Ada beberapa uraian tentang gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan berakar
dari kata pemimpin dan kepemimpinan. Kata pemimpin berarti orangnya dan
kepemimpinan adalah kegiatannya. Dari segi organisasi, kepemimpinan dapat diartikan
sebagai kemampuan atau kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih)
agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan
bersama.(Nawawi & Hadari, 1995. Dalam Prajadi Cipto, 2014).
Kepemimpinan merupakan kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau
bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang
lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkankelompok.
Menurut Suwandi (2004,) ada seorang ahli riset ilmu manajemen yang bernama
Henry Mintzberg yang mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang dimainkan
pemimpin di tempat kerjanya. Kemudian dari kesepuluh peran itu dikelompokan
menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Peran antar pribadi (Interpersonal Role): melibatkan orang dan kewajiban lain, yang
bersifat seremonial dan simbolis. Dalam peran interpersonal terdapat tiga peran
pemimpin yang muncul secara langsung dari otoritas formal yang dimiliki pemimpin dan
mencakup hubungan interpersonal dasar, yaitu:
a. Peran sebagai yang dituakan (Figurehead Role).
b. Peran sebagai pemimpin (Leader Role). - Peran Informasional (Informational Role) : Di karenakan kontak interpersonalnya
baik dengan anak buah maupun dengan jaringan kontaknya yang lain, seorang
pemimpin muncul sebagai pusat syaraf bagi unit organisasinya. Pemimpin bisa saja
tdak tahu segala hal, tetapi setidaknya tahu lebih banyak dari pada karyawannya.
Pemrosesan informasi merupakan bagian utama (key part) dari tugas seorang
pemimpin. Tiga peran pemimpin yang mendeskripsikan aspek informasional tersebut:
a. Peran sebagai monitor (Monitor Role).
b. Peran sebagai Diseminator (Disseminator Role).
c. Peran sebagai Juru Bicara (Spokesman Role). - Peran Pengambilan Keputusan (Decisional Role) : Informasi yang diperoleh
pemimpin bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan masukan dasar bagi pengambilan
keputusan. Sesuai otoritas formalnya, hanya pemimpinlah yang dapat menetapkan
komitmen organisasinya ke arah yang baru, dan sebagai pusat syaraf organisasi,
hanya dia yang memiliki informasi yang benar dan menyeluruh yang bisa dipakai
untuk memutuskan strategi organisasinya. Berkaitan dengan peran pemimpinsebagai
pengambil keputusan, terdapat empat peran pemimpin, yaitu:
a. Peran sebagai Wirausaha ( Enterpreneur Role ).
b. Peran sebagai Pengendali Gangguan ( Disturbance Handler Role ).
c. Peran sebagai pengalokasi sumber daya ( Resource Allocator Role ).
d. Peran sebagai Negosiator (Negotiator Role).
Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah
pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang
dirasakan oleh orang lain.(Hersey, 2004. Dalam Ishak dkk, 2003).
Gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi akan sangat membantu dalam
mengatasi masalah dan terutama masalah yang berhubungan dengan bawahan atau
karyawan.
Menurut Kartini Kartono (2008) dalam Setyo Widodo (2014), indikator-indikator
yang menentukan jenis gaya kepemimpinan seorang pemimpin meliputi:
a. Sifat
b. Kebiasaan
c. Tempramen
d. Watak
.e. Kepribadian.
Sedangkan menurut Siagian (2002) dalam Sigit Prasetyo (2014), gaya
kepemimpinan dibedakan menjadi beberapa tipe:
a. Tipe Otokratis
Seorang pemimpin yang otokratis adalah pemimpin yang memiliki kriteria atau
ciri sebagai berikut:
1) Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi.
2) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
3) Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
4) Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat.
5) Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya.
b. Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin
tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang
memiliki sifat-sifat berikut :
1) Dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan.
2) Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya.
3) Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan.
4) Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan.
5) Sukar menerima kritikan dari bawahannya.
c. Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut:
1) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan.
2) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif.
3) Sering bersikap maha tahu.
d. Tipe Kharismatik
Terdapat lima karakteristik pokok pemimpin kharismatik:
1) Visi dan artikulasi. Dia memiliki visi ditujukan dengan sasaran ideal yang berharap
masa depan lebih baik daripada status quo, dan mampu mengklarifikasi pentingnya
visi yang dapat dipahami oleh orang lain.
2) Rasio personal. Pemimpin kharismatik bersedia menempuh resiko personal tinggi,
menanggung biaya besar, dan terlibat ke dalam pengorbanan diri untuk meraih visi.
3) Peka terhadap lingkungan. Mereka mampu menilai secara realistis kendala
lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat perubahan.
4) Kepekaan terhadap kebutuhan pengikut. Pemimpin kharismatik perseptif (sangat
pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan responsif terhadap kebutuhan dan
perasaan mereka.
5) Perilaku tidak konvensional. Pemimpin kharismatik terlibat dalam perilaku yang
dianggap baru dan berlawanan dengan norma.
e. Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin
yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena
tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia.
2) Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya.
3) Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya.
4) Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai
tujuan.
5) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
6) Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Berdasarkan fokus sasaran, gaya kepemimpinan terbagi menjadi 3 pola, (Nawawi
dan Hadari, 1995. Dalam Prajadi Cipto, 2014) yaitu:
1) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan tugas secara efektif
dan efisien, agar mampu mewujudkan tujuan secara maksimal.
2) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hubungan kerja sama.
3) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat dicapai dalam
rangka mewujudkan tujuan kelompok atau organisasi.
