Gaya Kepemimpinan


Pada prinsipnya, gaya merupakan kebiasaan yang melekat pada diri
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas gaya kepemimpinannya. Menurut
Stoner dalam Mangkunegara (2016, p. 64), menjabarkan bahwa “Gaya
kepemimpinan sendiri merupakan berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh
pemimpin dalam proses mengarahkan dan memengaruhi pekerja”.
Sedangkan menurut Thoha dalam Mangkunegara (2016, p. 65) bahwa
“Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang
pada saat orang tersebut mencoba memengaruhi perilaku lain”.
Menurut Lippit dan White dalam Mangkunegara (2016, p. 66),
menjelaskan terdapat berbagai hubungan antara perilaku pemimpin yang berbeda,
diantaranya ialah otoriter, demokratis, dan laissez faire. Penejelasan gaya ini
meneruskan penjelasan dari teori gaya kepemimpinan yang dipaparkan peneliti
lowa sebelumnya. Beberapa gaya tersebut ialah:

  1. Gaya Otokratis, dalam gaya ini, pemimpin otokratis biasanya merasa bahwa
    mereka mengetahui apa yang mereka inginkan dan cenderung
    mengekspresikan kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah langsung kepada
    bawahan.
  2. Gaya Demokratis, menjelaskan bahwa gaya demokratis yaitu gaya
    kepemimpinan yang dikenal pula sebagai gaya partisipatif. Gaya ini
    berasumsi bahwa para anggota yang ambil bagian secara pribadi dalam proses
    pengambilan keputusan akan lebih memungkinkan sebagai suatu akibat
    mempunyai komitmen yang jauh lebih besar pada sasaran dan tujuan
    organisasi.
  3. Gaya Laissez Faire, yaitu gaya kepemimpinan dengan kendali bebas,
    pendekatan ini bukan berarti tidak adanya sama sekali pimpinan. Gaya ini
    berasumsi bahwa suatu tugas disajiakn kepada kelompok yang biasanya
    menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut
    dalam rangka mencapai sasaran-sasaran organisasi.
  4. Gaya kepemimpinan demokratis, gaya ini dikaitkan dengan kekuatan personal
    dan keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan
    pengambilan keputusan.