Ada beberapa teori kepemimpinan, diantaranya sebagai berikut:
- Teori Sifat
Dalam teori sifat, penekanan lebih pada sifat-sifat umum yang dimiliki
pemimpin, yaitu sifat-sifat yang dibawa sejak lahir. Menurut teori sifat, hanya
individu yang memiliki sifat-sifat tertentulah yang bisa menjadi pemimpin. Teori
ini menegaskan ide bahwa beberapa individu dilahirkan memiliki sifat-sfat tertentu
yang secara alamiah menjadikan mereka seorang pemimpin. Keberhasilan seorang
pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang memiliki
pemimpin. Menurut Stogdill, sifat-sifat tertentu efektif didalam situasi tertentu,
dan ada pula sifat-sifat tertentu yang berkembang akibat pengaruh situasi
organisasi. Sebagai contoh, sifat kreativitas akan berkembang jika seorang
pemimpin berada didalam organisasi yang fleksibel dan mendorong kebebasan
berekspresi, dibandingkan di dalam organisasi yang birokratis. Menurut Darf
menjelaskan tiga sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu
kepercayaan diri, kejujuran dan integritas, serta motivasi. Kepercayaan diri,
berhubungan dengan keyakinan diri pemimpin akan pertimbangkannya,
keputusannya, ide-idenya, dan kemampuannya sendiri. Kejujuran, berhubungan
dengan keyakinan bahwa pemimpin bisa dipercaya, bisa dipegang janjinya, dan
pemimpin tidak suka memainkan peran palsu. Integritas berarti apa yang dikatakan
oleh seorang pemimpin, pasti selalu dilaksanakan. Dorongan, berkaitan dengan
motivasi yang menciptakan usaha tinggi untuk mencapai tujuan tertinggi.
Pemimpin yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, akan memunculkan
energi besar, ketekunan, kegigihan dalam mencapai tujuannya. - Teori Perilaku
Teori perilaku, lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih
terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada
memerhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dasar pemikiran
teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seseorang ketika melakukan
kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. - Teori situasional
Teori situasional mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang
pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi.
Teori situasional dari Hersey dan Blanchard terfokus pada karakteristik
kematangan bawahan sebagai kunci pokok situasi yang menentukan keefektifan
perilaku seorang pemimpin. Menurut mereka, bawahan memiliki tingkat kesiapan
dan kematangan yang berbeda-beda sehingga pemimpin harus mempu
menyesuaikan gaya kepemimpinannya, agar sesuai dengan situasi kesiapan dan
kematangan bawahan. Keefektifan kepemimpinan seseorang ditentukan oleh
kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya
kepemimpinannya agar cocok dengan situasi. Keberhasilan seorang pemimpin
menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku
tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi
organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang.
Menurut Fread Fiedler dalam Sutikno (2018), kepemimpinan yang berhasil
bergantung kepada penerapan gaya kepemimpinan terhadap situasi tertentu.
Sehingga suatu gaya kepemimpinan akan efektif apabila gaya kepemimpinan
tersebut digunakan dalam situasi yang tepat. - Teori Jalan – Tujuan
Menurut teori ini, nilai strategis dan keefektifan seorang pemimpin didasarkan
pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi anggotanya
dengan penerapan hadiah. Tugas pemimpin menurut teori ini adalah bagaimana
bawahan bisa mendapatkan hadiah atas kinerjanya, dan bagaimana seorang
pemimpin menjelaskan dan mempermudah jalan menuju hadiah tersebut.
Pemimpin berusaha memperjelas jalur menuju tujuan yang diinginkan oleh
organisasi sehingga bawahan tahu ke mana harus mengerahkan tenaganya untuk
mencapai tujuan organisasi. Selain itu, pemimpin juga memberikan hadiah yang
jelas bagi prestasi bawahan yang telah memenuhi tujuan organisasi sehingga
bawahan termotivasi. - Teori Kelebihan
Teori kelebihan, beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin
apabila ia memiliki kelebihan dari para pengiktunya. Pada dasarnya kelebihan yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal, yaitu: Pertama;
kelebihan rasio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan dalam
pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki
pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, dan pengambilan
keputusan yang cepat dan tepat. Kedua; kelebihan Rohaniah, artinya seorang
pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada
bawahannya. Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada
dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan,
perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri tauladan bagi para
pengikutnya. Ketiga, Badaniah; Seorang pemimpin hendaknya memiliki kesehatan
badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkannya untuk
bertindak dengan cepat. - Teori Kharismatik
Teori kharismatik, menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena
mempunyai kharisma (pengaruh) yang sangat besar. Kharisma diperoleh dari
kekuatan yang luar biasa. Dalam hal ini ada sesuatu kepercayaan bahwa orang
tersebut merupakan pancaran zat tunggal, sehingga dianggap mempunyai kekuatan
gaib. Pemimpin yang bertipe kharismatik biasanya memiliki daya tarik,
kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. Pengaruh yang luar biasa ini dapat
dilihat dari pengorbanan yang diberikan oleh para pengikut untuk pribadi sang
pemimpin, sampai-sampai mereka rela untuk menebus nyawanya untuk sang
pemimpin. Konsep kepemimpinan yang kharismatik ini banyak bersumber dari
ajaran agama dan sejarah Yunani Kuno, yang menggambarkan betapa hebatnya
kekuatan yang dimiliki oleh para nabi dan raja pada masa itu. Namun secara
konseptual kepemimpinan kharismatik ini dalam pandangan ilmiah dipelopori oleh
Robert House, yang meneliti para pemimpin poitik dan religius di dunia (Sutikno,
2018
