MOTIVASI


Motivasi merupakan hal yang penting karena motivasi dapat menjadi
penyebab, penyalur, maupun pendukung dari prilaku seseorang sehingga orang
tersebut berkeinginan untuk bekerja keras dan antusias untuk mencapai hasil
yang optimal (Marliani, 2015). Begitu penting motivasi dalam karyawan,
dimana setiap karyawan harus memiliki motivasi yang benar dan diberi motivasi
yang bisa meningkatkan kinerja dan produktifitasnya. Motivasi secara sederhana
diartikan sebagai dorongan dari dalam karyawan. Serangkaian sikap dan nilai-
nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal spesifik sesuai dengan
tujuan individu yang berasal dari dalam dirinya bukan atas dorongan pihak lain
Rivai (2011:837).
Motivasi dibagi dalam dua hal pokok, menurut Marliani (2015:11) yaitu
sebagai berikut:

  1. Motivasi primer.
    Motivasi primer adalah motivasi yang berasal pada motif-motif dasar diri
    seorang karyawan.
  2. Motivasi sekunder
    Motivasi sekunder yaitu motivasi yang dipelajari atau yang diberikan dari
    orang lain.
    Berbeda lagi dengan yang disampaikan Hezzberg (2015:74), membagi
    motivasi menjadi dua bentuk yaitu:
  3. Motivasi instrinsik
    Motivasi yang timbul dari dalam pekerjaan, yang mana motivasi ini
    diberikan dari teman kerja, atasan, dan perusahaan itu sendiri.
  4. Motivasi ekstrinsik
    Motivasi yang timbul dari luar pekerjaan, yang mana motivasi ini bisa
    diberikan dari keluarga dan teman dan faktor lingkungan setempat yang
    diberikan oleh orang sekitar

Indikator-indikator Gaya Kepemimpinan


Garyl Yuki (2015:306) menyebutkan ciri-ciri kepemimpinan adalah
sebagai berikut:
a. Pendidikan umum yang luas. Memiliki pengetahuan yang luas baik
yang didapat secara formal maupun nonformal.
b. Kemampuan analisis. Pimpinan mampu menganalisa dalam
menentukan langkah-langkah dalam pencapaiantujuan.
c. Keterampilan berkomunikasi. Memiliki kemampuan berkomunikasi
yang baik dalam penyampaian perintah kepada para bawahan atau
pegawai.
d. Rasionalitas dan objektivitas. Pimpinan dalam menentukan tujuan
haruslah bersifat rasional dan dalam menilai para bawahannya
hendaknya bersifat objektif.
e. Programatis. Pimpinan dalam menyusun langkah-langkah dalam
proses pencapaian tujuan haruslah terprogram, tersusun dan
terkonsep.
f. Kesederhanaan. Pimpinan hendaknya mampu memberikan contoh
dengan kesederhanaan terhadap para pegawai agar tidak terlaluroyal.
g. Keberanian mengambil keputusan. Dalam pelaksanaan pengambilan
keputusan pimpinan berani mengambil resiko.
h. Kemampuan mendengar saran-saran. Pimpinan yang demokratis
harus mau mendengarkan bawahannya agar terhindar dari
sifatotoriter.
i. Adaptabilitas dan fleksibilitas. Seorang pemimpin harus bisa
beradaptasi dengan lingkungannya agar mampu menciptakan
lingkungan kerja yang kondusif.
j. Ketegasan dalam bertindak. Seorang pemimpin dalam pengambilan
keputusan harus bersikap tegas tanpa kompromi agar disegani oleh
para bawahannya.
Sedangkan menurut Kartini Kartono (2008), indikator-indikator dalam gaya
kepemimpinan adalah sebagai berikut:
a. Sifat seorang pemimpin sangat berpengaruh dalam gaya
kepemimpinan untuk menentukan keberhasilannya menjadi seorang
pemimpin yang berhasil, serta ditentukan oleh kemampuan pribadi
pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas
seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
b. Kebiasaan memegang peranan utama dalam gaya kepemimpinan
sebagai penentu pergerakan prilaku seorang pemimpin yang
menggambarkan segala tindakan yang dilakukan sebagai pemimpin
yang baik.
c. Tempramen adalah gaya prilaku seorang pemimpin dan cara khasnya
dalam memberi tanggapan, dalam berinteraksi dengan orang lain.
Beberapa pemimpin bertempramen aktif, sedangkan yang lainnya
tenang. Deskripsi ini menunjukkan adanya variasi tempramen.
d. Watak seorang pemimpin yang lebih subjektif dapat menjadi
penentu bagi keunggulan seorang pemimpin dalam mempengaruhi
keyakinan (determination), ketekunan (persistence), daya tahan
(endurance), keberanian (courage).
e. Kepribadian seorang pemimpin menentukan keberhasilannya, yang
ditentukan oleh sifat-sifat/karakteristik kepribadian yang dimilikinya
Jadi, berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti telah menentukan
indikator-indikator yang akan dijadikan sebagai variabel Gaya
Kepemimpinan yaitu Sifat, Kebiasaan, Tempramen, Watak

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Istilah pemimpin dan kepemimpinan tentu sudah tak asing lagi dalam
dunia kerja, bahkan bukan hanya dunia kerja saja yang berhubungan dengan
pemimpin dan kepemimpinan akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam sebuah keluarga pun secara tidak sadar kita dikenalkan dengan
pemimpin dan kepemimpinan. Berbicara tentang kepemimpinan tak terlepas
dari kata pemimpin, dimana kepemimpinan itu sendiri berasal dari kata
pemimpin. Istilah pemimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan
seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan
berbagai cara.
Gaya Kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan
untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula
dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang
disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.Gaya kepemimpinan
yang menunjukkan, secara langsung maupun tidak langsung, tentang
keyakinan seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya.Artinya gaya
kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari
falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin
ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya Rivai (2014:42).
Menurut Kartono (2008), gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan,
tempramen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin
dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka dapat dipahami bahwa
kepemimpinan merupakan suatu prosesmempengaruhi orang lain yang
menyebabkan seseorang berbuat atau bergerak kearah aktivitas dan tujuan
tertentu.
Gaya kepemimpinan demokrartis pada umumnya berasumsi bahwa
pendapat orang banyak lebih baik dari pendapatnya sendiri dan adanya
partisipasi akan menimbulkan tanggung jawab bagi pelaksanaanya. Asumsi
lain bahwa partisipasi memberikan kesempatan kepada para anggota untuk
mengembangkan diri para karyawannya sehingga para karyawan dapat terus
inovatif dan kreatif Rivai (2015:43) menyatakan bahwa terdapat beberapa
karakteristik yang dimiliki seseorang pemimpin demokratis adalah senang
menerima saran dan pendapat bahkan kritikan dari karyawannya; selalu
berusaha mengutamakan kerja sama (teamwork) dalam usaha pencapaian
tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada karyawan
berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi
berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar karyawan tidak berbuat
kesalahan yang sama, tetapi lebih berani berbuat ke-salahan yang lain, selalu
berusaha untuk meenjadikan karyawan lebih sukses daripada pemimpinnya,
dan berusaha untuk mengembangkan kapasitas diri sebagai pemimp

Faktor-faktor Kinerja


Faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan baik hasil maupun perilaku kerja
menurut Kasmir (2016 : 189-193) yaitu :

  1. Kemampuan dan keahlian Merupakan kemampuan atau skill yang dimilki
    seseorang dalam suatu pekerjan. Semakin memiliki kemampuan dan keahlian
    maka akan dapat menyelesaikan pekerjaannya secara benar, sesuai dengan yang
    telah ditetapkan.
  2. Pengetahuan Maksudnnya adalah pengetahuan tentang pekerjaan. Seseorang
    yang memiliki pengetahuan tentang pekerjaan secara baik akan memberikan hasil
    pekerjaan yang baik, demikian pula sebaliknya.
  3. Rancangan kerja Merupakan rancangan pekerjaan yang akan memudahkan
    karyawan dalam mencapai tujuannya. Artinya jika suatu pekerjaan memiliki
    rancangan 18 yang baik, maka akan memudahkan untuk menjalankan pekerjaan
    tersebut secara tepat dan benar.
  4. Kepribadian Yaitu kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki
    seseorang. Setiap orang memiliki kepribadian atau karekter yang berbeda satu
    sama lainnya. Seseorang yang memiliki kepribadian atau karakter yang baik, akan
    dapat melakukan pekerjaan secara sungguh-sungguh penuh tanggung jawab
    sehingga hasil pekerjaannya juga baik.
  5. Motivasi kerja Motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang untuk
    melakukan pekerjaan. Jika memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau
    dorongan dari luar dirinya, maka karyawan akan terangsang atau terdorong untuk
    melakukan sesuatu dengan baik.
  6. Kepemimpinan Kepemimpianan merupakan perilaku seseorang pemimpin
    dalam mengatur, mengelola dan memerintah bawahannya untuk mengerjakan
    suatu tugas dan tanggung jawab yang diberikannya.
  7. Gaya kepemimpinan Merupakan gaya atau sikap seseorang pemimpin dalam
    mengahadapi atau memerintahkan bawahannya.
  8. Budaya organisasi Merupakan kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang
    berlaku dan dimilik suatu organisasi atau perusahaan. Kebiasaan-kebiasaan atau
    norma- 19 norma ini mengatur hal-hal yang berlaku dan diterima secara umum
    serta harus dipatuhi oleh segenap anggota suatu perusahaan.
  9. Kepuasan kerja Merupakan perasaan senang atau gembira, atau perasaan suka
    seseorang sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan. Jika karyawan merasa
    senang atau gembira atau suka untuk bekerja, maka hasil pekerjaannya pun akan
    berhasil baik.
  10. Lingkungan kerja disekitar Merupakan suasana atau kondisi lokasi tempat
    bekerja. Lingkungan kerja dapat berupa ruangan, layout, sarana dan prasana, serta
    hubungan kerja dengan sesama rekan kerja. Jika lingkungan kerja dapat membuat
    suasana nyaman dan memberikan ketenangan maka akan membuat suasana kerja
    menjadi kondusif, sehingga dapat meningkatkan hasil kerja seseorang menjadi
    lebih baik, karena bekerja tanpa gangguan. Namun sebaliknya jika suasana atau
    kondisi lingkukngan kerja tidak memberikan kenyamanan atau ketenangan, maka
    akan berakibat suasana kerja menjadi terganggu yang pada akhirnya akan
    mempengaruhi dalam bekerja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
    lingkungan kerja memengaruhi kinerja seseorang.
  11. Loyalitas Merupakan kesetiaan karyawan untuk tetap bekerja dan membela
    perusahaan dimana tempatnya bekerja.
  12. Komitmen 20 Merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan
    atau peraturan perusahaan dalam bekerja.
  13. Disiplin kerja Merupakan usaha karyawan untuk menjalankan aktivitas
    kerjanya secara sungguh-sungguh.Disiplin kerja dalam hal ini dapat berupa
    waktu, misalnya masuk kerja selalu tepat waktu. Kemudian disiplin dalam
    mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya sesuai dengan perintah yang
    harus dikerjakan

Pengertian Kinerja


Pengertian Kinerja adalah hasil-hasil fungsi pekerjaan seseorang atau
sekelompok dalam suatu periode waktu tertentu yang merefleksikan seberapa baik
seseorang atau kelompok tersebut memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan dalam
usaha pencapaian tujuan organisasi (Bernardin dan Russell, 2002). Menurut
Mangkunegara (2016:67), kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja merupakan hasil kerja
dan perilaku kerja yang telah dicapai dalam menyelesaikan tugas-tugas dan
tanggung jawab yang diberikan dalam suatu periode tertentu. Meningkatnya
kinerja perorangan (individual performance) maka kemungkinan besar juga akan
meningkatkan kinerja perusahaan (coorporate performance) karena keduanya
mempunyai hubungan yang erat Kasmir (2016 : 182).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil
kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi
atau perusahaan secara kualitas dan kuantitas pada periode tertentu yang
merefleksikan seberapa baik seseorang atau kelompok tersebut memenuhi
persyaratan sebuah pekerjaan dalam usaha pencapaian tujuan organisasi atau
perusahaan.

Kinerja Karyawan


Kinerja (perfomance) mengacu pada sebuah pencapaian tugas-tugas
yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan. Kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya (Mangkunegara, 2013). Istilah kinerja berasal dari kata Job
Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi
sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Robbins (2008)
mendefinisikan kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam
pekerjaanya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
karyawan sehingga mereka mempengaruhi seberapa banyak mereka
memberi kontribusi kepada instansi atau organisasi termasuk kualitas
pelayanan yang disajikan. Berhasil tidaknya kinerja yang dicapai
organisasi tersebut dipengaruhi kinerja karyawan secara individual
maupun kelompok. Dengan asumsi semakin baik kinerja karyawan maka
semakin baik kinerja organisasi.
Indikator Kinerja Karyawan:
Menurut Mangkunegara (2013) mengemukakan ada beberapa indikator
dari kinerja yang meliputi :
a. Kualitas kerja yaitu seberapa baik karyawan melakukan pekerjaannya.
b. Kuantitas kerja yaitu seberapa lama karyawan melakukan
pekerjaannya dalam satu harinya.
c. Pelaksanaan tugas yaitu seberapa jauh karyawan dapat menyelesaikan
pekerjaannya dengan akurat atau tanpa kesalahan.
d. Tanggung jawab atas pekerjaan yaitu kesadaran akan pekerjaan yang
diberikan kepada karyawan dalam melaksanakan pekerjaan.
Adapun menurut Bernardin (2001) dalam Sudarmanto (2015)
menyampaikan ada 6 kriteria dasar atau dimensi untuk mengukur kinerja
yaitu :
a. Quality, berkaitan dengan hasil mendekati sempurna.
b. Quantity, terkait dengan satuan jumlah yang atau kuantitas yang
dihasilkan.
c. Timeliness, terkait dengan waktu yang diperlukan dalam
menyelesaikan aktivitas atau menghasilkan produk.
d. Cost-effectiveness, terkait dengan tingkat penggunaan sumber-sumber
organisasi (uang,orang,material,teknologi) dalam mendapatkan atau
memperoleh hasil atau pengurangan pemborosan dalam penggunaan
sumber-sumber organisasi.
e. Need for supervision, terkait dengan kemampuan individu dapat
menyelesaikan pekerjaan atau fungsi-fungsi pekerjaan tanpa asistensi
pimpinan atau intervensi pengawasan pimpinan.
f. Interpersonal impact, terkait dengan keinginan individu dalam
meningkatkan kerjasama diantara sesama pekerja dan anak buah.
Adapun dimensi yang dapat dijadikan tolok ukur dalam penilaian
kinerja menurut Miner (1988) dalam Sudarmanto (2015) yaitu :
a. Kualitas
b. Kuantitas
c. Penggunaan waktu dalam bekerja
d. kerjasama dengan orang lain dalam bekerja

Motivasi


Dalam kehidupan berorganisasi, pemberian dorongan sebagai
bentuk motivasi kerja kepada bawahan penting dilakukan untuk
meningkatkan kinerja karyawan. Robbins dalam Hasibuan (1999)
mengemukakan motivasi sebagai suatu kerelaan berusaha seoptimal
mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh
kemampuan usaha memuaskan beberapa kebutuhan. Motivasi seringkali
disamakan dengan dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan
gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motivasi tersebut
merupakan driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah
laku dan perbuatan itu mempunyai tujuan tertentu.
Teori-Teori Motivasi
a) Teori Abraham Maslow
Teori motivasi Abraham maslow (Robins,2015) mengatakan
bahwa di dalam diri semua manusia bersemayam lima jenjang
kebutuhan, yaitu sebagai berikut:

  1. Fisiologis: antara lain rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian
    dan perumahan), seks, dan kebutuhan jasmani lain.
  2. Keamanan: antaranya keselamatan dan perlindungan atas kerugian
    fisik dan emosional.
  3. Sosial: mencakup kasih saying, rasa memiliki, diterima -baik, dan
    persahabatan.
  4. Penghargaan: mencakup faktor penghormatan diri seperti harga
    diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor dari luar misalnya status,
    pengakuan, dan perhatian.
  5. Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi seseorang/sesuatu
    sesuai ambisinya yang mencakup pertumbuhan, pencapaian
    potensi, dan pemenuhan kebutuhan diri.
    b) Teori David McClelland
    Teori McClelland (Robins,2015) mengatakan 3 poin, yaitu:
  6. Kebutuhan akan prestasi: Dorongan untuk mengungguli,
    berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat
    untuk sukses.
  7. Kebutuhan akan kekuasaan: kebutuhan untuk membuat orang lain
    berperilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu [tanpa dipaksa]
    tidak akan berperilaku demikian.
  8. Kebutuhan akan afiliasi: hasrat untuk hubungan antar-pribadi yang
    ramah dan akrab.
    c) Teori X dan Y
    a. Teori X berasumsi bahwa para pekerja tidak suka bekerja, malas,
    tidak menyukai tanggung jawab, dan harus dipaksa untuk
    mengerjakan.
    b. Teori Y berasumsi bahwa para pekerja suka bekerja, kreatif,
    mencari tanggung jawab, dan dapat menyodorkan diri sendiri
    dalam melakukan pekerjaannya.
    d) Teori Dua Faktor dari Herzberg
    Teori dua factor adalah suatu teori yang mengaitkan faktor-faktor
    intrinsik dengan kepuasan kerja dan menghubungkan factor ekstrinsik
    dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Hertzberg, factor-faktor yang
    mengarahkan pada kepuasan pekerjaan adalah terpisah dan berbeda
    dari factor-faktor yang mengarahkan pada ketidakpuasan pekerjaan.
    e) Teori ERG Alderfer
    Alderfer mengidentifikasi tiga kelompok kebutuhan :
  9. Kebutuhan eksistensi : berhubungan dengan kelangsungan hidup
    (kesejahteraan fisiologis).
  10. Kebutuhan hubungan : menekankan pentingnya hubungan sosial
    atau hubungan antar pribadi.
  11. Kebutuhan perkembangan : berhubungan dengan keinginan
    intrinsik individu terhadap perkembangan pribadi.

Prinsip Disiplin Kerja


Husein (2000:39) berpendapat bahwa seorang pegawai yang dianggap
melaksanakan prinsip-prinsip disiplin kerja apabila ia melaksanakan hal-hal
sebagai berikut :

  1. Hadir di tempat kerja sebelum waktu mulai bekerja.
  2. Bekerja sesuai dengan prosedur maupun aturan kerja dan peraturan
    organisasi.
  3. Patuh dan taat kepada saran maupun perintah atasan.
  4. Ruang kerja dan perlengkapan selalu dijaga dengan bersih dan rapih.
  5. Menggunakan peralatan kerja dengan efektif dan efisien.
  6. Menggunakan jam istirahat tepat waktu dan meninggalkan tempat setelah
    lewat jam kerja.
  7. Tidak pernah menunjukkan sikap malas kerja.
  8. Selama kerja tidak pernah absen/tidak masuk kerja dengan alasan yang
    tidak tepat, dan hampir tidak pernah absen karena sakit

Usaha – usaha menegakan kedisiplinan


Menurut Farida dan Hartono (45:2016) usaha usaha yang dapat
dilakukan dalam menegakkan kedisiplinan adalah :

  1. Menetapkan peraturan yang mengikat, maksudnya adalah bahwa
    organisasi harus mempunyai peraturan dan tata tertib kerja yang
    disertai dengan tindakan disipliner bagi mereka yang melanggar.
  2. Mengadakan pengawasan yang cukup
    Dengan dilaksanakannya pengawasan yang cukup, akan menjamin
    terealisasinya target produksi sesuai dengan rencana organisasi,
    mengingat hal ini pengawas selalu memantau dan meninjau kembali
    perkembangan hasil kerja karyawan dari hari ke har

Kedisiplinan


Menurut Hasibuan (2006) kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan
sesorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yg
berlaku.
(https://en.wikipedia.org/wiki/Discipline). ”Discipline is action or
inaction that is regulated to be in accordance or to achieve accord”. Disiplin
adalah tindakan yang diatur agar sesuai atau untuk mencapai kesepakatan.
(http://www.businessdictionary.com/definition/discipline.html).
“ employee discipline is defined as the regulations or conditions that are
imposed on employees by management in order to either correct or prevent
behaviors that are detrimental to an organization”. Disiplin karyawan
didefinisikan sebagai aturan atau ketentuan yang diberlakukan pada karyawan
oleh manajemen untuk mencegah perilaku

Bentuk – Bentuk Komunikasi


Menurut Effendy (2000 : 17) Bentuk – bentuk komunikasi adalah
sebagai berikut :

  1. Komunikasi vertikal
    Komunikasi vertikal adalah suatu komunikasi dari atas ke bawah serta
    juga dari bawah ke arah atas atau juga komunikasi dari pimpinan ke
    bawahan atau juga dari bawahan ke pimpinan dengan secara timbal
    balik. komunikasi vertikal yang terjadi secara formal
  2. Komunikasi horisontal
    Komunikasi horisontal adalah suatu komunikasi dengan secara
    mendatar, sebagai contoh komunikasi antara karyawan dengan
    karyawan yang lainnya serta juga komunikasi ini sering sekali
    berlangsung tidak formal.
  3. Komunikasi diagonal
    Komunikasi diagonal sering juga disebut dengan komunikasi silang
    adalah seseorang dengan orang yang lain yang satu dengan yang
    lainnya juga yang berbeda dalam kedudukan serta juga bagian

Fungsi Komunikasi


Menurut Robbins (2002 : 310). Fungsi komunikasi adalah :
a. Kendali : komunikasi bertindak untuk mengendalikan prilaku anggota
dalam beberapa cara, setiap organisasi mempunyai wewenang dan garis
panduan formal yang harus dipatuhi oleh karyawan.
b. Motivasi:komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan
menjelaskan kepada para karyawan apa yang harus dilakukan bagaimana
mereka bekerja baik dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki
kinerja jika itu dibawah standar.
c. Pengungkapan emosional : bagi banyak karyawan kelompok kerja mereka
merupakan sumber utama untuk interaksi sosial, komunikasi yang terjadi
di dalam kelompok itu merupakan mekanisme fundamental dengan mana
anggota-anggota menunjukkan kekecewaan dan rasa puas mereka oleh
karena itu komunikasi menyiarkan ungkapan emosional dari perasaan dan
pemenuhan kebutuhan sosial.
d. Informasi :komunikasi memberikan informasi yang diperlukan individu
dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan meneruskan data guna
mengenai dan menilai pilihan-pilihan alternati

Komunikasi Organisasi


Menurut Muhammad (2009) dalam Situmeang (2016:4) Komunikasi
organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di
dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi.

  1. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh itu sendiri dan
    sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja
    didalam organisasi,produktifitas, dan berbagai pekerjaan yang harus
    dilakukan oleh organisasi.
  2. Komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial.
    Orientasi bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara
    individual. Komunikasi dalam organisasi juga dapat diartikan sebagai
    komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para
    karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitanya dengan organisasi,
    dalam rangka pembinaan kerja sama yang sesrasi untuk mencapai tujuan
    dan sasaran organisasi.
    Menurut Goldhaber (Muhammad 2009) “organizational
    communications is the process of to cope with environmental uncentainty”.
    Komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan bertukar pesan dengan
    dalam jaringan hubungan saling tergantung untuk mengatasi ketidakpastian
    lingkungan.
    Menurut Pace & Faules (2001:31) Komunikasi organisasi merupakan
    perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat
    dalam proses itu bertransaksi dan memberi makna atas apa yang terjadi.
    Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi
    organisasi merupakan perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana
    mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi di dalam organisasi

Karakteristik Kepemimpinan


Menurut Davis yang dikutip oleh Reksohadiprojo dan Hantodo dalam
Situmeang (2016 :74) karakteristik kepemimpinan yang harus dimiliki
seorang pemimpin adalah :

  1. Kecerdasan, penelitian pada umumnya menunjukan bahwa seorang
    pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari pada
    pengikutnya, tetapi tidak sangat berbeda
  2. Kedewasaan, social dan hubungan social yang luas, pemimpin cenderung
    mempunyai tingkat emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta
    mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas
  3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi, pemimpin secara relative
    mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi, mereka bekerja
    keras lebih untuk nilai instrinsik
  4. Sikap sikap hubungan manusiawi, sesorang pemimpin yang suka aka
    memngakui harga diri dan martabat pengikut pengikutnya, mempunyai
    perhatian yang tinggi dan berorientasi pada bawahanya

Indikator Kinerja Karyawan

Indikator kinerja digunakan untuk meyakini bahwa kinerja yang terliahan
di setiap harinya menunjukan kemapuan untuk mencapai tujuan perusahaan
dimana dia berkerja. Indikator kinerja Menurut Bangun (2012, p. 234) untuk
mengukur kinerja dapat menggunakan indikator sebagai berikut.

  1. Jumlah pekerjaan.
    Menunjukkan jumlah pekerjaan yang dihasilkan individu atau kelompok
    sebagai persyaratan yang menjadi standar pekerjaan.
  2. Kualitas pekerjaan.
    Setiap pegawai dalam suatu instansi harus memenuhi persyaratan tertentu
    untuk dapat menghasilkan pekerjaan sesuai kualitas yang dituntut suatu
    pekerjaan tertentu.
  3. Ketetapan Waktu.
    Setiap pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda, untu jenis pekerjaan
    tertentu harus diselesaiakan tepat waktu, karena memiliki ketergantungan atas
    pekerjaan lainnya.
  4. Kehadiran.
    Suatu jenis pekerjaan tertentu menuntut kehadiran pegawai dalam
    mengerjakannya sesuai waktu yang ditentukan

Metode Penilaian Kinerja


Untuk Melakukan suatu penilaian kinerja dibutuhkan metode penilaian
yang memiliki tingkat dan analisa yang represif. Menurut Daryanto (2017, p. 68)
ada dua kategori dasar dari metode penilaian yang sering digunakan dalam
organisasi adalah metode objektif dan metode pertimbangan.

  1. Metode Objektif (Objective Method)
    Menyangkut dengan sejauhmana seseorang bisa bekerja dan menunjukkan
    bukti kemampuan dia bekerja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
    Bagi banyak pihak metode objektif bisa memberikan hasil yang tidak begitu
    akurat karena bisa saja seorang karyawan memiliki kesempatan yang bagus
    maka dia terlihat mampu bekerja dengan sangat baik dan penuh semangat,
    sedangkan ada karyawan tidak memiliki kesempatan dan dia tidak bisa
    menunjukkan kemampuannya secara maksimal.
  2. Metode Pertimbangan (Judgement Method)
    Adalah metode penilaian berdasarkan nilai rangking yang dimiliki oleh
    seorang karyawan, jika dia memiliki nilai rangking yang tinggi maka artinya
    dia memiliki kualitas kinerja yang bagus, dan begitu pula sebaliknya. Sistem
    penilaian rangking ini dianggap memiliki kelemahan jika seorang karyawan
    ditempatkan dalam kelompok kerja yang memiliki rangking yang bagus,
    maka penilaiannya akan memengaruhi posisinya sebagai salah satu karyawan
    yang dianggap baik, begitu pula sebaliknya jika seorang karyawan
    ditempatkan dalam kelompok dengan rangking buruk maka otomatis
    rangkingnya juga tidak bagus

Penilaian Kinerja Karyawan


Penilaian terhadap kinerja dapat memotivasi karyawan agar terdorong
untuk bekerja lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan penilaian kerja yang tepat
dan konsisten. Proses penilaian kinerja ini ditunjukkan untuk memahami kinerja
seseorang. Menurut Daryanto (2017, p. 124) Tahapan pada proses penilaian
meliputi:

  1. Identifikasi
    Identifikasi merupakan tahapan awal dari proses yang terdiri atas penentuan
    unsur-unsur yang akan diamati. Kegiatan ini diawali dengan melakukan
    analisis pekerjaan agar dapat mengenali unsur-unsur yang akan dinilai dan
    dapat mengembangkan skala penilaian. Apa yang dinilai adalah yang
    berkaitan dengan pekerjaan, bukan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
  2. Observasi
    Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara seksama dan
    periodic.Semua unsur yang dinilai harus diamati secara seksamaagar dapat
    dibuat penilaian yang wajar dan tepat. Observasi yang jarang dilakukan dan
    tidak berkaitan dengan kinerja akan menghasilkan penilaian sesaat dan tidak
    akurat.
  3. Pengukuran
    Dalam pengukuran, para penilai akan memberikan penilaian terhadap tingkat
    kinerja karyawan yang didasarkan pada hasil pengamatan pada tahap
    observasi.
  4. Pengembangan
    Pihak penilai selain memberikan penilaian terhadap jinerja pegawai juga
    melakukan pengembangan apabila ternyata terdapatperbedaan antara yang
    diharapkan oleh pimpinan dengan hasil kerja karyawan

Faktor-Faktor yang Dipengaruhi Kinerja


Menurut Kasmir (2016, p. 195) ada beberapa factor yang dipengaruhi
kinerja baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai berikut.

  1. Kompensasi
    Merupakan balas jasa yang diberikan perusahaan kepada pegawainya.
    Pegawai yang memiliki kinerja yang baik tentu akan memperoleh balas jasa
    misalnya dengan kenaikan gaji atau tunjangan lainnya.
  2. Jenjang Karier
    Merupakan penghargaan yang diberikan perusahaan kepada seseorang.
    Pegawai yang memiliki prestasi atau kinerja yang baik tentu akan diberikan
    peningkatan karier.
  3. Citra Pegawai
    Citra pegawai merupakan pandangan terhadap seseorang atau pegawai,
    karena telah melakukan sesuatu. Artinya dengan memiliki kinerja yang baik,
    seseorang akan diberikan penghargaan dan tentu saja orang– orang akan
    memandangnya dengan pujian dan menjadi suri tauladan

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kinerja


Menurut Kasmir (2016, p. 188) faktor–faktor yang memengaruhi kinerja
adalah sebagai berikut.

  1. Kemampuan dan keahlian yaitu merupakan kemampuan atau skill yang di
    miliki seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
  2. Pengetahuan yaitu merupakan pengetahuan tentang pekerjaan
  3. Rancangan kerja yaitu merupakan pekerjaan yang akan memudahkan
    karyawan dalam mencapai tujuannya
  4. Kepribadian yaitu merupakan kepribadian seseorang atau karakter yang
    dimilki seseorang setiap orang memiliki kepribadian atau karakter yang
    berbeda satu sama lainnya.
  5. Motivasi kerja yaitu merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan
    pekerjaan.
  6. Kepemimpinan yaitu merupakan perilaku seseorang pemimpin dalam
    mengatur, mengelola dan memerintah bawahannya untuk mengerjakan
    sesuatu tugas dan tanggung jawab yang diberikannya.
  7. Gaya kepemimpinan yaitu merupakan gaya atau sikap seseorang pemimpin
    dalam menghadapi atau memerintahkan bawahannya.
  8. Budaya organisasi yaitu merupakan kebiasaan – kebiasaan atau norma –
    norma yang berlaku dan dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan.
  9. Kepuasan kerja yaitu merupakan perasaan senang atau gembira atau perasaan
    suka seseorang sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan.
  10. Lingkungan kerja yaitu merupakan suasana atau kondisi di sekitar lokasi
    tempat bekerja. Lingkungan kerja dapat berupa ruangan, layout, sarana dan
    prasarana, serta hubungan kerja dengan sesama rekan kerja.
  11. Loyalitas yaitu merupakan karyawan untuk tetap bekerja dan membela
    perusahaan di mana tempatnya bekerja.
  12. Komitmen yaitu merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan
    kebijakan atau peraturan perusahaan dalam bekerja.
  13. Disiplin kerja yaitu merupakan usaha karyawan untuk menjalankan aktivitas
    kerjanya secara bersungguh–sungguh

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Mangkunegara (2016, p. 67) bahwa “Kinerja diartikan sebagai
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya”.
Sedangkan menurut Afandi (2018, p. 84) bahwa “Kinerja adalah sejauh
mana seseorang telah memainkan baginya dalam melaksanakan strategi
organisasi, baik dalam mencapai sasaran khusus yang berhubungan dengan peran
perorangan dan atau dengan memperlihatkan kompetensi yang dinyatakan relevan
bagi perusahaan”.
Menurut Irham (2016, p. 226) bahwa “Kinerja adalah hasil yang diperoleh
oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat mengutumakan keuntungan
dan tidak menutamakan keuntungan yang dihasilkan selama satu periode waktu”.
Lebih lanjut menurut Kasmir (2016, p. 181) bahwa “Kinerja adalah hasil
kerja dan prilaku kinerja yang telah dicapai dalam menyelesaikan tugas-tugas dan
tanggunjawab yang diberikan dalam satu periode tertentu”.

Kinerja Karyawan


Tujuan sebuah perusahaan adalah untuk terus bertahan hidup dan
memperoleh keuntungan disetiap periodenya, keuntungan dan kelangsungan
hidup perusahaan akan tercipta manakala perusahaan mampu memiliki sebuah
sistem dan manajemen yang baik dan di dukung oleh kualitas yang baik dari
kinerja para karyawannya. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan
kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya
memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan karena tanpa pemahaman
yang jelas, seseorang tidak dapat mengerti tentang apa yang akan dikerjakan dan
bagaimana mengerjakannya.

Indikator Motivasi Kerja


Menurut Afandi (2018, p. 53) menyatakan bahwa motivasi adalah
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mereka mampu bekerjasama, bekerja efektif, dan terintegritas dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan. Motivasi adalah suatu yang pokok yang
menjadikan dorongan bagi seseorang untuk bekerja, adapun beberapa Indikator
motivasi kerja yaitu:

  1. Kebutuhan Fisik, kebutuhan akan fasilitas penunjang yang di dapat di tempat
    kerja, misalnya fasilitas penunjang untukmempermudah penyelesaian tugas
    dikantor.
  2. Kebutuhan rasa aman, kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman ini, diataranya
    adalah rasa aman fisik, stailitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan
    dari daya daya mengancam seperti : takut, cemas, bahaya.
  3. Kebutuhan sosial, kebutuhan yang harus dipenuhi berdasarkan kepentingan
    bersama dalam masyarakat, kebutuhan tersebut dipenuhi bersama-sama,
    contohnya interaksi yang baik antar sesama.
  4. Kebutuhan akan penghargaan kebutuhan akan penghargaan atas apa yang
    telah dicapai oleh seseorang, contohnya kebutuhan akan status, kemuliaan,
    perhatian, reputasi.
  5. Kebutuhan dorongan mencapai tujuan, kebutuhan akan dorongan untuk
    mencapai sesuatu yang diinginkan, misalnya motivasi dari pimpinan.

Pendorong Motivasi Kerja


Newstrom dalam Wibowo (2014, p. 123) melihat sebagai dorongan
motivasi bersumber pada penelitian Mc Celland yang memfokus pada dorongan
untuk achievement, affiliation dan power.

  1. Achievement Motivation
    Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang dimiliki banyak orang untuk
    mengejar dan mencapai tujuan menantang.
  2. Affiliation Motivation
    Motivasi untuk berafiliasi merupakan suatu dorongan untuk berhubungan
    dengan orang atas dasar sosial, bekerja dengan orang yang cocok dan
    berpengalaman dengan perasaan sebagai komunitas.
  3. Power Motivation
    Motivasi akan kekuasaan merupakan suatu dorongan untuk memengaruhi
    orang, melakukan pengawasan dan merubah situasi.
    Pendapat lain dari Mc Shane dan Von Glinow dalam Wibowo (2014, p.
    124) adalah bahwa sebagai pendorong motivasi adalah:
  4. Employee Drives, sering dinamakan kebutuhan primer atau motif bawaan.
    Drives adalah penggerak utama perilaku yang membangkitkan emosi, yang
    menempatkan orang pada tingkat kesiapan untuk bertindak dalam lingkungan
    mereka.
  5. Needs, kekuatan yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang dialami orang.
    Needs merupakan kekuatan motivasional emosi dihubungkan pada tujuan
    tertentu untuk mengkoreksi kekurangan dan ketidakseimbangan

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Afandi (2018, p. 52) menyatakan bahwa “Motivasi adalah
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mereka mampu bekerjasama, bekerja efektif, dan terintegritas dengan segala daya
upayanya untuk mencapai kepuasan”.
Menurut Sedarmayanti (2017, p. 157) bahwa “Motivasi merupakan
kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau tidak
yang pada hakikatnya ada secara internal dan eksternal positif atau negarif,
motivasi kerja adalah suatu yang menimbulkan dorongan/semangat
kerja/pendorong semangat kerja”.
Motivasi kerja menurut McClelland yang diterjemahkan Priansyah (2015,
p. 161) adalah “Seperangkat kekuatan baik yang berasal dari dalam diri maupun
dari luar diri seseorang yang mendorong untuk memulai berperilaku kerja sesuai
dengan format, arah, intensitas dan jangka waktu tertentu”

Faktor-Faktor Lingkungan Kerja


Menurut Wijaya (2017, p. 108), ada beberapa faktor-faktor yang
memengaruhi lingkungan kerja tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Hubungan sosial
    Hubungan seorang karyawan dengan karyawan lain dan pimpinan terjalin
    dengan baik, maka dapat membuat karyawan merasa nyaman berada di
    lingkungan kerjanya. Dengan begitu kinerja karyawan akan meningkat dan
    tujuan organisasi bisa dicapai.
  2. kelembaban
    Udara yang panas dan kelembaban tinggi akan menimbulkan pengurangan
    panas dari tubuh secara besar-besaran (karena sistem penguapan). Sehingga
    memengaruhi semakin cepatnya denyut jantung, karena makin aktifnya
    peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
  3. Bau
    Pemakaian AC yang tepat dapat menghilangkan bau yang mengganggu
    disekitar.
  4. Siklus udara
    Udara normal mengndung 21% oksigen, 0,03% karbondioksida, dan 0,9%
    gas campuran. Siklus udara yang tidak baik apabila terdapat gejala sesak
    nafas pada tubuh orang normal. Maka siklus udara yang baik adalah ventilasi
    cukup dan tanaman.
  5. Penerangan
    Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna
    mendapatkan keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan pekerjaan.
    Oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang
    tetapi tidak menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas, sehingga pekerjaan akan
    lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada akhirnya menyebabkan
    kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan.
  6. Kebersihan
    Setiap perusahaan seharusnya selalu menjaga kebersihan lingkungan sebab
    selain memengaruhi kesehatan, dapat memengaruhi kejiwaan seseorang.
    Lingkungan kerja yang bersih pasti akan menimbulkan rasa senang bagi
    karyawan. Rasa senang ini dapat memengaruhi seseorang untuk bekerja lebih
    semangat dan bergairah.
  7. Keamanan
    Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan
    aman maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu upaya untuk
    menjaga keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga manusia
    (satpam) dan elektronik (CCTV).
  8. Getaran Mekanis
    Getaran dipengaruhi oleh intensitas, frekuensi, dan lamanya getaran. Getaran
    yang tidak baik ditandai dengan adanya gejala konsentrasi menurun,
    kelelahan, dan gangguan mata, syaraf dan otot.

Indikator- Indikator Lingkungan Kerja


Indikator-indikator lingkungan kerja menurut Afandi (2018, p. 70) adalah
sebagai berikut.

  1. Pencahayaan
    Cahaya penerangan yang cukup memancarkan dengan tepat akan menambah
    efisiensi kerja para karyawan, karena mereka dapat bekerja dengan lebih
    cepat lebih sedikit membuat kesalahan dan matanya tak lekas menjadi lelah.
  2. Warna
    Warna merupakan salah satu faktor yang penting untuk memperbesar
    efisiensi kerja para karyawan, khususnya warna akan memengaruhi keadaan
    jiwa mereka dengan memakai warna yang tepat pada dinding ruang dan alat-
    alat lainnya kegembiraan dan ketenangan bekerja para karyawan akan
    terpelihara.
  3. Udara
    Mengenai faktor udara ini, yang sering sekali adalah suhu udara dan
    banyaknya uap air pada udara itu.
  4. Suara
    Untuk mengatasi terjadinya kegaduhan, perlu kiranya meletakkan alat-alat
    yang memiliki suara yang keras, seperti mesin ketik pesawat telepon, parkir
    motor, dan lain-lain. Pada ruang khusus, sehingga tidak mengganggu pekerja
    lainnya dalam melaksanakan tugasnya.

Pengertian Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja menurut Afandi (2018, p. 66) adalah “Sesuatu yang ada
dilingkungan para pekerja yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperatur, kelembaban, pentilasi, penerangan, kegaduhan,
kebersihan tempat kerja, dan memadai tidaknya alat-alat perlengkapan kerja.
Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai keseluruhan alat perkakas yang
dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seorang pekerja, metode kerjanya,
sebagai pengaruh kerjanya baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok”.
Menurut Sedarmayanti (2017, p. 60) bahwa “Lingkungan kerja adalah
suatu tempat bagi sejumlah kelompok di mana di dalamnya terdapat beberapa
fasilitas pendukung untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan visi dan
misi perusahaan”.
Menurut Sunyoto (2015, p. 38) bahwa “Lingkungan kerja merupakan
bagian komponen yang sangat penting ketika karyawan melakukan aktivitas
bekerja”.
Sedangkan menurut Rivai (2012, p. 3) bahwa “Lingkungan kerja
merupakan elemen organisasi sebagai sistem sosial yang mempunyai pengaruh
yang kuat didalam pembentukan perilaku individu dalam organisasi dan
berpengaruh terhadap prestasi organisasi, adanya saran dan prasarana kerja yang
sesuai dengan sifat tugas yang harus diselesaikan merupakan kondisi kerja yang
kondusif”. Menurut Robbins (2015, p. 306) bahwa “Penciptaan lingkungan kerja yang
lebih menarik dapat meningkatkan kinerja dan komitmen karyawan”.
Hal ini konsisten dengan pendapat MacKenzie (2012: 306) bahwa
“Persepsi karyawan tentang lingkungan kerja akan memengaruhi disiplin kerja,
yang berarti bahwa penyediaan lingkungan kerja yang kondusif oleh perusahaan
akan dapat meningkatkan disiplin kerja”

Indikator Gaya Kepemimpinan


Peneliti mengangkat beberapa indikator dari gaya kepemimpinan yang
sudah dijelaskan dari beberapa para ahli sebelumnya. Adapun indikator gaya
kepemimpinan tersebut adalah (Irham, 2016, p. 127):

  1. Otokratik
    Pemimpin yang otokratik adalah seorang yang memimpin secara otoriter dan
    cenderung bersifat egois serta tidak mendengarkan masukan dari
    bawahannya.
  2. Paternalistik
    Pemimpin yang paternalistik adalah seorang pemimpin yang bersikap
    melindungi bawahan dan pada umumnya komunikasi dengan bawahan seperti
    orang tua dan anak
  3. Karismatik
    Pemimpin yang karismatik merupakan kekuatan energi, daya tarik yang luar
    biasa yang akan diikuti oleh para pengikutnya.
  4. Laissez Feire
    Pemimpin yang berperan pasif dan membiarkan kegiatan berjalan apa adanya.
  5. Demokratik
    Pemimpin yang mendengarkan pendapat, saran dan bahkan kritik orang lain,
    terutama pada bawahannya

Gaya Kepemimpinan


Pada prinsipnya, gaya merupakan kebiasaan yang melekat pada diri
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas gaya kepemimpinannya. Menurut
Stoner dalam Mangkunegara (2016, p. 64), menjabarkan bahwa “Gaya
kepemimpinan sendiri merupakan berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh
pemimpin dalam proses mengarahkan dan memengaruhi pekerja”.
Sedangkan menurut Thoha dalam Mangkunegara (2016, p. 65) bahwa
“Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang
pada saat orang tersebut mencoba memengaruhi perilaku lain”.
Menurut Lippit dan White dalam Mangkunegara (2016, p. 66),
menjelaskan terdapat berbagai hubungan antara perilaku pemimpin yang berbeda,
diantaranya ialah otoriter, demokratis, dan laissez faire. Penejelasan gaya ini
meneruskan penjelasan dari teori gaya kepemimpinan yang dipaparkan peneliti
lowa sebelumnya. Beberapa gaya tersebut ialah:

  1. Gaya Otokratis, dalam gaya ini, pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa
    mereka mengetahui apa yang mereka inginkan dan cenderung
    mengekspresikan kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah langsung kepada
    bawahan.
  2. Gaya Demokratis, menjelaskan bahwa gaya demokratis yaitu gaya
    kepemimpinan yang dikenal pula sebagai gaya partisipatif. Gaya ini
    berasumsi bahwa para anggota yang ambil bagian secara pribadi dalam proses
    pengambilan keputusan akan lebih memungkinkan sebagai suatu akibat
    mempunyai komitmen yang jauh lebih besar pada sasaran dan tujuan
    organisasi.
  3. Gaya Laissez Faire, yaitu gaya kepemimpinan dengan kendali bebas,
    pendekatan ini bukan berarti tidak adanya sama sekali pimpinan. Gaya ini
    berasumsi bahwa suatu tugas disajiakn kepada kelompok yang biasanya
    menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut
    dalam rangka mencapai sasaran-sasaran organisasi.
  4. Gaya kepemimpinan demokratis, gaya ini dikaitkan dengan kekuatan personal
    dan keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan
    pengambilan keputusan.

Pengertian Gaya Kepemimpinan


Menurut Sutrisno (2019, p. 218) bahwa “Gaya kepemimpinan ialah
sebagai proses mengarahkan dan memengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan
tugas dari para anggota kelompok”.
Menurut Irham (2016, p. 122) bahwa “Gaya kepemimpinan merupakan
suatu ilmu yang mengkaji secara komprehensif tentang bagaimana mengarahkan,
memengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan
perintah yang direncanakan”.
Menurut Hasibuan (2015, p. 170) bahwa “Gaya kepemimpinan adalah cara
seorang pemimpin memengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja secara
produktif untuk mencapai tujuan organisasi”.
Menurut Hersey dan Blanchart dalam Sunyoto (2015, p. 34) bahwa “Gaya
kepemimpinan adalah setiap upaya seseorang yang mencoba untuk memengaruhi
tingkah laku sesorang atau kelompok, upaya untuk memengaruhi tingkah laku ini
bertujuan mencapai tujuan perorangan, tujuan teman, atau bersama-sama dengan
tujua organisasi yang mungkin sama atau berbeda”.
Sedangkan menurut Nawawi (2016, p. 183) bahwa “Gaya kepemimpinan
adalah suatu aktivitas memengaruhi dengan kamampuan untuk meyakinkan orang
lain guna mengarahkan dalam proses mencapai tujuan organisasi yang telah
ditentukan sebelumnya”

Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:330), mengemukakan definisi citra
merek adalah yang menggambarkan sifat ekstrinsik produk atau jasa,
termasuk cara di mana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis
atau sosial pelanggan. Produk dengan brand image yang baik secara tidak
langsung akan membantu kegiatan perusahaan dalam mempromosikan
produk yang dipasarkan selanjutnya dan hal tersebut akan menjadi
kekuatan bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan. Jika sulit untuk
menilai kualitas, konsumen kadang akan merasakan tingkat resiko yang
tinggi dalam pembelian. Berdasarkan berbagai definisi di atas maka dapat
di artikan bahwa citra merek merupakan gambaran dari produk atau jasa
pada benak konsumen termasuk gambaran mengenai kemampuan suatu
produk dalam memenuhi kebutuhan psikologis atau social

Pengaruh Green Price Terhadap Keputusan Pembelian


Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang
(Alma, 2013:169). Penentuan harga ini merupakan salah satu keputusan
yang penting bagi manajemen. Harga yang ditetapkan harus dapat
26
menutup semua ongkos, atau bahkan lebih dari itu, yaitu untuk
mendapatkan laba. Tetapi, jika harga ditentukan terlalu tinggi akan
berakibat kurang menguntungkan. Dalam hal ini pembeli akan berkurang,
volume penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup
dan akhirnya perusahaan akan menderita rugi

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller yang
dialih bahasakan oleh Tjiptono (2012:184) menjelaskannya bahwa
keputusan konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk meliputi
indikator keputusan sebagai berikut :

  1. Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah
    produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini
    perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang
    berminat membeli sebuah produk serta alternative yang mereka
    pertimbangkan. Misalnya, kebutuhan suatu produk, keberagaman varian
    produkdan kualitas produk.
  2. Pilihan merek
    Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang
    akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam
    hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih
    sebuah merek. Misalnya, kepercayaan dan popularitas merek.
  3. Pilihan penyalur
    Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan
    dikunjungi. Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda
    dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat,
    harga yang murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain.
    Misalnya, kemudahan mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
  4. Waktu pembelian.
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa
    berbeda-beda misalnya, ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan
    sekali, enam bulan sekali atau satu tahun sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
    produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
    mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
    banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para
    pembeli. Misalnya, kebutuhan akan produk

Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:159-174) keputusan
pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat faktor, diantaranya sebagai
berikut :

  1. Faktor budaya
    Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
    pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
    dasar. Anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan akan mendapatkan
    seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan
    lembaga-lembaga penting lainnya. Sub budaya terdiri dari sejumlah sub
    budaya yang lebih identifikasi dan sosialisasi khusus bagi para anggotanya
    seperti kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis.
  2. Faktor sosial
    a. Kelompok acuan
    Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat
    diartikan sebagai kelompok yang yang dapat memberikan pengaruh secara
    langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang
    tersebut. Kelompok ini biasanya disebut dengan kelompok keanggotaan,
    yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh secara langsung
    terhadap seseorang. Adapun anggota kelompok ini biasanya merupakan
    anggota dari kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan
    kerja yang berinteraksi dengan secara langsung dan terus menerus dalam
    keadaan yang informal. Tidak hanya kelompok primer, kelompok
    sekunder yang biasanya terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan
    asosiasi perdagangan juga dapat disebut sebagai kelompok keanggotaan.
    b. Keluarga
    Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dapat
    mempengaruhi konsumsi produk atau jasa yang akan dibeli. Setiap
    anggota keluarga saling mempengaruhi dalam mengambil keputusan
    pembelian, dan tentu akan sangat mempengaruhi seseorang dalam
    mengambil keputusan membeli.
    c. Peran dan Status
    Hal selanjutnya yang dapat menjadi faktor sosial yang dapat
    mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan status
    mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran seseorang didalam
    sebuah organisasi maka akan semakin tinggi pula status mereka dalam
    organisasi tersebut dan secara langsung dapat berdampak pada perilaku
    pembeliannya.
  3. Pribadi
    a. Usia dan Siklus Hidup Keluarga
    Orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang
    hidupnya yang dimana setiap kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh
    siklus hidup keluarga.
    b. Pekerjaan dan lingkungan ekonomi
    Pekerjaan dan lingkungan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
    pola konsumsinya. Contohnya, direktur perusahaan akan membeli pakaian
    yang mahal, perjalanan dengan pesawat udara, keanggotaan di klub
    khusus, dan membeli mobil mewah. Selain itu, biasanya pemilihan produk
    juga dilakukan berdasarkan oleh keadaan ekonomi seseorang seperti
    besaran penghasilan yang dimiliki, jumlah tabungan, utang dan sikap
    terhadap belanja atau menabung.
    c. Gaya hidup
    Gaya hidup dapat di artikan sebagai sebuah pola hidup seseorang
    yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang terbentuk
    melalui sebuah kelas sosial, dan pekerjaan. Tetapi, kelas sosial dan
    pekerjaan yang sama tidak menjamin munculnya sebuah gaya hidup yang
    sama. Melihat hal ini sebagai sebuah peluang dalam kegiatan pemasaran,
    banyak pemasar yang mengarahkan merek mereka kepada gaya hidup
    seseorang.
    d. Kepribadian
    Setiap orang memiliki berbagai macam karateristik kepribadian
    yang bebeda-beda yang dapat mempengaruhi aktivitas kegiatan
    pembeliannya. Kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia
    yang berbeda yang menghasilkan sebuah tanggapan relatif konsiten dan
    bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian biasanya
    digambarkan dengan menggunakan ciri bawaan seperti kepercayaan diri,
    dominasi, kemampuan bersosialisasi, pertahanan diri dan kemapuan
    beradaptsi.
  4. Psikologis
    a. Motivasi
    Merupakan suatu kebutuhan yang cukup untuk mendorong
    seseorang untuk bertindak, jika suatu pengaruh tidak disertai oleh motivasi
    kuat dalam membeli maka pembelian itu tidak akan terjadi dalam tanda
    kutip sebagai angan-angan saja, seseorang memiliki banyak kebutuhan
    pada waktu-waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang
    muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa
    ketidaknyamanan. Sedangkan beberapa kebutuhan yang lainnya dapat
    bersifat psikogenesis, yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan
    psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa
    keanggotaan kelompok.
    b. Persepsi
    Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan
    individu untuk memilih, mengorganisasi masukan informasi guna
    menciptakan sebuah gambaran (Bernard Barelson, dalam Kotler
    2003:217). Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi
    juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan
    keadaan individu yang bersangkutan

Proses Keputusan Pembelian


Menurut (Kotller and Keller, 2012) mengatakan sebelum
menentukan pembelian suatu produk konsumen akan melalui lima tahap
proses keputusan pembelian yaitu, Pengenalan masalah, Pencarian
Informasi, Evaluasi Alternatif, Keputusan Pembelian, Pasca Pembelian
Secara perinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah : Konsumen mengenali adanya masalah atau
kebutuhan. Kebutuhan itulah yang akan digerakan oleh
rangsangan dari dalan maupun dari luar dirinya, konsumen
mengenali adanya masalah kebutuhan akan produk yang akan
dibeli, kebutuhan sangat dipicu oleh rangsangan internal
(kebutuhan) dan eksternal (pengaruh pengguna yang serupa), dan
oleh karena itu para ahli telah merumuskan proses pengambilan
keputusan dengan model lima tahap meliput.
b. Pencarian informasi : Tahapan yang membuat konsumen untuk
mencari informasi lebih banyak mengenai produk tersebut. Setelah
memahami masalah yang ada konsumen akan termotivasi untuk
mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
c. Evaluasi alternatif : Konsumen menggunakan informasi untuk
mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan peringkat suatu
produk barang atau jasa untuk dipilih. Setelah mendapat informasi,
konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapinya.
d. Keputusan pembelian : konsumen dipengaruhi oleh dua faktor
dalam keputusan pembelian antara lain faktor internal yang
berkaitan degan persepsi konsumen mengenai merek tersebut, dan
faktor eksternal yang mengenai sikap orang lain dan situasi yang
tak terduga.
e. Perilaku pasca pembelian : kepuasan konsumen yang harus
dipantau mulai dari pembelian sampai pengalaman. Setelah
membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi
apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya. Konsumen akan
puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan tentu akan
meningkatkan permintaan akan produk tersebut di masa depan.
Sebaliknya, jika konsumen tidak merasa puas tentu hal ini akan
menurunkan permintaan konsumen di masa yang akan datang

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut kotler (2012:166) keputusan pembelian adalah proses
keputusan pembelian terdiri dari lima tahap yang dilakukan oleh seorang
konsumen sebelum sampai pada keputusan pembelian dan selanjutnya
pasca pembelian. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa Keputusan pembelian merupakan penetapan pilihan konsumen
melalui berbagai alternatif pilihan produk dan memilih yang paling
disukai. Keputusan pembelian mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh
komponen, yaitu :
a) Keputusan tentang jenis produk.
b) Keputusan tentang bentuk produk.
c) Keputusan tentang merek.
d) Keputusan tentang penjualnya.
e) Keputusan tentang jumlah produk.
f) Keputusan tentang waktu pembelian.
g) Keputusan tentang cara pembayaran

Karakteristik Merek


Menurut Sunyoto (2012:110), beberapa karakteristik suatu merek
yang baik, yaitu :
a. Mudah dibaca, diucapkan dan diingat.
b. Singkat dan sederhana.
c. Mempunyai ciri khas tersendiri dan disenangi oleh konsumen.
d. Merek harus menggambarkan kualitas, prestise, produk done
sebagainya.
e. Bisa diadaptasi oleh produk-produk baru yang mungkin
ditambahkan di lini produk.
f. Merek harus dapat didaftarkan dan mempunyai perlindungan
hukum

Indikator Citra Merek


Menurut Keller (2013:97) dimensi-dimensi utama membentuk citra
sebuah merek tertuang dalam berikut ini :

  1. Brand Identity (identitas Merek) merupakan identitas fisik yang
    berkaitan dengan merek atau produk tersebut sehingga pelanggan
    mudah mengenali dan membedakannya dengan merek atau produk
    lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan
    yang memayungi, slogan, dan lain-lain.
  2. Brand Personality (Personalitas Merek) adalah karakter khas
    sebuah merek yang membentuk kepribadian tertentu sebagaimana
    layaknya manusia, sehingga khalayak pelanggan dengan mudah
    membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama,
    misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, nigrat, atau murah
    senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis, kreatif,
    independen, dan sebagainya.
    Brand Association (Asosiasi Merek) adalah hal-hal spesifik yang
    pantas atau selalu dikaitkan dengan suatu merek, bisa muncul dari
    penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan
    konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social
    resposibility, berita yang sangat kuat berkaitan dengan merek
    tersebut, ataupun person, simbol-simbol dan makna tertentu yang
    sangat kuat melekat pada suatu merek.
  3. Brand Attitude and Behavior (Sikap dan Perilaku Merek) adalah
    sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek dengan
    pelanggan dalam menawarkan benefit-benefit dan nilai yang
    dimilikinya. Attitude and behavior mencakup sikap dan perilaku
    pelanggan, aktivitas dan atribut yang melekat pada merek saat
    berhubungan dengan khalayak pelanggan, termasuk perilaku
    karyawan dan pemilik merek.
  4. Brand Benefit and Competence (Manfaat dan Keunggulan Merek)
    merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas yang ditawarkan oleh
    suatu merek kepada pelanggan yang membuat pelanggan dapat
    merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan, mimpi, dan
    obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut

Tujuan Citra Merek


Menurut Tjiptono (2012:17) menyatakan bahwa merek memiliki
berbagai macam tujuan, yaitu:
a. Sebagai identitas perusahaan yang membedakannya dengan produk
pesaing, sehingga mudah mengenali dan melakukan pembelian
ulang.
b. Sebagai alat promosi yang menonjolkan daya tarik produk (bentuk
desain dan warna-warna menarik).
c. Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan,
jaminan kualitas, serta citra prestise tertentu kepada konsumen.
d. Untuk mengendalikan dan mendominasi pasar. Artinya, dengan
membangun merek yang terkenal, bercitra baik, dan dilindungi hak
eksklusif berdasarkan hak cipta/paten, maka perusahaan dapat
meraih dan mempertahankan loyalitas konsumen

Pengertian Citra Merek


Brand image atau citra merek merupakan serangkaian sifat tangible
dan intangible, seperti ide, keyakinan, nilai-nilai, kepentingan, dan fitur
yang membuatnya menjadi unik (Hasan, 2013:210). Secara visual dan
kolektif, sebuah brand image harus mewakili semua karakteristik internal
dan eksternal yang mampu mempengaruhi bagaimana sebuah merek itu
dirasakan oleh target pasar atau pelanggan (Hasan, 2013:210). Menurut
Tjiptono (2012) Citra merek adalah deskripsi produk dan keyakinan
konsumen terhadap merek tertentu.
Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan
yang dingenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di
ingatan konsumen, Berdasarkan pengertian citra merek yang dikemukan
para ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa citra merek adalah
asosiasi atau kepercayaan yang ada dalam benak konsumen untuk menjadi
pembeda dari merek yang lainnya seperti lambang, desain huruf atau
warna khusus. Kotler dan Armstrong (2014 : 233) menyatakan bahwa citra
merek adalah “The set of belief held about a particular brand is known as
brand image”. Yang artinya kutipan pada halaman sebelumnya adalah
sekumpulan keyakinan terhadap suatu merek disebut citra merek
Berdasarkan definisi dari beberapa ahli tentang merek, dapat
disimpulkan bahwa merek merupakan suatu bentuk identitas dari suatu
produk yang ditawarkan ke pelanggan yang dapat membedakan produk
perusahaan dari produk pesaing yang terbentuk suatu nama, kata, tanda,
symbol atau disain, atau kombinasi dari semua hal tersebut

Indikator green price


Menurut Pankaj & Vishal (2014) menyatakan bahwa green price
mempunyai indikator seperti dibawah ini :
a. Tingkat harga yang sesuai dengan kualitas bahan baku.
b. Kesesuaian harga dengan proses produksi.
c. Harga yang sesuai dengan manfaat dari produk tersebut.
Menurut (Kotler dan Amstrong, 2012:314), menjelaskan bahwa
ada empat ukuran yang mencirikan harga, adalah sebagai berikut :
a. Keterjangkauan harga, adalah konsumen bisa menjangkau harga
yang telah ditetapkan oleh perusahaan produk biasanya ada
beberapa jenis dalam satu merek dan harganya juga berbeda dari
termurah sampai yan termahal. Dengan harga yang ditetapkan
maka para konsumen banyak yang membeli produk tersebut.
b. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, adalah konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya,
dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk sangat
dipertimbangkan pada saat membeli produk.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah harga sering menjadi
sebagai indikator kualitas bagi konsumen yang lebih memlilih
harga yang lebih tinggi karna mereka melihat adanya perbedaan
kualitas.
d. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, ialah harga sering
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
15
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka
melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik

Indikator green product


Menurut Ottman (2011) indikator green product adalah :
a. Green product bermanfaat bagi lingkungan.
b. Kinerja green product sesuai dengan kualitas.
c. Bahan baku yang digunakan terbuat dari bahan-bahan yang tidak
berbahaya.
d. Produk tidak mengandung toxic.
e. Produk menggunakan bahan baku yang dapat didaur ulang.
(Kotler dan Amstrong, 2012:410) menyatakan bahwa banyak parameter
rancangan atau desain yang mencangkup :
a. Bentuk : Banyak produk dapat didiferensiasi berdasarkan bentuk,
ukuran model.
b. Fitur : Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan fitur yang
berbeda-beda yang melengkapi fungsi dasar produk.
c. Mutu : Pembeli mengharapkan produk memiliki mutu kesesuaian
dengan standar dan spesifikasi yang tinggi.
d. Daya Tahan : Ukuran usia yang diharapkan dalam kondisi normal
sangat penting bagi kualitas produk tersebut

Pengertian Green Product


Ottman (2011:5) mendefinisikan produk hijau adalah produk yang
biasanya tahan lama, tidak tidak berbahaya bagi kesehatan, pengemasan
terbuat dari bahan daur ulang. Dari dafinisi yang ada maka dapat
disimpulkan green product adalah produk yang baik bagi pengguna juga
tidak mencemari lingkungan sekitar.
(Arseculeratne & Yazdanifard, 2014:133) mengatakan bahwa
sebuah produk bias disebut sebagai produk hijau jika proses produksinya
eco-friendly (ramah lingkungan) dan menyebabkan lebih sedikit kerusakan
lingkungan. Sebuah bisnis harus meminimalkan pencemaran lingkungan
dalam proses produksinya. Beberapa pedoman umum yang mencakup
produk ramah lingkungan yaitu :
a. Produk tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan orang atau
binatang.
b. Produk relatif efisien dalam penggunaan sumber daya selama
pembuatan, penggunaan, dan pembuangan.
c. Produk tidak memasukkan bahan yang berasal dari spesies yang
terancam punah atau mengancam lingkungan.
d. Produk tidak memberikan kontribusi limbah yang berlebihan
dalam penggunaannya atau kemasan.
e. Produk tidak menggunakan atau menyiksa hewan.
(Sumarwan et al, 2012:235) mengklarifikasikan produk ramah
lingkungan adalah suatu produk yang menggunakan bahan-bahan aman
bagi konsumen dan lingkungan, mampu bertahan lama, serta
menggunakan bahan dari sumber daya yang dapat diperbaharui

Pengertian Green Marketing mix


Menurut Sunyoto (2012:60) marketing mix merupakan kombinasi
variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran,
variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk memengaruhi
reaksi para pembeli atau konsumen. Variabel atau kegiatan tersebut perlu
dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan seefektif mungkin
dalam melakukan tugas pemasarannya. Dengan demikian perusahaan tidak
hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, tetapi dapat
mengkoordinasikan berbagai variabel marketing mix tersebut untuk
melaksanakan program pemasaran secara efektif.
Pengusaha dapat mempengaruhi konsumennya lewat produk yang
ditawarkan. Dalam hal ini produk tersebut harus didesain sedemikian rupa
sehingga dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya pembungkus yang
menarik dari segi warna, mudah di bawah kesanakemari atau agar
eksklusif. Selain itu pengusaha dapat pula mencantumkan harga yang
rendah serta pemberian discount atau potongan harga, mencantumkan
harga obral serta harga cuci gudang dan sebagainya. Dengan cara
penetapan harga semacam ini akan dapat menarik perhatian serta
mendorong konsumen untuk segera melakukan transaksi pembelian agar
tidak terlewatkan kesempatan yang terbatas waktunya bagi berlakunya
harga obral tersebut

Komponen Green Marketing


Komponen-komponen yang terdapat dalam Green Marketing
adalah sebagai berikut (Wu and Chen, 2014) :
a. Green Consumer merupakan orang-orang yang melakukan pembelian
dan mengkonsumsi produk-produk yang aman bagi tubuh dan
lingkungannya, untuk tetap menjaga lingkungannya.
b. Green Production Process merupakan suatu cara memproduksi dengan
teknologi yang membatasi polusi atau memiliki manfaat terhadap
lingkungan.
c. Geen Financial affalrs merupakan jenis-jenis pendekatan akuntansi
yang mencoba untuk mempertimbangkan niali-nilai keuangan dan moneter
untuk investasi ekologi dan kerusakan hutan

Pengertian Green Marketing


(Arseculeratne and Yazdanifard, 2014:136) menyatakan konsep
pemasaran hijau mencangkup karakteristik tertentu seperti pemasaran
produk yang aman bagi lingkungan, pengembangan dan pemasaran produk
yang dapat meminimalkan bahaya bagi lingkungan, memproduksi,
mempromosikan, dan kemasan produk dengan cara yang sesuai sehingga
dapat melindungi lingkungan. Tujuan dari green marketing bukan hanya
melihat keuntungan sebagai tujuan utama perusahaan tetapi juga adanya
tambahan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Mintu and Lozada (1993) dalam Lozada (2000) mendefinisikan
pemasaran ramah lingkungan (green marketing) sebagai “aplikasi dari alat
pemasaran untuk memfasilitasi perubahan yang memberikan kepuasan
organisasi dan tujuan individual dalam melakukan pemeliharaan,
perlindungan, dan konservasi pada lingkungan fisik”

Strategi Pemasaran


Menurut (Kotler dan Keller, 2012), strategi pemasaran meliputi
tindakan-tindakan pemasaran yang dapat mempengaruhi permintaan
terhadap produk, diantaranya mengubah harga, memodifikasi kampanye
iklan, merancang promosi khusus, menentukan pilihan saluran distribusi
dan sebagainya. Dalam penerapannya, sering berbagai program pemasaran
dipadukan atau dilaksanakan secara bersama-sama, dan kadangkala
manajer pemasaran harus memilih program pemasaran yang “terbaik”
karena keterbatasan sumber daya. Strategi pemasaran merupakan strategi
untuk melayani pasar atau segmen pasar yang dijadikan target oleh
seorang pengusaha. Oleh karena itu strategi pemasaran merupakan
kombinasi dari bauran pemasaran yang akan diterapkan oleh pengusaha
untuk melayani pasarnya. Bauran pemasaran ini haruslah diatur
sedemikian rupa sehingga akan dapat berfungsi sebagai senjata yang tepat
dalam perbandingannya di pasar melawan pesaing-pesaing. Oleh karena
itu, maka senjata yang harus disesuaikan dengan keadaan pasar serta
kondisi persaingan yang dihadapinya, dimana jenis kombinasi bauran
pemasaran yang meliputi produk, harga, promosi, dan saluran distribusi.
Menurut (Hasan, 2013:436) strategi pemasaran yang baik harus
dibangun atas dasar pemahaman bisnis yang kuat, dikombinasikan dengan
pemahaman kebutuhan dan keinginan pelanggan, pesaing dan skills, dan
bisnis termasuk dengan para pemasok dan distributor. Di semua tipe
bisnis, tiga langkah berikut dapat membantu dalam mencapai keberhasilan.
a. Pelajari pelanggan dan pasar untuk mengetahui produk dan jasa
apa yang dapat menciptakan nilai ekonomis.
b. Kembangkan segmentasi yang mencerminkan daya tarik ekonomis
bagi pelanggan.
c. Kembangkan nilai yang jelas bagi setiap segmen.
Sedangkan menurut (Fandy Tjiptono dan Gregorlus Chandra,
2012:193) strategi pemasaran merupakan rencana yang menjabarkan
ekspektasi perusahaan akan berdampak dari berbagai aktivitas atau
program pemasaran terhadap permintaan produk atau lini produknya
dipasar sasaran tertentu.
Strategi pemasaran pada dasarnya rencana yang menyeluruh,
terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan
tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan pemasaran
suatu perusahaan. Dengan perkataan lain, strategi pemasaran adalah
serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah
kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu,
padamasing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama
sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan
persaingan yang selalu berubah. Oleh karena itu, penentuan strategi
pemasaran harus didasarkan atas analisa lingkungan dan internal
perusahaan melalui analisa keunggulan dan kelemahan perusahaan, serta
analisa kesempatan dan ancaman yang dihadapi perusahaan dari
lingkungannya

Karakteristik Kepemimpinan


Menurut Davis yang dikutip oleh Reksohadiprojo dan Hantodo dalam
Situmeang (2016 :74) karakteristik kepemimpinan yang harus dimiliki
seorang pemimpin adalah :

  1. Kecerdasan, penelitian pada umumnya menunjukan bahwa seorang
    pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari pada
    pengikutnya, tetapi tidak sangat berbeda
  2. Kedewasaan, social dan hubungan social yang luas, pemimpin cenderung
    mempunyai tingkat emosi yang stabil dan dewasa atau matang, serta
    mempunyai kegiatan dan perhatian yang luas
  3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi, pemimpin secara relative
    mempunyai motivasi dan dorongan berprestasi yang tinggi, mereka bekerja
    keras lebih untuk nilai instrinsik
  4. Sikap sikap hubungan manusiawi, sesorang pemimpin yang suka aka
    memngakui harga diri dan martabat pengikut pengikutnya, mempunyai
    perhatian yang tinggi dan berorientasi pada bawahanya

Pengertian Pemasaran


Menurut kotler dan keller (2012:5) pengertian pemasaran adalah
proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok medapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan
dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Definisi pemasaran menurut american marketing association (ama) adalah
pemasaran adalah kegiatan mengatur lembaga, dan proses untuk membuat,
berkomunikasi, memberikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai
bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada umumnya (kotler dan
keller, 2012).
Istilah pemasaran dapat diartikan sebagai proses mengidentifikasi,
menciptakan dan mengkomunikasikan nilai, serta meemlihara hubungan
yang memuaskan pelanggan untuk memaksimalkan keuntungan
perusahaan. Tujuan pemasaran adalah mencangkup maksimalisasi
keuntungan, memaksimalisasi pangsa pasar, memaksimalisasi penjualan,
meningkatkan citra merek, meningkatkan kepuasan pelanggan,
menyediakan value dan memelihara stabilitas harga (Hasan, 2013:436).
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pemasaran merupakan proses
sosial yang melibatkan individu atau kelompok untuk mendapatkan
kebutuhan atau keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara
bebas mempetukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Dari
beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan
interaksi dari berbagai usaha, seperti menentukan harga, mempromosikan
dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen sehingga konsumen merasa puas, baik konsumen
yang ada maupun yang potensial.
Dari definisi-definisi pemasaran tersebut di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada terdapat dua tujuan dari dua pihak yang berbeda
yaitu pembeli dan penjual yang harus dicapai oleh pemasaran. Oleh karena
itu, pemasaran dilakukan untuk menilai kebutuhan dari pembeli potensial
dan memuaskan kebutuhan tersebut. Adapun yang disebut sebagai calon
pembeli atau pembeli potensial adalah para individu yang melakukan
untuk dikonsumsi sendiri (dengan keluarganya) dan organisasi-organisasi
yang membeli sesuatu untuk kelancaran usaha mereka (misalnya
perusahaan manufaktur) atau untuk dijual kembali (misalnya pedagang
besar dan pengecer).

Tipe Kepemimpinan


Menurut Farida & Hartono (2016 : 54) dalam teori Path Goal ada 4
tipe gaya kepemimpinan yaitu :

  1. Kepemimpinan direktif (Directive Leadership)
    Atau kepemimpinan yang otokratis, yaitu segala keputusan berada
    ditangannya dan tidak ada partisipasi dari bawahan (dalam pngambilan
    keputusan)
  2. Kepemimpinan suportif (Suportive Leadership)
    Demokrasi yaitu pemimpin yang selalu bersedia menjelaskan segala
    sesuatu, ia menganggap sebagai teman, mudah didekati dan menunjukkan
    diri sebagai seorang sejati bagi bawahanya
  3. Kepemimpinan partisipatip (Participative Leadership)
    Kepemimpinan menerima dan mengemukakan saran – saran bawahan
    (bawahan ikut berpartisipasi dalam segala hal tetapi keputusan akhir tetap
    berada pada pimpinan)
  4. Kepemimpinan orientasi (Achievement Oriented Leadership)
    Pemimpin mengajukan tantangan – tantangan dengan tujuan menarik bagi
    bawahan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta
    melaksanakanya dengan baik.

Pengertian Kepemimpinan


Menurut Farida dan Hartono (2016:48) Pemimpin adalah sesorang yang
mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan bawahan
untuk mengerjakan sebagian pekerjaanya dalam mencapai tujuan organisasi,
sedangkan pimpinan adalah jabatan atau posisi seseorang di dalam sebuah
organisasi baik organisasi formal maupun organisai non formal
Menurut Situmeang (2016:72) Kepemimpinan merupakan aktivitas
seseorang untuk memengaruhi individu, kelompok, dan organisasi sebagai
satu kesatuan sehingga kepemimpinan diberi makna sebagai kemampuan
mempengaruhi semua anggota kelompok dan organisasi agar bersedia
melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok dan organisasi.
(https://en.wikipedia.org/wiki/Leadership). “Leadership is a process
whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common
goal. Leaders carry out this process by applying their leadership
knowledge and skills”. Kepemimpinan merupakan sebuah proses dimana
individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan
bersama. Pemimpin melakukan proses ini oleh menerapkan pengetahuan
kepemimpinan mereka dan keterampilan.
Menurut farida & Hartono (2016) Kepemimpinan adalah kemampuan
yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja
mencapai tujuan yang telah ditetapkanya.

Hubungan Brand Trust (Kepercayaan Merek) Terhadap Minat Beli


Jurnal “ Analisis E-WOM, Brand Image, Brand Trust Dan Minat Beli
Produk Smartphone Di Surabaya” oleh Hatane Semuel dan Adi Suryanata
Lianto (2014) Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra dengan tujuan
mengetahui dan menganalisis apakah Brand Trust (Kepercayaan Merek)
berpengaruh terhadap minat beli produk smartphone di Surabaya. Berdasarkan
hasil penelitian, variabel Brand Trust (Kepercayaan Merek) memiliki pengaruh
yang positif dan signifikan terhadap minat beli. Hal Ini karena konsumentelah
percaya pada merek, dan konsumen akan membeli kembali merek yang
dipercayanya.

Hubungan Green Product Terhadap Minat Beli


Jurnal “ Green Packaging, Green Product, Green Advertising, Persepsi,
Dan Minat Beli Konsumen” oleh Imam Santoso dan Rengganis Fitriyani tahun
2016 Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian
Malang, Universitas Brawijaya dengan tujuan mengetahui dan menganalisis
apakah Green Product berpengaruh terhadap minat beli. Berdasarkan hasil
penelitian, variabel Green Product memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap minat beli. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi
nilai green product akan meningkatkan minat beli konsumen

Pengertian kinerja karyawan


Menurut Mangkunegara (2004:67) Kinerja berasal dari kata job
performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi
sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Sehingga dapat didefinisikan
bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya.
(http://www.businessdictionary.com/definition/performance.html).
”Perfomance definition is the work related activities expected of an employee
and how well those activities were executed”. Kegiatan kerja terkait yang
diharapkan dari seorang karyawan dan seberapa baik aktivitas tersebut
dilaksanakan.
Menurut Wibowo (2010 : 7) mengemukakan bahwa Kinerja adalah
tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut.

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Mangkunegara (2004:02) Manajamen Sumber Daya Manusia
merupakan suatu perencanaan, penggorganisasian, pelaksanaan, dan
pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa,
pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangkai
mencapai tujuan organisasi.
Menurut Bohlander and Snell (2010:6) “Resource management is the
science that learns how to empower employees in a company, create jobs,
work groups, develop employees who have the ability, identify an approach to
develop employee performance and reward them for their work and work”.
Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu yang mempelajari bagimana
memperdayakan karyawan dalam perusahaan, membuat pekerjaan, kelompok
kerja, mengembangkan para karyawan yang mempunyai kemampuan,
mengidentifikasi suatu pendekatan untuk dapat mengembangkan kinerja
karyawan dan memberikan imbalan kepada mereka atas usahanya dan bekerja.

Brand Trust (Kepercayaan Merek)


Kepercayaan muncul dari hasil pengalaman masa lalu dan interaksi sebelumnya
(Delgado, 2004). Kepercayaan dibangun karena ada harapan bahwa pihak lain
akan bertindak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Menurut
Ryan dalam (Antoni dan Herianto, 2017) Ketika seseorang telah mempercayai
pihak lain maka mereka yakin bahwa harapan akan terpenuhi dan tak akan ada
lagi kekecewaan.
Turnbull, dkk (2001) dalam buku (Ferrinadewi, 2008) berpendapat
bahwa sifat hubungan dekat adalah bahwa ada keadaan yang lebih stabil, lebih
mudah untuk memprediksi perilaku satu sama lain dan usia hubungan sehingga
konsumen tidak ingin mengubah pengedia produk. Kepercayaan konsumen
terhadap merek hanya bisa dicapai jika pemasar dapat membangun dan
mempertahankan hubungan emosional positif dengan konsumen, kualitas
hubungan terwujud dalam kepercayaan. Kepercayaan adalah kekuatan “daya
tarik” yang luar biasa untuk mengundang peluang bertransaksi (Yunus, 2006).
Menurut Keller (1993) brand trust (kepercayaan merek) adalah rasa
aman pengguna produk dalam berinteraksi dengan merek yang didasarkan pada
persepsi bahwa merek dapat dipercaya, dan yang memusatkan perhatian pada
kepentingan dan kesejahteraan konsumen.
Menurut Delgado (2004) brand trust (kepercayaan merek) adalah
kehandalan merek, yang didasarkan pada sejauh mana konsumen percaya
bahwa merek memenuhi janji nilainya, dan niat merek yang didasarkan pada
luasnya konsumen percaya bahwa merek akan memegang kepentingan
konsumen di depan kepentingannya sendiri ketika muncul masalah tak terduga
dengan konsumsi produk.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan brand trust (kepercayaan
merek) adalah rasa aman dan percaya terhadap merek, bahwa merek tersenut
memberi perhatian, kesejahteraan dan pentingan konsumen bila suatu ketika
muncul masalah yang tak terduga pada konsumsi produk. Sebagai atribut
pengalaman, kepercayaan merek (brand trust) dipengaruhi oleh evaluasai
konsumen dalam setiap kontak langsung (misalnya : uji coba, penggunaan) dan
kontak tidak langsung (seperti iklan, dari mulut ke mulut) dengan merek
tersebut (Delgado, 2004).
Menurut Delgado dalam jurnal (Mini, 2016) indikator brand trust
(kepercayaan merek) adalah :

  1. Brand reliability (kehandalan merek)
    Brand Reliability adalah kehandalan merek yang berasal dari
    kepercayaan konsumen bahwa produk tersebut mampu memenuhi nilai
    yang dijanjikan atau, dengan kata lain, persepsi bahwa merek tersebut
    mampu memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan. Brand Reliability
    sangat penting untuk membangun kepercayaan merek karena kemampuan
    merek untuk memenuhi nilai yang dijanjikannya akan membuat konsumen
    merasa percaya diri dalam mencapai apa yang dibutuhkan dalam hal ini
    untuk menghilangkan perasaan terancam.
  2. Brand intentions (keyakinan merek)
    Niat merek atau minat merek mencerminkan keyakinan konsumen bahwa
    merek mampu memprioritaskan minat konsumen ketika masalah konsumen
    muncul secara tak terduga. Oleh karena itu, intensionalitas terkait dengan
    keyakinan bahwa merek akan tertarik pada apa yang dibutuhkan konsumen
    dan tidak akan memanfaatkan ketidaktahuan konsumen

Indikator Kinerja Karyawan

Ada lima indikator untuk mengukur kinerja karyawan yaitu :

  1. Kualitas Kerja
    Kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan dan
    persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan merupakan
    ukuran dari kualitas kerja.
  2. Kuantitas Kerja
    Jumlah yang dinyatakan dalam unit dan siklus aktifitas yang diselesaikan
    adalah jumlah yang dihasilkan yang dinyatakan dalam kuantitas.
  3. Ketepatan Waktu
    Menyelesaikan aktifitas dengan tepat waktu dan memaksimalkan waktu
    yang ada dengan aktifitas lain.
  4. Efektifitas
    Menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya dengan
    cara memaksimalkan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga,
    uang, bahan baku) yang ada.
  5. Komitmen
    Tingkat di mana seorang karyawan yang dapat menjalankan fungsi kerjanya dan
    tanggung jawabnya terhadap instansi atau perusahaan disebut dengan komitmen
    (Robbins dalam Novia Ruth Silaen, 2021).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Faktor yang mempengaruhi kinerja kinerja adalah:

  1. Personal Factor (faktor individu). Faktor individu berkaitan dengan
    keahlian, motivasi, komitmen, dan lain-lain.
  2. Leadership factor (faktor kepemimpinan). Faktor kepemimpinan berkaitan
    dengan kualitas dukungan dan pengarahan yang diberikan pimpinan,
    manajer, atau ketua kelompok kerja.
  3. Team factor (faktor kelompok/rekan kerja). Faktor ini berkaitan dengan
    kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan kerja.
  4. System factor (faktor kerja). Faktor ini berkaitan dengan sistem metode kerja
    yang ada dan fasilitas dukungan yang diberikan oleh organisasi.
  5. Contextual / situational factor (faktor situasi). Faktor ini berkaitan dengan
    tekanan dan perubahan lingkungan, baik lingkungan internal maupun
    eksternal (Amstrong dan Baron dalam Lailiyah & Wahyuningsih, 2019)

Green Product


Menurut Rath dalam (Roby dan Andjarwati, 2014) green product adalah
produk industri yang diproduksi dengan menggunakan tekhnologi yang ramah
lingkungan serta meminimalisir dampak kepada lingkungan alam. Tekhologi
yang digunakan dalam memproduksi green product menggunakan tekhnologi
yang ramah lingkungan akan menciptakan produk yang berkualitas dan aman
bagi konsumen dan lingkungan. Istilah green product sendiri lebih fokus pada
produk yang memperkecil dampak negatif terhadap lingkungan.
Menurut Durif et al., (2010) green product adalah produk yang didesain
dan atributnya (produksi dan atau strateginya) menggunakan sumber daya yang
dapat didaur ulang (terbarukan/ bebas racun) dan yang meningkatkan dampak
lingkungan atau mengurangi kerusakan lingkungan dalam berbagai aspek
kehidupan.
Menurut Santoso dan Fitriyani (2016:149) mengukur pengaruh green
product menggunakan indikator sebagai berikut:

  1. Green product bermanfaat bagi lingkungan
  2. Kinerja green product sesuai harapan saya
  3. Bahan baku green product terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang yang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi
secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan
etika (Afandi, 2018).
Seorang karyawan yang melaksanakan fungsinya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikan serta berhasil secara kualitas maupun kuantitas
disebut dengan kinerja. Prestasi kerja seseorang berdasarkan kuantitas dan
kualitas yang telah disepakati bersama merupakan pengertian kinerja secara
umum. Kinerja mempunyai peran yang penting bagi peningkatan kemajuan
atau perubahan perusahaan ke arah yang lebih baik untuk pencapaian tujuan
yang diinginkan oleh perusahaan. Menurut Mc Cormick & Tiffin Kinerja
merupakan waktu kerja yang dilihat dari jumlah absen, keterlambatan dan
lamanya masa kerja serta waktu yang digunakan dalam menjalankan tugas juga
kuantitas (Silaen, et al., 2021).
Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.
Hal ini berarti bahwa hasil kerja pegawai dalam bekerja untuk periode waktu
tertentu dan penekanannya pada hasil kerja yang diselesaikan karyawan dalam
periode waktu tertentu. Kinerja pegawai erat kaitannya dengan hasil pekerjaan
seseorang dalam suatu organisasi, hasil pekerjaan tersebut dapat menyangkut
kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu. Kinerja pegawai tidak hanya
dipengaruhi oleh kemampuan dan keahlian dalam bekerja, tetapi juga sangat
dipengaruhi oleh semangat kerjanya. Dalam mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan organisasi maka aspek kualitas, kuantitas, waktu kerja dan kerja
sama adalah hasil kerja (Edy Sutrisno dalam Silaen, et al., 2021).
Kinerja karyawan adalah tolak ukur bagi perusahaan untuk menilai
kemampuan, produktivitas, dan memberikan informasi yang berguna bagi hal-
hal yang berkaitan dengan karyawan. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang
dibandingkan dengan standarisasi yang ditentukan oleh setiap perusahaan.
Kinerja mempunyai peran yang penting bagi peningkatan kemajuan atau
perubahan perusahaan ke arah yang lebih baik untuk pencapaian tujuan yang
diinginkan oleh perusahaan

Kinerja Karyawan


Kinerja karyawan meupakan sesuatu yang sangat penting untuk
mengukur seberapa jauh kemampuan karyawan dalam melaksanakan pekerjaan
dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Aspek kualitatif dan kuantitatif
pun dapat menjadi salah satu pertimbangan tingkat keberhasilan suatu kinerja

Indikator Komunikasi


Terdapat beberapa indikator komunikasi diantaranya yaitu:

  1. Pemahaman
    Kemampuan dalam memahami pesan secara cermat sebagaimana dimaksudkan
    oleh komunikator. Tujuan dari komunikasi adalah terjadinya pengertian
    bersama, dan untuk sampai pada tujuan itu, maka seorang komunikator maupun
    komunikan harus sama-sama saling mengerti fungsinya masing-masing.
    Komunikator mampu menyampaikan pesan sedangkan komunikan mampu
    menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.
  2. Kesenangan
    Apabila dalam proses komunikasi itu berhasil menyampaikan informasi, juga
    dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan kedua belah pihak.
    Suasana yang lebih rileks dan menyenangkan akan lebih nyaman untuk
    berinteraksi bila dibandingkan dengan suasana yang tegang. Karena komunikasi
    bersifat fleksibel. Dengan adanya suasana semacam itu, maka akan timbul kesan
    yang menarik.
  3. Pengaruh pada sikap
    Salah satu tujuan komunikasi adalah memengaruhi sikap seseorang yang terjadi
    dengan timbulnya rasa saing menghormati satu sama lain. Apabila terjadi
    perubahan sikap pada saat berkomunikasi dengan orang lain, maka komunikasi
    yang terjadi sudah efektif.
  4. Hubungan yang semakin baik
    Dalam proses komunikasi yang efektif secara tidak langsung dapat
    meningkatkan hubungan interperpersonal. Seringkali jika seseorang
    mempunyai persepsi yang sama mereka akan merasa cocok satu sama lain,
    maka dengan sendirinya hubungan yang terjalin akan semakin baik.
  5. Tindakan
    Mendorong orang lain untuk melakukan tindakan sesuai dengan tujuan yang
    kita harapkan tentu tidak mudah. Komunikasi dikatakan efektif jika terdapat
    suatu tindakan setelah terjadinya komunikasi antara kedua belah pihak.
    Tindakan yang dimaksud ini harus sesuai dengan keinginan komunikator yang
    sebelumnya telah disepakati oleh komunikan (Sutardji dalam Kusdarianto,
    Rismalasari, Ikbal, & Haedar, 2022)

Minat Beli


Menurut Kaima (2018) minat beli merupakan sikap yang akan diambil
oleh konsumen setelah melihat produk atau jasa dan memutuskan untuk
membeli atau tidak berdasarkan kesukaan dan ketertarikan pada produk
tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2009:15) minat beli konsumen adalah sebuah
perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli
atau memilih produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan
dan mengkonsumsi atau bahkan mengiginkan suatu produk.
Suatu produk dikatakan telah dikonsumsi apabila telah diputuskan
konsumen untuk dibeli, keputusan untuk membeli dipengaruhi oleh nilai
produk yang dievaluasi (Semuel dan Lianto, 2014). Menurut Semuel dan
Lianto (2014) karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk
memproses rangsangan, dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk
membeli.
Durianto dkk dalam (Antoni dan Herianto, 2017) menyatakan bahwa
minat membeli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana
konsumen untuk membeli produk tertentu, serta berapa banyak unit produk
yang dibutuhkan pada periode tertentu.
Menurut Ferdinand (2014) indikator minat beli adalah :

  1. Minat Transaksional
  2. Minat Refrensial
  3. Minat Preferensial
  4. Minat Eksploratif

Hambatan-Hambatan dalam Komunikasi


Hambatan dalam komunikasi diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Gangguan
    Gangguan dapat berbentuk mekanik dan semantik. Gangguan mekanik
    disebabkan oleh saluran komunikasi kegaduhan yang bersifat fisik, sedangkan
    gangguan semantik adalah ganggguan yang berkenaan dengan pesan
    komunikasi sehingga pengertiannya menjadi berubah dari yang dimaksudkan
    semula.
  2. Kepentingan
    Seseorang hanya akan memperhatikan pesan yang ada hubungan dengan
    kepentingannya. Kepentingan tidak hanya mempengaruhi perhatian saja, tetapi
    juga menentukan daya tangkap, perasaan dan tingkah laku.
  3. Motivasi
    Suatu komunikasi dapat berlangsung baik jika pesan yang disampaikan sesuai
    dengan motivasi dari penerima.
  4. Prasangka
    Seseorang yang memiliki prasangka terhadap pengirim pesan dapat
    menyebabkan proses komunikasi berlangsung tidak efektif karena dalam
    prasangka, emosi memaksa seseorang menarik kesimpulan tanpa menggunakan
    pikiran rasonal (Wright dkk dalam Siregar, et al., (2021).

Perilaku Konsumen


Menurut menurut Kotler dan Keller (2008:214) Perilaku konsumen
adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka. Sedangkan Schiffman dan
Kanuk (2008:6) Perilaku konsumen menggambarkan cara individu mengambil
keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu,
uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan
konsumsi.
Dari dua pengertian perilaku konsumen menurut para ahli dapat
disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah Individu, kelompok, dan
organisasi yang bersedia membeli barang terkait dengan konsumsi
menggunakan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha).
Untuk memahami perilaku konsumen ini ada beberapa model
yang bisa dijadikan referensi atau acuan. Kotler dan Amstrong (2008:158)
mengemukakan model perilaku konsumen seperti berikut:
Model tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis stimuli diatas akan
masuk ke dalam kotak hitam pembeli dan menghasilkan respon atau pendapat
tertentu terhadap konsumen. Kedua stimuli tersebut terdiri dari dua macam
yaitu stimuli pemasaran dan lain-lain. Stimuli pemasaran meliputi empat unsur
bauran pemasaran yaitu : produk, harga, distribusi dan promosi, sedangkan
stimuli lain-lain yaitu : keadaan ekonomi, teknologi, politik dan kebudayaan.
Dalam kotak hitam pembeli yang merupakan mediator antara rangsangan dan
respon. Kotak hitam pembeli terdiri dari dua komponen, bagian pertama adalah
karakteristik pembeli yang meliputi faktor budaya, pencarian informasi,
evaluasi, pengambilan keputusan dan perilaku pascapembelian. Berdasarkan
model tersebut, pada akhirnya akan menentukan keputusan pembeli. Sosial,
personal dan psychologi yang mempunyai pengaruh utama bagaimana seorang
pembeli bereaksi terhadap rangsangan tersebut dan bagian kedua adalah proses
yang mempengaruhi hasil keputusan. Proses pengambilan keputusan antara
lain meliputi aktivitas pengenalan masalah

Bentuk-Bentuk Komunikasi

Komunikasi pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam bentuk-bentuk
sebagai berikut :

  1. Komunikasi lisan dan tulisan
    Berdasarkan bentuk pesan yang disampaikan, komunikasi dapat berbentuk
    lisan atau tertulis. Jenis ini paling banyak dipraktekkan sehari-hari khususnya
    dalam komunikasi antar pribadi. Pemilihan bentuk komunikasi lisan atau
    tertulis dipengaruhi oleh faktor-faktor waktu, kecepatan, biaya, keterampilan
    individu dalam komunikasi, fasilitas yang tersedia untuk berkomunikasi.
    Bentuk komunikasi lisan terbagi dalam jenis-jenis komunikasi sebagai berikut:
    a. Perbincangan tak resmi, merupakan bentuk komunikasi yang paling dasar.
    Cocok untuk hubungan sehari-hari, pengarahan tukar-menukar informasi,
    meninjau kemajuan, maupun untuk memelihara efektivitas hubungan
    pribadi.
    b. Pembicaraan lewat telepon, panggilan telepon bermanfaat untuk
    pengecekan cepat atau pengiriman dan penerimaan informasi, instruksi
    atau data.
    Bentuk komunikasi tertulis terbagi dalam jenis-jenis komunikasi sebagai
    berikut:
    a. Memo, merupakan cara sederhana untuk membuat pimpinan selalu
    mendapat informasi, karena memo dapat dibaca kapan saja diinginkan.
    b. Surat, surat ditujukan untuk individu dan sifatnya lebih resmi dibanding
    memo. Surat bermanfaat untuk pemberitahuan resmi, pernyataan resmi
    yang perlu diarsip, dan lain-lain.
    c. Laporan, bersifat tidak pribadi dibanding surat dan kerap kali bahkan lebih
    resmi. Laporan digunakan untuk menyampaikan informasi, analisis, dan
    rekomendasi kepada atasan atau sejawat. Laporan harus berisi fakta yang
    ditetapkan secara objektif dan cermat, bukan dugaan pendapat, kesan dan
    generalisasi subjektif.
  2. Komunikasi verbal dan non verbal
    Komunikasi verbal adalah komunikasi melalui kata-kata baik lisan maupun
    tertulis. Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa
    beda atau tubuh, seperti gerakan tangan, jari, mata, kepala dan lain-lain. Alasan
    penggunakan jenis komunikasi ini biasanya berkaitan dengan masalah waktu
    dan situasi saat berkomunikasi terjadi (Amirullah dalam Hermin Nainggolan,
    2022)

Pengertian Komunikasi


Proses komunikasi saat pesan/ide ataupun gagasan dikirimkan seseorang
dan diterima oleh orang seorang atau lebih, dan si penerima pesan akan
memberikan umpan balik dari proses tersebut, selain itu komunikasi juga dapat
diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengiriman pesan kepada
orang lain. Komunikasi juga dapat dilakukan melalui lisan, dengan tulisan
maupun menggunakan media komunikasi seperti telepon untuk menyampaikan
atau bertukar informasi dari pengirim kepada penerima (Sopiah, 2018).
Proses komunikasi dalam organisasi memiliki peran yang sangat penting
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Untuk mengoptimalkan peran
tersebut komunikasi dalam organisasi juga perlu memperhatikan bagaimana
cara, media, dalam berkomunikasi seperti komunikasi antara atasan, atasan
bawahan, sesama bawahan agar tidak terjadi kesalahan dalam menyampaikan
informasi maupun pesan di dalam organisasi. Untuk itu, peran dari komunikasi
dalam organisasi perlu dipahami oleh seluruh pihak yang berkaitan. Jika
komunikasi berjalan dengan baik, maka hubungan antara atasan dengan
bawahan, sesama bawahan terjalin dengan harmonis (Nainggolan, et al., 2021).
Setiap organisasi tentunya memiliki tujuan, guna mencapai tujuan
tersebut perlu dilakukan kegiatan-kegiatan pendukung salah satunya adalah
komunikasi. Komunikasi mempunyai pengertian yang berbeda dari berbagai
para ahli namun tetap memiliki makna yang sama. Komunikasi adalah suatu
proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa, baik
dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan (Purwanto
dalam Siregar, et al., 2021).
Dua orang yang sedang memperhatikan suatu hal yang sama bisa
memiliki perbedaan pendapat apabila mereka berdua tidak melakukan
komunikasi terlebih dahulu. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang
mencakup di dalamnya informasi dan makna. Gufey menyatakan bahwa dari
individu atau sekumpulan orang yang dikatakan sebagai pengirim pesan kepada
bagian lain yang menerima pesan. Komunikasi dianggap sukses apabila
penerima pesan memahami informasi yang disampaikan pengirim pesan
(Siregar, et al., 2021)

Komunikasi


Komunikasi adalah salah satu kegiatan interaksi yang sangat penting
dalam kehidupan sosial manusia, karena kegiatan manusia, dimulai dengan
komunikasi. Dalam suatu organisasi, komunikasi sangat berperan penting karena
komunikasi dalam perusahaan adalah dimana dalam melakukan pekerjaan
diantara sesama karyawan memerlukan komunikasi yang efektif agar dapat
dimengerti. Keefektifan komunikasi akan berjalan dengan baik apabila sama-
sama memahami maksud dari informasi komunikasi tersebut.

Indikator Kepemimpinan


Adapun indikator kepemimpinan:

  1. Kemampuan Analitis
    Kemampuan menganalisa situasi yang dihadapi secara teliti dan matang
    merupakan persyarat untuk suksesnya kepemimpinan seseorang.
  2. Keterampilan Berkomunikasi
    Dalam memberikan perintah, petunjuk, pedoman, nasihat, seorang pemimpin
    harus menguasai teknik-teknik berkomunikasi.
  3. Keberanian
    Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi ia perlu memiliki
    keberanian yang semakin besar dalam melaksanakan tugas pokoknya yang telah
    dipercayakan padanya.
  4. Kemampuan Mendengar
    Salah satu sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin adalah kemampuannya
    serta kemauannya mendengar pendapat atau saran-saran orang lain, terutama
    bawahan-bawahannya.
  5. Ketegasan
    Ketegasan dalam mengahadapi bawahan dan mengahadapi ketidaktentuan
    sangat penting bagi seorang pemimpin (Martoyo dalam Diana Sri Dewi, 2021).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Kepemimpinan


Beberapa faktor yang mempengaruhi kepemimpinan, yaitu sebagai
berikut:

  1. Keahlian dan Pengetahuan
    Keahlian dan pengertahuan yang dimaksud disini adalah latar belakang
    pendidikan atau ijazah yang dimiliki seorang pemimpin, sesuai tidaknya latar
    belakang pendidikan itu dengan tugas-tugas kepemimpinan yang menjadi
    tanggung jawabnya, pengalaman kerja sebagai pemimpin, apakah pengalaman
    yang telah dilakukannya mendorong dia untuk memperbaiki dan
    mengembangkan kecakapan dan keterampilannya dalam memimpin.
  2. Jenis pekerjaan atau lembaga tempat pemimpin itu melaksanakan tugas
    jabatannya
    Tiap organisasi atau lembaga yang tidak sejenis memiliki tujuan organisasi
    yang berbeda, dan menuntut cara-cara pencapaian tujuan yang tidak sama. Oleh
    karena itu, tiap jenis lembaga memerlukan perilaku dan sikap kepemimpinan
    yang berbeda pula.
  3. Sifat-sifat Kepribadian Pemimpin
    Kita mengetahui bahwa secara psikologis manusia itu berbeda-beda sifat,
    watak dan kepribadiannya. Ada yang selalu bersikap keras dan tegas, tetapi ada
    pula yang lemah dan kurang berani. Dengan adanya perbedaan-perbedaan watak
    dan kepribadian yang dimiliki oleh masing-masing pemimpin, akan
    menimbulkan perilaku dan sikap yang berbeda pula dalam menjalankan
    kepemimpinannya.
  4. Sifat-sifat Kepribadian Pengikut
    Poin ini berkaitan dengan sifat-sifat pengikut, yaitu mengapa dan bagaimana
    anggota kelompok menerima dan mau menjalankan perintah atau tugas-tugas
    yang diberikan oleh pemimpin.
    Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan
    pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat
    menunjang keberhasilan suatu kepemimpinan. Oleh sebab itu suatu tujuan akan
    tercapai apabila terbina keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik
    antara atasan dengan bawahan, motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan
    keleluasaan dalam hubungan sosial (Sutikno, 2018)

Tipe-Tipe Kepemimpinan


Dalam upaya menggerakkan dan memotivasi orang lain agar melakukan
tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan, seorang pemimpin
memiliki beberapa tipe (bentuk) kepemimpinan. Adapun tipe kepemimpinan
adalah sebagai berikut:

  1. Tipe Otokratik
    Tipe ini menganggap bahwa kepemimpinan adalah hak pribadinya
    (pemimpin), sehingga ia tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak
    boleh ada orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
    otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandag sebagai
    karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah seorang yang
    egois. Menurut Hadari Nawawi pemimpin otoriter senang mempergunakan
    ungkapan kehidupan sehari-hari dengan menggunakan: “kantor saya” atau
    “pegawai saya” atau “buruh saya” dan lain-lain seolah-olah organisasi atau
    anggota merupakan miliknya.
    Jadi, seorang pemimpin yang otokratik ialah seorang pemimpin yang:
  2. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
  3. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
  4. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
  5. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
  6. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formilnya
  7. Dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan pendekatan yang
    mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
  8. Tipe Kendali Bebas/Masa Bodo (Laisez Faire)
    Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan
    otokratik. Dalam tipe kepemipinan ini pemimpin biasanya menunjukkan perilaku
    yang pasif dan sering kali menghindari diri dari tanggung jawab. Seorang
    pemimpin pada tipe ini cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan
    organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Pemimpin berkedudukan sebagai
    simbol kepemimpinannya dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada
    orang yang di pimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan
    (berbuat) menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik perseorangan
    maupun kelompok-kelompok kecil. Disini seorang pemimpin mempunyai
    keyakinan bahwa dengan memberikan kebebasan yang seuas-luasnya terhadap
    bawahan maka semua akan cepat selesai.
  9. Tipe Paternalistik
    Seorang pemimpin pada tipe paternalistik ini yang mampu berperan sebagai
    bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan
    untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan
    kesejahteraan bawahannya. Jadi, pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin
    yang paternalistik ialah seorang pemimpin yang; (1) Menganggap bawahannya
    sebagai manusia yang tidak dewasa; (2) Bersikap terlalu melindungi; (3) Jarang
    memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; (4)
    Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
    (5) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan
    daya kreasi dan fantasinya; dan (6) Sering bersikap serba tahu.
  10. Tipe Kharismatik
    Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik khusus yaitu
    daya tariknya yang sangat memikat, sehingga mampu memperoleh pengikut yang
    sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
    mengapa orang tertentu dikagumi, yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang
    kharismatik mempunyai daya penarik yang amat besar. Oleh karena itu,
    pemimpin semacam ini pada umumnya mempunyai pengikut, meskipun para
    pengikutnya itu sering pula tidak menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut
    pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan sebab musabab seseorang menjadi
    pemimpin yang kharismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang
    demikian diberkahi dengan kekuatan ghaib.
  11. Tipe Militeristik
    Pemimpin yang bertipe militeristik ialah pemimpin dalam menggerakkan
    bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah, senang bergantung
    kepada pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang berlebihan.
    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahannya, dan sukar menerima
    kritikan dari bawahannya. Maka dapat bahwa dikatakan seorang pemimpin yang
    bertipe militeristik ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagai
    berikut; (1) Dalam menggerakkan bawahan lebih sering mempergunakan sistem
    perintah; (2) Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat
    dan jabatannya; (3) Senang kepada formalitas yang berlebih-lebihan; (4)
    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; (5) Sukar menerima
    kritikan dari bawahannya; dan (6) Menggemari upacara-upacara untuk berbagai
    keadaan.
  12. Tipe Pseudo-demokratik
    Tipe ini disebut juga tipe manipulatif atau semi demokratik. Tipe ini ditandai
    oleh adanya sikap seorang pemimpin yang berusaha mengemukakan keinginan-
    keinginannya dan setelah itu membuat sebuah panitia, dengan berpura-pura untuk
    berunding tetapi yang sebenarnya tidak lain untuk mengesahkan saran-sarannya.
    Pemimpin yang bertipe ini hanya tampak bersikap demokratis padahal
    sebenarnya dia bersikap otokratis. Pemimpin seperti ini menurut Sudarwan
    Danim bercirikan antara lain: (1) Banyak meminta pendapat, akan tetapi dia
    sudah mempunyai pendapat sendiri yang dipaksakan untuk disetujui; (2) Seolah-
    olah mengiyakan, akan tetapi akhirnya menyalahkan; (3) Pada saat-saat tertentu
    banyak memberikan pujian kepada bawahan, padahal hanya untuk menarik
    simpati semata-mata; dan (4) Mengambil keputusan secara simbolis.
  13. Tipe Demokratik
    Pada tipe kepemimpinan ini, pemimpin selalu bersedia menerima dan
    menghargai saran, pendapat, dan nasehat dari staf dan bawahan, melalui forum
    musyawarah untuk mencapai kata sepakat. Kepemimpinan demokratik adalah
    kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kegiatan-kegiatan pengendalian
    dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab. Pembagian tugas-tugas yang
    disertai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, memungkinkan
    setiap anggota berpartisipasi secara aktif. Seorang pemimpin yang demokratik
    menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
    menggambarkan secara jelas berbagai tugas dan kegiatan yang harus
    dilaksanakan demi tercapainya tujuan organisasi (Sutikno, 2018).

Environmental Awareness dan Green Purchase Decision


Beberapa hasil penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwasanya
ditemukan pengaruh positif dan signifikan di dalam environmental awareness
kepada green purchase decision. Mahmoud et al. (2022) mendapati jika ada efek
positif dan signifikan di tengah environmental awareness dengan green purchase
decision. Hal ini menjelaskan jika environmental awareness mempengaruhi
perilaku konsumen terhadap barang dan jasa yang ramah lingkungan. Hasil serupa
juga ditemukan dalam studi Azzahra (2023) di mana penelitian tersebut
membuktikan bahwa environmental awareness mempunyai pengaruh terhadap
green purchase decision. Bukti penelitian lainnya juga menguak hasil yang selaras,
yaitu berdasarkan hasil penelitian Sophianur & Elwisam (2024) membuktikan
bahwasanya kesadaran lingkungan atau environmental awareness ada dampak
positif dan signifikan pada purchase decision barang organik

Teori Kepemimpinan


Ada beberapa teori kepemimpinan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Teori Sifat
    Dalam teori sifat, penekanan lebih pada sifat-sifat umum yang dimiliki
    pemimpin, yaitu sifat-sifat yang dibawa sejak lahir. Menurut teori sifat, hanya
    individu yang memiliki sifat-sifat tertentulah yang bisa menjadi pemimpin. Teori
    ini menegaskan ide bahwa beberapa individu dilahirkan memiliki sifat-sfat tertentu
    yang secara alamiah menjadikan mereka seorang pemimpin. Keberhasilan seorang
    pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang memiliki
    pemimpin. Menurut Stogdill, sifat-sifat tertentu efektif didalam situasi tertentu,
    dan ada pula sifat-sifat tertentu yang berkembang akibat pengaruh situasi
    organisasi. Sebagai contoh, sifat kreativitas akan berkembang jika seorang
    pemimpin berada didalam organisasi yang fleksibel dan mendorong kebebasan
    berekspresi, dibandingkan di dalam organisasi yang birokratis. Menurut Darf
    menjelaskan tiga sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu
    kepercayaan diri, kejujuran dan integritas, serta motivasi. Kepercayaan diri,
    berhubungan dengan keyakinan diri pemimpin akan pertimbangkannya,
    keputusannya, ide-idenya, dan kemampuannya sendiri. Kejujuran, berhubungan
    dengan keyakinan bahwa pemimpin bisa dipercaya, bisa dipegang janjinya, dan
    pemimpin tidak suka memainkan peran palsu. Integritas berarti apa yang dikatakan
    oleh seorang pemimpin, pasti selalu dilaksanakan. Dorongan, berkaitan dengan
    motivasi yang menciptakan usaha tinggi untuk mencapai tujuan tertinggi.
    Pemimpin yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, akan memunculkan
    energi besar, ketekunan, kegigihan dalam mencapai tujuannya.
  2. Teori Perilaku
    Teori perilaku, lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih
    terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada
    memerhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dasar pemikiran
    teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seseorang ketika melakukan
    kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
  3. Teori situasional
    Teori situasional mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang
    pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi.
    Teori situasional dari Hersey dan Blanchard terfokus pada karakteristik
    kematangan bawahan sebagai kunci pokok situasi yang menentukan keefektifan
    perilaku seorang pemimpin. Menurut mereka, bawahan memiliki tingkat kesiapan
    dan kematangan yang berbeda-beda sehingga pemimpin harus mempu
    menyesuaikan gaya kepemimpinannya, agar sesuai dengan situasi kesiapan dan
    kematangan bawahan. Keefektifan kepemimpinan seseorang ditentukan oleh
    kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya
    kepemimpinannya agar cocok dengan situasi. Keberhasilan seorang pemimpin
    menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku
    tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi
    organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang.
    Menurut Fread Fiedler dalam Sutikno (2018), kepemimpinan yang berhasil
    bergantung kepada penerapan gaya kepemimpinan terhadap situasi tertentu.
    Sehingga suatu gaya kepemimpinan akan efektif apabila gaya kepemimpinan
    tersebut digunakan dalam situasi yang tepat.
  4. Teori Jalan – Tujuan
    Menurut teori ini, nilai strategis dan keefektifan seorang pemimpin didasarkan
    pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi anggotanya
    dengan penerapan hadiah. Tugas pemimpin menurut teori ini adalah bagaimana
    bawahan bisa mendapatkan hadiah atas kinerjanya, dan bagaimana seorang
    pemimpin menjelaskan dan mempermudah jalan menuju hadiah tersebut.
    Pemimpin berusaha memperjelas jalur menuju tujuan yang diinginkan oleh
    organisasi sehingga bawahan tahu ke mana harus mengerahkan tenaganya untuk
    mencapai tujuan organisasi. Selain itu, pemimpin juga memberikan hadiah yang
    jelas bagi prestasi bawahan yang telah memenuhi tujuan organisasi sehingga
    bawahan termotivasi.
  5. Teori Kelebihan
    Teori kelebihan, beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin
    apabila ia memiliki kelebihan dari para pengiktunya. Pada dasarnya kelebihan yang
    harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal, yaitu: Pertama;
    kelebihan rasio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan dalam
    pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki
    pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, dan pengambilan
    keputusan yang cepat dan tepat. Kedua; kelebihan Rohaniah, artinya seorang
    pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada
    bawahannya. Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada
    dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan,
    perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri tauladan bagi para
    pengikutnya. Ketiga, Badaniah; Seorang pemimpin hendaknya memiliki kesehatan
    badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkannya untuk
    bertindak dengan cepat.
  6. Teori Kharismatik
    Teori kharismatik, menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena
    mempunyai kharisma (pengaruh) yang sangat besar. Kharisma diperoleh dari
    kekuatan yang luar biasa. Dalam hal ini ada sesuatu kepercayaan bahwa orang
    tersebut merupakan pancaran zat tunggal, sehingga dianggap mempunyai kekuatan
    gaib. Pemimpin yang bertipe kharismatik biasanya memiliki daya tarik,
    kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Pengaruh yang luar biasa ini dapat
    dilihat dari pengorbanan yang diberikan oleh para pengikut untuk pribadi sang
    pemimpin, sampai-sampai mereka rela untuk menebus nyawanya untuk sang
    pemimpin. Konsep kepemimpinan yang kharismatik ini banyak bersumber dari
    ajaran agama dan sejarah Yunani Kuno, yang menggambarkan betapa hebatnya
    kekuatan yang dimiliki oleh para nabi dan raja pada masa itu. Namun secara
    konseptual kepemimpinan kharismatik ini dalam pandangan ilmiah dipelopori oleh
    Robert House, yang meneliti para pemimpin poitik dan religius di dunia (Sutikno,
    2018

Green Brand Image dan Green Purchase Decision


Beberapa penelitian sebelumnya telah memperlihatkan bahwasanya ada
hubungan positif dan signifikan antara citra merek ramah lingkungan dengan
purchase decision ramah lingkungan (green purchase decision). Penelitian yang
dilaksanakan oleh Malini & Lie (2021) membuktikan adanya efek positif dan
signfikan di tengah green brand image kepada green purchase decision. Temuan
lain yang dilaksanakan oleh Fatharani (2023) juga menjelaskan jika adanya efek
positif antara green brand image dengan purchase decision produk ‘hijau’ yang di
mana hal ini memiliki makna semakin bagus green brand image, maka semakin
bagus juga green purchase decision. Kondisi ini juga dibantu oleh hasil studi Ulya
et al. (2024) yang memperlihatkan temuan efek positif dan signfikan di tengah
green brand image kepada green purchase decision

Green Marketing dan Green Purchase Decision


Beberapa hasil studi lebih dulu telah membuktikan adanya efek positif dan
signifikan di tengah green marketing pada green purchase decision. Puspitasari et
al. (2021) menjelaskan bahwa adanya pertambahan green marketing pada suatu
produk, maka akan menambahkan green purchase decision juga yang di mana
kondisi ini mengindikasikan adanya pengaruh positif signifikan. Selain itu, Juliana
& Sijabat (2023) selaras memperlihatkan jika green marketing memegang efek
positif dan signifikan terhadap green purchase decision di mana dijelaskan bahwa
kegiatan inovasi yang berorientasi lingkungan memiliki dampak positif dan
pengaruh terhadap purchase decision khususnya produk ramah dan peduli
lingkungan atau green purchase decision. Hal ini juga dibantu oleh hasil studi
Miranda-guerra et al. (2023) yang menguak kedapatan hubungan positif di dalam
green marketing dengan green purchase decision.

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan (leadership) adalah suatu proses yang dilakukan manajer
perusahaan untuk mengarahkan (directing) dan memengaruhi (influencing) para
bawahannya dalam kegiatan yang berhubungan dengan tugas (task-related
activities), agar bawahannya tersebut mau mengerahkan seluruh kemampuannya,
baik secara pribadi maupun sebagai anggota suatu tim, untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan perusahaan. Kepemimpinan merupakan faktor terpenting dalam
suatu perusahaan (Syarifah, 2022).
Terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan
jumlah orang yang telah mencoba mendefinisikannya. Kepemimpinan sebagai
konsep manajemen dapat dirumuskan dalam berbagai macam definisi tergantung
dari mana titik tolak pemikirannya (Stogdill dalam Sutikno, 2018).

Environmental Awareness


Environmental Awareness merupakan usaha untuk memajukan dan membina
kesadaran untuk memelihara lingkungan (Puspitasari et al. 2021). Menurut
Candrianto et al. (2023) environmental awareness adalah kesadaran seseorang atau
organisasi tentang masalah lingkungan seperti polusi, konservasi, dan
keberlanjutan, serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan dan pentingnya
melindungi sumber daya alam untuk generasi mendatang. Menurut Mahmoud et al.
(2022) environmental awareness ialah kecakapan seseorang untuk memahami
hubungan antara aktivitas manusia dan kualitas lingkungan serta adanya keinginan
untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan lingkungan. Selaras dengan pernyataan
Firdaus (2023) yang menyatakan bahwa environmental awareness mengacu pada
pemahaman seseorang mengenai sifat, proses, dan isu lingkungan serta loyalitas
terhadap kualitas lingkungan dengan berperilaku ramah lingkungan. Golob &
Kronegger (2019) mendefinisikan environmental awareness sebagai tingkat
kepedulian atau kesadaran individu terhadap isu-isu lingkungan dan keinginan
individu untuk melakukan tindakan guna melindungi lingkungan. Maka
berdasarkan diskusi di atas, environmental awareness dapat dikatakan mengacu
pada pemahaman, pengetahuan, dan tingkat kepedulian seseorang terhadap
lingkungan dan berkemauan untuk mengambil tindakan untuk melindungi
lingkungan.
Meningkatkan environmental awareness pada individu dianggap perlu untuk
memotivasi perilaku dan praktik yang lebih ramah lingkungan, seperti mendaur
ulang, penggunaan sumber energi terbarukan, dan membeli atau menggunakan
produk organik atau produk yang dihasilkan secara berkelanjutan. Essoussi &
Linton menjelaskan bahwa konsumen yang mempertimbangkan masalah
lingkungan saat membuat keputusan pembelian, terlihat lebih terlibat dalam
pembelian yang ramah lingkungan dan menyebutkan bahwa konsumen ramah
lingkungan merupakan konsumen yang mengevaluasi bahan dan komponen produk
sebelum membeli, sehingga mereka dapat mendukung manfaat lingkungan dengan
memiliki produk yang tidak terlalu mematikan dan dapat didaur ulang (Guo et al.
2023). Adanya environmental awareness ini mengindikasikan bahwa pentingnya
bagi manusia untuk melindungi, menghormati, dan menjaga alam dari manusia itu
sendiri yang dapat menyebabkan kerusakan. Adanya kesadaran lingkungan ini juga
diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mulai beralih menggunakan
produk-produk yang ramah lingkungan.
Menurut Golob & Kronegger (2019) indikator untuk mengukur
environmental awareness adalah sebagai berikut:

  1. Pengetahuan terkait isu lingkungan
  2. Sikap terhadap lingkungan
  3. Tindakan terhadap lingkungan

Pengaruh Sarana Prasarana terhadap Kinerja


Sarana dan prasana kerja yang kurang mendukung pelaksanaan
pekerjaan seperti kurangnya alat-alat kerja, ruangan yang pengap, ventilasi
yang kurang, rusaknya peralatan, dan penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kinerja menjadi buruk. Alat-alat yang kurang memadai
sementara tuntutan pekerjaan yang memerlukan percepatan pekerjaan dapat
menjadi masalah, yang pada akhirnya akan menjadi penyebab menurunnya
produktifitas kerja. Dalam keadaan demikian, seorang pemimpin tidak bisa
menyalahkan pegawai yang menjadi bawahannya untuk bekerja dengan cepat
karena ketiadaan alat.
Handoko (1985:193), mengatakan bahwa faktor linkungan terdiri
penerangan/cahaya, suhu udara ditempat kerja, kenyamanan, kelembaban,
sirkulasi udara, kebisingan, bau, warna dekorasi, musik, dan keamanan.
Dekorasi yang sesuai dengan ruangan dan kebisingan suara yang dihindari
mampu membuat pegawai nyaman bekerja tanpa lelah. Udara yang segar dan
sejuk sangat dibutuhkan manusia sebab udara yang kotor dapat merusak
pernapasan. Begitu pula dengan cahaya dan penerangan ruangan kerja, sangat
besar pengaruhnya terhadap kondisi kerja. Penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kesalahan dalam bekerja serta terganggunya penglihatan. Cahaya
bisa berasal dari matahari melalui ventilasi ataupun listrik.
Fasilitas kerja seperti ruang kerja yang cukup akan memungkinkan
pegawai untuk dapat bergerak dengan leluasa dan akan membangkitkan
semangat dalam bekerja. Tempat kerja yang baik dapat merangsang pegawai
untuk bekerja lebih giat dan lebih bersemangat sehingga pada akhirnya
menimbulkan kinerja yang baik. Peralatan kerja yang cukup tidak membuat
pegawai malas dalm bekrja karena segala alat yang diperlukan tersedia dalam
jumlah dan mutu

Green Brand Image


Nguyen-Viet et al. (2024) memaparkan bahwasanya green brand image
merupakan istilah yang menjelaskan bagaimana sebuah merek dianggap
bertanggung jawab terhadap lingkungan. Green brand image juga mengacu pada
persepsi merek yang berdedikasi dan ramah terhadap lingkungan (Bashir et al.
2020). Green brand image adalah ide yang mewakili konsep kualitas internal dalam
benak konsumen untuk meningkatkan brand image dari produk ramah lingkungan
dan berkaitan dengan kepedulian dan kesadaran lingkungan (Ulya et al. 2024). Di
dalam penelitian Darlius & Keni (2021) green brand image dijelaskan sebagai
kumpulan persepsi konsumen terhadap suatu merek yang terkait dengan
komitmennya terhadap lingkungan. Ini menunjukkan bahwa citra/image ini
memiliki hubungan yang kuat dengan persepsi konsumen tentang merek tersebut
terkait dengan komitmennya terhadap lingkungan. Oleh karena itu, green brand
image merupakan komponen penting dari persepsi konsumen.
Tujuan adanya green brand image untuk menarik konsumen agar
mengkonsumsi, menggunakan, dan membeli produk dengan cara memuaskan
keinginan konsumen untuk berkontribusi kepada lingkungan. Green brand image
ini juga memiliki tujuan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap
brand tertentu dengan harapan pada akhirnya dapat memperkuat ekuitas green
brand di ingatan konsumen (Jannah et al. 2024). Green brand image yang baik juga
bisa menjadi salah satu cara perusahaan untuk memikat lebih banyak konsumen
dengan menyelaraskan nilai-nilai dan preferensi lingkungan konsumen ramah
lingkungan, sehingga dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Kondisi ini
didukung oleh gagasan bahwa konsumen yang berpikir bahwa brand tertentu
bertanggung jawab terhadap lingkungan akan lebih cenderung untuk melakukan
pembelian karena percaya jika brand tersebut selaras dengan nilai-nilai yang dianut
oleh konsumen dan membantu kelestarian lingkungan (Malini & Lie, 2021).
Menurut Dedy (2020) terdapat 5 (lima) indikator dari green brand image,
yaitu sebagai berikut:

  1. Memiliki kredibilitas atau reputasi tinggi terkait mempertahankan
    tanggung jawabnya pada lingkungan.
  2. Merek mempunyai citra yang positif pada lingkungan
  3. Merek mempunyai keberhasilan dalam memelihara lingkungan
  4. Merek mempunyai perhatian tinggi terhadap lingkungan
  5. Janji yang dipunyai merek mampu diandalkan dalam memelihara pelestarian
    lingkungan

Dimensi dan indikator Kinerja Pegawai


Metrik kinerja pegawai, menurut Afandi (2018: 89), adalah sebagai
berikut:

  1. Besaran Kerja Semua jenis satuan ukuran yang dapat dinyatakan dalam
    ukuran numerik atau ekuivalen numerik lainnya yang berhubungan dengan
    besaran kerja.
  2. Kualitas kerja Semua jenis satuan ukuran yang dapat dinyatakan dalam
    angka atau padanan numerik lainnya dan berkaitan dengan mutu atau mutu
    pekerjaan.
  3. Efisiensi kinerja tugas diversifikasi sumber daya Anda dengan cara yang
    hemat biaya dan cerdas.
  4. Keseimbangan kehidupan kerja
    Patuhi setiap dan semua hukum dan peraturan yang berlaku.
  5. Ambil inisiatif
    Kemampuan untuk membuat keputusan tanpa diberitahu, dapat mengetahui
    apa yang harus dilakukan, dan bisa terus mendorong maju untuk
    menyelesaikan tugas bahkan ketika keadaan sulit.
  6. Presisi, Tingkat kesesuaian pekerjaan menentukan apakah upaya tersebut
    telah memenuhi tujuannya atau tidak.
  7. Kepemimpinan merupakan Proses di mana seseorang mempengaruhi atau
    memberikan contoh bagi pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama.
  8. Ketulusan
    Salah satu aspek yang lebih menantang dari sifat manusia untuk diterapkan.
  9. Kreativitas Pemikiran yang melibatkan pengembangan ide atau terciptanya
    pembaruan ide

Kinerja Pegawai


Kinerja adalah jumlah pekerjaan yang diselesaikan oleh seorang individu
saat melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan komitmen. (Mangkunegara,
2017). Sejauh mana aktivitas seorang karyawan melaksanakan tugas dan upaya
untuk mencapai tujuan bersama atau lembaga disebut sebagai kinerja karyawan.
Kinerja pegawai yang sering disebut dengan Sumber Daya Manusia (SDM)
merupakan aset yang berharga bagi instansi dalam menjalankan tugas dan
mencapai tujuannya. Kinerja karyawan dapat diukur dengan menggunakan
dimensi dan indikator berikut ini.

Dimensi dan indikator Stres Kerja


Menurut Pandi Afandi (2018:179), berikut ini adalah indikator stres kerja:

  1. Tuntutan tugas, yaitu unsur-unsur yang bersangkutan dengan pekerjaan
    seseorang seperti lingkungan kerja, prosedur kerja, dan lokasi fisik.
  2. Tuntutan peran, merupakan tuntutan yang ditempatkan pada seseorang
    sebagai akibat dari peran yang dimainkannya dalam suatu organisasi.
  3. Tuntutan interpersonal merupakan tekanan yang berasal dari rekan kerja.
  4. Susunan organisasi, menggambarkan suatu instansi dengan susunan yang
    tidak teratur dan membingungkan dalam hal pekerjaan, tugas, wewenang,
    serta tanggung jawab.
  5. Kepemimpinan organisasi mengidentifikasi gaya manajemen untuk
    organisasi. Iklim organisasi yang tegang dan cemas dapat diciptakan dari
    beberapa faktor

Faktor Pembentuk Stres Kerja


Stres kerja disebabkan oleh dua alasan, menurut Dwiyanti (dalam Nusran,
2019: 77), yaitu pengaruh lingkungan dan aspek manusia. Keadaan fisik,
hubungan lingkungan kerja, elemen pribadi (biasanya pribadi), peristiwa pribadi,
dan situasi pribadi adalah contoh pengaruh lingkungan dapat dijelaskan:

  1. Kurangnya dukungan lingkungan berarti bahwa orang yang tidak menerima
    dukungan lingkungan lebih mungkin mengalami stres. Dukungan ini bisa
    datang dari rekan kerja ataupun orang terdekat lainnya. Kurangnya
    kesempatan untuk membuat perbedaan Terlepas dari kekuatan ini,
    kurangnya kesempatan dan partisipasi dalam pengambilan keputusan di
    kantor merupakan satu faktor yang berkontribusi terhadap stres kerja karena
    mereka merasa tidak diperhatikan dan ditinggalkan.
  2. Pelecehan terhadap perempuan Pelecehan seksual didefinisikan sebagai
    kontak atau komunikasi seksual yang tidak diinginkan, seperti menyentuh
    bagian tubuh yang paling sensitif, mengejek, memuji, atau bahkan
    tersenyum di luar konteks.
  3. Lingkungan Kerja Temperatur yang tinggi, terlalu dingin, cahaya yang tidak
    cukup atau terlalu terang, sirkulasi yang buruk atau sempit, dan sirkulasi
    yang buruk atau sempit merupakan faktor-faktor yang berkontribusi
    terhadap berkurangnya kenyamanan dan stres kerja.Manajemen yang Tidak
    Sehat Manajemen yang tidak sehat adalah cara seorang pemimpin
    memperlakukan karyawannya, sama seperti seorang pemimpin yang terlalu
    sensitif, terlalu agresif, atau terlalu ambisius.
  4. Tipe Kepribadian Seseorang Salah satu penyebab stres adalah tipe
    kepribadian seseorang, karena kepribadian yang tidak sabar dan kurang
    pekerja keras lebih mungkin menghasilkan stres kerja daripada kepribadian
    yang sabar dan berkemauan keras.
  5. Komunikasi langsung Peristiwa menyedihkan, seperti kematian pasangan
    atau perceraian pasangan, sekolah, anak yang sakit atau tidak berhasil,
    kehamilan yang tidak terduga, dan kejadian traumatis di tempat kerja adalah
    contoh pengalaman pribadi yang mempengaruhi bagaimana karyawan
    mengalami stres di tempat kerja.dan masalah hukum (pelanggaran)

Dimensi dan indikator Gaya Kepemimpinan Demokratis


Berikut adalah tiga indikator gaya kepemimpinan demokratis yang ada di
dalam (Herlisa, Umaroh, & Yoga, 2020).
a. Hubungan pemimpin dan pegawai.
Memberikan motivasi kepada pegawainya dalam bersama-sama menggapai
tujuan, proses mempengaruhi untuk menentukan tujuan bersama atau
organisasi, pengaturan kegiatan-kegiatan untuk tercapainya tujuan, menjaga
kerja sama dan juga kerja dalam kelompok.
b. Penghargaan terhadap pegawai.
Penghargaan bisa berbentuk insentif yang dihubungkan dengan bayaran saat
meningkatnya produktivitas para pegawai
c. Manajemen.
Tanggung jawab dalam mengorganisir serta mengarahkan pegawai untuk
bisa menggapai tujuan instansi, itu merupakan seni dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Manajemen ini meliputi pengaturan,
komunikasi, serta pengontrolan sumber daya supaya tujuan dapat tergapai
dengan efektif.
2.1.2 Stres Kerja
Stres kerja dapat dikatakan perasaan karyawan yang tertekan ketika
menyelesaikan pekerjaan atau tugasnya (Mangkunegara, 2017). Stres kerja juga
merupakan keadaan emosional yang muncul ketika adanya ketidaksesuaian beban
kerja dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan yang dialami
(Vanchapo, 2020).. Stres kerja ini juga terbagi menjadi dua yaitu eustres dan
distres hal ini terdapat didalam penelitian (Rachel Natalya Massie, 2018) . Eustres
adalah stres yang sehat atau positif dimana tubuh mampu menggunakannya
sebagai pembantu dalam melewati hambatan dan membangun kinerja. Selanjutnya
distress adalah stres yang tidak baik atau negatif, ketika seseorang mengalami
distress, orang itu akan lebih bereaksi secara berlebihan dan tidak dapat bekerja
atau kinerjanya tidak maksimal. Stres yang terlalu tinggi bisa menurunkan
kemampuan seseorang dalam menghadapi lingkungan atau pekerjaan (Duwi
Ermawati, 2021). Dengan begitu stres kerja memiliki pengaruh negatif terhadap
kinerja pegawai, hal ini juga didukung dari hasil penelitian (Rachel Natalya
Massie, 2018). Terdapat dimensi dan indikator stres kerja berikut beberapa
dimensi serta indikatornya.

Pengaruh Minat Beli terhadap Keputusan Pembelian


Minat beli didasarkan pada karakteristik berikut yang
membuat seseorang menunjukkan ketertarikan pada produk
atau jasa yaitu kesediaan untuk mencari informasi produk
atau jasa. Konsumen yang tertarik cenderung mencari
informasi yang lebih detail tentang suatu produk atau jasa,
dengan tujuan untuk mengetahui dengan tepat bagaimana
menggunakan spesifikasi produk atau jasa sebelum membeli
produk atau jasa tersebut. Jadi, konsumen yang memiliki
minat beli yang tinggi maka keputusan pembelian akan
meningkat.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Reiga Ritomiea Ariescy, dkk (2019), minat beli
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian

Gaya Kepemimpinan Demokratis


Menurut (Munawaroh, 2020) Kepemimpinan yaitu gaya seorang pemimpin
untuk mempengaruhi dan membimbing individu lainnya agar tercapainya tujuan
serta tingkatan organisasi yang sama. Gaya kepemimpinan juga merupakan
perilaku serta cara yang digunakan seseorang pemimin untuk mempengaruhi
perasaan, pikiran, sikap, dan juga perilaku (Djunaedi & Gunawan, 2018).
Sebagaimana disebutkan di atas, seorang pemimpin juga harus memiliki karakter
yang efektif, yaitu seorang pemimpin yang dapat mengarahkan dan memotivasi
seseorang atau kelompok untuk melaksanakan semua tugas yang direncanakan
dalam rangka mencapai tujuan bersama (Duwi Ermawati, 2021). Gaya
kepemimpinan seseorang berbeda-beda. Hal ini didukung oleh teori
kepemimpinan yaitu teori situasional dan model kontingensi yang menekankan
pentingnya konteks dalam membentuk gaya kepemimpinan berdasarkan isu-isu
yang muncul (Duwi Ermawati, 2021). Dalam pendekatan ini, gaya kepemimpinan
demokratis yang sesuai dengan keadaan dapat menghasilkan kinerja yang kuat
dari staf Sekretariat DPRD Kota Tangerang Selatan untuk mencapai tujuan atau
instansi bersama. 2018 (Djunaedi & Gunawan) Gaya kepemimpinan demokratis
digunakan oleh seorang pemimpin tim untuk menjadikan tim sebagai hal yang
paling penting. Kinerja pegawai dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan, terbukti
dari hasil penelitian (Duwi Ermawati, 2021) menunjukkan gaya kepemimpinan
berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai.. Seorang pempimpin yang efektif
akan menciptakan kinerja bawahanya menjadi baik dan efektif juga tentunya.
Gaya kepemimpinan demokratis juga terdapat beberapa dimensi dan indikator
yang dapat menjadi alat ukur, berikut indikatornya.

Pengaruh Kepedulian Lingkungan terhadap Keputusan Pembelian


Kepedulian lingkungan merupakan sikap komitmen,
perhatian dan kesadaran yang kuat terhadap lingkungan, yang
bertujuan mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga
lingkungan (Ozturk, 2019). Bagi konsumen yang
berwawasan lingkungan atau kesadaran yang kuat akan
kepedulian lingkungan, konsumen cenderung lebih memilih
produk yang ramah lingkungan daripada produk lainnya.
Konsumen umumnya yakin dengan atribut produk ramah
lingkungan, yang merupakan citra yang melekat pada produk.
Tingginya tingkat kepedulian terhadap kerusakan lingkungan
dan kesadaran konsumen terhadap produk ramah lingkungan
mendorong konsumen untuk membeli produk yang ramah
lingkungan atau green product. Jadi semakin tinggi
kepedulian lingkungan konsumen maka akan meningkatkan
keputusan pembelian konsumen.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Majid
ESMAEILPOUR (2017), Laksmi dan Wardana (2016)
menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang poitif dan
signifikan dari kepedulian lingkungan terhadap keputusan
pembelian

Pengaruh Green Advertising terhadap KeputusanPembelian


Green advertising merupakan strategi pemasaran yang
mengkaitkan iklan dengan isu lingkungan sehingga
konsumen dapat membedakan iklan hijau dengan iklan
produk lainnya. Tujuan dari green advertising adalah untuk
mendorong konsumen melakukan pembelian dengan cara
yang ramah lingkungan, sehingga konsumen merasa menjadi
bagian dari perlindungan lingkungan.
Jadi semakin baik nilai green advertising maka akan
meningkatkan keputusan pembelian konsumen. Temuan ini
sejalan dengan penelitian Muhamad Ridwan, dkk (2018),
Reni Dwi Lestari, dkk (2016) menyatakan bahwa terdapat
pengaruh yang positif dan signifikan dari green advertising
terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Green Product terhadap Keputusan Pembelian


Green product adalah produk ramah lingkungan yang
dirancang untuk melindungi lingkungan dan bermanfaat bagi
kesehatan. Desain produk dan metode pengolahan dapat
mengurangi pencemaran lingkungan dalam hal produksi,
distribusi dan konsumsi.
Green product biasanya menggunakan bahan baku
pilihan, bahan baku tersebut berkualitas baik dan bermanfaat
bagi kesehatan konsumen, serta akan mempengaruhi
kelestarian lingkungan. Konsumen percaya bahwa
mengonsumsi green product dapat memberikan perasaan
lebih aman dan dianggap lebih sehat. Jadi, citra green
product yang melekat, semakin baik kualitas dan manfaat
produk serta aman dan juga baik untuk kesehatan konsumen
maka akan berdampak positif terhadap keputusan konsumen
dalam membeli produk ramah lingkungan. Sehingga semakin
baik nilai green product maka akan meningkatkan keputusan
pembelian konsumen. Temuan ini sejalan dengan penelitian
Muhamad Ridwan, dkk (2018), Reni Dwi Lestari, dkk (2016)
menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan dari green product terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Kepedulian Lingkungan terhadap Minat Beli


Kepedulian lingkungan merupakan sikap komitmen,
perhatian dan kesadaran yang kuat terhadap lingkungan, yang
bertujuan mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga
lingkungan (Ozturk, 2019). Bagi konsumen yang
berwawasan lingkungan atau kesadaran yang kuat akan
kepedulian lingkungan, konsumen cenderung lebih memilih
produk yang ramah lingkungan daripada produk lainnya.
Konsumen umumnya yakin dengan atribut produk ramah
lingkungan, yang merupakan citra yang melekat pada produk.
Tingginya tingkat kepedulian terhadap kerusakan lingkungan
dan kesadaran konsumen terhadap produk ramah lingkungan
mendorong konsumen untuk membeli produk yang ramah
lingkungan atau green product. Jadi semakin tinggi
kepedulian lingkungan konsumen maka akan meningkatkan
minat beli konsumen.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Ozturk (2019),
Decky (2016) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang
positif dan signifikan dari kepedulian lingkungan terhadap
minat beli

Pengaruh Green Advertising terhadap Minat Beli


Green advertising merupakan strategi pemasaran yang
mengkaitkan iklan dengan isu lingkungan sehingga
konsumen dapat membedakan iklan hijau dengan iklan
produk lainnya. Tujuan dari green advertising adalah untuk
mendorong konsumen melakukan pembelian dengan cara
yang ramah lingkungan, sehingga konsumen merasa menjadi
bagian dari perlindungan lingkungan. Jadi semakin baik nilai
green advertising maka akan meningkatkan minat beli
konsumen.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Meng – Dar
Shieh, dkk (2018), Reiga Ritomiea Ariescy, dkk (2019),
menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan dari green advertising terhadap minat beli

Pengaruh Green Product terhadap Minat Beli


Green product adalah produk ramah lingkungan yang
dirancang untuk melindungi lingkungan dan bermanfaat bagi
kesehatan. Desain produk dan metode pengolahan dapat
mengurangi pencemaran lingkungan dalam hal produksi,
distribusi dan konsumsi.
Green product biasanya menggunakan bahan baku
pilihan, bahan baku tersebut berkualitas baik dan bermanfaat
bagi kesehatan konsumen, serta akan mempengaruhi
kelestarian lingkungan. Konsumen percaya bahwa
mengonsumsi green product dapat memberikan perasaan
lebih aman dan dianggap lebih sehat. Jadi, semakin baik nilai
green product maka akan berdampak positif terhadap minat
beli sehingga minat beli konsumen akan meningkat. Temuan
ini sejalan dengan penelitian Imam Santoso, dkk (2016),
Anggry Tri Hernizar, dkk (2019) yang menyebutkan bahwa
terdapat pengaruh positif dan signifikan dari green product
terhadap minat beli

Indikator Punishment


Menurut Mangkunegara (2016:20) punishment merupakan
ancaman hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki karyawan
pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku dan memberikan
pelajaran pada pelanggar.
a. Punishment Preventif
Punishment ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai terjadi
pelanggaran sehingga hal itu dilakukan. Yang termasuk kedalam
punishment preventif meliputi tata tertib, anjuran dan perintah,
larangan dan paksaan serta disiplin.
b. Punishment Represif
Punishment ini dilakukan setelah terjadi pelanggaran atau
kesalahan. Adapun yang termasuk punishment represif meliputi
pemberitahuan, teguran, peringatan dan hukuman.
Menurut Siagian, Sondang P (2013:21) indikator
punishment adalah sebagai berikut:
a. Usaha meminimalisir kesalahan yang akan terjadi
Jika dalam suatu perusahaan atau organisasi karyawan harus
bisa meminimalisir kesalahan yang dibuat dalam bekerja,
karena jika karyawan tersebut terus-menurus melakukan
kesalahan perusahaan tersebut akan memberikan punishment.
b. Adanya hukuman yang lebih berat bila kesalahan yang sama
masih dilakukan
Hukuman yang diberikan oleh atasan semata-mata akan
membuat karyawan jera melakukan kesalahan, tetapi jika
karyawan tersebut melakukan kesalahan yang sama dilakukan
atasan akan memberikan hukuman yang lebih berat.
c. Hukuman dilakukan dengan adanya penjelasan
Seseorang karyawan perlu menanyakan kejelasan kepada
atasannya, apa hukumannya jika karyawan tersebut melakukan
kesalahan ringan, dan apa hukumannya jika karyawan
melakukan kesalahan yang berat.
d. Hukuman segera diberikan setelah adanya penyimpangan
Dengan adanya pengawasan kepada karyawan atasan bisa
memantau para karyawan yang bekerja pada perusahaan
tersebut, jika karyawan tersebut melakukan kesalahan dan
terbukti melakukan kesalahan tersebut maka atasan langsung
memberikan hukuman yang sesuai dengan kesalahannya
tersebut

Indikator Kepedulian Lingkungan


Nenggala (2018:173) berpendapat bahwa indikator seseorang
yang peduli lingkungan adalah :

  1. Menjaga kelestarian lingkungan
  2. Daur ulang sampah botol
  3. Mendukung program go green
  4. Hemat listrik
  5. Hemat air
  6. Selalu membuang sampah pada tempatnya
    Menurut Ristianawati (2016) indikator kepedulian
    lingkungan seseorang adalah sebagai berikut :
  7. Selalu menjaga kelestarian lingkungan
  8. Mengurangi jejak emisi karbon
  9. Eco lifestyle (gaya hidup ramah lingkungan)
  10. Tidak mencoret – coret pohon, dan batu
  11. Tidak mengambil, menebang atau mencabut
    tumbuh-tumbuhan yang terdapat di sepanjang
    perjalanan

Definisi Kepedulian Lingkungan


Kepedulian lingkungan merupakan sikap komitmen,
perhatian dan kesadaran yang kuat terhadap lingkungan, yang
bertujuan mencegah kerusakan lingkungan dan menjaga
lingkungan (Ozturk, 2019).
Junaedi (2005) dalam Ristianawati (2016)
mendefinisikan kepedulian terhadap lingkungan diartikan
sebagai ukuran sejauh mana seseorang mengungkapkan
kepedulian terhadap masalah lingkungan

Indikator Green Advertising


Menurut Karna (2017:20) terdapat 4 indikator dari green
advertising yaitu:
1) Informasi iklan
2) Isu iklan
3) Daya tarik iklan
4) Tampilan eco label pada produk
Menurut Wu & Chen (2016) terdapat 3 indikator dari green
advertising :
1) Slogan
2) Tampilan eco label
3) Isu iklan peduli lingkungan

Definisi Green Marketing


Green marketing merupakan strategi pemasaran
produk dalam perusahaan dengan tetap memperhatikan
kelestarian lingkungan. Perkembangan green marketing
sejalan dengan perhatian masyarakat terhadap isu
lingkungan, sehingga masyarakat menuntut adanya
tanggung jawab pelaku usaha dalam kegiatan usaha yang
dijalankannya. Istilah green marketing sendiri mengacu
pada pemasaran produk yang dianggap aman bagi
lingkungan. Ini meliputi modifikasi produk, perubahan
proses produksi, pengemasan, perubahan proses promosi
dan lain-lain (Fuiyeng & Yazdanifard, 2016).
The American Marketing Association (AMA)
mendefinisikan Green marketing adalah pemasaran produk
yang dianggap ramah lingkungan yang melakukan berbagai
kegiatan seperti penyesuaian produk, modifikasi proses
produksi, pengemasan, pelabelan, strategi periklanan, dan
juga digunakan untuk meningkatkan kesadaran mengenai
pemasaran kepatuhan antar industri. (Fuiyeng &
Yazdanifard, 2016). Menurut Business Dictionary, green
marketing diartikan sebagai kampanye periklanan yang
bertujuan untuk memanfaatkan perilaku membangun merek
konsumen. Penyesuaian ini semakin dipengaruhi oleh
praktik dan kebijakan yang memengaruhi karakteristik
lingkungan dan membuktikan bahwa komunitas bisnis
peduli terhadap standar

Indikator Green Product


Indikator green product menurut Imam Santoso,et al 2016
menjelaskan bahwa indikator green product meliputi hal –
hal di bawah ini :

  1. Produk aman dan tidak berbahaya
  2. Jaminan kualitas
  3. Manfaat bagi lingkungan
    Menurut Kong et al, 2016. Menyebutkan indikator green
    product adalah di bawah ini :
  4. Tingkat bahaya produk terhadap lingkungan
  5. Atribut merek hijau
  6. Kemasan produk aman dan tidak berbahaya terhadap
    lingkungan

Jenis-Jenis Punishment


Menurut Rivai, Veitzal (2013:4) jenis-jenis punishment dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Hukuman Ringan
Meliputi, teguran lisan kepada karyawan yang bersangkutan,
teguran tertulis dan pernyataan tidak puas secara tidak tertulis.
b. Hukuman sedang
Meliputi, penundaan kenaikan gaji yang sebelumnya sudah
direncanakan, penurunan gaji yang besarnya disesuaikan dengan
peraturan perusahaan dan penundaan kenaikan pangkat atau
promosi.
c. Hukuman Berat
Meliputi, penuruan pangkat atau demosi, pembebasan dari jabatan,
pemberhentian kerja atas permintaan karyawan yang bersangkutan
dan pemutusan hubungan kerja sebagai karyawan di perusahaan.