Green product adalah produk yang tidak berbahaya
bagi manusia dan lingkungan, tidak menyia-nyiakan sumber
daya, tidak menghasilkan limbah yang berlebihan, dan tidak
menimbulkan kekejaman terhadap ekosistem hewan
(Fuiyeng & Yazdanifard, 2016).
Green product adalah produk ramah lingkungan yang
dihasilkan oleh pemasar yang sehat dan ramah lingkungan.
Desain produk dan metode pengolahan bertujuan untuk
mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang mungkin
terjadi selama produksi, distribusi dan konsumsi (Alamendah,
2016).
Intinya, green product tidak hanya memenuhi
persyaratan perlindungan lingkungan, tetapi juga
memaksimalkan produk yang dihasilkan sekaligus berupaya
meminimalkan pemborosan dalam proses produksi. Green
product sendiri harus memiliki kualitas produk yang awet
karena tidak mudah rusak, tidak mengandung racun, terbuat
dari bahan yang dapat didaur ulang dan memiliki kemasan
yang sederhana
Pengertian Punishment
Menurut McKenna (2010:115) Punishment adalah memberikan
sesuatu penderitaan dengan sengaja kepada seorang karyawan dengan
maksud supaya penderitaan itu betul-betul dirasakan untuk menuju
kebaikan.
Menurut Purwanto (2016:186) Punishment adalah penderitaan
yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang
sesudah terjadi suatu penghargaan kejahatan atau kesalahan.
Menurut Mangkunegara (2016:20) punishment merupakan
ancaman hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki karyawan
pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku dan memberikan
pelajaran pada pelanggar
Indikator Reward
Menurut Mahmudi (2013:181) reward adalah penghargaan
yang diberikan kepada mereka yang dapat bekerja melampaui standar
yang telah ditentukan. Indikator reward adalah sebagai berikut:
a. Bonus
Seperti tambahan honorarium, insentif jangka pendek, dan insentif
jangka panjang.
b. Kesejahteraan
Seperti tunjangan, fasilitas kerja dan kesejahteraan rohani.
c. Pengembangan Karir
Seperti penugasan untuk studi lanjut, penugasan untuk mengikuti
program latihan dan penugasan untuk magang atau studi banding.
d. Penghargaan Psikologis dan Sosial Yang Diberikan
Seperti promosi jabatan, pemberian kepercayaan, peningkatan
tanggung jawab, pemberian otonomi yang luas, penempatan lokasi
yang baik, pengakuan dan pujian.
Menurut Winardi dalam Ihsan, M (2019:23), indikator
reward adalah sebagai berikut:
a. Kesejahteraan
Kesejahteraan dapat dikur nilainya. Berbagai program
kesejahteraan pegawai yang ditawarkan organisasi sebagai
bentuk pemberian reward atas prestasi kerja.
b. Pengembangan Karir
Pengembangan karir merupakan prospek kinerja dimasa yang
akan datang. Pengembangan karir ini penting diberikan bagi
karyawan yang memiliki prestasi kerja yang memuaskan agar
nilai karyawan itu lebih tinggi sehingga mampu memberikan
kinerja yang baik lagi dimasa yang akan datang.
Jenis-Jenis Reward
Menurut Ivancevich dalam Prasetyo, Edi (2019:29) reward
dibagi menjadi dua jenis yaitu reward ekstrinsik dan reward intrinsik.
1) Reward Ekstrinsik
Reward ekstrinsik adalah suatu penghargaan yang datang dari luar
diri orang tersebut. Dimana reward ekstrinsik terdiri dari reward
finansial dan reward non finansial.
Reward finansial terdiri dari:
a. Gaji
Merupakan balas jasa dalam bentuk uang yang diterima
karyawan sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai
seorang karyawan yang memberikan sumbangan tenaga dan
pikiran dalam mencapai tujuan perusahaan atau dapat dikatakan
sebagai bayaran tetap yang diterima seseorang dari sebuah
perusahaan.
b. Tunjangan
Merupakan sesuatu yang diberikan kepada karyawan meliputi
dana pensiun, perawatan di rumah sakit dan liburan. Pada
umumnya merupakan hal yang tidak berhubungan dengan
kinerja karyawan tetapi didasarkan pada senioritas atau catatan
kehadiran.
c. Bonus/insentif
Merupakan tambahan imbalan diatas atau diluar gaji /upah
yang diberikan organisasi.
Reward non finansial terdiri dari:
a. Reward Interpersonal
Biasa disebut dengan penghargaan antara pribadi, manajer
memiliki sejumlah kekuasaan untuk mendistribusikan
reward interpersonal, seperti status, dan pengakuan.
b. Promosi
Promosi merupakan sebagai bentuk usaha untuk
menempatkan orang yang tepat pada pekerjaan yang tepat.
2) Reward Instrinsik
Reward instrinsik adalah suatu penghargaan yang diatur oleh diri
sendiri, yang terdiri dari:
a. Penyelesaian (Completion)
Merupakan kemampuan memulai dan menyelesaikan suatu
pekerjaan atau proyek merupakan suatu hal yang penting bagi
sebagian orang.
b. Pencapaian (achievement)
Merupakan suatu penghargaan yang muncul dalam diri sendiri
yang diperoleh ketika seseorang meraih sutau tujuan yang
menantang.
c. Otonomi
Suatu keinganan yang timbul pada orang atas pekerjaan yang
memberikan hak untuk mengambil keputusan dan bekerja
tanpa diawasi dengan ketat.
Pengertian Reward
Menurut Bintoro dan Daryanto (2017:181) reward adalah
situasi atau pernyataan lisan yang bisa menghasilkan kepuasan atau
menambah kemungkinan suatu perbuatan yang dikerjakan.
Menurut Handoko (2013:66) reward merupakan sebagai
bentuk apresiasi usaha untuk mendapatkan tenaga kerja yang
professional sesuai dengan tuntutan jabatan diperlukan suatu binaan
yang berkesinambungan, yaitu suatu usaha kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, penggunaan, dan pemeliharan tenaga kerja agar
mampu melaksanakan tugas dengan efektif dan efisien.
Menurut Wijarnako dalam Ruben dan Ponco Priyantono
(2018:169) reward adalah imbalan, penghargaan atau hadiah, dan
bertujuan agar karyawan menjadi senang, giat, semangat, dan lebih
rajin dalam bekerja di perusahaan.
Indikator Kepemimpinan
Menurut Rivai, Veithzal (2012:53) bahwa seorang pemimpin
dalam mengimplementasikan kepemimpinannya harus mampu secara
dewasa melaksanakan kedewasaan terhadap instansi atau
organisasinya, kepemimpinan dibagi kedalam lima dimensi dan dua
belas indikator sebagai berikut:
a. Kemampuan Untuk Membina Hubungan Kerjasama Yang Baik
- Membina kerjasama dan hubungan baik dengan bawahan
dalam pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawab
masing-masing. - Kemampuan seorang pemimpin dalam memotivasi
bawahannya.
b. Kemampuan Yang Efektivitas - Mampu menyelesaikan tugas diluar kemampuan.
- Menyelesaikan tugas tepat waktu.
- Hadir tepat waktu dan tidak terlambat.
c. Kepemimpinan Yang Partisipatif - Pengambilan keputusan secara musyawarah.
- Dapat menyelesaikan masalah secara tepat.
- Mampu meneliti masalah yang terjadi dalam pekerjaan.
d. Kemampuan Dalam Mendelegasikan Tugas Atau Waktu - Bersedia untuk membawa kepentingan pribadi dan organisasi
kepada kepentingan yang lebih luas, yaitu kepentingan
organisasi menggunakan waktu sisa untuk keperluan pribadi. - Mampu dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan target.
e. Kemampuan Dalam Mendelegasikan Tugas Atau Wewenang - Tanggung jawab seorang pemimpin dalam menyelesaikan
tugas mana yang harus ditangani sendiri dan mana yang harus
ditangani secara kelompok. - Memberikan bimbingan dan pelatihan dalam pengambilan
keputusan
Teori-Teori Kepemimpinan
Menurut Wursanto dalam Wijayanti Wahyu Dwi (2012:24)
menyatakan teori kepemimpinan adalah bagaimana seseorang menjadi
atau bagaimana timbulnya seorang pemimpinan. Beberapa teori
tentang kepemimpinan yaitu:
a. Teori Kelebihan
Teori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin
apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya
kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencangkup
3 hal yaitu kelebihan ratio, kelebihan rohaniah, kelebihan, dan
badaniah.
b. Teori Sifat
Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin
yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang positif sehingga para
pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, sifat-sifat
kepemimpinan yang umum misalnya bersifat adil, suka
melindungi, penuh rasa percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai
daya tarik, energik, persuasif, komunikatif, dan kreatif.
c. Teori Keturunan
Menurut teori ini, seseorang menjadi pemimpin karena keturunan
atau warisan, karena orangtuanya seorang pemimpin maka anaknya
otomatis akan menjadi pemimpin menggantikan orangtuanya.
d. Teori Kharismatik
Teori ini menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena
orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh yang sangat besar).
Pemimpin ini biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan, dan
pengaruh yang sangat besar.
e. Teori Bakat
Teori ini disebut juga ekologis, yang berpendapat bahwa pemimpin
yang berpendapat bahwa pemimpin lahir karena bakatnya. Ia
menjadi pemimpin karena memang mempunyai bakat untuk
menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan harus dikembangkan,
misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki
suatu jabatan.
f. Teori Sosial
Teori ini beranggapan pada dasarnya setiap orang dapat menjadi
pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi
pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik
memjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat
dipelajari, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman
praktek
Pengertian Kepemimpinan
Menurut Yulk dalam Sudaryo, Yoyo (2018:148) kepemimpinan
adalah sebagai suatu proses mempengaruhi orang lain untuk
memahami dan setuju apa yang harus dilakukan, bagaimana, kapan,
dan di mana melakukannya. Selain itu juga meliputi memberikan
kemudahan, inspirasi, motivasi, dan mengarahkan aktivitas (baik
secara individu maupun kelompok) kearah pencapaian tujuan
organisasi.
Menurut Tannenbaum, Weshler, dan Masarik dalam Sudaryo,
Yoyo (2018:149) kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang
dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses
komunikasi, kearah satu atau beberapa tujuan tertentu.
Menurut Terry dan Frankin dalam Amirullah (2015:167)
kepemimpinan adalah hubungan dimana seorang (pemimpin)
mempengaruhi orang lain untuk mau bekerja sama melaksanakan
tugas-tugas yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang
diinginkan pemimpin atau kelompok
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Mathis dan Jackson dalam Sudaryo, Yoyo (2018:206)
kinerja karyawan adalah salah satu ukuran dari perilaku yang actual di
tempat kerja yang bersifat multidimensional. Indikator kinerja
karyawan sebagai berikut:
a. Kualitas Kerja
Bagi perusahaan (baik yang bergerak di bidang manufaktur
maupun jasa) penyedia produk-produk yang berkualitas merupakan
suatu tumtutan agar organisasi dapat bertahan hidup dalam
berbagai bentuk persaingan. Meningkatnya daya beli dan adanya
dukungan konsumen terhadap keberadaan kualitas kerja yang
ditawarkan, akan semakin menigkatkan keberlangsungan
organisasi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
b. Kuantitas Kerja
Penguasaan pasar merupakan salah satu strategi pemasaran yang
harus menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan, untuk itu
kuantitas produksi akan menentukan kemampuan organisasi guna
menguasai pasar dengan menawarkan sebanyak mungkin produk
yang mampu dihasilkan. Dengan kuantitas kerja yang dapat
dihasilkan, perusahaan diharapkan mampu memberi kesan positif
terhadap posisi produk dalam pasar.
c. Waktu Kerja
Kemampuan perusahaan untuk menetapkan waktu kerja yang
dianggap paling efisien dan efektif pada semua level dalam
manajemen. Waktu kerja merupakan dasar bagi seseorang pegawai
dalam menyelesaikan suatu produk atau jasa yang menjadi
tanggung jawabnya.
d. Kerja Sama
Pada dasarnya, kerja sama merupakan ikatan jangka panjang bagi
semua komponen perusahaan dalam melakukan berbagai aktivitas
bisnis. Kerja sama merupakan tuntutan bagi keberhasilan
perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan adanyan kerja
sama yang baik akan memberikan kepercayaan (trust) pada
berbagai pihak yang berkepentinngan, baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan perusahaan. Untuk mewujudkan
adanya kerja sama yang baik, perusahaan harus mampu
membangun kondisi internal perusahaan yang konstruktif dengan
diikuti komitmen dan konsistensi yang tinggi bagi semua azas
manajemen.
Menurut Prawirosentono dalam Nisa, Rizki Kh (2019:12),
kinerja karyawan dapat dinilai dengan beberapa indikator, yaitu:
a. Kualitas Kerja
Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
b. Kuantitas Kerja
Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah
seperti jumlah unit, jumlah siklus yang diselesaikan.
c. Ketetapan Waktu
Merupakan tingkat aktivitas pada awal waktu yang dinyatakan,
dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas.
d. Efektivitas
Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi
(tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan
maksud menaikan hasil dari setiap unit dalam sumber daya.
e. Kemandirian
Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat
menjalankan fungsi kerjanya komitmen kerja. Merupakan suatu
tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan
instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan menurut
Mathis dan Jackson dalam Prasetyo, Edi (2019:55) adalah sebagai
berikut:
a. Kemampuan Individual
Mencakup bakat, minat, dan faktor kepribadian. Tingkat
keterampilan merupakan bahan mentah yang dimiliki oleh
seseorang berupa pengetahuan, pemahaman, kemampuan,
kecakapan, interpersonal, dan teknis. Dengan demikian,
kemungkinan seorang pegawai mempunyai kinerja yang baik, jika
kinerja pegawai tersebut memiliki tingkat keterampilan baik,
pegawai tersebut akan menghasilkan yang baik pula.
b. Usaha Yang Dicurahkan
Usaha yang dicurahkan bagi pegawai adalah ketika kerja,
kehadiran, dan motivasinya. Tingkat usaha merupakan gambaran
motivasi yang diperlihatkan pegawai untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan baik. Oleh karena itu, jika pegawai memiliki
tingkat keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan, ia tidak akan
bekerja dengan baik jika hanya sedikit upaya.
c. Lingkungan Organisasional
Di lingkungan organisasional, perusahaan menyediakan fasilitas
bagi pegawai yang meliputi pelatihan dan pengembangan,
peralatan, teknologi dan manajemen.
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Rivai, Veithzal dan Basri dalam Sudaryo, Yoyo
(2018:205) kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang
untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai
tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan.
Menurut Mangkunegara (2015:67) kinerja adalah hasil secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Menurut Prawirosentono (2015:2) kinerja adalah hasil kerja
yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-
masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan
secara legal, tidak melanggar hukum sesuai dengan moral ataupun
etika
Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Melalui KepuasanKerja
Kepuasan kerja karyawan akan didapat apabila harapan karyawan dengan
kinerja perusahaan berjalan searah. Kepuasan kerja sesuai keinginan dan kebutuhan
pelanggan dapat terpenuhi dengan adanya lingkungan kerja yang berkualitas baik,
maka akan menimbulkan keinginan untuk melaksanakan pekerjaannya dengan
kualitas yang baik pula, karena karyawan semakin puas maka akan meningkat pula
kinerjanya.
Kepuasan kerja merupakan refleksi dari perasaan dan sikap individu terhadap
pekerjaannya, interaksi antara yang bersangkutan dengan lingkungan kerjanya.
Individu dengan kepuasan kerja yang tinggi diharapkan akan mengeluarkan seluruh
kemampuan dan energi yang dimiliki untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga
dapat menghasilkan kinerja yang optimal bagi perusahaan. Ini menunjukkan bahwa
kepuasan kerja selain sebagai variabel bebas juga dapat sebagai variabel tidak bebas
(dipengaruhi).
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan MelaluiKepuasan Kerja
Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya tertentu dalam
kepemimpinannya terlebih dahulu harus memahami siapa bawahan yang
dipimpinnya, mengerti kekuatan dan kelemahan bawahannya, dan mengerti
bagaimana cara memanfaatkan kekuatan bawahan untuk mengimbangi kelemahan
yang mereka miliki. Istilah gaya adalah cara yang dipergunakan pimpinan dalam
mempengaruhi para pengikutnya (Firnawan Ajie, 2009).
Rumusan kepemimpinan dari sejumlah ahli tersebut menunjukkan bahwa dalam
suatu organisasi terdapat orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi,
mengarahkan, membimbing dan juga sebagian orang yang mempunyai kegiatan
untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mengikuti apa yang menjadi kehendak
dari pada atasan atau pimpinan mereka. Karena itu, kepemimpinan dapat dipahami
sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk kerjasama di dalam
kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Apabila orang-orang yang menjadi
pengikut atau bawahan dapat dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang
dimiliki oleh atasan maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya
dengan sadar, rela, dan sepenuh hati (Sara Depedri, 2009).
Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan
Menurut Mangkunegara (2011)kepuasan kerja adalah suatu perasaan yang
menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan
pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Engko (2008), Brahmasari, Suprayetno dan Tobing (2009), Putri (2013) dan Utomo
(2014) menyimpulkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan
signifikan terhadap kinerja karyawan.
Kepuasan kerja seorang karyawan merupakan suatu keadaan yang
menyenangakan atau sifat positif yang ditunjukkan karena timbal balik yang
diberikan perusahaan atas kerja yang telah dilakukan. Semakin baik atau tinggi
kepuasan kerja yang diperoleh karyawan maka akan dapat mempengaruhi kinerja
yang diberikan untuk perusahaan, sehingga kepuasan kerja para karyawannya sangat
perlu diperhatikan oleh perusahaan agar dapat meningkatkan kinerja yang dihasilkan
oleh setiap karyawan
Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja
Menurut Nitisemito (1992) dalam Cahyo (2015), lingkungan kerja adalah
kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap
pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Selama melakukan pekerjaan, setiap pegawai
akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat dalam lingkungan
kerja.Lingkungan Kerja atau fasilitas yang diberikan oleh organisasi kepada
karyawan juga merupakan factor external yang menunjang kepuasan kerja. Seperti
dicontohkan seorang pemimpin membuatkan ruangan seindah dan senyaman
mungkin agar karyawan mampu bekerja dengan nyaman dan tanpa gangguan.
Sehingga karyawan menjadi betah dilingkungan kerja tersebut serasa bermain sambil
bekerja ataupun sebaliknya. Hasil penelitian yang dilakukan Kristianto, Abdi dan
Nugroho (2013) dalam Tjandra dan Setiawati (2014), dalam penelitiannya
menyatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja
karyawan
Definisi Minat Beli
Minat beli adalah tahap di mana konsumen memilih di
antara beberapa merek, dan akhirnya membeli dengan pilihan
favorit mereka (Pramono, 2017:136).
Kotler dan Keller (2017:140) menjelaskan bahwa
minat beli adalah suatu perilaku yang diwujudkan sebagai
respon terhadap suatu produk atau jasa, sehingga konsumen
mempunyai kemauan untuk membeli.
Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja
Menurut Nitisemito (1992) dalam Cahyo (2015), lingkungan kerja adalah
kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap
pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Selama melakukan pekerjaan, setiap pegawai
akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat dalam lingkungan
kerja.Lingkungan Kerja atau fasilitas yang diberikan oleh organisasi kepada
karyawan juga merupakan factor external yang menunjang kepuasan kerja. Seperti
dicontohkan seorang pemimpin membuatkan ruangan seindah dan senyaman
mungkin agar karyawan mampu bekerja dengan nyaman dan tanpa gangguan.
Sehingga karyawan menjadi betah dilingkungan kerja tersebut serasa bermain sambil
bekerja ataupun sebaliknya. Hasil penelitian yang dilakukan Kristianto, Abdi dan
Nugroho (2013) dalam Tjandra dan Setiawati (2014), dalam penelitiannya
menyatakan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja
karyawan.
Dengan adanya lingkungan kerja yang kondusif akan menciptakan kinerja
yang optimal. Lingkungan kerja yang kondusif dengan ditunjang fasilitas yang baik
dari perusahaan kepada para karyawan merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja disebabkan karyawan menjadi betah bekerja di
lingkungan tersebut. Dapat juga karyawan merasa tempat kerja tersebut merupakan
rumah kedua mereka.
Langkah – Langkah Pengambilan Keputusan Pembelian
Kotler (2017:125) menyatakan bahwa keputusan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen adalah sebuah
proses. Proses tersebut terdiri dari lima tahap yakni :
a. Pengenalan kebutuhan
Tahap pertama dalam keputusan pembelian ialah
pengenalan kebutuhan, konsumen mulai mengenali
keberadaan problem terkait kebutuhan produk yang akan
dibeli. Munculnya perasaan akan adanya perbedaan real
atau nyata dengan keadaan yang diharapkan oleh
konsumen.
b. Pencarian informasi
Setelah mengenali kebutuhan, konsumen akan
melakukan pencarian informasi guna mendapatkan
informasi detail dan akurat akan suatu produk.
c. Evaluasi alternatif
Konsumen akan melakukan proses evaluasi pada
beberapa pilihan produk yang tersedia. Dengan informasi
yang sudah didapat, konsumen akan melakukan evaluasi
pilihan yang tersedia untuk mencapai proses pembelian.
d. Keputusan pembelian
Pada tahap ini konsumen sudah memiliki rencana
untuk membeli produk yang kemudian akan dibeli
produk tersebut sesuai dengan produk yang sedang
dibutuhkan.
e. Tingkah laku pasca pembelian
Pasca pembelian, ketika konsumen sudah
mendapatkan kepuasan pada suatu produk, maka
konsumen akan membeli ulang produk tersebut
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut (Peter & Olson, 2016:35) ada 3 indikator untuk
menentukan keputusan pembelian, yaitu :
- Kemantapan pada sebuah produk
Untuk memutuskan membeli, konsumen akan
melakukan evaluasi pada beberapa pilihan produk yang
tersedia. Konsumen akan memilih produk tersebut
didasarkan pada faktor – faktor yang bisa memberikan
kemantapan untuk membeli produk tersebut agar benar –
benar yakin bahwa produk yang ingin dibeli sedang
dibutuhkan atau digunakan. - Kebiasaan dalam membeli produk
Dalam keputusan pembelian, kebiasaan konsumen
dalam membeli produk juga memiliki pengaruh. Konsumen
yang sudah terbiasa menggunakan atau memakai produk
yang biasa ia beli cenderung akan memiliki paham yang
sudah melekat di benak mereka yaitu produk cocok atau
bahkan sudah mendapatkan maanfaat produk yang
diinginkan. Sehingga konsumen enggan untuk mencoba
produk baru dan enggan untuk beradaptasi dengan produk
yang baru. - Keputusan tentang merek
Keputusan tentang merek adalah konsumen memilih
berbagai merek produk yang tersedia untuk kemudian
konsumen memilih merek yang mereka sukai dan dirasa
cocok.
Menurut Sumarni (2016) terdapat 4 indikator dalam
keputusan pembelian. Indikator tersebut antara lain : - Keputusan tentang jenis produk
- Keputusan tentang bentuk produk
- Keputusan tentang merek
- Keputusan tentang penjualan
Kesimpulan dari keputusan pembelian adalah
Serangkaian proses pemikiran konsumen yang dilakukan
untuk menentukan berbagai pilihan produk yang akan dibeli
untuk memotivasi konsumen dalam memutuskan membeli
produk
Definisi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler & Amstrong (2017:121). Keputusan
pembelian adalah tahap di mana seseorang melakukan proses
evaluasi dari berbagai pilihan, kemudian memutuskan untuk
memilih produk tersebut dari berbagai pilihan yang tersedia.
Keputusan pembelian merupakan tahapan dimana
konsumen benar-benar melakukan pembelian dalam proses
pengambilan keputusan (Ariescy, 2019). Keputusan
pembelian adalah aktivitas pribadi yang secara langsung ikut
serta dalam keputusan untuk membeli produk yang
disediakan oleh penjual
Definisi Perilaku Konsumen
Menurut American Marketing Asociation dalam Peter dan
Olson (2016:6) Perilaku konsumen adalah interaksi dinamis dari
pengaruh dan pemahaman di sekitar kita, tingkah laku dan kejadian,
dimana manusia bertukar semua aspek kehidupan. Hal ini
menegaskan bahwa perilaku konsumen selalu berubah-ubah.
Menurut Peter dan Olson (2016:8) Perilaku konsumen adalah
partisipasi dalam pengaruh dan pemahaman, hubungan antara
perilaku dan kejadian di sekitarnya.
Hal ini berarti bahwa agar dapat memahami konsumen serta
dapat menerapkan strategi pemasaran yang tepat kita harus dapat
memahami bagaimana perilaku mereka. Maka peran pemasar adalah
menciptakan strategi pemasaran yang tepat untuk konsumen melalui
implementasi strategi pemasaran.
Attitude Toward Green Product memoderasi pengaruh Green Brand Imageterhadap Green Purchase Intention
Dalam behavior belief, minat dibentuk dari sikap seseorang yang
dikembangkan dari keyakinan yang dimiliki individu tersebut (Ajzen, 2006).
Keyakinan individu dalam theory self-efficacy merupakan kemampuan generatif yang
dimiliki individu terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan tugas dengan baik
atau mengatasi suatu situasi (Bandura, 1997). Keyakinan paling umum tentang produk
hijau adalah bahwa produk ini lebih sehat dan menjanjikan perlindungan lingkungan
yang lebih baik. Individu yang memiliki kesadaran akan kebersihan dan kesehatan
pribadi, sikap peduli lingkungan dan kualitas yang dirasakan akan membentuk sikap
individu tersebut terhadap pembelian produk hijau. Semakin tinggi kesadaran
konsumen terhadap kesehatannya, maka semakin positif pula kesadaran konsumen
terhadap lingkungan, dan semakin tinggi orientasi nilai konsumen, maka sikap
terhadap produk ramah lingkungan akan semakin positif dan berdampak pada niat
konsumen untuk membeli produk ramah lingkungan (Siti & Juan, 2018). Konsumen
dengan sikap positif terhadap produk hijau cenderung memiliki niat beli hijau yang
lebih tinggi (Siyal et al., 2021). Suki (2013) menegaskan bahwa semakin kuat sikap
konsumen terhadap produk hijau, maka semakin tinggi niat mereka dalam membeli
produk tersebut. Sikap positif terhadap green product dapat menimbulkan persepsi
positif terhadap suatu merek yang berkaitan erat dengan komitmennya terhadap
lingkungan. Sikap positif konsumen terahadap produk ramah lingkungan dapat
meningkatkan green brand image (Chen et al., 2017). Jika konsumen memiliki sikap
yang positif terhadap produk yang ramah lingkungan, mereka cenderung lebih sadar
akan merek yang menghasilkan produk tersebut (Ha, 2021). Hal ini dapat
meningkatkan persepsi positif mereka terhadap merek dan menciptakan citra yang kuat
terkait kesadaran dan konsistensi merek dalam mempromosikan keberlanjutan
(Cavusoglu et al., 2020).
Indikator Green Purchase Intention
Menurut Chen & Chang (2012) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa untuk
mengukur green purchase intention terdapat tiga hal yaitu sebagai berikut:
- Tujuan untuk membeli produk ramah lingkungan (Intends to buy because of
environmental concerns)
Timbulnya niat pembelian konsumen yang berorientasi pada lingkungan sehingga
konsumen berniat untuk membeli produk ramah lingkungan dimasa depan karena
kepeduliannya terhadap lingkungan. - Harapan untuk membeli produk ramah lingkungan (Expectation to buy in the future
because of environmental performance)
Bentuk dari harapan konsumen untuk membeli suatu produk ramah lingkungan di
masa depan karena kinerja lingkungan. - Senang untuk membeli produk ramah lingkungan (Happy to buy product because
they are environmentally product)
Timbulnya perasaan suka, senang dan gembira secara keseluruhan yang dirasakan
oleh konsumen jika mereka melakuakan suatu pembelian produk ramah lingkungan
Pengertian Green Purchase intention
Green Purchase Intention atau niat pembelian hijau merupakan minat dan
ketersediaan konsumen untuk membeli produk yang ramah lingkungan di waktu
mendatang. Kesediaan pelanggan dalam membeli produk akan memiliki probabilitas
yang lebih tinggi walaupun pelanggan belum tentu benar – benar membelinya
(Resmawa 2017). Pada green purchase intention akan membuat konsumen menyadari
seberapa kuat keinginan untuk mencoba atau membeli green product (Lestari, 2018).
Minat beli hijau secara sederhana didefinisikan sebagai niat untuk membeli layanan
atau produk yang tidak merusak lingkungan atau juga dapat dijelaskan sebagai harapan,
keinginan, dan kesadaran untuk membeli produk ramah lingkungan (Arshad et al.,
2014). Green purchase intention menunjukan nilai perilaku pro-lingkungan di mana
konsumen menunjukan kecemasan mereka terhadap lingkungan (Karatu & Mat, 2015)
Indikator Attitude Toward Green Product
Menurut Siti & Juan (2018), dalam penelitiannya terdapat beberapa indikator
yang digunakan untuk mengukur attitude toward green product, yaitu:
- Kesadaran Kesehatan (Health Consciousness)
Kesadaran kesehatan adalah suatu bentuk kepedulian dan perhatian untuk menjadi
lebih baik dan termotivasi dalam memperbaiki, mempertahankan, menjaga
kesehatan dan kualitas hidup dengan menerapkan pola hidup sehat. - Sikap Lingkungan (Environmental Attitude)
Sikap lingkungan membangun kesadaran konsumen dalam menyikapi lingkungan
yang pada akhirnya dapat mempengaruhi niat beli pada produk hijau. Konsumen
yang mepunyai sikap kesadaran lingkungan yang tinggi akan dengan senang hati
menggunakan produk ramah lingkungan demi keberlangsungan lingkungan yang
lebih baik. - Orientasi Nilai (Value Orientation)
Penilaian konsumen terhadap suatu produk tidak hanya berdasarkan kualitas dan
kinerja, tetapi juga memperhitungkan kesenangan dan tekanan sosial tentang apa
yang dikomunikasikan oleh produk tersebut
Pengertian Attitude Toward Green Product
Sikap merupakan ekspresi perasaan seseorang yang mencerminkan suka atau
tidak suka terhadap suatu objek tertentu. Sikap dalam Theory of Planned Behavior yang
dikemukakan oleh Ajzen (1991) merupakan kumpulan evaluasi dan penilaian individu
terhadap suatu perilaku, apakah konsekuensi dari perilaku tersebut memberikan
manfaat baginya atau tidak. Chen dan Chai (2010) mendefinisikan sikap sebagai
manifestasi dari suka atau tidak suka seseorang dan sikap menanggapi berbagai
permasalahan lingkungan merupakan cerminan seberapa besar keinginan seseorang
untuk terlibat dalam pelestarian lingkungan.
Attitude toward green product mengacu pada keyakinan konsumen dalam
pembelian dan konsumsi produk yang sangat berkaitan dengan pelestarian lingkungan
(Mehta & Chahal, 2021). Keyakinan individu dalam theory self-efficacy merupakan
kemampuan generatif yang dimiliki individu terhadap kemampuan dirinya untuk
melakukan tugas dengan baik atau untuk mengatasi suatau situasi (Bandura, 1997).
Keyakinan paling umum tentang produk hijau adalah bahwa produk ini lebih sehat dan
menjanjikan perlindungan lingkungan yang lebih baik. Memiiki kesadaran akan
kebersihan dan kesehatan pribadi, sikap peduli lingkungan dan kualitas yang dirasakan
akan membentuk sikap terhadap produk hijau. Semakin tinggi kesadaran konsumen
terhadap kesehatannya, maka semakin positif pula kesadaran konsumen terhadap
lingkungan, dan semakin tinggi orientasi nilai konsumen, maka sikap terhadap produk
ramah lingkungan akan semakin positif dan berdampak pada niat konsumen untuk
membeli produk ramah lingkungan (Siti & Juan, 2018)
Indikator Green Brand Image
Menurut Chen (2018) dalam penelitiannya terdapat beberapa indikator yang
digunakan untuk mengukur green brand image, yaitu:
- Merek dianggap sebagai tolak ukur komitmen lingkungan (Brand from green
product creative industry as a benchmark commited to environmentally friendly)
Konsumen menganggap bahwa merek dapat digunakan sebagai tolak ukur
komitmen lingkungan dimana merek akan memberikan nilai tambah pada produk
ramah lingkungan yang dipakai atau digunakan konsumen untuk dapat
mengurangi kerusakan lingkungan. - Merek memiliki professional tentang reputasi lingkungan (The reputation of green
brand is handled professionally)
Merek memiliki keunggulan reputasi lingkungan dalam melindungi lingkungan,
sehingga hal tersebut dapat menjadi daya tarik konsumen untuk membeli produk
ramah lingkungan. - Kesuksesan merek dalam kinerja lingkungan (Green brand successfully achieve
environmental performance)
Kesuksesan merek dalam upaya melindungi dan melestarikan lingkungan akan
membuat perilaku pembelian konsumen beralih pada produk ramah lingkungan. - Merek memiliki kepedulian terhadap lingkungan (Green brand care about the
environment)
Harapan konsumen akan kepedulian lingkungan yang merek tersebut tunjukan
akan membuat konsumen memakai atau menggunakan produk ramah lingkungan
tersebut. - Merek dapat dipercayai tentang janji kelestarian lingkungan (Green brand keeping
promises on the environment)
Konsumen percaya bahwa merek memiliki janji untuk menampilkan produk ramah
lingkungan yang berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan
Pengertian Green Brand Image
Citra merek hijau atau green brand image dapat didefinisikan dalam benak
konsumen yang terkait dengan komitmen lingkungan dan kepedulian lingkungan
(Chen, 2010). Citra merek pada produk ramah lingkungan ini muncul dari persepsi
kualitas yang ada dibenak konsumen ketika perusahaan menyatakan untuk
menawarkan produk ramah lingkungan (Doszhanov & Ahmad, 2015). Perusahaan
diharuskan memiliki tanggung jawab pada kelestarsian lingkungan dengan
menciptakan merek yang mendukung kelestarian lingkungan dan mempromosikannya
kepada konsumen (Winangun & Nurcaya, 2020). Keuntungan utama dalam
menciptakan citra merek yang hebat adalah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan
yang pasti, dimana perusahaan dapat memanfaatkan keunggulan kompetitif produk
mereka di pasar yang berbeda (Rakhmawaeti et al., 2019)
Environmental Awareness dan Green Purchase Decision
Beberapa hasil penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwasanya
ditemukan pengaruh positif dan signifikan di dalam environmental awareness
kepada green purchase decision. Mahmoud et al. (2022) mendapati jika ada efek
positif dan signifikan di tengah environmental awareness dengan green purchase
decision. Hal ini menjelaskan jika environmental awareness mempengaruhi
perilaku konsumen terhadap barang dan jasa yang ramah lingkungan. Hasil serupa
juga ditemukan dalam studi Azzahra (2023) di mana penelitian tersebut
membuktikan bahwa environmental awareness mempunyai pengaruh terhadap
green purchase decision. Bukti penelitian lainnya juga menguak hasil yang selaras,
yaitu berdasarkan hasil penelitian Sophianur & Elwisam (2024) membuktikan
bahwasanya kesadaran lingkungan atau environmental awareness ada dampak
positif dan signifikan pada purchase decision barang organik
Green Brand Image dan Green Purchase Decision
Beberapa penelitian sebelumnya telah memperlihatkan bahwasanya ada
hubungan positif dan signifikan antara citra merek ramah lingkungan dengan
purchase decision ramah lingkungan (green purchase decision). Penelitian yang
dilaksanakan oleh Malini & Lie (2021) membuktikan adanya efek positif dan
signfikan di tengah green brand image kepada green purchase decision. Temuan
lain yang dilaksanakan oleh Fatharani (2023) juga menjelaskan jika adanya efek
positif antara green brand image dengan purchase decision produk ‘hijau’ yang di
mana hal ini memiliki makna semakin bagus green brand image, maka semakin
bagus juga green purchase decision. Kondisi ini juga dibantu oleh hasil studi Ulya
et al. (2024) yang memperlihatkan temuan efek positif dan signfikan di tengah
green brand image kepada green purchase decision
Green Marketing dan Green Purchase Decision
Beberapa hasil studi lebih dulu telah membuktikan adanya efek positif dan
signifikan di tengah green marketing pada green purchase decision. Puspitasari et
al. (2021) menjelaskan bahwa adanya pertambahan green marketing pada suatu
produk, maka akan menambahkan green purchase decision juga yang di mana
kondisi ini mengindikasikan adanya pengaruh positif signifikan. Selain itu, Juliana
& Sijabat (2023) selaras memperlihatkan jika green marketing memegang efek
positif dan signifikan terhadap green purchase decision di mana dijelaskan bahwa
kegiatan inovasi yang berorientasi lingkungan memiliki dampak positif dan
pengaruh terhadap purchase decision khususnya produk ramah dan peduli
lingkungan atau green purchase decision. Hal ini juga dibantu oleh hasil studi
Miranda-guerra et al. (2023) yang menguak kedapatan hubungan positif di dalam
green marketing dengan green purchase decision
Environmental Awareness
Environmental Awareness merupakan usaha untuk memajukan dan membina
kesadaran untuk memelihara lingkungan (Puspitasari et al. 2021). Menurut
Candrianto et al. (2023) environmental awareness adalah kesadaran seseorang atau
organisasi tentang masalah lingkungan seperti polusi, konservasi, dan
keberlanjutan, serta dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan dan pentingnya
melindungi sumber daya alam untuk generasi mendatang. Menurut Mahmoud et al.
(2022) environmental awareness ialah kecakapan seseorang untuk memahami
hubungan antara aktivitas manusia dan kualitas lingkungan serta adanya keinginan
untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan lingkungan. Selaras dengan pernyataan
Firdaus (2023) yang menyatakan bahwa environmental awareness mengacu pada
pemahaman seseorang mengenai sifat, proses, dan isu lingkungan serta loyalitas
terhadap kualitas lingkungan dengan berperilaku ramah lingkungan. Golob &
Kronegger (2019) mendefinisikan environmental awareness sebagai tingkat
kepedulian atau kesadaran individu terhadap isu-isu lingkungan dan keinginan
individu untuk melakukan tindakan guna melindungi lingkungan. Maka
berdasarkan diskusi di atas, environmental awareness dapat dikatakan mengacu
pada pemahaman, pengetahuan, dan tingkat kepedulian seseorang terhadap
lingkungan dan berkemauan untuk mengambil tindakan untuk melindungi
lingkungan.
Meningkatkan environmental awareness pada individu dianggap perlu untuk
memotivasi perilaku dan praktik yang lebih ramah lingkungan, seperti mendaur
ulang, penggunaan sumber energi terbarukan, dan membeli atau menggunakan
produk organik atau produk yang dihasilkan secara berkelanjutan. Essoussi &
Linton menjelaskan bahwa konsumen yang mempertimbangkan masalah
lingkungan saat membuat keputusan pembelian, terlihat lebih terlibat dalam
pembelian yang ramah lingkungan dan menyebutkan bahwa konsumen ramah
lingkungan merupakan konsumen yang mengevaluasi bahan dan komponen produk
sebelum membeli, sehingga mereka dapat mendukung manfaat lingkungan dengan
memiliki produk yang tidak terlalu mematikan dan dapat didaur ulang (Guo et al.
2023). Adanya environmental awareness ini mengindikasikan bahwa pentingnya
bagi manusia untuk melindungi, menghormati, dan menjaga alam dari manusia itu
sendiri yang dapat menyebabkan kerusakan. Adanya kesadaran lingkungan ini juga
diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mulai beralih menggunakan
produk-produk yang ramah lingkungan.
Menurut Golob & Kronegger (2019) indikator untuk mengukur
environmental awareness adalah sebagai berikut:
- Pengetahuan terkait isu lingkungan
- Sikap terhadap lingkungan
- Tindakan terhadap lingkungan
Green Marketing
Polonsky (1994) mengasosiasikan green marketing sebagai “serangkai
tahapan pembuatan dan pemasaran produk yang tidak beimbas buruk ke
lingkungan, melalui strategi promosi yang khusus dan pemakaian material daur
ulang yang lebih ramah”(Hendra et al. 2023). Green Marketing ialah sebutan yang
mengacu pada cara memasarkan produk atau layanan yang ramah lingkungan atau
berkelanjutan dengan menggabungkan praktik ramah lingkungan ke dalam
berbagai dimensi pemasaran, seperti pengembangan produk, pengemasan,
periklanan, dan pencitraan merek, untuk menarik perhatian pelanggan yang makin
peduli terhadap masalah lingkungan dengan tujuan lainnya yaitu mendorong
perubahan lingkungan ke arah yang positif (Tsai et al. 2020).
Menurut Hendra et al. (2023) adanya Green Marketing ini tentu memiliki
tujuan bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan, yaitu:
- Menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan: Adanya penerapan green
marketing ini adalah untuk menghasilkan dan mempromosikan produk yang
memiliki dampak minim selama proses produksi hingga pembuangan limbah
oleh pelanggan - Meningkatkan kesadaran dan pendidikan konsumen: Bertujuan agar adanya
peningkatan kesadaran mengenai masalah lingkungan dan memberikan
pengetahuan mengenai dampak lingkungan berdasarkan pilihan konsumsi. - Meminimalkan limbah dan penggunaan energi: Pengurangan limbah dan
penggunaan energi selama produksi diharapkan dapat menghasilkan produk
yang berkelanjutan. - Meningkatkan citra perusahaan: Perusahaan yang mengimplementasikan green
marketing tidak jarang memiliki maksud untuk memperbaiki citra/image
perusahaan di mata konsumen dan pemangku kepentingan. - Memenuhi tuntutan konsumen yang sadar lingkungan: Pengaplikasian green
marketing dijadikan respons terhadap kekhawatiran dunia mengenai perubahan
iklim dan degradasi lingkungan. - Mencapai keberlanjutan jangka panjang: Dilihat dari tujuan jangka panjang,
maka green marketing ingin membantu usaha atau bisnis untuk mencapai
keberlanjutan dengan memasarkan bisnis yang tidak menjadikan keuntungan
sebagai berorientasi utama, namun juga bertanggung jawab secara sosial dan
ramah lingkungan.
Hendra et al. (2023) juga menjelaskan mengenai bahwa sama seperti
pemasaran konvensional, green marketing juga membutuhkan bauran marketing
mix inovatif yang terbagi menjadi 4 (empat), yaitu: - Green Product: Produksi produk yang menggunakan bahan baku yang aman,
proses penciptaan atau pembuatan yang ramah lingkungan, produk dapat didaur
ulang atau digunakan kembali dan terurai secara alami, tidak diujikan pada
hewan, tidak beracun dan tidak merusak lingkungan. - Green Price: Penetapan harga yang sesuai dengan kualitas nilai tambah
lingkungan yang ditawarkan produk tersebut, sebanding dengan kualitas produk,
dan mencakup kesediaan konsumen untuk membayar harga yang ramah
lingkungan. - Green Place: Bauran ini berkaitan dengan proses distribusi produk yang
mengurangi dampak lingkungan, termasuk penggunaan transportasi dan
logistik. - Green Promotion: Menekankan manfaat lingkungan dari produk atau layanan
dalam komunikasi pemasarannya dan penggunaan media sebagai alat pengirim
pesan ke masyarakat yang belum terjangkau mengenai isu lingkungan dan
produk ramah lingkungan.
Menurut Fatmawati & Alikhwan (2021) indikator yang dapat mengukur
dari variabel green marketing, terdiri menjadi 4 (empat), yaitu: - Menyediakan barang yang ramah dan peduli lingkungan
- Menetapkan premium price
- Menciptakan saluran distribusi yang ramah lingkungan
- Mendesain iklan yang ramah lingkungan
Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan
yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Selama melakukan
pekerjaan, setiap pegawai akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat
dalam lingkungan kerja (Nitisemito, 1992).
Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat
melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Kesesuaian
lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama lebih jauh lagi
lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu
yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang
efisien (Sedarmayanti, 2007 dalam Cahyo, 2015).
Menurut Sedarmayanti, 2007 dalam Cahyo, 2015), yang menjadi indikator-
indikator lingkungan kerja adalah: (1) penerangan, (2) suhu udara, (3) sirkulasi udara, (4)
ukuran ruang kerja, (5) tata letak ruang kerja, 6) privasi ruang kerja (7) kebersihan (8)
suara bising, (9) penggunaan warna, (10) peralatan kantor, (11) keamanan kerja, (12)
musik ditempat kerja, (13) hubungan sesama rekan kerja dan (14) hubungan kerja antara
atasan dengan bawahan.
Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu
(Sedarmayanti, 2007 dalam Cahyo, 2015):
a. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat
disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung
maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi menjadi dua kategori
yaitu:
1) Lingkungan kerja yang langsung berhubungan dengan pegawai seperti pusat kerja,
kursi meja, dan sebagainya.
2) Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja
yang mempengaruhi kondisi manusia misalnya temparatur, kelembaban, sirkulasi
udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna dan
lain-lain. Untuk dapat memperkecil penguruh lingkungan fisik terhadap karyawan,
maka langkah pertama harus mempelajari manusia, baik mengenal fisik dan
tingkah lakunya, kemudian digunakan sebagai dasar memikirkan lingkungan fisik
yang sesuai.
b. Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan
dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan, maupun hubungan dengan
sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.
Perusahaan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja
sama antar tingkat atasan, bawahan maupun yang memiliki status yang sama. Kondisi
yang hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik, dan
pengendalian diri (Nitisemito, 20001). Jadi lingkungan kerja non fisik ini juga
merupakan kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.
Gaya Kepemimpinan
Ada beberapa uraian tentang gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan berakar
dari kata pemimpin dan kepemimpinan. Kata pemimpin berarti orangnya dan
kepemimpinan adalah kegiatannya. Dari segi organisasi, kepemimpinan dapat diartikan
sebagai kemampuan atau kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih)
agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan
bersama.(Nawawi & Hadari, 1995. Dalam Prajadi Cipto, 2014).
Kepemimpinan merupakan kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau
bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang
lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkankelompok.
Menurut Suwandi (2004,) ada seorang ahli riset ilmu manajemen yang bernama
Henry Mintzberg yang mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang dimainkan
pemimpin di tempat kerjanya. Kemudian dari kesepuluh peran itu dikelompokan
menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Peran antar pribadi (Interpersonal Role): melibatkan orang dan kewajiban lain, yang
bersifat seremonial dan simbolis. Dalam peran interpersonal terdapat tiga peran
pemimpin yang muncul secara langsung dari otoritas formal yang dimiliki pemimpin dan
mencakup hubungan interpersonal dasar, yaitu:
a. Peran sebagai yang dituakan (Figurehead Role).
b. Peran sebagai pemimpin (Leader Role). - Peran Informasional (Informational Role) : Di karenakan kontak interpersonalnya
baik dengan anak buah maupun dengan jaringan kontaknya yang lain, seorang
pemimpin muncul sebagai pusat syaraf bagi unit organisasinya. Pemimpin bisa saja
tdak tahu segala hal, tetapi setidaknya tahu lebih banyak dari pada karyawannya.
Pemrosesan informasi merupakan bagian utama (key part) dari tugas seorang
pemimpin. Tiga peran pemimpin yang mendeskripsikan aspek informasional tersebut:
a. Peran sebagai monitor (Monitor Role).
b. Peran sebagai Diseminator (Disseminator Role).
c. Peran sebagai Juru Bicara (Spokesman Role). - Peran Pengambilan Keputusan (Decisional Role) : Informasi yang diperoleh
pemimpin bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan masukan dasar bagi pengambilan
keputusan. Sesuai otoritas formalnya, hanya pemimpinlah yang dapat menetapkan
komitmen organisasinya ke arah yang baru, dan sebagai pusat syaraf organisasi,
hanya dia yang memiliki informasi yang benar dan menyeluruh yang bisa dipakai
untuk memutuskan strategi organisasinya. Berkaitan dengan peran pemimpinsebagai
pengambil keputusan, terdapat empat peran pemimpin, yaitu:
a. Peran sebagai Wirausaha ( Enterpreneur Role ).
b. Peran sebagai Pengendali Gangguan ( Disturbance Handler Role ).
c. Peran sebagai pengalokasi sumber daya ( Resource Allocator Role ).
d. Peran sebagai Negosiator (Negotiator Role).
Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah
pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang
dirasakan oleh orang lain.(Hersey, 2004. Dalam Ishak dkk, 2003).
Gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi akan sangat membantu dalam
mengatasi masalah dan terutama masalah yang berhubungan dengan bawahan atau
karyawan.
Menurut Kartini Kartono (2008) dalam Setyo Widodo (2014), indikator-indikator
yang menentukan jenis gaya kepemimpinan seorang pemimpin meliputi:
a. Sifat
b. Kebiasaan
c. Tempramen
d. Watak
.e. Kepribadian.
Sedangkan menurut Siagian (2002) dalam Sigit Prasetyo (2014), gaya
kepemimpinan dibedakan menjadi beberapa tipe:
a. Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis adalah pemimpin yang memiliki kriteria atau
ciri sebagai berikut:
1) Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi.
2) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
3) Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
4) Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat.
5) Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya.
b. Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin
tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang
memiliki sifat-sifat berikut :
1) Dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan.
2) Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya.
3) Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan.
4) Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan.
5) Sukar menerima kritikan dari bawahannya.
c. Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut:
1) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan.
2) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif.
3) Sering bersikap maha tahu.
d. Tipe Kharismatik
Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin kharismatik:
1) Visi dan artikulasi. Dia memiliki visi ditujukan dengan sasaran ideal yang berharap
masa depan lebih baik daripada status quo, dan mampu mengklarifikasi pentingnya
visi yang dapat dipahami oleh orang lain.
2) Rasio personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh resiko personal tinggi,
menanggung biaya besar, dan terlibat ke dalam pengorbanan diri untuk meraih visi.
3) Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara realistis kendala
lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat perubahan.
4) Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin kharismatik perseptif (sangat
pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan responsif terhadap kebutuhan dan
perasaan mereka.
5) Perilaku tidak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat dalam perilaku yang
dianggap baru dan berlawanan dengan norma.
e. Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin
yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena
tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia.
2) Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya.
3) Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya.
4) Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai
tujuan.
5) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
6) Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Berdasarkan fokus sasaran, gaya kepemimpinan terbagi menjadi 3 pola, (Nawawi
dan Hadari, 1995. Dalam Prajadi Cipto, 2014) yaitu:
1) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan tugas secara efektif
dan efisien, agar mampu mewujudkan tujuan secara maksimal.
2) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hubungan kerja sama.
3) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat dicapai dalam
rangka mewujudkan tujuan kelompok atau organisasi.
Kepuasan Kerja
Menurut Mangkunegara (2011) dalam Cahyo Suminar (2015), kepuasan kerja
adalah suatu perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang
berhubungan dengan pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya.
Sedangkan Handoko (2002) dalam Setyo Widodo (2014) menyatakan bahwa
kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau
tidak menyenangkan dengan mana karyawan memandang pekerjaan mereka.
Dole dan Schroeder (2001) dalam Nurlaila (2010) menjelaskan bahwa kepuasan
kerja dapat didefinisikan sebagai perasaan dan reaksi individu terhadap lingkungan
pekerjaannya. Testa (1999) dan Locke (1983) dalam Nurlaila (2010) menjelaskan
bahwa kepuasan kerja merupakan kegembiraan atau pernyataan emosi yang positif hasil
dari penilaian salah satu pekerjaan atau pengalamanpengalaman pekerjaan.
Menurut Hasibuan (2009) dalam Sigit (2014) kepuasan kerja adalah sikap
emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan
oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam
pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Berdasarkan
beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan
sikap dan perasaan pegawai, karyawan atau pekerja terhadap pekerjaan yang
dilakukannya, lingkungan kerjanya, ganjaran atau imbalan yang diterimanya dan
penilaian terhadap hasil pekerjaannya. Perasaan tersebut dapat berupa perasaan senang,
tidak senang, nyaman atau tidak nyaman.
Kepuasan kerja dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain upah, kesempatan
promosi, lingkungan kerja dan sebagainya. Kepuasan kerja karyawan dalam suatu
perusahaan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kinerja karyawan atau
kinerja perusahaan.
Faktor–faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut pendapat Gilmer
(1966) dalam As’ad (2004) sebagai berikut :
a. Kesempatan untuk Maju.
b. Keamanan Kerja.
c. Gaji.
d. Manajemen Kerja.
e. Kondisi kerja.
f. Pengawasan (Supervisi).
g. Faktor intrinsik dari pekerjaan.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan.
i. Fasilitas.
Ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja
yang dirasakan oleh karyawan. Indikator-indikator kepuasan kerja menurut Marihot
(2002) dalam Sigit (2014) meliputi :
a. Gaji
b. Pekerjaan itu sendiri
c. Rekan sekerja
d. Atasan
e. Promosi
f. Lingkungan Kerja
Kinerja Karyawan
Kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010).
Sedangkan menurut Luthans (2005) pada Setyo Widodo (2014) berdasarkan
pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau kualitas
sesuatu yang dihasilkan atau jasa yang diberikan oleh seseorang yang melakukan
pekerjaan.
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan
selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang
telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama (Rivai & Basri, 2005.
Dalam Sigit, 2014).
Adapun faktor-faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja
individu dalam organisasi menurut Mangkunegara (dalam Cahyo, 2015) adalah
sebagai berikut:
a. Faktor Individu
Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki
integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisiknya. Dengan adanya
integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik, maka individu tersebut
memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakan
modal utama individu untuk mampu mengelola dan mendayagunakan potensi
dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja
sehari-hari dalam kinerjanya mencapai tujuan organisasi.
b. Faktor Lingkungan Organisasi
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam
mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara
lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang
menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim
kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relative
memadai.
Sedangkan melirik pada indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara
individu ada enam indikator menurut Robin dalam Cahyo (2015), yaitu:
a. Kualitas. Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas
pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan
kemampuan karyawan.
b. Kuantitas. Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti
jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.
c. Ketepatan waktu. Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu
yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta
memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.
d. Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga,
uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil
dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya.
e. Kemandirian. Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan
dapat menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan suatu tingkat
dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung
jawab karyawan terhadap kantor.
Pengaruh Sarana Prasarana terhadap Kinerja
Sarana dan prasana kerja yang kurang mendukung pelaksanaan
pekerjaan seperti kurangnya alat-alat kerja, ruangan yang pengap, ventilasi
yang kurang, rusaknya peralatan, dan penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kinerja menjadi buruk. Alat-alat yang kurang memadai
sementara tuntutan pekerjaan yang memerlukan percepatan pekerjaan dapat
menjadi masalah, yang pada akhirnya akan menjadi penyebab menurunnya
produktifitas kerja. Dalam keadaan demikian, seorang pemimpin tidak bisa
menyalahkan pegawai yang menjadi bawahannya untuk bekerja dengan cepat
karena ketiadaan alat.
Handoko (1985:193), mengatakan bahwa faktor linkungan terdiri
penerangan/cahaya, suhu udara ditempat kerja, kenyamanan, kelembaban,
sirkulasi udara, kebisingan, bau, warna dekorasi, musik, dan keamanan.
Dekorasi yang sesuai dengan ruangan dan kebisingan suara yang dihindari
mampu membuat pegawai nyaman bekerja tanpa lelah. Udara yang segar dan
sejuk sangat dibutuhkan manusia sebab udara yang kotor dapat merusak
pernapasan. Begitu pula dengan cahaya dan penerangan ruangan kerja, sangat
besar pengaruhnya terhadap kondisi kerja. Penerangan yang kurang dapat
menyebabkan kesalahan dalam bekerja serta terganggunya penglihatan. Cahaya
bisa berasal dari matahari melalui ventilasi ataupun listrik.
Pengaruh Kompensasi terhadap Kinerja
Pengaruh kompensasi dengan kinerja menurut Simamora (1997:557),
para karyawan mendambakan kinerja mereka akan berkorelasi dengan
imbalan-imbalan yang diperoleh dari organisasi. Para karyawan menetukan
pengharapan-pengharapan mengenai imbalan-imbalan dan kompensasi yang
diterima jika tingkat kinerja tertentu tercapai. Jika karyawan melihat bahwa
kinerja yang unggul diakui dan diberikan imbalan oleh organisasi, mereka akan
mengharapkan hubungan yang terus berlanjut dimasa depan. Oleh karena itu,
mereka akan menentukan tingkat kinerja yang lebih tinggi yang mengharapkan
kompensasi yang lebih tinggi. Sebaiknya, jika karyawan memperkirakan
hubungan yang lemah antara kinerja dan kompensasi, maka mereka mungkin
akan menentukan tujuan-tujuan minimal guna mempertahankan pekerjaan
mereka. Oleh sebab itu, penggunaan sistem kompensasi untuk memotivasi
kinerja yang efektif membutuhkan kaitan yang jelas dan terlihat antara kinerja
dan kompensasi serta iklim kepercayaan antara orang-orang yang bekerja
dengan orang-orang yang memberikan kompensasi.
Menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi sangat penting bagi
karyawan itu sendiri sebagai individu, karena besarnya kompensasi merupakan
pencerminan atau ukuran nilai pekerjaan karyawan tersebut. Besar kecilnya
kompensasi akan berpengaruh terhadap prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan
kerja karyawan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerjanya.
Sedangkan menurut Umar (2008:16), salah satu cara manajemen untuk
meningkatkan prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan kerja para karyawan
adalah melalui kompensasi.
Simanjuntak (2005:14), mengatakan bahwa kinerja individu
dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kompensasi sebagai
bentuk dukungan organisasi terhadap upaya peningkatan kinerja pegawai.
Pendapat ini semakin menguatkan pandangan bahwa, pengelolaan kompensasi
yang tepat mampu mendongkrak upaya peningkatan kinerja pegawai yang
sudah barang tentu berimplikasi terhadap peningkatan kinerja organisasi.
Kompensasi yang diterima seorang pegawai akan memotivasi pegawai
tersebut untuk melakukan usaha yang lebih giat lagi dalam bekerja. Namun
kompensasi yang yang diberikan harus mencerminkan nilai atau hasil
pekerjaan baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh sebab itu, kompensasi
yang diberikan harus mencerminkan pula azas keadilan. Dengan kata lain,
kompensasi yang diberikan dengan adil dan merujuk pada nilai/hasil pekerjaan
akan mempengaruhi pegawai untuk saling berkompetisi meningkatkan
kinerjanya
Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja
Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengarui oleh manajemen
kepemimpinan sebagaimana Katini Kartono (2008:170), mengatakan bahwa
kepemimpin berkaitan erat dengan usaha manajemen bahkan menjadi unsur
inti dari organisasi , manajemen, dan administrasi. Pada umumnya, pengertian
manajemen itu lebih diperjelas dengan macam-macam fungsi manajemen,
seperti perencanaan, pengorganisasian, aktualisasi/pengarahan, dan
pengawasan yang harus dikuasai oleh setiap pemimpin. Dengan kata lain,
seorang pemimpin yang efektif dituntut kompetensinya dalam mejalankan
berbagai fungsi manajerial, termasuk di dalamnya bagaimana seorang
pemimpin menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen kinerja,
manajemen karir, manajemen kompensasi pada organisasi yang dipimpinnya
secara adil.
Dapat difahami bahwa kualitas kerja pegawai sangat bergantung pada
mutu kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi yang bersangkutan.
Bahkan dapat dikatakan bahwa mutu kepemimpinan yang terdapat dalam suatu
organisasi memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan
organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama
terlihat dalam kinerja pegawainya
Penilaian Kinerja
Salah satu fungsi manajemen adalah pengarahan, yaitu meliputi bagaimana
meningkatkan dan menilai kinerja pegawai. Penilaian secara luas dapat diartikan
sebagai evaluasi dari sebuah organisasi, dan secara sempit berupa penilaian
terhadap kinerja pegawai. Penilaian kinerja pegawai merupakan kegiatan untuk
menilai keberhasilan atau kegagalan seorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya. Oleh karena itu, penilaian ini harus berpedoman pada ukuran-ukuran
yang telah disepakati bersama dalam standar kerja.
Menurut Nawawi (2008:236-237), mendefinisikan arti penilaian kinerja
sebagai berikut:
a. Penilaian kinerja adalah pendadaran (deskripsi) secara sistematik (teratur)
tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya
oleh seorang pekrja;
b. Penilaian kinerja adalah usaha mengidentifikasi, mengukur (menilai) dan
mengelola (manajemen) pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pekerja (SDM)
di lingkungan organisasi;
c. Penilaian kinerja adalah kegiatan mengidentifikasi pelaksanaan pekerjaan
dengan menilai aspek-aspeknya, yang difokuskan pada pekerjaan yang
berpengaruh pada kesuksesan organisasi;
d. Penilaian kinerja adalah kegiatan pengukuran sebagai usaha menetapkan
keputusan tentang kesuksesan atau gagal dalam melaksanakan pekerjaan oleh
seorang pekerja.
Simamora (1997:416) mengemukakan bahwa penilaian kinerja adalah
proses organisasi mengevaluasi kerja individu. Dalam penilaian kinerja dinilai
kontribusi karyawan kepada organisasi selama kurun waktu tertentu. Umpan balik
kinerja memungkinkan karyawan mengetahui seberapa baik bekerja dibandingkan
dengan standar organisasi.
Hasibuan (2000:96) mendefinisikan penilaian kinerj sebagai kegiatan
manajer untuk mengevaluasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan
selanjutnya. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa penilaian kinerja adalah menilai
rasio hasil kerja nyata dengan standat kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan
setiap karyawan
Pengertian Kinerja
Untuk mencapai kepada pemahaman yang meyakinkan tentang
kinerja, perlu diuraikan bahasan mengenai kinerja. Kinerja merupakan hasil
atau output dari suatu proses, jika output itu dan atau sebagai hasil kerja
pegawai, maka hal itu dinamakan kinerja pegawai. Nawawi (2006:62)
mengemukakan, kinerja adalah kemampuan kerja atau prestasi yang dicapai
dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Menurut Usman (2008:456), kinerja adalah usaha yang dilakukan dari
hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
suatu organisasi sesuai wewenang dan tanggungjawab masing-masing dalam
rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
melanggar hukum dan sesuai moral maupun etika. Sedangkan menurut
Mangkuprawira (2009:218), kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan
seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan
telah disepakati bersama.
Menurut Ilyas (2001:66), kinerja adalah penampilan hasil karya
personel, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja
dapat merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personel
dalam suatu organisasi.
Prawirosentono (1999:2) yang menyatakan bahwa:
Kinerja dalah hasil kinerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang
dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai
tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak meanggar hukum
dan sesuai dengan moral maupun etika.
Sedangkan Bernardin (2001:143) menyatakan bahwa kenerja
merupakan catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi pekerjaan
tertentu atau aktivitas-aktivitas kegiatan pelayanan publik.
Kinerja pemerintah sangat ditentukan oleh kinerja sumber daya
manusia yang dimilikinya. Sebagaimana dikemukakan Ma’arif (2002:70-71),
pemerintah harus mampu mengembangkan berbagai faktor keberhasilan
pelaksanaan pemerintah yang dikontribusikan oleh keadaan sumber daya
manusia (pegawai). Tercapai tujuan lembaga yang ditetapkan harus memiliki
hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang terdapat pada organisasi
lembaga tersebut.
Mangkuprawira (2009:222-224), mengatakan bahwa berdasarkan
kenyataan empris dan praktis menunjukkan, perilaku seseorang, misalnya
dalam pekerjaan yakni produktivitas kerja, dipengaruhi oleh faktor-faktor
intrinsik dan ekstrinsik. Adapun yang termasuk dalam unsur intrinsik (Xi)
antara lain:
a. Tingkat pendidikan, dilihat dari penguasaan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan dalam penguasaan bidang;
b. Tingkat pengetahuan, terkait dengan penguasaan penerapan ilmu dan
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki seseorang terhadap pelaksanaan
pekerjaannya, semakin tinggi kinerjanya;
c. Tingkat pengalaman, merupakan akulasi dari keberhasilan dan kegagalan
serta gabungan dari kekuatan dan kelemahan di dalam melaksanakan
pekerjaannya.
Sedangkan yang termasuk dalam unsur ekstrinsik (Xe) antara lain:
a. Lingkungan keluarga, yang dimaksud di sini adalah sikap dan motivasi
anggota suatu keluarga di dalam memandang makna suatu pekerjaan.
Ineraksi dalam bentuk sosialisasi keluarga yang intensif terhadap makna
pekerjaan akan membantu setiap anggota keluarga untuk
mengoptimumkan kinerjanya;
b. Lingkungan sosial-budaya, seperti aspek kedisiplinan sosial, tanggung
jawab sosial dan sistem nilai tentang pekerjaan akan mendorong seseorang
terlibat aktif dalam meningkatkan kinerjanya
c. Lingkungan ekonomi, antara lain dicirikan oleh pertumbuhan ekonomi,
dan pendapatan perkapita. Jika seseorang memiliki persoalan dalam hal
pendapatan, tentu hal ini akan mempengaruhi kinerjanya;
d. Lingkungan belajar, dapat dilihat dari perilaku masyarakat dalam hal
mengikuti pendidikan dan pelatihan. Lingkungan belajar yang semakin
baik, mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas belajarnya,
sehingga akan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta
produktivitas dalam bekerja;
e. Lingkungan kerja termasuk budaya kerja, suasana kerja dirikan oleh
aspek-aspek budaya produktif, kepemimpinan, hubungan karyawan
dengan sesama rekan dan atasan, manajemen kompensasi. Beragam aspek
lingkungan tersebut mempengaruhi motivasi, dan kinerja para karyawan;
f. Teknologi, semakin tinggi kualitas atau efisiensi teknologi yang
digunakan, semakin tinggi pula produktivitas kerja karyawan
Karakteristik Green Product
Terdapat beberapa karakteristik green product menurut Ottman 2006:55
dalam (Widelia dkk., 2015) yaitu:
- Produk tidak mengandung racun atau toxic
- Produk dapat bertahan lama
- Bahan baku dapat didaur ulang
- Bahan baku yang digunakan terbuat dari bahan daur ulang
- Bahan yang digunakan tidak merusak lingkungan
- Tidak melibatkan uji produk yang melibatkan kecuali dibutuhkan
- Penggunaan produk tidak merusak lingkungan
- Kemasan yang digunkan minimal dan menyediakan produk refill.
- Tidak membahayakan Kesehatan manusia dan hewan
- Menggunakan seminimal sumber daya dalam penggunaan
- Sedikit dan bahkan tidak menghasilkan limbah akibat kemasan dalam
jangka waktu singkat
Kriteria Pemberian Kompensasi
Pemberian kompensas oleh suatu organisasi bukan merupakan sesuatu
yang bersifat statis melainkan dinamis. Artinya, pemberian kompensasi
sewaktu-waktu dapat berubah. Menurut Notoatmodjo (2009:147-148), faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi perubahan ketentuan pemberian kompensasi
antara lain: keadaan perekonomian, kebijakan pemerintah, tuntutan organisasi
pegawai, perkembangan ilmu dan teknologi, dan lain sebagainya. Namun
demikian, agar perubahan yang terjadi tidak terlalu menimbulkan goncangan,
ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam penentuan kebijakan
pemberian kompensasi seperti dijelaskan sebagai berikut:
a. Biaya hidup
Kriteria ini sebenarnya berorientasi kepada karyawan, atau lebih
mementingkan kebutuhan karyawan, dengan tujuan jika karyawan
memperoleh kompensasi sebesar biaya hidup saat ini, maka diharapkan
produktivitas lebih optimal.
b. Produktivitas
Produktivitas karyawan tentu berpengaruh terhadap peningkatan pencapaian
tujun organisasi atau penghasilan organisasi. Artinya, karyawan memiliki
andil cukup besar dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh sebab itu, wajar
apabila hal ini dijadikan kriteria untuk pemberian kompensasi kepada
karyawan.
c. Skala upah atau gaji yang umum berlaku
Memang sulit untuk mengambil skala pemberian kompensasi yang umum
berlaku, karena variasi jenis organisasi, baik dilihat dari sifat maupun besar
kecilnya organisasi yang bersangkutan dapat mengacu kepada organisasi
yang sederajat dan sejeniis sebagai kriteria pemberian kompensasi bagi
karyawan.
d. Kemampuan membayar
Setiap organisasi tentu selalu memperhitungkan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk kompensasi bagi pegawainya dikaitkan dengan biaya
keseluruhan organisasi. Begitu pula biaya-biaya operasional lainnya, harus
diperhitungkan pula. Oleh sebab itu, dalam membuat kriteria pemberian
kompensasi ini, kemampuan membayar dari suatu organisasi perlu
diperhitungkan.
e. Upah atau gaji sebagai alat untuk mempertahankan, dan memberikan
motivasi kepada karyawan.
Organisasi yang baik akan selalu menarik calon karyawan untuk bekerja di
dalamnya, serta mempertahankan karyawan yang sudah bekerja. Di samping
itu, kompensasi seharusnya mampu untuk memeotivasi karyawan apabila
diberikan secara tepat.
Jenis-jenis Kompensasi
Menurut Nawawi (2008:316-317), kompensasi dapat dibedakan
menurut jenisnya, yaitu:
a. Kompensasi langsung (direct compensation)
Kompensasi langsung adalah penghargaan/ganjaran yang disebut gaji atau
upah, yang dibayar secara tetap berdasarkan tenggang waktu yang tetap.
b. Kompensasi tidak langsung (indirect compensastion)
Kompensasi tidak langsung adalah pemberian bagian keuntungan/manfaat
lainnya bagi para pekerja di luar gaji atau upah tetap, dapat berupa uang
atau barang. Dengan kata lain, kompensasi tidak langsung adalah program
pemberian penghargaan/ganjaran dengan variasi yang luas.
c. Insentif
Insentif adalah penghargaan/ganjaran yang diberikan untuk memotivasi para
pekerja agar produktivitas kerjanya tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktu-
waktu. Program insentif diberikan kepada pekerja yang bekerja sacara baik
atau yang berprestasi, misalnya dalam bentuk pemberian bonus, dan dapat
juga dalam bentuk berupa barang
Pengertian Kompensasi dan Tujuan Kompensasi
Dalam manajemen Sumber Data Manusia (SDM), kompensasi menjadi
bagian yang sangat penting, karena kompensasi merupakan upaya organisasi
mempertahankan SDM. Kompensasi yang tidak baik dapat menurunkan
motivasi pegawai, prestasi kerja menurun sehingga berpotensi menurunkan
kinerja organisasi. Dalam usaha mendukung pencapaian tenaga kerja yang
memiliki motivasi dan bekerja tinggi, yaitu dengan cara memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya. Sistem kompensasi juga berpotensi sebagai salah satu saran
terpenting dalam membentuk perilaku dan mempengaruhi kinerja. Dalam
Peraturan Menteri Keuangan Tahun 2010 tentang Pemberian dan Tata Cara
Pembayaran Uang Makan Bagi Pegawai Negeri Sipil bertujuan dalam rangka
meningkatkan kinerja Pegawai Negeri Sipil.
Menurut Sedarmayanti (2008:239), kompensasi adalah segala sesuatu
yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa kerja mereka. Sedangkan
menurut Simamora (1997:541), kompensasi merupakan istilah luas yang yang
berkaitan dengan imbalan-imbalan (finance reward) yang diterima oleh orang-
orang melalui kepegawaian mereka dalam sebuah organisasi.
Menurut Nawawi (2008:315), kompensasi bagi organisasi berarti
penghargaan/ganjara pada para pekrja yang telah memberikan kontri busi
dalam mewujudkan tujuannya, melalui kegiatan yang disebut bekerja.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi adalah segala
sesuatu yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa kerja atau pengabdian
mereka. Dalam suatu organisasi masalah kompensasi merupakan hal yang
sangat kompleks, namun paling penting bagi karyawan maupun organisasi itu
sendiri.
Adapun tujuan sistem kompensasi menurut Sedarmayanti (2008:239)
adalah: a) menghargai kinerja; b) menjamin keadilan; c) mempertahankan
karyawan; d) memperoleh karyawan yang bermutu; e) mengendalikan biaya; f)
memenuhi peraturan. Sedangkan tujuan pemberian kompensasi menurut
Simamora (1997:548), adalah dalam rangka menahan karyawan dan memikat
karyawan yang cakap, dan memberikan motivasi kepada karyawan.
Menurut Notoatmodjo (2009:143), kompensasi dalam suatu organisasi
harus diatur sedemikian rupa sehingga merupakan sistem yang baik dalam
organisasi, karena sistem kompensasi memiliki tujuan yaitu:
a. Menghargai prestasi
Kompensasi yang memadai adalah suatu penghargaan organisasi terhadap
prestasi kerja para karyawan, selanjutnya akan mendorong perilaku-perilaku
atau performance karyawan sesuai dengan keinginan orhanisasi.
b. Menjamin keadilan
Dengan kompensasi yang baik menjamin terjadinya keadilan diantara
karyawan dalam organisasi, dimana setiap karyawan akan memperoleh
imbalan sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan, dan prestasi kerjanya.
c. Mempertahankan karyawan
Kompensasi yang baik mampu mempertahankan karyawan, dengan kata
lain, karyawan akan betah bekerja pada organisasi tersebut.
d. Memperoleh karyawan yang bermutu
Sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon karyawan,
dengan banyaknya calon karyawan tentu memberikan peluang untuk
memilih karyawan yang berkualitas.
e. Pengendalian biaya
Sistem kompensasi yang baik, akan mengurangi seringnya melakukan
rekrutmen, sebagai akibat seringnya karyawan keluar mencari pekerjaan
yang lebih baik. Hal ini tentu terjadi penghematan biaya untuk rekrutmen
dan seleksi calon karyawan baru.
Sistem penghargaan berkenaan dengan seluruh aspek kompensasi,
bahkan termasuk juga di luar organisasi. Penghargaan pada dasarnya berarti
menumbuhkan perasaan diterima/diakui di lingkungan kerja, yang
menyentuh aspek kompensasi dan aspek hubungan antara pegawai yang satu
dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pemberian kompensasi dalam suatu
organisasi harus adil dan mampu menjadi motivator bagi pegawainya dalam
bekerja. Terkait dengan hal itu, maka sistem pemberian kompensasi
dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor ini merupakan tantangan setiap organisasi untuk
menentukan kebijakan kompensasi. Menurut Notoatmodjo (2009:144),
faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Produktivitas
Organisasi tentu selalu berkeinginan untuk memperoleh
keuntungan baik material maupun non material. Oleh sebab itu,
organisasi harus mempertimbangkan produktivitas pegawainya dalam
kontribusinya terhadap keuntungan organisasi.
b. Kemampuan untuk membayar
Pemberian kompensasi akan bergantung pada kemampuan
organisasi itu untuk membayar (abality to pay). Oleh sebab itu,
organisasi tidak akan membayar karyawannya sebagai kompensasi
melebihi kemampuannya.
c. Kesediaan untuk mebayar
Kesediaan untuk membayar (willingness to pay) akan berpengaruh
terhadap kebijaksanaan pemberian kompensasi yang tinggi, namun
belum tentu mereka mau membayar kompensasi yang memadai.
d. Suplai dan permintaan tenaga kerja
Banyak sedikitnya tenaga kerja di pasaran kerja akan
mempengaruhi sistem pemberian kompensasi. Karyawan yang
kemampuannya sangat banyak terdapat di pasaran kerja, mereka akan
diberikan kompensasi lebih rendah daripa karyawan yang
kemampuannya langka di pasaran kerja.
e. Organisasi karyawan
Dengan adanya organisasi-organisasi karyawan (serikat kerja)
akan mempengaruhi kebijakan pemberian kompensasi. Organisasi
karyawan ini biasanya akan memperjuangkan anggotanya untuk
memperoleh kompensasi yang sepadan.
f. Berbagai peraturan dan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan jelas mempengaruhi sistem
pemberian kompensasi karyawan oleh setiap organisasi, baik pemerintah
maupun swasta
Gaya Kepemimpinan
Selanjutnya untuk memahami lebih luas mengenai kepemimpinan,
terlebih dahulu kita akan mengenali gaya-gaya seorang pemimpin dalam
memimpin organisasinya. Gaya kepemimpinan yang harus diterapkan pada
individu atau kelompok tergantung pada tingkat kematangan dari orang-orang
yang akan dipengaruhi pemimpin. Menurut Siagian (2003:16), terdapat dua
pandangan mengenai konsistensi gaya kepemimpinan, yaitu:
a. Pendapat yang mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang tidak
berubah menghadapi situasi yang bagaimanapun; sedangkan
b. Pendapat lain mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang sangat
bersifat situasional.
Pandangan yang mengatakan bahwa kepemimpinan seseorang bersifat
situasional memiliki makna bahwa tidak ada pemimpin yang secara konsisten
menggunakan satu gaya kepemimpinan tertentu dalam memimpin organisasi.
Artinya, efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kemampuannya
dengan situasi tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, Siagian pun mengatakan
(2003:17), bahwa teori yang sangat dominan tentang kepemimpinan yang
situasinal, yang dikenal juga dengan istilah “contingency theory”.
Kepemimpinan yang situasional berarti sekaligus memperhitungkan faktor
kondisi, waktu dan ruang yang turut berperan dalam penentuan pemilihan gaya
kepemimpinan yang paling tepat.
Menurut Wahjosumidjo (1987:99-100), teori kepemimpinan model
kontingensi yang dikembangkan oleh Fiedler, dan dikembengkan lebih lanjut
oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard, bahwa gaya kepemimpinan yang
paling efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat
kemantapan usia atau emosi (age or emotional stability). Oleh sebab itu, dalam
kepemimpinan situasional penting bagi setiap pemimpin untuk mendioknosa
dengan baik tentang situasi. Sehingga, pemimpin yang baik menurut teori ini,
harus mampu mengubah-ubah perilakunya sesuai dengan situasinya, dan
mampu memperlakukan bawahan sesuai dengan kebutuhan dan motif yang
berbeda-beda.
Jadi, berdasarkan teori kepemimpinan situasional, semua variabel
situasi (waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, harapan dan kemampuan
atasan, teman sejawat,dan bawahan) adalah sangat penting yaitu tingkah laku
pemimpin dalam hubungannya dengan para bawahan:
a. Gaya otokratis, pemimpin otokrasi merasa mengetahui apa yang diinginkan
dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan itu sebagai perintah
langsung kepada para karyawannya;
b. Gaya partisipatif atau demokrasi, pemimpin denan gaya ini cenderung
mengasumsikan bahwa para anggota individu dari suatu kelompok yang
ambil bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan lebih
mungkinkan, sehingga mempunyai komitmen yang lebih besar pada sasaran
dan tujuan organisasi;
c. Gaya kendali bebas, pendekatan kendali bebas atau laissez faire, tidak berarti
tidk ada sama sekali pemimpin, ini hanya berarti tidak adanya pimpinan
langsung, pemimpin kendali bebas harus bekerja melalui tujuan organisasi.
Dengan pendekatan ini, tugas-tugas yang diberikan kepada para anggota yang
biasanya menetukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai apa yang
menjadi tujuan organisasi.
Setelah kita memahami gaya kepemimpinan sebagaiman diuraikan di
atas, perlu diketahui pula tipe-tipe pemimpin. Gaya kepemimpinan seseorang
akan identik dengan tipe kepemimpinannya. Artinya, tipe dan gaya dapat
dipandang sebagai sinonim seperti pendapat Siagian (2003:31) yang membagi
beberapa tipe kepemimpinan sebagai berikut:
a. Tipe yang Otokratik, yaitu pemimpin yang bersifat egois yang cenderung
memberlakukan bawahan seperti peralatan atau mesin, mengabaikan peran
bawahan dalam mengambil suatu keputusan, dan memiliki orientasi
terhadap pelaksanaan/penyelesaian tugas tanpa memperhatikan kebutuhan
para bawahannya;
b. Tipe yang Paternalistik, yaitu kepemimpinan yang mengutamakan
kebersamaan dengan sikap kebapakan yang menyebabkan hubungan dengan
bawahan lebih bersifat informal;
c. Tipe yang Kharismatik, yaitu pemimpin yang memiliki daya tarik yang
sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya
sangat besar;
d. Tipe yang Laissez Faire, yaitu pemimpin yang cenderung memilih peranan
yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan temponya sendiri
tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus berjalan dan
bergerak;
e. Tipe yang Demokraktik, yaitu pemimpin yang memposisikan dirinya
sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi, dan sangat menghargai bawahannya.
Sedangkan menurut Terry yang dikutip Irawan (2002:251), bahwa
kepemimpinan dibagi dalam enam tipe yaitu:
a. Tipe pribadi, yaitu berdasarkan kontak pribadi secara langsung dengan
bawahan. Tipe ini sangat efektif pada organisasi yang relatif sederhana
pelaksanaannya;
b. Tipe non-pribadi, yaitu pemimpin yang tidak melakukan kontak langsung
dengan bawahannya. Komunikasi dilakukan melalui sarana yang tersedia
seperti rencana, intruksi, sumpah, janji. Tipe ini sering ditemukn pada
organisasi yang besar dan kompleks strukturnya;
c. Tipe otoriter, yaitu anggapan bahwa kepemimpinan merupakan hak pribadi,
pemimpin dapat melakukan apa saja tanpa harus berkonsultasi dengan
bawahan. Tipe ini bermanfaaat dalam keadaan darurat, dimana konsultasi
dengan bawahan tidak mungkin dilakukan;
d. Tipe demokratis, menitikberatkan pada partisipasi kelompok. Pendapat dan
inisiatif kelompok sangat diasukai oleh tipe pemimpin seperti ini. Oleh sebab
itu kegagalan tipe pemimpin seperti ini jika bawahan dan kelompoknya tidak
cakap dan kurang tergerak untuk bekerja sama;
e. Tipe paternalis, yaitu ditandai dengan sifat kebapakan atau overprotektif.
Meskipun tujuannya baik, namun seringkali berkaitan buruk karena dapat
menyumbat kreativitas, rasa percaya diri bawahannya;
f. Tipe indigenous, yaitu timbul pada masyarakat yang bersifat informil seperti
paguyupan. Interaksi antar anggota ditentukan oleh keaslian sifat dan
pembawaan pemimpin
Fungsi Kepemimpinan
Interaksi anatara pemimpin dan bawahannya dapat dilakukan dengan
cara partisifatif dan intruksi, dan cara berinteraksi yang dilakukan pimpinan
sangat tergantung pada cara pandang seseorang pemimpin terhadap
bawahannya. Dalam peranan kepemimpinan bagi peningkatan kinerja pegawai
maka fungsi kepemimpinan mempunyai peran yang sangat pentinga. Fungsi
tersebut menurut Nawawi (2003:46) adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Instruksi
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin
sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator
merupakan pihak yang menentukan ada (isi perintah), bagaimana (cara
mengerjakan perintah), bilamana (waktu mulai, melaksanakan dan
melaporkan hasilnya) dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar
keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi orang yang dipimpin
hanya sebagai melaksanakan perintah. Inisiatif tentang segala sesuatu yang
ada kaitannya dengan perintah itu sepenuhnya merupakan fungsi pimpinan.
Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak
akan ada artinya tanpa kemampuan mewujudkan atau menterjemahkannya
menjadi instruksi atau erintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya
jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu sejalan dengan pengertian
kepemimpinan, intinya adalah kemampuan pimpinan menggerakkan orang
lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah
ditetapkan.
b. Fungsi Konsultatif
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
pelaksanaan sangat tergantung pada pihak pimpinan. Konsultasi itu dapat
dilakukannya secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja, yang
dinilainya mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam
menetapkan keputusan.
Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-
keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah
menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif. Fungsi
konsultatii ini mengharuskan pemimpin belajar menjadi pendengar yang
baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat pemimpin
libih banyak menjalankan peran sebagai pihak yang didengarkan.
c. Fungsi Partisipatif
Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi
juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif, antara
pemimpin dengan dan sesama orang yang dipimpin. Dalam menjalankan
fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya,
baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanaknnya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh kesempatan
yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang
dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi dan jabatan masing-
masing. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan
secara terkendal dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri
atau mengambil tugas pokok orang lain.
d. Fungsi Delegatif
Fungsi ini dilakukan dengan memberikan pelimpahan wewenang
membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun
tanpa persetujuan pimpinan. Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-
milah tugas pokok organisasinya mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat
dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada
dasarnya berarti keprcayaan. Pemimpin harus bersedia dan dapat
mempercayai orang-orang lain, sesuai dengan posisi/jabatannya, apabila
diberi/mendapat pelimpahan wewenang. Sedangkan penerima delegasi
harus mampu memelihara kepercayaan itu, dengan melaksanakannya secara
bertanggung jawab.
Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena
kemajuan dan perkembangan kelompok atau organisasinya tidak mungkin
diwujudkannya sendiri. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu
didelegasikan pada para pembantunya, agar dapat dilaksanakan secara
efektif dan efisien.
e. Fungsi Pengendalian
Fungsi ini cenderung bersifat komunikasi satu arah, meskipun tidak
mustahil untuk dilakukan dengan cara komunikasi dua arah. Fungsi
pengendalian yang dimaksud bahwa pemimpin yang sukses/efektif mampu
mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang
efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara
maksimal. Dalam keiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak
mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota
kelompok/organisasi. Fungsi pengendalian selanjutnya dapat dilaksanakan
melalui kegiatan pengawasan terhadap pelaksanaan volume dan beban kerja
atau perintah pimpinan.
Setiap organisasi memiliki ciri khusus dan masing-masing dengan
keunikannya sehingga tidak mungkin organisasi diimpin dengan perilaku
tungal untuk segala situasi. Situasi yang berbeda harus dihadapi dengan
perilaku yang berbeda pula. Esensi kepemimpinan seorang pemimpin adlah ia
harus mampu tidak saja hanya sekedar memberi contoh, tetapi yang lebih
penting lagi adalah menjadi dan teladan bagi mawahannya. Robbins
(2008:432) mengatakan bahwa organisasi membutuhkan kepemimpinan dan
manajemen yang kuat untuk meraih efektivitas yang optimal. Dalam dunia
yang dinamis dewasa ini, organisasi membutuhkan pemimpin untuk menantang
statusquo, menciptakan visi tentang masa depan, dan memberikan inspirasi
kepada para anggota organisasi agar bersedia mencapai visi itu. Para pemimpin
dituntut untuk merumuskan rencana secara rinci, menciptakan struktur
organisasi yang efisien, dan mengawasi operasi hari demi hari.
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan faktor utama dalam kehidupan suatu
organisasi, karena diharapkan mampu memecahkan permasalahan yang
timbul. Pemimpin merupakan unsur esensial dari kepemimpinan, tanpa
pemimpin tidak ada kepemimpinan. Peranan pemimpin yang dominan itu
tampak lebih jelas lagi apabila dikaitkan dengan keharusan berintekrasi
dengan lingkungannya yang selalu berubah dan berkembang, antara lain
karena kemajuan peast yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Kartini Kartono (2008:14)
Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang ingin diraih
bergantung kepada kepemimpinannya, yaitu apakah kepemimpinan itu
mampu menggerakkan semua sumber daya manusia, sumber daya
alam, sarana, dana, dan waktu secara efekti-efisien serta dalam proses
manajemen. Karena itu, kepemimpinan merupakan inti dari
organisasi, manajemen, dan administrasi.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi aktifitas
seseorang atau sekelompok orong untuk mencapai tujuan dalam situasi
tertentu. (Hersey & Blanchard, 1995:99). Sejalan dengan hal tersebut, Terry
dalam Hersey & Blanchard (1997:98) menyatakan kepemimpinan sebagai
aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan
kelompok secara sukarela.
Indikator-Indikator Kinerja
Indikator kinerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013)
adalah sebagai berikut:
a. Kualitas Kerja
Menunjukkan kerapian, ketelitian, keterkaitan hasil kerja dengan
tidak mengabaikan volume pekerjaan. Kualitas kerja yang baik
dapat menghindari tingkat kesalahan dalam penyelesaian suatu
pekerjaan yang dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.
b. Kuantitas Kerja
Menunjukkan banyaknya jumlah jenis pekerjaan yang dilakukan
dalam satu waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat
terlaksana sesuai dengan tujuan perusahaan.
c. Tanggung Jawab
Menunjukkan seberapa besar pegawai dalam menerima dan
melaksanakan pekerjaannya, mempertanggung jawabkan hasil
kerja serta sarana dan prasarana yang digunakan dan perilaku
kerjanya setiap hari.
d. Kerja Sama
Kesediaan pegawai untuk berpartisipasi dengan pegawai yang
lain secara vertikal dan horizontal baik didalam maupun diluar
pekerjaan sehingga pekerjaan akan semakin baik.
e. Inisiatif
Inisiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan
pekerjaan serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa
menunggu perintah dari atasan atau menunjukkan tanggung
jawab dalam pekerjaan yang sudah kewajiban seorang pegawai.
Manfaat Penerapan Green Marketing (Pemasaran Hijau)
Terdapat beberapa manfaat atau keuntungan yang didapat perusahaan dalam
menerapkan konsep green marketing pada buku Green Maketing (A-case Study of
The Sub-Industry In Turkey oleh (Kirgiz, 2016) diantaranya:
a. Mendapatkan Keuntungan yang Lebih Besar (Much More Profit)
Limbah yang dihasilkan dari suatu aktivitas produksi menjadi
permasalahan lingkungan dan menjadi bagian permasalahan perusahaan
seperti limbah (bahan kimia) yang dihasilkan serta energi yang digunakan.
Pencegahan masalah dalam hal lingkungan yang mungkin dihadapi di masa
depan dengan berpartsisipasi dalam kegiatan pemasaran hijau untuk
mengurangi biaya marjinal. dapat menjadi factor yang membantu
perusahaan dalam memperoleh keuntungan yang lebih.
b. Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage)
Keunggulan kompetitif dapat dicapai melalui beberapa startegi
seperti membedakan produk dari pesaing. Peningkatan kualitas dan
produktivitas serta melakukan manfaat bagi perusahaan dan lingkungan
merupakan peluang untuk menciptakan nilai tambah bagi konsumen dan
membuat bisnis dengan kegiatan yang peka terhadap lingkungan akan
memmbuat perusahaan mendapatkan keunggulan kompetitif. Menurut
Taylor dan Barker 2004, 158 (Kirgiz, 2016) manajemen dan kinerja
lingkungan yang baik dalam menghasilkan suatu produk, akan membantu
perusahaan untuk mendapatkan keunggulan dianatara peaing.
c. Peningkatan Pangsa Pasar (The Increase in the Market Share)
Pemasaran hijau digunakan sebagai alat startegis bagi perusahaan
dalam memiliki nilai lebih di mata konsumen. Meningkatkan minat dan
kesadaran terhadap kelestarian lingkungan menjadikan konsumen rela
untuk membayar lebih produk ramah lingkungan tersebut. Hal ini akan
menjadi keuntungan bagi perusahaan.
d. Mampu Menghasilkan Produk yang Lebih Baik (Capble of Producing
Better Products)
Menghasilkan produk hijau akan dianggap memiliki nilai lebih
dibandingkan produk non-hijau. Selain meningkatkan keuntungan,
perusahaan yang memproduksi produk hijau akan menjadi lebih dipercaya
konsumen
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Mangkunegara (2016) menyatakan bahwa ada beberapa
faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain:
a. Faktor Kemampuan
Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari
kemampuan potensi (IQ) diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan
pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam
mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah
mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu pegawai
perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan
keahliannya (The right man in place, The man on the right job).
b. Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam
menghadapi situasi (situation). Motivasi merupakan kondisi
yang menggerakkan pegawai yang terarah untuk mencapai
tujuan organisasi (tujuan kerja)
Tahapan Pemasaran Hijau
Pada buku Green Maketing (A-case Study of The Sub-Industry In Turkey
oleh (Kirgiz, 2016) menyebutkan terdapat beberapa tahapan dalam pemasaran
hijau yaitu:
a. Tahap pertama, penargetan hijau merupakan tahapan yang
mempertimbangkan produksi produk hijau untuk lingkungan
konsumen.
b. Tahap kedua, pengembangan strategi merupakan tahapan pada produksi
produk hijau dan non hijau berlanjut, dengan mengembangkan strategi
yang mengarah ke lingkungan dan mengindentifikasi kebijakan
lingkungan. seperti meningkatkan energi, memajukan serta
menghasilkan sedikit limbah.
c. Tahap ketiga, orientasi lingkungan merupakan tahapan perusahaan
dalam mengutamakan proses produksi produk hijau dibandingkan non-
hijau. Produk hijau terus dikembangkan untuk memastikan kesesuaian
dengan kebijakan yang ada mengenai produk ramah lingkungan.
d. Tahap keempat, Perusahaan hadir sebagai perusahaan yang
bertanggungjawab secara social. Pada tahap ini, perussahaan tidak
hanya terlibat dalam isu-isu hijau melainkan juga mengenai masalah
social (lingkungan perusahaan).
Kinerja
Mangkunegara (2016) mengemukakan kinerja adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya. Roziqin (2010) berpendapat
bahwa kinerja secara umum dapat diartikan sebagai keseluruhan
proses bekerja dari individu yang hasilnya dapat digunakan landasan
untuk menentukan apakah pekerjaan individu tersebut baik atau
sebaliknya. Sedangkan Hasibuhan (2013) mengemukakan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan
tuigas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu.
Menurut Sinambela, dkk (2012) mengemukakan bahwa
kinerja pegawai didefinisikan sebagai kemampuan pegawai dalam
melakukan sesuatu keahlian tertentu. Kinerja pegawai sangatlah
perlu, sebab dengan kinerja ini akan diketahui seberapa jauh
kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan
kepadanya. Untuk itu diperlukan penentuan kriteria yang jelas dan
terukur serta ditetapkan secara bersamasama yang dijadikan sebagai
acuan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh setiap individu dalam
melakukan tugasnya. Kinerja juga merupakan kesediaan seseorang
atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan
hasil seperti yang diharapkan. Sehingga dapat memberikan dampak
baik terhadap kualitas perusahaan
Indikator Budaya Organisasi
Umi (2015) mengemukakan bahwa indikator budaya
organisasi dapat diukur dari beberapa bagian yaitu:
a. Norma
Norma adalah sebuah aturan yang tidak tertulis, yang diterima
anggota kelompok. Norma memberitahu apa yang harus dan
tidak harus dilakukan dibawah keadaan atau situasi tertentu.
Norma bersifat memotivasi, berkomitmen, serta meningkatkan
karyawan berkinerja tinggi.
b. Nilai Dominan
Nilai dominan adalah nilai-nilai utama yang ada dalam
organisasi yang diterima anggota organisasi. Organisasi
mengharapkan karyawan membagikan nilai-nilai utama yang
menggambarkan suatu kepribadian yang ada dalam suatu
organisasi. Jika nilai dianggap penting, maka nilai akan
membimbing karyawan berperilaku secara konsisten terhadap
berbagai situasi. Nilai juga merupakan keinginginan efektif
kesadaran atau keinginan yang membimbing perilaku
bagaimana seorang karyawan mampu memiliki efisiensi tinggi
dan kualitas tinggi.
c. Aturan
Aturan adalah peraturan, prosedur, kebijakan secara tertlis yang
telah disepakati dan wajib dipatuhi dan dijalankan oleh seluruh
karyawan didalam suatu organisasi. Memiliki standar,
bagaimana karyawan berinteraksi. Contohnya dalam berbicara,
berperilaku, ketepatan waktu disiplin dalam hadir maupun
mengerjakan tugas. Semua agar memiliki kinerja yang baik dan
hasil yang baik pula bagi organisasi.
d. Iklim organisasi
Iklim organisasi yaitu suatu penyampaian keterbukaan atau
perasaan seorang karyawan didalam suasana lingkungan kerja
yang berguna untuk mengevaluasi seluruh masalah yang ada di
lingkungan kerja agar tujuan organisasi tercapai. Iklim
organisasi juga bentuk perilaku atau karakteristik karyawan agar
berani mengutarakan pendapat demi kenyamanan bersama.
Tujuan Pemasaran
Suatu perusahaan melakukan aktivitas pemasaran dengan melibatkan
konsumen. Kotler dan Keller (Noor, 2014) mengemukakan tujuan utama dari
pemasaran yaitu untuk mengetahui serta memahami dalam rangka pemenuhan
pelanggan hingga pada akhirnya produk yang sampai kepada konsumen sesuai
dengan harapan dan memiliki tingkat jual yang tinggi. Menurut Kuncoro
2011(Mardia dkk., 2021) membagi tujuan pemasaran menjadi tiga jenis yaitu:
- Menyampaikan isu pelanggan tentang produk dan fitur baru yang
dimiliki perusahaan yaitu suatu upaya yang dilakukan melalui
penyampaian infromasi terkait produk atau fitur baru yang sesuai
dengan kebutuhan konsumen. - Mengingatkan pelanggan mengenai merek perusahaan yaitu aktivitas
pemasaran melalui produk atau fitur baru memungkinkan ingatan
konsumen terhadap merek perusahaan. - Meningkatkan dan memperngaruhi konsumen atau pelangan dalam
melakukan pembelian produk
Pemasaran
Keberhasilan suatu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tidak terlepas
dari peranan pemasaran. Pemasaran memiliki peran penting dalam menunjang dan
mendukung aktivitas perusahaan. Menurut Kotler 2009: 9 dalam (Laksana, 2008)
Pasar atau market yaitu “is a group of buyers and sellers who meet and make
transactions to get a certain product” yang mengandung arti bahwa pasar adalah
sekelompok pembeli dan penjual yang bertemu dan melakukan transaksi untuk
mendapatkan suatu produk tertentu.
American Marketing Associaton (AMA) dalam (Fandy & Diana, 2016)
menyatakan bahwa pemasaran merupakan kegiatan, himpunan serangkaian
organisasi dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan serta
mempertukarkan tawaran (offerings) yang bernilai bagi stakeholder (pelanggan,
klien, mitra serta masyarakat umum). “Marketing is an individual or group activity
through the process of creating, exchanging and offering to meet human and social
needs” berdasarkan yang berarti pemasaran merupakan suatu aktivitas individu
atau kelompok melalui proses menciptakan, mempertukarkan dan menawarkan
dalam memenuhi kebutuhan manusia dan sosial Kotler 2009:9 dalam (Laksana,
2008). Kotler dan Amstrong 2011 dalam (Logiawan & Subagio, 2014)
mengemukakan bahwa “Marketing is the company’s process of creating value for
customers and building strong customer relationships to achieve value from
customers as feedback” yang berarti pemasaran adalah proses perusahaan dalam
menciptakan nilai bagi pelanggan serta membangun hubungan pelanggan yang kuat
untuk mencapai nilai dari pelanggan sebagai umpan balik (feedback).
Berdasarkan beberapa definsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pemasaran merupakan aktivitas perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen melalui penawaran suatu produk yang bertujuan memperoleh
nilai pelanggan
Fungsi Budaya Organisasi
Robbins dan judge (2015) mengemukakan beberapa fungsi
budaya organisasi yaitu:
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu
organisasi dan yang lain
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota
organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang
lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu
mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-
standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang
memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
Dari pendapat diatas mengenai fungsi budaya organisasi,
dapat diketahui bahwa budaya itu penting dimiliki oleh suatu
organisasi. Budaya tidak hanya berguna bagi organisasi tetapi
juga berguna bagi karyawan dan tidak hanya berpengaruh
terhadap kinerja karyawan tetapi juga akan mendorong
terciptanya sebuah komitmen organisasi yang akan
menguntungkan, untuk itu budaya organisasi harus dikelola
dengan baik agar dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Pengaruh Green Promotion terhadap Niat Pembelian
Ketika perusahaan mempromosikan produknya melalui
jalur-jalur promosi yang memiliki dampak minimal terhadap
kerusakan lingkungan, konsumen cenderung lebih mengapresiasi
terhadap perusahaan tersebut. Ansar (2013) berargumentasi bahwa
green promotion mempengaruhi niat pembelian terhadap green
product secara positif signifikan. Suciarto et al. (2015) juga
menyatakan bahwa promosi semakin baik terhadap green product,
semakin baik pula pengaruhnya terhadap niat pembelian
Budaya Organisasi
Dalam suatu perusahaan perlu memiliki suatu acuan baku
sehingga karyawan dapat diberdayakan secara optimal. Acuan baku
tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk budaya perusahaan yang
secara sistematis menuntut para karyawan untuk meningkatkan
komitmen kerjanya bagi perusahaan dan pada akhirnya dapat
meningkatkan kinerja bagi perusahaan (Moeljono, 2003). Dengan
demikian budaya perusahaan menjadi fungsi yang strategis dalam
operasional suatu perusahaan. Budaya organisasi juga dibentuk
untuk mengatasi permasalahan dan kemajuan sebuah perusahaan.
Dalam teori Schein (1992) Budaya organisasi adalah pola
dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan
memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu
beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-
anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota
termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam
mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi.
Robbins dan Judge (2015) mengartikan bahwa budaya
organisasi sebagai sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh
para anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan
organisasi lainnya. Selain itu Rivai dan Mulyadi (2012) menyatakan
bahwa budaya organisasi adalah suatu kerangka kerja yang menjadi
pedoman tingkah laku sehari-hari dan membuat keputusan untuk
karyawan dan mengarahkan tindakan mereka untuk mencapai tujuan
organisasi
Pengaruh Green Place terhadap Niat Pembelian
Green place berkaitan dengan pengaturan logistik untuk
mengurangi emisi transportasi dengan tujuan untuk mengurangi
jejak karbon agar tidak menimbulkan polusi udara yang berlebihan
(Shill, 2012). Place mewakili lokasi tempat produk dapat dibeli yang
dapat diartikan baik secara fisik maupun secara virtual. Menekankan
bahwa kemudahan konsumen untuk membeli produk yang diingikan
merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan penjualan.
Penelitian Genoveva et al. (2019) menyatakan bahwa green place
merupakan faktor dalam green marketing mix yang paling
berpengaruh pada niat pembelian. Mengonfirmasi penelitian
Mahmoud (2018) yang menyatakan bahwa green place memiliki
hubungan positif signifikan pada niat pembelian
Indikator-Indikator Gaya Kepemimpinan
Kartono (2008) mengemukakan gaya kepemimpinan
seseorang dapat dilihat dan dinilai dari beberapa indikator sebagai
berikut:
a. Kemampuan mengambil keputusan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis
terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil
tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang
paling tepat.
b. Kemampuan Memotivasi
Kemampuan memotivasi adalah daya pendorong yang
mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk
menggerakkan kemampuannya (dalam bentuk keahlian atau
keterampilan) tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan
menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan
berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Kemampuan Komunikasi
Kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau kesanggupan
penyampaian pesan, gagasan, atau pikiran kepada orang lain
dengan tujuan orang lain tersebut memahami apa yang
dimaksudkan dengan baik secara langsung lisan atau tidak
langsung.
d. Kemampuan Mengendalikan Bawahan
Seorang pemimpin harus memiliki keinginan untuk membuat
orang lain mengikuti keinginannya dengan menggunakan
kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada
tempatnya demi kepentingan jangka panjang perusahaan.
Termasuk didalamnya memberitahukan orang lain apa yang
harus dilakukan dengan nada yang bervariasi mulai dari nada
tegas sampai meminta atau bahkan mengancam. Tujuannya
adalah agar tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik.
e. Tanggung Jawab
Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab kepada
bawahannya. Tanggung jawab bisa diartikan sebagai kewajiban
yang wajib menanggung, memikul jawab, menanggung segala
sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
f. Kemampuan Mengendalikan Emosional
Kemampuan mengendalikan emosional adalah hal yang sangat
penting bagi keberhasilan hidup kita. Semakin baik kemampuan
kita mengendalikan emosi semaking mudah kita akan meraih
kebahagiaan.
Pengaruh Green Price terhadap Niat Pembelian
Penelitian yang dilakukan oleh Ansar (2013) menemukan
bahwa secara statistik terdapat sebuah pengaruh positif green price
terhadap niat pembelian. Dijelaskan dengan hasil penelitian
Mahmoud et al., (2017) bahwa harga sebuah green product tidak
cukup murah. Mahmoud (2018) mengkonfirmasi penelitian
sebelumnya dengan membuktikan hubungan antara green price dan
niat pembelian memiliki hubungan yang signifikan positif
Jenis- Jenis gaya kepemimpinan
Menurut Thoha (2013) gaya kepemimpinan terbagi menjadi
dua kategori gaya yang ekstrem yaitu:
a. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Kepemimpinan otokratis ini dipandang sebagai gaya yang
didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan ini dikaitkan dengan kekuatan personal dan
keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah
dan pengambilan keputusan.
Definisi Niat Beli
Niat beli adalah keinginan konsumen untuk membeli sebuah produk
(Kotler dan Keller, 2012). Dengan mengetahui niat pembelian, peneliti akan
dapat menentukan kemungkinan apakah konsumen akan atau tidak akan
membeli suatu produk di masa depan. Terdapat 2 tipe niat pembelian, yaitu
positif dan negatif. Niat pembelian positif adalah niat beli yang diikuti
dengan pembelian nyata, sementara niat beli negatif adalah niat beli yang
tidak diikuti dengan pembelian secara nyata (Mahmoud et al., 2017).
Menurut Arslan dan Zaman (2014), niat pembelian dapat diartikan
sebagai kemungkinan konsumen akan membeli produk barang atau jasa di
masa depan. Sebuah pengingkatan pada niat pembelian berarti peningkatan
kemungkinan untuk membeli secara nyata. Peneliti juga dapat
menggunakan niat pembelian sebagai indikator untuk mengestimasi
perilaku konsumen. Ketika konsumen memiliki niat pembelian positif, hal
tersebut membentuk positive brand commitment yang mendorong
konsumen untuk melakukan pembelian secara nyata (Wu et al., 2011)
Green Promotion
Hal ini mengacu pada penyediaan informasi sebenarnya tentang
produk dengan cara yang tidak merusak nilai materialistik dan moral
konsumen (Hashem dan Al-Rifai, 2011). Green promotion berperan dalam
mengatur media dan alat promosi seperti periklanan, materi pemasaran,
laman web, public relation, promosi penjualan, pemasaran langsung, video,
dan presenasi dengan tetap berdasar pada 3P (Shil, 2012). Media promosi
green advertisment yang signifikan digunakan sebagai pesan promosi dapat
memunculkan keinginan pembelian konsumen yang fokus terhadap
lingkungan (Ankit dan Mayur, 2013). Tujuan dari green advertisement
adalah untuk mempengaruhi kebiasaan dan perilaku konsumen agar
terdorong untuk membeli produk yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan
mengarahkan kepentingan konsumen (Rahbar dan Abdul Wahid, 2011).
Ansar (2013) yakin bahwa periklanan sangat efektif dalam
meningkatkan pengetahuan konsumen tentang lingkungan dan green
product. Dengan demikian, dapat membantu konsumen untuk membuat
keputusan terkait produk yang akan dibeli serta dampak dari produk tersebut
terhadap lingkungan. Maka dari itu, green advertisement dapat
meningkatkan motivasi untuk membeli green products. Strategi promosi
ini, jika diimplementasikan akan menarik konsumen dan akan
mempengaruhi keputusan pembelian green product konsumen
Gaya Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan tulang punggung bagi
pengembangan organisasi. Hal ini dikarenakan bahwa tanpa ada
kepemimpinan yang baik, maka akan sulit mencapai tujuan
perusahaan yang telah ditetapkan. Jika seorang pemimpin berusaha
untuk mempengaruhi perilaku orang lain, maka orang tersebut perlu
memikirkan gaya kepemimpinan yang akan digunakannya. Gaya
kepemimpinan adalah bagaimana seorang pemimpin melaksanakan
fungsi kepemimpinannya dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang
berusaha dipimpinnya atau mereka yang mungkin sedang
mengamati dari luar (Regina, 2017)
Menurut Thoha (2010) gaya kepemimpinan merupakan norma
perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut
mencoba memengaruhi perilaku orang lain atau bawahan. Menurut
Hasibuhan (2013) gaya kepemimpinan adalah suatu cara pemimpin
untuk mempengaruhi bawahannya agar mau bekerja sama dan
bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan gaya kepemimpinan menurut Rivai (2014) adalah
sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi
bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan
gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai
dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Green Place / Distribution
Green place mengatur logistik untuk mengurangi konsumsi energi
dan emisi yang bertujuan untuk mengurangi jejak karbon yang dapat
menyebabkan polusi terhadap udara (Shill, 2012). Place mewakili lokasi
tempat produk dapat dibeli yang dapat diartikan secara fisik maupun secara
virtual. Sistem distribusi adalah hal yang memperkuat hubungan antara
perusahaan dan konsumen. Dalam sistem distribusi green marketing, yang
disebut sebagai green place adalah gerbang distribusi yang memfasilitasi
pengirim produk dan untuk mengamankan prosedur yang dilakukan sesuai
dengan syarat dan ketentuan terkait lingkungan hidup (Al-bakry, 2007).
Distribusi produk harus dari saluran yang baik, jelas dan benar
ditempatkan di tempat yang ramah lingkungan dimana tidak ada
kontaminasi apapun. Bagi perusahaan yang ingin mendirikan dan
melaksanakan bisnis yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk
dengan harga bersaing, maka perusahaan harus dapat memastikan bahwa
distributornya memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memastikan
bahwa mereka melaksanakan green distribution strategy (Eric, 2007).
Perusahaan harus meminimalkan dampak lingkungan dari pelaksanaan
logistik (Singh dan Pandey, 2012: 26)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Suharto & Cahyono(2010) faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja yaitu:
a. Kemampuan, kepribadian dan minat kerja.
b. Kejelasan dan penerimaan atau kejelasan peran seorang pekerja yang
merupakan taraf pengertian dan penerimaan atas tugas yang diberikan
kepadanya.
c. Tingkat motivasi pekerja yaitu daya energy yang mendorong,
mengarahkan dan mempertahankan perilaku.
Menurut Suharto & Cahyono (2010) menjelaskan bahwa terdapat
dua variabel yang mempengaruhi kinerja yaitu:
a. Variabel Individu
Variabel individu terdiri dari pengalaman, pendidikan, jenis kelamin,
umur, motivasi, keadaan fisik, kepribadian.
b. Variabel Situasional
Variabel situasional yaitu menyangkut tiga faktor yaitu:
1) Faktor sosial dan organisasi, yaitu: kebijakan, jenis latihan dan
pengalaman, sistem upah serta lingkungan sosial.
2) Faktor fisik dan pekerjaan, meliputi: metode kerja, pengaturan
dan kondisi, perlengkapan kerja, pengaturan ruang kerja,
kebisingan, penyinaran dan temperatur.Disiplin kerja meliputi
sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap
peraturan-peraturan yang berlaku.
Menurut Vincent Gaspersz (2012:48) “kinerja memainkan peran
bagi peningkatan suatu kemajuan atau perubahan ke arah yang lebih baik
yaitu terhadap pengukuran fakta-fakta yang akan menghasilkan data dan
kemudian apabila data itu di analisis secara tepat akan memberikan
informasi yang akurat sehingga informasi itu akan berguna bagi
peningkatan pengetahuan para pimpinan dalam pengambilan keputusan”.
Green Price
Harga adalah biaya yang konsumen bayarkan untuk mendapatkan
sebuah produk, yang juga merupakan elemen kritis dari marketing mix.
Sebagian besar konsumen bersedia membayar dengan harga lebih tinggi
(premium) jika produk tersebut dapat menghasilkan presepsi nilai tambah
(Eric, 2007). Nilai ini dapat meningkatkan peforma, fungsi, desain, tampak
produk, ataupun rasa (Sharma, 2011). Faktor “keuntungan bagi lingkungan”
dapat menjadi nilai tambah bagi sebuah produk yang dapat meningkatkan
pula harga produk tersebut. Akan tetapi di sisi lain, hal ini juga tidak jarang
menjadi faktor penentu di antara produk yang sama kualitasnya (Signh,
2013).
Sebagai contoh, jika terdapat produk sejenis dengan tampilan,
kualitas, dan fungsi yang sama yaitu A dan B, dengan A merupakan produk
yang lebih tidak merusak lingkungan dari sisi produksi, bahan baku,
maupun pemasarannya, sedangkan B merupakan produk yang tidak
memperhatikan keberlangsungan lingkungan. Harga produk A lebih tinggi
dibandingkan harga produk B, konsumen awam akan cenderung tertarik
kepada produk B dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan
produk A meskipun produk A memiliki dampak buruk yang lebih kecil
terhadap lingkungan. Pengecualian jika konsumen memang memiliki
perhatian khusus terhadap keselamatan lingkungan.
Menurut Hashem dan Al-Rifai (2011), green price didefinisikan
sebagai harga yang ditetapkan perusahaan dengan mempertimbangkan
aspek-aspek yang berhubungan dengan keselamatan lingkungan, sesuai
dengan kebijakan dan instruksi perusahaan itu sendiri. Green product
19
seringkali membutuhkan biaya produksi yang lebih tinggi di awal
dibandingkan dengan product biasa, namun dalam jangka panjang, hal
tersebut justru dapat menghemat keseluruhan biaya bagi perusahaan
tersebut (Fan dan Zeng, 2011). Green price mempertimbangkan konsep 3P
yaitu people, planet, dan profit, dalam metode yang ditunjukkan untuk
menyejahterakan karyawan dan masyarakat serta memastikan produktivitas
yang efisien. Nilai dapat ditambahkan dengan mengubah penampakan
produk, fungsi produk, dan melalui kustomisasi (Shil, 2012). Salah satu
faktor yang juga menyebabkan harga produk ramah lingkungan umumnya
lebih mahal adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk melaksanakan
green marketing yang notabene lebih tinggi karena perusahaan harus
memperoleh sertifikasi (Arseculeratne dan Yazdanifad, 2014)
Indikator Kinerja Karyawan
Menurut Hadari Nawawi (2010:79) menyatakan bahwa aspek atau
indikator untuk melakukan pengukuran terhadap kinerja sebagai berikut:
a. Kualitas Hasil Kerja
Kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan
ditentukan.
b. Kuantitas Hasil Kerja
Jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode yang ditentukan.
c. Jangka Waktu yang dibutuhkan
Cara untuk mengatur dan memanfaatkan setiap bagian dari waktu
untuk melakukan aktivitas tertentu yang sudah ditargetkan atau di
tentukan dalam jangka waktu tertentu dan aktivitas tersebut harus
selesai.
d. Kehadiaran dan Kegiatan selama di tempat kerja
Yaitu kedatangan karyawan, jam istirahat dan jam pulang sesuai
dengan jadwal yang telah disepakati.
e. Kerjasama
Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain atau sesama anggota
organisasi.
Menurut Hadari Nawawi (2010:79) “terdapat beberapa unsur
penting kinerja yaitu:
a. Unsur kemempuan,
b. Unsur usaha,
c. Unsur kesepakatan
Ketiga unsur di atas bermuara pada hasil kerja yang dicapai.
Dengan demikian berarti seseorang yang memiliki kemampuan tinggi di
bidang kerjanya hanya akan sukses apabila memiliki kesediaan
melakukan usaha yang terarah pada tujuan organsiasi. Tanpa usaha,
kemampuan akan kehilangan artinya. Selanjutnya kemampuan dan usaha
saja tidak cukup apabila tidak ada kesempatan untuk sukses, baik yang
diciptakan sendiri maupun yang diperoleh dari pihak lain, khususnya dari
pihak atasan masing-masing. (Hadari Nawawi:2010:79)
Menurut Jason A. Colquitt, Jeffery A. Lepine dan Michael J.
Wesson (2009:37), kinerja adalah “job performance is formally defined as
the value of the set of employee behaviors that contribute, either positively
or negatively, to organizational goal accomplishment”. Prestasi kerja
secara formal didefinisikan sebagai nilai dari himpunan perilaku
karyawan yang memberikan kontribusi, baik positif maupun negatif,
untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Mathis dan Jackson (2012:78) “kinerja karyawan adalah
apa yang dilakukan oleh seorang karyawan yang mempengaruhi seberapa
banyak mereka member kontribusi kepada organisasi yang antara lain
termasuk kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran
ditempat kerja dan sikap kooperatif”
Green Product
Dalam beberapaa dekade terakhir, kata seperti green product,
produk yang berkelanjutan, produk yang ramah lingkungan, dan ekologikal
secara bergantian sering digunakan oleh produsen maupun pemasaran untuk
menarik minat konsumen sebagai bagian dari green marketing (Gosavi,
2013). Green product sendiri didefinisikan sebagai sebuah produk yang
diproduksi menggunakan bahan ramah lingkungan yang telah mendapatkan
sertifikasi oleh organisasi yang berwenang (Kumar dan Ghodeswar, 2015).
Produk merupakan pusat dari green marketing mix dan bagian paling
esensial dari seluruh green marketing strategy. Bagaimanapun, green
product tidak hanya terbatas pada produk itu saja tapi juga melibatkan setiap
elemen dari produk tersebut seperti bahan baku, proses produksi, dan
kemasan produk itu sendiri (Fan and Zeng, 2011)
Definisi Green Marketing
Pada tahun 1975, The American Marketing Association (AMA)
menyelenggarakan lokakarya yang pertama tentang “Ecological
Marketing”, yang merupakan buku pertama tentang green marketing.
Menurut AMA, green marketing adalah pemasaran produk yang ditekankan
pada keselamatan lingkungan (www.ama.ord, 2017). Oleh sebab itu, green
marketing meliputi hampir seluruh aktivitas perusahaan. Istilah serupa
dengan green marketing yang sering digunakan adalah ecological
marketing, environmental marketing, dan sustainable marketing. Green
marketing makin berkembang seiring dengan meningkatnya perhatian
masyarakat akan isu-isu tentang lingkungan, sehingga menuntut adanya
tanggungjawab dari berbagai sektor dan pelaku bisnis dalam melakukan
aktivitas pemasaran yang berkelanjutan bagi lingkungan. Menurut Salmon
dan Stewart (dalam Irandust and Bamdad, 2014) green marketing adalah
strategi pemasaran yang mendukung lingkungan dengan menciptakan
keuntungan terhadap lingkungan. Hal ini didasari oleh apa yang konsumen
harapkan dari perusahaan, yaitu agar perusahaan atau produsen lebih
memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup dalam seluruh proses atau
tahapan produksinya agar dapat mengurangi dampak kerusakan terhadap
lingkungan.
Tujuan dari green marketing tidak hanya untuk mendapatkan profit
sebagai satu-satunya tujuan perusahaan, tetapi adanya tambahan kepedulian
terhadap lingkungan hidup. John Grant (2007) membagi tujuan green
marketing menjadi 3 tahap yaitu:
a. Green, bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik bahwa
merek atau perusahaan terkait merupakan perusahaan yang peduli
kepada kelangsungan lingkungan hidup. Tahapan ini merupakan
tahapan awal bagi perusahaan yang menerapkan konsep green
marketing.
b. Greener, selain untuk komersialisasi sebagai tujuan utama
perusahaan, tetapi juga untuk mencapai tujuan yang berpengaruh
kepada lingkungan hidup. Perusahaan mencoba mengubah gaya
konsumen terkait dengan cara konsumsi atau penggunaan produk,
dengan menerapkan langsung teknologi atau perubahan itu secara
langsung terhadap produk, atau mengedukasi kepada konsumen
melalui media promosinya. Misalnya penghematan kertas yaitu
dengan cara substitusi produk kertas menggunakan kertas bekas
yang telah didaur ulang, penghematan air untuk produksi suatu
barang, atau penghematan listrik dengan menerapkan teknologi
tertentu.
c. Greenest, dimana perusahaan berusaha mengubah budaya konsumen
menuju ke arah yang lebih peduli akan lingkungan hidup. Budaya
konsumen yang diharapkan adalah kepedulian terhadap lingkungan
dalam semua aktivitas tanpa terpengaruh oleh produk perusahaan
yang ditawarkan.
Komponen-komponen yang terdapat dalam green marketing adalah sebagai
berikut (Wu and Chen, 2014):
a. Green customers, merupakan orang-orang yang melakukan pembelian
dan mengkonsumsi produk-produk yang aman bagi tubuh dan
lingkungannya.
b. Green production process, merupakan suatu cara produksi dengan
teknologi yang membatasi polusi atau memiliki manfaat terhadap
lingkungan.
c. Green financial affairs, merupakan jenis-jenis pendekatan akuntansi
yang mencoba untuk mempertimbangkan niali-nilai keuangan dan
moneter untuk investasi ekologi dan kerusakan hutan.
d. Reasons of being green, merupakan sebuah alasan bagi seseorang atau
perusahaan untuk mengubah perilakunya untuk peduli terhadap
lingkungan
Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Hadari Nawawi (2010:79) “kinerja yaitu kemampuan
kerja yang ditunjukkan melalui proses atau data bekerja dan hasilnya yang
dicapai”. Di lingkungan sebuah organisasisetiap dan semua pekerja perlu
dievaluasi kinerjanya untuk mengetahui kontribusinya dalam mencapai
tujuan, baik tujuan operasional maupun tujuan strategic yang sudah
ditetapkan
Definisi Pemasaran
Pemasaran adalah faktor penting usaha suatu perusahaan untuk
menjalankan bisnisnya, terutama yang berhubungan dengan konsumen.
Kotler dan Keller (2016:26) menjelaskan bahwa pemasaran adalah tentang
mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu
definisi pemasaran tersingkat yang baik adalah “memenuhi kebutuhan
secara menguntungkan.”
Pemasaran adalah rangkaian dari seluruh kegiatan usaha yang
ditujukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan
mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan
konsumen (Stantion, 2012). American Marketing Association memberikan
definisi formal pemasaran adalah aktivitas, serangkaian institusi, dan proses
untuk menciptakan, berkomunikasi, memberikan, dan menukar penawaran
yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada
umumnya (Kotler & Keller, 2016:26).
Suatu aktivitas pemasaran dari perusahaan merupakan usaha yang
secara langsung dilakukan untuk mencapai, membujuk, dan
menginformasikan konsumen untuk membeli dan menggunakan produknya.
Untuk maksud tersebut perusahaan pada umumnya melaksanakan suatu
program pemasaran yang tertuang dalam bauran pemasaran. Bauran
pemasaran adalah sekumpulan alat pemasaran yang digunakan oleh
perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya dalam
pasar sasaran (Kotler & Amstrong, 2012:75)
Green Promotion terhadap Keputusan Pembelian
Prasetya, S. G., & Safitri, J. (2023) Isu kerusakan lingkungan dan
perubahan iklim membangun kesadaran terhadap lingkungan hidup dan
memotivasi perusahaan untuk melakukan upaya meningkatkan
kesadaran lingkungan. Teknologi informasi akan membawa kreativitas
dan fleksibilitas untuk inovasi produk pada masa depan dan dapat
menghubungkan perusahaan dengan pelanggan. Akhirnya, teknologi
informasi akan berkembang untuk melakukan promosi pada produk
ramah lingkungan tersebut.
Green Promotion merupakan suatu proses promosi yang bertujuan
untuk memperkenalkan produk yang ramah lingkungan sehingga dapat
mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang ramah
lingkungan. Green Promotion tentu memiliki pengaruh yang positif
bagi keputusan pembelian, karena semakin banyak promosi yang
menarik pada produk ramah lingkungan, maka semakin banyak juga
konsumen yang mengambil keputusan pembelian pada produk yang
ramah lingkungan tersebut.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
(Primanto, d.k.k., 2023) dari hasil penelitian terdahulu ini, diketahui
40
bahwa variabel green promotion berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian. Hal ini menunjukan bahwa green promotion yang
dilakukan program Starbucks seperti Bring Your Own Tumbler yaitu
dengan memberi potongan harga kepada konsumen yang membeli
dengan membawa tumbler dari Starbucks. Sehingga dapat mengubah
persepsi konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan yang akan
menimbulkan value atau nilai dalam benak konsumen yang berdampak
pada keputusan pembelian.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu Mawardi dkk,
(2017) yang berjudul “Pengaruh green marketing terhadap keputusan
pembelian konsumen Survei Pada Konsumen The Body Shop di
Indonesia dan di Malaysia”. Membuktikan bahwa green promotion
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
Green Product terhadap Keputusan Pembelian
Green Product merupakan suatu produk yang dirancang dan
diproses dengan bahan organic untuk mengurangi limbah plastik dan
mengurangi dampak yang dapat mencemari lingkungan sehingga
menimbulkan keuntungan pada bisnis perusahaan. Green Product tentu
memiliki pengaruh yang positif bagi keputusan pembelian, karena
semakin banyak produk yang ramah lingkungan, maka semakin banyak
juga konsumen yang mengambil keputusan pembelian pada produk
yang ramah lingkungan tersebut.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
(Primanto, d.k.k., 2023) Dari hasil penelitian terdahulu ini, diketahui
bahwa variabel green product berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan bahwa green product
seperti tumbler dan reusable cup sangat bermanfaat bagi lingkungan,
produk starbucks sesuai harapan konsumen, dapat mengurangi limbah
plastik yang aman terhadap konsumen dan lingkungan menjadikan
konsumen memiliki minal beli product ramah lingkungan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu Lestari et al.,
(2015) yang berjudul “Pengaruh Green Product , Green Brand dan
Green Advertising terhadap Keputusan Membeli Air Minum Kemasan
Botol Merek AQUA Di Kecamatan Sumbersari Kabupate Jember”.
Membuktikan bahwa green product berpengaruh secara signifikan
terhadap keputusan pembelian
Indikator Motivasi
Menurut Hasibuan (2010), menjelaskan bahwamotivasi kerja
karyawan dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan
dan keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan diri,
dan kebutuhan aktualisasi diri. Kemudian dari faktor kebutuhan tersebut
diturunkan menjadi indikator-indikator untuk mengetahui motivasi kerja
karyawan, yaitu :
a. Fisioligis atau kebutuhan fisik, ditunjukan dengan pemberian gaji
yang layak kepada pegawai, pemberian bonus, uang makan, uang
transportasi, fasilitas perumahan dan lain sebagainya.
b. Keamanan, ditunjukan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan
kerja yang diantaranya seperti adanya jaminan sosial tenaga kerja,
dana pension, tunjangan kesehatan, asuransi kesehatan, dan
perlengkapan keselamatan kerja.
c. Sosial, ditunjukan dengan melakukan interaksi dengan orang lain
yang diantaranya dengan menjalin hubungan kerja yang harmonis,
kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan kebutuhan untuk
mencintai dan dicintai.
d. Penghargaan, ditunjukan dengan pengakuan dan penghargaan
berdasarkan kemampuan, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan
dihargai oleh karyawan lain dan pimpinan terhadap prestasi
kerjanya.
e. Aktualisasi diri, ditunjukan dengan sifat pekerjaan yang menarik
dan menantang, dimana karyawan tersebut akan mengerahkan
kecakapannya, kemampuan, keterlampilan, dan potensinya. Dalam
pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh perusahaan dengan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut Indrasari (2019:74-75) indikator keputusan pembelian
dibagi menjadi enam sub keputusan di antaranya yaitu sebagai
berikut:
a) Pilihan produk
konsumen dapat menentukan pilihan untuk membeli barang
atau dapat menggunakan uang untuk tujuan yang berbeda,
untuk situasi ini perusahaan harus memilih perhatiannya
terhadap orang-orang yang tertarik untuk membeli produk dan
pilihan yang mereka pikirkan.
b) Pilihan merek
Pembeli harus menentukan pilihan merek mana yang akan
dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan masing-masing, pada
situasi ini, perusahaan harus mengetahui bagaimana pembeli
memilih merek.
c) Pilihan Penyalur
pembeli harus mencari tahu penjual mana yang akan
dikunjungi. Dalam menentukan penyalur, setiap pembeli
memiliki pertimbangan yang berbeda-beda, bisa karena lokasi,
harga, stok, dan lain-lain.
d) Waktu pembelian
pembeli dalam menentukan pilihan untuk membeli dapat
menentukan waktu untuk membeli.
e) Jumlah pembelian
pembeli dalam melakukan pembelian dapat menentukan
jumlah barang yang akan dibeli dalam satu waktu. Pada situasi
ini, perusahaan harus mengatur jumlah barang seperti yang
ditunjukkan oleh berbagai keinginan pembeli
Metode, Model dan Proses Motivasi
Menurut Daryanto (2013:758-760) Mengingat bahwa motivasi
merupakan hal yang harus bisa dilakukan seorang manajer, karena
menyangkut pada kinerja dan produktivitas yang dihasilkan seorang
pegawai. Selain bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja
pegawai, motivasi yang dilakukan secara optimal perlu mengetahui
bagaimana metode, model dan proses yang akan dilakukan dalam
memotivasi pegawainya.
Metode yang diginakan biasanya secara langsung dan tidak
langsung. Metode langsung yaitu motivasi yang diberikan secara
langsung kepada setiap pegawai untuk memenuhi kebutuhannya. Seperti
memberikan pujian, penghargaan, bonus, dan sebagainya. Metode yang
kedua yaitu metode tidak langsung yaitu metode pemberian motivasi
secara tidak langsung melalui pemberian-pemberian faislitas yang
menunjang gairah dan semangat kerja maupun kelancaran dalam
menyelesaikan pekerjaan. Seperti penyediaan ruang kerja yang nyaman,
sarana dan pra-sarana kerja yang baik serta suasana dan lingkungan kerja
yang baik.
Motivasi juga memiliki beberapa model berdasarkan apa yang
diberikan kepada bawahan untuk meingkatkan motivasinya. Model yang
pertana adalah model tradisional, yaitu pegawai yang berprestasi baik
akan di berikan insentif materil. Yang kedua model hubungan manusia
dimana pegawai diberikan pengakuan atas keberadaannya sehingga
pegawai mendapatkan kebebasan untuk membuat keputusan dan
kreativitas. Yang ketiga model sumber daya manusia yaitu pegawai
diberikan rasa kepuasan terhadap pekerjaan yang telah dicapai. Pegawai
merasa diberikan tanggung jawab dan kesempatan yang luas untuk
mengambil keputusan dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam memberikan motivasi terdapat beberapa tahapan yaitu
penjelasan akan tujuan organisasi, mengetahui kepentingan
organisasi,komunikasi efektif, integrasi tujuan, pemberian faislitas, dan
team work.
Menurut Gibson, James L.et.al (2012:126), “Motivation is an
explanatory concept that we use to make sense out of the behavior we
observe”. Motivasi adalah sebuah konsep penjelasan yang kita gunakan
untuk melihat perilaku kita.
Menurut Hamzah B, Uno (2011:71), Motivasi yaitu suatu faktor
yang turut menentukan kinerja seseorang besar atau kecilnya tergantung
pada seberapa banyak intensitas motivasi yang diberikan.
Menurut Mangkunegara (2010:61) Motivasi yaitu terbentuk dari
sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan
(situation). Motivasi merupakan kondisi atau energy yang menggerakkan
diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan
organisasi. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi
kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja
yang maksimal.
Menurut Schermerhorn (2011:351), “ The term motivation is used
in management theory to describe forces within the individual that
account for the level, direction, and persitence of effort expended at
work “. Motivasi yaitu digunakan dalam teori manajemen untuk decribe
kekuatan dalam diri individu yang menjelaskan arah, tingkat
danpersistence usaha yang dikeluarkan di tempat kerja.
Menurut S.P. Hasibuan, Malayu (2010:95), motivasi yaitu sebagai
pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja
seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan
berintegrasi dengan segala daya upaya untuk mencapai kepuasan
Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:120) keputusan
pembelian konsumen merupakan keputusan untuk membeli merek
yang paling di sukai, tetapi kedua faktor dapat muncul antara niat
membeli dan keputusan membeli.
Sedangkan menurut Firmansyah (2019:81) keputusan
pembelian merupakan kegiatan pemecahan masalah yang di lakukan
individu dalam pemilihan alternatif perilaku yang sesuai dari dua
alternatif perilaku atau lebih dan di anggap sebagai tindakan yang
paling tepat dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahapan
proses pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono (2015:367) mendefinisikan keputusan
pembelian keputusan konsumen merupakan sebuah proses dimana
konsumen mengenal masalahnya, mecari informasi produk atau
merek tertentu.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpukan
bahwa keputusan pembelian merupakan keputusan pembelian
merupakan suatu keputusan untuk pembeli sebuah produk yang
disukai dan mencari informasi mengenai produk tersebut sehingga
terjadi tindakan yang paling tepat untuk melalui tahapan proses
pengembalian keputusan
Pengertian Motivasi Kerja
Menurut A. Colquitt, Jason (2009:178), “ Motivation is Defined as
a set of energetic forces that originates both within and outside an
employed, initiates work-related effort and determines its direction,
intensity and persistence”, motivasi adalah sebagai seperangkat kekuatan
energik yang berasal baik di dalam dan di luar bekerja, memulai
pekerjaan yang berhubungan dengan usaha dan menentukan arah,
intensitas dan ketekunan.
Menurut Daryanto (2013:756), Motivasi adalah suatu faktor yang
mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, oleh
karena itu motivasi sering sekali diartikan pula sebagai faktor pendorong
perilaku seseorang dan indikatornya yaitu kesediaan menerima
tanggungjawab,usaha meraih tujuan, kondisi fisik pekerjaan,dorongan
berprestasi, hasrat kekuasaan, kebutuhan berafiliasi
Indikator Kepemimpinan
Menurut Siagian (2012:121), indikator-indikator adalah
kepemimpinan sebagai berikut:
a. Kepemimpinan sebagai innovator
- Kemampuan pimpinan dalam berinovasi.
- Kemampuan pimpinan dalam konseptual yang seluruhnya
dilaksanakan dalam upaya mempertahankan dan atau
meningkatkan kinerja perusahaan.
b. Kepemimpinan sebagai komunikator - Kemampuan menyampaikan maksud dan tujuan komunikasi.
- Kemampuan pimpinan dalam memahami, mengerti dan
mengambil intisari pembicaraan.
c. Kepemimpinan sebagai motivator - Kemampuan pimpinan mendorong pegawai bekerja sesuai
tanggung jawab. - Kemampuan pimpinan memberikan sumbangan terhadap
keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.
d. Kepemimpinan sebagai kontroler - Kemampuan pimpinan dalam melakukan pengawasan.
- Kemampuan pimpinan dalam pemakaian sumber daya.
Faktor-faktor kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan fenomena unik, meski kehadirannya
tidak pernah di area yang kosong sudah diterima secara universal.
Berikut ini ada beberapa faktor utama dalam kepemimpinan yaitu:
a. Pemimpin
Pemimpin harus memiliki pemahaman yang jujur mengenai siapa
dirinya sendiri.
b. Pengikut
Berbeda pengikut, berbeda pula karakternya. Dengan demikian,
pengikut yang berbeda memerlukan gaya kepmimpinan yang
berbeda pula.
c. Situasi
Kepemimpinan tidak berada pada situasi yang kosong. Dia selalu
berada dalam situasi, meski nyaris semua situasi berbeda.
d. Komunikasi
Pemimpin yang baik adalah komunikator yang handal.
Menurut Hasibuan (2013:1210), kepemimpinan adalah seorang
yang mempergunakan tugas dan wewenangnya, yang diarahkan kepada
bawahannya untuk mengerjakan pekerjaan dalam mencapai tujuan
organisasi.
Unsur-unsur kepemimpinan
Dari uraian tentang pengertian kepemimpinan di atas, dapat
diidentifikasi unsur-unsur utama sebagai esensi kepemimpinan, unsur-
unsur tersebut yaitu:
a. Unsur pemimpin atau orang yang mempengaruhi.
b. Unsur orang yang dipimpin sebagai pihak yang dipengaruhi.
c. Unsur interaksi atau kegiatan atau usaha dan proses mempengaruhi.
d. Unsur tujuan yang kehendak dicapai dalam proses mempengaruhi.
e. Unsur perilaku atau kegiatan yang dilakukan sebagai hasil
mempengaruhi
Pengertian Kepemimpinan
Menurut Terry. G (2010:343-347), kepemimpinan adalah
hubungan dimana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain
untuk kerjasama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas
yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin
tersebut.
Kata “pemimpin” mencerminkan kedudukan seseorang atau
kelompok orang pada hierarki tertentu dalam organisasi, yang
mempunyai bawahan, karena kedudukan yang bersangkutan
mendapatkan atau mempunyai kekuasaan formal, dan tanggung jawab
untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan merupakan salah satu dimensi kompetensi yang
sangat menentukan terhadap kinerja atau keberhasilan organisasi. Esensi
pokok kepemimpinan adalah cara untuk memengaruhi orang lain agar
menjadi efektif tentu setiap orang bisa berbeda dalam melakukan.
Kepemimpinan merupakan seni, karena pendekatan setiap orang dalam
memimpin orang dapat berbeda tergantung karakteristik pemimpin,
karakteristik tugas maupun karakteristik orang yang dipimpinnya.
Kepemimpinan diperlukan oleh perusahaan dalam upaya
pencapaian tujuan suatu organisasi. Karyawan dituntut untuk dapat
mengikuti arahan dari pemimpinnya karena merekalah yang dianggap
mampu menjadi influence bagi karyawan untuk dapat memiliki tujuan
yang sama dengan perusahaan. Jika tujuan yang dituju tidaklah sama
maka akan sulit bagi suatu organisasi menjalankan proses
pencapaiannya.
Menurut Gibson (2014:5) kepemimpinan adalah upaya
menggunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan paksaan untuk
memotivasi anggota organisasi agar mencapai tujuan tertentu
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan
Motivasi kerja adalah semangat atau hasrat dalam melakukan suatu
pekerjaan. Kinerja merupakan suatu ukuran hasil dalam menentukan
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan yang sudah
ditentukan sebelumnya.
Indikator Green Promotion
Menurut Wijaya (2018:109) menyatakan bahwa indikator green
promotion adalah sebagai berikut:
1) Media promosi
Media promosi adalah sarana yang digunakan untuk
mengkomunikasikan suatu produk atau jasa atau images
perusahaan ataupun yang lain untuk dapat lebih dikenal
masyarakat lebih luas. Dengan promosi ini diharapkan
seseorang bisa mengetahui, mengakui, memiliki, dan
mengingatkan diri pada suatu barang atau jasa yang menjadi
sasarannya. Salah satu bagian penting dari promosi adalah
menentukan media promosi yang paling tepat. Misalnya, surat
kabar, televisi, radio, majalah dan lain-lain.
23
2) Kreativitas promosi
Promosi adalah suatu usaha untuk memperkenalkan produk atau
jasa kepada calon konsumen. Promosi produk dapat dilakukan
dimanapun dan kapanpun, gunakan gaya atau cara yang khas
dengan tujuan agar konsumen selalu ingat dan tidak mudah lupa
dengan produk tersebut.
3) Diferensiasi promosi
Melakukan promosi dengan cara yang berbeda sehingga
konsumen merasa tertarik dengan promosi yang diadakan.
4) Kualitas tenaga pemasar
Tenaga pemasar merupakan bagian terpenting dalam suatu
perusahaan. Apabila tenaga pemasar memiliki kualitas yang
baik, hal ini dapat mempengaruhi perusahaan untuk
mendapatkan keuntungan
Jenis Green Promotion
Menurut Dian Palupi (2020:5) terdapat tiga jenis promosi hijau,
yaitu:
- Iklan yang menangani hubungan antara produk / jasa dan
lingkungan - Mereka yang mempromosikan gaya hidup hijau dengan
menyoroti produk atau layanan - Iklan yang menayangkan tanggung jawab lingkungan yang
dilakukan oleh peusahaan
Pengertian green promotion
Mamahit (2015:342), green promotion merupakan promosi
yang bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat akan produk
akan produk yang ramah akan lingkungan dengan menggukan
media, seperti media elektronik ( televisi dan internet ).
Green Promotion adalah promosi yang mempromosikan
sosialisasi pengetahuan lingkungan, kesadaran lingkungan, dan
mitigasi dampak penggunaan alat promosi ramah lingkungan.
(Zulkifli, 2020:140).
Promisi mencerminkan kegiatan – kegiatan yang
mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk konsumen
untuk membelinya. Jadi, promosi ini merupakan komponen yang
dipakai untuk memberikan dan mempengaruhi pasar bagi produk
perusahaan (Kusnandar & Rinandiyana, 2017:6).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa Green Promotion merupakan suatu proses promosi yang
bertujuan untuk memperkenalkan produk yang ramah lingkungan
sehingga dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli produk
yang ramak lingkungan
Indikator Green Product
Menurut Pankaj dan Vishal (2014:22), indikator green product
dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
a) Green product bermanfaat bagi lingkungan.
Produk yang baik merupakan produk yang tidak mencemari
lingkungan.
b) Kinerja green product sesuai harapan konsumen.
Produk yang mempunyai kinerja tinggi menjadi incaran
konsumen untuk memenuhi kebutuhannya.
c) Bahan baku green product terbuat dari bahan – bahan yang tidak
berbahaya.
Konsumen membeli suatu produk hijau dengan pertimbangan
bahwa produk tersebut terbuat dari bahan baku yang aman bagi
mereka.
Cara-Cara Alternatif Untuk Membuat Green Product
Cara-cara alternatif untuk membuat green product dilakukan
untuk dapat mencapai sasaran, dan dengan demikian dapat
memecahkan masalahnya, dengan kata lain proses pemecahan suatu
masalah yang diarahkan pada sasaran dengan menggunakan cara
alternatif sebagai agar lebih efektif dan efisien.
Cara-cara alternatif untuk membuat green product yang
spesifik menurut Wolok (2019), menyatakan terdiri atas urutan
kejadian berikut:
1) Menciptakan produk dengan karakter dan komposisi yang
memiliki dampak kepada lingkungan yang lebih kecil.
2) Meningkatkan penggunaan bahan mentah yang lebih efisien atau
yang renewable (terbarukan). Kertas misalnya tidak lagi hanya
bisa dibuat dari bubur kertas yang berasal dari batang kayu.
Bambu dan beberapa tanaman alternatif lain yang memiliki serat
yang lebih panjang dan halus dapat menekan penggundulan
hutan.
3) Mengefisiensikan penggunaan kemasan dan penggunaan bahan
kemasan yang bio-degradable atau minimal bisa digunakan
berulang-ulang (re-use).
4) Mengefisiensikan pemakaian energi dalam proses produksi.
5) Meningkatkan tahan lama sebuah produk (durability)
Karakteristik Green Product
Karakteristik produk hijau menurut Grant (2015:358) yaitu:
1) Produk tidak mengandung toxic (racun)
2) Produk lebih tahan lama
3) Produk menggunakan bahan baku dari bahan daur ulang
4) Produk tidak menggunakan bahan yang dapat merusak
lingkungan
5) Menggunakan kemasan ekolabel yang sederhana dan
menyedikan produk isi ulang
6) Tidak membahayakan bagi kesehatan manusia dan hewan
Pengertian Green Product
Menurut Ridwan et al., (2018:57), Green Product atau yang
bisa disebut dengan produk yang berwawasan lingkungan adalah
suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatus cara untuk
mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik
dalam porses produksi, pendistribusian dan pengkonsumsiannya.
Green Product adalah produk yang memberikan jaminan
keberlanjutan bagi pelestarian lingkungan, kesehatan manusia,
penghematan sumber daya alam, hemat energi, hemat air,
memperhatikan penggunaan material dengan meminimalkan
limbah, proses produksi bersih, daur ulang, penggunaan kembali,
dan eko-efisiensi (Zulkifli,2020:132).
Menurut Pankaj dan Vishal (2014:22), Green Product
menawarkan alternatif produk yang diproses menggunakan bahan
organik, menghemat menggunaan energi, menghilangkan produk
beracun dan mengurangi polusi serta limbah.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa Green Produk merupakan suatu produk yang dirancang dan
diproses dengan bahan organik untuk mengurangi limbah plastik
dan mengurangi dampak yang dapat mencemari lingkungan
sehingga menimbulkan keuntungan pada bisnis perusahaan
Pengertian Green Marketing
Rehman (2014:20) menyatakan bahwa fokus green
marketing adalah untuk menyelamatkan sumber daya alam dalam
hal produksi, operasi, pengemasan, distribusi, kompatibilitas
lingkungan dan kinerja, keterjangkauan, kenyamanan, dan
keamanan lingkungan.
Hawkins dan Mothersbaugh (2016:88-89) mendefinisikan
green marketing sebagai: 1) Pengembangan produk yang tidak
memiliki dampak bagi lingkungan baik dari proses produksi,
penggunaan, dan pembuatan pasca konsmen. 2) Pengembangan
produk dengan mengutamakan dampak positif bagi lingkungan. 3)
Hasil dari penjualan produk digunakan untuk kepentingan organisasi
dan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa Green Marketing merupakan untuk menyelamatkan sumber
daya alam dan mengembangkan semua perubahan yang
mengutamakan dampak positif bagi lingkungan
Pengaruh Servant Leadership Terhadap Motivasi Kerja
Servant leadership adalah suatu bentuk kepemimpinan yang secara
langsung terlibat dalam setiap pekerjaan karyawannya, penuh tanggung
jawab, dan selalu mementingkan organisasi terlebih dahulu. Motivasi
kerja adalah suatu yang menciptakan dorongan atau semangat untuk
melakukan suatu pekerjaan
Pengaruh Servant Leadership Terhadap Kinerja
Servant leadership yaitu gaya kepemimpinan yang melayani berasal
dari hati untuk melayani, servant leadership mampu memicu semangat
kerja pada para karyawan, diakibatkan dari rasa perhatian yang
diberikan oleh atasan pada setiap karyawannya sehingga tercipta
semangat kerja pada karyawan tersebut (Neuschel, 2008). Kinerja
adalah hasil dari apa yang telah dilakukan oleh karyawan berdasar pada
tujuan dari organisasi
Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian Produk RamahLingkungan
Hasil penelitian Christine Nya Ling Tan, Adedapo Oluwaseyi Ojo dan
Ramayah Thurasamy (Tan et al, 2019) menunjukkan variabel Harga (Price)
berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian produk ramah
lingkungan.Hasil penelitian ini menunjukkan selama harga yang dibayarkan sesuai
dengan kualitas dan kegunaan maka konsumen tetap akan membeli produk ramah
lingkungan. Hasil yang berbeda didapat dalam penelitian.
Hasil penelitian (Tan et al, 2019) mengenai variabel harga juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Thoria Omer Mahmoud yang berjudul
Impact of green marketing mix on purchase intention. Dalam penelitian ini
Mahmoud menemukan bahwa harga ramah lingkungan memiliki hubungan positif
yang signifikan terhadap niat beli
Penelitian mengenai harga yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian
juga pernah di teliti oleh Indah Safitri dengan penelitian berjudul The Influence of
Product Price on Consumers’ Purchasing Decisions. Dalam penelitian ini Indah
menemukan bahwa harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian
konsumen. Untuk mendorong keputusan pembelian konsumen, produsen harus
20
menetapkan kebijakan harga yang sesuai dan dapat diterapkan dengan menetapkan
harga yang wajar dan tetap
Indikator Motivasi
Indikator motivasi menurut Noermijati (2013) adalah sebagai
berikut :
- Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang menyenangkan akan meningkatkan
semangat serta motivasi kerja pada karyawan. - Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan yang tepat dalam organisasi dapat
meningkatkan semangat dan motivasi karyawan. - Kenyamanan dalam Bekerja
Karyawan yang memiliki motivasi kerja tinggi dapat ditimbulkan
dari rasa nyaman dalam melakukan pekerjaannya - Kesempatan untuk Belajar
Kesempatan untuk belajar yang sama dalam sebuah organisasi
dapat memberikan motivasi lebih untuk peningkatan kinerja
karyawan
Pengaruh Iklan Ramah lingkungan terhadap Keputusan PembelianProduk Ramah Lingkungan
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang berjudul “Green Products
Buying Decision among Young Male and Female Malaysian Consumers”
ditemukan bahwa iklan ramah lingkungan menjadi prediktor signifikan dari
keputusan pembelian produk ramah lingkungan yang dilakukan oleh responden laki
– laki maupun perempuan. Iklan ramah lingkungan memiliki korelasi langsung
dengan keputusan pembelian produk ramah lingkungan di kalangan konsumen
muda di Malaysia.
Penelitian lain dengan judul “Does Green Advertising Matter to Purchase
Intention? A Study of Indonesia Green Family Business” menemukan bahwa niat
beli dipengaruhi oleh iklan ramah lingkungan yang relevan dengan solusi dari
masalah lingkungan yang ada pada produk ramah lingkungan tersebut. Presepsi
negatif ataupun positif dari orang yang melihat iklan tersebut dapat merangsang niat
belinya. Jika konsumen menganggapnya informatif dan mewakili produk sebagai
ramah lingkungan, maka akan meningkatkan niat beli mereka untuk membeli
produk ramah lingkungan
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Tan et al pada tahun 2019
menemukan bahwa iklan ramah lingkungan mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen produk ramah lingkungan. Penelitian yang ia lakukan sejalan dengan
penelitian lainnya yang ia sebutkan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Phau dan
Ong (2007) tentang pentingnya iklan dalam merangsang minat konsumen untuk
membeli produk ramah lingkungan.
