Pengertian Promosi


Promosi merupakan proses komunikasi suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan sekarang, dan yang akan datang
serta masyarakat (Kotler,2005). Definisi lain promosi adalah
mengkomunikasikan informasi antara penjual dan pembeli potensial
atau orang lain dalam saluran untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
(Cannon,dkk,2008).
Pemasaran modern memerlukan lebih dari sekedar mengembangkan
produk yang baik, menetapkan harga yang menarik dan membuatnya
dapat terjangkau. Perusahaan-perusahaan juga harus berkomunikasi
dengan pihak-pihak yang berkepentingan sekarang dan yang akan
datang, dan masyarakat umum. Setiap perbusahaan mau tidak mau
harus terjun ke dalam peran komunikator dan promotor (Kotler,2005)

Indikator Harga


Dalam penelitian ini strategi harga diukur dengan indikator sesuai
dengan teori dari Wijayanti(2008) yaitu :
1) Harga sesuai manfaat
2) Harga terjangkau
3) Harga sesuai fasilitas
4) Harga bersaing

Strategi Harga


Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus selalu
meninjau kembali strategi penetapan harga produk-produknya yang
sudah ada di pasar, di antaranya yaitu (Tjiptono,1997) :
1) Adanya perubahan dalam lingkungan pemasaran, misalnya ada
pesaing besar yang menurunkan harganya.
2) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadi perubahan selera
konsumen

Pengertian Harga


Harga adalah salah satu unsur bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan dan biaya, serta paling mudah disesuaikan yang bertujuan
untuk mengkomunikasikan posisi nilai yang dimaksudkan perusahaan
kepada pasar tentang produk dan mereknya (Kotler,2005). Definisi
lain harga adalah segala sesuatu yang diberikan oleh pelanggan untuk
mendapatkan keunggulan yang ditawarkan oleh bauran pemasaran
perusahaan (Cannon,dkk, 2008). Menurut Angipora (2002), harga
adalah jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang
dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk
dan pelayanan yang menyertainya.
Harga adalah salah satu dari empat variabel keputusan strategi utama
yang dikendalikan oleh manajer pemasaran. Keputusan penetapan
harga mempengaruhi jumlah penjualan yang dilakukan oleh
perusahaan dan berapa banyak pendapatan yang diperoleh
(Cannon,dkk, 2008). Pada umumnya harga ditetapkan melalui
negosiasi antara pembeli dan penjual. Tawar menawar masih
merupakan permainan di beberapa wilayah (Kotler,2005).
Menetapkan satu harga untuk semua pembeli merupakan gagasan
yang relatif modern yang muncul bersama perkembangan eceran
berskala besar.
Banyak perusahaan tidak menangani penetapan harga dengan baik.
Perusahaan tersebut melakukan kesalahan, seperti terlalu berorientasi
biaya, harga tidak sering direvisi untuk memanfaatkan perubahan
pasar, tanpa mempertimbangkan seluruh unsur bauran pemasaran
lainnya, harga kurang cukup bervariasi untuk jenis produk, segmen
pasar, saluran distribusi,dan saat pembelian yang berbeda
(Kotler,2005). Penetapan harga oleh perusahaan mempunyai beberapa
tujuan tertentu, seperti : (1). Seberapa fleksibel harga tersebut. (2).
Tingkat harga terhadap siklus kehidupan produk. (3). Kepada siapa
serta kapan diskon dan bantuan akan diberikan. (4). Bagaimana biaya
transportasi akan ditangani (Cannon,dkk, 2009).

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Kualitas produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar atau
9M. Pada masa sekarang ini industri disetiap bidang bergantung pada
sejumlah besar kondisi yang membebani produksi melalui suatu cara
yang tidak pernah dialami dalam periode sebelumnya.
(Feigenbaum,2000) :
1)Market (Pasar)
Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus
bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk
mempercayai bahwa ada sebuah produk yang dapat memenuhi
hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta
dan memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar
menjadi lebih besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih
terspesialisasi di dalam barang yang ditawarkan. Dengan
bertambahnya perusahaan, pasar menjadi bersifat internasional dan
mendunia. Akhirnya bisnis harus lebih fleksibel dan mampu
berubah arah dengan cepat.
2)Money (Uang)
Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan
fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas (marjin) laba.
Pada waktu yang bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi dan
pemekanisan mendorong pengeluaran mendorong pengeluaran
biaya yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru.
Penambahan investas pabrik, harus dibayar melalui naiknya
produktivitas, menimbulkan kerugian yang besar dalam
memproduksi disebabkan oleh barang afkiran dan pengulang
kerjaan yang sangat serius. Kenyataan ini memfokuskan perhatian
pada manajer pada bidang biaya kualitas sebagai salah satu dari
“titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian dapat diturunkan
untuk memperbaiki laba.
3)Management (Manajemen).
Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa
kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi
perencanaan produknya, harus membuat persyaratan produk.
Bagian perancangan bertanggung jawab merancang produk yang
akan memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan
dan memperbaiki kembali proses untuk memberikan kemampuan
yang cukup dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi
rancangan. Bagian pengendalian kualitas merencanakan
pengukuran kualitas pada seluruh aliran proses yang menjamin
bahwa hasil akhir memenuhi persyaratan kualitas dan kualitas
pelayanan, setelah produk sampai pada konsumen menjadi bagian
yang penting dari paketproduk total. Hal ini telah menambah beban
manajemen puncak khususnya bertambahnya kesulitan dalam
mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi
penyimpangan dari standar kualitas.
4)Human (Manusia).
Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan
seluruh bidang baru seperti elektronika komputer menciptakan
suatu permintaan yang besar akan pekerja dengan pengetahuan
khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan permintaan
akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua bidang
spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan
mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil
yang diinginkan.
5)Motivation (Motivasi).
Penelitian tentang motivasi manusia menunjukkan bahwa sebagai
hadiah tambahan uang, para pekerja masa kini memerlukan sesuatu
yang memperkuat rasa keberhasilan di dalam pekerjaan mereka dan
pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan sumbangan
atas tercapainya sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan.
Hal ini membimbing ke arah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya
yaitu pendidikan kualitas dankomunikasi yang lebih baik tentang
kesadaran kualitas.
6)Material (Bahan)
Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli
teknik memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada
sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi lebih ketat dan
keanekaragaman bahan menjadi lebih besar.
7)Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)
Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan
volume produksi untuk memuaskan pelanggan telah terdorong
penggunaan perlengkapan pabrik yang menjadi lebih rumit dan
tergantung pada kualitas bahan yang dimasukkan ke dalam mesin
tersebut. Kualitas yang baik menjadi faktor yang kritis dalam
memelihara waktu kerja mesin agar fasilitasnya dapat digunakan
sepenuhnya.

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi kualitas produk menurut Fandy Tjiptono (2008), dimensi
kualitas produk meliputi :
1) Kinerja (performance) Yaitu karakteristik operasi pokok dari
produk inti (core product) yang dibeli, misalnya kecepatan,
kemudahan dan kenyamaan dalam penggunaan.
2) Keistimewaan tambahan (features) yaitu karakteristik sekunder
atau pelengkap.
3) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi
standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
4) Keandalan (reliability) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal dipakai.
5) Daya tahan (durability) berkaitan dengan berapa lama produk
tersebut dapat terus digunakan.
6) Estetika (asthethic) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
7) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) merupakan
persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan
suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli
akan atribut atau ciri- ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan,
reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya.
8) Dimensi kemudahan perbaikan (serviceability) meliputi kecepatan,
kemudahan, penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan
yang diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan, tetapi juga
selama proses penjualan hingga purna jual yang mencakup
pelayanan reparasidan ketersediaan komponen yang dibutuhkan.

Pengertian kualitas produk


Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang akan
dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen
(Angipora,2002). Definisi lain kualitas adalah suatu kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan
(Tjiptono,2006:51). Menurut (Cannon, dkk, 2008), kualitas adalah
kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan
pelanggan. Menurut Simamora (2001), kualitas produk merupakan
selisih produk yang layak menurut konsumen dengan produk
menurutkonsumen saat ini. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa kualitas adalah kemampuan suatu produk dalam
memuaskan kebutuhan atau keinginan pelanggan.
Kualitas sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu
produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas
kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifikasi produk,
sedangkan kualitas kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh
suatu produk mampu memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas
yang telah ditetapkan(Tjiptono,2006).
Kualitas dari setiap produk yang dihasilkan merupakan salah satu
unsur yang harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari
perusahaan, kalau perusahaan ingin memenangkan suatu persaingan
dalam usaha (Angipora,2002). Tuntutan terhadap kualitas suatu
produk sudah menjadi suatu keharusan yang harus dipenuhi oleh
perusahaan, kalau tidak menginginkan konsumen yang telah
dimilikinya beralih kepada produk-produk pesaing lainnya yang
dianggap memiliki kualitas produk yang lebih baik. Oleh karena itu,
masalah kualitas dari produk yang dihasilkan sudah harus menjadi
komitmen dari manajemen, yang selanjutnya harus dituangkan
/dijabarkan secara jelas dalam fungsi-fungsi manajemen lainnya
untuk dilaksanakan, sehingga menjadi fokus dari keseluruhan
operasional perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian,
perusahaan tidak boleh berpuas diri apabila telah menghasilkan suatu
produk yang memiliiki kualitas yang memadai dan bersaing, tetapi
justru kualitas produk yang baik adalah hasil dari perbaikan terus-
menerus yang tidak pernah berakhir, sejalan dengan selalu
berubahnya kebutuhan dan keinginan konsumen yang tidak pernah
putus. Apalagi tuntutan terhadap kualitas produk pada saat ini dan
masa mendatang sudah menjadi tuntutan yang mendunia dari dunia
internasional dengan adanya ketentuan tentang International Standard
Organization (ISO) yang menguntungkan produk-produk perusahaan
dapat diterima secara internasional atau hanya bersifat lokal
(Angipora,2002).

Pengaruh keragaman produk dengan keputusan pembelian


Keragaman produk adalah kelengkapan produk yang menyangkut
kedalaman, luas, dan kualitas produk yang ditawarkan juga ketersediaan
produk tersebut setiap saat di toko (Engel et al, 1995). Pengecer perlu
mengetahui produk apa saja yang dapat ditawarkan sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Adanya keragaman produk dapat
memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk menentukan pilihan
produk yang akan dibeli sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan

Pengaruh antara harga dengan keputusan pembelian


Harga merupakan sebuah unsur yang tidak dapat dilepaskan dari
sebuah perusahaan, karena dengan harga perusahaan mampu
menentukan besaran keuntungan yang bisa diperoleh dan menentukan
keberlangsungan perusahaannya. Bagi produsen harga dapat menjadi
strategi dalam penjualan produk, ini karena harga menjadi aspek yang
tampak jelas bagi para pembeli. Hal ini sama dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Arsyadani (2015) Pengaruh Harga Terhadap
Keputusan Pembelian Di Minimarket Kopma Iain Walisongo Semarang
menunjukkan bahwa Harga Dan Keragaman Produk mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator keragaman produk


Menurut Hendri (2006) indikator keragaman produk ada 5
seabagai berikut:
a. Variety (jenis produk)
Jenis produk yang ditawarkan dalam suatu toko harus lebih
lengkap dibandingkan dengan toko eceran biasa, karena
kelengkapan produk dari suatu toko merupakan salah satu
pertimbangan bagi konsumen dalam memilih tempat
berbelanja.
b. Width or Breadth (keluasan)
Adanya produk-produk pelengkap dari jenis produk utama
yang ditawarkan, mempunyai tujuan untuk menarik minat
konsumen melakukan pembelian terhadap barang pelengkap
jika sudah berada di dalam toko.
c. Depth (kedalaman)
Apabila jenis produk yang ditawarkan sudah sesuai dengan
pasar sasaran maka harus diperlengkapi dengan macam-macam
ukuran, warna dan karakteristik lain, sehingga produk yang
ditawarkan lebih bervariasi dan menarik.
d. Consistency (konsistensi)
Produk yang sudah sesuai dengan keinginan pasar sasaran
harus dijaga konsistennya dengan cara menjaga kelengkapan,
kualitas dan harga produk yang ditawarkan.
e. Balance (keseimbangan)
Jenis-jenis barang yang dijual harus disesuaikan dengan
keadaan pasar

Keragamana Produk


Menurut Kotler dan Keller (2014) keragaman produk adalah
kumpulan semua produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh
penjual tertentu
Keragaman produk menurut Engel (1995) adalah kelengkapan
produk yang menyangkut kedalaman, luas, dan kualitas produk yang
ditawarkan juga ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko. Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keragaman produk adalah
macam-macam produk dalam artian kelengkapan produk mulai dari
merek, ukuran, dan kualitas serta ketersediaan produk tersebut setiap saat
di toko.
Chandra dan Adriana (2008), mengemukakan variasi produk
cocok dipilih apabila perusahaan bermaksud memanfaatkan fleksibilitas
produk sebagai strategi bersaing dengan para produsen misal produk-
produk standar. Hubungan antara keragaman produk dan perilaku
konsumen dalam melakukan keputusan pembelian sangat erat kaitannya
pada kelangsungan penjualan suatu perusahaan. Perusahaan yang tidak
mampu menciptakan produk baru akan menghadapi resiko penurunan
volume penjualan, karena munculnya pesaing yang lebih kreatif, adanya
perubahan selera konsumen, munculnya teknologi baru dalam proses
produksi. Pengembangan produk dapat dilakukan oleh perusahaan
dengan cara mengembangkan produk yang sudah ada, dapat pula
menyewa para peneliti guna menciptakan produk baru dengan model-
model yang sesuai

Indikator Harga


Menurut Swastha (2012) indikator harga sebagai berikut:

  1. Keterjangkauan harga
    Perusahaan menyediakan dan menetapkan harga produk UD.
    Dadi Jaya Lamongan yang mudah dijangkau oleh konsumen.
  2. Daya saing harga
    Perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lain baik dari
    segi harga

Harga


Harga adalah salah satu komponen utama dalam keputusan
membeli suatu produk. Dalam penelitian ini harga didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang dalam menilai suatu barang dengan satuan alat
ukur rupiah untuk membeli suatu produk (Arsyadani, 2015).
Swastha (2008) menyatakan harga adalah jumlah uang yang di
butuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan
pelayanannya. Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2008) harga
adalah sejumlah nilai yang di keluarkan atas suatu produk, atau jumlah
dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki
atau menggunakan produk tersebut. Harga adalah merupakan salah satu
faktor penentu yang mempengaruhi keputusan pembelian, di kalangan
kelompok-kelompok sosial dan di kalangan masyarakat. Namun terakir
ini harga menjadi relatif lebih penting dalam keputusan pembelian. Harga
dapat menunjukan kualitas merek suatu produk, di mana konsumen
mempunyai anggapan harga yang mahal akan memiliki kualitas yang
baik.

Tahap-Tahap melakukan Keputusan Pembelian


Kotler (2015) Perilaku konsumen akan menentukan proses
pengambilan keputusan dalam pembelian mereka, proses tersebut
merupakan sebuah pendekatan penyesuaian masalah yang terdiri dari
lima tahap yang dilakukan konsumen, kelima tahap tersebut adalah
pengenalan masalah, pencarian informasi, penilaian alternatife,
membuat keputusan, dan prilaku pasca pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2009) kelima tahap yang
dilakukan konsumen dalam pengambilan keputusan dapat
dirumuskan sebagai berikut:

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pengenalan atau kebutuha, jika kebutuhan diketahui
    maka konsumen akan serta memahami kebutuhan yang belum
    perlu segera di penuhi atau masalah dapat ditunda pemenuhnya,
    serta kebutuhan yang sama-sama harus segera dipenuhi. Jadi
    pada tahap inilah proses pembelian itu mulai dilakukan.
  2. Pencarian informasi
    Seorang konsumen yang telah mengenali kebutuhannya dapat
    atau tidak dapat mencari informasi lebih lanjut jika dorongan
    keinginan kuat. Konsumen mungkin melakukan pencarian lebih
    banyak atau segera aktif mencari informasi yang mendasari
    kebutuhan.
  3. Penilaian Alternatif
    Setelah melakukan pencarian informasi sebanyak mungkin,
    konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi
    beberapa merek alternatif dalam pilihan.
  4. Keputusan pembelian
    Jika keputusan yang diambil adalah membeli, maka akan
    menjumpai serangkaian keputusan yang menyangkut jenis
    pembelian, waktu pembelian, dan acara pembeli. Pada tahap ini
    konsumen benar-benar membeli produk.
  5. Perilaku setelah membeli
    Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami
    beberapa tingkatan kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan.
    Ada kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidakpuasan
    setelah melakukan pembelian karena tidah sesuai gambaran dan
    tidak sesuai yang diharapkan. Keputusan pembelian merupakan
    kegiatan secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan
    untuk melakuakn pembelian tertahap produk produk yang
    ditawarkan oleh penjua

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen mengenai
prefrensi merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Kotler
(2015) menyatakan keputusan pembelian didefinisikan sebagai sesuatu
proses di mana konsumen mengenali kebutuhanya, mencari informasi
mengenai produk yang sesuai dan mengambil keputusan tentang produk
mana yang akan dibeli atau digunakan. Boyd, dan Orvile (2010)
menyatakan pengambilan keputusan konsumen pada dasar nya
merupakan pemecahan masalah dalam saat membeli suatu produk yang
akan dibeli.

Proses Keputusan Pembelian


Kotler (2015) menyatakan para produsen harus melihat lebih
jauh bermacam-macam faktor yang mempengaruhi para pembeli dan
mengenai cara konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

  1. Peran pembelian
    Konsumen dapat membedakan lima peran yang dimainkan
    dalam keputusan pembelian:
    a. Pencetus: orang yang pertama kali mengusulkan utuk
    melakuakan keputusan pembelian barang atau jasa.
    b. Pemberi pengaruh: orang yang saranya mempengaruhi utuk
    melakukan keputusan pembelian.
    c. Pengambil keputusan: orang yang mengambil keputusan
    mengenai keputusan pembelian apakah membeli atau tidak.

Perilaku Konsumen


Kotler (2015) menyatakan Perilaku konsumen adalah studi
tentang bagai mana individu kelompok, dan organisasi memilih,
membeli, mengunakan barang atau jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan. Assauri (2013) menyatakan
perilaku konsumen merupakan tindakan seseorang atau individu yang
langsung menyangkut pencapaian dan penggunan produk termasuk
proses keputusan yang mendahului dan menetukan tindakaan tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2009) perilaku konsumen adalah studi
tentang bagaimana idividu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk
memuasakan kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku pembelian
konsumen di pengaruhi oleh faktor budaya, sosial, dan pribadi.

  1. Faktor budaya
    Faktor budaya sangat mempengaruhi perilaku konsumen. Budaya
    adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Setiap
    budaya dan beberapa subbudaya yang lebih kecil yang memberikan
    identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota.
    Hampir seluruh kelompok manusia mengalami stratifikasi sosial,
    sering kali dalam bentuk kelas sosial, devisi yang relative homogen
    dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat.
  2. Faktor sosial
    Faktor sosial seperti kelompok refrensi, keluarga, serta peran sosial
    dan status mempengaruhi perilaku pembelian. Kelompok referensi
    adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung atau
    tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
    Kelompok langsung seperti kelompok keanggotaan yang terdiri dari
    kelompok sekunder dan kelompok primer. Sedangkan untuk
    kelompok tidak langsung yaitu kelompok aspirasional. Faktor
    keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
    dalam masyarakat dan anggota keluarga merepresentasikan
    kelompok referensi utama yang paling berpengaruh.
  3. Peran dan status
    Semua orang dapat mendifinisikan posisi seorang dalam tiap
    kelompok dimana dia menjadi anggota berdasarkan peran dan status.
    Peran terdiri dari kegiatan yang di harapkan dapat di lakukan
    seseorang. Setiap peran menyandang status. (Kotler dan Keller,
    2014)
    Dalam mengenal konsumen perlu mempelajari perilaku-perilaku
    konsumen dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku konsumen adalah
    tindakan yang dilakukan individu, kelompok atau organisasi yang
    berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan,
    menggunakan barang-barang atau jasa ekonomis, yang dapat di
    pengaruhi oleh lingkungan (Swastha, 2008).

Konsep Pemasaran


Pemasaran merupakan suatu elemen yang sangat penting bagi
suatu perusahaan. Dengan adanya pemasaran yang baik perusahaan
dapat mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Pemasaran adalah
suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu atau
kelompok mendapatkan yang konsumen butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai
dengan yang lain. Pengertian ini melahirkan konsep pemasaran yang
menyatakan bahwa kunci untuk meraih sukses adalah menjadi lebih
efektif dari pada pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran guna
menetapkan dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran.
(Kotler dan Armstrong, 2014)

Pengaruh Produk Inovasi Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Crawford dan De Benedetto dalam Dewi (2010) produk
inovasi adalah keseluruhan operasi perusahaan dimana sebuah produk baru
diciptakan dan dipasarkan, termasuk inovasi di segala proses fungsional
atau kegunaannya. Di dalam suatu perusahaan produk menjadi bagian yang
sangat penting. Suatu produk perlu penambahan inovasi baru, karena
dengan inovasi produk bisa memiliki nilai tambah dan nilai jual yang tinggi
serta menjadi daya tarik yang berpengaruh langsung kepada konsumen
dalam melakukan pembelian. Konsumen akan melihat apakah produk ini
mempunyai fungsi atau kandungan yang sesuai dengan apa yang sedang
dibutuhkan. Produk yang terus berinovasi sesuai perkembangan zaman
dapat menciptakan produk-produk terbaru yang berbeda dengan produk
lainnya sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumen yang memutuskan
untuk melakukan pembelian terhadap produk tersebu

Pengaruh Digital Marketing Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Tri Rachmadi (2020), Digital marketing merupakan
teknologi dalam proses memasarkan produk serta layanan yang harus
menggunakan media digital. Melalui media digital atau media sosial bisa
menjadi suatu wadah bagi para konsumen dalam menyampaikan gambar,
audio, teks ataupun video yang memberikan informasi satu sama lain
dengan perusahaan ataupun sebaliknya. Melalui media digital
memungkinkan terjadinya hubungan dengan konsumen secara online dan
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemilik usaha dalam menampung
saran serta keinginan konsumen secara online dan juga dapat mendorong
pemilik usaha untuk terus berinovasi agar terus berkembang sesuai dengan
perkembangan zaman. Apalagi semakin berkembangnya teknologi di era
digital seperti sekarang ini banyak sekali aplikasi jual beli online yang mana
dengan mudah memasarkan suatu produk serta para konsumen dengan
mudah mengakses informasi maupun memesan suatu produk yang
dibutuhkan. Dapat diketahui bahwa penelitian mengenai digital marketing
memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian. Dengan melakukan
pemasaran melalui media digital, konsumen pun akan semakin melirik serta
tertarik terhadap produk yang ditawarkan dan tetarik untuk membeli produk
sesuai keinginannya. Dengan kata lain, semakin maraknya pemasaran
melalui media digital maka semakin tinggi pula konsumen untuk tertarik
dan memutuskan untu melakukan pembelian

Indikator Produk Inovasi


1) Pembaharuan Jenis Produk (Varian Produk)
Suatu sarana untuk membedakan produk satu dengan yang lainnya atau
membedakan produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Sebagai
contoh menu makanan restaurant yang menyajikan makanan yang
serupa tetapi masing-masing restaurant pasti memberi variasi makanan
yang berbeda di hidangannya.
2) Kualitas Produk
Keunggulan suatu produk terhadap fungsinya masing-masing yang
meliputi daya tahan, ketelitian, kekuatan, kehandalan serta rasa yang
dipertahankan.
3) Gaya dan Desain Produk
Gaya dan desain produk merupakan suatu penampilan dari sebuah
produk, sebagai contoh desain produk untuk melakukan promosi dengan
menggunakan fitur desain promosi guna menarik konsumen untuk
membelinya

Tujuan Produk Inovasi


Tujuan dari produk inovasi yaitu untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan agar tidak kalah saing dengan perusahaan
lain. Selain itu dengan terus berkembangnya teknologi yang mengharuskan
perusahaan terus mengembangkan inovasi terhadap produknya agar bisa
menyesuaikan kebutuhan dan selera konsumen serta siklus hidup produk
yang tidak bertahan lama yang membuat persaingan domestik dan luar
negeri semakin ketat. Produk yang ditawarkan pun harus unik dan beragam
dengan menunjukan kualitas keunggulan dari masing-masing produk yang
ditawarkan demi memenuhi kebutuhan serta selera konsumennya.
Menurut Tjiptono (2018:439), tujuan yang ingin dicapai dari
penciptaan produk baru diantaranya adalah:
1) Untuk memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi
perusahaan sebagai innovator, yaitu dengan menawarkan produk
yang lebih baru dari pada yang telah ada (strategi ofensif).
2) Untuk mempertahankan daya saing terhadap yang ada, yaitu
dengan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan yang baru. Bentuknya dapat berupa tambahan terhadap
lini produk yang sudah ada ataupun revisi terhadap produk yang
telah ada (strategidefensif).
Cara meningkatkan nilai tambah suatu produk sebagai kunci
keberhasilan sebuah perusahaan yaitu dengan memberikan produk inovasi
yang menarik yang dapat membawa perusahaan memiliki keunggulan yang
kompetitif sebagai perusahaan terbaik dipasarnya, (Arianti,2012)

Proses Pegembangan Produk Inovasi


Menurut Kotler (2017:10) proses pengembangan produk baru dapat
dibagi menjadi delapan proses, yaitu:
1) Proses Penciptaan Gagasan (Idea Generation)
Proses penciptaan gagasan bertujuan mendapatkan sebanyak
mungkin gagasan. Sumber gagasan tersebut dapat diperoleh dari
pelanggan, ilmua, pesaing, salesman perusahaan, distributor,
maupun pihak manajemen puncak. Pada tahap ini manajemen
puncak perlu menetapkan dan menegaskan kelompok produk apa
dan pasar mana yang akan diteliti. Maka harus jelas dulu
sebelumnya mengenai sasaran produk baru dan seberapa besar
upaya yang diperlukan untuk mengembangkan produk tersebut.
2) Proses Penyaringan Gagasan (Idea Screening)
Kesalahan penyaringan gagasan ini bertujuan pokok meneliti dan
membuang gagasan yang tidak baik sedini mungkin. Dua jenis
kesalahan yang harus dihindarkan dalam tahap ini adalah:
a) Kesalahan membuang (Drop error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
membuang gagasan yang sebenarnya bagus.
b) Kesalahan jalan terus (Go error)
Jenis kesalahan ini terjadi bila perusahaan ternyata
meloloskan gagasan yang tidak bagus ke tahap
pengembangan dan akhirnya ke tahap komersial.
3) Proses Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept
Development and Testing)
Setelah melewati tahap penyaringan gagasan mengenai produk
tertentu yang bisa dijual ke pasar, lalu dikembangkan menjadi
beberapa konsep produk. Konsep produk yang telah ditemukan
masih perlu penempatan yang jelas sehingga pemisahan bisa
menyadari pada tingkat persaingan maka ia bersaing. Selanjutnya
pengujian atas konsep dilakukan pada sekelompok konsumen yaitu
konsumen diberikan uraian terperinci masing-masing konsep dan
diminta menjawab pertanyaan mengenai konsep tadi. Berdasarkan
jawaban responden tadi lalu diambil sebagai sampel sehingga
produsen dapat menilai konsep mana yang paling memikat dan
cukup kuat.
4) Proses pengembangan strategi pemasaran (Marketing Strategy
Development)
Pada tahap ini manajer produk, baru menyusun suatu konsep
permulaan strategi pemasaran untuk memperkenalkan produk di
pasar nanti. Strategi ini mencakup tiga bagian pokok, yaitu:
a) Rencana penempatan produk tersebut, hasil penjualan,
pangsa pasar serta sasaran keuntungan selama beberapa
tahun yang akan datang.
b) Perincian harga produk, saluran distribusi dan anggaran
pemasaran selama tahun pertama.
c) Sasaran jangka panjang dalam penjualan, keuntungan dan
strategi bauran pemasaran.
5) Proses Analisis Bisnis (Business Analysis)
Pada tahap ini manajer perusahaan harus memperkirakan jumlah
penjualan, jumlah penjualan perdana, jumlah penjualan pengganti,
jumlah penjualan ulang, serta biaya dan laba.
6) Proses Pengembangan Produk (Product Development)
Apabila dari segi bisnis sudah dinyatakan layak untuk diteruskan,
maka pada tahap ini konsep produk masuk ke tahap perekayasaan
untuk dikembangkan secara fisik di bagian produksi. Beberapa versi
fisik dari konsep produk akan di kembangkan oleh bagian R&D
dimana dalam proses itu diharapkan akan terbentuk prototype yang
memenuhi persyaratan.
7) Proses pengujian pasar (Market Testing)
Sasaran pokok dari pengujian pasar adalah pengkajian atas
tanggapan-tanggapan konsumen dan penyalur terhadap masalah-
masalah perlakuan, penggunaan dan pembelian produk senyatanya
senta pengkajian atas seberapa luas pasar sesungguhnya. Seberapa
luas pasar yang harus diadakan akan tergantung pada dua segi yaitu
biaya dan resiko penanaman modal disatu pihak adalah keterbatasan
waktu dan biaya penelitian.
8) Proses Komersialisasi (Commercialization)
Melalui tahap pengujian pasar, diharapkan dapat diperoleh
informasi yang cukup untuk keputusan berikutnya, yaitu produk
dipasarkan secara masal atau produk dibatalkan. Bila keputusan
yang diambil adalah meneruskan ke tahap komersialisasi, maka
perusahaan memerlukan penanaman modal dan biaya pemasaran
yang besar. Selain itu perusahaan juga harus memperhatikan faktor-
faktor seperti kapan waktu yang tepat untuk memasuki pasar,
dimana produk baru akan dipasarkan, pemasaran pasar yang
terencana dan prospek pasar sasaran

Pengertian Produk Inovasi


Pada era perdagangan bebas dan persaingan global ini, membuat
perusahaan harus siap dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin
ketat. Persaingan yang lebih ketat serta luas serta pandangan perilaku
konsumen yang semakin kritis dalam memilih serta menentukan suatu
produk yang membuat perusahaan harus lebih kreatif dan inovatif dalam
membuat dan menghasilkan suatu produk yang berkualitas serta lebih baik
dari produk pesaing. Inovasi dapat meningkatkan nilai tambah produk, serta
dengan adanya inovasi akan dapat menciptakan ide baru serta memunculkan
produk baru yang dapat memberikan manfaat serta solusi yang baik bagi
permasalahan yang dihadapi konsumen.
Menurut Myers &Marquis (dalam Kotler,2016:454, Produk inovasi
merupakan hasil dari berbagai macam proses yang digabungkan dan saling
mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Serta cara untuk
menciptakan produk baru yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Inovasi adalah suatu ide, praktik, atau objek yang
dipahami oleh setiap individu atau pengguna lainnya sebagai sesuatu yang
baru. Proses pengambilan keputusan untuk inovasi pada prinsipnya studi
dan sebuah aktivitas pemrosesan informasi dimana setiap individu dapat
termotivasi guna untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan
dan kerugian dari inovasi (Sumarwan,2010).
Inovasi berujung pada menciptakan introduksi produk baru. Tipe
produk baru ini berkaitan dengan strategik apa yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut. Dari produk lama yang telah mencapai titik jenuh
dipasaran, diperlukan sebuah inovasi untuk mengganti produk lama
tersebut. Penggantian ini dapat berupa produk pengganti yang secara total
baru atau dengan perkembangan produk lama yang lebih modern, sehingga
dapat terus meningkatkan keinginan pelanggan dalam keputusan pembelian
produk tersebut (Siswanto et al., 2018).
Menurut Stanton (2016:222) adalah: “A product is
asset of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price
quality and brand plus the services and reputation of the seller”. Artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk
ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.
Inovasi dapat dilakukan pada barang, pelayanan, atau gagasan-
gagasan yang diterima oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru, sehingga
mungkin saja suatu gagasan telah muncul di masa lampau, tetapi dapat
dianggap inovatif bagi konsumen yang baru mengetahuinya. Seringkali
orang berpendapat bahwa dengan melakukan inovasi pada suatu hal maka
seseorang telah melakukan perubahan yang bersifat positif yang mengarah
pada kemajuan. Pendapat tersebut memang benar adanya, tetapi perubahan
(dalam bentuk apapun) tersebut bagi sebagian konsumen sesuatu yang sulit
diterima begitu saja.

Indikator Digital Marketing


Menurut Ryan and Jones (2009:32-33), indikator digital marketing
saling terhubung dengan bauran pemasaran (4p) terutama promosi, berikut
beberapa indikator digital marketing:
1) Website
Website adalah penghubung dengan dunia digital secara
keseluruhan dan mungkin bagian bagian yang paling penting dalam
keseluruhan strategi pemasaran digital, dimana kegiatan online akan
terarah langsung ke calon konsumen.
2) Optimal Mesin Pencari (SEO)
SEO merupakan proses pengaturan konten atau bagian penting dari
website yang dapat membantu konsumen agar lebih mudah juga
menyuguhkan konten agar dengan mudah ditemukan oleh mesin
pencari dan selain itu untuk melakukan pencaharian konten dengan
lebih spesifik.
3) Hubungan masyarakat online (Online PR)
Online PR merupakan saluran berbasis online untuk membentuk
presepsi yang positif terhadap merek yang bertujuan untuk
menempatkan perusahaan atau organisasi dalam bidang tertentu
untuk memiliki kewenangan yang besar.
4) Sosial Network
Jejaring Sosial merupakan kesempatan yang besar dalam
pemasaran, tetapi jejaring sosial belum dapat menawarkan adanya
metode periklanan atau dasar informasi yang didapat dari situs
jejaring sosial, kepada kelompok yang berskala kecil di masyarakat.
5) Manajemen hubungan pelanggan
Digunakan untuk tujuan menjaga konsumen yang sudah ada dan
membangun kerjasama yang saling menguntungkan dengan mereka

Hal-hal Yang Mempengaruhi Digital Marketing


Digital marketing digunakan untuk memperluas pemasaran dari cara
konvensional menjadi serba digital untuk dijangkau konsumen secara tepat
waktu dan fleksibel. Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi digital
marketing yaitu:
1) Search Engine Marketing
Search Engine Marketing merupakan metode pemasaran digital
yang menggunakan iklan berbayar untuk mendapatkan
jangkauan yang lebih luas ataupun traffic ke website agar
masyarakat luas dapat melihat serta mengaksesnya dengan
mudah sehingga para pelaku bisnis bisa mengembangkan
usahanya lebih besar lagi dengan menggunakan media digital
ini.
2) E-mail Marketing
E-mail marketing suatu bentuk digital marketing yang
memanfaatkan media email dalam proses promosi produk
maupun jasa, yang ditujukan kepada calon konsumen ataupun
konsuemn yang sebelumnya pernah membeli suatu produk/jasa
pada suatu perusahaan. Digital marketing melalu email
marketing ini bertujuan untuk membangun relasi serta koneksi
dengan konsumen agar selalu mengetahui update penawaran
terbaru yang dipromosikan oleh perusahaan.
3) Social Media Marketing
Menurut Gunelius (2011 dalam Ratana, 2018) social media
marketing merupakan bentuk pemasaran langsung maupun tidak
langsung untuk membangun kesadaran, pengenalan merek,
peningkatan kembali, dan penindakan terhadap merek, bisnis,
produk yang dikemas dengan alat-alat disitus jejaring sosial.
Media sosial membantu pelaku usaha dalam mencari konsumen
dan membangun hubungan yang lebih personal

Pengertian Digital Marketing


Teknologi digital dan media sosial sudah menjadi trend tersendiri,
masyarakat luas dapat melihat semua unggahan semua jenis produk melalui
media sosial dan dapat sekali dimanfaatkan sebagai peluang bisnis memalui
digital marketing yang mana dapat diakses secra realtime dan tidak terbatas
wilayah, jadi semua orang bisa melihatnya inilah yang menjadi strategi para
pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya agar tetap bertahan bahkan
berkembang pesat. Menurut data dari Google, Temase, Bain & Company,
menunjukan besarnya peningkatan ekonomi digital pada tahun 2020
(Eka,2020). Adanya perubahan pola perilaku sosial dan belanja pada
masyarakat dengan masuknya digitalisasi membuat semua hal berubah
menjadi online (Eka,2020).
Definisi digital marketing menurut American marketing association
(AMA) adalah sebuah institusi, aktivitas, dan proses yang difasilitasi oleh
teknologi berbasis digital dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan
menyampaikan nilai-nilai kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan
lainnya (Kannan & Hongshuang,2016).

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong
(2021) dalam buku Wibowo dan Priansa (2017:300) menjelaskan bahwa
keputusan konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk terdiri dari
beberapa indikator yaitu:
1) Pilihan Produk
Konsumen mempunyai beberapa pilihan alternatif yang mana dapat
diambil keputusan untuk membeli produk tersebut dan
membayarnya atau memakai uangnya untuk keperluan yang lain.
2) Pilihan Merek
Pilihan merek yang begitu beragam membuat konsumen harus
menentukan keputusan apa yang akan diambil mengenai pilihan
merek tersebut yang nantinya akan dibeli.
3) Pilihan Penyalur
Penyalur yang menjual barang/jasa juga menjadikan sebuah pilihan
terhadap konsumen dalam mengambil keputusan dimana konsumen
akan membeli barang/jasa tersebut.
4) Waktu Pembelian
Konsumen dapat menentukan keputusan kapan waktu yang tepat
harus melakukan pembelian.
5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan mengenai seberapa banyak
jumlah produk yang akan dibelinya pada suatu saat, jumlah
pembelian mungkin saja lebih dari satu.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Adapun faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian menurut
Amalina Hudani (2020:100) :
1) Faktor Sosial
Faktor sosial dapat mempengaruhi keputusan pembelian produk
makanan yang dijual di restaurant teras dara and lounge dimana itu
tergantung dari pengaruh kelompok sosial bagi seseorang.
Konsumen akan datang dan mengkonsumsi makanan tersebut sesuai
dengan keinginannya serta statusnya dalam kelompok sosialnya.
Faktor sosial tersebut bisa saja dari keluarga, teman, organisasi,
maupun masyarakat lain yang memberikan pengaruh terhadap
perilaku pembelian.
2) Faktor Pribadi
Faktor pribadi ini meliputi pekerjaan, keadaan perekonomian, usia
dan siklus hidup pembeli, dan gaya hidup. Dari sinilah banyak sekali
karakteristik yang berpengaruh langsung terhadap perilaku
konsumen dalam proses pembelian, serta sebagai pemasar wajib
menjalin hubungan jangka panjang serta baik dengan pelanggan.
Agar pelanggan tertarik maka harus diimbangi dengan strategi
pemasaran yang tepat dengan memperhatikan fenomena-fenomena
perubahan yang berlaku pada konsumen guna mendapatkan dan
mempertahankan nilai perusahaan di mata pelanggan.
3) Faktor Budaya
Faktor budaya menjadi hal utama yang memberikan pengaruh secara
luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Kebudayaan
(culture) merupakan faktor yang paling mendasar dalam keinginan
dan perilaku manusia. Setiap budaya terdiri dari subkultur yang
lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih
spesifik bagi anggotanya. Subkultur meliputi kebangsaan, agama,
ras dan wilayah geografis. Peran lainnya adalah kelas sosial, kelas
sosial adalah pembagian atau kelompok yang relatif homogen dan
tetap dalam masyarakat yang terstruktur secara hierarkis dan yang
anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang sama. (Thamrin
Abdullah, 2012).
Norma budaya didasarkan pada nilai, kepercayaan, dan sikap
anggota kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempengaruhi
perilaku pembelian, misalnya, orang memperhatikan kesehatanya
maka akan membeli makanan yang tidak mengandung bahan
berbahaya bagi kesehatan

Tahap-tahap Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) dalam buku Wibowo
(2017:312) dan Priansa, terdapat tahap-tahap proses keputusan pembelian
yang terdiri dari :
1) Pengenalan Masalah
Keputusan pembelian diawali dengan adanya keinginan serta
kebutahan konsumen yang belum terpenuhi dan tersalurkan, dalam
hal ini konsumen pun menyadari terdapat perbadaan antara keadaan
yang diinginkan dengan yang sebenarnya diperlukan.
2) Pencarian Informasi
Setelah konsumen menyadari akan adanya kebutuhan terhadap suatu
produk tertentu maka konsumen akan mencari informasi tentang
produk tersebut baik melalui logika pengetahuan maupun informasi
yang didapatkan dari luar.
3) Evaluasi Alternatif
Setelah informasi diperoleh maka konsumen akan melakukan
evaluasi mengenai produk tersebut melalui berbagai alternatif
pilihan dalam memenuhi suatu kebutuhan yang diperlukakan.
4) Keputusan Pembelian
Apabila tidak ada faktor lain yang mempengaruhi hasil pemilihan
evaluasi maka pilihan yang telah ditentukan menjadi sebuah
keputusan yang diambil dan ditetapkan, maka pembelian yang
aktual adalah hasil akhir dari sebuah pencarian serta evaluasi yang
telah dilakukan.
5) Evaluasi Pasca Pembelian
Merupakan perilaku konsumen yang merasa puas atau tidak puas
dengan produk yang dibeli. Jika konsumen merasa puas maka akan
melakukan pembelian kembali akan tetapi jika konsumen merasa
tidak puas dengan produk yang dibeli mereka akan meniggalkan,
menolaknya, bahkan menggembalikan produk tersebut dikemudian
hari.
6) Waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia akan
melakukan pembelian dengan disertai ketersediaan uang yang
cukup.
7) Cara Pembayaran
Konsumen bebas melakukan pembayaran bisa melalui tunai/cash
ataupun debit atau bahkan melalui cicilan/kredit

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam proses pengambilan keputusan diawali karena adanya
kebutuhan yang harus dipenuhi, yang mana kebutuhan ini terkait dengan
beberapa pilihan alternatif sehingga perlu adanya evaluasi yang bertujuan
untuk memperoleh keputusan dalam memilih alternatif yang terbaik untuk
kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) dalam jurnal Harjati dan
Lusia (2014) keputusan merupakan suatu hal yang dihadapkan pada dua
pilihan alternatif atau lebih. Contohnya yaitu jika seseorang dihadapkan
oleh suatu keinginan atau kebutuhan akan suatu produk maka orang tersebut
mempunyai dua pilihan antara membelinya atau tidak, maka orang tersebut
sedang dihadapkan dengan posisi dalam pengambilan keputusan.
Pada tahap evaluasi, konsumen membuat preferensi mengenai
berbagai pilihan merek suatu barang ataupun jasa, dimana diantara berbagai
merek tersebut terdapat pilihan yang nantinya membentuk suatu keputusan
merek produk barang/jasa apa yang dibeli dan disukai (Kotler dan Keller
Lane,2018).
Adapun menurut Suryani (2012:17) keputusan pembelian adalah
proses konsumen dalam memilih atau menentukan keputusan dalam
membeli produk atau jasa. Ketertarikan konsumen untuk membeli atau
mengambil tindakan terhadap suatu barang yang berhubungan dengan
keputusan yang akan diambil serta diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian.
Menurut Setiadi (2010:384), mengatakan: Perilaku membeli
mengandung makna yakni kegiatan- kegiatan individu secara langsung
terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa serta dalam proses
pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut. Menurut
Kotler dan Keller (2012:170), yang mengatakan bahwa: “Keputusan
pembelian adalah tahap awal dalam proses pengembalian keputusan
pembelian dimana konsumen benar-benar memilih suatu produk untuk
dibeli. Keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau
menghindari keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh resiko yang
dirasakan”

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator untuk mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92)
adalah:
a. Kesesuaian harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan
dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
b. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
c. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
kepada orang lain seperti, keluarga, teman, dan lainnya

Pengertian Kepuasan Konsumen


Menurut Oliver (2019) kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja/hasil yang dirasakanya dengan harapan, jadi tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan,apabila
harapan maka pelanggan akan kecewa. Bila kinerja sesuai dengan harapan,konsumen
akan sangat puas.sedangkan bila kinerja melebihi harapan,pelanggan akan sanagat puas.
Harapan konsumen dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari
kerabatnya jadi dan informasi pemasar dan sampai.Menurut Daryanto dan Setyobudi
(2019), menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari
konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan
konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Menurut Daryanto (2019) menyatakan
kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
terpenuhi. Menurut Park dalam (Irawan 2021:54), mengungkapkan kepuasan pelanggan
adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa yang
telah dikonsumsi.
Pada prinsipnya, definisi kepuasan pelanggan dapat diklasifikasikan ke dalam
lima kategori pokok, yaitu perspektif defisit normatif, ekuitas/keadilan, standar
normatif, keadilan prosedural, dan atribusional (Hunt, 2019). Menurut Daryanto dan
Setyobudi (2019), menyatakan kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional
dari konsumen setelah konsumen menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan
konsumen yang menggunakan nya terpenuhi. Menurut Daryanto (2019) menyatakan
kepuasan konsumen adalah suatu penilaian emosional dari konsumen setelah konsumen
menggunakan produk dimana harapan dan kebutuhan konsumen yang menggunakan
terpenuhi. Indikator kepuasan konsumenadalah :
a. Kepuasan pelanggan keseluruhan
b. Dimensi kepuasan pelanggan
c. Konfimasi harapan
d. Niat beli ulang

Indikator Harga.


Menurut Kotler dalam buku Indrasari (2019:42), terdapat empat indikator yang
mencirikan harga. Keempat indikator tersebut adalah :
a. Keterjangkauan harga. Harga yang dipasarkan dapat dijangkau oleh semua
kalangan sesuai dengan target segmen pasar yang dipilih.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk. Harga yang ditetapkan perusahaansesuai
dengan kualitas dari produk yang dijual. Kualitas produk menentukan besarnya
harga yang akan ditawarkan kepada konsumen.
c. Daya saing harga. Harga yang ditawarkan lebih tinggi atau dibawah rata-rata dari
pada pesaing.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat. Konsumen akan merasa puas ketika mereka
mendapatkan manfaat setelah mengkonsumsi apa yang ditawarkan sesuai degan
nilai yang mereka keluarkan.

Peranan Harga


Kotler dan Amstrong dalam buku (Indrasari, 2019:40), mengatakan harga memiliki
dua peran penting dalam proses pengambilan keputusan, yaitu : (1) Peranan
AlokasiMerupakan fungsi harga yang membantu pembeli memutuskan bagaimana
mendapatkan manfaat atau nilai tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya beli. (2)
Peranan Informasi Merupakan fungsi harga dalam mendidik konsumen tentang faktor
produk seperti kualitas. Ini sangat berguna dalam situasi di mana pembeli mengalami
kesulitan untuk menilai faktor atau manfaat produk

Tujuan Penetapan Harga


Sebelum menetapkan harga ada beberapa tujuan yang dapat dijadikan alasan dalam
menetapkan harga. Menurut angipora dalam Krisdayanto (2018:3) menyatakan bahwa tujuan penetapan harga adalah sebagai berikut :
a. Mendapatkan laba maksimum
b. Mendapatkan pengembalian investasi
c. Mencegah atau mengurangi persaingan
d. Mempertahankan atau memperbaiki market share

Pengertian Harga


Harga telah menjadi salah satu bagian terpenting dalam proses jual beli, karena
harga merupakan alat tukar dalam bertransaksi. Harga adalah satu-satunya baruan
pemasaran yang fleksibel di mana dapat berubah sewaktu waktu. Harga didefinisikan
sebagai jumlah yang dibayarkan oleh pembeli.
Dalam hal ini, harga merupakan suatu cara bagi penjual untuk membedakan
penawarannya dari para pesaingnya.Philip Kotler dalam (Indrasari, 2019:36)
menjelaskan harga adalah sejumlah nilai atau uang yang dibebankan atas suatu produk
atau jasa untuk jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat- manfaat harga
yang telah menjadi faktor penting yang mempengaruhi pilihan pembeli. Sedangkan
Menurut William J. Stanton dalam (Indrasari, 2019:36), harga adalah sejumlah uang
(kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh
beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya.
Menurut Alma (2013) dalam (Indrasari, 2019:39), harga adalah sejumlah uang yang
dibayarkan atas jasa, atau jumlah nilai yang konsumen tukar dalam rangka mendapatkan
manfaat dari memiliki atau menggunakan barang atau jasa. Harga juga dapat diartikan
sebagai nilai relatif dari produk atau jasa, bukan indikator yang jelas dalam
menunjukkan besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau
jasa menurut Samsul Ramli dalam (Indrasari, 2019). Dari beberapa definisi diatas, dapat
disimpulkan bahwa harga adalah sejumlah uang yang ditukar konsumen untuk
memperoleh manfaat dari produk atau jasa yang mereka beli. Ketika harga dikaitkan
dengan persepsi atas suatu barang atau jasa, harga biasanya digunakan sebagai indikator
nilai.
Menurut Bashu Swastha (dalam Kurniawan, 2022) harga adalah jumlah uang
(ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya. Harga memiliki persepsi yang
berbeda-beda menurut pandangan setiap orang dalam menentukan keputusan
pembelian. Menurut Gitosudarmo (2019) harga ialah sejumlah uang yang digunakan
untuk mendapatkan produk-produk tertentu berupa barang atau jasa. Harga tidak hanya
diperuntukkan untuk pembelian yang dilakukakan dipasar maupun supermarket saja,
harga juga dapat diperuntukan untuk proses jual beli secara online dimarketplace
maupun dimedia sosial

Pengertian Keragaman Produk


Keragaman produk merupakan suatu proses rancangan dan pengelolaan ragam
produk dalam satu kelompok (Anam & Pristiana, 2020). Sedangkan menurut (Anam &
Pristiana, 2020) ada beberapa indikator keragaman produk yang perlu dipertimbangkan
oleh perusahaan, yaitu :

  1. Kedalaman barang yang tersedia dalam kategori tertentu.
  2. Variasi barang yang tesedia.
  3. Harga dan mutu barang.
  4. Keunikan barang
    Menurut Saejita (2018:29) keragaman produk merupakan bagian terpenting dalam
    rencana kegiatan bisnis, karena ini berperan dalam menciptakan suatu pembelian
    produk dengan cara menarik dan membuat minat kosumen dalam melakukan pembelian
    pada kegiatan bisnis, dan ini harus sangat diperhatikan oleh pengusaha bisnis.
    Keragaman produk adalah keseluruhan dari setiap hal yang ditawarkan penjual kepada
    pembeli (Satria et al, 2020:590).

Pengertian produk


Produk adalah titik fokus yang berpusat dalam suatu kegiatan pemasaran karena
produk merupakan suatu hasil dari setiap bisnis yang dapat dijual belikan di pasar untuk
di konsumsi konsumen dan berfungsi sebagai alat bagi setiap bisnis untuk mencapai
tujuan dalam perusahaan. Suatu produk harus memiliki keunggulan dari produk-produk
lain baik dari segi kualitas, desain, bentuk, ukuran, kemasan, pelayanan, garansi, dan
rasa untuk menarik minat konsumen untuk mencoba dan membeli produk tersebut.
Pengertian produk (product) menurut Kotler & Armstrong, (2001: 346) dalam buku
Indrasari (2019:26) adalah segala sesuatu yang dapatditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual, produk merupakan pemahaman subjektif
produsen terhadap sesuatu yang dapat diberikan sebagai upaya mencapai tujuan
organisasi dengan cara memuaskan kebutuhan dan aktivitas konsumsi penggunanya
sesuai dengan kapasitas dan kemampuan organisasi serta daya beli. organisasi di pasar.
Lebih lanjut, produk juga dapat diartikan sebagai persepsi konsumen yang digambarkan
oleh produsen melalui hasil produksinya. Produk dianggap penting oleh konsumen dan
menjadi dasar pengambilan keputusan pembelian.
Pengertian produk menurut Stanton (1996:222) dalam buku Indrasari (2019:26)
adalah suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak
nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk ditambah
denganjasa dan reputasi penjualannya.
Pengertian produk menurut Tjiptono (1999:95) dalam buku Indrasari (2019:26)
secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu”
yang bisa ditawarkan sebagai usahauntuk mencapai tujuan organisasi melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan
kapasitas organisasi serta daya beli. Menurut Sofyan Assauri (2010:200) menyatakan
bahwa produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar dimiliki
dan digunakan atau di konsumsi guna memenuhi kebutuan dan keinginan konsumen.
Keberagaman produk merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan oleh
suatu bisnis ritel. Adanya keberagaman produk yang baik, perusahaan dapat menarik
konsumen untuk berkunjung dan melakukan pembelian. Hal-hal yang harusdiperhatikan
oleh suatu perusahaan adalah bagaimana membuat berbagai keputusantentang bauran
produk yang dihasilkanpada saat ini maupun untuk masamendatang (Hadita, 2018:367)

Hubungan Antara Lokasi Dengan Keputusan Pembelian


Lokasi adalah sesuatu yang mengarah pada suatu aktivitas pemasaran
yang diusahakan untuk memperlancar dan memudahkan proses untuk
menyampaikan atau menyalurkan barang dan jasa dari produsen kepada
konsumen. Keputusan pembelian. Keputusan pembelian adalah suatu
keputusan yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan suatu usaha
(Tjiptono, 2015:345). Menurut Mutoharoh (2015) keputusan pembelian
adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen dalam memutuskan
tindakan pembelian

Hubungan Antara Keragaman Produk Dengan Keputusan Pembelian


Menurut Fure (2013:273-274) keragaman produk adalah keputusan
tentang penempatan produk berkaitan dengan ketersediaan produk atau
keragaman produk dengan jumlah yang sesuai dan di lokasi yang sangat
tepat. Keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang sangat penting
untuk menunjang keberhasilan suatu usaha. Menurut Muotharoh (2015)
keputusan pembelian adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen
dalam memutuskan tindakan pembelian.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa keragaman
produk mempunyai hubungan yang erat dengan keputusan pembelian.
Karena pembeli akan merasa senang dengan berbagai macam keragaman
produk yang dijualkan dan bebas memilih apa yang pembeli butuhkan.
Dengan meningkatnya berbagai macam keragaman produk yang pembeli
inginkan, maka meningkat juga untuk penjualannya

Indikator Kualitas Produk


Menurut Budiyanto (2016:490) dalam jurnal Irfan Rizqullah Ariella,
menyatakan bahwa indikator kualitas produk yaitu :

  1. Keawetan, suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran masa pakai
    atau daya tahan suatu barang.
  2. Keandalan, sesuatu yang berkaitan dengan kemungkinan suatu
    barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan.
  3. Kesesuaian produk, sesuatu yang berkaitan dengan tingkat
    kesesuaian terhadap spesifikasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  4. Kemudahan dipergunakan dan diperbaiki, sesuatu karakteristik yang
    berkaitan dengan kemudahan dan akurasi dalam pemberian layanan
    untuk perbaikan barang.

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008:25-26)
mengemukakan, bahwa kualitas prdouk memiliki beberapa dimensi antara
lain :

  1. Performance (kinerja), merupakan karakteristik operasi dan produk
    ini (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan
    kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Durability (daya tahan), yang berarti daya tahan menunjukkan usia
    produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk itu
    digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin
    awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas
    dibanding produk yang cepat habis atau cepay diganti.
  3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
    sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang
    telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan
    desain, standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja
    produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam
    “janji” yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki
    kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya.
  4. Features (fitur), merupakan karateristik atau ciri-ciri tambahan yang
    melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau
    option bagi konsumen. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika
    competitor tidak memiliki fitur tersebut, ciri-ciri atau keistimewaan
    tambahan (features), merupakan karakteristik sekunder atau
    pelengkap.
  5. Reliability (reliabilitas keandalan) yaitu kemungkinan kecil akan
    mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan
    kualitas dan desain, standar karakteristik operasional kesesuaian
    dengan spesifikasi.
  6. Asthetics (estetika) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera,
    misalkan bentuk fisik, model atau desain yang artistic, warna dan
    sebagainya.
  7. Perceived quality (kesan kualitas) yaitu perspsi konsumen terhadap
    keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena
    kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk
    yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari
    aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara
    pembuatnya, kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu
    cara dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan
    terhadapnya.
  8. Service ability (kemampuan melayani), yaitu kualitas produk
    ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki (service ability),
    meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi
    serta penanganan khusus keluhan yang memuaskan. Produk yang
    mampu diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibandingkan
    dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Utami (2010:209) dalam jurnal Siti Humairoh (2019),
indikator keragaman produk antara lain :

  1. Kelengkapan produk
  2. Merek produk
  3. Variasi ukuran produk
  4. Variasi kualitas produk

Gambaran Keragaman Produk


Kotler dan Keller (2007) memberikan gambaran tentang keragaman
produk yaitu :
a. Lebar, mengacu pada berapa banyak lini produk yang berbeda
dimiliki perusahaan tersebut.
b. Kedalaman, mengacu pada jumlah seluruh barang pada bauran
tersebut.
c. Keluasan, mengacu pada berapa banyak jenis yang ditawarkan
masing-masing produk pada lini tersebut.
d. Konsistensi bauran produk, mengacu pada seberapa erat hubungan
berbagai lini produk dalam penggunaan akhir, ketentuan produksi,
saluran distribusi, atau lainnya

Pengertian Keragaman Produk


Menurut Fure (2013:273-274) keragaman produk adalah keputusan
tentang penempatan produk berkaitan dengan ketersediaan produk atau
keragaman produk dengan jumlah yang sesuai dan di lokasi yang sangat
sepi. Sedangkan menurut Utami (2010:209) keragaman produk adalah
kelengkapan produk yang menyangkut kedalaman, luas, dan kualitas produk
yang ditawarkan juga ketersedian produk tersebut disetiap saat di toko.
Dengan berbagai macam jenis dan jumlah produk yang beragam disuatu
usaha, maka konsumen akan merasa senang dan bebas untuk memilih dan
melakukan pembelian.

Indikator Keputusan Pembelian


Didasarkan pada pandangan Kotler dan Amstrong (2011:280) dalam
jurnal Tommy Kurniawan Njoto (2016), indikator keputusan pembelian
yaitu :

  1. Kemantapan sebuah produk
  2. Kebiasaan dalam membeli
  3. Memberikan rekomendasi ke orang lain
  4. Melakukan pembelian ulang

Pemasaran


Pemasaran merupakan ujung tombak perusahaan. Dalam dunia
perusahaan yang semakin ketat, perusahaan dituntut agar tetap bertahan
hidup dan berkembang. Oleh karena itu seorang tenaga pemasar dituntut
memahami permasalahan pokok dibidang dan menyusun strategi agar dapat
mencapai tujuan yang diinginkan oleh setiap perusahaan. Pemasaran atau
marketing adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Pemasaran adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan perusahaan
untuk menstimulus permintaan atas produk atau jasanya dan memastikan
bahwa produk dijual dan disampaikan kepada pelanggan (Tjiptono,
Chandra, Adriana 2008:4). Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2012:5)
pengertian pemasaran adalah sebagai berikut : “Marketing is a societal
process by which individuals and group obtain what they need and want
trhough creating, offering, and freely exchanging products and services of
value with others” (pemasaran adalah proses sosial yang didalamnya
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
12
inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Pemasaran merupakan (marketing) adalah proses dimana perusahaan
menciptkakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat
dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan
sebagai imbalannya Kotler dan Amstrong (2008:6)

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu keputusan yang sangat penting
untuk menunjang keberhasilan suatu usaha. Pentingnya keputusan
pembelian bagi keberlangsungan suatu perusahaan, banyak peneliti yang
melakukan tentang keputusan pembelian. Menurut Mutoharoh (2015)
keputusan pembelian adalah serangkaian proses yang dilalui konsumen
dalam memutuskan tindakan pembelian. Sedangkan menurut Azany
(2014:17) keputusan pembelian adalah suatu tahapan atau proses dimana
pembeli akan benar-benar mengambil keputusan untuk membeli suatu
produk atau jasa.
Berdasarkan penjelasan dari para ahli tersebut dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian adalah aspek keputusan yang dilakukan
pembeli atau konsumen sebelum melakukan pembelian dari produk yang
akan dibeli sesuai dengan kebutuhan dan keperluan pembeli.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian terdapat 5 tahap yang akan dilalui yaitu :

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pembelian akan diawali dengan pengenalan masalah atau
    kebutuhan konsumen.
  2. Pencarian Informasi
    Dalam proses ini konsumen akan mencari informasi tentang kebutuhan
    yang dimilikinya melalui berbagai sumber antara lain iklan, teman dan
    sebgainya.
  3. Evalusi Alternatif
    Setelah melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber,
    konsumen akan mempunyai beberapa pilihan alternative merek atau
    produk.
  4. Keputusan Pembelian
    Pada tahap ini konsumen memungkinkan untuk menentukan minat beli
    terhadap produk yang disukainya.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Pada tahap ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman konsumen saat
    membeli suatu produk dan setelah itu akan mengalami rasa kepuasan
    atau ketidakpuasan dalam proses pembelian suatu produk.

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian


Store atmosphere atau suasana toko merupakan salah satu faktor yang
mampu menarik perhatian konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2016:561) store
atmosphere adalah gambaran susana keseluruhan dari sebuah toko yang
diciptakan oleh elemen fisik (eksterior, interior,layout, display) dan elemen
psikologis (kenyamanan, pelayanan, kebersihan, ketersedian barang, kreatifitas,
promosi, tekologi). Store atmosphere bertujuan untuk menarik konsumen untuk
berkunjung, mempertahankan mereka untuk berlama-lama berada di dalam toko,
memotivasi mereka untuk melakukan pembelian.

Indkator Keputusan Pembelian


Menurut Thompson (2016:57) ada 4 indikator dalam keputusan
pembelian yaitu:

  1. Sesuai kebutuhan
    Pelanggan melakukan pembelian karena produk yang ditawarkan sesuai yang
    dibutuhkan dan mudah dalam mencari barang yang dibutuhkan.
  2. Mempunyai manfaat
    Produk yang dibeli sangat berarti dan bermanfaat bagi konsumen.
  3. Ketepatan dalam membeli produk
    Harga produk sesuia kualitas produk dan sesuai dengan keinginan konsumen.
  4. Pembelian berulang
    Keadaan dimana konsumen merasa puas dengan transaksi sebelumnya
    sehingga berniat selalu melakukan transaksi dimasa yag akan datang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen


Untuk memahami perilaku konsumen adalah tugas penting bagi pemasar.
Untuk memahami hal ini, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi
konsumen sampai di tahap keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller
(2016:195):

  1. Faktor Budaya
    Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian.
    Budaya adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Budaya
    merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk paling dasar.
  2. Faktor Sosial
    Selain faktor budaya, faktor sosial seperti, kelompok referensi, keluarga, serta
    peran sosial dan status mempengaruhi perilaku pembelian.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembeli jua dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, penting bagi
    pemasar untuk mengikuti mereka secara seksama agar produk yang
    ditawasrkan pemasar dapat diterima oleh mereka.
    a. Psikologis konsumen
    Psikologi konsumen terdapat empat proses yaitu; motivasi, persepsi,
    pembelajaran, dan minat.
    22
    1) Motivasi
    Perilaku seseorang diawali dengan adanya suatu motif untuk menggapai
    suatu tujuan, dapat disimpulkan bahwa motivasi berakar di kebutuhan
    dan tujuan, sehingga motivasi dapat mendorong pembelanjaan.
    2) Persepsi
    Persepsi ialah proses seseorang memilih, mngatur, dan menerjemahkan
    masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang berarti.
    Dalam pemasaran persepsi lebih tinggi daripada realitas, karena
    persepsi yang mempengaruhi perilaku aktual konsumen.
    3) Pembelajaran
    Pembelajaran adalah aktivitas manusia yang dilakukan selama
    hidupnya. Dalam pembelajaran ini pemasar mencoba melihat proses
    pembelajaran, lalu mencari kiat-kiat yang tepat untuk memberikan
    stimulasi, informasi dan pengalaman agar konsumen belajar tentang
    prosuk yang ditawarkan.
    4) Motivasi
    Dalam memori pemasar harus memastikan bahwa konsumen
    mendapatkan jenis pengalaman produk dan jasa yang tepat untuk
    menciptakan struktur pengetahuan merek yang tepat dan
    mempertahankan merek tersebut di memori mereka

Pengertian Keputusan Pembelian


Berikut ini merupakan beberapa definisi keputusan pembelian menurut
para ahli. Menurut Buchari Alma (2016:96) mengemukakan bahwa keputusan
pembelian adalah suatu keputusan konsumen yang dipengaruhi oleh ekonomi
keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi, physical
evidence, people, process. Sehingga membentuk sikap pada konsumen untuk
mengolah segala informasi dan mengambil kesimpulan berupa respons yang
muncul produk apa yang akan dibeli.
Menurut Tjiptono (2015:21) mendefinisikan keputusan pembelian
konsumen merupakan sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya,
mencari informasi mengenai produk atau merek tertentu.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:194) menyatakan keputusan
pembelian konsumen merupakan bagian dari perilaku konsumen yaitu studi
tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Keputusan pembelian tidak
terpisahkan dari bagaimana sifat seorang konsumen (consumer behavior)
sehingga masing-masing konsumen memiliki kebiasaan yang berbeda dalam
melakukan pembelian, Kotler dan Keller (2016:194) mengemukakan keputusan
pembelian memiliki dimensi sebagai berikut:

  1. Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau
    menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus
    memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli
    sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
  2. Pilihan merek
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang akan dibeli
    setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
    mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
  3. Pilihan penyalur
    Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
    dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur
    bisa dikarenakan faktor lokasi dekat, harga yang murah, persediaan barang
    yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, harga yang murah, persediaan
    barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, dan keluasan tempat.
  4. Waktu pembelian
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda
    misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu
    sekali dan lain sebagainya.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
    akan dibelanjakan pada suatu saat, pembelian yang dilakukan mungkin lebih
    dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk
    sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda.
  6. Metode pembayaran
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang
    akan dilakukan dalam pengambilan keputusan menggunakan produk atau
    jasa. Keputusan pembelian dipengaruhi oleh tidak hanya aspek lingkungan
    dan keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh teknologi yang
    digunakan dalam transaksi pembelian.

Indikator Keragaman Produk


Menurut Utami (2017:116) mengungkapkan bahwa dalam keragaman
produk hal-hal yang harus dipertimbangkan meliputi:

  1. Kelengkapan produk
    Kelengkapan produk adalah sejumlah kategori barang-barang yang berbeda
    didalam toko atau departemen store. Toko dengan banyak jenis atau tipe
    produk yang dijual dapat dikatakan mempunyai banyak ragam kategori
    produk yang ditawarkan.
  2. Merek produk
    Merek produk adalah banyaknya jenis merek produk yang ditawarkan, dapat
    didefinisikan sebagai presentase permintaan untuk beberapa standart kualitas
    umum yang memuaskan.
  3. Variasi ukuran produk
    Variasi ukuran produk adalah sejumlah standar kualitas umum dalam kategori
    toko dengan keberagaman yang luas dapat dikatakan mempunyai kedalaman
    yang baik.
  4. Variasi kualitas produk
    Variasi kualitas produk adalah standar kualitas umum dalam kategori barang
    berkaitan dengan kemasan, lebel, ketahanan suatu produk, jaminan,
    bagaimana produk memberikan manfaat

Pengertian Keragaman Produk


Menurut Kotler dan Armstong (2018:358) mengatakan bahwa keragaman
produk merupakan kumpulan seluruh produk dan barang yang ditawarkan pelaku
usaha kepada konsumen. Oleh karena itu, pelaku usaha harus membuat keputusan
yang tepat mengenai keragaman produk yang ditawaran, karena dengan adanya
keragaman produk akan memberikan kemudahan kepada konsumen untuk
memilih dan melakukan keputusan pembelian sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan konsumen.
Alma (2016:144) berpendapat keragaman produk adalah kumpulan
seluruh produk dan barang yang ditawarkan penjual tertentu kepada para
konsumen. Salah satu unsur kunci dalam persingan bisnis adalah keragaman
produk yang disediakan oleh pelaku usaha kepada konsumen.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa keberagaman
produk adalah banyaknya ragam atau macam-macam produk dalam artian
kelengkapan produk mulai dari banyaknya jenis, merk, warna, bahan, ukuran,
kualitas serta ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko.
Keragaman produk yang dihasilkan dari suatu perusahaan memiliki lebar,
panjang, kedalaman. Berikut penjelasannya :

  1. Lebar, yaitu banyaknya variasi produk yang dijual. Mengacu pada beberapa
    banyak kategori berbeda yang ditawarkan perusahaan.
  2. Kedalaman, yaitu banyaknya item pilihan dalam masing-masing kategori
    produk.
  3. Keluasan, mengacu pada berapa banyak jenis yang ditwarkan masing-masing
    produk dalam kategori tersebut.
    Menurut Kotler dan Armstrong (2018:362) ketiga dimensi keragaman
    produk tersebut memungkinkan perusahaan untuk memperluas bisnisnya dengan
    empat cara yaitu:
  4. Perusahaan dapat menambah kategori produk baru sehingga memperlebar
    keragaman produknya.
  5. Perusahaan dapat memperpanjang tiap kategori produk.
  6. Perusahaan dapat menambah lebih banyak varian produk

Pengertian Produk


Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau memuaskan keinginan atau
kebutuhan (Kotler dan Armstrong, 2018:347).
Menurut Alma (2016:140) produk adalah seperangkat atribut baik
berwujud maupun tidak berwujud termasuk didalamnya warna, harga, nama baik
produk, nama baik pengecer dan pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer yang
diterima oleh konsumen guna memenuhi serta memuasakan kebutuhan dan
keinginan konsumen.
Sedangkan Tjiptono (2015:95) mendefinisi produk adalah segala sesuatu
yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dibeli, dan dikonsumsi
pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan.

Indikator Store Atmosphere


Menurut Berman dan Evans (2014:455), elemen-elemen store
atmosphere meliputi:

  1. Exterior (Bagian luar toko)
    Komponen dalam exterior ini memiliki peranan sangat penting untuk
    menarik perhatian orang yang lewat dan dan mendorong mereka untuk masuk
    ke dalam toko. Store front design atau desain luar toko harus dapat tampak
    jelas, mudah dikenali dan mudah diingat. Desain luar toko harus dengan jelas
    mengidentifikasikan nama dan gambaran umum tentang toko tersebut serta
    memberi petunjuk mengenai barang yang tersedia didalamnya. Karakteristik
    exterior mempunyai pegaruh yang kuat terhadap citra toko. Exterior
    memberikan kesan pertama terhadap toko, karena bagian ini adalah yang
    dilihat pertama oleh pengunjung. Exterior ini meliputi bagian depan toko,
    papan nama dan logo, pintu masuk, tampilan jendela, tinggi dan ukuran
    bangunan, keunikan, dan tempat parkir.
  2. General Interior (Bagian dalam toko)
    Saat berada didalam toko, maka banyak elemen-elemen yang
    mempengaruhi persepsi mereka. Lampu yang terang dapat memberikan
    kontribusi terhadap atmosphere yang berbedadari pada penerangan dengan
    lampu yang remang. Suara dan aroma dapat mempengaruhi perasaan
    konsumen. Konsumen juga dipengaruhi temperatur udara di dalam toko,
    kurangnya kesejukan udara dapat mempercepat keberadaan konsumen di
    dalam toko. General interior didalam toko menjadi salah satu kunci
    keberhasilan dari keseluruhan store atmosphere. Elemen-elemen general
    interior terdiri dari lantai, warna dan pencahayaan, aroma dan musik,
    penempatan, suhu udara, pramusaji, kebersihan dan harga.
  3. Store Layout (Tata letak toko)
    Dalam poin ini, store layout meliputi penataan penempatan ruang untuk
    mengisi luas lantai yang tersedia, mengklasifikasikan produk yang akan
    ditawarkan, pengaturan lalu lintas didalam toko, pengaturan lebar ruang yang
    dibutuhkan, pemetaan ruang toko dan menyusun produk yang ditawarkan
    secara individu. Store layout yang baik akan mampu mengundang konsumen
    untuk lebih betah berkeliling didalam toko. Elemen-elemen yang store layout
    terdiri dari ruang penjualan, gudang, ruang pegawai, ruang pelanggan,
    pengelompokan barang, dan pola arus lalu lintas.
  4. Interior Point of Purchase (POP) Display
    Desain interior dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu finishing yang
    digunakan untuk seluruh permukaan (baik untuk lantai, dinding maupun
    plafon) dan bentuk arsitektur di dalam toko itu sendiri. Banyak sekali hal
    kecil yang harus dibutuhkan untuk menciptakan image bagi sebuah toko dan
    diperlukan pemilihan bahan-bahan material yang mendukung untuk
    terciptanya image tersebut. Sebagai contoh, pemilihan lantai yang polos yang
    tidak dicat akan menimbulkan kesan biasa dan murah, atau pemakaian batu
    marmer yang akan menimbulkan kesan mewah. Untuk diding juga
    mempunyai banyak pilihan mulai dari mencat didning tersebut, melapisi
    dinding dengan wallpaper. Tujuan utama dari interior display adalah untuk
    meningkatkan penjualan. Interior POP display terdiri dari tema khusus dan
    dekorasi ruangan.

Pengertian Store Atmosphere


Kotler dan Keller (2016:561) menyatakan store atmosphere adalah
gambaran susana keseluruhan dari sebuah toko yang diciptakan oleh elemen fisik
(eksterior, interior,layout, display) dan elemen psikologis (kenyamanan,
pelayanan, kebersihan, ketersedian barang, kreatifitas, promosi, tekologi).
Sedangkan menurut Alma (2016:201), mengatakan bahwa store
atmosphere adalah salah satu marketing mix dalam gerai yang berperan penting
dalam memikat pembeli, membuat mereka nyaman dalam memilih barang
belanjaan, dan mengingatkan mereka produk apa yang ingin dimiliki baik
keperluan pribadi, maupun keperluan rumah tangga

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam proses pengambilan keputusan diawali karena adanya
kebutuhan yang harus dipenuhi, yang mana kebutuhan ini terkait dengan
beberapa pilihan alternatif sehingga perlu adanya evaluasi yang bertujuan
untuk memperoleh keputusan dalam memilih alternatif yang terbaik untuk
kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) dalam jurnal Harjati dan
Lusia (2014) keputusan merupakan suatu hal yang dihadapkan pada dua
pilihan alternatif atau lebih. Contohnya yaitu jika seseorang dihadapkan
oleh suatu keinginan atau kebutuhan akan suatu produk maka orang tersebut
mempunyai dua pilihan antara membelinya atau tidak, maka orang tersebut
sedang dihadapkan dengan posisi dalam pengambilan keputusan.
Pada tahap evaluasi, konsumen membuat preferensi mengenai
berbagai pilihan merek suatu barang ataupun jasa, dimana diantara berbagai
merek tersebut terdapat pilihan yang nantinya membentuk suatu keputusan
merek produk barang/jasa apa yang dibeli dan disukai (Kotler dan Keller
Lane,2018).
Adapun menurut Suryani (2012:17) keputusan pembelian adalah
proses konsumen dalam memilih atau menentukan keputusan dalam
membeli produk atau jasa. Ketertarikan konsumen untuk membeli atau
mengambil tindakan terhadap suatu barang yang berhubungan dengan
keputusan yang akan diambil serta diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian

Klasifikasi Motivasi Konsumen


Motivasi yang dimiliki tiap konsumen sangat berpengaruh terhadap
keputusan yang akan diambil. Bila dilihat dari hal itu maka motivasi yang
dimiliki konsumen secara garis besar dapat terbagi menjadi dua kelompok
besar, yaitu motivasi yang berdasarkan rasional dan motivasi yang
berdasarkan emosional (Setiadi, 2003).
a. Motivasi Rasional
Menurut Setiadi (2003) rasional adalah menurut pikiran yang sehat, patut
dan layak. Tindakan seseorang jadi rasional motif adalah suatu dorongan
untuk bertindak menurut pikiran sehat, patut dan layak. Motivasi yang
berdasarkan rasional akan menentukan pilihan terhadap suatu produk
dengan memikirkan secara matang serta dipertimbangkan terlebih dahulu
untuk membeli produk tersebut. Menurut Schiffman dan Kanuk (2004)
para konsumen berperilaku rasional jika mereka secara teliti
mempertimbangkan semua alternatif dan memilih alternatif yang
memberikan kegunaan yang terbesar kepada mereka.
Motivasi rasional adalah pembelian yang didasarkan kepada kenyataan-
kenyataan yang ditunjukkan oleh produk kepada konsumen dan
merupakan atribut produk yang fungsional serta obyektif keadaannya
misalnya kualitas produk, harga produk, ketersediaan barang, efisiensi
kegunaan barang tersebut dapat diterima (wahyuni, 2008).
b. Motivasi Emosional
Menurut Setiadi (2003) emosional adalah penuh dengan perasaan. Jadi
emosional motif adalah motif yang dipengaruhi oleh perasaan. Motivasi
yang berdasarkan pada emosional, konsumen terkesan terburu-buru
untuk membeli produk tersebut dengan tidak mempertimbangkan
kemungkinan yang akan terjadi untuk jangka panjang. Menurut
Schiffman dan Kanuk (2008) motif emosional mengandung arti bahwa
pemilihan sasarannya menurut kriteria pribadi atau subyektif.
Motivasi emosional dalam pembelian berkaitan dengan perasaan,
kesenangan yang dapat ditangkap oleh pancaindera misalnya dengan
memiliki suatu barang tertentu dapat meningkatkan status sosial, peranan
merek menjadikan pembeli menunjukkan status ekonominya dan pada
umumnya bersifat subyektif dan simbolik. Pada saat seseorang akan
mengambil keputusan untuk membeli suatu produk tentunya akan
dipengaruhi oleh kedua jenis motivasi tersebut yaitu motivasi rasional
dan emosional (wahyuni, 2008)

Pengertian Motivasi Konsumen


Menurut Setiadi (2003), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan
tingkat upaya yang tinggi kearah tujuan-tujuan yang hendak dicapai, yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi suatu kebutuhan
individual.
Motivasi konsumen adalah keadaan didalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna
mencapai suatu tujuan. Adanya motivasi pada diri seseorang akan
menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk
mencapai sasaran kepuasan. Jadi, motivasi adalah proses untuk
mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang kita inginkan (Setiadi,
2008).
Sangadji dan Sopiah (2013) juga menjelaskan bahwa motivasi adalah
dorongan yang muncul dari dalam diri atau dari luar diri (lingkungan) yang
menjadi faktor penggerak kearah tujuan yang ingin dicapai. Terkait dengan
konsumen, motivasi bisa diartikan sebagai suatu dorongan yang
menggerakkan konsumen untuk memutuskan bertindak kearah pencapaian
tujuan, yaaitu memenuhi berbagai macam kebutuhan dan keinginan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Konsumen


Menurut Kotler dan Armstrong (2008) keputusan membeli konsumen
dipengaruhi oleh empat faktor diantaranya faktor budaya, faktor sosial, faktor
pribadi dan faktor psikologis.
a. Faktor Budaya
1) Budaya
Penyebab keinginan dan perilaku seseorang yang paling dasar.
Tumbuh di dalam suatu masyarakat seorang anak mempelajari
nilai-niali dasar, persepsi, keinginan dan perilaku dari keluarga dan
institusi penting lainnya. Setiap kelompok dan masyarakat
mempunyai budaya dan pengaruh budaya, pada perilaku pembelian
bisa sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain. Kegagalan
menyesuaikan diri dengan perbedaan ini dapat menghasilkan
pemasaran yang tidak efektif atau kesalahan yang memalukan.
2) Subbudaya
Subbudaya meliputi kebangsaan, agama, kelompok ras dan daerah
geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar yang
penting, dan pemasar sering merancang produk dan program
pemasaran yang dibuat untuk kebutuhan mereka.
3) Kelas Sosial
Pembagian masyarakat yang relatif permanen dan berjenjang
dimana anggotanya berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama.
Kelas sosial ditentukan hanya oleh satu faktor seperti pendapatan.
b. Faktor Sosial
1) Kelompok
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil.
Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung dan tempat dimana
seseorang menjadi anggotanya disebut kelompok keanggotaan.
Sebaliknya kelompok referensi bertindak sebagai titik
perbandingan atau titik referensi langsung atau tidak langsung
dalam membentuk sikap atau perilaku seseorang. Tetapi orang
sering kali dipengaruhi oleh kelompok referensi dimana mereka
tidak menjadi anggotanya.
2) Keluarga
Keluarga bisa sangat mempengaruhi perilaku membeli. Keluarga
adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam
masyarakat dan telah diteliti secara ekstensif. Pemasar tertarik pada
peran suami, istri dan anak-anak dalam pembelian barang dan jasa
yang berbeda.
3) Peran dan status
Posisi seseorang dalam masing-masing kelompok dapat
didefinisikan dalam peran dan status. Peran terdiri dari kegiatan
yang diharapkan dilakukan seseorang sesuai dengan orang-orang di
sekitarnya. Masing-masing peran membawa status yang
mencerminkan nilai umum yang diberikan kepadanya oleh
masyarakat.
c. Faktor Pribadi
1) Usia dan Tahap Siklus Hidup
Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang
hidup mereka. Selera makan, pakaian, perabot dan rekreasi sering
berhubungan dengan usia. Pembelian juga dibentuk oleh tahap
siklus hidup keluarga (tahap-tahap yang dilalui keluarga ketika
mereka menjadi matang dnegan berjalannya waktu). Pemasar
sering mendefenisikan pasar sasaran mereka dengan tahap siklus
hidup dan mengembangkan produk dan rencana pemasaran yang
sesuai untuk setiap tahap itu.
2) Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang mereka
beli. Pemasar berusaha mengidentifikasi kolompok pekerjaan yang
mempunyai minat di atas rata-rata pada produk dan jasa mereka.
3) Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk.
Jika indikator ekonimi menunjukkan resesi, pemasar dapat
mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, mereposisi
dan menetapkan harga kembali untuk produk mereka secara
seksama.
4) Gaya Hidup
Adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan oleh kegiatan,
minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan
seseorang secara keseluruhan yang berinteraksi dengan lingkungan.
Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu di balik kelas sosial
seseorang.
5) Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian setiap orang yang berbeda-beda mempengaruhi
perilaku pembeliannya. Kepribadian mengacu pada karakteristik
psikologi unik yang menyebabkan respon yang relative konsisten
dan bertahan lama terhadap lingkungan orang itu sendiri.
Kepribadian biasanya digambarkan dalam karakteristik perilaku
seperti kepercayaan diri, dominasi, kemampuan bersosialisasi,
otonomi, cara mempertahankan diri, kemampuan beradaptasi dan
sifat agresif. Kepribadian dapat digunakan untuk menganalisis
perilaku konsumen untuk produk atau pilihan merek tertentu.
d. Faktor Psikologis
1) Motivasi
Setiap orang memiliki banyak kebutuhan salah satunya kebutuhan
biologis. Kebutuhan lainnya adalah kebutuhan psikologis yang
timbul dari kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa
memiliki. Kebutuhan menjadi motif ketika kebutuhan itu mencapai
tingkat intensitas yang kuat. Motif (dorongan) adalah kebutuhan
dengan tekanan kuat yang mengarahkan seseorang mencari
kepuasan. Teori Freud (dalam kotler & armstrong, 2008)
menyatakan bahwa keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh
motif bawah sadar yang bahkan tidak dipahami sepenuhnya oleh
pembeli.
2) Persepsi
Orang yang termotivasi akan beraksi. Cara orang tersebut bertindak
dipengaruhi oleh persepsi dirinya tentang sebuah situasi. Persepsi
adalah proses dimana orang memilih, mengatur dan
menginterpretasikan informasi untuk membentuk gambaran dunia
yang berarti.
3) Pembelajaran
Ketika orang bertindak, mereka belajar. Pembelajaran
menggambarkan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul
dari pengalaman. Ahli teori pembelajaran mengatakan bahwa
perilaku manusia yang paling utama adalah belajar. Pembelajaran
terjadi melalui interaksi dorongan, rangsangan, pertanda, respons
dan penguatan. Dorongan menjadi motif ketika dorongan itu
diarahkan menuju objek rangsangan tertentu.
4) Keyakinan dan Sikap
Keyakinan dan sikap mempengaruhi perilaku pembelian. Keyakinan
adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu.
Keyakinan bisa didasarkan pada pengetahuan nyata, pendapat, atau
iman dan bisa membawa muatan emosi maupun tidak.
Sikap menggambarkan evaluasi, perasaan dan tendensi yang relative
konsisten dari seseorang terhadap sebuah objek atau ide. Sikap
menempatkan orang kedalam suatu kerangka pikiran untuk
menyukai atau tidak menyukai sesuatu, untuk bergerak menuju atau
meninggalkan sesuatu

Proses Pengambilan Keputusan Membeli


Proses pembelian dimulai jauh sebelum pembelian sesungguhnya dan
berlanjut dalam waktu yang lama setelah pembelian. Konsumen melewati 5
tahap untuk semua pembelian yang dilakukannya, tetapi dalam pembelian
yang lebih rutin konsumen sering menghilangkan atau membalik urutan
beberapa tahap ini (Kotler & Armstrong, 2008).
Tahap-tahap pengambilan keputusan menurut Kotler dan Amstrong
(2008) ;
a. Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai dengan pengenalan kebutuhan. Pembeli
menyadari suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh
rangsangan internal atau eksternal ketika salah satu kebutuhan normal
seseorang timbul pada tingkat yang lebih tinggi sehingga menjadi
dorongan.
b. Pencarian Informasi
Konsumen yang tertarik mungkin akan mencari lebih banyak informasi
atau mungkin tidak. Jika dorongan konsumen itu kuat dan produk yang
memuaskan ada didekat konsumen itu, kemungkinan konsumen akan
membelinya kemudian. Jika tidak, konsumen bisa menyimpan kebutuhan
itu dalam ingatannya dan melakukan penarian informasi yang
berhubungan dengan kebutuhannya. Konsumen dapat memperoleh
informasi dari beberapa sumber meliputi sumber pribadi, sumber
komersial, sumber publik dan sumber pengalaman.
c. Evaluasi Alternatif
Yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk sampai pada
pilihan merek. Konsumen sampai pada sikap terhadap merek yang
berbeda melalui beberapa prosedur evaluasi. Bagaimana cara konsumen
mengevaluasi alternatif bergantung pada konsumen pribadi dan situasi
pembelian tertentu. Konsumen yang sama hanya sedikit melakukan
evaluasi atau bahkan tidak mengevaluasi, sebagai gantinya mereka
membeli berdasarkan dororngan dan bergantung pada intuisi. Kadang-
kadang konsumen membuat keputusan pembelian sendiri, kadang mereka
meminta nasihat pembelian kepada teman, pemandu konsumen atau
wiraniaga.
d. Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek yang paling
disukai, tetapi terdapat 2 faktor yang bisa berada di antara niat pembelian
dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan
faktor kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan. Setiadi
(2003) mengatakan sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi
alternatif pilihan seseorang. Pada saat konsumen bertindak, faktor-faktor
keadaan yang tidak terduga mungkin timbul dan mengubah tujuan
pembelian.
e. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas
dan terlibat dalam perilaku pasca pembelian. Hal yang menentukan
kepuasan atau ketidakpuasan pembeli terhadap suatu pembelian terletak
pada hubungan ekspektasi konsumen dan kinerja anggapan produk. Jika
produk tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan kecewa sebaliknya
jika produk memenuhi ekspektasi, konsumen puas dan jika produk
melebihi kespektasi, konsumen sangat puas

Pengertian Keputusan Membeli


Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari
konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Berbagai macam
faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu
produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas,
harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat.
Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) proses pengambilan keputusan
pembelian sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Proses tersebut
sebenarnya merupakan proses pemecahan masalah dalam rangka memenuhi
keinginan atau kebutuhan konsumen.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2008) keputusan pembelian adalah
proses pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian,
artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia
beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada
bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan.
Menurut Sumarwan (dalam maharani, 2017) keputusan pembelian adalah
proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan pilihan
pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian. Pemasar perlu
mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan membeli dan peran apa yang
dimainkan oleh setiap orang untuk banyak produk,cukup mudah untuk
mengenali siapa yang mengambil keputusan.
Setiadi (2003) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan
konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan
pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan
memilih salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah
suatu pilihan yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berperilaku

Indikator Kualitas pelayanan


Menurut Khuzaini (2023) terdapat 7 indikator yang dapat digunakan
untuk mengukur e-service quality, sebagai berikut :
a. Efesiensi (Effeciency), yaitu berupa kemampuan mencari informasi
yang berkaitan dengan produk serta kemudahan akses website yang
digunakan.
b. Keandalan (Reliability) yaitu yaitu kemampuan untuk memberikan
layanan dengan segera, akurat, konsisten, dan memuaskan.
c. Pemenuhan (Fulfilment), yaitu mencangkup akurasi pada janji layanan,
pemenuhan ketersediaan stok produk, dan kesesuaian waktu pengiriman
produk dengan waktu yang telah dijanjikan.
d. Privasi (Privacy), yaitu berupa jaminan-jaminan atas keamanan data
informasi yang telah diberikan konsumen bersifat bebas dari bahaya
dan resiko

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut (Kotler, P., & Keller, 2016) keputusan pembelian memiliki
6 indikator diantaranya yaitu :
a. Pemilihan produk, yaitu keputusan konsumen untuk memilih produk
mana yang akan dibeli dengan mempertimbangkan semua produk dan
menjadikanya alternatif.
b. Pilihan merek, yaitu keputusan konsumen tentang merek mana yang
akan dibeli.
c. Pilihan penyalur, yaitu pilihan penyalur mana yang akan dikunjungi
untuk membeli suatu barang.
d. Jumlah pembelian, yaitu keputusan konsumen mengambil keputusan
tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya.
e. Waktu pembelian, yaitu keputusan konsumen dalam memilih waktu
pembelian.
f. Metode pembayaran, yaitu keputusan konsumen dalam memilih
metode apa untuk melakukan pembayaran produk yang dibelinya

Pengertian Keputusan Pembelian


Definisi dari Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen
mengenai preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan
pilihan (Kotler dan Keller 2016). Keputusan pembelian menurut Furianto
& Kusnawan (2023) merupakan bentuk rasa percaya diri yang dominan
dalam diri konsumen yang berupa kepercayaan bahwa keputusan
pembelian produk yang diambilnya ialah keputusan yang tepat. Sedangkan
menurut Menurut Khuzaini (2023) keputusan pembelian merupakan suatu
pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Dengan kata
lain, orang yang mengambil keputusan harus mempunyai satu pilihan
dari beberapa alternatif yang tersedia

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian.


Menurut Tjiptono & Chandra (2012), faktor yang mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen yaitu ikatan emosional yang terbentuk
antara konsumen dengan produsen setelah konsumen menggunakan produk
atau jasa dari perusahaan dan menemukan bahwa produk atau jasa tersebut
memberikan nilai tambah. Faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
terdiri dari 4, yaitu:
a. Nilai emosional
Nilai emosional mengacu pada manfaat yang berasal dari perasaan
atau afeksi positif yang timbul saat menggunakan suatu produk.
Ketika konsumen merasakan perasaan positif saat membeli suatu
merek, hal tersebut menandakan adanya nilai emosional yang
diberikan oleh merek tersebut. Secara pokok, nilai emosional terkait
dengan pengalaman perasaan positif yang akan dirasakan konsumen
saat membeli produk.
b. Nilai sosial
Nilai sosial adalah manfaat yang diperoleh dari kemampuan suatu
produk dalam meningkatkan konsep diri sosial konsumen. Ini
mencerminkan standar nilai yang dipegang oleh seorang konsumen,
menyangkut persepsi tentang hal-hal yang dianggap baik dan yang
dianggap buruk oleh konsumen itu sendiri.
c. Nilai kualitas
Nilai kualitas adalah manfaat yang diperoleh dari sebuah produk karena
mengurangi biaya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Nilai fungsional
Nilai fungsional merujuk pada manfaat yang diperoleh dari atribut-
atribut produk yang memberikan kegunaan fungsional kepada
konsumen. Nilai ini terkait langsung dengan fungsi yang diberikan
oleh produk atau layanan kepada konsumen

Model Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen merupakan semua tindakan yang terlibat
langsung dalam perolehan, konsumsi, dan penghabisan suatu barang atau
jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului tindakan ini
(Nugroho, 2008). Dalam definisi ini, perilaku konsumen dipandang sebagai
suatu proses yang mencakup persoalan-persoalan yang mempengaruhi
konsumen, baik sebelum, selama, dan setelah pembelian (Mooij, 2011)

Hubungan Kualitas Produk Dengan KeputusanPembelian.


Menurut Assauri (2009 :361) menyatakan bahwa kualitas produk
adalah komposisi teknis yang didasarkan pada spesifikasi teknis dari suatu
produk. Penelitian yang dilakukan oleh Gircela dan Wati (2019)
menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian, keputusan pembelian
konsumen sangat di pengaruhi oleh citra merk dari produk itu sendiri,
semakin dikenal sebuah produk maka konsumen akan memutuskan untuk
membeli produk tersebut

Indikator Citra Merek


Menurut Aaker (2011:71) ada beberapa indikator citra
merek, adalah sebagai berikut :
a. Presepsi konsumen terhadap perusahaan yang membuat
barang dan jasa.
b. Presepsi konsumen terhadap pemakai atau pengguna barang
atau jasa tersebut termasuk pemakai itu sendiri, gaya hidup
dan status sosial.
c. Presepsi konsumen terhadap produk melalui atribut, manfaat,
penggunanya serta jaminan yang diberikan produk.
d. Persepsi konsumen terhadap selebriti pendukung iklan produk
tersebut

Faktor-Faktor Pembentuk Citra Merek


Menurut Sciffman dan Kanuk (2010:33) ada beberapa faktor
pembentuk citra merek, sebagai berikut :
a. Kualitas dan mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang
yang ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
b. Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat
atau kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang
suatu produk yang dikonsumsi.
c. Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu
produk yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
d. Pelayanan, yang terkait dengan tugas produsen dalam
melayani konsumennya.
e. Resiko, terkait dengan besar kecilnya akibat untung dan rugi
yang mungkin dialami oleh konsumen.
f. Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya
atau banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan oleh
konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat
mempengaruhi citra jangka panjang.
g. Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa
pandangan, kesepakatan, dan informasi yang berkaitan dengan
suatu merek dari produk tertentu.

Indikator promosi


Indikator promosi menurut Kotler dan Armstrong (2019:62)
yaitu :
a. Periklanan, merupakan bentuk saluran promosi nonpribadi
dengan menggunakan berbagai media untuk merangsang
pembelian.
b. Promosi penjualan, merupakan salah satu upaya perusahaan
untuk mendorong pembelian atau penjualan produk salah
satunya dengan cara memberi potongan harga.
c. Hubungan masyarakat, merupakan upaya perusahaan untuk
mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau
produk dengan berbagai program yang telah dirancang oleh
perusahaan

Pengertian Promosi


Menurut Nickels dalam Swastha & Irawan (2008:349),
promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat
untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada Tindakan
yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Menurut Kotler dan
Keller (2012), promosi adalah segala bentuk komunikasi yang
digunakan untuk menginformasikan (to inform), membujuk (to
persuade), dan mengingatkan (to remind) pasar sasaran tentang
produk yang dihasilkan organisasi, individu ataupun rumah tangga.
Menurut Tjiptono (2015: 387) promosi merupakan elemen
bauran pemasaran yang berfokus pada upaya menginformasikan,
membujuk, dan mengingatkan kembali konsumen akan merek dan
produk perusahaan. Sedangkan menurut Buchory dan Saladin dalam
Aris Jatmika Diyatma (2017) promosi adalah salah satu unsur dalam
bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk
memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk
perusahaan.
Menurut Daryanto (2011:94), promosi adalah arus informasi
atau persuasi satu arah yang dapat mengarahkan organisasi atau
seseorang untuk menciptakan transaksi antara pembeli dan penjual.
Sedangkan menurut Herman Malau (2017:103) mengatakan bahwa
Promosi adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan
berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian
produk dengan segera dan atau meningkatkan jumlah yang dibeli
pelanggan serta membuat konsumen puas sehingga melakukan
pembelian kembali. Sama halnya menurut Lupiyoadi (2014:92)
mendefinisikan pengertian promosi yaitu: Promosi adalah kegiatan
yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat
produk dan sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam
kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan kebutuhan

Indikator-indikator kualitas produk


Pada penelitian ini ditentukan empat indikator dari variabel
kualitas produk menurut Gaspersz (2008) dimensi dari kualitas
produk terbagi menjadi delapan yaitu performa (performance),
keistimewaan (feature), kehandalan (reliability), kesesuaian dengan
spesifikasi (conformance to specification), daya tahan (durability),
kemampuan pelayanan (service ability), estetika (eastherics),
kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), dari dimensi
tersebut dipilih empat indikator yang sesuai dengan penelitian yaitu:
a. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to
specification)
b. Keistimewaan (feature)
c. Estetika (aestethic)
d. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Kotler and Amstrong (2008) arti dari kualitas produk
adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Sofjan Assauri (2009
:361) menyatakan bahwa kualitas produk adalah komposisi teknis
yang didasarkan pada spesifikasi teknis dari suatu produk.
Menurut Nasution (2004:40) menyatakan kecocokan dalam
menggunakan suatu produk adalah apabila produk mempunyai daya
tahan penggunaannya yang lama produk yang digunakan akan
meningkatkan citra atau status konsumen yang menggunakannya,
produk tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality
assurance) dan sesuai etika bila digunakan.
Menurut Feingenbaum dalam Marwanto (2015:153)
menyatakan bahwa kualitas produk merupakan seluruh gabungan
karakteristik produk dari pemasaran, rekayasa (perencanaan),
pembuatan (produk) dan pemeliharaan yang membuat produk yang
digunakan memenuhi harapan harapan pelanggan.

Indikator Keputusan Pembelian


Ada empat indikator keputusan pembelian menurut Kotler &
Keller (2009), yaitu:
a. Kemantapan pada sebuah produk, merupakan keputusan
yang dilakukan oleh konsumen, setelah mempertimbangkan
berbagai informasi yang mendukung pengambilan
keputusan.
b. Kebiasaan dalam membeli produk, merupakan pengalaman
orang terdekat (orang tua, saudara) dalam menggunakan
suatu produk.
c. Memberikan rekomendasi kepada orang lain, merupakan
penyampaian informasi yang positif kepada orang lain agar
tertarik untuk melakukan pembelian.
d. Melakukan pembelian ulang, merupakan pembelian yang
berkesinambungan, setelah konsumen merasakan
kenyamanan atas suatu produk atau jasa yang diterima

Pengertian keputusan pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2019;181) keputusan
pembelian merupakan keputusan yang diambil oleh konsumen untuk
melakukan pembelian suatu produk dengan melalui tahapan-tahapan
keputusan pembelian. Menurut Tjiptono (2011:21) keputusan
pembelian adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal
masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau merek
tertentu dan mengevaluasi seberapa baik masing-masing alternatif
tersebut dapat memecahkan masalahnya yang kemudian mengarah
kepada keputusan pembelian. Keputusan pembelian adalah seleksi
terhadap dua pilihan alternatif atau lebih konsumen pada pembelian
(Schiffman dan Kanuk, 2011:485).
Menurut Schiffman dan Kanuk yang dimuat dalam
Sangadji dan Sopiah (2013:113) mendefinisikan keputusan sebagai
pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alternatif. Dalam
keputusan pembelian suatu barang, seringkali ada dua pihak atau
lebih yang terlibat dalam proses pertukaran atau pembelian.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2012:166), Keputusan
pembelian adalah keputusan yang diambil konsumen untuk
melakukan pembelian suatu produk melalui tahapan-tahapan yang
dilalui konsumen sebelum melakukan pembelian yang meliputi
kebutuhan yang dirasakan, kegiatan sebelum membeli, perilaku
waktu memakai, dan perasaan setelah membeli

Indikator Kualitas Produk


Reinout Adonis dkk (2021) Kualitas produk terdiri dari beberapa indikator
yaitu:

  1. Performance (kinerja)
    Elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan bagaimana
    suatu produk dapat menajalankan fungsinya untuk memenuhi
    kebutuhan konsumen.
  2. Reliabilitas (keandalan)
    Daya tahan produk selama dikonsumsi.
  3. Feature (fitur)
    Fungsi –fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk.
  4. Durability (daya tahan)
    Suatu pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis
    maupun waktu.
  5. Konsisten
    Menunjukan seberapa jauh suatu produk dapat memenuhi standar
    atau spesifikasi tertentu.
  6. Desain
    Merupakan aspek emosional dalam memengaruhi kepuasan
    konsumen sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan
    turut mempengaruhi persepsi kualitas produk tersebut

Pengertian Kualitas Produk


Kotler dan Keller (2016:37) menyatakan kualitas produk merupakan suatu
kemampuan produk dalam melakukan fungsi-fungsinya, kemampuan itu
meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang diperoleh produk secara
keseluruhan. Ernawati (2019) menyatakan kualitas produk adalah factor
penting yang mempengaruhi keputusan pelanggan dalam membeli sebuah
produk.
Perusahaan harus bisa meningkatkan kualitas produknya karena bisa
membuat pelanggan merasa puas dengan produk yang diberikan dan akan
mempengaruhi pelanggan untuk membeli kembali produk tersebut. Untuk
mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan standarisasi
kualitas. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan bisa
memenuhi standar yang sudah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan
kehilangan kepercayaan terhadap produk tersebu

Metode Penetapan Harga


Terdapat 4 metode untuk menetapkan harga yaitu:

  1. Berbasis Permintaan
    Suatu metode yang menekankan pada berbagai factor yang
    mempengaruhi selera pelanggan berdasarkan kemampuan dan kemauan
    pelanggan untuk membeli dan memanfaatkan produk.
  2. Berbasis Biaya
    Faktor penetapan harga yang dipengaruhi oleh aspek penawaran atau
    biaya dan bukan aspek permintaan. Harga ditentukan berdasarkan biaya
    produksi dan pemasaran produk yang ditambah dengan jumlah tertentu
    sehingga menutupi biaya langsung, Overhead, dan juga laba/rugi.
  3. Berbasis Laba
    Penetapan harga didasarkan pada keseimbangan biaya dan pendapatan.
    Terdapat 3 metode pendekatan yaitu penetapan harga berdasarkan target
    keuntungan, target harga berdasarkan penjualan, target harga
    berdasarkan investasi sebuah perusahaan.
  4. Berbasis Persaingan
    Menetapkan harga dilakukan dengan mengikuti apa yang dilakukan
    pesaing dengan cara melakukan penjualan dibawah harga normal pesaing
    untuk menarik konsumen, menyamakan harga agar persaingan tidak
    terlalu besar atau memberi harga lebih tinggi dari pesaingnya dengan
    asumsi bahwa produk yang mereka tawarkan memiliki kualitas lebih
    baik.

Indikator Harga


Kotler dan Amstrong (2016) menyatakan terdapat 4 indikator harga yaitu:

  1. Keterjangkauan Harga
    Konsumen biasa dalam menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
    peerusahaan. Produk pada umumnya ada beberapa jenis dalam satu
    merek dan harganya juga berbeda mulai dari yang termurah hingga
    termahal.
  2. Kesesuaian Harga dengan Kualitas produk
    Harga seringkali dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen,
    ada konsumen yang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua
    barang dikarenakan mereka terlihat adanya perbedaan kualitas. Jika
    harga lebih tinggi maka konsumen cenderung beranggapan bahwa
    kualitasnya akan lebih baik.
  3. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Konsumen akan menentukan membeli suatu produk jika manfaat yang
    didapatkan atau dirasakan lebih besar atau bahkan sebanding dengan
    apa yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
  4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
    Konsumen sering kali membandingkan harga satu produk dengan
    produk lainnya.

Pengertian Harga


Harga adalah nilai dari suatu barang yang ditentukan oleh penjual Harga
adalah sejumlah uang yang dibebankan kepada konsumen untuk mendapatkan
manfaat dari suatu produk yang dibeli dari penjual atau produsen. Kotler dan
Keller (2016:115) menyatakan harga adalah elemen dalam bauran pemasaran
yang tidak saja menentukan profitabilitas tetaoi juga sebagai sinyal untuk
mengkomunikasikan proposal nilai suatu produk.
Yaumil (2019) menyatakan harga merupakan satu-satunya unsur bauran
pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan.
Safitri dkk (2019) menyatakan harga adalah nilai relatif yang dimiliki oleh
suatu produk. Nilai tersebut bukan indikator pasti yang menunjukan sumber
daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk.
Harga merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu perusahaan
karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh
perusahaan dari penjualan produk. Apabila perusahaan menetapkan harga yang
terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan menurun, sedangkan apabila harga
terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang diperoleh perusahaan. Harga
juga berpengaruh untuk menunjukan kualitas merek suatu produk, Konsumen
beranggapan bahwa apabila harga produk tersebut mahal biasanya memiliki
kualitas yang baik

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Ansari (2015) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian sebagai berikut:

  1. Nilai Emosional
    Berasal dari perasaan atau afektif atau emosi positif yang ditimbulkan
    dari mengonsumsi produk. Nilai emosional berkaitan dengan perasaan,
    yaitu perasaan positif yang dialami konsumen ketika membeli produk.
  2. Nilai Sosial
    Diperoleh dari kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri
    sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh
    konsumen mengenai apa yang dianggap baik dan buruk.
  3. Nilai Kualitas
    Diperoleh dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan jangka
    panjang.
  4. Nilai Fungsional
    Diperoleh dari atribut produk yang memberikan kegunaan fungsional
    kepada konsumen.

Indikator Keputusan Pembelian


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Safitri dkk (2019) indikator-
indikator dalam keputusan pembelian yaitu:

  1. Pemilihan produk
    Konsumen memiliki alasan dalam memilih suatu produk maupun jasa
    dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
  2. Pemilihan merek
    Bagaimana sebuah merek dapat diingat dan dikenali oleh konsumen
    melalui citra merek yang baik dan unik dalam suatu produk maupun
    jasa.
  3. Pemilihan waktu
    Waktu menjadi salah satu hal yang diperhatikan konsumen, sehingga
    waktu berperan penting bagi konsumen untuk melakukan pembelian.
  4. Pemilihan metode pembayaran
    Konsumen memilih metode maupun cara pembbayaran atas produk
    yang akan dibeli

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian konsumen merupakan suatu keputusan final yang
dimiliki seorang konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa dengan
berbagai pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sari (2020) menyatakan
keputusan pembelian merupakan suatu pemikiran dimana individu
mengevaluasi berbagai pilihan dan membuat pilihan pada suatu produk dari
banyak pilihan. Schiffman dan Kanuk (2013) menyatakan keputusan
pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu
dari beberapa alternatif pilihan yang ada.
Faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu
produk atau jasa biasanya konsumen mempertimbangkan dari segi kualitas dan
harga produk. Sebelum memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen
melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu pengenalan masalah, pencarian
informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak, serta perilaku
pasca pembelian

Pengaruh antara citra merek, desain produk, dan kualitas produkterhadap keputusan pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2009) dikutip dari (Pratiwi & Santoso,
2024) Citra merek sebagai kesan yang muncul dibenak konsumen yang
dipengaruhi oleh elemen-elemen, seperti logo, kemasan, pengalaman
pengguna dan lain sebagainya.
Menurut (Tiara et al., 2022) Desain produk adalah merujuk pada
keseluruhan aspek dari suatu barang yang mempengaruhi tampilan dan
fungsionalitas barang tersebut yang disesuaikan dengan keperluan konsumen.
Kotler dan Keller yang dikutip oleh (Fatya et al., 2024) mendefinisikan
kualitas produk sebagai kemampuan sutau produk dalam menjalakan fungsi
yang diharapkan. Kemampuan ini mencakup aspek presisi, keandalan, dan
daya tahan yang terintegrasi secara harmonis.
Ketiga aspek tersebut memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi
keputusan pembelian. Citra merek yang baik dapat memperkuat ketertarikan
terhadap desain produk, sedangkan kualitas yang baik memperkuat
kepercayaan konsumen terhadap merek. Selain itu, desain yang estetis juga
dapat mencerminkan kualitas produk, membentuk presepsi positif yang pada
akhirnya mendorong konsumen dalam membeli. Sebaliknya, jika Citra merek
negatif, desain produk yang kurang atraktif, dan kualitas yang rendah dapat
menurunkan minat serta kepuasan konsumen, yang pada akhirnya berdampak
keputusan pembelian.

Pengaruh antara kualitas produk terhadap keputusan pembelian


Menurut Kotler dan Keller dalam (Fatya et al., 2024) Kualitas produk
yaitu kinerja sutau produk dalam menjalakan manfaat yang diharapkan.
Kemampuan ini mencakup aspek presisi, keandalan, dan daya tahan yang
terintegrasi secara harmonis.
Kualitas produk yang unggul dapat meningkatkan kepercayaan
pelanggan dan membuat mereka terpuaskan, yang membangkitkan keinginan
konsumen untuk melakukan pembelian berikutnya. Selain itu, produk yang
berkualitas memberikan keunggulan kompetitif dan memperkuat posisi merek
di pasar. Umpan balik positif dari konsumen berperan dalam mengubah
perilaku pembelian konsumen lainnya. Oleh karena itu, semakin baik kualitas
suatu produk, semakin kuat kemungkinan konsumen memilih dan terus
menggunakannya. Sebaliknya, produk dengan kualitas rendah dapat
menurunkan kepercayaan konsumen dan mempengaruhi pembelian

Pengaruh antara desain produk terhadap keputusan pembelian


Menurut kumbara (2021) Desain Produk ialah elemen menarik
perhatian konsumen, sehingga berfungsi sebagai strategi pemasaran bagi
produk tersebut. Dengan perkembangan teknologi, konsumen kini lebih
memperhatikan aspek visiual produk sebelum memutuskan membeli (Ningtyas
& Fauzi, 2023).
Desain produk berperan penting dalam menarik perhatian konsumen
dan menjadi bagian dari strategi pemasaran yang efektif. Seiring kemajuan
teknologi, aspek visual semakin mempengaruhi keputusan pembelian. Desain
yang menarik dapat mempengaruhi preferensi dan pilihan konsumen. Desain
yang sesuai dengan keinginan atau selera pasar dapat meningkatkan keputusan
pembelian. Jadi, desain produk memiliki peran penting dalam menarik minat
konsumen serta berperan sebagai strategi pemasaran yang efisien.di sisi lain,
jika desain produk tidak mampu memenuhi ekspektasi dan tidak menarik dapat
mengurangi minat beli mereka, hingga turut menentukan pilihan konsumen
saat membeli

Pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2009) dikutip dari (Pratiwi & Santoso,
2024) mendefinisikan citra merek sebagai kesan yang muncul dibenak
konsumen yang dipengaruhi oleh elemen-elemen, seperti logo, kemasan,
pengalaman pengguna dan lain sebagainya.
Citra merek yang kuat memiliki dampak terhadap keputusan
pembelian dengan membangun kepercayaan, loyalitas, dan ikatan emosional
dengan konsumen. Jadi, Citra merek berperan penting dalam membangun
kepercayaan dan loyalitas konsumen, sehingga mempengaruhi keputusan
pembelian. Di sisi lain, bila reputasi merek suatu perusahaan tidak baik atau
tidak konsisten, maka konsumen bisa kehilangan kepercayaan dan dapat
menentukan keputusan pembelian

Indikator Kualitas Produk


Berdasarkan pendapat Orville, Larreche, dan Boyd dalam (Marissa et al.,
2023) indikator kualitas produk meliputi:

  1. Kinerja, yaitu berkaitan pada unsur dasar produk dalam operasionalnya.
  2. Daya Tahan, yaitu menggambarkan ketahanan produk dalam jangka waktu
    tertentu sebelum memerlukan penggantian, di mana semakin sering
    digunakan maka semakin tinggi pula kualitas ketahanannya.
  3. Kesesuaian Spesifikasi, Mengevaluasi seberapa baik produk memenuhi
    standar kualitas yang diharapkan oleh konsumen dan tidak memiliki
    kelemahan atau kekurangan.
  4. Fitur, yaitu Fitur yang ditambahkan pada produk untuk meningkatkan
    kinerja, keamanan, atau estetika, serta membuatnya lebih menarik bagi
    konsumen.
  5. Reabilitas, menggambarkan kemampuan produk dapat dipertahankan
    dalam jangka panjang dengan minim resiko kerusakan.
  6. Estetika (Aesthetics), mencakup tampilan visual produk, termasuk aspek
    rasa, bau, dan bentuk produk.
    Menurut sukmawati, dkk (2022) dalam (Fadilah Adheyanti Arifin Putri et
    al., 2023) ada empat hal penting dalam menilai kualitas produk, diantaranya:
    1) Kesesuaian Kualitas
    2) Ragam Variasi Produk
    3) Daya Saing Kualitas
    4) Ketahanan Produk

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Seperti yang diungkapkan Assauri dikutip oleh (Marissa et al., 2023a)
kualitas produk dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti:

  1. 6 M (Market, Money, Management, Man, Motivation dan Material), yang
    berperan dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan.
  2. Tiga faktor yang berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan standar
    kualitas produk, yaitu alat dan mekanisme industri, sistem informasi
    mutakhir, serta regulasi proses manufaktur

Pengertian Kualitas Produk


Kotler dan Keller dikutip oleh (Fatya et al., 2024) Kualitas produk
didefinisikan sebagai kemampuan sutau produk dalam menjalakan fungsi yang
diharapkan. Kemampuan ini mencakup aspek presisi, keandalan, dan daya tahan
yang terintegrasi secara harmonis.
Mutu produk memainkan peranan krusial dalam menentukan keputusan
pembelian pelanggan, karena produk bermutu tinggi cenderung lebih disukai oleh
pelanggan (Ernawati, 2019 dalam (Fatya et al., 2024).
Menurut Pratiwi & Santoso (2024) Kualitas produk yaitu potensi produk
dalam merealisasikan keinginan, keperluan, serta harapan pelanggan yang
ditawarkan kepada pasar, sehingga produk tersebut dapat dimiliki, diperhatikan,
digunakan, atau dikonsumsi.

Indikator Desain Produk


Menurut Sopiah & Sangadji (2016) dikutip dari (Adonis & Silintowe, 2021a)
mengemukakan beberapa indikator desain produk, diantaranya:

  1. Makna Desain Produk
    Merujuk pada esensi yang terkandung dalam desain yang diformulasikan
    perusahaan untuk memperoleh perhatian, minat, dan keinginan konsumen
    untuk membeli produk. Agar dapat menarik ketertarikan konsumen, desain
    tersebut harus memiliki nilai yang sangat tinggi dalam persepsi konsumen.
  2. Bentuk Fisik Produk
    Elemen yang paling mudah dilihat dan dinilai oleh konsumen, sehingga
    memiliki kemampuan untuk menarik perhatian konsumen terhadap produk
    tersebut.
  3. Kenyamanan Produk
    Aspek yang sangat penting bagi konsumen yang menginginkan produk
    yang memberikan pengalaman yang menyenangkan, nyaman, dan
    memuaskan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengutamakan
    kenyamanan konsumen dalam merancang produk tersebut.
  4. Keunikan Produk
    Merujuk pada ciri khas yang membedakannya dari produk pesaing, karena
    setiap produk memiliki perbedaan elemen serta keunikannya.
  5. Ramah Lingkungan
    Produk yang dihasilkan perusahaan haruslah ramah lingkungan, yaitu
    tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan

Pengertian Desain Produk


Seperti yang dikemukakan Kotler dan Keller dikutip oleh (Marissa et al.,
2023a) Desain Produk ialah kombinasi fitur yang menentukan tampilan, fungsi,
dan pengalaman sensorik produk untuk memenuhi kebutuhan, preferensi, serta
harapan pelanggan. Desain produk dinilai berdasarkan beberapa aspek, yaitu gaya,
daya tahan, keandalan, dan kemudahan perbaikan.
Menurut kumbara (2021) Desain Produk adalah elemen yang menarik
perhatian konsumen, sehingga berfungsi sebagai strategi pemasaran bagi produk
tersebut. Dengan perkembangan teknologi, konsumen kini lebih memperhatikan
aspek visiual produk sebelum memutuskan membeli (Ningtyas & Fauzi, 2023).
Menurut Tiara et al., (2022) Desain produk adalah merujuk pada
keseluruhan aspek dari suatu barang yang mempengaruhi tampilan dan
fungsionalitas barang tersebut yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen

Indikator Citra merek


Penjelasan Aaker & Biel (2009) yang dikutip (Arianty & Andira, 2021)
beberapa indikator berikut ini dapat digunakan untuk mengukur citra merek:

  1. Citra Perusahaan (Corporate Image)
    Menggambarkan persepsi pelanggan tentang perusahaan yang
    memproduksi produk maupun layanan, mencakup aspek seperti
    kepopuleran, kepercayaan, networking perusahaan, serta pemakaian
    produk.
  2. Citra Produk (Product Image)
    Pandangan pengguna tentang jenis produk maupun layanan yang
    mencakup karakteristik produk, keuntungan yang diterima, serta jaminan
    yang diberikan.
  3. Citra Pemakai (User Image)
    Mengacu pada perspektif konsumen tentang penggunaan suatu produk
    atau layanan, termasuk identitas dan status sosial penggunanya.
    Menurut Rangkuti (2011) dalam (Kiftiah et al., 2022), beberapa indikator
    berikut ini mempengaruhi pembentukan citra merek:
  4. Pengenalan (Recognition)
    Tingkat kesadaran konsumen terhadap suatu merek. Semakin rendah
    kesadaran merek, maka produk tersebut harus bersaing dengan harga yang
    lebih kompetitif. Dilihat melalui berbagai elemen termasuk logo, tagline,
    desain produk, maupun identitas lain yang melekat pada merek tersebut.
  5. Reputasi (Reputation)
    Merek dengan reputasi yang baik memiliki kepercayaan konsumen yang
    tinggi, sehingga lebih mudah diterima di pasar.
  6. Daya Tarik (Affinity)
    Keterikatan perasaan yang mendalam antara merek dengan konsumen
    yang dipengaruhi oleh faktor harga, kepuasan konsumen, dan asosiasi
    merek dengan preferensi pelanggan.
  7. Kesetiaan (Loyalty)
    Seberapa besar tingkat kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Ketika
    sebuah merek telah dikenal luas dan memiliki rekam jejak positif oleh
    konsumen, sehingga merek tersebut akan meningkatkan jumlah pelanggan

Faktor- Faktor Mempengaruhi Citra merek


Menurut Keller (2013) dalam (Edo Trismi Raharjo, 2022), citra merek dapat
terbentuk dalam beberapa faktor, antara lain:

  1. Favorability of brand association, yaitu faktor yang menunjukkan
    keunggulan suatu produk dalam persaingan, sehingga dapat meningkatkan
    persepsi positif konsumen pada merek oleh pelanggan.
  2. Strength of brand association, yaitu aksesinilitas informasi mengenai
    suatu brand tersimpan dalam ingatan konsumen dan mampu bertahan
    dalam membentuk citra merek.
  3. Uniqueness of brand association, yaitu kemampuan brand untuk
    mempunyai karakteristik khas sehingga membedakannya dari merek lain,
    sehingga dapat menarik perhatian dan meningkatkan daya saing di pasar.
    Menurut Schiffman (2011) dalam Kiftiah et al., (2022), beberapa faktor
    berperan dalam pembentukan Citra merek, antara lain:
  4. Tingkat kualitas dan mutu produk, yaitu kemampuan produk suatu merek
    untuk memenuhi standar keunggulan tertentu.
  5. Kepercayaan serta keandalan, yaitu persepsi masyarakat terhadap suatu
    produk berdasarkan pengalaman atau ulasan yang berkembang di
    lingkungan konsumen.
  6. Kegunaan atau manfaat, yaitu tingkat kemampuan produk dalam
    menawarkan keuntungan pengguna yang relevan dengan tujuan
    penggunaannya.
  7. Pelayanan, yaitu peran produsen dalam memberikan layanan yang optimal
    kepada konsumen guna meningkatkan kepuasan pelanggan.
  8. Risiko, yaitu potensi konsekuensi positif dan negative yang mungkin
    dirasakan pelanggan dalam penggunaan produk.
  9. Harga, yaitu besaran biaya yang harus dibayarkan pelanggan dalam
    memperoleh barang, serta pengaruh citra merk dalam periode panjang.