan tersebut. Sementara itu kualitas produk
merupakan faktor yang mempengaruhinya.

Pengaruh langsung Kualitas Pelayanan terhadap KepuasanPelanggan


Menurut para akademisi, kepuasan pelanggan merupakan konstruk yang
berdiri sendiri dan dipengaruhi oleh kualitas layanan (Oliver, 1980). Kualitas
layanan juga dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan secara langsung (Zeithaml
dkk., 1996) dan mempengaruhi loyalitas pelanggan secara tidak langsung melalui
kepuasan (Caruana, 2002). Kualitas layanan mendorong pelanggan untuk
komitmen kepada produk dan layanan suatu perusahaan sehingga berdampak
kepada peningkatan market share suatu produk. Kualitas layanan sangat krusial
dalam mempertahankan pelanggan dalam waktu yang lama. Perusahaan yang
memiliki layanan yang superior akan dapat memaksimalkan performa keuangan
perusahaan (Gilbert dkk., 2004). Tjiptono (2011:75) mendefinisikan kualitas
pelayanan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta
ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen. Kotler dan
Keller (2012:150) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja produk yang
dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan. Kualitas pelayanan sangat memiliki
peran penting didalam menciptakan kepuasan pelanggan. Presepsi konsumen
mengenai baik buruknya suatu perusahaan tergantung antara kesesuaian dan
keinginan pelayanan yang diperolehnya. Perusahaan penyedia jasa, pelayanan
yang diberikan menjadi suatu tolak ukur untuk sebuah kepuasan konsumen. Jika
pada pelayanan yang dirasakan kecil dari pada apa yang diharapkan konsumen
akan merasa kecewa dan tidak akan puas dengan pelayanan dan akan berdampak
pada ditinggalkannya perusahaan oleh pelanggan.

Indikator – indikator Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan merupakan kesetiaan pelanggan terhadap penyedia
jasa yang telah memberikan pelayanan kepadanya. Menurut Tjiptono (2011)
loyalitas pelanggan dapat diukur dengan 3 indikator, yaitu :

  1. Repeat, pelanggan tidak terpengaruh jasa yang ditawarkan oleh pihak lain,
    dan melakukan pembelian ulang.
  2. Retention, apabila pelanggan membutuhkan produk (barang atau jasa),
    disediakan oleh penyedia produk yang bersangkutan dalam upaya untuk
    mempertahankan pelanggan (ketersediaan produk).
    Refferal, apabila jasa yang diterima memuaskan, maka pelanggan akan
    memberitahukan kepada pihak lain, dan sebaliknya apabila ada ketidakpuasan atas
    pelayanan yang diterima, ia tidak akan bicara pada pihak lain, tetapi justru akan
    memberikan layanan yang kurang memuaskan tersebut kepada pihak penyedia
    jasa (kepuasan pelanggan).

Pengertian Loyalitas Pelanggan


Loyalitas merupakan suatu emosi dan tidak bersifat rasional. Loyalitas
terjadi ketika individu tertarik untuk menjaga hubungan baik yang biasanya terjadi
terjadi karena pengalaman-pengalaman yangpositif.
Menurut Oliver dalam buku Ratih Kurriyati, (2010) :
Loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan bertahan secara
mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk
atau jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh
situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan
perubahan perilaku.
Loyalitas pelanggan secara umum dapat diartikan sebagai kesetiaan
seseorang pada suatu produk, baik barang maupun jasa tertentu. Selain itu
pelanggan yang mempunyai komitmen yang tinggi akan loyalitasnya tidak akan
terpengaruh oleh bentuk-bentuk pemasaran produk atau jasa yang diberikan
perusahaan lain dan akan terus memilih produk atau jasa yang mereka pilih
sebelumnya. Loyalitas pelanggan akan menjadi kunci sukses. Tidak hanya dalam
jangka pendek, tetapi juga keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Loyalitas Advocation, merupakan sikap pelanggan untuk memberikan
rekomendasi kepada orang lain untuk melakukan pembelian ulang terhadap
produk atau jasa. Loyalitas advokasi pada umumnya disertai dengan pembelaan
konsumen terhadap produk atau jasa yang dipakai.
Loyalitas repurchase, Loyalitas pelanggan berkembang pada perilaku
pembelian pelanggan terhadap layanan baru yang dikeluarkan oleh suatu
perusahaan, yang ditunjukkan dengan keinginan untuk membeli kembali.
Loyalitas Paymore, loyalitas pelanggan untuk kembali melakukan
transaksi untuk menggunakan produk atau jasa yang telah dipakai oleh konsumen
tersebut dengan pengorbanan yang lebih besar.

Faktor – faktor yang mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Ronald Rust (dalam Daryanto & Setyobudi, 2014), penyedia jasa
harus memperhatikan apa yang donsumen persepsikan atas jasa yang diberikan,
tetapi juga bagaimana mereka dapat merasakan kepuasan. Kedalaman dari
perasaan konsumen ini merupakan hasil dari tingkat seberapa jauh persepsi dari
konsumen dapat sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Menurut Daryanto & Setyobudi (2014), kepuasan konsumen dipengaruhi
oleh kualitas produk atau barang-barang yang diberikan pada pelanggan
dalamproses penyerahan jasa, kualitas jasa, persepsi atas harga, serta faktor
situasional dan personal. Namun dalam penelitian ini dari beberapa faktor yang
memengaruhi kepuasankonsumen, peneliti merujuk pada satu faktor yaitu jasa,
dari dimensi jasa tersebut penelitiakan melihat mana indikator yang paling
memengaruhi kepuasan konsumen.
Menurut Zeithaml, kepuasan konsumen jasa dipengaruhi oleh proses
penilaiankualitas jasa oleh pelanggan dan ini dimulai sebelum konsumen
berinteraksi denganpenyedia jasa itu sendiri. Sebelum berinteraksi, konsumen
akan melakukan penjajakanuntuk menimbang-nimbang apakah penyedia jasa
dapat memenuhi kebutuhannya dan konsumen sendiri memiliki harapan di
benaknya terhadap bentuk jasa yang akan didapatkannya (Daryanto &
Setyobudi, 2014).

Indikator-indikator Kepuasan Pelanggan

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan merasa puas apabila hasil evakuas mereka menunjukan
    bahwa produk mereka gunakan berkualitas. Konsumen rasional pada
    setiap pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh produk tersebut.
  2. Kualitas Pelayanan
    Kualitas pelayanan dibidang jasa akan membuat pelanggan akan merasa
    puas apabilamendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan
    harapan.
  3. Emotional
    Pelanggan akan merasa puas (bangga) dan mendapatkan keyakinan bahwa
    orang lain akan kagum bila seseorang menggunakan produk yang
    bermerek dan cenderung mempunyai kepuasan yang lebih tinggi.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relative murah akan memberikan nilai lebih pelanggannya. Semakin
    mahal produknya maka akan semakin tinggi juga harapan pelanggannya.
  5. Biaya dan Kemudahan.

Faktor – faktor yang mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Parasuraman dan Lupiyoadi (2011:17), terdapat dua faktor yang
dapat mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu :
a.Pelayanan yang diharapkan (expected service)
b.Pelayanan yang diterima (received service)
Berdasarkan pendapat diatas dapat disumpulkan bahwa faktor utama
yang mempengaruhi kualitas pelayanan yaitu : pelayanan yang diharapkan
danpelayanan yang dirasakan/dipersepsikan. Apabila pelayanan yang diharapkan
sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan yang
diberikan dipersepsikan adalah baik. Jika pelayanan yang dipersepsikan
melebihi pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan yang diberikan
dipersepsikan kualitas ideal. Demikian sebaliknya apabila pelayanan yang
dipersepsikan lebih jelek dibandingkan dengan pelayanan yang diharapkan
maka kualitas pelayanan dipersepsikan negatif atau buruk. Maka baik tidaknya
pelayanan tergantung pada kemampuan penyedia pelayanan dalam memenuhi
harapan pelanggannya secara konsisten

Indikator – indikator Kualitas Pelayanan


MenurutNasution (2010), dimensi kualitas produk yang mengutip dari
Garvin, mengidentifikasi delapan dimensi kualitas yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristik kualitas barang, yaitu sebagai berikut :

  1. Berwujud (Tangible)
    Berupa penampilan fisik, peralatan dan berbagai materi komunikasi yang
    baik.
  2. Empati (Empaty)
    Kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih peduli memberikan
    perhatian secara pribadi kepada pelanggan. Misalnya karyawan harus
    mencoba menempatkan diri sebagai pelanggan. Jika pelanggan mengeluh
    maka dicari solusi segera, agar selalu terjaga hubungan harmonis, dengan
    menunjukan rasa peduli yang tulus. Dengan cara perhtian yang diberikan
    yang diberikan para pegawai dalam melayani dan memberikan tanggapan
    atas keluhan para konsumen.
  3. Cara Tanggap (Responsiveness)
    Kemauan dari karyawan dan pengusaha untuk membantu pelanggan dan
    memberikan jasa dengan cepat serta mendengar dan mengatasi keluhan
    konsumen. Dengan cara keinginan para pegawai dalam membantu
    danmemberikan pelayanan dengan cepat dan benar, kesigapan para
    pegawai untuk ramah pada setiap konsumen, kesigapan para pegawai
    untuk bekerja sama dengan konsumen.
  4. Kehandalan (Reliability)
    Kemauan untuk memberikan jasa sesuai denagan yang dijanjikan,
    terpercaya dan akurat, serta konsisten. Contoh dalam hal ini antara lain,
    kemampuan pegawai dalam memberikan pelayanan yang terbaik,
    kemampuan pegawai dalam menangani kebutuhan konsumen dengan cepat
    dan benar, kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang
    baik sesuai dengan harapan consumer.
  5. Kepastian (Assurance)
    Kemampuan karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercyaan
    terhadap janji yang telah dikemukakan kepada konsumen. Contoh dalam
    hal ini antara lain pengetahuan dan keterampilan pegawai dalam
    menjalankan tugasnya, pegawai dapat diandalkan, pegawai dapat
    memberikan kepercayaan kepada konsumen, pegawai memiliki keahlian
    tekhnis yang baik

Pengertian Kualitas Pelayanan


Pelayanan merupakan serangkaian kegiatan melalui suatu proses yang
menimbulkan interaksi langsung antara seseorang dengan yang lain, atau mesin
secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen. Sebagai proses, pelayanan
berlangsung secara rutin dan berkeseimbangan yang meliputi seluruh kehidupan
orang dalam masyarakat.
Fandy Tjiptono (2012), bisa dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri
dari dua komponen utama, yakni service operations yang kerap kali tidak tampak
atau tidak diketahui keberadaannya oleh pelanggan (back office atau backstage)
dan service delivery yang biasanya tampak (visible) atau diketahui pelanggan
(sering disebut pula front office atau fronstage).
Menurut Kotler dan Keller (2012) Kualitas pelayanan merupakan
keseluruhan sifat-sifat dan karakter suatu produk atau jasa berdasarkan
kemampuannya untuk menyatakan kepuasan atau kebutuhan secara tidak
langsung.
Menurut Tjiptono (2011) Kualitas pelayanan dapat dikatakan sebagai
upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan
penyampaian dalam mengimbangi harapan konsumen

Faktor -faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Kualitas produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar atau
9M.Pada masa sekarang ini industri disetiap bidang bergantung pada
sejumlah besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara yang
tidak pernah dialami dalam periode sebelumnya. Menurut (Sofjan Assauri,
2010 : 362) mengatakan bahwa :

  1. Market (Pasar) Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di
    pasar terus bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan
    untuk mempercayai bahwa ada sebuah produk yang dapat memenuhi
    hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta dan
    memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar menjadi lebih
    besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih terspesialisasi di
    dalam barang yang ditawarkan. Dengan bertambahnya perusahaan,
    pasar menjadi bersifat internasional dan mendunia. Akhirnya bisnis
    harus lebih fleksibel dan mampu berubah arah dengan cepat.
  2. Money (Uang) Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang
    bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas
    (marjin) laba. Pada waktu yang bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi
    dan pemekanisan mendorong pengeluaran mendorong pengeluaran biaya
    yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru.Penambahan
    investasi pabrik, harus dibayarmelalui naiknya produktivitas,
    menimbulkan kerugian yang besar dalam memproduksi disebabkan
    oleh barang dan pengulang kerjaan yang sangat serius. Kenyataan ini
    memfokuskan perhatian pada manajer pada bidang biaya kualitas
    sebagai salah satu dari“titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian
    dapat diturunkan untuk memperbaiki laba.
  3. Management (Manajemen). Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan
    antara beberapa kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui
    fungsi perencanaan produknya, harus membuat persyaratan produk.
    Bagian perancangan bertanggung jawab merancang produk yang akan
    memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan dan
    memperbaiki kembali proses untuk memberikan kemampuan yang cukup
    dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi rancangan.
  4. Men (Manusia)Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan
    penciptaan seluruh bidang baru seperti elektronika komputer
    menciptakan suatu permintaan yang besar akan pekerja dengan
    pengetahuan khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan
    permintaan akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua bidang
    spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan
    mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil yang
    diinginkan.
  5. Motivation (Motivasi). Penelitian tentang motivasi manusia
    menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang, para pekerja
    masa kini memerlukan sesuatu yang memperkuat rasa keberhasilan di
    dalam pekerjaan mereka dan pengakuan bahwa mereka secara pribadi
    memerlukan sumbangan atas tercapainya sumbangan atas tercapainya
    tujuan perusahaan. Hal ini membimbing ke arah kebutuhan yang
    tidak ada sebelumnya yaitu pendidikan kualitas dan komunikasi yang
    lebih baik tentang kesadaran kualitas.
  6. Material (Bahan) Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan
    kualitas, para ahli teknik memilih bahan dengan batasan yang lebih
    ketat dari pada sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi
    lebih ketat dan keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
  7. Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)Permintaan perusahaan
    untuk mencapai penurunan biaya dan volume produksi untuk
    memuaskan pelanggan telah terdorong penggunaan perlengkapan
    pabrik yang menjadi lebih rumit dan tergantung pada kualitas
    bahan yang dimasukkan ke dalam mesin tersebut. Kualitas yang baik
    menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja mesin agar
    fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.
  8. Modern Information Metode (Metode Informasi Modern) Evolusi
    teknologi komputer membuka kemungkinan untuk mengumpulkan,
    menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi informasi pada skala
    yang tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi informasi yang baru
    ini menyediakan cara untuk mengendalikan mesin dan proses selama
    proses produksi dan mengendalikan produk bahkan setelah produk
    sampai ke konsumen.
  9. Mounting Product Requirement (Persyaratan Proses Produksi) Kemajuan
    yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan
    pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan produk.
    Meningkatnya persyaratan prestasi yang lebih tinggi bagi produk
    menekankan pentingnya keamanan dan kehandalan produk

Indikator – indikator Kualitas Produk


Menurut Nasution (2010), dimensi kualitas produk yang mengutip dari
Garvin, mengidentifikasi delapan dimensi kualitas yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristik kualitas barang, yaitu sebagai berikut :

  1. Kinerja (Performance)
    Berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan
    karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli
    suatu produk.
  2. Keistimewaan (Features)
    Merupakan aspek kedua dari performasi yang menambah fungsi dasar,
    berkaitan dengan pilihan – pilihan dan pengembangannya. Karakter
    skunder atau pelengkap.
  3. Kehandalan (Reability)
    Berjaitan dengan keinginan suatu produk berfungsi secara berhasil dalam
    periode waktu tertentu dibawah kondisi tertentu. Dengan demikian
    kehandalan merupakan karakteristik yang merefleksikan kemungkinan
    tingkat keberhasilan dalam penggunaan suatu produk.
  4. Konformansi (Conformance)
    Berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah
    ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Konformasi
    merefleksikan derajat dimana karakteristik desain produk dan karakteristik
    desain operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan, serta sering
    didefinisakn sebagai konformasi terhadap kebutuhan (conformance to
    requirements). Karakteristik ini mengukur banyaknya atau presentase
    produk yang gagal memenuhi sekumpulan standar yang telah yang telah
    ditetapkan karenaitu perlu dikerjakan ulang atau diperbaiki

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas produk menurut America Society for Quality (Kotler 2012) adalah
keseluruhan fitur dan karakteristik produk atau jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya utnuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau
tersirat.
Definisi produk menurut Wijayanti Titik (2012) adalah sesuatu yang
diperjualbelikan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari keuntungan
dari sesuatu hasil kreativitas seseorang, tim marketing atau perusahaan.
Kualitas produk menurut Kotler (2012) adalah karakteristik dari suatu
produk atau jasa yang menekankan kepada kemampuan produk atau jasa tersebut
untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan pelanggan.
Menurut sofjan Assauri (2010) Kualitas produk merupakan hal yang perlu
mendapat perhatian utama dari perusahaan atau produsen, mengingat kualitas
suatu produk berkaitan erat dengan masalah kepuasan konsumen yang merupakan
tujuan dari kegiatan pemasaran yang dilakukan perusahaan

Pengertian Pemasaran


Pemasaran sangat penting dalam mencapai tujuan dari perusahaan, dimana
pemasaran digunakan untuk mengetahui dan memahami segala kebutuhan dan
keinginan dari pelanggan sehingga produk dan jasa yang ditawarkan oleh
perisahaan dapat ditawarkan sesuai pasarnya. Aktivitas pemasaran diarahkan
untuk mengetahui dan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan sehingga
produk atau jasa yang ditawarkan itu cocok serta menentukan dan memilih pasar
sasaran dan menciptakan pertukaran yang memugkinkan perusahaan mencapai
laba yang diharapkan. Pemasaran dalam sebuah perusahaan adalah suatu kegiatan
pokok yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnis yang
berfungsi untuk mempertahankan hidup perusahaan itu sendiri, baik perusahaan
tersebut memproduksi barang atau jasa. Sekarang ini tanpa adanya pemasaran
perusahaan akan kesulitan dalam mencapai suatu tujuan yangdiharapkan.
Pengetahuan tentang pemasaran sangat dibituhkan saat perusahaan menghadapi
masalah dengan adanya masalah diperlukan kemampuan untuk dapat melihat jauh
kedepan melalui peranan yang baik dalam melakukan tindakan pasaran dengan
cepat, nyata dan terkoordinasi. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena perlu
adanya inisiatif dalam mempelajari dan menguasai hal yang berhubungan dengan
pentingnya pemasaran dalam mewujudkan penjualan yang menghasilkan untung.
Adapun pengertian menurut para ahli dikemukakan sebagai berikut :
Menurut Kotler dan et al (2012:146) mendefinisikan manajemen
pemasaran adalah penganalisaan, pelaksanaan, dan pengawasan, program-
program yang ditujukan utuk mengadakan pertukaran dengan pasar yang dituju
dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.Dari uraian sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah serangkaian proses yang
dilakukan perusahaan dalam penganalisaan, pelaksanaan, dan pengawasan
program-program dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:29) menjelaskan Marketing as the
process by which companies create value for customers and build strong
customer relationships in order to capture value from customers in return, artinya
Manajemen Pemasaran adalah serangkaian proses yang dilakukan olehperusahaan untuk menciptakan suatu nilai bagi para pelanggandan membangun hubungan
yang kuat dengan mereka agar tercipta suatu nilai dari para pelanggan tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2012:5) mengemukakan pengertian
manajemen pemasaran sebagai berikut: “marketing management as the art and
science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers
through creating, delivering, and communicating superior customer
value”(manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan
mendapatkan, menjaga dan tumbuh pelanggan melalui penciptaan, memberikan,
dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul).

Blockchain


Blockchain adalah struktur data yang terdiri atas rangkaian data atau disebut
juga sebagai block yang saling terhubung [6], dimana setiap block tersebut berisi
banyak data transaksi
Setiap block pada blockchain pasti memiliki hash dari dirinya sendiri dan
hash dari block sebelumnya. Hal tersebut yang membuat setiap block pada
blockchain dapat saling terhubung. Selain itu, hal ini juga menyebabkan
blockchain bersifat immutable atau tidak dapat diubah, karena jika data pada suatu
block diubah, maka hash dari block tersebut akan berubah dan hash yang disimpan
oleh block berikutnya akan menjadi tidak valid, sehingga akan menyebabkan rantai
dari block yang ada terputus.
Rangkaian block pada blockchain tidak disimpan hanya pada satu komputer
saja, melainkan didistribusikan ke seluruh komputer yang disebut sebagai node
pada jaringan blockchain tersebut. Maka dari itu, blockchain mengurangi risiko
terjadinya single point of failure [8]. Selain itu terdapat juga mekanisme konsesus
yang berfungsi untuk melakukan persetujuan terhadap kondisi data dalam
blockchain pada suatu waktu. Hal tersebut akan mencegah terjadinya manipulasi
data yang dilakukan oleh suatu pihak yang tidak bertanggung jawab

Supply Chain Management


“SCM (Supply chain management) adalah konsep atau mekanisme untuk
meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui
optimalisasi waktu, lokasi, dan aliran kuantitas bahan.” [5]. Supply chain
management terdiri atas organisasi, sumber daya manusia (SDM), aktivitas,
informasi, dan beberapa sumber daya lainnya. Pada SCM, seluruh sumber daya
tersebut saling terkait untuk memindahkan suatu produk mulai dari pemasok
hingga sampai kepada pelanggan.
Suppy chain management berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas dari proses supply chain untuk setiap stakeholder yang terlibat,
misalnya supplier, manufacturer, warehouse, dan stores. Tanpa adanya SCM,
koordinasi antara para stakeholder tersebut dapat menjadi tidak teratur dan
berpotensi menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi pihak-pihak yang
terlibat. Beberapa manfaat lainnya dari SCM adalah dapat meningkatkan
pendapatan stakeholder, menurunkan biaya, dan meningkatkan kepuasan
pelanggan

Sistem Jaminan Halal


Sistem jaminan halal adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk menjamin
kehalalan suatu produk milik perusahaan pemegang sertifikat halal beserta dengan
proses produksi sesuai dengan ketentuan dari LPPOM MUI. Berdasarkan HAS
23000, sebuah sistem jaminan halal memiliki 11 kriteria [4], yaitu:

  1. Kebijakan Halal
    Kebijakan halal merupakan hal-hal tertulis yang ditetapkan oleh pihak
    manajemen puncak dan harus ditaati oleh seluruh stakeholder yang
    bersangkutan agar dapat menghasilkan produk halal secara konsisten.
  2. Tim Manajemen Halal
    Tim manajemen halal merupakan sekelompok orang yang bertanggung
    jawab atas sistem jaminan halal suatu perusahaan. Tim tersebut bertugas
    untuk melakukan perencanaan, implementasi, evaluasi, dan perbaikan dari
    SJH tersebut.
  3. Pelatihan
    Pelatihan merupakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan
    (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) pekerja yang terlibat
    agar mencapai tingkat kompetensi yang diinginkan. Pelatihan harus
    disampaikan oleh orang yang kompeten pada bidangnya dan dilaksanakan
    setidaknya setahun sekali.
  4. Bahan
    Bahan-bahan yang terlibat dapat dikelompokkan menjadi bahan kritis dan
    tidak kritis. Bahan kritis merupakan bahan yang berstatus tidak halal atau
    haram. Bahan kritis harus dilengkapi dengan dokumen pendukung yang
    cukup.
  5. Fasilitas Produksi
    Fasilitas produksi yang digunakan dalam proses menghasilkan produk,
    seperti bangungan, ruangan, mesin, dan seluruh peralatan harus sesuai
  6. engan ketentuan yang diberikan agar kehalalan terjamin. Terdapat
  7. ketentuan yang berbeda untuk berbagai fasilitas produksi, seperti untuk
  8. insdustri olahan pangan, obat-obatan, kosmetika, restoran, dan rumah potong
  9. hewan (RPH).
  10. Produk
    Produk dapat berupa produk retail, non-retail, produk akhir, atau produk
    antara. Produk tersebut harus mengikuti beberapa kriteria, diantaranya tidak
    boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah pada produk
    haram. Lalu bentuk, kemasan, atau label produk tidak boleh
    menggambarkan sifat erotis, vulgar atau porno.
  11. Prosedur Tertulis Aktivitas Kritis
    Aktivitas kritis adalah proses yang dapat mempengaruhi kehalan dari suatu
    produk, misalnya penggunaan bahan baru untuk produk yang sudah
    disertifikasi, transportasi bahan, penyimpanan bahan, dan sebagainya.
    Aktivitas tersebut dapat berbeda untuk setiap perusahaan, sehingga harus ada
    SOP (Standard Operating Procedure) tertulis dalam mengatur aktivitas kritis.
  12. Kemampuan Telusur
    Produk harus dapat ditelusuri untuk memastikan bahan-bahan yang terlibat
    telah disetujui oleh LPPOM MUI dan proses produksi dilakukan pada fasilitas
    yang memenuhi kriteria.
  13. Penanganan Produk yang Tidak Memenuhi Kriteria
    Produk yang tidak memenuhi kriteria tidak boleh diproses ulang, tetapi
    harus dimusnahkan dan tidak boleh dijual ke konsumen yang membutuhkan
    produk halal. Produk tidak memenuhi kriteria yang sudah terlanjur dijual
    harus ditarik kembali dari pasar. Prosedur tertulis mengenai proses tersebut
    harus dimiliki oleh perusahaan.
  14. Audit Internal
    Audit internal harus dilakukan oleh perusahaan untuk memastikan proses
    seluruhnya berjalan sesuai kriteria. Audit internal harus dilakukan
    setidaknya sekali dalam satu tahun.
  15. Kaji Ulang Manajemen
    Kaji ulang harus dilakukan oleh perusahaan setidaknya sekali dalam setahun
    dan memiliki prosedur tertulis

Pengaruh Brand Image Terhadap Minat Beli Ulang


Brand Image ialah segala sesuatu yang berperan vital dan dijadikan fokus
utama bagi pembisnis. Pembeli cenderung menempatkan Brand Image sebagai
tolok ukur sebelum mereka membeli suatu produk. Brand Image yang baik tentu
bisa berdampak lebih baik terhadap pembeli. Bila merek bercita buruk, tentunya
konsumen pun tidak memiliki ketertarikan terhadap merek tersebut sehingga
keinginan untuk membeli pun berkurang (Patrichia, et al., 2023). Brand Image
merupakan seperangkat karakteristik berwujud dan tidak berwujud, seperti ide,
keyakinan, nilai, minat, dan sifat yang membuatnya unik (Lukitaningsih, et al.,
2023).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fandiyanto dan Kurniawan
(2019) menunjukan bahwa Brand Image berpengaruh positif terhadap minat beli
ulang. Terdapat juga hasil penelitian Lukitaningsih, et al., (2023) yang menyatakan
bahwa Brand Image berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang

Indikator Brand Image


Menurut Aaker, (2013), ada beberapa indikator Brand Image, antara lain:

  1. Recognition (pengakuan), tingkat dikenalnya sebuah merek oleh konsumen.
    Jika sebuah merek tidak dikenal, maka produk dengan merek tersebut harus
    dijual dengan mengandalkan harga yang murah.
  2. Reputation (reputasi), tingkat atau status yang cukup tinggi bagi sebuah merek
    karena lebih terbukti memiliki track record yang baik.
  3. Affinity (afinitas), Suatu emosional relationship yang timbul antara sebuah
    merek dengan konsumennya. Produk dengan merek yang disukai oleh
    konsumen akan lebih mudah dijual dan produk dengan memiliki persepsi
    kualitas yang tinggi akan memiliki reputasi yang baik

Pengertian Brand Image


Brand Image adalah persepsi terhadap suatu merek yang dicerminkan oleh
asosiasi merek yang tersimpan dalam ingatan konsumen. Citra adalah konsep yang
mudah dipahami, tetapi karena abstrak, sulit untuk dijelaskan secara sistematis
(Prabowo, et al., 2020). Brand image menurut Aaker, (2013) merupakan
serangkaian asosiasi yang ada dalam benak konsumen terhadap suatu brand,
biasanya terorganisasi menjadi suatu makna. Hubungan terhadap suatu brand akan
semakin kuat jika didasarkan pada pengalaman dan menadapat banyak informasi.
Brand Image juga berperan sangat penting dan dijadikan fokus utama bagi
pembisnis. Pembeli cenderung menempatkan Brand Image sebagai tolak ukur
sebelum mereka membeli suatu produk. Brand Image yang baik/positif tentu bisa
berdampak lebih baik terhadap pembeli. Bila merek bercita buruk, tentunya
konsumen pun tidak memiliki ketertarikan terhadap merek tersebut sehingga
keinginan untuk membeli pun berkurang. Dampak lain yang sering terasa, yaitu
meningkat atau menurunnya rasa percaya pembeli terhadap merek. Kepercayaan
makin bertambah mampu menciptakan konsumen menjadi menyukai dan akan terus
mengonsumsi merek tersebut (Patrichia, et al., 2023)

Indikator Label Halal


Indikator label halal Aditi, (2019) yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:

  1. Terdapat Logo Halal pada kemasan, label halal pada produk makanan atau
    minuman, bertujuan untuk membedakan antara produk halal dan tidak halal.
    Label halal merupakan pencantuman tulisan atau pernyataan halal pada
    kemasan produk untuk menunjukan bahwa produk yang dimaksud berstatus
    produk halal.
  2. Terdapat label komposisi, Komposisi merupakan informasi yang terdiri dari
    bahan baku yang digunakan dalam makanan atau minuman tersebut.
    Terdapat label kandungan nutrisi, Label nutrisi merupakan informasi mengenai
    nilai gizi yang terkandung di dalam suatu produk makanan atau minuman.
    Nutrisi adalah zat-zat yang terkandung pada makanan yang diperuntukan bagi
    hewan maupun tumbuhan

Pengertian Label Halal


Labelisasi halal adalah pecantuman tulisan atau pernyataan halal pada
kemasan atau produk untuk menunjukkan bahwa produk yang dimaksud berstatus
sebagai produk halal. Menurut UU No.33 Tahun 2014 Pasal 1 tentang jaminan
produk halal, yang dimaksud produk halal adalah produk yang telah dinyatakan
halal sesuai dengan syariat Islam (Hidayat & Resticha, 2019). Adapun menurut
Hendradewi, et al., (2021) Pencantuman sertifikasi dan label halal merupakan
sarana komunikasi yang efektif bagi konsumen agar memudahkan dalam memilah
makanan halal dengan lebih mudah. Sertifikasi halal berlaku selama 2 tahun dan
harus diperpanjang bulan sebelum masa berlakunya habis. Sertifikat Halal yang
diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) merupakan
syarat untuk mendapatkan izin pencantuman label halal pada kemasan produk dari
instansi pemerintah yang berwenang. Beberapa penelitian menunjukan bahwa
terdapat hubungan antara labelisasi halal dan minat beli ulang. Hal ini dibuktikan
Aditi, (2019); Rohadatul, (2021) menyatakan bahwa labelisasi halal berpengaruh
positif dan signifikan terhadap minat beli ulang

Pengertian Minat Beli Ulang


Minat beli ulang adalah sebuah perilaku konsumen dimana konsumen
mempunyai keinginan untuk membeli atau memilih suatu produk berdasarkan
pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkan
menginginkan suatu produk (Lestari & Novitaningtyas, 2021). Hal ini selaras
dengan Hidayat & Resticha, (2019) yang menyatakan bahwa minat beli ulang
merupakan minat pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang
telah dilakukan dimasa lalu oleh konsumen. Adapun menurut Zahroq & Asiyah
(2022) Minat beli ulang didefinisikan juga sebagai keinginan konsumen untuk
melakukan pembelian lagi sebagai akibat dari pembelian sebelumnya yang
memenuhi ekspektasinya. Sehingga bisa disimpulkan minat beli ulang yaitu
kehendak untuk melakukan pembelian ulang akan suatu barang yang telah
dikonsumsi sebelumnya.
b. Indikator Minat Beli Ulang
Lestari & Novitaningtyas (2021), menjelaskan bahwa minat beli ulang bisa
diidentifikasi oleh beberapa indikator sebagai berikut:

  1. Minat referensial yang merupakan minat seseorang untuk mereferensikan pada
    orang lain,
  2. Minat eksploratif yang merupakan minat seseorang mencari informasi pada
    produk yang diinginkannya,
  3. Minat transaksional yaitu kecenderungan untuk bertransaksi dan membeli
    produk,
  4. Minat preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
    memiliki preferensi utama pada produk tersebu

Indikator – indikator Minat Beli


Terdapat beberapa indikator yang menjadi tolak ukur dalam minat beli.
Berikut adalah indikator – indikator pengukuran minat beli menurut
pendapat Shiffman dan Kanuk (2010 : 470-471), yaitu :
a. Ingin Mengetahui Produk
Dalam tahap ini, konsumen belum melakukan tindakan apapun. Akan
tetapi, konsumen memberikan respon awal terhadap promosi yang
diluncurkan oleh suatu merek. Muncul sedikit rasa ingin tahu, namun
belum ada tindakan apapun.
b. Tertarik Untuk Mencari Informasi Mengenai Produk
Rasa ingin tahu yang telah muncul sebelumnya kemudian berubah
menjadi ketertarikan untuk mencari informasi mengenai produk.
Pencarian informasi dilakukan oleh konsumen melalui berbagai media,
baik melalui media cetak dan media elektronik. Media cetak seperti
majalah yang memuat iklan maupun advertorial yang membahas produk
yang bersangkutan. Sedangkan media elektronik seperti iklan elektronik,
website produk yang bersangkutan, baik dari berbagai sumber lainnya.
Selain melalui media, pencarian informasi mengenai produk juga dapat
melalui referensi lain yaitu dengan bertanya kepada teman, keluarga, dan
lingkungan sekitar konsumen.
c. Tertarik Untuk Mencoba
Setelah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai produk
melalui berbagai referensi, konsumen kemudian dapat menilai apakah
produk tersebut sesuai dengan kebutuhan. Jika konsumen merasa ada
kecocokan dengan produk tersebut, maka akan muncul rasa ketertarikan
untuk mencoba.
d. Mempertimbangkan untuk Membeli
Rasa ketertarikan tersebut akan membuat konsumen berpikir apakah
ia benar – benar akan membeli produk tersebut. Apakah produk tersebut
dibutuhkan, dan apakah produk tersebut benar – benar sesuai dan cocok
untuk dirinya.
Menurut Ferdinand (dalam Veronika 2016:24) minat beli dapat
diidentifikasi melalui indikator – indikator sebagai berikut :
1) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli
produk.
2) Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan produk kepada orang lain.
3) Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut.
Prefrensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk
preferensinya.
4) Minat eksploratif, yaitu minat ini menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan
mencari informasi untuk mendukung sifat – sifat positif dari produk
tersebut.
Menurut Winkel (dalam Arumni 2013:23) Faktor – faktor yang
mempengaruhi minat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu :
a) Minat secara intrisik, yaitu minat yang berdasarkan sesuatu dorongan
yang secara mutlak timbul dari dalam individu sendiri tanpa ada
pengaruh dari luar, misalnya: sumber daya konsumen, pengetahuan,
sikap, dan gaya hidup.
b) Minat secara ekstrinsik, yaitu minat yang berdasarkan dorongan atau
pengaruh dari luar diri individu, misalnya: iklan, pendapat teman,
keluarga dan pengalaman.
Berdasarkan beberapa dari pengertian diatas, maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa minat beli adalah suatu proses pembelajaran dan
proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi konsumen untuk
mendapatkan informasi secara lebih lengkap tentang produk tertentu lewat
kunjungan ke sumber produk tersebut sebelum bertindak melakukan
pembelian, atau sikap kecenderungan perilaku konsumen untuk membeli
produk yang dalam proses pembeliannya dari mencari informasi hingga
tindakan yang berhubungan dengan pembelian

Minat Beli


“Azjen (2005:99) state that intention is willingness that stored in human
memory and will lead to an action on perfect time. It is need a trigger to
change intention to an action. Intention remains in human memory until there
is a right time and chance to perform behavior. Behavior intention is one of
main factors that configure behavior. Intention defined as motivation that
affects behavior. The stronger intention leads to stronger behavior. Thus,
intention can be understood as an expression before perform an action.
Intention has dependently with time. Since there is a long distance time
between intention and action then the intention will weak. Azjen (2005)
measured intention with three indicators those are when, where and how
consumer will perform their future behavior”. (Dalam Diyah dan Ninuk,
2015:66)
Definisi minat beli menurut Thamrin dalam jurnal Sri Murti Pramudena
dan Nanda Setiawan (2013:142) merupakan bagian dari komponen perilaku
konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk
bertindak sebelum keputusan membeli benar – benar dilaksanakan.
Pengertian minat beli menurut Taurusia dalam jurnal Sri Murti Pramudena
dan Nanda Setiawan (2011:13) Komponen minat berisikan niat untuk
melakukan perilaku tertentu. Secara teoritis, terbentuknya minat tersebut
ditentukan oleh interaksi kedua komponen yang mendahuluinya yaitu sikap
terhadap perilaku dan norma subyektif tentang perilaku tersebut.
Menurut Assel dalam jurnal Sri Murti Pramudena dan Nanda Setiawan
(2012:23) “minat beli adalah kecenderungan konsumen untuk membeli suatu
merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian”.
Menurut Howard yang dikutip dalam Durianto dan Liana (2014:44)
pengertian minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana
konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk
yang dibutuhkan pada periode tertentu.
“Purchase intention is defined as customers’ basic decision-making based
on the motivation to purchase a certain brand (Shah et al., 2012). Mirabi et
al. (2015) characterized purchase intention as a circumstance wherein
customer tends to purchase a specific good in a particular condition.
Customer purchase decision is an extremely complex process. Purchase
intention is commonly identified and relevant to the behavior, perceptions,
and attitudes of buyers”. (Dalam Hanif dan Tubagus, 2017:2)
“Purchase intentions are significantly focused by the consumer‟s attitude
rather than the other tools like demographics or factors of economy (Ferrell
and McIntosh dalam Widarto Rachbini, 2018:30 )

Jenis – jenis Gaya Hidup


Menurut Mowen dan Minor, terdapat sembilan jenis gaya hidup yaitu
sebagai berikut (Sumarwan, 2011:45) :
a. Funcionalists, yaitu menghabiskan uang untuk hal – hal yang penting.
Pendidikan rata – rata, pendapatan rata – rata, kebanyakan pekerja
kasar (buruh). Berusia kurang dari 55 tahun dan telah menikah serta
memiliki anak.
b. Nurturers, yaitu muda dan berpendapatan rendah. Mereka berfokus
pada membesarkan anak, baru membangun rumah tangga dan nilai –
nilai keluarga. Pendidikan diatas rata – rata.
c. Aspisers, yaitu berfokus pada menikmati gaya hidup tinggi dengan
membelanjakan sejumlah uang diatas rata – rata untuk barang barang
berstatus, khususnya tempat tinggal. Memiliki karakteristik Yuppie
klasik. Pendidikan tinggi, pekerja kantor, menikah tanpa anak.
d. Experientials, yaitu membelanjakan jumlah diatas rata – rata terhadap
barang – barang hiburan, hobi, dan kesenangan (convenience).
Pendidikan rata – rata, tetapi pendapatannya diatas rata – rata karena
mereka adalah pekerja kantor.
e. Succeeders, yaitu rumah tangga yang mapan. Berusia setengah baya
dan berpendidikan tinggi. Pendapatan tertinggi dari ke sembilan
kelompok. Menghabiskan banyak waktu pada pendidikan dan
kemajuan diri. Mengahabiskan uang di atas rata – rata untuk hal – hal
yang berhubungan dengan pekerjaan.
f. Moral majority, yaitu pengeluaran yang besar untuk organisasi
pendidikan, masalah politik dan gereja. Berada pada tahap empty-nest.
Pendapatan tertinggi kedua. Pencari nafkah tunggal.
g. The golden years, yaitu kebanyakan adalah para pensiunan, tetapi
pendapatannya tertinggi ketiga. Melakukan pembelian tempat tinggal
kedua. Melakukan pengeluaran yang besar pada produk – produk
padat modal dan hiburan.
h. Sustainers, yaitu kelompok orang dewas dan tertua. Sudah pensiun.
Tingkat pendapatan terbesar dibelanjakan untuk kebutuhan sehari –
hari dan alkohol. Pendidikan rendah, pendapatan terendah kedua.
i. Subsisters, yaitu tingkat sosial ekonomi rendah. Presentase kehidupan
pada kesejahteraan di atas rata – rata. Kebanyakan merupakan
keluarga – keluarga dengan pencari nafkah dan orang tua tunggal
jumlahnya di atas rata – rata kelompok minoritas.
Berdasarkan pengertian dari beberapa pakar diatas maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang
dinyatakan dalam aktivitas, minat, dan pendapatnya dalam membelanjakan
uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu yang mereka miliki. Gaya
hidup mencerminkan keseluruhan pribadi dalam berinteraksi dengan
lingkungan serta kebiasaan yang dilakukan seseorang. Setiap individu tentu
memiliki perbedaan pandangan, kegemaran, ataupun kebiasaan yang dijalani
dalam kesehariannya

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup


Menurut Amstrong faktor – faktor yang mempengaruhi gaya hidup
seseorang adalah sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian,
konsep diri, motif, persepsi, kelompok referensi, keluarga, dan kelas sosial
(Nugraheni, 2003:15).
Adapun penjelasan untuk masing – masing faktor yang
mempengaruhi gaya hidup adalah sebagai berikut :
a. Sikap
Suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk
memberikan tanggapan terhadap suatu objek melalui pengalaman dan
mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut
sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan
sosialnya.
b. Pengalaman dan Pengamatan
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam
tingkah laku, dapat diperoleh dari semua tindakan dimasa lalu dan dapat
dipelajari melalui belajar orang dapat memperoleh pengalaman.
c. Kepribadian
Konfigurasi karakteristik seseorang dan cara berperilaku yang
menentukan perbedaan perilaku dari setiap orang.
d. Konsep Diri
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep
diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas
untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan
image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan
mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari
pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam
mengahadapi permasalahan hidupnya.
e. Motif
Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk
merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa
contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan
prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung
mengarah kepada gaya hidup hedonis.
f. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan
menginterprestasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang
berarti mengenai dunia.
g. Kelompok Referensi
Kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak
langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang
memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana seseorang
menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang
memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana seseorang
tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh tersebut
akan menghapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
h. Keluarga
Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam
pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh
orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung
mempengaruhi pola hidupnya.
i. Kelas sosial
Sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam
sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan
para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah
laku yang sama

Pengukuran Gaya Hidup


Analisis psikografik juga diartikan sebagai suatu riset konsumen
yang menggambarkan segmen konsumen dalam hal kehidupan mereka,
pekerjaan dan aktivitas lainnya. Psikografik berarti menggambarkan
(graph) psikologis konsumen (psyco). Psikografik adalah pengukuran
kuantitatif gaya hidup, kepribadian dan demografik konsumen. Psikografik
sering diartikan sebagai pengukuran AIO (activity, interest, opinion), yaitu
pengukuran kegiatan, minat dan pendapat konsumen.
Psikografi (psychographics) adalah teknik utama yang digunakan
oleh peneliti konsumen sebagai ukuran operasional dari gaya hidup.
Psikografi memberikan pengukuran kuantitatif dengan sampel besar
berlawanan dengan teknik penelitian lunak atau kualitatif seperti
wawancara kelompok fokus atau wawancara mendalam. AIO, istilah yang
digunakan secara umum dan dapat dipertukarkan dengan psikografis,
mengacu pada pengukuran kegiatan, minat, dan opini.

Indikator – indikator Gaya Hidup


Menurut Edia Satria, terdapat tiga indikator gaya hidup seseorang
yaitu sebagai berikut (Silvya L Mandey, 2009:93) :
a. Kegiatan (Activity)
Activity atau aktivitas meminta kepada konsumen untuk
mengidentifikasikan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka beli
dan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka. Activity
merupakan karakteristik konsumen dalam kehidupan sehari-harinya.
b. Minat (Interest)
Ketertarikan yang memfokuskan pada preferensi dan prioritas
konsumen. Interest merupakan faktor pribadi konsumen dalam
mempengaruhi proses pengambilan keputusan.
c. Opini (Opinion)
Menyelidiki pandangan dan perasaan mengenai topik-topik
peristiwa dunia, lokal, moral ekonomi, dan sosial masyarakat, nilai-
nilai dan sikapnya, tahap pembangunan ekonomi, hukum dan
hubungannya. Opinion merupakan pendapat dari setiap konsumen
yang berasal dari pribadi mereka sendiri. Solomon (2011: 264)
mengatakan bahwa opini dapat terdiri dari konsumen itu sendiri, isu
sosial, isu politik, bisnis, ekonomi, pendidikan, produk, masa depan,
dan budaya

Gaya Hidup


Menurut Kotler dan Keller (2012:178) Gaya hidup adalah para konsumen
membuat keputusan mereka tidak dalam sebuah tempat yang terisolasi dari
lingkungan sekitar. Perilaku membeli mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor
kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologis. Dan dari faktor pribadi dan faktor
gaya hidup konsumen yang ikut mempengaruhi keputusannya dalam membeli
suatu produk.
Menurut Suwarman (2011:57) Gaya hidup sering digambarkan dengan
kegiatan, minat, dan opini dari seseorang (activities, interest, and opinions).
Gaya hidup seseorang biasanya tidak permanen atau cepat berubah.
Seseorang dengan cepat mengganti model dan merek pakaiannya karena
menyesuaikan pada perubahan hidupnya.
Gaya hidup menurut Setiadi (2010:148) sebagai cara di identifikasikan
oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang
mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang
mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya
(pendapat).
Menurut Engel, Blackwell and Miniard dalam Sumarwan (2011:45) gaya
hidup adalah konsep yang lebih baru dan lebih mudah terukur apabila
dibandingkan dengan kepribadian. Gaya hidup diartikan sebagai pola dimana
orang hidup dengan menggunakan uang dan waktunya.
“According to Kotler (2009) Lifestyle is a lifestyle that describes the
activities, interests and opinions of individuals who interact with the
environment and how to measure it by using psicografics. Psicograpics is an
instrument for measuring lifestyles, using qualitative and biased
measurements used to analyze very large data. Psychologists are typically
used to look at market segments: 1) Activity or activity; 2) Interest (Interest);
and 3) Opinion”. (Dalam Johannes, 2017:19)
Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan
masalah apa yang sebenarnya yang ada di dalam pikiran pelanggan yang
cenderung berbaur dengan berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi
dan psikologis konsumen. Gaya hidup merupakan referensi yang dipakai
seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola
perilaku tertentu. Setiap orang memiliki pola perilaku, kebiasaan, karakter,
dan kebutuhan yang berbeda, sehingga atas dasar perbedaan tersebut
terbentuk klasifikasi jenis gaya hidup tertentu

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sikap


Faktor – faktor yang mempengaruhi sikap menurut (Azwar S,
2011:30-38) sebagai berikut :
1) Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara
komoponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang
yang dianggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya
bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak
ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita
akan mempengaruhi pembentkan sikap kita terhadap sesuatu.
Contoh : Orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami
dan lain-lain.
3) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai
pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
4) Media masa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai
pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Adanya
33
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif
bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan
keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam arti
individu.
6) Faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan
pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap
merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi yang
berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego

Karakteristik Sikap


a. Sikap memiliki Objek
Di dalam konteks pemasaran, sikap konsumen harus terkait dengan
objek karena objek tersebut bisa terhubung dengan berbagai konsep
konsumsi dan pemasaran seperti produk, merek, iklan, harga,
kemasan, penggunaan media, dsb.
b. Konsitensi Sikap
Sikap adalah gambaran perasaan dari seorang konsumen, dan
perasaan tersebut akan direfleksikan oleh perilakunya. Karena itu,
sikap memiliki konsistensi dengan perilakunya.
c. Sikap Positif Negatif dan Netral
Sikap positif merupakan sikap yang mungkin dapat menerima atau
menyukai suatu hal, sedangkan sikap negatif merupakan sikap yang
tidak menyukai suatu hal, bersikap netral berarti tidak meiliki sikap
atas suatu hal.
d. Intensitas Sikap
Intensitas sikap adalah konsumen menyatakan derajat tingakat
kesukaan nya terhadap suatu produk.
e. Resistensi Sikap (Resistance)
Adalah seberapa besar sikap sesorang konsumen bisa berubah.
Pemasar perlu memahami resistensi konsumen agar bisa menerapkan
strategi pemasaran yang tepat.
f. Persistensi Sikap (Persistance)
Persistensi Sikap adalah karakteristik sikap yang menggambarkan
bahwa sikap akan berubah karena berlalunya waktu.
g. Keyakinan Sikap (Confidence)
Keyakinan adalah kepercayaan konsumen mengenai kebenaran
sikap yang dimilikinya

Sikap Konsumen


Menurut Griffin dalam Sopiah dan Sangadji (2013:8) sikap konsumen
adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologi yang mendorong
tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan,
menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal diatas atau kegiatan
mengevaluasi.
Shiffman dan Kanuk (2010:23) mendefinisikan sikap sebagai sikap
ekspresi perasaan batin bahwa seseorang itu baik atau tidak menguntungkan
bagi orang yang terpelajar terhadap beberapa objek.
Rangkuti (2010:92) dikutip dalam Engel, Blackwell, dan Miniard yang
mengatakan bahwa, “Sikap konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat
dalam mendapatkan, mengonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa,
termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.”
Sikap adalah emosi dan perasaan seperti pernyataan sangat
menyenangkan atau tidak menyenangkan, sangat menarik atau tidak menarik,
suka atau tidak suka. Sikap dapat di ibaratkan evaluasi keseluruhan tentang
makanan yang dimakan konsumen dan merefleksikan respon konsumen
29
terhadap makanan yang dimakan tersebut. Oleh karena itu pemasar perlu
menciptakan aktivitas – aktivitas yang akan menumbuhkan sikap yang positif
terhadap produk. Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif.
Wee, et al., 1995 (dalam Hendro Trisdiarto, 2012:13).
“Consumer attitudes is described as a favorable or unfavorable feeling
derived from the evaluation of an object, such as product or service offerings,
brands, prices, stores, etc. According to Schiffman and Kanuk (2007),
consumer attitude is an educated predisposition to behave consistently good
or unfavorable based on feelings and opinions resulting from the evaluation
of knowledge about the object. Consumer attitudes play an important role in
influencing consumer buying intentions. Chaniotakis et al. (2010) argued that
the ‘way of thinking’ influence consumers’ buying intentions”. (Dalam Hanif
dan Tubagus, 2017:2)
“Attitude is the evaluation of performing a particular behavior involving
the attitude object, such as buying the product (Blackwell et al., 2006). Alam
and Sayuti, (2011) found that there is a significant and positive relationship
between attitude and intentions to purchase Halal products. Attitude is
considered as an important element in influencing consumer intention in
purchasing Halal products because those with high positive attitudes
appeared to have greater intentions to intent to purchase Halal products”.
(Dalam Widarto Rachbini,2018:30)
Adanya sikap yang lebih positif dari konsumen terhadap barang maka
akan meningkatkan pembelian akan barang tersebut. Sebaliknya jika semakin
negatifnya sikap konsumen terhadap barang, maka akan kecil kemungkinan
bagi konsumen tersebut untuk melakukan pembelian

Proses Labelisasi Halal


Ada beberapa proses yang harus dilalui oleh para pemasar yang
ingin mendapatkan keterangan halal untuk produk yang diproduksinya.
Tetapi sebelum mendapatkan keterangan halal, sebuah produk yang
diproduksi oleh sebuah perusahaan harus terlebih dahulu memperoleh
sertifikat halal dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan
Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau sering disebut LPPOM MUI.
Ketentuannya adalah sebagai berikut :
a. Sebelum produsen mengajukan sertifikat halal terlebih dahulu harus
mempersiapkan Sistem Jaminan Halal. Penjelasan rinci tentang sistem
jaminan halal dapat menunjuk kepada Buku Panduan Penyusunan
Sistem Jaminan Halal yang dikeluarkan oleh LPPOM MUI.
b. Berkewajiban mengangkat secara resmi seorang atau tim Auditor Halal
Internal (AHI) yang bertanggung jawab dalam menjamin pelaksanaan
produksi halal.
c. Berkewajiban menandatangani kesediaan untuk di inspeksi secara
mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh LPPOM MUI.
Mendadak laporan berkala 6 bulan tentang pelaksanaan sistem jaminan
halal. Setelah semua ketentuan diatas telah dipenuhi, maka produsen dapat
lanjut ke proses prosedur sertifikat halal.
Adapun prosedur yang harus dijalani adalah sebagai berikut :
1) Pertama – tama produsen yang menginginkan sertifikat halal
mendaftarkan ke secretariat LPPOM MUI.
2) Setiap produsen yang mengajukan permohonan sertifikat halal bagi
produknya harus mengisi boring yang telah disediakan. Boring tersebut
berisi informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta
bahan – bahan produk.
3) Boring yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan
ke sekretariat LPPOM MUI untuk diperiksa kelengkapan, dan bila
belum memadai perusahaan harus melengakapi sesuai dengan
ketentuan.
4) LPPOM MUI akan memberitahukan perusahaan mengenai jadwal
audit. Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan/audit ke
lokasi produsen dan pada saat audit perusahaan harus dalam keadaan
memproduksi produk yang disertifikasi.
5) Hasil pemeriksaan/audit dan hasil laboraturium (bila diperlukan) di
evaluasi dalam Rapat Auditor LPPOM MUI. Hasil audit yang belum
memenuhi persyaratan diberitahukan kepada perusahaan melalui audit
memorandum. Jika telah memenuhi persyaratan, auditor akan membuat
laporan hasil audit guna diajukan pada Sidang Komisi Fatwa MUI
untuk diputuskan status kehalalannya.
6) Laporan hasil audit disampaikan oleh Pengurus LPPOM MUI dalam
Sidang Komisi Fatwa MUI pada waktu yang telah ditentukan.
7) Sidang Komisi Fatwa MUI dapat menolak laporan hasil audit jika
dianggap belum memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan,
dan hasilnya akan disampaikan kepada produsen pemohon sertifikasi
halal.
8) Sertifikasi halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia setelah
ditetapkan status kehalalannya oleh Komisi Fatwa MUI.
9) Sertifikasi halal berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal penetapan
fatwa.
10) Tiga bulan masa berlaku sertifikat halal berakhir, produsen harus
mengajukan perpanjangan sertifikat halal sesuai dengan aturan yang
telah ditetapkan LPPOM MUI.
Kemudian dilakukan tata cara pemeriksaan (audit) mulai dari
manajemen, bahan baku dan lain – lain. Pemeriksaan (audit) produk halal
mencakup :
a) Manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem
Jaminan Halal).
b) Pemeriksaan dokumen – dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal –
usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat
halal pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan,
formula produksi serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara
keseluruhan.
c) Observasi lapangan yang mencakup proses produksi pengemasan dan
penggudangan serta penyajian untuk restoran/catering/outlet.
d) Keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik untuk setiap bahan
yang harus dipenuhi.
e) Pengambilan contoh dilakukan untuk bahan yang di nilai perlu.
Setelah semua proses dilalui dengan dinyatakan kehalalannya, maka
sertifikat halal dapat dikeluarkan. Proses selanjutnya adalah pencatuman label
halal di kemasan produk yang dinyatakan halal. Pencantuman label halal
inilah yang sering kita dengar dengan sebuah labelisasi halal. Bagi
perusahaan yang ingin mendaftarkan Sertifikat Halal ke LPPOM MUI, baik
industri pengolahan (pangan, obat, kosmetika), Rumah Potong Hewan (RPH),
restoran/catering, maupun industri jasa (distributor, warehouse, transporter,
retailer) harus memenuhi Persyaratan Sertifikat Halal yang tertuang dalam
buku HAS 23000 (Kebijakan, Prosedur, Kriteria).
Berdasarkan pengertian dari beberapa pakar diatas maka peneliti
menyimpulkan bahwa labelisasi halal pada produk bertujuan memberikan
rasa nyaman pada konsumennya, karena dengan adanya label halal pada
sebuah produk berarti produk tersebut telah terhindar dari bahan-bahan yang
dilarang syariat Islam untuk dikonsumsi umat muslim terutama pada produk
kosmetik

Indikator – indikator Labelisasi Halal


Adapun indikator dari labelisasi halal, yaitu :
a. Proses Pembuatan
Proses pembuatan atau proses produksi suatu perusahaan yang sudah
menggunakan label halal hendaknya harus tetap menjaga hal-hal
sebagai berikut :
1) Bahan campuran yang digunakan dalam proses produksi tidak
terbuat dari barang-barang atau bahan yang haram dan turunannya.
2) Air yang digunakan untuk membersihkan bahan hendaklah air
mutlak atau bersih dan mengalir.
3) Dalam proses produksi tidak tercampur atau berdekatan dengan
barang atau bahan yang najis atau haram.
b. Bahan Baku Utama
Bahan baku produk adalah bahan utama yang digunakan dalam
kegiatan proses produksi, baik berupa bahan baku, bahan setengah jadi,
maupun jadi. Sedangkan bahan tambahan produk adalah bahan yang
tidak digunakan sebagai bahan utama yang ditambahkan dalam proses
teknologi produksi.
c. Bahan Pembantu
Bahan pembantu atau bahan penolong adalah bahan yang tidak
termasuk dalam kategori bahan baku ataupun bahan tambahan yang
berfungsi untuk membantu mempercepat atau memperlambat proses
produksi termasuk proses rekayasa. Efek pada umumnya, efek adalah
perubahan, hasil, atau konsekuensi langsung yang disebabkan oleh
suatu tindakan atau fenomena. Dalam hal ini produk tidak memiliki
efek samping yang merugikan tubuh sebagaimana yang telah dipelajari
dipercaya umat Islam. Kaidah dan kriteria makanan halal menurut Islam
seperti diterangkan diatas menunjukkan kemudahan syariat islam dalam
masalah ini. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan
semua makanan yang baik dan mengharamkan segala jenis makanan
yang tidak baik bagi tubuh dan diperoleh dari cara yang tidak benar.
Artinya unsur kehalalan makanan dalam Islam tidak hanya dilihat dari
aspek dzatnya yang baik dan halal. Tapi dilihat juga dari sisi proses dan
cara mendapatkannya. Semoga Allah menuntut hati kita untuk ridho
dengan rezekinya yang halal yang kita dapatkan melalui cara yang halal
pula.
Sertifikat produk halal adalah surat keputusan fatwa halal yang
dikeluarkan Dewan Pimpinan MUI dalam bentuk sertifikat. Sertifikat
produk halal ini merupakan syarat untuk mencantumkan label halal. Ini
artinya sebelum pengusaha memperoleh izin untuk mencantumkan label
halal atas produk pangannya, terlebih dahulu ia mengantongi sertifikat
produk halal yang diperoleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan
dan Kosmetika (LPPOM MUI). (Yuli Mutiah Rambe dan Syaad
Afifuddin)
d. Efek
Makanan halal tidak boleh terlepas dari tujuan syari’at Islam, yaitu
mengambil maslahat dan menolak madharat atau bahaya. Jika menurut
kesehatan, suatu jenis makanan dapat membahayakan jiwa, maka
makanan tersebut haram dikonsumsi.
Sertifikat dan labelisasi halal bertujuan untuk memberikan kepastian
hukum dan perlindungan terhadap konsumen, serta meningkatkan daya
saing produk dalam negeri dalam rangka meningkatkan pendapatan
nasional. Tiga sasaran utama yang ingin dicapai adalah :
1) Menguntungkan konsumen dengan memberikan perlindungan dan
kepastian hukum.
2) Menguntungkan produsen dengan peningkatan daya saing dan omset
produksi dalam penjualan.
3) Menguntungkan pemerintah dengan mendapatkan tambahan
pemasukan terhadap kas Negara.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang label
halal dan iklan pangan menyebutkan label adalah setiap keterangan mengenai
pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk
lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan, atau
merupakan bagian kemasan pangan. Lembaga inilah yang sebenarnya
berwenang memberikan sertifikat halal kepada perusahaan yang akan
mencantumkan label hala

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Firmansyah (2019:205-209) indikator keputusan pembelian sebagai
berikut:
a. Pengenalan Masalah (Problem Reconition)
b. Pencarian Informasi. (Information Search)
c. Evaluasi Alternatif. (Alternative Evaluation)
d. Keputusan Pembelian.(Purchase Decision)
e. Perilaku Pasca Pembelian. (Post-Purchase Behaviour)

Keputusan Pembelian


Menurut Engel dalam Firmanysah (2019:203) Pengambilan keputusan merupakan
sebuah proses yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian
informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, dan evaluasi
alternatif sesudah pembelian. Proses pengambilan keputusan membeli mengacu pada
tindakan konsisten dan cara bijaksana yang dapat dengan cepat dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan.
1) Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Awater dalam Firmansyah (2019:203) mendefinisikan bahwa
pengambilan keputusan sebagai kegiatan mengumpulkan informasi tentang alternatif
yang relevan dan membuat pilihan yang sesuai.
Sedangkan menurut Berkowitz dalam Firmansyah (2019:204) juga mengemukakan bahwa proses keputusan pembelian merupakan tahap-tahap yang dilalui pembeli
dalam menentukan pilihan tentang produk dan jasa yang hendak dibeli. Untuk barang
berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan
mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.
2) Perilaku Konsumen
Menurut Firmansyah (2019:212) untuk dapat mengenal, menciptakan dan
mempertahankan pelanggan, maka studi tentang perilaku konsumen sebagai perwujudan
dari aktivitas jiwa manusia sangatlah penting. Pemahaman perilaku konsumen
diaplikasikan dalam beberapa hal,yaitu :
a. Untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan
saat yang tepat perusahaan memberikan program pemasaran seperti diskon untuk
menarik pembeli.
b. Perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan publik.
Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan
transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket
transportasi di hari raya tersebut.
c. Pemasaran sosial, yaitu penyebaran ide di antara konsumen.
3) Model Proses Keputusan Pembelian
Menurut Berkowitz dalam Firmansyah (2019:223) juga mengemukakan bahwa
proses keputusan pembelian merupakan tahap-tahap yang dilalui pembeli dalam
menentukan pilihan tentang produk dan jasa yang hendak dibeli. Dengan demikian model
proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dapat digambarkan sebagai
berikut:

  1. Model Perilaku Pengambilan keputusan
    a. Model Ekonomi yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan
    orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama
    dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum.
    b. Model Manusia Administrasi Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih
    berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan
    yang memuaskan.
    c. Model Manusia Mobicentrik Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan
    merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil
    keputusan.
    d. Model Manusia Organisasi Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih
    mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan.
    e. Model Pengusaha Baru Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat
    kompetitif.
    f. Model Sosial Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang sering
    tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai
    dibawah sadar.
  2. Model Deskriptif dan Prespektif
    a. Model Deskriptif
    Dalam model ini kepuasan pelanggan dapat dicapai dengan penawaran
    perusahaan sesuai atau berdasarkan pada realitas observasi.
    b. Model Prespektif
    Dalam model ini kepuasan pelanggan dapat dicapai dengan dua cara utama.
    Pertama, mengubah penawaran perusahaan sesuai dengan ideal. Kedua, untuk
    meyakinkan pelanggan atau konsumen yang ideal tidak selalu sesuai dengan
    kenyataan.

Indikator Label Halal


Indikator label halal menurut Bulan et al. dalam Nurdin dan Setiani (2021:113),
adalah :
a. Gambar
Gambar merupakan hasil dari tiruan yang berupa bentuk atau pola (hewan, orang,
tumbuhan dan sebagainya).
b. Tulisan
Tulisan pada dasarnya merupakan suatu hasil dari menulis yang diharapkan bisa
untuk dibaca.
c. Kombinasi gambar dan tulisan
Kombinasi gambar dan tulisan merupakan suatu gabungan antara hasil gambar dan
hasil tulisan yang dijadikan menjadi satu bagian.
d. Menempel pada kemasan
Menempel pada kemasan dapat diartikan sebagai sesuatu yang melekat (dengan
sengaja atau tidak sengaja) pada kemasan (pelindung suatu produk).

Manfaat Labelisasi Halal


Menurut Warto dan Samsuri (2020:103-105) sertifikasi halal merupakan tanda
bukti bahwa produk yang diperjualbelikan telah memenuhi syarat kehalalan yang
ditetapkan oleh fatwa MUI. Meningkatnya populasi kelas menengah di Indonesia menjadi
salah satu potensi pemasaran yang sangat besar. Terutama kaum muslim yang mencapai
87% dari total penduduk dalam negeri. Secara bertahap, beberapa produsen barang mulai
mengarahkan pemasaran khusus menyasar muslim kelas menengah, dan tak segan
memberikan jaminan halal melalui sertifikasi halal. Dengan demikian, sertifikasi halal
memberikan manfaat yang besar bagi konsumen, produsen, maupun pemerintah.
Beberapa manfaat tersebut menurut Sulistiyo dalam Warto dan Samsuri
(2020:104) di antaranya sebagai berikut.
1) Sertifikat Halal Menjamin Keamanan Produk yang Dikonsumsi
Untuk mendapatkan sertifikat halal harus melalui tahapan yang ketat, dimulai dari
awal produk tersebut diproduksi hingga produk tersebut terjual, itu semua tidak
terlepas dari penilaian untuk sampai mendapatkan sertifikasi halal. Prosedur
sertifikasi halal yang ketat, membuat kita menyakini bahwa produk atau barang kita
terjamin kehalalannya dan untuk dikonsumsi atau dipakai. Dengan memiliki
sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh lembaga yang terpecaya, tentunya ini
meningkatkan keamanan dan kepercayaan masyarakat akan produk tersebut. Sistem
jaminan halal mempersyaratkan bahwa proses produksi harus menerapkan cara
produksi yang halal dan thayyib, artinya benar dan baik sejak dari penyediaan bahan
baku sampai siap dikonsumsi oleh konsumen. Untuk memastikan itu, maka bahan
baku harus aman dari cemaran biologis, kimiawi, fisikawi, dan bahan haram.
(Sulistiyo dalam Warto dan Samsuri,2020:103). Proses produksi harus menggunakan
alat dan tempat yang bersih dan higienis serta terhindar dari najis. Demikian juga
penggunaan bahan tambahan dan penolong dalam produksi harus sesuai dengan
ketentuan yang membolehkannya. Di industri besar implementasi Sistem Jaminan
Halal juga sering digabung dengan sistem HACCP dengan menambahkan item haram
sebagai komponen hazard yang harus diwaspadai. Dengan penerapan SJH, maka
produsen dipastikan hanya akan menghasilkan produk yang aman (halal dan thayyib)
untuk dikonsumsi oleh konsumen.
2) Sertifikat Halal Memiliki Unique Selling Point (USP)
Unique Selling Point atau Unique Selling Proposition merupakan salah satu konsep
pemasaran yang membedakan satu produk dengan produk lainnya Melalui sertifikasi
halal suatu produk memiliki USP yang tinggi. Dengan kata lain, produk bersertifikat
halal memiliki keuntungan kompetitif sehingga membuat produk menjadi lebih
bernilai di mata konsumen. Produk yang sudah memiliki logo halal pada kemasannya
memiliki Unique Selling Point sebagai strategi penjualan yang unik dan memiliki
citra positif di mata para konsumen.
3) Sertifikat Halal Memberikan Ketenteraman Batin Bagi Masyarakat
Sertifikasi halal memberikan ketenteraman dan keamanan lahir dan batin bagi
konsumen. Bagi masyarakat yang menyadari pentingnya produk halal akan merasa
waswas ketika menjumpai produk yang akan dibeli belum ada logo halal yang
disahkan MUI, karena mereka yakin bahwa tanda kehalalan merupakan hal penting
bagi suatu produk agar aman dikonsumsi atau digunakan. Dalam skala lokal, tidak
jarang kasus bakso yang menggunakan daging babi, celeng, kucing, tikus, dan
sebagainya bisa diredam dengan penerapan sistem jaminan halal (Prasetya dalam
Warto dan Samsuri,2020:104). Isu ini akan lebih berat jika pemilik usahanya adalah
nonmuslim. Banyak kejadian bahwa pemohon sertifikat halal yang nonmuslim akan
lebih bersungguh-sungguh dalam mengupayakan sistem jaminan halal (Sumarsongko
dalam Warto dan Samsuri,2020:104). Dengan fakta-fakta tersebut, sertifikasi halal
terbukti mampu membantu pemerintah menjaga kestabilan sosial ekonomi. Dengan
adanya sertifikasi halal konsumen tidak perlu khawatir lagi dengan makanan yang
mengandung sesuatu yang haram seperti mengandung babi atau hal haram lainnya
karena produk yang dikonsumsi sudah mengantongi sertifikasi halal sehingga sudah
pasti terjamin kehalalannya. Sertifikasi halal menjadi jaminan ketika konsumen akan
membeli suatu produk, baik itu makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan dan
lainnya. Semua produk yang melalui proses sertifikasi halal, telah melewati berbagai
standard yang didesain untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.
4) Sertifikat Halal Memberi Keunggulan Komparatif
Meskipun istilah halal sekarang ini tidak lagi menjadi isu agama semata dan sudah
berkembang menjadi bahasa perdagangan global, namun nilai-nilai halal
sesungguhnya melingkupi makna yang suci, bersih, murni, etika kerja, tanggung
jawab, dan kejujuran. Produk halal bahkan telah memunculkan nilai memenuhi aspek
hukum syariah, aman, bergizi, sehat, perikemanusiaan, pantas, dan ramah lingkungan
(Evans dan Evans dalam Warto dan Samsuri, 2020:104). Fungsi utama label halal
adalah membantu konsumen memilih produk tanpa keraguan. Umumnya, setiap
muslim akan melihat produk dengan label halal adalah jaminan aman untuk
dikonsumsi. Dengan jaminan ini, maka pasar tidak hanya terbatas di dalam negeri,
namun pangsa pasar muslim di luar negeri yang sangat luas menjadi terbuka lebar.
Dengan kata lain halal dapat digunakan sebagai alat dan strategi pemasaran global
(Evans dan Evans dalam Warto dan Samsuri, 2020:104).
5) Sertifikat Halal Memberikan Perlindungan Terhadap Produk Dalam Negeri dari
Persaingan Global
Memasuki era pasar bebas, Indonesia dipastikan menjadi pasar yang paling
menjanjikan. Jumlah penduduk dan wilayah geografis yang membentang dari Sabang
sampai Merauke sudah pasti akan memerlukan berbagai kebutuhan konsumsi. Pasar
ini menjadi kekuatan luar biasa jika dapat dipenuhi oleh produk-produk lokal.
Namun, jika produk lokal tidak mampu memberikan jaminan kualitas maka produk
luar negeri yang sejenis akan segera mengambil alih pasar tersebut. Salah satu contoh
adalah produk daging ayam. Kewajiban sertifikasi halal produk asal hewan untuk
masuk Indonesia sedikit banyak dapat meredam banjirnya daging impor (Putra dalam
Warto dan Samsuri,2020:105). Kasus impor paha ayam dari Amerika yang tidak
dapat masuk ke Indonesia karena tidak disertai jaminan kehalalan sempat menjadi
alat pelindung bagi peternak ayam lokal. Dengan selisih harga yang sangat jauh, maka
impor paha ayam tersebut dapat mematikan ribuan usaha peternak ayam lokal.
6) Sertifikat halal menghadirkan sistem dokumentasi dan administrasi perusahaan yang
lebih baik
Kelemahan industri kecil dan menengah berbasis hasil pertanian terutama adalah
masalah administrasi dan manajemen usaha. Usaha yang bermula dari usaha
sampingan rumah tangga seringkali menerapkan pola pengelolaan rumah tangga yang
tidak tercatat rapi. Dengan kondisi ini seringkali tidak ada pengarsipan dan
ketertelusuran dokumen jika diperlukan. Penerapan sistem jaminan halal
mempersyaratkan adanya penerapan sistem dokumentasi sehingga pelaku usaha
dapat terbantu meningkatkan pengelolaan usaha dengan penerapan prinsip-prinsip
manajemen yang moderen (Sulistyo dalam Warto dan Samsuri, 2020:105).
7) Sertifikasi Halal Menjadi Tiket Untuk Mendapat Akses Pasar Global
Produk yang memiliki sertifikasi halal akan memiliki kesempatan untuk memasarkan
produknya di Negara muslim lainnya selain Indonesia, contohnya Malaysia. Selain
bersaing dengan produk dalam negeri, produk-produk halal Indonesia juga dapat
bersaing dengan produk luar negeri karena tidak semua produk luar negeri sudah
memiliki logo halal. Sebagai contoh coklat atau oleh-oleh dari luar negeri. Walaupun
tidak terindikasi memiliki kandungan babi atau hewan haram lainnya tetapi konsumen
muslim tidak tahu bagaimana cara pembuatan atau pengolahannya

Pengertian Label Halal


Menurut Koeswinarno (2020:16) secara denotatif regulasi JPH atau Jaminan
Produk Halal (UU No. 33 tahun 201), sebagaimana disebutkan dalam pasal 3, adalah
“memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan Produk
Halal bagi masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan produk.” Selain itu,
penyelenggaraan JPH juga bertujuan “meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk
memproduksi dan menjual produk halal.” Dalam beberapa kesempatan wawancara,
regulasi tersebut sifatnya mandatory (wajib dilaksanakan).
Produk yang halal adalah produk yang sesuai syariah yaitu tidak menggunakan
bahan haram, eksploitasi tenaga kerja atau lingkungan, serta tidak berbahaya atau
dimaksud untuk penggunaan hal yang berbahaya (Ateeq-ur-Rehman & Shabbir dalam
Rozjiqin, 2022:64).

Indikator Harga


Menurut Bannet dalam Abubakar (2022:47) yang mengemukakan:
a. Tarif
b. Kesesuaian diskon
c. Promo harga
d. Harga sangat terjangkau untuk semua kalangan
e. Harga sangat sesuai kualitas
f. Harga sangat murah

Jenis – Jenis Gaya Kepemimpinan


Menurut Mifta Thoha dalam Agustin, Suharso, dan Sukidin (2019)
gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang
lain seperti yang ia lihat. Jenis – jenis gaya kepemimpinan antara lain:
a. Gaya Kepemimpinan Otokratik
Merupakan tipe seorang pemimpin yang tergolong sebagai orang yang
otoriter memiliki ciri-ciri yang pada umumnya negatif. Menurut Sudarwan
Danim dalam Maharati (2021) pemimpin otokratik memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1) Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pemimpin.
2) Bawahan, oleh pemimpin hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka
tidak boleh memberikan ide-ide baru.
3) Bekerja dengan disiplin tinggi, belajar keras, dan tidak kenal lelah.
4) Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya
penawar saja.
5) Memiliki kepercayaan yang rendah terhadap bawahan dan kalaupun
kepercayaan diberikan, di dalam dirinya penuh ketidakpercayaan.
6) Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
7) Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Tidak sedikit orang yang mendambakan atasan yang tergolong sebagai
pemimpin yang demokratik. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa
tipe inilah yang ideal. Menurut Sudarwan Danim dalam Maharati (2021)
pemimpin demokratis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia
organisasi itu.
2) Bawahan, oleh pemimpin dianggap sebagai komponen pelaksana secara
integral harus diberi tugas dan tanggung jawab.
3) Disiplin akan tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama.
4) Kepercayaan tinggi terhadap bawahan dengan tidak melepaskan tanggung
jawab pengawasan.
5) Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
c. Gaya Kepemimpinan Permisif
Merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat,
sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada
bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat
terhadap suatu permasalahan. Menurut Sudarwan Danim dalam Maharati
(2021) pemimpin permisif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Tidak ada pegangan yang kuat dan kepercayaan rendah pada diri sendiri.
2) Mengiyakan semua saran.
3) Lambat dalam membuat keputusan.
4) Banyak “mengambil muka” kepada bawahan.
5) Ramah dan tidak menyakiti bawahan

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang mengandung
pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga
menunjukkan serta mempengaruhi. Pemimpin memiliki tanggung jawab
secara fisik dan spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang
dipimpin. Oleh karena itu menjadi pemimpin itu tidak mudah dan setiap
orang pasti akan berbeda cara memimpinnya.
Menurut Wukir dalam Kamal, Winarso, dan Sulistio (2019)
kepemimpinan adalah suatu seni memotivasi dan mempengaruhi
sekelompok orang supaya bertindak mencapai tujuan bersama. Sedangkan
menurut Samsudin dalam Rifai (2017) kepemimpinan berarti kemampuan
meyakinkan dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja sama di bawah
kepemimpinannya sebagai suatu tim supaya mencapai suatu tujuan tertentu.
Pemimpin merupakan mereka yang menggunakan wewenang formal
supaya mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang
bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi
mencapai tujuan perusahaan. Pemimpin pertama-tama harus seorang yang
mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri
para bawahannya. Secara sederhana pemimpin yang baik adalah seorang
yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka
tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.

Hubungan”Antara Kepemimpinan ”dengan Disiplin Kerja


Hubungan kepemimpinan”terhadap disiplin kerja di dalam suatu
organisasi peran seorang pemimpin sangat penting, hal ini disebabkan karena
seorang pemimpin”adalah otak dari sebuah organisasi. Pemimpin suatu
organisasi”membuat keputusan, membuat rencana dasar dan menentukan
tujuan organisasi sehingga keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan
oleh kemampuan pemimpinnya. Tead (dalam Kartono, 2014:62-67)
mengemukakan metode kepemimpinan antara lain sebagai berikut memberi
perintah, memberi celaan dan pujian, memupuk tingkah”laku pribadi
pemimpin yang benar, peka terhadap saran-saran, memperkuat rasa persatuan
kelompok, menciptakan disiplin diri dan disiplin kelompok serta meredam
kabur angin dan isu-isu yang tidak benar. Untuk melihat sukses atau gagalnya
pemimpin itu dalam suatu organisasi dilakukan dengan mengamati dan
mencatat sifat-sifat pemimpin”tersebut termasuk dalam hal meningkatkan
disiplin kerja pegawai. Seorang pemimpin harus memiliki”kemampuan dalam
mengarahkan pegawai untuk dapat mematuhi peraturan yang ada didalam
organisasi

Indikator”Kinerja”Karyawan


Indikator”kinerja” karyawan menurut (Mangkunegara, 2014:97)
adalah :

  1. Kuantitas, yaitu” jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran
    kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan.
  2. Kualitas, yaitu”mutu yang dihasilkan (baik atau tidaknya). Pengukuran
    kualitatif”keluaran mencerminkan pengukuran “tingkat kepuasan” yaitu
    seberapa”baik penyelesainnya ini berkaitan dengan bentuk keluaran.
  3. Ketepatan”waktu, yaitu sesuai”tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
    Pengukuran ketepatan waktu”merupakan jenis khusus dari pengukuran
    kuantitas yang menentukan ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
  4. Efektifitas”tingkat penggunaan sumber daya manusia, yaitu organisasi
    dimaksimalkan dengan maksud meningkatkan keuntungan dan
    mengurangi kerugian dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya

Faktor-Faktor”Yang”Mempengaruhi”Kinerja”Karyawan


Menurut (Aditya, 2014) terdapat tiga faktor”utama yang akan
mempengaruhi kinerja dari karyawan. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi
tinggi dan rendahnya kinerja yang akan dihasilkan oleh seorang”karyawan
dalam sebuah perusahaan. Adapun ketiga faktor tersebut yaitu:
1) Effort (usaha individu)
Individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas antara
fungsi psikis dan fisik. Dengan keseimbangan keduanya maka individu
tersebut akan mampu untuk mengelola dan mendayagunakan potensi yang
terdapat dalam dirinya secara optimal. Individu tersebut juga akan mempunyai
tingkat usaha yang besar untuk mencapai target yang harus dicapainya.
2) Faktor” kemampuan
Kemampuan”seorang karyawan dalam mengerjakan sesuatu merupakan
salah satu kunci untuk hasil atas kinerjanya. Kemampuan ini meliputi
kemampuan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan kriteria yang
diharapkan dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat
waktu yang diberikan. Apabila”karyawan tersebut belum mempunyai keahlian
atas apa yang harus dikerjakan maka hasil yang akan didapatkan tidak akan
maksimal.
3) Situasi”lingkungan
Situasi”lingkungan”kerja merupakan salah satu faktor yang akan
menunjang kinerja karyawan. Situasi lingkungan tersebut yaitu jabatan kerja
yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja, pola komunikasi efektif,
iklim kerja yang dinamis, peluang untuk meningkatkan karier, dan fasilitas
kerja yang memadai.

Kegunaan” Penilaian”Kinerja”Karyawan


Dalam bukunya, Said (2011:168) menuturkan terdapat 10 kegunaan dari
dilakukanya penilaian”kinerja. Kesepuluh fungsi tersebut seperti yang
disebutkan di bawah ini, yaitu:
1) Sebagai”alat untuk memperbaiki kinerja para karyawan.
2) Sebagai”instrumen dalam melakukan penyesuaian imbalan yang diberikan
oleh organisasi kepada para karyawanya.
3) Membantu”manajemen sumber daya manusia untuk mengambil keputusan
dalam mutasi karyawan.
4) Sebagai”salah satu sumber informasi untuk perencanaan dan
penyelenggaraan kegiatan pelatihan.
5) Sebagai”bahan untuk untuk membantu para karyawan melakukan
perencanaan dan pengembangan karir.
6) Sebagai”alat untuk mengkaji kegiatan pengadaan tenaga kerja, terutama
yang diarahkan pada kemungkinan terjadinya kelemahan di dalamnya.
7) Mempelajari,”apakah terdapat ketidaktepatan dalam sistem informasi
sumber daya manusia.
8) Mempersiapkan”organisasi dan seluruh komponenya menghadapi berbagai
tantangan yang mungkin akan dihadapi di masa depan.
9) Untuk melihat” apakah terdapat kesalahan dalam rancang bangun
pekerjaan.
10) Sebagai bahan”umpan balik bagi manajemen sumber daya manusia, bagi
para atasan langsung, dan bagi para karyawan itu sendiri

Dimensi-Dimensi”Penilaian”Kinerja”Karyawan


Dalam penilaian”kinerja”karyawan, terdapat beberapa unsur yang harus
menjadi perhatian. Bernandin dan Russel (dalam Sapitri, 2016:5)
mengemukakan bahwa”terdapat 7 dimensi yang terdapat dalam penilaian
kinerja”karyawan. Dimensi-dimensi tersebut yaitu:
1) Kuantitas (Quantity of work)
Kuantitas”yaitu jumlah dari hasil kinerja karyawan atas periode waktu
yang telah ditentukan. Dalam jangka waktu tertentu dilihat apakah hasil
kinerja sudah mampu untuk mencapai target. Sebagai marketing misalnya,
apabila dia mampu untuk melebihi target yang telah ditetapkan kepadanya
maka itu lebih bagus.
2) Kualitas (Quality of work)
Kualitas”kerja ini dinilai berdasarkan hasil kinerja dari karyawan, apakah
kinerja tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Ketika kinerja
dari karyawan mampu mencapai kriteria syarat yang ditentukan maka qualitas
dari kinerjanya sudah dinilai baik. Terlebih lagi apabila hasil kinerjanya lebih
bagus daripada syarat yang ditetapkan.
3) Pengetahuan”kerja (Job knowledge)
Pengetahuan”kerja meliputi seberapa besar pengetahuan”karyawan
terhadap kerja yang dilakukan. Juga seberapa besar keterampilan dari
karyawan untuk menyelesaikan dan mengembangkan kerja yang harus
dilakukan.
4) Kerja”sama (Coorperation)
Kerja”sama yang dimaksud disini yaitu kesediaan dari karyawan untuk
melakukan koordinasi dengan sesama karyawan. Selain itu tingkat komunikasi
yang baik juga menunjukkan bahwakerja sama yang telah dijalin oleh setiap
karyawan dalam perusahaan berjalan dengan baik.
5) Dapat”diandalkan (Dependability)
Setiap karyawan mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Hasil dari
kinerjanya yang sesuai target juga merupakan ciri dari dapat diandalkan.
6) Inisiatif (Inisiative)
Inisiatif”yaitu semangat yang terdapat dalam diri karyawan untuk
mengerjakan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan
mengusahakan untuk tepat waktu. Karyawan mampu untuk menemukan solusi
bagi pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan. Selain itu mampu untuk
menemukan strategi baru agar pekerjaan lebih mudah diselesaikan.
7) Sikap” (Personal qualities)
Sikap dalam penilaian”kinerja meliputi kepribadian, kepemimpinan,
keramah tamahan, dan integritas pribadi. Kemampuan”karyawan dalam
menghadapi setiap masalah yang terjadi dalam perusahaan, baik itu masalah
yang terjadi antar karyawan atau masalah pribadi. Dalam berinteraksi dengan
sesama karyawan karyawan mampu untuk mengondisikan diri dengan setiap
karakter karyawan lain yang berbeda-beda

Indikator” Disiplin” Kerja


Kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua” peraturan
organisasi dan norma-norma yang berlaku diukur melalui pengukuran
menggunakan skala” ordinal (Hasibuan, 2012:194-198) :

  1. Mematuhi” semua” peraturan, yaitu” kebutuhan dasar setiap karyawan
    untuk mulai berkembang pada organisasi, sehingga mendapat pengakuan.
  2. Penggunaan” waktu secara” efektif, yaitu” penggunaan waktu secara
    efektif merupakan merencanakan dan mengorganisir pekerjaan sesuai dengan
    kuantitas pekerjaan.
  3. Tanggung” jawab dalam” pekerjaan dan” tugas, yaitu” merealisasikan
    tugas dengan sebaik-baiknya.
  4. Tingkat absensi, yaitu tingkat absensi merupakan tingkat kehadiran
    karyawan sesuai ketetapan organisasi.
    Sedangakan”menurut”Sutrisno (2015:89), terdapat lima indikator
    disiplin ”kerja, yaitu :
  5. Taat terhadap” aturan waktu
    Dilihat dari jam masuk kerja, jam pulang, dan jam istirahat yang tepat waktu
    sesuai dengan aturan yang berlaku di perusahaan.
  6. Taat terhadap” peraturan perusahaan
    Peraturan dasar tentang cara berpakaian dan bertingkah laku dalam pekerjaan.
  7. Taat terhadap ”aturan perilaku dalam pekerjaan
    Ditunjukkan dengan cara-cara melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan
    jabatan, tugas, dan tanggung jawab serta cara berhubungan dengan unit kerja
    lain.
  8. Taat terhadap” peraturan lainnya di perusahaan
    Aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para
    pegawai dalam perusahaan.
  9. Izin pada saat ”tidak masuk kerja
    Menyampaikan pesan melalui surat maupun media yang disampaikan kepada
    pihak terkait

Pelaksanaan” Disiplin


Organisasi atau perusahaan yang baik harus” berupaya menciptakan
peraturan atau tata tertib yang akan menjadi rambu-rambu yang harus
dipenuhi oleh seluruh karyawan dalam organisasi.
Menurut” Edy Sutrisno (2015:94) peraturan-peraturan yang akan berkaitan
dengan disiplin” antara lain :

  1. Peraturan” jam masuk, pulang, dan jam istrahat.
  2. Peraturan” dasar tentang berpakaian, dan bertingkah laku dalam pekerjaan
  3. Peraturan” cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit
    kerja lain.
  4. Peraturan” tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh
    para pegawai selama dalam organisasi dan sebagainya.
    Disiplin” perlu untuk mengatur tindakan kelompok, dimana setiap
    anggotanya harus mengendalikan dorongan hatinya dan bekerja sama demi
    kebaikan bersama. Dengan kata lain, mereka” harus secara sadar tunduk pada
    aturan perilaku yang diadakan oleh kepemimpinan organisasi, yang ditujukan
    pada tujuan yang hendak dicapai. Dalam” pelaksanaan disiplin kerja,
    peraturan dan ketetapan perusahaan hendaknya masuk akal dan bersifat adil
    bagi seluruh karyawan. Selain itu, hendaknya” peraturan tersebut juga
    dikomunikasikan sehingga para pegawai tahu apa yang menjadi larangan dan
    apa yang tidak” (Edy Sutrisno, 2015:94)

Bentuk-Bentuk” Disiplin


Menurut” Anwar Prabu Mangkunegara (2014:129) mengemukakan”
bahwa bentuk disiplin kerja yaitu :

  1. Disiplin” preventif
    Merupakan suatu upaya untuk menggerakan pegawai untuk mengikuti
    dan mematuhi pedoman kerja, aturan aturan yang telah digariskan oleh
    perusahaan.
  2. Disiplin” korektif
    Merupakan suatu” upaya untuk menggerakan pegawai dalam suatu
    peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan
    pedoman yang berlaku pada perusahaan.
  3. Disiplin” progresif
    Merupakan kegiatan” yang memberikan hukuman-hukuman yang
    lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang berulang

Definisi” Disiplin” Kerja


Karyawan di dalam perusahaan akan mampu mencapai tujuan yang
telah ditetapkan dengan adanya disiplin kerja sehingga disiplin kerja berperan
penting dalam tercapainya sebuah tujuan perusahaan. Menurut” Sumaki dkk,
(2015) kedisiplinan adalah” kemauan dan kesadaran seseorang menaati
peraturan yang berlaku dan telah ditetapkan di dalam suatu organisasi.
Menurut Hasibuan” (2015:193) kedisiplinan merupakan” suatu fungsi
operatif manajemen sumber daya manusia (SDM) yang sangat penting, karena
dengan semakin baiknya disiplin yang telah diterapkan” oleh perusahaan maka
semakin baik hasil kerja atau prestasi yang dihasilkan.
Awalnya definisi disiplin” kerja adalah” suatu sikap dan tingkah laku
yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan perusahaan. Namun
dalam perkembangannya, menurut” Sutrisno (2015:94), bahwa disiplin kerja
banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menjadikan karakteristik pribadi
seseorang mengalami perubahan dalam bekerja. Disiplin” kerja” adalah
kesadaran seseorang menaati semua aturan dan norma sosial yang berlaku
(Hasibuan, 2012:195).

Indikator Lingkungan Kerja


Berikut ini beberapa indikator (Sedarmayanti, 2012:46) :

  1. Penerangan/cahaya di tempat kerja, yaitu cahaya atau penerangan sangat
    besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapatkan keselamatan dan
    kelancaran kerja, oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan yang
    terang.
  2. Sirkulasi udara di tempat kerja, yaitu udara di sekitar dikatakan kotor
    apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah berkurang dan telah
    bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
    Sumber utama adanya udara segar adalah adanya tanaman di sekitar tempat
    kerja. Tanaman merupakan penghasil oksigen yang di butuhkan manusia.
  3. Kebisingan di tempat kerja, yaitu salah satu polusi yang cukup
    menyibukkan para pakar untuk mengatasinya. Kebisingan merupakan bunyi
    yang tidak dikehendaki oleh telinga.
  4. Ruang gerak, yaitu agar karyawan leluasa bergerak dengan baik, terlalu
    sempitnya ruang gerak yang tersedia mengakibatkan karyawan tidak dapat
    bekerja dengan baik.
  5. Keamanan di tempat kerja, yaitu keamanan dalam bekerja perlu
    diperhatikan guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dala
    keadaan aman.

Jenis-Jenis Lingkungan Kerja


Sedarmayanti (2012:21) menyatakan bahwa lingkungan kerja terdiri
dari dua jenis yaitu:
1) Lingkungan Kerja Fisik Nitisemito (2014:108) menyatakan “Lingkungan
kerja fisik adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang
dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang
dibebankan, misalnya penerangan, suhu udara, ruang gerak, keamanan,
kebersihan, musik dan lain-lain”. Selanjutnya, Manullang (2012:12)
menyatakan bahwa, Lingkungan kerja fisik adalah kondisi- kondisi
pekerjaan yang menyenangkan terlebih lagi semasa jam kerja akan
memperbaiki moral pegawai dan kesungguhan dalam bekerja. Peralatan-
peralatan yang baik dan perlindungan terhadap marabahaya, ventilasi yang
baik, penerangan yang cukup dan kebersihan bukan saja menambah
kegairahan kerja tetapi juga akan meningkatkan disiplin kerja karyawan.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
lingkungan kerja fisik merupakan sarana penunjang karyawan dalam
melakukan pekerjaannya, demi tercapainya hasil yang maksimal.
2) Lingkungan Kerja Non-Fisik Wursanto (2010:269) mendefinisikan
lingkungan kerja non fisik sebagai “sesuatu yang menyangkut segi psikis
dari lingkungan kerja”. Kemudian menurut Robbins tentang lingkungan
kerja non fisik (2016:4) upah dan tunjangan tambahan bukanlah alasan
utama individu menyukai pekerjaan mereka atau tetaap bersama seorang
pemberi kerja, yang jauh lebih penting adalah kualitas pekerjaan karyawan
dan kesuportifan lingkungan kerja. Jadi memiliki manajer dengan keahlian
antarpersonal yang bagus cenderung menjadikan tempat kerja lebih
menyenangkan, membuat lebih mudah untuk memperkerjakan dan
mempertahankan individu yang berkualitas.

Definisi Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja yang nyaman, aman, dan menyenangkan akan dapat
membuat karyawan merasa betah dan tentunya akan meningkatkan kinerja
karyawan yang baik. Menurut Sedarmayanti (2012:21), mengenai lingkungan
kerja, manusia akan mampu melakukan kegiatannya dengan baik, sehingga
dicapai suatu hasil yang optimal. Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan
merupakan semua keadaan yang terdapat disekitar tempat kerja, yang akan
mempengaruhi karyawan baik langsung atau tidak langsung (Sri Widodo,
2016:95).
Pendapat lain dari Logahan (2014) menyatakan bahwa lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang sudah
diembankan padanya. Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan yang
ditinjau secara menyeluruh. Lingkungan kerja merupakan suatu tempat
dimana para karyawan dapat membuktikan kemampuannya dalam
menjalankan tugas disebuah perusahaan. Lingkungan kerja mempunyai
pengaruh terhadap kinerja karyawan kepadanya yang akhirnya berpengaruh
terhadap produktivitas kinerja karyawan, lingkungan yang baik akan
meningkatkan kerja, begitu pulasebaliknya apabila lingkungan kerja kurang
tenang, akan dapat mempertinggi tingkat kesalahan yang mereka lakukan.
Maka dapat disimpulkan lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang
ada di sekitar karyawan yangmampu menunjang kegiatannya dengan baik,
sehingga dicapai suatu hasil yang optimal. Keseluruhan alat perkakas dan
bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja,
metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai peseorangan maupun
kelompok.

Indikator Komunikasi


Adapun indikator komunikasi menurut (Handoko, 2015:272) :

  1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami pesan secara cermat
    sebagaimana dimaksudkan oleh komunikator.
  2. Kesenangan, yaitu apabila proses komunikasi itu selain berhasil
    menyampaikan informasi, juga dapat berlangsung dalam suasana yang
    menyenagkan kedua belah pihak.
  3. Pengaruh pada sikap, yaitu untuk mempengaruhi sikap jika dengan
    berkomunikasi kemudian terjadi perubahan pada perilakunya.
  4. Hubungan yang makin baik, yaitu proses komunikasi yang efektif secara
    tidak sengaja meningkatkan kadar hubungan interpersonal. Seringkali jika
    orang telah memiliki persepsi yang sama, kemiripan karakter, dengan
    sendirinya hubungan akan terjadi dengan baik.
  5. Tindakan, yaitu jika kedua belah pihak setelah berkomunikasi terdapat
    adanya sebuah tindakan.
    Menurut Sumaki, dkk (2015:542) beberapa indikator yang dapat
    digunakan untuk mengukur tingkat komunikasi yaitu:
    1) Pemahaman
    Pemahaman yaitu kemampuan bagi receiver (penerima informasi) dalam
    mengolah informasi yang dia terima dari sender (pengirim informasi) dengan
    cermat dan dapat mengerti maksud dari informasi tersebut.
    2) Kesenangan
    Selain tingkat kemampuan untuk mengolah informasi, komunikasi dikatakan
    berhasil jika ketika berkomunikasi dapat membuat perasaan kedua belah pihak
    merasa nyaman. Karena selain untuk menyampaikan informasi komunikasi
    juga bisa menjadi sarana untuk menjalian sebuah hubungan baik itu interaksi
    ataupun pengenalan satu sama lain.
    3) Pengaruh pada sikap
    Komunikasi bisa dikatakan mempengaruhi sikap ketika seseorang yang telah
    menerima informasi dan mengerti akan maksud dari informasi mampu untuk
    mengubah sikapnya sesuai dengan yang dimaksud dalam informasi. Hal ini
    bertujuan untuk mengubah sikap seorang anggota organisasi yang dinilai
    kurang bagus. Sebagai misalnya yaitu seorang atasan yang memberikan
    arahan atau nasihat kepada bawahanya.
    4) Hubungan yang semakin baik
    Dalam sebuah komunikasi yang terjadi bisa menjadi salah satu faktor penguat
    hubungan antar anggota. Komunikasi tidak hanya bertujuan untuk
    memberikan informasi atau arahan saja, tapi dengan komunikasi yang baik
    akan tercipta suatu hubungan antar kedua belah pihak. Ketika terjadi
    komunikasi yang baik, maka hubungan interpersonal dalam anggota juga akan
    baik. Hubungan ini akan menguntungkan organisasi karna setiap anggota
    organisasi merasakan akan kepemilikan organisasi.
    5) Tindakan
    Dalam komunikasi mengandung informasi yang bertujuan bagi seseorang
    untuk melakukanya. Biasanya komunikasi ini bersifat arahan atau pemberian
    instruksi. Jika komunikasi berjalan dengan baik maka seseorang yang menjadi
    penerima akan melakukan sebuah tindakan sesuai dengan seperti yang
    dimaksudkan dalam informasi. Namun apabila komunikasi tidak berjalan
    dengan bagus maka terkadang tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan
    informasi yang diberikan

Unsur-Unsur Komunikasi


Unsur – unsur komunikasi menurut Sri Urip Haryati (2014:5), meliputi :
a. Unsur sumber, sumber ini dapat berupa perorangan seperti dalam
komunikasi individual seseorang dengan seseorang atau seorang dengan
beberapa orang.
b. Unsur pesan, meliputi semua materi atau isi yang dikomunikasikan antara
peserta–peserta dalam komunikasi, baik linguistic language maupun non
linguistic language (verbal symbols ataupun non verbal symbols).
c. Unsur penerima, merupakan sasaran komunikasi, bisa terdiri dari satu orang
atau beberapa orang atau lembaga / organisasi.
d. Unsur saluran, merupakan sarana dimana pesan–pesan disampaikan
sehingga pesan – pesan itu bisa kita indera.
e. Unsur efek, merupakan hasil dari suatu kegiatan komunikasi, merupakan
tujuan dari peserta–peserta di dalam proses komunikasi (baik sumber maupun
penerima).
Dalam prakteknya kita tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata
yang kita ucapkan, namun sering bahasa tubuh kita akan memberikan isyarat
yang mungkin akan diterima dengan cara yang berbeda oleh lawan bicara kita.
Karenanya penting dalam keluarga untuk juga belajar melihat dan
memperlihatkan bahasa tubuh yang memberi dukungan kepada kata-kata yang
kita ucapkan.

Bentuk-Bentuk Komunikasi


Adapun bentuk-bentuk komunikasi yaitu :

  1. Komunikasi Verbal
    Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbul
    simbul yang mempunyai makna yang berlaku umum dalam proses
    komunikasi. Simbol-simbol yang dapat digunakan dalam komunikasi verbal
    yaitu suara, tulisan atau gambar.
    Tipe – Tipe Komunikasi Verbal :
    a) Berbicara dan menulis. Berbicara atau komunikasi lisan merupakan suatu
    jenis komunikasi di mana seseorang mengucapkan pesan untuk diterima
    kepada orang yang dituju. Komunikasi ini biasanya diikuti dengan tatap muka,
    tetapi dapat pula tidak diikutidengan tatap muka misalnya komunikasi lisan
    atau melalui telpon.
    b) Mendengar dan membaca. Dalam proses komunikasi, mendengarkan dan
    membaca dengan berbicara dan menulis merupakan mata uang bermata ganda.
    Apabila komunikator berbicara maka audience menangkap pesan dengan
    mendengarkan, sedang apabila komunikator menulis maka audience
    menangkap pesan dengan membaca.
  2. Komunikasi Non Verbal
    Komunikasi Non Verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh,
    intonasi suara, sikap dan sebagainya yang memungkinkan seseorang untuk
    berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata

Definisi Komunikasi


Keseharian proses komunikasi pasti selalu terjadi baik komunikasi antar
individu maupun dalam kelompok atau organisasi. Dalam perusahaan atau
organisasi jika melakukan suatu proses komunikasi juga akan dipikirkan
mengenai dampak maupun efek yang akan terjadi nantinya. Adapun dampak
yang berhubungan dengan organisasi adalah dampak behavioral, yakni
dampak yang timbul pada komunikasi dalam bentuk perilaku, tindakan,
maupun kinerja seseorang.
Menurut Sumaki, dkk (2015:542) menyatakan bahwa komunikasi
merupakan pertukaran informasi antar pengirim dan penerima, dan
kesimpulan makna antara individu-individu yang terlibat. Menurut Handoko
(2015:193) komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dan bentuk
gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain.
Komunikasi sebagai penghidupan sebuah organisasi, karena komunikasi
diperlukan untuk saling bertukar informasi, bertukar pendapat, membuat
rencana dan proposal, mencapai kesepakatan, melaksanakan keputusan,
mengirim dan memenuhi perintah dan melakukan penjualan.

Indikator Kepemimpinan


Adapun indikator”kepemimpinan menurut (Hasibuan, 2012:170)
adalah :

  1. Kemampuan”analisis, yaitu pimpinan mampu menganalisa dalam
    menentukan langkah-langkah pencapaian” tujuan.
  2. Keteladanan, yaitu pimpinan hendaknya mampu memberikan”contoh atau
    teladan dengan kesederhanaan terhadap para”pegawai agar tidak terlalu
    royal.
  3. Rasionalitas dan objektivitas, yaitu pimpinan dalam menentukan tujuan
    haruslah bersifat rasional dan dala menilai para”bawahannya hendak
    bersifat objektif.
  4. Instruksi”kerja, yaitu pimpinan dalam menyusun langkah-langkah dalam
    proses pencapaian tujuan harus terprogram, tersusun dan terkonsep.
  5. Kemampuan”mendengar saran, pimpinan yang demokratis harus mau
    mendengarkan bawahannya agar terhindar dari sifat otoriter.
  6. Ketrampilan”berkomunikasi, yaitu memiliki kemampuan berkomunikasi
    yang baik dalam penyampaian”perintah kepada karyawan.
  7. Pembagian”tugas, yaitu pimpinan harus bias beradaptasi dengan
    lingkungannya agar mampu menciptakan lingkungan”kerja yang kondusif
    dalam pembagian tugas.
  8. Ketegasan”dalam bertindak, yaitu pimpinan dalam pengambilan keputusan
    harus bersikap”tegas tanpa kompromi agar disegani oleh bawahannya.
    Menurut Kartono (2014:159), kepemimpinan”seseorang dapat dilihat
    dan dinilai dari beberapa”indikator sebagai berikut :
  9. Kemampuan mengambil”keputusan
    Pengambilan keputusan”adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
    hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut
    perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
  10. Kemampuan”memotivasi
    Kemampuan memotivasi”adalah daya pendorong yang mengakibatkan
    seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menggerakkan
    kemapuannya (dalam bentuk keahlian atau keterampilan) tenaga dan
    waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi
    tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka
    pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan
    sebelumnya.
  11. Kemampuan komunikasi
    Kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau kesanggupan
    penyampaian pesan, gagasan, atau pikiran kepada orang lain dengan tujuan
    orang lain tersebut memahami apa yang dimaksudkan dengan baik, secara
    langsung lisan atau tidak langsung.
  12. Kemampuan mengendalikan bawahan
    Seorang pemimpin harus memiliki keinginan untuk membuat orang lain
    mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau
    kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan
    jangka panjang perusahaan. Termasuk di dalamnya memberitahukan orang
    lain apa yang harus dilakukan dengan nada yang bervariasi mulai dari nada
    tegas sampai meminta atau bahkan mengancam. Tujuannya adalah agar
    tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik.
  13. Tanggung jawab
    Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab kepada bawahannya.
    Tanggung jawab bias diartikan sebagai kewajiban yang wajib
    menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau
    memberikan jawab dan menaggung akibatnya.
  14. Kemampuan mengendalikan emosional
    Kemampuan mengendalikan emosional adalah hal yang sangat penting
    bagi keberhasilan hidup kita. Semakin baik kemampuan kita
    mengendalikan emosi semakin mudah kita akan meraih kebahagian

Azas-Azas Kepemimpinan

  1. Kemanusiaan
    Mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan, yaitu pembimbingan”manusia oleh
    manusia, untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya setiap individu,
    demi tujuan-tujuan human.
  2. Efisien
    Efisiensi tehnis maupun sosial, berkaitan dengan terbatasnya”sumber-sumber,
    materi dan jumlah manusia; atas prinsip”penghematan, adanya nilai-nilai
    ekonomis, serta asas-asas manajemen modern.
  3. Kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih merata, menuju pada taraf
    kehidupan”yang lebih tinggi.
    Teori kepemimpinan juga membicarakan”bagaimana seseorang menjadi
    pemimpin atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Kepemimpinan tidak
    lagi dipahami”secara organik tetapi merupakan dimensi organisasi yang
    mempunyai kontribusi untuk membangun”budaya organisasi yang sehat

Definisi Kepemimpinan


Menurut George R. Terry dan Leslie W. Rue (dalam Ticoalu),
Leadership is ”activity of influencing people to strive willingly for mutual
objectives (kepemimpinan”adalah keseluruhan kegiatan atau aktivitas untuk
mempengaruhi”kemauan orang lain untuk mencapai tujuan bersama).
Kepemimpinan”adalah suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi
bawahannya, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk
mencapai”tujuan organisasi (Hasibuan, 2012:170). Menurut Kartono
(2014:71), kepemimpinan” adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan
kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan
orang”lain.
Kesimpulannya kepemimpinan”merupakan motor penggerak
keseluruhan kegiatan atau aktivitas untuk mempengaruhi kemauan”orang lain
dalam upaya mencapai tujuan bersama. Perilaku dan strategi sebagai”hasil
ketrampilan, sifat, dan sikap yang sering diterapkan seorang”pemimpin ketika
mencoba mempengaruhi”kinerja bawahannya.

Hubungan antara Persepsi terhadap Gaya Kepemimpinan Otoriterdengan Kinerja Karyawan


Gaya kepemimpinan otoriter merupakan salah satu bentuk gaya
kepemimpinan yang mana pemimpin memegang penuh hak kepemimpinannya
dalam organisasi dimana pengambilan keputusan berpusat penuh pada pemimpin.
Pemimpin yang otoriter menentukan semua keputusannya yang berkaitan dengan
pekerjaan dan memerintah semua bawahannya untuk dapat menjalankan sesuai
arahannya (Darojat, 2015: 331). Diketahui gaya kepemimpinan otoriter
merupakah sebuah proses kognitif seseorang dalam memandang/memahami
lingkungan di sekitarnya yang melibatkan pengorganisasian dan penafsiran
terhadap kendali kekuasaan yang dipegang pemimpin, pembagian wewenang serta
hubungan atasan dengan bawahan.
Menurut Abdullah (dalam Abdullah, 2014: 3) yang mengungkapkan
bahwa kinerja merupakan terjemahan dari performa/ hasil kerja /prestasi kerja,
secara singkat kinerja merupakan hasil kerja karyawan dalam sebuah organisasi
yang mencerminkan usaha terbaik karyawan sesuai petunjuk , arahan dari
pimpinan, keterampilan, dan kemampuan karyawan untuk mengembangkan
pikirannya dalam bekerja.
Gaya kepemimpinan juga dapat menyebabkan kinerja seseorang
mengalami kenaikan, misalnya dengan adanya tekanan dan kedisiplinan dari
pimpinan biasanya seseorang cenderung termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya. Karyawan akan merasa terdorong dengan adanya tekanan-tekanan
yang diberikan oleh pemimpim yang otoriter ini. Hal ini sama, misalkan seorang
karyawan merasakan kurang percaya diri maka akan hal apa yang akan diambil
olehnya. Pemimpin yang otoriter akan memberikan arahan untuk dapat dijalankan
oleh bawahannya

Aspek-aspek Persepsi terhadap Gaya Kepemimpinan Otoriter


Walgito (2004:73) menjelaskan ada 3 aspek dari persepsi yakni:
a. Kognisi
Menyangkut komponen pengetahuan, pandangan, pengharapan, cara
mendapatkan pengetahuan, dan pengalaman yang sudah terlawatti, serta hal hal
yang di dapat dari persepsi individu
b. Afeksi
Menyangkut komponen perasaaan dan keadaan emosi individu terhadap objek
serta segala hal yang berkaitan dengan baik buruk berdasrakan emosional
seseorang
c. Konasi/Psikomotor
Menyangkut motivasi, dan prilaku individu sesuai pandangannya dengan
keadaan yang dihadapi
Sarwono (2010: 103) menyatakan terdapat beberapa aspek persepsi, yaitu :
a. Perhatian
Pada setiap saat ada ratusan, mungkin ribuan rangsangan yang tertangkap oleh
semua indra kita. Tentunya, individu tidak mampu menyerap seluruh
rangsangan yang ada di sekitar sekaligus. Karena keterbatasan daya serap dari
persepsi, maka individu terpaksa hanya bias memusatkan perhatian pada satu
atau dua objek saja.
b. Set
Kesiapan mental seseorang untuk menghadapi suatu stimulus atau rangsangan
yang timbul dengan cara tertentu.
c. Kebutuhan
Kebutuhan-kebutuhan sesaat yang menetap pada diri seseorang akan
memengaruhi persepsi orang.
d. Sistem nilai
Sistem nilai disini adalah sistem nilai yang biasanya berlaku dalam masyarakat.
e. Tipe kepribadian
f. Gangguan kejiwaan
Suharnan (2005: 24) menyatakan ada tiga aspek di dalam persepsi yang sangat
relevan dengan kognisi manusia, yaitu:
a. Pencatatan indra/penyimpanan sensori.
Pencatatan indra menangkap informasi dalam bentuk masih kasar, belum
diproses sama sekali, dan masih dalam prakategorik untuk waktu yang sangat
pendek sesudah stimulus fisik dihadirkan.
b. Pengenalan pola
Merupakan proses mengidentifikasi stimulus indra yang tersusun secara rumit.
Pengenalan pola melibatkan proses membandingkan stimulus imdera dengan
informasi yang disimpan di dalam ingatan jangka panjang.
c. Perhatian
Adalah proses mental ketika stimulus atau rangsangan stimulus menjadi
menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.
Menurut Allport (Mar’at, 2013:25), aspek aspek persepsi ada 3 yaitu :
a. Kognitif
Tersusun dari dasar informasi yang dimiliki individu tentang obyek sikapnya,
dari pengetahuan akan terbentuk keyakinan akan obyek sikap tersebut
b. Afektif
Berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang, sifatnya evaluatif dengan
nilai kebudayaan dan sistem penilaian yang dimiliki tiap individu
c. Konasi
Merupakan kesiapan individu untuk mengambil tindakan yang berhubungan
dengan obyek sikapnya
Terdapat 3 aspek persepsi menurut Sobur (2013:69), yaitu :
a. Seleksi, yaitu penyampaian oleh indra individu oleh sinyal rangsangan dari
luar. setelah diterima rangsangan akan di seleksi
b. Interpretasi, yaitu proses menerjemahkan informasi sehingga mempunyai arti
bagi individu, hal ini bergantung pada kemampuan individu untuk mengelola
informasi yang diterima
c. Pembulatan informasi, yaitu Penarikan kesimpulan dari informasi yang
diterima. persepsi yang dihasilkan berupa tingkah laku yang berasal dari
informasi yang diterima

Pengertian Persepsi Terhadap Gaya Kepemimpinan Otoriter


Wibowo (2013: 60) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses yang
memungkinkan individu dalam menafsirkan informasi dan menginterpretasikan
lingkungan sekitar. Menurut Leavitt (Sobur, 2013: 445) secara singkat
mendifinisikan bahwa persepsi ialah pandangan, bagaimana cara individu
memandang sesuatu. Secara etimologis, persepsi berasal dari bahasa latin
preception yang artinya penerimaan. Kata persepsi berkaitan dengan kata persepsi
diri, persepsi sosial, dan persepsi interpersonal. Sedangkan menurut Saleh (2018:
79) berpendapat bahwa persepsi adalah proses yang sudah ada sebelumnya, yaitu
proses menerima stimulasi individu melalui indera alias proses sensorik lalu
stimulus ditransmisikan dan diproses hingga kemudian adalah proses kognitif.
Menurut Rahman (2013: 48) menyatakan bahwa persepsi merupakan
proses pemaknaan terhadap stimulus yang ada, persepsi selalu mensyaratkan
objek. Objek persepsi sangat beragam, self sebagai objek persepsi bukanlah objek
tunggal, tetapi objek yang memiliki aspek-aspek yang sangat kompleks. Persepsi
terdiri dari dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal, dimana faktor
internal meliputi proses pemahaman individu terhadap tujuan, rasa percaya, dan
respon terhadap hasil, sedangkan faktor eksternal yakni faktor yang dipengaruhi
oleh lingkungan (dalam Syamsu dan Novianty, 2017: 59)

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Wirawan (2012: 7-8) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja menjadi 3, yaitu :
a. Faktor internal pegawai
Yakni banyaknya faktor dari individu tiap pegawai yang dibawa (sifat, keadaan
fisik) dan diperoleh bersamaan dengan perkembangannya (pengetahuan,
keterampilan)
b. Faktor Lingkungan internal organisasi
Dalam menyelesaikan tugas tugas, tiap pegawai memerlukan dukungan dari
orang orang dan keadaan di organisasi sekitarnya. Dukungan dari organisasi
sekitar akan mempengaruhi performa baik naik atau turunnya kinerja setiap
pegawai, misal lingkungan kerja yang ramah dan kondusif akan membuat
karyawan kerja lebih nyaman dan efisien
c. Faktor lingkungan eksternal organisasi
Ialah keadaan di luar organisasi yang masih memiliki peran dalam
mempengaruhi kinerja organisasi, misalnya adanya resesi global, akan
mempengaruhi efisiensi kinerja organisasi
Menurut Darma (2010: 30-42) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja sebagai berikut:
a. Perubahan Lingkungan persaingan kerja
Pengukuran Kinerja berdasar laporan finansial akan kalah dengan perusahaan
yang menggunakan metode metode terbaru seperi kaize (Memperbaiki lebih
baik), hal ini membuat perusahan dengan cepat menyesuaikan dan mengejar
kebutuhan pasar dan tidak jarang kebutuhan pasar ini memerlukan rotasi
pekerja yang cukup cepat
b. Aturan aturan pemerintah
Aturan yang ditetapkan pemerintah akan membuat perusahaan menyesuaikan
dengan apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang oleh pemerintah, untuk
mengelola perusahan tidak jarang perubahan pekerja dibutuhkan untuk
memenuhi keuntungan demi mengikuti aturan pemerintah
c. Kontrol Pengendalian yang diperlukan tehadap perilaku manusia yang
bervariasi
Kurangnya Kontrol antar karyawan dapat mempengaruhi efisiensi perusahaan,
contohnya apabila ada perintah pemasangan 800 baut dalam 8 jam, dan
karyawan menyelesaikan dalam 6 jam, ada 2 jam yang tersisa dan dengan
kontrol yang buruk karyawan akan tidak melakukan pekerjaan apa apa dan
perusahaan menjadi tidak efisiensi
d. Pengkajian kembali manajemen strategik
Evaluasi dan pencatatan performa tiap karyawannya membuat karyawan lebih
aware terhadap kinerja pekerjaan nya, hal ini dapat mempengaruhi tingkat
intensitas dan efisiensi pekerjaan karyawan
e. Budaya organisasi
Budaya organisasi tentulah sudah mendarah daging dan sudah tertanam dalam
tiap pikiran dan hati karyawan, budaya yang baik dan berorintasi pada kerja
tim dan tujuan organisasi akan memepengaruhi performa tiap karyawannya
karena motivasi dari suasana lingkungan organisasinya
f. Kepemimpinan
Otak dari setiap operasi organisasi adalah pemimpin perusahaan, Gaya
pemimpinan dan sifat kepemimpinan akan sangat mempngaruhi suasana
pekerjaan, baik dan buruknya sifat kepemimpinan akan menjadi dasar dari
peforma suatu organisasi dalam menyelesaikan tugas tugasnya
g. Sarana dan Prasarana perusahaan
Sarana adalah fasilitas yang mendukung pelaksanaan contohnya adalah
komputer, dana, dan peralatan kantor, sementara prasarana adalah fasilitas
pendukung tidak langsung contohnya tempat istirahat perusahaanm. kedua hal
ini mempengaruhi kinerja karyawan. orang yang bekerja dengan teknologi
yang lebih canggih akan lebih produktif dari pada yang masih menggunakan
alat tradisional
h. Kerja sama tim
Kerja sama tim akan mempengaruhi efisiensi pekerjaan, Tim yang lebih peka
terhadap keadaan dan kesulitan teman teman di sekitarnya akan lebih mudah
mencapai visi perusahaan dan mencapai produktivitas maksimal daripada tim
yang lebih mementingkan individual skill dan job desk nya masing masing
i. Pemantauan dan Evaluasi
Manajemen kinerja tidak akan efektif tanpa adanya evaluasi dana pemantauan,
dengan adanya kinerja yang di pantau dan di evaluasi, perusahaan dapat
menilai hal hal yang bisa di kurangi dan hal hal yang bisa di tambah dalam

Aspek-Aspek Kinerja Karyawan


Menurut Milkovich dan Beudreau (dalam Sule dan Donni, 2018: 124-125)
menyatakan bahwa kinerja pegawai merupakan fungsi dari interaksi 3 aspek,
yaitu:
a. Kemampuan (Ability)
Kemampuan ialah kapasitas atau kesanggupan individu dalam menyelesaikan
tugas pekerjaan. kemampuan keseluruhan tiap individu dasarnya memiliki 2
faktor, yaitu kemampuan fisik (yang memerlukan stamina, kecakapan, dan
keterampilan) dan kemampuan mental (yang memerlukan kecerdasan,
pemahaman dan penalaran)
b. Motivasi (Motivational)
Motivasi merupakan kemampuan upaya untuk memenuhi kebutuhan
induvidual dengan kesediaan mengeluarkan tingkat apa yang tinggi ke arah
tujuan organisasi
c. Peluang (opportunity)
Peluang berkaitan dengan keadaan yang akan menjadi rintangan dalam
bekerja, Hal yang termasuk adalah keadaan lingkungan kerja yang
mendukung, perlatan kerja yang mendukung, serta rekan kerja dan aturan
yang mendukung. sehingga timbul cukup informasi untuk mengambil
keputusan pada waktu kerja yang memadai untuk bekerja dengan pilihan
terbaik
Selain itu menurut Haryono (2018: 94) menyebutkan bahwa aspek-aspek
kinerja sebegai berikut:
a. Aspek instrumen penilaian yang memfokuskan pada kemampuan dasar
Contohnya adalah kemandirian, kejujuran, dan rasa suka menolong
b. Aspek yang berfokus pada Kompetensi
Contohnya adalah pengetahuan akan tugas yang dikerjakan. Keterampilan dan
kecakapan dalam menaggapi tugas tugas yang ada
c. Aspek yang berfokus pada tugas
Contohnya adalah mengikuti SOP yang berlaku
d. Aspek kinerja yang fokus pada tujuan
e. Aspek Kinerja kontekstual
Yaitu usaha anggota organisasi untuk mengakrabkan hubungan antardivisi
Menurut Bono & Judge (dalam Indrasari, 2017: 55) aspek kinerja dibagi
menjadi 7, yakni:
a. Kualitas
Yakni hasil tugas yang dilakukan sudah mendekati sempurna (sudah mencapai
tujuan yang diharapkan)
b. Produktifitas
Yakni banyaknya tugas yang telah dihasilkan atau jumlah proses aktivitas
yang terselesaikan,
c. Ketepatan waktu
Yakni akhir penyelesaian tiap tiap tugas dapat memaksimalkan waktu yang
disediakan
d. Efektivitas
Yakni memanfaatkan dengan cara paling baik dan benar secara maksimal
sumber daya yang ada pada organisasi untuk meningkatkan keuntungan dan
mengurangi kerugian
e. Kemandirian
Yakni kemampuan untuk menyelesaikan tugas tugas tanpa bantuan guna
menghindari hasil yang memerlukan kerugian waktu dan sumber daya
tambahan
f. Komitmen kerja
Yakni kesepakatan untuk menjalankan tugas dan tujuan antara karyawan
dengan organisasinya
g. Tanggung jawab karyawan
Yakni rasa adanya kehilangan akibat kerugian, dan rasa bangga terhadap
penilaian baik terhadap performa organisasinya.
Menurut Bernadin & Rusel (dalam Huseno, 2016: 96) aspek kinerja dibagi
menjadi 6, meliputi:
a. Quality
Adalah tingkatan suatu proses hingga hasil pelaksaanaan kegiatan mendekati
tujuan yang diharapkan
b. Quantity
Merupakan jumlah yang dihasilkan
c. Kerjasama antar karyawan
Yakni durasi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan
d. Cost efectiveness
Adalah besarnya penggunaan sumber daya organisasi untuk memaksimalkan
hasil.
e. Need for supervision
Merupakan kecakapan karyawan dalam melaksanakan jobdesc pekerjaannyaa
tanpa adanya pengawasan supervisor untuk meminimalisir tindakan yang tidak
diinginkan
f. Interpersonal impact
Ialah kemampuan seorang karyawan dalam menjaga relasi antarkaryawan

Pengertian Kinerja Karyawan


Wirawan (2012: 5) berpendapat bahwa kinerja ialah output karyawan yang
diturunkan dari fungsi atau indikator suatu kegiatan yang dirancang untuk
mencapai atau melakukan sesuatu yang hanya membutuhkan personel dan
keterampilan tertentu atau pekerjaan tertentu pada waktu tertentu. Sedangkan
Menurut Bangun (dalam Adamy, 2016: 91) menyatakan bahwa kinerja merupakan
output kerja yang dihasilkan karyawan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan,
pekerjaan memiliki persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh karyawan yang
dikenal sebagai standar pekerjaan. Pendapat lain memandang bahwa kinerja
sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa individu atau karyawan memahami
harapan mereka dan tetap fokus pada operasi yang efektif dengan berfokus pada
hasil, metrik, dan penilaian (Casio, dalam Wibowo, 2016: 2).
Sementara itu, Wibowo (dalam Abdullah, 2014: 3) menyatakan bahwa
kinerja berasal dari kata “performance” yakni hasil atau prestasi kerja. Namun
harus dipahami juga bahwa kinerja tidak hanya hasil kerja tetapi juga bagaimana
proses bekerja. Pendapat ini sejalan dengan Abdullah (dalam Abdullah, 2014: 3)
yang mengungkapkan bahwa kinerja merupakan terjemahan dari performa/ hasil
kerja /prestasi kerja, secara singkat kinerja merupakan hasil kerja karyawan dalam
sebuah organisasi yang mencerminkan usaha terbaik karyawan sesuai petunjuk ,
arahan dari pimpinan, keterampilan, dan kemampuan karyawan untuk
mengembangkan pikirannya dalam bekerja. Di samping itu, Sinambela, dkk
(dalam Sule & Priansa, 2018: 122) mendefinisikan bahwa kinerja merupakan
kompetensi karyawan dalam bidang keahlian tertentu, dan kinerja pegawai sangat
diperlukan guna untuk mengukur sejauh mana tingkat kemampuan karyawan
dalam menjalankan beban tugasnya. Maka dari itu penting menentukan kriteria
yang jelas dan terukur serta ditetapkan secara kolektif sebagai acuan. Sementara
Bernardin dan Russel (dalam Indrasari, 2017: 50) menyatakan bahwa kinerja
sebagai catatan hasil pekerjaan atau aktivitas tertentu selama periode waktu
tertentu. Hal ini diperkuat oleh Seymour (dalam Priyono, 2014: 185) yang
menyatakan bahwa kinerja dapat diukur. Menurut Bacal (dalam Indrasari,
2017:50) mendefinisikan bahwa kinerja merupakan proses organisasi untuk
memberi evaluasi atau menilai hasil kerja karyawan

Pengaruh Kompensasi terhadap kinerja karyawan


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tanjung dan Zulhardi (2018)
dimana dalam penelitan tersebut dibuktikan bahwasannya kompensasi berpengaruh
positif terhadap kinerja karyawan. Penelitian serupa dilakukan oleh Wijaya dan
Laily (2021) yang dimana dalam penelitiannya juga dibuktikan bahwa kompensasi
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Purwasari dan Rohman (2021) yang menyatakan bahwa kinerja
karyawan dipengaruhi oleh adanya kompensasi

Pengaruh Disiplin Kerja terhadap kinerja karyawan


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ekhsan (2019)
dimana dalam penelitan tersebut dibuktikan bahwasannya disiplin kerja
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Penelitian serupa dilakukan oleh
Rismawati dan Saluy (2018) yang dimana dalam penelitiannya juga dibuktikan
bahwa disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.

Pengaruh Gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Arianti dan Karmila (2019)
dimana dalam penelitan tersebut dibuktikan bahwasannya gaya kepemimpinan
berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Penelitian serupa dilakukan oleh
Tanjung dan Zulhardi (2018) yang dimana dalam penelitiannya juga dibuktikan
bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wijaya dan Laily (2021) yang
menyatakan bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh adanya gaya kepemimpinan

Indikator Kompensasi


Menurut Badriyah (2015) kompensasi dapat diukur melalui beberapa
indikator sebagai berikut :

  1. Gaji/upah
    Merupakan balas jasa yang dibayar secara periodik kepada karyawan yang
    tetap serta mempunyai jaminan yang pasti. Terdapat beberapa dalam
    pemberian gaji yaitu Keadilan dalam pemberian gaji, Kelayakan dalam
    pemberian gaji, dan Ketepatan waktu dalam pemberian gaji.
  2. Insentif
    Merupakan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu, yang
    prestasinya di atas prestasi standar, pemberian insentif dimaksudkan untuk
    memotivasi karyawan agar bekerja lebih bersemangat sehingga
    produktivitas karyawan meningkat. Terdapat beberapa dalam pemberian
    insentif, yaitu Keadilan dalam pemberian insentif, Kelayakan dalam
    pemberian insentif, dan Ketepatan waktu dalam pemberian insentif.
  3. Tunjangan
    Merupakan pemberian kompensasi guna menciptakan rasa nyaman, seperti
    tunjangan hari raya yang merupakan bayaran di luar jam kerja (Libur Hari
    Raya)

Definisi Kompensasi


Menurut Dessler (2017) kompensasi adalah suatu hal yang berbentuk
bayaran untuk diberikan kepada karyawan dan hal-hal yang berhubungan
dengan karyawan. Kemudian menurut Sedarmayanti (2019) kompensasi
merupakan segala sesuatu yang akan diterima karyawan sebagai bentuk balas
jasa kerja karyawan.
Kompensasi merupakan suatu bagian dari reward atau penghargaan yang
hanya berhubungan dengan bagian ekonomi, akan tetapi setelah adanya
keyakinan bahwasannya perilaku individual terdapat pengaruh dari sistem
spektrum yang lebih luas maka kompensasi tidak terlepas dari adanya reward
yang disediakan oleh organisasi (Widodo, 2014). Sinambela (2018) juga
mengatakan bahwa kompensasi adalah jumlah dari semua hadiah yang
diberikan organisasi kepada karyawan sebagai imbalan atas jasa-jasa mereka.

Definisi Disiplin Kerja


Menurut Rivai (2019) Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para
manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk
mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku. Menurut Hasibuan (2018) Kedisiplinan
adalah kesadaran dan kesediaan seseorang yang menaati semua peraturan
perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Disiplin yang
mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas
yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja,
dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja mempunyai peranan penting dalam
sebuah perusahaan, karena disiplin kerja pada umumnya menyinggung rasa
tanggung jawab seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan, mendorong
gairah kerja serta meningkatkan kesadaran terhadap peraturan yang berlaku
didalam perusahaan. Dengan disiplin kerja yang baik maka perusahaan dapat
dengan mudah mewujudkan tujuan perusahaan yang ingin dicapai.
b. Indikator Disiplin Kerja
Menurut pendapat Alfiah (2019) ada lima indikator disiplin kerja yaitu
sebagai berikut :
1) Kehadiran merupakan indikator utama yang mengukur tingkat kedisiplinan
dan pada umumnya disiplin kerja yang rendah pada karyawan dapat
tercermin dari kebiasaan karyawan yang suka terlambat dalam bekerja.
2) Ketaatan pada peraturan kerja merupakan bentuk kepatuhan dari karyawan
terhadap peraturan kerja dan selalu mematuhi prosedur yang berlaku di
Kantor.
3) Ketaatan pada standar kerja yaitu seberapa besar tanggung jawab seorang
karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
4) Tingkat kewaspadaan tinggi karyawan merupakan sikap teliti dan berhati-
hati dalam bekerja yang efektif dan efisien.
5) Etika bekerja merupakan bentuk dari tindakan indisipliner dan disiplin kerja
karyawan

Indikator Gaya Kepemimpinan


Menurut Lisa Paramita (2017) indikator Gaya Kepemimpinan menyatakan
sebagai berikut :
1) Kemampuan Mengambil Keputusan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut
perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
2) Kemampuan Memotivasi
Kemampuan memotivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan
seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menggerakkan
kemampuannya (dalam bentuk keahlian atau keterampilan) tenaga dan
waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi
tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka
pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan
sebelumnya.
3) Kemampuan Mengendalikan Bawahan
Seorang pemimpin harus memiliki keinginan untuk membuat orang lain
mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau
jabatan secara efektif dan pada tempatnya.
4) Kemampuan Mengendalikan Emosional
Kemampuan mengendalikan emosional adalah hal yang sangat penting bagi
keberhasilan hidup kita. Semakin baik kemampuan kita mengendalikan
emosi semakin mudah kita akan meraih kebahagiaan.

Definisi Gaya Kepemimpinan


Gaya Kepemimpinan atau leadership termasuk kelompok ilmu terapan atau
applied science dari ilmu-ilmu sosial sebab prinsip-prinsip dan rumusan
rumusannya bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan manusia.
Sebagai langkah awal utuk mempelajari dan memahami segala sesuatu yang
berkaitan dengan aspek-aspek Gaya kepemimpinan dan permasalahannya.
Perlu dipahami terlebih dahulu makna atau pengertian dari kepemimpinan
melalui berbagai macam perspektif. Oleh karena kepemimpinan menyentuh
berbagai segi kehidupan manusia, seperti cara hidup kesempatan berkarya,
bermasyarakat, dan bahkan bernegara, kiranya usaha sadar untuk semakin
mendalami berbagai segi kepemimpinan yang efektif ituperlu dilakukan dan
bahkan ditingkatkan terus menerus oleh para ilmuan yang menekuni dan
menggandrungi dengan tanpa henti-hentinya mengumpulkan data dalam
akumulasi teori-teori tentang kepemimpinan.
Beberapa ahli mengemukakan berbagai pengertian mengenai Gaya
kepemimpinan. Pendapat lain juga mengemukakan menurut Robins (2016)
bahwa Pemimpin (leader) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang
lain dan memiliki otoritas manajerial. Gaya Kepemimpinan (leadership)
merupakan proses memimpin sebuah kelompok itu dalam mencapai tujuannya.
Kepemimpinan adalah apa yang dilakukan pemimpin.
Menurut Taryaman (2016) secara umum dapat dikatakan bahwa Gaya
Kepemimpinan adalah suatu ilmu dan seni untuk mempengaruhi orang lain
atau sekelompok individu untuk saling bekerja sama, tidak saling menjatuhkan
dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Menurut Sutrisno (2014)
Kepemimpinan adalah suatu proses kegiatan seseorang untuk menggerakkan
orang lain dengan memimpin, membimbing, memengaruhi orang lain, untuk
melakukan sesuatu agar dicapai hasil yang diharapkan. Menurut Vincent
Gaspersz (2017) mengemukakan bahwa Kepemimpinan adalah proses dimana
seseorang atau sekelompok orang (tim) lain, menginspirasikan, memotivasi,
dan mengarahkan aktivitas mereka untuk mencapai sasaran dan tujuan.
Berdasarkan pengertian gaya kepemimpinan menurut para ahli, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan proses kegiatan
seseorang untuk menggerakkan orang lain dengan cara memimpin serta
mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama dan tidak saling menjatuhkan
satu sama lain agar tujuan organisasi dapat tercapai

Indikator Kinerja Karyawan


Indikator Kinerja Terdapat empat pengukuran kinerja, indikator kinerja
menurut (Anandita et al., 2021) antara lain sebagai berikut:
1) Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa
yang seharusnya dikerjakan.
2) Kuantitas kerja adalah seberapa lama seseorang karyawan bekerja dalam
satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap
karyawan itu masing-masing.
3) Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh karyawan mampu melakukan
pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
4) Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban
karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.
c. Faktor-faktor Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan pada saat melakukan pencapaian dapat disebabkan oleh
beragam faktor, menurut Kasmir (2018) faktor tersebut antara lain :
1) Keahlian dan Kemampuan
Setiap orang baik atasan maupun bawahan harus memiliki kemampuan dan
keahlian yang dapat dipakai untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
Semakin ahli dan mampu seorang pekerja dalam menyelesaikan tugasnya
dengan tepat semakin ringan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya
dengan tepat, oleh sebab itu melalui kemampuan dan keahlian yang dimiliki
seseorang akan berpengaruh pada kinerja setiap orang.
2) Pengetahuan
Seseorang yang memiliki output pekerjaan yang baik itu disebabkan karena
seseorang tersebut mempunyai kemampuan yang lebih detail akan bidang
tersebut. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki kemampuan tentang
pekerjaannya yang memadai maka hasil output yang didapatkan cenderung
rendah.
3) Rancangan Kerja
Suatu faktor di mana karyawan dimudahkan dalam menjalankan tanggung
jawab beserta tugasnya. Suatu pekerjaan dengan rancangan yang bagus akan
mengurangi tingkat kesulitan karyawan dalam menyelesaikan sebuah
pekerjaan yang dijalankannya.
4) Kepribadian
Merupakan keseluruhan seorang individu dalam berinteraksi dan bereaksi
satu dengan yang lainnya dalan sebuah organisasi. Seseorang yang
mempunyai pribadi baik, dipastikan mampu menjalankan kewajibannya
secara bertanggung jawab serta penuh kesungguhan sehingga akan
berpengaruh pada kinerjanya yang semakin baik.
5) Motivasi Kerja
Faktor ini muncul dari dalam diri seorang karyawan supaya seseorang
tergerak atau terpengaruh dalam menjalankan sesuatu, jika seseorang
mempunyai dukungan yang kuat dari sekelilingnya, maka orang tersebut
akan termotivasi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.
6) Komitmen
Faktor yang memengaruhi kinerja karyawan sesuai dengan kepatuhan
karyawan dalam menjalankan setiap peraturan yang berlaku di sebuah
organisasi ataupun perusahaannya. Dengan kesepakatan yang ada bahwa
karyawan akan mematuhi setiap SOP yang berlaku, maka karyawan tersebut
berupaya maksimal dalam bekerja dan merasa bersalah jika peraturan
tersebut dilanggar.
7) Gaya Kepemimpinan
Merupakan sikap seorang pemimpin dalam menghadapi atau memerintah
kepada bawahannya. Kenyataannya, gaya kepemimpinan dapat diterapkan
sesuai dengan kondisi suatu organisasi.
8) Kompensasi
bentuk motivasi karyawan agar berusaha mencapai kinerja yang maksimal
bagi kepentingan karyawan.
9) Lingkungan Kerja
Merupakan suasana dan kondisi lingkungan yang berada disekitar seseorang
bekerja. Suasana yang nyaman dan aman akan memberi kenyamanan
sehingga kinerja karyawan dengan lebih optimal

Definisi Kinerja Karyawan


Perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila kinerja sumber daya manusia
berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawan untuk mencapai tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan. Menurut Sandy (2015), kinerja merupakan
sebuah prestasi yang telah dicapai oleh karyawan dalam menjalankan
pekerjaan yang telah diberikan. Sedangkan menurut Sutrisno (2016) kinerja
atau prestasi kerja merupakan hasil kerja yang telah dicapai oleh seseorang
berdasarkan tingkah laku kerjanya dalam menjalankan aktivitas dalam bekerja.
Keberhasilan ataupun kegagalan dalam suatu organisasi dalam
melaksanakan tugas sangat berhubungan dengan kinerja karyawan, pencapaian
kinerja dalam organisasi merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk
mewujudkan perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Mangkunegara (2016) yang berpendapat kinerja karyawan
merupakan hasil kerja seseorang secara kualitas maupun secara kuantitas yang
telah dicapai oleh karyawan dalam menjalankan tugas sesuai tanggung jawab
yang diberikan.
Robbin (2016) mendefinisikan kinerja adalah suatu hasil yang dicapai oleh
karyawan dalam pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk
suatu pekerjaan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa kinerja karyawan merupakan pencapaian hasil karyawan dalam suatu
proses melaksanakan tugasnya dengan sesuai tanggung jawab yang diberikan.
Dengan meningkatkan kinerja karyawan akan membawa dampak yang positif
bagi perusahaan, sehingga karyawan memiliki tingkat kinerja yang baik dan
optimal untuk membantu mewujudkan tujuan perusahaan.

Gaya Kepemimpinan Berpengaruh Terhadap Kinerja Karyawan


Definisi kepemimpinan secara umum meliputi sebuah proses yang
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi yang telah ditetapkan,
memotivasi kepribadian pengikut untuk memperbaiki kelompok atau budaya
yang ada pada sebuah organisasi. Kepemimpinan yang dapat memberikan
motivasi terhadap bawahannya merupakan kepemimpinan yang bisa
menumbuhkan rasa percaya diri dari para karyawan dalam menjalankan
tugasnya. Penerapan gaya kepemimpinan yang tepat dapat memberi pengaruh
terhadap motivasi kerja karyawan, hal ini dikarenakan dalam motivasi kerja
karyawan guna memenuhi kebutuhannya sangat membutuhkan dukungan dari
seorang pemimpin, oleh sebab itu pemimpin perlu mengetahui secara jelas
tentang apa yang diinginkan oleh karyawan dan perusahaan agar mereka bisa
bekerja sama secara efektif (Wowor dkk., 2019).

Indikator Motivasi Kerja


Motivasi kerja menurut Hasibuan, (2010) ada 5 indikator
motivasi, yaitu:
1) Kebutuhan fisik
Kebutuhan fisik (material) dalam hal ini antara lain memberikan
gaji yang layak kepada karyawan, bonus kinerja, tunjangan
makan, subsidi transportasi, dll.
2) Kebutuhan akan rasa aman
Menyediakan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja agar
pekerja dapat bekerja tanpa rasa khawatir, seperti jaminan sosial
pekerja, dana pensiun, dan perlengkapan keselamatan lainnya.
3) Kebutuhan sosial
Misalnya dengan membentuk tim kecil di setiap divisi,
tujuannya adalah untuk menciptakan hubungan kerja yang
harmonis dan menyelesaikan masalah dalam kelompok kecil.
Kebutuhan untuk diterima dalam kelompok, dan kebutuhan
untuk mencintai dan dicintai.
4) Kebutuhan akan penghargaan
Dalam memberikan bonus kinerja, menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan, serta mengembangkan kemampuan,
keterampilan, dan potensi karyawan. Oleh karena itu, karyawan
akan merasa kemampuannya dihargai

Definisi Motivasi Kerja


Menurut Sukardi & Purwanto, (2022) motivasi kerja adalah
suatu proses dimana kebutuhan mendorong seseorang untuk
melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah tercapainya tujuan
tertentu. Setiap organisasi tentu saja ingin merealisasikan visi dan
misi yang telah ditetapkan bersama, oleh karena itu peran karyawan
sangat dibutuhkan. Motivasi (dorongan atau stimulasi) dapat
digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Motivasi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti: paksaan
dan hukuman, penghargaan atau pujian, dan menciptakan
persaingan. Tujuan dan harapan yang jelas, realistis, dan mudah
dicapai juga dapat digunakan sebagai motivasi. Jika bawahan
merasa bahwa harapannya tidak realistis, mereka tidak akan
termotivasi untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi.
Teori motivasi manusia yang dikembangkan oleh Malthis (2006)
mengelompokkan kebutuhan manusia menjadi lima kategori yang
naik dalam urutan tertentu. Sebelum kebutuhan lebih mendasar
terpenuhi, seseorang tidak akan berusaha untuk memenuhi
kebutuhan yang lebih tinggi. Hierarki Maslow yang terkenal terdiri
atas kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan
keamanan, kebutuhan akan kebersamaan, kasih sayang, dan
kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan seseorang merupakan
dasar untuk model motivasi. Kebutuhan adalah kekurangan yang
dirasakan oleh seseorang pada saat tertentu yang menimbulkan
tegangan yang menyebabkan timbulnya keinginan.
Karyawan akan berusaha untuk menutupi kekurangannya
dengan melakukan suatu aktivitas yang lebih baik dalam
melaksanakan pekerjaannya. Dengan melakukan aktivitas yang
lebih banyak dan lebih baik, karyawan akan memperoleh hasil yang
lebih baik pula sehingga keinginannya dapat terpenuhi. Keinginan
yang timbul dalam diri karyawan dapat berasal dari dalam dirinya
sendiri maupun berasal dari luar dirinya, baik yang berasal dari
dalam lingkungan kerjanya maupun dari luar lingkungan kerjanya

Indikator Kepemimpinan Situasional Harsey-Blanchard


Wahjono, (2010) dalam bukunya perilaku organisasi
menjelaskan bahwa terdapat beberapa pendekatan kepemimpinan
yang dikembangkan oleh Paul Hersey-Blanchard,
mengidentifikasikan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif
tergantung antara beberapa faktor berikut:
1) Orientasi Tugas
Pemimpin yang berorientasi pada tugas menjalankan kontrol
yang ketat, dengan membuat bawahan melakukan tugasnya
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Jenis
kepemimpinan ini mengandalkan paksaan, penghargaan, dan
hukuman yang dapat mempengaruhi sifat dan kinerja karyawan.
Terdapat beberapa dimensi perilaku tugas, antara lain:
a) Penyusunan tujuan
b) Pengorganisasian
c) Penetapan batas waktu
d) Pengarahan
e) pengendalian
2) Orientasi Hubungan
Pemimpin mendelegasikan pengambilan keputusan kepada
karyawan dan membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan
mereka dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung.
pemimpin fokus pada kemajuan dengan karyawan sebagai
pusatnya, pertumbuhan dan pencapaian pribadi pengikut.
a. Memberikan dukungan
b. Komunikasi
c. Memudahkan interaksi
d. Aktif mendengarkan
e. Memberikan umpan balik
3) Orientasi Kematangan
Kematangan bawahan merupakan kemampuan individu
karyawan dalam bertanggung jawab terhadap tugas yang
diberikan kepadanya sehingga mampu mengarahkan perilaku
bawahan. Karyawan yang mempunyai kesiapan dalam suatu
pekerjaan tidak berarti bahwa orang tersebut juga mempunyai
tingkat kesiapan yang sama untuk pekerjaan lainnya. Terdapat
dua dimensi dalam tingkat kematangan, antara lain:
a. Matang karena mampu (mempunyai pengetahuan,
pengalaman, keterampilan individu dalam melaksanakan
pekerjaan)
b. Mempunya kesiapan melakukan pekerjaannya dikarenakan
rasa yakin dan motivasi yang tinggi

Perilaku Kepemimpinan


Teori kepemimpinan situasional berfokus pada pengikut dan
kedewasaan mereka. Seorang pemimpin harus memahami dan
menilai kedewasaan karyawannya. Dalam teori Sedarmayanti,
(2011) gaya kepemimpinan situasional terdapat empat macam
indikator, antara lain:
1) Gaya Memberitahukan (Telling)
a) Pemimpin menginstruksikan tugas dengan jelas
b) Pemimpin mengawasi kinerja karyawan dan memberikan
pengarahan dalam menyelesaikan sebuah masalah.
2) Menjual (Selling)
a) Pemimpin memberikan dukungan dan arahan kepada
karyawan dalam menyelesaikan sebuah masalah
b) Karyawan diberikan kesempatan dalam berpendapat
3) Gaya Melibatkan Diri
a) Pemimpin meminta pendapat kepada karyawan dalam
pengambilan sebuah keputusan
b) Pemimpin mendorong karyawan untuk menyelesaikan
pekerjaan dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
4) Gaya Mendelegasikan (Delegating)
a) Pemimpin mendelegasikan sebagian tugas kepada karyawan
dengan kemampuan yang dimiliki karyawan

Jenis-jenis Gaya Kepemimpinan


Menurut Kamal dkk., (2019) gaya kepemimpinan terbagi atas 4
jenis yakni:
1) Gaya Kepemimpinan Directive
Pemimpin memberitahu bawahan apa yang diharapkan dari
mereka, menginformasikan jadwal kerja dan memberikan
panduan/instruksi khusus tentang cara menyelesaikan tugas,
termasuk perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, dan
pemantauan.
2) Gaya Kepemimpinan Supportive
Pemimpin ramah dan peduli terhadap kebutuhan bawahannya.
Dia juga memperlakukan semua bawahan secara setara,
menunjukkan kehadiran, status, dan kebutuhan individu
mereka, dan berusaha untuk menciptakan hubungan
interpersonal yang menyenangkan di antara anggota tim.
3) Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin partisipatif berkonsultasi dengan bawahan dan
memasukkan saran dan ide mereka sebelum mengambil
keputusan.
4) Gaya Kepemimpinan Berorientasi pada hasil
Gaya kepemimpinan dimana pemimpin menetapkan tujuan yang
menantang dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi
semaksimal mungkin serta terus menerus mencari
pengembangan prestasi dalam proses pencapaian tujuan
tersebut.

Definisi Gaya Kepemimpinan Situasional


Siagian dkk., (2022) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan
situasional adalah gaya kepemimpinan yang menyesuaikan diri
dengan tingkat kematangan karyawan dalam melakukan sebuah
tugas tertentu. Kematangan karyawan dalam hal ini meliputi segi
pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan psikologis.
Rivai & Mulyadi, (2013) menjelaskan bahwa kepemimpinan
situasional adalah teori yang menerapkan model manajemen yang
berbeda sesuai dengan situasi yang berkembang dan tingkat
kematangan karyawan yang kemudian memilih model
kepemimpinan yang paling tepat untuk diterapkan

Definisi Gaya Kepemimpinan


Permasalahan yang terus berkembang dalam kepemimpinan
adalah mengenai gaya kepemimpinan bagaimanakah yang efektif
untuk diterapkan oleh seorang pemimpin terhadap bawahannya,
dengan kata lain apa yang membuat seorang pemimpin menjadi
sukses. Seorang pemimpin berperan penting untuk menggerakkan,
mempengaruh dan memberdayakan bawahannya secara terstruktur
untuk mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati secara
bersama-sama guna mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan dan berkaitan dengan dalam pengambilan keputusan.
Gaya Kepemimpinan adalah perilaku dan strategi sebagai hasil
kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap yang sering
diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi
kinerja bawahannya (Wiratama dkk., 2019). Hal yang sama juga
dikemukakan oleh Oktarini, (2021) menyatakan bahwa Gaya
kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi orang
lain seperti yang diinginkan.
Heriyanti & Putri, (2021) menjelaskan bahwa gaya
kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari Tindakan seorang
pemimpin, baik yang tampak maupun tidak tampak oleh
bawahannya, gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang
konsisten dari falsafah, ketrampilan, sifat dan sikap yang mendasari
perilaku seseorang.
Dari beberapa pendapat tentang kepemimpinan diatas, dapat
disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang
digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi
bawahannya yang diwujudkan melalui bentuk dan pola tingkah
laku atau kepribadian. Pemimpin mempunyai sebuah program dan
berperilaku secara bersama-sama dengan anggota kelompok
dengan menggunakan cara atau gaya tertentu sehingga mempunyai
peran dalam mendorong, memotivasi, dan mengkoordinasikan
organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Indikator kinerja


Indikator Kinerja Terdapat empat pengukuran kinerja, indikator
kinerja menurut (Anandita dkk., 2021) antara lain sebagai berikut:
1) Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan
apa yang seharusnya dikerjakan.
2) Kuantitas kerja adalah seberapa lama seseorang pegawai bekerja
dalam satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan
kerja setiap pegawai itu masing-masing.
3) Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh pegawai mampu
melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
4) Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan
kewajiban pegawai untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan
perusahaan.
Sedangkan menurut menurut Novia dkk., (2021) indikator-
indikator kinerja pegawai adalah sebagai berikut :
1) Kuantitas hasil kerja
Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan
jumlah hasil kerja yang bisa dinyatakan dalam ukuran angka atau
padanan angka lainnya.
2) Kualitas hasil kerja
Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan
kualitas atau mutu hasil kerja yang dapat dinyatakan dalam ukuran
angka atau padanan angka lainnya.
3) Efisiensi dalam melaksanakan tugas
Berbagai sumber daya secara bijaksana dan dengan cara yang
hemat biaya.
4) Disiplin kerja
Taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku.
5) Inisiatif
Kemampuan untuk memutuskan dan melakukan sesuatu yang
benar tanpa harus diberi tahu, mampu menemukan apa yang
seharusnya dikerjakan terhadap sesuatu yang ada di sekitar,
berusaha untuk terus bergerak untuk melakukan beberapa hal walau
keadaan terasa semakin sulit
6) Ketelitian
Tingkat kesesuaian hasil pengukuran kerja apakah kerja itu udah
mencapai tujuan apa belum.
7) Kepemimpinan
Proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada
pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
8) Kejujuran
Salah satu sifat manusia yang cukup sulit untuk diterapkan.
9) Kreativitas
Proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau yang
melibatkan pemunculan gagasan

Faktor-Faktor Kinerja


Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja, menurut (Afandi, 2021) yaitu :
1) Kompetensi, yaitu keterampilan yang dimiliki karyawan.
2) Fasilitas kerja, yaitu alat pendukung kelancaran operasional
perusahaan.
3) Budaya kerja, yaitu perilaku kerja karyawan yang kreatif dan
inovatif.
4) Gaya kepemimpinan, yaitu perilaku pemimpin dalam mengarahkan
karyawan dalam bekerja.
5) Disiplin kerja, yaitu aturan yang dibuat oleh perusahaan agar semua
karyawan mematuhinya dan tujuan perusahaan tercapai

Definisi Kinerja Karyawan


Kinerja adalah hal yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh
karyawan. Kinerja karyawan adalah hal yang mempengaruhi seberapa
banyak seorang karyawan berkontribusi terhadap organisasi. Kinerja
adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sebuah pelaksanaan atau
suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran,
tujuan, visi dan misi sebuah organisasi yang dituangkan melalui
perencanaan suatu strategi organisasi. Kinerja merupakan fungsi dari
motivasi dan kemampuan guna menyelesaikan pekerjaan, dimana
seseorang sepatutnya memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan
tertentu.
Menurut Heriyanti & Putri, (2021) kinerja adalah pekerjaan yang
sudah diselesaikan seorang karyawan yang dilaksanakan sesuai dengan
fungsi dan tanggung jawab yang diberikan.
Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang di berikan kepadanya (Siagian & Khair,
2018). Kinerja juga berarti sebagai hasil kerja karyawan dilihat dari
aspek kualitas, kuantitas, waktu kerja, dan kerja sama untuk mencapai
tujuan yang sudah di tetapkan oleh organisasi (Mukmin, 2021).
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Feri dkk., 2020).

Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Kinerja karyawan


Disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi
dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku di sekitarnya. Disiplin
karyawan yang baik akan mempercepat tujuan perusahaan, sedangkan disiplin
yang merosot akan menjadi penghalang dan memperlambat pencapaian
tujuan perusahaan. Disiplin mencoba mengatasi kesalahan dan keteledoran
yang disebabkan karena kurang perhatian, ketidakmampuan, dan
keterlambatan. Disiplin berusaha mencegah permulaan kerja yang lambat atau
terlalu awalnya mengakhiri kerja yang disebabkan karena keterlambatan atau
kemalasan. Disiplin juga berusaha untuk mengatasi perbedaan pendapat antar
karyawan dan mencegah ketidaktaatan yang disebabkan oleh salah pengertian
dan salah penafsiran Ghiseli dan Brown (Sutrisno, 2015:42).

Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja karyawan


Mangkunegara (2017:5) menyatakan bahwa motivasi berasal dari kata
motif yang merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang
perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya. Jadi motivasi adalah kondisi yang menggerakkan pegawai
agar mampu mencapai tujuan dari motifnya. Selanjutnya, Mangkunegara
(2017:8) mengungkapkan motivasi adalah suatu dorongan dalam diri
seseorang untuk melakukan atau mengerjakan suatu kegiatan atau tugas
dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi. ada salah satu faktor yang
mempengaruhi kinerja yaitu faktor motivasi, dimana motivasi merupakan
kondisi yang menggerakan seseorang berusaha untuk mencapai tujuan atau
mencapai hasil yang diinginkan. Rivai(2015) menunjukan bahwa semakin
kuat motivasi kerja, kinerja pegawaian semakin tinggi. Hal ini berarti bahwa
setiap peningkatan motivasi kerja pegawai akan memberikan peningkatan
yang sangat berarti bagi peningkatan kinerja pegawai dalam melaksanakan
pekerjaannya

Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja karyawan


Hardian (2015:7) menyatakan, kepemimpinan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi bawahan, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak
langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang agar dengan penuh
pengertian, kesadaran, dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pimpinan.
Menurut Amirullah (2015:5) kepemimpinan merupakan salah satu dimensi
kompetensi yang sangat menentukan terhadap kinerja atau keberhasilan
organisasi.Selanjutnya menurut Mulyadi (2015:67) adalah proses memberi
inspirasi kepada semua karyawan agar bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai
hasil yang diharapkan. Semakin kepemimpinan dalam sebuah organisasi maka
akan meningkatkan kinerja karyawan.

Indikator Disiplin Kerja


Indikator Disiplin Kerja menurut siswanto (2014:599) yaitu:
a. Absensi
b. Tepat waktu
c. Ketelitian dalam menjalakan pekerjaan
d. Perhitungan untuk mengurangi resiko dalam menjalankan pekerjaan
e. Menaati peraturan dan pedoman
f. Tanggung jawab
g. Kepatuhan melaksanakan tata tertib instansi dengan patuh
h. Kelancaran melaksanakan pekerjaan dengan lancar sesuai peraturan
i. Tingkat keserasian dangan pegawai lain dalam menjalankan kerja
sama
j. Tingkat sikap hormat pegawai

Aspek-aspek Disiplin


Keteraturan adalah ciri utama organisasi dan disiplin adalah salah satu
metode untuk memelihara keteraturan tersebut. Tujuan utama disiplin adalah
untuk meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin dengan cara mencegah
pemborosan waktu dan energi. Disiplin mencoba mengatasi kesalahan dan
keteledoran yang disebabkan karena kurang perhatian, ketidakmampuan, dan
keterlambatan. Disiplin berusaha mencegah permulaan kerja yang lambat atau
terlalu awalnya mengakhiri kerja yang disebabkan karena keterlambatan atau
kemalasan. Disiplin juga berusaha untuk mengatasi perbedaan pendapat antar
karyawan dan mencegah ketidaktaatan yang disebabkan oleh salah pengertian
dan salah penafsiran (Hasibuan,2015). Lebih jauh, disiplin berusaha untuk
melindungi perilaku yang baik dengan menetapkan respons yang dikehendaki.
Disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada diri
pegawai terhadap peraturan dan ketetapan organisasi. Dengan demikian bila
peraturan atau ketetapan yang ada dalam organisasi itu diabaikan, atau sering
dilanggar, maka pegawai mempunyai disiplin kerja yang buruk. Sebaliknya,
bila pegawai tunduk pada ketetapan pegawai, menggambarkan adanya kondisi
disiplin yang baik. Disiplin berarti tindakan yang diambil dengan
penyeliaanuntukmengoreksi perilaku dan sikap yang salah pada pegawai
Menurut Hasibuan (2015:11), karakteristik disiplin pegawai yang baik
akan tercermin pada sikap pegawai meliputi sebagai berikut:
a. Tingginya rasa kepedulian pegawai terhadap pencapaian tujuan
organisasi.
b. Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para pegawai
dalam melakukan pekerjaan.
c. Besarnya rasa tanggung jawab para pegawai untuk melaksanakan
tugas dengan sebaik-baiknya.
d. Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi di
kalangan pegawai.
e. Meningkatnya efisiensi dan produktivitas kerja para pegawai

Faktor – Faktor Disiplin


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja Menurut Singodimedjo
yang dikutip dalam Sutrisno (2013:89) faktor yang mempengaruhi disiplin
pegawai adalah:
a. Besar kecilnya pemberian kompensasi. Besar kecilnya kompensasi dapat
mempengaruhi tegaknya disiplin. Para pegawai akan mematuhi segala
peraturan yang berlaku, bila ia merasa mendapat jaminan balas jasa yang
setimpal dengan jerih payahnya.
b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam organisasi. Peranan keteladanan
pimpinan sangat berpengaruh besar dalam organisasi, bahkan sangat dominan
dibandingkan dengan semua faktor yang mempengaruhi disiplin pegawai,
karena pimpinan dalam suatu perusahaan masih menjadi panutan para
pegawai. Para pegawai akan selalu meniru yang dilihatnya setiap hari. Apapun
yang dibuat pimpinannya.
c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan. Pembinaan
disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam organisasi, bila tidak ada aturan
tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Disiplin tidak
mungkin ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan instruksi
lisan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi.
d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan. Bila ada seorang pegawai
yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian pimpinan untuk
mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya.
Dengan adanya tindakan terhadap pelanggaran disiplin, sesuai dengan sanksi
yang ada, maka semua pegawai akan merasa terlindungi, dan dalam hatinya
berjanji tidak akan berbuat hal serupa.
e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan. Dengan adanya pengawasan yang
dilakukan pimpinan, maka sedikit banyak para pegawai akan terbiasa
melaksanakan disiplin kerja.
Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan
pegawai suatu organisasi, di antaranya menurut Hasibuan (2000 : 194), ialah:
a. Tujuan dan kemampuan Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan
ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan pegawai.
Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepadanya harus
sesuai dengan kemampuan pegawai yang bersangkutan, agar dia dapat
bekerja dengan sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakan.
b. Teladan pimpinan Pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
bawahannya. Pimpinan harus memberikan contoh yang baik, jujur, adil, serta
sesuai kata dengan perbuatan. Dengan memberikan teladan yang baik,
kedisiplinan bawahan pun akan ikut baik. Demikian sebaliknya.
c. Balas jasa/gaji dan kesejahteraan Balas jasa akan mempengaruhi
kecintaan pegawai terhadap perusahaan atau pekerjaannya. Jika kecintaan
pegawai semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan ikut baik
pula.
d. Keadilan Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan pegawai,
karena sifat dan ego manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta
diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Pemimpin yang cakap dalam
memimpin akan berusaha bersikap adil kepada pegawainya. Dengan keadilan
yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula.
e. Waskat (pengawasan melekat) Waskat (pengawasan melekat) adalah
tindakan nyata dan efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan. Dengan
waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral,
sikap dan gairah kerja serta prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan
harus selalu ada atau hadir di tempat kerja agar dapat mengawasi dan
memberikan petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan pekerjaannya. Dengan waskat, atasan secara langsung dapat
mengetahui kemampuan dan kedisiplinan setiap individu bawahannya.
f. Sanksi hukuman Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, pegawai
akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan organisasi, sikap, dan
perilaku indisipliner akan berkurang. Sangsi hukuman harus ditetapkan
berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas
kepada semua pegawai. Sangsi hukuman tidak terlalu ringan atau terlalu berat
namun tetap mendidik pegawai untuk mengubah perilakunya.
g. Ketegasan Pimpinan harus tegas dan berani, bertindak untuk
menghukum pegawai yang indisipliner sesuai dengan sangsi hukuman yang
telah ditetapkan pimpinan yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman
bagi pegawai yang indisipliner akan disegani dan diakui kepemimpinannya
oleh bawahan.
h. Dan hubungan kemanusiaan Hubungan yang harmonis di antara sesama
pegawai akan menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu organisasi.
Pimpinan harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang
serasi. Hubungan yang serasi dapat mewujudkan lingkungan dan suasana kerja
yang nyaman. Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada organisasi

Disiplin kerja


Disiplin kerja ialah suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat
terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak
tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-
sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya
siswanto (2014: 599)
Sedangkan menurut Hasibuan (2012:23) mengemukakan bahwa kedisiplinan
adalah “keinginan dan kesadaran untuk mentaati peraturanperaturan perusahaan
dan norma-norma sosial.”
Seorang karyawan yang memiliki disiplin kerja yang tinggi yaitu karyawan
yang memiliki syarat-syarat tertentu. Menurut Widji Wahyuni (2015:35),
menjelaskan Seorang karyawan yang menjalankan disiplin dengan baik apabila
memenuhi syarat berikut:
a. Selalu hadir tepat waktu
b. Selalu mengutamakan presentasekehadiran
c. Selalu menaati ketentuan jamkerja
d. Selalu mengutamakan jam kerja yang efesien dan efektif
e. Memiliki ketrampilan kerja pada bidang tugasnya
f. Memiliki semangat kerja yangtinggi
g. Memiliki sikap yangbaik
h. Selalu kreatif dan inovatif dalambekerja
Disiplin kerja memiliki berbagai bentuk macam, menurut ada dua macam
bentuk disiplin kerja yaitu:
a. Disiplin preventif
Disiplin preventif adalah disiplin berupaya menggerakan karyawan
untuk menjalankan peraturan yang ada dalam perusahaan.
b. Disiplin koretif
Disiplin koretif adalah disiplin yang diberikan kepada karyawan yang
melanggar dengan sanksi yang berlaku

Indikator Motivasi


Beberapa indikator motivasi menurut Rivai (2011) yaitu:

  1. Menyukai tantangan dalam pekerjaan
  2. Tanggung jawab prestasi kerja
  3. Memiliki hubungan baik dengan organisasi
  4. Memiliki kerja sama yang baik

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi

Menurut Siagian faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang
dapat diketahui berdasarkan karakteristik dari individu yang bersifat khas yang
terdiri dari delapan faktor yaitu:
a. Karakteristik biografi yang meliputi:

  1. Usia, hal ini penting karena usia mempunyai kaitan yang erat dengan berbagai
    segi kehidupan organisasional. Misalnya kaitan usia dengan tingkat kedewasaan
    teknis yaitu ketrampilan tugas.
  2. Jenis kelamin, karena jelas bahwa implikasi jenis kelamin para pekerja
    merupakan hal yang perlu mendapat perhatian secara wajar dengan demikian
    perlakuan terhadap merekapun dapat disesuaikan sedemikian rupa sehingga
    mereka menjadi anggota organisasi yang bertanggung jawab terhadap
    pekerjaannya.
  3. Status perkawinan, dengan status ini secara tidak langsung dapat memberikan
    petunjuk cara, dan teknik motivasi yang cocok digunakan bagi para pegawai yang
    telah menikah dibandingkan dengan pegawai yang belum menikah.
  4. Jumlah tanggungan, dalam hal ini jumlah tanggungan seorang seorang pencari
    nafkah utama keluarga adalah semua orang yang biaya hidupnya tergantung pada
    pencari nafkah utama tersebut, tidak terbatas hanya pada istri atau suami dan
    anak–anaknya.
  5. Masa kerja, dalam organisasi perlu diketahui masa kerja seseorang karena masa
    kerja seseorang merupakan satu indikator kecenderungan para pekerja dalam
    berbagai segi organisasional seperti ; produktivitas kerja dan daftar kehadiran.
    Semakin lama seseorang bekerja ada kemungkinan untuk mereka mangkir atau
    tidak masuk kerja disebabkan karena kejenuhan